BAB II TINJAUAN PUSTAKA

(EL), dan jumlah trombosit rendah (low platelet, LP). b) Eklamsia c) Edema paru d) Dekompensasi jantung ... (laparatomi) dan dinding uterus (histerekt...

0 downloads 38 Views 262KB Size
8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Medis 1. Preeklamsi a. Pengertian preeklamsi Preeklamsi adalah keadaan dimana hipertensi disertai dengan proteinuria, edema atau kedua-duanya yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu ke-20 atau kadang-kadang timbul lebih awal bila terdapat perubahan hidatidiformis yang luas pada vili dan korialis (Mitayani, 2009: 14). Preeklamsi dan eklamsi adalah penyakit hipertensi yang khas dalam kehamilan, dengan gejala utama hipertensi yang akut pada wanita hamil dan wanita dalam nifas (Sastrawinata, dkk, 2004:68). Preeklamsi

adalah sindrom spesifik

kehamilan

berupa

berkurang perfusi organ akibat vasospasme, aktif endotel (Levenon, dkk, 2009:395). Preeklamsi dan eklamsi merupakan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan selama masa nifas, yang terdiri atas trias gejala, yaitu hipertensi, proteinuria dan edema, kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma. Ibu tersebut tidak menunjukkan tandatanda kelainan vaskulear atau hipertensi sebelumnya (Yulaikhah, 2008:95). 8

9

Preeklamsia berat adalah suatu keadaan pada kehamilan dimana tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg atau diastolik lebih dari 110 mmHg pada dua kali pemeriksaan yang setidaknya berjarak 6 jam dengan ibu posisi tirah baring (Bobak, 2004:638). b. Diagnosis preeklamsi Menurut Corwin, Elizabeth J (2009:487) preeklamsi dapat didiagnosa dengan cara, pada wanita yang

setelah usia kehamil 20

minggu dan dihubungkan dengan penurunan aliran darah plasenta dan pelepasan mediator kimiawi yang dapat menyebabkan disfungsi sel endotel vaskular di seluruh tubuh. Menurut Sastrawinata, dkk (2004:69) preeklamsi dapat didiagnosa dengan cara, pada wanita yang hamil 20 minggu atau lebih harus ditemukan hipertensi dengan proteinuria dan edema sekurangkurangnya hipertensi dan proteinuria. 1) Dikatakan hipertensi apa bila tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih, kenaikan 30 mmHg di atas kenaikan biasanya. Tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih atau kenaikan 15 mmHg di atas tekanan biasanya. Tekanan darah ini diperoleh sekurang-kurangnya 2 kali dalam selang waktu 4 jam. 2) Proteinuria ialah adanya 300 mg protein dalam urin selama 24 jam atau sama dengan ≥ 1+ dipstick 3) Edema pada kaki, jari tangan, dan wajah, terutama menetap setelah bangun tidur (Sarwono, 2009:532).

10

c. Gejala-gejala preeklamsi Menurut

Sastrawinata,

dkk

(2004:69-70)

gejala-gejala

subjektif yang umum ditemukan pada preeklamsi adalah: 1) Sakit kepala yang hebat karena vasospasme atau edema otak. 2) Sakit di ulu hati karena regangan selaput hati oleh perdarahan atau edema atau sakit karena perubahan pada lambung. 3) Gangguan penglihatan, seperti penglihatan menjadi kabur bahkan kadang-kadang pasien buta. Gangguan ini disebabkan vasospasme, edema, atau ablotio retinae. Perubahan-perubahan ini dapat dilihat dengan oftalmoskop. d. Etiologi preeklamsi Etiologi pasti penyebab preeklamsi belum jelas. Seperti yang diketahui bahwa permulaan penyakit saat trimester pertama dan kedua kehamilan dengan masalah plasentasi serta endothelium ibu sebagai sel target yang memicu manifestasi klinik penyakit. Preeklamsi terus berkembang seiring bertambahnya usia kehamilan, terjadi secara bertahap 2 sampai 4 minggu atau berat dan mendadak dalam 24 jam (Benson, 2008:373). Menurut Satrawinata, dkk (2004:70) penyebab preeklamsi belum diketahui dengan pasti. Meskipun demikian, faktor predisposisi penyakit ini lebih sering ditemukan pada wanita hamil: 1) Primigravida. 2) Hiperplasentosis seperti pada kehamilan kembar, anak besar, mola

11

hidatidosa dan hidrops fetalis. 3) Mempunyai dasar penyakit vascular seperti hipertensi atau diabetes militus. 4) Mempunyai riwayat preeklamsi atau eklamsi dalam keluarganya. e. Patofisiologi preeklamsi Menurut Cunningham, dkk (2005:644) semua teori yang memuat tentang preeklamsi harus dapat menjelaskan pengamatan bahwa hipertensi pada kehamilan jauh lebih besar, wanita yang kemungkinan terkena hipertensi: 1) Terpajan virus korion untuk pertama kali. 2) Terpajan virus korion dalam jumlah sangat besar, seperti pada kehamilan kembar atau mola hidatidosa. 3) Sudah mengidap penyakit vascular. 4) Secara genetis rentan terhadap hipertensi yang timbul saat hamil Walaupun esensial, virus korion tidak harus menunjang janin atau terletak di dalam uterus.

12

PATOFISIOLOGI PREEKLAMSI

Penyakit Vascular Ibu

Ganguan plasentasi

Trofoblas berlebihan

Faktor genetik, imunologik atau inflamasi

Penurunan perfusi uteroplasenta

Zat vasoaktif: prostaglandin, nitrat oksida, endotelin

Aktifitas endotel

Vasospasma hipertensi kejang olegoria

Iskemia hepar Solusio Edema

Kebocoran kapiler

Zat perusak : sitokin, peroksidase lemak

Aktifitas koagulasi

Trombositopenia

Hemokon Proteinuria Sentrasi

Bagan 2.1 Patofisiologi Preeklamsi Sumber : Cunningham, dkk (2005:645).

