EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI

Pembuatan larutan stok dilakukan dengan menimbang 1 g deterjen dan dilarutkan dalam 1 liter air. Dari cara ini diperoleh larutan stok dengan konsentra...

0 downloads 77 Views 280KB Size
EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI FITOREMEDIASI PADA DETERJEN DENGAN MENGGUNAKAN TANAMAN GENJER (Limnocharis flava) Fitoremediation Effectivity and Efficiency of Yellow velvetleaf (Limnocharis flava) for Detergent Orthophosphate Sari Ikawati1), Andi Zulfikar2), Diana Azizah2)

Programme Study Management of Aquatic Resources Faculty of Marine Science and Fisheries Maritime Raja Ali Haji of University Email : [email protected] Abstrak Pencemaran yang berasal dari deterjen dapat menyebabkan unsur hara berlebih pada badan air di alam karena mengandung phospat. Hal tersebut dapat menyebabkan eutrofikasi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kandungan orthophosfat di dalam perairan adalah dengan metode fitoremediasi dengan memanfaatkan tanaman air. Genjer (Limnocharis flava) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai agen fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase (%) tingkat penyerapan yang efektif dari berbagai konsentrasi orthoposfat deterjen dengan detensi (lamanya) waktu fitoremediasi tersingkat/efisien dalam menyerap kandungan orthofosfat dengan menggunakan Genjer (Limnocharis flava). Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan konsentrasi orthoposfat pada deterjen 0,05 mg/L, 0,08 mg/L, dan 0,13 mg/L dan detensi waktu fitoremediasi (hari ke-2, hari ke-4, dan hari ke-6). Efektivitas fitoremediasi penyerapan orthoposfat deterjen dengan waktu tersingkat yang optimal (efisien) bagi proses fitoremediasi yaitu fitoremediasi pada perlakuan konsentrasi 0,05 mg/L dihari ke-2 (k1t2) sebesar 13,33 % atau senilai dengan 0,007 mg/L penyerapan orthoposfat perharinya. Kata kunci : Fitoremediasi, Genjer (Limnocharis flava), Deterjen, Orthoposfat Abstract Waste disposal without waste treatment from detergent to natural water resources will increase nutrient level, especially phosphate. This will ignite eutrofication in natural water and will increase suitability for water biota environment. Fitoremediation using Yellow velvetleaf (Limnocharis flava) is one of solution to at least reducing orthophosphate concentration from natural water. This study was conducted to investigate persen effectivity and the most efficient treatment which reduce orthophosphate from water. Factorial in completely randomized design (CRD) with two variables (orthophosphate concentration and time detention) was used. Orthophosphate concentrations were 0.05 mg/L, 0.08 mg/L, 0.13 mg/L and time detentions were 2, 4 and 6 days, with independent variable was effectivity and efficiency of Yellow velvetleaf (Limnocharis flava) to eliminate orthophosphate based on interaction of initial orthophosphate concentrations and time detentions. The most effective and efficient for absorbing orthophosphate from water was treatment with initial concentration at 0.05 mg/L for 2 days with 13.33% (0.007 mg/L) orthophosphate absorbing per day.

Keywords: Phytoremediation, Genjer (Limnocharis flava), Detergents, Orthophosphate

1 2

Student of Aquatic Resource Management Programme Study Lecture of Aquatic Resource Management Programme Study

1

I.

al., 2005 bahwa genjer mampu menurunkan phospat air limbah deterjen sebesar 28,9% pada konsentrasi 20% atau menurun dari 2 mg/L menjadi 1,423 mg/L, pada konsentrasi 40% menurun dari 2 mg/L menjadi 1,456 mg/L atau sebesar 17,6%, sedangkan pada konsentrasi 60% juga mengalami penurunan dari 2,900 mg/L menjadi 1,977 mg/L atau sebesar 31,8%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi dan detensi waktu yang palaing efektif dan efisien dalam menyerap orthoposfat deterjen dengan menggunakan tanaman genjer. Manfaat dari penelitian ini adalah hasil dari penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam usaha mengatasi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh air limbah deterjen, serta mendorong penelitian lain untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pengolahan limbah deterjen.

