Analisis Daya Saing Ikan Tuna Indonesia di Pasar Internasional

persaingan ikan tuna di pasar internasional, (2) menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif ikan tuna Indonesia, dan (3) melakukan perumusan st...

0 downloads 94 Views 1MB Size
ANALISIS DAYA SAING IKAN TUNA INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

SKRIPSI

INDRY NILAM CAHYA H34051584

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

RINGKASAN INDRY NILAM CAHYA. Analisis Daya Saing Ikan Tuna Indonesia di Pasar Internasional. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan NARNI FARMAYANTI) Indonesia merupakan Negara Kepulauan dengan sumberdaya perikanan yang berlimpah. Ikan tuna termasuk salah satu sumberdaya perikanan yang menjadi komoditi ekspor utama setelah udang. Ketersediaan ikan tuna di Indonesia masih baik yang terlihat masih ada daerah penangkapan ikan tuna yang masih berstatus under exploited. Ikan tuna merupakan komoditi yang banyak diminati oleh pasar internasional terutama Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Indonesia termasuk salah satu produsen pengekspor ikan tuna di dunia, namun Indonesia mengalami berbagai hambatan tarif , non tarif, dan administrasi yang dilakukan oleh Negara tujuan ekspor. Persaingan diantara Negara pesaing lainnya juga sangat ketat terkait dengan masalah kualitas dan kuantitas. Peraturan internasional seperti Code of Conduct for Ressponsible Fisheries, International Convention for The Conservation of Atlantic Tuna (ICCAT) yang mengatur tentang kelestarian sumberdaya perikanan, Convention of National Trade of Endanger Species (CITES) yang mengatur tentang perlindungan satwa yang terancam punah, dan General Agreement on Tariff and Trade (GATT oleh WTO), termasuk didalamnya perjanjian Agreement on Sanitary and Phitosanitary Measures (SPS) dan Agreement on Technical Barrier on Trade (TBT oleh WTO) juga mempengaruhi keadaan perdagangan ikan tuna Indonesia di pasar internasional. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis struktur pasar dan persaingan ikan tuna di pasar internasional, (2) menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif ikan tuna Indonesia, dan (3) melakukan perumusan strategi untuk memperkuat daya saing ikan tuna Indonesia di pasar internasional. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari Badan Pusat Statistik, Departemen Kelautan dan Perikanan, dan data dunia melalui United Nations Comtrade. Waktu penelitian dilakukan selama bulan Februari hingga Desember 2009 dengan menggunakan data timeseries tahun1998-2007. Data penelitian diolah dengan Herfindahl Index (HI), Concertation Ratio (CR), Revealed Comparative Advantage (RCA), Teori Berlian Porter, dan Analisis SWOT. Ikan tuna nasional diperdagangkan dalam tiga bentuk yaitu segar,beku, dan olahan. Analisis struktur pasar komoditas ikan tuna baik ikan tuna segar, beku, maupun olahan berdasarkan nilai HI dan CR4 berada dalam pasar monopolistik yang cenderung oligopoli yang menyebabkan posisi Indonesia masih berpeluang dalam menguasasi pasar, namun pergerakan pasar ke oligopoli akan membuat Indonesia hanya sebagai pengikut pasar. Posisi ini mengakibatkan Indonesia tidak dapat mengambil keputusan yang berkaitan dengan harga maupun produk, tanpa terlebih dahulu mengacu kepada keputusan pemimpin pasar. Indeks RCA untuk komoditas ikan tuna segar selama tahun 2002-2007 selalu lebih besar dari satu sehingga memiliki keunggulan komparatif. Ikan tuna beku memiliki indeks RCA dibawah satu sehingga tidak memiliki keunggulan komparatif. Ikan tuna olahan memiliki indeks RCA berfluktuasi antara 0,85-1,10 sehingga ikan tuna Indonesia dapat dikatakan memiliki keunggulan komparatif.

Hasil analisis kompetitif ikan tuna Indonesia melalui Teori Berlian Porter menunjukkan bahwa ikan tuna Indonesia belum memiliki keunggulan kompetitif. Keadaan sumberdaya faktor (alam, manusia, iptek, modal, dan infrastrukutur) masih mengalami banyak masalah, kondisi permintaan di dalam dan luar negeri cukup baik, keberadaan industri terkait dan pendukung belum cukup baik untuk menunjang keadaan ikan tuna nasional. Struktur persaingan ikan tuna di pasar internasional sangat ketat terkait munculnya pesaing baru terkait adanya teknologi budidaya, posisi tawar pembeli dan pemasok yang cukup tinggi, adanya produk subtitusi seperti ikan salmon, dan negara pesaing yang terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produknya. Peran pemerintah sudah cukup baik namun masih perlu ditingkatkan terkait dengan perbaikan kondisi faktor sumberdaya yang menjadi masalah utama dalam pengembangan ikan tuna nasional. Peran kesempatan yang ada seperti penemuan teknologi budidaya dan adanya perdagangan bebas dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing ikan tuna nasional. Analisis SWOT menghasilkan strategi yang dapat dilakukan yaitu (1)meningkatkan produksi ikan tuna melalui pemberian pinjaman modal kepada nelayan untuk kegiatan penangkapan dan penerapan teknologi budidaya, (2)memperluas pasar dengan cara melakukan kerjasama dengan negara lain diluar negara tujuan ekspor utama dan mendaftar sebagai anggota manajemen perikanan dunia, (3) meningkatkan mutu ikan dengan cara sosialisasi tentang mutu kepada nelayan dan peningkatan peran lembaga pengawasan mutu serta perbaikan sumberdaya manusianya, (4) melakukan kerjasama dengan pihak asing, (5) melakukan pembenahan manajemen perikanan perusahaan dengan cara melakukan pelatihan karyawan tentang penanganan ikan pasca panen dan HACCP dan peningkatan teknologi peralatan yang digunakan, (6)memperbaiki sarana dan prasarana dengan membenahi system transportasi dan penyediaan sarana pendukung, dan (7) memperbaiki kondisi perekonomian nasional. Daya saing ikan tuna nasional perlu untuk ditingkatkan agar mampu bersaing di pasar internasional. Perusahaan perlu meningkatkan kualitas produk ikan tuna yang dihasilkan, penelitian dan pengembangan teknologi budidaya harus dilakukan dengan langkah awal membentuk tim peneliti teknologi budidaya tersebut, dan pemerintah perlu meningkatkan subsidi BBM serta membentuk sistem perikanan terpadu dari hulu hingga hilir. Pembenahan infrastruktur dan kebijakan akan meningkatkan daya saing ikan tuna nasional di pasar internasional. Penjagaan sumberdaya perairan juga perlu ditingkata untuk mengatasi kasus pencurian dan pencatatan hasil tangkapan juga harus dilakukan dengan baik.

ANALISIS DAYA SAING IKAN TUNA INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

INDRY NILAM CAHYA H34051584

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

Judul Skripsi Nama

: Analisis Daya Saing Ikan Tuna Indonesia di Pasar Internasional : Indry Nilam Cahya

NIM

: H34051584

Disetujui, Pembimbing

Ir. Narni Farmayanti, MSc NIP 19630228 199003 2 001

Diketahui Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS NIP 19580908 198403 1 002

Tanggal Lulus :

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Daya Saing Ikan Tuna Indonesia di Pasar Internasional” adalah karya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang telah diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari 2010

Indry Nilam Cahya H34051584

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Makassar pada tanggal 2 Agustus 1987. Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Syamsu Alie Osman (Alm) dan Ibunda Dewi Jun Diesnawaty. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Wibawa Mukti Bekasi pada tahun 1993-1999 dan pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2002 di SLTPN 9 Bekasi. Pendidikan lanjutan menengah atas di SMUN 42 Jakarta dan lulus pada tahun 2005. Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) pada tahun 2005.

Penulis diterima di

Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen pada tahun 2006. Selama mengikuti pendidikan, penulis tercatat sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Pencinta Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA) pada Departemen Minat, Bakat, dan Profesi (MBP) periode tahun 2006-2007, anggota Himpunan Mahasiswa Agribisnis (HIPMA) periode tahun 2007-2009, dan pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Futsal periode tahun 2006-2008 sebagai bendahara.

Selain itu penulis juga aktif di beberapa kepanitian dan

kegiatan budaya sebagai salah satu anggota Tari Saman ‘Bungong Puteh’ IPB.

KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Daya Saing Ikan Tuna Indonesia di Pasar Internasional”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur pasar ikan tuna dunia, menganalisis keunggulan komparatif dan kompetititf ikan tuna nasional serta menentukan strategi kebijakan yang diambil untuk meningkatkan daya saing ikan tuna nasional. Penelitian ini dilakukan guna mendapatkan hasil analisis yang berguna baik bagi penulis maupun pihak lainnya. Semoga skripsi ini dapat membawa manfaat bagi berbagai pihak yang membutuhkan seperti yang diharapkan penulis.

Bogor, Januari 2010 Indry Nilam Cahya

UCAPAN TERIMA KASIH Penyelesaian skripsi ini juga tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada: 1.

Ir. Narni Farmayanti, MSc selaku dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, waktu, dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.

2.

Dr. Ir. Ratna Winandi, MS selaku dosen penguji utama pada ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

3.

Tintin Sarianti, SP, MM selaku dosen penguji dari wakil komisi pendidikan yang telah meluangkan waktunya serta memberikan kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini.

4.

Ir. Anita Ristianingrum MSi yang telah menjadi pembimbing akademik dan seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis.

5.

Ayahanda tercinta Syamsu Alie Osman (Alm) dan Ibunda Dewi Jun Diesnawaty yang telah memberikan dukungan, doa, cinta dan kasih yang tulus kepada penulis. Semoga ini menjadi persembahan yang membuat kalian bangga . Andry Zulkarnain dan Alwin Zulfikar, abang dan adikku yang selalu mendukung penulis serta keluarga besar di Makasar yang selalu mendoakan kami yang berada disini.

6.

Dwi Astuti Mustikasari yang telah bersedia menjadi pembahas dalam seminar penulis.

7.

Teman-teman AGB 41,42,43,44,dan 45 atas pertemaman yang diberikan selama ini. Terutama CCC family (Uty, Lizna, Rhesa, Ferdy, Reza, Tika, Feni, Daus, Gusri, Listy, dan Shinta) atas segala bantuan dan semangat yang diberikan. Lidia, Ipit, dan Wati teman sekamar di asrama.

8.

Teman Kost Ar-Ryadh (Mba Athe, Mba Ari, Mba Tami, Mba Tiwi, Mba Nia, Uci, Tiara, Isna, dan lain-lain) yang selalu mendukung dan membantu penulis

9.

Tidak lupa rasa terima kasih juga kepada seluruh pihak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu atas bantuannya dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.

Bogor, Januari 2010 Indry Nilam Cahya

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ......................................................................................

xiii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

xv

DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................

xvi

I

II

III

PENDAHULUAN ..........................................................................

1

1.1. Latar Belakang .......................................................................... 1.2. Perumusan Masalah .................................................................. 1.3. Tujuan Penulisan ........................................................................ 1.4. Manfaat Penulisan ...................................................................... 1.5. Ruang Lingkup ..........................................................................

1 3 8 8 8

TINJAUAN PUSTAKA .................................................................

9

2.1. Deskripsi Tuna ............................................................................

9

2.2. Bentuk Produk Perdagangan Tuna..............................................

10

2.3. Penelitian Terdahulu .................................................................

12

KERANGKA PEMIKIRAN .........................................................

16

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ....................................................

16

3.1.1. Teori Perdagangan Internasional ...................................

16

3.1.2. Bentuk-Bentuk Pasar .....................................................

20

3.1.3. Keunggulan Komparatif..................................................

22

3.1.4. Keunggulan Kompetitif Menurut Porter .......................

24

3.1.5. Analisis SWOT untuk Alat Analisis dan Strategi

IV

Kebijakan ........................................................................

30

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional .............................................

32

METODOLOGI PENELITIAN ...................................................

35

4.1. Waktu Penelitian ....................................................................... 4.2. Data dan Instrumentasi .............................................................. 4.3. Metode Pengumpulan Data ....................................................... 4.4. Metode Pengolahan Data .......................................................... 4.4.1. Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR).....

35 35 35 35 36

4.4.2. Keunggulan Komparatif...................................................

40

4.4.3. Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) .........

40

4.4.4. Keunggulan Kompetitif....................................................

42

4.4.5. Analisis Berlian Porter .....................................................

42

V

VI.

4.4.6. Analisis SWOT ................................................................

43

GAMBARAN UMUM INDUSTRI IKAN TUNA .......................

45

5.1. Perikanan Dunia ........................................................................

45

5.2. Perikanan Indonesia ...................................................................

45

5.2.1. Produksi Tuna Indonesia .................................................

46

5.2.2. Ekspor Ikan Tuna Indonesia ..........................................

47

5.3. Prosedur Ekspor ........................................................................

50

5.4. Ketentuan Negara tujuan Ekspor Ikan Tuna ..............................

52

5.5. Pengawasan Mutu Ikan Tuna .....................................................

54

5.6. Konsep Nilai Tukar ....................................................................

57

5.7. Teknologi Penangkapan Ikan Tuna ............................................

58

ANALISIS DAYA SAING .............................................................

61

6.1. Analisis Struktur Pasar Komoditas Ikan Tuna di Pasar Internasional ...............................................................................

61

6.2. Analisis Keunggulan Komparatif Komoditas Ikan Tuna Nasional ....................................................................................

64

6.3. Analisis Keunggulan Kompetitif Komoditas Ikan Tuna Nasional ......................................................................................

70

6.3.1. Kondisi Faktor Sumberdaya ...........................................

71

6.3.1.1. Sumberdaya Fisik atau Alam ...........................

71

6.3.1.2. Sumberdaya Manusia .......................................

73

6.3.1.3. Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) ............................................................

75

6.3.1.4. Sumberdaya Modal ..........................................

76

6.3.1.5. Sumberdaya Infrastruktur .................................

77

6.3.2. Kondisi Permintaan .........................................................

78

6.3.2.1. Komposisi Permintaan Domestik .....................

78

6.3.2.2. Jumlah Permintaan dan Pola Pertumbuhan ......

80

6.3.2.3. Internasionalisasi Permintaan Domestik ..........

80

6.3.3. Industri Terkait dan Pendukung ......................................

81

6.3.4. Struktur, Persaingan, dan Strategi Industri Ikan Tuna ........................................................................

84

6.3.5. Peran Pemerintah ............................................................

89

6.3.6. Peran Kesempatan ...........................................................

90

6.4. Analisis SWOT dan Strategi Kebijakan .....................................

92

KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................

109

7.1. Kesimpulan ...............................................................................

109

7.2. Saran ..........................................................................................

110

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................

112

LAMPIRAN ................................................................................................

116

VII.

DAFTAR TABEL Nomor

Halaman

1. Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (miliar rupiah) untuk Sektor Pertanian Tahun 2003-2007 .........................................................

1

2. Potensi Ikan Pelagis (Termasuk Ikan Tuna) Besar di Perairan Indonesia .....................................................................................

2

3. Ekspor Ikan Tongkol/Tuna Menurut Negara atau Kawasan Tujuan Utama Tahun 2003-2007 (ton) ..................................

3

4. Perkembangan Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditas Utama Tahun 2003-2007 (ton) ....................................................

4

5. Perkembangan Ekspor Hasil Perikanan Menurut Komoditas Utama Tahun 2003-2007 (US $ 1000) .........................................

5

6. Jenis Tuna yang Terdapat di Perairan Indonesia ........................

10

7. Negara Produsen Perikanan Terbesar di Dunia Tahun 2002-2006 (metric tons) ...................................................

45

8. Produksi Ikan Tuna Indonesia Tahun 1997-2007 (ton) ..............

47

9. Perkembangan Ekspor Ikan Tuna Segar Tahun 1998-2007 ......

48

10. Perkembangan Ekspor Ikan Tuna Beku Tahun 1998-2007 ..........

49

11. Perkembangan Ekspor Ikan Tuna Olahan Tahun 1998-2007 ......

49

12. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Mata Uang Negara Tujuan Ekspor Utama Tahun 1998-2007 ............................................................

58

13. Nilai Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR) Negara Pengekspor Komoditas Ikan Tuna Tahun 1998-2007 ....

61

14. Indeks RCA untuk Komoditas Ikan Tuna Segar Tahun 2002-2007 ........................................................................

65

15. Pangsa Pasar Komoditas Ikan Tuna Segar Tahun 2002-2007 (%) .................................................................

66

16. Indeks RCA untuk Komoditas Ikan Tuna Beku Tahun 2002-2007 ........................................................................

67

17. Pangsa Pasar Komoditas Ikan Tuna Beku Tahun 2002-2007 (%) .................................................................

68

18. Indeks RCA untuk Komoditas Ikan Tuna Olahan Tahun 2002-2007 ........................................................................

68

19. Pangsa Pasar Komoditas Ikan Tuna Olahan Tahun 2002-2007 (%) .................................................................

69

20. Jumlah Kapal Motor Berdasarkan Ukurannya Tahun 2002-2007 (unit) ..............................................................

72

21. Estimasi Biaya Penangkapan Ikan Tuna per Tahun ...................

73

22. Jumlah Nelayan Menurut Kategori Nelayan tahun 2002-2007 ....

74

23. Konsumsi dan Ekspor Ikan Tuna Indonesia Tahun 2002-2007 (ton) ..............................................................

80

24. Jumlah Unit Penangkapan Ikan Tuna Tahun 2002-2007 ............

82

25. Komposisi Nilai Gizi Ikan Tuna dan Makarel ............................

86

DAFTAR GAMBAR Nomor

Halaman

1. Perdagangan Internasional Antara Dua Negara ..........................

19

................................................................................................. 2. The Complete System of National Competitive Advantage .........

26

................................................................................................. 3. Kerangka Operasional Penelitian ................................................

34

4. Matriks SWOT ............................................................................

44

5. Prosedur Kegiatan Ekspor Secara Umum ...................................

51

6. Tataniaga Ikan Tuna ....................................................................

51

7. Analisis Matriks SWOT ..............................................................

108

DAFTAR LAMPIRAN Nomor

Halaman

1. Daftar Negara-Negara yang Tergabung dalam Uni Eropa ........

117

2. Gambar Jenis-Jenis Ikan Tuna ....................................................

118

3. Klasifikasi Produk Ikan Tuna untuk Diekspor ............................

119

4. Total Ekspor Ikan Tuna Segar Dunia Tahun 1998-2007 (US$) ...........................................................

125

5. Market Share Ikan Tuna Segar Dunia Tahun 1998-2007 (%) ....

127

6. Total Ekspor Ikan Tuna Beku Dunia Tahun 1998-2007 (US$) .............................................................

129

7. Market Share Ikan Tuna Beku Dunia Tahun 1998-2007 (%) .....

131

8. Total Ekspor Ikan Tuna Olahan Dunia Tahun 1998-2007 (US$) .............................................................

133

9. Market Share Ikan Tuna Olahan Dunia Tahun 1998-2007 (%) ..................................................................

135

10. Mekanisme Impor Uni Eropa .......................................................

137

11. Mekanisme Impor Amerika Serikat .............................................

138

12. Mekanisme Impor Jepang .............................................................

139

13. Total Impor Negara Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa Tahun 2003-2007 (kg) ...................................................................

140

14. Kandungan Nutrisi Ikan Tuna Mentah ......................................

141

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan yang mencapai 5,8 juta km2 dan garis pantai sepanjang 81.000 km. Hal ini membuat Indonesia memiliki potensi perikanan yang sangat besar baik dalam tingkat kualitas

maupun

diversitasnya.

Letak

geografis

yang

strategis

dan

keanekaragaman biota lautnya merupakan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki oleh beberapa negara lain. Sumberdaya perikanan dan kelautan yang sangat besar dan permintaan yang tinggi baik di dalam maupun di luar negeri, merupakan kesempatan untuk memperbaiki perekonomian negara melalui pemanfaatan sumberdaya perikanan yang ada. Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi salah satu produsen dan eksportir utama produk perikanan. Tabel 1.

Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (miliar rupiah) untuk Sektor Pertanian Tahun 2003-2007

Sektor Usaha Tanaman Bahan Makanan Tanaman Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan Jumlah

2003

2004

PDB (Miliar Rupiah) 2005 2006

119.164,8

122.611,7

181.331,6

214.346,3

268.124,4

Kenaikan Rata-rata (%) 10,13

38.693,9

39.548,0

56.433,7

63.401,4

84.459,2

9,70

30.647,0 17.213,7 34.667,9 240.387,3

31.672,5 17.333,8 37.056,8 248.222,8

44.202,9 22.561,8 59.639,3 364.169,3

51.074,7 30.065,7 74.335,3 433.223,4

62.095,8 35.734,1 96.822,1 547.302,8

8,87 9,80 12,70 10,22

2007

Sumber : BPS (2007)

Berdasarkan data BPS (2007) sub sektor perikanan merupakan penyumbang terbesar ketiga untuk tahun 2003-2004, kemudian naik menjadi posisi kedua untuk tahun 2005-2007 pada Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha pada sektor pertanian, sub sektor ini memiliki kenaikan rata-rata terbesar dibandingkan dengan keempat sub sektor usaha lainnya (Tabel 1). Hal ini berarti sektor perikanan berpontensial untuk dikembangkan.

Potensi lestari sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,4 juta ton per tahun yang tersebar di perairan wilayah Indonesia dan ZEEI (Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia) dengan jumlah tangkap yang diperbolehkan (JTB) sebesar 5,12 juta ton per tahun atau sekitar 80 persen dari potensi lestari (DKP 2005).

Potensi sumberdaya perikanan ini perlu dimanfaatkan dengan sebaik

mungkin serta mampu menggerakkan seluruh potensi bangsa, untuk itu diperlukan suatu upaya percepatan dan terobosan melalui suatu program revitalisasi perikanan. Pelaksanaan program ini merupakan wujud dukungan politik, ekonomi, dan sosial untuk menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu prime mover pembangunan ekonomi nasional serta merupakan suatu upaya untuk memacu pemanfaatan potensi sumberdaya perikanan yang berwawasan lingkungan guna peningkatan kesejateraan rakyat serta memacu peningkatan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional (DKP 2005). Tabel 2. Potensi Ikan Pelagis (Termasuk Ikan Tuna) Besar di Perairan Indonesia Wilayah Pengelolaan Perikanan Selat Malaka Laut Cina Selatan Laut Jawa Selat Makassar dan Laut Flores Laut Banda Laut Seram, Laut Halmahera, dan Teluk Tomini Laut Sulawesi, Samudera Pasifik Laut Arafura Samudera Hindia

Potensi (ribu ton/tahun) 22,67 66,08 55,00 193,60 104,12 50,86 106,51 175,26 366,26

Pemanfaatan OE UE OE UE UE UE UE FE UE

Sumber : Purnomo dan Suryawati (2007) Keterangan : UE = Under Exploited, FE = Fully Exploited, OE = Over Exploited

Program revitalisasi yang dirancang oleh DKP difokuskan pada tiga komoditas utama perikanan yaitu udang, tuna, dan rumput laut (DKP 2005). Ikan tuna dipilih sebab potensi ikan tuna di Indonesia masih dapat ditingkatkan produksinya terutama Indonesia bagian Timur (Tabel 2). Permintaan akan ikan tuna pun dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan sebab ikan tuna termasuk komoditas perikanan yang digemari terutama oleh negara Jepang sebagai bahan baku untuk membuat sashimi sebab tidak menimbulkan bau amis, sedangkan untuk Eropa dan Amerika lebih senang mengimpor yang beku dan kaleng untuk steak (Nazzaruddin 1993). Pada tahun

2004-2005 ekspor ikan tuna Indonesia mengalami penurunan yang cukup besar. Penyebab dari penurunan ekspor tersebut adalah pada tahun itu mulai banyak diberlakukan beberapa hambatan tarif dan isu-isu lingkungan yang membuat ekspor ikan tuna negara Indonesia menjadi melemah. Ekspor ikan tuna ke negaranegara tujuan ekspor utama dari tahun 2003 hingga 2007 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 3,8 persen per tahun (Tabel 3). Tabel 3.

Ekspor Ikan Tongkol/Tuna menurut Negara atau Kawasan Tujuan Utama Tahun 2003-2007 (Ton)

Negara Tujuan 2003 2004 Jepang 23.881,3 22.770,1 Hongkong 794,1 257,4 Taiwan 12.019,4 2.493,1 Thailand 3.501,4 1.288,2 Singapura 5.722,0 6.305,2 Vietnam 519,8 26,3 Australia 163,2 131,6 Amerika Serikat 2.810,1 2.744,3 Uni Eropa 3.670,3 3.278,1 Lainnya 18.838,9 8.196,5 Total 71.920,5 47.490,8 Rata-rata peningkatan (2003-2007) (%)

2005 21.298,1 591,1 996,7 918,2 4.051,2 79,1 187,4 3.439,3 3.303,6 7.206,1 42.070,8

2006 21.657,5 1.821,2 548,3 4.570,8 2.891,9 1.323,7 253,8 4.181,6 2.385,2 5.836,7 45.470,7

2007 19.808,6 3.846,4 1.614,5 18.174,3 3.105,5 4.131,3 73,5 5.985,8 1.152,8 11.403,3 69.296,0 3,8

Sumber : BPS (2007)

Oleh karena itu, ikan tuna merupakan komoditas yang patut dikelola dengan baik agar mampu bertahan dalam menghadapi persaingan di pasar internasional dan kekayaan perairan Indonesia pun dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk memenuhi permintaan baik dalam maupun luar negeri. 1.2. Perumusan Masalah Sektor perikanan sebagai salah satu sektor usaha yang mampu mendukung perekonomian nasional harus dikelola dengan baik, selain pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat baik domestik maupun internasional dan para ahli memperkirakan bahwa konsumsi ikan masyarakat global akan semakin meningkat, yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya1: 1)

Meningkatnya

jumlah

penduduk

disertai

meningkatnya

pendapatan

masyarakat dunia.

1

Sumber: Kusumastanto T. 2007. Kebijakan dan Strategi Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing Produk Perikanan Nasional. http://tridoyo.blogspot.com/. Diakses tanggal 6 Maret 2009.

2)

Meningkatnya apresiasi terhadap makanan sehat (healthy food) sehingga mendorong konsumsi daging dari pola red meat ke white meat.

3)

Adanya globalisasi menuntut adanya makanan yang bersifat universal.

4)

Berjangkitnya penyakit hewan sumber protein hewani selain ikan sehingga produk perikanan menjadi pilihan alternatif terbaik. Perdagangan bebas yang terjadi saat ini membuat tingkat persaingan

semakin ketat baik dalam lingkup lokal, regional, maupun internasional. Produsen dituntut untuk menghasilkan produk yang baik dari kuantitas maupun kualitas. Persaingan yang ada membuat Negara Indonesia mengalami pergeseran dari posisi sepuluh negara pengekspor perikanan terbesar menjadi urutan ketiga belas (Purnomo 2007). Ikan tuna memiliki jumlah ekspor terbesar dari sektor perikanan setelah udang (Tabel 4). Negara tujuan ekspor utama ikan tuna Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa (jumlah negara yang tergabung dalam Uni Eropa terdapat pada Lampiran 1). Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa negara Taiwan, Thailand, dan Singapura juga tinggi nilai ekspornya, tetapi ketiga negara tersebut tidak banyak melakukan hambatan terhadap ekspor ikan tuna Indonesia. Hal ini terkait adanya beberapa regulasi dan syarat-syarat tertentu yang dilakukan oleh Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Uni Eropa menjadi acuan dalam

penetapan standar dan kualitas mutu, hal ini menyebabkan nilai ekspor Indonesia ke Uni Eropa mengalami penurunan sebab standar produknya sangat ketat. Tabel 4. Perkembangan Ekspor Hasil Perikanan Indonesia Menurut Komoditas Utama Tahun 2003-2007 (Ton)

Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata kenaikan (%) 20022007

Udang 124,763 138,588 142,098 153,900 169,329 157,545

Sumber : DKP (2008)

5,00

Komoditi Utama Tuna, Rumput Cakalang, Laut Tongkol 28,560 92,797 40,162 117,092 51,011 94,221 69,264 90,589 95,588 91,822 94,073 121,316 7,26

27,97

Mutiara

Lainnya

Jumlah

6 12 2 13 2 13

319,614 561,929 615,027 544,015 569,736 481,381

565.739 857,783 902,458 857,782 926,478 854,328

248,12

12,59

10,42

Komoditas ikan tuna nasional juga memberikan sumbangan devisa yang cukup baik dari komoditas perikanan utama. Nilai ekspor ikan tuna nasional mengalami peningkatan rata-rata dari tahun 2002-2007 sebesar 7,79 persen, dan memiliki kenaikan rata-rata terbesar pada tahun 2007 dibandingkan dengan komoditas utama lainnya yaitu sebesar 21,47 persen. Hal ini beraarti komoditas ikan tuna nasional sangat berperan dalam perekonomia nasional. Tabel 5. Perkembangan Nilai Ekspor Hasil Perikanan Indonesia Menurut Komoditas Utama Tahun 2003-2007 (US $ 1000) Komoditi Utama

839.722 852.113 892.452 948.452 1.115.963 1.029.935

Tuna, Cakalang, Tongkol 212.426 213.179 243.938 245.375 250.557 304.348

4,49

7,79

Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Rata-rata kenaikan (%) 20022007

Udang

Rumput Laut

Mutiara

Lainnya

Jumlah

15.785 20.511 25.296 57.515 49.586 57.522

11.471 17.128 5.866 10.735 13.409 12.644

490.949 540.612 613.281 651.180 673.957 854.470

1.570.353 1.643.542 1.780.833 1.912.926 2.103.471 2.258.920

36,57

17,15

12,00

7,56

Sumber: DKP (2008)

Adanya pergeseran pola perdagangan dunia yang tidak hanya dipengaruhi oleh prinsip supply-demand, tetapi juga dibentuk oleh isu-isu, konvensi, dan berbagai macam kesepakatan internasional. Menurut Putro (2001) diacu dalam Purnomo (2007) perjanjian internasional yang berpengaruh langsung bahkan cenderung mengatur mekanisme perdagangan komoditas perikanan di pasar internasional dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu: 1) Perjanjian internasional yang bernuansa menjaga kelestraian sumberdaya perikanan, seperti Code of Conduct for Ressponsible Fisheries, International Convention for The Conservation of Atlantic Tuna (ICCAT), dan sebagainya. Dengan adanya perjanjian ini maka ikan-ikan komersial penting yang dijual di pasar internasional harus ditangkap dari sumberdaya perikanan yang lestari. 2) Perjanjian internasional tentang perlindungan satwa yang terancam punah, yaitu Convention of National Trade of Endanger Species (CITES). Perjanjian ini berakibat adanya pembatasan beberapa jenis ikan atau fauna laut dan air

tawar yang dibatasi pemasarannya karena populasinya dikhawatirkan akan punah. 3) Perjanjian internasional tentang perdagangan yaitu perjanjian General Agreement on Tariff and Trade (GATT oleh WTO), termasuk didalamnya perjanjian Agreement on Sanitary and Phitosanitary Measures (SPS) dan Agreement on Technical Barrier on Trade (TBT oleh WTO). Perjanjian mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perdagangan perikanan dunia. Pola perdagangan yang terjadi dalam pasar ikan tuna internasional akan berpengaruh terhadap perkembangan ikan tuna Indonesia. Bentuk pasar dalam komoditas ikan tuna di pasar internasional akan menentukkan kekuatan produsen dalam pasar dan tingkat persaingan yang terjadi. Jika komoditas ikan tuna berada dalam pasar yang memiliki banyak pesaing dengan komoditas yang homogen, maka sangat penting untuk melakukan diferensiasi produk agar mampu bersaing dengan produsen lainnya. Saat ini komoditas ikan tuna Indonesia mengalami permasalah dalam kegiatan ekspor yang disebabkan oleh beberapa faktor penting yaitu muncul negara pesaing dalam kegiatan ekspor ikan tuna saat ini untuk daerah Asia, Indonesia dikalahkan oleh Thailand yang potensi lautnya lebih kecil, banyak masalah hambatan tarif dan non tarif yang dialami oleh komoditas ikan tuna, dan masalah kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri yang membuat banyak kapal tidak melaut lagi. Faktor lainnya yaitu sifat komoditas ikan tuna yang selalu bergerak sehingga sulit untuk melakukan kestabilan kuantitas dan kualitas. Komoditas ikan tuna Indonesia mengalami dua masalah utama dalam perkembangannya saat ini yaitu hambatan tarif dan non tarif. Hambatan tarif yang terjadi dilakukan oleh negara-negara tujuan ekspor yang sangat merugikan negara Indonesia. Hambatan non tarif yang terjadi berhubungan dengan perizinan ekspor, sertifikasi kesehatan, standar sanitasi, standar mutu, isu lingkungan, isu hak azazi manusia, dan terorisme (Purnomo 2007). Sebagai contoh hambatan tarif yang dialami oleh komoditas ikan tuna Indonesia adalah ketidaksamaan tarif yang dikenakan kepada negara pengekspor tuna yang terjadi di Uni Eropa yaitu negara yang tergabung dalam EUC

(European Union Countries) menerapkan tarif 24 persen untuk produk tuna. Namun, tarif tersebut tidak berlaku bagi negara yang sudah tergabung dalam EUC.

Hambatan non tarif yang dihadapi Indonesia untuk komoditas ikan tuna

cukup banyak terutama tentang standar mutu, kesehatan, sanitasi, dan keamanan pangan yang diterapkan negara pengimpor serta untuk mengurus surat pemenuhan standar tersebut dibutuhkan waktu dan biaya yang besar, ditambah lagi dengan adanya perbedaan standar pada beberapa negara. Berdasarkan kondisi perdagangan ikan tuna di atas, maka dapat dilihat bahwa potensi perairan Indonesia yang besar belum mampu dikelola dengan baik, sehingga perlu diberikan perhatian yang serius terhadap upaya pengembangan sektor perikanan agar tetap mampu menyumbangkan devisa bagi negara. Pengembangan ekspor ikan tuna dalam jangka panjang sangat bergantung pada peningkatan kualitas komoditas dan kemampuan daya saing dalam mendapatkan pasar baru atau pun bertahan pada pasar yang sudah ada. Komoditas ikan tuna nasional agar dapat bertahan dalam pasar internasional perlu memiliki strategi pengembangan. Strategi yang disusun harus mampu mengatasi masalah yang sudah ada maupun yang potensial untuk terjadi ke depan, sehingga dapat mengantisipasi perubahaan-perubahaan yang terjadi. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan saat ini yaitu menganalisis daya saing ikan tuna di pasar internasional, sehingga diharapkan hasil analisis ini nantinya dapat menghasilkan strategi bagi industri ikan tuna nasional untuk dapat bersaing di pasar internasional.

Perumusan masalah yang akan dikaji dalam

penelitian ini adalah sebagi berikut: 1) Bagaimana struktur pasar ikan tuna di pasar internasional? 2) Apakah industri ikan tuna Indonesia memiliki keunggulan komparatif? 3) Apakah industri ikan tuna Indonesia memiliki keunggulan kompetitif? 4) Strategi apa yang perlu dirumuskan untuk memperkuat daya saing ikan tuna Indonesia di pasar international? 1.3. Tujuan Penulisan Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan penelitian ini adalah:

1) Menganalisis struktur pasar dan persaingan ikan tuna di pasar internasional 2) Menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif ikan tuna Indonesia. 3) Melakukan perumusan strategi untuk memperkuat daya saing ikan tuna Indonesia di pasar Internasional. 1.4. Manfaat Penulisan Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi: 1) Para pengambil keputusan dan para pelaku ekonomi dalam sektor perikanan sebagai upaya untuk merekomendasikan konsep pengembangan daya saing produk perikanan terutama ikan tuna dalam pasar global. 2) Masyarakat akademik, penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk meneliti lebih lanjut mengenai kondisi perdagangan ikan tuna di Indonesia. 3) Pemerintahan dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan yang mendukung kelangsungan perdagangan ikan tuna nasional. 4) Penulis, penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan

dalam

mengidentifikasi

dan

menganalisi

permasalahan

komoditas perikanan serta sebagai aplikasi teori yang diperoleh selama ini. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian ini mengkaji daya saing ikan tuna Indonesia di pasar internasional dengan menggunakan beberapa metode analisis dan merumuskan strategi untuk meningkatkan daya saing ikan tuna tersebut. Namun, penentuan strategi yang terkait dengan faktor internal dan eksternal ditentukan sendiri oleh penulis berdasarkan pengamatan terhadap kondisi dan data yang ada.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Deskripsi Ikan Tuna Tuna adalah ikan laut yang terdiri atas beberapa spesies dari famili Scombridae, terutama genus Thunnus. Ikan tuna mempunyai beberapa jenis dan spesies dengan ciri-ciri fisik yang berbeda-beda dan dapat dipengaruhi oleh lokasi atau perairan tempat hidupnya ikan. Ikan tuna termasuk kelompok ikan pelagis yang aktif dan memiliki pergerakan yang luas. Berdasarkan habitatnya ikan pelagis dibedakan menjadi ikan pelagis kecil dan besar. Menurut Komnas Kajiskanlaut diacu dalam Bondar (2007)

yang termasuk kelompok ikan pelagis besar diantaranya : Tuna dan

Cakalang (Madidihang, Tuna Mata Besar, Albakora Tuna Sirip Biru, Cakalang), Marlin (Ikan Pedang, Setuhuk Biru, Setuhuk Hitam, Setuhuk Loreng, Ikan Layaran), Tongkol dan Tenggiri, dan Cucut Mako. Jenis ikan pelagis kecil antara lain : Karangaid (Layang, Selar, Sunglir), Klupeid (Teri, Japuh, Tembang, Lemuru, Siro), dan Skombroid (Kembung). Badan tuna memanjang bulat seperti cerutu serta memiliki satu lunas kuat pada batang sirip ekor diapit oleh dua lunas kecil pada ujungnya. Penampang lintang tubuh tuna berbentuk bulat panjang atau agak membulat.

Warna

punggungnya biru tua, kadang-kadang hampir hitam dan bagian perut berwarna keputih-putihan yang terkadang berubah bila ikan telah mati. Ikan tuna termasuk ikan buas, karnivora, predator, dan dapat mencapai panjang 50-150 cm. Selain itu, tuna juga mempunyai kebiasaan bergerombol (schooling) kecil sewaktu mencari makan dan kecepatan renangnya dapat mencapai 50 km/jam.

Tuna

menyebar luas di seluruh perarian tropis dan sub-tropis. Di Samudera Hindia dan Samudera Atlantik, Tuna menyebar di antara 400 LU – 400 LS, pada tingkat kedalaman 0-400 meter, suhu perairan 17-310 C, dan tingkat salinitas berkisar antara 32-35 ppt atau perairan orsenik. Menurut Burhannudin (1984) bahwa suku Scombridae mencakup banyak jenis di dunia dan tercatat sebanyak 46 jenis dan di perairan Indonesia terdapat 20 jenis, tetapi untuk jenis tuna hanya terdapat 9 jenis. Di Indonesia tuna hampir menyebar di seluruh perairan Indonesia, seperti di sepanjang pantai Utara dan Timur Aceh, Pantai Barat Sumatera, Selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut

Banda Flores, Halamahera, Maluku, Sulawesi, Irian Jaya dan Selat Maluku. Jenis tuna yang ada di Indonesia dijelaskan seperti berikut (Tabel 5): Tabel 6. Jenis Tuna yang Terdapat di Perairan Indonesia dan Diperdagangkan Nama Indonesia Lisong Tongkol Pisang / Krai Tongkol Komo Cakalang Tongkol Abu-Abu Madidihang Albakora Tuna Mata Besar Tuna Sirip Biru Selatan

Sumber : DKP (2008)a

Jenis Ikan Auxis rochei Auxis thazard Eutynnus affinis Katsuwonus pelamis Thunnus tonggol Thunnus albacores Thunnus alalunga Thunnus obetus Thunnus maccoyii

Nama Internasional Bullet Tuna Frigated Tuna Eastern Little Tuna Skipjack Tuna Longtail Tuna Yellowfin Tuna Albacore Bigeye Tuna Southern Bluefin Tuna

Ikan tuna yang hidup di perairan laut Indonesia dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni ikan tuna besar dan ikan tuna kecil. Ikan tuna besar meliputi madidihang (yellowfin tuna), albakora (albacore), tuna mata besar (bigeye tuna), dan tuna sirip biru selatan (Southern bluefin tuna). Ikan madidihang dan mata besar

terdapat

di

seluruh

wilayah

perairan

laut

Indonesia.

