JURNAL KEPERAWATAN

Pertumbuhan dan perubahan lingkungan eksternal menyebabkan persaingan terhadap mutu pelayanan antara ... Alat ukur kuesioner ... Pelayanan keperawatan...

1 downloads 162 Views 1MB Size
Volume 4, Nomor 1, Tahun 2014

ISSN : 2086-9703

JURNAL KEPERAWATAN • Hubungan Karakteristik Responden Dan Switching Barrier Dengan Repurchase Intention Diruang • •

• • • •

Rawat Inap Rsud Kota Tpi Pengaruh Metode Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Stikes Hang Tuah Tanjungpinang Tahun 2015 Pemberian Teknik Mulligan Dan Soft Tissue Mobilization Lebih Baik Daripada Hanya Soft Tissue Mobilization Dalam Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi Ekstensi, Rotasi, Lateral Fleksi Cervical Pada Mechanical Neck Pain Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Menstruasi Terhadap Tingkat Kecemasan Menghadapi Menarche Pada Siswi SDN 011 Kelas V dan VI Tanjungpinang Barat Pengaruh Rebusan Belimbing Wuluh Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Posyandu Lansia Camar Puskesmas Sei Jang Tanjungpinang Pengaruh Air Rebusan Lidah Buaya Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang Tanjungpinang Tahun 2014 Pengaruh Jus Tomat Plum Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Posyandu Lansia Camar Tanjungpinang

Penerbit: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Tanjungpinang Kepulauan Riau, Indonesia

JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG VOLUME 4 NOMOR 1 TAHUN 2014

PENELITIAN

HAL

Hubungan Karakteristik Responden Dan Switching Barrier Dengan Repurchase Intention Diruang Rawat Inap Rsud Kota Tpi

408 -

(Liza Wati, Ernawati, Meily Nirna Sari)

Pengaruh Metode Pembelajaran Aptitude Treatment Interaction (ATI) Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Stikes Hang Tuah Tanjungpinang Tahun 2015

404-418

(Nur Meity Sulistia Ayu)

Pemberian Teknik Mulligan Dan Soft Tissue Mobilization Lebih Baik Daripada Hanya Soft Tissue Mobilization Dalam Meningkatkan Lingkup Gerak Sendi Ekstensi, Rotasi, Lateral Fleksi Cervical Pada Mechanical Neck Pain

419-436

(Sudaryanto)

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Menstruasi Terhadap Tingkat Kecemasan Menghadapi Menarche Pada Siswi SDN 011 Kelas V dan VI Tanjungpinang Barat

437-449

(Wasis Pujiati, Ernawati, Daratullaila)

Pengaruh Rebusan Belimbing Wuluh Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Posyandu Lansia Camar Puskesmas Sei Jang Tanjungpinang

450-466

(Zurrahman, Lidia Wati, Komala Sari)

Pengaruh Air Rebusan Lidah Buaya Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Penderita Diabetes Mellitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang Tanjungpinang Tahun 2014

467-478

(Urai Muhamad Bawadi, Soni Hendra Sitindaon, Komalasari)

Pengaruh Jus Tomat Plum Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Wilayah Kerja Posyandu Lansia Camar Tanjungpinang (Ivana Arleni, Nur Meity, Zakiah Rahman)

479-488

JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG Terbit dua kali setahun pada bulan Januari dan Juli Penanggung Jawab : Heri Priatna Penasehat : Nur meity Sulistia Ayu Penyunting : Ketua : Ernawati Sekretaris : Rian Yuliana Bendahara : Ria Muazizah Penyunting Pelaksana : Wasis Pujiati Liza Wati Yusnaini Siagian Hotmaria Julia Dolok Pasaribu Linda Widiastuti Pelaksana Tata Usaha: Siti Halimah Cian Ibnu Sina Ummu Fadhilah Distribusi dan Pemasaran : Agus Bahtiar Ade Pardi Anas Fajri

Alamat Redaksi: STIKES Hang Tuah Tanjungpinang Jl. Baru Km.8 atas Tanjungpinang 29122 Kepulauan Riau - Telp / Fax. (0771) 8038388

PRAKATA Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Tanjungpinang berfungsi untuk memfasilitasi para penulis ilmiah keperawatan dan non keperawatan menghasilkan karya-karya terbaiknya melalui penulisan karya ilmiah untuk menambah pengetahuan dan wawasan keperawatan. Bertolak dari pandangan diatas maka Stikes Hang Tuah Tanjungpinang merasa perlu memberikan wadah bagi para dosen/peneliti dalam bidang keperawatan baik dari Stikes Hang Tuah Tanjungpinang maupun dari luar untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya. Diharapkan Jurnal Keperawatan yang diterbitkan oleh Stikes Hang Tuah ini mampu menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang keperawatan dan menambah motivasi bagi para dosen-dosen yang lain agar melakukan penelitian. Pembaca yang budiman, semoga jurnal ini dapat menambah wawasan pengetahuan bagi pembaca. Kami mohon maaf bila ada kesalahan dan kekurangan dalam penulisan jurnal. Oleh karena itu tak lupa kami mohon saran dan kritik demi kelancaran penerbitan edisi jurnal keperawatan berikutnya.

Tanjungpinang, Januari 2014 STIKES Hang Tuah Tanjungpinang

Drs. Heri Priatna, SStFT,SKM, MM

HUBUNGAN KARAKTERISTIK RESPONDEN DAN SWITCHING BARRIER DENGAN REPURCHASE INTENTION DIRUANG RAWAT INAP RSUD KOTA TPI Liza Wati1, Ernawati2, Meily Nirna Sari3

ABSTRAK Pertumbuhan dan perubahan lingkungan eksternal menyebabkan persaingan terhadap mutu pelayanan antara rumah sakit secara global. Meningkatnya sosial ekonomi, pendidikan, perkembangan pola penyakit, teknologi kesehatan, dan trend berobat keluar negeri menjadi peluang sekaligus ancaman bagi rumah sakit dalam mempertahankan pasiennya. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan Karakteristik Responden dan Switching Barrier dengan repurchase intention di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Tanjungpinang Tahun 2015. Desain penelitian korelasional. Sampel 66 responden dengan propporsional random sampling. Alat ukur kuesioner dengan 43 pertanyaan. Analisis data univariat, korelasi Spearman dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan ada korelasi karakteristik responden yaitu jarak (p=0,001), biaya pengobatan (p=0,000) dan pengalaman rawatan (p=0,000) dengan repurchase intention. Terdapat korelasi switching barrier dengan repurchase intention yaitu dimensi Alternative of attractiveness (p=0,001) dan interpersonal relathionship (p=0,000) dimana korelasi yang paling kuat adalah pada dimensi interpersonal relathionship dengan nilai koefesien korelasi r = 0,500. Rekomendasi bagi manajemen keperawatan harus inovatif mengembangkan strategi switching barrier yang sudah seperti peningkatan hubungan perawat pasien, caring perawat dan responsif perawat terhadap pasien. Kata kunci Daftar Pustaka

: Switching barrier, pelayanan keperawatan, repurchase intention pasien : (1987- 2014)

Pertumbuhan dan perubahan eksternal

PENDAHULUAN LATAR BELAKANG

rumah sakit meningkatkan persaingan antara Rumah sakit adalah bagian integral dari rumah sakit dengan memberikan pelayanan suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan berkualitas. Meningkatnya sosial ekonomi, fungsi

menyediakan

pelayanan

paripurna pendidikan,

perkembangan

pola penyakit,

(komprehensif) (WHO,2010), penyembuhan teknologi kesehatan, dan trend berobat keluar penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit negeri menjadi peluang sekaligus ancaman bagi (preventif) kepada masyarakat (Ahira, 2012). rumah sakit dalam mempertahankan pasiennya. Investasi

pada rumah sakit dalam beberapa Tuntutan inilah yang mendorong manajemen

tahun

terakhir

ini

banyak

diminati. rumah sakit untuk meningkatkan kualitas

Pertumbuhan rumah sakit sejak tahun 2008 – pelayanannya (Trisnantoro, 2005). 2010 cendrung meningkat dengan rata-rata Peningkatan

kualitas

akan

pertumbuhan per tahun sekitar 1,14%. meningkatkan minat penggunaan jasa kembali

408

oleh pasien (repurchase intention). Menurut

menjadi faktor penting bagi loyalitas konsumen

Soderlund dan Ohman, 2003., Hicks, dkk ,

(Aydin dan Ozer, 2005). Menurut Bloemer et al

(2005) minat menggunakan jasa kembali

(1998) dalam industri yang dikategorikan

(repurchase

Intention)

merupakan

sikap

memiliki switching

bagaimana

seseorang

akan

konsumennya akan kurang loyal dibanding

berperilaku (loyal) dimasa yang akan datang

industri jasa dengan switching barrier yang

dan

tinggi.

mengenai

komitmen

tersebut

muncul

setelah

konsumen melakukan pembelian jasa dan

Strategi

barrier

rumah

yang rendah

sakit

untuk

timbul karena kesan positif terhadap jasa yang

meningkatkan switching barrier dari segi

didapat.

jumlah dan mutu pelayanan pada ruang Upaya mempertahankan pasien lebih

perawatan perlu ditingkatkan lagi untuk tahun

efesien dan efektif dibanding mendapatkan

2015. Laporan RSUD Kota Tanjungpinang

pasien baru (Hasan, 2008; Lele dan Sheth,

Tahun 2012-2013 terjadi penurunan kunjungan

1995). Banyak perusahaan kehilangan 25 %

pasien baru dan pasien lama dan diikuti juga

langganan

penurunan

mereka

setiap

tahun,

dengan

kinerja

pelayanan

kesehatan.

perkiraan biaya mencapai $2 hingga $4 miliar

Berdasarkan kinerja rawat inap dari tahun 2008

dan

dapat

– 2013 yaitu BOR rata-rata 66,5 % (cendrung

menelan biaya lima kali lipat lebih besar

menurun). Pelayanan keperawatan yang belum

dibandingkan

dan

sesuai dengan standar pelayanan minimal

mempertahankan pelanggan lama (Kotler &

(SPM), tindakan keperawatan yang dilakukan

Keller, 2009). Sejumlah faktor berperan dalam

belum sesuai dengan standar operasional

masalah minat pelanggan selain faktor kualitas

prosedur,

layanan,

oleh

melaksanakan tindakan keperawatan belum

karakteristik pelanggan, nilai pelanggan, dan

sesuai dengan SAK. Adanya rumah sakit

hambatan pindah (switching barrier) (Budi

pemerintah yang mulai dibangun, rumah sakit

Suharjo dalam Palupi, 2006). Perubahan

swasta dan klinik-klinik pengobatan, serta trend

teknologi

masyarakat berobat keluar negeri ini menjadi

mengakuisisi

yaitu

dan

pelanggan

baru

memuaskan

dipengaruhi

strategi

juga

diferensiasi

dari

perusahaan menyebabkan switching barrier 409

kepatuhan

perawat

dalam

ancaman minat pasien berobat di RSUD Kota Tanjungpinang.

Variabel dependen adalah repurchase intention

(7

item

pernyataan),

variabel

independen adalah karakteristik responden dan BAHAN DAN METODE

switching barrier (36 item pernyataan).

Desain Penelitian Rancangan untuk

penelitian

menganalisis

korelasional.

hubungan,

HASIL PENELITIAN

kekuatan

Analisis Univariat

hubungan, arah hubungan atau prediksi besaran

Karakteristik Responden

perubahan yang terjadi pada variabel terikat jika variabel

bebas

berubah

Tabel 5.1 .1 Distribusi Frekuensi

(Dharma,2011).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Karakteristik Responden di Ruang Rawat Inap

hubungan antara karakteristik responden dan

RSUD Kota Tanjungpinang Tahun 2015 (n=66)

switching barrier dengan repurchase intention Karakteristik

diruang rawat inap RSUD Kota Tanjungpinang.

f

%

31

47,0

26

39,4

9

13,6

Responden Umur

Waktu dan Tempat Penelitian

Dewasa Awal (

Penelitian dilakukan diruang rawat inap RSUD

Kota

Tanjungpinang

yaitu

18-40 tahun)

:

Dewasa Madya (

Bougenville, Teratai, Dahlia, dan Anggrek. Waktu penelitian

41-60 tahun)

pada bulan April s/d Juli

Dewasa Akhir ( >

2015.

60 tahun )

Populasi dan Sampel

Jenis Kelamin

Populasi dalam penelitian ini adalah pasien rawat inap RSUD Kota Tanjungpinang.

Laki - laki

32

48,5

Sampel 66 orang pasien dengan teknik proporsi

Perempuan

34

51,5

46

69,7

Pendidikan

random sampling.

Rendah Variabel 410

(SD

-

SMP )

Repurchase intention Tabel 5.1.2 Distribusi Frekuensi Repurchase

Tinggi ( SMA - PT 20

30,3 intention di Ruang Rawat Inap RSUD Kota

)

Tanjungpinang Tahun 2015 (n=66)

Pekerjaan Bekerja

51

77,3

Tidak bekerja

15

22,7

Jarak tempat tinggal Dekat ( < 5 KM )

36

54,5

Jauh (> 5 KM )

30

45,5

Sumber

No

Kategori

f

%

1.

Minat

38

57,6

2.

Kurang minat

28

42,4

66

100

biaya

pengobatan Asuransi

55

83,3

Berdasarkan tabel 5.1.2 Berdasarkan

Pribadi

11

16,7

tabel didapatkan sebagian besar pasien yang cendrung

Pengalaman rawatan 40

minat

menggunakan

kembali

60,6 pelayanan keperawatan yaitu sebanyak 40

Pernah 26

39,4 orang (60,6 %).

Tidak pernah 66

Switching

100

Barrier

dan

dimensi

Switching Barrier Berdasarkan tabel 5.1.1 dapat diketahui

Tabel 5.1.3 Distribusi Frekuensi Responden

bahwa responden terbanyak berasal dari

Berdasarkan Switching Barrier Ruang Rawat

kelompok umur dewasa awal (47 %), jenis

Inap RSUD Kota Tanjungpinang Tahun 2015

kelamin perempuan

(n=66)

(51,7%), berpendidikan

tinggi ( 69,7 %), dan bekerja

(77,3 %).

Berdasarkan jarak tempat tinggal sebagian besar responden didapatkan tinggal dekat dari rumah

sakit

(54,5%),

pada

umumnya

menggunakan asuransi (83,3 %) dan lebih dari separuh pernah dirawat (60,6 %). 411

Tabel 5.2.1 Hubungan karakteristik responden dan Switching barrier dengan Repurchase

Berdasarkan tabel didapatkan sebagian Kategori

F

%

intention di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Tanjungpinang Tahun 2015 (n=66)

Switching cost Tinggi

33

50,0

Rendah

33

50,0

Variabel Independen

r

p value

Alternative

of

Karakteristik

attractiveness

responden

Tinggi

36

54,5

Umur

0,153

0,221

Rendah

30

45,5

Jenis Kelamin

0,097

0,440

Pendidikan

0,234

0,058

Pekerjaan

0,338

0,120

Jarak tempat tinggal

0,386

0,001

Sumber

0,466

0,000

Interpersonal relationship Baik

40

60,6

Kurang baik

26

39,4

biaya

Servive recovery pengobatan Baik Kurang Baik

46 20

69,7

Pengalaman rawatan

0,500

0,000

30,3

Switching Barrier

0,509

0,000

Switching cost

0,184

0,139

of 0,386

0,001

0,500

0,000

0,234

0,058

Switching barrier Tinggi

36

54,5

Rendah

30

45,5

66

100

Alternative attractiveness Interpersonal relationship

besar switching cost tinggi (50%), Alternative Servive recovery

of attractiveness tinggi (54,5%),, interpersonal relathionsip baik (60,6%), service recovery baik (69,7%) dan switching barrier (54,5%). Analisis Korelasi Bivariat

Pada

tinggi

tabel

5.2.2

didapatkan

karakteristik umur (p value = 0,221), jenis kelamin (p value = 0,440), pendidikan (p value 412

= 0,058) dan pekerjaan (p value = 0,120) artinya

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil ini ada

tidak ada korelasi yang signifikan dengan

korelasi yang signifikan antara pengalaman

repurchase intention.

rawatan dengan repurchase intention, kekuatan

Pada

tabel

5.2.1

menunjukkan

hubungan yang kuat dan arah hubungan positif

koefesien korelasi jarak dengan repurchase

artinya semakin sering dirawat repurchase

intention pasien didapatkan nilai r = 0,386

intention tinggi.

dengan p value 0,000 (p value < 0,05).

Menunjukkan

koefesien

korelasi

Kesimpulannya ada korelasi yang signifikan

Switching barrier dengan repurchase intention

antara jarak dengan repurchase intention

pasien didapatkan nilai r = 0,509 dengan p value

dengan kekuatan hubungan cukup dan arah

0,000 yang lebih kecil dari nilai alpha (0,05).

hubungan positif yang artinya semakin dekat

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil ini ada

jarak pasien di RSUD Kota Tanjungpinang

korelasi yang signifikan antara switching

memiliki repurchase intention yang tinggi.

barrier dengan repurchase intention dengan

Pada

tabel

5.2.1

menunjukkan

kekuatan hubungan kuat dan arah hubungan

koefesien korelasi sumber biaya dengan

positif yang artinya semakin tinggi switching

repurchase intention pasien didapatkan nilai r =

barrier di RSUD Kota Tanjungpinang maka

0,466 dengan p value 0,000 (p value < 0,05).

semakin tinggi repurchase intention

Kesimpulannya ada korelasi yang signifikan antara

sumber

didapatkan

untuk

mengetahui hubungan Switching cost dengan

intention dengan kekuatan hubungan cukup dan

repurchase intention diperoleh nilai r = 0,184

arah hubungan positif yang artinya pasien yang

dengan p value = 0,139 yang lebih besar dari

menggunakan

Kota

nilai alpha (0,05). Kesimpulan dari hasil ini

Tanjungpinang memiliki repurchase intention

adalah tidak terdapat korelasi yang signifikan

yang tinggi.

Switching cost dengan repurchase intention.

asuransi

tabel

dengan

analisis

repurchase

Pada

biaya

Hasil

di

5.2.1

RSUD

menunjukkan

Hasil

analisis

Alternative

untuk

koefesien korelasi pengalaman rawatan dengan

mengetahui

repurchase intention pasien didapatkan nilai r =

attractiveness dengan repurchase intention

0,500 dengan p value 0,000 (p value0,05).

pasien diperoleh nilai r = 0,386 dengan p value 413

hubungan

didapatkan

of

= 0,001 yang lebih kecil dari nilai alpha (0,05).

adalah tidak terdapat korelasi yang signifikan

Kesimpulan dari hasil ini adalah terdapat

antara service recovery dengan repurchase

korelasi yang signifikan antara Alternative of

intention .

attractiveness dengan repurchase intention

PEMBAHASAN

pasien di RSUD Kota Tanjungpinang dengan

Hubungan

kekuatan hubungan yang kuat dan arah

Karakteristik

Pasien

dengan Repurchase Intention

hubungan positif yang artinya semakin baik

Hasil

penelitian

ini

menunjukkan

Alternative of attractiveness maka semakin

bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan

tinggi repurchase intention

repurchase intention. Sejalan dengan penelitian Munawaroh tentang analisis karakteristik dan

Hasil mengetahui relationship

analisis

didapatkan

hubungan dengan

untuk

kepuasan responden dengan loyalitas bahwa

interpersonal

tidak ada hubungan umur dengan kesetian

repurchase

intention

dalam penggunaan pelayanan kesehatan dengan

pasien diperoleh nilai r = 0,500 dengan p value

p value= 0,43. Dalam penelitian ini sebagian

= 0,000 yang lebih kecil dari nilai alpha (0,05).

besar responden

Kesimpulan dari hasil ini adalah terdapat

dewasa awal (18 – 40 tahun ).

korelasi yang signifikan antara interpersonal relationship

dengan

repurchase

berada pada rentang usia

Laporan survei kesehatan rumah tangga

intention

(SKRT) tahun 2001 menyatakan 39 %

pasien di RSUD Kota Tanjungpinang dengan

penduduk yang mengalami disabilitas atau

kekuatan hubungan yang kuat

dan arah

gangguan fungsi tubuh, 30 % diantaranya pada

hubungan positif yang artinya semakin baik

golongan umur di bawah 35 tahun, meningkat

interpersonal

dengan bertambahnya umur & mencapai 80 %

relationship

semakin

tinggi

repurchase intention. Hasil

analisis

pada golongan umur 65 tahun keatas. Dengan didapatkan

untuk

hasil laporan SKRT ini dapat disimpulkan

mengetahui hubungan service recovery dengan

bahwa semakin meningkat usia, semakin besar

repurchase intention pasien diperoleh nilai r =

pula kebutuhan akan pelayanan kesehatan,

0,234 dengan p value = 0,058 yang lebih besar

sehingga kemungkinan untuk pemanfaatan

dari nilai alpha (0,05). Kesimpulan dari hasil ini

pelayanan kesehatan seperti rumah sakit akan 414

tinggi dan hal ini dapat mencerminkan loyalitas

terjadi karena distribusi jenis kelamin pada

apabila

penelitian ini homogen pada jenis kelamin pria,

pemanfaatan

tersebut

dilakukan

terhadap rumah sakit yang sama.

sehingga bias dalam informasi yang dihasilkan

Hasil penelitian ini menyatakah bahwa

mungkin saja terjadi.

tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan

Hasil

penelitian

bahwa

responden. Penelitian ini sama juga dengan

pendidikan

hasil penelitian Munawaroh bahwa tidak ada

Penelitian

hubungan jenis kelamin dengan loyalitas atau

Munawaroh

bahwa

tidak

minat

pendidikan

dengan

loyalitas

pelayanan

kesehatan

terdapat

menunjukkan

minat penggunaan pelayanan kembali oleh

menggunakan

tidak

ini

dengan ini

juga

hubungan

repurchase didukung ada

antara intentio.

peneliyian hubungan pasien

(p

kembali (p value=0,964). Pada penelitian ini

value=0,964). Hal ini dapat disebabkan oleh

sebagian besar perempuan sebagai ibu rumah

kemungkinan pasien datang kembali berobat ke

tangga yang bukan pengambil keputusan,

RSUD Kota Tanjungpinang karena pengaruh

sehingga dimana mereka mencari dan memilih

sumber

rumah

pengalaman dirawat sebelumnya.

sakit

sebagai

tempat

pelayanan

tergantung dari suami atau yang berperan sebagai pengambil keputusan.

biaya

pengobatan,

jarak

dan

Berbeda dengan hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh

Chandra (2010) dalam penelitiannya

Harun dan Yusrizal (2001), yang mengatakan

menyetujui tidak adanya perbedaan antara

bahwa pendidikan memiliki hubungan dengan

pasien dengan jenis kelamin wanita atau pria

loyalitas pelanggan. Sehubungan dengan ini,

terhadap perilaku loyal pasien tersebut. Namun

Setiawan (2011) menjelaskan bahwa salah satu

Kotler & Keller (2009) menyatakan konsumsi

faktor yang memegang peranan di dalam

dan selera seseorang dibentuk oleh jenis

pembentukan perilaku adalah faktor intern,

kelamin dan Supriyanto dan Ernawaty (2010)

seperti kecerdasan atau pengetahuan, dan

juga menyatakan ada perbedaan tertentu antara

kecerdasan atau pengetahuan tersebut dapat

wanita dan laki-laki, misalnya dalam perbedaan

diasah melalui pendidikan.

kebutuhan, keinginan dan harapan. Perbedaan pendapat ini dengan hasil penelitian mungkin

Hasil

penelitian

ini

menunjukkan

bahwa tidak adanya hubungan antara pekerjaan 415

pasien terhadap minat penggunaan kembali pelayanan

keperawatan

Kota

bagi pencari pelayanan kesehatan karena jarak

Tanjungpinang. Pasien yang bekerja atau tidak

yang dekat akan mempengaruhi bagi pencari

bekerja lebih banyak menggunakan kartu BPJS

pelayanan kesehatan untuk berkunjung. Suatu

sementara RSUD Kota menjadi salah satu

studi mengatakan bahwa alasan yang penting

tempat rujukan pasien untuk berobat. Berbeda

untuk memilih rumah sakit adalah yang dekat

dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Harun

dengan lokasi. Keputusan untuk memanfaatkan

dan Yusrizal (2001), yang mengatakan bahwa

pelayanan kesehatan merupakan kombinasi dari

pekerjaan memiliki hubungan dengan loyalitas

kebutuhan normatif dengan kebutuhan yang

pelanggan.

dirasakan, karena untuk konsumsi pelayanan

Hasil

penelitian

di

ini

RSUD

Lokasi adalah yang paling diperhatikan

menunjukkan

kesehatan. Konsumen sering tergantung kepada

bahwa terdapat hubungan antara jarak tempat

informasi

tinggal pasien dengan repurchase intention,

pelayanan

semakin dekat jarak tempat tinggal pasien dari

profesinya.Faktor-faktor lain yang berpengaruh

RSUD Kota Tanjungpinang maka pasien akan

antara lain pendapatan, harga, lokasi, dan mutu

cenderung menggunakan kembali pelayanan

pelayanan (Mills, 1990).

keperawatan. Hasil penelitian sejalan dengan

yang

disediakan

kesehatan

Hasil

penelitian

oleh

institusi

ditambah

dengan

ini

menunjukkan

penelitian sebelumnya oleh Harun dan Yusrizal

bahwa terdapat hubungan antara sumber biaya

(2001), yang menyatakan bahwa jarak tempat

pengobatan

tinggal pasien dengan rumah sakit memiliki

dimana responden dengan sumber biaya

hubungan

pelanggan.

pengobatan asuransi cenderung menggunakan

Kemudian Guswan (2009) dalam penelitiannya

kembali pelayanan keperawatan di RSUD Kota

tentang loyalitas pasien di RS Gigi Mulut

Tanjungpinang. Hasil penelitian ini juga dapat

Pendidikan Universitas Trisakti Tahun 2009,

dipengaruhi oleh mayoritas responden yang

juga menyatakan adanya pengaruh yang

bekerja

signifikan antara jarak tempat tinggal pasien

menggunakan sumber biaya pengobatan dari

dengan loyalitas.

asuransi atau perusahaan tempat mereka

dengan

loyalitas

dengan

sebagai

repurchase

karyawan

intention,

swasta

dan

bekerja yang telah menjalin kerjasama dengan 416

RSUD yang ada di kota Tanjungpinang seperti

rumah

RSUD Provinsi, RSAL Dr. Midiyato,S dan

sebelumnya.

Karena

termasuk RSUD Kota Tanjungpinang.

merupakan

penyebab

Hasil

penelitian

sejalan

sakit

yang

pernah faktor

digunakan pengalaman

perubahan

dalam

dengan

pengetahuan, sikap dan perilaku. Pengalaman

penelitian sebelumnya oleh Harun dan Yusrizal

yang menyenangkan selama dirawat di rumah

(2001), yang mengatakan bahwa penanggung

sakit mempunyai efek yang bermakna pada

biaya memiliki hubungan dengan minats

persepsi pasien terhadap mutu.

pelanggan. Kemudian Guswan (2009) dalam

Rangkuti (2006), bahwa kebutuhan

penelitiannya tentang loyalitas pasien di RS

merupakan

Gigi Mulut Pendidikan Universitas Trisakti

pelanggan melakukan pembelian, sedangkan

Tahun 2009, juga menyatakan adanya pengaruh

sikap

yang

kemampuan atribut suatu produk atau merk

signifikan

antara

sumber

biaya

pengobatan dengan loyalitas. Berdasarkan

tujuan

adalah

yang

evaluasi

menggerakkan

pelanggan

atas

alternative dalam memenuhi kebutuhan itu, rawatan

dengan demikian dapat disimpulkan bahwa

diketahui bahwa sebagian besar responden

kebutuhan mempengaruhi sikap dan sikap

(60,6 %)

pernah dirawat di RSUD Kota

mempengaruhi perilaku pembelian. Setiap

Tanjungpinang sebelumnya, nilai p value 0,142

pasien sebagai pelanggan akan mempunyai

artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan

respon terhadap evaluasi yang dirasakan antara

antara

repurchase

harapan sebelumnya dan kinerja aktual yang

intention. Namun sikap positif pasien terbentuk

dirasakan saat dirawat. Dan mereka akan

melalui pengalaman yang diperoleh selama

membandingkan

menerima pelayanan,

untuk

diharapkan

membentuk pasien yang setia maka rumah

(performa).

sakit

lama

harus

pengalaman

rawatan

dengan

sehingga

berusaha

antara

(expectation)

layanan dan

yang kinerja

sebaik-baiknya

Harapan yang dimaksud berasal dari

memberikan pelayanan berkualitas yang sesuai

banyak faktor (Zeithaml et al., 1996) seperti

harapan pasien. Pasien yang sebagian besar

past experience merupakan tingkat pengalaman

mempunyai sikap loyal dari pengalaman

masa lalu yang dialami oleh seseorang

dirawat juga mempunyai perbadingan antara

konsumen dapat mempengaruhi tingkat harapan 417

konsumen tersebut. Selain itu What of mouth

pengeluaran untuk memperoleh barang dan jasa

communication yaitu apa yang didengar dari

tersebut dan ada kecendrungan dilakukan secara

konsumen lain yang telah menikmati kualitas

berkala.

pelayanan

yang

diberikan

perusahaan,

Hal

tersebut

memperkuat

secara

merupakan faktor potensial mempengaruhi

empirik teori yang menyatakan bahwa loyalitas

harapan konsumen.

pelanggan dipengaruhi oleh hambatan pindah

Hubungan Switching Barrier dengan Repurchase Intention Hasil

seperti yang dikemukakan oleh Bansal dan Taylor dalam Ranaweera dan Prabhu (2003)

penelitian

menunjukkan

serta Keaveney (1995). Rahadian (2006) dalam

koefesien korelasi Switching barrier dengan

penelitiannya tentang loyalitas pelanggan juga

repurchase intention pasien didapatkan nilai r =

memperkuat

hasil

0,509 dengan p value 0,000 yang lebih kecil

menyatakan

bahwa

hambatan

pindah

dari nilai alpha (0,05). Kesimpulan yang

mempunyai

pengaruh

terhadap

loyalitas

diperoleh dari hasil ini ada korelasi yang

pelanggan. Kemudian Fornell (1992) juga

signifikan antara Switching barrier dengan

menyatakan semakin besar rintangan untuk

repurchase

berpindah akan membuat pelanggan menjadi

intention

dengan

kekuatan

hubungan kuat dan arah hubungan positif yang

penelitian

ini,

yang

loyal.

artinya semakin tinggi switching barrier di

Minat

(

merupakan

mengenai

bagaimana

RSUD Kota Tanjungpinang maka semakin

pernyataan

tinggi repurchase intention.

seseorang akan berperilaku dimasa yang akan

Minat konsumen membeli ulang adalah

sikap

intention)

datang (Soderlund dan Ohman, 2003). Minat

salah satu keberhasilan dari suatu perusahaan,

membeli

terutama

merupakan suatu komitmen konsumen yang

perusahaan

jasa

(Butcher,2005).

ulang

)

terbentuk

ulang merupakan keputusan konsumen untuk

pembelian suatu produk atau jasa. Komitmen ini

melakukan pembelian kembali suatu produk

timbul karena kesan positif konsumen terhadap

atau jasa berdasarkan apa yang telah diperoleh

suatu merek dan konsumen merasa puas

dari

terhadap pembelian tersebut (Hick,dkk,2005).

yang

sama,

melakukan

418

konsumen

Intention

Menurut Hellier,dkk (2003) minat membeli

perusahaan

setelah

(Repurchase

melakukan

Dengan pengalaman yang konsumen peroleh

seperti yang dikatakan Mowen & Minor (2002)

dari suatu produk dan jasa tertentu maka akan

disebut sebagai resiko.

menimbulkan kesan positif terhadap produk tersebut

dan

konsumen

akan

melakukan

pembelian ulang (Hellier,dkk,2003).

menghalangi konsumen untuk berpindah dari produk atau jasa perusahaan saat ini kepada

Hubungan Switching Cost dengan Repurchase Intention Hasil

Switching cost adalah biaya yang

produk atau jasa competitor (Lovelock dan Wright, 2005). Artinya ketika suatu hubungan

analisis

didapatkan

untuk

ditetapkan, satu pihak akan bergantung kepada

mengetahui hubungan Switching cost dengan

pihak lain. Salah satu yang menyebabkan

repurchase intention diperoleh nilai r = 0,184

switching cost tinggi adalah baiknya kualitas

dengan p value = 0,139 yang lebih kecil dari

pelayanan. Pasien akan merasa rugi saat harus

nilai alpha (0,05). Kesimpulan dari hasil ini

berpindah berobat ke rumah sakit lain yang

adalah tidak terdapat korelasi yang signifikan

pelayanannya tidak berkualitas. Dalam hal rugi

Switching cost dengan repurchase intention

atau tidak dalam masalah kesehatan pasti setiap

pasien di RSUD Kota Tanjungpinang.

orang tidak mau mengambil resiko. Mereka akan

Biaya perpindahan merupakan biaya

mencari rumah sakit yang menurut mereka

pemutusan hubungan dalam sudut pandang

memenuhi harapan. Kualitas meliputi setiap

ekspektasi terhadap semua kerugian akibat

aspek dari suatu perusahaan dan sesungguhnya

mengentikan hubungan atau berpindah ke

merupakan suatu pengalaman emosional bagi

alternative

Biaya

pelanggan. Pelanggan ingin merasa senang

perpindahan merupakan salah satu faktor yang

dengan pembelian mereka, merasa bahwa

mendorong apakah konsumen tetap termotivasi

mereka telah mendapatkan nilai terbaik dan

untuk mempertahankan suatu pilihan atau

ingin memastikan bahwa uang mereka telah

berpindah ke alternative lain. Ketika pembeli

dibelanjakan dengan baik, dan mereka merasa

mempertimbangkan

bangga akan hubungan mereka dengan sebuah

lain

(

Harsono,2005).

alternatif

lain

dari

penggunaan selama ini maka salah satu yang

perusahaan yang bercitra mutu tinggi.

dipertimbangkan adalah implikasi biaya atau

Hubungan

Alternative

attractiveness dengan repurchase intention 419

of

Hasil mengetahui

analisis

didapatkan

hubungan

Alternative

untuk of

meliputi kepercayaan terhadap penyakit, dokter dan petugas kesehatan terutama perawat.

attractiveness dengan repurchase intention

Faktor need atau kebutuhan terhadap

pasien diperoleh nilai r = 0,386 dengan p value

pelayanan yang berkualitas tak dapat diabaikan

= 0,001 yang lebih kecil dari nilai alpha (0,05).

untuk menilai daya tarik pasien terhadap

Kesimpulan dari hasil ini adalah terdapat

penggunaan rumah sakit yang ada di kota

korelasi yang signifikan antara Alternative of

Tanjungpinang. RSUD Kota Tanjungpinang

attractiveness dengan repurchase intention

merupakan salah satu rumah sakit rujukan di

pasien di RSUD Kota Tanjungpinang dengan

kepulauan riau dan letaknya dekat dengan

kekuatan hubungan cukup kuat dan arah

pelabuhan. Sehingga memudahkan transportasi

hubungan positif yang artinya semakin baik

dan evakuasi pasien dari berbagai pulau dan

Alternative of attractiveness maka semakin

kepri. Tarif atau biaya, fasilitas dan pelayanan

tinggi repurchase intention.

personil merupakan faktor need dari penggunaan

Daya tarik alternatif mengacu pada reputasi, gambaran alternatif dan kualitas dari

pelayanan kesehatan selain lokasi, informasi dan kecepatan layanan yang ada.

persaingan yang ada dipasar. Seberapa banyak sesuatu yang lebih buruk atau lebih baik dalam berbagai konsumen

dimensi

atau

akan

produk

suatu

Hubungan Interpersonal Relationship dengan Repurchase Intention

alternative

(Julander

Hasil

analisis

didapatkan

hubungan

untuk

dan

mengetahui

Soderlund, 2003). Daya tarik berorientasi pada

relationship

persepsi pelanggan mengenai alternative pilihan

pasien diperoleh nilai r = 0,500 dengan p value

dari persaingan yang ada di pasar. Konsumen

= 0,000 yang lebih kecil dari nilai alpha (0,05).

membandingkan persepsi jumlah resiko yang

Kesimpulan dari hasil ini adalah terdapat

muncul dalam keputusan pembelian dengan

korelasi yang signifikan antara interpersonal

kriteria kepribadian mereka tentang seberapa

relationship

besar resiko. Kepercayaan pasien terhadap

pasien di RSUD Kota Tanjungpinang dengan

pelayanan keperawatan yang ada di rumah sakit

kekuatan hubungan yang kuat

dengan

dengan

interpersonal

repurchase

repurchase

intention

intention

dan arah

hubungan positif yang artinya semakin baik 420

interpersonal

relationship

semakin

tinggi

repurchase intention

manivestasi diri sebagai perusahaan yang peduli, dapat

dipercaya,

akrab

dan

komunikatif

Hubungan interpersonal mengacu pada

(Gremler, 1995 dalam Lupiyoadi dan A.

hubungan yang dijalin antara pelanggan dan

Hamdani, 2006:198). Oleh karena itu, investasi

karyawan maupun hubungan antara sesama

hubungan khusus membantu meningkatkan

pelanggan

ketergantungan

(Jones,dkk,2000).

