BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kecerdasan Emosi

afektif dan psikomotor. Dikatakan berjiwa ... mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berpikir dan ... mungkinmempunyai kepercayaan diri yang...

0 downloads 11 Views 563KB Size
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Kecerdasan Emosi Goleman

(2009:63)

menyatakan

kecerdasan

emosi

merupakan

kemampuanuntuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar bebas stres, tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. Keterampilan emosional adalah meta-ability, menentukan seberapa baik kita mampu menggunakan keterampilan-keterampilan lain maupun yang kitamiliki termasuk intelektual yang belum terasah. Emotional Quotient (EQ) mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan pribadi dan profesional. Savoley dalam Goleman (2009:64) memberi definisi dasar kecerdasan emosi dan memperluas kemampuan ini menjadi lima wilayah utama, diantaranya adalah: 1.

Kesadaran diri (Self Awareness) Kesadaran diri, mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi,merupakan dasar kecerdasan emosi. Ketidakmampuan untuk mencermatiperasaan kita yang membuat kita berada dalam kekuasaanperasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentangperasaannya adalah pilot yang handal bagi kehidupannya karenamemiliki kepekaan yang lebih tinggi akan perasaaan mereka yangsesungguhnya atas pengambilan keputusan masalah pribadi,mulai dari masalah siapa yang akan dinikahi sampai ke pekerjaan apayang diambil. Kesadaran diri dibagi 3 bagian, yaitukesadaran emosi, penilaian diri secara teliti (Accurate self assessment),percaya diri (self confidence).

Universitas Sumatera Utara

2.

Pengaturan Diri (Self Regulation) Menangani perasaan agar perasaan dapat diungkapkan dengantepat merupakan kecakapan yang bergantung kepada kesadaran diri.Orang yang buruk kemampuannya dalam keterampilan ini akan terusbertarung melawan perasaan murung, sementara yangpintar dapat bangkit jauh lebih cepat dari kemerosotan dankejatuhan dalam kehidupan. Pengaturan diri dibagi menjadi lima bagian,yaitu

kendali

diri

(self

(Trustworthiness),kehati-hatian

control),

sifat

dapat

(Concientiousness),

dipercaya Adaptabilitas

(Adaptability), Inovasi(Inovation). 3.

Memotivasi Diri Sendiri (Motivation) Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yangpenting dalam kaitan untuk memberi perhatian, memotivasidan menguasai diri dan berkreasi. Kendali diri, menahan diriterhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, adalah

landasankeberhasilan

dalam

berbagai

bidang.

Orang

yang

memilikiketerampilan ini cenderung lebih produktif dan efektif dalam halapapun yang dikerjakan. Motivasi dibagi empat bagian yakni dorongan prestasi, komitmen (commitment), inisiatif (initiative), optimisme (optimism). 4.

Mengenali Emosi Orang Lain (Empathy) Empati merupakan kemampuan yang bergantung padakesadaran emosional. Empati merupakan keterampilan bergaul dasar.Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yangtersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan ataudikehendaki orang lain. Empati dibagi menjadi lima bagian, yakni memahami orang lain, mengembangkan orang lain

Universitas Sumatera Utara

(developing others), orientasi pelayanan (service orientation), memanfaatkan keragaman (leveraging diversity), kesadaran politis (political awareness) 5.

Keterampilan Sosial (Social Skills) Seni membina hubungan, sebagian besar merupakan keterampilanmengelola emosi orang lain. Ini merupakan keterampilan yangmenunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi.Orang yang hebat dalam keterampilan akan sukses dalambidang apapun yang mengandalkan pergaulan dengan oranglain. Keterampilan Sosial dibagi 8, yakni pengaruh (influence), komunikasi (communication), manajemen konflik (conflict management), kepemimpinan membangun

(leadership), hubungan

katalisator

(building

perubahan

bonds),

(change

kolaborasi

dan

catalyst), kooperasi

(collaboration and cooperation), kemampuan tim (team capabilities). Chandra (2012:34) mengatakan bahwa enterpreneur yang memiliki kecerdasan emosioptimal akan lebih berpeluang mencapai puncak keberhasilannya.Karena seorang enterpreneur yang memiliki kecerdasan emosi optimalakan tetap menganggap

bahwa

krisis

adalah

peluang.

Itulah

sebabnyamengapa

enterpreneur harus tetap jeli dalam memanfaatkan emosinya.Sebaliknya, jika seseorang secara intelektual cerdas kebanyakanbukanlah seorang enterpreneur yang berhasil dalam bisnis dankehidupan pribadinya. Dengan memiliki kecerdasan emosi yangoptimal akan lebih bisa mentransformasikan situasi sulit. Bahkan,semakin peka akan adanya peluang enterpreneur dalam situasi apapun.

Universitas Sumatera Utara

2.2Self Employment Self employment jika diartikan secara etomologi atau kata per kata dalam bahasa Indonesia yaitu self adalah diri sendiri dan employment adalah pekerjaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa self employment adalah pekerjaan yang dilakukan sendiri atau dengan kata lain bekerja sendiri. Orang yang ingin bekerja sendiri atau berusaha sendiri adalah orang yang mandiri. Menurut Endang (2010:5) seseorang yang mempraktekkan kiat-kiat mengembangkan jiwa self employment akan dapat memahami karakteristik usaha dalam kewirausahaan secara kognitif, afektif dan psikomotor. Dikatakan berjiwa self employment apabila orang tersebut mampu mendewasakan dirinya sendiri, dan apabila berhasil mendewasakan dirinya sendiri akan mampu membentuk pendapat atau pandangannya sendiri tentang masalah atau peristiwa yang terjadi dalam lingkungannya. Self employment adalah kemampuan untuk mengelola semua yang dimiliki, tahu bagaimana mengelola waktu, berjalan dan berpikir secara mandiri disertai dengan kemampuan mengambil resiko dan memecahkan masalah. Self employment berkenaan dengan tugas dan keterampilan bagaimana mengerjakan sesuatu mencapai sesuatu dan bagaimana mengelola sesuatu (Parker, 2006:226). Orang yang selalu mengandalkan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri disebut juga mempunyai keinginan untuk menguasai dan mengendalikan tindakan sendiri dengan tidak mengharapkan bantuan atau pengaruh orang lain dalam berusaha. Menurut Kartini Kartono (2011:21), self employment adalah kemampuan seseorang berusaha atau bekerja sendiri, jiwa self employment seseorang terlihat pada waktu orang tersebut menghadapi masalah. Bila masalah itu dapat diselesaikan

Universitas Sumatera Utara

sendiri tanpa meminta bantuan dari orang tua dan akan bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang telah diambil melalui berbagai pertimbangan maka hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut mampu untuk bekerja sendiri. Seorang wirausahawan yang memiliki self employment akan mencoba mengambil inisiatif, mencoba

mengatasi

rintangan-rintangan

dalam

lingkungannya,

mencoba

mengarahkan tingkah laku ke arah yang sempurna, memperoleh kepuasan dari bekerja, dan mencoba mengerjakan sendiri tugas atau pekerjaannya. Orang yang selalu mengandalkan kekuatan yang ada pada dirinya sendiri disebut juga mempunyai keinginan untuk menguasai dan mengendalikan tindakan-tindakan sendiri dengan tidak mengharapkan bantuan atau pengaruh orang lain. Dengan demikian individu yang berjiwa self employment berdiri di atas kaki sendiri akan mengambil inisiatif, mengatasi sendiri kesulitan-kesulitannya dan ingin melakukan hal-hal oleh dirinya sendiri. Tanda-tanda dari sikap mandiri adalah pengambilan inisiatif, mencoba mengatasi rintangan-rintangan dalam lingkungannya, mencoba mengarahkan tingkah laku ke arah yang sempurna, memperoleh kepuasan dari bekerja, dan mencoba mengerjakan sendiri tugas-tugas rutinnya.Self employment berarti dapat melakukan pekerjaan tanpa bergantung kepada pihak lain atau bekerja sendiri. Dalam kaitan ini seseorang yang memiliki jiwa self employment senantiasa percaya atas kemampuannya sendiri dalam menjalankan usahanya, kerjasama yang dijalani dengan orang lain bukan berarti seseorang tidak memiliki jiwa self employmentjustru semakin berkembang ke arah yang lebih produktif apabila diterapkan secara bersama-sama. Dapat dikatakan juga bahwa orang memiliki jiwa

