KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM PENDIDIKAN

Ingat komunitas malaikat pernah memprotes terhadap kekhalifahan manusia dimuka bumi. Dalam ayat lain tertulis: ”Hai orang-orang yang beriman, ta`atila...

0 downloads 13 Views 626KB Size
100

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DALAM PENDIDIKAN Junaidah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN Raden Intan Lampung

Abstrak Kepemimpinan (Leadership) merupakan salah satu persoalan yang sangat penting bagi terlaksananya fungsi- fungsi manajemen. Permasalahan pemimpin dalam Islam sangat penting untuk dibahas dan selalu menjadi persoalan yang menarik pada setiap zaman. Dalam perspektif Islam, pemimpin merupakan hal cukup fundamental dalam tatanan sosial. Ia menempati posisi tertinggi dalam bangunan masyarakat. Ibarat kepala dari seluruh tubuh, peranannya sangat menentukan perjalanan dalam mewujudkan kemaslahatan umat. Tak hanya kemaslahatan dunia, seorang pemimpin juga memiliki tanggung jawab besar untuk mengatur serta mengawasi tegaknya syari’at Allah. Pemimpin Pendidikan menempati posisi yang sama pentingnya dengan pemimpin negara maupun agama. Kepemimpinan itu esensinya adalah pertanggungjawaban. Pengertian umum pemimpin pendidikan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Tujuan penelitian ini ingin mendeskripsikan kepemimpinan dalam pendidikan yang sesuai dengan tuntutan era desentralisasi pendidikan. Adapun jenis penelitian yakni penelitian pustaka, pendekatan penelitian adalah kualitatif. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kepemimpina n yang sesuai dengan tuntutan desentralisasi dan otonomi pendidikan adalah model kepemimpinan transformasional, karena merupakan salah satu solusi krisis kepemimpinan terutama dalam bidang pendidikan. Kata kunci: kepemimpinan, transformasional, pendidikan.

101 A. Pendahuluan Kepemimpinan memang merupakan suatu topik bahasan yang klasik, sudah sangat tua usianya namun tetap sangat menarik untuk dikupas karena sangat menentukan berlangsungnya suatu organisasi. Kepemimpinan itu esensinya adalah pertanggungjawaban. Masalah kepemimpinan masih tetap menarik untuk diungkap karena tiada habisnya untuk dibahas di sepanjang peradaban umat manusia. Terlebih pada saat sekarang ini sedang ramai persoalan menentukan pemimpin. Ibaratnya, kita semakin sulit mencari pemimpin yang baik (good leader). Pemimpin yang baik sebenarnya pemimpin yang mau berkorban dan peduli untuk orang lain serta bersifat melayani. Kepemimpinan (Leadership) merupakan salah satu persoalan yang sangat penting bagi terlaksananya fungsi- fungsi manajemen. Pengertian umum pemimpin pendidikan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Dalam perspektif Islam, pemimpin merupakan hal cukup fundamental dalam tatanan sosial. Ia menempati posisi tertinggi dalam bangunan masyarakat. Ibarat kepa la dari seluruh tubuh, peranannya sangat menentukan perjalanan dalam mewujudkan kemaslahatan umat. Tak hanya kemaslahatan dunia, seorang pemimpin juga memiliki tanggung jawab besar untuk mengatur serta mengawasi tegaknya syari’at Allah. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Namun dalam perjalanannya, manusia senantiasa dibelenggu dan digoda oleh setan agar berpaling dari pengabdian tersebut. Sehingga Allah Ta’ala mengutus para nabi dan rasul-Nya untuk memimpin manusia agar senantiasa taat kepada Allah. Setelah penutup para nabi wafat, maka tugas memimpin tersebut berpindah ke pundak para imam (khalifah) kaum Muslimin. Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkamus Sulthaniyah, berkata, “Kepemimpinan adalah pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengannya.” Pemimpin dan kepemimpinan merupakan persoalan keseharian dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, berusaha, berbangsa dan bernegara. Kemajuan dan kemunduran masyarakat, organisasi, usaha, bangsa dan megara antara lain dipengaruhi oleh para pemimpinnya. Oleh karena itu sejumlah teori tentang pemimpin dan kepemimpinanpun bermunculan dan kian berkembang. Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia, telah meletakkan persoalan pemimpin dan kepemimpinan sebagai salah satu persoalan pokok dalam ajarannya. Beberapa pedoman atau panduan telah digariskan untuk melahirkan kepemimpinan yang diridai Allah SWT, yang membawa kemaslahatan, menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat kelak. Sejarah Islam telah membuktikan pentingnya masalah kepemimpinan ini

