ANALISA RISIKO KESELAMATAN DAN

(Marz dan Hubber 2002). Metode ini adalah metode yang digunakan untuk mengukur dan menganalisa keaman dari suatu produk atau proses. Input dari FMECA ...

1 downloads 226 Views 2MB Size
TUGAS AKHIR

ANALISA RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PROYEK RESERVOIR KREMBANGAN SURABAYA MENGGUNAKAN METODE FMECA (FAILURE MODE AND EFFECT CRITICALITY ANALYSIS) ARIF RAHMAN HAKIM NRP 3114 105 048

DOSEN PEMBIMBING SUPANI, ST,. MT. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2017

TUGAS AKHIR

ANALISA RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PROYEK RESERVOIR KREMBANGAN SURABAYA MENGGUNAKAN METODE FMECA (FAILURE MODE AND EFFECT CRITICALITY ANALYSIS) ARIF RAHMAN HAKIM NRP 3114 1105 048

DOSEN PEMBIMBING SUPANI, ST., MT. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2017

FINAL PROJECT ANALYZE THE RISK OF WORKPLACE ACCIDENTS IN THE IMPLEMENTATION Of RESERVOIR KREMBANGAN SURABAYA DEVELOPMENT PROJECTS USING METHOD FMECA ( FAILURE MODE AND EFFECT CRITICALY ANALYSIS )

ARIF RAHMAN HAKIM NRP 3114 1105 048

SUPERVISIOR SUPANI, ST., MT.

JURUSAN TEKNIK SIPIL Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya 2017

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas selesainya proposal Tugas Akhir. Proposal Tugas Akhir ini penulis susun sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana teknik. Proposal Tugas Akhir, bertujuan untuk memperoleh pengetahuan tentang Analisa Risiko Proyek Reservoir Krembangan Surabaya dengan Metode FMECA (failure mode effect and criticality analysis). Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk menyempurnakan proposal Tugas Akhir ini. Sekalipun demikian penulis telah berusaha semaksimal mungkin agar isi proposal Tugas Akhir ini memenuhi maksud dan tujuan yang penulis harapkan demi tercapainya suatu kesempurnaan yang diinginkan. Dalam penulisan Tugas Akhir ini, penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karenanya penulis tak lupa mengucapkan terimakasih kepada : 1. Supani, ST, MT. selaku dosen pembimbing Proposal Tugas Akhir. 2. Kedua Orang Tua dan Teman – teman. Akhir kata, atas segala bantuan, bimbingan dan arahan dari semua pihak yang ikut membantu terselesaikannya Proposal Tugas Akhir ini, penulis ucapkan terima kasih.

Surabaya,

Januari 2017

ANALISA RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PROYEK RESERVOIR KREMBANGAN SURABAYA MENGGUNAKAN METODE FMECA ( FAILURE MODE AND EFFECT CRITICALY ANALYSIS ) Nama NRP Jurusan Dosen Pembimbing

: Arif Rahman Hakim : 3114105048 : Teknik Sipil FTSP – ITS : Supani, ST, MT. ABSTRAK

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan suatu permasalahan yang banyak menyita perhatian berbagai perusahaan terutama perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi, karena permasalahan ini mencakup segi kemanusiaan, biaya dan pertanggung jawaban serta citra perusahaan itu sendiri. Tugas akhir ini direncanakan untuk menganalisa risiko kecelakaan kerja yang paling kritis pada pelaksanaan pembangunan proyek RESERVOIR KREMBANGAN SURABAYA. Dalam penelitian ini menggunakan metode FMECA (Failure Mode and Effects Criticaly Analysis) untuk mengetahui risiko yang paling kritis dan sering terjadi dalam pembangunan proyek konstruksi. Setelah mengetahui risiko yang paling kritis, diidentifikasi dan diklarifikasi menurut besarnya potensi kegagalan dan efeknya terhadap proses pekerjaan. Metode ini

mengidentifikasi berdasarkan kejadian dan pengalaman yang telah lalu berkaitan dengan proses serupa. Hasil yang didapatkan dari beberapa variable kecelakaan kerja seperti efek buruk, frekuensi kejadian dan deteksi adalah angka prioritas kecelakaan tertinggi (RPN), dimana RPN didapatkan dari hasil kali beberapa variable risiko kecelakaan kerja.

Kata kunci : Manajemen Resiko, Failure Mode and Analysis Criticaly Effect (FMECA), Reservoir, K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).

ANALYZE THE RISK OF WORKPLACE ACCIDENTS IN THE IMPLEMENTATION Of RESERVOIR KREMBANGAN SURABAYA DEVELOPMENT PROJECTS USING METHOD FMECA ( FAILURE MODE AND EFFECT CRITICALY ANALYSIS ) Student NRP Department Supervisior

: Arif Rahman Hakim : 3114105048 : Teknik Sipil FTSP – ITS : Supani, ST, MT. ABSTRACT

Occupational Health and Safety is a problem that mainly seized the attention of companies which primarily engaged in the construction field since these issues include the humanitarian aspects, cost and accountability as well as the image of the company itself. Thus, this final project is planned to analyze the risk of workplace accidents in the implementation of RESERVOIR KREMBANGAN SURABAYA development projects. This research is used the method of FMECA (Failure Mode and Effects Critically Analysis) to determine the risk of the most critical hazards and often occur in the development of construction projects. After knowing the hazards of the most critical risk, it is then identified and clarified by the magnitude of potential failure and its effect on the work process. This identification method

based on events and past experience related to similar process. Results obtained from a number of variables such as the ill effects of workplace accidents, frequency of occurrence and accident detection is the highest priority number (RPN), where RPN obtained from the product of several variables the risk of accidents.

Keywords: Risk Management, Failure Mode and Analysis Critically Effect (FMECA), Reservoir, K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja).

DAFTAR ISI Abstrak ................................................................i Daftar Isi .............................................................v Daftar Gambar ....................................................viii Daftar Tabel ........................................................x BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..............................................1 1.2 Rumusan Masalah .........................................2 1.3 Tujuan Penelitian ..........................................3 1.4 Batasan Masalah ...........................................3 1.5 Manfaat Penelitian ........................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum ...........................................................5 2.1.1 Proyek Konstruksi ...................................5 2.1.2 Proyek Konstruksi Sipil ..........................5 2.2 Manajemen Risiko ........................................6 2.3 Metode Analisa Risiko ..................................7 2.4 Tahap FMECA ..............................................7 BAB III METODOLOGI 3.1 Konsep Penelitian .........................................21 3.2 Metode Penelitian .........................................23 3.2.1 Variabel Penelitian ..................................23 3.2.2 Populasi dan Sampel Penelitian ..............23 3.3 Teknik Pengambilan Data .............................24 3.3.1 Sumber Data ............................................25 3.3.2 Survey Pendahuluan ................................26 3.4 Tahap Penelitian ............................................28 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian ..............................................29 4.1.1 Profil Kontraktor .....................................29 4.1.2 Profil Proyek ...........................................30

4.1.3 Profil Responden .....................................31 4.2 Analisa Respon Risiko FMECA ...................32 4.2.1 Survey Pendahuluan ................................36 4.3 Data Proyek Reservoir Krembangan ............38 4.3.1 Network Planning Reservoir ...................38 4.3.2 Urutan Pekerjaan .....................................39 4.3.2.1 Pekerjaan Persiapan ............................39 4.3.2.2 Pekerjaan Reservoir ............................41 4.3.2.3 Pekerjaan Rumah Pompa ....................49 4.3.2.4 Pekerjaan Sanitair ...............................50 4.3.2.5 Pekerjaan Pompa Distribusi ................51 4.3.2.6 Pekerjaan MEP ....................................52 4.3.2.7 Landscape, Test dan Commissioning .53 4.4 Survey Utama ................................................56 4.5 FMECA Efek buruk ......................................56 4.6 FMECA Frekuensi ........................................59 4.7 FMECA Deteksi ............................................62 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ...................................................66 5.2 Saran .............................................................68 LAMPIRAN ....................................................... DAFTAR PUSTAKA ........................................

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Diagram Pareto ...............................9 Gambar 2.2 Pendekatan FMECA .......................10 Gambar 2.3 Diagram Sebab Akibat ....................11 Gambar 3.1 Lokasi Proyek .................................22 Gambar 4.2 Pek. Persiapan .................................42 Gambar 4.3 Pek. Reservoir .................................44 Gambar 4.4 Visual Pengeboran Pile ...................46 Gambar 4.5 Visual Pembesian Bore Pile ............47 Gambar 4.6 Visual Pengecoran Bore Pile ...........48 Gambar 4.7 Visual Galian Pile Cap ....................49 Gambar 4.8 Visual Potong Tiang Bore Pile ........50 Gambar 4.9 Visual Cor Lantai Pile Cap .............50 Gambar 4.10 Visual Pembesian dan Bekisting ...51 Gambar 4.11 Visual Pengecoran Pile Cap ..........52 Gambar 4.12 Visual Pekerjaan Bronjong ...........53 Gambar 4.13 Pek Rumah Pompa ........................54 Gambar 4.14 Pek. Sanitair ..................................55 Gambar 4.15 Pek. Rumah Pompa Distribusi ......56 Gambar 4.16 Pek. MEP ......................................57 Gambar 4.17 Landscape, Test, Commissioning .58

DAFTAR TABEL Tabel 4.1 Skala Keparahan .................................34 Tabel 4.2 Skala Kejadian ....................................35 Tabel 4.3 Skala Deteksi ......................................36 Tabel 4.4 Survey Pendahuluan ...........................38 Tabel 4.5 FMECA Severity ................................61 Tabel 4.6 FMECA Frekuensi ..............................65 Tabel 4.7 Frekuensi Kejadian .............................66 Tabel 4.8 FMECA Deteksi .................................69 Tabel 4.9 Perhitungan RPN ................................72 Tabel 5.1 Rekap Perhitungan RPN .....................75

DAFTAR LAMPIRAN Lembar Asistensi Gambar Proyek Reservoir Survey Pendahuluan Survey Utama Rekap RPN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang FMECA (Failure Modes and Effects Criticaly Analysis) merupakan prosedur yang dilakukan setelah analisis kegagalan efek modus untuk mengklasifikasikan setiap efek potensi kegagalan menurut tingkat keparahan dan probabilitas kejadian (Marz dan Hubber 2002). Metode ini adalah metode yang digunakan untuk mengukur dan menganalisa keaman dari suatu produk atau proses. Input dari FMECA adalah tingkat keparahan, frekuensi kejadian dan deteksi. Output dari FMECA adalah risk priority number dengan nilai tertinggi (Tancel dan Allpan 2010). Proyek yang akan digunakan sebagai objek studi adalah proyek pembangunan Ground Reservoir di Krembangan SURABAYA. Reservoir adalah Bak penampung atau lebih tepatnya Ground Reservoir berfungsi sebagai penampung/penyimpan air, baik dari hasil olahan (jika menggunakan pengolahan) maupun langsung dari sumber mata air. Selain itu, bak penampung berfungsi untuk mengatasi masalah naik turunnya kebutuhan air dan merupakan bagian dari pengelolaan distribusi air di masyarakat. Proyek Pembangunan reservoir krembangan mendapatkan supply instalasi karang pilang dan

ngagel untuk menambah tekanan ke pelanggan di zona 3, volume reservoir sekarang 1600 m3 akan ditambah menjadi 2000 m3 sehingga pelayanan kepada pelanggan menjadi lebih baik. Manfaatnya secara teknis adalah untuk meningkatkan pelayanan dan membuat operasi pompa menjadi lebih optimal. Dengan adanya reservoir krembangan maka debit yang akan disuplai ke zona 3 akan bertambah sehingga pemakaian air pelanggan bertambah dan pendapatan perusahaan meningkat. Biaya untuk pekerjaan ini diambil dari rencanan anggaran biaya tahun 2016 dengan perkiraan mencapai 16 milyar.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana menganalisa risiko kecelakaan kerja yang paling kritis dan sering terjadi nantinya pada proyek pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya menggunakan metode FMECA.

1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan beberapa hal, antara lain :

1.