PENDAHULUAN

Air merupakan sumberdaya alam yang mempunyai fungsi sangat penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya serta sebagai modal dasar dalam pembangunan. Perkembangan penduduk yang semakin meningkat sejalan dengan ketergantungan manusia terhadap air pun semakin besar, maka dewasa ini air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian yang seksama dan cermat. Karena untuk mendapatkan air yang bersih, sesuai dengan standar tertentu, saat ini menjadi barang yang mahal karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari hasil kegiatan manusia, baik limbah dari kegiatan rumah tangga, limbah dari kegiatan industri dan kegiatan-kegiatan lainnya. Salah satu faktor pencemaran lingkungan di perairan yaitu merupakan limbah domestik yang bersifat cair, berasal dari buangan limbah yang mengandung deterjen, seperti limbah rumah tangga, loundry, rumah makan serta pabrik. Detergen merupakan senyawa sabun yang terbentuk melalui proses kimia. Pada umumnya komponen utama penyusun detergen adalah Natrium Dodecyl Benzen Sulfonat (NaDBS) dan Sodium Tripolyphosphat (STPP) yang bersifat sangat sulit terdegradasi secara alamiah (Sumarno et al., dalam Hermawati et al., 2005). Pada deterjen terdapat unsur posphat yang dapat menyebabkan eutrofikasi karena besifat nutrien. Phospat sebagai orthoposfat dikategorikan kepada tingkat/level eutrofik apabila kandungannya bekisar 0,031-0,1 mg/L pada perairan (Effendi, 2003). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kandungan phospat di dalam perairan adalah dengan metode fitoremediasi menggunakan tanaman genjer. Fitoremediasi adalah pemanfaatan tumbuhan, mikroorganisme untuk meminimalisasi dan mendetoksifikasi polutan, karena tanaman mempunyai kemampuan menyerap logam dan mineral yang tinggi atau sebagai fitoakumulator dan fitochelator. Konsep pemanfaatan tumbuhan dan mikroorganisme untuk meremediasi tanah yang terkontaminasi polutan adalah pengembangan terbaru dalam teknik pengolahan limbah. Fitoremediasi dapat diaplikasikan pada limbah organik maupun anorganik dalam bentuk padat, cair, dan gas (Salt et al., dalam Rossiana et al., 2007). Dipilihnya genjer karena berdasarkan penelitian sebelumnya tanaman ini memliki kemampuan dalam mengolah limbah deterjen. Seperti yang telah dilakukan oleh Hermawati et

II.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini berlangsung selama 5 bulan sejak bulan Februari hingga Juni 2013. Untuk perlakuan sampel limbah yang akan difitoremediasi sesuai dengan desain penelitian bertempat di lokasi yang telah disediakan peneliti di Jl. Maharani Km.5 Atas Tanjungpinang, Propinsi Kepulauan Riau. Sedangkan untuk uji analisis kandungan fosfat akhir pada detergen menggunakan jasa analisis di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL PPM) Kelas I Pulau Batam Jalan. R.E. Martadinata No.16 Sekupang Batam, Propinsi Kepulauan Riau. 2.1.

Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah spektofotometri yang digunakan untuk pengujian orthoposfat, thermometer digunakan untuk mengukur suhu, turbidymeter digunakan untuk mengukur kekeruhan, pH meter digunakan untuk mengukur nilai pH, DO meter digunakan untuk mengukur DO (oksigen terlarut), wadah untuk treatmen ukuran 10L, genjer dan deterjen merek Boom Putih. 2.2.