Universitas Sumatera Utara

self employmentdiartikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berpikir dan bertindak, serta tidak merasa bergantung pada orang lain dalam benjalankan usahanya. Karena dengan jiwa self employmentseseorang akan berusaha sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanda-tanda dari orang yang memiliki jiwa self employment adalah pengambilan inisiatif, mencoba mengatasi rintangan-rintangan dalam lingkungannya, mencoba mengarahkantingkah laku ke arah yang sempurna, memperoleh kepuasan dari bekerja, dan mencoba mengerjakan sendiri tugas-tugas rutinnya. Kemandirian sebagai kepribadian/sikap mental yang harus dimiliki oleh setiap orang yang dialamnya terkandung unsur-unsur dengan watak-watak yang ada didalamnya perlu dikembangkan agar tumbuh menyatu dalam kehidupan manusia. Asumsi tersebut menunjukkan bahwa jiwa self employment dapat menentukan sikap dan perilaku seseorang menuju ke arah wiraswastawan. Dalam pengertian sosial atau pergaulanantar manusia (kelompok, komunitas), kemandirian juga bermakna sebagai organisasi diri (self-organization) atau manajemen diri (self management).Unsur-unsur tersebut saling berinteraksi dan melengkapi sehingga muncul suatu keseimbangan. Pada masalah ini, pencarian pola yang tepat, agar interaksi antar unsur selalu mencapai keseimbangan, menjadi sangat penting. Self employmentadalah suatu hasil perkembangan yang dilakukan oleh setiap individu. Jiwa self employment pada tiap individu tidak muncul begitu saja secara alami tetapi memerlukan bimbingan dan latihan dari yang berpengalaman. Akan tetapi keinginan untuk mandiri itu selalu ada pada setiap individu, seperti yang dikemukakan oleh Sogur dalam Putri (2010:39) bahwa keinginan untuk memilki

Universitas Sumatera Utara

jiwa self employmentsudah ada dalam diri individu, namun realisasi kemandirian dalam melakukan tugas sehari-hari tidak bisa terwujud begitu saja, melainkan dibutuhkan serangkaian bimbingan dan latihan. Menurut Endang (2010:5) siswa yang mempraktekkan kiat-kiat mengembangkan self employmentakan : 1) Dapat memahami karakteristik diri dalam kewirausahaan secara kognitif, afektif dan psikomotor, dan dapat mempraktekannya nanti di lapangan dalam dunia kerja; 2) Memiliki jiwa untuk berusaha sendiri dan perilaku kewirausahaan dalam bekerja; 3) Mampu dan berani untuk berusahasendiri dalam bidangnya. Menurut Endang (2010:12) untuk mengembangkan self employmentdilakukan melalui 2 hal, yaitu : 1. Mengembangkan kepercayaan diri a. Sikap percaya pada diri sendiri Kepercayaan diri atau Self Confidence merupakan suatu paduan sikap dankeyakinan seseorang dalam menghadapi suatu tugas atau pekerjaan. Dalampraktek, kepercayaan diri tersebut merupakan sikap dan keyakinan untuk memulai, melakukan, dan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang harusdihadapi. Kepercayaan diri adalah sifat internal pribadi seseorang dan bersifatsangat relatif, baik antara seseorang dengan orang lain ataupun pada seseorang,tetapi beda tugas atau pekerjaan yang dihadapinya. Seseorang mungkinmempunyai kepercayaan diri yang besar untuk melakukan suatu pekerjaan,misalnya mengendarai sebuah mobil, tetapi kepercayaan dirinya mungkin akanhilang jika dia dipaksa untuk menerbangkan sebuah pesawat jet tempur.Seseorang mungkin mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dalam menulis,tetapi

kepercayaan

dirinya

berkurang

jika

dia

harus

Universitas Sumatera Utara

menyampaikannya dalamsuatu seminar. Sebaliknya, ada juga orang yang mempunyai diri yang mantap jikaberpidato, namun sering mengalami kesulitan atau bimbang dan ragu jika harusmenulis suatu teks. Kepercayaan diri juga bersifat dinamis, seseorang yangsemula mempunyai kepercayaan diri yang tinggi untuk mengendarai mobil,kemudian berkurang karena makin tua atau setelah mengalami suatu kecelakaanlalu lintas. Usia atau kondisi kesehatan seseorang dapat mempengaruhi tingkatkepercayaan diri yang bersangkutan. Secara umum orang yang makin tua,terutama yang telah melewati setengah umur, makin berkurang kepercayaandirinya dalam kegiatan yang bersifat keterampilan fisik seperti mengendaraimobil, meniti, melompat, memanjat, dan kegiatan lain yang sejenis, namunsebaliknya, usia yang makin lanjut makin memberi kepercayaan diri yang tinggiuntuk mengatasi

berbagai

masalah

nonfisik

walaupun

mungkin

relatif

kompleks.Hal ini mungkin disebabkan oleh pengalamannya yang cukup banyak dan jiwanyayang relatif lebih matang dalam menghadapi berbagai cobaan dan masalah. Orang yangmemilki kepercayaan diri yang baik akan (1) bekerja penuh keyakinan, (2)tidak ketergantungan dalam melakukan pekerjaan (Depdiknas 2010: 17). b. Rasa percaya pada diri sendiri Apabila seseorang telah mengembangkan rasa percaya kepada dirisendiri, siswa

akan

meninggalkan

kesan

yang

baik

kepada

orang

lain

denganketegasan, kekuatan, dan kepastian yang memancar dari diri siswa. Siswa laluberani memandang orang dengan mata yang jujur, dan

Universitas Sumatera Utara

mengucapkanpendapat siswa sejelas-jelasnya, sementara kepercayaan siswa kepadadirisendiri akan menimbulkan rasa hormat dan kepercayaan. Rasa percayakepada diri sendiri yang cukup diperlukan secara mutlak supaya bisamendapatkan hasil-hasil yang gemilang. Percaya kepada diri sendiri yangberasaskan kejujuran, hati nurani yang terang, kesabaran, simpati, kesetiaan,kebesaran hati dan lain-lainnya. c. Sikap kemauan diri Perkataan

´kemauan´

menimbulkan

asosiasi

dengan

ketekadan,ketekunan,daya tahan, tujuan jelas, daya kerja, pendirian, pengendalian diri,keberanian, ketabahan, keteguhan, tenaga, kekuatan, dan pantang mundur.Adalah penting sekali bahwa kemauan harus berkembang ke taraf yanglebih tinggi karena harus menguasai diri lebih dulu untuk bisamenguasai orang lain. Percaya kepada diri sendiri dan tenaga terpendam, maka dengan sendirinya kemauan anda maju ke depan danmenang. Setiap kali Anda penuh dengan harapan dan percaya, maka akanmenjadi lebih kuat dalam melaksanakan pekerjaan. Sikap kemauan diri dapat dikembangkan melalui: Kemauan akan memberikan semangat kepada siswauntuk belajar, mempergunakan kemauan untuk mengembangkan jiwa danpikiran, kemauan untuk mengembangkan ketabahan pada kondisi darurat,selalu percaya kepada diri sendiri. d. Sikap kerja positif

