Identifikasi Pola Morfologi Kota (Studi Kasus : Sebagian

struktur tanah dan sebagainya mempunyai peran yang sangat penting dalam ... kegagalan dan keberhasilan masa lampau merupakan salah satu proses pembent...

0 downloads 59 Views 2MB Size
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota vol. 25, no. 3, hlm. 213-227, Desember 2014

Identifikasi Pola Morfologi Kota (Studi Kasus : Sebagian Kecamatan Klojen, Di Kota Malang) Amandus Jong Tallo1, Yulia Pratiwi2, dan Indri Astutik3 [Diterima: 31 Maret 2014; disetujui dalam bentuk akhir: 12 Agustus 2014] Abstrak. Pertumbuhan dan perkembangan kota berbanding lurus dengan perkembangan kehidupan sosial-budaya, ekonomi dan politik yang melatar belakanginya. Perkembangan kota juga disertai pertambahan jumlah penduduk, baik oleh pertumbuhan alamiah maupun pertumbuhan non alamiah yang mengarah pada bentukan pola morfologi kota. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola morfologi kota di sebagian Kecamatan Klojen di Kota Malang. Dalam penelitian ini, morfologi kota didasarkan pada aspek struktural, aspek fungsional dan aspek visual. Untuk menganalisis suatu pola morfologi kota dapat dilakukan dengan tiga analisis perancangan kota yaitu, figure ground, linkage, dan place. Kata kunci. Perancangan kota, pertumbuhan kota, morfologi kota [Received: March 31, 2014; accepted in final version: August 12, 2014] Abstract. Growth and development of a city is directly proportional to the socio-cultural, economic and political development. The development is also accompanied by population growth, either by natural or non-natural growth which leads to the formation of the morphological pattern of the city. The purpose of this study is to identify the morphological pattern in most part of the district Klojen in Malang City. In this study, the city morphology is based on the structural, functional and visual aspects. The morphological pattern is analyzed using three urban design criteria, which are figure ground, linkage, and place. Keywords. Urban design, growth of the town, urban morphology

Pendahuluan Kota akan selalu tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan sosialbudaya, ekonomi dan politik yang melatar belakanginya. Perkembangan kota merupakan hasil karya dari konstruksi pemikiran manusia baik dalam tataran adaptasi terhadap lingkungan maupun adjustment. Budaya merupakan salah satu faktor yang menyebabkan images dari citra kota dapat berubah. Masyarakat kota dengan latar belakang tertentu dari pola hidup tradisional hingga modern mempengaruhi perubahan dalam bentukan kota. Faktor kemantapan budaya masyarakat dalam mempertahankan penetrasi budaya luar (pengaruh akulturasi dan asismilasi budaya) dan intensitas pengaruh perubahan merupakan dua faktor yang sangat menentukan proses perkembangan kota. Di samping itu faktor-faktor alamiah seperti keadaan geografis, 1

Magister Perencanaan Kota dan Daerah, Universitas Gadjah Mada, [email protected] Magister Perencanaan Kota dan Daerah, Universitas Gadjah Mada 3 Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Nasional, Malang 2

