II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pembelajaran Kooperatif

Model pembelajaran STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman temannya, model ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana (I...

0 downloads 6 Views 244KB Size
11

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja/belajar kelompok yang terstruktur. Terdapat empat unsur pokok yang termasuk dalam belajar terstruktur yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal dan keahlian bekerjasama (Amri dan Ahmadi, 2010: 90). Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam siswa yang sederajat tetapi heterogen, kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Selama bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah saling membantu teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar (Trianto, 2009: 56). Pendapat dari Nurulhayati (dalam Rusman, 2012:203) bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi dan belajar bekerja sama dengan anggota kelompok lainnya. Model ini membuat siswa memiliki dua

12

tanggung jawab, yaitu mereka bertanggung jawab dengan dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Hal ini sejalan dengan pemikiran Artzt dan Newman (dalam Trianto, 2009: 56) menyatakan bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam suatu tim menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya. Pembelajaran kooperatif dipandang sebagai strategi mengajar yang memberikan peran terstruktur bagi siswa seraya menekankan interaksi siswasiswa (Eggen dan Kauchak, 2012: 136). Menurut pendapat Ratumanan (dalam Trianto, 2009: 62) interaksi yang terjadi dalam pembelajaran kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Lebih lanjut Slavin (dalam Rusman, 2012: 201) menerangkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif dibolehkan terjadinya pertukaran ide dan pemeriksaan ide sendiri dalam kelompok. Model pembelajaran kooperatif menjadikan guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jempatan penghubung kearah pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri. Guru tidak banyak memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Siswa mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pengalaman langsung untuk menerapkan ide-ide mereka, ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. Pembelajaran kooperatif memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-

13

tugas akademiknya (Trianto, 2009: 59). Menurut Johnson (dalam Eggen dan Kauchak, 2012: 153) siswa yang bekerja sama di dalam kelompok kooperatif mengasah keterampilan sosial mereka, menerima siswa dengan kemampuan kesulitan belajar, dan membangun persahabataan dan sikap positif terhadap orang lain yang memiliki prestasi, etnisitas, dan gender berbeda. Hal lain yang mendukung adalah pernyataan Trianto (2009: 60) bahwa di dalam proses pembelajaran kooperatif akan memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain. Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok konversional yang menerapkan sistem kompetisi yaitu keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh kerja sama antarsiswa yang saling ketergantungan dalam keberhasilan kelompoknya (Amri dan Ahmadi, 2010: 93). Manfaat dari kerja sama yang saling ketergantungan antarsiswa di dalam pembelajaran kooperatif berasal dari empat faktor diungkapkan oleh Slavin (dalam Eggen dan Kauchak, 2012: 153) yaitu (1) siswa dengan latar belakang berbeda bekerja sama; (2) anggota kelompok memiliki status yang setara; (3) siswa mempelajari diri mereka satu sama lain sebagai individu; dan (4) guru menekankan nilai dari kerja sama di antara semua siswa.

14

Menurut pendapat Rusman (2012: 211) terdapat enam fase atau langkah utama dalam pembelajaran kooperatif. Keenam fase pembelajaran kooperatif dirangkum pada tabel berikut ini. Tabel 1. Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif Tahap Tahap 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Tingkah Laku Guru Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pelajaran dan menekankan pentingnya topic yang akan dipelajari dan memotivasi siswa belajar. Tahap 2 Guru menajikan informasi atau materi kepada Menyajikan informasi siswa dengan jalan demonstrasi atau melalui bahan abacaan. Tahap 3 Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana Mengorganisasikan siswa caranya membentuk kelompok belajar dan ke dalam kelompokmembimbing setiap kelompok agar melakukan kelompok belajar transisi secara efektif dan efesien. Tahap 4 Guru membimbing kelompok-kelompok Membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas bekerja dan belajar mereka. Tahap 5 Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi Evaluasi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Tahap 6 Guru mencari cara-cara untuk mengharga Memberikan upaya maupun hasil belajar individu dan penghargaan kelompok. Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian dan dianjurkan oleh para ahli pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang menelaah pembelajaran kooperatif menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan komunikasi, keterampilan antarpribadi, dan sikap siswa terhadap pembelajaran mereka. Pembelajaran ini bahkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah-masalah dan prestasi secara umum (Roseth dalam Eggen dan Kauchak, 2012: 155). Hal yang hampir sama dikemukakan pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Slavin (Rusman, 2012: 205-206)

15

dinyatakan bahwa: (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain, (2) pelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dalam pengalaman. Hal tersebut dapat dijadikan alasan bahwa pembelajran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.

B. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD) Model pembelajaran STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman temannya, model ini merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana (Ibrahim, dkk, 2000: 20). Pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan sebuah strategi pembelajatan kooperatif yang memberi tim berkemampuan majemuk latihan untuk mempelajari konsep dan keahlian. Siswa berlatih di dalam kelompok yang bekerja sama. Kelompok-kelompok ini berfungsi bersama selama kurun waktu yang diperpanjang, memberi kesempatan untuk berlatih dan memberikan umpan balik di tengah unit pelajaran (Eggen dan Kauchak, 2012: 144). Model STAD menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok empat sampai lima orang siswa secara heterogen, yaitu campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, suku/ras. Diawali dengan penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan penghargaan kelompok (Trianto, 2009: 68).

16

Pada pembelajaran kooperatif tipe STAD guru memberikan suatu pembelajaran dan siswa-siswanya di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok itu bisa menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain. Nilai-nilai hasil kuis siswa diperbandingkan dengan nilai rata-rata meraka sendiri yang diperoleh sebelumnya, dan nilai-nilai itu diberi hadiah berdasarkan pada seberapa tinggi peningkatan yang bisa meraka capai atau seberapa tinggi nilai itu melampaui nilai mereka sebelumnya (Rusman, 2012: 214). Model pembelajaran STAD dapat dijadikan alternatif dalam mengajar karena membantu menciptakan interaksi yang baik antar siswa, meningkatkan sikap positif terhadap pelajaran, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama (Aqip, 2013: 28). Pendapat yang hampir sama mengenai hal ini dikemukakan oleh Balfakih (2003:608) yaitu terdapat empat alasan yang menyebabkan model STAD dapat digunakan sebagai alternatif model mengajar. Keempat alasan tersebut dinyatakan sebagai berikut: “Pertama, STAD memfasilitasi interaksi antar siswa di dalam kelas. Kedua, meningkatkan sikap positif, harga diri, dan hubungan interpersonal antar siswa. Ketiga, dapat menambah sumber belajar tambahan di dalam kelompok, seperti dengan anggota kelompok berprestasi tinggi yang mengambil peran tutor demi tercapainya hasil akhir yang lebih baik untuk bersama. Keempat, mempersiapkan siswa untuk masuk ke dalam masyarakat modern dengan mengajarkan mereka bekerja dengan teman sekelas dengan efektif dan efisien.” Menurut Eggen dan Kauchak (2012: 214) merencanakan pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran kooperatif STAD adalah proses empat

17

langkah yang menyangkut hal berikut: (1) melakukan perencanaan untuk mengajar kelas-utuh; (2) mengatur kelompok; (3) merencanakan stadi tim; dan (4) menghitung skor dasar dan nilai perbaikan. Adapun langkah-langkah pembelajaran kooperatif model STAD dipaparkan oleh Rusman (2012: 213214) sebagai berikut: 1

menyampaikan tujuan dan motivasi Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran dan motivasi siswa untuk belajar.

2

pembagian kelompok Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok, di mana setiap kelompoknya terdiri dari empat sampai lima siswa yang memprioritaskan heterogenitas (keragaman) kelas dalam prestasi akademik, gender/ jenis kelamin, ras atau eknik.

3

presentasi dari guru Guru menyampaikan materi pelajaran dengan terlebih dahulu menjelaskan tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pertemuan tersebut serta pentingnya pokok bahasan tersebut dipelajari. Guru memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif. Dijelaskan juga tentang keterampilan dan kemampuan yang diharapkan dikuasai siswa, tugas dan pekerjaan yang harus dilakukan serta cara-cara mengerjakannya.