Hubungan

pelanggan

dan

menekan

interpersonal mengacu pada kekuatan pribadi

hambatan pindah (Jones, Mothersbaugh, dan

dikembangkan antara pelanggan dan karyawan

Betty, 2000 dalam Lupiyoadi dan A. Hamdani,

mereka

2006).

(Julander,2003).

Hubungan

interpersonal penting dalam memberikan status

Hubungan Service Recovery dengan

yang tinggi dari interaksi yang dibangun.

Repurchase Intention

Individu lebih mungkin untuk berhubungan

Hasil

analisis

didapatkan

untuk

dengan kelompok yang mempunyai hubungan

mengetahui hubungan service recovery dengan

kuat.

repurchase intention pasien diperoleh nilai r = Pelanggan dapat memperoleh manfaat

0,234 dengan p value = 0,058 yang lebih kecil

psikososial dari hubungan dengan karyawan

dari nilai alpha (0,05). Kesimpulan dari hasil ini

atau supplier maupun hubungan dengansesama

adalah tidak terdapat korelasi yang signifikan

pelanggannya (Jones,dkk,2000). Ulaga dan

antara service recovery dengan repurchase

Edgert (2005) menyebutkan bahwa manfaat

intention pasien di RSUD Kota Tanjungpinang.

sosial merupakan bagian dari keseluruhan

Pemulihan layanan adalah berbagai hal

manfaat

yang

diterima

pelanggan

dalam

yang dilakukan perusahaan setelah terjadi suatu

pertukaran untuk harga yang dibayarkan. Jika

kegagalan jasa dalam pelayanan. Pemulihan

hubungan cukup kuat, maka kemungkinan

layanan terjadi ketika adanya keluhan pelayanan

pelanggan untuk tetap mengkonsumsi produk

dari pelanggan yang tidak puas akan layanan

juga tinggi, hal ini dapat dibangun melalui

dari perusahaan tersebut. Menurut Lovelock dan

interaksi antara pelanggan dan supplier saat

Wright (2007) service recovery adalah upaya

transaksi. Hubungan antar personal berarti

sistematis oleh perusahaan setelah kegagalan

hubungan psikologis dan sosial yang merupakan

jasa untuk memperbaiki suatu masalah dan 421

mempertahankan kehendak baik pelanggan.

menentukan aspek interpersonal dari kualitas,

Pemulihan layanan adalah salah satu determinan

kepuasan pasien merupakan indikator dari

signifikan kepuasan dan loyalitas pelanggan

perawatan, pengkomunikasian ke penyedia

yang tidak puas melalui kebijakan pemulihan

layanan berkaitan dengan kebutuhan dan

jasa yang efektif (Tjiptono,2007).

harapan pasien telah dipenuhi. Jadi fokus

Setiap organisasai yang berorientasi

perhatian pasien dalam pelayanan keperawatan

pada pelanggan memberikan kesempatan yang

adalah apa yang mereka rasakan sesuai dengan

luas

untuk

yang mereka harapkan. Tidak banyak pasien

menyampaikan saran, pendapat, dan keluhan

memikirkan bagaimana upaya rumah sakit

mereka. Hal ini juga dapat dilakukan dengan

untuk memulihkan layanan karena yang bisa

cara meletakkan kotak saran di koridor,

dirasakannya

menyediakan kartu komentar untuk diisi pasien

keperawatan saat dirawat saja. Jasa adalah

yang akan keluar, dan mempekerjakan staf

setiap tindakan atau perbuatan yang dapat

khusus untuk menangani keluhan pasien. Dapat

ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain,

juga menyediakan hot lines bagi pelanggan

yang pada dasarnya tidak dapat dilihat dan tidak

dengan gratis, juga dapat menambah web pages

menghasilkan kepemilikan sesuatu. Produksi

dan e-mail untuk melaksanakan komunikasi

jasa bisa berhubungan dengan produk fisik

dua arah. Informasi tersebut merupakan sumber

maupun tidak (Philip Kotler,1994).

kepeda

para

pelanggannya

gagasan yang baik yang meyakinkan pelayanan

adalah

kepuasan

pelayanan

SIMPULAN DAN SARAN

kesehatan dapat bertindak dengan cepat dalam

1. Simpulan

rangka menyelesaikan masalah.

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat

Para manajer menggunakan kepuasan

disimpulkan sebagai berikut : responden

sebagai variable yang sangat penting untuk

terbanyak berasal dari kelompok umur dewasa

mengukur pemasaran pelayanan perawatan

awal (47 %), jenis kelamin perempuan

kesehatan dengan kebiasaan atau perilaku

(51,7%), berpendidikan tinggi (69,7%), dan

pembelian

bekerja

berulang-ulang

(minat

untuk

(77,3%). Berdasarkan jarak tempat

kembali) yang menghasilkan ukuran kepuasan

tinggal sebagian besar responden didapatkan

maximal. Karena nilai dan harapan pasien

tinggal dekat dari rumah sakit (54,5%), pada 422

umumnya menggunakan asuransi (83,3 %) dan

pasien yang dinilai memiliki pengaruh

lebih dari separuh pernah dirawat (60,6 %).

paling besar dalam aspek switching

Sebagian besar switching cost tinggi (50%),

barrier terhadap minat pasien

Alternative of attractiveness tinggi (54,5%),,

penelitian ini.

interpersonal

relathionsip

baik

(60,6%),

dalam

b. Aspek dari switching barrier yang

service recovery baik (69,7%) dan switching

terkait

barrier tinggi (54,5%).

keperawatan yang perlu ditingkatkan

minat

dengan

kualitas

pelayanan

Sebagian besar pasien yang cendrung

adalah pemahaman perawat tentang

menggunakan

manajemen mutu serta aplikasi dalam

kembali

pelayanan

keperawatan yaitu sebanyak 40 orang (60,6 %).

manejemen

ruangan

mengelola

pelayanan

dalam

rangka

keperawatan

Berdasarkan analisis didapatkan ada

beserta ruang rawat yang berorientasi

korelasi antara jarak, sumber biaya dan

pada kebutuhan pasien, dengan metode

pengalaman

penugasan yang efektif maka kebutuhan

rawatan

dengan

Repurchase

Intention. Terdapat korelasi antara Alternative

pasien akan lebih terpenuhi.

of attractiveness dan interpersonal relationship

c. Melakukan evaluasi secara berkala

dengan Repurchase Intention dimana korelasi

sesuai standar yang ditetapkan rumah

yang

sakit

paling

kuat

adalah

interpersonal

mengenai

interpersonal

relationship.

relationship yaitu hubungan perawat

2. Saran

pasien dalam pelayanan keperawatan

Bagi Manajemen Keperawatan di RSUD

dan melakukan sistem keluhan dan saran

Kota Tanjungpinang

dengan customer care secara rutin

a. Untuk menjaga minat responden yang

dengan memberikan kesempatan seluas

sudah

baik

terhadap

pelayanan

luasnya pada pasien untuk memberikan

keperawatan, perlu dilakukan upaya

saran, pendapat dan keluhan. Media

peningkatan Switching Barrier secara

yang dapat digunakan meliputi kotak

terus menerus terutama dalam dimensi

saran

Interpersonal

komentar yang dapat diisi langsung.

relationship

terhadap 423

dengan

menyedikan

kartu

Bagi peneliti selanjutnya

Azwar, A, (1996), Pengantar Administrasi

Penelitian ini digunakan sebagai dasar

Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta

penelitian berikutnya dengan menggunakan

Asmuji (2012). Manajeman Keperawatan:

variabel lain yang berhubungan dengan

Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta,Ar-

minat pasien seperti word of smooth, minat

Ruzz Media

mereferensikan, nilai pelangga, kepuasan

Baroroh (2010). Bloemer. J., Ko de.R., Pascal

pasien, citra rumah sakit dan-lain sebagainya

.P, (1998). Investigating Drivers of

dengan

Bank

repurchase

intention

pasien.

dapat

lebih

Pengumpulan

data

dikembangkan

dengan

Loyalty:

The

Complex

Relationship Between Image, Service

menggunakan

Quality,

and

Satisfaction,

kuesioner dan wawancara mendalam serta

International

dengan rancangan penelitian yang berbeda

Marketing, Vol 16, Issue 7 Date.

agar data atau informasi yang didapatkan

Journal

of

Bank

Borg and Gall. (1989). Educational Research,

dapat lebih akurat dan mendalam.

New York :Pinancing. Washington: The Word Bank

DAFTAR PUSTAKA Baloglu, S. (2002). “Dimensions of Customer Ahira, A. (2012) Rumah Sakit - Sejarah dan Loyalty”, Jenis-jenis

Rumah

European

Journal

of

Sakit Marketing, page 1372-1388.

http://www.anneahira.com/rumahBungin, H.M. (2009). Metodologi Penelitian sakit-20850.htm Kuantitatif: Komunikasi, Ekonomi, Andreassen, T. W. and Bodil, L. 1998. The dan Kebijakan Publik Serta Ilmu – Impact of Corporate Image on Quality, Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Penerbit customer Satisfaction and Loyalty for Kencana Customers with Varying degrees of Budiastuti. (2002). Kepuasan Pasien Terhadap Service

Expertise.

International Pelayanan

Journal

of

Service

Rumah

Sakit.

Diakses

Industry November

2009

dari

Management vol.9 No.1: 7-23. http://www.\kepuasan-pasienterhadap-pelayanan 424

rumahsakit

«

ArtikelPsikologiKlinisPerkembangand

Perilaku Konsumen, edisi pertama,

anSosial.htm

cetakan keempat, BPFE, Yogyakarta

Cronin, J., Michael G. B. & Thomas M. (2000).

Ferdinand, A. (2006), Metode Penelitian

“Assesing The Effects of Quality,

Mannajemen, Edisi Kedua, Penerbit:

Value, and Customer Satisfaction on

Badan

Con-sumer Behavioral Intentions in

Diponegoro, Semarang .

Service Envi-ronment”, Journal of

Penerbit

Universitas

Gillies. (1996). Manajemen Keperawatan: Suatu

Retailing, page 193-218. Dahlan,M.S. (2009) Statistik untuk kedokteran

pendekatan

sistem.

Penerjemah:

Sukmana,

(Edisi

2).

Dika

dan

dan kesehatan : deskriptif, bivariat,

Sukmana Widya. Philadelphia: WB

dan multivariat, dilengkapi dengan

Saunders. (Sumber asli diterbitkan

menggunakan SPSS, Jakarta : Salemba

1994)

Medika.

Griffin,

Destiana. (2006). Pengaruh Kualitas Pelayanan

J.

(2005).

Customer

Menumbuhkan & Mempertahankan

Terhadap Loyalitas Pelanggan PT. POS

Kesetiaan

INDONESIA (Persero) Kantor Pos

Erlangga, Jakarta

Tasikmalaya. Fakultas

Tesis.

Ekonomi

Tasikmalaya. Program

Loyalty:

Pelanggan.

Penerbit

Goetsch, D.L & Davis, S, (1994). Introduction to

Studi

Total Quality, Quality, Productivity,

Manajemen.

Competitiveness, Englewood Cliffs,

Depkes RI. (2007). Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional Tahun 2007.

NJ, Prentice Hall International Inc Guntur, M dan Bambang,S. (2001). Analisis

http://www.litbang.depkes.go.id/.

Service Quality Terhadap Kepuasan

Dharma, K.K (2011), Metode Penelitian

Pelanggan pada PDAM Kota Surakarta

Keperawatan: Panduan Melaksanakan

Universitas Muhammadiyah. Surakarta

dan menerapkan Hasil Penelitian,

Gunawan.A. ( 2013). Komunikasi Interpersonal

Jakarta, TIM Dharmestha,

S

dan Fasilitas Kesehatan: Pengaruhnya

dan

Manajemen

Hani

Pemasaran

H.,

(2008),

Terhadap Kepercayaan, Loyalitas dan

: Analisa 425

WOM Rumah Sakit. Jurnal bisnis

Jacobalis, S (1989). Menjaga Mutu Pelayanan

manajeme.

Rumah Sakit. Citra Windu Satria,

Gunawan, Ketut. (2009). Kualitas Layanan dan

Jakarta

Loyalitas Pasien (Studi pada Rumah

Jackovist, D.S., (1999), Ambulatory Patient

Sakit Umum Swasta di Kota Singaraja–

Satisfaction : A Systematic Approach

Bali). Jurnal ekonomi

to

Collecting

and

Reporting

Information, Journal for Healthcare Haryono, E, Hari, K. & M. Syafril, N. (2006). Hubungan Persepsi terhadap Kualitas Pelayanan dengan Minat Pemanfaatan Pelayanan Rawat Inap Puskesmas

Quality, November / December Jane et al. (2011). How satisfaction modifies the strength of the influence of perceived service quality on behavioral intentions. Journal Leadership in Health Services 24.2 : 91-105. Kotler,P., dan Keller,L., (2008), Manajemen

dan Balai Pengobatan Swasta di Pemasaran, edisi ketigabelas, jilid I Kabupaten

Tapanuli

Tengah, dan II, terjemahan Hendra Teguh,

Working

Paper

Series

No.4, Penerbit : Prenhalindo, Jakarta

Universitas Gadjah Mada. Kotle,P. (2009). Manajemen Pemasara.,Edisi Hasan Ali, (2008), Marketing, cetakan pertama, 13. Jakarta : Erlangga Penerbit : Buku Kita, Yogyakarta Kotler, P. (2002). Manajemen Pemasaran, Hutton, J. D and Lynne, R. 1995. Healthscapes: Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta: PT The Role of Facility and Physical Prenhalindo. Environment on Consumer Attitudes, Kotler, P. (1994), Marketing Management ; Satisfaction, Quality assessments, and Analysis, Planning, Implementation Behaviors. Health Care Management and

Control

(8th

ed),

Edition,

Englewood

Review 20: 48-60. International Imbalo S. Pohan. (2007). Jaminan Mutu Cliffs, Prentice Hall, New Jersey. Layanan

Kesehatan.

Cetakan

I, Kozier, B et. al. (2009). Fundamentals of

Jakarta :EGC nursing,

426

concept,

process,

and

practice. New Jersey, U.S.A : Multi

Munijaya, I.G.( 2004). Manajemen Kesehatan.

Media.

Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran,

Leboeuf, M. (1992). Memenangkan dan Memelihara

Pelanggan.Jakarta

:

EGC M.Zid .(2013). Berobat keluar negeri tetap

Pustaka Tangga

trend. Kliping Pusat Komunikasi

Lele, M.M, dan Sheth. (1995). Pelanggan

Setjen Kementerian Kesehatan RI.

Kunci Keberhasilan. Jakarta, Mitra

Jakarta : Kompas 7 Maret 2013 edisi

Utama .

pagi hal : 13

Leebov, W & Scott, G .(1994). Service Quality Improvement

:

The

Mabow,

Customer

Satisfaction Strategy for Health

(2009).

Minat

Pembeli

Dalam

Psikologi Marquis,

B.L.

&

Huston,

C.J.

Care. American Hospital Publishing

Kepemimpinan

Inc,USA.

Keperawatan: Teori dan Aplikasi.

Lestari, dkk (2000) Analisa Faktor Penentu Tingkat Kepuasan Pasien Di Rumah

Nguyen, N and Gaston L. 2002. Contact Personnel, Physical Environment and

Lim, C.P and Nelson K.H.Tang.2000. A Study Patients

Expectation

Manajemen

Edisi keempat. Jakarta: EGC.

Sakit Pku Muhammadiyah Bantul

of

dan

(2010).

Perceived

and

Corporate

Image

of

Intangible Services by New Clients.

Satisfaction in Singapore Hospital

International

International. Journal of Health Care

Industry Management 13: 242-262.

Quality Assurance 13 No.7: 290-299.

Pemasaran.

for

Jakarta:

Service

paramedics:

language

and

interpretation; Scand J Trauma Resusc

Salemba Empat Lovelock, C and Wright, L. (2005). Principles of Service Marketing and Managemen. Mardalis.A.( 2005). Meraih Loyalitas

of

Nordby, H (2004); Communicative challenges

Lupiyoadi, R dan A. Hamdani. (2013). Manajemen

Journal

Emerg Med 12; 178-181 Nursalam.

(2011).

Keperawatan.edisi Salemba Medika.

Pelanggan. Jakarta : Balai Pustaka

427

Manajemen 3.

Jakarta

:

Oliver, R.L. (1998). Whence Customer Loyalty ?,

Journal

Of

Facilities; Vikalpa, Vol. 24, No. 4,

Marketing.

October- December 59-76 Singer et al

http://www.jstor.org/pss/1252099 Profil Rumah Sakit

Umum Daerah Kota

(2009) Shamdasani, P.N. & A.A. Balakrisnan (2000);

Tanjungpinang Tahun 2013 Profil Rumah Sakit

Determinants of Relationship Quality

Umum Daerah Kota

and Loyalty in Personalized Services;

Tanjungpinang Tahun 2013

Asia Pacific Journal of Management,

Pavarini, P, S. Sanders & M. Lindsay (2012);

17 (3), 399-422.

Health Care Reform Going Forward:

Stewart, AL,et al,(2013) AE 12 ISSN: 2302 -

What’s the Impact on Providers?

4119 Vol. 1, No. 3; Oktober 2013

Becker’s Hospital Review, December.

Journal

Peters, J. H, (1999). Service Management, Jakarta, Trisakti University Jakarta

of

Business

an

Entrepreneurship Subihaini.

2002.

“Analisis

Konsekuensi

Peters, Thomas J & Waterman, Robert

Keperilakuan Kualitas layanan: Suatu

H, 1984, In Search of Excellence :

Penelitian Empiris.” USAHAWAN

Lessons from America’s Best-Run

No. 02 Thn XXXI Februari 2002 : 29-

Companies, New York : Harper &

37.

Row, Pub.

Suhanura,

Reichheld, F. F. (2001). Loyalty rules !.

Loyalitas

Kebidanan

dan

2008, Thesis. FKM UI. Suharno.M.

Yogyakarta

dan

Dimensi

Setiawan, S.( 2011). Loyalitas Pelanggan Jasa.

Tangibel

IPB Press, Bogor.

Shihab.(2012).

Pengaruh

Reliabilitas,

Dimensi

dan

Dimensi

Empati

Terhadap Loyalitas Pasien (Studi

Sharma, R.D. & Hardeep,C (1999); A Study of Satisfaction

Poli

Analisis

Kandungan Rumah Sakit Asri Tahun

Sangadji,E.M dan Sopiah (2013) perilaku

Patient

(2008).

Pelanggan

Harvard Business School Press, US.

konsumen pendekatan praktis. ANDI

A.

in

Kasus:

Outdoor

Pasien

Rawat

Jalan

RS

MRCCC Siloam Semanggi). Jurnal

Services of Private Health Care 428

Manajemen dan Bisnis Sriwijaya

Tjiptono, F.(2001). Perspektif Manajemen dan

Vol.10 No.19 Juni 2012

Pemasaran Kontemporer, Penerbit

Sulni,dkk, (2013) . Hubungan Mutu Pelayanan

Andi, Jogyakarta.

Kesehatan Dengan Loyalitas Pasien

------------------. (2007). Manajemen Jasa.

Di Puskesmas Baranti Kabupaten

Yogyakarta : Penerbit ANDI.

Sidrap Tahun 2013. Jurnal fakultas

Tjiptono,F dan Gregorius,C, (2005), Service

kesehatan

masyarakat Universitas

Quality & Satisfaction, edisi pertama,

Hasanudin Supramono

Desain

Thomas, R.K. (2005). Marketing Health

Proposal Penelitian Studi Pemasaran.

Service. Health Administration Press,

Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Chicago.

Supriyanto,

dan

cetakan pertama, Andi, Yogyakarta

S

Haryanto.(2003).

dan

Ernawaty.

(2010).

Trarintya,MAP. (2011). Pengaruh kualitas

Pemasaran Industri Jasa Kesehatan.

pelayanan terhadap kepuasan dan

ANDI, Yogyakarta.

word of mouth ( studi kasus pasien

Swansburg. (2000). Pengantar kepemimpinan dan

managemen

rawat jalan di wing amerta rsup

keperawatan.

sanglah denpasar ). Tesis Program

Jakarta: EGC Sarwono,J

(2006).

Pasca Sarjana universitas udayana Metode

Penelitian

Kuantitatif & Kualitatif, (Yogyakarta;

denpasar. (Tidak dipublikasikan) Trisnantoro,L.

Graha Ilmu, 2006, Hal. 111) – SP Sabihaini. (2002). “Analisis Konsekuensi Keperilakuan

Kualitas

(2005).

Aspek

stretegis

manajemen rumah sakit Ulfa,R.

Layanan:

(2011). Pasien,

Hubungan Kualitas

Karakteristik Layanan

dan

Suatu Kajian Empirik”, Usahawan,

Hambatan Pindah dengan Loyalitas

hal: 29-36.

Pasien di Instalasi Rawat Jalan

Tjiptono, F. (1999). Prinsip-prinsip Total Quality

Service,

Penerbit Andi.

Rumah Sakit Tugu ibu Depok.(tidak

Yogyakarta:

dipublikasikan) Westbrook,

R.A.

"Product/Consumption-Based 429

(1987),

Affective

Responses

and

Post-

Expectations, The free press, New

Purchase Processes," Journal of

york.

Marketing Research, 24 (August), 1

pp. 258-270.

Liza Wati, S.Kep, Ns, M.Kep : Dosen

STIKES Hang Tuah Tanjungpinang. Watzlawick, P, J.B. Bavelas & D.D. Jackson (2011);

Pragmatics

Communication:

A

of

Human

study

2

Ernawati, S.Psi, M.Si : Dosen

STIKES Hang Tuah Tanjungpinang. 3

of

Meily Nirnasari, S.Kep, Ns : Dosen

STIKES Hang Tuah Tanjungpinang. interactional patterns, pathologies, and paradoxes; jurnal of W.W. Norton & Company Winardi. 1991. Marketing dan Perilaku Konsumen, Penerbit Mandar Maju, Bandung. Wloszczak, S, Anna, M.J. Jarost & M. Goniewicz

(2013);

communication

Professional

competences

of

paramedicspractical and educational perspectives; Annals of Agricultural and Environmental Medicine, Vol 20, No 2, 366–372 Zolnierek, K.B.H. & M.R. Dimatteo (2009); Physician

Communication

and

Patient Adherence to Treatment: A Metaanalysis; Medical Care, August; 47 (8): 826-834. Zeithaml, V.A., Parasuraman, A., Berry, L.L., (1990), Delivering Quality Service : Balancing Customer Perception and 430

PENGARUH METODE PEMBELAJARAN APTITUDE TREATMENT INTERACTION (ATI) TERHADAP MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG TAHUN 2015 Nur Meity Sulistia Ayu1

ABSTRAK Mengakomodasi dan mengapresiasi perbedaan kemampuan individu dalam pembelajaran dibutuhkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi belajar mahaiswa yang dikenal dengan metode pembelajaran aptitude treatment interaction (ATI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran aptitude treatment interaction (ATI) terhadap peningkatan motivasi belajar mahasiswa STIKES Hang Tuah Tanjungpinang. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan desain pre test post test without control design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran aptitude treatment interaction (ATI), sedangkan variabel terikatnya adalah motivasi belajar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa S1 semester 2 STIKES Hang Tuah Tanjungpinang TA 2014/2015. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling sebanyak 36 responden. Uji paired sample t-test dengan p-value ≤ 0,05 menunjukkan bahwa ada pengaruh metode pembelajaran ATI (p-value = 0,000 < 0,05) terhadap peningkatan motivasi belajar ilmu keperawatan dasar mahasiswa STIKES Hang Tuah Tanjungpinang Tahun 2015. Sedangkan hasil uji multivariat melalui uji one way anova untuk data pre-test, post-test dengan p value 0,05 menunjukkan bahwa kelompok kemampuan yang memiliki peningkatan motivasi belajar paling baik dibandingkan kelompok kemampuan lainnya adalah kelompok kemampuan tinggi dan rendah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa metode pembelajaran ATI berpengaruh terhadap peningkatan motivasi belajar dan kelompok kemampuan yang memiliki peningkatan motivasi paling baik adalah kelompok tinggi dan rendah. Kata kunci

: Aptitude treatment interaction (ATI), motivasi belajar, mahasiswa

ABSTRACT Accommodate and appreciate individual differences in learning ability required a learning model that can enhance learning motivation mahaiswa known methods of learning aptitude treatment interaction (ATI). This study aimed to determine the effect of learning model aptitude treatment interaction (ATI) to increase student motivation to learn STIKES Hang Tuah Tanjungpinang. This research is a quasi-experimental design with pre test post test without control design. The independent variables in this study is a model of learning aptitude treatment interaction (ATI), while the dependent variable is the motivation to learn. The population in this study were all students of STIKES Hang Tuah Tanjungpinang of Academic Year 2014/2015. Consecutive sampling was used for 36 respondent. Paired samples t-test with a p-value ≤ 0.05 indicates that there is influence learning methods ATI (p-value = 0.000 <0.05) increased learning motivation. While the results of multivariate analysis through one way aNOVA test 0.05 indicates that group has an increased ability to learn best motivation than among other capabilities are high and low ability groups. The study concluded that the learning method ATI affect the increased motivation to learn and the ability to have an increased motivation is best high and low groups. Key words : Aptitude treatment interaction (ATI), motivation to learn, students

431

PENDAHULUAN

127 negara di dunia. Penurunan peringkat ini

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat

menjadi cerminan bahwa kualitas pendidikan di

penting bagi manusia. Sehingga di Indonesia,

Indonesia

pendidikan

(Kompas, 2011).

diatur

dalam

Undang-Undang

harus

lebih

ditingkatkan

lagi

tersendiri mengenai sistem pendidikan Nasional

Sesuai dengan masalah pendidikan tersebut

yang berbunyi : "Pendidikan Nasional berfungsi

serta memperhatikan isu dan tantangan masa

mengembangkan kemampuan dan membentuk

kini serta kecenderungan di masa depan, maka

watak serta peradaban bangsa yang bermartabat

dalam rangka meningkatkan kualitas sumber

dalam rangka mencerdaskan dalam kehidupan

daya

bangsa yang bertujuan untuk mengembangkan

pendidikan yang unggul. Pendidikan yang

potensi peserta didik agar menjadi manusia

unggul yang dimaksud yaitu pendidikan yang

yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan

dapat mengembangkan potensi dan kapasitas

Yang Maha Esa, yang berakhlak mulia, sehat,

peserta didik secara optimal.

berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga

negara

yang

demokratis

serta

manusia

Beberapa

(SDM),

saat

perlu

yang

diciptakan

lalu,

kurikulum

pendidikan 2013 secara resmi disosialisaikan

bertanggung jawab (UUSPN No. 20 tahun

dan

2003).

Indonesia. Termasuk kurikulum 2013, dalam 10

Meninjau realitas saat ini, pendidikan di

akan

tahun

diimplementasikan

terakhir,

kurikulum

ke

seluruh

pendidikan

di

Indonesia berada dibawah standar pendidikan

Indonesia berganti sebanyak 3 kali. Pertama,

internasional. Berdasarkan data laporan dalam

tahun

Education For All (EFA) Global Monitoring

Kompetensi)

Report 2011 yang dikeluarkan PBB bidang

pendidikan, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan

pendidikan, UNESCO, menunjukkan bahwa

Pendidikan) pada tahun 2006. Yang menjadi

indeks pembangunan pendidikan (Education

alasan pergantian KTSP ke Kurikulum 2013

Development Index/EDI) Indonesia menurut

menurut kementrian pendidikan adalah karena

data tahun 2008 adalah 0,934. Indeks ini

tuntutan zaman.

2004

KBK

(Kurikulum

digunakan

sebagai

Berbasis acuan

mengantarkan peringkat Indonesia dalam hal

Karena zaman berubah, maka kurikulum

pendidikan menurun dari 65 menjadi 69 dari

harus lebih berbasis pada penguatan penalaran, 432

bukan lagi hafalan semata. Hal ini mengacu

dan model kelompok. Penerapan belajar tuntas

pada survei Trends in International Math and

dalam KBK dapat menggunakan dengan teknik

Science oleh Global Institute pada tahun 2007

model

yang menyimpulkan hanya 5 persen siswa

interaction (ATI) (Nurdin, 2005).

Indonesia yang mampu mengerjakan soal

pembelajaran

Banyak

aptitude

peneliti

yang

treatment

mencoba

berkategori tinggi yang memerlukan penalaran

mendiskripsikan dan menghubungkan gaya

dan

dapat

belajar. Diantara penelitian yang mengangkat

mengerjakan soal berkategori rendah yang

tema gaya belajar seperti; penelitian Adel, et.al.

hanya memerlukan hafalan (Rianto, 2013).