Rancangan Penelitian

Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3x3 dengan 3 ulangan. Total keseluruhan rancangan 2

penelitian dengan 9 kombinasi dan 3x pengulangan berjumlah 27 petak bak penelitian. Variabel penelitian meliputi: a. Variabel Bebas: Faktor pertama adalah konsentrasi orthoposfat pada deterjen dengan menggunakan 3 taraf, yaitu 0,05 m/L, 0,08 m/L dan 0,13 m/L. Faktor kedua adalah lamanya hari (detensi waktu) selama 6 hari dengan pengukuran 3 taraf yaitu hari ke-2, hari ke-4 dan hari ke-6. b. Variabel terikat: penyerapan orthoposfat Dalam percobaan RAL pola faktorial setiap unit percobaan ditempatkan secara acak serta tidak mengikuti suatu pola baris atau lajur tertentu.

ambang atas konsentrasi orthoposfat tersebut dengan nilai yang didapat. 2.4. Pembuatan Larutan Stok Pada penelitian detergen yang digunakan sebagai bahan uji merupakan deterjen merek Boom Putih yang berbentuk bubuk. Pembuatan larutan stok dilakukan dengan menimbang 1 g deterjen dan dilarutkan dalam 1 liter air. Dari cara ini diperoleh larutan stok dengan konsentrasi 1000 mg/L deterjen. Larutan stok ini kemudian diencerkan sesuai dengan konsentrasi perlakuan konsentrasi orthoposfat yang dibutuhkan untuk uji sesungguhnya dengan menggunakan formula:

Tabel 1. Perlakuan Faktorial No

Konsentrasi

1. 2. 3.

k1 k2 k3

t2 k1t2 k2t2 k3t2

Waktu t4 k1t4 k2t4 k3t4

V1∙N1 = V2∙N2 t6 k1t6 k2t6 k3t6

Dimana : V1 = volume larutan stok (ml) N1 = konsentrasi larutan stok (mg/L) V2 = volume larutan yang diinginkan (ml) N2 = konsentrasi perlakuan (mg/L)

2.3. Penentuan Konsentrasi

2.5. Aklimatisasi Genjer (Limnocharis flava)

Konsentrasi phospat deterjen sebagai orthoposfat yang merupakan bahan uji bervariasi ditentukan sesuai dengan rumus penentuan dosis menggunakan persamaan perhitungan logaritma seperti berikut. N Log

Tanaman genjer yang akan digunakan kemudian dibersihkan dari kotoran yang menempel untuk selanjutnya diaklimatisasi sebelum penelitian. Aklimatisasi tanaman dilakukan dengan mengadaptasikan tanaman pada bak plastik selama 3 hari sebelum dipindahkan ke bak uji sesungguhnya. Tanaman genjer yang telah diaklimatisasi selama 3 hari, kemudian ditimbang, dipilih dengan berat 300g dan yang memiliki kriteria berdaun segar berwarna hijau, tinggi dan berat masing-masing individu tanaman genjer dianggap homogen.

a = k (Log

) n n Maka, Log N – Log n = k log a – k log n……..(1) a b c d e = = = = ……………….(2) n a b c d

2.6. Perlakuan Tanaman (Limnocharis flava)

Dimana N = konsentrasi ambang batas n = konsentrasi ambang bawah a = konsentrasi terkecil dalam deret konsentrasi yang ditentukan k = jumlah konsentrasi yang diujikan

Genjer

Tanaman yang telah disortir kemudian dipindahkan kedalam bak-bak plastik yang telah berisi limbah model deterjen sesuai dengan masing-masing konsentrasi orthoposfat yang telah ditentukan. Bak perlakuan ditempatkan pada areal terbuka yang cukup terlindung dari matahari dan diberi pelindung agar terhindar dari perubahan cuaca dengan menggunakan atap terpal transparan. Selama hari pengamatan fitoremediasi yaitu hari ke-2, hari ke-4 dan ke-6 dilakukan pengujian orthoposfat pada deterjen yang diberi perlakuan fitoremediasi untuk membandingkan dengan kandungan awal orthoposfat sebelum

Konsentrasi orthoposfat deterjen sebagai bahan uji yang digunakan didasarkan dari kadar orthoposfat di perairan yang dapat menyebabkan eutrofikasi (0,031-0,1 mg/L) dimana nilai ambang bawah didasarkan pada 0,031 mg/L sebagai (n) sedangkan nilai ambang atas adalah 0,1 mg/L sebagai (N). Dari hasil perhitungan maka didapat konsentrasi dengan 3 taraf yang merupakan nilai yang berada pada rentang nilai ambang bawah dan 3

fitoremediasi. Sebelum dan selama pengamatan perlakuan sebaiknya air detergen juga diukur parameter fisik dan kimia yang mendukung meliputi suhu, kekeruhan, derajat keasaman (pH) dan oksigen terlarut (DO) dan COD (Chemical Oxygen Demand).

deskriptif untuk memberikan gambaran tentang pengaruh detensi (lamanya) waktu dan perbedaan konsentrasi orthoposfat deterjen terhadap penyerapan orthoposfat oleh tanaman genjer.

