ANALISIS BERPIKIR KREATIF PADA

Mathematics (STEM) on solubility and solubility product constant (Ksp) material. The research method used was a case study with One-Shot Case Study de...

0 downloads 16 Views 224KB Size
Liska Ariani, dkk., Analisis Berpikir Kreatif pada Penerapan Problem Based Learning …. 2307

ANALISIS BERPIKIR KREATIF PADA PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING BERPENDEKATAN SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, AND MATHEMATICS Liska Ariani*, Sudarmin, dan Sri Nurhayati Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang Gedung D6 Lantai 2 Kampus Sekaran Gunungpati Semarang, 50229, Telp (024)8508035 E-mail: [email protected]

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif peserta didik melalui penerapan model Problem Based Learning berpendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp). Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan desain penelitian One-Shot Case Study. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan metode tes berupa soal uraian berpikir kreatif untuk mengetahui ketercapaian kemampuan berpikir kreatif peserta didik dan angket untuk mengetahui tanggapan peserta didik terhadap pembelajaran yang dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kemampuan berpikir kreatif peserta didik mencapai kriteria baik dengan skor 47,84 dari skor total 60 dan ketercapaian tertinggi pada indikator memandang informasi dari sudut pandang yang berbeda (89,48%), serta peserta didik memberikan tanggapan positif terhadap pembelajaran yang dilakukan. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa kemampuan berpikir kreatif peserta didik setelah diterapkan model Problem Based Learning berpendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics pada materi Ksp berada dalam kriteria baik. Kata kunci: berpikir kreatif, problem based learning, stem ABSTRACT This study aims to analyze the ability of students’ creative thinking through the application of Problem Based Learning Model based on Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) on solubility and solubility product constant (Ksp) material. The research method used was a case study with One-Shot Case Study design. Sampling in this research using purposive sampling technique. Instruments data collection using test method in the form questions of creative thinking to know the ability of students creative thinking and questionnaire to know the students response to the learning had done. The results showed that, the average ability of creative thinking of students in good criteria with score 47,84 from total score 60 and the highest achievement in the indicator to view information from different point of view (89,48%), and the students gave positive responses for learning which is done. The conclusion of theses researches is the student’s ability of creative thinking after applied Problem Based Learning Model based on Science, Technology, Engineering, and Mathematics on solubility and solubility product constant (Ksp) material in good criteria. Keywords: creative thinking, problem based learning, stem

PENDAHULUAN

erat

Era disruption di abad 21 telah menjadi

sebuah

realitas

yang

harus

dengan

pendidikan.

Pendidikan

merupakan proses pengubahan sikap dan perilaku

seseorang

atau

kelompok,

dihadapi oleh masyarakat dan bangsa

sebagai upaya mendewasakan manusia

Indonesia. Perkembangan dan kemajuan

melalui pembelajaran dan pelatihan (Syah,

suatu bangsa di era disruption berkaitan

2007).

Lembaga

pendidikan

termasuk

Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 13, No. 1, 2019, halaman 2307 – 2317

2308

sekolah dan pendidikan tinggi dituntut

berkontribusi

harus

generasi

bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan

beradaptasi

peradaban dunia (Kemendikbud, 2013).

mampu

berkualitas

mencetak

yang

dapat

dengan tantangan di era disruption. Berbagai pendidikan

upaya

telah

pada

kehidupan

Kreativitas dapat didefinisikan ke dalam

pembaharuan

dilaksanakan

untuk

empat jenis dimensi sebagai “Four P`S of Creativity: Person, Process, Press, and

meningkatkan kualitas pendidikan. Salah

Product”

satu langkah yang dilakukan pemerintah

kreativitas yang dianalisis dalam penelitian

untuk

berfokus pada process yaitu berpedoman

meningkatkan

kualitas

lembaga

(Munandar,

2012).

pendidikan dengan menerapkan sistem

pada

pendidikan

berdasarkan Tawil dan Liliasari, (2013).

kurikulum

2013

yang

indikator-indikator

Jenis

berkarakter. Kurikulum 2013 merupakan

Hasil

kurikulum yang menuntut peserta didik

penelitian

untuk

proses

implementasi

Guru

Engineering,

berperan

pembelajaran

aktif

dalam

(student

centered).

