BAB III METODOLOGI PENELITIAN

63 BAB III METODOLOGI PENELITIAN . Metodologi dalam penelitian ini mengacu pada tujuan yang telah ditentukan yaitu untuk …...

0 downloads 67 Views 365KB Size
63

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi dalam penelitian ini mengacu pada tujuan yang telah ditentukan yaitu untuk mengetahui konsep, makna atau nilai dan pengaruh dari perilaku dan tradisi budaya masyarakat Bena terhadap pola penataan ruang kampung adat Bena saat ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, paradigma naturalistik dan metode pembahasan induktif, dengan pendekatan yang lebih menekankan pada kealamian sumber data. Peneliti sendiri merupakan alat pengumpul data utama.

III.1. METODE PENELITIAN DAN PENDEKATAN PENELITIAN Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui konsep dan nilai yang terkandung pada pola tatanan ruang kampung adat Bena dan karakteristiknya yang dipengaruhi perilaku dan tradisi masyarakat Bena, maka diperlukan suatu metode penelitian kualitatif, paradigma naturalistic dan metode pembahasan induktif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang lebih mengutamakan pada masalah proses dan makna/persepsi, dimana penelitian ini diharapkan dapat mengungkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi-analisis yang teliti dan penuh makna, yang juga tidak menolak informasi kuantitatif dalam bentuk angka maupun jumlah. Pada tiap-tiap obyek akan dilihat kecendrungan, pola pikir, ketidakteraturan, serta tampilan perilaku dan integrasinya (Muhadjir, 1996: pg.243). Dalam penelitian kualitatif, sampel

64 penelitian mencakup dua aspek (Sanapiah, 1990:pg.56-61) yaitu informan dan situasi sosial (sampel). Informan merupakan subjek yang benar-benar mengetahui informasi yang dibutuhkan, sedangkan situasi sosial merupakan obyek yang akan diamati, dalam hal ini berupa tempat (rona), lingkungan sosial, organisasi dan sebagainya. Situasi sosial yang dimaksudkan adalah kampung adat Bena, lingkungan (kampung Bena ) dan segala kegiatan yang berlangsung didalamnya. Alasan memilih metode kualitatif adalah konsep dan nilai dari pola penataan ruang kampung, serta hubungan masyarakat Bena dan lingkungan kampung yang harmonis dan natural terhadap tata ruang kampung yang dilihat dari perilaku dan tradisi budaya, merupakan gejala arsitektural yang perlu diungkap secara mendalam. Pendekatan kualitatif dengan paradigma naturalistik pada penelitian di kampung Bena, dengan latar yang natural berupa rumah-rumah adat, perilaku sehari tanpa adanya rekayasa dari peneliti, dan komunikasi natural dengan masyarakat kampung dan tokohtokoh adat kampung yang dipercaya dan bisa menjadi sumber informasi secara lisan. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang lebih mengutamakan pada masalah proses dan makna/persepsi, dimana penelitian ini diharapkan dapat mengungkap mengungkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi-analisis yang teliti dan penuh makna, yang juga tidak menolak informasi kuantitatif dalam bentuk angka maupun jumlah. Pada tiap-tiap obyek akan dilihat kecendrungan, pola pikir, ketidakteraturan, serta tampilan perilaku dan integrasinya (Muhadjir, 1996: pg.243). Dalam

65 penelitian kualitatif, sampel penelitian mencakup dua aspek (Sanapiah, 1990:pg.56-61) yaitu informan dan situasi sosial (sampel). Informan merupakan

subjek

yang

benar-benar

mengetahui

informasi

yang

dibutuhkan, sedangkan situasi sosial merupakan obyek yang akan diamati, dalam hal ini berupa tempat (rona), lingkungan sosial, organisasi dan sebagainya. Situasi sosial yang dimaksudkan adalah kampung adat Bena, lingkungan (kampung Bena ) dan segala kegiatan yang berlangsung didalamnya. Dalam pengamatan di lapangan peneliti menerapkan teori grounded yang mengharuskan peneliti bertindak mengamati secara alami atau apa adanya dan membiarkan kejadian-kejadian yang terjadi di dalam lapangan, tanpa mengatur perilaku masyarakat ataupun menyumbangkan ide sendiri dari peneliti. Teori ini bisa menimbulkan adanya proses ulang-alik antara pengumpulan data dan analisis data.

