JURNAL BAHASA DAN SASTRA

nationalism character awareness as the effect of colonialization found in Jejak Langkah (JL) novel by Pram. The research objective is to find supportin...

0 downloads 28 Views 2MB Size
ISSN: 2355-1623

JURNAL

BAHASA DAN SASTRA

JURNAL

BAHASA DAN SASTRA Penanggung Jawab Ahmad Zayadi Ketua Penyunting Sutejo Wakil Ketua Elys Rahayu Rohandia Misrohmawati Penyunting Ahli Kasnadi Bambang Yulianto Setya Yuwana Suharmono Kasiun Djoko Saryono Penyunting Pelaksana Purnomo Sidik Kustiyono Ririen Wardiani Cutiana Windri Astuti Adip Arifin Sekretaris Hestri Hurustyanti Pelaksana Tata Usaha/On line Edy Suprayitno ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Alamat Penyunting dan Tata Usaha: STKIP PGRI Ponorogo, Jalan Ukel 39 Kertosari, Babadan, Ponorogo. Telepon/Fax. (0352) 481841/485809. Website: www.stkippgripo.ac.id. Surel: [email protected] yahoo.co.id. Langganan 2 nomor Rp. 100.000,- (setahun) + ongkos kirim. Uang langganan dikirimkan melalui Bank BRI Kantor Cabang Ponorogo (Jl. Soekarno-Hatta Ponorogo) Rekening No. 0070-01044589-50-0 a.n. STKIP PGRI Ponorogo. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Redaksi menerima sumbangan tulisan yang belum pernah diterbitkan dalam media cetak lain. Naskah diketik dengan 2 spasi pada kertas A4, panjang 12-20 halaman (lihat Petunjuk bagi Penulis). Naskah yang masuk dievaluasi oleh Mitra Bestari. Penyunting dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah maksud dan isinya.

Vol. 1, No. 1, Januari-Juni 2014

ISSN: 2355-1623

DAFTAR ISI

 NASIONALISME KEINDONESIAAN DALAM NOVEL JEJAK LANGKAH KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER Sariban ..............................................................................................................................................

1

 SURIPAN SADI HUTOMO: RIWAYAT DAN PERANANNYA DALAM SASTRA JAWA Djoko Sulaksono ...............................................................................................................................

13

 NILAI KEAGAMAAN DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM ANTOLOGI PUISI “TADARUS” KARYA A. MUSTOFA BISRI Indrya Mulyaningsih ..........................................................................................................................

21

 HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI Yuni Ertinawati.................................................................................................................................

31

 TEKNIK PEMODELAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PUISI SISWA SEKOLAH DASAR Hestri Hurustyanti.............................................................................................................................

41

 PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MELALUI METODE BERCERITA PADA SISWA PAUD Cutiana Windri Astuti ...................................................................................................................... 53  THE TEACHING AND LEARNING OF SPEAKING AT PRIVATE ENGLISH COURSE Rifa Suci Wulandari ..........................................................................................................................

65

 PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI TEKNIK PETA PIKIRAN Nining Dwiastutik ............................................................................................................................

71

PETUNJUK BAGI PENULIS 1. 2.

Artikel yang dimuat berupa analisis, kajian, hasil penelitian, dan pembahasan kepustakaan. Artikel merupakan karya original penulis dan terbebas dari penjiplakan (plagiat). Isi artikel dan kemungkinan pelanggaran etika penulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. 3. Naskah belum pernah diterbitkan dalam jurnal dan media cetak lain, diketik dengan 2 spasi pada kertas A4, panjang 12-20 halaman, dan diserahkan paling lambat 3 bulan sebelum bulan penerbitan dalam bentuk print-out sebanyak 2 eksemplar dan file CD. Berkas naskah diketik dengan Microsoft Word. File naskah juga bisa dikirim lewat email [email protected] 4. Nama penulis artikel dicantumkan tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah judul artikel. Bila penulis terdiri atas empat orang atau lebih, yang dicantumkan di bawah judul artikel adalah nama penulis utama; nama penulis-penulis lainnya dicantumkan pada catatan kaki halaman pertama naskah. Artikel hasil penelitian yang dikerjakan oleh tim, semua anggota tim harus dicantumkan. Dalam proses penyuntingan artikel, pengelola jurnal hanya berhubungan dengan penulis utama atau penulis yang namanya tercantum pada urutan pertama. 5. Artikel nonpenelitian terdiri atas: (a) judul (maksimal 10 kata), (b) identitas penulis, (c) abstrak (abstract) dalam bahasa Indonesia dan Inggris (75-150 kata), (d) kata-kata kunci (keywords) dalam bahasa Indonesia dan Inggris (3-5 kata), (e) pendahuluan (tanpa judul subbab) yang berisi latar belakang dan tujuan atau ruang lingkup tulisan, (f) bahasan utama (dapat dibagi ke dalam beberapa sub-bagian), (g) penutup atau kesimpulan, dan (h) daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk). Artikel hasil penelitian disajikan dengan sistematika sebagai berikut: (a) judul (maksimal 10 kata), (b) nama penulis, (c) abstrak (abstract) dalam bahasa Indonesia dan Inggris (75-150 kata) yang berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian, (d) kata-kata kunci (keywords) dalam bahasa Indonesia dan Inggris, (e) pendahuluan (tanpa judul subbab) berisi telaah teori relevan terpenting dan tujuan penelitian (maksimal 25% dari jumlah halaman artikel), (f) metode penelitian (maksimal 20% dari jumlah halaman artikel), (g) hasil (maksimal 20% dari jumlah halaman artikel), (h) pembahasan, (i) simpulan dan saran, dan (j) daftar rujukan (hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk). 6. Untuk artikel hasil penelitian, penulis wajib mengirimkan soft-file laporan penelitian dan lembar pengesahan laporan penelitian. Lembar pengesahan laporan penelitian difax ke (0352) 481841, sementara soft-file laporan penelitian dikirim ke [email protected] 7. Daftar rujukan disajikan mengikuti tatacara seperti contoh berikut, diurutkan secara alfabetis, dan kronologis. Good, Thomas. L and Brophy, Jere. E. 1991. Looking in Classroom (5th ed). New York: Harpercollins, Inc. Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta Pusat: Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Dekdipbud. 8. Segala sesuatu yang menyangkut perijinan pengutipan atau penggunaan software komputer untuk pembuatan naskah atau ihwal lain yang terkait dengan HAKI yang dilakukan oleh penulis artikel, berikut konsekuensi hukum yang mungkin timbul karenanya, menjadi tanggung jawab penuh penulis artikel tersebut. 9. Sumber rujukan sedapat mungkin merupakan pustaka-pustaka terbitan 10 tahun terakhir. Rujukan yang diutamakan adalah sumber-sumber primer berupa laporan penelitian (termasuk skripsi, tesis, disertasi) atau artikel-artikel penelitian dalam jurnal dan/atau majalah ilmiah. 10. Semua naskah ditelaah secara anonim oleh penyunting ahli (reviewers) yang ditunjuk oleh penyunting menurut bidang kepakarannya. Penulis artikel diberi kesempatan untuk melakukan perbaikan (revisi) naskah atas dasar rekomendasi/saran dari penyunting ahli atau penyunting. Kepastian pemuatan atau penolakan naskah akan diberitahukan secara tertulis. 11. Untuk memudahkan komunikasi dengan penulis, penulis wajib menyertakan nomor handphone, alamat korespondensi, dan alamat e-mail.

NASIONALISME KEINDONESIAAN DALAM NOVEL JEJAK LANGKAH KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER Sariban Abstrak: Perbincangan nasionalisme selalu aktual dalam kehidupan berbangsa, termasuk Indonesia. Semangat nasionalisme dipicu bahwa masyarakat dalam ikatan bangsa selalu berobsesi mempertahankan identitas nasionalnya. Identitas nasionalisme sebuah bangsa selalu dalam ancaman internal dan eksternal. Secara internal, sikap mental ketidakcintaan terhadap tanah air adalah wujud ancaman internal jiwa nasionalisme. Ancaman nasionalisme secara eksternal berupa ekspansi hegemoni ideologi budaya bangsa superior dalam bentuk penjajahan. Fenomena-fenomena demikian dapat ditelusuri melalui karya sastra. Di antaranya adalah dalam novel Jejak Langkah (JL) karya Pramoedya Ananta Toer yang kemudian disebut Pram. Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang diungkap dalam kertas kerja ilmiah ini adalah bagaimanakah faktor pendorong dan karakter kesadaran nasionalisme keindonesiaan yang timbul akibat penjajahan dalam novel JL karya Pram. Tujuan penulisan makalah ini adalah menemukan faktor pendorong dan karakter kesadaran nasionalisme keindonesiaan yang timbul akibat penjajahan dalam novel JL karya Pram. Analisis menunjukkan bahwa penjajahan berdampak kompleks. Akibat keterjajahan itu, muncullah kesadaran nasionalisme keindonesiaan. Kesadaran nasionalisme keindonesiaan dipengaruhi kesadaran nasionalisme bangsa-bangsa Asia. Gelombang revolusi Jepang, Tiongkok, dan Arab dapat dianggap sebagai pemicu munculnya kesadaran nasionalisme keindonesiaan yang direpresentasikan oleh nasionalis Jawa waktu itu. Kata Kunci: Penjajahan, Nasionalisme Keindonesiaan, Novel ’Jejak Langkah’ Pram. Abstract: The discussion of nationalism will always be actual toward nationality life. The spirit of nationalism is triggerred by national bound of the community who keep obsessing to defend their national identity. Nationalism identity of a country is always in threats internally and externally. Internal threat comes from the resentment of the people toward their own country, while external threats caused by ideological culture invasion of developed country. These fenomenon can be found out in literary works. Pramoedya Anata Toer’s novel –jejak langkah talks about it. Based on the background of the study, the research problem is how are the supporting factors and Indonesian nationalism character awareness as the effect of colonialization found in Jejak Langkah (JL) novel by Pram. The research objective is to find supporting factors and Indonesian nationalism character awareness as the effect of colonialization found in Jejak Langkah (JL) novel. The analysis shows that there are complex effects of colonialization. One of them is Indonesian nationalism awareness. It is influenced by Asian countries nationalism. The revolution wave in Japan, Tiongkok and Arabic is triggering factor of Indonesian nationalism awareness presented by Javanese nationalist at that time. Key words: Colonozation, Indonesian Nationalism, ’Jejak Langkah’ Pram novel.

2 Sariban, Nasionalisme Keindonesiaan dalam Novel Jejak Langkah Karya Pramoedya Ananta Toer

PENDAHULUAN Sebuah fakta bahwa Indonesia adalah negara bekas jajahan. Dampak penjajahan itu hingga kini masih terasa (Steenbrink: 2006; Juliawan: 2003). Terdapat persepsi bahwa bangsa Indonesia tidak memiliki kepercayan diri terhadap bangsa Barat sebagai representasi bangsa penjajah. Timur secara sikap mental hingga saat ini masih bergantung Barat. Perkenalan bangsa Indonesia dengan bangsa Barat, khusunya Belanda, terjadi sejak abad XVII. Sejak tiga setengah abad yang lalu di Indonesia telah secara luas dikenal hierarki sosial antara lain: perbedaan kulit, ciri perilaku individual, perbedaan tingkat peradaban, dan kebudayaan. Pertentangan secara nyata antara bangsa Indonesia dengan Belanda terjadi awal abad XX. Hubungan sosial antara kedua bangsa merupakan faktor utama bangkitnya kesadaran nasional, sebagai pertentangan ide antara Barat dan Timur (Ratna, 2003:246). Selama tiga ratus lima puluh tahun, Belanda menguasai koloni Indonesia. Peristiwa-peristiwa traumatik akibat kolonial terekam melalui karya sastra. Peninggalan produk-produk kolonial bisa ditemukan di dalam teks sastra. Setelah penjajahan berakhir, bukan berarti bahwa elemenelemen pembentuk budaya kolonial sepenuhnya berakkhir. Representasi kolonial dalam karya sastra dapat dipelajari untuk memeroleh gambaran ideologi kolonial yang diterapkan di Indonesia (Gandhi:1988; Tyson:1999). Analisis karya sastra suatu bangsa pada periode tertentu merupakan usaha memahami budaya bangsa yang bersangkutan. Sebagai bangsa yang pernah dijajah ratusan tahun, analisis karya sastra Indonesia yang berkisah heroisme nasionalisme sebagai perlawanan terhadap kolonial menjadi penting sebagai usaha memahami budaya bangsa serta menumbuhkan rasa kebangsaan Indonesia yang kemudian digunakan istilah ’nasionalisme keindonesiaan’. Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara Barat mengalami kejayaan sehingga mereka mampu menguasai negara-negara Afrika dan Asia (Walia:2003; Said:2001). Jejak-jejak penjajahan

serta gelombang nasionalisme banyak terekam dalam karya sastra. Di antaranya adalah dalam novel Jejak Langkah (JL) karya Pram. K ar ya Pram yang banyak memotret nasionalisme keindonesiaan perlu memeroleh kajian kritis, karena Pram merupakan pengarang besar yang pernah dimiliki Indonesia. Karyakarya Pram tidak hanya berpengaruh di negerinya, melainkan juga di Asia, bahkan dunia. Media internasional sering menyebut Pram sebagai pengarang yang layak memeroleh penghargaan Nobel Sastra. Dalam sebuah sampul belakang novel Rumah Kaca, The San Francisco Chronicle menyatakan bahwa Pram selain seorang pembangkang paling masyur adalah juga Albert Camus-nya Indonesia. Kesamaannya terdapat pada segala tingkat. Pram mampu mengonfrontasikan berbagai masalah monumental dengan kenyataan kesederhanaan sehari-hari. Wa j a r ke mu d i a n P r a m m e m e r o l e h penghargaan dari pemerintah Indonesia. Penghargaan demi penghargaan diraihnya. Dengan roman Perburuan, Pram memeroleh penghargaan dari Balai Pustaka pada tahun 1949. Tahun berikutnya, 1952, dengan kumpulan cerpen Tjerita dari Blora, Pram memeroleh penghargaan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Reputasi Pram secara internasional dapat dilihat dari penghargaan yang diperolehnya sejak tahun 1988: Freedom to Write Award dari PEN American Center, Amerika Serikat; 1989: Anugerah dari The Fund for Free Expression, New York, Amerika Serikat; 1995: Wertheim Award dari Wertheim Foundation, Leiden, Belanda; 1995: Ramon Magsaysay Award dari Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filiphina; 1996: UNESCO Madanjeet Singh Prize dari UNESCO, Paris, Prancis; 1999 Doctor of Humane Letters dari University of Michigan, Madison, Amerika Serikat; 1999: Chanceller’s Distinguished Honor Award dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat; 1999: Chevalier de l’Ordre des Arts et des Letters dari Paris, Prancis; 2000: New York Foundaion, Amerika Serikat; 2000: Fukuoka Cultural Grand

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 3

Prize, Jepang; 2004: Centenario Pablo Naruda, Republica de Chile (Toer, 2006:537—538). Hadiah Magsaysay dai Filiphina juga diberikan Pram. Penghargaan ini disebut-sebut sebagai Nobel Asia kepada Pram untuk kategori penulisan jurnalistik dan sastra. Hadiah serupa pernah diterimakan kepada tokoh-tokoh penting Indonesia, sepeti H. B. Jassin, Mochtar Lubis, Soedjatmoko, Ali Sadikin, Abdurrahman Wahid, Ny. A. H. Nasution, Anton Soedjarwo, Ben Mboi, dan Nafsiah Mboi (Sambodja:2008). Pram dalam JL banyak merekam dampak penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Kegetiran dan kepahitan hidup bangsa Indonesia akibat penjajahan Eropa digambarkan Pram secara satir. Karena manusia memiliki kesadaran atas tingkah laku dan pengalaman hidupnya, bangsa terjajah memiliki kesadaran bahwa dirinya telah dijajah. Kesadaran ini menyebabkan bangsa terjajah memiliki pandangan tertentu terhadap bangsa penjajah. Pandangan terjajah terhadap penjajah tersebut melahirkan kesadaran berbangsa dalam diri terjajah sehingga lahir kesadaran nasionalisme keindonesiaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus makalah ini adalah mengungkap secara kritis faktor pendorong dan karakter nasionalisme keindonesiaan akibat penjajahan dalam novel JL karya Pram. Tujuan penulisan makalah ini adalah menemukan faktor pendorong dan karakter bentuk-bentuk nasionalisme keindonesiaan akibat penjajahan. Harapannya, makalah ini bermanfaat bagi bangsa Indonesia untuk menumbuhkan kesadaran nasionalisme dan identitas keindonesiaan sehingga terbina kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Analisis ini juga dapat digunakan untuk mewujudkan visi pendidikan kebangsaan Indonesia melalui pembelajaran teks sastra Indonesia yang merepresentasikan nasionalisme untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik dalam mencintai negaranya, membanggakan bangsanya, memiliki semangat kebangsaan, dan menjunjung tinggi kehormatan bangsanya. Konsep ini dalam pendidikan sastra dikenal sebagai pembelajaran sastra yang berkarakter kebangsaan

sebagaimana gagasan Latif (2009:79). Karena itu, bagi praktisi pendidikan, kajian ini bermanfaat mendorong terwujudnya pendidikan sastra yang berkarakter kebangsaan keindonesiaan.

PEMBAHASAN Munculnya kesadaran nasional dibentuk oleh keinginan orang-orang sebangsa untuk memiliki identitas nasional (Muljana:2008). Karena sebuah bangsa diikat oleh wilayah dan budaya tertentu sesuai tempat mereka, orang-orang sebangsa ingin mengaktualkan dirinya dalam bentuk identitats nasional. Muncullah kemudian rasa nasionalisme atau kesadaran nasional. Pada era di mana negara tidak dikuasai oleh negara lain, nasionalisme tumbuh dalam jiwa kebangsaan rakyatnya. Jiwa kebangsaan identik dengan jiwa nasionalisme. Suseno (2008:8) memberikan analisis aktual semangat kebangsaan Indonesia mutakhir dengan menghubungkan realitas historis dan aktualitas pluralisme masyarakat Indonesia. Kebangsaan merupakan hasil pengalaman dalam sejarah. Kebangsaan Indonesia tumbuh dari keragaman budaya Indonesia. Karena itu, kebangsaan Indonesia harus terus dipelihara dengan basis keragaman budaya tadi. Jika sebagaian bangsa merasa tidak disertakan, diabaikan, dieksploitasi, apalagi ditindas, rasa kebangsaan bakal mengalami penurunan. Kebangsaan bukanlah sebuah fakta, melainkan sebuah panggilan luhur: panggilan untuk mewujudkan persatuan sedemikian rupa sehingga semua warga bangsa merasa terangkat dan terdukung oleh kebangsaan mereka. Nasionalisme setiap bangsa memiliki karakter. Karakter nasionalisme itu dibentuk oleh sejarah panjang dan pengalaman pahit masyarakat bersama yang diikat oleh bangsa yang bersangkutan. Konsep ini lebih melihat nasionalisme sebagai proses yang terus-menerus berjalan. Sebagai proses, nasionalisme dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Faktor eksternal muncul disebabkan persinggungan sebuah masyarakat satu dengan masyarakat lain dalam ikatan bangsa yang berbeda. Faktor penjajahan,

4 Sariban, Nasionalisme Keindonesiaan dalam Novel Jejak Langkah Karya Pramoedya Ananta Toer

kemerdekaan bangsa lain, dan gelombang revolusi dunia menjadi sebab-sebab munculnya nasionalisme sebuah bangsa.

Faktor Pendorong Nasionalisme Keindonesiaan Nasionalisme keindonesiaan tidak dapat dilepaskan dengan faktor-faktor eksternal. Gelombang ide-ide besar kebangsaan bangsa Asia yang dipelopori Jepang, China, dan Arab dapat dianggap sebagai bom molotov nasionalisme Asia. Dampak positifnya sampai Hindia Belanda sebagai embrio keindonesiaan waktu itu. Kesadaran melakukan revolusi di Hindia terhadap arus besar kekuatan penjajah waktu itu didorong secara tidak langsung oleh gerakan di Jepang dan Tiongkok. Pram dalam JL menggambarkannya bahwa Tiongkok waktu itu sedang bergolak, tanpa kestabilan sebagai halnya dengan Jepang yang terus juga menjadi kuat dan menjadi semarak. Dan bila aku berpaling pada negeriku sendiri, aku dapat melihat kestabilan Hindia—kestabilan kekuasaan Belanda (104). Gelombang nasionalisme Tiongkok dan negara-negara Asia lain mendorong bangsa Indonesia menata diri. Bahwa nasionalisme harus diwujudkan di bumi pertiwi. “Jika bangsa Tiongkok saja mampu melenyapkan penjajah Eropa mengapa kami tidak bisa?” Pertanyaan inilah yang kemudian mendorong terpelajar pribumi memiliki kesadaran nasional atas bangsanya. Rintisan nasionalisme keindonesiaan dibangun melalui pendirian organisasi sosial. Organisasi sosial merupakan alat agar dalam kumpulan kolektif manusia, hak kolektif terjajah dapat diperjuangkan. Hanya melalui organisasi, penjajah mendengarkan suara terjajah. Motivasi nasionalisme keindonesiaan dengan organisasi sosial inilah yang dalam sejarah melahirkan tokoh-tokoh penting perintis kemerdekaan, seperti Tjokroaminoto, Tjipto Mangunkusumo, Soetomo, Suwardi Suryaningrat, dan Douwes Dekker. Memang tumbuhnya organisisai modern keindonesiaan yang didirikan pada 1900-

an itu termasuk ketinggalan dibandingkan kebangkitan Tiongkok dan Jepang. Pada waktu itu pribumi dianggap masih terbuai dalam tidur ketidaktahuan, nyenyak, dan indah. Baru tiga tahun setelah golongan Tionghoa bangkit, pribumi menyadari kekurangannya dibandingkan dengan Jepang, menyusul kebangkitan penduduk Hindia golongan Arab dengan organisasi Sumatra Batavia Alkhairah. Sementara itu, pribumi masih tidur nyenyak. “Tionghoa maupun Arab bertujuan mendidik sebangsa mereka untuk dapat menyesuaikan diri dengan zaman modern dewasa ini. Yang pertama mendatangkan guru-guru dari Tiongkok dan Jepang, yang kedua mendatangkan guruguru modern dari Tunisia dan Aljazair. Kalau dipergunakan perhitungan sepak bola, dan dihitung kekalahannya, kedudukan jadi begini; Tionghoa-Pribumi 0-4, Arab-Pribumi 2-4, dan 4-4, artinya kalau pribumi memulai berorganisasi pada tahun ini juga (119).” Tampaknya sindiran Pram dalam JL ini memberikan data kepada kita betapa bangsa ini sering terlambat dalam berpikir besar. Karena itu, tak ada alasan waktu itu gelora nasionalisme melalui pendirian organisasi harus segera direalisasikan. Pribumi harus bangkit mengejar Tionghoa dan Arab dengan mendirikan organisasi sosial yang berbadan hukum. Maka, pemikir-pemikir terpelajar yang mengenyam pendidikan dokter untuk pribumi (STOVIA) waktu itu melontarkan terus pertanyaan pada siswa, apakah rela tertinggal 5 tahun dari golongan Tionghoa dan 2 tahun dari golongan Arab, itu pun kalau pribumi memulai pada tahun ini dan mendapatkan badan hukum. Kalau tidak, tak juga bakal ada wakil pribumi pun yang bisa berhadapan dengan hukum, pribumi yang dapat membela kepentingan bangsanya (119).” Adalah menarik apa yang dilakukan Tjokroaminoto. Dengan uang simpanannya, tokoh tua yang dilukiskan Pram sebagai alumni STOVIA itu membiayai perjalanan ke seluruh Jawa, menemui pembesar-pembesar pribumi terkemuka, mengajaknya mendirikan organisasi untuk membangkitkan bangsanya (121).

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 5

D a t a s e j a r a h m e nu n j u k k a n b a h wa Tjokroaminoto merupakan tokoh fenomenal sebagai penggerak nasionalisme keindonesiaan pada awal kebangkitan Indonesia sebelum muncul nama Soekarno. Lombard (2008: 166167) melakukan analisis terhadap tokoh tua ini. Tjokroaminoto digambarkan sebagai pemimpin otodidak dengan cara Barat dan berpikiran modern dengan para pengikutnya yang tetap terpukau oleh harapan-harapan milenarisme (datangnya ratu adil). Cendikiawan Barat, Korver, menguraikan bahwa sifat ratu adil tak lain adalah Sarekat Islam dengan pimpinannya Tjokroaminoto, yang acap kali disambut oleh para pengikutnya sebagai seorang mesias tulen. Oleh para pengikutnya dia diperlakukan sebagai ’raja’ bahkan ’wisnu’ dan orang-orang berebutan untuk mencium kakinya. Nasionalisme keindonesiaan harus dibangun dengan karakter kegigihan dan keuletan. Karakter itu sangat melekat pada Tjokroaminoto waktu itu. Inilah yang hendak diwujudkan tokoh Minke dalam JL. Pikiran-pikiran nasionalisme Minke diinspirasi oleh karakter nasionalis Tjokroaminoto. Nasionalisme Tjokroaminoto dalam konteks sejarah identik pula dengan tokoh Ang San Mei. Mei merisaukan kemungkinan kemenangan Jepang menyapu Asia yang berimbas penakhlukan terhadap Tiongkok. Dia selalu memikirkan kelangsungan bangsanya, Tiongkok, meski hidup di tanah perantauan Hindia Belanda waktu itu. Mei sosok yang hidup tidak untuk dirinya sendiri tetapi hidup untuk bangsanya, negaranya, dan identitas kelompok sosialnya dimana dia dilahirkan dan tumbuh melewati masa kanakkanak. Demikian peng akuan Minke ketika mendapati isterinya itu keluar tengah malam tanpa izin kepadanya. “Seorang gadis yang bukan milik dirinya sendiri, wanita muda yang telah serahkan kemudaannya sendiri pada angan-angan kelompok. Wajahnya yang lunak dan sayu nampak seperti batu, terutama kerisauan akan simpati dunia pada Jepang dalam melawan Rusia di satu titik di bumi utara sana. Dia risaukan sesuatu yang

abstrak, yang dibikinnya jadi nyata dalam anganangannya: nasib nusa dan bangsanya (133).” Inilah karakter Mei yang melihat kepentigan bangsa di atas kepentingan diri sendiri, asmara, keluarga, dan golongan. “Suamiku, ampun. Aku tak bisa berbuat lain. Kalau bukan yang berdarah Tionghoa, siapa lagi harus bekerja untuk negeri itu. Kan kau pun demikian juga untuk negeri dan bangsamu (133).” Demikian kata Mei menyiratkan betapa kepentingan pribadi adalah hal teramat kecil dibandingkan kepentingan bangsa. Inilah yang menjadikan Minke kemudian megagumi isterinya itu. Minke menggambarkan Mei sebagai bunga, simbol pemberi keindahan, warna, dan harapan hidup. Lukisan foto perempuan tangguh itu diberi julukan Minke sebagai Bunga Akhir Abad. Julukan itu merupakan simbol nasionalisme bangsa terjajah pada akhir abad 19. “Kau pasang Bunga Akhir Abad. Gadis mengagumkan. Meninggalkan negeri sendiri untuk mati di negeri orang (197).” Mei merupakan representasi perempuan China. Bangsa China merupakan etnis Asia-dalam konstelasi Hindia Belanda waktu itu--yang unik dalam membangun nasionalisme rakyatnya. Semangat kemandirian dan ketidakbergantungan atas Barat menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih dulu memiliki kepercayaan diri dibandingkan dengan bangsa-bangsa Timur lainnya. Pram menggambarkan bangsa ini dengan perjuangan pendidikannya yang benar-benar nasionalis. “Sekolah dasar [Tionghoa] tidak menggunakan kurikulum gubermen. Anak-anak akan dididik jadi manusia Tionghoa modern yang mengenal kebudayaan bangsanya dan dipersiapkan untuk bisa meneruskan ke sekolah-sekolah di Tiongkok dan seluruh dunia. Bahasa belanda tidak diajarkan. Mandarin dan Inggris ya (59)”. Terlihat bahwa terdapat hubungan yang logis antara pendidikan, kebudayaan, dan nasionalisme. Ruh pendidikan adalah mengenal kebudayaan pembentuk karakter kebangsaan. Karakter inilah yang kemudian menjadikan bola salju nasionalisme. Kendurnya rasa nasionalisme barangkali dapat dicurigai bahwa praktik pendidikan kita belum sepenuhnya

6 Sariban, Nasionalisme Keindonesiaan dalam Novel Jejak Langkah Karya Pramoedya Ananta Toer

bervisi budaya bangsa, tidak sebagaimana pendidikan yang dipraktikkan Sekolah Dasar China waktu itu. Gambaran China sebagai orang pekerja keras barangkali sejak dulu merupakan persepsi umum. Kebudayaan ’bekerja’ inilah yang menjadikan sebuah bangsa akan selalu produktif. Mereka menciptakan dan tidak menggunakan. Kita bisa melihat hingga sekarang produk China membanjiri seluruh belahan dunia. Mereka terbiasa berkarya, mencipta, memasarkan, dan jangan heran pada waktunya nanti mereka akan menjadi penguasa atas bangsa-bangsa lain. Kegigihan bangsa China digambarkan Pram sebagai prototipe perempuan bertubuh ramping yang tidak mengenal lelah sebagaimana gambaran tokoh Mei. Meski sakit-sakitan, Mei terus keluar rumah menggalang ide-ide besar bangsanya untuk tidak terus-menerus dikuasai Eropa dan waspada terhadap ancaman bangsa lain. Pram melukiskan: Wanita China wanita pekerja, terbiasa mengatasi masalah, tahan banting dan tak pernah putus asa dan bunuh diri, bisa hidup di semua tempat, serta mental pengembara. “Pada umumnya mereka terlatih bekerja, terbiasa menghadapi kesulitan yang dijawabnya dengan berusaha. Maka mereka itu akan dapat hidup di mana pun (110).” Apa yang telah diperbuat bangsa China tersebut mendorong kaum terpelajar yang dipelopori pelajar-pelajar STOVIA merintis berdirinya Boedi Oetomo (B. O). Dengan organisasi tersebut diharapkan terjadi persamaan hukum antara penjajah dan terjajah. Dengan persamaan hukum, terjajah akan dapat melepaskan diri dari kekuasaan penjajah. Inilah wujud nyata nasionalisme keindonesiaan prakemerdekaan. Tjokroaminoto sebagai alumni STOVIA di depan siswa STOVIA membakar semangat nasionalisme keindonesiaan dengan mengatakan: “Siapa di Hindia ini yang sungguh-sunguh memaklumi makna daripadanya [kesadaran berbangsa], yang memaklumi justru bukan pribumi. Penduduk Tionghoa yang mula-mula maklum. Ia menjawab kebangkitan Jepang dengan mendirikan organisasi untuk membangkitkan

sebangsanya melalui pendidikan dan pengajaran. Organisasi itu bernama Tiong Hoa Hwee Koan [THHK], organisasi pertama-tama di Hindia. Apa arti organisasi modern? Artinya, selain diatur dengan aturan demokratis, juga mendapat pengakuan dari kekuasaan Gubermen Hindia Belanda. Organisasi modern di Hindia ini sama harganya dengan satu orang Eropa di hadapan hukum. Maka juga organisasi itu bisa dinamai sebuah badan hukum (118).” Nyatalah terdapat hubung an antara nasionalisme Jepang, Tiongkok, Arab, dan kemudian Pribumi [Jawa] yang merupakan embrio nasionalisme keindonesiaan. Pram dalam JL memberikan data perihal itu. “Kebangkitan Jepang, me-ngili-ngili golongan Tionghoa, dan Tionghoa me-ngili-ngili golongan Arab, dan Arab me-ngili-ngili Pribumi, akan berulang kembali sukses organisasi angkatan muda Jawa [B. O.]. Ini akan me-ngili-ngili pula bangsa-bangsa Hindia lain. Maka akan meriahlah Hindia dengan organisasiorganisasi bangsa –tunggal [keindonesiaan] (251).” Selain Tiongkok, Jepang juga menarik dianalisis. Jepang dianggap sebagai bangsa Timur yang telah lebih dulu berhasil membangun semangat kebangsaannya. Inilah kemudian yang menjadi inspirasi anak-anak terpelajar Hindia. Pram menggambarkan, dalam sambutannya seorang alumni sekolah kedokteran itu membakar semangat kebangsaan para siswa dengan secara tersirat menyebut Jepang sebagai motor utama Asia. Penggerak nasionalisme keindonesiaan itu mengatakan: “.... Yaitu itu tidak lain dari: timbulnya kesadaran bangsa. Bukan kepingsanan berbangsa. Ia menuding ke arah utara. Di sana sudah ada bangsa Asia yang telah berdiri tegak dengan hormatnya, diakui oleh segala bangsa beradab di dunia sebagai sesama tinggi. Bangsa Asia mana mendapat kehormatan sebesar itu kalau tidak Jepang. Kita berada jauh, jauh sekali dari Jepang, tetapi gelombangnya dapat kita rasakan. Wajah dunia telah mulai berubah dengan kemunculannya. Hanya mereka yang mengerti dapat memaklumi. Sayang sekali bila di antara siswa ada yang tidak mengetahuinya (118).”