13

Vasopasme

adalah

hal

mendasar

dalam

patofisiologi

preeklamsi dan eklamsia. Konsep ini didasarkan pada pengamatan langsung pembuluh darah halus didasar kuku, fundus okuli dan konjungtiva bulbar dan diperkirakan dari perubahan histologis yang dijumpai

diberbagai

organ

yang

terkena.

Konstriksi

vascular

menyebabkan resinten terhadap aliran darah dan berperan dalam timbulnya hipertensi arteri. Vasospasma itu sendiri kemungkinan besar juga menimbulkan kerusakan pada pembuluh. Selain itu, angiotensin II menyebabkan sel-sel endotel berkontraksi. Perubahan ini mungkin menyebabkan kerusakan sel endotel dan kebocoran di celah antara sel-sel endotel serta menyebabkan kebocorannya konstituen darah, termasuk trombosit dan fibrinogen yang kemudian mengendap di subendotel, perubahan vaskuler ini, bersama dengan hipoksia lokal jaringan disekitarnya, mungkin menyebabkan perdarahan, nekrosis dan berbagai gangguan end-organ lainya yang dapat dijumpai pada preeklamsi berat. Pengendapan fibrin cenderung menjadi prominen (Leveno, Kenneth J, dkk, 2009:396). f. Klasifikasi Preeklamsi Menurut Mitayani (2009:16) preeklamsi digolongkan menjadi 2 golongan yaitu: 1) Preeklamsi ringan a) Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih dan kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih.

14

b) Edema umum, kaki, jari, tangan, dan wajah atau kenaikan berat badan 1 kg atau lebih perminggu. c) Proteinuria kuantitatif 0,3 gram atau lebih per liter, kualitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau mid stream 2) Preeklamsi berat a) Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 110 mmHg. b) Proteinuria 5 gram atau lebih per liter. c) Oligoria jumlah urine kurang dari 500cc per 24 jam. d) Gangguan serebral, gangguan visual dan rasa nyeri di epigastrum. e) Edema paru atau sianosis. g. Komplikasi preeklamsi Menurut Benson (2008:374) komplikasi pada preeklamsi terdiri dari: 1) Komplikasi pada ibu a) Sindrom Hemolysis Elevated Liver enzyme Low Platelet Count (HELLP) yaitu: mengalami hemolisis (H), peningkatan enzim hati (EL), dan jumlah trombosit rendah (low platelet, LP). b) Eklamsia c) Edema paru d) Dekompensasi jantung e) Koagulopati f) Gagal ginjal

15

g) Nyeri epigastrik, gejala-gejala serebral 2) Kelainan pada janin Terjadinya gawat janin h. Pencegahan preeklamsi Beberapa

pencegahan

Preeklamsi

menurut

Yulaikhah

(2008:100) meliputi: 1) Lakukan pemeriksaan kehamilan yang teratur dan bermutu serta teliti. 2) Waspadai kemungkinan Preeklamsi jika ada faktor predisposisi. 3) Beri penyuluhan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, diet rendah garam, lemak serta karbohidrat, diet tinggi protein, menjaga kenaikan berat badan. i. Pengobatan preeklamsi Tingkat pemulaan, preeklamsi tidak memberikan gejala-gejala yang dapat dirasakan oleh pasien sendiri, oleh karena itu, diagnosa dini hanya dapat selama prenatal care yang baik. Pasien hamil hendaknya diperiksa sekali 2 minggu setelah bulan ke 6 dan seminggu sekali pada bulan-bulan terakhir, harus ditentukan tekanan darah, penambahan berat, dan ada atau tidak adanya edema dan proteinuria. Pasien juga harus mengetahui tanda-tanda bahaya, yaitu sakit kepala, gangguan penglihatan dan bengkaknya tangan atau muka, jika salah satu dari gejala ini timbul, ibu harus memeriksakan diri, jangan menunggu pemeriksaan rutin untuk mencegah terjadinya eklamsi, anak harus lahir dengan kemungkinan hidup yang besar, pesalinan harus dengan trauma yang sesedikit-dikitnya

16

dengan upaya menghindari kesulitan pada kehamilan atau persalinan berikutnya, mencegah hipertensi yang menetap (Sastrawinata, dkk, 2004:73). Menurut Yulaikhah (2008:100) penanganan preeklamsi terdiri dari: 1) Preeklamsi ringan a) Beri diet rendah garam. b) Beri obat penenang (valium, fenobarbital). c) Hindari pemberian diuretikum dan antihipertensi. d) Pantau keadaan janin. e) Persalinan dapat dilakukan spontan bila perlu memperpendek kala II dengan vakum atau forceps f) Jika ada indikasi, lakukan Sectio Caesaria (SC). 2) Preeklamsi berat a) Beri diet rendah garam dan tinggi protein. b) Pasang infus RL atau asering. c) Pemantauan tanda-tanda vital. d) Beri antikonvulsan: obat pilihan MgSO4 (magnesium sulfat), alternative diazepam. e) Beri obat antihipertensi: obat pilihan hidralazin, alternative labetalol, nifidipin, metildopa. f) Hindari pemberian diuretik, kecuali pada edema umum, edema paru, gagal jantung kongestif.

