Analisis Faktor Profesionalisme Guru Sekolah Dasar di

Kata-kata kunci: faktor-faktor profesionalisme guru, profesi guru, guru SD ... solidaritas terhadap organisasi profesi. Sedangkan prinsip-prinsip...

0 downloads 18 Views 349KB Size
Analisis Faktor Profesionalisme Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Mojokerto Sofiani Indah Listiana Kusmintardjo Mustiningsih Email: [email protected] Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Kota Malang 65145 Abstrack: Factor Analysis of Elementary School Teachers Profesionalism at District of Mojokerto. The purpose of this research was to find the factors that shape the professionalism of elementary school teachers in Mojokerto district. This research uses quantitative approach with exploratory research design and exploratory descriptive research type. Data analysis techniques used are factor analysis and descriptive analysis. The results of this study found six factors that shape the professionalism of elementary school teachers in Mojokerto regency include: (1) training factors, (2) work culture factors, (3) personality factors, (4) reward factors, (5) skill factors, and (6) Teacher welfare factors. Keywords: Factors of professionalism of teachers, teacher profession, elementary school teachers Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan faktor yang membentuk profesionalisme guru Sekolah Dasar di Kabupaten Mojokerto. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian eksploratoti dan jenis penelitian deskriptif eksploratori. Teknik analisis data menggunkan analisis faktor dan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini ditemukan enam faktor yang membentuk profesionalisme guru SD di Kabupaten Mojokerto meliputi: (1) faktor pelatihan, (2) faktor budaya kerja, (3) faktor kepribadian, (4) faktor penghargaan, (5) faktor keterampilan, dan (6) faktor kesejahteraan guru. Kata-kata kunci: faktor-faktor profesionalisme guru, profesi guru, guru SD Guru merupakan pendidik profesional yang harus memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi. Kompetensi guru tercermin secara menyeluruh dalam kinerjanya, baik dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, maupun dalam menilai proses serta hasil belajar siswa. Oleh karena itu, sebagai seorang guru yang profesional, selayaknya merealisasikan dengan tanggungjawab dalam 1

2 mengemban tugas profesinya. Terutama seorang guru di jenjang pendidikan dasar di tingkat Sekolah Dasar (SD), hal ini dikarenakan tingkat SD merupakan pendidikan formal pertama yang ditempuh dan akan memberikan landasan bagi pendidikan selanjutnya. Era globalisasi yang sangat berkembang seperti saat ini, tugas guru juga sangat berpengaruh. Hal ini dikarenakan pendidikan akan sangat terpengaruh oleh globalisasi yang tercermin dalam kurikulum yang secara terusmenerus mengalami perubahan sesuai dengan era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengglobal. Oleh karena itu, idealnya sebagai seorang guru yang professional harus siap untuk menghadapi perubahan, sebagai salah satu wujud dari tanggungjawab terhadap tugas profesinya dengan melakukan peningkatan kemampuan profesional secara terus-menerus serta mengembangkan kemampuan individu. Hal di atas bertolak belakang dengan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, bahwa “tingkat profesionalisme guru pada jenjang SD di Kabupaten Mojokerto dalam kategori sedang. Kategori sedang berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015”. Penilai UKG meliputi kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional, sehingga dalam penelitian ini ingin mengungkap semua hal yang melekat pada profesi guru, meliputi aspek kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Selain itu data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto tahun 2015 menyatakan, bahwa “terjadi peningkatan total jumlah murid baik SD/MI sebesar 8,99%”. Oleh karena itu banyaknya jumlah murid di jenjang SD harus diseimbangkan dengan kualitas guru profesional karena sangat menentukan pendidikan di tingkat selanjutnya. Dari permasalahan di atas, maka faktor yang membentuk profesionalisme guru terutama pada Sekolah Dasar (SD) perlu diteliti dan ditemukan. Sehingga guru dapat menyeimbangkan kemampuan profesional dengan kenaikan jumlah murid SD dan dapat memperbaiki tingkat profesionalisme di Kabupaten Mojokerto. Untuk itu penelitian ini membahas tentang ‘Analisis Faktor-Faktor Profesionalisme Guru pada Sekolah Dasar di Kabupaten Mojokerto’. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori profesionalisme guru. Profesionalisme menurut Najamuddin (2013: 2), dapat diartikan sebagai