Universitas Sumatera Utara

Sikapkerja positif dapat dikembangkan melalui menggunakan waktu, menggunakankemampuan anda, menggunakan pengetahuan, menggunakan energi,ketelitian. e. Mengukur kelakuan dan kemampuan pribadi Agar siswa dapat berkembang dan mencapai sukses, maka mahasiswaharus terus menerus melakukan hal-hal yang berguna. Oleh karena itu, perhatikanlahsecara khusus petunjuk petunjuk-praktis dan praktekkanlah dalamkehidupan Anda sehari hari. Mengukur kelakuan dan kemampuan pribadidapat

dikembangkan

melalui:

Berusaha

semaksimum

mungkin,manfaatkansemua kesempatan, bersyukur terhadap pekerjaan, tingkatkan keberanian,periksalah kemampuan diri sendiri tanggap terhadap perkembangan di luar,memiliki semangat dan jerih payah. f. Sikap positif Sikap positif dapat dikembangkan melaluiberfikir positif, konsentrasi padasatu tujuan, memiliki sikap teliti dan ulet, sopan dan tata krama dalam berbicara,bersikap tertib dan cermat, memanfaatkan waktu yang tepat, bekerja berdasarkanprosedur dan aturan. 2. Membina kepribadian. a. Mengembangkan sikap keberanian Mengembangkan sikap keberanian dilakukan melalui: Bersikap dan bepikir bebas, bekerja pada aturan yang benar, perlunya keberanian mutlak. b. Menumbuhkan rasa simpati

Universitas Sumatera Utara

Menumbuhkan

rasa

simpati

dapat

dikembangkan

melalui:

Memilikibadansehat dan kuat, sadar akan dirinya, memiliki ketenangan dan pengendaliandiri, memelihara kesan yang baik, berbicara sopan, kreatif dan inspiratif.

c. Mengembangkan semangat pribadi Mengembangkan

semangat

dilakukan

melalui:

Bekerjalah

denganpenuhsemangat, semangat yang tinggi untuk mencapai prestasi yang tinggi, selalubersemangat, semangat membawa percaya pada hari depan.

2.3 Lingkungan Keluarga Dalyono (2009:129) mengatakan bahwa “Lingkungan itu sebenarnya mencakup segala material dan stimulus di dalam dan di luar diri individu, baik bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosial-kultural”. Ihsan (2008:16) mengatakan definisi lingkungan dalam kaitannya dengan pendidikan sebagai berikut: “lingkungan dapat diartikan, sebagai segala sesuatu yang berada di luar diri anak”. Lingkungan dapat berupa hal yang nyata, seperti tumbuhan, orang, keadaan, politik, sosial-ekonomi, binatang, kebudayaan, kepercayaan, dan upaya lain yang dilakukan oleh manusia termasuk didalamnya pendidikan. Sedangkan pengertian keluarga menurut Khairuddin (2008:2) adalah: 1) Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu, dan anak. 2) Hubungan sosial diantara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan/atau adobsi 3) Hubungan antar keluarga dijiwai oleh suasana kasih sayang dan rasa tanggung jawab 4) Fungsi keluarga ialah merawat, memelihara, dan melindungi anak dalam

Universitas Sumatera Utara

rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota keluarga (Duval dalam Setiadi 2008:14). Menurut Slameto (2010:19) keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi anak-anaknya baik pendidikan bangsa, dunia, dan negara sehingga cara orang tua mendidik anak-anaknya akan berpengaruh terhadap belajar. Sedangkan menurut Mubarak, dkk (2009:33) keluarga merupakan perkumpulan dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu dengan yang lain. Keluarga merupakan kelompok sosial pertama-tama dalam kehidupanmanusia tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial di dalamhubungan interaksi dengan kelompoknya. Dalam keluarganya, yang interaksisosial keluarganya berdasarkan simpati, seorang anak pertama-tama belajarmemperhatikan keinginankeinginan orang lain, belajar bekerja sama, bantumembantu, dengan kata lain, anak pertama-tama belajar memegang peranan sebagai makhluk sosial yang mempunyai norma-norma dan kecakapan-kecakapantertentu dalam pergaulannya dengan orang lain (Sobur, 2009:248).Ciri-ciri suatu keluarga menurut Maciever dan Page dalamSoelaeman (2005:9) adalah sebagai berikut : 1. Adanya hubungan berpasangan antara kedua jenis (pria dan wanita) 2. Dikukuhkan oleh suatu pernikahan

Universitas Sumatera Utara

3. Ada pengakuan terhadap keturunan (anak) yang dilahirkan dalamrangka hubungan tersebut 4. Adanya kehidupan ekonomis yang dilakukan bersama 5. Diselenggarakan kehidupan berumah tangga Jadi yang dimaksud orang tua atau keluarga dalam penelitian ini bahwakeluarga merupakan kelompok sosial pertama yang mewarnai pribadi anak. Di dalam keluarga akan ditanamkan nilai-nilai norma hidup dan pada akhirnya akan dipakai oleh anak dalam menumbuhkan pribadi dan harapannya di masa mendatang. Menurut

Gunarsa

(2009:5) bahwa

lingkungan

keluarga

merupakan

lingkungan pertama yang mula-mula memberikan pengaruh yang mendalam bagi anak. Dari anggota-anggota keluarganya (ayah, ibu, dan saudara-saudaranya) anak memperoleh segala kemampuan dasar, baik intelektual maupun sosial. Setiap sikap, pandangan, dan pendapat orang tua atau anggota keluarga lainnya akan dijadikan contoh oleh anak dalam berperilaku. Dalam hal ini berarti lingkungan keluarga sebagai lingkungan pendidikan yang pertama ini sangat penting dalam membentuk pola kepribadian anak. Karena di dalam keluarga, anak pertama kali mendapat pengetahuan tentang nilai dan norma. Sedangkan menurut Hasbullah (2009:32), Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapat didikan dan bimbingan. Dan dikatakan sebagai lingkungan yang utama karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga. Berdasarkan beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa lingkungan keluarga adalah segala sesuatu yang berada dalam kelompok sosial kecil yang

Universitas Sumatera Utara

berfungsi untuk melindungi setiap anggotanya, yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang memiliki hubungan darah, rasa kasih sayang diantara mereka. Dalam dunia pendidikan lingkungan keluarga memiliki fungsi yang paling utama untuk membentuk karakter bagi seoarang anak, karena lingkungan kelurga merupakan lingkungan pertama seorang anak belajar sebelum mereka berada dalam lingkungan sekunder (lingkungan sekolah dan masyarakat).Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak tempat anak belajar dan mengatakan sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga umumnya anak melakukan interaksi yang intim.

2.3.1

Faktor-Faktor Dalam Lingkungan Keluarga Lingkungan keluarga, merupakan salah satu faktor lingkungan yang

dapatmempengaruhi minat seseorang untuk berwirausaha. Adapun faktor-faktor yang terkandung dalam keluarga menurut pendapat para ahli adalah sebagai berikut : Slameto (2010:60) lingkungan keluarga terdiri dari : 1.

Cara orang tua mendidik Cara orang tua mendidik anak besar pengaruhnya terhadap cara belajar danberfikir anak. Ada orangtua yang mendidik secara diktator, ada yangdemokratis dan ada juga keluarga yang acuh tak acuh dengan pendapat setiapkeluarga.

2.

Relasi antar anggota keluarga Relasi antar anggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang tua dengananak-anaknya. Demi kelancaran belajar serta keberhasilan anak, perlu adanyarelasi yang baik didalam keluarga. Hubungan yang baik adalah hubungan

Universitas Sumatera Utara

yangpenuh

pengertian

dan

kasih

sayang,

disertai

dengan

bimbingan

untukmensukseskan belajar anak. 3.

Suasana rumah Suasana rumah dimaksudkan sebagi situasi atau kejadian-kejadian yang seringterjadi di dalam keluarga dimana anak berada dan belajar. Suasana rumahmerupakan faktor yang penting yang tidak termasuk faktor yang disengaja.Suasana rumah yang gaduh/ramai dan semrawut tidak akan memberiketenangan pada anak yang belajar. Suasana rumah yang tegang, ribut dan sering terjadi cekcok pertengkaran antar anggota keluarga atau dengankeluarga lain menyebabkan anak menjadi bosan di rumah, suka keluar rumahdan akibatnya belajar kacau sehingga untuk memikirkan masa depannya puntidaklah terkonsentrasi dengan baik.

