BAGIAN I. LATAR BELAKANG

hidup dan membentuk kemitraan dalam pelaksa- ... libat dalam promosi global untuk merealisasikan- ... data-data dari Departemen Kesehatan, Dinas...

0 downloads 47 Views 5MB Size
Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

BAGIAN I.

LATAR BELAKANG

13

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

1. PENDAHULUAN Sejarah singkat Millennium Development Goals (MDG)

Internasional (IDG), oleh negara-negara maju yang tergabung dalam OECD pada 1996 hingga selanjutnya diadopsi oleh PBB, Bank Dunia dan IMF.1 Sekalipun MDG merupakan sebuah komitmen

KTT Milenium. Pada Konferensi Tingkat Tinggi

global tetapi diupayakan untuk lebih mengakomo-

(KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)

dasikan nilai-nilai lokal sesuai dengan karakteristik

bulan September 2000, sebanyak 189 negara ang-

masing-masing negara sehingga lebih mudah untuk

gota PBB yang sebagian besar diwakili oleh kepala

diaplikasikan.

pemerintahan sepakat untuk mengadopsi Deklarasi Milenium. Deklarasi itu berdasarkan pendekatan

Keterkaitan. Beberapa hal penting yang perlu

yang inklusif, dan berpijak pada perhatian bagi pe-

mendapat perhatian berkaitan dengan MDG adalah

menuhan hak-hak dasar manusia. Dalam konteks

sebagai berikut: Pertama, MDG bukan tujuan PBB,

inilah negara-negara anggota PBB kemudian meng-

sekalipun PBB merupakan lembaga yang aktif ter-

adopsi Tujuan Pembangunan Milenium atau Mil-

libat dalam promosi global untuk merealisasikan-

lennium Development Goals (MDG). Setiap tujuan

nya. MDG adalah tujuan dan tanggung jawab

(goal) memiliki satu atau beberapa target. Target

dari semua negara yang berpartisipasi dalam KTT

yang tercakup dalam MDG sangat beragam, mulai

Milenium, baik pada rakyatnya maupun secara ber-

dari mengurangi kemiskinan dan kelaparan, menun-

sama antar pemerintahan. Kedua, tujuh dari dela-

taskan tingkat pendidikan dasar, mempromosikan

pan tujuan telah dikuantitatifkan sebagai target

kesamaan gender, mengurangi kematian anak dan

dengan waktu pencapaian yang jelas, hingga me-

ibu, mengatasi HIV/AIDS dan berbagai penyakit

mungkinkan pengukuran dan pelaporan kemajuan

lainnya, serta memastikan kelestarian lingkungan

secara obyektif dengan indikator yang sebagian

hidup dan membentuk kemitraan dalam pelaksa-

besar secara internasional dapat diperbandingkan.

naan pembangunan. Bab selanjutnya akan memba-

Ketiga, tujuan-tujuan dalam MDG saling terkait satu

has setiap tujuan itu secara terinci.

dengan yang lain. Misalnya, Tujuan 1—menanggulangi kemiskinan dan kelaparan yang parah—adalah

