3.5 Perbaikan Sistem Transportasi Publik

studi kelayakan harus dilakukan untuk mempersiapkan rencana yang sesuai ... Tabel 3.4 Item-item Studi Untuk Sistem Transportasi Bis Yang Baru Analisis...

0 downloads 2 Views 2MB Size
STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

3.5

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Perbaikan Sistem Transportasi Publik Wilayah Metropolitan Mamminasata dilayani oleh bis besar (sekitar 30 unit), untuk layanan antar-kota saja, pete-pete (sekitar 7.000 unit), taksi (sekitar 2.000 unit) untuk layanan antar dan dalam kota, dan becak untuk layanan dalam kota. Masing-masing jenis angkutan umum ini seharusnya memainkan perannya masing-masing yang telah ditetapkan secara jelas berdasarkan jarak tempuh, sebagaimana yang digambarkan di sini, dengan peranan yang bercampur aduk serta pengoperasian yang tidak beraturan telah menyebabkan kemacetan lalu lintas.

Gambar 3.17:

Gambaran Peranan Layanan Angkutan Umum

Untuk menanggulangi kemacetan lalu lintas yang serius di kawasan perkotaan, angkutan umum di Mamminasata harus dikelola dengan baik melalui peningkatan layanan bis dan batasan peranan yang jelas dari masing-masing moda transportasi. Dalam hal ini, isu-isu berikut perlu dikemukakan:

1)

(i)

Jaringan layanan pete-pete harus dimodifikasi sejalan dengan perbaikan pada jaringan jalan;

(ii)

Bis yang berukuran lebih besar akan diperlukan untuk meningkatkan kapasitas angkutan.

(iii)

Hubungan dari layanan bis daerah ke layanan kota harusditingkatkan dengan mendesain rancangan baru untuk Terminal bis dan/atau pete-pete; dan

(iv)

Layanan bis daerah antar-batas harus didorong agar layanannya meluas, sehingga perjalanan lintas wilayah menjadi semakin mudah.

Transportasi Bis Pelayanan Bis dan Pete-Pete menyebar di seluruh wilayah metropolitan Mamminasata, dan merupakan sarana transportasi publik utama saat ini. Peran 12 - 39

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

sarana-sarana transportasi publik tersebut diharapkan dapat lebih ditingkatkan agar tidak memperparah kemacetan lalu lintas di jalan utama dan wilayah perkotaan. Kebijakan menyangkut pergantian moda transportasi di Mamminasata, dari yang semula mobil dan sepeda motor pribadi ke sarana transportasi publik, harus segera dibuat. (1)

Industri Bis

Berikut adalah data kendaraan yang digunakan sebagai sarana transportasi publik. Sebagian besar merupakan pete-pete dan mini bis (berkapasitas 8 orang). Damri (bis besar):

Kurang lebih 30 unit kendaraan

Taxi:

Kurang lebih 2.000 unit kendaraan

Pete-pete:

Kurang lebih 7.000 unit kendaraan

Bis-bis tersebut beroperasi menurut zona-zona operasi masing-masing: Layanan bis antar kota melintasi batas propinsi Layanan bis antar kota dalam propinsi Layanan bis dalam kota, pelayanan desa Layanan Kota Makassar Warna pete-pete dibedakan berdasarkan zona pelayanannya (Biru: dalam kota Makassar, Merah: Gowa dan Takalar, Kuning: Maros). Seluruh perusahaan angkutan bis berada di bawah kewenangan Organda: Pemimpin dewan pengusaha industri swasta untuk transportasi publik. Dewan ini berencana untuk mengganti pete-pete dengan bis-bis berukuran sedang dan/atau besar di tahun 2015. Meski demikian, hal ini akan membutuhkan investasi dalam jumlah besar untuk mengganti kendaraan yang sebelumnya dimiliki orang per orang. Pelayanan bis dengan jarak tempuh terjauh (40 kursi) adalah bis dengan rute Makassar-Pare-Pare, menempuh perjalanan selama 3 jam dengan ongkos sebesar Rp 15.000. Jumlah taksi yang beroperasi lebih besar dibanding break-even point normal (1 unit kendaraan/1.000 orang). (2)

Layanan Transportasi Bis

Naik dan turun seenaknya: Penumpang merasa lebih nyaman untuk naik dan turun dari pete-pete dimana saja mereka inginkan. Cuaca tropis yang panas mendorong para penumpang untuk melakukan hal tersebut selain jarak yang mampu ditempuh dengan berjalan kaki hanya sejauh 200 ~ 300 m. Kondisi semacam ini 12 - 40

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

menghendaki moda transportasi dengan frekwensi pelayanan lebih sering dan waktu tunggu singkat seperti pete-pete. Meskipun pete-pete ber-AC dapat menarik lebih banyak penumpang, penggunaan moda transportasi ini memiliki kelemahan. Pete-pete dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas akibat dari seringnya memarkir kendaraan sembarangan di tepi jalan. Pelayanan terpusat di jalan-jalan raya: Rute-rute pelayanan berpusat di jalan-jalan raya utama yang relatif lebih lebar, seperti Jl. Perintis, Jl. Sultan Alauddin, Jl. Veteran Selatan, dll. Becak dijadikan sebagai sarana pelayanan transportasi pembantu. Jika pete-pete diganti dengan bis-bis berukuran sedang dan/atau besar, pembagian peran semacam ini mungkin dapat memperbaiki efisiensi transportasi.