Sedangkan, albakora hidup di perairan sebelah Barat Sumatera, Selatan Bali sampai dengan Nusa Tenggara Timur. Ikan tuna sirip biru selatan hanya hidup di perairan sebelah Selatan Jawa sampai ke perairan Samudra Hindia bagian Selatan yang bersuhu rendah (dingin). Sementara itu, ikan tuna kecil terdiri dari cakalang (skipjack tuna), tongkol (Euthynus affinis), tongkol kecil (Auxis thazard), dan ikan abu-abu (Thunnus tonggol). Ikan cakalang dapat dijumpai di seluruh perairan laut Indonesia, kecuali di Paparan Sunda bagian Selatan, Selat Malaka, Selat Karimata, dan Laut Jawa2 (Gambar jenis ikan tuna terdapat pada Lampiran 2). 2.2. Bentuk Produk Perdagangan Tuna Ikan tuna menyebar luas di dunia dengan berbagai macam jenis yang mempunyai nilai ekonomis bila dibandingkan dengan produk lainnya. Potensi perairan Indonesia yang memiliki berbagai macam jenis ikan, mempunyai kesempatan besar dalam usaha pengembangan produk ikan tuna. Secara umum, jenis utama dari produk ikan tuna yang digemari oleh pasar internasional dan 2

Dahuri R. 2008. Restrukturisasi Manajamen Perikanan Tuna. http://majalahsamudra.at.ua/news/2008-12-10-1. Diakses tanggal 13 Februari 2009.

diperdagangkan dalam bentuk segar (fresh/chilled), beku (frozen), dan olahan baik dalam bentuk olahan (preserved) maupun dalam wadah vakum (airlight container). Setiap perdagangan dunia untuk sebuah komoditi yang diperjualbelikan di pasar dunia memiliki kode HS sebagai identitas dari komoditi tersebut. Kode HS enam digit untuk ikan tuna segar (fresh), ikan tuna beku (frozen), dan ikan tuna dalam kemasan secara berurutan adalah HS 0302.30, HS 0303.40, dan HS 1604.14 (DKP 2008b). Klasifikasi produk ikan tuna untuk diekspor terdapat pada Lampiran 3. Ikan tuna dalam perdagangannya dikelompokkan menurut standar atau kualitas daging yang terbagi menjadi empat tingkat mutu yaitug grade A, B, C, dan D. Pengujian tingkatan mutu ikan dilakukan dengan cara menusukkan coring tube yaitu suatu alat berbentuk batang, tajam, dan terbuat dar besi. Coring tube dimasukkan pada kedua sisi ikan (bagian belakang sirip atau ekor kanan dan kiri, sehingga didapatkan potongan daging ikan tuna. Ciri-ciri untuk masing-masing grade adalah sebagai berikut (Fadly 2009): 1) Grade A Ciri-ciri ikan tuna grade A adalah sebagai berikut: a) Warna daging untuk yellowfin tuna adalah merah seperti darah segar dan untuk bigeye tuna dagingnya berwarna merah tua seperti bunga mawar, serta tidak ada pelangi (yak e) b)

Mata bersih, terang, dan menonjol

c) Kulit normal, warna bersih, dan cerah d)

Tekstur daging untuk yellowfin tuna keras, kenyal, dan elastis dan untuk bigeye tuna dagingnya lembut, kenyal dan elastik

e)Kondisi ikan (penampakannya) bagus dan utuh 2) Grade B Cirri-ciri ikan tuna grade B adalah sebagai berikut: a)Warna daging merah, terdapat pelangi (yak e), otot daging agak elastic, jaringan daging tidak pecah b) Mata bersih, terang dan menonjol c)Kulit normal, bersih, dan sedikit berlendir

d) Tidak ada kerusakan fisik 3) Grade C Ciri-ciri ikan tuna grade C adalah sebagai berikut: a)Warna daging kurang merah dan ada pelangi (ya ke) b) Kulit normal dan berlendir c)Otot daging kurang elastic d) Kondisi ikan tidak utuh atau cacat, umumnya pada bagian punggung atau dada 4) Grade D Cirri-ciri ikan tuna grade D adalah sebagai berikut: a)Warna daging agak kurang merah dan cenderung berwarna coklat dan pudar b) Otot daging kurang elastic, lemak sedikit dan ada pelangi (yak e) c)Teksturnya lunak dan jaringan daging pecah d) Terjadi kerusakan fisik pada tubuh ikan, seperti daging ikan yang sudah sobek, mata ikan yang hilang, dan kulit terkelupas 2.2. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang komoditas ikan tuna khususnya tentang keunggulan daya saing dalam lingkungan internasional menurut penulis belum pernah dilakukan di lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB), namun tidak menuntup kemungkinan bahwa penelitian tentang hal ini sudah ada tapi tidak dipublikasikan baik di IPB maupun unversitas lainnya. Namun, penelitian-penelitian tentang keunggulan daya saing baik kompetitif maupun komparatif suatu industri atau komoditas lain telah banyak dilakukan dan penelitian tentang komoditas ikan tuna pun telah banyak dilakukan. Penelitian tersebut antara lain pernah dilakukan oleh Swaranindita (2005) tentang daya saing komoditas udang di pasar internasional, Bondar (2007) tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan ekspor tuna segar Indonesia, dan Rastikarany (2008) tentang analisis pengaruh kebijakan tarif dan non tarif Uni Eropa terhadap ekspor tuna Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Bondar (2007) mengenai “Analisis faktorfaktor yang mempengaruhi permintaan ekspor tuna segar Indonesia” dengan menggunakan metode kuantitatif yaitu analisis regresi data panel untuk

menganalisis faktor yang mempengaruhi ekspor tuna dan metode deskripitif yang digunakan untuk melihat perkembangan ekspor tuna segar Indonesia. Tujuan dari penelitian ini mengetahui perkembangan ekspor tuna segar Indonesia dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor tuna segar Indonesia ke negara-negara tujuan ekspor serta pengaruhnya terhadap ekspor tuna segar Indonesia. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dengan metode Fixed Effect menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh nyata terhadap ekspor tuna segar Indonesia pada taraf nyata 5 persen adalah nilai tukar rupiah terhadap negara pengimpor, pendapatan perkapita negara tujuan ekspor, dan volume ekspor tuna olahan. Sedangkan variabel harga ekspor, harga domestik, dan jumlah penduduk negara tujuan ekspor merupakan variabel yang tidak berpengaruh nyata terhadap volume ekspor tuna segar Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Rastikarany (2008) mengenai “Analisis pengaruh kebijakan tarif dan non tarif terhadap ekspor tuna Indonesia” dengan menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan metode content analysis (analisis isi) dan analisis kuantitatif dengan metode analisis regresi dan melihat peramalan kedepannya. Model yang dipakai dalam analisis regresi adalah model bentuk linier, model bentuk semilog, dan bentuk doublelog. Tujuan dari penelitian ini mengidentifikasi kebijakan tarif dan non tarif yang dikeluarkan Uni Eropa untuk impor tuna yang berasal dari Indonesia, mengetahui pengaruh penerapan kebijakan tarif Uni Eropa terhadap ekspor tuna Indonesia, mengetahui pengaruh penerapan kebijakan non tarif Uni Eropa terhadap ekspor tuna Indonesia, dan meramalkan volume ekspor tuna Indonesia di Uni Eropa pada masa yang akan datang. Hasil analisis yang diperoleh dari penelitian ini adalah kebijakan perdagangan tarif Uni Eropa untuk impor tuna asal Indonesia antara lain EC (European Comission) No.2886/89 yang berlaku dari tahun 1989-2005, EC No.980/2005 yang berlaku mulai tahun 2006-2008, dan EC No.975/2003 mengatur pengurangan besar tarif khusus tuna kaleng asal Indonesia, Thailand dan Filipina. Kebijakan non tarif Uni Eropa untuk impor tuna asal Indonesia

terangkum dalam EC No.178/2002, EC 466/2001, EC 178/2005, EC 852/2004, EC 853/2004, EC 854/2004, EC 882/2004, dan EC 2073/2005. Model pengaruh hambatan tarif dan non tarif yang terbaik adalah model semilog (Q = 2.862,71 Ln Tt – 605,990 Dt + 2936,19 Ln Qt-2) dan diwakili oleh variabel tarif dan volume ekspor dua tahun sebelumnya.

Kebijakan tarif

berpengaruh nyata terhadap model sebesar 91% dengan nilai elastisitas tarif sebesar -0,64 dan bersifat inelastis.

Evaluasi statistik terhadap kebijakan

hambatan non tarif tidak berpengaruh nyata terhadap pengurangan volume ekspor tuna Indonesia.

Hal ini sesuai karena faktanya untuk meningkatkan ekspor

dengan mutu yang ada namun tetap harus dilakukan usaha penyetaraan mutu. Metode trend dipilih untuk meramalkan karena memiliki nilai MSE terkecil. Hasil peramalan dengan metode trend diperoleh model Y= 6269,7 + 463,18t dengan nilai peramalan yang didapat sebesar 13.447,3 dan 15.246,18 pada tahun 2011. Kesamaan kedua penelitian diatas dengan penelitian ini terletak pada kesamaan komoditas yang dibahas yaitu ikan tuna. Sedangkan perbedaannya terletak pada perbedaan masalah yang dibahas, metode penelitian yang digunakan, dan untuk penelitian Rastikarany dilakukan peramalan yang tidak dilakukan pada penelitian saat ini. Hasil penelitia oleh Bondar memiliki manfaat untuk melihat keadaan perdagangan ikan tuna dan faktor apa saja yang mempengaruhi perdagangan ikan tuna Indonesia. Hasil penelitian Rastikarany bermanfaat untuk mengetahui pengaruh kebijakan tarif dan non tarif yang ditetapkan Uni Eropa sebagai negara yang menjadi standar untuk negara lain dalam hal ketentuanketentuan mutu dan keamanan pangan. Penelitian yang dilakukan Swaranindita (2005) mengenai “Analisis daya saing komoditas udang nasional di pasar internasional” dengan menggunakan metode deskriptif dan metode Herfindahl Index dan Concentration Ratio untuk menganalisis struktur pasar, Revealed Competitive Advantage untuk mengukur keunggulan komparatif komoditas, Teori Berlian Porter untuk mengukur keunggulan kompetitif komoditas udang, dan melakukan peramalan untuk ekspor udang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kondisi eksternal dan internal perdagangan udang nasional di pasar internasional, menganalisis struktur pasar

udang yang dihadapi Indonesia dalam perdagangan udang internasional, dan menganalisis posisi daya saing komoditas udang nasional di pasar internasional. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah struktur pasar udang yang ada yaitu monopolistis dan oligopoli dengan posisi Indonesia sebagai market follower, faktor internal yang mempengaruhi daya saing komoditas udang yaitu sulit mendapatkan akses pembiayaan usaha, keterbatasan sarana angkutan ekspor, penerapan teknologi dan industri terpadu yang belum merata, dan masih terdapat kendala pada usaha pembenihan dan pengolahan pasca panen. Hasil analisis RCA menunjukkan bahwa komoditas udang Indonesia memiliki daya saing kuat. Penelitian Swaranindita memiliki persamaan dengan penelitian ini yaitu alat analisis yang digunakan sama dan membahas komoditas perikanan. Perbedaan dengan penelitian ini adalah tidak ada analisis SWOT yang digunakan untuk merumuskan strategi ekspor kedepannya, dan komoditas perikanan yang digunakan pun berbeda, serta pada penelitian

ini tidak dilakukan peramalan

penjualan ikan tuna. Hasil penelitian ini bermanfaat karena adanya kesamaan masalah yang diangkat dan atribut yang dibahas.

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Analisis daya saing ikan tuna dianalisis berdasarkan teori-teori dalam perdagangan internasional dan strategi pengembangan untuk merumuskan kebijakan yang akan diambil. Teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.1.1. Teori Perdagangan Internasional Teori perdagangan internasional membantu menjelaskan arah serta komposisi perdagangan antar beberapa negara serta bagaimana efeknya terhadap struktur perekonomian suatu negara. Perdagangan dapat terjadi karena adanya spesialisasi di tiap-tiap daerah. Perdagangan internasional juga menunjukkan adanya keuntungan yang timbul dengan adanya perdagangan internasional (Salvatore 1997). Kegiatan perdagangan yang terjadi antar negara menunjukkan bahwa negara-negara tersebut telah memiliki sistem perekonomian yang terbuka. Perdagangan

ini

terjadi

akibat

adanya

usaha

untuk

memaksimumkan

kesejahteraan negara dan diharapkan dampak kesejahteraan tersebut akan diterima oleh negara pengekspor dan pengimpor. Alasan utama terjadinya perdagangan internasional adalah: 1) Adanya perbedaan dalam pemilikan sumberdaya dan cara pengolahannya sehingga setiap negara akan memperoleh keuntungan melalui suatu pengaturan dengan cara yang berbeda secara relatif terhadap perbedaan sumberdaya tersebut. 2) Negara-negara yang melakukan perdagangan mempunyai tujuan untuk mencapai economic of scale dalam produksi, artinya suatu negara akan lebih efisien jika hanya menghasilkan sejumlah barang tertentu tetapi dengan skala yang lebih besar dibandingkan dengan jika memproduksi berbagai jenis barang. Keuntungan yang dapat diperoleh suatu negara dalam melakukan perdagangan, adalah keuntungan dari pertukaran komoditas (gains from exchange) dan keuntungan dari spesialisasi (gains from specialization). Hal yang

terjadi setelah perdagangan berlangsung adalah masing-masing negara akan melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditas keunggulan komparatif negara tersebut. Spesialisasi akan terus berlangsung hingga harga-harga relatif komoditas di kedua negara tersebut sama. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa perdagangan berada dalam posisi seimbang atau ekuilibrium (Salvatore 1997). Hal ini mengindikasikan bahwa dalam melakukan perdagangan antar dua negara, komoditas yang diperdagangkan perlu memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif yang keduanya bersifat saling melengkapi. Kepemilikan faktor produksi, tingkat penggunaan teknologi dan selera di setiap negara senantiasa berubah dari waktu ke waktu yang berakibat pada keunggulan komparatif suatu negara juga senantiasa berubah.

Dampak yang

ditimbulkan oleh perubahan dalam kepemilikan faktor produksi dikaitkan dengan teorema Rybezynski. Menurut Rybezynski, pada harga-harga komoditas yang konstan, setiap kenaikan dalam kepemilikan atau jumlah salah satu faktor produksi akan meningkatkan output dari komoditas yang lebih banyak menggunakan faktor produksi tersebut dibandingkan faktor produksi lainnya dan dalam waktu yang bersamaan akan menurunkan output komoditas lain. Pertumbuhan faktor produksi, peningkatan penggunaan faktor produksi serta perubahan selera akan mengubah volume perdagangan dan atau mengubah nilai tukar perdagangannya (Salvatore 1997). Kegiatan perdagangan internasional atau dapat disebut sebagai kegiatan ekspor dan imporr antar negara, dimana suatu negara akan cenderung mengekspor barang yang biaya produski di dalam negerinya relatif lebih rendah dibandingkan dengan barang yang sama di luar negeri.

Sebaliknya, suatu negara akan

mengimpor barang-barang yang biaya produksinya di dalam negeri relatif lebih besar dibandingkan dengan barang yang sama di luar negeri. Oleh karena itu, sutau negara akan mengalami selisih antara penawaran dan permintaan domestik yang lebih besar sehingga terjadi kelebihan penawaran (excess supply) yang dapat diartikan sebagai penawaran ekspor. Sedangkan di negara lain akan mengalami kelebihan permintaan (excess demand, maka kedua negara tersebut akan melakukan pertukaran.

Perbedaaan yang permintaan dan penawaran dua negara yang berbeda akan menyebabkan negara tersebut melakukan perdagangan sehingga menimbulkan perdagangan internasional dijelaskan pada Gambar 1. Panel A menunjukkan keadaaan komoditas X di negara 1 (pengimpor), panel B menunjukkan hasil dari adanya perdagangan, dan panel C menunjukkan keadaaan komoditas X di negara 2 (pengekspor). Pada negara 1 harga komoditas X tinggi sebesar P1, sedangkan di negara 2 harga komoditas X lebih rendah yaitu sebesar P2. Akan tetapi pada negara 1 terjadi kelebihan permintaan (excess demand ) sebesar CB sedangkan pada negara 2 terjadi kelebihan penawaran (excess supply) IG. Hal tersebut mengakibatkan maka kedua negara tersebut melakukan kegiatan perdagangan, sehingga harga yang berlaku sebesar P3 dan komoditas X yang diperjualbelikan sebesar K yang digambarkan dengan titik ekulibrium pada E (Lindert & Kindleberger 1995). Pedagangan yang terjadi antara dua negara akan menyebabkan negara tersebut melakukan suatu hambatan baik untuk melindungi pordusen maupun konsumen dalam negerinya. Setiap negara akan menerapkan hambatan dalam perdagangan secara bebas. Penerapan kebijakan tersebut merupakan alat untuk meningkatkan kesejahteraan nasional, namun dalam kenyataannya hal tersebut lebih bersifat kepentingan dari pihak-pihak yang mendapatkan keuntungan dengan adanya hambatan tersebut. Bentuk kebijakan perdagangan atau hambatan tersebut dapat bersifat tarif dan non-tarif. Hambatan tarif dapat berbentuk tarif ad valorem yaitu pajak yang dikenakan berdasarkan angka presentasi tertentu dari barang impor, tarif spesifik yang dikenakan sebagai beban unit barang yang diimpor, dan tarif campuran yang merupakan gabungan dari kedua tarif

tersebut yang

mengenakan pungutan dalam jumlah tertentu dan ditambah sekian persen lagi. (Salvatore 1997). Hambatan non-tarif yang terjadi dapat berasal atau berbentuk isu mutu, sanitasi, dan keamanan produk yang diperketat dengan persyaratan, serta isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan, hak azazi manusia, bahkan isu terorisme (Purnomo 2007). .

P

P

P

Sx P1’

A Impor

P3

C

Sy B

Eskpor

E

I

Sz G

P2

H Dx J

D

F

Dy Q

A. Negara 1 (importir)

K

Q

B. Hubungan Perdagangan Antara Negara 1 dan 2

Gambar 1. Perdagangan Internasional Antara Dua Negara Sumber : Lindert dan Kindleberger (1995)

Dz K

F L

Q

C. Negara 2 (eksportir)

3.1.2. Bentuk-Bentuk Pasar Menurut Pappas dan Hirschey (1995), struktur pasar menggambarkan persaingan dalam pasar untuk sebuah produk atau jasa. Sebuah pasar terdiri dari semua perusahaan dan individual yang mampu dan ingin membeli atau menjual suatu produk serta adanya pendatang baru yang potensial. Pendatang baru yang potensial ini adalah semua pihak yang mampu memberikan ancaman terhadap keputusan harga atau keluaran dari perusahaan yang sudah ada. Struktur pasar umumnya diidentifikasi berdasarkan beberapa karakteristik yaitu jumlah dan distribusi dari pembeli dan penjual serta pendatang baru potensial yang aktif, tingkat diferensiasi produk, jumlah dan biaya informasi tentang harga dan mutu produk, serta kondisi masuk dan keluar industri. Bentukbentuk pasar yang dapat terjadi di dalam suatu perdagangan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna Pasar persaingan tidak sempurna dapat dibedakan menjadi pasar monopoli, pasar oligopoli, pasar duopoli, dan pasar monopsoni. Struktur pasar ini dapat dipandang sebagai sebuah garis dengan tingkat persaingan yang menurun, yang bergerak dari model persaingan sempurna ke persaingan monopolistis kemudian oligopoli dan terakhir monopoli. 1) Pasar Persaingan Sempurna Pasar persaingan sempurna (murni) dicirikan dengan komoditi yang dipasarkan bersifat homogen, jumlah pembeli dan penjual sangat banyak, adanya kebebasan untuk keluar masuk bagi penjual dan pembeli atau pun pendatang baru, penjual dan pembeli tidak dapat mempengaruhi harga pasar (price taker) yang berarti bahwa perusahaan mengambil harga pasar sebagai sesuatu ang tidak dapat ddirubah dan merancang strategi produk mereka sesuai dengan harga pasar tersebut, serta adanya informasi pasar yang lengkap bagi pembeli dan penjual. Adanya persaingan harga yang ketat dan hanya tingkat pengembalian atas investasi yang normal yang dimungkinkan dalam jangka panjang.

Laba

ekonomi hanya dimungkinkan dalam periode disekuilibrium jangka pendek sebelum persaing memberikan tanggapan persaingan yang efektif. (Pappas dan Hirschey 1995).

2) Pasar Persaingan Monopolistis Menurut Pappas dan Hirschey (1995) pasar persaingan monopolistis dicirikan dari banyak penjual yang menawarkan produk yang serupa tapi tidak identik. Pasar persaingan monopolistik tidak terlalu berbeda dengan pasar persaingan sempurna namun pada pasar persaingan monopolistik konsumen melihat adanya perbedaan penting diantara produk yang ditawarkan oleh setiap produsen individual.

Pasar persaingam monopolistik memiliki kesamaan

seperti pasar persaingan sempurna dimana setiap perusahaan mengambil keputusan secara independen, yaitu perubahan harga satu perusahaan tidak akan mempengaruhi harga perusahaan lain namun adanya pengaruh perbedaan penting diantara produk yang ditawarakan yang dilihat oleh konsumen dalam menentukan barang mana yang akan dikonsumsi. Perbedaan produk baik dalam hal jumlah, mutu, harga, atribut waktu, maupun tempat.

Dampak diferensiasi produk ini dalam jangka pendek bagi

perusahaan adalah peningkatan laba ekonomi yang cukup besar atau tingkat pengembalian diatas normal.

Namun, dalam jangka panjang masuknya

peniru sebagai pesaing akan membuat pangsa pasar dan laba akan menurun. Oleh karena itu, perusahaan yang berada dalam pasar persaingan monopolistik harus memiliki keunggulan bersaing yang berbeda untuk mempertahankan konsumennya. 3) Pasar Oligopoli Pasar yang hanya ada beberapa penjual atau perusahaan yang menguasai pasar baik secara independen maupun secara diam-diam bekerja sama. Adanya rintangan untuk masuk ke dalam pasar yang disebabkan skala ekonomi, persyaratan modal, periklanan, biaya penelitian dan pengembangan atau faktor lainnya.

Adanya keterbatasan informasi tentang pasar terkait

dengan mutu produk dan biaya, dan setiap keputusan harga yang diambil oleh suatu perusahaan akan dipertimbangkan oleh perusahaan-perusahaan lainnya. Pasar oligopoli memiliki potensi untuk laba ekonomi (diatas normal) dapat dicapai baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek, namun peraingan yang terjadi terkadang sangat ketat sehingga kondisi pencapaian laba ekonomi menjadi relatif (Pappas dan Hirschey 1995).

4) Pasar Monopoli Pasar monopoli dicirikan dengan keadaan komoditi yang sangat didiferensiasi dan produk pengganti tidak tersedia. Penjual tunggal dan pembeli banyak dengan tingkat informasi pasar yang dimiliki berbeda dimana pembeli hanya memiliki akses yang sangat terbatas terhadap informasi harga dan mutu produk. Adanya hambatan untuk keluar masuk pasar yang disebabkan oleh skala ekonomis (monopoli alamiah), hak paten, hak cipta, franchise atau faktor lainnya. Penjual dapat mempengaruhi harga (price maker) dan untuk mencapai keuntungan maksimum perusahaan selalu mengusahakan ongkos marjinal sama dengan permintaan marjinal dan potensi untuk laba ekonomi baik dalam jangka pendek maupun panjang. (Pappas dan Hirschey 1995). 3.1.3. Keunggulan Komparatif Konsep keunggulan komparatif seringkali digunakan untuk menjelaskan spesialisasi suatu negara dalam memproduksi suatu barang dan jasa. Selain itu, konsep ini juga dapat digunakan untuk wilayah yang lebih kecil seperti propinsi. Menurut Adam Smith diacu dalam Hady (2004) bahwa setiap negara akan memperoleh manfaat perdagangan internasional (gain from trade) karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan absolut (absolute advantage), serta mengimpor barang jika negara tersebut memiliki ketidakunggulan absolut (absolute disadvantage). Namun, teori keunggulan absolut ini hanya dapat menjelaskan sedikit saja dari perdagangan internasional pada saat ini. Pada tahun 1817, David Ricardo menyempurnakan teori keunggulan absolute dengan teori keunggulan komparatif melalui buku yang berjudul “Principles of Political Economy and Taxation”. Buku tersebut berisi penjelasan mengenai teori keunggulan komparatif (The Law of Comparative Advantage). Hukum tersebut menyatakan bahwa meskipun suatu negara kurang efisien dibandingkan (memiliki

kerugian absolut terhadap) negara lain dalam

memproduksi kedua komoditas, namun masih terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Negara

pertama harus melakukan spesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditas yang mempunyai kerugian absolut lebih kecil (komoditas dengan

keunggulan komparatif) dan mengimpor komoditas yang memiliki kerugian absolut lebih besar (komoditas yang memiliki kerugian komparatif yang besar) (Salvatore 1997). Keunggulan komparatif suatu komoditas diukur berdasarkan harga bayangan (shadow price) atau berdasarkan analisis ekonomi yang akan menggambarkan nilai sosial atau nilai ekonomi yang sesungguhnya dari unsur biaya maupun hasil. Analisis ekonomi suatu proyek atau aktivitas ekonomi atas manfaat bagi masyarakat secara keseluruhan tanpa memperhatikan siapa yang menyumbang dan menerima manfaat tersebut.

Maka, suatu komoditas yang

mempunyai keunggulan komparatif menunjukkan bahwa kegiatan atau proses dalam menghasilkan komoditas tersebut efisien secara ekonomi. Keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing yang akan dicapai apabila perekonomian tidak mengambil distorsi sama sekali Ricardo mendasarkan hukum keunggulan komparatif pada sejumlah asumsi yang disederhanakan, yaitu: 1.

Hanya terdapat dua negara dan dua komoditas

2.

Perdagangan bersifat bebas

3.

Terdapat mobilitas tenaga kerja

4.

Biaya produksi konstan

5.

Tidak terdapat biaya transportasi

6.

Tidak ada perubahan teknologi

7.

Menggunakan teori nilai kerja. Keenam asumsi diatas dapat diterima, namun asumsi ketujuh tidakk

berlaku dan seharusnya tidak digunakan untuk menjelaskan keunggulan komparatif karena toeri nilai tenaga kerja ini menyatakan bahwa nilai atau harga sebuah komoditas tergantung dari jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk meproduksi. Teori nilai kerja ini merupakan kelemahan dari model Ricardian karena tenaga kerja bukan merupakan satu-satunya faktor produksi dan penggunaannya juga tidak sama untuk setiap komoditas serta tenaga kerja tidak bersifat homogen karena adanya perbedaan pendidikan, produktivitas, dan upah yang diterima.

Keunggulan komparatif yang dikemukan oleh Ricardo hanya

berdasarkan pada penggunaan dan produktivitas tenaga kerja tanpa menjelaskan

alasan timbulnya perbedaan produktivitas tenaga kerja diantara berbagai negara. Teori ini juga tidak menjelaskan mengenai pengaruh perdagangan internasional terhadap pendapatan yang diperoleh faktor produksi.

Hal ini menyebabkan

konsep

oleh

keunggulan

komparatif

yang

dikemukan

David

Ricardo

disempurnakan oleh Heckscher dan Ohlin pada tahun 1933 (Salvatore 1997). Heckscher dan Ohlin melakukan perbaikan terhadap hukum keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh Ricardo. Teori Heckscher-Ohlin atau teori kelimpahan yang diekspresikan ke dalam dua teorema yang saling berhubungan, yaitu teorema Heckscher-Ohlin serta teorema penyamaan harga faktor. Menurut teorema Heckscher-Ohlin, sebuah negara akan mengekspor komoditas yang padat faktor produksi yang ketersediaannya di negara tersebut melimpah dan murah, sedangkan di sisi lain negara tersebut akan mengimpor komoditas yang padat dengan faktor produksi yang langka dan mahal. Menurut teorema penyamaan harga faktor produksi atau teorema Heckscher-Ohlin-Samuelson, perdagangan internasional cenderung menyamakan harga-harga baik itu secara relatif maupun secara absolut dari berbagai faktor produksi yang homogen atau sejenis diantara negara-negara yang terlibat dalam hubungan dagang. Pada intinya teori perdagangan Heckscher-Ohlin menjelaskan bahwa perdagangan internasional berlangsung atas dasar keunggulan komparatif yang berbeda dari masing-masing negara. Teori ini juga menyinggung mengenai dampak-dampak perdagangan internasional terhadap harga atau tingkat pendapatan dari masing-masing faktor produksi. Secara umum model Heckscher-Ohlin masih dapat dianggap sebagai model baku dalam perdagangan internasional (Salvatore 1997). 3.1.4. Keunggulan Kompetitif Menurut Porter Keunggulan kompetitif (Competitive Advantage) merupakan alat untuk mengukur daya saing suatu aktivitas berdasarkan pada kondisi perekonomian aktual. Daya saing merupakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan biaya cukup rendah sehingga dengan harga yang terjadi produsen tetap dapat memperoleh keuntungan. Pada awalnya konsep keunggulan kompetitif dikembangkan oleh Porter pada tahun 1980 dengan bertitik tolak dari kenyataan-kenyataan perdagangan internasional yang ada.

Menurut Porter

(1998), keunggulan kompetitif suatu negara sangat tergantung pada tingkat

sumberdaya yang dimilikinya. Berdasarkan sumberdaya lokal yang dimiliki suatu negara dapat dilihat apakah suatu negara mempunyai keunggulan kompetitif atau tidak. Keunggulan kompetitif dibuat dan dipertahankan melalui suatu proses internal yang tinggi.

Perbedaan dalam struktur ekonomi nasional, nilai,

kebudayaan, kelembagaan, dan sejarah mementukan keberhasilan kompetitif. Keunggulan kompetitif suatu negara ditentukan oleh empat faktor yang harus dimiliki suatu negara untuk bersaing secara global. Keempat faktor tersebut adalah kondisi faktor sumberdaya (factor condition), kondisi permintaan (demand condition), industri terkait dan industri pendukung (related and supporting industry), persaingan, struktur, dan strategi perusahaan (firm strategy, structure, and rivarly). Keempat faktor penentu tersebut didukung oleh faktor eksternal yang terdiri atas peran pemerintah (goverment) dan terdapatnya kesempatan (chance events). Secara bersama-sama faktor tersebut membentuk suatu sistem yang berguna dalam peningkatan keunggulan daya saing, system tersebut dikenal dengan “The National Diamond” (Gambar 2). Setiap atribut yang terdapat dalam teori Berlian Porter memiliki poin-poin penting yang menjelaskan secara detail atribut yang ada, penjelasan untuk tiap atribut sebagai berikut: 1) Kondisi Faktor Sumberdaya Sumberdaya yang dimiliki oleh suatu bangsa merupakan salah satu faktor produksi yang diperlukan untuk bersaing dalam industri tertentu. Faktor produksi tersebut terdiri dari : a) Sumberdaya Fisik atau Alam Sumberdaya fisik atau alam yang mempengaruhi daya saing industri nasional terdiri atas biaya, kualitas, ukuran lahan, ketersedian air, mineral, energi dan berbagai sumberdaya lain yang dapat diperbaharui maupun tidak, dan aksesbilitas, serta kondisi cuaca iklim, luas wilayah, geografis, keadaan topografi, dan lain-lain. b) Sumberdaya Manusia Sumberdaya fisik atau alam yang mempengaruhi daya saing industri nasional terdiri dari jumlah tenaga yang tersedia, kemampuan manajerial

dan ketrampilan yang dimiliki, tingkat upah yang berlaku, dan etika kerja (moral).

Kesempatan

Persaingan, Struktur, dan Strategi perusahaan

Kondisi Faktor

Kondisi

Sumberdaya

Permintaan

Industri Terkait dan

Peran

Industri Pendukung

Pemerintah

Gambar 2. The Complete System of National Competitive Advantage Sumber : Michael E. Porter (1990) Keterangan : Garis ( ____ ), menunjukkan hubungan antara atribut utama Garis (--------), menunjukkan hubungan antara atribut utama dengan atribut tambahan

c) Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempengaruhi daya saing industri nasional terdiri dari ketersediaan pengetahuan pasar, pengetahuan teknis, pengetahuan ilmiah yang menunjang dan diperlukan dalam memproduksi barang dan jasa, ketersediaan sumber-sumber pengetahuan dan teknologi seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pengembangan lembaga statistik, literatur bisnis dan ilmiah, basis data, laporan penelitian, asosiasi pengusaha, asosiasi perdagangan, dan lain-lain. d) Sumberdaya Modal Sumberdaya modal yang mempengaruhi daya saing industri nasional terdiri dari jumlah dan biaya yang tersedia, jenis pembiayaan atau sumber modal, aksesbilitas terhadap pembiayaan, kondisi lembaga

pembiayaan dan perbankan, peraturan keuangan, serta peraturan dan kondisi moneter dan fiskal untuk mengetahui tingkat tabungan masyarakat. e) Sumberdaya Infrastruktur Sumberdaya infrastruktur yang mempengaruhi daya saing industri nasional dapat diihat dari ketersediaan jenis, mutu dan biaya penggunaan infrastruktur yang mempengaruhi daya saing, seperti sistem transportasi, komunikasi, pos dan giro, sistem pembayaran dan transfer dana, air bersih, energi listrik dan lain-lain. 2) Kondisi Permintaan Kondisi permintaan dalam negeri sangat mempengaruhi daya saing industri nasional. Mutu permintaan dalam negeri merupakan sarana pembelajaran bagi perusahaan dalam negeri untuk bersaing secara global. Persaingan yang ketat memberikan tantangan bagi setiap perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya dengan memberi tanggapan terhadap persaingan yang ada. Terdapat tiga faktor kondisi permintaan yang mempengaruhi daya saing industri nasional yaitu: a)

Komposisi Permintaan Domestik Karakteristik permintaan domestik sangat mempengaruhi daya saing industri nasional. Karakteristik permintaan domestik terdiri dari : i)

Struktur Segmen Permintaan Struktur segmen permintaan merupakan faktor penentu daya saing industri nasional. Pada sebagian besar industri, permintaan yang ada telah tersegmentasi atau dipersempit menjadi beberapa bagian yang lebih spesifik. Umumnya perusahaan-perusahaan lebih mudah memperoleh daya saing pada segmen permintaan yang lebih luas dibandingkan dengan segmen permintaan yang sempit.

ii) Pengalaman dan Selera Pembeli yang Tinggi Pengalaman dan selera pembeli yang tinggi akan meningkatkan tekanan kepada produsen untuk menghasilkan produk yang bermutu dan memenuhi standar yang tinggi termasuk didalamnya yaitu standar mutu produk, fitur-fitur pada produk, dan pelayanan.

iii) Antisipasi Kebutuhan Pembeli Antisipasi terhadap kebutuhan pembeli dari perusahaan dalam negeri merupakan suatu nilai tambah dalam memperoleh keunggulan daya saing. b) Jumlah Permintaan dan Pola Pertumbuhan Jumlah atau besarnya permintaan domestik mempengaruhi tingkat persaingan dalam negeri terutama disebabkan oleh jumlah pembeli bebas, tingkat pertumbuhan permintaan domestik, timbulnya permintaan baru, dan kejenuhan permintaan lebih awal sebagi akibat perusahaan domestik melakukan penetrasi pasar lebih awal. Pasar domestik yang luas dapat diarahkan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam suatu industri. Hal ini dapat terlaksana jika indsutri dilakukan dalam skala ekonomis melalui adanya penanaman modal dengan membangun fasilitas skala besar, pengembangan teknologi, dan peningkatan produkstivitas. c)

Internasionalisasi Permintaan Domestik Pembeli lokal (dapat berasal dari warga asing atau pun warga Indonesia yang berdomisili di luar negeri) yang merupakan pembeli dari luar negeri akan mendorong peningkatan daya saing industri nasional karena pembeli tersebut dapat membawa produk domestik ke luar negeri (ke negaranya). Konsumen yang memiliki mobilitas internasional tinggi dan sering

mengunjungi

suatu

negara

juga

dapat

mendorong

dan

meningkatkan daya saing produk negara yang dikunjunginya. 3) Industri Terkait dan Pendukung Keberadaan industri terkait dan pendukung yang memiliki daya saing global juga akan mempengaruhi daya saing industri utamanya, industri yang terkait tersebut adalah industri hulu dan hilir. Industri hulu yang memiliki daya saing global akan mampu memasok input bagi industri utama dengan harga yang lebih murah, mutu yang lebih baik, pelayanan yang cepat, pengiriman tepat waktu, dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan industri utama. Hal ini juga terjadi pada industri hilir yang menggunakan produk dari industri

utama sebagai bahan bakunya dan memiliki daya saing global, maka industri hilir tersebut dapat menarik industri hulu untuk memiliki daya saing global juga. 4) Struktur, Persaingan dan Strategi Perusahaan Tingkat pesaingan dalam industri merupakan salah satu faktor pendorong bagi perusahaan-perusahaan yang berkompetisi utnuk terus melakukan inovasi terhadap produk yang dihasilkannya. Keberadaan pesaing lokal yang handal dan kuat merupakan motor penggerak dalam memberikan tekanan antar perusahaan untuk berkompetisi dan melakukan inovasi dalam rangka meningkatkan daya saingnya. Perusahaan yang telah teruji mampu bersaing ketat dalam industri nasional akan lebih mudah memenangkan persaingan internasional dibandingkan dengan perusahaan yang belum memiliki daya saing nasional atau berada dalam industri yang tingkat persaingannya rendah. Struktur perusahaan maupun struktur industri menentukan daya saing dengan cara melakukan perbaikan dan inovasi. Struktur industri yang monopolistis kurang memiliki dorongan untuk melakukan perbaikan serta inovasi baru dibandingkan dengan struktur industri yang bersaing. Struktur perusahaan yang berada dalam industri sangat berpengaruh terhadap bagaimana perusahaan yang bersangkutan dikelola dan dikembangkan dalam suasana tekanan persaingan baik domestik maupun internasional.

Hal ini juga

berpengaruh pada strategi yang dijalankan oleh perusahaan dalam rangka memenangkan persaingan domestik dan internasional. Maka, hal tersebut secara tidak langsung akan meningkatkan daya saing global industri yang bersangkutan. 5) Peran Pemerintah Peran pemerintah sebenarnya tidak berpengaruh secara langsung terhadap upaya peningkatan daya saing global, akan tetapi berpengaruh terhadap faktor-faktor penentu daya saingnya. Pemerintah bertindak sebagi fasilitator agar perusahaan dan industri senantiasa meningkatkan daya saingnya. Pemerintah dapat mempengaruhi tingkat daya saing global melalui kebijakan yang memperlemah atau memperkuat faktor penentu daya saing industri, tetapi pemerintah tidak dapat menciptakan keunggulan bersaing secara

langsung. Peran pemerintah dalam upaya peningkatan daya saing adalah memfasilitasi lingkungan industri yang mampu memperbaiki kondisi faktor daya saing sehingga bisa didayagunakan secara aktif dan efisien. Pemerintah dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keempat variabel utama. Peran pemerintah mempengaruhi kondisi faktor sumberdaya melalui subsidi, kebijakan pasar modal, kebijakan pendidikan, dan lain sebagainya. Peran pemerintah seringkali sulit untuk dijelaskan dalam pembentukan kondisi permintaan doemstik, karena adanya kontradiksi pada peran yang dijalankan. Pemerintah bertugas menetapkan standar produk lokal melalui departemen-departemen yang ada.

Pemerintah juga seringkali menjadi

pembeli utama seperti pembelian alat telekomunikasi atau penerbangan untuk keperluan negara. Bahkan pemerintah juga dapat menjadi penjual utama atau memegang

kekuasaan

atas

produk-produk

vital

yang

menyangkut

kepentingan rakyat banyak. Pada industri pendukung dan terkait pemerintah dapat membentuk polanya seperti melakukan pengawasan terhadap media periklanan dan membuat regulasi dari pelayanan pendukung.

Selain itu, pemerintah juga dapat

mempengaruhi persaingan, struktur, dan strategi perusahaan melalui regulasi pasar modal, kebjakan pajak, dan perundang-undangan. 6) Peran Kesempatan Kesempatan mempunyai dampak yang asimetris atau hanya berlaku satu arah terhadap keempat faktor utama. Peran kesempatan berada di luar kendali perusahaan maupun pemerintah namun tetap mempengaruhi tingkat daya saing.

Beberapa hal yang dianggap keberuntungan merupakan peran

kesempatan, seperti adanya penemuan baru yang murni, biaya perusahaan yang tidak berlanjut akibat perubahan harga minyak atau depresiasi mata uang. Selain itu, terjadinya peningkatan permintaan produk industri yang lebih besar dari pasokannya merupakan kondisi yang menguntungkan bagi peningkatan daya saing. 3.1.5. Analisis SWOT Untuk Alat Analisis dan Strategi Kebijakan Alat analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunies, and Threaths) digunakan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang ada dalam industri

ikan tuna, kemudian menetapkan strategi yang dapat membantu perkembangan industri ikan tuna nasional. Analisis SWOT merupakan alat analisis yang dapat dipakai dalam menyusun faktor-faktor strategis suatu perusahaan berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Analisis ini merupakan identifikasi yang bersifat sistematis dari faktor-faktor kekuatan dan kelemahan organisasi serta peluang dan ancaman lingkungan luar dan strategis yang menyajikan kombinasi terbaik diantara keempatnya.