3 “pandangan yang menganggap bidang pekerjaan sebagai suatu pengabdian melalui keahlian khusus yang diperoleh melalui pendidikan tertentu dan menganggap keahlian itu sebagai suatu yang harus diperbaharui dan dikembangkan secara terus-menerus dengan memanfaatkan kemajuan-kemajuan yang ada”. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa profesionalisme adalah pandangan tentang suatu pekerjaan yang memerlukan keahlian dan harus dikembangkan secara terus-menerus. Faktor penting profesionalisme dalam suatu jabatan menurut Djojonegoro (dalam Danim dan Khairil, 2010: 9), meliputi: “1) memiliki keahlian khusus yang dipersiapkan oleh program pendidikan keahlian atau spesialisasi, 2) kemampuan untuk memperbaiki kemampuan (keterampilan dan keahlian khusus yang dikuasai), 3) penghasilan yang memadai sebagai imbalan terhadap keahlian khusus yang dimilikinya”. Berdasarkan pendapat di atas, bahwa faktor profesionalisme guru, yaitu memiliki keahlian, kemampuan dalam program pendidikan, terus-menerus melakukan pengembangan keahlian dan kemampuan, serta upah atas pekerjaannya. Kriteria profesi dalam bidang pendidikan menurut Komisi Kebijaksanaan National Education Association (NEA) (dalam Isnaini, 2009: 3) Amerika Serikat, sebagai berikut. 1. Profesi didasarkan atas sejumlah pengetahuan yang dikhususkan; 2. Profesi mengejar kemajuan dalam kemampuan para anggotanya; 3. Profesi melayani kebutuhan para anggotanya (akan kesejahteraan dan pertumbuhan profesional); 4. Profesi memiliki norma-norma etis; 5. Profesi mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah di bidangnya (mengenai perubahan-perubahan dalam kurikulum, struktur organisasi pendidikan, persiapan profesional, dst.); 6. Profesi memiliki solidaritas kelompok profesi. Dengan demikian kriteria profesi dalam bidang pendidikan adalah dengan memiliki pengetahuan di bidangnya, memiliki norma dan solidaritas terhadap organisasi profesi. Sedangkan prinsip-prinsip profesionalitas berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 (dalam Danim dan Khairil, 2010: 11), meliputi:

4 a. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme; b. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas; d. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; e. Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan; f. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; g. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; h. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan i. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru. Prinsip-prinsip yang di atas dapat disimpulkan, bahwa seorang guru harus memiliki kemampuan secara individu dan tanggungjawab serta mempunyai aturan dalam melaksanakan jabatan guru. Pendapat lain menjelaskan, bahwa “guru yang bermutu memungkinkan siswanya untuk tidak hanya dapat mencapai standar akademik secara nasional, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang penting untuk belajar selama hidup mereka” (Elaine B. Johnson dalam Hanifah, 2012). Hal ini, bahwa pengaruh guru sangat hebat terhadap peserta didik, sehingga dibutuhkan guru yang berkompeten dan profesional. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan (Balitbang Dikbud dalam Nasution dan Siahaan, 2009: 45), bahwa guru yang bermutu diukur dari lima faktor utama, yaitu: a. Profesional Capacity: meningkatkan kemampuan profesional berkaitan dengan kecerdasan, sikap, dan prestasinya dalam bekerja; b. Profesional Efforts: upaya kemampuan profesional; c. Teachers Time: Intensitas waktu yang dipergunakan dari seorang guru untuk tugas-tugas profesionalnya; d. Link and Match: kesesuaian antara keahlian dengan bidang pekerjaan; e. Reward and Welfare: penghasilan dan kesejahteraannya yang cukup untuk memelihara dan memacu peningkatan profesionalisasinya. Mampu mencurahkan sebagaian besar