14

Tujuan pembangunan lain. Ada beberapa tujuan

kondisi yang perlu tapi belum cukup bagi pencapai-

pembangunan yang lain ditetapkan pada dekade

an Tujuan 2 hingga Tujuan 7. Demikian juga, tanpa

1960-an hingga 1980-an. Sebagian terlahir dari

kemitraan dan kerja sama antara negara miskin dan

konferensi global yang diselenggarakan PBB pada

negara maju, seperti yang disebut pada Tujuan 8,

1990-an, termasuk KTT Dunia untuk Anak, Konfe-

negara-negara miskin akan sulit mewujudkan ketu-

rensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua 1990

juh tujuan lainnya. Keempat, dengan dukungan PBB,

di Jomtien, Konferensi PBB tentang Lingkungan

terjadi upaya global untuk memantau kemajuan,

dan Pembangunan 1992 di Rio de Janeiro, dan KTT

meningkatkan perhatian, mendorong tindakan dan

Dunia untuk Pembangunan Sosial 1995 di Copen-

penelitian yang akan menjadi landasan intelektual

hagen. MDG tidak bertentangan dengan komitmen

bagi reformasi kebijakan, pembangunan kapasitas

global yang sebelumnya karena sebagian dari MDG

dan memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan un-

itu telah dicanangkan dalam Tujuan Pembangunan

tuk mencapai semua target. Kelima, 18 belas target

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

dan lebih dari 40 indikator terkait ditetapkan untuk

get nasional. Penetapan target merupakan proses

dapat dicapai dalam jangka waktu 25 tahun antara

terpisah yang erat kaitannya dengan proses peren-

1990 dan 2015. Masing-masing indikator digunakan

canaan pembangunan nasional, termasuk perumu-

untuk memonitor perkembangan pencapaian setiap

san strategi penanggulangan kemiskinan dimana

tujuan dan target.

target dan sasaran telah disesuaikan dengan kondisi nasional. Diharapkan informasi yang terkandung

Lingkup Laporan MDG Indonesia 2003

dan penyusunan anggaran3.

Laporan MDG yang pertama ini mencerminkan

Target nasional dan daerah. Pemerintah pusat dan

upaya pemerintah Indonesia untuk mendapatkan

daerah, serta pihak-pihak terkait perlu mencapai

gambaran pembangunan manusia yang berhubung-

kesepakatan bersama bagaimana target nasional

dalam Laporan ini dapat memberikan masukan misalnya dalam proses perencanaan pembangunan

2

an dengan tujuan pertama hingga ketujuh ; mengu-

maupun internasional tersebut akan dilokalkan, dan

kur dan menelaah kemajuan; mengenali tantangan;

bagaimana sumber daya akan digalang dan dialo-

dan mengkaji program dan kebijakan untuk menca-

kasikan. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah

pai tujuan MDG. Laporan ini memanfaatkan sum-

merencanakan untuk mengadakan pertemuan nasi-

ber-sumber data yang ada dan mengambil tahun

onal sebagai wahana dialog antar pemerintah pusat

1990 atau yang terdekat, sesuai dengan keterse-

dan daerah.

diaan data, sebagai acuan dasar (baseline). Tujuan utama Laporan MDG ini adalah untuk mendapatkan kesamaan pandang tentang posisi Indonesia dalam kaitan dengan sasaran MDG, dan menetapkan tar-

Ketersediaan dan pemilahan data

get yang harus diagendakan. Sumber data. Laporan MDG didasarkan atas data Advokasi. Laporan MDG ini juga diharapkan bisa

yang tersedia. Sehubungan dengan hal itu, kelom-

digunakan sebagai sarana advokasi untuk para

pok kerja pemerintah, dibantu oleh Badan Pusat

penentu kebijakan, lembaga pemerintah, anggota

Statistik (BPS) dan kelompok kerja PBB untuk MDG,

dewan, lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan

mengkaji ulang sumber-sumber data yang ada un-

masyarakat madani, serta lembaga-lembaga inter-

tuk indikator-indikator MDG, yang meliputi Survei

nasional. Informasi dalam Laporan ini bisa diguna-

Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas), Survei Demo-

kan dalam berbagai bentuk sesuai dengan kelom-

grafi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), Survei Ang-

pok sasaran yang akan dimobilisasi.

katan Kerja Nasional (Sakernas), Sensus Penduduk 2000, data-data dari Departemen Kesehatan, Dinas

Bukan dokumen perencanaan. Meskipun menge-

Pendidikan Nasional, dan sumber sumber data lain-

tengahkan target-target nasional dan target-target

nya. Beberapa indikator tertentu memiliki lebih dari

lain yang sudah ada, laporan ini bukanlah alat pe-

satu sumber data.

rencanaan yang digunakan untuk menetapkan tar-

15

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

Data survei. Susenas untuk pertama kalinya di-

Pemilahan data. Secara umum, Susenas menghasil-

laksanakan pada 1963 dan berikutnya pada 1964,

kan data dengan tingkat ketelitian yang cukup tinggi

1965, 1967, 1969, 1970, 1976, 1978, 1979, 1981, 1982,

pada tingkat provinsi. Data “Kor” yang didapat se-

4

1985, dan 1989 . Susenas yang dilaksanakan pada

tiap tahun dari lebih 200.000 rumah tangga sampel

tahun-tahun tersebut modulnya bervariasi dan ti-

bahkan mampu memberikan gambaran yang me-

dak standar, tergantung keperluan pada tahun di-

wakili hingga tingkat kabupaten dengan tingkat

laksanakannya. Pada 1992, Susenas dilaksanakan

ketelitian yang cukup, tergantung jenis indikatornya.