Gambar 3.18 Rute Pete-Pete dan Terminal Bis yang Ada di Makassar

Jaringan Arteri: Jaringan pelayanan pete-pete dan bis dipusatkan di Terminal Bis Sentral dekat Jl. Cokroaminoto, Makassar Lama, yang sedang diperluas hingga ke terminal pete-pete pinggir kota: Daya, Mallengkeri, dan Sungguminasa. Di samping itu, terdapat juga beberapa rute pelayanan langsung antar terminal pinggir kota. Lokasi terminal bis/pete-pete diperlihatkan pada gambar di atas. Terminal Bis Daya (Bis regional dan Pete-pete) Terminal Bis Mallengkeri (Pete-pete) 12 - 41

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Terminal Bis Makassar (Pete-pete dan bis Kijang) Penetapan Zona Pelayanan: Zona pelayanan pete-pete terbatas dalam wilayah kota. Bila melintasi batas kota, maka akan dikenakan retribusi. Hal ini berdampak pada terganggunya transportasi regional, karena di Mamminasata, para penumpang pada umumnya harus berganti bis bila mereka hendak melakukan perjalanan antar kota. (3)

Permasalahan Transportasi Bis

Perlunya memodifikasi rute-rute pelayanan di masa datang: Jaringan pelayanan pete-pete harus dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jaringan jalan. Jumlah rute dari Maros ke Makassar akan menjadi tiga kali lebih besar dengan adanya pembangunan Jalan Trans-Mamminasata (bagian dari Jalan Trans-Sulawesi) dan Bypass Mamminasa (bypass pusat kota Makassar dan Maros), Jalan Lingkar Tengah (Potongan 1) serta pelebaran dan perpanjangan jalan akses: Jl. Abdullah Daeng Sirua dan Jl. Hertasning. Isu-isu tersebut akan mengemuka setelah tahun 2015. Bis-bis besar lebih diperkenalkan untuk meningkatkan kapasitas sarana transportasi publik. Jika tidak, maka pete-pete akan mendominasi jalan yang dapat beresiko pada bertambahnya tingkat kemacetan lalu lintas. Di samping itu, waktu tempuh pete-pete juga lebih lama. Pergantian moda transportasi ke moda bis berukuran besar sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, visi jangka panjang Organda untuk mengganti pete-pete dengan bis besar dapat diterima. Hal ini harus sesegera mungkin dimulai. Untuk mewujudkannya, penyediaan bantuan-bantuan keuangan sangat penting untuk para pemilik pete-pete agar mereka dapat membeli bis sedang/besar yang baru dan ber-AC. Selanjutnya, sebuah sistem pinjaman akan diperkenalkan. Dari laporan yang diterima diketahui bahwa sistem yang sama pernah diterapkan sebelumnya, yakni ketika pete-pete dipromosikan oleh perusahaan penyalur kendaraan. Perbaikan layanan bis regional yang melintasi batas kota harus didukung agar mampu menjadikan perjalanan semacam itu lebih mudah dari sebelumnya. Layanan bis regional harus dapat menghubungkan secara langsung seluruh terminal bis/pete-pete yang ada di pinggir kota: Daya, Mallengkeri dan Sungguminasa, atau membuat rute sirkulasi bis yang menghubungkan seluruh terminal bis tersebut. Hal ini dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan para penumpang ketika harus melakukan serangkaian pergantian bis dalam perjalanan ke tempat tujuan mereka di luar kota.

12 - 42

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Efisiensi jaringan penghubung bis regional menuju kota di terminal bis dan/atau pete-pete harus diperbaiki. Isu ini erat kaitannya dengan masalah desain dan frekwensi operasi bis. Pengenalan sistem tiket musiman dan/atau sistem tiket umum dapat menjadi sebuah solusi yang efektif untuk mengatasi masalah ketidaknyamanan kendaraan. (4)

Tindakan yang diperlukan untuk perbaikan sistem transportasi bis

Peningkatan Kapasitas Sarana Transportasi Pengenalan sistem bis ukuran menengah-besar cum load: Kapasitas penumpang bis berukuran sedang bervariasi dari 15 hingga 35 orang per kendaraan, bis besar berkapasitas 40 hingga 65 orang, sementara pete-pete hanya berkapasitas 8-12 orang. Sebuah hasil penghitungan sederhana menunjukkan bahwa volume lalu lintas bis dapat berkurang seperdua (1/2) hingga seperenam (1/6). Pengurangan volume tersebut berdampak besar terhadap arus lalu lintas. Untuk lebih meningkatkan kapasitas bis, jenis bis biasa dapat diganti dengan bis bertingkat seperti yang dilakukan di Curitiba, Brazil (kapasitas keseluruhan mencapai 270 orang). Sebagai langkah awal di Mamminasata, penggunaan bis berukuran sedang-besar dapat diperkenalkan. Perbaikan Jaringan Penghubung Diperlukan perbaikan pada desain terminal transit. Sebuah contoh yang bagus ditemukan di Curitiba. Terminal transit di kota ini dirancang untuk mempermudah dan mempersingkat waktu transit. Terminal transit model lama dan model Curitiba terlihat pada gambar berikut.

12 - 43

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Terminal Model Lama

Terminal Model Curitiba

Gambar 3.19 Diagram Terminal Bis Transit: Model Lama dan Curitiba

Jalur bis pada terminal bis model lama sama seperti jalur bis di Mamminasata. Jalurnya rumit dan menyebabkan kemacetan lalu lintas di terminal. Para penumpang harus mencari bis dengan tujuan masing-masing dan untuk menemukannya memerlukan waktu yang lama. Sebaliknya, terminal model Curitiba membuat arus bis dan penumpang lebih praktis dan efisien, sehingga mempermudah kegiatan transit. Oleh karena itu, desain terminal bis, untuk arus kendaraan dan penumpang, yang ada di Mamminasata saat ini sebaiknya diperbaiki. Cara lain untuk memperbaiki jaringan penghubung adalah penerapan sistem tiket umum dan/atau musiman yang dapat menghemat waktu pembelian tiket pada saat terminal dipadati oleh kendaraan. Peran Tersendiri Layanan Bis Utama dan Layanan Bis Pembantu Layanan bis utama harus dibedakan dengan layanan bis pembantu melalui penyediaan fasilitas penghubung bagi penumpang yang didesain dengan baik. Layanan bis utama dapat dilayani dengan bis berukuran besar yang juga digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Sementara, layanan pembantu dapat dilayani dengan pete-pete berukuran kecil atau bis berukuran sedang untuk perjalanan jarak pendek. Jaringan awal rute bis di pusat kota diperlihatkan pada gambar berikut. Pada jaringan layanan bis pembantu ini, layanan sirkuler dirancang dan semua bis pembantu beroperasi pada arah yang sama guna meningkatkan kapasitas lalu lintas dan dihubungkan dengan layanan bis jarak jauh di jalan utama dan becak di 12 - 44

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

gang-gang sempit. Semua rute bis sirkuler ini dirancang agar mengitari sebuah putaran selama sepuluh hingga lima belas menit.

