BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TELAAH PUSTAKA 1. MINAT

sebagai hasil dari perubahan keadaan sistem dan tekanan internal sebagai hasil dari perubahan keadaan sistem dan tekanan ini dinyatakan dengan perilak...

0 downloads 3 Views 64KB Size
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. TELAAH PUSTAKA 1. MINAT a. Pengertian minat Menurut Purwanto (2001) minat adalah suatu fungsi jiwa untuk dapat mencapai sesuatu. Minat merupakan kekuatan dari dalam dan tampak dari luar sebagai gerak-gerik, dalam menjalankan fungsinya minat berhubungan erat dengan pikiran dan perasaan. Mahfudh (2000) memaknai minat sebagai perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan. Dengan begitu minat sangat menentukan sikap yang menyebabkan seseorang aktif dalam suatu pekerjaan, atau dengan kata lain, minat dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan. Minat terjadi melalui proses kognisi (pemikiran) terhadap suatu stimulus berupa fenomena, objek atau kejadian yang dilakukan oleh individu yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuan. Taraf permulaan dari minat adalah adanya stimulus dari suatu objek mengenai alat indera (proses pikir), proses pikir tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan, cita-cita, unsur bakat, kebutuhan, pengalaman masa lampau, harapan masa datang dan sosial ekonomi. Proses terakhir adalah proses psikologis dimana individu 7 

 

8

menyadari tentang apa yang diterima melalui alat indera (reseptor). Intensitas, frekuensi dan jumlah kejadian mampu menarik perhatian seseorang sehingga seseorang tersebut mempunyai tanggapan atau pikiran sehingga membentuk minat (Purwanto 2001). Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa minat akan timbul apabila mendapatkan rangsangan dari luar. Dan kecenderungan untuk merasa tertarik pada suatu bidang bersifat menetap dan merasakan perasaan yang senang apabila ia terlibat aktif didalamnya. Dan perasaan senang ini timbul dari lingkungan atau berasal dari objek yang menarik. b. Macam-macam minat Purwanto (2001) membagi minat menjadi dua macam yaitu : 1) Minat primitif disebut juga minat biologis. Yaitu minat yang berkisar soal makanan komfort dan kebebasan aktivitas. 2) Minat kultural disebut juga minat sosial yaitu minat yang berasal dari perbuatan belajar yang lebih tinggi tarafnya. Lebih lanjut Purwanto (2001) menyatakan bahwa proses terjadinya suatu minat terdiri dari: 1) Motif (alasan, dasar, pendorong). 2) Perjuangan motif, sebelum mengambil pada batin terdapat beberapa motif yang bersifat luhur dan disini harus dipilih.

 

9

3) Keputusan, inilah yang sangat penting berisi pemilihan antara motif yang ada, meninggalkan kemungkinan yang lain sebab tidak mungkin seseorang mempunyai macam keinginan pada waktu yang sama. c. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat yaitu (Ismani, 2001) : 1) Faktor keluarga Minat seorang anak sedikit banyak dipaengaruhi oleh orangtuanya, dalam hal ini berkenaan dengan sifat-sifat yang berhubungan dengan kemampuan menyerap pengetahuan atau sesuatu yang berwujud ketrampilan. 2) Meningkatkan pengetahuan Seorang perawat dikatakan profesional jika memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan serta memiliki sikap profesional sesuai kode etik profesi. Sehingga orang selalu ingin mengembangkan dirinya baik melalui pendidikan maupun pelatihan. 3) Tuntutan pekerjaan Pekerja yang melihat kemungkinan akan dipromosikan, merasa jauh lebih puas dengan pekerjaannya dibandingkan pekerja yang tidak memiliki kesempatan tersebut. Pekerja yang berorientasi pada karier mampu bekerja sampai batas kemampuannya untuk meningkatkan

 