dengan menggunakan modul yang distandardisasi,

Di sisi lain, komponen “Modul” Susenas dengan

yang dimaksudkan untuk menetapkan suatu sistem

jumlah sampel kurang lebih 65.000 rumah tangga ti-

pemantauan indikator kesejahteraan secara rutin.

dak mencukupi untuk memberikan gambaran yang

Sejak tahun itu komponen Susenas terdiri atas “Kor”

mewakili hingga tingkat kabupaten. Secara umum,

(Inti) yang dilaksanakan setiap tahun tanpa perubah-

data untuk indikator-indikator dengan kohor yang

an dan “Modul” yang bervariasi dari tahun ke tahun.

lebih panjang—misalnya anak usia sekolah (indika-

Periode pengulangan “Modul” adalah tiga tahun,

tor pendidikan) atau rumah tangga secara keseluruh-

kecuali terdapat pembiayaan khusus yang memung-

an (untuk air bersih dan sanitasi)—membutuhkan

kinkan dilaksanakannya setiap tahun. Sebagai con-

jumlah sampel yang lebih sedikit untuk mendapat-

toh adalah pengukuran status gizi balita yang se-

kan gambaran hingga tingkat kabupaten dibanding-

belumnya merupakan bagian dari modul kesehatan

kan dengan data untuk kohort yang lebih pendek

yang dilaksanakan tiga tahun sekali. Melalui penda-

(misalnya cakupan imunisasi anak di bawah satu ta-

naan khusus, BPS melaksanakan pengukuran status

hun). Dengan kata lain, reliabilitas data hasil survei

gizi balita setiap tahun sejak 1998 hingga 2003. Data

di tingkat kabupaten—termasuk Susenas—perlu

publikasi Susenas—dan pengolahan atas dasar data

dilihat kasus per kasus dan indikator per indikator.

Susenas—menjadi sumber sebagian besar penu-

Tidak semua survei dirancang untuk mendapatkan

lisan laporan MDG.

data yang dapat mewakili provinsi. Sebagai contoh, SDKI 1997 dengan jumlah sampel kurang lebih

Pentingnya pemilahan data. Di negara yang

35.000 rumah tangga menghasilkan data yang me-

sangat luas dan beragam seperti Indonesia, rata-

wakili tiga kawasan, yaitu Jawa-Bali, Luar Jawa-Bali

rata nasional tidak dapat memberikan gambaran

I, dan Luar Jawa-Bali II, di mana di dalamnya masing

yang sesungguhnya terhadap pencapaian MDG

masing terdapat beberapa provinsi. Secara umum,

dan tujuan-tujuan pembangunan lainnya. Karena

survei dengan pemilahan data membutuhkan biaya

itu, pemilahan data per provinsi dan kabupaten

lebih besar, tergantung jumlah provinsi atau kabu-

menjadi sangat penting. Pada saat ini di Indone-

paten yang ingin direpresentasikan.

sia terdapat 32 provinsi dan 435 kabupaten/kota.

16

Mengingat kabupaten/kota adalah pusat peme-

Data institusional. Selain bersumber dari survei

rintahan dalam konteks desentralisasi, maka pe-

rumah tangga, beberapa indikator MDG juga terse-

milahan dan analisis data setidaknya dilakukan

dia dari data yang diperoleh dari institusi/departe-

pada tingkat provinsi dan apabila mungkin hingga

men. Beberapa indikator MDG yang hanya bisa

tingkat kabupaten/kota.