analisis

berpikir

kreatif

beberapa

artikel

menunjukkan Science, and

bahwa Technology,

Mathematics

(STEM)

berperan sebagai fasilitator atau mediator

Education

dalam

pembelajaran

sangat

serta perancang pembelajaran agar peserta

populer

karena

dibutuhkan

pada

didik aktif mencari pengetahuan baru.

pembelajaran

bidang

mengasah

kemampuan

Peran guru dalam kurikulum 2013

sains

kognitif,

tidak lagi hanya sekedar mengajarkan

manipulatif,

pengetahuan

teknologi, dan pengaplikasian pengetahuan

mampu

saja,

tetapi

sebagai

pembimbing

juga

pendidik

dengan

harus

sekaligus memberikan

(Capraro,

mendesain,

dalam

et

al.,

implementasinya

memanfaatkan 2013).

STEM

Pada dapat

pengarahan sehingga peserta didik untuk

diintegrasikan dengan model pembelajaran

dapat

kegiatan

Project Based Learning, Problem Based

pembelajaran yang mampu menumbuhkan

Learning, Discovery Based Learning dan

kreativitas. Kemampuan berpikir

Inquiry Based Learning (Redkar, 2012;

lebih

dikembangkan,

aktif

dalam

karena

perlu

kenyataan

di

lapangan menunjukkan pembelajaran kimia saat

ini

umumnya

masih

dituntut karena

dalam tujuan

peserta proses

kurikulum

2012; Dewi et al., 2017).

berorientasi

penguasaan konsep (Sudarmin, 2009). Kreativitas

Laforce et al., 2017; Casad dan Jawaharlal,

didik

Mengacu pada tuntutan kurikulum 2013

maka

pembelajaran

yang

akan

juga

diterapkan pada penelitian yaitu model PBL

pembelajaran,

berpendekatan STEM. PBL merupakan

2013

model

adalah

pembelajaran kontekstual

yang

menyajikan

mempersiapkan manusia Indonesia agar

masalah

memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi

peserta didik untuk belajar (Sudarmin,

dan warga negara yang beriman, produktif,

2015). Model PBL berpendekatan STEM

kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu

merupakan

suatu

sehingga memicu

pembelajaran

yang

Liska Ariani, dkk., Analisis Berpikir Kreatif pada Penerapan Problem Based Learning …. 2309 diintegrasikan teknik,

dengan

dan

sains,

teknologi,

berpikir kreatif peserta didik pada materi

untuk

Ksp dan mengetahui tanggapan peserta

matematika

menumbuhkan kreativitas peserta didik

didik terhadap penerapan

melalui proses pemecahan masalah dalam

Berpendekatan STEM.

Model

PBL

kehidupan sehari-hari (Winarni, et al., 2016). Integrasi STEM dalam pembelajaran berbasis

masalah

mampu

METODE PENELITIAN

menuntun

Penelitian dilakukan di suatu SMA

peserta didik menyelesaikan masalah yang

di

diberikan secara berkelompok, sehingga

kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).

mendorong peserta didik untuk bekerja

Subjek penelitian adalah peserta didik kelas

sama

XI IPA SMA yang berjumlah 26 orang yang

yang

bertanggung

jawab

atas

Kabupaten

Grobogan

materi

pekerjaannya secara mandiri dan dapat

dipilih

melakukan pengelolaan pola diskusi yang

purposive sampling. Variabel bebas dalam

cocok dengan keadaan kelompok masing-

penelitian

masing (Farwati, et al., 2017).

berpendekatan STEM, sedangkan variabel

Integrasi STEM yang digunakan dalam penelitian adalah STEM Terpadu, yang

menciptakan

pembelajaran

sebuah

secara

dan

ini

menggunakan adalah

teknik

model

PBL

terikat adalah berpikir kreatif peserta didik pada materi Ksp kelas XI IPA 2.

sistem

kohesif

dengan

pada

Metode penelitian yang digunakan adalah

studi

kasus

dengan

desain

pembelajaran aktif, karena keempat aspek

penelitian one-shot case study. Instrumen

dibutuhkan

penelitian

secara

menyelesaikan

bersamaan masalah

untuk dengan

menggunakan

tes

berupa soal uaraian berpikir kreatif untuk

mengutamakan aspek sains (Shernoff, et

menganalisis

al., 2017).

