BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Efektivitas

13 belum dikatakan efektif, hal tersebut merupakan masalah dalam pengukuran efektivitas. B. Pelayanan Kesehatan 1. Pengertian Pelayanan Secara etimolo...

0 downloads 19 Views 173KB Size
11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Efektivitas Suatu organisasi yang berhasil dapat diukur dengan melihat pada sejauhmana organisasi tersebut dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Konsep efektivitas yang dikemukakan para ahli organisasi dan manajemen memiliki makna yang berbeda, tergantung pada kerangka acuan yang dipergunakan. Efektivitas merupakan suatu keadaan tercapainya suatu tujuan yang diharapkan atau dikehendaki melalui penyelesaian pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Menurut Pasolong (2007:9) Efektivitas pada dasarnya berasal dari kata “efek” dan digunakan dalam istilah ini sebagai hubungan sebab-akibat. Efektivitas dapat dipandang sebagai suatu sebab dari variabel lain. Efektivitas berarti tujuan yang telah direncanakan sebelumnya dapat tercapai atau dengan kata sasaran tercapai karena adanya proses kegiatan. Dunn (2000:429) menerangkan bahwa efektivitas (effectiveness) berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil atau akibat yang diharapkan, atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan. Efektivitas secara dekat berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu diukur dari unit produksi atau layanan atau nilai moneternya. Selanjutnya, Dunn (2000:601) menambahkan

12

bahwa efektivitas merupakan kriteria evaluasi yang mempertanyakan apakah hasil yang diinginkan telah tercapai. Standar pengukuran efektivitas pelayanan dalam suatu organisasi menurut Gibson (1987:32–33) dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: 1. Jangka

pendek,

meliputi

produktifitas

(productivitiness),

efisiensi

(efficiency), dan kepuasan (satisfaction). 2. Jangka menengah, meliputi adaptasi (adaptiveness) dan pengembangan (development). Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa efektivitas adalah tercapainya hasil dan tujuan dari suatu organisasi atau program sebelumnya sudah ditentukan secara bersama-sama dengan memanfaatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan sarana prasarana yang tersedia. Jika dikaitkan dengan penelitian yang akan dilakukan, maka yang dimaksud efektivitas pelayanan dalam penelitian ini adalah sejauh mana pencapaian hasil kerja atau tujuan yang diharapkan pada pelayanan program Posyandu plus yang dilaksanakan di Kabupaten Tanggamus sesuai sasaran dan tujuan yaitu untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Efektivitas Pelayanan Program Posyandu Plus untuk meningkatkan kesehatan masyarakat ditentukan oleh hubungan antara pihak yang dilayani dan pihak yang melayani termasuk institusi yang berhubungan dengan program tersebut. Apabila Program Posyandu Plus kemudian dijalankan dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, terutama kesehatan ibu dan bayi maka program ini

13

belum dikatakan efektif, hal tersebut merupakan masalah dalam pengukuran efektivitas.

B. Pelayanan Kesehatan 1. Pengertian Pelayanan Secara etimologis pelayanan berasal dari kata “layan” yang berarti menolong, menyajikan,

membalas,

menghidangkan,

menanggapi,

membantu,

memuaskan, menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan atau diperhatikan orang (pihak) lain. Menurut Kasmir (2006:15) Pelayanan adalah tindakan atau perbuatan seseorang atau organisasi untuk memberikan kepuasan pada pelanggan atau nasabah. Tindakan yang dilakukan guna memenuhi keinginan pelanggan akan sesuatu produk atau jasa. Pengertian Pelayanan menurut Sedarmayanti (2009:243) berarti melayani suatu jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam segala bidang. Pada dasarnya

pelayanan dapat

didefinisikan sebagai

aktivitas

seseorang,

sekelompok dan organisasi baik langsung maupun tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan. Menurut Kotler dalam Sampara Lukman yang dikutip oleh L.P. Sinambela (2006:4–5) Pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik. Selanjutnya Sampara menambahkan bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antar seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan.

