ANTHROPOS: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya

akulturasi, sosialisasi dan enkulturasi kecuali pemakaian istilah sesuai konteksnya saja. Ketiga istilah ini memiliki pengertian yang sama yaitu tenta...

0 downloads 7 Views 122KB Size
Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya 1 (1) (2015): 72-79

ANTHROPOS: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya Available online http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/anthropos

Perubahan Sosial Pada Masyarakat Karo Yang Bermigrasi Ke Kota Duri Sulian Ekomila dan Karmila Br Sembiring * Program Studi Pendidikan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan

Diterima Februari 2015; Disetujui April 2015; Dipublikasikan Juni 2015

Abstrak Penelitian ini mengenai faktor pendorong dan faktor penarik masyarakat Karo melakukan migrasi serta perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat Karo. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor penarik dan faktor-faktor pendorong masyarakat Karo melakukan migrasi serta perubahan sosial akibat migrasi tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif, yang didasarkan pada penelitian lapangan, mengamati subjek dan objek penelitian dan mengikuti kegiatan mereka untuk mendapatkan data yang akurat dan faktual. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, peneliti mendapatkan bahwa faktor-faktor pendorong masyarakat Karo melakukan migrasi adalah atas kemauan sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak lain ataupun pemerintah. Selain itu ada juga faktor ekonomi, faktor sosial dan faktor adanya tuntutan pekerjaan yang mewajibkan berpindah tempat. Sedangkan faktor penarik masyarakat Karo melakukan migrasi ke Kota Duri adalah karena tersedianya lapangan pekerjaan, faktor ekonomi mencari pendapatan yang lebih tinggi, dan faktor kelengkapan sarana dan prasarana. Sedangkan perubahan sosial terjadi dengan sendirinya dimana proses adaptasi yang dilakukan masyarakat Karo memberikan kesempatan kepada mereka untuk ikut serta dalam pemerintahan dan berbagai instansi yang lainnya sehingga diterima oleh penduduk setempat. Kata Kunci: Faktor Pendorong, Faktor Penarik, Migrasi, Perubahan Sosial, Masyarakat Karo

Abstract

This research deals with push and pull factors in migrating of ethnic Karo people, and social change as an impact which is accompanied the migration. It aims at understanding push factors and pull factors in Karo people migration and social change as its impact following the migration. It uses qualitative method in describing deeply the social phenomena based on field works, participative observation on the object of daily activities for reaching data of social reality accurately. Based on fact findings, I found that push factors of Karo people migration such their willing without intervention of government or the other parties. Beside that, economic, social, and working demand also push them for migrating to the new region. Whereas the pull factors of migration such as availabi-lity of work vacation, chance for seeking a better works in elevating their income, and availability of infrastructure and public facili-ties in the City of Duri as the new region. Then, social change take place follows the adaptation processes, as participation of Karo imigrant in the community for socializing to people and other social institution as an effort to accepted by community. Keywords: push Factor, Pull Factor, Migration, Social Change, Karo People

How to Cite: Ekomila, S. dan Karmila, B.S. (2015). Perubahan Sosial Pada Masyarakat Karo Yang Bermigrasi Ke Kota Duri, Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya, 1 (1): 72-79 . *Corresponding author: E-mail: [email protected]

