Analisis Kinerja dan Karakteristik Arsitektur Software

routing, firewall, DNS, NAT, dan . IP Public. nya berada di dalam perangkat tersebut. Hal ini berbeda dengan model arsitektur SDN, dimana . control pl...

0 downloads 54 Views 1MB Size
ISSN: 2085-6350

Yogyakarta, 27 Juli 2017

CITEE 2017

Analisis Kinerja dan Karakteristik Arsitektur Software-Defined Network Berbasis OpenDaylight Controller Muhammad Hikam Hidayat 1), Nur Rohman Rosyid 2) 1), 2)

Teknologi Jaringan, Departemen Teknik Elektro dan Informatika, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada Jl, Yacaranda Sekip Unit IV, Yogyakarta 55281 Indonesia

[email protected] 1), [email protected] 2) Intisari—Layanan internet dan teknologi telah berkembang yang menyebabkan jumlah perangkat yang terhubung serta jumlah trafik dalam jaringan telah meningkat dengan sangat pesat. Karena peningkatan ini, maka industri jaringan mencapai satu titik tujuan untuk meresponnya dengan diciptakan sebuah arsitektur baru yang dikenal dengan arsitektur Sofware-Defined Network. Software-Defined Network (SDN) merupakan sebuah konsep pendekatan baru untuk mendesain, mengelola, dan mengimplementasikan arsitektur jaringan dimana aliran data (data flows) dari sistem kontrol dipisahkan dari hardware. Pada penelitian ini dilakukan analisis kinerja dan karakteristik arsitektur SDN. OpenDaylight digunakan sebagai controller untuk menangani jaringan yang dibuat. Arsitektur SDN diterapkan pada perangkat MikroTik untuk diamati kinerja dan karakteristik yang dimiliki oleh jaringan tersebut kemudian dibandingkan dengan arsitektur tradisional. Kata Kunci : Software-Defined Network; OpenFlow; OpenDaylight Abstract—Internet services and technology has expand that causes the device connected and the network traffic have rapidly increased. In this situation, the network industry reached a single point of objective to respond with a new architecture known as the Software-Defined Network architecture. Software-Defined Network (SDN) is a new approach concept for designing, managing, and implementing network architecture where data flows from the control system are separated from the hardware. In this research, performance analysis and characteristic of SDN architecture are performed. OpenDaylight is used as the controller to handle the created network. The SDN architecture be applied to MikroTik devices to observe the performance and characteristics owned by the network and then compared with traditional architecture. Keywords: Software-Defined OpenDaylight

I.

Network;

OpenFlow;

PENDAHULUAN

Layanan internet dan teknologi telah berkembang dengan berbagai kompleksitas, desain, manajemen dan operasional yang menyebabkan jumlah perangkat yang terhubung serta jumlah trafik dalam jaringan telah meningkat dengan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, munculnya dan berkembangnya layanan baru dan penggunaan mobilitas yang tinggi, virtualisasi server, cloud computing dan Internet of Things yang sedang dikembangkan menyebabkan arsitektur jaringan yang ada sekarang sangatlah terbatas kemampuannya. Karena keterbatasan ini, maka industri jaringan mencapai satu titik tujuan untuk meresponnya

194

dengan diciptakan sebuah arsitektur baru yang dikenal dengan arsitektur Sofware-Defined Network. Software-Defined Network (SDN) merupakan sebuah konsep pendekatan baru untuk mendesain, mengelola, dan mengimplementasikan arsitektur jaringan yang memisahkan antara sistem kontrol (control plane) dan sistem forwarding (data plane) pada perangkat jaringan [1]. Arsitektur SDN memungkinkan suatu jaringan dapat secara dinamis menyesuaikan lingkungan untuk kebutuhan aplikasi maupun kebutuhan pengguna, menyederhanakan manajemen dan meningkatkan skalabilitas jaringan yang diwujudkan melalui implementasi sederhana dari penambahan komponen dan layanan jaringan [2]. Arsitektur SDN akan dibangun diatas perangkat MikroTik dengan menggunakan sejumlah skenario berbeda. Terdapat beberapa variabel yang akan diuji dalam penelitian ini seperti throughput, latency, jitter dan packet loss. Data yang didapatkan akan diolah dan di analisis sehingga dapat diketahui sejauh mana arsitektur SDN berpengaruh dalam sebuah jaringan nyata dan bagaimana perbandingannya dengan arsitektur tradisional. Selain itu, dengan menggunakan beberapa skenario dapat diketahui bagaimana fleksibitas dan skalabilitas yang dimiliki oleh arsitektur SDN. II.

TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian arsitektur Software-Defined Network untuk diterapkan ke jaringan pada umumnya masih dilakukan dengan bantuan software mininet. Mininet merupakan emulator jaringan yang mensimulasikan koleksi dari host-end, switch, router, dan link pada single kernel Linux. Masing-masing elemen ini disebut sebagai "host" menggunakan virtualisasi ringan untuk membuat sistem tampilan tunggal sehingga terlihat seperti jaringan yang lengkap, menjalankan kernel, sistem, dan user code yang sama. Sebagai contoh, Ummah, dkk(2016) melakukan penelitian untuk merancang dan mensimulasikan jaringan virtual berbasis Software-Defined Network (SDN) yang bertujuan mengetahui representasi jaringan SDN terhadap jumlah node dalam jaringan. Pada penelitiannya dibuat beberapa skenario rancangan topologi menggunakan Visual Network Description untuk kemudian disimulasikan menggunakan simulator mininet. Skenario yang dibuat memiliki jumlah perangkat yang berbedabeda untuk mengetahui ketangguhan arsitektur SDN. Ummah menggunakan tiga variabel untuk menguji

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM

CITEE 2017

Yogyakarta, 27 Juli 2017

jaringan yang dibuat yaitu delay, jitter, dan throughput untuk port TCP dan UDP [3]. Selain itu, pada jurnal berjudul “Perancangan dan Simulasi Arsitektur Software-Defined Networking Berbasis OpenFlow Dan OpenDaylight Controller Studi Kasus: STMIK AMIKOM Yogyakarta” yang ditulis oleh Tulungan (2015) mengatakan bahwa topologi jaringan tradisional dapat dimigrasi menggunakan arsitektur SDN dengan syarat bahwa switch yang digunakan didalamnya haruslah mendukung protokol OpenFlow. Arsitektur SDN akan memisahkan data plane dengan control plane sehingga perangkat seperti switch dapat melakukan forwarding data berdasarkan alamat IP, sama seperti fungsi yang dimiliki router. Selain itu kemudahan pengaturan dan manajemen jaringan komputer karena sistemnya yang tersentralisasi menjadi salah satu keunggulan arsitektur SDN [4].

ISSN: 2085-6350

Hal ini berbeda dengan model arsitektur SDN, dimana control plane dan forwarding plane nya dipisah dalam suatu perangkat yg berbeda seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Dalam artian semua perangkat jaringan yang terhubung nantinya akan dikendalikan oleh application plane yang berkolaborasi dengan control plane untuk menginstruksikan kemana suatu traffic atau paket data diarahkan (pada forwarding plane).

A. Software-Defined Network Software-Defined Network (SDN) adalah sebuah paradigma arsitektur baru dalam bidang jaringan komputer, yang memiliki karakteristik dinamis, manageable, cost-effective, dan adaptable, sehingga sangat ideal untuk kebutuhan aplikasi saat ini yang bersifat dinamis dan high-bandwidth. Arsitektur ini memisahkan antara network control dan fungsi forwarding, sehingga network control tersebut menjadi directly programmable (dapat diprogram secara langsung), sedangkan infrastruktur yang mendasarinya dapat diabstraksikan untuk layer aplikasi dan network services [3]. Secara umum dalam perangkat jaringan terdapat tiga proses utama, yaitu Control Plane dan Data Plane. Control Plane adalah komponen pada jaringan yang berfungsi untuk mengontrol jaringan, yaitu konfigurasi sistem, manajemen jaringan, menentukan informasi routing table dan forwarding table. Data Plane adalah bagian yang bertanggung jawab memforward/meneruskan paket, selain itu juga menguraikan header paket, mengatur QoS, dan enkapsulasi paket. Tujuan utama dari SDN adalah untuk mencapai pengelolaan jaringan yang lebih baik dengan tingkatan dan kompleksitas yang besar serta memastikan bahwa semua keputusan dari sistem kontrol dibuat dari titik pusat (controller). SDN memperkenalkan suatu metode untuk meningkatkan tingkat abstraksi pada konfigurasi jaringan, menyediakan mekanisme yang secara otomatis bereaksi terhadap perubahan yang sering terjadi dan terus-menerus untuk jaringan [5]. B. Arsitektur Tradisional VS Arsitektur SDN Model arsitektur jaringan yang ada saat ini (traditional network) dapat dikatakan masih rumit karena masing-masing perangkat mempunyai konfigurasi yang berbeda alias control plane dan data/forwarding plane tertanam dalam satu perangkat. Pada perangkat jaringan yang ada saat ini konfigurasi routing, firewall, DNS, NAT, dan IP Public nya berada di dalam perangkat tersebut.