(2003)

78

persen

Meskipun

siswa

sejak

DEPDIKNAS

Indonesia

2004

telah

yang

yang

bermaksud

membandingkan

lalu

kecenderungan gaya belajar menemukan bahwa

mendeklarasikan

mahasiswa program studi akuntansi cenderung

diberlakukannya pendidikan KBK diseluruh

memiliki

lembaga pendidikan di Indonesia, namun model

dibandingkan

pembelajaran

yang

manajemen dan mahasiswa bisnis, sehingga

sekolah

ini

saat

diterapkan

mahasiswa

yang program

berbeda studi

perbedaan gaya belajar tersebut mempengaruhi

berbentuk pembelajaran biasa yang bersifat

strategi dosen pengampu dalam menyajikan

konvensional.

penelitian

mata kuliah. Menurut penelitian Pujiningsih

pembelajaran

(2007) preferensi gaya belajar mahasiswa yang

konvensional belum mampu menjadikan semua

bermaksud mengidentifikasi kecenderungan

mahasiswa dikelas bisa menguasai kompetensi

gaya belajar dan perbedaan gaya belajar. Hasil

minimal yang telah ditetapkan.

penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak

Berbagai bahwa

umumnya

belajar

masih

menyatakan

pada

disekolah-

gaya

hasil

model

Dalam mengimplementasi KBK, kegiatan

adanya

perbedaan

gaya

belajar

diantara

pembelajaran harus berpusat pada mahasiswa,

mahasiswa ketiga prodi tersebut menunjukkan

berlangsung

mendidik,

kecenderungan gaya belajar yang sama yaitu

menyenangkan dan menantang dengan berbasis

perceptive dan reflector. Penelitian tersebut

prinsip pedagogis dan andragogis.Dalam KBK

tidak menghubungkan kecenderungan gaya

itu terdapat belajar tuntas, dalam belajar tuntas

belajar terhadap hasil belajar.

dalam

suasana

itu terdapat dua model yakni : model individual 433

Namun penelitian sebagaimana diuraikan diatas, cenderung hanya menganggap gaya

yang memotivasi mahasiswa belajar (Makmun, 2012).

belajar sebagai suatu proses penerimaan

Menyamaratakan pembelajaran bagi

pembelajaran saja tanpa adanya tindak lanjut.

semua kelompok kemampuan mahasiswadirasa

Begitu

tidaklah

juga

dengan

penelitian

yang

adil,

karena

semestinya

setiap

menghubungkan gaya belajar dengan variabel

kelompok kemampuan mendapatkanlayanan

lain. Kita tahu bahwa gaya belajar merupakan

pembelajaran yang berbeda sesuai dengan

cara yang dianggap paling efektif dalam

kemampuan masing-masing(Nurdin, 2005).

menerima dan memperoses informasi yang

Aptitude Treatment Interaction (ATI) mengarah

bersifat individual dan psikologis sehingga

pada bagaimana interaksi atau hubungan antara

dalam pengkajian gaya belajar tidak cukup

bakat dengan perlakuan pada masing-masing

dengan angket yang memuat indikator sifat-

mahasiswa karena kemampuan awal atau bakat

sifat individu yang selanjutnya dikaitkan

mahasiswa

dengan gaya belajar.

karakteristik mahasiswa tersebut. Oleh karena

(aptitude)

mencerminkan

Setiap individu memiliki cara sendiri yang

itu, perlu diberikan perlakuan (treatment) yang

dianggap paling mudah dalam belajar. Ada juga

sesuai dengan karakteristiknya agar proses

pengaruh motivasi pada belajar sebagaimana

pembelajaran mencapai keberhasilan. Sehingga

menurut (Makmun, 2012) motivasi timbul dan

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang

berkembang dengan jalan datang dari dalam diri

menuntut kemampuan setiap individu sesuai

individu itu sendiri (intrinsik) dan datang dari

pendidikan yang dijalani dapat termotivasi dan

lingkungan

motif

tercapai visi dan misi pendidikan saat ini

tumbuh dan berkembangnya motivasi dibagi

(Nurdin, 2005). Sedangkan Kurikulum yang

atas motif

diterapkan

(ekstrinsik)

sedangkan

primer dan motif skunder.

di

STIKES berbasis

Hang

Tuah

Berkenaan dengan itu maka diperlukan suatu

Tanjungpinang

konsep dasar yang berkaitan dengan bagaimana

dilaksanakan

cara terbaik yang dapat diterapkan untuk

menunjukkan bahwa suatu indikasi perlunya

membelajarkan siswa dan faktor pendukung

perkembangan

pada

kompetensi

tahun

pendidikan

ini.

dari

baru

Dan

ini

sistem

pembelajarannya. Sistem KBK yang diterapkan 434

di

STIKES

Hang

banyak

rata dibawah standar dengan 4 mahasiswa

menggunakan metode ceramah dan diskusi

kurang dari sebagian (57%) tidak memuaskan

yang kadang menyamaratakan kemampuan

dan 3 mahasiswa kurang dari sebagian (43%).

mahasiswa untuk dituntut dapat memahami

Hasil wawancara pada mahasiswa tersebut yang

pembelajaran serta bersifat aplikatif. Hal ini

dikategorikan rendah ini didapatkan bahwa

tentunya kurang adil bagi kelompok mahasiswa

mereka tidak bisa mengikuti cara belajar teman-

yang memiliki kemampuan yang rendah

temannya, dan terkadang malu untuk bergabung

dibandingkan kemampuan diatasnya. Oleh

seakan mereka tidak bisa. Sehingga mereka

karena itu, pendidikan dengan sistem KBK ini

terbiasa mempelajari sendiri namun tidak

perlu didukung dengan suatu metode yang

sepaham dengan kemampuan diatas mereka.

memperhatikan

Tuah

keragaman

masih

kemampuan

Dari uraian di atas, penulis tertarik,

individu, dimana hal ini masih dalam lingkup

berinisiatif,

KBK

penelitian untuk mengetahui pengaruh metode

dengan

pembagian

kelompok

dan

perlakuan yang berbeda tiap kelompok.

dan

akhirnya

mengadakan

pembelajaran Aptitude Treatment Interaction

Berdasarkan hasil wawancara kepada

(ATI) terhadap peningkatan motivasi belajar

19 orang responden mahasiswa program studi

STIKES Hang TuahTanjungpinang tahun 2015.

S-1

keperawatan

STIKES

Hang

Tuah

Tanjungpinang Semester II didapatkan bahwa

BAHAN

DAN

METODE

PENELITIAN

pada umumnya (100%) mengatakan metode

Desain penelitian yang digunakan pada

pembelajaran ATI ini belum pernah diterapkan

penelitian ini adalah Quasy Experiment Design,

di STIKES Hang Tuah Tanjungpinang dan

pre and post test without control group design.

mereka juga belum pernah mendengar istilah

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh

metode pembelajaran ATI. Dan mengatakan

mahasiswa STIKES Hang Tuah Tanjungpinang

bahwa sistem pengajaran di STIKES Hang

dengan metode consecutive sampling pada 36

Tuah didominasi dengan ceramah konvensional

responden. Penelitian ini dilaksanakan selama 6

dan penugasan jika pengajar berhalangan untuk

bulan pada bulan Oktober 2014 s/d April 2015.

hadir. Dari 19 mahasiswa yang diwawancarai terdapat 7 mahasiswa yang memiliki nilai rata435

HASIL PENELITIAN

kelompok tinggi hanya didapatkan kurang dari

1. Karakteristik Responden Berdasarkan

sebagianyaitu 6 orang responden (17%).

Kelompok Kemampuan (Aptitude). Berdasarkan nilai

2. Tingkat Motivasi Sebelum Diberikan

aptitude testing

Pembelajaran Dengan Metode ATI.

dengan caramenginventarisasi hasil belajar

Dari hasil penelitian yang dilakukan

seluruh siswa di kelas. Hal ini dilakukan

didapati hasil distribusi sebagai berikut :

dengan cara mengujisiswa dengan soal

Tabel 2

pengetahuan

satu

tingkat

Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat

dibawah

Motivasi Sebelum Diberikan Pembelajaran ATI

pengetahuan mereka saat ini.

Tahun 2015

Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan KelompokKemampauan (Aptitude)

MOTIVASI NO

KRITERIA

Tahun 2015

NO

KELOMPOK

FREKUENSI

PERSENTASE

1

Tinggi

6

17%

2

Sedang

16

44%

3

Rendah

14

39%

TOTAL

36

100%

FREKUENSI

PERSENTASE

1

Baik

18

50%

2

Tidak Baik

18

50%

TOTAL

36

100%

Berdasarkan

tabel

2

di

atas,

karakteristik responden berdasarkan tingkat motivasi memiliki jumlah responden yang sama

Berdasarkan tabel 1 diatas, karakteristik responden berdasarkan kemampuan kurang dari sebagian yaitu 16 orang responden (44%) memiliki karakteristik

kemampuan responden

lebih dari sebagian yaitu 18 responden (50%) memiliki tingkat motivasi baik dan tidak baik sebelum diberikan pembelajaran ATI. Tabel 3

sedang.Sementara berdasarkan

Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Motivasi Sesudah Diberikan Pembelajaran ATI

kemampuan rendahdidapatkan kurang dari Tahun 2015

sebagian yaitu 14 orang responden (39%) dan

436

MOTIVASI NO

KRITERIA FREKUENSI

PERSENTASE

1

Baik

30

83%

2

Tidak Baik

6

17%

TOTAL

36

100%

3. Tingkat Motivasi Sesudah Diberikan Pembelajaran Dengan Metode ATI.

MOTIVASI NO

Berdasarkan tabel 3 di atas, karakteristik

APTITUDE

BAIK

TIDAK BAIK

F

%

F

%

1

Tinggi

6

33%

0

0%

motivasi,

2

Sedang

10

56%

6

33%

sebagian besar yaitu 30 responden (83%)

3

Rendah

2

11%

12

67%

TOTAL

18

100%

18

100%

responden

berdasarkan

tingkat

memiliki tingkat motivasi baik sedangkan karakteristik responden berdasarkan tingkat motivasi

kurang

dari

sebagian

yaitu

6

Berdasarkan tabel 4 di atas, karakteristik

responden (17%) memiliki tingkat motivasi

responden berdasarkan kemampuan (aptitude)

tidak baik setelah diberikan pembelajaran ATI.

dan

4.

Tingkat Motivasi Sebelum Diberikan

pembelajaran ATI lebih dari sebagian yaitu 12

Pembelajaran Dengan Metode ATI

responden (67%) memiliki tingkat motivasi

Berdasarkan Kelompok Kemampuan

tidak baik dan kurang dari sebagian yaitu 2

(Aptitude) Peserta Didik.

responden 11%) memiliki tingkat motivasi baik

tingkat

motivasi

sebelum

diberikan

pada kelompok rendah. Sementarakurang dari Tabel 4 Tingkat Motivasi Sebelum Diberikan Pembelajaran ATI Berdasarkan Kelompok

sebagian yaitu 6 responden (33%) memiliki tingkat motivasi tidak baik pada kelompok sedang dan lebih dari sebagian yaitu 10

Kemampuan (Aptitude) Peserta Didik

responden (56%) memiliki tingkat motivasi Tahun 2015

baik pada kelompok sedang.

437

5.

Tingkat Motivasi Sesudah Diberikan

tingkat motivasi tidak baik dan kurang dari

Pembelajaran Dengan Metode ATI

sebagian yaitu 12 responden (33%) memiliki

Berdasarkan Kelompok Kemampuan

tingkat motivasi baik pada kelompok sedang.

(Aptitude) Peserta Didik.

Analisis

bivariat

pada

penelitian

ini

Tabel 5

menggunakan uji Paired Sample T-Test yang

Tingkat Motivasi Sesudah Diberikan

termasuk ke dalam uji statistik parametrik. Pada

Pembelajaran ATI Berdasarkan Kelompok

statistik

Kemampuan (Aptitude) Peserta Didik

parametrik,

datanya

berdistribusi

normal dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed)

Tahun 2015

0,000 lebih kecil dari nilai ρ= 0,05 dan variasi

MOTIVASI datanya homogen. TIDAK NO

Tabel 6

APTITUDE BAIK

BAIK

Tingkat Motivasi Sebelum dan Sesudah

F

%

F

%

Diberikan Pembelajaran ATI Peserta DidikTahun 2015

1

Tinggi

6

17%

0

0%

2

Sedang

12

33%

2

6%

3

Rendah

12

33%

4

11%

TOTAL

30

83%

6

17%

Variabel Mean

Berdasarkan karakteristik

tabel

responden

5

di

atas,

Min

Maks ρvalue

SD Motivasi

Pretest

3.7

0.3

3.7

4.2

Posttest

4.4

0.5

3.8

5.0

0.000

berdasarkan

kemampuan (aptitude) dan tingkat motivasi sesudah diberikan pembelajaran ATI kurang dari sebagian yaitu 4 responden (11%)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa

memiliki tingkat motivasi tidak baik dan kurang

untuk motivasi sebelum pembelajaran ATI,

dari sebagian yaitu 12 responden (33%)

peserta didik mempunyai nilai motivasi rata-

memiliki

pada

rata 3,7. Sedangkan setelah pembelajaran ATI,

kemampuan rendah. Sementara kurang dari

peserta didik mempunyai nilai motivasi rata-

sebagian yaitu 2 responden (6%) memiliki

rata 4,4. Terlihat bahwa probabilitas atau ρ

tingkat

motivasi

baik

438

value 0,000. Karena 0,000 < 0,05, maka H0

value, sebesar 0.001 < 0.05. Hal ini berarti H 0

ditolak. Dapat disimpulkan bahwa motivasi

ditolak,

sebelum

kelompok mempunyai rata-rata yang berbeda.

dan sesudah pembelajaran

ATI

kesimpulannya

terdapat

bahwa

perbedaan

berbeda secara nyata.Atau, pembelajaran ATI

Artinya

tersebut efektif dalam peningkatan motivasi

motivasi belajar yang signifikan peserta didik

belajar secara bermakna.

kemampuan tinggi, sedang dan rendah sebelum

peningkatan

Analisis multivariat dalam penelitian ini

dilakukan perlakuan dengan peserta didik

menggunakan ujiOne Way Anova dimana uji

kemampuan tinggi, sedang, dan rendah setelah

tersebut digunakan untuk mengetahui ada

dilakukan perlakuan metode pembelajaran ATI.

tidaknya perbedaan rata-rata antara

Tabel 8

tiga

variabel bebas (independent) yang dalam hal ini

Hasil Uji Post Hoc Data Normal Gain Angket

adalah metode pembelajaran ATI yang dibagi

Motivasi Belajar Per Kelompok Kemampuan

menjadi tiga kelompok kemampuan dengan satu variabel terikat (dependent) sebagai

MEAN NO

ρvalue

KLP DIF

motivasi belajar. Tabel 7

1

Motivasi Belajar Per Kelompok Kemampuan

2

ρ MEAN SD MIN

0.8*

0.002

RENDAH

0.3

0.372

TINGGI

-0.8*

0.002

RENDAH

-0.5*

0.004

TINGGI

-0.31

0.372

0.5*

0.004

SEDANG

MOTIVASI KLP

SEDANG TINGGI

Hasil Uji ANOVA Data Normal Gain Angket

NO

semua

3

RENDAH SEDANG

MAX value

Untuk melihat kelompok mana yang lebih

1

TINGGI

0.9

0.1

0.9

1.0

baik

2

SEDANG

0.2

0.3

0.1

0.8 0.001

keperawatan dasar, maka harus dilanjutkan

3

RENDAH

0.7

0.4

0.2

0.9

dengan uji Post Hoc.

TOTAL

1.8

0.8

1.22

2.76

Berdasarkan tabel 7 dari hasil pengujian diperoleh output yang menunjukkan bahwa ρ 439

peningkatan

motivasi

belajar

ilmu

Dengan melihat ada tidaknya tanda * pada kolom Mean Difference, terlihat

berhubungan

hasrat,

keinginan,

dorongan dan tujuan (Notoatmodjo, 2010).

bahwa:

Motivasi juga merupakan keseluruhan

1) Mean dari kelompok sedang berbeda secara nyata dengan kelompok tinggi dan rendah 2) Mean dari kelompok rendah berbeda secara nyata dengan kelompok sedang

nyata dengan kelompok sedang. tabel

Post

Hoc

memperlihatkan bahwa

daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar dengan menciptakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu yang menjamin kelangsungan dan

3) Mean dari kelompok tinggi berbeda secara

Dari

dengan

memberikan arah pada kegiatan sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek itu dapat

Testdi

atas

tercapai (Haryanto, 2010)

kelompok yang

Pendapat lain menurut John Elder dalam

menunjukan adanya perbedaan rata-rata

Notoatmodjo (2010) mendefinisikan motivasi

motivasi belajar paling dominan (ditandai

sebagai

dengan tanda bintang "*") adalah Kelompok

lingkungan sehingga dapat meningkatkan,

tinggi, sedang dan rendah.

menurunkan atau mempertahankan perilaku.

PEMBAHASAN

:

interaksi

antara

perilaku

dan

Definisi ini lebih menekankan pada hal-hal

Berdasarkan hasil penelitian, sebelum

yang

dapat

diobservasi

dari

proses

dilakukan pembelajaran Aptitude Treatment

motivasi.Sedangkan secara psikologi, berarti

Interaction (ATI)lebih dari sebagian yaitu

usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau

18orang responden (50%) memiliki tingkat

kelompok orang tergerak melakukan sesuatu

motivasi tidak baik dan baik yang berdasarkan

karena

hasil pengukuran dengan menggunakan lembar

dikehendakinya,

observasi dan kuesionerAttention, Confident,

dengan perbuatannya.

Relevance, Satisfaction (ACRS).

ingin

mencapai atau

tujuan

mendapat

yang

kepuasan

Seseorang mendapat dorongan untuk

Motivasi secara umum mengacu pada

melakukan suatu aktivitas didasari atas adanya

adanya kekuatan dorongan yang menggerakkan

bioghenic theoriesdan

kita untuk berperilaku tertentu. Oleh karena itu,

Bioghenic theories yang menyangkut proses

dalam

biologis lebih menekankan pada mekanisme

mempelajari

motivasi

kita

akan

440

sociogenic theories.

pembawaan biologis. Sedang yang sociogenic

pembelajaran

theories lebih menekankan adanya pengaruh

motivasi belajar mahasiswa STIKES Hang

kebudayaan

Tuah Tanjungpinang Tahun 2015.

atau

kehidupan

masyarakat

(Haryanto, 2010).

ATI

terhadap

peningkatan

Hal ini berkelanjutan juga dengan hasil

Dengan demikian, dapatlah ditegaskan

dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

bahwa motivasi, akan selalu terkait dengan soal

Agustina (2010) yang melakukan penelitian

kebutuhan. Sebab kebutuhan seseorang akan

berjudul hubungan minat dan motivasi menjadi

terdorong melakukan sesuatu bila merasa ada

perawat

sesuatu kebutuhan. Kebutuhan tersebut timbul

mahasiswa program studi DIII keperawatan

karena adanya keadaan yang tidak seimbang,

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hutama Abdi

tidak serasi atau rasa ketegangan yang menuntut

Husada

suatu kepuasan.Hal ini menunjukkan bahwa

dianalisis dengan derajat kemaknaan α =

kebutuhan manusia bersifat dinamis, berubah-

0,01,ada hubungan yang signifikan antara minat

ubah sesuai dengan sifat kehidupan manusia itu

dengan prestasi belajar karena diperoleh r

sendiri.

hitung > r tabel yaitu 0,764 >0,159 (ρ= 0.0002) Perlu ditegaskan,

dengan

prestasi

Tulungagung

Tahun

belajar

2010,

pada

data

bahwa motivasi

ada hubungan yang signifikan antara motivasi

tujuan.

Dengan

dengan prestasi belajar karena diperoleh r

demikian, motivasi mempengaruhi adanya

hitung > r tabel yaitu 0,632 > 0,159 (ρ= 0.0003)

kegiatan. Sehubung dengan hal tersebut ada tiga

ada hubungan yang signifikan antara minat dan

fungsi motivasi yaitu mendorong manusia

motivasi secara bersama – sama dengan prestasi

untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, dan

belajar dengan nilai F hitung > dari F tabel yaitu

menyeleksi perbuatan (Sardiman, 2011).

103,58> 4,78.

bertalian

dengan

suatu

Responden yang memiliki tingkat Berdasarkan hasil penelitian, terdapat motivasi

tidak

baik

disebabkan

karena

adanya pengaruh antara metode pembelajaran kurangnya motivasi didalam dirinya atau ATI dengan peningkatan motivasi belajar. motivasi intrinsik yang merupakan produk dari Dimana Ho ditolak yang berarti adanya pemikiran, harapan dan tujuan seseorang. pengaruh yang bermakna antara metode Menurut Nurdin (2005) “Model pembelajaran 441

Aptitude-treatment Interaction (ATI) adalah

sesudah pembelajaran ATI berbeda secara

suatu konsep atau pendekatan yang memiliki

nyata.Atau, pembelajaran ATI tersebut efektif

sejumlahstrategi pembelajaran (treatment) yang

dalam peningkatan motivasi belajar secara

efektif digunakan individu tertentu sesuai

bermakna.

dengan kemampuan masing-masing”. PENUTUP (2005)

Nurdin

menyatakan

“Model A. Kesimpulan

pembelajaran Aptitude-Treatment Interaction Hasil penelitian menyimpulkan bahwa : (ATI)

bertujuan

untuk

menciptakan

dan 1. Karakteristik

responden

berdasarkan

mengembangkan suatu model pembelajaran kemampuankurang dari sebagian yaitu yang betul-betul peduli dan memperhatikan 16orang keterkaitan

antara

kemampuan

responden

(44%)

memiliki

(aptitude) kemampuan

sedang.

Sementara

karakteristik

responden

berdasarkan

seseorang dengan pengalaman belajar atau secara khas dengan model pembelajaran kemampuan kurang dari sebagian yaitu 14 (treatment)”. Untuk mencapai tujuan tersebut orang

responden

(39%)

memiliki

model pembelajaran ATI berupaya menemukan kemampuan rendah

dan kurang dari

dan memilih sejumlah pendekatan, metode atau sebagianyaitu 6 orang responden (17%) cara, strategi yang akan digunakan sebagai memiliki kemampuan tinggi. perlakuan

(treatment)

yang

tepat,

yaitu 2. Karakteristik

responden

berdasarkan

perlakuan yang sesuai dengan perbedaan tingkat motivasi sebagian besar yaitu 30 kemampuan siswa. responden (83%) memiliki tingkat motivasi Oleh

sebab

itu,

motivasi

sebelum baik sedangkan karakteristik responden

pembelajaran ATI, peserta didik mempunyai berdasarkan tingkat motivasikurang dari nilai motivasi rata-rata 3,7306. Sedangkan sebagian yaitu 6 responden (17%) memiliki setelah pembelajaran

ATI,

peserta didik tingkat

mempunyai

nilai

motivasi

motivasi

tidak

baik

setelah

rata-rata diberikan pembelajaran ATI.

4,3661dengan probabilitas atau p value 0,000. 3. Pada Karena 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak. Dapat

kelompok

pembelajaran

disimpulkan bahwa motivasi sebelum dan 442

ATI,

setelah

dilakukan

hasil uji statistik

menunjukkan bahwa ada pengaruh antara

sedang dan rendah sebelum diberikan

Pembelajaran dengan Metode Aptitude

perlakuan dengan kelompok kemampuan

Treatment Interaction (ATI) Terhadap

yang sudah diberikan perlakuan.

Peningkatan Motivasi Belajar Mahasiswa B. Saran STIKES Hang Tuah Tanjungpinang. Hal 1. Karena telah terbukti terdapat pengaruh ini dibuktikan oleh hasil ρ value= 0,000, metode

pembelajaran

ATI

terhadap

yang mana lebih kecil nilainya dari 0,05, peningkatan

motivasi

belajar

maka

maka keputusannya Ho Ditolak yang diharapkan kepada tenaga pendidik dan artinya ada pengaruh yang bermakna antara tenaga kependidikan maupun pembaca metode

pembelajaran

ATI

terhadap dapat menggunakan metode pembelajaran

peningkatan motivasi belajar STIKES ATI yang memperhatikan keseragaman Hang Tuah Tanjungpinang Tahun 2015. kemampuan individu dalam meningkatkan 4. Hasil uji statistik dengan uji One Waymotivasi belajar peserta didik selain ANOVA

berdasarkan

kelompok pembelajaran konvesional.

kemampuan peserta didik bahwa semua 2. Selain kelompok

mempunyai

rata-rata

sasarannya

kepada

individu

yang diharapkan

Dinas

Pendidikan

dan

berbeda. Artinya terdapat peningkatan Kebudayaan

(DIKBUD)

dapat

motivasi belajar yang signifikan antara mengembangkan

informasi

mengenai

peserta didik kemampuan tinggi, sedang pembelajaran dengan metode Aptitude dan rendah sebelum dilakukan perlakuan Trearment

Interaction

(ATI)

sebagai

dengan peserta didik kemampuan tinggi, metode pembelajaran dalam meningkatkan sedang, dan rendah setelah dilakukan motivasi belajar peserta didik, sehingga perlakuan metode pembelajaran ATI. Hal peserta didik berpacu dalam meningkatkan ini dibuktikan oleh hasil ρ value = 0.001, kemampuan individu untuk menunjang yang mana lebih kecil nilainya dari 0.05, dunia pendidikan maka keputusannya Ho Diterima yang 3. Diharapkan bagi peneliti lain agar terus berarti ada perbedaan rata-rata terhadap mengembangkan semua

kelompok

kemampuan

tinggi, 443

penelitian

tentang

penggunaan metode pembelajaran ATI

Education

terhadap peningkatan motivasi belajar

Standford

dengan

membandingkan

metode

pembelajaran

penggunaan lain

Univercity

Dharma, Kelana Kusuma, (2011). Metodologi

dalam

Penelitian Keperawatan. Jakarta :

meningkatkan motivasi belajar.

Trans Info Media

KEPUSTAKAAN

Djamarah, B, S, (2010). Strategi Belajar

Agustiana, Sri, (2010). Hubungan Minat dan

Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta

Motivasi menjadi Perawat dengan

Notoatmodjo, Soekidjo, (2010). Metodologi

Prestasi Belajar pada Mahasiswa

Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka

Program Studi D III Keperawatan di

Cipta

Sekolah

Tinggi

Ilmu

Kesehatan

Nursalam, (2003). Konsep dan penerapan

Hutama Abdi Husada Tulungagung.

Metodologi

Skripsi

Keperawatan.

tidak

diterbitkan

Sekolah

Tinggi Ilmu Kesehatan Hutama Abdi Husada Tulungagung. Arikunto,

Suharsimi,

(2010).

PD,

(2013).

Penelitian Edisi

1.

Ilmu Jakarta

Nursalam. (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Manajemen

Keperawatan :

Efektivitas

Pendekatan Praktis.

Jakarta : Salemba.

Metode

Pembelajaran

Aptitude

Treatment

Interaction

(ATI)

Terhadap

Oemar

Hamalik.

2003.

Proses

belajar

Mengajar.Jakarta: PT Bumi Aksara. Rianto, (2013). Perubahan Kurikulum menjadi

Peningkatan Pemahaman Konsep dan

Kurikulum

Motivasi Belajar Matematika Peserta

http://www.kurikulumindonesia.com/

Didik.

Diakses: 20 April 2014.

Cronbach, L. J., Snow, R.1969. Final Report

(2nded.). Jakarta : Kencana.

Ability as a Function of Intructional California:

School

2013.

Santrock, J.W. (2008). Educational psychology,

Individual Differences in Learning

Variables.

:

Salemba Medika

Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta Astuti,

Stanford

of

444

Sardiman, AM. (2011). Interaksi dan Motivasi

Winkel. W. S. (2007). Psikologi Pengajaran.

Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Yogyakarta : Media Abadi Woolfolk, Anita. 2004. Educational

Slameto. (2010). Belajar dan Faktor – Faktor

Psychology (Ninth Edition). Boston:

Mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta

Allyn and Bacon Woolfolk, Anita. 2009. Educational

Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan:

Psychology: Active Learning Edition

Teori dan Praktek (Edisi Kedelapan).

(Edisi Sepuluh). Yogyakarta : Pustaka

Jakarta: PT Indeks

Pelajar

Sutikno, S. (2007). Strategi Belajar Mengajar. 1

Bandung : PT. Refika Aditama Syafruddin, N, (2005). Model Pembelajaran yang

Memperhatikan

Individu Berbasis

Siswa

Keragaman

Dalam

Kompetensi.

M. Kep, CWT : Dosen STIKES Hang Tuah Tanjungpinang.

Kurikulum Ciputat

:

Quantum Teaching Syah, Muhibbin. (2006). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya UNPAD. Diskusi Edufest 2011 Tentang Kritisi Mutu

Pendidikan.

Artikel

Nur Meity Sulistia Ayu, S. Kep, Ns,

:

http://www.unpad.ac.id/archives/4623 3. Diakses : 10 Januari 2014 Wati, Lidya, (2013). Panduan Penyusunan Metodologi Riset Keperawatan. Skripsi Tidak Diterbitkan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tanjungpinang

445

PEMBERIAN TEKNIK MULLIGAN DAN SOFT TISSUE MOBILIZATION LEBIH BAIK DARIPADA HANYA SOFT TISSUE MOBILIZATION DALAM MENINGKATKAN LINGKUP GERAK SENDI EKSTENSI, ROTASI, LATERAL FLEKSI CERVICAL PADA MECHANICAL NECK PAIN Sudaryanto Jl. Bendungan Bili-Bili No. 1 Karunrung (Akper Tidung), Makassar, Sulawesi Selatan Fisioterapis-Poltekkes Negeri Makasar [email protected] ABSTRAK Latar belakang: Mechanical neck pain merupakan kasus yang memiliki prevalensi yang sama tingginya dengan low back pain, dan banyak dijumpai di berbagai lahan praktek fisioterapi. Kombinasi teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization merupakan salah satu teknik manual terapi yang sangat efektif dan efisien di dalam menangani kasus mechanical neck pain namun masih sangat jarang digunakan oleh fisioterapis di lahan praktek. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas antara teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization dengan hanya Soft Tissue Mobilization terhadap peningkatan lingkup gerak sendi (LGS) ekstensi, rotasi dan lateral fleksi cervical pada mechanical neck pain. Metode: Desain penelitian ini adalah pre test – post test control group design dengan menggunakan 2 kelompok sampel yaitu kelompok kontrol yang diberikan intervensi Soft Tissue Mobilization dan kelompok perlakuan yang diberikan kombinasi teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization. Alat ukur yang digunakan untuk pengumpulan data adalah goniometer, dimana goniometer digunakan untuk mengukur lingkup gerak ekstensi, rotasi dan lateral fleksi cervical baik sebelum intervensi maupun sesudah intervensi. Sampel penelitian berjumlah 32 orang yang dibagi ke dalam 2 kelompok sampel yaitu 16 orang pada kelompok kontrol dan 16 orang pada kelompok perlakuan. Sampel pada kelompok kontrol memiliki usia rata-rata sebesar 35,69 dengan laki-laki sebanyak 7 orang (43,8%) dan perempuan sebanyak 9 orang (56,2%) serta arah keterbatasan kanan sebanyak 12 orang (75%) dan keterbatasan kiri sebanyak 4 orang (25%). Sedangkan pada kelompok perlakuan memiliki usia rata-rata sebesar 35,94 dengan laki-laki sebanyak 10 orang (62,5%) dan perempuan sebanyak 6 orang (37,5%) serta arah keterbatasan kanan sebanyak 11 orang (62,5%) dan keterbatasan kiri sebanyak 5 orang (31,2%). Hasil: Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji independent sampel ttest menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara rerata sesudah intervensi LGS ekstensi, rotasi dan lateral fleksi kelompok kontrol dan rerata sesudah intervensi LGS ekstensi, rotasi dan lateral fleksi kelompok perlakuan, dengan nilai p < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization menghasilkan peningkatan lingkup gerak sendi (LGS) ekstensi, rotasi dan lateral fleksi cervical yang lebih besar secara signifikan dibandingkan hanya Soft Tissue Mobilization pada mechanical neck pain. Kesimpulan: Dengan demikian dapat ditarik simpulan bahwa teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization lebih baik daripada hanya Soft Tissue Mobilization dalam meningkatkan lingkup gerak sendi ekstensi, rotasi, lateral fleksi cervical pada mechanical neck pain. Kata kunci

: mechanical neck pain, teknik mulligan, soft tissue mobilization

ABSTRACT Background: Mechanical neck pain has the same high prevalence with low back pain, and commonly found in many of physiotherapy practice. Combination of Mulligan technique and Soft Tissue Mobilization are one of manual therapy technique highly effective and efficient to care the case of mechanical neck pain but still very rarely used by physiotherapist in fields of practice. Objective: This study aimed to know the effectiveness between Mulligan technique – Soft Tissue Mobilization and only Soft Tissue Mobilization to the increasing range of motion extension, rotation and side flexion cervical on the mechanical neck pain. Method: The study design was a pre test – post test control group design using two group of samples are control groups that given intervention Soft Tissue Mobilization and treatment groups that given a combination of Mulligan technique and Soft Tissue Mobilization. Measuring instrument used for data collection was goniometer, that the goniometer was used to measure the range of motion extension, rotation and lateral flexion of the cervical either before the intervention and after the intervention. Sample of this study was 32 people who divided into 2 groups of samples were 16 people

446

in the control group and 16 people in the treatment group. Samples in the control group had a mean age of 35,69 with male of 7 people (43,8%) and female of 9 people (56,2%) as well as limitations of the right direction were 12 people (75%) and left direction were 4 people (25%). Whereas in the treatment group had e mean age of 35,94 with male of 10 people (62,5%) and female of 6 people (37,5%) as well as limitations of the right direction were 11 people (62,5%) and left direction were 5 people (31,2%). Result: The results of hypothesis testing using independent sampel t-test showed a significant difference between the mean post-intervention ROM extension, rotation, lateral flexion of the control groups and the mean post-intervention ROM extension, rotation, lateral flexion of the treatment groups, with value p < 0,05. It is suggests that the Mulligan technique and Soft Tissue Mobilization resulting increase range of motion extension, rotation, and side flexion of the cervical that significantly greater than only Soft Tissue Mobilization on the mechanical neck pain. Conclusion: Thus, it can be concluded that the Mulligan technique and Soft Tissue Mobilization better than only Soft Tissue Mobilization to the increasing range of motion extension, rotation, and side flexion cervical on the mechanical neck pain.

