JURNAL KEPERAWATAN

Tanjungpinang Tahun 2016 ... Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Tanjungpinang ... biologis, mental maupun sosial ekonomi ( Azizah,...

1 downloads 145 Views 1MB Size
Volume 5, Nomor 2, Tahun 2015

ISSN : 2086-9703

JURNAL KEPERAWATAN • Pengaruh Senam Lansia Dengan Kualitas Hidup Di Lembaga Kesejahteraan Lansia Anugerah • • • • • • •

Tanjungpinang Tahun 2016 Pengaruh Jus Kurma Terhadap Peningkatan Kadar Rombosit Pada Pasien Dbd Di Rsud Kota Tanjungpinang Faktor–faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Murid Kelas III, IV dan V Dalam Perawatan Gigi di SD Negeri 010 Kecamatan Tanjungpinang Barat Tahun 2016. Motivasi Belajar Dan Status Gizi Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar 006 Kampung Bugis Pengaruh Pijat Oksitosin Dan Perawatan Payudara Terhadap Pengeluaran Asi Pada Primigravida Trimester III Di RB Murni Pengaruh Terapi Bermain Dengan Teknik Bercerita Terhadap Perubahan Interaksi Sosial Anak Prasekolah (3-5 Tahun) Yang Dihospitalisasi Diruang Anak RSUD Bintan Tahun 2016 Pengaruh Terapi Senam Otak Terhadap Penurunan Tingkat Stres Pada Siswa/I Kelas XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang Dalam Persiapan Mengikuti Ujian Nasional Tahun 2016 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Siswa Kelas I dan II Sdn 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang Tanjungpinang

Penerbit: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Tanjungpinang Kepulauan Riau, Indonesia

JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG VOLUME 5 NOMOR 2 TAHUN 2015

PENELITIAN Pengaruh Senam Lansia Dengan Kualitas Hidup Di Lembaga Kesejahteraan Lansia Anugerah Tanjungpinang Tahun 2016

HAL 656-664

(Rian Yuliyana, Soni Hendra Sitindion)

Pengaruh Jus Kurma Terhadap Peningkatan Kadar Rombosit Pada Pasien Dbd Di Rsud Kota Tanjungpinang

665-672

(Rianti Anita Aritonang)

Faktor–faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Murid Kelas III, IV dan V Dalam Perawatan Gigi di SD Negeri 010 Kecamatan Tanjungpinang Barat Tahun 2016.

673-685

(Yulia Yasman)

Motivasi Belajar Dan Status Gizi Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar 006 Kampung Bugis

686-701

(Hotmaria Julia Dolok Saribu)

Pengaruh Pijat Oksitosin Dan Perawatan Payudara Terhadap Pengeluaran Asi Pada Primigravida Trimester III Di RB Murni

702-716

(Hotmaria Julia Dolok Saribu1, Wasis Pujiati)

Pengaruh Terapi Bermain Dengan Teknik Bercerita Terhadap Perubahan Interaksi Sosial Anak Prasekolah (3-5 Tahun) Yang Dihospitalisasi Diruang Anak RSUD Bintan Tahun 2016

717-728

(Deasy Dondaria L.G)

Pengaruh Terapi Senam Otak Terhadap Penurunan Tingkat Stres Pada Siswa/I Kelas XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang Dalam Persiapan Mengikuti Ujian Nasional Tahun 2016

729-739

(Retno Setiowati)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Siswa Kelas I dan II Sdn 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang Tanjungpinang (Ernawati, Lili Sartika)

740-757

JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG Terbit dua kali setahun pada bulan Januari dan Juli Penanggung Jawab : Heri Priatna Penasehat : Nur meity Sulistia Ayu Penyunting : Ketua : Ernawati Sekretaris : Rian Yuliana Bendahara : Ria Muazizah Penyunting Pelaksana : Wasis Pujiati Liza Wati Yusnaini Siagian Hotmaria Julia Dolok Pasaribu Linda Widiastuti Pelaksana Tata Usaha: Siti Halimah Cian Ibnu Sina Ummu Fadhilah Distribusi dan Pemasaran : Agus Bahtiar Ade Pardi Anas Fajri

Alamat Redaksi: STIKES Hang Tuah Tanjungpinang Jl. Baru Km.8 atas Tanjungpinang 29122 Kepulauan Riau - Telp / Fax. (0771) 8038388

PRAKATA Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Tanjungpinang berfungsi untuk memfasilitasi para penulis ilmiah keperawatan dan non keperawatan menghasilkan karya-karya terbaiknya melalui penulisan karya ilmiah untuk menambah pengetahuan dan wawasan keperawatan. Bertolak dari pandangan diatas maka Stikes Hang Tuah Tanjungpinang merasa perlu memberikan wadah bagi para dosen/peneliti dalam bidang keperawatan baik dari Stikes Hang Tuah Tanjungpinang maupun dari luar untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya. Diharapkan Jurnal Keperawatan yang diterbitkan oleh Stikes Hang Tuah ini mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang keperawatan dan menambah motivasi bagi para dosen-dosen yang lain agar melakukan penelitian. Pembaca yang budiman, semoga jurnal ini dapat menambah wawasan pengetahuan bagi pembaca. Kami mohon maaf bila ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisan jurnal. Oleh karena itu tak lupa kami mohon saran dan kritik demi kelancaran penerbitan edisi jurnal keperawatan berikutnya.

Tanjungpinang, Juli 2015 Stikes Hang Tuah Tanjungpinang

Dr. Heri Priatna, SStFT, SKM, S.Sos, MM

PENGARUH SENAM LANSIA DENGAN KUALITAS HIDUP DI LEMBAGA KESEJAHTERAAN LANSIA ANUGERAH TANJUNGPINANG TAHUN 2016 Rian Yuliyana1, Soni Hendra Sitindion2

ABSTRAK Peningkatan populasi lansia tersebut berisiko terjadinya beberapa masalah kesehatan, baik masalah fisik, mental, sosial, dan timbulnya berbagai penyakit degenerative. Proses menua tetap menimbulkan permasalahan baik secara fisik, biologis, mental maupun sosial ekonomi ( Azizah, 2011). Disinilah pentingnya adanya panti werdha. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh senam lansia terhadap kualitas hidup lansia di lembaga kesejahteraan lansia anugerah.. penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain Quasi Eksperimen dengan Pretest and Posttest without Control Group, pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan simple Sampling pada 10 responden dari 27 populasi lansia yang ada di lembaga kesejahteraan lansia dan di analisis dengan uji independent sample T test. Uji statistik independent sample T test T test diperoleh hasil nilai ρ value 0,014 ρ < α 0,05 maka Ha diterima dan dapat di artikan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara snam lansia terhadap kualitas hidup lansia di lembaga kesejahteraan sosial lansia Anugerah. Direkomendasikan untuk lansia agar secara runtin melaksanaan senam lansia minamal sekali seminggu untuk meningkatkan kualitas hidup. Kata Kunci : senam lansia, kualitas hidup lansia

PENDAHULUAN Peningkatan kesejahteraan sosial yang

Adanya peningkatan populasi lansia setiap tahunnya di seluruh dunia (Padila, 2013).

bertujuan pada peningkatan kualitas hidup

Peningkatan

populasi

terjadinya

lansia

individu dan masyarakat, termasuk kelompok

berisiko

lanjut usia (lansia) merupakan salah satu

kesehatan, baik masalah fisik, mental, sosial,

sasaran dalam pembangunan di indonesia.

dan timbulnya berbagai penyakit degenerative

Menurut Notoatmodjo (2007) mengemukakan

(Wahjudi, 2009). Masalah kesehatan ini akan

lansia adalah tahap akhir siklus kehidupan.

membebani perekonomian baik pada lanjut usia

Lansia adalah kelompok orang yang sedang

maupun pada pemerintah karena masing-

mengalami suatu proses perubahan yang

masing

bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade.

memerlukan

penyakit

rehabilitasinya,

656

beberapa

tersebut

tersebut

dana

untuk

sehingga

masalah

cukup

banyak

terapi lansia

dan

dituntut

memeriksa

kesehatan

secara rutin untuk

yang berkecukupan. Hal ini disebabkan oleh

mengetahui lebih awal penyakit yang diderita

faktor perubahan tipe keluarga, perubahan

atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi

peran ibu dan kebutuhan sosialisasi lansia

(Kementrian Kesehatan RI, 2012).

(Hamid, 2006). Akan tetapi, banyak peneliti

Masalah kesehatan yang dihadapi sebagian

sebelumnya mengatakan bahwa kualitas hidup

besar lanjut usia yaitu memiliki kesulitan pada

lanjut usia yang tinggal di panti lebih rendah

upaya mereka untuk mengatasi proses penuaan.

daripada di rumah (Elvinia, 2006).

Proses penuaan merupakan suatu proses alami

Kualitas hidup adalah persepsi individu

yang tidak dapat dicegah dan merupakan hal

mengenai posisi di dalam hidup dalam konteks

yang wajar dialami oleh orang yang diberi

kebudayaan dan sistem-sistem nilai, pada

karunia umur panjang, dimana semua orang

tempat tinggalnya dan berhubungan dengan

berharap akan menjalani hidup dengan tenang,

tujuan, harapan, standar, dan konsentrasi

damai, serta menikmati masa pensiun bersama

mereka (WHO, 2015). Terdapat empat domain

anak dan cucu tercinta dengan penuh kasih

dalam kualitas hidup adalah kesehatan fisik,

sayang (Hamid, 2006). Tidak semua lanjut usia

kesehatan psikologi, hubungan sosial, dan

dapat mengecap kondisi idaman ini. Proses

aspek lingkungan (WHOQOL Group; Jackie

menua tetap menimbulkan permasalahan baik

Brown, 2004). Empat domain kualitas hidup

secara fisik, biologis, mental maupun sosial

diidentifikasi sebagai suatu perilaku, status

ekonomi ( Azizah, 2011). Disinilah pentingnya

keberadaan, kapasitas potensial, dan persepsi

adanya panti werdha.

atau

Panti

werdha

sebagai

tempat

untuk

pengalaman

subjektif

(WHOQOL

Group,1994). Ratna (2008) juga menambahkan

pemeliharaan dan perawatan bagi lansia

jika

mempunyai peran penting untuk menyelesaikan

terpenuhi, akan timbul masalah-masalah dalam

masalah-masalah mereka (Elvinia, 2006). Pada

kehidupan lanjut usia yang akan menurunkan

awalnya

kualitas hidupnya.

intitusi

ini

dimaksudkan

untuk

kebutuhan-kebutuhan

tersebut

tidak

menampung orang lanjut usia yang miskin dan

Saat ini, diseluruh dunia jumlah orang

terlantar untuk diberikan fasilatas yang layak.

lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan

Fenomena saat ini panti juga disini oleh orang

usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada 657

tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar. Di

tahun 2013, jumlah lansia yang dibina sebesar

negara

serikat

41.473 jiwa atau 89% dari seluruh populasi

pertambahan orang lanjut usia diperkirakan

lansia yang jumlahnya mencapai 46.167 jiwa.

1000 orang per hari pada tahun 1995 dan di

Lansia-lansia

tersebar

perkirakan 50% dari penduduk berusia diatas 50

dilembaga

kesejahteraan

tahun (Padila, 2013).

Tanjungpinang.

maju

seperti

Amerika

di

komunitas lansia

dan di

Menurut WHO, di kawasan Asia Tenggara

Hasil studi pendahuluan pada tanggal 28

8% populasi adalah lanjut usia atau sekitar 140

April 2016, lembaga kesejahteraan lansia di

juta jiwa. Pada tahun 2050 diperkirakan usia

Tanjungpinang

harapan hidup di sebagian besar Asia Tenggara

kesejahteraan bahagia Kawal yang jumlah

akan menjadi >75 tahun. Pada tahun 2009

lansianya 40 lansia, lembaga kesejahteraan

penduduk lansia di

Embung Fatimah dengan jumlah lansia 7 lansia

20.547.541

jiwa.

Indonesia berjumlah

yaitu

lembaga

dan lembaga kesejahteraan Anugerah dengan

penduduk lanjut usia di Indonesia pada tahun

jumlah lansia 27 lansia. Dari tiga lembaga

2020 akan mencapai 28,8 juta jiwa atau sekitar

kesejahteraan

11% dari total penduduk Indonesia (Depkes RI,

Tanjungpinang belum mengaktifkan senam

2013).

lansia dalam pelayanan.

sensus

perkirakan

3

jumlah

Hasil

Di

ada

penduduk

2010

menunjukkan bahwa Indonesia termasuk lima

lansia

Berdasarkan

hasil

Anugerah

penelitian

di

yang

besar negara dengan jumlah penduduk lanjut

dilakukan oleh (Rahayu, 2008) didapatkan ada

usia terbanyak di dunia yakni mencapai 18,1

hubungan senam lansia terhadap kualitas hidup.

juta jiwa atau 9,6% dari jumlah penduduk (BPS,

Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan

2013).

oleh

Acree

dan

Longfors

(2006)

yaitu

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan

melakukan pengukuran kualitas hidup dengan

Provinsi Kepulauan Riau tahun 2013, jumlah

SF-36 pada kelompok yang melakukan aktivitas

lansia yang di bina sebesar 59.142 jiwa atau

tinggi dan kelompok yang melakukan aktivitas

94% dari seluruh populasi lansia

yang

rendah, hasilnya kelompok yang melakukan

jumlahnya mencapai 62.862 jiwa. Sedangkan

aktivitas tinggi memliki skor kuesioner lebih

data dari Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang

tinggi dibandingkan dengan kelompok yang 658

melakukan aktivitas rendah. Hal ini dapat

HASIL PENELITIAN

disimpulkan bahwa terjadi peningkatan jumlah

a. Responden berdasarkan jenis kelamin

lansia sehingga diperlukan suatu cara untuk

dan umur

meningkatkan kualitas hidup lansia yaitu

Dari

dengan senam lansia.

hasil

penelitian,

terdapat

data

kategorik dan data numerik. Data kategorik adalah pengaplikasian berupa data, tulisan,

METODE PENELITIAN

kategori. Disajikan dalam bentuk jumlah atau

Lokasi Penelitian ini adalah Lembaga

frekuensi dan persentase (%).

Kesejahteraan

Lansia

Tanjungpinang-Kepulauan

Tabel 5.1

Anugerah Riau.

Karakteristik berdasarkan jenis kelamin

Metode

dan umur

penelitian ini menggunakan desain quasi experiment, rancangan pre and post test without

No

Kualitas hidup

Kualitas hidup

(Sebelum)

(Sesudah)

control group. Populasi seluruh lansia di Anugerah

1

Baik

Sangat baik

sebanyak 27 lansia. Untuk mengantisipasi loss

2

Kurang Baik

Baik

of sample ditambahkan 10% dari total sehingga

3

Baik

Baik

jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah

4

Kurang Baik

Sangat baik

10 lansia.

5

Kurang Baik

Baik

Teknik sampling dengan simple random

6

Baik

Sangat baik

sampling. Lansia yang memenuhi kriteria

7

Baik

Sangat baik

inklusi yaitu responden berumur 55 tahun, tidak

8

Kurang Baik

Baik

memiliki penyakit penyerta (stroke, reumatoid),

9

Baik

Sangat baik

konigtif yang baik (MMSE < 23) dan kriteria

10

Kurang baik

Baik

Lembaga

kesejahteraan

lansia

eksklusi. Analisa data yang digunakan adalah

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 10

distribusi frekuensi dan persentase dari setiap

lansia

variabel yaitu umur lansia, jenis kelamin.

kesejahteraan lansia anugerah, lebih dari

Analisis data menggunakan Uji Independent t-

sebagian 5 (50%) berjenis kelamin perempuan,

test.

sementara lebih dari sebagian juga 4 orang 659

dengan

tinggal

di

Lembaga

(40%) berada kategori usia pertengahan dengan

Berdasarkan perhitungan dengan program

tingkat pendidikan SD sebanyak 7(70%).

perangkat lunak komputer, diperoleh hasil

Mayoritas lansia yang berada di lembaga

analisa bivariat sebagai berikut: Tabel 5.5

kesejahteraan tidak bekerja 9(90%) serta

Analisis kualitas hidup lansia sebelum dan

sebagian lansia belum menikah 6(60%). b. Data kualitas hidup

sesudah perlakuan di lembaga kesejahteraan

sebelum dan

sosial lansia Anugerah Tanjungpinang

sesudah diberikan perlakuan Tabel 5.2 Distribusi kualitas hidup lansia sebelum

Berdasarkan tabel 5.5 di atas. Dari hasil

dan sesudah perlakuan pada lansia di Lembaga

No

Kesejahteran Lansia Anugerah Tahun 2016

Variabel

Mean SD

Min

1

P Value M ax

Kualitas Hidup Sebelum

2 31.11 4.076

22

31

Kualitas Hidup Sesudah

0 36.11 4.410

35

43

,014 3

Dari tabel 5.2 menunjukkan hasil kualitas hidup lansia di lembaga kesejahteraan lansia

Variabel

F

(%)

- Laki-laki

5

50

- Perempuan

5

50

- Usia pertengahan (45-59)

4

40

- Lanjut usia (60-74)

4

40

- Lanjut usia tua (75-90)

2

20

- SD

7

70

- SMP

3

30

- Tidak bekerja

9

90

- Bekerja

1

10

- Belum menikah

6

60

- Menikah

4

40

10

100%

Jenis Kelamin :

Umur :

Pendidikan

Anugerah sebelum di lakukan intervensi senam 4

Pekerjaan

lansia adalah kurang baik 5(50%). Setelah dilakukan intervensi senam sebagian dari lansia kualitas hidupnya adalah sangat baik 5(55.6%) 5.

Status Pernikahan

. 1. Hasil Analisis Bivariat Analisis bivariat dalam penelitian ini Total menggunakan uji independent sample t-test. analisis tersebut menunjukkan bahwa terjadi 660

penurunan nilai rata-rata kualitas hidup di

mengalami masa produktif dan mengalami

Lembaga

Anugerah

penurunan baik masalah fisik, dan psikologi

sebelum perlakuan (pre test) 31.11 dan setelah

(Samlee, 2015). Menurut depkes (2013) lansia

perlakuan (post test) adalah 36.11. Terlihat

merupakan seseorang yang memasuki usia 60

perbedaan nilai kualitas hidup antara responden

tahun.Usia adalah salah satu faktor yang

sebelum dan sesudah dengan uji statistik p value

mempengaruhi kualitas hidup.

sebesar 0,014 sehingga dapat disimpulkan

tingkat pendidikan Sekolah dasar (SD), hal ini

bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadap

sejalan dengan data BPN (2014) dimana

kualitas hidup responden sebelum dan setelah

mayoritas

perlakuan. Hal ini berarti bahwa senam lansia

berpendidikan SD. Pendidikan adalah kualitas

pada lansia dapat meningkatkan kualitas hidup

hidup akan meningkat seiring dengan lebih

lansia

tingginya tingkat pendidikan yang didapatkan

kesejahteraan

di

lembaga

lansia

kesejahteraan

lansia

anugerah.

penduduk

di

Majoritas

Tanjungpinang

oleh individu. Mayoritas lansia yang berada di lembaga

Pembahasan Hasil

kesejahteraan tidak bekerja, data yang didapat

penelitian

bahwa

dari lembaga kesejaheraan anugerah dimana

sebagiann lansia berjenis kelamin perempuan,

lansia-lansia yang tinggal disini merupaka

hal ini sejalan dengan Badan Pusat Statistik

lansia yang terlunta-lunta dan kebanyak dibawa

Kepri (BPS, 2014) didapatkan jumlah lansia

oleh dinas sosial tanjugpinang. Pekerjaan

yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak

mengatakan perbedaan kualitas hidup antara

dari laki-laki yaitu sebanyak 657 per 1000

penduduk yang berstatus sebagai pelajar,

pernduduk. Jenis kelamin menemukan adanya

penduduk yang bekerja, penduduk yang tidak

perbedaan antara kualitas hidup antara laki-laki

bekerja (atau sedang mencari pekerjaan), dan

dan perempuan, dimana kualitas hidup laki-laki

penduduk yang tidak mampu bekerja (atau

cenderung lebih baik daripada kualitas hidup

memiliki disablitas tertentu). Hasil penelitian

perempuan. Sementara lebih dari sebagian juga

juga

berada

Usia

menikah. Status pernikahan mengatakan bahwa

pertengahan merupakan usia yang mulai

terdapat perbedaan kualitas hidup antara

kategori

usia

didapatkan

pertengahan.

661

menemukan

sebagian

lansia

belum

individu yang tidak menikah, individu bercerai

kebudayaannya masih kental, memelihara,

ataupun janda, dan individu yang menikah atau

menjaga dan merawat orang tua adalah suatu

kohabitasi. Penghasilan menemukan adanya

kewajiban.

pengaruh

kesejahteraan

dari

faktor

demografi

penghasilan dengan kualitas hidup

berupa yang

dihayati secara subjektif. Hubungan dengan

Perawatan lansia di lembaga dapat

ditingkatkan

dengan

melakukan berbagai aktivitas untuk mengisi waktu luangnya.

orang lain menemukan adanya pengaruh dari

Aktivitas yang dapat dilakukan secara rutin

faktor demografi berupa faktor jaringan sosial

di lembaga kesejahteraan yaitu senam. Senam

dengan kualitas hidup yang dihayati secara

merupakan

subjektif.

dilakukan, tidak memberatkan yang diterapkan

olahraga

ringan

dan

mudah

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa ada

pada lansia (Poweel,2015). Aktifitas olahraga

perbedaan yang signifikan terhadap kualitas

ini akan membantu tubuh agar tetap bugar dan

hidup responden sebelum dan setelah dilakukan

tetap segar karena melatih tulang tetap kuat,

senam lansia. Kualitas hidup diartikan Sebagai

mendorong jantung bekerja optimal dan

persepsi individu mengenai keberfungsian

membantu menghilangkan radikal bebas yang

mereka di dalam bidang kehidupan (Nofitri,

berkeliaran didalam tubuh. Hasil penelitian

2009). Ada empat aspek dari kualitas hidup

yang dilakukan oleh (Rahayu, 2008) didapatkan

yaitu fisik, psikologik, sosial dan lingkungan.

ada hubungan senam lansia terhadap kualitas

Lingkungan tempat lansia tinggal secara

hidup. Hal ini sesuai dengan penelitian yang

langsung dapat mempengaruhi kualitas hidup.

dilakukan oleh Acree dan Longfors (2006) yaitu

Lembaga kesejahteran lansia merupakan salah

melakukan pengukuran kualitas hidup dengan

satu tempat menampung atau merawat lansia.

SF-36 pada kelompok yang melakukan aktivitas

Lembaga kesejahteran lansia adalah salah satu

tinggi dan kelompok yang melakukan aktivitas

bentuk pemerintah kepada masyarakat yang

rendah, hasilnya kelompok yang melakukan

telah

negara

aktivitas tinggi memliki skor kuesioner lebih

memasukkan lansia di Lembaga kesejahteran

tinggi dibandingkan dengan kelompok yang

lansia merupakan suatu gaya hidup, namun kita

melakukan aktivitas rendah.

sebagai

berusia

orang

lanjut.

timur

Dibanyak

yang

adat

dan 662

KESIMPULAN DAN SARAN

BPS (2013). Data penduduk 2013, didapat dari

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lansia

di

Lembaga

kesejahteraan

lansia

www.BPS.go.id Depkes RI (2013). Masalah kesehatan pada

anugerah sebagian berjenis kelamin perempuan, sementara lebih dari sebagian berada kategori

lansia, didaat dari www.depkesri.go.id. Elviana .(2006). Senam pada lansia. Jakarta :

usia pertengahan dengan tingkat pendidikan

EGC.

Sekolah Dasar. Mayoritas lansia yang berada di

Famitah.(2010). Merawat Manusia Lanjut

lembaga kesejahteraan tidak bekerja serta

Usia.Jakarta: Cv Trans Info Media.

sebagian lansia belum menikah. Ada perbedaan

Ginting (2011). Kualitas hidup masyarasat

yang

signifikan

terhadap

kualitas

hidup

indonesia dalam pendekatan psikologi.

responden sebelum dan setelah dilakukan senam lansia. Hasil penelitian ini diharapkan

Journal ners. Hamid .(2006). Psikologi pada lansia. Jakarta :

dapat meningkatkan kualitas hidup lansia di lembaga

kesejahteraan

sosial

Rineka cipta.

Anugerah.

Jackie, brown (2006). Quality Of Life for

Kualitas hidup lansia dapat meningkat dengan

Geriatric. Journal health reseach: 5(8),

cara melaksanakan senam lansia secara teratur

345-352.

dan berkesimbungan.

Kementrian

DAFTAR PUSTAKA

kesehatan

Acree dan longfros (2006). Domain of Quality of life. Journal health reseach: 5(8), 251-

Arikunto, Suharmi .(2013). Prosedur penelitian: pendekatan

Praktik.

Jakarta:

Indonesia,

didapat

dari

konsep

dan

aplikasi.

Nofitri, Alimul H.(2009). Kualitas hidup penduduk dewasa di jakarta.didapat dari

Azizah, Lilik Ma’rifatul.(2011). Keperawatan lanjut usia. Yogjakarta: Pustaka Pelajar. (2008).

Data

Yogjakarta: Graha ilmu.

Rineka Cipta.

W

(2012).

Mubarak, et al .(2011). Ilmu keperawatan komunitas

Suatu

RI

www.riskesdas.go.id

359.

Bangun,

kesehatan

Intisari

www.repository.usu.ac.id. Notoatmojo, S. (2007). Metodologi penelitian

manajamen.

kesehatan. Jakarta: Pt. Rineka Cipta.

Bandung: PT. Refika Aditama. 663

Padila

(2013).

Buku

Ajar

Keperawatan

gerontik. Yogjakarta: Nusa Medika. Poweel, J.E.(2015).Senam. Jakarta:Gramedia Pustaka Wahyudi, Nugoroho (2009). Gangguan tidur pada

lansia:

diagnosis

dan

perawatan.jakarta: EGC Ratna

(2008).

Mengenal

lansia

dan

perawatanya. Jakarta: Selemba medika Rahayu (2008). Kualitas hidup lansia di posbindu

lansia

pergeri.didapat

di

www.eprintums.ac.id Suroto

(2007).