10

ketrampilan dan mengorbankan diri dalam waktu dan usaha dengan harapan mencapai keberhasilan. 4) Mendapat legislasi Legislasi adalah ketetapan hukum yang mengatur tentang hak-hak dan kewajiban seseorang yang berhubungan erat dengan tindakan, legislasi mengendalikan mutu pendidikan dan praktek. Sedangkan lisensi adalah kegiatan administrasi yang dilakukan profesi atau Departemen Keshatan berupa penerbitan Surat Izin Praktek bagi profesional diberbagai tatanan layanan kesehatan 5) Sosial ekonomi Keadaan

sosial

ekonomi

seseorang

sangat

mempengaruhi

seseorang untuk mengambil keputusan termasuk dalam masalah pendidikan. d. Cara memunculkan minat Minat seseorang dapat dimunculkan dengan cara-cara sebagai berikut (Sumadi, 1982).: 1) Membangkitkan suatu kebutuhan. 2) Menghubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang lampau. 3) Memberikan kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik. Kebutuhan, pengalaman-pengalaman masa lampau dan kesempatan mendapatkan hasil yang lebih baik dapat dijelaskan sebagai berikut :

 

11

a) Kebutuhan Manusia sebagai mahluk bio-psiko-sosial-spiritual yang utuh dan unik. Teori kebutuhan manusia memandang manusia memandang manusia sebagai suatu keterpaduan, keseluruhan yang terorganisir yang mendorong untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia. Kebutuhan dasar dipandang sebagai tekanan internal sebagai hasil dari perubahan keadaan sistem dan tekanan internal sebagai hasil dari perubahan keadaan sistem dan tekanan ini dinyatakan dengan perilaku untuk mencapai tujuan sehingga terpenuhinya kebutuhan. b) Pengalaman Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan. Pengalaman dapat diperoleh saat bekerja, sekolah dan informasi pengalaman orang lain. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dengan memecahkan permasalahan yang dialami pada masa lalu. Semua pengalaman pribadi merupakan pengalaman pribadi merupakan sumber pengalaman kehidupan, namun tidak semua pengalaman pribadi menuntut seseorang mencari kesimpulan dengan benar.

 

12

Untuk dapat menerima kesimpulan dari pengalaman dengan benar diperlukan berpikir kritis dan logis. c) Mendapat hasil yang lebih baik Mendapat hasil yang lebih baik dalam hal ini adalah mendapat tambahan pengetahuan dan keterampilan. 1) Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap hasil tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui

mata

dan

telinga.

Pengetahuan

atau

kognitif

merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Over behavior). Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkatan, yaitu : a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

 

13

c. Aplikasi (aplication) Aplikasi

diartikan

sebagai

kemampuan

untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). d. Analisis Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. 2) Keterampilan Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behavior). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu

 

14

kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan dukungan (support) dari pihak lain. Tingkat-tingkat praktek : a. Persepsi (perseption) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil. b. Respon terpimpin (giuded respon) Dapat dilakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar. c. Mekanisme (mecanis) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu merupakan kebiasaan. d. Adaptasi (adaptation) Adaptasi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Berdasarkan uraian di atas minat atau interest erat hubungannya dengan daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda atau kegiatan. Dengan kata lain, minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi dalam kegiatan.

 

15

2. Pendidikan Tinggi Ilmu Keperawatan a. Pengertian Menurut (Ismani, 2001) menyatakan bahwa lulusan perawat profesional harus memiliki aspek akademik yaitu landasan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan yang kokoh dan landasan keprofesian, landasan sikap dan ketrampilan yang kokoh yaitu ketrampilan interpersonal, tehnikal dan intelektual. Sistem pendidikan tinggi keperawatan sebagai landasan integral dari sistem pendidikan tinggi merupakan kesatuan dari staf akademik dan peserta didik yang mempunyai kemampuan dan potensi dalam profesi, ilmiah, belajar dan kreasi yang tinggi, dilengkapi sarana belajar dan penelitian serta prasarana pendidikan yang secara keseluruhan mempunyai potensi

belajar

untuk

berperan

dalam

pembangunan

kesehatan.