ISSN 0853-9847 © 2014 SAPPK ITB

214

Amandus Jong Tallo, dkk

struktur tanah dan sebagainya mempunyai peran yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan kota (Wikantiyoso,1995). Nielsen (2005), mengungkapkan bahwa terdapat tiga faktor yang berperan penting dalam proses pertumbuhan kota, yakni ekologi, teknologi dan organisasi sosial. Perkembangan kota tersebut merupakan proses berkesinambungan yang erat kaitannya dengan perubahan sosial-budaya masyarakat. Keberadaan kota tidak lepas dari sejarah awal perkembangan, kondisi saat ini, serta wajah kota di masa yang akan datang. Perkembangan kota sangat berkaitan dengan fungsi waktu, hal ini mengingatkan kita pada masa lampau yaitu aspek kesejarahan memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk morfologi kota (Mumford,1967). Bentuk kota bukan hanya sekedar produk, tetapi juga merupakan proses akumulasi menifestasi fisik dari kehidupan non fisik, yang dipengaruhi oleh sistem nilai dan norma-norma yang berlaku pada masa pembentukannya (Danisworo,1989). Dapat juga dikatakan sebagai urban artifact, kota dalam perjalanan sejarahnya telah dan akan membentuk suatu pola morfologi sebagai implementasi bentuk perubahan sosial-budaya masyarakat yang membentuknya. Selanjutnya ketika berbicara mengenai dua hal yang telah dijelaskan di atas, yaitu perkembangan dan bentuk kota. Maka perkembangan dan bentuk kota merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan di dalam melihat suatu kondisi perkotaan dalam hal ini ditinjau dari pola morfologi kota. Kota di Indonesia mempunyai kecenderungan menghilangkan ciri karakter historis peninggalan zaman Hindu-Budha dan memunculkan “ketunggal-rupaan” arsitektur kota (Budiarjo,1984). Hal ini disebabkan oleh diabaikannya aspek kesejarahan pembentukan kota sehingga kesinambungan sejarah kawasan kota seolah terputus sebagai akibat pengendalian perkembangan yang kurang memperhatikan aspek morfologi kawasan, demikian halnya dengan Kota Malang. Morfologi Kota Malang merupakan salah satu hasil karya perencana Kota Thomas Karsten mengadaptasi konsep Garden City, dengan mengutamakan pejalan kaki sebagai elemen terpenting dalam koridor suatu kawasan. Warisan perencanaan pada zaman kolonial sangat terlihat pada bentukan fisik bangunan dan tata lingkungan (Hadinoto,1996). Beberapa kawasan yang memiliki nilai historis hingga kini adalah Jl Ijen, alun-alun bundar (alun-alun Kota Malang) dan wilayah Kayutangan di Kecamatan Klojen. Untuk mengungkapkan fenomena perkembangan kota tidak terlepas dari pembahasan elemen pembentuk kota itu sendiri. Fenomena perkembangan kota akan mencakup perkembangan elemen detail, elemen tata bentuk kota atau townscape serta perkembangan aspek peraturan kota atau pranata kota. Ketiga aspek tersebut merupakan aspek fisik, yang baik secara langsung maupun tidak langsung sangat dipengaruhi oleh aspek non-fisik kota sebagai latar belakang perkembangan kota. Unsur lingkungan alamiah Kota Malang sangat dominan, serta bentukan lingkungan buatan seperti bangunan, elemen tata kota dan kehidupan masyarakatnya telah memberikan citra spesifik Kota Malang. Sedangkan perkembangan bentuk fisik kota terjadi melalui dua proses yakni; proses formal yaitu melalui proses perencanaan dan design, dan proses organis yaitu proses yang tidak direncanakan dan berkembang dengan sendirinya. Maka morfologi kota terbentuk melalui proses yang panjang, setiap perubahan bentuk kawasan secara morfologis dapat memberikan arti serta manfaat yang sangat berharga bagi penanganan perkembangan suatu kawasan kota. Dengan mempelajari morfologi suatu kawasan kota, kiranya cacat morfologis suatu kawasan kota dapat terhindari karena proses belajar dari pengalaman kegagalan dan keberhasilan masa lampau merupakan salah satu proses pembentukan morfologi suatu kawasan kota (Zahnd,1999). Berangkat dari adanya fenomena tersebut dan fenomena

Identifikasi Pola Morfologi Kota

215

tentang perubahan fungsi, maka penelitian ini akan memberikan gambaran mengenai identifikasi pola morfologi kota terhadap Kota Malang melalui pola morfologi kota.

Tinjauan Pustaka Morfologi sebagai formasi sebuah objek bentuk kota dalam skala yang lebih luas. Morfologi perkotaan adalah penataan atau formasi keadaan kota yang sebagai objek dan sistem yang dapat diselidiki secara struktural, fungsional, dan visual (Zahnd, 1999). Tiga unsur morfologi kota yaitu unsur-unsur penggunaan lahan, pola-pola jalan dan tipe-tipe bangunan. Dari sinilah pertama kali muncul istilah “Townscape” (Smailes, 1955). Dari pengertian-pengertian tersebut, morfologi kota secara sederhana dapat diartikan sebagai bentuk-bentuk fisik kota dengan diketahui secara struktural, fungsional dan visual. Morfologi kota satu dengan kota lain dapat berbeda-beda sehingga morfologi kota ini menjadi pembentuk karakteristik atau ciri khas suatu kota. Kajian Bentuk-Bentuk Kota Morfologi biasanya digunakan untuk skala kota dan kawasan. Morfologi kota pada eksistensi keruangan dari bentuk-bentuk wujud karakteristik kota yaitu analisa bentuk kota dan faktorfaktor yang mempengaruhinya (Yunus, 2000). Jadi morfologi kota tidak hanya sebatas menganalisa bentuk kota tetapi juga mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kota tersebut. Birkhamshaw, Alex J and Whitehand (2012) menyatakan bahwa dalam aspekaspek urban morfologi, penetapan karakteristik perkotaan dari berbagai jenis bentuk adalah hal yang mendasar terutama dalam kaitannya untuk membedakan dan melakukan pemetaan wilayah yang kebijakan setiap wilayah juga berbeda-beda. Dengan adanya teori tersebut maka dalam suatu penelitian morfologi kota, memerlukan kajian morfologi kota dengan berbagai jenis bentuk atau aspek. Menurut Conzen dalam Birkhamshaw, Alex J and Whitehand (2012), morfologi kota memiliki tiga komponen yaitu Ground Plan (pola jalan, blok bangunan), bentuk bangunan (tipe bangunan) dan utilitas lahan/bangunan. Analisa bentuk kota meliputi:

a. Bentuk-bentuk kompak Terdiri atas bentuk bujur sangkar (the square cities), bentuk empat persegi panjang (the rectangular cities), bentuk kipas (fan shaped cities), bentuk bulat (rounded cities), bentuk pita (ribbon shaped cities), bentuk gurita atau bintang (octopus/star shaped cities), bentuk tidak berpola (unpatterned cities).

