BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI

penggerek batang (Melanagromyza sojae), kutu kebul (B emisia sp), dan kutu daun (A phisglycines) Pengendalian hama-hama tersebut dilakukan secara terp...

0 downloads 57 Views 275KB Size
BUDIDAYA TANAMAN KEDELAI

BADAN KETAHANAN PANGAN DAN PENYULUH PERTANIAN ACEH BEKERJA SAMA DENGAN BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN NAD

2009

PENDAHULU AN Komoditas kedelai sudah umum dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk pembuatan tahu, tempe, kecap dan susu kedelai serta pakan ternak. Namun dewasa ini kedelai tidak hanya digunakan sebagai lumber protein, tetapi juga sebagai pangan fungsional yang dapat mencegah timbulnya penyakit-penyakit degeneratif, seperti jantung koroner dan hipertensi. Zat isoflavon yang ada pada kedelai ternyata berfungsi sebagai antioksidan. Dengan beragamnya penggunaan kedelai menjadi pemicu peningkatan kebutuhan komoditas ini. Saat ini harga kedelai di pasar Internasional naik 100%. Kalau di awal 2007 harga kedelai masih 300 dollar AS per ton di akhir tahun 2007 meningkat menjadi 600 dollar per ton. Kenaikan harga kedelai di pasar dunia berdampak langsung terhadap kenaikan harga kedelai di dalam negeri. Pemerintah Indonesia kembali menggalakkan menanam kedelai untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Berbagai upaya dilaksanakan pemerintah untuk mendorong peningkatan produksi kedelai, antara lain melalui program in t e n s if ika s i d a n e k s t en s if ik a si. Un t u k m en d u ku n g keberhasilan program tersebut, penyediaan varietas unggul memegang peranan penting, di samping penerapan teknologi budidaya lain, sarana produksi, penyuluhan, dan jaminan pasar yang baik. S Y AR AT T U M B U H Pengembangan kedelai dapat dilakukan di lahan sawah maupun di lahan kering, bergantung kepada iklim dan kebutuhan petani setempat. Tanaman Kedelai dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase (tata air) dan aerasi (tata udara) tanah cukup baik, curah hujan 100-400 mm/bulan, suhu udara 23-30°C, kelembaban 60-70%, pH tanah 5,8-7 dan ketinggian kurang dari 600 m dpl.

TEHNIK BUDIDAYA Bahan tanaman Berdasarkan warna bijinya dikenal kedelai kuning dan kedelai hitam. Pemeliharaan kedelai hitam umumnya lebih m u d a h d a r i p a d a k e d e l a i k u n i n g . K e d e l a i k u n i n g membutuhkan tanah yang lebih subur, serta memerlukan pengairan dan pemeliharaan lebih balk dari pada kedelai hitam. Kedelai hitam umumnya hanya digunakan untuk bahan baku kecap, sedangkan kedelai kuning untuk bahan baku tempe, susu kedelai, tahu serta makanan lainnya (tauco dan lain-lain). Gambar berikut merupakan contoh beberapa varietas kedelai berbiji kuning.

1

Gambar 1. Varietas Kipas Merah Bireuen dan Varietas Anjasmoro

Sampai saat ini, produktivitas kedelai nasional ditingkat petani rata-rata 1,3 t/ha dengan kisaran 0,6 – 2 t/ha. Sedangkan ditingkat penelitian telah mencapai 1,7 – 3,2 t/ha, bervariasi menurut kesuburan lahan dan penerapan teknologinya. Pada Tabel 1. di jelaskan karakter pokok yang menjadi tolak ukur pilihan terhadap varietas unggul kedelai rakitan Badan Litbang Pertanian adalah umur tanaman dan tipe biji yang dibedakan menurut bobot biji, potensi hasil, warna biji, dan sifat-sifat penting. Tabel 1. Beberapa varietas unggul kedelai rakitan Badan Litbang Pertanian. Varietas Wilis Burangrang

Bobot 100 biji (gr) 85-90 10,0 80-82 17,0

Umur (hari)

