HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP …

dalam konteks kehidupan sehari-hari, guru mengajarkan matematika dengan materi dan metode yang tidak menarik, dimana guru menerangkan atau sementara s...

0 downloads 55 Views 48KB Size
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 18 SEMARANG (Muji Astuti, Dra. Siswati M.Si, Imam Setyawan, S.Psi, M.A) Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Abstrack Mathematics is one of the subjects are given in all schools, both primary education and secondary education, including at the Junior Secondary School (SMP). The importance of tenure and number of beneficiaries in the field of mathematics makes a lot of parties to pay attention to the process of mastery of mathematics in the context of education. Schools have a responsibility to help students develop positive responses to the math lesson, one way that can be done is to adopt a Contextual Teaching and Learning (CTL). The implementation of (CTL), will be perceived by students, primarily seventh graders. Students will evaluate and interpret these Contextual Teaching and Learning, the results will affect the interpretation of which owned an interest and student behavior. Students with high perceptions of CTL means it has an interest and a positive assessment of CTL. Positive assessment of Contextual Teaching and Learning raises student interest in learning mathematics. Interest in learning will encourage students to focus all his attention on matters related to learning mathematics. The population in this study is the seventh-grade students of SMP Negeri 18 Semarang, which numbered 240 students. The sampling technique using cluster random sampling technique. Measuring instrument in this research is Contextual Teaching and Learning Perceptions Scale with a reliability coefficient of 0.938 and Interest in Mathematics Learning Scale reliability coefficient of 0.931. The results of this study were analyzed using simple regression analysis techniques. The results of this study is, perceptions of Contextual Teaching and Learning has a strong correlation with the interests in mathematics learning (rxy=0.772) with the effective contribution of 59.6%. So, the hypothesis expressing that there is a positive correlation between perception of Contextual Teaching and Learning with Interest in Mathematics Learning at seventh-grade of SMP Negeri 18 Semarang is proven (the hypothesis was accepted). Keywords: Perception, Contextual Teaching and Learning, Interest in Mathematics Learning.

PENDAHULUAN Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang disediakan bagi para siswa untuk menuntut ilmu. Selama belajar di sekolah, para siswa diwajibkan untuk mengikuti semua mata pelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan. Salah satu mata pelajaran yang diberikan di semua sekolah, baik di jenjang pendidikan dasar maupun pendidikan menengah, termasuk pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah matematika. Pentingnya penguasaan dan banyaknya manfaat di bidang matematika membuat banyak pihak menaruh perhatian terhadap proses penguasaan matematika dalam konteks pendidikan. Semua pihak berupaya agar siswa dapat menguasai matematika. Ironisnya banyak siswa takut akan pelajaran matematika. Nawangsari (2007, h.4) menyatakan bahwa matematika sejak dulu memang dianggap oleh siswa sebagai pelajaran yang sulit dan menakutkan. Karakteristik matematika yang abstrak dan sistematis menjadi salah satu alasan sulitnya siswa mempelajari

matematika

serta

menjadikan

kurang

berminat

dalam

mempelajarinya. Firngadi (1997, h.8) menambahkan bahwa matematika merupakan salah satu pelajaran yang menurunkan semangat siswa. Matematika telah diberi label negatif dikalangan siswa, yaitu sebagai pelajaran yang sulit, menakutkan, dan membosankan, sehingga menimbulkan minat yang rendah untuk belajar. Agar image negatif siswa pelajaran matematika dapat berkurang, maka dibutuhkan ketertarikan dan rasa senang siswa dalam mempelajari matematika, yang sering disebut dengan minat belajar matematika. Minat belajar matematika

merupakan faktor penting dalam menunjang siswa untuk dapat memperoleh prestasi yang maksimal pada pelajaran matematika. Anastasi & Urbina (1997, h.29) menyatakan bahwa minat mempengaruhi perilaku manusia, diantaranya dalam hubungan interpersonal, prestasi pendidikan dan