Buku

penganan

kuliah:

pengertian senam, manfaat senam dan urutan. Jakarta: KOMNAS LANSIA

664

PENGARUH JUS KURMA TERHADAP PENINGKATAN KADAR TROMBOSIT PADA PASIEN DBD DI RSUD KOTA TANJUNGPINANG

Rianti Anita Aritonang, M.Kes

ABSTRAK Demam Berdarah Dengue dapat mengakibatkan penurunan trombosit pada hari ke-3 sampai ke-7 dengan penurunan trombosit hingga kurang dari atau sama dengan 100.000/ul yang dapat menyebabkan perdarahan amnormal atau bahkan kematian. Buah kurma mengandung zat-zat pembentuk sel-sel darah yaitu vitamin B12, Besi, Kobalt, magnesium, Cu,Zn, asam amino, Vitamin C, dan vitamin B komplek. Penelitian ini menganalisa efektifitas pemberian jus kurma dalam meningkatkan trombosit pada pasien demam berdarah dengue di RSUD Kota Tanjungpinang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental invitro dengan rancangan pre test dan post test with control group design, Pengambilan sampel dengan cara random sampling yang berjumlah 30 orang kelompok perlakuan dan 30 orang kelompok kontrol. Analisis yang digunakan dengan uji paired t-test dan t-test 2nd independent. Berdasarkan uji t test 2nd independent terdapat perbedaan kadar trombosit darah antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol selama post 3 hari dengan nilai p = 0.039. Pemberian jus kurma efektif dalam peningkatan kadar trombosit darah pasien demam berdarah dengue di RSUD Kota Tanjungpinang. Kata kunci

: Pemberian jus kurma, Peningkatan trombosit, Demam Berdarah Dengue

ABSTRACT Dengue fever reduced the levels of trombocytes until 100.000/ul on day 3 to day 7 whick caused abnormal bleeding to death. Dates contained substances that formed blood cells such as vitamin B12, Iron, cobalt, magnesium, Cu,Zn, amino acids, vitamin C, and B Complek. This research is to analyze the effectiveness Phoenix Dactylifera Juice to Improve Trombocytes of Dengue Hemorrhagic Fever patients at Public Hospital Kota Tanjungpinang. This research used experimental invitro design with pre and post test design and control group. Random sample, the independent variables: Give Phoenix Dactylifera Juice to Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) patients, dependent variable: Trombocytes of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) patients. The result of t-test 2nd independent, that obtained by the difference of thrombocytes level between treatment group and control group for post 3 days with p=0.039. The details show that the Phoenix Dactylifera Juice to Improve Trombocytes of Dengue Hemorrhagic Fever patients meaningfully. Kata kunci

: Phoenix Dactylifera juice , improve thrombocytes, Dengue hemorrhagic Fever

665

PENDAHULUAN Angka

kejadian

hemokonsentrasi, meningkatnya hematrokit demam

berdarah

sebanyak 20% atau lebih (Deiana, 2007).

dengue di Indonesia cenderung mengalami

Pada

beberapa

kenaikan dan penyebarannyapun semakin

trombositopeni

meluas. Peningkatan jumlah penderita terjadi

menganjurkan

periodik setiap 5 tahun. Semula diperkirakan

peningkatan nutrisi yang adekuat dengan

bahwa penyakit DBD hanya terjadi di daerah

memberikan diet TKTP dan penambahan cairan

perkotaan saja tetapi ternyata juga ditemukan

dan elektrolit yang baik dengan rasional bahwa

dipelosok pedesaan. Kejadian demam berdarah

nutrisi yang baik akan meningkatan pertahanan

dengue di Kota Tanjungpinang sejak bulan

tubuh dalam melawan ketidakseimbangan

Januari sampai dengan Mei 2015 sebanyak 237

metabolisme darah dalam hal ini hemopoesis

warga kota Tanjungpinang yang terjangkit

dan pembentukan sel megakarosit sehingga

DBD.

pembentukan trombosit dapat cepat terjadi Penyakit Demam Berdarah (DBD)

banyak

manajemen

di

sekali

masyarakat

yang dengan

dengan hasil yang benar-benar maturasi.

adalah penyakit yang disebabkan oleh virus

Salah satu pemberiannya ada yang

dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk

menganjurkan dengan jus jambu, fermentasi

Aides aegypti dan Aides albopictus (Fathi &

beras dan juga pemberian jus kurma. Khasiat

Wahyuni, 2005). Tanda dan gejala Penyakit

buah kurma antara lain untuk mempercepat

DBD, demam mendadak 2 sampai 7 hari tanpa

pemulihan kondisi saat sakit demam berdarah

penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah, nyeri

(Djunaedi, 2006). Kurma (phoenix dactylifera)

ulu hati disertai tanda perdarahan dikulit berupa

pohonnya semacam palm yang tumbuh dan

bintik perdarahan, lebam/ruam (Hadinegoro,

berbuah di negeri arab, irak dan sekitarnya.

2001).

Banyak ditemukan di padang pasir (kering) dan Kadang-kadang mimisan, berak darah,

bisa mencapai tinggi 30-35 meter, mulai

muntah darah, kesadaran menurun atau shock.

berbunga setelah umur 6-16 tahun, ada dua

DBD menyebabkan Trombositopenia pada hari

jenis jantan dan betina dengan bentuk bunga

ke-3 sampai ke-7 dan ditemukan penurunan

lebih besar untuk yang berjenis jantan. Buah

trombosit

kurma berbentuk lonjong dengan ukuran 2-7.5

hingga

100.000

/mmHg

dan

666

cm dengan warna yang bermacam-macam

yang terdiri dari 30 orang kelompok perlakuan

antara coklat gelap, kemerahan, kuning muda

dan 30 orang kelompok kontrol. Variabel bebas

dan berbiji. Buah kurma meliki menzat-zat

adalah pemberian jus kurma pada pasien DBD

berikut Gula (campuran glukosa, sukrosa, dan

dan variabel terikat trombosit dalam darah

fruktosa), protein, lemak, serat, vitamin A, B1,

Analisis yang digunakan adalah deskriptif

B2, B12, C, potasium, kalsium, besi, klorin,

dengan uji paired t-test dan t-test 2nd

tembaga, magnesium, sulfur, fosfor, dan

independent

beberapa enzim yang dapat berperan dalam penyembuhan berbagai penyakit (Rahmawan,

HASIL DAN BAHASAN

2006). Penelitian ini bertujuan mengetahui

Tabel 1. Distribusi Kelompok Umur

Pengaruh jus kurma terhadap peningkatan

pada Kelompok Perlakuan (jus kurma) pada

kadar trombosit pada pasien DBD di RSUD

Pasien DBD di RSUD Kota Tanjungpinang.

Kelompok

Jumlah

Prosentase

Umur (th)

(n)

(%)

15-30

26

43,3

Penelitian ini merupakan penelitian

31-45

20

33,3

eksperimental invitro dengan rancangan pre

46-60

14

23,3

test and post test with control group design

Jumlah

60

100

Kota Tanjungpinang.

METODE PENELITIAN

melalui pemeriksaan kadar trombosit darah Pre dan Post hari ke-3 pada kelompok perlakuan

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi

dan kelompok control setelah pemberian jus

responden pada kelompok perlakuan mayoritas

kurma. menilai seberapa besar kenaikan angka

berumur 15- 30 (43,3 %).

trombosit setelah pemberian jus kurma pada Tabel 2. Karakteristik responden

hari ke-3 pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (yang tidak diberikan jus

bedasarkan jenis kelamin pada Pasien DBD di RSUD Kota Tanjungpinang.

kurma) pada pasien DBD di Rumah Sakit Umum Bunda. Pengambilan sampel dengan cara random sampling yang berjumlah 60 orang 667

Kelompok

Jumlah

Prosentase

Umur (th)

(n)

(%)

Hasil uji homogenitas didapatkan data based on mean p(sig) 0.361>0.05, yang memiliki arti bahwa data yang diolah adalah

Laki-laki

22

36,6

data homogen. Uji normalitas didapatkan data based on mean p (sig) 0.861>0.05, yang

perempuan

38

63,4

memiliki arti bahwa data yang diolah adalah data berdistribusi

Jumlah

60

normal.

100

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi responden pada kelompok perlakuan mayoritas berjenis kelamin perempuan (63,4 %).

Table 3. Kadar trombosit darah pre pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada pasien DBD di RSUD Kota Tanjungpinang

Perlakuan Trombosit /Ul

Kontrol

Jumlah

Rata-Rata

10000-70000

12 org

75433.33

70000-100000

100000-200000

Trombosit /Ul

Jumlah

Rata-Rata

10000-70000

9 org

88933.33

13 org

70000-100000

11 org

5 org

100000-200000

10 org

668

Hasil uji homogenitas didapatkan data

sedangkan pada kelompok kontrol (yang tidak

dengan berdistribusi normal. Kadar trombosit

diberikan jus kurma) memiliki nilai rata – rata

darah sesudah hari ke–3 pada kelompok

92300.00/ul seperti terlihat pada Tabel 4. Hasil

perlakuan (sesudah diberikan jus kurma)

uji statistic menunjukkan nilai p = 0.039 yang

memiliki nilai rata – rata 115200.00/ul,

berarti Ho ditolak dan Ha diterima.

Table 4. Kadar trombosit darah post hari-3 pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol pada pasien DBD di RSUD Kota Tanjungpinang

Mean

Std.

T

P Value

deviation

Kadar trombosit Post 3 hari

115200.00

42209.167

-2.110

0.039

Kadar trombosit 3 hari kontrol

92300.00

41838.895

-6190

0,541

Pemberian meningkatkan

jus

kadar

kurma

dapat

disamping air putih, dianjurkan paling sedikit

trombosit

darah

diberikan selama 2 hari (Kawthalkar, 2006).

dibandingkan hanya diberikan asupan nutrisi

Bahan-bahan utama yang diperlukan

dari rumah sakit saja pada pasien DBD yang

untuk pembentukan darah adalah Asam folat,

memiliki

selisih

vitamin B12, besi, kobalt, magnesium, Cu, Zn,

keduanya

memberikan

22900.00/ul, efek

walaupun yang

sama

Asam amino, vitamin C, B kompleks, dan lain-

terhadap peningkatan kadar trombosit darah

lain. Untuk itu pemberian jus kurma dapat

(Deiana, 2007). Dianjurkan pemberian cairan

meningkatkan kadar trombosit darah Menurut

dan elektrolit per oral, jus buah, sirup, susu,

Rakhmawan

(2006)

buah

kurma

yang

mengandung zat-zat gula (campuran glukosa, 669

sukrosa, dan fruktosa), protein, lemak, serat,

Peningkatan metabolism ini akan

vitamin A, B1, B2, B12, C, potasium, kalsium,

meningkatkan produksi energi yang berguna

besi, klorin, tembaga, magnesium, sulfur,

untuk memperhankan sel agar tidak rusak dan

fosfor, dan beberapa enzim yang cukup

membangun kembali sel yang rusak (Cahyo,

lengkap nutrisinya dan mudah di metabolisme

2010).

oleh tubuh. Asupan nutrisi dan energi selama di

KESIMPULAN DAN SARAN

rumah sakit merupakan faktor penting dalam

Hasil penelitian menunjukkan: nilai

penatalaksanaan pengobatan di rumah sakit.

rata-rata kadar trombosit darah pre pada

Jus kurma dan diit rumah sakit merupakan

kelompok perlakuan adalah lebih kecil dengan

makanan yang mampu meningkatkan status

rata-rata kadar trombosit darah pre pada

nutrisi pasien yang mengalami kekurangan

kelompok kontrol, nilai rata – rata kadar

kadar trombosit darah (Duma, Darmawansyah

trombosit darah pre pada kelompok perlakuan

& Arsin, 2007).

lebih kecil dari kadar trombosit darah post 3

Dukungan gizi yang tidak adekuat

hari, nilai rata – rata kadar trombosit darah pre

selama di rumah sakit akan mengakibatkan

kelompok kontrol lebih kecil dari nilai rata-rata

meningkatnya morbiditas dan mortalitas serta

kadar trombosit darah post 3 hari dan

memperpanjang lama rawat inap (Keele, Neil

Pemberian

& Joels, 2004). Kurma mengandung nutrisi

meningkatkan trombosit darah pasien DBD

yang berguna bagi tubuh dan kandungan

pada kelompok perlakuan dengan kelompok

glukosanya lebih besar dari buah buahan

kontrol (p=0,039). Pemberian jus kurma

lainnya (Handita, 2010).

merupakan salah satu tambahan diet alternatif

Kandungan zat besinya yang tinggi membantu pembentukan haemoglobin yang

sehingga

membantu

metabolisme dalam sel.

mempercepat

kurma

efektif

dalam

dalam meningkatkan kadar trombosit darah pasien Demam Berdarah.

dapat membantu mengangkut oksigen lebih besar

jus

Pasien

berhak

mengetahui

dan

mendapatkan alternative diit yang relatif tidak mahal

yang

dapat

trombosit darah. 670

meningkatkan

kadar

Hasil dikembangkan

penelitian sebagai

ini wawasan

dapat

Demam Berdarah Dengue. Skripsi S1

ilmu

Kedokteran.Fakultas

pengetahuan di lingkungan akademis dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien, sehingga menjadi

acuan

sebagai

alternatif

Universitas Diponegoro Semarang Dinas

untuk

dapat

dikembangkan

lebih

lanjut

Kesehatan

Kota

(2015).Profil

meningkatkan status nutrisi pasien yang mengalami penyakit DBD. Hasil penelitian ini

Kedokteran

Tanjungpinang

Kesehatan

Kota

Tanjungpinang. Departemen

untuk

Kesehatan

Republik

Indonesia.(2005).Pencegahan

membuktikan keefektifan jus kurma dengan

Pemberantasan

diit yang diberikan dari rumah sakit dengan

Dengue di Indonesia. Dep.Kes.RI. Jakarta

cara menilai asupan makanan dari pasien

Demam

dan

Djunaedi.D.(2006).Demam

dengan metode food recall atau

Berdarah

Berdarah

dengue[DBD]Epidemiologi,

dengan metode Comstock sehingga

Imunopatologi,Patogenesis,

dapat meminimalkan faktor bias penelitian. Perlu

Diagnosis

dan Penatalaksanaan. Fathi.K.S.&Wahyuni CU.(2005).Peran Faktor

dilakukan penelitian kadar gizi pada berbagai

jenis

kurma

sehingga

Lingkungan

bisa

Perilaku

terhadap

Penularan Demam Berdarah Dengue di

menentukan kurma jenis yang lebih bagus dan

Kota

tepat untuk meningkatkan trombosit pada

Lingkungan

pasien Demam Berdarah Dengue.

dan

Mataram,

Jurnal

Kesehatan

HanditaLK.(2010).Manfaatkurma.http://yulie ee.wordpress.com/2010/05/07manfaat-

DAFTAR PUSTAKA

kurma/. Diakses:20 Juni 2015

Cahyo.A. (2010). Sejuta Khasiat Susu Unta &

Hoffbrand,AV.,Pettit,J.E.,&Moss,P.A.H.(200

Sari Kurma.Sabil,Semarang.

5).Kapita

SelektaHematologi.Edisi

Deiana.M.(2007).Korelasi

antara

4.EGC.Jakarta

Trombositopenia

dengan

Kandun.(2000).Manual

Hemokonsentrasi

sebagai

Faktor

Pemberantasan

Penyakit Menular.Infomedika.Jakarta

Predisposisi terjadinya Syok pada Pasien 671

Kawthalkar,S.

(2006).

Essential

of

Shahihah

Haematology. Jaepee Brother Medical

Wright’s

Applied

edition.Oxford

N.(2004).Samson Physiology,13th

University

Press.New

Delhi. Rahmawan Z.(2006). Kupas Tuntas Kurma Berdasarkan

Tinjauan

Medis

Modern.Penerbit Media Tarbiyah, Bogor

Publisher (P) LTD. New Delhi. Keele.A.Neil.E.&Joels

dan

Al-Quran,As-SunahAsh-

672

FAKTOR–FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MURID KELAS III, IV DAN V DALAM PERAWATAN GIGI DI SD NEGERI 010 KECAMATAN TANJUNGPINANG BARAT TAHUN 2016. Yulia Yasman 1

ABSTRAK Kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak merupakan faktor penting yang harus diperhatikan sedini mungkin, sebab kerusakan gigi yang terjadi pada usia anak-anak dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi pada usia selanjutnya. Karies yang terdapat pada gigi merupakan indikator keberhasilan upaya pemeliharaan kesehatan gigi pada anak. Penelitian ini dilakukan di SD 006 Kampung Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016. Bertujuan untuk mengetahui Faktor–Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Murid Kelas III, IV dan V Dalam Perawatan Gigi di SD 006 Kampung Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016. Jenis penelitian ini menggunakan jenis korelasi dengan rancangan penelitian cross sectional. Populasi penelitian ini adalah murid-murid di SD 006 Kampung Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016 yang berjumlah 127 orang. Jumlah sampel adalah 96 orang, yaitu murid kelas III, IV dan V yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel dengan simple random sampling. Analisis bivariat dengan menggunakan metode chi square dan analisis multivariat menggunakan logistic regression. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh dari pengolahan data kepada 96 responden dengan menggunakan chi Square menunjukan nilai p = 0,001 < 0,05 untuk variabel pengetahuan dan nilai p = 0,000 < 0,005 untuk variabel sikap, perilaku orang tua dan perilaku teman sebaya, yang artinya ada hubungan yang bermakna dengan variabel perilaku perawatan gigi. Hasil uji regresi logistik didapatkan variabel yang paling berhubungan dengan perilaku perawatan gigi yaitu variabel teman sebaya dengan nilai p=0,000. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan kepada Tenaga Kesehatan untuk dapat meningkatkan jadwal kunjungan ke sekolah-sekolah terkait program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah, melakukan pemeriksaan gigi, dan penyuluhan mengenai manfaat pentingnya perawatan gigi, sehingga dapat mengurangi angka kejadian karies gigi pada anak usia sekolah. Kata Kunci Kepustakaan

: Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Perawatan Gigi : 22 Buku, 3 Jurnal (tahun 2003-2013)

PENDAHULUAN

Banyaknya faktor penyebab karies gigi

Masalah kesehatan yang rentan dihadapi

pada anak menyebabkan usia anak sekolah

oleh kelompok anak usia sekolah dasar adalah

dasar merupakan kelompok yang rentan

masalah kesehatan gigi dan mulut. Pada

terhadap karies gigi. Anak pada usia sekolah

umumnya keadaan kebersihan mulut anak

dasar umumnya kurang rajin dan kurang teliti

lebih buruk dan anak lebih senang makan

dalam

makanan yang mengandung gula. Hal ini yang

Rahmawati, 2012).

membersihkan

gigi

(Suwelo,

cit

menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya

Usia sekolah dasar merupakan saat yang

karies gigi pada anak- anak (Machfoedz,

ideal untuk melatih kemampuan motorik

2005).

seorang anak, termasuk dalam pemeliharaan 673

dan perawatan gigi karena pada periode usia

gigi berlubang adalah anak-anak usia dibawah

pertengahan ini dimulai masuknya anak ke

12 tahun.

dalam lingkungan sekolah yang merupakan

Dalam Survei Kesehatan Rumah Tangga

awal dari pembentukan perilaku (Santrock,

(SKRT) tahun 2006 terdapat 76,2% anak

2008).

Indonesia pada kelompok usia 12 tahun

Tidak hanya dari pembentukan perilaku

mengalami gigi berlubang (Rahardjo, 2007).

anak saja yang dapat menentukan keberhasilan

Sedangkan menurut hasil Riset Kesehatan

dalam pemeliharaan dan perawatan gigi pada

Dasar Departemen Kesehatan tahun 2007,

anak tetapi peran dan interaksi dari berbagai

sebanyak

pihak dilingkungan anak itu sendiri seperti

mengalami riwayat karies gigi (gigi berlubang)

peran orang tua dan dokter. Pada anak-anak,

dan sekitar 43% penderita penyakit gigi atau

pengaruh dari orang tua sangat kuat. Sikap dan

kelainan yang belum memeriksakan giginya.

perilaku orang tua terutama ibu dalam

Angka ini, dengan kata lain memperlihatkan

perawatan memberi pengaruh terhadap sikap

masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk

dan perilaku anak (Anitasari, 2005).

menjaga kesehatan gigi dan mulut karena 43%

Menurut World Health Organization

perilaku

75%

masyarakat

memiliki

peran

Indonesia

penting

untuk

(WHO) tahun 2000, analisis data prevalensi

mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut

karies berdasarkan indeks DMF-T (D =

(Depkes, 2011)

decayed = gigi yang karies, M = missed = gigi

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar

yang hilang, F = filled =gigi yang ditambal, T

(Riskesda) tahun 2007 prevalensi penduduk di

= teeth = gigi permanen) di beberapa negara

Provinsi Kepulauan Riau yang berpengalaman

adalah seperti Amerika 2,05%, Afrika 1,54%,

karies

Asia Tenggara 1,53%, Eropa 1,46% dan bagian

Tanjungpinang dengan masalah gigi dan mulut

Barat

2004).

sebanyak 36% yang berpengalaman karies gigi

Menurut data dari Pengurus Besar PDGI

mencapai 74,4%. Sehubungan dengan itu

(Persatuan

Indonesia)

kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia

menyebutkan bahwa sedikitnya 89% penderita

masih merupakan hal yang perlu mendapat

Pasifik

1,23%

Dokter

(Anderson,

Gigi

gigi

65,5%

sedangkan

di

kota

perhatian serius dari tenaga kesehatan, baik 674

dokter maupun perawat gigi, hal ini terlihat

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

bahwa penyakit gigi dan mulut masih diderita

Penelitian

ini

menggunakan

oleh 90% penduduk Indonesia ( Anitasari dan

penelitian

Rahayu, 2005).

penelitian cross sectional. Penelitian cross

Berdasarkan

data

yang

didapatkan

sectional

observasional

adalah

suatu

analitik

jenis yaitu

penelitian

untuk

peneliti dari Puskesmas Kota Tanjungpinang

mempelajari dinamika korelasi antara faktor-

tahun 2012 pada siswa kelas III dari 17 Sekolah

faktor resiko dengan efek, dengan cara

Dasar di Tanjungpinang Kota terdapat 5

pendekatan, observasi atau pengumpulan data

Sekolah Dasar dengan persentase tinggi

sekaligus

kejadian karies gigi. Adapun sekolah-sekolah

appoarch).

tersebut yaitu SDN 006 dengan persentase

pada

suatu

Penelitian

saat

ini

(point

dilakukan

time

Oktober

100%, SDN 001 96%, SDN 012 95%, SDN

sampai April di SD 006 Kampung Bugis

94%, dan SDN 002 91%. Berdasarkan uraian

Tanjungpinang Kota Tahun 2016. Populasi

dan data di atas, didapatkan kejadian karies

dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi

gigi yang tertinggi adalah SD 006 Kampung

Sekolah Dasar SD 006 Kampung Bugis

Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

Tanjungpinang

Peneliti

juga

wawancara dengan dengan program

telah

Kota

Tahun

2016

yang

melakukan

berjumlah 127 murid. Dalam penelitian ini,

pihak sekolah terkait

sampel di ambil menggunakan rumus besar

Usaha Kesehatan Gigi

sampel (Nursalam, 2011) dan didapat hasilnya

Sekolah (UKGS). Pihak sekolah mengatakan

yaitu berjumlah 96 orang.

bahwa program tersebut belum terlaksana

Alat ukur yang digunakan dalam

dengan maksimal. Dari data dan pernyataan

penelitian ini yaitu kuesioner yang memuat

tersebut, maka perlu dilakukan penelitian

daftar pertanyaan dan pernyataan terstruktur

mengenai faktor-faktor yang berhubungan

untuk mengumpulkan data. Pada kuesioner

dengan perilaku murid kelas III, IV, dan V

pengetahuan terdiri dari 10 pertanyaan, dengan

dalam perawatan gigi di Sekolah Dasar Negeri

penilaian dari tiap jawaban yang benar diberi

SD 006 Kampung Bugis Tanjungpinang Kota

skor 1 (satu) dan jawaban yang salah diberi skor

Tahun 2016.

0 (nol). Pada kuesioner sikap terdiri dari 10 675

pernyataan yang terdiri dari pernyataan positif

bivariat menggunakan Chi-Square, dimana uji

nomor 1-5 dengan penilaian setiap pernyataan

tersebut digunakan untuk mengetahui ada

sangat setuju diberi skor 4 (empat), pernyataan

tidaknya

setuju adalah 3 (tiga), pernyataan tidak setuju 2

(independent)

(dua), dan sangat tidak setuju adalah 1 (satu).

(dependent). Analisis multivariat dilakukan

Pernyataan

dengan

untuk melihat hubungan secara bersama-sama

penilaian setiap pernyataan sangat setuju diberi

antara variabel bebas (independent) dengan

skor 1 (satu), pernyataan setuju adalah 2 (dua),

variabel

pernyataan tidak setuju 3 (tiga), dan sangat

menggunakan regresi logistik.

tidak setuju adalah 4 (empat). Pada kuesioner

1.

negatif

nomor

6-10

hubungan dengan

terikat

variabel

bebas

variabel

terikat

(dependent),

dengan

Analisis Univariat

perilaku perawatan gigi terdapat 10 pertanyaan

Tabel 1

dengan penilaian setiap jawaban iya adalah 1

Distribusi Responden Menurut

(satu) dan tidak adalah 0 (nol). Pada kuesioner

Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Perilaku Orang

perilaku orang tua juga terdapat 10 pertanyaan

Tua, dan Perilaku Teman Sebaya Terhadap

dengan penilaian setiap jawaban iya adalah 1

Perawatan Gigi di SD 006 Kampung Bugis

(satu) dan tidak adalah 0 (nol). Sedangkan pada

Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

Variabel Penelitian

kuesioner perilaku teman sebaya terdapat 5

n=

Persen

96

(%)

Tinggi

59

61,5%

Rendah

37

38,5%

Baik

40

41,7%

Kurang

56

58,3%

pertanyaan negatif dengan penilaian setiap jawaban iya dinilai 0 (nol) dan tidak dinilai 1

Pengetahuan

(satu). Alat ukur ini sudah diuji terlebih dahulu terhadap 30 responden di SD 006 Kampung Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

Sikap HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ini diuraikan analisis univariat yaitu menggunakan

frequencies,

dimana uji tersebut untuk mengetahui distribusi setiap variabel-variabel yang diteliti. Analisis 676

Perilaku

bahwa sebagian besar teman sebaya berperilaku baik yaitu 50 responden (52,1%).

Baik

33

34,4% 1. Analisis Bivariat

Kurang

63

65,6%

Tabel 2.1 Hubungan Pengetahuan Dengan

Perilaku Orang Tua

Perilaku Perawatan Gigi di SD 006 Kampung

Baik

53

55,2%

Kurang

43

44,8%

Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

Pe

Perilaku

ngetahua

Perawatan Gigi

Perilaku Teman

n

K

Sebaya

urang

Baik

50

52,1%

Kurang

46

47,9%

J B

umlah

f

%

p

aik f

(

f

%

%) R endah

0 3

2

3

3,3

5

5

3

,2%

7

8,5

,00 3 1

Berdasarkan tabel 5.1, dapat diketahui %

%

mayoritas responden memiliki pengetahuan Ti

3

3

2

2

5

9

1,5

6

tinggi yaitu sebanyak 59 responden (61,5%). nggi

1

2,3

8

9,2

Untuk variabel sikap, diketahui sebagian besar %

%

%

responden bersikap kurang yaitu sebanyak 56 n

6

6

3

3

9

6

00

responden (58,3%). Untuk variabel perilaku, 3

5,6

3

4,4

diketahui sebagian besar responden berperilaku % kurang dalam perawatan gigi, yaitu 63 responden (65,6%). Untuk variabel perilaku orang tua, dapat diketahui bahwa sebagian besar orang tua berperilaku baik dalam perawatan gigi yaitu 53 responden (55,2%). Dan untuk variabel teman sebaya, diketahui

677

%

%

1

Tabel 2.2

Tabel 2.3

Hubungan Sikap Dengan Perilaku

Hubungan Perilaku Orang Tua Dengan

Perawatan Gigi di SD 006 Kampung Bugis

Perilaku Perawatan Gigi di SD 006 Kampung

Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

P Perilaku Sika

Perawatan Gigi

p

K

. Ortu J

p

(

%

f

%

%) K

4

5

6,9

aik

1

1 6

1

8

8,8

1 2

5,6 %

2

2 0

6 3

%

4

3 6

9

3 8

(

f

%

f

%

aik

2 5

0 3

9,6%

B 6%

2 8

4

5

5

4

,2%

3

4,8%

2

2

5

9,2

3

5,2%

3

3

9

4,4

6

00%

4 ,000

5

% N

% 3

4,4

urang

1,7

%

6

,000 5

%

2,9

%

5

K

8,3

%

B

3

1 1,5

%

aik

%) 0

4

p

mlah

B

urang f

f

Ju

K

aik f

g

Perawatan Gigi

B umlah

urang

uran

Perilaku

6 3

1

5,6%

6 3

%

00 %

678

1

Tabel 5

Variabel

P

Exp

Wald

value

(B)

Pengetahuan

1,995

0,156

3,015

Sikap

4,635

0,031

4,189

Perilaku

10,21

0,001

9,755

Orang tua

4

Perilaku

14,79

0,000

26,944

Teman

3

Hubungan Perilaku Teman Sebaya Dengan Perilaku Perawatan Gigi di SD 006 Kampung Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

P

Perilaku

. TS

Perawatan Gigi K

J B

urang

p

umlah

aik f

(

f

%

f

%

%) K urang

0

4 4

4

5,8

2

2

,1%

6

%

Sebaya

4 ,000 4 PEMBAHASAN

7,9

A. Analisis Bivariat

%

1. Hubungan Antara Pengetahuan B

1

1

3

3

5

5 Dengan Perilaku Murid Kelas III,

aik

9

9,8

1

2,3

0

2,1 IV, dan V Dalam Perawatan Gigi di

%

%

% SD 006 Kampung Bugis

N

6

6

3

3

9

1 Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

3

5,6

3

4,4

6

00 Hasil penelitian menunjukkan

%

%

% bahwa sebagian besar responden berpengetahuan tinggi yaitu sebanyak

2. Analisis Multivariat 61,5%, diantaranya terdapat 29,2% Tabel 6

berperilaku merawat gigi dengan

Hubungan Pengetahuan, Sikap, Perilaku

baik. Sedangkan 32,3% berperilaku

Orang Tua, dan Perilaku Teman Sebaya

merawat gigi kurang baik. Hasil uji

Dengan Perilaku Perawatan Gigi di SD 006

statistik

Kampung Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

dengan

menggunakan

metode Chi square diperoleh p value

679

= 0,001, yang menunjukkan bahwa

bersikap

terdapat

antara

58,3%, diantaranya terdapat 11,5%

pengetahuan murid sd kelas III, IV,

berperilaku merawat gigi dengan

dan V dengan perilaku perawatan

baik, sedangkan 46,9% berperilaku

gigi.

merawat gigi kurang baik. Hasil uji

hubungan

Hasil penelitian ini sesuai dengan

pendapat

statistik

kurang

yaitu

dengan

sebanyak

menggunakan

Notoatmodjo

metode chi square diperoleh p value =

(2007), yang menyatakan bahwa

0,000, yang menunjukkan bahwa

hubungan antara pengetahuan, sikap,

terdapat hubungan antara sikap murid

dan perilaku akan mempengaruhi

sd kelas III, IV, dan V dengan

keikutsertaan

perilaku perawatan gigi.

aktivitas

sesorang tertentu.

dalam Adanya

Hasil penelitian ini sesuai

manfaat

dengan teori yang dikemukakan oleh

sesuatu hal, akan menyebabkan orang

Notoadmodjo (2010), bahwa sikap

mempunyai

positif

adalah reaksi atau respons seseorang

terhadap hal tersebut. Pengetahuan

yang masih tertutup terhadap sesuatu

berisikan segi positif dan negatif, bila

stimulus atau objek. Teori lain yaitu

sesuatu

lebih

menurut Allport dalam Riyaowati

maka

(2012), juga menjelaskan bahwa sikap

kemungkinan besar seseorang akan

mempunyai tiga komponen pokok

mengikuti kegiatan tersebut.

yaitu kepercayaan, ide dan konsep,

pengetahuan

banyak

terhadap

sikap

kegiatan segi

yang

dianggap

positifnya,

2. Hubungan Antara Sikap Dengan

kehidupan emosional atau evaluasi

Perilaku Murid Kelas III, IV, dan V

terhadap

suatu

objek

Dalam Perawatan Gigi di SD 006

kecenderungan

Kampung Bugis Tanjungpinang

Ketiga komponen ini secara bersama-

Kota Tahun 2016.

sama membentuk sikap yang utuh

Hasil penelitian menunjukkan

(total attitude).

bahwa sebagian besar responden 680

untuk

dan

bertindak.