5 perhatiannya terhadap upaya-upaya profesional, seperti peningkatan keahlian, memperkaya pengetahuan, serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas pekerjaan mengajar. Dari kelima faktor guru bermutu dari studi yang dilakukan oleh Balitbang Dikbud termasuk dalam ciri-ciri guru profesional seperti yang sudah dijelaskan oleh beberapa pendapat di atas. Sebagai guru yang menyalurkan ilmu kepada peserta didik, pengetahuan guru harus terus diasah karena ilmu terus mengalami perkembangan. Sedangkan Andinta (2012: 34) mengemukakan, bahwa faktorfaktor yang mempengaruhi profesionalisme guru adalah: faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu meliputi, latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, etos kerja, penataran, dan pelatihan. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi profesionalisme guru, misalnya iklim kerja, kebijakan organisasi, lingkungan sosial kerja, sarana dan prasarana. Dengan demikian faktor-faktor di atas dapat mendukung tercapainya tujuan dari pendidikan, terutama dalam ranah pengembangan atau peningkatan profesionalisme guru yang mengalami kemajuan secara terus-menerus. Selain itu faktor yang mempengaruhi profesionalisme berasal dari faktor internal dan faktor eksternal.

METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian eksploratori dan jenis penelitian deskriptif eksploratori. Peneliti memilih metode kuantitatif karena bertujuan untuk mendapatkan data yang relatif tetap, konkrit, teramati dan terukur dan dianalisis menggunakan statistika. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara tepat karakteristik suatu gejala frekuensi dan distribusinya. “Penelitian eksploratori bertujuan untuk memperoleh dan menggali gejala alam atau sosial, dengan maksud merumuskan gejala secara rinci” (Setyadin, 2005a: 11). Objek dalam penelitian ini adalah profesionalisme guru SD. Profesionalisme guru yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah standar yang

6 seharusnya dimiliki dan melekat pada diri guru sesuai dengan tuntutan tugas dan tanggungjawab. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel wilayah, porposive sampling, dan proportional random sampling, sehingga dapat dikatakan teknik sampling penelitian ini adalah Area Porposive Proportional Random Sampling. Teknik sampling wilayah digunakan untuk menentukan pembagian wilayah berdasarkan arah mata angin. Teknik sampling porposive digunakan untuk menentukan wilayah yang terpilih dari pembagian berdasarkan arah mata angin. Alasan memilih teknik sampel area dikarenakan Kabupaten Mojokerto memiliki wilayah yang luas, yaitu 18 kecamatan. Peneliti mengambil sampel wilayah berdasarkan arah mata angin dengan melihat peta Kabupaten Mojokerto. Wilayah yang terpilih ditentukan dari wilayah yang paling Timur adalah Kecamatan Ngoro, wilayah paling Barat adalah Kecamatan Trowulan, wilayah paling Selatan adalah Kecamatan Gondang, wilayah paling Utara adalah Kecamatan Dawarblandong dan wilayah yang berada di tengah adalah Kecamatan Bangsal. Perhitungan jumlah sampel pada masing-masing kecamataan untuk 1 wilayah dapat dilihat pada Tabel 3.3. dan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑔𝑢𝑟𝑢 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ 𝐴

𝑆 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 5 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ 𝑋 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 Tabel 1. Rincian Jumlah Sampel Guru SD di Kabupaten Mojokerto No 1 2 3 4 5

Kecamatan Bangsal Dawarblandong Gondang Ngoro Trowulan Jumlah

Populasi 298 294 258 358 263 1471

Sampel 76 74 65 91 67 373

Kemudian dari sampel akan dipilih acak dengan menggunakan Simple Random Sampling karena peneliti tidak melihat guru berdasarkan asal sekolah. Simple Random Sampling adalah metode pengambilan sampel secara acak dari