Key words : mechanical neck pain, mulligan technique, soft tissue mobilization

spesific neck pain yang biasa dinamakan secara

PENDAHULUAN Secara

mekanikal,

cervical

spine

sederhana dengan istilah “mechanical neck

merupakan regio yang paling mobile dan pain”. Mechanical neck pain mencakup kondisi memiliki peluang terjadinya perubahan beban minor strain/sprain pada otot dan ligamen serta mekanikal kaitannya dengan perubahan posisi disfungsi facet joint. Kebiasaan postur yang kepala dan perubahan postur cervicothoracal. jelek

merupakan

faktor

kontribusi

dari

Perubahan biomekanik cervical spine dapat mechanical neck pain. mempengaruhi struktur cervical spine dimana Dalam penelitian epidemiologi, insiden cervical spine menerima beban kepala dengan mechanical neck pain paling banyak dialami distribusi yang tidak merata, dan hal ini lebih

populasi usia 18 – 30 tahun sampai usia

banyak mempengaruhi lower cervical karena pertengahan. Mechanical neck pain merupakan lower cervical menjadi paling besar menerima problem

klinis

yang

signifikan

dengan

beban akibat perubahan biomekanik tersebut. prevalensi yang sama tinggi dengan prevalensi Keadaan ini dapat memicu terjadinya nyeri low back pain. Suatu evidence synthesis di tengkuk. Amerika Serikat menunjukkan bahwa penderita Nyeri tengkuk merupakan kondisi yang mechanical neck pain yang melapor sendiri umum terjadi dimana sekitar 60% orang di pada populasi umum berkisar antara 146 dan dunia dapat mengalami nyeri tengkuk pada 213 per 1000 pasien per tahun. Hasil penelitian setiap waktu dalam kehidupannya. Tipe nyeri multisenter berbasis rumah sakit pada 5 rumah tengkuk yang paling sering terjadi adalah nonsakit di Indonesia diperoleh prevalensi nyeri 447

leher disertai dengan nyeri kepala sebesar 24%

penelitian menunjukkan hubungan yang sangat

dari populasi umum.

kuat antara mechanical neck pain dengan

Mechanical neck pain, secara khas

pekerjaan dalam postur statik seperti pengetik,

digambarkan sebagai nyeri lokal atau non-

penjahit, pengrajin. Kerja yang berat, kerja

radikular

nyeri

yang berulang, gaya dan fleksi leher yang statik

meningkat saat terjadi gerakan pada cervical.

dalam posisi duduk, semuanya berhubungan

Suatu

dan

dengan kejadian mechanical neck pain.7 Posisi

pemeriksaan fisik yang teliti dapat membantu

duduk dengan postur yang jelek merupakan

jika

nyeri tengkuk tergolong ke dalam

posisi yang paling sering menyebabkan stress

mechanical neck pain dengan memperhatikan

postural pada cervical, dimana sering terjadi

ada tidaknya tanda-tanda atau gejala-gejala

duduk dengan kepala dalam posisi protrude.

pain

riwayat

dengan

penyakit

intensitas

yang

jelas

patologi major seperti fraktur, myelopathy,

Sumber gejala dari mechanical neck

neoplasma, atau penyakit sistemik, dan ada

pain khususnya berasal dari zygapophyseal

tidaknya

joint atau uncovertebral joint pada cervical, dan

tanda-tanda

neurologis

(refleks

tendon, gangguan sensorik/motorik).

umumnya menyebabkan keterbatasan gerak ke

Mechanical neck pain merupakan nyeri

segala arah terutama gerak rotasi, lateral fleksi

leher yang tidak beradiasi ke lengan atau upper

dan ekstensi cervical.9 Hilangnya lingkup gerak

extremitas, dimana nyeri tejadi pada area leher,

cervical pada mechanical neck pain sangat

occipital, dan punggung bagian atas. Sesuai

berhubungan dengan nyeri yang diikuti oleh

dengan namanya “mechanical” maka kondisi

minor positional fault pada facet joint dan

ini sangat berhubungan dengan mekanik

muscle

gerakan.

paravertebralis cervical, levator scapulae, dan

Mechanical

neck

pain

sering

guarding/splinting

pada

otot-otot

upper trapezius.

berhubungan dengan kebiasaan postur yang

Beberapa intervensi dapat diterima

jelek terutama dalam aktivitas pekerjaan.

sebagai

Pekerjaan yang secara fisik menuntut postur

mechanical neck pain seperti traksi, latihan

statik yang repetitif memberikan peluang

aktif dan pasif, ultrasound, transcutaneous

terjadinya mechanical neck pain. Beberapa

electrical nerve stimulation (TENS), edukasi 448

standar

penatalaksanaan

untuk

pasien, dan obat-obatan antiinflamasi non-

Metode Muscle Energy memiliki aplikasi yang

steroid, tetapi bukti penelitian yang substansial

ditujukan pada normalisasi struktur-struktur

menyangkut

jaringan lunak seperti otot-otot yang memendek

Manual

efektifitasnya

terapi

dan/atau

masih mobilisasi

kurang. spine

(tension/hipertonus),

namun

secara

tidak

umumnya digunakan dalam penatalaksanaan

langsung memberikan implikasi pada sendi

mechanical neck pain. Beberapa penelitian

yang berkaitan dengan otot yang memendek,

menunjukkan bahwa penggunaan manual terapi

sehingga metode ini dapat juga digunakan

spine pada cervical spine merupakan intervensi

untuk membantu memperbaiki mobilitas sendi

yang efektif dan efisiensi biaya pengobatan

melalui efeknya pada jaringan lunak yang

untuk pasien-pasien mechanical neck pain.

disfungsi.

Meskipun demikian, beberapa pengamatan

Myofascial

Release

Technique

peneliti di beberapa Rumah Sakit dan lahan

merupakan salah satu metode Soft tissue

praktek (klinik mandiri) daerah Denpasar masih

mobilization yang memfokuskan pada jaringan

jarang sekali menggunakan intervensi manual

lunak yaitu fascia dan otot, berperan untuk

terapi spine.

memberikan regangan atau elongasi pada

Manual terapi spine memiliki beberapa metode,

antara

lain

adalah

Soft

Tissue

struktur otot dan fascia dengan tujuan akhir adalah mengembalikan kualitas cairan atau

Mobilization dan teknik Mulligan. Soft tissue

lubrikasi

pada jaringan fascia,

mobilitas

mobilization merupakan salah satu metode

jaringan fascia dan otot, dan fungsi sendi

manual terapi yang efektif untuk kasus-kasus

normal.

vertebra khususnya mechanical neck pain.

Kedua metode Soft tissue mobilization

Muscle Energy Technique merupakan salah

di atas sangat berperan di dalam menurunkan

satu metode Soft tissue mobilization yang biasa

ketegangan otot dan taut band yang akhirnya

dikenal sebagai metode manipulasi osteopathic

berimplikasi pada peningkatan lingkup gerak

soft tissue yang menggabungkan arah dan

sendi cervical. Penelitian Nayak (2012), dengan

kontrol yang tepat dari pasien, kontraksi

topik “Combined Effect of Myofascial Release

isometrik, yang didesain untuk memperbaiki

And Muscle Energy Technique In Subjects With

fungsi muskuloskeletal dan menurunkan nyeri.

Mechanical Neck Pain” menunjukkan adanya 449

penurunan nyeri dan perbaikan lingkup gerak

A Randomised Controlled Trial” menunjukkan

sendi cervical yang bermakna pada pasien-

hasil adanya perbaikan lingkup gerak cervical

pasien mechanical neck pain.

dan penurunan nyeri yang signifikan pada

Problem

keterbatasan

gerak

yang

pasien-pasien

mechanical

neck

pain.

ditimbulkan oleh zygapophyseal joint (facet

Berdasarkan hal tersebut di atas yang didukung

joint) tidak dapat secara efektif dan efisien

dengan hasil penelitian sebelumnya maka

diatasi oleh Soft Tissue Mobilization karena

peneliti mencoba mengambil topik tentang

target jaringan dari metode ini adalah jaringan

“Pemberian teknik Mulligan dan Soft Tissue

lunak di sekitar sendi, meskipun memiliki

Mobilization lebih baik daripada Soft Tissue

dampak secara tidak langsung pada facet joint.

Mobilization dalam meningkatkan lingkup

Penambahan teknik Mulligan pada intervensi

gerak sendi cervical pada mechanical neck

soft tissue mobilization dapat menghasilkan

pain”.

peningkatan lingkup gerak sendi cervical yang lebih efektif dan efisien dimana problem sendi

Metode Penelitian

akan terlepas secara maksimal. Secara khas,

Ruang Lingkup Penelitian

konsep Mulligan adalah mobilisasi spine dalam

Penelitian ini dilaksanakan di Poliklnik

posisi weight bearing dan arah mobilisasi

Fisioterapi RS. Bali Royal Hospital, Jalan

paralel terhadap bidang gerak facet spinal.

Tantular

Passive

yang

dilaksanakan selama 12 minggu mulai tanggal

(Natural

1 April sampai tanggal 22 Juni 2013. Jenis

Apophyseal Glides) dan sustained mobilization

penelitian ini adalah penelitian eksperimen

dengan

dinamakan

dengan pre test – post test control group design.

Natural Apophyseal

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

Glides) merupakan teknik utama dari konsep

efektifitas dari penambahan teknik Mulligan

pengobatan pada spine.

pada intervensi soft tissue mobilization terhadap

oscillatory

dinamakan

mobilization

dengan

gerakan

“NAGs”

aktif

“SNAGs” (Sustained

yang

Penelitian Kumar et al. (2011), dengan topik “Efficacy of Mulligan Concept (NAGs) on

No.

6

Renon

Denpasar,

yang

peningkatan lingkup gerak sendi cervical pada mechanical neck pain.

Pain at available end range in Cervical Spine:

Populasi dan Sampel 450

Populasi dalam penelitian ini adalah sejumlah pasien yang datang berkunjung di

3 kali seminggu dengan interval waktu 1 hari, jumlah terapi sebanyak 4 kali terapi.

Poliklinik Fisioterapi RS. Bali Royal Hospital

Kelompok perlakuan

dengan keluhan nyeri dan kaku pada leher

Kelompok

selama

penelitian

berlangsung.

perlakuan

diberikan

Sampel

intervensi teknik Mulligan dan soft tissue

penelitian adalah sejumlah sampel yang diambil

mobilization. Penambahan teknik Mulligan

dari populasi terjangkau dan sesuai dengan

dilakukan 6 kali repetisi dengan 2 set latihan

kriteria inklusi dalam pengambilan sampel.

setiap kali kunjungan, frekuensi terapi 3 kali

Berdasarkan hasil rumus Pocock diperoleh

seminggu dengan interval waktu 1 hari, jumlah

jumlah sampel sebanyak 17 orang (16,8

terapi sebanyak 4 kali setiap sampel.

dibulatkan menjadi 17) pada setiap kelompok sampel sehingga total sampel sebanyak 34

Cara Pengumpulan Data

orang. Namun selama penelitian berlangsung,

Sebelum diberikan intervensi pertama

terdapat 1 orang yang drop out pada kelompok

maka sampel terlebih dahulu diukur lingkup

kontrol dan 1 orang yang drop out pada

gerak sendi cervical-nya yang meliputi lingkup

kelompok perlakuan, sehingga jumlah sampel

gerak ekstensi, lateral fleksi, dan rotasi dengan

pada setiap kelompok adalah 16 orang dan total

menggunakan

sampel sebanyak 32 orang.

intervensi keempat yaitu sesudah intervensi

goniometer.

Pada

akhir

Kelompok kontrol

dilakukan kembali pengukuran lingkup gerak

Kelompok kontrol diberikan intervensi

sendi

soft tissue mobilization, terdiri atas Muscle

sebanyak 3 kali repetisi setiap kali kunjungan,

dengan

menggunakan

goniometer yang sama.

Energy Technique (MET) dan Myofascial Release Technique (MRT). MET dilakukan

cervical

Prosedur pengukuran lingkup gerak sendi cervical: 1. Pengukuran LGS ekstensi cervical

frekuensi terapi 3 kali seminggu dengan interval

a. Center

fulcrum

waktu 1 hari, jumlah terapi sebanyak 4 kali

diletakkan

terapi. MRT dilakukan 30 kali stroking pada

meatus.

jaringan lunak setiap kali kunjungan, frekuensi 451

pada

dari

goniometer

external

auditory

b. Lengan proksimal goniometer harus

a. Center

tegak lurus atau paralel dengan lantai.

fulcrum

dari

goniometer

diletakkan diatas processus spinosus

c. Lengan distal goniometer harus segaris

vertebra C7.

dengan base of the nares.

b. Lengan proksimal harus segaris dengan

d. Selama pengukuran, lengan proksimal

vertebra thoracal sehingga tegak lurus

goniometer dipertahankan tetap tegak

dengan lantai.

lurus dengan lantai sedangkan lengan

c. Lengan distal harus segaris dengan

distal tetap dipertahankan mengikuti

midline

gerakan dan segaris dengan base of the

menggunakan occipital protube-rance

nares.

external.

2. Pengukuran LGS rotasi cervical a. Center

fulcrum

dari

dorsal

kepala,

patokan

d. Selama pengukuran, lengan proksimal

goniometer

dipertahankan tetap segaris dengan

diletakkan diatas pusat os cranial dari

vertebra thoracal sedangkan lengan

kepala

distal tetap dipertahankan mengikuti

b. Lengan proksimal harus paralel dengan

gerakan dan segaris dengan occipital

garis imajinasi antara kedua processus

protuberance external.

acromion.

Analisis data

c. Lengan distal harus segaris dengan ujung hidung. d. Selama pengukuran, lengan proksimal dipertahankan tetap paralel dengan

Dalam menganalisis data penelitian yang

telah

diperoleh,

maka

peneliti

menggunakan beberapa uji statistik sebagai berikut:

garis imajinasi antara kedua processus

1. Uji statistik deskriptif, untuk memaparkan

acromion sedangkan lengan distal tetap

karakteristik sampel berdasarkan usia,

dipertahankan mengikuti gerakan dan

jenis kelamin dan arah keterbatasan gerak.

segaris dengan ujung hidung.

2. Uji Persyaratan Analisis, menggunakan uji

3. Pengukuran LGS lateral fleksi cervical

Shapiro Wilk untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal (p>0,05) atau tidak berdistribusi normal (p<0,05), dan 452

menggunakan uji Levene’s test untuk

Karakteristik

mengetahui apakah sampel homogen

sampel

(p>0,05) atau sampel tidak homogen

Umur

(p<0,05).

(tahun)

3. Uji analisis komparatif, menggunakan uji

(%)

Kontrol

Perlakuan

16

35,69±7,

35,94±6,

525

952

J.K :

statistik parametrik atau non-parametrik.

Laki – laki

7 (43,8)

-

-

Hasil uji persyaratan analisis menunjukkan

Perempuan

9 (56,2)

-

-

data berdistribusi normal maka digunakan

A.K :

uji statistik parametrik yaitu uji paired

Kanan

12 (75)

-

-

Kiri

4 (25)

-

-

sample t dan uji independent sample t. 4. Uji paired sample t digunakan untuk menganalisis data pre test dan post test

Keterangan :

pada setiap kelompok sampel dengan

J.K = jenis kelamin

hipotesis statistik yaitu taraf signifikansi

A.K = arah keterbatasan

95% (nilai p < 0,05). (5) Uji independent

Tabel di atas menunjukkan nilai rerata

sample t digunakan untuk menganalisis

dan

data post test antara kelompok kontrol dan

karakteristik

kelompok perlakuan dengan tujuan untuk

diperoleh nilai 35,69 ± 7,525 tahun untuk

membuktikan efektifitas dari penambahan

kelompok kontrol dan diperoleh nilai 35,94 ±

teknik Mulligan, dengan hipotesis statistik

6,952 tahun untuk kelompok perlakuan. Hal ini

yaitu taraf signifikansi 95% (nilai p <

menunjukkan bahwa rata-rata sampel tergolong

0,05).

ke dalam usia dewasa baik pada kelompok

Hasil dan Pembahasan

persentase

kontrol

sampel

sampel.

maupun

Dilihat

berdasarkan dari

kelompok

umur

perlakuan.

Tabel 1

Kemudian, dilihat dari jenis kelamin pada

Rerata dan Persentase Sampel

kelompok kontrol diperoleh sampel laki-laki

berdasarkan karakteristik Sampel

n

Rerata ± SB

sebanyak 7 perempuan

orang (43,8%) dan sampel sebanyak

9

orang

(56,2%).

Sedangkan pada kelompok perlakuan diperoleh 453

sampel laki-laki sebanyak 10 orang (62,5%)

Tabel di atas menunjukkan nilai rerata

dan sampel perempuan sebanyak 6 orang

sampel berdasarkan nilai LGS pre test, post test

(37,5%). Dilihat dari arah keterbatasan, pada

dan selisih. Pada kelompok kontrol, dilihat dari

kelompok

bahwa

LGS ekstensi diperoleh rerata pre test sebesar

keterbatasan kearah kanan sebanyak 12 orang

53,31o ± 5,606 dan rerata post test sebesar

(75%) dan keterbatasan kearah kiri sebanyak 4

67,25o ± 4,041 dengan selisih rerata sebesar

orang (25%). Sedangkan pada kelompok

13,94o ± 4,419. Dilihat dari LGS rotasi,

perlakuan diperoleh data bahwa keterbatasan

diperoleh rerata pre test sebesar 56,69 o ± 3,478

kearah kanan sebanyak 11 orang (68,8%) dan

dan rerata post test sebesar 69,25o ± 2,176

keterbatasan kearah kiri sebanyak 5 orang

dengan selisih rerata sebesar 12,56o ± 3,366.

(31,2%).

Kemudian, dilihat dari LGS lateral fleksi

kontrol

diperoleh

data

diperoleh rerata pre test sebesar 32,50 o ± 2,066

Klp sampel

Tabel 2

dan rerata post test sebesar 42,38o ± 2,527

Rerata LGS (derajat) berdasarkan nilai

dengan selisih rerata sebesar 9,88o ± 1,544.

pre test, post test dan selisih

Pada kelompok perlakuan, dilihat dari LGS

Rerata LGS dan Simpang Baku Pre test

Post test

Selisih

Ekstensi : Kontrol

ekstensi diperoleh rerata pre test sebesar 49,12 o ± 6,386 dan rerata post test sebesar 71,19 o ± 4,651 dengan selisih rerata sebesar 22,06 o ±

53,31±5,606 67,25±4,041 13,94±4,419

5,483. Dilihat dari LGS rotasi, diperoleh rerata

Perlakuan 49,12±6,386 71,19±4,651 22,06±5,483

pre test sebesar 56,00o ± 3,882 dan rerata post

Rotasi :

test sebesar 72,94o ± 2,265 dengan selisih rerata

Kontrol

56,69±3,478 69,25±2,176 12,56±3,366

sebesar 16,94o ± 3,872. Kemudian, dilihat dari

Perlakuan 56,00±3,882 72,94±2,265 16,94±3,872

LGS lateral fleksi diperoleh rerata pre test

Lat.fleksi

sebesar 32,44o ± 2,128 dan rerata post test

Kontrol

32,50±2,066 42,38±2,527

9,88±1,544

Perlakuan 32,44±2,128 45,13±1,455 12,69±2,243

sebesar 45,13o ± 1,455 dengan selisih rerata sebesar 12,69o ± 2,243. Uji

Normalitas

Homogenitas Varian 454

Data

dan

Tabel 3

Shapiro-Wilk pada kelompok kontrol sesudah

Uji normalitas data dan homogenitas varian

intervensi yaitu nilai p > 0,05 dan pada

Kelompok data

p uji normalitas

Homogenitas

kelompok perlakuan sesudah intervensi yaitu

(Shapiro Wilk)

dengan

nilai p > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa data

Levene’s test

berdistribusi normal. Dilihat dari LGS rotasi,

Kontrol

Perlakua

hasil uji Shapiro-Wilk pada kelompok kontrol

n

sebelum intervensi yaitu nilai p > 0,05 dan pada

Ekstensi : Sebelum

0,248

0,375

0,447

Sesudah

0,158

0,480

0,502

kelompok perlakuan sebelum intervensi yaitu nilai p > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Kemudian, hasil uji

Rotasi :

Shapiro-Wilk pada kelompok kontrol sesudah

Sebelum

0,580

0,542

0,485

intervensi yaitu nilai p > 0,05 dan pada

Sesudah

0,093

0,069

0,876

kelompok perlakuan sesudah intervensi yaitu nilai p > 0,05, hal ini menunjukkan bahwa data

Lat.fleksi : berdistribusi normal. Dilihat dari LGS lateral Sebelum

0,055

0,521

0,451

Sesudah

0,129

0,254

0,010

fleksi, hasil uji Shapiro-Wilk pada kelompok kontrol sebelum intervensi yaitu nilai p > 0,05 dan

pada

kelompok

perlakuan

sebelum

intervensi yaitu nilai p > 0,05, hal ini Tabel di atas menunjukkan hasil uji menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. normalitas dengan Shapiro-Wilk test dan uji Kemudian,

hasil

uji

Shapiro-Wilk

pada

homogenitas varian dengan Levene’s test. kelompok kontrol sesudah intervensi yaitu nilai Dilihat dari LGS ekstensi diperoleh hasil uji p > 0,05 dan pada kelompok perlakuan sesudah Shapiro-Wilk pada kelompok kontrol sebelum intervensi yaitu nilai p > 0,05, hal ini intervensi yaitu nilai p > 0,05 dan pada menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. kelompok perlakuan sebelum intervensi yaitu Berdasarkan uji homogenitas dengan nilai p > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data Levene’s test diperoleh data untuk LGS ekstensi berdistribusi normal. Kemudian, hasil uji sebelum intervensi yaitu nilai p > 0,05 yang 455

berarti data bersifat homogen dan sesudah

Kelompok

intervensi yaitu nilai p > 0,05 yang berarti data

data

bersifat homogen. Dilihat dari LGS rotasi, hasil

Ekstensi :

uji Levene’s test sebelum intervensi yaitu nilai

Sebelum

Sesudah

p

Rerata

53,31

67,25

0,0001

p > 0,05 yang berarti data bersifat homogen dan

SB

5,606

4,041

sesudah intervensi yaitu nilai p > 0,05 yang

Rotasi :

berarti data bersifat homogen. Dilihat dari LGS

Rerata

55,75

69,25

lateral fleksi, hasil uji Levene’s test sebelum

SB

3,022

2,176

intervensi yaitu nilai p > 0,05 yang berarti data

Lat.fleksi :

bersifat homogen dan sesudah intervensi yaitu

Rerata

32,19

42,38

nilai p < 0,05 yang berarti data tidak bersifat

SB

2,455

2,527

0,0001

0,0001

homogen. Melihat

keseluruhan

hasil

uji

Tabel

diatas

menunjukkan

hasil

persyaratan analisis diatas maka peneliti dapat

pengujian hipotesis menggunakan uji paired

mengambil keputusan untuk menggunakan uji

sample t untuk kelompok kontrol. Dilihat dari

statistik parametrik (uji paired sample t) untuk

LGS ekstensi diperoleh nilai p < 0,05 yang

masing-masing kelompok sampel (kontrol dan

berarti bahwa ada perbedaan rerata nilai LGS

perlakuan) dan uji statistik parametrik (uji

ekstensi yang bermakna sebelum dan sesudah

independent sample t) untuk membuktikan

intervensi. Dilihat dari LGS rotasi diperoleh

efektifitas antara kedua kelompok sampel,

nilai p < 0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan

sebagai pilihan pengujian statistik

rerata nilai LGS rotasi yang bermakna sebelum dan sesudah intervensi. Kemudian, dilihat dari

Uji sebelum

Beda

dan

Rerata

sesudah

LGS

cervical

intervensi

pada

LGS lateral fleksi diperoleh nilai p < 0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan rerata nilai LGS

kelompok kontrol dan kelompok perlakuan

lateral fleksi yang bermakna sebelum dan

Tabel 4

sesudah intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa

Uji beda rerata LGS (derajat) sebelum dan

intervensi Soft Tissue Mobilization dapat

sesudah intervensi pada kelompok kontrol

memberikan peningkatan LGS ekstensi, rotasi 456

dan lateral fleksi cervical yang bermakna pada

LGS lateral fleksi diperoleh nilai p < 0,05 yang

kondisi mechanical neck pain.

berarti bahwa ada perbedaan rerata nilai LGS

Tabel 5

lateral fleksi yang bermakna sebelum dan

Uji beda rerata LGS (derajat) sebelum dan

sesudah intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa

sesudah intervensi pada kelompok perlakuan

intervensi teknik Mulligan dan Soft Tissue

Kelompok Sebelum Sesudah

Mobilization dapat memberikan peningkatan

p

data

LGS ekstensi, rotasi dan lateral fleksi cervical

Ekstensi :

yang bermakna pada kondisi mechanical neck

Rerata

49,12

71,19

SB

6,386

4,651

0,0001

pain. Uji

Rotasi :

Beda

Rerata

LGS

cervical

sesudah intervensi antara kelompok kontrol

Rerata

54,94

72,69

SB

3,623

2,358

0,0001

dan kelompok perlakuan

Lat.fleksi :

Tabel 6

Rerata

30,94

45,00

SB

2,144

1,549

0,0001

Uji beda rerata LGS (derajat) sesudah intervensi antara kontrol dan perlakuan

Kelompok Tabel

diatas

menunjukkan

hasil

Kontrol

Perlakuan

p

0,016

data

pengujian hipotesis menggunakan uji paired

Ekstensi :

sample t untuk kelompok perlakuan. Dilihat

Rerata

67,25

71,19

dari LGS ekstensi diperoleh nilai p < 0,05 yang

SB

4,041

4,651

berarti bahwa ada perbedaan rerata nilai LGS

Rotasi :

ekstensi yang bermakna sebelum dan sesudah

Rerata

69,25

72,69

intervensi. Dilihat dari LGS rotasi diperoleh

SB

2,176

2,358

nilai p < 0,05 yang berarti bahwa ada perbedaan

Lat.fleksi

rerata nilai LGS rotasi yang bermakna sebelum

:

42,38

45,00

dan sesudah intervensi. Kemudian, dilihat dari 457

0,0001

0,002

Rerata

2,527

1,549

Mobilization lebih baik daripada hanya Soft

SB

Tissue

Mobilization

dalam

meningkatkan

lingkup gerak sendi (LGS) ekstensi, rotasi dan Tabel diatas menunjukkan hasil uji independent sample t untuk pengujian hipotesis

lateral fleksi cervical pada mechanical neck pain”.

diatas, mulai dari LGS ekstensi, rotasi dan Efek teknik Mulligan dan Soft Tissue

lateral fleksi. Dilihat dari LGS ekstensi diperoleh nilai p < 0,05 yang berarti bahwa ada

Mobilization

serta

hanya

Soft

perbedaan rerata sesudah intervensi LGS

Mobilization terhadap peningkatan LGS

ekstensi yang bermakna antara kelompok

ekstensi, rotasi, lateral fleksi cervical pada

kontrol dan kelompok perlakuan. Dilihat dari

mechanical neck pain Mechanical neck pain

LGS rotasi diperoleh nilai nilai p < 0,05 yang

tissue

merupakan

berarti bahwa ada perbedaan rerata sesudah

kondisi kronik nyeri leher yang melibatkan lesi

intervensi LGS rotasi yang bermakna antara

facet joint cervical dan muscle spasm atau

kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.

muscle tightness disekitar leher, sehingga

Kemudian, dilihat dari LGS lateral fleksi

kondisi ini menyebabkan keterbatasan gerak

diperoleh nilai p < 0,05 yang berarti bahwa ada

pada cervical terutama gerak ekstensi, rotasi

perbedaan rerata sesudah intervensi LGS lateral

dan lateral fleksi cervical.

fleksi yang bermakna antara kelompok kontrol

Problem keterbatasan gerak ekstensi,

dan kelompok perlakuan. Hal ini menunjukkan

rotasi dan lateral fleksi umumnya ditemukan

bahwa Teknik Mulligan dan Soft Tissue

oleh peneliti pada setiap sampel, dan rasa nyeri

Mobilization

umumnya

menghasilkan

peningkatan

dirasakan

pada

akhir

lingkup gerak sendi (LGS) ekstensi, rotasi dan

keterbatasannya. Berdasarkan pengamatan dan

lateral fleksi cervical yang lebih besar secara

penulusuran peneliti dari hasil pemeriksaan

signifikan dibandingkan hanya Soft Tissue

menunjukkan bahwa problem keterbatasan

Mobilization pada mechanical neck pain. Hasil

ekstensi umumnya disebabkan oleh lesi facet

pengujian hipotesis diatas telah membuktikan

joint cervical, sedangkan problem keterbatasan

bahwa “Teknik Mulligan dan Soft Tissue

rotasi dan lateral fleksi umumnya disebabkan 458

oleh muscle spasm atau muscle tightness pada

(Chaitow, 2006). Adanya penurunan tonus otot

otot-otot leher terutama splenius capitis,

yang dihasilkan oleh Muscle Energy Technique

semispinalis cervicis dan upper trapezius.

dapat

Soft

restriktif

sehingga akan terjadi peningkatan lingkup

memberikan peningkatan LGS ekstensi, rotasi

gerak sendi. Disamping itu, efek elongasi

dan lateral fleksi cervical yang bermakna,

serabut otot yang dihasilkan oleh Myofascial

dimana peningkatan LGS cervical dihasilkan

Release Technique juga dapat mengaktivasi

oleh adanya efek post isometric relaxasi (PIR)

golgi

dan reciprocal inhibition (RI) serta efek

musculotendinogen junction. Menurut Kisner

elongasi serabut otot. Efek PIR dan RI

and Colby (2007), adanya stretch pada serabut

dihasilkan oleh intervensi Muscle Energy

otot akan mengaktivasi GTO, dimana aktivitas

Technique, sedangkan efek elongasi serabut

GTO akan menghasilkan efek inhibitory pada

otot dihasilkan oleh intervensi Myofascial

level

Release Technique. Menurut Chaitow (2006),

khususnya jika gaya stretch dipertahankan

efek PIR dan RI dapat menghasilkan refleks

dalam

relaksasi dan perubahan otot terhadap toleransi

komponen kontraktile otot oleh GTO dapat

stretch, karena Efek PIR dapat mengaktivasi

memberikan

golgi tendon organ (GTO) pada otot yang

relaksasi

bersangkutan dimana GTO memiliki sifat

terjadinya peningkatan lingkup gerak sendi.

yang

Mobilization

penghambat

dapat

inhibitor

Tissue

mengeliminir

dapat

tendon

otot

mempengaruhi

organ

yang

waktu

mengalami

yang

lama.

kontribusi

otot

(GTO)

sehingga

pada

ketegangan

Inhibisi

terhadap

dari

refleks

memungkinkan

Menurut Mulligan, lesi pada facet joint

sekumpulan motor neuron sehingga efek

cervical

tersebut dapat menyebabkan penurunan tonus

positional fault didalam permukaan facet joint

atau ketegangan otot. Kemudian, efek RI yang

sehingga terjadi keterbatasan gerak fisiologis

dihasilkan oleh MET dengan mengaktivasi

pada cervical. Minor positional fault atau minor

kontraksi otot antagonist (otot yang sehat) dapat

subluksasi tersebut dapat dikoreksi dengan

menginhibisi

yang

teknik Mulligan. Secara khas, teknik Mulligan

spasme/tightness sehingga akan menunjukkan

adalah mengombinasikan mobilisasi gerak

penurunan tonus dengan cepat setelah kontraksi

asesori dengan gerak fisiologis secara aktif

tonus

otot

agonis

459

umumnya

menyebabkan

minor

dan/atau pasif, dimana mobilisasi gerak asesoris

Mobilization. Hal ini disebabkan karena teknik

selalu diaplikasikan pada sudut perpendicular

Mulligan dapat mengoreksi adanya faulty minor

atau paralel terhadap bidang facet joint (bidang

positional dari facet joint. Menurut Exelby

pengobatan Kaltenborn).14 Teknik SNAGs yang

(2002), keterbatasan gerak cervical dapat

merupakan salah satu metode Mulligan dapat

disebabkan oleh adanya kesalahan kecil dari

mengembalikan

fault

posisi permukaan sendi facet atau dapat

permukaan sendi facet dan mengembalikan

dikatakan terjadi minor subluksasi didalam

keluasan gerak asesoris sendi facet sehingga

sendi facet. Aplikasi teknik SNAGs yang

efek tersebut dapat mengembalikan kebebasan

berulang dan kontinyu dapat mengoreksi

gerak fisiologis pada cervical. Aplikasi teknik

adanya minor subluksasi didalam sendi facet

SNAGs dapat dengan mudah diterapkan pada

sehingga terjadi keluasan gerak asesoris sendi

regio cervical karena adanya efek sebelumnya

facet yang akhirnya terjadi peningkatan lingkup

dari

yang

gerak sendi cervical yang cepat dan bebas nyeri.

menghasilkan penurunan tonus atau ketegangan

Pemberian Soft Tissue Mobilization sebelum

otot regio cervical. Hal ini dapat memberikan

aplikasi

kontribusi yang besar terhadap peningkatan

manfaatnya didalam memfasilitasi prosedur dan

lingkup gerak sendi cervical.

efek dari teknik SNAGs, hal ini karena

Soft

minor

Tissue

positional

Mobilization

teknik

SNAGs

sangat

besar

intervensi Soft Tissue Mobilization dapat Efektifitas antara teknik Mulligan

memberikan penurunan tonus otot-otot leher

dan Soft Tissue Mobilization dengan hanya

secara

Soft

terhadap

pelaksanaan teknik SNAGs dan menghasilkan

peningkatan LGS ekstensi, rotasi, lateral

efek yang lebih besar yaitu peningkatan lingkup

fleksi cervical pada mechanical neck pain

gerak sendi cervical dan bebas nyeri.

