KUMPULAN MAKALAH

KUMPULAN MAKALAH Penelitian, Pengkajian, Pengembangan dan Penerapan Inovasi Teknnologi ... pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi...

0 downloads 31 Views 2MB Size
KUMPULAN MAKALAH Penelitian, Pengkajian, Pengembangan dan Penerapan Inovasi Teknnologi

Penanggung jawab: Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu Dr. Dedi Sugandi, MP

Penyunting: Wahyu Wibawa Wahyuni Amelia Wulandari Umi Pudji Astuti Sri Suryani M. Rambe

Redaksi Pelaksana: Zul Efendi Agus Darmadi

Diterbitkan oleh: Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu Jl. Irian Km. 6,5 Bengkulu 38119 PO. BOX. 1010 BKL 38001 Telepon (0736) 23030, Faximile (0736) 345568 E-mail: [email protected] Website: http://www.bengkulu.litbang.deptan.go.id

ISBN 978-602-9064-05-6 Hak cipta pada penulis. Tidak diperkenankan memproduksi sebagian atau seluruhnya isi kumpulan makalah ini dalam bentuk apapun tanpa seizin dari penulis.

1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KATA PENGANTAR SL-PTT dan PSDSK merupakan Program Nasional dalam mendukung terwujudnya 4 target sukses Kementerian Pertanian. Empat target yang ingin dicapai adalah: 1) Swasembada dan swasembada berkelanjutan untuk komoditi padi (beras), jagung, kedelai, tebu (gula), dan daging sapi/kerbau pada tahun 2014, 2) Peningkatan diversifikasi pangan, 3) Peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, dan 4) Pengingkatan kesejahteraan rakyat. Dukungan Badan Litbang Pertanian, melalui BPTP dalam mendukung 4 sukses Kementerian Pertanian diantaranya melalui kegiatan pendampingan SL-PTT dan PSDSK, peningkatan diversifikasi pangan dan pengingkatan nilai tambah produk pertanian. Pendampingan merupakan salah satu aspek penting dalam mensukseskan program strategis Kementerian Pertanian. Pendampingan yang holistik, bersinergi, terkoordinir, terfokus dan terukur sangat diharapkan oleh semua pihak dalam mengakselerasi pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Tugas utama BPTP Bengkulu adalah melaksanakan pengkajian, perakitan dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. Menyiapkan kerja sama, informasi dokumentasi serta penyebarluasan dan pendayagunaan hasil pengkajian teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi merupakan salah satu fungsi dari BPTP. Keberhasilan kegiatan litkajibangrap BPTP ditentukan oleh tingkat pemanfaatan informasi dan penerapan teknologi oleh pengguna antara dan pengguna akhir di wilayah kerjanya. Yield gap antara hasil riel di tingkat petani dan hasil pengkajian merupakan indikator yang dapat digunakan untuk menilai tingkat adopsi teknologi. Semakin tinggi yield gap menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat adopsi teknologi oleh petani. Seminar dan dokumentasi hasil litkajibangrap merupakan salah satu upaya BPTP Bengkulu dalam menyampaikan dan menyebarluaskan inovasi teknologi baik kepada pengguna antara (stakeholders) maupun kepada pengguna akhir (petani). Kumpulan hasil litkajibangrap memuat berbagai artikel yang mendukung swasembada beras, jagung, dan daging sapi serta upaya peningkatan nilai tambah dan diversifikasi pangan yang dilakukan pada tahun 2011. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan penyelenggaraan seminar dan penyusunan dokumentasi hasil litkajibangrap. Semoga kumpulan hasil litkajibangrap ini bermanfaat bagi para pembaca.

Bengkulu,

Desember 2011

Kepala BPTP Bengkulu

Dr. Dedi Sugandi, MP NIP.19590206 198603 1 002

2 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR.............................................................................................. iii DAFTAR ISI........................................................................................................ IV 1. RESPON PETANI TERHADAP PERAN DEMFARM DALAM PENINGKATAN ADOPSI KOMPONEN TEKNOLOGI PTT DI DESA RIMBO RECAP KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG (Yesmawati, Wahyu Wibawa dan Umi Pudji Astuti)............................................................................................................ 1-6 2. KAJIAN PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL PADI DI KECAMATAN LEBONG SELATAN KABUPATEN LEBONG, PROVINSI BENGKULU (Yartiwi, Andi Ishak dan Yesmawati)...................................................................................................... 7-14 3. KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN KOMPONEN HASIL TIGA VARIETAS UNGGUL PADI GOGO DI RUMAH KACA (Yartiwi, Yahumri dan Andi Ishak)................................ 15-21 4. TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI KOMPONEN PTT DI KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG (Siti Rosmanah dan Sri Suryani M. Rambe)...... 22-32 5. PERSEPSI DAN MINAT ADOPSI PETANI TERHADAP PADI VARIETAS UNGGUL BARU INPARI MELALUI KEGIATAN GELAR TEKNOLOGI PERTANIAN (Siswani Dwi Daliani dan Taufik Hidayat).................................................................................... 33-41 6. UJI MUTU BERAS HASIL DARI TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PUPUK ORGANIK (Wilda Mikasari,Taufik Hidayat, Lina Ivanti dan Alfayanti)........................................................................................................ 42-50 7. KERAGAAN MUTU BERAS INPARI 6, 10 DAN 13 BERDASARKAN HASIL UJI LABORATORIUM DI BPTP BENGKULU (Irma Calista Siagian, Yartiwi dan Ahmad Damiri)........................................................................................................... 51-60 8. PENINGKATAN PERSEPSI PETANI DALAM PENERAPAN PTT PADI SAWAH (STUDI KASUS: Kelompok Tani Harapan Maju II Desa Rimbo Recap Kabupaten Rejang Lebong) (Ruswendi dan Bunaiyah Honorita).................................................. 61-69 9. ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT) PENTING PADA SENTRA TANAMAN PADI SAWAH MT 2010/2011 DAN MT 2011 (Sri Suryani M. Rambe dan Kusmea Dinata)................................................................................................. 70-79 10. PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PUPUK ORGANIK UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH DENGAN PENDEKATAN PTT DI KABUPATEN REJANG LEBONG (Alfayanti dan Ruswendi).............................. 80-88 11. KERAGAAN JAGUNG KOMPOSIT SUKMARAGA DAN LAMURU DI KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG (Siti Rosmanah, Wahyu Wibawa dan Sri Suryani M. Rambe)......................................................................................... 89-96 12. PEMANFAATAN KOMODITAS PANGAN LOKAL SEBAGAI SUMBER DIVERSIFIKASI PANGAN ALTERNATIF (Lina Ivanti dan Herlena Bidi Astuti)................

97-103

13. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP JUMLAH KONSUMSI PANGAN NON BERAS BERBASIS PANGAN LOKAL DI PROVINSI BENGKULU (Alfayanti dan Dedi Sugandi)................................................................. 104-114

3 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

14. ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN SAWAH DI PROVINSI BENGKULU (Nurmegawati, Wahyu Wibawa, Dedi Sugandi dan Yahumri)........ 115-124 15. PERCEPATAN ADOPSI TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PAKAN SAPI DAN PUPUK ORGANIK DI BENGKULU (Ruswendi, Siswani Dwi Daliani dan Ahmad Damiri).................................................................................... 125-133 16. KAJIAN PERSEPSI DAN ADOPSI PETERNAK SAPI TERHADAP TEKNOLOGI BUDIDAYA SAPI UNGGUL DI KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU (Zul Efendi, Harwi Kusnadi, dan Andi Ishak)............................................... 134-141 17. DISEMINASI TEKNOLOGI PETERNAKAN BERUPA GELAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN BIOGAS DAN PAKAN UNTUK PENGEMUKAN SAPI POTONG (Ruswendi dan Zul Efendi).................................................................................... 142-150 18. EFISIENSI PEMANFAATAN BAHAN MAKANAN TERHADAP BERAT HIDUP PADA TERNAK AYAM RAS PEDAGING (Erpan Ramon, Dedi Sugandi, Zul Efendi dan Herlena Bidiastuti)........................................................................................................ 151-158 19. MANFAAT PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN DAN MINAT ADOPSI PETANI DALAM PEMELIHARAAN SAPI BRAHMAN CROSS MELALUI KEGIATAN GELAR TEKNOLOGI (Siswani Dwi Daliani dan Taufik Hidayat)................................................. 159-165 20. PEMETAAN WILAYAH SAPI BERPOTENSI BERANAK KEMBAR DI BENGKULU (Wahyuni Amelia Wulandari, Zul Efendi dan Ruswendi)...................................................

166-179

21. SISTEM INTEGRASI KELAPA SAWIT DAN SAPI BALI RAKYAT DI PROVINSI BENGKULU (Dedi Sugandi dan Harwi Kusnadi).......................................................... 180-188 22. OPTIMASI PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN SAWIT UNTUK PAKAN DI PROVINSI BENGKULU (Dedi Sugandi, Harwi Kusnadi dan Yahumri)............................... 189-195 23. MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (M-KRPL) SEBAGAI IMPLEMENTASI SPEKTRUM DISEMINASI MULTI CHANEL (SDMC) (Umi Pudji Astuti dan Dedi Sugandi).............................................................................................. 196-200 24. KAJIAN KELEMBAGAAN FORMAL DAN INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN INOVASI SPESIFIK LOKASI UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN DI PROPINSI BENGKULU (Wahyuni Amelia Wulandari, Afrizon, Zul Efendi dan Wilda Mikasari)................... 201-211

4 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

RESPON PETANI TERHADAP PERAN DEMFARM DALAM PENINGKATAN ADOPSI KOMPONEN TEKNOLOGI PTT DI DESA RIMBO RECAP KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG Yesmawati, Wahyu Wibawa dan Umi Pudji Astuti

ABSTRAK Demontrasi Farming (Demfarm) padi sangat berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani untuk menerapkan inovasi baru di bidang pertanian serta memberikan contoh bagi petani sekitarnya, dengan luasan 1-5 ha. Demfarm padi dilakukan untuk menunjukkan dan membuktikan keunggulan pendekatan PTT padi kepada petani, petugas, dan stakeholders lainnya. Melalui kegiatan Demfarm diharapkan terjadi perbaikan pemahaman petani dan kelompok tani mengenai pentingnya penerapan inovasi teknologi dengan benar untuk meningkatkan produktivitas, produksi dan pendapatan usahataninya. Respon petani terhadap peran demfarm dalam peningkatan adopsi komponen teknologi PTT tentu saja berbeda-beda sesuai dengan kondisi petani. Oleh karena itu telah dilakukan survei pada bulan Juli 2011 untuk mengetahui bagaimana respon petani terhadap peran demfarm padi. Survei dilaksanakan di Desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong dengan melibatkan 30 orang petani. Data yang diperoleh dari lapangan dianalisa secara statistik dengan kategori baik, cukup baik dan tidak baik kemudian dipaparkan secara deskriptif. Dalam menentukan skor digunakan Skala Likert (Baik diberi skor 5, Cukup Baik diberi skor 3, Tidak baik diberi skor 1). Hasil kajian menunjukkan bahwa respon petani terhadap peran demfarm padi dalam peningkatan adopsi komponen teknologi PTT padi sawah di Kecamatan Curup Selatan Rejang Lebong cukup baik. Kata kunci: respon, demfarm padi, adopsi, komponen teknologi PTT

PENDAHULUAN Menurut Suryabrata (1992), respon adalah reaksi obyektif dari individu terhadap stimulan yang wujudnya dapat bermacam-macam seperti sikap atau tindakan

terhadap

stimulan

tersebut.