7 masing-masing kelompok, sehingga melihat dari jumlah SD di setiap kecamatan akan diambil secara acak. Penelitian ini menggunakan angket tertutup dikarenakan peneliti hanya ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan yang telah diberikan oleh peneliti dan memudahkan responden dalam menjawab. Cara menjawab menggunakan bentuk check list (√) pada setiap pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Peneliti menggunakan skala Likert, menurut Sugiyono (2011: 93), “Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial”. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis faktor dan analisis deskriptif. 1. Analisis Faktor Eksploratori Menurut Setyadin (2005a: 5), langkah-langkah dari teknik analisis eksploratori sebagai berikut. 1) Penyusunan Matriks Kolerasi Tahap pertama dalam analisis faktor adalah menyusun matriks korelasi antar variabel/butir. Dari matriks korelasi antar butir, apabila terdapat koefisen korelasi (rn) ≥ ± 0,80 atau ≤ 0,30, maka butir tersebut gugur karena mengukur hal/aspek yang sama. Keputusan menggugurkan suatu butir juga mempertimbangkan korelasinya dengan butir yang lain. Apabila korelasi dengan butir yang lain juga tnggi, maka butir tersebut harus gugur. 2) Menentukan Jumlah Faktor yang Disaring Tujuan menentukan jumlah faktor yang harus disaring adalah untuk meringkas informasi yang terkandung dalam variabel asal. Jumlah faktor yang disaring ditentukan oleh nilai besaran Eigen dari faktor tersebut. Eigen value menjelaskan koefisien yang menunjukan jumlah varians yang berasosiasi dengan masingmasing faktor. Faktor yang mempunyai nilai eigen ≥ 1, dapat dimasukan ke dalam model, sedangkan nilai eigen < 1 merupakan faktor yang tidak termasuk dalam model. 3) Menentukan Rotasi Matriks Faktor Hasil analisis faktor adalah rotasi matriks faktor. Rotasi matriks faktor memuat koefisien yang digunakan untuk menyatakan variabel standar yang disebut faktor. Koefisien factor loading menerangkan korelasi antara variabel asal dengan faktornya. Besaran korelasi yang tinggi menyatakan hubungan yang erat antara faktor dan variabel asal sehingga variabel tersebut dapat digunakan sebagai menafsirkan faktor.

8 Factor loading adalah koefisien korelasi antara variabel-variabel nyata dengan faktor-faktornya. Factor loading yang bernilai besar menunjukan besaran pengaruh variabel tersebut pada suatu faktor Menurut Comrey (dalam Setyadin, 2005), factor loading yang baik adalah ≥ 0,50, selain itu faktor ini berfungsi memberikan konsep atau nama baru terhadap faktor tersebut sesuai suatu variabel. 4) Penafsiran Penafsiran dilakukan dengan menggunakan pendekatan nilai loading suatu variabel terhadap suatu faktor. Dengan mengidenifikasi variabel yang memiliki loading terbesar pada faktor yang sama, penafsiran dapat lebih sederhana. Oleh sebab itu, untuk mengukur suatu faktor dapat ditafsirkan melalui variabel yang memiliki loading terbesar variabel wakil. Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan, bahwa langkah-langkah dalam melakukan teknik analisis eksploratori, yaitu: penyusunan matriks korelasi, menentukan jumlah faktor yang disaring, menentukan rotasi matriks faktor, dan melakukan penafsiran suatu faktor. 2. Analisis Deskriptif Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan suatu data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru SD. Menurut Arikunto (2002: 45) rumus untuk menentukan rentang skor dalam masing-masing kategori adalah sebagai berikut: Panjang kelas interval=

𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖−𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎ℎ 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙

Kemudian menentukan persentase untuk mengetahui jumlah perbandingan variabel dengan rumus sebagai berikut: 𝐹

P = 𝑁 𝑋100% Keterangan: P

= Persentase;

F

= Frekuensi responden;

N

= Jumlah responden.