Tissue

Mobilization

Penambahan teknik Mulligan pada

peningkatan

LGS

sehingga

memudahkan

Kesimpulan

intervensi Soft Tissue Mobilization dapat menghasilkan

signifikan

Berdasarkan analisis hasil penelitian dan

ekstensi,

pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa

rotasi, dan lateral fleksi yang lebih besar secara

“Teknik Mulligan dan Soft Tissue Mobilization

signifikan dibandingkan hanya Soft Tissue

lebih 460

baik

daripada

hanya

Soft

Tissue

Mobilization dalam meningkatkan lingkup

mechanical neck pain in a military

gerak sendi (LGS) ekstensi, rotasi dan lateral

aviator”, The Journal of the Canadian

fleksi cervical pada mechanical neck pain”.

Chiropractic Association, Vol. 8: 676–

Daftar Pustaka

680, 2004

Chaitow, L, “Muscle Energy Technique. Third Edition”,

Churchill

Kenny, T., Kenny, B, “Non-spesific Neck

Livingstone,

Pain”,

Edinburgh, 2006

Conesa,

Available

www.patient.co.uk/

De-las-Penas, C.F., del-Cerro, L.P., Blanco, C.R.,

2010.

A.G.,

Page,

from

health/non-

specific-neck-pain, diakses tanggal 12

J.C.,

Desember 2012.

Miangolarra, “Changes in Neck Pain

Kisner, C., Colby, L.A, “Therapeutic Exercise

and Active Range of Motion After A

Foundations And Techniques”, Fifth

Single Thoracic Spine Manipulation in

Edition,

Subjects Presenting with Mechanical

Philadelphia, 2007

Neck Pain : A Case Series”, Journal of Manipulative

and

F.A.

Davis

Company,

Kumar, D., Sandhu, J.S., Broota, A, “Efficacy

Physiological

of Mulligan Concept (NAGs) on Pain at

Therapeutics, Vol 30: Number 4, 2007

available end range in Cervical Spine:

Donatelli, R.A., Wooden, M.J, “Orthopaedic

Randomised

Controlled

Trial”,

Edition”,

Indian Journal of Physiotherapy and

Churchill Livingstone, New York, 2001

Occupational Therapy, Vol 5: 154-158,

Pysical

Therapy.

Third

A

Exelby, L, “The eMulligan concept: Its

2011

application in the management of

Makofsky, H.W, “Spinal Manual Therapy”,

spinal conditions”, Manual Therapy,

Slack Incorporated, USA, 2010 McKenzie, R., Kubey, C, “7 Steps To A Pain-

Vol 7: 64-70, 2002 Grant, K.E., Riggs, A, “Myofascial Release”,

Free Life”, Penguin Group Inc, New

Wiley Interscience, New York, 2009 Green, B.N., Dunn, A.S., Pearce, S.M., Johnson, management

C.D,

“Conservative

of

uncomplicated

York, 2000 McKenzie, R., May, S, “The Cervical & Thoracic Spine Mechanical Diagnosis

461

& Therapy”, Volume One, Spinal

Neck Pain : A Randomized Clinical

Publications, New Zealand, 2008

Trial”, SPINE, Vol 33: Number 22:

Nayak, S.K, “Combined Effect of Myofascial

2371–2378, 2008

Release And Muscle Energy Technique In Subjects With Mechanical Neck Pain”,

dissertation,

University

Of

Rajiv

Health

Gandhi Sciences

Karnataka, Bangalore, 2012 Sjahrir, “Nyeri Leher dan Nyeri Kepala”, tesis, Universitas Sumatera Utara, Medan, 2004 Steve, “Mechanical Neck Pain is also cal led Axial Neck Pain”, 2005. Available from www.necksolutions.com/mechanicalneck-pain.html, diakses tanggal 12 Desember 2012 Touche, R.L., de-las-Penas, C.F., Carnero, J.F., Parreno, S.D., Alemany, A.P., Nielsen, L.A,

“Bilateral

Mechanical-Pain

Sensitivity Over the Trigeminal Region in Patients With Chronic Mechanical Neck Pain”, The Journal of Pain, Vol 11: No 3, 256-263, 2010 Walker, M.J., Boyles, R.E., Young, B.A., Strunce, J.B., Garber, M.B, “The Effectiveness

of

Manual

Physical

Therapy and Exercise for Mechanical 462

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MENSTRUASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI SDN 011 KELAS V DAN VI TANJUNGPINANG BARAT Wasis Pujiati1, Ernawati2, Daratullaila3

ABSTRAK Menarche menjadi tanda seorang remaja putri sudah memasuki tahap kedewasaan khususnya organ tubuh sistem reproduksi merupakan masa penting dalam siklus kehidupan perempuan. Kecemasan menghadapi menarche dapat terjadi karena kurangnya informasi tentang menstruasi dan pendidikan kesehatan dari orang tua yang kurang.Pendidikan kesehatan merupakan usaha/kegiatan untuk membantu individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk mencapai hidup sehat secara optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang menstruasi terhadap tingkat kecemasan menghadapi menarche. Berdasarkan uji stastistik menggunakan uji wilcoson pada kelompok eksperimen, menunjukkan bahwa hasil p value=0,000 dapat disimpulkan ada pengaruh yang bermakna antara pendidikan kesehatan tentang menstruasi dalam penurunan kecemasan menghadapi menarche pada siswi SDN 011 kelas V dan VI Tanjungpinang Barat. Kata kunci: Menarche, Kecemasan, Pendidikan kesehatan

penduduk dunia dari remaja berumur 10-19

PENDAHULUAN Remaja merupakan tahapan antara fase

tahun.Sekitar sembilan ratus juta berada di

anak dan dewasa yang ditandai dengan

negara sedang berkembang. Sementara di

perubahan fisik, perilaku, kognitif, biologis dan

Indonesia dari hasil sensus penduduk, dari total

emosi. Dari beberapa literature usia remaja

237,6 juta jiwa penduduk Indonesia 26,67%

antara 12-24 tahun dan 15-24 tahun (WHO,

yaitu 63,4 juta jiwa diantaranya adalah remaja,

2007 cit Efendi dan Makhfudli, 2009). Masa

49,30% dari total remaja tersebut berjenis

remaja merupakan masa peralihan antara masa

kelamin

anak-anak, dimulai saat terjadinya kematangan

memiliki populasi remaja usia 10-14 tahun

seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun

sebanyak 82.050 jiwa, untuk remaja putri

sampai dengan 20 tahun, yaitu masa menjelang

berjumlah 39.821 jiwa (Safitri et al., 2013).

dewasa

2004).Data

Pada tahun 2013 terdapat jumlah remaja pada

demografi menunjukkan bahwa penduduk

usia 10-14 tahun sebanyak 170.056 orang atau

dunia jumlah populasi remaja merupakan

8,0% dan jumlah remaja pada usia 15-19 tahun

populasi yang besar. Menurut World Health

139.143 orang atau 6,5%. Sedangkan untuk

Organization (WHO) sekitar seperlima dari

wilayah Kota Tanjungpinang berdasarkan data

muda

(Soetjiningsih,

463

perempuan.

Wilayah

Pekanbaru

yang diperoleh dari Dinas Kependudukan Kota

menarche dapat terjadi karena kurangnya

Tanjungpinang tahun 2015 terdapat jumlah

informasi tentang menstruasi dan pendidikan

remaja pada usia 10-14 tahun 22.687 orang,

dari orang tua yang kurang. Orang tua

untuk remaja putri berjumlah 10.943 orang atau

menganggap bahwa hal ini merupakan hal yang

48% dan jumlah remaja pada usia 15-19 tahun

tabu untuk dibicarakan dan berfikir bahwa anak

sebanyak 19.187 orang, untuk remaja putri

akan tahu dengan sendirinya, kondisi ini akan

sebanyak 9.375 orang atau 49% (Dinas

menimbulkan kecemasan pada anak tersebut.

Kependudukan Kota Tanjungpinang).

Hal yang harus dilakukan untuk mengurangi

Menarche yang menjadi tanda seorang remaja

putri

sudah

memasuki

kecemasan tersebut salah satunya adalah

tahap

dengan meningkatkan pengetahuan remaja putri

kedewasaan khususnya organ tubuh sistem

tentang menstruasi sejak dini dengan cara

reproduksi

pemberian informasi kesehatan reproduksi

merupakan

dalamsiklus

masa

kehidupan

penting perempuan

remaja

melalui

pendidikan

kesehatan

(Soetjiningsih, 2004).Masa ini juga menjadi

khususnya tentang menstruasi (Proverawati,

pertanda berbagai perubahan yang terjadi dalam

2009).

siklus kehidupan seorang anak. Perubahan tidak

Pendidikan

kesehatan

merupakan

hanya terbatas pada aspek fisik tetapi juga

kegiatan untuk membantu individu, kelompok

meliputi

dan

perubahan

dalam

status

sosial,

masyarakat

dalam

meningkatkan

psikologis, ekonomi, bahkan juga spiritual

pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk

(Triyanto, 2013). Kecemasan adalah rasa

mencapai

khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya.

(Triwibowo et al., 2013). Pendidikan kesehatan

Kecemasan merupakan kekuatan yang besar

tentang reproduksi remaja khususnya tentang

untuk menggerakkan tingkah laku baik tingkah

menstruasi merupakan masalah penting yang

laku normal maupun tingkah laku yang

perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak.

menyimpang, yang terganggu dan kedua-

Apabila kecemasan tidak dapat diatasi, disini

duanya merupakan pernyataan, penampilan dari

peran dari orang tua sangat penting dimana baik

pertahanan terhadap kecemasan (Gunarso,

orang tua ataupun remaja putri itu sendiri harus

2003).

lebih terbuka tentang masalah kesehatan

Kecemasan

dalam

menghadapi

464

hidup

sehat

secara

optimal

terutama kesehatan reproduksi (Proverawati,

Kecemasan Menghadapi Menarche Pada Siswi

2009). Orang tua berusaha menjalin komunikasi

SDN 011 kelas V dan VI Tanjungpinang

dengan anak sehingga setiap permasalahan

Barat”.

yang terjadi, dapat diketahui termasuk pada saat

Tinjauan Pustaka

anak mendapatkan menstruasi pertama kali (menarche).

Sebaiknya,

orang

tua

dapat

Kesehatan

reproduksi

merupakan

bagian kesehatan yang sangat penting yang

menempatkan diri sebagai teman curhat,

kurang

sehingga akan menjadi orang pertama yang

biasanya pertama kali mengalami menstruasi

mendengar

(menarche) pada umur 12-16 tahun (Kusmiran,

segala

permasalahan

anaknya

(Somendawai, 2010).

mendapat

perhatian.Pada

wanita

2012). Usia 12-16 termasuk fase remaja awal,

Berdasarkan studi pendahuluan di SDN

dimana fase ini terdapat pada usia Sekolah

011 Tanjungpinang Barat kepada 20 siswi kelas

Dasar. Perubahan fisik yang cepat di masa

V dan VI

didapatkan 9 siswi (40%) telah

pubertas terjadi beriringan dengan emosi yang

mengalami menstruasi, dan 11 siswi (60%)

tidak stabil dan pertumbuhan psikis pada

belum mengalami menstruasi mengatakan

remaja. Hal tersebut dapat menimbulkan

merasa takut saat menghadapi menstruasi. Dari

perasaan

9

menstruasi

ketakutan dan kecemasan.Remaja putri akan

mengatakan timbul perasaan takut karena tidak

kesulitan dalam menghadapi menstruasi yang

mendapatkan pengetahuan tentang menstruasi

pertama (menarche) jika sebelumnya ia belum

sebelumnya. Sedangkan, 11 siswi yang belum

pernah mengetahui atau membicarakannya

mengalami

cemas.

dengan teman sebaya maupun ibu mereka.

Berdasarkan wawancara dari ke empat SD

Kurangnya pengetahuan tentang menstruasi

tersebut, SDN 011 paling banyak mengalami

pada remaja putri akan berdampak terhadap

kecemasan dalam menghadapimenarche.

kesiapan

dalam

Sebelum

menghadapi

siswi

yang

mengalami

menstruasi

merasa

Berdasarkan data yang diperoleh diatas,

bingung,

berbagai

pertanyaan,

menghadapi menstruasi

menarche. pertama

penulis tertarik untuk melakukan penelitian

(menarche) kesiapan mental sangat diperlukan

tentang

karena akan timbul perasaan cemas dan takut

Tentang

“Pengaruh Menstruasi

Pendidikan Terhadap

Kesehatan Tingkat

(Proverawati, 2009). 465

Usia remaja sering dicirikan sebagai

di SDN 011 Tanjungpinang Barat dan aktif

masa pubertas. pubertas dapat diartikan sebagai

mengikuti belajar mengajar

tahap ketika seorang remaja memasuki masa

2) Siswi yang belum mengalami menarche

kematangan seksual dan mulai berfungsi organ-

Pada penelitian ini sampel di bagi

organ reproduksi (Khuzaiyah, 2015). Ciri-ciri

menjadi

pubertas pada laki-laki antara lain pertumbuhan

eksperimen dan kelompok kontrol, dimana

bulu-bulu badan dan suara berubah menjadi

terdiri dari 32 orang kelompok eksperimen dan

lebih dalam. Sedangkan ciri-ciri pubertas pada

32 orang kelompok kontrol. Dalam pembagian

perempuan, antara lain pertumbuhan payudara

kelompok ini peneliti menggunakan teknik

dan kedatangan menstruasi yang pertama yang

pengambilan sampel yang digunakan adalah

disebut dengan menarche (Khuzaiyah, 2015).

sistematik random sampling. Pemilihan sampel

Metode Penelitian

dua

kelompok

yaitu

kelompok

menggunakan nama abjad siswi kelas V dan VI

Penelitian ini merupakan jenis penelitian

(enam), dimana untuk nama abjad bernomor

kuantitatif dengan menggunakan rancangan

ganjil, siswi di tempatkan pada kelompok

penelitian eksperimen semu (quasi experiment).

eksperimen dan untuk nama abjad bernomor

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh

genap dimasukkan ke dalam kelompok kontrol.

siswi kelas V dan VI (enam) di SDN 011

Responden dengan 2 kelompok eksperimen dan

Tanjungpinang Barat dengan jumlah 64 orang

kontrol sesuai dengan kriteria inklusi dan

yang terdiri dari 4 kelas. Sampel yang

bersedia menjadi responden, melakukan pretest

digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh

pada kedua kelompok selama 15 menit dengan

siswi SDN 011 Tanjungpinang Barat kelas V

menggunakan

dan VI (enam) yang belum mengalami

pendidikan

kesehatan

kepada

kelompok

menstruasi (menarche). Jumlah sampel dalam

eksperimen

dengan

metode

ceramah

penelitian ini adalah 64 siswi. Sebagai berikut:

menggunakan media film dan leaflet selama 30

Kriteria Inklusi

menit,

1) Responden terdaftar sebagai siswi kelas V

kelompok kontrol, melakukan posttest pada

dan

kelompok eksperimen dan kontrol selama 15

VI

(enam)

menit. 466

dan

kuesioner,

memberikan

Sebelum

memberikan

leaflet

dilakukan

kepada

pendidikan

kesehatan

responden

dibagi

menjadi

2

dengan beberapa pilihan jawaban kepada

kelompok yaitu kelompok eksperimen dan

responden. Dalam penelitian ini alat ukur yang

kontrol.Masing-masing kelompok terdiri dari

digunakan untuk mengumpulkan data berupa

30 orang.Peneliti melakukan penelitian dengan

instrument HARS (Hamilton Anxiety Rating

menggunakan kuesioner dan peneliti juga

Scale).

membuat jadwal penyampaian pendidikan Hasil Penelitian dan pembahasan kesehatan tentang menstruasi dengan metode 1. ceramah

kepada

Analisis

Uji

Pengaruh

Pendidikan

kelompok Kesehatan Tentang Menstruasi Terhadap

eksperimen.Sebelum

diberikan

pendidikan Tingkat

Kecemasan

Menghadapi

kesehatan, peneliti melakukan pretest atau tes Menarche Pada Kelompok Eksperimen. awal pada kelompok eksperimen dan kontrol

Tabel 1. Analisis Uji Pengaruh Pendidikan

dalam waktu 15 menit, kemudian setelah itu

Kesehatan Tentang Menstruasi Terhadap

peneliti memberikan pendidikan kesehatan tentang

menstruasi

kepada

Tingkat Kecemasan Menghadapi Menarche

kelompok

Pada Kelompok Eksperimen

eksperimen dengan metode ceramah dengan

Tingkat

Pre

menggunakan LCD dan leaflet dilakukan satu

Kecemasan

Test

Test

(n=30)

(n=30)

kali pertemuan dalam waktu 30 menit kepada

(%)

Post

(%)

value

responden. Pada kelompok kontrol diberikan

Ringan

1

3,1

3

9,4

leaflet kepada responden. Selanjutnya setelah

Sedang

6

18,75

14

43,8

diberikan

kepada

Berat

17

53,1

15

46,9

kelompok eksperimen dan pemberian leaflet

Berat

8

25

0

0

kepada kelompok kontrol dilakukan posttest

Sekali

pendidikan

kesehatan

atautes akhir pada kelompok eksperimen dan kontrol dalam waktu 15 menit.Instrument yang

Tabel

1

menunjukkan

bahwa

digunakan pada penelitian ini adalah dengan

mayoritas

menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan

eksperimen sebelum diberikan pendidikan

metode

cara

kesehatan tingkat kecemasan sebanyak 17

tertulis

responden (53,1%) mengalami kecemasan

pengumpulan

memberikan

data

dengan

pertanyaan/pernyataan

467

responden

pada

P

kelompok

0,000

berat.

Sesudah

diberikan

pendidikan

Berat

kesehatan tingkat kecemasan berat yang

1

3,1

0

0

Sekali

dialami oleh responden menurun sebanyak 15 responden (46,9%). Hasil p value = 0,000 (p

Tabel

2

menunjukkan

bahwa

value< α= 0,05) tingkat kecemasan, dapat

mayoritas responden pada kelompok kontrol

disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya

tingkat kecemasan sebanyak 17 responden

ada

(53,1%) mengalami kecemasan sedang. Sama

pengaruh

yang

bermakna

antara

pendidikan kesehatan tentang menstruasi

sebelum

terhadap tingkat kecemasan menghadapi

perlakuan

menarche pada siswi SDN 011 kelas V dan VI

meningkat menjadi 17 responden (53,1%)

Tanjungpinang Barat.

mengalami kecemasan berat. Hasil p value=

Menstruasi

Terhadap

sesudah

tingkat

tanpa

diberikan

kecemasan

responden

0,487 (p value>α= 0,05) tingkat kecemasan,

2. Analisis Uji Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang

dan

Tingkat

dapat disimpulkan bahwa Ho gagal ditolak

Kecemasan Menghadapi Menarche Pada

yang artinya tidak ada pengaruh yang

Kelompok Kontrol.

bermakna tentang

antara

pendidikan

menstruasi

kesehatan

terhadap

tingkat

Tabel 2. Analisis Uji Pengaruh Pendidikan

kecemasan menghadapi menarche pada siswi

Kesehatan Tentang Menstruasi Terhadap

SDN 011 kelas V dan VI Tanjungpinang

Tingkat Kecemasan Menghadapi Menarche

Barat.

Pada Kelompok Kontrol

Pembahasan 1.

Tingkat Kecemasan Siswi Menghadapi Menarche Sebelum Diberikan Pendidikan

Tingkat

Pre

(%)

Post

Kecemasan

Test

Test

(n=30)

(n=30)

(%)

P Kesehatan Pada Kelompok Eksperimen. value Menstruasi

merupakan

siklus

masa subur telah dimulai dan terjadi saat Ringan

2

6,3

1

3,1

Sedang

17

53,1

14

43,8 0,487

Berat

12

37,5

17

53,1

lapisan dalam dinding rahim luruh dan keluar dalam bentuk kumpulan darah (Pudiastuti, 2012). Walaupun menstruasi 468

adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh

menyatakan bahwa pengetahuan adalah

setiap perempuan normal hal ini akan

hasil penginderaan manusia atau hasil tahu

menjadi masalah apabila remaja putri belum

seseorang terhadap objek melalui indera

pernah mengetahui tentang menstruasi.

yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan

Kurangnya pengetahuan tentang menstruasi

sebagainya).Dengan sendirinya, pada waktu

pada remaja putri akan berdampak terhadap

penginderaan

kesiapan dan mengalami kecemasan dalam

pengetahuan tersebut sangat mempengaruhi

menghadapi menarche (Proverawati, 2009).

persepsi individu terhadap objek.

sampai

menghasilkan

Berdasarkan teori Pieter et al

2. Tingkat Kecemasan Siswi Menghadapi

(2011), menyatakan bahwa kecemasan

Menarche Sesudah Diberikan Pendidikan

merupakan pengalaman emosi dan suatu

Kesehatan Pada Kelompok Eksperimen.

anggapan tanpa ada objek yang spesifik

Dalam penelitian ini dapat

sehingga orang merasakan suatu perasaan

dilihat bahwa sesudah siswi SDN 011

yang was-was (khawatir) seperti ada sesuatu

Tanjungpinang Baratdiberikan pendidikan

yang buruk akan terjadi dan pada umumnya

kesehatan tentang menstruasi ternyata ada

disertai gejala otonomik yang berlangsung

pengaruh

beberapa waktu.

kecemasan kearah yang lebih baik, yang

Hasil

penelitian

terhadap

penurunan

tingkat

menunjukkan

awalnya sebelum diberikan pendidikan

bahwa tingkat kecemasan siswi SDN 011

kesehatan responden mengalami kecemasan

Tanjungpinang Barat sebelum diberikan

berat sekali sebanyak 8 responden (25%)

pendidikan

besar

dan kecemasan berat sebanyak 17 responden

memiliki tingkat kecemasan berat sebanyak

(53,1%) dan sesudah diberikan pendidikan

17 responden (53,1%) dan kecemasan berat

kesehatan, kecemasan berat sekali yang

sekali sebanyak 8 responden (25%) hal ini

dialami oleh responden menjadi kecemasan

disebabkan karena ketidaktahuan responden

berat sebanyak 0 responden (0%) dan terjadi

mengenai apa itu menstruasi dan cemas

peningkatan

menghadapi menarche. Hal ini sesuai

mengalami kecemasan sedang sebanyak 6

dengan teori Notoatmodjo (2010), yang

responden (18,75%) meningkat menjadi 14

kesehatan

sebagian

469

yang

awalnya

responden

responden (43,%) dan kecemasan ringan

Tanjungpinang

sebanyak 1 responden (3,1%) meningkat

pretest pada kelompok kontrol sebagian

menjadi 3 responden (9,4%).

besar memiliki tingkat kecemasan sedang

Pada menggunakan

penelitian metode

Baratsetelah

dilakukan

ini

peneliti

sebanyak 17 responden (53,1%), kecemasan

ceramah

dalam

berat sebanyak 12 responden (37,5%)dan

memberikan pendidikan kesehatan tentang

kecemasan

berat

menstruasi. Menurut teori Widyanto (2014),

responden

(3,1%).

metode ceramah merupakan penyampaian

kecemasan menghadapi menarche pada

pesan/informasi secara verbal atau lisan

awal

yang meliputi tanya jawab, dan memberikan

sebagian

gambar salah satunya dengan menggunakan

kelompok eksperimen maupun kelompok

media film sebagai alat dalam memberikan

kontrol memiliki tingkat kecemasan dalam

pendidikan kesehatan tentang menstruasi.

kategori sedang dan berat. Kondisi ini

3. Tingkat Kecemasan Siswi Menghadapi

menunjukkan bahwa sebagian besar siswi

Menarche

Sebelum

Diberikan

besar

sebanyak

Distribusi

(pretest)

1

tingkat

menunjukkan

responden

baik

pada

memiliki perasaan cemas akan datangnya

Pendidikan Kesehatan Pada Kelompok Kontrol.

penelitian

sekali

menstruasi pertama (menarche). 4.

Menurut teori Proverawati (2009),

Tingkat Kecemasan Siswi Menghadapi Menarche

Sesudah

Diberikan

yang menyatakan bahwa perasaan bingung,

Pendidikan Kesehatan Pada Kelompok

cemas, gelisah, dan tidak nyaman selalu

Kontrol.

menyelimuti perasaan seorang wanita yang

Menurut Pieter et al (2011), tingkat

mengalami menstruasi pertama (menarche).

kecemasan atau ansietas terdapat empat

Namun hal ini akan semakin parah apabila

tingkatan yaitu ringan, sedang, berat, berat

pengetahuan remaja mengenai menstruasi

sekali (panik). Dari hasil penelitian setelah

ini sangat kurang dan pendidikan dari orang

dilakukan posttest pada kelompok kontrol

tua

penelitian

didapatkan bahwa jumlah responden yang

menunjukkan bahwa tingkat kecemasan

mengalami cemas ringan sebanyak 2

siswi

responden

yang

SDN

kurang.

011

Hasil

kelas

V

dan

VI 470

(6,3%),

cemas

sedang

17

responden

(53,1%),

cemas

berat

12

Kecemasan Pada Siswi SDN 011 Kelas

responden (37,5%). Dalam hal ini bahwa

V dan VI Tanjungpinang Barat.

tingkat kecemasan pada kelompok kontrol

Pada penelitian ini responden dibagi

tidak mengalami perubahan kearah yang

menjadi 2

lebih baik.Hal ini dibuktikan dari hasil yang

eksperimen dan kelompok kontrol. Pada

didapat yaitu pada tingkat kecemasan

kelompok eksperimen didapatkan bahwa

sebelum dan sesudah tanpa diberikan

tingkat

perlakuan pendidikan kesehatan tentang

Tanjungpinang Barat mengalami penurunan

menstruasi. Didapatkan pretest kelompok

yang

kontrol 2 responden (6,3%) yang mengalami

eksperimen diberikan pendidikan kesehatan

cemas ringan dan cemas berat sebanyak 12

tentang menstruasi menggunakan media

responden

pada

visual yang singkat yang mudah dimengerti

posttest responden yang mengalami cemas

oleh responden. Dari hasil penelitian pada

ringan menurun menjadi 1 responden (3,1%)

kelompok eksperimen didapatkan hasil p

dan

value=0,000

17

(37,5%),

responden

selanjutnya

yang

mengalami

peningkatan menjadi cemas berat (53,1%).

kelompok yaitu kelompok

kecemasan

lebih

baik

(p

siswi

SDN

karena

011

kelompok

value<α=0,05)

dapat

disimpulkan bahwa Ho ditolak yang artinya

Meningkatnya tingkat kecemasan

ada

pengaruh

yang

bermakna

antara

siswi pada kelompok kontrol tersebut

pendidikan kesehatan tentang menstruasi

disebabkan dari lingkungan sekolah maupun

terhadap tingkat kecemasan menghadapi

di lingkungan keluarga itu sendiri karena

menarche pada siswi SDN 011 kelas V dan

remaja putri tidak diberikan atau penjelasan

VI Tanjungpinang Barat.

mengenai

menstruasi

disekolah

belum

Hal

ini

sesuai

dengan

teori

pernah diadakan penyuluhan kesehatan atau

Widyanto (2014), yang menyatakan bahwa

pun materi pelajaran mengenai kesehatan

pendidikan kesehatan merupakan proses

reproduksi.

mekanisme dan interaksi yang terjadi

5. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang

terhadap perubahan kemampuan (perilaku)

Menstruasi

Terhadap

Tingkat

pada diri subjek tersebut sehingga hasil yang diharapkan dapat merubah perilaku maupun 471

persepsi

dari

subjek

Dalam

gagal ditolak yang artinya tidak ada

penelitian Perestroika (2011), mengatakan

pengaruh yang bermakna antara pendidikan

bahwa pemberian pendidikan kesehatan

kesehatan

reproduksi remaja

khususnya tentang

tingkat kecemasan menghadapi menarche

menstruasi

diberikan

pada siswi SDN 011 kelas V dan VI

dapat

belajar.

melalui

penyuluhan, sehingga kecemasan remaja

kontrol

Pada hasil penelitian oleh Fajria menyimpulkan

terhadap

Dalam penelitian ini kelompok

atau bahkan tidak ada.

yang

menstruasi

Tanjungpinang Barat

putri terhadap menarche dapat berkurang

(2010),

tentang

tidak

pendidikan

adanya

diberikan

perlakuan

kesehatan

tentang

menstruasi.Selain itu, informasi yang masih

pengaruh pengetahuan menstruasi terhadap

kurang

kecemasan menghadapi menstruasi pada

menstruasi serta pendidikan pada responden

siswi kelas V dan VI SDN Ardimulyo 3

yang

Singosari tahun 2010. Dengan hasil p

mempengaruhi pengetahuan dan emosional

value=0,000.

mereka dan mudah mengalami kecemasan.

Dengan demikian maka

khususnya

masih

pendidikan kesehatan tentang menstruasi

Kecemasan

terbukti

ketidaktahuan

bahwa

signifikan

ada

terhadap

pengaruh

tingkat

tersebut

dasar

tentang

sehingga

disebabkan

remaja

putri

oleh tentang

tingkat

perubahan-perubahan fisiologis yang terjadi

kecemasan menghadapi menarche pada

saat remaja sehingga menstruasi dianggap

siswi

sebagai hal yang tidak baik.

SDN

011

penurunan

yang

kesehatan

Kelas

V

dan

VI

Tanjungpinang Barat mengenai menstruasi.

Pada penelitian yang dilakukan oleh

Sedangkan pada kelompok kontrol

Fajria (2010), yang mengatakan bahwa

disimpulkan

pendidikan

dapat

bahwa

tidak

ada

kesehatan

adalah

suatu

perubahan pada tingkat kecemasan kearah

pendidikan yang dilakukan dengan cara

yang lebih baik pada pretest dan posttest.

menyebarkan pesan menanamkan keyakinan

Hal ini terbukti dengan didapatkannya hasil

sehingga sadar, tahu, dan mengerti, tetapi

p value=0,487 (p value>α=0,05) tingkat

juga mau serta bisa melakukan suatu

kecemasan, dapat disimpulkan bahwa Ho

tindakan yang ada hubungannya dengan 472

kesehatan. Pendidikan kesehatan tentang

kesehatan

menarche bertujuan untuk memberikan

reproduksi ke berbagai sekolah, terutama pada

informasi

tentang

sekolah dasar (SD) dimana pada tingkat ini

pengertian, tanda dan gejala menarche.

remaja akan menghadapi masa pubertas. kepada

Dengan

tersebut

remaja putri dapat membicarakan atau lebih

tentang

terbuka tentang kesehatan reproduksi kepada

menarche meningkat dan dapat mengurangi

orang tua, agar mendapatkan informasi yang

kecemasan yang dialami oleh siswi. Dalam

tepat.

kepada

siswi

pemberian

diharapkan

SD

informasi

pengetahuan

siswi

hal ini peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa

pendidikan

kesehatan

tentang

khususnya

tentang

Daftar Pustaka Abrahams, Peter. (2010). Panduan Kesehatan

menstruasi sangat bermanfaat dan berguna

Dalam

jika diberikan kepada remaja putri untuk

Karisma Publishing Group

dapat

meningkatkan

pengetahuan

kesehatan

Kehamilan.

Tangerang:

dan

American Academy of Child and Adolescent’s

menurunkan tingkat kecemasan remaja putri

Facts for Families.(2008). Stage of

mengenai

Adolescent Development.

menstruasi

karena

dapat

mempengaruhi persepsi remaja putri untuk

Anwar, M. B, A., & Prabowo, P. (2011).Ilmu

menghadapi menarche.

Kandungan Edisi 3. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo Dharma, Kelana Kusuma, (2011).Metodologi

Kesimpulan dan Saran Penelitian

Keperawatan

(Panduan

Ada pengaruh yang bermakna antara Melaksanakan dan Menerapkan Hasil pendidikan

kesehatan

tentang

menstruasi

tingkat

kecemasan

Penelitian). Jakarta: Trans Info Media terhadap

penurunan

Dinas Kependudukan Kota Tanjungpinang menghadapi menarche pada siswi SDN 011 2015 kelas

V

dan

VI

Tanjungpinang

Barat Efendi, F., Makhfudli.(2009). Keperawatan

dinyatakan dengan

hasil p value= 0,000 (p Kesehatan

Komunitas

(teori

dan

value<α=0,05). Untuk itu kepada pihak terkait praktik dalam keperawatan).Jakarta: Diharapkan dapat memberikan pendidikan Salemba Medika. 473

Efendi,

Ferry

&

Makhfudli.

(2013).

Laila, Nur Najmi. (2011). Buku Pintar

Keperawatan Kesehatan Komunitas

Menstruasi

(Teori

Keluhannya). Yogyakarta: Buku Biru

dan

Praktik

Keperawatan).

dalam

Jakarta:

Salemba

(Solusi

Atasi

Segala

Lowdermilk, Perry, Cashion. (2013). Buku

Medika

Keperawatan Maternitas (Edisi 8),

Ersiana.(2014). Hubungan Obesitas Dengan

Alih Bahasa dr. Felici Sidartha dan dr.

Gangguan Siklus Menstruasi Pada

Anesia Tania. Jakarta : Salemba

Remaja Di SMK Mahardika Dabo

Medika

Singkep.

Tanjungpinang:

STIKES

Naviati, Elsa. (2011). Hubungan Dukungan

Hang Tuah Fajria.(2010).

Perawat Dengan Tingkat Kecemasan

Pengaruh

Menstruasi

Pengetahuan

Terhadap

Orang Tua di Ruang Rawat Anak.

Kecemasan

Depok: Universitas Indonesia

Menghadapi Menstruasi Pada Siswi

Notoatmodjo, S. (2007).Promosi Kesehatan

Kelas V Dan VI SDN Ardimulyo 3

Teori dan Aplikasinya.Jakarta : Rineka

Singosari.

Cipta

Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007). Metode

Notoatmodjo, S. (2010).Metodologi Penelitian

Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis

Data.