102 setelah wafatnya Baginda Rasul. Para sahabat telah memberi penekanan dan keutamaan dalam melantik pengganti beliau dalam memimpin umat Islam. Umat Islam tidak seharusnya dibiarkan tanpa pemimpin. Sayyidina Umar R.A pernah berkata, “Tiada Islam tanpa jamaah, tiada jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa taat”. Allah SWT telah memberi tahu kepada manusia, tentang pentingnya kepemimpinan dalam Islam, sebagaimana dalam Al-Quran kita menemukan banyak ayat yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan, diantaranya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al Baqarah: 30) Ayat ini mengisyaratkan bahwa khalifah (pemimpin) adalah pemegang mandat Allah SWT untuk mengemban amanah dan kepemimpinana langit di muka bumi. Ingat komunitas malaikat pernah memprotes terhadap kekhalifahan manusia dimuka bumi. Dalam ayat lain tertulis: ”Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah SWT dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa: 59) Ayat ini menunjukan ketaatan kepada ulil amri (pemimpin) harus dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT dan rasulnya. Pada hakikatnya setiap manusia adalah seorang pemimpin dan setiap orang akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Manusia sebagai pemimpin minimal harus mampu memimpin dirinya sendiri. Dalam lingkungan organisasi harus ada pemimpin yang secara ideal dipatuhi dan disegani oleh bawahannya. Kepemimpinan dapat terjadi melalui dua bentuk, yaitu: kepemimpinan formal (formal leadership) dan kepemimpinan informal (informal leadership). Kepemimpinan formal terjadi apabila dilingkungan organisasi jabatan otoritas formal dalam organisasi tersebut diisi oleh orang-orang yang ditunjuk atau dipilih melalui proses seleksi, sedang kepemimpinan informal terjadi, di mana kedudukan pemimpin dalam suatu organisasi diisi oleh orang-orang yang muncul dan berpengaruh terhadap orang lain karena kecakapan khusus atau berbagai sumber yang dimilikinya dirasakan mampu memecahkan persoalan organisasi serta memenuhi kebutuhan dari anggota organisasi yang bersangkutan. Dalam pandangan Islam kepemimpinan tidak jauh berbeda dengan model kepemimpinan pada umumnya, karena prinsip-prinsip dan sistem-sistem

103 yang digunakan terdapat beberapa kesamaan. Kepemimpinan dalam Islam pertama kali dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kepemimpinan Ras ulullah tidak bisa dipisahkan dengan fungsi kehadirannya sebagai pemimpin spiritual dan masyarakat. Prinsip dasar kepemimpinan beliau adalah keteladanan. Dalam kepemimpinannya mengutamakan uswatun hasanah pemberian contoh kepada para sahabatnya yang dipimpin. Rasulullah memang mempunyai kepribadian yang sangat agung, hal ini seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an:

َ‫ك َ َلعَ َلىَ َ ُخلُقَ َ َع ِظيم‬ ََ ‫َوإ ِ َّن‬

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”. (Q. S. al-Qalam: 4) Dari ayat di atas menunjukkan bahwa Rasullullah memang mempunyai kelebihan yaitu berupa akhlak yang mulia, sehingga dalam hal memimpin dan memberikan teladan memang tidak lagi diragukan. Kepemimpinan Rasullullah memang tidak dapat ditiru sepenuhnya, namun setidaknya sebagai umat Islam harus berusaha meneladani kepemimpinan-Nya. Berikut hadit-hadits yang menjelaskan tentang tanggugn jawab seorang pemimpin dan penjelasannya, diantaranya:

Artinya : “Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya.” (HR: bukhary, muslim) Pada hakekatnya untuk menjadi seorang pemimpin itu tidak semudah seperti membalikan telapak tangan seorang pemimpin itu harus mempunya i jiwa kepemimpinanya, jiwa pemimpin itu tidak semua orang memilikinya, kebanyakan manusia itu pada umumnya tidak punya jiwa kepemimpinan terutama dalam mempin yang bersifat umum, seperti untuk menjadi seorang pemimpin rakyat dan negara. Ketika seseorang mempunyai jiwa kepemimpinan, maka dia itu akan merasa bertanggung jawab atas apa yang

104 telah dia lihat, ucapkan dan diperbuat. Untuk mempunyai jiwa kepemimpinan seseorang harus merasakan dan mengetahui apakah dirinya itu dapat meminpin dirinya sendiri, terutama mempin dirinya kepada jalan yang benar. Selain daripada itu, untuk menambahkan jiwa kepemimpinan, sesorang itu harus bergaul dengan orang yang sudah berpengalaman dalam bermimpin. Dan jiwa pemimpin itu didapat ketika kita dapat memberanikan diri dalam menegakan kebenaran, dan memberantas kemadharatan. Setelah seseorang sudah memiliki jiwa kepemimpinan dia itu akan mencoba terjun dan mencobanya, dengan memiliki kaykinan yang besar, dan pengetahuan yang maksimal, dapat dipercaya baik perkataan, maupun perbuatannya, maka dia akan merasa hebat dan bisa untuk menjadi seorang pemimpin yang adil. Persoalan pemimpin di sebuah lembaga organisasi seperti lembaga pendidikan yang kompleks dan unik, perlu tingkat koordinasi yang tinggi. Untuk membantu organisiasi dapat berjalan sesuai arah tujuannya, diperlukan esensi pemikiran yang teoretis, seperti pemimpin harus bisa memahami teori organisasi formal yang bermanfaat untuk menggambarkan kerja sama antara struktur dan hasil. Oleh sebab itu dikatakan keberhasilan pendidikan juga sangat ditentukan oleh keberhasilan pemimpin pendidikan dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di lembaganya. Seperti contoh, kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang berpengaruh dalam meningkatkan kinerja guru. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Hal tersebut menjadi lebih penting sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien. Dalam perannya sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah harus dapat memperhatikan kebutuhan dan perasaan orang-orang yang bekerja sehingga kinerja guru selalu terjaga. Dalam suatu organisasi, unsur manusia menjadi salah satu sumber penentu bagi perubahan dan jalannya organisasi tersebut. Pada konteks ini manusia difahami sebagai alat pencapai tujuan, juga sebagai salah satu target. Artinya, manusialah yang mengggerakkan organisasi, dan manusia pula yang menjadi tujuan, entah kesejahteraannya ataupun tingkat pemahamannya. Terkait dengan keberhasilan proses organisasi, maka unsur pemimpin memegang peranan yang sangat penting. Kepemimpinan (leadership) dalam suatu organisasi, lembaga atau institusi mempunyai peranan yang sangat penting. Karena tanpa adanya kepemimpinan, kumpulan orang dan sistem kerja yang ada didalamnya hanya akan merupakan suatu kumpulan yang tidak berarti. Dengan demikian tujuan organisasi yang telah direncanakan dengan matang tidak akan tercapai. Ada pendapat yang mengatakan bahwa kesuksesan atau kegagalan yang dialami sebagian besar organisasi ditentukan oleh kualitas kepemimpinan, yang diserahi tugasnya mampu atau tidak dalam memimpin organisaasi tersebut. Lembaga pendidikan adalah merupakan salah satu dari

105 sekian banyak organisasi, yang dalam kegiatan sehari- hari tidak lepas dari peran seorang pemimpin untuk mengendalikan jalannya proses pendidikan agar tujuan pendidikan yang telah diprogramkan dapat tercapai dengan sebaikbaiknya. Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen yaitu merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Adapun tujuan penulisan ini yakni menguraikan tentang kepemimpinan transformasional dalam pendidikan. B. Metode Penelitian Penelitian ini mengkaji dan mendeskripsikan tentang kepemimpinan dalam pendidikan, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Kualitatif Menurut Bogdan dan Taylor yang dikutip oleh Moleong, merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang dan perilaku yang diamati. ( Lexy J Moleong,2005:4). Adapun alasan penelitian ini menggunakan kualitatif adalah karena dalam penelitian ini data yang dihasilkan berupa data deskriptif kualitatif yang diperoleh dari datadata yang berupa tulisan, kata-kata dan dokumen maupun literatur. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian pustaka, penulis berupaya mengumpulkan literatur relevan dengan persoalan kepemimpinan dalam pendidikan. Analisa data menempuh langkah-langkah deskriptif analisis. C. Konsep Kepemimpinan dalam Pendidikan Kepemimpinan berasal dari kata "pimpin" yang berarti tuntun, bina atau bimbing. Pimpin dapat pula berarti menunjukan jalan yang baik atau benar, tetapi dapat pula berarti mengepalai pekerjaan atau kegiatan. Dengan demikian, kepemimpinan adalah hal yang berhubungan dengan proses menggerakkan, memberikan tuntutan, binaan dan bimbingan, menunjukkan jalan, memberi keteladanan, mengambil resiko, mempengaruhi dan meyakinkan pihak lain. Ada banyak definisi mengenai kepemimpinan, beberapa diantaranya: 1. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir dalam rangka usaha untuk mencapai tujuan kelompok (Stogdill). 2. Drs. Ngalim Purwanto berpendapat bahwa Kepemimpinan adalah tindakan/perbuatan di antara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan baik orang seorang maupun kelompok maju ke arah tujuan-tujuan tertentu. 3. Menurut sumber dari seorang ahli yang mendefinisikan kepemimpinan, seperti: George R. Terry (1977 : 410 – 411), yang mengatakan bahwa:“Leadership is the relationship in which one person or the leader, influence other to work together willingly on related task to attain that which the leader desires” kepemimpinan

106 adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang untuk bersedia berusaha mencapai tujuan bersama. 4. Andrew Sikula (1992 : 117), yang mengatakan bahwa:“Leadership in an administration process that involves directing the affairs and actions of others”. 5. Koontz & O’donnel, mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan kelompoknya. 6. Wexley & Yuki (1977), kepemimpinan mengandung arti mempengaruhi oranglain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubahtingkah laku mereka. Kepemimpinan adalah kemampuan seni mempengaruhi tingkah laku manusia dan kemampuan untuk membimbing beberapa orang untuk mengkordinasikan dan mengarahkan dengan maksud dan tujuan tertentu. Untuk dapat menggerakkan beberapa orang pelaksana, seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibandingkan orang yang dipimpinnya misalnya kelebihan dalam menggunakan pikirannya, rohaniah, dan badaniah. Agar dapat menggunakan kelebihanya tersebut, seorang pemimpin suatu organisasi difasilitasi dengan apa yang disebut dengan tugas dan wewenang. Wewenang seorang pemimpin adalah hak untuk menggerakkan orang atau bawahannya supaya suka mengikutinya atau menjalankan tugas yang diperintah kepadanya. Sebagaimana telah diuraikan pada terdahulu, bahwa kepemimpinan merupakan salah satu kunci utama yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan efektivitas kerja dalam organisasi perusahaan. Apabila pemimpin tidak dapat menjalankan dan mengkoordinir semua sumber daya yang ada di perusahaan maka akan menimbulkan masalah besar, karena dapat mengakibatkan sasaran yang telah ada ditetapkan perusahaan sulit untuk dicapai. Kepemimpinan secara umum didefinisiksn sebagai kemampuan dalam kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, mengarahkan, dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya terbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang diorganisir menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan. Kepemimpinan dalam organisasi berarti penggunaan kekuasaan dan pembuatan keputusan-keputusan. Kepemimpinan adalah individu di dalam kelompokyang memberikan tugas pengarahan dan pengorganisasaian yang relevan dengan kegiatan-kegiatan kelompok. Menurut Ralp M. Stogdill, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang diorganisis menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan. Sondang P. Siagian, kepemimpinan merupakan motor atau daya penggerak dari pada semua sumber-sumber, dan alat yang tersedia bagi suatu organisasi. (Mardjin syam, 1966:35) mengartikan

107 kepemimpinan sebagai keseluruhan tindakan guna mempengaruhi serta mengingatkan orang, dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan, ata u dengan definisi yang lebih lengkap dapat dikatakan bahwa kepemimpinan adalah proses pemberian jalan yang mudah dari pada pekerjaan orang lain yang terorganisir dalam organisasi guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan Kepemimpinan Pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakkan pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dalam pengertian lain kepemimpinan pendidikan mengandung arti dalam lapangan apa dan dimana kepemimpinan itu berlangsung, dan sekaligus menjelaskan pula sifat atau ciri-ciri yang harus dimiliki oleh kepemimpinan itu. Dengan demikian Kepemimpinan pendidikan merupakan kemampuan untuk menggerakan pelaksanaan pendidikan, sehingga tujuan pendidikan yang tela h ditetapkan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Kepemimpinan Pendidikan merupakan bagian penting dari manajemen pendidikan yaitu meliputi merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi manajer yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim kerja, namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi. Guna menyikapi tantangan globalisasi yang ditandai dengan adanya kompetisi global yang sangat ketat dan tajam. Definisi tentang Kepemimpinan Pendidikan adalah : 1. Proses dimana seseorang yang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya dimasyarakat tempat dia hidup. 2. Proses dimana orang dihadapkam pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol sehingga mereka mengalami perkembangan kemampuan sosial dan individu yang optimal. Kepemimpinan berkaitan dengan proses yang mempengaruhi orang sehingga mereka mencapai sasaran dalam keadaan tertentu. Kepemimpinan telah digambarkan sebagai penyelesaian pekerjaan melalui orang atau kelompok dan kinerja manajer akan tergantung pada kemampuannya sebagai manajer. Hal ini berarti mampu mempengaruhi terhadap orang atau kelompok untuk mencapai hasil yang diinginkan dan ditetapkan bersama. Sebagai suatu organisasi, lembaga pendidikan memerlukan tidak hanya seorang manajer untuk mengelola sumber daya lembaga pendidikan yang lebih banyak berkonsentrasi pada permasalahan anggaran dan persoalan administratif lainnya, tetapi juga memerlukan pimpinan yang mampu menciptakan sebuah visi dan semua komponen individu yang terkait dengan lembaga pendidikan. Pemimpin maupun manajer diperlukan dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Berbeda dengan organisasi lain, lembaga pendidikan merupakan

108 bentuk organisasi moral yang berbeda dengan bentuk organisasi lainnya. Sebagai suatu organisasi, kesuksesan lembaga pendidikan,tidak hanya di tentukan oleh kepemimpinan pendidikan, tetapi juga oleh tenaga kependidikan lainnya dan proses lembaga pendidikan itu sendiri. Kepemimpinan pendidikan berkewajiban untuk mengkoordinasikan ketenagaan pendidikan di lembaga pendidikan untuk menjamin teraplikasinya peraturan pada lembaga pendidikan. Kepemimpinan pada hakikatnya merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membina, membimbing, mengarahkan dan mengerakkan orang lain agar dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemimpin perlu melakukan serangkaian kegiatan diantaranya adalah mengarahkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi yang dipimpinnya. Dengan kata lain tercapai atau tidak tujuan suatu organisasi sangat tergantung pada pimpinannya. Dari definisi di atas, maka pengertian dari kepemimpinan pendidikan adalah suatu kesiapan, kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam proses mempengaruhi, mendorong,membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya dengan pelaksanaan dan pengembangan pendidikan dan pengajaran agar segenap kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pendidikan. Lebih lanjut kepemimpinan adalah kemampuan seni mempengaruhi tingkah laku manusia dan kemampua n untuk membimbing beberapa orang untuk mengkordinasikan dan mengarahkan dengan maksud dan tujuan tertentu. Untuk dapat menggerakkan beberapa orang pelaksana, seorang pemimpin harus memiliki kelebihan dibandingkan orang yang dipimpinnya misalnya kelebihan dalam menggunakan pikirannya, rohaniah, dan badaniah. Agar dapat menggunakan kelebihanya tersebut, seorang pemimpin suatu organisasi difasilitasi dengan apa yang disebut dengan tugas dan wewenang. Keyakinan mengenai pengetahuan, bagaimana Pimpinan Pendidikan melaksanakan fungsi manajemen dan unsur manajemen dapat memandang pengetahuan secara keseluruhan tidak sepotong-sepotong atau fakta yang terpisah. Keyakinan apa yang perlu diketahui, pemimpian pendidikan menginginkan SKL bisa tercapai. Sekalipun guru masing- masing berbeda dan perserta didik sebagai individu yang berbeda-beda pula. D. Fungsi Kepemimpinan Pendidikan Adapun fungsi kepemimpinan pendidikan menurut Soekarto Indrafachrudi (Soekarto Indrafachrudi, 1993:33) adalah pada dasarnya dapat dibagai menjadi dua yaitu: 1. Fungsi yang bertalian dengan tujuan yang hendak dicapai. Pemimpin berfungsi memikirkan dan merumuskan dengan teliti tujuan kelompok serta menjelaskan supaya anggota dapat berkerjasama mencapai tujuan itu. Pemimpin berfungsi memberi dorongan kepada anggota-anggota kelompok untuk menganalisis situasi supaya dapat dirumuskan rencana kegiatan

