Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

Bila ditelusuri lebih mendalam, sebenarnya perbedaan pendekatan kualitatif ... masalah satu akan berbeda dengan sifat dari masalah lainnya. Yang dihas...

0 downloads 59 Views 253KB Size
Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif Tedi Priatna

Pendahuluan Bila dilihat jenis data dan analisisnya, biasanya penelitian dibagi atas dua macam yaitu: (1) Penelitian kuantitatif; dan (2) Penelitian Kualitatif. Penelitian kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka) yang diolah melalui metode statistika. Pendekatan kuantitatif lebih banyak digunakan pada penelitian inferensial dalam rangka pengujian hipotesis yang menyandarkan kesimpulan hasilnya pada suatu probabilitas penerimaan atau penolakan hipotesis. Sementara penelitian kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif dan induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika. Bila ditelusuri lebih mendalam, sebenarnya perbedaan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif tidak hanya sekadar dalam hal jenis data dan analisisnya saja, tetapi juga menyangkut perbedaan dalam paradigma pemikiran, dus didalamnya kerangka filsafat ilmu yang dipergunakan, metode dalam melakukan penelitian serta cara melakukan kajian.1 Ketika judul Penerapan filsafat ilmu dalam penelitian kualitatif disodorkan untuk didiskusikan, diskusi ini tentu saja tidak akan membicarakan bagaimana caranya menerapkan filsafat ilmu dalam penelitian kualitiatif. Sebab, apapun jenis penelitiannya sebenarnya dia sedang menerapkan’filsafat ilmu’ tertentu. Yang perlu didiskusikan disini adalah filsafat ilmu yang seperti apa yang digunakan sebagai dasar pijakan ketika menerapkan penelitian kualitatif. Penulis menggunakan istilah “pendekatan” untuk kualitatif dan kuantitatif dalam risalah ini, untuk membedakannya dengan istilah metode penelitian. Penulis mengartikan metode penelitian sebagai cara kerja baku yang dipandang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan paradigma ilmiah, sedangkan pendekatan penelitian diartikan sebagai suatu cara pandang terhadap asumsi-asumsi dasar dari suatu penelitian. Pendekatan lebih umum dan lebih teoritis dibanding metode penelitian. Dalam suatu pendekatan terdapat di dalamnya metode-metode penelitian dan teknik penelitian yang beragam. 1

1

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

Karena demikian, setelah menggambarkan sepintas mengenai ciri-ciri umum penelitian kualitatif, risalah ini akan mencoba membicarakan perihal paradigma penelitian, perkembangan pengetahuan manusia serta dan mengetengahkan deskripsi mengenai ‘filsafat ilmu’ yang dipergunakan oleh penelitian kualitatif.2

Beberapa Catatan tentang Pendekatan Kualitatif Penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan dalam melakukan penelitian yang berorientasi pada fenomena atau gejala yang bersifat alami. Penelitian kualitatif sifatnya mendasar dan naturalistis atau bersifat kealamian, serta tidak bisa dilakukan di laboratorium, melainkan di lapangan. Oleh sebab itu, penelitian semacam ini sering disebut dengan naturalistic inquiry, atau field study.3 Bogdan dan Taylor (1982) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati; pendekatannya diarahkan pada latar dan individu secara holistic. Kirk & Miller menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan (terhadap) manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalarn bahasa dan peristilahannya. Memang, pendekatan kualitatif menjadi populer, terutama dalam bidang psikologi sosial dan sosiologi, juga dalam bidang pendidikan, setelah banyak ahli-ahli terkait merasakan banyaknya kelemahan dari penelitian yang dilakukan dalam bidang-bidang tersebut, yang dilakukan di laboratorium dengan meng-gunakan eksperimen. Secara umum, ciri-ciri penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif di antaranya adalah sebagai berikut: 1. Tatanan alami merupakan sumber data yang bersifat langsung. Penelitian kualitatif melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (entity). Sebuah fenomena pada dasarnya merupakan keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. Oleh

Sistimatika pembahasan risalah ini menjadi sedikit berbeda dan berkesan ‘terbalik’, seyogyanya urutannya adalah paradigma penelitian, filsafat ilmu penelitian, pendekatan dan metode penelitian, model peneltiian, serta teknik penelitian. 3 Ada beberapa istilah atau nama yang lazim digunakan untuk Penelitian Kualitatif, di antaranya: a. Penelitian Kualitatif, b. Penelitian Alamiah (Na-turalistic Inquiry); c. Etnografi; d. Interaksionis Simbolik; e. Perspektif ke dalam; f. Etnometodologi; g.Chicago School; h. Fenomenologis; i. Studi Kasus; J. Interpretatif, k. Ekologis; l. Deskriptif 2

2

Tedi Priatna:

2.

3.

4. 5.

6.

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

karenanya, memahami fenomena secara langsung dan mendalam menjadi kunci pokok pendekatan kualitatif ini; Manusia sebagai alat instrumen. Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan alat pengumpul data yang utama. Melalui “pengamatan berperanserta’, peneliti menjadi bagian dari fokus masalah yang diteliti. Manusia merupakan instrumen tepat untuk memahami kaitan kenyataankenyataan di lapangan dibanding instrumen lainnya. Bersifat deskriptif. Penelitian kualitatif bersifat mendeskripsikan ‘makna data’ atau fenomena yang dapat ditangkap oleh peneliti, dengan menunjukkan bukti-buktinya. Pemaknaan terhadap fenomena itu banyak bergantung pada kemampuan dan ketajaman peneliti dalam menganalisisnya. Penelitian kualitatif mementingkan proses, bukan hasil atau produk. Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang memerdulikan produk atau hasil. Analisis data bersifat induktif. Penelitian kualitatif tidak berupaya mencari bukti-bukti untuk pengujian hipotesis yang diturunkan dari teori, seperti halnya dalam pendekatan kuantitatif. Akan tetapi, peneliti berangkat ke lapangan untuk mengumpulkan berbagai bukti melalui penelaahan terhadap fenomena, dan berdasarkan hasil penelaahan, kemudian merumuskan teori. Jadi, penelitian kualitatif bersifat dari bawah ke atas (bottom up), tidak seperti penelitian kuantitatif yang bersifat dari atas ke bawah (top-down). Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif teori yang dirumuskan disebut grounded theory, yakni teori yang diangkat dari dasar atau. Keperdulian utama penelitian kualitatif adalah pada "makna". Dalam penelitian kualitatif, keikutsertaan peneliti dalam suatu proses atau interaksi dengan tatanan (setting) yang menjadi objek penelitiannya merupakan salah satu kunci keberhasilan. Dalam keikutsertaan itu, peneliti tidak menangkap makna sesuatu dari sudut pandangannya sendiri sebagai orang luar, tetapi dari pandangan dia sebagai subjek yang ikut serta dalam proses dan interaksi tersebut. Dengan demikian pemaknaan yang dibuat akan lebih berarti dalam mengungkap gejala tersebut.

3

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

Berbeda dengan pendekatan kuantitatif, dari ciri-ciri di atas terungkap bahwa penelitian kualitatif lebih fokus untuk melakukan pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk kepentingan generalisasi. Penelitian kualitatif menggunakan teknik analisis mendalam (in-depth analysis), yaitu mengkaji masalah secara khusus (kasus-perkasus) karena penelitian kualitatif yakin bahwa sifat dari suatu masalah satu akan berbeda dengan sifat dari masalah lainnya. Yang dihasilkan dari penelitian kualitatif ini bukan suatu generalisasi, tetapi pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah.4 Akhirnya dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu jenis pendekatan penelitian dalam ilmu sosial yang menggunakan paradigma alamiah, berdasarkan teori fenomenologis (dan sejenisnya) untuk meneliti masalah sosial dalam suatu kawasan dari segi latar dan cara pandang obyek yang diteliti secara holistic.

Paradigma Penelitian Paradigma, secara etimologis berasal dari bahasa Inggris, paradigm berarti type of something, model, pattern (bentuk sesuatu, model, pola). Dalam bahasa Yunani, paradigma berasal kata para (di samping, di sebelah) dan kata dekynai (memperlihatkan; yang berarti: model, contoh, arketipe, ideal). Ketika Plato menggunakan kata paradeigma dalam Republic-nya, ia menggunakannya dalam arti “a basic form encompassing your entiry destiny”. Murid Socrates dan guru Aristoteles ini juga pernah menyatakan bahwa, “sesuatu yang diciptakan tentunya diciptakan untuk suatu sebab”. Secara terminologis paradigma berarti a total view of a problem; a total outloook, not just a problem in isolation. Ia merupakan cara pandang atau cara berpikir tentang sesuatu. Dalam Kamus Filsafat, terdapat beberapa pengertian paradigma, diantaranya sebagai berikut: 1) Cara memandang sesuatu sesuatu; 2) Dalam ilmu pengetahuan diartikan sebagai model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomen dipandang dan dijelaskan; 3) Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang me-nentukan atau mendefinisikan suatu studi ilmiah kongkret. Dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu; dan 4) Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset. Moleong (2000) memperkenalkan istilah dasar teoritis untuk makna paradigma tersebut. Bogdan dan Biklen mengartikannya dalam makna kumpulan longgar tentang asumsi yang secara logis dianut bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir. Walhasil, Apabila kata paradigma tersebut 4 Lebih jelas mengenai perbandingan atau perbedaan antara penelitian kuantitaif dan kualitatis lihat lampiran mengenai perbedaan paradigm alamiah dan ilmian, serta perbedaan riset kuantitatif dan riset kualitatif.

4

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

dihubungkan dengan kata penelitian, dapat dikemukakan pengertian paradigma penelitian sebagai berikut yaitu suatu cara pandang peneliti terhadap asumsi-asumsi dasar dari suatu penelitian yang diiimplementasikan dalam model, metode dan pelaksanaan penelitian. Paradigma yang mengarahkan seorang peneliti untuk menggunakan suatu metode dan model penelitian.

Perkembangan dunia Pengetahuan Pengetahuan pada dasarnya merupakan segenap apa yang diketahui tentang suatu objek tertentu. Sesuatu yang tertinggal hasil penginderaan manusia terhadap dunia luar itulah pengetahuan. Pengetahuan adalah deskripsi arsip informasi konsep dan kenyataan tentang alam semesta, baik yang ada dalam memori perseorangan maupun tertulis. Manusia mendapatkan pengetahuan berdasarkan kemampuannya sebagai makhluk yang berfikir, merasa dan mengindera. Disamping itu manusia dapat juga mendapatkan pengetahuannya lewat intuisi dan wahyu dari Tuhan yang disampaikan lewat utusan-Nya. Dunia pengetahuan demikian luas dan beragam serta mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri tersebut meliputi apa (ontologi atau teori hakikat yang membicarakan pengetahuan itu sendiri), bagaimana (epistemologi atau teori pengetahuan yang membicarakan cara memperoleh pengetahuan), dan untuk apa pengetahuan itu disusun (aksiologi atau teori nilai yang membicarakan guna pengetahuan). Menggambarkan betapa luasnya pengetahuan, Ahmad Tafsir menjelaskannya dengan menyodorkan tabel pengetahuan yang dilengkapi cirri-cirinya seperti tertera di bawah ini : Bagan 1 Jenis dan Ragam Pengetahuan Manusia Jenis

Objek

Paradigma

Metode

Ukuran

Sains

Empiris

Positivistis

Sains

Logis dan empiris

Filsafat

Abstrak logis

Logis

Rasio

Logis

Mistik

Abstrak Supralogis

Mistis

Latihan Mistik

Rasa, yakin, terkadang empirik

Pembagian pengetahuan pada tiga jenis pengetahuan yang disodorkan di atas, kendati cukup menjelaskan klasifikasi sejumlah pengetahuan, dipandang perlu lebih jauh dipahami, terutama untuk hal-hal sebagai berikut: Pertama. Diperlukan sebuah pemahaman menyeluruh yang kontinum untuk men-jelaskan klasifikasi pengetahuan tersebut. Dalam sejarah perkembangan

5

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

pengetahuan manusia, apa yang disebut dengan pengetahuan sains/ilmu, pada dasarnya merupakan hasil proses dinamika-genetik dari pengetahuan filsafat. ‘Keengganan’ filsafat untuk menjelaskan hal-hal nyata yang terbatas pada struktur pisik semata, telah melahirkan pengetahuan baru yang disebut sebagai sains. Begitupun pengetahuan filsafat, pada awalnya merupakan respons intelektual yang muncul untuk memenuhi rasionalitas hidup manusia terhadap pengetahuan mistis. Mempergunakan skema kebudayaan Peursen (1992), perkembangan pengetahuan tersebut diruntut dari mulai tahap mistis, ontologis dan fungsional. Kedua. Diperlukan pembagian pengetahuan yang mengikutsertakan pengetahuan seni,--atau paling tidak, menjelaskan dimana sebenarnya kedudukan pengetahuan seni. Pengetahuan seni merupakan hal yang riil dalam kehidupan manusia. Ia berkembang seiring perkembangan kehidupan manusia. Adakah ia merupakan sebuah pengetahuan yang khas dengan paradigmanya sendiri? Ketiga. Diperlukan penjelasan lebih jauh tentang apa sesunguhnya pengetahuan mistis. Samakah ia dengan pengetahuan agama; dan apabila hendak disamakan, cara reduksi tersebut nampaknya akan menuntut banyak masalah yang krusial. Mungkinkah ia kita sebut sebagai sebuah kepercayaan semata, dimana respons psikologis muncul sebagai karakter dasar? Keempat. Tabel pengklasifikasian pengetahuan di atas hanya mengorientasikan jenis pengetahuan sains yang bertumpu pada paradigma positivisme saja, padahal dewasa ini sudah mulai berkembang paradigm alamiah sebagai pelengkap bahkan ‘lawan tanding’ dalam epistimologi pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini perlu dipertimbangkan, paling tidak karena inilah domain yang hendak dibicarakan lebih dalam pada diskusi ini.

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif Salah satu jenis pengetahuan manusia adalah ilmu pengetahuan, yang dalam bahasa Inggris penggunaannya memakai kata science dan dalam bahasa Arab menggunakan kata ‘ilmu. Kata science berasal dari kata latin scientia, bentuk kata kerja scio/scire yang artinya mempelajari, mengetahui. Sedangkan ilmu yang berasal dari kata ‘alima (Arab) berarti juga tahu. Secara sederhana, baik ilmu, knowledge, ataupun science secara etimologis berarti pengetahuan semata-mata; pengetahuan mengenai apa saja. Berbeda dengan pengetahuan (knowledge) semata, pengertian ilmu (science) secara etimologis tadi mengalami perluasan arti, sehingga menunjuk kepada suatu bentuk pengetahuan yang sistematik. Pemakaian yang luas dari kata ilmu ini diteruskan dalam bahasa Jerman dengan istilah wissenschaft yang berlaku terhadap kumpulan pengetahuan apapun yang teratur. Sekarang yang

6

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

umumnya dipakai dan dipahami adalah penggunaan istilah ‘ilmu pengetahuan’ untuk science (pengetahuan sains) dan penggunaan istilah ‘pengetahuan’ untuk knowledge (pengetahuan biasa). Secara terminologis, banyak definisi yang dikemukakan para ahli mengenai ilmu pengetahuan. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan (science) merupakan hasil usaha pemahaman manusia dengan menggunakan metode tertentu tentang hal ihwal sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran dan dapat diindera manusia dimana kebenarannya diuji secara rasional empirik. Dalam perkembangan selanjutnya, metode tertentu dalam ilmu pengetahuan hanya didominasi dan semata dimaknai dengan positivisme sehingga melahirkan cara berfikir kuantitatif. Oleh karenanya, tidak aneh jika dalam waktu yang amat lama, mainstream ilmu pengetahuan bertumpu pada paradigma positivisme, sampai kemudian munculah paradigma naturalistic. Paradigma Naturalistic/alamiah (Einstinian) berkembang sebagai paradigma baru dalam sain pada akhir abad 19 melengkapi (bertentangan dengan) paradigma sebelumnya- Positivisme (Newtonian).5 Paradigma baru inilah yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya pendekatan penelitian kualitatif. Bermula dikembangkan oleh Irwin Deutscher dari pemikiran Max Weber dengan aliran pemikiran fenomenologis atau naturalistic paradigm, pemikiran utama paradigma ini adalah memahami perilaku manusia menurut kerangka acuan dari pelaku perbuatan itu sendiri; menurut cara pandang mereka. Aliran pemikiran Max Weber tersebut berkembang kemudian menjadi fenomenologis, Interaksi simbolis, etnometodologis dan pertukaran sosial. Pikiran utama masing-masing aliran tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Pendekatan Fenomenologis: Memahami masalah secara verstehen; yaitu mencoba memahami obyek menurut konsep pengertian yang dikembangkan oleh mereka, (subyek yang diteliti); “menurut cara pandang mereka”. Contoh: menurut orang lampung “lada” rasanya “pedes”; menurut orang sunda “pedes” rasanya “lada”; Contoh lain: menurut orang Cirebon kata “beli” artinya “tidak”; b. Interaksi Simbolik: Penafsiran makna simbol/kata/definisi menurut kawasan dan proses yang terjadi. Contoh: makna kata “Syukuran” dimaknai “makan-makan”; kata “ Idul Fitri” identik dengan “pulang kampung” dll. c. Kebudayaan: Kebudayaan sebagai kerangka teoritis dalam menjelaskan pekerjaan mereka. “Memahami perilaku manusia dengan jalan 5 Dalam Sosiologi berkembang aliran pemikiran baru dan Max Weber (1864-1920) melengkapi (bertentangan dengan) aliran pemikiran August Comte (1798-1857) dan Emille Durkheim (1858-1917).

7

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

menguraikan apa yang diketahui mereka, yang membolehkan mereka berperilaku secara baik sesuai dengan common sense dalam masyarakatnya” (Bogdan & Biklen). “Pengertian yang dialami bersama (Rosalie Wax). Contoh: menurut masyarakat/ komunitas muslim santri, diantara ciri muslim yang baik harus berkopiah, kiyai atau khotib harus pakai serban, tidak pantas khotib memakai celana jeans; d. Etnometodologi: “studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami ke-hidupannya. sehari-hari, dan (menciptakan, memahami) metodenya mencapai kehidupan sehari-hari”. Contoh: memahami mengapa preman di terminal selalu “sospol” (sosorongot & popolotot) jawabannya: karena kalau tidak begitu tidak akan mendapat uang; atau memahami mengapa pengemis di mobil/ perempatan berbusana muslimah atau meng-gunakan idiom agama ketika mengemis. Kesimpulan (singkatnya) dari keempat aliran pemikiran tersebut adalah bahwa penelitian seyogyanya dilakukan harus berdasarkan pada sudut pandang subjek yang diteliti dan berdasar pada proses yang terjadi di kawasan subjek yang diteliti pula. Dari keseluruhan paparan di atas, tampak sekali bahwa paradigma positivisme berbeda dan –bertentangan dengan paradigma naturalistic. Walhasil pendekatan kuantitatif sebagai anak dari paradigma positivisme juga berbeda dan– bertentangan pula dengan pendekatan kualitatif yang dilahirkan dari paradigma naturalisme. Dan tentu saja perbedaan tersebut bukan hanya terletak pada jenis data, analisis data, atau hal-hal teknis penelitian laiinya, tapi yang paling utama adalah pada paradigma penelitian atau penulis menggunakan istilah ‘filsafat ilmu’ yang dipergunakannya. Secara epistimologis, penelitian kuantitatif menggunakan scientific method yang bertumpu pada paradigma positivisme dengan ciri logico hypotetico verifikatif. Sementara penelitian kualitatif menggunakan paradigma alamiah yang bertumpu pada fenomenologis. Selain itu, terdapat pula perbedaan mendasar dilihat dari ontology maupun aksiologinya, diantaranya: 1. Hakikat kenyataan: Kuantitatif, kenyataan adalah tunggal, nyata dan fragmentaris; Kualitatif, kenyataan adalah ganda, dibentuk dan merupakan keutuhan; 2. Hubungan pencari tahu dengan yang tahu: Kuantitatif, Pencari tahu dan yang tahu adalah bebas, jadi ada dualisme; Kualitatif, Pencari tahu dan yang tahu aktif bersama dan tidak dapat dipisahkan; 3. Kemungkinan generalisasi: Kuantitatif, Generalisasi atas dasar bebas waktu dan bebas konteks dimungkinkan (pernyataan nomotetik); Kualitatif, hanya waktu dan konteks yang mengikat hipotesis kerja (pernyatan idiografik) yang dimungkinkan; 4. Kemungkinan hubungan sebab akibat: Kuantitatif, terdapat penyebab sebenarnya yang secara temporer terhadap atau secara simultan terhadap akibatnya; Kualitatif, setiap keutuhan berada dalam keadaan

8

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

mempengaruhi secara bersama-sama sehingga sukar membedakan mana sebab mana akibat; 5. Peranan nilai: Kuantitatif, Inkuirinya bebas nilai; Kualitatif, Inkuirinya terikat nilai.

Penutup Tidak diragukan bahwa ilmu pengetahuan dan penelitian mempunyai hubungan yang sangat erat. Menurut Almack (1930), hubungan tersebut seperti hasil dan proses, penelitian adalah proses, sedangkan hasilnya adalah ilmu pengetahuan. Whitney (1960) berpendapat bahwa ilmu dan penelitian adalah sama-sama proses, sehingga ilmu dan penelitian adalah proses yang sama, hasil dari proses tersebut adalah kebenaran. Baik seperti hasil dan proses, maupun sama-sama proses, keterpaduan antara ilmu pengetahuan dan penelitian memang sudah demikian erat. Penelitian (research) dan ilmu pengetahuan seperti ayam dan telur, keduanya tidak dapat dipisahkan. Ilmu pengetahuan lahir karena penelitian (research) dan sebaliknya ilmu pengetahuanlah yang melahirkan research. Berdasarkan paparan pada bagian sebelumnya, apapun jenis dan pendekatan penelitian yang digunakan, tentu aja semuanya berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Dibarengi dengan kedisiplinan metodologis, penelitian kualitiaf maupun kuantitatif kedua-duanya sama-sama mampu mengemban tugas penelitian, baik mencandra atau mengadakan deskripsi fakta; menerangkan (sksplanasi), menyusun teori; mengadakan prediksi; dan mengendalikan peristiwa-peristiwa atau gejala-gejala. Risalah yang disampaikan pada diskusi ini, tentu saja bukan untuk memperlihatkan kelebihan-kelebihan penelitian kualitatif atas penelitian kuantitatif. Apalagi mengajak berpindah mazhab bagi sebagian peneliti yang terlebih dahulu memproklamirkan dirinya sebagai penganut kuantitatif. Risalah ini sekadar mengenalkan bahwa dunia ilmu pengetahuan ternyata tidak hanya dilahirkan oleh positivisme semata, tapi juga oleh naturalisme di pihak lain, atau mungkin suatu saat dilahirkan oleh mazhab lain yang lebih baru. Pemahaman tentang penelitian kualitatif ini menjadi sangat penting karena khazanah ilmu pengetahuan yang sedang kita kembangkan adalah dunia pendidikan yang didalamnya sarat dengan makna, nilai, peristiwa, gejala dan fakta yang tidak bisa hanya dipahami secara kuantitatif, apalagi hitam putih. Perlu pemahaman lain yang lebih holistic, tidak kaku, dan lebih mendalam. Mudahmudahan kita senantiasa berada dalam jalan penelitian yang benar dan senantiasa dibimbing oleh metodologi penelitian yang benar pula.***

Daftar Pustaka Ali, Mohammad, Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi, Bandung: Angkasa, 1985 Ali, Sayuthi, Metodologi Penelitian Agama, Pendekatan Teori dan Praktek, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002 Alwasilah, A. Chaedar, Pokoknya Kualitatif, Dasar-dasar Merancang dan Melakukan

9

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

Penelitian Kualitatif, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 2003 Asyari, Sapari Imam, Suatu Petunjuk Praktis Metodologi Penelitian Sosial, Surabaya: Usaha Nasional, 1981 Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996 Bakker, Anton, Metode-metode Filsafat, Jakarta: Ghalia, 1989 Bogdan, Robert C. & Sari Knopp Biklen, Qualitatif Research for Education: An Introduction to Theory and Methods, Boston: Allyn and Bacon, Inc.1982 Faisal, Sanafiah, Dasar dan Teknik Penelitian Keilmuan Sosial, Surabaya: Usaha Nasional, 1981 Guba, Egon G., Toward a Methodology of Naturalistic Inquiry in Educational Evaluation, Los Angeles: Center of the Study of Evaluation, UCLA Graduate School of Education, University of California, L.A. Hadi, Sutrisno, Metodologi Research, Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 1986 Liang Gie, The, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty, 2000 Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000 Mudyahardjo, Redja, Filsafat Ilmu Pendidikan, Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001 Muhadjir, Noeng, Filsafat Ilmu, Positivisme, PostPositivisme dan PostModernisme, Yogyakarta, Rake Sarasin, 2001 Mustansyir, Rizal & Munir, Misnal, Filsafat Ilmu, Jakarta: Pustaka Pelajar, 2001 Myrdal, Gunnar, Objektivitas Penelitian Sosial, terj., LSIK, Jakarta: LP3ES, 1981 Nasir, Moh., Metode Penelitian, Jakarta: Galia Indonesia, 1988 Safi, Louay, Ancangan Metodologi Alternatif: Sebuah Refleksi Perbandingan Metode Penelitian Islam dan Barat, terj. Imam Khoiri, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001 Sedarmayanti & Syaripudin Hidayat, Metodologi Penelitian, Bandung: Mandar Maju, 2002 Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996 Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005 Sumanto, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan, Aplikasi Metode Kuantitatif dan Statistika dalam Penelitian, Yogyakarta: Andi Offset, 1995 Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996 Tafsir, Ahmad, Epistemologi Untuk Ilmu Pendidikan Islam, IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, 1995 ____________, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992 Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: Liberty, 2001

10

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

Gambar 1 Perbedaan Paradigma Ilmiah dan Alamiah (Lexi Moleong, 2000) Paradigma Poster Tentang

Ilmiah

Alamiah

Teknik yang digunakan Kriteria kualitas Sumber Teori Persoalan kausalitas Tipe pengetahuan yang digunakan Pendirian Maksud

Kuantitatif

Kualitatif

Rigor A priori Dapatkah X menyebabkan Y? Proposisional

Relevansi Dari dasar (grounded) Apakah X menyebabkan Y dalam latar alamiah? Proposisional yang diketahui bersama Ekspansionis Ekspansionis

Reduksionis Verifikasi

Karakteristik Metodologis Instrumen Waktu penetapan pengumpulan dan analisi data Desain Gaya Latar Perlakuan Satuan kajian Unsur kontekstual

Kertas, pinsil atau alat fisik lainnya Sebelum penelitian

Orang sebagai peneliti

Pasti (preordinate) Intervensi Laboratorium Stabil Variabel Kontrol

Muncul berubah Seleksi Alam Bervariasi Pola-pola Turut campur atau undangan

Selama dan sesudah pengumpulan data

11

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

Gambar 2 Ciri-ciri Riset Kualitatif dan Kuantitatif (Bodgan & Biklen, 1982 )

• • • • • • • •

KUALITATIF KUANTITATIF Frase-frase yang berkaitan dengan pendekatan Entnografis • Observasi • Eksperimen • Positifis terlibat Kerja lapangan • Data keras • Fakta-fakta • Fenomenologi • Perspektif social Data lunak s luar • statistik Interaksi simbolik • Sekolah • Empiris Perspektif dalam Chicago Naturalistic • Dokumenter Etnometodologis • Riwayat Deskriptif hidup • Studi kasus • Ekologis

Konsep kunci berkaitan dengan pendekatan • Makna • Pemahaman • Variabel • Validitas • Pemahaman akal • Proses • Mengopera • Signifikan sehat sio-nalkan secara statistik • Tatanan • Menggolongkan negoisasi • Reliabilitas • Replikasi (bracketing) • Untuk • Hipotesa maksud • Definisi situasi praktis • Kehidupan sehari• Kontruksi hari sosial Nama-nama yang berkaitan dengan pendekatan • Max Weber • Herbert • Emile • Fred Kerlinger Blumer Durkheim • Charles Harton • Edward Cooley • W.I. Thomas • Lee Thorndike Cronbach • Harold • Everett • Freid Mc. Goffman • L. Guttman Donald • Garfinkel • Erving • Gene Glass • David • Margaret Mead Wolcott Krathwohl • Robert • Anselm Strauss • Rosalie Wax • Donald Travers • Eleanor Campbell • George • Robert • Leacock • Peter Rossi Herbert Mead Bales • Haward S. Becker • Barney Blaser • Rayment Rist • Hugh Menhan • Estelle Fuchs

12

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

KUALITATIF • Interaksi simbolik • Etnometodol ogis • Fenomenolog is

Afiliasi akademis Antropologi Psikologi Sosiologi Ilmu ekonomi Ilmu politik Tujuan Mengembangkan konsep • Menguji teori • Menunjukkan pensensitif (sensitizing) hubungan antar • Membentuk fakta prediksi Menerangkan realitas yang • Deskripsi statistik banyak segi Teori grounded Pengembangkan pemahaman Desain Berkemba • Memberikan • Struktur, ditetapkan • Merupakan ng lentur, firasat terlebih dahulu, rencana operasi rampat bagaimana anda formal spesifik kerja yang rinci (umum) melangkah Menulis proposal penelitian Singkat • Tinjauan • Panjang • tinjauan pustaka yang pustaka yang lebar substansif Spekulatif substansif • Focus • Prioritas pada bidang tidak panjang rincian dan pengumpulan data relevan lebar spesifik untuk diteliti • Hipotesa dinyatakan Sering ditulis setelah ada data terkumpul Data Deskriptif • Kata-kata orang • Kuantitatif • Variable operasional sendiri Dokumen • Koding • Statistik pribadi • Dokumen resmi yang dapat • Bilangan, ukuran dan artifak dikuantifik Catatan asi lapangan • Foto

Sosiologis Histories • • • • •

• • • •

• • •

KUANTITATIF Afiliasi teoritis • Kultur • Fungsionalisme• Behaviorisme /Kebudayaa struktural • Empirisme n • Realisme • Teori system • Idealisme • Positivisme

13

Tedi Priatna:

Filsafat Ilmu Penelitian Kualitatif

KUALITATIF • Kecil • Non representatif

• Observasi tinjauan berbagai dokumen dan artifak • Wawancara terbuka (open ended interviews) • • Empati, akrab (empathy) • Menekankan kepercayaan • persamaan

• Berkelanjutan • Model, tema, konsep • Induktif • Memakan waktu • Sulit mereduksi data

KUANTITATIF Sample • Sampling • Besar • Dipilih secara rondom • Bestrata • Kontrol untuk variable luar • Kelompok • Tepat/cermat (precise) kontrol Teknik atau metode • Observasi • Eksperime • Kuasi eksperimen partisipasi n • Observasi terstruktur • Penelitian • Himpunan data survey wawancara terstruktur



• • Hubungan peneliti dengan subjek • Hubungan • Ada • Ada jarak rapat subjek pembatasa • Subjek peneliti sebagai n sahabat • Jangka pendek • Tidak tinggal bersama Analisa data • Induksi • Deduktif • Statistik • Metode • Dikerjakan komparatif selesai pengumpul • Konstan an data Masalah dalam penggunaan pendekatan • Prosedur • Mengontro • Sifat memaksa tidak baku l variable • Validasi lain • Sulit menstudi • Reifikasi populasi (reification) besar

14