BAB II KAJIAN TEORI A. Kecerdasan Emosi

dampak yang merugikan kedua belah pihak. Emosi ... Menurut Shapiro ... Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang...

0 downloads 26 Views 177KB Size
BAB II KAJIAN TEORI A. Kecerdasan Emosi 1. Pengertian Kecerdasan Emosi Istilah kecerdasan emosional muncul secara luas pada pertengahan tahun

1990-an.

Sebelumnya

Gardner

(Goleman,

2009:51-53)

mengemukakan 8 kecerdasan pada manusia (kecerdasan majemuk). Menurut Goleman (2009:50) menyatakan bahwa kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Gardner adalah manisfestasi dari penolakan akan pandangan intelektual quotient (IQ). Salovey (Goleman, 2009:57), menempatkan kecerdasan pribadi dari Gardner sebagai definisi dasar dari kecerdasan emosional. Kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan antar pribadi dan kecerdasan intrapribadi. Kecerdasan emosi dapat menempatkan emosi individu pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Goleman (2009:45) menyatakan: “Kecerdasan emosi merupakan kemampuan emosi yang meliputi kemampuan untuk mengendalikan diri, memiliki daya tahan ketika menghadapi suatu masalah, mampu mengendalikan impuls, memotivasi diri, mampu mengatur suasana hati, kemampuan berempati dan membina hubungan dengan orang lain” Kecerdasan emosi dapat menempatkan emosi seseorang pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati. Koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang

11

pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Mayer dan Salovey (Makmun Mubayidh 2006:15) mendefinisikan bahwa: “Kecerdasan emosi sebagai suatu kecerdasan sosial yang berkaitan dengan kemampuan individu dalam memantau baik emosi dirinya maupun emosi orang lain, dan juga kemampuannya dalam membedakan emosi dirinya dengan emosi orang lain, dimana kemampuan ini digunakan untuk mengarahkan pola pikir dan perilakunya”. Sejalan dengan itu, Robert dan Cooper (Ary Ginanjar Agustian, 2001:44) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, emosi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Individu yang mampu memahami emosi individu lain, dapat bersikap dan mengambil keputusan dengan tepat tanpa menimbulkan dampak yang merugikan kedua belah pihak. Emosi dapat timbul setiap kali individu mendapatkan rangsangan yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa dan menimbulkan gejolak dari dalam. Emosi yang dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan untuk mendukung keberhasilan dalam berbagai bidang karena pada waktu emosi muncul, individu memiliki energi lebih dan mampu mempengaruhi individu lain. Segala sesuatu yang dihasilkan emosi tersebut bila dimanfaatkan dengan benar dapat diterapkan sebagai

12

sumber energi yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas,mempengaruhi orang lain dan menciptakan hal-hal baru. Menurut Shapiro (2001:5) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai himpunan suatu fungsi jiwa yang melibatkan kemampuan memantau intensitas perasaan atau emosi, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Individu memiliki kecerdasan emosional tinggi memiliki keyakinan tentang dirinya sendiri, penuh antusias, pandai memilah semuanya dan menggunakan informasi sehingga dapat membimbing pikiran dan tindakan. Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud

kecerdasan

emosi

adalah

kemampuan

merasakan

dan

memahami secara lebih efektif terhadap daya kepekaan emosi yang mencakup kemampuan memotivasi diri sendiri atau orang lain, pengendalian diri, mampu memahami perasaan orang lain dengan efektif, dan mampu mengelola emosi yang dapat digunakan untuk membimbing pikiran untuk mengambil keputusan yang terbaik.

2. Aspek-aspek kecerdasan emosi Sampai sekarang belum ada alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kecerdasan emosi seseorang. Walaupun demikian, ada beberapa ciri-ciri yang mengindikasi seseorang memiliki kecerdasan emosional. Goleman (2009:45) menyatakan bahwa secara umum ciri-ciri seseorang memiliki kecerdasan emosi adalah mampu memotivasi diri sendiri,

13

bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir serta berempati dan berdoa. Lebih lanjut Goleman (2009:58) merinci lagi aspek-aspek kecerdasan emosi secara khusus sebagai berikut: a. Mengenali emosi diri, yaitu kemampuan individu yang berfungsi untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu, mencermati perasaan yang muncul.