Setelah mengidentifikasi kekuatan,

kelemahan, ancaman, dan peluang, perusahaan atau organisasi dapat menentukan strategi dengan memanfaatkan kekuatan yang dimilikinya untuk mengambil keuntungan dari peluang-peluang yang ada, sekaligus untuk memperkecil atau bahkan mengatasi kelemahan yang dimilikinya untuk menghindari ancaman yang ada. Penjelasan tentang faktor internal dan eksternal dalam analisis SWOT adalah sebagai berikut: 1) Kekuatan (Strenghts) Kekuatan termasuk dalam faktor internal yang menunjukkan kelebihan khusus sehingga memiliki keunggulan komparatif di dalam suatu industri yang dimiliki oleh perusahaan.

Kekuatan perusahaan akan mendukung

perkembangan usaha dengan cara memperhatikan sumber dana, citra, kepemimpinan pasar, hubungan dengan konsumen ataupun pemasok, dan faktor-faktor lainnya. 2) Kelemahan (Weaknesses) Kelemahan termasuk faktor internal yang menunjukkan keterbatasan dan kekurangan dalam hal sumberdaya, keahlian, dan kemampuan yang secara nyata menghambat aktivitas perusahaan. Sumber kelemahan dapat berasal dari sumberdaya keuangan, kemampuan manajerial, fasilitas, keahlian pemasaran, dan pandangan konsumen terhadap merek. 3) Peluang (Opportunities) Peluang termasuk dalam faktor eksternal. Peluang adalah situasi yang diinginkan atau disukai dalam perusahaan yang diidentifikasikan. Segmen pasar, perubahan dalam persaingan atau lingkungan, perubahan teknologi, peraturan baru atau yang ditinjau kembali dapat menjadi sumber peluang bagi perusahaan.

4) Ancaman (Threats) Ancaman termasuk dalam faktor eksternal. Ancaman adalah situasi yang paling tidak disukai dalam lingkunngan perusahaan. Ancaman merupakan penghalang bagi posisi yang diharapkan bagi perusahaan. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lambat, meningkatnya posisi penawaran pembeli dan pemasok, perubahan tekonologi, peraturan baru atau yang ditinjau kembali dapat menjadi sumber ancaman bagi perusahaan. 3.2. Kerangka Pemikiran Operasional Ikan tuna merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia karena sebagai salah satu penyumbang devisa negara dari sektor perikanan yang terbesar, daerah perairan di Inonesia masih banyak yang belum dimafaatkan dengan baik, dan ikan tuna termasuk komoditas perikanan yan paling banyak digemar di dunia.

Akan tetapi perkembangan ekspor ikan tuna Indonesia

dihadapkan pada persoalan isu lingkungan dan berbagai macam hambatan tarif yang dilakukan oleh beberapa negara sehingga potensi perairan Indonesia yang begitu besar belum terkelola dengan baik dan perkembangan ekspor ikan tuna dalam jangka panjang sangat bergantung pada kualitas komoditas dan kemampuan daya saing dalam mendapatkan pasar-pasar baru. Permasalahan tersebut menjadi dasar dari penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji perkembangan ekspor ikan tuna dan faktorfaktor yang mempengaruhi perdagangannya, menganalisis struktur pasar ikan tuna dalam perdagangan ikan tuna internasional serta menganalisis posisi daya saing ikan tuna di pasar internasional. Oleh karena itu, tahapan pertama dalam penelitian ini adalah menganalisis dengan

Herfindahl

Index

(HI)

dan

Concentration

Ratio

(CR)

untuk

menggambarkan struktur dan pangsa pasar yang dimiliki oleh komoditas ikan tuna Indonesia di pasar internasional.

Kemudian dilakukan analisis Revealed

Competitive Advantage (RCA) yang digunakan untuk menjelaskan kekuatan daya saing komoditas ikan tuna Indonesia secara relatif terhadap produk sejenis dari negara lain yang juga menunjukkan posisi kompetitif Indonesia sebagai produsen ikan tuna dibandingkan dengan negara lainnya dalam pasar ikan tuna

internasional. RCA ini digunakan untuk menganalisis keunggulan komparatif ikan tuna Indonesia jika dibandingkan dengan negara produsen lainnya. Pendekatan lain yang juga digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan pengkajian potensi, kendala, dan peluang komoditas ikan tuna. Analisis situasi internal dan eksternal ini dilakukan dengan pendekatan Teori Berlian Porter (Porter’s Diamond Theory) tentang keunggulan bersaing negaranegara. Teori Berlian Porter menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu negara, dalam penelitian ini berarti faktor-faktor yang mempengaruhi keunggulan kompetitif komoditas ikan tuna Indonesia. Faktor internal mencakup faktor fisik dan manusia, sedangkan faktor eksternal mencakup peluang yang terjadi pasar ikan tuna dalam negeri maupun internasional.

Suatu negara tidak dapat lagi hanya menggantungkan

keunggulannya pada keunggulan komparatif yang dimilikinya sebagai endowment factors, tapi juga harus didukung adanya keunggulan kompetitif yang kuat. Alat analisis tersebut akan menggambarkan kondisi komoditas ikan tuna Indonesia di pasar internasional dan memperlihatkan bagaimana daya saing komoditas ikan tuna itu sendiri. Gambaran yang didapat kemudian dianalisis melalui analisis SWOT dengan cara mengidentifasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang ada. Hasil akhir dari semua alat analisis yang ada dapat digunakan untuk menentukan strategi sebagai upaya peningkatan daya saing komoditas ikan tuna Indonesia. ditunjukkan pada Gambar 3.

Diagram alur pemikiran penelitian ini akan

 Hambatan tarif dan non tarif  Masalah dalam negeri  Perkembangan ekspor ikan tuna jangka panjang bergantung pada peningkatan kualitas dan kemampuan daya saing

 Indonesia memiliki kekayaan laut yang masih belum dimanfaatkan dengan masksimal.  Devisa yang dihasilkan cukup tinggi  Ikan tuna termasuk produk perikanan yang banyak digemari di dunia

Analisis daya saing komoditas ikan tuna Indonesia di pasar internasional

Analisis struktur komoditas ikan tuna di pasar internasional dengan menggunakan Herfindahl Index dan Concentration Ratio

Analisis keunggulan komparatif komoditas ikan tuna Indonesia dengan menggunakan Revealed Comparative Advantage

Analisis keunggulan kompetitif komoditas ikan tuna Indonesia dengan menggunakan Teori Berlian Porter

Strategi untuk meningkatkan daya saing komoditas ikan tuna di pasar internasional

Gambar 3. Kerangka Opersional Penelitian

Gambaran daya saing komoditas ikan tuna dalam menghadapi persaingan internasiona (Analisis SWOT)

IV. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data sekunder dari pihak-pihak yang terkait dengan penelitian, seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), dan sebagainya. Waktu penelitian dilakukan mulai dari bulan Februari 2009 hingga Januari 2010 mulai dari penyusunan proposal hingga penyerahan skripsi. 4.2. Data dan Instrumentasi Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang didapatkan dari BPS, DKP serta informasi-informasi lainnya yang berkaitan dengan penelitian yang diperoleh dari buku-buku literatur, media massa, media elektronik (internet). Data yang diambil adalah data ekspor ikan tuna negaranegara dunia tahun 1998-2007 , data pendukung untuk gambaran umum ikan tuna di Indonesia terkait dengan keberadaan faktor sumberdaya dan peran pemerintah, serta gambaran mengenai keberadaan pesaing. Menurut segi waktu, maka data yang digunakan merupakan data time series.

Instrument yang dipakai untuk

mendapatkan data berupa alat pencatat dan penyimpan elektronik berupa flashdisk dan camera. 4.3. Metode Pengumpulan Data Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber instansi yang terkait yaitu BPS dan DKP yang terletak di Jakarta melalui studi literatur dan penelusuran situs UN Comtrade untuk data ekspor dunia. Data yang diambil pada penelitian ini mulai dari tahun 1998 hingga tahun 2007. Pengumpulan data penelitian dilakukan mulai dari bulan Maret hingga Mei tahun 2009. 4.4. Metode Pengolahan Data Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif. Menurut Whitney (1960) diacu dalam Nazir (2003) metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Tujuannya adalah untuk membuat gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat,

serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian, sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. Teknik pengumpulan data dalam

metode deskriptif diperoleh melalui schedule

questioner ataupun interview guide (Nazir 2003). Analisis dan pengolahan data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis struktur pasar dan persaingan komoditas ikan tuna di pasar internasional. Analisis kuantitatif dilakukan dengan metode Herfindahl Index (HI), Concentration Ratio (CR) atau konsentrasi rasio dan Revealed Comparative Advantage (RCA).

Analisis kualitatif digunakan

untuk menganalisis situasi dan kondisi faktor penentu daya saing serta faktor strategis perusahaan sehingga diperoleh strategi yang dapat digunakan untuk menghadapi

persaingan

global.

Analisis

kualitatif

dilakukan

dengan

menggunakan Teori Berlian Porter dan Analisis SWOT. Proses pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan Software Microsoft Excel 2007. 4.4.1. Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR) Herfindahl Index dan Concentration Ratio (CR) adalah alat analisis yang digunakan untuk mengetahui struktur pasar yang dihadapi suatu industri.16 Tingkat konsentrasi yang diukur dikategorikan dan diarahkan pada bentuk pasar yang selama ini terjadi pada pasar ikan tuna internasional. Bentuk pasar yang ada akan mempengaruhi tingkat persaingan yang dianalisis pada bagian selanjutnya. Pengukuran tingkat konsentrasi sangat memperhitungkan besaran pangsa pasar yang diperoleh tiap negara dalam komposisi ekspor komoditas ikan tuna di pasar internasional. Herfindahl Index (HI) atau Herfindahl–Hirschman Index (HHI) merupakan suatu alat analisis yang digunakan untuk mengukur besar kecilnya (ukuran) perusahaan-perusahaan dalam suatu industri dan sebagai indikator jumlah persaingan diantara mereka. Penelitian ini menggunakan alat analisis HI dengan tujuan untuk mengetahui struktur pasar komoditas ikan tuna di pasar internasional

16

Anonim. 2009. Herfindahl Index. http://en.wikipedia.org/wiki/Herfindahl_index Diakses tanggal 6 Maret 2009.

sekaligus mengukur penguasaan pangsa pasar masing-masing negara yang terlibat dalam perdagangan komoditas ikan tuna tersebut. `

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghitung pangsa pasar tiap

negara produsen ikan tuna di pasar internasional melalui besaran nilai ekspor ikan tuna. Pangsa pasar komoditas ikan tuna suatu negara dapat dihitung dengan cara membandingkan ekspor komoditas ikan tuna negara tersebut dengan total ekspor komoditas ikan tuna dunia. Perhitungan pangsa pasar tersebut dilakukan dengan menggunakan formula sebagai berikut:

S ij 

X ij TX j

………………………………………….. (1)

Keterangan : Sij

Xij TXj

= Pangsa pasar negara i dalam perdagangan komoditas ikan tuna di pasar internasional

= Nilai ekspor komoditas ikan tuna negara i di pasar internasional = Total nilai ekspor komoditas ikan tuna seluruh negara di pasar internasional Langkah selanjutnya adalah mengetahui struktur pasar yang dihadapi oleh

suatu industri.dengan cara menghitung nilai HI.

Nilai HI mencerminkan

penguasaan pangsa pasar oleh suatu negara dalam pasar internasional. Indeks tersebut merupakan hasil penjumlahan kuadrat pangsa pasar tiap-tiap negara dalam pasar internasional. Rumusnya adalah sebagai berikut: HI = S12 + S22 + S32 + … + Sn2 ………………………………….. (2)17 Keterangan : HI Sn

= Hefindahl Index = Pangsa pasar negara I dalam perdagangan komoditas ikan tuna di pasar internasional Nilai HI berkisar antara nol hingga satu (atau 10.000 yang merupakan

kuadrat dari 100 persen).

Jika nilai HI mendekati nol berarti struktur pasar

industri.yang bersangkutan cenderung ke pasar persaingan (competitive market), 17

Anonim. 2009. Hefindahl Index. http://www.investopedia.com/terms/h/hhi.asp Diakses tanggal

6 Maret 2009.

sementara jika nilai HI bernilai mendekati satu maka struktur industri.tersebut cenderung bersifat monopoli. Semakin cenderung pasar ke arad monopoli maka semakin tinggi konsentrasinya. HI akan semakin berarti jika diketahui nilai 1/HI yang mencerminkan jumlah perusahaan yang menguasai suatu industri.18 Berdasarkan analisis strandar dalam ekonomi industri., bahwa strukutr industri.dikatakan berbentuk oligopoli bila empat negara produsen terbesar menguasi minimal 40 persen pangsa pasar penjualan dari industri.yang bersangkutan (CR4= 40 persen). Apabila kekuatan keempat produsen tersebut dianggap sama, maka pangsa penjualan atau produksi suatu industri.. Apabila kekuatan keempat produsen tersebut dianggap sama, maka pangsa penjualan atau produksi suatu industri. Apabila penguasaan pasar oleh sepuluh produsen atau kurang dalam suatu industri merupakan batas minimum suatu industri berbentuk oligopolistik, maka terdapat kecenderungan peningkatan derajat penguasaan pasar tersebut, beberapa subsektor industri telah beralih dari struktur persaingan ke arah oligopolistik. Semakin sedikit jumlah produsen dominan dalam suatu industri (1/HI semakin kecil) maka struktur industri semakin terkonsentrasi. Selain dengan menggunakan nilai HI, struktur pasar juga dapat diklasifikasikan berdasarkan Concentration Ratio (CR) adalah sebagai berikut19: 1) Struktur pasar persaingan sempurna ditunjukkan dengan nilai rasio konsentrasinya sangat rendah. 2) Struktur pasar persaintgan monopolistik ditunjukkan dengan nilai rasio konsentrasi untuk empat produsen terbesar (CR4) di bawah 40 persen. 3) Struktur pasar oligopoli ditunjukkan dengan nilai rasio konsentrasi empat produsen terbesar (CR4) di atas 40 persen. 4) Struktur pasar monopoli ditunjukkan dengan nilai rasio konsentrasi empat produsen terbesar (CR4) mendekati 100 persen. Rasio konsentrasi suatu industri diformulasikan sebagai berikut:

CR 18

ni

Anonim. 2009.



n



S ij

j 1 Hefindahl

Index. http://www.bizterms.net/term/Herfindahl-index.html. Diakses

tanggal 6 Maret 2009. 19

Anonim. 2009. Concentration Ratio. http://en.wikipedia.org/wiki/Concentration_ratio. Diakses

tanggal 6 Maret 2009.

………………………………………..... (3) Keterangan : Sij

= Pangsa pasar negara I dalam perdagangan komoditas ikan tuna di pasar internasional

CRni = n-rasio konsentrasi pada pasar internasional Struktur pasar juga dapat diklarifikasikan berdasarkan rasio konsentrasinya yang dapat dirumuskan dari kedua alat ukur HI dan CR adalah sebagai berikut: 1) Konsentrasi pasar yang tinggi dicirikan dengan nilai CR4 yang berkisar antara 80 hingga 100 persen, sedangkan kisaran nilai HI yaitu antara 1800 hingga 10000. Bentuk pasar yang mungkin untuk tingkat konsentrasi tinggi adalah monopoli atau sedikit monopoli yang cenderung oligopoli. 2) Konsentrasi pasar sedang dicirikan dengan nilai CR4 antara 50 hingga 80 persen dan nilai HI yang berkisar antara 1000 hingga 1800. Bentuk pasar untuk tingkat konsentrasi sedang adalah lebih banyak oligopoli. 3) Konsentrasi pasar rendah dicirikan dengan nilai CR4 antara 0 hingga 50 persen dan HI antara 0 hingga 1000. Bentuk pasar yang sangat ekstrim adalah pasar persaingan sempurna, namun sekurang-kurangnya adalah persaingan monopolistik. Bahkan dapat dimungkinkan pasar dengan sedikit oligopoli. Nilai CR yang banyak digunakan adalah CR4 dan CR8 yang menunjukkan persentase output pasar yang dihasilkan oleh empat atau delapan negara produsen terbesar dalam industri.

Semakin besar nilai rasio konsentrasi menunjukkan

bahwa industri tersebut semakin terkonsentrasi dan semakin sedikit jumlah produsen yang berada di pasaran, sedangkan semakin rendah rasio konsentrasi menunjukkan konsentrasi pasar yang rendah dan persaingan lebih ketat, sebab tidak ada produsen yang secara signifikan menguasai pasar. Nilai HI dan CR yang didapatkan secara tidak langsung dapat diketahui konsentrasi industri dan struktur persaingan komoditas ikan tuna dimana Indonesia termasuk negara yang ikut bersaing dalam indutri tersebut dan dapat menyesuaikan strategi kompetitif yang akan digunakan. 4.4.2. Keunggulan Komparatif

Keunggulan Komparatif berdasarkan kamus Bahasa Indonesia diartikan memiliki sifat perbandingan atau menyatakan perbandingan.

Keunggulan

komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Keunggulan komparatif adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keunggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama.20 4.4.3. Analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif adalah dengan menggunakan Balassa’s Revealed Comparative Advantage Index (RCA) yang membandingkan pangsa pasar ekspor sektor tertentu suatu negara dalam pangsa pasar sektor tertentu tersebut di pasar dunia. Indeks RCA ini dapat digunakan untuk mengetahui posisi keunggulan bersaing dari suatu komoditas di pasar internasional dibandingkan dengan negara produsen lainnya. Keunggulan

menggunakan

indeks

RCA

adalah

indeks

ini

mempertimbangkan keuntungan intrinsik komoditas ekspor tertentu dan konsisten dengan perubahan di dalam suatu ekonomi produktivitas dan faktor anugerah relative (Li dan Bender21). Kelemahan indeks RCA ini adalah indeks ini tidak dapat membedakan antara peningkatan di dalam faktor sumberdaya dan penerapan kebijakan perdagangan yang sesuai.

Selain itu indeks RCA ini

memiliki kelemahan dalam mengukur keunggulan komparatif dari kinerja impor dan mengesampingkan pentingnya permintaan domestik, ukuran pasar domestik dan perkembangannya22. Tujuan dari penggunaan indeks RCA dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui posisi keunggulan komparatif komoditas ikan tuna Indonesia diantara 20

Hidayat. 2008. Perbedaan Keunggulan Komparatif dan Kompetitif. http://hidayaters.wordpress.com/2008/04/15/perbedaan-keunggulan-kompetitif-dengankeunggulan-komparatif/. Diakses tanggal 5 Maret 2009. 21 Li K, Bender S. 2002. The Changing Trade and Revealed Comparative Advantages of Asian and Latin American Manufacture Exports .http://www.econ.yale.edu/growth_pdf/cdp843.pdf. Diakses tanggal 6 Maret 2009. 22 Khan Z, Batra A. 2005. Revealed Comparative Advantage:An Analysis For India and China http://www.icrier.org/pdf/wp168.pdf. Diakses tanggal 6 Maret 2009.

negara-negara produsen lainnya di pasar internasional. Selain itu, indeks ini juga dapat mengukur daya saing industri suatu negara, apakah industri tersebut cukup tangguh di pasar internasional atau tidak dapat diketahui secara kuantitatif dengan menggunakan indeks ini. Smyth diacu dalam Meryana (2007) berdasarkan rumus yang ditemukan oleh Balllas, untuk mengukur keunggulan komparatif komoditas suatu negara dengan menggunakan indeks RCA adalah: Keterangan : Xij

= Ekspor sektor i negara j

 Xij

= Total ekspor i dari negara j

 Xij

= Total ekspor dunia dari sektor i

j

i

  Xij j

= Total ekspor dunia

i

    X ij      Keterangan :   Xi j   X ij      i X = Ekspor 82efens I negara j ij i  RCA   = Total ekspor I dari negara j j Xi   j         Xi X j ij         j   Xij = Total ekspordunia dari 82efensi    i            Xi j     X ij      Xi j   Xi j      i j    dunia     i ekspor j i Xij  =j Total   

…………… (4)



Jika nilai indeks RCA suatu negara lebih besar dari 1, maka negara tersebut memiliki keunggulan komparatif dalam komoditas yang terkait dan berdaya saing kuat. Sebaliknya, jika nilai indeks RCA kurang dari 1 berarti tidak memiliki keunggulan komparatif terhadap produk tersebut dan komoditas tersebut memiliki daya saing lemah. Hal ini menunjukkan, bahwa semakin tinggi nilai RCA maka semakin kuat daya saingnya. 4.4.4. Keunggulan Kompetitif Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu

posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya.

Kamus

Bahasa Indonesia menyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan.

Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami

berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya guna mendapatkan sesuatu.23 4.4.5. Analisis Berlian Porter Alat analisis Berlian Porter digunakan untuk mengetahui situasi dan kondisi dari setiap atribut yang ada, seperti kondisi permintaan domestik, kondisi faktor sumberdaya, industri pendukung dan terkait, serta struktur, persaingan, dan strategi industri ikan tuna nasional. Selain hal tersebut, tedapat juga dua atribut tambahan yaitu peran pemerintah dan peran dari kesempatan yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan industri ikan tuna nasional. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisi industri ikan tuna national adalah sebagai berikut: 1) Menentukan siapa saja yang ada di dalam industri. Hal ini dilakukan dengan membuat daftar yang memuat para peserta industri secara langsung. 2) Menelaah industri. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya hasil

telaah

industri yang realtif cukup lengkap atau sejumlah artikel yang cakupannya luas. 3) Laporan tahunan. Laporan tahunan dapat berupa data-data perdagangan yang bersifat nasional maupun internasional dengan rentang waktu tertentu. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah menentukan apa yang ingin diketahui dari industri dan bagaimana cara mengembangkan data di setiap bidang secara berurutan. Hal ini perlu diperhatikan sebagai pedoman dalam menganalisis suatu industri yang terlalu luas jika tidak dibatasi (Maulana diacu dalam Meryana, 2007). 4.4.6. Analisis SWOT 23

Ibid, Hlm 38.

Formulasi alternatif strategi dilakukan dengan menganalisis peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan yang diperoleh melalui identifikasi lingkungan internal dan eksternal.

Identifikasi kekuatan dalam analisis

keunggulan kompetitif ditunjukkan dengan keadaan suatu atribut yang mendukung, sedangkan kelemahan ditunjukkan dengan keadaan atribut yang kurang mendukung. Alat analisis yang digunakan untuk menyusun formulasi strategis tersebut adalah matriks SWOT.

Matriks ini menggambarkan secara jelas bagaimana

peluang dan ancaman dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Matriks ini dapat menghasilkan empat sel kemungkinan alternatif strategi yang dijelasan pada Gambar 4. Tahap analisis dilakukan setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan industri ikan tuna melalui proses identifikasi terhadap peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan. Menurut David (2006), terdapat delapan tahapan dalam membentuk matriks SWOT adalah sebagai berikut: 1) Menentukan faktor-faktor peluang organisasi atau perusahaan. 2) Menentukan faktor -faktor ancaman organisasi atau perusahaan 3) Menentukan faktor faktor kekuatan organisasi atau perusahaan. 4) Menentukan faktor -faktor kelemahan organisasi atau perusahaan. 5) Menyesuaikan

kekuatan

internal

dengan

peluang

eksternal

untuk

mendapatkan strategi SO. Alternatif strategi yang terdapat dalam strategi SO bersifat agresif yaitu memaksimalkan kekuatan yang dimiliki untuk memanfaatkan peluang yang ada.

Strategi ini direkomendasikan agar

perusahaan dapat bersaing dalam suatu industri yang sedang tumbuh dan diharapkan terus tumbuh cukup tinggi. 6) Menyesuaikan

kelemahan

internal

dengan

peluang

eksternal

untuk

mendapatkan strategi WO. Alternatif strategi yang terdapat dalam strategi WO bersifat intensif yaitu strategi yang memanfaatkan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang dimiliki. 7) Menyesuaikan

kekuatan

internal

dengan

ancaman

eksternal

untuk

mendapatkan strategi ST. Alternatif strategi yang terdapat dalam strategi ST

bersifat diversifikasi yaitu strategi yang memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk menghadapi ancaman. 8) Menyesuaikan kelemahan internal dengan ancaman eksternal untuk mendapatkan strategi WT. Alternatif strategi yang terdapat dalam strategi WT bersifat defensive yaitu strategi yang dilakukan untuk mengatasi ancaman yang ada dan kelemahan yang dimiliki. INTERNAL EKSTERNAL Opportunities (O) Menentukan 5-10 faktor peluang eksternal Threaths (T) Menentukan 5-10 ancaman eksternal

faktor

Gambar 4. Matriks SWOT Sumber : David (2006)

Strenghts (S) Menentukan 5-10 kekuatan internal Strategi SO Menciptakan strategi menggunakan kekuatan memanfaatkan peluang Strategi ST Menciptakan strategi menggunakan kekuatan mengatasi ancaman

faktor yang untuk yang untuk

Weaknesses (W) Menentukan 5-10 faktor kelemahan internal Strategi WO Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang Strategi WT Menciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman

V. GAMBARAN UMUM INDUSTRI IKAN TUNA 5.1. Perikanan Dunia Perikanan sebagai salah satu sektor usaha yang dilakukan banyak negara yang dikelilingi oleh lautan maupun ada yang memanfaatkan perairan darat seperti tambak, danau, dan sungai.

Hasil perikanan dunia ini terdiri dari

perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Tabel 7 Memperlihatkan negaranegara produsen perikanan terbesar di dunia. Tabel 7. Negara Produsen Perikanan Terbesar di Dunia Tahun 2002-2006 (metric tons) No

Negara

2006 1 China 51.521.268 2 Peru 7.045.884 3 India 6.978.602 4 Indonesia 6.051.979 5 USA 5.324.933 6 Chille 4.970.871 7 Japan 4.920.871 8 Thailand 4.162.096 9 Viet Nam 3.617.627 10 Rusia 3.389.651 11 Norway 2.964.293 12 Philipines 2.942.353 13 Myanmar 2.581.780 14 Bangladesh 2.328.545 15 Korea Rep.of 2.263.497 16 Malaysia 1.464.652 17 Mexico 1.458.642 18 Iceland 1.335.304 19 Spain 1.242.802 20 Canada 1.233.971 21 Other 24.024.218 141.823.839 TOTAL Sumber: UN Comtrade 2008

2005 49.468.714 9.414.818 6.653.340 5.893.086 5.385.318 5.026.860 4.836.042 4.118.483 3.367.200 3.312.317 3.054.799 2.803.185 2.217.470 2.215.957 2.075.640 1.390.017 1.437.934 1.672.913 1.065.899 1.257.752 24.529.567 141.197.311

Tahun 2004 47.507.761 9.626.642 6.185.645 5.688.994 5.566.375 5.586.846 5.088.240 4.099.595 3.078.105 3.051.335 3.161.266 2.723.367 1.986.960 2.102.026 1.981.221 1.507.034 1.363.327 1.742.570 1.101.353 1.321.230 24.534.619 139.004.511

2003 5.641.852 6.099.680 6.025.120 5.623.808 5.483.285 4.176.960 5.494.325 3.914.133 2.793.607 3.390.132 3.097.398 2.625.427 1.595.870 1.998.197 2.030.939 1.454.244 1.441.666 1.992.753 1.163.266 1.261.260 24.096.078 131.400.000

2002 44.320.395 8.776.715 5.923.792 5.236.835 5.434.651 4.821.720 5.187.379 3.779.124 2.505.639 3.333.612 3.291.641 2.473.568 1.474.460 1.890.459 1.968.413 1.440.674 1.524.394 2.138.131 1.145.628 1.233.612 25.024.097 132.924.939

Tabel 7. Menunjukkan Indonesia berada pada urutan keempat dengan hasil perikanan sebesar 6,1 juta pada tahun 2006. China menempati urutan teratas dengan hasil perikanan sebesar 51,5 juta, Peru diurutan kedua sebesar 7,1 juta, dan India diurutan ketiga sebesar tujuh juta. 5.2. Perikanan Indonesia Perikanan di Indonesia dibagi menjadi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Produksi perikanan tangkap berasal dari penangkapan di laut dan

penangkapan di perairan umum.

Pada periode tahun 1997-2007, volume

produksi perikanan tangkap meningkap rata-rata sebesar 2,59 persen per tahun. Volume produksi perikanan tangkap di laut pada periode tersebut meningkat ratarata sebesar 2,77 persen per tahun, yaitu 3.612.961 ton pada tahun 1997 menjai 4.734.280 ton pada tahun 2007. Volume produksi perikanan tangkap di perairan umum juga meningkat rata-rata sebesar 0,40 persen per tahun yaitu 304.258 ton pada tahun 1997 menjadi 210.457 ton pada tahun 2007 (DKP 2008). 5.2.1. Produksi Tuna Indonesia Indonesia memiliki potensi yang baik sebagai negara produsen tuna. Posisi Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa menguntungkan untuk produksi tuna Indonesia, hal ini dikarenakan sebagai berikut (DKP 2005): i)

Adanya massa air barat dan timur yang melintas di Samudera Hindia dengan membawa partikel dan kaya akan makanan biota laut.

ii) Adanya arus Kuroshio yaitu North Equatorial dan South Equatorial Current di Samudera Pasifik merupakan wilayah yang kaya dengan bahan makanan serta mempunyai suhu, salinitas, dan beberapa faktor oseanografis yang disukai oleh ikan tuna. iii) Wilayah periaran nusantara merupkan tempat berpijah atau kawin berbagai jenis ikan termasuk ikan tuna, terutama di perairan Selat Makassar dan Laut Banda. Ikan tuna dalam statitik perikanan Indonesia dikategorikan menjadi tuna, cakalang, dan tongkol.

Tuna digunakan sebagai nama grup dari beberapa jenis

ikan yang terdiri dari jenis tuna besar (Thunnus.spp) yang terdiri dari yellowfin tuna, bigeye tuna, southern bluefin tuna, dan albacore.

Cakalang umumnya

dikategorikan untuk jenis skipjack tuna, sedangkan tongkol umumnya digunakan untuk jenis eastern little tuna, frigate, bullet tuna, dan longtail tuna. Pada periode 1997-2007 volume produksi ikan tongkol, tuna, dan cakalang mengalami peningkatan masing-masing sebesar 6,85; 6,57; dan 5,24 persen (DKP 2008). Pada Tabel 8 menunjukkan dari tahun 1997 hingga tahun 2000 terus mengalami peningkatan, namun pada tahun 2000 hingga tahun 2001 mengalami penurunan sebesar 8,25 persen. Pada tahun 2002 hingga tahun 2007 produksi ikan tuna mengalami kenaikan lagi, walaupun kenaikannya fluktuatif. Penurunan

dan kenaikan yang fluktuatif pada produksi ikan tuna di pengaruhi baik oleh faktor alam maupun perekonomian di Indonesia. Penyebab penurunan produksi karena semakin berkurangnya penggunaan kapal penangkapan yang berukuran >200 GT, padahal jenis kapal ini mampu untuk beroperasi di perairan ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif). Hal ini menyebabkan potensi ikan tuna di wilayah perairan ZEE belum dimanfaatkan secara optimal. Penyebab berkurangnya penggunaan kapal tersebut terkait dengan peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Tabel 8. Produksi Ikan Tuna Indonesia Tahun 1997-2007 (ton) Tahun 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Tuna 116.214 168.122 136.474 163.241 153.110 148.439 151.926 176.996 183.144 159.404 191.558

Jenis Cakalang 187.206 227.068 244.847 236.275 214.077 203.102 208.626 233.319 252.232 277.388 301.531

Tongkol 212.511 236.673 236.111 250.522 233.051 266.955 267.339 310.393 309.776 329.115 399.347

Total 565.931 631.863 617.432 650.038 600.238 618.496 627.891 720.708 745.152 765.907 892.436

Kenaikan (%) 10,44 41,4 5,02 -8,25 2,95 1,50 12,88 3,28 2,71 14,18

Sumber: DKP 2007

5.2.2. Ekspor Ikan Tuna Indonesia Ekspor ikan tuna di Indonesia terbagi menjadi dua kelompok pengusahaan ikan tuna, yaitu pabrik pengelolaan ikan tuna tanpa merubah bentuk yang menghasilkan produk ikan tuna segar dan ikan tuna beku serta kelompok kedua yaitu agroindustri tuna yang mengolah baik merubah struktur dan bentuk dengan bahan baku ikan tuna, yang termasuk kelompok ini adalah industri pengalengan. Ekspor ikan tuna Indonesia baik dalam bentuk segar,beku dan olahan mengalami fluktuatif peningkatan volume ekspor bahkan menunjukkan penurunan volume produksi ekspor. Hal ini dikarenakan oleh beberapa hal : 1) Adanya krisis ekonomi pada tahun 1998-2002 yang berdampak pada naiknya harga BBM, sehingga unit penangkapan kapal berkurang. 2) Adanya berbagai hambatan tarif dan non tarif yang diberlakukan oleh negaranegara tujuan ekspor yang mengakibatkan banyak produk yang ditolak.

3) Belum maksimalnya kinerja ekspor para ekportir ikan tuna di Indonesia. Hal ini terkait dengan keterbatasan modal dan teknologi yang dimiliki. Berikut ini perkembangan ekspor ikan tuna berdasarkan bentuk yang diperdagangkan: 1) Ekspor Ikan Tuna Segar Ikan tuna dalam bentuk segar mengalami penurunan volume ekspor pada tahun 1998 hingga tahun 1999 yaitu sebesar 10,74 persen. Pada tahun 1999 hingga tahun 2001 volume ekpor ikan tuna segar mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar sebelas persen. Pada tahun 2001 hingga tahun 2004 ekspor perikanan Indonesia mengalami penurunan kembali dengan rata-rata penurunan sebesar 2,26 persen.. Namun, pada tahun 2004 hingga tahun 2005 volume ekspor kembali peningkat sebesar 15,8 persen, tetapi pada tahun 2005 hingga tahun 2007 kembali mengalami penurunan dengan rata-rata sebesar 16,74 persen (Tabel 9). Tabel 9. Perkembangan Ekspor Ikan Tuna Segar Tahun 1998-2007 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Nilai Ekspor (US $)

Tingkat Pertumbuhan (%)

51.404.759 75.433.445 104.370.266 90.643.482 90.506.779 81.514.715 104.698.879 93.737.522 87.845.012 88.277.193

0 46,74 38,3 -13,15 -0,15 -9,94 28,44 -10,47 -6,29 0,49

Volume Ekspor (Kg) 25.065.157 22.372.031 23.951.776 27.520.542 27.233.515 26.660.233 25.690.599 29.749.778 24.770.938 14.183.402

Tingkat Pertumbuhan (%) 0 -10,74 7,06 14,90 -1,04 -2,11 -3,64 15,80 -16,74 -42,74

Sumber: UN Comtrade 2008

2) Ekspor Ikan Tuna Beku Tabel 10 Menunjukkan bahwa pada tahun1998 hingga tahun 2001 volume ekspor ikan tuna beku mengalami penurunan rata-rata sebesar 24,11 persen, dan pada tahun 2001 ke tahun 2002 mengalami kenaikan yang cukup besar hingga mencapai 238,08 persen karena pada saat yang bersamaan volume ekspor ikan tuna bentuk segar mengalami penurunan sebesar 1,04 persen karena banyak hasil penangkapan diekspor dalam bentuk beku. Namun, pada tahun 2002 ke tahun 2003 dan tahun 2004 ke tahun 2005 mengalami

penurunan kembali masing-masinng sebesar 44,45dan 80,42 persen. Pada tahun 2003 ke tahun 2004 dan tahun 2005 hingga tahun 2007 kembali mengalami peningkatan volume ekspor. Tabel 10. Perkembangan Ekspor Ikan Tuna Beku Tahun 1998-2007 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Nilai Ekspor (US $) 22.974.654 19.555.289 25.510.940 38.070.307 28.716.857 21.528.712 11.237.366 18.818.588 25.052.082 43.645.640

Tingkat Pertumbuhan (%) 0 -14,88 30,46 49,23 -24,57 -25,03 -47,80 67,46 33,12 74,22

Volume Ekspor (Kg) 23.161.720 13.087.928 10.205.547 9.507.431 32.142.257 17.854.794 48.622.314 9.521.412 11.360.955 11.983.588

Tingkat Pertumbuhan (%) 0 -43,49 -22,02 -6,84 238,08 -44,45 172,32 -80,42 19,32 5,48

Sumber: UN Comtrade 2008

3)

Ekspor Ikan Tuna Olahan Tabel 11. Memperlihatkan bahwa ekspor ikan tuna olahan pun mengalami fluktuatif seperti halnya ikan tuna segar dan beku. Pada tahun 1998 hingga tahun 1999 mengalami penurunan sebesar 10,18 persen dan tahun 1999 ke 2000 mengalami peningkatan sebesar 7,79 persen.

Kemudian menurun

kembali dari tahun 2001 hingga tahun 2004 dengan rata-rata penurunan sebesar 8,55 persen.

Tahun 2005 ekspor ikan tuna olahan

mengalami

peningkatan kembali, lalu turun pada tahun 2006 dan naik kembali pada tahun 2007. Tabel 11. Perkembangan Ekspor Ikan Tuna Olahan tahun 1998-2007 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Nilai Ekspor (US $) 104.167.912 82.499.839 87.832.633 84.132.896 86.048.521 101.241.561 118.449.189 128.635.721 129.790.247 151.941.915

Tingkat Pertumbuhan (%) 0 -20,80 6,46 -4,21 2,28 17,66 17,00 8,60 0,90 17,07

Sumber: UN Comtrade 2008

Volume Ekspor (Kg) 52.430.117 47.092.012 50.758.758 48.346.836 46.845.915 38.345.650 35.205.624 44.732.106 36.264.489 39.940.104

Tingkat Pertumbuhan (%) 0 -10,18% 7,79 -4,75 -3,10 -18,15 -8,19 27,06 -18,93 10,14

5.3. Prosedur Ekspor Kegiatan ekspor yang dilakukan oleh suatu negara berguna untuk menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan devisa yang digunakan untuk membayar berbagai produk yang dibeli dari luar negeri (impor) karena negara tersebut saat ini belum mampu untuk memproduksi produk tersebut. Hal tersebut dapat dikarenakan kurangnya sumberdaya alam, manusia, modal, dan teknologi maju yang tidak tersedia atau belum memadai. Proses kegiatan ekspor secara umum seperti dibawah ini (Gambar 5). Keterangan Gambar 5 adalah sebagai berikut: 1) Eksportir menerima pesanan dari langganan di luar negeri (B-A) 2) Bank memberitahukan telah dibukanya suatu L/C (letter of credit) untuk dan atas nama eksportir (H–A) 3) Eksportir menempatkan pesanan kepada leveransir/ maker pemilik barang/ produsen (A–C) 4) Eksportir menyelenggarakan pengepakan barang khusus untuk dieskpor (seaworthy packing) (A) 5) Eksportir memesan ruangan kapal (booking) dan mengeluarkan shipping order pada maskapai pelayaran (A-D) 6) Eksportir menyelesaikan semua formulir ekspor dengan semua instansi ekspor yang berwenang (A-E) 7) Eksportir menyelenggarakan pemuatan barang ke atas kapal, dengan atau tanpa mempergunakan perusahaan ekspedisi (A-D) 8) Eksportir mengurus Bill of lading dengan maskapai pelayaran(A-D) 9) Eksportir menutup asuransi dengan maskapai asuransi(A-F) 10) Menyiapkan faktur dan dokumen-dokumen pengapalan lainnya(A) 11) Mengurus Consular-Invoice dengan Trade Councelor Kedutaan Negara Importir (A-G) 12) Menarik wesel kepada importir dan menerima hasilnya dari bank dalam negeri (A-H) 13) Bank dalam negeri mengirim shipping document kepada bank luar negeri (HI)

14) Eksportir mengirimkan shipping advice dan fotokopi shipping document kepada importir (A-B) Bank Luar

Importir / Buyer 4

B

Negeri

2

I

1

Luar Negeri

14

Dalam Negeri Produsen

13 2

Eksportir / Seller

3

4

A

Bank Dalam, Negeri

10

12

C 5 6

7

H

9

11

8 Pelayaran D

Instansi Ekspor E

Asuransi

Kedutaan Asing

F

G

Gambar 5. Prosedur Kegiatan Ekspor Secara Umum Sumber: Amir (1996)

Jalur tataniaga ikan tuna untuk tujuan ekspor (Gambar 6) dimulai dari penangkapan ikan tuna yang dilakukan oleh para nelayan, yang kemudian dikumpulkan oleh para pedagang pengumpul atau perusahaan inti.