17

g) Persingkat kala II dengan vakum atau forseps. h) Jika partus pervaginam, dalam 24 jam bayi harus lahir. i) Hindari pemberian metergin pasca partum, kecuali ada perdarahan hebat. j) Jika ada indikasi, lakukan Sectio Caesaria (SC). j. Pengobatan medisinal preeklamsi a) Obat anti kejang a) MgSO4 (magnesium sulfat) Pada kasus preeklamsi yang berat, magnesium sulfat yang diberikan secara parenteral adalah obat anti kejang yang efektif tanpa menimbulkan depresi susunan saraf pusat baik pada ibu maupun janinnya. Obat ini dapat diberikan secara intravena melalui infus kontinu atau intramuskular dengan injeksi intermiten. Persalinan dan kelahiran merupakan saat kemungkinan besar terjadinya kejang, wanita dengan preeklamsi berat biasanya diberi magnesium sulfat selama persalinan dan selama 24 jam post partum (Cunningham, dkk, 2005:660). Keuntungan pemberian magnesium sulfat adalah peningkatan aliran darah rahim untuk melindungi janin dan peningkatan prostasiklin untuk vasokontriksi rahim (Bobak, 2004:643).

18

Cara pemberian magnesium sulfat pada pasien preeklamsi berat yaitu: (1) Infus intravena kontinu (a) Berikan dosis bolus 4 sampai 6 gram magnesium sulfat yang diencerkan dalam 100 ml cairan intravena dan diberikan dalam 15-20 menit. (b) Mulai infus rumatan dengan dosis 2 gram/jam dalam 100 ml cairan intravena. (c) Magnesium sulfat dihentikan 24 jam setelah bayi lahir. (2) Injeksi intramuscular intermiten (a) Berikan 4 gram magnesium sulfat sebagai larutan 20% secara intravena dengan kecepatan tidak melebihi 1 gram/menit. (b) Lanjutkan segera dengan 10 gram larutan magnesium sulfat 40%, separuhnya (5 gram) disuntikan dalam-dalam di kuadran lateral atas bokong (penambahan 1 ml lidokain 2% dapat mengurangi nyeri). (c) Setelah 4 jam sesudahnya berikan 5 gram larutan magnesium sulfat 40% yang disuntikan dalam-dalam ke kuadran lateral atas bokong bergantian kiri kanan, tetapi hanya setelah dipastikan bahwa reflek patella masih baik, tidak terdapat depresi pernapasan, pengeluaran urin selama 4 jam sebelumnya melebihi 100 ml.

19

(d) Magnesium sulfat dihentikan 24 jam setelah kelahiran (Cunningham, dkk, 2005:660). Menurut Achadiat (2004: 13) cara pemberian Magnesium sulfat yaitu: (1) Dosis awal (loading dose) 4-6 gram intravena dengan kecepatan pemberian tidak lebih dari 1 gram/menit. (2) Diikuti dengan pemberian secara infus (drip) dengan dosis 1,52 gram/jam, agar dicapai kadar serum 4,8-8,4 mg/dL (4-7 mEq/L). (3) Bila masih terjadi kejang dengan pemberian di atas, dapat diberikan diazepam 5-10 mg intravena atau amobarbital 250 mg intravena (4) Penggunaan MgSO4biasanya sampai 24 jam setelah bayi lahir, atau setelah produksi urine normal kembali. Syarat pemberian MgSO4: (1) Harus tersedia antidotum, yaitu kalsium glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc) diberikan intravena dalam 3 menit. (2) Frekuensi pernapasan ≥16 kali per menit. (3) Diuresis 100 cc dalam 4 jam terakhir (4) Reflek patella positif (Rustam, 2012:146). Pemberian MgSO4 dihentikan apabila (1) Ada tanda-tanda intoksikasi. (2) Setelah 24 jam pasca persalinan.

20

(3) Dalam 6 jam pasca persalinan, sudah terjadi perbaikan (normotensif) (Sastrawinata, 2004:75). b) Diazepam Diazepam hanya dipakai jika magnesium sulfat tidak tersedia. Cara pemberian diazepam: Pemberian melalui intravena (1) Dosis awal Dosis 10 mg intravena pelan-pelan selama 2 menit. (2) Dosis pemeliharaan (a) Diazepam 40 mg dalam 500 ml larutan ringer laktat perinfus. (b) Depresi pernapasan ibu mungkin akan terjadi jika dosis > 30 mg/jam. (c) Jangan berikan >100 mg/24 jam (Sastrawinata, 2004:75). 2) Obat antihipertensi a) Obat pilihan hidralizin: 5 mg intravena pelan-pelan setiap 5 menit, jika perlu diulang tiap jam atau 12,5mg/2jam. b) Alternatif: labetalol, nifedipin, metildopa. (1) Labetalol 10 mg intravena, jika tidak ada respon 20 mg intravena, dosis dapat dinaikkan sampai 40 hingga 80 mg. (2) Nefidipin 30 mg/hari peroral. (3) Metildopan 3X 250-500 mg/hari (Sastrawinata, 2004:75).

21

k. Penatalaksanaan preeklamsi Preeklamsi berat pada kehamilan dengan adanya komplikasi gawat janin dan komplikasi maternal, persalinan

harus di lakukan

dengan Sectio Caesaria (Yulaikhah, 2008:101). Menurut Cunningham, dkk, (2005:595) Sectio Caesaria dilakukan karena adanya indikasi: riwayat Sectio Caesaria sebelumnya, distosia persalinan, gawat janin, letak sungsang Sectio Caesaria adalah sebagai lahirnya janin melalui insisi di dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi) (Cunningham, dkk, 2005:592). Post Sectio Caesaria adalah wanita hamil yang pernah mengalami pembedahan atau Sectio Caesaria untuk mengakhiri kehamilan

sebelumnya,

maupun

operasi-operasi

lain

(misalnya

miomektomi) yang irisannya menembus hingga mencapai kavum uteri (Achadiat, 2003:55). Sectio Caesaria dilakukan karena adanya indikasi: riwayat Sectio Caesaria sebelumnya, distosia persalinan, gawat janin, letak sungsang (Cunningham, dkk, 2005:595).