14

Menurut Gronroos dalam Winarsih dan Ratminto (2005:2) pelayanan adalah suatu aktivitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen dan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen atau pelanggan. Sedangkan menurut Albrecht dalam Lovelock (1992) dalam Sedarmayanti (2009:243) pelayanan adalah suatu pendekatan organisasi total yang menjadi kualitas pelayanan yang diterima pengguna jasa sebagai kekuatan penggerak utama dalam pengoprasian bisnis. Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pelayanan adalah suatu bentuk usaha atau kegiatan untuk membantu menyiapkan dan mengurus serta melayani segala sesuatu yang dibutuhkan orang atau pihak lain dengan atau tanpa memperoleh imbalan uang ataupun jasa serta dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen atau pelanggan. Dalam penelitian ini Penyelenggaraan pelayanan perlu memperhatikan prinsip, standar dan pola penyediaan pelayanan khususnya bagi wanita hamil dan balita dalam mengupayakan tersedianya sarana dan prasarana yang diperlukan serta memberikan akses khusus berupa kemudahan pelayanan kesehatan.

2. Pengertian Pelayanan Kesehatan Sebelum membahas mengenai pelayanan kesehatan terlebih dahulu kita harus mengetahui definisi dari kesehatan. Kesehatan berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 bahwa kesehatan adalah keadaan sehat baik secara

15

fisik, mental spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Sedangkan upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Pelayanan kesehatan menurut Pohan (2007:28) merupakan suatu alat organisasi untuk menjabarkan mutu layanan kesehatan kedalam terminologi operasional, sehingga semua orang yang terlibat dalam layanan kesehatan akan terikat dalam suatu sistem, baik pasien, penyedia layanan kesehatan, penunjang layanan kesehatan ataupun manajemen organisasi layanan kesehatan, dan akan bertanggung gugat dalam melaksanakan tugas dan perannya masing-masing. Menurut Levey dan Loomba dalam Azwar (1996:35) pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat. Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan diwujudkan dalam suatu wadah pelayanan kesehatan yang disebut sarana atau pelayanan kesehatan (health service). Menurut Notoadmodjo (2010:5–6) bahwa pelayanan kesehatan adalah tempat atau sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Dilihat dari sifat upaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan, umumnya dibedakan oleh:

16

a. Sarana pelayanan kesehatan primer (Primary Care) Adalah sarana atau pelayanan kesehatan bagi kasus-kasus atau penyakitpenyakit ringan. Sarana kesehatan primer ini adalah yang paling dekat bagi masyarakat, artinya pelayanan kesehatan yang paling pertama menyentuh masalah kesehatan di masyarakat. Misalnya: Puskesmas, Poliklinik, dokter praktik swasta dan sebagainya. b. Sarana pelayanan kesehatan tigkat dua (Secondary Care) Adalah sarana atau pelayanan kesehatan rujukan bagi kasus-kasus atau penyakit-penyakit dari pelayanan kesehatan primer, karena peralatan atau keahliannya belum ada. Misalnya: Puskesmas dengan rawat inap (Puskesmas RI), Rumah Sakit Kabupaten, Rumah Sakit tipe D dan C dan Rumah bersalin. c. Sarana pelayanan kesehatan tingkat tiga (Tertiary Care) Adalah sarana pelayanan kesehatan rujukan bagi kasus-kasus yang tidak dapat ditangani oleh sarana-sarana pelayanan kesehatan primer seperti disebutkan diatas. Misalnya: Rumah Sakit Provinsi, Rumah Sakit tipe B atau A. Sedangkan Notoadmodjo (2010:109) mengemukakan bahwa pada prinsipnya ada dua kategori pelayanan kesehatan berdasarkan sasaran dan orientasinya, yakni: a. Kategori berorientasi publik (Masyarakat) Pelayanan kesehatan yang termasuk dalam kategori publik terdiri dari sanitasi lingkungan (air bersih, sarana pembuangan limbah, Imunisasi,dll), pelayanan kesehatan masyarakat lebih diarahkan langsung kearah publik

17

ketimbang kearah individu-individu khusus. Orientasi pelayanan publik ini adalah pencegahan dan peningkatan. b. Kategori yang berorientasi pada perorangan (pribadi) Pelayanan kesehatan pribadi adalah langsung kearah individu yang pada umumnya mengalami masalah kesehatan ataupun penyakit. Orientasi pelayanan individu ini adalah penyembuhan dan pengobatan, dan pemulihan ditujukan langsung pada pemakai pribadi.