HASIL Hasil Analisis Faktor Teridentifikasi 6 faktor baru dari hasil rotasi dengan jumlah koefisien eigenvalue ≥ 1, persentase varian kumulatifnya adalah 50,857%. Hasil analisis

9 faktor dapat digunakan untuk menafsirkan konsep-konsep yang muncul, sehingga penelitian ini dapat menjelaskan faktor-faktor yang membentuk profesionalisme guru SD di Kabupaten Mojokerto. Identifikasi faktor-faktor sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Analisis Faktor Nomer Indikator Kode X10 Saya tidak pilih kasih kepada peserta didik di sekolah X19 Saya mengajar karena niat mencerdaskan generasi penerus bangsa X12 Saya menegur siswa saat melakukan tindakan tidak sopan kepada orang yang lebih tua di sekolah X16 Saya mengajak siswa untuk membaca ayat suci Al-Qur’an sebelum pembelajaran dimulai X8 Saya menjenguk siswa yang sedang sakit di rumahnya (rasa empatik) X15 Saya mengajak siswa untuk sholat dhuha atau dhuhur berjamaah X17 Saya mengajar dengan penuh tanggungjawab X18 Saya mengajar dengan hati ikhlas X9 Saya berjiarah ke rumah siswa yang sedang berduka X39 Saya mendapatkan buku penunjang dari sekolah X37 Saya belajar mandiri tentang penggunaan laptop sebagai media pembelajaran di kelas X21 Saya memiliki keahlian khusus dalam bidang Informasi dan Teknologi (IT) X24 Saya menggemari bakat bidang seni (menyanyi/bermain alat musik) X25 Saya menggemari bakat melukis X40 Saya membeli laptop untuk dapat mengakses e-book X51 Saya akan tetap mengembangkan ilmu pengetahuan meskipun sudah pensiun X20 Saya perlu untuk memiliki keterampilan, seperti merangkai bunga/menjahit/menyulam X26 Saya menggemari bakat tata boga X38 Saya menyisihkan gaji untuk belanja buku pembelajaran sesuai dengan perkembangan

Muatan Faktor 0,739 0,679

Eigen Value/ % Variabel 27,216 (9,827%) Faktor Kepribadian

0,634

0,633

0,613 0,610 0,593 0,586 0,570 0,342 0,668 0,638 0,598 0,589 0,538 0,518 0,504

0,500 0,488

6,790 (9,724%) Faktor Keterampilan

10

X52 X50 X36 X4 X49 X23 X30 X31

X28 X34 X29 X33 X32 X5 X42 X45

X44 X43 X47

X53 X48

X1

ilmu pengetahuan Saat saya sudah pensiun, saya tetap memberikan ilmu kepada peserta didik Saya mendapatkan tugas tambahan sebagai pembina ekstrakurikuler Saya mengulas bahan ajar dengan teman sejawat Saya diminta untuk mengadakan bimbingan belajar oleh wali murid Saya mendapatkan tugas tambahan jam mengajar selain kewajiban yang dibebankan Saya menyisipkan fenomena terbaru ke dalam pembelajaran Saya aktif selama kegiatan KKG berlangsung Saya memberikan saran topik dalam kegiatan KKG mengenai pengembangan karya inovasi pembelajaran Saya mengikuti setiap jadwal kegiatan KKG Saya aktif bertanya kepada nara sumber saat kegiatan pelatihan Saya mengikuti kegiatan KKG >90% dari acara Saya memahami materi pelatihan guru Saya mengikuti kegiatan pelatihan guru berdasarkan kebutuhan saya Saya direkomendasikan masyarakat untuk memberikan bimbingan belajar secara privat Saya tidak kekurangan uang saat membeli baju untuk seragam sekolah Honorarium yang saya terima cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari diluar konsumsi Honorarium yang saya terima setimbang dengan beban tugas yang saya laksanakan Saya tidak kekurangan dalam hal pemenuhan kebutuhan makan Saya terlindungi oleh organisasi profesi apabila terjadi pemutusan hubungan kerja yang semana-mena Saya menjadi anggota dalam organisasi profesi guru Saya memperoleh kewajiban mengajar sesuai dengan jumlah jam mengajar yang ditetapkan Saya mendapatkan sertifikat sebagai pendidik dengan kerja keras

