Bentuk Pembelajaran Teknik Permainan Instrumen Keroncong

di gereja, acara pesta natal dan pergantian tahun baru. Sekitar abad ke-19 dalam perkembangannya, masuklah sejumlah unsur gaya musik tradisional Nusan...

0 downloads 0 Views 3MB Size
Bentuk Pembelajaran Teknik Permainan Instrumen Keroncong

Oleh : Agus Untung Yulianta

Musik keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele yang dimainkan dengan teknik arppegio, tirando, dan trill sehingga suaranya terkesan berbunyi crong-crong, karena itu instrumen tersebut juga dianggap sebagai ikon, atau simbul dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen ukulele. Instrmen ukulele mempunyai tiga dawai yang terbuat dari senar nilon dengan steming nada e terletak di senar nomor satu, nada b terletak di nomor dua, dan nada g pada nomor tiga. Oleh karena ukulele yang dimainkan sebagai alat musik keroncong sangat berbeda stemingnya, maka bentuk dan peletakan komposisi senarnya dalam penggunaan teknik permainannya sangat berbeda jika dibandingkan dengan jenis musik yang lain, dan disebut juga dengan nama cuk. Karakteristik bunyi dari instrumen cuk dengan menggunakan teknik arppegio, tirando, dan trill yang akhirnya menjadikan jenis musik tersebut dinamakan musik keroncong. Menurut pendengaran telinga masyarakat Indonesia, terdengar seperti crong, thung, thunglolot, thung, crong, (irama engkel), jika dimainkan dengan irama dobel/rangkep

berbunyi seperti

thung, thunglolot, thunglolot,

thunglolot. Gambar di bawah adalah bentuk permainan cak, cuk menggunakan teknik arppegio, tirando, dan trill dengan irama engkel.

1

Gambar 1. Bentuk Permainan Instrumen Cak dan Cuk

Instrumen yang digunakan dalam musik keroncong yaitu; cak, cuk, gitar string, cello gedhog, bass bethot, biola, flute. Bentuk pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan pemain perlu ditunjang dengan teknik permainan yang baik dan benar, biasanya dilakukan oleh antar anggota sendiri yang sudah dianggap mumpuni atau pandai. Teknik pukulan pada permainan instrumen musik keroncong ada beberapa variasi, sebagai berikut di bawah :

2

1) Pukulan Cokekan

Gambar 2. Bentuk Permainan Teknik Irama Cokekan

3

2) Pukulan Engkel

Gambar 3. Bentuk Permainan Teknik Irama Engkel

4

3) Pukulan Rangkep atau Dobel

Gambar 4. Bentuk Permainan Teknik Irama Rangkep/Dobel

5

b. Sejarah Musik Keroncong Keroncong menurut Ensiklopedi (2009: 3) menjelaskan bahwa akar keroncong berasal dari sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado, diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara. Awalnya, fado dibawakan oleh para budak dari Afrika yang masuk ke Portugis, kemudian berbaur dengan budaya Moor dari Afrika dan menjadi musik yang dikenal dengan nama Moresco. Dari daratan India (Goa) masuklah musik tersebut pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku, melemahnya pengaruh Portugis pada abad ke-17 di Nusantara tidak dengan serta-merta berarti hilang pula musik jenis ini. Bentuk musik moresco, yang diiringi oleh alat musik dawai, dan berkembangan di sekitar kampung Tugu di daerah Semper, Kecamatan Koja Jakarta Utara, karena hal tersebut maka musiknya disebut juga keroncong Tugu. Bentuk musik keroncong Tugu sangat dipengaruhi oleh musik Portugis, biasanya dimainkan untuk mengiringi kebaktian di gereja, acara pesta natal dan pergantian tahun baru. Sekitar abad ke-19 dalam perkembangannya, masuklah sejumlah unsur gaya musik tradisional Nusantara, seperti penggunaan seruling dan beberapa komponen gamelan. Keroncong menurut Jamalus (1981: 5) adalah bentuk musik campuran antara musik tradisional Nusantara dengan musik keroncong. Musik ini sudah populer di banyak tempat di Nusantara, bahkan hingga ke Semenanjung Malaya. Masa keemasan ini berlanjut hingga sekitar tahun 1960-an, dan kemudian meredup akibat masuknya gelombang musik populer (musik pop, rock, blues, dan jazz). Meskipun demikian, musik keroncong masih tetap dimainkan dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia sampai sekarang.