Mengidentifikasi risiko – risiko kecelakaan kerja yang paling kritis pada kegiatan proyek Pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya menggunakan metode FMECA.

1.4 Batasan Masalah Agar penulisan ini bias lebih terarah dan sistematis, maka penulisan Tugas Akhir ini dibatasi sebagai berikut : 1. Dalam tugas akhir ini proyek dan objek yang ditinjau Ground Reservoir Krembangan Surabaya 2. Metode yang digunakan adalah Failure Modes and Effects Criticaly Analysis untuk mengetahui item pekerjaan yang paling berisiko tinggi. 3. Hanya membahas resiko - resiko kecelakaan kerja pada kegiatan pembangunan proyek Ground Reservoir Krembangan Surabaya 4. Variablel resiko merupakan hasil dari resiko teknis yang paling dominan yang ada pada item pekerjaan.

1.5 Manfaat Penulisan Manfaat yang dapat diambil dari penyusunan proposal tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui risiko kecelakaan kerja yang mempunyai nilai paling kritis dengan menggunakan metode FMECA. 2. Mengidentifikasi awal item pekerjaan yang mempunyai risiko kecelakaan paling kritis sebelum proyek berjalan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1

Umum 2.1.1 Proyek Konstruksi Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan tertentu dalam batasan waktu, biaya dan mutu. Proyek konstruksi selalu memerlukan sumber daya yaitu manusia, material, mesin, metode pelaksanaan, uang, informasi dan waktu. (Prasko, 2012). 2.1.2 Proyek Konstruksi Teknik Sipil Proyek konstruksi teknik sipil merupakan proses penambahan insfrastruktur pada suatu lingkungan terbangun. Pemilik (owner) biasanya pemerintah baik pada tingkat daerah maupun nasional. Pada proyek ini desain, finansial dan pertimbangan hokum penting walaupun proyek ini bersifat non profit dan mengutamakan pelayanan masyarakat. Contoh proyek konstruksi yang termasuk antara lain jalan raya, rel, bendungan, reservoir dan lain sebagainya. (Prasko, 2012).

2.2

Manajemen Resiko Resiko yang merugikan adalah factor penyebab terjadinya kondisi yang tidak diharapkan (unexpected

condition) yang dapat menimbulkan kerugian, kerusakan, atau kehilangan (salim 1993). Pengertian resiko dalam konteks proyek adalah kemungkinan terjadinya suatu kondisi yang tidak menguntungkan sebagai akibat dari hasil keputusan yang diambil atau kondisi lingkungan diproyel yang berdampak pada waktu, biaya dan kualitas proyek. Kegiatan – kegiatan dalam menghadapi proyek dikenal sebagai suatu golden role. Jangan mengambil resiko : a. Organisasi atau perusahaan yang bersangkutan tidak mampu menanggungnya b. Masih tersedia sejumlah alternative c. Manfaat yang didapat lebih kecil dari resiko yang diambil. d. Belum ada rencana untuk mengatasi resiko yang akan timbul Sehingga resiko hanya boleh diambil bila potensi manfaat dan kemungkinan keberhasilannya lebih besar daripada biaya yang diperlukan untuk mengatasi resiko yang timbul akibat kegagalan yang akan terjadi. Hubungan dengan proyek adalah sebagai dampak komulatif terjadinya ketidak kepastian yang berdampak negative pada proyek. (Imam, 2012). 2.3

Metode Dalam Analisa Resiko Metode FMECA (failure mode and effect criticaly analysis) adalah metode yang digunakan untuk mengukur dan menganalisa keamanan dari suatu

produk atau proses (proyek). FMECA merupakan alat yang digunakan untuk pengelolaan resiko yang memiliki kualitas terhadap batas penerapan system keamanan yang lengkap. Resiko adalah ukuran dari kombinasi konsekuensi modus kegagalan dan kemungkinan kejadian kegagalan tersebut pada system. Hasil perhitungan resiko terbesar menjadi prioritas kegagalan yang paling utama untuk direncanakan perbaikannya. (Blanchard, 1994). 2.4

Tahap – Tahap FMECA FMECA dimulai dengan tahap konseptual dan persiapan, desain ketika system tersebut dianalisa lebih dari suatu perspektif fungsional. Untuk memaksimalkan efektifitas, bagaimanapun analisa perlu meningkatkan setiap informasi tambahan yang tersedia untuk sebuah analisa, itu mencerminkan semua perubahan desain dan dampaknya pada keseluruhan system. Adapun langkah langkah dalam melaksanakan FMECA adalah sebagai berikut : 1. Penggambaran kebutuhan system (produk/proses). Untuk beberapa produk atau proses itu sangat penting tidak hanya untuk tujuan keinginan tetapi juga ketidakinginan terhadap hasil keluaran, apa yang harus dipenuhi oleh produk atau proses dan pada akhirnya kebutuhan tersebut akan kembali meninggalkan jejak yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi dan kebutuhan pelanggan.

2. Pemenuhan analisis fungsional. Melibatkan pendefinisian sisten pada fungsi terminology. System fungsional biasanya menggunakan symbol yang representative seperti diagram alir fungsional. 3. Pemenuhan alokasi kebutuhan, ini adalah naik turunya kerusakan system ukuran kebutuhan untuk beberapa kesatuan fungsional (produk/proses) dalam system hirarki fungsional. Ini sangat penting untuk mengidentifikasi pencapaian, performa, efektifitas, masukan atau keluaran, kecepatan dan factor lain masing masing blok fungsional.

Contoh diagram pareto dapat dilihat pada gambar 2.1. berikut:

Perbandingan Harga Komponen

Harga Komponen

Rp1,800,000.00 Rp1,600,000.00 Rp1,400,000.00 Rp1,200,000.00 Rp1,000,000.00 Rp800,000.00 Rp600,000.00 Rp400,000.00 Rp200,000.00 Rp0.00 A

4.

B

C

D

Nama Komponen

Gambar 2.1. Diagram Pareto Sumber : Gandana, 2002. Diagram pareto adalah suatu diagram berupa anak tangga yang mempunyai fungsi untuk menentukan dan melihat perbedaan tingkat prioritas dari beraneka masalah yang akan dipecahkan. Dengan memakai diagram tersebut dapat terlihat masalah mana yang dominan dan tentunya kita dapat mengetahui prioritas masalah penyelesaianya. Adapun fungsi dari diagram pareto ini adalah :  Menunjukan masalah utama yang dominan dan kritis  Menyatakan perbandingan masing – masing persoalan terhadap keseluruhan masalah  Menunjukan tingkat perbaikan setelah tindakan perbaikan pada daerah yang terbatas

E



Menunjukan perbandingan masing – masing persoalan sebelum dan sesudah perbaikan

Mengidentifikasi jenis kerusakan pada konteks analisis ini, jenis kerusakan mempunyai arti dimana system dari sebuah elemen gagal untuk memenuhi fungsinya. Sebagai contoh gagal mengantisipasi kecelakaan kerja yang disebabkan oleh manusia. Pendekatan umum pelaksanaan FMECA dapat dilihat pada gambar 2.2. berikut: Penggambaran Kebutuhan Sistem Pemenuhan Analisa Fungsional Pemenuhan Alokasi Kebutuhan Mengidentifikasi Jenis Kegagalan Menentukan Penyebab Kegagalan Menentukan Efek Kegagalan Mengidentifikasi Mesin, Pendeteksi Kegagalan Menilai Keburukan Jenis Kegagalan Menilai Frekuensi Gaya Kegagalan Menilai Kemungkinan Pendeteksi Jenis Kegagalan Analisa Kegentingan Jenis Kegagalan

Gambar 2.2. Pendekatan Umum Pelaksanaan FMECA Sumber : Blanchard, 1994.

4. Menentukan penyebab dari kerusakan analisis ini melibatkan seluruh proses atau produk yang dibutuhkan untuk membatasi penyebab

kerusakan pada umumnya. FMECA dilaksanakan untuk memfasilitasi proses iditentifikasi dari kumpulan penyebab potensial yang lainya. Ketika pengalaman dengan system serupa mengalami keterbatasan yang lebih untuk memenuhi langkah – langkah pada proses analisis, teknik seperti diagram sebab dan akibat juga dikenal sebagai diagram tulang ikan, dapat membuktikan efektifitas yang tinggi untuk menggambarkan penyebab potensial untuk setiap kerusakan. Contoh diagram sebab akibat dapat dilihat pada gambar berikut : Lingkungan

Temperatur/suhu yang kurang mendukung

Material

Manusia

Kondisi fisik / produk cacat

Sikap Mental

Debu dan kotoran

Jenis Cacat

Tidak terdapat jadwal pemeliharaan rutin

Metode

Mesin Rusak

Mesin

Gambar 2.3 Digaram Sebab Akibat, (Blanchard, 1994).

Adapun langkah - langkah dalam pembuatan diagram sebab akibat : a. Menentukan masalah atau karakteristik mutu yang akan diperbaiki pada tulang kepala ikan

b. Menuliskan karakteristik mutu pada sisi kanan. Gambarkan tanda panah besar dari sisi kiri ke sisi kanan c. Menuliskan factor – factor utama dari kerusakan yang akan diperbaiki pada cabang anak panah d. Menuliskan subfaktor kerusakan secara terperinci pada masing – masing cabang sehingga berbentuk ranting – ranting cabang 5. Menentukan efek dari kerusakan, dampak kegagalan sering terjadi dalam beberapa cara, efektifitas dan pencapaian tidak hanya berhubungan dengan unsur fungsional tetapi juga keseluruhan system. Ketika melaksanakan FMECA sangat penting mempertimbangkan efek kegagalan pada level berikutnya, mengukur kesatuan fungsional dengan dampak pada keseluruhan system. Pada posisi lain sangat penting menganalisa suatu proses untuk menunjukan kegagalan yang mempengaruhi sebuah proses. 6. Menilai keburukan dari jenis kerusakan. Pada konteks ini analisis berhubungan dengan efek atau akibat kerusakan pada umumnya. Mengidentifikasi kerusakan yang berarti proses dengan orientasi FMECA, menunjuk pada pengendalian aliran proses yang bias mendeteksi terjadinya kegagalan atau cacat. Tujuan dari pengklarifikasian efek kerusakan dapat dibagi menjadi 4 jenis kerusakan, yaitu :

a. Akibat Kecelakaan. Sebuah kerusakan yang dapat mengakibatkan hilangnya sebuah kehidupan dan kerugian terhadap suatu system yang lengkap b. Kritis. Kerusakan yang berpotensial menyebabkan kerugian yang serius dan system kerusakan yang signifikan dan kehilangan dari system fungsional c. Marginal. Kerusakan yang bisa menyebabkan kerugian personil, system kerusakan dan degradasi system fungsional. d. Minor. Kerusakan yang tidak cukup menyebabkan kerugian secara personil atau system,tetapi menghasilkan kebutuhan terhadap beberapa pemeliharaan korektif.