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 7

Fakta-fakta inilah yang kemudian kita dapat menarik sebuah tesis bahwa nasionalisme keindonesiaan dipegaruhi oleh gelombang nasionalisme bangsa-bangsa Asia. Ada keinginan bersama bahwa Asia harus lepas l dari kungkungan kekuasaan Eropa. Jepang, Tiongkok, dan Arab tampaknya yang menjadi inspirasi kebangkitan nasionalisme keindonesiaan waktu itu.

Karakter Nasionalisme Keindonesiaan Karakter nasionalisme keindonesiaan dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama, nasionalisme dalam bentuk perjuangan fisik. Kedua, nasionalisme dalam bentuk perjuangan pendirian organisasi sosial menuntut persamaan hukum. Sebelum munculnya kesadaran nasional dengan pembentukan organisasi sosial yang dipelopori kaum terpelajar, rakyat dalam berbagai suku telah berkobar nasionalisme kedaerahannya dengan melakukan perlawanan perang fisik terhadap penjajah. Keberanian, kenekadan, dan semangat membela serta mempertahankan tanah air terlihat dalam perjuangan fisik rakyat masingmasing daerah. Nasionalisme kedaerahan inilah yang merupakan modal dasar nasionalisme keindonesiaan. Pelajaran yang dapat kita cermati adalah bahwa nasionalisme cenderung berakar dari masyarakat kolektif karena terdapat ikatan emosional bahwa kami memiliki tanah kelahiran tempat hidup dan dibesarkan. Persamaan inilah yang mendorong emosional rakyat untuk melakukan apa saja demi tanah airnya. Kesadaran nasionalisme dalam tindakan nyata berperang melawan penjajah, muncul dari rakyat jelata. Tindakan rakyat jelata inilah yang memicu kaum terpelajar untuk segera bertindak membentuk organisasi pergerakan. Ini terlihat melalui perasaan Minke setelah membaca suratsurat Ter Haar [wartawan Belanda] atas tindakan perlawanan rakyat Bali dalam Perang Puputan. Minke menggambarkan nasionalisme rakyat Bali yang tak mengenal kalah, meski mereka tidak memiliki peralatan perang yang memadai. “Mereka belum lagi berkenalan dengan ilmu pengetahuan Eropa, namun mereka bersedia mengorbankan

hartanya yang paling berharga, jiwanya, nyawanya, untuk hanya tidak tunduk pada Belanda. Dan di sekolah yang aku tinggalkan, orang sudah merasa senang kelak, beberapa tahun lagi, akan menjabat dokter gubermen—dokter dari kekuatan yang sekarang ini sedang mengganasi Bali. Demi keutuhan hindia (164).” Kutipan itu menunjukkan ironi seorang terpelajar yang merasa belum melakukan apa-apa demi bangsanya. Sementara itu, rakyat tak terpelajar telah berbuat banyak demi bangsanya dengan melakukan perlawanan fisik dan rela mengorbankan harta, jiwa, dan, nyawanya. Ini dilakukan oleh penduduk masingmasing daerah waktu itu. Nyatalah bahwa nasionalisme keindonesiaan dibangun oleh nasionlisme kedaerahan dengan melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda waktu itu. Daerah satu kalah, daerah lain membangun kekuatan. Kekalahan daerah lain bukan menyurutkan perjuangan rakyat daerah lain. Mereka justru membangun semangat untuk menang. Perlawanan demikian inilah yang kemudian melahirkan semboyan perjuangan nasionalisme keindonesiaan: Hilang satu tumbuh seribu. Gambaran nasionalisme lokal menuju nasionalisme keindonesiaan terlihat dalam perang tak mengenal lelah di Bali, Lombok, dan daerahdaerah lain. Perang rakyat Bali menunjukkan keheroikan mereka. Meski rakyat habis oleh bedil dan meriam Belanda, mereka tak pernah mudah menyerah. Pram menggambarkan: “Pertempuran untuk menjatuhkan kerajaan Klungkung, kerajaan Bali berakhir, berjalan selama lebih dari empat puluh hari. Klungkung jatuh, tapi Lombok bangkit melawan (245).” Ter Haar menulis surat kepada Minke tentang perlawanan orang-orang Bali. Meski mereka telah dikalahkan Belanda dengan korban ribuan mayat laki-laki, perempuan, dan bayi, mereka mundur membentuk perlawanan dengan membentuk benteng Toh Pati dan melakukan serangan gerilya yang tak mengenal pasrah demi mempertahankan daerah wilayah Klungkung, setelah Denpasar dikuasai kompeni. Hanya dengan persenjataan sederhana tombak dan keris, mereka menumpas

8 Sariban, Nasionalisme Keindonesiaan dalam Novel Jejak Langkah Karya Pramoedya Ananta Toer

Belanda yang bersenjata modern sehingga Belanda harus menurunkan banyak pasukan. Menundukkan Klungkung harus melalui Toh Pati. Entah berapa tahun lagi Toh Pati akan dapat dilalui. Satu bangsa yang hebat menghadapi bala tentara modern tanpa gentar. Satu bangsa yang patut jadi kebanggaan Tuan [tulis ter haar]. Raja Klungkung telah memerintahkan semua orang, laki, perempuan, dan anak-anak untuk nyikep, senjata di tangan, sampai orang penghabisan. Gong Ki Sekar Sandat telah ditabuh bertalu-talu dan Keris Andal-Andal kerajaan I Pecalang dan I Tan Kadang telah dihunus, sebagai pertanda kerajaan siap tempur (209). Itulah gambaran nasionalisme keindonesiaan. Karakter heroisme, berani mati, tak mudah menyerah, dan tak pernah takut kepada siapa pun, kecuali kepada Tuhan, merupakan karakter nasionalisme bangsa ini. Bangsa ini dalam sejarah memiliki mental tak mudah menyerah. Mental kerja keras dan tak mudah menyerah ini merupakan modal dasar sebuah bangsa yang ingin maju. Barangkali keuletan orang Aceh dan Bali dalam sejarah peperangan dengan kolonial mengajarkan kepada kita bahwa bangsa ini bangsa besar yang mempertaruhkan segala apa yang dimiliki demi kehormatan bangsanya. Nasionalisme yang demikian perlu memeroleh tempat di saat keadaan kolektif bangsa yang terkesan pemalas dan tak memiliki jiwa kompetitif seperti pada saat ini. Keterbatasan keadaan tampaknya yang menjadikan jiwa ’petarung’ muncul dan ingin menjadi pemenang. Sejarah menunjukkan betapa alat-alat perang kita sangat minim dibandingkan penjajah yang sudah mengenal teknologi bedil dan mesiu. Petani desa yang tak pernah mengenal teknologi perang pun berani melawan penjajah yang bersenjata lengkap. Jika rakyat tak terpelajar mewujudkan nasionalismenya melalui pengorbanan fisik, nasionalisme terpelajar mewujud dalam bentuk gagasan-gasan besar kesadaran akan pentingnya memeroleh pendidikan. Ini terlihat pada propaganda B. O. bahwa pendidikan diyakini oleh

bangsa terjajah mampu meningkatkan peradaban, kebudayaan, derajat, dan kehormatan bangsa terjajah atas dominasi penjajah. Pendidikan mer upakan alat menuju keberadaban. Keberadaban tidak lain adalah tujuan nasionalisme. Tampaknya pendidikanlah yang menjadikan pihak penjajah menguasai pihak terjajah. Untuk setara dengan pihak penjajah, terjajah haruslah berpendidikan sebagaimana penjajah. Pameo Jawa bahwa orang pandai menguasai orang bodoh merupakan jargon yang diyakini kebenarannya. Agar tak dikuasai dan memiliki kehormatan hidup sebagai bentuk nasionalisme keindonesiaan, jawabannya adalah ’pendidikan’. Inilah kata tokoh Minke: “Dengan B. O. kita orang Jawa akan memerbaiki nasib bersama-sama. Kita akan tingkatkan peradaban dan kebudayan kita, kita akan naikkan derajat dan kehormatan bangsa kita. Tidak semua anak-anak Tuan dapat memeroleh tempat di sekolah Angka Satu, apalagi di E. L. S. Kita akan bangun sendiri dengan kekuatan sendiri sekolahan untuk anak-anak Tuan (249).” Selain kesadaran pendidikan, dibutuhkan kesadaran nasionalisme yang berkarakter pemahaman suku-suku. Suku-suku itu harus diikat satu keutuhan nasionalisme. Pandangan Minke ini muncul setelah menganalisis kegagalan organisasi berkarakter tunggal kedaerahan. Jawa waktu itu menjadi kiblat Hindia Belanda. Karena itu, etnis Jawa merasa superior atas etnis-etnis lain. Ada pelajaran penting pada hari ini yang dapat kita petik. Bahwa nasionalisme keindonesiaan kita akan terbina manaka kita tidak merasa bawa satu etnis lebih tinggi daripada etnis lain. Keindonesiaan kita adalah kesadaran bersama bahwa Indonesia ada karena adanya Jawa, Bali, Lombok, Kalimatan, Aceh, dan daeradaerah lain. Mereka memiliki fungsi dan arti sebagai sistem keindonesiaan. Kehilangan satu dari banyak itu tentulah akan sangat mengganggu sistem keindonesiaan. Maka, tugas kita bersama menjaga sistem keindonesiaan itu terus berjalan. Sistem inilah yang dapat disebut sebagai ruh jiwa nasionalisme keindonesiaan.

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 9

Untuk itu, dalam konstelasi sejarah ada pemahaman bahwa Hindia bukan Jawa. Hindia berbangsa-ganda, organisasinya wajar kalau berwatak bangsa ganda. Jawa sebagai pulau sudah berbangsa-ganda. Hindia berbangsa-ganda memang kenyataan kolonial. Pengutuhan Van Heutsz [Gubernur Jenderal Belanda] sebenarnya cuma sentuhan pengukuhan terakhir (253). Setidaknya konsep keberagaman dalam satu ikatan keindonesiaan sudah disadari waktu itu. Terdapat analisis bahwa kegagalam B. O. dan Syarikat Priyayi disebabkan anggotanya yang terikat oleh asas tunggal. Mereka kurang terbuka menerima anggota dari berbagai kalangan. Mereka yang kaum terpelajar itu terikat oleh kepriyayian, jabatan, dan kepegawaian mereka. Mental pangrehparaja ini justru melahirkan budaya korup yang menghambat kesadaran nasionalisme keindonesiaan karena mementingkan diri sendiri dan golongan. Muncul kemudian gagagasan menghimpun organisasi pribumi yang beranggotakan orangorang bebas, orang yang tidak terikat oleh pekerjaan atau jabatan yang diberikan pemerintah Hindia Belanda. Kegagalan Sjarikat Priyayi diduga karena lemahnya daya tawar para anggotanya. Mereka tak mampu bersuara lantang atas harapan bangsanya karena para terpelajar itu hanyalah pegawai gubermen. “Di Hindia ini, Tuan, sejauh kuperhatikan, begitu seorang terpelajar mendapat jabatan dalam dinas gubermen, dia berhenti sebagai terpelajar. Kontan dia ditelan oleh mentalitas umum priyayi: beku, rakus, gila hormat, dan korup. Nampaknya yang harus dipersatukan memang bukan kaum priyayi, mungkin justru orang-orang yang sama sekali tidak punya jabatan negeri. Mereka yang tidak punya jabatan negeri kita masukkan dalam golongan kaum bebas, bukan hamba gubermen, pikiran dan kegiatannya tidak dipagari oleh pengabdian pada gubermen (298)”. Kegagalan organisasi-oranisasi terpelajar pembangun nasionalisme keindonesiaan waktu itu karena anggotanya adalah orang-orang berwatak pegawai. Watak pegawai dalam pandangan Minke adalah watak budak, orang yang menunggu

diperintah, orang yang terikat oleh Belanda. Karena itu, ada ide untuk membagun oganisasi yang beranggotakan orang-orang bebas. Orang bebas adalah orang yang bekerja karena pekerjaan itu diciptakannya sendiri. Golongan ini adalah para pedagang. Mereka tidak memiliki atasan dalam hierarki pekerjaan. Karena itu, mereka tidak terikat pihak lain dalam berpendapat. “Mereka [pedagang] yang tidak terikat pada jabatan gubermen, mereka yang bebas, mereka yang berdagang, berusaha dengan kekuatan sendiri dan di atas kaki sendiri, orang-orang yang dinamis yang berpengetahuan praktis itu, adalah orang-orag merdeka yan harus dipesatukan (335).” Atas pemikiran ini, lahirlah Syarikat Dagang Islamiyah (S. D. I.) dengan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga dalam bahasa Melayu, dengan terjemahan bahasa Belanda dan Sunda, berkedudukan di Buitenzorg (Bogor). Guru agama Minke, Sjeh Ahmad Badjened, jadi residen, terutama untuk mengurusi soal-soal yang berhubungan dengan perdagangan dan agama (336). SDI diisi oleh orang-orang pedagang dan muslim. Pedagang adalah orang bebas dari intervensi gubermen. Dengan kebebasan ini, diharapkan SDI tumbuh berkembang, tidak mandeg sebagaimana B. O. yang anggotanya para priyayi terpelajar. Dengan anggota yang berpegang teguh pada ajaran agama, diharapkan mereka memegang nilai-nilai kejujuran. Dengan kejujuran diharapkan tidak ada lagi korupsi sebagimana sebab kebangkrutan Sjarikat Priyayi dulu. Pelajaran penting terhadap data di atas adalah bahwa jiwa kewirausahaan dan keimanan kepada Tuhan menjadi pilar penting dalam membangun nasionalisme sebuah bangsa. Kewirausahaan akan menopang kesanggupan berdiri di atas kaki sendiri sebagai bangsa. Kemandirian yang ditopang kepercayaan bahwa Tuhan akan senantiasa menilai kehidupan kita mendorong hidup yang senantiasa memiliki visi. Selain faktor ketidakmandirian, kegagalan nasionalisme keindonesiaan pada zaman penjajahan di antaranya disebabkan polariasasi

10 Sariban, Nasionalisme Keindonesiaan dalam Novel Jejak Langkah Karya Pramoedya Ananta Toer

pemikiran dikotomis: rakyat jelata-priyayi. Perlawanan polarisasi ini diperjuangkan Pram melalui tokoh Minke. Betapa senang hati Minke ketika tokoh Marko sebagai simbol rakyat jelata belajar bahasa Belanda kepada Wardi yang priyayi terpelajar itu. Betapa mengharukan melihat dua orang, yang seperti bumi dan langit pendidikan dan asal kelahirannya itu, duduk berhadap-hadapan. Yang seorang mengajar, yang lain belajar. Sama sekali meninggalkan adat sembah-menyembah nenek moyangnya sendiri. Dan memang Medan harus bisa melenyapkan perbedaan-perbedaan yang bodoh dan ditonjol-tonjolkan oleh pengabdi kegoblokan (346)” Tradisi Jawa yang mengenal kelas sosial— priyayi dan abdi--tampaknya menjadikan kelas sosial rendah kurang kreatif. Sementara itu, kelas sosial tinggi memiliki kebiasaan untuk dihormati dan menguasai kelas sosial rendah. Kesibukan mengatur kelas sosial dalam kehidupan internal masyarakat terjajah menyebabkan mereka tak mampu berpikir besar memiliki kesejajaran dengan penjajah karena pemikiran nasionalisme tak menjadi tujuan hidup bersama. Penghambat kemajuan pribumi memang disebabkan pribumi tidak memiliki pikiran besar. Hal-hal kecil yang tak penting menjadikan fokus pemikiran mereka sehingga melupakan nasionalisme kebangsaan. Pikiran pribumi berorientasi pada perbedaan-perbedaan kecil yang sebenarnya bukan hal penting. Ketika orang Eropa sudah berpikir cara menjinakkan energi petir, pribumi masih berpikir perbedaan boleh bersepatu atau tidak di kalangan pribumi di hadapan orang Eropa. “Di dunia luar sana orang sudah menakhlukan petir dan mendung, diperintahkan untuk melakukan keinginan manusia, jadi penggerak mesin listrik, lokomotif, menggerakkan kapal dan mesin-mesin raksasa. Kimia elektro telah melahirkan keajaiban-kejaiban baru. Dan di Bandung sini, kota besar Hindia yang kesekian, orang masih meributkan soal boleh tidaknya, patut-tidaknya pribumi besepatu (346).” Energi bangsa ini habis hanya untuk hal-hal kecil dan tak penting. Sementara itu,

persoalan besar sering dilupakan. Wajar kemudian masyarakat horisontal kita mudah disulut konflik lantaran persoalan kecil. Maka, yang dibutuhkan dalam kerangka membangun nasionalisme keindonesiaan adalah berpikir membendung laju penguasaan bangsa lain atas Indonesia. Kebangkitan Asia harus digalang. Kesetaraan Asia-Eropa, Timur-Barat, harus dibuat. Yang dapat menciptakan semua itu adalah manusia bebas. Manusia Asia yang tidak terikat oleh Eropa. Minke dalam percakapannya dengan Mei, menyatakan: “Pribumi Asia dalam kebebasannya mempunyai kewajiban-kewajiban tak terbatas buat kebangkitan bangsa masing-masing. Kalau tidak, Eropa akan merajalela.” Kesadaran nasionalisme yang demikian hanya dimiliki oleh jiwa-jiwa yang secara sadar atas tangung jawabnya menyongsong zaman modern. Modernitas tidak lain adalah kemandirian. Hanya bangsa yang memiliki idealisasi kemandirian yang sanggup menggerakkan jiwa raganya berhembus darah nasionalisme. Dengan keinginan kuat mandiri, maka setiap pribadi akan memiliki tanggung jawab. Pram menulis: “Hanya diri sendiri yang bisa mengusahakan. Zaman modern telah membikin manusia mengambil tanggung jawab atas dirinya sendiri (97).” Nasionalisme keindonesiaan yang diperjuangkan tokoh Minke dalam JL tidak sekadar ingin bebas dari ketidakadilan Belanda. Lebih luas lagi, nasionalisme bertujuan untuk memeroleh pengakuan dunia. Kata Minke: “Dengan penuh kebanggaan sering aku berseruseru dalam hati: Pribumi sebangsaku, sekarang kalian punya harian sendiri, tempat kalian mengadukan hal kalian, tempat menyatakan pendapat dan pikiran kalian, tempat dimana setiap orang di antara kalian dapat bertimbang rasa dan keadilan. Minke yang akan mebawakan perkara kalian ke hadapan sidang dunia! (236)” Kehormatan bangsa di tengah percaturan dunia menjadi penting. Nasionalisme dibangun oleh kesadaran untuk terhormat sebagai bangsa. Nilai-nilai universal kehormatan sebuah bangsa menjadi pandangan umum jiwa nasionalisme.

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 11

Ini tecermin melalui komentar surat Ter Haar kepada Minke yang bangga atas terbitnya harian Medan milik pribumi. Kehadiran harian Medan merupakan kehormatan bagi bangsa pribumi atas perbudakan Eropa waktu itu. Kesadaran nasional dengan demikian terbangun melalui kesadaran merasa dibutuhkan oleh bangsanya pada saat tertentu. Karena kebutuhan bangsa bergantung zamannya, maka tuntutan nasionalisme akan bergantng tuntutan zamannya. Impian bangsa pada waktu tertentu dan kesanggupan seseorang untuk mewujudkan impian bangsanya merupakan wacana nasionalisme yang tak pernah berakhir. Apa yang dilakukan Minke menerbitkan harian Medan untuk menjawab kebutuhan bangsanya menuju kesetaraan hukum merupakan contoh konkret nasionalisme saat itu. Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Bung Tomo adalah pribadi-pribadi nasionalis karena mereka mampu menjawab dan mewujudkan impian bangsanya waktu itu. Fenomena ini mengingatkan kita pada peristiwa saat ini dimana PSSI mengimpikan menjadi juara piala Federasi Football of Asia (FFA) Muncullah kemudian nama Cristian Gonzales yang dianggap pahlawan, sang nasionalis, karena jasanya membuat kemenangan sepak bola Indonesia pada saat seluruh rakyat berharap kemenangan menuju putaran final kompetisi bergengsi tersebut. Gonzales dianggap pahlawan karena momen apa yang diberikan kepada bangsa ini sesuai dengan tuntutan bangsa ini yang sedang eforia dan menunggu lama prestasi sepak bola Indonesia. Wajar kemudian pada Desember 2010 hingga awal Januari 2011 hampir seluruh televisi nasional mem-blow up pemain sepak bola itu sebagai tokoh yang sangat mencintai Garuda sebagai simbol nasionalisme Indonesia. Nasionalisme dengan demikian akan selalu memiliki paradigma yang terus-menerus berubah sesuai dengan impian sebuah bangsa. Muara semua impian nasionalisme itu adalah: kehormatan, kemandirian, dan kesanggupan hidup tanpa banyak intervensi bangsa lain. Muaranya adalah Bangsa Besar di tengah kancah komunitas bangsabangsa di dunia.

KESIMPULAN Analisis di atas menunjukkan bahwa gelombang nasionalisme keindonesiaan tidak dapat dilepaskan dengan semangat nasionalisme bangsa-bangsa Asia lain. Terdapat hubungan antara nasionalisme Jepang, Tiongkok, Arab, dan kemudian Pribumi atau Jawa yang merupakan embrio nasionalisme keindonesiaan. Karena Indonesia sebuah bangsa bersuku-suku, nasionalisme keindonesiaan dibangun atas kesadaran bersama bahwa Indonesia ada karena adanya Jawa, Bali, Lombok, Kalimatan, Aceh, dan daera-daerah lain. Mereka memiliki fungsi dan arti sebagai sistem keindonesiaan. Kehilangan satu dari banyak itu tentulah akan sangat mengganggu sistem keindonesiaan. Nasionalisme selalu bemuara pada kemandirian, kehormatan, dan kebesaran sebuah bangsa. Hanya bangsa yang memiliki idealisasi kemandirian yang sanggup menggerakkan jiwa nasionalismenya. Nasionalisme kemudian identik untuk terhormat sebagai bangsa. Nilai-nilai universal kehormatan sebuah bangsa menjadi pandangan umum jiwa nasionalisme. Nasionalisme keindonesiaan terbangun melalui kesadaran merasa dibutuhkan oleh bangsanya pada saat tertentu. Nasionalisme dengan demikian akan selalu memiliki paradigma yang terus-menerus berubah sesuai dengan impian sebuah bangsa. Setiap orang memungkinkan dapat dikatakan sang nasionalis jika seseorang sanggup mewujudkan impian bangsanya. Muara semua impian nasionalisme itu adalah: kemandirian dan kehormatan untuk menjadi bangsa yang besar di tengah percaturan bangsa-bangsa lain.*

DAFTAR PUSTAKA Gandhi, Leela. 1988. Teori Poskolonial Upaya meruntuhkan Hegemoni Barat. (diterjemahkan dari Poskolonial Theory A Critical Introduction oleh Yuwan Wahyutri dan Nur Hamidah). Yogyakarta: Penerbit Qalam.

12 Sariban, Nasionalisme Keindonesiaan dalam Novel Jejak Langkah Karya Pramoedya Ananta Toer

Hefner, Robert W. (ed.). 2007. Politik Multikulturalisme: Menggugat Realitas Kebangsaan. Yogyakarta: Kanisius. Juliawan, Hari B. 2003. Wajah Murung Masyarakat Pascakolonial dalam Basis Nomor 11-12 Tahun Ke-52, November—Desember 2003. Latif, Yudi. 2009. Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan. Jakarta: Penerbit Kompas. Lombard, Denys. 2008. Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-Batas Pembaratan (1). Diterjemahkan oleh Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, dan Nini Hidayati Yusuf. Jakarta: Gramedia. ________. 2008. Nusa Jawa Silang Budaya : Jaringan Asia (2. Diterjemahkan oleh Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, dan Nini Hidayati Yusuf. Jakarta: Gramedia. ________. 2008. Nusa Jawa Silang Budaya: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris (3). Diterjemahkan oleh Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, dan Nini Hidayati Yusuf. Jakarta: Gramedia. Muljana, Slamet. 2008. Kesadaran Nasional Dari Kolonialisme Sampai dengan Kemerdekaan Jilid I. Yogyakarta: LKiS. ____________. 2008. Kesadaran Nasional Dari Kolonialisme Sampai dengan Kemerdekaan Jilid II. Yogyakarta: LKiS. Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Poskolonialiesme Indonesia Relevansi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sambodja, Asep.2008. Peta Politik Sastra Indonesia (1908-2008) dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX/Hiski, Batu, 12 s. D. 14 Agustus 2008. Said, Edward W. 2001. Orientalisme. Bandung: Penerbit Pustaka. Steenbrink, Karel. 2006. Prof. Dr. Hans Teeuw: Post-Kolonialisme dan Rekonstruksi Identitas Indonesia: dalam Basis edisi 11—12, Tahun Ke-55, November—Desember. Suseno, Franz Magnis. 2008. Etika Kebangsaan Etika Kemanusiaan: 79 Tahun Sesudah Sumpah

Pemuda. Yogyakarta: IMPULSE (Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies). Toer, Pramoedya Ananta. 1980. Bumi Manusia. Jakarta: Hasta Mitra. _________. 1985. Jejak Langkah. Jakarta: Hasta Mitra. _________. 1997. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2. Jakarta: Lentera _________. 1999. Bukan Pasar Malam. Yogyakarta: Bara Budaya. _________. 2006. Rumah Kaca. Jakarta: Lentera Dipantara. _________. 2009. Anak Semua Bangsa. Jakarta: Lentera Dipantara. Tyson, Lois. 1999. Critical Theory Today. New York and London: Garland Publishing, Inc. Walia, Shelley. 2003. Edward Said dan Penulisan Sejarah. Yogyakarta: Jendela.

SURIPAN SADI HUTOMO RIWAYAT DAN PERANANNYA DALAM SASTRA JAWA Djoko Sulaksono Abstrak: Suripan Sadi Hutomo adalah seorang dosen dan sastrawan. Walaupun seorang sastrawan, banyak tulisannya yang berhubungan dengan masalah kebahasaan. Karyanya yang berbentuk geguritan (puisi Jawa) sangat beragam.Estetika Jawa dalam karyanya juga sangat menawan. Beberapa konsep dan teori filologi dalam tulisan Suripan semuanya hanya merupakan bagian kecil dari tulisan-tulisannya secara menyeluruh (bahan banding) atau pelengkap bagi teorinya tentang sastra lisan (1991) atau sekedar pengantar bagi tulisannya atas karya-karya terapannya (1984), laporan penelitiannya tentang aspek bahasa dan sastra Babad Demak Pesisiran, serta buku (1999) tentang Telaah Sastra Kentrung. Karya-karya Suripan Sadi Hutomo memang sangat berbobot dan estetis. Walaupun ia orang Jawa tetapi ia tidak fanatik hanya menulis puisi-puisi yang sifatnya kejawaan, terbukti dalam puisi yang berjudul Kincir Angin (negeri Belanda). Selain itu Suripan juga menggubah sebuah cerita rakyat menjadi sebuah puisi yang sangat indah. Tema puisi-puisinya menggambarkan bagaimana kehidupan manusia yang ditulis dengan bahasa atau pilihan kata yang sangat indah dan menawan. Selain itu juga banyak menggunakan gaya bahasa untuk lebih menghidupkan karya tersebut. Kata kunci: Suripan, peranannya, sastra Jawa, Abstract: Suripan Sadi Hutomo is a lecturer andliterati. He writes a lot about linguistics, although he is literati. He has various literary works in the form of geguritan (Javanese poetry). Javenese aesthetic in his works is also endearing. Some concepts and philology theories in his works are only small part of his writing (comparison) or complement for his theory about verbal literature (1991) or a preface for his applied literary works (1984), research report language aspect and Babad Demak Pesisiran literature, and also the book (1999) about Telaah Sastra Kentrung. Suripan Sadi Hutomo literary works are highly valued and aesthetic. As Javanese, He is not a fanatic writing about Javanese poetry only. He also writes poetry entitled Kincir Angin (The Netherlands). Suripan also rewrites folklore into poetry. The theme describes about human life using easthetic dictions. He also uses stylistic to make his literary works alive. Key words: Suripan, his role, Javanese literature

PENDAHULUAN Sastra Jawa dengan segala etika dan estetikanya ditulis oleh para sastrawan. Penciptaan sebuah karya sastra pada umumnya dan puisi pada khususnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah latar belakang sosial budaya. Menurut Herman J. Waluyo (2010: 53) yang dimaksud latar belakang sosial budaya adalah asalusul, kesukuan, daerah, dan bahasa daerah yang digunakan. Latar belakang sosial budaya penyair akan berpengaruh dalam bentuk totalitas puisi yang diciptakan.

Puisi Jawa atau geguritan mempunyai sejarah yang cukup panjang. Geguritan adalah sebutan untuk puisi Jawa baru atau modern. Sebelum disebut geguritan, puisi Jawa lama berbentuk parikan, wangsalan, dan tembang. Parikan dalam bahasa Indonesia disebut pantun. Wangsalan adalah semacam teka-teki yang jawabannya sudah dilampirkan walau hanya satu suku kata. Hakikat tembang Jawa (macapat) adalah puisi tradisional yang terikat oleh metrum atau aturan-aturan tertentu. Perkembangan-perkembangan tersebut tentu saja mengalami waktu yang cukup lama

14 Djoko Sulaksono, Suripan Sadi Hutomo Riwayat dan Peranannya dalam Sastra Jawa

dan memunculkan banyak pengarang yang menuliskan karya-karyanya. Tulisan ini akan membahas salah satu tokoh pengarang sastra Jawa modern yang cukup terkenal, yaitu Suripan Sadi Hutomo. Adapun yang akan dibahas adalah biografi dan beberapa karyanya.

A. Biografi Suripan Sadi Hutomo (19402001) Suripan Sadi Hutomo adalah seorang Guru Besar Universitas Negeri Surabaya. Lahir di Ngawen, Blora, 05 Pebruari 1940, meninggal 23 Pebruari 2001, di Surabaya. SMA ditempuh di Bagian B, Blora. Ketika masih SMA, Suripan sudah senang mengumpulkan dan menulis karyakarya sastra Jawa dan Indonesia. Kuliah di FKIP Universitas Airlangga, Jurusan Bahasa Indonesia, lulus 1968 setelah itu mengajar di almamaternya. Tahun 1978-1980 belajar ilmu sastra di Universitas Leiden. Gelar doktor diraihnya pada tahun 1987 dengan judul disertasi “Cerita Kentrung Sarah Wulan di Tuban” dan kemudian mendapat julukan “Doktor Kentrung”. Tulisan-tulisan Suripan Sadi Hutomo sangat banyak, baik tentang ilmu sastra maupun bahasa, misalnya “Kota Dalam Sajak” (Angkatan Bersenjata, Minggu V, Maret 1970), “Kutha Ing Guritan Jawa Anyar” (Jaya Baya, No. 3, XXVIII, 18 September 1973), “Novel Pulang Karya Tiha Mochtar dari Sudut Bahasa”, “Bahasa dan Sastra Lisan Orang Samin” (Basis, No. 1, XXXII, 1983); “Peranan Bahasa dan Sastra Melayu Abad XIX Di Surabaya” (Basis no. 10, XXXIX, 1990);” Bahasa Osing Banyuwangi (Surabaya Post, 30 Desember 1968), dan sebagainya. Selain memperhatikan bahasa dan satra Jawa, Suripan juga memperhatikan perkembangan filologi. Menurut Purnomo (2001), semua karya Suripan masuk dalam khasanah filologi terapan, tidak ada buku atau tulisannya yang disusun secara khusus pada tataran filologi teoretik. Beberapa konsep dan (teorri) filologi dalam tulisan Suripan semuanya hanya merupakan bagian kecil dari tulisan-tulisannya secara menyeluruh (bahan banding) atau pelengkap bagi teorinya tentang sastra lisan (1991). Atau sekedar pengantar bagi

tulisannya atas karya-karya terapannya (1984), laporan penelitiannya tentang aspek bahasa dan sastra Babad Demak Pesisiran, serta buku (1999) tentang Telaah Sastra Kentrung. Sejak 1967, Suripan aktif menulis geguritan (puisi berbahasa Jawa). Karya-karyanya dimuat di kalawarti (majalah) berbahasa Jawa, misalnya Parikesit, Djaka Lodang, Panjebar Semangat, Dharma Nyata, kumandhang, Dharma Kandha, dan Jaya Baya. Karya-karya yang dimuat diberbagai majalah kemudian dikumpulkan dalam Antologi Angin Sumilir (Balai Pustaka, 1988) yang memuat 54 guritan dari tahun 1967-1982. Selain itu, Suripan juga membuat antologi bersama berjudul Antologi Geguritan Jawa Tahun 1945-1982 (Balai Pustaka). Suripan juga menulis puisi berbahasa Indonesia yang dimuat dalam Mingguan Bhirawati dan majalah Horizon. Di samping itu, puisi Suripan juga dimasukkan dalam Antologi Puisi Enam Penyair Surabaya (Dewan Kesenian Surabaya, 1975); dan Festival Desember 1975 (Dewan Kesenian Jakarta, 1975). Karya yang berupa cerita pendek misalnya Ketika Tambur Maina, Ketika Langit Jadi Lautan, Ketika Aku Main “Nan-Nan” dimuat di majalah Widyawara, Tahun VI, Februari 1988. Cerita pendek ini kemudian dimasukkan dalam Antologi Cerita Pendek Dari Surabaya (Gaya Masa, 1991) yang dieditorinya. Walaupun Suripan terlihat dalam berbagai kegiatan dinas (sebagai dosen), ia terus menulis guritan di majalah Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

B. Karya Suripan Sadi Hutomo Banyak sekali puisi atau geguritan karya Suripan Sadi Hutomo. Karena keterbatasan waktu, tenaga dan referensi maka dalam tulisan ini tidak semua karyanya dapat ditulis. Berikut ini beberapa contoh puisi karangan Suripan Sadi Hutomo: Wong Jawa, Kincir Angin, Saklore Kali Lusi. Ilir, Saka Punjering Ati, Wis Wayahe Saiki. WONG JAWA Wong Jawa aja jawal Jawa jawal Jawane kadhal Apa sliramu Jawa, mitraku Geneya kok-ngiris atiku?