Gambar 3.20 Rencana Awal Jaringan Rute Bis

Jalur setiap jenis kendaraan harus terpisah, terutama untuk pete-pete. Pemisahan jalur semacam ini akan menjadikan kegiatan transportasi publik lebih efisien. Studi Detail Lanjutan untuk Sistem Transportasi Publik Rencana pendahuluan telah dipaparkan. Meski demikian, studi detail setingkat studi kelayakan harus dilakukan untuk mempersiapkan rencana yang sesuai untuk sistem dan rute transportasi bis. Studi semacam itu akan mencakup hal-hal berikut.

12 - 45

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Tabel 3.4

Analisis

z

Pengoperasian efektif

Item-item Studi Untuk Sistem Transportasi Bis Yang Baru

Formasi rute bis yang efektif dan sesuai: Putaran kiri searah harus diteliti lebih dalam.

z

Perumusan sistem bis terpadu untuk layanan bis jalan utama dan pembantu.

z

Jumlah dan Frekwensi operasi bis yang dibutuhkan.

Langkah-langkah

z

Pembangunan dan desain anjungan bis dan terminal transit.

perbaikan prasarana

Alat pengaman perjalanan berkecepatan tinggi. z

Jalur khusus bis

Sarana-sarana

z

AC

peningkatan

z

Kebersihan

z

Penggunaan sistem tiket umum dan musiman dengan potongan

kenyamanan Tarif bis

harga. Regulasi

z

Dukungan pemerintah untuk mengganti pete-pete dengan bis-bis berukuran sedang dan besar.

Sistem bis sirkuler perlu diintrodusir bersama-sama dengan pengendalian lalu lintas yang mencegah mobil-mobil biasa masuk ke dalam wilayah layanan bis sirkuler ini. 2)

Transportasi Kereta Api Pada jaman kolonial Belanda, terdapat sebuah jalur kereta api di Makassar. Jalur itu hancur ketika perang kemerdekaan Indonesia pecah dan tidak menyisakan peninggalan yang dapat digunakan. Rencana Tata Ruang Mamminasata tahun 2003 mengajukan sebuah usulan untuk membangun jaringan kereta api seperti terlihat pada gambar berikut (3.21). Rel kereta sepanjang 60 km akan digunakan sebagai jalur kereta antar wilayah dan 120 km untuk wilayah metropolitan. Total biaya konstruksi akan melampaui US$ 10 milyar. Kereta api merupakan sebuah sistem menyeluruh dan membutuhkan beragam prosedur persiapan yang rumit, seperti terlihat pada gambar berikut (3.22), ketika sistem baru hendak dibuat. Akibatnya, sistem perkereta-apian akan menjadi sulit untuk diwujudkan pada tahap ini. Pembebasan lahan untuk pembangunan jalur kereta api tidak direkomendasikan karena jumlah dana yang dibutuhkan melebihi jumlah kemampuan investasi pemerintah. Pembangunan prasarana kota seperti saluran air kotor, TPA, dan penanaman modal untuk perbaikan lingkungan dianggap akan lebih bermanfaat 12 - 46

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

untuk menciptakan wilayah metropolitan Mamminasata yang bersih.

Gambar 3.21 Gambaran Jaringan Kereta Api Dalam Rencana Terdahulu RTR Kota Renc. Pengemb. ulang

Keputusan Politis Ketersediaan listrik

Organisasi Pengelola Kebijakan Finansial

Stasiun Cabang Pelaksana

Lokasi Stasiun

Renc. alun-alun stasiun RTG Lahan Damija Lahan Kantor, Depo

Desain Dasar

Pemesanan

Saham

Berputar Pelatihan Staf

Kerja Sipil (Kereta)

Pemeliharaan

Uji coba operasi

Sinyal Elektrik (Overhead line signal) Arsitektur (kantor, stasiun)

Pengoperasian

Gambar 3.22 Alur Kerja Perbaikan Jaringan Kereta Api

3)

Transportasi Air di Darat (Inland Water Transportation) Transportasi air merupakan moda transportasi yang murah dan tepat waktu di kota seperti Bangkok, di mana jaringan kanal pusat kota dikembangkan dengan baik di pusat kota dan ketika jalan sangat macet, transportasi air ini dapat menarik banyak 12 - 47

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

penumpang transportasi darat. Namun demikian, kondisi Makassar agak berbeda dengan Bangkok. Kondisi pelayaran di sepanjang dua sungai utama di Mamminasata adalah sebagai berikut. Sungai Jeneberang -

Ada sebuah bendungan karet, menyebabkan pelayaran dengan perahu/boat menjadi tidak memungkinkan.

-

Jalan Tanjung Bunga di sepanjang Sungai Jeneberang direncanakan untuk memberikan pelayanan lebih efektif bagi kebutuhan lalu lintas dibanding sarana transportasi air, karena sistem pelayanannya dari pintu ke pintu dan tidak perlu menunggu lama.

-

Transportasi air memerlukan sarana transportasi dari dan ke dermaga feri, sehingga membutuhkan lebih banyak biaya transportasi dibanding bis dan/atau mobil. Selain itu, transportasi air tidak memiliki daya tarik untuk menarik para pengguna jasa transpotasi darat.

Sungai Tallo

3.6 1)

-

Jalan Perintis akan diperbaiki hingga memiliki kapasitas yang memadai untuk mengakomodasi arus bolak-balik normal mobil dan bis.