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM

Gambar 1 Arsitektur Tradisional vs Arsitektur SDN

Pada arsitektur tradisional setiap perangkat jaringan memiliki control plane-nya sendiri sehingga dapat membuat keputusan berdasarkan informasi yang dimiliki perangkat, sedangkan pada arsitektur SDN perangkat jaringan hanya memiliki kemampuan terbatas dalam membuat keputusan, dan dibutuhkan controller untuk membuat keputusan yang lebih kompleks. C. OpenFlow OpenFlow adalah standar antarmuka komunikasi yang menghubungkan antara lapisan controller dengan lapisan forwarding pada arsitektur SDN. OpenFlow menginjinkan akses langsung dan manipulasi forwarding plane dari sebuah perangkat jaringan seperti switch dan router baik fisik maupun virtual. Secara sederhana OpenFlow merupakan sebuah antarmuka antara SDN controller dengan perangkat switch [5]. D. OpenDaylight Controller Controller SDN adalah aplikasi SDN yang mengelola flow control untuk mengaktifkan inteligence networking. Controller SDN bekerja berdasarkan protokol seperti OpenFlow yang memungkinkan server memberitahu kemana paket dikirimkan. Perangkat meneruskan paket data yang diterima berdasarkan aturan yang ditetapkan dari controller [6]. Controller menentukan apa yang harus dilakukan dengan paket dan, jika perlu, mengirimkan aturan baru untuk perangkat sehingga dapat menangani paket data di masa depan dengan cara yang sama [7]. Terdapat banyak jenis controller yang tersedia secara open source salah satunya adalah OpenDaylight. OpenDaylight merupakan sebuah infrastruktur controller yang memiliki ketersediaan tinggi, modular, extensible, scalable dan multi-protokol, dibangun untuk penyebaran SDN di jaringan heterogen, multi-vendor, serta modern.

195

ISSN: 2085-6350

Yogyakarta, 27 Juli 2017

III.

METODOLOGI

Secara umum, tahapan dalam penelitian ini terangkum dalam flowchart yang ada pada Gambar 2.

CITEE 2017

gambar yaitu (a) yang mendeskripsikan arsitektur SDN dan (b) yang mendeskripsikan arsitektur tradisional. Berikut adalah hasil rancangan topologi yang dibuat dalam penelitian ini :

Gambar 3 (a) Topologi menggunakan satu switch SDN, (b)

tradisional

Gambar 2 Gambaran umum penelitian

Gambar 4 (a) Topologi tree menggunakan tiga switch SDN, (b)

tradisional

1. Tahap Instalasi. Tahap pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menginstal semua sistem operasi dan software yang dibutuhkan. Adapun sistem operasi yang diperlukan dalam penelitian ini adalah Linux Ubuntu 14.04 LTS yang akan digunakan sebagai host dan controller sedangkan routerOS 6.7.31 akan dipasang pada routerboard MikroTik sebagai syarat utama menjalankan OpenFlow. 2. Tahap Persiapan. Tahap selanjutnya yang dilakukan dalam penelitian ini adalah instalasi OpenDaylight yang akan digunakan sebagai controller serta instalasi iPerf pada komputer host yang digunakan untuk melakukan serangkaian pengujian pada jaringan yang akan dibuat. Pada tahap ini dilakukan pembuatan tiga skenario yang menggunakan jumlah switch berbeda. Skenario yang dibuat adalah Topologi 1, Topologi 2, dan Topologi 3 dengan masingmasing topologi memiliki arsitektur tradisional dan arsitektur SDN. Jumlah switch yang semakin banyak dan topologi yang bervariasi dipilih agar dapat diketahui pola dari tingkah laku jaringan SDN dan kinerja yang dimiliki terhadap jaringan yang semakin besar dan semakin kompleks. Terdapat dua topologi yang dipilih dalam skenario yang digunakan yaitu topologi mesh dan tree. Topologi tersebut diilustrasikan melalui Gambar 3, Gambar 4 dan Gambar 5 dimana terdapat 3 topologi dengan menggunakan jumlah switch dan jenis topologi yang berbeda. Untuk menjelaskan arsitektur yang digunakan, setiap gambar dibedakan menjadi dua buah

