A. KONSEPTUALILASI AGAMA AGAMA

Agama adalah wadah yang mengatur berbagai hal yang dikembangkan/ditata untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. ... Budha, Hindu, maupun Konghucu...

0 downloads 5 Views 519KB Size
TOPIK 1 PENGANTAR CHARACTER BUILDING: AGAMA

A. KONSEPTUALILASI AGAMA Agama adalah wadah yang mengatur berbagai hal yang dikembangkan/ditata untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Orang yang beragama, biasanya memiliki iman yang dianut di dalam agamanya.

AGAMA

IMAN

Agama lebih condong kepada institusional/organisasi/kelompok orang. Sedangkan iman lebih bersifat pribadi/individual sebagai tanggapan manusia atas undangan/wahyu Tuhan. Agama semestinya disinergikan dengan iman sehingga seseorang sungguh bisa memiliki agama dan beriman dengan baik dan benar pula. Agama dimaknai sebagai keyakinan religious dan sakral yang dipersepsikan dalam konteks antromorfis ketuhanan, akan suatu kekuatan tertinggi yang melampaui kemampuan manusia. Keyakinan ini terdapat pada semua penganut agama di dunia umumnya dan khususnya Agama Islam, Khatolik, Protestan, Budha, Hindu, maupun Konghucu yang dianut oleh masyarakar Indonesia. Semua agama mengakui adanya Tuhan. B. TERMINOLOGI IMAN Dalam konteks keyakinan keagamaan, terminologi iman dipahami sebagai percaya di dalam batin/nurani, pasti tentang sesuatu, pasti tentang Tuhan dan Wahyu-Nya. Artinya seseorang yang beriman tidak ragu tentang kebenaran Tuhan melalui wahyu suci di dalam keyakinan agama masing-masing. Sehingga iman adalah jawaban atau tanggapan manusia atas wahyu Tuhan C. ELEMEN DASAR AGAMA Lima elemen dasar yang terdapat pada Agama: 1) Memiliki kepercayaan agama Kepercayaan artinya keyakinan atau iman yah kokoh dan tidak digoncangkan pada Tuhan ataupun substansi yang disembah dalam agama-agama. Keyakinan akan tampak dalam hal seperti pengakuan adanya tuhan, contohnya: keyakinan akan keselamatan di akhirat, dll. 2) Memiliki simbol agama Simbol biasanya berkaitan dengan filosofi atau cara pandang para penganut agama yang berkaitan dengan Tuhan yang mereka sembah dalam hal agama mereka. Kelompok agama lain tidak dapat memahami secara baik dan mendalam tentang simbol-simbol agama lain. Simbol biasanya menjadi sarana pendukung praktik ibadah atau ritual kelompok penganut agama yang bersangkutan. Contohnya seperti dalam agama Islam ada tasbih, dalam agama Katolik ada simbil Rosario, dalam agama Kristen Protestan (Dan Katolik) ada simbol salib, dalam agama Budha dan Hindu ada simbol patung-patung, dalam agama Konghucu ada Hio, dll. Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

3) Memiliki praktik agama Praktik agama dilakukan sebagai ungkapan iman para pemeluk agama kepada Tuhan. Contohnya seperti berdoa, sembahyang/sholat/yoga, berpuasa, berpantang makan daging hewan tertentu,dsb. Praktik agama ada yang bersifat wajib dan harus, ada pula yang bersifat tidak wajib, disertai dengan konsekuensi aturan dan ketentuan yang menyertainya. 4) Memiliki umat penganut agama Umat merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki iman, keyakinan, dan kepervayaan yang sama akan Tuhan atau Allah ataupun sebutan lain yang searti dengannya. Penganut masing-masing agama menjalankan ibadah atau upacara keagamaan untuk menunjukkan eksistensi mereka sebagai umat dari golongan agama tertentu. 5) Memiliki pengalaman keagamaan Pengalaman keagamaan sering menjadi tolak ukur untuk menentukan kadar kedalaman hubungan orang beragama dengan Tuhan. Semakin dalam hubungan dengan Tuhan, seseorang akan mudah mengalami pengalaman keagamaan, begitu pula sebaliknya. Contohnya seperti saat seseorang mengalami pengalaman keagamaan, akan merasa terdorong untuk menunaikan ibadah Haji di Mekkah (Untuk agama Islam), menghayati panggilan khusus menjadi pendeta (Untuk agama Kristen Protestan), merasa terpanggil untuk menjadi pastor, biarawan, dan biarawati (Untuk Agama Katolik), merasa terpanggil untuk menjadi biksu (Untuk Agama Budha), dll. D. PERAN AGAMA BAGI MANUSIA 1. Membentuk pribadi yang Religius-Spiritual : Penganut akan menghayati dan berkomitmen menghidupi nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan religius dalam keseluruhan kehidupannya dan akan memegang teguh prinsip-prinsip nilai tersebut dalam segala situasi, kondisi dan dalam mengembank profesi apa saja. 2. Membentuk pribadi yang Bermoral 3. Membentuk pribadi Arif dan Bijaksana: pribadi yang mampu menunjukkan perbuatan baik dalam kenyataan/tindakan sehari-hari (menolonh sesama,dll) dan pribadi yang mengutamakan hati nurani dan pikiran benar yang terwujud dalam tindakan konkret yang tidak mendatangkan kerugian atas penderitaan-kemalangan bagi sesama. E. CARA-CARA MEMPELAJARI AGAMA 1. Rajin berdoa (bentuk kegiatan manusia dalam berkomunikasi dengan Tuhan) 2. Setia melakukan ritual peribadatan 3. Merenungkan kitab suci Agama 4. Mencontohi ajara para Nabi dan Orang Suci

Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

TOPIK 2 AGAMA PADA UMUMNYA

A. AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA Agama menjadi sumber ajaran moral bagi penganutnya serta menjadi sumber etika sikap dan perilaku. Hal yang unik dari setiap agama terletak pada sifat ajaran yang dipandang sebagai hal kudus, suci, sakral, dan bernilai luhur, persepsi tentang agama dalam doktrin mempengaruhi sikap manusia dalam totalitas hidup pribadi maupun interaksi sosialnya. B. MOTIVASI HIDUP BERAGAMA Para penganut agama memiliki motivasi-motivasi internal tertentu dalam memilih agama yang dianutnya. Motivasi keagamaan itu umumnya bersifat psiko-subjektif yang diyakinin sebagai hal yang baik dan benar yang mengarahkan perilaku cara berpikir dan cara bertindak mereka sepanjaag hidup. Hal pokok sebagai motivasi dasar mengapa penganut agama menghayati agamanya: 1. Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar kehidupan yang tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Seperti fenomena bencana alam, kematian manusia, dan kemungkinan hidup sesudah kematian. 2. Mengatasi keterbatasan-keterbatasan manusiawi yang dialami dalam hidupnya. Ketika manusia mencapai keterbatasan dalam hidupnya, manusia akhirnya akan mengakui adanya kekuatan aun yang jauh melampaui kekuatan manusia. 3. Untuk menciptakan keteraturan dan hubungan sosial. Seseorang menganut agama untuk mengarahkan hidupnya agar berjalan sesuai tujuan yang benar,

C. TIPE-TIPE AGAMA 1. Tipe-tipe agama berdasarkan tipe relevasi/pewahyunya: a. Agama Revelasi: agama yang diasumsikan sebagai hasil revelasi/wahyu Tuhan yakni Agama Yahudi, Agama Kristiani, dan Agama Islam. b. Agama Non Revelasi: agama yang diasumsikan bukan revelasi namun bersumberkan tradisi-budaya yakni Agama Budha, Shinto, Taoisme, dan Konghucu. 2. Tipe-tipe agama berdasarkan tipe misionaris/sifat pewarisannya: a. Agama Misionaris: Budha, Islam, Kristiani b. Agama Non Misionaris: Hindu, Zoroastra dan Yahudi 3. Tipe-tipe agama berdasarkan geografis dan Ras: a. Semitik: Islam, Kristiani, dan Yahudi b. Arya: Hindu, Zoroastra, dan Jainisme c. Mongolia: Konghucu, Shintoisme, dan Taoisme d. Agama Budha merupakan sintesis atau kombinasi antara Arya dan Mongolia Pembagian diatas hanyalah perspektif untuk menunjukkan karakteristik atau ciri khas dari tipologi agamaagama yang dianut manusia. Namun sesungguhnya dari filosofi keagamaan, semua agama manusia sebetulnya mengarahkan diri atau mengorientasikan tujuan hidupnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

D. SUBSTANSI AGAMA-AGAMA Pandangan kaum intelektualisme, dekonstruksionisme, dan strukturalisme tentang definisi agama: 1. E.B Taylor: agama adalah kepercayaan kepada wujud2 spiritual didalam kehidupan manusia. Walaupun agama memiliki banyak perbedaan, namun secara substansial semuanya sama dalam satu hal, yakni mengakui adanya roh-roh di alam yang bisa berpikir, bertindak dan merasakan seperti hal nya manusia. 2. Auguste Comte: agama sebagai rangkaian akidah yang tersebar dalam bagian2 masyarakat dan juga menganggapnya sebagai faktor dayatarik masyarakat . E. ASAL-USUL AGAMA E.B Taylor mengorbitkan ide “kesatuan psikis” yang menyebabkan manusia memiliki potensi2 spiritual dan pikiran yang sama. Manusia itu sama dalam berpikir dan bertindak. Kesamaan tersebut bersumber dari kesamaan mendasar dalam benak manusia, karena kebanyakan buday2 adalah hasil kkreasi manusia. Prinsip kesatuan psikis memberikan asumsi bahwa agama dalam seluruh ruang dan waktu, selain memiliki perbedaan, juga memiliki fenomena yang sama bahkan berasal dari sumber yang sama. F. KARAKTERISTIK AGAMA Lima karakter dasar yang terdapat dalam agama: a. Memiliki kepercayaan agama (percaya bahwa tuhan itu ada) b. Memiliki simbol agama (untuk membantu dalam praktik ibadah) c. Memiliki praktik agama (sebagai ungkapan iman kepada tuhan) d. Memiliki umat atau penganut agama (orang yang memeluk agama) e. Memiliki pengalaman agama (menjadi tolak ukur kedekatan penganut agama dengan Tuhan) G. MEMBACA DAN MEMAKNAI Dengan model pembacaan dan pemaknaan agama yang tidak terjebak pada simbol dan homogenitas, umat beragama diharapkan menjalankan keberagamaan baru yang humanis dan membebaskan.