4.

Keadaan ekonomi keluarga Pada keluarga yang kondisi ekonominya relatif kurang, menyebabkan orangtua tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok anak. Tak jarang faktorkesulitan ekonomi justru menjadi motivator atau pendorong anak untuk lebihberhasil. Adapun pada keluarga yang ekonominya berlebihan, orang tuacenderung mampu memenuhi segala kebutuhan anak termasuk masalahpendidikan anak termasuk bisa melanjutkan sampai ke jenjang yang tinggi.Kadangkala kondisi serba berkecukupan tersebut membuat orang tua kurangperhatian pada anak karena sudah merasa memenuhi semua kebutuhananaknya, akibatnya anak menjadi malas untuk belajar dan prestasi yangdiperoleh tidak akan baik.

5.

Pengertian Orang Tua

Universitas Sumatera Utara

Anak belajar perlu dorongan dan pengertian dari orang tua. Kadang-kadanganak mengalami lemah semangat, maka orang tua wajib memberi pengertiandan mendorongnya, membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anakbaik di sekolah maupun di masyarakat. Hal ini penting untuk tetapmenumbuhkan rasa percaya dirinya. 6.

Latar Belakang Kebudayaan Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikapanak dalam kehidupannya. Kepada anak perlu di tanamkan kebiasaan-kebiasandan diberi contoh figur yang baik, agar mendorong anak untukmenjadi semangat dalam meniti masa depan dan kariernya ke depan. Hal inijuga dijelaskan oleh Soemanto dalam Supartono (2004:50) mengatakan bahwacara orang tua dalam meraih suatu keberhasilan dalam pekerjaanya merupakanmodal yag baik untuk melatih minat, kecakapan dan kemampuan nilai-nilaitertentu yang berhubungan dengan pekerjaan yang diingini anak. Sobur (2009:248) menyatakan bahwa faktor keluarga sebagaipenentu

keberhasilan seseorang terdiri dari : 1.

Kondisi Ekonomi Keluarga Faktor

ekonomi

sangat

besar

pengaruhnya

terhadap

kelangsungan

kehidupankeluarga. Faktor kekurangan ekonomi menyebabkan suasana rumah menjadimuram sehingga anak kehilangan gairah untuk belajar. Namun, faktorkesulitan ini bisa juga malah menjadi pendorong bagi anak untuk berhasil.Kadangkala keadaan ekonomi yang berlebihan menyebabkan orang tuamenjadi

kurang

perhatian

terhadap

belajar

anak

karena

merasa

Universitas Sumatera Utara

telahmemenuhi semua kebutuhan anak, sehingga anak malas belajar dan mandirisehingga cenderung menganggap ”santai” masa depannya termasuk dalam halmasalah karier. 2.

Hubungan emosional orang tua dan anak Hubungan

emosional

antara

orang

tua

dan

anak

juga

berpengaruh

dalamkeberhasilan anak. Sebaiknya orang tua menciptakan hubungan yang harmonis dengan anak. Hubungan orang tua dan anak jangan acuh tak acuhkarena akan menyebabkan anak menjadi frustasi. Orang tua terlalu keras akanmenyebabkan hubungan orang tua akan menjadi “jauh”. Atau hubungan yangterlalu dekat antara anak dan orang tua kan mengakibatkan anak selalu“bergantung”. 3.

Cara mendidik orang tua Ada

keluarga

yang

mendidik

anaknya

secara

diktator

militer,

ada

yangdemokratis yang menerima semua pendapat anggota keluarga, tetapi ada jugakeluarga yang acuh tak acuh dengan pendapat setiap anggota keluarga. Caraorang tua dalam mendidik anaknya akan berpengaruh terhadap cara belajardan hasil belajar yang diperoleh seseorang. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa faktorfaktoryang menentukan keberhasilan seseorang dalam belajar dan mempengaruhi cara berpikir dan bersikap serta pandangan terhadap masa depannya termasuk dalam pilihan kariernya yang berasal dari keluarga adalah: 1. Cara orang tua mendidik 2. Keadaan ekonomi keluarga

Universitas Sumatera Utara

3. Hubungan antar anggota keluarga 4. Pengertian / pemahaman orang tua terhadap anak 5. Latar belakang budaya

2.3.2

Fungsi Keluarga Fungsi keluarga ada beberapa jenis. Fungsi keluarga menurut Soelaeman

(1994:85-114) adalah : 1) Fungsi edukasi Fungsi edukasi adalah fungsi keluarga yang berkaitan dengan pendidikan serta pembinaan anggota keluarga pada umumnya. Fungsi edukasi ini tidak sekedar menyangkut pada penentuan dan pengukuhan landasan yang mendasari upaya pendidikan itu, tetapi juga meliputi pengarahan dan perumusan tujuan pendidikan, perencanaan dan pengelolaannya, penyediaan dana dan sarananya, serta pengayaan wawasan. 2) Fungsi sosialisasi Tugas keluarga dalam mendidik anaknya tidak saja mencakup pengembangan individu anak agar menjadi pribadi yang mantap, akan tetapi meliputi pula upaya membantunya dan mempersiapkannya menjadi anggota masyarakat yang baik. Dalam melaksanakan fungsi sosialisasi, keluarga menduduki kedudukan sebagai penghubung anak dengan kehidupan sosial dan normanorma sosial. Fungsi sosialisasi membantu anak dalam menemukan tempatnya dalam kehidupan sosial ini secara mantap yang dapat diterima rekan-rekannya atau lebih lagi dapat diterima masyarakat. 3) Fungsi proteksi atau fungsi lindungan

Universitas Sumatera Utara

Mendidik

hakekatnya

melindungi,

yaitu

melindungi

anak

dari

tindakantindakan yang tidak baik dan dari hidup yang menyimpang norma. Selain itu fungsi ini juga melindungi anak dari ketidakmampuannya bergaul dengan lingkungan pergaulannya, melindunginya dari sergapan pengaruh yang tidak baik yang mugkin mengancamnya dari lingkungan hidupnya, lebih dalam lagi kehidupan dewasa ini kompleks. 4) Fungsi afeksi atau fungsi perasaan Anak berkomunikasi dengan ligkungannya, juga berkomunikasi dengan orang tuanya dengan keseluruhan pribadinya terutama pada saat anak masih kecil yang masih menghayati dunianya secara global dan belum terdifferensiasikan. Kehangatan yang terpancar dari keseluruhan gerakan, ucapan, mimik serta perbuatan orang tua merupakan bumbu pokok dalam pelaksanaan pendidikan anak dalam keluarga. Makna kasih orang tua terhadap anak tidak tergantung dari banyaknya hadiah yang dilimpahkan kepadanya, melainkan lebih atas dasar seberapa jauh kasih itu dipersepsi atau dihayati. Adapun yang diharapkan dicapai melalui pelaksann fungsi afeksi itu ialah terbinanya suasana perasaan yang sehat dalam keluarga, yang tercipta berkat kebersihan hati masing-masing anggotanya, bersih dari iri dan dengki dari hasut dan buruk sangka. 5) Fungsi religius Keluarga mempunyai fungsi religius, artinya keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak serta anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan beragama.

Universitas Sumatera Utara

6) Fungsi ekonomis Fungsi ekonomis keluarga meliputi pencarian nafkah, perencanaan serta pembelajarannya

dan

pemanfaatannya.