-

Kebutuhan lalu lintas yang muncul di sepanjang sungai hingga ke muara sungai cukup kecil dilihat dari hasil-hasil simulasi lalu lintas.

-

Sungai Tallo membelok cukup lebar dan lamanya waktu pelayaran akan menjadikannya kurang menarik.

-

Transportasi air memakan biaya yang lebih besar dibanding transportasi bis.

-

Transportasi air juga dinilai sebagai bentuk transportasi yang kurang efektif di Mamminasata.

Penyesuaian Ulang Lahan Prakarsa Pemerintah dan Swasta Pembangunan prasarana, termasuk konstruksi jaringan jalan membutuhkan investasi dalam jumlah besar. Pada saat pemerintah sedang kekurangan anggaran, sektor swasta mengembangkan kawasan pinggiran kota sebagai kawasan-kawasan permukiman baru tanpa disertai penyediaan prasarana yang memadai. Meski masyarakat menuntut pemerintah untuk menyediakan prasarana yang layak, lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan prasarana dikuasai oleh penduduk dan biaya 12 - 48

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

besar dibutuhkan untuk pembebasan lahan tersebut. Skema BOT diperkenalkan oleh pemerintah karena kurangnya dana, ide, dan kebijaksanaan. Dengan kecenderungan tersebut, dikhawatirkan seluruh jalan arteri, nantinya, akan difungsikan sebagai jalan tol. 2)

Pembebasan Lahan Menurut UU Yang Berlaku Di Mamminasata, masih terdapat banyak ruang di sepanjang sisi jalan. Tampaknya terdapat peraturan yang melarang masyarakat untuk membangun rumah atau gedung tanpa menyisakan ruang di depan bangunan yang baru dibangun. Ini merupakan sebuah prosedur yang baik untuk memastikan ketersediaan lahan publik. Ketika sebuah jalan baru dibangun, areal di sepanjang jalan tersebut akan dikembangkan dan harga lahan akan melonjak. Jika pemilik tanah menjual tanahnya, maka pemilik tersebut akan memperoleh keuntungan besar. Keuntungan semacam itu disebut “keuntungan tak terduga”. Sebagian dari keuntungan semacam ini harus dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk pajak. Saat ini, lahan di sepanjang jalan yang direncanakan akan dibangun menjadi sasaran spekulasi lahan. Setiap keuntungan yang diperoleh dari sektor transportasi darat harus diperiksa secara ketat oleh kantor pajak, kemudian pajak yang terkumpul akan digunakan kembali untuk keperluan konstruksi jalan. Bila prosedur-prosedur semacam ini terkontrol dengan baik, maka pemerintah akan mampu menutupi biaya konstruksi jalan 18 . Ketika seorang pemilik tanah bekerjasama dengan pemerintah, maka yang bersangkutan akan diberi kemudahan berupa pembebasan dari pajak yang tinggi. Pemilik tanah yang tinggal di sepanjang jalan baru akan dilindungi, jika ia atau anaknya bersedia menggunakan lahannya untuk keperluan yang sama, seperti untuk keperluan pertanian. Diagram berikut memperlihatkan prosedur pengembalian keuntungan tak terduga ke masyarakat. Regulasi semacam ini akan berlaku pada lahan yang berjarak sekitar 100 m dari batas tepi jalan (dari Damija). Renc. Wilayah Pembangunan

18

Contoh Kalkulasi 1 Nilai lahan sebelum pembangunan jalan: Rp. 10.000-/m2 Nilai lahan setelah pembangunan jalan: Rp 1.000.000-/m2 Keuntungan tak terduga Rp. 990.000-/m2 dan Rp. 990.000 x200 = Rp. 198.000.000-/m (100m untuk kedua sisi) Jika besarnya pajak 50% dari keuntungan, maka pengembaliannya sebesar 99.000.000-/m Besarnya biaya konstruksi jalan adalah Rp 1.000.000/m2x40m=40.000.000-/m Pengembalian ini cukup untuk menutupi biaya konstruksi jalan dan pembebasan lahan.

12 - 49

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Pendaftaran Tanah Harga dasar lahan resmi Penetapan harga Pembebasan Lahan

Spekulasi Lahan Dagang (tanpa pajak)

Renc. Pembangunan Jalan Pembebasan Lahan

Penyediaan Lahan Pengganti Konstruksi Jalan

Harga Jual

Kemajuan Pengembangan di sepanjang jalan Penjualan Lahan

Peningkatan Harga Lahan

Untung diluar dugaan

Y%

X%

Perubahan fungsi lahan

Tanpa perubahan fungsi

Pendap. Pribadi Pendap.Pemerintah

Pengalihan Hak Guna Lahan

Bebas Pajak

Pendapatan Pemerintah dari tarif guna lahan

Gambar 3.23 Mekanisme Penyesuaian Ulang Lahan

Cara lain adalah dengan membagi nilai lahan menjadi dua jenis (diperlihatkan dengan garis merah pada Gambar di atas). Yang pertama adalah nilai lahan itu sendiri dan yang lain adalah nilai penggunaan lahan. Jika pemilik tanah berganti atau tujuan penggunaan lahan berubah, maka hak penggunaan lahan secara otomatis akan beralih ke tangan pemerintah. Metode ini lebih efektif untuk memastikan ketersediaan biaya pemeliharaan jalan melalui pemungutan retribusi penggunaan lahan tahunan19. Meski demikian, pembatasan penggunaan lahan akan bertentangan dengan kehendak pemilik tanah, sehingga berdampak pada terhambatnya proses pengembangan wilayah di sepanjang jalan. Ketika melakukan pembebasan lahan, ada dua hal yang perlu dipertimbangkan. Penetapan di daerah Bagian Kanan: Kanan Jalan akan ditetapkan pada awal tahap dengan mengumumkan rencana induk tata ruang. Dalam proses pembebasan lahan, priorities perlu diberikan untuk bagian yang 19