b.Bentuk-bentuk tidak kompak Terdiri atas bentuk terpecah (fragmented cities), bentuk berantai (chained cities), bentuk terbelah (split cities), bentuk stellar (stellar cities). Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kota yaitu faktor bentang alam atau geografis, transportasi, sosial, ekonomi dan regulasi. Morfologi kota selain dilihat dari sisi bentuk kota dan faktor-faktor yang mempengaruhinya juga dapat dilihat berdasarkan tipe morfologi kota (Urban Morphology Type). Tipe morfologi kota dapat dirinci berdasarkan penggunaan lahan utama/ Primary Land Use) (Philip James dan Daniel Bound, 2009). Tipe morfologi kota ini sering dikenal sebagai penggunaan lahan. Teori tipe morfologi kota ini sering dikenal sebagai fungsi bangunan. Kajian morfologi kota secara struktural, fungsional dan visual serta perancangan kota dapat dijelaskan sebagai berikut:

216

Amandus Jong Tallo, dkk

Gambar 1. Bentuk-bentuk Kota Sumber: Hadi Sabari Yunus (2000)

Kajian Morfologi Kota secara Struktural Analisa struktural menyatakan adanya pemisahan tingkatan-tingkatan yang dikaitkan dengan tastes, preferences dan life styles. Seperti yang diungkapkan oleh Alonso yang menggunakan pembagian zona konsentris dari Burgess untuk menjelaskan spatial distribution-residential mobility (dalam Yunus, 2000).

Gambar 2. Model Teori Struktural Sumber: Burgess dalam Yunus, 2000

Kajian Morfologi Kota secara Fungsional Pada tahun 1748 Giambattista Nolli (Zahnd, 1999), seorang arsitek Italia, menemukan suatu cara analisa suatu tekstur perkotaan dari segi fungsi massa dan ruang serta bagaimana hubungannya secara fungsional. Adapun cara yang harus dilakukan yaitu dengan menunjukkan secara analitis semua massa dan ruang perkotaan yang bersifat publik (dan semipublik) ke dalam suatu gambaran figure/graund secara khusus. Cara analisa tersebut diberi nama Nolliplan yaitu semua massa yang bersifat publik atau semipublik tidak lagi diekspresikan sebagai massa (dengan warna hitam), melainkan digolongkan bersama tekstur ruang (warna putih). Kajian Morfologi Kota secara Visual Kajian morfologi kota secara visual dapat dilihat pada analisa linkage (penghubung) yang membahas hubungan sebuah tempat dengan yang lain dari berbagai aspek sebagai suatu generator (pengerak) perkotaan. Dalam analisa linkage dikemukakan tiga pendekatan diantaranya linkage visual. Dalam linkage yang visual dua atau lebih banyak fragmen (bagian atau pecahan sesuatu) kota dihubungkan menjadi satu kesatuan secara visual. Lima elemen

Identifikasi Pola Morfologi Kota

217

linkage visual yang menghasilkan hubungan secara visual, yakni garis, koridor, sisi, sumbu, dan irama.

Contoh analisis sebuah tekstur kawasan kota secara fungsional. Gedung yang bersifat publik dan semipublik menunjukkan struktur horizontal bangunan masingmasing (kolom, dinding), dan bangunan yang bersifat privat dan semiprivat digambar secara massif.

Dengan cara ini ruang perkotaan dapat dilihat baik secara eksterm (ruang luar) maupun intern (ruang dalam), yang memiliki kaitan erat secara fungsional di dalam kota. (bagian dari Nolli-plan yang asli dari Roma, Italia, di buat oleh Giambattista Nolli pada tahun 1748)

Gambar 3. Analisa Nolli-Plan Sumber: Giambattista Nolli (Dalam Zahnd, 1999)

Analisa Perancangan kota Seperti yang dikemukkan dalam buku Perancangan Kota Secara Terpadu yang ditulis oleh Markus Zahnd bahwa, di dalam perancangan kota dikenal tiga kelompok analisa perancangan kota (figure/ground, lingkage, place) yaitu sebagai berikut: a. Analisa Figure/ Ground Pada analisa ini meliputi pola sebuah tempat yang membahas mengenai fungsi dan sistem pengaturan, dua pandangan pokok terhadap pola kota yang meliputi organisasi lingkungan, figure yang figuratif dan ground yang figuratif serta sistem poche, tekstur figure/ ground. b. Analisa Linkage Ada tiga macam cara penghubung, yaitu linkage visual, linkage struktural, serta linkage bentuk kolektif. Semua bentuk tersebut merupakan dinamika perkotaan yang dianggap sebagai generator kota. c. Analisa Place Pada analisa ini akan dibahas mengenai makna sebuah kawasan sebagai sebuah tempat perkotaan. Analisa Place pada penelitian ini adalah analisa konteks kota dan citra kota yang terdiri dari path (jalur), edge (tepian), district (kawasan), node (simpul), landmark (tengeran). (Lynch, 1969).

Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan analisa deskriptif kualitatif dengan maksud menganalisa berdasarkan karakteristik kegiatan-kegiatan dalam ruang yang mempengaruhi faktor fisik suatu kota sebagai tempat pelaksanaan kegiatan dan bentuk-bentuk fisik lingkungan yang diakibatkan oleh faktor non fisik dari terbentuknya suatu morfologi kota. Analisa ini dilakukan untuk mendapatkan suatu keluaran berupa usulan suatu pola morfologi kota jika dilihat secara fisik.

218

Amandus Jong Tallo, dkk

Untuk menemukan keluaran tersebut, maka diperlukan beberapa analisa, diantaranya analisa figure ground, linkage dan place. Dari ketiga analisa tersebut maka dapat digunakan untuk menemukenali pola morfologi kota Malang, yang dilihat dari elemen pembentuk morfologi kota itu sendiri.

Hasil dan Diskusi Kota Malang, secara astronomis berada pada koordinat 112 34’09,48” – 112 41’34,93” BT dan 7 54’52,22” – 8 03’05,11” LS. Secara geografis letak Kota Malang tersebut menunjukkan berada di tengah-tengah wilayah Propinsi Jawa Timur. Kota Malang terletak pada dataran tinggi dan berjarak kurang lebih 90 Km sebelah selatan Kota Surabaya. Kota Malang yang merupakan kota orde II dengan sistem struktur ruang Kota Malang secara konseptual yang telah ada dan pembangunan dan konstelasi ruang secara spasial yang sudah konsisten. Berikut struktur tata ruang Kota Malang:

Gambar 4. Peta Kota Malang Gambar 4. Peta Kota Malang Sumber: RTRW Kota Malang

Analisa Bentuk Kota Malang Kota Malang dapat dianalisa morfologi kotanya dengan menggunakan analisa bentuk kota. Setelah tahun 1980-an terjadi perluasan pada kota-kota di Indonesia pada umumnya dan kotakota di Jawa pada khususnya. Hal ini disebabkan karena membaiknya iklim ekonomi yang berakibat banyaknya investasi asing yang menanamkan modalnya pada industri menengah dan kecil di pinggiran kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, juga Kota Malang. Setelah tahun 1980-an terjadi perluasan pada kota-kota di Indonesia pada umumnya dan kotakota di Jawa pada khususnya. Hal ini disebabkan karena membaiknya iklim ekonomi yang berakibat banyaknya investasi asing yang menanamkan modalnya pada industri menengah dan kecil di pinggiran kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, juga Kota Malang. Menurut McGee (1991) dalam Handinoto, proses perkembangan dan urbanisasi pada kota-kota di Jawa setelah Tahun 1980-an ini ditandai dengan adanya restrukturisasi internal. Salah satu cirinya adalah terjadinya proses pergeseran fungsi pusat kota, dari pusat manufaktur menjadi pusat kegiatan jasa dan keuangan. Kegiatan manufaktur bergeser ke pinggiran kota. Secara fisik restrukturisasi tersebut ditandai dengan adanya perubahan penggunaan lahan secara besarbesaran, yang disebabkan karena munculnya lokasi-lokasi industri di tepi kota yang kemudian disusul dengan munculnya daerah perumahan baru. Kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta dan Surabaya telah tumbuh menjadi mega-urban, yakni suatu perkembangan wilayah kota yang

Identifikasi Pola Morfologi Kota

219

menjalar ke daerah pedesaan dan berpusat di pusat kota. Kota-kota kecil di dekat kota besar mempunyai peran dalam pemekaran wilayah kota besar tersebut. Pusat kotanya sendiri sudah tidak bisa menampung lagi perkembangan baru yang terjadi. Hal tersebut merupakan gambaran dari perkembangan kota-kota di Jawa yang berhubungan dengan pusat kota dan pinggiran setelah tahun 1990an. Pada akhir abad ke-20, peran kendaraan bermotor serta gagasan jalan lingkar (outer ring road dan inner ring road) menjadi alat yang sangat penting untuk mendekatkan antara pusat dan pinggiran kota Jalan menjadi acuan untuk mempermudah dalam analisa bentuk kota. Analisa bentuk Kota Malang dapat dilihat pada gambar 6.