4

kegiatan belajar dalam tim (kerja tim) Siswa belajar kelompok yang telah dibentuk. Guru menyiapkan lembar kerja sebagai pedoman bagi kerja kelompok, sehingga semua anggota menguasai dan masing-masing memberikan kontribusi. Selama tim

18

bekerja, guru melakukan pengamatan, memberikan bimbingan, dorongan dan bantuan bila diperlukan. Kerja tim ini merupakan ciri terpenting dari STAD. 5

kuis (evaluasi) Guru mengevaluasi hasil belajar melalui kuis tentang materi yang dipelajari dan juga melakukan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Siswa diberikan kuersi secara individual dan tidak dibenarkan bekerja sama. Ini dilakukan untuk menjamin agar siswa secara individu bertanggung jawab atas diri sendiri dalam memahami bahan ajar tersebut. Guru menetapkan skor batas penguasaan untuk setiap soal, misalnya 60, 75, 84, dan seterusnya sesuai dengan tingkat kesulitan siswa.

6

penghargaan prestasi tim Setelah melaksanakan kuis, guru memeriksa hasil kerja siswa dan diberikan angka dengan rentang 0-100. Selanjutnaya pemberian penghargaan atas keberhasilan kelompok.

C. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari beberapa orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntaasan bagian materi pembelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends dalam Amri dan Ahmadi, 2010: 94-95). Model

19

pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain (Isjoni, 2010: 58). Kunci dari keberhasilan Jigsaw menurut Lie (dalam Amri dan Ahmadi, 2010: 95) adalah siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan. Saat terlibat di dalam satu kegiatan Jigsaw, siswa menjadi pakar mengenai satu bagian tertentu dari tugas belajar dan menggunakan keahlian mereka untuk mengajari siswa lain. Kemudian, saat mereka bekerja sebagai satu tim, setiap anggota menyumbangkan kepingan puzzle pengetahuan berbeda (Eggen dan Kauchak, 2012: 138). Pernyataan yang hampir sama dikemukaan oleh Lewis (2012: 2) bahwa “Pembelajaran Jigsaw membantu siswa dalam membagi materi pembelajaran menjadi potongan-potongan sub materi pada proses belajar, kemudian siswa dengan sub materi yang telah ia kuasai akan mengajar siswa lain, akhirnya akan menggabungkan potongan-potongan materi ini menjadi satu kesatuan. Pembelajaran Jigsaw didasarkan pada perspektif bahwa setiap siswa akan menjadi "ahli" di bagian kecil dari seluruh materi pembelajaran, kemudian siswa mengajarkan kepada siswa lain dalam kelompoknya terhadap materi yang mereka kuasai.” Pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari empat sampai enam siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini desebut dengan kelompok asal. Setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli. Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun

20

rencana magaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali kekelompok asal. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan (Amri dan Ahmadi, 2010: 96-98). Hubungan yang terjadi antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut:

Kelompok Asal +

-

+

-

+

-

+

-

=

*

=

*

=

*

=

*

+

+

-

-

=

=

*

*

+

+

-

-

=

=

*

*

Kelompok Ahli Gambar 2. Hubungan yang terjadi antara kelompok asal dan kelompok ahli (Trianto, 2012: 74) Terdapat 5 fase dalam menerapkan pembelajaran Jigsaw menurut Eggen dan Kauchak (2012: 141) yaitu (1) menunjuk pakar; (2) rapat ahli; (3) instruksi rekan; (4) review; serta (5) penghargaan kelompok dan penutup. Menurut Amri dan Ahmadi (2010: 180) langkah dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah sebagi berikut: (1) siswa