Sementara

itu

Sastropoetra

(1990)

menyatakan bahwa respon adalah tanggapan atau jawaban dari orang-orang tentang hal-hal yang bersifat sosial yang memerlukan perhatian umum. Respon tersebut biasanya berkaitan dengan setuju, tidak setuju atau sikap acuh tak acuh terhadap inovasi yang diberikan oleh demfarm padi yang merupakan suatu media desiminasi inovasi teknologi. Selanjutnya bila timbul minat dan kesadaran terhadap inovasi dan teknologi baru, petani biasanya akan mengerti dan menyadari apa yang dikerjakannya dan mengapa itu dikerjakannya. Hal itu terjadi karena adanya pengetahuan dan 5 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pandangan hidup yang baik. Apabila terjadi peningkatan pengetahuan dan pandangan hidup yang lebih baik, maka bertambah respon terhadap inovasi. Demontrasi Farming (Demfarm) padi sangat berperan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani untuk menerapkan inovasi baru di bidang pertanian serta memberikan contoh bagi petani sekitarnya, dengan luasan 1-5 ha. Demfarm padi dilakukan untuk menunjukkan dan membuktikan keunggulan pendekatan PTT padi kepada petani, petugas, dan stakeholders lainnya. Melalui kegiatan Demfarm diharapkan terjadi perbaikan pemahaman petani dan kelompok tani mengenai pentingnya penerapan inovasi teknologi dengan benar untuk meningkatkan produktivitas, produksi dan pendapatan usahataninya. Dalam peningkatan adopsi komponen teknologi PTT padi sawah di Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong, Demfarm berperan sangat besar, sebagai suatu metode penyuluhan di lapangan untuk memperlihatkan dan membuktikan secara nyata tentang cara dan atau hasil penerapan suatu inovasi teknologi PTT padi yang telah teruji dan menguntungkan bagi petani, antara lain dalam mengakselerasikan dua komponen teknologi, yaitu komponen dasar dan komponen pilihan. Dalam makalah ini akan memaparkan “Bagaimana tanggapan petani terhadap peran Demfarm dalam peningkatan adopsi komponen teknologi PTT padi sawah di Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong ?”. METODOLOGI Pengkajian dilakukan di Desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong pada bulan Juli tahun 2012. Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling) yaitu sebanyak 30 responden petani padi sawah. Pengumpulan data dilakukan dengan survei, wawancara dan menggunakan kuisioner (daftar pertanyaan). Data yang diperoleh dari lapangan dianalisa secara statistik dengan kategori baik, cukup baik dan tidak baik kemudian dipaparkan secara deskriptif. Dalam menentukan skor digunakan Skala Likert, pilihan dan bobot nilai jawaban untuk tanggapan petani terhadap Demfarm adalah:

6 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Baik

diberi skor 5

Cukup Baik

diberi skor 3

Tidak baik

diberi skor 1

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Responden Hasil wawancara terhadap 30 responden, diperoleh karakteristik petani seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Keadaan umum responden. No

Uraian

Kisaran

Rata-rata

1.

Umur (Tahun)

22 - 65

40

2.

Lama Pendidikan Formal (Tahun)

3 - 17

9

3.

Luas Lahan Garapan (Ha)

0,25 – 2,50

1

4.

Lama Berusahatani (Tahun)

3 - 15

6

Sumber : Data Primer (diolah), 2011.

Tabel 1 menunjukkan umur petani padi sawah bervariasi berkisar antara 22 tahun sampai 65 tahun atau dengan umur rata-rata 40 tahun, termasuk dalam katagori usia produktif untuk mendukung peningkatan produktivitas padi sawah. Tingkat pendidikan formal petani padi sawah cukup memadai dalam pengambilan keputusan, berfikir, bertindak, berbuat, dan menanggapi suatu proses inovasi dalam mengolah usahatani padi sawahnya. Lama pendidikan formal petani berkisar antara 3 tahun sampai 17 tahun dengan rata-rata lama pendidikan formal 9 tahun. Luas lahan garapan petani padi sawah berkisar antara 0,25 hektar sampai 2,50 hektar dengan rata-rata 1 hektar per tani, sehingga menuntut petani untuk mengoptimalkan fungsi lahan usahataninya agar produktivitas padi sawahnya dapat ditingkatkan melalui penarapan atau adopsi komopenen teknologi PTT padi sawah. Dari Tabel 1 juga terlihat bahwa lama berusahatani petani berkisar antara 3 tahun sampai 15 tahun dengan rata-rata lama berusahatani 6 tahun. Lamanya berusahatani mempengaruhi pengalaman petani dalam berusahatani, terutama keberhasilan mereka dalam mengelola ushataninya, mulai dari menentukan jenis 7 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

usaha apa yang akan dilakukan, bagaimana merencanakan usahanya, bagaimana ia menyikapi suatu program atau inovasi yang ditawarkan kepadanya, bagaimana ia memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dan keputusan yang akan diambil guna mencapai keberhasilan usahataninya. Respon Petani Terhadap Peran Demfarm dalam Peningkatan Adopsi Komponen Teknologi PTT padi sawah Demfarm

berperan sangat besar dalam peningkatan adopsi komponen

teknologi yang selanjutnya dapat mempengaruhi peningkatan produktivitas padi sawah dan perubahan perilaku usaha tani petani ke arah yang lebih baik. Respon petani terhadap peran demfarm dalam peningkatan adopsi komponen teknologi PTT padi diukur dari indikator komponen dasar dan komponen pilihan. Komponen teknologi dasar yaitu teknologi yang sangat dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi padi sawah. Komponen teknologi ini terdiri dari atas: (1) Varietas unggul baru, inbrida atau hibrida. (2) Benih bermutu dan berlabel. (3) Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos. (4) Pengaturan populasi tanaman secara optimum. (5) Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah. (6) Pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) dengan pendekatan PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Komponen teknologi pilihan yaitu teknologi yang disesuaikan dengan kondisi, kemauan dan kemampuan petani setempat. Teknologi ini terdiri atas: (1) Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam. (2) Penggunaan bibit muda (< 21 hari). (3) Tanam bibit 1 – 3 batang per rumpun. (4) Pengairan secara efektif dan efisien. (5) Penyiangan dengan landak atau gasrok. (6) Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok.

8 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Berdasarkan hasil analisis data yang menggunakan nilai interval didapat bahwa respon petani padi sawah terhadap peran peningkatan adopsi komponen PTT padi tertinggi 60% (sebanyak 18 orang) pada klasifikasi cukup baik, sebanyak 12 orang (40%) pada klasifikasi baik, dan pada klasifikasi tidak baik adalah tidak ada (0%). Tabel 2. Respon Responden terhadap peran Demfarm. No

Kategori

Skor

Jumlah (Orang)

Persentase (%)

1

Baik

27-35

12

40

2

Cukup Baik

17-26

18

60

3

Tidak Baik

7-16

0

0

30

100

Jumlah Sumber : Data Primer (diolah), 2011.

Dengan persentase respon sebesar 60% menunjukkan bahwa petani menilai cukup baik terhadap peran demfarm padi dalam meningkatkan adopsi komponen teknologi PTT padi. Dengan persentase lebih dari 50% petani yang berpenilaian cukup baik artinya secara umum petani mempunyai tanggapan cukup baik terhadap peran demfarm padi dalam peningkatan adopsi komponen teknologi PTT padi sawah.

KESIMPULAN Respon petani terhadap peran demfam dalam peningkatan adopsi komponen teknologi PTT padi sawah cukup baik (60%).

9 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Panduan Teknologi Mendukung Program SL-PTT padi. BPTP Bengkulu. Bengkulu. Anonim. 2011. Petunjuk Teknis Pelaksanaan SL-PTT Padi. BPTP Bengkulu. Bengkulu. Anonim. 2012. Petunjuk Teknis Pemberdayaan Petani Melalui Demfarm Dengan Pola SL Agribisnis Padi. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat. Badan Pusat Statistik Kabupaten Rejang Lebong, 2010. Kabupaten Rejang Lebong Dalam Anggka. Rejang Lebong. Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Edisis Ketiga LP3ES. Jakarta. Padmowihardjo, Soedijanto. 1996. Evaluasi Penyuluhan Pertanian. Universitas Terbuka. Jakarta. Suryabrata. 1992. Organisasi Penyuluhan. Bumi Aksara. Jakarta. Sajogyo dan Pudjiwati. 1999. Sosiologi Pedesaan. Jilid II Gadjah Mada university Press. Jakarta. Tohir, K. 1993. Seuntai Pengetahuan Tentang Usahatani Indonesia. Bumi Aksara. Jakarta. Wisnuadji. 1998. Peranan Penyuluh Pertanian Lapangan. Bina Cipta. Bandung.

10 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KAJIAN PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL PADI DI KECAMATAN LEBONG SELATAN KABUPATEN LEBONG, PROVINSI BENGKULU Yartiwi, Andi Ishak dan Yesmawati

ABSTRAK Salah satu faktor yang berperan penting dalam peningkatan produktivitas padi adalah penggunaan varietas unggul yang berdaya hasil tinggi. Sampai saat ini telah dilepas sekitar 200 varietas unggul padi, namun adopsinya di lapangan masih terbatas. Suatu penelitan tentang kajian penggunaan varietas unggul padi yang telah dilaksanakan di Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu pada bulan November 2011. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 34 responden petani padi. Penelitian ini bertujuan mengetahui: (1) adopsi petani terhadap varietas unggul padi sawah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (2) pengaruh bantuan benih dari Pemerintah terhadap minat adopsi varietas unggul padi, dan (3) alasan-alasan petani memilih varietas padi. Metode penelitian dengan mengumpulkan data meliputi keadaan umum lokasi penelitian, deskripsi responden, adopsi varietas unggul padi, sumber informasi benih unggul, dan alasan-alasan petani mengadopsi varietas unggul. Analisis data secara deskriptif dan dihitung persentase dari data yang dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) adopsi petani terhadap varietas unggul berlabel mencapai 85,29% yang dipengaruhi oleh pengalaman usahatani padi, luas lahan, dan persepsi petani terhadap varietas unggul; (2) minat adopsi petani tidak dipengaruhi oleh adanya bantuan benih unggul dari pemerintah; (3) alasan utama petani mengadopsi varietas unggul adalah produktivitas tinggi (93,55%), rasa nasi (80,65%), dan anakan banyak, gabah bernas, mutu gabah baik (75,27%). Kata kunci: varietas unggul padi, tingkat adopsi