3. Macam-macam Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1996:36) Sekalipun bentuk dan jenis pelayanan kesehatan banyak macamnya, namun jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Pelayanan Kedokteran (Medical Service) Yaitu pelayanan yang termasuk dalam kelompok ini ditandai dengan cara perseorangan yang dapat bersifat sendiri, tujuan utamanya adalah mengobati penyakit dan memulihkan, serta sasaran utamanya adalah untuk perseorangan. b. Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Public Healt Service) yaitu pelayanan kesehatan dalam kelompok ini ditandai dengan cara pengorganisasiannya yang umumnya secara bersama-sama dalam suatu organisasi, tujuan utamanya adalah untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit dan sasaran utamanya adalah masyarakat.

18

4. Syarat Pokok Pelayanan Kesehatan Azwar (1996:38–39) mengungkapkan sekalipun pelayanan kedokteran berbeda dengan pelayanan kesehatan masyarakat, namun dapat disebut suatu pelayanan yang baik dan keduanya haruslah memiliki berbagai persyaratan yang terdiri atas 5 macam yaitu: a. Tersedia dan Berkesinambungan Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan kesehatan tersebut harus tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continous). Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang

dibutuhkan

oleh

masyarakat

tidak

sulit

ditemukan,

serta

keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutuhkan. b. Dapat diterima dan Wajar Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah yang dapat diterima dengan wajar. Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan

dengan

keyakinan

dan

kepercayaan

adat

istiadat,

kebudayaan, keyakinan dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat tidak wajar bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik. c. Mudah dicapai Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai (accessible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksudkan disini terutama dari sudut lokasi, dengan demikian untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting. Pelayanan kesehatan yang terlalu terkonsentrasi di daerah perkotaan saja, dan sementara itu

19

tidak ditemukan di daerah pedesaan, bukanlah pelayanan kesehatan yang baik. d. Mudah dijangkau Syarat pokok keempat pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dijangkau (affordable) oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan disini terutama dari sudut biaya, untuk dapat mewujudkan keadaan yang seperti ini harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal dan karena itu hanya mungkin dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja, bukanlah pelayanan kesehatan yang baik. e. Bermutu Syarat pokok kelima pelayanan kesehatan yang baik adalah yang bermutu (quality). Pengertian mutu yang dimaksudkan disini adalah menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan, dan dipihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah ditetapkan.

5. Masalah Pelayanan Kesehatan Akibat dari perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran kelima persyaratan pokok pelayanan kesehatan sering tidak terpenuhi, terjadi beberapa perubahan dalam pelayanan kesehatan, disatu pihak memang mendatangkan banyak keuntungan seperti misalnya meningkatnya mutu pelayanan yang dapat dilihat dari makin menurunnya angka kesakitan, cacat dan kematian serta

20

meningkatnya umur harapan hidup rata-rata, tetapi dipihak lain perubahan seperti ini juga mendatangkan masalah. Menurut Azwar (1996:39–40) beberapa masalah pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut: a. Terkotak-kotaknya pelayanan kesehatan Timbulnya pengkotakan dalam pelayanan kesehatan (Fragmented Health Services), erat hubungannya dengan munculnya spesialisasi dan sub spesialisasi dalam pelayanan kesehatan. Dampak negatif yang ditimbulkan ialah menyulitkan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan, yang apabila

berkelanjutan

pada

gilirannya

akan

menyebabkan

tidak

terpenuhinya kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. b. Berubahnya sifat pelayanan kesehatan Perubahan ini muncul sebagai akibat telah terkotak-kotaknya pelayanan kesehatan, yang pengaruhnya terutama di temukan pada hubungan dokter pasien. Sebagai akibat munculnya spesialisasi dan sub spesialisai, menyebabkan perhatian penyelenggara pelayanan kesehatan tidak dapat lagi diberikan secara menyeluruh. Perhatian tersebut hanya tertuju pada keluhan ataupun organ tubuh yang sakit saja. Perubahan sifat pelayanan kesehatan makin bertambah nyata, jika diketahui bahwa pada saat ini telah banyak dipergunakan pula berbagai peralatan kedokteran canggih. Ketergantungan yang kemudian muncul terhadap