p-ISSN 2460-4585

72

Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya 1 (1) (2015): 72-79

PENDAHULUAN Masyarakat Karo merupakan salah satu suku bagian dari Batak selain Toba, Simalungun, Pakpak, Mandailing, dan Angkola. Masyarakat tersebut pada umumya menempati wilayah Dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu dan sebagian Dairi .(Koentjaraningrat,2007:94) Masyarakat Karo pada umumnya berrmata pencaharian sebagai petani, pedagang, pegawai negeri sipil dan swasta. Garis keturunan berdasarkan ayah atau sering disebut dengan istilah patrilineal. Sistem perkawinan berdasarkan eksogami atau mengambil istri atau suami dari luar marga atau klannya masing–masing. Logat yang digunakan adalah logat Karo yang jika dibandingkan sangat jauh perbedaannya dengan logat Batak Toba. Keadaan geografis yang baik sehingga menjadikan Tanah Karo subur dan dapat ditumbuhi oleh berbagai macam buah dan sayuran menyebabkan masyarakat Karo cenderung tidak menyukai pergi dari daerahnya atau kata yang sering disebut adalah merantau. Hal ini menyebabkan masyarakat Karo kebanyakan tetap tinggal di kampung halamannya masing – masing karena merasa seluruh kebutuhan mereka terpenuhi dan mereka dapat bertahan hidup dari hasil pertanian saja. Selain itu sarana dan prasarana sangat memadai hingga ke daerah – daerah pelosok membuat masyarakat Karo sangat mudah memperoleh kebutuhan hidup mereka sehari – hari. Kecenderungan masyarakat Karo yang tidak suka merantau seperti halnya Batak Toba diakibatkan oleh perbedaan geografis tempat asal kedua suku tersebut dimana masyarakat Karo tinggal di daerah yang subur sedangkan suku Batak Toba tinggal di daerah yang tandus. Hal ini menyebabkan mereka harus mencari tempat yang baru sebagai lahan pertanian atau pekerjaan yang lain supaya mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun pada kenyataannya saat ini adalah banyak orang Karo yang telah bermigrasi ke tempat yang jauh dari daerah

73

asal mereka dan hidup berdampingan dengan suku bangsa yang lain seperti Kota Duri Kec. Mandau Kab. Bengkalis Riau. Bukan hanya suku atau etnik yang berbeda namun agama, dan budaya yang mereka miliki sangat jauh berbeda dengan masyarakat setempat. Hal lain yang menarik adalah daerah tujuan mereka sebagai tempat migrasi adalah daerah yang sangat berbanding terbalik dengan daerah asal mereka. Jika di tempat asal mereka, masyarakat Karo pada umumnya bermatapencarian sebagai petani namun di Duri lahan yang tersedia tidak cocok jika dijadikan sebagai lahan pertanian. Faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat Karo melakukan migrasi kebanyakan karena kondisi tanah yang semakin sempit akibat dari pertambahan jumlah penduduk yang sangat pesat. Selain itu adanya konflik dalam keluarga kedudukan dalam keluarga itu semakin penting sebagai pemicu masayarakat Karo melakukan migrasi. Masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri mengubah matapencaharian mereka menjadi karyawan di perusahaan-perusahaan yang ada disana. Selain menjadi karyawan di perusahaan sebagian mereka juga menanam sawit sebagai pekerjaan sampingan. Hal yang sangat jauh berbeda dengan di tempat asal mereka. Perbedaan letak geografis telah banyak mengubah pola prilaku masyarakat Karo sehingga menjadi berbeda dengan tempat asal mereka. Perubahan sosial dapat dilihat dari cara mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka yang berbeda dengan lingkungan mereka di tempat asal mereka. Selain pola interaksi dengan masyarakat lain perubahan yang sosial yang terjadi adalah adanya penurunan rasa kekeluargaan antara anggota masyarakat sebagai akibat dari terjadinya arus urbanisasi dan modernisasi. Perubahan budaya juga dapat dillihat dari perubahan mata pencaharian mereka yaitu dari petani menjadi karyawan di perusahaan. Perubahan mata pencaharian ini juga mempengaruhi pola pikir masyarakat Karo dalam berorganisasi dan sistem kekerabatan

Sulian Ekomila dan Karmila Br Sembiring, Perubahan Sosial Pada Masyarakat Karo Yang Bermigrasi Ke

yang mereka anut selama ini berubah seiring dengan berjalannya waktu. Migrasi tersebut juga menimbulkan adanya sebuah proses adaptasi atau penyesuaian kebudayaan antara masyarakat Karo sebagai pendatang dengan masyarakat lokal atau yang biasa disebut enkulturasi. Hal inilah yang mendasari pola interaksi di antara kedua suku yang berbeda tersebut baik dalam bidang agama, budaya, mata pencaharian dan lain sebagainya. Berdasarkan hal – hal tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Perubahan Sosial Budaya pada Masyarakat Karo yang Bermigrasi ke Kota Duri Kec. Mandau Kab. Bengkalis Riau. Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian dapat ditarik sebagai berikut; Untuk mengetahui faktor pendorong masyarakat Karo bermigrasi ke Kota Duri; Untuk mengetahui faktor penarik masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri.

METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif mengenai “Perubahan Sosial Pada Masyarakat Karo Yang Bermigrasi Ke Kota Duri Kec. Mandau Kab. Bengkalis Riau”. Menurut Bogdan dan Taylor (1975:5) dalam Moleong (2012:4) mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata – kata tertulis atau lisan dari orang – orang dan prilaku yang dapat diamati. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini di laksanakan di kota Duri yang merupakan Ibu kota Kecamatan Mandau. Duri berada di jalur Jalan Raya Lintas Sumatera dengan batas – batas sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Dumai. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pinggir Sebelah Barat Berbatasan dengan Rantau Kopar. Faktor pendorong informan meninggalkan daerah asal yaitu; berdasarkan hasil penelitian yang dihasilkan di Kota Duri

74

Kecamatan Mandau terlihat bahwa faktorfaktor yang melatarbelakangi masyarakat Karo masuk dan menetap di Kota Duri Kecamatan Mandau berbeda-beda. Namun faktor pendorong yang paling umum bagi masyarakat Karo untuk melakukan Migrasi adalah karena: Pertama, yaitu diakibatkan oleh faktor ekonomi sebagai pendorong masyarakat Karo meninggalkan daerah asalnya antara lain: pendapatan yang rendah, ketidak mampuan individu dalam memenuhi kebutuhannya dan kesulitan untuk menngembangkan usaha mereka di daerah asal. Yang kedua, yaitu di akibatkan oleh faktor sosial sebagai pendorong masyarakat Karo untuk bermigrasi antara lain: semakin bertambahnya jumlah penduduk, sehingga lahan pertanian sebagai lapangan pekerjaan telah menyempit. Selain itu adanya pernikahan antara masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri dengan masyarakat lokal dan memutuskan untuk bergabung dengan kerabat mereka. Adanya konflik dalam keluarga di daerah asal, misalnya masalah pembagian harta warisan peninggalan orangtua mereka sehingga masyarakat Karo memutuskan untuk bermigrasi. Adanya tuntutan pekerjaan oleh lembaga yang terkait juga sebagai pendorong masyarakat Karo untuk melakukan migrasi, misalnya Pendeta yang dipindahkan oleh lembaga gereja setiap 5 tahun sekali. Yang ketiga, faktor penarik informan datang ke kota duri. berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kota Duri Kecamatan Mandau terlihat bahwa faktorfaktor yang melatarbelakangi masyarakat Karo yang bermigrasi menetap di Kota Duri Kecamatan Mandau juga berbeda-beda. Namun kebanyakan faktor penarik masyarakat Karo yang bermigrasi menetap di Kota Duri Kecamatan Mandau adalah: Pertama, tersedianya lapangan pekerjaan di Kota Duri. Kota Duri Kecamatan Mandau merupakan daerah yang mengalami kemajuan yang sangat pesat baik dalam bidang perdagangan, perindustrian dan perusahaan barang dan jasa. Hal ini menyebabkan terbukanya lapangan pekerjaan yang cukup

Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya 1 (1) (2015): 72-79

luas bagi para migran yang datang dari berbagai daerah. Yang kedua, Mencari pendapatan yang lebih baik. Masyarakat Karo menganggap di daerah asal pendapan sangat kurang sehingga mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal inilah yang memicu masyarakat Karo untuk melalukan migrasi dengan tujuan memperoleh pendapatan lebih sehingga mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keadaan tersebut terjadi seiring dengan perkembangan Kota Duri Kecamatan Mandau yang banyak membuka lapangan pekerjaan sehingga mereka mencoba untuk bekerja dan hidup di sana. Pada akhirnya karena merasa kehidupan mereka lebih baik di Kota Duri Kecamatan Mandau mereka memutuskan untuk menetap dan tidak kembali lagi ke daerah asal mereka. Yang ketiga, faktor kelengkapan sarana dan prasarana di kota Duri Kecamatan Mandau menjadi faktor penarik yang lain bagi masyarakat Karo yang bermigrasi dari daerah asal mereka ke Kota tersebut seperti: akses perhubungan atau jalan yang mudah dilalui dan maksimalnya jasa transportasi memudahkan masyarakat untuk melakukan kegiatan dari satu tempat ke tempat lain, sarana pendidikan yang lengkap hingga ke jenjang Sekolah Menengah Atas menjadi nilai penting bagi daerah tujuan migrasi penduduk, sarana kesehatan yang mudah ditemukan sehingga masyarakat tidak merasa terganggu jika ada keperluan mendadak serta sarana peribadatan yang lengkap mulai dari mesjid, gereja, vihara yang mudah ditemukan sehingga menempatkan posisi masyarakat yang bermigrasi ke Kota Duri Kecamatan Mandau menjadi lebih nyaman. Dalam proses enkulturasi budaya masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri kecamatan mandau. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tidak ada perbedaan yang spesifik yang signifikan antara akulturasi, sosialisasi dan enkulturasi kecuali pemakaian istilah sesuai konteksnya saja. Ketiga istilah ini memiliki pengertian yang sama yaitu tentang proses pewasiran budaya atau

75

kultur. Budaya tidak diwariskan melalui gen atau hubungan darah, akan tetapi melalui proses belajar dari keluarga dan lingkungan. Penggunaan istilah enkulturasi disini lebih bersifat penekanan istilah saja. Sebagai makhluk sosial yang bersifat dinamis manusia senantiasa mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Manusia selalu mempelajari keadaan lingkungan dimana dia berada dan apa yang dikerjakannya. Demikian juga halnya dengan masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri Kecamatan Mandau mereka mempelajari lingkungan tempat tinggal mereka supaya mereka bisa bertahan hidup dan memiliki hubungan sosial yang erat dengan orang lain misalnya dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan di masyarakat tempat tinggal mereka. Terciptanya hubungan kekerabatan antara penduduk asli dengan masyarakat Karo sebagai pendatang terlihat dari adanya saling menghargai dan saling tolong menolong antara mereka. Hal ini juga terllihat pada keikutsertaan masyarakat Karo sebagai pendatang dalam mengikuti kegiatan di masing – masing tempat tinggalnya misalnya acara pengajian, acara 17 Agustus, dan ronda malam. Semua itu dapat dilakukan melalui proses enkulturasi atau pembelajaran kebudayaan oleh masyarakat Karo terhadap kebudayaan masyarakat Melayu, Minang atau Sakai yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Proses belajar tersebut mereka jalani ketika mereka memutuskan untuk menetap di daerah yang dihuni oleh penduduk asli tersebut. Masyarakat Karo mempelajari pola pikir, adat istiadat, serta kebiasaan-kebiasaan penduduk asli agar mereka dapat diterima di lingkungan tempat tinggal penduduk asli tersebut. Bukan hanya sekedar mengetahui akan tetapi lebih ke perasaan ingin diterima oleh penduduk asli sehingga mereka dapat hidup secara berdampingan walaupun adat, budaya, kebiasaan serta agama mereka berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Peter Poole dalam Purba

Sulian Ekomila dan Karmila Br Sembiring, Perubahan Sosial Pada Masyarakat Karo Yang Bermigrasi Ke