PENDAHULUAN Keberhasilan peningkatan produksi padi tidak terlepas dari ketersediaan dan adopsi teknologi. Revolusi hijau yang terjadi pada banyak negara berkembang, termasuk Indonesia sejak awal tahun 1970-an telah membuktikan bahwa peranan teknologi sangat penting dalam mengatasi kekurangan pangan. Penggunaan varietas padi unggul yang berdaya hasil tinggi, responsif terhadap pemupukan dan tahan hama penyakit utama disertai dengan perbaikan irigasi dan teknik budidaya telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi, dan kecukupan pangan. Menurut Nugraha et al. (2007), swasembada beras pada tahun 1984 di Indonesia tidak terlepas dari introduksi varietas unggul, perbaikan jaringan irigasi, teknik budidaya, dan rekayasa kelembagaan melalui program Bimas, Inmas, Insus, dan Supra Insus. Sistem perbenihan yang tangguh (produktif, efisien, berdaya 11 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

saing, dan berkelanjutan) sangat diperlukan untuk mendukung upaya peningkatan penyediaan benih padi dan peningkatan produksi beras nasional. Sampai saat ini telah dihasilkan lebih dari 200 varietas unggul padi oleh berbagai lembaga penelitian di

Indonesia yang telah dilepas oleh Kementerian

Pertanian, 85% diantaranya dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian. Dari data luas tanam pada tahun 2009, lebih dari 75% telah ditanami dengan varietas unggul. Sampai dengan tahun 2010, varietas padi yang paling luas ditanam adalah Ciherang, IR64 dan Cigeulis (Sri Wahyuni, 2011). Penggunaan benih unggul di lapangan oleh masyarakat relatif masih terbatas. Menurut Daradjat et al. (2008), benih padi yang digunakan oleh masyarakat lebih dari 60 persen berasal dari sektor informal yaitu berupa gabah yang disisihkan dari sebagian hasil panen musim sebelumnya yang dilakukan berulang-ulang. Hal ini berarti bahwa petani padi belum merespon benih unggul padi dengan baik. Permasalahan yang dihadapi dalam percepatan penggunaan varietas unggul adalah sistem informasi keberadaan benih sumber masih lemah sehingga pengetahuan pengguna tentang varietas unggul masih terbatas, disamping itu ketersediaan varietas unggul juga terbatas (Wahyuni, 2011). Kondisi di Provinsi Bengkulu tidaklah jauh berbeda dengan apa yang diuraikan di atas. Secara umum, penanaman varietas unggul berlabel dalam skala luas oleh petani padi dimungkinkan oleh adanya bantuan benih dari pemerintah melalui berbagai program, seperti subsidi benih, Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU), dan bantuan benih unggul pada lahan display dan demfarm SL-PTT. Menurut data BPS Provinsi Bengkulu (2010), luas panen padi sawah di Bengkulu adalah 121.877 ha. Jika setiap hektar lahan sawah membutuhkan 25 kg benih, maka kebutuhan benih mencapai 3.046.925 kg. Bantuan benih melalui BLBU dan SL-PTT di Bengkulu mencapai 1.046.460 kg, atau 34,34% dari kebutuhan benih total (Ishak et al., 2011). Kajian ini difokuskan untuk mengetahui adopsi petani terhadap varietas unggul padi sawah di Kecamatan Lebong Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) adopsi petani terhadap varietas unggul padi sawah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, (2) pengaruh bantuan benih dari Pemerintah 12 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

terhadap minat adopsi varietas unggul padi, dan (3) alasan-alasan petani memilih varietas padi. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan melalui survei pada bulan November sampai dengan Desember 2011 di Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong. Responden dipilih secara acak sebanyak 34 orang petani. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan petani responden menggunakan daftar pertanyaan meliputi karakteristik petani dan usahatani padi sawah. Selain itu juga dilakukan wawancara dengan petugas Dinas Pertanian Kabupaten Lebong. Data sekunder diperoleh dari Dinas Pertanian serta Badan Pusat Statistik Kabupaten Lebong. Analisis data secara deskriptif dan dihitung persentase dari data yang dianalisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Penelitian Luas wilayah Kecamatan Lebong Selatan adalah 23.494 ha dengan jumlah penduduk 13.406 jiwa. Kabupaten Lebong terdiri 13 wilayah Kecamatan. Kecamatan Lebong Selatan merupakan 1 dari 13 Kecamatan di Kabupaten Lebong, yang terdiri atas 4 kelurahan dan 4 desa dengan topografi pada ketinggian 100 – 500 mpl seluas 21.205 ha, ketinggian 500 – 1.000 mpl seluas 80.384 ha dan pada ketinggian 1.000 mpl keatas seluas 91.335 ha. Produksi padi sawah dan padi ladang di Kabupaten Lebong secara keseluruhan

pada

tahun

2009

mengalami

peningkatan

sebesar

6,62

%

dibandingkan tahun sebelumnya, dari 49.273 ton GKG di tahun 2008 menjadi 52.537 ton GKG di tahun 2009. Hal ini berkaitan pula dengan luas panen padi sawah dan padi ladang di tahun 2009 yang mengalami peningkatan menjadi 13.645 ha atau sebesar 2,35 % dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan Kecamatan tahun 2009, padi sawah dan padi ladang di produksi dari 3 Kecamatan, yaitu

13 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kecamatan Lebong Selatan 17.868 ton GKG, Lebong Utara 15.019 ton GKG dan Lebong Tengah 7.166 ton GKG. Deskripsi Responden Jumlah responden survei sebanyak 30 orang petani padi, 12 orang diantaranya (40%) memiliki persepsi yang baik terhadap penggunaan benih unggul. Umur rata-rata responden 45,11 tahun dengan tingkat pendidikan formal rata-rata yang pernah ditempuh selama 8 tahun. Lama berusahatani padi rata-rata 20,90 tahun dengan luas lahan garapan total 27,6 ha (rata-rata petani 0,92 ha), sebagian besar (80%) petani menggarap lahan milik sendiri. Sebanyak 11 orang responden (36,67%) merupakan pengurus kelompok tani, sedangkan sisanya adalah anggota kelompok. Tanggungan keluarga rata-rata responden 3,48 jiwa. Pekerjaan utama responden 36,67% adalah petani, dan sisanya adalah peternak, tukang, kebun kopi/karet, tukang ojek dan pedagang yaitu sebanyak (63.33%). Jarak domisili responden ke kios sarana produksi pertanian terdekat rata-rata 2,95 km. Adopsi Varietas Padi Unggul Varietas yang ditanam petani di Kecamatan Lebong Selatan cukup beragam yaitu 6 varietas padi. Varietas Ciherang yang paling banyak digunakan yaitu 50 %, sedangkan varietas Inpari 6 masih sangat sedikit digunakan yaitu 3,33 %. Daftar varietas yang ditanam petani disajikan pada Tabel 1. Varietas Ciherang dilepas tahun 2000, rasa nasi pulen dengan umur tanaman 116-125 hari sejak persemaian) dan potensi hasil (8,5 ton GKG/ha) dengan ratarata hasil 6,0 ton GKG/ha. Varietas ini dilepas karena lebih tahan Tahan wereng coklat biotipe 2, dan agak tahan biotipe 3 dan ketahanan terhadap penyakit Tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri strain III dan IV (Suprihatno et al., 2010). Sedangkan Varetas Unggul Baru (VUB) seperti varietas Inpari masih sangat sedikit responden yang menggunakan hal ini sesuai dengan respon petani di Kecamatan Lebong selatan terhadap VUB yang kurang baik. Benih padi yang digunakan petani berasal dari 2 sektor yaitu sektor perbenihan formal yang mensuplai benih bersertifikat/berlabel dan sektor 14 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

perbenihan informal. Penggunaan benih berlabel di Kecamatan Lebong Selatan sudah cukup tinggi. Petani responden yang menggunakan benih berlabel mencapai 80%. Hal ini didukung karena adanya distribusi melalui program Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) (Distannak Kabupaten Lebong, 2010 dan 2011), varietas yang didistribusikan yaitu Ciherang dan Cigeulis. Tabel 1. Daftar varietas padi yang ditanam petani di Kecamatan Lebong Selatan. No

Varietas

%

1

Mira

16,67

2

Cigeulis

20

3

Inpari 6

3,33

4

Silugonggo

6,67

5

Ciherang

50

6

Lokal

3,33

Total

100,00

Dari uraian di atas ternyata bahwa ketersediaan benih unggul di Kecamatan Lebong Selatan sudah memadai meskipun ketersediaan benih yang ada belum varietas unggul baru (VUB), sehingga berpengaruh terhadap tingginya penggunaan benih yang bermutu dan berlabel. Informasi benih unggul diperoleh petani dari berbagai sumber, yaitu dari petani di sekitar lingkungan mereka, petugas dinas/penyuluh pertanian, kios sarana produksi pertanian, dan penangkar padi. Umumnya petani mengetahui informasi benih unggul dari petugas dinas/penyuluh pertanian. Menurut hasil survei sebagian besar petani responden (73,33%) memperoleh informasi benih unggul dari petugas dinas/penyuluh pertanian setempat. Selain itu informasi benih unggul diperoleh dari petani sekitar (26,67%). Hal ini mengindikasikan bahwa penangkar dan kios saprodi tidak memiliki peranan penting dalam penyebarluasan informasi benih unggul padi.

15 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Pengaruh Bantuan Benih dari Pemerintah terhadap Minat Petani mengadopsi Varietas Unggul Padi Minat adopsi petani terhadap varietas unggul padi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya karena adanya program Pemerintah. Tabel 3 menunjukkan minat adopsi petani padi terhadap varietas unggul dengan adanya bantuan benih melalui Program BLBU di Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong. Tabel 3. Minat petani mengadopsi varietas unggul padi. Minat adopsi

Ada bantuan

Tidak ada bantuan

Total

Minat Mengadopsi

19

10

29

Tidak mengadopsi

2

3

5

Jumlah

21

13

34

Alasan-alasan Petani memilih Varietas Padi Alasan-alasan petani responden memilih varietas padi yang ditanam beragam. Setiap responden memilih lebih dari satu alasan dalam penentuan varietas padi yang akan ditanam. Tabel 4 menunjukkan bahwa alasan utama petani memilih varietas yang akan ditanam adalah produktivitas tinggi (93,55%). Kenyataan ini menunjukkan bahwa petani di Kecamatan Lebong Selatan menanam padi

terutama

bertujuan

untuk

memenuhi

kebutuhan

keluarga,

sehingga

produktivitas tinggi menjadi pertimbangan utama.