berbagai

peralatan

kedokteran

canggih

tersebut

menimbulkan berbagai dampak negatif yang merugikan, yakni:

dapat

21

1. Makin renggangnya hubungan antara dokter dan pasien. 2. Makin mahalnya biaya kesehatan

C. Posyandu Plus Upaya untuk mengatasi keterbatasan sarana pelayanan kesehatan dan kondisi geografis dibeberapa daerah di Kabupaten Tanggamus, terutama yang masih sulit untuk menjangkau sarana pelayanan kesehatan serta mengurangi biaya transportasi yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk menjangkau sarana pelayanan kesehatan, maka fungsi posyandu balita ditingkatkan statusnya menjadi “posyandu plus”. Adapun posyandu plus adalah posyandu balita yang sudah ada di setiap pekon, yang fungsinya dikembangkan dengan menambah kegiatan “pengobatan gratis” bagi seluruh lapisan masyarakat. Gagasan tersebut direalisasikan dengan melaksanakan “launching program posyandu plus” pada tanggal 16 Februari 2011 di Posyandu Cempaka Mekar di Pekon Gunung Kasih Kecamatan Pugung Kabupaten Tanggamus. Pengoptimalan posyandu balita menjadi posyandu plus tersebut adalah berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 6 Tahun 2008 yang dibentuk berdasarkan gagasan dari Bupati Kabupaten Tanggamus Bpk. Hi. Bambang Kurniawan, ST yaitu dengan meningkatkan status 613 posyandu di Kabupaten Tanggamus dengan harapan dapat memberikan pelayanan pengobatan yang merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat. Posyandu plus merupakan pengembangan posyandu melalui rujukan mitra keluarga yang menghasilkan lima pelayanan di posyandu dengan penambahan

22

(plus) pada pelayanan kesehatan dasar untuk masyarakat. Sasaran dari posyandu plus adalah seluruh anggota keluarga yang terdiri dari: 1. Ibu hamil, melahirkan, dan menyusui. 2. Bayi dan balita. 3. Keluarga anak usia sekolah dan remaja. 4. Keluarga usia subur. 5. Keluarga usia lanjut. Berdasarkan hasil prariset pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus menunjukkan bahwa keberadaan Posyandu cukup syarat dengan programprogram kesehatan antara lain: a. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kegiatannya; pelayanan Tetanus Toxid Ibu Hamil (TT bumil), pemberian Vit A ibu nipas, Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) pada ibu hamil dan Wanita Usia Subur (WUS), Pengembangan Kelompok Peminat Kesehatan Ibu dan Anak (KP-KIA), Kelas Ibu, dll. b. Keluarga Berencana (KB) Kegiatannya; Pemberian kontrasepsi oral, Pembinaan Kesehatan Remaja Putri (KIE Kespro), Bina Keluarga Balita, dll. c. Perbaikan Gizi Kegiatannya;

Pemantauan

Pertumbuhan

Balita

(Penimbangan),

Pemantauan Perkembangan Balita (DDTK), Konseling Gizi (Pojok Gizi), Keluarga Sadar Gizi, Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK), dll.

23

d. Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kegiatannya;

Imunisasi,

Penanggulangan

Diare

(Pojok

Oralit),

Surveylans (CBS/EWORS), Pemantauan Jentik Berkala (PJB), Arisan Jamban, Pembinaan Kelompok Pemakai Air (POKMAIR), Klinik Sanitasi. e. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kegiatannya; Pembentukan dan Pembinaan Kader PHBS, Kader Kesling, Kader Surveylans, Kader Gizi, Kader Penanggulangan Kegawat Daruratan, Kader Jumantik, Kader TB-Paru, dll. f. (Plus) Pelayanan Kesehatan Dasar. Kegiatannya; pengobatan, penanggulangan kegawat daruratan, Rujukan, dll. Tujuan dari program posyandu plus tersebut antara lain: 1. Untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan sedini, secepat, dan seoptimal mungkin. 2. Mendekatkan akses pelayanan pengobatan dasar kepada masyarakat dan memberikan berbagai kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan pengobatan. 3. Pemerataan jangkauan pelayanan pengobatan kepada masyarakat. 4. Meningkatkan cakupan program di posyandu.