(2004) mengatakan bahwa enkulturasi adalah suatu proses sosial melalui mana manusia sebagai makhluk yang bernalar, punya daya refleksi dan inteligensia, belajar memahami dan mengadaptasi pola pikir, pengetahuan, dan kebudayaan sekelompok manusia lain. Dalam perubahan matapencaharian hidup, pada umumnya masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri sebelum melakukan migrasi bermatapencaharian sebagai petani. Akan tetapi kondisi geografis Kota Duri tidak cocok sebagai lahan pertanian maka mereka beradaptasi dan mencoba jenis pekerjaan yang baru. Beberapa diantaranya menjadi wirausaha dan yang lainnya kebanyakan bekerja sebagai karyawan di perusahaan-perusahaan di Kota Duri. Keadaan ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat Karo yakni di atas upah minimum Kecamatan Mandau (2.250.000/bulan). Selain karena perbedaan kondisi geografis, adanya penemuan baru dalam bidang pertambangan minyak bumi, letak yang strategis sehingga lapangan kerja terbuka luas bagi mereka. Peluang kerja yang dimaksud bukan hanya sebagai karyawan di lokasi industri, akan tetapi juga membuka peluang mereka menjadi pedagang dan wiraswasta. Hal ini menyebabkan terjadinya diferensiasi mata pencaharian atau perubahan mata pencaharian hidup masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri. Selain perubahan mata pencaharian hidup, pengambilan keputusan di dalam keluarga juga berubah. Ketika di kampung halaman pengambilan keputusan didominasi oleh laki-laki. Akan tetapi ketika masyarakat Karo sudah melakukan migrasi dan menetap di tempat yang baru, pengambilan keputusan lebih didasarkan pada kesepakatan suami dan istri di dalam rumah tangga. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Gillin dan Gillin (1957: 279) (dalam Soekanto, 1982: 263) mengatakan perubahan – perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara – cara hidup yang telah diterima baik karena perubahan – perubahan kondisi geografis, kebudayaan materil,

komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi ataupun penemuan – penemuan baru dalam masyarakat. Meluasnyanya sistem kekerabatan di kalangan masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri sangat jelas terlihat. Hal ini dapat diperhatikan ketika masyarakat Karo membuat acara, mereka yang datang bukan hanya keluarga yang memiliki hubungan darah saja akan tetapi mereka yang berhubungan dekat tanpa memiliki hubungan darah. Padahal di tempat asal mereka hubungan kekerabatan mereka hanya berdasarkan hubungan darah yang bersifat patrilineal. Hal ini dapat memperlihatkan bahwa perubahan yang mereka alami sebagai akibat dari jauhnya mereka dari tempat asal sehingga mereka mencari orang-orang yang sesuku dengan mereka dan menganggap mereka sebagai keluarga sendiri. Sebagai contoh ketika orang karo yang melakukan migrasi ke Kota Duri bertemu dengan masyarakat Karo yang lain akan terjalin hubungan kekeluargaan yang dibentuk berdasarkan marga atau br seseorang. Mereka akan membentuk hubungan kekeluargaan tanpa adanya hubungan darah, misalnya dengan membuat orangtua angkat di tempat yang baru. Hal ini bertuujuan agar ketika mereka mempunyai masalah membuat sebuah acara adat mereka sudah memiliki wakil orangtua ataupun wakil kalimbubu dalam upacara adat tersebut. Sehingga semua kalimbubu yang ada di kampung halamannya tidak harus datang ke tempat diadakannya upacara adat tersebut atau dalam hal ini di Kota Duri. Perubahan sosial seiring dengan perubahan dalam bidang pesta budaya yang terjadi pada masyarakat Karo yaitu salah satu kebiasaan pada masyarakat Karo adalah adanya pesta budaya yang diadakan setiap satu tahun sekali. Pesta budaya yang paling umum dilaksnakan adalah pesta tahunan. Perayaan ini berbeda waktunya di tiap daerah. Misalnya di Kec. Simp. Empat pada bulan Oktober, Kec. Tigabinanga pada bulan Juni, dan lain-lain.