196

Gambar 5 (a) Topologi mesh menggunakan tiga switch SDN, (b)

tradisional

3. Tahap Simulasi, Eksperimen dan Pengujian. Pada tahap yang ketiga ini terbagi menjadi tiga jenis tahapan yaitu simulasi yang dilanjutkan dengan eksperimen dan diakhiri dengan pengujian. Dalam penelitian ini simulasi bertujuan untuk meragakan skenario yang telah dibuat pada tahap sebelumnya menggunakan mininet untuk melihat bagaimana sistem nantinya akan berjalan dan menguji sistem yang dibuat sebelum masuk ke tahap eksperimen. Pada tahap ini sistem akan diuji coba sampai mendapat hasil yang diinginkan. Pada tahap eksperimen dilakukan proses konfigurasi perangkat seperti yang telah dirancang pada topologi kemudian dilakukan implementasi sesuai dengan simulasi. Dalam tahap pengujian akan dilakukan serangkaian pengujian performa yang telah dirumuskan sebelumnya pada tahap persiapan. Terdapat empat parameter yang akan dilihat performanya antara lain yaitu throughput, latency, jitter dan packet loss. Alur pengambilan data yang akan akan dilakukan ditampilkan pada Gambar 6.

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM

CITEE 2017

Yogyakarta, 27 Juli 2017

ISSN: 2085-6350

controller memasukkan flow entries ke dalam flow tables dari switch agar pada forwarding paket selanjutnya tanpa memerlukan proses resolving address lagi [8]. TABEL 1 Sample Data Pengujian Latency

No

Gambar 6 Alur Pengujian Sistem

4. Tahap Analisis. Analisis merupakan tahapan paling akhir dalam penelitian ini. Pada tahap ini hasil pengujian yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya data akan dikumpulkan, diurai, dibedakan dan dipilah untuk selanjutnya digolongkan dan dikelompokkan kembali berdasarkan kriteria tertentu kemudian dibuat suatu kesimpulan dari hasil yang didapat. Dalam tahap analisis ini hasil akan dilihat bagaimana performa yang dihasilkan oleh arsitektur SDN dan bagaimana perbandingannya dengan arsitektur tradisional. IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil yang didapat disajikan dalam tabel dan juga grafik agar lebih mudah dalam menganalisisnya. Hasil tesrsebut berupa data nilai latency, throughput, jitter, dan packet loss. Analisis hasil dilakukan dengan merata-rata setiap 100 data yang didapatkan dalam pengujian.

Topologi 1

Latency (ms) Topologi 2

Topologi 3

1-100

Kv 0.528

SDN 0.536

Kv 0.544

SDN 0.793

Kv 0

SDN 0.658

101-200 201-300

0.531 0.528

0.527 0.528

0.570 0.686

0.692 0.814

0 0

0.747 0.865

301-400 401-500

0.539 0.512

0.529 0.518

0.552 0.544

0.750 0.746

0 0

0.809 0.649

501-600 601-700

0.511 0.504

0.510 0.524

0.535 0.526

0.696 0.729

0 0

0.816 0.859

701-800 801-900

0.509 0.501

0.517 0.525

0.547 0.549

0.761 0.697

0 0

0.726 0.620

901-1000

0.504

0.525

0.552

0.805

0

0.783

Dari diagram yang ditunjukkan pada Gambar 7, nilai latency yang tinggi disebabkan oleh komunikasi yang terjadi secara 2 tahap antara controller dan switch yaitu packet arrival dan forwarding table updates. Tahap yang pertama terjadi ketika switch menerima paket ICMP pertama dan mengirimkan pesan packet_in kepada controller yang berisi metadata dan 128B pertama dari paket. Tahap selanjutnya adalah controller mengirimkan pesan flow_mods untuk memasukkan atau memperbaharui flow entries kedalam flow tables dimana kedua tahap ini disebut sebagai inbound dan outbound latency [9].