Ketidakmampuan

untuk

mencermati

perasaan

yang

sesungguhnya menandakan bahwa orang berada dalam kekuasaan emosi. Kemampuan mengenali diri sendiri meliputi kesadaran diri. b. Mengelola emosi, yaitu kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibatakibat yang timbul karena kegagalan ketrampilan emosi dasar. Orang yang buruk kemampuan dalam ketrampilan ini akan terus menerus bernaung melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar akan dapat bangkit kembali jauh lebih cepat. Kemampuan mengelola emosi meliputi kemampuan penguasaan diri dan kemampuan menenangkan kembali. c. Memotivasi diri sendiri, yaitu kemampuan untuk mengatur emosi merupakan alat untuk mencapai tujuan dan sangat penting untuk memotivasi dan menguasai diri. Orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam upaya apapun yang dikerjakannya.

Kemampuan

14

ini

didasari

oleh

kemampuan

mengendalikan emosi , yaitu menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati. Kemampuan ini meliputi: pengendalian dorongan hati, kekuatan berfikir positif dan optimis. d. Mengenali emosi orang lain, kemampuan ini disebut empati, yaitu kemampuan yang bergantung pada kesadaran diri emosional, kemampuan ini merupakan ketrampilan dasar dalam bersosial. Orang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial tersembunyi yang mengisyaratkan apa yang dibutuhkan orang atau dikehendaki orang lain. e. Membina hubungan. Seni membina hubungan sosial merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain, meliputi ketrampilan sosial yang

menunjang

popularitas,

kepemimpinan

dan

keberhasilan

hubungan antar pribadi. Sedikit berbeda dengan pendapat Goleman, menurut Tridhonanto (2009:5) aspek kecerdasan emosi adalah: a. Kecakapan pribadi, yakni kemampuan mengelola diri sendiri. b. Kecakapan sosial, yakni kemampuan menangani suatu hubungan. c. Keterampilan sosial, yakni kemampuan menggugah tanggapan yang dikehendaki orang lain. Aspek aspek kecerdasan emosi yang dikemukakan Goleman setelah peneliti kaji lebih jauh merupakan jabaran dari pendapat Al Tridhonanto. Dalam kecakapan pribadi menurut Al Tridhonanto terdapat aspek-aspek kecerdasan emosi menurut Goleman yaitu; mengenali emosi diri, mengelola

15

emosi diri dan memotivasi diri sendiri . Kemudian dalam kecakapan sosial menurut Al Tridhonanto juga terdapat aspek kecerdasan emosi menurut Goleman yaitu mengenali emosi orang lain. Sedangkan ketrampilan social menurut Al Tridhonanto terdapat aspek kecerdasan emosi menurut Goleman yaitu membina hubungan. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini menggunakan aspek-aspek dalam kecerdasan emosi dari Goleman yang meliputi: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan dikarenakan aspek aspek menurut Goleman mencakup keseluruhan dan lebih terperinci.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi Kecerdasan emosi tidak ditentukan sejak lahir tetapi dapat dilakukan melalui proses pembelajaran. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi individu menurut Goleman (2009:267-282), yaitu: a. Lingkungan keluarga. Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan karena

orang

tua

adalah

subyek

pertama

yang perilakunya

diidentifikasi, diinternalisasi yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari kepribadian anak. Kecerdasan emosi ini dapat diajarkan pada saat anak masih bayi dengan contoh-contoh ekspresi. Kehidupan emosi yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak kelak di kemudian hari, sebagai contoh: melatih kebiasaan hidup disiplin dan

16

bertanggung

jawab,

kemampuan

berempati,

kepedulian,

dan

sebagainya. Hal ini akan menjadikan anak menjadi lebih mudah untuk menangani dan menenangkan diri dalam menghadapi permasalahan, sehingga anak-anak dapat berkonsentrasi dengan baik dan tidak memiliki banyak masalah tingkah laku seperti tingkah laku kasar dan negatif. b. Lingkungan non keluarga. Dalam hal ini adalah lingkungan masyarakat dan lingkungan penduduk. Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan fisik dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya ditunjukkan dalam aktivitas bermain anak seperti bermain peran. Anak berperan sebagai individu di luar dirinya dengan emosi yang menyertainya sehingga anak akan mulai belajar mengerti keadaan orang lain. Pengembangan kecerdasan emosi dapat ditingkatkan melalui berbagai macam bentuk pelatihan diantaranya adalah pelatihan asertivitas, empati dan masih banyak lagi bentuk pelatihan yang lainnya. Menurut Le Dove (Goleman 1997:20-32) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosi antara lain: a. Fisik. Secara fisik bagian yang paling menentukan atau paling berpengaruh terhadap kecerdasan emosi seseorang adalah anatomi saraf emosinya. Bagian otak yang digunakan untuk berfikir yaitu konteks (kadang kadang disebut juga neo konteks). Sebagai bagian yang berada dibagian otak yang mengurusi emosi yaitu system limbik,