Table 2.1. Tingkat keburukan jenis kerusakan, frekuensi dan deteksi probabilitas.

a. Efek Buruk Minor/ Sangat rendah; Tidak Memberikan alasan bahwa harapan terhadap alam sebagai pelengkap ini mempunyai banyak efek pada sistem performansi. Pelanggan mungkin saja tidak menerima kegagalan. Low/ Rendah; Tingkat keburukan rendah untuk penyebab kerusakan alam, hanya melalaikan ganguan pelanggan. Pelanggan mungkin hanya sedikit melihat keburukan pada sistem performansi. Moderate/ Sedang; Penyebab kerusakan adalah ketidak puasan pelanggan. Pelanggan membuat ketidak nyamanan/ gangguan terhadap kerusakan pelanggan akan melihat keburukan pada sub-sistem performansi. High/ Tinggi; Tinggi berarti ketidakpuasaan pelanggan terhadap kerusakan seperti sistem yang tidak bisa dioperasikan, bagaimana tidak, keamanan sistem dilanggar atau gagal memenuhi sesuatu sesuai dengan peraturan pemerintah. Very high/ Sangat tinggi; Tingkat keburukan ketika jenis kerusakan yang potensial mempengaruhi keamanan fungsi sistem atau penyebab kegagalan memenuhi sesuatu sesuai peraturan pemerintah b. Frekuensi Kejadian Jenis Kegagalan

Tingkat

Remote/ Sangat rendah; Kerusakan yang tidak 1 disukai 2 Low/ Rendah; Sedikit kerusakan yang relatif 3

Skala 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Probabilitas Kerusakan <1 in 106 1 in 20.000 1 in 4.000

4 Moderate/ Sedang; Kerusakan sesekali 5 6 7 High/ Tinggi; Kerusakan berulang 8 Very high/ Sangat tinggi; Kerusakan yang hampir 9 tidak bisa diacuhkan/ dibiarkan 10 c. Deteksi Probabilitas Very high/ Sangat tinggi; Perancangan verifikasi atau arus proses pengendalian hampir mendeteksi jenis kerusakan yang potensial secara pasti High/ Tinggi; DV atau PCs sekarang mempunyai kesempatan yang baik untuk mendeteksi jenis kerusakan yang potensial Moderate/ Sedang; DV atau PCs sekarang dapat mendeteksi jenis kerusakan yang potensial. Low/ Rendah; DV atau PCs sekarang tidak menyukai/ memilih jenis kerusakan yang potensial. Very low; DV atau PCs sekarang mungkin tidak akan mendeteksi Jenis Kerusakan yang Potensial. Absolute certainty of nondetection; Kepastian bukan pendeteksi yang mutlak DV atau PCs sekarang tidak bisa mendeteksi jenis kerusakan yang potensial. Sumber : Blanchard, 1994.

1 in 1.000 1 in 400 1 in 80 1 in 40 1 in 20 1 in 8 1 in 2 Tingkat 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

7. Menilai frekuensi dari jenis kerusakan, ini memberikan fungsi atau komponen fisik dimana sebuah sistem yang sering mengalami kerusakan. Langkah ini ditujukan pada frekuensi jenis kerusakan secara individual. Pada dasarnya jumlah dari frekuensi untuk sebuah elemen sistem harus sebanding dengan

nilai kerusakannya. Standar Pengukuran MILSTD 1629A, ada dua tujuan pendekatan, pertama secara kualitatif dan kuantitatif, ini bertujuan untuk menentukan frekuensi jenis kerusakan. pendekatan kualitatif hanya merekomendasikan kerusakan yang spesifik. Tabel berikut menjelaskan peringkat kualitatif terhadap kerusakan, jenis kerusakan FMECA, sebagai performansi dimana sebuah industri otomotif meningkatkan peringkat frekuensi jenis kerusakan pada skala 1-10. Tabel 2.2. Tingkat Kualitatif Probabilitas Kerusakan Tingkat Nama dan Penjelasan Frequent/ sering; Probabilitas yang tinggi dari suatu kejadian masing-masing operasi komponen. Probabilitas tinggi dapat berarti A sebagai probabilitas jenis kerusakan yang lebih besar dari 0,20 dari keseluruhan probabilitas kerusakan komponen. Reasonably; Probabilitas tingkat sedang dari suatu kejadian masing-masing operasi, kemungkinan pada konteks ini berarti B probabilitas jenis kerusakan satu komponen lebih dari 0,10 tapi kurang dari 0,20 dari keseluruhan probabilitas kerusakan komponen. Occasional; Probabilitas kejadian dari masing-masing operasi komponen berarti C probabilitas jenis kerusakan tunggal lebih dari 0,01 dari keseluruhan probabilitas masing-masing jenis kerusakan.

D

E

Romote; Probabilitas yang tidak disukai dari suatu kejadian masing-masing operasi komponen probabilitas ini berarti probabilitas jenis kerusakan tunggal lebih dari 0,001 tapi lebih rendah dari 0,01 dari keseluruhan probabilitas dari kerusakan komponen. Extremely unlikely/ sangat tidak disukai; Jenis kerusakan yang probabilitas kejadian terhadap masing-masing operasi komponen. Sangat tidak disukai ini memiliki arti probabilitas kerusakan tunggal kurang dari 0,001 dari keseluruhan probabilitas kerusakan komponen. Sumber : Blanchard , 1994.

8. Menilai probabilitas kerusakan yang akan dideteksi, ini berhubungan dengan probabilitas dimana sebuah perancangan dan prosedur verifikasi akan mendeteksi jenis kerusakan yang potensial pada waktu yang sesuai pada sistem. Tingkat kerusakan kerusakan pada analisis ini memiliki orientasi terhadap proses tertentu disuatu tempat yang akan mendeteksi posisi dan mengelompokkan kerusakan sebelum dikirim dan diproses kembali hingga berakhir dikonsumen. 9. Menganalisa jenis kerusakan kritis, objek pada langkah ini memperkuat informasi yang dihasilkan sampai sekarang. Pada usaha untuk membuat sket pada aspek kritis lainnya pada perancangan sistem kekritisan pada konteks analisis ini adalah fungsi dari frekuensi dari jenis kerusakan, keburukan dan

probabilitas yang akan dideteksi pada suatu waktu untuk menghalangi dampak pada pengukuran sistem. Pada sisi komersil dari spektrum terutama pada industri otomotif, penggunaan dibuat dari suatu metrik jumlah prioritas resiko atau RPN, yang dapat dinyatakan sebagai berikut: RPN = (Tingkat Keburukan) x (Tingkat Frekuensi) x (Tingkat Probabilitas dan Tingkat Deteksi) RPN berupaya merefleksikan jenis kerusakan kritis, pada dasarnya jenis kerusakan dengan frekuensi tinggi dengan dampak yang signifikan dengan sistem performansi dan sangat sulit untuk dideteksi karena memilki tingkat RPN yang sangat tinggi, karena itulah disebut kekritisan tingkat tinggi. Berikut adalah contoh dari Proses FMECA dari suatu Komponen kritis. (Blanchard, 1994).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Konsep Penelitian Adalah studi kasus yang mengidentifikasi dan menganalisa resiko kecelakaan kerja yang terjadi pada proyek Pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa resiko kecelakaan kerja yang paling sering terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Failure Mode and Effect Critically Analysis. Penguraian metode FMECA sebagai berikut : 1. Mengetahui proses pekerjaan Pembangunan Proyek Reservoir Krembangan Surabaya. 2. Mengidentifikasi resiko kesehatan dan keselamatan kerja setiap proses dari pekerjaan dengan metode FMECA secara survey dan kuisioner. 3. Menilai kecelakaan kerja berdasarkan pengalaman yang telah ada. 4. Mengevaluasi item pekerjaan yang paling sering muncul dan menimbulkan risiko kecelakaan yang tinggi.

Gambar 3.2 Lokasi Pekerjaan Proyek Pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya Uraian pekerjaan Proyek Pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya : a. Pekerjaan persiapan b. Pekerjaan reservoir c. Pekerjaan rumah pompa dan rumah sambungan d. Pekerjaan sanitair e. Pekerjaan pompa distribusi f. Perapian dalam dan diluar rumah pompa g. Mekanikal elektrikal dan plumbing h. Pekerjaan landscape i. Pekerjaan test dan commissioning

3.2

Metode Penelitian

3.2.1 Variabel Penelitian Dari studi literature diperoleh variable – variable resiko kecelakaan kerja yang biasa terjadi pada proyek Konstruksi Sipil yang akan dijadikan identifikasi awal pada survey yang akan dilakukan. Variable penelitian terlihat dari pengalaman yang ada sebelumnya. Tabel 3.1 Variabel

3.3 Teknik Pengumpulan Data 3.3.1 Sumber Data 1. Data Primer, berupa data potensi bahaya yang diperoleh melalui observasi dilapangan, wawancara atau Tanya jawab penyebaran kuisioner. 2. Data Sekunder, diperoleh langsung dari perusahaan kontraktor. Data – data yang diperoleh juga akan dibandingkan dengan variable resiko yang berasal dari studi literature dan historical data proyek sejenis bangunan air. 3.3.2 Survey Pendahuluan Survey ini dilakukan untuk mendapatkan variable dari resiko kecelakaan kerja yang terjadi pada proyek Pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya untuk ditambahkan dan digabungkan pada variable studi literatur yang ada. 3.3.3 Teknik Pengumpulan Data Data yang diperoleh dari hasil proyek Pembangunan Reservoir dengan wawancara, pengamatan langsung mengenai K3 diproyek dan penyebaran kuisioner.

3.3.4 Langkah Penelitian  Identifikasi Resiko Dilakukan melalui studi literatur, wawancara, observasi dilapangan dan







penyebaran kuisioner yang akan masuk dalam form kuisioner Analisa Resiko Memperkirakan terjadinya suatu resiko dan dampak dari resiko tersebut. Langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Penyebaran kuisioner dari identifikasi resiko 2. Wawancara 3. Penilaian resiko dan dampaknya yang akan terjadi melalui metode FMECA 4. Penyebab resiko yang paling dominan melalui metode FMECA Respon Resiko Langkah ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana respon yang dilakukan terhadap suatu resiko yang terjadi. Jenis jenis respon resiko sebagai berikut : 1. Menghindari Resiko 2. Menerima Resiko 3. Melimpahkan dan Mengurangi Resiko Analisa Data 1. Masalah yang akan dibahas menggunakan metode FMECA (failure mode and effect critically analysis). Berikut proses dalam melakukan analisa data : a. Identifikasi Prodes Resiko

Menggambarkan kegiatan proyek mulai dari pekerjaan yang akan dilakukan analisa resiko kecelakaan kerja. b. Tahapan Proses FMECA 1. Penggambaran kebutuhan system atau produk 2. Pemenuhan analisis fungsional 3. Pemenuhan alokasi kebutuhan 4. Mengidentifikasi jenis kerusakan 5. Menentukan penyebab dari kerusakan 6. Menentukan efek dari kerusakaan 7. Menilai keburukan dari jenis kerusakan

Berdasarkan penelitian pengolahan data yang dibahas menggunakan metode FMECA. Menentukan tingkan kepentingan resiko (RPN) dengan menghitung nilai RPN sebagai berikut :

Hasil dari kepentingan resiko yang paling besar atau RPN yang paling kritis akan digunakan sebagai input untuk tahapan metode FMECA.

3.4

Tahap Penelitian

Gambar 3.2 Bagan Aliran Penelitian

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian Analisa dan pembahasan yang akan dibahas dalam bab 4 proyek ini mengenai tentang profil perusahaan kontraktor, profil proyek dan profil responden. Profil perusahaan yang menangani proyek Reservoir Krembangan adalah PDAM SURYA SEMBADA sebagai pemilik juga sekaligus kontraktor utama. Profil responden dalam penelitian ini adalah project manager, safety officier, staff teknik dan staff lapangan. 4.1.1 Profil Perusahaan Kontraktor Perusahaan kotraktor yang menangani proyek Pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya adalah PDAM SURYA SEMBADA merupakan salah satu perusahaan daerah yang Bergerak dibidang pelayanan air untuk kebutuhan seharihari terhadap masyarakat. Perusahaan ini memiliki visi yaitu tersedianya air minum yang cukup bagi pelangagan melalui perusahaan air minum yang mandiri, berwawasan global dan terbaik di Indonesia. Dan salah satu misinya adalah melakukan usaha lain bagi kemajuan perusahaan dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan social kemasyarakatan. PDAM adalah salah satu perusahaan yang mampu menunjukan kemampuannya dibidang konstruksi terutama bangunan air melalui pengalaman yang dibuktikan dengan proyek bangunan air sebelumnya. Keberhasilan yang didapat tidak lepas dari dukungan dan

peran aktif dari masyarakat sendiri, untuk itu PDAM berperan dalam mengembangkan program sumbangsih dalam perekonomian negara. 4.1.2 Profil Proyek Reservoir Krembangan Surabaya merupakan proyek bangunan air yang dikerjakan langsung oleh PDAM SURYA SEMBADA. Rervoir ini mempunyai luas bangunan 1752 m2 dan luas lahan 12478 m2 dengan volume debit air 2000 m3, dimana terdapat pembangunan rumah pompa tambahan yang dapat menyuplai air hanya 16 menit dari krembangan ke area karang pilang dan ngagel. Lokasi proyek lebih tepatnya pada Jl. Tanjung Sadari No.180-182, Morokrembangan, Krembangan, Kota SBY, Jawa Timur 60178. Tujuan pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya ini adalah memenuhi jumlah kebutuhan air yang semakin meningkat dan kecepatan air yang lambat saat menyuplai rumah-rumah masyarakat sekitar lebih utamanya masyarakat daerah ngagel dan karang pilang. Lingkup pekerjaan dimulai dari pekerjaan persiapan yaitu pengukuran dan pemetaan, pekerjaan infrastruktur, pekerjaan struktur dan finishing.