Kedaan

ekonomi

keluarga

mempengaruhi pula harapan orang tua akan masa depan anaknya serta harapan anak itu sendiri. Keluarga yang keadan ekonominya lemah mengangap anak lebih sebagai beban hidup daripada pembawa kebahagiaan keluarga. Mereka yang keadaan ekonominya kuat mempunyai lebih banyak kemungkinan memenuhi kebutuhan material anak dibandingkan dengan yang lemah. Akan tetapi pelaksanaaan tersebut belum menjamin pelaksanaan ekonomis keluarga sebagaimana mestinya. Sebab pelaksanaan fungsi keluarga yang baik tidak terutama tergantung dari banyaknya uang atau hadian yang diberikan tetapi juga pada cara memberikan dan kuantitatif peneriman serta persepsi anak. 7) Fungsi rekreasi Rekreasi itu dirasakan orang apabila ia menghayati suasana tenang dan damai, jauh dari ketegangan batin, segar dan santai dan kepada yang bersangkutan memberikan perasaan bebas terlepas dari segala ketegangan dan kehidupan sehari-hari. Rekreasi itu memberikan keseimbangan kepada penyaluran energi dalam melaksanakan tugas sehari-hari yang rutin dan mungkin menimbulkan kebosanan. Makna fungsi rekreasi dalam keluarga diarahkan kepada tergugahnya kemampuan untuk dapat mepersepsi kehidupan dalam keluarga secar wajar dan sungguh sebagiman dimaksudkan dan digariskan kaidah-kaidah hidup keluarga.

Universitas Sumatera Utara

8) Fungsi Biologis Fungsi biologis keluarga berhubungan dengan pemenuhan kebutuhankebutuhan biologis anggota keluarga. Kebutuhan akan keterlindungan fisik guna

melangsungkan

kehidupannya.

Keterlindungan

kesehatan,

keterlindungan rasa lapar, haus, kedinginan, kepanasan, kelelahan, bahkan juga kenyamanan dan kesegaran fisik. Dalam pelaksanaan fungsi-fungsi itu, hendaknya tidak berat sebelah, tidak memisah-misahkan fungsi yang satu dari yang lain dan tidak pula hanya dilakukan oleh satu pihak saja, karena keluarga merupakan satu kesatuan. 2.3.3 Peluang Peluang

merupakan

kesempatan

yang

dimiliki

seseorang

untuk

melakukanapa yang dinginkannya atau menjadi harapannya. Suatu daerah yang memberikan peluang usaha elektronika akan menimbulkan minat seseorang untuk memanfaatkan peluang tersebut. Sebenarnya banyak kesempatan dapat memberikan keuntungan di lingkungan. Kesempatan ini dapat diperoleh orang yang berkemampuan dan berkeinginan kuat untuk meraih sukses. Misalnya: seseorang yang melihat suatu daerah yang jarang adanya usaha di bidang elektronika atau bahkan tidak ada usaha jasa di bidang tersebut, kemudian dia memanfaatkan peluang tersebut dengan membuka usaha serviceelektronika di tempat tersebut. Menurut Suryana (2009:34) faktor eksternal yang mempengaruhi kewirausahaan meliputi : 1.

Role model Faktor penting yang mempengaruhi individu dalam memilihkewirausahaan sebagai karir. Orang tua, saudara, guru atau wirausahawanlain dapat menjadi

Universitas Sumatera Utara

role model bagi individu. Individu membutuhkandukungan dan nasehat dalam setiap tahapan dalam merintis usaha, role modelberperan sebagai mentor bagi individu. Individu juga akan meniru perilakuyang dimunculkan oleh role model. Pentingnya role model dalammempengaruhi pilihan karir didukung oleh penelitian Jacobowitz dan Vidlerdalam Riyanti (2003:38) yang menunjukkan bahwa 72% wirausahawan negara Atlantik memiliki orang tua atau saudara wirausahawan. Individuberwirausaha dengan cara meniru orang tua atau saudara yang berwirausaha.

2.

Dukungan keluarga dan teman Dukungan

dari

orang

dekat

akan

mempermudah

individu

sekaligus

menjadisumber kekuatan ketika menghadapi permasalahan (Hisrich dan Peters, 2008:75). Dukungan dari lingkungan terdekat akan membuat individu mampubertahan menghadapi permasalahan yang terjadi. 3.

Pendidikan Pendidikan formal berperan penting dalam kewirausahaan karena memberibekal pengetahuan

yang

dibutuhkan

dalam

mengelola

usaha

terutama

ketikamenghadapi suatu permasalahan. Sekolah atau universitas sebagai tempatberlangsungnya

pendidikan

formal

mendukung

kewirausahaan

akanmendorong individu untuk menjadi seorang wirausahawan (Hisrich dan Peters, 2008:12). Berdasarkan pendapat para ahli maka dapat disimpulkan bahwa faktor yangmempengaruhi kewirausahaan ada dua, yakni faktor internal yang merupakan

Universitas Sumatera Utara

faktor dari dalam diri individu dan faktor eksternal yang merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungannya.

2.4 Wirausaha dan Kewirausahaan Menurut Bygrave dalam Suryana (2009:12) wirausaha adalah orang yang memperoleh peluang dan menciptakan suatu organisasi untuk mengejar peluang itu. Pendapat yang lain dikemukakan oleh Meredith dalam Suryana (2009:12) mengemukakan bahwa wirausaha juga dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk melihat dan menilai peluang-peluang bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya dan mengambil tindakan yang tepat guna menghasilkan keuntungan dari peluang tersebut. Wirausaha (enterpreneur) adalah seseorang yang membayar harga tertentu untuk produk tertentu, untuk kemudian dijualnya dengan harga yang tidak pasti, sambil membuat keputusan tentang upaya mencapai dan memanfaatkan sumber-sumber daya, dan menerima risiko (Winardi, 2007:56). Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersahaja dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya (Amin, 2008:30). Muhyi (2007:33) menjelaskan bahwa kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melalui berfikir kreatif dan inovatif. Seorang wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif, karena popularitas produk yang mungkin sukses dijualnya belum tentu bertahan lama.Menurut Astamoen

Universitas Sumatera Utara

(2005:49) hal ini terjadi mengingat adanya daur hidup produk (product life cycle) terutama produk hasil industri yang melalui lima tahapan, yakni: 1. Tahapan desain dan pengembangan; 2. Tahapan pengenalan; 3. Tahapan pertumbuhan; 4. Tahapan pemantapan dan kematangan; 5. Tahapan penurunan. Dengan demikian dapat dikatakan setiap produk dari wirausaha akan mempunyai tahap penurunan permintaan pasar, maka dibutuhkan kreativitas dan inovasi dengan memahami konsep daur hidup melalui penciptaan produk-produk baru setiap kurun waktu tertentu sesuai jenis produknya, supaya tetap dapat eksis bersaing dan usahanya tetap berkembang. Berdasarkan Inpres RI No 4 tahun 1995 dalam Nirbito (2000:57) tentang gerakan nasional memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan maka konsep wirausaha adalah orang yang mempunyai semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan besar. Winarno (2011:2) menyebutkan bahwa entrepreneurship (kewirausahaan) adalah suatu proses melakukan sesuatu yang baru dan berbeda dengan tujuan menciptakan kemakmuran bagi individu dan memberi nilai tambah pada masyarakat. Sejalan dengan hal itu Hisrich-Peter dalam Alma (2013:26) memaparkan bahwakewirausahaan digambarkan sebagai suatu proses menciptakan sesuatu yang

Universitas Sumatera Utara

lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan disertai modal dan risiko serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi. Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa berwirausaha adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melalui berfikir kreatif dan inovatif, kemampuan untuk melihat kesempatan-kesempatan usaha yang kemudian mengorganisir, mengatur, mengambil resiko, dan mengembangkan usaha yang diciptakan tersebut guna meraih keuntungan.

2.4.1 Ciri-ciri Wirausaha Menurut Gray (1996:12), seorang wirausaha mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1.