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 15

Ronggowarsito lan Aristoteles Yosodipuro lan Sokrates Padha dene pujangga linuhung Padha dene pujangga kanga gung Yen kok semak buku filsafat Yen kok semak ilmu masyarakat Mung ana siji keblat Kang ajine ora mekakat Kang gawe ati nggrantes Awit mung Aristoteles lan Sokrates Sinebut sinobya ukara Rinoncen kembang maneka O, Ronggowarsita O, YaSadipura Awit apa basa Jawa Kang ora bisa diwaca? Awit apa mung basa latin Kang bisa anuntun batin? Wong Jawa aja jawal Jawa jawal Jawane kadhal Apa sliramu Jawa, mitraku? Geneya kok ngiris atiku? Kecubung ungu ing taman kutha Iki kahanan kang nembe teka Apa sliramu bakal wuda Melu-melu angumbar dhadha? Wiwawite lesbadhonge Tabik-tabik sunan kali Kita ngadeg ing grumbul srengenge Kita wani ndhudhah ati (Jaya Baya, No, XXVI, 12 Maret 1972) Puisi berjudul wong Jawa tersebut berisi kritik sosial karena banyak orang mengenal Aristoteles dan Sokrates sebagai ahli filsafat. Dibangku sekolah yang diperkenalkan juga nama-nama tersebut. Padahal di Jawa, orang Jawa juga mempunyai filsuf yang tidak kalah hebat, misalnya saja Ranggawrsita dan Yasadipura. Mareka berdua hanya sebagian kecil dari para filsuf-filsuf Jawa. Mereka bukan kalah hebat, hanya kalah terkenal. Ada pepatah Jawa yang berbunyi wong Jawa ilang jawane. Hal ini secara umum artinya orang

Jawa kehilangan identitas kejawaannya. Hal yang paling menonjol adalah orang Jawa tidak mau dan tidak bisa menggunakan bahasanya sendiri, lebih dari itu orang Jawa sudah mulai kehilangan dan tidak tahu akansastra dan budayanya. Banyak yang lebih suka kepada budaya luar/barat yang belum tentu sesuai dengan budaya timur. Selain adanya purwakanthi, estetika Jawa lain yang dapat ditemukan dalam puisi tersebut adalah cangkriman yang dijadikan sampiran. Cangkriman iku tetembungan utawa unen-unen kang kudu dibatang maksude (padmosoekotjo, 1960: 82). Cangkriman adalah teka-teki tradisional Jawa, ada juga yng menyebut dengan istilah capean atau bedhekan. Cangkriman ada 4 macam yaitu cangkriman blenderan, cangkriman irib-iriban, cangkriman wancahan dan cangkriman kang sinawung ing tembang. Wiwate lesbadhonge termasuk dalam cangkriman wancahan atau singkatan. Kepanjangannya adalah uwi dhawa wite tales amba godhong. KINCIR ANGIN Dhuwur endheke kincir angin Ing sacedhake kali rijin kang nakal Cafa, cafe Tangan alus kang ngawe-awe Nganggo kapal cilik Ombak ing landeyan Plabuhan kuwi sangsaya sepi Kutha Rotterdam kang peni Kabut kandel Manglung udel Sangsaya kandel Keluking piyandel Lonceng greja Ngoyak swarga Leiden Guritan “kincir angin” menceritakan tentang pengalaman Suripan sewaktu berada di Belanda, yang dia sebutkan dengan jelas yaitu dipelabuhan kota Rotterdam. Belanda beribu kota Amsterdam. Banyak nama tempat yang berakhiran kata “dam” yang artinya adalah bendungan. Belanda dijuluki Negara kincir angin karena konon di sana memang banyak terdapat kincir yang digunakan untuk memompa air laut dan sebagai pembangkit listrik

16 Djoko Sulaksono, Suripan Sadi Hutomo Riwayat dan Peranannya dalam Sastra Jawa

SAKELORE KALI LUSI sakelore kali lusi ngedhangkrang wit randhu lan mahoni atikah! atikah! apa kowe wis tega ninggal tegal lan sawah nyambut gawe ing negara mekah? suket pancen wis padha garing watu-watu wis padha gemlindhing o, atikah, anakku tak eklasne kowe ngrakit lagu panguripan kang kebak madu sakelore kali lusi wis ora ana maneh sing ditanduri sakelore kali lusi alas jati mung arane kang peni dudu darbeke si bibi apa maneh kang arep dirungkebi yen tlatah wutah getih ra nduweni yoni? Jaya Baya Puisi tersebut menggambarkan seseorang yang akan pergi meninggalkan tempat tinggalnya yang berada disebelah utara sungai Lusi, hal ini dapat diketahui dari kata “apa kowe wis tega ninggal tegal lan sawah, nyambut gawe ing negara mekah?Lusi dalam bahasa Kawi artinya adalah cacing. Bentuk sungai yang seperti cacing sudah tidak bisa mengeluarkan lumpur yang subur sehingga tanahtanah di sekitarnya menjadi tandus. Kepergiannya karena daerah tempat ting galnya sudah gersang. Dengan pergi meninggalkan tempat tinggalnya, ia berharap akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Orang tua hanya bisa mendoakan “tak eklasne kowe ngrakit lagu panguripan kang kebak madu”. Sudah tidak ada lagi tempat yang dapat ditanami. Hutan jati yang begitu terkenal kini hanya namanya saja karena sudah gundul dan sudah menjadi milik orang lain maka tidak ada gunanya jika diharapkan dan dipertahankan. Balada Kleting Kuning Sapa ta sing ra bakal ngruntuhake iki waspa Yen si kleting dipilara mbok randha Yen si kleting tansah dipilara sedulur tuwa?

Kleting kuning! Kleting kuning! Kenya ayu anak angkate mbok randha sambega Kenya ayu kasihane para jawata Wau ta si kleting kuning Kinongkon ngumbah dandang tembaga Nganti mencorong kaya teja Wau ta si kleting kuning Nyangking dandang ngener menyang kali bening Nyangking dandang kambi nangis andrenginging Endi dandangmu nini Aku bangothongthong kang bakal ngumbah ana kali Cinandhak dandang kakempit swiwine sekti Kinumbah dandang mencorong kaya nalika lagi jinedhi Iki dandangmu lan iki sada lanang wasiat wesi aji Tampanana nini lan den-enggal kowe bali Awit sedulurmu padha budhal nggah-unggahi Andhe-andhe lumut ing dhukuh wuluhan desa pasirapan peni Wau ta si bangothongthong Ilang musna dadi dewa suralaya Bali makayangan ing swarga loka Anging sumribit anggonda cendhana Kagyat mbok randha dhadhapan mbok randha sambega Dene si kuning ngempit dandang mencorong teja Iki apa dandang saka swarga Kang kok-tuku ngorbanke salira? Sang dyah ayu meneng ra suwala Atine remuk kaya binanting ing sela Wau ta sang syah ayu kleting kuning Mothah anyuwun palilahe mbok randha sambega Arep melu nggah-unggahi sang bagus teruna Kaya kleting biru, dhadhu, ungu sedulur tuwa We la bocah ora kaprah Rupamu elek kaya silit tampah Ambumu banger kaya kembang bangah Kowe arep nggah-unggahi jejaka bagus Anake mbok randha wuluhan kang kementhus?

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 17

Cinandhak sang dyah ayu kleting kuning Pinupur telek pitik tinapih klaras gedhang Setagen tampar memehan kinemben eri bandhotan O, langit biru cakrawala Apa bener tindake iki mbok randha sambega? Budhala kowe nek arep lunga Ning poma aja bali ing omahke sigra Jumangkah sang dyah ayu kleting kuning Teka ing bengawan silugangga Bengawan banjir prau tambang ora ana Bingung si kuning arep nyabrang sigra Eeeee, minggat kowe si kere budhugen Aku yuyukangkang tukang tambang bengawan Eeeee, si buron banyu aja ngadhang lakuku Aku dudu wanita tuna susila adol salira Aku dudu bangsane buron kang kena kok mangsa Rasakna yen kowe ra gelem tetulung sapadha-padha Wau ta sang dyah ay kleting kuning Angunus sada lanang saka kayangan Sinabet banyu bengawan ilang banjir bandhang Yuyukangkang mati njrekangkang Bengke ilang bali makayangan Wau tad yah ayu anak sambega Teka ing wuluhan pinapak jodheg lan santa Mitra rewange sang pekik andhe-andhe lumut sulistya Ginojek pari kena Wau ta sang mbok randha wuluhan desa pasirapan Mapagake si kuning irung tinutup kembang amrik anggonda Eeeee, gendhuk kowe njaluk apa Sega karak apa sega ketela? Adhuh nyai kula nyuwun pangaksama Kula badhe nggah-unggahi kang putra Kaget mbok randha wuluhan desa pasirapan krungu swara Amandeng pucuke netra Rupamu elek ambumu kelek kethek Apa kowe bisa bakal katrima?

Wis ping pira para Kenya Kenya ayu darah mbok randha dhadhapan mbok randha sambega Tinampik ing sang pekik We la yen kowe ameksa Dak-jaluke palilahe sang jejaka Angin sumribit anggandha cendhana Sumriwing ing kuping Manuk ngoceh ing pakebonan Apa kang bakal linakonan? “putraku ngger si andhe-andhe lumut Tumuruna ana putrid kang nggunggah-unggahi Putrine kang elek rupane Kleting kuning iku kang dadi asmane” Kaget mbok randha wuluhan mbok randha pasirapan Si kleting rinangkul siniram banyu sendhang kencana Badhar si kuning dadi dewi sekartaji dewi galuh candrakirana Badhar si bagus dadi raden panji inu kertapati putra jenggala Wau ta mbok randha dhadhapan mbok randha sambega Kaget asemu gela dene wis milara sang dyah ayu kesuma Ah, apa kang bakal tinampa Keris apa pedhang anigas jangga? Puisi tersebut menceritakan salah satu cerita Jawa yang berjudul Ande Ande Lumut. Cerita ini dikenal dalam berbagai versi. Versi yang banyak dikenal dan “tradisional” adalah yang meng aitkannya deng an bersatunya (kembali) Kerajaan Jenggala dan Kediri. Cerita ini mengisahkan tentang Pangeran Kusumayuda (dianggap sebagai personifikasi Kamesywara, raja Kadiri) yang bertemu dengan Kleting Kuning (bahasa Jawa: Klething Kuning), si bungsu dari empat bersaudara anak seorang janda yang tinggal di salah satu desa bawahan ayah Pangeran Kusumayuda memerintah. Kleting Kuning sebenarnya adalah anak angkat, yaitu putri dari Kerajaan Jenggala, yang kelak dikenal sebagai Dewi Candrakirana. Diam-diam mereka saling mengingat. Dalam hati, Pangeran Kusumayuda tahu, gadis seharum

18 Djoko Sulaksono, Suripan Sadi Hutomo Riwayat dan Peranannya dalam Sastra Jawa

bunga mawar itu adalah calon permaisuri Kerajaan Banyuarum yang paling sempurna. Sayang, mereka tak pernah bertemu lagi. Beberapa tahun kemudian, seorang pemuda tampan bernama Ande Ande Lumut mengumumkan bahwa dia sedang mencari istri. Tak seperti gadis-gadis desa lain, termasuk juga saudara-saudara Kleting Kuning, Kleting Kuning enggan pergi sebab dia masih mengingat Pangeran Kusumayuda. Namun berkat nasihat dari bangau ajaib penolongnya, maka akhirnya Kleting Kuning pun turut serta. Dalam perjalanannya, ternyata mereka harus menyeberangi sungai yang lebar. Pada saat itu, muncullah penjaga sungai berwujud yuyu raksasa bernama Yuyu Kangkang. Yuyu Kangkang menawarkan jasa untuk menyeberangkan mereka dengan catatan diberi imbalan bersedia dicium olehnya setelah diseberangkan. Karena terburuterburu, semua gadis-gadis desa yang lain segera saja menyetujuinya, dengan pemikiran bahwa sang pangeran tidak akan mengetahuinya. Hanya si bungsu Kleting Kuning yang menolak untuk dicium Yuyu Kangkang. Ketika Yuyu Kangkang bermaksud memangsanya, Kleting Kuning melawannya dengan senjata yang dititipkan oleh ibunya. Karena hanya si bungsu yang tidak dicium Yuyu Kangkang, jadilah Ande Ande Lumut memilih si bungsu sebagai pendampingnya. Barulah saat itu Kleting Kuning menyadari bahwa pemuda Ande Ande Lumut adalah Pangeran Kusumayuda, pemuda idamannya. Berbeda dengan guritannya yang berjudul “ilir” di bawah ini, yang cenderung menampilkan aspek sosial. Kemudian ada guritan berjudul “Saka punjering panguripan” yang cenderung menampilkan aspek kehidupan manusia lebih mendalam. ILIR dak-ilir cekben adhem sega sakpulukan pawehe juru silem pancen kamingaya wong nduwe negara arep mangan nunggu cipratane rasa rumangsa lan nek sesuk ora ana upa ilire mung kanggo ngobong dupa Jaya Baya

SAKA PUNJERING PANGURIPAN I. liwat sadhuwuring ayang-ayang aku weruh glibeting si gatholoco mlebu ronge si menco liwat ing sandhuwuring ayang-ayang aku krungu surake si jaka lodang ngelemke sega wadhang menyang ngendi paranku menyang ngendi playuku urut ilining banyu wudu II. pandhom kang tansah mubeng seser kaya dene klibate paser gandewa kang manjing panah pusaka kemelon ing dhuwuring iga ya gene sliramu ora percaya urip iki dudu ayang-ayang mega? III. kasampurnan kang luwih sampurna dununge ora na pasar bawera uga ora na ing telenging kutha kang mripat kaya watu kemlasa dudu iki, dudu ika awit ika lan iki awit iki lan ika : iki – ika, ika – iki tampanana jiwa kang umop kaya obyaking samodra tampanana jiwa kang ngoyot kaya banyu bune akasa endhek dhuwure graita ana ing slira Panjebar Semangat

C. Kesimpulan Suripan Sadi Hutomo adalah salah satu sastrawan jawa yang sangat peduli dengan sastra dan budaya Jawa. Hal ini dapat terbukti dengan

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 19

didirikanya pusat dokumentasi sastra pribadi miliknya. Walaupun ia ahli filologi tetapi tetapi karya-karyanya yang berwujud puisi banyak sekali. Berdasarkan beberapa contoh puisi-puisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa karya-karya Suripan Sadi Hutomo memang sangat berbobot dan estetis. Walaupun ia orang Jawa tetapi ia tidak fanatik hanya menulis puisi-puisi yang sifatnya kejawaan, terbukti dalam puisi yang berjudul Kincir Angin (negeri Belanda). Selain itu Suripan juga menggubah sebuah cerita rakyat menjadi sebuah puisi yang sangat indah. Tema puisipuisinya menggambarkan bagaimana kehidupan manusia yang ditulis dengan bahasa atau pilihan kata yang sangat indah dan menawan. Selain itu juga banyak menggunakan gaya bahasa untuk lebih menghidupkan karya tersebut. Suripan memang telah tiada namun karya-karya akan abadi dan dikenang sepanjang masa oleh pecinta sastra dan budaya Jawa.

DAFTAR PUSTAKA Dhanu Priyo Prabowo, Sri Widati dan Prapti Rahayu. 2012. Ensiklopedi Sastra Jawa. Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Yogyakarta. Herman J. Waluyo. 2010. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga: Widya Sari. Padmosoekotjo. 1960. Ngengrengan Kasoesastran Djawa. Yogyakarta: Hien Hoo Sing. Poerwadar minta, W. J. S. 1939. Baoesastra Djawa. Batavia: J. B. Wolters Uitgevers Maatschaappij n. V. Groningen. Suripan Sadi Hutomo. 1975. Telaah Kesusastraan Modern. Jakarta: PN Balai Pustaka. _______________.1985. Guritan, Antologi Puisi Jawa Modern 1940-1980. Surabaya: Sinar Wijaya. Tirto Suwondo, dkk. 2006. Pengarang Sastra Jawa Modern. Yogyakarta: Adi Wacana.

NILAI KEAGAMAAN DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM ANTOLOGI PUISI “TADARUS” KARYA A. MUSTOFA BISRI Indrya Mulyaningsih IAIN Syekh Nurjati Cirebon Abstrak: Puisi memiliki banyak manfaat, antara lain dapat memberikan kesenangan atau hiburan kepada pembaca. Puisi juga dapat membentuk pandangan hidup pembaca. Perkembangan puisi di Indonesia tidak bisa lepas dari peran penyair, baik yang berasal dari lingkungan umum maupun dari pesantren. Salah satu penyair santri Indonesia yang menuangkan gagasan dalam bentuk puisi adalah A. Mustofa Bisri. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimanakah deskripsi nilai keagamaan dan nilai pendidikan dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan nilai keagamaan dan nilai pendidikan dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif denganteknik pengumpulan data berupa analisis dokumen dan wawancara. Validasi data menggunakan triangulasi sumber data, metode, dan diskusi dengan penulis. Nilai keagamaan yang ditemukan berupa pengalaman batin dan kesadaran untuk selalu berhubungan dengan Tuhan. Nilai pendidikannya berupa: 1) antara manusia dengan dirinya sendiri, 2) antara manusia dengan orang lain, 3) antara manusia dengan kehidupan, 4) antara manusia dengan kematian, dan 5) antara manusia dengan ketuhanan. Kata kunci: Nilai Keagamaan, Nilai pendidikan, Antologi puisi Abstract: Poetry has many advantages. It gives entertainment to the reader. Poetry can also shape the readers’ thought about life. In Indonesia, poetry development cannot be separated from the poet role both from public environment or pesantren. One of Indonesian santri poet is A. Mustofa Bisri. The research problem is how the description of religious and educative value in the poetry anthology Tadarus by A. Mustofa Bisri. The research objective is to describe religious and educative value in the poetry anthology Tadarus by A. Mustofa Bisri. This research uses qualitative-descriptive method. The data collection techniques aredocument analysis and interview. The data validity is through triangulation of data source, method and discussion. The religious value found is spiritual experience and awareness to the God. The educative value are 1) between human and himself, 2) human and others, 3) human and life, 4) human and death, and 5) human and the God. Key words: Religious value, Educative Value, Poetry anthology

PENDAHULUAN Puisi memiliki banyak manfaat, antara lain dapat memberikan kesenangan atau hiburan kepada pembaca. Puisi juga dapat membentuk pandangan hidup pembaca. Kata-kata dalam puisi cenderung sedikit dan sarat makna. Sebagai sebuah karya, puisi banyak mengandung filsafat hidup yang sangat kompleks. Kompleksitas terjadi karena biasanya bahan penciptaan puisi berupa masalah-masalah hidup, dari segala yang ada dan

mungkin ada. Puisi juga dapat menggambarkan problema manusia yang bersifat universal, yakni tentang hakikat kehidupan, hakikat manusia, kematian, dan keagamaan (ketuhanan). Dengan kata lain, masalah-masalah tersebut juga memiliki nilai pendidikan yang bermanfaat dan membawa hikmah. Perkembangan puisi di Indonesia tidak bisa lepas dari peran penyair, baik yang berasal dari lingkungan umum maupun dari pesantren.

22 Indrya Mulyaningsih, Nilai Keagamaan dan Nilai Pendidikan dalam Antologi Puisi “Tadarus” Karya A. Mustofa Bisri

Bahkan penyair yang juga berstatus sebagai kiai. Dari tahun ke tahun, puisi-puisi yang dilahirkan para penyair santri ini turut mewarnai dan bahkan memperkaya khasanah sastra di tanah air. Salah satu penyair santri Indonesia yang menuangkan gagasan dalam bentuk puisi adalah A. Mustofa Bisri. Mustofa Bisri merupakan seorang ulama dan seorang penyair. Beliau memandang dunia dengan mata batin seorang ulama sekaligus mata batin seorang penyair. Hal ituterkait dengan salah satu fungsi dari pesantren, yakni sebagai tempat untuk ngangsu kaweruh dinul Islam. Alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyatakan bahwa pesantren merupakan subkultur tersendiri dalam masyarakat. Konsekuensi logis dari sistem pesantren adalah bisa lebih bebas menyuarakan ketimpangan-ketimpangan sosial yang disebabkan oleh pemerintah, institusi, dan unsur lainnya. Bertitik tolak dari latar belakang di atas, maka permasalahan penelitian ini adalah bagaimanakah deskripsi nilai keagamaandan nilai pendidikan dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri? Penelitian ini bertujuan untuk 1. mendeskripsikan nilai keagamaan dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri. 2. mendeskripsikan nilai pendidikan dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri. Manfaat secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan khasanah dan nilai tambah dalam kajian sastra (puisi). Sebuah tinjauan keagamaan dan tinjauan pendidikan dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri. Manfaat secara praktis, penelitian ini sebagai bahan perbandingan oleh para akademisi yang melakukan kajian sastra agar dapat memberikan pandangan yang senada atau berbeda terhadap kajian ini, utamanya kajian terhadap karya antologi puisi A. Mustofa Bisri. Penelitian ini meng gunakan metode kualitatif-deskriptif. Metode kualitatif-deskriptif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan

dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2004: 4). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis dokumen dan teknik wawancara. Analisis dokumen atau kajian isi dengan memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang sahih dari sebuah buku atau dokumen (Weber dalam Moleong, 2004:220). Teknik wawancara ialah teknik yang secara sistematis mendapatkan informasi, data, pandangan seseorang, yang disampaikan informan secara lisan menyangkut satu masalah sesuai dengan pokok penelitian, yang dicatat atau direkam, dan lebih lanjut dianalisis dan diinterpretasi. Analisis isi (content analysis) ini digunakan karena berbagai alasan berikut: (a) data penelitian ini bersumber pada dokumen, yaitu berupa kumpulan puisi; (b) data yang ada berupa simbolsimbol kebahasaan sehingga dapat dikaji dengan content analysis; dan (c) tujuan utama penelitian ini adalah mendeskripsikan data yang kompleks dan banyak jumlahnya sehingga perlu dikaji dengan content analysis. Validasi data menggunakan trianggulasi: a) sumber data, yaitu penelitian ini dapat meng gunakan beragam sumber data yang koheren (baik tulisan berupa sastra maupun esai) dari penyair, (b) metode, pengumpulan data yang sejenis dapat menggunakan teknik yang berbedabeda, dan (c) diskusi penulis dengan penyair juga pendapat dan pemikiran sastrawan, budayawan, dan juga rohaniwan tentang diri penyair.

PEMBAHASAN

Puisi Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani poeima ‘membuat’ atau poeisis ‘pembuatan’. Dalam bahasa Inggris disebut poem dan poetry. Puisi diartikan ‘membuat’ dan ‘pembuatan’. Puisi termasuk dalam salah satu jenis karya sastra. Bahasa puisi bersifat konotasi karena banyak menggunakan makna kias dan makna lambang atau biasa disebut dengan majas. Bahasanya lebih memiliki kemungkinan

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 23

banyak makna. Hal ini disebabkan adanya pengkonsentrasian atau pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Perrine (1979) dalam Herman J. Waluyo (2009: 27-28) menyatakan “Poetry is a universal as language and almost as ancient”. Sementara menurut Herman J. Waluyo (2009: 28), puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif. Puisi disusun dengan mengkonsentrasikan semua kekuatan bahasa, baik dalam struktur fisik maupun struktur batinnya. Sedangkan menurut Suminto A. Suyuti (2002: 2-3), secara sederhana puisi dapat dirumuskan sebagai sebentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek bunyibunyi di dalamnya. Puisi juga mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair. Semua itu diperoleh dari kehidupan individual dan sosialnya. Pengungkapannya dengan teknik khusus sehingga mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya. Struktur puisi pada dasarnya mempunyai dua unsur, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik puisi berkaitan dengan bentuk sedangkan struktur batin berkaitan dengan isi dan makna. Menurut Herman J. Waluyo (2009: 76), bahwa struktur fisik yang disebut juga dengan metode puisi terdiri atas 1) diksi, 2) pengimajian, 3) kata konkret, 4) bahasa figurasi atau majas, 5) versifikasi, dan 6) tata wajah atau tipografi. Struktur fisik atau metode puisi tersebut juga dipengaruhi pula oleh penyimpangan bahasa dan sintaksis dalam puisi. Adapun struktur batin adalah struktur yang berhubungan dengan tema, perasaan, nada dan suasana, amanat atau pesan.

Sosiologi Sastra Hakikat sosiologi sastra menurut Laurenson (1972: 11) “Sociology is essentially the scientific, objective study of man in society, the study of social institutions and of social processes; it seeks to answer the question of how society is possible, how it works, why it persists.“MenurutWellek (1990: 111-112), sosiologi sastra adalah suatu telaah sosiologis terhadap suatu karya sastra yang meliputi tiga klasifikasi,

yakni a) sosiologi pengarang, b) sosiologi karya sastra, dan c) sosiologi pembaca. Sementara Russell (1973: 529) berpendapat bahwa sosiologi sastra adalah studi tentang sarana produksi sastra, distribusi, dan studi tentang masyarakat tertentu. Rachmat Djoko Pradopo (2002: 22) beranggapan bahwa karya sastra dipengaruhi oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zamannya. Dikatakan oleh Robert Escarpit (2008: 14) bahwa keberadaan sosiologi sastra telah membantu pembaca, yakni dengan jalan membantu ilmu sastra tradisionalsejarah atau kritik sastra dalam mengamati hubungan antara karya sastra, pencipta, dan sejarah (lingkungan sosial). Sosiologi sastra merupakan bagian mutlak dari kritik sastra. Kajian ini mengkhususkan diri dalam menelaah sastra dengan memperhatikan segi-segi sosial kemasyarakatan. Atar Semi (1993: 73) berpendapat bahwa “Sastra merupakan pencerminan kehidupan masyarakat. Melalui karya sastra seorang pengarang mengungkapkan problem kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya”. a.

Hakikat Nilai Nilai adalah sesuatu yang selalu dikaitkan dengan kebaikan-kebaikan, kemaslahatan, dan keluhuran. Nilai merupakan sesuatu yang dihargai, dijunjung tinggi, serta selalu dikejar oleh manusia untuk memperoleh kebahagiaan hidup. Dengan nilai, manusia dapat merasakan kepuasan, baik kepuasan lahiriah maupun batiniah. Nilai mencakup beberapa komponen, seperti memilih (segi kognitif), menghargai (segi afektif), dan bertindak (segi psikomotorik). Berikut ini beberapa nilai yang biasanya terkandung dalam sebuah karya sastra: 1) nilai hedonik, 2) nilai artistik, (3) nilai kultural, (4) nilai etis, moral, agama, dan (5) nilai praktis atau nilai pendidikan. b.

Nilai Keagamaan Keagamaan mencakup totalitas (termasuk rasio dan rasa manusiawi) kedalaman diri pribadi manusia. Keagamaan tidak bekerja dalam pengertian-pengertian (otak), tetapi dalam pengalaman, penghayatan (totalitas diri)

24 Indrya Mulyaningsih, Nilai Keagamaan dan Nilai Pendidikan dalam Antologi Puisi “Tadarus” Karya A. Mustofa Bisri

yang mendahului analisis dan konseptualisasi. Keagamaan adalah hasrat untuk hidup dalam karunia Tuhan, hasrat untuk hidup dalam dunia yang nyata dan berdaya, dan tidak di dalam suatu dunia khayalan yang cuma terkurung di dalam kejadian-kejadian subjektif suatu kenisbian yang tiada henti (Y. B. Mangunwijaya, 1982: 16). Dalam kaitannya dengan hal tersebut, spiritualitas dan keagamaanositas merupakan dua nama atau sebutan paling umum untuk olah keruhanian dan jalan keruhanian. Meskipun sudah sangat dikenal, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan secara gamblang perbedaan istilah spiritualitas dan keagamaanositas. KBBI hanya menjelaskan istilah spiritual sebagai kejiwaan, ruhani, batin, mental, atau moral sedang istilah keagamaan sebagai taat pada agama atau saleh. Ini menunjukkan, makna spiritualitas lebih luas daripada makna keagamaanositas kendati sama-sama merujuk olah keruhanian dan atau jalan keruhanian. Jadi, nilai keagamaan dapat dibatasi pada keagamaan sebagai pengalaman batin dan kesadaran seseorang untuk selalu berhubungan dengan Sang Pencipta. Perwujudannya dengan menciptakan hubungan yang harmoni dengan Sang Pencipta dalam pemikiran dan perbuatan. Selanjutnya akan terurai dalam keseimbangan ritual ibadah, baik ibadah personal (pribadi) maupun ibadah sosial. Dalam karya sastra (khusunya puisi), hal tersebut akan disampaikan penyair dalam lahiriah bahasa puisi. c.

Nilai Pendidikan Nilai pendidikan adalah suatu gagasan, tanggapan evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan sosial. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan artistik, filofis, maupun agamis sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan ruhaniah pembaca. Pe m a h a m a n n i l a i p e n d i d i k a n , j i k a dirangkaikan dengan pemahaman terhadap nilainilai lain (misalnya: nilai keagamaan) menjadi satukesatuan pemahaman yang saling melengkapi, sehingga jika digunakan dalam apresiasi sastra

(puisi) akan menghasilkan pemahaman yang seimbang. Akan tetapi, pemahaman terhadap kedua nilai tersebut membutuhkan kepekaan yang maksimal bagi pembaca sastra (puisi) untuk mengetahui pesan yang ingin disampaikan penyair dalam puisi-puisinya. Jadi, nilai pendidikan dalam puisi dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok yang berpengaruh di dalamnya, yakni hubungan manusia dengan masalah: 1) kehidupan, 2) kemanusiaan, 3) kematian, dan 4) ketuhanan.

ANALISIS Dalam antologi puisi Tadarus banyak dijumpai puisi deskriptif dan metafisikal. Hal ini untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair berupa kritik terhadap kehidupan sosial sekaligus terhadap diri penyair dengan berbagai permasalahannya, antara lain a) hakikat manusia dan kemanusian, b) keadilan dan kebenaran hidup, c) kejujuran dalam pergaulan hidup, d) koreksi dan introspeksi diri, dan e) kesadaran spiritual. Antologi puisi Tadarus memuat 50 puisi yang terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama,18 puisi dan bagian kedua, 32 puisi. Pada tiap bagian akan diambil beberapa puisi untuk ditelaah. Hal ini agar dapat ditemukan hubungan antara sikap penyair dengan gagasan tentang corak kehidupan sosial dalam puisi, nilai-nilai keagamaan, dan nilai-nilai pendidikan. Secara umum, g ag asan atau tema Tadarustentang kritik terhadap kehidupan sosial yang ditampilkan adalah warna kritik terhadap kemanusiaan, kebenaran, keadilan, koreksi dan introspeksi diri, dan kesadaran spiritual. Oleh karena itu, tinjauan terhadap puisi tersebut, antara lain: a) hakikat manusia dan kemanusian, b) keadilan dan kebenaran hidup, c) kejujuran dalam pergaulan hidup, d) koreksi dan introspeksi diri, dan e) kesadaran spiritual. Gagasan atau tema tersebut akan ditelaah hubungannya dengan nada puisi sebagai sikap yang ingin disampaikan penyair sebagai kritik terhadap tatanan kehidupan sosial termasuk kritik terhadap diri penyair sendiri.