Potensi Hasil (ton/ha) 3,00 1,2-2,50

Kaba Anjasmoro

85 83

10,4 14-15,3

3,25 2-2,25

Sinabung

88

11,0

2,16

Ijen

83

11,2

2,15-2,49

Tanggamus

88

11,5

2,5

Kipas Merah

90

12

3,5

11,5 8,8 9,0

1,70 1,50 2,40

Cikuray Merapi Mallika

82-85 85-90 90

Warna biji

Sifat-sifat penting

Tahun

Kuning Adaptasi luas Kuning Tahan penyakit karat, rendemen susu tinggi

1983 1999

Kuning Kuning Tahan karat, tidak mudah pecah Kuning Agak tahan karat, tidak mudah pecah Kuning Tahan ulat grayak

2001 2001

Kuning Agak tahan karat, adaptif lahan masam Kuning Adaptasi luas

2001

Hitam Hitam Hitam

2001

2003

2008 1993 1999

2

Persiapan lahan Pada lahan kering, tanah dibajak 2 kali sedalam 30 cm, sedangkan pada lahan sawah dengan tanaman monokultur, tanah ditersihkan dari jerami, kemudian tanah diolah satu kalli. Kemudian dibuat saluran drainase setiap 4 m, sedalam 20-25 cm, lebar 20 cm. Pembuatan saluran drainase dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penggenangan air, karena tanaman kedelai tidak tahan terhadap genangan. Jika keadaan lahan masam, perlu diberi kapu r bersamaan dengan pengolahan lahan yang kedua atau paling lambat seminggu sebelum tanam. Pengapuran menggunakan dolomit dilakukan dengan cara menyebar rata dengan dosis 1,5 ton/ha. Jika ditambah pupuk kandang 2,5 ton/ha, maka dosis kapur dapat dikurangi menjadi 750 kg/ha.

Gambar 2. Saluran Drainase Untuk Mencegah Genangan Air

Penanaman Pilihlah waktu yang tepat, sehingga tidak mengalarni kebanjiran atau sebaliknya kekeringan. Penanaman dilakukan dengan tugal, dengan jarak tanam 40 cm x 15 cm atau 40 cm x 20 cm, due biji per lubang. Populasi tanaman kisarannya 350,000 – 500.000/ha Semakin subur lahan, sebaiknya jarak tanam semakin lebar.

Gambar 3. Penanaman Benih kedelai 3

Pemupukan Untuk lahan kering masam, dosis pupuk yang diberikan 75 kg Urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl/ha + 500 kg CaCO3/ha (setara 1500 kg dolomit). Pupuk urea, SP36 dan KCI diberikan paling lambat saat tanaman berumur 14 hari. Pupuk diberikan dengan cara ditugal atau dilarik 5-7 cm dari tanaman, kemudian ditutup tanah. Sedangkan kapur (dolomit) ditebar sebelum tanam saat pengolahan lahan kedua. Untuk lahan sawah, dosis pupuk 50 kg Urea + 50 kg SP36 + 100 kg KCl/ha. Teknik memasukkan pupuk kedalam lubang tugal yang telah dipersiapkan, terlihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Cara pemupukan ditugal disamping tanaman

Penyiangan Penyiangan dilakukan pra maupun pasca tumbuh dengan cara pemantauan baik secara mekanik – konvensional atau manual maupun secara kimia dengan menggunakan herbisida. Penyiangan dilakukan pada umur 15 dan 30 hari. Bila rumput masih banyak, maka penyiangan dilakukan lagi pada umur 55 hari. Pengendalian Hama Kedelai Pe n gen da lian hama d an pe n ya kit p ada tanaman kedelai berlandaskan strategi penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT). PHT adalah suatu cara Pendekatan atau cara pengendalian hama dan penyakit yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi dalam rangka pengelolaan ekosistem yang berwawasan lingkungan yang berkelanjutan. Strategi PHT adalah mensinergikan secara kompatibel beberapa teknik atau metode pengendalian hama dan penyakit didasarkan pada asas ekologi dan ekonomi. Tanaman kedelai pada musim tanam kedua, umumnya b a n y a k d i s e r a n g h a m a , a p a l a g i k a l a u l o k a s i t e r s e b u t sebelumnya juga ditanami kedelai atau kacang-kacangan lain. Hama yang sering menyerang adalah lalat bibit (Ophiomyia phaseoli), ulat pemakan dawn seperti ulat grayak 4