4.1.3 Profil Responden Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuisioner kepada beberapa responden.

Responden pada penelitian ini adalah pihak-pihak yang bekerja dikontraktor dan memiliki pengalaman mengerjakan proyek sebelumnya. Berikut adalah profil dari masing – masing responden. 1. Project Manager Bapak Erik Horman, B.eng sebagai project manager. Memiliki pengalaman sebagai kontraktor kurang lebih 20 tahun dan memiliki latar belakang lulusan Sydney University. Dalam memenuhi data yang diperlukan pada Tugas Akhir ini, beliau membantu memberikan informasi mengenai proyek Reservoir Krembangan Surabaya dan tingkat skala risiko yang terjadi dilapangan. 2. Site Manager Bapak Marlin Derby, ST sebagai site manager pada proyek ini. Memiliki pengalaman kerja mengenai proyek kurang lebih 15 tahun. Dalam memenuhi data yang diperlukan dalam tugas akhir ini, beliau membantu memberikan informasi dan memberikan skala risiko yang terjadi dilapangan bersama staff safety engineering. 3. Site Engineer Ibu Christine Zhao, ST. Menjabat sebagai engineer utama yang memiliki pengalaman bekerja kurang lebih 10 tahun. Beliau juga membantu memberikan informasi site plan yang kemungkinan terjadinya kecelakaan yang sering timbul nantinya pada lokasi proyek tersebut.

4. Staff Safety Engineer Bapak Nurul Hadi, Amd. Menjabat sebagai kepala K3 pada proyek ini, beliau memiliki pengalaman bekerja pada proyek konstruksi terutama dibidang K3 kurang lebih 15 tahun. Beliau membantu memberikan informasi dan cara pencegahan kecelakaan kerja nantinya. Peran penting beliau sangat berpengaruh terhadap jadwal proyek, karena kecelakaan yang terjadi akan memiliki dampak pada kelancaran suatu proyek jika tidak segera ditangani secepat mungkin. 4.2 Analisa Respon Risiko dengan Metode FMECA Metode FMECA ini dilakukan untuk menganalisa risiko yang memiliki kualitas terhadap batas keamanan system yang lengkap. Teknik ini menyediakan analisa risiko untuk perbandingan satu item pekerjaan terhadap penyebab kegagalan yang dapat dihindari. Pada saat dilakukanya penyebaran kuisioner penilaian risiko yang diisi oleh beberapa responden, peneliti menyertakan skala penilaian risiko untuk membantu responden dalam penelitian risiko ditiap variable kegagalan risiko. a. Menganalisa efek buruk (severity) Efek buruk dianalisa dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keparahan yang terjadi di tiaptiap kegagalan risiko yang muncul di proyek. Efek buruk ini berdasarkan dampak yang terjadi dari mode kegagalan di tiap lingkup pekerjaan. Skala

keparahan dengan nilai 1-10 dengan tujuan untuk mempermudah responden mengisi kuisioner. Table 4.1 Skala Keparahan (severity) Efek Buruk Minor / Sangat Pekerjaan mungkin saja tidak terjadi rendah efek kegagalan Dampak buruk rendah untuk Low / kerusakan alam dan hanya pada Rendah sistem Moderate / Penyebab kerusakan dengan ketidak Sedang puasaan / gangguan pada sistem

Skala 1 2 3 4 5 6 7 8 9

High / Tinggi Kerusakan terhadap sistem yang tidak bisa dioperasikan / gagal Very High / Sangat Kerusakan potensial mempengaruhi Tinggi keamanan sistem 10 Sumber : Benjamin, 1994. b. Menganalisa tingkat kejadian (frekuensi) Tingkat kejadian terjadinya kegagalan bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian yang terjadi di setiap item pekerjaan berisiko yang terdapat pada proyek. Keparahan ini berdasarkan dampak yang terjadi dari mode kegagalan di tiap lingkup pekerjaan. Skala keparahan dengan nilai 1-10 dengan tujuan untuk mempermudah responden mengisi kuisioner.

Tabel 4.2 Skala Kejadian (frekuensi)

Frekuensi Kejadian Jenis Risiko Remote / Sangat Kerusakan yang tidak disukai rendah Low / Sedikit kerusakan yang relatif Rendah Moderate Sedang

/

Kerusakan sesekali

High / Tinggi Kerusakan berulang Very High / Kerusakan yang tidak bisa diacuhkan Sangat dan dibiarkan Tinggi

Skala 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Sumber : Benjamin, 1994.

c. Menganalisa tingkat deteksi (detection) Keparahan ini berdasarkan penanggulangan yang terjadi dari mode kegagalan di tiap item pekerjaan. Adapun kriteria skala deteksi (detection) dari tiap kegagalan sebagai berikut : Tabel 4.3 Skala Deteksi (detection)

Deteksi Probabilitas Very High / Proses pengendalian hampir Sangat mendeteksi jenis kerusakan yang Tinggi potensial Mendeteksi kesempatan baik jenis High / Tinggi kerusakan yang terjadi Moderate / Hanya mendeteksi jenis kerusakan Sedang Low / Tidak mendeteksi jenis kerusakan yang Rendah potensial Very Low / Mungkin tidak mendeteksi jenis Sangat kerusakan yang potensial Rendah Absolute Non Tidak bisa mendeteksi Detection

Skala 1 2 3 4 5 6 7 8 9

10

Sumber : Benjamin, 1994.

d. Perhitungan nilai RPN (Risk Priority Number) Hasil dari identifikasi risiko yang bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko yang paling kritis dengan memperhatikan beberapa macam skala risiko. Metode untuk menentukan tingkat risiko paling kritis dengan metode FMECA menggunakan RPN (Risk Priority Number). Dimana nilai RPN diperoleh dari perkalian antara skala severity, frekuensi dan deteksi. Dari nilai RPN yang paling kritis tersebut akan diidentifikasi sumber penyebab yang ditimbulkan dari masingmasing variable risiko kritis.

4.2.1

Survey Pendahuluan Analisa dari survey pendahuluan dilakukan penilaian dari responden. Berupa tanda centang (v) pada kuisioner survey. Apabila yang diberikan responden pada kolom relevan berarti variable tersebut mungkin terjadi pada pelaksanaan proyek dan sebaliknya. Berikut adalah hasil survey pendahuluan.

Tabel 4.4 Survey Pendahuluan No 1

Aktivitas Pekerjaan persiapan

2

Pekerjaan reservoir

3

Pekerjaan rumah pompa

Potensi Risiko a. Lokasi banjir b.Longsor c. Tertimpa alat berat d. Tabrakan antar alat berat e. Asap alat berat terhirup oleh pekerja a. Tertimpa alat berat b. Seling dari bore pile putus c. Alat berat tertimpa longsor saat galian d. Terkena tumpahan beton e. Tersengat listrik dari vibrator, saat pengecoran f. Bekisting berserakan saat pengecoran g. Tertancap paku saat pek. Bekisting h. Tertimpa bekisting yang jebol saat pengecoran a. Tertimpa material pancang b. Terkena tumpahan cor beton c. Tergores gerinda saat pekerjaan keramik d. Tersengat listrik saat pengeboran pemasangan kusen pintu jendela e. Terpapar cat saat proses pengecatan

Relevan V V V V V V V V V V V V V V V V V V V

Tidak Relevan

4

5

6

7

Pekerjaan sanitair

a. Terkena debu b. Tersengat listrik, terpleset, tertimpa runtuhan galian. c. Terperosok galian d. Tertimpa alat berat, tergores gerinda atau benda tajam. e. Terhirup gas beracun dari galian Pekerjaan distribusi pompa a. Tertimpa alat bantu crane b. Tersengat listrik gerinda c. Terperosok galian dan tertimpa longsoran tanah d. Tergores material dan benda tajam e. Terhirup debu saat pemotongan pipa f. Bekisting berserakan saat pengecoran g. Tertancap paku saat pek. Bekisting h. Tertimpa bekisting yang jebol saat pengecoran Mekanikal dan Elektrikal a. Tergores gerinda saat pemotongan kabel atau pipa b. Tersengat listrik c. Tertimpa material akibat pemasangan kurang tepat d. Banyak sisa benda tajam (bendrat, paku, dan lainya) Pekerjaan landscape dan a.Terperosok galian tanah b. Tertimpa tanah urugan c. Tertimpa material paving, lecet dan tergores saat pemasangan paving d. Tergores pisau gerinda dan paving e. Terhirup debu pasir saat pemasangan paving

Sumber : Rekap Survey Pendahuluan

V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V

Analisa data pada survey pendahuluan dilakukan dengan berasumsi bahwa apabila terjadi salah satu variable yang relevan maka variable risiko tersebut tetap dikatakan relevan dan layak untuk dicantumkan pada tahap selanjutnya yaitu survey utama. Penilaian survey pendahuluan tersebut selain dengan cara berasumsi bahwa risiko tersebut kemungkinan dapat terjadi atau tidak. 4.3 Data Surabaya 4.3.1

Proyek

Reservoir

Krembangan

Gambar Urutan Pekerjaan Krembangan Surabaya

Sumber : Hasil Pengolahan Data

Reservoir

4.3.2 Urutan Pekerjaan 4.3.2.1 Pekerjaan Persiapan

Gambar 4.2 Pekerjaan Persiapan Sumber : Hasil Survey Pendahuluan Pengolahan Data

dan

Dalam pekerjaan persiapan penyedia jasa kontraktor wajib menyediakan medan atau tempat kerja dan daerah kerja termasuk sewa tanah yang diperlukan dan pembersihan medan kerja dari tumbuhan agar siap digunakan. Sebelum kegiatan fisik dimulai penyediaan harus : a. Melakukan utizet, pengukuran dengan alat ukur untuk mendapatkan MC 0 (mutual check 0). b. Memasang patok untuk menandai profil bouwplank dan batok bantu untuk menentukan titik pacang. c. Memasang patok as bangunan dan batas bangunan yang dikerjakan. d. Patok ditiap titik unit terpasang ditempat yang aman dan tidak terganggu untuk pelaksanaan pekerjaan.

e. Setelah utizet selesai penyedia jasa (kontraktor) harus segera meminta pengawas untuk melakukan pengecekan bersama. 





JALAN KERJA Jalan kerja adalah jalan yang digunakan oleh penyedia jasa konstruksi dari barak kerja area pmenuju ke lokasi pekerjaan. Jalan yang dibuat harus melalui perhitungan yang teliti dari mulai dasar jalan dan lebar jalan, karena akan berpengaruh pada lalu lintas dan manuver setiap alat berat yang akan lewat nantinya. PAPAN NAMA PEKERJAAN Penyedia jasa konstruksi harus membuat papan nama pekerjaan dengan standar ukuran 0,8 m x 1,2 m dengan bentuk persegi panjang warna dasar putih tulisan hitam, dipasang ditepi jalan masuk pekerjaan sesuai petunjuk dari pengawas. Selain itu juga harus memasang rambu-rambu K3. UITZET, PROFIL DAN BOUWPLANK - Uitzet profil dilakukan dengan alat bantu ukur. - Ketinggian peil diambil dari titik tetap yang telah ditetapkan bersama dengan pengawas. Profil dipasang berjarak maximal 10 m dengan material balok 2/3 cm panjang 1,5 m. Bouwplank dipasang dengan peil yang diambil dari titik tetap, dengan material dari Berukuran 5/7 cm dan harus terpasang kokoh ditegaskan posisi as dan angka peilnya.