3. Hubungan Antara Perilaku Orang

seseorang

antara

lain

tokoh

Tua Dengan Perilaku Murid Kelas

masyarakat, orang tua, teman atau

III, IV, dan V Dalam Perawatan

kelompok sebaya, peraturan, undang-

Gigi di SD 006 Kampung Bugis

undang, surat keputusan dari para

Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

penjabat pemerintah daerah atau

Hasil penelitian menunjukkan

pusat.

sebagian besar orang tua responden

Hasil

penelitian

lain,

yaitu

didukung

gigi

55,2%,

menurut Gunarsa (2011), menyatakan

diantaranya terdapat responden yang

apa yang diberikan keluarga kepada

berperilaku merawat gigi dengan baik

anak

yaitu 29,2%, dan sebanyak 26%

kehidupan, sikap, dan perilaku anak.

berperilaku

Hal ini menunjukkan bahwa perilaku

sebanyak

kurang

baik

dalam

teori

juga

berperilaku baik dalam perawatan yaitu

oleh

ini

akan

merawat gigi. Hasil uji statistik

orang

tua

dengan menggunakan metode chi

perilaku

square diperoleh p value = 0,000,

sehari-hari,

yang menunjukkan bahwa terdapat

perawatan gigi.

menggambarkan

dapat

anak

mempengaruhi

dalam

kehidupan

termasuk

dalam

hubungan antara perilaku orang tua

3. Hubungan Antara Perilaku Teman

dengan perilaku murid sd kelas III,

Sebaya Dengan Perilaku Murid

IV, dan V dalam perawatan gigi.

Kelas III, IV, dan V Dalam

Hasil penelitian ini sesuai

Perawatan Gigi di SD 006 Kampung

dengan teori yang dikemukakan oleh

Bugis Tanjungpinang Kota Tahun

Lawrence Green dalam Notoadmodjo

2016.

(2010), yaitu perilaku ditentukan oleh

Hasil penelitian menunjukkan

3 faktor, salah satunya adalah faktor

bahwa sebagian besar teman sebaya

pendorong atau penguat (reinforcing

responden berperilaku baik dalam

factors)

yang

perawatan gigi yaitu sebanyak 52,1%,

perilaku

diantaranya terdapat responden yang

memperkuat

yaitu

faktor

terjadinya

681

berperilaku merawat gigi dengan baik

yang penting kepada anggotanya

yaitu sebanyak 32,3%, dan 19,8%

dengan budaya mereka sendiri yang

berperilaku

dapat meningkatkan rasa solidaritas

kurang

baik

dalam

merawat gigi. Hasil uji statistik

antara

menggunakan metode chi square

sebaya. Hasil penelitian ini sesuai

diperoleh

0,000

dengan teori-teori tersebut, bahwa

terdapat

lingkungan juga memegang peranan

p

menunjukkan hubungan

value

=

bahwa

antara

teman

sebaya

sesama

penting

dengan perilaku murid sd kelas III,

kelompok

dalam

teman

mempengaruhi

perilaku seseorang.

IV, dan V dalam perawatan gigi. Hasil penelitian ini sesuai

B.

Analisis Multivariat

dengan pendapat Lawrence Green

Hasil penelitian menunjukkan bahwa

dalam Notoadmodjo (2010), perilaku

dari beberapa variabel yang diteliti yaitu

ditentukan oleh 3

salah

variabel pengetahuan, sikap, perilaku

satunya adalah faktor pendorong atau

orang tua, dan perilaku teman sebaya yang

penguat (reinforcing factors) yaitu

mempengaruhi

faktor yang memperkuat terjadinya

berperilaku perawatan gigi adalah variabel

perilaku seseorang antara lain tokoh

perilaku teman sebaya yang mempunyai

masyarakat, orang tua, teman atau

hubungan paling bermakna dalam perilaku

kelompok sebaya, dan peraturan atau

positif dalam perawatan gigi, dimana hasil

keputusan dari pemerintah setempat.

dari regresi logistik di dapat p value =

faktor,

Teori lain yang mendukung

responden

dalam

0,000.

hasil penelitian ini yaitu menurut

Hasil penelitian ini sesuai dengan

pendapat Cahyaningsih (2011), yang

pendapat Abu Ahmadi (2007), yang

menyatakan

perkembangan

menyatakan

pada

usia

anak

sekolah

sosial adalah

teman

sebaya

adalah

lingkungan yang terjadinya interaksi aktif

kelompok teman sebaya. Teman

antar

sebaya memberikan sejumlah hal

merupakan anak-anak yang mempunyai 682

anggota-anggotanya

yang

umur relatif sama, minat yang sama, dan

3. Hasil

penelitian

ini

menunjukkan

aturan yang dibuat bersama-sama. Teori

bahwa 55,2% responden yang memiliki

lain yang mendukung hasil penelitian ini

perilaku orang tuanya baik.

juga

dikemukakan

oleh

Umar

4. Hasil

penelitian

ini

menunjukkan

Tirtarahardja (2005), yaitu fungsi teman

bahwa 52,1% responden yang memiliki

sebaya adalah memberikan pengetahuan

perilaku teman sebaya responden yang

yang tidak bisa diberikan oleh keluarga

baik.

secara

pengetahuan

memuaskan

(pengetahuan

Ada

hubungan

antara

dengan

perilaku

mengenai berpakaian, musik, jenis tingkah

perawatan gigi pada murid kelas III,

laku tertentu).

IV, dan V di SD 006 Kampung Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016.

KESIMPULAN

5. dengan P value = 0,001 Ada hubungan

Setelah dilakukan penelitian, pengolahan data

antara sikap dengan perilaku perawatan

dan pembahasan tentang Faktor-Faktor Yang

gigi pada murid kelas III, IV, dan V di

Berhubungan dengan Perilaku Murid Kelas III,

SD

IV, dan V dalam Perawatan Gigi di SD 006

Tanjungpinang

Kampung Bugis Tanjungpinang Kota Tahun

dengan P value = 0,000. Ada hubungan

2016. Di peroleh data sebagai berikut :

antara

1. Hasil 61,5%

penelitian

menunjukkan

responden

pengetahuan

tinggi

bahwa

yang

memiliki

tentang

perilaku

kelas

penelitian

Kampung Kota

perilaku

perilaku III,

Kampung

perawatan gigi. 2. Hasil

006

IV, Bugis

Tahun

orang

perawatan

tua

gigi

dan

Bugis

V

2016

dengan

pada di

SD

Tanjungpinang

murid 006 Kota

Tahun 2016 dengan P value = 0,000. menunjukkan

bahwa

6. Ada

hubungan

antara

perilaku

teman

58,3% responden yang memiliki sikap

sebaya dengan perilaku perawatan gigi

kurang baik tentang perilaku perawatan

pada murid kelas III, IV, dan V di SD

gigi.

006

Kampung

Bugis

Tanjungpinang

Kota Tahun 2016 dengan P value = 0,000. 683

7. Variabel perilaku teman sebaya adalah

Machfoedz, I. (2005). Pendidikan Kesehatan

hubungan yang paling berpengaruh dengan

bagian

dari

Promosi

Kesehatan

variabel perilaku perawatan gigi pada murid

Masyarakat. Yogyakarta: Fitramaya.

kelas III, IV, dan V di SD 006 Kampung

Mahendra, Moersintowati B dkk (2008).

Bugis Tanjungpinang Kota Tahun 2016

Tumbuh Kembang Anak Dan Remaja.

dengan nilai P value = 0,000

Jakarta: Sagung Seto. Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Ilmu Kesehatan

DAFTAR PUSTAKA

Masyarakat

Ahmadi, Abu. (2007). Psikologi Sosial. Rineka

Dasar.Jakarta : PT Rineka Cipta.

Cipta. Jakarta..

___________________

Andlaw, R. J (2012). Perawatan Gigi Anak.

Sulistyo

Pertumbuhan

Dwi

(2011).

Perkembangan

____________________

Anak

Media

(2007).

Promosi

Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta. ____________________ (2010). Metodelogi

Dharma, Kelana Kusama. (2011). Metodologi Penelitian

Keperawatan

Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka

(Pedoman

Melaksanakan dan Menerapkan Hasil

Cipta. Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan

Penelitian). Jakarta: Trans Info Media.

Metodologi

Depkes (2011). Upaya Promosi, Pencegahan, Pelayanan

Kesehatan

Azis

Alimul.

Penelitian

Ilmu

Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba

Gigi.

www.depkes.go.id Hidayat,

Pendidikan

Cipta.

Dan Remaja. Jakarta: CV. Trans Info

Dan

(2003).

dan Prilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka

Jakarta: Widya Medika Cahyaningsih,

Prinsip-Prinsip

Medika. Potter & Perry (2005). Buku Ajar Fundamental

(2007).

Metode

Keperawatan : Konsep, Proses &

Penelitian Keperawatan dan Teknis Analisis Data. Jakarta : Salemba

Praktek. Edisi 4. Vol 1. Jakarta: EGC. Santrock, J. W (2008). Perkembangan Anak

Medika: EGC.

dan Remaja. Jakarta : Erlangga.

684

Sariningsih (2012). Perawatan Gigi Anak Sejak Usia Dini. Jakarta: Gramedia. Srigupta. (2004). Perawatan Gigi Dan Mulut. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. Suryawati. (2010). 100 pertanyaan Penting Perawatan Gigi Anak. Jakarta: PT. Dian Rakyat. Syarifudin. (2010). Panduan TA Keperawatan dan

Kebidanan

dengan

SPSS.

Yogyakarta: Grafindo Litera Media. Tirtarahardja,

Umar.

(2005).

Pengantar

Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Wati, Lidia, dkk. (2013). Buku Panduan Penyusunan

Metodologi

Riset

Keperawatan. Tanjungpinang: STIkes Hang Tuah. Wong,

Donna

L.(2008).

Buku

Ajar

Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Agus Sutarna, Neti. Juniarti, H.Y. Kuncoro. Editor edisi bahasa Indonesia : Egi Komara Yudha. Edisi 6. Jakarta: EGC.

685

MOTIVASI BELAJAR DAN STATUS GIZI TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR 006 KAMPUNG BUGIS Hotmaria Julia Dolok Saribu1

ABSTRAK Sejumlah 36 negara 90% anak-anak menderita pengerdilan, atau kekurangan gizi kronis. Semakin banyak negara sedang menyaksikan meningkatnya masalah kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh beban ganda gizi buruk dan kelebihan berat badan. Masalah besar yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia adalah mutu, biaya dan kualitas. Kualitas pendidikan dinilai sangat rendah. Dampak dari rendahnya kualitas pendidikan tersebut yaitu rendahnya mutu sumber daya manusia. Rendahnya mutu sumber daya manusia Indonesia salah satu tandanya dapat dilihat dari tingkat HDI (Human Development Indeks). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan motivasi belajar dan status gizi dengan prestasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan menggunakan pendekatan cross sectional dimana tiap subjek penelitian dilakukan satu kali pengumpulan data pada satu saat. Populasi penelitian ini adalah SD 006 Kampung Bugis Tamjungpinang Kota, yang berjumlah 111 siswa. Sampel penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Bugis Tanjungpinang Kota, kelas 3, 4 dan 5 dengan jumlah 55 siswa. Untuk mengetahui motivasi belajar siswa alat ukur yang digunakan berupa kuesioner dan Untuk mengetahui status gizi siswa, instrument penelitian atau alat ukur yang di gunakan adalah timbangan injak dan mikrotoise. Analisa bivariat dilakukan untuk mencari hubungan antara data variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat yang dilakukan dengan uji chi-square yaitu uji statistik yang digunakan untuk menguji signifikasi dua variabel. Untuk melihat hubungan antara dua variable dilakukan uji Chi Square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil analisis statistik dengan uji Chi-Square untuk motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa Ho ditolak dengan hasil p=0,001 (p<0,005), sedangkan uji Chi-Square untuk status gizi siswa terhadap prestasi belajar siswa juga menunjukkan bahwa Ho ditolak dengan hasil p=0,001 (p<0,005). Maka dapat disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara motivasi belajar dan status gizi terhadap prestasi belajar siswa di sekolah. Dan diharapkan Hasil penelitian ini diperoleh diharapkan kepada kepala sekolah dan guru untuk dapat sebagai acuan dalam proses belajar dan mengajar. Kata kunci: Motivasi Belajar, Status Gizi, Siswa Sekolah Dasar

Abstract Some 36 countries 90% of children suffer from stunting, or chronic malnutrition. More countries are witnessing increasing public health problems posed by the double burden of malnutrition and overweight. The big problem faced by the education sector in Indonesia is the quality, cost and quality. The quality of education is considered very low. The impact of the low quality of education such as the low quality of human resources. The low quality of Indonesian human resources one sign can be seen from the level of HDI (Human Development Index). The purpose of this study to determine the relationship of learning motivation and nutritional status and student achievement. This study is a non-experimental study using cross sectional approach in which each subject of study data collection is done one at a time. The population was 006 Kampung Bugis Tamjungpinang SD City, totaling 111 students. The sample was 006 students of State Elementary School Tanjungpinang City Kampung Bugis, grade 3, 4 and 5 with the number of 55 students. To determine students' motivation measuring instruments used in the form of a questionnaire and to determine the nutritional status of students, research instruments or measuring devices in use is the bathroom scales and mikrotoise. Bivariate analysis conducted to find the relationship between data variables, independent variables and the dependent variable is done with the chi-square test is a statistical test used to test the significance of two variables. To see the relationship between two variables Chi Square test with a confidence level of 95%. Results of statistical analysis using Chi-Square test for learning motivation on student achievement shows that Ho is rejected with the result p = 0.001 (p <0.005), whereas the chi-square test

686

for the nutritional status of students on student achievement also indicates that Ho is rejected by the results p = 0.001 (p <0.005). So we can conclude there is a significant relationship between learning motivation and nutritional status on student achievement in school. And the expected results of this study obtained are expected to principals and teachers to be a reference in the process of learning and teaching Keywords: Motivation, Nutrition Status, Elementary School Students

PENDAHULUAN Menurut

Namun, ada ditandai peningkatan jumlah

laporan

Heald

anak-anak kelebihan berat badan. Di Afrika,

secara prevalansi malnutrisi

misalnya, persentase kelebihan berat badan

menyebabkan 171 juta anak usia di bawah 5

anak-anak memiliki lebih dari dua kali lipat dari

tahun menjadi terhambat pertubuhan, 115 juta

4% pada tahun 1990 menjadi 8,5% pada tahun

anak-anak menderita wasting, 20 juta anak-

2010 (4 juta anak-anak dibandingkan dengan

anak untuk menderita malnutrisi akut, 1,5 miliar

13,5 juta).

Organization

World

orang kelebihan berat badan di seluruh dunia, di

Masalah besar yang dihadapi oleh dunia

antaranya 500 juta mengalami obesitas. Sekitar

pendidikan di Indonesia adalah mutu, biaya dan

43 juta anak-anak usia di bawah 5 tahun

kualitas. Kualitas pendidikan dinilai sangat

kelebihan berat badan pada tahun 2010, dengan

rendah. Dampak dari rendahnya kualitas

35 juta berada di negara-negara berkembang

pendidikan tersebut yaitu rendahnya mutu

dan nomor terbesar di Asia dan tingkat

sumber daya manusia. Rendahnya mutu sumber

pertumbuhan tercepat di Afrika.

daya manusia Indonesia salah satu tandanya

Sejumlah 36

negara 90%

anak-anak

menderita pengerdilan, atau kekurangan gizi kronis.

Semakin

Berdasarkan angka Human Development

menyaksikan meningkatnya masalah kesehatan

Indeks negara Indonesia menempati urutan ke

masyarakat yang ditimbulkan oleh beban ganda

111 dari 177 negara yang diperingkat oleh

gizi

badan.

program pembangunan PBB, bahkan di antara

atau

negara Asia Tenggara yang maju, posisi

kekurangan gizi kronis, tetap tinggi di seluruh

Indonesia berada di urutan paling bawah (www.

Afrika dan Asia, terutama di dibandingkan

Human

dengan negara-negara maju.

Implikasi dari rendahnya sumber daya manusia

dan

Kecenderungan

kelebihan pengerdilan

negara

Development Indeks).

sedang

buruk

banyak

dapat dilihat dari tingkat HDI (Human

berat anak,

687

Development

Indonesia.Com).

adalah rendahnya produktivitas dan rendahnya

kurus 73,33% (SDN 012) Kampung Baru dan

daya saing.

prevalansi anak usia sekolah gemuk 20% (SDN

Menurut laporan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2010 oleh

009)

prevalansi

nasional

sudah

Cermin

dan

(SDN

011)

Tanjungpinang Barat.

badan penelitian dan pengembangan kesehatan, secara

Bukit

Persentase untuk Puskesmas Kampung

terjadi

Bugis prevalansi anak usia sekolah kurus

penurunan prevalansi gizi buruk yaitu dari 5,4

76,67% (SDN 006) Kampung Bugis dan

% pada tahun 2007 menjadi 4,9 % tahun 2010.

prevalansi anak usia sekolah gemuk 46,67%

Tidak terjadi penurunan pada prevalansi gizi

(SDN 002) Tanjungpinang Kota. Persentase

kurang, yaitu tetap 13,0% penurunan juga

untuk Puskesmas Sei Jang prevalansi anak usia

terjadi pada prevalansi anak kurus, dimana

sekolah kurus 40% (SDN 003) Sei Jang dan

prevalansi balita sangat kurus menurun dari

prevalansi anak usia sekolah gemuk 63,33%

13,6 % tahun 2007 menjadi 13,3 % tahun 2010.

(SDN SD MATREYA) Tanjungpinang Timur

Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan

Selain kondisi di atas, ada juga beberapa

Kota Tanjungpinang, berdasarkan rekapitulasi

siswa yang memperhatikan penjelasan guru

hasil penjaringan wilayah kerja Puskesmas

dengan baik, bergairah, selalu bertanya, selalu

Berdasarkan

Se-Kota

mengumpul dan mengerjakan tugas yang

Tanjungpinang tahun 2010, persentase untuk

diberikan oleh guru, memiliki catatan yang

Puskesmas mekar batu prevalansi anak usia

lengkap dan penguasaan terhadap materi cukup

sekolah kurus 50,00% (SDN 011) Batu 9 dan

lumayan.

perhitungan

IMT/U

prevalansi anak usia sekolah gemuk 20% (SD JUWITA) Air raja. Persentase untuk Puskesmas

METODE PENELITIAN

M. Kota Piring prevalansi anak usia sekolah

Penelitian dalam hal ini menggunakan jenis

kurus 43,33% (SDLB) M. Kota Piring dan

penelitian desktiptif kuantitatif atau data yang

prevalansi anak usia sekolah gemuk 6,67%

dikumpulkan dalam angka-angka. Penelitian ini

(SDN 004, SDLB, dan SDN 014) M. Kota

merupakan penelitian non eksperimen dengan

Piring.

menggunakan

Persentase

untuk

Puskesmas

Tanjungpinang prevalansi anak usia sekolah 688

pendekatan

cross

sectional

dimana tiap subjek penelitian dilakukan satu

B. Analisa Data

kali pengumpulan data pada satu saat.

Analisa univariat dilakukan untuk

Populasi penelitian ini adalah SD 006

mengetahui distribusi frekuensi variabel

Kampung Bugis Tamjungpinang Kota, yang

yang diteliti (Arikunto, 2002). Untuk

berjumlah 111 siswa. Sampel penelitian ini

mendeskripsikan

adalah siswa Sekolah Dasar Negeri 006

dengan

Kampung Bugis Tanjungpinang Kota, kelas 3,

perawatan yang disajikan dalam bentuk

4 dan 5 dengan jumlah 55 siswa.

tabel dan distribusi frekuensi.

kepatuhan

Analisa A. Instrumen Penelitian

variabel

bivariat

pengetahuan

pengobatan

dilakukan

dan

untuk

mencari hubungan antara data variabel

Untuk mengetahui motivasi belajar

yaitu variabel bebas dan variabel terikat

siswa alat ukur yang digunakan berupa

yang dilakukan dengan uji chi-square yaitu

kuesioner. Sebelum pengisian kuesioner

uji statistik yang digunakan untuk menguji

diberikan kepada responden terlebih dahulu

signifikasi dua variabel. Untuk melihat

diberikan penjelasan tentang hal-hal yang

hubungan antara dua variable dilakukan uji

belum dipahami dari isi kuesioner dan

Chi Square dengan derajat kepercayaan

responden membutuhkan waktu sekitar 15-

95%.

30 menit untuk mengerjakannya. HASIL PENELITIAN Untuk mengetahui status gizi siswa, Pada bagian ini akan disajikan hasil dari instrument penelitian atau alat ukur yang di

penelitian tentang “Analisis hubungan motivasi

gunakan adalah timbangan injak dan belajar dan status gizi dengan prestasi belajar mikrotoise. Pengukuran tinggi badan siswa

siswa”.

dilakukan oleh dua orang yang telah dilatih 1. Analisis Univariat sebelumnya. Instrument yang dipakai untuk Untuk mengetahui motivasi belajar mengukur tinggi badan adalah pita meteran siswa alat ukur yang digunakan berupa dengan ketelitian pengukuran 0,1 cm. kuesioner. Untuk mengetahui status gizi siswa, instrument penelitian atau alat ukur

689

yang di gunakan adalah timbangan injak

86-100, baik jika nilai terletak pada 71-85,

dan mikrotoise.

cukup jika nilai terletak pada 56-70, kurang

Untuk mengetahui prestasi belajar yang

jika nilai terletak pada 41-55 dan sangat

dicapai siswa, alat ukurnya adalah dengan

kurang jika nilai terletak <40.

menggunakan studi dokumentasi dari nilai

Hasil penelitian yang dilakukan pada

semua mata pelajaran pada raport siswa.

Siswa Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung

Nilai

Bugis di peroleh gambaran mengenai

tersebut

keseluruhan

dijumlahkan

kemudian

dibagi

secara dengan

karakteristik responden sebagai berikut :

jumlah mata pelajaran dan dibandingkan

a. Motivasi Belajar Siswa

dengan nilai rata-rata kelompok subyek.

Gambaran

motivasi

belajar

siswa

Parameter yang digunakan adalah, baik

Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung

sekali, baik, cukup, kurang dan sangat

Bugis dalam mengikuti pembelajaran

kurang. Baik sekali jika nilai terletak pada

dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel. 1.1

Distribusi Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

Motivasi Belajar

Jumlah

No

1

Rendah

%

Tinggi

%

Jumlah

%

20

36,4

35

63,6

55

100

Dari tabel 1.1 diatas dapat dilihat

b. Status Gizi Siswa

motivasi belajar siswa Sekolah Dasar

Gambaran status gizi siswa Sekolah

Negeri 006 Kampung Bugis dalam

Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

mengikuti pembelajaran sebagian besar

dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

memiliki motivasi belajar yang tinggi (63,6%).

690

Tabel 1.2 Distribusi Status Gizi Siswa Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

Status Gizi

Jumlah

No Baik % 1

37

Sedang

67,2

18

% 32,7

Kurang

%

0

0

Buruk % 0

0

Jumlah

%

55

100

Dari tabel 1.2 diatas dapat dilihat status gizi

c. Hubungan Motivasi Belajar Siswa

siswa Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung

Dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah

Bugis sebagian besar memiliki status gizi baik

Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

(67,2%).

Hubungan

motivasi

belajar

siswa

dengan prestasi belajar siswa dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Tabel 1.3 Hubungan Motivasi Belajar Siswa Dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

Prestasi Belajar Motivasi Belajar

Baik

Jumlah

Cukup

Frek

%

Frek

%

Frek

%

Tinggi

37

92,5

3

7,5

40

73

Rendah

2

9,5

13

86,6

15

27

Total

39

71

16

29

55

100

Dari tabel diatas dapat diketahui

tinggi prestasi belajar baik sebanyak

proporsi siswa dengan motivasi belajar

(92,5%), sedangkan proporsi siswa 691

dengan terhadap

motivasi

belajar

rendah

Hubungan status gizi siswa dengan

prestasi

belajar

cukup

prestasi belajar siswa dapat dilihat pada

sebanyak (86,6%).

tabel dibawah ini.

d. Hubungan Status Gizi Siswa Dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Bugis Tabel 1.4 Hubungan Status Gizi Siswa Dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

Prestasi Belajar Status Gizi

Baik

Jumlah

Cukup

Frek

%

Frek

%

Frek

%

Baik

37

77

11

23

48

87

Sedang

2

28

5

71

7

13

Total

39

71

16

29

55

100

Dari tabel diatas dapat diketahui proporsi siswa

prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa

dengan status gizi baik terhadap prestasi belajar

Ho ditolak yang berarti ada hubungan yang

baik sebanyak (77%), sedangkan proporsi siswa

bermakna antara motivasi belajar dengan

dengan status gizi sedang terhadap prestasi

prestasi belajar dengan hasil p=0,001

belajar cukup sebanyak (71%).