Mempunyai Tujuan Setiap usaha atau kegiatan seorangwirausaha mempunyai tujuan. Tujuan tersebut harus dirumuskan dengan jelas, setelah itu dipersiapkan kegiatan untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan yang dirumuskan sesuai dengan minat, bakatdan kebutuhan bisnis/usaha yang dipilih. Seorang wirausaha akan selalu menggunakan kemampuannya untuk senantiasa mengevaluasi kembali tujuan sehingga bila terjadi suatu masalah/hambatan dapat segera mencegah dan mengembangkan strategi untuk menguasai hambatan.

2.

Tekun dan Berani

Universitas Sumatera Utara

Ketekunan harus dimiliki wirausahawan, untuk senantiasa berjuang mencapai tujuan meskipun banyak hambatan. Ketekunan terbina berkat kemauan keras, kesabaran dan ketelitian dalam menempatkan diri kedalam pekerjaannya. Selain tekun, keberanian dibutuhkan untuk menghadapi hambatan/masalah serta resiko yang senantiasa akan dihadapi. Dari keberanian ini wirausahawan menganggap resiko adalah hal yang biasa. Memiliki kemampuan untuk menghadapi resiko adalah hal yang biasa. Memiliki kemampuan untuk menghadapi resiko dan menimbang bahayanya. Keberanian wirausahawan akan mampu menghadapi kegagalan, itu merupakan hambatan sementara untuk pencapaian tujuan.

3.

Pengetahuan tentang Bisnis Seorang wirausahawan harus megertu prinsip-prinsip dasar tentang bagaimana suatu bisnis dapat bertahan dan berhasil, prinsip tersebut meliputi bagaimana peranan manajemen, rekanan dan karyawan untuk menjaga agar bisnis atau usaha dapat aktif dan berjalan lancar.

4.

Kreatif dan Inovatif Wirausahawan tidak terpisah dari cara berfikir yang kreatif dan inovatif. Pemikiran yang kreatif didukung oleh dua hal, yaitu pengerahan daya imajinasi dan proses berfikir ilmiah. Daya imajinasi yang diperlukan adalah angan-angan, cita-cita, keinginan atau tujuan hidup. Daya imajinasi merupakan motivasi dan arah untuk mencapai tujuan usaha, sedang proses berfikir ilmiah diperlukan untuk menyelaraskan daya imajinasi dengan kejadian di lapangan. Inovasi

Universitas Sumatera Utara

merupakan metode baru untuk mengatur bisnis atau usaha supaya lebih efektif. Wirausahawan akan selalu mengupayakan penyempurnaan untuk usahanya. 5.

Kesehatan Fisik dan Mental Kondisi sehat adalah sangat penting untuk menghadapi tuntutan dan tekanan yang ditimbulkan dari bisnis/usaha yang ditangani. Untuk itu kesehatan harus selalu dijaga dan diperhatikan, baik kesehatan fisik maupun mental. Kedaan fisik yang sakit mempengaruhi kelancaran usaha yang ditangani, demikian juga dengan mental. Suksesnya suatu bisnis ditentukan oleh pasangan hidup, teman dan keluarga yang mendorong, memberi semangat dan pengertian. Secara emosional merasa sendirian tidak bahagia akan menimbulkan ketegangan yang sulit diatasi yang akan mempengaruhi juga usahanya.

6.

Hubungan antar Manusia Seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan untuk mengerti dan berinteraksi secara baik dengan orang yang memiliki bermacam kepribadian. Hal ini penting karena akan selalu berhubungan dengan orang lain. Pada dasarnya manusia mempunyai perbedaan individu dalam melayani orang lain. Maka, setiap individu harus berusaha menempatkan diri diantara kepentingan orang lain dan berupaya menyesuaikan diri berdasarkan perbedaan itu.

7.

Percaya Diri Seorang wirausaha harus percaya diri, dan mempunyai kemampuan dan potensi untuk mencapai tujuan pribadi atau tujuan usaha. Wirausahawan yang sukses memiliki keyakinan dalam dirinya yang memberikan kekuatan untuk memulihkan diri dari kekalahan dan kekecewaan.

Universitas Sumatera Utara

8.

Keinginan untuk Tidak Bergantung Manusia wirausaha mempunyai keinginan menjadi bos, bebas dari perintah dan kontrol dari orang lain, keinginan jujur dan pembuktian kemampuan untuk disiplin dari pada kondisi kerja sendiri, kemampuan untuk mengorganisasi aktivitas untuk mencapai tujuan usaha. Wirausahawan yang berhasil terlahir bukanlah seorang yangdapat bekerja sama karena membuat kontrak/usaha untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat perusahaan mereka.

9.

Kemampuan Menjual Kemampuan menjual merupakan kemampuan meyakinkan orang lain akan menilai produk atau jasa yang ditawarkan, terutama penting jika produk atau jasa yang ditawarkan merupakan produk yang baru. Hal ini karena dengan adanya kemampuan untuk menjual maka diharapkan konsumen akan tertarik sehingga keuntungan dapat diraih dengan sukses.

2.5 Intensi Berwirausaha Santoso (2010:95) beranggapan bahwa intensi adalah hal-hal yang diasumsikan dapat menjelaskan faktor-faktor motivasiserta berdampak kuat pada tingkah laku. Hal ini mengindikasikan seberapa keras orang berusaha dan seberapa banyak usaha yang dilakukan agar perilaku yang diinginkan agar perilaku yang diinginkan dapat dilakukan. Linan (2008:115) menyebutkan “intensi merupakan elemen yang fundamental yang dapat menjelaskan sebuah perilaku”. Armitage dan Conner (1999:13) mengungkapkan bahwa “sebagai prediktor perilaku, intensi dipandang sebagai motivasi yang sangat diperlukan ketika seseorang akan melakukan perilaku tertentu”.

Universitas Sumatera Utara

Fishbein dan Ajzen (Wijaya, 2011:119) menerangkan bahwa intensi merupakan prediktor sukses dari perilaku karena ia menjembatani sikap dan perilaku. Lebih lanjut Krueger dan Carsrud (Indarti dan Rostiani, 2008:4) menyatakan bahwa “intensi telah terbukti menjadi prediktor yang terbaik bagi perilaku kewirausahaan”. Choo dan Wong (Indarti dan Rostiani, 2008:4) menyatakan bahwa “intensi dapat dijadikan sebagai pendekatan dasar yang masuk akal untuk memahami siapa-siapa yang akan menjadi wirausaha”. Bandura (Wijaya, 2011:119) menyatakan bahwa Intensi merupakan suatu kebulatan tekad untuk melakukan aktivitas tertentu atau menghasilkan suatu keadaan tertentu di masa depan. Intensi menurutnya adalah bagian vital dari self regulation individu yang dilatarbelakangi oleh motivasi seseorang untuk bertindak. Drucker (2008:16) menyatakan wirausaha adalah semangat, sikap, perilaku, kemampuan seseorang dalam menangani usaha yang mengarah pada upaya, mencari, menciptakan, menerapkan, cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebihbaik dan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Wirausaha adalah usaha proses yang mempunyai resiko tinggi untuk menghasilkan nilai tambah produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendatangkan kemakmuran bagi wirausahawan. Intensi berwirausaha diukur dengan skala enterpreneurialintention (Ramayah & Harun, 2005:44) dengan indikator memilih jalur usaha daripada bekerja pada orang lain, memilih karir sebagai wirausahawan, dan perencanaan untuk memulai usaha. Jadi, intensi wirausaha adalah niat yang ada pada diri seseorang untuk melakukan suatu tindakan wirausaha. Atau dengan kata lain intensi kewirausahaan

Universitas Sumatera Utara

diartikan sebagai keinginan atau niat yang ada pada diri seseorang untuk menampilkan perilaku berwirausaha yang dapat dilihat dari niatan individu untuk dapat menanggung resiko, memanfaatkan peluang, menjadi seorang yang kreatif dan mandiri serta mampu mengolah sumber daya yang ada. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa intensi adalah kesungguhan niat sesorang untuk melakukan perbuatan atau memunculkan suatu perilaku tertentu. Sedangkan intensi berwirausaha diartikan sebagai tendensi keinginan individu melakukan tindakan wirausaha dengan menciptakan produk baru melalui peluang bisnis dan pengambilan risiko.