a) Tahun 1938 Luas kota 54,76 Km2

b) Tahun 1987 Luas kota 78,42 Km2

c) Tahun 2004 Luas kota 110,06 Km2

Gambar 5. Perkembangan Luas Lahan di Kota Malang Sumber: Handinoto, 1996; BPN Kota Malang

Dalam peta tersebut dapat dianalisa bahwa Morfologi dilihat dari bentuk kota, Kota Malang memiliki bentuk kota yang kompak-tidak berpola. Dikatakan kompak-tidak berpola karena memiliki pola ruang yang padat dan kompak. Selain itu, jalan tidak membentuk pola sehingga dikatakan tidak berpola. Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kota di Kota Malang adalah faktor geografis, transportasi, sosial, ekonomi dan regulasi.

Analisa Morfologi Secara Struktural Analisis morfologi secara struktural yang dilihat dari elemen morfologi kota. Adapun elemen tersebut adalah:

220

Amandus Jong Tallo, dkk

Gambar 6. Peta Kota Malang Sumber: Hasil Analisa Penulis

a. Bangunan-Bangunan Pada bangunan-bangunan menjelaskan mengenai fungsi bangunan atau disebut dengan peruntukan bangunan, serta menjelaskan mengenai hubungan antar bangunan. Fungsi atau peruntukan bangunan di lokasi studi penelitian terdiri dari perdagangan dan jasa, perkantoran, fasilitas umum, perumahan dan industri. b. Kapling atau kadaster Kapling atau kadaster merupakan elemen morfologi yang paling lama bertahan. Kebanyakan kapling yang berada pada lokasi penelitian, khususnya yang berada pada pusat kota berupa kapling tunggal yang terletak sebagai deretan atau sebagai koridor-koridor pada jalan-jalan besar dipusat kota. Blok kota yang ada di lokasi penelitian meliputi blok untuk perumahan, blok perdagangan dan jasa, serta blok fasilitas umum. c. Pola Jaringan Jalan Pola transportasinya adalah konsentris radial dengan sistem lingkar dalam dengan pola grid. Ditinjau dari fungsi pelayanannya, jaringan jalan Kota Malang di bedakan atas dua sistem utama yaitu sistem primer dan sekunder. Sistem primer merupakan penghubung antara fungsi primer di Kota Malang sedangkan sistem sekunder merupakan penghubung fungsi sekunder dalam Kota malang. Jenis jaringan jalan yang ada pada lokasi penelitian dibagi atas jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal/ jalan lingkungan, sedangkan pola jaringan jalannya adalah pola linier arah Utara-Selatan serta pola grid pada beberapa perumahan. Secara keseluruhan transportasi memusat pada kawasan CBD (pusat kota) dan alun-alun kotak di Jalan Tugu yang merupakan kawasan dengan hirarki tinggi di Kecamatan Klojen. Apabila ditinjau dari fungsi pelayanannya maka jaringan jalan yang ada di lokasi penelitian ternasuk dalam sistem sekunder yang merupakan penghubung fungsi sekunder dalam Kota Malang. Sistem jaringan jalan sekunder di lokasi penelitian meliputi jalan arteri sekunder, jalan kolektor sekunder dan lokal sekunder serta beberapa jalan lingkungan. Pola permukiman dapat dilihat sebagai tumpang tindih (overlay). Pola jalan yang terbentuk mengarah pada satu bidang dan satu kosentrasi.

Pola jalan yang sering dibentuk

Identifikasi Pola Morfologi Kota

221

Gambar 7. Pola jalan dan Fragmen atau Pecahan Sumber: Hasil Analisa Penulis

Analisa Morfologi Secara Fungsional Pembahasan mengenai morfologi kota secara fungsional lebih memperhatikan hubungan sebuah tempat sebagai suatu generator kota (penggerak kota). Pada lokasi penelitian terdapat suatu hubungan yang terjadi yaitu hubungan yang dibentuk oleh deretan bangunan yang membentuk ruang terbuka. Hal ini dapat dilihat pada lokasi pusat kota yaitu alun-alun kota (alun-alun kotak). Selain itu hal tersebut juga terjadi pada kawasan perkantoran di lokasi penelitian yaitu alun-alun Tugu yang merupakan ruang terbuka hijau yang dibentuk oleh bangunan-bangunan yang melingkar. Kawasan Tugu merupakan kawasan perkantoran yang memiliki hubungan fungsional secara fisik dan non fisik. Pada kawasan ini terdapat deretan bangunan yang memiliki satu pusat bangunan sebagai tenggeran yaitu Tugu, sedangkan secara non fisik adanya taman-taman yang dapat memberikan nuansa indah dan segar sehingga mengundang pengunjung. Selain itu pada sisi yang lain terdapat fasilitas pendidikan, perdagangan dan jasa. Seperti stasiun kereta api, bank, restauran, percetakan dan deretan warung dan kios-kios kecil lainnya. Kawasan Tugu sering kali berfungsi juga sebagai lokasi ajang balap motor bagi warga Malang baik secara resmi maupun tidak resmi. Analisa morfologi secara fungsional dapat dilihat pada gambar 8.