4.4.2.2 Pekerjaan Reservoir 1. Pekerjaan Galian Tanah dan Urugan Tanah Menggunakan Alat Berat.

Gambar 4.3 Pekerjaan Galian Tanah Sumber : Hasil Survey dan Pengolahan Data

a. Tanah dimana pekerjaan akan dilakukan harus dibersihkan dari segala kotoran seperti sisasisa tumbuhan dan akar dan sebagainya. b. Galian tanah harus berbentuk trapesium untuk menghindari lonsor dengan lebar bawah dan lebar atas disesuaikan dengan gambar rencana potongan pondasi. c. Bekas galian harus dibuang dari area bangunan dan tidak boleh dipakai sebagai urugan bangunan. d. Untuk mencapai peil yang ditentukan tanah harus diurug dengan menggunakan tanah urug klas C. pengurukan dilaksanakan selapis denu lapis, tebal lapisan maksimal 30 cm. setelah lapisan pertama selesai harus disiram dengan air dan dipadatkan dengan menggunakan stamper 3x lintasan, berlanjut untuk urugan selanjutnya. e. Penyedia jasa harus menguras atau mengeringkan genangan air pada galian

lubang pondasi akibat hujan, sumber air atau sebab lain karena harus dikerjakan pada kondisi yang kering. 2. Pekerjaan bore pile Data teknis bore pile : - Diameter 40 cm - Kedalaman rencana 16 m - Mutu beton K-300 - Tulangan utama D-22 - Tulangan ring D-10 Tahapan pekerjaan bore pile sebagai berikut : a. Pengukuran lapangan dan marking titik bore pada tanah dengan menggunakan patok dan mengacu pada titik BM (Bench Mark). b. Tahapan Persiapan Alat Bor Alat bor harus disiapkan sedemikan rupa hingga posisinya tidak berubah selama operasi tegak lurus. c. Drilling pengeboran lubang bore pile.

Gambar 4.4 Visualisasi Pengeboran Bore Pile Sumber : Hasil Survey dan Pengolahan Data.

d. Pekerjaan Pembersihan dan Pembesian Jika lubang bor yang sudah dilubangi sesuai dengan diameter dan kedalaman yang ditentukan, selanjutnya memasang bucket untuk proses pembersihan. Tulangan yang sudah dipersiapkan dan kondisi lahan bersih dapat dimasukan dengan menggunakan crane dan sambungan harus sesuai dengan syarat kerja yang ditentukan dan standar yang ada.

Gambar 4.5 Visualisasi Pembesian Bore Pile Sumber : Hasil Survey dan Pengolahan Data.

e. Pengecoran Bore Pile K-300 Pengecoran menggunakan ember cor yang diangkat dengan crane dengan diberi selang plastic agar tinggi jatuh beton tidak membuat agregat beton terpisah. Beton yang digunakan K-300 dengan slump beton 10 ± 2. Pemesan ready mix harus sesuai dengan waktu agar tidak terjadi setting beton atau pengerasan beton pada truck mixer selama pengecoran berlangsung.

Gambar 4.6 Visualisasi Pengecoran Bore Pile Sumber : Hasil Survey dan Pengolahan Data.

3. Pekerjaan Pilecap Data Teknis Pilecap : - L = 9 m; B = 4 m; T = 1 m. - Beton K-225 - Tulangan D 19 – 200 Tahapan pekerjaan pile cap antara lain : 1. Pekerjaan galian tanah Membuat galian lokasi pile cap dengan dimensi dan elevasi sesuai shop drawing.

Gambar 4.7 Visualisasi Pekerjaan Galian Pile Cap. Sumber : Hasil Media Internet.

2. Pemotongan Tiang Bore Pile Setelah pekerjaan galian pile cap sesuai dengan gambar rencana, tiap pancang yang melebihi gambar dari top pile cap harus dipotong. Pemotongan dengan cara membobok beton tanpa merusak tulangan bore pile. Tujuannya nanti menjadi tulangan penghubung rangka antara bore pile dengan pile cap.

Gambar 4.8 Visualisasi Pemotongan Tiang Bore Pile Sumber : Hasil Media Internet.

3. Pengecoran Lantai Kerja Pile Cap Lantai kerja dicor seluas lebar galian dengan galian yang sesuai dari gambar rencana agar tidak merugikan apabila ukuran galian terlalu lebar. Lantai kerja berfungsi untuk meratakan tanah dasar galian agar elevasi sesuai dengan gambar kerja dilapangan.

Gambar 4.9 Visualisasi Pengecoran Lantai Kerja Pile Cap. Sumber : Hasil Media Internet.

4. Pembesian dan Bekisting Pile Cap Pembesian dilakukan sesuai gambar kerja dengan ukuran yang tepat dan setelah pembesian terpasang, dilakukan pemasangan bekisting sesuai dengan gambar kerja. Kondisi bekisting harus kuat agar beton tidak meluap dan melebihi ukuran gambar kerja.

Gambar 4.10 Visualisasi Pembesian dan Bekisting Pile Cap Sumber : Hasil Media Internet.

5. Pengecoran Pile Cap Setelah pekerjaan bekisting selesai, dilakukan ceklist bersama pengawas dengan pembuatan ijin pengecoran yang diberikan. Kondisi lahan yang siap cor harus bersih tanpa ada sisa material atau kotoran sedikitpun.

Gambar 4.11 Visualisasi Pengecoran Pile Cap Sumber : Hasil Media Internet.

4.4.2.3 Pekerjaan Rumah Pompa

Gambar 4.13 Pekerjaan Rumah Pompa Sumber : Data Proyek Kontraktor.

Pekerjaan rumah pompa dan distribusi terbagi menjadi beberapa tahap item pekerjaan antara lain : pekerjaan pondasi, pekerjaan beton bertulang, pekerjaan finishing, pekerjaan pintu dan jendela. Pekerjaan pondasi adalah pekerjaan pemancangan sesuai dengan gambar kerja dan pembuatan pile site. Pekerjaan beton bertulang yang meliputi pekerjaan balok, pile cap, sloof, kolom, plat, ringbalk dan pemasangan angkur untuk plat over head crane. Pekerjaan finishing meliputi pasangan bata ringan, plester, acian, finish cat untuk rumah pompa dan kantor.

4.4.2.4 Pekerjaan Sanitair

Gambar 4.14 Pekerjaan Sanitair Sumber : Data Proyek Kontraktor.

Pekerjaan sanitair merupakan bagian dari pekerjaan instalasi air. Pekerjaan sanitair meliputi pekerjaan pemasangan kloset jongkok, bak fiber, kran air, avoer, pipa air dan biotech septiktank kapasitas 1.2 m3.

4.4.2.5 Pekerjaan Pompa Distribusi

Gambar 4.15 Pekerjaan Pompa Distribusi Sumber : Data Proyek Kontraktor.

Pekerjaan pompa distribusi merupakan pekerjaan pengadaan dan pemasangan dari beberapa alat seperti pompa sentrifugal, crane dan pompa hisap (submersible). Metode kerja pompa sentrifugal adalah mengubah energy mekanis alat gerak menjadi energy kinetis. Prosesnya mulai dari penghisapan air dari rumah pompa eksisting dimasukan kedalam rumah pompa baru dan kemudian dialirkan melalui pompa yang telah didistribusikan.

4.4.2.6 Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal

Gambar 4.16 Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal Sumber : Data Proyek Kontraktor.

Mekanikan dan Elektrikal adalah suatu system yang ada didalam sebuah bangunan proyek yang tidak dapat dipisahkan dan berperan sangat penting dari fungsi bangunan tersebut diciptakan. Mekanikal elektrikal memiliki cakupan pekerjaan listrik dan mekanik/mesin. Berikut beberapa item pekerjaan mekanikal dan elektrikal untuk bangunan baru pada proyek reservoir. 1. Mekanikal a. Perpipaan dalam rumah pompa baru b. Pengecetan pipa c. Pekerjaan tanah perpipaan (galian, urugan dan buang sisa galian)

d. Pekerjaan chamber (pengolahan air untuk menghilangkan partikel kasar dan halus) 2. Elektrikal a. Panel incoming b. Panel outgoing pompa c. Panel kompresor d. Panel instalasi listrik e. Instalasi penerangan atau lampu f. Penangkal petir pada kantor rumah pompa baru. 4.4.2.7 Landscape, test dan Commisioning

Gambar 4.17 Pekerjaan Landscape, Test dan Commisioning Sumber : Data Proyek Kontraktor.

Pekerjaan landscape, test dan commissioning merupakan pekerjaan finishing dari keseluran pekerjaan reservoir. 1. Pekerjaan Landscape a. Pengadaan dan penanaman pohon lindung dengan spesifikasi pohon palm, ekor tupai dan korma dengan ukuran variasi dan diamerter pohon 20 – 30 cm dengan tinggi variasi 1-5 m dan pemilihan pohon disetujui oleh pengawas proyek. b. Pekerjaan ini sudah termasuk transportasi sampai kelokasi proyek untuk galian tanam pohon dan pemupukan. c. Pekerjaan rumput dipakai rumput jepang yang termasuk dengan pengaturan kontur tanam. 2. Testing dan Commisioning a. Sebelum melaksanakan pengujian kontraktor harus merencanakan jadwal pemerikasaan dan pengujian untuk mendapatkan persetujuan dari pengawas. - Pemeriksaan visual. - Pemeriksaan sambungan listrik dan mekanis. - Pengukuran tahanan isolasi dan tahanan pertanahan. - Pengujian dalam keadaan berbeban.

b. Seluruh system dan pekerjaan instalasi diperiksa diteliti dan diuji sebelum diserahkan kepada instansi terkait c. Test grounding existing untuk mengetahui apakah pertahanan masih layak pakai 3. Pekerjaan Jalan Baru Pekerjaan ini meliputi akses jalan menuju kearah kantor dan rumah pompa baru dengan spesifikasi : - Panjang jalan 405 m - Galian tanah dan urugan pasir lumajang - Pemasangan paving tb 8 cm - Pemasangan paving ubin corso warn auk 21 x 21 x 6 cm - Pemasangan topiuskup uk 21 x 30 x 8 cm - Dan pemasangan kanstine tb 6 cm. - Pekerjaan drainasi dengan beton precast sepanjangan jalan uk 50 x 50 x 120 cm - Penanaman kembang sono.

4.5

Survey Utama

Survey utama dilakukan setelah survey pendahuluan, kemudian akan didapatkan variable-variabel yang relevan terkait dengan proyek pembangunan Reservoir Krembangan Surabaya. Penyebaran kuisioner dilakukan terhadap responden yang telah dipilih sebelumnya. Survey utama ini berisi mengenai probabilitas serta dampak bagi masing-masing variable risiko. Apabila semua varibel telah didapatkan kategori probabilitas serta kategori dampaknya, maka selanjutnya yang akan dilakukan adalah memetakan kategori dari tiap variable risiko. 4.6

Failure Mode Effect and Criticality Analysis (efek buruk) Severity merupakan langkah pertama untuk menganalisa risiko dengan menghitung seberapa besar dampak atau efek buruk yang mempengaruhi output proses.

Tabel 4.5 FMECA (efek buruk)

Item Pekerjaan Pekerjaan persiapan, Barak pekerja, Kantor,

Instalasi listrik, Instalasi air,

Skala Severity Mode Risiko Dampak Kegagalan Pekerjaan 1-2 3-4 5-6 7-8 9-10 Elevasi saluran Banjir Alat 0 0 0 2 1 existing lebih dan material tinggi tenggelam Kondisi tanah gembur

Longsor

Tertimbun longsoran

Kecelakaan alat Tabrakan Kemacetan berat

Demobilisasi Kondisi cuaca Kesehatan Luka ringan alat dan material staff dan flu batuk dan pekerja demam

SI

Kategori

Skala

50

R

2

0

3

0

0

0

15

T

4

3

0

0

0

0

0

C

3

0

0

1

2

0

40

C

3

Sumber : Hasil Survey dan Waawancara

Severity merupakan langkah pertama untuk menganalisa risiko dengan menghitung seberapa besar dampak kejadian yang mempengaruhi proses. Untuk severity index yang paling besar adalah mode kegagalan dengan kondisi tanah gembur yang berdampak pada longsor dan berisiko tertimbun longsoran untuk alat berat, material dan staff pekerja. Responden mimilih skala 7-8 dengan 2 orang dan skala 9-10 dengan 1 orang, karena dengan kriteria kejadian kegagalan yang parah dan sangat parah. Lihat table 4.1 untuk skala severity (skala keparahan). Berikut perhitungan severity index.

