ergonomi dan perancangan sistem kerja

Mudah-mudahan buku ajar Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja ini dapat menambah bahan belajar bagi mahasiswa teknik industri. Terimakasih kepada selu...

0 downloads 2 Views 2MB Size
BUKU AJAR ERGONOMI DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA

Oleh : Tim Dosen Laboratorium Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja Program Studi Teknik Industri

Fakultas Teknik Universitas Wijaya Putra 2009

KATA PENGANTAR Mata kuliah Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja adalah jenis mata kuliah keahlian berkarya di program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Wijaya Putra. Buku ajar Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja ini berisi teori, konsep maupun contoh-contoh penerapan ergonomi pada fasilitas kerja/stasiun kerja. Buku ini dilengkapi dengan gambargambar menarik guna memberikan ilustrasi penerapan pada fasilitas kerja/stasiun kerja serta perkembangan-perkembangan di industri. Program kuliah direncanakan menggunakan pendekatan student center learning dimana mahasiswa harus aktif mencari bahan-bahan sendiri melalui text book maupun melalui online reading yang direkomendasikan. Mudah-mudahan buku ajar Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja ini dapat menambah bahan belajar bagi mahasiswa teknik industri. Terimakasih kepada seluruh asisten laboratorium Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja di Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik-UWP maupun pihak-pihak yang telah membantu penyusunan buku ajar ini. Demi penyempurnaan buku ajar ini, kami mengharapkan kepada semua pihak untuk dapat memberikan masukan dan saran.

Penyusun Tim Dosen Laboratorium Ergonomi & Perancangan Sistem Kerja

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja TUJUAN INSTRUKSIONAL BAB 1 PENGANTAR ERGONOMI 1. Tujuan Instruksional Umum Setelah membaca bab ini, Anda akan dapat memahami pengantar ergonomi 2. Tujuan Instruksional Khusus Setelah membaca bab ini, Anda diharapkan dapat: a. Mengetahui dan memahami definsi, dan sejarah ilmu ergonomi b. Mengetahui dan memahami kaitan ilmu ergonomi dengan sistem c. Mengetahui dan memahami tujuan dan dasar keilmuan ergonomi d. Mengetahui dan memahami pendekatan ergonomi beserta aplikasinya di industri

Program Studi Teknik Industri UWP

1

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja BAB 1 PENGANTAR ERGONOMI 1.

Manusia dengan lingkungan saat ini Saat ini, di lingkungan sekitar, banyak dijumpai benda-benda maupun bangunan yang

tidak lain merupakan hasil karya manusia. Mulai dari rumah, jalan raya, gedung bertingkat, jembatan dan lain sebagainya. Tidak hanya sebatas itu. Peralatan yang mengisi bangunan tersebut pun banyak yang merupakan hasil karya manusia. Dari titik ini, dapat terlihat adanya perubahan yang terjadi dari masa ke masa terhadap lingkungan sekitar. Jika dahulu manusia banyak berinteraksi dengan benda-benda yang bersifat alami seperti pepohonan, hewan dan sebagainya, saat ini manusia banyak berinteraksi dengan hasil karyanya. Perubahan ini membawa kepada perubahan cara manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Terdapat perubahan dari manusia tradisional menjadi manusia modern (Wignjosoebroto, 2000). Perubahan ini juga terjadi di lingkungan kerja. Dahulu, di lingkungan kerja banyak dijumpai

pekerjaan-pekerjaan

yang

diselesaikan

secara

manual.

Kemudian

terjadi

perkembangan dimana mulai digunakan peralatan mekanis. Perkembangan tersebut terus berlanjut dan saat ini banyak pekerjaan yang diselesaikan dengan peralatan elektronik. Sebagai contoh,

dahulu

pekerjaan

yang

melibatkan

perhitungan

banyak

dilakukan

dengan

menggunakan alat hitung sederhana. Bisa jadi hanya melibatkan pensil dan kertas. Lalu terjadi perkembangan. Kalkulator menjadi alat bantu dalam menyelesaikan pekerjaan yang bersifat perhitungan. Selanjutnya perkembangan membawa manusia kepada era penggunaan komputer dalam upaya menyelesaikan pekerjaan sejenis. Dari contoh tersebut terlihat adanya perubahan cara interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya di lingkungan kerja. Perubahan cara interaksi manusia dengan lingkungan sekitar pada umumnya dan lingkungan kerja khususnya, membuat manusia harus beradaptasi. Adaptasi tersebut terkait dengan cara penggunaan peralatan hingga proses yang dilalui selama penggunaan peralatan tersebut. Sebagai contoh, jika dahulu pada gedung bertingkat digunakan tangga untuk menghubungkan lantai yang satu dengan lantai yang berada di atasnya, saat ini gedung bertingkat telah dilengkapi dengan lift. Contoh lainnya jika dahulu setiap gedung dilengkapi dengan fasilitas jendela dan ventilasi, saat ini keberadaan jendela dan ventilasi sudah minim dan digantikan oleh AC. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut membawa manusia pada cara beradaptasi yang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Pada saat manusia berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya pada saat yang bersamaan manusia dihadapkan dengan segala bentuk keterbatasannya. Setiap

Program Studi Teknik Industri UWP

2

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja manusia tentunya memiliki keterbatasan. Sebagai contoh, manusia memiliki kemampuan yang terbatas untuk mengangkat suatu benda yang cukup berat, manusia memiliki keterbatasan untuk berdiri dalam jangka waktu yang lama, manusia memiliki keterbatasan untuk bekerja di lingkungan dengan suhu yang terlalu dingin ataupun terlalu panas dan sebagainya. Segala bentuk keterbatasan yang dimiliki manusia ini membawa pada persoalan tersendiri pada hal-hal yang terkait dengan interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya. Pada lingkungan kerja dapat dijumpai bahwa setiap pekerjaan memiliki karakteristiknya masing-masing. Karakteristik ini kemudian membentuk kebutuhan (demand) kerja yang harus dipenuhi agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Namun pada proses penyelesaian pekerjaan dengan karakteristik yang dimilikinya tersebut, terdapat kapasitas pada manusia sebagai pelaksana pekerjaan. Kapasitas setiap manusia ini bervariasi. Hal ini terjadi disebabkan oleh keterbatasan yang ada pada masing-masing individu. Kondisi inilah yang kemudian mewarnai lingkungan kerja. Kebutuhan (demand) pekerjaan dengan karakteristiknya dihadapkan dengan manusia serta kapasitasnya yang terbatas. Kondisi buruk dialami manusia ketika kebutuhan (demand) pekerjaan melebihi kapasitas yang dimiliki manusia. Kondisi buruk tersebut salah satunya dapat berupa rasa lelah yang berlebihan. Oleh karena itu upaya untuk menyeimbangkan antara kebutuhan (demand) pekerjaan

dengan

kapasitas

manusia

merupakan

hal

yang

diperlukan.

Proses

menyeimbangkan antara kebutuhan (demand) pekerjaan dengan kapasitas manusia ini dilakukan dalam upaya untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Upaya untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di lingkungan kerja, salah satunya dapat dilakukan melalui perancangan peralatan yang memperhitungkan aspek manusia sebagai pengguna maupun melalui perancangan sistem kerja. Kedua hal tersebut dipelajari dalam ilmu Ergonomi. 2.

Definisi Ergonomi Ergonomi berasal dari bahasa Greek/Yunani, yaitu ergon yang berarti kerja (work)

dan nomos

yang berarti hukum alam. Ergonomi dapat didefinisikan sebagai studi tentang

aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, rekayasa teknik, manajemen maupun desain/perancangan (Nurmianto, 2004). Beberapa istilah lain dari Ergonomi yang sering disebut antara lain: Human Factors, Human Factors Engineering, Human Engineering, Engineering, Psychology, Bio Mechanics/Bio Engineering. Ergonomi merupakan suatu desain/perancangan yang ditujukan kepada manusia, yaitu perancangan pada lingkungan kerja, alat bantu kerja maupun produk yang nyaman bagi

Program Studi Teknik Industri UWP

3

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja penggunanya. Sebenarnya ergonomi merupakan aktivitas yang berbasiskan pendekatan multidisiplin (kedokteran, teknik, psikologi, anthropomety, manajemen, dan sebagainya. 3.

Sejarah Bidang Ergonomi Isitilah ergonomi mulai muncul pada tahun 1949, akan tetapi aktivitas- aktivitas yang

berkaitan telah dimulai puluhan tahun sebelumnya. Beberapa kejadian penting diilustrasikan sebagai berikut: CT. Thackrah, England, 1831. Adalah seorang dokter dari Inggris melakukan studi pada lingkungan kerja di industri konveksi (penjahitan baju) yang dirasakan tidak nyaman oleh operator. Ia mengamati tentang: 1) postur tubuh manusia pada saat bekerja berhubungan dengan kesehatan kerja 2)Pencahayaan, ventilasi dan temperatur di lingkungan kerja, 3)Pembebanan kerja, jam kerja, dan gerakan yang berulang-ulang. FW Taylor, USA, 1898. Adalah seorang insinyur Amerika yang menerapkan metode ilmiah untuk menentukan cara yang terbaik dalam melakukan pekerjaan. Beberapa metodenya menjadi konsep ergonomi dan manajemen modern. FB. Gilbreth, USA, 1911. Gilbreth mengamati metode kerjayang lebih detil dengan cara studi dalam Analisa Gerakan. Dalam bukunya Motion Study yang diterbitkan tahun 1911 ditunjukkan bagaimana posisi membungkuk dapat diatasi dengan merancanga meja yang bisa naik-turun (adjustable). E. Mayo, USA, 1933. Adalah seorang warga Australia yang melakukan suatu riset di perusahaan listrik. Tujuan riset tersebut adalah Kuantifikasi pengaruh dari variabel fisik seperti misal pencahayaan dan lamanya waktu istirahat terhadap efisiensi dari para operator kerja pada unit perakitan. 4.

Ergonomi Dalam Kaitannya Dengan Sistem Mengkaji permasalahan dengan pendekatan ergonomi tidak akan lepas dari mengkaji

sistem terkait. Hal ini dikarenakan permasalahan yang ada melibatkan komponen-komponen

Program Studi Teknik Industri UWP

4

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja yang ada di dalam sistem. Oleh karena itu mengkaji permasalahan dengan pendekatan ergonomi akan mengiring pada pengkajian sistem terkait. Setiap sistem memiliki karakteristik. Menurut Sutanta (2003) karakteristik sistem yaitu : 1. Terdiri atas komponen-komponen dan komponen yang satu terhadap komponen lainnya saling terhubung. Oleh karena itu selain memiliki komponen, terdapat juga penghubung antar komponen 2. Terdapat batasan (boundary) 3. Terdapat lingkungan 4. Terdapat inputan, kemudian input tersebut diolah pada tahap proses dan dihasilkan output 5. Terdapat tujuan dan sasaran 6. Terdapat sesuatu yang bersifat sebagai pengendali 7. Terdapat umpan balik dari proses yang terjadi di dalam sistem Dalam sistem terdapat interaksi antar komponen-komponen yang membangunnya. Interaksi antara komponen yang satu dengan komponen lainnya di dalam sistem pada akhirnya akan berkontribusi pada permasalahan yang kompleks. Oleh karena itu mengkaji permasalahan dengan pendekatan ergonomi bersifat kompleks. Dari tingkat kompleksitas pengkajian permasalahan yang ada, dalam ergonomi dikenal micro ergonomics dan macro ergonomics. Menurut Kroemer & Kroemer (2001) dalam micro ergonomics permasalahan dikaji melalui perancangan peralatan seperti perancangan keyboard, perancangan bangku dan lain sebagainya dimana pengkajian terhadap permasalahan dalam micro ergonomics ini bersifat lebih sederhana dibandingkan macro ergonomics. Lebih lanjut menurut Kroemer & Kroemer (2001), pengkajian permasalahan dalam cara pandang macro ergonomics jauh lebih kompleks karena cakupan pertimbangan yang lebih luas dan telah mengarah kepada sistem yang lebih luas seperti sistem sosial (seperti contohnya mempertimbangkan

kebijakan-kebijakan

pemerintah

yang

ada

kaitannya

dengan

permasalahaan yang dikaji).

Program Studi Teknik Industri UWP

5

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Gambar 1. Permasalahan, sistem dan ergonomi (Sumber : Wicken dkk, 2004, hal 3 dalam “An Introduction to Human Factors Engineering”)

5. Dasar Keilmuan dari Ergonomi Dasar keilmuan ergonomi terkait dengan karakteristik fungsional dari manusia, seperti kemampuan penginderaan, respon, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki, dan lain-lain. Disamping itu,

Ergonomi membutuhkan pemahaman ilmu-ilmu terapan yang banyak

berhubungan dengan fungsi tubuh manusia seperti anatomi dan fisiologi. Untuk menjadi ergonom yang baik perlu pengetahuan dasar tentang fungsi sistem kerangka otot.

Sistem

kerangka otot manusia meliputi: 1) Kinesiologi: mekanika pergerakan manusia (mechanics of human movement) ,

2)Biomekanika: aplikasi ilmu mekanika teknik untuk analisis sistem

kerangka-otot manusia, 3) Anthropometri: pengukuran dimensi tubuh manusia. Disamping itu perlu juga pengetahuan dasar keselamatan dan kesehatan kerja meliputi: 1) Industrial Hygiene: pengendalian resiko kesehatan dalam kerja dan 2)Industrial Phsychology: sikap dan prilaku manusia dalam bekerja. 6. Tujuan Ilmu Ergonomi Fokus tujuan ilmu ergonomi adalah: 1)Mengaplikasikan segala macam informasi yang berkaitan dengan faktor manusia (kekuatan, kelemahan/keterbatasan) dalam perancangan Program Studi Teknik Industri UWP

6

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja sistem kerja yang meliputi perancangan produk (man-made objects), mesin & fasilitas kerja dan/atau lingkungan kerja fisik yang lebih efektif, aman, nyaman, sehat dan efisien atau biasa disingkat dengan ENASE, 2)Memperbaiki performansi kerja manusia seperti menambah kecepatan kerja, ketelitian, keselamatan, kenyamanan dan mengurangi penggunaan energi kerja yang berlebihan dan mengurangi kelelahan, 3)Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia untuk pelatihan dan meminimalkan kerusakan fasilitas kerja karena human errors, 4)Meningkatkan “functional effectiveness” dan produktivitas kerja manusia dengan mesin dan 5) Tindakan pencegahan terhadap kejadian nyeri punggung (back injury) pada pekerja.

Tiga

keuntungan jangka panjang dari implementasi ergonomi pada bidang industri adalah meningkatkan

produktivitas,

meningkatkan

keselamatan

dan

kesehatan

kerja

dan

meningkatkan kepuasan pekerja. 7.

Pendekatan Ergonomi dan Aplikasinya di Industri Pendekatan ergonomi yang diaplikasikan di dunia industri diantaranya: 1)Perancangan,

modifikasi, penggantian/perbaikan fasilitas kerja untuk meningkatkan produktivitas,

kualitas

produk dan lingkungan kerja fisik. 2)Perancangan, modifikasi area dan tempat kerja, tata-letak (layout) fasilitas produksi untuk memudahkan dan mempercepat operasi kerja, material handling, service dan maintenance, 3)Perancangan dan modifikasi tata-cara kerja (work metdhods), termasuk dalam hal ini mekanisasi/otomasi proses dan alokasi beban kerja dalam sebuah sistem kerja manusia-mesin, 4)Perancangan kondisi lingkungan fisik kerja yang mampu memberikan kenyamanan, keamanan/keselamatan dan kesehatan kerja bagi manusia-operator (temperatur, noise, pencahayaan, vibrasi, dan lain-lain) untuk meningkatkan motivasi kerja, kualitas lingkungan kerja dan produktivitas. Berikut ini merupakan contoh kasus studi perancangan sistem kerja, misal untuk kasus perancangan desain kendaraan bermotor, diantaranya: 1)Acces (getting in and out): untuk desain interior kendaraan, 2)Resistant: pemasangan sabuk pengaman, 3)Visibility: lampu parker, 4) Seating: penyangga punggung, lengan, distribusi beban berat badan pada kursi mobil, 5)Displys: visibility lighting (spedometer, gas-meter, temperatur), 6)Controls (mudah dijangkau, kemudahan identifikasi dan operasi, posisi, pergerakan standar) dan 7)Lingkungan: ventilasi, kurangi panas langsung, sharp-countur unit panel. 8. Latihan Soal-Soal 1. Jelaskan definisi dari ergonomi !

Program Studi Teknik Industri UWP

7

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 2. Sebutkan beberapa pendahulu bidang ergonomi, serta jelaskan perannya dalam sejarah

kemajuan bidang ergonomi ! 3. Jelaskan dasar-dasar keilmuan yang dipakai dalam ergonomi ! 4. Terdapat dua konsep yaitu menyesuaikan karakteristik pekerjaan terhadap kapasitas

manusia (fitting the job to the man) atau menyesuaikan kapasitas manusia terhadap karakteristik pekerjaan (fitting the man to the job). Menurut Anda ilmu ergonomi masuk dalam konsep yang mana (Jelaskan jawaban Anda) ! 5. Mengapa dalam perancangan stasiun kerja perlu memperhatikan aspek ergonomis?

9.

Referensi 1. Bridger, R.S., (1995) : Introduction to Ergonomics, Mc Graw Hill, Singapura 2. Kroemer, K.H.E. & Kroemer, A.D., (2001) : Office Ergonomics, Taylor & Francis, London 3. Kroemer, K., Kroemer, H. & Elbert, K.K., (2001) : Ergonomics – How to Design For Ease and Efficiency, Prentice Hall, New Jersey 4. Wicken, C.D., Lee, J.D., Liu, Y. & Becker, S.E.G., (2004) : An Introduction to Human Factors Engineering, Pearson Education, New Jersey 5. Wignjosoebroto, S., (2000) : Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu - Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja, Penerbit Guna Widya, Surabaya. 6. Nurmianto, Eko, “Ergonomi : Konsep Dasar dan Aplikasinya”,edisi kedua, Penerbit Guna Widya, 2004.

Program Studi Teknik Industri UWP

8

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja TUJUAN INSTRUKSIONAL BAB 2 - APLIKASI ERGONOMI DI INDUSTRI

A.

Tujuan Instruksional Umum

Setelah membaca bab ini, Anda akan dapat memahami aplikasi ergonomi di industri B.

Tujuan Instruksional Khusus Setelah membaca bab ini, Anda diharapkan dapat:

a. Mengetahui dan memahami hakekat dasar studi ergonomi b. Mengetahui dan memahami konsep Human Centered/Integrated Design (HC/ID) c. Mengetahui dan memahami konsep penting dalam ergonomi d. Mengetahui dan memahami pendekatan ergonomi beserta aplikasinya di industri

Program Studi Teknik Industri UWP

9

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja BAB 2 APLIKASI ERGONOMI DI INDUSTRI 1. Hakekat Dasar Studi tentang Ergonomi Sering implementasi metode ergonomi di bidang industri dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Salah satu peran ergonomi di bidang industri adalah untuk meningkatkan produktivitas kerja. Hakekat dasar studi tentang ergonomi difokuskan pada meneliti tentang kemampuan dan keterbatasan manusia secara fisik maupun non-fisik (psikologik). Juga berkaitan dengan “human-machine interface”, dan juga berkaitan dengan perancangan produk, fasilitas dan area kerja yang efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien pada saat dioperasikan. 2.

Human Centered/Integrated Design (HC/ID) Konsep

utama metode ergonomi yang terkenal adalah Human Centered/Integrated

Design (HC/ID). Pada konsep HC/ID akan menempatkan semua unsur/parameter desain yang menyesuaikan dengan karakteristik (kelebihan maupun kekurangan) manusia atau biasa dikenal dengan istilah “fitting the task/ design to the man”.

Suatu rancangan dikatakan

memenuhi kriteria “baik” kalau mampu memenuhi konsep ENASE (Efektif, Nyaman, Aman, Sehat dan Efisien). Bagaimana interaksi pendekatan ergonomi yang memenuhi prinsip ENASE dapat dilihat pada gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1. Prinsip ENASE pada Pendekatan Ergonomi Masalah berikutnya adalah bagaimana mengukurnya ? Tapi sebelumnya yang perlu diketahui adalah mengenai dua prinsip Human Integrated Design. Prinsip pertama, adalah harus disadari benar bahwa faktor manusia akan menjadi kunci penentu sukses didalam operasionalisasi sistem manusia-mesin (produk); tidak peduli apakah sistem tersebut bersifat manual, semiautomatics (mekanik) ataupun fullautomatics. Prinsip kedua, adalah perlu diketahui terlebih dahulu sistem operasional seperti

Program Studi Teknik Industri UWP

10

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja apa yang kelak dapat dioperasikan dengan lebih baik oleh manusia. Namun disisi lain dengan melihat kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan manusia maka barulah perlu dipertimbangkan untuk mengalokasikan operasionalisasi fungsi tersebut dengan menggunakan mesin/alat yang dirancang secara spesifik. 3.

Beberapa Konsep Penting dalam Ergonomi Ergonomi merupakan suatu pendekatan perancangan kerja yang berpusat pada

manusia/pekerja. Beberapa konsep penting

dalam ergonomi, diantaranya: 1) Konsep

performansi manusia, dimana manusia sebagai pusat kinerja, bukan pada peralatan kerja maupun fasilitas kerja. Artinya jika peran manusia tidak dilibatkan dalam suatu sistem kerja maka secara logika tidak akan terdapat permasalahan ergonomi dalam suatu sistem kerja, 2)Konsep sistem kerja berpusat melingkupi manusia/pekerja.

Dalam lingkungan kerja,

pekerja/operator perlu mengoperasikan, menginstalasi maupun memperbaiki mesin maupun peralatan kerja, 3)Konsep sistem kerja, yang mendeskripsikan mengenai batasan-batasan (boundaries) situasi industri termasuk tugas-tugas kerja dan 4)Konsep perbaikan secara terus-menerus (improvement), improvement sistem kerja yang berada di sekeliling pekerja/operator. 4.

Riset bidang Ergonomi Riset-riset bidang ergonomi difokuskan pada studi mengenai efek kesakitan pada postur

tubuh yang tidak ergonomis dengan alat/fasilitas kerja. Juga perancangan alat yang kurang ergonomis pada kesehatan pekerja/operator.

Memperbaiki desain lingkungan kerja agar

nyaman/fit dengan postur tubuh manusia. Menyesuaikan kerja terhadap individu, sebagai oposisi terhadap fenomena pekerja yang menyesuaikan (fitting) pada lingkungan kerja. Hal ini dilakukan melalui pengembangan pengetahuan yang menghasilkan efisiensi adaptasi metode kerja terhadap karakteristik fisiologi individu maupun psikologi individu. Mendesain mesin, peralatan kerja dan instalasi peralatan kerja sehingga dapat dioperasikan dengan lebih efesien, lebih akurat dan lebih aman. Memastikan bahwa kebutuhan manusia terhadap keamanan dan efesiensi kerja dapat direalisasikan dalam perancangan sistem kerja. Misalnya menyesuaikan pencahayaan di ruang kerja, suhu ruang kerja, kebisingan, dan lain-lain agar nyaman/fit dengan kebutuhan fisik manusia.

Program Studi Teknik Industri UWP

11

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 5.

Indikator-indikator yang Menandai Diperlukan Intervensi Ergonomi Secara umum keuntungan dari implementasi metode ergonomi di industri adalah

meningkatkan produktivitas kerja. Berikut ini merupakan indikator-indikator di lingkungan kerja yang menandai diperlukan intervensi ergonomi, diantaranya: 1) Terdapat tingkat produk cacat pada proses operasi, 2)Operator/pekerja sering melakukan kesalahan dalam job kerja, 3)Banyak terdapat material yang terbuang sia-sia dalam proses operasi, 4)Pekerja/operator sering

komplain

terhadap

job

requirement,

5)Output

produksi

menurun,

6)Tingkat

ketidakhadiran pekerja tinggi, 7)Terjadi kecelakaan kerja maupun hampir terjadi kecelakaan kerja, 8)Kualitas produk rendah, 9)Pekerja sering menganggur, 10) tingkat personal and fatigue allowances terlalu tinggi, 11)Terdapat permintaan karyawan untuk dipindah ke job kerja yang lain, 12)Karyawan tidak mampu mencapai standar produksi, 13)Karyawan sering meninggalkan area kerja 6. Tahapan-tahapan Evaluasi Ergonomi Ergonomi merupakan metode yang berorentasi pada solusi terhadap problem di lingkungan kerja. Oleh karena itu agar implementasi metode ergonomi mampu memberikan solusi yang lebih optimal terhadap problem di lingkungan kerja, maka perlu diketahui dan dipahami tahapan-tahapan dalam implementasi ergonomi. Tahapan-tahapan implementasi metode ergonomi dapat dilihat pada gambar 2.2 dibawah ini.

Gambar 2.2 Tahapan-tahapan Implementasi Ergonomi

Program Studi Teknik Industri UWP

12

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 7.

Enam Problematika Aplikasi Ergonomi di Industri Aplikasi ergonomi dapat dibagi dalam tiga area yang terpisah, yaitu: 1)Fokus pada

keselamatan dan kesehatan pekerja, 2)Mengurangi beban biaya atau peningkatan produktivitas di lingkungan kerja dan 3)Kenyamanan manusia pengguna suatu produk ataupun fasilitas kerja. Konsep ergonomi adalah suatu studi manusia sebagai pusat kerja, oleh karena itu problem ergonomi di industri lebih mengarah pada keterbatasan fisiologi manusia. Enam diantaranya adalah: 1)ukuran fisik manusia (anthropometri), 2)Daya tahan sistem jaringan otot manusia (cardiovascular), 3)Kekuatan sistem tulang dan otot manusia (biomechanical), 4)Manipulasi gerakan tubuh manusia (kinesiology), 4) Lingkungan eksternal, yang ada disekitar lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi fisik pekerja (misal: suhu panas/dingin, pencahayaan, suara dan getaran), dan terakhir 5)Kognitif, berkaitan dengan batas kemampuan/daya ingat/memori manusia, kemampuan pendengaran maupun penglihatan manusia dalam mengoperasikan suatu mesin/alat sehingga terhindar dari kejadian yang biasa disebut dengan human error.

Program Studi Teknik Industri UWP

13

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja TUJUAN INSTRUKSIONAL BAB 3 - ANTHROPOMETRI A.

Tujuan Instruksional Umum

Setelah membaca bab ini, Anda akan dapat mengetahui dan memahami mengenai proses rancang bangun fasilitas/stasiun kerja

yang ergonomis dengan mempertimbangkan faktor-

faktor anthropometri. B.

Tujuan Instruksional Khusus

Setelah membaca bab ini, Anda diharapkan dapat: a. Mengetahui dan memahami anthropometri secara umum b. Mengetahui dan memahami prosedur dalam anthropometri c. Mengetahui dan memahami mengenai perancangan stasiun kerja d. Mengetahui dan memahami pengukuran dimensi tubuh manusia e. Mengetahui dan memahami cara penentuan percentile dalam perancangan

Program Studi Teknik Industri UWP

14

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 3 ANTHROPOMETRI 1.

Anthropometri secara umum Mengacu pada penjelasan sebelumnya yang terdapat pada Modul 1 yaitu Pengantar

Ergonomi, telah dijelaskan bahwa alternatif output dalam pengkajian permasalahan melalui Ergonomi dapat berupa perancangan peralatan/stasiun kerja maupun pengkajian terhadap sistem kerja. Anthropometri merupakan salah satu ilmu yang menjadi pertimbangan dalam pengkajian permasalahan yang mengarah pada perancangan peralatan/stasiun kerja. Pada anthropometri dilakukan pengukuran dimensi tubuh manusia dimana pengukuran dimensi tubuh manusia ini merupakan salah satu dimensi yang digunakan untuk mengkaji permasalahan yang ada terkait dengan proses perancangan peralatan/stasiun kerja. Anthropometri berasal dari kata “anthro” dan “metri”. “anthro” memiliki arti manusia dan “metri” memiliki arti ukuran (Wignjosoebroto, 2000). Oleh karena itu berdasarkan asal katanya tersebut, dapat digambarkan pengertian anthropometri secara umum. Berdasarkan asal katanya anthropometri merupakan suatu ilmu yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia (Wignjosoebroto, 2000, hal 60). Hal yang ditemukan pada kondisi aktual terkait dengan dimensi tubuh manusia adalah bahwa setiap orang memiliki ukuran dimensi tubuh yang khas. Kekhasan ini menyebabkan variasi pada ukuran dimensi tubuh antar manusia. Perbedaan yang ditemukan pada kondisi aktual terkait ukuran dimensi tubuh setiap orang ini dapat menyebabkan setiap orang memerlukan ukuran peralatan yang berbeda-beda. Akibatnya, suatu peralatan yang sesuai dengan ukuran dimensi tubuh seseorang belum tentu sesuai dengan ukuran dimensi tubuh orang yang lain. Kondisi ini menyebabkan setiap orang memerlukan peralatan dengan ukuran yang berbeda-beda mengikuti ukuran dimensi tubuhnya masing-masing. Ukuran dimensi tubuh setiap orang yang berbeda-beda ini kemudian mulai dipertimbangkan karena secara tidak langsung dapat mempengaruhi produktivitas seseorang. Secara kasat mata bayangkan jika seorang siswa SD harus menempati ruangan dengan kondisi peralatan yang diperuntukkan bagi siswa SMA. Siswa-siswa SD tersebut tentu akan mengalami kesulitan dalam menggunakan perlatan yang ada terkait dengan tingginya bangku dan meja yang mereka gunakan. Pengaruh ukuran dimensi tubuh manusia dalam kaitannya dengan ukuran peralatan yang sesuai ini di kaji dalam Ilmu anthropometri. Pada anthropometri, ukuran dimensi tubuh manusia menjadi pertimbangan dalam proses perancangan peralatan/stasiun kerja. Melalui anthropometri diharapkan perancangan terhadap peralatan/stasiun kerja lebih sesuai untuk Program Studi Teknik Industri UWP

15

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja setiap pemakainya dikarenakan ukuran dimensi tubuh pengguna dipertimbangkan dalam proses perancangannya. Menurut Wignjosoebroto (2000), perancangan yang dilakukan dengan menggunakan ilmu anthropometri ini dapat digunakan dalam berbagai macam bentuk rancangan yang diantaranya yaitu: a. Perancangan peralatan kerja b. Perancangan ini terkait dengan perancangan peralatan-peralatan yang digunakan dalam upaya menyelesaikan pekerjaan seperti contohnya gunting, obeng, kursi, meja dan sebagainya. c. Perancangan produk-produk yang digunakan pada kehidupan sehari-hari d. Perancangan ini terkait dengan perancangan barang-barang yang digunakan pada kehidupan sehari-hari seperti contohnya pakaian, meja, kursi dan sebagainya. e. Perancangan area kerja f.

Perancangan ini terkait dengan perancangan stasiun kerja yang merupakan tempat dimana pekerjaan berlangsung. Konsep perancangan jenis ini lebih luas dan lebih rumit dibandingkan dengan perancangan peralatan kerja.

g. Perancangan lingkungan kerja fisik h. Perancangan ini terkait dengan perancangan lingkungan kerja dimana perancangan ini jauh lebih luas dan lebih rumit dibandingkan perancangan area kerja. 2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran dimensi tubuh manusia Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat variasi dalam dimensi ukuran

tubuh setiap orang. Variasi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor (lihat Gambar 1). Faktorfaktor yang menyebabkan variasi pada dimensi ukuran tubuh manusia yaitu : (Wignjosoebroto, 2000, Wicken dkk., 2004) a. Usia b. Usia merupakan faktor yang dapat menunjukkan secara jelas mengenai terdapatnya variasi dimensi ukuran tubuh manusia. Secara kasat mata dapat terlihat adanya perbedaan ukuran dimensi tubuh antara anak balita dengan orang dewasa. Akibat adanya faktor usia tersebut, ukuran peralatan yang dibutuhkan antar manusia dengan perbedaan usia ini menjadi berbeda. c. Gender d. Selain faktor usia, faktor lainnya yang menyebabkan terdapatnya variasi pada ukuran dimensi tubuh manusia adalah faktor gender. Secara umum ukuran dimensi tubuh pria

Program Studi Teknik Industri UWP

16

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja lebih besar dibandingkan ukuran dimensi tubuh wanita. Namun pada beberapa bagian tubuh seperti halnya pada bagian pinggul. hal tersebut tidaklah berlaku. e. Suku bangsa/ras f.

Faktor selanjutnya yang menyebabkan variasi pada ukuran dimensi tubuh manusia adalah faktor suku bangsa/ras. Seperti diketahui bahwa setiap suku bangsa/ras memiliki karakteristik yang khas terkait dengan ukuran dimensi tubuh mereka. Pengaruh faktor suku bangsa/ras terhadap ukuran dimensi tubuh manusia terekam dalam penelitian yang dilakukan oleh Ashby (1979). Dalam penelitiannya, Ashby merancang suatu peralatan yang sesuai untuk digunakan oleh 90% populasi pria di Amerika Serikat dan kemudian mengenakan peralatan terkait pada populasi pria dari negara lainnya. Hasil yang menarik didapatkan terkait dengan kemampuan peralatan tersebut untuk digunakan oleh pria dari populasi lainnya. Hasil penelitian Ashby menunjukkan bahwa peralatan tersebut hanya mampu digunakan oleh 90% populasi pria di Jerman, 80% populasi pria di Perancis, 65% populasi pria di Italia, 45% populasi pria di Jepang, 25% populasi pria di Thailand dan 10% populasi pria di Vietnam (Ashby, 1979 dalam Wicken dkk, 2004, hal 245).

g. Postur tubuh h. Faktor selanjutnya yaitu faktor postur tubuh. Faktor ini biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan sikap seseorang yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ukuran dimensi tubuh seseorang. i.

Jenis pekerjaan

j.

Jenis pekerjaan khususnya pekerjaan-pekerjaan yang bersifat fisik dapat melatih otot pada bagian-bagian tubuh tertentu. Hal tersebut kemudian menyebabkan ukuran yang berbeda pada bagian tubuh tertentu tersebut dengan ukuran tubuh manusia pada umumnya. Akibat perbedaan tersebut maka terbentuklah variasi pada ukuran dimensi tubuh antar manusia.

k. Nutrisi dan kondisi lingkungan l.

Faktor terakhir yang akan dibahas yaitu faktor nutrisi dan kondisi lingkungan. Tidak dapat dipungkiri bahwa nutrisi yang baik akan mendukung pertumbuhan tubuh manusia. Hal mengenai pengaruh faktor nutrisi dengan perbedaan ukuran dimensi tubuh manusia ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Annis (1978). Penelitian oleh Annis (1978) terhadap populasi penduduk Amerika Serikat menunjukkan bahwa terdapat perubahan trend pada ukuran dimensi tubuh dan perubahan tersebut berupa

Program Studi Teknik Industri UWP

17

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja peningkatan sekitar 1 cm per dekade sejak 1920 (Annis, 1978 dalam Wicken dkk, 2004, hal 246).

USIA NUTRISI DAN KONDISI LINGKUNGAN

GENDER FAKTOR PENYEBAB VARIASI UKURAN DIMENSI TUBUH MANUSIA

JENIS PEKERJAAN

SUKU BANGSA/RAS

POSTUR TUBUH

Gambar 3.1. Faktor Penyebab Variasi Ukuran Dimensi Tubuh Manusia

3.

Pengukuran dalam Anthropometri Dalam Anthropometri terdapat dua alternatif cara yang dapat digunakan untuk mengukur

dimensi tubuh. Kedua cara tersebut yaitu pengukuran dimensi struktur tubuh dan pengukuran dimensi fungsional tubuh. Pada konsep yang pertama yaitu pengukuran dimensi struktur tubuh, pengukuran dilakukan dalam kondisi tubuh tidak bergerak. Partisipan yang diukur tubuhnya dalam posisi statis dan tegak sempurna. Karena posisi tubuh statis pada saat pengukuran berlangsung, oleh karena itu pengukuran jenis ini sering kali disebut juga sebagai static anthropometry. Konsep pengukuran lainnya yaitu pengukuran dimensi fungsional tubuh. Pada pengukuran jenis ini, partisipan diukur dalam kondisi tubuh bergerak mengikuti gerakan terkait

Program Studi Teknik Industri UWP

18

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja dengan gerakan penggunaan peralatan yang sedang dirancang. Karena tubuh dalam posisi dinamis maka pengukuran jenis ini sering kali disebut juga sebagai dynamic anthropometry. Kelebihan jenis pengukuran ini dibandingkan dengan pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) adalah pengukuran jenis ini lebih menggambarkan kondisi aktual. Hal ini dikarenakan selama pengukuran berlangsung, partisipan melakukan gerakan-gerakan terkait dengan penggunaan peralatan tersebut. Namun hal tersebut juga menjadi dasar kelemahan pengukuran jenis ini. Karena dilakukan dalam posisi dinamis maka pengukuran jenis ini menjadi sulit untuk dilakukan. Karena kelemahan tersebut maka jenis pengukuran yang lebih sering digunakan adalah pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry). 4.

Prosedur dalam Anthropometri Saat melakukan pengkajian permasalahan dengan menggunakan ilmu anthropometri,

terdapat beberapa langkah yang dapat digunakan sebagai acuan. Langkah-langkah tersebut yaitu : (Wicken dkk, 2004) a. Menentukan populasi dari pengguna peralatan yang akan dirancang b. Menentukan dan mengukur dimensi tubuh pengguna yang kemudian akan digunakan sebagai penentu dimensi ukuran peralatan yang akan dirancang. Pengukuran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam peralatan. Peralatan yang dimaksud diantaranya yaitu anthropometer, caliper dan sliding compass (Wicken dkk, 2004). c. Menentukan prosentase dari jumlah populasi pengguna yang dapat menggunakan peralatan yang akan dirancang. Terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan prosentase tersebut yaitu perancangan untuk ukuran ekstrem (design for extremes), perancangan untuk ukuran yang dapat diatur (design for adjustable range) dan perancangan untuk ukuran rata-rata (design for the average). d. Menentukan percentile yang akan digunakan dalam perancangan peralatan tersebut e. Menentukan data yang telah di modifikasi. Modifikasi terhadap data dilakukan dikarenakan pada saat proses pengukuran terhadap dimensi tubuh manusia dilakukan, partisipan yang diukur dimensi tubuhnya menggunakan pakaian dengan ketebalan pakaian yang beraneka ragam. Hal ini tentu tidak mewakili ukuran tubuh yang sebenarnya. Oleh karena itu modifikasi terhadap data diperlukan. f.

Melakukan simulasi terhadap peralatan yang dirancang. Simulasi dilakukan dengan tujuan untuk menguji peralatan yang dirancang.

Program Studi Teknik Industri UWP

19

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 5. Perancangan Stasiun Kerja Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, selain perancangan peralatan, perancangan juga dapat dilakukan terhadap stasiun kerja. Stasiun kerja mengacu pada lokasi/tempat/area dimana aktivitas pekerjaan berlangsung (Wignjosoebroto, 2000). Pada stasiun kerja selain terdapat manusia sebagai pekerja, terdapat pula elemen-elemen lainnya seperti material (dapat berupa bahan baku, barang setengah jadi maupun barang jadi), peralatan pembantu, mesin dan elemen lainnya (Wignjosoebroto, 2000). Karena bukan hanya manusia sebagai pekerja yang terdapat pada stasiun kerja maka elemen lainnya tersebut juga perlu untuk dipertimbangkan dalam perancangan stasiun kerja. Semakin banyak elemen yang ada di sekitar stasiun kerja maka semakin rumit pula perancangan terhadap stasiun kerja. Berbeda dengan perancangan peralatan yang fokus kepada manusia sebagai penggunanya maka pada perancangan stasiun kerja selain pertimbangan dilakukan terhadap manusia sebagai penggunanya terdapat pula hal-hal lain yang perlu untuk dipertimbangkan. Menurut Wignjosoebroto (2000), hal-hal yang perlu dipertimbangkan tersebut diantaranya yaitu : a. Cara kerja dari proses yang berlangsung di stasiun kerja yang akan dirancang. Hal ini dipelajari pada teori terkait dengan studi metode kerja. b. Data ukuran dimensi tubuh pekerja pada stasiun kerja yang akan dirancang. Hal ini dipelajari pada teori anthropometri secara umumnya. c. Pengaturan tata letak fasilitas pada stasiun kerja yang akan dirancang. Hal ini dipelajari pada teori tata letak fasilitas dan pengaturan ruang kerja. d. Pengukuran energi yang digunakan pekerja pada saat melakukan aktivitas tertentu di stasiun kerja yang akan dirancang. Hal ini dipelajari pada fisiologi. e. Faktor keselamatan dan kesehatan pekerja di stasiun kerja yang akan dirancang. Hal ini dipelajari pada teori keselamatan dan kesehatan pekerja. f.

Kemampuan melakukan pemeliharaan terhadap mesin-mesin dan peralatan lainnya yang terdapat di stasiun kerja yang akan dirancang. Hal ini terkait dengan teori-teori seperti manajemen perawatan.

g. Pengukuran waktu kerja saat pekerja melakukan aktivitas di stasiun kerja yang akan dirancang. Hal ini terkait dengan teori pengukuran waktu kerja. h. Faktor perilaku dari pekerja yang akan menggunakan stasiun kerja yang sedang dirancang tersebut. Hal tersebut dipelajari pada teori-teori yang mempelajari perilaku manusia.

Program Studi Teknik Industri UWP

20

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

CARA KERJA UKURAN DIMENSI TUBUH PENGGUNA

PERILAKU PEKERJA

WAKTU KERJA

Hal-hal yang dipertimbangkan dalam perancangan stasiun kerja

PERAWATAN MESIN DAN PERALATAN

TATA LETAK FASILITAS

ENERGI YANG DIKONSUMSI KESELAMATAN DAN KESEHATAN PEKERJA

Gambar 3.2. Hal-hal yang Dipertimbangkan Dalam Perancangan Stasiun Kerja

Program Studi Teknik Industri UWP

21

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 6. Pengukuran Dimensi Tubuh Manusia Data yang akan dikumpulkan saat mengkaji permasalahan dengan menggunakan pendekatan Anthropometri, salah satunya adalah data ukuran dimensi tubuh manusia. Yang menjadi target pengukuran adalah setiap orang yang menggunakan peralatan/stasiun kerja yang akan di rancang. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam anthropometri terdapat dua macam cara yang dapat ditempuh dalam upaya untuk melakukan pengukuran dimensi tubuh manusia. Dua cara tersebut yaitu pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) dan pengukuran dimensi fungsional tubuh (dynamic anthropometry). Karena pengukuran dengan cara pengukuran dimensi fungsional tubuh (dynamic anthropometry) lebih sulit dilakukan dibandingkan pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) maka pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) lebih sering digunakan. Dalam pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) terdapat beberapa dimensi tubuh yang diukur diantaranya yaitu : (Wignjosoebroto, 2000, hal 70-71) Tabel 3.1 Dimensi tubuh untuk perancangan dengan Anthropometri NO 1

KETERANGAN Dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai s/d ujung kepala

2

Tinggi mata dalam posisi berdiri tegak

3

Tinggi bahu dalam posisi berdiri tegak

4

Tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus)

6

Tinggi tubuh dalam posisi duduk (diukur dari alas tempat duduk/pantat sampai dengan kepala)

7

Tinggi mata dalam posisi duduk

8

Tinggi bahu dalam posisi duduk

9

Tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus)

10

Tebal atau lebar paha

11

Panjang paha yang diukur dari pantat s/d ujung lutut

Tabel 3.2. Dimensi tubuh untuk perancangan dengan Anthropometri (Lanjutan) NO 12

KETERANGAN Panjang paha yang diukur dari pantat s/d bagian belakang dari lutut/betis

Program Studi Teknik Industri UWP

22

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

13 14

Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan paha

15

Lebar dari bahu (bisa diukur dalam posisi berdiri atau duduk)

16

Lebar pinggul/pantat

19 20 21 22

Panjang siku yang diukur dari siku sampai dengan ujung jari-jari dalam posisi siku tegak lurus Lebar kepala Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari Lebar telapak tangan Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak, diukur dari

24

lantai sampai dengan telapak tangan yang terjangkau lurus ke atas

26

Jarak jangkauan tangan yang terjulur ke depan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan

Sumber : (Wignjosoebroto, 2000, hal 70-71 dalam “Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu – Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja”)

Program Studi Teknik Industri UWP

23

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Gambar 3.3. Dimensi tubuh untuk perancangan dengan Anthropometri Sumber : (Wignjosoebroto, 2000, hal 70 dalam “Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu – Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja”)

7. Distribusi Normal Setelah data ukuran dimensi tubuh pengguna dari peralatan/stasiun kerja yang akan dirancang didapatkan selanjutnya data tersebut akan diolah. Data tersebut diolah dengan menggunakan pendekatan distribusi normal. Distribusi normal dapat digambarkan dalam kurva normal yang berbentuk genta.

Gambar 2. Kurva normal magnitude

Sumber : (Wicken dkk, 2004, hal 246 dalam “An Introduction to Human Factors Engineering”)

Seperti diketahui bahwa dalam distribusi normal, mean dan standar deviasi merupakan dua parameter yang terdapat dalam distribusi normal (Wicken dkk, 2004). Oleh karena itu, data ukuran dimensi tubuh pengguna yang telah dikumpulkan akan diolah dengan menggunakan mean dan standar deviasi. Rumus mean dan standar deviasi (Wicken dkk, 2004, hal 247) = ∑ ( )⁄

Keterangan : M = mean (rata-rata)sampel Xi = ukuran dimensi tubuh untuk sampel ke i N = jumlah sampel

Keterangan : s = standar deviasi M = mean (rata-rata)sampel Program Studi Teknik Industri UWP

=

∑(

− ) −1

24

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Xi N

= ukuran dimensi tubuh untuk sampel ke i = jumlah sampel

Contoh soal : Dilakukan pengukuran terhadap 10 orang pengguna untuk data dimensi tubuh tinggi mata dalam posisi duduk. Data tersebut yaitu sebagai berikut: Partisipan ke-

Ukuran

1

68

2

70

3

72

4

67

5

69

6

70

7

69

8

67

9

73

10

69

Hitunglah mean dan standar deviasinya! Jawab : Mean =

68 + 70 + 72 + 67 + 69 + 70 + 69 + 67 + 73 + 69 10

Standar deviasi =

=

694 = 69,4 10

(68 − 69,4) + (70 − 69,4) + (72 − 69,4) + 10 − 1

Program Studi Teknik Industri UWP

+ (69 − 69,4)

= 1,95

25

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 8.

Percentile Setelah data diolah dengan menggunakan mean dan standar deviasi, selanjutnya dapat

ditentukan nilai percentile. Dalam Anthropometri, nilai percentile menunjukkan jumlah prosentase populasi dengan ukuran dimensi tubuh dalam kisaran tersebut atau dibawahnya (Wicken dkk, 2004). Semisal, 95-th percentile menunjukkan bahwa 95% populasi berada pada kisaran ukuran tersebut atau dibawahnya. Tujuan menentukan nilai percentile ini adalah untuk mengestimasi prosentase dari populasi pengguna yang dapat menggunakan peralatan yang dirancang dikarenakan ukuran dimensi tubuh pengguna tersebut sesuai dengan ukuran peralatan yang dirancang (Wicken dkk, 2004). Rumus percentile (Wicken dkk, 2004, hal 247) Keterangan : x = nilai percentile s = standar deviasi M = mean (rata-rata)sampel F = faktor pengali Tabel 3.3. Faktor pengali pada percentile Percentile 1 st

F -2,326

5 th

-1,645

10 th

-1,282

25 th

-0,674

50 th

0

75 th

+0,674

90 th

+1,282

95 th

+1,645

99 th

+2,326

Sumber : (Wicken dkk, 2004, hal 248 dalam “An Introduction to Human Factors Engineering”)

Contoh soal : Dari data yang sebelumnya telah dihitung nilai mean dan stadar deviasinya, selanjutnya lakukan perhitungan untuk percentile 5 th, 10 th, 90 th dan 95 th! Jawab : Percentile 5 th

Program Studi Teknik Industri UWP

= 69,4 − 1,645 1,95 = 66,19

26

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Percentile 10 th

Percentile 90 th

= 69,4 − 1,282 1,95 = 66,9

Percentile 95 th

= 69,4 + 1,282 1,95 = 71,9 = 69,4 + 1,645 1,95 = 72,61

9. Cara penentuan percentile dalam perancangan Saat melakukan perancangan dengan menggunakan pendekatan Anthropometri, perancang perlu untuk menentukan percentile mana yang akan digunakan dalam ukuran dimensi peralatan. Terdapat suatu aturan yang dapat digunakan perancang untuk menentukan hal tersebut. Aturan tersebut yaitu : (Wignjosoebroto, 2000) a. Dimensi minimum ditetapkan berdasarkan nilai percentile yang terbesar yaitu seperti 90th, 95-th, 97,5-th, 99-th. Contoh : pada perancangan peralatan berupa pintu ruangan, penentuan tinggi pintu dapat dilakukan dengan menggunakan percentile untuk dimensi minimum. tinggi

Gambar 3.4 Pintu b. Dimensi maksimum ditetapkan berdasarkan nilai percentile yang terkecil yaitu seperti 1-th, 5-th, 10-th Contoh : pada perancangan peralatan berupa meja, penentuan tinggi dan lebar meja dapat dilakukan dengan menggunakan percentile untuk dimensi maksimum.

Program Studi Teknik Industri UWP

27

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Gambar 3.5. Meja 10. Latihan soal-soal Latihan 1 Setiap manusia memiliki ukuran dimensi tubuh yang berbeda-beda. Jelaskan kaitan hal tersebut dalam proses perancangan stasiun kerja menggunakan pendekatan Anthropometri! Latihan 2 Lakukanlah perancangan terhadap peralatan yang ada disekitarmu (contoh: meja). Pertamatama, tentukan dahulu dimensi tubuh yang diperlukan untuk menentukan ukuran dimensi peralatan yang dirancang. Selanjutnya lakukan pengumpulan data. Kemudian olah data yang ada dengan melakukan perhitungan nilai mean, standar deviasi dan percentile. Terakhir, tentukan percentile yang akan digunakan sebagai acuan ukuran dimensi peralatan. 11.

Referensi 1. Wicken, C.D., Lee, J.D., Liu, Y. & Becker, S.E.G., (2004) : An Introduction to Human Factors Engineering, Pearson Education, New Jersey 2. Wignjosoebroto, S., (2000) : Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu - Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja, Penerbit Guna Widya, Surabaya. 3. Nurmianto, Eko, “Ergonomi: Konsep Dasar dan Aplikasinya”, Edisi kedua, Penerbit Guna Darma, 2004.

Program Studi Teknik Industri UWP

28

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 4 TEMPERATUR 1. Tubuh manusia dan temperatur Temperatur inti tubuh manusia berada pada kisaran 37oC (Kroemer & Kroemer, 2001). Hal ini terjadi khususnya pada bagian otak dan rongga dada (Kroemer & Kroemer, 2001). Oleh karena itu, terkait dengan temperatur, tubuh manusia akan selalu melakukan penyesuaian terhadap temperatur lingkungan sekitarnya. Hal ini dikenal sebagai thermo regulatory system. Tugas utama thermo regulatory system pada manusia adalah untuk menjaga temperatur inti tubuh manusia pada suhu 37oC (Kroemer dkk, 2001). Jika pada bagian inti tubuh manusia, temperatur dijaga untuk berada pada kisaran 37oC, hal yang berbeda ditemukan pada bagian kulit. Pada bagian kulit, thermo regulatory system akan menjaga suhu pada bagian ini menjadi diatas titik beku dan dibawah 40oC (Kroemer dkk, 2001). Namun nilai tersebut tidaklah mutlak. Akan ditemukan sedikit perbedaan nilai dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya. Sebagai contoh pada bagian kaki mungkin suhunya akan berkisar pada nilai 25oC sedangkan bagian lainnya seperti lengan atas berkisar pada nilai 31oC (Kroemer dkk, 2001). Perbedaan ini pada akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada manusia (Youle, 1990 dalam Kroemer dkk, 2001). Tubuh manusia akan selalu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar khususnya terkait dengan temperatur. Pada kondisi cuaca panas, tubuh manusia akan menerima banyak panas dan pada kondisi cuaca dingin, tubuh akan banyak kehilangan panas (Kroemer dkk, 2001). Oleh karena itu, pada cuaca panas, tubuh akan menyesuaikan diri dengan cara melepaskan panas tubuh dan pada cuaca dingin tubuh akan menjaga panas tubuh (Kroemer dkk, 2001). Kemampuan tubuh manusia untuk menyesuaikan diri pada kondisi cuaca panas maupun cuaca dingin berbeda. Pada kondisi cuaca panas, kemampuan tubuh untuk menyesuaikan diri hanyalah sebesar 20% dari kondisi normal dan pada kondisi cuaca dingin sebesar 35% dari kondisi normal (Wignjosoebroto, 2000). Perubahan suhu pada tubuh manusia dapat mempengaruhi fungsi tubuh dan performansi. Menurut Kroemer dkk (2001), pengaruh ini terjadi ketika terdapat perubahan suhu sebesar 2o pada suhu bagian inti tubuh manusia. Lebih lanjut Kroemer dkk (2001) menjelaskan bahwa dampak buruk akan terjadi jika perubahan suhu tersebut mencapai 6oC. Karena dampak buruk yang dapat ditimbulkan karena perubahan suhu pada bagian inti tubuh tersebut maka tugas thermo regulatory system pada tubuh manusia merupakan hal yang sangat penting.

Program Studi Teknik Industri UWP

29

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Dengan mempelajari pengaruh temperatur terhadap tubuh manusia diharapkan dapat meminimalisasi dan menghilangkan dampak buruk yang ditimbulkan. 2. Panas Tubuh Manusia Panas tubuh yang terdapat pada tubuh manusia dihasilkan dari energi yang ada di dalam tubuh. Makanan yang dikonsumsi oleh manusia pada awalnya akan diolah di dalam tubuh. Dari proses pengolahan tersebut, akan dihasilkan energi. Energi inilah yang selanjutnya merupakan bahan baku untuk membuat panas tubuh. Panas tubuh yang dihasilkan dari energi yang dihasilkan disirkulasikan dalam tubuh melalui darah (Kroemer & Kroemer, 2001). C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + energi Reaksi kimia diatas menunjukkan bahwa satu molekul glukosa yang direaksikan dengan enam molekul oksigen akan menghasilkan enam molekul karbondioksida, enam molekul air serta energi (Kroemer dkk, 2001).

Gambar 4.1. Metabolisme dan energi yang dihasilkan dalam tubuh Sumber : (Kroemer dkk, 2001, hal 99 dalam “Ergonomics – How to Design for Ease and Efficiency”)

Program Studi Teknik Industri UWP

30

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Gambar 4.1 menunjukkan bagaimana makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh manusia akan diolah dalam tubuh. Hasil dari pengolahan tersebut akan menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Energi tersebut akan dimanfaatkan oleh tubuh salah satunya yaitu untuk menghasilkan panas tubuh. Pertukaran energi yang terjadi di dalam tubuh dapat digambarkan melalui persamaan (Kroemer dkk, 2001) I=M=H+W+S Keterangan : I

= energi inputan yang berasal dari makanan dan minuman

M

= energi yang dihasilkan dari proses metabolisme

H

= panas tubuh

W

= energi yang digunakan untuk bekerja

S

= energi yang disimpan di dalam tubuh

Dari persamaan diatas terlihat bahwa kesimbangan sistem tubuh terjadi ketika terjadi proses pertukaran panas tubuh ke lingkungan dan energi yang tersimpan di dalam tubuh berada pada jumlah yang cenderung tetap dan tidak berkurang (Kroemer dkk., 2001). Panas tubuh dihasilkan ketika energi inputan lebih besar jumlahnya dibandingkan energi yang digunakan untuk bekerja (Kroemer dkk., 2001). H=I–W-S 3. Proses Pertukaran Panas Proses pertukaran panas ke lingkungan dapat melalui beberapa cara. Beberapa cara tersebut yaitu proses radiasi, proses konveksi, proses konduksi dan proses evaporasi. Berikut penjelasan masing-masing cara tersebut. 7. Proses radiasi “Proses radiasi merupakan suatu proses pegerakan energi elektromagnetik diantara dua permukaan yang berbeda” (Kroemer dkk, 2001, hal 234). Pada proses radiasi, panas akan mengalir dari permukaan yang lebih panas ke permukaan yang lebih dingin tanpa medium perantara (Kroemer dkk, 2001). Contoh proses ini yaitu ketika matahari bersinar pada pagi hari. Tubuh akan terasa hangat oleh karena panas yang dipancarkan oleh matahari. Pada proses radiasi, jumlah panas yang mengalir tergantung pada perbedaan panas yang dimiliki oleh kedua permukaan yang dimaksud (Kroemer dkk, 2001). Rumus terkait dengan proses radiasi ini disajikan sebagai berikut (Kroemer dkk, 2001, hal 234).

Program Studi Teknik Industri UWP

31

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

= ( ,∆ ≈

Keterangan : QR



)

= jumlah panas yang hilang/panas yang diterima oleh tubuh akibat proses radiasi

S

= luas permukaan tubuh yang bersentuhan

hR

= nilai koefisien pertukaran panas

t

= suhu dalam celsius

Dari persamaan tersebut terlihat bahwa jumlah panas yang hilang/panas yang diterima oleh tubuh akibat proses radiasi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor suhu dan luas permukaan tubuh yang bersentuhan. 8. Proses konveksi Saat kulit tubuh bersentuhan dengan udara (atau zat gas lainnya) atau dengan air (atau zat cair lainnya) maka pada saat itu proses konveksi dapat terjadi (Kroemer dkk, 2001). Proses konveksi dapat digambarkan saat seseorang berada di ruangan yang dilengkapi dengan AC. Pada kondisi tersebut tubuh akan terasa sejuk. Hal ini juga ditemukan pada saat seseorang berenang. Tubuh akan terasa panas ketika air kolam bersuhu tinggi dan tubuh akan terasa dingin ketika air kolam bersuhu rendah. Rumus terkait dengan proses konveksi disajikan sebagai berikut (Kroemer dkk, 2001, hal 235). ,

Keterangan : QC,K

,

= ( ,∆ ) ≈



= jumlah panas yang hilang/panas yang diterima oleh tubuh akibat proses konduksi/konveksi

S

= luas permukaan tubuh yang bersentuhan

k

= nilai koefisien konduksi atau konveksi

t

= suhu dalam celsius

9. Proses konduksi Proses konduksi terjadi ketika permukaan tubuh bersentuhan dengan benda padat (Kroemer dkk, 2001). Proses konduksi dapat digambarkan saat seseorang duduk di Program Studi Teknik Industri UWP

32

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja sebuah kursi. Ketika orang tersebut berdiri dan meninggalkan kursi tersebut, kursi akan terasa hangat akibat adanya proses konduksi panas dari tubuh manusia ke kursi. Rumus terkait dengan proses konduksi disajikan sebagai berikut (Kroemer dkk, 2001, hal 235). ,

Keterangan : QC,K

,

= ( ,∆ ) ≈



= jumlah panas yang hilang/panas yang diterima oleh tubuh akibat proses konduksi/konveksi

S

= luas permukaan tubuh yang bersentuhan

k

= nilai koefisien konduksi atau konveksi

t

= suhu dalam celsius

10. Proses evaporasi Pada proses evaporasi, tubuh kehilangan panas dalam satu arah gerak (Kroemer dkk, 2001). Pada tubuh manusia, proses evaporasi ini dapat terlihat ketika seseorang mengeluarkan keringat saat berada di lingkungan dengan suhu yang tinggi (cuaca panas). Untuk menggambarkan proses evaporasi ini dapat digunakan rumus sebagai berikut (Kroemer dkk, 2001, hal 235).

Keterangan :

= ( , )

QE

= jumlah panas yang hilang dari tubuh akibat proses evaporasi

S

= luas permukaan tubuh yang lembab

h

= kelembaban udara

dari rumus diatas dapat terlihat bahwa proses evaporasi dipengaruhi oleh luas permukaan tubuh yang lembab serta faktor kelembaban udara. Tingginya nilai kelembaban udara akan menyebabkan proses evaporasi menjadi sulit dibandingkan pada kondisi lingkungan yang kering atau nilai kelembaban udaranya rendah (Kroemer dkk, 2001). Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pada tingkat kelembaban rendah, tubuh akan berkeringat. Hal tersebut juga yang menyebabkan mengapa menggunakan kipas angin pada saat tubuh berkeringat akan terasa menyegarkan (Kroemer dkk, 2001).

Program Studi Teknik Industri UWP

33

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 4. Keseimbangan Panas Tubuh Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa proses pertukaran panas ke lingkungan dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu melalui proses radiasi, proses konveksi, proses konduksi dan proses evaporasi. Namun keefektifan keempat cara tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Faktor jenis pakaian yang digunakan serta energi yang dibutuhkan untuk bekerja dapat mempengaruhi keempat proses tersebut (Kroemer & Kroemer, 2001). Pada akhirnya, faktor-faktor tersebut juga akan mempengaruhi keseimbangan panas tubuh. Berikut rumus terkait dengan keseimbangan panas tubuh (Kroemer & Kroemer, 2001, hal 237). H+R+C+K-E=0 Keterangan : H

= energi (panas) yang dihasilkan dari proses metabolism

R

= jumlah panas yang hilang/panas yang diterima oleh tubuh akibat proses radiasi

C

= jumlah panas yang hilang/panas yang diterima oleh tubuh akibat proses konveksi

K

= jumlah panas yang hilang/panas yang diterima oleh tubuh akibat proses konduksi

E

= jumlah panas yang hilang/panas yang diterima oleh tubuh akibat proses evaporasi

catatan : ketika tubuh kehilangan panas tubuh maka R, C dan K akan negatif sedangkan pada kondisi tubuh mendapatkan panas tubuh maka nilai R, C dan K akan positif.

5. Reaksi Tubuh Pada Lingkungan Dengan Suhu Panas Tubuh manusia akan bereaksi ketika berada di lingkungan dengan suhu yang panas. Reaksi tersebut sebagai bentuk penyesuaian tubuh terhadap kondisi lingkungan sekitar. Reaksi yang diberikan tubuh dapat berupa meningkatkan suhu permukaan tubuh (bagian kulit), meningkatkan aliran darah ke kulit, mempercepat detak jantung dan memperluas output jantung (Kroemer dkk, 2001). Reaksi tersebut pada akhirnya akan menimbulkan akibat tersendiri ketika berlangsung dalam waktu yang lama. Berikut penjelasan lebih mendalamnya. Pada saat sesorang berada di lingkungan dengan suhu yang panas, tubuh akan memproduksi

panas

tubuh.

Program Studi Teknik Industri UWP

Panas

tersebut

harus

dihilangkan

agar

tubuh

dapat

34

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja mempertahankan suhu inti tubuh pada kisaran nilai 37oC (Kroemer dkk, 2001). Untuk itu suhu permukaan tubuh (bagian kulit) ditingkatkan agar berada diatas suhu lingkungan. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mengantisipasi kehilangan energi akibat proses konveksi, konduksi dan radiasi (Kroemer dkk, 2001). Pada saat itulah tubuh juga akan memproduksi keringat untuk mendinginkan tubuh. Jumlah keringat yang diproduksi ini antara lain dipengaruhi oleh jenis pakaian yang digunakan, kondisi lingkungan serta pekerjaan yang dilakukan (Kroemer dkk, 2001). Terdapat dampak yang ditimbulkan akibat keringat yang diproduksi oleh tubuh. Besarnya jumlah keringat yang diproduksi dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan tubuh. Jika carian tubuh yang hilang kurang dari 5% berat tubuh maka hal tersebut tidak menurunkan kekuatan otot (Kroemer dkk, 2001). Namun bagaimanapun, dehidrasi yang dialami tubuh dapat menurunkan performansi tubuh. Untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat kehilangan cairan tubuh tersebut, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meminum air (air putih) (Kroemer dkk, 2001). Selain meningkatkan suhu permukaan tubuh (bagian kulit), pada saat berada di lingkungan dengan suhu yang panas, tubuh juga memberikan reaksi berupa meningkatkan aliran darah ke kulit. Terkait dengan meningkatnya aliran darah ke kulit, kondisi ini jika berlangsung pada waktu yang lama maka akan menyebabkan menurunnya aliran darah ke bagian otot dan organ dalam (Kroemer dkk, 2001). Kondisi tersebut pada akhirnya akan menurunkan kekuatan otot. 6. Reaksi Tubuh Pada Lingkungan Dengan Suhu Dingin Sama seperti ketika berada di lingkungan yang panas, ketika seseorang berada di lingkungan dengan suhu yang dingin, tubuh juga akan memberikan reaksi. Reaksi ini bertujuan untuk menjaga suhu inti tubuh pada kisaran nilai 37oC. Namun reaksi yang ditimbulkan oleh tubuh tentulah berbeda. Jika pada kondisi lingkungan yang panas tubuh harus melepaskan panas tubuh, hal yang berbeda ditemukan ketika seseorang berada di lingkungan dengan suhu yang dingin. Pada lingkungan ini tubuh harus menjaga panas tubuh (Kroemer dkk, 2001). Untuk itu tubuh akan menurunkan suhu permukaan tubuh (bagian kulit), menurunkan aliran darah ke kulit dan meningkatkan metabolisme dalam upaya memproduksi panas tubuh (Kroemer dkk, 2001). Terdapat dampak yang ditimbulkan ketika seseorang berada di lingkungan dengan suhu yang dingin. Dampak tersebut antara lain dapat berupa hal-hal sebagai berikut : (Kroemer dkk, 2001)

Program Studi Teknik Industri UWP

35

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 11. Dehidrasi yang dirasakan seseorang 12. Produksi urin yang meningkat 13. Rasa tidak nyaman pada proses pernafasan akibat udara yang dihirup terasa dingin 14. Tubuh bergemetar dimana hal tersebut juga terkait dengan aktivitas tubuh menghirup oksigen karena oksigen yang dikonsumsi meningkat dalam upaya untuk memproduksi panas tubuh dengan cepat 15. Rasa lelah muncul dengan cepat akibat penurunan suhu otot sehingga mengurangi kemampuan kontraksi otot Untuk mengantisipasi dampak yang muncul akibat suhu lingkungan yang dingin, terdapat beberapa hal yang biasa dilakukan. Hal-hal tersebut diantaranya yaitu menggunakan pakaian yang tebal, melindungi bagian wajah dan menggunakan peralatan yang dapat memberikan rasa hangat (Kroemer dkk, 2001). Selain itu melakukan gerakan-gerakan dinamis tubuh juga dapat dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan tingkat metabolisme (Kroemer dkk, 2001). 7. Latihan soal-soal Latihan 1 Amatilah lingkungan sekitarmu lalu jelaskanlah hal-hal apa saja yang Anda temukan di lingkungan sekitar yang bertujuan untuk mengendalikan suhu ruangan! 8. Referensi 1. Kroemer, K.H.E. & Kroemer, A.D., (2001) : Office Ergonomics, Taylor & Francis, London 2. Kroemer, K., Kroemer, H. & Elbert, K.K., (2001) : Ergonomics – How to Design For Ease and Efficiency, Prentice Hall, New Jersey 3. Wignjosoebroto, S., (2000) : Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu - Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja, Penerbit Guna Widya, Surabaya. 4. Nurmianto, Eko, “Ergonomi: Konsep Dasar dan Aplikasinya”, Edisi kedua, Penerbit Guna Darma, 2004.

Program Studi Teknik Industri UWP

36

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja BAB 5 PENCAHAYAAN 1. Mata Manusia Mata merupakan salah satu organ panca indera yang dimiliki manusia pada umumnya dan berfungsi untuk menangkap sinyal informasi yang ada di lingkungan sekitar. Secara general, mata terdiri atas beberapa bagian diantaranya yaitu kornea, iris, pupil, lensa, retina dan saraf optik. Setiap bagian-bagian tersebut saling bekerja sama sehingga manusia dapat menangkap sinyal informasi yang ada. Berikut merupakan fungsi dari masing-msing bagian mata tersebut (http://id.wikipedia.org/wiki/Mata). a. Kornea Kornea merupakan bagian terluar dari bola mata. Bagian ini berfungsi untuk menerima cahaya yang terpantul dari sumber cahaya ke suatu benda. b. Iris dan Pupil Iris dan pupil saling bekerja sama dalam menentukan jumlah cahaya yang akan ditangkap dan diteruskan ke bagian mata yang lebih dalam. Pupil akan melebar dan menyempit dalam proses tersebut. Pupil akan melebar ketika kondisi lingkungan sekitar adalah gelap dan akan menyempit ketika kondisi lingkungan sekitar adalah terang. Kemampuan pupil untuk melebar dan menyempit tersebut akan dipengaruhi oleh kerja iris sebagai diafragma. c. Lensa Lensa merupakan bagian mata selanjutnya. Lensa akan meneruskan cahaya yang telah melewati bagian sebelumnya yaitu iris dan pupil menuju ke bagian yang lebih dalam yaitu retina. Selain meneruskan cahaya, lensa juga berfungsi untuk memastikan bahwa cahaya yang diteruskan tersebut jatuh tepat di bintik kuning retina. Untuk menunjang kerjanya, lensa akan menebal dan menipis. Lensa akan menebal ketika melihat benda yang dekat dan akan menipis ketika melihat benda yang jauh. d. Retina Retina merupakan bagain mata yang paling peka terhadap cahaya. Pada bagian retina, cahaya yang telah diteruskan tersebut akan dirubah menjadi sinyal-sinyal. Sinyal ini kemudian dikirimkan ke bagian saraf optik. e. Saraf optik Saraf optik akan menerima sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh bagian retina. Sinyalsinyal tersebut akan dikirimkan lebih lanjut oleh saraf optik menuju ke otak. Dari tahap

Program Studi Teknik Industri UWP

37

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja inilah sinyal-sinyal akan mulai diterjemahkan oleh otak dan kemudian otak akan memerintahkan anggota gerak tubuh untuk melakukan suatu tindakan sebagai bentuk respon terhadap sinyal informasi yang ada.

Gambar 5.1. Bagian-bagian Mata (Sumber : http://mftepundu.blogspot.com/2011/03/mata.html) 2. Sistem Penglihatan Manusia Pada awalnya sumber cahaya memancarkan cahaya lalu cahaya tersebut mengenai benda. Cahaya yang mengenai benda tersebut kemudian memantul dimana pantulan tersebut salah satunya mengenai ke mata. Selanjutnya terbentuk sinyal saraf mengenai keberadaan cahaya tersebut dan otak merespon sinyal saraf tersebut dengan memerintahkan kepada iris dan pupil untuk menentukan jumlah cahaya yang masuk. Selanjutnya cahaya tersebut diteruskan ke lensa dan dari lensa akan di teruskan ke retina. Lensa juga bertugas untuk memastikan bahwa cahaya yang diteruskan tersebut jatuh tepat di bintik kuning retina. Selanjutnya di retina, cahaya yang telah diteruskan tersebut akan dirubah menjadi sinyal-sinyal yang akan dikirimkan oleh saraf optik ke otak. Kembali otak akan bekerja dalam upaya menterjemahkan sinyal-sinyal yang ada dan kemudian memberikan perintah kepada anggota gerak tubuh untuk memberikan respon atas sinyal tersebut.

Program Studi Teknik Industri UWP

38

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 3. Sistem Pencahayaan Dari penjelasan mengenai sistem penglihatan manusia diatas maka terlihat bahwa sistem pencahayaan menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi performansi mata dalam menerima sinyal informasi. Tanpa keberadaan cahaya maka seseorang tidak dapat melihat lingkungan sekitarnya secara jelas. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa cahaya menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi performansi penglihatan seseorang. Selain itu adalah merupakan hal yang penting untuk menjaga performansi penglihatan seseorang Hal ini karena dibandingkan panca indera lainnya, mata merupakan panca indera yang paling sering digunakan dalam menangkap sinyal informasi. Dari penjelasan ini maka dapat disimpulkan bahwa pengaturan yang baik terhadap sistem pencahayaan dapat mendukung performasi penglihatan manusia. Hal ini penting untuk dilakukan karena tanpa keberadaan cahaya maka manusia tidak dapat melihat secara jelas dimana hal ini akan menurunkan performansi seseorang. Penurunan performansi tersebut pada lingkungan pabrik dapat terlihat dari banyaknya kesalahan pekerja dalam mengidentifikasi sesuatu atau juga dapat diukur berdasarkan jumlah produk cacat yang dihasilkan. Selain itu, hal mengenai pengaturan sistem pencahayaan juga penting karena mata merupakan panca indera yang paling sering digunakan untuk menerima sinyal informasi. Dalam upaya mendukung performansi penglihatan mata, terdapat beberapa saran yang diungkapkan dalam upaya pengaturan sistem pencahayaan tersebut. Menurut CIE, IESNA dan ANSI di lingkungan perkantoran pada umumnya sebaiknya sistem pencahayaan diatur pada kisaran 500 hingga 1000 lux (Kroemer & Kroemer, 2001). Nilai ini dapat bertambah jika pada lingkungan perkantoran terdiri atas banyak permukaan yang gelap (Kroemer & Kroemer, 2001). Namun pada lingkungan yang terang maka sistem pencahayaan dapat diatur pada kisaran 200 hingga 500 lux (Kroemer & Kroemer, 2001). Berikut pengaturan sistem pencahayaan untuk beberapa kondisi lingkungan.

Program Studi Teknik Industri UWP

39

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Tabel 5.1. Pengaturan sistem pencahayaan

(Sumber : http://www.ccohs.ca/oshanswers/ergonomics/lighting_survey.html) 4. Wilayah Penglihatan Wilayah penglihatan merupakan suatu area dimana seseorang dapat melihat dengan jelas (Kroemer & Kroemer, 2001,hal 197). Wilayah penglihatan ini terukur dalam satuan derajat (sudut). Berikut wilayah penglihatan manusia secara umum pada sisi kiri, kanan, atas dan bawah mata (Kroemer & Kroemer, 2001). f.

Pada sisi kanan dan kiri mata, wilayah penglihatan berada pada kisaran sudut kurang lebih 90o sedangkan terkait dengan warna hanya terbatas pada sudut 65o.

g. Pada sisi atas mata, wilayah penglihatan berada pada sudut 55o dan terkait dengan warna, wilayah penglihatan berada pada sudut 30o. h. Pada sisi bawah mata, wilayah penglihatan berada pada sudut 70o dan terkait dengan warna, wilayah penglihatan berada pada sudut 40o.

Program Studi Teknik Industri UWP

40

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Gambar 5.2. Wilayah penglihatan manusia (Sumber : http://www.ssc.education.ed.ac.uk/courses/vi&multi/vmay06c.html) 5. Kelelahan Mata Kelelahan mata merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan kemampuan kerja mata secara sementara. Karena terjadi penurunan kemampuan kerja mata maka seseorang yang mengalami kelelahan mata memiliki potensi untuk melakukan kesalahan dalam aktivitas kerjanya seperti salah dalam menginput data. Kelelahan mata ini dapat disebabkan oleh beberapa hal. Beberapa hal tersebut yaitu (Kroemer & Kroemer, 2001) i.

Ketika mata digunakan untuk menerima sinyal informasi dalam jangka waktu yang lama. Contohnya yaitu bekerja dengan komputer dalam jangka waktu yang lama. Pada kondisi ini mata akan menatap ke layar monitor dalam jangka waktu yang lama.

j.

Melakukan akivitas yang diantaranya yaitu menatap suatu objek terlalu dekat/jauh. Kondisi terlalu dekat atau terlalu jauh ini dapat didefinisikan sebagai jarak diluar batas jarak minimum mata berakomodasi yaitu 1 m dari pupil.

Untuk mengatasi kelelahan mata terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan diantaranya yaitu dengan melalui peregangan. Peregangan ini dapat dilakukan dengan cara sementara waktu mengalihkan pandangan kepada objek yang lainnya serta sesekali mengedipkan mata. 6. Efek Silau Efek silau dapat memberikan dampak negatif pada proses mata menangkap sinyal informasi. Hal ini dikarenakan efek silau dapat menyebabkan seseorang mengalami kesulitan melihat suatu objek (Kroemer & Kroemer, 2001). Efek silau ini dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar yaitu efek silau secara langsung (direct glare) dan efek silau secara tidak Program Studi Teknik Industri UWP

41

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja langsung (indirect glare) (Kroemer & Kroemer, 2001). Efek silau secara langsung (direct glare) terjadi ketika cahaya bersinar dengan arah lurus menuju ke mata (Kroemer & Kroemer, 2001). Efek ini banyak dirasakan oleh pengendara kendaraan motor yang menerima cahaya langsung dari kendaraan motor pengendara lainnya dari arah yang berlawanan. Efek silau lainnya yaitu efek silau secara tidak langsung (indirect glare). Pada efek silau secara tidak langsung (indirect glare), sebelum cahaya mengenai mata, cahaya akan terpantul dahulu. Oleh karena itu pada efek jenis ini cahaya tidak membentuk arah lurus.

.

(a)

(b) Gambar 5.3. Efek silau

k. efek silau secara langsung (direct glare), (b) efek silau secara tidak langsung (indirect glare) (Sumber : http://autobahn.myweb.hinet.net/g.htm) Cara mengatasi pengaruh yang diberikan oleh efek silau secara langsung (direct glare) yaitu : (Kroemer & Kroemer, 2001) a. Bekerja dengan posisi menghadap ke jendela dapat menyebabkan mata terkena sinar matahari yang masuk melalui jendela sehingga muncul efek silau secara langsung (direct glare). Untuk mengatasinya, dapat dilakukan dengan cara mengatur ulang posisi kerja b. Redupkan atau matikan lampu yang cahayanya langsung mengenai mata c. Letakkan lampu di sisi kiri atau kanan pekerja. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar cahaya lampu tidak langsung mengenai mata pekerja Cara mengatasi pengaruh yang diberikan oleh efek silau secara tidak langsung (indirect glare) yaitu : (Kroemer & Kroemer, 2001) a. Monitor komputer dilengkapi denga alat filter cahaya b. Mengatur ulang posisi kerja jika posisi sebelumnya memberikan efek silau secara tidak langsung (indirect glare)

Program Studi Teknik Industri UWP

42

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja c. Memastikan bahwa benda-benda di sekitar wilayah penglihatan tidak memiliki permukaan yang licin, berkilau dan bercahaya karena permukaan tersebut mampu memantulkan cahaya 7. Pengaturan Sistem Pencahayaan Pengaturan sistem pencahayaan dapat dilakukan dalam 3 cara yaitu sistem pencahayaan langsung (direct lighting), sistem pencahayaan tidak langsung (indirect lighting) dan sistem pencahayaan menyebar (diffuse) (Kroemer & Kroemer, 2001). Berikut merupakan ciri khas dari masing-masing pengaturan sistem pencahayaan (Kroemer & Kroemer, 2001). a. Sistem pencahayaan langsung (direct lighting) Pada sistem ini, efek dari timbulnya bayangan dan efek silau adalah tinggi. Namun sistem ini cukup efisien dalam penggunaan daya listrik.

Gambar 5.4. Sistem pencahayaan langsung (direct lighting) b. Sistem pencahayaan tidak langsung (indirect lighting) Sistem ini digunakan untuk mengatasi efek negatif yang ditimbulkan dari efek bayangan dan efek silau. Namun sistem ini kurang efisien dalam penggunaan daya listrik.

Gambar 5.5. Sistem pencahayaan tidak langsung (indirect lighting)

Program Studi Teknik Industri UWP

43

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja c. Sistem pencahayaan menyebar (diffuse) Sistem ini menimbulkan sedikit efek bayangan dan efek silau. Namun dari sisi efisiensi penggunaan daya listrik, sistem ini lebih efisien dibandingkan sistem pencahayaan tidak langsung (indirect lighting).

Gambar 5.6. Sistem pencahayaan menyebar (diffuse) 8. Latihan Soal-Soal Latihan 1 Menurut Anda pengaturan sistem pencahayaan berikut (sistem pencahayaan langsung (direct lighting), sistem pencahayaan tidak langsung (indirect lighting) dan sistem pencahayaan menyebar (diffuse)) lebih cocok diaplikasikan pada bagian mana dalam suatu lingkungan perkantoran? Jelaskan jawaban Anda! 9. Referensi a. Kroemer, K.H.E. & Kroemer, A.D., (2001) : Office Ergonomics, Taylor & Francis, London b. http://id.wikipedia.org/wiki/Mata c. http://mftepundu.blogspot.com/2011/03/mata.html d. http://www.ccohs.ca/oshanswers/ergonomics/lighting_survey.html e. http://www.ssc.education.ed.ac.uk/courses/vi&multi/vmay06c.html f.

http://autobahn.myweb.hinet.net/g.htm

Program Studi Teknik Industri UWP

44

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 6 BUNYI DAN KEBISINGAN 1. Telinga Manusia Pada bab 4 telah dibahas tentang mata yang merupakan salah satu panca indera yang dimiliki oleh manusia pada umumnya. Pada modul ini akan dibahas panca indera lainnya yaitu telinga. Hampir serupa dengan mata, telinga juga berfungsi untuk menangkap sinyal informasi yang ada di lingkungan sekitar. Hanya saja sinyal informasi yang ditangkap melalui telinga adalah sinyal informasi yang berupa bunyi/suara. Secara general, telinga terdiri atas tiga bagian besar diantaranya yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Masing-masing bagian tersebut terdiri atas bagian-bagian tertentu dengan fungsinya masing-masing. Berikut merupakan fungsi dari masing-masing bagian telinga (http://id.wikipedia.org/wiki/Telinga). a. Telinga luar b. Daun telinga Daun telinga adalah bagian terluar dari telinga. Secara kasat mata, bagian ini dapat terlihat. Daun telinga berfungsi untuk menangkap stimulus suara yang ada di lingkungan sekitar dan mengarahkan stimulus tersebut ke bagian telinga selanjutnya. c. Liang telinga Bagian selanjutnya yaitu liang telinga. Linga telinga berbentuk seperti saluran. Liang telinga berfungsi untuk meneruskan stimulus suara yang telah ditangkap oleh daun telinga ke bagian selanjutnya yaitu gendang telinga. d. Gendang telinga Gendang telinga merupakan bagain telinga yang berbentuk selaput. Bagian ini terletak diantara telinga luar dan telinga tengah. Gendang telinga berfungsi untuk meneruskan stimulus suara dari telinga luar menuju telinga tengah. e. Telinga tengah Pada telinga tengah terdapat tiga tulang pendengaran. Fungsi ketiga tulang pendengaran tersebut adalah saling bekerja sama untuk meneruskan stimulus suara yang diterima dari telinga luar menuju ke telinga dalam. Bagian ini akan menguatkan stimulus suara secara mekanik ketika getarannya terlalu kecil dan akan meredam getaran ketika stimulus suara yang ditangkap terlalu keras sehingga hanya sedikit stimulus yang dihantarkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kerusakan telinga dalam karena telinga dalam terlalu rapuh dan peka. Ketiga tulang tersebut yaitu : Program Studi Teknik Industri UWP

45

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja a. Tulang martil b. Tulang landasan c. Tulang sanggurdi d. Telinga dalam Bagian selanjutnya yaitu telinga dalam. Stimulus suara yang telah sampai ke telinga tengah selanjutnya akan dihantarkan ke bagian telinga dalam. Secara umum, pada bagian inilah stimulus suara yang telah ditangkap akan dirubah menjadi sinyal-sinyal saraf yang nantinya akan dikirimkan ke otak agar dapat diterjemahkan. Telinga dalam terdiri atas labirin osea dan labirin membranasea.

Gambar 6.1. Bagian-bagian Telinga (Sumber : http://v-class.gunadarma.ac.id/mod/resource/view.php?id=2458)

2. Sistem Pendengaran Manusia Udara merupakan salah satu media yang dapat menghantarkan getaran suara yang berasal dari sumber suara. Getaran suara ini merupakan stimulus suara yang kemudian nantinya akan ditangkap oleh daun telinga sehingga suara di lingkungan sekitar dapat di dengar. Dari daun telinga, stimulus suara diteruskan ke bagian liang telinga dan kemudian ke bagian gendang telinga. Melalui gendang telinga, stimulus suara dihantarkan dari telinga luar menuju ke telinga tengah. Pada telinga tengah terdapat tiga tulang pendengaran yaitu tulang martil, tulang landasan dan tulang sanggurdi. Ketiga tulang ini akan menghantarkan stimulus Program Studi Teknik Industri UWP

46

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja suara dari telinga tengah menuju telinga dalam. Ketiga tulang pendengaran ini saling bekerja sama dalam meredam suara jika stimulus suara yang ditangkap terlalu keras dan akan memperkuat getaran ketika stimulus suara terlalu lemah. Ketika stimulus suara telah sampai di telinga dalam maka stimulus tersebut akan dirubah menjadi sinyal-sinyal saraf dan kemudian dikirimkan ke otak. Di otak, sinyal tersebut akan diterjemahkan sehingga akhirnya seseorang dapat mengerti suara apa yang didengar. 3. Bunyi Bunyi yang terdengar oleh manusia sebenarnya adalah berbentuk getaran molekul udara. Getaran ini merupakan gelombang yang memiliki amplitudo dan frekuensi. Karena gelombang ini memiliki amplitudo dan frekuensi maka kualitas suara dipengaruhi oleh keduanya (Wicken dkk, 2004). Oleh karena itu pembahasan tentang bunyi ini akan lebih banyak ditekankan pada pembahasan mengenai frekuensi dan amplitudo. Frekuensi merupakan sesuatu yang berhubungan dengan nada sedangkan amplitudo berhubungan dengan kekerasan suara (Wicken dkk, 2004). Jika frekuensi terukur dalam satuan hertz (Hz) maka amplitudo terukur dalam satuan desibel (dB). Terkait dengan frekuensi dan amplitudo, terdapat batas rentang suara yang masih dapat didengar oleh alat pendengaran manusia. Untuk frekuensi, batas rentang nilainya adalah 20 Hz sampai dengan 20 KHz (Wicken dkk, 2004). Sedangkan untuk amplitudo, batas nilai 85 dB secara general digunakan sebagai batas maksimum suara yang diperdengarkan dan pada batas ini seseorang harus mulai dilengkapi dengan alat pelindung diri (Wicken dkk, 2004). Hal ini dilakukan karena pada level ini bunyi yang terdengar mulai berbahaya bagi alat pendengaran manusia.

Program Studi Teknik Industri UWP

47

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Gambar 6.2. Suara dan rata-rata besarnya desibel yang menyertai (Sumber : Wicken dkk, 2004, hal 93) 4. Tingkat Tekanan Suara (SPL) Tingkat tekanan Suara (SPL) merupakan rasio antara dua tekanan suara (Kroemer dkk, 2001). Nilai tersebut memiliki satuan desibel (dB). Untuk menentukan nilai ini dapat digunakan rumus matematis sebagai berikut (Kroemer dkk, 2001). SPL = 10 log (P2 Po-2) atau SPL = 20 log10 (P Po-1) Untuk lebih memudahkan dalam memahami cara penggunaan rumus tersebut berikut contoh soalnya. Hitunglah berapa desibel suara antara 400 Pa sampai dengan 1000 Pa? Diketahui : Po

= 400 Pa

Program Studi Teknik Industri UWP

48

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja P

= 1000 Pa

Jawab : Cara 1 SPL = 10 log (P2 Po-2) SPL = 10 log ((1000)2 / (400)2) SPL = 10 log (1000000 / 160000) SPL = 10 log (6,25) SPL = 7,96 dB Cara 2 SPL = 20 log10 (P Po-1) SPL = 20 log10 (1000 / 400) SPL = 20 log10 (2,5) SPL = 7,96 dB

5. Kebisingan Kebisingan juga merupakan bunyi. Hanya saja istilah kebisingan digunakan untuk bunyibunyi yang sifatnya memberi pengaruh negatif kepada pendengarnya. Kroemer dkk (2001) mendefinisikan kebisingan sebagai berikut : “Kebisingan merupakan suara-suara yang tidak diinginkan dan tidak diharapkan keberadaannya” (Kroemer dkk, 2001, hal 199) Mengacu pada definisi mengenai kebisingan diatas, dapat terlihat bahwa penilaian subjektif dan kondisi psikologis seseorang mengambil peran yang besar dalam upaya mendefinisikan apakah suatu bunyi tergolong sebagai kebisingan atau tidak (Kroemer dkk, 2001). Hal ini dikarenakan pada definisi diatas, kebisingan merupakan suatu suara yang tidak diinginkan. Sesuatu yang tidak diinginkan seseorang belum tentu tidak diinginkan juga oleh orang lain. Kondisi ini semakin membuat kompleks dalam upaya mendefinisikan apakah suatu bunyi dapat digolongkan sebagai kebisingan atau tidak.

Program Studi Teknik Industri UWP

49

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Terlepas dari permasalahan yang ditimbulkan dalam upaya untuk mendefinisikan suatu kebisingan, terdapat pengaruh negatif yang ditimbulkan dari keberadaan kebisingan tersebut. Pengaruh tersebut yaitu : (Kroemer dkk, 2001) a. Kebisingan dapat menimbulkan emosi negatif pada diri seseorang seperti rasa tidak nyaman, marah, kaget dan sebagainya b. Kebisingan dapat mengganggu tidur seseorang c. Kebisngan dapat mengganggu seseorang untuk mendengarkan suara/bunyi lainnya yang sebenarnya ingin di dengar d. Kebisingan dapat menyebabkan perubahan secara kimiawi pada tubuh seseorang baik itu permanen ataupun sementara e. Kebisingan dapat menurunkan kemampuan perseptual seseorang dimana kondisi ini pada akhirnya akan menurunkan performansi seseorang f.

Kebisingan dapat menyebabkan perubahan kemampuan dengar seseorang baik itu permanen ataupun sementara. Kondisi permanen biasanya didapatkan ketika kebisingan diterima secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang lama Seperti penjelasan sebelumnya, kebisingan akan memberikan pengaruh negatif. Di pabrik

contohnya, banyak peralatan yang dapat menjadi sumber kebisingan akibat suara yang dihasilkan. Mulai dari suara yang ditimbulkan akibat gesekan antar komponen (semisal besi dengan besi) hingga suara yang ditimbulkan akibat aktivitas kerja yang dilakukan (seperti suara yang ditimbulkan oleh mesin hammer). Jika tidak ditangani secara baik, kondisi ini dapat mempengaruhi performansi pekerja. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu cara agar kebisingan tersebut dapat direduksi. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani kebisingan. Cara-cara tersebut yaitu : (Wicken dkk, 2004) a. Melengkapi pekerja dengan alat pelindung diri seperti ear plug dan ear muff. Namun penggunaan alat pelindung diri ini juga memiliki kelemahan. Kelemahannya yaitu penggunaan alat pelindung diri dalam jangka waktu yang lama dapat memberikan rasa tidak nyaman pada penggunannya (rasa sakit di bagian telinga). Selain itu penggunaan alat pelindung diri ini dapat membuat penggunanya tidak dapat mendengar secara baik stimulus peringatan yang diberikan dalam bentuk bunyi-bunyian.

Program Studi Teknik Industri UWP

50

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Gambar 6.3. Alat pelindung diri (Sumber : http://safetymigas.blogspot.com/2011/05/alat-pelindung-mata-muka-dantelinga.html) b. Penggunaan komponen peredam suara seperti karet, oli dan sebagainya pada sumber suara Beberapa mesin dapat menjadi sumber suara diakibatkan terdapat komponenkomponennya yang saling bergesekan. Gesekan ini pada akhirnya dapat menimbulkan suara. Pada beberapa kondisi penggunaan komponen peredam suara seperti karet contohnya, dapat digunakan agar kebisingan yang dihasilkan dapat direduksi. c. Menjauhkan stasiun kerja dari sumber suara atau memberikan pelindung peredam suara pada mesin yang menimbulkan suara Cara lainnya yaitu memberikan lapisan pelindung pada mesin agar suara yang ditimbulkan mesin tidak sampai keluar batas lapisan pelindung. Namun cara ini sulit dialakukan ketika mesin yang dimaksud memiliki ukuran yang cukup besar. Oleh karena itu, ketika suara yang ditimbulkan oleh sumber suara sudah tidak mampu lagi di redam dengan cara menggunakan komponen peredam suara maupun mennggunakan pelindung peredam suara, maka dapat diambil langkah lainnya yaitu berupa tindakan menjauhkan stasiun kerja dari sumber suara. 6. Latihan Soal-Soal Latihan 1 Jelaskan faktor apa saja yang mempengaruhi performansi seseorang terkait dengan kemampuan dengar seseorang pada umumnya! 7. Referensi d. Kroemer, K., Kroemer, H. & Elbert, K.K., (2001) : Ergonomics – How to Design For Ease and Efficiency, Prentice Hall, New Jersey

Program Studi Teknik Industri UWP

51

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja e. Wicken, C.D., Lee, J.D., Liu, Y. & Becker, S.E.G., (2004) : An Introduction to Human Factors Engineering, Pearson Education, New Jersey f.

http://id.wikipedia.org/wiki/Telinga

g. http://v-class.gunadarma.ac.id/mod/resource/view.php?id=2458 h. http://safetymigas.blogspot.com/2011/05/alat-pelindung-mata-muka-dan-telinga.html

Program Studi Teknik Industri UWP

52

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 7 HUMAN INFORMATION SYSTEM 1. Human Information System Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Interaksi ini dapat berupa interaksi dengan manusia lainnya atau dengan benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya. Untuk menjaga agar interaksi tersebut berjalan dengan baik maka manusia harus selalu menangkap sinyal informasi yang ada sebaik mungkin. Ketidakmampuan manusia dalam menangkap sinyal informasi yang ada dapat mengganggu proses interaksi yang ada dan dapat membawa pada dampak negatif. Sebagai contoh adalah seorang pekerja yang bekerja di stasiun kerja dengan tingkat kebisingan yang cukup tinggi. Karena tingkat kebisingan yang tinggi tersebut maka pekerja tidak dapat dengan jelas menerima bunyi-bunyi lainnya seperti alarm kebakaran. Suatu ketika terjadi kebakaran dan bunyi alarm kebakaran diperdengarkan. Karena suara mesin yang terlalu bising mendominasi maka pekerja tersebut tidak menyadari keberadaan bunyi alarm yang menyampaikan informasi bahwa sedang terjadi kebakaran. Ketidakmampuan pekerja mendengarkan suara alarm pada akhirnya membuat pekerja tidak segera menyelamatkan diri dari bahaya kebakaran. Dari contoh tersebut terlihat bahwa ketidakmampuan pekerja dalam menerima informasi yang disampaikan melalui bunyi alarm tersebut membawa dampak negatif pada pekerja terkait. Pembahasan mengenai interaksi manusia dengan lingkungan sekitarnya tidaklah lepas dari konsep human information system. Dalam human information system dipaparkan bagaimana stimulus yang disinyalkan oleh lingkungan sekitar ditangkap, diterjemahkan dan di respon oleh manusia. Oleh karena itu, human information system terdiri atas tiga tahapan yaitu mulai dari proses perseptual stimulus informasi, pengolahan dan penterjemahan informasi hingga proses penentuan tindakan sebagai respon atas stimulus informasi (Wicken dkk, 2004).

Program Studi Teknik Industri UWP

53

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

PUSAT PENGOLAHAN

PERSEPTUAL

RESPON/TINDAKAN

SUMBER PERHATIAN

PEMILIHAN RESPON/TINDAKAN

PERSEPSI

PENENTUAN TINDAKAN

MENANGKAP KEBERADAAN SENSOR PENGAMBILAN KEPUTUSAN KERJA DAYA INGAT

DAYA INGAT JANGKA PANJANG (LONG TERM MEMORY)

UMPAN BALIK Gambar 7.1. Human Information System (Sumber : Wicken dkk, 2004, hal 122)

Program Studi Teknik Industri UWP

54

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 2. Proses Perseptual Perseptual merupakan suatu tahapan dimana manusia menangkap stimulus informasi. Proses ini tidak lepas dari kinerja panca indera. Melalui panca indera, manusia dapat menangkap keberadaan stimulus informasi yang diberikan oleh lingkungan sekitar. Berikut dua contoh proses dimana alat panca indera (mata dan telinga) menangkap stimulus informasi dari lingkungan sekitar. a. Sistem penglihatan manusia Pada awalnya sumber cahaya memancarkan cahaya lalu cahaya tersebut mengenai benda. Cahaya yang mengenai benda tersebut kemudian memantul dimana pantulan tersebut salah satunya mengenai ke mata. Selanjutnya terbentuk sinyal saraf mengenai keberadaan cahaya tersebut dan otak merespon sinyal saraf tersebut dengan memerintahkan kepada iris dan pupil untuk menentukan jumlah cahaya yang masuk. Selanjutnya cahaya tersebut diteruskan ke lensa dan dari lensa akan di teruskan ke retina. Lensa juga bertugas untuk memastikan bahwa cahaya yang diteruskan tersebut jatuh tepat di bintik kuning retina. Selanjutnya di retina, cahaya yang telah diteruskan tersebut akan dirubah menjadi sinyal-sinyal yang akan dikirimkan oleh saraf optik ke otak. b. Sistem pendengaran manusia Udara merupakan salah satu media yang dapat menghantarkan getaran suara yang berasal dari sumber suara. Getaran suara ini merupakan stimulus suara yang kemudian nantinya akan ditangkap oleh daun telinga sehingga suara di lingkungan sekitar dapat di dengar. Dari daun telinga, stimulus suara diteruskan ke bagian liang telinga dan kemudian ke bagian gendang telinga. Melalui gendang telinga, stimulus suara dihantarkan dari telinga luar menuju ke telinga tengah. Pada telinga tengah terdapat tiga tulang pendengaran yaitu tulang martil, tulang landasan dan tulang sanggurdi. Ketiga tulang ini akan menghantarkan stimulus suara dari telinga tengah menuju telinga dalam. Ketiga tulang pendengaran ini saling bekerja sama dalam meredam suara jika stimulus suara yang ditangkap terlalu keras dan akan memperkuat getaran ketika stimulus suara terlalu lemah. Ketika stimulus suara telah sampai di telinga dalam maka stimulus tersebut akan dirubah menjadi sinyal-sinyal saraf dan kemudian dikirimkan ke otak. Tahap perseptual merupakan tahapan awal dalam human information system. Hambatan pada tahap ini akan mengganggu human information system secara keseluruhan. Agar proses

Program Studi Teknik Industri UWP

55

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja perseptual dapat berjalan dengan baik, berikut pedoman yang dapat dijadikan acuan : (Wicken dkk, 2004) c. Memaksimalkan bottom-up processing. Hal ini tidak hanya dilakukan dengan cara meningkatkan kemampuan panca indera dalam menerima stimulus infromasi tetapi juga harus disertai dengan sikap kehati-hatian dalam menanggapi beberapa stimulus yang hampir serupa dimana stimulus tersebut dapat menimbulkan kebingungan pada penerimanya d. Memaksimalkan kemampuan untuk menyatukan serangkaian stimulus informasi dengan cara proses perseptual yang sudah biasa dialami. Hal ini biasanya terkait dengan long term memory seseorang. e. Memaksimalkan top-down prosessing ketika bottom-up processing melemah dan ketika seseorang gagal menyatukan serangkaian stimulus informasi akibat stimulus informasi tersebut terlihat asing. Walaupun pada pembahasan sebelumnya terdapat pedoman yang dapat digunakan dengan tujuan agar proses perseptual dapat berjalan dengan baik, namun tidak dapat diabaikan seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa proses perseptual ini juga tidak lepas dari kinerja alat panca indera itu sendiri. Diketahui bahwa kinerja alat panca indera akan menurun seturut dengan pertambahan usia. Pertambahan usia akan mempengaruhi kinerja mata dalam hal kemampuan mata untuk berakomodasi (Kroemer & Kroemer, 2001). Hal ini dikarenakan pertambahan usia dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya pengurangan cairan pada mata (Kroemer & Kroemer, 2001). Oleh karena itu secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa faktor usia juga akan mempengaruhi proses perseptual. 3. Kognitif Kognitif merupakan suatu tahapan lanjutan setelah proses perseptual dilaksanakan. Pada tahap ini stimulus yang telah dikirimkan ke otak selanjutnya oleh otak akan diterjemahkan. Karena pada tahap ini stimulus informasi akan diterjemahkan maka hal-hal yang terkait dengan mendukung atau menghambat kinerja otak menjadi hal yang mendapat perhatian lebih pada tahap ini. Proctor & Zandt (2008) menjelaskan bahwa keterbatasan sumber daya yang ada yang digunakan untuk menterjemahkan stimulus informasi dapat mempengaruhi tahap kognitif dimana hal ini secara tidak langsung juga akan mempengaruhi performansi seseorang. Hal-hal yang terkait dengan kinerja otak diantaranya yaitu kemampuan daya ingat seseorang. Menurut Proctor & Zandt (2008) ketika suatu stimulus informasi telah terbiasa diterima seseorang maka

Program Studi Teknik Industri UWP

56

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja hal ini dapat mendukung proses kognitif. Proses penterjemahan suatu stimulus informasi yang sudah terbiasa diterima akan menjadi lebih cepat, karena otak sudah pernah menterjemahkan stimulus informasi yang serupa dan proses penterjemahan tersebut tersimpan pada daya ingat seseorang. Secara umum, kemampuan daya ingat seseorang dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu (Bridger, 1995). a. Short term memory Short term memory meliputi hal-hal mengenai kemampuan mengingat seseorang dalam jangka pendek. Short term memory dapat digambarkan sebagai tempat penyimpanan sementara sejumlah informasi yang ada. Selain bersifat sementara, kapasitas yang terdapat dalam short term memory ini juga terbatas. Kapasitas yang terbatas inilah yang kemudian dapat menyebabkan seseorang melakukan kesalahan. b. Long term memory Long iterm memory meliputi hal-hal mengenai kemampuan mengingat seseorang dalam jangka panjang. Long term memory biasanya terkait dengan proses pembelajaran yang dialami seseorang. Pengetahuan umum seseorang tersimpan dalam long term memory. Berikut merupakan gambar yang menunjukkan hubungan antara long term memory dan short term memory. Gambar dapat dilihat pada Gambar 7.2.

OPERASIONAL SECARA MENTAL WORKING MEMORY (SHORT TERM MEMORY) LONG TERM MEMORY Gambar 7.2. Hubungan antara Long Term Memory Dan Short Term Memory (Sumber : Bridger, 1995, hal 325) 4. Respon/tindakan Tahapan selanjutnya pada human information system yang akan dibahas yaitu proses merespon atau memberikan tindakan sebagai bentuk respon atas stimulus informasi yang diterjemahkan di otak. Respon ini salah satunya dapat berupa gerakan yang dilakukan oleh

Program Studi Teknik Industri UWP

57

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja anggota gerak manusia. Pada awalnya setelah stimulus informasi telah diterjemahkan oleh otak maka akan muncul beberapa alternatif tindakan. Dari beberapa alternatif tindakan tersebut akan dipilih satu alternatif tindakan yang akan digunakan sebagai respon atas stimulus informasi yang ada. Setelah dipilih satu alternatif tindakan kemudian otak akan memerintahkan kepada anggota gerak untuk menjalankan tindakan tersebut. 5. Contoh Kasus TELEPON BERDERING 4

1

MENERIMA PANGGILAN TELEPON

TELINGA MENDENGAR STIMULUS BUNYI STIMULUS BUNYI DITERJEMAHKAN DI OTAK

2

3

Gambar 7.3. Proses menerima panggilan telepon Proses perseptual Pada tahap ini pertama-tama telepon berdering. Output dari telepon yang berdering tersebut berupa bunyi-bunyian yang diperdengarkan. Bunyi tersebut ditangkap oleh telinga manusia sebagai stimulus informasi. selanjutnya bunyi tersebut diproses di telinga hingga disalurkan ke otak. Proses kognitif Stimulus informasi yang telah sampai di otak selanjutnya diterjemahkan oleh otak. Dari proses penterjemahan tersebut muncul alternatif-alternatif tindakan. dari beberapa alternatif tersebut kemudian dipilih satu alternatif tindakan. Proses tindakan

Program Studi Teknik Industri UWP

58

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Setelah dipilih satu alternatif tindakan selanjutnya otak memerintahkan kepada anggota gerak tubuh untuk melaksanakan alternatif tindakan yang terpilih tersebut. Dalam contoh kasus ini, tindakan yang dipilih adalah berupa tindakan mengangkat telepon dan menerima panggilan. 6. Latihan Soal-Soal Latihan 1 Jelaskan bagaimana proses penangkapan stimulus informasi melalui alat indera lainnya seperti hidung dan kulit! Latihan 2 Menurut Anda bagaimanakah proses human information system yang terjadi ketika seorang pengendara kendaraan bermotor melihat lampu lalu lintas menunjukkan warna lampu merah! Jelaskan tahapan-tahapan yang terjadi pada kondisi tersebut! Referensi a. Bridger, R.S., (1995) : Introduction to Ergonomics, Mc Graw Hill, Singapura b. Kroemer, K.H.E. & Kroemer, A.D., (2001) : Office Ergonomics, Taylor & Francis, London c. Proctor, R. & Zandt, T., (2008) : Human Factors in Simple and Complex Systems, CRC Press, Boca Raton d. Wicken, C.D., Lee, J.D., Liu, Y. & Becker, S.E.G., (2004) : An Introduction to Human Factors Engineering, Pearson Education, New Jersey

Program Studi Teknik Industri UWP

59

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 8 DISPLAY 1. Display Bentuk-bentuk display banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Contoh display dapat berupa speedometer pada kendaraan motor/mobil, label-label pada peralatan, ramburambu lalu lintas dan sebagainya.

Gambar 8.1. Contoh Display Di Jalan Raya (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Rambu_lalu_lintas) Display merupakan suatu media yang digunakan dengan tujuan untuk menyampaikan informasi tertentu. Dalam dunia industri, display biasanya digunakan sebagai media untuk memberikan informasi terkait dengan kondisi suatu peralatan (Kroemer dkk, 2001).

Gambar 8.2. Contoh Display Pada Mesin (Sumber : http://www.acsmfg.com/agriculture.html) Berdasarkan cara penyampaian informasinya, display dapat memberikan informasi dalam tiga cara yaitu berbentuk visual, berbentuk audio maupun berdasarkan sentuhan (Kroemer dkk, 2001). Contoh-contoh yang dipaparkan di muka merupakan contoh display berbentuk visual.

Program Studi Teknik Industri UWP

60

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Bentuk display lainnya seperti display secara audio dapat mengambil rupa berbentuk bunyibunyian alarm. Contohnya yaitu alarm yang menginformasikan terjadinya kebakaran, alarm yang menginformasikan waktu jam kerja dimulai/diakhiri maupun jenis alarm lainnya.

Gambar 8.3. Contoh display berbentuk bunyi-bunyian (Sumber : http://www.firedirect.ie/firealarms.htm) Sedangkan untuk display yang berdasarkan sentuhan salah satunya dapat dijumpai pada alat Braille.

Gambar 8.4. Contoh huruf Braille (Sumber : http://www.gopbc.org/gopbc_technology.htm) Terdapat beberapa faktor pendukung yang menjadi alasan dalam pemilihan jenis display, mengapa memilih display yang berbentuk visual atau mengapa memilih display yang berbentuk audio. Menurut Kroemer dkk (2001), display yang berbentuk visual akan dipilih jika kondisi di lingkungan sekitar terlalu berisik, pekerja cenderung tidak berpindah tempat dan informasi yang disampaikan cukup panjang dan kompleks. Lebih lanjut Kroemer dkk (2001) menjelaskan

Program Studi Teknik Industri UWP

61

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja bahwa display yang berbentuk audio akan dipilih jika lingkungan sekitar harus dalam kondisi gelap, pekerja cenderung berpindah tempat dan informasi yang disampaikan sifatnya pendek, sederhana dan memerlukan perhatian secepatnya. 2. Display Yang Berbentuk Visual Salah satu jenis display yang banyak dijumpai di lingkungan sekitar adalah display yang berbentuk visual. Display jenis ini dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis. Ketiga jenis tersebut yaitu : (Kroemer dkk, 2001) a. Check display Display jenis ini akan memberikan informasi terkait dengan kondisi yang saat ini sedang berlangsung. Biasanya informasi yang hendak disampaikan disajikan melalui warnawarna tertentu. b. Qualitative display Display jenis ini akan memberikan informasi terkait dengan kondisi yang sedang berlangsung namun informasi yang diberikan disajikan dalam bentuk rentang nilai. c. Quantitative display Display jenis ini akan memberikan informasi terkait dengan kondisi yang sedang berlangsung dan informasi yang disampaikan disajikan dalam bentuk angka yang harus dibaca oleh penerima informasi. Pada display yang berbentuk visual banyak digunakan angka, huruf dan simbol dalam penyajian informasinya. Warna juga mempengaruhi kemampuan display untuk menyampaikan informasi dalam bentuk visual. Warna yang biasa digunakan dalam display diantaranya yaitu merah, kuning, hijau, putih dan sebagainya. Berdasarkan jumlah warna dalam display, display dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : (Kroemer dkk, 2001) a. Monochrome display Display yang termasuk dalam kelompok monochrome display hanya memiliki satu jenis warna saja. Pada display jenis ini, latar belakang berwarna gelap (seperti hitam) akan lebih disukai dibandingkan latar belakang berwarna terang (seperti putih). Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk meminimalkan pengaruh dari silau akibat refleksi cahaya. b. Chromatic display Berbeda dengan monochrome display, pada chromatic display warna yang digunakan dalam display berjumlah lebih dari satu. Karena berjumlah lebih dari satu warna maka

Program Studi Teknik Industri UWP

62

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja kontras antar warna harus diperhatikan pada display jenis ini. Sebaiknya tidak menggunakan kombinasi warna lebih dari 4 jenis warna. Display yang berbentuk visual banyak wujudnya. Ada yang berbentuk seperti papan peringatan ada pula yang berbentuk lampu. Untuk display yang berbentuk lampu, terdapat banyak warna yang digunakan. Warna yang biasa digunakan yaitu warna merah, hijau dan kuning. Masing-masing warna memberikan makna informasi yang berbeda-beda. Berikut ini tabel terkait dengan penggunaan warna dalam display yang berbentuk lampu. Tabel 1.1 Indikator warna lampu pada display Ukuran/Jenis

Merah

Kuning

Hijau

Putih

Dalam kondisi

Terjadi

Dalam kondisi

Posisi

dari

kritis/terjadi

penundaan,

yang dapat

fungsional

sama

kegagalan,

lakukan

diterima

atau fisik,

tindakan : segera

pemeriksaan

tindakan

hentikan

ulang

sedang

Diameter kurang atau dengan mm,

Warna

13 tetap

(tidak

dijalankan

berkedip) Diameter lebih

dari

atau

sama

dengan mm,

25 tetap

Peringatan keras, akan Tahapan akhir

terjadi

Tahapan akhir

(sistem/subsistem)

sesuatu

(sistem/subsistem)

yang

(tidak

berbahaya

berkedip) Diameter

Keadaan darurat

lebih

dari

(akan terjadi

atau

sama

sesuatu yang

dengan

-

25

berbahaya bagi

mm, berkedip

pekerja maupun

-

-

-

peralatan) (Sumber : Kroemer dkk, 2001, hal 482)

Program Studi Teknik Industri UWP

63

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 3. Display Yang Berbentuk Audio Selain berbentuk visual, display juga ada yang berbentuk audio. Sesuai dengan namanya, oleh karena itu informasi yang akan disampaikan disajikan melalui bunyi-bunyian. Contoh display yang berbentuk audio salah satunya yaitu alarm. Dalam perancangan alarm, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal-hal yang harus diperhatikan tersebut yaitu : (Wicken dkk, 2004) a. Suara alarm harus berada diatas batas ambang suara lingkungan sekitarnya b. Suara alarm tidak boleh melampaui batas maksimum suara yang boleh diperdengarkan kepada manusia c. Suara alarm tidak boleh muncul secara tiba-tiba karena akan membuat pendengar merasa kaget d. Suara alarm harus informatif e. Suara alarm tidak boleh menyebabkan kesalahan dalam proses perseptual pendengar 4. Perancangan Display Untuk merancang suatu display, terdapat 13 prinsip yang dapat dijadikan acuan dalam proses perancangan. Ketigabelas prinsip tersebut yaitu : (Wicken dkk, 2004) a. Display yang dirancang harus dapat terbaca (untuk display yang berbentuk visual) atau harus dapat terdengar (untuk display yang berbentuk audio) b. Hindari absolute judgement limits. Absolute judgement limits merupakan suatu kondisi dimana seseorang menafsirkan informasi yang disampaikan melalui suatu display hanya dari satu level sensor seperti warna saja atau tingkat kekerasan bunyi tertentu saja. Hal ini dapat menyebabkan seseorang dapat salah dalam penafsiran informasi pada display. c. Top down processing. Pada kondisi ini seseorang tetap dapat menafsirkan informasi yang disampaikan melalui alat display walaupun display tersebut tidak secara jelas menyampaikan informasi yang dimaksud. Hal ini dikarenakan terdapatnya faktor pengalaman pada diri seseorang terkait dengan alat display sehingga hal tersebut dapat mendukung proses penafsiran informasi display. d. Display dirancang dengan bentuk lebih dari satu (semisal suara dan lampu) dan keberadaan bentuk display tersebut muncul secara berulang serta bergantian. e. Display harus memiliki kemampubedaan sehingga informasi yang disampaikan dapat dengan cepat ditafsirkan. Contoh display “ASD34” dengan “ASD84” secara sepintas terlihat sama. Namun pada kenyataannya kedua display tersebut menyajikan informasi yang berbeda.

Program Studi Teknik Industri UWP

64

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja f.

Pengaturan/layout display harus disesuaikan dengan isi informasi yang hendak disampaikan. Misalkan suatu display yang menunjukkan informasi mengenai temperatur suatu mesin dari tinggi menuju rendah. Pada display tersebut sebaiknya layout di rancang secara vertikal.

g. Perhatikan prinsip arah gerakan pada display yang bergerak. Jika seseorang penerima informasi bergerak ke depan maka sebaiknya arah display juga dirancang ke depan. h. Rancang display yang memberikan waktu paling singkat dalam menerima informasi i.

Dua display yang memberikan informasi terkait suatu pekerjaan tertentu dirancang secara berdekatan. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar didapatkan waktu yang lebih singkat dalam menafsirkan dua informasi tersebut

j.

Display disajikan dalam multi bentuk (display dengan bentuk visual dikombinasikan dengan display dengan bentuk audio, contohnya : alarm kebakaran disajikan dalam bentuk bunyi-bunyian serta lampu)

k. Merancang layout display mengikuti layout yang telah sering digunakan pada display lainnya. Layout display yang telah sering digunakan telah tersimpan dengan baik di memori seseorang. l.

Display dirancang dengan memberikan prediksi apa yang akan terjadi ke depan

m. Menjaga konsistensi dari display Selain perancangan, pemilihan lokasi yang tepat untuk meletakkan display juga merupakan hal yang harus diperhatikan. Hal ini dilakukan agar informasi yang hendak disampaikan dapat benar-benar diterima dengan baik. Terdapat beberapa hal yang dapat digunakan sebagai acuan penentuan letak display. Aturan tersebut yaitu : (Kroemer dkk, 2001) a. Letakkan display pada posisi penglihatan normal dari penerima informasi b. Hindari efek silau c. Letakkan display pada posisi dimana penerima informasi dapat dengan mudah mengidentifikasi display d. Mengelompokkan display berdasarkan fungsinya atau disajikan dalam bentuk berurutan e. Pastikan display dibuat dengan kode atau label yang sesuai dengan fungsi dari display

Program Studi Teknik Industri UWP

65

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 5. Latihan Soal-Soal Latihan 1 Dapatkah Anda menyebutkan bentuk display yang berada disekitar Anda! Jelaskan pula informasi apa yang hendak disampaikan melalui display tersebut! 6. Referensi a. Kroemer, K., Kroemer, H. & Elbert, K.K., (2001) : Ergonomics – How to Design For Ease and Efficiency, Prentice Hall, New Jersey b. Wicken, C.D., Lee, J.D., Liu, Y. & Becker, S.E.G., (2004) : An Introduction to Human Factors Engineering, Pearson Education, New Jersey c. http://id.wikipedia.org/wiki/Rambu_lalu_lintas d. http://www.acsmfg.com/agriculture.html e. http://www.firedirect.ie/firealarms.htm f.

http://www.gopbc.org/gopbc_technology.htm

Program Studi Teknik Industri UWP

66

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 9 BIOMEKANIKA KERJA BAGIAN-1 1. Definisi Biomekanika Kerja Dalam kehidupan sehari-hari, banyak dijumpai pekerjaan-pekerjaan yang menggunakan kemampuan fisik seseorang. Jenis-jenis pekerjaan tersebut diantaranya berupa aktivitasaktivitas mengangkat, mendorong, menarik dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas tersebut tidak jarang dilakukan secara manual. Pada aktivitas-aktivitas tersebut banyak memerlukan gerak mekanik tubuh. Oleh sebab itu, aktivitas-aktivitas tersebut erat kaitannya dengan ilmu Biomekanika Kerja. Banyak para ahli telah mendefinisikan pemahaman mengenai Biomekanika Kerja. Berikut ini merupakan definisi Biomekanika Kerja menurut beberapa ahli. Menurut Kroemer dkk (2001, hal 51) “Biomekanik merupakan disiplin ilmu yang terkait dengan karakteristik mekanika tubuh” Menurut Chaffin & Andersson (1991, hal 2) “Biomekanik kerja merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tentang interaksi fisik pekerja dengan peralatan, mesin maupun material dimana disiplin ilmu ini bertujuan untuk meningkatkan performasi pekerja dengan cara meminimalkan resiko keluhan kerangka otot (musculoskeletal disorder)” Menurut Wickens dkk (2004, hal 270) “Biomekanika

Kerja

fokus

mempelajari

dan

menganalisis

performasi

pekerja

dan

permasalahan-permasalahan terkait dengan keluhan kerangka otot (musculoskeletal disorder) dalam jenis-jenis pekerjaan berupa penanganan manual material (manual material handling) dan melengkapi analisis ergonomi terkait perkerjaan fisik” Dari definisi-definisi diatas terdapat beberapa hal yang terkait dengan Biomekanika Kerja. Pertama, Biomekanika Kerja terkait dengan gerak mekanik tubuh. Dalam Biomekanika Kerja tubuh dipandang sebagai suatu sistem mekanik (Wickens dkk, 2004). Sistem ini terkait dengan sistem kerangka otot (musculoskeletal system). Sistem kerangka otot (musculoskeletal system) meliputi tulang, otot, ligamen, tendon, lapisan fascia dan tulang rawan (Wickens dkk, 2004). Kedua, Biomekanika Kerja terkait dengan jenis-jenis pekerjaan yang bersifat fisik seperti pekerjaan-pekerjaan penanganan manual material (manual material handling). Jenis-jenis pekerjaan yang bersifat fisik tersebut banyak berkaitan dengan kerja sistem kerangka otot (musculoskeletal system). Terakhir, mengenai keluhan kerangka otot (musculoskeletal disorder). Jenis-jenis pekerjaan yang bersifat fisik jika dilakukan dengan cara-cara yang tidak Program Studi Teknik Industri UWP

67

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja tepat maka lambat laun dapat menimbulkan keluhan kerangka otot (musculoskeletal disorder). Jika hal tersebut tidak ditangani dengan sungguh-sungguh dapat menyebabkan akibat yang lebih serius. 2. Biomekanika Kerja Dan Disiplin Ilmu Lainnya Biomekanika Kerja bukanlah merupakan disiplin ilmu baru. Disiplin ilmu ini sudah lama dikenal dan diaplikasikan. Selain itu, disiplin ilmu ini juga tidak diaplikasikan secara tunggal namun dikombinasikan dengan disiplin ilmu lainnya. Menurut Wicken dkk. (2004), Biomekanika Kerja mengintegrasikan disiplin ilmu fisika, biologi dan keteknikan. Sedangkan Chaffin & Andersson (1991) mendeskripsikan enam area metodologi Biomekanika Kerja yaitu metode Kinesiologi (Kinesiological Methods), metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods), metode Athropometri (Anthropometric Methods), metode Evaluasi Kapasitas Kerja Mekanik

(Mechanical

Work

Capacity

Evaluation

Methods),

metode

Bioinstrumen

(Bioinstrumentation Methods) dan metode Klasifikasi dan Prediksi Waktu (Classification and Time Prediction Methods).

Program Studi Teknik Industri UWP

68

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Metode Kinesiologi (Kinesiological Methods)

Klasifikasi dan Prediksi Waktu (Classification and Time Prediction)

Metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods)

Biomekanika Kerja

Metode Bioinstrumen (Bioinstrumentation Methods)

Metode Athropometri (Anthropometric Methods)

Evaluasi Kapasitas Kerja Mekanik (Mechanical Work Capacity Evaluation)

Gambar 9.1. Enam area metodologi Biomekanika Kerja (Sumber : Chaffin & Andersson, 1991, hal 5) 3. Manfaat Disiplin Ilmu Biomekanika Kerja Menurut Chaffin & Andersson (1991), disiplin ilmu Biomekanika Kerja digunakan untuk hal-hal berikut, diantaranya yaitu : a. Mengevaluasi tingkatan kemampuan pekerja terhadap kebutuhan fisik pekerjaan b. Simulasi alternatif metode kerja dan menentukan penurunan kebutuhan fisik pekerjaan terhadap jenis pekerjaan baru yang sedang di analisis c. Sebagai acuan dalam proses seleksi pekerja dan prosedur penempatan Selain itu, secara teknis disiplin ilmu Biomekanika Kerja juga dapat digunakan sebagai pedoman perancangan untuk beberapa hal yaitu (Chaffin & Andersson, 1991) : Program Studi Teknik Industri UWP

69

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja d. Perancangan peralatan (seperti jenis-jenis peralatan yang dioperasikan dengan menggunakan tangan) e. Perancangan layout kendali mesin dan stasiun kerja f.

Perancangan tempat duduk kerja

g. Acuan batas kemampuan pada aktivitas penanganan material (material handling) h. Kriteria seleksi pekerja dan pelatihan

Perancanga n peralatan

Kriteria seleksi pekerja dan pelatihan

Biomekanika Kerja

Acuan batas kemampuan penanganan material

Perancanga n layout kendali mesin dan stasiun kerja

Perancanga n tempat duduk kerja

Gambar 9.2. Manfaat Biomekanika Kerja (Sumber : Chaffin & Andersson, 1991, hal 5) 4. Cumulative Trauma Disorders (CTD) Pada aktivitas-aktivitas kerja fisik di pabrik banyak dijumpai jenis-jenis pekerjaan yang dilakukan secara manual. Tidak jarang pula aktivitas-aktivitas tersebut dilakukan secara kurang

Program Studi Teknik Industri UWP

70

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja tepat. Penanganan kurang tepat tersebut salah satunya dapat berupa gerakan-gerakan repetitif pada bagian tangan (Wickens dkk, 2004). Jika dilakukan secara terus menerus, hal tersebut dapat menimbulkan keluhan pada tubuh pekerja dan lambat laun menyebabkan gangguan sistem tubuh. Gangguan tersebut biasanya dialami pada bagian tubuh anggota gerak atas. Gangguan tersebut biasanya dikenal sebagai Cumulative Trauma Disorders (CTD). Berikut beberapa contoh bentuk Cumulative Trauma Disorders (CTD) (Wicken dkk, 2004). a. Cumulative Trauma Disorders (CTD) pada bagian tendon Seperti dipaparkan pada bagian sebelumnya bahwa tendon merupakan salah satu bagian dari sistem kerangka otot (musculoskeletal system). Tendon akan mengikat otot pada tulang dan salah satu fungsinya adalah menyalurkan kekuatan otot kepada tulang (Wickens dkk, 2004). Ketika aktivitas repetitif pekerjaan dilakukan maka akan terjadi peningkatan kebutuhan suplai darah (Wickens dkk, 2004). Hal tersebut dapat memicu otot untuk mengambil suplai darah dari tendon (Wickens dkk, 2004). Hal inilah yang lambat laun menyebabkan keluhan pada tendon. Jenis gangguan Cumulative Trauma Disorders (CTD) pada bagian tendon dikenal sebagai tendonitis. b. Cumulative Trauma Disorders (CTD) pada bagian jari tangan Jenis gangguan lainnya yaitu terkait dengan bagian jari tangan. Gangguan tersebut diantaranya dikenal sebagai Raynaud’s phenomenon, trigger finger dan gamekeeper’s thumb. Raynaud’s phenomenon merupakan gangguan yang dipicu oleh penggunaan peralatan tangan secara repetitif yang memberikan efek getaran (Wickens dkk, 2004). Kondisi tersebut salah satunya menyebabkan sensasi mati rasa pada bagian jari tangan (Wickens dkk, 2004). Gangguan lainnya yaitu trigger finger. Trigger finger dipicu oleh penggunaan peralatan tangan berbentuk pistol yang dilakukan secara repetitif (Wickens dkk, 2004). Jari tangan secara repetitif menarik pelatuk peralatan. Kondisi tersebut menyebabkan bagian jari tangan yang digunakan secara repetitif menarik pelatuk peralatan mengalami kesulitan untuk diluruskan setelah gerakan fleksi (Wickens dkk, 2004). Gangguan terakhir yang akan dibahas yaitu gamekeeper’s thumb. Gangguan ini muncul terkait dengan bagian ibu jari. Beberapa peralatan yang digunakan oleh pekerja memiliki cara pengoperasian yang menggunakan kekuatan ibu jari. Jika dilakukan secara repeptitif, hal tersebut dapat menimbulkan keluhan pada bagian ibu jari. Khususnya kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada gerak ibu jari (Wickens dkk, 2004).

Program Studi Teknik Industri UWP

71

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

c. Cumulative Trauma Disorders (CTD) pada bagian pergelangan tangan Jenis Cumulative Trauma Disorders (CTD) pada bagian pergelangan tangan dikenal sebagai Carpal Tunnel Syndrome (CTS). Pada bagian pergelangan tangan terdapat suatu saluran yang dikenal sebagai carpal tunnel. Pada carpal tunnel terdapat tendon yang menghubungkan jari tangan dengan otot lengan bawah (Wickens dkk, 2004). Pada saat pergelangan tangan dibengkokkan ke atas maupun kebawah, hal tersebut menyebabkan tekanan pada bagian carpal tunnel (Wickens dkk, 2004). Tekanan tersebut lebih lanjut dapat menyebabkan peradangan pada bagian tendon yang terdapat dalam carpal tunnel (Wickens dkk, 2004). Pada saat tersebut keluhan mulai dirasakan. Lebih lanjut akan terasa sensasi mati rasa pada bagian telapak tangan hingga jari tangan (Wickens dkk, 2004). d. Cumulative Trauma Disorders (CTD) pada bagian bahu Salah satu jenis Cumulative Trauma Disorders (CTD) pada bagian bahu yaitu Impingement Syndrome. Keluhan pada bagian bahu biasanya muncul pada jenis pekerjaan yang memiliki karakteristik gerak cepat dan repetitif pada bagian lengan tangan (Wickens dkk, 2004). Gerakan mengangkat tangan melebihi ketinggian bahu dan bersifat statis juga dapat menyebabkan gangguan pada bagian bahu (Wickens dkk, 2004). 5. Latihan Soal-Soal Latihan 1 Amatilah aktivitas kerja fisik di sekitar Anda lalu analisalah apakah pekerjaan tersebut memiliki potensi menyebabkan keluhan Cumulative Trauma Disorders (CTD)! Latihan 2 Amatilah aktivitas kerja fisik berikut. Pada bagian tubuh manakah keluhan dapat mungkin terjadi. a. Aktivitas mendorong trolly dengan beban yang berat dan posisi lengan atas cenderung statis

Program Studi Teknik Industri UWP

72

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja b. Aktivitas mengentri data yang dilakukan secara repetitive dengan posisi pergelangan tangan yang cenderung statis

c. Aktivitas mengangkat benda tanpa coupling dengan posisi tangan statis serta beban yang diangkat berat

6. Referensi a. Chaffin, D. & Andersson, G., (2004) : Occupational Biomechanics, John Wiley & Sons, Kanada b. Kroemer, K., Kroemer, H. & Elbert, K.K., (2001) : Ergonomics – How to Design For Ease and Efficiency, Prentice Hall, New Jersey c. Wicken, C.D., Lee, J.D., Liu, Y. & Becker, S.E.G., (2004) : An Introduction to Human Factors Engineering, Pearson Education, New Jersey

Program Studi Teknik Industri UWP

73

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 10 BIOMEKANIKA KERJA BAGIAN-2 1. Action Limit (AL) Proses pengangkatan beban yang berat secara manual erat kaitannya dengan low back pain (sakit pada bagian punggung). Oleh karena itu diperlukan suatu formula yang dapat digunakan untuk menganalisis berat beban yang masih dapat diterima dalam proses pengangkatan sehingga dapat mencegah atau menurunkan resiko munculnya low back pain (sakit pada bagian punggung) (Wickens dkk, 2004). Menanggapi hal tersebut, NIOSH mengembangkan suatu formula yang dapat digunakan untuk menganalisa hal tersebut. Formula tersebut bernama NIOSH Lifting Equation dan dikembangkan pada tahun 1981. NIOSH Lifting Equation dikembangkan dengan tujuan untuk membantu mencegah atau menurunkan jumlah aktivitas pengangkatan yang berpotensi menimbulkan low back pain (sakit pada bagian punggung) pada pelakunya (Wickens dkk, 2004). Pada NIOSH Lifting Equation akan dihitung dua hal yaitu nilai Action Limit (AL) dan nilai Maximum Permissible Limit (MPL). nilai Action Limit (AL) menunjukkan batas atas berat beban dimana untuk beberapa populasi pada batas berat beban ini akan mengalami peningkatan resiko cedera jika belum pernah mendapatkan pelatihan terkait dengan cara pengangkatan yang benar (Wickens dkk, 2004). Sedangkan nilai Maximum Permissible Limit (MPL) menunjukkan berat beban dimana pada sebagian besar orang pada proses pengangkatan dengan berat beban yang berada atau diatas berat beban tersebut akan menerima resiko cedera yang besar (Wickens dkk, 2004). Berikut rumus matematis untuk Action Limit (AL) dan Maximum Permissible Limit (MPL) (http://www.hazardcontrol.com/factsheets/ml-mh/NIOSH-guidelines-and-revised-formula). AL = 90(6/H)(1-0,01|V-30|)(0,7+3/D)(1-F/Fmax) Keterangan : AL

= Action Limit (lb)

H

= jarak horizontal tangan dari titik tengah tubuh atau titik tengah pergelangan kaki (inchi)

V

= jarak vertikal tangan dari lantai (inchi)

D

= jarak vertikal dari ketinggian benda menuju tinggi pengangkatan (inchi)

F

= frekuensi pengangkatan (rata-rata jumlah pengangkatan per menit)

Program Studi Teknik Industri UWP

74

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

D

H

V

Gambar 10.1. Parameter H, V dan D Sedangkan rumus matematis untuk Maximum Permissible Limit (MPL) yaitu: MPL = 3 X AL Keterangan : MPL

= Maximum Permissible Limit (lb)

AL

= Action Limit (lb) 2. Recommended Weight Limit (RWL) Dalam pengaplikasiannya ternyata formula NIOSH Lifting Equation memiliki keterbatasan.

Formula yang dikembangkan pada tahun 1981 tersebut hanya dapat diaplikasikan pada aktivitas pengangkatan yang simetris atau pada aktivitas pengangkatan yang didalamnya tidak meliputi adanya putaran pada tubuh (Wickens dkk, 2004). Selain itu, pada formula tersebut belum mempertimbangkan tentang coupling (Kroemer dkk, 2001). Dengan mempertimbangkan kelemahan-kelemahan yang ada maka formula NIOSH Lifting Equation dikembangkan lebih lanjut menjadi formula baru. Formula tersebut bernama Recommended Weight Limit (RWL). RWL dapat digunakan untuk aktivitas pengangkatan yang lebih beragam. Berikut rumus matematis Recommended Weight Limit (RWL) (Wickens dkk, 2004, hal 281).

Program Studi Teknik Industri UWP

75

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

RWL = LC X HM X VM X DM X AM X FM X CM Keterangan : RWL

= Recommended Weight Limit

LC

= konstanta berat beban

HM

= faktor pengali horizontal

VM

= faktor pengali vertikal

DM

= faktor pengali jarak

AM

= faktor pengali sudut

FM

= faktor pengali frekuensi

CM

= faktor pengali coupling

Berikut rumus matematis untuk masing-masing faktor pengali berdasarkan satuan yang digunakan (Wickens dkk, 2004 hal 282). Tabel 10.1. Formulasi masing-masing faktor pengali KOMPONEN

METRIC SYSTEM

U.S SYSTEM

LC

23 kg

51 lb

HM

(25/H)

(10/H)

VM

(1 – 0,003 |V – 75|)

(1 – 0,0075 |V – 30|)

DM

(0,82 + 4,5/D)

(0,82 + 1,8/D)

AM

(1 – 0,0032A)

(1 – 0,0032A)

FM

Lihat Tabel FM

Lihat Tabel FM

CM

Lihat Tabel CM

Lihat Tabel CM

(Sumber : Wickens dkk, 2004, hal 282)

Tabel 10.2. Tabel FM DURASI KERJA FREKUENSI PENGANGKATAN PER MENIT

< 1 jam V < 75 cm V > 75 cm

Program Studi Teknik Industri UWP

< 2 jam V < 75 cm

V > 75 cm

< 8 jam V < 75 cm

V > 75 cm

76

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 0,2

1

1

0,95

0,95

0,85

0,85

0,5

0,97

0,97

0,92

0,92

0,81

0,81

1

0,94

0,94

0,88

0,88

0,75

0,75

2

0,91

0,91

0,84

0,84

0,65

0,65

3

0,88

0,88

0,79

0,79

0,55

0,55

4

0,84

0,84

0,72

0,72

0,45

0,45

5

0,80

0,80

0,60

0,60

0,35

0,35

6

0,75

0,75

0,50

0,50

0,27

0,27

7

0,70

0,70

0,42

0,42

0,22

0,22

8

0,60

0,60

0,35

0,35

0,18

0,18

9

0,52

0,52

0,30

0,30

0

0,15

10

0,45

0,45

0,26

0,26

0

0,13

11

0,41

0,41

0

0,23

0

0

12

0,37

0,37

0

0,21

0

0

13

0

0,34

0

0

0

0

14

0

0,31

0

0

0

0

15

0

0,28

0

0

0

0

>15

0

0

0

0

0

0

(Sumber : Wickens dkk, 2004, hal 282) Tabel 10.3. Tabel CM Coupling

V < 75 cm (30 in.)

V > 75 cm (30 in.)

1

1

Fair

0,95

1

Poor

0,90

0,90

Good

(Sumber : Wickens dkk, 2004, hal 282)

3. Lifting Index (LI) Setelah menghitung nilai Recommended Weight Limit (RWL), selanjutnya adalah melakukan perhitungan Lifting Index (LI). Lifting Index (LI) mrupakan rasio hasil perbandingan antara berat beban terhadap nilai Recommended Weight Limit (RWL). Berikut rumus matematis dari Lifting Index (LI) (Wickens dkk, 2004).

Program Studi Teknik Industri UWP

77

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja LI = berat beban / RWL Keterangan : LI

= Lifting Index

RWL

= Recommended Weight Limit

Pengertian mengenai nilai Lifting Index (LI) (Wickens dkk, 2004) d. Ketika nilai LI > 1 Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan resiko cedera (low back pain) pada beberapa pekerja e. Ketika nilai LI > 3 Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan resiko cedera (low back pain) pada banyak pekerja Contoh soal : Suatu proses pengangkatan manual dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Diketahui : H

= 10”

V

= 40”

D

= 15”

A

= 70o

F

= 4 kali pengangkatan/menit

Program Studi Teknik Industri UWP

78

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja C

= coupling dengan kategori good

Durasi kerja

= 8 jam/hari

Berat beban

= 20 lb

*Perhitungan menggunakan U.S System Pertanyaan : f.

RWL = ?

g. LI = ? Jawab : LC

= 51 lb

HM

= 10/10 = 1

VM

= (1 – 0,0075 |V – 30|) = (1 – 0,0075 |40 – 30|) = 0,925

DM

= (0,82 + 1,8/D) = (0,82 + 1,8/15) = 0,94

AM

= (1 – 0,0032A) = (1 – 0,0032*70) = 0,776

FM

= 0,45 (berdasarkan Tabel 2)

CM

= 1 (berdasarkan Tabel 3)

Menghitung RWL RWL = LC X HM X VM X DM X AM X FM X CM RWL = 51 X 1 X 0,925 X 0,94 X 0,776 X 0,45 X 1 RWL = 15,485 lb Menghitung LI LI = berat beban / RWL LI = 20 / 15,485 LI = 1,29 h. Kesimpulan : kondisi pada contoh soal dapat menyebabkan peningkatan resiko cedera (low back pain) pada beberapa pekerja 4. Latihan Soal-Soal Latihan 1 Suatu proses pengangkatan manual dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Program Studi Teknik Industri UWP

79

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Diketahui : H

= 10”

V

= 40”

D

= 15”

A

= 70o

F

= 4 kali pengangkatan/menit

C

= coupling dengan kategori good

Durasi kerja

= 8 jam/hari

Berat beban

= 20 lb

Pertanyaan : i.

Hitunglah nilai RWL dengan menggunakan Metric System

j.

Hitunglah nilai LI

5. Referensi a. Kroemer, K., Kroemer, H. & Elbert, K.K., (2001) : Ergonomics – How to Design For Ease and Efficiency, Prentice Hall, New Jersey b. Wickens, C.D., Lee, J.D., Liu, Y. & Becker, S.E.G., (2004) : An Introduction to Human Factors Engineering, Pearson Education, New Jersey c. http://www.hazardcontrol.com/factsheets/ml-mh/NIOSH-guidelines-and-revised-formula

Program Studi Teknik Industri UWP

80

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja BAB 11 BIOMEKANIKA KERJA BAGIAN-3 1. Alat ukur dalam Biomekanika Kerja Ketika hendak melakukan penelitian terhadap suatu bentuk permasalahan dengan menggunakan dasar disiplin ilmu Biomekanik, terdapat beberapa jenis alat ukur yang dapat digunakan. Beberapa alat ukur yang ada, mengumpulkan data dengan cara pengukuran secara objektif yaitu pengukuran secara langsung kepada partisipan. Contoh pengukuran jenis ini diantaranya yaitu pengukuran tingkat kekuatan seseorang, pengukuran dengan menggunakan alat Electromyography (EMG) dan sebagainya. Namun ada pula alat ukur dimana pengumpulan data dilakukan berdasarkan penilaian subjektif peneliti. Pada kondisi tersebut, peneliti akan melakukan observasi dan pengamatan mendalam terhadap permasalahan yang ada kemudian memberikan penilaiannya. Pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data berdasarkan penilaian subjektif ini, biasanya dilakukan dengan cara menggunakan alat ukur yang berupa kuesioner. Terdapat banyak alat ukur dengan bentuk demikian. Alat ukur tersebut diantaranya yaitu Rapid Upper Limb Assessment (RULA), Quick Exposure Checklist (QEC), Rapid Entire Body Assessment (REBA), Job Strain Index (JSI) dan sebagainya. Pada Modul 12 ini akan dibahas mengenai Job Strain Index (JSI). 2. Job Strain Index (JSI) Job Strain Index (JSI) merupakan metode pengukuran cepat yang dikembangkan oleh Dr. J.S. Moore dan Dr. A. Garg. Metode ini dikembangkan dengan tujuan untuk melakukan estimasi besarnya resiko cedera pada bagian tangan (http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html). Berbeda dengan metode pengukuran cepat lainnya, Job Strain Index (JSI) tidaklah bersifat pengukuran subjektif. Hal ini dikarenakan data yang ada diukur secara langsung dari kondisi aktual pengamatan. Pengukuran dengan metode Job Strain Index (JSI) terdiri atas enam parameter pengukuran. Ke enam parameter tersebut yaitu: (http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) a. Intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion/IE) b. Durasi penggunaan tenaga (Duration of Exertion/DE) c. Jumlah usaha per menit (Efforts per Minute/EM) d. Posisi tangan (Hand/Wrist Posture/HWP) e. Kecepatan kerja (Speed of Work/SW) f.

Durasi aktivitas per hari (Duration of Task per Day/DD)

Program Studi Teknik Industri UWP

81

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Berikut tabel yang dapat digunakan saat melakukan pengukuran dengan menggunakan metode Job Strain Index (JSI). Tabel 11.1. Tabel pengukuran Job Strain Index (JSI) Durasi

Intensitas

Durasi

Jumlah

penggunaan

penggunaan

usaha per

Posisi tangan

tenaga

tenaga

menit

(Hand/Wrist

(Intensity of

(Duration of

(Efforts per

Posture/HWP)

Exertion/IE)

Exertion/DE) Minute/EM)

Kecepatan

aktivitas

kerja

per hari

(Speed of

(Duration of

Work/SW)

Task per Day/DD)

Data Rating Faktor pengali Nilai JSI (Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Selanjutnya setelah setiap parameter ditentukan nilainya, penilaian terhadap JSI didapatkan dengan cara mengalikan ke enam nilai parameter tersebut. Berikut rumus matematis yang digunakan

untuk

menghitung

nilai

Job

Strain

Index

(JSI)

(http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html). JSI = IE X DE X EM X HWP X SW X DD Keterangan : IE

= intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion)

DE

= durasi penggunaan tenaga (Duration of Exertion)

EM

= jumlah usaha per menit (Efforts per Minute)

HWP = posisi tangan (Hand/Wrist Posture) SW

= kecepatan kerja (Speed of Work)

DD

= durasi aktivitas per hari (Duration of Task per Day)

Program Studi Teknik Industri UWP

82

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 3. Intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion/IE) Penentuan nilai parameter intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion) dilakukan dengan cara mengacu pada tabel berikut. Tabel 2. Intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion) Kategori

Prosentase

Skala

Kekuatan Maksimal

Borg

< 10%

<2

Kondisi tanpa usaha berarti

10% - 29%

3

Memerlukan usaha

30% - 49%

4-5

50% - 79%

6-7

Ringan (Light) Cukup berat (Somewhat Hard) Berat (Hard) Sangat berat (Very Hard) Mendekati maksimal (Near Maximal)

Keterangan

Memerlukan usaha yang lebih Memerlukan usaha berlebih Membutuhkan bahu dan

> 80%

>7

punggung untuk mengeluarkan tenaga

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Langkah penentuan nilai parameter intensitas penggunaan tenaga

(Intensity of

Exertion) Pertama, peneliti akan mengamati permasalahan yang diteliti, kemudian menentukan permasalahan yang diamati tersebut berada pada kategori apa dengan mengacu pada nilai skala Borg atau nilai prosentase Kekuatan Maksimal. Selanjutnya konversikan kategori yang didapatkan ke dalam nilai rating dan faktor pengali. Contoh : Pada contoh kasus diketahui bahwa aktivitas kerja yang diamati dinilai berdasarkan nilai prosentase kekuatan maksimal adalah sebesar 15% sehingga IE berada pada kategori “Cukup Berat (Somewhat Hard)”. Selanjutnya konversikan kategori Cukup Berat (Somewhat Hard) kedalam nilai rating dan faktor pengali.

Program Studi Teknik Industri UWP

83

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 4. Durasi Penggunaan Tenaga (Duration of Exertion/DE) Berbeda dengan penentuan nilai pada parameter intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion), nilai untuk parameter durasi penggunaan tenaga (Duration of Exertion) didapatkan dengan cara mengkalkulasikan data-data yang ada dalam rumus matematis berikut (http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html).

Keterangan :

%

=

100

DE merupakan durasi penggunaan tenaga (Duration of Exertion) dalam satuan persen (%) sedangkan total waktu penggunaan tenaga dan total waktu observasi dalam satuan detik. Setelah nilai DE (%) didapatkan selanjutnya nilai tersebut akan dikonversikan ke dalam nilai rating dan faktor pengali. 5. Jumlah Usaha Per Menit (Efforts per Minute/EM) Sama seperti parameter durasi penggunaan tenaga (Duration of Exertion), parameter jumlah usaha per menit (Efforts per Minute) juga didapatkan melalui kalkulasi data dalam rumus matematis berikut (http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html)

Keterangan : Total waktu observasi dalam satuan menit Tahap selanjutnya sama seperti parameter lainnya, setelah nilai EM didapatkan kemudian nilai tersebut dikonversikan ke dalam nilai rating dan faktor pengali. 6. Posisi Tangan (Hand/Wrist Posture/HWP) Penentuan nilai parameter posisi tangan (Hand/Wrist Posture) dilakukan dengan cara mengacu pada tabel berikut. Tabel 11.3. Posisi tangan (Hand/Wrist Posture) Kategori

Ekstensi pada

Fleksi pada

Deviasi

pergelangan

pergelangan

pada Ulnar

Program Studi Teknik Industri UWP

Keterangan

84

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Sangat Baik (Very Good) Baik (Good) Cukup baik (Fair) Buruk (Bad) Sangat buruk (Very Bad)

tangan

tangan

0o – 10o

0o – 5o

0o – 10o

Posisi netral

11o – 25o

6o – 15o

11o – 15o

Posisi mendekati netral

26o – 40o

16o – 30o

16o – 20o

Posisi tidak netral

41o – 55o

31o – 50o

21o – 25o

Posisi sangat tidak netral

> 60o

> 50o

> 25o

Posisi mendekati ekstrim

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Langkah penentuan nilai parameter posisi tangan (Hand/Wrist Posture) Pertama, tentukan pada kategori apa permasalahan yang diamati berada dengan cara mengacu pada besarnya nilai ekstensi/fleksi pada pergelangan tangan maupun nilai deviasi pada ulnar. Selanjutnya konversikan kategori yang didapatkan ke dalam nilai rating dan faktor pengali. Contoh : Pada contoh kasus diketahui bahwa aktivitas kerja yang diamati dinilai berdasarkan nilai fleksi pada pergelangan tangan adalah sebesar 7o sehingga HWP berada pada kategori “Baik (Good)”. Selanjutnya konversikan kategori Baik (Good) kedalam nilai rating dan faktor pengali. 7. Kecepatan Kerja (Speed of Work/SW) Penentuan nilai parameter kecepatan kerja (Speed of Work) dilakukan dengan cara mengacu pada tabel berikut. Tabel 11.4. Kecepatan kerja (Speed of Work) Kategori

Perbandingan dengan

Keterangan

MTM-1^*

Sangat lambat (Very Slow)

< 80%

Kecepatan sangat lambat

Lambat (Slow)

81% - 90%

Kecepatan lambat

Cukup cepat (Fair)

91% – 100%

Kecepatan normal

Cepat (Fast)

101% -115%

Program Studi Teknik Industri UWP

Kecepatan yang cepat namun dapat dijaga

85

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja kecepatannya Kecepatan yang sangat Sangat cepat (Very Fast)

>115%

cepat namun tidak dapat dijaga kecepatannya

Keterangan : * nilai didapatkan dari perbandingan antara kecepatan observasi dengan kecepatan standar

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Langkah penentuan nilai parameter kecepatan kerja (Speed of Work) Pertama, tentukan pada kategori apa permasalahan yang diamati berada dengan cara mengacu pada besarnya nilai perbandingan antara kecepatan observasi dengan kecepatan standar. Selanjutnya konversikan kategori yang didapatkan ke dalam nilai rating dan faktor pengali. Contoh : Pada contoh kasus diketahui bahwa aktivitas kerja yang diamati dinilai berdasarkan nilai perbandingan antara kecepatan observasi dengan kecepatan standar adalah sebesar 105 sehingga SW berada pada kategori “Cepat (Fast)”. Selanjutnya konversikan kategori Cepat (Fast) kedalam nilai rating dan faktor pengali. 8. Durasi Aktivitas Per Hari (Duration of Task per Day/DD) Nilai

parameter

ini

didapatkan

dari

kondisi

aktual

aktivitas

yang

diamati

(http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Penentuan nilai rating dan faktor pengali dari keenam parameter yang ada, mengacu pada tabel berikut. Tabel 11.5. Penentuan rating dan faktor pengali Durasi

Rating

Durasi

Intensitas

pengguna

Jumlah

penggunaan

an tenaga

usaha

Posisi tangan

Kecepatan

tenaga

(Duration

per menit

(Hand/Wrist

kerja (Speed of

(Intensity of

of

(Efforts per

Posture/HWP)

Work/SW)

Exertion/IE)

Exertion/D

Minute/EM)

per hari (Duration of Task per Day/DD)

E) 1

aktivitas

Ringan (Light)

< 10%

<4

Sangat baik

Sangat lambat

<1

(1)

(0,5)

(0,5)

(Very Good) (1)

(Very Slow) (1)

(0,25)

Program Studi Teknik Industri UWP

86

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Cukup berat 2

(Somewhat

10% -

4–8

Hard)

29% (1)

(1)

Baik (Good)

30% -

3

49%

(6)

4

50% -

(Very Hard)

79%

(9)

(2)

(1)

(0,5)

Cukup baik

Cukup cepat

(Fair)

(Fair)

(1,5)

(1)

15 – 19

Buruk (Bad)

Cepat (Fast)

4–8

(2)

(2)

(1,5)

(1)

>20

Sangat buruk

Sangat cepat

(Very Bad)

(Very Fast)

(3)

(2)

9 – 14 (1,5)

(1,5)

Sangat berat

1–2

(1)

(3) Berat (Hard)

Lambat (Slow)

2–4 (0,75)

Mendekati 5

maksimal

80 % -

(Near

100%

Maximal)

(3)

(3)

>8 (1,5)

(13) (Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html)

9. Pemahaman Tentang Nilai JSI Setelah perhitungan JSI dilakukan yaitu dengan cara mengalikan nilai dari keenam parameter yang

ada,

selanjutnya

yaitu

tahap

penginterpretasian

nilai

JSI

yang

didapatkan.

Penginterpretasian nilai JSI mengikuti aturan berikut (http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Tabel 11.6. Tabel interpretasi nilai JSI Nilai JSI < 3

Pekerjaan yang diamati cukup aman

Nilai JSI > 5

Pekerjaan yang diamati memiliki potensi menimbulkan resiko cedera anggota gerak atas (Distal Upper Extremity Disorder)

Nilai JSI > 7

Pekerjaan yang diamati berbahaya

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) 10. Referensi a. Stanton, N., Hedge, A., Brookhuis, K., Salas, E. & Hendrick, H., (2004) : Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods, CRC Press, Florida b. http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html Program Studi Teknik Industri UWP

87

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 12 BIOMEKANIKA KERJA BAGIAN-4 1. Contoh Soal Diketahui : Penelitian dilakukan terhadap suatu pekerjaan dengan karakteristik sebagai berikut : c. Penilaian partisipan terhadap pekerjaan yang dilakukannya dengan menggunakan skala Borg CR-10 adalah sebesar 3 d. Total waktu observasi = 30 detik e. Total waktu penggunaan tenaga = 10 detik f.

Jumlah gerakan yang menggunakan tenaga adalah 2

g. Posisi pergelangan tangan pekerja saat melakukan pekerjaan adalah fleksi dengan sudut sebesar 35o h. Kecepatan kerja pekerja berada pada rating Cukup Cepat (Fair) i.

Pekerjaan dilakukan selama 3 jam/hari

Ditanyakan : j.

Berapakah nilai JSI ?

k. Apakah perlu dilakukan perbaikan pada pekerjaan yang diamati berdasarkan nilai JSI yang didapatkan ? Jawab : Intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion/IE) Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa penilaian partisipan terhadap pekerjaan yang dilakukannya dengan menggunakan skala Borg CR-10 adalah sebesar 3. Jika mengacu pada tabel Intensitas Penggunaan Tenaga (Intensity of Exertion), pada tingkatan ini dapat dikatakan bahwa pekerjaan yang diamati masuk dalam kategori “Cukup Berat (Somewhat Hard)”.

Program Studi Teknik Industri UWP

88

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Tabel 12.1. Intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion) Kategori

Prosentase

Skala

Kekuatan Maksimal

Borg

< 10%

<2

Kondisi tanpa usaha berarti

10% - 29%

3

Memerlukan usaha

30% - 49%

4-5

50% - 79%

6-7

Ringan (Light) Cukup berat (Somewhat Hard) Berat (Hard) Sangat berat (Very Hard)

Keterangan

Memerlukan usaha yang lebih Memerlukan usaha berlebih

Mendekati maksimal

Membutuhkan bahu dan

(Near Maximal)

> 80%

>7

punggung untuk mengeluarkan tenaga

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Durasi penggunaan tenaga (Duration of Exertion/DE) Pada data yang telah dikumpulkan, diketahui bahwa : a. Total waktu observasi = 30 detik b. Total waktu penggunaan tenaga = 10 detik maka nilai %DE adalah %

=

100 %

=

%

%

100 10 30 =

1000 30

= 33,33%

Berdasarkan perhitungan DE diketahui nilai %DE adalah sebesar 33,33%. Jumlah usaha per menit (Efforts per Minute/EM) Pada data yang telah dikumpulkan, diketahui bahwa : a. Jumlah gerakan yang menggunakan tenaga adalah 2 b. Total waktu observasi = 30 detik = 0,5 menit

Program Studi Teknik Industri UWP

89

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Berdasarkan data yang ada maka dapat dihitung nilai EM.

= =

2 0,5

=4

Berdasarkan perhitungan EM diketahui nilai EM sebesar 4. Posisi tangan (Hand/Wrist Posture/HWP) Pada saat pekerja melakukan pekerjaannya, hasil pengamatan menunjukkan bahwa posisi pergelangan tangan pekerja fleksi dan membentuk sudut sebesar 35o. Jika nilai tersebut dikonversikan dalam Tabel Posisi Tangan (Hand/Wrist Posture), maka pekerjaan tersebut masuk dalam kategori “Buruk (Bad)”. Tabel 12.2. Posisi tangan (Hand/Wrist Posture) Ekstensi pada

Fleksi pada

pergelangan

pergelangan

tangan

tangan

0o – 10o

0o – 5o

0o – 10o

Posisi netral

Baik (Good)

11o – 25o

6o – 15o

11o – 15o

Posisi mendekati netral

Cukup baik (Fair)

26o – 40o

16o – 30o

16o – 20o

Posisi tidak netral

Buruk (Bad)

41o – 55o

31o – 50o

21o – 25o

Posisi sangat tidak netral

> 60o

> 50o

> 25o

Posisi mendekati ekstrim

Kategori Sangat Baik (Very Good)

Sangat buruk (Very Bad)

Deviasi pada Ulnar

Keterangan

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html)

Kecepatan kerja (Speed of Work/SW) Terkait dengan parameter Kecepatan Kerja (Speed of Work), diketahui bahwa kecepatan pekerja berada pada rating “Cukup Cepat (Fair)”.

Program Studi Teknik Industri UWP

90

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Tabel 12.3. Kecepatan kerja (Speed of Work) Kategori

Perbandingan

Keterangan

dengan MTM-1^*

Sangat lambat (Very Slow)

< 80%

Kecepatan sangat lambat

81% - 90%

Kecepatan lambat

Cukup cepat (Fair)

91% – 100%

Kecepatan normal

Cepat (Fast)

101% -115%

Lambat (Slow)

Kecepatan yang cepat namun dapat dijaga kecepatannya Kecepatan yang sangat cepat

Sangat cepat (Very Fast)

>115%

namun tidak dapat dijaga kecepatannya

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Durasi aktivitas per hari (Duration of Task per Day/DD) Berdasarkan data yang ada, pekerjaan yang diamati dilakukan selama 3 jam per hari. Penentuan rating dan faktor pengali Berdasarkan langkah sebelumnya telah ditentukan nilai di masing-masing parameter. Berikut ringkasannya. a. Intensitas penggunaan tenaga (Intensity of Exertion) Berada pada kategori Cukup Berat (Somewhat Hard) b. Durasi penggunaan tenaga (Duration of Exertion) %DE bernilai 33,33% c. Jumlah usaha per menit (Efforts per Minute) EM bernilai 4 d. Posisi tangan (Hand/Wrist Posture) Berada pada kategori Buruk (Bad) e. Kecepatan kerja (Speed of Work) Berada pada kategori Cukup Cepat (Fair) f.

Durasi aktivitas per hari (Duration of Task per Day) DD bernilai 3 jam/hari

Dengan mengkonversikan nilai yang didapatkan di masing-masing parameter selanjutnya dapat ditentukan nilai rating dan faktor pengali.

Program Studi Teknik Industri UWP

91

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Tabel 12.4. Penentuan rating dan faktor pengali

Rating

Durasi

Intensitas

Durasi

Jumlah

penggunaan

penggunaan

usaha

Posisi tangan

tenaga

tenaga

per menit

(Hand/Wrist

(Intensity of

(Duration of

(Efforts per

Posture/HWP)

Exertion/IE)

Exertion/DE)

Minute/EM)

Kecepatan

aktivitas

kerja

per hari

(Speed of

(Duration of

Work/SW)

Task per Day/DD)

Sangat Ringan 1

(Light) (1)

< 10%

<4

(0,5)

(0,5)

Sangat baik

lambat

(Very Good)

(Very

(1)

Slow)

<1 (0,25)

(1) Cukup berat 2

(Somewhat

10% - 29%

4–8

Hard)

(1)

(1)

(3)

3

Berat (Hard)

30% - 49%

9 – 14

(6)

(1,5)

(1,5)

Sangat berat 4

(Very Hard) (9)

Baik

Lambat

(Good)

(Slow)

(1)

(1)

Cukup baik (Fair) (1,5)

50% - 79%

15 – 19

Buruk (Bad)

(2)

(2)

(2)

Mendekati maksimal 5

(Near Maximal)

1–2 (0,5)

Cukup cepat

2–4

(Fair)

(0,75)

(1) Cepat (Fast) (1,5)

4–8 (1)

Sangat 80 % - 100% (3)

>20 (3)

Sangat buruk

cepat

(Very Bad)

(Very

(3)

Fast)

(13)

>8 (1,5)

(2)

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Berdasarkan Tabel Penentuan Nilai Rating dan Faktor Pengali maka didapatkan nilai untuk masing-masing parameter sebagai berikut:

Program Studi Teknik Industri UWP

92

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Tabel 12.5. Tabel pengukuran Job Strain Index (JSI) Durasi

Intensitas

Durasi

Jumlah

penggunaan

penggunaan

usaha per

Posisi tangan

tenaga

tenaga

menit

(Hand/Wrist

(Intensity of

(Duration of

(Efforts per

Posture/HWP)

Exertion/IE)

Exertion/DE) Minute/EM)

(Somewhat

Faktor pengali

kerja

per hari

(Speed of

(Duration of

Work/SW)

Task per

Cukup 33,33%

4

Buruk (Bad)

cepat

8 jam/hari

(Fair)

Hard) Rating

aktivitas

Day/DD)

Cukup berat Data

Kecepatan

2

3

2

4

3

3

3

1,5

1

2

1

0,75

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Nilai JSI Berdasarkan Tabel Pengukuran Job Strain Index (JSI) maka dapat ditentukan nilai Job Strain Index (JSI) yaitu sebagai berikut Durasi

Intensitas

Durasi

Jumlah

penggunaan

penggunaan

usaha per

Posisi tangan

tenaga

tenaga

menit

(Hand/Wrist

(Intensity of

(Duration of

(Efforts per

Posture/HWP)

Exertion/IE)

Exertion/DE) Minute/EM)

(Somewhat

Faktor pengali

kerja

per hari

(Speed of

(Duration of

Work/SW)

Task per

Cukup 33,33%

4

Buruk (Bad)

cepat

8 jam/hari

(Fair)

Hard) Rating

aktivitas

Day/DD)

Cukup berat Data

Kecepatan

2

3

2

4

3

3

3

1,5

1

2

1

0,75

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) JSI = IE X DE X EM X HWP X SW X DD

Program Studi Teknik Industri UWP

93

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja JSI = 3 X 1,5 X 1 X 2 X 1 X 0,75 JSI = 6,75 Berdasarkan perhitungan JSI didapatkan nilai JSI sebesar 6,75. Pemahaman tentang nilai JSI Setelah perhitungan JSI dilakukan selanjutnya yaitu tahap penginterpretasian nilai JSI yang didapatkan. Berdasarkan perhitungan yang ada, didapatkan nilai JSI yaitu sebesar 6,75. Nilai tersebut selanjutnya diinterpretasikan berdasarkan Tabel Interpretasi Nilai JSI. Tabel 12.6. Tabel interpretasi nilai JSI Nilai JSI < 3

Pekerjaan yang diamati cukup aman

Nilai JSI > 5

Pekerjaan

yang

diamati

memiliki

potensi

menimbulkan resiko cedera anggota gerak atas (Distal Upper Extremity Disorder) Nilai JSI > 7

Pekerjaan yang diamati berbahaya

(Sumber : http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html) Dari proses interpretasi nilai JSI, didapatkan informasi bahwa nilai JSI yang ada masuk dalam kategori Pekerjaan yang diamati memiliki potensi menimbulkan resiko cedera anggota gerak atas (Distal Upper Extremity Disorder). Untuk itu, berdasarkan hasil yang didapatkan, perbaikan terhadap proses kerja haruslah dilakukan. Hal ini dikarenakan jenis pekerjaan yang diamati memiliki potensi menimbulkan resiko cedera anggota gerak atas (Distal Upper Extremity Disorder) pada pekerja terkait. Perbaikan yang dilakukan antara lain dapat dilakukan dengan mengacu pada parameter perhitungan JSI. Perbaikan dapat dilakukan berkaitan dengan cara kerja maupun posisi sudut pergelangan tangan selama pekerjaan berlangsung, mengurangi durasi kerja per hari nya serta mengurangi jumlah dan lamanya waktu untuk melakukan gerakan-gerakan yang membutuhkan tenaga lebih. 2. Referensi a. Stanton, N., Hedge, A., Brookhuis, K., Salas, E. & Hendrick, H., (2004) : Handbook of Human Factors and Ergonomics Methods, CRC Press, Florida b. http://ergo.human.cornell.edu/ahJSI.html

Program Studi Teknik Industri UWP

94

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 13 BIOMEKANIKA KERJA BAGIAN-5 1. Biomechanical Model Pada modul sebelumnya yaitu Modul 9 telah dipaparkan bahwa Chaffin & Andersson (1991) mendeskripsikan enam area metodologi Biomekanika Kerja yang salah satunya yaitu metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods). Secara umum pada metode ini akan dipaparkan gaya-gaya dan momen yang bekerja pada tubuh manusia saat manusia melakukan gerakan-gerakan dalam aktivitas hidupnya. Selanjutnya berdasarkan gaya dan momen tersebut akan dilakukan analisa hubungan antara performansi manusia terhadap pekerjaan yang dilakukan dimana pada umumnya pekerjaan yang dianalisa yaitu pekerjaan yang sifatnya angkat dan angkut. Pada metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods), sistem yang ada digambarkan dalam bentuk model. Model dibuat serepresentatif mungkin dengan sistem yang ada. Dalam metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods), gerakan-gerakan yang dilakukan oleh manusia dimodelkan dengan menggunakan free body diagram. Dalam free body diagram akan dipaparkan besar dan arah gaya dan momen yang bekerja dalam tubuh, panjang bagian tubuh serta sudut yang dibentuk. Secara umum terdapat beberapa alasan mengapa penggunaan metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods) ini merupakan hal yang penting dalam upaya menganalisa performansi manusia terhadap pekerjaan fisik yang dilakukan. Chaffin & Andersson (1991) memaparkan beberapa alasan penting tersebut. Beberapa alasan tersebut yaitu: (Chaffin & Andersson, 1991) a. Melalui metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods), sisitem yang komplek dipahami melalui model yang lebih sederhana. Seperti diketahui bahwa sistem yang kompleks dapat digambarkan dengan cara yang lebih sederhana melalui model. Dengan memahami model yang ada dapat dipahami lebih mendalam sistem yang ada yang kemudian dapat dianalisa lebih mendalam bagaimana komponen dalam sistem bekerja dan memprediksikan bagaimana sistem akan bereaksi terhadap suatu bentuk perlakuan. b. Melalui metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods) akan diukur gaya-gaya dan momen yang bekerja dalam tubuh seseorang dimana hal ini akan sulit dilakukan secara langsung. Berdasarkan gaya-gaya dan momen yang dihasilkan

Program Studi Teknik Industri UWP

95

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja tersebut selanjutnya dapat dipahami mengapa seseorang memiliki potensi mengalami resiko cedera saat melakukan pengangkatan terhadap suatu beban. c. Metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods) akan memudahkan dalam perancangan kerja. Melalui gaya-gaya dan momen yang dihasilkan dapat diketahui pada posisi tubuh seperti apa yang dapat meminimalisasi potensi resiko cedera. Hal ini selanjutnya dapat menjadi masukkan dalam perancangan kerja sehingga memudahkan dalam perancangan kerja. d. Melalui metode Model Biomekanik (Biomechanical Modelling Methods) dapat dilakukan analisa terhadap pekerjaan-pekerjaan fisik sampai pada kondisi ekstrem. Hal tersebut sulit dilakukan secara langsung mengingat hal tersebut jika dilakukan secara langsung dapat mengancam keselamatan pekerja. Dengan adanya model, analisa terkait dengan hal tersebut akan lebih mudah dilakukan. 2. Single Body Segment Static Model Pada modul ini, Biomechanical Model yang akan dibahas yaitu Single Body Segment Static Model. Dalam Body Segment Static Model, sistem tubuh manusia dipandang dalam kondisi statis (Chaffin & Andersson, 1991). Karena dalam kondisi statis maka pada model yang dianalisa tidak terdapat pergerakan tubuh (Chaffin & Andersson, 1991). Oleh karena itu disebut sebagai Static Equilibrium. Dalam Static Equilibrium dijelaskan bahwa jumlah setiap gaya eksternal yang ada adalah sama dengan nol (0) (Chaffin & Andersson, 1991). Oleh karena itu berlaku rumus matematis untuk menghitung gaya dan momen sebagai berikut (Chaffin & Andersson, 1991, hal 173) Menghitung gaya : Keterangan :

∑ =0

Pada saat menghitung gaya, ada kalanya hanya diketahui berat objek dalam satuan kg. Oleh karena itu perlu dihitung terlebih dahulu besarnya beban objek (weight). Untuk menghitung besarnya beban objek (weight) dapat digunakan rumus matematis sebagai berikut : (Chaffin & Andersson, 1991, hal 172) Weight = M x g Weight = beban objek, satuannya newton (N)

Program Studi Teknik Industri UWP

96

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja M

= massa, satuannya kg

g

= percepatan gravitasi, satuannya m/s2 g = 9,8067 m/s2 ≈ 10 m/s2

Menghitung momen : ∑

Contoh soal 1

=0

Sebuah benda dengan berat 5 kg diangkat dengan posisi tangan horizontal. Hitunglah besarnya gaya (Fsiku) dan momen (Msiku) di siku? (Keterangan :W lengan bawah = 10 N, panjang lengan bawah = 25 cm, panjang siku ke pusat massa lengan bawah = 12 cm) Diketahui : dsiku-pusat massa lengan bawah = 12 cm dsiku-telapak tangan

= 25 cm

Wlengan bawah

= 10 N

Berat benda

= 5 kg

Ditanya :

Program Studi Teknik Industri UWP

97

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Besarnya gaya (Fsiku) dan momen (Msiku) di siku? Jawab : a. Menentukan weight (weightlengan bawah = 10 N (kebawah)) Weightbenda = M x g Weightbenda = 5 kg x 9,8 m/s2 Weightbenda = 49 N (kebawah

b. Menghitung Fsiku

- 49 N -10 N + Fsiku = 0 - 59 N + Fsiku = 0 Fsiku = 59 N (keatas) c. Menghitung

Program Studi Teknik Industri UWP

98

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

(12 x – 10) + (25 x -49) + - 120 - 1225 +

=0



=0

=0

= 1345 Ncm = 13,45 Nm (berlawanan arah jarum jam) Contoh soal 2

Soal sama seperti Contoh Soal 1 hanya saja pada soal ini lengan bawah membentuk sudut 20o. Diketahui : dsiku-pusat massa lengan bawah = 12 cm dsiku-telapak tangan

= 25 cm

Wlengan bawah

= 10 N

Berat benda

= 5 kg

θ

= 20o

Program Studi Teknik Industri UWP

99

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Ditanya : Besarnya gaya (Fsiku) dan momen (Msiku) di siku? Jawab : a. Menentukan weight (weightlengan bawah = 10 N (kebawah)) Weightbenda = M x g Weightbenda = 5 kg x 9,8 m/s2 Weightbenda = 49 N (kebawah)

b. Menghitung Fsiku

Program Studi Teknik Industri UWP

100

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

∑ =0

- 49 N -10 N + Fsiku = 0 - 59 N + Fsiku = 0 Fsiku = 59 N (keatas) c. Menghitung

(12 cos 20o x – 10) + (25 cos 20o x - 49) + - 112,76 – 1151,12 +



=0

=0

=0

= 1263,88 Ncm = 12,64 Nm (berlawanan arah jarum jam) Program Studi Teknik Industri UWP

101

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 3. Referensi a. Chaffin, D. & Andersson, G., (1991) : Occupational Biomechanics, John Wiley & Sons Inc, Canada

Program Studi Teknik Industri UWP

102

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

BAB 14 FISIOLOGI KERJA 1. Fisiologi Kerja Pada modul-modul sebelumnya telah dibahas mengenai Biomekanika Kerja. Dalam Biomekanika Kerja, performansi kerja seseorang banyak terukur melalui kondisi fisik seseorang dimana diantaranya seperti kekuatan otot hingga besarnya gaya-gaya dan momen yang bekerja selama manusia beraktivitas dan lain sebagainya. Pada modul ini akan dibahas mengenai performansi kerja seseorang dari sudut pandang Fisiologi. Dalam Fisiologi dipaparkan performansi kerja seseorang berdasarkan kondisi internal seseorang. Pada saat seseorang melakukan aktivitas kerja maka akan terjadi perubahan-perubahan dalam kondisi internal seseorang. Perubahan-perubahan yang terjadi inilah yang kemudian akan diukur dan dianalisa dengan tujuan untuk memahami pengaruh dari aktivitas pekerjaan yang dilakukan pekerja terhadap perubahan yang terjadi di dalam kondisi internal tubuh pekerja. Perubahan-perubahan yang terjadi pada kondisi internal seseorang dapat terukur melalui beberapa parameter diantaranya yaitu: (Wignjosoebroto, 2000, hal 270) a. Laju detak jantung (heart rate) b. Tekanan darah (blood pressure) c. Temperatur tubuh (body temperature) d. Laju pengeluaran keringat (sweating rate) e. Konsumsi oksigen yang dihirup (oxygen consumption) f.

Kandungan kimiawi dalam darah (latic acid content)

Dari keenam parameter yang dipaparkan diatas, laju detak jantung (heart rate), tekanan darah (blood pressure) dan konsumsi oksigen yang dihirup (oxygen consumption) merupakan parameter yang banyak/sering digunakan sebagai parameter pengukuran. Untuk itu selanjutnya pada modul ini, penjelasan lebih mendalam akan dibatasi pada ketiga parameter tersebut. 2. Laju detak jantung (Heart Rate) Laju detak jantung (heart rate) menunjukkan jumlah detak jantung yang terukur setiap menit (Wicken dkk, 2004). Parameter ini banyak digunakan dalam pengukuran-pengukuran perubahan kondisi internal seseorang dari sudut pandang Fisiolagi. Salah satu alasan mengapa laju detak jantung (heart rate) banyak digunakan sebagai parameter adalah karena kemudahan dalam pengaplikasiannya. Laju detak jantung (heart rate) dapat diukur dengan cara yang mudah yaitu dengan cara meletakkan tangan peneliti pada pergelangan tangan maupun leher Program Studi Teknik Industri UWP

103

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja seseorang yang akan diukur (partisipan) (Kroemer dkk, 2001). Kemudian hitunglah jumlah detak jantung pada periode waktu tertentu (Kroemer dkk, 2001). Selanjutnya dilakukan perhitungan rata-rata jumlah detak jantung per menit (Kroemer dkk, 2001). Pengukuran laju detak jantung (heart rate) juga dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan teknologi yang lebih canggih yaitu menggunakan Electrocardiogram (EKG). Electrocardiogram (EKG) menggunakan sinyal elektronik dalam proses pengumpulan data dimana sinyal ini terkait dengan detak jantung partisipan (Kroemer dkk, 2001). Peralatan ini akan diletakkan pada dada seseorang yang akan diukur laju detak jantungnya (Kroemer dkk, 2001).

Gambar 14.1. Electrocardiogram (EKG) (http://www.daviddarling.info/encyclopedia/E/electrocardiogram.html) Laju detak jantung berbanding lurus dengan besarnya beban kerja dan kebutuhan energi untuk melakukan kerja (Wicken dkk, 2004). Pada saat seseorang melakukan aktivitas kerja maka darah dalam tubuh akan terus di pompa agar dapat membawa dan mendistribusikan oksigen kepada jaringan otot tubuh yang bekerja. Semakin banyak kebutuhan akan oksigen maka jantung akan memompa lebih cepat lagi. Pada saat itulah laju detak jantung akan semakin cepat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa semakin besar beban kerja dan kebutuhan energi untuk melakukan kerja maka laju detak jantung juga akan semakin besar. Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa laju detak jantung (heart rate) dapat digunakan sebagai parameter pengukuran perubahan kondisi internal seseorang dalam kaitannya dengan beban kerja seseorang.

Program Studi Teknik Industri UWP

104

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Walaupun laju detak jantung (heart rate) banyak digunakan sebagai parameter pengukuran namun terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan laju detak jantung (heart rate) sebagai parameter. Hal ini terjadi karena laju detak jantung (heart rate) dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diantaranya yaitu: (Wicken dkk, 2004) a. Kondisi emosional seseorang b. Makanan yang dikonsumsi seseorang seperti kopi dan teh c. Posisi kerja (bekerja dalam posisi yang statis maupun tidak normal) d. Bekerja di lingkungan dengan suhu yang panas Laju detak jantung (heart rate) orang dewasa pada kondisi istirahat berada pada rentang 60 hingga 80 detak/menit (Wicken dkk, 2004). Pada saat seseorang melakukan aktivitas kerja, nilai tersebut akan meningkat dan kemudian mencapai kondisi stabil (Wicken dkk, 2004). Pada saat aktivitas berhenti, laju detak jantung (heart rate) ini tidak serta merta langsung menuju pada laju detak jantung (heart rate) pada kondisi istirahat (60 hingga 80 detak/menit) namun menurun secara bertahap (Wicken dkk, 2004). Setiap orang tentu memiliki laju detak jantung (heart rate) maksimal. Terdapat beberapa rumus matematis yang dapat digunakan untuk mengukur laju detak jantung (heart rate) maksimal yaitu diantaranya rumus matematis milik Astrand & Rodahl (1986) dan Cooper dkk. (1975). Jika dilihat secara general, rumus matematis keduanya dipengaruhi oleh faktor usia. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat bahwa laju detak jantung (heart rate) maksimal seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: (Wicken dkk, 2004) a. Faktor usia b. Faktor gender c. Faktor tingkat kesehatan seseorang Berikut rumus matematis untuk mengukur laju detak jantung (heart rate) maksimal. Menurut Astrand & Rodahl (1986) Maximum heart rate = 206 – (0,62 x usia) Menurut Cooper dkk. (1975) Maximum heart rate = 220 – usia

Program Studi Teknik Industri UWP

105

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

3. Tekanan darah (Blood Pressure) Parameter selanjutnya yaitu tekanan darah (blood pressure). Yang terukur dalam parameter tekanan darah (blood pressure) yaitu systolic/diastolic. Tekanan systolic (systolic pressure) merupakan tekanan maksimal pada arteri sedangkan tekanan diastolic (diastolic pressure) merupakan tekanan minimum pada arteri (Wicken dkk, 2004). Ketika seseorang melakukan aktivitas kerja maka kerja jantung pun akan meningkat. Peningkatan ini akan diikuti juga dengan peningkatan jumlah detak jantung (heart rate) seperti yang telah dijelaskan sebelumnya (Kroemer dkk, 2001). Tidak hanya detak jantung, peningkatan juga terjadi terhadap tekanan darah (blood pressure) (Kroemer dkk, 2001). Hal ini terjadi karena pada darah terikat oksigen yang akan dibawa dan didistribusikan kepada jaringan otot yang bekerja. Agar darah dapat mencapai jaringan-jaringan yang dimaksud maka pada arteri terjadi tekanan dalam bentuk kontraksi dan relaksasi (Wicken dkk, 2004). Pada saat kontraksi terjadi tekanan maksimal pada arteri dan pada saat relaksasi terjadi tekanan minimum pada arteri (Wicken dkk, 2004). Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa tekanan maksimal pada arteri yaitu tekanan systolic (systolic pressure) sedangkan tekanan minimum pada arteri yaitu tekanan diastolic (diastolic pressure) (Wicken dkk, 2004). Oleh karena itu pada parameter tekanan darah (blood pressure) yang terukur adalah systolic/diastolic. Untuk mengukur tekanan darah (blood pressure) terdapat beberapa peralatan yang dapat digunakan. Peralatan-peralatan tersebut diantaranya yaitu sphygmomanometer dan stetoskop (Wicken dkk, 2004). Cara kerja peralatan-peralatan yang digunakan untuk mengukur laju detak jantung (heart rate) dan peralatan-peralatan yang digunakan untuk mengukur tekanan darah (blood pressure) secara garis besar berbeda. Beberapa peralatan-peralatan untuk mengukur laju detak jantung (heart rate) dapat digunakan selama pekerja yang diukur melakukan aktivitasnya. Hal tersebut berbeda dengan peralatan-peralatan yang digunakan untuk mengukur tekanan darah (blood pressure). Peralatan-peralatan untuk mengukur tekanan darah (blood pressure) digunakan pada saat pekerja yang diukur berhenti melakukan aktivitasnya (Wicken dkk, 2004).

Program Studi Teknik Industri UWP

106

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja

Gambar 14.2. Sphygmomanometer (http://www.nhlbi.nih.gov/hbp/detect/tested.htm)

Gambar 14.3. Stetoskop (http://id.wikipedia.org/wiki/Stetoskop) 4. Konsumsi oksigen yang dihirup (Oxygen Consumption) Parameter terakhir yang akan dibahas pada modul ini yaitu konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption). Konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption) digunakan sebagai parameter karena konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption) miliki hubungan yang erat dengan jumlah konsumsi energi yang digunakan untuk melakukan aktivitas kerja (Wignjosoebroto, 2000). Hubungan tersebut terlihat jelas pada konversi nilai berikut ini (Wignjosoebroto, 2000, hal 272).

Program Studi Teknik Industri UWP

107

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja 1 liter O2 = 4,8 Kcal = 20 KJ Konversi nilai diatas menunjukkan bahwa setiap liter oksigen yang terhirup akan menghasilkan energi rata-rata sebesar 4,8 Kcal. Oleh karena itu berdasarkan hubungan dalam konversi nilai tersebut, untuk menghitung energy expenditure dapat dilakukan dengan cara mengalikan jumlah oksigen yang terhirup (liter/menit) dengan faktor pengali 4,8 (Kcal/liter) (Wicken dkk, 2004). Sesuai dengan namanya yaitu konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption) maka pada parameter ini yang terukur yaitu jumlah oksigen saat bernafas. Konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption) diukur dengan cara menjumlah volume oksigen yang terhirup setiap menit (Wignjosoebroto, 2000). Terdapat banyak peralatan yang dapat digunakan untuk mengukur konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption). Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption) yaitu dengan menggunakan metode Douglas Bag. Pada pengukuran konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption) menggunakan metode Douglas Bag, partisipan akan menggunakan masker wajah (face mask) (Wicken dkk, 2004). Selain itu, peralatan ini juga dilengkapi dengan semacam kantong yang besar yang digunakan untuk menampung udara yang dikeluarkan selama proses menghela nafas (Wicken dkk, 2004). Selanjutnya udara yang terdapat dalam kantong yang besar tersebut akan di analisa terkait dengan besarnya jumlah oksigen yang tersedia (Wicken dkk, 2004).

Gambar 14.4. Douglas Bag (http://aranea.brighton.ac.uk/interex/index.php?option=com_content&task=view&id=157&Itemid =146)

Program Studi Teknik Industri UWP

108

Buku Ajar Ergonomi Dan Perancangan Sistem Kerja Penggunaan konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption) sebagai parameter pengukuran harus memperhatikan jenis pekerjaan yang akan di analisis. Parameter konsumsi oksigen yang terhirup (oxygen consumption) hanya dapat digunakan pada jenis pekerjaan yang bersifat dinamis seperti aktivitas berjalan, berlari serta proses pengangkatan yang dinamis dimana pada aktivitas-aktivitas tersebut terjadi peroses kontraksi dan relaksasi otot (Wicken dkk, 2004). Parameter ini kurang cocok diaplikasikan pada jenis pekerjaan yang sifatnya statis seperti memegang beban yang berat dalam posisi statis untuk jangka waktu yang lama (Wicken dkk, 2004). Hal ini dikarenakan pada pekerjaan yang bersifat statis, kerja otot bersifat lokal (hanya sebagian kecil jaringan otot saja yang bekerja, terkait dengan anggota badan yang digunakan untuk proses kerja) dan otot berkontraksi dalam jangka waktu yang lama (Wicken dkk, 2004). 5. Latihan Soal-Soal Latihan 1 Berapakah besarnya detak jantung maksimal menurut rumus matematis Astrand & Rodahl (1986) serta menurut Cooper dkk. (1975) jika seseorang tersebut berusia : a. 20 tahun b. 25 tahun c. 30 tahun d. 40 tahun e. 60 tahun (Buatlah grafik hubungan antara usia dengan besarnya detak jantung maksimal) 6. Referensi a. Kroemer, K., Kroemer, H. & Elbert, K.K., (2001) : Ergonomics – How to Design For Ease and Efficiency, Prentice Hall, New Jersey b. Wicken, C.D., Lee, J.D., Liu, Y. & Becker, S.E.G., (2004) : An Introduction to Human Factors Engineering, Pearson Education, New Jersey c. Wignjosoebroto, S., (2000) : Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu - Teknik Analisis untuk Peningkatan Produktivitas Kerja, Penerbit Guna Widya, Surabaya d. (http://www.daviddarling.info/encyclopedia/E/electrocardiogram.html) e. (http://www.nhlbi.nih.gov/hbp/detect/tested.htm) f.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Stetoskop)

g. (http://aranea.brighton.ac.uk/interex/index.php?option=com_content&task=view&id=157 &Itemid=146)

Program Studi Teknik Industri UWP

109