17

tetapi sesungguhnya antara kedua bagian inilah yang menentukan kecerdasan emosi seseorang. 1) Konteks. Bagian ini berupa bagian berlipat-lipat kira kira 3 milimeter yang membungkus hemisfer serebral dalam otak. Konteks berperan penting dalam memahami sesuatu secara mendalam, menganalisis mengapa mengalami perasaan tertentu dan selanjutnya berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Konteks khusus lobus prefrontal, dapat bertindak sebagai saklar peredam yang memberi arti terhadap situasi emosi sebelum berbuat sesuatu. 2) Sistem limbik. Bagian ini sering disebut sebagai emosi otak yang letaknya jauh didalam hemisfer otak besar dan terutama bertanggung jawab atas pengaturan emosi dan implus. Sistem limbik meliputi hippocampus, tempat berlangsungnya proses pembelajaran emosi dan tempat disimpannya emosi. Selain itu ada amygdala yang dipandang sebagai pusat pengendalian emosi pada otak. b. Psikis. Kecerdasan emosi selain dipengaruhi oleh kepribadian individu, juga dapat dipupuk dan diperkuat dalam diri individu. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi kecerdasan emosi seseorang yaitu secara fisik dan psikis. Secara fisik terletak dibagian otak yaitu konteks dan sistem limbik, secara psikis diantarnya meliputi lingkungan keluarga dan lingkungan non keluarga.

18

B. Kecerdasan Spiritual 1. Pengertian Kecerdasan Spiritual Kecerdasan

individu

tidak

hanya

dilihat

dari

kecerdasan

intelektualnya saja akan tetapi juga dari kecerdasan emosinya dan kecerdasan spiritualnya. Setelah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi maka ditemukan kecerdasan yang ketiga yaitu kecerdasan spiritual yang diyakini sebagai kecerdasan yang mampu memfungsikan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi secara efektif dan kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan tertinggi (Zohar dan Marshall, dalam Sukidi 2004:36). Zohar dan Marshal (2007:4) mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Sedangkan menurut Maslow (Tony Buzan, 2003:xxi) kecerdasan spiritual adalah aktualisasi diri (tahap spiritual) yakni ketika individu dapat mencurahkan kreativitasnya dengan santai, senang, toleran dan merasa terpanggil untuk membantu orang lain mencapai tingkat kebijaksanaan dan kepuasan seperti yang telah dialaminya. Maslow menekankan bahwa kecerdasan spiritual menjadikan manusia yang benarbenar utuh secara intelektual, emosi dan spiritual sehingga bisa dikatakan

19

kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. Hal ini harus diraih dalam suatu lingkungan yang sarat dengan cinta dan kepedulian Ary Ginanjar Agustian (2001:57) mengatakan bahwa: “Kecerdasan spiritual ialah suatu kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya (hanif) dan memiliki pola pemikiran tauhidi (integralistik) serta berprinsip “hanya karena Tuhan”. Ary Ginanjar Agustian menekankan bahwa kecerdasan spiritual adalah perilaku atau kegiatan yang kita lakukan merupakan ibadah kepada Tuhan. Dengan demikian, kecerdasan spiritual menurut Ary Ginanjar Agustian, haruslah disandarkan kepada Tuhan dalam segala aktivitas kehidupan untuk mendapatkan suasana ibadah dalam aktivitas manusia. Inilah yang membedakan pengertian Ary Ginanjar Agustian dengan Danah dan Ian yakni adanya unsur ibadah dan penyandaran hanya kepada Allah dalam kehidupan manusia Dari beberapa pengertian di atas, penulis mengambil kesimpulan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang membangun manusia secara utuh untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna hidup untuk menilai bahwa tindakan yang dilakukan atau jalan hidup individu lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