diperoleh dari departemen misalnya: angka berta-

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

han di pendidikan dasar (primary survival rate), HIV/ AIDS, TB, malaria, kawasan lindung. Seperti halnya data survei, penggunaan dan reliabilitas data institusional perlu dilihat kasus per kasus. Pada saat ini masih terdapat hambatan dalam penggunaan data laporan rutin departemen, antara lain: Pertama, jumlah penduduk—sebagai pembilang dalam penghitungan sebagian besar indikator sosial—sering tidak cukup mencukupi ketelitiannya karena sistem registrasi vital yang masih lemah. Perkiraan jumlah penduduk yang dilakukan institusi/departemen

Catatan 1

IMF, OECD, UN and World Bank, 2000. Progress towards the international development goals: A Better World for All. Washington, June 2000. 2 Negara berkembang diharapkan melaporkan Tujuan 1 hingga 7, negara maju bertanggungjawab terhadap pelaporan Tujuan 8. 3 Sebagai contoh, pada tahun 2004 Bappenas and BPS, didukung oleh UNDP melalui UNSFIR (the UN Support Facility for Indonesian Recovery), akan mencoba menghitung dana yang diperlukan untuk mencapai target MDG seperti yang telah disepakati. 4 Surbakti, Payung., 1997. Survei Sosio-Ekonomi Nasional. BPS, Jakarta.

pada akhirnya menggunakan proyeksi hasil sensus (yang dilangsungkan 10 tahun sekali, dan yang terakhir adalah tahun 2000) dan hal itu sering berbeda antar departemen, bahkan antar unit di dalam departemen yang sama. Kedua, pelaksanaan otonomi daerah telah menyebabkan banyak mekanisme pengumpulan data di dalam institusi/departemen, yang sebelumnya dikontrol dari pusat, sekarang terdesentralisasi yang berakibat pada lemahnya monitoring dan pelaporan.

17

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

2. INDONESIA: KONTEKS PEMBANGUNAN Konteks politik

demokratis. Sampai sekarang telah terjadi tiga kali pergantian pemerintahan dan banyak sekali partai

Semenjak proklamasi kemerdekaan pada 17 Agus-

politik. Reformasi ini meliputi juga penguatan dan

tus 1945, Indonesia mengalami tiga masa pemerin-

pembentukan lembaga baru yang mendukung

tahan, yaitu Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Re-

governance yang lebih demokratis dan efektif, de-

formasi.

ngan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dalam pelaksanaan fungsi pemerintah. Reformasi

Orde Lama. Secara formal pemerintah Indonesia

konstitusi telah memperkenalkan sistim perwakilan

baru menerima kedaulatan dari Belanda pada akhir

yang lebih adil dalam bidang legislatif dan mulai

1949. Lima belas tahun pertama kemerdekaan Indo-

2004 rakyatlah, bukan anggota MPR, yang akan me-

nesia diwarnai ketidakstabilan politik dan kemerosot-

milih kepala pemerintahan secara langsung.

an ekonomi. Republik Indonesia yang liberal didirikan pada 1950, bercirikan seringnya terjadi perubahan kabinet, ketegangan di beberapa daerah, dan kesulitan dalam masalah ekonomi. Setelah 1965,

Konteks pembangunan ekonomi dan sosial

keadaan terus memburuk hingga terjadi peristiwa G30S/PKI pada 1965.

Konteks pembangunan ekonomi. Perekonomian Indonesia terdiversifikasi dimana beberapa sektor

Orde Baru. Pada 1966 pemerintahan diambil alih

tertentu berperan sangat penting. Di masa lalu,

oleh Jenderal Soeharto yang kemudian menjadi

pertanian merupakan sektor yang dominan dalam

presiden pada 1967 dan berkuasa sepanjang masa

menyerap pekerja maupun menghasilkan produk.

Orde Baru, yaitu selama enam periode berikutnya.

Indonesia memiliki beraneka sumber daya mineral

Pemerintah Orde Baru sangat menekankan stabilitas

yang telah dieksploitasi secara cepat selama tiga

dan penerapan Rencana Pembangunan Lima Tahun

dekade terakhir. Sektor industri manufaktur berkem-

(Repelita) pada setiap periodenya. Namun, pem-

bang cepat pada pertengahan 1980-an. Pada 1991,

bangunan ekonomi yang berhasil tidak dibarengi

untuk pertama kalinya proporsi manufaktur terha-

dengan partisipasi politik, perwujudan HAM, keadil-

dap PDB melebihi rasio pertanian terhadap PDB.

an, dan transparansi pembuatan keputusan publik.