76

Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya 1 (1) (2015): 72-79

E.P. Gintings (1999) mengatakan bahwa kerja tahun/pesta tahunan di tengah-tengah masyarakat Karo merupakan suatu alat perekat atau ensesitas hidup orang Karo dalam sistem kekerabatan karena setiap tahun orang Karo datang ke kampung bersangkutan yang melakukan kerja tahun. Kerja tahun merupakan kesempatan bagi orang yang di perantauan dan di desa atau kota untuk pulang ke kampung, karena kekerabatan seperti itu membuat orang lebih dekat hubungannya dengan kerabatnnya. Selanjutnya E. P. Gintings juga menambahkan bahwa pada mulanya perayaanperayaan tadi mengandung paham magis-mistis (animistis) karena pada zaman dahulu orang belum berpikir secara ontologism dan funngsional sepert9i pada zaman modern. oleh karena itu adat “bicara dan kiniteken (kepercayaan)” masih saling terpaut dan belum mampu memisahkannya. misalnya banyak upacara kerja tahun ini yang terkait dengan fase tertentu dengan musim menanam padi dari sejak penanaman (benih, mulai bunting, panen, sesudah panen dsb). Selain itu, perayaan ini sering disebut sebagai acara guro-guro aron, nimpa bunga benih, merdang merdem dan sebagainya. Pada dasarnya acara ini adalah perayaan pasca panen dan perayaan setelah selesai menanam padi di sawah atau di ladang. Perayaan pesta tahunan tersebut disebut juga sebagai tempat atau wahana bagi para muda-mudi untuk mencari jodoh. Hal ini dikarenakan mereka wajib mengikuti acara pesta tersebut sampai selesai dan merekalah yang berperan aktif dalam acara tersebut sehingga kemungkinan untuk bertemu jodoh menjadi sangat besar. Pada masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri sudah tidak melaksanakan perayaan kerja tahun/ pesta tahunan tersebut. Hal ini terjadi karena kembali kepada esensi kerja tahun yang sesungguhnya adalah untuk merayakan musim menanam padi atau panen padi di sawah maupun di ladang. Sedangkan masayarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri telah merubah matapencaharian mereka dari bertani menjadi karyawan maupun wiraswasta sehingga mereka sudah menganggap bahwa

77

tidak perlu melaksanakan kerja tahun di tempat mereka menetap saat ini. Selain sebagai akibat dari perubahan matapencaharian tersebut mereka sudah merubah pola pikir mereka mengenai kerjasama ataupun gotong royong. Jika di kampung gotong royong dilaksanakan secara sukarela tanpa ada imbalan maka di tempat mereka menetap saat ini kerjasama antara mereka lebih berdasarkan kepentingan semata. Selain itu, mereka menganggap bahwa jumlah mereka untuk melakukan acara pesta tahunan juga terlalu sedikit bahkan ada yang mengaku tidak punya waktu untuk melaksanakan upacara tersebut. Hal ini terjadi karena tuntutan pekerjaan mereka yang tidak memungkinkan untuk melaksanakannya di tempat mereka menetap saait ini. Adakalanya mereka mengadakan acara sejenis guro-guro aron di tempat mereka. Akan tetapi mereka mengadakannya bukan oleh masyarakat Karo secara keseluruhan akan tetapi berdasarkan kelompok-kelompok oraganisasi yang mereka bentuk. Kelompok organisasi biasanya dibentuk berdasarkan marga, sesama anggota gereja atau sesama anggota pengajian tertentu. Pelaksanaan guro-guro aron yang mereka adakan juga jauh berbeda dengan acara yang diadakan di kampung halaman mereka. Hal ini terlihat dari segi waktu yang mereka gunakan untuk melaksanakan acara tersebut. Jika di kampung halaman mereka kerja tahun diadakan selama 3 hari maka di tempat mereka yang baru hanya diadakan satu hari saja. Perayaan kerja tahun di kampung diadakan dengan menggunakan pakaian-pakaian adat sedangkan di tempat yang baru mereka tidak menggunakannya lagi. Demikian juga dengan muda-mudinya sudah tidak berperan aktif dalam pelaksanaan acara tersebut bahkan yang aktif disana untuk melaksanakannya adalah para orangtua mereka. Sehingga sudah tidak tepat lagi jika disebut sebagai tempat untuk mencari jodoh. Selain itu persaingan antara kelompok organisasi sangat terlihat jelas di dalam pelaksanaan acara tersebut. Persaingan yang