𝑆𝐼 =

∑4𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥𝑖 × 100% 4 ∑4𝑖=0 𝑥𝑖

𝑆𝐼

∑4𝑖=0(0 × 0) + (0 × 1) + (0 × 2) + (2 × 3) + (1 × 4) 4 ∑4𝑖=0(5) 𝑆𝐼 = 50% =

Dari hasil severity index maka diperoleh failure mode lingkungan proyek dengan tanah kondisi gembur dengan kategori R dan skala ordinal 2. Berikut kategori klarifikasi dari skala penilaian keparahan, kejadian dan deteksi. Skala Skala Kategori Index Ordinal Sangat Rendah / Sangat Kecil 0 ≤ SI ≤ (SR/SK) 12.5 1 12.5 ≤ SI ≤ Rendah / Kecil (R/K) 37.5 2 37.5 ≤ SI ≤ Cukup / Sedang (C/S) 62.5 3 62.5 ≤ SI ≤ Tinggi / Besar (T/B) 87.5 4 Sangat Tinggi / Sangat Besar 87.5 ≤ SI ≤ (ST/SB) 100 5 Penanganan failure mode dari kegagalan lingkungan proyek yang bertanahkan lunak dan mengakibatkan kelongsoran tanah adalah dengan cara memasang turap atau tiang pancang penahan tanah agar saat pekerjaan galian tanah tertahan dan terjadi longsor. 4.7

Failure Mode Effect and Criticality Analysis (Frekuensi)

Tabel 4.6 FMECA (frekuensi / kejadian) Elevasi saluran existing lebih tinggi

Risiko Pekerjaan Submersible Alat tidak dan material berfungsi tenggelam

Skala Frekuensi SI Kategori Skala 1 2-3 4-6 7-8 9-10 3 0 0 0 0 0 R 2

Kondisi tanah gembur

Kurang Tertimbun pemadatan longsoran

0

3

0

0

0

15

R

2

Instalasi listrik, Instalasi air,

Kecelakaan alat berat

Human eror Kemacetan

0

0

3

0

0

30

C

3

Demobilisasi alat dan material

Kondisi cuaca

Kesehatan staff dan pekerja

0

1

2

0

0

25

C

3

Item Pekerjaan Pekerjaan persiapan, Barak pekerja, Kantor,

Mode Kegagalan

Couse

Luka ringan flu batuk dan demam

Sumber : Hasil Survey dan Wawancara

Frekuensi merupakan kemungkinan terjadinya kesalahan berulang. Menunjukan nilai keseringan suatu masalah yang ditimbulkan dari suatu item pekerjaan. Penyebab kecelakaan alat berat adalah kurang konsentrasinya SDM saat sedang bekerja dan dapat mengakibatkan suatu kemacetan yang akan mempengaruhi pekerjaan lain. Untuk penilaian dari 3 responden, masing masing memilih skala 4-6 dengan tingkat kejadian berulang (high) sangat sering terjadi.

Tabel 4.7 Skala Frekuensi Kejadian Frekuensi Kejadian Jenis Risiko Remote / Kerusakan yang tidak disukai Sangat rendah Low / Sedikit kerusakan yang relatif Rendah Kerusakan sesekali Moderate / Sedang High / Kerusakan berulang Tinggi Very High Kerusakan yang tidak / Sangat diacuhkan dan dibiarkan Tinggi

bisa

Skala 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Sumber : Benjamin 1994.

Untuk perhitungan severity index dari failure mode kecelakaan alat berat sebagai berikut : 𝑆𝐼 = 𝑆𝐼

∑4𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥𝑖 × 100% 4 ∑4𝑖=0 𝑥𝑖

∑4𝑖=0(0 × 0) + (0 × 1) + (3 × 2) + (0 × 3) + (0 × 4) 4 ∑4𝑖=0(5) 𝑆𝐼 = 30% Dari hasil severity index maka diperoleh failure mode lingkungan proyek dengan tanah kondisi gembur dengan kategori C dan skala ordinal 3. Berikut kategori klarifikasi dari skala penilaian keparahan, kejadian dan deteksi. =

Skala Kategori Index Sangat Rendah / Sangat Kecil 0 ≤ SI ≤ (SR/SK) 12.5 12.5 ≤ SI ≤ Rendah / Kecil (R/K) 37.5 37.5 ≤ SI ≤ Cukup / Sedang (C/S) 62.5 62.5 ≤ SI ≤ Tinggi / Besar (T/B) 87.5 Sangat Tinggi / Sangat Besar 87.5 ≤ SI ≤ (ST/SB) 100

Skala Ordinal 1 2 3 4 5

Penanganan failure mode dari kegagalan lingkungan proyek yang bertanahkan lunak dan mengakibatkan kelongsoran tanah adalah dengan penjelasan kepada seluruh operator alat berat agar lebih focus dan memahami keadaan yang ada pada proses pembangunan dan diutamakan dipilih operator dengan sertifikat ahli serta pengalaman yang mumpuni.

4.8

Failure Mode Effect and Criticality Analysis (Deteksi)

Tabel 4.8 FMECA (deteksi) Item Pekerjaan Pekerjaan persiapan, Barak pekerja, Kantor,

Instalasi listrik, Instalasi air,

Mode Design Control Kegagalan Elevasi saluran Pelaksanaan existing lebih pemasangan tinggi pompa Kondisi tanah gembur

Pengurugan gragal

Kecelakaan alat Cek kesehatan berat seluruh operator alat berat Demobilisasi Kondisi cuaca Crashing pekerjaan alat dan material dimusim hujan

Risiko Pekerjaan Terpeleset dan tersengat listrik

Skala Detection SI Kategori Skala 1-2 3-4 5-6 7-8 9 10 0 1 0 2 0 0 35 R 2

Tertimpa material 0

1

1

1

0

0 30

C

3

Kemacetan dan keterlambatan pekerjaan Luka ringan

0

0

1

2

0

0 40

R

2

0

0

1

2

0

0 40

R

2

Deteksi merupakan suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi penyebab potensi kecelakaan kerja kritis. Salah satu contoh mode kegagalan dengan kondisi tanah gembur dengan design control pengurugan gragal pada area tanah gembur dapat digunakan untuk akses mobilisasi alat berat. Risiko pekerjaan yang kemungkinan terjadi adalah pekerja tertimpa material pada saat pelaksanaan pekerjaan. Responden 2 orang memilih skala 7-8 dan 1 orang memilih skala 56. Diperoleh perhitungan sebagai berikut :

∑5𝑖=0 𝑎𝑖 𝑥𝑖 𝑆𝐼 = × 100% 4 ∑5𝑖=0 𝑥𝑖 𝑆𝐼 ∑4𝑖=0(0 × 0) + (0 × 1) + (1 × 2) + (2 × 3) + (0 × 4) = 4 ∑4𝑖=0(5) 𝑆𝐼 = 40% Dari hasil severity index maka diperoleh failure mode lingkungan proyek dengan tanah kondisi gembur dengan kategori C dan skala ordinal 3. Berikut kategori klarifikasi dari skala penilaian keparahan, kejadian dan deteksi. Skala Skala Kategori Index Ordinal Sangat Rendah / Sangat Kecil 0 ≤ SI ≤ (SR/SK) 12.5 1 12.5 ≤ SI ≤ Rendah / Kecil (R/K) 37.5 2 37.5 ≤ SI ≤ Cukup / Sedang (C/S) 62.5 3 62.5 ≤ SI ≤ Tinggi / Besar (T/B) 87.5 4 Sangat Tinggi / Sangat Besar 87.5 ≤ SI ≤ (ST/SB) 100 5 Penanganan failure mode dari kegagalan lingkungan proyek yang bertanahkan lunak dan mengakibatkan pekerja tertimpa material adalah metode pekerjaan yang baik dan rapi disertai dengan penggunaan APD yang lengkap.

Tabel 4.9 Perhitungan Risk Priority Number (RPN) No

1

2

3

4

5

6 7

Item Pekerjaan Efek Risiko Pekerjaan Frekuensi Deteksi RPN Buruk Pekerjaan Persiapan 1 Mobdemob alat berat Tabrakan antar alat berat 8 1 6 48 2 Direksi keet 3x6m Scaffolding jatuh tertimpa pekerja 3 2 5 30 3 Uitzet dengan theodolit & waterpass Terperosok galian 1 5 6 30 4 Pemasangan pagar pengaman keliling Tergores paku 6 4 6 144 Pekerjaan Reservoir 1 Pengukuran & Bowplank Terperosok galian 5 3 5 75 2 Penggalian tanah konstruksi menggunakan alat beratTertimbun galian dan longsor 9 6 4 216 3 Pengangkutan Tanah Keluar Proyek Tabrakan antar alat berat 5 5 6 150 4 Pemancangan ø30 cm p 12m Tertimpa material pancang 4 4 6 96 5 Pengecoran pile cap Robohnya bekisting saat pengecoran 6 2 7 84 Pekerjaan Rumah Pompa 1 Pengukuran & Bowplank Terperosok galian 3 2 6 36 2 Penggalian tanah konstruksi menggunakan alat beratTertimbun galian dan longsor 5 5 4 100 3 PengangkutanTanah Keluar Proyek Tabrakan antar alat berat 6 5 1 30 Pekerjaan Beton Bertulang Tersengat listrik saat penggetaran 4 8 2 1 16 Pekerjaan Balok Induk 30/50 K300 dengan vibrator beton 5 tangga putar besi Pekerja terkena percikan api las 3 2 1 6 6 Pekerjaan Pasangan (bata, plester, aci) Pekerja terhirup debu 5 4 1 20 7 Screen talang Tertimpa talang air 3 7 3 63 Pekerjaan Sanitair Material pecah dan menimpa 1 Biotech septictank kap.1.2 m3 1 1 4 4 pekerja Pekerjaan Pompa Distribusi Pengadaan Crane lengkap dengan aksesoris dan Terhirup asap las 1 5 2 4 40 Struktur, 3 Ton Pemasangan Crane lengkap dengan aksesoris dan Crane menimpa pekerja 2 5 4 6 120 Struktur, 3 Ton Pekerjaan MEP 1 Instalasi Listrik dan Plumbing Tersengat arus listrik 8 6 7 336 Pekerjaan Landscape, Test and Commissioning 1 Pekerjaan akses jalan Longsornya galian 5 6 6 180 2 Pekerjaan drainase Terjepit precast beton saluran 8 3 6 144

Sumber : Hasil Survey dan Wawancara

Hasil nilai severity, occurance dan detection diperoleh masing-masing dari penilaian 3 kuisioner dengan 3 responden. Sedangkan untuk nilai RPN dapat menggunakan rumus FMECA. Berikut contoh perhitungan RPN dari item pekerjaan mekanikal dan elektrikal. Item Pekerjaan PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL Instalasi Listrik dan Plumbing

Risiko Efek Frekuensi Deteksi RPN Pekerjaan Buruk Tersengat arus listrik

7

6

8

Berdasarkan nilai risk priority number diatas, didapatkan prioritas perbaikan yang terlebih dahulu dari modus kecelakaan yang terjadi adalah pekerjaan mekanikal elektrikal. Hal itu disebablan karena SDM kurang berhati hati dan kurang berpengalaman atau tidak sesuai dengan bidang yang dikerjakan.