1. Hasil Pengujian Latency Secara keseluruhan, nilai latency yang didapatkan untuk jaringan dengan menggunakan arsitektur tradisional lebih baik dibandingkan dengan arsitektur SDN. Meskipun demikian nilai terendah dan tertinggi latency yang didapatkan oleh arsitektur SDN lebih baik. Dapat dilihat bahwa nilai latency tertinggi terjadi pada saat uji coba pengiriman paket ke 201-400 dengan nilai latency sebesar 0.539 ms pada arsitektur tradisional di topologi 1, paket ke 201-300 dengan nilai latency sebesar 0.814 ms pada arsitektur tradisional dengan topologi SDN di topologi 2, dan paket ke 201-300 dengan nilai latency sebesar 0.865 ms pada arsitektur SDN di topologi 1. Hal ini terjadi karena pada topologi 3 switching tidak dapat berjalan. Nilai-nilai yang didapatkan ini dapat dilihat pada Tabel 1. Perbedaan nilai latency yang terjadi ini disebabkan karena pada arsitektur SDN setiap keputusan untuk pengiriman paket dilakukan oleh controller, sehingga switch tidak berhak untuk memutuskan kemana paket yang diterimanya akan diteruskan, melainkan harus menunggu keputusan dari controller. Hasil ini juga selaras dengan pemaparan dalam sebuah penelitian yang mengatakan bahwa paket echo request pertama membutuhkan waktu yang lebih untuk proses address resolution oleh controller dan pada saat yang sama

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM

Gambar 7 Hasil Pengujian Latency

2. Hasil Pengujian Throughout Secara keseluruhan, nilai throughput yang dihasilkan oleh arsitektur SDN lebih baik dibandingkan arsitektur tradisional meskipun perbedaan yang dihasilkan tidak terpaut jauh. Untuk nilai throughput terbaik dihasilkan oleh arsitektur tradisional ketika menggunakan topologi 1 berbeda 18 Kbits/s dibandingkan dengan arsitektur SDN. Dari diagram yang diperoleh pada pada Gambar 8

197

ISSN: 2085-6350

Yogyakarta, 27 Juli 2017

menunjukkan bahwa arsitektur SDN memiliki nilai throughput yang lebih stabil dan merata, bahkan penggunaan jumlah switch dalam topologi turut mempengaruhi nilai yang dihasilkan. Semakin banyak switch yang digunakan nilai throughput semakin merata karena konvergensi yang terjadi di controller lebih baik. Sedangkan apabila dibandingkan secara head-to-head antar topologi dengan menggunakan arsitektur yang berbeda nilai yang diperoleh dari setiap skenario menghasilkan nilai sama baiknya. Hal ini dibuktikan dengan ratio perbandingan nilai throughput yang hanya berkisar 0.01-0.1% dari semua jenis topologi yang diujikan. TABEL 2 Sample Data Pengujian Throughput Throughput (Kbits/s) No

Topologi 1 Kv SDN

Topologi 2 Kv SDN

Topologi 3 Kv SDN

1-100 101-200

9996 9999

10006 9990

9998 10003

9993 9999

0 0

9991 9999

201-300 301-400

10000 9998

10000 10010

9990 10007

10006 9997

0 0

10000 10001

401-500

10001

9991

10003

10000

0

10000

501-600

9998

10000

9992

9997

0

10000

601-700 701-800

10003 9999

10000 9999

9998 10010

10001 10000

0 0

9999 10000

801-900 901-1000

10003 9999

10006 10004

9998 9992

10002 10003

0 0

9970 10001

Gambar 8 Hasil Pengujian Throughput

Selain itu apabila dilihat pada Tabel 2 semakin menguatkan bahwa arsitektur SDN memiliki nilai throughput yang lebih baik. Pada topologi 1 didapatkan bahwa nilai throughput arsitektur SDN mencapai 10.010 Kbits/s dimana nilai ini berbanding terbalik dengan yang diperoleh arsitektur tradisional yaitu 10.003 Kbits/s. . Berbeda dengan latency, pada throughput ini semakin besar nilai yang dimiliki maka semakin baik kinerja yang dimiliki. Oleh karena itu, dalam pengujian throughput ini semakin tinggi nilai yang didapat maka semakin baik