Para

perusahaan inti inilah yang kemudian menyalurkan ikan tuna tersebut kepada eksportir untuk dikirimkan kepada importir. Perusahaan inti selain menyalurkan ke eksportir, terkadang perusahaan inti langsung menyalurkan ke importir tanpa perantara eksportir. Nelayan/

Pedagang

Produsen

Perusahaan Inti

Gambar 6. Tataniaga Ikan Tuna Sumber: Suseno 2007

Pengumpul

/

Eksportir

Importir

5.4. Ketentuan Negara Tujuan Ekspor Ikan Tuna Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor ikan tuna Indonesia seperti yang telah dijelaskan pada bagian pendahuluan lebih di fokuskan kepada Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Walaupun Indonesia tetap melakukan ekspor ikan tuna ke negara Thailand, Singapura dan Vietnam dalam jumlah yang cukup besar, tetapi ketiga negara tersebut tidak memasang peraturan yang memberatkan ekspor Indonesia.

Berikut ini karakteristik pasar tujuan utama ekspor ikan tuna

Indonesia: 1) Amerika Serikat Pengawasan untuk bahan makanan termasuk produk perikanan di Amerika Serikat ditangani oleh Food and Drugs (FDA) yang berada dibawah nanungan Departemen Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat. FDA bertugas untuk membuat peraturan yang melindungi konsumen dan menjaga keamanan pangan. Peraturan utama dalam pengawasan bahan pangan di Amerika Serikat tercantum dalam Federal Food, Drugs, and Cosmetic Act yang didalamnya berisi peraturan berikut yang penting dalam ekspor ikan tuna mengenani bahan yang rusak, label yang tidak sesuai dengan bahan yang terkandung, batas bahan makanan tambahan, batas maksimal residu kimia, sistem eksporimpor, dan cara pendaftaran unit pengolahan. Regulasi lain yang terkait dengan perdagangan ikan tuna terdapat pada Code of Federal Regulation (CFR) 123 tentang ikan dan produk berbahan dasar ikan.

Regulasi ini menjelaskan lebih rinci tentang produk perikanan,

penerapan analisis bahaya di dalam proses pengolahan, dan penerapan HACCP yang harus dilakukan oleh pengolah. Amerika Serikat kemudian mengeluarkan regulasi baru terkait dengan adanya peristiwa 11 September yang berguna untuk mencegah bahaya bioterorisme yaitu The Bioterorism ACT (TBA). Regulasi ini juga berpengaruh terhadap perdagangan ikan tuna karena Amerika Serikat menentapkan peraturan baru tentang registrasi pengolahan pangan, pemberitahuan sebelum impor, dan pembuatan rekaman proses pengolahan.

2) Uni Eropa Uni Eropa merupakan gabungang dari negara-negara Eropa yang dibentuk oleh Belanda, Belgia, Jerman, Luxembourg, dan Perancis. Uni Eropa saat ini merupakan gabungan dari 26 negara dan memiliki mata uang Euro. Institusi yang bertanggung jawab mengatur peraturan-peraturan yang berlaku termasuk didalamnya untuk perdagangan ikan tuna adalah European Comission (EC). Beberapa regulasi yang terkait dengan perdagangan ikan tuna adalah: a)

EC No.178/2002 tentang persyaratan utama undang-undang pangan serta prosedur keamanan pangan.

Undang-undang ini mengatur kegiatan

ekspor impor pangan manusia dan hewan. b) EC No. 882/2004 tentang pengawasan oleh pemerintah. Undang-undang ini menjelaskan pengawasan yang akan dilakukan oleh Competent Authority yang ditunjuk oleh EC utntuk mengawasi pangan. c)

EC No. 852/2004 tentang keamanan bahan pangan. Undang-undang ini terkait dengan pelaksanaan HACCP dan good practice.

d) EC No.853/2004 tentang peraturan khusus untuk keamanan bahan baku. Undang-undang ini menekankan pada keamanan bahan baku yang digunakan mulai dari penangkapan hingga proses pengolahan. e)

EC No. 854/2004 tentang badan pengawasan keamanan asal bahan pangan.

Undang-undang ini membahas tentang badan pengawas

keamanan pangan baik di Uni Eropa dan negara importir termasuk mekasnisme impor. f)

EC No. 466/2001 tentang batas maksimum kontaminasi bahan pangan. Undang-undang ini terkait dengan kandungan maksimum yang diijinkan termasuk seperti logam berat.

g) EC No. 2073/2005 tentang kriteria mikrobiologi bagi bahan pangan. Undang-undang ini memuat tentang syarat pelabelan. 3) Jepang Pengawasan keamanan pangan di Jepang dilakukan oleh Departemen Kesehatan, Buruh, dan Kesejateraan. Undang-undang yang mengatur tentang pangan diatur dalam Food Sanitation Law (FSL) dan Japan Agricultural

Standard (JAS). Peraturan ini dibuat untuk perdagangan dan pengawasan pangan agar kesehatan konsumen dapat terjaga. Undang-undang ini berlaku untuk setiap produsen, penyalur dan importir tuna di Jepang. Undang-undang ini berisi tentang peraturan pangan dan bahan tambahan makanan, unit pengolahan dan bahan pengemas, pelabelan, dan pemeriksaan bahan yang belum tersertifikasi. 5.5. Pengawasan Mutu Ikan Tuna Aspek mutu dalam perdagangan ikan tuna sangat berpengaruh besar dalam kegiatan ekspor dan impor. Tingginya permintaan ikan tuna diikuti pula dengan semakin diperhatikannya mutu dan kesehatan ikan tuna yang dikirim. Aspek mutu seringkali menjadi masalah dalam kegiatan ekspor baik ikan tuna maupun produk lainnya.

Aspek mutu yang seringkali menjadi masalah yaitu adanya

kandungan histamine dan logam berat yang ditemukan dalam ikan tuna yang diekspor. Berikut penjelasan mengenai kedua aspek mutu tersebut: 1) Histamin Histamin merupakan senyawa turunan dari asam amino histidin yang banyak terdapat pada ikan terutama pada ikan famili Scombroidae seperti tuna. Asam amino ini merupakan salah satu dari sepuluh asam amino esensial yang dibutuhkan oleh anak-anak dan bayi tetapi bukan asam amino esensial bagi orang dewasa. Kadar histamin yang tinggi pada ikan menandakkan bahwa adanya kemunduran mutu dan berpotensi menimbulkan racun berbahaya jika dikonsumsi. Histamin memiliki efek psikoaktif dan vasoaktif. Efek psikoaktif menyerang sistem saraf transmiter manusia, sedangkan efek vasoaktif-nya menyerang sistem vaskular. ada orang-orang yang peka, histamin dapat menyebabkan migren dan meningkatkan tekanan darah.24 Kadar histamin yang ada dalam ikan membuat negara tujuan ekspor memberlakukan syarat terhadap ambang batas histamin. Kadar histamine yang diperbolehkan dalam ikan tuna berbeda untuk negara tujuan ekspor, namun ada beberapa negara juga yang tidak memberlakukan syarat. Negara 24

Sumber: Anonim. 2008. Waspadai Histamin Pada Ikan Laut. http://www.conectique.com/tips_solution/diet_nutrition/nutrition/article.php?article_id=6173. Diakses tanggal 28 Oktober 2009.

tujuan ekspor utama yaitu Amerika Serikat dan Uni Eropa memberlakukan syarat untuk histamine yang boleh dikandung dalam ikan tuna. Amerika Serikat menerapkan batas maksimum 50mg/kg daging, Uni Eropa tidak memperbolehkan satu contohpun yang mengandung histamin lebih dari 20mg/100g daging. 2) Logam Berat Logam berat (heavy metal) adalah logam dengan massa jenis lima atau lebih, dengan nomor atom 22 sampai dengan 92. Logam berat dianggap berbahaya bagi kesehatan bila terakumulasi secara berlebihan di dalam tubuh. Beberapa diantaranya bersifat membangkitkan kanker (karsinogen).

Hal ini

menyebabkan bahan pangan dengan kandungan logam berat tinggi dianggap tidak layak konsumsi25. Logam berat yang paling berbahaya adalah merkuri atau air raksa (Hg) dan cadmium (Cd), kemudian diikuti oleh perak (Ag), nikel (Ni), timbal atau arsen (Pb), kromium (Cr), timah (Sn), dan seng (Zn). Logam berat yang menjadi aspek penting dalam penetapan mutu ikan tuna adalah merkuri dan kadmium, walaupun semua jenis logam berat lainnya juga ditetapkan syarat tertentu untuk dapat dikonsumsi. Merkuri di dalam laut akan mengendap lalu akan membentuk ikatan HgCl dengan unsur kimia klor, lalu akhirnya termakan oleh plankton yang merupakan salah satu makanan biota laut termasuk ikan tuna. Merkuri berbahaya jika dikonsumsi karena dapat berakibat : kerusakan motorik, abnormalitas sensorik, kemunduran psikologik dan perilaku, kemunduran neurologik dan koknitif, kelainan bicara, pendengaran, kemunduran penglihatan dan kelainan kulit serta gangguan reflek (Vroom dan Greer 1972 diacu dalam Sudarmaji, dkk 2006). Merkuri yang terendap dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan gagal otak hingga kematian dan berbahaya bagi ibu hamil karena janinnya dapat mengalami kematian. Lembaga nasional dan internasional telah menetapkan standar terkait adanya bahaya pada merkuri.

Batas maksimum merkuri dalam ikan dan hasil

olahannya yang ditetapkan BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) 25

Sumber: Anonim. 2009. Logam. http://id.wikipedia.org/wiki/Logam. Diakses tanggal 28 Oktober 2009.

adalah 0,5 mg/kg, standar ini sama dengan yang ditetapkan oleh FAO (Food A Organization). Uni Eropa menetapkan standar merkuri untuk non predator fish 0,5 mg/kg dan untuk predator fish (termasuk ikan tuna) 1 mg/kg. Amerika Serikat melalui FDA (Food and Drugs Administration) menetepkan batas maksimum I mg/kg (BPOM 2004; FAO 2004) Kadnium terutama dalam bentuk oksida adalah logam yang toksisitasnya tinggi.

Sebagian besar kontaminasi oleh kadnium pada manusia melalui

makanan dan rokok.

Keracunan kadmium akan menyebabkan gejala mual,

muntah, diare, kram otot, anemia, dermatitis, pertumbuhan lambat, kerusakan ginjal dan hati, gangguan kardiovaskuler, empisema, dan degenari testicular (Ragan dan Mast 1990 diacu dalam Sudarmaji, dkk 2006). Perkiraan dosis mematikan akut adalah sekitar 500mg/kg untuk dewasa dan efek dosis akan Nampak jika terabsorbsi 0,043 mg/kg per hari (Ware 1989 diacu dalam Sudarmaji, dkk 2006). Batas maksimum kadmium dalam ikan dan hasil olahannya yang ditetapkan oleh BPOM adalah 1 mg/kg, standar ini sama dengan yang ditetapkan oleh Codex Alimentarius Standard. FAO menetepkan standar batas pemasukan cadmium 57-71 µg per hari dan perminggu sebesar 400-500 µg per 70 gr berat badan (BPOM 2004; FAO 2004). Isu tentang keamanan pangan dan adanya ketentuan undang-undang makanan yang diberlakukan oleh negara tujuan ekspor ini menuntut Negara Indonesia untuk melakukan pengawasan terhadap mutu ikan tuna yang akan diekspor. Hal ini perlu dilakukan untuk meminimalisir kasus penolakan ikan tuna. Oleh karena itu negara Indonesia mengembangkan Program Manajemen Mutu Terpadu yang mengacu kepada HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Standar mutu ini diusulkan oleh FDA dan telah efektif sejak 1 Juli 1996.

Negara Indonesia juga telah membentuk Badan Standarisasi

Nasional (BSN) yang mengurus tentang Standar Nasional Indonesia (SNI). Standarisasi ini perlu dilakukan untuk tujuan melindungi produsen, konsumen, tenaga kerja dan masyarakat dari aspek keamanan, keselamatan, kesehatan serta pelestarian fungsi lingkungan, pengaturan standardisasi secara nasional ini dilakukan dalam rangka membangun sistem nasional yang

mampu mendorong dan meningkatkan, menjamin mutu barang dan atau atau jasa serta mampu memfasilitasi masuknya produk nasional dalam transaksi pasar global. Sistem dan kondisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk barang dan atau atau jasa Negara Indonesia di pasar global.26

Stadarisasi yang telah dilakukan untuk ikan tuna Indonesia

tercantum pada Lampiran 3. 5.6. Konsep Nilai Tukar Nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara tujuan ekspor dapat dipengaruhi oleh kondisi perekonomian baik dalam negeri dan luar negeri. Perdagangan ikan tuna di pasar internasional menggunakan mata uang US $, untuk perhitungan nilai tukar yang digunakan untuk setiap negara tujuan ekspor utama (Yen, Dollar Hongkong (HKD, New Taiwan Dollar (NTD), Baht, SGD, Vietnam New Dollar (VND), Australia Dollar (AUD), US $, dan Euro) diperoleh dengan menggunakan rumus:

Tabel 12. Nilai Tukar Rupiah Terhadap Mata Uaang Negara Tujuan Ekspor Utama Tahun 1998-2007 Tahun

Yen HKD NTD 1998 61,30 1.036 239,95 1999 62,34 914 220,04 2000 89,00 1.230 307,28 2001 84,38 1.333 303,43 2002 77,17 1.146 279,83 2003 76,94 1.090 252,33 2004 84,34 1.195 264,65 2005 86,91 1.303 301,92 2006 78,60 1.160 279,06 2007 77,31 1.208 289,97 Sumber: Bank Indonesia 2007

26

Bath 219 189 222 230 221 210 225 241 241 283

SGD 4.834 4.252 5.546 2.945 5.395 5.057 5.317 5.835 5.770 6.567

VND 0,68 0,51 0,62 0,67 0,64 0,56 0,57 0,61 0,57 0,57

AUD 4.923 4.622 5.318 5.375 5.163 5.681 6.779 7.214 6.848 7.729

USD 8.025 7.100 9.595 10.256 9.675 8.685 8.845 9.712 9.165 9.139

Sumber: [BSN]. Badan Standarisasi Nasional. 2009. http://www.bsn.go.id/bsn/profile.php. Diakses tanggal 28 oktober 2009.

EURO 8.387 7.732 9.175 9.321 9.986 11.565 12,067 11.512 12.524

Pada tahun 1998 nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar AS mengalami penurunan karena terjadinya krisis ekonomi. Puncaknya pada tahun 2000 nilai rupiah terus melememah hingga Rp.10.256/US $. Negara Belanda dan Belgia awalnya memakai mata uang Deutsche mark dan Franc, namun sejak tahun 1998 bergabung ke dalam persatuan Uni Eropa sehingga mata uang yang dipakai oleh kedua negara tersebut menjadi Euro. Nilai Tukar Rupiah terhadap mata uang negara tujuan ekspor utama ikan dijelaskan pada Tabel 12.

5.7. Teknologi Penangkapan Ikan Tuna Ikan merupakan jenis pangan yang cepat membusuk, karena kadar air yang tinggi dalam komposisi tubuhnya. Kualitas mutu dan kesegaran ikan harus dijaga sejak ikan mulai ditangkap dan dipasarkan. Penanganan ikan dilakukan untuk mempertahankan kesegaran dan mutu ikan sehingga ikan masih memenuhhi standar untuk bisa di ekspor dan dikonsumsi dengan cara menghambat terjadinya pembusukan ikan. Proses penanganan ikan tuna mulai dari penangkapan hingga di dermaga adalah sebagai berikut: 1) Penanganan ikan tuna di atas kapal a)Usahakan ikan tuna tetap dalam keadaan hidup dan tidak terlalu banyak berontak ketika ditarik ke kapal. Ikan yang banyak memberontak akan mengalami stress dan cepat mengalami rigor mortis. Ikan tuna yang telah ditangkap diangkat ke kapal dengan papan luncur dari tepi kapal atau umumnya kapal dibuat cekung sehingga ikan akan meluncur sendiri saat ditarik ke atas kapal. b) Ikan yang masih memberontak harus ditenangkan dengan menutup atau menekan mata ikan dengan telapak tangan dan diselimuti dengan karung goni basah.

Ikan kemudian dipingsankan dengan memukul kepalanya

dengan menggunakan palu berkepala karet. c)Ikan yang telah pingsan dimatikan dengan cara menusuk pusat saraf (otak) dari belakang mata menggunakan paku pembunuh (killing spike). Paku pembunuh ini ditancapkan ke pusat saraf sedalam 5-10 cm, kemudian diputar-putar untuk merusak otak.

d) Pisau ditusukkan tepat dibelakang siri dada (pectoral fin) dengan rapi serta tidak boleh ada sisa sirip atau duri yang tersisa dilantai, sebab dapat melukai ikan lain yang berdampka pada penurunan kualitas kemiringan sekitar 450 sedalam 5-10 cm, disusul pemotongan urat nadi tulang belakang bagian ekor. e)Sirip perut kemudian dipotong dengan posisi ikan terlentang dan sirip perut dipotong sedekat mungkin ked aging, namun tidak boleh sampai menyentuh dagingnya. f) Isi perut dikeluarkan dengan cara pemotongaan dengan pisau mulai dari bagian bekas sirip perut kea rah dubur dan isi perut tidak boleh tersayat. Isi perut dikeluarkan dengan memotong ujung usus pada dubur dan ikan dibalik agar sisa darah keluar. Proses ini harus dilakukan dengan hati-hati danikan lainnya. g) Penutup insang dibuka untuk memutuskan isthimus joint (sambungan antara dua insang dan badan yang terletak di bagian bawah ikan) dan selaput insang bagian bawah kemudian dipotong denga pisau. h) Sirip dada dipotong sedekat mungkin dengan daging dan saat penarikan tidak boleh terlalu kuat sebab dapat menyebabkan lubang pada daging. i) Penutup insang dipotong dengan cara menyayat dari arah bawah perut menggunakan pisau gergaji dan diikuti dengan pemotongan insang bagian depan sehingga insang dapat dikeluarkan. j) Ikan dicuci dengan sikat halus dan air dingin untuk membersihkan rongga perut, rongga insang, dan permukaan badan. k) Jika ikan dipesan tanpa kepala dan ekor, maka kepala dipotong dengan kapak khusus dan ekor dipotong dengan pisau gergaji. l) Ikan yang telah bersih dibawa ke ruang pendingin dengan suhu 00C selama tiga jam untuk dibekukan. Proses ini dilakukan jika kapal memiliki sarana pembekuan, jika tidak tersedia maka ikan akan langsung ditaruh dalam palka yang telah diisi es balok. m) Ikan yang telah beku diatur dalam palka pendingin denga rapi sehingga ikan tidak bersentuhan dengan dinding palka. Palka berisi es balok dan saat diatur usahakan ekor ikan mengarah ke lubang palka agar mudah

diangkut saat proses pembongkaran.

Ikan tuna disimpan berdasarkan

mutunya saat ditangkap. n) Sisa semua proses pemotongan dan pengeluaran perut ikan dikumpulkan dan tidak boleh dibuang ke laut. 2) Pembongkaran palka pendingin a)Pembongkaran ikan dari palka pendingin dapat dilakukan dengan menggunakan katrol dengan mengikat ekor ikan. Ikan dikelurkan dari palka sebaiknya dibungkus dengan kain pendingin (biasanya terbuat dari kain terpal atau karung tebal yang dalam keadaan basah dan dikaitkan pada mata katrol.

Lubang palka harus dilindungi dengan tenda agar

terhindar dari sinar matahari dan saat ikan dikeluarkan harus dijaga agar tidak bertabrakan dengan lubang palka yang mungkin dapat merusak kulit atau tubuh ikan. b) Ikan diturunkan dari kapal ke pelabuhan dengan papan luncur dan diberi tenda pelindung.

Permukaan papan peluncur harus halus dan dalam

keadaan basah oleh air yang terus mengalir dengan suhu sekitar 00C. Panjang papan luncur lebih dari 2,5 m, maka ikan harus dibungkus dengan plastik, kain atau karung tebal. 3) Pembongkaran ikan di darat atau pelabuhan a) Saat kapal sudah bersandar di pelabuhan, ikan yang sudah dikeluarkan dari palka keudian dipindahkan ke darat oleh petugas. Petugas yang diluar bertugas menerima ikan yang diluncurkan dari atas kapal. Ikan kemudian diletakkan di atas kereta dorong yang dipermukaannya telah dibasahi dengan air. Ikan tetap dilindngi dengan kain yang harus selalu dalam keadaan basah. b) Ikan yang diangkut tidak boleh saling menumpuk atau salaing bertumpang tindih dan pengangkutan ke pabrik harus dilakukan secepat mungkin untuk menghambat proses pembusukan

VI. ANALISIS DAYA SAING 6.1. Analisis Struktur Pasar Komoditas Ikan Tuna di Pasar Internasional Struktur pasar komoditas ikan tuna di pasar internasional dan penguasaan pangsa pasar masing-masing negara produsen sekaligus ekspotir komoditas ikan tuna dapat diukur dengan menggunakan rumus HI dan CR. Nilai perhitungan HI dan CR ikan tuna dibagi menurut bentuk produk yang diperdagangkan yaitu segar (fresh or chilled), beku (frozen), dan olahan (preserved) hasil tersebut ditampilkan pada Tabel 13. Tabel 13. Nilai Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR) Negara Pengekspor Komoditas Ikan Tuna Tahun 1998-2007 Tahun 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Segar (Fresh or Chilled) Jumlah CR4 HI Eksportir (%) 36 875 46 37 1193 54 41 943 54 44 820 51 48 713 42 49 748 43 48 826 47 47 576 38 42 1026 53 41 719 42

Beku (Frozen) Jumlah CR4 HI Eksportir (%) 33 510 35 37 647 38 45 513 33 45 453 33 41 450 35 41 352 32 42 310 29 43 273 27 42 357 31 40 432 32

Olahan (Preserved) Jumlah CR4 HI Eksportir (%) 39 1810 63 40 1863 63 46 952 52 42 1473 62 46 1448 63 49 1407 60 49 1613 63 49 1863 65 48 1725 65 47 1894 65

Sumber : UN Comtrade 1998-2007, diolah

Berdasarkan hasil perihitungan yang diperoleh, nilai HI untuk komoditas ikan tuna segar dunia pada tahun 1998-2007 memiliki tingkat konsentrasi pasar rendah (Herfindahl Index berkisar antara 0-1000), tetapi pada tahun 1999 dan 2006 komoditas ikan tuna segar dunia memiliki tingkat konsentrasi pasar sedang (Herfindahl Index berkisar antara 1000-1800). Pasar komoditas ikan tuna segar dunia memunjukkan struktur pasar monopolistik dan cenderung ke oligopoli untuk tahun 1998-2007, hanya pada tahun 1999 dan 2006 sruktur pasar berubah menjadi

oligopoli.

Hal ini

dikarenakan nilai HI yang rendah berkisar antara 576 hingga 1193 dan banyaknya jumlah negara yang terlibat dalam pasar sangat banyak. Negara yang terlibat dalam kegiatan ekspor ikan tuna segar berkisar antara 36-49 negara, dimana tahun 1998 memiliki jumlah negara yang paling sedikit terlibat dalam ekspor ini

yaitu sebesar 38 negara dan yang tertinggi pada tahun 2003 sebanyak 51 negara. Sejak tahun 1998 hingga 2003 jumlah negara yang terlibat mengalami kenaikan dan sejak tahun 2004 hingga 2007 negara yang terlibat mengalami penurunan. Rasio

tingkat

konsentrasi

yang

ditunjukkan

dengan

nilai

CR4

memperlihatkan kecendrungan dimana empat negara produsen terbesar menguasai 38-54 persen pasar selama tahun 1998-2007. Hal ini memperlihatkan bahwa komoditas tersebut berada dalam pasar persaingan monopolistik (concentration ratio berkisar antara 0-50 persen), dan pada tahun 1999-2001 dan 2006 pasar menunjukkan dalam struktur pasar yang oligopoli dimana penguasaan pasar melebihi dar 50 persen. Selama periode 1998-2007 negara yang mendominasi dalam pasar adalah Australia, Spanyol, Indonesia, Ekuador, EU-27. Spanyol memiliki pangsa pasar tertinggi pada tahun 1998-2003 dan EU-27 pada tahun 2004-2007. Nilai HI dan CR4 menunjukkan bahwa komoditas ikan tuna segar berada dalam pasar monopolistik yang cenderung mengarah ke oligopoli. Hal ini berarti Indonesia masih memiliki kesempatan untuk menentukan harga, namun produk harus terdiferensiasi. Diferensiasi produk yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki mutu produk yang dihasilkan agar mampu bersaing dengan produsen lain. Nilai HI dan CR4 ini berarti Indonesia masih memiliki keunggulan untuk bersaing dengan produsen lainnya. Komoditas ikan tuna beku pada tahun 1998-2007 memiliki tingkat konsentrasi pasar rendah (Herfindahl Index berkisar antara 0-1000).

Pasar

komoditas ikan tuna beku dunia menunjukkan struktur pasar persaingan sempurna yang cenderung monopolistik. Hal ini terlihat dari nilai HI yang kecil berkisar antara 273 hingga 647 dan jumlah negara yang terlibat dalam pasar jumlahnya banyak. Negara yang terlibat dalam pasar komoditas ikan tuna beku pada tahun 1998-2007 antara 33-45 negara, dimana dari tahun 1998-2001 mengalami kenaikkan dan penurunan terjadi sejak tahun 2003-2007 mengalami fluktuasi jumlah negara yang terlibat. Rasio

tingkat

konsentrasi

yang

ditunjukkan

dengan

nilai

CR4

memperlihatkan kecendrungan dimana empat negara produsen terbesar menguasai 29-38 persen pasar selama tahun 1998-2007. Hal ini memperlihatkan bahwa

komoditas ikan tuna beku berada dalam struktur pasar persaingan sempurna yang cenderung monopolistik (concentration ratio berkisar antara 0-50 persen). Negara yang mendominasi pasar komoditas ikan tuna beku pada tahun 1998-2007 adalah Perancis, Spanyol, EU-27, Korea, Jepang, Panama, dan Australia yang saling bergantian menguasasi pasar komoditas tersebut. Negara Korea memiliki pangasa pasar terbesar disetiap tahunnya. Nilai HI dan CR4 menunjukkan bahwa komoditas ikan tuna beku berada dalam pasar monopolistik. Hal ini berarti Indonesia masih memiliki kesempatan untuk bersaing dalam pasar tersebut, namun produk yang dihasilkan harus memiliki keunggulan dibandingkan produk negara lain terutama negara penguasa pasar. Diferensiasi produk yang dapat dilakukan adalah dengan memperbaiki mutu produk yang dihasilkan agar mampu bersaing dengan produsen lain. Komoditas ikan tuna beku memiliki nilai HI berkisar antara 952 hingga 1894.

Komoditas ikan tuna olahan pada tahun 1998-1999, 2005, dan 2007

memiliki tingkat konsentrasi pasar tinggi.

Tahun 2000 memiliki tingkat

konsentrasi pasar rendah, dan pada tahun 2001-2004 dan 2006 memiliki tingkat konsentrasi pasar sedang. Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 1998-1999, 2005, dan 2007 komoditas tersebut berada dalam struktur pasar yang sedikit monopoli yang cenderung oligopoli. Tahun 2000 komoditas ini berada dalam struktur pasar monopoolistik yang mengarah ke oligopoli, dan pada tahun 20012004 dan 2006 berada dalam pasar oligopoli. Saat pasar berada dalam struktur monopoli yang cenderung oligopoli negara yang terlibat masih banyak, tetapi hanya beberapa negara yang mampu menguasai pasar. Jumlah negara yang terlibat dalam pasar komoditas ini berkisar antara 39-49 negara. Rasio tingkat konsentrasi yang ditunjukkan dengan CR4 memperlihatkan kecendrungan dimana empat negara produsen terbesar menguasai pasar lebih dari 60 persen selama tahun 1998-2007, kecuali pada tahun 2000 dimana CR4 hanya 52 persen. Hal ini memperlihatkan bahwa komoditas ikan tuna olahan berada dalam struktur pasar yang cenderung oligopoli. Negara yang mendominasi pasar komoditas ikan tuna olahan ini selama tahun 1998-2007 adalah Thailand, Spanyol, Perancis, Ekuador, Seychelles, Mauritus, dan Filipina.

Nilai HI dan CR4 menunjukkan bahwa komoditas ikan tuna olahan berada dalam pasar oligopoli. Indonesia tidak termasuk dalam negara yang menguasai pasar. Hal ini berarti Indonesia hanya berperan sebagai pengikut pasar dan tidak memiliki kesempatan untuk menentukan harga. Analisis struktur pasar komoditas ikan tuna baik untuk ikan tuna segar, beku, dan olahan berdasarkan nilai HI dan CR4 berada dalam pasar monopolistic yang cenderung mengarah ke oligopoli. Hal ini menyebabkan Indonesia masih memiliki potensi untuk tetap bersaing di pasar internasional dan dapat menetapkan harga, namun untuk mengatasi persaingan Indonesia harus melakukan diferensiasi produk. Pasar yang mengarah ke strukutr pasar oligopli harus diantisipasi dengan baik, sebab jika tidak Indonesia dalam pasar hanya akan berperan sebagai pengikut pasar tanpa kesempatan untuk menentukkan harga di pasaran. Posisi ini mengakibatkan Indonesia tidak dapat mengambil keputusan yang berkaitan dengan harga maupun produk, tanpa terlebih dahulu mengacu kepada keputusan pemimpin pasar. Namun, Indonesia masih memiliki peluang untuk tetap bersaing dalam pasar internasional karena untuk komoditas ikan tuna segar Indonesia masih termasuk negara yang memiliki penguasaan pasar yang cukup baik dan untuk ikan tuna beku dan olahan harus ditingkatkan ekspornya (besarnya ekspor dan market share ada pada Lampiran 4 sampai dengan 9). 6.2. Analisis Keunggulan Komparatif Komoditas Ikan Tuna Nasional Keunggulan komparatif komoditas ikan tuna Indonesia di pasar internasional diukur dengaan menggunakan Indeks Revealed Comparatif Advabtage (RCA). Indeks ini digunakan untuk membandingkan posisi daya saing Indonesia dengan negara produsen lainnya di pasar ikan tuna internasional. Semakin tinggi nilai Indeks RCA (lebih dari satu) menunjukkan bahwa negara yang bersangkutan memiliki keunggulan komparatif dalam produk tersebut dan memiliki daya saing yang kuat., begitu pula sebaliknya. Jika RCA sama dengan satu, berarti daya saing komoditas tersebut sama dengan negara lain yang terlibat dalam kegiatan ekspor komoditas tersebut. Perhitungan Indeks RCA ekspor suatu komoditas negara tertentu dibandingkan dengan total ekspor negara tersebut, maka negara yang jumlah

ekpsornya relatif sama dengan negara lain namun total ekspornya lebih besar akan mempunyai indeks RCA yang lebih kecil. Oleh karena itu penting untuk melihat pangsa pasar negara tersebut untuk menunjukkan bahwa daya saing negara tersebut kuat atau lemah. Perhitungan

Indeks

RCA

hanya

dilakukan

untuk

negara-negara

pengekspor yang memiliki angka ekspor yang besar untuk komoditas ikan tuna baik dalam bentuk segar, beku, dan olahan.

Negara-negara tersebut adalah

Australia, Ekuador, Uni Eropa, Perancis, Indonesia, Italia, Jepang, Filipina, Republik Korea, Singapura, Spanyol, Seychelles, dan Thailand. Negara Australia, Uni Eropa, Perancis, Jepang, dan Singapura memiliki nilai ekspor yang besar untuk komoditi ikan tuna segar dan beku. Negara Ekuador, Filipina dan Italia memiliki nilai ekspor yang besar untuk komoditas ikan tuna segar dan olahan. Negara Seychelles dan Thailand memiliki nilai ekspor yang besar untuk komoditas ikan tuna olahan. Republik Korea memiliki nilai yang besar untuk ekspor ikan tuna beku. Negara Spanyol dan Indonesia memiliki nilai ekspor yang besar untuk ketiga komoditas ikan tuna. Tabel 14. Indeks RCA untuk Komoditas Ikan Tuna Segar Tahun 2002-2007 Negara Australia Ekuador EU-27 Perancis Indonesia Italia Jepang Filipina Rep. Korea Seychelles Spanyol Thailand

2002 RCA

2003

Rank

RCA

2004

Rank

RCA

2005

Rank

RCA

2006

Rank

RCA

2007

Rank

RCA

Rank

2,30 0,18 0,33 0,47 2,81 1,25 2,20 1,20

2 9 8 7 1 5 3 6

2,74 0,34 1,84 0,19 2,39 1,16 2,26 0,68

1 8 5 9 2 6 3 7

2,69 0,07 2,28 0,26 2,60 1,38 1,55 0,55

1 10 3 8 2 6 5 7

2,26 0,05 1,89 0,68 2,31 1,73 2,54 0,70

3 11 4 8 2 5 1 7

1,53 0,05 1,76 0,21 1,62 1,50 3,70 0,37

4 11 2 8 3 5 1 7

1,83 0,11 3,06 1,03 2,27 1,79 1,61 0,65

3 9 1 7 2 4 5 8

0,05

11

0,10

10

0,06

11

0,10

9

0,08

10

0,11

10

4 11

0,00 1,78 0,07

4 9

0,00 1,19 0,07

6 10

0,00 0,90 0,09

6 9

0,00 1,50 0,08

6 11

0,00 - 0,00 1,95 4 1,88 0,06 11 0,07 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah

Perhitungan Indeks RCA pada Tabel 14 menunjukkan bahwa indeks RCA Indonesia untuk komoditas ikan tuna segar tahun 2002-2007 nilainya selalu lebih dari satu (berkisar antara 1,62 hingga 2,81).

Hal ini menunjukkan bahwa

Indonesia memiliki keunggulan komparatif terhadap komoditas ikan tuna segar di pasar internasional.

Negara Indonesia selalu menempati peringkat tiga besar

untuk indeks RCA komoditas ikan tuna segar. Negara yang menjadi pesaing kuat untuk komoditas ikan tuna segar adalah Australia, Jepang dan Spanyol yang memiliki indeks RCA lebih besar dari satu. Indeks RCA ini berarti Indonesia memiliki keunggulan komparatif antara 1,62 hingga 2,81 relatif lebih baik dibandingkan negara eksportir lain. Indeks RCA Indonesia memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki daya saing yang kuat untuk komoditas ikan tuna segar. Selain keunggulan komparatif perlunya melihat penguasaan pangsa pasar negara Indonesia untuk komoditas ikan tuna segar di pasar internasional.

Sejak tahun 2002-2007 penguasaan pasar

Indonesia untuk ikan tuna segar cukup besar yaitu rata-rata sebesar 9,49 persen per tahun (Tabel 15). Indonesia merupakan negara dengan penguasaan terbesar ketiga di dunia.

Negara Spanyol sebenarnya memiliki pangsa pasar tebesar

dengan rata-rata sebesar 12,99 persen, namun untuk indeks RCA berada dibawah Indonesia sebab total ekspornya lebih besar negara Indonesia. Tabel 15. Pangsa Pasar Komoditas Ikan Tuna Segar Tahun 2002-2007 (%) Negara

2002

2003

9,63 9,06 Ekuador 0,81 1,46 EU-27 1,56 10,66 Perancis 4,35 1,60 Indonesia 12,53 9,12 Italia 2,92 2,18 Jepang 3,23 2,77 Filipina 3,50 1,87 Rep. Korea 0,28 0,38 Seychelles 0,00 0,00 Spanyol 17,15 15,88 Thailand 0,97 1,09 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah Australia

2004 6,26 0,24 15,88 2,00 10,65 2,93 3,02 0,92 0,26 0,00 15,73 1,18

2005 5,39 0,23 10,69 2,23 9,71 4,24 3,16 1,18 0,36 0,00 9,75 1,32

2006 3,05 0,21 9,99 1,63 5,93 3,52 13,60 0,73 0,22 0,00 6,95 1,78

2007 4,21 0,54 17,85 2,70 8,98 4,13 2,43 0,79 0,30 0,00 12,47 1,50

Rata-rata per tahun 6,27 0,58 11,11 2,42 9,49 3,32 4,70 1,50 0,30 0,00 12,99 1,31

Tabel 16 menunjukkan bahwa indeks RCA Negara Indonesia untuk komoditas ikan tuna beku tidak memiliki keunggulan komparatif, karena nilainya dibawah satu (berkisar antara 0,13 hingga 0,65). Hal ini berarti negara Indonesia memiliki keunggulan komparatif antara 0,13 hingga 0,65 relatif lebih kecil diantara negara eksportir lainnya. Negara Indonesia hanya mampu menempati peringkat peringkat delapan

untuk indeks RCA diantara negara pengekspor

lainnya. Negara yang memiliki indeks RCA terbesar untuk komoditas ikan tuna beku adalah Republik Korea, Australia, Uni Eropa, dan Jepang. Indeks RCA ini memperlihatkan bahwa negara Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif dan pengusasan pangsa pasarnya juga kecil sehingga daya saingnya sangat rendah. Rendahnya daya saing komoditas ikan tuna beku ini disebabkan nilai ekspor Indonesia untuk ikan tuna beku kecil dan lebih banyak mengekspor ikan tuna dalam bentuk segar karena negara tujuan ekspor. Komoditas ikan tuna dalam bentuk beku yang dihasilkan oleh Indonesia kualitasnya belum baik karena masih minimnya alat dan penerapan sistem manajemen pengolahan pasca panen. Tabel 16. Indeks RCA untuk Komoditas Ikan Tuna Beku Tahun 2002-2007 Negara Australia Ekuador EU-27 Perancis Indonesia

2002 RCA

Rank

2003 RCA

1,77 3 1,61 0,12 9 0,04 1,90 2 1,50 0,50 5 0,69 0,39 7 0,32 Italia 0,08 10 0,08 Jepang 1,54 4 1,58 Filipina 0,33 8 0,34 Rep. Korea 2,73 1 2,88 Seychelles 0,00 - 0,00 Spanyol 0,50 6 0,50 Thailand 0,01 11 0,02 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah

2004

2005

2006

Rank

RCA

Rank

RCA

Rank

2 10 4 5 8 9 3 7 1 6 11

1,43 0,07 1,23 0,57 0,13 0,05 1,82 0,60 2,64 0,00 0,56 0,04

3 9 4 6 8 10 2 5 1 7 11

1,81 0,06 1,41 1,65 0,23 0,07 1,45 0,62 2,86 0,00 0,58 0,03

2 10 5 3 8 9 4 6 1 7 11

RCA

2,62 0,02 1,64 0,83 0,42 0,03 0,61 0,96 3,97 0,00 0,69 0,03

2007

Rank

2 11 3 5 8 10 7 4 1 6 9

RCA

3,17 0,08 1,55 1,78 0,65 0,01 3,02 3,27 4,19 0,00 0,79 0,10

Rendahnya indeks RCA ikan tuna beku juga ditandai dengan enguasaan pangsa pasar negara Indonesia untuk komoditas ikan tuna beku rata-rata pertahun hanya 1,43 persen per tahun (Table 17). Negara Indonesia tidak termasuk negara yang memiliki keunggulan bersaing untuk komoditas ini.

Penguasaan pasar

terbesar dikuassai oleh negara Republik Korea yaitu rata-rata sebesar 11,58 persen.