6

c. Bentuk Instrumen Musik Keroncong Sejarah

lahirnya

perkembangan

musik

keroncong

sebagai

hasil

percampuran budaya Portugis dan budaya Indonesia kira-kira pada tahun 1498, kemudian pada tahun 1511 mereka merebut Malaka. (Minasiani, 2009: 6). Sebagai pelepas rindu dan menghilangkan rasa kesepiannya, mereka membawa alat musik gitar kecil bernama ukulele yang bunyinya “ Crung-crung-crong-crong-crong “.

Gambar 5. Jenis dan Bentuk Instrumen Keroncong Tugu (Foto: Koleksi Minasiani) Oleh karena bunyi yang dikeluarkan oleh alat tersebut terasa asing ditelinga para pekerja pribumi, di mana nada dan bentuk akord yang dihasilkan bernotasi diatonis. Soeharto, (1996: 33) masyarakat pribumi mencoba membawakan dengan cara mereka sendiri yaitu dengan menggunakan tangga nada pentatonik, namun dalam penyajiannya masih terdengar medhok khususnya dalam cengkok, inilah embrio dari musik keroncong yang dikenal sampai sekarang. Bentuk ragam alat musik keroncong pada dasarnya terdiri dari 5 pemain belakang yaitu; cak, cuk, gitar, cello gedhog, dan bass bethot, serta pemain depan ialah; biola dan flute.

7

Penggunakan bentuk alat musik keroncong dapat dijabarkan sebagai berikut di bawah: 1) Ukulele (cak)

Gambar 6. Instrumen Cak (Foto: Koleksi Pribadi) Instrumen musik cak pada umumnya mempunyai 4 pasang dawai yang terbuat dari senar baja, di mana penempatan dua senar paling atas berjarak sangat dekat dibandingkan dengan senar lainnya dan mempunyai nada yang sama. Steming instrument cak yaitu; senar nomor tiga (2 senar paling atas dengan nada yang sama, d²), senar nomor dua dengan nada fis¹, sedangkan senar nomor satu nadanya b¹. Semua senar yang digunakan pada alat musik cak berjenis steel atau logam baja. Instrumen cak termasuk jenis alat petik dan berfungsi sebagai pengiring maupun pemegang ritmis, di mana intonasi nada atau range yang lebih tinggi jika dibandingkan alat petik lainnya, serta dimainkan secara kontra ritmis dengan cuk. Harmunah, (1987: 26) Pembawaan kontra ritmis cak terjadi pada pukulan syncopation dan akord yang dimainkan merupakan bentuk petikan rasquado.

8

2) Ukulele (cuk)

Gambar 7. Instrumen Cuk (Foto: Koleksi Pribadi) Alat musik cuk dikategorikan sebagai alat musik dawai, senar yang digunakan pada ukulele (cuk) yaitu senar nylon, dan instrumen ini biasanya mempunyai 3 utas tali senar, di mana adalah; senar nomor satu nadanya

steming register yang digunakan

- e², senar nomor dua dengan nada - b¹,

sedangkan senar nomor tiga menggunakan nada lebih tinggi dari lainnya yaitu - g². Penggunaan senar nylon pada instrumen ukulele musik keroncong bentuknya sama persis seperti yang digunakan oleh instrumen gitar nylon. Instrumen cuk termasuk jenis alat petik dan berfungsi sebagai pengiring maupun pemegang ritmis dengan intonasi nada atau range yang lebih rendah jika dibandingkan cak, dan suaranya cenderung middle serta dimainkan secara kontra ritmis antara cak dan cuk. Harmunah, (1987: 27) Pembawaan kontra ritmis cuk terjadi pada pukulan pertama dan ketiga, sedangkan akord yang dimainkan merupakan bentuk petikan rasquado, tirando, trill

dengan irama tenang ajeg serta mempunyai kebebasan

pengembangan akord. Kontra ritmis yang dimaksud pada musik keroncong diantaranya ialah antara instrumen cak dengan cuk.