198

CITEE 2017

juga nilai throughput yang dimiliki. Selain pada topologi 1, hasil yang didapat juga selaras dengan topologi 2 yang meiliki nilai throughput yang sama baiknya. 3. Hasil Pengujian Jitter TABEL 3 Sample Data Pengujian Jitter

No 1-100 101-200 201-300 301-400 401-500 501-600 601-700 701-800 801-900 901-1000

Topologi 1 Kv SDN 0.911 0.913 0.913 0.911 0.913 0.916 0.913 0.911 0.915 0.912 0.917 0.914 0.912 0.911 0.913 0.912 0.910 0.913 0.913 0.910

Jiter (ms) Topologi 2 Kv SDN 0.962 0.920 0.955 0.924 0.960 0.923 0.954 0.922 0.942 0.922 0.960 0.916 0.947 0.920 0.957 0.918 0.957 0.915 0.974 0.917

Topologi 3 Kv SDN 0 0.958 0 0.953 0 0.961 0 0.955 0 0.948 0 0.962 0 0.956 0 0.954 0 0.957 0 0.943

Perhitungan jitter oleh iPerf dilakukan secara kontinu, dimana server akan menghitung waktu transit relatif (waktu penerimaan server – waktu pengiriman client) untuk setiap paket milik data yang sama. Tingginya nilai jitter dalam jaringan mengindikasikan bahwa terjadi antrian paket data pada salah satu node yang dapat menimbukan congestion. Antrian paketpaket tersebut dapat menyebabkan waktu transfer paket tidak dapat diprediksi sehingga nilai jitter meningkat.

Gambar 9 Hasil Pengujian Jitter

Dari Tabel 3 terlihat bahwa nilai jitter yang didapatkan berbanding lurus dengan semakin kompleks dan bertambahnya jumlah switch yang digunakan. Pada topologi 1 nilai jitter tertinggi didapatkan oleh arsitektur tradisional yang mencapai nilai 0.917 ms berbanding dengan arsitektur SDN yang memperoleh nilai 0.916 ms. Sedangkan pada topologi 2 nilai jitter tertinggi didapatkan oleh arsitektur tradisional yang mencapai nilai 0.974 ms berbanding dengan arsitektur SDN yang memperoleh nilai 0.924 ms. Pada topologi 3 tidak dapat dilakukan perbandingan nilai jitter dikarenakan pada

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM

CITEE 2017

Yogyakarta, 27 Juli 2017

atsitektur tradisional didapatkan hasil bahwa layer 2 switching tidak dapat diterapkan pada topologi jaringan mesh. Hal ini disebabkan karena terjadinya looping network sehingga dibutuhkan konfigurasi Spanning Tree Protocol (STP) untuk mengatasinya. Namun, penggunaan STP akan membuat topologi tidak berjalan layaknya mesh karena STP akan memastikan bahwa tidak ada loop yang terjadi dengan cara mematikan semua link yang redundant. Perhitungan nilai ini sama dengan latency, dimana semakin kecil nilai yang dimiliki maka semakin baik pula kinerja yang dimiliki oleh suatu jaringan. Secara keseluruhan, dari diagram yang ditunjukkan pada Gambar 9 dapat dilihat bahwa nilai jitter ikut berubah saat jumlah switch (node) yang digunakan semakin bertambah. secara garis besar, perubahan jumlah switch dan jenis topologi berbanding lurus dengan nilai jitter yang dihasilkan biak pada arsitektur SDN maupun tradisional. Namun, jika dibandingkan, nilai jitter yang diperoleh dari pengujian arsitektur tradisional sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan arsitektur SDN terutama pada topologi 2. Sedangkan untuk topologi pertama nilai yang dadapatkan cenderung sama. Hal ini disebabkan pada arsitektur SDN paket harus menuju ke controller terlebih dahulu baru kemudian diteruskan ke tujuan sebenarnya berbeda dengan arsitektur tradisional. 4. Hasil Pengujian Packet Loss Pengujian ini akan memperlihatkan bagaimana pembagian bandwidth yang dilakukan oleh setiap arsitektur. Hanya terdapat satu skenario yang akan digunakan yaitu menggunakan tiga switch dan topologi tree. Besarnya arus data yang dikelola controller OpenDaylight memang lebih kecil yaitu berada dikisaran 17.570 Kbits/sec hingga 54.356 Kbits/sec. Sedangkan arus data yang dikelola switch konvensional jauh lebih besar yaitu mencapai 95.681 Kbits/sec, namun rentang yang dimiliki jauh lebih besar karena nilai terendahnya mencapai 0 Kbits/sec bahkan untuk beberapa paket akhir pada host 1 ini tidak mampu melanjutkan pengiriman dan terputus pada paket ke 272. Untuk lebih memperjelas bagaimana perbandingan arsitektur SDN dan tradisional akan ditampilkan pada diagram garis dari hasil tabulasi diatas.