Dengan melakukan observasi di

lapangan dan wawancara dengan fokus penelitian mengenai pola tatanan ruang kampung adat serta hubungan masyarakat dan lingkungan terhadap pola tatanan kampung.

III.2. PERSIAPAN PENELITIAN III.2.1 Penentuan Lokasi Penelitian Pemilihan kampung adat Bena sebagai obyek penelitian dengan alasan sebagai berikut : a) Kampung Bena merupakan kampung adat yang kehidupan dan budaya masyarakatnya tidak banyak berubah, mereka masih memegang teguh adat-istiadat para leluhurnya;

66 b) Kampung Bena berusia sekitar 1.200 tahun ini kental dengan arsitektur vernakularnya dan budaya megalitik; c) Keunikan kampung Bena dengan penataan rumah-rumah adat yang hampir mirip satu sama lain, dengan lantai panggung yang berterap-terap sesuai dengan topografi lahannya; d) Kampung Bena termasuk dalam kegiatan pelestarian terutama pada kegiatan konservasi cagar budaya kabupaten Ngada; e) Pada tahun 1995 kampung Bena telah dicalonkan untuk menjadi situs warisan dunia UNESCO. Kampung Bena memiliki wilayah seluas ± 3 hektar dengan panjang ± 375 meter dan lebar ± 80 meter berada di atas bukit, di kaki Gunung Inerie, sekitar ± 785 meter di atas permukaan laut. Kampung Bena terletak sekitar ± 22 kilometer sebelah selatan kota Bajawa, ibukota kabupaten Ngada, propinsi Nusa Tenggara Timur.

Gambar III.1. Lokasi Penelitian (Sumber : Paul Arndt, 1954)

67 III.2.2 Penentuan Fokus Penelitian Materi penelitian difokuskan pada : a) Kondisi fisik (keruangan) yang terdiri dari : ukuran kampung; kondisi fisik alam : topografi dan iklim; pola tata ruang , dan struktur kampung (termasuk sirkulasi dan pencapaian) ; rumah adat dan bangunan; dan komponen ruang luar. b) Kondisi nonfisik yang terdiri dari : Karakteristik masyarakat menyangkut makna yang terkait dengan konsep perilaku dan tradisi adat masyarakat Bena; kondisi sosial budaya, ekonomi, dan religi masyarakat Bena.

III.2.3 Penentuan Sampel Penelitian Dalam penelitian ini pengambilan sampel didasarkan pada tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui konsep; makna dan nilai; dan pengaruh dari perilaku dan tradisi budaya masyarakat Bena terhadap pola tatanan ruang kampung Bena saat ini, dengan lebih menitik beratkan manfaat aplikasi teoritis pada lingkungan binaan dan melibatkan masyarakat kampung Bena sehingga kedalaman penghayatan obyek studi lebih diutamakan. Berdasarkan hal tersebut dipilih sampel yang benarbenar dapat mewakili (representatif) terhadap fenomena yang dipelajari, dan dapat merespon lingkungannya baik fisik maupun nonfisik, sehingga kualitas yang akan didapat. Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto 2002:pg.108-109). Populasi dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu populasi bangunan fisik atau elemen fisik lainnya dan populasi masyarakat yang berada dalam kampung Bena.