Analisa Morfologi Secara Visual Karaktristik secara visual dapat dilihat secara langsung pada sebuah tempat yang salah satunya dibentuk sebagai sebuah ruang, jika memiliki ciri khas dan suasana yang menggambarkan adanya suatu kawasan. Jika dilihat secara visual karakteristik yang ada seringkali didominasi adanya bentukan fisik yang menggambarkan adanya ciri dari kota Malang itu sendiri. Adapun bentukan secara visual dapat dilihat pada gambar 9.

Analisa Perancangan Kota a. Analisa Figure/ Ground Analisa ini bertujuan untuk mengetahui tekstur dan pola-pola tata ruang perkotaan serta untuk mengetahui sebuah tatanan keteraturan massa atau ruang perkotaan. Pada analisa figure ground yang akan dilakukan ini lebih mengarah pada tekstur yang ada di sebagian kecamatan Klojen yang merupakan lokasi penelitian.

222

i.

Amandus Jong Tallo, dkk

Analisa Figure yang Figuratif

Figure yang Figuratif ini merupakan pandangan pertama dengan memperhatikan konfigurasi figure atau dengan kata lain, konfigurasi massa atau blok yang dilihat secara figuratif. Artinya, perhatian diberikan pada figure massanya. Pada beberapa bagian di lokasi penelitian yang memiliki fungsi sebagai perumahan seperti yang ada di kawasan Ijen dan kawasan alun-alun Kotak yang memiliki fungsi sebagai pusat perdagangan dan jasa mengekspresikan konfigurasi figure massa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 10. Hubungan fungsional dapat juga menciptakan adanya citra suatu kota, hal ini terjadi dengan kota Malang yang terkenal sebagai kota bunga. Hal tersebut dapat dilihat pada alun-alun Tugu yang merupakan bentukan dari deretan bangunan yang melingkar.

Salah satu Jenis bentuk hubungan fungsional di lokasi penelitian

Tugu sebagai landmark.

Gambar 8. Morfologi secara Fungsional

Titik diatas merupakan tengeran pada masingmasing kawasan.

Gambar 9. Morfologi secara Visual Konfigurasi massa atau blok yang dilihat secara figuratif. Artinya, perhatian diberikan pada figure massanya.

Gambar 10. Figure yang figuratif Gambar 10. Figure yang Figuratif

Identifikasi Pola Morfologi Kota

223

ii.Analisa Ground yang Figuratif Pada awalnya alun-alun Kota Malang sebagai kawasan residen atau pemerintahan, yang kini berubah menjadi kawasan perdagangan dan jasa yang berpusat di alun-alun Kotak berupa ruang terbuka yang figuratif dan telah menciptakan identitas kawasannya.

Kawasan Tugu sebagai sebuah kawasan yang memiliki nucleus sebuah gedung yaitu gedung Balai kota, kota Malang.

Gambar 11. Ground yang figuratif iii.Analisa Poche Analisis Poche pada lokasi penelitian dapat dilihat pada kawasan Tugu yang memilki identitas kawasan sebagai kawasan pemerintahan dengan beberapa gedung sebagai nukleus. Selain gedung Balai kota terdapat juga gedung DPR. Sebenarnya pada sistem poche ini bukan hanya terdapat di kawasan Tugu saja melainkan pada setiap kawasan. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya karakter kawasan yang berbeda, akan tetapi setiap kawasan memiliki jati diri kawasan masing-masing. Jati diri tersebut salah satunya dapat berupa suatu gedung atau tenggeran lainnya. Tenggeran yang paling menonjol adalah pada kawasan Tugu yang merupakan kawasan pemerintahan kota Malang dengan gedung Balaikotanya sebagai pusat kegiatan pemerintahan.

b. Analisa Linkage Pada analisa ini juga akan menegaskan hubungan antar kawasan ruang kota secara hirarki untuk membentuk struktur kota. Linkage di turunkan dari garis yang menghubungkan antar elemen kota berwujud jalan, ruang pejalan kaki, ruang terbuka linier atau elemen penghubung fisik lainnya. i. Linkage Visual Linkage visual pada lokasi penelitian menggambarkan adanya deretan massa bangunan yang membentuk elemen garis dan koridor. Elemen garis ditunjukkan dengan adanya pohon-pohon yang ada dikanan dan kiri jalan, sedangkan koridor ditujukkan dengan adanya deretan massa bangunan yang membentuk ruang secara linier dengan sumbu pada kawasan alun-alun Tugu. Linkage visual digambarkan pada gambar 12. ii. Linkage Struktural Gambar di bawah ini menggambarkan linkage struktural yang menjelaskan struktur kota yang ada pada lokasi penelitian yang dibentuk oleh hirarki. Kota Malang memiliki kawasan yang memiliki fungsi tertentu seperti pada kawasan alun-alun Tugu yang merupakan pusat pemerintahan dan memiliki keterkaitan hubungan yang tinggi antara tempat satu dengan lainnya yang dihubungkan dengan gerbang kota Malang yang dibentuk oleh Belanda yaitu koridor jalan Semeru.