D. Kualitas Kesehatan Masyarakat Mutu atau kualitas dapat ditinjau dari sudut pandang pasien, petugas kesehatan dan manajemen kesehatan. Untuk pasien mutu pelayanan berarti empati,

24

respek, tanggapan akan kebutuhannya dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Beberapa pakar atau ahli memberikan pengertian tentang mutu antara lain: Menurut Azwar (1996:39), menyatakan bahwa mutu pelayanan kesehatan adalah menunjukkan pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat menimbulkan kepuasan pada setiap pasien

atau

pemakai

jasa

pelayanan,

dan

dipihak

lain

tata

cara

penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah di tetapkan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk.

Menurut Pohan (2007:13) mutu layanan kesehatan dapat dilihat berdasarkan beberapa perspektif, yaitu: 1. Perspektif pasien atau masyarakat Bahwa pasien atau masyarakat melihat layanan kesehatan yang bermutu sebagai suatu layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang dirasakannya dan diselenggarakan dengan cara yang sopan santun, tepat waktu, tanggap dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah berkembangnya atau meluasnya penyakit. 2. Perspektif pemberi layanan kesehatan Pemberi layanan kesehatan (provider) mengaitkan layanan kesehatan yang bermutu dengan ketersediaan peralatan, prosedur kerja atau protokol, kebebasan profesi dalam melakukan layanan kesehatan sesuai dengan teknologi kesehatan mutahir, dan bagaimana keluaran (outcome) atau hasil layanan kesehatan itu.

25

Sedangkan secara umum yang dimaksud dengan mutu pelayanan kesehatan menurut Pohan (2007:17) adalah suatu layanan kesehatan yang dibutuhkan, dalam hal ini akan ditentukan oleh profesi layanan kesehatan, dan sekaligus diinginkan baik oleh pasien atau konsumen ataupun masyarakat serta terjangkau oleh daya beli masyarakat, kaitannya dengan kualitas pelayanan Philip

Kotter

(1994:567)

mengemukakan

bahwa

kualitas

pelayanan

merupakan suatu yang kompleks, yang selalu berfokus pada pelanggan (customer focusedquality) sehingga untuk menentukan sejauhmana kualitas dari pelayanan tersebut, dapat dilihat dari lima dimensi, yaitu : 1. Reliability, kemampuan untuk memberikan secara tepat dan benar, jenis pelayanan yang telah dijanjikan kepada konsumen atau pelanggan. 2. Responsiveness, kesadaran atau keinginan untuk membantu konsumen dan memberikan pelayanan yang cepat. 3. Assurance, Pengetahuan atau wawasan, kesopan santunan, kepercayaan dari diri pribadi pelayanan, serta respek terhadap konsumen. 4. Empathy, kemauan pemberi layanan untuk melakukan pendekatan, memberikan perlindungan, serta berusaha untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen. 5. Tangible, penampilan para pegawai dan fasilitas fisik lainnya, seperti peralatannya atau perlengkapan yang menunjang pelayanan. Standar layanan kesehatan menjadi bagian dari layanan kesehatan itu sendiri serta memainkan peranan sangat penting dalam mengatasi masalah pelayanan kesehatan. jika suatu organisasi ingin menyelenggarakan layanan kesehatan

26

yang bermutu secara taat-asas atau konsisten, keinginan tersebut harus dijabarkan menjadi suatu standar layanan kesehatan. Menurut Pohan (2007:28) standar layanan kesehatan merupakan suatu alat organisasi untuk menjabarkan mutu layanan kesehatan kedalam terminologi operasional sehingga semua orang yang terlibat dalam layanan kesehatan akan terikat dalam suatu sistem, baik pasien, penyedia layanan kesehatan, penunjang layanan kesehatan, ataupun manajemen organisasi layanan kesehatan, dan akan bertanggung gugat dalam melaksanakan tugas dan perannya masing-masing. Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan selanjutnya disebut SPM Kesehatan adalah tolok ukur kinerja pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Daerah Kabupaten atau Kota, bahwa tujuan strategi pelaksanaan desentralisasi bidang kesehatan yang erat kaitannya dengan penetapan kewenangan wajib dan SPM (Standar Pelayanan Minimal) bidang kesehatan adalah:

1. Terlindunginya kesehatan masyarakat khususnya penduduk miskin, kelompok rentan, dan daerah miskin. 2. Terwujudnya komitmen nasional dan global dalam program kesehatan.