336

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pembahasan bab ini terdiri dari kesimpulan dan saran, dimana kesimpulan merupakan hasil penelitian secara keseluruhan, sedangkan saran adalah hal yang perlu dilakukan agar hasil penelitian ini menjadi sesuatu yang harus diperhatikan pada penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan topik penelitian ini. 5.1 Kesimpulan A. Berikut ini adalah risiko kecelakaan kerja kritis pada proyek Pembangunan Ground Reservoir dengan 10 nilai RPN tinggi menggunakan metode FMECA (failure mode and effect criticality analysis) yaitu : No

Item Pekerjaan

1 Instalasi Listrik dan Plumbing 2 Galian tanah dengan berat 3 Pengangkutan tanah keluar proyek 4 Pekerjaan akses jalan 5 Pemasangan crane 6 Galian tanah drainase 7 Pekerjaan saluran 8 Pemasangan pompa 9 Mobdemob alat berat 10 Pemasangan pagar pengaman keliling

Risiko Pekerjaan Tersengat arus listrik Tertimbun galian dan longsor Tabrakan antar alat berat Longsornya galian Crane menimpa pekerja Tertimbun galian dan longsor Terjepit precast beton saluran Terhirup asap las Tabrakan antar alat berat Tergores paku

Efek Frekuensi Buruk 7 6 10 6 5 5 3 7 5 4 4 6 8 2 4 2 9 1 4 2

Deteksi RPN

B. Faktor penyebab risiko kecelakaan tertinggi berdasarkan metode FMECA (failure mode and effect criticality analysis) yaitu : a. Tersengat arus listrik saat pekerjaan MEP (mekanikal elektrikal dan pemipaan),

8 5 6 7 7 5 7 9 7 7

336 300 150 147 140 120 112 72 63 56

disebabkan oleh beberapa factor yaitu : factor manusia, factor manajemen, factor lingkungan dan factor teknis. Factor manusia penyebab paling mendasar adalah SDM kurang berkonsentrasi saat bekerja, bergurau dan motivasi kerja yang kurang. Factor manajemen penyebab dasar adalah kurangnya pengawasan dari pihak kontraktor ke para pekerja. Factor lingkungan penyebab mendasar adalah rambu pengaman kurang dan mungkin tidak ada sama sekali, kondisi yang licin dan tergenang air pada lokasi pekerjaan. Factor teknis penyebab mendasar adalah penempatan alat kerja yang tidak tepat, alat yang digunakan tidak sesuai standar keamanan dan kurang perawatan serta alat yang sudah tidak layak pakai. b. Tertimbun longsoran saat pekerjaan galian dan urugan tanah disebabkan oleh beberapa factor. Salah satu factor yang paling utama adalah factor teknis dengan kondisi tanah yang gembur pada lokasi proyek. c. Tubrukan antar alat berat pada saat pengangkutan tanag keluar proyek disebabkan oleh beberapa factor dimana factor manusia dan manajemen saat berpengaruh besar terhadap risiko kecelakaan yang terjadi. Factor manusia

disebabkan oleh SDM kurang berhati-hati dan kurang berkomunikasi antara operator backhoe dan operator dump truck. Untuk factor manajemen adalah kurangna pengawasan dari supervisior lapangan dan penjadwalan waktu yang telah terlambat dari rencana. 5.2 Saran Tentunya hasil penelitian tugas akhir ini masih belum sempurna. Beberapa factor yang mempengaruhi hasil penelitian proyek belum terlaksana dan responden hanya mengisi kuisioner berdasarkan pengalaman dari proyek-proyek sebelumnya. Saran untuk penelitian sejenis berikutnya adalah harus benar dan tepat dalam memilih responden yang mempunyai pengalaman lebih lama dan benar pada bidangnya, serta memiliki waktu yang cukup agar responden dapat berkonsentrasi penuh untuk mengisi kuisioner.

191 DAFTAR PUSTAKA Badan Standardisasi Nasional. 2013. SNI 2847:2013 Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Jakarta : Badan Standardisasi Nasional. Badan Standardisasi Nasional. 2013. SNI 1727:2013 Tata Cara Perhitungan Pembebanan Untuk Bangunan Gedung. Jakarta : Badan Standardisasi Nasional. Badan Standardisasi Nasional. 2012. SNI 1726:2012 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung. Jakarta : Badan Standardisasi Nasional. Kurniawan. R, Budiono. B, Surono. A, dan Pane. I. 2014. Studi Eksperimental Perilaku Siklis Flat Slab Beton Mutu Sangat Tinggi. Jurnal Teknik Sipil, Vol. 21, No. 2. Tavio, Hemawan. L. 2010. Studi Lebar Efektif Pelat Pada Struktural Flat Plate Akibat Beban Gempa. Dinamika Teknik Sipil, Vol. 10, No. 3. Auramauliddia. 2013. Perencanaan Modifikasi Struktur Gedung Rumah Susun Dengan Menggunakan Sistem Flat Slab dan Dinding Geser. Jurnal Teknik POMITS, Vol. 1, No. 1. Gunadi. R, Budiono. B, Imran. I, dan Sofwan. A. 2012. Studi Eksperimental Perilaku Hubungan Pelat – Kolom Terhadap Kombinasi Beban Grafitasi dan Lateral Siklis. Jurnal Teknik Sipil, Vol. 19, No. 3 Purwono, Rahmat. 2005. Perencanaan Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa. Surabaya: ITS Press Wang, Chu-Kia; Charles G. Salmon 1992. Disain Beton Bertulang. Binsar Hariandja Sulistio. H, Sasmoko. A. 2013. Alternative Study On Flat Slab Building Of Grand Sawit Hotel Of Samarinda By Using Equivalent Portal Methods. Jurnal Untag, Vol. 1, No. 1 Deshpande. H, Josh. R, Bangar. P, 2014. Design Considerations For Reinforced Concrete Flat Slab Floor System.

192 International Journal Of Scientific&Engineering Research, Volume 5.

BIODATA PENULIS

Penulis yang memiliki nama lengkap Arif Rahman Hakim, dilahirkan di Surabaya, 06 Oktober 1992, merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Penulis telah menempuh pendidikan formal di SDN 2 Kutoharjo, SMPN2 Kendal, SMAN 1 Kendal dan Program Studi DIII Teknik Sipil Politeknik Negri Semarang bidang konsentrasi Bangunan Gedung yang ditempuh selama 3 tahun dan lulus pada tahun 2013. Setelah lulus dari DIII Teknik Sipil Politeknik Negri Semarang penulis melanjutkan pendidikan Sarjana di Program Studi Lintas Jalur Teknik Sipil FTSP-ITS pada tahun 2014 dan terdaftar dengan NRP. 3114 105 048. Apabila ada yang ingin ditanyakan terkait tugas akhir ini dapat menghubungi penulis pada alamat email berikut [email protected]

“ Halaman ini Sengaja Dikosongkan”

LAMPIRAN

I.

SURVEY PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Risiko adalah suatu kejadian atau kondisi yang tidak pasti, yang apabila terjadi berdampak pada tujuan proyek yang mencangkup ruang lingkup, jadwal, biaya dan kualitas. Sedangkan menurut Djojosoendarso risiko merupakan suatu kejadian yang selalu dihubungkan dengan terjadinya suatu kerugian yang tidak diinginkan. Kondisi yang menyebabkan timbulnya risiko adalah kondisi dimana adanya ketidak pastian. Risiko disimpulkan bahwa suatu kondisi yang timbul karena ketidakpastian dengan peluang kejadian tertentu jika terjadi akan menimbulkan konsekuensi tidak menguntungkan atau merugikan yang tidak diinginkan. II. TUJUAN SURVEY Mendapatkan informasi dan data tentang risiko apa saja yang mungkin terjadi pada pelaksanaan proyek Ground Reservoir Krembangan Surabaya. Data yang diperoleh akan digunakan untuk analisa risiko dalam penyusunan tugas akhir. III. PETUNJUK PENGISIAN KUISIONER 1. Pilihlah jawaban dengan cara memberikan tanda centang (V) pada kolom yang tersedia, keterangan : - Relevan : jika variable risiko yang pernah terjadi pada proyek

- Tidak Relevan : jika variable risiko yang tidak pernah terjadi. 2. Bila ada variable yang tidak tercantum pada list, tulis dikolom kosong yang telah disediakan dengan cara mengisi variable yang tidak tercantum pada list. Berikut adalah hasil survey pendahuluan.

No 1

Aktivitas Pekerjaan persiapan

2

Pekerjaan reservoir

3

Pekerjaan rumah pompa

Potensi Risiko a. Lokasi banjir b.Longsor c. Tertimpa alat berat d. Tabrakan antar alat berat e. Asap alat berat terhirup oleh pekerja a. Tertimpa alat berat b. Seling dari bore pile putus c. Alat berat tertimpa longsor saat galian d. Terkena tumpahan beton e. Tersengat listrik dari vibrator, saat pengecoran f. Bekisting berserakan saat pengecoran g. Tertancap paku saat pek. Bekisting h. Tertimpa bekisting yang jebol saat pengecoran a. Tertimpa material pancang b. Terkena tumpahan cor beton c. Tergores gerinda saat pekerjaan keramik d. Tersengat listrik saat pengeboran pemasangan kusen pintu jendela e. Terpapar cat saat proses pengecatan

Relevan V V V V V V V V V V V V V V V V V V V

Tidak Relevan

4

5

6

7

Pekerjaan sanitair

a. Terkena debu b. Tersengat listrik, terpleset, tertimpa runtuhan galian. c. Terperosok galian d. Tertimpa alat berat, tergores gerinda atau benda tajam. e. Terhirup gas beracun dari galian Pekerjaan distribusi pompa a. Tertimpa alat bantu crane b. Tersengat listrik gerinda c. Terperosok galian dan tertimpa longsoran tanah d. Tergores material dan benda tajam e. Terhirup debu saat pemotongan pipa f. Bekisting berserakan saat pengecoran g. Tertancap paku saat pek. Bekisting h. Tertimpa bekisting yang jebol saat pengecoran Mekanikal dan Elektrikal a. Tergores gerinda saat pemotongan kabel atau pipa b. Tersengat listrik c. Tertimpa material akibat pemasangan kurang tepat d. Banyak sisa benda tajam (bendrat, paku, dan lainya) Pekerjaan landscape dan a.Terperosok galian tanah b. Tertimpa tanah urugan c. Tertimpa material paving, lecet dan tergores saat pemasangan paving d. Tergores pisau gerinda dan paving e. Terhirup debu pasir saat pemasangan paving

V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V V

KUISONER UTAMA

Nama NRP

: Arif Rahman Hakim : 3114105048

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOVEMBER SURABAYA LINTAS JALUR GASAL 2014

PETUNJUK PENGISIAN KUISIONER Penilaian variable risiko yang relevan dengan cara memberikan nilai pada kolom penilaian severity (tingkat keparahan), occurance dan detection. Ada 1-10 skala penilaian berdasarkan, dijelaskan sebagai berikut : a. Efek Buruk Menilai keburukan dari setiap jenis pekerjaan berisiko, tujuanya adalah mengidentifikasi dan mengelompokan berdasarkan skala 1-10 dengan dampak atau efek yang disebabkan dari setiap pekerjaan.

Efek Buruk Minor / Sangat rendah Low / Rendah Moderate / Sedang High / Tinggi Very High / Sangat Tinggi

Skala 1

Pekerjaan mungkin saja tidak terjadi efek kegagalan Dampak buruk rendah untuk kerusakan alam dan hanya pada sistem Penyebab kerusakan dengan ketidak puasaan / gangguan pada sistem Kerusakan terhadap sistem yang tidak bisa dioperasikan / gagal Kerusakan potensial mempengaruhi keamanan sistem Sumber : Benjamin, 1994.

b. Frekuensi Kejadian Jenis Kegagalan Menilai frekuensi dari jenis kerusakan, memberikan fungsi atau komponen fisik dimana suatu item pekerjaan yang sering mengalami kesalahan atau risiko berulang. Dinilai dari skala 1-10.