(Spodoptera, litura), ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites), dan ulat Heliothis, Sp serta penggulung daun (Lamprosema indicata), pengisap polong (Riptortus linearis, Nezara viridula dan Piezodorus rubrofasciatus), penggerek polong (Etiella zinckenella), penggerek batang (Melanagromyza sojae), kutu kebul (Bemisia sp), dan kutu daun (Aphisglycines) Pengendalian hama-hama tersebut dilakukan secara terpadu (PHT) dengan komponen pengendalian sebagai berikut:  Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan kedelai atau bukan kacangkacangan. Pergiliran kedelai dengan padi, jagung, atau ubijalar, merupakan salah satu cara dalam pengendalian hama kedelai.  Tanam seawal mungkin dan serempak dengan beda w a k t u t a n a m k u r a n g d a r i 1 0 h a r i d a l a m s a t u hamparan/wilayah.  Penggunaan varietas berumur genjah agar tanaman tidak terlalu lama menjadi sasaran hama.  Penanaman secara tumpangsari atau strip cropping dengan tanaman bukan kedelai atau bukan kacangkacangan.  Menghindari penanaman tanaman inang diluar musim tanam, seperti kacang panjang, kacang gude dan kacang hijau.  Penanaman varietas tahan hama, seperti varietas Kerinci dan Tidar.  Penggunaan mulsa jerami untuk mengurangi serangan hama lalat kacang.  Pengumpulan dan pemusnahan kelompok telur, ulat dan serangga hama dewasa secara mekanis/fisik. Penggunaan insektisida secara bijaksana, apabila populasi hama telah mencapai ambang kendali. Kalau kemampuan mengamati hama terbatas, aplikasi insektisida dapat berpedoman pada kondisi tanaman dalam periode kritis, yaitu ketika tanaman berumur 5-7 hari untuk lalat kacang, 16- 24 hari untuk hama daun, umur 40-50 hari untuk hama daun dan polong, dan umur 60-60 hari untuk hama polong. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam penggunaan insektisida adalah ketepatan waktu, takaran, dan cara penyemprotannya. 1.

Lalat bibit (Ophiomya phaseoli)

PHT hama lalat bibit dilakukan dengan cara pengamatan berkala terhadap populasi lalat bibit pada tanaman kedelai bila ditemukan 1 ekor imago/ 5 (lima) baris atau 1 ekor/ 50 rumpun pada umur 6-10 hari. Dilakukan tindakan pengendalian dengan menggunakan insektisida Spontan. Untuk mengurangi serangan hama tersebut, benih diberi perlakuan insektisida Marshal 25 ST. Hama Grayak (Spodoptera litura) PHT hama Grayak dilakukan dengan cara pengamatan berkala terhadap populasi grayak. Jika ditemukan serangan 12,5% pada umur kurang dari 20 Hari setelah tanam (HST) pada daun dan kerusakan 20% saat umur lebih dari 20 hari, maka dilakukan pengendalian secara kimia dengan menyemprotkan insektisida Decis 2,5 EC atau insektisida lain yang sejenis, sesuai dengan dosis anjuran. Penyemprotan dilakukan pada pagi atau sore hari. 2.

5

Gambar 5. Ulat instar atau S.litura.

3. Hama penggerek polong (Helicoverpa armigera, Etiella sp). Pengendalian hama penggerek polong dapat dilakukan dengan cara 

Tanam serempak dalam kurun 10 hari



Pergiliran tanaman



Penyemprotan NPV 180 ulat/500 It/ha



Tanaman perangkap jagung umur genjah, sedang dan dalam pada pematang



Pelepasan parasitoid Trichodarma



Jika sudah mencapai ambang kendali yaitu kerusakan polong 2,5% atau ditemui 2 ekor ulat/rumpun pada umur lebih dari 45 hari, tanaman disemprot insektisida efektif.