Contoh Kalkulasi 2 Jika nilai lahan besarnya setengah dari total biaya Rp 500.000-/m2 Nilai penggunaan lahan tahunan diasumsikan sebesar 5% dari nilai tersebut: Rp 25.000-/m2/tahun Pemerintah dapat memperoleh pajak sebesar 50% dari keuntungan: 2-45.000-/m 2x 200m=45.000.000-/m Pendapatan tahunan sebesar 25.000-/m x 200m= 5.000.000-/m

12 - 50

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

membutuhkan periode pembangunan yang lama. Umumnya, pemebebasan lahan dan permukiman penduduk akan dilakukan melalui prosedur berikut:

Diagram Prosedur Pembebasan Lahan 1. Pertemuan para pihak (stakeholder) untuk kompensasi penggunaan tanah Penjelasan kepada pemilik tanah/rumah dan pemegang sewa tentang proses dan rincian kompensasi „

Penyerahan tanah

„

Menciptakan batas luar tanah (superficies)

2. Survei Topografi Awal Survei untuk mematok guna menetapkan lebar jalan terhadap: „

Lahan yang dibebaskan

„

Lahan untuk menciptakan batas luar tanah

3. Survei Topografi Lahan Untuk mengkonfirmasikan batas dan luas setiap lahan: „

Lahan yang dibebaskan

„

Lahan untuk menciptakan batas luar tanah

4. Survei Arsitektur „

Survei untuk Arsitektur, Gerbang, Tembok, Pergudangan, Pohon menurut Jenisnya, Struktur, Ukuran, Material, Kuantitas and Hak untuk memperoleh data untuk membuat perkiraan biaya relokasi.

„

Survei kondisi bisnis actual, jika ada

„

Survei yang diperlukan untuk menciptakan batas luar tanah

5. Perkiraan Nilai Tanah Terhadap setiap tanah yang dimiliki atau disewakan „

Perkiraan nilai tanah

„

Perkiraan nilai batas luar tanah

12 - 51

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

6. Perkiraan Biaya Kompensasi Perkiraan biaya relokasi dan tak terduga untuk arsitektur, jika ada terhadap setiap pemilik rumah

7. Negosiasi dengan setiap pemilik untuk membuat kontrak Negosiasi akan dilakukan dengan setiap pemilik tentang: „

Terhadap Pemilik Tanah: Luas Tanah, Harga Beli, Kuantitas Arsitektur, dll, Biaya Kompensasi untuk Relokasi, Tanggal Relokasi dan Tanggal Penyerah-alihan Tanah.

„

Terhadap Pemegang Sewa: Biaya Menciptakan superficies dan Tanggal Penyerah-alihan Tanah

8. Penandatanganan Kontrak Setelah Melalui negosiasi, maka kontrak akan ditandatangani terhadap masing-masing Pemilik Tanah dan Arsitektur

9. Pembayaran Biaya Kompensasi Pembayaran Kompensasi dengan menerima nota/tagihan Berdasarkan Nilai Kontrak yang Disepakati

12 - 52

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

4. 4.1

PROGRAM AKSI

Keseluruhan Program Implementasi Pekerjaan pembangunan/perbaikan jalan, umumnya, dilakukan dengan cara berikut. Rencana Induk Keputusan Politis Pre F/S

1-2 tahun

Studi Kelayakan

0,5-1 tahun

Penetapan Sumber Dana

1 tahun

Studi Detil Desain

1 tahun

PK & Tender

0,5 tahun

Konstruksi

2-3 tahun

3-5 tahun

Pengoperasian

Gambar 4.1 Alur Implementasi Pembangunan Jalan

Proyek jalan pertama yang akan dikerjakan di Mamminasata adalah pelebaran Jl. Sutami dalam skema BOT. Proyek tersebut akan dilanjutkan dengan perbaikan Jl. Perintis agar rampung pada tahun 2010. Pelebaran keempat jalan berikut harus diutamakan. (1) (2) (3) (4)

Jalan Alauddin (dari Pettarani ke Sungguminasa) Perluasan Jalan Hertasning Jalan Malino (dari Sungguminasa ke arah Malino) Jalan Poros Takalar (dari Sungguminasa ke arah Takalar)

Perbaikan keempat jalan tersebut sangat mendesak dan harus dilakukan dalam kurun waktu 5 tahun ke depan. Gambar berikut memperlihatkan jadwal perbaikan jaringan jalan sementara yang diusulkan dalam Studi ini dengan asumsi bahwa volume lalu lintas akan meningkat seperti yang diperkirakan pada analisis kebutuhan lalu lintas dan tanpa hambatan-hambatan politis apapun. Perbaikan jalan 12 - 53

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

setelah tahun 2010 harus diputuskan setelah lokasi kompleks-kompleks perumahan dan industri 20 diketahui. 100

Width Length(m)

1 Perintis

Year

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

2019

2020

2021

2022

3

26

39

35

34

47

72

63

71

78

82

79

78

73

77

78

66

59

14

14

14

1

1

Expected APeriod Const(M$) )

2000

42m

16,000

41

90

3 3

2 Ir Sutami with 1 F/O 70m

11,000

46

2

3 Alauding

5,000

10

7

PreFS

FS

Tender-D/D 23

40m

4 Malino Access

30m

9,000

14

6

5 Middle R/R

40m

8,000

32

3

6 KIMA (Jl Kapasa Ray 40m

5,000

10

5

80

23

6,000

12

2

8 Takalar Access

25m

23,000

29

11

9 Mamminasa Bypass

100m

40,000

320

15

FS

DD

DD

3km

350

35

4

10 Abudullah Daeng Siur 35m

15,000

53

11

11

2

2

1

1

2

2

2

T1

5km

20m

10,000

10

40m

18,000

96

3

3

3 DD

3

3

DD

6

6

WaterCanal

FS

3

3

3

FS

396

15

9

6

6

6

2

2

2

13 Trans Sulawesi Bridge

40m

400

32

4

14 Hertasning

25m

21,000

26

15

15 KIWA Access

40m

13,000

26

15

16 Around Sungminasa

15m

15,000

11

8

9

7km 6

2

6

6

6

14

14

14

14

26

26

26

26

14 30km 26

20km 26 26

26

14

26

26

26

FS

4

2

5

2

6

2

7

2

8

2

9

1

20 26

26

DD 8

3

30

5km

14km

2

6

DD

FS

1

21

13km

DD

2

21

9

8km

7km

DD

21

40 9

FS

FS

10km M1 21 21 21

DD

DD

DD

3

14 55,000

60

30km M2 M4 Juneberang 21 21 21 21 21 21

7

90m

2

2km

50 3

M3 FS

5

13 Trans Sulawesi

2

70

2

T3

2

12 AirPort Access

2

DD

T2

FS

9

2

11

6

11 Around AirPort

1

DD

FS

3

9 Mamminasa Bypass Bridge 50m

1 4km

FS

2

7 TanjunBunga Access 20m

1

2

2

FS

DD

10

11

1

8 DD

2

12

1

2 1

13

2

14

1

2

15

2

1

16

8

8 10

2

2

7km

2

17

1

2

18

2

0

1

Catatan: Total jadwal disesuaikan guna keseimbangan pada masing-masing anggaran tahunan. 1.

Pelebaran Jl.Perintis diharapkan dalam waktu dekat.

2.

Jl.Sutami diperkirakan mulai tahun 2006 sebagai BOT.

3.4. Pelebaran akan dilaksanakan dari bagian yang memungkinkan (minimum 500m). 5.

Jalan Lingkar Tengah (bagian selatan) diperkirakan mulai tahun 2007. Bagian utara tidak dipertimbangkan.

6.

KIMA (Jl. Kapasa Raya) akan diperbaiki dalam waktu dekat mengingat kondisinya sekarang.

7.

Akses Tanjung Bunga diharapkan mulai sebelum penjajarannya di ubah menjadi daerah permukiman.

8.

Akses Takalar akan dilanjutkan dengan pekerjaan pelebaransaat ini.

9.

Jalan raya memutar Mamminasa akan dilakukan sebagai proyek jangka 20 tahun, di mulai dari frontage road.

10.

Abdullah Daeng Sirua. Perbaikan kanal diharapkan mulai dalam waktu dekat.

11.

Jalan disekitar airport akan diperbaiki menurut perkembangannya. (dua jalan)

12.

Akses ke bandar udara. Tahap awal di dekat BOT Sutami. Tahap kedua berupa lintasan pesawat baru.

13.

Trans Sulawesi akan diselesaikan sebagai proyek 30 tahun, dimulai dengan frontage road.

14.

Hertasning diharapkan berlanjut dengan pengerjaan pelebaran saat ini.

15.16.

Ini akan dimulai dengan pembebasan tanah pada tahap awal, atau rute ini tidak memungkinkan. Gambar 4.2 Jadwal Implementasi Awal

20

“Survei Lalu Lintas 5 Tahunan” direkomendasikan untuk mengkaji kembali rencana tersebut.

12 - 54

2

2

2

2

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Gambaran umum pekerjaan perbaikan jalan prioritas dipaparkan sebagai berikut:

1

Status & Lebar yang direncanakan Jalan Eksisting L:42m P:12+4km L/A>90%

Uraian Singkat (Disini: L/A maksudnya rasio pembebasan lahan yang rampung yang diperkirakan oleh Tim JICA) Perintis merupakan jalan yang paling penting di daerah ini. Perumahan dan lembaga pendidikan dikembangkan di kedua jalan ini. (4 lajur cepat bertingkat mungkin nanti dapat dibangun di bagian tengah pemisah)

0.3 m

0.3 m

3 .0 m

1.5 m

0.25 m

3.5 m

3.2 m

0.3 m

0.3 m

1.5 m

3.2 m

3.2 m

0.3 m

0.3 m

0.3 m

3.2 m

3.2 m

1.5 m

3.2 m

3.5 m

0.25 m

1.5 m

3.0 m

1.5 m

3.2 m

2

Eksisting, tapi sebagai jalan BOT baru L:70m P:11km L/A:>90%

Sutami berada di dataran rendah. Terdapat beberapa pengembangan industri. 6-8 lajur akan cukup memadai untuk daerah ini. Namun, bila rute ini difungsikan sebagai bypass rute 1 dan menjadi salah satu jalur utama yang paling penting di Sulawesi Selatan, maka bagian tengah dari rute 2 harus dibangun sebagai akses pengendali lajur cepat

3

Eksisting

Pelebaran Jalan Alauddin (dari Pettarani ke Sungguminasa) yang merupakan salah satu jalan paling macet, menghubungkan Makassar dengan Sungguminasa, dan merupakan jalan yang paling membutuhkan pelebaran dan perbaikan. Pembebasan lahannya hampir rampung. Perbaikan Jalan Poros Malino eksisting (dari Sungguminasa ke arah Malino) sebaiknya diarahkan ke timur bersama dengan rute 14. Sebagian dari “Jalan Lingkar Tengah” seperti diusulkan oleh Studi JICA tahun 89 sebagai sebuah pengembangan jalur darat penting. Bagian selatan diperkirakan akan dimulai tahun 2007. Namun, bagian utara tidak direkomendasikan pembangunannya agar tetap menjadi suaka bagi kehidupan air. Jalan ini diharapkan dapat dihubungkan dengan rute 10 ke pusat kota. Kemudian, rute ini mungkin dapat menjadi contoh yang baik untuk melaksanakan proyek penyesuaian ulang lahan. Jl. Kapasa Raya merupakan jalan pusat KIMA dan berfungsi sebagai jalan menuju pelabuhan. Jalan ini harus diperbaiki pada tahap awal mengingat statusnya saat ini.