III. 2.7.

Uji Orthoposfat 3.1. Uji Kandungan Phospat pada Deterjen Boom Putih

Pada pengamatan tiap hari ke-2, hari ke-4 dan hari ke-6 dilakukan uji orthoposfat pada tiap wadah penelitian sesuai dengan perlakuan yang sudah ditentukan. Sampel orthoposfat yang akan di uji dimasukkan pada masing-masing wadah botol sampel khusus yang telah diberi label sesuai kode perlakuan dan selanjutnya disimpan dalam cool box/ice box kemudian didinginkan dengan meletakkan es batu secukupnya sebagai salah satu upaya penanganan sampel selama perjalanan sebelum tiba ditempat uji analisis. Sampel uji orthoposfat yang telah didinginkan ini mampu bertahan selama 48 jam (2 hari). 2.8.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil uji laboratorium di BTKL Sekupang Batam, kandungan phospat yang di ukur dalam bentuk persen orthophospat (P2O5). Persentase kandungan orthoposfat dalam deterjen Boom Putih sebesar 50,86 mg/L. Berdasarkan perhitungan laboratorium tersebut dan kisaran eutrofikasi orthoposfat menurut Effendi (2003) sebesar 0,031 – 0,1 mg/L, ditentukan tiga konsentrasi orthoposfat yang berbeda (0,05 mg/L, 0,08 mg/L dan 0,13 mg/L). 3.2. Hasil Uji dan Analisis Kandungan Orthoposfat

Analisis Data

Deskriptif

Berdasarkan perhitungan maka diperoleh hasil rata-rata kandungan orthopospat dalam wadah air percobaan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tampilan Tabel 1.

Model linier aditif untuk rancangan faktorial dua faktor dengan rancangan lingkungannya RAL adalah sebagai berikut : Yijk = µ + α1 + βj + (αβ)ij +εijk Keterangan : Yijk = pengamatan pada satuan percobaan kek yang memperoleh kombinasi perlakuan taraf ke-1 dari faktor A dan taraf ke-j dari faktor B. µ = mean populasi α1 = pengaruh taraf ke-i dari faktor A βj = pengaruh taraf ke-j dari faktor B (αβ)ij = pengaruh taraf ke-i dari faktor A dan taraf ke-j dari faktor B εijk = pengaruh acak dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij. εijk˜N(0,a2). Untuk mengetahui pengaruh detensi waktu dan konsentrasi orthoposfat terhadap penyerapanorthoposfat dengan menggunakan tanaman genjer, digunakan program software SPSS ver 17 untuk Analisis Sidik Ragam (ANOVA dua arah). Menurut Setiawan (2009), jika pada hasil analisis sidik ragam diperoleh nilai F hitung > F tabel 0,5 maka perlu dilakukan uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil analisis akan disimpulkan dan ditabulasikan dalam bentuk tabel serta dianalisa secara

Tabel 2. Rata-rata Kandungan Orthoposfat dalam Air Wadah Percobaan No

Perlakuan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

k1t2 k2t2 k3t2 k1t4 k2t4 k3t4 k1t6 k2t6 k3t6

Ulangan 1 0,04 0,06 0,12 0,04 0,05 0,10 0,02 0,04 0,09

2 0,04 0,07 0,12 0,04 0,05 0,10 0,02 0,04 0,09

3 0,03 0,06 0,11 0,03 0,04 0,09 0,03 0,04 0,10

Rata-rata (mg/L) 0,037 0,063 0,117 0,037 0,047 0,097 0,023 0,040 0,093

Tabel 2 menunjukkan data kandungan orthopospat dalam air wadah percobaan bahwa rata-rata tertinggi terdapat pada perlakuan k3t2 dengan nilai penyerapan 0,117 mg/L, k3t4 dengan nilai penyerapan 0,097 mg/L dan k3t6 dengan nilai penyerapan 0,093 mg/L dengan konsentrasi 0,13 mg/L. Tingkat rata-rata penyerapan orthoposfat oleh tanaman Genjer berdasarkan data dari Tabel 2 disajikan pada Tabel 3.

