II. TINJAUAN PUSTAKA A. Curah Hujan

Pengertian Curah Hujan. Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama ... penerjemah untuk file Portable Document Format (P...

0 downloads 16 Views 409KB Size
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Curah Hujan 1. Pengertian Curah Hujan. Curah hujan adalah jumlah air yang jatuh di permukaan tanah datar selama periode tertentu yang diukur dengan satuan tinggi milimeter (mm) di atas permukaan horizontal. Dalam penjelasan lain curah hujan juga dapat diartikan sebagai ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap dan tidak mengalir.

Indonesia merupakan negara yang memiliki angka curah hujan yang bervariasi dikarenakan daerahnya yang berada pada ketinggian yang berbeda-beda. Curah hujan 1 (satu) milimeter, artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter termpat yang datar tertampung air setinggi satu milimeter atau

Menurut Linsley (1996: 49), jenis-jenis hujan berdasarkan intensitas curah hujan, yaitu: 1) hujan ringan, kecepatan jatuh sampai 2,5 mm/jam; 2) hujan menengah, dari 2,5-7,6 mm/jam. 3) hujan lebat, lebih dari 7,6 mm/jam.

6

B. Transformasi Fourier 1. Metode Spectral Secara umum, metode analisis spectral merupakan salah satu bentuk dari transformasi fourier (Himmah dalam Maghfiroh, 2012: 40).

Dalam analisa curah hujan, Analisis spectral digunakan untuk mengetahui periodisitas dari berulangnya data hujan. Analisis spectral merupakan suatu metode untuk melakukan transformasi sinyal data dari domain waktu ke domain frekuensi, sehingga kita bisa melihat pola periodiknya untuk kemudian ditentukan jenis pola cuaca yang terlibat (Hermawan, 2010: 78).

Metode spectral merupakan metode transformasi yang dipresentasikan sebagai Fourier Transform sebagai berikut (Zakaria, 2003; Zakaria, 2008), Ξ”t

𝑃 π‘“π‘š = 2

πœ‹

n=N 2 n=βˆ’π‘ 2 𝑝

𝑑𝑛 .𝑒

βˆ’2.πœ‹.𝑖 .π‘š.𝑛 𝑀

(1)

Dari Persaman (1) dapat dijelaskan, dimana 𝑝 𝑑𝑛 merupakan data hujan dalam seri waktu (time domain) dan 𝑃 π‘“π‘š merupakan data hujan dalam seri frekuensi (domain frequency). 𝑑𝑛 merupakan waktu seri yang menunjukkan jumlah data sampai ke𝑁.π‘“π‘š merupakan hujan dalam seri frekuensi (domain frequency).

Awal berkembangnya metode ini kurang begitu diminati karena untuk transformasi dibutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga metode ini dirasa kurang efektif. Setelah beberapa tahun penelitian berkembang ke

7

arah efisiensi perhitungan transformasi untuk mendapatkan metode perhitungan transformasi yang lebih cepat.

Penggunaan

Fourier

Transform

menjadi

lebih

luas

setelah

diketemukannya metode perhitungan transformasi yang lebih cepat, yang dinamakan FFT (Fast Fourier Transform) seperti yang dikembangkan oleh Cooley (1965). Program yang digunakan untuk analisis ini

dikembangkan berdasarkan metode tersebut di atas.

Berdasarkan teori di atas dikembangkan metode perhitungan analisis frekuensi dengan nama FTRANS yang dikembangkan oleh Zakaria (2005a). Untuk Peramalan dengan menggunakan metode analisis Fourier dan Least Squares, dikembangkan suatu metode perhitungan untuk peramalan dengan nama ANFOR, dikembangkan oleh Zakaria (2005b).

2. Spektrum Curah Hujan. Spektrum Curah Hujan adalah hubungan hubungan periode curah hujan dengan waktu. Spektrum curah hujan digambarkan dengan PSD (Power Spectral Density) yaitu pengkuadratan periode-periode pada spektrum sehingga terlihat perbedaan yang mencolok dalam hubungan nya dengan waktu.

C. Komponen Periodik Komponen periodik P(t) berkenaan dengan suatu perpindahan yang berosilasi untuk

suatu

interval

tertentu

(Kottegoda,

1980).