(p<0,005), siswa yang dalam proses belajar

2. Analisis Bivariat

mempunyai motivasi yang tinggi maka akan mendapatkan hasil belajar yang baik,

Dari hasil analisis statistik dengan uji begitu pula sebaliknya. Chi-Square untuk motivasi belajar terhadap 692

Dari hasil analisis statistik dengan uji

mulai memperhatikan masalah kesusilaan,

Chi-Square untuk status gizi siswa terhadap

memulai fungsi ethisnya dan merupakan

prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa

masa

Ho ditolak yang berarti ada hubungan yang

terhadap masalah.

bermakna antara status gizi dengan prestasi

penemuan

Hasil

studi

diri

serta

kepuasan

pendahuluan

yang

belajar dengan hasil p=0,001 (p<0,005),

dilakukan oleh peneliti pada tanggal 10

siswa

belajar

November 2013, didapatkan keterangan

mempunyai status gizi yang baik akan

dari hasil wawancara pada guru kelas di

mendapatkan hasil belajar yang baik, begitu

temukan

pula sebaliknya.

memiliki motivasi belajar, itu dilihat saat

yang

dalam

proses

banyak

siswa

yang

kurang

proses belajar mengajar berlangsung seperti kurang memperhatikan penjelasan guru PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN dengan baik, tidak mencoba bertanya saat 1. Gambaran

Motivasi

Belajar

Siswa tidak mengerti, terlambat mengumpulkan

Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung tugas

bahkan

ada

yang

tidak

Bugis mengumpulkan sama sekali, serta kurang Motivasi belajar adalah keseluruhan lengkap catatan yang mereka miliki. daya penggerak dari dalam diri anak yang Akibatnya

mereka

kurang

menguasai

mampu menimbulkan kesemangatan dan materi dengan baik, bahkan ada yang tidak kegairahan belajar. (Winkel,2004). bisa menyelesaikan tugas atau contoh yang Pada fase dedaktis Jean Jascques diberikan oleh guru. Rousseau mengungkapkan anak usia 12-15 tahun merupakan masa perkembangan Setelah dilakukan penelitian motivasi pemikiran dan juga pubertas. Sedangkan belajar pada siswa Sekolah Dasar Negeri menurut

Maria

Montessori,

yang 006 Kampung Bugis sebagian besar

menyatakan pada fase dedaktis yaitu fase motivasi belajar siswa tinggi 63,6%. Hal ini dimana anak pada usia 7-12 tahun anak terjadi perbedaan antara data yang di memasuki masa abstrak, dimana anak peroleh dengan hasil dari penelitian, ini di 693

karenakan

untuk

mengukur

motivasi

badan anak. Status gizi juga didefinisikan

belajar siswa tidak hanya di lihat saat proses

sebagai status kesehatan yang dihasilkan

belajar dan mengajar berlangsung, tapi

oleh keseimbangan antara kebutuhan dan

untuk mengetahui motivasi seseorang yang

masukan nutrien.

perlu dilihat yaitu motivasi instrinsik

Tugas perkembangan anak usia sekolah

(motivasi belajar dari dalam diri siswa) dan

menurut Kretschmer pada fase Fullungs

motivasi ekstrinsik (motivasi belajar dari

periode II anak usia 7-14 tahun merupakan

luar diri siswa) Winkel, 2004.

keadaan fisik anak kembali gemuk dan

Motivasi instrinsik yaitu jenis motivasi

menurut

Jasse

Feiring

Williams

ini timbul dari dalam diri individu sendiri

menyatakan anak di usia 6-10 tahun

tanpa ada paksaan dari orang lain tetapi atas

merupakan

dasar

yang

kekuatan atau tenaga dan pada usia 10-14

intrinsik

tahun merupakan masa erkembangan tubuh

kemauan

sendiri.

Siswa

memiliki

motivasi

belajar

biasanya

memiliki

kesadaran

sendiri

masa

yang

memeperoleh

yang sangat cepat.

memperhatikan penjelasan guru dengan

Data

yang

diperoleh

Dinas

baik, rasa ingin tahunya lebih banyak

Kesehatan

terhadap materi yang diberikan, berbagai

berdasarkan rekapitulasi hasil penjaringan

gangguan yang ada disekitarnya tidak dapat

wilayah kerja Puskesmas Berdasarkan

mempengaruhi perhatiannya. Selain itu

perhitungan

motivasi belajar intrinsik juga timbul

Tanjungpinang tahun 2010, persentase

karena

untuk

adanya

hasrat

dan

keinginan

Kota

dari

Tanjungpinang,

IMT/U

Puskesmas

Se-Kota

Kampung

Bugis

berhasil, dorongan kebutuhan akan belajar

prevalansi anak usia sekolah kurus tertinggi

dan harapan akan cita-cita.

76,67% (SDN 006).

2. Gambaran Status Gizi Siswa Sekolah

Hal ini terjadi perbedaan antara data

Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

yang

Status gizi adalah ukuran keberhasilan

di

penelitian,

peroleh ini

di

dengan

hasil

karenakan

dari untuk

dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang

mengukur status gizi anak usia sekolah

diindikasikan oleh berat badan dan tinggi

tidak hanya dilihat dari postur tubuh 694

seorang

anak

tersebut

tapi

untuk

pendidikan Ovie Dicroly (Hamalik, 2006)

mengetahui status gizi tersebut dapat dilihat

juga berpandangan bahwa faktor siswa

berdasarkan Surpei konsumsi pangan,

belajar menjadi unsur yang menentukan

Biokimia, Biofisik, Statistik vital, Faktor

berhasil tidaknya pengajaran yang di

ekologi dan Antropometri.

sampaikan oleh guru, sebab setiap individu

Setelah dilakukan penelitian status gizi

memiliki kondisi internal di mana kondisi

pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 006

tersebut sangat berperan dalam aktivitas

Kampung

belajar mereka sehari-hari. Salah satu

berdasarkan

Bugis

Tanjungpinang

pengukuran

Kota

antropometri

kondisi internal tersebut adalah motivasi.

BB/TB diperoleh hasil bahwa status gizi

Hal ini sesuai hasil penelitian yang

siswa 67,2% memiliki status gizi baik.

dilakukan oleh (Supartini, 2008). tentang

3. Hubungan Motivasi Belajar Dengan

Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil

Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar

belajar Siswa Di Smk Al-Hidayah I Jakarta

Negeri 006 Kampung Bugis

Selatan. Dari hasil penelitian diperoleh

Dari hasil analisis statistik dengan uji

motivasi belajar berperan secara segnifikan

Chi-Square untuk motivasi belajar terhadap

dalam meningkatkan hasil belajar siswa,

prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa

Besar pengaruh motivasi belajar terhadap

Ho ditolak yang berarti ada hubungan yang

hasil belajar siswa adalah 23%. Dan yang

bermaksa antara motivasi belajar dengan

100% - 23% = 77% hasil belajar siswa

prestasi belajar dengan hasil p=0,001

dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

(p<0,005), siswa yang dalam proses belajar

Bila dikaitkan dengan tinjauan teoritis

mempunyai motivasi yang tinggi maka

yaitu menurut Winkel, 2004, motivasi

akan mendapatkan hasil belajar yang baik,

belajar adalah keseluruhan daya penggerak

begitu pula sebaliknya.

dari

Penguasaan siswa terhadap

dalam

diri

anak

yang

mampu

setiap

menimbulkan semangat dan kegairahan

materi yang di ajarkan dapat di pengaruhi

dalam belajar yang dibagi lagi menjadi dua

oleh beberapa faktor di antaranya adalah

yaitu motivasi belajar intrinsik dan motivasi

input mentah atau siswa itu sendiri. Tokoh

belajar ektrinsik. 695

Jenis motivasi intrinsik ini timbul dari

Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

dalam diri individu sendiri tanpa ada

dari 55 siswa terdapat hasil motivasi belajar

paksaan dari orang lain tetapi atas dasar

tinggi

kemauan sendiri. Siswa yang memiliki

sebangay 92,5% hal ini sesuai dengan yang

motivasi

biasanya

dikemukakan oleh Winkel, diatas, dimana

memiliki kesadaran sendiri memperhatikan

berdasarkan hasil yang telah peneliti

penjelasan guru dengan baik, rasa ingin

peroleh dapat dibuktikan bahwa ada

tahunya lebih banyak terhadap materi yang

hubungan antara motivasi belajar dengan

diberikan, berbagai gangguan yang ada

prestasi belajar siswa. Semakin tinggi

disekitarnya tidak dapat mempengaruhi

motivasi belajar siswa, maka akan semakin

perhatiannya. Selain itu motivasi belajar

baik pula prestasi belajar siswa tersebut.

belajar

intrinsik

intrinsik juga timbul karena adanya hasrat dan

keinginan

berhasil,

terhadap

prestasi

belajar

baik

Dengan demikian dapat disimpulkan

dorongan

bahwa

motivasi

yang

tinggi

akan

kebutuhan akan belajar dan harapan akan

menghasilkan prestasi belajar yang baik

cita-cita.

begitu juga sebaliknya jika motivasi belajar

Perlu juga diketahui bahwa siswa yang

rendah

maka

akan

memperoleh

memiliki motivasi intrinsik memiliki tujuan

hasil/prestasi yang kurang. Bila siswa

menjadi

yang

memiliki motivasi yang baik dan kuat

berpengetahuan, yang ahli dalam bidang

dalam belajar akan memperbesar usaha

studi tertentu, satu-satunya jalan untuk

kegiatannya mencapai prestasi yang baik.

menuju ketujuan yang dicapai ialah belajar,

Siswa yang kehilangan motivasi dalam

tanpa belajar tidak akan mungkin menjadi

belajar akan memberi dampak yang kurang

ahli. Dorongan yang menggerakkan itu

baik terhadap prestasi belajarnya.

orang

yang

terdidik,

bersumber pada suatu kebutuhan yang

4. Hubungan Status Gizi Dengan Prestasi

berisikan keharusan untuk menjadi yang

Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 006

terdidik dan berpengetahuan.

Kampung Bugis

Dalam hal ini peneliti berpendapat bahwa

penelitian

yang

dilakukan

Dari hasil analisis statistik dengan uji

di

Chi-Square untuk status gizi siswa terhadap 696

prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa

otot-otot menjadi lembek dan rambut

Ho ditolak yang berarti ada hubungan yang

mudah rontok. Anak-anak yang berasal dari

bermaksa antara status gizi dengan prestasi

tingkat sosial ekonami menengah ke atas

belajar dengan hasil p=0,001 (p<0,005),

rata-rata lebih tinggi daripada yang berasal

siswa

dari keadaan sosial ekonami rendah.

yang

dalam

proses

belajar

mempunyai status gizi yang baik akan

Gangguan pada produksi tenaga yaitu

mendapatkan hasil belajar yang baik, begitu

kekurangan energi berasal dari makanan,

pula sebaliknya.

menyebabkan seorang kekurangan tenaga

Hal ini sesuai hasil penelitian yang

untuk bergerak, bekerja, dan melakukan

pernah dilakukan oleh (Nuria Muliani,

aktivitas. Orang menjadi malas, merasa

2009) tentang hubungan antara status gizi

lemah, dan produktivitas kerja menurun.

dengan prestasi belajar Siswa Sekolah

Gangguan pada pertahanan tubuh yaitu

Dasar Negeri 2 Buyut Udik, Kecematan

daya tahan terhadap tekanan atau stres

Gunung Sugih, Lampung Tengah. Dari

menurun. Sistem imunitas dan antibodi

hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian

berkurang, sehingga orang mudah terserang

besar Siswa Sekolah Dasar Negeri Buyut

infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada

Udik sebanyak 69,33%, mempunyai status

anak-anak hal ini dapat membawa kematian

gizi baik serta prestasi belajar siswa sebagian besar adalah baik. Serta terdapat

Gangguan struktur dan fungsi otak

hubungan yang bermakna antara status gizi

yaitu kurang gizi pada usia muda dapat

dengan prestasi belajar siswa Sekolah

berpengaruh

Dasar Negeri 2 Buyut Udik, Kecamatan

mental, dengan demikian kemampuan

Gunung Sugih, Lampung Tengah.

berpikir. Otak mencapai bentuk maksimal

terhadap

perkembangan

Akibat gizi kurang dan gizi lebih pada

pada usia dua tahun. Kekurangan gizi dapat

proses tubuh menyebabkan gangguan pada

berakibat terganggunya fungsi otak secara

proses Pertumbuhan dimana Anak-anak

permanen. Gangguan perilaku yaitu baik

tidak tumbuh menurut petensialnya. Protein

anak-anak maupun orang dewasa yang

digunakan sebagai zat pembakar, sehingga

kkurang gizi menunjukkan perilaku tidak 697

tenang.

Mereka

mudah

tersinggung,

yang kurang. Siswa yang memiliki status

cengeng, dan apatis.

gizi yang buruk akan memberi dampak

Kegemukan atau obesitas kelebihan

yang

energi yang di konsumsi di simpan di dalam

kurang

baik

terhadap

prestasi

belajarnya.

jaringan dalam bentuk lemak. Kegemukan merupakan

salah

satu

faktor

resiko

KESIMPULAN

terjadinya berbagai penyakit degeneratif,

1. Motivasi belajar Siswa Sekolah Dasar

seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi,

Negeri 006 Kampung Bugis Tanjungpinang

penyakit-penyakit

Kota sebagian besar tinggi yaitu 73,7%.

diabetes,

jantung

koroner, hati dan kantung empedu.

2. Status gizi Siswa Sekolah Dasar Negeri 006

Dalam hal ini peneliti berpendapat bahwa

penelitian

yang

dilakukan

Kampung

di

Bugis

Tanjungpinang

Kota

sebagian besar baik yaitu 87,2%

Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Bugis

3. Terdapat hubungan yang bermakna antara

Tanjungpinang Kota dari 55 siswa terdapat

motivasi belajar dengan prestasi belajar

hasil status gizi siswa baik terhadap prestasi

siswa dengan hasil nilai p = 0,001 nilai

belajar baik sebanyak 77% hal ini sesuai

p<0,05.

dengan yang dikemukakan oleh Moehji,

4. Terdapat hubungan yang bermakna antara

2003 diatas, dimana berdasarkan hasil yang

status gizi dengan prestasi belajar siswa

telah peneliti peroleh dapat dibuktikan

dengan hasil nilai p = 0,001 nilai p<0,05.

bahwa ada hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa. Semakin baik

SARAN

status gizi siswa maka akan semakin baik

Setelah

pula prestasi belajar siswa tersebut.

menyimpulkan beberapa saran yaitu :

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

status

gizi

yang

baik

dilakukan

penelitian,

peneliti

Hasil penelitian ini diperoleh diharapkan

akan

kepada kepala sekolah dan guru untuk dapat

menghasilkan prestasi belajar yang baik,

sebagai acuan dalam proses belajar dan

begitu juga sebaliknya status gizi yang

mengajar.

buruk akan menghasilkan prestasi belajar 698

Diharapkan

agar

siswa

dapat

Dinkes, Kota Tanjungpinang. 2010. Data Tidak

mempertahankan motivasi dan semangat serta memanfatkan

fasilitas

yang

ada

dipublikasi.

dengan

Hamalik, Oemar. 2006. Psikologi Belajar dan

maksimal agar dapat memperoleh prestasi

Mengajar. Bandung : Sinar Baru

belajar yang lebih baik.

Algensindo

Diharapkan agar dapat mempertahankan

Hamzah.

2010.

Teori

Motivasi

Dan

status gizi siswa dan selalu menjadi motivator

Pengukurannya. Analisis Di Bidang

bagi siswa untuk selalu memperoleh prestasi

Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

belajar yang lebih baik.

Kartasapoetra, H. Marsetyo, Drs. Med. Ilmu Gizi, Korelasi Gizi, Kesehatan Dan Produktivitas Kerja. Jakarta : Rineka

DAFTAR PUSTAKA cipta Achmad, 2000. Penuntasan Masalah Gizi Muachji. 2003. Ilmu Gizi 2. Jakarta : Papas Kurang

Gizi

In

Widya,

Karya Sinar Siinanti.

Nasional, Pangan Dan Gizi V. Jakarta Notoatmodjo, :

Lembaga

Ilmu

seokidjo.

2010.

Metodelogi

Pengetahuan Penelitian

Kesehatan.

Jakarta

:

Indonesia. Rineka Cipta. Ali, Zaidin. 2010. Pengantar Metode Statistik Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Untuk Keperawatan. Jakarta : TIM Penelitian

Ilmu

Keperawatan.

Jakarta

:

Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Salemba Medika Gizi. Jakarta : EGC Proverawati, Atikah dan Erna Kusuma Wati. Anni, Catherina, Tri. 2004. Psikologi Belajar. 2010. Ilmu Gizi Untuk Keperawatan Semarang : IKKP Semarang Press Dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta : Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Ruha Medika. Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta Seharjo. 2003. Berbagai Cara Pendidikan Gizi. Aziz Alimul Hidayat. 2009. Metode Penelitian Jakarta : Bumi Aksara Keperawatan Dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.

699

Sekolah Dasar Negeri 006 Kampung Madong

Pendekatan Baru. Bandung

Tanjungpinang Kota. 2010. Data

: PT Remaja Rosdakarya. Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disiplin pada Prilaku

Tidak Dipublikasikan. Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset

dan Prestasi Siswa. Jakarta : PT

Keperawatan. Yogyakarta : Garaha Ilmu

Gramedia Widiasarana Indonesia Winardi. 2008. Motivasi Dan Pemotivasian

Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor

Dalam Manajemen. Jakarta : PT Raja

Yang Mempengaruhinya. Jakarta : Rhineka Cipta

Grafindo Persada Winkel, WS. 2005. Psikologi Pengajaran.

Soekirman. 2000. Ilmu Gizi Dan Aplikasinya

Yogyakarta : Media Abadi

Untuk Keluarga Dan Masyarakat. Jakarta

:

Pendidikan

Direktorat Tinggi

2007.

Jendral

Pengajaran. Yogyakarta : Media

Departeman

Pendidikan Nasional.

Psikologi

Abadi Zaidin Ali. 2002. Pengantar Metode Statistik

Sondang P Siagian. 2004. Teori Motivasi Dan

Untuk Keperawatan. Jakarta : Trans

Aplikasinya. Jakarta : Rhineka Cipta

Info Media.

Supriasa, I Dewa Nyaman, Bachtyar Bakri dan

Indonesia Nutrition Network Gizi.Net (2011).

Ibnu Fajar. 2002. Penilaian status

Umur Makin Tinggi : Anak Kurus dan

Gizi. Jakarta : EGC

Gemuk Menurun, Anak Gizi Kurang

Syah, Muhibbin, 2001. Psikologi Belajar.

dan

Jakarta : Bumi Aksara 2008. Pendidikan

Anak

Pendek

Meningkat?.

http://gizi.net/2011/01/umur-makinPsikologi

tinggi-anak-kurus-dan-gemuk-

Dengan

menurun-anak-gizi-kurang-dan-anak-

Pendekatan Baru. Bandung

pendek-meningkat/. On Line: 18 Mei

: PT Remaja Rosdakarya.

2011. Jam 15.29 WIB.

2010. Pendidikan

Psikologi

Andewi.

Dengan

Gizinet.com

(2011).

CFC

PENATALAKSANAAN GIZI BURUK DI 700

MASYARAKAT.

http://www.gizikia.depkes.go.id/archi

http://www.who.int/nutrition/.

ves/816. On Line: 1 Juni 2011. Jam

Line: 7 jani 2011. Jam 16.40 WIB.

19.38 WIB

On

Nuria Muliani. 2009. Hubungan Antara Status

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Gizi Dengan Prestasi Belajar Siswa

Direktorat Jendral. Bina Gizi Dan

Sekolah Dasar Negeri 2 Buyut Udik,

KIA. (2011) Hari Gizi Nasional 2011.

Kecamatan

.http://www.gizikia.depkes.go.id/arch

Lampung Tengah. Skripsi. FK-UGM.

ives/593/img_5839. On Line: 7 jani

Yogyakarta.

2011. Jam 16.34 WIB.

Kekurangan

Tindakan

Sugih,

Supartini. 2008. Hubungan Motivasi Belajar

World Heald Organization. WHO, Ahli Gizi Mengambil

Gunung

Dengan Hasilbelajar Siswa Di Smk Al – Hidayah

Terhadap Gizi

Ijakarta

Selatan.

Skripsi. STKIP-PURNAMA, Jakarta

701

PENGARUH PIJAT OKSITOSIN DAN PERAWATAN PAYUDARA TERHADAP PENGELUARAN ASI PADA PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DI RB MURNI Hotmaria Julia Dolok Saribu1, Wasis Pujiati2

ABSTRAK Pada masa nifas ibu terjadi pengeluaran ASI merupakan suatu proses perlepasan hormon oksitosin untuk mengalirkan air susu yang sudah diproduksi melalui saluran dalam payudara. Perawatan payudara merupakan salah satu bagian penting yang harus diperhatikan sebagai persiapan untuk menyusui nantinya, hal ini dikarenakan payudara merupakan organ esensial penghasil ASI pada bayi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektifitasan Pijat Oksitosin dan Perawatan Payudara terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu nifas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian pra-eksperimen dengan rancangan one group pretest posttest yaitu rancangan tanpa kelompok pembanding (kontrol) tetapi sudah dilakukan observasi pertama (Pretest) yang memungkinkan menguji perubahan–perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh ibu nifas di RB Kasih Murni berjumlah 36 orang. Pada penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara Non Random dengan cara Consecutive Sampling. Pengumpulan data yang digunakan berupa self report, lembar observasi, gelas ukur, dan SOP. Analisis data menggunakan Uji Wilcoxon Test dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil uji Wilcoxon pada perawatan payudara menunjukkan bahwa P value < α (0,001 < 0,05), sedangkan pijat oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada ibu nifas dmemiliki nilai p value 0,000. Dapat dilihat Perbedaan Analisa Nilai Pre Test dan Post Test maka Pijat Oksitosin lebih efektif terhadap kelancaran pengeluaran ASI. Dan diharapkan terapi komplementer ini dikembangkan menjadi suatu trend kesehatan. Kata Kunci : Perawatan Payudara, Pijat Oksitosin, Masa Nifas, ASI

vagina berfungsi sebagai saluran tempat

Pendahuluan Masa nifas atau masa puerperium adalah

keluarnya sekret yang berasal daari cavum uteri masa setelah persalinan selesai sampai 6 selama masa nifas yang disebut lochea. minggu atau 42 hari. Selama masa nifas, organ Karakteristik lochea dalam masa nifas terbagi reproduksi secara perlahan akan mengalami atas empat, yaitu lochea rubra/ kruenta, lochea perubahan seperti keadaan sebelum hamil. sanguinolenta, lochea serosa, lochea alba Perubahan organ reproduksi

ini disebut (Maritalia, 2012).

involusi. Pada masa nifas terdapat tiga tahapan Data ibu post partum normal yang di dapat yaitu

puerperium,

masa

puerperium dari Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang pada

intermedial, masa remote puerperium (Martalia, Tahun 2014 berjumlah 5.733 dengan persentasi 2012). Perubahan fisiologis yang khas pada 90,44 % dan Tahun 2015 dari Januari sampai masa nifas ini yaitu pada vagina karena pada Juni berjumlah 2.754 dengan persentasi 41,3 %. 702

Data ibu post partum normal di Rumkital Dr.

merupakan dasar biologik dan psikologik yang

Midiyato S pada Tahun 2014 pada bulan Januari

dibutuhkan untuk pertumbuhan”.

berjumlah 59 Jiwa. Data ibu post partum normal

Pada masa nifas ibu terjadi pengeluaran

di RSUD Tanjungpinang tahun 2014 berjumlah

ASI merupakan suatu proses perlepasan

362 jiwa. Data ibu post partum normal di RSUD

hormon oksitosin untuk mengalirkan air susu

Provinsi Kepri Tanjungpinang berjumlah 267

yang sudah diproduksi melalui saluran dalam

jiwa.

payudara. Menurut Utami (2005), ASI eksklusif

Kehamilan, persalinan, dan menyusui, merupakan

perlu

eksklusif saja, tanpa tambahan cairan seperti

dipersiapkan wanita dari pasangan subur agar

susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan

dapat dilalui dengan aman. Selama masa

tanpa tambahan makanan padat seperti pisang,

kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi

papaya, bubur susu, biscuit, bubur nasi dan tim.

yang tak terpisahkan. Kesehatan ibu hamil dan

Manfaat

menyusui adalah persyaratan penting untuk

melindungi

fungsi optimal dan perkembangan kedua bagi

mengandung antibody, makanan dengan gizi

unit itu. Saat menanti kelahiran bayi, terlebih

yang komplit dan sempurna bagi bayi, bayi

dahulu

keadaan

tidak mudah terkena diare, kolik, alergi dan

psikologisnya dalam menghadapi bayinya

eksim, murah dan ekonomis, sebagai KB

nanti, terutama dalam hal menyusui bayi. World

alamiah bagi ibunya, mempercepat involusi

Health Organization (WHO) dan United

uterus, menumbuhkan rasa kasih sayang antara

Nations International Children’s Emergency

ibu dan anak, mencegah kanker payudara.

ibu

proses

harus

fisiologi

yang

dikatakan sebagai pemberian ASI secara

menyiapkan

pemberian bayi

ASI dari

adalah infeksi

untuk karena

Fund (UNICEF) sudah merekomendasikan hal

Persentase pemberian ASI eksklusif pada

itu sejak 1979 dalam pertemuan di Geneva

bayi 0-6 bulan di Indonesia pada tahun 2013

tentang makanan bayi dan anak, antara lain

sebesar

berisi: “menyusui merupakan bagian terpadu

dibandingkan dengan tahun 2012 yang sebesar

dari proses reproduksi yang memberikan

48,6%.

makanan bayi secara ideal dan alamiah, serta

dampak yang positif baik bagi ibu maupun

54,3%,

Menyusu

sedikit

sejak

meningkat

dini

bila

mempunyai

bayinya, bagi bayi kehangatan saat menyusu 703

dapat menurunkan risiko kematian karena

Dengan jumlah kunjungan pertama ibu hamil

hipothermi (kedinginan). Selain itu, menjadikan

(K1) 62.138 jiwa (96,5%). Kunjungan ke empat

bayi lebih kebal dari bakteri lain di lingkungan

ibu hamil (K4) 58.743 jiwa (91,23%). Pada

karena memperoleh kolostrum yang penting

tahun 2012 bayi yang mendapatkan ASI

untuk kelangsungan hidupnya. Sedangkan bagi

eksklusif berjumlah 42,51 % dan terjadi

ibu, manfaat menyusui dapat mengurangi

peningkatan pada tahun 2013 menjadi 48, 81%.

morbiditas

dan

mortalitas

proses

Perawat seharusnya tidak hanya bisa

menyusui akan merangsang kontraksi uterus

berperan memberikan pelayanan kesehatan

sehingga

yang bersifat kuratif, tetapi mereka juga

mengurangi

karena

perdarahan

pasca

melahirkan. Perhatian terhadap upaya penurunan angka

dituntut memberdayakan ibu dalam usaha yang bersifat

preventif.

Perawatan

payudara

kematian neonatal (0-28 hari) menjadi penting

merupakan salah satu bagian penting yang

karena kematian neonatal memberi kontribusi

harus diperhatikan sebagai persiapan untuk

terhadap 56% kematian bayi. Hasil Riskesdas

menyusui

2013 menyatakan bahwa persentase proses

payudara merupakan organ esensial penghasil

mulai mendapat ASI kurang dari satu jam, IMD

ASI pada bayi.

(insiasi menyusu dini) pada anak umur 0-23

Riksani

nantinya,

hal

(2012)

ini

dikarenakan

mengatakan

demi

bulan di Indonesia pada tahun 2013 sebesar

keberlangsungan proses menyusui, payudara

34,5%. Persentase proses mulai mendapat ASI

harus dirawat dengan baik dan tepat agar

antara 1–6 jam sebesar 35,2%, persentase

terhindar dari gangguan serta penyakit yang

proses mulai mendapat ASI antara 7-23 jam

mungkin akan menimpa ibu selama proses

sebesar 3,7%, sedangkan persentase proses

menyusui. Selain akan membuat payudara

mulai mendapat ASI antara 24-47 jam sebesar

indah kembali, perawatan yang benar dan

13,0% dan persentase proses mulai mendapat

dilakukan secara teratur akan memudahkan

ASI lebih dari 47 jam sebesar 13,7%.

bayi saat menyusu, merangsang produksi ASI,

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas

dan mencegah payudara terluka selama proses

Kesehatan Provinsi Kota Tanjungpinang, pada

menyusui.

tahun 2013 jumlah ibu hamil 64. 389 jiwa.

kehamilan adalah suatu bagian yang harus 704

Perawatan

payudara

selama

diperhatikan dan dilakukan sebagai persiapan

Tinjauan Pustaka

para wanita/ ibu hamil untuk menyusui

Bobak et al. (2004) mengatakan bahwa

nantinya. Karena dengan melakukan perawatan

kehamilan berlangsung selama 9 bulan menurut

payudara saat hamil maka ASI akan keluar

penanggalan internasional, 10 bulan menurut

dengan lancar (Fagus, 2012).

penanggalan lunar, atau sekitar 40 minggu.

Faktor

perawatan

yang

Kehamilan dibagi menjadi tiga periode tiga

berkembang salah satunya dalam memicu

bulanan atau trimester. Trimester pertama

pengeluaran hormon oksitosin melalui pijat

adalah periode minggu pertama sampai minggu

oksitosin yang dilakukan pada ibu masa nifas

ke-13. Trimester kedua adalah periode minggu

dan menyusui. Pijat oksitosin merupakan salah

ke-14 sampai ke-26, sedangkan trimester

satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran

ketiga, minggu ke-27 sampai kehamilan cukup

produksi ASI. Pijat oksitosin adalah pemijatan

bulan (38 sampai 40 minggu).

pada sepanjang kedua sisi tulang belakang.