4

mg/L. Perbedaan tersebut ditunjukkan dengan nilai sig < 0,05. Sedangkan hasil uji lanjut dari faktor hari, tingkat penyerapan orthoposfat tanaman genjer berdasarkan lamanya hari, berbeda nyata pada semua lamanya hari (hari ke 2, 4 dan 6) Perbedaan tersebut ditunjukkan dengan nilai sig < 0,05. Kombinasi terbaik dari konsentrasi awal dan lamanya hari terhadap tingkat rata-rata penyerapan orthoposfat adalah perlakuan k2t6 (konsentrasi awal orthoposfat 0,08 mg/L selama 6 hari). Laju penyerapan orthoposfat tiap perlakuan berdasarkan lamanya hari tertinggi terjadi selama hari ke-6.

Tabel 3. Rata-rata Penyerapan Orthoposfat oleh Tanaman Genjer No

Perlakuan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

k1t2 k2t2 k3t2 k1t4 k2t4 k3t4 k1t6 k2t6 k3t6

Ulangan 1 0,01 0,02 0,01 0,01 0,03 0,03 0,03 0,04 0,04

2 0,01 0,01 0,01 0,01 0,03 0,03 0,03 0,04 0,04

3 0,02 0,02 0,02 0,02 0,04 0,04 0,02 0,04 0,03

Ratarata (mg/L) 0,013 0,017 0,013 0,013 0,033 0,033 0,027 0,040 0,037

Hasil uji laboratorium dan analisis deskriptif tingkat rata-rata penyerapan orthoposfat dari 9 perlakuan, tertinggi terdapat pada perlakuan k2t6 (konsentrasi 0,08 mg/L selama 6 hari) dengan nilai penyerapan 0,04 mg/L. Sedangkan tingkat penyerapan rata-rata orthoposfat terendah pada perlakuan k1t2 (konsentrasi 0,05mg/L selama 2 hari), k1t4 (konsentrasi 0,05mg/L selama 4 hari) dan k3t2 (konsentrasi 0,13mg/L selama 2 hari) mempunyai nilai yang sama sebesar 0,013 mg/L.

3.4. Efektivitas dan Efisiensi Penyerapan Orthoposfat Efektivitas penyerapan orthoposfat merupakan tingkat keberhasilan genjer (Limnocharis flava) dalam menyerap orthoposfat deterjen pada setiap konsentrasi orthoposfat yang berbeda. Tingkat efisiensi penyerapan orthoposfat merupakan tingkat ketepatan waktu yang menunjukkan bahwa genjer mampu menyerap orthoposfat dalam jangka waktu fitoremediasi yang lebih singkat. Tingkat efektivitas penyerapan orthoposfat pada tiap perlakuan menghasilkan tingkat efektivitas penyerapan orthoposfat terbaik yaitu pada perlakuan k1t6 dengan persentase penyerapan total sebesar 53,33% atau senilai dengan 0,027 mg/L. Dari keseluruhan perlakuan fitoremediasi tingkat efisiensi penyerapan othoposfat terbaik yaitu pada perlakuan konsentrasi 0,05 mg/L pada hari ke-2 (k1t2) dengan nilai persentase penyerapan sebesar 13,33% atau sebesar 0,007 mg/L penyerapan perhari. Dari penelitian ini menunjukkan tingkat efektivitas dan efisiensi terbaik dari konsentrasi awal dan lamanya hari terhadap tingkat rata-rata penyerapan orthoposfat oleh tanaman genjer adalah perlakuan k1t2 (konsentrasi orthoposfat awal 0,05 mg/L selama 2 hari) yaitu dengan nilai rata-rata persentase penyerapan sebesar 13,33 %. Hal ini memperlihatkan bahwa tanaman genjer mampu menyerap kandungan orthoposfat tertinggi dalam waktu fitoremediasi ke-2 atau selama dua hari dengan konsentrasi awal orthoposfat 0,05 mg/L sebesar 13,33%.