Berdasarkan Kepmenkes Nomor 828/Menkes/SK/IX/2008 tentang standar pelayanan minimal bidang kesehatan di kabupaten/kota, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang meliputi jenis pelayanan beserta indikator kinerja dan target Tahun 2010–2015: a.

Pelayanan Kesehatan Dasar : 1. Cakupan kunjungan Ibu hamil K4 95 % pada Tahun2015;

27

2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 80% pada Tahun 2015; 3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 90% pada Tahun 2015; 4. Cakupan pelayanan nifas 90% pada Tahun 2015; 5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 80% pada Tahun 2010; 6. Cakupan kunjungan bayi 90%, pada Tahun 2010; 7. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 100% pada Tahun 2010; 8. Cakupan pelayanan anak balita 90% pada Tahun 2010; 9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin 100 % pada Tahun 2010; 10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100% pada Tahun 2010; 11. Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100 % pada Tahun 2010; 12. Cakupan peserta KB aktif 70% pada Tahun 2010; 13. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 100% pada Tahun 2010; 14. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 100% pada Tahun 2015. b.

Pelayanan Kesehatan Rujukan 1. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 100% pada Tahun 2015;

28

2. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di Kabupaten/Kota 100 % pada Tahun 2015. c. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Cakupan Desa/ Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi <24 jam 100% pada Tahun 2015. d. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Cakupan Desa Siaga Aktif 80% pada Tahun 2015.

E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Menurut Dydiet Hardjito (1997:65) mengemukakan bahwa keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya dipengaruhi oleh komponen-komponen organisasi yang meliputi: struktur, tujuan, manusia, hukum, teknologi, lingkungan, spesialisasi, kewenangan serta pembagian tugas. Dalam mencapai efektivitas suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berbeda-beda tergantung pada sifat dan bidang kegiatan atau usaha suatu organisasi. Sejalan dengan hal tersebut maka Komberly dan Rottman dalam Gibson et al (1996:32) berpendapat bahwa efektivitas organisasi ditentukan oleh lingkungan, teknologi, pilihan strategi, proses dan kultur. Adapun pengaruh 4 faktor tersebut terhadap efektivitas organisasi sebagai berikut: 1)

Karakteristik Organisasi

Karakteristik organisasi terdiri dari struktur dan teknologi. Struktur diartikan sebagai hubungan yang relatif tetap sifatnya, merupakan cara suatu organisasi

29

menyusun orang-orangnya untuk menciptakan sebuah organisasi yang meliputi faktor-faktor seperti desentralisasi pengendalian, jumlah spesialisasi pekerjaan, cakupan perumusan interaksi antar pribadi dan seterusnya. Secara singkat struktur diartikan sebagai cara bagaimana orang-orang akan dikelompokkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Teknologi menyangkut mekanisme suatu organisasi untuk mengubah masukan mentah menjadi keluaran jadi. Teknologi dapat memiliki berbagai bentuk, termasuk variasi-variasi dalam proses mekanisme yang digunakan dalam produksi, variasi dalam pengetahuan teknis yang dipakai untuk menunjang kegiatan menuju sasaran. Ciri organisasi yang berupa struktur organisasi meliputi faktor luasnya desentralisasi. Faktor ini akan mengatur atau menentukan sampai sejauh mana para anggota organisasi dapat mengambil keputusan. Faktor lainnya yaitu spesialisasi pekerjaan yang membuka peluang bagi para pekerja untuk mengembangkan diri dalam bidang keahliannya sehingga tidak mengekang daya inovasi mereka. 2)

Karakteristik Lingkungan

Karakteristik lingkungan ini mencakup dua aspek yaitu internal dan eksternal. Lingkungan internal dikenal sebagai iklim organisasi. Yang meliputi macam-macam atribut lingkungan yang mempunyai hubungan dengan segi-segi dan efektivitas khususnya atribut yang diukur pada tingkat individual. Lingkungan eksternal adalah kekuatan yang timbul dari luar batas organisasi yang memperngaruhi keputusan serta tindakan di dalam organisasi seperti