TOPIK 3 MENGENAL TUHAN BERDASARKAN KITAB SUCI

A. KONSEP TUHAN Terdapat tiga konsep tentang relasi atau hubungan antara Tuhan, manusia dana lam ciptaan-Nya: 1. Deisme : Tuhan YME menciptakan alam dengan sempurna dengan segala hukumnya, kemudian semuana diserahkan kepada alam dan manusia untuk menentukan kehidupannya masing-masing, sementara Tuhan tidak ikut campur tangan dalam perbuatan manusia dan dinamika alam. 2. Panteisme: Semua peristiwa di ala mini tidak luput dari kehendak Tuhan. Kejadiam alam, perbuatan manusia, pandai atau tidak, beruntung atau celaka, semuanya ditentukan Tuhan dan dikendalikan oleh Tuhan. 3. Teisme: Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia tetapi masih saja terdapat hal-hal yang diluar kemampuan manusia. Paham Teisme percaya bahwa Tuhan bukan sekedar pencipta yang jauh, melainkan dekat juga didalam kehidupan manusia dan alam. Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

B. AT-TAUHID (DALAM ISLAM) Dalam pandangan muslim, Tuhan adalah Allah yang Satu, dan Tuhan itu satu adanya. Allah itu bersifat kekal/abadi. Allah tidak dilahirkan oleh apapun. Tidak ada sesuatu apapun yang ekuivalen dengan Allah. Hal ini menunjukkan secara mendasar karakteristik monoteistik di dalam Islam dalam mepersepsikan Allah SWT. C. ALLAH TRITUNGGAL (DALAM KRISTEN: KATOLIK DAN PROTESTAN) Konsep ketuhanan dalam Tritunggal adalah: Allah Bapa yang ada disurga (gambaran tentang kesempurnaan, kesenangan, keindahan, ketenangan, kedamaian, dan ketentraman), yang menjelma menjadi manusia Yesus Kristus (100% Allah dan 100% manusia), yang diutusNya untuk membebaskan manusia dari dosa.\ dan setelah kematiannya, Ia bangkit dan naik ke surge, namun tetap berpengaruh atas manusia melalui kuasa Roh Kudus (Realitas kuasa Allah yang masih hiudp dan melindungi dunia ini hingga kini dan selamanya). D. ALLAH TRIMURTI (HINDUISME) Didalam keyakinan agama Hindu, orang awam hanya tahu bahwa penganut agama Hindu juga memiliki kepercayaan kepada 3 dewa yang disebut Trimurti atau tiga Dewa, yaitu Dewa Brahma (Dewa pencipta), Dewa Wisnu (Dewa pemelihara), dan Dewa Siwa (Dewa Perusak). Kategorisasi tiga dewa itu berasal dari pengamatan yang sangat intensif terhdap gejala ala mini, dimana ada sebuah peristiwa yang meliputi ketiga aspek berikut: ada proses penciptaan, ada proses pelestarian atau pemeliharaan, ada proses perusakan atau pemusnahan (lebih tepat: pengembalian kepada bentuk awal). E. ALLAH BUKAN PERSONAL (BUDHISME) Dalam teologi agama Budha, Tuhan disebut dengan term : Atthi Ajatam Abhutan Akatam Asamkhatan, yang anrtinya sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan dan yang mutlak Adanya. Tuhan tidak dipandang sebagai suatu pribadi (impersonal), tidak berkarajter antropomorfisme (ciriciri yang berasal dari wujud manusia) ataupun antropopatisme (pengenaan pengertian yang berasal dari manusia). Budhisme memandang Tuhan sebagai Yang Maha Esa, Yang Mutlak, sebagai Yang Maha Tinggi, Maha Luhur, Maha Suci, Maha Sempurna, Kekal atau tanpa awal dan akhir. F. TUHAN DALAM KONGHUCU Konfusionisme tidak eksplisit menyebut nama Allah di dalam kepercayaannya, namun ia tetap mengakui adanya Kekuatan Tertinggi yang menciptakan realitas alam semesta ini.konghucu lazimnya menyebut tuhan dengan istilah Thian (pencipta alam semesta). Thian digambarkan dengan ciri-ciri: a). Yuan (yang selalu hadir), b). Heng (yang selalu berhasil), c). Li (yang selalu membawa berkah), d). Zhen (yang selalu adil dan tidak membeda-bedakan). G. CONTOH-CONTOH GAMBARAN TENTANG TUHAN a. Tuhan yang Maha Kuasa: gambaran ini mendorong kita untuk tidak patah semangat, tetap mau berusaha keras dan tidak pernah mengenal lelah. b. Tuhan Maha Adil: tidak perlu cemas dan sedih jika diperlakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan tidak adil. c. Tuhan Maha Tahu: kit apercata bahwa tidak satu pun hal di dunia yang tersembunyi di mata Tuhan. d. Tuhan Maha Pemaaf dan Maha Pengampun: gambaran ini mendorong manusia untuk memaafkan oranglain yang bersalah kepada kita. Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