Sulian Ekomila dan Karmila Br Sembiring, Perubahan Sosial Pada Masyarakat Karo Yang Bermigrasi Ke

dimaksud adalah mereka berlomba untuk mengdakan acara yang paling mewah antar kelompok. Misalnya jika minggu ini Persadaan merga Tarigan mengadakan acara gendang guro-guro aron, mereka akan mengundang persadaan merga Karo-karo untuk turut hadir dalam acara tersebut. Sebagai tamu anggota kelompok persadaan Karo-karo tersebut akan memperhatikan proses pelaksaan acara tersebut. Baik itu dari segi makanan, minuman, perkolong-kolong (sebutan untuk penari Karo) yang diundang, musik yang mereka gunakan dan lain-lain. Selanjutnya ketika mereka mengadakan acara yang serupa mereka akan berusaha melaksanakan acara yang lebih megah dan lebih meriah lagi. Maka dalam hal ini terlihat bahwa dengan mereka mengadakan acara-acara seperti itu ada persaingan laten atau tersembunyi di antara mereka. Persaingan tersebut tidak pernah mereka ungkapkan hanya mereka tidak mau jika mereka terlihat lebih rendah daripada anggota kelompok yang lain. Dalam interaksi dengan masyarakat lokal, sebagai halnya masyarakat pendatang yang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan masyarakat lokal/penduduk asli tempat yang didatangi maka masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri juga melakukan hal sama. Jika ketika mereka di tempat asal mereka lebih bersifat homogen maka ketika berada di tempat yang baru mereka menjadi lebih terbuka sehingga lebih bersifat heterogen. Hal ini dilakukan agar mereka dapat diterima di masyarakat dan dapat memperoleh kesempatan kerja yang lebih luas sehingga tujuan mereka bernigrasi dapat tercapai. Pada tahapan selanjutnya masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri Kecamatan Mandau harus melakukan interaksi dengan masyarakat setempat misalnya Melayu, Minang, dan Sakai. Mereka berinteraksi antara orang perorangan maupun kelompok, selain melakukan interaksi mereka juga membuat kerjasama, baik secara ekonomi, sosial dan budaya sehingga tercapai kerukunan antar warga walaupun mereka berbeda suku dan agama.

Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Soekanto, (1982:55) bahwa interaksi sosial yang disebut juga proses sosial adalah hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orangperorangan, antara kelompok-kelompok manusia maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Setiap makhluk hidup harus mampu beradaptasi dengan lingkungannya agar makhluk hidup tersebut dapat mempertahankan kehidupannya tersebut. Hal ini juga berlaku terhadap masyarakat Karo yang bermigrasi ke Kota Duri Kecamatan Mandau. Sebagai pendatang mau tidak mau mereka harus mampu beradaptasi dengan lingkungan dan masyarakat setempat agar mereka bisa bertahan hidup. Selain daripada itu mereka juga harus membuka diri terhadap lingkungan yang baru, mereka juga harus membuka diri dengan masyarakat yang sangat jauh berbeda adat dan budayanya, matapencahariannya, maupun agamanya sehingga mereka mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka juga agar mereka mampu untuk mengatasi kesulitankesulitan yang mereka hadapi dalam hidup mereka. Perbedan yang besar antara iklim, kondisi geografis bukan menjadi faktor penghalang bagi mereka untuk menetap di Kota Duri Kecamatan Mandau. perbedaan iklim dan kondisi geografis juga mengubah matapencaharian hidup mereka, yang awalnya bekerja sebagai petani berubah menjadi karyawan atau wiraswasta. Hal ini menyebabkan adanya peluang terjadinya diferensiasi dalam struktur sosial. Maksudnya adalah adanya perubahan jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan peran maupun statusnya di dalam kelompok masyarakatnya. Masyarakat Karo melaksanakan tugasnya sebagai anggota masyarakat misalnya dengan mengikuti pengajian, berperan serta dalam ronda malam dan mengikuti acara yanng diadakan di daerah tempat tinggalnya.