4 5

6 7

L:40m P:5km L/A:>90% Eksisting L:30m; P:9km Baru, BOT L:40m P:8km L/A>70%

Eksisting L:40m; P:5km L/A>90% Baru L:20m P:6km

Akses Tanjung Bunga merupakan sebuah jalan raya tepi sungai yang menghubungkan Gowa dan GMTC. Jalan ini akan membantu mengurangi kemacetan lalu lintas di pusat kota Makassar melalui Rd Metro Tanjung Bunga. Pelaksanaannya diharapkan dimulai sebelum rute yang dilalui dijadikan kawasan permukiman.

12 - 55

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

8

Eksisting L:25m P:27km

Jalan Poros Takalar merupakan bagian proyek yang sedang berlangsung yang bermula dari Sungguminasa ke arah Takalar. Pelebaran sepanjang 4km telah rampung dan pelebaran lanjutan ke arah selatan sedang direncanakan. Rute 13 akan berfungsi sebagai bypass dari jalan eksisting ini. Jadwal konstruksi yang diperkirakan Tim Studi JICA 2005 paling lambat sebagai berikut; Nama Sektor

9

Baru L:100m P:30+10km (10km berada di sisi selatan Jeneberang)

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

- 2005

-2010

T1

T2 (6km)

-2015 T3 (10km)

T4 (7km)

Panjang Keseluruhan 4km 10km 20km 21km Jalan lingkar Luar alternatif, disebut juga “Bypass Mamminasa”. Diharapkan agar DAMIJA diperoleh pada saat harga lahan rendah untuk memastikan lancarnya pengembangan jalan masa depan. Bypass Maminasa akan menjadi proyek 20 tahunan. Proyek akan dimulai dengan pembangunan bagian depan jalan. Jalur terminal akan dibangun di sepanjang jalan ini. (Bab 5-5-2)

Crossing Road Tunnel

10

Perbaikan Baru L:35m P:15km L/A>50%

Abdullah Daeng Sirua akan menjadi rute ke arah timur yang penting. Perbaikan ini merupakan sebuah program pengembangan jalan yang mendesak. Perbaikan ini juga diharapkan dapat memperbaiki kondisi lingkungan di kanal penyediaan air hingga ke instalasi penjernihan dengan cara menempatkan sungai di bawah tanah. Perbaikan kanal air akan dimulai pada tahap Widened Road awal. Existing Road

Pipe Culvert

11 12

Eksisting L:20m; P: 10km Baru L:40m: P:18km L/A:>50%

13

Baru

Existing Canal

Perbaikan dua jalan di sekitar bandara. Jalan tersebut harus diperbaiki sesuai dengan pengembangan bandara. Akses bandara. Sebagai tahap awal, BOT Sutami akan N dilakukan. Akan lebih baik bila jalan diperpanjang hingga Airport melewati terminal bandara, Sutami dengan mempertimbangkan Extension Sutami pemanfaatan lebih jauh dari keseluruhan sistem jaringan jalan. Tahap kedua sebaiknya disertai dengan pembangunan landasan Runway pacu baru. Jalan tersebut akan Perintis berada di bawah landasan pacu Trans baru. Sulawesi Pembangunan terowongan yang sedang berlangsung saat ini merupakan hal yang mendesak untuk landasan pacu baru. Jalur cepat Trans–Sulawesi merupakan rute penting untuk menghubungkan Makassar dan

12 - 56

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

L:90m 30+5+20km (30km: Bagian Utara Jalan Lingkar Tengah)

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Selawesi Tengah. Jalur cepat dan kereta dapat termuat dalam DAMIJA. Proyek-proyek kota berskala besar dapat dilakukan di sepanjang rute tersebut. Ini akan menjadi sebuah proyek jangka panjang yang membutuhkan waktu lebih dari 20 tahun. Proyek ini dapat dimulai dari pembuatan sisi depan jalan.

5+20km: Bagian Selatan Sungai Jeneberang)

14

Baru

L:40m P:13km

Rute Hertasning saat ini sedang dikembangkan dengan menggunakan anggaran APBD dan sebaiknya dibangun bersama dengan proyek-proyek kota satelit yang baru. Pengembangan ini akan membantu fungsi rute 4. Rute akses dari kota satelit ke pelabuhan melalui KIWA. Rute ini berfungsi sebagai jalan akses pelabuhan dan mengembangkan kawasan-kawasan industri di sepanjang jalan di GOWA.

Eksisting L:15m; P:15km

Beberapa jalan harus diperbaiki untuk mengurangi kemacetan lalu lintas masa depan di sekitar Sungguminasa.

L:25m 14+7km 15

16

Baru

4.2 1)

Rekomendasi Untuk Implementasi Jalan Perintis Volume lalu lintas di Jalan Perintis diperkirakan akan melebihi kapasitas jalan, sementara Sutami akan menghadapi volume lalu lintas berlebih seperti diperkirakan dalam ramalan kebutuhan lalu lintas. Kondisi ini merupakan dampak dari peran Makassar sebagai pusat perekonomian, pemerintahan dan transportasi di daerah ini. Jalan utama yang terbagi menjadi dua: Jalan Sutami dan Perintis, harus ada untuk menghubungkan kota pusat ini dengan daerah utara dan bandara. Di tahun 2010, ramalan lalu lintas JICA memperkirakan bahwa rasio volume-kapasitas (Volume-Capacity Ratio) akan melebihi 2.0, atau dua kali lebih tinggi dari kapasitas jalan, yang dapat berdampak pada terjadinya kemacetan lalu lintas yang sangat parah di Makassar. Kondisi ini akan semakin diperparah oleh kemajuan urbanisasi dinamis di daerah sekitarnya dan oleh perluasan bandara. Oleh karena itu, pelebaran hingga 8 lajur telah ditetapkan sebagai prioritas utama.

2)

Jalan Trans-Sulawesi dan Bypass Mamminasa Pulau Sulawesi tidak memiliki jalan utama untuk menghubungkan pusat-pusat kota dengan Makassar. Jalan yang ada saat ini hanya memiliki 2 lajur dan 12 - 57

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

permukaannya sangat buruk. Kebutuhan transportasi untuk pertambangan dan industri lokal, dalam ramalan kebutuhan lalu lintas, diperkirakan akan meningkat. Jalan Trans-Sulawesi dan Bypass Mamminasa dapat berfungsi sebagai jalan utama untuk menghubungkan dengan kawasan-kawasan industri dan kota-kota baru dengan jumlah penduduk lebih dari 300.000 jiwa. Dengan melihat kemajuan urbanisasi di sepanjang jalan yang direncanakan tersebut, maka sebuah studi akan dilaksanakan sesegera mungkin yang disertai dengan pembebasan lahan. Studi jalan ini akan ditetapkan sebagai prioritas kedua dalam Studi Rencana Induk ini. 3)

Jl . Abdullah Daeng Sirua dan Jl. Hertasning Kedua jalan ini akan menghubungkan pusat kota dengan Bypass Mamminasa yang berada di sebelah timur wilayah Mamminasata dimana diperkirakan akan terjadi proses urbanisasi dinamis. Kedua jalan ini akan membantu mengurangi kemacetan lalu lintas di pusat kota melalui penyediaan jalan-jalan poros timur-barat, karena saat ini hanya ada satu jalan poros timur-barat. Kedua jalan ini juga akan berfungsi sebagai jalan arteri dari pusat kota Makassar ke kawasan-kawasan industri baru serta ke kota-kota baru yang dirancang dalam Rencana Induk ini. Jl. Abdullah Daeng Sirua merupakan sebuah jalan yang terletak di sepanjang kanal air (Sungai Lekopancing). Sampah dibuang di kanal ini dan digunakan sebagai tempat berenang oleh anak-anak. Kanal ini tidak layak dijadikan sebagai sumber air minum. Meletakkan kanal di bawah tanah akan mengurangi pencemaran air dan permukaan gorong-gorong (pipa beton) selebar 30 m – 50 m dapat dimanfaatkan sebagai jalan. Waktu pelaksanaan konstruksi jalan ini dijadwalkan sebagai berikut:

-2010 Pembuatan Pipa Air

(4km)

Pembangunan Jalan

-

12 - 58

-2015

-2020

(8km)

(7km)

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

4)

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

Jalan Lingkar Tengah (Sektor 1) Tiga jalan lingkar diusulkan dalam Studi JICA tahun 1989. Rute Jalan Lingkar Tengah menghubungkan Jalan Perintis/Jalan Sutami dan “Sungguminasa” serta memperlancar arus lalu lintas di jalan poros utara-selatan di luar Jalan Lingkar Dalam. Meski demikian, pembangunan bagian utara Jalan Lingkar Tengah (Sektor 2) yang melintasi muara Sungai Tallo tidak direkomendasikan dengan mempertimbangkan dampak-dampak negatif terhadap lingkungan dan besarnya biaya pembuatan tanggul yang dibutuhkan untuk potongan jalan ini. Perubahan rute ini diusulkan sebagai upaya untuk melindungi lingkungan dan ekosistem di muara Sungai Tallo. Lahan telah berhasil dibebaskan untuk

Figure 4.3

Conservation Area

Gambar 4.3 Kawasan Lindung

Jalan Lingkar Tengah Sektor 1 di sebelah selatan yang akan menjadi bagian dari Jalan Trans-Sulawesi seperti diusulkan dalam Studi ini. Bahkan, jika bagian utara Jalan Lingkar Tengah tidak dibuat, jalan alternatif untuk transportasi kargo dari wilayah Sungguminasa hanya sejauh 3 km. 5)

Perpanjangan Jalan Akses ke Bandara Jl. Ir. Sutami akan diperlebar sebagai jalan tol dan jalan ini secara langsung akan menghubungkan Makassar dengan bandara yang baru. Dari sudut pandang usulan sistem jaringan jalan, maka akan lebih baik bila jalan ini diperpanjang hingga melewati terminal bandara, melintas di bawah landasan pacu yang baru dan menghubungkannya dengan jalan Trans Sulawesi. Pembangunan terowongan dijadwalkan bersamaan dengan pembangunan landasan pacu yang baru.

12 - 59

STUDI IMPLEMENTASI TATA RENCANA TATA RUANG TERPADU WILAYAH METROPOLITAN MAMMINASATA

Studi Sektoral (12) TRANSPORTASI DARAT

N Sutami

Bandara Sutami

Perintis

Perpanjangan

Landas Pacu

Trans Sulawesi

Gambar 4.4 Rancangan Rute-rute Jalan Dekat Bandara Hasanuddin

4.3

Langkah-langkah Perlindungan Lingkungan Konstruksi jalan sering dikatakan sebagai contoh perusakan lingkungan. Namun, dalam studi RTR Mamminasata ini, konstruksi jalan diharapkan dapat menjadi tolak ukur bagi perbaikan lingkungan dan penciptaan wilayah metropolitan yang bersih. Program penanaman pohon merupakan salah satu langkah penting yang dapat diwujudkan dalam pelaksanaan perbaikan jalan.

Kota Hijau/Bersih

Penanaman Sejuta Pohon

Median tengah, trotoar, tanjakan samping, dan seluruh wilayah jalan yang tersedia akan dimanfaatkan untuk gerakan penghijauan. Meski demikian, kegiatan penanaman pohon di sepanjang jalan sebenarnya memiliki beberapa kekurangan. Berbagai kekurangan berikut dapat ditanggulangi dengan sistem pemeliharaan yang baik. (i) Sulit menggunakan trotoar dan mengakses gedung yang terletak di sisi jalan. (ii) Berkurangnya jarak pandang. (iii) Rambu-rambu jalan sulit untuk dibedakan dan mengurangi intensitas pencahayaan jalan. (iv) Membutuhkan waktu sekitar 10 tahun hingga pohon cukup besar dan, selama periode tersebut, kegiatan pemeliharaan dibutuhkan.

12 - 60