berpikir

Penerapan materi Ksp di

metode

ketercapaian

kreatif

dan

angket

untuk

kehidupan sehari-hari yang akan dibahas

mengetahui

yaitu

maag,

terhadap penerapan PBL berpendekatan

kandungan garam bledug kuwu, mengatasi

STEM pada materi Ksp. Analisis data hasil

kesadahan air, penggunaan pasta gigi

penelitian dilakukan dengan menghitung

berflouride,

persentase skor rerata ketercapaian tiap

pada

penggunaan

fenomena

obat

terbentuknya

stalakmit stalagtit, dan identifikasi sidik jari. Rumusan

masalah

dalam

tanggapan

kemampuan

peserta

didik

indikator berpikir kreatif dan angket dengan menggunakan rumus Cronbach Alpha.

penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah kemampuan berpikir kreatif peserta didik melalui

penerapan

model

PBL

HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran Ksp di kelas XI IPA 2

berpendekatan STEM? (2) Bagaimanakah

diintegrasikan

tanggapan peserta didik terhadap proses

berpendekatan STEM. Salah satu contoh

kegiatan pembelajaran dengan model PBL

integrasi materi Ksp di kehidupan sehari-

berpendekatan

hari dengan STEM disajikan pada Tabel 1.

STEM?

Penelitian

ini

bertujuan untuk menganalisis kemampuan

dengan

model

PBL

Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 13, No. 1, 2019, halaman 2307 – 2317

2310

Tabel 1. Integrasi materi ksp di kehidupan sehari-hari dengan STEM Langkah Perilaku Guru

Tahap 1

Memberikan orientasi tentang permasalahan kepada peserta didik.

Guru membahas tujuan, deskripsi pembelajaran, dan mengkaitkan materi dengan kesadahan air. Science: menentukan persamaan Ksp pada pembentukan endapan CaCO3 di air sadah.

2

Mengorganisasikan peserta didik untuk meneliti.

Guru membantu peserta didik untuk memahami uraian permasalahan tentang proses menghilangkan kesadahan air dengan pemanasan (technology).

3

Membantu investigasi mandiri dan kelompok.

Guru mendorong peserta didik berdiskusi untuk mendapatkan informasi yang tepat mengenai ide-ide kreatif agar proses penghilangan kesadahan lebih cepat (engineering).

4

Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karya.

Guru membantu peserta didik untuk menuliskan hasil diskusi di LKPD dan menjawab soal perhitungan harga kelarutan CaCO3 jika diketahui nilai Kspnya. (mathematics).

5

Menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah

Guru membantu peserta didik untuk memeriksa dan melakukan refleksi terhadap hasil pekerjaannya.

Kemampuan berpikir kreatif Kemampuan berpikir kreatif peserta didik

terhadap

pada penelitian dianalisis berdasarkan hasil

berpendekatan STEM. Rekapitulasi hasil

tes. Sebagai data pendukung digunakan

analisis tes kemampuan berpikir kreatif

data

peserta didik disajikan pada Tabel 2.

angket

tanggapan

peserta

didik

penerapan

model

PBL

Tabel 2. Hasil analisis tes kemampuan berpikir kreatif Skor Tes Jumlah Persentase Kriteria Berpikir Kreatif Peserta Didik (%) 50 < skor ≤ 60 10 38,46 Sangat Baik 40 < skor ≤ 50 11 42,30 Baik 30 < skor ≤ 40 5 19,23 Cukup 20 < skor ≤ 30 0 0 Rendah 10 < skor ≤ 20 0 0 Sangat Rendah Hasil

ketercapaian

kemampuan

berdasarkan

penelitian

tersebut

berpikir kreatif peserta didik pada Tabel 1

dikarenakan model

diketahui

digunakan, yaitu model PBL berpendekatan

bahwa

kemampuan

berpikir

tersebut

yang

kreatif peserta didik dalam kriteria sangat

STEM.

baik sebanyak 10 orang, kriteria baik

penelitian Farwati, et al., (2017) yang

sebanyak 11 orang, dan kriteria cukup

menunjukkan bahwa integrasi PBL dalam

sebanyak 5 orang. Tingkat ketercapaian

STEM Education dapat mengaktualisasi

kemampuan berpikir kreatif

literasi lingkungan dan kreativitas.

yang baik

Hasil

pembelajaran

sejalan dengan

Liska Ariani, dkk., Analisis Berpikir Kreatif pada Penerapan Problem Based Learning …. 2311 Selain

tingkat

ketercapaian

kemampuan berpikir kreatif yang baik,

kemampuan

berpikir

kreatif

dalam

menyelesaikannya (Mullis, 2012).

masih terdapat ketercapaian yang cukup.