e. Tuhan Maha Pengasih: gambaran ini membuat hati kita penuh hangat dan cinta terhadap sesama dana lam.

TOPIK 4 MENGENAL TUHAN MELALUI ALAM A. MEMAHAMI ALAM LINGKUNGAN Alam dan lingkungan terdiri dari unsur-unsur non manusiawi (sinar matahari, tanah, udara, air, flora, fauna, iklim, suhu,dll) yang terdapat dalam di dalam semesta ini. Hubungan antarunsur di dalam alam semesta saling menentukan keberadaan masing-masing. Jika salah satu unsur alam rusak/langka, maka dipastikan bagian lain dari alam ikut rusak, hancur dan binasa. Misalnya ketika air mata di gunung mengering, maka dipastikan segala unsur biotik seperti tumbuhan, hewan dan manusia langsung terkena imbasnya, yaitu krisis air. Sehingga ketika alam rusak atau dirusakkan, maka tamatlah riwayat hidup manusia dan seluruh makhlukh hdiup dalam alam semesta. Dua penyebab utama krisis alam lingkungan: 1. Pada tataran praktis, kerusakan muncul karena sukap dan perilaku manusia yang tidak berlandaskan nilai-nilai moral-etis dalam mengembangkan relasi dengan alam. Menunjukkan cara bersikap tidak ramah pada lingkungan. 2. Pada tataran paradigma atau cara berpikir manusia. Cara berpikir sesat-keliru pada alam akan terwujud dalam prilaku tidak bijak dalam relasi manusia dengan alam. Mindset yang keliru menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan alam semesta. Skolimoswki memperkenalkan suatu paradigm berpikir baru, yaitu Eco-philosopy. Kekuatan utama prinsip ini yakni cara berpikir baru yang melihat alam secara religious spiritual. Prinsip ini sama artinya dengan eco-spiritual dimana memberikan suatu perintah religious-spiritual bagi manusia untuk kembali menghargai nilai2 intrinsik yang mengkristal didalam alam. Sebagai orang yang beragama dan beriman, kita harus sadar untuk menjaga alam. Kita tidak hanya perlu berpikir atau berdoa saja, tapi juga perlu untuk bertindak nyata. B. ALAM SEMESTA SEBAGAI PENAMPAKAN TUHAN Lingkungan alam adalah sebuah kenyataan yang diberikan oleh Tuhan untuk manusia. Karenanya lingkungan alam adalah berkat (rahmat) dari Tuhan yang perlu disyukuri oleh setiap manusia. Bentuk syukur tersebut dapat direalisasikan dalam wujud sikap tanggungjawab manusia untuk menjaga dan melestarikan lingkungan alam. C. MAKNA RELIGIUS ALAM DAN ECO-TEOLOGY Inti dari pemikirna eko-teologi adalah terdapat hanya satu kesatuan instrinsik antara berbagai elemen yakni, Tuhan, manusia, dan segala entitas yang ada di alam. D. CARA-CARA PEDULI PADA ALAM LINGKUNGAN Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

Yang lebih penting saat ini adalah keberanian untuk bertindak nyata peduli pada alam daripada sebuah renungan bijak tentang alam. Cara menunjukkannya dengan: 1. Menyadari lingkungan alam sebagai kehidupan segala makhluk di dunia termasuk hewan, tumbuhan, dan manusia: agar membuat kita menghargai alam, mengohormati alam, dan bertoleransi pada alam. 2. Melakukan gerakan minimalis dalam kehidupan nyata seharihari: kita hanya perlu mengambil sedikit manfaat saja dari alam tanpa proyeksi nafsu ekstrim untuk menguasainya. 3. Berani mengkritik kegiatan pembangunan yang tidak mendukung kebaikan lingkungan alam 4. Mengembangkan hubungan yang spiritual dengan lingkungan alam: agar menghargai kesucian, kekudusan dan kekeramatan intrinsic yang melekat pada alam. E. BUAH-BUAH KEPEDULIAN PADA ALAM LINGKUNGAN Buah-buah dari sikap peduli pada lingkunga alam dimaksud dan diproyeksikan dalam lima pokok pikiran berupa pengkondisian masa depan alam yang lebih baik lagi, yaitu: 1. Terciptanya lingkungan alam yang seimbang: kerusakan alam yang signifikan dan dampaknya yang merusakkan kehidupan manusia dan makhluk lain akan semakin berkurang atau bisa diminimalisasi. 2. Terciptanya situasi keadilan terhadap alam: manusia mau kembalikan nila-niali intrinsic luhur yang sudah dirampas dari alam itu sendiri. 3. Terciptanya situasi kebaikan alam: alam yang dalam kondisi baik akan tampak dalam suasananya yang asri, yang tersenyum, yang ramah dan bersahabat dengan manusia dan makhluk lainnya. 4. Terciptanya situasi keindahan alam: tindakan peduli pada alam akan menghasilkan kembali lingkungan alam yang indah. 5. Memulihkan sakraliats alam: alam yang sakral sungguh bernilai luhur dan mulia serta kudus karena diciptakan oleh Tuhan sendiri.