2.5.1 Aspek-aspek Intensi Berwirausaha Salah satu model perkembangan niat yang dirumuskan oleh Ajzen (Sarwoko, 2011:127) yaitu Theory of Planned Behavior (TPB). Azwar (2011:12) menyatakan bahwa inti dari Theory of Planned Behavior (TPB) tetap berada pada faktor intensi perilaku sebagaimana disajikan pada gambar 2.1 berikut.

Gambar 2.1 Theory of Planned BehaviorMenurut Ajzen

Universitas Sumatera Utara

Menurut Ajzen (Sarwoko, 2011:127), Theory of Planned Behavior (TPB) mengidentifikasikan tiga faktor yang mendahului niat. Dua faktor mencerminkan keinginan yang dirasakan untuk melakukan suatu perilaku yaitu: sikap pribadi (personal attitude) terhadap hasil perilaku dan norma-norma sosial (subjective norm) yang dirasakan. Faktor yang ketiga adalah kontrol perilaku yang dirasakan (perceived feasibility), mencerminkan persepsi bahwa perilaku dikontrol secara pribadi. Menurut Ajzen (Sarwoko, 2011:127), terbentuknya intensi dapat diterangkan dengan Theory of Planned Behavior (TPB) yang mengasumsikan manusia selalu mempunyai tujuan dalam berperilaku. Teori ini menyebutkan bahwa intensi adalah fungsi dari tiga determinan dasar, yaitu: sikap berperilaku (attitude),norma subyektif (subjective norm), dan kontrol perilaku (perceived feasible). Adapun penjelasannya sebagai berikut. 1.

Sikap berperilaku (attitude), yang merupakan dasar bagi pembentukan intensi. Menurut Azwar (2011: 12), “sikap terhadap suatu perilaku dipengaruhi oleh keyakinan bahwa perilaku tersebut akan membawa hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan”. Terdapat dua aspek pokok dalam sikap terhadap perilaku, yaitu: aspek keyakinan individu bahwa menampilkan atau tidak menampilkan perilaku tertentu akan menghasilkan akibat-akibat atau hasil-hasil tertentu, dan aspek pengetahuan individu tentang obyek sikap dapat pula berupa opini individu hal yang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Semakin positif keyakinan individu akan akibat dari suatu obyek sikap, maka akan semakin positif pula sikap individu terhadap obyek sikap tersebut, begitu juga sebaliknya.

Universitas Sumatera Utara

2.

Norma subyektif (subjective norm) yaitu keyakinan individu akan norma, orang sekitarnya dan motivasi individu untuk mengikuti norma tersebut. Terdapat dua aspek pokok dalam norma subjektif, yaitu: keyakinan akan harapan-harapan norma referensi dan motivasi kesediaan individu untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan pendapat atau pikiran pihak lain yang dianggap penting bahwa individu harus atau tidak harus berperilaku.

3.

Kontrol perilaku (perceived feasible), yang merupakan dasar bagi pembentukan kontrol perilaku yang dipersepsikan. Kontrol perilaku yang dipersepsikan merupakan persepsi terhadap kekuatan faktor-faktor yang mempermudah atau mempersulit suatu perilaku.

2.5.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Intensi Berwirausaha Menurut Indarti dan Kristiansen (2003:79) intensi berwirausaha dipengaruhi oleh tiga hal yaitu faktor demografi dan latar belakang individu; faktor kepribadiannya (personality); dan yang terakhir faktor elemen kontekstual. Menurut Mazzarol (Indarti dan Rostiani, 2008:10) mengungkapkan bahwa beberapa penelitian mendukung bahwa faktor demografis berpengaruh terhadap keinginan seseorang untuk menjadi wirausaha. Faktor demografis ini antara lain gender, umur, pendidikan dan pengalaman seseorang. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Santos dan Linan (Sarwoko, 2011:134) menemukan bahwa “laki-laki dan perempuan memiliki intensi berwirausaha yang berbeda. Perempuan lebih cenderung memiliki intensi berwirausaha yang rendah dibandingkan dengan laki-laki”.

Universitas Sumatera Utara

Faktor yang kedua yaitu karakteristik kepribadian seseorang. McClelland (Indarti dan Rostiani, 2008:5) memperkenalkan bahwa konsep kebutuhan akan berprestasi sebagai salah satu motif psikologis. Lebih lanjut, McClelland menegaskan bahwa kebutuhan akan prestasi sebagai salah satu karakteristik kepribadian seseorang yang akan mendorong seseorang untuk memiliki intensi kewirausahaan. Friedman dan Shustack (2008:321) menjelaskan bahwa “seseorang yang memiliki kebutuhan akan berprestasi mempunyai kecenderungan untuk tekun bahkan terdorong untuk memenuhi tugas yang diembankan pada dirinya”. Faktor efikasi diri menurut Lambing dan Kuehl (2007:29) yaitu bahwa “efikasi diri berpengaruh terhadap intensi berwirausaha seseorang”. Faktor yang ketiga yaitu elemen kontekstual. Menurut Indarti (Indarti dan Rostiani, 2008:8) bahwa “elemen kontekstual yang meliputi tiga faktor lingkungan yang dipercaya mempengaruhi wirausaha yaitu akses mereka kepada modal, informasi dan kualitas jaringan sosial yang dimiliki, yang kemudian disebut kesiapan instrumen”. Menurut Wijaya (2011:121) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi intensi berwirausaha ada lima, yaitu: 1.

Lingkungan keluarga Orang tua akan memberikan corak budaya, suasana rumah, pandangan hidup dan pola sosialisasi yang akan menentukan sikap, perilaku serta proses pendidikan terhadap anak-anaknya. Orang tua yang bekerja sebagai wirausaha akan mendukung dan mendorong kemandirian, berprestasi dan bertanggung jawab. Dukungan orang tua ini, terutama ayah sangat penting dalam pengambilan keputusan pemilihan karir bagi anak.

Universitas Sumatera Utara

2.

Pendidikan Pentingnya pendidikan dikemukakan oleh Holt yang mengatakan bahwa paket pendidikan kewirausahan akan membentuk siswa untuk mengejar karir kewirausahaan. Pendidikan formal memberikan pemahaman yang lebih baik tentang proses kewirausahaan, tentang yang dihadapinya para pendiri usaha baru dan masalah-masalah yang harus diatasi agar berhasil. Menurut Hisrich dan Peters (Wijaya, 2011:121), “pendidikan penting bagi wirausaha, tidak hanya gelar yang didapatkannya saja, namun pendidikan juga mempunyai peranan yang besar dalam membantu mengatasi masalah-masalah dalam bisnis seperti keputusan investasi dan sebagainya”.

3.

Nilai Personal Hisrich dan Peters (Wijaya, 2011:121) mengungkapkan bahwa “beberapa penelitian mengemukakan bahwa wirausahawan memiliki sikap yang berbeda terhadap proses manajemen dan bisnis secara umum”. Nilai personal dibentuk oleh motivasi, dan optimisme individu.

4.

Usia Roe (Wijaya, 2011:121) mengatakan bahwa minat terhadap pekerjaan mengalami perubahan sejalan dengan usia tetapi menjadi relatif stabil pada post abdolence. Penelitian Strong (Wijaya, 2011:121) menemukan bahwa pekerjaan menunjukkan minat berubah secara sedang dan cepat pada usia 15-25 tahun dan sesudahnya sangat sedikit perubahannya.

Universitas Sumatera Utara

5.