0,459 0,442 0,427 0,360 0,318 0,308 0,707 0,686

5,368 (8,940%) Faktor Pelatihan

0,650 0,637 0,611 0,610 0,563 0,445 0,719 0,699

0,616 0,598 0,555

0,535 0,503

0,450

4,140 (8,220%) Faktor Kesejahteraan Guru

11 X41

Saya membeli baju pribadi sesuai dengan kondisi keuangan pribadi X46 Saya merasa terlindungi oleh hukum yang berlaku ketika menjalankan tugas profesi X7 Saya mematuhi semua aturan kode etik profesi guru X6 Saya memahami isi kode etik profesi guru X14 Saya tidak melanggar aturan kode etik profesi guru X13 Saya tidak pernah melanggar peraturan yang ada di sekolah X11 Saya disegani oleh siswa sebagai guru yang mengajarkan tata krama X35 Saya berinisiatif untuk belajar mandiri X22 Saya menguasai semua pengetahuan dalam materi pelajaran X55 Saya menjadi pengurus dalam kegiatan KKG yang diselenggarakan oleh organisasi profesi guru X54 Saya menjadi pengurus dalam organisasi profesi guru X3 Saya menghasilkan siswa yang memenangkan kejuaraan di tingkat Kabupaten/Kota X2 Saya dikategorikan sebagai guru teladan di tingkat sekolah X27 Saya menggemari bakat dalam bidang olahraga Sumber: Hasil Olah Data Komputer, 2017

0,448 0,440 0,723 0,676 0,675

4,005 (7,770%) Faktor Budaya Kerja

0,632 0,566 0,479 0,413 0,717

0,645

3,338 (6,375%) Faktor Penghargaan

0,588

0,493 0,329

Hasil Analisis Deskriptif Faktor Kepribadian Dari hasil analisis data pada faktor kepribadian termasuk dalam kategori ‘tinggi’, yaitu dengan rata-rata 3,47139. Dilihat dari persentase sebesar 77,2% atau sebanyak 288 orang. Faktor Keterampilan Dari hasil analisis data pada faktor keterampilan termasuk dalam kategori ‘sedang’, yaitu dengan rata-rata 5,31749. Dilihat dari persentase sebesar 63,5% atau sebanyak 237 orang.

12 Faktor Pelatihan Dari hasil analisis data pada faktor pelatihan termasuk dalam kategori ‘tinggi’, yaitu dengan rata-rata 3,16821. Dilihat dari persentase sebesar 54,2% atau sebanyak 202 orang. Faktor Kesejahteraan Guru Dari hasil analisis data pada faktor kesejahteraan guru termasuk dalam kategori ‘tinggi’, yaitu dengan rata-rata 3,58431. Dilihat dari persentase sebesar 60,6% atau sebanyak 226 orang. Faktor Budaya Kerja Dari hasil analisis data pada faktor budaya kerja termasuk dalam kategori ‘tinggi’, yaitu dengan rata-rata 2,46769. Dilihat dari persentase sebesar 55,5% atau sebanyak 207 orang. Faktor Penghargaan Dari analisis data pada faktor penghargaan termasuk dalam kategori ‘sedang’, yaitu dengan rata-rata 1,60304. Dilihat dari persentase sebesar 65,1% atau sebanyak 243 orang.

PEMBAHASAN Faktor Kepribadian Faktor ini sesuai dengan prinsip-prinsip profesionalitas dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005, yaitu memiliki komitmen keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia. Selain itu Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru menyatakan, bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional, salah satunya yaitu kompetensi kepribadian. Faktor kepribadian juga sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Balitbang Dikbud, bahwa guru yang bermutu diukur dari 5 faktor utama. Salah satu faktornya adalah profesional capacity, yang berarti meningkatkan kemampuan profesional berkaitan dengan kecerdasan, sikap dan prestasi dalam bekerja. Dengan demikian sikap yang mecerminkan kepribadian seorang guru merupakan salah satu bentuk profesionalisme. Berdasarkan pernyataan di atas,