9

Jika permainan cuk dimainkan tepat

diketukan pertama menggunakan teknik resquado, maka cak akan memainkan teknik yang sama akan tetapi dimulai ketukan ke dua. Apabila instrumen cuk memainkan teknik tremolo atau trill, maka cuk akan memainkan ritmis syncopation dengan nilai nada seperdelapan ataupun seperenambelasan, hal ini disesuaikan iramanya. 3) Gitar

Gambar 8. Instrumen Gitar (Foto: Koleksi Pribadi) Alat musik gitar merupakan jenis instrumen dawai yang senarnya terbuat dari bahan nylon atau string, tetapi gitar yang digunakan untuk permainan musik keroncong menggunakan string, dan memiliki enam utas tali senar dengan stem urutan nada e¹ untuk senar nomor satu (paling bawah), nada b¹ terletak di senar nomor dua, nada g¹ di urutan senar nomor tiga, nada d¹ pada senar nomor empat, sedangkan nada A terletak di senar nomor lima, dan untuk nada E pada senar nomor enam (paling atas). Instrumen gitar termasuk jenis alat petik dan berfungsi sebagai pengiring dengan memainkan melodi yang berjalan sesuai akordnya, baik menggunakan nilai nada seperempat samapai dengan sepertigapuluh dua, akan tetapi juga dapat menjadi pembawa melodi pokok.

10

4) Cello Gedhog

Gambar 9. Instrumen Cello Gedhog (Foto: Koleksi Pribadi) Bentuk fisik dari cello gedhog keroncong dan cello yang dipakai dalam setting instrumen musik klasik mempunyai bentuk hampir sama, meskipun kedua alat musik ini tergolong alat musik berdawai, tetapi perbedaan diantara kedua cello ini terletak pada senar yang digunakan. Cello pada instrumen musik klasik menggunakan senar logam terbuat dari baja stenleestel dan dinamakan string, sedangkan cello gedhog keroncong menggunakan senar yang terbuat dari nylon atau atau kulit sapi, dalam bahasa jawa di sebut jangat. Jika instrument Cello string menggunakan empat senar dengan stem yaitu : C –G – D – A. Sedangkan untuk instrumen Cello Gedhog ada dua macam stem senar yaitu : C – G – d dan D – G – d, teknik maupun cara memainkannya dengan cara dipetik( pizzicato), istilah bahasa jawa dibethot. Instrumen cello gedhog termasuk jenis alat petik dan berfungsi sebagai pengiring maupun pemegang ritmis dengan intonasi nada atau range yang lebih rendah jika dibandingkan alat petik lainnya kecuali bass bethot, serta bentuk permainannya sangat kontra ritmis dengan bass. Jika digunakan pada 11

jenis musik keroncong langgam jawa, maka ia beralih fungsi sebagai pengganti kendang dan pemegang tempo, baik untuk irama cokekan, engkel, maupun doble. 5) Bass Bethot

Gambar 10. Instrumen Bass Bethot (Foto: Koleksi Pribadi) Bass bethot merupakan alat musik yang ukurannya paling besar di antara 7 instrumen keroncong, dan berfungsi sebagai penjaga irama atau ritme. Cara memainkan kontra bass pada musik keroncong sama halnya dengan kontra bass yang dipakai dalam musik pop, jazz, tetapi senar yang digunakan terbuat dari nylon. Kontra bass memiliki stem nada : E – A – D – G, menurut pengalaman di lapangan kontra bass juga dapat diganti dengan bass elektrik. Instrumen bass bethot termasuk jenis alat petik dan berfungsi sebagai pengendali ritmis dengan intonasi nada atau range paling rendah jika dibandingkan alat petik lainnya.

12

6) Biola

Gambar 11. Instrumen Biola (Foto: Koleksi Pribadi) Biola merupakan salah satu alat musik gesek yang dipakai dalam musik keroncong, yang berperan sebagai melodi lagu pokok maupun melodi filler. Biola yang dipakai pada musik keroncong menggunakan stem nada yaitu : g - d¹ - a¹ - nada e² terletak di senar nomor satu, pada nada a¹ di urutan nomor dua, sedang nada d¹ terletak pada senar nomor tiga, dan nada G di senar nomor empat. Permainan teknik glissando sering dibawakan sebagai efek intonasi yang kurang murni pada nada panjang dan sengaja dimainkan nada sedikit lebih rendah, kemudian dinaikkan ke atas sehingga pembawaannya seperti pada gaya vocal keroncong. Biola di samping memainkan hal tersebut di atas juga bermain improfisasi sesuai dengan musikalitas dan perasaan masingmasing pemain.