109 kepemimpinan yang dapat memberi harapan baik. Pemimpin berfungsi membantu anggota kelompok dalam memberikan keterangan yang perlu supaya dapat mengadakan pertimbangan yang sehat. Pemimpin berfungsi menggunakan kesempatan dan minat khusus anggota kelompok. 2. Fungsi yang bertalian dengan suasana pekerjaan yang sehat dan menyenangkan. Pemimpin berfungsi memupuk dan memelihara kebersamaan di dalam kelompok. Pemimpin berfungsi mengusahakan suatu tempat bekerja yang menyenangkan, sehingga dapat dipupuk kegembiraan dan semangat bekerja dalam pelaksanaan tugas. Pemimpin dapat menanamkan dan memupuk perasaan para anggota bahwa mereka termasuk dalam kelompok dan merupakan bagian dari kelompok. Fungsi utama pemimpin menurut Davis Krench dan Richard S. Krutchfield sebagai perencana, pelaksana, penyusun kebijakan, tenaga ahli, wakil kelompok luar, pengawas dan pengendali pertalian-pertalian di dalam kelompoknya, pelaksana hukuman dan pujian, pelerai bawahannya yang bersengketa, suri teladan bawahannya, lambang suatu kelompok, penanggung jawab, tokoh bapak, kambing hitam dan pecinta ideologi bagi kelompoknya. Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah merupak an sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Fungsi kepemimpinan juga meliputi Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanaan administrasi dan menyediakan fasilitasnya, fungsi sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning, organizing, staffing, directing, commanding, controling, dan sebagainya. Dalam upaya mewujudkan kepemimpinan yang efektif, maka kepemimpinan tersebut harus dijalankan sesuai dengan fungsinya. Sehubungan dengan hal tersebut, menurut Nawawi (Hadari Nawawi, 1995:74), fungsi kepemimpinan berhubungan langsung dengan situasi sosial dalam kehidupan kelompok masing- masing yang mengisyaratkan bahwa setiap pemimpin berada didalam, bukan berada diluar situasi itu Pemimpin harus berusaha agar menjadi bagian didalam situasi sosial keiompok atau organisasinya. Fungsi kepemimpinan menurut Hadari Nawawi memiliki dua dimensi yaitu: 1. Dimensi yang berhubungan dengan tingkat kemampuan mengarahkan dalam tindakan atau aktifitas pemimpin, yang terlihat pada tanggapan orang-orang yang dipimpinya. 2. Dimensi yang berkenaan dengan tingkat dukungan atau keterlibatan orang-orang yang dipimpin dalam melaksnakan tugas-tugas pokok kelompok atau organisasi, yang dijabarkan dan dimanifestasikan melalui keputusan-keputusan dan kebijakan pemimpin. Sehubungan dengan kedua dimensi tersebut, menurut Hadari Nawawi, secara operasional dapat dibedakan lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu:

110 1. Fungsi Instruktif, adalah pemimpin berfungsi sebagai komunikator yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai, melaksanakan dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah. 2. Fungsi Konsultatif, yaitu pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikasi dua arah. Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usaha menetapkan keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orangorang yang dipimpinnya. 3. Fungsi Partisipasi, dalam menjalankan fungsi partisipasi pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugastugas pokok, sesuai dengan posisi masing- masing. 4. Fungsi Delegasi, dalam menjalankan fungsi delegasi, pemimpin memberikan pelimpahan wewenang membuay atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah kepercayaan ssorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggungjawab. Fungsi pendelegasian ini, harus diwujudkan karena kemajuan dan perkembangan kelompok tidak mungkin diwujudkan oleh seorang pemimpin seorang diri. 5. Fungsi Pengendalian, fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan. Kemudian menurut Yuki (Wexley & Yuki, 1998: 22) fungsi kepemimpinan adalah usaha mempengaruhi dan mengarahkan karyawan untuk bekerja keras, memiliki semangat tinggi, dan memotivasi tinggi guna mencapai tujuan organisasi. Hal ini terutama terikat dengan fungsi mengatur hubungan antara individu atau kelompok dalam organisasi. Selain itu, fungsi pemimpin dalam mempengaruhi dan mengarahkan individu atau kelompok bertujuan untuk membantu organisasi bergerak kearah pencapaian sasaran. Dengan demikian, inti kepemimpinan bukan pertama-tama terletak pada kedudukannya dalam organisasi, melainkan bagaimana pemimpin melaksanakan fungsinya sebagai pemimpin. Fungsi kepemimpinan yang hakiki adalah : Selaku penentu arah yang akan ditempuh dalam usaha untuk pencapaian tujuan, Sebagai wakil dan juru bicara organisasi d alam hubungan