Masyarakat secara umum dan pembangunan masyarakat keperawatan kesehatan pada khususnya (Nursalam, 2002). Program studi ilmu keperawatan atau pendidikan sarjana keperawatan

merupakan

kelanjutan

pendidikan

menengah

yang

diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan dan mengembangkan dan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian (Husin, 1996)

 

16

Pendidikan tinggi ilmu keperawatan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional dimana kurikulum yang digunakan berlaku secara Nasional dan ditetapkan oleh Dirjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional. Program pendidikan Sarjana Keperawatan pada program studi ilmu keperawatan merupakan program pendidikan akademik profesional yang berorientasi pada community oriented nursing education dan menerapkan kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan. b. Tujuan pendidikan Tujuan pendidikan sarjana keperawatan menurut Ismani (2001) adalah menghasilkan lulusan yang mempunyai cukup pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga mampu : 1) Melaksanakan profesi keperawatan secara akuntabel dalam suatu sistem pelayanan kesehatan sesuai kebijaksanaan umum pemerintah. 2) Melaksanakan asuhan keperawatan dasar dan terapan secara mandiri. 3) Mendidik calon perawat dan perawat yang lebih muda serta turut berperan dalam berbagai program pendidikan tenaga kesehatan lainnya. 4) Mengembangkan diri secara terus menerus untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dengan berpedoman pendidikan seumur hidup.

 

17

5) Menghayati pembangunan dibidang kesehatan sebagai bagian dari pembangunan Nasional. 6) Menggunakan

hasil-hasil

penelitian

untuk

merencanakan,

melaksanakan dan mengevaluasikan upaya-upaya kesehatan. 7) Bersifat terbuka, tanggap terhadap perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan

dan

teknologi,

khususnya

dibidang

kesehatan

masyarakat. c. Fungsi pokok perguruan tinggi keperawatan Dalam melaksanakan fungsi pokok perguruan tinggi, suatu pendidikan tinggi keperawatan tidak hanya dituntut untuk meningkatkan pendidikan, tetapi juga meningkatkan pelaksanaan fungsi penelitian dan pengabdian masyarakat. 1) Fungsi pendidikan Dalam fungsi pendidikan institusi pendidikan tinggi keperawatan menyelenggarakan proses pembelajaran keperawatan melalui sistem belajar aktif dan mandiri. Pengalaman belajaar dirancang untuk mencapai kemampuan akademis dan atau profesional dalam bidang keperawatan. Proses ini juga senantiasa harus merupakan sistem yang mudah untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang selalu mengalami perkembangan. Selain itu pendidikan tinggi keperawatan dapat menjadi pusat perkembangan

 

18

ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan serta sebagai masyarakat berpendidikan yang gemar belajar. 2) Fungsi penelitian Dalam

menyelenggarakan

fungsi

ini

pendidikan

tinggi

keperawatan dapat melakukan penelitian, pengumpulan pengolahan informasi yang sesuai dengan keahlian dibidang keperawatan, dengan demikian institusi pendidikan tinggi keperawatan baik bersama institusi setempat atau masing-masing dapat berperan sebagai pusat informasi

ilmiah

keperawatan

maupun

pusat

sumber

daya

keperawatan. 3) Fungsi pengabdian masyarakat Fungsi ini dapat dilakukan melalui penerapan berbagai ilmu pengetahuan dan tehnologi keperawatan kepada tatanan nyata di masyarakat, misalnya layanan keperawatan. Pemberian edukasi keperawatan,

konseling

keperawatan,

berkontribusi

dalam

pembentukan komunitas profesional keperawatan. Selain tiga fungsi utama tersebut diatas, pendidikan tinggi keperawatan bertanggung jawab dalam mengembangkan budaya perilaku intelektual, menciptakan suasana akademis yang kondusif, menanamkan rasa disiplin, tanggung jawab dan motivasi terhadap adanya hasil yang terbaik.