16 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 4. Alasan responden memilih varietas padi. No

Alasan responden memilih varietas

Persentase responden (%)

1

Rasa nasi disukai petani

80,65

2

Rasa nasi disukai konsumen

61,29

3

Produktivitas tinggi

93,55

4

Harga jual tinggi, umur genjah, benih mudah diperoleh

48,39

5

Daun bendera tegak

35,48

6

Tahan rebah, tahan HPT

58,07

7

Bulir malai panjang, wangi

41,94

8

Tahan kekeringan

25,81

9

Anakan banyak, gabah bernas, Mutu gabah baik

75,27

Alasan lain petani memilih suatu varietas unggul adalah rasa nasi disukai petani (80,65%). Alasan-alasan lainnya yaitu anakan banyak, gabah bernas, mutu gabah baik (75,27%). Dari beberapa alasan ini terlihat bahwa petani padi di Kecamatan Lebong Selatan Kabupaten Lebong menanam padi bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, namun juga sudah berorientasi agribisnis. Fakta ini didukung oleh penggunaan varietas unggul berlabel yang sudah cukup tinggi (80%). Selain itu dengan melihat kepemilikan lahan sawah rata-rata petani yaitu 0,92 ha, petani pemilik sekaligus penggarap lahan 80% dan jumlah tanggungan rata-rata keluarga petani 3,48 jiwa, maka diperkirakan hasil panen yang diperoleh akan melebihi kebutuhan pangan keluarga.

17 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KESIMPULAN Tingkat adopsi petani padi di Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong terhadap varietas unggul padi berlabel mencapai 80 % yang dipengaruhi oleh

pengalaman usahatani padi, luas lahan, dan persepsi petani terhadap varietas unggul. Sedangkan alasan petani mengadopsi varietas unggul adalah produktivitas tinggi (93,55%), rasa nasi disukai petani (80,65%), anakan banyak, gabah bernas, mutu gabah baik (75,27%). Sedangkan yang berminat mengadopsi varietas unggul tidak dipengaruhi oleh adanya bantuan benih unggul dari pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA BPS Kabupaten Lebong. 2010. Kabupaten Lebong Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Kabupaten Lebong. BPS Provinsi Bengkulu. 2010. Bengkulu Dalam Angka 2010. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. Daradjat, A.A., Agus S., A.K. Makarim, A. Hasanuddin. 2008. Padi – Inovasi Teknologi Produksi. Buku 2. LIPI Press. Jakarta. Distan Kabupaten Lebong. Laporan Distribusi Bantuan Langsung Benih Unggul (BLBU) Kabupaten Bengkulu Utara. Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara. Tidak dipublikasikan. Ishak, A., Afrizon, Z. Efendi, Yartiwi, dan Yahumri. 2011. Laporan Hasil Survei Perbenihan kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS). BPTP Bengkulu. Tidak dipublikasikan. Nugraha, U.S, Sri Wahyuni, M.Y. Samaullah, dan A. Ruskandar. 2007. Perbenihan di Indonesia. Prosiding Hasil Penelitian Padi Tahun 2007. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Subang – Jawa Barat. Sri Wahyuni. 2011. Teknik Produksi Benih Sumber Padi. Makalah disampaikan dalam Workshop Evaluasi Kegiatan Pendampingan SL-PTT 2001 dan Koordinasi UPBS 2012 tanggal 28-29 November 2011. Balai Besar Penelitian Padi. Tidak dipublikasikan. Suprihatno, B., A.A. Daradjat, Satoto, Baehaki SE, Suprihanto, A. Setyono, S.D. Indrasari, IP Wardana, dan H. Sembiring. 2011. Deskripsi Varietas Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Subang – Jawa Barat.

18 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KERAGAAN PERTUMBUHAN DAN KOMPONEN HASIL TIGA VARIETAS UNGGUL PADI GOGO DI RUMAH KACA Yartiwi, Yahumri dan Andi Ishak

ABSTRAK Rata-rata produktivitas padi gogo di Bengkulu masih rendah dibandingkan rata-rata hasil varietas unggul baru padi gogo yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian yang mencapai 4 ton/ha seperti Inpago 4 (4,15 ton/ha), Inpago 5 (4,04 ton/ha) dan Inpago 6 (3,9 ton/ha). Oleh karena itu peluang peningkatan produktivitas padi gogo di Bengkulu dapat ditingkatkan dengan penggunaan varietas unggul baru. Pengujian adaptasi varietas unggul baru bertujuan untuk membandingkan keragaan pertumbuhan dan komponen hasil, serta menunjukan keragaan VUB kepada pengunjung di BPTP. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca BPTP Bengkulu pada bulan Desember 2011 sampai bulan April 2012, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tiga varietas unggul baru padi gogo (Inpago 4, 5 dan 6) yang diulang sebanyak 7 kali. Data dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (Anova) dan diuji lanjut dengan DMRT untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Keragaan pertumbuhan dan komponen hasil dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan hasil penelitian dengan deskripsi varietas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tiga varietas inpago tidak berbeda nyata pada parameter tinggi tanaman. Sedangkan parameter jumlah anakan terdapat perbedaan antar perlakuan inpago 4, 5 dan 6 yaitu rata-rata 12,86, 17,14 dan 10,57. Untuk komponen hasil yang mendekati dengan deskripsi yaitu perlakuan inpago 6 dilihat dari jumlah gabah bernas, berat 1000 butir dan hasil/pot juga merupakan hasil tertinggi diantara ketiga perlakuan yaitu 31.53 gr/pot dibandingkan perlakuan inpago 4 dan 5 yaitu 21,38 gr/pot dan 12,45 gr/pot. Kata kunci : pertumbuhan, komponen hasil, varietas unggul baru, padi gogo

PENDAHULUAN Kebutuhan beras akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, peningkatan konsumsi perkapita dan peningkatan pendapatan. Upaya peningkatan produksi beras saat ini mengalami banyak kendala seperti terjadinya alih fungsi lahan, ketidakpastian iklim dan penurunan kualitas sumberdaya lahan. Badan Pusat Statistik (2011) mencatat bahwa produksi nasional pada tahun 2011 sebanyak 65.740.046 ton gabah kering giling (GKG) menurun 724.448 ton atau 1,1 % dari tahun sebelumnya sebesar 66.469.394 ton. Demikian juga rata-rata produktivitasnya menurun dari 5,015 ton pada tahun 2010 menjadi 4,98 ton pada tahun 2011. Rata-rata produktivitas padi sawah di Bengkulu juga menurun dibandingkan tahun 2010 sebesar 0,07 ton dari 4,036 ton menjadi 3,966 ton GKG/ha. Di sisi lain padi inpago meningkat sebesar 0,026 ton/ha dari 2,125 to/ha menjadi 2,151 to/ha. 19 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Sumbangan dari produksi padi gogo terhadap produksi padi total di Bengkulu pada tahun 2011 sebesar 5,89 %. Potensi produksi padi gogo di Bengkulu cukup besar, bila ditinjau dari aspek agroekologi Bengkulu yang didominasi oleh lahan kering (BPS Propinsi Bengkulu, 2011). Rata-rata produktivitas padi gogo di Bengkulu diatas masih rendah dibandingkan rata-rata hasil varietas unggul baru padi gogo yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian yang mencapai 4 ton/ha seperti inpago 4 sebesar 4,15 ton/ha, inpago 5 (4,04 ton/ha) dan inpago 6 (3,9 ton/ha) (Suprihatno, dkk., 2011). Oleh karena itu peluang peningkatan produktivitas padi gogo di Bengkulu dapat ditingkatkan dengan penggunaan varietas unggul baru. Disadari bahwa adopsi varietas unggul baru padi gogo di tingkat petani tidaklah mudah dan diperlukan informasi tentang kesesuaian varietas dengan kondisi spesifik lokasi. Sebelum uji adaptasi di lapangan, sebaiknya telah dilakukan pegujian di tingkat laboratorium atau rumah kaca, sehingga dalam proses diseminasi yang lebih luas , varietas yang dipilih telah diyakini akan beradaptasi dengan baik di lapangan. BPTP Bengkulu yang memiliki mandat mendiseminasikan inovasi teknologi khususnya berasal dari Badan Litbang Pertanian perlu memiliki informasi tentang keragaan pertumbuhan dan hasil VUB padi gogo di lapangan. Untuk itu telah dilakukan pengujian adaptasi 3 varietas unggul bari padi gogo yaitu inpago 4, 5 dan 6 di rumah kaca BPTP Bengkulu yang bertujuan untuk membandingkan keragaan pertumbuhan dan komponen hasil ketiga varietas tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan di Rumah Kaca BPTP Bengkulu pada bulan Desember 2011 sampai dengan April 2012. Penanaman dilakukan dengan menggunakan 21 buah pot plastik yang dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sebagai perlakuan adalah varietas unggul baru padi gogo yaitu inpago 4, inpago 5 dan inpago 6 yang masing-masing diulang sebanyak 7 kali. Dosis pupuk yang digunakan pada seluruh perlakuan sama yaitu sesuai dengan hasil analisis tanah. Media tanam (tanah) yang disiapkan adalah jenis tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) dengan bobot tanah per pot setara dengan 10 kg kering angin. 20 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Data yang dikumpulkan meliputi keragaan pertumbuhan yaitu tinggi tanaman dan jumlah anakan, serta komponen hasil berupa jumlah gabah bernas, jumlah gabah hampa, panjang malai, berat 1000 butir dan hasil per pot. Keragaan pertumbuhan diukur setiap minggu sampai dengan tanaman berumur 8 minggu setelah tanam dan pada saat panen, sedangkan komponen hasil diamati saat panen. Data di analisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dan di uji lanjut dengan

DMRT

pertumbuhan

untuk dan

mengetahui

komponen

perbedaan

hasil

antar

dianalisis

perlakuan.

secara

Keragaan

deskriptif

dengan

membandingkan hasil penelitian dengan deskripsi varietas. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan Vegetatif Pada Tabel 1 hasil pengukuran untuk tinggi tanaman menunjukkan bahwa minggu

ke-1, 2, 4, 6, 7 dan minggu ke-8 tinggi tanaman tidak menunjukkan

perbedaan yang nyata antar varietas, tetapi pada minggu ke-3 dan minggu ke-5 varietas inpago 4 menunjukan berbeda nyata dengan varietas inpago 5 dan 6. Adapun varietas yang paling tinggi dari ketiga varietas tersebut adalah Inpago 5 yaitu 111.86 cm sedangkan yang paling rendah varietas Inpago 6 yaitu 111.29 cm. Tabel 1. Hasil pengukuran tinggi tanaman (cm) mulai 1 MST hingga 8 MST masing-masing varietas yaitu Inpago 4, 5 dan 6. Perlakuan (varietas)

Pengamatan Minggu Ke 1

2

3

32.50

a

4

43.64

a

5

59.23

a

6

71.57

a

7

Inpago 4

18.34

a

Inpago 5

16.73

a

31.21

a

39.57

b

57.60

a

61.00

b

77.29

a

99.29

Inpago 6

17.81

a

30.33

a

39.21

b

50.51

a

62.00

b

82.00

ab

98.29

8

90.00

a

106.29

a

117.43

a

a

111.86

a

a

111.29

a

Angka-angka dalam kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % uji DMRT.

Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah anakan pada minggu ke-3, 4, 5, 6 dan 7 terdapat perbedaan yang nyata pada varietas Inpago 6 dengan Inpago 5, sedangkan pada varietas inpago 5 jumlah anakan tidak menunjukkan perbedaan 21 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

yang nyata. Dari ketiga varietas tersebut jumlah anakan yang tertinggi adalah varietas Inpago 5 yaitu rata-rata 18 anakan sedangkan yang terendah adalah varetas Inpago 4 yaitu rata-rata anakan 15.57 anakan. Tabel 2. Hasil penghitungan jumlah anakan mulai 1 MST hingga 8 MST masing-masing varietas yaitu Inpago 4, 5 dan 6. Perlakuan (Varietas)

Pengamatan Minggu Ke 1

2

3

4

5

6

7

Inpago 4

2.43

ab

3.57

a

5.57

ab

8.00

ab

8.00

ab

Inpago 5

3.14

a

4.57

a

6.43

a

9.71

a

9.71

a

13.29

Inpago 6

2.00

a

3.43

a

4.71

b

6.29

b

6.29

b

8.29

10.86

8

ab

15.29

ab

15.57

a

a

16.71

a

18.00

a

11.14

b

16.00

a

b

Pertumbuhan Generatif Pada parameter pertumbuhan generatif diamati tinggi tanaman terakhir dan jumlah anakan yang produktif tiap-tiap varietas. Tabel 3 menunjukkan bahwa tinggi tanaman dari ketiga varietas yaitu inpago 4, 5 dan 6 tidak menunjukkan berbeda nyata dimana varietas inpago 4 mempunyai rata-rata tinggi-tinggi tanaman 131.29 cm sedangkan yang paling rendah adalah varietas inpago 5 dengan rata-rata tinggi tanaman 131 cm. Sedangkan jumlah anakan produktif berbeda nyata pada perlakuan inpago 5 dengan jumlah anakan terbanyak 17.14 batang/rumpun dibandingkan dengan perlakuan inpago 4 dan 6 (masing-masing 12.86 dan 10.57 batang/rumpun). Tabel 3. Hasil pengukuran tinggi tanaman (cm) dan jumlah anakan produktif varietas inpago 4, 5 dan 6 di maksimum pertumbuhan. Perlakuan

Tinggi Tanaman (cm)

Jumlah Anakan (batang/rumpun)

Inpago 4

131.29

a

12.86

b

Inpago 5

131.00

a

17.14

a

Inpago 6

137.14

a

10.57

b

Angka-angka dalam kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % uji DMRT.

Pada Tabel 4 menunjukkan bahwa keragaan pertumbuhan tanaman yang dihasilkan mempunyai selisih dengan yang ada di deskripsi varietas antar perlakuan. Selisih hasil penelitian dengan deskripsi tersebut ada yang lebih tinggi 22 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

dan ada yang lebih rendah. Perlakuan inpago 4 keragaan tanaman untuk tinggi tanaman dan jumlah anakan hasil penelitian lebih rendah dari deskripsi, inpago 5 tinggi tanaman lebih rendah tetapi untuk jumlah anakan hasil penelitian lebih tinggi dari yang dideskripsi dan perlakuan inpago 6 tinggi tanaman yang lebih tinggi sedangkan jumlah anakan lebih rendah dari yang di deskripsi. Tabel 4. Keragaan pertumbuhan tanaman dan komponen hasil penelitian dibandingkan dengan deskripsi varietas antar perlakuan. Keragaan Pertumbuhan Varietas

Tinggi Tanaman (cm)

Jumlah anakan produktif

Hasil Penelitian (cm)

Deskripsi (cm)

Selisih (cm)

Hasil Penelitian

Deskripsi

Selisih

Inpago 4

131.29

134

-2.71

12.86

11

1.86

Inpago 5

131.00

132

-1

17.14

14

3.14

Inpago 6

137.14

117

20.14

10.57

11

-0.43

Untuk tinggi tanaman dari ketiga varietas tersebut hanya varietas inpago 6 yang lebih tinggi dari yang di deskripsi padi yang dirilis Balai Besar Padi, sedangkan jumlah anakan produktif diatas deskripsi padi semua. Berdasarkan deskripsi padi, varietas inpago 4 tinggi tanaman + 134 cm dengan jumlah anakan + 11 batang, inpago 5 + 132 cm jumlah anakan + 14 batang dan inpago 6 + 117 cm dan jumlah anakan + 11 batang (Suprihatno, dkk., 2011). Rendahnya batang tanaman ini diperkirakan dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi varietas yang berbeda. Untuk

komponen hasil dari semua parameter

yang diamati

semua

menunjukkan perbedaan yang nyata kecuali pada berat 1000 butir. Setelah di uji secara statistik, berat 1000 butir yang tertinggi adalah varietas inpago 5 yaitu 26.31 gr. Sedangkan varietas inpago 4 dan 6 sudah mendekati yang dideskripsi yaitu 23 gr dan 23.29 gr (92 % dan 93.16 %) dapat dilihat pada Tabel 5.

23 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 5. Data komponen hasil panjang malai (cm), gabah hampa (butir), gabah isi (butir), berat 1000 butir (gr), hasil/pot (gr) ketiga varietas inpago 4, 5 dan 6. Perlakuan

Panjang Malai (cm)

Gabah Hampa (Butir)

Gabah Isi (Butir)

Berat 1000 Butir (gr)

Hasil/Pot (gr)

Inpago 4

24.12

b

46.51

a

82.75

b

23.00a

21.38

b

Inpago 5

22.00

c

52.98

a

45.46

c

26.31a

12.45

c

Inpago 6

27.30

a

22.02

b

142.21

23.29a

31.53

a

a

Angka-angka dalam kolom yang sama yang diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % uji DMRT.

Hasil per pot pada tiap perlakuan menunjukkan perbedaan yaitu inpago 6 memperoleh hasil tertinggi yaitu 31.53 gr/pot sedangkan inpago 4 dan 5 yaitu 21.38 gr/pot dan 12.45 gr/pot. Rendahnya hasil ini diduga karena pada perlakuan inpago 4 dan 5 terjadi serangan hama semut dan burung yang menyebabkan gabah banyak menjadi hampa, hal ini dapat dilihat dimana gabah hampa antar perlakuan inpago 4 dan 5 berbeda nyata dengan inpago 6. KESIMPULAN Varietas inpago 4 dan 5 mampu meningkatkan jumlah anakan 1,86 dan 3,14 batang/rumpun, sedangkan varietas inpago 6 mampu meningkatkan tinggi tanaman mencapai 20,14 cm. Pada komponen hasil yang mendekati deskripsi yaitu perlakuan inpago 6 dilihat dari jumlah gabah bernas, berat 1000 butir dan hasil/pot juga merupakan hasil tertinggi diantara ketiga perlakuan yaitu 31.53 gr/pot dibandingkan perlakuan inpago 4 dan 5 yaitu 21,38 gr/pot dan 12,45 gr/pot. UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Eddy Makruf yang telah membantu dan memberikan fasilitas penelitian, serta memberikan kritik dan saran yang bermanfaat bagi penulis selama dalam pelaksanaan penelitian di rumah kaca.

24 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

DAFTAR PUSTAKA BPS. 2011. Tabel Luas Panen, Produktivitas, Produksi Tanaman Padi Seluruh Propinsi (http://www.bps.go.id/tnmn_pgn.php?adodb_next_page=2&eng=0&pgn=1&prov=99 &thn1=2010&thn2=2011&luas=1&produktivitas=1&produksi=1. Di unduh 7 juni 2012, 8:45). BPS Propinsi Bengkulu. 2011. Berita Resmi Statistik Nomor 43/11/17/th.V, 1 November 2011. BPS. 2011. Nurbaeti, B dan Agus, N., 2009. Petunjuk Teknis Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT) Padi Gogo. BPTP Jawa Barat. Badan Litang Pertanian. Departemen Pertanian. Suprihatno, B., Aan A. Daradjat, Satato, Erwin Lubis, Baehaki, SE., S. Dewi Indrasari, I Putu Wardana dan M.J. Mejaya. 2011. Deskripsi Varietas Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Sukamandi. 118 hal.

25 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

TINGKAT PENERAPAN TEKNOLOGI KOMPONEN PTT DI KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG Siti Rosmanah dan Sri Suryani M. Rambe

ABSTRAK Melalui metode penyuluhan yang dilakukan selama ini pada sentra-sentra padi di Kabupaten Rejang Lebong, khususnya di Kecamatan Curup Selatan, produktivitas padi sawah baru mencapai 3-4 ton/ha. Untuk itu perlu dilakukan kajian untuk mengetahui tingkat penerapan komponen teknologi guna meningkatkan produktivitas padi. Pengkajian melalui survei dilakukan terhadap responden sebanyak 25 orang yang tersebar di 5 desa sentra penghasil padi di Kecamatan Curup Selatan dengan menggunakan alat bantu berupa kuesioner. Dari hasil survei diperoleh tingkat penerapan komponen teknologi padi untuk kecamatan Curup Selatan. Komponen PTT yang diterapkan petani di Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong terdiri pengolahan tanah (68%), penggunaan VUB (56%), penggunaan benih berlabel (60%), penanaman bibit muda (20%), jumlah bibit 1-3 batang/rumpun (36%), sistem tanam legowo belum sesuai anjuran (legowo 8:1 dan 10:1), penggunaan kompos (8%), pemupukan spesifik lokasi belum dilakukan, pengendalian OPT (60%) dan waktu panen yang tepat (80%). Untuk meningkatkan penerapan teknologi padi, diperlukan metode penyuluhan yang lebih disukai petani yaitu demonstrasi plot/area PTT padi sawah. Kata kunci: PTT padi sawah, komponen teknologi, tingkat penerapan teknologi

PENDAHULUAN Program peningkatan produksi beras atau yang disingkat P2BN merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan produksi beras sebesar 5%. Peningkatan ini bisa ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui intensifikasi. Intensifikasi ditempuh melalui penerapan PTT (penggelolaan tanaman terpadu) dengan komponen penggunaan VUB, benih berlabel, dan umur bibit muda (Anonimous, 2007). Program P2BN ini telah dimulai pada tahun 2007 dan berhasil meningkatkan beras sebesar 4,76% atau setara 2,59 juta ton beras yang sebelumnya hanya tumbuh kurang dari 1%. Secara garis besar, komponen PTT dibadi menjadi dua yaitu komponen PTT dasar dan komponen PTT pilihan. Komponen PTT dasar merupakan teknologi yang sangat dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi sawah. Komponen dasar ini terdiri dari beberapa komponen yaitu penggunaan varietas unggul baru (VUB), penggunaan benih bermutu dan berlabel, pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami, pengaturan populasi tanaman secara optimum, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah dan pengendalian OPT. 26 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Sedangkan komponen PTT pilihan merupakan teknologi yang disesuaikan dengan kondisi, kemauan dan kemampuan petani setempat. Penggunaan VUB, benih bermutu, tanaman bibit muda (15-20 hari), jumlah bibit 1-3 bibit, pemupukan berdasarkan bagan warna daun, dan pemupukan P dan K berdasarkan status hara tanah (mengikuti rekomendasi pemupukan) dilaporkan dapat meningkatkan produktivitas padi sawah hingga 15% (Kamandalu et al, 2011). Sedangkan menurut Hastini et al, 2011 penerapan PTT padi sawah di Desa Wanasari Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta mampu meningkatkan produktivitas sebesar 54,02% selama beberapa musim tanam. Selain itu penerapan PTT padi sawah juga memberikan efisiensi penggunaan pupuk Urea sebanyak 10%, SP-36 dan KCl masing-masing 33,33% dan pestisida sebesar 75%. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penerapan komponen PTT yang telah dilaksanakan oleh petani pada sentra tanaman padi di Kecamatan Curup Selatan. METODE PENGKAJIAN Pengkajian dilakukan di Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong pada bulan Agustus-November 2011. Pengkajian melalui survei terhadap responden sebanyak 25 orang yang tersebar di 5 desa sentra penghasil padi di Kecamatan Curup Selatan dengan menggunakan alat bantu berupa kuesioner. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pemilihan petani yang dilakukan secara acak. Desa-desa lokasi survei adalah Air Putih Baru, Rimbo Recap, Lubuk Ubar, Sukamarga, dan Watas Marga. Data yang dikumpulkan meliputi profil Kecamatan Curup Selatan dan teknologi PTT yang diterapkan oleh petani. Selanjutnya data tersebut ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Kecamatan Curup Selatan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Rejang Lebong yang memiliki potensi lahan untuk tanaman pangan seluas 2.954 ha dan tanaman palawija 1.968 ha. Luas lahan sawah di Kecamatan Curup Selatan 27 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