pekerjaan, serta

pemilihan aktivitas di waktu senggang. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah (Dalyono, 1997, h.57). Individu cenderung memberikan perhatian yang lebih besar terhadap bidang-bidang yang diminatinya. Rendahnya minat siswa Indonesia untuk mempelajari matematika ditunjukkan dengan rendahnya prestasi yang diraih oleh siswa Indonesia. Data dari UNESCO menyatakan bahwa peringkat matematika siswa Sekolah Menengah Pertama Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara (Asosiasi Guru Matematika Indonesia, 2008, h.1). Minat belajar yang dimiliki oleh siswa tidak lepas dari faktor sekolah sebagai lingkungan belajar, karena minat berkaitan dengan kepuasan yang dimiliki siswa terhadap sekolahnya. Hurlock (1999, h.141-142) mengemukakan bahwa terdapat berbagai cara anak menunjukkan sikap mereka terhadap sekolah ketika sekolah mereka pandang sebagai hal yang tidak menguntungkan, beberapa diantaranya dapat dilihat dari merosotnya minat yang menimbulkan kebosanan, dan prestasi yang menurun. Dalyono (1997, h.59) mengemukakan bahwa keadaan sekolah tempat belajar turut mempengaruhi tingkat keberhasilan belajar. Kualitas guru, metode

mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas atau perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan, dan jumlah murid per kelas. Laporan Hasil Seminar dan Lokakarya Pembelajaran Matematika yang dilakukan pada tahun 2007 (Shadiq, h.2) menyatakan bahwa rendahnya minat siswa Indonesia dalam mempelajari matematika karena materi yang diajarkan kurang kontekstual, sedikit atau sama sekali tidak ada penekanan matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari, guru mengajarkan matematika dengan materi dan metode yang tidak menarik, dimana guru menerangkan atau sementara siswa mencatat. Muslich (2009, h.40) menambahkan bahwa tidak adanya penekanan pengajaran dalam konteks kehidupan menyebabkan sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara materi yang mereka pelajari dengan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Pemahaman akademik yang siswa peroleh masih bersifat abstrak, dan belum menyentuh kebutuhan praktis dan aplikasinya dalam kehidupan nyata. Hasil dari Seminar Seminar dan Lokakarya Pembelajaran Matematika (Shadiq, h.3) tersebut juga menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan metode pembelajaran yang tepat diterapkan dalam penyampaian materi matematika bagi siswa Indonesia. Muslich, (2009, h.30) menyatakan bahwa salah satu metode pembelajaran yang disarankan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual dianggap memiliki potensi untuk menumbuhkan minat siswa dalam belajar karena memiliki suasana belajar yang disenangi oleh siswa, terutama pada pelajaran matematika yang selama ini dianggap menakutkan dan

menegangkan. Karakterisrik pembelajaran kontekstual (Nurhadi dalam Muslich, 2009, h.42) adalah: kerjasama, saling menunjang, menyenangkan, tidak mebosankan, belajar dengan bergairah, pembelajaran terintegrasi, menggunakan berbagai sumber, siswa aktif, sharing dengan teman, siswa kritis dan guru kreatif. Penggunaan pembelajaran kontekstual dalam kegiatan belajar matematika, akan dipersepsi oleh siswa. Siswa akan memberikan persepsi yang berbeda-beda terhadap pembelajaran kontekstual. Persepsi siswa terhadap metode pembelajaran yang dipakai dapat menentukan minat dan perilaku siswa pada saat mengikuti kegiatan belajar. Berdasar uraian yang telah dikemukakan di atas, maka melalui penelitian ini ingin diketahui apakah persepsi siswa terhadap pembelajaran kontekstual berhubungan dengan minat belajar matematika siswa kelas tujuh. Penelitian akan dilaksanakan di SMP Negeri 18 Semarang, karena SMP Negeri 18 Semarang merupakan sekolah yang sudah menerapkan pembelajaran kontekstual dalam kegiatan pembelajarannya.

METODE PENELITIAN Identifikasi Variabel Penelitian 1. Variabel Kriterium

: Minat Belajar Matematika.

2. Variabel Prediktor

: Persepsi terhadap Pembelajaran Kontekstual.

Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Minat Belajar Matematika Minat belajar matematika merupakan perhatian, dan kesukaan pada matematika sehingga menimbulkan keingintahuan, ketertarikan, serta keinginan untuk ikut serta dalam belajar matematika. Minat belajar matematika akan diungkap menggunakan Skala Minat Belajar matematika berdasar aspek minat menurut Silvia, yaitu keingintahuan (curiosity), keterbukaan terhadap pengalaman (openess to experience), dorongan mencari sensasi (sensation seeking), kecenderungan bosan (boredom propeness), keluasan minat (breadth of interest). 2. Persepsi terhadap Pembelajaran Kontekstual Persepsi terhadap pembelajaran kontekstual adalah penilaian, pemahaman, dan perasaan siswa terhadap konsep pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata yang terwujud dalam bentuk konstruktivisme, penemuan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, serta penilaian nyata. Persepsi terhadap pembelajaran kontekstual diungkap dengan skala yang disusun berdasarkan aspek persepsi dari Coren yang terdiri dari aspek kognisi, dan aspek afeksi. Aspek persepsi tersebut akan digabungkan dengan tujuh komponen pembelajaran kontekstual dari Muslich.

Metode Pengumpulan Data Populasi dalam penelitian ini adalah 240 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan cluster random sampling. Sistem cluster random sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan jalan memilih sampel berdasarkan kelompoknya, bukan pada individunya (Winarsunu, 2002, h.16). Skala psikologis yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah dua skala yaitu skala minat belajar matematika dan skala persepsi terhadap pembelajaran kontekstual. Kedua skala ini menggunakan skala Likert dengan empat pilihan respon, yaitu SS (sangat sesuai), S (sesuai), TS (tidak sesuai), dan STS (sangat tidak sesuai). Respon dari item favourable memiliki bobot nilai empat untuk respon SS (sangat sesuai), tiga untuk respon S (sesuai), dua untuk respon TS (tidak sesuai), dan satu untuk respon STS (sangat tidak sesuai). Respon unfavourable akan memiliki bobot nilai satu untuk respon SS (sangat sesuai), dua untuk respon S (sesuai), tiga untuk respon TS (tidak sesuai), dan empat untuk respon STS (sangat tidak sesuai). 1.

Skala Minat Belajar Matematika Aitem-aitem dalam skala ini disusun berdasarkan aspek minat menurut Silvia (2006, h. 4) yang dihubungkan dengan belajar matematika, yaitu: a. Keingintahuan(curiosity) Kengintahuan siswa terhadap kegiatan belajar matematika ialah keinginan siswa untuk lebih mengenal matematika. Keingintahuan tersebut

mendorong siswa untuk mencari tahu informasi dan pengalaman baru tentang matematika yang belum siswa ketahui. b. Keterbukaan terhadap pengalaman(openness to experience) Keterbukaan terhadap pengalaman belajar matematika ialah siswa berpandangan terbuka terhadap pengalaman dan ide baru yang belum diketahuinya. Keterbukaan terhadap pengalaman yang dimiliki siswa, antara lain diwujudkan dalam bentuk keinginan untuk mempelajari matematika secara lebih lanjut. c.

Dorongan mencari sensasi(sensation seeking) Dorongan mencari sensasi pada kegiatan belajar matematika ialah siswa terlibat pada pengalaman belajar matematika yang lebih bervariasi. Siswa yang memiliki sensation seeking tinggi, berani meluangkan waktu yang lebih untuk terlibat pada kegiatan tersebut. Siswa juga berani mengambil resiko secara fisik, dan sosial untuk mengikuti pengalaman baru tersebut.

d.

Kecenderungan bosan(boredom propeness) Kecenderungan bosan dalam belajar matematika ialah siswa tetap menampilkan kebosanan.

kemampuan Siswa

tetap

terbaik

meskipun

memperhatikan

sedang

materi

yang

mengalami diajarkan,

mengerjakan tugas dengan baik, mempertahankan konsentrasinya dalam mengikuti kegiatan belajar matematika.