78

Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya 1 (1) (2015): 72-79

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; Faktorfaktor pendorong masyarakat Karo bermigrasi dari daerah asal menuju ke Kota Duri Kecamatan Mandau terutama disebabkan oleh faktor ekonomi pendapatan yang rendah, faktor sosial karena adanya maslah sosial seperti perkawinan antara masyarakat Karo sebagai pendatang dengan penduduk asli, menyempitnya lahan pertanian sebagai lapangan kerja juga diakibatkan oleh konflik dalam keluarga mereka di daerah asal dan faktor adanya tuntutan pekerjaan yang mewajibkan berpindah tempat. Faktor –faktor penarik masyarakat Karo melakukan migrasi dan menetap di Kota Duri Kecamatan Mandau sangat bervariasi, pada umumnya karena tersedianya lapangan pekerjaan, faktor ekonomi mencari pendapatan yanng lebih tinggi, dan faktor kelengkapan sarana dan prasarana. Perubahan sosial dan proses enkulturasi pada masyarakat Karo terjadi dengan sendirinya seiring dengan keinginan mereka untuk mempertahankan kehupan mereka. Pola interaksi yang di bangun dengan masyarakat lokal membangun hubungan kerjasama yang baik. Selain itu dengan mempelajari segala macam kebudayaan, adat istiadat, normanorma serta kebiasaan masyarakat lokal dapat memberikan tempat bagi mereka karena kemampuan mereka yang mengubah diri menjadi sama dengan masyarakat lokal. Hal ini mengakibatkan mereka tidak mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas kehidupan mereka sehingga mereka mampu bertahan di tempat yang sangat berbeda dengan daerah asal mereka masing-masing. Hal tersebut juga membuat mereka dapat menduduki jabatanjabatan di pemerintahan dan di berbagai tempat lainnya dan berbaur dengan masyarakat yang lainnya. DAFTAR PUSTAKA

Gintings,E.P.1999.Religi Karo. Kabanjahe: Abdi Karya. . .1995. Adat Istiadat Karo; Kinata Berita Simeriah Ibas Masyarakat Karo. Kabanjahe: Abdi Karya.

79

Ginting, J S. 2006. Merdang Merdem Sebagai Suatu Tradisi Pada Masyarakat Karo Di Kecamatan Tiga Binanga (Kajian Perubahan Sosial Budaya). Tesis. Medan. Universitas Negeri Medan. Jelita, D D. 2013. Analisis Migrasi Penduduk Di Kelurahan Takengon Timur Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Skripsi. Medan. Jurusan Pendidikan Geografi FISUnimed. Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. _______________. 2007. Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press. _______________. 2007.Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan. _______________.2003.Kamus Istilah Antropologi. Jakarta: Progress. Mantra, I B. 2009. Demografi Umum. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Martono, N. 2012. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Moleong, J L. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda. Pandapotan, S. 2006.Proses Adaptasi Etnis Jawa Asal Solo Di Kota Medan. Tesis. Medan. Universitas Negeri Medan. Purba, J A. 2004. Enkulturasi Dalam Keluarga Dan Implikasinya Terhadap Pembentukan Kepribadian Dan Organisasi Orang Karo Jahe Di Kecamatan Medan Sunggal Sumatera Utara. Skripsi. Medan. FISIP-USU Purba, O.H.S. & Elvis F P. 2007. Migrasi Spontan Batak Toba (Marserak). Medan: Monora. . 1998. Migran Batak Toba Di Luar Tapanuli Utara: Suatu Deskripsi. Medan: Monora. Sibarani, L H. 2011. Migrasi Dan Adaptasi Etnis Cina Di Kelurahan Tanjung Leidong Kecamatan Kualuh Leidong Kabupaten Labuhan Batu Utara. Skripsi. Medan. Universitas Negeri Medan. Soekanto, S. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. Sumber lain: http://rahmanpl06.blogspot.com/ (diakses Senin, 3 Maret 2014,15:21 wib) http://iguhmeister.blogspot.com/2012/01/enkulturasi.h tml (diakses Senin,03 Maret 2014, 16:14 wib) http://id.wikipedia.org/wiki/enkulturasi (diakses Senin, 03 Maret 2014, 16 15 wib)