ISSN: 2085-6350

Dari diagram garis yang ditunjukkan pada Gambar 10 diketahui bahwa controller OpenDaylight memiliki nilai yang fluktuatif baik dari host 1, host 2, maupun host 3. Namun rentang nilai ketiganya masih berada pada angka 20.000 Kbits/sec hingga 50.000 Kbits/sec yang mengindikasikan bahwa setiap paket yang dikirimkan oleh melalui arsitektur SDN akan tetap sampai ke tujuan dengan kualitas throughput yang terjaga dan masih dapat ditolerir nilainya. Meskipun apabila dilihat dari kemampuan perangkat yang dapat mengirimkan paket hingga 100.000 Kbits/sec nilai yang diperoleh arsitektur SDN belum maksimal karena hanya memperoleh sepertiganya saja. Sedangkan dari diagram garis yang ditunjukkan pada Gambar 11 diketahui bahwa switch konvensional jauh lebih fluktuatif apabila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh arsitektur SDN. Selain itu, besarnya arus data yang didapatkan oleh arsitektur tradisional jauh lebih maksimal karena mampu mendekati kemampuan perangkat jaringan yang sesungguhnya. Namun, hal ini juga diimbagi dengan besar arus minimalnya yang mencapai nilai 0 Kbits/sec. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap paket yang dikirimkan menggunakan arsitektur tradisional ini kualitasnya tidak terjaga karena suatu paket bisa mendapatkan nilai yang besar (akses data besar dalam waktu cepat) namun juga mendapatkan nilai yang sangat kecil bahkan data tidak terkirim sama sekali. Pada paket data ke 272 host 1 terputus dari server setelah sebelumnya tidak mendapatkan aliran data. Terjadinya host yang terputus (packet loss) dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti antrian yang berlebihan karena kemacetan didalam jaringan ataupun karena transmisi yang telah dikirim namun tidak pernah sampai pada jaringan yang dituju [10].

Gambar 11 Diagram Garis Hasil Uji Packet Loss Arsitektur Tradisional

Secara keseluruhan, apabila dilihat dari karakteristik yang dimiliki oleh setiap hasil yang didapatkan dari pengujian kedua arsitektur memiliki karakteristik yang berkebalikan. Karakteristik default pada arsitektur SDN ini lebih serupa dengan karakteristik milik hub dimana setiap paket yang masuk akan dibagi sama rata. Karakteristik ini akan cocok apabila diterapkan untuk Gambar 10 Diagram Garis Hasil Uji Packet Loss Arsitektur SDN