22

2. Nifas a. Pengertian nifas Masa nifas (puerperium) adalah masa pulihnya kembali dari persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil (Bahiyatun, 2008:2). Masa nifas (puerperium) adalah periode dimana dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula atau sebelum hamil, yang berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Hamidah & Syafrudin, 2009:110). Bahaya terbesar terjadi pada masa nifas adalah hemoragi atau perdarahan. Adanya sebab itu, pengkajian tanda-tanda vital, syok hipovolemik, tinggi fundus uteri (untuk mengetahui intensi), distensi urine, sifat dan jumlah lochea, hemostatis perineum, ketidaknyamanan, bonding attachment, dan status emosional sangat penting dilakukan untuk mengurangi bahaya masa nifas (Hamidah & Syafrudin, 2009:110). b. Periode masa nifas Menurut Bahiyatun (2008:2). Saat masuknya seorang dalam masa nifas mengalami beberapa periode, periode-periodenya yaitu: 1) Puerperium dini, yaitu kepulihan ketika ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan. 2) Puerperium intermedial, yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genital. 3) Remote puerperium, yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan

23

mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna mungkin beberapa minggu, bulan, atau tahun. c. Perubahan fisiologi pada masa nifas 1) Uterus Setelah persalinan, caliber pembuluh ekstrauterum berkurang hingga hampir mencapai keadaan sebelum hamil. Lubang servik berkontraksi secara perlahan, dan selama beberapa hari setelah persalinan, lubang ini masih mudah dimasuki oleh dua jari. Pada akhir minggu pertama, servik menebal, dan kanalis terbentuk kembali. Os Sternum tidak pulih secara total ke bentuk pragravidanya. Os Sternum melebar dan cekungan bilateral di tempat laserasi menetap sehingga menjadi tanda servik para. Setelah 2 hari pertama, uterus mulai menciut sehingga dalam 2 minggu uterus telah turun ke dalam rongga panggul sejati. Uterus memperoleh kembali ukuran pra hamilnya dalam waktu sekitar 4 minggu (Leveno, dkk, 2009:339). Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi posisi fundus uteri berada kurang lebih pertengahan antara umbilicus dam simfisis atau sedikit lebih tinggi. Dua hari kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga dalam 2 minggu telah masuk ke dalam rongga pelvis dan tidak dapat diraba lagi dari luar. Involusi dapat dipercepat prosesnya bila ibu menyusui bayinya (Saleha, Sitti, 2009:54).

24

(a) Tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi Menurut Saleha, Sitti (2009:85) tinggi fundus uteri dan berat uterus menurut masa involusi yaitu: (1) Bayi lahir tinggi fundus uteri setinggi pusat beratnya 1000 gr (2) 1 minggu tinggi fundus uteri setinggi

pertengahan pusat

simpisis beratnya 750gr (3) 2 minggu tinggi fundus uteri tidak teraba beratnya 500gr (4) 6 minggu tinggi fundus uteri normal beratnya 50gr (5) 8 minggu tinggi fundus uteri normal tapi sebelum hamil b) Uterus biasanya mengalami keadaan sebagai berikut: (1) Afterpains Pada multipara, uterus sering berkontraksi dengan kuat pada intervensi-intervensi tertentu dan menimbulkan afterpains. Afterpains terutama terasa jika bayi menyusu, karena memerlukan analgesik, tetapi nyeri umumnya berkurang pada hari ketiga post partum. Analgesik jika mungkin diberikan sebelum menyusui karena produksi ASI mengaktifkan kontraksi uterus dan menyebabkan nyeri (Franser, Diane M & Margaret A, 2009: 617). (2) Lochea Lochea adalah eksresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Lochea mempunyai bau amis/

25

anyir seperti darah menstruasi. Lochea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lochea mempunyai perubahan karena proses involusi. Proses keluarnya darah nifas atau lochea terdiri dari: (a) Lochea Rubra/ merah Lochea yang keluar pada hari 1-4 masa post partum, cairan yang berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium. (b) Lochea Sanguinolenta Lochea yang keluar pada hari ke 4-7 post partum, cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. (c) Lochea Serosa Lochea yang keluar pada hari ke 7-14 post partum, cairan yang keluar berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit dan robekan/ laserasi plasenta. (d) Lochea Alba/ putih Lochea yang keluar pada 2 sampai 6 minggu, yang mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lender serviks dan serabut jaringan yang mati (Wulandari &Ambarwati, 2010:78).

26

(3) Subinvolusi Kala ini menerangkan penghentian atau retardasi involusi, proses secara normal pulih ke ukurannya semula pada masa nifas. Hal ini disertai oleh perdarahan uterus yang irregular atau berlebihan. Beberapa kausal subinvolusi yang dikenal adalah retensi potongan plasenta dan endometritis. Kelainan ini berespon terhadap pemberian terapi antimikroba. Ergonovin (ergotrate) atau metilergonovin (methergin) 0,2 mg setiap 3 sampai 4 jam selama 24 hingga 48 jam dianjurkan oleh sebagian orang. Kadang-kadang timbul perdarahan untuk yang serius 1 sampai 2 minggu masa nifas. Hal ini paling sering disebabkan oleh involusi abnormal tempat perlekatan plasenta, meskipun dapat juga disebabkan oleh retensi sebagian plasenta (Leveno, dkk, 2009:339). 2) Saluran kemih Ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama kehamilan kembali normal pada akhir minggu keempat setelah melahirkan. Diuresis yang normal dimulai segera setelah bersalin sampai hari kelima setelah persalinan. Jumlah urin yang keluar dapat melebihi 3000ml/hari. Kandung kemih pada puerperium mempunyai kapasitas yang meningkat secara relative, oleh karena itu distensi yang