Jakarta:

Salemba

Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Nursalam, (2013).Metodologi Penelitian Ilmu

Medika

Keperawatan:

Khuzaiyah, Siti. (2015). The Secret Of Teens Guide Book For Teen Mengatasi Masa

Pendekatan

Praktis

Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika Perestroika, Grhasta Dian.(2011). Pengaruh

Pubertas Seksualitas dan Pergaulan.

Penyuluhan

Menstruasi

Terhadap

Yogyakarta: Andi Publisher

kecemasan

Menghadapi

Menarche

Kusmiran, Eny, (2012). Kesehatan Reproduksi

Pada Remaja Putri Kelas VII SMPN 2

Remaja dan Wanita. Jakarta: Salemba

Punggelan Banjarnegara. Surakarta:

Medika

Universitas Sebelas Maret Surakarta Pertiwi, A. (2014). Hubungan antara usia menarche dan depresi pada remaja 474

dengan mengontrol pengaruh variabel

Soetjiningsih.(2004).

perancu lainnya. Surakarta Pieter,

Herri

Z.

J.B.,

&

Remaja

Saragih,

M.

Tumbuh

Dan

Kembang

Permasalahannya.

Jakarta: Sagung Seto.

(2011).Pengantar Psikopatologi untuk Somendawai.(2010). Panik Saat Puber? Say Keperawatan. Jakarta: Kencana No!!. Jakarta: PT. Dian Rakyat Priyono, Dewi. (2010). Paham Analisis Statistik Syarifudin.(2010). Panduan TA Keperawatan Data

dengan

SPSS.

Yogyakarta: Dan

Kebidanan

Dengan

SPSS.

MediaKom Yogyakarta: Grafindo Litera Media Proverawati,

Atikah.

(2009).

Menarche Triwibowo,

Cecep

&

Pusphandani,

M.

(Menstruasi Pertama Penuh Makna). (2013).Kesehatan Lingkungan dan K3. Yogyakarta: Nuha Medika Yogyakarta: Nuha Media Pudiastuti, Ratna Dewi. (2012). 3 Fase Penting Videbeck, Sheila L. (2012). Buku Ajar Pada Wanita. Jakarta: Gramedia Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC Rifrianti, Destri. (2013). Tingkat Kecemasan Widyanto,

Faisalado

Candra.

(2014).

Komunitas

dengan

Siswi Kelas VII Dalam Menghadapi Keperawatan Menarche Di SMP Warga Surakarta. Pendekatan Praktis. Yogyakarta: Nuha Surakarta: STIKES Kusuma Husada Medika Surakarta Safitri, Arneliwati, Erwin. (2013). Analisis Indikator

Gaya

Hidup

Yang

Berhubungan Dengan Usia Menarche Remaja Putri. Pekanbaru: Universitas Riau Siswosudarmo, R., Emilia, O. (2008). Obstetri fisiologi.

Bagian

Obstetri

dan

Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM. Pustaka Cendikia Press: Yogyakarta.

475

PENGARUH REBUSAN BELIMBING WULUH TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI POSYANDU LANSIA CAMAR PUSKESMAS SEI JANG TANJUNGPINANG Zurrahman¹, Lidia Wati², Komala Sari³

ABSTRAK Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau tekanan diastolik 90 mmHg. Menurut DEPKES hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis. Di KEPRI khususnya di Tanjungpinang hipertensi merupakan penyakit terbesar ke-2. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh rebusan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) terhadap penurunan tekanan darah, dengan metode Quasi Experimen menggunakan rancangan Non Equivalent Control Group. Sample dalam penelitian ini sebanyak 18 responden wanita yang dibagi menjadi dua kelompok: 9 responden eksperimen dan 9 responden kontrol. Rebusan belimbing wuluh diberikan 1kali sehari sebanyak 200 ml selama 7 hari. Hasil yang diperoleh menunjukan adanya pengaruh rebusan belimbing wuluh terhadap penurunan tekanan darah, dengan menggunakan uji Wilcoxon Test .menunjukan nilai 𝜌 responden eksperimen = 0,025 (< 0,05), nilai 𝜌 responden kontrol = 0,317 (> 0,05). Disimpulkan bahwa rebusan belimbing wuluh berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah. Kata Kunci : Rebusan Belimbing Wuluh, Tekanan Darah Tinggi.

ABSTRACT Hypertension is increase in systolic blood pressure 140 mm Hg or diastolic blood pressure of 90 mmHg . According the Department of Health hypertension is a leading cause of death after stroke and tuberculosis 3 . In KEPRI especially Tanjungpinang hypertension is a disease of the 2nd largest . This study aims to determine the effect of stew starfruit ( Averrhoa bilimbi ) to decrease blood pressure , with Quasi Experiment method using a design Non Equivalent Control Group. Samples in this study were 18 female respondents divided into two groups : 9 respondents experimental and 9 respondents control . Starfruit decoction is given once a day as much as 2oo ml for 7 days. The results obtained show the influence of starfruit stew to decrease blood pressure , using the Wilcoxon test . Shows the experimental value of ρ = 0.025 respondents ( < 0.05 ) , the value ρ = 0.317 control respondents ( > 0.05 ) . It was concluded that the decoction starfruit effect on blood pressure reduction Keywords : Stew starfruit , High Blood Pressure

PENDAHULUAN Hipertensi atau yang lebih dikenal

dari140/90

mmHg

dinyatakan

hipertensi,

batasan tersebut untuk orang dewasa diatas 18 dengan nama penyakit darah tinggi adalah suatu tahun (Adib dalam Ramadi, 2012). keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan Hipertensi

merupakan

penyebab

darah diatas ambang batas normal yaitu 120/80 kematian

nomor

3

setelah

stroke

dan

mmHg. Menurut World Health Organization tuberkulosis, yakni

mencapai 6,7% dari

(WHO), batas tekanan darah yang masih populasi kematian pada semua umur di dianggap normal adalah kurang dari 130/85 Indonesia. Hal itu disampaikan Menkes dr. mmHg. Bila tekanan darah sudah lebih 476

Endang R. Sedyaningsih, Dr. PH, ketika

psikologis,

membuka The 4th

menyebabkan hipertensi (Tambayong, 2000).

Scientific

Meeting

on

Hypertension pada hari ini, Sabtu, 13 Februari 2010 di Jakarta (DEPKES, 2010).

stress

ketegangan

bisa

Pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian

Pada umumnya peningkatan tekanan

dan

serius

penanggulangan

dalam

pencegahan

penyakit

tidak

dan

menular

darah (hipertensi) terjadi seiring bertambahnya

termasuk hipertensi. Hal ini dapat dilihat

umur terutama setelah umur 40 tahun (Depkes,

dengan dibentuknya Direktorat Pengendalian

2006). Sejalan dengan proses pertambahan

Penyakit Tidak Menular berdasarkan Peraturan

umur, resiko seseorang terkena penyakit

Menteri

kardiovaskuler meningkat. Hal ini dikarenakan

2005 dalam melaksanakan pencegahan dan

efisiensi sistem kardiovaskuler mengalami

penanggulangan

penurunan

yang

pembuluh darah termasuk hipertensi, diabetes

berhubungan dengan fungsi sistem tersebut

mellitus dan penyakit metabolik, kanker,

(Pattel dalam Kartikawati, 2008). Survei

penyakit kronik dan penyakit generatif lainnya

epidemiologi

serta gangguan akibat kecelakaan dan cedera.

dan

merupakan

masalah-masalah

menunjukan satu

dari

bahwa

prediktor

umur terkuat

Dalam

Kesehatan

No.

penyakit

pencegahan

dan

1575

jantung

Tahun

dan

penanggulangan

terjadinya penyakit kardiovaskuler termasuk

hipertensi berbagai upaya telah dilakukan, yaitu

hipertensi. Faktor resiko penyakit hipertensi

penyusunan

berkembang setelah umur mencapai 45 tahun

pedoman, Juklak dan Juknis pengendalian

(Black dalam Kartikawati, (2008).

hipertensi. Pencegahan dan penanggulangan

Penyebab penyakit hipertensi secara

berbagai

kebijakan

berupa

hipertensi sesuai dengan kemajuan teknologi

umum diantaranya aterosklerosis (penebalan

dan

dinding arteri yang menyebabkan hilangnya

specific). Memperkuat logistik dan distribusi

elastisitas

keturunan,

untuk deteksi dini faktor risiko penyakit jantung

bertambahnya jumlah darah yang dipompa

dan pembuluh darah termasuk hipertens.

kejantung, penyakit ginjal, kelenjer adrenal dan

Meningkatkan surveilans epidemiologi dan

sistem

sistem

pembuluh

saraf

simpatis,

darah),

obesitas,

tekanan

kondisi

informasi

daerah

(local

pengendalian

area

hipertensi.

Mengembangkan SDM dan sistem pembiayaan 477

serta memperkuat jejaring serta monitoring dan

Jawa dan Bali sebesar 22,24% dan Sumatra

evaluasi pelaksanaan (DEPKES, 2010).

sebesar 9,17%.

Penyakit hipertensi tahun demi tahun

Berdasarkan

data

dari

penelitian

terus mengalami peningkatan. Tidak hanya di

terdahulu pada tahun 2012, di dapatkan data

Indonesia, namun juga di dunia. Sebanyak satu

dari Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau

milyar orang didunia atau satu dari empat orang

yang berbasis puskesmas sentinel pada tahun

dewasa menderita penyakit ini.

2009-2010 terjadi penurunan signifikan. Pada

Bahkan,

diperkirakan jumlah penderita hipertensi akan

tahun

2009

penderita

hipertensi

masih

meningkat menjadi 1,6 milyar menjelang tahun

menduduki peringkat pertama untuk penyakit

2025. Kurang lebih 10-30% penduduk dewasa

tidak menular yang banyak diderita oleh

dihampir semua Negara mengalami penyakit

penduduk Kepulauan Riau dengan persentase

hipertensi, dan sekitar 50-60%

penduduk

64%. Namun data pada 2010 terjadi penurunan

dewasa dapat dikategorikan sebagai mayoritas

jumlah persentase dimana untuk tahun 2010

utama yang status kesehatannya akan menjadi

menjadi 54,7% (P2PL, Dinkes Provinsi KEPRI,

lebih baik bila dapat dikontrol tekanan darahnya

2010). Menurut data IPKM DINKES Provinsi

(Adib dalam Ramadi, 2012).

Kepri

tahun 2010, Kota Tanjungpinang

Di Amerika, prevalensi tahun 2005

menduduki peringkat pertama dengan jumlah

adalah 21,7%. Prevalensi di Vietnam pada

13,04%, Kabupaten Lingga kedua denga

tahun 2004 mencapai 34,5%. Thailand (1989)

persentase 10,04%, dan peringkat terakhir Kota

17%. Malaysia (1996) 29, 9 %. Filipina (1993)

Batam dengan 5,47% (DINKES KEPRI dalam

22%, dan Singapura (2004) 24,9% (Dinkes

Hidayatullah, 2012).

Kota Semarang, 2007) Berdasarkan analisis prevalensi yang

Berdasarkan peneliti

dari

data

Dinas

yang

didapatkan

Kesehatan

Kota

dilakukan oleh Puslitbang dan Kebijakan

Tanjungpinang pada tahun 2011 hipertensi

Kesehatan (2008), hasilnya menunjukan bahwa

menduduki peringkat kedua dari daftar penyakit

34,9% penduduk Indonesia terkena hipertensi.

paling sering terjadi dengan jumlah kejadian

Prevalensi terbesar terdapat propinsi Kepulauan

11.448 kejadian. Pada tahun 2012 terjadi

Riau sebesar 45,0%. Papua sebesar 24,7%.

penurunan jumlah kejadian menjadi 8.718 478

kejadian, namun hipertensi masih menduduki

dimasyarakat

peringkat kedua dari daftar penyakit paling

menurunkan efek lebih lanjut, seperti penyakit

sering terjadi di Kota Tanjungpinang. Menurut

jantung koroner, karena hipertensi merupakan

data bulanan kesakitan Dinas Kesehatan Kota

faktor resiko penting penyebab penyakit

Tanjungpinang tahun 2012, Puskesmas Sei jang

jantung koroner. Tujuan pengobatan hipertensi

menduduki peringkat pertama dengan jumlah

saat ini adalah untuk menurunkan tekanan

kejadian

Puskesmas

darah, juga ditujukan untuk menurunkan

Tanjungpinang kedua dengan jumlah kejadian

komplikasi kardiovaskuler. Menurut konsensus

1.389 kejadian. dan Puskesmas Kampung Bugis

JNCV12

menduduki peringkat ketiga dengan jumlah

didahulukan, jika gagal penderita hipertensi

kejadian 639 kejadian. Dari 1.769 kejadian

harus menelan obat-obatan farmakologi seumur

hipertensi yang terjadi di Puskesmas Sei Jang

hidup (Penerbit Buku Kompas, 2006)

1.769

kejadian,

1.479 kasus terjadi pada usia 45 tahun ke atas,

dengan

pengobatan

Salah

satu

benar

non

dari

dapat

farmakologik

penanganan

dan 290 kasus terjadi pada usia di bawah 45

nonfarmakologis

tahun. (DINKES Kota Tanjungpinang, 2012).

penyakit hipertensi yaitu terapi komplementer.

Berdasarkan data yang didapat peniliti

Terapi

dalam

akan

komplementer

menyembuhkan

bersifat

terapi

dari Puskesmas Sei Jang Kota Tanjugpinang

pengobatan alamiah diantaranya adalah dengan

dari tujuh posyandu lansia yang berada di

terapi herbal, terapi nutrisi, relaksasi progresif,

wilayah kerja Puskesmas Seijang, posyandu

meditasi, terapi tawa, akupuntur, aroma terapi

lansia “Camar” yang memilki jumlah penderita

dan

hipertensi terbanyak yaitu 24 orang, posyandu

digunakan oleh masyarakat dalam menangani

lansia “Ananda” di peringkat kedua dengan 12

penyakit hipertensi dikarenakan memiliki efek

orang dan posyandu lansia “Asoka” diperingkat

samping

ketiga

Hidayatullah, 2012).

dengan

delapan

orang

penderita.

(Puskesmas Sei Jang, 2012). Beberapa

penelitian

refleksologi.

yang

Terapi

sedikit

herbal

(Sustrani

banyak

dalam

Banyak tumbuh-tumbuhan yang dapat di

Indonesia

digunakan

untuk

terapi

herbal

dalam

menjelaskan prevalensi hipertensi berkisar

pengobatan hipertensi, diantaranya adalah

antara 17-22 persen, jadi mengobati hipertensi

bawang putih, seledri, bunga rosella, belimbing 479

wuluh dan daun alpukat. Bawang putih dan seledri kurang disukai oleh masyarakat karena

BAHAN

DAN

METODE

PENELITIAN

rasanya yang kurang enak untuk dijadikan obat. Sedangkan bunga rosella dan belimbing wuluh

Desain : Desain penelitian yang

memiliki rasa asam yang pada umumnya

digunkan adalah Quasy Exsperiment dengan

kurang disukai oleh masyarakat. Daun alpukat

rancangan penelitian Non Equivalent Control

memiliki rasa yang sedikit pahit jika diseduh

Group.

(Rachdian dalam Hidayatullah, 2012). Namun

Tempat dan Waktu : Penelitian ini dilakukan

Belimbing Wuluh jika di konsumsi dalam

pada minggu ketiga bulan Juni tahun 2013

bentuk air rebusan dapat mengurangi rasa asam

selama satu minggu yaitu dari tanggal 17

yang dikandungnya.

sampai dengan tanggal 23, dan dilaksanakan di

Yuni Herlinawati (2006), mengatakan

Posyandu Lansia Camar Puskesmas Sei Jang

dibalik rasanya yang asam, Belimbing Wuluh

Kota Tanjungpinang.

memiliki khasiat kesehatan luar biasa, penyakit

Sampel : Sampel yang digunakan diambil

yang bisa diatasi oleh Belimbing Wuluh

menggunakan

meliputi diabetes mellitus, rematik, hipertensi,

dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang

gondongan,

penurunan

dengan rincian 10 orang sebagai kelompok

kolesterol, pencegahan kanker dan pelancar

eksperimen dan 10 orang sebagai kelompok

pencernaan.

kontrol.

cacar

air,

Kandungan

wasir,

kalium

membuat

tehnik

Keseluruhan

Purposive

sampel

Sampling

merupakan

Belimbing Wuluh menstabilkan tekanan darah.

penderita hipertensi yang berada di wilayah

Berdasarkan uraian di atas peneliti

kerja posyandu lansia camar puskesmas sei jang

tertarik untuk melakukan penelitian secara

tanjungpinang,

langsung untuk mengetahui pengaruh rebusan

perempuan dan yang menderita hipertensi

belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) terhadap

ringan, sedang dan berat.

penurunan tekanan darah pada penderita

Alat ukur : Alat ukur pada penelitian ini yaitu

hipertensi di wilayah kerja Posyandu Lansia

sphygmomanometer dan lembar obserbvasi.

Camar

Sphygmomanometer adalah alat mekanik yang

Puskesamas

Tanjungpinang.

Sei

Jang

Kota

yang

berjenis

kelamin

digunkan untuk mengukur tekanan darah. 480

Tekanan responden pada kelompok eksperimen

No

diukur sebelum dan sesudah diberikan rebusan

1

Kategori

• 45-59

satu

(Middle Age)

sedangkan

tekanan

darah

Tahun

responden pada kelompok kontrol diukur tanpa

• 60-69

pemberian perlakuan kemudian hasilnya dicatat

(Elderly)

pada lembar obserbvasi.

• >70 Tahun (Old)

Prosedur : Responden dibagi menjadi dua

Tahun

Jumlah

kelompok yaitu kelompok eksperimen dan

(%)

4

44,4%

5

55,6%

0

0%

9

100%

Usia :

belimbing wuluh setiap dua hari sekali selama minggu,

F

2

Derajat Hipertensi :

kelopok kontrol. Kelompok eksperimen diberi

• Ringan

4

44,4%

perlakuan berupa terapi rebusan belimbing

• Sedang

4

44,4%

wuluh 1 kali sehari (per 200ml) selama

• Berat

1

11,2%

9

100%

seminggu

dimana

sebelum

dan

sesudah

Jumlah

perlakuan dilakukan pengukuran tekanan darah rseponden. Sedangkan pada kelompok kontrol

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui

hanya dilakukan pengukuran tekanan darah saja

karakteristik responden kelompok eksperimen

tanpa perlakuan berupa pemberian terapi

sebagian besar berusia 45-59 tahun (Middle

rebusan belimbing wuluh.

Age) sebanyak empat orang (44,5%), dan sebagian besar responden menderita hipertensi

Karakteristik Responden

sedang sebanyak lima orang (55,6%).

Merupakan ciri-ciri dari responden yang

Tabel

terdapat didalam penelitian ini yang meliputi

Karakteristik

No 1

Kategori

1.

Karakteristik

Kelompok

(Middle Age)

Eksperimen

481

F

(%)

4

44,4%

5

55,6%

0

0%

Usia : • 45-59

berikut: Tabel

Kelompok

Kontrol

usia dan derajat hipertensi yang diderita. Karakteristik responden dapat dilihat pada tabel

2.

Tahun

• 60-69

akhir (post test) yang dilakukan uji kemaknaan

Tahun

menggunakan uji Mann-Whitney.

(Elderly) • >70

Tahun (Old)

Jumlah 2

9

Tabel 3. Analisa Perbedaan Tekanan

100%

Darah Kelompok Eksperimen dan Kelompok

Derajat Hipertensi : • Ringan

4

44,4%

• Sedang

4

44,4%

• Berat

1

11,2%

9

100%

Jumlah

Kontrol pada Pengukuran Awal (Pre Test)

Tekanan

Kelompok

Kelompok

Stati

darah

Eksperime

Kontrol

stik

n F

%

F

%

𝝆

0

0%

0

0%

0,80

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui Normal karakteristik responden kelompok

control Tinggi

4

sebagian besar berumur 60-69 tahun sebanyak lima orang (55,6%), dan sebagian besar Hipertens responden

menderita

hipertensi

4

44,4%

4

44,4%

5

55,6%

4

44,4%

ringan i Ringan

sebanyak empat orang (44,4%) dan menderita hipertensi sedang sebanyak empat orang Hipertens (44,4%). i Sedang 1 HASIL Hipertens

0

0%

9

100%

11,2%

Analisa Perbedaan Tekanan Darah i Berat Dalam analisa ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan distribusi eksperimen

tekanan

darah

pada

dan

kelompok

Jumlah

9

100%

kelompok

kontrol

Pada tabel di atas dapat diketahui

pada

pemeriksaan awal (pre test) dan pemeriksaan

sebagian

besar

tekanan

darah

kelompok

eksperimen pada pemeriksaan awal (pre test) adalah hipertensi sedang sebanyak lima orang 482

(55,6%), sedangkan sebagian besar tekanan

Berdasarkan table di atas dapat diketahui

darah kelompok kontrol pada pemeriksaan awal

sebagian

besar

tekanan

(pre test) adalah hipertensi ringan sebanyak

eksperimen pada pemeriksaan akhir (post test)

empat orang (44,4%) dan hipetensi berat

adalah hipertensi ringan yaitu sebanyak enam

sebanyak empat orang (44,4%), kemudian

orang (66,7%), sedangkan sebagian besar

didapat hasil uji statistik dengan nilai 𝜌 = 0,804.

tekanan

darah

darah

kelompok

kelompok

kontrol

pada

Tabel 4. Analisa Perbedaan Tekanan

pemeriksaan akhir (post test) adalah hipertensi

Darah Kelompok Eksperimen dan Kelompok

ringan sebanyak lima orang (55,6%), kemudian

Kontrol pada Pengukuran Akhir (Post Test)

didapat uji statistik dengan nilai 𝜌 = 0,203.

Tekanan

Kelompok

Kelompok

Stati

darah

Eksperime

Kontrol

stik

Analisa

Rebusan

Belimbing Wuluh

n

Normal

Pengaruh

Dalam analisa ini bertujuan untuk

F

%

F

%

𝝆

1

11,1%

0

0%

0,20

belimbing

3

terhadap

Tinggi

menterhui ada atau tidak pengaruh rebusan wuluh

(variabel

penurunan

tekanan

independen) darah

pada

penderita hipertensi (variabel dependen) yang Hipertensi

6

66,7%

5

55,6%

Ringan

Hipertensi

dilakukan uji kemaknaan menggunakan uji Wilcoxon Test.

2

22,2%

3

33,3%

Sedang

Tabel 5. Analisis Pengaruh Rebusan Belimbing Wuluh Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada kelompok eksperimen

Hipertensi

0

0%

1

11,1%

Berat Jumlah

9

100%

9

100%

Tekanan

Sebelum

Setelah

Stati

darah

Terapi

Terapi

stik

F

483

%

F

%

𝝆

Normal

0

0%

1

11,1%

Tinggi

0,04

Tekanan

Sebelum

Setelah

Stati

darah

Terapi

Terapi

stik

6

Hipertensi

4

44,4%

6

66,7%

Ringan

Normal

F

%

F

%

𝝆

0

0%

0

0%

0,31

Tinggi

Hipertensi

5

55,6%

2

22,2%

Sedang

Hiperten

7

4

44,4%

5

55,6%

4

44,4%

3

33,3%

1

11,2%

1

11,1%

9

100%

9

100%

si Ringan

Hipertensi

0

0%

0

0%

Berat

Hiperten si Sedang

Jumlah

9

100%

9

100%

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui

Hiperten

tekanan darah kelompok eksperimen pada

si Berat

pemeriksaan awal (pre test) dan akhir (post

Jumlah

test), yaitu pada pemeriksaan awal (pre test) terdapat empat orang (44,4%) yang menderita

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui

hipertensi ringan dan lima orang (55,6%) yang

tekanan

menderita hipertensi sedang, sedangkan pada

pemeriksaan awal (pre test) dan akhir (post

pemeriksaan akhir (post test) terdapat satu

test), yaitu pada pemeriksaan awal (pre test)

orang (11,1%) memiliki tekanan darah normal

terdapat empat orang (44,4%) yang menderita

tinggi,

hipertensi

enam

orang

(66,7%)

menderita

darah

kelompok

ringan,

empat

kontrol

orang

pada

(44,4%)

hipertensi ringan dan dua orang (22,2%)

menderita hipertensi sedang dan satu orang

menderita hipertensi sedang, kemudian didapat

(11,2%) menderita hipertensi berat, sedangkan

hasil uji statistik dengan nilai 𝜌 = 0,046.

pada pemeriksaan akhir (post test) terdapat lima

Tabel 6. Analisis Pengaruh Rebusan

orang (55,6%) menderita hipertensi ringan, tiga

Belimbing Wuluh Terhadap Penurunan Tekanan

orang (33,3%) hipertensi sedang, dan satu orang

Darah pada Kelompok Kontrol

(11,2%) menderita hipertensi berat, kemudian 484

didapat hasil uji statistik kemaknaan dengan

Analisa Perbedaan Tekanan Darah

nilai 𝜌 = 0,317.

Pada tabel 3 dapat diketahui hasil analisa

PEMBAHASAN

perbedaan tekanan darah kelompok eksperimen

Karakteristik Responden

dan kelompok kontrol pada pemeriksaan awal

Responden pada penelitian ini termasuk

(pre test) yang didapat nilai 𝜌 > 0,05 yaitu =

dalam batasan usia pertengahan (middle age =

0,804, membuktikan tidak terdapat perbedaan

45-59 tahun), lanjut usia (elderly = 60-69

yang signifikan tekanan darah kelompok

tahun), dan usia lanjut tua (old = >70 tahun)

eksperimen dan kontrol pada pemeriksaan awal

karna pada batasan usia tersebut seseorang

(pre test).

sangat rentan untuk terkena penyakit hipertensi.

Pada tabel 4 dapat diketahui hasil analisa

Pada umumnya peningkatan tekanan darah

perbedaan tekanan darah kelompok eksperimen

(hipertensi) terjadi seiring bertambahnya umur

dan kontrol pada pemeriksaan akhir (post test)

terutama setelah umur 40 tahun (Depkes, 2006).

yang didapat nilai 𝜌 > 0,05 yaitu = 0,203,

Sejalan dengan proses pertambahan umur,

membuktikan tidak terdapat perbedaan yang

resiko

signifikan terhadap tekanan darah kelompok

seseorang

terkena

penyakit

kardiovaskuler meningkat, hal ini dikarenakan

eksperimen

efisiensi sistem kardiovaskuler mengalami

pemeriksaan akhir (post test).

penurunan

dan

masalah-masalah

dan

kelompok

kontrol

pada

yang

Berdasarkan keterangan dari tabel 3 dan

berhubungan dengan fungsi sistem tersebut

4 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

(Pattel dalam Kartikawati, 2008).

perbedaan yang signifikan terhadap tekanan

Berdasarkan keterangan tabel 1 dan 2

darah kelompok eksperimen dan kelompok

menunjukan adanya kesesuaian dengan survei

kontrol pada pemeriksaan awal (pre test) dan

epidemiologi yang menunjukan bahwa umur

pemeriksaan

merupakan

terdapatnya hasil

satu

dari

prediktor

terkuat

akhir

(post

test)

.

Tidak

perbedaan tekanan darah

terjadinya penyakit kardiovaskuler termasuk

yang besar (signifikan) dapat dikaitkan dengan

hipertensi. Faktor resiko penyakit hipertensi

teori yang mengatakan bahwa terapi herbal

berkembang setelah umur mencapai 45 tahun

akan memberikan efek atau manfaat yang besar

(Black dalam Kartikawati, 2008).

jika diberikan dalam jangka waktu yang 485

panjang panjang (Astawan dalam Hidayatullah,

tekanan

2012).

kelompok eksperimen pada pemeriksaan awal Analisa

Pengaruh

Rebusan

Belimbing Wuluh

darah

yang

signifikan

terhadap

(pre test) dan pemeriksaan akhir (post test), dan tidak ada perbedaan tekanan darah yang

Pada tabel 5 dapat diketahui hasil analisa

signifikan terhadap kelompok kontrol pada

pengaruh rebusan belimbing wuluh terhadap

pemeriksan awal (pre test) dan pemeriksaan

penurunan tekanan darah pada penderita

akhir (post test), yang telah dibuktikan dengan

hipertensi

menggunakan uji statistik Wilcoxon Test

di

Posyandu

Lansia

Camar

𝜌 pada kelompok

Puskesmas Sei Jang terhadap responden

dimana didapat nilai

kelompok

yang

eksperimen lebih kecil (<) dari 0,05 dan nilai

diberikan terapi rebusan belimbing wuluh) yang

lebih 𝜌 pada kelompok kontrol lebih besar (>)

didapat nilai 𝜌 < 0,05 yaitu = 0,046,

dari 0,05, hasil ini sesuai dengan teori yang

membuktikan adanya perbedaan tekanan darah

mengatakan bahwa penderita penyakit darah

yang signifikan pada pemeriksaan awal (pre

tinggi pada umumnya kekurangan kalium,

test) dan pemeriksan akhir (post test).

potassium, dan kalsium. Oleh karena itu,

eksperimen

(responden

Pada tabel 6 dapat diketahui analisa

mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran

pengaruh rebusan belimbing wuluh terhadap

yang mengandung kalium, potasium, dan

penurunan tekanan darah pada penderita

kalsium

hipertensi

Camar

belimbing wuluh merupakan cara yang tepat

Puskesmas Sei Jang pada responden kontrol

untuk menurunkan tekanan darah tinggi (Nisa

(responden yang tidak diberikan terapi rebusan

2012).

di

Posyandu

Lansia

seperti

yang

tekandung

dalam

belimbing wuluh) yang didapat nilai 𝜌 > 0,05 yaitu = 0,317 yang membuktikan bahwa tidak adanya

perbedaan

tekanan

darah

Keterbatasa Penelitian

yang

Dalam penelitian ini peneliti menemukan

signifakan pada pemeriksaan awal (pre test) dan

berbagai macam bentuk keterbatasan ketika

pemeriksaan akhir (post test).

melakukan

penelitian,

sehingga

dengan

Berdasarkan keterangan dari tabel 5 dan

berbagai keterbatasan tersebut menjadikan

6 dapat disimpulkan bahwa adanya perubahan

penelitian ini tidak mendapatkan hasil yang 486

maksimal. Adapun keterbatasan tersebut adalah

Kesimpulan

sebagai berikut:

Pemberian terapi rebusan belimbing

1. Dalam penelitian ini objek yang digunakan

wuluh pada penderita hipertensi menunjukan

sebagai sampel adalah manusia sehingga

adanya pengaruh terhadap penurunan tekanan

sangat sulit untuk melakukan kontrol yang

darah pada penderita hipertensi, yaitu dapat

ketat terhadap faktor-faktor yang dapat

dilihat dalam analisa uji kemaknaan yang

meningkatkan tekanan darah khususnya

menunjukan

faktor pola makan.

belimbimg

adanya wuluh

pengaruh terhadap

rebusan

menurunkan

2. Penelitian ini merupakan penelitian herbal

tekanan darah. Tekanan darah pada responden

atau alami yaitu salah satu cara mengontrol

yang menderita hipertensi ringan, sedang, dan

tekanan darah tanpa mengunakan obat-

berat mengalami penurunan. Hal ini di buktikan

obatan kimia, selain tidak memiliki efek

dari hasil pengukuran tekanan darah responden

samping yang besar pengobatan herbal

eksperimen yang diberikan terapi rebusan

merupakan pengobatan yang dapat member

belimbing wuluh dan responden kontrol yang

efek yang besar dalam waktu yang lama,

tidak diberikan terapi rebusan belimbing wuluh.

maka dalam penelitian ini kurang lamanya

Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah

waktu pemberian terapi sehingga tidak

terapi, dimana didapat hasil sebagai berikut:

menimbulkan efek yang begitu besar.

a. Pada pengukuran awal (pre test) terhadap

3. Pada penelitian ini desain penelitian yang

responden eksperimen dari sembilan orang

digunakan kurang tepat karna itu terdapat

(100%) responden terdapat empat orang

beberapa kerancuan dari hasil penelitian ini.

(44,4%) yang menderita hipertensi ringan

4. Pada penelitian tidak dilakukannya validitas

dan lima orang (55,6%) yang menderita

alat yang digunakan (sphygmomanometer)

hipertensi sedang. Pada pengukuran akhir

sehingga dapat memunculkan keraguan

(post test) terhadap responden eksperimen

pada akurasi alat ketika digunakan pada saat

terjadi penurunan tekanan darah, yaitu

melakukan pengukuran.

dimana penderita hiperte si ringan menjadi enam orang (66,7%), hipertensi sedang

PENUTUP

turun menjadi dua orang (22,2%) 487

dan

terdapat satu orang (11,1%) memiliki

d. Berdasarkan analisa perbedaan tekanan

tekanan darah normal tinggi.

darah kelompok eksperimen dan kelompok

b. Pada pengukuran awal (pre test) terhadap

kontrol dengan menggunakan uji statistic 𝜌

responden kontrol dari sembilan orang

Mann-Whitney

(100%) responden terdapat empat orang

pemeriksaan awal (pre test) = 0,804 (> 0,05)

(44,4%) yang menderita hipertensi ringan,

dan nilai 𝜌 pada pemeriksaan akhir (post

empat orang (44,4%) yang menderita

test) = 0,203, hal ini menunjukkan tidak

hipertensi sedang dan terdapat satu orang

terdapat perbedaan yang signifikan terhadap

(11,2%) yang menderita hipertensi berat.

tekanan darah kelompok eksperimen dan

Pada pengukuran akhir (post test) tidak

kontrol pada pemeriksaan awal (pre test) dan

terdapat perbedaan tekanan darah yang

pemeriksaan akhir (post test)

didapat

nilai

pada

berarti yaitu yang menderita hipertensi Saran ringan

menjadi

lima

orang

(55,6%), a. Diharapkan masyarakat lebih memberikan

hipertensi sedang menjadi tiga orang perhatian yang serius terhadap pengobatan (33,3%), dan hipertensi berat masih satu herbal dalam mengontrol tekanan darah orang (11,1%). pada

penderita

hipertensi.