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 25

Dalam antologi puisi Tadar us yang mengungkapkan kritik tentang hubungan kemanusiaan diantaranya adalah puisi yang berjudul “Membangun Rumah”, “Dzikir 2”, “Mantan Rakyat”, “Bosnia Adalah”, dan “Kubaca Berita”. Puisi “Membangun Rumah” mengungkapkan sebuah gambaran kesenjangan hubungan kemanusiaan antara orang-orang kaya raya dengan orang yang dipandang hina. Dengan mudahnya orang-orang kaya untuk melakukan apapun yang diinginkannya, termasuk dalam memandang remeh orang-orang yang dianggapnya miskin dan serba kekurangan apapun. Misalnya pada puisi berikut ini. Di atas tanah rezki Allah (Cuma tiga hektar luasnya Pembantu-pembantuku berhasil membelinya Dari beberapa petani di pinggiran kota) Akan kubangun rumah sederhana Arsitek kenamaan kenalan istriku …………………………………………… Waktu kami akan berangkat ke hotel bersamasama dan pembantu kami membuka pintu gapura beberapa tamu tak diundang menerobos masuk seenaknya Mereka bilang minta waktu sebentar saja Meski sangat terganggu kusuruh sekretarisku melayaninya …………………………………………… Tak lama sekretaris melapor dengan tertawa “Cuma panitia pengumpul dana,” katanya “Entah untuk solidaritas Bosnia entah apa. Kukasi lima ribu saja meraka menghaturkan terimakasih tak terhingga dan mendoakan kesejahteraan kita”. Ayo berangkat, seru istriku, ada-ada saja! Iring-iringan pun bergerak. (Kulihat para tamu tak diundang itu tertunduk-tunduk syukur mengawasi kami Sementara pembantu kami terus mendorong mereka pergi). (Tadarus: 17 – 18) Bait-bait puisi di atas menunjukkan kritik terhadap rasa kemanusiaan orang-orang kaya.

Betapa nikmatya menjadi orang kaya segala apapun yang diinginkan, tidak ada yang tidak terwujud. Apapun yang akan dilakukan serba mewah dan sangat jauh dari kemampuan wajar orang-orang miskin. Mulai dari penguasaan tanah, kepemilikan rumah, dan keluar-masuk hotel untuk kepentingan apapun. Orang kayamemandang sebelah mata terhadap orang lain yang dianggap tidak berpengaruh dan menguntungkan posisinya. Mereka cukup memberi penghargaan ala kadarnya, tanpa harus berpusing diri memikirkan keadaan dan kepentingan orang yang mereka anggap ‘tidak berguna dalam hidupnya’. Puisi “Dzikir 2” mengungkapkan bagaimana dan dalam posisi apa manusia berdzikir. Dzikir dalam puisi ini bukan bermakna ‘mengingat Tuhan’ secara terus-menerus, tetapi bermakna ‘pengambilan sikap’ atau ‘keputusan’ yang hampir sering dikerjakan, antara ulama, wakil rakyat, dan rakyat. Masing-masing punya sikap sesuai dengan posisi dan kedudukannya. Puisi “Kubaca Berita” menyuguhkan beragam kritik terhadap keterbatasan manusia dalam menerima kehendak dan keputusan Tuhan, seperti a) kematian yang sewaktu-waktu dan tiba-tiba datangnya, b) keangkuhan atas jabatan dan kedudukan yang akan sirna tanpa dapat menolaknya, dan c) kesombongan atas kekayaan, idiologi dan pemikiran yang lenyap akibat perbuatan manusia sendiri. Puisi “Bosnia Adalah” seperti mengingatkan kembali atas keberadaan tragedi kemanusiaan yang dinjak-injak keangkaramurkaan, keserakahan, serta kekejaman dan kekejian akibat perang saudara di bekas Negara Yugoslavia, yakni di Bosnia Herzegovina. Melalui puisi ini pula, A. Musthofa Bisri mengingatkan sekaligus mengkritik akan pentingnya arti kemanusiaan di tengah tragedi peperangan yang banyak menimbulkan ketidakberdayaan, kesengsaraan, dan kematian itu sendiri. Bosnia adalah wajah kita yang kusut Bosnia adalah keangkuhan dan ketidakberdayaan kita Bosnia adalah kita yang terkoyak-koyak

26 Indrya Mulyaningsih, Nilai Keagamaan dan Nilai Pendidikan dalam Antologi Puisi “Tadarus” Karya A. Mustofa Bisri

Bosnia adalah kepanikan manusia menghadapi diri sendiri (Airmata dan darah tertumpah atau tidak Raung atau erang yang terdengar Atau justru hanya senyum yang sunyi Tragedi manusia adalah saat Kemanusiaannya lepas entah kemana? Atau barangkali Bosnia Adalah dunia kita yang mulai sekarat. (Tadarus: 28) Bait-bait puisi di atas mengritik sebuah kenyataan tentang tragedi kemanusiaan akibat peperangan di Bosnia. Bahwa perang Bosnia adalah wujud ketidakberdayaan serta pertumpahan darah yang sia-sia akibat nilai-nilai kemausiaan yang dinjak-injak. Bosnia adalah wujud kemanusiaan yang hampir punah. Atau barangkali Bosnia/ Adalah dunia kita yang mulai sekarat. Judul puisi yang mengungkapkan kritik tentang keadilan dan kebenaran hidup antara lain: “Anonim”, “Ratsaa”, “Khalifah Allah, Dimanakah Kau”, “Selamat Idul Fitri”, dan “Keadilan”. Dalam puisi “Anonim” menggambarkanan berbagai pertanyaan tentang kesewenangwenangan, keserakahan dan berbagai macam ketidakaadilan di negeri ini. Bagaimana nasib para petani, nelayan, dan rakyat yang bersusah payah dalam segala usaha, tetapi yang meraih kenikmatan hanya orang-orang kaya dan orangorang yang memiliki kekuasaan saja. Rakyat selalu berada di pihak yang selalu dikalahkan. Siapa yang menanam padi hingga negeri ini Dari pengimpor beras menjadi Negeri swasembada pangan yang mandiri Yang mendahulukan memberi makan anakanakmu Sebelum anak-anak sendiri? Siapa yang menjalankan perahu pukatmu Dan melawan badai menjala ikan untukmu Siapa yang merawat tebu-tebumu Agar persediaan gula terjamin selalu?

Siapa yang menabung receh-recehnya Di bank hinga kau dan siapa saja yang lebih kaya Bisa mengkreditnya kapan saja? Siapa yang mau saja kau tarik-tarik kesan kemari Mencoblos gambar lima tahun sekali Hingga kau dan siapa saja yang punya nyali Mendapat kedudukan terhormat sekali? Siapa yang menyediakan sawah-sawah murah Dan tambak-tambak dengan harga rendah Untuk kau tanami pabrik dan rumah-rumah mewah Dan tempat-tempat plesiran yang megah? Siapa yang rela meninggalkan tempat tinggal Dan segala milik, pekarangan, dan tegal Bagi proyek-proyek prestisemu yang jajal-jajal? Siapa yang membayar pajak tak boleh nunggak Agar bangunan dan periukmu tegak? Siapa yang bersedia menyerahkan lubang telinga Untuk kau jejali rongsokan huruf dan katakata? Siapa? Kenapa kau tak menoleh sekejap saja? (Tadarus: 10) Bait-bait puisi di atas mengritik betapa rakyat kecil dan jelata selalu menjadi sasaran pihak yang berduit dan memiliki jabatan. Rakyat selalu dikalahkan dalam segala hal, baik untuk kepentingan bisnis maupun politik. Rakyat kecil selalu tidak berdaya mengalami ketidakadilan hidup. Orang-orang beruang atau pejabat hanya berorientasi pada harta dan kedudukan sebagai segala-galanya. Oleh karenanya, penghalalan segala cara yang sebenarnya justru menginjakinjak rakyat sering dilakukan. Dalam puisi “Ratsaa” mengritik terhadap ketidakadilan dan ketidaksempurnaan tatanan hidup. Semua urusan yang menjadi tanggung jawab masing-masing individu dalam keluarga

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 27

diserahkan pada orang lain. Hingga pada urusan ibadah pada Tuhan dapat dialihkan dan diwakilkan pada siapapun yang mau melaksanakannya. Dalam puisi “Khalifah Allah, Dimanakah Kau?” mengritik terhadap beragam karakter manusia. Pemimpin selalu berlaku diktator, angkuh, dan kasar. Kelompok menengah tidak mau mengalah dan selalu ingin maju tapi tak mampu. Sementara rakyat jelata semakin terhimpit dan tersiksa dalam hidup. Dalam keadaan seperti ini, begitu sulit mencari figur pimpinan yang benar-banar adil dan proporsional dalam menjalan tugas dan tanggung jawabnya. Dalam puisi “Selamat Idul Fitri” mengritik sekaligus menyadarkan terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan, baik adil dan benar pada diri sendiri, alam (tumbuhan dan hewan), maupun pada sesama. Melalui momen Idul Fitri, seseorang tulus mengucapkan permohonan maaf pada semuanya atas segala kezaliman yang telahdiperbuat. Dalam “Keadilan” mengritik sekaligus menyadarkan tentang makna keadilan yang mungkin saat ini masih dirasa sebagai mimpi. Sesuatu yang masih jauh dari kenyataan. Keadilan masih dalam wujud angan-angan dan impian yang belum dapat diraih. Hampir tertangkap mimpi. (Tadarus: 67) Satu larik puisi di atas menunjukkan kritik sekaligus penyadaran akan arti penting sebuah keadilan. Saat ini, keadilan masih berwujud impian dan angan-angan yang belum tergapai dalam kenyataan hidup. Atau barangkali keadilan memang hanya sebuah impian, jauh dari kenyataan hidup? Kejujuran dalam pergaulan hidup adalah tema yang juga ingin disampaikan. Dalam antologi puisi Tadarus yang mengungkapkan tema kujujuran dalam pergaulan hidup antara lain “Jangan Berpidato”, “Rampok”, “Menulis”, dan “Allah Ampunilah Kami”. Dalam puisi “Jangan Berpidato” berisi penolakan keras terhadap pidato yang akhir-akhir ini sudah tidak lagi menunjukan nuansa kejujuran nurani, baik segi

bentuk maupun isi. Keberadaan pidato sekarang ini hanyalah ocehan murahan untuk menutupi segala kekurangan. Kekurangan yang dianggap baik akan membuat diri sendiri hancur dimakan kebaikan dan kejujuran nurani. Jangan berpidato! kata-katamu yang paling bijak hanyalah bedak murah yang tak sanggup lagi menutupi koreng-borok-kurap-kudis-panu-mu Peradaban xxxxxxxxxx koreng! Has asasi xxxxxxxxxx borok! Perdamaian xxxxxxxxxx kurap! Demokrasi xxxxxxxxxx kudis! Humanisasi xxxxxxxxxx panu! Berlagaklah adi siapa perduli Bangunanmu tinggal cantik di luar Tinggal menunggu saat-saat ambyar (Tadarus: 8) Larik-larik puisi di atas menunjukkan betapa tidak berdayanya pidato dengan kata-kata paling bijak sekalipun. Sebab kebijakan yang dibawa hanyalah pelapis luar terhadap segala keburukan dan kebobrokan yang melatarbelakangi keadaan yang sebenarnya. Selama ini yang nampak adalah sebuah bangunan baik di bagian luar, tetapi rapuh kerangka dan penyangganya. Oleh karena itu, tinggal menunggu hancur dan robohnya bangunan itu. Sebuah kejujuran adalah apa yang nampak di luar, juga sepertidi dalam. Dalam “Rampok” mengritik terhadap ketidakjujuran seseorang dalam bersikap. Umumnya jika disuruh memilih antara harta, nyawa, dan nurani, maka sebagian besar jawaban yang diberikan adalah lebih senang harta daripada nyawa atau sebaliknya. Puisi “Menulis” menggambarkan bahwa dalam kehidupan, setiap oarng punya kemampuan dan keahlian dalam membuat keputusan atau kebijakan yang setara dengan kedudukan atau jabatan yang disandangnya. Semakin tinggi jabatan dan kedudukannya, maka semakin bebas memutuskan segala sesuatu. Semakin tidak berdaya seseorang, maka semakin kecil dan sepele hal yang diputuskan. Dalam puisi “Allah Ampunilah Kami” kembali mengingatkan akan ketidakberdayaan

28 Indrya Mulyaningsih, Nilai Keagamaan dan Nilai Pendidikan dalam Antologi Puisi “Tadarus” Karya A. Mustofa Bisri

terhadap kemahakuasaan-Nya. Dari hari ke hari, semakinterbebani dengan segala ketidakpastian hidup, tidak meyakini keberadaan nurani dan kejujuran dalam bertindak dan bersikap. Padahal nurani dan kejujuran adalah suara Tuhan. Sehingga dari hari ke hari, terus terbelenggu dengan ketidakmampuan untuk memisahkan antara kebenaran dan kemungkaran, perdamaian dan pertikaian, keserakahan dan keberkahan, kemaksiatan dan ketaatan. Dalam puisi “Matahari”, “Bulan”, “Laut”, dan “Langit” berikut ini, menunjukan sebuah keberadaan kepasrahan total penyair terhadap kebesaran Tuhan terhadap makhluk ciptaan-Nya berupa matahari, bulan, laut, dan langit. Bahwa atas kuasa Tuhan semata keempat makhluk yang melingkupi semesta ini bergerak dan bertindak sesuai dengan sunatullah (hukum Allah) untuk kemanfaatan semesta. Matahari terbit dan terbenam, bulan dengan pantulan sinarnya yang indah menerangi malam, laut yang amat luas, dan langit yang terhampar bebas tanpa batas ibarat ilmu Tuhan yang tak akan pernah habis. Semuanya itu diakui oleh penyair akan kemahabesaran dan kuasa Tuhan sebagai pencipta semesta. Jika terbit disini Aku tak perduli tenggelam dimana (Tadarus: 69) Bulan, Ayo berpandang-pandangan Siapa yang lebih dahulu berkedip Menemukan atau kehilangan pesona wajahNya. (Tadarus: 70) Laut, Aku ingin meminum habis airmu Tapi untuk apa? (Tadarus: 71) Langit, Adakah langit di atas birumu? (Tadarus: 72) Puisi lain yang sangat kental nuansa spiritualnya adalah puisi yang berjudul “Doa”.

Puisi ini mengungkapan pengakuan terhadap Tuhan dengan segala sifat kesempurnaan-Nya dan yang maha segala yang terangkum dalam 99 nama baik bagi Tuhan (al asma al husna). Manusia berharap dan memohon pada-Nya, agar diberi perlindungan, pertolongan dan ampunan atas segala yang menjadi kelemahan dan kesalahan. Disampaikan pula agar manusia selalu mencari ridla-Nya. Di beberapa larik lainnya, setelah menyebut Ya Allah ya Hadii (Maha Pemberi Petunjuk), penyair berdoa tunjukkanlah kamijalan yang lurus yang harus kami lalui seperti Engkau perintahkan. Satu bait lainnya, setelah menyebut Ya Allah ya Baqii kemudian memohon kekalkanlah keyakinan kami terhadap pertolonganMu hingga kami tak pernah berhenti tawakkal.

PENUTUP 1. Nilai Keagamaan Nilai keagamaan yang terdapat dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri merupakan pengalaman batin dan kesadaran seseorang (penyair) untuk selalu berhubungan dengan Sang Maha Pencipta dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penyair selalu berharap pertolongan dari-Nya agar terhindar dari perbuatan yang dilarang Tuhan. Penyair berharap akan memiliki kemampuan untuk menggerakkan hati, pikiran, dan perbuatan sejalan dengan tuntunan Tuhan dalam segala situasi dan kondisi. Salah satu wujudnya dengan menciptakan hubungan yang harmoni dengan Sang Maha Pencipta dalam pemikiran dan perbuatan. Selanjutnya akan terealisasi dalam keseimbangan ritual ibadah, baik ibadah personal (pribadi) maupun ibadah sosial dalam kehidupan sehari-hari. 2. Nilai Pendidikan Nilai pendidikan yang terdapat dalam antologi puisi Tadarus karya A. Mustofa Bisri sebagai berikut. a. Antara manusia dengan dirinya sendiri berupa kesadaran bahwa manusia benarbenar berada dalam segala keterbatasan dan kekurangan.

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 29

b. c. d.

e.

Antara manusia dengan orang lain berupa mulai lunturnya nilai-nilai kemanusian, apalagi jika terkait dengan status sosial. Antara manusia dengan kehidupan berupa masih banyaknya pelanggaran terhadap aturan yang berlaku. Antara manusia dengan kematian berupa adanya misteri Tuhan tentang kelahiran, kematian, jodoh, dan rezeki. Artinya tidak ada seorang pun yang tahu kapan akan melahirkan, kapan akan meninggal, siapa jodohnya, dan seberapa banyak rezekinya. Antara manusia dengan ketuhanan berupa ketakberdayaan manusia yang hanya bisa mengharap dan memohon kepada Tuhan dengan selalu mendekatkan diri pada-Nya.

DAFTAR RUJUKAN Escarpit, Robert. 2008. Sosiologi Sastra. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Laurenson, Diana T, etc.. 1972. The Sociology of Literature. London: Paladin 3 Upper James Street. Mangunwijaya, Y. B. 1982. Sastra dan Religiositas. Jakarta: Sinar Harapan. Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pradopo, Rachmat Djoko. 1995. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: UGM Press. ___________ 2002. Kritik Sastra Indonesia Moderen. Jogjakarta: Gama Media. Russell, Norma. 1973. “The Sociology of Literature. D. Laurenson and A. Swinggewood. Pp. 282. London: Mac Gibbon & Kee.” Oxford Journal. The Review Of English Studies. 1973. XXIV (93) 529-230: doi. 10.109/res/ XXIV 93 529. 1973. Amerika: Oxford University Press. Sayuti, Suminto A. 2002. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Jogjakarta: Gama Media. Semi, Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa. Stanton, Robert. 1988. An Introduction to Fiction. New York Chicago San Francisco Toronto

London: Holt, Rinehart and Winston, Inc. Waluyo, Herman J. dan Nugraheni E. W. 2009. Pengkajian Prosa Fiksi. Surakarta: UNS Press. Wellek, Rene dkk. 1990. Teori Kesusastraan (Penter jemah Melani Budianta). Jakarta: Gramedia.

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN TENTANG PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI Yuni Ertinawati Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, menganalisis dan mengkaji Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Kemampuan Menulis Puisi Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup Dengan Perilaku Dalam Memelihara Pelestarian Lingkungan Hidup. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik proportional random sampling, dengan sampel sebanyak 45 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan angket pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dan angket perilaku mahasiswa dalam memelihara kebersihan lingkungan hidup. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi, regresi sederhana dan berganda. Ada hubungan antara kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan perolehan nilai r sebesar 0,54 yang termasuk kategori keeratan sangat tinggi dan memberikan konstribusi sebesar 0,29%. Semakin baik kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup maka akan semakin baik perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Kata kunci: Pengetahuan, Kemampuan Menulis Puisi, Perilaku, Pelestarian Abstract: This study aims to find, analyze and assess the Relationship Between Knowledge and Capabilities Environmental Protection Environmental Conservation Writing Poetry About Life With Behavior in Maintaining Environmental Conservation. The sampling technique used in this study is proportional random sampling technique, the sample size of 45 people. Instrument in this study using questionnaires knowledge. While the data analysis techniques used wasabout environmental conservation and behavioral questionnaires students in maintaining the cleanliness of the environment are correlation analysis, simple and multiple regression. There is a relationship between the ability to write poetry aboutenvironmental conservation behaviors in maintaining environmental sustainability. This can be evidenced by the acquisition of an r value of 0,54 is very high category of cohesion and contribute at 0,29%. The better the ability to write poems about the preservation of the environment, the better behavior in maintaining environmental sustainability. Key words: knowledge, writing poetry skills, behaviour, environmental conservation

Peningkatan pengetahuan dan pemahaman dalam melestarikan lingkungan adalah salah satu bentukasal perilaku yang perlu dibina dan ditanamkan pada setiap individu. Setiap individu dapat mengerti dan memahamitentang bagaimana melestarikan lingkungan yang memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting bagi kehidupan. Sehingga akan melakukan yang terbaik dan berbuat bijaksana bagi alam ini. Pengetahuan tentang lingkungan hidup, khususnya tentang

pelestarian lingkungan hidup perlu dimiliki oleh mahasiswa karena dengan pengetahuan yang cukup tentang pelestarian lingkungan hidup diharapkan mahasiswa dapat membantu memecahkan masalah-masalah yang terdapat di sekitar lingkungannya. Penyelesaian masalah lingkungan hidup tidak dapat dilakukan secara sepihak. Hal ini disebabkan karena sifat interdependency yang melekat pada lingkungan hidup menuntut

32 Yuni Ertinawati, Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Kemampuan Menulis Puisi

kerjasama multipihak secara serentak dan menyangkut selur uh lapisan masyarakat. Pentingnya pelestarian lingkungan hidup untuk masa sekarang hingga masa yang akan datang, secara eksplisit menunjukkan bahwa perjuangan manusia untuk menyelamatkan lingkungan hidup harus dilakukan secara berkesinambungan, dengan jaminan estafet antargenerasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya merupakan kemampuan yang harus dimiliki. Hal ini dianggap penting karena dilandasi disiplin ilmu yang sedang dialami, dan juga merupakan kompetensi unggulan yang seharusnya dibina dan dikembangkan. Menulis puisi dalam hal ini bukan hanya menuangkan kata-kata tanpa makna, tetapi menulis sebuah puisi dengan tujuan ada pesan yang akan disampaikan kepada pembaca. Paling penting dalam menulis puisi adalah mampu menulis dengan memperhatikan bahasa, pilihan kata atau diksi, dan rima. Hal lain yang perlu diperhatiakn dalam menulis puisi adalah pemahaman bahwa pada dasarnya puisi itu bersifat faktual imajinatif, artinya ketika seseorang menulis puisi bisa berdasarkan kehidupan nyata yang dialaminya dengan menambahkan hal-hal yang bersifat imajinatif. Perilaku seseorang dimungkinkan akan terjadi ketika Ia mengetahui dan mengerjakan sesuatu. Misalnya saja melalui proses menulis sebuah puisi yang bertemakan tentang pelestarian lingkungan hidup. Pada proses ini dimungkinkan dapat membentuk karakter perilaku mahasiswa yang positif tentang pelestarian lingkungan hidup. Bukanlah hal yang mengada-ada jika dengan menulis sebuah puisi mahasiswa dapat diketahui tentang pengetahuan dan perilakunya dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Menulis puisi merupakan penuangan segala bentuk ekspresi atas dasar pengetahuan seseorang tentang segala sesuatu termasuk tentang pelestarian lingkungan hidup. Dengan

menulis sebuah puisi akan membentuk pribadi yang berbudaya, menumbuhkan karakter kritis dalam menentukan dan membentuk perilaku penulisnya. Dalam kaitan ini, akan diketahui tentang perilaku mahasiswa terhadap pelestarian lingkungan hidup Tujuan penelitian iniuntuk memperoleh gambaran tentang: a. Mengetahui hubungan antara pengetahuan mahasiswa tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilakunya dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. b. Mengetahui hubungan antara kemampuan mahasiswa menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilakunya dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. c. Mengetahui hubungan antara pengetahuan mahasiswa tentang pelestarian lingkungan hidup dan kemampuan mahasiswa menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilakunya dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Dalam psikologi, pengetahuan termasuk aspek kognitif, yang meliputi tujuan pendidikan yang berkenaan dengan ingatan atau pengenalan tentang pengetahuan dan perkembangan kemampuan intelektual serta keterampilan berpikir. Menurut Benyamin S Bloom dalam Dimyati dan Mudjiono (1999:26) “kegiatan belajar pengetahuan termasuk dalam domain kognitif yang meliputi: 1) pengetahuan, 2) pemahaman, 3) penerapan, 4) analisis, 5) sintesa dan 6) evaluasi”. Keenam jenis perilaku itu bersifat hierarkis dimulai dari jenjang yang paling bawah yaitu pengetahuan sampai ke jenjang yang paling tinggi yaitu evaluasi. Artinya jenjang di bawah menjadi prasyarat untuk jenjang di atasnya. Puisi bukan hanya rangkaian kata-kata, tetapi ada makna yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana dikemukakan Waluyo (2005: 4) yaitu “jika kita menghadapi sebuah puisi, kita tidak hanya berhadapan dengan unsur kebahasaan yang meliputi serangkaian kata-kata indah, namun juga merupakan kesatuan bentuk pemikiran atau struktur makna yang hendak diucapkan penyair”.

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 33

Pendapat di atas mengisyaratkan bahwa ketika kita menulis puisi ada pesan yang ingin disampaikan oleh penyair dengan menggunakan media bahasa yang indah. Hal lain yang perlu diperhatikan ketika menulis puisi adalah pemahaman bahwa pada dasarnya puisi itu bersifat faktual imajinatif. Ketika seseorang menulis puisi bisa berdasarkan kehidupan nyata yang dialaminya dengan menambahkan hal-hal yang bersifat imajinatif. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan mahasiswa dalam menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup maksudnya kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa dalam menuangkan ide kreatifnya ke dalam wujud puisi dengan memperhatikan bahasa, diksi dan rima juga imajinasi. Puisi yang dihasilkan tentu akan bersumber dari pengetahuan mahasiswa tentang pelestarian lingkungan hidup yang didapatnya dari proses pendidikan secara formal maupun non-formal. Perilaku dari sudut biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan. Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Karena itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup kegiatan berjalan, berbicara, bereaksi, berpakaian, dan lain sebagainya. Bahkan kegaiatan internal seperti berpikir, berpersepsi, dan emosi, juga merupakan perilaku manusia. Perilaku, lingkungan dan individu saling berinteraksi satu dengan yang lain, ini berarti bahwa perilaku individu dapat mempengaruhi individu itu sendiri, dan dapat mempengaruhi lingkungannya, demikian pula sebaliknya lingkungan dapat mempengaruhi individu.

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui: (1) Tes Pengetahuan, Instrumen ini dimaksudkan untuk mengukur pencapaian pengetahuan mahasiswa setelah mempelajari sesuatu dan untuk meng etahui tentang pemahaman materi pelestarian lingkungan, (2) Tes Menulis Puisi, Mahasiswa yang dijadikan sampel diberi tes kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup. (3) Angket, Mahasiswa yang dijadikan sampel mengisi angket dengan cara memberi tanda cheklist pada kolom yang sudah tersedia mengenai perilaku tentang pelestarian lingkungan hidup..

METODE

Hasil Uji Coba Instrumen

Sampel dan Sumber Data Sampel diambil dari jumlah populasi dengan cara proporsional random sampling sebesar 30 %, yaitu kelas A 12 orang, Kelas B 12 orang, Kelas C 11 orang dan kelas D 11 orang, sehingga diperoleh 150 x 30% = 45 orang.

Variabel Di dalam penelitian ini dikaji dua variabel bebas dan satu variabel terikat. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari: X1 = Pengetahuan mahasiswa tentang pelestarian lingkungan hidup, X2 = Kemampuan mahasiswa dalam menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup, Y = Perilaku mahasiswa dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup.

Instrumen Penelitian Instrumen Pengetahuan tentang lingkungan h i d u p : L i n g k u n g a n h i d u p, Pe l e s t a r i a n lingkungan, Manfaat pelestarian lingkungan, Unsur-unsur pelestarian lingkungan. Instrumen Kemampuan Menulis Puisi tentang Lingkungan Hidup:Kesesuaian isi dengan tema, Penggunaan Diksi, Penggunaan Rima, Penggunaan Bahasa dan Penggunaan Imajinasi. Instrumen Perilaku Pelestarian Lingkungan Hidup: Pemanfaatan Tanaman di Lingkungan Kampus, Kebersihkan Lingkungan kampus dan Pelestarian Lingkungan Kampus Uji instrumen dalam penelitian ini mengukur item-item pernyataan dari disiplin belajar sebanyak 35 item. Dengan bantuan SPSS 20 dapat diketahui nilai korelasinya. Nilai korelasi yang diperoleh (nilai korelasi per item dengan total item yang diperoleh setelah dikorelasikan secara statistik perindividu), selanjutnya di uji

34 Yuni Ertinawati, Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Kemampuan Menulis Puisi

pada taraf kepercayaan yang digunakan ( = 5%), dengan kaidah keputusan: jika r hitung lebih besar dari r tabel berarti valid, berarti instrumen tersebut memenuhi kriteria validitas sehingga item tersebut layak digunakan dalam penelitian. Jika r hitung lebih kecil dari r tabel berarti tidak valid.

27

0,704

0,349

Valid

28

0,440

0,349

Valid

29

0,657

0,349

Valid

30

0,775

0,349

Valid

Hasil uji validitas dalam penelitian ini dapat disajikan pada tabel berikut:

31

-0,009

0,349

Tidak valid

32

0,141

0,349

Tidak valid

33

0,742

0,349

Valid

34

0,410

0,349

Valid

35

0,141

0,349

Tidak valid

TABEL 3.3 Hasil Uji Coba Validitas Variabel Pengetahuan No Item

r hitung

r tabel

Keterangan

1

-0,009

0,349

Tidak valid

2

0,141

0,349

Tidak valid

3

0,857

0,349

Valid

4

0,766

0,349

Valid

5

0,423

0,349

Valid

6

0,473

0,349

Valid

No Item

r hitung

r tabel

Keterangan

7

0,857

0,349

Valid

1

0,119

0,349

Tidak valid

8

0,362

0,349

Valid

2

0,171

0,349

Tidak valid

9

0,659

0,349

Valid

3

0,822

0,349

Valid

10

0,435

0,349

Valid

4

0,743

0,349

Valid

11

0,467

0,349

Valid

5

0,448

0,349

Valid

12

0,481

0,349

Valid

6

0,510

0,349

Valid

13

0,536

0,349

Valid

7

0,822

0,349

Valid

14

0,731

0,349

Valid

8

0,320

0,349

tidak valid

15

0,565

0,349

Valid

9

0,628

0,349

Valid

16

0,357

0,349

Valid

10

0,425

0,349

valid

17

0,399

0,349

Valid

11

0,119

0,349

tidak valid

18

0,865

0,349

Valid

12

0,171

0,349

tidak valid

19

0,940

0,349

Valid

13

0,556

0,349

valid

20

0,657

0,349

Valid

14

0,510

0,349

valid

21

0,602

0,349

Valid

15

0,822

0,349

valid

22

0,622

0,349

Valid

16

0,359

0,349

valid

23

0,722

0,349

Valid

17

0,386

0,349

valid

24

0,664

0,349

Valid

18

0,836

0,349

valid

25

0,618

0,349

Valid

19

0,119

0,349

tidak valid

26

0,827

0,349

Valid

20

0,656

0,349

valid

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari jumlah 35 item soal, 30 item valid dan 5 item tidak valid. Dengan demikian 30 item soal tersebut digunakan pada penelitian ini. TABEL 3.4 Hasil Uji Validitas Variabel Perilaku

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 35

21

0,566

0,349

valid

22

0,626

0,349

valid

23

0,617

0,349

valid

24

0,662

0,349

valid

25

0,592

0,349

valid

26

0,754

0,349

valid

27

0,734

0,349

valid

28

0,421

0,349

valid

29

0,656

0,349

valid

30

0,742

0,349

valid

31

0,119

0,349

tidak valid

32

0,171

0,349

tidak valid

33

0,754

0,349

valid

34

0,389

0,349

valid

35

0,171

0,349

tidak valid

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari jumlah 35 item soal, 26 valid dan 9 item tidak valid. Dengan demikian 26 item pernyataan tersebut digunakan pada penelitian ini.

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa instrumen penelitian ini reliabel, hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien r11 adalah 0,929 dengan kategori reliabilitas sangat tinggi.

Teknik Analisis Data a.

b.

c.

Hasil uji reliabilitas dalam penelitian ini dapat disajikan pada tabel berikut: Alat ukur atau instrumen dikatakan reliabel jika memiliki koefisien reliabilitas yang bermakna sekurang-kurangnya kuat. Tabel 3 Hasil uji reliabilitas instrumen Pengetahuan Koefisien r11

Keterangan

0,941

Reliabilitas sangat tinggi

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa instrumen penelitian ini reliabel, hal ini dapat dilihat dari nilai koefisien r11 adalah 0,941 dengan kategori reliabilitas sangat tinggi. Tabel 4 Hasil uji reliabilitas instrumen perilaku mahasiswa Koefisien r11

Keterangan

0,929

Reliabilitas sangat tinggi

uji normalitas: perhitungan uji normalitas dilakukan melalui uji kolmogrov smirnov, dengan kaidah pengujian jika jika Asymp. Sig. Lebih besar dari level of sicnifikant (=0,05) maka data berdistribusi normal. Jika Asymp. Sig. Lebih kecil dari level of sicnifikant ()=0,05 maka data berdistribusi tidak normal. Uji linieritas: digunakan untuk menguji apakah ketiga varian memiliki hubungan atau tidak. Maka berikut ini akan disajikan hasil uji linieritas regresi dari variabel-variabel tersebut masing-masing digunakan teknik pengujian dengan prosedur polinominal ANOVA satu jalur. Dengan kaidah: jika asymp. Sig. lebih kecil dari harga probabilitas yang digunakan, maka regresi linier. Jika Asymp. Sig. lebih besar dari harga probabilitas yang digunakan, maka regresi tidak linier. uji hipotesis jika persyaratan analisis data terpenuhi, maka uji hipotesis dilakukan dengan uji regresi regresi linier sederhana dan berganda (statistika parametrik), sedangkan jika Ho persyaratan analisis data tidak terpenuhi maka uji hipotesis dilakukan uji korelasi dengan statistik non parametrik. Baik uji persyaratan analisis data maupun uji korelasi, menggunakan bantuan SPSS 20.

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Deskripsi Data 1.

Disiplin Belajar Mahasiswa Tabel 4.2 Data Hasil Penelitian Variabel Pengetahuan

Rata-rata Median SD Skor Min Skor Mak 22,31

23,00

3,80

15

28

36 Yuni Ertinawati, Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Kemampuan Menulis Puisi

Tabel 4.3 Frekuensi Data Pengetahuan No 1 2 3 4

Rentang skor Kategori Frekuensi Presentase – X < 22,60 Kurang 18 40 % – 22,60 ≤ X < 26,40 Cukup 22 48,89 % – 26,40 ≤ X < 30,20 Baik 5 11,11% – X ≥ 30,20 Sangat Baik 0 0%

Berdasarkan data dalam tabel 4.3 diketahui bahwa nilai pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup termasuk kategori kurang, hal ini terlihat dari nilai rata- rata (mean)22,31 < nilai skor min + 2 SD. 2. Kemampuan Menulis Puisi Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup Tabel 4.4 Data Hasil Penelitian Variabel Kemampuan Menulis Puisi Rata-rata Nilai tengah 80,71

80,00

Standar Deviasi 5,58

Skor Skor Minimum Maksimum 72

88

Tabel 4.5 Frekuensi Data Kemampuan Menulis Puisi No 1 2 3 4

Rentang skor Kategori Frekuensi Presentase – X < 83,16 Kurang 25 55,56% – 83,16 ≤ X < 88,74 Cukup 20 44,44% – 88,74 ≤ X < 94,32 Baik 0 0% – X ≥ 94,32 Sangat Baik 0 0%

Berdasarkan data dalam tabel 4.5 Nilai kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup termasuk kategori kurang, hal ini terlihat dari nilai rata- rata (mean) 80,71 ≤ skor min + 2 SD. 3. Perilaku Dalam Memelihara Pelestarian Lingkungan Hidup Rata-rata Nilai tengah 107,84

106,00

Standar Deviasi 6,172

Skor Skor Minimum Maksimum 94

118

Tabel 4.7 Frekuensi Perilaku Dalam Memelihara Pelestarian Lingkungan Hidup No 1 2 3 4

Rentang skor Kategori Frekuensi Presentase – X < 106,68 Kurang 23 51,11% – 106,68 ≤ X < 112,51 Cukup 10 22,22% – 112,51 ≤ X < 118,68 Baik 12 26,67% – X ≥ 118,68 Sangat Baik 0 0%

Berdasarkan data dalam tabel 4.7 Nilai perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup termasuk kategori cukup, hal ini terlihat dari nilai rata- rata (mean)107,84 > nilai skor min + 2 SD

Pengujian Persyaratan Analisis 1. Uji Normalitas Untuk menguji normalitas sebaran data digunakan Uji Normalitas Sebaran (uji KolmogorvSmirnov. Tabel 4.8 Hasil Pengujian Normalitas Data Data

Kolmogrov Smirnov

Keterangan

Asym. Sig



Pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup (X1)

0,140

0,05

Normal

Kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup (X2)

0,164

0,05

Normal

Perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup(Y)

0,446

0,05

Normal

2. Uji Linieritas Uji linieritas regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji F, dengan menggunakan bantuan SPSS 20, adapun hasil uji linieritas dapat dilihat sebagai berikut.

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 37

Tabel 4.9 Rangkuman Analisis Uji Linieritas Regresi Variabel

Anova Jumlah sampel Asymp. Sig 

Keterangan

X1Y

45

0,004

0,05

Linier

X2Y

45

0,000

0,05

Linier

X1+X2Y

45

0,000

0,05

Linier

3. Pengujian Hipotesis Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup (X1) dengan Perilaku Dalam Memelihara Pelestarian Lingkungan Hidup (Y) Tabel 4.10 Rangkuman Analisis Regresi Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup (X1) dengan Perilaku Dalam Memelihara Pelestarian Lingkungan Hidup (Y) Sumber

JK

Db

Regresi

291,126

1

Residu

1384,785 43

Total

1675,911 44

Koefisien Korelasi (r)

0,417

Koefisien Determinasi (r2)

0,174

RK

F hitung

Sig

291,126 9,040 ,004b 32,204

Kekuatan hubungan antara pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup (X1) dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan ^ = 92,75 + hidup (Y) pada model persamaan Y 0,68 X1 dapat dilihat pada koefisien determinasi (r2) adalah 0,174, ini berarti variabel pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidupmemberikan kontribusi sebesar 17,4% terhadap perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup, 83,6% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Analisis korelasi terhadap pasangan data dari kedua variabel tersebut menghasilakan koofisien korelasi r sebesar 0,42 yang termasuk kategori keeratan cukup, uji signifikansi terhadap koefisien korelasi menghasilkan F hitung sebesar 9,04 dengan

db = 43 pada taraf signifikansi 5% dan F tabel sebesar 4,06. Ternyata F hitung lebih besar dari F tabel, ini berarti koefisien korelasi tersebut signifikan. Dengan demikian, hipotesis diterima, yaitu ada hubungan antara pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Pengetahuan yang dimiliki seseorang sangat mempengaruhi kemampuan dan perilakunya. Tiap orang memiliki pengetahuan yang berbeda, dari pengetahuan yang paling dasar dan sempit, sampai kepada pengetahuan yang tinggi dan luas. Purwanto (1994:16) mengatakan “kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki seseorang dan jenis pengetahuan apa yang lebih dikuasainya semua ini turut menentukan kepribadiannya”. Pengetahuan yang dimiliki seseorang memainkan peranan penting di dalam kehidupannya. Caracara penerimaan dan penyesuaian sosialnya, pergaulannya dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perilaku mahasiswa dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup dipengaruhi oleh pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, ada hubungan antara pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Artinya makin baik pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup, maka semakin baik perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Hubungan Antara Kemampuan Menulis Puisi Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup Dengan Perilaku Dalam Memelihara Peletarian Lingkungan Hidup Tabel 4.11 Rangkuman Kemampuan Menulis Puisi Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup Dengan Perilaku Dalam Memelihara Peletarian Lingkungan Hidup Sumber Regresi

JK

Db

492,246

1

RK

F hitung

Sig

492,246 17,882 ,000b

38 Yuni Ertinawati, Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Kemampuan Menulis Puisi

Residu

1183,666 43

Total

1675,911 44

Koefisien Korelasi (r)

0,542

Koefisien Determinasi (r2)

0,294

27,527

Kekuatan hubungan antara kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup (X1) dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan (Y) pada model persamaan ^ = 59,45 + 0,6 X dapat dilihat pada koefisien Y 2 determinasi (r2) adalah 0,648, ini berarti variabel kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup memberikan kontribusi sebesar 64,8% terhadap perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup, 35,2% sisanya dipengaruhi oleh variable lain. Analisis korelasi terhadap pasangan data dari kedua variabel tersebut menghasilakan koofisien korelasi r sebesar 0,54 yang termasuk kategori keeratan sedang, uji signifikansi terhadap koefisien korelasi menghasilkan F hitung sebesar17,882 dengan db = 43 pada taraf signifikansi 5% dan F tabel sebesar 4,06. Ternyata F hitung lebih besar dari F tabel, ini berarti koefisien korelasi tersebut signifikan. Dengan demikian, hipotesis diterima, yaitu ada hubungan antara kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Puisi bukan hanya rangkaian kata-kata, tetapi ada makna yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana dikemukakan Waluyo (2005: 4) yaitu “jika kita menghadapi sebuah puisi, kita tidak hanya berhadapan dengan unsur kebahasaan yang meliputi serangkaian kata-kata indah, namun juga merupakan kesatuan bentuk pemikiran atau struktur makna yang hendak diucapkan penyair”. Pendapat di atas mengisyaratkan bahwa ketika kita menulis puisi ada pesan yang ingin disampaikan oleh penyair dengan menggunakan media bahasa yang indah. Hal lain yang perlu diperhatikan ketika menulis puisi adalah

pemahaman bahwa pada dasarnya puisi itu bersifat faktual imajinatif. Ketika seseorang menulis puisi bisa berdasarkan kehidupan nyata yang dialaminya dengan menambahkan hal-hal yang bersifat imajinatif. Seseorang yang berkeinginan menulis puisi dengan benar, ia harus memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang menulis puisi yang baik. Halhal yang harus diperhatikan dalam menulis puisi adalah bahasa yang digunakan dengan pilihan kata yang tepat juga rima. Dalam hubungan ini Endraswara (2003: 220) mengemukakan “proses menulis puisi diawali dengan proses membaca, merespon, menikmati, baru mencipta.” Selanjutnya dikemukakan pula Endraswara (2003: 220) “proses penciptaan puisi diawali dengan (1) penginderaan, (2) penuangan dan pengendapan, (3) memainkan kata. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ada hubungan antara kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Artinya bahwa semakin baik kemampuan menulis puisis tentang pelestarian ligkungan hidup maka akan semakin baik perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Hubungan antara Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup (X1) Dan K emampuan Menulis Puisi Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup (X2) dengan Perilaku Dalam Memelihara Pelestarian Lingkungan Hidup (Y) Tabel 4.12 Rangkuman Analisis Regresi Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup (X1) Dan Kemampuan Menulis Puisi Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup (X2) dengan Perilaku Dalam Memelihara Pelestarian Lingkungan Hidup (Y) Sumber

JK

Db

RK

F hitung

Sig

Regresi

676,810

2

338,405 14,226 ,000b

Residu

999,101

42

23,788

Total

1675,911 44

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 39

Koefisien Korelasi (r)

0,635

Koefisien Determinasi (r2)

0,404

Kekuatan hubungan antara pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup (X 1 ) kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup (X2) dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup (Y) ^ = 52,22 + 0,54 X + pada model persamaan Y 1 0,55X2 dapat dilihat pada koefisien determinasi (r2) adalah 0,635, ini berarti variabel pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dan kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup memberikan kontribusi sebesar 63,5% terhadap perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup, 36,5% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Analisis korelasi terhadap pasangan data dari ketiga variabel tersebut menghasilkan kofisien korelasi r sebesar 0,64 yang termasuk kategori keeratan tinggi. Berarti koefisien korelasi tersebut diuji dengan menggunakan uji-F menghasilkan F hitung sebesar 14,226 dan Ftabel dengan db = 42 pada taraf signifikansi 5% sebesar 2,32. Ternyata Fhitunglebih besar dari F tabel, ini berarti koefisien korelasi tersebut signifikan. Dengan demikian, hipotesis diterima, yaitu ada hubungan pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dan kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Dari paparan sebelumnya dapat dikatakan bahwa perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup dapat ditentukan oleh pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dan kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup. Demikian juga dengan kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup merupakan salah satu komponen dari pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup. Pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup yang diperoleh dari kebiasaan akan menimbulkan

pengaruh langsung terhadap perilaku berikutnya. Pengaruh tersebut dapat berupa predisposisi perilaku yang akan direalisasikan hanya apabila kondisi dan situasi memungkinkan.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan Ada hubungan antara pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidupdengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan perolehan nilai r sebesar 0,42 yang termasuk kategori keeratan sedang dan memberikan konstribusi sebesar 17,4%. Semakin baik pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup maka akan semakin baik perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Ada hubungan antara pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dan kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan perolehan nilai r sebesar 0,64 yang termasuk kategori keeratan kuat dan memberikan konstribusi sebesar 404%. Semakin baik pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dan semakin kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup maka akan semakin baik perilaku dalam memelihara pelestarian lingkungan hidup.

Saran Untuk meningkatkan dan mempertebal rasa tanggung jawab dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan, pengetahuan tentang pelestarian lingkung an hidup, kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup mahasiswa juga semua pihak perlu ditumbuhkan kesadaran kepada para dosen, staf serta para mahasiswa sebagai pengguna kampus agar diberikan pendidikan tentang pengelolaan lingkungan guna pemeliharaan lingkungan hidupnya dan akan lebih baik apabila disertai dengan usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan kegiatan praktek sehingga timbul rasa

40 Yuni Ertinawati, Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Kemampuan Menulis Puisi

kepedulian dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup. Dengan meningkatnya pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dan kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup diharapkan akan semakin menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam pengelolaan serta pemeliharaan kebersihan lingkungan. Karena penelitian ini terbatas pada variabel pengetahuan tentang pelestarian lingkungan hidup dan kemampuan menulis puisi tentang pelestarian lingkungan hidup dengan perliaku mahasiswa dalam memelihara kebersihan lingkungan kampus, perlu dilakukan penelitian lanjutan yang cakupannya lebih luas, sehingga diperoleh gambaran yang jelas mengenai kemampuan individu yang merespon lebih cepat terhadap keadaan lingkungannya.

DAFTAR RUJUKAN Dimyati, dan Mudjiono. 1999; Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Endraswara, Suwardi. 2003. Membaca, Menulis, Mengajarkan Sastra Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Kota Kembang Purwanto, M. N. 1994. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran Pendidikan. Bandung: Remaja Waluyo, 2005. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia.

TEKNIK PEMODELAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PUISI SISWA SEKOLAH DASAR Hestri Hurustyanti Abstrak: Pengembangan kemampuan membacapuisi di sekolah dasar merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah siswa dapat membaca puisi dengan baik dan benar sesuai dengan kriteria penilaian membaca puisi yang mengacu pada aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan gambaran objektif tentang peningkatan kemampuan membaca puisi pada aspek kebahasaan dan aspek non kebahasaan melalui teknik pemodelan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui teknik pemodelan dapat meningkatkan kemampuan siswa membaca puisi pada aspek kebahasaan yang meliputi (1) intonasi, (2) jeda, (3) artikulasi, dan aspek non kebahasaan yang meliputi (1) ekspresi, (2) gerak/gesture, (3) penghayatan, dan (4) keberanian. Kata kunci: Peningkatan kemampuan membaca puisi, teknik pemodelan Abstract: Reading poem ability at elementary school is one of language skill aspect in Indonesian teaching. The competency and learning achievment are enable the student to read poem correctly using assesment criteria both linguistic and non linguistic aspect. The research is conducted to get objective description about the improvement of reading poem ability both in linguistic and non linguistic aspect trough modelling technique. The research design used is cllassroom action research. The result shows that modelling tecnique can improve the students’ reading poem ability in the linguistic aspect of (1) intonation, (2) space, (3) articulation, and for the non linguistic aspect (1) expression, (2) gesture, (3) characterization, and (4) bravery. Key words: Improving reading poem ability, modelling technique

Dalam Kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk SekolahDasar, Kompetensi Dasar yang harus dicapai siswa dalam membaca puisi adalah (1) membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat, (2) menentukan jeda yang tepat untuk memperjelas arti, dan (3) menggunakan ekspresi yang tepat (Depdikbud, 2003:29). Peran guru dalam menggunakan teknik pembelajaran yang tepat akan menentukan tercapainya kompetensi dasar dan hasil belajar siswa dalam membacakan puisi sesuai dengan tuntutan kurikulum tersebut. Penggunaan teknik pembelajaran yang tepat dapat mendorong motivasi siswa dalam belajar dan dapat menjadi sarana terciptanya pembelajaran yang sesuai dan menyenangkan terutama dalam pembelajaran puisi. Upaya pemahaman unsur-unsur dalam membaca puisi tidak bisa lepas dari masalah

membaca. Karena itu sebelum melaksanakan kegiatan apresiasi dalam rangka memahami unsurunsur intrinsik teks puisi, masalah membaca harus dipahami dulu oleh apresiator. Menyadari kenyataan itu terlebih dulu diperkenalkan pada sejumlah masalah yang berkaitan dengan membaca (Aminuddin, 2004:15). Membaca pada dasarnya adalah kegiatan yang cukup kompleks karena membaca melibatkan berbagai aspek baik fisik, mental, bekal pengalaman, dan pemahaman maupun aktivitas berfikir dan merasa. Tahapan membaca adalah (1) persepsi, (2) rekognisi, (3) komprehensi, (4) interpretasi, (5) evaluasi, dan (6) kreasi atau utilasi (Aminuddin, 2004:16). Pada tahap persepsi, kegiatan yang terjadi adalah pengamatan bentuk pe-nulisan dalam teks. Pada tahap rekognisi, kegiatan yang terjadi adalah upaya memahami hubungan antara tanda

42 Hestri Hurustyanti, Teknik Pemodelan Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Puisi Siswa Sekolah Dasar

hitam dengan makna. Pada tahap komprehensi, pembaca berusaha memahami makna kata, kalimat, dan paragraf serta korelasi setiap makna itu dalam membangun suatu kesatuan. Pada tahap interpretasi, pembaca berusaha mendalami perolehan pemahaman dari kegiatan komprehensi yang relatif masih tersurat ke proses analisis untuk menyusun kesimpulan. Pada tahap evaluasi, kegiatan yang terjadi adalah pemilihan satuansatuan gagasan yang memadai maupun tidak memadai sesuai dengan latar tujuannya sebagai langkah awal pemberian kriteria. Selanjutnya tahap kreasi/utilasi, merupakan tahapan yang berkaitan dengan pengolahan perolehan pengetahuan lewat bacaan untuk mencapai kreasi/tujuan-tujuan tertentu. Adapun jenis membaca adalah antara lain membaca dalam hati,membaca cepat, membaca teknik, membaca bahasa, membaca indah, membaca kritis, membaca kreatif. Sesuai dengan judul penelitian ini, maka ragam membaca yaitu membaca indah atau membaca estetis merupakan kegiatan membaca yang menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan keindahan atau estetika yang dapat menimbulkan emosi atau perasaan dari pembaca atau pendengarnya. Bahan yang dapat digunakan untuk pembelajaran membaca indah adalah puisi, prosa lirik, prosa dari lingkungan kesusastraan, bacaan-bacaan berupa dialog, komik, dan dapat juga naskah drama (Muclisoh, 1995:156). Kegiatan membaca puisi adalah salah satu kegiatan membaca indah. Puisi adalah seni dari segala seni. Kutipan dari Popo Iskandar seorang pelukis dan budayawan dari Bandung. Puisi adalah pernyataan dari keadaan atau kualitas hidup manusia. Membaca puisi berarti berusaha menyelami diri sampai ke intinya. Apabila seseorang ingin menikmati puisi, ia harus memiliki kemampuan untuk menempatkan dirinya sebagai penyair. Membaca puisi maupun deklamasi tidak diharuskan membawa teks. Yang penting adalah bagaimana si penyampai puisi tersebut bisa membuat penonton terpesona dan bisa merasakan apa yang dimaksud oleh sang penyair dalam puisinya.

Untuk mengukur seseorang akan berhasil dalam membaca puisi adalah bahwa kemampuannya dalam menafsirkan puisi yang dibawakan tepat dan mempunyai kemampuan untuk menciptakan suasana yang mempesona penonton. Secara praktis, modal bagi pembaca puisi agar yang disampaikan mendapat hasil maksimal adalah (1) menguasai puisi yang akan dibawakan dalam hal ini penafsiran atau interpretasi, (2) mempunyai modal suara yang baik, (3) menguasai anggota tubuh. Atau yang biasa disebut dengan istilah interpretasi, penghayatan, teknik vokal, dan penampilan, yang semuanya merupakan satu keatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam pembelajaran membaca puisi di Sekolah Dasar terdapat beberapa permasalahan dari observasi awal. Permasalahan yang pertama adalah rendahnya kemampuan siswa dalam membaca puisi. Dari teknik vocal, siswa masih menggunakan nada yang datar dan anya sessekali memberikan penekanan pada tiap-tiap kata dalam puisi. Dari teknik ekspresi, dijumpai beberapa siswa ekspresinya belum kelihatan dan ada pula yang tidak sesuai dengan isi atau makna puisi yang dibacanya. Permasalahan kedua, siswa masih kurang berpengalaman dalam mem-bacakan puisi. Karena tidak adanya contoh atau model membacakan puisi yang diperagakan guru (Muchlisoh, 1992: 399), menyatakan bahwa murid-murid memerlukan kualitas yang tinggi dalam pengalamannya dengan puisi. Maksudnya, siswa perlu dihadapkan secara langsung pada pemberian contoh pembacaan puisi sesuai dengan kriteria pembacaan puisi yang benar. Dalam hal ini guru harus memiliki kualitas yang baik dalam membacapuisi. Permasalahan ketiga, dalam pembelajaran puisi guru lebih memfokuskan pada penjelasan definisi dan unsur puisi, penggunaan teknik pembelajaran yang tidak tepat (bersifat ceramah, tanya jawab, penugasan), materi puisi tidak menarik, siswa tidak seluruhnya mendapat kesempatan membacakan puisi di depan kelas. Sebelum pembacaan puisi dilaksanakan di depan kelas, guru tidak hanya menjelaskan definisi puisi, unsur puisi, dan pembacaan puisi, tetapi juga harus memberi contoh cara membacakan puisi

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 43

dengan baik dan benar supaya siswa tahu dan melihat sendiri cara membaca puisi yang baik dan benar dan dapat menerapkannya dalam praktik membaca puisi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu diterapkan teknik pembelajaran yang tepat, salah satunya dengan menerapkan teknik pemodelan. Teknik pemodelan dapat memberikan stimulus pada siswa untuk berpikir kemudian menemukan jawaban atas sebuah masalah dengan cepat. Dalam hal ini yang bertindak sebagai model adalah guru dan juga bisa berasal dari “siswa ahli” atau ahli yang didatangkan dari luar sekolah.

METODE Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Hakikat penelitian Tindakan Kelas adalah tindakan yang diperlukan untuk mengatasi masalah praktis yang dihadapi dalam tugas kesehariannya (Soepeno, 2000: 1).

Pratindakan

Tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah simultan terpadu. Menurut Rofi’udin (1988: 13) jenis penelitian yang simultan terpadu lebih memfokuskan pada teori dengan cara mengikutsertakan praktisi (guru) untuk berpartisipasi. Artinya, penelitian ini berkolaborasi dengan melibatkan guru dalam tindakan berupa penggunaan teknik pemodelan. Jadi, dalam penelitian ini guru bertindak sebagai kolaborator dan peneliti sebagai inovator. Desain Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan langkah-langkah berdasarkan siklus. Peneliti memilih desain yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Taggart. Desain atau model tersebut memiliki empat tahapan dalam setiap siklus yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus tersebut dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi setelah dilaksanakan suatu tindakan. Alur penelitian tindakan kelas digambarkan sebagai berikut.

Alternatif pemecahan (Rencana Tindakan I)

Pelaksanaan tindakan I

Terselesaikan Refleksi I

Observasi I

SIKLUS

Rencana Tindakan II

Pelaksanaan tindakan II

Refleksi II

Observasi II

Terselesaikan

SIKLUS SELANJUTNYA Belum terselesaikan

Gambar 1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas (Model Kemmis dan Mc. Taggart) Sumber: Soepeno, Penelitian Tindakan Kelas (2000: 2).

44 Hestri Hurustyanti, Teknik Pemodelan Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Puisi Siswa Sekolah Dasar

Prosedur Penelitian meliputi persiapan penelitian dan pelaksanaan penelitian, hal tersebut disajikan sebagai berikut.

Persiapan Penelitian Penelitian dimulai dari kegiatan pengamatan awal terhadap latar penelitian yang meliputi siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi objektif yang ada di sekolah yang dijadikan subjek penelitian. Pengamatan difokuskan pada metode pembelajaran membaca puisi yang diterapkan oleh guru dan hasil penilaian membaca puisi siswa.

Pelaksanaan Penelitian Kegiatan utama yang dilaksanakan dalam tahap pelaksanaan adalah penyajian pembelajaran membaca puisi dengan teknik pemodelan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah direncanakan. Adapun bagian utama dalam pelaksanaan penelitian ini yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Hal tersebut disajikan sebagai berikut.

Perencanaan Berdasarkan pengamatan awal, kemudian disusun rencana tindakan berupa penggunaan teknik pemodelan untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa Sekolah Dasar. Kegiatan pertama adalah merancang kegiatan pembelajaran dengan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang mengacu pada kurikulum tingkat satuan pendidikan. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang dirancang, untuk dilaksanakan dalam satu siklus yang terdiri dari satu rencana pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan setiap satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 35 menit. Untuk rencana pembelajaran berikutnya, dirancang dengan memperhatikan hasil refleksi yang dilakukan setiap tindakan satu siklus. Kegiatan kedua yaitu menyusun dan mempersiapkan instrument penelitian. Adapun kegiatannya adalah (1) membuat format catatan

lapangan, (2) membuat lembar observasi, (3) membuat format penilaian tes praktik kemampuan membaca puisi. Kegiatan ketiga adalah menyusun jadwal pelaksanaan tindakan peningkatan kemampuan membaca puisi melalui teknik pemodelan. Jadwal disusun berdasarkan jadwal pelajaran siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Pelaksanaan Tahap pelaksanaan tindakan dilaksanakan sebanyak X siklus. Apabila pada pelaksanaan siklus I sudah ada peningkatan kemampuan membaca puisi dengan teknik pemodelan secara signifikan, maka tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya. Apabila siklus I belum menghasilkan peningkatan kemampuan membaca puisi dengan teknik pemodelan, maka dilanjutkan pada siklus II. Setiap selesai tindakan satu siklus dilakukan refleksi. Hasil refleksi tersebut digunakan untuk menyusun rancangan tindakan selanjutnya.

Observasi Observasi dilakukan pada setiap tindakan pada setiap siklus. Observasi yang dilakukan pada siklus pertama dapat mempengaruhi penyusunan pada siklus selanjutnya. Adapun lembar observasi yang digunakan adalah sebagai berikut. Tabel 1 Lembar Observasi Guru Pada Pelaksanaan Tindakan No. Aspek yang Dinilai 1. Penguasaan materi 2. Metode yang digunakan dalam pembelajaran 3. Kesesuaian dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Kategori Kurang Cukup Baik

Keterangan

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 45

Tabel 2 Lembar Observasi Siswa Pada Pelaksanaan Tindakan No. Aspek yang Dinilai

Kategori Kurang Cukup Baik

Non Kebahasaan

Keterangan

1. Keseriusan siswa dalam pembelajaran

Mimik/ ekspresi

Kesesuaian ekspresi dengan isi puisi.

Gesture/ gerak

a. Kewajaran gerak b. Kesesuaian gerak dengan isi dan makna puisi.

Penghayatan/ Siswa menghayati isi interpretasi puisi.

2. Perhatian siswa dalam pembelajaran

Keberanian

3. Keaktifan siswa dalam pembelajaran

Total Skor

Bentuk kriteria penilaian yang diberikan kepada siswa berupa skor dan nilai dengan ketentuan sebagai berikut:

4. Partisipasi siswa dalam pembelajaran

Tabel 4 Kriteria Penilaian Aspek Kebahasaan

Bentuk nilai yang diberikan kepada siswa dikategorikan dengan kategori kurang, cukup dan baik, dengan ketentuan sebagai berikut. No.

Tabel 3 Kriteria Penilaian Tes Praktik Kemampuan Membaca Puisi Aspek

Indikator

Aspek Nilai Kebahasaan

1. Intonasi

Skor 1

2

3

4

5

Kebahasaan Intonasi

Jeda

Siswa tampil dengan tenang dan berani

a. Tinggi rendah suara yang disesuaikan dengan isi pada makna puisi. b. Keras lemah suara disesuaikan dengan isi puisi. c. Penggunaan intonasi tidak monoton. Ketepatan penempatan jeda pada satuan makna, bukan satuan kata.

Pengucapan/ Kejelasan ucapan Artikulasi dalam melafalkan bunyi.

Kriteria

3-5  Nada dan suasana haru, dengan intonasi rendah/ lemah.  Nada dan suasana gembira, dengan intonasi tinggi/keras.  Lagu/irama tidak monoton. 1-2  Intonasi tidak sesuai dengan suasana puisi.  Lagu/irama monoton

2. Jeda

3-5  Sesuai dengan tanda baca.  Setiap urutan baris, jeda lebih lama 1-2  Tidak terdapat jeda sama sekali.

3. Pengucapan/ 3-5  Kejelasan ucapan dalam melafalkan bunyi. artikulasi 1-2  Dalam melafalkan bunyi tidak jelas.

46 Hestri Hurustyanti, Teknik Pemodelan Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Puisi Siswa Sekolah Dasar

Tabel 5 Kriteria Penilaian Aspek Non Kebahasaan No.

Aspek Non Nilai Kebahasaan

1. Mimik/ Ekspresi

Kriteria

3-5  Nada dan suasana haru, dengan mimik harus sedih.  Nada dan suasana gembira, maka mimiknya harus gembira. 1-2  Mimik tidak sesuai dengan nada suasana puisi.

2. Gesture/ gerak

3-5  Gerakan anggota tubuh bisa maksimal  Gerakan anggota tubu sesuai dengan apa yang dideskripsikan. 1-3  Gerakan anggota tubuh tidak maksimal dan tidak sesuai dengan apa yang dideskripsikan

3. Penghayatan/ 3-5  Serius dan konsentrasi. interpretasi  Menghayati isi puisi 1-2  Tidak serius dan konsentrasi.  Tidak menghayati isi puisi. 4. Keberanian

3-5  Tampil dengan berani dan tenang. 1-2  Tampil ragu-ragu dan gugup.

Refleksi Kegiatan refleksi diadakan setiap akhir siklus. Refleksi digunakan untuk menganalisa data. Analisa data dalam penelitian ini akan dilakukan selama dan sesudah tindakan penelitian. Hasil yang diperoleh dari tahap observasi dikumpulkan serta dianalisis. Hasil refleksi akan digunakan sebagai dasar bagi penyusunan rencana tindakan pada siklus berikutnya.. Skor yang diperoleh siswa diubah menjadi nilai untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa. Pengubahan skor menjadi nilai menurut Kurniawan,(2005: 6), menggunakan rumus sebagai berikut.