27

berlebih, urin residu yang berlebih, dan pengosongan yang tidak sempurna harus diwaspadai dengan seksama. Ureter dan pelvis renalis yang mengalami distensi akan kembali normal pada dua sampai delapan minggu setelah persalinan (Saleha, Sitti,2009:59). 3) Vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses persalinan dan akan kembali secara bertahap dalam 6-8 minggu post partum. Penurunan hormon eksterogen pada masa post partum berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Rugae akan terlihat kembali pada sekitar minggu ke-4 (Wulandari & Ambarwati, 2010:80). 4) Peritonium dan dinding abdomen Ligamentum lantum dan teres memerlukan waktu cukup lama untuk pulih dari peregangan dan pelonggaran yang terjadi. Dinding abdomen tetap lunak dan lembek akibat ruptur serat elastik di kulit. Pemulihan struktur ini ke normal, memerlukan waktu beberapa minggu, dan pemulihan dapat dipercepat dengan senam (Leveno, dkk, 2009:341). 5) Darah Biasanya selama beberapa hari pertama post partum, konsentrasi hematrokit meningkat kira-kira 5% di atas nilai sebelum kelahiran, pada pasien-pasien dengan kelahiran per vaginam tanpa komplikasi, meskipun perdarahan rata-rata 500 ml tentu saja volume

28

darah menurun kira-kira 20% pada hari ke lima post partum. Setelah kelahiran dengan Sectio Caesaria terjadi penurunan hematokrit kira 5% pada hari kelima post partum akibat perdarahan rata-rata 100ml (Benson, Ralph C. 2008:273) 6) Penurunan berat badan Terjadi penurunan berat badan sekitar 5 sampai 6 kg akibat evaluasi uterus dan pengeluaran darah normal, Selain itu, biasanya terjadi penurunan lebih lanjut sebesar 2 hingga 3 kg melalui diuresis. Sebagian besar wanita hampir mencapai kembali berat badan pra hamil mereka dalam 6 bulan setelah melahirkan, tetapi masih memiliki surplus 1,4 kg. (Leveno, dkk, 2009:341). 7) Payudara Produksi ASI keluar sesudah kelahiran bayi ketika kadar hormone estrogen

menurun

yang

akan

meningkatkan kadar

prolaktin

danproduksi ASI pun dimulai ( Bahiyatun, 2008:8) d. Tanda-tanda bahaya nifas Tanda-tanda bahaya pada masa nifas menurut Tri Sunarsih dan Vivuan Nanny (2011: 198) yaitu : 1) Perdarahan lewat jalan lahir. Pencegahan dan penanganan perdarahan pasca persalinan dapat menggunaan oksitosin. Uterotonika adalah

zat yanag digunakan

Untuk meningkatkan kontraksi uterus. Uterotonik banyak digunakan untuk induksi, penguatan persalinan, pencegahan serta penanganan

29

perdarahan post partum, penegndapan perdarahan akibat abortus inkomplet dan penanganan aktif pada Kala III persalinan. Oksitosin atau uterotonika adalah obat yang merangsang kontraksi uterus (Theodorus, 2004:209). 2) Keluar cairan berbau dari jalan lahir. 3) Demam lebih dari 2 hari. 4) Bengkak di muka, tangan, atau kaki disertai sakit kepala dan atau kejang. 5) Nyeri dan panas di daerah tungkai. 6) Payudara bengkak, berwarna kemerahan dan sakit. 7) Puting susu lecet. 8) Ibu mengalami depresi (antara lain menangis tanpa sebab dan tidak peduli pada bayinya. e. Pengawasan post partum Konsep pengawasan post partum adalah early mobilization dan early lactation. Early mobilization bertujuan agar lochea segera keluar sehingga tidak terjadi lochea statis, yang dapat menjadi sumber infeksi puerperium. Early loctation bertujuan agar laktasi dapat membantu pemulihannya kembali organ internal dan pengeluaran lochea karena kontraksi otot rahim akibat pengeluaran oksitosin (Manuaba, 2003:62). Menurut Manuaba (2003:62) dalam pengawasan post partum, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, adalah sebagai berikut: 1) Konsep early mobilization dan early lactation.

30

2) Evaluasi kejiwaan ibu postpartum. 3) Masalah diet, miksi, dan defekasi sebaiknya lancar. 4) Masalah pengeluaran lochea diharapkan sesuai dengan persalinan normal. 5) Perawatan payudara sehingga secara dini dapat memberikan laktasi untuk kepentingan tumbuh kembang janin. 6) Bagi ibu yang bekerja perlu diperhatikan, cuti hamil persalinan. 7) Nasehat yang perlu diperhatikan. a. Diet tinggi kalori, protein, dan mineral. b. Pakaian sering diganti karena locheanya. c. Upaya dapat memberikan ASI ekslusif. d. Senam post partum sehingga pulihnya jaringan penyangga alat reproduksi dapat segera tercapai. 8) Pemeriksaan akhir masa puerperium, khususnya serviks uteri, sehinga kesembuhannya dapat berjalan dengan baik untuk menghindari infeksi akut atau menahun. Lakukan pemeriksaan Pap Smear untuk mencari kemungkinan porsio karsinoma, khususnya bagi multipara. 9) Anjurkan untuk memakai KB sehingga interval kehamilan melebihi umur anak ke 3-4 tahun. f. Penatalaksanaan post Sectio Caesaria Perawatan post operasi setelah dari ruang operasi, pasien akan dibawa keruang pemulihan,di ruang ini berbagai pemeriksaan akan dilakukan meliputi: pemeriksaan tingkat kesadaran,sirkulasi pernafasan, tekanan