68 Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono 2006:pg.118). Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian mengenai pola tata ruang kampung adalah non probability sampling, dengan prosedur purposive sampling (sampling bertujuan). Non probability sampling, yaitu pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Tidak semua masyarakat Bena dijadikan responden. Purposive sampling digunakan karena peneliti mempunyai kriteria tertentu dalam memilih individu-individu yang diteliti. Peneliti memandang bahwa individu-individu tertentu saja yang dapat mewakili (representive), karena menurut pendapat peneliti merekalah yang mengerti tentang populasinya (Sigit 1999:pg.68). Para ketua adat atau mosalaki dalam kampung, merupakan responden yang representatif, karena memiliki kriteria tertentu sebagai pemimpin yang mempunyai pengaruh dan pengetahuan tentang kampung dan keterkaitan dengan pola tata ruang kampung. Pada penelitian ini, sampel diambil sesuai dengan karakteristik yang dibutuhkan dan dianalisis untuk memperluas informasi yang telah ditemukan sebelumnya. Dengan semakin banyaknya informasi yang masuk maka sampel dapat dipilih sesuai dengan fokus penelitian atau dipertajam sesuai dengan maksud penelitian. a) Sampel bangunan atau elemen fisik.

69 Kriteria yang akan diambil sebagai sampel pada wilayah studi sebagai berikut : Rumah adat/hunian; bangunan service; kapela; gardu pandang; gua Maria; Ture Woe/kubur batu; Ngadhu; Bhaga; Peo); dan elemen-elemen fisik lainnya yang terdapat dalam wilayah studi yaitu kampung Bena. Pengamatan dilakukan terhadap ruang publik, bangunan dan elemen fisik. b) Sampel masyarakat, pemuka adat atau Mosalaki dan pemerintah atau instansi terkait. Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat yang bermukim di dalam kampung Bena dan sebagai penduduk tetap dan menjadi turunan suku-suku di kampung Bena. Pengambilan data dan wawancara pada masyarakat, pemuka adat atau Mosalaki dan pemerintah atau instansi terkait, dengan menggunakan prosedur purposive sampling. Data yang diperoleh akan digunakan dalam penentuan arahan aspek non fisik.

III.3. PELAKSANAAN PENELITIAN III.3.1 Pra Lapangan Langkah penelitian

yang pertama kali dilakukan adalah

melakukan persiapan rencana penelitian dengan kegiatan sebagai berikut : 1. Menyusun rancangan penelitian; 2. Mempelajari karakteristik setting wilayah penelitian; 3. Mengurus perijinan dengan instansi terkait;

70 4. Mengidentifikasi setting ruang interaksi terhadap lingkungan disekitarnya yang menjadi aktivitas dan pergerakannya; 5. Membuat suatu ringkasan informasi lapangan yang diperoleh dari pengguna ruang dan literatur; 6. Memilih dan mempersiapkan alat penelitian (kamera foto, alat perekam suara, lembar wawancara, lembar isisan dan sketsa, buku dan alat tulis) dan obyek visualisasi; 7. Mempersiapkan berkas wawancara; 8. Menentukan sampel responden selaku narasumber; 9. Penyusunan rencana kerja pengambilan data.

III.3.2 Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian kajian pola tata ruang kampung adat Bena terbagi atas dua sumber, yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. a) Pengumpulan data primer Survei primer merupakan metode pengumpulan data dengan mendatangi langsung sumber informasi tersebut. Sumber data primer pada umumnya lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan data yang didapat melalui sumber sekunder (Usman, 1995:pg.20). Teknik-teknik pengumpulan data dilakukan melalui beberapa cara, antara lain : 1) Pengamatan (Observasi) Teknik ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data melalui pengamatan dan pencatatan gejala-gejala yang tampak pada

71 objek penelitian (Nawawi, 2003:pg.95). Dengan menerapkan teori grounded, peneliti bertindak mengamati secara alami atau apa adanya dan membiarkan kejadian-kejadian yang terjadi pada objek penelitian, tanpa mengatur ataupun menyumbangkan ide sendiri dari peneliti. Penggalian informasi melalui teknik observasi lapangan dilakukan untuk mengetahui konsep, makna atau nilai dan pengaruh dari perilaku dan tradisi budaya masyarakat Bena terhadap pola penataan ruang kampung adat Bena saat ini. Teknik observasi lapangan yang dilakukan berupa pengambilan gambar dengan menggunakan alat bantu kamera. Informasi yang digali berupa informasi karakteristik sosial budaya masyarakat dan pola kampung. Dalam mengamati pola kampung, dilakukan pula observasi tipologi rumah adat, bangunan lain dan elemen fisik lainnya sebagai dasar untuk analisis karakteristik wilayah studi, khususnya terkait pada karakteristik bangunan-bangunan penyusun pola tata ruang kampung. Aspek, jenis data dan tujuan penggunaan data untuk observasi (Tabel III.1).