Payudara mungkin akan mengalami sedikit

Pijatan ini dilakukan untuk merangsang refleks

perubahan

oksitosin atau refleks pengeluaran ASI. Ibu

kehamilan. Sebelum kehamilan, aerola (area

yang menerima pijat oksitosin akan merasa

yang mengelilingi puting susu) biasanya

lebih rileks (F.B Monika, 2014).

berwarna kemerahan, namun akan menjadi

Menurut memberikan

Depkes

payudara

RI

kenyamanan

(2007) pada

ibu

Selain dan

coklat

dan

warna

sebelum

mungkin

dan

akan

setelah

mengalami

pembesaran selama masa kehamilan dan masa

merangsang refleks oksitosin, pijat oksitosin

menyusui.

Untuk

juga memilki manfaat lain, yaitu mengurangi

perawatan.

Perawatan payudara dianjurkan

pembengkakan

(engorgement),

mulai dilakukan setelah kehamilan berusia 5-6

mengurangi sumbatan ASI (plugged/ milk

bulan. Sebab, jika sejak awal kehamilan kita

duct),

sudah

dan

payudara

membantu

mempertahankan

produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit.

melakukan

itu

perlu

perangsangan

dilakukan

puting.

Misalnya, bukan hasil baik yang diperoleh, tetapi malah bisa menimbulkan kontraksi rahim (Sari & Rimandini, 2014).

705

Massage/ pijit disebut juga dengan pijatan yang

C. Instrumen Penelitian

berarti sentuhan yang dilakukan dengan sadar

Pada penelitian eksperimen, istilah

(Nanayakkara, 2006). Menurut Fallows dan

instrumen

Russel (2003), pijit adalah hal yang dilakukan

menjelaskan alat yang digunakan dalam

dengan rasa tenang dan rileks. Sentuhan

melaksanakan uji coba/ perlakuan terhadap

merupakan bahasa universal bagi umat manusia

subyek penelitian dan alat ukur untuk

(Aslani, 2003). Sentuhan merupakan perilaku

mengumpulkan data (Dharma, 2011). Alat

manusia yang azasi (Sanderson et al, 1991) dan

ukur yang digunakan berupa self report,

maknanya yang penting bagi kesehatan rohani

lembar observasi, gelas ukur, dan SOP.

serta jasmani sudah diteliti dengan baik

dapat

digunakan

untuk

D. Analisa Data

(Montago, 1986 dalam Price, 1997).

Analisis univariat bertujuan untuk menjelaskan

atau

mendeskripsikan

Metode Penelitian karakteristik setiap variabel penelitian. Penelitian

ini

menggunakan

metode Pada umumnya dalam analisis ini hanya

penelitian pra-eksperimen dengan rancangan menghasilkan distribusi frekuensi dan one group pretest posttest yaitu rancangan persentase

dari

setiap

variabel

tanpa kelompok pembanding (kontrol) tetapi (Notoatmodjo, 2010). Analisis univariat sudah dilakukan observasi pertama (Pretest) untuk melihat distribusi variabel dependen

yang memungkinkan menguji perubahan –

yaitu kelancaran pengeluaran ASI dan perubahan

yang

terjadi

setelah

adanya karakteristik responden.

eksperimen (Notoatmodjo, 2010). Analisis bivariat pada penelitian ini Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh menggunakan uji statistik yang sebelumnya ibu nifas di RB Kasih Murni Kelurahan Batu IX dilakukan uji kenormalan data dengan Kota Tanjungpinang yang berjumlah 36 orang. melihat hasil test of normality Shapiro-wilk Pada penelitian ini menggunakan teknik dan diperoleh hasil nilai kemaknaan untuk pengambilan sampel secara Non Random kelompok eksperimen 0,022 dan kelompok dengan cara Consecutive Sampling dengan kontrol 0,027 sehingga dapat disimpulkan jumlah sampel 32 orang.

706

bahwa data tidak berdistribusi normal (p <

keefektifitasan Pijat Oksitosin dan Perawatan

0,05).

Payudara terhadap kelancaran pengeluaran ASI

Uji kemaknaan menggunakan

Uji

pada ibu nifas”.

Wilcoxon Test, untuk mengetahui nilai rata

3. Analisis Univariat

– rata antar satu kelompok dengan

a. Distribusi

kelompok

lain,

dimana

antara

Frekuensi

Kelancaran

suatu

Pengeluaran ASI Pada Kelompok

kelompok lain tidak saling berhubungan

Perawatan Payudara Sebelum dan

yang menghasilkan 𝜌, dengan 𝛼 = 0,05.

Sesudah

Diberikan

Perawatan

Payudara di RB Kasih Murni Hasil Penelitian Pada bagian ini akan disajikan hasil dari penelitian

tentang

“Analisis

mengetahui

Diagram 1. Distribusi Frekuensi Kelancaran Pengeluaran ASI Pada Kelompok Perawatan Payudara Sebelum dan Sesudah Diberikan Perawatan Payudara 14

87,5%

75%

12 10 8

LEBIH LANCAR

6

25%

18,75%

4

KURANG LANCAR

2 0 PRE TEST

POST TEST

Diagram 1.1 menunjukkan bahwa

responden

sebagian

ASI

pengeluaran ASI yang lebih lancar

yaitu

berjumlah sebanyak 14 responden

responden

besar

pengeluaran

kurang

lancar

sebanyak 12 responden (75%). Sesudah diberikan diketahui

perawatan bahwa

kelancaran

(87,5%).

payudara

sebagian

dengan

b. Distribusi

besar

Frekuensi

Kelancaran

Pengeluaran ASI Pada Kelompok Pijat 707

Oksitosin

Sebelum

dan

Sesudah

Diberikan Pijat Oksitosin di RB Kasih Murni

Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Kelancaran Pengeluaran ASI Pre Test dan Post Test Pada Kelompok Pijat Oksitosin

Pengeluaran

Pre Test

Post Test

ASI N

%

N

%

Tidak Lancar

16

100

4

25,0

Lancar

0

0

12

75,0

Jumlah

16

100

16

100

Pada tabel 1.1 didapatkan hasil pada

independen)

kelompok perlakuan pijat oksitosin pre

pengeluaran ASI pada ibu nifas (variabel

test semua pengeluaran ASI tidak

dependen). Analisis Pengaruh Sebelum dan

lancar 16 responden (100%), post test

Sesudah diberikan

mayoritas responden pengeluaran ASI

Perawatan Payudara Terhadap Kelancaran

lancar sebanyak 12 responden (75,0%).

Pengeluaran ASI pada Ibu Nifas. a. Analisis

4. Analisis Bivariat Analisis

bivariat

perawatan

kelancaran

Pijat Oksitosin dan

Pengaruh

Sebelum

dan

Sesudah diberikan Perawatan Payudara dilakukan

untuk

Terhadap Kelancaran Pengeluaran ASI

melihat adanya pengaruh pijat okstitosin dan

terhadap

payudara

pada Ibu Nifas di RB Kasih Murni

(variabel

708

Diagram 1.2 Analisis Pengaruh Sebelum dan Sesudah diberikan Perawatan Payudara Terhadap Kelancaran Pengeluaran ASI pada Ibu Nifas

15

87,5%

75%

10 LEBIH LANCAR 18,75%

25%

5

KURANG LANCAR

0 PRE TEST

POST TEST

Diagram 1.2 menunjukkan bahwa ada

pengeluaran ASI pada ibu nifas (Ho

peningkatan kelancaran pengeluaran ASI

ditolak).

setelah diberi perawatan payudara. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa P value < α

b. Analisis

Pengaruh

Sebelum

dan

(0,001 < 0,05), sehingga disimpulkan ada

Sesudah diberikan Pijat Oksitosin

pengaruh

Terhadap Kelancaran Pengeluaran ASI

yang

bermakna

pemberian

perawatan payudara terhadap kelancaran

pada Ibu Nifas di RB Kasih Murni Tabel 1.2

Analisis Kelancaran Pengeluaran ASI pada Ibu Nifas Pre Test dan Post Test Kelompok Pijat Oksitosin

N

Rerata±s.d

Perbedaan

IC95%

P value

rerata ± s.d Pre Test kelompok Pijat

16

42,31±3,240

Oksitosin

6,7608,500±3,266

Post Test Kelompok Pijat

16

50,81±3,146

Oksitosin

709

10,240

0,000

Tabel 1.2 didapatkan hasil adanya

Berdasarkan

pengaruh pijat oksitosin terhadap

menunjukkan 62,5% ibu nifas di RB

pengeluaran ASI pada ibu nifas

Kasih Murni memiliki usia antara 17-

dengan

Jumlah

25 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa

pengeluaran ASI yang dikeluarkan

ibu nifas di RB Kasih Murni berada

oleh ibu nifas yang dilakukan pijat

pada usia reproduksi yang baik untuk

oksitosin saat pre test adalah 42,31 mL

hamil.

dan post test meningkat menjadi 50,81

kemampuan untuk hamil yang tinggi

mL.

terjadi pada rentang usia wanita 20

Dapat dilihat Perbedaan Analisa Nilai

tahun. Rendahnya kemampuan untuk

Pre Test dan Post Test maka Pijat

hamil pada usia lanjut berhubungan

Oksitosin lebih efektif terhadap kelancaran

penurunan aktifitas hubungan seksual.

pengeluaran ASI dengan Uji Wilcoxon

Penurunan tersebut juga dimulai

diperoleh ρ Value 0,000 < 0,05 (ρ value <

pada usia di atas 30 tahun, faktor

α 0,05 ).

kualitas sel telur, kapasitas serviks,

p

value

0,000.

hasil

Eni

penelitian

(2011),

menyatakan

kondisi hormonal menjadi faktor yang Pembahasan Hasil Penelitian dapat menurunkan kemampuan untuk Dari hasil penelitian yang telah dilakukan hamil pada wanita.

Hal ini sesuai

pada tanggal 01 Desember 2014 sampai 08 dengan penelitian Rahmawati, Nuraini April 2014. Jumlah responden dalam penelitian &

Resti

Agustina

Setyaningrum

ini adalah 32 orang ibu nifas. Yang dibagi (2009), menyatakan bahwa dari 32 menjadi

dua

kelompok

yaitu

kelompok responden

paling

banyak

pada

perlakuan Pijat Oksitosin dan kelompok kelompok umur 20-35 tahun (83,3%), perlakuan Perawatan Payudara. yaitu

berada dalam kurun waktu

1. Karakteristik Responden reproduksi sehat (80%). a. Karakteristik Responden berdasarkan b. Karakteristik Responden berdasarkan Usia Pekerjaan

710

Data pekerjaan

penelitian

dari

diketahui

status

Berdasarkan tingkat pendidikan

59,375%

responden didapati sebagian besar

responden berstatus tidak bekerja. Hal

responden

ini sejalan dengan penelitian yang

pendidikan

dilakukan oleh Wulandari, Vika &

46,875%. Hal ini sejalan dengan

Sulastri (2012) yang menyatakan

penelitian

bahwa dari 32 responden didapati

Wulandari, Vika & Sulastri (2012)

sebagian besar responden sebagai ibu

yang menyatakan bahwa dari 32

rumah tangga. Pada masa sekarang

responden didapati sebagian besar

bekerja merupakan kebutuhan setiap

berpendidikan

individu. Melalui bekerja, keluarga

pendidikan

mampu memenuhi kebutuhan keluarga

diasumsikan

seperti kebutuhan pangan, sandang,

informasi penting termasuk informasi

papan maupun kebutuhan sosial. Oleh

kesehatan payudara selama kehamilan.

karena itu responden dengan status

Tingkat pendidikan SMA di RB

bekerja

dapat

memiliki SMA

yang

tingkat

yaitu

sebesar

dilakukan

SMA. SMA

Tingkat

sudah

dapat

oleh

dapat

menerima

menggunakan

Kasih Murni sudah dianggap tinggi,

penghasilannya Sebagai modal untuk

walaupun pada saat ini sudah banyak

membeli buku mengenai perawatan

ditemukan penduduk dengan tingkat

payudara

pendidikan

untuk

meningkatkan

pergurun

tinggi.

pengetahuan nya tentang manfaat

Responden dengan tingkat pendidikan

perawatan payudara.

SMA sudah dapat menerima informasi

Namun

dikarenakan

sulitnya

dari pihak yang dianggap berpengaruh

peluang kerja di masa kini, sehingga

dalam hal kesehatan seperti petugas

sebagian besar reponden lebih memilih

kesehatan. Pendidikan kesehatan dapat

mengurusi

diberikan oleh petugas kesehatan pada

hal

rumah

tangga

dibandingkan bekerja di luar rumah.

saat

c. Karakteristik Responden berdasarkan

ibu

pemeriksaan

Tingkat Pendidikan

melakukan kehamilan

kunjungan sehingga

melalui pendidikan kesehatan yang 711

diterima oleh ibu dapat meningkatkan

menyusui dini segera setelah bayi lahir.

pengetahuan nya tentang kesehatan

Namun pada persalinan melalui operasi

terutama

perawatan

Caesar, inisiasi menyusu dini dapat

kelancaran

dilakukan satu jam setelah menjalani

dalam

payudara

hal

untuk

pengeluaran ASI.

operasi (Riksani, 2011).

2. Kelancaran Pengeluaran ASI Sebelum dan

Sesudah

diberikan

perawatan

Sesudah diberikan Perawatan Payudara

payudara seperti yang dapat dilihat di atas,

Pada Responden Ibu Nifas di RB Kasih

14 orang responden dalam kelompok

Murni.

perlakuan perawatan payudara mengalami

Berdasarkan

penelitian

peningkatan kelancaran pengeluaran ASI

sebelumnya di bab ini, sebelum dilakukan

dari kurang lancar menjadi lebih lancar

perawatan payudara terdapat 12 responden

(87,5%). Sehingga dapat disimpulkan

(75%) pada kelompok ini yang memiliki

bahwa

kelancaran pengeluaran ASI yang kurang

meningkatkan

lancar

ASI dengan baik. Hal ini berkelanjutan

berdasarkan

hasil

hasil

pengukuran

perawatan

kelancaran

hasil

dapat

pengeluaran

dengan menggunakan self report dengan

juga

total pertanyaan berjumlah 20 soal.

sebelumnya yang dilakukan oleh Fagus

ASI adalah susu yang diproduksi

dengan

payudara

dari

(2012) yang membuktikan bahwa ada

seorang ibu untuk konsumsi bayi dan

peningkatan

merupakan sumber gizi utama bayi yang

diberikan perawatan payudara.

belum bisa mencerna makanan padat (Nirwana,

2014).

Setelah

penelitian

peneluaran

ASI

setelah

Penelitian ini sejalan juga dengan

persalinan

penelitian yang dilakukan oleh Astari &

selesai, setiap ibu harus segera bersiap

Djuminah (2008) dengan judul penelitian

menjalani tugas lain, yaitu menyusui bayi

hubungan

yang baru saja dilahirkan, meskipun

antenatal dengan kecepatan sekresi ASI

merasa sangat letih, susuilah bayi sesegera

post partum primipara.

mungkin. Pada persalinan normal, ibu dapat

langsung

melakukan

3. Distribusi

inisiasi

perawatan

Frekuensi

payudara

masa

Kelancaran

Pengeluaran ASI Pada Kelompok Pijat 712

Oksitosin Sebelum dan Sesudah Diberikan

Payudara. Dapat disimpulkan maka Pijat

Pijat Oksitosin di RB Kasih Murni

Oksitosin lebih efektif terhadap kelancaran

Berdasarkan

penelitian

didapatkan

pengeluaran

ASI

dengan

Uji

Wilcoxon

Dengan

diperoleh ρ Value 0,000 < 0,05 (ρ value < α

didapatkannya hasil adanya pengaruh pijat

0,05 ). Hal ini dikarenakan pijat oksitosin

oksitosin terhadap pengeluaran ASI pada

merupakan pemijatan pada sepanjang kedua

ibu nifas di RB Kasih Murni. Jumlah

sisi belakang. Pijatan ini dilakukan untuk

pengeluaran ASI yang dikeluarkan oleh

merangsang hormon oksitosin atau refleks

ibu nifas yang dilakukan pijat oksitosin

pengeluaran ASI. Ibu yang menerima pijat

rata-rata saat pre test dan post test menjadi

oksitosin akan merasa lebih rileks (F.B

meningkat. Hasil penelitian menunjukkan

Monika, 2014).

hasil

p

value

<

0,05.

rata-rata pengeluaran ASI pada kelompok Pijat

Oksitosin

didapatkan

pada

semua

saat

tidak

Pijat oksitosin yang dilakukan akan

pre

test

memberikan kenyamanan pada ibu sehingga

lancar

16

akan memberikan kenyamanan pada bayi yang

responden dan post test yang lancar

disusui.

Secara

fisiologis

sebanyak 12 responden.

meningkatkan

Hasil Analisa Bivariat yang dilakukan

dikirimkan ke otak sehingga hormon oksitosin

antara kelompok perlakuan Pijat Oksitosin dan

dikeluarkan dan mengalir ke dalam darah,

kelompok perlakuan Perawatan Payudara

kemudian

menunjukkan bahwa ada efektifitas yang

menyebabkan

bermakna antara Perawatan Payudara dengan

berkontraksi dan membuat ASI mengalir di

nilai P value < α (0,001 < 0,05) dan Pijat

saluran ASI (milk ducts).

hormon

masuk

ke

otot-otot

hal

tersebut

oksitosin

payudara disekitar

yang

ibu alveoli

Oksitosin dengan nilai dengan p value 0,000 terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu

Kesimpulan

nifas di RB Kasih Murni.

1. Sebagian besar ibu nifas di RB Kasih

Dapat dilihat Perbedaan Analisa Nilai Pre

Murni berusia 17-25 tahun dengan status

Test dan Post Test pada masing-masing

tidak bekerja serta mempunyai tingkat

kelompok Pijat Oksitosin dan Perawatan

pendidikan SMA. 713

2. Sebagian besar ibu nifas di RB Kasih

6. Dapat dilihat Perbedaan Analisa Nilai Pre

Murni memiliki kelancaran pengeluaran

Test dan Post Test pada masing-masing

ASI yang kurang lancar sebelum diberikan

kelompok Pijat Oksitosin dan Perawatan

pijat oksitosin dan perawatan payudara.

Payudara.

3. Sesudah diberikan perawatan payudara, 14 orang

responden

dalam

Dapat

disimpulkan

Pijat

Oksitosin lebih efektif terhadap kelancaran

kelompok

pengeluaran ASI dengan Uji Wilcoxon

perlakuan perawatan payudara mengalami

diperoleh ρ Value 0,000 < 0,05 (ρ value <

peningkatan kelancaran pengeluaran ASI

α 0,05). Hal ini dikarenakan Pijat Oksitosin

dari kurang lancar menjadi lebih lancar

merupakan pemijatan pada sepanjang

(87,5%). Sehingga dapat disimpulkan

kedua sisi belakang. Pijatan ini dilakukan

bahwa

untuk merangsang hormon oksitosin atau

perawatan

meningkatkan

payudara

kelancaran

dapat

pengeluaran

refleks

ASI dengan baik.

pengeluaran

ASI.

Ibu

yang

menerima pijat oksitosin akan merasa lebih

4. Setelah dilakukan pijat oksitosin rata-rata

rileks (F.B Monika, 2014).

saat pre test dan post test menjadi meningkat. Hasil penelitian menunjukkan

Saran

rata-rata pengeluaran ASI pada kelompok Pijat

Oksitosin

pre

test

Pijat Oksitosin dan Perawatan Payudara

lancar

16

terhadap kelancaran pengeluaran ASI maka

responden dan post test yang lancar

diharapkan kepada ibu nifas maupun pembaca

sebanyak 12 responden.

dapat menggunakan Pijat Oksitosin dan

didapatkan

pada

semua

saat

Karena telah terbukti terdapat efektifitas

tidak

5. Ada efektifitas yang bermakna antara Perawatan Payudara dengan nilai P value

Perawatan Payudara sebagai terapi pilihan dalam kelancaran pengeluaran ASI.

< α (0,001 < 0,05) dan Pijat Oksitosin

Selain

sasarannya

kepada

individu

petugas

kesehatan

dengan nilai dengan p value 0,000 terhadap

diharapkan

kelancaran pengeluaran ASI pada ibu nifas

mengembangkan

di RB Kasih Murni.

kesehatan mengenai Pijat Oksitosin dan

714

memberikan

dapat

pendidikan

Perawatan Payudara pada saat ibu melakukan

Dharma, Kelana Kusuma. (2011). Metodologi

kunjungan pemeriksaan antenatal.

Penelitian

Diharapkan bagi peneliti lain agar terus mengembangkan

penelitian

tentang

Penelitian. Jakarta : CV. Trans Info

Oksitosin dan Perawatan Payudara terhadap

dengan

membandingkan

efektivitas

Media DINKES Kota Tanjungpinang. (2012-2013).

Pijat

Oksitosin dan Perawatan Payudara dengan

Data tidak dipublikasikan DINKES Provinsi Kepulauan Riau. (2012-

intervensi lain yang bisa mempengaruhi kelancaran pengeluaran ASI.

(Panduan

Melaksanakan dan Menerapkan Hasil

Pijat

kelancaran pengeluaran ASI pada ibu nifas

Keperawatan

2013). Data tidak dipublikasikan Dokter Anakku. (2013). Ayah ASI.www. Dokteranakku.net.Diakses : 29 Februari 2015

DAFTAR PUSTAKA Hidayat, A. Aziz Alimul. (2008). Metode Astari, Asti Melani & Djuminah. (2008). Penelitian Keperawatan dan Teknik Hubungan Perawatan Payudara Masa Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika Antenatal dengan Kecepatan Sekresi ASI Kusmiran, Eni. (2011). Kesehatan Reproduksi Post Partum Primipara. Jurnal (hal. 1) Remaja dan Wanita. Jakarta : Salemba Bobak et al. (2004). Buku Ajar Keperawatan Medika Maternitas Edisi 4. Jakarta : EGC Murkoff, Heidi et al .(2006). Kehamilan : Apa Cadwell, Karin & Cindy Turner-Maffei. yang Anda Hadapi Bulan per Bulan. (2011). Manajemen Laktasi : Buku Saku. Jakarta : Arcan Jakarta : EGC Nirwana, Ade Benih. (2014). ASI dan Susu Dahlan, M. Sopiyudin. (2009). Statistik Formula (Kandungan dan Manfaat ASI Kedokteran dan Kesehatan, Edisi 4. dan Susu Formula. Yogyakarta : Nuha Jakarta : Salemba Medika Medika Depkes.

(2013).

Profil

Kesehatan Notoatmodjo,

Prof.Dr.Soekidjo.

(2010).

Indonesia.www.depkes.go.id. Diakses: 1 Metodologi

Penelitian

januari 2015. Jakarta : Rineka Cipta 715

Kesehatan.

Notoatmodjo,

Prof.Dr.Soekidjo.

Metodologi

Penelitian

(2012).

di

Kesehatan.

Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Penelitian

Ilmu

Keperawatan : Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika Rahmawati,

Nuraini

&

Resti

Agustina

Setyaningrum.(2009). Stimulasi Refleks Oksitosin

Terhadap

Kejadian

Bendungan ASI pada Post Partum Primipara di Bidan Praktek Swasta Benis Jayanto Ngentak Kujon, Ceper, Kabupaten Klaten. Jurnal (hal 7) Riksani, Ria. (2012). Keajaiban ASI ( Air Susu Ibu). Jakarta : Dunia Sehat Rohmah,

Nikmatur.

(2009).

Pendidikan

Prenatal : Upaya Promosi Kesehatan bagi Ibu Hamil. Jakarta : Gramata Publishing Sari, Eka Puspita & Kurnia Dwi Rimandini. (2014). Asuhan Kebidanan Masa Nifas (Post Natal Care) Wulandari, Vika & Sulastri. (2012). Hubungan Antara

Tingkat

Primigravida

Pengetahuan dengan

Kerja

Puskesmas

Karangdowo Klaten. Jurnal (hal.168)

Jakarta : Rineka Cipta

Metodologi

Wilayah

Ibu

Perilaku

Perawatan Payudara pada Saat Hamil 716

PENGARUH TERAPI BERMAIN DENGAN TEKNIK BERCERITA TERHADAP PERUBAHAN INTERAKSI SOSIAL ANAK PRASEKOLAH (3-5 TAHUN) YANG DIHOSPITALISASI DIRUANG ANAK RSUD BINTAN TAHUN 2016 Deasy Dondaria L.G 1 ABSTRAK Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok. Perawatan anak dirumah sakit sering diekspresikan anak prasekolah sebagai hukuman sehingga anak merasa malu, takut, bersalah. Ketakutan anak terhadap perlukaan, muncul karena anak menggagap atau tindakan dan prosedurnya mengancam integritas tubuhnya. Hal ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan memberontak, Ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama terhadap perawat dan ketergantungan terhadap orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Terapi Bermain dengan Teknik Bercerita Terhadap Perubahan Interaksi Sosial Anak Prasekolah yang di Hospitalisasi DI Ruang Anak RSUD Bintan Tahun 2016. Desain Penelitian ini adalah pre and post test without control (control diri sendiri) dilakukan pada pasien anak prasekolah yang di hospitalisasi sebanyak 13 responden .Analisa menggunakan Uji Mcnemer didapatkan hasil bahwa ada pengaruh terapi bermain dengan teknik bercerita terhadap perubahan interaksi sosial dengan p value 0,002. Kata Kunci : Interaksi Sosial, Terapi Bermain, Bercerita, Hospitalisasi

ABSTRACT Social interaction is contact or interrelationship or interstimulasi and response among individual, among group or individual and group squire. Child care at frequent hospital to be expressed prasekolah's child as punishment so child falts cheap, fear, offense. child fear about wound, appearance because child stutters or action and its procedure threaten its body integrity. It evokes aggressive reaction furiously and rebelling, verbal's expression by utters anger word, don't want is cooperative to nurse and ketergantungan to oldster. To the effect this research is subject to be know therapy Influence plays with Teknik relates to Social Interaction change Prasekolah's Child that at Hospitalisasi AT Spatial RSUD Bintan's Child Year 2016. Design that is utilized is pre and post is without control's test (control thyself) one that is done on prasekolah's child patient that at hospitalisasi as much 13 respondents. Analysis utilizes To Test Mcnemer was gotten by that result available influence is damped down plays by tech relate to social interaction change with p value 0,002 Keywords : Social Interaction, Therapy plays, Tech, Hospitallisation

717

PENDAHULUAN

Saat anak prasekolah dirawat di

Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok( Maryati dan Suryawati , 2003).

selain orang tua meluas termasuk kakeknenek, saudara kandung, dan guru-guru di sekolah. Anak memerlukan interaksi yang dengan

membantu

teman

sebaya

mengembangkan

untuk

keterampilan

sosial. Tujuan utama program usia prasekolah adalah

berpisah

membantu

Usia prasekolah memberi kesempatan luas kepada anak untuk mengembangkan keterampilan sosialnya. Di usia inilah ia mulai melihat dunia lain di luar dunia rumah bersama ayah-ibu. Kemampuan bersosialisasi harus terus diasah. Sebab, seberapa jauh anak bisa meniti kesuksesannya, amat ditentukan oleh yang

sudah

dijalin.

Banyaknya teman juga membuat anak tidak gampang stres karena ia bisa lebih leluasa memutuskan

kepada

rumah

yang

teman-teman

sepermainannya.