NP  Keterangan: NP R SM 100%

R  100% SM

= Nilai Prosentase = Skor yang dicapai = Skor maksimal = Konstanta

HASIL DAN PEMBAHASAN Agar diperoleh pemahaman yang lengkap tentang hasil penelitian, maka dalam kajian utama penelitian ini disertakan data tentang perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Untuk mengkaji perencanaan dan pelaksanaan tindakan, maka pada setiap siklus dilakukan ((1) rencana tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi tindakan dan (4) refleksi. Hasil Penelitian Siklus I Bagian ini disajikan hasil penelitian yang terdiri dari (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan yang berupa kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, (3) observasi tindakan, dan (4) refleksi tindakan. Hal-hal tersebut dijabarkan sebagai berikut. Perencanaan Tindakan Siklus I Tindakan perencanaan dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa Sekolah Dasar melalui teknik pemodelan disusun sebelum tindakan dilaksanakansecara kolaboratif disusun perangkat rancangan pembelajaran yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menerapkan teknik pemodelan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa Sekolah Dasar. Oleh karena itu ditentukan upaya tindakan yang mempunyai beberapa unsur pembelajaran yang meliputi kompetensi dasar, indikator, alokasi waktu, materi pokok, skenario pembelajaran, evaluasi dan alat/media pembelajaran. Berdasarkan kurikulum mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Dasar, kompetensi dasar yang harus dicapai siswa dalam membaca puisi adalah siswa mampu (1) membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat, (2) menentukan

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 47

jeda yang tepat untuk memperjelas arti, dan (3) menggunakan ekspresi yang tepat (Depdikbud, 2003: 29). Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan dengan skenario pembelajaran yang meliputi (1) kegiatan pendahuluan, (2) kegiatan inti, (3) kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan,sebelum pembelajaran dimulai gur u memodelkan pembacaan puisi dengan memperhatikan teknik pembacaan puisi yang tepat di depan kelas sebagai upaya memberikan apersepsi pada siswa dalam membaca puisi dengan aspek kebahasaan dan aspek non kebahasaan. Kegiatan inti, Rangkaian kegiatan pada inti pembelajaran adalah (1) guru mecoba mengaitkan judul puisi dengan pengalaman dan pengetahuan siswa untuk membangkitkan skemata siswa, (2) guru menanyakan ketertarikan siswa pada teks puisi yang digunakan sebagai materi pembelajaran, sehingga konsekuensinya apabila siswa tertarik, maka puisi tersebut dijadikan materi pembelajaran sekaligus sebagai materi tes dalam membaca puisi, (3) guru membimbing siswa untuk memberi tanda pemenggalan/jeda puisi. (4) guru memberi contoh membaca puisi dengan membacakan puisi itu larik demi larik/baris demi baris dan meminta siswa memperhatikan dengan seksama agar siswa dapat melihat contoh konkret membaca puisi, (5) guru memotivasi siswa dan memberi kesempatan maju satu persatu untuk membaca puisi, (6) guru menyiapkan model kedua yaitu dengan memutar kaset rekaman pembacaan puisi oleh Anang yang berjudul “Diponegoro” karya Chairil Anwar, (7) guru membagi siswa menjadi kelompok, (8) guru meminta siswa untuk berlatih sendiri beberapa menit untuk membaca puisi dalam kelompok-nya sebagai proses aplikasi dari contoh pembacaan puisi yang didengar dari pemutaran kaset rekaman membaca puisi, (9) guru menyuruh perwakilan tiap kelompok untuk membaca puisi di depan kelas, (10) guru mengarahkan kepada siswa untukmemperhatikan dan kemudian memberikan komentar terhadap penampilan temannya dan (11) guru menunjuk beberapa siswa membaca

puisi di depan kelas sebagai aplikasi diterapkannya pemodelan. Berbeda pada tahap pratindakan, pada siklus I ini saat guru memberi contoh atau memodelkan membaca puisi, sebagian besar siswa memperhatikan dan tampak serius. Siswa sudah mulai antusias dan sesekali menirukan kata dalam baris puisi saat diputarkan kaset rekaman membaca puisi. Siswa tampak serius mendengarkan pemutaran kaset rekaman membaca puisi tersebut. Pada saat siswa diberi kesempatan untuk maju satu persatu untuk membaca puisi sesuai dengan apa yang didengarnya dari pemutaran kaset rekaman membaca puisi, pada siklus I ini sudah terlihat banyak pening-katan terutama pada aspek kebahasaan intonasi. Siswa lebih memiliki keberanian dan berekspresi. Kegiatan akhir, Pada kegiatan ini dilakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Kegiatan refleksi ini dimanfaatkan oleh guru dan siswa. Kemudian guru mengadakan tanya jawab tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Siswa juga diarahkan untuk belajar lebih giat lagi dalam membaca puisi sebagai bahan latihan untuk mempersiapkan diri menghadapi tes kemampuan membaca puisi yang akan dilaksanakan pada saat jam pelajaran bahasa Indonesia hari berikutnya. Observasi Tindakan Siklus I Guru mengobservasi siswa menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Dari hasil observasi tersebut dapat dievaluasi sebagai berikut: 1) Siswa sudah tampak serius dalam menerima pelajaran tetapi masih ada beberapa siswa yang berbicara sendiri dengan temannya 2) Perhatian siswa terhadap materi pembelajaran sudah terlihat cukup mem-perhatikan 3) Siswa sudah aktif mengikuti jalannya kegiatan pembelajaran tetapi masih ada beberapa siswa yang hanya diam/kurang aktif 4) Partisipasi siswa sudah terlihat baik tetapi masih ada beberapa siswa yang kurang berpartisipasi pada kegiatan pembelajaran

48 Hestri Hurustyanti, Teknik Pemodelan Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Puisi Siswa Sekolah Dasar

5) 6) 7)

Guru sudah berusaha menggunakan teknik pemodelan dalam pembelajaran tetapi penerapannya belum optimal Kegiatan pembelajaran gur u sudah sesuai dengan rencana pembelajaran dan penerapannya sudah optimal Guru sudah menguasai materi pembelajaran yang diajarkan

Refleksi Tindakan Siklus I Refleksi dilaksanakan setelah selesai pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus I. Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru kelas. Adapun hasil refleksi siklus I adalah sebagai berikut: 1) Keseluruhan siswa belum mampu membaca puisi dengan baik 2) Kurang aktifnya siswa dalam pembelajaran dikarenakan kurang optimalnya guru dalam menerapkan metode pembelajaran/teknik pemodelan 3) Kemampuan praktik membaca puisi siswa snagat terbatas pada aspek kebahasaan sehingga perlu bantuan/motivasi guru pada aspek non kebahasaan Bertolak dari refleksi pada siklus I, bahwa skor yang dicapai anak belum mencapai ketuntasan hasil belajar yang diinginkan. Pada siklus I ini baru mencapai keberhasilan pembelajaran sebesar 47 %. Maka kegiatan penelitian tindakan kelas ini dilanjutkan pada siklus II untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal dan dapat mencapai indikator ketuntasan hasil belajar yang diinginkan yaitu lebih besar dari 65% sehingga penerapan teknik pemodelan benar-benar mampu meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa Sekolah Dasar. Hasil Penelitian Siklus II Pada siklus II disajikan hasil penelitian yang terdiri dari (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan yang berupa kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, (3) observasi tindakan, dan (4) refleksi tindakan.

Perencanaan Tindakan Siklus II Tindakan perencanaan dalam meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa Sekolah Dasar melalui teknik pemodelan pada siklus II disusun sebelum tindakan dilaksanakan, secara kolaboratif disusun perangkat rancangan pembelajaran yang berupa Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menerapkan teknik pemodelan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa Sekolah Dasar. RPP dirancang agar relevan dengan kondisi siswa. Oleh karena itu ditentukan upaya tindakan yang mempunyai beberapa unsur pembelajaran yang meliputi kompetensi dasar, indikator, alokasi waktu, materi pokok, skenario pembelajaran, evaluasi dan alat/media pembelajaran. Pelaksanaan Tindakan Siklus II Skenario pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus II dengan menggunakan teknik pemodelan dapat dijelaskan sebagai berikut. 1)

Kegiatan Pendahuluan Sebelum pembelajaran dimulai gur u menghadirkan model pembacaan puisi dengan memperhatikan teknik pembacaan puisi yang tepat di depan kelas sebagai upaya untuk memberikan apersepsi pada siswa dalam memulai pembelajaran dan memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Dari melihat siswa ahli membaca puisi, tampak siswa mulai memahami apa yang akan diajarkan oleh guru, siswa sudah nampak berani apabila dihadapkan dengan kegiatan membaca puisi. Untuk itu, guru memberi contoh teks puisi yang isinya dapat mudah dipahami oleh siswa sehingga dalam membacanya siswa tidak terlalu mengalami kesulitan. 2)

Kegiatan Inti Rangkaian kegiatan pada inti pembelajaran adalah (1) guru mencoba mengaitkan judul puisi dengan pengalaman dan pengetahuan siswa untuk membangkitkan skemata siswa, (2) guru menanyakan ketertarikan siswa pada teks puisi yang digunakan sebagai materi pembelajaran, sehingga konsekuensinya apabila siswa tertarik, maka puisi tersebut dijadikan materi pembelajaran

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 49

sekaligus sebagai materi tes dalam membaca puisi, (3) guru membimbing siswa untuk memberi tanda pemenggalan/jeda puisi., (4) guru menyiapkan model lain yaitu dengan menghadirkan siswa ahli dalam membaca puisi. Siswa ahli membaca puisi berjudul “Embun Pagi” karya Ari Wibowo, (5) guru membagi siswa menjadi lima kelompok, (6) guru meminta siswa untuk berlatih sendiri beberapa menit untuk membaca puisi dalam kelompoknya sebagai proses aplikasi dari contoh siswa ahli membaca puisi, (7) guru menyuruh perwakilan tiap kelompok untuk membaca puisi di depan kelas, (8) guru mengarahkan kepada siswa untuk memperhatikan dan kemudian memberikan komentar terhadap penampilan temannya, dan (9) guru menunjuk beberapa siswa membaca puisi di depan kelas sebagai aplikasi diterapkannya pemodelan, (10) Guru memberi pujian dan tepuk tangan pada siswa yang sudah berusaha membaca puisi dengan baik. Berbeda pada siklus I, pada siklus II ini saat guru menghadirkan siswa ahli membaca puisi, sebagian besar siswa memperhatikan dan tampak serius. Siswa sudah mulai antusias dan sesekali menirukan kata dalam baris puisi saat melihat siswa ahli membaca puisi. Siswa tampak serius melihat penampilan siswa ahli membaca puisi tersebut. 3)

Kegiatan penutup Pada kegiatan ini dilakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Kegiatan refleksi ini dimanfaatkan oleh guru dan siswa. Kemudian guru mengadakan tanya jawab tentang kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam kegiatan ini, siswa juga diarahkan untuk belajar lebih giat lagi dalam membaca puisi sebagai bahan latihan untuk mempersiapkan diri meng-hadapi tes kemampuan membaca puisi yang akan dilaksanakan pada saat jam pelajaran bahasa Indonesia hari berikutnya. Pembelajaran membaca puisi dengan diterapkannya teknik pemodelan tahap siklus II ini sudah cukup berjalan baik. Siswa tampak serius dan aktif berpartisipasi dalam mengikuti pembelajaran. Penghadiran model oleh siswa ahli

dalam pembacaan puisi sudah mampu memotivasi siswa untuk belajar. Observasi Tindakan Siklus II Guru mengobservasi siswa menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Dari hasil observasi tersebut dapat dievaluasi sebagai berikut: 1) Siswa sudah tampak serius dalam menerima pelajaran. 2) Perhatian siswa terhadap materi pembelajaran sudah terlihat baik. 3) Siswa sudah aktif mengikuti jalannya kegiatan pembelajaran. 4) Partisipasi siswa sudah terlihat baik pada kegiatan pembelajaran. 5) Gur u sudah ber usaha meng gunakan teknik pemodelan dalam pembelajaran dan penerapannya sudah optimal 6) Kegiatan pembelajaran gur u sudah sesuai dengan rencana pembelajaran dan penerapannya sudah optimal 7) Guru sudah menguasai materi pembelajaran yang diajarkan Refleksi Tindakan Siklus II Refleksi dilaksanakan setelah selesai pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus II. Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif dengan guru kelas. Adapun hasil refleksi siklus II adalah sebagai berikut. 1) Siswa sudah mampu membaca puisi dengan baik 2) Siswa sudah aktif dalam pembelajaran 3) Kemampuan praktek membaca puisi siswa sudah tidak terbatas pada aspek kebahasaan saja tetapi juga sudah mampu menguasai kemampuan membaca puisi pada apek non kebahasaan Pada siklus II ini sudah mencapai keberhasilan pembelajaran sebesar 82 %. Maka pada siklus II ini sudah mendapatkan hasil yang lebih maksimal dan dapat mencapai indikator ketuntasan hasil belajar yang diinginkan yaitu ≥ 65 %, sehingga dengan melalui teknik pemodelan benar-benar mampu meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa sekolah dasar.

50 Hestri Hurustyanti, Teknik Pemodelan Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Puisi Siswa Sekolah Dasar

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan Dalam peningkatan kemampuan hasil belajar siswa, guru harus mampu meningkatkan cara penyampaian materi pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Peningkatan tersebut dapat dicapai diantaranya dengan pemilihan metode maupun teknik pembelajaran yang tepat, penggunaan media yang sesuai dan pengadaan evaluasi/penilaian yang terarah serta terencana. Berdasarkan hasil observasi pratindakan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa Sekolah Dasar mempunyai kemampuan yang rendah dalam pembelajaran membaca puisi. Hal ini terbukti, siswa dalam hal teknik vokal masih menggunakan nada yang diatas dan dari teknik ekspresi, dijumpai beberapa siswa ekspresinya belum kelihatan atau belum maksimal, siswa juga masih kurang pengalaman membaca puisi. Keseluruhan hasil observasi pratindakan tersebut menunjukkan bahwa perlu dilakukan tindakan kelas untuk meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa Sekolah Dasar. Dalam hal ini peneliti memilih melakukan tindakan kelas dengan menggunakan teknik pemodelan dalam kegiatan pembelajaran. Pemodelan yang dimaksud adalah pemberian contoh dalam membaca puisi sesuai dengan pembacaan puisi yang tepat. Model contoh dari guru, pemutaran kaset rekaman contoh membaca puisi. Hal tersebut diterapkan pada siklus I. Pada siklus II guru menghadirkan model siswa ahli yang pernah meraih juara membaca puisi. Penghadiran model siswa ahli tersebut lebih dimaksudkan agar siswa lebih terimotivasi dan juga agar siswa lebih banyak memiliki gambaran nyata bagaimana membaca puisi yang baik dan benar. Dengan diterapkannya teknik pemodelan maka kemampuan siswa dalam membaca puisi meningkat dan sudah mencapai indikator ketuntasan hasil belajar yang ingin dicapai yaitu menunjukkan > 65 % keberhasilan pembelajaran.

Hal ini terbukti dengan keberhasilan pembelajaran yang diperoleh dalam pencapaian indikator ketuntasan hasil belajar pada setiap siklusnya, yaitu pada siklus I menunjukkan 47% dan siklus II mencapai keberhasilan 82 %. Jadi dari setiap siklusnya mengalami peningkatan hasil belajar sehingga menunjukkan bahwa bahwa penggunaan teknik pemodelan dapat meningkatkan kemampuan membaca puisi siswa Sekolah Dasar.

Saran Bagi para penyeleng gara pendidikan terutama bagi guru bahasa Indonesia di Sekolah Dasar hendaknya merencanakan, menyajikan dan mengevaluasi pembelajaran yang mampu mengukur segala aspek proses dan hasil belajar siswa. Selain itu, dikarenakan penggunaan teknik pemodelan dalam pembelajaran membaca puisi dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca puisi maka disarankan terutama guru kelas untuk memperhatikan dan dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam pembelajaran membaca puisi. Penelitian ini hanya terfokus pada pembelajaran membaca puisi yang menekankan pada penelitian hasil belajar pada aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Oleh karena itu bagi peneliti selanjutnya hendaknya melanjutkan dan mengembangkan penelitian ini sehingga diperoleh hasil belajar yang menunjukkan peningkatan yang lebih baik.

DAFTAR RUJUKAN Aminuddin, 2009. Pengantar ApresiasiKarya Sastra, Bandung: Sinar Baru, Algesindo. Azwar, Saifuddin. 2004. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Bahri, Saiful J. 1997. Guru Sebagai Pendidikan. Bandung: Janu Putra Debdikbud, 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Demnawan, T. 1999. Pembelajaran Apresiasi Puisi: Bahan, Media, Metode, dan Modelnya. Malang: Universitas Negeri Malang.

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 51

Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta Indraswara, S. 2003. Membaca, Menulis, Mengajar Sastra. Jogjakarta: Kota Kembang. Muchlisoh. 1992. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Modul 1-9. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Soepeno, B. 2000. Penelitian Tindakan Kelas. Jember: UNEJ. Surana. 2007. Aku Cinta Bahasa Indonesia VB. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri Waluyo, Herman J. 2005. ApresiasiPuisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MELALUI METODE BERCERITA PADA SISWA PAUD Cutiana Windri Astuti Abstrak: Kemampuan berbicara siswa PAUD masih rendah, sehingga siswa kurang bisa mengungkapkan perasaan dan pendapatnya, serta kurang lancar dalam berkomunikasi dengan lingkungannya. Maka perlu dilakukan tindakan yaitu penggunaan metode bercerita dengan media boneka jari untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa PAUD Pancasila. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan metode bercerita dengan media boneka jari dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak usia dini, yaitu pada siklus I diperoleh persentasi hasil belajar 66,7% dan pada siklus II diperoleh peningkatan persentasi hasil belajar 80%. Kata kunci: Kemampuan Berbicara, Metode Bercerita Abstract: The play group students’ speaking skill is skill low so they cannot express their feeling and opinion. They have problem in communiting with their environment. The story telling method using finger doll media is conducted to improve play group students speaking ability. The research method is classroom action research. The result shows that the use of story telling method using finger doll media can improve the play group students’ speaking skill. The learning achievment percentage is 66,7 % in the first cycle and 80 % in the second cycle. Key words: Speaking Skill, Story Telling Method

Masa tumbuh kembang anak pada usia 0-6 tahun merupakan masa keemasaan (golden age), masa di mana pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi akan menjadi pondasi bagi anak tersebut kelak dikemudian hari. Pada usia ini merupakan bagian dari anak usia dini yang biasa disebut usia prasekolah, dimana usia ini merupakan masa peka bagi anak yakni masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak, baik di rumah maupun di sekolah agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal. Penting untuk memikirkan bagaimana pendidikan dan rangsangan yang tepat bagi anak. Salah satu program yang digalakkan oleh pemerintah adalah pendidikan anak usia dini (PAUD). Menurut pasal 1 butir 14Undangundang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Dengan sistem pendidikan ini diharapkan perkembangan anak lebih terarah dan terstruktur. Orientasi dari sistem pendidikan ini adalah mengembangkan bakat, potensi, dan kemampuan serta kecerdasan yang dimiliki anak. Pendidikan anak usia dini berorientasi dan menitik beratkan pada perkembangan fisik (menyangkut motorik halus dan kasar), intelegensi (menyangkut daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (menyangkut sikap dan prilaku keagamaan), bahasa dan komunikasi pada diri anak (Wahjudi Djaja, 2007:27). Karena masing-masing anak

54 Cutiana Windri Astuti, Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Metode Bercerita Pada Siswa PAUD

berlainan kondisinya, maka pendidikan anak usia dini juga menggunakan pendekatan individual. Artinya kita tidak bisa menerapkan sebuah model pembelajaran yang sama untuk semua anak. Karenannya, kita tidak boleh menyamaratakan kemampuan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Setiap anak menunjukkan tahapan perkembangan kemampuan bahasa yang berbeda sesuai dengan usia anak itu sendiri, yaitu: 1)

Usia 0 sampai 1 Tahun Fase ini merupakan titik krusial dalam diri seorang anak dan biasa disebut periode bayi. Meskipun dalam usia ini anak belum mampu menggunakan bahasa dengan baik dan belum mampu berbicara dengan lancar, tetapi anak menunjukkan perkembangan dengan meniru suara yang didengarnya, merespon ketika diajak berkomunikasi, merespon cerita dan gambar dengan bersuara dan menunjuk gambar. Serta anak mampu mengungkapkan emosi dan berinteraksi dengan orang-orang yang memberinya rangsangan.

2)

Usia 1 sampai 3 Tahun Rentan usia ini sering disebut periode toddler atau batita dimana anak mengalami perkembangan otak yang luar biasa cepat. Apabila digambarkan dalam kurva, maka perkembangan otaknya hampir berdiri tegak. Menurut Farida Nur’aini anak sudah bisa menyusun tiga sampai lima kalimat dan semakin bertambah seiring dengan bertambah usianya (2007:19). Dari segi perkembangan kebahasaaan, anak telah mampu bereaksi terhadap isyarat atau perkataan orang lain serta mampu mengucapkan keinginannya meskipun dengan cara sederhana (Wahjudi Djaja, 1997:32). Perkembangan bahasa anak dalam rentan usia ini ditunjukkan dengan beberapa hal, misalnya: menjawab pertanyaan sekaligus mengenali objek yang ada dari buku dan segala yang dilihatnya, menyebutkan satu-persatu nama keluarganya dengan benar, menunjuk dan menyebutkan

nama benda secara tepat, mendengarkan cerita buku yang diperdengarkan padanya. 3)

Usia 4 sampai 5 Tahun Masa ini adalah masa di mana anakanak senang bereksplorasi, mejelajah lingkungannya, sudah merasa membutuhkan orang lain dan teman untuk ber main dan berkomunikasi. Menurut Wahjudi djaja, anak telah mampu berkomunikasi secara lebih baik, menyampaikan ide-ide sederhana, menerapkan tata karma dalam kehidupan sehari-hari, serta bisa berkreasi. Perkembangan bahasa anak pada usia ini ditunjukkan dengan mengeluarkan kata-kata yang lucu dan bernada sama diakhir kata, mulai membunyikan huruf pertama dari sebuah kata, menggunakan beberapa huruf yang sudah dikenal untuk kemudian dirangkai menjadi kata, mengajukan pertanyaanpertanyaan dengan kalimat yang sedikit lebih luas dan jelas, mengenali beberapa kalimat yang sering didengar, menebak kisah selanjutnya dalam suatu cerita, dan anak mampu mengungkapkan kembali cerita yang baru disampaikan kepada mereka dengan kalimat sederhana.

Salah satu faktor pendukung keberhasilan pembelajaran di PAUD adalah faktor dari guru. Karena guru adalah model bagi anakanak maka guru harus pandai memilih dan menerapkan metode pembelajaran sehingga anak nyaman dalam belajar. Dalam observasi awal ditemukan bahwa guru didalam proses belajar mengajar kurang tepat dalam memilih dan meng gunakan metode pembelajaran, guru kurang bisa menciptakan suasana yang menarik sehingga kurang bisa menimbulkan keinginan anak dalam berbicara mengungkapkan pendapatnya, dan seringkali guru langsung menyuruh siswa untuk menceritakan sesuatu/ pengalaman perbendaharaan kata yang terbatas sehingga terkadang anak-anak kesulitan dalam mengungkapkan keinginan atau perasaan mereka. Diri mereka tanpa memberikan contoh, pijakan awal atau penjelasan terlebih dahulu sehingga

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 55

anak menjadi bingung dan tidak bisa berbicara lancar mengungkapkan perasaannya. Metode mengajar di PAUD itu banyak sekali ragamnya, seperti metode bercerita, bernyanyi, bercakap-cakap, tanya jawab, pemberian tugas, eksperimen dan sebagainya. Dari sekian banyak metode itu peneliti tertarik untuk mengambil metode bercerita dengan memanfaatkan media boneka jari dalam rangka meningkatkan perbendaharaan kosa kata anak secara umum sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan bahasa anak dalam berkomunikasi. Penerapan metode bercerita dengan media boneka jari dalam proses pembelajaran di PAUD ini bertujuan agar anak senang saat belajar, anak lebih mudah menangkap dan mencerna materi pembelajaran yang disampaikan guru, melatih kemampuan berkomunikasi anak, kemampuan bercerita (kemampuan verbal), dan sebagainya. Dengan keyakinan bahwa sebuah cerita dapat mengembangkan kemampuan berbahasa dan berbicara anak, yaitu melalui perbendaharaan kosa kata yang sering didengarnya. Semakin banyak kosa kata yang didengar dan dikenalnya maka semakin banyak juga konsep tentang sesuatu dikenalnya (Musfiroh,2005:79). Metode bercerita adalah cara bertutur kata dan menyampaikan cerita atau memberi penerangan kepada anak secara lisan (Didaktik/Metodik Umum TK, 1996:14). Menurut Muhibbin Syah, bahwa metode bercerita adalah cara mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif. Sedangkan menurut Moeslikhatun, metode bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak dengan membawakan cerita pada anak secara lisan (2004:57). Bercerita merupakan kegiatan menutur cerita, sedangkan cerita adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (kejadian atau peristiwa). Dengan bercerita anak dapat menyampaikan informasi secara lisan. Kegiatan ini menjadi bagian dari aspek kebahasaan berbicara yang perlu dikembangkan

secara maksimal disamping aspek menyimak, membaca, dan menulis. Tujuan metode bercerita adalah: (1) melatih daya tangkap anak, (2) melatih daya pikir anak, (3) melatih daya konsentrasi, (4) membantu perkembangan fantasi imajinasi anak, dan (5) menciptakan suasana menyenangkan dan akrab di dalam kelas. Sehingga anak akan lebih leluasa untuk berbicara atau mengutarakan pikirannya secara lisan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya. Kebiasaan orang tua dirumah dan pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah dengan menggunakan metode bercerita diharapkan dapat merangsang atau memancing anak, agar dapat berkomunikasi secara lisan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbicara anak yang berarti bertambah pula perbendaharaan kosa kata anak tersebut. Melihat dari alat peragaatau media yang digunakan untuk bercerita ini ada dua macam, yaitu alat peraga langsung (bisa berupa binatang atau benda-benda sebenarnya)danalat peraga tak langsung yaitu benda-benda tiruan, gambargambar atau gambar didalam buku, guntinganguntingan yang ditempel di papan flanel dan sebagainya. Dalam penelitian ini peneliti memilih menggunakan alat peraga tak langsung berupa benda-benda tiruan yaitu boneka jari dengan aneka karakter. Boneka jari dipilih karena selama ini guru belum pernah menggunakan media boneka jari dan hanya menggunakan media gambar sebagai alat untuk bercerita. Pada metode bercerita dengan media boneka jari ini anak mendengarkan dialog-dialog atau percakapan antar pelakunya, anak mampu menirukan kosa kata yang ada dalam dialog, dan anak harus menarik kesimpulan isi cerita yang sudah didengarkan. Bentuk-bentuk pelaksanaan sandiwara boneka jari dapat menggunakan satu sampai tiga boneka dan seterusnya. Hal ini tergantung bentuk cerita dan taraf perkembangan serta usia anak yang ada dalam satu kelas. Untuk anak usia 4 sampai 5 tahun maksimal menggunakan lima buah karakter boneka jari, dan anak usia 5 sampai 6 tahun menggunakan enam buah karakter boneka jari. Sehingga dengan

56 Cutiana Windri Astuti, Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Metode Bercerita Pada Siswa PAUD

pemanfaatan media pembelajaan yang menarik diharapkan ada peningkatan keterampilan berbicara pada anak usia dini.

METODE Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru dikelas tempat mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses pembelajaran (Arikunto, dkk., 2008:58). Penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga sikus, masingmasing siklus melalui tahapan perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi (Sutejo, 2009:52). Desain PTK menggunakan langkah-langkah berdasarkan siklus, dari beberapa desain dari PTK yang dicontohkan, peneliti memilih desain yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart. Penelitian ini direncanakan dengan x siklus, setiap siklus dilaksanakan berdasarkan hasil refleksi setelah dilaksanakan suatu tindakan. Dengan maksud agar peneliti dapat memperbaiki tindakan dan memperbaiki kesalahan, menyingkirkan hambatan dalam setiap siklusnya. Sehingga dapat ditemukan formulasi yang paling efektif dan efisien dalam proses pembelajaran. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa PAUD Pancasila Kkecamatan Kauman kabupaten Ponorgo yang berjumlah 15 siswa. Subjek penelitian ini mempunyai beberapa sifat, yaitu anak mempunyai kemampuan rata-rata di dalam hal penguasaan bahasa, keterampilan, sikap atau tingkah laku dalam berkomunikasi secara lisan dengan lingkungannya, siswa mempunyai rentan usia antara 4 sampai 5 tahun.

PROSEDUR PENELITIAN Penelitian dimulai dari kegiatan pengamatan awal terhadap latar penelitian yang meliputi siswa dan kegiatan belajar mengajar. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi objektif yang ada di sekolah yang dijadikan subjek penelitian. Setelah mengadakan pengamatan, selanjutnya diadakan analisis pengamatan awal dan diperoleh

temuan bahwa kemampuan berbicara siswa PAUD Pancasila Kauman masih rendah, yaitu dalam hal mengungkapkan perasaan, keinginan dan buah pikiran, karena siswa memiliki perbendaharaan kata yang minim sehingga siswa kurang lancar dalam berbicara mengungkapkan perasaan dan pendapatnya. Selain itu guru kurang tepat memilih dan menggunakan metode pembelajaran sehingga kurang bisa menciptakan suasana yang menarik dan menyenangkan dalam kegiatan pembelajaran yang kemudian berpengaruh pada siswa. Berdasarkan pengamatan awal tersebut, kemudian disusun rencana tindakan berupa penggunaan metode bercerita dengan media boneka jari untuk meningkatkan perbendaharaan kata anak usia dini. Rencana tindakan ini dengan melakukan kegiatan, (1) merancang kegiatan pembelajaran, (2) menyusun dan mempersiapkan instrumen penelitian, (3) menetapkan dan menyususn jadwal pelaksanaan tindakan peningkatan kemampuan berbicara dengan menggunakan metode bercerita dengan media boneka jari. Kegiatan pelaksanaan dalam hal ini adalah melaksanakan skenario pembelajaran/kegiatan yang dirumuskan. Tahap ini merupakan tahap perencanaan tindakan. Pada tahap ini guru melaksanakan pembelajaran berdasarkan perencanaan tindakan pembelajaran dalam setiap siklus. Setiap siklus memerlukan waktu 1x60 menit yang dilaksanakan dalam 1x pertemuan. Tahap pelaksanaan tindakan dilaksanakan sebanyak x siklus. Apabila pelaksanaan siklus I sudah ada peningkatan kemampuan berbicara menggunakan metode bercerita secara signifikan, maka tidak dilanjutkan siklus berikutnya dan apabila siklus I belum menghasilkan peningkatan kemampuan berbicara melalui metode bercerita maka dilanjutkan siklus II. Setiap selesai tindakan satu siklus dilakukan diskusi. Hasil diskusi tersebut dijadikan bahan tindakan. Hasil refleksi tindakan tersebut digunakan untuk menyusun rancangan tindakan selanjutnya. Kegiatan obser vasi diarahkan untuk memperoleh data tentang kegiatan yang

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 57

dilakukan siswa pada setiap tahapan pembelajaran menggunakan metode bercerita dengan media boneka jari. Dalam tahap pengamatan ini, guru juga harus membantu atau memberi motivasi kepada anak yang belum mampu mengungkapkan/menceritakan sesuatu sesuai dengan keinginan guru. Observasi dilakukan setiap tindakan pada setiap siklus. Observasi yang dilakikan siklus pertama dapat mempengaruhi penyusunan pada siklus selanjutnya. Hasil pengamatan ini, kemudian diadakan refleksi untuk perencanaan siklus berikutnya. Adapun lembar observasi yang digunakan adalah sebagai berikut. Tabel 1.1. Lembar Observasi Kegiatan Pembelajaran

Aspek Yang diamati

Menceritakan kembali isi cerita

 Keberanian maju untuk bercerita.

Hasil Pengamatan

 Berbicara lancar dengan menggunakan kata/ kalimat yang jelas dan lengkap saat bercerita.  Mengerti apa yang diceritakan dengan menjawab 4-5 pertanyaan.

Bentuk nilai yang diberikan kepada anak usia dini biasanya dilambangkan dengan bilangan bintang ( ) (Depdiknas, 2005:8), dengan ketentuan seperti dalam tabel berikut. Tabel 1.2. Kriteria Penilaian Keterampilan Berbicara Jumlah Bintang

Keterangan Penilaian



Dalam mengulang kata dan menjawab pertanyaan anak belum mampu dan hanya diam saja.



Dalam berbicara, mengulang kata dan dalam menjawab pertanyaan anak mampu dengan bantuan guru.



Dalam berbicara, mengulang kata dan dalam menjawab pertanyaan anak mampu tanpa bantuan guru

 Dalam berbicara, mengulang kata dan dalam menjawab pertanyaan anak mampu bercerita dan menjawab dengan kata/ kalimat yang jelas dan lancar tanpa bantuan guru.