Tabel III.1. Aspek, Informasi Data, Teknik Observasi dan Tujuan Observasi No

Aspek

Informasi Data

Teknik Observasi

Tujuan Observasi

1.

Aspek fisik : • Ukuran kampung; • Kondisi fisik alam : Topografi dan iklim; • Pola tata ruang , dan Struktur kampung ; • Rumah adat dan

 Ukuran luas dan bentuk kampung;  Topografi, iklim, lingkungan, dan vegetasi;  Tata letak kampung, penzoningan;

 Pengukuran ukuran luas dan bentuk melalui google map;  Pengukuran obyek benda

 Mendukung analisis karakteristik fisik wilayah studi, khususnya terkait dengan karakteristik

72 bangunan; • Komponen ruang luar;

2.

Aspek non fisik : • Perilaku dan tradisi adat masyarakat Bena. • Kondisi sosial budaya, ekonomi, dan religi masyarakat Bena.

sirkulasi dan pencapaian;  Bentuk dan tipologi rumah adat serta bangunan;  Unsur-unsur ruang luar seperti loka tiap klan dan ruang terbuka di tengah kampung.

dengan bilah bambu (mengingat alat ukur meteran tidak diakui masyarakat Bena dalam mengukur suatu obyek)  Dokumentasi melalui fotografi;  Dokumentasi melalui sketsa;

bangunan dan elemen fisik lainya sebagai penyusun pola tata ruang kampung;  Mendukung kajian untuk analisis karakteristik pola tata ruang kampung.

• Gambaran kehidupan sosial budaya masyarakat, termasuk gambaran tradisi dan kegiatan upacara adat; • Gambaran kehidupan religi masyarakat; • Gambaran kehidupan perekonomian berupa kegiatan mata pencaharian.

 Pencatatan berupa uraian mengenai kondisi gambaran kehidupan masyarakat Bena.  Dokumentasi melalui fotografi mengenai aktivitas dan tradisi masyarakat Bena.

 Mendukung kajian analisis hubungan manusia dan lingkungan terhadap pola tatanan kampung. (kegiatan sosial budaya, ekonomi dan religi)  Mendukung kajian analisis masyarakat terhadap elemen pembentuk kampung.

2) Wawancara Wawancara adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula (Nawawi 2003:pg.111). Wawancara dilakukan untuk mengetahui pendapat dari responden mengenai penyebab atau proses dari suatu kejadian. Wawancara dilakukan dengan pedoman petanyaan yang sifatnya terbuka (open interview). Pengambilan narasumber dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu narasumber kunci kemudian dari narasumber kunci ini

73 diupayakan memperoleh rekomendasi–rekomendasi narasumber lainnya yang dapat memberikan informasi berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam penelitian. Teknik wawancara digunakan untuk mendapatkan gambaran mengenai sejarah terbentuknya kampung, dan pola tata ruang kampung. Teknik wawancara yang dilakukan berupa wawancara terstruktur berdasarkan sejumlah pertanyaan yang telah disusun sebelumnya dan wawancara bebas. Teknik wawancara terstruktur dilakukan kepada Mosalaki, pemuka adat atau tokoh masyarakat Bena, dan kepala Desa yang merupakan narasumber yang lebih mengetahui tentang sejarah dan proses pembentukan pola permukiman. Wawancara bebas juga dilakukan kepada pemilik-pemilik rumah yang menghuni rumah adat. Adapun aspek, jenis data dan tujuan penggunaan data untuk wawancara (Tabel III.2)

Tabel III.2. Aspek, Informasi Data, Narasumber dan Tujuan Wawancara N o 1.