Adapun reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak usia prasekolah selama dirawat di rumah sakit adalah dengan menolak makan, sering bertanya kepada orang tuanya tentang hal-hal yang tidak dipahaminya, menangis dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan (Suriadi dkk, 2006: 4-13).

mengembangkan

dan keluarga (Menurut Soetjiningsih, 2002).

relasi

lingkungan

menyenangkan serta hilangnya waktu bermain

Menurut

keterampilan sosial anak (Penyuluhan anak

banyaknya

dari

dirasakannya aman, penuh kasih sayang, dan

bersama

Hubungan anak dengan orang lain,

teratur

rumah sakit, kondisi ini memaksa anak untuk

siapa

(Elizabeth Hurlock 1999).

akan

curhat

Supartini

(2004)

Anak

bereaksi terhadap hospitalisasi sesuai dengan sumbernya. Sumber stress yang utama adalah cemas akibat perpisahan. Respon prilaku anak sesuai dengan tahapannya, yaitu tahap protes, putus asa, dan pengingkaran (denial). Pada tahap protes, prilaku yang ditunjukan adalah menangis kuat, menjerit memanggil orang tua atau menolak perhatian yang diberikan orang lain. Pada tahap putus asa, prilaku yang ditunjukan adalah menangis berkurang, anak tidak aktif, kurang menunjukan minat untuk bermain dan makan, sedih, dan apatis. Pada tahap pengingkaran prilaku yang ditunjukan

718

anak

adalah

perpisahan.,

secara membina

samar

menerima

hubungan

secara

kecilnya kurang mendapatkan kesempatan bermain (Soetjiningsih,1995:108).

dangkal, dan anak terlihat mulai menyukai Bermain dapat dilakukan sebelum lingkungannya. melakukan prosedur pada anak, hal ini Perawatan anak dirumah sakit juga mengharuskan adanya pembatasan

dilakukan untuk mengurangi rasa tegang dan

aktivitas

emosi yang dirasakan anak selama prosedur.

sehingga anak merasa kehilangan kekuatan diri.

Aktivitas bermain sangat terapeutik membantu

Perawatan

sering

anak mengekspresikan perasaannya, ini berarti

sebagai

bermain bagi anak merupakan suatu cara

hukuman sehingga anak merasa malu, takut,

berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata

bersalah. Ketakutan anak erhadap perlukaan,

(Suparto, 2003 : 4).

anak

diekspresikan

dirumah

anak

sakit

prasekolah

muncul karena anak menggagap atau tindakan Terapi bermain adalah salah satu terapi dan

prosedurnya

mengancam

integritas yang menggunakan segala kemampuan bermain

tubuhnya. Oleh karena itu, hal ini menimbulkan dan alat permainan, anak bebas memilih reaksi agresif dengan marah dan memberontak, permainan yang ia sukai dan perawat ikut serta Ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata dalam permainan tersebut. Dan berusaha agar marah, tidak mau bekerja sama terhadap anak

bebas

mengungkapkan

perasaannya

perawat dan ketergantugan terhadap orang tua sehingga ia merasa aman, puas dan dihargai (Supartini, 2004). (Fortinash and Warrel). Bermain adalah unsur yang penting Bercerita juga adalah salah satu terapi untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, bermain yang merupakan aktivitas yang sangat mental, inteketual, kreativitas dan sosial. sesuai dengan perkembangan emosi anak-anak. Anak yang mendapat kesempatan cukup Kebanyakan anak kecil lebih menyukai cerita untuk bermain akan menjadi orang dewasa tentang orang dan hewan yang dikenalnya. yang mudah berteman, kreatif dan cerdas, Mereka menyukai karakter ini karena kualitas bila dibandingkan dengan mereka yang masa pribadi atau humornya. Karena mereka mampu

719

mengidentifikasi diri dengan hewan, mereka

dilakukan dengan memberikan terapi bermain

memperoleh kegembiraan yang besar dari

dengan teknik bercerita selama 15-20 menit

mendengar hal-hal yang dilakukan karakter itu

sebanyak 1 kali pertemuan.

(Hurlock, 2005).

Dari observasi yang dilakukan peneliti terhadap anak yang dihospitalisasi di RSUD

Teknik bercerita merupakan salah satu Bintan didapatkan rata-rata anak prasekolah pendekatan yang sesuai digunakan untuk yang dirawat mengalami perubahan interaksi membina kecekapan berbahasa kerana cerita sosial yaitu anak kurang kooperatif, sulit diajak merupakan sesuatu yang dapat menarik minat berkomunikasi, dan hanya ingin bersama dan perhatian pelajar. Latihan pemahaman, dengan orangtua terutama dengan ibunya. perluasan perbendaharaan kata dan tata bahasa dapat

disampaikan.

meningkatkan

Berdasarkan uraian diatas maka

penguasaan kemahiran mendengar, bertutur,

peneliti tertarik utuk meneliti “Pengaruh Terapi

membaca dan menulis dikalangan pelajar.

Bermain dengan Teknik Bercerita Terhadap

Perkembangan

diberi

Perubahan Interaksi Sosial Anak Prasekolah

perhatian agar ada peringkat permulaan,

yang dihospitalisasi di Ruang Anak RSUD

kemuncak dan kesudahan cerita. Perhatian

Bintan. Peneliti merumuskan pertanyaan yaitu

perlu diberi kepada teknik persembahan, suara,

Apakah ada pengaruh terapi bermain dengan

gerak

teknik bercerita terhadap perubahan interaksi

laku

Dapat

cerita

dan

hendaklah

kawalan

mata.

Suara

memainkan peranan yang penting dimana ia

sosial

akibat

hospitalisasi

pada anak

harus dikawal supaya jangan mendatar dan

prasekolah (3-5 tahun) di ruang anak Bintan

tidak menimbulkan kebosanan ( Edward M.

Timur RSUD Bintan. Penelitian ini bertujuan

Anthony).

untuk mengetahui pengaruh terapi bermain dengan teknik bercerita terhadap perubahan

Penelitian dimulai dari bulan Februari interaksi sosial akibat hospitalisasi pada anak sampai Maret 2016, pada penelitian ini peneliti prasekolah (3-5 tahun) di ruang anak Bintan hanya mengelompokkan responden dalam satu Timur RSUD Bintan. kelompok eksperimen tanpa kelompok kontrol sebanyak

13

responden.

Penelitian

ini 720

BAHAN

DAN

METODE

PENELITIAN

Langkah pemberian terapi bermain teknik bercerita adalah responden diajak bermain yaitu diabacakan cerita anak-anak.

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode quasi Eksperiment dengan

HASIL PENELITIAN

rancangan pre and post test without control Karakteristik Responden (control diri sendiri). Pengukuran perubahan interaksi

sosaial

dilakukan

sebelum

Tabel 5.1

dan

Distribusi Frekuensi Karakteristik Anak

sesuadah diberikan terapi bermain dengan

Prasekolah

teknik bercerita. Waktu yang diperluakan untuk perlakuan adalah selama 20-30 menit. Karakterisitik Jumlah sampel dalam penelitian ini

Frekuensi

%

Usia

adalah 13 responden di Ruang Anak RSUD

3 tahun

6

46,1

Bintan. Teknik Pengambilan sampel dengan

4 tahun

2

15,3

accidental sampling. Yang dilakukan dengan

5 tahun

5

38,3

kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat

jumlah

13

100

sesuai dengan konteks penelitian serta sesuai

Jenis kelamin Laki-laki

6

46,1

Perempuan

7

53,8

jumlah

13

100

mengambil

kasus

atau

responden

yang

dengan kriteria inklusi yaitu Responden adalah Anak prasekolah (3-5 tahun) di Ruang Anak RSUD Bintan, yang mengalami perubahan interaksi sosial, anak menggalami sakit ringan, keluarga dan anak bersedia menjadi responden dan

bersedia

menandatangani

lembar

persetujuan penelitian (informed consent).

Tabel 5.1 di atas menunjukan responden terbanyak anak usia 3 tahun yaitu 6 orang (46,1 %), Dan sebagian besar responden berjenis kelamin

perempuan

responden (53,8 %).

721

yaitu

sebanyak

7

Interaksi Sosial

2

kurang

3

23,1

13

100

berinteraksi Tabel 5.2

jumlah

Distribusi Frekuensi berdasarkan interaksi sosial anak prasekolah (3-5 tahun) yang di

Berdasarkan tabel diatas diketahui

hospitalisasi sebelum di beri perlakuan terapi bermain dengan teknik bercerita

bahwa sebagian besar responden mengalami perubahan

Interaksi

interaksi

sosial,

berinteraksi

sebanyak 76,9 % .

No

Frekuensi

%

Sosial 1

Berinteraksi

0

0

Tabel 5.4

2

Kurang

13

100

Interaksi sosial anak prasekolah (3-5 tahun) yang di hospitalisasi sebelum dan sesudah di

berinteraksi jumlah

13

100

beri terapi bermain dengan teknik bercerita Anak RSUD Bintan Tahun 2016

Berdasarkan tabel diatas diketahui pretest

posttest

sosial

F

%

F

%

1

Berinteraksi

0

0

10

76,9

2

Kurang

13

100

3

23,1

13

100

13

100

Interaksi bahwa seluruh responden kurang berinteraksi

No

sebanyak 100 % sebelum diberikan terapi bermain dengan teknik bercerita. Tabel 5.3

berinteraksi

Distribusi Frekuensi berdasarkan interaksi

Total

sosial anak prasekolah (3-5 tahun) yang di hospitalisasi sesudah di beri perlakuan terapi

Berdasarkan

table

5.5

dketahui

bermain dengan teknik bercerita

perubahan Interaksi sosial sebelum dilakukan terapi bermain dengan teknik bercerita semua Interaksi No

Frekuensi

%

10

76,9

respoden kurang berinteraksi sebanyak 13

Sosial responden (100%) dan setelah diberikan terapi 1

Berinteraksi

bermain dengn teknik bercerita 722

terjadi

perubahan

interaksi

sosial

menjadi

dan cerita, Minat pada kata baru dan artinya,

berinteraksi sebanyak 10 (76,9 %) responden.

bercakap-cakap, membaca gambar, bercerita, mengucapkan

Terapi Bermain

syair

sederhana,

banyak

bertanya. Tabel 5.5

Kebanyakan

anak

kecil

lebih

Distribusi frekuensi terapi bermain: teknik

menyukai cerita tentang orang dan hewan yang bercerita anak prasekolah (3-5 tahun) yang

dikenalnya. Mereka menyukai karakter ini

dihospitalisasi

karena kualitas pribadi atau humornya. Karena No

Terapi

Frekuen

Bermain:

si

mereka mampu mengidentifikasi diri dengan

%

hewan, mereka memperoleh kegembiraan yang besar dari mendengar hal-hal yang

Taknik

dilakukan karakter itu (Hurlock, 2005).

Bercerita 1

Mau

13

mendengarkan 2

Tidak mau

0

10

Menurut Suriadi (2010) mengatakan

0

contoh permainan yang disukai anak yaitu :

0

Buku bacaan, bahan-bahan yang dapat dibuat

endengarkan

bangunan atau diciptakannya, bahan-bahan

jumlah

13

10

yang dapat diwarnai dan di gambar. bahan

0

yang lempung, cat kuku, pasir yang dibuat bangunan atau membuat adonan, memotong,

Berdasarkan responden

13

tabel

responden

diatas (100

seluruh %)

mau

mendengarkan cerita.

alat pukulan yang lempung, Boneka, bahanbahan mainan seperti; binatang dan lain-lain, mengenakan pakaian, musik yang ada suara lagunya,

Sesuai yang dikatakan Soetjiningsih anak prasekolah suka mendengarkan ceritacerita,

bermain

dengan

anak

papan

tulis

sederhana

seperti

menulis dipapan magnet, kartu game, Vidio game, TV yang sesuai dengan usia.

lain,

mendengarkan dan mengulang hal-hal penting 723

Diketahui yang mau mendengarkan dan

Sesuai teori bermain

adalah

unsur

berinteraksi sebanyak 10 responden (76,9 %)

yang penting untuk perkembangan anak baik

sedangkan yang mau mendengarkan tidak

fisik, emosi, mental, inteketual, kreativitas

berinteraksi sebanyak 3 responden (23,1%).

dan sosial. Anak yang mendapat kesempatan

Hasil analisis diperoleh P value = 0,002

cukup untuk bermain akan menjadi orang

(<0,05) yang berarti Ho ditolak. Hal ini

dewasa yang mudah berteman, kreatif dan

menunjukkan adanya pengaruh yang sangat

cerdas, bila dibandingkan dengan mereka

signifikan antara terapi bermain dengan teknik

yang masa kecilnya kurang mendapatkan

bercerita terhadap perubahan interaksi sosial

kesempatan bermain (Soetjiningsih,1995:108).

anak prasekolah yang di hospitalisasi di RSUD Di samping itu, keterlibatan orang Bintan tahun 2016. tua dalam aktivitas bermain sangat penting karena anak akan merasa aman, sehingga dia PEMBAHASAN mampu mengekspresikan perasaannya secara Analisa Bivariat

bebas dan terbuka (Nursalam,dkk,2005:29).

Dari tabel 5.5 diketahui anak yang mau mendengarkan

berinteraksi

sebanyak

10

Bermain

dirumah

sakit

dapat

Meningkatkan hubungan perawat dan klien,

responden (76,9 %) dan anak yang mau

memulihkan

mendengarkan kurang berinteraksi sebanyak 3

mengekspresikan

orang (23,1 %).

teraupetik dapat meningkatkan penguasaan

Hasil analisis diperoleh P value = 0,002

pengalaman

rasa rasa

yang

mandiri,

Dapat

tertekan, Permainan

terapeutik, Permainan

(<0,05) yang berarti Ho ditolak. Hal ini

kopetensi dapat menurunkan stress, Membina

menunjukkan adanya pengaruh yang sangat

tingkah laku positif di rumah sakit, serta

signifikan antara terapi bermain dengan teknik

sebagai alat komunikasi antara perawat dan

bercerita terhadap perubahan interaksi sosial

klien ( Suriadi,dkk 2010).

anak prasekolah yang dihospitalisasi di RSUD Walaupun anak mengalami sakit dan Bintan tahun 2016. atau dirawat, tugas perkembangan tidaklah

724

berhenti. Hal ini bertujuan; melanjutkan

memberikan pemahaman konsep , prinsip atau

tumbuh dan kembang selama perawatan

fakta, hiburan, medium bersosial, pertandingan

sehingga

(Caldwell,2012).

dapat

kelangsungan berjalan,

tumbuh

dapat

kembang

mengembangkan Teknik bercerita merupakan salah satu

kreativitas

dan

pengalaman,

anak

akan pendekatan yang sesuai digunakan untuk

mudah untuk beradaptasi terhadap stress membina kecekapan berbahasa kerana cerita karena penyakit yang dirawat (Suriadi,dkk merupakan sesuatu yang dapat menarik minat 2010:13). dan perhatian pelajar. Latihan pemahaman, Sesuai yang dikatakan Fortinash and perluasan perbendaharaan kata dan tatabahasa Warrel Terapi bermain adalah salah satu terapi dapat

disampaikan.

Dapat

meningkatkan

yang menggunakan segala kemampuan bermain penguasaan kemahiran mendengar, bertutur, dan alat permainan, anak bebas memilih membaca dan menulis dikalangan pelajar. permainan yang ia sukai dan perawat ikut serta Perkembangan

cerita

hendaklah

diberi

dalam permainan tersebut. Dan berusaha agar perhatian agar ada peringkat permulaan, anak

bebas

mengungkapkan

perasaannya kemuncak dan kesudahan cerita. Perhatian

sehingga ia merasa aman, puas dan dihargai. perlu diberi kepada teknik persembahan, suara, Bercerita juga adalah salah satu terapi gerak

laku

dan

kawalan

mata.

Suara

bermain yang merupakan aktivitas yang sangat memainkan peranan yang penting dimana ia sesuai dengan perkembangan emosi anak-anak. harus dikawal supaya jangan mendatar dan Kebanyakan anak kecil lebih menyukai cerita tidak menimbulkan kebosanan ( Edward M. tentang orang dan hewan yang dikenalnya. Anthony). Mereka menyukai karakter ini karena kualitas pribadi atau humornya. Karena mereka mampu

Hospitalisasi (rawat inap) pada pasien

mengidentifikasi diri dengan hewan, mereka

anak dapat menyebabkan kecehan dan stress

memperoleh kegembiraan yang besar dari

pada semua ingkatan usia. Penyebab dari

mendengar hal-hal yang dilakukan karakter itu

kecemasan dipengaruhi oleh banyak factor,

(Hurlock,

bercerita:

baik factor dari petugas (perawat,dokter, dan

Menyampaikan mesej dan nilai, memotivasi,

tenaga kesehatan lainnya), lingkungan baru,

2005).

Tujuan

725

maupun keluarga yang mendampingi selama

sebagai media komunikasi antara perawat dan

perawatan.

klien.

Penelitian terkait Olivia sartika tentang

Sesuai dengan hasil penelitian yang

Pengaruh Terapi Mewarnai Gambar Terhadap

didapat bahwa terapi bermain dengan teknik

Dampak

usia

bercerita

dapat

Prasekolah (3-5 tahun) Di Ruang Anggrek

interaksi

sosial

RS-BLUD

2012

dihospitalisasi di ruang anak RSUD Bintan

Dengan hasil menunjukkan terdapat pengaruh

tahun 2016. sebelum diberikan terapi bermain:

terapi mewarnai gambar terhadap dampak

teknik bercerita semua responden kurang

hospitalisasi pada anak usia prasekolah di

berinteraksi dan setelah diberikan terapi

ruang

bermain: teknik bercerita mayoritas responden

Hospitalisasi

Tanjung

Anggrek

tahun

Pada

Anak

Pinang

Tahun

RS-BLUD Tanjungpinang

2012.Variabel

terapi

mewarnai

mempengaruhi anak

perubahan

prasekolah

yang

berinteraksi. Dengan demikian bermain dengan

berpengaruh terhadap dampak hospitalisasi

teknik

bercerita

pada anak usia pra sekolah dengan nilai uji

perubahan

t =3,211 sedangkan t table =1,690.

dihospitalisasi seperti:. menangis dan tidak kooperatif

juga

interaksi

terhadap

bisa

menggurangi

sosial

anak

petugas

yang

kesehatan,

Hal ini menunjukkan bahwa terapi ketergantugan terhadap orang tua. bermain

dapat

menggurangi

dampak

hospitalisasi dan perubahan yang terjadi pada PENUTUP anak yang menjalani perawatan dirumah sakit. Bermain

juga

penting

untuk

perkembangan

anak,

prasekolah yang dihospitalisasi sebelum diberi

terutama anak yang mengalami perawatan agar

terapi bermain dengan teknik bercerita semua

pertumbuhan dan perkembangan anak selama

kurang berinteraksi sebanyak 100 %

menjalani perawatan tidak terhambat. Bermain

Perubahan Interaksi sosial anak prasekolah

dirumah

meningkatkan

yang dihospitalisasi sesudah diberi terapi

hubungan yang baik kepada perawat, dan juga

bermain dengan teknik bercerita mayotitas

pertumbuhan

sakit

sangat dan

juga

bisa

Perubahan

Interaksi

sosial

anak

berinteraksi sebanyak 76,92 %. Saat dilakukan

726

terapi bermain dengan teknik bercerita anak

perubahan

interaksi

prasekolah(3-6 tahun) yang dihospitalisasi

dihospitalisasi.

sosial

anak

yang

semua anak mau mendengarkan cerita sebanyak

Hasil penelitian ini diharapkan dapat

13 responden (100%). Hasil uji statistik p value

dimanfaatkan sebagai acuan atau referensi

:0,002 (< 0,05) menunjukan bahwa ada

untuk

pengaruh

teknik

menambahkan variabel-variabel yang sesuai

bercerita terhadap perubahan interaksi sosial

dengan penelitian ini seperti terapi bermain

anak prasekolah yang dihospitalisasi d RSUD

dengan teknik bercerita terhadap aspek bahasa,

Bintan tahun 2016

kognitif.

terapi

bermain

dengan

peneliti

selanjutnya

dengan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat diterapkan dalam mata kuliah keperawatan anak agar bisa lebih menekankan bahwa terapi

KEPUSTAKAAN Dahlan,

Muhammad

Sopiyudin.

(2009).

bermain dengan teknik bercerita ini bisa

Statistik

menambah

Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.

interaksi

sosial

anak

yang

Untuk

Kedokteran

Dan

dihospitalisasi. Dharma, kelana .(2011). Metodologi Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat

Keperawatan. Jakarta : Trans Info

menjadi masukan agar Perawat diberikan

Media.

pelatihan tentang terapi bermain pada anak yang dihospitalisasi.sehingga perawat bisa

Hidayat,

A.

(2009).

Metode

Penelitian

mengaplikasikan kepada anak yang dirawat di

Keperawatan dan Teknik Analisa Data.

ruang

Jakarta: Salemba Medika

anak

RSUD

bercerita untuk

Bintan

mengurangi

seperti terapi perubahan

interaksi sosial anak yang dihospitalisasi.

http;//tforce2009.wordpress.com/penge tahuan sosial. Juli 30,2009 pada 3:34 am

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan kepada perawat tentang bagaimana

cara

http://www.skripsistikes.wordpress.co

menghadapi

m. Juli 30.2016 4:50 am. 727

Syarifudin, Id.

Scribd.

Com/doc/227120333/

B.

SPSS.

Meggitt,

Media

(2013).

Panduan

TA

Keperawatan dan Kebidanan dengan

dampak hospitalisasi. Juni 1.2014 1:50 am. Carolyn.

(2010).

Memahami

Yogyakarta:

Grafindo

Litera

Perkembangan Anak. Jakarta : Indeks Permata Puri Media.

Soetjiningsih, (1995). Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

Muscari,

Mary

E.

(2005).

Keperawatan

Pediatrik. Jakarta: EGC.

Suriadi,

Dkk.

(2010).

Buku

Asuhan

Keperawatan Pada Anak. Edisi 2. Mukhlas. (2006) http.//www. Optimalkan.

Jakarta: CV. Sagung Seto.

Kecerdasan. Anak. Sejak. Dini. Htm. Sunaryo. Nelson (2000). Ilmu Kesehatan Anak. Ed. 15.

(2004).

Psikologi

Untuk

Keperawatan. Jakarta: EGC, hal: 215-

Vol 1. Jakarta: EGC

219

Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi

Supartini, Yupi. (2004). Buku Ajar Konsep

Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka

Keperawatan Pada Anak. Jakarta:

Cipta.

EGC.

Nursalam, Dkk. (2008). Asuhan Keperawatan

Wong, Donna L. Dkk. (2009). Buku Ajar

Bayi dan Anak ( Untuk Perawat dan

Keperawatan

Bidan. Jakarta: Salemba Medika.

Jakarta: EGC.

1

Ngastya. (2005). Perawatan Anak Sakit. Edisi

Pediatrik.

Edisi

6.

Deasy Dondaria, S.Kep,Ns, M.Kes : Dosen Stikes Hang Tuah Tanjungpinang Prodi D-3 Keperawatan.

2. Jakarta: EGC.

728

PENGARUH TERAPI SENAM OTAK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT STRES PADA SISWA/I KELAS XII SMA NEGERI 3 TANJUNGPINANG DALAM PERSIAPAN MENGIKUTI UJIAN NASIONAL TAHUN 2016 Retno Setiowati1

ABSTRAK Stres merupakan reaksi fisik dan psikis yang berupa perasaan tidak enak yang dapat dialami oleh siapa saja termasuk pada siswa/i yang akan menjalani Ujian Nasional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh terapi senam otak terhadap penurunan tingkat stres. Desain penelitian ini Pre Experimental Designs dengan rancangan one group pretest posttest. Jumlah sampel 100 orang dan alat pengumpulan data berupa instrument DASS. Data analisis dengan menggunakan uji Wilcoxon Matched Pair dengan derajat kemaknaan α = 0,05. Hasil uji statistik menunjukkan P value 0,000. Jika nilai P ≤ nilai α, maka hasilnya adalah Ho ditolak. Hal ini berarti ada pengaruh yang bermakna antara terapi senam otak terhadap penurunan tingkat stres pada responden. Disarankan agar terapi senam otak dapat diterapkan sebagai salah satu metode untuk penanganan stres dalam persiapan Ujian Nasional maupun dalam proses kegiatan belajar.

Kata Kunci : Tingkat kecemasan, alat kontrasepsi, WUS

ABSTRACT Stress is a physical and psychological reactions that form an uneasy feeling that can be experienced by anyone, including the student / i who will undergo the National Exam. The purpose of this study was to determine the effect of therapy on brain exercise pen urunan stress levels. The design of this study Experimental Designs Pre-plan onegroup posttest p retest. Total sample of 100 people and a data collection tool DASS instrument. Data analysis using the Wilcoxon test Matched Pair with a significance level α = 0.05. Statistical analysis showed P value of 0.000. If the value P value ≤ α, then the result is Ho is rejected. This means that there is a significant influence between brain exercise therapy to decrease the level of stress on respondents. It is suggested that brain exercise therapy can be applied as one of the methods for handling stress in preparation for the National Examination and in the process of learning.

Keyword : Level of Stress, Brain Exercise Therapy

729

PENDAHULUAN

Melihat dari standar nilai kelulusan

Setiap manusia memiliki beban dan

yang tinggi dan selalu meningkat setiap tahun

masalah tersendiri dalam fase kehidupannya.

membuat beban bagi para siswa, beban yang

Manusia tidak akan pernah lepas dari masalah

melebihi

dan beban yang harus ditanggung, tetapi tidak

didefinisikan sebagai stres. Stres merupakan

semua manusia yang tidak bisa menangani

reaksi yang tidak diharapkan oleh tingginya

semua permasalahan dalam dirinya akan

tuntutan lingkungan pada seseorang (Wangsa,

mengalami stres. Suatu keadaan yang disebut

2010).

kemampuan

yang

dihadapi

dengan stres bisa terjadi dimana saja dan kepada

World Health Organization (WHO)

siapa saja termasuk kepada siswa sekolah

mencatat, satu dari lima remaja pada usia 18

menengah atas (SMA) yang akan menjalani

tahun memiliki masalah kesehatan jiwa akibat

Ujian Nasional (UN). Ujian Nasional adalah

stres, dan 3-4% dari kelompok usia tersebut

sistem evaluasi dalam bentuk pengukuran dan

memiliki

penilaian kompetensi peserta didik tingkat

memerlukan

dasar dan menengah secara nasional (Fitria,

profesional. Saat ini, jumlah remaja atau

2010).

penduduk usia 18 tahun di Indonesia tidak

gangguan

jiwa

penanganan

serius

yang

memadai

dan

Keharusan menerima Ujian Nasional

kurang dari 90 juta jiwa, itu artinya 18 juta di

sebagai syarat kelulusan menjadi beban bagi

antaranya rentan terhadap masalah kejiwaan.

siswa. Pelaksanaan ujian nasional (UN) banyak

Dari jumlah itu, 3-4% atau sekitar 700 ribu di

menimbulkan pro (sikap setuju pada UN) dan

antaranya adalah remaja dengan gangguan

kontra (sikap tidak setuju pada UN) di tengah

kejiwaan

masyarakat baik dari kalangan pendidikan

penanganan professional.

maupun di kalangan non pendidikan, akan

yang

Menurut

cukup

data

serius

Dinas

dan

perlu

Kependudukan

tetapi terlepas dari pro dan kontra yang ada,

Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2011

pelaksanaan UN tetap harus dilaksanakan

terdapat jumlah remaja sebanyak 483.223 orang

karena mendukung tujuan pendidikan (Binus,

atau 23,9%, sedangkan untuk wilayah Kota

2011).

Tanjungpinang pada tahun 2011 terdapat jumlah remaja sebanyak 55.064 orang (Vany, 2013). 730

Bagi siswa untuk bertahan terhadap stres

siswa didapatkan 8 siswa yang mengalami stres.

dan kecemasan, sistem dukungan sering kali

Data

diperlukan. Salah satu yang dibutuhkan siswa,

menunjukkan bahwa dari 10 siswa, didapatkan 5

selain belajar yang lebih intensif, pendekatan

siswa yang mengalami stres. Data di SMA Negeri

farmakologis

perilaku

5 Tanjungpinang menunjukkan bahwa dari 10

(behavioral), pemahaman (cognitive), meditasi

siswa didapatkan 6 siswa yang mengalami stres,

(meditation), dan musik (music) adalah dengan

dan Data di SMA Negeri 6 Tanjungpinang

adanya brain gym untuk mengurangi stres dalam

menunjukkan bahwa dari 10 siswa didapatkan 6

mengadapi Ujian Nasional (UN). Brain gym

siswa yang mengalami stres.