seluas 835,5 ha. Topografi bervariasi dari dataran, bergelombang dan berbukit dengan kemiringan antara 1-60%. Kecamatan Curup Selatan berada pada ketinggian 550-900 m dpl. Jenis tanah rata-rata andosol dan latosol dengan pH 5,57. Jumlah bulan basah rata-rata 5-9 bulan/tahun dengan jumlah bulan kering 3-5 bulan/tahun. curah hujan rata-rata 2.140 mm/tahun dengan suhu berkisar antara 24-320C, kelembaban 40-80% dan intensitas penyinaran 5-8 jam/hari (BPP Lubuk Ubar, 2011). 1. Tingkat Penerapan Komponen PTT Dasar a). Penggunaan VUB Komponen PTT dasar adalah teknologi yang dianjurkan untuk diterapkan di semua lokasi padi sawah. Penggunaan varietas unggul baru (VUB) merupakan salah satu komponen PTT dasar. Penggunaan VUB merupakan salah satu pemecahan masalah produksi padi di Provinsi Bengkulu. Untuk itu Badan Litbang Pertanian berusaha menghasilkan VUB berbasis agroekosistem dan spesifik lokasi, seperti varietas toleran terhadap kekeringan, naungan, suhu rendah, tahan wereng coklat, blas, tungro dan hama penyakit utama lainnya (Kustiyanto, 2001). Berdasarkan hasil survei, penggunaan benih VUB sudah banyak dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Benih yang banyak digunakan adalah varietas Cigeulis yang digunakan oleh sebanyak 56%, 24% menggunakan benih varietas IR-64, 8% menggunakan benih varietas Ciherang dan sisanya sebanyak 16% menggunakan varietas lain. Varietas lain yang juga ditanam oleh petani adalah varietas padi lokal. Data penggunaan VUB dan benih berlabel di Kecamatan Curup Selatan dapat dilihat pada Tabel 1. Jenis VUB yang baru dilepas seperti varietas Inpari belum banyak digunakan oleh petani pada sentra tanaman padi di Kecamatan Curup Selatan. ketersediaan benih yang belum ada di kios-kios tani sehingga petani kesulitan untuk mendapatkan benih tersebut. Selain itu kesukaan petani terhadap jenis padi IR-64 juga menjadi salah satu alasan penggunaan VUB belum banyak digunakan oleh petani.

28 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Terbatasnya

ketersediaan

benih

sumber,

kurangnya

produsen

atau

penangkar benih lokal, tingginya resiko dan minimalnya keuntungan usaha perbenihan serta kecenderungan petani untuk menggunakan benih yang dihasilkan sendiri merupakan salah satu kendala pada usahatani padi sawah (Wahyuni, 2005). b). Penggunaan Benih berlabel Secara umum, penggunaan benih berlabel merupakan benih yang telah mendapat sertifikasi dari instansi yang bersangkutan. Benih berlabel biasanya mempunyai tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi. Penggunaan benih berlabel telah banyak digunakan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Sebanyak 60% telah menggunakan benih berlabel, sedangkan sisanya sebanyak 40% menggunakan benih tanpa label. Data penggunaan VUB dan benih berlabel di Kecamatan Curup Selatan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Penggunaan VUB dan benih berlabel di Kecamatan Curup Selatan. Penggunaan VUB Varietas

Benih berlabel

Persentase (%)

Penggunaan label

Persentase (%)

Cigeulis

56

Label

60

IR-64

24

Tanpa label

40

Ciherang

8

Varietas Lain

12

Berdasarkan asalnya, asal benih berlabel yang digunakan oleh petani ratarata berasal dari kios tani. Sebanyak 44% telah memperoleh benih berlabel melalui pembelian di kios tani dan sebanyak 16% memperoleh benih dari balai benih induk atau BBI. Selain itu sisanya masih menggunakan benih turunan yang dihasilkan oleh petani. Sebanyak 36% petani menggunakan benih yang berasal dari sesama petani dan 4% petani memperoleh benih yang berasal dari lainnya. Penggunaan benih yang dihasilkan dari hasil panen sendiri merupakan penggunaan benih yang selama ini masih banyak digunakan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Benih yang diturunkan biasanya berasal dari benih terdahulu dengan produktivitas tinggi. 29 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kendala yang dihadapi oleh petani untuk menggunakan benih berlabel adalah harga benih berlabel yang lebih mahal jika dibandingkan dengan benih yang diperoleh dari panen sendiri. Terbatasnya ketersediaan benih sumber, kurang produsen atau penangkar benih lokal, tingginya resiko dan minimalnya keuntungan usaha perbenihan serta kecenderungan

petani

untuk

menggunakan

benih

yang

dihasilkan

sendiri

merupakan salah satu kendala pada usahatani padi sawah. Selain kendala yang dihadapi oleh petani di dalam melakukan usahatani padi sawah, permasalahan yang dihadapi oleh produsen benih adalah menjaga kesinambungan produksi benih (Anonymous, 2009). Menurut Wahyuni (2005), rendahnya efisiensi industri produksi perbenihan disebabkan oleh rendahnya produksi benih, tingginya persentase ketidak lulusan benih dalam uji di laboratorium yang disebabkan oleh pengendalian mutu yang tidak efektif, dan pembatalan oleh penangkar karena harga jual benih yang tidak menarik. Sedangkan di tingkat petani, rendahnya minat petani untuk menggunakan benih bersertifikat karena benih yang dihasilkan dari panen sendiri telah tersedia. Sehingga petani lebih memilih menggunakan benih yang dihasilkan sendiri daripada menggunakan benih yang bersertifikat. c). Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami Pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memelihara kesuburan tanah. Selain berperan untuk memperbaiki kesuburan kimia, pemberian bahan organik juga bertujuan untuk meningkatkan kesuburan fisik dan biologi tanah. Pengembalian jerami belum banyak dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Hal ini karena masih banyak petani yang membakar jerami dan membuang jerami. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, sebanyak 60% petani membakar

jerami,

16%

petani

membuang

jerami

keluar

lahan,

16%

memberikannya untuk ternak dan 8% menggunakan jerami sebagai kompos. Data pengolahan jerami yang dilakukan petani di Kecamatan Curup Selatan dapat dilihat pada Tabel 2.

30 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 3. Pengolahan jerami yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Pengolahan jerami

Frekuensi

Persentase (%)

Dikomposkan

2

8

Dibuang

4

16

Dibakar

15

60

Untuk pakan ternak

4

16

Jumlah

25

100

Walaupun pengembalian jerami ke lahan belum banyak dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan, penggunaan bahan organik telah banyak dilakukan. Bahan organik yang digunakan adalah bahan organik yang berasal dari kotoran sapi, kambing maupun ayam. Selain itu penggunaan pupuk organik yang berasal dari pabrik juga telah banyak digunakan. Penggunaan bahan organik oleh petani di Kecamatan Curup Selatan berkisar antara kurang dari 1 -2 ton/ha. Dosis rata-rata penggunaan pupuk organik yang digunakan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan adalah < 1 ton/ha sebanyak 76%, 8% menggunakan dosis yang berkisar antara 1-2 ton/ha, sedangkan sisanya sebanyak 16% tanpa menggunakan pupuk organik. Berdasarkan hasil penelitian Mukhlis (2010), pemberian pupuk bio kompos yang berasal dari gulma insitu sebanyak 2 t/ha, pupuk anorganik (110 kg/m2, 55 kg/m P2O5, 55 kg/m K2O dan 500 kg/m kapur) mampu meningkatkan produktivitas lahan rawa lebak. Sehingga pengembalian jerami ke lahan akan meningkatkan dan memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Menurut Abbas (1992), pupuk organik dapat meningkatkan ketersediaan fosfor di dalam. Dengan meningkatnya ketersediaan fosfor di dalam tanah maka akan memperbaiki pertumbuhan akar sehingga akar akan lebih banyak lagi menyerap unsur hara. Faktor yang menyebabkan pengembalian jerami masih belum banyak dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan adalah karena terlalu rumit untuk mengolah jerami menjadi kompos. Sehingga untuk memudahkan pengolahan lahan maka jerami langsung dibakar setelah panen selesai. Selain itu pemberian 31 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pakan sapi dengan menggunakan jerami juga menjadi salah satu banyaknya jerami terangkut keluar dari lahan. Akibatnya produktivitas padi terus menerus menurun. d). Pengaturan populasi tanaman (sistem legowo) Pengaturan populasi tanaman atau yang lebih dikenal dengan sistem legowo belum banyak dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Sebanyak 28% telah melakukan penanaman secara legowo, sebanyak 20% menggunakan sistem tanam tegel dan sisanya sebanyak 32% menggunakan jarak tanam tanpa aturan. Sistem tanam yang digunakan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Sistem tanam yang digunakan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Sistem tanam

Frekuensi

Persentase (%)

Tegel

5

20

Legowo petani

12

48

Tanpa aturan

8

32

Jumlah

100

Walaupun jumlah petani yang menggunakan sistem tanam legowo banyak, akan tetapi legowo yang digunakan belum sesuai dengan anjuran. Legowo yang digunakan masih merupakan legowo cara petani yaitu legowo 8:1 atau 10:1. Penggunaan legowo 2:1 ataupun 4:1 belum banyak dilakukan oleh petani dengan alasan rumit sehingga membutuhkan biaya tambahan. Selain itu, sistem tanam tegel juga masih dilakukan oleh petani yaitu sebanyak 20% sedangkan sisanya sebanyak 28% masih menggunakan sistem tanam tanpa aturan. Jarak tanam yang digunakan oleh petani juga berbeda-beda, jarak tanam yang banyak digunakan oleh petani adalah tanpa aturan. Sebanyak 52% menggunakan jarak tanam tanpa aturan sedangkan sisanya sebanyak 16% menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm, 8% menggunakan jarak tanam 22,5 x 22,5 cm dan sisanya sebanyak 24% menggunakan jarak tanam 20 x 25 cm.