 

19

d. Sistem pendidikan keperawatan Sesuai dengan hakikat profesi keperawatan yang mengabdi pada masyarakat melalui pelayanan yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, maka orientasi pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia adalah ilmu pengetahuan dan teknologi, serta masyarakat. Kerangka konsep pendidikan tinggi keperawatan yang merupakan tonggak utama dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi keperawatan adalah : 1) Pengadaan ilmu dan teknologi keperawatan. 2) Sikap, tingkah laku dan kemauan profesional keperawatan. 3) Menyelesaikan masalah secaara ilmiah. 4) Belajar dan mandiri. 5) Belajar di masyarakat. Keperawatan sebagai sains lebih bersifat terapan, menggunakan pengetahuan, konsep dan prinsip dari berbagi kelompok ilmu dan merupakan sintesis dari ilmu dasar dan ilmu keperawatan. Pengembangan pendidikan

tinggi

keperawatan

dilakukan

dengan

memperhatikan

pengertian tentang ilmu keperawatan (Gaffar, 1999) sebagai berikut : Ilmu keperawatan mencakup ilmu-ilmu dasar (ilmu alam, ilmu sosial dan ilmu perilaku, ilmu biomedik, ilmu kesehatan masyarakat, ilmu dasar keperawatan, ilmu keperawatan komunitas dan ilmu keperawatan klinik) yang pada aplikasinya menggunakan pendekatan dan penyelesaian

 

20

secara ilmiah yang ditujukan untuk menopang, memelihara dan meningkatkan integritas seluruh kebutuhan dasar manusia (PPNI, 2002). Jenis dan jenjang pendidikan tinggi keperawatan dikembangkan dengan memperhatikan dua faktor penentu utama yaitu : 1) Perkiraan tuntutan kebutuhan pengembangan keperawatan dimasa yang akan datang khususnya pelayanan atau asuhan keperawatan dan pendidikan kesehatan. 2) Tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan yang diperkirakan akan terjadi dalam kecepatan yang jauh lebih tinggi daripada yang terjadi saat ini. 3. Program Ners a. Pengertian Profesi

adalah

pekerjaan

yang

ditujukan

untuk

memenuhi

kepentingan masyarakat dan bukan untuk kepentingan golongan atau kelompok tertentu (Gaffar, 2001). Menurut Wijono (1999) profesi adalah berarti dia mengetahui lebih baik tentang suatu hal dari orang lain, serta mengetahui lebih banyak dari kliennya tentang apa yang diderita atau yang terjadi pada kliennya.kriteria suatu profesi yaitu suatu profesi harus memiliki dasar ilmu yang kuat, berorientasi pada pelayanan, mempunyai otoritas, memiliki organisasi profesi, melakukan penelitian secara terus menerus serta memiliki otonomi.

 

21

Banyak definisi keperawatan yang disampaikan oleh para ahli, salah satunya adalah menurut Henderson : keperawatan adalah membantu seseorang, yang sakit atau sehat dalam melaksanakan aktivitas yang menunjang kesehatan atau penyembuhan (meninggal dengan tenang) yang dilakukan tanpa bantuan apabila ia memiliki kekuatan, kemauan atau pengetahuan yang diperlukan (PPNI, 2003). Sumbangan keperawatan yang unik adalah membantu individu tidak tergantung kepada bantuan orang lain secepat mungkin, sedangkan menurut WHO expert committee on nursing (PPNI, 2003) keperawatan adalah : Memberikan bantuan dengan membantu pasien dalam pola kehidupan sehari-hari dimana pasien dapat beraktivitas secara normal tanpa bantuan yang menyangkut pernapasan, makan dan minum, istirahat dan tidur, serta kebersihan diri, memelihara kehangatan dan berpakaian yang pantas. Perawat yang membantu menyediakan perlengkapan aktivitas

sehingga

membuat

hidup

lebih

berarti

dalam

proses

pertumbuhan. Pelayanan keperawatan merupakan pelayanan kemanusiaan dengan proses interpersonal dan cara yang sesuai untuk tindakan keperawatan untuk mengobati diri sendiri. Selain dari para ahli, definisi keperawatan dikemukakan oleh kelompok perawat, yaitu “ Internasional Council of Nurse “ (2001) bahwa : keperawatan adalah fungsi yang unik perawat yang melakukan pengkajian pada individu sehat maupun sakit dimana

 

22

segala aktivitas yang dilakukan berguna untuk kesehatan atau pemulihan kesehatan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Penyusunan

dan

pelaksanaan

standar

profesi

keperawatan

merupakan fungsi utama organisasi profesi. Standar praktek salah satu perangkat

yang

diperlukan

tenaga

professional

yang

dapat

mengidentifikasi harapan-harapan bagi perawat professional dalam memberikan asuhan yang aman, efektif dan etis (Wijono, 1999) Berdasarkan definisi diatas, inti keperawatan adalah : 1) Memberikan asuhan kepada orang lain. 2) Pelayanan kepada klien, keluarga dan masyarakat. 3) Merupakan pencegahan, pengobatan, pemulihan dan peningkatan kesehatan. 4) Pelayanan langsung, kontak langsung antara perawat dan keluarga. 5) Dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan klien. b. Profil perawat profesional Profil perawat profesional adalah gambaran dan penampilan menyeluruh perawat dalam melakukan aktivitas keperawatan sesuai kode etik keperawatan. Aktivitas keperawatan meliputi peran dan fungsi pemberian asuhan atau pelayanan keperawatan, praktek keperawatan, pengelolaan institusi keperawatan, pendidik klien (individu, keluarga dan masyarakat) serta kegiatan penelitian dibidang keperawatan (Potter, 2005).

 

23

1) Sebagai perawat pelaksana Peran ini dikenal dengan istilah care giver, hal ini merupakan peran utama perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara langsung atau tidak langsung kepada klien sebagai individu, keluarga dan masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan pemecahan masalah yang disebut sebagai proses keperawatan, dimana perawat bertindak sebagai comforter, protector dan advocat, communicator serta rehabilitator. 2) Sebagai edukator atau pendidik Sebagai pendidik atau health aducator, perawat berperan mendidik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat serta tenaga keperawatan atau tenaga kesehatan yang berada dibawah tanggung jawabnya. Peran ini dapat berupa penyuluhan kesehatan kepada klien (individu, keluarga, dan masyarakat) maupun bentuk desiminasi ilmu kepada peserta didik keperawatan, antara sesama perawat atau tenaga kesehatan lain. 3) Sebagai pengelola Dalam hal ini perawat mempunyai peran dan tanggung jawab dalam mengelola pelayanan maupun pendidikan keperawatan yang berada dibawah tanggung jawabnya sesuai dengan konsep manajemen keperawatan dalam kerangka paradigma keperawatan. Sebagai pengelola perawat beperan dalam memantau dan menjamin kualitas

 

24

asuhan atau pelayanan keperawatan serta mengorganisasi dan mengendalikan sistem pelayanan keperawatan. 4) Sebagai peneliti Sebagai peneliti dibidang keperawatan, perawat diharapkan mampu mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode penelitian serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan atau pelayanan dan pendidikan keperawatan.

B. KERANGKA TEORI Mahasiswa S1 kep. semester VII

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat: − Faktor keluarga − Meningkatkan pengetahuan − Tuntutan pekerjaan − Sosial ekonomi

Minat

Melanjutkan ke program profesi ners

Cara memunculkan minat : − Membangkitkan suatu kebutuhan − Menghubungkan dengan pengalaman-pengalaman yang lampau − Memberikan kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik

Gambar 2. Kerangka Teori Weber (Ritzer, 1983) dengan modifikasi Minat merupakan pikiran dan perasaan yang dapat menimbulkan keinginan untuk mencapai sesuatu. Minat dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Faktor pembentuk minat meliputi : lingkungan, cita-cita, unsur bakat, kebutuhan, pengalaman masa lampau, informasi, harapan masa datang,

 

25

dan sosial ekonomi. Mengetahui minat mahasiswa, melanjutkan ke profesi keperawatan perlu dipahami terlebih dahulu pikiran dan perasaan mereka (Purwanto, 2001).

C. KERANGKA KONSEP

Mahasiswa keperawatan UMS semester VII

Faktor-faktor yang

Minat untuk

mempengaruhi minat:

Berminat

melanjutkan

− Faktor dukungan keluarga − Meningkatkan pengetahuan

ke program

− Tuntutan pekerjaan

profesi ners

Tidak berminat

− Sosial ekonomi

Gambar 3. Kerangka konsep

D. PERTANYAAN PENELITIAN Bagaimana gambaran minat mahasiswa semester VII Progdi S1 keperawatan universitas Muhammadiyah Surakarta untuk melanjutkan ke program profesi ners?