111 dengan pihak luar, Sebagai komunikator yang efektif dan Sebagai integrator yang efektif, rasional, objektif, dan netral. Adapun tanggung Jawab Kepemimpinan adalah merupakan seni dalam mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan, memerlukan tanggung jawab orang yang berfungsi sebagai pemimpin. Menurut Drs. Hidjirachman Ranupandojo dengan mengutip pendapat Robert C. Miljus dalam buku “Effective Leadership and the motivation of Human Resources” (1992:152) mengatakan bahwa tanggung jawab para pemimpin adalah sebagai berikut : 1. Menentukan tujuan pelaksanaan kerja realitas (dalam artian kuantitas, kualitas, keamanan dan sebagainya) 2. Melengkapai para karyawan dengan sumber-sumber dana yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. 3. Mengkomunikasikan pada karyawan tentang apa yang diharapkan dari mereka. 4. Memberikan susunan hadiah yang sepadan untuk mendorong prestasi. 5. Mendelegasikan wewenang apabila diperlukan dan mengundang partisipasi apabila memungkunkan. 6. Menghilangkan hambatan untuk pelaksanaan pekerjaan yang efektif. 7. Menilai pelaksanaan pekerjaan yang menkomunikasikan hasilnya. 8. Menunjukan perhatian pada karyawan. Memimpin suatu kelompok berarti menjalankan suatu bentuk tanggung jawab bersama yang diatur oleh satu orang dalam bentuk persetujuan bersama. Seorang pemimpin jelas memiliki tugas yang terkait dengan peranannya dalam menjalankan kepemimpinan. Adapun peranan seorang pemimpin yang menjadi landasan tugas yang perlu diketahui diantaranya: 1. Bersikap adil (arbitrating) 2. Memberikan suggesti 3. Mendukung tercapainya tujuan 4. Menjadi penggerak sehingga bawahan cepat berreaksi 5. Menciptakan rasa aman 6. Wakil organisasi 7. Sumber inspirasi 8. Bersikap Menghargai Dengan demikian dapat disimpulan bahwa delapan peran diatas menjadi landasan bagi seorang pemimpin pendidikan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. E. Tipe Kepemimpinan Pendidikan Dalam setiap realitasnya bahwa pemimpin dalam melaksanakan proses kepemimpinannya terjadi adanya suatu permbedaan antara pemimpin yang satu dengan yang lainnya, hal sebagaimana menurut G. R. Terry yang dikutif

112 Maman Ukas, bahwa pendapatnya membagi tipe-tipe kepemimpinan menjadi 6, yaitu : 1. Tipe kepemimpinan pribadi (personal leadership). Dalam system kepemimpinan ini, segala sesuatu tindakan itu dilakukan dengan mengadakan kontak pribadi. Petunjuk itu dilakukan secara lisan atau langsung dilakukan secara pribadi oleh pemimpin yang bersangkutan. 2. Tipe kepemimpinan non pribadi (non personal leadership). Segala sesuatu kebijaksanaan yang dilaksanakan melalui bawahan-bawahan atau media non pribadi baik rencana atau perintah juga pengawasan. 3. Tipe kepemimpinan otoriter (autoritotian leadership). Pemimpin otoriter biasanya bekerja keras, sungguh-sungguh, teliti dan tertib. Ia bekerja menurut peraturan-peraturan yang berlaku secara ketat dan instruksi- instruksinya harus ditaati. 4. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan. 5. Tipe kepemimpinan paternalistis (paternalistis leadership). Kepemimpinan ini dicirikan oleh suatu pengaruh yang bersifat kebapakan dalam hubungan pemimpin dan kelompok. Tujuannya adalah untuk melindungi dan untuk memberikan arah seperti halnya seorang bapak kepada anaknya. 6. Tipe kepemimpinan menurut bakat (indogenious leadership). Biasanya timbul dari kelompok orang-orang yang informal di mana mungkin mereka berlatih dengan adanya system kompetisi, sehingga bisa menimbulkan klik-klik dari kelompok yang bersangkutan dan biasanya akan muncul pemimpin yang mempunyai kelemahan di antara yang ada dalam kelempok tersebut menurut bidang keahliannya di mana ia ikur berkecimpung. (Maman Ukas, 1999:6) Gaya seorang pemimpin dapat digambarkan dalam berbagai cara, misalnya pemimpin tersebut murah hati, keras kepala dan terus tera ng, meyakinkan. Gaya Kepemimpinan adalah pola tingkah laku (kata-kata dan tindakan) dari seorang pemimpin yang dirasakan oleh orang lain. Kepemimpinan bukan hanya sekedar penampilan lahiriah saja, tetapi juga bagaimana cara mereka mendekati orang yang ingin dipengaruhi. (Hersey, 1994:29). Corak atau gaya seorang pemimpin akan sangat berpengaruh terhadap efektivitas pemimpin. Pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat akan memberikan motivasi kerja kepada bawahan, sehingga bawahan akan merasa

113 puas. Sebaliknya tidak arang kesalahan dalam pemilihan gaya kepemimpinan berakibat kegagalan kepemimpinan seseorang dalam organisasi tersebut. Adapun gaya atau tipe kepemimpinan yang pokok atau juga diseb ut ekstrem ada tiga tipe atau bentuk kepemimpinan yaitu: 1. Tipe kepemimpinan otoriter, tipe Kepemimpinan otoriter, Tipe kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan di tangan satu orang. Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Kedudukan dan tugas anak buah semata-mata hanya sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan kehendak pimpinan. Pimpinan memandang dirinya lebih dalam segala hal, dibandingkan dengan bawahannya. Kemampuan bawahan selalu dipandang rendah sehingga dianggap tidak mampu berbuat sesuatu tanpa diperintah. 2. Tipe kepemimpinan kendali bebas, tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe kepemimpinan otoriter. Pemimpin berkedudukan sebagai symbol. Kepemimpinan dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada orang yang dipimpin dalam mengambil keputusan dan melakukan kegiatan menurut kehendak dan kepentingan masing- masing, baik secara perorangan maupun kelompok-kelompok kecil. Pemimpin hanya memfungsikan dirinya sebagai penasihat. 3. Tipe kepemimpinan demokratis, tipe kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok/organisasi. Pemimpin memandang dan menempatkan orang-orang yang dipimpinnya sebagai subyek yang memiliki kepribadian dengan berbagai aspeknya, seperti dirinya juga. Kemauan, kehendak, kemampuan, buah pikiran, pendapat, kreativitas, inisiatif yang berbeda-beda dan dihargai disalurkan secara wajar. Tipe pemimpin ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang aktif, dinamis, dan terarah. Kepemimpinan tipe ini dalam mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah, yang diwujudkan pada setiap jenjang dan di dalam unit masing- masing. Ketiga tipe kepemimpinan di atas dalam prakteknya saling mengisi atau saling menunjang secara bervariasi, yang disesuaikan dengan situasi sehingga akan menghasilkan kepemimpinan yang efektif. Yang terpenting dari gaya kepemimpinan adalah seorang pimpinan harus memahami keadaan bawahannya. Adapun macam- macam keadaan bawahan dan cara pimpinan menghadapinya antara lain: TINGKAT GAYA KEPEMIMPINAN YANG NO KEMATANGAN DITERAPKAN BAWAHAN 1. Tidak mampu dan tidak Gaya Telling (G1), yaitu dengan

114 ingin

2.