Gambar 6. Serangan penggerek polong 6

Pengendalian Penyakit Kedelai Ada beberapa penyakit utama yang dominan pada tanaman kedelai, yaitu hawar batang (Sclerotium rolsii), karat dawn (Phakopsora pachyrhizi) dan Virus. Penyakit hawar batang disebabkan oleh jamur Sclertium rolfsii Sacc. Gejala layu mendadak, daun-daun yang terinfeksi mulamula bercak berwarna merah, kemudian mengering. Untuk penyakit hawar batang pengendaliannya dengan melakukan perawatan benih dengan fungisida mankozeb.

Gambar 7. Gejala penyakit hawar batang

Penyakit karat daun penyebabnya adalah jamur Phakopsora pachyrhizi Syd. Gejala serangan terjadi pada daun timbul bercak-bercak berwarna klorotik sampai coklat kemerahan seperti terlihat di Gambar 9. Penyakit ini dapat dikendalikan dengan fungisida mancozeb.

Gambar 8. Gejala serangan penyakit karat daun

Pe n ya k it viru s ke rd il kede la i, viru s mo sa ik ke de la i. Penyebabnya adalah virus SMV (Soybean Mosaic Virus). Gejala serangan penyakit virus SMV seperti terlihat di Gambar 10. Untuk penyakit yang disebabkan oleh virus dapat dilakukan dengan upaya pencegahan dengan rotasi tanaman, pembakaran tanaman inang, pemberantasan serangga vektor, penggunaan benih sehat dan pembuangan tanaman sakit. 7

Gambar. 9. Gejala Penyakit Soybean Mosaic Virus pada Daun Kedelai

PANEN DAN PASCA PANEN Panen. Waktu, cara dan alat panen yang digunakan dalam pemanenan dapat mempengaruhi jumlah dan mutu hasil kedelai. Bila, dipanen terlalu awal akan banyak biji muda dan perontokkan biji relatif sulit dilakukan. Sebaliknya, kalau terlambat panen menyebabkan hilangnya biji di lapang. Untuk itu dianjurkan beberapa hal sebagai berikut : 

Panen dilakukan apabila semua daun rontok, polong berwarna kuning/coklat dan mengering.



Panen dimulai sekitar pukul 09.00 pagi. Pada saat ini air embun sudah hilang. Pangkal batang tanaman dipotong menggunakan sabit bergerigi atau sabit tajam. Hindari pemanenan dengan cara mencabut tanaman, agar tanah/kotoran tidak terbawa. Hasil panen dikumpulkan ditempat yang kering dan diberi alas terpal/plastik.

 

tanaman

telah

8

Gambar 11. Panen Tanaman Kedelai

Gambar 12. Perontokan menggunakan tresher

Gambar 12. Pengumpulan hasil panen

Gambar 13. pembersihan kedelai

Penanganan pasca panen yang terdiri dan penjemuran brangkasan tanaman, pembijian, pengeringan, pembersihan, dan penyimpanan biji perlu mendapat perhatian yang cukup. Sebab, kegiatan ini mempengaruhi kualitas biji atau benih yang dihasilkan. Kedelai sebagai bahan konsumsi dipetik pada umur 75 - 100 hari, sedangkan untuk benih umur 100 - 110 hari, agar kemasakan biji betul-betul sempurna dan merata. Penjemuran yang terbaik adalah penjemuran brangkasan kedelai diberi alas terpal.

Gambar 11. Cara penjemuran biji kedelai 9

Penyimpanan Penyimpanan biji kedelai untuk konsumsi: 

Biji disimpan dalam kantong plastik berukuran 30-40 kg, ketebalan 0,2 mm dan kedap udara.



Setelah biji dimasukan ke dalam kantong plastik, bagian atas kantong diikat kuat dengan tali rafia.