30

kondisi ekonomi, pasar dan peraturan pemerintah. Hal ini mempengaruhi: derajat kestabilan yang relatif dari lingkungan, derajat kompleksitas lingkungan dan derajat kestabilan lingkungan. 3)

Karakteristik Pekerja

Karakteristik pekerja berhubungan dengan peranan perbedaan individu para pekerja dalam hubungan dengan efektivitas. Para individu pekerja mempunyai pandangan yang berlainan, tujuan dan kemampuan yang berbedabeda pula. Variasi sifat pekerja ini yang sedang menyebabkan perilaku orang yang berbeda satu sama lain. Perbedaan tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap efektivitas organisasi. Dua hal tersebut adalah rasa keterikatan terhadap organisasi dan prestasi kerja individu. 4)

Kebijakan dan praktek manajemen

Karena manajer memainkan peranan central dalam keberhasilan suatu organisasi melalui perencanaan, koordinasi dan memperlancar kegiatan yang ditujuan kearah sasaran. Kebijakan yang baik adalah kebijakan tersebut secara jelas membawa kita kearah tujuan yang diinginkan. Kebijakan harus dipahami tidak berarti bahwa kebijakan harus ditulis Dari keempat faktor yang mempengaruhi efektivitas organisasi tersebut dapat dijelaskan secara ringkas bahwa: 1) struktur yang dibangun dan teknologi yang digunakan dalam organisasi akan sangat berpengaruh terhadap proses dan pencapaian tujuan, 2) organisasi sebagai organisasi yang terbuka, kelangsungan hidupnya akan sangat tergantung kepada lingkungan sekitarnya baik yang berada di dalam organisasi maupun di luar organisasi, 3) bahwa

31

manusia sebagai unsur penting dari organisasi memiliki kemampuan, pandangan motivasi dan budaya yang berbeda, dan 4) kebijakan dan praktek manajemen

yang

ditetapkan

oleh

pimpinan

dalam

mengatur

dan

mengendalikan organisasi sangat berpengaruh bagi organisasi maupun bagi pencapaian tujuan.

F. Peran Pemerintah Daerah dan Otonomi Kesehatan Pemerintah Indonesia telah berkomitmen menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakatnya, komitmen tersebut tidak hanya bertujuan untuk mencapai target nasional tetapi juga berbagai komitmen global yang membutuhkan perbaikan kondisi kesehatan masyarakat telah menuntut para penyelenggara kesehatan di negara ini bekerja keras untuk mencapai target-target tesebut terutama dalam hal cakupan pelayanan kesehatan. Seluruh wilayah Indonesia harus memenuhi Standar Pelayanan Minimal yang telah ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan RI sebagaimana yang tertuang dalam Kepmenkes Nomor 828/Menkes/SK/IX/2008. Menurut Prasetyawati (2011:37), bahwa pembangunan kesehatan adalah proses terus-menerus dan progresif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, yang diselenggarakan dengan mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan perorangan atau golongan. Sedangkan menurut Effendy (1998:14) Pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat baik dalam bidang promotif, preventif, kuratif dan

32

rehabilitatif agar setiap warga masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosial serta harapan berumur panjang. Di Indonesia, konsep pembangunan kesehatan masyarakat (primary healt care) bukan suatu hal yang baru, karena sejak lebih dari tiga puluh tahun belakangan ini, pembangunan kesehatan terutama di pedesaan telah berlangsung lama dengan sumber daya dan swadaya masyarakat. Menurut Adisasmito (2010:222–223) diberlakukannya Otonomi Daerah pada Tahun 2000 berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999, yang diperbaharui dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah beberapa peran Pemerintah Pusat dialihkan kepada Pemerintah Daerah sebagai kewenangan wajib dan tugas pembantuan, salah satunya adalah bidang pelayanan kesehatan.

33

Asas kerjasama antara Depkes dan Depdagri yang telah dibakukan di Indonesia: Gambar 1. Skema Hubungan Kerjasama Depdagri dengan Depkes Pusat Desentralisasi Propinsi

Kabupaten

Mendagri

Menkes

Dekonsentrasi Gubernur ………………… Kanwil Depkes Desentralisasi

Dinkes tk I

Desentralisasi

Dinkes tk II

Bupati

Kecamatan

Camat ……………..