20

2. Aspek-aspek kecerdasan spiritual Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai. Menurut Zohar dan Marshall (2003:14), aspek-aspek kecerdasan spiritual mencakup hal-hal berikut: a. Kemampuan bersikap fleksibel. Kemampuan individu untuk bersikap adaptif secara spontan dan aktif, memiliki pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan di saat menghadapi beberapa pilihan. b. Tingkat kesadaran diri yang tinggi. Kemampuan individu untuk mengetahui batas wilayah yang nyaman untuk dirinya, yang mendorong individu untuk merenungkan apa yang dipercayai dan apa yang dianggap bernilai, berusaha untuk memperhatikan segala macam kejadian dan peristiwa dengan berpegang pada agama yang diyakininya. c. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan. Kemampuan individu dalam menghadapi penderitaan dan menjadikan penderitaan yang dialami sebagai motivasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. d. Kemampuan

untuk

menghadapi

dan

melampaui

rasa

sakit.

Kemampuan individu dimana di saat dia mengalami sakit, ia akan menyadari keterbatasan dirinya, dan menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan yakin bahwa hanya Tuhan yang akan memberikan kesembuhan.

21

e. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai- nilai. Kualitas hidup individu yang didasarkan pada tujuan hidup yang pasti dan berpegang pada nilai-nilai yang mampu mendorong untuk mencapai tujuan tersebut. f. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu.Individu yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi mengetahui bahwa ketika dia merugikan orang lain, maka berarti dia merugikan dirinya sendiri sehingga mereka enggan untuk melakukan kerugian yang tidak perlu. g. Berpikir secara holistik. Kecenderungan individu untuk melihat keterkaitan berbagai hal. h. Kecenderungan untuk bertanya mengapa dan bagaimana jika untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar i. Menjadi pribadi mandiri. Kemampuan individu yang memilki kemudahan untuk bekerja melawankonvensi dan tidak tergantung dengan orang lain. Agus Nggermanto (2001:144-146), mengungkapkan aspek dari kecerdasan spiritual sebagai berikut: a. Kesadaran

diri.

Kemampuan

diri

dalam

menyadari

situasi,

konsekwensi dan reaksi yang ditimbulkan oleh diri. b. Kemampuan untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Ini akan menuntut kita memikirkan secara jujur apa yang harus kita tanggung demi perubahan itu dalam bentuk energi dan pengorbanan.

22

c. Perenungan akan setiap perbuatan. Dengan ini akan membuat diri kita lebih mengenali, menghargai sesuatu dan menjadikan motivasi untuk lebih baik. d. Kemampuan untuk menghancurkan rintangan. Kemampuan dan motivasi diri yang kuat dalam menyelesaikan semua permasalahan baik dari diri, lingkungan dan Tuhan e. Kemampuan untuk menentukan langkah dan pemberian keputusan dengan bijak. Kita perlu menyadari berbagai kemungkinan untuk bergerak maju melalui berbagai kemungkinan sehingga menemukan tuntutan praktis yang dibutuhkan dan putuskan kelaykan setiap tuntutan tersebut. f. Kualitas dalam hidup dan makna hidup. Menjalani hidup berarti mengubah pikiran dan aktivitas sehari-hari menjadi ibadah terusmenerus, memunculkan kesucian alamiah yang ada dalam situasi yang bermakna. g. Menghormati pendapat atau pilihan orang lain. Kemampuan dalam memberikan kesempatan orang lain berpendapat, menerima perndapat orang lain dengan lapang dada, dan melaksanakan apa yang telah disepakati walaupun itu pendapat orang lain. Dari penjelasan di atas, dalam penelitian ini penulis mengambil aspekaspek kecerdasan spiritual yang meliputi kemampuan bersikap fleksibel, tingkat kesadaran diri yang tinggi, kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan

penderitaan,

kemampuan

23

untuk

menghadapi

dan

melampaui rasa sakit, kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilainilai, keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, berpikir secara holistik, kecenderungan untuk bertanya mengapa dan bagaimana jika untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar, serta menjadi pribadi mandiri.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual Zohar dan Marshall (2007:35-83) mengungkapkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual yaitu a.