Ekspor adalah motor utama pertumbuhan. Sebelum

Pada masa ini transaksi keuangan sering diwarnai

1970-an, yang diekspor hanya beberapa komoditas

korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Pada akhirnya

primer. Penurunan harga minyak setelah 1983 men-

penolakan atas rezim Orde Baru meningkat dan

dorong industrialisasi hingga produk manufaktur

menemukan momentumnya ketika Krisis Ekonomi

dan setengah-jadi menjadi barang ekspor utama.

1997. Presiden Soeharto mengundurkan diri pada

Upaya keras mempromosikan pariwisata semenjak

21 Mei 1998.

pertengahan 1980-an menghasilkan pendapatan ekspor yang besar.

Era Reformasi. Semenjak 1998 Indonesia mema-

18

suki masa penuh perubahan politik, ekonomi, dan

Di masa Orde Baru, pemulihan ekonomi diawali

sosial, dan memasuki cara pemerintahan yang lebih

dengan peninjauan kembali tujuan ekonomi. Sta-

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

bilitas, pertumbuhan, dan pemerataan—dikenal

persen per tahun. Tingkat pertumbuhan itu menu-

sebagai Trilogi Pembangunan—diusahakan pen-

run dengan berhasilnya program Keluarga Beren-

capaiannya melalui serangkaian Repelita yang ber-

cana. Sekarang ini, lebih dari 30 persen penduduk

akhir Maret 1999. Selama 1970–1996, perekono-

berusia di bawah 15 tahun. Karena tingginya tingkat

mian meningkat rata-rata enam persen per tahun

perpindahan penduduk dari desa ke kota, 42 per-

sekalipun dilanda guncangan eksternal. Tingkat

sen penduduk berada di perkotaan. Distribusi pen-

pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama Orde

duduk tetap timpang, meskipun telah diupayakan

baru menyebabkan penurunan kemiskinan yang

transmigrasi untuk mengurangi kepadatan di Pu-

signifikan. Indonesia beralih menjadi negara ber-

lau Jawa, Bali, dan Madura. Lebih dari 60 persen

pendapatan menengah, dari negara berpendapat-

penduduk masih bertempat tinggal di ketiga pulau

an rendah pada pertengahan 1960-an.

yang luasnya hanya tujuh persen dari luas daratan Indonesia itu.

Sebagai akibat krisis ekonomi 1997–1998, laju pertumbuhan PDB melemah 4,7 persen pada 1997

Tujuan pembangunan sosial adalah terwujudnya

dan bahkan menurun 13,1 persen pada 1998. Pada

kesejahteraan rakyat, meningkatnya kualitas ke-

1999, PDB kembali meningkat 0,8 persen, kemudian

hidupan, serta tercukupinya kebutuhan dasar. Ke-

4,8 persen dan 3,3 persen pada tahun-tahun beri-

bijakan kesehatan dan kesejahteraan sosial dalam

kutnya sejalan dengan melemahnya pertumbuhan

GBHN 1999–2004 antara lain peningkatan mutu

ekonomi dunia. Wujud perekonomian yang akan

sumber daya manusia dan lingkungan dengan

dibangun harus lebih adil dan merata, mencer-

pendekatan paradigma sehat, peningkatan mutu

minkan peningkatan peran daerah dan pember-

lembaga dan pelayanan kesehatan, pengembang-

dayaan seluruh rakyat, berdaya saing dengan basis

an sistem jaminan sosial tenaga kerja, pengem-

efisiensi, serta menjamin kelestarian pemanfaatan

bangan ketahanan sosial, peningkatan apresiasi

sumber daya alam dan lingkungan hidup.

terhadap penduduk lanjut usia dan veteran, serta peningkatan kepedulian terhadap penyandang

Penduduk. Pada tahun 2000, jumlah penduduk

masalah sosial. Di samping itu juga peningkatan

Indonesia adalah 206 juta1, keempat terbanyak di

kualitas penduduk, pemberantasan perdagangan

dunia. Pertumbuhannya pada 1990-an sekitar 1,49

dan penyalahgunaan narkotik dan obat terlarang,

19

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

dan peningkatan aksesibilitas fisik dan nonfisik bagi

lain merupakan sumber tambang dan galian yang

penyandang cacat.