Kemampuan siswa dapat diketahui dari lembar observasi yang telah dibuat. Dari lembar observasi yang hasilnya masih dilambangkan dengan bintang ( ), maka dalam teknik analisis data nilainya diberi skor sesuai dengan tingkatannya, yaitu. 1) Bila mendapat  nilainya : 80 2) Bila mendapat  nilainya : 70 3) Bila mendapat  nilainya : 60 4) Bila mendapat  nilainya : 50 Indikator pencapaian ketuntasan belajar yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah masing-masing anak/siswa mendapat empat bintang (). Dengan ketuntasan hasil belajar sebesar 75%. Dari penilaian tersebut maka akan diperoleh gambaran peningkatan kemampuan berbicara siswa dengan menggunakan metode bercerita dengan media boneka jari. Dan dari nilai tersebut dapat dijadikan sebagai perbandingan dari hasil pada setiap siklusnya. Sehingga dari hasil perbandingan itu pula dapat diketahui ada peningkatan kemampuan berbicara atau tidak setelah dilakukan tindakan pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita menggunakan media boneka jari. Refleksi diadakan setiap akhir siklus. Kegiatan pada refleksi ini adalah: (1) menganalisis tindakan yang baru dilakukan, (2) membahas kesesuaian tindakan dengan perencanaan yang telah dilaksanakan, (3) menemukan pemecahan masalah apabila terdapat kendala dalam pelaksanaan kegiatan, dan (4) melakukan pemaknaan dan penyimpulan data yang diperoleh. Pengolahan atau analisis data dilakukan dengan langkah-langkah yaitu. 1) Data yang terkumpul dengan kriteria: identitas jelas, melakukan kegiatan sesuai

58 Cutiana Windri Astuti, Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Metode Bercerita Pada Siswa PAUD

2) 3)

dengan petunjuk, jumlah data dan subyek yang diteliti sesuai. Pengoreksian yaitu penentuan mampu atau tidaknya dalam melakukan kegiatan dan melakukan penyekoran. Penabulasian yaitu data yang sudah diberi skor ditabulasikan dalam tabel.

Hasil refleksi akan digunakan sebagai dasar bagi penyusunan rencana tindakan pada siklus berikutnya. Namun jika hasil refleksi pada siklus I menunjukkan adanya keberhasilan yang signifikan, dan sudah mencapai indikator ketuntasan belajar yang diinginkan maka tindakan pada siklus berikutnya tidak perlu dilaksanakan lagi. Jadi hasil refleksi menentukan perlu tidaknya tindakan pada siklus berikutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN SIKLUS I

Perencanaan Tindakan Pa d a t a h a p i n i d i s u s u n p e r a n g k a t pembelajaran yang berupa satuan kegiatan harian (SKH) PAUD yang dipersiapkan untuk melaksanakan pembelajaran dengan menerapan metode bercerita dengan media boneka jari. Guru mempersiapkan naskah cerita yang berjudul “kucing yang baik hati” dan juga mempersiapkan empat karakter boneka jari berupa kucing berbulu kuning, kucing berbulu hitam, kelinci, dan sapi. Naskah cerita dibacakan guru dengan memperagakan masing-masing karakter boneka jari. Masing-masing karakter diperankan dengan nada suara yang berbeda-beda dan diberikan tanda dengan guru menirukan suara masingmasing jenis binatang. Misalnya kucing “meong”, sapi “emow”, dan suara binatang lainnya sesuai karakter yang dimainkan.

Hasil Observasi Pratindakan Sebelum tindakan kelas dilaksanakan langkah yang ditempuh peneliti adalah melakukan observasi pratindakan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan berbicara siswa dan bagaimana proses kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Observasi ini dilakukan dengan mengadakan wawancara dengan guru dan peneliti mengamati

langsung aktivitas guru dan siswa pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Berikut ini hasil pengamatan aktivitas guru saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Tabel 1.3. Hasil Pengamatan Aktivitas Guru Saat KBM No

Kegiatan

Baik Cukup Kurang

A. Kegiatan Awal 1. Guru membuat rencana pembelajaran dalam bentuk satuan kegiatan harian.



2. Guru menyiapkan alat peraga/sarana pembelajaran dalam proses belajar mengajar.



3. Guru memberikan motivasi belajar.



4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.



B. Kegiatan Inti 1. Guru menyuruh siswa untuk melaksanakan tugas yang diberikan.



2. Penguasaan kelas saat proses KBM



3. Penguasaan terhadap materi yang disampaikan.



4. Penjelasan/panduan terhadap pemahaman cerita.



C. Kegiatan Akhir √

1. Guru mengadakan tanya jawab/diskusi tentang kegiatan setelah kegiatan selesei. 2. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran



3. Guru melaksanakan penilaian proses dan hasil penugasan dari kemampuan siswa.



JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 59

Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan dengan menggunakan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Kegiatan pada inti pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dengan media boneka jari adalah. 1. Guru menjelaskan tentang jenis-jenis binatang yang hidup di darat. 2. Guru memotivasi anak dengan menyanyi, bertepuk tangan, dan mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman memelihara hewan. 3. Guru mulai memperlihatkan masing-masing karakter boneka jari dan judul cerita “kucing yang baik hati”. Karakter boneka jari dalam cerita ini adalah kucing berbulu kuning, kucng berbulu hitam, kelinci dan sapi. 4. Guru menjelaskan kata-kata yang sulit dan dirasa belum dipahami oleh anak, dan meminta agar anak-anak menirukan katakata tersebut secara bersama-sama. 5. Anak dimotivasi dan diberi kesempatan satu persatu untuk menirukan kata-kata yang dilafalkan guru. 6. Guru melanjutkan cerita sampai selesai dan menutupnya dengan lagu gembira. 7. Anak diberi kesempatan menceritakan kembali isi cerita yang didengarnya dengan menggunakan kata/kalimatnya sendiri. 8. Guru tetap mendampingi dan membimbing anak agar lancar saat berbicara menceritakan kembali isi cerita. 9. Anak diberi kesempatan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang cerita yang didengarnya dan anak diberi pujian dan tepuk tangan kemudian anak disuruh duduk kembali.

Pertanyaannya yang diberikan pada anakanak adalah sebagai berikut. 1) Apa judul cerita yang dibacakan ibu guru? 2) Kenapa kucing berbulu kuning baik hati? 3) Hewan apa yang ditolong kucing berbulu kuning? 4) Apa warna bulu kucing yang nakal? Observasi Tindakan Siklus I Peneliti dibantu guru yang lain mengobservasi siswa menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Dari hasil observasi tersebut dapat dievaluasi sebagai berikut. 1) Siswa mendengarkan cerita dengan antusias tetapi ada sebagian siswa mendengarkan sambil bermain. 2) Konsentrasi siswa saat mendengarkan cerita masih kurang maksimal. 3) Tanya jawab yang dilakukan guru dan siswa belum merata. 4) Ketika disuruh maju untuk menirukan katakata sulit dan menceritakan kembali cerita yang didengarnya anak masih ragu dan takut. 5) Kemampuan berbicara anak saat menceritakan kembali isi cerita masih belum lancar. 6) Kebanyakan siswa dalam bercerita masih dibantu guru. 7) Dalam menjawab pertanyaan siswa masih ragu, belum lancar dan perlu bantuan guru. Dari lembar observasi yang telah dibuat itu diberi skor yang merupakan nilai dari masingmasing siswa setelah siswa melaksanakan tugas, maka nilai yang diperoleh siswa dapat untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam kemampuan berbicara melalui metode bercerita. Adapun nilai hasil penugasan pada siklus I dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 1.4. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa dalam Menceritakan Kembali Isi Cerita No.

Nama

Aspek yang diamati 1

2

3

Jumlah Rata-rata Kategori

Keterangan Tuntas Tidak Tuntas

1

ALS

70

70

70

210

70

Baik



2

AAPP

70

80

80

230

76,6

Baik



3

FWA

70

60

60

190

63,3

Cukup



60 Cutiana Windri Astuti, Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Metode Bercerita Pada Siswa PAUD

4

FZS

80

70

80

230

76,6

Baik



5

FTD

70

80

80

230

76,6

Baik



6

JM

70

70

70

210

70

Baik



7

MADP

50

50

50

150

50

Kurang

8

ME

70

70

70

210

70

Baik

9

NA

60

60

60

180

60

Cukup



10 PRM

70

70

60

200

66,6

Cukup



11 RASS

70

70

70

200

66,6

Cukup



12 SPA

70

70

70

210

70

Baik



13 ULA

80

80

80

240

80

Baik



14 WAK

70

70

70

210

70

Baik



15 YN

70

70

70

210

70

Baik



Refleksi Tindakan Siklus I Refleksi dilaksanakan setelah selesai pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus Idan menghasilkan hal-hal sebagai berikut, bahwa pada siklus I: 1) Keseluruhan siswa belum mampu berbicara dengan baik. 2) Guru dan siswa belum maksimal dalam bertanya jawab. 3) Kurang aktifnya siswa dikarenakan rasa takut dan belum terlatih untuk mengungkapkan pendapatnya. 4) Dalam hal berbicara menceritakan kembali siswa masih ragu-ragu dan kaku dikarenakan kurangnya pemahaman terhadap cerita dan siswa masih bingung dalam mengungkapkan perasaannya. 6) Jawaban siswa saat tanya jawab sangat terbatas, hanya terucap satu atau dua kata saja. Dari data observasi aktifitas siswa saat mendengarkan dan berbicara menceritakan kembali, pada siklus I ini jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 siswa dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 5 siswa. Maka pencapaian hasil belajar pada siklus I ini adalah

10 = 66,7 %. Hasil 15

tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I belum mencapai keberhasilan yang diharapkan yaitu

√ √

sebesar 75 % sehingga perlu dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

HASIL DAN PEMBAHASAN SIKLUS II

Perencanaan Tindakan Pa d a t a h a p i n i d i s u s u n p e r a n g k a t pembelajaran yang berupa satuan kegiatan harian (SKH) PAUD yang dipersiapkan untuk melaksanakan pembelajaran dengan menerapan metode bercerita dengan media boneka jari. Guru mempersiapkan naskah cerita yang berjudul “Kera yang suka menolong”. Perbedaan siklus I dan siklus II ini adalah cerita yang dibawakan guru lebih mudah dipahami anakanak. Guru juga mempersiapkan empat karakter boneka jari berupa beruang, gajah, harimau dan kera. Di dalam siklus II ini tidak ada jenis binatang yang sama seperti pada siklus satu sehingga diharapkan anak-anak tidak bingung. Naskah cerita dibacakan guru dengan memeragakan masing-masing karakter boneka jari pada jari-jari guru. Masing-masing karakter diperankan dengan nada suara yang berbeda-beda dan diberikan tanda dengan guru menirukan suara masing-masing jenis binatang. Perbedaannya pada siklus II ini guru tidak langsung menampilkan empat karakter secara bersamaan tetapi diawali dengan dialog dua karakter hewan kemudian

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 61

selang beberapa dialog baru ditambah karakter binatang yang lain.

Pelaksanaan Tindakan Siklus II Pelaksanaan tindakan siklus I dilaksanakan dengan menggunakan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Kegiatan pada inti pembelajaran dengan menggunakan metode bercerita dengan media boneka jari adalah. 1. Guru menjelaskan tentang jenis-jenis binatang yang hidup di darat yang berkaki empat. 2. Guru memotivasi anak dengan menyanyi, bermain tepuk tangan, dan sesekali mengajak berdiri dan menari. 3. Guru mulai memperkenalkan masing-masing karakter boneka jari dan judul cerita “kera yang suka menolong”. 4. Dengan penuh ekspresiguru memulai dialog antar karakter boneka jari. 5. Guru menjelaskan kata-kata yang sulit dan dirasa belum dipahami oleh anak, dan meminta agar anak-anak menirukan katakata tersebut secara bersama-sama. 6. Anak dimotivasi dan diberi kesempatan satu persatu untuk menirukan kata-kata yang dilafalkan guru. 7. Guru melanjutkan cerita sampai selesai dan menutupnya dengan lagu gembira. 8. Anak diberi kesempatan menceritakan kembali isi cerita yang didengarnya dengan menggunakan kata/kalimatnya sendiri. Pada siklus II ini masing-masing diberi kesempatan memainkan dua karakter boneka jari sampbil bercerita.

9.

Guru tetap mendampingi dan membimbing anak agar lancar saat berbicara menceritakan kembali isi cerita. 10. Anak diberi pujian dan tepuk tangan kemudian anak disuruh duduk kembali.

Observasi Tindakan Siklus II Pada siklus II ini berdasarkan hasil observasi secara umum terhadap siswa saat kegiatan belajar mengajar maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan aktivitas siswa pada saat kegiatan belajar mengajar, sehingga kemampuan anak dalam berbicara juga meningkat. Hal ini dikarenakan: (1) guru lebih luwes dalam bercerita dan bisa membawa suasana kelas menjadi lebih menarik, (2) anak lebih siap dan lebih konsentrasi dalam mendengarkan cerita yang disampaikan guru, (3) anak lebih tertarik dengan cerita yang dibawakan guru karena boneka jari yang digunakan lebih bervariasi sehingga sangat menarik perhatian anak, (4) anak menjadi lebih senang karena dapat langsung memainkan boneka jari sehingga anak menjadi lebih paham dalam menyerap kosa kata ataupun kalimat yang didengarnya, dan (5) anak dapat lancar berbicara mengungkapkan pendapat dan perasaannya, serta anak dapat menjawab dengan tepat pertanyaan yang diberikan guru. Dari lembar observasi yang telah dibuat itu diberi skor yang merupakan nilai dari masingmasing siswa setelah siswa melaksanakan tugas, maka nilai yang diperoleh siswa dapat untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam kemampuan berbicara melalui metode bercerita. Adapun nilai hasil penugasan pada siklus II dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.

Tabel 1.5. Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa dalam Menceritakan Kembali Isi Cerita No.

Nama Aspek yang diamati Jumlah Rata-rata Kategori 1

2

3

Keterangan Tuntas Tidak Tuntas

1

ALS

80

70

70

220

73,3

Baik



2

AAPP

80

80

80

240

80

Baik Sekali



3

FWA

70

70

70

140

70

Baik



4

FZS

80

80

80

240

80

Baik Sekali



62 Cutiana Windri Astuti, Peningkatan Kemampuan Berbicara Melalui Metode Bercerita Pada Siswa PAUD

5

FTD

80

80

80

240

80

Baik Sekali



6

JM

70

80

80

220

73,3

Baik



7

MADP

60

60

60

180

60

Cukup

8

ME

70

80

80

220

73,3

Baik

9

NA

70

60

70

200

66,6

Cukup



10 PRM

70

60

70

200

66,6

Cukup



11 RASS

70

70

70

210

70

Baik



12 SPA

80

70

70

220

73,3

Baik



13 ULA

80

80

80

240

80

Baik Sekali



14

WAK

80

80

80

240

80

Baik Sekali



15

YN

80

70

80

230

76,6

Baik



Refleksi Tindakan Siklus II Refleksi dilaksanakan setelah selesai pelaksanaan tindakan pembelajaran siklus IIdan menghasilkan hal-hal sebagai berikut, bahwa pada siklus II: 1. Siswa sudah mampu berbicara dengan baik. 2. Guru dan siswa sudah aktif bertanya jawab. 3. Ketika disuruh berbicara didepan untuk bercerita, anak sudah tidak takut dan mulai lebih lancar. 4. Siswa sudah mampu bercerita secara urut dan dengan menggunakan kalimat yang jelas dan dapat dimengerti. 5. Jawaban siswa saat tanya jawab sudah mulai berkembang dan anak mulai berani mengungkapkan pendapat dan pikirannya. Dari data observasi aktifitas siswa saat mendengarkan dan berbicara menceritakan kembali, pada siklus II ini jumlah siswa yang tuntas sebanyak 12 siswa dan siswa yang tidak tuntas sebanyak 3 siswa. Maka pencapaian hasil 12

 100% belajar siswa pada siklus II adalah = 15 = 80%. Dapat disimpulkan bahwa pada siklus II ini dikategorikan sudah baik sekali dan sudah mencapai ketuntasan belajar yang diinginkan peneliti yaitu sebesar 75%. Pada siklus II ini sudah menunjukkan peningkatan kemampuan berbicara

√ √

siswa PAUD Pancasila. Hal itu terbukti dengan skor hasil penugasan yang didapat siswa, hampir semua siswa mendapatkan empat bintang dan paling sedikit mendapatkan tiga bintang.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan Berdasarkan obser vasi pratindakan yang dilakukan peneliti, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar siswa PAUD Pancasila mempunyai kemampuan yang rendah dalam berbicara mengungkapkan perasaan dan pendapatnya serta berkomunikasi dengan lingkungannya. Keseluruhan hasil observasi pratindakan tersebut menunjukkan bahwa perlu dilakukan tindakan kelas untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa PAUD. Dalam hal ini peneliti memilih melakukan tindakan kelas yaitu dengan menggunakan metode bercerita dengan media boneka jari dalam kegiatan pembelajaran. Berpinjak dari hasil penelitian dan analasis data sesuai dengan teori yang telah ditetapkan pada bab-bab terdahulu, maka dalam penutup penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan. Pertama, bahwa penggunaan metode bercerita dengan media boneka jari untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada anak usia dini menunjukkan adanya perubahan yang signifikan pada setiap siklusnya. Dengan metode bercerita atau kegiatan mendengarkan cerita maka dapat

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 63

merangsang dan melatih keterampilan berbicara anak diantaranya pengucapan kata, pengembangan kosa kata, dan pembentukan kalimat. Sehingga anak bisa dan mampu berbicara mengungkapkan perasaan dan pendapatnya. Kedua, dengan demikian hipotesis yang diajukan peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini adalah benar, bahwa penggunaan metode bercerita dengan media boneka jari untuk meningkatkan keterampilan berbicara pada anak usia dini menunjukkan adanya perubahan yang signifikan pada setiap siklusnya. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari rekapitulasi hasil ratarata aktifitas siswa melalui lembar observasi yaitu pada siklus I dengan persentase 66,7% dengan kualifikasi kurang baik meningkat menjadi 80% dengan kualifikasi baik pada siklus II. Berdasarkan atas hasil perolehan keberhasilan dalam pencapaian indikator pada setiap siklusnya, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa hipotesis tindakan yang diajukan peneliti bahwa ada peningkatan kemampuan berbicara siswa PAUD melalui penerapan metode bercerita dengan media boneka jari terbukti secara benar.

Saran Beberapa saran yang dapat dikemukakan dengan hasil penelitian penggunaan metode bercerita dengan media boneka jari untuk meningkatkan kemampuan berbicara pada siswa PAUD adalah: a. Diharapkan guru lebih meningkatkan kreatifitas dalam pelaksanaan metode bercerita yaitu dengan variasi media bercerita. b. Meningkatkan pengadaan sarana yang mendukung pelaksanaan metode bercerita. c. Guru harus selalu sabar dan memahami kondisi anak, selalu memberikan motivasi, dorongan, dan tidak lupa memberikan pujian (sesudah anak melakukan suatu tugas) sehingga anak tetap percaya diri dan semangat belajar.

DAFTAR RUJUKAN Arikunto, Suharsimi dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara. Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini. 2002. Acuan Menu Pembelajaran Pada Pendidikan Anak Usia Dini (Menu Pembelajaran Generik). Jakarta: Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini TK dan RA. Jakart: Depdiknas. Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Pedoman Penilaian Taman Kanak-kanak. Jakarta: Depdikbud. Djaja, Wahjudi. 2007. Mencetak Generasi Cerdas Berkualitas. Klaten: Cempaka Putih. Muslikhatun. 2004. Metode Mengajar di TK. Jakarta: Rineka Cipta. Sutejo. 2009. Cara Mudah Menulis PTK: Mencari Akar, Sukses Belajar. Yogyakarta: Pustaka Felicha.

THE TEACHING AND LEARNING OF SPEAKING AT PRIVATE ENGLISH COURSE Rifa Suci Wulandari Abstrak: Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang digunakan di dunia. Dewasa ini, kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris menjadi sebuah kebutuhan. Bahasa Inggris merupakan sarana komunikasi dalam proses pemerolehan pengetahuan, interaksi global dan dunia kerja. Pembelajar yang mampu menggunakan bahasa Inggris dengan baik memiliki kesempatan yang lebih besar untuk pengembangan pendidikan, kesempatan kerja dan jenjang karir. Meskipun bahasa Inggris merupakan bahasa asing yang diajarkan di sekolah, kenyataan menunjukkan bahwa banyak pembelajar yang belum mampu menguasai bahasa ini dengan baik. Sehingga kursus bahasa Inggris menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris. Desain penelitian ini adalah studi kasus untuk mendeskripsikan fenomena yang ada sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pembelajaran yang digunakan di Private English course antara lain story retelling, memorizing vocabulary, reading aloud, listening to the cassettes, small group discussion, and games. Pendekatan yang digunakan antara lain Grammar Translation Method, Direct Method, Audio-lingual Method, and Communicative Approach. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dan siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, baik dalam interaksi antara guru dan siswa maupun siswa dengan siswa. Kata Kunci: teknik pembelajaran, proses belajar mengajar, berbicara Abstract: English is one of languages used widely all over the world. Nowadays, the ability of speaking English has become a need. English is spoken by a great number of people as means of communication such as in getting knowledge, interacting with global societies or seeking jobs. Students who can speak English well may have a greater chance for further education, of finding employment and gaining promotion. Although English is the main foreign language taught at schools, the fact shows that students still cannot speak English properly. They start thinking of learning English through joining an English course. The design of this study is principally observational case study, which is aimed to investigate and describe the existing phenomena, that is the real situation of the time of conducting the research. The result of the study shows that teaching techniques found in speaking class at Private English course are story retelling, memorizing vocabulary, reading aloud, listening to the cassettes, small group discussion, and games. The approaches used are Grammar Translation Method, Direct Method, Audio-lingual Method, and Communicative Approach. Both the teacher and students actively participated in the class interaction, either between teacher-students or student-student interaction. Key words: teaching technique, teaching and learning process, speaking

English is one of languages used widely all over the world. Nowadays, the ability of speaking English has become a need. English is spoken by a great number of people as means of communication such as in getting knowledge, interacting with global societies or seeking jobs. Students who can speak English well may have a greater chance for further education, of finding

employment and gaining promotion. According to Baker and Westrup (2003: 5) Good English speakers will be in a strong position to help their country’s economic, social, and political development. So, by learning to speak English well, students gain a valuable skill, which can be useful in their lives and contribute to their community and country.

66 Rifa Suci Wulandari, The Teaching and Learning of Speaking at Private English Course

Having a good skill at speaking in language learning is very essential. A person whether he can interact and communicate in his community or not will depend much on his speaking ability (Richards and Rodgers, 1986: 78). Both the teacher and students should realize the role of speaking ability in language learning. The common problem which is usually faced by the teachers especially in teaching speaking is they get difficulties in motivating the students to speak actively in the class. Good and Brophy (1991) state that teachers are often unaware much of what they do, and this lack of perception sometimes results in unwise, self-defeating behavior. The teachers need to learn how to observe and describe classroom behavior to improve their teaching. According to Postman and Weingartner (1983: 109), “a classroom is an environment and … the way it is organized carries the burden of what people will learn from it.” Here, the teacher has responsibility to motivate the students to involve actively in the classroom. The teacher should be able to encourage and facilitate the students to speak as much as possible. Although English is the main foreign language taught at schools, the fact shows that students still cannot speak English properly. They start thinking of learning English through joining an English course. There are many English courses nowadays which offer facilities for consumers to master English in a short time. Consumers could use some factors as consideration to choose an English course. i.e.: their aim, age, educational background, facilities and quality. There are two main reasons influencing consumers to choose private English course in Pare Kediri to study English i.e. the quality and facilities. The researcher gets the information from informal interviews that the English course has a good quality and facilities. It is supported by selected materials and qualified teachers. Here, the researcher wants to observe the teaching and learning process at private English course in Pare Kediri especially in Speaking Class. In order that the teaching of English is successful, there are several factors to be

considered. The first factor is teachers. Teachers are expected to be able to teach even if they are given worst condition of students, designated techniques, limited materials, and the absence of media. Teachers may also contribute to the success of the teaching-learning process by their ability to motivate students to learn. The second factor is students. They also play an important role in the teaching-learning process due to their characteristics. Students should be treated on the basis of their needs and capabilities. The third factor is technique. Techniques may contribute to the success of the teaching-learning process. The fourth is instructional materials. They provide teachers and students with suitable materials to present based on their teaching and learning objectives. The last factor is media. Media are able to enliven the teaching-learning process by adding words, pictures, sounds or even things to presented materials. The findings revealed from this study are aimed to give contribution to improve the teaching and learning process conducted by the teacher. Giving information about particular technique of teaching-learning speaking at private English course that can be implemented in other courses, school, college, etc. The findings can also be used for further studies.

METHOD The design of this study is principally observational case study, which is aimed to investigate and describe the existing phenomena, that is the real situation of the time of conducting the study. This study describes and interprets the findings related to the teaching learning process. The writer observes teaching techniques used by the teacher including the interaction and the problems faced. It occurs naturally and the writer controls nothing. The writer also takes the teacher’s explanation in the form of interview. Then the result of observation and interview are analyzed and described. The data of the study are the techniques used by the teacher in the teaching and learning process including interaction and the problems

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 67

faced. The data collected by observing the teacher and students’ activities in the classroom and interviewing the teacher.

RESULT The result includes the result of observation, English teaching technique applied, classroom interaction analysis and the problems faced by the teacher during the teaching and learning process.

The result of observation The class was divided into two sessions, morning and afternoon. The teacher gave prespeaking activity by describing the materials he (she) wanted to teach. The real lesson was started by giving explanation as brief and clear as possible. He (she) always used examples to clarify the explanation and made use of real things around him/her. The teacher did not dominate the speaking activity. After explaining, he (she) encouraged the students to ask questions related to the materials given. He (she) motivated the students to speak and paid attention to all students equally. The teacher answered the students’ questions as clear as possible and gave them an appropriate feedback. He (She) used English as the medium of instruction but not a hundred percent because it depended much on the students’ condition. Here, the ability to manage the lesson interestingly was very needed, moreover for the afternoon classes. The teacher usually used music to make the lesson more interesting. He (she) also gave exercises and drill to the students. In the students’ center activity, the class was usually divided in pairs or groups to do conversation. The teacher monitored and observed the students’ activity. He (she) helped the students who were reluctant to speak by facilitating a good interaction with them. The students had a great deal of chance to talk. All of them actively and enthusiastically participated in the whole class activity. The class was closed by summarizing and reviewing the lesson.

English Teaching Techniques Story Retelling The teacher used story retelling as the technique. The class was divided into five groups consisted five students. Each group decided the first person up to the fifth. The first person from each group was asked to go outside the classroom. The teacher told a story, entitled “Birthday Present” three times. The students were forbidden to write anything, but they might bring notes the teacher gave before. That was the key words. The students had to pay a full attention to every single word. The teacher asked inside the classroom to go outside one by one. The first person should tell the story to the second person, the second person to the third until the fifth person. These activities lasted for thirty minutes. The fifth person from each group should tell the story in front of the class using their own words. It means that the students were asked to do oral production activity as a common technique used in Communicative Approach (Richards and Rodgers, 1986). Both the teacher and students actively participated in the class interaction, either between teacher-students and student-student interaction. The teacher initiated all the activities. The teacher’s role was like in the Grammar Translation Method where the teacher was the authority in the classroom. The students did what he (she) said, so they could learn what he (she) knew (Larsen-Freeman, 1986: 11). Memorizing Vocabulary The students had to memorize every single words existed in the G. Book. The teacher used memorization as the teaching technique. This technique is often used in Grammar Translation Method (Larsen-Freeman, 1986). Reading Aloud The teacher also used reading aloud technique. He (she) read the dialogue aloud to give an example to the students. The teacher and the students read the dialogue together. The teacher was the model for the students, like in the

68 Rifa Suci Wulandari, The Teaching and Learning of Speaking at Private English Course

Audio-lingual Method (Richards and Rodgers, 1986). Listening to cassettes The teacher played the cassettes of QuestionAnswer exercise 2 or 4 times. Before listening, the teacher gave key words and explanation related to the topic. There was no script; the teacher only gave papers to write down the answer. When the students could not answer the questions, he (she) played the cassettes again and again then explained the expressions used. To relax the students, some songs were usually played after finishing all the exercises Small Group Discussion The teacher gave certain topics for the discussion to control the students’ vocabulary. The class was divided into several groups. Each member of the group had to choose the topic and explain it. While others asked questions or gave opinion and suggestion. The teacher only observed and monitored the students’ activities. The students shared information about the topic given. They tried to avoid using Indonesian, since the students’ native language was avoided; this was in accordance with the types of learning activities done in Direct Method and Communicative Approach. Games The kind of games used was varied to activate the students to speak up such as mentioning verbs and nouns by Chain word game, finding a good couple, etc. In games, the students used English based on situation demanded by the task. It means that games were done with a communicative intent. It was in accordance to the goal of Communicative Approach i.e. to develop communicative competence. The pleasant and relaxed atmosphere developed by games will be conducive to effective learning and motivate students greatly. Classroom Interaction Analysis The writer concluded that both the teacher and students had participated actively in the class interaction, either between teacher-student or

student-student interaction. The teacher initiated all the activities. The teacher’s role was like in the Grammar Translation Method in which the teacher was the authority in the classroom, but there was still students’ center activity. This finding was in accordance to one of the characteristics of Direct Method class that the initiation interaction goes both ways, teacher to the students and from the students to the teacher, although the latter is often teacher-directed (Larsen-Freeman, 1986).

The problems faced by the teacher during the teaching and learning process Students’ passiveness in speaking course There are two factors affecting the students’ passiveness in the speaking course, internal and external factors. The most affecting factor found by the researcher during the observation is the students’ motivation. The problem of activating the students in class. The teacher wants to create a languagerich classroom where students listen to and use English. In reality, the students have limited attempts to use English. The problem of focusing the students’ attention The students often get away from the topic discussed. The teacher has to try hard to make the students focus on the subject matter again.

DISCUSSION The teacher always taught one thing at a time, for example, in teaching about “preposition”. The activities in class were all related to the topic. The teacher used varied materials in teaching speaking. It depended much on the situation and the condition of the students. So the teacher did not fixed materials. The techniques used by the teacher were varied too. The teacher combined the techniques from some approaches; they were Grammar Translation Method, Direct Method, and Audiolingual Method and Communicative Approach.

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 69

The writer found six teaching techniques used by the teacher in the teaching and learning process of speaking. Those techniques were story retelling, memorizing vocabulary, reading aloud, listening to cassettes, small group discussion and games. All these techniques were used to improve the students’ speaking ability. The success of these techniques depended much on the students’ participation. During the observation, the researcher saw that both the teacher and students actively participated in the class interaction, either between teacher-students or student-student interaction. The students were always asked to do oral production activity as a common technique used in Communicative Approach (Richards and Rodgers, 1986). All the activities were initiated by the teacher; the teacher’s role was like in Grammar Translation Method where the teacher was the authority in the classroom. The students actively participated in the teaching and learning process, although their English was not really food. They often asked about the terms that they did not know. The teacher and students tried hard using Indonesian, since the students’ native language was avoided, which is in accordance with the types of learning activities done in Direct Method and Communicative Approach. The teacher monitored the students’ speaking ability by staying close to the students, for example, when they had discussion. He (she) did not dominate the speaking activity. Sometimes, he (she) also gave opinion about the topic being discussed. He (she) always motivated the students who were reluctant to speak and paid attention to all students equally. It seems that the teacher did two important roles as a teacher in Communicative Approach (Breen and Candin in Richards and Rodgers, 1986:77). The first role is to facilitate the communication process between students. The second role is to act as an independent participant within the learning teaching group. The class was quite alive and enjoyable. We could really see the closeness between the teacher and the students. This finding was in accordance

with one of the characteristics of Direct Method class that interaction goes both ways, teacher to students and from students to teacher, although latter is often teacher-directed (Larsen-Freeman, 1986). There were three main problems faced by the teacher during the teaching and learning process of speaking. Those were the students’ passiveness in speaking course, the problem of activating the students in class, and the problem of focusing the students’ attention. The teacher had done many efforts to solve these problems, such as giving reinforcement and reward to the students whenever they could answer the question correctly, holding conversation club which was aimed to enhance students’ speaking ability outside the classroom, varied teaching techniques, activating the students to ask questions or just telling their opinion, and making varied topics to avoid boredom. When the students were getting away from the subject matter, the teacher usually gave jokes or songs so that they would refresh again and then guided them back to the topic being discussed.

CONCLUSION The teaching techniques found in the teaching and learning process of speaking at private English course are story retelling, memorizing vocabulary, reading aloud, listening to the cassettes, small group discussion, and games. The approaches used are Grammar Translation Method, Direct Method, Audio-lingual Method, and Communicative Approach. Both the teacher and students actively participated in the class interaction, either between teacher-students or student-student interaction. The teacher does not dominate the activity. He (she) always motivates the students to speak up and sometimes corrects their mistakes. The students have a great deal of chance to practice their speaking ability freely dealing with the material. The initiation of interaction goes both ways, teacher to the students and from students to the teacher.

70 Rifa Suci Wulandari, The Teaching and Learning of Speaking at Private English Course

SUGGESTION The teacher should use English as the medium of instruction optimally so that the students will be accustomed to hear that. The teacher should apply the best technique, which can give a chance to all students to involve actively in the speaking class. He (she) should be able to make the students interested and motivated in learning English. The future researcher is invited to conduct other research on the same field but different skills.