31

darah, suhu tubuh, jumlah urin yang tertampung di kantong urin, jumlah darah dalam tubuh, serta jumlah dan bentuk cairan lochea untuk memastikan tidak ditemukan gumpalan darah yang abnormal atau perdarahan yang berlebih (Kasdu, 2003:64) 1) Perawatan post Sectio Caesaria antara lain: a) Analgesia Mepiridin 75 sampai 100 mg dapat diberikan secara intramuscular, paling sering setiap 3 jam sesuai kebutuhan untuk menghilangkan nyeri, atau morfin sulfat 10 sampai 15 mg dengan cara pemberian yang sama. Pemberian narkotik biasanya disertai antiemetik, misalnya promotizin 25 mg. Pada periode pasca operasi dini, mepiridin atau morfin intravena melalui pompa yang dikendalikan oleh pasien bahkan merupakan alternatif yang lebih efektif dari pada terapi bolus (Cunningham, dkk 2005:615). Menurut Kasdu (2003:69) cara mengurangi rasa sakit atau perih, beberapa dokter akan memberikan obat mengurangi rasa sakit dan akan melapisi perut dengan lipatan handuk atau kain dan menghindari menggunakan celana dalam mini yang ketat karena akan menekan jahitan bekas operasi. b) Tanda –tanda vital Tanda-tanda vital setelah dipindahkan, wanita yang bersangkutan sekarang dievaluasi paling sedikit setiap jam selama minimal 4 jam, dan tekanan darah, nadi, jumlah urin, jumlah perdarahan, serta

32

status fundus diperkirakan setiap 4 jam, demikian juga suhu tubuh (Cunningham, dkk 2005:615). c) Terapi cairan dan makanan Secara umum, 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24 jam pertama setelah pembedahan. Namun apabila pengeluaran urin turun di bawah 30 ml/jam, wanita tersebut harus segera di reevaluasi. Penyebab oligouria dapat berkisar dari pengeluaran darah yang diketahui sampai efek antidiuretik dari infus oksitosin (Cunningham, dkk 2005 : 615). d) Fungsi kandung kemih dan usus Kateter kandung kemih umumnya dapat dilepas dalam waktu 12 jam setelah operasi atau yang lebih enak keesokan pagi setelah pembedahan. Pada kasus nonkomplikata, makanan padat dapat diberikan dalam 8 jam setelah pembedahan (Cunningham, dkk 2005:616). Staf perawat juga akan mencatat dan memeriksa air seni yang keluar dan tertampung di kantung urin selama ibu masih menggunakan kateter. Kateter digunakan, sampai ibu merasa kuat bangun dari tempat tidur (Kasdu,2003:66). e) Ambulasi Pada sebagian besar kasus, satu hari setelah pembedahan pasien seyogyanya dapat turun sebentar dari tempat tidur dengan bantuan paling sedikit dua kali. Waktu ambulasi dapat diatur sehingga analgetik yang baru diberikan dapat mengurangi rasa nyeri. Pada

33

hari kedua pasien dapat berjalan dengan bantuan. Dengan ambulasi dini, thrombosis vena dan emboli paru jarang terjadi (Cunningham, dkk 2005:616). Menurut Kasdu

(2003:72) ibu yang baru melahirkan

dengan Sectio Caesaria agar segera menggerakkan anggota tubuhnya. Gerak tubuh ini akan membantu ibu memperoleh kembali kekuatan dengan cepat dan memudahkan kerja usus besar serta kandung kemih, paling tidak sampai ibu bisa buang gas. Aktifitas ini juga akan membantu mempercepat organ-organ tubuh kembali bekerja seperti semula. Meskipun demikian, ibu tetap berada di ranjang selama enam jam pertama setelah operasi. Pada saat ini gerak tubuh yang bisa dilakukan adalah menggerakkan lengan, tangan, dan jari-jarinya agar kerja organ pencernaan segera kembali normal. Apabila gerakan ini masih terasa berat, setidaknya 12 jam setelah Sectio Caesaria sudah mampu untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah. Ibu mulai duduk pada jam ke-8 sampai ke12 setelah Sectio Caesaria. Ibu dapat berjalan apabila mampu pada 24 jam setelah Sectio Caesaria. f) Perawatan luka Insisi diperiksa setiap hari dan jahitan kulit (atau klip) diangkat pada hari keempat setelah pembedahan. Pada hari ketiga post partum mandi dengan pancuran tidak membahayakan insisi (Cunningham, dkk, 2005:616).

34

Menurut Kasdu (2003:66) jahitan bekas luka di perut ibu akan ditutup oleh kain kasa lembut. Kasa perut harus dilihat satu hari pasca bedah. Apabila basah dan berdarah harus di buka dan diganti, umumnya, kasa perut dapat diganti pada hari ke 3-4 sebelum pulang. g) Pemeriksaan laboratorium Hematokrit secara rutin diukur pada hari setelah pembedahan. Apabila hematokrit menurun secara bermakna dibanding dengan kadar pra operasi, pemeriksaan diulang dan dilakukan pemeriksaan untuk mengidentifikasi penyebab penurunan tersebut. Apabila hematokrit yang rendah itu stabil, pasien dapat diambulasi tanpa kesulitan dan apabila sedikit kemungkinan untuk pengeluaran darah lebih lanjut, pasien lebih baik diberi terapi suplemen besi untuk memperbaiki keadaan hematologisnya dari pada diberi tranfusi (Cunningham, dkk, 2005:616). h) Perawatan payudara Menyusui dapat dimulai pada hari pembedahan. Apabila pasien memilih untuk tidak menyusui, dapat diberikan bebat untuk menopang payudara tanpa terlalu menekan dan biasanya dapat mengurangi rasa nyeri (Cunningham, dkk, 2005:616). Menurut Kasdu (2003:82) cara menghindari rasa nyeri di perut saat menyusui yaitu: tidak menyentuh daerah bekas operasi ibu bisa menyusui sambil berbaring miring (apabila belum sangup