224

Amandus Jong Tallo, dkk

Linkage Visual, merupakan salah satu penghubung antara satu kawasan dengan kawasan lainnya. Seperti jalan berikut adalah menghubungkan antara kawasan perumahan Ijen dengan kawasan Tugu.

Gambar 12. Linkage Visual

Hubungan yang terjadi adalah banyaknya fasilitas umum yang dibangun di sekitarnya untuk memudah masyarakat beraktifitas.

Kawasan Tugu (masih dipertahan kan dan bertahan sejak jaman Belanda)

Gambar 13. Linkage Struktural iii.Linkage Kolektif Hubungan fungsional sering kali dikaitkan dengan adanya teori linkage yang memperhatikan susunan dan hubungan bagian-bagian kota satu dengan yang lainnnya. Linkage kolektif dijelaskan pada gambar 14.

c. Analisa Place Pada analisa ini dibahas dua hal yang berhubungan untuk mengetahui makna dari suatu tempat atau place. Adapun pengkajian tersebut di antaranya konteks kota dan citra kota. i. Konteks Kota Secara arsitektural sebuah tempat yang kontekstual digolongkan menjadi dua tempat yaitu statis dan dinamis. Statis adalah ruang yang tidak memiliki fungsi dan tidak bergerak (pasif). Sedangkan dinamis adalah ruang yang memiliki fungsi yang jelas dan terdapat pergerakan di dalamnya (aktif). Berikut analisis konteks kota di Kota Malang.

Identifikasi Pola Morfologi Kota

225

Keterangan : 1)

2)

3)

4)

Landmark kawasan Tugu adalah tugu yang berada ditengah taman. Taman yang selain berfungsi sebagai ruang terbuka berfungsi juga sebagai tempat berkumpul. Stasiun kereta api merupakan salah satu fasilitas transportasi yang ada dikawasan tersebut. Gedung Balai kota sebagai pusat pemerintahan.

4

2 3

5 1

Gambar 14. Linkage Kolektif

Alun-alun Tugu Jalan Besar Ijen

Gambar 15. Konteks Kota Malang ii. Citra Kota Ada lima elemen citra kota yaitu path (jalur), edge (tepian), district (kawasan), node (simpul), landmark (tengeran). Kelima elemen citra kota tersebut menjadikan Kota Malang memiliki identitasnya dan karakteristik yang membuat Kota Malang memiliki kekhasan tersendiri. Analisa citra Kota Malang dapat digambarkan pada gambar 16.

Kesimpulan Pola Morfologi Dilihat Secara Struktural Kesimpulan dari analisis morfologi secara struktural yang dilihat dari empat elemen morfologi kota yaitu: (1). Bangunan-bangunan yaitu fungsi atau peruntukan bangunan di Kota Malang meliputi fungsi atau peruntukan perdagangan dan jasa, perkantoran, fasilitas umum, perumahan dan industri;

226

Amandus Jong Tallo, dkk

Landmark Bunga teratai

Path (jalur), adalah elemen pembentuk citar kota yang berupa ruang linier. path (jalur) berupa jalan setapak, jalan kendaraan, sungai rel kereta api

Path berupa rel kereta

Node stadion gajayanan Landmark Taman dan node alun-alun kota

Landmark Tugu dan node alunalun Tugu

Gambar 16. Citra Kota Malang (2). Kapling atau kadaster yang dapat disimpulkan bahwa kapling pada lokasi penelitian, khususnya yang berada pada pusat kota berupa kapling tunggal yang terletak sebagai deretan atau sebagai koridor-koridor pada jalan-jalan besar dipusat kota; (3). Jaringan Jalan Kota Malang meliputi jalan arteri, jalan kolektor dan jalan lokal/jalan lingkungan. Pola transportasinya adalah konsentris radial dengan sistem lingkar dalam dengan pola grid. Ditinjau dari fungsi pelayanannya, jaringan jalan Kota Malang di bedakan atas dua sistem utama yaitu sistem primer dan sekunder. Pola jaringan jalannya adalah pola linier arah Utara-Selatan serta pola grid pada beberapa perumahan. Secara keseluruhan transportasi memusat pada kawasan CBD (pusat kota) dan alun-alun kotak di Jalan Tugu.

