Dalam Rangka Memperingati Hari Kartini 2015 Pelatihan

Produk wortel bentuk lembaran di atas, merupakan salah satu contoh ... Standard Operating Procedure (SOP) budidaya tanaman obat diperlukan untuk berba...

0 downloads 14 Views 2MB Size
Pariwara

IPB

Terbit Setiap Senin-Rabu-Jum’at

Dalam Rangka Memperingati Hari Kartini 2015 Agrianita IPB mempersembahkan

Seminar Kesehatan · Awas Salah Makan Bisa Sakit (Dr.dr.Sri Budiarti) · Makan Enak Tetap Sehat, Bugar & Menawan (Wied Harry) · Tips Senam Praktis (Murry) Tanggal 5 Mei 2015, Pukul 08.30‐1200 WIB di Aula Sumardi Sastra Kusumah, FPIK Kampus IPB Darmaga CP Seminar: Ibu Didit 0857 0818 072 CP Bazar : Ibu Irma 08787 0082 964

Pelatihan Ibadah Haji dan Umroh Tahun 2015 : Waktu: 8 Mei 2015, Pukul 09.00 ‐ 11.00 WIB Materi: “Mekkah dan Madinah” Pembicara: Prof. Dr. H. MH. Bintoro Tempat Pendaftaran: Sekretariat DKM, Lantai Dasar Masjid Al-Hurriyyah IPB Contact Person : Sdr. Abdul Basir (0858 1034 5684)

PARIWARA IPB/ Mei 2015/ Volume 221

Rektor IPB Membuka Jumling Perdana 2015 di Desa Ciherang

masyarakat yang terintegrasi dengan Collaboration Innovation Center, sekaligus penerapan pengolahan tanaman obat menjadi obat herbal yang bisa dimanfaatkan khasiatnya oleh warga”. Sementara itu, Kabag Bintal Setda Kabupaten Bogor, Enday Zarkasyi, S. Sos menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Jumling IPB di desa Lingkar kampus. Menurutnya, IPB selama ini telah banyak membantu pemerintah, dengan senantiasa memiliki perhatian terhadap pembangunan daerah dan memiliki empati sosial yang tinggi. IPB memperhatikan kehidupan masyarakat dan lingkungannya dengan kegiatan‐ kegiatan yang bermanfaat.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Herry Suhardiyanto membuka secara resmi rangkaian kegiatan Jumat Keliling (Jumling) IPB di 17 Desa Lingkar Kampus Tahun 2015, Jumat (24/4), di Desa Ciherang Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Kegiatan yang telah memasuki tahun ke‐8 ini mengambil tema “Kemitraan untuk Kemandirian”. Nampak hadir dalam Jumling IPB perdana pada 2015 ini antara lain Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB Dr. Prastowo, Kepala Bagian Bina Mental dan Kerohanian (Kabag Bintal) Setda Kabupaten Bogor, perwakilan PT. Perusahaan Gas Negara (PGN), Camat Dramaga, Kepala Desa Ciherang, sejumlah dosen dan peneliti IPB, serta tokoh masyarakat Desa Ciherang. Selain itu, Jumling ini juga dihadiri sedikitnya 200 orang warga. Rektor IPB, Prof. Herry Suhardiyanto menyatakan, “Bagi IPB bekerjasama dengan masyarakat desa lingkar kampus adalah suatu prinsip kesetaraan, karena itu tema yang diangkat kemitraan. Jadi IPB tidak dalam posisi menggurui, tidak dalam posisi untuk merasa lebih dari masyarakat, tetapi yang dilakukan IPB adalah bersama‐sama dengan masyarakat untuk memajukan desa yang ada di lingkar kampus”. Wakil Kepala LPPM IPB Bidang Pengabdian kepada Masyarakat Dr. Hartoyo dalam laporannya menjelaskan, “Pada kesempatan ini, IPB melakukan kerjasama dengan PT. Perusahaan Gas Negara, untuk melakukan suatu program yang disebut Togabuzi atau Tanaman Obat Keluarga dan Kebun Bergizi. Selain itu, ada juga peternakan sapi dan pengembangan biogas. Harapannya bisa memberikan motivasi pada warga dan menjadikan suatu model kerjasama pemberdayaan Penanggung Jawab : Yatri Indah Kusumastuti Pimpinan Redaksi: Siti Nuryati Redaktur Pelaksana: Rio Fatahillah Reporter : Siti Zulaedah, Dedeh H, Ahsan S, Awaludin, Waluya S, Nabila Rizki A Layout : Devi Fotografer: Cecep AW, Bambang A, Sirkulasi: Agus Budi P, Endih M, Untung Alamat Redaksi: Humas IPB Gd. Andi Hakim Nasoetion, Rektorat Lt. 1, Kampus IPB Darmaga Telp. : (0251) 8425635, Email: [email protected]