Sel saraf otak Otak menjadi jembatan antara kehidupan bathin dan lahiriah kita. Ia mampu menjalankan semua ini karena bersifat kompleks, luwes, adaptif dan mampu mengorganisasikan diri. Menurut penelitian yang dilakukan pada era 1990-an dengan menggunakan WEG (Magneto – Encephalo – Graphy) membuktikan bahwa osilasi sel saraf otak pada rentang 40 Hz merupakan basis bagi kecerdasan spiritual.

b.

Titik Tuhan (God spot) Dalam peneltian Rama Chandra menemukan adanya bagian dalam otak, yaitu lobus temporal yang meningkat ketika pengalaman religius atau spiritual berlangsung. Dia menyebutnya sebagai titik Tuhan atau God Spot. Titik Tuhan memainkan peran biologis yang menentukan dalam pengalaman spiritual. Namun demikian, titik Tuhan bukan merupakan syarat mutlak dalam kecerdasan spiritual. Perlu adanya

24

integrasi antara seluruh bagian otak, seluruh aspek dari dan seluruh segi kehidupan. Dalam penelitian ini, penulis setuju dengan

pendapat Goleman

bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual adalah sel saraf otak dan titik tuhan. Alasan penulis setuju dengan pendapat tersebut dikarenakan minimnya referensi yang relevan dalam membahas faktorfaktor yang mempengaruhi kecerdasan spiritual.

C. Perilaku Prososial 1. Pengertian perilaku prososial Perilaku

prososial

dapat

dimengerti

sebagai

perilaku

yang

menguntungkan penerima, tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pelakunya (Staub; Baron & Byrne dalam Tri Dayaksini dan Hudaniah, 2006 : 211) Senada dengan hal diatas, Brigham 1991 (Tri Dayaksini dan Hudaniah, 2006 : 211) menyatakan bahwa perilaku prososial mempunyai maksud untuk menyokong kesejahteraan orang lain. Dengan demikian kedermawanan, persahabatan, kerjasama, menolong, menyelamatkan dan pengorbanan merupakan bentuk-bentuk perilaku prososial. Menurut Baron & Byrne (2005:92) perilaku prososial adalah suatu tindakan menolong yang menguntungkan orang lain tanpa harus menyediakan suatu keuntungan langsung pada orang yang melakukan

25

tindakan tersebut, dan mungkin bahkan melibatkan suatu resiko bagi orang yang menolongnya. William (Tri Dayaksini dan Hudaniah, 2006 : 211) membatasi perilaku prososial sebagai perilaku yang memiliki kecenderungan untuk mengubah keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik, dalam arti secara material maupun psikologis. Dari pendapat William di atas tujuan dari perilaku prososial ada dua arah yaitu untuk diri sendiri dan orang lain. Tujuan untuk diri sendiri lebih ditekankan untuk memperoleh penghargaan seperti perasaan bahagia dapat menolong orang lain dan merasa terbebas dari perasaan bersalah. Tujuan untuk orang yang dikenai tindakan adalah untuk memenuhi kebutuhan atau hasrat orang yang bersangkutan atau yang ditolong. Berdasarkan uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa perilaku prososial merupakan suatu tindakan yang bertujuan untuk menolong orang lain dalam bentuk fisik maupun psikis, yang memberikan manfaat yang positif bagi orang yang dikenai tindakan itu tanpa mempedulikan motif si penolong atau dengan kata lain tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi si penolong, tindakan itu dilakukan sesuai norma masyarakat yang berlaku serta bersifat nyata dan dapat diamati.

2. Aspek-aspek perilaku prososial Brigham (1991:277) menyebutkan bentuk-bentuk perilaku prososial yang hampir sama dengan diatas, yaitu :

26

a. Altruisme, yaitu kesediaan untuk menolong orang lain secara sukarela tanpa mengharapkan imbalan. b. Murah hati, yaitu kesediaan untuk bersikap dermawan pada orang lain. c. Persahabatan, yaitu kesediaan untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan orang lain. d. Kerjasama, yaitu kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain demi terciptanya suatu tujuan. e. Menolong, yaitu kesediaan untuk membantu orang lain yang sedang berada dalam kesulitan. f. Penyelamatan, yaitu kesediaan untuk menyelamatkan atau membantu orang lain yang membutuhkan. g. Pengorbanan, yaitu kesediaan untuk berkorban demi orang lain yang membutuhkan. h. Berbagi, yaitu kesediaan untuk berbagi perasaan dengan orang lain dalam suasana duka Eisenberg & Mussen (Tri Dayaksini dan Hudaniah, 2006 : 211) perilaku prososial mencakup tindakan tindakan: sharing (membagi), cooperative (kerjasama), donating (menyumbang), helping (menolong), honesty (kejujuran), generosity (kedermawanan) serta mempertimbangkan hak dan kesejahteraan orang lain. Ada tiga indikator yang menjadi tindakan prososial menurut Staub (Tri Dayaksini dan Hudaniah, 2006 : 212) yaitu:

27

a. Tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak pelaku b. Tindakan itu dilahirkan secara sukarela c. Tindakan itu menghasilkan kebaikan Berdasarkan uraian di atas maka dapat diketahui bahwa aspek-aspek dalam perilaku prososial meliputi kerjasama, menolong, kejujuran, berbagi perasaan, menyumbang / berderma, dan mempertimbangkan kesejahteraan orang lain.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial Setiap perilaku yang muncul selalu ada yang melatarbelakanginya. Hal ini berlaku juga bila individu melakukan perilaku prososial. Menurut Staub (Tri Dayakisni dan Hudaniah, 2006:212) faktor yang mendasari individu untuk bertindak prososial adalah adanya nilai-nilai dan norma yang diinternalisasi oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, seperti berkewajiban dalam menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik. Nilai dan norma tersebut diperoleh individu melalui ajaran agama dan juga lingkungan sosial. faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:

28

a. Faktor personal, meliputi: 1) Self-gain yaitu keinginan untuk memperoleh penghargaan dan menghindari kritik. 2) Personal value dan norm yaitu nilai-nilai dan norma-norma sosial yang diinternalisasi oleh individu selama mengalami sosialisasi. Perilaku ini merupakan refleksi dari perkembangan moral dan sosial yang paling banyak dipengaruhi oleh nilai budaya. 3) Empati yaitu kemampuan individu untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain. Kemampuan empati erat hubungannya dengan pengambilan peran. Pengungkapan empati ini dapat dilakukan secara verbal maupun non verbal b. Faktor situasional, meliputi: 1) Hubungan interpersonal, semakin jelas dan dekat hubungan antar penolong dengan yang ditolong semakin cepat dan semakin mendalam individu akan melakukan pertolongan. 2) Pengalaman dalam pemberian pertolongan dan suasana hati. Pengalaman positif yang sama, akan menyebabkan orang kembali melakukan perilaku prososial, sebab dengan pengalaman yang pahit orang akan menghindari perilaku prososial. Orang yang dalam suasana hati menggembirakan, akan lebih suka menolong. Sebaliknya orang dalam suasana hati yang sedih akan cenderung menghindari memberikan pertolongan. Hal ini sesuai dengan adanya penguatan (reinforcement). Apabila orang yang dapat

29

penguatan positif pada saat melakukan tindakan prososial cenderung akan melakukan tindakan itu lagi di saat yang lain. Sedangkan orang yang mendapat respon negatif pada saat melakukan tindakan prososial cenderung menghindari tindakan itu disaat yang lain. 3) Sifat stimulus. Semakin jelas stimulus akan meningkatkan kesiapan untuk bereaksi. Sebaliknya semakin tidak jelas stimulus akan sedikit terjadi perilaku prososial. 4) Derajat kebutuhan yang ditolong. Semakin besar kebutuhan yang ditolong semakin besar pula kemungkinan untuk mendapatkan pertolongan. 5) Tanggung jawab, kekaburan tanggung jawab akan menyebabkan orang tidak memberikan suatu pertolongan karena masing-masing pribadi itu mempunyai tanggung jawab untuk mengambil tindakan. 6) Biaya yang harus dikeluarkan. Semakin besar biaya yang dikeluarkan untuk menolong, maka semakin kecil kemungkinan orang akan melakukan perilaku prososial, apabila dengan penguatan yang rendah. Sebaliknya bila biaya rendah penguatan kuat, orang akan lebih siap menolong. 7) Norma timbal balik. Individu akan berusaha untuk memberikan pertolongan kembali kepada orang yang pernah memberinya

30

pertolongan. Disini muncul dorongan untuk membalas jasa atau hubungan timbal balik sebagai wujud tanggung jawab moral. 8) Karakter kepribadian. Individu yang mempunyai kecenderungan untuk

melakukan

perilaku

prososial

biasanya

memiliki

karakteristik kepribadian, yaitu: harga diri yang tinggi, rendahnya kebutuhan akan persetujuan orang lain, tanggung jawab yang tinggi, memiliki kontrol diri yang baik dan tingkat moral yang seimbang. Menurut