Analisis

hasil

menunjukkan

Hal ini dapat dikarenakan peserta didik

bahwa

tersebut

dengan

berpikir kreatif mencapai kriteria baik dan

pembelajaran yang dilakukan dan belum

satu indikator berpikir kreatif mencapai

terbiasa

menghadapi

kriteria sangat baik.

berbeda

dari

belum

diperkuat

terbiasa

soal-soal

biasanya.

berdasarkan

International

Mathematics

Hal

yang

persentase

tes dari

tiga

indikator

tersebut

hasil

Trend

and

Science

Indikator mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik.

Study (TIMMS) menyebutkan bahwa tingkat

Data hasil analisis berpikir kreatif

kemampuan berpikir kreatif peserta didik di

untuk

indikator

Indonesia tergolong rendah, karena tidak

pengetahuan

terbiasa mengerjakan soal-soal kategori

peserta didik disajikan pada Gambar 1.

yang

mengembangkan telah

dimiliki

oleh

high and advance yang membutuhkan

Gambar 1. Ketercapaian indikator mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik. Indikator ini memperoleh rerata persentase 72,82%

berpikir

dengan

kreatif

kriteria

keempat

dari

empat

kreatif.

Pengetahuan

mencapai

Ksp dan hasil tertinggi terdapat pada soal mengenai memprediksi terjadinya reaksi

baik,

urutan

indikator

berpikir

menunjukkan bahwa peserta didik sudah

didik

terarah dalam menjawab dengan rumus

peserta

pengendapan.

dikembangkan dengan cara menganalisis

yang

dan

perhitungan

menginterpretasikan

berdasarkan

perhitungan

solusi

data

secara

matematis. Soal

indikator

ini

yang

benar,

namun

masih

hasil

pada

salah

atau

tes

proses belum

selesai. Hal tersebut menunjukkan bahwa peserta

pada

Analisis

didik

tentang

memerlukan

cara

menganalisis

memperoleh hasil terendah terdapat pada

menginterpretasikan

solusi

soal mengenai hubungan kelarutan dengan

perhitungan

secara

data

penjelasan dan

berdasarkan matematis,

Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 13, No. 1, 2019, halaman 2307 – 2317

2312

dengan tujuan agar peserta didik dapat

yang baik dan benar, maka peserta didik

mengembangkan pengetahuan yang telah

akan

dimilikinya.

pengerjaan soal pada materi tersebut dan

Hasil

tersebut

sejalan

dengan

mengalami

kesulitan

dalam

selanjutnya.

penelitian Marsita (2010), yang menyatakan bahwa kesulitan peserta didik terletak pada

Indikator membangkitkan keingintahuan

soal yang memuat konsep perhitungan

dan hasrat ingin tahu.

angka karena peserta didik kurang latihan dalam

menyelesaikan

soal-soal.

Jika

Data hasil analisis berpikir kreatif untuk

indikator

membangkitkan

peserta didik tidak dapat memecahkan

keingintahuan

masalah

disajikan pada Gambar 2.

pada

materi

kimia

yang

dan

hasrat

ingin

tahu

melibatkan perhitungan dengan langkah

Gambar 2. Ketercapaian indikator membangkitkan keingintahuan dan hasrat ingin tahu. Indikator ini memperoleh rerata persentase

berpikir

kreatif

mencapai

sederhana

empat

indikator

garam

Analisis

hasil

tes menunjukkan

kreatif.

bahwa peserta didik sudah terarah dalam

tahu

menjawab dengan menyebutkan proses

peserta didik dibangkitkan dengan cara

yang diharapkan walaupun masih terdapat

menghubungkan

kekurangan. Hal tersebut menunjukkan

Keingintahuan

dan

berpikir

pembuatan

Bledug Kuwu.