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM

199

ISSN: 2085-6350

Yogyakarta, 27 Juli 2017

layanan voice dimana jaringan yang dikirimkan tidak boleh terputus sama sekali karena dapat menyebabkan hilangnya informasi yang disampaikan. Sedangkan karakteristik yang dimiliki arsitektur tradisional ini serupa dengan karakteristik milik switch dimana setiap paket yang masuk akan dikirimkan ke setiap tujuan dengan bandwidth maksimal namun berbeda di waktu yang digunakan. Apabila pada detik pertama data dikirimkan pada host 1 maka host 2 dan host 3 tidak akan mendapatkan bandwidth sama sekali begitupun sebaliknya. Karakteristik ini akan cocok apabila diterapkan untuk layanan streaming dimana tidak dibutuhkan layanan yang terhubung terus menerus tetapi arus data yang besar diawal sampai seluruh data yang dibutuhkan terkirim. V.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa pengujian terhadap performa jaringan arsitektur SDN dan tradisional, maka dapat diambil beberapa poin kesimpulan sebagai berikut: 1. Proses uji dengan mentransmisikan paket ICMP yang bertujuan untuk mengukur nilai latency menunjukkan bahwa adanya selisih nilai latency bagi arsitektur SDN dibandingkan tradisional dikarenakan komunikasi antara switch dan controller dalam menangani paket pertama yang datang dalam aliran jaringan, sehingga membutuhkan lebih banyak waktu. 2. Paket UDP ditansmisikan dengan tujuan untuk menghitung nilai throughput dan jitter yang didapatkan oleh kedua arsitektur. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai throughput bagi arsitektur SDN lebih baik dari pada arsitektur tradisional. Sedangkan nilai jitter menunjukkan bahwa arsitektur tradisional lebih baik dari pada arsitektur SDN. 3. Pengujian packet loss menunjukkan bahwa arsitektur SDN mampu menangani arus data yang banyak dalam satu waktu dan mampu menyelesaikan pengiriman paket lebih baik dibandingkan arsitektur tradisional. Karakteristik yang dimiliki oleh arsitektur SDN cocok untuk diterapkan untuk layanan voice yang membutuhkan jaringan yang lebih stabil. Sedangkan arsitektur tradisional cocok untuk

200

CITEE 2017

diterapkan pada layanan streaming membutuhkan layanan data yang besar.

yang

4. Topologi mesh tidak dapat dijalankan pada layer 2 menggunakan arsitektur tradisional karena terhalang oleh looping network yang terjadi ketika paket berada di dalam perangkat sehingga harus ditambahkan konfigurasi Spanning Tree Protocol. 5. Arsitektur SDN dapat diterapkan ke dalam perangkat MikroTik menggunakan berbagai jenis topologi. Selain itu arsitektur SDN juga memiliki fleksibilitas dan skalabilitas yang baik, meskipun semakin besar jaringan yang dimiliki maka performansi juga semakin menurun. DAFTAR PUSTAKA [1]

Mulyana, Eueng. 2015. Buku Komunitas SDN-RG. Bandung : Gitbook. [2] Grgurevic, Ivan, Zvonko K, Anthony P. 2015. Simulation Analysis of Characteristics and Application of Software-Defined Networks. Jurnal. University of Zagreb, Zagreb, Croatia. [3] Ummah, Izzatul, Desianto A. 2016. Perancangan Simulasi Jaringan Virtual Berbasis Software-Define Networking. Jurnal. Department of Computational Science, Telkom University, Bandung. [4] Tolongan, Ramba Surya Triputra. 2015. Perancangan dan Simulasi Arsitektur Software-Defined Networking Berbasis OpenFlow Dan OpenDaylight Controller Studi Kasus: STMIK AMIKOM Yogyakarta. Skripsi. Teknik Informatika STMIK AMIKOM Yogyakarta. [5] Hyojoon, Kim, Nick Feamster. 2013. Improving Network Management with Software Defined Networking. Jurnal. Georgia Institute of Technology, Georgia. [6] Anggara, Sawung Murdha. 2015. Pengujian Performa Controller Software-defined Network (SDN): POX dan Floodlight. Jurnal Ilmiah. Sekolah Teknik Elektro Informatika. Intitut Teknologi Bandung. [7] Hu, Fei. 2014. Network innovation through OpenFlow and SDN: Principles and Design. Boca Raton: CRC Press. [8] Bholebawa, Idris Zoher, Upena D. Dalal. 2015. Design and Performance Analysis of OpenFlow-Enabled Network Topologies Using Mininet. Jurnal. International Journal of Computer and Communication Engineering. [9] Khalid, Junaid, dkk. 2015. Performance Evaluation of OpenFlow Controllers for Network Virtualization. Jurnal. ACM SIGCOMM Symposium on Software Defined Networking Research. [10] Kurose, James F, dkk. 2013. Computer Networking: A Top-down Approach. USA: Pearson Education Limited.

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, FT UGM