Aspek Aspek fisik : • Pola tata ruang , dan Struktur kampung ; • Rumah adat dan bangunan; • Komponen ruang luar;

Informasi Data

Narasumber

Tujuan Wawancara

 Fungsi dari rumah  Mosalaki  Mendukung analisis adat dan bangunan; kampung Bena; karakteristik fisik  Maksud dan tujuan  Pemuka adat wilayah studi, penataan letak atau tokoh khususnya terkait rumah adat dan masyarakat; dengan karakteristik bangunan serta  Masyarakat bangunan dan komponenBena; elemen fisik lainya komponen yang sebagai penyusun berada di lingkungan pola tata ruang kampung; kampung;  Mendukung kajian  Pola sirkulasi dan untuk analisis pencapaian di dalam karakteristik pola kampung;  Proses membangun tata ruang

74 rumah adat dan bangunan lainnya.

2.

Aspek non fisik : • Karakteristik masyarakat; • Aktivitas dan tradisi adat masyarakat Bena.  Kondisi sosial budaya, ekonomi, dan religi masyarakat Bena.

 Monografi Desa  Profil Desa  Riwayat terbentuknya kampung;  Perilaku keseharian masyarakat dalam sosial budaya, religi dan ekonomi;  Tradisi atau upacara adat yang berlangsung di dalam kampung;  Persepsi masyarakat mengenai kegiatan budaya dan religi

kampung.

 Kepala Desa Tiworiwu;  Mosalaki kampung Bena;  Pemuka adat atau tokoh masyarakat;  Masyarakat Bena;

 Mendukung kajian analisis hubungan manusia dan lingkungan terhadap pola tatanan kampung. (kegiatan sosial budaya, ekonomi dan religi)  Mendukung kajian sejarah kampung;  Mendukung kajian analisis konsep perilaku masyarakat .

b) Pengumpulan data sekunder Metode pengumpulan data sekunder merupakan suatu metode dengan mengambil informasi melalui sumber-sumber literatur yang berkaitan dengan sumber-sumber literatur yang berkaitan dengan kepentingan penelitian. Sumber-sumber literatur tersebut dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel III.3).

Tabel III.3. Sumber Data, Jenis Data Pustaka dan Tujuan Penggunaan Data No

Sumber Data

1. 2.

Pustaka Buku Pustaka Jurnal, Disertasi, Tesis, dan Skripsi

3.

Internet

Jenis Data  Teori tentang kebudayaan, dan kebudayaan masyarakat;  Teori tentang pola tata ruang permukiman/kampung dan elemen-elemen pembentuknya;  Teori tentang hubungan masyarakat dengan pola tata ruang permukiman/kampung.  Gambaran umum tentang kehidupan dan kebudayaan masyarakat kampung adat Bena.  Pendapat-pendapat dan informasi tentang kebudayaan,

Tujuan Penggunaan Data Acuan dalam analisis data Acuan dalam analisis data

Dasar pertimbangan dalam analisis data

75

4.

Instansi Pemerintahan terkait (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, BAPPEDA, Kantor Desa)

pola tata ruang permukiman /kampung dan hubungannya dengan pengaruh dari perilaku dan tradisi masyarakat Bena;  Informasi mengenai kehidupan dan kebudayaan masyarakat Bena.  Peta eksisting kampung;  Kecamatan dalam Angka  Profil Desa;  Monografi Desa;  Peta Desa.

 Gambaran umum wilayah penelitian;  Mengetahui arahan kebijakan pengembangan wilayah penelitian;  Mengetahui fungsi wilayah penelitian;  Memperoleh informasi tampak rupa bumi, keadaan geografis, kependudukan, dan potensi lokal.