3.3. Faktorial dalam RAL Uji statistik menggunakan uji faktorial berdasarkan interaksi level konsentrasi dan jumlah hari terhadap tingkat penyerapan orthoposfat oleh tanaman genjer menggunakan software SPSS ver 17. Uji kesesuaian asumsi untuk uji faktorial menggunakan Levene’s Test of Equality of Error Variances. Hasil uji ini adalah 0,106 (> 0,05) yang berarti signifikan. Nilai uji ini harus lebih besar dari 0,05 yang berarti keragaman dari variabel terikat antar seluruh kelompok adalah sama. Berdasarkan hasil uji faktorial yang disajikan pada Tabel 1 baik faktor konsentrasi awal orthoposfat, jumlah hari maupun interaksi konsentrasi dan hari, mempunyai interaksi efek yang signifikan (nilai sig ≤ 0,05) terhadap penyerapan orthoposfat oleh tanaman genjer dengan nilai sig berturut-turut 0.000; 0.000 dan 0,049. Uji lanjut Tukey (beda nyata jujur) dilakukan untuk melihat perbedaan antar berbagai level perlakuan. Berdasarkan hasil uji lanjut dari faktor konsentrasi awal orthoposfat, tingkat penyerapan tanaman genjer pada konsentrasi awal orthoposfat 0,05 mg/L berbeda nyata dengan konsentrasi awal 0,08 mg/L dan 0,13 mg/L. Tingkat penyerapan orthoposfat tanaman genjer pada konsentrasi awal 0,08 mg/L tidak berbeda nyata dengan konsentrasi awal orthoposfat 0,13 5

3.5. Analisis Kualitas Air

masih dapat berlangsung dengan nilai penyerapan sebesar 0,027 mg/L.

Parameter kualitas air yang diamati pada penelitian ini meliputi suhu, kekeruhan, pH, oksigen terlarut dan COD.

3.5.4. Oksigen Terlarut (DO) Hasil rata-rata pengukuran nilai oksigen terlarut pada setiap perlakuan berkisar antara 3,31 – 6,73 mg/L. Nilai ini termasuk baik untuk mendukung kehidupan organisme perairan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hermawati et al., 2005 yang menyatakan kadar oksigen terlarut < 3 mg/L kan membahayakan organisme perairan karena dapat mengakibatkan kematian.

3.5.1. Suhu Hasil penelitian ini suhu air berkisar 26oC27oC masih dalam batas suhu optimum untuk pertumbuhan yaitu 10oC-38oC (Rahayu, et al., dalam Rosnah 2012). Pada konsentrasi 0,08 mg/L selama 6 hari mengalami kenaikan di bandingkan dengan konsentrasi dan hari lainnya yaitu sebesar 27,03oC. Peningkatan suhu berpengaruh terhadap tingkat penyerapan, karena suhu berkaitan dengan proses metabolisme dan fotosintesis. Menurut Hidayat dalam Rosnah (2012) semakin tinggi suhu lingkungan tanaman maka semakin tinggi tingkat penyerapan oleh tanaman, dimana suhu lingkungan akan menyebabkan proses fotosintesis meningkat, sehingga penyerapan tanaman akan meningkat juga.

3.5.5. COD Hasil rata-rata pengukuran COD pada penelitian ini berkisar 11-36 mg/L. Berdasarkan pengukuran selama penelitian berlangsung menunjukkan bahwa nilai COD berada pada tingkat kelayakan tidak tercemar karena nilainya masih dibawah tingkat kelayakan perairan tercemar yaitu 200 mg/L (UNESCO, WHO/UNEP, 1992) dalam Effendi (2003).