75,76% dengan kriteria baik, urutan ketiga dari

dalam

hasrat

ingin

informasi/proses

di

kehidupan nyata dengan informasi yang

peserta

didapat dari sekolah.

informasi satu dengan informasi dari disiplin

Soal

pada

indikator

ini

yang

didik

mampu

menghubungkan

berbeda, yang dipicu oleh keingintahuan

memperoleh hasil terendah terdapat pada

dan

soal

mengenai pembuatan garam bledug kuwu.

menganalisis

proses-proses

dan

mengevaluasi

terbentuknya

stalakmit

hasrat Hasil

ingin

tahu

tersebut

peserta

sejalan

didik

dengan

stalagtit dan hasil tertinggi terdapat pada

Chonkaew, et al., (2016) menyatakan

soal

bahwa kegiatan pembelajaran berbasis

mengenai

mengenai

teknologi

Liska Ariani, dkk., Analisis Berpikir Kreatif pada Penerapan Problem Based Learning …. 2313 kehidupan nyata membantu peserta didik

sudut pandang yang berbeda disajikan

dalam menyadari pentingnya teori dan ilmu

pada Gambar 3.

pengetahuan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Indikator ini memperoleh rerata persentase

berpikir

kreatif

mencapai

89,48% dengan kriteria sangat baik, urutan Indikator memandang

informasi dari

sudut pandang yang berbeda.

pertama

dari

empat

indikator

berpikir

kreatif. Peserta didik mampu menyebutkan

Data hasil analisis berpikir kreatif untuk indikator memandang informasi dari

pemecahan

masalah

dengan

cara

memandang informasi dari sudut pandang yang berbeda.

Gambar 3. Ketercapaian indikator memandang informasi dari sudut pandang yang berbeda. Soal pada indikator ini memperoleh

pembelajaran dapat memudahkan peserta

hasil yang tinggi pada setiap nomor. Hal

didik memecahkan masalah yang muncul

tersebut dikarenakan walaupun tuntutan

selama

soal tinggi, namun dianggap mudah karena

Purnamaningrum,

cenderung diterapkan di kehidupan sehari-

melalui pembelajaran dengan model PBL

hari

yang

berpendekatan STEM peserta didik tidak

dikemukakan tiap kelompok akan dibahas

hanya sekedar menghafal konsep saja,

dan disimpulkan lagi bersama-sama oleh

tetapi lebih kepada bagaimana peserta

guru di kelas, sehingga peserta didik lebih

didik mengerti dan memahami konsep-

memahami

konsep

dan

ide-ide

atau

materi.

cara

Hal

tersebut

proses

sains

pembelajaran (2012)

dan

dan

menyatakan

kaitannya

dalam

membuktikan bahwa peserta didik mampu

kehidupan sehari-hari, sehingga peserta

menyebutkan pemecahan masalah dengan

didik dapat menyusun pengetahuannya

berbagai cara karena mampu memandang

sendiri dalam memecahkan masalah dan

informasi

mengupayakan berbagai macam solusinya

dari

sudut

pandang

yang

berbeda.

yang

Hasil

tersebut

sejalan

dengan

penelitian Zheng, (2013) yang menyatakan bahwa

penerapan

PBL

dalam

mendorong

berpikir kreatif.

peserta

didik

untuk

Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 13, No. 1, 2019, halaman 2307 – 2317

2314

Indikator memprediksi dari informasi

terdapat pada soal mengenai harga Ksp

yang terbatas

basa sukar larut yang terkandung pada

Data hasil analisis berpikir kreatif

obat maag. Hal tersebut dikarenakan soal

untuk indikator memprediksi dari informasi

merupakan konsep dari materi Ksp yang

yang terbatas disajikan pada Gambar 4.

didapatkan

Indikator ini memperoleh rerata persentase

berpikir

pembelajaran.

Hal

tersebut membuktikan bahwa peserta didik

mencapai

cenderung mampu menyelesaikan soal

79,61% dengan kriteria baik, urutan kedua

yang memuat informasi terbatas dengan

dari empat indikator berpikir kreatif. Peserta

cara mempraktikkan konsep-konsep ilmu

didik dapat menyelesaikan permasalahan

atau rumus-rumus yang telah didapatkan

yang memuat informasi terbatas dengan

selama

cara mempraktikan konsep ilmu selama

sejalan dengan penelitian dari Firman

pembelajaran (konten).