Pengobatan

c. Pada analisa pengaruh rebusan belimbing herbal seperti rebusan belimbing wuluh wuluh terhadap penurunan tekanan darah selain mudah didapat dan tidak memberikan dengan menggunakan uji statistik Wilcoxon efek samping yang berbahaya juga tergolong Test didapat nilai 𝜌

pada kelompok ekonomis

(murah).

Dengan

penderita

hipertensi

dapat

demikian

eksperimen = 0,046 (< 0,05) dan nilai 𝜌 pada mengontrol

kelompok kontrol = 0,317 (> 0,05), hal tekanan menunjukkan

bahwa

berdasarkan

darahnya

tanpa

harus

uji mengkonsumsi obat-obatan yang pastinya

statistik bahwa terdapat pengaruh rebusan akan memberikan efek samping yang kurang belimbing

wuluh

terhadap

penurunan baik bila dikonsumsi secara terus-menerus.

tekanan darah pada penderita hipertensi di b. Diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk Posyandu Lansia Camar Puskesmas Sei Jang dapat Tanjungpinang. 488

ikut

berperan

dalam

mensosialisasikan

atau

memberikan

http://www.depkes.go.id. Di akses: 5 April

pengetahuan kepada masyarakat untuk lebih

2013.

mengenal

dalam

Freyanti, Veni Aznur. (2012). Faktor-Faktor

terhadap

Yang Berhubungan Dengan Kunjungan

obat-obatan

mengontrol

tekanan

herbal darah

penderita hipertensi. c. Diharapkan penelitian

Lansia Ke Posyandu Lansia Di Wilayah

adanya yang

pengembangan

serupa

Kerja

Puskesmas

Sei

Jang

Kota

mengenai

Tanjungpinang Tahun 2012. Skripsi

pengobatan herbal dari jenis dan desain yang

Tidak diterbitkan. STIKES Hang Tuah.

berbeda serta waktu penelitian yang lebih

hal: 10-37

lama untuk dapat melihat pengaruh secara

Guyton, Arthur C, (1990). Fisiologi Manusia

signifikan sehingga akan terus didapat hasil

dan

penelitian yang lebih baik.

Jakarta: EGC, hal:

d. Karna sudah terdapat beberapa penelitian pengobatan

herbal

dalam

peneliti

berharap

pengembangan

penelitian

membanding

keefektifan

3.

Swadaya, hal: 36-38. Herlinawati, Yuni , (2006). Terapi Jus Untuk

adanya

dalam

Edisi

Khasiatnya, Seri 1 .Depok: Penebar

hipertensi seperti jus timun, air putih, pisang

maka

Penyakit

Hariana, Arief, (2004). Tumbuhan Obat &

mengontrol

dan termasuk rebusan belimbing wuluh,

Mekanisme

Kolesterol Plus Ramuan Herbal. Jakarta:

hal

Puspa Swara, hal: 61.

terhadap

Hidayat, A. Aziz Alimul, (2008). Metode

penurunan tekanan darah dari beberapa

Penelitian Keperawatan dan Tehnik

pengobatan herbal di atas.

Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika. hal: 76.

DAFTAR PUSTAKA Hidayatullah, M Redha. (2012). Pengaruh Jus Dharma, Kelana Kusuma, (2011). Metodelogi Timun Terhadap Penurunan Tekanan Penelitian Keperawatan. CV. Trans Info Darah Pada Penderita Hipertensi Di Media: Jakarta Timur. hal: 197-204 Wilayah Kerja Puskesmas Panncur. Depkes. (2010). Hipertensi Penyebab Skripsi Kematian

Nomor

Tiga.

489

Tidak

diterbitkan.

Tanjungpinang. STIKES Hang Tuah.

Purwaningsih,

Hal: 9 dan 39-45

Eko,

(2007).

Multiguna

Belimbing Wuluh. Jakarta: Ganeca Exact,

Kusnul, Zauhani & Munir, Zainal (2012). Efek Pemberian Jus Mentimun Terhadap

Hal: 1-3. Ramadi, Afdhal, (2012). Perbedaan Pengaruh

Penurunan Tekanan Darah. Skripsi

Pemberian

Seduhan

Daun

Alpukat

Tidak diterbitkan. Stikes Bahrul Ulum.

(PerseagratissimaGaerth)

Hal:

Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi

Terhadap

Lathifah, Qurrotu A, (2008). Uji Efektifitas

Laki-Laki Yang Perokok Dengan Bukan

Ekstrak Kasar Senyawa Anti Bakteri

Perokok Di Wilayah Kerja Puskesma

Pada Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa

Padang Pasir Kota Padang Tahun 2012.

Bilimbi L.) Dengan Variasi Pelarut.

Skripsi

Skripsi Tidak diterbitkan. Fakultas Sains

Keperawatan

dan TeknologiI. Universitas Islam Negeri

Diakses 5 Maret 2013. Hal: 1-2

(UIN) Malang. Diakses 5 Maret 2013.

diterbitkan. Universitas

Fakultas Andalas.

Riyanto, (2009). Pengolahan dan Analisi Data

Hal: 20-24.

Kesehatan. Yogjakarta: Ruha Medika,

M. Wijoyo, Padmiarso, (2011).

Rahasia

Penyembuhan Hipertensi Secara Alami.

hal: Sari, Wening, et al, (2008). Care youself,

Bogor: Bee Media AGRO, Hal: 9-19. Notoatmodjo, Soekidjo, (2010). Metodologi Penelitian

Tidak

Kesehatan.

Jakarta:

hepatitis. Jakarta: Penebar Plus+, hal: 74. Shinta, (2012). Hubungan Peran Keluarga

PT.

Dalam Perawatan Kesehatan Lansia

Rineka Cipta, hal:

Dengan

Kejadian

Hipertensi

Di

Penerbit Buku Kompas, (2006). Rahasia Sehat

Puskesmas Sei Jang Tahun 2012. Skripsi

dengan Makanan Berkhasiat. Jakarta:

Tidak diterbitkan. STIKES Hang Tuah.

PT. Kompas Media Nusantara, hal: 199-

hal:

200.

Smeltzer & Bare, (2001). Buku Asuhan

Permadi, Adi, (2006). Tanaman Obat Pelancar

Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8.

Air Seni. Jakarta: Penebar Sebaya, hal:

Jakarta: EGC, hal:

24. 490

Soenanto, Hardi, (2009). 100 Resep Sembuhkan Hipertensi, Asam urat, dan Obesitas. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, hal: 52-53. Sutanto, (2010). Cekal (Cegah & Tangkal) Penyakit Modern. Yogyakarta: CV. Andi Offset, hal: 1-34. Syarifudin, (2010). Panduan TA Keperawatan dan

Kebidanan

dengan

SPSS.

Yogyakarta: Grafindo Litera Media, hal: Stanley, Mickey & Beare, Gauntlett Patricia, (2002).

Buku

Ajar

Keperawatan

Gerontik Edisi 2. Jakarta; EGC. hal: 11. Wati, Lidia, (2013). Panduan Penyusunan Metodologi

Riset

Keperawatan.

Tanjungpinang : STIKES Hang Tuah Tanjungpinang, hal:1-61. Widharto, (2009). Bahaya Hipertensi. Klaten: PT Sunda Kelapa Pustaka, hal: 3-36.

1

Mahasiswa S1 Keperawatan Hang Tuah Tanjungpinang.

2

Dosen Program Studi Ilmu Keperawatn STIKES Hang Tuah Tanjungpinang.

3

Dosen Program Studi Ilmu Keperawatn STIKES Hang Tuah Tanjungpinang

491

PENGARUH AIR REBUSAN LIDAH BUAYA TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI JANG TANJUNGPINANG TAHUN 2014 Urai Muhamad Bawadi1, Soni Hendra Sitindaon2, Komalasari3

ABSTRAK Diabetes Mellitus berasal dari kata Yunani diabainein yang berarti “tembus” atau “pancuran air”, mellitus yang berarti “rasa manis”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh air rebusan lidah buaya terhadap penurunan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang Tahun 2014. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan metode Pra eksperimen dan jenis pendekatan yang digunakan adalah one group pretest postest tanpa kelompok kontrol. Jumlah populasi sebanyak 1393 orang penderita Diabetes Mellitus dan sampel dengan teknik Purposive Sampling berjumlah 12 orang. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi. Uji hipotesis yang digunakan adalah Uji Wilcoxon. Hasil Penelitian yang diperoleh yaitu kadar gula darah sebelum diberikan air rebusan lidah buaya didapatkan semua responden kadar gula darah >200mg/dL sebanyak 12 orang (100%). Kadar gula darah sesudah diberikan air rebusan lidah buaya didapatkan sebagian besar responden kadar gula darah <150mg/dL sebanyak 6 orang (50%).

Kata Kunci : Lidah buaya, Diabetes Mellitus

ABSTRACT Diabetes Mellitus comes from the Greek diabainein which means "hit" or "fountain ", mellitus which means "sweet taste ". The aim of this research is to find out the influence decoction aloe vera to experienced the blood sugar at patients with diabetes mellitus in the Community Health Center Sei Jang in 2014. Types of research that is quantitative research with the method Pre experiments and type of approach that is used is one group pretest postest without controls. Number of population as many as 1393 people with Diabetes Mellitus and samples with Purposive sampling techniques %12 people. Instruments that used is sheets observation. Hypothesis test is trial Wilcoxon. Results of research, the blood sugar level before given decoction aloe vera obtained all respondents blood sugar level >200mg/dl as many as 12 people (100%). Blood sugar level after given decoction aloe vera found most respondents blood sugar level <150mg/dl as much as 6 people (50%). Keyword : Sweet Star Fruit and, Cucumber Therapy, The Decrease Blood Pressure of Hypertensive

PENDAHULUAN Berkembangnya suatu negara menjadi

additive (bahan tambahan makanan) dalam makanan ataupun bahan baku makanan maka

salah satu faktor permasalahan

baru semakin tinggi pula penyakit-penyakit yang

terutama permasalahan tentang gaya hidup ditimbulkan

sebagai

akibat

kurang

masyarakat di dunia. Dengan meningkatnya seimbangnya pola hidup dan pola makan yang beban

kerja dilakukan. Salah satu penyakit yang disebabkan

masyarakat khususnya masyarakat perkotaan, oleh buruknya pola hidup dan pola makan ini serta semakin tinggi penggunaan bahan-bahan 492

adalah Diabetes Mellitus. Diabetes Mellitus

Meksiko 10,6 juta jiwa, dan Indonesia dengan

(DM) adalah hiperglikemia kronik disertai

jumlah penderita DM sebanyak 7,6 juta jiwa,

berbagai kelainan metabolik akibat gangguan

saat ini Indonesia menempati peringkat ketujuh

hormonal

berbagai

dalam daftar negara dengan penderita DM

komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan

terbanyak di dunia, lebih buruk dibanding tahun lalu

pembuluh darah, disertai lesi pada membran

dimana Indonesia berada pada peringkat kesepuluh.

basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop

Pada Tahun 2030 diperkirakan DM menempati

elektron (Mansjoer, 2001).

urutan

yang

Ketua

menimbulkan

Umum

Persatuan

Diabetes

ke-7

penyebab

kematian

dunia.

Sedangkan untuk di Indonesia diperkirakan

Indonesia (PERSADIA, 2013) Prof. Sidartawan

pada tahun

Soegondo menjelaskan, jika tidak diintervensi

2030 akan memiliki penyandang DM (diabetisi)

dengan baik DM menimbulkan komplikasi dan

sebanyak 21,3 juta jiwa (Depkes, 2010).

mengakibatkan kecacatan, bahkan kematian. Di

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS)

antaranya luka yang sulit sembuh, bahkan bisa

2013

terjadi pembusukan pada kaki dan berakibat

meningkat.

diamputasi. Juga menyebabkan kebutaan dan

meningkatnya

katarak

penyumbatan

kegemukan yang juga terus meningkat yaitu

pembuluh darah jantung yang mengakibatkan

dari 18,8% tahun 2007 menjadi 26.6% di 2013.

penyakit jantung koroner. Terjadi gangguan

Obesitas pada perempuan cenderung lebih

saraf berupa kesemutan, baal, stroke, dan

tinggi

impotensi (Sukmasari, 2014).

meningkat dari 14,8% (2007) menjadi 32,9%

dini,

gagal

Studi terbaru

ginjal,

dari

menunjukan Ini

tren

penderita

DM

dengan

juga

obesitas

atau

seiring proporsi

dibanding

laki-laki.

Perempuan

International

(2013), sedangkan laki-laki hanya 13,9%

Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2012

menjadi 19,7%. Kenaikan DM pun lebih tinggi

mengatakan penderita DM di seluruh dunia

pada perempuan yaitu 7,7% sedangkan laki-laki

mencapai 371 juta orang. Posisi pertama adalah

5,6%.

Cina dengan 92,3 juta penderita, India sebanyak

( Depkes, 2013). Angka

kejadian

DM

di

provinsi

63 juta jiwa, Amerika Serikat 24,1 juta jiwa,

Kepulauan Riau pada tahun 2011 menduduki

Brasil 13,4 juta jiwa, Rusia 12,7 juta jiwa,

posisi ke 3 dengan jumlah angka kejadian 493

mencapai 2121, setelah Hipertensi dan Asma.

jumlah kunjungan sebanyak 1393 (DINKES

Berikut

Kota Tanjungpinang, 2013).

prevalensi

kabupaten/kota

data

DM

setiap :

Beberapa upaya untuk penyembuhan

Lingga 62 kasus, Natuna 230 kasus, Karimun

dilakukan, mulai dari penanganan secara medis,

489

dan

pengaturan pola makan dan perbaikan pola

Tanjungpinang 1649 kasus (Dinkes Provinsi

hidup dengan olahraga yang teratur, akupuntur,

Kepri, 2011).

ataupun dengan penggunaan tanaman obat-

kasus,

berdasarkan

di

Bintan

337

kunjungan

kasus,

Angka penderita DM di Tanjungpinang

obatan yang lebih dikenal dengan pengobatan

setiap tahunnya meningkat dari tahun 2012

herbal. Penggunaan tanaman herbal di percaya

hingga tahun 2013. Penderita DM pada tahun

dapat memperbaiki kondisi pasien DM dengan

2012 mencapai angka 1.785 orang, sementara

konsumsi herbal yang teratur dibantu dengan

jumlah penderita DM pada tahun 2013

pola makan dan pola hidup yang teratur juga

meningkat sebanyak 1904 orang (106%)

(Suryo, 2010).

penderita dan jumlah keseluruhan penderita

Sifat

pengobatan

herbal

adalah

pada tahun 2013 mencapai 3689. Berikut

memperbaiki sistem tubuh yang rusak, yang

Prevalensi angka kunjungan penderita DM

menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan,

tahun 2013 di setiap Puskesmas di kota

maka kesembuhan suatu penyakit termasuk DM

Tanjungpinang : Puskesmas Mekar Baru

bukanlah hal yang tidak masuk akal. Saat ini

terdapat 150 kunjungan, Puskesmas Kampung

sudah banyak tanaman bermanfaat untuk

Bugis 232 kunjungan, Puskesmas Melayu Kota

melawan DM. Khasiat anti diabetik pada

Piring 294 kunjungan, Puskesmas Batu 10

tanaman tersebut telah dibuktikan secara ilmiah

sebanyak 371 kunjungan, Puskesmas Sei Jang

maupun

1393

Puskesmas

digunakan sebagai sediaan untuk mengobati

Tanjungpinang Kota 1249 kunjungan. Dari data

DM mulai fase penurunan kadar gula darah,

tersebut diketahui angka kunjungan tertinggi

pengganti insulin,

pada penderita DM di Kota Tanjungpinang

gangren yang biasanya diderita oleh penderita

terdapat pada Puskesmas Sei Jang dengan

DM ataupun untuk

kunjungan,

dan

pangkreas 494

empiris.

Beberapa

herbal

penyembuh

luka

yang

atau

memperbaiki fungsi

diantaranya

adalah

mimba,

lidah

buaya,

bradykininase, aloctin A. Aloe-emodin dan

ciplukan, daun sendok, tapak liman, mengkudu,

rhein, serta polifenol berkhasiat sebagai laksatif

buncis, pare, bungur, duwet, kacang panjang,

(pencahar/ urus-urus). Polisakarida sebagai

taoge, sambiloto, daun anting-anting, dan

penyembuh luka dan dapat mengurangi reaksi

beberapa tanaman lainnya (Suryo, 2010).

peradangan (Putra, 2013)

Salah satu tanaman herbal yang sangat

Kandungan

dari

lidah

buaya

yang

bermanfaat dan berkhasiat dalam menurunkan

dianggap mampu menurunkan kadar gula darah

kadar gula darah pada penderita DM dan

adalah kromium, inositol, vitamin A, dan getah

komplikasinya adalah lidah buaya atau Aloe

kering

Vera.

hypoglycemic (Jatnika & Saptoningsih, 2009). Lidah buaya menurut sejarahnya di bawa

lidah

buaya

yang

Berdasarkan uraian peneliti

tertarik

mengandung

permasalahan untuk

di

ke Indonesia oleh bangsa Cina pada abad ke-17.

atas,

melakukan

Semula pemanfaatan tanaman tersebut terbatas

penelitian mengenai “ Apakah Ada Pengaruh

sebagai tanaman hias,

ramuan obat-obat

Air Rebusan Lidah Buaya terhadap Penurunan

tradisional, dan bahan kecantikan. Budidaya

Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes

komersial dan perluasan penggunaan untuk

Mellitus di wilayah kerja Puskesmas Sei Jang

bahan baku produk minuman dimulai pada

tahun 2014?”

tahun 900-an, ditandai dengan dibukanya lahan BAHAN

DAN

METODE

lidah buaya di Kalimantan Barat tepatnya di PENELITIAN kota Pontianak. Beberapa daerah lainnya seperti Desain penelitian adalah model atau Palembang, Malang, dan Jawa Barat juga metode memiliki

lahan

perkebunan

lidah

yang

digunakan

peneliti

untuk

buaya melakukan suatu penelitian yang memberikan

(Kristianto,2005). arah terhadap jalannya penelitian. Desain Berdasarkan hasil penelitian, lidah buaya mngandung

bahan

kimia

seperti

aloin,

penelitian ditetapkan berdasarkan tujuan dan hipotesis penelitian.

barbaloin, isobarbaloin, aloe-emodin, aloenin,

Penelitian ini menggunakan metode

aloesin, rhein, homonatolin, aloidoside A, B;

penitian pra-eksperimen dengan rancangan one

495

group pretest posttest yaitu rancangan tanpa

lainnya. Alat pengumpulan data menggunakan

kelompok pembanding (kontrol) tetapi sudah

lembar observasi yang di dapatkan dari hasil

dilakukan observasi pertama (Pretest) yang

pengecekkan Glukometer.

memungkinkan menguji perubahan-perubahan yang

terjadi

setelah

adanya

eksperimen

(Notoatmojo, 2010).

HASIL PENELITIAN A. Analisis Univariat

Populasi penderita Diabetes Mellitus di

Merupakan analisa yang dilakukan pada

Wilayah kerja Puskesmas Sei Jang tahun 2014

tiap variabel dalam hasil penelitian. Pada

berjumlah 1393 orang. Teknik sampling yang

umumnya analisa ini hanya menghasilkan

digunakan pada penelitian ini adalah dengan

distribusi dan presentasi tiap variabel yang

menggunakan teknik purposive sampling yaitu

disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

dengan sampel pada penelitian ini berjumlah 12

1. Data gula darah sewaktu sebelum perlakuan

orang responden penderita Diabetes Mellitus. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 28 Mei

Tabel 1. Distribusi Kadar Gula Darah Sewaktu

sampai 10 Juni tahun 2014. Tempat penelitian

Sebelum Perlakuan Pada Penderita Diabetes

ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Sei

Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

Jang Tanjungpinang. Pemilihan responden berdasarkan kriteria

No Responden

Jumlah GDS

01

255 mg/dl

02

482 mg/dl

03

317 mg/dl

04

414 mg/dl

05

303 mg/dl

06

452 mg/dl

07

386 mg/dl

inklusi dan ekslusi yang telah ditentukan. Pada setiap responden diberikan perlakuan berupa air rebusan lidah buaya yang diminum pagi dan sore hari sebanyak 300 ml selama 14 hari secara teratur tanpa putus dan di cek nilai gula darah sewaktu sebelum diberikan minum air rebusan, hari ke tujuh dan hari ke lima belas, jika responden tidak minum secara teratur maka responden tersebut harus mengulang dari awal atau

mengganti

dengan

responden

yang 496

08

253 mg/dl

09

465 mg/dl

10

378 mg/dl

11

237 mg/dl

12

04

169 mg/dl

05

144 mg/dl

06

207 mg/dl

07

132 mg/dl

08

87 mg/dl

09

210 mg/dl

10

153 mg/dl

11

92 mg/dl

12

138 mg/dl

349 mg/dl

Berdasarkan

tabel

1

diatas

dapat

diketahui bahwa dari 12 orang penderita Diabetes Mellitus dengan kadar gula darah

Dari tabel 2 diatas, diketahui bahwa dari

sewaktu sebelum diberikan perlakuan diatas

12 orang penderita diabetes mellitus, dengan

normal (70-140 mg/dl). Kadar gula darah

kadar gula darah sewaktu sesudah diberikan

sewaktu paling tinggi dari data tersebut adalah

perlakuan. Kadar gula darah tertinggi yaitu

responden nomor 02 yaitu 482 mg/dl dan yang

pada nomor responden 02 (219 mg/dl) dan

paling rendah adalah responden nomor 11 yaitu

kadar gula darah terendah yaitu pada nomor 08

237 mg/dl.

(87 mg/dl).

2. Data gula darah sewaktu sesudah perlakuan

B. Hasil Analisis Bivariat Untuk melihat hubungan antara variabel

Tabel 2. Distribusi Kadar Gula Darah Sewaktu

dependen (kadar gula darah pada penderita

Sesudah Perlakuan Pada Penderita Diabetes

diabetes mellitus) dan variabel independen (air

Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Jang

No Responden

Jumlah GDS

rebusan

lidah

menggunakan

buaya). Uji

Uji

Wilcoxon

kemaknaan Test,

untuk

mengetahui nilai rata-rata antar satu kelompok

01

125 mg/dl

dengan kelompok lain, dimana antara suatu

02

219 mg/dl

kelompok lain tidak saling berhubungan yang

03

137 mg/dl

menghasilkan ρ, dengan α = 0,05.

497

Berdasarkan data dari tabel 2 dan 3,

06

452 mg/dl

dilakukan analisa data dengan menggunakan Uji Wilcoxon Test yang merupakan uji beda dua

07

386 mg/dl

sampel berpasangan. Berikut ini dalam tabel 5.5 hasil penelitian yang telah dilakukan :

08

253 mg/dl

09

465 mg/dl

Tabel 3. Distribusi adar Gula Darah

10

Sewaktu Sebelum Perlakuan Pada Penderita

378 mg/dl

Diabetes Mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas

11

Sei Jang

237 mg/dl

12 No

Jumlah

Jumlah

Rentang

P

Reponden

GDS

GDS

Penuruna

Value

Pretest

Posttest

n

255 mg/dl

125

130

mg/dl

mg/dl

219

263

mg/dl

mg/dl

137

180

mg/dl

mg/dl

169

245 mgdl

01

02

03

04

482 mg/dl

317 mg/dl

414 mg/dl

303 mg/dl

245

mg/dl

mg/dl

132

254

mg/dl

mg/dl

287

166

mg/dl

mg/dl

210

255

mg/dl

mg/dl

153

225

mg/dl

mg/dl

92

145

mg/dl

mg/dl

138

211

mg/dl

mg/dl

Dari tabel 4 diatas dapat dilihat terjadi

penurunan dari rentang GDS yang sebelumnya responden

merupakan

penderita

diabetes

mellitus yang kadar gula darah diatas normal yaitu > 140 mg/dl setelah pemberian air rebusan lidah buaya. Saat ini terdapat 6 orang dari responden mengalami penurunan mencapai kadar gula darah normal yaitu berkisar antara 70 – 140 mg/dl dan pada responden yang lain

mg/dl 05

349 mg/dl

207

mengalami penurunan yang sangat drastis,

144

159

mg/dl

mg/dl

sebanyak 2 kali lipat seperti yang terjadi pada 0,002

responden 02, 04, 06, 09, 10, 12. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Wilcoxon Test diperoleh ρ value 0,002 <

498

0,05, dengan demikian Ho ditolak. Maka dapat

Pada nomor responden 01 jumlah GDS

disimpulkan ada pengaruh air rebusan lidah

255 mg/dl, responden 02 jumlah GDS 482

buaya terhadap penurunan kadar gula darah

mg/dl, responden 03 jumlah GDS 317 mg/dl,

pada penderita diabetes mellitus di wilayah

responden 04

jumlah GDS 414

mg/dl,

kerja Puskesmas Sei Jang tahun 2014.

responden 05

jumlah GDS 303

mg/dl,

responden 06

jumlah GDS 452

mg/dl,

Setelah dilakukan penelitian awal pada

responden 07

jumlah GDS 386

mg/dl,

penderita Diabetes Mellitus di Wilayah kerja

responden 08

jumlah GDS 253

mg/dl,

Puskesmas Sei Jang terdapat 1393 jumlah

responden 09

jumlah GDS 465

mg/dl,

kunjungan penderita Diabetes Mellitus. Dalam

responden 10

jumlah GDS 378

mg/dl,

penelitian ini peneliti mengambil sampel

responden 11

jumlah GDS 237

mg/dl,

sebanyak 12 orang yang berusia 45 – 65 tahun

responden 12 jumlah GDS 349 mg/dl.

PEMBAHASAN

sebagai

kelompok

eksperimen

dengan

Saat dilakukan pemberian terapi air

menggunakan desain one group pretest-postest,

rebusan lidah buaya secara rutin pagi dan sore,

yaitu menjadikan perbandingan awal (pretest)

dilakukan pengecekkan gula darah untuk

sebagai acuan perubahan setelah dilakukan

melihat sudah sampai sejauh mana penurunan

penelitian (posttest).

kadar gula darah, di hari ke 4 dan ke 8 yang

Sebelum memberikan terapi air rebusan

bertujuan untuk mengurangi resiko yang

lidah buaya peneliti melakukan pengecekkan

mungkin terjadi seperti penurunan kadar gula

awal, ditemukan hasil kadar gula darah

darah yang berlebihan, dan dapat menyebabkan

responden secara keseluruhan berada di atas

hipoglikemia sehingga terjadi ketidaksadaran

nilai normal yaitu >140 mg/dl. Menurut ADA

diri, mual dan muntah-muntah.

(2009) terlepas dari waktu setelah makan, kadar

Pada pengecekkan terakhir hari ke 15

gula darah sewaktu 200 mg/dl (11,1 mmol/L)

terjadi penurunan kadar gula darah, dari 12

atau lebih tinggi menunjukkan diabetes,

responden yang telah berhasil mengalami

terutama bila digabungkan dengan salah satu

penurunan

yang

tanda dan gejala diabetes, seperti sering kencing

responden

dari

dan haus yang ekstrim.

penurunannya mencapai angka normal yaitu 70 499

diharapkan, 12

didapati

responden

6

yang

– 140 mg/ dl. Pada nomor responden 01 jumlah

Dari distribusi sebelum dan sesudah

GDS 255 menjadi 125 mg/dl, responden 02

pemberian air rebusan lidah buaya dapat dilihat

jumlah GDS 482 menjadi 219 mg/dl, responden

perbedaan penurunan yang signifikan hal ini

03 jumlah GDS 317 menjadi 137 mg/dl,

sesuai dengan teori yang dijelaskan dalam buku

responden 04 jumlah GDS 414 menjadi 169

Wijoyo (2012) bahwa lidah buaya merupakan

mg/dl, responden 05 jumlah GDS 303 menjadi

obat tradisional dalam mengobati diabetes

144 mg/dl, responden 06 jumlah GDS 452

mellitus. Sedangkan menurut Duke (2002)

menjadi 207 mg/dl, responden 07 jumlah GDS

kandungan yang dimiliki lidah buaya yaitu

386 menjadi 132 mg/dl, responden 08 jumlah

saponin yang bersifat anti bakteri dan jamur

GDS 253 menjadi 87 mg/dl, responden 09

serta mengurangi penyerapan glukosa pada

jumlah GDS 465 menjadi 210 mg/dl, responden

tubuh, flavonoid untuk meningkatkan produksi

10 jumlah GDS 378 menjadi 153 mg/dl,

insulin dan meregenerasi pulau Langerhans

responden 11 jumlah GDS 237 menjadi 92

Pankreas terutama sel β, polifenol sebagai anti

mg/dl, responden 12 jumlah GDS 349 menjadi

histamine atau anti alergi.

138 mg/dl. Berdasarkan

KESIMPULAN DAN SARAN tabel

5.5

di

uji

Pemberian air rebusan lidah buaya

menggunakan uji Wilcoxon Test didapatkan

terhadap

penderita

hasil yang sangat baik dengan jumlah ρ Value

mendapatkan hasil yang diharapkan, dimana

adalah 0.02, jika ρ lebih kecil maka Ho ditolak.

telah terjadi penurunan kadar gula darah,

Dengan demikian ada pengaruh air rebusan

sehingga ada pengaruh dari air rebusan lidah

lidah buaya terhadap penurunan kadar gula

buaya. Dari 12 responden yang telah berhasil

darah pada penderita diabetes mellitus di

mengalami

wilayah kerja Puskesmas Sei Jang tahun 2014.

didapati 6 responden dari 12 responden yang

penurunan

diabetes

yang

mellitus

diharapkan,

Hasil penelitian di atas sejalan dengan

penurunannya mencapai angka normal yaitu 70

penilitian yang telah dilakukan oleh Mustofa

– 140 mg/dl dan 6 orang responden berhasil

(2012) dan Endang (2006) bahwa lidah buaya

mengalami

berpengaruh untuk menurunkan kadar gula

meskipun tidak mencapai angka normal.

darah.

Namun penelitian ini telah mencapai hasil yang 500

penurunan

kadar

gula

darah

diharapkan serta maksimal karena air rebusan

Perlu dikembangkan penelitian yang

lidah buaya telah mampu menurunkan kadar

serupa untuk mengetahui dosis pasti untuk

gula darah pada 12 responden. Hal ini dapat di

menentukan

buktikan berdasarkan hasil penelitian :

diberikan untuk pasien dengan jumlah kadar

1. Sebelum diberikan air rebusan lidah buaya

gula darah yang berbeda untuk mencapai hasil

terdapat jumlah kadar gula darah yang

dosis

yang

KEPUSTAKAAN Andrianto, Tuhana Taufiq, (2011). Ampuhnya

2. Setelah diberikan air rebusan lidah buaya

Terapi Herbal Berantas Berbagai

terjadi penurunan pada penderita kadar gula darah tinggi, berkisar antara 87 mg/dl

Penyakit Berat. Yogyakarta: Najah. Anonim, (2001). Plant Remidies Aloe Vera

hingga 219 mg/dl dari 12 orang responden. 3.

besar

yang optimal.

tinggi berkisar antara 237 mg/dl hingga 482 mg/dl dari 12 orang responden.

seberapa

Research.

Ada pengaruh air rebusan lidah buaya

www.internethealthlibrary.com.

terhadap penurunan kadar gula darah pada 12 orang responden penderita diabete

Di

akses: 13 Maret 2014. Chan, Arifin, (2013). Pengaruh Air Rebusan

mellitus dengan ρ Value 0,005.

Buah

Mahkota

Dewa

Terhadap

Untuk masyarakat diharapkan mampu

Penurunan Kadar Gula Darah pada

memahami fungsi Toga, khususnya tanaman

Penderita Diabetes Mellitus di Wilayah

lidah buaya yang sebenarnya terdapat banyak di

Kerja

sekitar

Tahun 2013. Skripsi Tidak diterbitkan.

lingkungan

masyarakat

dengan

demikian angka penderita DM akan menurun jika masyarakat tahu cara pengolahannya. Diharapkan

adanya

Puskesmas

Tanjungpinang

Tanjungpinang. STIKES Hangtuah. Depkes. (2013). Wanita Lebih cenderung

sosialisasi

Diabetes

Dibanding

Pria.

penggunaan Toga khususnya tanaman lidah

www.depkes.go.id. Di akses: 16 Maret

buaya yang berguna menurunkan kadar gula

2014.

darah pada penderita diabetes mellitus pada saat

DetikHealth, (2014). Waspada Sering Lapar,

Keperawatan Komunitas.

Haus, dan Pipis Bisa jadi Gejala

501

Diabetes. www.detik.com. Di akses: 10

Misnadiarly,

maret 2014.

(2006).

Gangren,

Dharma, Kelana Kusama, (2011). Metodologi Penelitian Keperawatan. Jakarta: CV.

Diabetes

Ulcer,

Infeksi.

Mellitus Jakarta:

Pustaka Populer Obor. Ningsih, Widarti, (2012). Pengaruh Senam

Trans Info Media.

Diabetes Mellitus (DM) Terhadap

Djubaedah, E. (2003). Pengolahan lidah buaya

Penurunan Kadar Glukosa Darah pada

dalam sirup. Pra-Forum Apre2siasi dan

Penderita

Komersialisasi Hasil Riset. Balai Besar

PERSADIA

Industri Agro, Bogor.