penting. Sekalipun sumber daya alam penting bagi

Garis besar kebijakan pendidikan adalah perluasan

dak berkelanjutan. Kekayaan yang dihasilkan dari

dan pemerataan kesempatan pendidikan, peningkat-

mengekploitasi sumber daya alam belum didistri-

an mutu dan kesejahteraan pendidik, dan member-

busikan secara merata, dan belum diinvestasikan

dayakan lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan

kembali ke dalam perekonomian.

perekonomian, eksploitasinya dilakukan secara ti-

akan menjadi pusat pembudayaan nilai, sikap, dan kemampuan. Selain itu, tujuan pembangunan pendi-

Komitmen Indonesia pada pengelolaan lingkung-

dikan juga melakukan pembaruan dan pemantapan

an yang berkelanjutan secara kronologis telah

sistem pendidikan, termasuk pembaruan kurikulum

dimulai 14 tahun sebelum KTT Bumi 1992, dengan

dan pelaksanaan desentralisasi pendidikan. Desen-

pembentukan Kementerian Negara Pengawasan

tralisasi pendidikan termasuk pembaruan kurikulum,

Pembangunan dan Lingkungan Hidup pada 1978,

peningkatan kualitas lembaga pendidikan dalam

atau enam tahun setelah Stockholm Conference

menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan

on Environment pada 1972. Indonesia memberi-

teknologi dan seni, serta pengembangan sumber

kan sumbang saran pada KTT Bumi 1992 dengan

daya manusia sedini mungkin. Selama masa Orde

konsep tentang keseimbangan hubungan antara

Baru, pendidikan membaik sehingga proporsi me-

kependudukan, pembangunan, dan lingkungan

reka yang buta huruf menurun.

hidup yang akhirnya diadopsi KTT. Indonesia juga salah satu negara pertama yang menandatangani

Investasi yang besar dalam bidang kesehatan

konvensi internasional untuk perubahan iklim global

telah dilakukan semenjak 1960. Kebijakan kesehatan

dan keanekaragaman hayati (UN Climate Change

terkonsentrasi ke pembangunan fasilitas kesehatan

Convention Act No. 1/1994 dan UN Convention on

di pedalaman. Prioritas kesehatan preventif teruta-

Biological Diversity Act No. 2/1995). Dalam dokumen

ma meliputi penyediaan air minum bersih, immuni-

perencanaan pembangunan nasional, butir-butir

sasi, pemberantasan hama, dan perbaikan gizi.

konsep pembangunan berkelanjutan telah diadopsi oleh Indonesia dan diawali dengan memasukkan

Konteks pembangunan sumber daya alam dan lingkungan hidup

isu pengelolaan lingkungan hidup pada Repelita II (1973–1978) dan diteruskan sampai era Program Pembangunan Nasional (Propenas) sekarang ini. Namun Undang-Undang Lingkungan Hidup masih

Pemanfaatan sumber daya alam merupakan tulang

belum dapat dilaksanakan secara optimal, sehingga

punggung bagi pemenuhan kebutuhan masyara-

pengrusakan lingkungan terus meningkat semenjak

kat Indonesia dan perekonomian nasional. Berjuta

1998. Pelanggaran hukum dan peraturan umumnya,

orang bergantung pada pertanian subsisten, per-

serta beratnya permasalahan ekonomi, memper-

ikanan, dan perkebunan untuk hidupnya. Negara

buruk penebangan hutan, penangkapan ikan, dan

Indonesia memiliki sumber laut yang luar biasa ba-

penambangan secara liar yang kini sudah mencapai

nyaknya. Penebangan komersial sejak 1970-an telah

tingkat yang membahayakan.