Baron

&

Byrne

(2005:96-105)

faktor-faktor

yang

mempengaruhi individu untuk mengambil keputusan melakukan perilaku prososial terhadap orang lain oleh bystander yaitu individu yang berada di tempat kejadian, antara lain: a. Menyadari adanya situasi darurat. Situasi darurat tidak dapat terjadi menurut jadwal, jadi tidak ada cara untuk mengantisipasi kapan, dimana masalah yang tidak diharapkan akan terjadi. b. Menginterpretasikan keadaan sebagai situasi darurat. Meskipun bystander memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya, namun bystander hanya memiliki informasi yang tidak lengkap dan terbatas mengenai apa yang kira-kira sedang dilakukan individu. c. Mengasumsikan bahwa adalah tanggung jawabnya untuk menolong. Ketika bystander memberi perhatian kepada beberapa kejadian eksternal dan menginterpretasikannya sebagai suatu situasi darurat, tingkah laku prososial akan dilakukan hanya jika bystander tersebut

31

mengambil tanggung jawab untuk menolong. Pada banyak keadaan, tanggung jawab memiliki kejelasan pada posisinya. Misalnya guru bimbingan dan konseling adalah mereka yang harus melakukan pelayanan terhadap para siswa. d. Mengetahui apa yang harus dilakukan. Bystander yang sedang berada pada situasi darurat, harus mempertimbangkan apakah ia tahu tentang cara menolong orang yang berada pada situasi darurat tersebut. Pada umumnya sebagian situasi darurat mudah ditangani. Jika seorang bystander memiliki pengetahuan, pengalaman, atau kecakapan yang dibutuhkan, maka ia cenderung merasa bertanggung jawab dan akan memberikan bantuannya dengan atau tanpa kehadiran bystander lain. e. Mengambil keputusan terakhir untuk menolong. Meskipun seorang bystander telah melewati keempat langkah sebelumnya dengan jawaban “iya”,perilaku menolong mungkin saja tidak akan terjadi kecuali mereka membuat keputusan akhir untuk bertindak. Pertolongan pada tahap akhir ini dapat dihambat oleh rasa takut terhadap adanya konsekuensi negatif yang potensial.Secara umum, perilaku menolong mungkin tidak akan muncul karena biaya potensialnya dinilai terlalu tinggi, kecuali jika orang memiliki motivasi yangluar biasa besar untuk membantu. Selain itu, masih terdapat beberapa faktor tambahan sebagai pengaruh pribadi dalam munculnya perilaku prososial, yaitu:

32

a. Menolong orang yang disukai. Segala hal faktor yang dapat meningkatkan

ketertarikan

bystander

kepada

korban

akan

meningkatkan kemungkinan terjadinya respon prososial apabila individu tersebut membutuhkan pertolongan. b. Atribusi menyangkut tanggung jawab korban. Pertolongan tidak diberikan secara otomatis ketika seorang bystander mengasumsikan bahwa kejadian tersebut akibat kesalahan korban sendiri, terutama jika penolong

yang

potensial

cenderung

mengasumsikan

bahwa

kebanyakan kesialan dapat dikontrol. Jika demikian, masalah dipersepsikan sebagai kesalahan korban. c. Model-model prososial: kekuatan dari contoh positif. Dalam situasi darurat,kita mengindikasikan bahwa keberadaan bystander lainnya yang tidakberespons dapat menghambat tingkah laku menolong. Hal yang juga sama benarnya adalah bahwa keberadaan bystander yang menolong memberi model sosial yang kuat dan hasilnya adalah suatu peningkatan dalam tingkah laku menolong di antara bystander lainnya. Disamping model prososial di dalam dunia nyata, model-model yang menolong dalam media juga berkontribusi pada pembentukan norma sosial yang mendukung tingkah laku prososial. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku prososial yang pertama adalah faktor personal yang meliputi self-gain, personal value dan norm serta empati. Sedangkan faktor yangkedua adalah faktor situasional yang meliputi

33

hubungan interpersonal, pengalaman dalam pemberian pertolongan dan suasana hati, sifat stimulus, derajat kebutuhan yang ditolong, tanggung jawab, biaya yang harus dikeluarkan dan norma timbal balik.