35

duduk) atau membaringkan bayi diatas bantal, kemudian diletakkan di pangkuan. i) Pemulangan dari Rumah Sakit Apabila pasien tidak mengalami penyulit dalam masa nifas, pasien umumnya dipulangkan pada hari ke tiga sampai ke empat post partum (Kasdu 2003:73). j) Mencegah infeksi pasca operasi Morbidibitas demam cukup sering dijumpai setelah Sectio Cesaria. Sejumlah uji klinis acak telah membuktikan bahwa antibiotik dosis tunggal yang diberikan pada saat Sectio Cesaria akan secara bermakna mencegah infeksi. Infeksi panggul pasca operasi merupakan penyebab tersering demam dan tetap terjadi pada sekitar

20% wanita walaupun mereka telah diberi antimikroba

profilaksis partum (Cunningham, dkk, 2005:616). 2) Perawatan post persalinan preeklamsi Edema serebral, edema paru, gangguan ginjal dapat terjadi 24-36 jam post persalinan. Setelah persalinan 6 jam pertama resistensi (tahanan) perifer meningkat. Akibatnya, terjadi peningkatan kerja ventrikel kiri (left ventricular work load). Bersamaan dengan itu akumulasi cairan interstitial masuk ke dalam intravaskular. Perlu terapi lebih cepat dengan atau tanpa diuretik. Banyak perempuan dengan hipertensi kronik dan Superimposed preeklamsi, mengalami penciutan volume darah (hipovolemia).

36

Bila terjadi perdarahan post persalinan, sangat berbahaya bila diberi cairan kristaloid ataupun koloid, karena lumen pembuluh darah telah mengalami vasokonstriksi. Terapi terbaik bila terjadi perdarahan adalah pemberian transfusi darah (Prawirohardjo, 2009:559).

37

38

B. Teori Manajemen Kebidanan Penerapan manajemen kebidanan dalam bentuk kegiatan praktek kebidanan dilakukan melalui suatu proses yang disebut langkah-langkah atau proses manajemen kebidanan. Langkah-langkah manajemen kebidanan tersebut adalah 1. Langkah I (Tahap pengumpulan data dasar) Langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital, pemeriksaan khusus dan pemeriksaan penunjang. Tahap ini merupakan langkah awal yang akan menentukan langkah berikutnya, sehingga kelengkapan data sesuai dengan kasus yang dihadapi yang akan menentukan proses interpretasi yang benar atau tidak dalam

tahap

selanjutnya.

Sehingga

dalam

pendekatan

ini

harus

komprehensif meliputi data subjektif, obyektif, dan hasil pemeriksaan sehingga dapat menggambarkan kondisi pasien yang sebenarnya dan valid (Estiwidani, dkk, 2008:134). Data yang dikumpulkan pada masa post partum adalah sebagai berikut: catatan pasien sebelumnya seperti catatan perkembangan ante dan intranatal, lama post partum, catatan perkembangan suhu, denyut nadi, pernapasan, tekanan darah, pemeriksaan laboratorium dan laporan pemeriksaan tambahan. Catatan obat-obatan yang diberikan seperti

39

(Ketorolac, Cefotaksin, Nepidipin. Dopamet, Amoxilin, Tablet besi, Vit C, B complek, Asam mefenamat), riwayat kesehatan ibu seperti mobilisasi, buang air kecil, buang air besar, nafsu makan, ketidak nyamanan atau rasa sakit, kekhawatiran, makanan bayi, reaksi bayi, reaksi proses melahirkan dan kelahiran, kemudian pemeriksaan fisik bayi, tanda vital. Kondisi payudara, puting susu, pemeriksaan abdomen, kandung kemih, uterus, lochea mulai warna, jumlah dan bau. Pemeriksaan perineum: seperti adanya edema, inflamasi, hematoma, pus, luka bekas episiotomi, kondisi jahitan, ada tidaknya hemoroid. Pemeriksaan ekstermitas seperti ada tidaknya varises, reflek, dan lain-lain (Wildan & Alimul, 2008:65). 2. Langkah II (Interpretasi data dasar) Langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga dapat

dirumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik. Baik rumusan

diagnosa maupun masalah , keduanya harus diganti. Meskipun masalah tidak dapat diartikan sebagai diagnosa, tetapi tetap membutuhkan penanganan (Soepardana, Suryani, 2007:99). Masalah juga sering menyertai diagnosa. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan. Standar nomenklatur diagnosa kebidanan: a. Diakui dan telah disahkan oleh profesi.

40

b. Berhubungan lansung dengan praktek kebidanan. c. Memiliki ciri khas kebidanan. d. Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan. e. Dapat

diselesaikan

dengan

pendekatan

manajemen

kebidanan

(Estiwidani, dkk, 2008:134) Interpretasi data dasar yang akan dilakukan adalah beberapa data yang ditemukan pada saat pengkajian postpartum seperti a. Diagnosa 1) Postpartum hari pertama. 2) Perdarahan nifas. 3) Post Sectio Cesaria. 4) Dan lain-lain. b. Masalah 1) Kurangnya informasi. 2) Tidak pernah ANC. 3) Dan lain-lain (Wildan & Alimul, 2008:76). 3. Langkah III (Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial) Langkah ini bidan mengidentifikasi masalah potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi ( Hidayati & Mufdlilah, 2008:75)