“Kegiatan Jumling IPB ini sangat efektif untuk membangun silaturrahim dengan masyarakat dan mendengar persoalan langsung dari masyarakat. Yang terpenting IPB sangat proporsional dengan tidak memposisikan diri sebagai menara gading intelektual yang jauh dari persoalan sosial masyarakat, melainkan menjadi mercusuar yang menerangi desa lingkar kampus, sehingga warga setempat bisa memperoleh peningkatan kehidupan dan kesejahteraannya,” imbuhnya. Di tempat yang sama, Dr. Saharuddin selaku Pembina Demplot Togabuzi Desa Ciherang menjelaskan, PT. Perusahaan Gas Negara dalam kerjasama dengan IPB ini memberikan ternak sapi sebanyak 30 ekor. Sedangkan untuk program Togabuzi ada sekitar 50 jenis tanaman obat yang siap dikembangkan di desa ini. Limbah ternak ini nantinya akan dikembangkan menjadi biogas. (Awl)

ORASI ILMIAH GURU BESAR Pada 25 April 2015, IPB menggelar Orasi Ilmiah tiga Guru Besar. kegiatan yang difasilitasi oleh Direktorat Administrasi Pendidikan ini bertempat di Auditorium Andi Hakim Nasoetion. Berikut ringkasan orasi ilmiah tersebut : Prof. Dr. Nuri Andarwulan Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB

Prof. Dr. Cece Sumantri Guru Besar Fakultas Peternakan IPB

“Perspektif Ekofisiologi Produksi Bahan Bioaktif Tanaman Obat”

“Menggali Potensi Komponen Bioaktif Sayuran Indigenous sebagai Zat Pengatur Kesehatan dan Ingredien Pangan Fungsional”

“Peluang Aplikasi Bioteknologi Molekular Untuk Perbaikan Genetik Ternak Berkelanjutan di Indonesia”

Standard Operating Procedure (SOP) budidaya tanaman obat diperlukan untuk berbagai tanaman obat sebagai akibat kekhasan setiap jenis spesies tanaman obat. Sediaan bahan baku obat yang terstandar diperlukan akibat berbagai penyakit yang ditemukan, misalnya penyakit‐penyakit infeksius, non infeksius, dan degeneratif yang ada pada saat ini, dan di masa mendatang (new emerging diseases/NED). Dari 90 ribu jenis tanaman yang t u m b u h d i I n d o n e s i a , 9 . 6 0 0 d i a n t a ra n y a teridentifikasi digunakan sebagai tanaman obat.

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi penghasil sayuran yang memiliki peran cukup nyata dalam menghasilkan berbagai jenis sayuran di Indonesia. Inventarisasi jenis sayuran indigenous di daerah Bogor menghasilkan 24 jenis sayuran indigenous yang berhasil dikoleksi di lokasi University Farm‐IPB.

Prof. Dr. Sandra Arifin Aziz Guru Besar Fakultas Pertanian IPB

Untuk memproduksi fitofarmaka terstandar terpilih, langkah‐langkah yang diambil oleh Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta dan Pusat Studi Biofarmaka ( P S B ) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB adalah melakukan studi agrobiofisik tanaman obat terpilih dan domestikasinya; studi penyediaan tanaman; pemuliaan tanaman obat terpilih; uji multi lokasi; penyusunan Good Agricultural Practices (GAP) dan SOP teknologi yang spesifik lokasi; dan kalibrasi teknologi spesifik lokasi. Studi‐studi ini menghasilkan klon harapan unggul baru, varietas spesifik lokasi, teknologi budidaya spesifik lokasi, dan GAP teknologi spesifik lokasi. Pada tingkatan pengembangan produksi dilakukan penerapan GAP dan Good Agricultural and Collection Practices (GACP) tanaman obat terstandar terpilih di petani dan perusahaan produsen, dan peningkatan produktivitas melalui teknologi spesifik lokasi berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim. Sampai saat ini GAP tanaman obat oleh Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan) belum dikeluarkan, tetapi arahan yang diberikan adalah sebaiknya budidaya tanaman obat dilakukan dengan sistem organik yang mengikuti kaidah GAP dan GACP dan merupakan produk alami. Sampai tahun 2011, baru ada penerapan 5 (lima) SOP Ke m e nta n ya n g d i te ra p ka n , ya i t u j a h e d i Temanggung, temu kunci di Purworejo, purwoceng di Wonosobo, kencur di Boyolali, dan temulawak di Semarang. Penerapan sesuai GAP untuk jahe di Ka ra n ga nya r d a n M a ge l a n g , te m u ku n c i d i Purworeajo, kencur di Boyolali dan temulawak di Semarang.(zul)

Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kadar fenol dari ekstrak sayuran indigenous berbanding lurus dengan aktivitas antioksidannya. Hampir semua sayuran indigenous memiliki potensinya masing‐ masing sebagai sumber senyawa tertentu yang diketahui memiliki efek fisiologis aktif maupun farmakologis bagi kesehatan. Kandungan total flavonoid yang paling tinggi adalah kenikir, diikuti oleh kedondong cina, beluntas dan lainnya. Senyawa flavonoid utama yang teridentifikasi dalam sayuran indigenous adalah kuersetin dan kaempferol dan kadar tertinggi ditemukan pada katuk dan kenikir. Beluntas dan kenikir memiliki aktivitas antioksidan tertinggi. Penelitian ini menunjukkan daun katuk, kenikir, dan beluntas diidentifikasi sebagai sayuran indigenous kaya flavonoid dan antioksidan. Dari riset‐riset yang dilakukan, sayuran telah terbukti m e m b e r i ka n b e r b a ga i m a nfa at ke s e h ata n . Peningkatan konsumsi sayuran berkorelasi dengan penurunan risiko penyakit jantung, stroke, artritis, penyakit radang usus, dan beberapa jenis kanker. Konsumsi sayuran dan produknya pada populasi dewasa di Bogor sekitar 97‐246 gram per hari. Selain itu, sayuran dikonsumsi oleh 71 persen ibu menyusui karena dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas air susu ibu (ASI). Diantara sayuran yang dikonsumsi, daun katuk dan bayam paling populer diikuti oleh daun pepaya dan bunga pepaya. Namun angka ini masih kecil dari yang dianjurkan yakni 400 gram per hari. Dalam upaya pengembangan pangan fungsional dari sayuran, Prof. Nuri dan tim mendapatkan paten untuk “Proses Pembuatan Lembaran Berserat Tinggi dari Bahan Baku Ekstrak Wortel”. Produk wortel bentuk lembaran di atas, merupakan salah satu contoh pengembangan produk pangan fungsional. Pengembangan berbagai hidangan dari daun kolesom juga telah tersedia. Potensi sayuran indigenous Jawa Barat sesuai hasil penelitian yang terkait dengan komponen bioaktif dan khasiatnya sangat besar untuk dikembangkan sebagai ingredien dan atau pangan fungsional. (Zul)

Setiap tahun terjadi penurunan produktivitas ternak kerbau sebesar tiga persen. Jumlah kerbau yang ada sekarang hanya sekitar 1,5 juta ekor. Image kerbau yang sudah negatif (karena dipotong saat sudah tua sehingga dagingnya menjadi alot) mempengaruhi terjadi penurunan ini, selain karena kalah bersaing dengan sapi. Ini adalah salah satu contoh kondisi peternakan Indonesia. Ada beberapa ternak yang belum dikonsumsi secara optimal seperti kerbau dan kambing. Di sisi lain, Indonesia impor daging sebesar 68,44 persen per tahun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk semua produk susu dan olahannya, Indonesia sangat tergantung dari impor yakni sebesar 80 persen. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan diversifikasi konsumsi protein hewani. Permintaan protein hewani nasional yang sangat besar berupa daging, susu, dan telur serta produk olahannya dikarenakan pesatnya pertumbuhan penduduk, meningkatnya daya beli, dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan gizi. Kondisi tersebut menyebabkan importasi ternak hidup dan produk peternakan terus dilakukan dalam jumlah besar dan terus meningkat setiap tahunnya. Kebijakan importasi dengan tendensi yang terus meningkat, membawa konsekuensi stabilitas ketersediaan pangan nasional menjadi rentan karena ketergantungan pada pihak luar. Kondisi tersebut dapat menjadi suatu ancaman dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. Keterbatasan bibit unggul ternak asli dan lokal merupakan salah satu faktor yang m e ny e b a b ka n t i d a k b e r ke m b a n g ny a a g r i b i s n i s p e t e r n a ka n d i I n d o n e s i a . Bioteknologi genetika molekuler sebagai salah bentuk bioteknologi modern yang terus mengalami perkembangan pesat dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk perbaikan genetik, pemanfaatan, serta konservasi ternak asli dan lokal pada sistem produksi ternak berkelanjutan.(zul)