mengurangi hutan Indonesia yang semula sangat

20

luas. Kekayaan minyak, gas, batubara, tembaga,

Pemanfaatan sumber daya alam akan dikelola

nikel, bauksit, emas, perak, kaolin, marmer, dan lain-

dengan lebih mengedepankan prinsip kelestari-

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

an serta tidak terpusat pada beberapa kelompok

di pelbagai daerah juga menyebabkan penurunan

masyarakat dan golongan tertentu, dan sejalan de-

pendapatan asli daerah. Hal itu menghambat ke-

ngan otonomi daerah. Untuk itu, kontrol masyara-

mampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan

kat dan penegakan supremasi hukum perlu dikem-

kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pela-

bangkan. Peraturan perundangan yang mengatur

yanan masyarakat.

pengelolaan sumber daya alam harus dapat mengurangi tumpang tindih peraturan penguasaan

Pola pembangunan di Indonesia tidak merata.

dan pemanfaatan sumber daya alam, mewujudkan

Jawa dan Bali merupakan daerah dengan tingkat

keselarasan peran antara pusat dan daerah serta

pertumbuhan tercepat selama tiga dasawarsa ter-

sektor, dan melindungi hak-hak publik dan hak-hak

akhir, sehingga kekayaan terkonsentrasi di pulau

masyarakat adat. Di samping itu, pengendalian ter-

yang padat ini. Pertumbuhan di pelosok terkon-

hadap meningkatnya intensitas kegiatan penduduk

sentrasi pada daerah yang cocok bagi pertanian

dan industri juga diperlukan untuk mengurangi ka-

dan eksplorasi tambang saja. Laju pembangunan

dar kerusakan lingkungan di banyak daerah.

lebih lambat di Indonesia bagian timur yang sebagian besar berpenduduk sedikit dan jauh dari pu-

Desentralisasi dan kesenjangan antar daerah

sat kekuatan politik. Kesenjangan antara keadaan di Jawa dan Bali dan daerah lain melebar selama masa 1980-an dan 1990-an. Kesenjangan ekonomi antar daerah masih menjadi persoalan pembangun-

Undang-undang No. 22/1999 tentang Otonomi

an, terutama kesenjangan antara Kawasan Barat

Daerah dan UU No. 25/1999 tentang Kewenangan

Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI).

dan Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah

Kenyataan ini dapat dilihat dari pangsa produk do-

menetapkan kebijakan pembangunan daerah ber-

mestik regional bruto (PDRB) yang diberikan KBI

dasarkan GBHN 1999–2004 yaitu mengembangkan

dan KTI. Selama periode 1997-2000 rata-rata pangsa

otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung

PDRB KBI sebesar 82 persen dibandingkan pangsa

jawab; mengkaji kebijakan otonomi daerah bagi

KTI sebesar 18 persen.

provinsi, kabupaten/kota, dan desa; mewujudkan perimbangan keuangan pusat dan daerah secara

Penerapan kebijakan. Dalam mengatasi kesen-

adil; serta memberdayakan Dewan Perwakilan Rak-

jangan antardaerah serta dampak krisis ekonomi,

yat Daerah dalam melaksanakan fungsi dan peran-

pemerintah berusaha meningkatkan alokasi dana

nya.

langsung ke daerah, meningkatkan upaya penanggulangan kemiskinan, dan menggerakkan kembali

Tantangan. Ketidakadilan dalam pembagian sum-

kegiatan ekonomi di berbagai daerah secara me-

ber-sumber keuangan antara pusat dan daerah

rata. Namun upaya yang dilakukan oleh pemerintah

beberapa waktu lalu menyebabkan peningkatan

itu tidak akan berjalan optimal jika tanpa pember-

kesenjangan pertumbuhan ekonomi antar daerah,

dayaan kemampuan pelaku ekonomi, khususnya

kurangnya kemandirian daerah, dan munculnya keti-

masyarakat kecil, ataupun tanpa didukung investasi

dakpuasan masyarakat di daerah. Di samping itu, kri-

swasta di daerah. Peningkatan kemampuan pelaku

sis ekonomi menyulut peningkatan pengangguran,

ekonomi, khususnya masyarakat kecil, dilakukan

kemiskinan, dan permasalahan sosial lainnya di

melalui penyediaan akses terhadap sumber daya

beberapa daerah. Melemahnya kegiatan ekonomi

ekonomi dan kesempatan pengelolaan dan peman-

21

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

faatan sumber daya alam yang tersedia di daerah.