e. Keluasan minat (breadth of interest) Keluasan minat dalam belajar matematika adalah siswa mencari pengalaman yang bervariasi dan tidak hanya mempelajari materi yang disukainya saja. Siswa yang memiliki keluasan minat belajar akan mempelajari dengan sungguh-sungguh semua materi yang berkaitan dengan matematika. 2. Skala Persepsi terhadap Pembelajaran Kontekstual Aitem-aitem skala Aitem-aitem dalam skala ini disusun berdasarkan aspek-aspek persepsi terhadap pembelajaran kontekstual yang merupakan kombinasi antara aspek persepsi dan komponen pembelajaran kontekstual, yaitu: a. Kognisi terhadap pembelajaran kontekstual Secara kognisi, siswa akan memandang, menafsirkan, dan menilai kemampuannya dalam melakukan konstruktivisme, penemuan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, serta penilaian nyata. b. Afeksi terhadap pembelajaran kontekstual Aspek afeksi meliputi perasaan siswa mengenai kemampuan dan ketrampilannya dalam melakukan konstruktivisme, penemuan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, serta penilaian nyata. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan adalah uji reliabilitas, uji daya beda aitem, uji validitas, uji asumsi yaitu uji linearitas dan normalitas, serta uji analisis data, yaitu analisis regresi sederhana. Penelitian ini menggunakan analisis statistik

dengan program komputer SPSS For Windows versi 15.0. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis dan Interpretasi Data 1. Uji Normalitas Berdasarkan uji normalitas dengan menggunakan teknik KolmogorovSmirnorv, dapat diketahui bahwa variabel persepsi terhadap pembelajaran kontekstual memiliki signifikansi nilai Kolmogorov-Smirnorv sebesar 0,861 dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,448 (p>0,05). Hasil p>0,05 menunjukkan bahwa persebaran data variabel persepsi terhadap pembelajaran kontekstual bersifat normal. Hasil uji normalitas variabel minat belajar matematika menunjukkan hasil signifikansi Kolmogorov-Smirnorv sebesar 0,846 dengan nilai probabilitas (p) sebesar 0,471 (p>0,05). Hasil p>0,05 menunjukkan bahwa persebaran data variabel minat belajar matematika bersifat normal. 2. Uji Linieritas Berdasarkan uji linearitas hubungan antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan minat belajar matematika, dapat diketahui nilai F= 205,032 dengan nilai p= 0,000 (p<0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan kedua variabel adalah linier. 3. Uji Hipotesis Dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa hasil perhitungan uji hipotesis menunjukkan skor korelasi sebesar rxy= 0,772. Nilai r xy yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi siswa terhadap pembelajaran

kontekstual, semakin tinggi pula minat belajarnya pada matematika. Nilai rxy= 0,772 mengandung arti bahwa hubungan antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dan minat belajar matematika adalah kuat, definisi kuat jika r xy berada di antara 0,601- 0,800 (Triton, 2006, h.92). HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian mengenai hubungan antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan minat belajar matematika pada siswa kelas tujuh SMP Negeri 18 Semarang menunjukkan hasil koefisien korelasi r xy=0,772 dan tingkat signifikansi korelasi p=0,000 (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi terhadap pembelajaran kontekstual merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi minat belajar matematika siswa kelas tujuh SMP Negeri 18 Semarang.

Sumbangan

efektif

yang

diberikan

oleh

persepsi

terhadap

pembelajaran kontekstual pada minat belajar matematika adalah sebesar 59,6%. Nilai 59,6% diketahui dari R square hasil pengolahan data penelitian sebesar 0,596, artinya variabel persepsi terhadap pembelajaran kontekstual mempengaruhi minat belajar matematika sebesar 59,6%, sedangkan 40,4% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini. Berdasarkan

hasil

penelitian

diketahui

bahwa

persepsi

terhadap

pembelajaran kontekstual adalah salah satu faktor yang mempengaruhi minat belajar matematika. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Carmichael (2009, h.375) menyatakan bahwa minat siswa dalam belajar matematika dipengaruhi oleh pengetahuan siswa tentang matematika, perasaan nyaman siswa terhadap matematika, dan persepsi siswa terhadap metode yang digunakan guru dalam