TOPIK 5 MENGENAL TUHAN MELALUI SESAMA MANUSIA A. SESAMA MANUSIA SEBAGAI PENAMPAKKAN TUHAN Tuhan hadir dalam kehidupan kita melalui manusia dengan memberikan motivasi atau inspirasi kepada manusia lainnya untuk berbuat baik, berlaku sopan, bertindak tulus dan penuh cinta mengasihi sesama yang lain sebagai mana kita dikasihi oleh Allah sendiri. Tuhan terlalu luar biasa mencintain kita, sehingga kita pun layak untuk membagikan cinta itu kepada sesama yang lain yang belum beruntung nasibnya. B. DIMENSI-DIMENSI MANUSIA 1. Tubuh Tubuh yang sehat akan menjadi kekuatan yang positif bagi ekspresi pikiran, hati dan jiwa seseorang. Jika tubuh dikendalikan dengan baik oleh pikiran, hati, dan jiwa maka sistem fisiologis manusia akan semakin baik dan memberi dampa positif bagi kesehatan tubuh: segar, gembira, damai, tenang,dll. hal yang dianjurkan dilakukan untuk mengolah tubuh agar menjadi pelayan yang bagi bagi manusia: a. Mengonsumsi nutrisi yang baik dan seimbang b. Berolahraga yang seimang dan teratur c. Beristirahat yang cukup, relaks, memanage stress dan berpola pikir preventif Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

2. Pikiran 6 langkah rencana mengembangkan pikiran dengan rumus M-A-S-T-E-R: M = Motivating your mind: membuat pikiran kita selalu dalam keadaan siap untuk belajar. A = Acquiring the information: kenali diri, tipe belajarnya kita itu seperti apa biar bisa ngerti tentang apa yang dipelajari atau cara dapet informasinya. S = Search out the meaning: cari tahu detail dari informasi yang sudah kita dapat T = Trigering the memory: melibatkan indra pendengaran, penglihatan, berbicara, bekerja, serta yang melibatkan emosi2 tertentu agar informasi yang didapat tidak cepat terlupakan. E = Exhibiting what you know: menguji info yang kita punya R = Reflecting how you have learned: merefleksikan apa yang dipelajari kepada diri sendiri. 3. Perasaaan atau hati Perasaan adalah kekayaan estetis kita manusia untuk merasakan keindahan dan cinta kasih. Perasaan tidak boleh dikendalikan oleh perasaan semata-mata, tetapi juga tubuh, pikiran, dan jiwa. Mengelola perasaan artinya kita juga mengembangkan dan meningkatkan emosi, ada lima cara untuk mengembangkan emosi, yaitu: meningkatkan kesadaran diri, memotivasi pribadi, mengatur diri sendiri, berempati, bersosialisasi, dll. 4. Jiwa Jiwa menggerakkan pikiran, perasaan, tubuh, dll. tanpa jiwa, manusia lenyap dan musnah. Covey memperkenalkan 3 hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan jiwa, yaitu: a. Mengembangkan integritas: mensitesiskan perbuatan dengan nilai, keyakinan, dan nurani. b. Makna: menyadari nilai tujuan hidup manusia pada masa kini dan nanti. Kesadaran ini membuat manusia menghargai hidup, waktu dan merefleksikan pengalamannya. c. Suara hati: melalu suara hati, jiwa dapat berekspresi melebihi dimensi rasionalisme. Jiwa adalah tuan dari manusia, berbeda dengan 3 dimensi lainnya yang merupakan pelayan yang baik bagi tuan yang buruk. Alasan mengapa jiwa adalah tuan yang baik bagi manusia: 1. Jiwa adalah hinti atau esensi dari manusia, 2. Jiwa tidak dapat musnah baik karena pembusukan ataupun peniadaan, 3. Jiwa tidak mati, namun tetap hidup terus dalam keabadian. Penjelasan mengenai 4 dimensi diatas memberikan kepada kita wawasan orientasi bahwa dimensi2 manusia adalah satu walaupun mereka masing2 terpisah. C. MENCINTAI SESAMA KITA MANUSIA DENGAN TULUS Semua agama percaya bahwa Tuhan memberikan perintah kepada manusia untuk saling membantu, menolong dan mencintai satu sama lain dalam kehidupan ini. Perbedaan agama yang kita anuti seharusnya tidak membatasi atau tidak menghalangi kita untuk saling menolong dan saling mencintai satu sama lain dengan tulus-ikhlas. D. PERINTAH AGAMA UNTUK SALING MENCINTAI Setiap agama melalui kitab suci masing-masing telah menggariskan kepada kita perintah untuk saling mencintai satu sama lain. Yang penting bagi kita para penganutnya adalah semua ajaran indah tentang cinta kasih ini, tidak ada maknanya kalau kita sendiri sebagai para penganut agama tidak mewujudkan semua ajaran yang bagus-bagus itu kedalam tindakan nyata sehari-hari. Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