32 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

e). Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah belum dilakukan oleh petani secara maksimal. Jenis pupuk yang digunakan terdiri dari Urea, SP-36, NPK dan KCL. Dosis pemupukan yang digunakan belum sesuai dengan anjuran. Rata-rata dosis pupuk Urea yang digunakan berkisar antara 50-100 kg/ha yang digunakan oleh petani sebanyak

40%. Sedangkan sisanya sebanyak 28%

menggunakan dosis yang berkisar antara 101-150 kg/ha, 24% menggunakan dosis yang berkisar antara 151-200 kg/ha dan 8% menggunakan dosis 251-300 kg/ha. Dosis pupuk kimia yang digunakan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan sapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Dosis pupuk kimia yang digunakan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Persentase masing-masing pupuk

Dosis (kg/ha)

Urea

SP-36

KCl

NPK

50-100

40

32

44

24

101-150

28

0

0

0

151-200

24

0

0

0

201-250

8

0

16

0

251-300

0

0

0

0

Tidak menggunakan

0

68

40

76

Penggunaan pupuk SP-36 juga masih belum banyak digunakan oleh petani. Hanya 32% yang menggunakan sedangkan sisanya sebanyak 68% belum menggunakan pupuk SP-36. Dosis penggunaan pupuk SP-36 yang digunakan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan berkisar antara 50-250 kg/ha. Pemupukan dengan menggunakan KCl juga masih belum banyak dilakukan oleh petani. Pemupukan dengan menggunakan pupuk KCl hanya dilakukan oleh petani sebanyak 24%. Dengan dosis yang berkisar antara 25-75 kg/ha. Sedangkan pupuk lain yang juga digunakan adalah pupuk NPK. Sebanyak 64% telah menggunakan pupuk NPK. Dosis pupuk NPK yang digunakan berkisar antara 50250 kg/ha.

33 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Rekomendasi pemupukan spesifik lokasi yang ada baru pada tingkat kecamatan

sehingga

merupakan salah satu penyebab bervariasinya dosis

pemupukan yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. PUTS sudah disosialisasikan tetapi tidak tersedia alatnya sehingga petani belum dapat melakukan pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Kelangkaan pupuk di pasaran juga menjadi kendala yang dihadapi oleh seluruh petani tidak hanya di Kecamatan Curup Selatan, akan tetapi wilayah-wilayah sentra tanaman padi lainnya. Selain itu harga pupuk yang mahal juga menjadi kendala pemupukan belum bisa dilaksanakan spesifik lokasi. Rekomendasi pupuk spesifik lokasi diperlukan untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas padi terutama di wilayah Kecamatan Curup Selatan. f). Pengendalian OPT dengan pendekatan PHT Sebanyak 60% telah melakukan pengendalian OPT setelah munculnya gejala serangan, sedangkan sisanya sebanyak 40% melakukan pengendalian hama/penyakit sebelum ditemukan adanya serangan. Pengendalian OPT dengan pendekatan PHT disarankan untuk dilakukan pada pertanaman. 2. Tingkat Penerapan Komponen PTT Pilihan Komponen PTT pilihan terdiri dari pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam, penggunaan bibit muda (< 21 hari), tanam bibit 1-3 batang/rumpun, pengairan secara efektif dan efisien, penyiangan dengan landak atau gasrok dan panen tepat waktu dan gabah segera dirontokkan. Komponen ini merupakan komponen pilihan yang disesuaikan dengan waktu dan kondisi lingkungan. Sehingga penerapan komponen pilihan akan berbeda-beda untuk masing-masing lokasi. Pengolahan tanah yang dilakukan oleh petani Kecamatan Curup Selatan merupakan pengolahan tanah sempurna yang terdiri dari tiga tahapan yaitu bajak, garu dan perataan. Sebanyak 68% telah melakukan pengolahan tanah secara sempurna. Sisanya sebanyak 28% melakukan pengolahan hanya dua tahapan yaitu bajak dan garu saja, sedangkan sebanyak 4% hanya melakukan pembajakan saja. Pengolahan tanah sudah cukup baik dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup 34 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Selatan. Hand traktor sebagai salah satu alat yang digunakan untuk pengolahan lahan telah cukup tersedia. Sehingga petani tidak kesulitan di dalam melakukan pengolahan lahan. Penggunaan bibit muda belum banyak dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan. Umur bibit yang ditanam rata-rata telah berumur antara 21-30 hari. Penanaman pada saat bibit berumur < 21 hari baru dilakukan oleh 20%. Sedangkan sisanya sebanyak

48% menanam bibit pada umur 21-30 hari, 24%

menanam bibit pada umur 30-40 hari dan sisanya sebanyak 4% menanam bibit pada umur > 40 hari. Penanaman bibit 1-3 batang/rumpun baru dilaksanakan oleh 9 orang atau 36%,

sedangkan

sisanya

sebanyak

36%

menggunakan

jumlah

bibit

3-5

batang/rumpun, dan sisanya sebanyak 28% melakukan penanaman dengan jumlah bibit 5-6 batang/rumpun. Rendahnya penanaman bibit 1-3 batang/rumpun karena petani khawatir pertumbuhan tanaman menjadi terhambat. Sehingga jumlah bibit yang digunakan > 3 batang/rumpun. Penyiangan yang dilakukan oleh petani rata-rata sebanyak 2 kali. Penyiangan 2 kali dilakukan oleh 72%, sedangkan sisanya sebanyak 16% melakukan penyiangan sebanyak 1 kali, dan sisanya sebanyak 20% melakukan penyiangan sebanyak 3 kali. Cara penyiangan yang dilakukan oleh petani secara rata-rata adalah dengan mencabut yang dilakukan oleh 80%, sedangkan sisanya sebanyak 12% melakukan penyiangan dengan menggunakan landak/gasrok, 4% masingmasing melakukan penyiangan dengan menggunakan herbisida dan tanpa penyiangan. Panen secara rata-rata dilakukan pada saat ≥ 80% bulir telah menguning. Panen dengan menggunakan kriteria ≥ 80% bulir telah menguning dilakukan oleh 80%, sedangkan sisanya sebanyak 16% melakukan panen dengan kriteria ≤ 80% bulir telah menguning, sedangkan sisanya sebanyak 4% melakukan panen dengan kriteria daun telah mengering. Cara panen yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Curup Selatan adalah dengan cara dibug. Produksi rata-rata padi di Kecamatan Curup Selatan berkisar antara 3-4 ton/ha. Pola tanam rata-rata yang dilakukan oleh petani di Curup Selatan adalah padi-padi atau padi-padi-sayuran. 35 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KESIMPULAN 1. Komponen PTT yang diterapkan petani di Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong terdiri pengolahan tanah (68%), penggunaan VUB (56%), penggunaan benih berlabel (60%), penanaman bibit muda (20%), jumlah bibit 1-3 batang/rumpun (36%), sistem tanam legowo belum sesuai anjuran (legowo 8:1 dan 10:1), penggunaan kompos (8%), pemupukan spesifik lokasi belum dilakukan, pengendalian OPT (60%) dan waktu panen yang tepat (80%). 2. Untuk meningkatkan produktivitas padi diperlukan metode penyuluhan yang berbentuk demonstrasi plot atau demonstrasi area melalui pendekatan PTT padi sawah agar petani bisa langsung mengamati, memahami dan mau menerapkan teknologi padi yang dianjurkan. DAFTAR PUSTAKA Abbas, K. 1992. Pengaruh pemberian bahan organik mikoriza vesikular ambuskular dan pupuk posfat terhadap serapan fosfor oleh tanaman jagung. Tesis. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. Anonymous. 2007. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah irigasi (petunjuk teknis lapang). Badan Litbang Pertanian Jakarta. BPP Lubuk Ubar. 2011. Programa penyuluhan pertanian BPP Lubuk Ubar Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong. Kamandalu, A.A.N.B, Ni Putu Sutami, Sagung Aryawati, dan Sri Wahyuni. 2011. Peran varietas unggul baru (VUB) Inpari menunjang industri perbenihan padi sawah di Kuat Subak Guama. Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Padi Nasional 2010. Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Padi 2010. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Hal. 275-280. Kustiyanto, B. 2001. Kriteria seleksi untuk Sifat Toleran Cekaman Lingkungan Biotik dan Abiotik. Makalah Penelitian dan Koordinasi Program pemuliaan Partisipatif (Shuttle Breeding) dan Uji Multilokasi. Sukamandi, 9-14 April 2001. Mukhlis. 2010. Pengaruh pupuk organik dan anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil padi di lahan rawa lebak. Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Padi 2010. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Hal. 693-700. Wahyuni, S. 2005. Teknologi produksi benih bermutu. Makalah disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Jaringan Alih Teknologi Produksi dan Distribusi Benih Sumber. Balitpa Sukamandi, 21-22 November 2005.

36 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

PERSEPSI DAN MINAT ADOPSI PETANI TERHADAP PADI VARIETAS UNGGUL BARU INPARIMELALUI KEGIATAN GELAR TEKNOLOGI PERTANIAN Siswani Dwi Daliani dan Taufik Hidayat

ABSTRAK Diseminasi merupakan bagian integral dari penelitian/pengkajian berbentuk kegiatan penyebarluasan teknologi pertanian. Salah satu sistem diseminasi atau penyebaran informasi teknologi adalah gelar teknologi. Melaluikegiatan gelar teknologi diharapkan dapat diketahui tingkat adopsi petani terhadap Varietas Unggul Baru Inpari.Gelar teknologi padi varietas unggul baru (INPARI) dengan sistem tanam legowo 4-1 menggunakan caplak roda, di Desa Rimbo Kedui Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma. Prosedur pelaksanaan kegiatan Gelar Teknologi dimulai dengan identifikasi lokasi petani, koordinasi dengan instansi terkait, inventarisasi lokasi dan kelompok sasaran, teknologi yang diaplikasikan, pembinaan kelompok, pelaksanaan gelar teknologi (penyampaian materi, demonstrasi dan kunjungan kelokasi demplot serta diskusi) dan umpan balik dengan pengisian kuisioner. Data yang dikumpulkan berupa hasil kuisioner minat dan adopsi petani terhadap VUB inpari. Setelah dilakukannya kegiatan gelar ini masyarakat sangat ingin mencoba. Hal ini diketahui dari hasil kuisioner yang menyatakan ingin menerapkan didalam kegiatan sehari-hari. Gelar teknologi padi Varietas Unggul baru (inpari) dengan demplot seluas 2,3 ha dilaksanakan oleh empat petani kooperator menanam VUB Inpari 13 dan Inpari 10. Dari hasil kuisioner yang diambil saat kegiatan, persepsi petani terhadap teknologi PTT secara keseluruhan berpendapat sangat setuju dengan pernyataan-pernyataan yang diajukan mencapai 46,02%, disusul dengan 31,41% setuju, 9,38% ragu-ragu, 10,38% tidak setuju dan kurang dari 3% berpendapat sangat tidak setuju dengan teknologi PTT tersebut. Sementara itu, minat adopsi petani terhadap teknologi PTT yang diterapkan dalam kegiatan gelar teknologi ini menyatakan selalu menggunakan mencapai 51,58%, 29,90% menyatakan sering menggunakan, 11,93% kadang-kadang, 2,54% jarang dan 4,05% menyatakan tidak pernah. Kata Kunci: VUB Inpari, persepsi petani, tingkat adopsi, gelar teknologi

PENDAHULUAN Latar Belakang Diseminasi merupakan bagian integral dari penelitian/pengkajian berbentuk kegiatan penyebarluasan teknologi pertanian. Penyaluran hasil penelitian melalui kegiatan penyuluhan bukan hal yang baru tetapi semakin maju tingkat pengetahuan petani maka makin tinggi pula tuntutan permintaan teknologi untuk meningkatkan terhadap produksi usahataninya. Oleh karena itu diperlukan usaha penyampaian teknologi secara informatif, aplikatif dan efektif dari hasil kegiatan penelitian kepada petani untuk diterapkan pada usahataninya (Anonim, 1999).