mengajar matematika. Hastuti (2004, h.85) di dalam penelitiannya menyatakan bahwa persepsi siswa terhadap metode mengajar guru mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap minat belajar matematika. Persepsi positif terhadap cara yang digunakan guru dalam menyampaikan materi menjadikan siswa mempunyai ketertarikan untuk mengikuti pelajaran. Persepsi positif terhadap pembelajaran sangat diperlukan, terutama pada pelajaran matematika yang masih memiliki image sebagai pelajaran yang sulit. Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di sekolah, matematika merupakan pelajaran yang dianggap paling sulit bagi siswa (Abdurrahman, 2003, h.252). Persepsi positif terhadap pembelajaran kontekstual yang siswa miliki akan menimbulkan kenyamanan siswa untuk melakukan kegiatan belajar matematika, sehingga siswa merasa senang untuk mengikuti pelajaran dan materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Persepsi negatif siswa terhadap pembelajaran kontekstual akan menimbulkan suasana belajar yang tidak menyenangkan bagi siswa, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi tidak kondusif. Siswa menjadi tidak berminat terhadap materi yang diajarkan, dan akhirnya siswa tidak mencapai keberhasilan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap pembelajaran kontekstual rata-rata berada pada kategori positif. Sebanyak 83 siswa (58,45%) memiliki persepsi pada kategori positif dengan nilai rata-rata atau mean sebesar 139,70. Rayner (2005, h.171) menyatakan bahwa penggunaan CTL sukses digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu siswa memiliki persepsi positif saat CTL digunakan, serta menciptakan hasil akhir belajar yang tinggi.

Semakin positifnya persepsi terhadap pembelajaran kontekstual akan diikuti dengan semakin kuatnya minat belajar matematika siswa. Minat belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 18 Semarang rata-rata berada pada kategori tinggi. Sebanyak 89 siswa (62,67%) memiliki mean sampel penelitian sebesar 107,08. Minat belajar pada kategori tinggi menunjukkan bahwa siswa memiliki ketertarikan dan rasa keingintahuan untuk mempelajari matematika. Ketertarikan tersebut diwujudkan dengan mengenal obyek secara lebih baik dari segi nilai, sifat maupun manfaatnya. Keingintahuan yang dimiliki individu akan menimbulkan dorongan belajar. Dorongan untuk belajar selalu ditandai dengan adanya keingintahuan, melatih dan mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya (Purwanto, 2007, h.33). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 19 siswa (13,38%) memiliki persepsi yang sangat positif terhadap pembelajaran kontekstual. Persepsi yang sangat positif terhadap pembelajaran kontekstual adalah siswa mempunyai penilaian dan perasaan yang sangat positif mengenai kegiatan belajar yang ada. Persepsi sangat positif membuat siswa terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar yang berlangsung. Berdasar hasil respon penelitian sebanyak 15 siswa (10,56%) memiliki minat belajar matematika yang sangat tinggi. Siswa dengan minat belajar siswa yang sangat tinggi memiliki kecenderungan bahwa siswa memiliki keingintahuan, keterbukaan terhadap pengalaman, dorongan mencari sensasi, kecenderungan bosan, dan keluasan minat pada matematika yang sangat tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 40 siswa (28,17%) memiliki persepsi yang netral terhadap pembelajaran kontekstual. Persepsi netral terhadap pembelajaran kontekstual mempunyai maksud bahwa siswa tidak mempunyai penilaian yang positif maupun negatif terhadap pembelajaran kontekstual. Siswa merasa biasa-biasa saja dengan metode yang digunakan guru ketika mengajar. Siswa dengan persepsi netral, tahu semua tahap yang ada dalam kegiatan pembelajaran kontekstual, serta tahu standar kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa di dalam pembelajaran kontekstual, tetapi siswa kurang tertarik dengan situasi belajar yang ada. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan positif antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan minat belajar matematika pada siswa kelas tujuh SMP Negeri 18 Semarang. Adanya hubungan positif tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan ada hubungan positif antara persepsi terhadap pembelajaran kontekstual dengan minat belajar matematika pada siswa kelas tujuh SMP Negeri 18 Semarang diterima. Berdasarkan hasil penelitian, saran-saran yang dapat dikemukakan adalah : 1.