(2016),

Soal

pada

kreatif

selama

indikator

ini

pembelajaran. yang

Hasil

tersebut

menyatakan

bahwa

yang

pengalaman belajar kimia yang berbasis

memperoleh hasil terendah terdapat pada

pendidikan STEM dapat mengaktualisasi

soal menguraikan reaksi kimia yang terjadi

pemahaman peserta didik terhadap konten

pada stalakmit stalagtit dan hasil tertinggi

kimia.

Gambar 4. Ketercapaian indikator memprediksi dari informasi yang terbatas Tanggapan

Peserta

Didik

terhadap

tersebut diperoleh melalui angket berisi 15

Penerapan Model PBL Berpendekatan

item

STEM

menggunakan skala Likert Angket tanggapan peserta didik

digunakan peserta

untuk

cronbach alpha yang dikonversi menjadi skala

kuantitatif.

Rekapitulasi

kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp)

penerapan

menggunakan model PBL berpendekatan

STEM disajikan pada Tabel 3.

tanggapan

peserta

didik

dianalisis dan rumus

tanggapan

Data

setelah

respon

yang

pembelajaran

STEM.

didik

mengetahui

pernyataan

peserta model

didik

PBL

hasil

terhadap

berpendekatan

Liska Ariani, dkk., Analisis Berpikir Kreatif pada Penerapan Problem Based Learning …. 2315 Tabel 3. Hasil tanggapan peserta didik terhadap penerapan model PBL berpendekatan STEM Aspek Tanggapan Skor Kriteria Model Pembelajaran Penggunaan LKPD Mendorong Berpikir Kreatif Menambah Pengetahuan STEM Tabel

3

menunjukkan

bahwa

86,50 83,66 78,25 73,75

Setuju Setuju Setuju Setuju

SIMPULAN

angket tanggapan peserta didik diperoleh

Hasil

penelitian

hasil setuju dengan persentase sebesar

bahwa

80,54%,

disimpulkan

Berpendekaan STEM dapat mendorong

peserta didik memberikan tanggapan positif

kemampuan berpikir kreatif peserta didik

terhadap penerapan PBL berpendekatan

pada materi Ksp kelas XI IPA SMA dengan

STEM pada materi Ksp dengan reliabilitas

kriteria baik dan peserta didik memberikan

sebesar 0,83. Tanggapan peserta didik

tanggapan positif sebesar 80,54% terhadap

pada saat wawancara menunjukkan bahwa

penerapan

pembelajaran

STEM pada materi Ksp.

sehingga

dapat

dengan

model

PBL

penerapan

membuktikan

model

PBL

model

PBL

berpendekatan

berpendekatan STEM merupakan hal baru yang belum pernah diterapkan guru dalam pembelajaran.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih

Peserta didik secara berkelompok diberikan kesempatan untuk berdiskusi

kepada peserta didik kelas XI IPA yang telah membantu proses penelitian.

mengenai fenomena disekitar kehidupan nyata yang dikaitkan dengan aspek STEM.

DAFTAR PUSTAKA

Ketika

Capraro, R., Caprapo, M., dan Morgan, J.R., 2013, STEM Project-Based Learning, Rotterdam: Sense Publisher.

berdiskusi

peserta

didik

akan

mengadakan tanya jawab, yang dapat menambah informasi dan mengingatkan kembali materi yang dipelajari atau dialami peserta didik (Permanasari, 2016). Model PBL berpendekatan STEM dengan

pola

belajar

diskusi

mampu

memaksimalkan kemampuan peserta didik dalam memotivasi untuk lebih aktif dalam berpikir

dan

terlibat

pembelajaran

dan

pengetahuannya. disimpulkan

Hasil

bahwa

langsung

dalam

mengeksplorasi tersebut

dapat

peserta

didik

memberikan tanggapan positif.