Tidak mampu tetapi mau

3.

Mampu tetapi ragu-ragu

4.

Mampu dan mau

memberitahukan, menunjukkan, mengistruksikan secara spesifik Gaya Selling/Coaching, yaitu dengan Menjual, Menjelaskan, Memperjelas, Membujuk. Gaya Partisipatif, yaitu Saling bertukar Ide & beri kesempatan untuk mengambil keputusan Delegating, mendelegasikan tugas dan wewenang dengan menerapkan system control yang baik

F. Model Kepemimpinan Transformasional dalam Pendidikan Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi arti (pengarahan yang berarti) terhadap usaha kolektif dan mengakibatkan kesedian untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran. (Ninik Widiyanti, 1993:4) Tugas pemimpin dalam menjalankan misi organisasi tidaklah mudah, karena untuk menjalankan misi organisasi tersebut pemimpin harus memiliki persyaratan untuk menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap segala tugas yang diembannya untuk memenuhi tujuan dari organisasi yang dipimpinnya. Ada beberapa sifat yang dianggap ideal harus dimiliki seorang pemimpin diantaranya: 1. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk mengendalikan lembaganya 2. Mempungsikan keistimewaan yang lebih dibanding orang lain 3. Mempunyai karisma dan wibawa dihadapan manusia atau orang lain 4. Konsekuen dengan kebenaran dan tidak mengikuti hawa nafsu 5. Bermusyawarah dengan para pengikut serta mintalah pendapat dan pengalaman mereka 6. Mempunyai power dan pengaruh yang dapat memerintah serta mencegah karena seorang pemimpin harus melakukan control pengawasan atas pekerjaan anggota,meluruskan kekeliruan,serta mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan mencegah kemunkaran 7. Bersedia mendengar nasihat dan tidak sombong karena nasihat dari orang yang ikhlas jarang sekali kita peroleh. (Mujamil Qomar, 1997:50) Prinsip sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama berdasarkan motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai pengaruh yang kuat untuk membangun dirinya atau organisasi. Menurut Stephen R. Covey (1997), prinsip adalah bagian dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi. Mungkin prinsip menciptakan kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah kompas/petunjuk yang

115 tidak dapat dirubah. Prinsip merupakan suatu pusat atau sumber utama sistem pendukung kehidupan yang ditampilkan dengan 4 dimensi seperti; keselamatan, bimbingan, sikap yang bijaksana, dan kekuatan. Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-prinsip (Stephen R. Covey) sebagai berikut: 1. Seseorang yang belajar seumur hidup, Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah. Contohnya, belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk sebagai sumber belajar. 2. Berorientasi pada pelayanan, bersikap melayani bukan minta dilayani. 3. Membawa energi yang positif, seorang pemimpin harus dapat menunjukkan energi positif. 4. Percaya pada orang lain, seorang pemimpin harus mempercayai bawahan sehingga bawahan dapat mempertahankan bekerja dengan baik dan diiringi dengan rasa kepedulian dengan bawahan. 5. Keseimbangan dalam kehidupan, seorang pemimpin harus dapat menyeimbangkan tugasnya. Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi. Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia dan akherat. 6. Sinergi adalah satu kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari pada bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus dapat bersinergis dengan setiap orang atasan, staf, teman sekerja. 7. Memandang hidup adalah tantangan 8. Latihan mengembangkan diri sendiri, seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya berorientasi pada proses. Proses daalam mengembangkan diri terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan dengan: (1) pemahaman materi; (2) memperluas materi melalui belajar dan pengalaman; (3) mengajar materi kepada orang lain; (4) mengaplikasikan prinsip-prinsip; (5) memonitoring hasil; (6) merefleksikan kepada hasil; (7) menambahkan pengetahuan baru yang diperlukan materi; (8) pemahaman baru; dan (9) kembali menjadi diri sendiri lagi. Dalam era desentralisasi dan otonomi pendidian, terdapat tiga model kepemimpinan yaitu, kepemimpinann transaksional, kepemimpinan transformasional, dan kepemimpinan visioner. Kepemimpinan transaksional lebih menekankan pada tugas yang diemban bawahan, pimpinan berperan