(pharmalogical),

di

SMA

Negeri

4

Tanjungpinang

adalah senam otak yang merupakan serangkaian

Dari pengamatan penulis banyak di

latihan yang berbasis gerakan tubuh sederhana.

antara siswa/i yang mengalami stres di SMA

Senam otak di Benua Amerika dan Eropa sedang

Negeri 3 Tanjungpinang dalam menjelang

digemari karena mampu melepaskan stres,

Ujian Nasional (UN). Hal ini harus diantisipasi

menjernihkan pikiran, meningkatkan daya ingat

mengingat stres yang tidak diberikan koping

dan sebagainya (Muhammad, 2013).

yang

Berdasarkan studi awal yang dilakukan

positif

memburuknya

akan

mengakibatkan

keadaan

stres

dapat

sehingga

akan

peneliti di enam Sekolah Menengah Atas di Kota

mengganggu

Tanjungpinang dalam menghadapi persiapan

berpengaruh terhadap hasil yang dicapai pada

Ujian Nasional (UN) tahun 2015/2016, peneliti

saat ujian tersebut. Melihat fenomena yang ada

melakukan penelitian tingkat stres di beberapa

penulis tertarik melakukan penelitian untuk

siswa kelas XII, yang terdiri dari stres ringan,

melihat gambaran stres yang dialami siswa/i

sedang dan berat. Data di SMA Negeri 1

tersebut dengan sistem dukungan terapi dalam

Tanjungpinang menunjukkan bahwa dari 10

mengurangi stres, sehingga peneliti menyusun

siswa didapatkan 4 siswa yang mengalami stres.

skripsi dengan judul “Pengaruh Terapi Senam

Data

Otak Terhadap Penurunan Tingkat Stres Pada

di

SMA

Negeri

2

Tanjungpinang

konsentrasi

dan

menunjukkan bahwa dari 10 siswa didapatkan 3

Siswa/i

siswa yang mengalami stres. Data di SMA Negeri

Tanjungpinang Dalam Persiapan Mengikuti

3 Tanjungpinang menunjukkan bahwa dari 10

Ujian Nasional Tahun 2016”. 731

Kelas

XII

SMA

Negeri

3

Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu

persiapan mengikuti Ujian Nasional di SMA

terdiri dari tujuan umum yang bertujuan utnuk

Negeri 3 Tanjungpinang yaitu berjumlah 134

mengetahui pengaruh terapi senam otak terhadap

orang. Berdasarkan perhitungan, diperoleh

penurunan tingkat stres pada siswa/I kelas XII

sampel sebanyak 100 orang.

SMA Negeri 3 Tanjungpinang dalam persiapan

Pelaksanaan penelitian dilaksanakan

mengikuti Ujian Nasional Tahun 2016. Adapun

pada bulan Oktober 2015 sampai bulan Maret

tujuan

tahun 2016. Kegiatan yang dilakukan pada

khusus

dari

penelitian

ini

yaitu

diketahuinya tingkat stres sebelum, setelah dan

tahap

pengaruh terapi senam otak terhadap penurunan

dilaksanakan sebanyak 3 tahap yaitu: O1

tingkat stres pada siswa siswi kelas XII SMA

(observasi pertama) atau disebut dengan pretest

Negeri

kemudian diberikan terapi senam otak dan

3

Tanjungpinang

dalam

persiapan

mengikuti Ujian Nasional Tahun 2016. BAHAN

DAN

METODE

PENELITIAN

ini

adalah

pengumpulan

data

selanjutnya dilakukan O2 (observasi kedua) atau disebut dengan posttest. Tahap pretest dilaksanakan sebanyak 1 kali pertemuan yang

Penelitian ini termasuk dalam jenis

dilakukan pada bulan Februari, kemudian

penelitian Pre Experimental Designs dengan

diberikan terapi senam otak sebanyak 2 kali

menggunakan teknik sampling Cluster Random

pertemuan dalam 1 minggu pemberian terapi

Sampling.

senam otak pertama diberikan selama 10-15

Lokasi penelitian dilakukan di SMA

menit pada tanggal 07 Maret 2016 dan

Negeri 3 Tanjungpinang. Alat ukur dalam

pemberian terapi senam otak kedua diberikan

penelitian ini yaitu kuesioner Depression Anxiety

selama 10-15 menit pada tanggal 14 Maret 2016

Stress Scale (DASS) yang terdiri dari 42

dan

pertanyaan yang mengukur tentang depresi,

dilakukan posttest. Analisa data menggunakan

kecemasan dan stres, namun dalam penelitian ini

univariat dan bivariate yaitu uji Wilcoxon

peneliti hanya memilih kuesioner yang mengukur

Matched Pair. Pengolahan data meliputi

tentang stres yaitu sejumlah 14 pertanyaan,

langkah-langkah editing, coding, processing,

Populasi dari penelitian ini adalah

setelah

dan cleaning.

siswa/i kelas XII yang mengalami stres dalam 732

diberikan

terapi

selanjutnya

HASIL

Persen No

Tingkat Stres

Frekuensi

Karakteristik Responden

(%)

Tabel 1

1.

Tidak Stres

0

0

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis

2.

Stres Ringan

37

37

3.

Stres Sedang

60

60

4.

Stres Berat

3

3

5.

Stres Tingkat Berat

0

0

100

100

Kelamin dan Umur Siswa Kelas XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang Tahun 2016

Kategori

Persen

Jumlah

Frekuensi (%)

Jenis Kelamin Laki-laki

35

35

Perempuan

65

65

Total

100

100

Umur

bahwa pada penelitian ini, distribusi frekuensi tingkat stres sebelum diberikan terapi senam otak sebagian besar adalah stres sedang

17 Tahun

9

9

18 Tahun

68

68

19 Tahun

17

17

20 Tahun

6

Total

Berdasarkan tabel di atas diketahui

100

sebanyak 60 orang (60%) Tabel 3 Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Setelah

6

Diberikan Terapi Senam Otak Pada Siswa/i Kelas

100

XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang Dalam Persiapan Mengikuti Ujian Nasional Tahun 2016

Berdasarkan Tabel di atas diketahui

Persen No Tingkat Stres

Frekuensi (%)

bahwa sebagian besar responden merupakan perempuan yang berjumlah 65 orang (65%) dan

1.

Tidak Stres

31

31

berumur 18 tahun yaitu 68 orang (68%).

2.

Stres Ringan

36

36

Tabel 2

3.

Stres Sedang

32

32

Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Sebelum

4.

Stres Berat

1

1

Diberikan Terapi Senam Otak Pada Siswa/i Kelas

5.

Stres Tingkat Berat

0

0

100

100

XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang Dalam

Jumlah

Persiapan Mengikuti Ujian Nasional Tahun 2016

733

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa pada penelitian ini, distribusi frekuensi

Sebelum

Sesudah

Diberi

Diberi

Terapi

Terapi

Senam

Senam

P

Otak

Otak

value

Tingkat tingkat stres setelah diberikan terapi senam otak

N Stres

sebagian besar adalah stres ringan sebanyak 36

o

orang (36%). Tabel 4 Distribusi Frekuensi Perubahan Tingkat Stres Setelah Diberikan Terapi Senam Otak Pada

Frek

%

Frek

%

1

TidakStres

0

0

31

31

2

Stres

37

37

36

36

60

60

32

32

Siswa/i Kelas XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang

0,000

Ringan

Dalam Persiapan Mengikuti Ujian Nasional

3

Stres

Tahun 2016

Sedang Tingkat No

4

Stres Berat

3

3

1

1

5

Stres

0

0

0

0

100

100

100

100

Persen Frekuensi

Stres

(%) Tingkat

1.

Menurun

76

76%

2.

Tetap

24

24%

Jumlah

100

100

Berat Jumlah

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui frekuensi tingkat stres berat sebelum diberikan bahwa sebagian besar responden mengalami terapi senam otak sebanyak 3 responden (3%) penurunan tingkat stres setelah diberikan terapi dan setelah diberikan terapi senam otak terjadi senam otak sebanyak 76% dan 24% yang masih penurunan tingkat stres menjadi 1 responden mengalami stres setelah diberikan terapi senam (1%). Frekuensi tingkat stres sedang sebelum otak. diberikan terapi senam otak sebanyak 60 Tabel 5 Pengaruh Terapi Senam Otak Terhadap Penurunan Tingkat Stres Pada Siswa/i Kelas XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang Dalam Persiapan

responden (60%) terjadi penurunan setelah diberikan

terapi

responden (32%).

Mengikuti Ujian Nasional

734

senam

otak

menjadi

32

Sedangkan frekuensi tingkat

stres

responden (3%). Seperti yang dikatakan oleh

ringan sebelum diberikan terapi senam otak

Hawari (dalam Abdullah, 2007) stres merupakan

sebanyak

terjadi

reaksi fisik dan psikis yang berupa perasaan tidak

penurunan setelah diberikan terapi senam otak

enak, tidak nyaman, atau tertekan terhadap

menjadi 36 responden (36%) dan yang

tekanan atau tuntutan yang sedang dihadapi.

37

responden

(37%)

sebelumnya tidak ada responden yang tidak

Stres

menurut

Sukadiyanto

(2010)

stres sebelum diberikan terapi senam otak

adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa

bertambah setelah diberikan terapi senam otak

menekan dalam diri individu, sesuatu tersebut

menjadi 31 responden (31%) yang tidak stres.

dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan

Hasil analisis diperoleh P value = 0,000

antara harapan dan kenyataan yang diinginkan

(<0,05) yang berarti Ho ditolak. Hal ini

oleh individu, dimana stres muncul pada saat

menunjukkan adanya pengaruh yang sangat

individu mengalami permasalahan seperti saat

signifikan antara terapi senam otak dengan

menghadapi

penurunan tingkat stres pada siswa/i kelas XII

bencana yang tiba-tiba datang sehingga kondisi

SMA Negeri 3 Tanjungpinang dalam persiapan

tersebut menimbulkan perasaan stres.

mengikuti Ujian Nasional tahun 2016.

ujian,

menghadap

pimpinan,

Tingkat Stres Setelah Diberikan Terapi

PEMBAHASAN

Senam Otak Pada Siswa/i Kelas XII SMA Negeri

Analisa Univariat

3 Tanjungpinang Dalam Persiapan Menghadapi

Tingkat

Stres

Sebelum

Diberikan

Ujian Nasional Tahun 2016.

Terapi Senam Otak Pada Siswa/i Kelas XII

Berdasarkan dari hasil penelitian pada

SMA Negeri 3 Tanjungpinang Dalam Persiapan

tabel 3 diketahui bahwa responden yang

Menghadapi Ujian Nasional Tahun 2016.

mengalami stres ringan 36 responden (36%)

Berdasarkan dari hasil penelitian pada

sedangkan yang mengalami stres sedang 32

tabel 2 diketahui bahwa sebagian besar responden

responden (32%) dan yang mengalami stres berat

yang mengalami stres sedang sebanyak 60

1 responden (1%) serta yang tidak mengalami

responden (60%) sedangkan yang mengalami

stres sebanyak 31 responden (31%).

stres ringan sebanyak 37 responden (37%) dan yang

mengalami

stres

berat

sebanyak

3

Menurut Fitria (2012) penanganan stres secara non farmakologis yang dapat dilakukan 735

diantaranya adalah dengan teknik distraksi,

ringan sebanyak 17 responden berjenis kelamin

distraksi merupakan metode untuk mengalihkan

perempuan dan 20 responden berjenis kelamin

perhatian pada hal-hal lain. Salah satu cara untuk

laki-laki.

penanganan stres yaitu melalui pendekatan

Hadi (2005) menyatakan sebelum

farmakologis, prilaku, pemahaman, meditasi,

menginjak remaja tingkat stres anak laki-laki

hipnosis,

memang

musik,

relaksasi

dan

melakukan

berbanding

lurus

dengan

anak

aktifitas fisik seperti senam kesegaran badan,

perempuan, namun dalam masa pubertas resiko

joging dan berolahraga dengan teratur. Penelitian

anak perempuan untuk mengalami stres akan

yang dilaporkan dalam Axienty, Stress and

semakin berkembang dan meningkat secara

Coping: An International Journal tahun 2008

dramatis bahkan hingga dua kali lipat dari anak

mencatat bahwa olahraga bisa menjadi alat yang

laki-laki.

potensial

untuk

kecemasan

dan

mengatasi

(68%) berusia 18 tahun yang termasuk dalam

menyebabkan tubuh bereaksi termasuk otak,

kelompok remaja akhir dimana pada tahap ini

sebagai responnya maka otak akan melepaskan

proses berfikir mulai kompleks.

banyak

dan

menunjukkan peningkatan sebagai respon

mempengaruhi

terhadap stres signifikasi lebih besar dari pada

neurotransmitter

teorinya

Pada tabel 1 terdapat 68 responden

olahraga

hormon

stres,

gejala-gejala

termasuk yang

endorphin

bisa

suasana hati. Hasil

Remaja

anak-anak usia pertengahan (7-12). Kelompok analisis

pada

tabel

1

remaja

akhir

dapat

saja

mengalami

menunjukkan sebanyak 65 responden (65%)

kegoncangan jika menerima tekanan dari dalam

berjenis

diri mereka maupun dari lingkungan luar diri

kelamin

perempuan.

Dari

hasil

penelitian yang dilakukan peneliti 3 (3%)

mereka (Kinantie et al, 2012).

responden yang mengalami stres berat berjenis

Analisa Bivariat

kelamin perempuan dan dari 60 (60%)

Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui

responden yang mengalami stres sedang

bahwa sebagian besar responden mengalami

sebanyak 45 responden berjenis kelamin

penurunan tingkat stres setelah diberikan terapi

perempuan dan 15 responden berjenis kelamin

senam otak sebanyak 76% dan 24% yang masih

laki-laki sedangkan yang mengalami stres

mengalami stres setelah diberikan terapi senam 736

otak. Hasil uji statistik Wilcoxon Matched Pair

PENUTUP

antara kelompok pretest dan posttest diperoleh

Kesimpulan

nilai P value = 0,000. Oleh karena nilai ini lebih

Tingkat stres responden sebelum

kecil dari α (0,05) sehingga Ho ditolak, dengan

diberikan terapi senam otak pada siswa/i kelas

demikian dapat disimpulkan ada pengaruh terapi

XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang dalam

senam otak terhadap penurunan tingkat stres pada

persiapan mengikuti Ujian Nasional termasuk

siswa/i kelas XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang

ke dalam tingkat stres sedang yaitu sebanyak

dalam persiapan mengikuti Ujian Nasional tahun

60%.

2016.

Tingkat

stres

responden

setelah

Adanya penurunan tingkat stres dengan

diberikan terapi senam otak pada siswa/i kelas

terapi senam otak sesuai dengan teori Harry

XII SMA Negeri 3 Tanjungpinang dalam

(dalam Chosiyah et al, 2013) bahwa dengan

persiapan mengikuti Ujian Nasional termasuk

senam otak susunan syaraf tulang belakang

kedalam tingkat stres ringan yaitu sebanyak

akan menghasilkan endorphin, hormon yang

36%.

berfungsi sebagai obat penenang alami yang menimbulkan

rasa

nyaman

dan

dapat

mempengaruhi suasana hati.

dilakukan

oleh

Wijayanti

uji

statistik

menunjukkan

bahwa ada pengaruh terapi senam otak terhadap tingkat stres pada siswa/i kelas XII SMA Negeri

Hal ini juga terbukti dari penelitian yang

Hasil

(2006)

3 Tanjungpinang dalam persiapan mengikuti Ujian Nasional tahun 2016.

melakukan penelitian terhadap 64 responden

Saran

yang mengalami stres pada anak usia sekolah

Setelah mendapatkan informasi tentang

diberikan terapi senam otak sehingga terjadi

terapi senam otak terhadap penurunan tingkat

penurunan tingkat stres dengan nilai P = 0,003

stres diharapkan pada siswa/i khususnya kelas

dengan taraf signifikasi 0,05 sehingga dapat

XII sebagai subjek penelitian agar terapi senam

disimpulkan bahwa terapi senam otak dapat

otak dapat diterapkan sebagai salah satu metode

menurunkan tingkat stres pada responden.

penanganan stres dalam persiapan menghadapi Ujian Nasional sehingga stres yang dihadapi siswa/i tidak mempengaruhi pada hasil ujian yang 737

dicapai. Selain untuk mengurangi stres senam

tambahan

kegiatan

mahasiswa

baik

jam

otak dapat meningkatkan konsentrasi belajar,

olahraga maupun kegiatan sebelum atau

meningkatkan kemampuan daya ingat dan lain

sesudah aktifitas pembelajaran.

sebagainya sehingga sangat disarankan untuk

Hasil penelitian ini diharapkan dapat

melakukan terapi senam otak ini dengan gerakan

dimanfaatkan sebagai acuan untuk penelitian

yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

selanjutnya

dengan

memperhatikan

atau

Diharapkan bagi pihak sekolah agar

menambahkan variable-variabel lain seperti

dapat membuat penanganan yang lebih maksimal

kecemasan, tingkat depresi, perkembangan

untuk kelas XII dalam persiapan menghadapi

kognitif, dan kemampuan koordinasi motorik.

Ujian Nasional (UN) dan sebagai masukan bagi

KEPUSTAKAAN

pihak sekolah agar memasukan jadwal senam

Abdullah. (2007). Kiat Mengatasi Stres.

otak sebagai jam olahraga selain itu dapat juga di masukan sebagai kegiatan sesudah atau sebelum

Jakarta: Restu Agung, hal: 5 Council, S.N. (2003). Manajemen Stres.

memulai pelajaran dan pada ujian semester siswa,

Jakarta: EGC, hal: 2-4

karena telah terbukti bahwa senam otak adalah

Dariyo, A. (2004). Psikologi Perkembangan

salah satu alternatif yang dapat menurunkan

Remaja. Bogor: Ghalia Indonesia.

tingkat stres.

Eliasa, I. E. (2007). Brain Gym, Brain Games

Setelah mendapat informasi tentang

(Mari Bermain Otak Dengan Senam

terapi senam otak diharapkan penelitian ini dapat

Otak).

diterapkan

ilmu

Volunter’s Week Dari SD Budi Mulia

keperawatan terutama mengenai stres pada

Dua Yogyakarta tidak dipublikasikan. 26

siswa/i kelas XII dalam persiapan Ujian Nasional

Desember 2007. Hal: 3

pada

perkembangan

dalam upaya pencegahannya melalui senam otak.

Makalah

Program

Parent

Fitria, D. (2010). Pengaruh Senam Otak (Brain

Diharapkan terapi senam otak dapat

Gym) Terhadap Tingkat Stres pada

diterapkan pada mahasiswa tingkat akhir di

Remaja Kelas XII IPA 1 dan XII IPA 6 di

Stikes Hang

SMA Negeri 7 Padang. Skripsi Tidak

Tuah

Tanjungpinang untuk

menurunkan tingkat stres dan diharapkan agar,

diterbitkan.

terapi senam otak dapat dimasukkan sebagai

Universitas Andalas. Hal: 2 738

Fakultas

Keperawatan

Hadi, P. (2005). Depresi dan Solusinya.

Tanjungpinang.

Yogyakarta: Tugu. Hidayat,

A.

(2009).

diterbitkan. Metode

Penelitian

Kesehatan

Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika

Skripsi

Sekolah Hangtuah

Tinggi

Tidak Ilmu

Tanjungpinang.

Hal: 2-3 Wangsa, T. (2010). Menghadapi Stres dan

Muhammad, A. (2011). Dahsyatnya Senam Otak. Yogyakarta: Diva Press

Depresi. Jakarta Selatan: Oryza Yessydiah. (2012). Stres dan Pengukurannya.

Muhammad, A. (2013). Tutorial Senam Otak

http://Yessydiah.tripod.com. Di akses:

Untuk Umum. Yogyakarta: Flash Books

15 Februari 2016

Nasir, A. dan Muhith, A. (2011). Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba

1

Medika

Stikes Hang Tuah Tanjungpinang Prodi D-3

Purwanto, S. Widyaswati, R. dan Nuryati.

Retno Setiowati, S.Kep, Ns, M.KM : Dosen

Keperawatan.

(2009). Manfaat Senam Otak (Brain Gym) Dalam Mengatasi Kecemasan dan Stres

pada

Anak

Sekolah.

Jurnal

Kesehatan. Vol. 2, No. 1 (hal. 82) Sularyo, S.T. dan Handryastuti, S. (2002). Senam Otak. Jurnal Kesehatan Anak. Vol. 4, No. 1 (hal. 37-38) Vany,

T.R.

(2013).

Kecerdasan

Hubungan Emosional

Antara dengan

Kecenderungan Depresi pada Siswa Kelas VIII (Delapan) SMP Negeri 4

739

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT SISWA KELAS I DAN II SDN 04 DAN SDN 010 KELURAHAN SENGGARANG TANJUNGPINANG Ernawati1, Lili Sartika2

ABSTRAK Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) tahun 2005-2025 perilaku masyarakat yang diharapkan dalam Indonesia Sehat 2025 adalah perilaku yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit dan masalah kesehatan lainnya, sadar hukum, serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat, termasuk menyelenggarakan masyarakat sehat dan aman (safe community. Sekolah perlu memiliki lingkungan kehidupan yang menjamin adanya proses belajar mengajar serta menciptakan kondisi yang mendukung tercapainya hidup sehat. Penelitian ini merupakan penelitian korelasi dengan teknik sampel simple random sampling sebanyak 110 responden yaitu siswa kelas I dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang,Tanjungpinang. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Data kemudian dianalisis dengan uji Chi Square. Uji analisis menunjukkan bahwa nilai asym sig sebesar 0.000 (α=0,05) untuk variabel pengetahuan, sikap, tempat pembuangan sampah, ketersediaan jajanan sehat di kantin dan peran guru sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan, sikap, tempat pembuangan sampah, ketersediaan jajanan sehat di kantin dan peran guru dalam perilaku hidup bersih dan sehat siswa. Hasil penelitian ini sebaiknya digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam program pendidikan kesehatan yang menargetkan siswa Sekolah Dasar sebagai sasaran kegiatan.

Kata Kunci : PHBS, pengetahuan, sikap, tempat sampah, jajanan sehat, guru.

740

PENDAHULUAN

bagian

Dalam Rencana Pembangunan Jangka

Promosi

Kesehatan

yang

sudah

dilaksanakan sejak tahun 1996. Evaluasi

Panjang Bidang Kesehatan (RPJP-K) tahun

keberhasilan

2005-2025

yang

dengan melihat indikator PHBS di tatanan

diharapkan dalam Indonesia Sehat 2025 adalah

rumah tangga. Meski sudah berjalan selama 20

perilaku

untuk

tahun, cakupan Rumah Tangga dengan PHBS

memelihara dan meningkatkan kesehatan,

baik masih jauh dari target yang diharapkan.

mencegah

penyakit,

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun

melindungi diri dari ancaman penyakit dan

2013 menunjukkan bahwa proporsi nasional

masalah kesehatan lainnya, sadar hukum, serta

Rumah Tangga dengan PHBS baik hanya

berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan

32,3%, dengan proporsi tertinggi DKI Jakarta

masyarakat,

menyelenggarakan

(56,8%) dan proporsi terendah Papua (16,4%).

masyarakat sehat dan aman (safe community

Angka ini menurun jika dibandingkan dengan

(Departemen Kesehatan RI, 2009). Upaya

proporsi nasional Rumah Tangga PHBS baik

untuk mewujudkan visi Indonesia Sehat 2025

pada tahun 2007 yaitu sebesar 38,7%.

perilaku

yang

masyarakat

bersifat

risiko

proaktif

terjadinya

termasuk

pembinaan

PHBS dilakukan

telah dilaksanakan dengan berbagai pendekatan

Kepulauan Riau sendiri berada pada urutan

dan strategi serta melibatkan lintas sektor dan

ke sepuluh dan belum memenuhi target

lintas program. Sekolah sebagai salah satu

Kementerian Kesehatan yaitu proporsi rumah

lembaga pendidikan dituntut untuk mampu

tangga dengan PHBS baik sebesar 70%.

memberikan edukasi tidak hanya dari segi

Terdapat 20 provinsi yang masih memiliki RT

akademik tetapi juga terkait dengan perilaku

dengan PHBS baik di bawah proporsi nasional.

hidup bersih dan sehat pada siswa. Sekolah

Proporsi nasional RT PHBS baik pada tahun

perlu memiliki lingkungan kehidupan yang

2007 adalah sebesar 38,7 %. Berdasarkan hasil

menjamin adanya proses belajar mengajar serta

Riset

menciptakan

kecenderungan secara rerata nasional, terdapat

kondisi

yang

mendukung

tercapainya hidup sehat (Widyanto, 2014). Perilaku

Hidup

Bersih

dan

Kesehatan

Dasar

2013

analisis

peningkatan proporsi penduduk berperilaku

Sehat

cuci tangan secara benar pada tahun 2013

merupakan program Kementerian Kesehatan

(47,0%) dibandingkan tahun 2007 (23,2%). 741

Demikian pula dengan perilaku BAB benar

dan minuman sehat, menggunakan jamban

terjadi peningkatan dari 71,1 % menjadi 82,6

sehat, membuang sampah di tempat sampah,

%. Peningkatan tertinggi proporsi penduduk

tidak merokok, tidak mengonsumsi NAPZA,

berperilaku cuci tangan benar terjadi di Bangka

tidak

Belitung dengan besar kenaikan 35,0 % (20,6%

memberantas jentik nyamuk dan lain-lain

pada tahun 2007 menjadi 55,6% pada 2013).

(Kementerian Kesehatan, 2011).

Peningkatan

terbesar

proporsi

meludah

di

sembarang

tempat,

penduduk

Penelitian mengenai Perilaku Hidup Bersih

berperilaku BAB benar terjadi di Sumatera

dan Sehat sendiri telah banyak dilakukan. Remi

Barat sebesar 14,8 % (Riskesdas, 2013).

Sumarta Saragih melaksanakan penelitian

Dalam Profil Kesehatan Indonesia tahun

mengenai gambaran pelaksanaan perilaku

2014 dinyatakan bahwa anak usia sekolah

hidup bersih dan sehat pada siswa di Sekolah

merupakan sasaran yang strategis untuk

Dasar

pelaksanaan program kesehatan, karena selain

penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan

jumlahnya yang besar, mereka juga merupakan

PHBS di SDN Cikuda Jatinangor masih

sasaran

mencapai 47%, sehingga pihak sekolah perlu

yang

terorganisasi

mudah

Hasil

pelaksanaan kegiatan ini diutamakan untuk

sarana dan prasarana yang diperlukan (Saragih,

siswa SD/sederajat kelas satu (Profil Kesehatan

2012). Janis, Umboh dan Malonda juga

Indonesia, 2014). Pentingnya menerapkan

melakukan penelitian dengan judul Gambaran

perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini pada

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada siswa SD

siswa akan mempengaruhi cakupan PHBS baik

Negeri

di Rumah Tangga.

menunjukkan bahwa sebanyak 79 responden PHBS

Sasaran

Jatinangor.

memberikan upaya promotif dan menyediakan

tatanan

baik.

karena

Cikuda

dari

Dalam

dengan

dijangkau

Negeri

di

30

Manado.