13

7) Flute

Gambar 12. Instrumen flute (Foto: Koleksi Pribadi) Alat musik flute adalah alat musik tiup yang terbuat dari bahan kayu ataupun kuningan, alat musik tiup ini mempunyai ambitus suara dari : c¹sampai C4. Dalam musik keroncong ia dapat berperan sebagai melodi lagu pokok atau melodi filler dan pembawaan flute pada umumnya banyak menggunakan deretan interval nada dekat dengan tekanan pada nada bawah, sedangkan nada atas dimainkan secara staccato maupun glissando atau sebaliknya. (Harmunah, 1987: 24). Sejarah pada susunan alat musik keroncong seperti sekarang ini memerlukan proses yang sangat panjang, berawal dari kedatangan bangsa Portugis ke bumi Nusantara yang memperkenalkan sebuah alat musik yaitu ukulele atau disebut juga instrumen cuk, karena hanya dapat dimainkan seorang diri serta dirasa sangat membosankan maka bermunculan pula alat – alat yang lain guna meramaikan suasana dalam bermain musik pada saat itu seperti tempurung kelapa, kenthongan bambu dan lain sebagainya. (Harmunah, 1987: 26). Mulai terjadi suatu percampuran budaya atau inkulturasi antara kebudayaan Portugis dan kebudayaan Indonesia, serta seiring beralihnya zaman tepatnya pada awal abad ke16,

lebih kurang bersamaan dengan

berkembangnya agama Islam di Nusantara kemudian masuklah alat musik

14

rebana ke dalam musik keroncong. Setelah dimainkan dengan dua atau lebih ukulele dan rebana kemudian masuklah alat musik mandolin, sehingga bentuk awal musik keroncong ini disebut moresco. Bentuk musik moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, mandolin, cello, dan perkusi rebana, di mana komposisi orkes seperti tersebut di atas seluruh instrumen digunakan dan dipakai oleh komunitas keroncong Tugu. Jamalus (1981: 7) Bentuk keroncong tersebut di atas masih dimainkan oleh komunitas keturunan budak Portugis dari Ambon yang tinggal di Kampung Tugu, di sekitar Jakarta Utara, yang kemudian berkembang ke arah selatan di Kemayoran dan Gambir. Masyarakat Betawi menggabungkan antara musik keroncong dengan musik Tanjidor (tahun 1880-1920). Tahun 1960 pusat perkembangan pindah ke Solo, dan beradaptasi dengan irama yang lebih lambat sesuai sifat orang Jawa. Musik keroncong dapat beradaptasi dengan seni muatan lokal daerah, misalnya di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, ada alat-alat musik seperti sitar, rebab, suling bambu, gendang, kenong, saron, dan gong, dapat digabungkan, dicampurkan dengan musik keroncong terutama lagu-lagu langgam jawa.

15

Beberapa bentuk lagu keroncong yang biasa dimainkan untuk meteri ujian oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Musik Fakultas Bahasa dan Seni UNY.

16

Keroncong “Tanah AirKu”

17

Lagu keroncong “Hanya Engkau”

18

DAFTAR PUSTAKA

Harmunah.(1987). Musik Keroncong. Yogyakarta : Pusat Musik Liturgi. Jamalus. (1981). Musik untuk PSG. Jakarta : Depdikbud. Keroncong (2009). Katagori : Genre Musik Keroncong Indonesia, Ensiklopedia. Diambil pada tanggal 15 Oktober 2009, dari http://www.ac.id.wikipedia Soeharto (1996). Serba Serbi Keroncong. Jakarta : Mustika. Yusdasmoro, Minasiani.(2009). Krontjong Portugis. Diambil pada tangal 15 Oktober 2009, dari http://www. Krontjong.com

19