21

dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim; (2) tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda; (3) anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/ sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka; (4) setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. (5) tiap tim ahli mempersentasikan hasil diskusi; (6) guru memberi evaluasi; dan (7) penutup. Penelitian oleh Jhonson (dalam Rusman, 2012: 219) tentang pembelajaran model Jigsaw menunjukkan bahwa interaksi kooperatif yang terjadi memiliki beberapa pengaruh positif terhadap perkembangan anak. Pengaruh positif tersebut adalah (1) meningkatkan hasil belajar; (2) meningkatkan daya ingat; (3) dapat digunakan untuk mencapai tarap penalaran tingkat tinggi; (4) mendorong tumbuhnya motivasi intrinsik (kesadaran individu); (5) meningkatkan hubungan antarmanusia yang heterogen; (6) meningkatkan sikap anak yang positif terhadap sekolah; (7) meningkatkan sikap positif terhadap guru; (8) meningkatkan harga diri anak; (9) meningkatkan perilaku menyesuaian social yang positif; dan (10) meningkatkan keterampilan hidup bergotong-royong.

D. Penguasaan Materi Pada setiap pertemuan dalam proses pembelajaran diharapkan bagi siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran kognitif, yaitu berupa menguasai materi pelajaran. Penguasaan materi merupakan kemampuan menyerap arti

22

dari materi suatu bahan yang dipelajari. Penguasaan materi bukan hanya sekedar mengingat mengenai apa yang pernah dipelajari tetapi menguasai lebih dari itu, yakni melibatkan berbagai proses kegiatan mental sehingga lebih bersifat dinamis (Arikunto, 2003: 115).

Melalui teknik meta-analisis, Druva dan Anderson (dalam Dahlan, 2011: 7) telah menemukan hubungan yang positif yang signifikan antara penguasaan materi dengan efektivitas proes belajar mengajar. Namun demikian hasil studi Maguire menunjukkan korelasi yang cukup kecil antara tingkat penguasaan materi dengan prestasi belajar siswa. Hasil penelitian tersebut menggambarkan bahwa penguasaan materi akan sangat membatu dalam mengefektivitaskan proses belajar guna meningkatkan prestasi belajar siswa.

Menurut Anderson (dalam Sary, 2010: 14) dalam bukunya yang berjudul A Taxonomy of Learning, Teaching and Assesing: a Revission of Bloom’s Taxonomy of Educational Objective, mengemukakan empat bentuk dimensi pengetahuan yaitu: (1) pengetahuan faktual, meliputi pengetahuan terminologi dan pengetahuan yang bersifat khusus; (2) pengetahuan konseptual, meliputi pengetahuan mengenai klasifikasi, kategori, prinsip, generalisasi, teori, model dan struktur; (3) pengetahuan prosedural, meliputi pengetahuan mengenai keterampilan, algoritma, teknik, metode dan pengetahuan tentang kriteria yang digunakan untuk menentukan dan atau membenarkan “kapan dan apa yang harus dilakukan” dalam domain khusus dan disiplin; (4) pengetahuan metakognitif, meliputi strategic knowledge, contextual, conditional knowledge, dan self knowledge.

23

Pengetahuan yang diperoleh siswa pada umumnya melalui proses kognisi yaitu suatu tindakan mental untuk memperoleh pengetahuan. Tingkat-tingkat tujuan

kognitif penguasaan materi pelajaran oleh siswa berbeda-beda dan untuk membantu guru memahami secara lebih baik perbedaan-perbedaan dalam berpikir tersebut, Krathwohl dan Anderson mengklasifikasikan proses berpikir siswa ke dalam beberapa tingkatan (Eggan dan Kauchak (2012: 10). Penguasaan materi berupa hasil belajar dalam kecakapan kognitif yang terdiri dari enam proses berpikir, yaitu mengingat, mengerti, menerapkan, menganalisis, menilai, dan berkreasi. Penjelasan lebih lanjut terlihat dari paparan di bawah ini: Tabel 2. Ringkasan jenjang belajar Berpikir Mengingat Mengerti

Menerapkan

Uraian Memunculkan pengetahuan dari jangka panjang Membentuk arti dari pesan pembelajaran (isi) : lisan, tulisan, grafis, atau gambar

Melaksanakan atau menggunakan prosedur dalam situasi tertentu Menganalisis Menjabarkan komponen atau struktur dengan membedakan dari bentuk dan fungsi, tujuan dan seterusnya. Menilai Menyusun pertimbangan berdasarkan kriteria dan persyaratan khusus Berkreasi Menyusun sesuatu hal baru; memodifikasi suatu model lama, menjadi sesuatu yang berbeda, dan seterusnya. Sumber: Prawiradilaga (2007: 95).