Bagi siswa kelas VII SMP Negeri 18 Semarang Siswa diharapkan dapat menumbuhkan persepsi positif terhadap pembelajaran kontekstual. Persepsi positif terhadap pembelajaran kontekstual diharapkan dapat semakin menumbuhkan minat belajar siswa, sehingga pelaksanaan kegiatan belajar dapat berjalan sesuai tujuan. Siswa juga

diharapkan dapat meningkatkan keinginan untuk belajar matematika dan aktif dalam kegiatan belajar. 2. Bagi pihak sekolah Hasil penelitian diharapakan dapat menjadi masukan agar pihak sekolah dapat terus menerapkan pembelajaran kontekstual dalam kegiatan belajar matematika, karena siswa memiliki respon positif dan memiliki minat belajar yang tinggi ketika pembelajaran kontekstual diterapkan dalam kegiatan belajar. Guru diharapkan dapat menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran yang dapat meningkatkan minat siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Pihak sekolah juga diharapkan dapat menerapkan kebijakan dalam meningkatkan kompetensi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran kontekstual, misalnya dengan memberikan pelatihan. 3.

Bagi peneliti selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti minat belajar matematika, diharapkan dapat mempertimbangkan faktor-faktor lain yang belum diungkap dalam penelitian ini. Penelitian juga dapat dikembangkan dengan populasi yang lebih luas. Penelitian lain terkait dengan pembelajaran kontekstual, dapat dilakukan dengan melakukan eksperimen terhadap efiktifitas

metode

pembelajaran

kontekstual

dalam

mempengaruhi

kemampuan siswa dalam memahami dan mengaplikasikan pelajaran matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, M. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Aiken, L. R. & Groth-Marnat, G. 2009. Pengetesan dan Pemeriksaan Psikologi. Jilid II. Penerjemah: Hartati Widiastuti. Jakarta: Indeks. Anastasi, A. & Urbina, S. 1997. Psychological Testing. 7 th Edition. New Jersey: Prentice Hall. Angelika, A.B. 2001. Interest-Dense Situations and Their Mathematical Valences. Journal für Mathematikdidaktik, 22 Jg., Heft 3/4, 2001:179 – 206. Asosoasi Guru Matematika Indonesia. 2008. Rendah, Prestasi Matematika Indonesia. http://www.agmi.or.id http://docs.google.com/gview?a=v&q= cache:flw7Aki430UJ:www.agmi.or.id/index2.php%3Foption%3Dcom_co ntent%26do_pdf%3D1%26id%3D21+rendah,+prestasi+matematika+di +indonesia&hl=en Atmaja, Ketut. 2002. Minat Warga Belajar Program Kejar Paket A Terhadap Rencana Pelaksanaan Program Kejar Paket B. Jurnal Pendidikan, No.13 September. Hal. 77-84. Azwar, S. 2008. Validitas dan Reliabilitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. _______. 2004. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. _______. 2006. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka pelajar Offset. Badudu, J. S & Zain, S. T. 1994. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Carmichael, C., Callingman, R., Watson, J., & Hay, Ian. 2009. Factors Influencing The Development of Middle School Student’s Interest in Mathematics Literacy. Mathematics Educational Research Journal, 8(1), 62-81. Coren, S., Ward, LM., & Enss, JT. 1999. Sensation and Perception. 5 th edition. New York: Harcourtd College Publisher. Dagun, S. M. 1997. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara. Dalyono, M. 1997. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Davidoff, L. L. 1998. Psikologi Suatu Pengantar. Jilid I. Penerjemah: Mari Juniati. Jakarta: Erlangga. Departemen Pendididkan & Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Djamarah, S. B. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Elliot, et, al. 2000. Effective Teaching Education Psychology 3rd edition. Singapore: Mc Graw Hill. Firngadi, S. 1997. Mengatasi Gangguan Belajar Pada Anak. Kliping Pendidikan. Salatiga: UKSW. Gibson, J. L., Ivancevich, J. M., Donnelly, J. P. 1995. Organisasi Perilaku Struktur Proses. Jilid I. Edisi 5. Jakarta: Erlangga. Hastuti, N. P. 2004. Hubungan Antara Persepsi terhadap Metode Mengajar Guru dengan Minat Belajar Matematika Siswa SMP. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Hurlock, E. B. 1999. Perkembangan Anak Jilid II. Penerjemah: Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Erlangga. Iswahyuni. 2006. Analisis Faktor terhadap faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar pada Siswa kelas X dan XI di SMA Negeri 14 Semarang. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Semarang: Universitas Diponegoro. Irwanto. 1997. Psikologi Umum. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Leong, J. 2006. High School Students’ Attitudes and Beliefs Regarding Statistics in a Service-Learning-Based Statistics Course. Unpublished PhD Thesis. Georgia: State University. Maya, Cynthia. 2000. Factors Affecting the Achievement Motivation of High School Students in Maine. http://www.usm.maine.edu/cepare/pdf/he/factors.pdf . Muslich, M. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. Nawangsari, N. A. F. 2001. Pengaruh Self efficacy dan Expectacy-value terhadap Kecemasan Menghadapi Pelajaran Matematika. Insan Media Psikologi: (3): 2: 75-88.