Keberadaan

P(t)

diidentifikasikan dengan menggunakan metode Transformasi Fourier. Bagian yang berosilasi menunjukkan keberadaan P(t), dengan menggunakan periode

8

P, beberapa periode puncak dapat diestimasi dengan menggunakan analisis Fourier. Frekuensi frekuensi yang didapat dari metode spektral secara jelas menunjukkan adanya variasi yang bersifat periodik. Komponen periodik P(fm) dapat juga ditulis dalam bentuk frekuensi sudut πœ”π‘Ÿ . Selanjutnya dapat diekspresikan sebuah persamaan dalam bentuk Fourier sebagai berikut, (Zakaria, 2005): 𝑃 𝑑 =Sπ‘œ +

r=k r=1 π΄π‘Ÿ

r=k r=1 π΅π‘Ÿ

sin πœ”π‘Ÿ .𝑑 +

cos πœ”π‘Ÿ .𝑑

(2)

Persamaan (9) dapat disusun menjadi persamaan sebagai berikut, 𝑃 𝑑 =

dimana: 𝑃 𝑑 𝑃 𝑑 So =Ak+1 πœ”π‘Ÿ t Ar, Br k

r=k+1 r=1 π΄π‘Ÿ

sin πœ”π‘Ÿ .𝑑 +

r=k r=1 π΅π‘Ÿ

cos πœ”π‘Ÿ .𝑑

(3)

= komponen periodik = model dari komponen periodik = rerata curah hujan harian (mm) = frekuensi sudut (radian) = waktu (hari) = koefisien komponen Fourier = jumlah komponen signifikan

1. Metode Kuadrat Terkecil (Least Squares) Didalam metode pendekatan kurvanya, sebagai suatu solusi pendekatan dari komponen-komponen periodik P(t), dan untuk menentukan fungsi 𝑃 𝑑 dari Persamaan (3), sebuah prosedur yang dipergunakan untuk mendapatkan model komponen periodik tersebut adalah metode kuadrat terkecil (Least squares). Dari Persamaan (3) dapat dihitung jumlah dari kuadrat error antara data dan model periodik (Zakaria, 1998) sebagai berikut, J=

t=m t=1

𝑃 𝑑 βˆ’π‘ƒ 𝑑

2

(4)

9

Dimana J adalah jumlah kuadrat error yang nilainya tergantung pada nilai Ar dan Br. Selanjutnya koefisien J hanya dapat menjadi minimum bila memenuhi persamaan sebagai berikut, πœ•π½ πœ•π΄π‘Ÿ

πœ•π½

= πœ•π΅ = 0 dengan r = 1,2,3,4,5,...,k π‘Ÿ

(5)

Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil, didapat komponen Fourier Ar dan Br,. Berdasarkan koefisien Fourier ini dapat dihasilkan persamaan sebagai

berikut,

a. rerata curah hujan harian, π‘†π‘œ =Ak+1

(6)

b. amplitudo dari komponen harmonik, πΆπ‘Ÿ =

π΄π‘Ÿ2 +B2π‘Ÿ

(7)

c. Fase dari komponen harmonik, πœ‘π‘Ÿ = arctan

π΅π‘Ÿ

(8)

π΄π‘Ÿ

Rerata dari curah hujan harian, amplitudo dan Fase dari komponen harmonik dapat dimasukkan kedalam sebuah persamaan sebagai berikut, 𝑃 𝑑 =Sπ‘œ +

r=k r=1 πΆπ‘Ÿ .Cos

πœ”π‘‘ .𝑑 βˆ’ πœ‘π‘Ÿ

(9)

Persamaan (9) adalah model harmonik dari curah hujan harian, dimana yang bisa didapat berdasarkan data curah hujan harian dari stasiun curah hujan Purajaya. Dengan mengikuti prosedur dari Persamaan (4) dan (5), konstanta dan parameter komponen model stokastik dapat dihitung.

10

D. Metode Stokastik Umumnya proses stokastik dipandang sebagai proses yang tergantung pada waktu. Kebanyakan proses hidrologi termasuk proses stokastik (Yevjevich dalam Nuraeni, 2011). Jika ada diantara variabel-variabel acak (random) yang mempunyai distribusi dan probabilitas maka dinamakan model stokastik, dalam kelompok stokastik variabel-variabel hidrologi yang digunakan lebih ditekankan ketergantungannnya kepada waktu. Jika variabel-variabelnya bebas dan keragaman acak, sehingga tidak ada yang mempunyai distribusi dalam probabilitas, maka model tersebut dipandang sebagai model deterministik (Li dalam Nuraeni, 2011). Pada penelitian kali ini, unsur stokastik dimodelkan dengan menggunakan model Autoregressive.

1. Model Autoregressive Autoregressive

adalah

suatu

bentuk

regresi

tetapi

bukan

yang

menghubungkan variabel tak bebas, melainkan menghubungkan nilai-nlai sebelumnya pada time lag (selang waktu) yang bermacam-macam. Jadi suatu model Autoregressive akan menyatakan suatu ramalan sebagai fungsi nilai- nilai sebelumnya dari time series tertentu (Makridakis, 1993: 513).