3.5.2. Kekeruhan IV. Nilai kekeruhan pada penelitian ini berkisar 3 NTU - 11 NTU masih dalam keadaan normal yaitu ≤ 20 NTU, sehingga penyerapan orthoposfat tetap dapat berlangsung. Hal ini di dukung oleh pendapat Yusuf (2008), yang menyatakan suatu perairan yang tingkat kekeruhannya ≥ 20 NTU masih berbahaya bagi kehidupan biota di dalamnya, karena mengganggu aktivitas serta metabolisme yang berlangsung di dalamnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan persentase penyerapan yang efektif pada rata-rata penyerapan othoposfat, terjadi pada konsentrasi 0,05 mg/L selama 6 hari dengan nilai rata-rata persentase penyerapan sebesar 53,33%. Persentase penyerapan yang efisien pada rata-rata penyerapan orthoposfat, terjadi pada hari ke-2 konsentasi 0,05 mg/L dengan nilai rata-rata persentase penyerapan sebesar 13,33 %. Efektivitas dan efisiensi fitoremediasi terbaik dari konsentrasi awal dan lamanya hari terhadap tingkat rata-rata penyerapan orthoposfat oleh tanaman genjer adalah konsentrasi awal 0,05 mg/L selama 2 hari yaitu dengan nilai rata-rata persentase penyerapan sebesar 13,33% atau senilai 0,007 mg/L pada tiap harinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa baik faktor perbedaan konsentrasi orthoposfat, detensi waktu maupun interaksi antara perbedaan konsentrasi orthoposfat dengan detensi waktu berpengaruh terhadap penyerapan orthoposfat oleh tanaman genjer.

3.5.3. pH Pada penelitian ini nilai pH berkisar 5-6. Nilai pH tertinggi pada penelitian terjadi pada perlakuan k1t6 yaitu sebesar 6,23. Peningkatan pH menyebabkan selama pengamatan daun dan batang genjer menguning, layu, sebagian ada yang gugur dan rata-rata berat basah tanaman genjer menurun dari 300g menjadi 270g. Hal ini didukung oleh pendapat Badrus dalam Rosnah (2012), derajat keasaman (pH) merupakan ukuran dalam kandungan ion H+ yang menunjukkan bahwa jika suatu perairan bersifat sangat asam maupun sangat basa maka akan mempengaruhi proses metabolisme dan respirasi organisme. Namun nilai pH pada perlakuan k1t6 masih dalam kondisi normal, sehingga penyerapan orthoposfat

6

V.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan serta bimbingan kepada penulis diantaranya kepada: 1. Andi Zulfikar, S.Pi, M.P dan Diana Azizah, S.Pi, M.Si selaku dosen pembimbing. 2. Laboratorium Ilmu Kelautan dan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji. 3. Laboratorium Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BTKL PPM) Kelas 1 Pulau Batam, Kepulauan Riau. VI.

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air bagi Pengelolaan Sumber Daya Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Hermawati, E, Wiryanto dan Solichatun. 2005. Fitoremediasi Limbah Detergen Menggunakan Kayu Apu ( Pistia stratiotes L. ) dan Genjer (Limnocharis flava L.). Jurnal BioSMART ISSN: 1411321X Volume 7, Nomor 2 Oktober 2005Halaman: 115-124 2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Rosnah. 2012. Efektivitas Fitoremediasi Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Terhadap Phospat pada Limbah Laundry. Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan, Universitas Maritim Raja Ali Haji: Tangjungpinang Rossiana. Supriatun, Titin. Dhahiyat, Yayat. 2007. Fitoremediasi Limbah Cair dengan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart) Solms) dan Limbah Padat Industri Minyak Bumi dengan Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) Bermikoriza. (http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/04/fitoremediasi_i mbah_cair_dengan_eceng_gondok_dan_li mbah_padat_industri.pdf) Setiawan, A. 2009. Percobaan Faktorial. http ://smartstat.wordpress.com. Yusuf, G. 2008. Bioremediasi Limbah Rumah Tangga dengan Sistem Simulasi Tanaman Air-Fakultas MIPA Universitas Islam Makassar. Jurnal Bumi Lestarivolume 8 No.2, Agustus 2008, hlm. 136-144.

7