Casad, B., dan Jawaharlal, M., 2012, Learning Throught Guided Discovery: an enganging approach to k-12 STEM education. American Society for Engineering Education, Vol 6, No 12, Hal 1-16. Chonkaew, P., Sukhummek, B., dan Faikhamta, C., 2016, Development of Analytical Ability and Attitudes Towards Science Learningof Grade11 Students Thhrough Science Technology Engineering and Mathematics (STEM Education) in the Study of Stoichiometry, Chemistry Education Research and Practice, Vol 16, No 17, Hal 842-861.

2316

Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 13, No. 1, 2019, halaman 2307 – 2317

Dewi, H.R., Mayasari, T. dan Handhika, J., 2017, Peningkatan Keterampilan Berpikir Kreatif Siswa Melalui Penerapan Inkuiri Terbimbing Berbasis STEM. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika III, Madiun: Universitas PGRI Madiun. Farwati, R., Permanasari, A., Firman, H., dan Suhery, T., 2017, Integrasi Problem Based Learning dalam STEM Education Berorientasi pada Aktualisasi Literasi Lingkungan dan Kreativitas. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA, Palembang: Universitas Sriwijaya. Firman,

H., 2015, Pendidikan Sains Berbasis STEM: konsep, pengembangan, dan peranan riset pascasarjana, Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA dan PKLH Program Pascasarjana, Bogor: Universitas Pakuan.

Ismawati, R., 2017, Strategi REACT dalam Pembelajaran Kimia SMA. Indonesian Journal of Science and Education, Vol 1, No 1, Hal 1-7. Kemendikbud, 2013, Pengembangan Analisis Hasil Belajar Peserta Didik, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Laforce, M., Noble, E., dan Blackwell, C., 2017. Problem-Based Learning And Student Interest in STEM Careers: the roles of motivation and ability beliefs, Education Sciences, Vol 4, No 12, Hal 1-22. Marsita, R.A., Priatmoko, S., dan Kusuma E., 2010, Analisis kesulitan belajar kimia siswa SMA dalam memahami materi larutan penyangga dengan menggunakan two-tier multiple choice diagnostik instrument, Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia, Vol 4, No 1, Hal 512-520. Mullis, I.V., 2012, TIMMS 2011 International Results in Mathematics, Amsterdam: International Asssociation for Ealuation of Educational Achievement.

Munandar, U., 2012, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, Jakarta: Rineka Cipta. Permanasari, A., 2016, STEM Education: inovasi dalam pembelajaran sains. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS), Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Purnamaningrum, A., 2012, Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif melalui Problem Based Learning (PBL) pada Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X-10 SMA Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012, Jurnal Pendidikan Biologi UNS, Vol 4, No 3, Hal 3951. Redkar, S., 2012, Teaching Advanced Vehicle Dynamics Using a ProjectBased Learning Approach, Journal of STEM Education, Vol 13, No 3, Hal 17-29. Shernoff, D.J., Sinha, S., Bressler, D.M., dan Ginsburg, L., 2017, Assesing Teacher Education and Proffessional Development Needs for the Implementatation of Integrated Approaches to STEM Education, International Journal of STEM Education, Vol 4, No 13, Hal. 1-16. Sudarmin, 2009, Meningkatkan Kemampuan Berpikir Mahasiswa melalui Pembelajaran Kimia Terintegrasi Kemampuan Generik Sains, Prosiding Seminar Nasional Penelitian Pendidikan dan Penerapan MIPA, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Sudarmin, 2015, Model Pembelajaran Inovatif Kreatif (Model PAIKEM dalam Konteks Pembelajaran dan Penelitian Sains Bermuatan Karakter), Semarang: Swadaya Manunggal. Syah,

M., 2007, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Nilai, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Liska Ariani, dkk., Analisis Berpikir Kreatif pada Penerapan Problem Based Learning …. 2317 Tawil, M., dan Liliasari, 2013, Berpikir Kompleks dan Implementasinya dalam Pembelajaran IPA, Makassar: Badan Penerbit UNM. Winarni, J., Zubaidah, S., dan Koes, S., 2016, STEM: apa, mengapa, dan bagaimana. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA

Pascasarjana, Malang: Universitas Negeri Malang. Zheng,

Y., 2013, The Motivation of Problem-Based Teaching and Leraning in Translation, Journal of Science and Education, Vol 6, No 4, Hal120-125.