116 sebagai manajer. Kepemimpinan transformasional dibangun dari dua kata yaitu Kepemimpinan (leadership) yang berarti setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengkoordinasikan, mengarahkan, dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan, transformasional (transformational) yaitu mengubah sesuatu menjadi bentuk lain yang berbeda. Kepemimpinan Transformasional diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikutnya. Formulasi dari teori Kepemimpinan Transformasional antara lain karisma, stimulasi intelektual, perhatian yang individualisasi. Seperti contoh seorang kepala sekolah menerapkan teori Kepemimpinan Transformasional jika dia mampu mengubah energi sumbersumber daya baik manusia maupun non manusia untuk mencapai tujuan-tujuan sekolah seperti yang dikemukakan oleh Sudarwan Danim (2003 : 54) Kepemimpinan transformasional adalah sebuah proses yang padanya para pemimpin dan pengikut saling meningkatkan moralitas dan motivasi ke arah yang lebih tinggi . Para pemimpin tersebut mencoba menimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi, misalnya keserakahan, kecemburuan atau kebencian. Menurut Leithwood dkk (1999) mengatakan “transformational leadership is seen to be sensitive to organiation building developing shared vision, distributing leadership and building school culture necessary to current restructing efforts in school” Pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memilki visi ke depan dan mampu mengidentifikasikan perubahan lingkungan serta mampu mentransformasikan perubahan tersebut ke dalam organisasi. Menurut Bass Dan Avolio (1994) Dimensi - dimensi kepemimpinan Transformasional yaitu: 1. Idealized Influenced, perilaku yang menghasilkan rasa hormat (respect) dan rasa percaya dari orang- orang yang dipimpinnya. 2. Inspirational Motivation, senantiasa menyediakan tantangan dan makna atas pekerjaan orang-orang yang dipimpinnya. 3. Intellectual Simulation, senantiasa menggali ide- ide baru dan solusi yang kreatif dari orang-orang yang dipimpinnya. 4. Individualized consideration, memberikan perhatian khusus kepada kebutuhan prestasi dan kebutuhan orang yang dipimpinnya. Model kepemimpinan transformasional perlu diterapkan dalam dunia pendidikan, karena merupakan salah satu solusi krisis kepemimpinan terutama dalam bidang pendidikan. Olga Epitropika (2001:1) mengemukakan 6 hal mengapa kepemimpinan transformasial penting bagi suatu organisasi: 1. Secara signifikan meningkatkan kinerja organisasi. 2. Secara positif dihubungkan dengan orientasi pemasaran jangka panjang dan kepuasan pelanggan. 3. Membangkitkan komitmen para anggota terhadap organisasi.

117 4. Meningkatkan kepercayaan pekerja dalam manajemen dan perilaku keseharian organisasi. 5. Meningkatkan kepuasan kerja melalui pekerjaan dan pemimpin. 6. Mengurangi stress para pekerja dan meningkatkan kesejahteraan. Implementasi model kepemimpinan transformasional dalam organisasi pendidikan perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya mengacu pada nilainilai agama dan ideologi negara, disesuaikan dengan nilai – nilai yang terkandung dalam sistem organisasi atau instansi tersebut, menggali budaya yang ada dalam organisasi tersebut, karena sistem pendidikan merupakan suatu sub sistem maka harus memperhatikan sistem yang lebih besar yang ada di atasnya seperti sistem suatu negara. Golmen, et.al (2003) mengatakan kepemimpinan transforming adalah kepemimpinan yang memiliki kesadaran sendiri tentang emosionalnya, manajemen diri sendiri, kesadaran sosial dan manajemen hubungan kerja. Pola perilaku kepemimpinan yang seperti ini diharapkan berpengaruh positif terhadap bawahannya dalam membentuk nilai – nilai dan keyakinan untuk mencapai tujuan organisasi (Anderson 1998).

G. Simpulan Kepemimpinan merupakan bagian penting dari manajemen yaitu merencanakan dan mengorganisasi, tetapi peran utama kepemimpinan adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini merupakan bukti bahwa pemimpin boleh jadi manajer yang lemah apabila perencanaannya jelek yang menyebabkan kelompok berjalan ke arah yang salah. Akibatnya walaupun dapat menggerakkan tim kerja, namun mereka tidak berjalan kearah pencapaian tujuan organisasi. Kepemimpinan berkaitan dengan proses yang mempengaruhi orang sehingga mereka mencapai sasaran dalam keadaan tertentu. Kepemimpinan telah digambarkan sebagai penyelesaian pekerjaan melalui orang atau kelompok dan kinerja manajer akan tergantung pada kemampuannya sebagai manajer. Hal ini berarti mampu mempengaruhi terhadap orang atau kelompok untuk mencapai hasil ya ng diinginkan dan ditetapkan bersama. Pemimpin Pendidikan harus memperhatikan keadaan bawahannya jika ia ingin disebut pemimpin yang sukses. Pendidikan yang bermutu berawal dari kerjasama yang baik antar elemen yang ada di lembaga tersebut, oleh karena itu dalam era otonomi tampaknya tipe transformasional cukup sesuai dengan keinginan dan cita-cita desentralisasi pendidikan.

118 DAFTAR PUSTAKA Lexy J Moleong (2005),Metodologi Penelitian Kualitatif-Edisi Revisi, Bandung; Remaja Rosdakarya. Maman Ukas (1999), Manajemen Konsep, Prinsip, dan Aplikasi, Bandung : Ossa Promo. Mulyadi (2010), Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Budya Mutu, Malang : UIN Maliki Press. Ninik Widiyanti (1993), Kepemimpinan dalam Jakarta:Rineka Cipta.

Masyarakat

Modern,

Oteng Sutisna (1993) Administrasi Pendidikan : Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional, Bandung: Angkasa. Rivai, V. dan Mulyadi, D (2003), Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Safaria, Triantoro (2004), Kepemimpinan. Yogyakarta : Graha Ilmu. Sallis, E (2010), Total Quality Management in Education, Alih Bahasa: Ahmad Ali Riyadi dan Fahrurrozi, IRCiSoD, Jogjakarta. Sudarwan Danim (2008), Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta, Bumi Aksara. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.