Tanjungpinang Tahun 2012. Skripsi

Duke, (2002). Plant Contituent and Biological

Tidak

Effect Databases : Chemicals and their Biological Activities in : Aloe vera

DM

Tipe

II

Cabang

diterbitkan:

di

Unit Kota

Tanjungpinang.

STIKES Hangtuah. Notoatmodjo, Soekidjo, (2010). Metodologi

(L).www.ars-grin.gov/cgi-

Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka

bin/duke/farmacy-scroll3.pl. Di akses:

Cipta.

15 Maret 2014.

Oci, Yonita .M, (2013). Khasiat Sakti Tanaman

Furnawanthi, Irni, (2002). Khasiat dan Manfaat

Obat untuk Diabetes. Jakarta: Dunia

Lidah Buaya Si Tanaman Ajaib. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Sehat. Putra, Winkanda Satria, (2013). Sehat dengan

Jatnika, Ajat & Saptoningsih. (2009). 1001

Herbal tanpa Dokter. Yogyakarta:

Obat Herbal, cet. 1. Jakarta: Agro Media Pustaka.

Citra Media. Riyanto, Agus, (2011). Aplikasi Metodologi

Kristianto, Yohanes, (2005). Olahan Lidah Buaya,

Cet.1.

Surabaya:

Penelitian

Trubus

Agrisarana.

Kesehatan.

Yogyakarta:

Nuha Medika. Saraswati, Sylvia, (2009). Diet Sehat Untuk

Mansjoer, Arif, dkk, (2001). Kapita Selekta

Penyakit

Asamurat

Diabetes

Kedokteran Edisi Ketiga. Jakarta:

Hipertensi Dan Stroke. Yogyakarta: A

Media Aesculapius.

Plus.

502

Sari, Kumala Ruma, O.L, (2006). Pemanfaatan Obat

Tradisional

Pertimbangan

Dengan

Manfaat

dan

Keamanannya. Jurnal Ilmu Farmasi vol. III, no. 1 (hal. 1) Sunaryati, Sinta Septi, (2011). 14 Penyakit Paling Sering Menyerang dan Sangat Mematikan. Yogyakarta: Flashbooks. Suryo,

Joko,

(2010).

Penyembuh

Rahasia

Diabetes

Herbal

Edisi

2.

Yogyakarta: B First. Wati, Lidia, (2014). Panduan Penyusunan Metodologi

Riset

Keperawatan.Tanjungpinang: STIKES Hang Tuah.

Wijoyo, Padmiarso M, (2012). Cara Tuntas Menyembuhkan Herbal.

Diabetes

dengan

Jakarta:

Pustaka

Agro

STIKES

Hang

Tuah

Indonesia

1.

Mahasiswa

Tanjungpinang Prodi S1 Keperawatan. 2.

Dosen STIKES Hang Tuah Tanjungpinang.

3.

Dosen STIKES Hang Tuah Tanjungpinang.

503

PENGARUH JUS TOMAT PLUM TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA POSYANDU LANSIA CAMAR TANJUNGPINANG Ivana Arleni 1, Nur Meity 2, Zakiah Rahman3

ABSTRAK Hipertensi tidak dapat diremehkan, karena dampaknya dapat mengancam keselamatan jiwa. Tomat merupakan bahan makanan tinggi asam folat, vitamin C, dan kalium. Kandungan kalium dalam 100 gram tomat adalah 360 mg. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jus tomat plum terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja posyandu lansia camar Tanjungpinang. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu dengan rancangan non equivalent control group. Jumlah populasi sebanyak 20 orang dan sampel dipilih 10 orang menggunakan purposive sampling dengan tekanan darah 140-160 mmHg. Analisis data menggunakan uji wilcoxon dengan taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil analisis diperoleh nilai z hitung sebesar -2.000 dengan signifikansi 0,046 < 0,05. Data ini menunjukkan bahwa ada pengaruh jus tomat plum terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Disarankan agar penggunaan jus tomat plum dapat lebih dikenalkan lagi kepada penderita hipertensi di wilayah kerja posyandu lansia camar Tanjungpinang.

Kata Kunci : Jus Tomat plum, Penurunan Tekanan Darah, Hipertensi

ABSTRACT Hypertension can not be underestimated, because the impact can be life threatening. Tomato is a food ingredient with high folic acid, vitamin c, and potassium. The potassium content in 100 gram tomato is 360 mg. Objective this studi is to know the effect of tomato juice to the decrease blood pressure in patient with hypertension at working area of Camar elderly service post Tanjungpinang. This studi is an quasi experiment with non equivalent control group design. Total Population is 20 people, and sample choise 10 people use purposive sampling with blood pressure 140-160 mmHg. Analysis of data using a wilcoxon test with significance level 0,05. Based on analysis resulting z observation -2.000 with significance of 0,046 < 0,05. These data show there is influence of tomato juice to the decrease blood pressure in patient with hypertension. It is recommended to use more tomato juice was introduced again to the patient with hypertension at working area Camar elderly service Post Tanjungpinang. Keyword : Plum Tomato Juice, Blood Pressure, Hypertension

PENDAHULUAN Hipertensi tidak dapat diremehkan.

dapat menyebabkan kematian yang utama di negara-negara

maju

maupun

negara

Penyakit kardiovaskuler ini perlu mendapat berkembang. perhatian yang serius karena dampaknya WHO

(2010)

menyebutkan

bahwa

membahayakan kesalamatan jiwa. Hipertensi berdasarkan Data Global Status Report on yang tidak tertangani dengan baik dapat Noncommunicable Disesases, 40 % negara berujung pada kematian. Oleh karena itu ekonomi

berkembang

memiliki

penderita

hipertensi menjadi masalah kesehatan global hipertensi, sedangkan negara maju hanya 35 yang memerlukan perhatian khusus karena 504

%. Kawasan Afrika memegang posisi puncak

gaya hidup masyarakat seperti merokok,

penderita

%.

konsumsi alkohol yang berlebih, makanan

Sementara kawasan Amerika menempati posisi

tinggi kadar lemak, asupan natrium yang tinggi,

buncit dengan 35 %. Di kawasan Asia

kurangnya asupan kalium dan serat. Selain

Tenggara sendiri, 36 % orang dewasa

mengkonsumsi obat-obatan, penyakit darah

menderita

menurut

tinggi juga dapat di obati secara herbal, dimana

Khancit (perwakilan WHO untuk Indonesia)

yang dibutuhkan adalah buah-buahan, sayur-

pada tahun 2011 mencatat ada satu miliar

sayuran, daun-daunan, dan akar-akaran yang

orang yang terkena hipertensi

mengandung kalium, potassium, dan kalsium.

hipertensi

hipertensi.

sebanyak

Kemudian

46

Penderita hipertensi di Indonesia sendiri

Tomat merupakan bahan makanan tinggi asam

prevalensinya terus terjadi peningkatan. Hasil

folat, vitamin C, dan kalium. Kandungan

Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)

kalium dalam 100 gram tomat adalah 360 mg.

pada tahun 2004 27,5 % tercatat menderita

Kalium dapat menurunkan tekanan darah

hipertensi. Selanjutnya hasil Riset Kesehatan

dengan mengurangi natrium dalam urine dan

Dasar (RISKESDAS) yang dilakukan Badan

air dengan cara yang sama seperti deuretic.

Penelitian

dan

Kesehatan

Hasil penelitian tahun 2004 pada pasien

menunjukkan

hipertensi rawat jalan di Bandung menunjukkan

prevelensi hipertensi secara nasional mencapai

penurunan tekanan sistolik 10,28 mmHg dan

31,7%. Diperkirakan meningkat lagi menjadi

diastolik 3,49 mmHg dengan melakukan

37% pada tahun 2015 dan menjadi 42% pada

intervensi menggunakan jus tomat yang terbuat

tahun 2025. Data Kementrian Kesehatan RI

dari 150 gram tomat buah dan 5 gram gula pasir

menunjukkan pada tahun 2009 prevalensi

dengan lama intervensi 2 hari berturut-turut

hipertensi sebesar 29,6% dan meningkat

(Gunawan IZ et al, 2005). Sementara itu,

menjadi 34,1% pada tahun 2010.

penelitian yang dilakukan oleh Lestari dan

(Balitbangkes)

Tekanan

Pengembangan tahun

darah

2007

sangat

bervariasi

Ningsih (2010) menunjukkan hasil bahwa

tergantung pada keadaan, akan meningkat saat

pemberian 200 ml jus tomat (lycopersium

aktivitas fisik, emosi, dan stres, dan turun

commune) sebanyak satu kali dalam sehari

selama tidur. Hipertensi juga berkaitan dengan

selama 7 hari berpengaruh terhadap penurunan 505

tekanan darah sistolik sebesar 11.76 mmHg

METODE

(84%) dan tekanan darah diastolik sebesar 8.82

Desain penelitian yang digunakan pada

mmHg (96%) pada wanita postmenopause

penelitian

ini

berupa

desain

penelitian

hipertensif.

kuantitatif yang berbentuk eksperimen semu (

Pada tahun 2011 jumlah penderita

quasi eksperiment ) dimana desain penelitian ini

hipertensi di wilayah Provinsi Kepri yakni

merupakan suatu metode penelitian yang

sebanyak, Bintan 13%, Karimun 12%, Lingga

menguji coba suatu intervensi pada sekelompok

6%,

dan

subjek dengan atau kelompok pembanding

Tanjungpinang memiliki penderita hipertensi

namun tidak dilakukan randomisasi untuk

sebanyak

memasukkan

Batam

47%.

7%,

Natuna

Berdasarkan

15%

data

dinas

kesehatan kota Tanjungpinang pada tahun

subjek

kedalam

kelompok

perlakuan atau kontrol ( Dharma, 2011).

2012, hipertensi menempati urutan kedua dalam

Rancangan penelitian ini menggunakan

daftar 10 penyakit terbesar yang ada di wilayah

rancangan non equivalent control group yaitu

kerja puskesmas diantaranya puskesmas KM.

dalam rancangan ini, pengelompokan anggota

10 sebanyak 11%, puskesmas Kp. Bugis 13%,

sampel

puskesmas Mekar Baru 3%, Puskesmas Kota

kelompok kontrol tidak dilakukan secara

Piring 10 %, Puskesmas Pancur 28% dan

random atau acak ( Notoatmodjo, 2010).

puskesmas Sei jang memiliki jumlah warga terbanyak yang menderita hipertensi yaitu

pada

kelompok

Populasi,

sampel

eksperimen

dan

dan

teknik

sampling

sebesar 35%. Sedangkan, data penderita

Populasi dalam penilitian ini mencakup

hipertensi di puskesmas Sei Jang tahun 2013

semua Lansia yang terdaftar di posyandu lansia

periode bulan Januari yakni sebanyak 154

CAMAR Tanjungpinang, yang berjumlah 20

orang, terdiri dari 64 orang laki-laki dan 90

lansia.

orang perempuan. Berdasarkan penjelasan

Pemilihan sempel menggunakan tehnik

diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan

purposive sampling yang merupakan pemilihan

penelitian tentang “ Pengaruh Jus Tomat Plum

sampel yang di kehendaki peneliti sehingga

Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada

sempel tersebut dapat mewakili karakteristik

Penderita Hipertensi”.

populasi yang telah dikenal sebelumnya 506

(Notoatmodjo, 2010). Sampel berjumlah 10,

diberi terapi jus tomat plum. Dari tabel tersebut

dimana 5 sampel sebagai kelompok eksperimen

dapat dilihat bahwa sebelum diberi terapi jus

dan 5 orang sebagai kelompok kontrol.

tomat plum dari 5 orang responden seluruhnya menderita hipertensi katagori tinggi.

HASIL Penelitian

tentang

“Pengaruh

Jus

Tabel 2

Tomat Plum Terhadap Penurunan Tekanan

Distribusi Tekanan Darah Pre Test Terapi Jus

Darah Pada Penderita Hipertensi di Wilayah

Tomat Plum Pada Penderita Hipertensi Kelompok Kontrol Di Wilayah Kerja

Kerja Posyandu Lansia Camar Tanjungpinang Tahun 2013 “ telah dilaksanakan pada tanggal

Posyandu Lansia Camar Tanjungpinang Tahun 2013

24 Juni 2013 sampai dengan 30 Juni 2013 di wilayah

kerja

posyandu

lansia

No

Kriteria

F

%

1

normal

0

0

2

tinggi

5

5

5

50%

camar

Tanjungpinang tahun 2013. A. Analisa Univariat Jumlah keseluruhan Tabel 1 Distribusi Tekanan Darah Pre Test Terapi Jus

Pada

Tomat Plum Pada Penderita Hipertensi Kelompok Eksperimen Di Wilayah Kerja

mengenai

tabel 2 menunjukkan data tekanan

darah

pada

penderita

Posyandu Lansia Camar Tanjungpinang Tahun

hipertensi pada kelompok kontrol saat pretest.

2013

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa pada saat dilakukan pre test dari 5 orang responden

No

Kriteria

F

%

seluruhnya menderita hipertensi katagori tinggi.

1

normal

0

0

Tabel 3

2

tinggi

5

50

Distribusi Tekanan Darah Post Test Terapi Jus

5

50%

Tomat Plum Pada Penderita Hipertensi

Jumlah keseluruhan

Kelompok Eksperimen Di Wilayah Kerja

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan data

Posyandu Lansia Camar Tanjungpinang Tahun 2013

mengenai

tekanan

darah

pada

penderita

hipertensi pada kelompok eksperimen pretest 507

No

Kriteria

F

%

dilakukan post test dari 5 orang responden 40%

1

normal

4

40

menderita hipertensi tinggi.

2

tinggi

1

10

Jumlah

5

50%

B. Analisa Bivariat Tabel 5 Analisis Pengaruh Jus Tomat Plum

keseluruhan

TerhadapTekanan Darah Pada Penderita

Berdasarkan tabel 3 menunjukkan data

Hipertensi Kelompok eksperimen Di Wilayah Kerja Posyandu Lansia Camar Tanjungpinang

mengenai

tekanan

darah

pada

penderita Tahun 2013

hipertensi pada kelompok eksperimen posttest diberi terapi jus tomat plum. Dari tabel tersebut No

dapat dilihat bahwa setelah diberi terapi jus

Pre

Post

test

test

statistik

Kriteria

tomat plum dari 5 orang responden sebagian 1

normal

0

4

2

tinggi

5

1

0,046

besar mengalami penurunan tekanan darah. Tabel 4 Distribusi Tekanan Darah Post Test Pada

Hasil perhitungan yang diperoleh dari

Penderita Hipertensi Kelompok Kontrol Di

pengolahan data dari 5 orang responden

Wilayah KerjaPosyandu Lansia Camar

menunjukkan bahwa hasil uji wilcoxon dapat

Tanjungpinang Tahun 2013

dilihat nilai p value yang diperoleh adalah No

Kriteria

F

%

0,046. Keputusannya adalah jika p ≤ 0,05 maka

1

normal

1

10

Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa Ho

2

tinggi

4

40

ditolak artinya ada pengaruh pemberian jus

Jumlah keseluruhan

5

50%

tomat plum terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja

Pada tabel 4 menunjukkan data mengenai

posyandu lansia camar Tanjungpinang. Tabel 6

tekanan darah pada penderita hipertensi pada

Analisis Pengaruh Jus Tomat Plum

kelompok kontrol saat post test. Dari tabel

TerhadapTekanan Darah Pada Penderita

tersebut

dapat

dilihat

bahwa

pada

saat 508

Hipertensi Kelompok Kontrol Di Wilayah Kerja

responden mengalami hipertensi katagori tinggi

Posyandu Lansia Camar Tanjungpinang Tahun

(≥140 mmHg).

2013

No

Hipertensi atau tekanan darah tinggi

Pre

Post

test

test

statistik

Kriteria

1

normal

0

1

2

tinggi

5

4

berarti ada tekanan tinggi di dalam pembuluh darah arteri. Tekanan darah dikatakan normal

0,317

pada angka 120/80 mmHg. Tekanan darah antara 120/80 mmHg dan 139/89 mmHg disebut prehipertensi. Lebih dari 140/90 mmHg

Hasil perhitungan pengolahan data dari

sudah tergolong hipertensi.

5 orang responden menunjukkan bahwa hasil

Menurut Najammudin (2010) gangguan

uji wilcoxon dapat dilihat nilai p value yang

kardiovaskuler sangat dipengaruhi juga dengan

diperoleh adalah 0,317. Keputusannya adalah

proses menua. Hal ini pada akhirnya juga akan

jika p > 0,05 maka Ho gagal ditolak. Hal ini

menyebabkan perubahan pada fisiologi jantung.

menunjukkan bahwa Ho gagal ditolak artinya

perubahan-perubahan normal pada jantung

tidak ada pengaruh pemberian jus tomat plum

meliputi kekuatan otot jantung berkurang,

terhadap

pada

elastisitas dinding pembuluh darah berkurang

penderita hipertensi kelompok kontrol di

dan kemampuan memompa dari jantung harus

wilayah

bekerja lebih keras sehingga terjadi hipertensi.

penurunan

kerja

tekanan

posyandu

darah

lansia

camar

Tanjungpinang. PEMBAHASAN

B. Tekanan Darah Kelompok Eksperimen Setelah Diberi Terapi Jus Tomat Plum

A. Tekanan Darah Pre Test Pada Penderita

Tekanan darah responden yang awalnya

Hipertensi Kelompok Eksperimen dan

dengan katagori tinggi, setelah diberi terapi jus

Kelompok Kontrol

tomat sebagian besar mengalami penurunan

Berdasarkan hasil pengukuran tekanan

tekanan

darah

menjadi

katagori

rendah

darah sebelum diberi terapi jus tomat plum pada

(normal). Dapat disimpulkan bahwa terapi jus

penderita hipertensi kelompok eksperimen dan

tomat plum yang diberikan memberi pengaruh

kontrol dapat disimpulkan bahwa keseluruhan

terhadap penurunan tekanan darah.

509

Tomat dapat menurunkan tekanan darah tinggi

secara

alami

karena

normal dengan melakukan berbagai macam

mengandung

cara. Contohnya, dengan mengonsumsi obat-

magnesium dan kalsium yang tinggi. Selain itu,

obatan yang diresepkan dokter, dengan cara

tomat juga merupakan sumber likopen handal

mengonsumsi buah-buhan dan sayuran yang

yang bermanfaat untuk menurunkan tekanan

dapat menurunkan tekanan darah, menerapkan

darah. Likopen adalah karotenoid yang tidak

pola pikir seimbang, menerapkan pola hidup

memiliki efektivitas sebagai pro vitamin A,

sehat dan lain-lain (Nisa, 2012).

tetapi memiliki khasiat lain yang bermanfaat bagi kesehatan. Pigmen merah-jingga ini

D. Pengaruh Jus Tomat Plum Terhadap

merupakan antioksidan yang sangat baik untuk

Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita

melindungi sel dari radikal bebas yang larut

Hipertensi Kelompok Eksperimen Di

dalam lemak, termasuk peroksida lipid yang

Wilayah Kerja Posyandu Lansia Camar

menyebabkan kerusakan arteri sehingga dapat

Tanjungpinang Tahun 2013

mencegah hipertensi (Sutomo, 2009).

Hasil yang diperoleh dari pengolahan

C. Tekanan Darah Post Test Pada Penderita

data didapat hasil 0,046 (p < 0,05), ini

Hipertensi Kelompok Kontrol

menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian

Tekanan darah pada penderita hipertensi

jus tomat plum terhadap penurunan tekanan

kelompok kontrol saat pos test mayoritas masih

darah pada penderita hipertensi di wilayah kerja

bertekanan darah katagori tinggi, dikarenakan

posyandu lansia camar Tanjungpinang tahun

pada kelompok ini tidak diberikan perlakuan.

2013.

Pengobatan pada penderita hipertensi

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan

memang dilakukan secara teratur dan diberikan

ada pengaruh positif pemberian jus tomat plum

selama hidupnya. Bila tidak diobati, dalam

terhadap penurunan tekanan darah. Tomat yang

jangka waktu yang lama bisa mengakibatkan

diberikan untuk terapi adalah tomat jenis plum.

komplikasi atau sakit yang lebih parah

Tomat plum dipilih karena umumnya tomat

(Sudarmoko, 2010).

jenis ini dipakai untuk tumisan dan masakan

Penderita penyakit darah tinggi dapat

yang membutuhkan waktu memasak yang

menurunkan tekanan darahnya pada keadaaan

relatif lama seperti membuat saos tomat dan 510

diolah sebagai jus tomat. Jus tomat yang diberikan

yaitu

sebanyak

200ml dengan

kekentalan 60% selama 7 hari sekali satu kali.

Penelitian serupa juga dilakukan di Wonorejo. Penelitian ini dilakukan selama 2 hari dan responden diukur tekanan darahnya 5

Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa

menit sebelum konsumsi jus tomat, dan 30, 60,

Tomat merupakan bahan makanan tinggi asam

90 menit setelah konsumsi jus tomat. Hasil uji

folat, vitamin C, dan kalium. Kandungan kalium

analisa statistik menunjukkan ada pengaruh

dalam 100 gram tomat adalah 360 mg. Kalium

pemberian jus tomat terhadap penurunan

dapat menurunkan tekanan darah dengan

tekanan darah sistolik dan diastolik dan

mengurangi natrium dalam urine dan air dengan

penurunan terbesar pada 30 menit setelah

cara yang sama seperti deuretic ( Nisa, 2012).

pemberian jus tomat (Raharjo, 2007).

Hasil penelitian ini didukung oleh

E. Pengaruh Jus Tomat Plum Terhadap

penelitian lainnya seperti penelitian pada tahun

Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita

2004 pada pasien hipertensi rawat jalan di

Hipertensi Kelompok kontrol Di Wilayah

Bandung menunjukkan penurunan tekanan

Kerja Posyandu Lansia Camar

sistolik 10,28 mmHg dan diastolik 3,49 mmHg

Tanjungpinang Tahun 2013

dengan melakukan intervensi menggunakan jus

Hasil yang diperoleh dari pengolahan

tomat yang terbuat dari 150 gram tomat buah

data kelompok kontrol didapat hasil 0,317 (p <

dan 5 gram gula pasir dengan lama intervensi 2

0,05), ini menunjukkan bahwa tidak ada

hari berturut-turut (Gunawan IZ et al, 2005).

pengaruh pemberian jus tomat plum terhadap

Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh

penurunan tekanan darah pada penderita

Lestari dan Ningsih (2010) menunjukkan hasil

hipertensi di wilayah kerja posyandu lansia

bahwa

tomat

camar Tanjungpinang tahun 2013. Tidak

(lycopersium commune) sebanyak satu kali

adanya pengaruh pemberian jus tomat plum

dalam sehari selama 7 hari berpengaruh

terhadap

terhadap penurunan tekanan darah sistolik

penderita

sebesar 11.76 mmHg (84%) dan tekanan darah

dikarenakan pada kelompok ini tidak diberikan

diastolik sebesar 8.82 mmHg (96%) pada

perlakuan (terapi jus tomat plum) kelompok ini

wanita postmenopause hipertensif.

hanya sebagai pembanding.

pemberian

200

ml

jus

511

penurunan hipertensi

tekanan

darah

kelompok

pada kontrol

KESIMPULAN DAN SARAN

Dahlan M Sopiyudin, (2009). Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan.

Dari hasil penelitian mengenai pengaruh

Jakarta : Salemba Medika

jus tomat terhadap penurunan tekanan darah dapat disimpulkan bahwa mayoritas penderita

Dharma

kelana

kusama,

(2011).

hipertensi yang ada di wilayah kerja posyandu

Metodologi

lansia camar mengalami penurunan tekanan

Keperawatan. Jakarta : Trans Info Media

darah setelah diberi terapi selama 7 hari sekali. Maka disarankan jus tomat plum dapat lebih dikenalkan

sebagai

obat

Dr. Setiawan Dalimarta. (2005). Atlas

nonfarmakologis

Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3.

dalam pengobatan tekanan darah tinggi.

Jakarta: Puspa Swara Gray Huan H, Dawkind Keith D, Simpson

DAFTAR PUSTAKA

Iain A, & Morgan Jhon M. (2005).

Anjdati Soeria, (2013). 101 Resep Ampuh

Lecture Notes Kardiologi. Jakarta :

Sembuhkan Asam Urat, Hipertensi

Erlangga

dan Obesitas. Yogjakarta: Aroska

Anne Selby, (2005). Makanan Berkhasiat :

Intan Nisa, (2012). Ajaibnya Terapi Herbal Tumpas Penyakit Darah Tinggi.

25 Makanan Bergizi Super untuk

Jakarta: Dunia Sehat

Kesehatan Prima. Jakarta: Erlangga

Apriany Rista Emiria Afrida, Tatik Mulyati

Julianti D.E , S.P, Nunung Nurjanah, S.P, & Soetrisno Uken S.S, PhD. (2005).

(2012). Asupan Protein, Lemak

Bebas Hipertensi dengan Terapi

Jenuh, Natrium, Serat dan IMT

Jus. Jakarta: Puspa Swara

Terkait dengan Tekanan Darah Pasien

Hipertensi.

Penelitian

Jurnal

of

Nutrition College vol. 1, no. 1 (hal

Lestari

A.P,

Rahayuningsih

(2012).

Pengaruh Pemberian Jus Tomat

700-714)

(Lycopersicum commune) terhadap Tekanan

Budi Sutomo, (2009). Menu Sehat Penakluk Hipertensi.

Jakarta:

Darah

Wanita

Postmenopause Hipertensif. Jurnal

Demedia

of Nutrition College vol. 1, no. 1

Pustaka

(hal 26-37)

512

Lidia Wati, S.Kep, Ns, Soni Hendra S.Kep,

3

Ns, & Nur Meity S.A, S.Kep, Ns,

STIKES Hang Tuah Tanjungpinang

M.Kep, CWT (2013). Panduan Penyusunan

Metodologi

Keperawatan.

Riset

Tanjungpinang.

Stikes Hang Tuah.

Lingga

Lanny

Phd,

(2012).

Bebas

Hipertensi tanpa Obat. Jakarta: Agro Media Pustaka

Muhammad Najamuddin, (2010). 100 Tanya-Jawab Kesehatan Harian untuk Lansia. Yogjakarta. Tunas Publishing

Notoatmodjo Soekidjo, (2010). Metodologi Penelitian

Kesehatan.

Jakarta:

Rineka Cipta

Potter A. Patricia, RN, BSN, MSN & Perry Griffin Anne, RN, BSN, MSN, Edp, (2005). Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktik, Edisi 4 Volume 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC

1

Mahasiswa S1 Keperawatan Hang Tuah Tanjungpinang.

2

Dosen Program Studi Ilmu Keperawatn

Dosen Program Studi Ilmu Keperawatn STIKES Hang Tuah Tanjungpinang.

513

PEDOMAN BAGI PENULIS JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG Umum Semua naskah yang dikirim ke Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Tanjungpinang adalah karya asli dan belum pernah di publikasikan sebelumnya. Artikel yang telah diterbitkan menjadi hak milik redaksi dan naskah tidak boleh diterbitkan dalam bentuk apapun tanpa persetujuan redaksi. Pernyataan di artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaktur akan mempertimbangkan agar penulis memperbaiki isi dan gaya serta tehnik penulisan apabila diperlukan. Artikel yang tidak di terbitkan akan di kembalikan jika disertai perangko balasan.

Petunjuk Penulisan 1.

Jenis artikel yang di terima redaksi adalah: ulasan tentang ilmu pengetahuan, teknologi, dan riset keperawatan. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau inggris dengan format essay. Format terdiri atas : : berisi latar belakang, masalah, tujuan penelitian. Pendahuluan : berisi desain penelitian, desain tempat dan waktu, populasi dan sampel, cara Metodologi pengukuran data. Hasil: dapat disajikan dalam bentuk tekstular, tabular, dan grafikal.Berikan kalimat pengantar untuk menerangkan tabel dan atau gambar yang disajikan dalam tabel atau gambar. : berisi pembahasan mengenai hasil penelitian yang di temukan, band ingkan hasil Hasil tersebut dengan penelitian lain. Dan Pembahasan : berisi pembahasan mengenai hasil penelitian yang ditemukan, bandi ngkan hasil Daftar Pustaka tersebut dengan penelitian lain. 2. Sistemika artikel hasil pemikiran adalah judul; nama penulis (tanpa gelar akademik); abstrak; kata kunci; pendahuluan (tanpa judul) yang berisi latar belakang, tujuan atau ruang lingkup tulisan; bahasan utama; kesimpulan dan saran; daftar rujukan (hanya memuat sumber yang dirujuk). 3. Halaman judul berisi judul karya tulis ilmiah, nama setiap penulis, dan lembaga afiliasi penulis, nama dan alamat korespondensi. Nomor telepon, alamat faksimile dan e-mail. Judul singkat dengan jumlah maksimal 40 karakter termasuk huruf dan spasi. Untuk laporan kasus penulis sebaiknya di batasi 4 orang. 4. Abstrak untuk artikel penelitian, tinjauan pustaka, dan laporan kasus dibuat dalam bahasa Indonesia dan inggris maksimum 200 kata. Artikel penelitian harus berisi tujuan penelitian, metode, hasil utama, dan kesimpulan utama. Abstrak dibuat jelas dan singkat sehingga memungkinkan pembaca memahami tentang aspek baru dan penting tanpa harus membaca seluruh karya tulis ilmiah. Kata kunci dicantumkan pada halaman yang sama dengan abstrak. Pilih 3-5 kata yang dapat membantu penyusun indeks.Dalam artikel yang terbit, abstrak akan diubah menjadi satu alinea. 5. Setiap tabel diketik 1 spasi. Nomor tabel berurutan sesuai dengan penyebutan tabel dalam teks. Penjelasan tabel harus singkat, jelas, dan mewakili isi tabel. Jumlah tabel maksimal 6 buah. 6. Metode statistik di jelaskan secara rinci pada bagian metode. Metode yang tidak umum di gunakan harus di lampiri referensi. 7. Perujukan dan pengutipan menggunakan teknik perujukan berkurung (nama, tahun). Pencantuman sumber pada kutipan langsung hendaknya disertai keterangan tentang nomor halaman tempat asal kutipan. Contoh: (Novia, 2009:12). 8. Daftar rujukan disusun dengan sistem APA (American Psychological Association). 9. Tata letak penulisan karya tulis ilmiah; termasuk tabel, daftar pustaka, dan gambar harus di ketik 2 spasi ukuran A4 dengan jarak dari tepi minimal 2,5cm, jumlah halaman masing-masing 20. Setiap halaman diberi nomor berurutan dimulai dari halaman judul sampai halaman terakhir. 10. Karya ilmiah yang dikirim berupa karya tulis asli dan 2 buah fotokopi termasuk foto serta soft copy dalam bentuk CD dialamatkan ke Sekretariat Redaksi , Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah , Jl. Baru Bt.VIII, Tanjungpinang 29111, Kep. Riau. Karya tulis ilmiah yang dikirim ke Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah di sertai tanda tangan penulis.

KRITERIA PENILAIAN AKHIR DAN PETUNJUK PENGIRIMAN Lampirkan fotokopi format ini bersama naskah dan soft copy naskah anda. Beri tanda (√) pada setiap nomor /bagian untuk meyakinkan bahwa artikel anda telah memenuhi bentuk dan sesuai syarat-syarat dari Jurnal keperawatan STIKES Hang Tuah.  Jenis Artikel  Penelitian  Ulasan artikel  Ringkasan

 Laporan kasus  Penelitian klinis  Tinjauan pustaka  Lembar Metodologi  Halaman Judul  Judul Artikel  Nama lengkap penulis  Tingkat pendidikan penulis  Asal institusi penulis  Alamat lengkap penulis  Abstrak  Abstrak dalam Bahasa Indonesia  Abstrak dalam Bahasa Inggris  Kata kunci dalam Bahasa Indonesia  Kata kunci dalam Bahasa Inggris  Teks Artikel mengenai penelitian klinis dan dasar sebaiknya dibuat dalam urutan  Pendahuluan  Bahan dan Cara  Hasil  Diskusi  Kesimpulan  Kepustakaan  Gambar dan Tabel  Pemberian nomor gambar dan/atau tabel penomoran secara Arab  Pemberian judul tabel dan/atau judul utama dari seluruh gambar



 Nama dan alamat untuk percetakan ulang ………………………………………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………  Soft Copy Penulis menjamin bahwa:  Semua penulis telah meninjau ulang naskah akhir dan telah menyetujui untuk dipublikasikan.  Tidak ada naskah yang sama ataupun mirip, yang telah dibuat oleh penulis dan telah dipublikasikan dalam bentuk apapun.  Menyerahkan soft copy dalam bentuk CD, naskah penulis Tanda tangan penulis utama:

……………………………….

Tgl…………………20………..

FORMULIR BERLANGGANAN JURNAL KEPERAWATAN STIKES HANG TUAH TANJUNGPINANG Nama    Alamat

:……………………………………………………………………………………… Mahasiswa Individu Instansi :………………………………………………....................................................................... …………………………………………………………………............................... Telp: …………………………………………………..............................................

Akan berlangganan Jurnal Keperawatan, Vol..............: No:……………………..s/d…………………………………… Sejumlah : ………………………….Eksp./ penerbitan Uang langganan setahun Rp…………………………(2 nomor) dapat ditransfer ke Rekening No……………….., Bank……………a/n………………………………………….. Alamat Redaksi Jurnal Keperawatan STIKES Hang Tuah Tanjungpinang: Jl. Nala No.1 Tanjungpinang 29111, Kep.Riau Telp / fax (0771) 316516 Pelanggan

Tgl. Pesanan :…………………….

…………………..