TOPIK 6 PERAN AGAMA MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA A. PENDAHULUAN Agama seharusnya dapat berpartisipasi dalam menciptakan dunia yang lebih baik, dunia lebih adil, dan dunia yang damai. Hal ini disebabkan karena agama secara historis dan teologis lahir dari kondisi dimana manusia hidup dalam dosa. Agama dalam konteks ini mendorong transformasi sosial, dari situasi dosa (konflik), ketidak berdayaan menjadi situasi yang lebih baik, adil, damai, sukacita. Untuk dapat menjadi contoh bagi perdamaian dunia, agama tentu harus kembali pada tuhan, dan nmendengarkan pesan-pesannya. Selain itu berusahalah untuk membangun dialog dengan berbagai kelompok yang berbeda. Perbedaan dalam konteks ini adalah cara Tuhan memberikan pesan yang berbeda manusia. Tanpa dialog, manusia tidak akan pernah dapat mendengarkan pesan tentang bagaimana dunia harus dibangun. B. DIALOG ANTAR AGAMA Dialog adalah pembicaraan langsung antara orang-orang yang mempunyai pandangan berbeda tentang suatu hal, untuk saling tukar informasi, sehingga memperoleh saling pengertian diantara mereka. Model dialog antar Umat Beragama: 1. Dialog Bertingkat: a. Dialog kehidupan sehari-hari: semua orang bekerja sama, belajar mencontoh kebaikan dalam praktek sehari-hari, didalam lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja dan lain sebagainya. b. Dialog melakukan pekerjaan sosial: membantu mereka yang mengalami penderitaan, melaksanakan proyek2 pembangunan dan sebagainya. c. Dialog pengalaman keagamaan: berkumpul melakukan doa bersama (dengan cara sendiri-sendiri) untuk tujuan yang sama, misalnya untuk perdamaian dunia, keselamatan bersama, dan lain sebagainya. d. Dialog pandangan teologis: dapat mengangkat pandangan keagamaan dan warisan tradisi keagamaan dalam menyikapi persoalan yang dihadapi manusia. 2. Menghargai perbedaan interpretasi teks suci: a. Mengakui perbedaan pemahaman terhadap kitab suci prang lain b. Menghargai perbedaan pemahaman terhadap Kitan Suci dalam agama tertentu c. Berdebat secara cerdas dan bukan berdebat kusir (tidak menghujat, pengkafiran,dll) C. DIALOG ANTAR AGAMA Muncul kritik bahwa Teologi cenderung melangit, jauh dari kenyataan dan urgensi kemanusiaan. Padahal Teologi adalah cara memahami cara Tuhan dalam konteks yang berbeda-beda. Kita membutuhkan Teologi yang membumi, kontekstual, mampu menjawab masalah-masalah dasar kemanusiaan, dan dapat menjadi pegangan dalam menggumuli praksis hidup dengan tantangannya. 1. Teologi yang membebaskan Teologi pembebasan dalam lingkup Agama Kristen adalah wujud dari gugatan moral dan sosial terhdap ketergantungan pada kapitalisme, wujud kesetiakawanan menuntut kebebasan, sebagai alternative terhadap sikap individualistic. Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