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Remote / Sangat rendah Low / Rendah

Frekuensi Kejadian Jenis Risiko Kerusakan yang tidak disukai

Sedikit kerusakan yang relatif

Moderate / Sedang High / Tinggi Very High / Sangat Tinggi

Kerusakan sesekali

Kerusakan berulang Kerusakan yang tidak bisa diacuhkan dan dibiarkan

Skala 1

2 3 4 5 6 7 8 9 10

Sumber : Benjamin, 1994.

c. Menganalisa tingkat deteksi (detection) Keparahan ini berdasarkan penanggulangan yang terjadi dari mode kegagalan di tiap item pekerjaan. Adapun kriteria skala deteksi (detection) dari tiap kegagalan sebagai berikut :

Very High / Sangat Tinggi High / Tinggi Moderate / Sedang Low / Rendah Very Low / Sangat Rendah Absolute Non Detection

Deteksi Probabilitas Proses pengendalian hampir mendeteksi jenis kerusakan yang potensial Mendeteksi kesempatan baik jenis kerusakan yang terjadi

Skala 1 2

Tidak mendeteksi jenis kerusakan yang potensial

3 4 5 6 7 8

Mungkin tidak mendeteksi jenis kerusakan yang potensial

9

Hanya mendeteksi jenis kerusakan

Tidak bisa mendeteksi 10 Sumber : Benjamin, 1994. 

Berilah tanda (v) angka 1-10 dengan kolom yang tersedia.

PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL 1 Instalasi Listrik dan Plumbing PEKERJAAN LANDSCAPE 1 Pekerjaan akses jalan 2 Pekerjaan drainase

SDM kurang berhati-hati Metode pekerjaan kurang baik Kondisi tanah gembur Pekerja kurang hati-hati

Penyebab

Tabrakan antar alat berat Scaffolding jatuh tertimpa pekerja Terperosok galian Tergores paku

Kondisi tanah gembur Kondisi tanah lunak/cuaca SDM kurang berhati-hati Alat pancang kondisi kurang baik Metode pelaksanaan kurang tepat

Risiko Pekerjaan

Terperosok galian Tertimbun galian dan longsor Tabrakan antar alat berat Tertimpa material pancang Robohnya bekisting saat pengecoran

APD tidak dipakai APD tidak dipakai Pekerja berugurau saat bekerja

Alat kondisi kurang baik

Kondisi tanah gembur Kondisi tanah lunak/cuaca SDM kurang konsentrasi Terperosok galian Tertimbun galian dan longsor Tabrakan antar alat berat Tersengat listrik saat penggetaran dengan vibrator beton Pekerja terkena percikan api las Pekerja terhirup debu Tertimpa talang air

Tersengat arus listrik

Kondisi tanah lunak SDM kurang komunikasi

SDM kurang konsentrasi

Kondisi lahan sempit

APD tidak dipakai

Material pecah dan menimpa pekerja Metode pelaksanaan kurang baik Terhirup asap las

Longsornya galian Terjepit precast beton saluran

2 Pemasangan Crane lengkap dengan aksesoris dan Struktur, 3 Ton Crane menimpa pekerja

PEKERJAAN POMPA DISTRIBUSI 1 Pengadaan Crane lengkap dengan aksesoris dan Struktur, 3 Ton

1 Biotech septictank kap.1.2 m3

EFEK BURUK Item Pekerjaan No PEKERJAAN PERSIAPAN 1 Mobdemob alat berat 1 2 Direksi keet 3x6m 3 Uitzet dengan theodolit & waterpass 4 Pemasangan pagar pengaman keliling PEKERJAAN RESERVOIR 1 Pengukuran & Bowplank 2 Penggalian Tanah untuk Konstruksi menggunakan alat berat 2 3 Pengangkutan Tanah Keluar Proyek 4 Pemancangan ø30 cm p 12m 5 Pekerjaan Beton Bertulang PEKERJAAN RUMAH POMPA 1 Pengukuran & Bowplank 2 Penggalian Tanah untuk Konstruksi menggunakan alat berat 3 PengangkutanTanah Keluar Proyek 3 4 Pekerjaan Beton Bertulang 5 Pekerjaan Balok Induk 30/50 K300 6 tangga putar besi 7 Pekerjaan Pasangan (bata, plester, aci) 8 Screen talang PEKERJAAN SANITAIR 4

5

6 7

1

2

3

Skala Efek Buruk 4 5 6 7 8

9

10

PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL 1 Instalasi Listrik dan Plumbing PEKERJAAN LANDSCAPE 1 Pekerjaan akses jalan 2 Pekerjaan drainase

SDM kurang berhati-hati Metode pekerjaan kurang baik Kondisi tanah gembur Pekerja kurang hati-hati

Penyebab

Tabrakan antar alat berat Scaffolding jatuh tertimpa pekerja Terperosok galian Tergores paku

Kondisi tanah gembur Kondisi tanah lunak/cuaca SDM kurang berhati-hati Alat pancang kondisi kurang baik Metode pelaksanaan kurang tepat

Risiko Pekerjaan

Terperosok galian Tertimbun galian dan longsor Tabrakan antar alat berat Tertimpa material pancang Robohnya bekisting saat pengecoran

APD tidak dipakai APD tidak dipakai Pekerja berugurau saat bekerja

Alat kondisi kurang baik

Kondisi tanah gembur Kondisi tanah lunak/cuaca SDM kurang konsentrasi

Terperosok galian Tertimbun galian dan longsor Tabrakan antar alat berat Tersengat listrik saat penggetaran dengan vibrator beton Pekerja terkena percikan api las Pekerja terhirup debu Tertimpa talang air

Tersengat arus listrik

Kondisi tanah lunak SDM kurang komunikasi

SDM kurang konsentrasi

Kondisi lahan sempit

APD tidak dipakai

Material pecah dan menimpa pekerja Metode pelaksanaan kurang baik

Terhirup asap las

Longsornya galian Terjepit precast beton saluran

2 Pemasangan Crane lengkap dengan aksesoris dan Struktur, 3 Ton Crane menimpa pekerja

PEKERJAAN POMPA DISTRIBUSI PENGADAAN & PEMASANGAN POMPA 1 Pengadaan Crane lengkap dengan aksesoris dan Struktur, 3 Ton

1 Biotech septictank kap.1.2 m3

FREKUENSI Item Pekerjaan No PEKERJAAN PERSIAPAN 1 Mobdemob alat berat 1 2 Direksi keet 3x6m 3 Uitzet dengan theodolit & waterpass 4 Pemasangan pagar pengaman keliling PEKERJAAN RESERVOIR Pekerjaan Tanah 1 Pengukuran & Bowplank 2 2 Penggalian Tanah untuk Konstruksi menggunakan alat berat 3 Pengangkutan Tanah Keluar Proyek 4 Pemancangan ø30 cm p 12m 5 Pekerjaan Beton Bertulang PEKERJAAN RUMAH POMPA Rumah Pompa Pekerjaan Tanah dan Pondasi 1 Pengukuran & Bowplank 2 Penggalian Tanah untuk Konstruksi menggunakan alat berat 3 3 PengangkutanTanah Keluar Proyek 4 Pekerjaan Beton Bertulang 5 Pekerjaan Balok Induk 30/50 K300 6 tangga putar besi 7 Pekerjaan Pasangan (bata, plester, aci) 8 Screen talang PEKERJAAN SANITAIR 4

5

6 7

Skala Frekuensi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

PEKERJAAN POMPA DISTRIBUSI PENGADAAN & PEMASANGAN POMPA 1 Pengadaan Crane lengkap dengan aksesoris dan Struktur, 3 Ton

1 Biotech septictank kap.1.2 m3

DETEKSI Item Pekerjaan No PEKERJAAN PERSIAPAN 1 Mobdemob alat berat 1 2 Direksi keet 3x6m 3 Uitzet dengan theodolit & waterpass 4 Pemasangan pagar pengaman keliling PEKERJAAN RESERVOIR Pekerjaan Tanah 1 Pengukuran & Bowplank 2 2 Penggalian Tanah untuk Konstruksi menggunakan alat berat 3 Pengangkutan Tanah Keluar Proyek 4 Pemancangan ø30 cm p 12m 5 Pekerjaan Beton Bertulang PEKERJAAN RUMAH POMPA Rumah Pompa Pekerjaan Tanah dan Pondasi 1 Pengukuran & Bowplank 2 Penggalian Tanah untuk Konstruksi menggunakan alat berat 3 3 PengangkutanTanah Keluar Proyek 4 Pekerjaan Beton Bertulang 5 Pekerjaan Balok Induk 30/50 K300 6 tangga putar besi 7 Pekerjaan Pasangan (bata, plester, aci) 8 Screen talang PEKERJAAN SANITAIR 4

5

SDM kurang berhati-hati Metode pekerjaan kurang baik Kondisi tanah gembur Pekerja kurang hati-hati

Penyebab

Tabrakan antar alat berat Scaffolding jatuh tertimpa pekerja Terperosok galian Tergores paku

Kondisi tanah gembur Kondisi tanah lunak/cuaca SDM kurang berhati-hati Alat pancang kondisi kurang baik Metode pelaksanaan kurang tepat

Risiko Pekerjaan

Terperosok galian Tertimbun galian dan longsor Tabrakan antar alat berat Tertimpa material pancang Robohnya bekisting saat pengecoran

APD tidak dipakai APD tidak dipakai Pekerja berugurau saat bekerja

Alat kondisi kurang baik

Kondisi tanah gembur Kondisi tanah lunak/cuaca SDM kurang konsentrasi Terperosok galian Tertimbun galian dan longsor Tabrakan antar alat berat Tersengat listrik saat penggetaran dengan vibrator beton Pekerja terkena percikan api las Pekerja terhirup debu Tertimpa talang air

Material pecah dan menimpa pekerja Metode pelaksanaan kurang baik

2

3

5

1

4

Kondisi lahan sempit

5

4

SDM kurang konsentrasi

5 5

APD tidak dipakai

Tersengat arus listrik

Kondisi tanah lunak SDM kurang komunikasi

Terhirup asap las

Longsornya galian Terjepit precast beton saluran

2 Pemasangan Crane lengkap dengan aksesoris dan Struktur, 3 Ton Crane menimpa pekerja PEKERJAAN MEKANIKAL DAN ELEKTRIKAL 6 1 Instalasi Listrik dan Plumbing PEKERJAAN LANDSCAPE 1 Pekerjaan akses jalan 2 Pekerjaan drainase 7

Skala Deteksi 4 5 6 7 8

9 10

1.1 1.2 1.3 1.4 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 4.1 5.1 5.2 6.1 7.1 7.2

Rekap Responden 3 Responden 2 Responden 1 RPN No Severity Frekuensi Deteksi Severity Frekuensi Deteksi Severity Frekuensi Deteksi Severity Frekuensi Deteksi 48 6 1 8 3 1 7 7 1 9 8 1 7 30 5 2 3 3 2 3 5 2 3 8 2 3 30 6 5 1 5 6 1 7 5 1 7 5 1 144 6 4 6 5 6 7 7 2 5 7 4 7 75 5 3 5 1 7 5 7 1 5 7 1 5 216 4 6 9 3 6 10 5 6 10 5 6 8 150 6 5 5 5 5 5 6 5 5 6 5 5 96 6 4 4 5 4 4 7 3 4 7 4 4 84 7 2 6 4 2 7 9 1 7 9 3 5 36 6 2 3 5 2 3 7 1 3 7 2 3 100 4 5 5 4 4 5 5 6 5 4 6 5 30 1 5 6 1 4 6 1 6 6 1 6 6 16 1 2 8 1 2 8 1 1 8 1 3 8 6 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3 20 1 4 5 1 5 5 1 4 5 1 4 5 63 3 7 3 3 8 3 3 7 3 3 7 3 4 4 1 1 4 1 1 5 1 1 4 1 1 40 4 2 5 4 2 5 5 2 5 4 2 4 120 6 4 5 5 4 5 7 4 5 5 4 4 336 7 6 8 5 6 8 8 6 8 8 6 8 180 6 6 5 5 5 5 7 7 5 7 5 5 144 6 3 8 5 4 8 7 2 8 7 3 9

REKAP VARIABEL 3 RESPONDEN HASIL RPN Item Pekerjaan

Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan Reservoir

Pekerjaan Rumah Pompa

Pekerjaan Sanitair Pekerjaan Pompa distribusi Pekerjaan MEP Pekerjaan Landscape, Test and Commissioning