Hasil

penelitian

Institusi

(52,7%) dan yang memiliki pengetahuan

pendidikan terutama sekolah, sasaran primer

kurang baik sebanyak 71 responden (47, 3%).

harus mempraktikkan perilaku yang dapat

Responden yang memiliki sikap baik tentang

menciptakan institusi pendidikan berPHBS,

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

yang mencakup antara lain mencuci tangan

sebanyak 123 responden (82%) dan yang

menggunakan sabun, mengonsumsi makanan

memiliki sikap kurang baik sebanyak 27 742

responden (18%). Responden yang memiliki

memperoleh jawaban terhadap pertanyaan

tindakan baik tentang Perilaku Hidup Bersih

peneliti (Sastroasmoro & Ismael, 2002).

dan Sehat (PHBS) sebanyak 91 responden (60,

Penelitian ini merupakan penelitian dengan

7%) dan yang memiliki tindakan kurang baik

metode korelasi yaitu penelitian yang bertujuan

sebanyak 59 responden (39,3%).

untuk mengetahui hubungan dan tingkat

Menurut data Dinas Kesehatan Kota

hubungan antara dua variabel atau lebih tanpa

Tanjungpinang pada tahun 2014 jumlah SD di

ada upaya untuk mempengaruhi variabel

Kota Tanjungpinang sebanyak 72 SD, yang

tersebut sehingga tidak terdapat manipulasi

terdiri dari 10 SD yang berada di wilayah kerja

variabel (Faenkel dan Wallen, 2008). Dalam

Puskesmas Pancur Tanjungpinang Barat, 4 SD

rancangan ini peneliti menganalisis hubungan

di wilayah kerja Puskesmas Melayu Kota Piring

antara variabel independen dengan variabel

Tanjungpinang Timur, 6 SD di wilayah kerja

dependen pada responden dalam waktu yang

Puskesmas Batu 10 Tanjungpinang timur, 5 SD

bersamaan.

di wilayah kerja Puskesmas Mekar Baru

Penelitian ini dilakukan di SDN 04 dan

Tanjungpinang Timur, 2 SD di wilayah kerja

SDN

010

Kelurahan

Senggarang

Puskesmas Seijang Bukit Bestari, 4 SD di

Tanjungpinang dari bulan Maret sampai dengan

wilayah kerja Puskesmas Kampung Bugis

Juli 2016. Populasi merupakan keseluruhan

Tanjungpinang Kota. Dari 72 SD di Kota

objek penelitian atau objek yang diteliti

Tanjungpinang yang sudah memenuhi kriteria

(Notoadmojo, 2005). Pada penelitian ini, yang

indikator PHBS sebanyak 43%, dan yang

menjadi populasinya adalah seluruh siswa kelas

belum memenuhi kriteria indikator PHBS

I dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan

sebanyak 56,9% (Dinkes Kota Tanjungpinang,

Senggarang Tanjungpinang sebanyak 153

2014).

siswa. Sampel merupakan sebagian yang diambil METODE PENELITIAN

Desain penelitian merupakan rencana

dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap

mewakili

seluruh

populasi

penelitian yang disusun sedemikian rupa

(Notoatmodjo, 2005). Teknik pengambilan

sehingga dapat menuntun peneliti untuk dapat

sampel yang dilakukan adalah simple random 743

sampling, dimana peneliti memilih sampel

yang memadai, dan ketersediaan makanan

dengan memberikan kesempatan yang sama

bergizi di warung sekolah.

kepada

semua

anggota

populasi

untuk

Analisa bivariat menggunakan uji Chi

ditetapkan sebagai anggota sampel. Jumlah

Square dimana uji dilakukan untuk mencari

sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak

hubungan

110 siswa, yang didapat dari hasil perhitungan

dengan variabel dependen.

antara

variabel

independen

sampel dengan menggunakan rumus Slovin sebagai berikut.

HASIL PENELITIAN N

Pada bagian ini akan disajikan hasil dari penelitian

n= 1 + N.e2

tentang

“Faktor-faktor

yang

mempengaruhi Perilaku Bersih dan Sehat

dimana :

Siswa Kelas I dan II SDN 04 dan 010

n=

Ukuran

Sampel

N =

Ukuran

Populasi

e = Prosentase (%),

Kelurahan

Senggarang”

yang

telah

dilaksanakan pada bulan Maret s/d Juli 2016. 1. Analisis Univariat

1. Instrumen Penelitian

Analisis univariat pada penelitian ini

Untuk melakukan pengumpulan data,

bertujuan untuk mendapatkan gambaran

peneliti menggunakan alat pengumpulan

tentang distribusi pengetahuan, sikap,

data berupa teknik pengumpulan data

tempat pembuangan sampah, ketersediaan

dengan menggunakan kuesioner.

jajanan sehat di kantin, dan guru.

2. Analisa data (Data analyzing)

a. Distribusi frekuensi pengetahuan siswa

Analisa univariat digunakan untuk

kelas I dan II SDN 04 dan SDN 010

mendapatkan karakteristik responden, yaitu

Kelurahan Senggarang

umur, jenis kelamin, serta gambaran distribusi

pengetahuan,

sikap,

Berdasarkan

tempat

pelaksanaan

hasil

penelitian

yang

dilakukan

pada

pembuangan air yang bersih, tempat

responden,

maka

didapatkan

data

pembuangan sampah, tempat olah raga

mengenai

pengetahuan

sebagai berikut : 744

responden

Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Siswa Kelas I dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang Tahun 2016

Pengetahuan

Frekuensi

Persentase

Baik

66

60%

Kurang

44

40%

110

100.0

Total

Berdasarkan

tabel

di

atas

b. Distribusi frekuensi sikap siswa kelas I

menunjukkan bahwa sebagian besar

dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan

responden memiliki pengetahuan baik

Senggarang

yaitu sebesar 60%.

Tabel 1.2 Distribusi Frekuensi Sikap Siswa Kelas I dan II di SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang

Sikap

Frekuensi

Persentase

Positif

63

57.27

Negatif

47

42.72

110

100.0

Total

Berdasarkan tabel di atas, sebagian

c. Distribusi

Frekuensi

Tempat

besar responden memiliki sikap positif

Pembuangan Sampah Siswa Kelas I

yaitu sebesar 57,27%.

dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang

745

Tabel 1.3 Distribusi Frekuensi Tempat Pembuangan Sampah Siswa Kelas I dan II di SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang

Tempat Pembuangan Sampah

Frekuensi

Persentase

Baik

61

55,5%

Kurang

49

44,5%

110

100.0

Total

Berdasarkan

tabel

di

atas

d. Distribusi

Frekuensi

Ketersediaan

menunjukkan bahwa sebagian besar

Jajanan Sehat di Kantin Siswa Kelas I

responden

dan II di SDN 04 dan SDN 010

mengatakan

tempat

pembuangan sampah baik yaitu sebesar

Kelurahan Senggarang

55,5%. Tabel 1.4 Distribusi Frekuensi Ketersediaan Jajanan Sehat di Kantin Siswa Kelas I dan II di SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang

Ketersediaan jajanan sehat di kantin

Frekuensi

Persentase

Baik

77

70%

Kurang

33

30%

110

100.0

Total

746

Berdasarkan

tabel

di

atas

e.

Distribusi Frekuensi Peran Guru

menunjukkan bahwa sebagian besar

Menurut Siswa Kelas I dan II di SDN

responden mengatakan ketersediaan

04 dan SDN 010 Kelurahan

jajanan sehat di kantin baik yaitu

Senggarang

sebesar 60%. Tabel 1.5 Distribusi Frekuensi Peran Guru Menurut Siswa Kelas I dan II di SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang

Peran Guru

Frekuensi

Persentase

Baik

75

68,2%

Kurang

35

31,8%%

110

100.%

Total

Berdasarkan

tabel

di

atas

f.

Distribusi Frekuensi Perilaku Hidup

menunjukkan bahwa sebagian besar

Bersih dan Sehat Siswa Kelas I dan II

responden mengatakan bahwa peran

di SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan

guru baik yaitu sebesar 68, 2%.

Senggarang Tabel 1.6

Distribusi Frekuensi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Kelas I dan II di SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang

Perilaku Bersih dan Sehat

Hidup Frekuensi

Persentase

Baik

73

66,4%

Kurang

37

33,6%

110

100.%

Total

747

Berdasarkan

tabel

di

atas

menganalisa hubungan antara variabel

menunjukkan bahwa sebagian besar

independen dengan variabel dependen.

responden memiliki perilaku hidup

a. Hubungan

Pengetahuan

dengan

bersih dan sehat baik yaitu sebesar

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Siswa

66,4%.

SD Kelas I dan II SDN 04 dan SDN 010

2. Analisis Bivariat

Kelurahan Senggaran

Analisis bivariat pada penelitian ini menggunakan

uji

Chi

Square

untuk Tabel 1.7

Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Siswa SD Kelas I dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Pengetahuan

Baik

Kurang

Total

Berdasarkan

tabel

di

Asymp. Sig Total

Baik

Kurang

62

4

56,4%

3,6%

11

33

10%

30%

73

37

66,4%

33,6%

66 60.0% 44 40.0% 37 100.0%

0.000

atas

pengetahuan dengan perilaku hidup

didapatkan hasil uji statistik dengan

bersih dan sehat pada siswa kelas I dan

menggunakan uji Chi Square nilai

II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan

asymp. Sig 0.000 yang lebih kecil dari

Senggarang.

nilai α = 0.05 sehingga Ho ditolak, artinya

ada

hubungan

b. Hubungan Sikap

antara

dengan Perilaku

Hidup Bersih dan Sehat Siswa Kelas I 748

dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang Tabel 1.8 Hubungan Sikap dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Siswa SD Kelas I dan II SDN 04 dan SD 010 Kelurahan Senggarang

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Sikap

Negatif

Positif

Total

Berdasarkan

tabel

di

Total

Kurang

Baik

29

18

26,4%

16,4%

8

55

7,3%

50%

37

73

33,6%

66,4%

atas

Asymp. Sig

47 42.7% 63 57,3% 110 100.0%

0.000

pada siswa kelas I dan II SDN 04 dan

didapatkan hasil uji statistik dengan

SDN 010 Kelurahan Senggarang.

menggunakan uji Chi Square nilai

c. Hubungan

Tempat

Pembuangan

asymp. Sig 0.000 yang lebih kecil dari

Sampah dengan Perilaku Hidup Bersih

nilai α = 0.05 sehingga Ho ditolak,

dan Sehat Siswa Kelas I dan II SDN 04

artinya ada hubungan antara sikap

dan SDN 010 Kelurahan Senggarang.

dengan perilaku hidup bersih dan sehat

749

Tabel 1.9 Hubungan Tempat Pembuangan Sampah dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Siswa SD Kelas I dan II SDN 04 dan SD 010 Kelurahan Senggarang

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Tempat

Kurang

Pembuangan Sampah

Baik

Total

Berdasarkan

tabel

di

Asymp. Sig Total

Kurang

Baik

31

18

28,2%

16,4%

6

55

5,5%

50%

37

73

66,4%

33,6%

49 44,5% 61 55,5% 110 100.0%

0.000

atas

hidup bersih dan sehat pada siswa kelas

didapatkan hasil uji statistik dengan

I dan II SDN 04 dan SDN 010

menggunakan uji Chi Square nilai

Kelurahan Senggarang.

asymp. Sig 0.000 yang lebih kecil dari

d. Hubungan ketersediaan jajanan sehat

nilai α = 0.05 sehingga Ho ditolak,

di kantin dengan Perilaku Hidup Bersih

artinya ada hubungan antara tempat

dan Sehat Siswa Kelas I dan II SDN 04

pembuangan sampah dengan perilaku

dan SDN 010 Kelurahan Senggarang.

750

Tabel 1.10 Hubungan Ketersediaan Jajanan Sehat di Kantin dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Siswa SD Kelas I dan II SDN 04 dan SD 010 Kelurahan Senggarang

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Ketersediaan

Kurang

Jajanan Sehat di Kantin

Baik

Total

Berdasarkan

tabel

di

Baik

30

3

27,3%

2,7%

7

70

6,4%

63,6%

37

73

33,6%

66,4%

didapatkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square nilai asymp. Sig 0.000 yang lebih kecil dari nilai α = 0.05 sehingga Ho ditolak, artinya

ada

hubungan

Total

Kurang

atas

antara

ketersediaan jajanan di kantin dengan perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa kelas I dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan Senggarang.

751

Asymp. Sig

33 30.0% 77 70.0% 110 100.0%

0.000

Tabel 1.11 Hubungan Peran Guru dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Siswa SD Kelas I dan II SDN 04 dan SD 010 Kelurahan Senggarang

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Peran Guru

Kurang

Baik

Total

Asymp. Sig Total

Kurang

Baik

30

5

27,3%

34,5%

7

68

6,4%

61,8%

37

73

33,6%

66,4%

35 31,8% 44 68,2% 100 100.0%

0.000

Berdasarkan tabel di atas didapatkan

Berdasarkan tabel 1.7 didapatkan hasil uji

hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi

statistik dengan menggunakan uji Chi

Square nilai asymp. Sig 0.000 yang lebih kecil

Square nilai asymp. Sig 0.000 yang lebih

dari nilai α = 0.05 sehingga Ho ditolak, artinya

kecil dari nilai α = 0.05 sehingga Ho

ada hubungan antara peran guru dengan

ditolak, artinya ada hubungan antara

perilaku hidup bersih dan sehat pada siswa kelas

pengetahuan dengan perilaku hidup bersih

I dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan

dan sehat pada siswa kelas I dan II SDN 04

Senggarang.

dan SDN 010 Kelurahan Senggarang. Menurut

HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hubungan

Pengetahuan

Notoatmodjo

(2007)

pengetahuan atau kognitif merupakan

dengan

domain

Perilaku Hidup dan Bersih

yang

sangat

penting

untuk

terbentuknya tindakan seseorang. Dari pengalaman 752

dan

penelitian

ternyata

perilaku yang didasari oleh pengetahuan

pada siswa kelas I dan II SDN 04 dan SDN

akan lebih langgeng daripada perilaku

010 Kelurahan Senggarang.

yang tidak didasari oleh pengetahuan.

Sikap adalah juga merespon tertutup

Apabila penerimaan perilaku baru atau

seseorang terhadap stimulus atau objek

adopsi perilaku melalui proses seperti

tertentu, yang sudah melibatkan faktor

awareness, interest, evaluation, trial dan

pendapat dan emosi yang bersangkutan

adaptation

oleh

(senang – tidak senang, setuju –tidak setuju,

pengetahuan, kesadaran dan sikap yang

baik – tidak baik, dan sebagainya).

positif, maka perilaku tersebut akan

Newcomb, salah seorang ahli psikologi

bersifat langgeng (longlasting).

sosial menyatakan bahwa sikap merupakan

Penelitian serupa yang dilakukan oleh

kesiapan atau kesediaan untuk bertindak,

Rorimpandey,

Tumuraang

dan bukan merupakan pelaksanaan motif

mengenai faktor-faktor yang berhubungan

tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap

dengan perilaku hidup bersih dan sehat

belum merupakan tindakan (reaksi terbuka)

siswa

atau aktivitas, akan tetapi merupakan faktor

dimana

Rattu

SMP

didasari

dan

Negeri

2

Tompaso

menunjukkan bahwa ada hubungan antara

predisposisi

perilaku

(reaksi

tertutup)

peran orang tua, pengetahuan, sikap dan

(Notoatmodjo, 2005). Sikap salah satunya

sarana prasarana dengan PHBS siswa di

dipengaruhi oleh konsep moral dan ajaran

SMP Negeri 2 Tompaso.

dari lembaga pendidikan dan agama.

2. Hubungan Sikap dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

3. Hubungan tempat pembuangan sampah

Berdasarkan tabel 1.7 didapatkan hasil

dengan perilaku hidup bersih dan sehat

uji statistik dengan menggunakan uji Chi

Berdasarkan tabel 1.9 didapatkan hasil

Square nilai asymp. Sig 0.000 yang lebih

uji statistik dengan menggunakan uji Chi

kecil dari nilai α = 0.05 sehingga Ho

Square nilai asymp. Sig 0.000 yang lebih

ditolak, artinya ada hubungan antara sikap

kecil dari nilai α = 0.05 sehingga Ho

dengan perilaku hidup bersih dan sehat

ditolak, artinya ada hubungan antara tempat pembuangan 753

sampah dengan

perilaku

hidup bersih dan sehat pada siswa kelas I

terbuka seperti koridor atau di halaman

dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan

sekolah. Meskipun kantin berada di ruang

Senggarang.

terbuka, namun ruang pengolahan dan

Sampah adalah semua zat/benda yang

tempat penyajian makanan harus dalam

sudah tidak terpakai lagi baik berasal dari

keadaan tertutup. Kedua jenis kantin di atas

rumah-rumah maupun sisa-sisa proses

harus memiliki sarana dan prasarana

industri.

tempat

sebagai berikut: sumber air bersih, tempat

berkumpulnya banyak orang dapat menjadi

penyimpanan, tempat pengolahan, tempat

penghasil sampah terbesar selain pasar,

penyajian dan ruang makan, fasilitas

rumah tangga, industri dan perkantoran.

sanitasi, perlengkapan kerja dan tempat

Secara umum sampah dapat dipisahkan

pembuangan

menjadi samapah organik dan sampah

(Kementerian Kesehatan, 2011).

Sekolah

sebagai

anorganik. 4. Hubungan

sampah

yang

tertutup

5. Hubungan peran guru dengan perilaku ketersediaan

jajanan

di

hidup bersih dan sehat

kantin dengan perilaku hidup bersih dan

Berdasarkan tabel 1.8 didapatkan hasil

sehat

uji statistik dengan menggunakan uji Chi

Berdasarkan tabel 1.10 didapatkan

Square nilai asymp. Sig 0.000 yang lebih

hasil uji statistik dengan menggunakan uji

kecil dari nilai α = 0.05 sehingga Ho

Chi Square nilai asymp. Sig 0.000 yang

ditolak, artinya ada hubungan antara tempat

lebih kecil dari nilai α = 0.05 sehingga Ho

pembuangan

ditolak, artinya ada hubungan antara

hidup bersih dan sehat pada siswa kelas I

ketersediaan jajanan sehat dengan perilaku

dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan

hidup bersih dan sehat pada siswa kelas I

Senggarang.

dan II SDN 04 dan SDN 010 Kelurahan

sampah dengan

perilaku

Berdasarkan hasil penelitian dapat

Senggarang.

Diana, Susanti, dan Irfan (2014) diketahui

Kantin sekolah dapat dikelompokkan

bahwa

dalam

pelaksanaan

Program

menjadi dua jenis yaitu kantin dengan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

ruangan tertutup dan kantin dengan ruangan

pada SD Negeri 001 Tanjung Balai 754

Karimun Kabupaten Karimun Tahun 2013

dan sehat di SDN Bukit Bestari Kota

terdapat sebanyak 56,3% guru belum

Tanjungpinang.

berperan. Sejalan dengan penelitian yang

Dewi Rizki Chintya,dkk, (2015). “Teori dan

dilakukan oleh Linda dkk di PAUD pada

Konsep

Tumbuh

Kembang

Kecamatan Jakarta Utara Tahun 2010

Bayi,toodler, Anak dan Usia Remaja”.

terdapat hubungan yang bermakna antara

Nuha Medika Yogyakarta : Jl Sadewa

peran guru dengan pelaksanaan Program

Dharma Kelana Kusuma (2011) “metodologi

Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS)

penelitian keperawatan”.Trans Info

yaitu sebesar 54,3% kurang berperan.

Media : Jakarta Diskes Kota Tanjungpinang, (2014) “Data

KETERBATASAN PENELITIAN Penulis menyadari terdapat banyak kekurangan

Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Pada

dalam proses pelaksanaan ini. Hal in antara lain

Anak SD”. Kota Tanjungpinang :

disebabkan oleh :

Agustus 2015

1. Kuesioner yang digunakan bersifat self

Dirjen Dikti. (2013). Panduan Pelaksanaan

report sehingga subjektivitas sangat tinggi

Penelitian dan Pengabdian Kepada

terutama

Masyarakat di Perguruan Tinggi Edisi

untuk

variabel

tempat

pembuangan sampah, ketersediaan jajanan

IX

.

Jakarta

di kantin dan peran guru.

Kemendikbud.

:

Dirjen

Dikti

2. Responden merupakan anak usia sekolah

Hidayat A.A (2011). “Metode Keperawatan

yang perkembangan kognitifnya masih

Dan Teknik Analisis Data” Jakarta:

terus berjalan sehingga mereka terkadang

Salemba Medika

kesulitan

mencerna

pertanyaan

yang

Kementerian Kesehatan. (2011). Pedoman

diajukan dalam kuesioner.

Keamanan Pangan di Sekolah Dasar.

DAFTAR PUSTAKA Baharuddin,

(2011).

Hubungan

Jakarta : Direktorat Bina Gizi dan tingkat

Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian

pengetahuan anak usia sekolah (6-12 Tahun) dengan perilaku hidup bersih

Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan. (2011). Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan 755

Sehat

(PHBS).

Notoadmodjo

Soekidjo,2012.

http://www.promkes.depkes.go.id/dl/p

Kesehatan

edoman_umum_PHBS.pdf.

kesehatan”.Jakarta:

Kementerian

Kesehatan

Kesehatan

(2014).

Indonesia

Profil 2014.

dan

“Promosi perilaku

Rineka Cipta Notoadmodjo Soekidjo, dkk, 2012. “Promosi

http://www.depkes.go.id/resources/do

kesehatan di sekolah”. Rineka Cipta :

wnload/pusdatin/profil-kesehatan-

Jakarta

indonesia/profil-kesehatan-indonesia-

“Pendidikan

Nursalam,dkk,2008.

Dalam

Keperawatan”. Jakarta : Salemba

2014.pdf Koem, Z.A.R., Joseph, B., dan Sondakh, R.C.

Medika

(2015). Hubungan antara pengetahuan

Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Dasar

dan sikap dengan perilaku hidup bersih

2013. Jakarta: Badan Penelitian dan

dan sehat pada pelajar di SD Inpres

Pengembangan Kesehatan Kemenkes

Sukur

RI

Kecamatan

Airmadidi

Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal

Rombot, D.V. (2012). Analisis Faktor-faktor

Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. 4 No.

yang Berhubungan dengan Praktik

4

Hidup Bersih dan Sehat Siswa di

Maulana, Heri D.J.,2009. “Promosi Kesehatan

Sekolah Dasar GMIM 52 Mapanget

”.Jakarta:EGC Machfoedz,

Kecamatan Talawaan. Naskah tidak

Suryani,dkk.2007.“Pendidikan

Kesehatan

Bagian

Dari

dipublikasikan.

Promosi

Kesehatan Edisi ke-5 “. Jakarta:

Sugiyono.2013.“Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif

Tamaya Notoadmodjo S. (2006). “Promosi Kesehatan Teori Dan Aplikasinya”.Rineka Cipta

Dan

R&D”.

Bandung:

Alvabeta, CV Tamsuri Anas,2005. “Komunikasi

Dalam

Keperawatan”.Jakarta: EGC

Jakarta:Jl. Jendral Sudirman.

Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Pusat. (2007). Pedoman Pembinaan 756

dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah. Jakarta: Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas Pratama, Okta.K.R, dkk (2013). Pengaruh pendidikan

kesehatan

terhadap

perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku tentang kebiasaan berprilaku hidup bersih dan sehat siswa SDN 1 Mandong. Wong Donna,dkk. (2010). “Buku Keperawatan Pediatrik” Jakarta: Buku Kedokteran EGC

757

PEDOMAN BAGI PENULIS

JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG Umum Semua naskah yang dikirim ke Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Tanjungpinang adalah karya asli dan belum pernah di publikasikan sebelumnya. Artikel yang telah diterbitkan menjadi hak milik redaksi dan naskah tidak boleh diterbitkan dalam bentuk apapun tanpa persetujuan redaksi. Pernyataan di artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaktur akan mempertimbangkan agar penulis memperbaiki isi dan gaya serta tehnik penulisan apabila diperlukan. Artikel yang tidak di terbitkan akan di kembalikan jika disertai perangko balasan.

Petunjuk Penulisan 1.

Jenis artikel yang di terima redaksi adalah: ulasan tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan riset keperawatan. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau inggris dengan format essay. Format terdiri atas : : berisi latar belakang, masalah, tujuan penelitian. Pendahuluan : berisi desain penelitian, desain tempat dan waktu, populasi dan sampel, cara Metodologi pengukuran data. Hasil: dapat disajikan dalam bentuk tekstular, tabular, dan grafikal.Berikan kalimat pengantar untuk menerangkan tabel dan atau gambar yang disajikan dalam tabel atau gambar. : berisi pembahasan mengenai hasil penelitian yang di temukan, band ingkan hasil Hasil tersebut dengan penelitian lain. Dan Pembahasan : berisi pembahasan mengenai hasil penelitian yang ditemukan, bandi ngkan hasil Daftar Pustaka tersebut dengan penelitian lain. 2. Sistemika artikel hasil pemikiran adalah judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); abstrak; kata kunci; pendahuluan (tanpa judul) yang berisi latar belakang, tujuan atau ruang lingkup tulisan; bahasan utama; kesimpulan dan saran; daftar rujukan (hanya memuat sumber yang dirujuk). 3. Halaman judul berisi judul karya tulis ilmiah, nama setiap penulis, dan lembaga afiliasi penulis, nama dan alamat korespondensi. Nomor telepon, alamat faksimile dan e-mail. Judul singkat dengan jumlah maksimal 40 karakter termasuk huruf dan spasi. Untuk laporan kasus penulis sebaiknya di batasi 4 orang. 4. Abstrak untuk artikel penelitian, tinjauan pustaka, dan laporan kasus dibuat dalam bahasa Indonesia dan inggris maksimum 200 kata. Artikel penelitian harus berisi tujuan penelitian, metode, hasil utama, dan kesimpulan utama. Abstrak dibuat jelas dan singkat sehingga memungkinkan pembaca memahami tentang aspek baru dan penting tanpa harus membaca seluruh karya tulis ilmiah. Kata kunci dicantumkan pada halaman yang sama dengan abstrak. Pilih 3-5 kata yang dapat membantu penyusun indeks.Dalam artikel yang terbit, abstrak akan diubah menjadi satu alinea. 5. Setiap tabel diketik 1 spasi. Nomor tabel berurutan sesuai dengan penyebutan tabel dalam teks. Penjelasan tabel harus singkat, jelas, dan mewakili isi tabel. Jumlah tabel maksimal 6 buah. 6. Metode statistik di jelaskan secara rinci pada bagian metode. Metode yang tidak umum di gunakan harus di lampiri referensi. 7. Perujukan dan pengutipan menggunakan teknik perujukan berkurung (nama, tahun). Pencantuman sumber pada kutipan langsung hendaknya disertai keterangan tentang nomor halaman tempat asal kutipan. Contoh: (Novia, 2009:12). 8. Daftar rujukan disusun dengan sistem APA (American Psychological Association). 9. Tata letak penulisan karya tulis ilmiah; termasuk tabel, daftar pustaka, dan gambar harus di ketik 2 spasi ukuran A4 dengan jarak dari tepi minimal 2,5cm, jumlah halaman masing-masing 20. Setiap halaman diberi nomor berurutan dimulai dari halaman judul sampai halaman terakhir. 10. Karya ilmiah yang dikirim berupa karya tulis asli dan 2 buah fotokopi termasuk foto serta soft copy dalam bentuk CD dialamatkan ke Sekretariat Redaksi , Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah , Jl. Baru Bt.VIII, Tanjungpinang 29111, Kep. Riau. Karya tulis ilmiah yang dikirim ke Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah di sertai tanda tangan penulis.

KRITERIA PENILAIAN AKHIR DAN PETUNJUK PENGIRIMAN Lampirkan fotokopi format ini bersama naskah dan soft copy naskah anda. Beri tanda (√) pada setiap nomor /bagian untuk meyakinkan bahwa artikel anda telah memenuhi bentuk dan sesuai syarat-syarat dari Jurnal keperawatan STIKES Hang Tuah.  Jenis Artikel  Penelitian  Ulasan artikel  Ringkasan

 Laporan kasus  Penelitian klinis  Tinjauan pustaka  Lembar Metodologi  Halaman Judul  Judul Artikel  Nama lengkap penulis  Tingkat pendidikan penulis  Asal institusi penulis  Alamat lengkap penulis  Abstrak  Abstrak dalam Bahasa Indonesia  Abstrak dalam Bahasa Inggris  Kata kunci dalam Bahasa Indonesia  Kata kunci dalam Bahasa Inggris  Teks Artikel mengenai penelitian klinis dan dasar sebaiknya dibuat dalam urutan  Pendahuluan  Bahan dan Cara  Hasil  Diskusi  Kesimpulan  Kepustakaan  Gambar dan Tabel  Pemberian nomor gambar dan/atau tabel penomoran secara Arab  Pemberian judul tabel dan/atau judul utama dari seluruh gambar



 Nama dan alamat untuk percetakan ulang ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………  Soft Copy Penulis menjamin bahwa:  Semua penulis telah meninjau ulang naskah akhir dan telah menyetujui untuk dipublikasikan.  Tidak ada naskah yang sama ataupun mirip, yang telah dibuat oleh penulis dan telah dipublikasikan dalam bentuk apapun.  Menyerahkan soft copy dalam bentuk CD, naskah penulis Tanda tangan penulis utama:

……………………………….

Tgl…………………20………..

FORMULIR BERLANGGANAN JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG Nama    Alamat

:……………………………………………………………………………………… Mahasiswa Individu Instansi :………………………………………………....................................................................... …………………………………………………………………............................... Telp: …………………………………………………..............................................

Akan berlangganan Jurnal Keperawatan, Vol..............: No:……………………..s/d…………………………………… Sejumlah : ………………………….Eksp./ penerbitan Uang langganan setahun Rp…………………………(2 nomor) dapat ditransfer ke Rekening No……………….., Bank……………a/n………………………………………….. Alamat Redaksi Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Tanjungpinang: Jl. Nala No.1 Tanjungpinang 29111, Kep.Riau Telp / fax (0771) 316516 Pelanggan

Tgl. Pesanan :…………………….

…………………..