Nimas, E. P. 2006. Pengaruh Pelatihan Efikasi Diri Dalam Meningkatkan Prestasi Matematika Siswa SMP. Tesis (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Sekolah Pasca Sarjana UGM. Purwanto, N. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Rakhmat, J. 2005. Psikologi Komunikasi edisi revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Rayner, A. 2005. Reflection of context-based science teaching: a case of Physics for Students of physiotherapy. http:// science. universe.edu.au /pubs/procs/wshop10/2005 Rayner.pdf Robins, S. 2001. Perilaku Organisasi. Jilid II. Jakarta: Prehallindo. Roebken, H. The Influence of Goal Orientation on Student Satisfaction, Academic Engagement and Achievement. Journal of Research in Educational Psychology. Vol.5. No.13. 679-704. Sadono & Hidayah, K. 2006. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi dengan Contextual Teaching and Learning (CTL) Pada Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Statistika di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Jurnal Penelitian Bappeda Yogyakarta. Vol. 1 No. 1, Desember 2006. Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Group. Santrock, J. W. 2003. Adolescence. Edisi keenam. Jakarta: Erlangga. Sardiman, A.M. 1988. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : CV Rajawali. Sarwono. 2002. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka. Shadiq, F. 2007. Laporan Hasil Seminar dan Lokakarya Pembelajaran Matematika 15-16 Maret 2007 di P4TK (PPPG) Matematika. http://pdf-searchengine.com/Inovasi%20pembelajaran%20matematika%20dalam %20menyongsong%20...-html-fadjarp3g.files.wordpress.com lapsemlok_limas_.html

%20rangka /2008/06/07-

Shamsid-Deen, I; Smith, B. P. 2006. Contextual Teaching and Learninng Practices in The Family and Consumer Sciences Curriculum. Journal of Family and Consumer Sciences Education. Vol. 24, No. 1, Spring/ Summer. Silvia, P. J. 2006. Exploring the Psychology of Interest. New York: Oxford University.

Slavin, R. E. 1994. Educational Psychology Theory and Practice 4 th. Massachussets: Allyn & Bacon. Sobani, I. 2000. Bunga Rampai Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Soemanto, W. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta. Suherman, E. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Semarang: Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Sukadji, S. 2000. Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah. Jakarta: LPSP3 Fakultas Psikologi UI. Suprijanto. 2007. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta: Bumi Aksara. Suryabrata, S. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Suwignyo, Agus. 2002. Informalisasi dan Perubahan Paradigma Pendidikan Tinggi. Jurnal Arah Reformasi Indonesia. Politik, Filsafat dan Pendidikan No.15 Mei. Hal 44-53 Suyanto, S. Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. 2005. Yogyakarta: Hikayat Publishing Syah, M. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Triton, P. B. 2006. Terapan Riset Statistik Parametrik. Yogyakarta: Andi Offset. Van de Grift, W., Houtveen, T., & Vermeulen, C. 2000. Instructional climate in Dutch secondary education, School Effectiveness and School Improvement, http://www.psychologytoday.com 8(4), 449- 462. Walgito, B. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset. Winarsunu, T. 2002. Statistika dalam Psikologi dan Pendidikan. Malang: UMM Press. Winkel, W. S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT Grasindo. Wong EH., Dudley. 2002. Perception of Autonomy Support, Parent Attachment, Competence and Self-Worth as Predictors Of Motivational Orientation and Academic Achievement: An Examination of Sixth-and Ninth-Grade Regular Education Student. http//fidarticle.com/p/articles/mi_m2248//is_14637//ai_299428282

Yamin, M. 2008. Paradigma Pendidikan Konstruktivistik. Jakarta: Gaung Persada Press.