2. Takdir dan kebebasan memilih Dalam Ajaran Islam, Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih dan menentukan pilihannya sendiri di antara sekian banyak kemungkinan. Sesungguhnya Allah tidak akan pernah mengubah nasib seseorang, atau suatu kaum, kecuali orang atau kaum itu mau mengubah nasibnya sendiri (Quran 13:11). 3. Usaha pembebasan yang disertai doa Siddharta Budh Gautama adalah sosok yang juga ingin membebaskan manusia dari rutinitas pikiran dan Dharma, yang sebagian orang tidak mengerti dan hanya menerima apa adanya saja. Ia mengajarkan bahwa penyebab dari penderitaan itu adalah keinginan2 yang datangd ari dalam diri sendiri. Maka untuk membebaskan manusia dari belenggu penderitaan, mesti dilakukan upaya pemadaman, dengan cara menempuh Jalan Muliah Berunsur Delapan. Ketiga hal diatas menjelaskan bahwa agama sesungguhnya membebaskan manusia dari berbagai belenggu, baik berasal dari dalam dirinya sendiri (nafsu dan keserahakan) maupun dari luar (penindasan dan penganiayaan). D. KERJASAMA ANTAR AGAMA 1. Pentingnya kerjasama Untuk lebih efektif menjalankan perannya sebagai sebuah kekuatan pembebasan, maka agama2 harus lebih proaktif lagi dalam mewujudkan konsistensinya yang paling tinggi yaitu kerjasama. Hubungan yang paling dekat dan paling erat serta paling berhasil dalam suatu kemajemukan adalah kerja sama. 2. Bidang-bidang kerjasama a. Penegakan keadilan: agama-agama dapat bersama-sama mengambil langkah yang strategis untuk mengurangi bahkan memberantas praktek yang sudah menyengsarakan rakyat dan umat dalam waktu yang cukup lama. b. Perbaikan taraf hidup (dari segi ekonomi) c. Perbaikan akhlak E. LANGKAH-LANGKAH YANG PERLU DIAMBIL 1. Memperbaiki paradigm hidup keagamaan 2. Membela kaum lemah 3. Menghadirkan suasana surga di bumi 4. Menjadi pelopor perbaikan akhlak 5. Bekerjasama memberantas kejahatan dan menebar kebaikan

TOPIK 7 KRITIK TERHADAP FORMALISME AGAMA A. KONSEP FORMALISME AGAMA Formalisme agama merupakan suatu bentuk penghayatan iman keagamaan yang hanya mementingkan dimensi legalistic-formalistiknya, penampilan fisik lebih diutamakan daripada penghayataan rohani-batiniah. Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

Formalisme agama merupakan suatu sistem religius keagamaan yang menekankan prinsip-prinsip, aturan dan hukum-hukum sebagai unsur yang paling penting dalam penghayatan hidup religius dan kriteria evaluasi diri. Praktik formalism agama bisa sangat diskriminatif dalam sikap dan perlakuan pada sesama yang lain. Bahkan para formalist agama bisa memposisikan diri jauh lebih tinggi dan superior dari pihak lain, tidak bertoleransi, dan tertutup terhadap kelompok lain di luar mereka. Hal ini bisa berbahaya dalam konteks eksistensi dan realitas sosial kita sebagai bangsa yang plural dan multi-religius. Formalism agama memiliki beberapa karakteristik mendasar yang menonjol: 1. Lebih memperhatikan aturan2 formal agama daripada isi atau makna 2. Memberikan prioritas terhadap simbol2 religius dalam ekspresinya 3. Berpikir sangat tinggi terkait dengan tema2 agama sehingga cenderung membela diri dan resisten. 4. Menggunakan istilah2 religius dalam praksis keseharian hidupnya. Dalam konteks kebijakan negara, jika negara mengadopsi konsep formalisme agama ini dan menerapkan secara ketat terhadap kehdiupan para warganya, makan akan menimbulkan masalah karena dimensi kebebasan individu dikekang bahkan tanggung jawab seolah dipaksakan oleh negara kepada warganya. B. RADIKALISME AGAMA DAN FAKTOR-FAKTOR PEMICUNYA Radikalisme agama adalah suatu pandangan atau ideology religius yang ingin mengubah realitas sosial penghayatan agama untuk kembali ke akar2 tradisi pada awalnya yang ketat dan kaku. Radikalisme agama berkadakter konservatif, normatif, tradisional, dan ortodosif. Nilai-nilai yang dibawa oleh kaum radikalisme adalah tidak peduli, tidak kompromi, dan tidak toleransi. Kelompok moderasi atau toleran justru menghargai perbedaan, peduli, kompromi, mencintai keharmonisan dan kedamaian dalam hidup bersama. Hal hal yang dapat memicu gerakan radikalisme/latar belakang Radikalisme: 1. Faktor sosial politik dan ekonomi 2. Rasa emosi/sentiment keagamaan 3. Faktor budaya-etnis 4. Faktor ideology keagamaan 5. Maupun kebijakan pemerintah yang legalistik-radikal C. PETA KRUSIAL FORMALISME AGAMA DAN GELIATNYA DI INDONESIA Di Indonesia, praktik formalism agama terjadi dalam beberapa dimensi kehidupan. Ada beberapa peta krusial praktik formalism agama di Indonesia dalam konteks semangat pluralism dan multikulturalisme: 1. Pengakuan akan hak-hak untuk menganut agama Secara de jure cukup jelas menunjukkan adanya kebebasan memeluk agama, namun de factonegara masih mengintervasi praktik dan penghayatan agama yang sering kali justru memicu konflik dalam hidup sosial. Ini menujukkan agama belum menjadim dengan cukup ideal kehidupan beragama yang baik dan harmonis. 2. Merangkai bingkai teoretik atau strategi kebudayaan untuk tumbuhnya iklim toleransi umat beragama

Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

Fakta membuktikan, kondisi toleransi belum cukup memadai terealisasi di bumi Indonesia ini. Cukup banyak aliran kepercayaan yang tidak dibiarkan tumbuh maupun agama minoritas cukup sulit menjalankan ibadah secara wajar karena justru dipersulit. Bahkan izin pendirian tempat beribadah pun sering dipersulit 3. Paradoks antara naturallisme dan kulturalisme Di Indonesia, paradox ini mulai muncul ketika formalisasi 5 agama di Indonesia yang tumbuh di Indonesia tidak memberi peluang bagi munculnya religi di bumi nusantara ini berkembang dalam wujud agama2 asli etnik. 4. Upaya perumusan Bahasa peradaban Indonesia dihadapkan pada persoalan klaim kebenaran kelompok sendiri dan arus globalisasi kapitalisme ekonomi dalam bentuk euphoria materialism orang Indonesia yang tampil dalam gaya hidup popular-wah saat ini. D. KRITIK TERHADAP FORMALISME: KEMBALI KE SUBSTANSI AGAMA Tidak apa2 jika orang menghayati nilai2 agama secara radikal, namun problem muncul ketika itu dipaksakan kepada orang lain atau dijadikan sebagai tolak ukur paling benar dalam menilai praktik hidup bersama dalam ruang2 sosial publik. Kritik terhadap formalism agama bisa ditempuh dengan cara bersikap kritis dalam menghayati iman keagamaan yang kita anuti. Bersikap kritis artinya memilah, memfilter, menyaring dan menyensor pola pikir, pola sikap, dan pola tindakan kita yang salah, kurang etis dan keliru dalam menghayati keagamaan kita. Ukuran sikap kritis itu kita tempatkan dalam konteks substansi dari agama itu sendiri. Yang menjadi substansi semua gaama adalah: Memuliakan Tuhan Maha Cinta dan mencintai kemanusiaan sesama siapapun etnis dia dan apapun latar belakang agama yang dianutnya. Karena semua agama mengajarkan pesan utama perdamaian, kasih saying, persaudaraan, cinta kasih, dan solidaritas. Semua agama mengajarkan nilai2 kebaikan religius sebagai substansi utama, yaitu: 1. Selalu mendekatkan diri pada Tuhan/Allah (Setia berdoa, melakukan ritual,dll) 2. Peduli pada sesama manusia tanpa memandang perbedaan agama/etnis (membantu, menolong, memberi, berempati, rela berkomrban, solder,dll) 3. Berusaha untuk menciptakan perdamaian menuju kedamaian didalam realiats sosial masayarakt (tidak berkonflik, hidup harmonis, tenggang rasa, bertoleransi, dll) 4. Menghargai ekologi alam (menanam pohon, hidup hemat, hidup sederhana, bersepeda kekampus, tdk konsumtif,dll)

Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community

TOPIK 8 HATI NURANI Hati nurani adalah perasaan pertama yang muncul dari diri seseorang dan diciptakan oleh tuhan (bawaan dari lahir). A. MENGEMBANGKAN SUARA HATI 1. Vertikal: relasi dengan tuhan Contohnya, selalu berdoa kepada tuhan jika menghadapi masalah 2. Horizontal : relasi dengan sesama Contohnya, bertoleransi B. TANTANGAN MENGEMBANGKAN SUARA HATI 1. Ilmu pengetahuan: orang beriman memusatkan perhatiannya pada ilmu pengetahuan dan bukan pada Tuhan, mereka kebanyakan menggantikan Allah dengan peran ilmu pengetahuan. Contohnya dibidang kesehatan, bila ada yang sakit jantung dari sisi ilmu pengetahuan akan ada metode pengobatannya. Namun bila bertanya pada tuhan dulu tentang apa yang harus anda lakukan, mungkin jawabannya adalah jangan dendam dan marah karena sikap seperti itu tidak baik untuk kesehatan jantungmu. 2. Materialisme: menggantikan peran Tuhan dengan semua hal yang bersifat materi. Materi memang tetap penting bagi manusia, namun jangan sampai terbutakan oleh materi. Contohnya seperti orang yang rakus, korupsi. 3. Kebudayaan: wajah dari suatu manusia karena merupakan cerminan dari cara berpikir, beriprilaku, dll. peran Tuhan dapat digantikan oleh kebudayaan, misalnya menyontek. Hati nurani merupakan sesuatu yang penting bagi setiap orang yang beriman. Setiap orang yang beriman tidak hanya mengandalkan ilmu pengetahuan, materim dan kebudayaan sebagai dasar untuk merespon berbagai peristiwa konkrit yang berada diluar dirinya. Oleh karna itu maka sikap dasar seorang yang beriman adalah mendengarkan tuntutan Tuhan melalui suara hatinya untuk merespon setiap situasi atau peristiwa yang berada diluar dirinya.

Seluruh catatan dirangkum berdasarkan buku character building: Agama, yang disusun oleh Tim CBDC, Universitas Bina Nusantara Regards, Binus Student Learning Community