III.3.3 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data disesuaikan dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang akan dibahas dan dianalisis. Metode analisis merupakan sarana untuk mencapai tujuan dan sasaran dari penelitian. Metode analisis data menurut Patton (1980 dalam Aditama 2002 :pg.51), adalah suatu proses mengatur urutan data, mengorganisirkannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini tidak berkenaan dengan angka-angka, tetapi mendiskripsikan, menguraikan dan menggambarkan tentang konsep; nilai; dan pengaruh dari perilaku dan tradisi budaya masyarakat Bena terhadap pola tatanan ruang kampung Bena saat ini. Menurut (Moleong, 1993:pg.3-4), penelitian kualitatif memiliki lima ciri yaitu:

76 a. Dilaksanakan dengan latar yang alami, karena merupakan alat penting adalah adanya sumber data yang langsung dan peristiwanya; b. Bersifat deskriptif yaitu data yang dikumpulkan berbentuk katakata atau gambar, yang berasal dari responden; c. Lebih memperhatikan proses dan pada hasil atau produk semata; d. Dalam menganalisa data cenderung cara induktif, maksudnya analisa data yang berasal dari individu informan dan pengamatan peneliti; e. Lebih mementingkan tentang makna (essensial).

Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran yang jelas dan nyata dari obyek yang diteliti yang diperoleh dari sumbernya. Analisis kualitatif tentang pola tata ruang kampung adat Bena adalah analisis yang dilakuka dan disimpulkan berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara responden pengamatan langsung ke obyek penelitian terhadap pola tata ruang kampung dan keseharian masyarakat Bena serta tradisi-tradisi yang ada. Langkah analisis selama pengumpulan data yang dapat diterapkan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Proses analisis dimulai dengan mengkaji dan mengklasifikasi data langsung baik fisik maupun nonfisik yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara di lapangan, termasuk hasil dokumen review yang diperoleh sebelumnya;

77 2) Langkah selanjutnya dengan melakukan reduksi data dengan jalan membuat rangkuman inti dan pertanyaan-pertanyaan penting yang terdapat di dalamnya dan dilakukan selama penelitian berlangsung; 3) Berikutnya menyusun rangkuman data ke dalam satuan-satuan agar dikategorikan pada langkah-langkah selanjutnya. Kategori tersebut dibuat sambil melakukan koding (kode); 4) Langkah selanjutnya adalah membuat analisis data secara cermat dan tepat dalam mengelolah hasil penelitian, dan hasil penelitian dan pembahasan yang didapat barulah ditarik kesimpulannya.

III.3.4 Menarik Kesimpulan Analisis Data Prosedur terakhir dari penelitian yaitu penarikan kesimpulan yang diambil dari hasil pengolahan data. Hasil pembahasan merupakan kesimpulan penelitian disertai rekomendasi untuk pengembangan ilmu arsitektur dan perilaku, penentu kebijakan pemerintah daerah, serta perencana dan perancangan kawasan kampung Bena.

III.4. RANCANGAN OPERASIONAL PENELITIAN III.4.1 Materi Penelitian Untuk dapat memahami lebih lanjut mengenai penelitian ini, perlu mengetahui materi apa yang hendak diteliti. Adapun materi penelitian yaitu : a) Pola tata ruang fisik kampung : wilayah penelitian kampung adat Bena yang meliputi : ukuran kampung (luas kampung dan batasanbatasannya); kondisi fisik alam : topografi, vegetasi dan iklim; pola

78 tata ruang dan struktur kampung (tata letak, penzoningan dan sirkulasi dalam kampung) ; rumah adat, bangunan dan komponen ruang luar lainnya. b) Pola tata ruang nonfisik kampung : Kondisi nonfisik yang terdiri dari : Karakteristik masyarakat menyangkut makna yang terkait dengan konsep perilaku dan tradisi adat masyarakat Bena; kondisi sosial budaya, ekonomi, dan religi masyarakat Bena.

III.4.2 Variabel Penelitian Variabel yang akan diteliti adalah unsur-unsur yang memiliki kaitan dengan pola tata ruang kampung secara fisik dan nonfisik, yang digolongkan menjadi variabel pengaruh dan terpengaruh. Variabel pengaruh merupakan variabel yang berpengaruh pada beberapa aspek tertentu terhadap perbedaaan yang terjadi pada pola ruang yang ada, baik dilihat dari aspek fisik maupun non fisik. Variabel terpengaruh adalah variabel yang dipengaruhi oleh beberapa hal atau fenomena yang terjadi dikarenakan aspek fisik dan nonfisik yang ada di kampung adat Bena. Secara garis besar penggolongan variabel penelitian dapat dilihat pada tabel berikut (Tabel III.4):

Tabel III.4. Variabel Penelitian Kajian Pola Tata Ruang Kampung Adat Bena di Desa Tiworiwu Kabupaten Ngada Faktor  Fisik

Fokus Penelitian  Ukuran kampung

Variabel Penelitian Pengaruh Terpengaruh  Kondisi umum kampung.