Model Autoregressive (AR) dengan order p dinotasikan dengan AR (p). Bentuk umum model AR (p) adalah. 𝑋𝑑 = πœ™1 π‘‹π‘‘βˆ’1 … . +πœ™π‘ π‘‹π‘‘βˆ’π‘ + πœ€π‘‘

(10)

11

dengan, 𝑋𝑑 π‘‹π‘‘βˆ’1 , π‘‹π‘‘βˆ’2 … π‘‹π‘‘βˆ’π‘

πœ™π‘– πœ€π‘‘ p

: nilai variabel waktu ke -t : nilai masa lalu dari time series yang bersangkutan pada waktu t-1, t-2,…, t-p : koefisien regresi i: 1,2,3…p : nilai error pada waktu ke –t : order AR

Pada umumnya, order AR yang sering digunakan dalam analisis time series adalah p = 1 atau p = 2, yaitu model AR (1) dan AR (2). Bentuk umum model Autoregressive order 1 atau AR (1), yaitu: 𝑋𝑑 = πœ™1 π‘‹π‘‘βˆ’1 + πœ€π‘‘

(11)

Bentuk umum model Autoregressive order 2 atau AR (2), 𝑋𝑑 = πœ™1 π‘‹π‘‘βˆ’1 + πœ™2 π‘‹π‘‘βˆ’2 + πœ€2

(12)

Model stokastik pada penelitian kali ini merupakan nilai sisa (residu) dari model periodik dan data hujan harian terukur.

E. Koefesien Korelasi Koefesien korelasi ialah pengukuran statistik kovarian atau asosiasi antara dua variabel. Besarnya koefesien korelasi berkisar antara +1 s/d -1. Koefesien korelasi menunjukkan kekuatan (strength) hubungan linear dan arah hubungan dua variabel acak. Jika koefesien korelasi positif, maka kedua variabel mempunyai hubungan searah. Artinya jika nilai variabel X

tinggi, maka nilai variabel Y akan tinggi pula. Sebaliknya, jika koefesien korelasi negatif, maka kedua variabel mempunyai hubungan terbalik. Artinya jika nilai variabel X tinggi, maka nilai variabel Y akan menjadi rendah dan sebaliknya.

12

Untuk memudahkan melakukan interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel penulis memberikan kriteria sebagai berikut (Sarwono, 2006): a.

0 : Tidak ada korelasi antara dua variabel

b.

>0 – 0,25: Korelasi sangat lemah

c.

>0,25 – 0,5: Korelasi cukup

d.

>0,5 – 0,75: Korelasi kuat

e.

>0,75 – 0,99: Korelasi sangat kuat

f.

1: Korelasi sempurna

1. Interpretasi Korelasi Ada tiga penafsiran hasil analisis korelasi, meliputi: a. melihat kekuatan hubungan dua variable. b. melihat signifikansi hubungan. c. melihat arah hubungan. Untuk melakukan interpretasi kekuatan hubungan antara dua variabel dilakukan dengan melihat angka koefesien korelasi hasil perhitungan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: a. Jika angka koefesien korelasi menunjukkan 0, maka kedua variabel tidak mempunyai hubungan. b. Jika angka koefesien korelasi mendekati 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan semakin kuat

13

c. Jika angka koefesien korelasi mendekati 0, maka kedua variabel mempunyai hubungan semakin lemah d. Jika angka koefesien korelasi sama dengan 1, maka kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna positif. e. Jika angka koefesien korelasi sama dengan -1, maka kedua variabel mempunyai hubungan linier sempurna negatif.

F. Efisiensi Nash-Sutcliffe

Untuk Menguji dan mengkalibrasi pemodelan tidak cukup hanya dengan menggunakan koefisien korelasi saja. Untuk itu digunakan efisiensi NashSutcliffe (ENS) untuk mengetahui sejauh mana kemiripan dari pemodelan dengan data yang diuji. Efisiensi Nash-Sutcliffe dirumuskan sebagai berikut :

ENS = 1 βˆ’ Dimana: ENS QSi QMi 𝑄M

𝑛 𝑖=1 𝑛 𝑖=1

𝑄𝑠𝑖 βˆ’ 𝑄𝑀𝑖 2

(13)

𝑄𝑠𝑖 βˆ’ 𝑄𝑀 2

= Efiensi Nash-Sutcliffe = Nilai simulasi model = Nilai observasi model = Nilai rata-rata simulasi Model

Hasil simulasi dikatakan baik jika nilai ENS β‰₯ 0,75, memuaskan jika 0,75 β‰₯ ENS β‰₯ 0,36, kurang baik jika ENS < 0,36 (Nash dan Sutcliffe dalam Ilhamsyah Yopi, 2012).