Rank

4 10 6 5 8 11 3 2 1 7 9

Tabel 17. Pangsa Pasar Ikan Tuna Beku Tahun 2002-2007 (%) Negara

2002

2003

2004

Australia Ekuador EU-27 Perancis Indonesia Italia Jepang Filipina Rep. Korea Seychelles Spanyol Thailand

7,40 5,35 0,54 0,18 8,88 8,66 4,59 5,84 1,73 1,21 0,18 0,15 2,26 1,95 0,96 0,93 15,17 11,09 0,00 0,00 4,40 4,24 0,18 0,27 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah

2005

3,33 0,23 8,56 4,43 0,54 0,11 3,55 1,00 10,8 0,00 4,94 0,57

4,29 0,27 7,96 5,41 0,97 0,17 1,80 1,04 9,93 0,00 4,71 0,64

2006

Rata-rata per tahun 5,48 0,29 8,74 5,22 1,43 0,12 2,72 1,63 11,58 0,00 5,02 0,71

2007

5,22 0,10 9,35 6,39 1,53 0,07 2,23 1,90 10,75 0,00 5,31 0,60

7,28 0,40 9,03 4,65 2,58 0,02 4,55 3,97 11,72 0,00 6,56 1,97

Tabel 18 menunjukkan bahwa umumnya pada komoditas ikan tuna olahan negara Indonesia mempunyai keunggulan komparatif karena memiliki indeks RCA lebih besar daripada satu . Indeks RCA Indonesia mengalami fluktuatif, pada tahun 2002 dan 2003 indeks RCA hanya sebesar 0,88 dan 0,99. Pada tahun 2004 hingga 2006 indeks RCA negara Indonesia lebih besar dari satu, namun pada tahun 2007 mengalami penurunan. Hal ini berarti negara Indonesia memiliki keunggulan komparatif antara 0,85 hingga 1,10 relatif lebih baik dibandingkan dengan negara eksportir lainnya. Indeks RCA memperlihatkan bahwa negara Indonesia memiliki daya saing yang lemah untuk komoditas ikan tuna olahan. Negara yang memiliki indeks RCA terbesar untuk ikan tuna olahan adalah Seychelles dan Thailand. Tabel 18. Indeks RCA untuk Komoditas Ikan Tuna Olahan Tahun 2002-2007 Negara

2002 RCA

Rank

2003 RCA

2004

2005

2006

2007

Rank

RCA

Rank

RCA

Rank

RCA

Rank

RCA

Rank

Australia 0,01 12 0,01 12 Ekuador 1,92 3 1,86 3 EU-27 0,55 9 0,39 9 Perancis 1,54 5 1,48 6 Indonesia 0,87 8 0,99 8 Italia 1,60 4 1,56 4 Jepang 0,21 10 0,19 10 Filipina 1,43 6 1,55 5 Rep. Korea 0,02 11 0,05 12 Seychelles 2,07 1 2,00 1 Spanyol 1,06 7 1,04 7 Thailand 2,04 2 1,97 2 Sumber: UN COmtrade 2008, diolah

0,03 2,09 0,34 1,62 1,10 1,62 0,14 1,49 0,04 2,17 1,06 2,12

12 3 9 4 7 5 10 6 11 1 8 2

0,03 1,96 0,42 0,67 1,08 1,38 0,17 1,36 0,05 2,02 1,22 1,97

12 3 9 8 7 4 10 5 11 1 6 2

0,02 1,86 0,38 1,41 1,01 1,24 0,05 1,28 0,00 1,89 1,18 1,84

11 2 9 4 8 6 10 5 1 7 3

0,01 1,54 0,34 0,70 0,85 1,20 0,11 0,23 0,00 1,59 0,97 1,54

11 3 8 7 6 4 10 9 1 5 2

Pengusaan pasar negara Indonesia untuk komoditas ikan tuna olahan ratarata hanya 4,11 persen per tahun (Tabel 19). Pangsa pasar terbesar dikuasai oleh Negara Thailand dan Perancis yang masing meguasasi pasar rata-rata sebesar 35,37 dan 9,12 persen. Tabel 19. Pangsa Pasar Ikan Tuna Olahan Tahun 2002-2007 (%) Negara

2002

2003

Australia 0,03 0,03 Ekuador 8,76 7,91 EU-27 2,55 2,25 Perancis 14,14 12,56 Indonesia 3,86 3,79 Italia 3,74 2,95 Jepang 0,30 0,24 Filipina 4,18 4,27 Rep. Korea 0,13 0,18 Seychelles 7,25 7,26 Spanyol 9,29 8,78 Thailand 30,86 31,12 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah

2004 0,06 6,92 2,37 12,60 4,51 3,45 0,27 2,49 0,16 6,44 9,40 34,21

2005 0,06 8,78 2,39 2,21 4,50 3,39 0,21 2,29 0,17 6,24 10,01 39,54

2006 0,04 8,61 2,17 10,82 3,68 2,91 0,17 2,52 0,00 5,31 9,08 36,80

2007 0,03 9,42 2,57 2,37 4,34 3,56 0,21 0,36 0,00 5,23 10,35 39,66

Rata-rata per tahun 0,04 8,40 2,38 9,12 4,11 3,33 0,23 2,69 0,11 6,29 9,48 35,37

Rendahnya daya saing Indonesia untuk komoditas ini disebabkan oleh rendahnya nilai ekspor ikan tuna dalam bentuk olahan.

Tujuh industri

pengalengan ikan tuna di Jawa Timur,saat ini empat unit tidak berproduksi lagi. Sulawesi Utara yang semula memiliki empat industri, saat ini hanya dua yang masih beroperasi. Namun, kedua industri tersebut sekarang telah diambil alih oleh investor dari Filipina. Bali saat ini hanya satu unit yang masih aktif, sebelumnya ada dua industri pengalengan ikan tuna. Perusahaan pengolahan ikan banyak yang tidak beroperasi karena kurangnya bahan baku dan modal untuk terus melanjtukan usahanya. Peraturan pemerintah yang mengijinkan penjualan tuna secara gelondongan, juga mempengaruhi ekspor tuna olahan. Para penangkap ikan tuna lebih senang menjual langsung ikan tuna segar terutama yang masuk grade A, menurut mereka daya beli pengolah di dalam negeri masih rendah dan belum mampu membeli dengan harga yang lebih tinggi daripada harga ekspor. Masalah ini membuata adanya sedikit pertentangan antara industri pengolah dan pemasar ekspor.

Indeks RCA Indonesia memiliki keunggulan komparatif untuk komoditas ikan tuna segar dan olahan, namun untuk komoditas ikan tuna beku Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif.

Penguasaan pangsa pasar untuk

komoditas ikan tuna segar yang besar, namun tidak untuk komoditas ikan tuna beku dan olahan. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan pangsa pasar terutama untuk komoditas ikan tuna beku dan olahan dan meningkatkan daya saing komoditas Ikan tuna baik segar, beku dan olahan di pasar internasional baik secara internal maupun eksternal Upaya internal yang harus dilakukan yaitu memperbaiki kualitas ikan terutama dari penyakit dan berbagai isu tentang keamanan pangan yang menjadi hambatan dalam perdagangan ikan tuna di pasar internasional dan penerapan teknologi yang lebih baik dalam pengolahan ikan. Upaya ekstenal yang dilakukan yaitu memperluas jaringan kerjasama internasional dengan melakukan usaha ekspor ke negara lain selain negara yang menjadi tujuan utama ekspor dan mengikuti organisasi yang berkaitan dengan perdagangan ikan tuna di pasar internasional agar mudah dalam melakukan perdagangan internasional. 6.3. Analisis Keunggulan Kompetitif Komoditas Ikan Tuna Nasional Daya saing suatu negara selain dilihat dari keunggulan komparatifnya harus dilihat pula keunggulan kompetitifnya.

Suatu negara tidak bisa hanya

menggantungkan keunggulannya pada keunggulan komparatif, tetapi juga harus didukung oleh keunggulan kompetitif (Zamroni 2000). Strategi persaingan dalam perdagangan dunia sangat penting, terutama dengan mulainya era perdagangan bebas yang membuat hambatan baik tarif maupun non-tarif berkurang. Daya saing komoditas ikan tuna nasional dilihat berdasarkan Teori Berlian Porter.

Teori Berlian Porter menjelaskan ada empat kondisi faktor yang

berpengaruh terhadap daya saing internasional.

Empat kondisi faktor (faktor

internal) tersebut adalah kondisi faktor sumberdaya, kondisi permintaan, eksistensi industri pendukung dan terkait, dan strategi persaingan.

Peran

pemerintah dan peran kesempatan berada diluar industri ikan tuna (faktor eksternal), namun kedua peran ini turut mempengaruhi daya saing ikan tuna nasional. Penjelasan tentang kondisi faktor internal dan eksternal ikan tuna nasional adalah sebagai berikut:

6.3.1. Kondisi Faktor Sumberdaya Kondisi faktor sumberdaya yang berpengaruh terhadap agribisnis ikan tuna adalah sumberdaya fisik atau alam, sumberdaya manusia, sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi, sumberdaya modal, dan sumberdaya infrastruktur. Kelima faktor ini memiliki keterkaitan dalam rangka agribisnis ikan tuna. Berikut penjelasan mengenai kondisi kelima faktor sumberdaya tersebut: 6.3.1.1. Sumberdaya Fisik atau Alam Sumberdaya fisik atau alam ini menyangkut ketersediaan ikan tuna di negara Indonesia. Sumberdaya perikanan yang mempengaruhi daya saing ikan tuna di pasar internasional meliputi, ketersedian daerah penangkapan, ketersediaan kapal dan biaya yang terkait dalam penangkapan ikan tuna. Ketersediaan daerah penangkapan seperti yang telah dijelaskan pada bab pendahuluan (Tabel 2), wilayah Indonesia masih memiliki daerah yang cukup luas untuk penangkapan ikan tuna. Aktivitas penangkapan masih terfokus di daerah Selat Malaka dan Laut Jawa karena umumnya Bandar pelabuhan yang paling aktif terletak di wilayah Jakarta, Pelabuhan Ratu, Cilacap dan Bali. Ketersediaan terhadap kapal untuk menangkap juga mempengaruhi daya saing ikan tuna nasional. Kapal yang tersedia sangat berguna untuk penangkapan ikan.

Ikan

tuna

memiliki

sifat

mudah

bermigrasi,

sehingga

untuk

penangkapannya dibutuhkan kapal berukuran besar. Ketersediaan kapal untuk pengangkapan ikan tuna ditampilkan pada Tabel 19. Tabel 20

menunjukkan bahwa nelayan Indonesia umumnya melaut

dengan kapal tanpa motor dengan ukuran perahu yang kecil.

Persentase

penggunaan kapal tanpa motor pada tahun 2007 sebesar 41 persen, kapal dengan motor temple 31 persen, dan kapal motor sebanyak 28 persen. Rendahnya nilai penggunaan kapal motor membuat jumlah ikan yang mampu diekspor sangat sedikit, sebab penggunaan kapal tanpa motor tidak dilengkapi dengan alat penyimpan ataupun es batu. Hal ini menyebabkan saat sampai ke daratan ikan sudah tidak segar lagi. Kapal motor dibedakan umumnya dibedakan menjadi tiga jenis yaitu:

1) Kapal besar.

Kapal ini terbuat dari besi yang berukuran >200 GT dan

dilengkapi fasilitas ruang pendingin (deep freezing) yang dapat menyimpan ikan dalam jangka waktu berbulan-bulan. 2) Kapal

fresh tuna.

Kapal ini terbuat dari kayu atau

fiber glass yang

berukuran 50-200 GT dan dilengkapi dengan ruang pendingin dengan temperature 400C yang cukup menjaga kesegaran ikan hingga tiga minggu. 3) Kapal kecil. Kapal ini terbuat dari kayu atau fiber glass yang berukuran <50 GT yang membawa es batu, air es, atau flake ice di dalam palkanya dan biasanya untuk kegiatan penangkapan satu atau beberapa hari. Tabel 20. Jumlah Kapal Motor Berdasarkan Ukurannya Tahun 2002-2007 (unit) Jenis Perahu Tanpa Motor Perahu dengan Motor Tempel < 5 GT 5-10 GT 10-20 GT Kapal Motor 20-30 GT dengan 30-50 GT ukuran 50-100 (gross GT ton) 100-200 GT >200 GT Total

2002

2003

2004

219.079

250.469

256.830

130.185

158.411

74.292 20.208 5.866 3.382 2.685

2005

Kenaikan rata-rata 20022007 (%)

2006

2007

244.471

249.955

241.889

2,21

165.337

165.314

185.983

185.509

7,66

79.218 24.358 5.764 3.131 2.338

90.148 22.917 5.952 3.598 800

102.456 26.841 6.968 4.553 1.092

106.609 29.899 8.190 5.037 970

114.273 30.617 8.194 5.345 913

9,06 9,11 7,24 10,16 -11,85

2.430

2.698

1.740

2.160

1.926

1.832

-3,21

1.612

1.731

1.342

1.403

1.381

1.322

-3,28

559

559

436

323

367

420

-3,97

460.298

528.677

549.100

555.581

590.317

590.314

5,23

Sumber: BPS 2007

Biaya yang terkait dalam penangkapan ikan tuna dengan alat tangkap Long Line .(rawai tuna) dengan asumsi seperti berikut: 1) Kapal yang digunakan ukuran 30 GT dengan kebutuhan Solar 7.000 liter per trip 2) Satu kali trip selama 20 hari dan dalam hanya ada Sembilan kali trip. Perhitungan biaya ikan tuna dalam setahun berdasarkan asumsi di atas dijelaskan pada Tabel 21. Biaya yang paling besar dikeluarkan terletak pada kebutuhan bahan bakar dengan persentase sebesar 13,07 persen.

Tabel 21. Estimasi Biaya Penangkapan Ikan Tuna per Tahun Jenis Biaya Biaya Investasi 1. Biaya pengadaan kapal 2. Biaya pengadaan mesin 3. Biaya pengadaan alat tangkap (pancing) Biaya Produksi 1. Biaya tetap per tahun a. Perawatan kapal b. Perawatan mesin c. Perawatan alat tangkap 2. Biaya operasional (tidak tetap pertahun) a. Solar (9 trip x 7.000 lt @ Rp.4.500) b. Perbekalan c. Es (1000 balok @ Rp.10.000) d. Umpan Lemuru (5.000 kg @ Rp.3.000) e. Umpan Layang (3.000 kg @ Rp. 6.250) Total Biaya Per Tahun Sumber: Hikmayani dan Asnawi 2007

Jumlah Biaya 1.500.000.000 50.500.000 60.000.000

20.000.000 20.000.000 4.800.000 283.500.000 186.300.000 10.000.000 15.000.000 18.750.000 2.168.850.000

Kondisi faktor sumberdaya alam untuk komoditas ikan tuna dilihat dari segi ketersediaan daerah penangkapan masih baik, namun untuk kondisi ketersediaan kapal dan biaya terkait dengan penangkapan ikan tuna terdapat kendala yaitu rendahnya kapal berukuran besar yang beroperasi dan tinggi biaya yang dikeluarkan terutama untuk bahan bakar. Daya saing komoditas ikan tuna nasional akan meningkat jika kualitas dan kuantitas ikan tuna juga meningkat, maka diperlukan upaya untuk menjaga ketersediaan ikan tuna diperairan dan memperbanyak jumlah kapal motor agar dapat melakukan penangkapan di laut lepas. 6.3.1.2. Sumberdaya Manusia Sumberdaya manusia merupakan faktor penentu dalam peningkatan dinamika pembangunan suatu negara. Sumberdaya manusia merupakan faktor penggerak sumberdaya lain yang besifat statis.

Sumberdaya manusia sangat

penting untuk meningkatkan daya saing terutama dalam suasana persaingan yang sangat ketat. Sumberdaya manusia yang terkait dengan perdagangan ikan tuna dan mempengaruhi daya saing ikan tuna di pasar internasional ini meliputi jumlah tenaga kerja yang tersedia baik di bagian hulu dan hilir, kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh sumberdaya manusia tersebut.

Jumlah penduduk Indonesia yang saat ini berprofesi sebagai nelayan menurut Tabel 22 terbagi menjadi tiga jenis, yaitu nelayan penuh, nelayan sebagai pekerjanan sampingan utama, dan nelayan sebagai pekerjaan sampingan tambahan. Persentase nelayan penuh dari tahun 2006-2007 mengalami penurunan sebesar 15,32 persen, untuk nelayan sampingan utama naik sebesar 28,58 persen, dan untuk nelayan sampingan tambahan naik sebesar 16,82 persen. Nelayan penuh mengalami penurunan sebab banyak nelayan yang tidak dapat melaut karena keterbatasan modal dan beralih ke pekerjaan lain atau berubah menjadi nelayan sampingan. Keterampilan penangkapan ikan pun dikategorikan masih tradisional, jika dibandingkan dengan negara lain yang kapal untuk penangkapan sudah dilengkapi dengan alat pendeteksi ikan. Alat ini sangat berguna untuk mengetahui letak gerombolan ikan tuna. Nelayan yang telah bekerjasama dengan perusahaan pengolahan atau eksportir memiliki pengetahuan dan penguasaan teknologi yang cukup baik serta kapal yang digunakan sudah memiliki ruang pendingin dan alat pendeteksi ikan. Tabel 22. Jumlah Nelayan menurut Kategori Nelayan Tahun 2002-2007 Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Kenaikan rata-rata 20022007 (%) Kenaikan 2006-2007 (%) Sumber: BPS 2007

Nelayan Penuh (Full time) 1.277.129 1.729.671 1.182.604 1.145.653 1.293.530 1.095.399

Sambilan Utama (Part time-major) 923.322 1.112.217 826.206 648.591 626.065 805.011

Sambilan Tambahan (Part time-minor) 371.591 469.933 337.972 263.742 283.817 331.557

-0,35

4,28

0,17

-15,32

28,58

16,82

Tingkat pengetahuan dan keterampilan sumberdaya manusia untuk pengolahan pasca panen dan pemasaran yang dimiliki masih dibawah standar. Indikator dari rendahnya tingkat pengetahuan dan keteremapilan terlihat dari sedikitnya perusahaan yang mampu menghasilkan ikan tuna sesuai dengan selera konsumen dan adanya keterbatasan jumlah perusahaan yang mampu mendapatkan ijin ekspor. Ikan tuna Indonesia banyak yang terkena isu keamanan pangan yang menandakan rendahnya pengawasan mutu baik setelah penangkapan maupun saat pengolahan.

Sumberdaya manusia untuk komoditas ikan tuna nasional

memerlukan pembenahan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ikan tuna nasional. 6.3.1.3. Sumberdaya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) Sumberdaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang mempengaruhi daya saing ikan tuna nasional adalah,

ketersediaan pengetahuan teknis ekspor,

kertersediaan pengetahuan untuk penangkapan pengetahuan tentang penyimpanan ikan setelah pengangkapan, lembaga penelitian, asosiasi pengusaha, dan asosiasi perdagangan. Pengetahuan tentang teknis ekspor telah dimiliki oleh Indonesia terutama untuk negara tujuan utama terdapat pada Lampiran 10,11 dan 12. Teknologi yang digunakan dalam pemanfaatan sumber daya tuna disesuaikan dengan sifat dan tingkah laku ikan sasaran. Tuna merupakan ikan perenang cepat yang bergerombol. Oleh karena itu, alat penangkap ikan yang digunakan haruslah yang sesuai dengan perilaku ikan tersebut. Ada lima macam alat penangkap tuna, yaitu rawai tuna (long line), huhate (pole and line), pancing tangan (handline), pukat cincin (purse seine), dan jaring insang (gillnet). Ikan tuna setelah ditangkap harus dijaga kesegarannya, sehingga dibutuhkan penanganan yang tepat pasca penangkapan.

Kesegaran ikan tuna

dapat ditangani dengan pemberian suhu rendah melalui proses pendinginan dan pembekuan.

Penerapan suhu rendah adalah untuk

menghindarkan hasil

perikanan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh autolisa atau karena pertumbuhan mikroba. Aktifitas enzim maupun pertumbuhan mikroba sangat dipengaruhi oleh suhu. Pada kondisi tertentu aktifitasnya menjadi optimum dan pada kondisi lain aktifitasnya dapat menurun, terhambat bahkan terhenti. Suhu optimum dimana enzim dan mikroba mempunyai aktifitas yang paling baik biasanya terletak pada suhu di antara sedikit di bawah dan di atas suhu kamar. Berdasarkan peraturan dari International Institut of Refrigeration, Paris suhu penyimpanan untuk ikan berlemak (termasuk ikan tuna) dibagi menjadi beberapa jenis menurut waktu penyimpanan, empat bulan pada suhu -180C, delapan bulan pada suhu -250C dan 24 bulan pada suhu -300 C. Suhu penyimpanan beku bagi produk ikan yang akan dimanfaatkan untuk sashimi, dianjurkan pada suhu -500C hingga -600C.

Lembaga penelitian dalam hal ini terkait dengan adanya badan strandadisasi nasional (BSN) yang berguna untuk mengawasi mutu ikan yang dihasilkan agar sesuai dengan ketentuan negara tujuan ekspor. Komoditas ikan tuna memiliki asosiasi yang dibentuk oleh pemerintah untuk mengurus tentang ikan tuna yaitu dengan dibentuknya Asosiasi Ikan Tuna Nasional (Astuin) dan adanya Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (Apiki) yang merupakan gabungan pengusaha pengolahan ikan termasuk ikan tuna dan Asosiasi Tuna Longline Indonesia. 6.3.1.4. Sumberdaya Modal Sumberdaya modal termasuk salah satu yang mempengaruhi daya saing ikan tuna di pasar internasional. Perikanan nasional dihadapkan pada masalah permodalan, akses permodalan untuk sektor perikanan masih terbilang sedikit dan sulit untuk didapat.

Pemerintah melalui DKP telah mengeluarkan beberapa

program pembiayaan untuk perikanan seperti Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri-Kelautan dan Perikanan (PNPM Mandiri-KP). DKP juga membangun Lembaga Keuangan Mikro (LKM) Swamitra Mina melalui kerjasama dengan Bank Bukopin, Bank Syariah Mandiri dan PT. Permodalan Nasional Madani (PT. PNM). Kegiatan PEMP diinisasi untuk mengatasi berbagai permasalahan akibat krisis ekonomi, kenaikan BBM, kesenjangan, kemiskinan, dan rendahnya kapasitas sumberdaya manusia (masyarakat) pesisir serta upaya mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumberdaya kelautan dan perikanan.

Program PEMP

meliputi beberapa kegiatan yang menjadi bagian dari program besar PEMP. Beberapa kegiatan tersebut adalah : 1) Klinik Bisnis. Klinik ini berguna untuk konsultasi dan pendampingan bisnis bagi masyarakat terutama penerima Bantuan Sosial Mikro dengan output layanan Konsultasi yang berkaitan dengan rencana bisnis, pangsa pasar, mitra usaha, rasio keuntungan dan pengembangan bisnis termasuk tatacara proposal ke LKM/Bank

2) Kedai Pesisir LEPPM3 melalui Unit Usaha Kedai Pesisir dengan Output layanan. Kedai ini melayani dan menyediakan kebutuhan pokok masyarakat dan kebutuhan usaha bagi masyarakat pesisir berbentuk outlet dengan system swalayan berlokasi di pusat kegiatan usaha masyarakat pesisir. Kedai ini juga berfungsi sebagai pemasok bagi warung-warung sejenis di sekitarnya. 3) Program Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN)/ Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak untuk Nelayan (SPBN). SPDN/SPBN dengan Output layanan Melayani kebutuhan BBM bagi nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil dengan harga sesuai ketetapan pemerintah. PNPM Mandiri-KP merupakan program lain yang dilakukan pemerintah untuk membantu dalam permodalan. Kegiatan pokok PNPM Mandiri-KP ini terdiri dari: 1) Perencanaan pembangunan wilayah dan sumberdaya kelautan dan perikanan berbasis desa. 2) Pembangunan infrastruktur desa dan lingkungan. 3) Penguatan kapasitas sumberdaya manusia, kelembagaan dan aparat. 4) Pemberdayaan masyarakat. Program bantuan modal yang dilakukan pemerintah selama ini belum banyak membantu permodalan para nelayan kecil. Bantuan modal tersebut tidak dapat mencukupi kebutuhan nelayan terutama perahu untuk memancing. Akses modal yang ada terkadang pelaksanaannya menyulitkan nelayan sehingga nelayan jarang yang memanfaatkan akses ini. Akses modal umumnya hanya dapat diakses oleh nelayan skala besar.

Nelayan skala kecil untuk mengatasi masalah

permodalan, mereka melakukan kerjasama dengan nelayan skala besar. Pemerintah harus mengkaji ulang bantuan modal yang agar tepat sasaran. 6.3.1.5. Sumberdaya Infrastruktur Sumberdaya infrastruktur (sarana dan prasarana) fisik yang cukup lengkap dan dalam kondisi yang baik merupakan salah satu pendukung peningkatan daya saing komoidtas ikan tunas nasional.

Sumberdaya infrastruktur yang

mempengaruhi daya saing ikan tuna di pasar internasional meliputi sisterm transportasi yang tersedia, sistem komunikasi, sistem pembayaran, air, dan energi

listrik. Air bersih dan listrik umumnya sangat susah didapat di daerah pantai. Keadaan ini menyebabkan rendahnya tingkat sanitasi dan kehigienisan tempat pendaratan ikan dan pengolahan ikan. Kondisi jalan yang dilalui dalam proses pendistribusian ikan tuna dari nelayan ke pengumpul atau eksportir

masih buruk terutama untuk wilayah

Indonesia bagian Timur. Keadaan ini membuat jarak tempuh semakin lama dan berakibat terhadap kemunduran kesegaran ikan tuna. Kondisi sitem transportasi yang dimiliki seperti bandar udara dan pelabuhan sudah dimiliki. Bandar udara yang dipakai untuk pengiriman ekspor biasanya Bali dan Jakarta, namun untuk maskaspainya berasal dari negara asing, sebab maskapai dalam negeri masih belum mampu memenuhi permintaan jasa penerbangan ekspor bahan makanan segar (Fahruddin 2003). Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan Indonesia (PIPP 2006 diacu dalam Kusumastanto 2007) mencatat sampai saat ini terdapat 670 unit pelabuhan di seluruh Indonesia, yang terdiri dari lima unit Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS), dua belas unit Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), 46 unit Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) dan 607 unit Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI). Unit pelabuhan yang ada hanya sedikit saja yang berstandar internasional seperti PPS Jakarta. Sumberdaya infrastruktur untuk komoditas ikan tuna saat ini dapat dikategorikan masih rendah. Sumberdaya infrastruktur yang ada harus diperbaiki kondisinya, sehingga mampu menunjang peningkatan kualitas dan kuantita ikan tuna nasional. 6.3.2. Kondisi Permintaan Faktor kondisi permintaan yang mempengaruhi daya saing komoditas ikan tuna nasional adalah sebagai berikut: 6.3.2.1. Komposisi Permintaan Domestik Komposisi permintaan domestik menjadi salah satu

faktor yang

berpengaruh terhadap daya saing komoditas ikan tuna nasional.

Tingkat

pertumbuhan permintaan negara asal yang cepat mengarahkan perusahaan dalam negara untuk melakukan peningkatan melalui penerapan teknologi yang baru dan perbaikan fasilitas, walaupun biaya investasi yang dibutuhkan juga besar.

Karakter permintaan domestik akan membantu perusahaan untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya. Karakteristik permintaan domestik meliputi: 1) Struktur Segmen Permintaan Struktur segmentasi permintaan konsumen ikan tuna dibedakan menjadi menengah ke atas dan menengah ke bawah. Konsumen menengah ke atas umumnya membeli produk ikan tuna di pasar swalayan (supermarket) dalam bentuk fillet atau kalengan.

Konsumen menengah ke bawah umumnya

membeli ikan tuna dalam bentuk utuh dan dilakukan di pasar tradisional. Ikan tuna yang diperdagangkan di pasar tradisional biasanya adalah cakalang dan tongkol, sedangkan untuk jenis yang lain umumnya untuk dijual ke pasar swalayan atau di ekspor. 2) Pengalaman dan Selera Pembeli yang Tinggi Selera masyarakat terhadap produk ikan tuna umumnya lebih menyenangi mengkonsumsi secara segar.

Kawasan Uni Eropa dan Amerika Serikat

termasuk yang menyenangi mengkonsumsi ikan tuna dalam bentuk kalengan, sebab lebih praktis untuk diolah. Ikan tuna termasuk dalam makanan yang sering dikonsumsi di seruluh dunia, namun ikan tuna memiliki dampak negatif terhadap kesehatan jika dikonsumsi dalam keadaan sudah tidak baik. Ikan tuna terutama jenis cakalang, jika mutunya telah bekurang dapat menyebabkan gatal-gatal pada manusia.

Kasus ini membuat pembeli

menuntut terjaminnya kualitas ikan yang dipasarkan. Negara-negara tujuan ekspor telah menetapkan standar tertentu untuk komoditas ikan tuna yang akan di impor, dengan tujuan untuk melindungi konsumen dalam negerinya dari efek negatif tersebut. Oleh karena itu, aspek mutu menjadi faktor terpenting dalam komoditas ikan tuna. 3) Antisipasi Kebutuhan Pembeli Antisipasi perusahaan dalam negeri masih kurang baik dalam memenuhi kebutuhan pembeli. Perusahaan ikan tuna nasional belum mampu secara maksimal memenuhi permintaan ikan tuna dengan standar dan jumlah yang sesuai. Perusahaan yang dapat memenuhi standar dan selera konsumen luar negeri masih terbatas jumlahnya.

6.3.2.2. Jumlah Permintaan dan Pola Pertumbuhan Permintaan akan ikan tuna untuk dalam negeri cukup besar jumlahnya, hal ini dapat terlihat dari tingginya konsumsi pasar domestik terhadap ikan tuna. Ikan tuna nasional umumnya lebih banyak dijual ke pasar domestik, rata-rata hanya 17,81 persen tiap tahunnya yang dijual ke pasar internasional. Konsumsi ikan tuna nasional kenaikan rata pertahunnya hanya 4,55 persen, sedangkan ikan tuna yang diekspor mengalami peningkatan sebesar 28,51 persen (Tabel 23). Tabel 23. Konsumsi dan Ekspor Ikan Tuna Indonesia Tahun 2002-2007 (ton) Keterangan

2002

Konsumsi 525.699 Ekspor 92.797 Total 618.496 Sumber: DKP 2008

2003

2004

2005

2006

2007

562.005 65.886 627.891

596.562 124.146 720.708

612.324 132.828 745.152

629.782 136.125 765.907

656.088 236.348 892.436

Kenaikan Rata-rata 2002-2007 (%) 4,55 28,51 7,79

Tabel 22 memperlihatkan bahwa pola pertumbuhan untuk komoditas ikan tuna baik di pasar domestik maupun internasional memiliki pola pertumbuhan menigkat. Peninggkatan pola pertumbuhan permintaan ini, jika tidak dilakukan dengan kegiatan budidaya dan konservasi akan menyebabkan masalah penurunan populasi ikan tuna di alam bebas. Oleh karena, itu sangat penting untuk menjaga populasi ikan tuna nasional sehingga mampu untuk mencukupi peningkatan permintaan di masa depan. 6.3.2.3. Internasionalisasi Permintaan Domestik Pembeli lokal yang merupakan pembeli dari luar negeri merupakan salah satu pendukung peningkatan daya saing ikan tuna nasional. Internasionalisasi permintaan domestik umumnya terjadi melalui kegiatan promosi yang dilakukan oleh turis asing yang merasa puas dengan produk ikan tuna Indonesia. Konsumen asing yang memiliki mobilitas yang cukup tinggi, akan membantu peningkatan daya saing ikan tuna nasional karena adanya kemungkinan konsumen asing tersebut menyebar luaskan ke tempa lain.

6.3.3. Industri Terkait dan Pendukung Industri terkait dan pendukung merupakan industri yang terlibat langsung dalam sistem agribisnis ikan tuna mulai dari hulu hingga hilir. Industri terkait dan pendukung yang baik akan mendukung daya saing suatu komoditas. Industri terkiat dan pendukung pada komoditas ikan tuna nasional. Industri terkait dan pendukung daya saing ikan tuna adalah sebagai berikut: 1) Industri Terkait Industri terkait dengan daya saing komoditas ikan tuna nasional terdiri dari indsutri hulu yaitu penangkapan ikan dan industri hilir yaitu industri pasca penangkapan dan pengolahan.

Penangkapan ikan tuna dilakukan dengan

beberapa alat penangkapan yaitu. rawai tuna (long line), huhate (pole and line), pancing tangan (handline), pukat cincin (purse seine), dan jaring insang (gillnet). Tabel 23 memperlihatkan jumlah alat penangkapan yang paling banyak digunakan untuk penangkapan ikan tuna dengan menggunkanan jarring insang.

Jaring insang merupakan jaring berbentuk empat persegi

panjang dengan ukuran mata yang sama di sepanjang jarring. Cara kerja jaring insang yaitu membiarkan jarring terapung selama dua hingga tiga jam, setelah itu jarring diangkant, ikan akan terjerat dibagian insangnya pada mata jaring. Teknik ini memungkinan untun menangkap ikan dengan ukuran relatif seragam. Alat tangkap hutate dan rawai tuna memiliki kenaikan rata-rata terbesar dibandingkan alat tangkap lainnya dengan besar masing-masing 63,05 dan 48,29 persen (Tabel 24). Kondisi industri penangkapan ikan tuna nasional, masih dikategorikan tradisional.

Nelayan yang memancing ikan tuna

umumnya memiliki keterbatasan dalam penerapan teknologi dan peralatan. Rawai tuna merupakan alat yang paling efektif untuk digunakan dalam penangkapan ikan tuna, namun karena keterbatasan modal nelayan lebih banyak memakai jaring ingsang dan pancing tangan.

Tabel 24. Jumlah Unit Penangkapan Ikan Tuna Tahun 2002-2007 Jenis Alat Tangkap

2002

Pancing Tangan Pukat 13.213 Cincin Hutate 2.092 Jaring 87.623 Insang Rawai Tuna 2.264 Sumber: BPS 2007

2003

2004

2005

2006

2007

-

33.018

22.863

30.250

53.768

15.685

13.714

17.198

20.211

22.741

2.512

5.032

3.872

6.861

15.765

136.324

131.708

127.542

128.166

154.407

6.547

5.656

5.226

9.290

8.893

Kenaikan Rata-rata 2002-2007 (%) 26,43 15,26 63,05 7,91 48,29

Kondisi indutri pengolahan ikan tuna saat ini mengalami kendala kekurangan bahan baku dan rendahnya daya beli. Industri pengolahan ikan tuna belum mampu memenuhi kuota ikan tuna olahan yang mengakibatkan rendahnya volume ekspor ikan tuna olahan. Industri pengolahan ikan tuna banyak yang tidak beroperasi lagi sebab kekurangan bahan baku. Nelayan atau pengumpul lebih memilih menjual hasil tangkapan untuk langsung diekspor daripada menjualnya ke industri pengolahan ikan. Industri ikan tuna nasional hanya mampu membeli ikan tuna grade C dan D yang kondisinya tidak terlalu baik, serta tidak semua indutsri ikan tuna mampu membeli dengan harga tinggi. Industri terkait dengan komoditas ikan tuna kondisinya belum mampu mendukung daya saing komoditas ikan tuna nasional. Industri hulu masih bermasalah dengan kurangnya modal dan penerapan teknologi sehingga hasil tangkapannya tidak banyak, ukurannya beraneka ragam, dan kualitas ikan yang tidak terlalu baik. Indutri hilir juga belum mampu mendukung daya saing ikan tuna, sebab belum mampu berproduksi dalam jumlah banyak karena keterbatasan bahan baku.

Industri terkait ini harusnya saling

menunjang, namun pada kenyataannya kedua industri ini saling bertentangan, sebab industri hulu lebih memilih menjual ikan segar ke negara tujuan ekspor daripada menjual ke industri pengolahan.

Pemerintah sebagai pembuat

regulator harus mencari solusi yang terbaik bagi keberlangsungan kedua industri ini agar dapat berjalan harmonis.

2) Industri Pendukung Industri pendukung dalam daya saing ikan tuna nasional yaitu industri pemasaran dan jasa pendidikan, penelitian, dan pengembangan perikanan nasional. Industri jasa pemasaran ikan tuna nasional terdiri dari para pelaku yang berperan sebagai perantara pemasaran komoditas ikan tuna dari nelayan hingga ke tangan konsumen.

Para pelaku tersebut adalah pedagang

pengumpul yang biasanya ada di tempat pelelangan ikan atau langsung membeli ikan saat masih dikapal serta jasa pengiriman produk ikan tuna baik untuk konsumsi dalam negeri dan luar negeri. Keberadaan jasa pemasaran ini sudah cukup baik, namun untuk pengiriman luar negeri masih perlu ditingkatkan sebab maskapai penerbangan dalam negeri belum mampu memenuhi permintaan pengiriman bahan makanan ke luar negeri sehingga para eksportir umumnya memakai jasa penerbangan asing. Industri pendukung yang berkaitan dengan peningkatan daya saing ikan tuna adalah jasa pendidikan, penelitian, dan pengembangan.

Jasa pendidikan

memegang peranan penting dalam pengembangan agribisnis ikan tuna nasional

sehingga mampu meningkatkan daya saing ikan tuna nasional.

Lembaga pendidikan yang tersedia untuk mendukung kelangsungan dan peningkatan agribisnis ikan tuna di Indonesia sudah cukup baik, hal ini terlihat dari tersedianya beberapa universitas yang memiliki fakultas yang mempelajari tentang ilmu perikanan dan kelautan seperti Universitas Hasanudin (Sulawesi Selatan), Universitas Soedirman dan Universitas Diponegoro (Jawa Tengah), Universitas Brawijaya (Jawa Timur) dan Institut Pertanian Bogor dan Universitas Padjajaran (Jawa Barat) serta Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan (DKI Jakarta).

Lembaga ini membantu untuk

meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama terkait dengan hal manajerial dan penerapan teknologi. Lembaga penelitian dan pengembangan ikan tuna nasional yang dibentuk oleh pemerintah sebagai wujud dukungannya adalah Komisi Tuna Indonesia (KTN) yang salah satunya bertugas untuk mengatasi berbagai hambatan ekspor tuna ke manca negara.

Komisi Tuna Nasional merupakan suatu

lembaga koordinasi yang menangani permasalahan industri tuna secara

komprehensif dan sistematik serta mampu berkoordinasi dengan seluruh stakeholders tuna nasional.

Lembaga ini bersifat non struktural dan

bertanggung jawab kepada Menteri Kelautan dan Perikanan serta beranggotakan seluruh stakeholders yang memahami kebijakan pengelolaan sumber daya perikanan tuna secara global. Lembaga ini mempunyai visi sebagai institusi yang efisisen dan efektif dalam mendorong pengembangan industri tuna nasional yang berbasis pada konsep kemitraan antara seluruh stakeholders industri tuna sehingga dapat bersaing dalam industri tuna secara global. Misinya adalah mengembangkan sistim industri perikanan tuna melalui perumusan kebijakan produksi dan kebijakan riset serta pengembangan yang terkait dengan industri tuna, meningkatkan daya saing industri tuna nasional dalam kontek tidak hanya sebagai pemiliki saja, tetapi juga mampu menjadi pemanfaat dan pengolah yang memiliki daya saing secara global. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga memiliki bagian Lembaga Penelitian Bidang Ilmu Kelautan LIPI (Puslit Oseanografi) yang bertugas melakukan penelitian dan pengembangan terhadap kelautan Indonesia. Keberadaan jasa pendidikan, penelitian, dan pengembangan perikanan di Indonesia sudah cukup baik, sehingga mampu mendukung peningkatan ikan tuna nasional. 6.3.4. Struktur, Persaingan, dan Strategi Industri Ikan Tuna Struktur, persaingan dan strategi bersaing komoditas ikan tuna nasional dianalisis dengan menggunakan analisis industri yang biasa disebut dengan “The Five Competitive Forces”. Analisis industri tersebut terdiri dari lima kekuatan atau faktor persaingan yang dicetuskan oleh Porter. Kelima faktor persaingan tersebut adalah ancaman pendatang baru, ancaman produk subtitusi, posisi tawar pembeli, posisi tawar pemasok, dan persaingan dari perusahaan sejenis. Berikut ini uraian mengenai kelima faktor persaingan tersebut: 1) Ancaman Pendatang Baru Kegiatan ekspor ikan tuna ini termasuk sektor yang cukup berpotensial karena termasuk bahan makanan utama, terutama untuk negara yang makanan utamanya adalah ikan seperti Jepang.

Namun, tidak semua negara yang

memiliki laut dapat melakukan kegiatan ekspor ikan tuna karena ikan tuna hanya terdapat di perairan tropis dan sub-tropis dan memiliki sifat yang aktif bergerak. Ancaman adanya pendatang baru dalam perdagangan ikan tuna mungkin saja terjadi terutama dari negara di kawasan Asia yang termasuk dalam perairan tropis dan sub-tropis. Malaysia sudah mengalokasikan dana untuk perikanan tuna dan bahkan berani menarik industri tuna nasional dengan subsidi BBM jika bersedia pindah ke Malaysia. Ancaman pendatang baru juga dapat berasal dari negara yang akan menerapkan teknologi budidaya ikan tuna. Negara seperti Perancis, Italia, Kroasia, Aljazair, Tunisia, Maroko, Lybia, Malta, Siprus, Yunani, Turki, Libanon, Syria, Amerika Serikat di pantai Barat California, Meksiko dan Kanada juga mulai aktif mengembangkan budidaya tuna. Negara ini sangat berpeluang menjadi ancaman bagi Indonesia, sebab jika mereka berhasil melakukan budidaya ikan tuna akan mempengaruhi jumlah ekspor ikan tuna nasional. Teknik budidaya ini memungkinan dihasilkan ikan dengan berat yang hampir seragam dan kontinuitas dapat terjaga, sedangkan Indonesia sangat bergantung kepada kondisi alam yang hasilnya sangat beragam. 2) Ancaman Produk Subtitusi Ancaman akan produk subtitusi ikan tuna dapat dapat berasal dari komoditas perikanan lain yang memiliki kandungan gizi yang hampir sama atau memiliki tingkat permintaan yang besar. Ikan ini merupakan sumber omega3 terbaik. Sumber omega-3 dapat berasal dari ikan tuna, ikan salmon, ikan hering, ikan sarden, udang dan kerang.