Puskesmas

Desa

Kades …………………

Pustu

Dusun

Posyandu/ Pos Obat Desa, Polindes (PKMD)

Keterangan: ……. Garis koordinator Garis komando 1. Asas

Desentralisasi,

sebagian

tanggungjawab

program

kesehatan

diserahkan kepada Departemen Dalam Negeri. Pelaksanaan program di tingkat Propinsi Kabupaten dan kecamatan (pengelolaan, pembinaan, dan pembiyaan) diserahkan oleh mendagri kepada Gubernur, Bupati dan Camat. 2. Asas

Dekonsentrasi,

sebagian

tanggungjawab

program

kesehatan

dilaksanakan di daerah masih tetap menjadi tanggungjawab Depkes. Pembinaannya di tingkat propinsi dikoordinir oleh Kanwil Depkes.

34

3. Asas Pembantuan, progam kesehatan di daerah dilaksanakan oleh daerah (Dinas Kesehatan Tk I dan II) tetapi biaya dan personalianya masih tetap menjadi tangungjawab Depkes Pusat. Regulasi pelayanan kesehatan menurut Ratminto (2005:25) adalah upaya publik untuk memberikan pengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap

perilaku

dan

fungsi

organisasi

maupun

perorangan

yang

menyediakan pelayanan kesehatan. Diterapkan otonomi daerah bukan berarti organisasi pelayanan kesehatan di daerah dapat melakukan kegiatan pelayanan secara bebas tanpa adanya kendali. Peran pemerintah pusat dan masyarakat diperlukan sebagai pengendali melalui kegiatan regulasi. Peran pemerintah pusat tersebut tentunya juga dapat diwujudkan melalui lembaga masyarakat yang dipercaya dan mendapatkan otoritas untuk melakukan kegiatan regulasi. Pada dasarnya kegiatan regulasi diperlukan untuk mengendalikan kegiatan pelayanan kesehatan agar dilaksanakan sesuai persyaratan yang berlaku, yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Persyaratan regulasi disusun agar organisasi pelayanan kesehatan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dengan memperhatikan nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat, antara lain akuntabilitas pelayanan publik, keragaman yang ada di masyarakat, keseimbangan dan keadilan, pilihan masyarakat terhadap pelayanan publik dan

swasta,

pembiayaan

kesehatan

kebutuhan

masyarakat

terhadap

keterbukaan informasi, dan perlindungan terhadap lingkungan. Disamping mengendalikan mutu pelayanan kesehatan, regulasi juga dilakukan untuk melindungi masyarakat terhadap kegagalan pasar, meningkatkan efisiensi

35

pelayanan, dan mencegah terjadinya diskriminasi pelayanan terhadap masyarakat. Pelaksanaan berbagai kegiatan, agar kegiatan tersebut dapat mencapai tujuan secara efektif diperlukan pengaturan yang baik. Program pengaturan kegiatan tersebut biasanya disebut dengan manajemen, sedangkan proses untuk mengatur pelayanan kesehatan masyarakat disebut manajemen pelayanan kesehatan. Tujuan dari manajemen kesehatan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Atau mencapai suatu keadaan sehat bagi individu dan kelompok-kelompok masyarakat. Notoadmodjo (2007:82–84) menyebutkan bahwa beberapa ahli telah membuat beberapa pengertian tentang manajemen, yaitu: a. Manajemen adalah pencapaian tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan orang lain (Robert. D Terry). b. Manajemen

adalah

proses

dimana

pelaksanaan

suatu

tujuan

diselenggarakan dan diawasi (Enciklopedia of social science). c. Manajemen adalah membuat tujuan tercapai melalui kegiatan-kegiatan orang lain dan fungsi-fungsinya dapat dipecah sekurang-kurangnya 2 tanggungjawab utama, yakni perencanaan dan pengawasan. d. Manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu orang atau lebih untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain guna mencapai hasil tujuan yang tidak bisa dicapai oleh hanya satu orang saja (Evancevich,1989).

36

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan manajemen kesehatan adalah penerapan manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat, sehingga yang menjadi objek atau sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat.