Hari Laksono

and service quality affect user’s satisfaction, and user satisfaction affects net benefits. ... (Disclaimer), dan Tidak Wajar (Ad-verse). Opini BPK at...

0 downloads 2 Views 814KB Size
Hari Laksono Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Jl. Perintis Kemerdekaan No 175 Banyumanik - Semarang [email protected]

THE EVALUATION OF SIMDA BMD IN GROBOGAN DISTRICT USING COMBINATION OF DELONE MCLEAN AND TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN MODEL KOMBINASI DELONE MCLEAN DAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL

ABSTRACT / ABSTRAK Grobogan District Government adopts SIMDA BMD for its assets administration. Evaluation of SIMDA BMD in Grobogan District needs to be done to measure the success of the system. This study aims to evaluate the success of SIMDA BMD in Grobogan using variables i.e. system quality, information quality, service quality and user satisfaction from updated Delone McLean. Those variables are combined with the perceived usefulness and perceived ease of use from Technology Acceptance Model (TAM) to know the effects on the net benefits of SIMDA BMD. Respondents in this study are SIMDA BMD users, especially assets managers of government agencies in Grobogan District. Using PLS for data analysis, this study find that system quality, information quality and perceived ease of use affect the perceived usefulness, system quality and information quality affect the perceived ease of use, perceived usefulness, perceived ease of use and service quality affect user’s satisfaction, and user satisfaction affects net benefits. However, the system quality and information quality variables do not affect the net benefits of SIMDA BMD in Grobogan District.

Pemerintah Kabupaten Grobogan mengadopsi SIMDA BMD untuk penatausahaan aset daerah. Evaluasi terhadap kesuksesan penggunaan SIMDA BMD di Kabupaten Grobogan dilakukan guna mengukur kesuksesan sistem. Evaluasi SIMDA BMD di Kabupaten Grobogan dilakukan dengan menggunakan variabel kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas pelayanan, dan kepuasan pengguna dari Model Kesuksesan Sistem Informasi Updated DeLone McLean. Variabel tersebut digabungkan dengan variabel persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan dari Model TAM untuk mengetahui pengaruhnya terhadap manfaat bersih penggunaan SIMDA BMD. Responden penelitian adalah pengguna SIMDA BMD terutama pihak pengurus barang di seluruh organisasi perangkat daerah. Analisis data menggunakan PLS menemukan bahwa kualitas sistem, kualitas informasi dan persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh terhadap persepsi kegunaan, kualitas sistem dan kualitas informasi berpengaruh terhadap persepsi kemudahan penggunaan, persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan dan kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pengguna, dan kepuasan pengguna berpengaruh terhadap manfaat bersih (net benefits). Sedangkan variabel kualitas sistem dan kualitas informasi tidak berpengaruh terhadap manfaat bersih penggunaan SIMDA BMD di Kabupaten Grobogan.

KEYWORDS: the system success evaluation; SIMDA BMD DeLone McLean; TAM; e-government

KATA KUNCI: evaluasi kesuksesan sistem; SIMDA BMD; DeLone McLean; TAM; e-government

SEJARAH ARTIKEL: Diterima pertama: 29 September 2017 Dinyatakan dapat dimuat: 19 Desember 2017 151

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA

PENDAHULUAN Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah telah memberi kewenangan kepada pemerintah daerah dalam hal pengaturan urusan rumah tangga daerah, penetapan kebijakan, serta pembiayaan dan pertanggungjawaban keuangan secara mandiri. Salah satu bentuk pertanggungjawaban keuangan daerah yaitu pelaksanaan penatausahaan barang milik daerah. Untuk dapat menjalankan proses penatausahaan barang milik daerah dengan baik maka pemerintah telah mengatur di dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Tujuannya supaya pengelolaan barang milik negara/daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi, efisiensi, akuntabilitas, dan kepastian nilai. Peraturan tersebut dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah. Peraturan ini mengatur tentang bagaimana pemerintah daerah mengelola barang milik daerah sejak perencanaan, pengadaan, pemeliharaan, pemanfaatan, penggunaan, hingga penghapusannya (Kementerian Dalam Negeri, 2016). Pengelolaan barang milik daerah telah menjadi perhatian utama bagi para pengambil keputusan di pemerintah daerah. Penyajian barang milik daerah di dalam laporan keuangan pemerintah daerah sangat penting artinya bagi pemerintah daerah sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah yang akan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI). BPK sesuai UU Nomor 15 Tahun 2006 merupakan lembaga negara yang memiliki tugas untuk melakukan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara/daerah. BPK menghasilkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) yang berisi opini atas hasil pemeriksaan laporan keuangan pemerintah 152

daerah. Opini BPK RI terbagi menjadi empat kategori dari yang paling bagus yaitu Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), Wajar Dengan Pengecualian (WDP), Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer), dan Tidak Wajar (Adverse). Opini BPK atas laporan keuangan pemerintah daerah dapat mencerminkan tingkat keberhasilan pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan daerah termasuk pengelolaan barang milik daerah (BPK, 2017a). Pengambil keputusan pemerintah daerah banyak yang memilih menggunakan sistem informasi dalam proses pengelolaan barang milik daerah untuk membantu pengelolaan barang milik daerah serta dapat menghasilkan informasi yang relevan, cukup, akurat, lengkap dan dapat diuji kebenarannya (Budiriyanto, 2013). Sistem Informasi Manajemen Daerah Barang Milik Daerah (SIMDA BMD) yang dibuat oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) memiliki tujuan untuk membantu pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan barang dan aset pemerintah daerah. SIMDA BMD telah menjadi salah satu sistem informasi yang paling banyak digunakan pemerintah daerah dalam pengelolaan barang milik daerah dengan jumlah pengguna sampai dengan Januari 2016 sebanyak 347 pemerintah daerah di seluruh Indonesia (Tim Aplikasi SIMDA, 2017). Kabupaten Grobogan merupakan salah satu pemerintah daerah di Provinsi Jawa Tengah yang telah menggunakan SIMDA BMD sejak tahun 2014. Penggunaan SIMDA BMD diharapkan dapat memberikan perbaikan dalam pengelolaan barang dan aset daerah yang antara lain akan berdampak pada perbaikan dari opini hasil pemeriksaan BPK RI terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Opini Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk LKPD tahun 2011 s.d. 2016 dapat dilihat pada tabel 1. Pemerintah Kabupaten Grobogan dapat dikatakan telah mengalami perbaikan penatausahaan aset daerah, hal ini ditandai dengan perkembangan opini yang diperoleh,

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA-BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN... Hari Laksono

yaitu opini WTP dari BPK RI untuk Laporan Keuangan Pemerintah Daerah tahun 2015 dan 2016. Meskipun demikian, perlu dilakukan evaluasi atas implementasi SIMDA BMD pada Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk mengetahui kesuksesan sistem informasi tersebut. Tabel 1. Opini laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Grobogan Tahun 2011-2016 TAHUN

OPINI BPK

2011

Wajar Dengan Pengecualian

2012

Wajar Dengan Pengecualian

2013

Wajar Dengan Pengecualian

2014

Wajar Dengan Pengecualian

2015

Wajar Tanpa Pengecualian

2016

Wajar Tanpa Pengecualian

Sumber: Opini laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Grobogan Tahun 2011-2016 (BPK RI, 2017b)

LANDASAN TEORI Proses Pengelolaan BMD dalam SIMDA BMD Sistem informasi dapat diartikan sebagai seperangkat komponen yang dapat saling berhubungan untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mendistribusikan informasi guna mendukung pengambilan keputusan serta pengawasan dalam organisasi (Laudon & Laudon, 2005). Selain itu definisi lain dari sistem informasi yaitu suatu rangkaian orang, prosedur, dan sumber daya yang mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi dan sebuah sistem yang menerima sumber daya akan menggunakan sumber daya tersebut sebagai input dan memprosesnya untuk menjadi produk informasi sebagai output (O’Brien, 2004). SIMDA BMD merupakan aplikasi komputer yang dikembangkan oleh BPKP dengan tujuan membantu pengelolaan barang milik daerah, sehingga siklus barang milik daerah dapat berjalan dengan baik (BPKP, 2010). Program

Volume 3, Nomor 2, Jul - Des 2017: 151 - 167

Aplikasi Komputer SIMDA BMD ini pada dasarnya digunakan untuk melakukan proses pengelolaan Barang Milik Daerah (BMD) secara otomatis dengan memanfaatkan pengolahan data elektronik. Menu-menu yang terdapat dalam Aplikasi Pengolahan BMD digunakan untuk mencatat dan mengadministrasikan mutasi barang daerah atau aset tetap daerah sesuai ketentuan (BPKP, 2017). SIMDA BMD yang digunakan oleh Pemerintah Kabupaten Grobogan saat ini adalah SIMDA BMD versi 2.0.7 yang merupakan versi terbaru yang dikembangkan oleh BPKP untuk menyesuaikan dengan PP Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Sistem operasi untuk menjalankan SIMDA BMD adalah Microsoft SQL Server 2008 untuk server dan Windows OS untuk client. Untuk pemrosesan data antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dapat dilaksanakan secara batch maupun online. Pengelolaan Barang Milik Daerah menurut PP Nomor 27 Tahun 2014 meliputi (1) perencanaan kebutuhan dan penganggaran; (2) pengadaan; (3) penggunaan; (4) pemanfaatan; (5) pengamanan dan pemeliharaan; (6) penilaian; (7) pemindahtanganan; (8) pemusnahan; (9) penghapusan; (10) penatausahaan; dan (11) pembinaan, pengawasan dan pengendalian. Sebelas proses pengelolaan BMD tersebut, tujuh proses diantaranya diakomodir dalam fungsi SIMDA BMD, yaitu (1) perencanaan kebutuhan dan penganggaran; (2) pengadaan; (3) penggunaan; (4) penatausahaan; (5) pemanfaatan; (6) pemeliharaan; dan (7) penghapusan. Terdapat satu fungsi tambahan untuk membantu proses rekonsiliasi antara pengelolaan keuangan daerah dengan penge-lolaan barang milik daerah, yaitu menu “Akuntansi”. Rincian tentang proses pengelolaan BMD pada SIMDA BMD pada Kabupaten Grobogan sebagai berikut:

153

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA 1. Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran Pada menu “Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran”, user dapat melakukan proses input data barang milik daerah yang dibutuhkan, yang akan dianggarkan dan direalisasikan pada tahun anggaran berikutnya. Termasuk data barang milik daerah yang memerlukan pemeliharaan. Setelah daftar tersebut disetujui maka akan menjadi bahan pada saat penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) tahun anggaran berikutnya. Laporan yang dihasilkan yaitu Daftar Rencana Kebutuhan Barang, Daftar Rencana Kebutuhan Pemeliharaan, Daftar Kebutuhan Barang dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan. Manfaat dari menu ini adalah: a. Pengelola barang dapat merencanakan secara lebih baik dan matang tentang pengadaan barang milik daerah; b. Adanya perencanaan yang baik maka efektivitas dan efisiensi pengadaan barang modal dapat ditingkatkan. 2. Pengadaan a.

Pada menu “Pengadaan”, user dapat memasukkan data kontrak dan rincian aset yang ada pada kontrak, sehingga akan diperoleh informasi tentang kontrak-kontrak yang sudah dikeluarkan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

b.

Dengan ter-inputnya rincian aset pada kontrak, maka dapat dibandingkan dengan data perencanaan kebutuhan, apakah BMD yang direncanakan dibeli sama dengan yang direncanakan dalam Daftar Kontrak Barang Milik Daerah (DKBMD).

Selain data kontrak, data Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) atas kontrak tersebut juga di-input sehingga akan terlihat kemajuan pembayaran kontrak. 154

Ketika pembayaran 100%, sudah ada Berita Acara Serah Terima (BAST) dan dokumen pendukung lainnya, maka user dapat melakukan posting Kartu Inventaris Barang (KIB). Pada menu ini juga terdapat submenu khusus untuk inventarisasi yang diperuntukkan bagi pemerintah daerah yang baru pertama kali menggunakan SIMDA BMD dan submenu “Belanja Penunjang” untuk melakukan input datadata belanja selain belanja modal yang turut memengaruhi terjadinya aset atau disebut proses kapitalisasi. Laporan yang dihasilkan yaitu Daftar Pengadaan Barang dan Daftar Hasil Pemeliharaan. Manfaat dari menu ini adalah a. Pengurus barang dapat mengetahui kemajuan penyelesaian kontrak dan melakukan posting ke KIB; b. Nilai BMD akan terkapitalisasi dengan Belanja Penunjang; c. Pemutakhiran data KIB dapat dilakukan secara berkala. 3. Penggunaan Pada menu “Penggunaan”, user dapat memasukkan Surat Keputusan (SK) Penggunaan Aset Tetap yang ditetapkan oleh kepala daerah. Seperti diketahui, terdapat pengadaan yang dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan setelah terealisasi, maka barang/ aset tersebut didistribusikan kepada unit lain. Pendistribusian tersebut ditetapkan dengan SK Kepala Daerah, sehingga menu ini bertujuan untuk menyajikan data, siapa atau SKPD mana yang telah ditetapkan sebagai pengguna barang. Laporan dari menu ini adalah Lampiran SK Penggunaan Barang. 4. Penatausahaan Proses input data rinci dari masing-masing BMD seperti tanah, peralatan dan mesin,

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA-BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN... Hari Laksono

bangunan, jalan dan jaringan serta aset lainnya, ada pada menu “Penatausahaan”. Masing-masing barang memperoleh kode register barang yang berbeda. Kode register merupakan identitas khusus untuk setiap barang. Dengan adanya kode register ini maka diharapkan pada saat perencanaan, pengadaan, penghapusan, pindah SKPD dan kapitalisasi dapat menunjuk langsung kode register barang yang dimaksud. Dengan demikian tidak ada lagi satu barang dengan beberapa kode register. Laporan yang dihasilkan dari menu ini adalah KIB A-F, Rekap KIB A-F, Kartu Inventaris Ruangan, Buku Inventaris, Rekap Buku Inventaris, Label Kode Barang, dan Kartu Barang A-F. Manfaat dari menu ini adalah supaya user dapat: a. mengetahui data rinci dari masingmasing barang; b. mengubah data rinci dari masing-masing barang dengan melakukan edit atas data dan penambahan nilai dengan kapitalisasi; c. melakukan proses pindah OPD atas barang yang telah diterbitkan SK Penggunaan; d. mengetahui histori dari setiap BMD (sesuai kode register) sejak mulai pengadaan, data kapitalisasi, data pemeliharaan dan data pindah OPD. 5. Pemanfaatan BMD yang tidak dipergunakan sesuai tugas pokok dan fungsi SKPD masuk dalam kategori pemanfaatan dan tidak mengubah status kepemilikan BMD. Dengan tidak adanya perubahan status kepemilikan maka BMD tidak dapat dihapuskan dari Buku Inventaris. Laporan dari menu pemanfaatan adalah Laporan Pemanfaatan untuk setiap jenis BMD yaitu tanah, peralatan dan mesin, bangunan, jalan jaringan dan irigasi, serta aset tetap Volume 3, Nomor 2, Jul - Des 2017: 151 - 167

lainnya. Manfaat dari menu ini adalah memantau BMD yang telah masuk kategori pemanfaatan dengan mengetahui dimana aset tersebut, kapan perjanjian berakhir, serta dengan pihak mana pemerintah daerah bekerja sama sehingga dapat meminimalkan potensi kehilangan aset. 6. Pemeliharaan Peng-input-an data pemeliharaan ringan dan sedang yang tidak masuk dalam kategori kapitalisasi aset berada pada menu ini. Laporan yang dihasilkan adalah Daftar Pemeliharaan Aset Tetap. Manfaat dari menu ini adalah: a. data histori atas pemeliharaan untuk masing-masing BMD; b. terdapat kontrol terhadap belanja pemeliharaan, dengan tidak menganggarkan secara berulang pemeliharaan pada BMD yang sama; c. mengetahui daftar kontrak pemeliharaan. 7. Penghapusan Menu ini adalah untuk mencatat BMD yang telah dihapuskan dengan SK Penghapusan. Laporan dari menu ini adalah Lampiran SK Penghapusan. Manfaat dari menu ini meliputi pembaruan data Buku Inventaris atas BMD yang telah dihapuskan dan data BMD apa saja yang telah dihapuskan sebagai bahan pertanggungjawaban. 8. Akuntansi Pengelolaan BMD berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan, oleh karena itu perlu dilakukan rekonsiliasi secara berkala antara data keuangan dengan data BMD. Untuk mempermudah rekonsiliasi tersebut maka pada SIMDA BMD telah dilakukan mapping secara otomatis atas kategori BMD ke kategori aset tetap di neraca. Dengan dilakukan rekonsiliasi 155

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA maka diharapkan data aset tetap antara pengelola barang dan pengelola keuangan sama. Laporan dari menu ini adalah Buku Inventaris Intra Kompatabel, Buku Inventaris Ekstra Kompatabel, Daftar Penyusutan Aset Tetap. Manfaat dari menu ini adalah user dapat dengan mudah melakukan rekonsiliasi aset antara pengelola keuangan dengan pengelola barang. Pengendalian internal atas pengaksesan pada SIMDA BMD dilakukan pada menu “Otoritas User Menu” yang digunakan untuk melakukan pembatasan user untuk menggunakan menumenu yang ada pada aplikasi ini. Transaksi pada menu ini hanya dapat dilakukan oleh administrator aplikasi SIMDA BMD. Technology Acceptance Model (TAM) TAM dikembangkan oleh Fred D. Davis berdasarkan model Theory of Reasoned Action (TRA), yaitu teori tindakan yang beralasan. Model TAM yang dikembangkan dari teori psikologi menjelaskan perilaku pengguna sistem informasi, yaitu berdasarkan kepercayaan (belief), sikap (attitude), niat (intention), dan hubungan perilaku pengguna (user behaviour relationship) (Davis, 1989).

Model Kesuksesan DeLone dan McLean Model Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean (1992) telah diperbarui menjadi Model update Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean (2003). DeLone dan McLean (2003) menyatakan bahwa kesuksesan sistem informasi sangat dipengaruhi oleh kualitas infomasi (information quality), kualitas sistem (system quality) dan kualitas pelayanan (service quality) yang merupakan faktor signifikan atas kepuasan pengguna (user satisfaction) dan keinginan menggunakan (intention to use). Kepuasan pengguna menjadi faktor yang signifikan terhadap keinginan menggunakan dan berpengaruh terhadap net benefits (DeLone & McLean, 2003). Model penelitian DeLone dan McLean Information System Success Model disajikan pada gambar 2. Penelitian dengan menggunakan Model Update Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean (2003) untuk evaluasi atas suatu sistem telah dilakukan oleh Andriyani (2011). Model penelitian tersebut menggunakan Model Penelitian Wixom dan Watson (2001) yang diterapkan pada Model Update Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean.

Perceived Usefulness (Persepsi Kegunaan)

Perceived Ease of Use (Persepsi Kemudahan Penggunaan)

Altitute Toward Using (Sikap Untuk Menggunakan)

Behavioral Intention (Niat Perilaku)

Actual Use (Penggunaan Tehnologi Sesungguhnya)

Gambar 1. Technology Acceptance Model (TAM) (Davis, 1989)

156

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA-BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN... Hari Laksono

Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa perceived system quality dan user satisfaction berpengaruh secara positif terhadap organizational impact, namun perceived information quality tidak berpengaruh secara positif terhadap organizational impact (Andriyani, 2011). Penelitian lainnya telah dilakukan oleh Istiyana (2014) dengan menggunakan Model DeLone dan McLean (1992) modifikasian dari penelitian Seddon (1997). Penelitian Istiyana menambahkan variabel kegunaan persepsi (perceived usefulness) dan variabel kemudahan penggunaan persepsi (perceived ease of use) dari Model TAM (Davis, 1989). Hasil dari penelitian tersebut mendukung penelitian Seddon (1997), yaitu terdapat pengaruh yang signifikan pada kegunaan persepsi dan kemudahan penggunaan persepsi terhadap kepuasan pengguna (Istiyana, 2014). Laksono (2014) melakukan penelitian untuk menguji penggunaan aplikasi SIMDA BMD di Kabupaten Klaten dengan menggunakan modifikasi dari Model Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean dengan TAM. Sampel diambil dari 35 orang pengguna

SIMDA BMD yang merupakan pengurus barang di Pemerintah Kabupaten Klaten. Hasilnya menyatakan bahwa kualitas sistem dan kualitas informasi berpengaruh terhadap persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan. Persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh terhadap persepsi kegunaan. Persepsi kegunaan, persepsi kemudahan penggunaan, dan kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pengguna. Kualitas sistem dan kepuasan pengguna berpengaruh terhadap manfaat bersih, dan kualitas informasi tidak berpengaruh terhadap manfaat bersih. Selain itu, Nussy dan Tanaamah (2015) melakukan penelitian untuk menguji penggunaan aplikasi SIMDA Keuangan di Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah. Sampel diambil dari 33 orang pegawai pengguna SIMDA Keuangan. Hasil dari penelitian tersebut dari empat hipotesis yang diajukan seluruhnya signifikan, yaitu persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh terhadap penggunaan dan sikap penggunaan, persepsi kegunaan berpengaruh terhadap sikap penggunaan, dan niat penggunaan berpengaruh terhadap sikap penggunaan.

INFORMATION QUALITY SYSTEM USE (INTENTION TO USE) SYSTEM QUALITY

NET BENEFITS USER SATISFACTION

SERVICES QUALITY

Gambar 2. The Reformulated DeLone & McLean IS Success Model (DeLone & McLean, 2003)

Volume 3, Nomor 2, Jul - Des 2017: 151 - 167

157

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA Pengembangan Hipotesis Variabel-variabel yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Kualitas Sistem Kualitas sistem berarti kualitas dari kombinasi hardware dan software dalam sistem informasi. Fokus kualitas sistem ada pada performa dari sistem yang merujuk pada seberapa baik kemampuan perangkat keras, perangkat lunak, kebijakan, dan prosedur sistem informasi dalam menyediakan kebutuhan informasi bagi pengguna (DeLone & McLean, 1992). Indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas sistem diadaptasi dari penelitian Livari, yaitu kehandalan, akurasi data, waktu respon dan turnover cepat, mudah digunakan, dan konektivitas antar bagian (Livari, 2005). 2. Kualitas Informasi Kualitas informasi dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu output sistem informasi, menyangkut nilai, manfaat, relevansi dan urgensi atas informasi yang dihasilkan (Jogiyanto, 2007). Indikator yang digunakan untuk mengukur Kualitas Informasi diadaptasi dari penelitian Livari yaitu keakuratan, tepat waktu, kegunaan informasi, mudah dipahami, kelengkapan (Livari, 2005). 3. Kualitas Pelayanan Definisi kualitas pelayanan lebih difokuskan pada usaha untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pemakai serta ketepatan penyampaian untuk memenuhi harapan pemakai (Jogiyanto, 2007). Apabila pelayanan yang diterima melampaui harapan konsumen maka kualitas pelayanan dapat dikatakan sebagai kondisi yang ideal. Namun sebaliknya apabila kualitas pelayanan yang diterima oleh pemakai lebih rendah dari harapan maka kualitas pelayanan dapat dianggap 158

buruk. Baik buruknya kualitas pelayanan bukan dilihat dari sisi penyedia layanan, namun berdasarkan sisi pengguna sistem informasi. Indikator yang digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan diadaptasi dari penelitian DeLone dan McLean yaitu pelayanan yang cepat (responsiveness), pengetahuan yang baik (reliability), sikap peduli (emphaty), memberi solusi atas permasalahan (assurance), dan dibekali perlengkapan yang memadai (tangible) (DeLone & McLean, 2003). 4. Persepsi Kegunaan Persepsi kegunaan didefinisikan sebagai suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan. Dengan demikian jika seseorang percaya bahwa sistem informasi berguna, maka pengguna akan terus menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi kurang berguna, maka pengguna tidak akan menggunakannya (Jogiyanto, 2007). Indikator yang digunakan untuk mengukur persepsi kegunaan diadaptasi dari penelitian Davis, yaitu bekerja dengan lebih cepat, performa pekerjaan, meningkatkan produktivitas, efektif, membuat pekerjaan lebih mudah dan bermanfaat (Davis, 1989). 5. Persepsi Kemudahan Penggunaan Persepsi kemudahan penggunaan didefinisikan sebagai sejauh mana pengguna percaya bahwa dengan menggunakan teknologi informasi akan bebas dari usaha. Dari definisi tersebut diketahui bahwa konstruk kemudahan penggunaan persepsi merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan (Jogiyanto, 2007). Indikator yang digunakan untuk mengukur persepsi kemudahan penggunaan diadaptasi dari penelitian Davis yaitu mudah untuk dipelajari, dapat dikontrol, mudah dipahami, fleksibel dalam penggunaan dan mudah digunakan (Davis, 1989).

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA-BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN... Hari Laksono

6. Kepuasan Pengguna Kepuasan pengguna didefinisikan sebagai pengguna yang percaya bahwa sistem informasi yang tersedia sesuai dengan informasi yang mereka butuhkan (Ives, dkk., 1983). Kepuasan pengguna merupakan umpan balik yang dilakukan oleh pengguna setelah menggunakan sistem informasi (Jogiyanto, 2007). Sikap pengguna atas sistem informasi dapat dijadikan sebagai kriteria yang subjektif atas sejauh mana rasa suka pengguna pada sistem yang digunakan. Suatu sistem informasi dikatakan mengalami kegagalan disebabkan ketidakmampuan suatu sistem informasi dalam memenuhi ekspektasi pemakai. Sehingga dalam perencanaan sistem informasi harus mampu melakukan prediksi hasil sejak awal agar saat memasuki tahap pengembangan sistem informasi dapat berjalan dengan lancar. Indikator yang digunakan untuk mengukur kepuasan penggunaan diadaptasi dari penelitian DeLone dan McLean yaitu kepuasan menyeluruh, kepuasan informasi, kesenangan, kepuasan komponen pendukung dan kegunaan (DeLone & McLean, 2003). 7. Manfaat Bersih (net benefits) Organisasi yang semakin berkembang maka akan semakin besar ketergantungan pada sistem teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena semakin besar organisasi maka akan semakin banyak data dan transaksi yang terjadi, serta semakin banyak pula keputusan yang harus diambil oleh para pembuat keputusan di dalam organisasi tersebut. Informasi menjadi tidak disajikan secara manual namun harus didapatkan dari suatu sistem informasi yang baik. Pengaruh penerapan sistem teknologi informasi memberikan lima peran utama di dalam organisasi, yaitu untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, komunikasi, kolaborasi dan kompetisi. Volume 3, Nomor 2, Jul - Des 2017: 151 - 167

Untuk dapat berguna, maka informasi yang dihasilkan dari suatu sistem teknologi informasi harus didukung oleh tiga pilar yaitu tepat kepada orangnya atau relevan (relevance), tepat waktu (timelines), dan tepat nilainya atau akurat (accurate) (Jogiyanto, 2005). Sistem teknologi informasi yang dapat menjalankan perannya serta memberikan kepuasan bagi penggunanya (user satisfaction) dapat dikatakan sistem informasi tersebut telah mencapai kesuksesan. Namun penggunaan variabel kepuasan pengguna untuk melihat kesuksesan sistem teknologi informasi mendapat kritik dari Markus dan Keil yang menyatakan bahwa kepuasan pengguna tidak akan bermakna apabila sistem tersebut tidak menyebabkan peningkatan kinerja individu dan organisasi (Markus & Keil, 1994). Sejalan dengan kritik tersebut, maka DeLone dan McLean memperbaharui model kesuksesan sistem informasi mereka dengan memasukkan individual impact dan organizational performance sebagai net benefits (DeLone & McLean, 2003). Indikator yang digunakan untuk mengukur net benefits diadaptasi dari penelitian DeLone dan McLean yaitu penghematan waktu dalam bekerja, meningkatkan kinerja organisasi, efektivitas dalam bekerja, menurunkan tingkat kesalahan atas data, dan memberikan nilai tambah pada organisasi (DeLone & McLean, 2003). Penelitian ini diadaptasi dari The Reformulated D&M IS Success Model (DeLone & McLean, 2003) yang dikombinasikan dengan penelitian Seddon, yaitu Technology Acceptance Model (Davis, 1989). Model penelitian disajikan pada gambar 3.

METODE PENELITIAN Sumber data penelitian terdiri dari data 159

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA primer berupa data jawaban yang diperoleh dari kuesioner yang diisi langsung oleh responden yang menjadi anggota sampel. Kuesioner penelitian dibuat dan disebarkan secara online dengan mempergunakan aplikasi google forms. Data sekunder merupakan data pendukung yang diperoleh dan disajikan oleh pihak-pihak lainnya seperti BPK RI dan BPKP.

menggunakan kuesioner metode pertanyaan tertutup, artinya responden akan memilih salah satu jawaban dari lima pilihan dalam skala Likert. Bentuk pertanyaan dalam kuesioner ini menggunakan pertanyaan yang diadopsi dan dikombinasi dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Andriyani (2011), Istiyana (2014) dan Laksono (2014) serta disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif Kualitas Sistem

H1 H2

Persepsi Kegunaan H5

H3

Persepsi Kemudahan Penggunaan

H10 H6

H7

Kepuasan Pengguna

H9

H8 H4

Kualitas Pelayanan

H11

Kualitas Informasi

Gambar 3. Model Penelitian Keterangan :

Construct dari Model TAM;

Construct dari The Reformulated D&M IS Success Model Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah H1 : Kualitas sistem berpengaruh terhadap persepsi kegunaan. H2: Kualitas sistem berpengaruh terhadap persepsi kemudahan penggunaan. H3: Kualitas informasi berpengaruh terhadap persepsi kegunaan H4: Kualitas informasi berpengaruh terhadap persepsi kemudahan penggunaan. H5: Persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh terhadap persepsi kegunaan. H6: Persepsi kegunaan berpengaruh terhadap kepuasan pengguna. H7: Persepsi kemudahan penggunaan berpengaruh terhadap kepuasan pengguna. H8: Kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kepuasan pengguna. H9: Kepuasan pengguna berpengaruh terhadap net benefits. H10: Kualitas sistem berpengaruh terhadap net benefits. H11: Kualitas sistem berpengaruh terhadap net benefits

160

Net Benefits

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA-BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN... Hari Laksono

Dalam kuesioner terdapat lima klasifikasi jawaban yang diberikan dengan pemberian skor sebagai berikut: sangat setuju (SS) skor 5, setuju (S) skor 4, netral (N) skor 3, tidak setuju (TS) skor 2, dan sangat tidak setuju (STS) skor 1. Populasi dalam penelitian ini adalah pengguna SIMDA BMD terutama pihak pengurus barang di seluruh OPD Pemerintah Kabupaten Grobogan (52 OPD). Sampel penelitian dilakukan secara simple random sampling dari target responden sebanyak 104 orang, yaitu dua orang dari setiap OPD. Teknik penyampelan simple random sampling efektif dan efisien digunakan pada populasi yang bersifat homogen (Abdillah & Jogiyanto, 2015). Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan Partial Least Square (PLS) yang merupakan bagian dari Structural Equation Modelling (SEM). PLS adalah salah satu metode statistika SEM berbasis varian yang didesain untuk menyelesaikan regresi berganda ketika terjadi permasalahan spesifik pada data, seperti ukuran sampel penelitian kecil, adanya data yang hilang (missing values), dan multikolinearilitas (Abdillah & Jogiyanto, 2015). Software yang digunakan dalam penelitian ini adalah software SmartPLS versi 2.0.

HASIL DAN PEMBAHASAN Total responden yang telah mengisi kuesioner secara lengkap sebanyak 87 responden. Data responden terkait informasi demografi memperlihatkan bahwa 57,5% responden adalah laki-laki dan 42,5% perempuan. Pada tingkat pendidikan, sebesar 34,5% SMA, 18,4% D3, 42,5% S1, 4,6% S2. Untuk usia responden <20 tahun sebesar 1,1%, 20-30 tahun sebesar 23%, 31-40 tahun sebesar 46%, 41-50 tahun sebesar 23% dan >50 tahun sebesar 6,9%. Data responden berikutnya terkait dengan pengalaman menggunakan SIMDA BMD dimana terdapat 19,5% telah menggunakan Volume 3, Nomor 2, Jul - Des 2017: 151 - 167

SIMDA BMD sebanyak 1-5 kali, 19,5% telah menggunakan SIMDA BMD sebanyak 6-10 kali, dan lebih dari sepuluh kali sebanyak 60,9%. Evaluasi Model)

Model

Pengukuran

(Outer

Evaluasi model pengukuran (outer model) dilakukan dengan menguji validitas dan reliabilitas dari indikator-indikator pembentuk variabel laten dengan cara Confirmatory Factor Analysis (Abdillah & Jogiyanto, 2015). 1. Validitas Konvergen (Convergent Validity) Uji validitas konstruk secara umum dapat diukur dengan parameter outer loading di model penelitian >0,7 serta nilai Average Variance Extracted (AVE) > 0,5 dan nilai Communality >0,5. Apabila outer loading <0,5 maka indikator dapat dihapus dari konstruknya karena indikator ini tidak termasuk dalam konstruk yang mewakilinya. Apabila outer loading memiliki nilai 0,5-0,7 maka tidak akan dihapus indikatornya sepanjang AVE dan Communality indikator tersebut > 0,5 (Abdillah & Jogiyanto, 2015). Berdasarkan gambar 4 serta tabel 2 diketahui bahwa hasil iterasi algoritma yang menghasilkan nilai loading factor untuk semua indikator memenuhi validitas konvergen (convergent validity) karena tidak ada indikator yang memiliki outer loading <0,5. Selain itu indikator yang memiliki outer loading 0,5-0,7 yaitu KS5 dan PKP4 memiliki nilai AVE dan Communality > 0,5. 2. Validitas Diskriminan (Discriminant Validity) Pengukuran validitas diskriminan dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruknya atau dengan membandingkan akar AVE untuk setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk 161

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA

Gambar 4. Hasil Outer Loading Sumber: Hasil analisa data dengan PLS Tabel 2. Hasil loading factor, nilai AVE dan Communality Hasil loading factor Konstruk Variabel

Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator 1 2 3 4 5

AVE

Communality

Kualitas Sistem (KS)

0,833

0,777

0,843

0,806

0,589

0,600743

0,600743

Persepsi Kemudahan Penggunaan (PKP)

0,820

0,764

0,877

0,519

0,756

0,573192

0,573191

Kualitas Informasi (KI)

0,807

0,863

0,805

0,819

0,769

0,661009

0,661009

Persepsi Kegunaan (PK)

0,774

0,872

0,864

0,875

0,891

0,732927

0,732927

Kepuasan Pengguna (KPsP)

0,765

0,844

0,798

0,869

0,858

0,685552

0,685552

Kualitas Pelayanan (KP)

0,878

0,830

0,870

0,857

0,837

0,730145

0,730145

Net Benefits (NB)

0,780

0,895

0,874

0,921

0,869

0,755120

0,755120

Sumber: Hasil analisa data dengan PLS

dengan konstruk lainnya dalam model penelitian. Model mempunyai validitas diskriminan yang cukup jika akar AVE untuk setiap konstruk lebih besar daripada korelasi antar konstruk dalam model (Abdillah & Jogiyanto, 2015). Tabel 3 memperlihatkan nilai akar AVE > korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya sehingga memperlihatkan validitas diskriminan yang baik. Akar AVE dapat dilihat pada bagian diagonal dengan warna. Reliabilitas (Reliability) Pengujian reliabiltas dilakukan dengan melihat 162

nilai cronbach’s alpha dan nilai composite reliability. Untuk dapat dikatakan suatu kon struk reliabel maka nilai cronbach’s alpha harus > 0,6 dan nilai composite reliability harus > 0,7 (Abdillah & Jogiyanto, 2015). Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai cronbach’s alpha > 0,6 dan composite reliability > 0,7 sehingga semua indikator adalah reliabel. Evaluasi Model Struktural (InnerModel) Model struktural dievaluasi dengan menggunakan R-square untuk variabel dependen, nilai path coefficients (β) atau t-values tiap path untuk menguji signifikansi

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA-BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN... Hari Laksono

Tabel 3. Nilai Akar AVE terhadap Korelasi Konstruk Konstruk

KPsP

KI

KP

KS

NB

PK

PKP

KPsP

0,8279

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

KI

0,8032

0,8130

0,000

0,000

0,000

0,000

0,000

KP

0,7035

0,6791

0,8544

0,000

0,000

0,000

0,000

KS

0,7254

0,8012

0,6428

0,7750

0,000

0,000

0,000

NB

0,8149

0,7192

0,6387

0,6702

0,8689

0,000

0,000

PK

0,8017

0,7474

0,6758

0,7045

0,7949

0,8561

0,000

PKP

0,7515

0,7704

0,6519

0,6918

0,6348

0,7289

0,7570

Sumber: Hasil analisa data dengan PLS Tabel 4. Nilai Composite Reliability, Cronbach’s Alpha dan R-square Variabel

Composite Reliability

Cronbach’s Alpha

Nilai R-square

KPsP

0,915799

0,884664

0,776171

KI

0,906856

0,871643

0

KP

0,931140

0,907539

0

KS

0,881157

0,828245

0

NB

0,938919

0,918006

0,721399

PK

0,931923

0,908117

0,630091

PKP

0,867369

0,808781

0,602641

Sumber: Hasil analisa data dengan PLS

antar konstruk dalam model struktural. Semakin tinggi nilai R-square, maka semakin besar variabel independen tersebut dapat menjelaskan variabel dependen, sehingga semakin baik persamaan struktural (Yamin & Kurniawan, 2011). Pada tabel 4 menunjukkan R-square. Konstruk net benefits sebagai indikator kesuksesan sistem informasi memiliki R-square sebesar 0,721399 yang berarti bahwa variasi pada konstruk net benefits dapat dijelaskan oleh konstruk kepuasan pengguna, kualitas informasi, kualitas pelayanan, kualitas sistem, persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan sebesar 72,13%, sedangkan 27,87% lainnya dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Hasil Analisis Data Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan tingkat signifikansi (significant level) 5% dan tingkat keyakinan (confidence level) 95%. Nilai t-tabel dengan tingkat Volume 3, Nomor 2, Jul - Des 2017: 151 - 167

signifikansi 95% untuk hipotesis dua ekor (two tailed) adalah ≥ 1,963 (Yamin & Kurniawan, 2011). Hipotesis akan diterima jika nilai t-statistics ≥ nilai t-tabel. Tabel 5 memperlihatkan hasil path coefficients dan t-statistics. Hasil pengolahan SmartPLS menunjukkan bahwa H1 dan H2 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas sistem berpengaruh langsung dan signifikan secara positif terhadap persepsi kegunaan SIMDA BMD dan persepsi kemudahan penggunaan. Hasil hipotesis ini menunjukkan bahwa kehandalan, akurasi data, waktu respon dan turnover cepat, kemudahan penggunaan dan konektivitas antar bagian pada SIMDA BMD menjadi pendorong kepercayaan pengguna untuk terus menggunakannya dan pengguna mempercayai bahwa sistem tersebut sangat membantu dan tidak membebani. Hasil tersebut mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Laksono (2014). H3 dan H4 diterima dengan signifikansi 163

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA Tabel 5. Analisis T-statistic Path Coefficients Hipotesis Path / Jalur

Hipotesis

Dari

Ke

t-statistics (|O/STERR|)

Hasil Pengujian α = 5%

H1

Kualitas Sistem

Persepsi Kegunaan

3,405431

Signifikan

H2

Kualitas Sistem

Persepsi Kemudahan Penggunaan

2,683741

Signifikan

H3

Kualitas Informasi

Persepsi Kegunaan

4,424724

Signifikan

H4

Kualitas Informasi

Persepsi Kemudahan Penggunaan

10,682403

Signifikan

H5

Persepsi Kemudahan Penggunaan

Persepsi Kegunaan

5,668355

Signifikan

H6

Persepsi Kegunaan

Kepuasan Pengguna

13,328507

Signifikan

H7

Persepsi Kemudahan Penggunaan

Kepuasan Pengguna

5,308500

Signifikan

H8

Kualitas Pelayanan

Kepuasan Pengguna

3,395951

Signifikan

H9

Kepuasan Pengguna

Net Benefits

16,727553

Signifikan

H10

Kualitas Sistem

Net Benefits

1,328657

Tidak Signifikan

H11

Kualitas Informasi

Net Benefits

0,734433

Tidak Signifikan

Sumber: Hasil olah data

dengan t-statistics lebih besar dari t-tabel sehingga kualitas informasi memengaruhi persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas informasi SIMDA BMD yang berhubungan dengan keakuratan, tepat waktu, kegunaan informasi, mudah dipahami dan kelengkapan dapat menjadi pendorong kepercayaan pengguna untuk terus menggunakannya dan bahwa sistem tersebut sangat membantu dan tidak membebani. Pengujian hipotesis terkait pengaruh persepsi kemudahan penggunaan terhadap persepsi kegunaan (H5) diterima. Hal ini membuktikan bahwa Persepsi Kemudahan Penggunaan SIMDA BMD yang berhubungan dengan kemudahan dipelajari, kemudahan akses, kemudahan dipahami, penggunaan yang fleksibel dapat menjadi pendorong kepercayaan pengguna untuk terus menggunakannya. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian Laksono (2014) dan Nussy dan Tanaamah (2015). Sedangkan persepsi kegunaan terhadap kepuasan pengguna (H6) juga diterima. Penggunaan SIMDA BMD yang membantu untuk bekerja lebih cepat, meningkatkan performa pekerjaan serta produktivitas, efektif, membuat pekerjaan lebih mudah serta bermanfaat akan memberikan kepuasan bagi pengguna. 164

H7 diterima terlihat dalam tabel 5 dengan signifikansi nilai t-statistics sebesar 5,3085. Persepsi kemudahan penggunaan memengaruhi kepuasan pengguna. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi kemudahan penggunaan SIMDA BMD yang berhubungan dengan kemudahan dipelajari, kemudahan akses, kemudahan dipahami, penggunaan yang fleksibel, dan kemudahan penggunaan dapat menjadi pendorong kepuasan pengguna. Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pengguna SIMDA BMD menunjukkan nilai t-statistics sebesar 3,395951 sehingga H8 diterima. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh langsung kualitas pelayanan yang signifikan secara positif terhadap kepuasan pengguna SIMDA BMD. Hal ini menunjukkan bahwa sistem yang diimplementasikan apabila didukung pelayanan yang cepat, pengetahuan yang baik, sikap peduli, memberi solusi atas permasalahan, dan dibekali perlengkapan yang memadai maka akan menentukan kepuasan pengguna. Pengaruh langsung kepuasan pengguna terhadap net benefits juga menunjukkan nilai t-statistics yang lebih besar dari t-tabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa H9 diterima. Hasil ini mengindikasikan bahwa kepuasan pengguna atas SIMDA BMD berpengaruh secara signifikan terhadap penghematan waktu

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA-BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN... Hari Laksono

dalam bekerja, peningkatan kinerja organisasi, efektivitas dalam bekerja, menurunkan tingkat kesalahan atas data, dan memberikan nilai tambah organisasi. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa hubungan kualitas sistem terhadap net benefits memiliki nilai t-statistics dibawah nilai 1,963 sehingga dianggap tidak signifikan. Hasil pengujian tersebut menyatakan bahwa H10 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kualitas sistem yang berhubungan dengan kehandalan, akurasi data, waktu respon dan turnover cepat, kemudahan penggunaan dan konektivitas antar bagian tidak berpengaruh secara signifikan terhadap net benefits. Hasil analisis deskriptif terkait dengan hipotesis 10 diketahui bahwa konektivitas SIMDA BMD antar OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Grobogan belum dapat dilakukan sinkronisasi secara online seluruhnya terutama untuk pengguna SIMDA BMD di sekolahsekolah yang terkendala jarak yang cukup jauh sehingga untuk konsolidasi data SIMDA BMD masih dilakukan secara offline yaitu dengan menggunakan flash disk. Selain itu, seringkali saat SIMDA BMD diakses oleh banyak OPD secara bersamaan maka server SIMDA BMD menjadi down sehingga waktu respon sistem menjadi lama. Proses konsolidasi data SIMDA BMD yang belum dilakukan secara online seluruhnya dan server yang sering down membuat net benefits penggunaan SIMDA BMD Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk aspek penghematan waktu dan efektivitas dalam bekerja belum optimal. Hasil pengujian H11 mengenai hubungan kualitas informasi terhadap net benefits juga menghasilkan nilai t-statistics yang lebih kecil dari t-tabel sehingga H11 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kualitas informasi yang berhubungan dengan keakuratan, ketepatan waktu, kegunaan informasi, kemudahan dipahami dan kelengkapan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap net benefits. Kualitas informasi tersebut tidak Volume 3, Nomor 2, Jul - Des 2017: 151 - 167

memengaruhi penghematan waktu dalam bekerja, peningkatan kinerja organisasi, efektivitas dalam bekerja, menurunkan tingkat kesalahan data, dan memberikan nilai tambah organisasi. Hasil analisis deskriptif terkait dengan H11 diketahui bahwa peng-inputan data aset di SIMDA BMD harus secara detail dan jelas klasifikasi asetnya baik tahun perolehan, nilai aset, spesifikasi aset, nomor inventaris, jenis aset, serta nilai kapitalisasi aset tetap. Data aset-aset yang baru relatif lebih mudah untuk didapatkan namun untuk penginputan data aset-aset yang lama perlu dilakukan inventarisasi secara periodik. Proses penginputan data aset yang tidak lengkap tersebut yang membuat keakuratan dan kelengkapan dalam kualitas informasi SIMDA BMD belum dapat dipenuhi sehingga belum menjadi pendorong net benefits dari penggunaan SIMDA BMD pada Pemerintah Kabupaten Grobogan.

KESIMPULAN Hasil evaluasi kesuksesan penggunaan SIMDA BMD dalam penatausahaan aset pada Pemerintah Kabupaten Grobogan dengan menggunakan model kesuksesan sistem informasi gabungan antara model kesuksesan Updated Delone McLean Information System dan TAM dapat diketahui bahwa persepsi kegunaan dalam penggunaan SIMDA BMD dipengaruhi oleh kualitas sistem, kualitas informasi dan persepsi kemudahan penggunaan. Sedangkan kepuasan pengguna dalam menggunakan SIMDA BMD dipengaruhi oleh persepsi kegunaan, kemudahan penggunaan, dan kualitas pelayanan. Kepuasan pengguna tersebut akan berpengaruh terhadap net benefits. Namun kualitas sistem dan kualitas informasi yang berpengaruh terhadap persepsi kemudahan penggunaan SIMDA BMD tidak berpengaruh secara langsung terhadap net benefits penggunaan SIMDA BMD di Kabupaten Grobogan. Secara umum dapat disimpulkan bahwa penggunaan SIMDA BMD 165

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA dalam penatausahaan aset oleh Pemerintah Kabupaten Grobogan dikategorikan baik karena dinilai dari sebagian besar variabel telah memberikan kepuasan bagi pengguna dan memberikan net benefits bagi Pemerintah Kabupaten Grobogan. Secara umum penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya, bahwa kualitas sistem, kualitas informasi dan persepsi kemudahan penggunaan mendorong penggunaan SIMDA BMD. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk Pemerintah Kabupaten Grobogan untuk meningkatkan kualitas sistem terutama terkait dengan waktu respon dan konektivitas antar bagian serta meningkatkan kualitas informasi terutama terkait dengan keakuratan dan kelengkapan data sehingga dapat berpengaruh secara signifikan terhadap net benefits. Langkah-langkah perbaikan yang diharapkan dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Grobogan antara lain melakukan peningkatan konektivitas antar bagian dan peningkatan kemampuan server SIMDA BMD untuk meningkatkan kualitas sistem SIMDA BMD serta melakukan inventarisasi secara periodik atas kelengkapan data-data aset untuk meningkatkan kualitas informasi SIMDA BMD.

DAFTAR PUSTAKA Abdillah, W., & Jogiyanto. (2015). Partial Least Square (PLS) alternatif Structural Equation Modelling (SEM) dalam penelitian bisnis. Yogyakarta: Penerbit Andi. Andriyani, D. (2011). Analisis kesuksesan implementasi sistem informasi manajemen pemeriksaan di BPK RI dengan model kesuksesan DeLone dan McLean modifikasian (Tesis). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. BPK. (2017a). Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2016. 166

Jakarta: BPK. BPK. (2017b). Laporan Hasil Pemeriksaan LKPD Kabupaten Grobogan TA 2016. Semarang: BPK. BPKP.

(2010). Pedoman Pengoperasian SIMDA Pengelolaan Barang Milik Daerah. Jakarta: Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.

BPKP.

(2017). Pedoman Pengoperasian Aplikasi SIMDA BMD versi 2.0.7. Jakarta: Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.

Budiriyanto, E. (2013). Kajian legal Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD). Diakses dari www.djpk.kemenkeu. go.id. Davis,

F. (1989). Perceived usefulness, perceived ease of use, and user acceptance of information technology. MIS quarterly, 13(3), 319-340.

DeLone, W., & McLean, E. (1992). Information system success: The quest for the dependent variable. Information System Research, 3. DeLone, W., & McLean, E. (2003). The DeLone and McLean model of information systems success: A Ten year update. Journal of Management Information Systems, 19, 9-30. Istiyana, A. N. (2014). Evaluasi kesuksesan Smartone pada PT PLN Persero. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Ives, B., Olson, M. H., & Baroudi, J. J. (1983). The Measurement of user information satisfaction. Communications of The ACM, 26(10), 785-793. Jogiyanto, H. (2005). Sistem teknologi informasi pendekatan terintegrasi: Konsep dasar, teknologi, aplikasi, pengembangan dan pengelolaan. Yogyakarta: Penerbit Andi.

EVALUASI KESUKSESAN SIMDA-BMD PADA PEMERINTAH KABUPATEN GROBOGAN MENGGUNAKAN... Hari Laksono

Jogiyanto, H. (2007). Model kesuksesan sistem informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi. Kementerian Dalam Negeri. (2016). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah. Jakarta: Kementerian Dalam Negeri. Laksono, H. (2014). Evaluasi kesuksesan SIMDA-BMD pada Pemerintah Kabupaten Klaten (Tesis). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2005). Sistem informasi manajemen, mengelola perusahaan digital. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Seddon, P. (1997). A Respectification and extension of the DeLone and McLean Model of IS success. Information System Research, 8(3). Tim Aplikasi SIMDA. (2017). Pengenalan Sistem Informasi Manajemen Daerah (SIMDA). Diakses dari www.bpkp. go.id/sakd/konten/333/Versi-2.1.bpkp Wixom, B., & Watson, H. (2001). An empirical investigation of the factors affecting data warehousing success. MIS Quarterly, 27, 17-41. Yamin, S., & Kurniawan, H. (2011). Partial least square path modelling. Jakarta: Salemba Infotek.

Livari, J. (2005). An empirical test of the DeLone McLean Model of information systems success. Database for Advance in Information System (DFA), 36. Markus, M. L., & Keil, M. (1994). If we build it, they will come: Designing information systems that people want to use. Sloan Management Review, 11. Nussy, L. P., & Tanaamah, A. R. (2015). Evaluasi tingkat penerimaan dan penggunaan aplikasi SIMDA menggunakan Technology Acceptance Model pada Kantor Bupati Kabupaten Maluku Tengah. Seminar Nasional Teknologi Informasi. O’Brien, J. (2004). Management information system: managing information in the business enterprise 6th Edition. New York: The McGraw Hill Companies, Inc. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Volume 3, Nomor 2, Jul - Des 2017: 151 - 167

167

JURNAL TATA KELOLA & AKUNTABILITAS KEUANGAN NEGARA

168