41

Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman. Pada langkah ketiga ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosa potensial tidak terjadi. Sehingga langkah ini benar merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasio atau logis (Estiwidani, dkk, 2008:135) Beberapa hasil dari interpretasi data dasar dapat digunakan dalam identitas diagnosa atau masalah potensial pada masa postpartum, serta antisipasi terhadap masalah yang timbul (Wildan & Alimul, 2008:66). 1. Langkah IV (Menentukan kebutuhan terhadap tindakan segera untuk melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien) Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan haya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan. Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin juga akan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lain seperti pekerjaan sosial, ahli gizi atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal

42

ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang palig tepat dalam menejemen asuhan kebidanan. Bidan dalam melakukan tindakan harus sesuai dengan prioritas masalah atau kebutuhan yang dihadapi kliennya. Setelah bidan merumuskan tindakan yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi diagnosa atau masalah potensial pada step sebelumnya, bidan juga harus merumuskan tindakan segera yang harus dirumuskan untuk menyelamatkan ibu dan bayi. Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang mampu dilakukan secara mandiri, secara kolaborasi atau bersifat rujukan (Estiwidani, dkk, 2008:136). Menetapkan kebutuhan terhadap tindakkan segera atau masalah potensial

pada

masa

postpartum.

Langkah

ini

dilakukan

untuk

mengantisipasi dan melakukan konsultasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi pasien (Wildan & Alimul, 2008:66) 2. Langkah V (Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh) Langkah ini diperlukan perencanaan secara menyeluruh terhadap masalah dan diagnosa yang ada, dalam proses perencanaan asuhan yang menyeluruh juga dilakukan identifikasi beberapa data yang tidak lengkap agar pelaksanaan secara menyeluruh dapat teratasi (Sari, Rury Narurita, 2012: 96). Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa-apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang

43

berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan atau terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan, konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah-masalah yang berkaitan dengan sosial ekonami, kultur atau masalah psikologi. Dengan perkataan lain, asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan setiap aspek asuhan kesehatan. Setiap rencana asuhan haruslah disetujui oleh kedua pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien juga akan melakukan rencana tersebut, oleh karena itu, pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakannya. Semua keputusan ini harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan ditentukan klien (Estiwidani, dkk, 2008:137). Rencana asuhan menyeluruh pada masa postpartum yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut a. Manajemen asuhan awal puerperium 1) Kontak dini sesering mungkin dengan bayi. 2) Mobilisasi di tempat tidur. 3) Diet. 4) Perawatan perineum. 5) Buang air kecil spontan atau kateteri.

44

6) Obat penghilang rasa sakit kalau perlu. 7) Obat tidur kalau perlu. 8) Obat pencahar. 9) Dan lain-lain. b. Asuhan lanjutan 1) Tambahan vitamin atau zat besi jika diperlukan 2) Perawatan payudara. 3) Rencana KB. 4) Pemeriksaan laboratorium jika diperlukan. 5) Dan lain-lain (Wildan & Alimul, 2008:66). 3. Langkah VI (Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman) Langkah keenam ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien maupun diagnosa yang ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya, jika bidan tidak melakukan sendiri, ia tetap memikul tanggungjawab untuk mengerakan pelaksanaanya rencana asuhan yang menyeluruh (Sari, Rury Narurita, 2012: 96). Situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka terlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah tetap bertangungjawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut.

45

Manajemen yang efisien akan menyangkut waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien (Estiwidani, dkk, 2008:138). Tahap ini dilakukan dengan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara menyeluruh yang dibatasi oleh standar asuhan kebidanan pada masa postpartum (Wildan& Alimul, 2008:67). 4. Langkah VII (Mengevaluasi) Langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi kefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar

telah

terpenuhi

sesuai

kebutuhan

sebagaimana

telah

diidentifikasi dalam diagnosa dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut efektif sedangkan sebagian belum efektif. Mengingat bahwa proses manajemen asuhan ini merupaka suatu kegiatan yang berkesinambungan maka perlu mengulang kembali dari awal setiap asuhan yang tidak efektif melalui manajemen untuk mengidentifikasi mengapa proses manajemen tidak efektif serta melakukan penyesuaian terhadap rencana asuhan tersebut (Estiwidani, dkk, 2008:139). Evaluasi pada masa post partum dapat menggunakan bentuk SOAP, sebagai berikut: S : Data subjektif. Berisi tentang data dari pasien melalui anamnesis (wawancara) yang merupakan ungkapan langsung.

46

O : Data objektif. Data yang dipakai dari hasil observasi melalui pemeriksaan fisik pada masa postpartum. A : Assesment Pendokumentasian data hasil analisa dan interpretasi data subyektif dan objektif P : Planning Merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan termasuk asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosa atau laboratorium serta konseling untuk tindak lanjut (Wildan & Alimul, 2008:67).

C. Teori Hukum Kewenangan Bidan Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464 Tahun 2010. pasal 9. Bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan meliputi 1. Pelayanan kesehatan ibu. 2. Pelayanan kesehatan anak dan, 3. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.

47

Pasal 10 1. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf a diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui dan masa antara dua kehamilan. 2. Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. Pelayanan konseling pada masa pra hamil. b. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal. c. Pelayanan ibu persalinan normal. d. Persalinan ibu nifas normal. e. Pelayanan ibu menyusu, dan f. Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan. 3. Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksut pada ayat (2) berwenang untuk: a. Episiotomi. b. Penjahitan luka jalan lahir tingkat satu dan dua. c. Penangana kegawat daruratan, dilanjutkan dengan perujukan. d. Pemberian tablet Fe pada ibu hamil. e. Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas. f. Fasilitasi atau bimbingan Inisiasi Menyusu Dini dan promosi air susu ibu ekslusif. g. Pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan post partum. h. Penyuluhan dan konseling.