13 bahwa sebagai guru yang profesional bukan hanya pengetahuan sesuai bidangnya, melainkan juga kepribadian seorang guru yang dapat menjadi suri teladan bagi peserta didik serta menjadi pribadi yang memiliki cinta kasih kepada peserta didik sebagai orangtua di lingkungan sekolah. Cinta kasih karena peduli, mengayomi, mengingatkan dan menegur kepada peserta didik. Faktor Keterampilan Faktor ini sesuai dengan pendapat Anwar dan Segala (dalam Segala 2013: 9), bahwa “profesionalisme profesi keguruan pada dasarnya bagian profesi yang memiliki ilmu maupun teoritikal, keterampilan, dan mengharapkan idiologi profesional tersendiri”. Dengan demikian keterampilan harus ada pada diri seorang guru. Keterampilan dalam hal yang mendukung proses pembelajaran, misalnya penguasaan teknologi. Sedangkan pendapat Danim dan Khairil (2010: 9) tentang unsur terpenting dalam profesi guru adalah “penguasaan sejumlah kompetensi sebagai keterampilan atau keahlian khusus, yang diperlukan untuk melakukan tugas mendidik dan mengajar secara efektif dan efisien”. Dengan demikian bagi seorang guru faktor keterampilan sangat penting untuk menunjang proses pembelajaran. Faktor Pelatihan Faktor ini sesuai dengan pendapat Nuraeni (2015: 1), bahwa terdapat 2 faktor profesionalisme, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal salah satunya adalah pelatihan. Dengan demikian pelatihan sangat diperlukan oleh seorang guru yang profesional. Faktor pelatihan juga sesuai dengan Andinta (2012: 34), bahwa faktor yang mempengaruhi profesionalisme guru salah satunya adalah penataran dan pelatihan. Berdasarkan pendapat di atas, bahwa pelatihan atau penataran melekat pada jiwa seorang guru. Faktor Kesejahteraan Guru Faktor ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Balitbang Dikbud, bahwa guru yang bermutu diukur dari 5 faktor utama. Salah satu faktornya adalah “reward and walfare, kesejahteraannya yang cukup untuk memelihara dan memacu peningkatan profesionalisasinya”. Mampu mencurahkan sebagaian besar perhatiannya terhadap upaya-upaya profesional, seperti peningkatan keahlian,

14 memperkaya pengetahuan, serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas pekerjaan mengajar. Faktor Budaya Kerja Faktor ini sesuai dengan pendapat Inayatullah (2011: 53), bahwa “budaya organisasi terkait dengan nilai-nilai, asumsi-asumsi, dan keyakinan-keyakinan dasar yang dirasakan bersama oleh setiap orang sebagai anggota organisasi, sehingga apabila hal tersebut berlangsung secara kondusif akan menyebabkan rasa nyaman yang kemudian mendorong yang bersangkutan memiliki komitmen terhadap organisasi”. Sedangkan menurut Andinta (2012: 34), bahwa faktor eksternal salah satunya adalah lingkungan sosial kerja. Faktor Penghargaan Faktor ini sesuai dengan pendapat Moore (dalam Yamin, 2006: 31-32) mengidentifikasikan profesi menurut ciri-ciri, salah satu cirinya adalah “Ia terikat dengan syarat-syarat kompetensi, kesadaran prestasi, dan pengabdian”. Dengan demikian sebagai seorang guru profesional kesadaran untuk berprestasi dan mendapat penghargaan sangat diperlukan. Faktor ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Balitbang Dikbud, bahwa guru yang bermutu diukur dari 5 faktor utama. Salah satu faktornya adalah profesional capacity, yang berarti meningkatkan kemampuan profesional berkaitan dengan kecerdasan, sikap dan prestasi dalam bekerja.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Faktor-faktor yang membentuk profesionalisme guru SD di Kabupaten Mojokerto meliputi: (1) faktor pelatihan, (2) faktor budaya kerja, (3) faktor kepribadian, (4) faktor penghargaan, (5) faktor keterampilan, dan (6) faktor kesejahteraan guru. Urutan kontribusi dari keenam faktor yang ditemukan berturut-turut dari yang terbesar ke terkecil meliputi pertama faktor kepribadian, kedua faktor keterampilan, ketiga faktor pelatihan, keempat faktor kesejahteraan guru, kelima faktor budaya kerja, dan keenam faktor penghargaan. Faktor paling dominan yang dapat membentuk profesionalisme guru SD di Kabupaten Mojokerto adalah faktor kepribadian.

15 Saran 1. Kepala Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Bagi Kepala Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), lebih meningkatkan kualitas guru yang berkaitan dengan faktor yang memiliki kategori sedang, yaitu faktor keterampilan. Salah satunya dalam bentuk pembuatan kebijakan-kebijakan yang akan menimbulkan kebiasaan. Dengan demikian saat sudah menjadi guru sebenarnya kebiasaan itu akan terus dilakukan dan dapat memperbaiki faktor tersebut. 2. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto Bagi Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, dengan mengetahui faktor-faktor profesionalisme guru SD di Kabupaten Mojokerto, maka lebih selektif lagi mengadakan kegiatan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Khususnya dalam kegiatan yang mencerminkan faktor keterampilan dan faktor penghargaan. 3. Kepala Sekolah Dasar di Kabupaten Mojokerto Bagi Kepala Sekolah Dasar di Kabupaten Mojokerto sebagai pemimpin di sekolah lebih memotivasi guru untuk upaya peningkatan profesionalisme dan mengadakan kegiatan di sekolah yang berkaitan dengan faktor yang memiliki kategori sedang, antara lain faktor keterampilan dan faktor penghargaan serta memberikan arahan bagi guru yang belum paham mengenai profesionalisme. 4. Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Mojokerto Bagi Guru Sekolah Dasar di Kabupaten Mojokerto, sebagai objek yang diteliti sebaiknya lebih meningkatkan dan memperbaiki hal yang kurang meliputi faktor keterampilan dan faktor penghargaan, sehingga dalam melaksanakan tugas profesional tidak terganggu dan dapat mewujudkan tujuan pendidikan dengan lebih efektif dan efisien. 5. Peneliti Lain Bagi peneliti lain, dapat melakukan penelitian lain dengan pengembangan lain sesuai dengan kondisi yang diteliti, antara lain: perbedaan profesionalisme guru pada sekolah dasar negeri dan swasta, hubungan profesionalisme guru dengan kepribadian guru.

16 DAFTAR RUJUKAN BPS Kabupaten Mojokerto 2015. Data Potensi Kabupaten Mojokerto 2015. Mojokerto: BPS Kabupaten Mojokerto. Najamuddin. 2013. Profesionalisme Guru, (Online), (http://sumut.kemenag.go.id/file/file/TULISANPENGAJAR/ plic1379072002.pdf), diakses 25 April 2015. Danim, S dan Khairil. 2010. Profesi Kependidikan. Bandung: Alfabeta. Isnaini, M. 2009. Guru dan Kriteria Profesional, (Online), (http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/gurudankriteriaprofesional.pdf) , diakses 1 Februari 2017. Nasution, I. dan Siahaan, A. 2009. Manajemen Pengembangan Profesionalitas Guru. Medan: Citapustaka Media Perintis. Andinta. 2012. Profesionalisme guru, (Online), (http://eprints.uny.ac.id/8535/3/BAB%202%20-%2005401241036.pdf.), diakses 30 Januari 2017. Setyadin, B. 2005a. Modul 2A: Reduksi Data Melalui Analisis Faktor Eksploratori. Malang: AP FIP UM. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. Arikunto, S. 2002. Prosedur Suatu Penelitian: Pendekatan Praktik. Edisi Revisi Kelima. Jakarta: Rineka Cipta. Sekretariat Negara RI. Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005. 2012. Bandung: Citra Umbara. Sagala, S. 2013. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta Nuraeni. 2015. Profesionalisme Guru Indonesia di Era Globalisasi, (Online), (http://www.lpmpsulsel.net/v2/index.php?option=com_content&view=arti cle&id=356:guru-di-era-globalisasi&catid=42:ebuletin&Itemid=215), diakses 30 Januari 2017. Inayatullah. 2011. Kontribusi Faktor-Faktor Internal dan Eksternal terhadap Peningkatan Kinerja Profesional Guru, (Online), (http://ejournalunisma.net/ojs/index.php/edukasi/article/download/ 366/334.), diakses 4 April 2016.

17 Yamin, M. 2006. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta: Gaung Persada Press.