D. Kerangka Pikir 1. Hubungan kecerdasan emosional dengan perilaku prososial guru bimbingan dan konseling di Kabupaten Pacitan. Guru sebagai pengganti orangtua di sekolah, merupakan pendidik diharapkan mampu membantu siswa dalam bidang akademik maupun non akademik. Guru bimbingan dan konseling yang memiliki kemampuan memahami emosi dirinya, memahami emosi orang lain, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri maupun orang lain, dan membina hubungan yang baik akan lebih peka terhadap keadaan siswa dan lingkungan sekitar, sehingga dengan kepekaan itu akan menumbuhkan keinginan untuk menolong. Sedangkan guru bimbingan dan konseling yang kurang memiliki kemampuan memahami emosi dirinya, memahami emosi orang lain, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri maupun orang lain, dan membina hubungan, kepekaannya terhadap siswa dan lingkungan sekitar kurang, sehingga keinginan untuk menolong sedikit. Hal ini menegaskan bahwa guru bimbingan dan konseling yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, perilaku prososialnya akan tinggi. Sedangkan guru bimbingan dan konseling yang memiliki kecerdasan emosi yang rendah, perilaku prososialnya akan rendah.

34

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara kecerdasan emosi dengan perlaku prososial.

2. Hubungan kecerdasan spiritual dengan perilaku prososial guru bimbingan dan konseling Kabupaten Pacitan. Guru bimbingan dan konseling merupakan tenaga pendidik yang dituntut untuk bersikap adaptif, tidak terpaku oleh keadaan tertentu. Guru bimbingan dan konseling yang memiliki kemampuan bersikap fleksibel, tingkat kesadaran tinggi, kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, kemampuan menghadapi dan melampaui rasa sakit, kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, keengganan melakukan hal yang merugikan, cara berfikir holistik, kecenderungan bertanya mengapa dan bagaimana, dan menjadi pribadi mandiri akan menumbuhkan rasa sosial yang besar sehingga keinginan untuk menolong dan berkorban tinggi. Sedangkan Guru bimbingan dan konseling yang kurang memiliki kemampuan bersikap fleksibel, tingkat kesadaran tinggi, kemampuan menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, kemampuan menghadapi dan melampaui rasa sakit, kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilainilai, keengganan melalukan hal yang merugikan, cara berfikir holistik, kecenderungan bertanya mengapa dan bagaimana, dan menjadi pribadi mandiri akan menumbuhkan rasa sosial yang rendah sehingga keinginan untuk menolong dan berkorban tidak ada. Hal ini menegaskan bahwa guru bimbingan dan konseling yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi,

35

perilaku prososialnya akan tinggi. Sedangkan guru bimbingan dan konseling yang memiliki kecerdasan spiritual yang rendah, perilaku prososialnya akan rendah. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara kecerdasan spiritual dengan perlaku prososial. 3. Hubungan kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan perilaku prososial guru bimbingan dan konseling di Kabupaten Pacitan. Guru bimbingan dan konseling yang memiliki kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual yang tinggi, perilaku prososialnya akan tinggi. Sedangkan guru bimbingan dan konseling yang memiliki kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual rendah, perilaku prososialnya akan rendah. Tiga hal diatas didigramkan seperti berikut:

4.

KECERDASAN EMOSI PERILAKU PROSOSIAL

5.

KECERDASAN SPIRITUAL

Gambar 1. Diagram Korelasi Berdasarkan pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual terhadap perilaku prososial pada guru bimbingan dan konseling di Kabupaten Pacitan

36

E. Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Hipotesis Mayor Terdapat hubungan antara kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual dan dengan perilaku prososial pada guru bimbingan dan konseling di Kabupaten Pacitan. 2. Hipotesis Minor a. Terdapat hubungan yang positif antara kecerdasan emosi dengan perilaku prososial pada guru bimbingan dan konseling di Kabupaten Pacitan. b. Terdapat hubungan yang positif antara kecerdasan spiritual dengan perilaku prososial pada guru bimbingan dan konseling di Kabupaten Pacitan. c. Terdapat hubungan yang positif antara kecerdasan emosional dengan kecerdasan spiritual pada guru bimbingan dan konseling di Kabupaten Pacitan.

37