Pola Morfologi Kota Dilihat Secara Hubungan Fungsional Kesimpulan yang dapat diambil secara keseluruhan pada lokasi penelitian adalah adanya hubungan-hubungan sebuah tempat sebagai suatu penggerak kota. Hubungan tersebut yaitu deretan bangunan yang membentuk ruang terbuka di alun-alun kota (alun-alun kotak). Selain itu hal tersebut juga terjadi pada kawasan perkantoran yaitu alun-alun Tugu yang merupakan ruang terbuka hijau yang dibentuk oleh bangunan-bangunan yang melingkar. Kawasan Tugu merupakan kawasan perkantoran yang memiliki hubungan fungsional secara fisik dan non fisik.

Pola Morfologi Kota dilihat Secara Visual Dari hasil analisa morfologi secara visual yang telah dilakukan didapat suatu kesimpulan bahwa Kawasan Alun-Alun Tugu menjadi kawasan yang memberikan identitas dan karakter bagi Kota Malang.

Analisa Perancangan Kota Malang Kesimpulan dari Perancangan Kota Malang berdasarkan tiga analisis yaitu: (1) Analisa Figure/ Ground

Identifikasi Pola Morfologi Kota

227

Kesimpulan analisa figure/ ground pada lokasi penelitian yaitu Kawasan Ijen dan Kawasan Tugu adalah kawasan yang paling banyak memiliki tekstur keteraturan massa bangunan. (2) Analisa Linkage Kesimpulan analisa linkage yaitu Kota Malang terbentuk tiga linkage yaitu linkage visual, struktural dan kolektif. Kesimpulan analisa linkage secara umum pada lokasi penelitian yaitu terjadi hubungan antar kawasan ruang kota secara hirarki untuk membentuk struktur kota. Terjadi hubungan antar elemen kota yang berwujud jalan, ruang pejalan kaki, ruang terbuka linier atau elemen penghubung fisik lainnya. (3) Analisa Place (Konteks Kota dan Citra Kota) Kesimpulan analisa Place pada lokasi penelitian dilihat berdasarkan dua kriteria. Kriteria pertama berdasarkan analisa konteks kota yaitu di lokasi penelitian terdapat place dinamis di Kawasan Ijen dan terdapat place statis di Kawasan Tugu. Kriteria kedua yaitu analisa citra kota yaitu lima elemen citra kota (path, edge, district, node, landmark) menjadikan Kota Malang memiliki identitasnya dan karakteristik yang dan kekhasan tersendiri.

Pola Morfologi Kota Malang Secara keseluruhan pusat kota jika dilihat dari morfologi secara struktur pemerintahannya maka kawasan alun-alun Tugu merupakan pusat pemerintahan kota Malang yang ditunjang dengan adanya fasilitas pendidikan, militer dan tentunya fasilitas perkantoran. Jika dilihat dari segi fungsionalnya maka masing-masing kawasan memiliki bentuk ciri dan karakteristik. Daftar pustaka Badan Perencanaan Pembangunan Kota Malang. (2010) Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Malang Tahun 2010-2030. Malang: Bappeda. Birkhamshaw, Alex J and J.W.R. Whitehand. (2012) Conzenian Urban Morphology and the Character Area of Planners And Residents. Urban Design International (17), 4–17. Budiharjo, Eko. (1984) Arsitektur dan Kota di Indonesia, Bandung: Alumni Danisworo, Muhammad. (1989) Urban Landscape Sebagai Komponen Penentu Kualitas Linkungan Kota. Makalah Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UK. Petra. Surabaya. Handinoto, (1996) Perkembangan Kota Surabaya 1870-1940. Yogyakarta: Andi. Lynch, Kevin. (1969) The Image of The City. Cambridge, Massachusetts: MIT Press. Markus, Zahnd. (1999) Perancangan Kota Secara Terpadu. Yogyakarta: Kanisius. Mumford, Lewis. (1967). The Myth of The Machine (Vol. I): Technics and Human Development: New York City: Brace and Jovanovich Nielsen, G., J. Nelson, C. Mulley, G. Tegner, G. Lind and T. Lange. (2005). Public Transport Planning the Networks - HiTrans Best Practice Guide 2. Stavanger, Norway: European Union Interreg III and HiTrans. Philip James and Daniel Bound. (2009) Urban Morphology Types and Open Space Distribution in Urban Core Areas. Urban Ecosystem 12:417:424 doi 10.1007/s11252-009-0083-1 Smailes, R.J. (1995) Some Reflection on the Geographical Description and Analysis of Townscape. In the Institute of British Geographer Transaction and Paper. Wikantiyoso, Respati. (1995) Telaah Morfologi Kota Malang. Science (jurnal ilmu pengetahuan dan teknologi Unmer). Malang: Universitas Merdeka. Yunus, Hadi Sabari. (2000) Struktur Tata Ruang Kota, Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.