Kantong-kantong yang telah berisi biji-biji kedelai tersebut, kemudian dimasukan ke dalam karung plastik (seperti karung pupuk), dan bagian atas karung diikat dengan tali rafia. Kemudian disusun rapi ditempat penyimpanan/gudang. Penyimpanan biji kedelai digunakan untuk benih : 

Benih sebaiknya disimpan pada kadar air 8-9% dalam wadah kedap udara, antara lain seperti : 

kantong plastik dengan ketebalan 0,8 mm, ukuran kantong 10 kg, dan kantong diikat kuat.  Kaleng/kotak kayu kedap udara.





Kantong kertas semen, dan



Kantong aluminium foil.

Selanjutnya benih dalam wadah kedap udara tersebut disimpan di tempat/ruangan kering atau berpendingin. Yakni suhu sekitar 18 0C dengan kelembaban relative sekitar 60% (ruang ber- AC)

10

AN AL I S A U S AH AT AN I Tabel 2. Analisis usahatani kedelai Varietas Anjasmoro di lahan sawah, tahun 2008. Uraian

Unit/ha

Nilai Rp/ha

2,4 4.000 -

9.600.000

Borong 4 HOK 18 HOK 20 HOK 8 HOK 6 HOK 30 HOK

400.000 60.000 270.000 300.000 120.000 90.000 450.000

40 kg 50 kg 50 kg 100 kg 0.8 It 0.4 It 0.2 It 0.8 It 0.8 It 0.8 It

200.000 105.000 125.000 250.000 184.000 98.800 15.600 97.600 11.000 197.600 2.974.600 6.625.400 743.600 1.239.400 2.760.600 3.23

1. Penerimaan • Rataan hasil (ton/ha) • Harga kedelai (Rp/kg) • Nilai produksi (Rp/ha) 2. Biaya Tenaga Kerja/ha • • • • • • •

Pengolahan tanah Meratakan lahan Tanam dan memupuk Penyiangan-pembumbunan Penyemprotan Pengairan Panen dan prosesing

3. Biaya Sarana Produksi/ha

4. 5. 6. 7. 8. 9.

• Benih kedelai • Pupuk Urea • Pupuk SP36 • Pupuk KCI • Pestisida Decis • Curacron • Antracol • Dithane M-45 • Furadan • Matador Total Biaya (2+3) pendapatan (Gross Margin) BEP yield (kg/ha) BEP price (Biaya/kg kedelai Margin/kg R/C ratio

11

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 1991. Budidaya dan pengolahan hasil kedelai. Departemen Pertanian. Anonimous. 2007. Pedoman umum produksi benih sumber kedelai. Badan Litbang Pertanian. 29 hal. Anonimous. 2008. Ketersediaan teknologi dalam mendukung peningkatan produksi kedelai menuju swasembada. Siaran Pers. Badan Litbang Pertanian. Jakarta 12 Februari 2008. Amrizal Nazar, Kiswanto, Arl'i Irawati, Endriyani, Walyono. 2006. Pengkajian sistem usahatani kedelai di lahan sawah. Laporan Akhir Tahun. BPTP Lampung. Arief, R. Wylis dan D. R. Mustikawati. 2007. Kajian cars penjemuran brangkasan terhadap mutu biji kedelai untuk pangan. Makalah Seminar "Ketahanan Pangan" Peranan P2BN dan Prima Tani Dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Di Jawa Barat. Bandung, 27 November 2007. Erythrina, Minimes Sabki, Dewi Rumbaing, Zulkifli Zaini, Elma Basri, Endriani, Walyono, Tri Kusnanto. 2006. Kajian sistem usahatani kedelai di lahan kering Propinsi Lampung. Laporan Akhir Tahun. BPTP Lampung. Kalshoven, L.G.E. 1981. The pests of crops in Indonesia. Rev. by Dr. P.A. Van der Laan. PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve, Jakarta. p. 336-339. Kurniawan B. 2007. Mallika, Si raja kedelai hitam. Detik Finance. Senin 10/09/2007. Marwoto, E. Wahyuni, K.E. Neering. 1991. Pengelolaan pestisida dalam pengendalian hams kedelai secara terpadu. Monograf Balittan Malang No.7. Marwoto, Adi. Sarwanto. 2007. Panduan Umum Pengelolaan Tanaman Terpadu kedelai, Balitkabi.

12