WTO, APEC dan ASEAN. Untuk menunjukkan semangat internasionalnya, Indonesia sangat berper-

Konteks internasional

an di dalam Kerjasama Selatan-Selatan dan terlibat secara aktif dalam program-program TCDC (Technical Cooperation between Developing Countries)

Pengaruh global Dalam era globalisasi pada saat

seperti penyelenggaraan training dan penyediaan

sekarang ini, pelaksanaan pembangunan di Indo-

tenaga ahli bagi Negara Negara belum berkem-

nesia dan negara-negara lain terkait erat dengan

bang di Asia dan Afrika.

komitmen-komitmen global dalam bidang ekonomi, perdagangan, transaksi keuangan, dan lain-lain.

Komitmen Indonesia sebagai salah satu penan-

Indonesia adalah anggota PBB dan pelbagai lem-

datangan MDG tercermin di dalam Garis-garis

baga lain di bawahnya, serta di gerakan Nonblok.

Besar Haluan Negara dan Propenas. Komitmen ini

Selain itu, Indonesia juga menandatangani perjan-

selanjutnya dituangkan dalam upaya penyusunan

jian dagang internasional, antara lain WTO, APEC,

strategi pengentasan kemiskinan yang sedang di-

OPEC, ASEAN, dan AFTA. Salah satu faktor utama

lakukan di baik tingkat nasional maupun daerah,

yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia

yang secara langsung berkaitan dengan ketercapai-

selama ini adalah mengalirnya dana melalui pena-

an target MDG.

naman modal langsung dan investasi portofolio,

22

pinjaman komersial, Bantuan Dana Pembangunan

Untuk mencapai target MDG pada 2015. Indo-

(Official Development Assistant/ODA) yang berupa

nesia masih memerlukan kerja sama internasional,

pinjaman lunak dan hibah. Indonesia adalah ang-

khususnya dengan negara maju. Karena kurangnya

gota aktif badan-badan keuangan maupun program

modal domestik, harus diusahakan agar arus masuk

PBB serta organisasi antar pemerintah seperti Ge-

modal asing lebih besar daripada arus modal ke-

rakan Non-blok. Selain itu juga terlibat dalam ber-

luar. Agar hal ini terjadi, Indonesia akan melakukan

bagai konvensi baik global maupun regional seperti

langkah nyata memperbaiki iklim investasi bagi pe-

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia

nanam modal yang telah ada dan yang akan datang.

terrey mengenai pendanaan pembangunan, yang

Perbaikan iklim investasi meliputi reformasi hukum

pada prinsipnya mengingatkan kembali negara

dan peraturan terkait dengan pelaksanaan usaha

maju untuk memenuhi komitmennya menyisihkan

di Indonesia. Masalah bagi sebagian besar nega-

0,7 persen dari pendapatan kotor nasional atau

ra miskin dan berkembang, termasuk Indonesia,

Gross National Income (GNI) negara yang ber-

adalah beban pembayaran pinjaman lebih besar

sangkutan untuk disalurkan kepada negara miskin

daripada aliran bantuan yang diterima. Karena

dalam bentuk ODA. Tindakan lain yang dapat di-

itu, dibutuhkan kemitraan antara negara kaya dan

tempuh adalah pembahasan pengalihan utang ke

miskin, salah satu dari tujuan MDG (Tujuan 8). Tanpa

dalam bentuk komitmen yang lain (debt swap).

kesepakatan antara negara maju dan berkembang,

Banyak isu yang dapat dikedepankan berkaitan

Indonesia akan kesulitan dalam mencapai taget

dengan hal ini, yaitu pengelolaan lingkungan

MDG2. Negara-negara maju juga harus berperan

hidup, pendidikan, kesehatan, dan penanggulang-

dalam membenahi sistem pinjaman luar negeri

an kemiskinan.

dan memperbesar pinjaman lunak yang diberikan agar memberikan dukungan yang nyata bagi negara miskin dan berkembang untuk mencapai sasaran MDG. Hal ini sesuai dengan Konsensus Mon-

Catatan 1

BPS-Statistics Indonesia, 2003. Statistical Year Book of Indonesia 2002 2 UNDP, 2003. Human Development Report.

23

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium Indonesia