G. Pengenalan Software dalam Analisis 1. LibreOffice LibreOffice adalah sebuah paket aplikasi perkantoran yang kompatibel dengan

aplikasi

perkantoran

seperti

Microsoft

Office

atau

14

OpenOffice.org dan tersedia dalam berbagai platform. Tujuannya adalah menghasilkan aplikasi perkantoran yang mendukung format ODF (open docement format) tanpa bergantung pada sebuah pemasok dan keharusan mencantumkan hak cipta. Nama LibreOffice merupakan gabungan dari kata Libre (bahasa Spanyol dan Perancis yang berarti bebas) dan Office (bahasa Inggris yang berarti kantor). Sebagai sebuah perangkat lunak bebas dan gratis, LibreOffice bebas untuk diunduh, digunakan, dan didistribusikan. Pada penelitian digunakan LibreOffice v.4.1.0

2. Ghostscript Ghostscript adalah paket software (package of software) yang menyediakan : a. penerjemah untuk bahasa PostScript (PostScript language), dengan kemampuan mengkonversi data-data berbahasa PostScript ke banyak format, menampilkannya pada display komputer dan atau mencetaknya pada printer yang tidak memiliki kemampuan membaca bahasa PostScript b. penerjemah untuk file Portable Document Format (PDF), dengan kemampuan yang sama. c. Kemampuan untuk konversi data-data berbahasa PostScript (PostScript language files) menjadi PDF (dengan beberapa batasan) dan sebaliknya.

15

Sebuah set dari prosedur-prosedur C (the Ghostscript library) yang mengimplementasikan kemampuan grafik dan filtering yang kemudian ditampilkan sebagai operasi-operasi dalam PostScript language dan dalam PDF. 3. GSview GSview adalah aplikasi untuk menampilkan gambar yang telah diproses oleh ghostscript. 4. Notepad Notepad adalah sebuah aplikasi sebuah text editor sederhana yang sudah ada sejak Windows 1.0 di tahun 1985 yang ada di setiap system windows baik xp, vista, seven dan sebagainya.tentu kode ini sangat penting dan justru mungkin paling sering di gunakan oleh para pengguna. Output dari program ini adalah .txt.

5. FTRANS FTRANS merupakan program yang dapat dipergunakan untuk mengolah data time series (time domain) menjadi data dalam bentuk frekuensi (frequency domain). Program FTRANS dapat dijalankan baik di Operating system Windows maupun di Operating System Linux, karena program ini merupakan program under DOS. Program FTRANS menggunakan alogaritma (Cooley dan Tukey, 1965) dimana

jumlah data atau N dianalisis sebagai pangkat dari 2, contohnya N = 2k. Jumlah data yang dapat dibaca oleh FTRANS mengikuti alogaritma diatas. Untuk data satu tahun (365 hari), oleh FTRANS hanya akan dibaca 256 hari. FTRANS hanya akan membaca file dengan nama

16

signals.inp. jika disimpan dengan nama file yang lain walaupun dengan format yang sama (.inp), FTRANS tidak dapat mengolah data yang ada. FTRANS akan menghasilkan 3 output, yaitu FOURIER.INP, yang berisi data-data yang akan digunakan untuk melkukan pengolahan model periodik. SPECTRUM.OUT yang berisi nilai frekuensi dari data curah hujan dan spectrum.eps yang digunakan untuk melihat grafik frekuensi dari data. 6. ANFOR (FOURIER) ANFOR adalah program under DOS yang dikembangkan oleh Ahmad Zakaria, Ph.D. ANFOR adalah program untuk menganalisis fourier dengan menggunakan least square method. ANFOR (FOURIER) digunakan untuk menghasilkan model periodik dari data hujan terukur. FOURIER menghasilkan signals.eps yang digunakan untuk melihat

grafik model periodik. FOURIER.OUT yang berisi komponenkomponen fourier yang digunakan serta koefisien korelasi dari model periodik. SIGNALS.OUT yang berisi model periodik dari data curah hujan. ANFOR (FOURIER) juga menggunakan alogaritma Cooley dan Tukey. Sehingga data yang dihasilkan oleh ANFOR (FOURIER) juga menggunakan pola N = 2k. 7. STOC (ARREG)

STOC merupakan program yang digunakan untuk menganalisa pemodelan stokastik. Program ini menggunakan model Autoregresif dengan menggunakan metode box Jenkins. Program ini juga di coded oleh Ahmad Zakaria Ph.D. STOC.exe Menghasilkan signalsps.out dan

17

autoreg.out. signalsps.out merupakan hasil pengolahan data untuk pemodelan stokastik dan periodik stokastik. Sedangkan autoreg.out berisi nilai-nilai yang digunakan dalam autoregresive dan koefisien korelasi model stokastik dan periodik stokastik yang dihasilkan.