BIBLIOGRAPHY Baker, Joanna and Westrup, Heather. 2003. Essential Speaking Skills. A handbook for English Language Teacher. Continuum publisher. Cahyono, BambangYudi. 1997. Pengajaran Bahasa Inggris: Teknik, Strategi, dan Hasil Penelitian. Malang: Penerbit IKIP Malang. Fikriah, Zakiatul. 2003. The Use of Teenage Issues as Alternative Topics for Discussion in Conversation Club. Unpublished S-1 Thesis. Surabaya: UniversitasNegeri Surabaya. Good, Thomas. L and Brophy, Jere. E. 1991. Looking in Classroom (5thed). New York: Harpercollins, Inc. Kurniawati, Eka. 2003. The Profile of English Language Teaching at Victoria Education Center. Unpublished S-1 Thesis. Surabaya: UniversitasNegeri Surabaya. Larsen-Freeman, D. 1986. Techniques and Principles in Language Teaching. Oxford: Oxford University Press. Richards, Jack. C and Rodgers, Theodore. S. 1986. Approaches and Method in Language Teaching. Cambridge University Press. Sari, Rina. 1998. Teaching and Learning at Pondok Pesantren Nurul Azhar in TalaweKab. Sidrap, South Sulawesi. Unpublished S-1 Thesis. Malang: IKIP Malang. Supriyono, Agus. 1995. A case study on the Teaching of English at SDN Percobaan Malang and MIN

1 Malang. Unpublished S-1 Thesis. Malang: IKIP Malang.

PEMBELAJARAN MENULIS PUISI DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL MELALUI TEKNIK PETA PIKIRAN Nining Dwiastutik Abstrak: Pendekatan kontekstual menyarankan bahwa pembelajaran akan terkesan dan akhirnya bertahan lama di dalam diri siswa jikalau memanfaatkan pengalaman para siswa. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual serta memanfaatkan teknik “peta pikiran” diharapkan pengalaman siswa akan mudah diwujudkan. Hal ini, karena di satu sisi, pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melalui teknik “peta pikiran” mengedepankan pembelajaran berbasis siswa dan mengarah pada produktivitas pencapaian. Teknik ini mengajak para siswa untuk menuangkan kebebasan berpikir yang diwujudkan dalam pemilihan sebuah kata. Kata yang menjadi pilihan siswa dijadikan sebagai pusat berpikir untuk dikembangkan dengan menciptakan sebuah kata baru yang ada relevansinya dengan kata yang sudah dipilih. Pembelajran dengan teknik “peta pikiran” ini mengajak siswa untuk mendeskripsikan apa yang pernah dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam wujud kata-kata menarik. Kata-kata yang diciptakan para siswa itu akan menjadi modal dasar dalam penulisan puisi. Kata Kunci: menulis puisi, pendekatan kontekstual, peta pikiran Abstract: Contextual approach suggests that teaching learning will be impressive and last longer for the students if it uses students’ experience. Through learning by using this contextual approach and making use of mind-mapping technique, it is hoped that students’ experience can be brought up easily. This can happen because, in one way, learning by using this contextual approach and making use of mind-mapping technique is primarily based on students centered and leads to achievement of productivity. This technique lets the students to get their freedom of thinking that is represented through diction (word choice). The words, chosen by the students, are made as the center of thinking to be developed by creating a new word that is relevant to the chosen word. This learning by using mind-mapping let students to describe things that they have ever been seen, thought, and experienced, in form of interesting words. Later, those created words, will be their basic material in writing poems. Key words: writing poems, contextual approach, mind-mapping

A. PENGANTAR Dewasa ini, meski pemerintah terus-menerus mencari terobosan baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sastra (termasuk menulis puisi), realitas di lapangan masih belum menggembirakan. Menurut Ajip Rosidi sejak tahun 1955-an pembelajaran sastra sudah menjadi pembicaraan para peminat sastra dan guru sastra, karena belum sesuai dengan harapan (dalam Rusjana, 1984: 324). Salah satu penyebab tidak menggembirakannya pembelajaran sastra tidak

lain dan tidak bukan adalah kemampuan guru yang perlu dipertanyakan. Dari sinilah nampaknya seorang gur u penting melakukan sebuah perubahan jika menginginkan pembelajaran yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Karena, perubahan merupakan titik pijak yang harus dilakukan oleh guru, yang sementara ini manusia termasuk guru sangat sulit untuk melakukan perubahan. Berkaitan dengan penyebab tidak menggembirakannya pembelajaran menulis puisi, penulis mencoba menyibak dari peran

72 Nining Dwiastutik, Pembelajaran Menulis Puisi dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Teknik Peta Pikiran

guru, khususnya peran guru dalam memilih atau menciptakan teknik sebagai strategi pembelajaran dalam mewujudkan kemampuan kreatifnya. Mengapa melihat dari peran guru? Karena, guru merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam pembelajaran. Guru adalah seorang koki pembelajaran, keterampilan meracik bahan untuk diubah menjadi makanan yang siap saji dan lezat bagi siswanya merupakan pekerjaan yang tidak gampang. Maka dari itu, sekali lagi dibutuhkan kreativitas guru dalam merancang model pembelajaran. Meminjam istilah Mulyasa, guru yang menciptakan pembelajaran kreatif dan menyenangkan adalah guru yang profesional (2005). Keprofesionalan guru ditandai dengan pemilihan metode yang tepat, artinya metode yang sesuai dengan karakteristik siswa (Waradita, 2003: 29). Terkait dengan pentingnya upaya kreatif seorang guru, penulis mencoba memilih sebuah model pembelajaran kontekstual yakni strategi “peta pikiran”. Pembelajaran kontekstual dengan strategi “peta pikiran” ini sumber belajarnya dititikberatkan pada pengalaman anak didik. Mengapa pengalaman anak didik dijadikan sebagai sumber belajar? Hal ini sesuai dengan filosofi pendekatan kontekstual bahwa siswa mampu menyerap dan menangkap makna pelajaran apabila mereka mampu mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya (Johnson,2007:14). Dalam hal belajar, seorang filosof Cina yakni Konfusius mengatakan “apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat, dan apa yang saya lakukan saya paham”. Oleh karena itu, pembelajaran akan efektif jika mendekatkan diri siswa pada kehidupan yang nyata. Sesuai dengan isyarat pendekatan kontekstual tersebut, pembelajaran menulis puisi sangat cocok memanfaatkan teknik “peta pikiran”. Hal ini, karena di satu sisi, pembelajaran dengan strategi “peta pikiran” mengedepankan pembelajaran berbasis siswa dan mengarah pada produktivitas pencapaian. Di sisi lain pembelajran dengan teknik “peta pikiran” ini mengajak siswa untuk mendeskripsikan apa yang pernah dilihat, dialami,

dan dipikirkan dalam wujud kata-kata menarik. Oleh karena itu, pembelajaran yang bermakna dan mengesankan akan sulit untuk dilupakan. Dalam hal inilah, menurut Sandy Macgregor (1999:120) pentingnya memanfaatkan “jangkar emosi” siswa dalam sebuah pembelajaran. Menurut Bakdi Sumanto (2005:77) menulis puisi harus mempertimbangkan sentuhannya. Sentuhan itu disajikan lewat irama dan diksi. Untuk itulah, maka pengalaman pribadi yang mengesankan membuat hati tersentuh. Untuk dapat menulis puisi dengan daya sentuh semacam itu, menurut Bakdi Sumanto, penting memperhatikan dan merenungi pengalamanpengalaman yang tentunya menyentuh hati nurani para siswa. Dengan paradigma ini, penulis mempunyai pemikiran bahwa membelajarkan menulis puisi perlu memperhatikan teknik, metode, dan atau strategi yang dekat dengan proses peyentuhan seperti apa yang dikatakan oleh Bakdi Sumanto tersebut. Model pembelajaran kontekstual dengan strategi “peta pikiran” tentunya sangat cocok untuk dijadikan salah satu strategi dalam pembelajaran menulis puisi.

B. PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Akhir-akhir ini salah satu topik yang hangat dibicarakan dalam dunia pendidikan adanya pembelajaran dan pengajaran kontekstual (contextual teaching and learning) yang terkenal dengan sebutan CTL. Pembelajaran kontekstual merupakan pusat pembelajaran guru dan murid untuk menggunakan pembelajaran kooperatif. Muara pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah keber maknaan materi pembelajaran bagi anak didik. Karena siswa sebagai pembelajar berdiri di atas bumi, dengan situasi dan kondisi yang melingkupinya. Menurut Ardiana (2001) pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran dengan konsep membantu guru dalam menghubungkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata dan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannnya dengan kehidupan sehari-hari sebagai ang gota keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, pantaslah jika CTL

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 73

menawarkan jalan menunju keunggulan akademis yang dapat diikuti oleh semua siswa, karena CTL memadukan konsep dengan praktik (Johnson, 2007:32). Pendekatan kontekstual sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru, tetapi John Dewey sudah mengemukakan pendekatan kontekstual tersebut sejak awal abad 20. Apa yang ditawarkan oleh Dewey tersebut dilanjutkan oleh Katz (1918) dan Howey & Zipher (1989). Mereka bersepakat bahwa program pembelajaran bukanlah sekedar deretan satuan pelajaran (Kasihani dan Astini, 2001: 46). Menurut Johnson, (2007:21-23) pembelajaran kontekstual menyarankan beberapa strategi yang harus di tempuh yakni, (1) pengajaran berbasis problem, (2) menggunakan konteks yang beragam, (3) mempertimbangkan kebhinekaan siswa, (4) memberdayakan siswa untuk bekajar mandiri (5) belajar melalui kolaborasi, (6) menggunakan penilaian autentik, dan (7) mengejar standar tinggi. Pertama, pengajaran berbasis problem. Dengan memuculkan problem yang dihadapi bersama, siswa ditantang untuk berpikir kritis untuk memecahkannya. Problem seperti ini membawa makna personal dan sosial bagi siswa. Kedua, menggunakan konteks yang beragam. Makna itu ada di mana-mana dalam konteks fiksikal dan sosial. Selama ini ada yang keliru, menganggap bahwa makna (pengetahuan) adalah yang tersaji dalam meteri ajar atau buku teks saja. Dalam CTL, guru membermakanakn pusparagam konteks (sekolah, keluarga, masyarakat, tempat kerja, dan sebagainya), sehingga makna (pengetahuan) yang diperoleh siswa menjadi semakin berkualitas. Ketiga, mempertimbangkan kebhinekaan siswa. Dalam konteks Indonesia, kebhinekaan baru sekedar pengakuan politik yang tidak bermakna edukif. Dalam CTL, guru mengayomi individu dan meyakini bahwa perbedaan individual dan sosial seyogianya dibermaknakan menjadi mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan membangun toleransi demi terwujudnya keterampilan interpersonal.

Keempat, memberdayakan siswa untuk belajar sendiri. Setiap manusia mesti menjadi pembelajaran aktif sepanjag hayat. Jadi, pendidkan formal merupakn kawah candradimuka bagi siswa untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri di kemudian hari. Untuk itu, mereka mesti dilatih berpikir kritis dan kreatif dalammencari dan menganlisisinformasi dengan sedikit batuan atau malah secara mandiri. Kelima, belajar melalui kolaborasi. Siswa seyogianya dibiasakan saling belajar dari dan dalam kelompok untuk berbagi pengetahuan dan menentukan fokus belajar. Dalam setiap kolaborasi sealu ada siswa yang menonjol dibandingkan dengan koleganya. Siswa ini dapat dijadikan fasilitator dalam kelompoknya. Apabila komunitas belajar sudah terbina sedemikian rupa di sekolah, guru tentu akan lebih berperan sebagai pelatih, fasilitator, dan mentor Keenam, menggunakn penilaian autentik. Mengapa demikian?. Karena kontekstual hampir berarti individual, yani mengakui adanya kekhasan sekaligus keluasan dalam pembelajaran, materi ajar, dan prestasi yang dicapai siswa. Materi bahasa yang auntetik meliputi koran, menu, program radio dan televisi, website, dan sebagainya. Penilaian autentik menunujukan bahwabelajar telah berlangsung secara terpadu dan kontekstual, dan memberi kesempatan kepada siswauntuk maju terus sesuai potensi yang dimilikinya, Ketujuh, mengejar standar tinggi. Standar unggul sering dipersepsi sebagai jaminan untuk mendapat pekerjaan, atau minimal membuat siswa menjadi pede untuk menentukan pilihan masa depan. Frasa “standar unggul” seyogianya terus-menerus dibisikan pada telinga siswa untuk mengingatak agar menjadi manusia kompetitif pada abad persaingan sekarang ini. Dengan demikain, sekolah seyogianya menentukan kompetensi lulusan yang dari waktu ke waktu terus ditingkatkan. Setiap sekolahnya seyogianya melakukan benchmarking (uji mutu) dengan melakukan studi banding ke berbagai sekolah dalam dan luar negeri.

74 Nining Dwiastutik, Pembelajaran Menulis Puisi dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Teknik Peta Pikiran

C. PENTINGNYA KREATIVITAS DALAM PEMBELAJARAN

D. HAKIKAT PEMBELAJARAN MENULIS PUISI

Dalam sebuah pembelajaran, guru adalah sosok yang mempunyai peran penting dalam mengorkestra ruang kelas. Oleh karena itu, guru dituntut aktif, kreatif, dan inovatif. Hal ini dapat dilihat pada berbagai macam buku yang terkait dengan pembelajaran seperti Course Design karya Fraida Dubbin and Elite Olshtain (1986), Task for Indefendent Language Learning karya David Gardener and Lindsay Miller (1996), Accelerated Learning karya Colin Rose and Malkolm J. Nicholl (1997), Metode Mengajar Writing Berbasis Genre Secara Efektif karya Pardiyono (2007), Strategi Pembelajaran Aktif karya Hisyam Zaini (2007). Menyimak beberapa buku di atas, guru dituntut untuk menciptakan ruang pembelajaran yang kondusif untuk pembelajaran. Dengan demikian penciptaan situasi dan kondisi seperti yang diisyaratkan oleh PAIKEM merupakan tang gung jawab gur u sepenuhnya. Meski paradigma baru menganjurkan pembelajaran berpusat pada siswa, bukan berarti guru cukup mengawasi kegiatan siswa, tetapi juga harus aktif, kreatif dan inovatif memandu jalannya proses pembelajaran. Untuk itulah, dalam menciptakan pembelajaran yang menarik, menyenagkan, berkesan, dan bermakna guru dapat memilih dan menciptakan sebuah pendekatan, metode, teknik, strategi, dan atau media pembelajaran. Dalam buku Kenapa Guru Harus Kreatif, Andi Yudha Asfandiyar menyatakan bahwa kalau guru tidak tidak kreatif akan ketinggalan zaman (2008:31). Terkait dengan guru harus kreatif, ia mencirikan guru kreatif itu hendaknya fleksibel, optimis, cekatan, humoris, inspiratif, responsif, empatik, dan ngefriend (2008:3136). Sesuai dengan pendapat Asfandiyar, Mulyasa menyatakan bahwa peran guru dalam pembelajaran meliputi guru sebagai model, teladan, motivator, inovator, dan kreator (2005: 37-51). Oleh karena itu, pembelajaran menulis puisi agar menjadi pembelajaran yang bermakna sangat membutuhkan kreativitas guru dalam memlih dan atau menciptakan sebuah strategi pembelajaran.

Puisi merupakan salah satu jenis karya sastra. Bila dibandingkan dengan jenis karya sastra yang lain (prosa dan drama) puisi merupakan jenis karya sastra yang paling tua. Bagi masyarakat kita, puisi merupakan jenis karya sastra yang telah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Berbicara tentang kaitan puisi dengan masyarakat pembacanya, Suminto M. Sayuti (1985: 5) menyatakan bahwa karya sastra (baca: puisi) mengandung sifat evokatif dan sugestif. Karya sastra yang evokatif adalah karya sastra yang mampu menggugah pembacanya untuk menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Sedangkan karya sastra yang sugestif adalah karya sastra yang mampu menyugesti pembacanya. Dalam membicarakan hakikat puisi hal yang tidak dapat diabaikan adalah pengertian puisi itu sendiri. Untuk mendefinisikan sebuah puisi tidaklah mudah, namun jika dilihat dari wujudnya untuk membedakan puisi dengan jenis sastra yang lain adalah bentuknya yang berbeda. Puisi biasanya ditulis berlarik-larik, dan berbait-bait berjajar ke bawah. Ciri-ciri puisi yang menonjol lainnya adalah segi tematiknya. Teksteks puisi biasanya berupa teks-teks monolog yang berisi ungkapan si aku lirik mengenai diri dan kehidupanya diri dengan alam dan manusia lainnya, atau diri dengan tuhannya. Puisi berisi pengalaman jiwa. Puisi merupakan sebuah ekspresi yang mampu membangkitkan perasaan merangsang imajinasi pancaindera (Pradopo, 2002:7) Menurut Zaimar puisi merupakan salah satu karya sastra yang memberikan imaji dalam memperkaya bahasa (2008:25). Jika menelusuri hakikat puisi secara mendalam, ternyata puisi mengandung berbagai macam pengertian. Puisi adalah seni penyususnan larik untuk menciptakan sajak (Zaimar, 2008:25). Menurut H. B. Yassin puisi adalah pengucaaapan dengan perasaan sedangkan prosa pengucapan dengan pikiran (1980:114). Menurut Samuel Johnson puisi adalah seni pemaduan kegairahan dengan kebenaran, dengan meng gunakan

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 75

imajinasi sebagai pembantu akan pikiran. William Wordsworth puisi adalah luapan spontan dari perasaan yang penuh daya, memperoleh rasanya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembalu dalam kedamain (dalam Tjahjono, 1988: 49). Puisi adalah karya sastra yang terdiri atas beberapa baris, dan baris-baris itu menunjukkan pertalian makna serta membentuk sebuah bait atau lebih (Effendi, 1973: 16). Secara garis besar, pembelajaran sastra (termasuk puisi) meliputi pembelajaran reseptif dan produktif. Pembelajaran reseptif tertumpu pada pembacaan, penikmatan dan pemahaman karya sastra, sedangkan pembelajaran produktif terfokus pada berkarya. Menurut Endraswara pembelajaran sastra meliputi menggemari, menikmati, mereaksi dan memproduksi (2005:79). Pada tahap terakhir itulah nampaknya pembelajaran sastra sudah sampai pada puncaknya, karena siwa tidak sekedar diajak memahami dan memahami karya sastra, tetapi siswa sudah sampai pada taraf menghasilkan karya sastra. Menurut Burton (dalam Ahmadi, 1990:108) pembelajaran puisi merupakan sentral pembelajaran sastra, hal ini karena (1) puisi dapat memberikan kenyamana yang mendalam, dan (2) puisi memperluas, memperdalam, dan membeningkan kepekaan emosi. Dalam menggairahkan siswa menggumuli puisi, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yakni (1) pengajaran harus mencelupkan (immersion) anak didik ke dalam puisi, (2) memberi kesempatan kepada anak didik untuk secara aktik menyimak dan membaca puisi, dan (3) menulis puisi dengan meniru puisi yang ada (Ghazali, 1999: 12). Menurut Bakdi Sumanto ada empat tahap proses kreatif dalam penulisan sastra yakni (1) persiapan, (2) inkubasi, (3) iluminasi, dan (4) verivikasi (2005:79). Tahap persiapan adalah tahap mencari bahan atau sumber tuisan. Tahap inkubasi merupakan tahap pengendapan. Dalam tahap ini bahan yang telah didapatkan diendapkan melalui sebuah perenungan dan pemikiran. Dalam proses perenungan itu akhirnya sampai tahap perwujudan yang dinamakan tahan iluminasi. Dan pada akhirnya karya tulis tersebut perlu dievaluasi melalui proses editing yang dinamakan

tahap verivikasi. Sedangkan menurut Sutejo dan Kasnadi (2008: 50) menulis puisi menyangkut hal-hal berikut: (1) pencarian ide, (2) pemilihan tema, (3) pemilihan aliran (4) penentuan jenis puisi, (5) pemilihan bunyi, (6) pemilihan diksi, (7) pembuatan larik yang menarik, (8) pemilihan pengucapan, (9) pemilihan gaya bahasa, (10) pembaitan yang menarik, (11) pemilihan tipografi, (12) pemuatan aspek psikologis, (13) pemuatan aspek sosiologis, (14) pemuatan pesan, (15) penenentuan tone dan feeling, dan (16) pemilihan judul yang menarik. Dalam upaya menggairahkan anak didik menggauli puisi, guru harus mampu membawa anak didik dalam kondisi yang menyenagkan. Oleh sebab itu, salah satu yang harus diupayakan guru adalah menentukan pendekatan dan menciptakan teknik serta strategi pembelajaran yang tepat baik dengan karakteristik siswa maupun dengan materi pembelajaran. Untuk itulah dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana menulis puisi melalui pendekatan kontekstual dengan strategi pembelajaran “peta pikiran” atau dengan istilah lain “pasang kata”.

E. DESAIN PEMBELAJARAN MENULIS PUISI MELALUI TEKNIK “PETA PIKIRAN” “Peta pikiran” merupakan sebuah kreativitas yang ditunjukkan oleh Tony Busan dalam bukunya Sepuluh Cara Jadi Orang Jenius Kreatif (2002). “Peta pikiran” merupakan gambar yang menjunjukan sebuah pemikiran seseorang. Dalam hal ini, yang dimaksud “peta pikiran” adalah gambar yang menunjukkan pemikiran sesorang yang diwujudkan dalam bentuk kata-kata. Dari pemikiran Tony Busan itulah penulis ingin mengadopsi kreativitas model “peta pikiran” ala Tony Busan itu ke dalam pembelajaran menulis puisi. Mengapa strategi “peta pikiran”? Setiap orang sebenarnya secara alamiah, secara tidak langsung telah memiliki peta pikiran ini. Ketika kita mengidentifikasi masalah, mengelompokkan, menganalisis, mensinergikannya; hakikatnya merupakan pola kerja dari peta pikiran (MindMap). Begitu juga, bagaimana misalnya kita

76 Nining Dwiastutik, Pembelajaran Menulis Puisi dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Teknik Peta Pikiran

mendata apa saja yang kita pikirkan dan kita butuhkan ke dalam deret pikiran dan kebutuhan itu hakikatnya merupakan peta pikiran (MindMap). Di samping itu, secara eksperimen, salah satu problem dalam dunia pembelajaran (termasuk sastra) adalah minusnya kreativitas guru dalam menciptakan suasana atau iklim pembelajaran yang menarik. Untuk itu strategi “peta pikiran” merupakan alternatif sebuah wujud kreativitas guru dalam upaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan menarik. Secara rinci “peta pikiran” (Mind-Map), oleh Tony Buzan dikemukakannya sebagai berikut: 1. Awali di tengah-tengah sebuah kertas kosong dengan sisi terpanjangnya diletakkan mendatar. Mengapa? Untuk memberi kebebasan kepada Anda bergerak dan memencar kepada otak Anda. 2. Pilih sebuah gambar sebagai gagasan sentral. Mengapa? Karena sebuah gambar mengandung ribuan kata untuk daya kreatif Anda, yang memberi fokus perhatian sekaligus menyenangkan bagi mata Anda. 3. Gunakan warna selama proses ini. Mengapa? Karena warna dapat merangsang Berpikir Kreatif, membantu Anda memilah-milah areanya, merangsang pusat-pusat warna pada otak dan menangkap perhatian serta minat kita (Ini mengingatkan kita pada aneka kecerdasan yang dikenalkan Gardner tentang kecerdasan majemuk). 4. Hubungkan cabang-cabang utama dengan gambar sentral dan hubungkan sanak cabang kedua dan ketiga dengan anak cabang pertama dan kesua, dan seterusnya. Mengapa? Karena otak Anda bekerja berdasarkan asosiasi dan jika cabang-cabang saling berkaitan di halaman kertas, maka setiap gagasan akan saling berkaitan di kepala kita dan menyalakan lenih banyak kreatif. Kaitan ini juga menciptakan dan memelihara struktur dasar, sama seperti tulang, otot dan jaringan ikat Anda saling mengait dan membangun tubuh. 5. Buatlah cabang yang melengkung, bukan garis lurus. Mengapa? Karena peta pikiran

6.

7.

kreativitas dengan garis-garis lurus akan membosankan mata Anda. Otak kita jauh lebih tertarik pada garis lengkung seperti yang kita temukan di alam. Gunakan satu kata untuk setiap cabang. Mengapa? Karena setiap kata atau gambar tunggal akan menghasilkan banyak pikiran kreatif. Ketika kita menggunakan katakata tunggal, masing-masing kata akan lebih mampu menyalakan pikiran-pikiran baru. Kalimat atau ungkapan cenderung menghambat efek picu ini. Gunakan gambar di seluruh proses tersebut. Mengapa? Karena gambar dan simbol mudah diingat dan merangsang asosiasiasosiasi baru dan kreatif Anda.

Dari langkah-langkah “peta pikiran” (MindMap) yang diketegahkan Tony Busan di atas, penulis mencoba untuk mengadopsi dalam pola pikir yang lebih sederhana untuk dijadikan sebuah alternatif pembelajaran menulis puisi. Oleh karena itu, wujud adopsi yang dirancang oleh penulis menjadi sebuah strategi untuk membelajarkan menulis puisi, seperti di bawah ini. 1. Guru memberikan penjelasan singkat tentang pembelajaran menggunakan peta pikiran 2. Guru menjelaskan karakteristik kartu peta pikiran dan cara kerjanya 3. Menjelaskan persyaratan penting yang diperlukan dalam permainan penggunaan kartu peta pikiran 4. Membagikan kartu peta pikiran yang masih kosong kepada masing-masing siswa (kelompok) 5. Guru memerintahkan untuk membuat peta pikiran yang berpusat pada satu kata pada bagian tengah selembar kertas kosong 6. Siswa membuat pasangan kata yang unik dengan bebas pada kata yang telah dipilihnya menjadi pusat peta pikiran 7. Siswa mengidentifikasi kata-kata pada peta pikiran dan cabang-cabangnya yang ditulisnya 8. Secara kelompok atau perorangan mempresentasikan hasil peta pikiran dengan kartu peta pikiran di kelas

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 77

9. 10.

11.

12. 13. 14. 15. 16. 17.

Siswa yang lain (kelompok lain) mengkritisi secara analisis dan argumentatif dari hasil presentasi temannya Guru merefleksikan hasil kegiatan pembelajaran hari itu dengan memberikan tindakan kepada para siswa yang dinilai belum berhasil membuat peta pikiran Guru memberikan penghargaan berupa perayaan kepada siswa yang dinilai telah mampu membuat peta pikiran secara menarik berdasarkan isi apa yang sedang dipikirkannya Guru memerintahkan untuk menuliskan larik-larik puisi dengan memanfaatkan pasangan kata yang tercipta. Guru memerintahkan siswa untuk menata larik-larik menjadi bait-bait menarik sebuah puisi. Guru mempersilakan untuk mengembangkan menjadi sebuah puisi yang utuh. Siswa menyimpan puisi yang telah diciptakannya berdasarkan kata-kata yang terdapat pada peta pikirannya Siswa merenungkan puisi yang telah tersimpan dalam jangka waktu tertentu Siswa memperbaiki puisi yang telah diciptakannya (jika kurang baik) untuk dipublikasikan

G. CONTOH PUISI DARI HASIL PETA PIKIRAN DI ATAS

1. Kontradiksi Jiwa terombang-ambing Laksana batu apung Di tengah gelora Tak berguna Batu akik hitam bertuah keras kepala Marmer pualam indah bagi orang kaya lambang kejayaan Bidadari di kayangan Malaikat di surga Tuhan yang mahakuasa Tak menilai semuanya Tak penting adanya

2. Batu Akik Batu akik Dijajakan di sepanjang jalan Menuju surga wisata gua Dukun penjaja akik bertuah

F. CONTOH MODEL “PETA PIKIRAN” ringan

terombang-ambing legam

jiwa siapa jimat

dukun

keras jiwa

hati

kepala

dollar

duga

apung

bertuah

BATU

kali

marmer

mahal

orang kaya

bagus

hitam akik

pacitan

gua

giok, akik pualam

indah

unik

surga

mengkilap

malaikat bidadari tuhan cukai

tulungagung rokok kanker

gunung

pertanian impotensi

78 Nining Dwiastutik, Pembelajaran Menulis Puisi dengan Pendekatan Kontekstual Melalui Teknik Peta Pikiran

Menawarkan jimat mujarab Bagi mereka yang berambisi Semahal apa pun pasti terbeli Dengan segala ambisi Jimat

3. Indah Jiwa Pualam, onik, marmer Mahal semahal dolar Namun keindahannya Bukan kendala bagi mereka si kaya Kilap indahnya Jadi surga Indonesia Karena semua milik kita Tulungagung kota tempatnya

H. KESIMPULAN Salah satu pendekatan untuk membelajarkan menulis puisi adalah pendekatan kontekstual. Pendekatan itu mengandalkan lingkungan para peserta didik sebagai bahan pembelajaran. Peserta didik diajak untuk mengedepankan pengalaman belajar yang dialaminya. Dengan demikian diharapkan materi pembelajaran akan terkesan dan mematri dalam diri siswa. Apalagi jika pembelajaran dengan pendekatan kontekstual itu dipadu dengan teknik “peta pikiran”. Teknik “peta pikiran” itu mengajak para siswa untuk menuangkan kebebasan berpikir yang diwujudkan dalam pemilihan sebuah kata yang berkesan dalam pengalaman hidupnya. Kata yang menjadi pilihan siswa dijadikan sebagai titik pusat pijakan berpikir. Pembelajaran dengan teknik “peta pikiran” ini mengajak siswa untuk mendeskripsikan apa yang pernah dilihat, dialami, dan dipikirkan dalam wujud kata-kata menarik. Kata pertama yang dipilih oleh siswa dikembangkan dengan menciptakan sebuah kata baru yang relevan dengan kata itu, sehingga terdeskripsi sekian banyak kata yang dihasilkan para siswa. Kata-kata yang diciptakan para siswa itu akan menjadi modal dasar dalam penulisan puisi. Oleh karena itu, dengan paparan kata-kata yang telah dicptakannya, akan lebih memudahkan mereka memproduksi puisi.

DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Mukhsin. 1990. Strategi Belajar Mengajar Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh. Ardiana, Leo Idra. 2001. “Pembelajaran Kontekstual”. Makalah. Disajikan dalam Pelatihan Calon Pelatih Guru SLTP, di Surabaya. Asfandiyar, Andi Yuda. 2009. Kenapa Guru harus Kreatif ?. Bandung: Penerbit Mizan Pustaka. Busan, Tony. 2002. Sepuluh Cara Jadi Orang Jenius Kreatif. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Effendi, S. 1973. Bimbingan Apresiasi Puisi. EndeFlores: Nusa Indah. Endraswara, Suwardi. 2005. Metode dan Teori Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Buana Pustaka. Ghazali, Syukur. 1999. “Metode Mengajar Sastra dengan Strategi Belajar Kooperatif ”, Makalah seminar di Jakar ta, 18-20 Oktober. Johnson, Elaine B. 2007. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan Kegiatan Belajar-Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna (diterjemahkan oleh Ibnu Setiawan). Bandung: MLC. Kasali, Rhenald. 2005. Change!. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Kasihani dan Astini. 2001. “Contekstual Teaching and Learning”. Makalah. Disajikan dalam Pelatihan Pelatih Guru SLTP, di Surabaya. Macgregor, Sandy. 2007. Student Steps to Success: 7 Langkah Menuju Sukses (diterjemahkan oleh Ibnu Setiawan). Jakarta: Penerbit Hikmah. Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pemebelajaran Kreatif dan Menyenagkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitu Press. Rusjana Yus. 1984. Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung: Penerbit CN Diponegoro. Sumanto, Bakdi. 2005. Bagaimana Menulis Kreatif Sebuah Materi Disusun dengan

JURNAL BAHASA DAN SASTRA, Vol. 1 No. 1 Januari-Juni 2014 79

Perspektif Masa Kini” dalam Menuju Budaya Menulis, Suatu Bunga Rampai. Yogyakarta: Tiara Wacana. Sutejo dan Kasnadi. 2008. Menulis Kreatif: Kiat Cepat Menulis Puisi dan Cerpen. Yogyakarta: Nadi Pustaka. Tjahjono, Liberatus Tengsoe. 1988. Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi. EndeFlores: Nusa Indah. Waradita, Ratu. 2003. “Pengajaran Apresiasi Puisi di SMU” Jurnal Forum Pendidikan. Edisi September. Yassin, H. B. 1980. Angkatan 66 Prosa dan Puisi I. Jakarta: Gunung Agung. Zaimar, K. S. 2008. Semiotik dan Penerapannya dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Zaini, Hisyam. 2007. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Center for Teaching Staff Development IAIN Sunan Kalijaga.