Hasil Temuan

 Luas dan  Identifikasi batasan-batasan kondisi umum kampung. kampung Bena.

79  Kondisi fisik alam

• Pola tata ruang , dan Struktur kampung

• Rumah adat dan bangunan;

• Komponen ruang luar;

 Nonfisik

• Karakteristik masyarakat

• Aktivitas dan tradisi adat masyarakat Bena.

 Topografi  Vegetasi  Klimatologi

 Unsur pertanian  Hubungan antara dan perkebunan kondisi geografis  Unsur kawasan terhadap lingkungan pembentukan pola hidup tata ruang pada kampung adat Bena.  Identifikasi pola • Pola tata ruang  Hirarki ruang  Polasirkulasi tata ruang luar, kampung ; pejalan kaki struktur dan • Pola struktur dan kendaraan hirarki ruang kampung; dalam kampung  Identifikasi pola • Pola sirkulasi jaringan dalam  Pola sirkulasi dalam kampung : ritual adat kampung jaringan jalur  Pola tata (orang dan kendaraan, jalur bangunan ritual adat)  Peletakan pejalan kaki dan • Penzoningan komponen jalur ritual adat ruang luar  Fisik bangunan  Identifikasi rumah • Bentuk dan dan adat dan tipologi rumah halaman/loka bangunan, adat.  Fungsi wilayah kesukuan, • Fungsi rumah bangunan konfigurasi dan adat dan  Arah hadap orientasi bangunan bangunan bangunan • Pola tata letak  Identifikasi rumah adat dan  Fasilitas hubungan antara kampung bangunan rumah adat dan berdasarkan • Pembangunan komponen ruang aktivitas rumah adat luar serta fasilitaspendukung fasilitas ruang umum  Tata guna  Batas teritori  Identifikasi lahan wilayah suku komponen ruang  Pola  Status luar dan pengkaplingan kepemilikan hubungannya  Unsur-unsur dengan pola tata ruang luar ruang kampung serta rumah adat.  Kondisi umum  Sejarah kampung  Mata pencaharian  Keagamaan  Latar belakang aktivitas adat dan tradisi masyarakat.  Pola kegiatan keseharian dan tradisi berupa upacara atau ritual adat.

 Kependudukan  Riwayat terbentuknya kampung

 Identifikasi kondisi jumlah suku dan populasi dalam kampung

 Filosofi yang mendasari segala aktivitas adat dan tradisi masyarakat.  Identitas ruangruang yang terjadi oleh kegiatan keseharian dan

 Makna dari konsep yang tercermin dalam aktifitas adat dan tradisi.  Identifikasi karakter dan hubungan ruang berdasarkan kondisi

80 ritual  Kondisi  Latar belakang sosial aktivitas sosial budaya, budaya, ekonomi, dan ekonomi, dan religi religi masyarakat masyarakat Bena. Bena.  Pola aktivitas sosial budaya, ekonomi dan religi.

 Filosofi yang mendasari aktivitas sosial budaya, ekonomi, dan religi masyarakat  Identitas ruangruang yang terjadi oleh kegiatan sosial budaya, ekonomi dan religi.

keseharian dan ritual  Konsep dan makna yang tercermin dalam identifikasi hubungan ruang berdasarkan kondisi sosial budaya, ekonomi dan religi masyarakat : o Ruang komunal dan budaya o Ruang komersial o Ruang ibadat

81 KERANGKA METODOLOGI PENELITIAN

Gambar III.2. Diagram Kerangka Metodologi Penelitian ( Sumber : Hasil Rangkuman Penulis , September 2014 )