Kesamaan kandungan omega-3

terhadap hasil perikanan ini dapat berfungsi sebagai produk subtittusi. Ikan salmon menjadi ancaman utama produk subtitutisi ikan tuna sebab memiliki rasa yang hampir sama dan sering diolah menjadi sashimi oleh masyarakat Jepang. Ikan salmon juga memiliki tren permintaan yang meningkatkan dan disukai oleh masyarakat Barat untuk dijadikan steak karena rasanya yang enak. Produk ancaman ikan tuna olahan dapat berasal dari ikan makarel dan sarden. Kedua ikan ini banyak yang diolah dalam bentuk kaleng sebagai makanan cepat saji. Ikan makarel memiliki rasa dan kandungan gizi yang hampir sama dengan ikan tuna seperti yang terlihat dalam Tabel 25.

Tabel 25. Komposisi Nilai Gizi Ikan Tuna dan Makarel

Komposisi

Jenis Ikan Tuna dan Tuna like species Yellow Blue fin Southtern blue fin fin Daging Daging Daging Daging Daging Skipjack merah perut merah perut merah (akami) (toro) (akami) (toro) (akami) 68,7 52,6 5,6 63,9 74,2 70,4

Air Protein 18,3 (gram) Lemak 1,4 (gram) Karbohidrat 0,1 (kal) Abu (gram) 1,5 Sumber: Infofish 2002

Mackerel 62,5

21,4

23,6

23,1

22,2

25,8

19,8

24,6

9,3

11,6

2,1

2,0

16,5

0,1

0,1

0,1

0,1

0,4

0,1

1,3

1,4

0,3

1,4

1,4

1,1

3) Posisi Tawar Pembeli Peningkatan posisi tawar pembeli untuk komoditas ikan tuna, terjadi jika negara eksportir memiliki kekuatan lebih besar untuk mementukan perdagangan.

Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa sebagai pembeli

sangat mempunyai kekuatan untuk mengatur perdagangan komoditas ikan tuna nasional. Ketiga negara tersebut melalui departemen masing-masing menetapkan standar tertentu untuk komoditas yang diimpor.

Jepang juga

sebagai salah satu anggota Commission for Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT), pernah melakukan penolakan ikan tuna Indonesia, sebab Indonesia tidak termasuk ke dalam organisasi tersebut. Ketatnya peraturan menuntut Indonesia harus mengikuti semua peraturan yang ada untuk melakukan ekspor. Negara tersebut termasuk penguasa pasar yang berhak dalam menetapkan harga ikan, sedangkan sebagai pengikut pasar Indonesia tidak dapat menentukan harga.

Keaktifan dalam organisasi manajemen

perikanan juga menjadi kekuatan negara tujuan ekspor, jika Indonesia tidak termasuk dalam daftar anggota, negara tersebut cenderung akan melakukan penolakan terhadap ikan tuna nasional. 4)

Posisi Tawar Pemasok Peningkatan posisi tawar pemasok untuk komoditas ikan tuna segar, beku, dan olahan terjadi ketika nelayan memiliki kekuatan untuk memilih menjual hasil tangkapannya, namun di tempat pelelangan ikan posisi tawar nelayan menjadi rendah.

Nelayan terpaksa menjual hasil tangkapnya dengan harga

lebih murah untuk menghindari ikan membusuk dan tidak laku dijual. Pedangang pengumpul yang memiliki cold storage selanjutnya menjadi pemasok bagi industri ikan tuna segar, beku, dan olahan.

Pedagang

pengumpul ini yang menentukkan kepada siapa ikan tersebut akan dijual apakah terhadap perusahaan ikan tuna segar, beku atau olahan. Industri ikan tuna olahan nasional memiliki posisi tawar yang rendah terhadap pedagang pengumpul ataupun perusahaan penangkapan ikan tuna. Industri ikan tuna olahan nasional belum memiliki kemampuan untuk membeli ikan tuna dengan harga yang bersaing terhadap ikan tuna segar.

Perusahaan

penangkapan atau pedagang pengumpul lebih memelih untuk mengekspor ikan tuna dalam bentuk segar dibandingkan dijual kepada industri tuna olahan, selain karena daya beli rendah dan adanya peraturan dari pemerintah yang mengenakan pajak sepuluh persen untuk pengangkutan ikan tuna gelondongan antar pulau di dalam negeri.

Industri ikan tuna olahan

umumnya hanya bisa mendapatkan ikan tuna kualitas grade C dan D. Ikan tuna grade C dan D biasanya diolah terlebih dahulu untuk dijual, namun masih ada negara seperti Thailand yang menerima ikan grade C dan D ini dalam bentuk segar. Para nelayan lebih menyenangi menjual ikan tersebut untuk diekspor daripada dijual ke dalam negeri. Industri ikan tuna olahan nasional tidak memiliki posisi tawar yang baik, sehingga sering mengalami kekurangan bahan baku karena ikan dijual kepada negara lain dan terpaksa harus melakukan impor untuk mencukupi kekurangan tersebut. Faktor lain yang membuat posisi tawar industri ikan tuna olahan nasional rendah karena adanya ketergantungan terhadap impor untuk bahan pengemas kaleng (tin-plate).

Impor pengemas kaleng ini berdampak kepada tidak

bersaingnya harga jual ikan tuna kaleng nasional, sebab harganya akan lebih mahal untuk menutupi biaya impor.

Posisi tawar pemasok yang lebih

dominan ini menyebabkan rendahnya ekspor ikan tuna olahan nasional. 5) Persaingan Negara Lain. Kondisi ikan tuna yang semakin menurun membuat beberapa negara melakukan budidaya tuna (tuna farming or tuna sea ranching) seperti Jepang, Austalia, Afrika Selatan dan Spanyol.

Australia dan Afrika Selatan

merupakan negara yang menguasi pasar Jepang karena mampu menghasilkan mutu ikan dengan “grade sashimi”, ikan ini merupakan hasil dari budidaya ikan tuna. Negara Afrika Selatan, Australia, dan Spanyol terus meningkatkan budidaya ikan tuna, hal ini sangat berbahaya bagi industri ikan tuna nasional. Ketiga negara tersebut dapat mengontrol kualitas dan kuantitas ikan tuna, sedangkan Indonesia masih menghadapi masalah untuk hal tersebut. Negara pesaing pengekspor ikan tuna khususnya di Asia Tenggara adalah Thailand.

Thailand menguasai pasar untuk ikan tuna olahan (kaleng),

sedangkan Indonesia hanya menguasai pasar ikan tuna segar.

Indonesia

sebenarnya memiliki potensi ikan tuna yang lebih besar ketimbang Thailand, tetapi nilai ekspor Indonesia dibawah Thailand. Hal ini disebabkan Indonesia juga melakukan ekspor ikan tuna segar ke Thailand, hal ini sangat disayangkan karena Indonesia menjadi penyuplai bahan baku bagi Industri pengolahan Thailand.

Thailand mengemas ikan tuna segar Indonesia ke

dalam kalengan dan mengekspornya ke negara lain terutama ke kawasan Uni Eropa dan Amerika yang menyenangi produk tuna olahan.

Industri

pengolahan ikan tuna nasional banyak yang tidak beroperasi , sebab kekurangan bahan baku akibat penjualan hasil tangkapan ikan tuna lebih banyak dalam bentuk segar dan adanya ketergantungan terhadap kemasan kaleng yang harus di impor serta munculnya produk tuna dalam kemasan plastik yang hingga saat ini masih belum mampu dilakukan oleh Indonesia. Industri pengolahan belum mampu mendukung dalam peningkatan daya saing komoditas ikan tuna nasional sehingga perlu untuk dibenahi terkait masalah kekurangan bahan baku, SDM yang kurang memdai, dan keterbatasan modal agar dapat bersaing dengan negara lain. Struktur persaingan, perusahaan dan strategi persaingan untuk komoditas ikan tuna sangat ketat. Kemungkinan munculnya pesaing baru dalam industri ini sangat besar dengan penerapan teknologi budidaya, sedangkan Indonesia sendiri belum mampu untuk menerapkannya karena membutuhkan biaya cukup besar dan tenaga ahli yang memadai. Kekuatan tawar pembeli juga sangat besar dalam menentukan perdagangan ikan tuna, persaingan dari negara lain sangat kuat dan negara tersebut didukung oleh teknologi dan modal yang cukup. Ancaman untuk

produk subtitusi cenderung lemah dan tingkat kekuatan pemasok cukup berpotensi meningkat.

Keadaan struktur persaingan, perusahaan, dan strategi

perusahaan ini dapat memperlemah daya saing komoditas ikan tuna nasional. 6.3.5. Peran Pemerintah Peran serta pemerinatah sebagai fasilitator, regulator, dan motivator pengawasan perekonomian untuk memajukan komoditas ikan tuna nasional sangat diharapkan. Persaingan global yang dihadapi saat ini membutuhkan pemerintahan yang kuat untuk pengembangan ekonomi domestik. Peran pemerintah dalam peningkatan ikan tuna nasional saat ini sudah cukup baik. Departemen Kelautan dan Perikanan merupakan lembaga yang dibuat oleh pemerintah untuk mengatur masalah tentang perikanan Indonesia.

Departemen Kelautan dan Perikanan

sendiri saat ini telah melakukan pengembangan untuk komoditas ikan tuna. Progaram DKP terkait dengan tuna yaitu revitaliasasi perikanan dan Program Manajemen Mutu Terpadu (PMMT) yang berbasis dari Hazard Analysis of Critical Control Points (HACCP) terutama terhadap indutsri pengolahan berorientasi ekspor. Program DKP untuk mengembangkan komoditas ikan tuna disebut sebagai revitalisasi perikanan.

Program ini menfokuskan pengembangan untuk tiga

komoditas utama yaitu udang, ikan tuna dan rumput laut. Program revitalisasi untuk ikan tuna meliputi: 1) Optimasi pemanfaatan sumberdaya ikan secara bertanggung jawab. 2) Peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha penangkapan. 3) Peningkatan kemampuan dan kapasitas pendukung produksi di dalam negeri. 4) Peningkatan sumberdaya manusia dan penyerapan teknologi. 5) Peningkatan kemampuan manajemen usaha kecil dan akses permodalan. 6) Peningkatan mutu hasil perikanan sebagai bahan baku. 7) Pengembangan dan penyebaran cluster industri. 8) Restrukturisasi armada perikanan. 9) Revitalisasi pelabuhan perikanan. 10) Pengembangan dan penyusunan standarisasi sarana perikanan tangkap. Pemerintah juga mendirikan Badan Standarisasi Nasional (BSN) yang berguna untuk melakukan pengawasan mutu ikan tuna yang dihasilkan seperti

menguji histamine yang terdapat pada ikan dan menetapkan batas histamin yang dapat dikandung. Ikan tuna hasil tangkapan harus mendapatkan SNI (Standarisasi Nasional Indonesia) agar bisa diekspor. Pemerintah saat ini telah banyak membantu perkembangan komoditas ikan tuna, namun ada hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah terkait dengan ketersediaan ikan tuna di alam. Pemerintah sebaikknya melakukan pengawasan yang ketat terhadap semua daerah perairan Indonesia dari pencurian ikan. Kasus pencurian ikan ini akan membawa dampak negatif terhadap perkembangan komoditas ikan tuna nasional. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama oleh semua aparat pemerintahan untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam Indonesia. Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk peningkatan daya saing ikan tuna nasiona, hal ini terkait dengan pembenahan infrastruktur, penciptaan iklim bisnis yang mendukung, dan peningkatan terhadap akses pembiayaan. 6.3.6. Peran Kesempatan Peran kesempatan yang berada pada ruang lingkup komoditas ikan tuna untuk meningkatkan daya saing diantara lain perkembangan teknologi budidaya dan era perdagangan bebas.

Penjelasan mengenai peran kesempatan tersebut

adalah sebagai berikut: 1) Pekembangan Teknologi budidaya. Ikan tuna yang selama dihasilkan berasal dari tangkapan di alam. Namun, sifat ikan tuna yang selalu bermigrasi membuat para nelayan sulit mendapatkan jumlah dan ukuran tuna yang seragam. Industri pengolahan ikan membutuhkan bahan baku yang stabil.

Permasalahan ini membuat

beberapa negara mulai mencoba teknologi budidaya ikan tuna. Penemuan teknologi budidaya ini dapat mengatasi masalah kesulitan bahan baku. Teknik ini memudahkan para nelayan atau eksportir untuk mengekspor ikan tuna dalam bentuk yang seragam dan kualitas mutu yang terjamin. Teknik budidaya dapat dilakukan pada kondisi perairan yang cocok untuk budidaya tuna diantaranya adalah suhu perairan berkisar 15 – 280C, perairan budidaya tidak tercemari oleh buangan lumpur sungai, aliran arus laut yang cukup, tingkat penetrasi cahaya yang cukup besar dan tingkat oksigen terlarut yang tinggi. Bentuk jaring apung harus dirubah dari kubus dan segiempat ke

bentuk lingkaran untuk menyesuaikan dengan tipe berenang tuna. Teknik budidaya ikan tuna dibedakan menjadi dua jenis yaitu27: a)Penggemukkan Anak Tuna Pertama anak-anak ikan tuna ditangkap dilaut dengan menggunakan purse seine yang berukuran 120 cm dan berat sekitar 30-50 kg. Ikan yang telah terjaring tetap dibiarkan dilaut dan ditarik dengan kapal berkecepatan 1-2 knot.

Ikan kemudian dipindahkan ke jaring apung

bagian dalam yang terbuat dari plastik polyetilene hitam, berdiameter 3040 meter (m) , dengan kedalam jaring 12-20 m atau lima meter diatas permukaan dasar laut dan ukuran mata jaring 60-90 milimeter (mm). Jaring apung luar memiliki ukuran mata jaring 150-200 mm dan berfungsi untuk menjaga ikan dari predator, namun menurut penelitian jaring luar ini tidak diperlukan sehingga dapat menghemat biaya. Satu jaring apung standar dapat menampung 2000 ekor anak tuna tergantung diameter jaring dan daya tamping maksimum yang diijinkan, idealnya 4 kg per meter kubik air. Ikan diberi makan dua kali sehari dengan ikan makarel atau sarden, namun saat ini bisa memakai makanan buatan (pellet) yang lebih tinggi tingkat konsumsi pakannya dan dapat menghemat biaya. Ikan dipelihara sekitar tiga hingga lima bulan atau sampai mencapai ukuran konsumsi. b) Penanganan Induk hingga Pemeliharaan Benih Calon induk dipelihara sejak masih benih yang berasal dari hasil tangkapan trap net (trolling net). Calon induk diberi makan ikan segar seperti teri, makarel, horse makarel, dan cumi-cumi serta berbagai vitamin dan enzim ditambahkan dalam pakan. Pemberian pakan dua hingga lima persen dari berat tubuh dan dilakukan satu atau dua kali sehari. Kemudian proses pemijahan dilakukan untuk ikan tuna yang telah berumur lima tahun. Proses pemijahan dilakukan didalam jaring berdiameter 30 m dan kedalam tujuh meter pada suhu 21,8-25,60C. Telur ikan tuna menetas setelah 32 jam pada suhu 240C selama setengah jam. 27

Sumber:Anonim. 2008. Budidaya Tuna: Suatu Keniscayaan. http://www.kamusilmiah.com/pangan/budidaya-tuna-suatu-keniscayaan-bagian-ii/. tanggal 20 Oktober 2009.

Diakses

Setelah menetas proses pemeliharaannya sama seperti budidaya penggemukkan anak ikan tuna. 2) Era Pedagangan Bebas Era perdagangan bebas membuat hampir seluruh bentuk perdagangan tidak mempunyai batas. Setiap negara dapat masuk ke negara lain dan membuka usaha atau melakukan kerjasama.

Era ini dapat membuat hambatan

perdagangan menjadi berkurang, hal ini merupakan peluang untuk komoditas ikan tuna agar dapat diekspor ke neagara lain. Namun, tidak semua negara akan melonggarkan peraturan yang terutama negara seperti Jepang, Amerika Serikat dan Uni Eropa yang selama ini sangat ketat dengan berbagai peraturannya. 6.4. Analsisi SWOT dan Strategi Kebijkan Analisis SWOT digunakan untuk menenetukan faktor apa yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada komoditas ikan tuna dalam perdagangan internasional. Faktor internal dilihat berdasarkan faktor kekuatan dan kelemahan. Faktor eksternal dilihat berdasarkan faktor ancaman dan peluang. Berikut penjelasan mengenai faktor tersebut: 1) Faktor Kekuatan Faktor kekuatan merupakan keunggulan yag dimiliki oleh komoditas ikan tuna negara Indonesia dibandingkan dengan

negara lain yang menjadi

pengekspor ikan tuna. Faktor kekuatan tersebut adalah: a)Indonesia memiliki laut yang luas dan posisi yang baik untuk penangkapan ikan tuna. Indonesia memiliki luas perarian sebesar 5,8 juta km2. Negara Indonesia diapit oleh dua samuder yaitu Samuder Hindia dan Samuder Pasifik. Indonesia memiliki potensi yang baik sebagai negara produsen tuna. Posisi Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa menguntungkan untuk produksi tuna Indonesia, hal ini dikarenakan sebagai berikut (DKP 2005): iv) Adanya massa air barat dan timur yang melintas di Samudera Hindia dengan membawa partikel dan kaya akan makanan biota laut.

v) Adanya arus Kuroshio yaitu North Equatorial dan South Equatorial Current di Samudera Pasifik merupakan wilayah yang kaya dengan bahan makanan serta mempunyai suhu, salinitas, dan beberapa faktor oseanografis yang disukai oleh ikan tuna. vi) Wilayah periaran nusantara merupkan tempat berpijah atau kawin berbagai jenis ikan termasuk ikan tuna, terutama di perairan Selat Makassar dan Laut Banda. b) Adanya daerah penangkapan ikan tuna yang masih berstatus under exploied (UE). Daerah yang masih berstatus UE terdapat pada Laut Cina Selatan, Selat Makasaar dan Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Halmahera, Teluk Tomini, Laut Sulawesi (Samudera Pasifik), LAut Arafura, dan Samudera Hindia. Tabel 2 menjelaskan bahwa daerah UE ini belum dimanfaatkan secara maksmial, namun sangat berpotensial dengan potensi ikan pelagis termasuk ikan tuna yang cukup besar . c)Kuantitas Tenaga Kerja yang memadai. Indonesia memiliki jumlah penduduk kelima terbesar didunia. Rakyat Indonesia sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. Besarnya jumlah tenaga kerja yang dimiliki merupakan kekuatan yang dimiliki untuk pengembangan daya saing ikan tuna Indonesia. d) Adanya hubungan baik dengan negara tujuan ekspor. Indonesia memiliki hubungan baik dengan negara tujuan ekspor seperti dengan Thailand, Vietnam, dan Singapura yang termasuk dalam ASEAN (Assocaition of Southeast Asian Nations). Indonesia juga mempunyai hubungan kerjasama yang baik dengan negara Amerika Serikat, Australia, Jepang, dan Uni Eropa. Kerjasama yang terjalin tidak hanya dalam masalah perdagangan internasional tapi juga menyangkut masalah social, ekonomi, dan edukasi. Hubungan baik ini dapat dimanfaatkan untuk menjalin kerjasama dan memperoleh bantuan modal. e) Adamya dukungan pemerintah. Dukungan pemerintah dalam pengembangan ekspor ikan tuna sangat baik. Adanya program revitalisasi perikanan yang dilakukan oleh DKP

yaitu terhadap tiga komoditas utama udang, ikan tuna dan rumput laut. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas ikan tuna. Pemerintah melalui DKP juga mendirikan lembaga riset untuk komoditas perikanan, untuk ikan tuna sendiri dibentuknya Komisi Tuna Nasional untuk mengatasi masalah ikan tuna. 2) Faktor Kelemahan Faktor kelemahan merupakan faktor kekurangan yang dimiliki oleh komoditas ikan tuna Indonesia jika dibandingkan dengan negara pengekspor ikan tuna lainnya. Faktor kelemahan tersebut adalah: a) Rendahnya pengawasan kualitas mutu. Rendahnya tentang pengawas mutu ikan tuna dengan banyaknya kasus penolakan ikan tuna yang terjadi. Penolakan ini umumnya disebabkan mutu ikan yang dihasilkan tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh negara importir.

Rendahnya mutu disebakan masih rendahnya

kesadaran khususnya kepada para nelayan untuk melakukan cold storage pada ikan setelah ditangkap. Ikan tuna yang tidak segera dibekukan akan mengalami penurunan kualitas dan tidak dapat diekpor. b) Kualitas tenaga kerja yang belum memadai. Sumberdaya manusia yang dimiliki oleh negara Indonesia sangat besar, namun kualitasnya belum memadai. Nelayan yang ada umumnya status pendidikan Kemampuan

rendah

dan

manajemen

teknik dan

penangkapan pemasaran

masih

juga

tradisional.

masih

rendah.

Kemampuan untuk melalukan penanganan yang baik setelah ikan ditangkap untuk para nelayan masih rendah.

Nelayan yang sudah

bekerjasama dengan perusahaan eksporitr telah memiliki kemampuan dan penerapan teknologi yang cukup baik, namun masih banyak nelayan di Indonesia yang statusnya masih nelayan tradisional dan hanya memakai kapal yang sederhana.

Keadaan ini membuat ikan tuna

nasional lemah daya saing jika dibanding dengan negara Asia Tenggara seperti Thailand kualitasnya jauh dibawah Thailand. Thailand mampu melakukan ekspor ikan tuna kaleng dalam jumlah besar walaupun hasil perikanannya lebih banyak berasal dari impor.

c) Rendahnya sistem penanganan hasil. Nelayan sebagai pihak pertama dalam kegiatan penangkapan ikan tuna masih rendah kesadarannya untuk memasukkan ikan setelah ditangkap ke dalam cold storage. Ikan harus segera dimasukkan, sebab jika tidak saat ikan sampai ke tangan pengumpul ikan telah mengalami penurunan kesegaran. Jarak tempuh yang lama akan membuat ikan dalam keadaan tidak segar tersebut akan cepat membusuk, terutama untuk produk ekspor. Oleh karena itu banyak produk ikan tuna yang ditolak karena saat sampai ke negara tujuan ekspor sudah tidak segar kembali dan kualitas mutunya tidak sesuai dengan standar. d) Infrastruktur yang kurang memadai. Sistem transportasi yang kurang memadai membuat kelancaran pendistribusian ikan tuna akan terhambat dan waktu tempuh akan bertambah.

Sistem komunikasi yang dimiliki memang cukup baik,

namun kondisi jalan Indonesia terutama untuk daerah-daerah pesisir umumnya masih buruk. Keadaan ini akan mengurangi mutu ikan yang dihasilkan. e) Ketergantungan terhadap harga dunia. Posisi Indonesia sebagai pengikut pasar dalam struktur pasar komoditas ikan tuna internasional yang cenderung mengarah ke oligopoli. Posisi Indonesia tersebut mengakibatkan Indonesia tidak dapat membuat keputusan tentang harga dan harus mengikuti harga yang ditetapkan oleh pemimpin pasar. f) Rendahnya pengawasan perairam Rendahnya pengawasan terhadap perairan Indonesia menyebabkan naikknya kasus pencurian ikan yang dilakukan oleh nelayan asing. Hal ini disebabkan kurangnya sumberdaya manusia dan peralatan untuk mengawasai perairan Indonesia yang sangat luas. Pengawasan terhadap pencatatan ikan yang ditangkap oleh petugas pelabuhan belum berjalan dengan baik, sehingga sulit untuk memprediksi ketersediaan sumberdaya yang masih tersisa.

3) Faktor Peluang Faktor peluang merupakan keadaan yang mampu memberikan keuntungan untuk ekspor ikan tuna Indonesia. Faktor peluang ini terkait dengan keadaan diluar kondisi ikan tuna Indonesia, namun dapat memberikan efek positif untuk pengembangan ekspor ikan tuna Indonesia. Faktor peluang tersebut adalah: a) Adanya perkembangan teknologi budidaya. Perkembangan budidaya ini terkait dengan adanya cara baru yang dapat dilakukan untuk melakukan budidaya ikan tuna. Budidaya ini sangat bermanfaat sehingga bisa menjaga ketersediaan ikan tuna, karena saat ini Indonesia hanya mengandalkan ketersedian ikan tuna melalui hasil tangkapan di alam bebas (wild catch). b) Pangsa pasar yang masih luas. Ikan tuna merupakan produk ikan yang digemari oleh masyarakat dunia. Pangsa pasar untuk komoditas ikan tuna masih terbuka luas. Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa merupakan pasar yang potensial untuk dimasuki. Kebutuhan akan permintaan ikan tuna untuk ketiga negara tersebut belum mampu dicukupi oleh negara pengekspor ikan tuna. Negara Jepang memiliki persentase permintaan impor rata-rata pertahun untuk ikan tuna segar, beku dan olahan masing-masing sebesar 33,17; 8.01; dan 3,06 persen. Negara Amerika Serikat memiliki persentase permintaan impor untuk ikan tuna segar, beku, dan olahan masingmasing sebesar 16,87; 0,42; dan 15,88 persen.

Kawasan Uni Eropa

memiliki persentase permintaan impor untuk ikan tuna segar, beku, dan olahan masing-masing sebesar 4,83; 3,94; dan 29,35 persen. Hasil ini memperlihatkan bahwa Negara Jepang adalah pasar yang saat berpotensial untuk komoditas ikan tuna segar, Uni Eropa berpotensial untuk ikan tuna olahan dan Amerika Serikat merupakan pasar yang potensial untuk komoditas ikan tuna beku dan olahan (Lampiran 13) c) Adanya tren from red meat to white meat. Tren tersebut mulai mengubah pandangan masyarakat yang selama ini lebih banyak mengkonsumsi daging hewan ternak mulai menggemari

memakan daging yang berasal dari ikan.

Daging merah memiliki

kadungan lemaknya lebih tinggi daripada ikan, jika terlalu banyak mengkonsumi akan mengakibatkan penyakit seperti kolesterol Winarno

(1993) diacu dalam Rospiati (2006) menyatakan bahwa berdasarkan kandungan lemaknya, ikan terbagi menjadi tiga golongan yaitu ikan dengan kandungan lemak rendah (kurang dari dua persen) terdapat pada kerang, cod, lobster, bawal, gabus; ikandengan kandungan lemak sedang (dua sampai dengan lima persen) terdapat pada rajungan,oyster,udang, ikan mas, lemuru, salmon; dan ikan dengan kandungan lemak tinggi (empat sampai dengan lima persen) terdapat pada hering, mackerel, salmon, salon, sepat, tawes dan nila. Ikan banyak mengandung asam lemak bebas berantai karbon lebih dari delapan belas. Asam lemak ikan lebih banyak mengandung ikatan rangkap atau asam lemak tak jenuh dari pada mamalia. Keseluruhan asam lemak yang terdapat pada daging ikan kurang lebih 25 macam. Jumlah asam lemak jenuh 17 – 21 persen dan asam lemak tidak jenuh 79 – 83 persen dari seluruh asam lemak yang terdapat pada daging ikan (Hadiwiyoto 1993 diacu dalam Rospiati 2006). Kandungan nilai nutrisi ikan tuna mentah terdapat pada Lampiran 14.

Tren tersebut diakibatkan oleh semakin tingginya kesadaran

masyarakat untuk menjaga kesehatannya. Kandungan nutrisi ikan tuna mentah dijelakan pada lampiran dua belas. d) Munculnya penyakit pada hewan ternak. Penyakit yang muncul pada hewan ternak seperti sapi gila dan flu burung membuat konsumsi masyarakat terhadap hewan ternak mulai berkurang, karena takut akan terkena dampak dari penyakit tersebut. Masyarakat mulai mencari pengganti sumber protein lain selain dari daging ternak tersebut. Ikan merupakan sumber protein lain yang dapat menggantikan daging hewan ternak.

Kandungan protein ikan sangat tinggi

dibandingkan dengan protein hewan lainnya, dengan asam amino essensial sempurna, karena hampir semua asam amino esensial terdapat pada daging ikan (Pigott dan Tucker, 1990 diacu dalam Rospiati 2006). Oleh karena itu peluang untuk meningkatkan volume ekspor sangat

terbuka lebar terutama untuk ikan tuna yang menjadi salah satu jenis ikan yang disukai oleh masyarakat selain salmon, makarel, dan herring. e) Adanya Organisasi Manajemen Perikanan Regional (Regional Fisheries Management Organization). Organisasi tersebut adalah Indian Ocean Tuna Commission (IOTC) yang menangani manajemen penangkapan ikan tuna yang terletak di Samudera Hindia, International Convention on Conservation of Atlantic Tuna (ICCAT) yang menangani kegiatan penangkapan dan konservasi ikan tuna di kawasan Atlantik, Western and Central Pacific Fisheries Commission (WCPFC), dan Commission for Conservation of Southern Bluefin Tuna (CCSBT) yang menangani khusus tentang tuna sirip biru selatan. f) Adanya negara yang mau berinvestasi. Australia merupakan negara yang mau melakukan investasi untuk komoditi ikan tuna, karena melihat potensi yang dimiliki oleh Indonesia masih banyak yang belum dimaksimalkan. Kesempatan ini sangat baik untuk dimanfaatkan untuk mengatasi kendala modal yang menjadi salah satu masalah internal untuk ikan tuna. 4) Faktor Ancaman Faktor ancaman merupakan keadaan yang mampu memberikan efek negatif peningkatan daya saing komoditas ikan tuna Indonesia. Faktor peluang ini terkait dengan keadaan diluar kondisi ikan tuna Indonesia. Faktor peluang tersebut adalah: a) Peningkatan kekuatan tawar pembeli. Peningkatan kekuatan pembeli dapat menurunkan posisi tawar dalam proses perdagangan.

Misalnya, berbagai macam peraturan yang

ditetapkan oleh negara tujuan ekspor baik yang menyangkut tarif maupun non-tarif membuat negara Indonesia mengalami kendala untuk melakukan ekspor karena akan meningkatkan biaya produksi. Peraturan yang ditetapkan pun berbeda-beda, jika produk ikan tuna yang dihasilkan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka produk tersebut ditolak.

b) Peningkatan teknologi budidaya pesaing. Adanya teknik budidaya yang mulai dilakukan oleh negara pesaing sangat berbahaya, sebab negara tersebut mampu menjaga ketersediaan ikan tuna untuk diekspor. Negara seperti Australia dan Jepang saat ini mulai meningkatkan budidaya ikan tuna, jika mereka mampu melakukan budidaya maka permintaan impor dari negara lain untuk ikan tuna akan mengalami penurunan. c) Adanya hambatan tarif. Hambatan tarif menjadi faktor yang menurunkan daya saing ikan tuna Indonesia di pasar internasional. Tarif produk ikan tuna berbeda antar pasar. EU memasang tarif 24 persen untuk produk tuna, namun bebas pajak import pada tuna kaleng untuk negara-negara ACP (Afrika, Karibia dan Pasifik). Negara-negara penghasil tuna di EU seperti Spanyol, sangat menentang pengurangan tarif tuna karena merusak persaingan mereka. Negara-negara dari The Andean Pact (Peru, Bolivia, Equador, Columbia), Panama dan negara-negara Amerika Tengah bebas dari pajak impor untuk ikan tuna kaleng oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat mengenakan tairf untuk produk ikan tuna sebesar 35 persen. Tingginya tarif yang dikenakan membuat keuntungan yang didapat akan semakin kecil karena biaya yang dikeluarkan akan semakin besar dan adanya pembatasan kuota. d) Adanya hambatan non-tarif. Hambatan non-tarif menyangkut tentang isu mutu, sanitasi, keamanan pangan, kesehatam, isu terorisme, isu hak asasi manusia, isu lingkungan dan hambatan administratif. Isu yang terkait dengan mutu, kesehatan, sanitasi, dan keamanan pangan yaitu peraturan yang ditetapkan oleh Codex

Alimentarius

Comisscion

(CAC)

seperti

persyaratan

komposisional suatu produk, batasan kandungan dan bahan makanan apa saja yang dapat digunakan.

Kesepakatan tentang sanitary and

phytosanitary (SPS) yang menyakut tentang keamanan pangan dan kandungann gizi.

Isu hak asasi manusia yang terkait dengan rendahnya upah pekerja dan pekerja bawah umur.

Isu terorisme oleh Amerika Serikat kepada

Indonesia karena dianggap terlalu lemah dalam menangani terorisme, hal ini dikhawatirkan akan menggangu peluang untuk ekspor komoditas perikanan.

Isu lingkungan seperti dolphin issue yang menuntut

pencantuman label lingkungan (ecolabelling), jika tidak mencantumkan maka produk akan dikenakan larangan impor. Hambatan administratif yang terjadi di Uni Eropa yaitu approval number yaitu penolakan impor karena eksportir tidak memiliki approval number yang dikeluarkan komisi Eropa dan health certificate yang harus sesuai dengan bahasa nasional pelabuhan masuk di Eropa dan ditandatangani oleh pejabat yang telah dinotifikasi menggunakan cap dan tinta yang sesuai. Hambatan non-tarif ini menyebabkan biaya produksi meningkat, sebab dibutuhkan biaya yang untuk mendapatkan semua sertifikat yang dibutuhkan untuk ekspor ikan tuna. e) Krisis ekonomi baik yang bersifat nasional maupun global. Krisis ekonomi nasional yang dialami oleh Indonesia berpengaruh terhadap kondisi ikan tuna Indonesia. Dampak krisis ekonomi nasional yang paling berpengaruh yaitu naiknya harga bahan bakar minyak. Kenaikan ini membuat banyak kapal penangkap baik skala menengah dan besar yang berhenti berproduksi karena tingginya biaya yang dikeluarkan.

Penangkapan ikan tuna sendiri hanya bisa dilakukan

dengan kapal berukuran besar yang memerlukan bahan bakar solar. Dampak dari krisis ekonomi global terjadi ketika negara Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi. Krisis ini membuat eksportir di Cilacap tidak dapat

melakukan

ekspor

karena

Amerika

Serikat

melakukan

pemberhentiaan untuk impor ikan tuna. Krisis ekonomi Amerika Serikat tentunya akan mempengaruhi perekonomian Indonesia juga, walaupun saat ini masih belum terpengaruh namun jika terjadi dalam jangka panjang tentunya akan membawa masalah bagi perekonomian Indonesia juga.

f) Illegal Unreported and Unregulated Fishing (IUU Fishing). IUU fishing ini pertama kali dikeluarkan saat diselengarakannya forum CCAMLR (Commision for Conservation of Atlantic Marine Living Resources) tahun 1997 yang membahas mengenai kerugian yang potensial muncul dari praktek penangkapan ikan yang dilakukan oleh negara bukan anggota CCAMLR. Isu ini berkembang secara global oleh FAO dengan alasan cadangan ikan dunia menujukkan trend menurun dan salah satu faktornya penyebabnya adalah praktek illegal fishing ini. Illegal fishing terdiri dari dua jenis yaitu pencurian semi legal dan murni illegal. Pencurian semi illegal terjadi ketika pihak asing memanfaatkan surat ijin penangkapan legal yang dimiliki oleh penangkap global dan menggunakan kapal dengan bendera lokal atau negara lain, hal ini terkenal dengan istilah pinajm bendera atau flag of convenience (FOC). Pencurian murni illegal terjadi ketika pihak asing dengan menggunakan kapal dengen bendara negara sendiri melakukan penangkapan di luar wilayah negaranya. Kasus unreported fishing menyangkut kegiatan penangkapan ikan (walaupun legal) yang tidak dilaporkan (unreported), terdapat kesalahan dalam pelaporannya (misreported) dan pelaporan yang tidak semestinya (underreported).

Kasus unregulated fishing menyangkut kegiatan

penangkapan ikan yang tidak diatur (unregulated) oleh negara yang bersangkutan.

Dampak negatif yang disebabkan oleh praktik-praktik

IUU fishing, diantaranya adalah: i)

IUU fishing melibatkan wilayah yang luas baik dalam konteks nasional dan internasional. Di bawah yurisdiksi nasional oleh nelayan skala kecil dan industri, dan di laut lepas oleh kapal-kapal perikanan jarak jauh (distant water fisheries vessels). Pada akhirnya, praktik-praktik IUU fishing akan mengancam upaya pengelolaan masyarakat, baik nasional maupun internasional.

ii) IUU fishing seringkali menyebabkan menurunnya stok sumberdaya ikan serta hilangnya kesempatan sosial dan ekonomi. Hal ini dikarenakan, praktik-praktik IUU fishing menyebabkan pencatatan

statistik perikanan tidak akurat, serta ketidakpastian dalam pemanfaatan sumberdaya ikan dan pembuatan keputusan-keputusan pengelolaan. iii) IUU fishing dapat merusak hubungan antara negara-negara yang bertetangga. Hal ini dikarekan, pelakunya cenderung menggunakan batas-batas negara untuk menghindari pelacakan atau tertangkap dan untuk menghindari konsekuensi hukum. Keempat faktor tersebut dianalisis berdasarkan analisis SWOT akan menghasilkan strategi kebijakan yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing komoditas ikan tuna Indonesia di pasar internasional. Hasil analisis SWOT dan strategi kebijakan dapat dilihat pada Gambar 7. Faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang terdapat pada komoditas ikan tuna digunakan untuk menentukan strategi kebijakan yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan peluang yang ada dan memperkecil ancaman yang dapat terjadi.

Berikut adalah strategi kebijakan yang dilakukan berdasarkan

analisis SWOT: 1) Strategi SO Strategi SO dilakukan untuk memaksimalkan keunggulan yang dimiliki dengan peluang yang ada. Strategi SO untuk komoditas ikan tuna adalah sebagai berikut: a) Meningkatkan produski ikan tuna. Pangsa pasar yang masih terbuka luas dan mulai meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan membuat permintaan akan ikan semakin meningkat kedepannya. Luasnya daerah perairan Indonesia dan beberapa daerah yang masih berstatus UE dapat dimaksimalkan pemanfaatannya. Potensi tersebut sangat baik untuk peningkatan kuantitas jumlah yang diekspor. Produksi ikan tuna akan meningkat, jika didukung oleh penguatan kelima kondisi faktor sumberdaya yang saat ini masih memiliki keterbatasan. Peningkatan produksi yaitu dengan cara: i)

Memberikan modal untuk pengembangan ikan tuna untuk wilayah timur seperti di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi dan Irian Jaya. Bisnis ikan tuna membutuhkan biaya yang besar untuk memulainya.

Pemerintah pusat dan daerah sebaiknya memperluas akses modal dan mempermudah proses pengurusan surat ijin penangkapan ikan kepada nelayan. Ketiga tempat di atas perlu dikembangkan agar mampu bertahan dalam persaingan internasional yang semakin ketat. ii) Melakukan budidaya ikan tuna melalui lembaga riset. Budidaya ikan tuna merupakan suatu peluang yang sangat baik untuk meningkatkan daya saing ikan tuna nasional. Budidaya ini dapat diterapkan di Indonesia sebab kondisi alam yang mendukung, namun budidaya ini juga memerlukan modal dan tenaga ahli yang berkualitas. Penerapan budidaya ikan tuna saat baik untuk dilakukan untuk mengantisipasi penurunan populasi dan jumlah ikan tuna yang dapat ditanggkap. Penerepan teknologi ini berguna untuk konservasi dan meningkatkan kepercayaan lembaga manajemen ikan regional. Peningkatan kepercayaan akan membawa dampak positif untuk mengurangi kemungkinan produk ikan tuna nasional akan dikenakan embargo. b) Memperluas pasar.

Pangsa pasar yang masih tersedia harus

dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Perluasaan pasar akan

meningkatkan daya saing komoditas ikan tuna nasional dan menambah devisa negara. Perluasaan pangsa pasar dilakukan melalui cara sebagai berikut: i)

Menambah negara tujuan ekspor. Indonesia saat ini telah melakukan kerjasama dengan beberapa negara untuk kegiatan ekspor ikan tuna. Ekspor ikan tuna Indonesia masih terfokus kepada Amerika Serikat, Jepang dan Uni Eropa.

Kompetisi untuk masuk ketiga negara

tersebut sangat ketat, sebab ketiga negara tersebut memiliki daya beli yang baik. Negara lain saat ini mulai aktif melakukan kegiatan produksi ikan tuna, sebagian memanfaatkan potensi alam yang dimiliki dan menerepkan teknologi budidaya. Pesaing baru tersebut pasti akan mencoba masuk ke pasar Amerikan, Jepang dan Kawasan Uni Eropa.

Indonesia perlu untuk mengantisipasi hal tersebut

dengan memperluas jaringan pemasaran, sehingga ketika terjadi

pengurangan kuota dari ketiga negara tersebut hasil ikan tuna nasional masih dapat dipasarkan ke negara lain. ii) Mendaftar sebagai anggota lembaga yang menangani masalah tuna. Lembaga manajemen perikanan regional memberikan pengaruh terhadap daya saing komoditas ikan tuna. Keaktifan sebagai anggota akan membuka akses Indonesia sebagai pemanfaat sumberdaya ikan tuna di perairan internasional (high seas). Keanggotaan juga akan membuat Indonesia memiliki kuota produksi dan kuota pasar internasional serta menghindari Indonesia dari kemungkinan embargo untuk produk ikan tuna. 2) Strategi ST Strategi ST dilakukan dengan memaksimalkan keunggulan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman yang ada. Strategi ST untuk komoditas ikan tuna adalah sebagai berikut: a) Meningkatkan mutu ikan tuna yang dihasilkan. Mutu ikan merupakan faktor yang menentukkan apakah ikan layak untuk masuk ke negara ekspor atau tidak.

Indonesia sering mengalami penolakan produk

perikanan sebab mutu ikan tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh negara tujuan ekspor. i)

Sosialisasi kepentingan mutu ikan untuk tujuan ekspor kepada seluruh pihak yang ada dalam industri perikanan harus dilakukan oleh aparat pemerintah setempat. Nelayan merupakan pihak yang paling penting diberikan sosialisasi menjaga kualitas mutu ikan dan menerapkan cold chain system sebagai cara menjaga kesegaran ikan yaitu dengan didinginkan atau dibekukan mulai dari penangkapan hingga pemasaran. Cold chain system pada penanganan di setelah penangkapan di atas kapal dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan memasukkan ikan ke dalam palka yang telah diisi es yang telah dicampur dengan air laut dan teknik chilling water dimana ikan di simpan dalam palka yang telah diisi air laut dan didinginkan dengan menggunakan mesin freezer serta dijaga suhunya tetap pada 00C.

ii) Lembaga pengawasan mutu yang telah dibentuk oleh pemerintah lebih ditingkatkan lagi terutama peningkatan kualitas SDM agar mampu melaksanakan pengecekkan mutu ikan lebih cepat terutama untuk lembaga perwakilan yang berada di daerah.

Keterbatasan

SDM ini membuat waktu yang diperlukan untuk mengurus seluruh adminstrasi menjadi lama dan akan mempengaruhi keadaan mutu dan keamanan pangan ikan yang di ekspor 3) Strategi WO Strategi

WO

dilakukan

untuk

meminimalisir

kelemahan

dengan

memanfaatkan peluang yang ada. Strategi WO untuk komoditas ikan tuna adalah sebagai berikut: a) Melakukan kerjasama dengan pihak asing. Kerjasama dengan pihak asing dapat ditingkatkan sebagai sarana untuk peningkatan daya saing komoditas ikan tuna. Kerjasama dengan pihak asing berbentuk pemberian izin kepada pihak asing untuk menanamkan modal di Indonesia sesuai dengan peraturan yang berlaku. Industri ikan tuna nasional memang dihadapkan pada masalah permodalan, pihak asing yang memiliki modal besar sebaiknya diijinkan untuk mengelola industri ikan nasional. Kerjasama dengan pihak asing harus didasari dengan kekuatan peraturan pemerintah, sehingga kerjasama tersebut tidak membuat Indonesia menjadi rugi. Kerjasama ini harus dikelola dengan baik agar hasil ekspor tetap masuk ke Negara Indonesia dan populasi ikan tuna Indonesia juga dapat terjaga. b) Melakukan pembenahan manajemen perikanan perusahaan. Perikanan nasional memiliki banyak masalah yang belum mampu diselesaikan dengan baik. Manajemen perikanan nasional dapat diselesaikan melalui cara: i)

Melakukan pelatihan karyawan terhadap penanganan ikan pasca panen. Pelatihan terhadap karyawan (terutama untuk nelayan yang bekerja untuk perusahaan) akan penanganan ikan pasca panen sangat diperlukan sehingga kualitas ikan tuna dapat dijaga dengan baik

hingga

sampai

pengolahan.

ditangan

konsumen

akhir

atau

perusahaan

Pelatihan karyawan tentang HACCP juga perlu

dilakukan agar sesuai dengan standar internasional. ii) Meningkatkan teknologi peralatan. Penyediaan perahu dengan peralatan teknologi yang bermanfaat dalam penangkapan ikan tuna seperti alat pendekteksi ikan harus sudah dimiliki disetiap kapal. Selain itu teknologi ditempat transit juga harus diperbaiki seperti mengganti papan seluncur yang digunakan untuk menurunkan ikan dari kapal dengan sistem roda berjalan sehingga mengurangi kemungkinan ikan mengalami goresan atau kecacatan fisik. 4) Strategi WT Strategi WT dilakukan untuk meminimalisir kelemahan dan ancaman yang ada. Strategi WT untuk komoditas ikan tuna adalah sebagai berikut: a)Memperbaiki sarana dan prasarana yang mendukung ikan tuna nasional. Perbaikan sarana dan prasaran untuk peningkatan daya saing komoditas ikan tuna nasional harus dilakukan segera. Kondisi sumberdaya yang dimiliki masih banyak kendala yang dihadapi sehingga harus dibenahi agar daya saing meningkat. Perbaikan sarana dan prasarana dapat dilakukan melalui cara sebagai berikut: i)

Pembenahan sistem transportasi terutama untuk daerah Indonesia Timur, sebab daerah yang masih berstatus UE lebih banyak terdapat di Wilayah Indonesia Timur. Pembenahan pelabuhan yang ada dan disesuaikan dengan skala internasional. Pemerintah daerah beserta seluruh aparat yang mengurusi masalah transportasi dan pekerjaan umum mengeluarkan dana untuk memperbaiki kondisi jalanan dengan cara diaspal dan diperluas agar jarak yang ditempuh terutama untuk nelayan yang berada dipedalam dapat dipersingkat. Pelabuhan pendaratan ikan yang ada masih dibawah standar sehingga perlu pembenahan seperti penggantian tenda atau atap plastik yang berguna menjaga ikan dari cahaya matahari saat dibongkar, penggantian papan luncur yang sudah tidak licin lagi agar tidak

merusak kulit ikan, penjagaan sanitasi untuk tempat pengumpulan ikan dan toilet letaknya harus jauh dari ruang penyimpanan serta dilengkapi tempat cuci tangan

dan sabun disinfektan.

Armada

penerbangan dalam negeri perlu ditingkatkan lagi agar mampu memenuhi

permintaan

untuk

pengiriman

ekspor,

agar

ketergantungan terhadap jasa penerbangan asing dapat berkurang. ii) Penyediaan sarana dan prasarana.

Penyediaan sarana dan prasaran

yang dapat dilakukan adalah pengadaan cold chain system seperti membangun pabrik es untuk pelaksanaan sistem ini. Sarana ini sangat berguna bagi kapal yang tidak memilki freezer dan kapal nelayan nasional lebih banyak belum mempunyai freezer. Pabrik es ini akan membentu nelayan untuk menjaga mutu kesegaran ikan dan mampu berfungsi sebagai pengawet, sehingga saat dikirim ke pengumpul masih dalam kondisi yang baik. b) Memperbaiki kondisi perkenomian nasional yang mendukung komoditas ikan tuna nasional. Kondisi perkonomian nasional sangat berpengaruh terhadap daya saing komoditas ikan tuna nasional, hal penting yang harus diatasi yaitu bagaimana menjaga harga bahan bakar dalam negeri tidak terus meningkat. Peningkatan bahan bakar ini akan membawa dampak negatif yang besar, sebab banyak nelayan yang akan berhenti melaut. Kestabilan nilai tukar juga harus dijaga terutama terhadap dollar Amerika Serikat, sebab ikan tuna diperdagangkan berdasarkan dollar Amerika Serikat.

Strenghts (S)

Weakness (W)

1) Indonesia memiliki laut yang luas dengan posisi yang baik

1) Rendahnya kualitas mutu ikan yang dihasilkan.

untuk penangkapan ikan tuna. Internal

2) Kualitas tenaga kerja yang belum memadai.

2) Masih adanya daerah penangkapan ikan tuna yang berstatus

3) Rendahnya sistem penanganan hasil. 4) Infrastruktur yang kurang memadai.

under exploied (UE). Eksternal

3) Kuantitas tenaga kerja yang memadai.

5) Ketergantungan terhadap harga dunia.

4) Adanya hubungan baik dengan negara tujuan ekspor.

6) Rendahnya pegawasan perairan

5) Adanya dukungan pemerintah. Opportunities (O)

Strategi SO

1) Adanya perkembangan teknologi budidaya

1)

Strategi WO

Meningkatkan produksi ikan tuna (S1,S2,S3,O2,O3,04)

1) Melakukan kerjasama dengan pihak asing (W1,W2,W3,W4,O1,O6)

2) Pangsa pasar yang masih luas

a) Memberikan pinjaman modal kepada nelayan

3) Adanya tren from red meat to white meat

b) Menerapkan teknologi budidaya ikan tuna melalui lembaga riset

4) Munculnya berbagai macam penyakit terhadap hewan ternak 5) Adanya

2.

organisasi

manajemen

perikanan

regional.

2) Melakukan pembenahan manajemen perikanan perusahaan (W1,W2.W3,W5,W6,O1,O2,O3,O4,O6) a) Melakukan pelatihan terhadap karyawan terkait dengan penanganan pasca panen.

Memperluas pasar (S4,S5,O2,O5)

b) Meningkatkan teknologi peralatan yang digunakan.

a) Menambah tujuan ekspor b) Mendaftar sebagai anggota lembaga yang menangani

6) Adanya negara yang mau berinvestasi di

masalah tuna

Indonesia Threaths (T) 1) Peningkatan 2)

kekuatan

Strategi ST tawar

menawar 1) Meningkatkan

Strategi WT

mutu

ikan

yang 1) Memperbaiki sarana dan prasarana yang mendukung ikan tuna

pembeli.

dihasilkan(S1,S2,S3,T1,T2,T3,T4)

nasional (W1,W3,W4,W5,W6,T1,T2,T3,T4,T6)

Peningkatan teknologi budidaya pesaing.

a) Sosialisasi tentang mutu kepada nelayan oleh pemerintah

a) Membenahi sistem transportasi

3) Adannya hambatan tarif 4) Adanya hambatan non-tarif 5) Krisis ekonomi baik yang bersifat global atau

setempat dan perusahaan eksportir. b) Peningkatan

peran

perbaikan SDM-nya

lembaga

pengawasan

b) Penyediaan sarana pendukung perikanan mutu

dan 2) Menjaga kondisi perkenomian nasinal yang mendukung komoditas ikan tuna nasional (W5,T5)

nasional. 6) IUU Fishing

Gambar 7. Analisis Matriks SWOT

108

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1) Hasil Herfindahl Index (HI) dan Concentration Ratio (CR) menunjukkan bahwa stuktur pasar untuk komoditas ikan tuna baik untuk ikan tuna segar, beku dan olahan adalah pasar monopolistik yang cenderung mengarah ke oligopoli. Posisi Indonesia di pasar monopolistic masih sangat baik karena dapat menentukan harga, namun harus melakukan diferensiasi produk. Pergeseran pasar yang cenderung mengarah ke oligopoli akan membuat posisi Indonesia dalam pasar ikan tuna internasional hanya sebagai pengikut pasar, sehingga Indonesia tidak memiliki kekuasaan untuk menetapkan harga dan harus mengikuti harga yang ditetapkan oleh pemimpin pasar. 2) Hasil indeks RCA menunjukkan bahwa untuk komoditas ikan tuna segar dan olahan memiliki daya saing komparatif dengan nilai indeks lebih dari satu. Komoditas ikan tuna beku Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif sebab nilai indeks RCA dibawah satu. 3) Berdasarkan analisis keunggulan kompetitif melalui Teori Berlian Porter, maka disimpulkan bahwa komoditas ikan tuna Indonesia tidak memiliki keunggulan kompetitif.

Daya saing komoditas ikan tuna nasional sangat

lemah karena berbagai masalah yang dihadapi oleh industri ikan tuna nasional, seperti kondisi faktor sumberdaya yang masih rendah, struktur persaingan yang ketat, dan industri terkait dan pendukung yang kinerjanya masih rendah.

Industri ikan tuna nasional memang memiliki kondisi

permintaan yang baik, adanya dukungan oleh pemerintah, dan munculnya kesempatan untuk melakukan pengembangan ikan tuna nasional. Namun, hal ini akan sulit terjadi jika keadaan faktor sumberdaya masih memiliki masalah yang sangat besar. 4) Analisis SWOT yang dilakukan menghasilkan strategi kebijakan antara lain meningkatkan produktivitas ikan tuna melalui pemberian pinjaman modal ke nelayan dan menerapkan teknologi budidaya, memperluas pasar dengan cara melakukan kerjasama dengan negara lain di luar tujuan ekspor dan mendaftar sebagai anggota lembaga manajemen perikanan nasional, melakukan

kerjasama dengan pihak asing, melakukan pembenahan menajemen perikanan perusahaan dengan cara melakukan pelatihan karyawan tentang penanganan ikan pasca panen dan HACCP, meningkatkan teknologi peralatan yang digunakan, meningkatkan mutu ikan melalui sosialisasi pentingnya penanganan ikan yang tepat kepada nelayan dan pihak yang terkait dan pembenahan kualitas SDM terutama untuk melakukan pengawasan dan uji laboratorium, memperbaiki sarana dan prasarana pendukung seperti sistem transportasi serta memperbaiki kondisi perikanan nasional. 8.2. Saran Saran yang diajukan untuk peningkatan daya saing ikan tuna Indonesia adalah sebagai berikut: 1) Perusahaan pengolahan ikan tuna Indonesia harus aktif dalam memperoleh dan memanfaatkan informasi pasar terbaru serta mengikuti perkembangan trend produk misalnya untuk Amerika Serikat dan Uni Eropa lebih menyenangi ikan tuna dalam bentuk kaleng sehingga kuantitas ikan tuna olahan harus ditingkatkan agar mampu bersaing di pasar internasional. Perusahaan juga harus meningkatkan kesadaran untu menjaga kualitas mutu dan keamanan pangan ikan hasil tangkapan dan produk olahannya. 2) Penelitian dan pengembangan terhadap teknik budidaya, teknologi pasca panen dan kegiatan pemasaran perlu untuk dilakukan untuk memperoleh produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Perlunya kerjasama pemerintah melalui lembaga penelitian terkait dengan adanya teknologi budidaya. Teknologi ini membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga pemerintah perlu mencarikan sumber pembiayaan modal untuk perusahaan yang bergerak dalam industri tuna Indonesia.

Langkah awal sebagai permulaan adalah

membentuk tim yang mengerti tentang tuna kemudian mempelajari teknik budidaya ikan tuna dalam jaring apung yang sudah diterapkan oleh Australia dan Jepang dan meneliti apakah perairan Indonesia dapat dijadikan tempat untuk budidaya. Kemudian melakukan uji coba terlebih dahulu untuk melihat hasil dari budidaya yang dapat dicapai, setelah uji coba berhasil kemudian dilakukan sosialisasi budidaya kepada nelayan.

3) Pemerintah sebagai salah satu pendukung peningkatan daya saing ikan tuna nasional perlu melalukan pembenahan terkait dengan banyaknya masalah yang terjadi disemua faktor sumberdaya. Penjagaan akan sumberdaya alam perlu ditingkatkan dengan menambah armada pengawasan perairan. Program subsidi BBM perlu ditingkatkan terutama untuk nelayan yang terbatas modalnya.

Pemerintah juga perlu membangun sistem perikanan terpadu

mulai dari hulu hingga hilir, terutama perbaikan infrastruktur dan kebijakan yang ada. 4) Pembangunan pabrik es yang dekat dengan nelayan atau tempat pelelangan ikan sangat diperlukan untuk menjaga kesegaran ikan tuna, sehingga saat sampai ditangan perusahaan eksportir atau pengolahan masih dalam keadaan yang baik dan saat sampai di negara ekspor kualitas dan mutunya masih terjaga. Hal ini akan menghindari kasus penolakan karena kualitas ikan yang sudah tidak baik. 5) Pemerintah juga harus mengkaji ulang beberapa peraturan agar tidak saling bertentangan antara kepentingan pihak eksportir dan pihak pengolahan. 6) Penjagaan sumberdaya perairan harus dilakukan dengan sebaik mungkin untuk mengantisipasi kasus pencurian ikan.

Petugas pencatatan hasil

penangkapan di pelabuhan juga harus aktif mencatat hasil dengan benar sehingga dapat memperkiraan ketersediaan sumberdaya ikan tuna yang ada di alam bebas.

DAFTAR PUSTAKA Amir M.S. 1996. Seluk Beluk dan Teknik Pedagangan Luar Negeri Suatu Penuntun Ekspor Impor Cetakan Kedelapan. Jakarta: PT. Pustaka Binaman Presindo. [BI]. Bank Indonesia. 2007. Perkembangan Perekonomian Tahun 2007. Jakarta: Bank Indonesia. Bondar AI. 2007. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Ekspor Tuna Segar Indonesia [skripsi]. Bogor : Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. [BPOM]. Badan Pengawasan Obat dan Makanan. 2004. Batas Pemasukan Logam Berat dalam Porduk Perikanan. Jakarta: Badan Pengawasan Obat dan Makanan. [BPS]. Badan Pusat Statitik. 2007. Statistic Yearbook. Jakarta : Badan Pusat Statistik. Burhanuddin et al. 1984. Suku Scombriade : Tinjauan Mengenai Ikan Tuna, Cakalang, dan Tongkol. Jakarta : LIPI. Dahuri R. 2008. Ikan Tuna Indonesia. http://majalahsamudra.at.ua/news/2008-1210-1. [13 Februari 2009]. David FR. 2006. Manajemen Strategis : Konsep, Edisi Kesepuluh. Budi IS, penerjemah; Rahayo S, editor. Jakarta : Salemba Empat. Terjemahan dari : Strategic Management : Concepts and Cases, 10thed. [DKP]. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2004. Direktori Ikan Konsumsi dan Produk Olahan. Direktori JEnderal Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemasaran. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan. [DKP]. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2005a. Potensi dan Pemberdayaan Ikan Tuna. www.dkp.go.id. [13 Februari 2009]. [DKP]. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2005b. Jakarta: SBP

Revitalisasi Perikanan.

[DKP]. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2006. Revitalisasi Komoditas Tuna. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan. Jakarta : Departemen Kelautan dan Perikanan. [DKP]. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007. Revitalisasi Perikanan 19992007. Pusat Data Statistik dan Informasi. Jakarta : Departemen Kelautan dan Perikanan.

[DKP]. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2008a. Statistik Perikanan Tangkap Indonesia 2007. Pusat Data Statistik dan Informasi. Jakarta : Departemen Kelautan dan Perikanan. [DKP]. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2008b. Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2007. Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. Jakarta : Departemen Kelautan dan Perikanan. Fadly N. 2009. Asesmen Risiko Histamin Ikan Tuna (Thunnus sp.) Segar Berbagai Mutu Ekspor Pada Proses Pembongkaran (Transit) [skripsi]. Bogor : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Fahruddin, Ahmad. 2003. Pengembangan Ekspor produk Perikanan Indonesia ke Eropa. Buletin Ekonomi Perikanan Volume 5 No.1 Tahun 2003. Departemen Ilmu-ilmu Perikanan dan Kelatuan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Fajar MI. 2008. Analisis Regulasi Sistem Manajemen Mutu dan Keamanan Pangan Hasil Perikanan Produk Tuna di Indonesia dan Negara Tujuan Eskpor [skripsi]. Bogor : Program Studi Teknologi Hasil Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. [FAO]. Food and Agriculture Organization. 2004. Update of Ambient Water Quality Criteria for Heavy Metal. http://www.fao.org. [Diakses tanggal 28 Juni 2009]. Hady H. 2004. Ekonomi Internasional : Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. Jakarta : Ghalia Indonesia. Hikmayani Y, Asnawi. 2007. Pengelolaan Resiko, Pembiayaan, dan Sarana Pendukung Usaha Perikanan dalam Potret dan Strategi Pengembangan Perikanan Tuna, Udang, dan Rumput Laut Indonesia. Jakarta : Departemen Kelautan dan Perikanan. Kusumastanto T. 2007. Kebijakan dan Strategi Peningkatan Produktivitas dan Daya Saing Produk Perikanan Nasional. http:// tridoyo.blogspot.com/.../kebijakan-dan-strategi-peningkatan.html. [Diakses tanggal 26 Juni 2009]. Lindert PH, Kindleberger CP. 1995. Ekonomi Internasional Edisi Kedelapan. Abdullah B, penerjemah. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : International Economics 8thed. Meryana E. 2007. Analisis Dayasaing Kopi Robusta Indonesia di Pasar Internasional [skripsi]. Bogor : Program Studi Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Nazzaruddin. 1993. Komoditi Ekspor Pertanian : Perikanan dan Peternakan. Jakarta : Penebar Swadaya Pappas JL, Hirschey M. 1995. Ekonomi Manajerial Jilid II Edisi Keenam. Wirajaya D, penerjemah. Jakarta : Binarupa Aksara. Terjemahan dari : Economic Manajerial 6thed. Porter ME. 1990. The Competitive Advantage of Nations. London : Macmillan Press Ltd. Purnomo AH. 2007. Permasalahan Makro di Sektor Perikanan dan Alternatif Kebijakannya dalam buku Potret dan Strategi Pengembangan Perikanan Tuna, Udang, dan Rumput Laut Indonesia. Jakarta : Departemen Kelautan dan Perikanan. Purnonmo AH, Suryawati SH. 2007. Penawaran Komoditas Perikanan Indonesi: Trend Produksi, Sentra produksi, dan Teknologi Pengolahannya dalam buku Potret dan Strategi Pengembangan Perikanan Tuna, Udang, dan Rumput Laut Indonesia. Jakarta : Departemen Kelautan dan Perikanan. Rastikarany H. 2008. Analisis Pengaruh Kebijakan Tarif dan Non Tarif Uni Eropa Terhadap Ekspor Tuna Indonesia [skripsi]. Bogor : Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan-Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Rospiati E. 2006. Evaluasi Mutu dan Nilai Gizi Nugget Daging Merah Ikan Tuna (thunnus sp) yang Diberi Perlakuan Titanium Dioksida. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Salvatore D. 1997. Ekonomi Internasional Edisi Kelima. Munandar H, penerjemah. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : International Economic 5thed. Sudarmaji, dkk. 2006. Toksikologi Logam Berat B3 dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. http;//journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLING-2-2-03.pdf. [Diakses Tanggal 20 Oktober 2009]. Suseno. 2007. Menuju Perikanan Berkelanjutan Cetakan Pertama. Jakarta: Pustaka Cisedesindo. Swaranindita ED. 2005. Analisis Daya Saing Komoditas Udang Nasional di Pasar Internasional [skripsi]. Bogor : Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. [UN Comtrade]. United Nations Commodity Trade Statistics Database. 2008. http://unstats.un.org/unsd/trade/imts/anntotpubs.htm . [Diakses tanggal 18 Mei 2009].

Zamroni. 2000. Daya Saing Ekspor Komoditas Perikanan. Jakarta: Puslitbang Ekonomi dan Pengembangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Negara-Negara yang Tergabung Dalam Uni Eropa Belanda*

Inggris

Jerman*

Yunani

Belgia*

Portugal

Luxemburg*

Spanyol

Perancis*

Austria

Italy

Swedia

Denmark

Finlandia

Irlandia

Siprus

Slovakia

Slovenia

Rep.Cechnya

Lithuania

Bulgaria

Malta

Hungaria

Polandia

Estonia

Rumania

Latvia Sumber : WTO (2007) diacu dalam Rastikarany (2008) Keterangan : (*) Pendiri Uni Eropa

Lampiran 2. Gambar Jenis-Jenis Ikan Tuna

Ikan Madidihang29 (Yellowfin Tuna)

Ikan Albakora30 (Albacore Tuna)

Ikan Abu-abu Selatan31 (Southern Bluefin Tuna)

Ikan Mata Besar32 (Bigeye Tuna)

Ikan Cakalang33 (Skipjack Tuna)

Ikan Lisong34 (Bullet tuna )

Ikan Tongkol Pisang / Krai35 (Frigated Tuna)

Ikan Tongkol Komo36 (Eastern Little Tuna)

Ikan Tongkol Abu-abu37 (Longtail Tuna) 29

Sumber: Anonim. 2009. Gambar Ikan Madidihang (Yellowfin Tuna). www.shell.site88.net. Diakses tanggal 19 Februari 2009. 30 Sumber: Anonim. 2009. Gambar Ikan Albakora (Albacore Tuna). www.theoceanaire.com Diakses tanggal 19 Februari 2009. 31 Sumber: Anonim. 2009. Gambar Ikan Mata Besar (Bigeye Tuna). www.alltackle.com. Diakses tanggal 19 Februari 2009. 32 Sumber: Anonim. 2009.. Gambar Ikan Cakalang (Skipjack Tuna). www.sportfishinggrancanaria.com. Diakses tanggal 19 Februari 2009. 33 Sumber: Anonim. 2009. Gambar Ikan Lisong (Bullet Tuna). www.mexfish.com. Diakses tanggal 19 Februari 2009. 34 Sumber: Anonim. 2009. Gambar Ikan Tongkol Pisang / Krai (Frigated Tuna). www.fistenet.gov.vn. Diakses tanggal 19 Februari 2009. 35 Sumber: Anonim. 2009. Gambar Ikan Tongkol Komo (Eastern Little Tuna). www.iccat.int. Diakses tanggal 19 Februari 2009. 36 Sumber: Anonim. 2009. Gambar Ikan Tongkol Abu-abu (Longtail Tuna). www.fistenet.gov.vn. Diakses tanggal 19 Februari 2009.

Lampiran 3. Klasifikasi Produk Ikan Tuna Untuk Diekspor 1. Tuna Segar (HS 0303200000) Tuna segar dijual tanpa diolah atau dibekukan. Jenis tuna yang biasanya dijual dalam bentuk segar adalah tuna mata besar, Yellowfin tuna, albakora, dan Bluefin tuna. Spesifikasi : -

Mikrobiologi Total Plate Count Koloni / gr

5x105

E. Coli (MPN / gr)

3

Salmonella

negative

V. Cholerae

negative

Stok Lokasi : Sulut, Papua, Maluku, Jawa, Bali Pemasaran : Domestik : Indutri pengolahan tuna (pengalengan, pembekuan, pasar tradisional, dan pasar modern). Ekspor : Jepang, Amerika, Eropa, dll Standar : SNI 01-2710-1992 2. Tuna Beku (HS 0303400000) Tuna beku dijual dalam bentuk beku. Jenis tuna yang biasanya dijual dalam bentuk segar adalah tuna mata besar, Yellowfin tuna, albakora, dan Bluefin tuna. Spesifikasi : -

Mikrobiologi Total Plate Count Koloni/ gr

5x105

E. Coli (MPN / gr)

3

Salmonella V. Cholerae

negative negative

Stok Lokasi : Sulut, Papua, Maluku, Jawa, Bali 37

www.dpi.nsw.gov.au. Diakses tanggal 19 Februari 2009.

Pemasaran : Domestik : Indutri pengolahan tuna (pengalengan, pembekuan, pasar tradisional, dan pasar modern). Ekspor : Jepang, Amerika, Eropa, dll Standar : SNI 01-2710-1992 3. Tuna Loin Mentah Beku / Frozen Tuna Loin (HS 0304200000) Tuna loin mentah beku adalah produk yang dibuat dari tuna segar atau beku yang mengalami perlakuan sebagai berikut : penyiangan, pembelahan membujur menjadi 4 bagian (loin), pembuangan daging gelap (dark meat), pembuangan lemak, pembuangan kulit, perapihan, pembekuan cepat sehingga suhu pusatnya

-18oC.

Klasifikasi : Standar ini digolongkan menjadi 1 tingkatan mutu Spesifikasi : -

Cemaran Mikroba TPC Coloni / gr

5x105

E. Coli (MPN / gr)

<3

Salmonella / 25 gr

negative

V. Cholerae

negative

V. Parahameo lyticus / 50 gr -

negative

Cemaran Kimia Timah (Sn) maks (mg / kg)

4.0

Timbal (Pb) maks (mg / kg)

2.0

Arsen (As) maks (mg / kg)

1.0

Air raksa (Hg) maks (mg / kg)

0.5

Seng (Zn) maks (mg / kg)

100.0

Tembaga (Cu) maks (mg / kg)

20.0

Cadmium maks (sesuai persyaratan) -

Fisika Suhu pusat maks Bobot besih (sesuai label)

-180C

Histamin maks (mg / 100 gr)

10.0

Standar : SNI 01-4104-1996 4. Tuna Steak Beku / Frozen Tuna (HS 0304200000) Tuna steak beku adalah produk yang dibuat dari tuna segar atau beku yang mengalami perlakuan sebagai berikut : penyiangan, pembelahan membujur menjadi 4 bagian (loin), pembuangan daging gelap (dark meat), pembuangan tulang, pembuangan kulit, pengirisan menjadi bentuk dan ketebalan tertentu, perapihan, pembekuan cepat sehingga suhu pusatnya -18oC. Klasifikasi : Standar ini digolongkan menjadi 1 tingkatan mutu IVP (Individually Vacuum Packed) 1 I/C (Inner Carton)

= 10 lbs

1 M/C (Master Carton)

= 4 1 I/C = 40 lbs

Spesifikasi : -

Cemaran Mikroba TPC Coloni / gr

5x105

E. Coli (MPN / gr)

<3

Salmonella / 25 gr

negative

V. Cholerae

negative

V. Parahameo lyticus / 50 gr -

negative

Cemaran Kimia Timah (Sn) maks (mg / kg)

4.0

Timbal (Pb) maks (mg / kg)

2.0

Arsen (As) maks (mg / kg)

1.0

Air raksa (Hg) maks (mg / kg)

0.5

Seng (Zn) maks (mg / kg)

100.0

Tembaga (Cu) maks (mg / kg)

20.0

Cadmium maks (sesuai persyaratan) -

Fisika Suhu pusat maks Bobot besih (sesuai label)

-180C

Histamin maks (mg / 100 gr)

10.0

Standar : SNI 01-4485-1998 5. Tuna Saku (Thunnus albacares) (HS 0304200000) Size : AA Sashimi grade, A grade Packing : Vaccum pk : 1/22 lb/ccs Vacuum p : 1/22 lb/ccs 6. Yellowfin Tuna Cube Cut Packaging (HS 0304200000) -

1 Vacuum Packed Bag = 11 lbs

-

1 M/C

-

Cube Size

= 26,4 lbs

L/W/H

= 3/4" to 1"

7. Yellowfin Tuna Strip Packaging (HS 0304200000) -

1 Vacuum Packed Bag = 11 lbs

-

1 M/C

-

Cube Size

= 26,4 lbs

L/W/H

= 3/4" to 1"

8. Yellowfin Tuna Saku / Block (Sashimi Grade) Packaging (HS 0304200000) -

IVP (Individually Vacuum Packed)

-

1 Styrofoam box

-

1 M/C

-

Size : a.

= 11 lbs = 2 styrofoam box = 22 lbs

AA L = 6" to 7" W = 2 – 1/8" to 3 – 1/8" H = 1" to 1 – 1/4"

b. A L = 4 – 1/4" to 5 – 1/2" W = 2" to 3 – 1/8" H = 1" to 1 – 1/4" c. C L = 3 – 1/2" to 4"

W = 1 – 1/2" to 2 – 1/2" H = 1" to 1 – 1/4" 9. Yellowfin Tuna Loin Packaging a. Natural Cut -

IVP (Individually Vacuum Packed)

-

1 M/C = 44 lbs

-

Size : 2 to 4 lbs / pc dan 4 to 8 lbs / pc

b. Center Cut Packaging -

IVP (Individually Vacuum Packed)

-

1 M/C = 44 lbs

-

Size : 2 to 4 lbs / pc dan 4 to 8 lbs / pc

c. Super Cut -

IVP (Individually Vacuum Packed)

-

Size : 2-4 = 1 M/C = 22 lbs dan 4-8 = 1 M/C = 44 lbs

10. Albacore Tuna Loin -

IVP (Individually Vacuum Packed)

-

1 M/C = 44 lbs

-

Size : 2 to 4 lbs / pc dan 4 to 8 lbs / pc

11. Ground Ground adalah daging tuna yang dicacah untuk tujuan spicy tuna rolls dan top quality tuna burger yang di kemasan dalam 2 x 11 lbs. 12. Sashimi (HS 0304100000) a. Tuna Sashimi (Tuna-Sashimi Cube) Ukuran

: 2 cm or 1 inch cube

Packing

: vacuum pack, 1x22 lbs

b. Tuna Sashimi Pieces (Thunnus albacares) Packing

: vacuum pack 1x22 lbs

c. Tuna Sashimi Steak (Thunnus albacares) Ukuran Packing

: 4, 5, 6, 8, 10, 12 oz : vacuum pack 1x10 lbs

13. Tuna Kaleng / Canned Tuna

Tuna kaleng adalah produk yang berasal dari tuna dan dikemas dengan media atau tanpa bahan lain, dikemas hermetic dan diproses dengan suhu tinggi untuk mencegah terjadinya bahaya keamanan pangan. Jenis bahan baku tuna kaleng adalah ikan tuna family Thunnidar dan varitas lainnya. - Bentuk Kemasan

:

Solid, chunk, flake, dan grated or shredded. - Media Pengalengan

:

Packing media 1 dengan air garam Packing media 2 dengan Vegetable oil (kecuali Olive oil) Packing media 3 dengan Olive oil - Level Garam

:

Level a yaitu kadar garam < 1,5 % atau disebut regular Level b yaitu tanpa penambahan garam Level c yaitu sangat rendah kadar garamnya (< 35 mg/ penyajian) Level d yaitu Low sodium (< 140 mg/ penyajian) Sumber: DKP 2004

Lampiran 4. Total Ekspor Ikan Tuna Segar Dunia Tahun 1998-2007 Negara Australia Belgium/ BelgiumLuxembourg Canada Congo

(US $)

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

50.007.186

48.485.340

68.552.405

93.731.458

69.582.612

80.941.296

61.472.557

52.027.141

45.150.393

41.392.592

19.756

67.045

125.300

235.926

112.529

344.105

646.237

535.561

364.466

1.719.290

6.260.207

774.058

8.780.455

7.642.907

7.166.002

8.083.605

14.479.846

14.524.078

18.732.803

17.769.979

0

0

0

0

0

4.225.431

494.954

0

0

0

11.063.730

6.565.516

7.179.161

9.596.287

13.546.697

11.354.459

14.177.187

13.564.586

12.208.916

7.343.646

Croatia

5.874.809

4.305.320

11.094.300

30.077.477

37.122.369

63.560.544

32.088.497

26.611.558

42.639.438

36.430.496

Ecuador

36.536.088

19.668.593

10.830.300

3.599.895

5.853.301

13.065.948

2.330.968

2.262.414

3.149.531

5.309.900

1.858.578

2.705.198

525.212

97.886

214.374

314.167

343.960

85.730

0

0

0

0

145.304.788

106.274.970

11.281.140

95.265.897

156.067.468

103.204.722

148.055.687

175.459.417

Costa Rica

El Salvadore EU-27 Fiji France French Polynesia Germany

0

0

12.960.604

217.992

9.237.109

10.749.153

10.749.153

16.853.086

16.540.811

17.332.333

11.499.136

14.167.606

17.559.682

21.979.748

31.410.650

14.331.640

19.638.677

21.514.193

24.191.667

26.535.585

160.321

230.852

1.661.864

4.470.026

4.163.997

2.228.976

1.422.544

751.476

996.560

776.126

88.000

28.843

86.000

318.000

95.000

413.000

1.316.000

3.248.000

1.103.000

879.000

4.617.763

5.090.735

4.084.598

4.361.873

1.540.076

2.654.985

1.978.046

10.243.065

17.034.226

11.844.703

15.229

33.046

1.003.560

1.079.396

1.246.913

702.108

864.789

148.013

132.701

0

0

0

0

0

635.442

1.498.154

1.856.771

3.049.267

7.443.220

8.560.865

51.404.759

75.433.445

104.370.266

90.643.482

90.506.779

81.514.715

104.698.879

93.737.522

87.845.012

88.277.193

2.059.640

6.197.408

3.967.809

3.576.559

95.694

2.736.978

259.902

303.297

59.136

106.957

Italy

14.412.840

21.328.726

23.375.003

14.745.317

21.103.933

19.473.561

28.823.845

40.990.755

52.117.037

40.602.537

Japan

23.903.519

Greece Grenada India Indonesia Ireland

28.680.175

31.963.932

34.101.331

3.256.924

23.349.169

24.767.600

29.724.852

30.499.447

201.529.751

Malaysia

4.081.666

6.294.396

5.765.028

4.457.711

2.893.058

1.232.276

1.523.524

7.872.021

7.379.539

7.750.967

Maldives

5.514.559

1.139.970

5.331.701

5.265.113

10.175.880

14.208.274

18.487.435

20.279.007

23.640.706

16.237.800

Malta Mexico Namibia Netherlands New Caledonia New Zealand

393.577

197.280

0

1.292.828

133.743

2.474.462

7.872.865

28.348.577

355.348.577

27.269.873

4.799.884

10.297.901

12.000.184

12.260.018

33.812.082

73.198.796

64.136.822

58.307.147

51.205.246

40.823.354

0

0

1.488.366

513.263

1.023.287

446.544

1.982.067

2.818.532

1.469.491

3.504.390 3.528.160

91.899

299.172

345.911

486.321

482.821

384.892

910.761

660.388

1.389.570

0

2.930.939

4.222.107

4.867.513

2.746.304

5.443.362

1.739.040

718.750

384.518

649.634

3.593.470

5.462.113

6.413.411

6.229.950

4.245.770

4.810.825

5.020.700

2.971.835

4.399.899

4.307.920

Negara Oman Other Asia, nes

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

0

0

14.118.145

22.173.521

34.494.497

0

3.201.264

8.508.767

15.101.742

22.820.107

23.456.729

24.151.765

25.435.500

16.625.316

10.660.664

6.379.146

6.826.724 6.249.796

34.453.557

38.416.406

36.179.189

Panama

1.961.975

1.966.790

1.228.300

2.143.421

7.564.132

2.398.874

5.795.199

15.180.090

12.826.791

Papua New Guinea

2.813.715

0

5.730.233

15.743.816

17.246.372

17.131.070

15.596.602

0

0

0

31.977.567

29.371.666

34.808.827

27.766.218

25.312.726

16.725.532

8.991.450

11.414.434

10.809.759

7.761.604

1.608.897

813.806

2.499.213

3.110.013

5.101.394

1.856.165

1.288.928

1.825.834

1.996.664

6.373.330

268.260

201.481

411.620

682.012

2.030.192

3.435.404

2.565.374

3.434.772

3.280.336

2.917.067

0

0

0

1.130.854

451.705

65.527

3.854.714

5.191.567

0

0

Saudi Arabia

80.354

144.202

39.230

378

1.363.420

123.563

23.534

143.575

85.538

76.245

Senegal

49.543

14.173

39.413

11.006

0

87.138

1.158.146

273.829

486.118

94.638

Seychelles

13.357

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Singapore

21.863.220

39.710.850

53.597.119

43.656.221

14.101.023

1.399.892

21.481

2.277

2.870

239

Philippines Portugal Rep. Of Korea Samoa

South Africa

0

0

9.120

14.540

2.751.769

4.011.188

3.852.559

5.312.467

7.136.079

6.744.518

83.250.434

163.293.602

144.591.411

112.698.069

123.892.787

141.903.185

154.577.595

94.169.728

102.946.959

122.632.358

0

1.890.706

0

7.391.655

2.540.342

2.526.145

3.276.396

3.833.985

0

0

5.048.577

8.977.430

5.686.267

7.894.769

6.978.009

9.708.524

11.637.711

12.781.580

26.351.799

14.782.453

94

22.320

26.345

18.211

143.739

483.054

551.949

765.728

601.522

1.681.374

Tunisia

6.527.013

7.960.480

7.388.907

12.307.437

14.266.562

5.736.712

11.683.518

31.956.845

40.839.757

38.163.839

Turkey

Spain Sri Lanka Thailand Trinidad and Tobago

1.280.634

1.465.002

1.933.774

1.436.613

4.940.392

24.256.049

31.043.787

54.866.062

42.739.052

35.961.375

United Kingdom

163.452

1.968.296

240.337

161.883

271.055

164.910

2.112.699

2.126.407

1.615.098

808.302

Uruguay

645.754

186.729

122.608

208.136

175.400

173.518

256.654

1.016.008

634.475

129.857

18.375.730

19.277.151

19.503.558

23.434.110

27.739.050

62.531.870

79.777.905

90.710.848

30.145.972

37.086.766

Venezuela

413.795

181.381

195.946

923.140

1.111.049

321.479

293.753

119.855

3.204

0

Viet Nam

0

0

6.614.000

18.446.728

14.180.803

25.843.945

23.629.560

17.205.238

28.987.748

0

Yemen

8

0

0

0

0

2.058

978.503

14.975.794

1.876.588

33.937.517

USA

Other TOTAL

2.940.821

2.565.187

6.140.459

6.277.536

7.626.896

6.778.239

14.763.197

23.221.127

21.958.425

29.670.404

456.770.029

582.095.092

832.233.367

762.365.856

722.211.810

893.525.294

982.666.140

965.827.649

1.481.317.543

983.034.749

Sumber: UN Comtrade 2008

Lampiran 5. Market Share Ikan Tuna Segar Dunia Tahun 1998-2007 Negara Australia Belgium/ BelgiumLuxembourg Canada Congo Costa Rica Croatia Ecuador El Salvadore EU-27 Fiji France French Polynesia Germany Greece Grenada India Indonesia Ireland Italy Japan Malaysia Maldives Malta Mexico Namibia Netherlands New Caledonia