Rincian Mengenali Mengingat Memahami Membuat contoh Mengelompokan Meringkas Meramalkan Membandingkan Menjelaskan Melaksanakan Mengembangkan Membedakan Menyusun kembali Menandai Mengecek Mengkritik Menghasilkan Merencanakan Membentuk

24

E. Aktivitas Belajar Aktivitas belajar siswa mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Sardiman (2007: 97) yang menyatakan bahwa dalam pembelajaran sangat diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas proses pembelajaran itu tidak mungkin akan berlangsung dengan baik. Menurut Hamalik (2004: 171) pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melakukan aktivitas sendiri. Sebagai pendukung, Rohani (2004: 9-10) menyatakan dalam pembelajaran yang efektif guru hanya merangsang keaktifan siswa dengan jalan menyajikan bahan pengajaran, yang mengelolah dan mencerna adalah peserta didik itu sendiri sesuai kemauan, kemampuan, bakat dan latar belakang masing-masing. Belajar yang berhasil mesti melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik adalah siswa giat-aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain maupun berkerja, ia tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Peserta didik yang memiliki aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyakbanyaknya dalam pengajaran, seperti mendengarkan, mengamati, menyelidiki, mengingat, menguraikan, mengasosiasikan ketentuan satu dengan lainnya, dan sebagainya (Rohani dan Ahmadi, 1995: 6). Dua aktivitas (fisik dan psikis) dipandang sebagai hubungan yang erat. Sehubungan dengan ini, Peaget (dalam Sardiman, 2007: 100) menerangkan bahwa seorang anak itu berpikir sepanjang ia berbuat, tanpa berbuat berarti anak itu tidak berpikir. Lebih lanjut Rohani (2004: 7) menyatakan berpikir pada taraf verbal baru

25

timbul setelah individu berpikir pada taraf perbuatan, sehingga disini berlaku prinsip learning by doing-learning by experience. Terdapat “Miss-understanding” yang sering muncul bahwa keaktifan atau kegiatan kegiatan disamakan dengan menyuruh peserta didik melakukan sesuatu. Haruslah dipahami, keaktifan atau kegiatan yang dimaksud tentu jika peserta didik dapat mengekspresikan kemampuan sendiri, misalnya ringkasan membuat adegan dengan benda-benda konkrit. Sehingga ia tidak hanya menggunakan telinga saja tetapi juga mata, tangan ikut memikirkan, rarasakan sesuatu dan sebagainya (Rohani, 2004: 8). Menurut Dierich (dalam Hamalik, 2004: 172-173) membagi aktivitas belajar peserta didik dalam 8 kelompok, yaitu sebagai berikut : 1. Kegiatan visual, seperti membaca, memerhatikan gambar, mangamati eksperimen, demonstrasi, pameran dan mengamati orang lain bekerja atau bermain. 2. Kegiatan lisan (oral) seperti: mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, wawancara, diskusi, dan interupsi. 3. Kegiatan mendengarkan, sebagai contoh mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, pendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio. 4. Kegiatan menulis, misalnya menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat rangkuman, mengerjakan tes dan mengisi angket.

26

5. Kegiatan menggambar, misalnya : menggambar, membuat grafik, chart, diagram peta dan pola. 6. Kegiatan metrik, seperti melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun. 7. Kegiatan mental, sebagai contoh misalnya merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, factor-faktor, melihat, hubunganhubungan dan membuat keputusan. 8. Kegiatan emosional, seperti misalnya, minat, membedakan, berani, tenang, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, tenang, gugup, dan lainlain. Penggunaan asas aktivitas belajar besar nilainya bagi pengajaran para siswa, oleh karena (1) siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri; (2) berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral; (3) memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa; (4) bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri; (5) memupuk disiplin siswa secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis; (6) mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru; (7) pengajaran diselnggarakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalistis; serta (8) pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat (Hamalik, 2004: 175).