Jenis kelamin Jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap minat berwirausaha mengingat adanya perbedaan terhadap pandangan pekerjaan antara prian dan wanita. Manson dan Hogg (Wijaya, 2011:121) mengungkapkan bahwa “wanita cenderung sambil lalu dalam memilih pekerjaan dibanding dengan pria”. Wanita menganggap pekerjaan bukanlah hal yang penting, karena wanita masih dihadapkan pada tuntutan tradisional yang lebih besar menjadi istri dan ibu rumah tangga.

2.6Penelitian Terdahulu Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No.

1

Nama Peneliti

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Anies Lestari (2016)

Pengaruh Sikap Mandiri, Lingkungan Keluarga Dan Motivasi Terhadap Minat Berwirausaha Para Remaja (Studi Empiris Di Desa Jamus Kec. Mranggen Kab.Demak)

1. Sikap Mandiri 2. Lingkung an Keluarga 3. Motivasi 4. Minat Berwirausaha

Metode Analisis Data

Hasil Penelitian

Analisis Regresi Linier Berganda

Hasil penelitian ini adalah penelitian ini yaitu variabel sikap mandiri, lingkungan keluarga dan motivasi secara parsial berpengaruh terhadap minat berwirausaha. Secara simultan ada pengaruh sikap mandiri, lingkungan keluarga dan motivasi terhadap minat berwirausaha.

Universitas Sumatera Utara

2

3

4

Raisand Nurmansyah Putra (2014)

Roxana Andreea Mortan (2014)

Irene Paulina (2012)

Hubungan SelfEmployment Dengan Intensi Berwirausaha Pada Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang

1. SelfEmployment 2. Intensi Berwirausaha

1. Emotional Intelligence 2. Entrepreneurial Intention 3. SelfEfficacy 1. Kecerdasan Pengaruh KecerdasEmosi an Emosi, Sikap 2. Sikap Mandiri Dan LingMandiri kungan Keluarga 3. LingkuTerhadap ngan IntensiBerwirausah Keluarga a Pada Mahasiswa 4. IntensiBe rwirausaha Effects Of Emotional Intelligence On Entrepreneurial Intention And SelfEfficacy

Analisis Regresi Linier Berganda

Exploratory Factor Analysis (EFA)

Structural Equation Model (SEM) dengan program AMOS versi 18.0

Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-employment dan intensi berwirausaha memiliki korelasi atau hubungan positif, sehingga semakin tinggi kemandirian maka semakin tinggi intensi berwirausaha pada mahasiswa Universitas Brawijaya Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua dimensi kecerdasan emosional, regulasi dan pemanfaatan emosi, secara positif dan signifikan mempengaruhi kewirausahaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosi dan Sikap mandiri berpengaruh signifikan terhadap intensi berwirausaha sedangkan lingkungan keluarga tidak berpengaruh terhadapintensi berwirausaha

Universitas Sumatera Utara

5

6

6

Benri Limbong (2010)

Anna Afi H ayy (2010)

Leonidas A. Zampetakis (2009)

1. Attitude SelfEmployment 2. Pengetahuan Kewirausahaan 3. Motiva-si Berwirausaha 4. Minat Berwirausaha

Analisis Regresi Linier Berganda

1. Kecerdas Permodelan an Struktural Pengaruh emosi Kecerdasan Emosi 2. Minat Terhadap Minat EntrepEntrepreneurship reneurMahasiswa ship

Structural Equation Modeling (SEM)

Pengaruh antara Attitude of SelfEmployment, Pengetahuan Kewirausahaan dan Motivasi Berwirausaha terhadap Minat Berwirausaha Siswa-Siswi SMK di Kota Medan

On The Relationship Between Emotional Intelligence And Entrepreneurial Attitudes And Intentions

1. Emotional Intelligence 2. Entrepreneurial Attitudes And Intentions

Structural Equation Modelling Analysis

1) Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara attitude of self-employment, pengetahuan kewirausahaan & motivasi berwirausaha terhadap minat berwirausaha, 2) Siswa-siswi SMK telah menunjukkan sikap positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha. Arah positif menunjukkan bahwa attitude of self-employment, pengetahuan kewirausahaan & motivasi berwirausaha menunjukkan sikap positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha terhadap siswa-siswi kelas III SMK Negeri 8 dan SMK Negeri 10 Medan. Dari model struktural diperoleh hasil bahwa kecerdasan emosi mempunyai pengaruh positif terhadap minat entrepreneurship mahasiswa. Jika kecerdasan emosi meningkat maka kemampuan entrepreneurship tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosi berhubungan positif terhadap intensi berwirausaha dan memberikan literatur dengan bagian penting lain dari teka-teki tentang motivasi wirausaha. Hal ini menambah literatur akademis tentang kewirausahaan dan sifat kecerdasan emosi, dan menawarkan beberapa implikasi praktis untuk pendidikan kewirausahaan.

Universitas Sumatera Utara

Lanjutan Tabel 2.1 No.

7

8

Nama Peneliti

Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Metode Analisis Data

Hasil Penelitian

Sumarni (2006)

Pengaruh Konsep Diri, Prestasi Belajar dan Lingkungan Terhadap Minat Berwirausaha Pada Siswa SMK Negeri 2 Semarang

1. Konsep Diri 2. Prestasi Belajar 3. Lingkun g-an 4. Minat Berwirau -saha

Analisis Regresi Linier Berganda

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa konsep diri dan lingkungan berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha, tapi prestasi belajar mata diklat kewirausahaan tidak berpengaruh terhadap minat berwirausaha siswa kelas III SMK Negeri 2 Semarang.

Rosmiati (2015)

1. SelfEmploySelf-Employment, ment Motivasi, Dan 2. Motivasi Minat Berwirausaha 3. Minat Mahasiswa Berwirau saha

Analisis Regresi Linier Berganda

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel SelfEmployment dan motivasi tidak berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha.

2.7Kerangka Konseptual Goleman (2009:20) menyatakan kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar bebas stres, tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa. Sehingga dapat dikatakan kecerdasan emosi mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan pribadi dan professional dalam berwirausaha.Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hayy (2010) diketahui bahwa kecerdasan emosi mempunyai pengaruh positif terhadap minat entrepreneurship mahasiswa. Jika kecerdasan emosi meningkat maka kemampuan entrepreneurship tinggi. Selanjutnya faktor pribadi yang memicu intensi berwirausaha adalah self employment. Menurut Endang (2010:5) seseorang yang mempraktekkan kiat-kiat

Universitas Sumatera Utara

mengembangkan jiwa self employment dapat memahami karakteristik usaha dalam kewirausahaan secara kognitif, afektif dan psikomotor. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Putra (2014) diketahui bahwa self-employment dan intensi berwirausaha memiliki korelasi atau hubungan positif, sehingga semakin tinggi kemandirian maka semakin tinggi intensi berwirausaha pada mahasiswa Universitas Brawijaya.Menurut Woodworth dalam Suryadi (2009), cara-cara individu berhubungan dengan masyarakatnya dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: individu bertentangan dengan

masyarakatnya,

individu

menggunakan

masyarakatnya,

individu

berpartisipasi dengan masyarakatnya, dan individu menyesuaikan diri dengan masyarakatnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sumarni (2006) diketahui bahwa lingkungan berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha. Untuk mempermudah pemikiran terhadap faktor yang mempengaruhi intensi berwirausaha pada mahasiswa dapat ditujukan dalam gambar 2.3.

Kecerdasan Emosi (X1)

Self Employment (X2)

Intensi Berwirausaha (Y)

Lingkungan Keluarga (X3) Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

2.8 Hipotesis Menurut Sugiyono (2010:96), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah dinyatakan dalam

Universitas Sumatera Utara

bentuk kalimat pertanyaan. Berdasarkan pengertian diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah bahwa : 1. Kecerdasan emosiberpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha. 2. Self employment berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha. 3. Lingkungan keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha. 4. Kecerdasan emosi, self employment dan lingkungan keluarga secara serempak berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi berwirausaha.

Universitas Sumatera Utara