(%)

1998 10,95

1999 8,33

2000 8,24

2001 12,29

2002 9,63

2003 9,06

2004 6,26

2005 5,39

2006 3,05

2007 4,21

0,00 1,37 0,00 2,42 1,29 8,00 0,41 0,00 0,00 2,52 0,04 0,02 1,01 0,00 0,00 11,25 0,45 3,16 6,28 0,89 1,21 0,09 1,05 0,00 0,02 0,00

0,01 0,13 0,00 1,13 0,74 3,38 0,46 0,00 0,00 2,43 0,04 0,00 0,87 0,01 0,00 12,96 1,06 3,66 5,49 1,08 0,20 0,03 1,77 0,00 0,05 0,50

0,02 1,06 0,00 0,86 1,33 1,30 0,06 17,46 1,56 2,11 0,20 0,01 0,49 0,12 0,00 12,54 0,48 2,81 4,10 0,69 0,64 0,00 1,44 0,18 0,04 0,51

0,03 1,00 0,00 1,26 3,95 0,47 0,01 13,94 0,03 2,88 0,59 0,04 0,57 0,14 0,00 11,89 0,47 1,93 0,43 0,58 0,69 0,17 1,61 0,07 0,06 0,64

0,02 0,99 0,00 1,88 5,14 0,81 0,03 1,56 1,28 4,35 0,58 0,01 0,21 0,17 0,09 12,53 0,01 2,92 3,23 0,40 1,41 0,02 4,68 0,14 0,07 0,38

0,04 0,90 0,47 1,27 7,11 1,46 0,04 10,66 1,20 1,60 0,25 0,05 0,30 0,08 0,17 9,12 0,31 2,18 2,77 0,14 1,59 0,28 8,19 0,05 0,04 0,61

0,07 1,47 0,05 1,44 3,27 0,24 0,04 15,88 1,09 2,00 0,14 0,13 0,20 0,09 0,19 10,65 0,03 2,93 3,02 0,16 1,88 0,80 6,53 0,20 0,09 0,18

0,06 1,50 0,00 1,40 2,76 0,23 0,01 10,69 1,74 2,23 0,08 0,34 1,06 0,02 0,32 9,71 0,03 4,24 3,16 0,82 2,10 2,94 6,04 0,29 0,07 0,07

0,02 1,26 0,00 0,82 2,88 0,21 0,00 9,99 1,12 1,63 0,07 0,07 1,15 0,01 0,50 5,93 0,00 3,52 13,60 0,50 1,60 23,99 3,46 0,10 0,09 0,03

0,17 1,81 0,00 0,75 3,71 0,54 0,00 17,85 1,76 2,70 0,08 0,09 1,20 0,00 0,87 8,98 0,01 4,13 2,43 0,79 1,65 2,77 4,15 0,36 0,36 0,07

Negara 1998 New Zealand 0,79 Oman 0,00 Other Asia, nes 7,54 Panama 0,43 Papua New Guinea 0,62 Philippines 7,00 Portugal 0,35 Rep. Of Korea 0,06 Samoa 0,00 Saudi Arabia 0,02 Senegal 0,01 Seychelles 0,00 Singapore 4,79 South Africa 0,00 Spain 18,23 Sri Lanka 0,00 Thailand 1,11 Trinidad and Tobago 0,00 Tunisia 1,43 Turkey 0,28 United Kingdom 0,04 Uruguay 0,14 USA 4,02 Venezuela 0,09 Viet Nam 0,00 Yemen 0,00 Other 0,64 TOTAL 100 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah

1999 0,94 0,00 6,60 0,34 0,00 5,05 0,14 0,03 0,00 0,02 0,00 0,00 6,82 0,00 28,05 0,32 1,54 0,00 1,37 0,25 0,34 0,03 3,31 0,03 0,00 0,00 0,44 100

2000 0,77 1,70 4,35 0,15 0,69 4,18 0,30 0,05 0,00 0,00 0,00 0,00 6,44 0,00 17,37 0,00 0,68 0,00 0,89 0,23 0,03 0,01 2,34 0,02 0,79 0,00 0,74 100

2001 0,82 2,91 3,08 0,28 2,07 3,64 0,41% 0,09 0,15 0,00 0,00 0,00 5,73 0,00 14,78 0,97 1,04 0,00 1,61 0,19 0,02 0,03 3,07 0,12 2,42 0,00 0,82 100

2002 0,59 4,78 3,34 1,05 2,39 3,50 0,71 0,28 0,06 0,19 0,00 0,00 1,95 0,38 17,15 0,35 0,97 0,02 1,98 0,68 0,04 0,02 3,84 0,15 1,96 0,00 1,06 100

2003 0,54 0,00 2,85 0,27 1,92 1,87 0,21 0,38 0,01 0,01 0,01 0,00 0,16 0,45 15,88 0,28 1,09 0,05 0,64 2,71 0,02 0,02 7,00 0,04 2,89 0,00 0,76 100

2004 0,51 0,33 1,69 0,59 1,59 0,92 0,13 0,26 0,39 0,00 0,12 0,00 0,00 0,39 15,73 0,33 1,18 0,06 1,19 3,16 0,21 0,03 8,12 0,03 2,40 0,10 1,50 100

2005 0,31 0,88 1,10 1,57 0,00 1,18 0,19 0,36 0,54 0,01 0,03 0,00 0,00 0,55 9,75 0,40 1,32 0,08 3,31 5,68 0,22 0,11 9,39 0,01 1,78 1,55 2,40 100

2006 0,30 1,02 0,43 0,87 0,00 0,73 0,13 0,22 0,00 0,01 0,03 0,00 0,00 0,48 6,95 0,00 1,78 0,04 2,76 2,89 0,11 0,04 2,04 0,00 1,96 0,13 1,48 100

2007 0,44 2,32 0,69 0,64 0,00 0,79 0,65 0,30 0,00 0,01 0,01 0,00 0,00 0,69 12,47 0,00 1,50 0,17 3,88 3,66 0,08 0,01 3,77 0,00 0,00 3,45 3,02 100

Lampiran 6. Total Ekspor Ikan Tuna Beku Dunia Tahun 1998-2007 (US$) Negara Australia

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

19.695.667

66.005.530

56.967.847

84.405.926

122.538.485

95.111.956

69.888.551

83.133.169

85.559.956

123.053.381

Brazil

5.957.394

3.725.269

10.533.941

12.865.754

8.903.021

3.992.240

2.635.840

2.669.723

2.272.618

1.522.452

Canada

2.062.842

3.163.923

4.329.999

6.392.561

4.692.485

8.852.463

16.799.557

12.442.858

10.915.534

10.114.633

Chile

1.223.965

1.636.256

1.662.676

1.274.107

8.320

77.617

35.270

13.339

0

25.205

China China, Hongokng SAR Colombia

2.436.511

910.845

364.082

1.573.664

3.653.932

2.856.444

644.485

2.531.082

3.598.176

6.125.095

Costa Rica Cote d'Ivore Croatia Ecuador EU-27 France French Polynesia Ghana

35.114

6.735.844

1.604.050

1.607.614

397.098

17.086

189.430

49.804

940.536

797.882

55.315.476

30.152.718

42.582.664

42.094.494

40.869.233

35.615.662

45.792.545

47.138.440

31.523.657

52.442.106

4.260.960

4.144.389

444.917

476.073

3.228.528

903.131

725.351

1.485.250

863.593

2.324.831

4.649

1.139.139

395.180

228.112

0

836.697

455.810

289.920

730.309

9.048.674

0

496.299

2.512.517

3.458.889

7.693.225

8.673.665

12.673.665

10.200.502

16.502.974

12.455.016

10.735.264

7.986.853

4.375.214

13.158.278

8.982.685

3.254.176

4.894.157

5.140.443

1.578.150

6.798.576

0

0

59.576.535

96.186.899

147.077.364

154.053.802

179.587.890

154.304.018

153.303.858

152.520.384

79.983.793

69.279.409

54.837.556

77.283.252

75.978.066

103.805.350

93.053.146

104.835.999

104.835.999

78.587.209

596.326

911.353

1.662.117

2.077.041

22.952

30.151

168.219

11.536

86.469

348.673

7.513.280

5.792.149

5.876.169

9.774.698

0

7.694.389

0

3.638.923

1.851.178

14.263.614

Greenland

0

0

1.455.707

3.018.952

1.320.395

1.737.175

272.537

108.699

25.314

0

Guatemala

0

2.476.456

9.643.537

8.796.225

0

0

0

526.277

0

5.520

5.222

54.200

27.293

245.807

596.398

862.663

3.981.705

3.900.849

9.421.970

16.348.830

22.974.654

19.555.289

25.510.940

38.070.307

28.716.857

21.528.712

11.237.366

18.818.588

25.052.082

43.645.640

137.752

39.692

1.780.778

1.044.857

408.686

2.993

6.525

2.731.871

159.147

254.523

Italy

4.256.636

5.006.078

5.054.731

2.509.163

2.989.656

2.608.264

2.210.255

3.311.311

1.139.075

324.616

Japan

61.326.302

69.565.239

60.129.584

46.662.624

37.461.727

34.617.405

74.431.798

34.881.508

36.580.036

76.862.945

Malaysia

1.106.588

1.648.510

442.477

701.622

594.371

1.101.810

3.379.610

6.969.643

1.231.183

5.734.875

Maldives

13.233.182

8.695.280

501.343

1.672.898

2.263.369

6.495.343

8.072.070

7.255.138

7.246.408

6.639.493

0

189.567

333.331

4.759.091

38.179.125

28.977.502

43.692.656

30.451.937

40.031.910

36.037.666

24.183.322

11.975.871

1.505.123

10.833.831

13.733.202

23.539.570

543.034

7.556.847

3.752.471

33.667.525

236.328

148.376

175.889

250.769

288.173

364.458

1.065.043

1.099.403

2.446.194

4.368.329

India Indonesia Ireland

Malta Mexico Netherlands

Negara

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

0

462.395

726.576

1.214.969

1.411.774

1.148.795

16.488.728

2.327.707

1.211.717

980.625

9.930.983

9.227.256

9.385.765

11.855.808

13.333.593

11.435.073

11.306.917

9.090.546

7.694.139

7.444.462

503.985.128

444.470.384

560.499.022

481.351.978

563.314.575

687.241.722

838.263.334

835.102.051

546.546.512

391.967.721

758.820

8.986.750

29.843.594

51.803.776

67.896.912

130.697.105

119.846.012

86.007.253

74.871.207

74.364.374

2.907.448

0

334.596

1.714.530

6.366.145

6.212.201

6.284.869

0

0

0

6.929.685

24.065

385.091

2.109

87.123

421.080

33.720

498.894

294.230

46.961

13.299.098

5.808.200

9.568.968

11.660.473

15.854.316

16.522.108

20.920.284

20.100.113

31.075.819

67.064.164

610.587

165.208

819.813

165.815

243.194

328.329

312.325

418.015

839.614

2.356.808

New Caledonia New Zealand Other Asia, nes Panama Papua New Guinea Peru Philippines Portugal Rep. Of Korea

254.719.564

279.159.050

282.502.590

234.347.457

251.333.114

197.180.928

227.401.274

192.378.562

176.324.339

198.091.869

Senegal

0

0

0

0

0

4.189.029

17.309.720

11.136.201

30.993.827

1.234.545

Seychelles

0

0

65.799

0

0

0

0

52.281

0

0

Singapore

83.719.143

69.606.899

60.025.426

40.121.778

26.827.816

19.331.258

26.060.029

34.081.164

37.280.503

25.747.802

0

0

4.090.213

7.988.464

6.388.008

4.797.370

9.422.907

5.220.026

7.771.230

8.158.115

65.883.149

53.130.823

55.474.612

82.914.663

72.845.123

75.317.833

103.665.861

91.184.449

87.025.743

110.863.372

South Africa Spain Sri Lanka Thailand Turkey USA

0

37.627

1.756.029

7.258.535

6.967.090

7.012.323

9.622.727

16.686.836

0

0

29.462.094

11.331.868

4.358.511

4.354.037

3.061.764

4.824.623

11.910.128

12.383.703

9.910.440

33.314.605

32.636

290.313

439.251

232.431

14.620.138

45.120

26.090.449

4.922.930

21.421.669

379.575

18.418.650

8.718.398

8.153.096

15.235.771

14.476.287

24.221.871

26.628.733

21.072.403

25.071.287

35.220.985

Venezuela

593.423

1.783.567

5.194.989

12.667.420

4.143.660

1.294.096

1.740

28.865

0

0

Viet Nam

0

0

36.523.000

7.131.244

17.304.733

1.751.261

6.994.760

9.635.672

13.889.145

0

Yemen

0

0

0

0

0

0

773.864

632.956

1.697.245

2.757.948

Other

41.268.226

39.210.737

7.473.313

8.117.097

19.240.145

36.705.762

42.883.241

39.224.882

24.180.608

35.590.280

Total

1.349.799.861

1.253.848.074

1.431.906.451

1.451.561.863

1.656.312.863

1.778.288.611

2.098.658.137

1.937.682.586

1.639.748.071

1.689.901.904

Sumber: UN Comtrade 2008

Lampiran 7. Market Share Ikan Tuna Beku Dunia Tahun 1998-2007 Negara Australia Brazil Canada Chile China China, Hongokng SAR Colombia Costa Rica Cote d'Ivore Croatia Ecuador EU-27 France French Polynesia Ghana Greenland Guatemala India Indonesia Ireland Italy Japan Malaysia Maldives Malta Mexico Netherlands

(%)

1998 1,46 0,44 0,15 0,09 0,18

1999 5,26 0,30 0,25 0,13 0,07

2000 3,98 0,74 0,30 0,12 0,03

2001 5,81 0,89 0,44 0,09 0,11

2002 7,40 0,54 0,28 0,00 0,22

2003 5,35 0,22 0,50 0,00 0,16

2004 3,33 0,13 0,80 0,00 0,03

2005 4,29 0,14 0,64 0,00 0,13

2006 5,22 0,14 0,67 0,00 0,22

2007 7,28 0,09 0,60 0,00 0,36

0,00 4,10 0,32 0,00 0,00 0,80 0,00 5,93 0,04 0,56 0,00 0,00 0,00 1,70 0,01 0,32 4,54 0,08 0,98 0,00 1,79 0,02

0,54 2,40 0,33 0,09 0,04 0,64 0,00 5,53 0,07 0,46 0,00 0,20 0,00 1,56 0,00 0,40 5,55 0,13 0,69 0,02 0,96 0,01

0,11 2,97 0,03 0,03 0,18 0,31 4,16 3,83 0,12 0,41 0,10 0,67 0,00 1,78 0,12 0,35 4,20 0,03 0,04 0,02 0,11 0,01

0,11 2,90 0,03 0,02 0,24 0,91 6,63 5,32 0,14 0,67 0,21 0,61 0,02 2,62 0,07 0,17 3,21 0,05 0,12 0,33 0,75 0,02

0,02 2,47 0,19 0,00 0,46 0,54 8,88 4,59 0,00 0,00 0,08 0,00 0,04 1,73 0,02 0,18 2,26 0,04 0,14 2,31 0,83 0,02

0,00 2,00 0,05 0,05 0,49 0,18 8,66 5,84 0,00 0,43 0,10 0,00 0,05 1,21 0,00 0,15 1,95 0,06 0,37 1,63 1,32 0,02

0,01 2,18 0,03 0,02 0,60 0,23 8,56 4,43 0,01 0,00 0,01 0,00 0,19 0,54 0,00 0,11 3,55 0,16 0,38 2,08 0,03 0,05

0,00 2,43 0,08 0,01 0,53 0,27 7,96 5,41 0,00 0,19 0,01 0,03 0,20 0,97 0,14 0,17 1,80 0,36 0,37 1,57 0,39 0,06

0,06 1,92 0,05 0,04 1,01 0,10 9,35 6,39 0,01 0,11 0,00 0,00 0,57 1,53 0,01 0,07 2,23 0,08 0,44 2,44 0,23 0,15

0,05 3,10 0,14 0,54 0,74 0,40 9,03 4,65 0,02 0,84 0,00 0,00 0,97 2,58 0,02 0,02 4,55 0,34 0,39 2,13 1,99 0,26

Negara 1998 New Caledonia 0,00 New Zealand 0,74 Other Asia, nes 37,34 Panama 0,06 Papua New Guinea 0,22 Peru 0,51 Philippines 0,99 Portugal 0,05 Rep. Of Korea 18,87 Senegal 0,00 Seychelles 0,00 Singapore 6,20 South Africa 0,00 Spain 4,88 Sri Lanka 0,00 Thailand 2,18 Turkey 0,00 USA 1,36 Venezuela 0,04 Viet Nam 0,00 Yemen 0,00 Other 3,06 Total 100 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah

1999 0,04 0,74 35,45 0,72

2000 0,05 0,66 39,14 2,08

2001 0,08 0,82 33,16 3,57

2002 0,09 0,81 34,01 4,10

2003 0,06 0,64 38,65 7,35

2004 0,79 0,54 39,94 5,71

2005 0,12 0,47 43,10 4,44

2006 0,07 0,47 33,33 4,57

2007 0,06 0,44 23,19 4,40

0,00 0,00 0,46 0,01 22,26 0,00 0,00 5,55 0,00 4,24 0,00 0,90 0,02 0,70 0,14 0,00 0,00 3,13 100

0,02 0,03 0,67 0,06 19,73 0,00 0,00 4,19 0,29 3,87 0,12 0,30 0,03 0,57 0,36 2,55 0,00 0,52 100

0,12 0,00 0,80 0,01 16,14 0,00 0,00 2,76 0,55 5,71 0,50 0,30 0,02 1,05 0,87 0,49 0,00 0,56 100

0,38 0,01 0,96 0,01 15,17 0,00 0,00 1,62 0,39 4,40 0,42 0,18 0,88 0,87 0,25 1,04 0,00 1,16 100

0,35 0,02 0,93 0,02 11,09 0,24 0,00 1,09 0,27 4,24 0,39 0,27 0,00 1,36 0,07 0,10 0,00 2,06 100

0,30 0,00 1,00 0,01 10,84 0,82 0,00 1,24 0,45 4,94 0,46 0,57 1,24 1,27 0,00 0,33 0,04 2,04 100

0,00 0,03 1,04 0,02 9,93 0,57 0,00 1,76 0,27 4,71 0,86 0,64 0,25 1,09 0,00 0,50 0,03 2,02 100

0,00 0,02 1,90 0,05 10,75 1,89 0,00 2,27 0,47 5,31 0,00 0,60 1,31 1,53 0,00 0,85 0,10 1,47 100

0,00 0,00 3,97 0,14 11,72 0,07 0,00 1,52 0,48 6,56 0,00 1,97 0,02 2,08 0,00 0,00 0,16 2,11 100

Lampiran 8. Total Ekspor Ikan Tuna Olahan Dunia Tahun 1998-2007 Negara Australia Austria Belgium/ BelgiumLuxembourg Brazil Canada China China, Hongokng SAR

(US $)

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

1.166.262

1.373.130

1.511.602

934.973

597.834

931.531

1.563.992

1.849.535

1.487.501

997.445

98.713

453.837

427.498

388.875

384.817

432.819

606.599

951.442

1.239.672

2.418.542

7.878.072

9.388.702

4.647.160

5.417.836

5.665.254

7.729.460

8.899.591

7.231.395

9.580.968

9.346.121

11.102.943

9.125.206

8.925.669

9.147.335

5.211.546

5.657.438

6.920.194

9.708.194

11.274.838

19.714.529

967.283

795.132

563.364

862.973

944.266

1.677.438

1.542.265

2.211.148

2.140.811

2.930.658

3.368.092

1.477.580

1.327.683

3.740.683

5.221.162

5.629.839

8.110.342

19.745.338

41.571.153

67.571.298

631.650

658.186

434.122

622.582

785.706

902.998

1.209.034

844.500

2.191.892

1.244.492

Colombia

51.926.296

35.549.344

31.160.868

22.669.758

28.956.600

33.756.488

25.297.181

27.275.083

21.173.819

29.916.107

Costa Rica

26.809.218

14.780.596

9.837.028

15.410.805

23.657.852

2.717.806

19.946.995

20.648.023

12.093.020

15.456.126

Cote d'Ivore

3.539.849

6.174.459

1.151.221

22.548

347.203

131.562

0

530.798

1.547.067

1.002.834

215.561

57.634

240.465

363.791

472.636

1.045.750

992.028

1.428.556

952.628

1.942.852

0

258.083

537.885

0

351.904

355.135

480.423

790.904

676.942

0

78.991

36.184

30.500

37.785

21.194

84.029

8.097.380

498.553

665.526

1.083.382

Croatia Cuba Czech Rep. Denmark

595.932

505.064

569.962

148.224

1.493.120

1.155.976

1.980.396

2.323.007

1.967.711

3.215.087

108.014.104

106.180.129

99.576.376

137.870.576

195.343.776

211.243.672

181.970.459

250.901.867

303.399.221

329.980.637

El Salvadore

0

0

826

0

329

3.663.089

31.073.368

51.958.958

49.151.779

90.981.263

EU-27

0

0

41.014.095

52.294.638

56.786.095

60.087.342

62.219.612

68.366.979

76.334.513

90.069.388

Ecuador

Fiji

0

0

0

0

1.366.312

424.643

522.746

126.120

272.217

6.350.044

France

73.909.712

111.085.056

247.060.990

257.407.060

315.310.475

335.239.126

331.328.222

63.205.918

381.593.614

83.005.690

Germany

37.954.000

43.254.800

36.577.000

47.836.000

59.048.000

67.843.000

71.457.000

86.460.000

89.979.000

84.777.000

Ghana

51.190.920

54.280.884

57.024.828

62.722.753

0

99.982.559

0

33.693.174

19.539.218

30.717.215

0

0

99

492

8.718

221.846

540.411

21.220.507

755

36.800.041

104.167.912

82.499.839

87.832.633

84.132.896

86.048.521

101.241.561

118.449.189

128.635.721

129.790.247

151.941.915

Guatemala Indonesia Iran

506.123

364.522

438.120

1.140.563

1.008.153

701.065

962.759

970.465

2.097.226

0

2.719.930

849.446

462.581

282.341

0

1.686.463

1.935.691

858.526

337.288

1.245.701

Italy

37.088.508

37.725.094

48.298.910

58.482.317

83.279.440

78.758.527

90.694.902

96.702.470

102.463.541

124.626.732

Japan

6.966.829

8.901.360

4.148.512

7.403.275

6.740.053

6.372.133

7.054.108

6.056.302

5.821.028

7.476.679

Ireland

Negara

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

Jordan

0

0

578.274

197.438

35.770

1.010.156

100.902

401.415

584.212

103.726

Kenya

0

334

57

0

119

591

1.953

2.549

13.099

2.484.477

49.662

128.097

67.092

59.456

129.601

183.458

218.000

0

0

1.184.000

0

0

20.441.983

56.208.546

57.484.118

85.498.148

60.603.676

20.324.456

44.604.403

43.042.183

Malaysia

6.050.736

6.077.115

6.327.847

5.234.173

5.692.305

5.647.453

5.984.126

4.718.455

8.519.309

3.108.253

Maldives

16.721.122

8.623.772

10.869.123

9.831.304

10.071.970

12.835.894

15.581.845

16.940.787

15.378.271

12.328.122

Mauritius

40.897.864

37.540.331

35.388.776

61.497.384

67.430.104

71.630.160

80.608.119

107.508.553

156.936.231

196.936.228

4.631.783

5.100.783

1.423.576

1.290.067

6.148.876

3.578.158

5.529.462

7.679.633

6.557.207

7.682.688

919.798

232.750

1.309.147

1.943.221

414.388

1.231.159

949.206

6.186.659

15.317.224

9.913.099

20.521.139

3.673.295

3.654.979

4.509.517

6.260.798

5.622.132

9.925.144

14.220.095

17.813.119

21.958.336

0

0

471.706

1.440.887

2.303.731

0

765.121

6.624.179

4.993.003

2.132.122

4.639.383

726.742

604.710

1.954.718

2.199.267

3.384.479

5.154.005

6.501.044

4.805.774

6.967.203 12.498.489

Lebanon Madagascar

Mexico Morocco Netherlands Oman Peru Philippines

130.117.088

78.113.232

64.492.908

68.803.368

93.172.924

114.056.312

65.449.461

65.449.461

88.986.526

Rep. Of Korea

1.163.695

1.127.152

1.022.551

3.723.558

2.894.607

4.742.834

4.164.749

4.723.677

0

0

Saudi Arabia

1.647.962

841.007

197.900

4.112

224.270

914.033

546.602

1.303.967

1.238.432

996.793

Senegal

264

59

18.332.740

16.345.946

24

24.770.014

23.197.360

24.077.999

2.053.698

12.396.416

Seychelles

78.567.496

99.576.712

110.196.962

140.685.366

161.523.113

193.888.796

169.261.803

178.138.315

187.076.670

183.158.879

Singapore

424.766

336.340

228.126

263.415

454.721

493.566

420.684

393.676

961.077

427.766

Spain

194.770.368

165.347.484

157.397.680

218.968.784

207.056.608

234.394.215

247.054.831

285.865.824

320.175.685

362.725.414

Thailand

681.513.302

637.300.089

51.176.447

655.982.252

688.046.888

830.952.062

899.495.534

1.129.555.254

1.297.248.280

1.389.715.176

United Kingdom

35.520.255

35.520.255

9.743.723

11.149.822

14.325.454

13.775.061

15.374.397

14.861.864

8.085.851

28.113.402

USA

15.832.705

12.647.518

7.011.027

5.056.993

6.027.387

8.649.857

4.516.109

4.702.108

7.034.570

5.024.863

Venezuela

2.606.650

2.628.608

21.686

46.104

2.400.625

3.279.670

3.286.985

7.076

28.217

0

Viet Nam

0

0

1.189.000

8.372.313

11.835.298

16.176.964

21.210.206

38.014.265

62.099.773

0

Yemen

0

0

0

0

0

0

2.153.764

448.043

482.042

302.122

Other

1.874.055

2.098.303

2.501.045

2.110.038

4.212.978

3.016.632

3.569.558

12.593.082

5.449.043

6.404.758

Total

1.769.205.642

1.623.532.626

1.188.714.502

2.045.177.130

2.229.335.865

2.669.872.610

Sumber: UN Comtrade 2008

2.628.985.571

.856.467.009

3.525.160.174

3.504.216.653

Lampiran 9. Market Share Ikan Tuna Olahan Tahun 1998-2007 Negara Australia Austria Belgium/ BelgiumLuxembourg Brazil Canada China China, Hongokng SAR Colombia Costa Rica Cote d'Ivore Croatia Cuba Czech Rep. Denmark Ecuador El Salvadore EU-27 Fiji France Germany Ghana Guatemala Indonesia Iran Ireland Italy Japan

(%)

1998 0,07 0,01

1999 0,08 0,03

2000 0,13 0,04

2001 0,05 0,02

2002 0,03 0,02

2003 0,03 0,02

2004 0,06 0,02

2005 0,06 0,03

2006 0,04 0,04

2007 0,03 0,07

0,45 0,63 0,05 0,19 0,04 2,94 1,52 0,20 0,01 0,00 0,00 0,03 6,11 0,00 0,00 0,00 4,18 2,15 2,89 0,00 5,89 0,03 0,15 2,10 0,39

0,58 0,56 0,05 0,09 0,04 2,19 0,91 0,38 0,00 0,02 0,00 0,03 6,54 0,00 0,00 0,00 6,84 2,66 3,34 0,00 5,08 0,02 0,05 2,32 0,55

0,39 0,75 0,05 0,11 0,04 2,62 0,83 0,10 0,02 0,05 0,00 0,05 8,38 0,00 3,45 0,00 20,7 3,08 4,80 0,00 7,39 0,04 0,04 4,06 0,35

0,26 0,45 0,04 0,18 0,03 1,11 0,75 0,00 0,02 0,00 0,00 0,01 6,74 0,00 2,56 0,00 12,59 2,34 3,07 0,00 4,11 0,06 0,01 2,86 0,36

0,25 0,23 0,04 0,23 0,04 1,30 1,06 0,02 0,02 0,02 0,00 0,07 8,76 0,00 2,55 0,06 14,14 2,65 0,00 0,00 3,86 0,05 0,00 3,74 0,30

0,29 0,21 0,06 0,21 0,03 1,26 0,10 0,00 0,04 0,01 0,00 0,04 7,91 0,14 2,25 0,02 12,56 2,54 3,74 0,01 3,79 0,03 0,06 2,95 0,24

0,34 0,26 0,06 0,31 0,05 0,96 0,76 0,00 0,04 0,02 0,31 0,08 6,92 1,18 2,37 0,02 12,60 2,72 0,00 0,02 4,51 0,04 0,07 3,45 0,27

0,25 0,34 0,08 0,69 0,03 0,95 0,72 0,02 0,05 0,03 0,02 0,08 8,78 1,82 2,39 0,00 2,21 3,03 1,18 0,74 4,50 0,03 0,03 3,39 0,21

0,27 0,32 0,06 1,18 0,06 0,60 0,34 0,04 0,03 0,02 0,02 0,06 8,61 1,39 2,17 0,01 10,82 2,55 0,55 0,00 3,68 0,06 0,01 2,91 0,17

0,27 0,56 0,08 1,93 0,04 0,85 0,44 0,03 0,06 0,00 0,03 0,09 9,42 2,60 2,57 0,18 2,37 2,42 0,88 1,05 4,34 0,00 0,04 3,56 0,21

Negara 1998 Jordan 0,00 Kenya 0,00 Lebanon 0,00 Madagascar 0,00 Malaysia 0,34 Maldives 0,95 Mauritius 2,31 Mexico 0,26 Morocco 0,05 Netherlands 1,16 Oman 0,00 Peru 0,26 Philippines 7,35 Rep. Of Korea 0,07 Saudi Arabia 0,09 Senegal 0,00 Seychelles 4,44 Singapore 0,01 Spain 11,01 Thailand 38,52 United Kingdom 2,01 USA 0,89 Venezuela 0,15 Viet Nam 0,00 Yemen 0,00 Other 0,11 Total 100 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah

1999 0,00 0,00 0,01 0,00 0,37 0,53 2,31 0,31 0,01 0,23 0,00 0,04 4,81 0,07 0,05 0,00 6,13 0,03 10,18 39,25 2,19 0,78 0,16 0,00 0,00 0,13 100

2000 0,05 0,00 0,01 1,72 0,53 0,91 2,98 0,12 0,11 0,31 0,04 0,05 5,43 0,09 0,02 1,54 9,27 0,04 13,24 4,31 0,82 0,59 0,00 0,10 0,00 0,21 100

2001 0,01 0,00 0,00 2,75 0,26 0,48 3,01 0,06 0,10 0,22 0,07 0,10 3,36 0,18 0,00 0,80 6,88 0,02 10,71 32,07 0,55 0,25 0,00 0,41 0,00 0,10 100

2002 0,00 0,00 0,01 2,58 0,26 0,45 3,02 0,28 0,02 0,28 0,10 0,10 4,18 0,13 0,01 0,00 7,25 0,02 9,29 30,86 0,64 0,27 0,11 0,53 0,00 0,19 100

2003 0,04 0,00 0,01 3,20 0,21 0,48 2,68 0,13 0,05 0,21 0,00 0,13 4,27 0,18 0,03 0,93 7,26 0,04 8,78 31,12 0,52 0,32 0,12 0,61 0,00 0,11 100

2004 0,00 0,00 0,01 2,31 0,23 0,59 3,07 0,21 0,04 0,38 0,03 0,20 2,49 0,16 0,02 0,88 6,44 0,02 9,40 34,21 0,58 0,17 0,13 0,81 0,08 0,14 100

2005 0,01 0,00 0,00 0,71 0,17 0,59 3,76 0,27 0,22 0,50 0,23 0,23 2,29 0,17 0,05 0,84 6,24 0,01 10,01 39,54 0,52 0,16 0,00 1,33 0,02 0,44 100

2006 0,02 0,00 0,00 1,27 0,24 0,44 4,45 0,19 0,43 0,51 0,14 0,14 2,52 0,00 0,04 0,06 5,31 0,01 9,08 36,80 0,23 0,20 0,00 1,76 0,01 0,15 100

2007 0,00 0,07 0,03 1,23 0,09 0,35 5,62 0,22 0,28 0,63 0,06 0,20 0,36 0,00 0,03 0,35 5,23 0,01 10,35 39,66 0,80 0,14 0,00 0,00 0,01 0,18 100

Lampiran 10. Mekanismen Impor Uni Eropa Pelaksanaan pengujian di negara eksportir

maksimal

10

hari

sebelum ekspor

Competent eksportir

Authority mengeluarkan

negara health

certificate jika hasil tes memenuhi standar

Produk yang akan masuk ke Uni

Produk yang tidak sesuai standar atau

Eropa

tidak lulus pemeriksaan dokumen

dilakukan

pengujian

di

Boarder Inspection Post

Tidak

diberikan kepada competent authority

Sesuai

negara eksportir

European Comissioni melaporkan adanya temuan dan menyebarkan ke Sesuai

seluruh

negara

anggota

melalui

Rapid alert System

European

Comissiona

peninjauan

melakukan

kembali

sesuai

permintaan eksportir

Produk

yang

diperbolehkan Eropa Sumber: Fajar 2008

sesuai masuk

standar ke

Uni

Produk yang tidak sesuai dengan standar

akan

dihancurkan

dipulangkan

atau

Lampiran 11. Mekanismen Impor Amerika Serikat37 Importir mengirimkan Entry Notice kee US Customs FDA menerima pemberitahuan dari Bea FDA

FDA melakukan uji, Notice of Sampling

mengevaluasi

dikirimkan ke Bea Cukai

Entry

Notice Bea Cukai/FDA melakukan pengambilan FDA

tidak

importir

melakukan

diberi

May

uji,

sampel. Sampel dianalisi oleh FDA

Proceed Sampel tidak memenuhi standar, Notice Of

Sampel memenuhi standar, relase

Derention and Hearing dikirimkan ke Bea

Notice dikirimkan ke Bea Cukai dan

Cukai dan importir

importir

Impotrir Menanggapi Notice of

Importir

Detention and Hearing

Notice

FDA

menunda

tidak menanggapi of

Detention

and

Hearing

pemeriksaan

FDA mengirimkan Notice of

produk

Refusal Admission Importir

mengajukan

proposal FDA

rekondisi Importir bukti

perintah

pemulangan dan penghancuran

FDA mengevaluasi mekanisme

menunjukkan

menerima

dari Bea Cukai

rekondisi

produk sesuai standar FDA FDA

FDA

mekanisme rekondisi

melakukan

pengujian

menyetujui

menolak

mekannisme

ulang Sampel

Sampel

memenuhi

standar,

FDA

tidak

sesuai standar

Importir

seluruh

prosedur rekondisi FDA

mengeluarkan

menyelesaikan

melakukan

pengambilan

sampel ulang

Release Notice Sampel

memenuhi

standar

mengeluarkan Realesae Notice

FDA

Sampel

tidak

memenuhi standar

37

http://www.fda.gov/Food/GuidanceComplianceRegulatoryInformation/GuidanceDocuments/ImportsExports/ucm080938.ht m

Lampiran 12. Mekanisme Impor Jepang Pemberitahuan pelaksanaan ekspor Persiapan dokumen untuk pemeriksaan impor

Kedatangan kargo

Pemeriksaan impor

Evaluasi dokumen di

Inspeksi dibutuhkan

karantina milik MHLW (ministry of Health, Labour

Pemeriksaan

and Wealth

Laboratorium untuk pemeriksaan fisik Inspeksi tidak dibutuhkan

atau Karantina untuk inspeksi administrasi Sesuai standar

Certificate of Notification dikeluarkan

Tidak sesuai standar

Produk mendapatkan izin untuk keluar dari Bea Cukai Distribusi Sumber: Fajar 2008

Produk dipulangkan, atau dihancurkan

Lampiran 13. Total Impor Negara Jepang, Amerika Serikat, dan Kawasan Uni Eropa Tahun 2003-2007 (kg) 2003 Keterangan

Jumlah

Jepang 60.412.019 Uni Eropa 3.939.404 Amerika Segar 25.641.757 Seikat Other 55.830.487 Total Dunia 145.823.485 Jepang 242.452.325 Uni Eropa 146.347.917 Amerika Beku 19.105.648 Seikat Other 2.503.023.973 Total Dunia 2.910.929.863 Jepang 42.405.722 Uni Eropa 425.709.576 Amerika Olahan 255.134.987 Seikat Other 717.187.279 Total Dunia 1.440.437.564 Sumber: UN Comtrade 2008, diolah

2004 Market share (%)

Jumlah

2005 Market share (%)

Jumlah

2006 Market share (%)

Jumlah

2007 Market share (%)

Jumlah

Market share (%)

Ratarata per tahun (%)

41,43 2,70

56.713.668 6.553.990

41,28 4,77

51.007.440 15.262.689

31,81 9,52

44.474.208 5.639.981

27,35 3,47

38.066.570 6.108.161

23,97 3,85

33,17 4,83

17,52

26.426.481

19,24

25.476.906

15,89

25.092.313

15,43

25.767.053

16,23

16,87

38,29 100 8,33 5,03

47.682.341 137.376.480 246.838.685 84.047.985

34,71 100 10,15 3,46

68.621.988 160.369.023 242.927.329 102.346.765

42,79 100 8,27 3,48

87.395.190 162.601.692 195.992.522 89.949.973

53,75 100 7,29 3,35

88.858.415 158.801.199 166.147.103 120.923.413

55,96% 100% 6,03 4,39

48,34 8,01 3,94

0,66

12.738.460

0,52

9.874.486

0,34

8.096.617

0,30

8.255.336

0,30

0,42

85,99 100 2,94 29,55

2.087.448.510 2.431.073.640 47.601.888 427.251.189

85,87 100 3,33 29,92

2.583.525.475 2.938.674.055 49.313.824 459.393.397

87,92 100 3,03 28,18

2.394.718.337 2.688.757.449 47.888.510 474.399.061

89,06 100 3,08 30,54

2.458.679.844 2.754.005.696 48.480.570 472.509.565

89,28 100 2,93 28,57

87,62 3,06 29,35

17,71

248.163.821

17,38

254.495.513

15,61

240.691.576

15,49

218.232.326

13,20

15,88

49,79 100

704.782.302 1.427.799.200

49,36 100

866.872.439 1.630.075.173

53,18 100

790.597.894 1.553.577.041

50,89 100

914.442.159 1.653.664.620

55,30 100

51,70 -

Lampiran 14. Kandungan Nutrisi Ikan Tuna Mentah Nutrisi, Nilai per 100 gram porsi Mineral makanan Kalsium, Ca, 29 mg Air, 70.58 g Besi, Fe, 1.25 mg Energi, 103 kcal Magnesium, Mg, 34 mg Energi, 431 kj Phospor, P, 222 mg Protein, 22 g Potassium, K, 407 mg Total lemak, 1.01 g Sodium, Na, 37 mg Karbohirat, 0 g Seng, Zn, 0.82 mg Serat, 0 g Tembaga, Cu, 0.086 mg Ampas, 1.3 g Mangan, Mn, 0.015 mg Selenium, Se, 36.5 mg Asam Amino Lemak Tryptophan, 0.246 g Threonine, 0.964 g Isoleucine, 1.014 g Leucine, 1.788 g Lysine, 2.02 g Methionine, 0.651 g Cystine, 0.236 g Phenylalanine, 0.859 g Tyrosine, 0.743 g Valine, 1.133 g Arginine, 1.316 g Histidine, 0.648 g Alanine, 1.331 g Asam Aspartic, 2.253 g Asam Glutamic, 3.284 g Glycine, 1.056 g Proline, 0.778 g Serine, 0.898 g

Asam lemak jenuh, saturated, 0.328 g 14:0, 0.04 g 16:0, 0.233 g 18:0, 0.055 g Asam lemak tak jenuh, monounsaturated, 0.19 g 16:1, 0.036 g 18:1, 0.131 g 20:1, 0.017 g 22:1, 0.006 g Asam lemak tak jenuh, polyunsaturated, 0.315 g 18:2, 0.016 g 18:4, 0.004 g 20:4, 0.026 g 20:5, 0.071 g 22:5, 0.013 g 22:6, 0.185 g Kolesterol, 47 mg

Vitamin Vitamin C, asam ascorbic, 1 mg Thiamin, 0.033 mg Riboflavin, 0.1 mg Niacin, 15.4 mg Asam Pantothenic, 0.42 mg Vitamin B-6, 0.85 mg Folate, 9 mcg Vitamin B-12, 1.9 mcg Vitamin A, 52 IU Vitamin A, RE, 16 mcg_RE Sumber: http://www.asiamaya.com/nutrients/ikantuna.htm [Diakses tanggal 28 Oktober 2009]