37 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Paransih Isbagio (1998), menyatakan bahwa penyebaran informasi hasil penelitian melalui publikasi sangat diperlukan karena publikasi mampu menjangkau sasaran lebih luas. Bentuk publikasi dan penyampaian informasi melalui audio visual, radio, TV dan lain-lain mempunyai beberapa keunggulan antara lain dapat menyampaikan pesan secara lisan yang berguna bagi pendengar yang minat bacanya rendah, dan dapat didengar sambil bekerja serta biaya relatif rendah. Untuk materi yang sifatnya teknis, metode yang ideal dan memungkinkan adalah melalui praktek langsung di tingkat petani sehingga petani dapat berpikir secara realistis untuk menerapkan suatu teknologi dalam bentuk Gelar Teknologi. Untuk itu BPTP memerlukan suatu system diseminasi atau penyebaran informasi dan alih teknologi yang efektif dan efisien agar khalayak pengguna dapat memperoleh informasi maupun teknologi yang dibutuhkan dengan mudah dan relative cepat (Fauziah, 2002). Salah satu system diseminasi atau penyebaran informasi teknologi yang sudah dihasilkan untuk mempercepat alih teknologi kepada petani dan pengguna adalah dengan menggunakan media peragaan teknologi berupa Gelar Teknologi. Gelar teknologi adalah kegiatan untuk menunjukkan paket teknologi yang diyakini sudah lebih baik dibanding dengan teknologi petani. Gelar Teknologi Padi ini untuk mengenalkan Varietas Unggul Baru (INPARI) dan teknologi budidaya secara PTT di Desa Rimbo Kedui , Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma. Penerapan hasil penelitian dalam bentuk gelar teknologi diharapkan dapat mendorong proses adopsi teknologi terhadap kelompok tani melalui petani kooperator. Kegiatan ini melibatkan petani secara intensif, penyuluh pertanian, peternakan, petugas inseminator, kepala PosKesWan dan para kelompok wanita tani baik yang berada didesa lokasi pelaksanaan Gelar maupun yang berada didesa lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umpan balik tentang persepsi dan minat adopsi teknologi dari pengguna dilapangan melalui quisioner respon petani, bedasarkan hasil kuisioner.

38 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

METODOLOGI Data persepsi dan minat adopsi petani terhadap VUB Inpari didapat dari kegiatan gelar teknologi pertanian budidaya padi sawah dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 01 November 2011 di kelompok tani harapan maju Kelurahan Rimbo Kedui, kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma, yang merupakan salah satu desa sasaran kegiatan MP3-MI dan juga salah satu desa kegiatanGelar Teknologi pada tahun anggaran 2011. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan komunikasi tatap muka, diskusi, dan penjaringan umpan balik melalui qusioner.Pengisian kuesioner dilakukan oleh peserta pada saat selesai pemaparan materi dan peninjauan lokasi tanaman padi. Peserta Gelar Teknologi terdiri dari para petani, penyuluh pertanian, petugas lapangan, mentri tani, serta para masyarakat sekitar lokasi.Jumlah peserta secara keseluruhan 60 orang. Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan dimulai dengan identifikasi lokasi dan petani, koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Seluma tentang pelaksanaan Gelar Teknologi Padi Varietas Unggul Baru (INPARI), inventarisasi lokasi dan kelompok sasaran yang akan menjadi lokasi gelar, konsultasi dengan ketua kelompok rencana lokasi kegiatan gelar teknologi padi sawah varietas unggul baru (inpari) kelompok taninya. Adapun teknologi yang diaplikasikan dalam kegiatan gelar teknologi ini adalah sebagai berikut: 1) Teknologi budidaya padi sawah varietas unggul baru (inpari) dengan PTT 2) Memperkenalkan VUB Inpari 10 dan 13, 3) Teknologi penggunaan caplak roda dalam budidaya tanaman padi dengan sistem tanam legowo 4 : 1 dll. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Gelar Teknologi Padi Varietas Unggul Baru (Inpari) dengan sistem tanam Legowo 4 : 1 yang dilaksanakan di Kelurahan Rimbo Kedui Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma diikuti oleh 4 petani kooperator kegiatan gelar teknologi dan 10 kelompok tani dari kelurahan rimbo kedui dan sekitarnya.

39 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Balit Padi dari waktu ke waktu terus meningkatkan desiminasi dan teknologi kepada masyarakat tani salah satunya menciptakan Varietas Unggul Bari (VUB) yang target produksi tinggi yang secara langsung berdampak kepada peningkatan pendapatan dalam waktu relatif singkat. Untuk nama-nama varietas padi berubah mulai tahun 2008, yang sebelumnya nama-nama varietas yang dilepas berdasarkan nama sungai. Tetapi mulai tahun 2008 nama-nama varietas diubah menjadi: a) Inpari yaitu Inhibrida Padi Sawah Irigasi b) Inpara yaitu Inhibrida Padi Rawa c) Inpago yaitu Inhibrida Padi Gogo. Sampai saat pelaksanaan gelar teknologi ini, varietas Inpari yang sudah dilepas Inpari 1 sampai dengan Inpari 13. Sedangkan yang sudah di introduksikan oleh BPTP Bengkulu baru 7 varietas Inpari yaitu Inpari 1,2,3, 4, 6, 10 dan 13.VUB yang dibudidayakan berdasarkan sefesifik lokasi sehingga petani tidak dipaksakan untuk menanam VUB yang di introduksikan BPTP Bengkulu, mereka dapat memilih VUB mana yang sesuai dengan lokasi mereka. Data sementara Kabupaten Bengkulu Utara spesifik Inpari 13, Bengkulu Selatan spesifik dengan Inpari 13, Kabupaten Rejang Lebong spesifik Inpari 13 dan Kabupaten Seluma Inpari 10. Komponen teknologi selama ini yang diintroduksikan adalah komponen teknologi SL-PTT Padi Sawah. Komponen teknologi SL-PTT ini ada 12 macam, dan secara bertahap telah dilakukan dan masih dilakukan. Produktivitas padi sawah Propinsi Bengkulu saat ini 4,06 ton GKG/ha jauh dibawah produktivitas secara nasional yaitu 5,06 ton GKG/ha. Untuk Kabupaten Seluma masih dibawah produktivitas rata-rata propinsi Bengkulu yaitu 4,03 ton GKG/ha. Untuk meningkatkan produktivitas hingga 8 ton GKG/ha dapat dicapai dengan alternative semua komponen teknologi pilihan dilakukan. Teknologiteknologi yang telah di adopsi dari BPTP Bengkulu adalah sebagai berikut: a) Penggunaan benih VUB dan berertifikat. b) Luas persemaian yang kecil menjadi luas/normal. c) Penggunaan bibit umur mudah. d) Penanaman dengan bibit 1–3 batang. e) Sistem tanam yang biasa menjadi sistem tanam legowo. f) Pemupukan yang semula 1 x menjadi 3 kali dengan dosis yang sama. 40 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Teknologi-teknologi itu antara lain: 1. Efisiensi dari penggunaan benih dan bibit yang digunakan dibudidaya padi sawah. • Benih yang selama ini 90 kg/ha dapat berubah menjadi 15 - 25 kg/ha • Dengan syarat benih yang digunakan benih bersertifikat adanya jaminan mutu dan daya tumbuh tinggi. • Luas persemaian 17 m x 17 m (10 kg) untuk luas lahan 4.000 m2 atau 1/20 dari luas lahan yang akan ditanam. • Lahan persemaian diberi perlakuan khusus yaitu ditabur dengan karbofuran agar terhindar dari hama seperti ulat, burung, orong-orong, dll. Dengan diberikan karbofuran persemaian hingga 10 hari masih aman. • Umur bibit saat tanam tidak lebih dari 20 Hari Setelah Semai (HSS). • Jumlah bibit per lubang 1-2 batang. 2. Sistem Tanam Legowo dengan Caplak Roda Sistem tanam legowo 4 :1 sangat menguntungkan untuk produksi karena: • Jumlah dari populasi tanaman untuk legowo 4 : 1 = 300.000 rumpun/ha sedangkan sistem jajar biasa 250.000 rumpun/ha. • Pertambahan populasi ini pada tanaman pinggir kita tahu selama ini bahwa tanaman pinggir merupakan tanaman terbaik karena dalam pengambilan unsur hara lebih banyak. • Mudah dalam pemeliharaan (penyiangan, penyemprotan, pemupukan) mudah dilakukan. • Serangan hama tikus kurang karena dengan adanya legowo sawah menjadi terang. 3. Pemupukan Agar tanaman tumbuh normal pemupukan dasar dilakukan lebih awal dan dosis sesuai anjuran. Sedangkan waktu pemberian dilakukan 3 kali yaitu: • I = di bawah 2 Minggu Setelah Tanam (MST) • II = 21 – 25 HST • III = 35 -40 HST

41 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

4. Penyiangan Penyiangan dilakukan 2 kali yaitu sebelum pemupukan (umur 20 dan 40 hst). Pengendalian Hama dan Penyakit dilakukan dengan penyemprotan insektisida Dharmafur 3G, untuk pengendalian penyakit (cendawan) yang biasanya menyerang pada musim hujan dikendlikan dengan penyemprotan fungisida seperti Dhitane M.45, pengendalian keong emas diberi daun papaya atau keladi pada caren agar keong emas berkumpul dan mudah pengambilannya, atau memasang saringan di pintu masuk air untuk mencegah keong emas masuk ke sawah. 5. Penggunaan air Untuk penggunaan air selama belum menerapkan sistem intermiten masih seperti biasa, karena jika

sawah dalam keadaan kering maka rumput cepat

tumbuh. 6. Panen Kreteria panen selama ini: • Tidak terlalu masak karena akan mengakibatkan kehilangan hasil gabah mudah rontok. • Jika kita melakukan pemupukan 3 kali maka sangat berpengaruh saat panen, karena daun padi tidak mengalami kuning tetapi gabah sudah masak akibat sumber makanan selalu tersedia. Produktivitas padi sawah Propinsi Bengkulu saat ini 4,06 ton GKG/ha jauh dibawah produktivitas secara nasional yaitu 5,06 ton GKG/ha. Untuk Kabupaten Seluma masih dibawah produktivitas rata-rata Propinsi Bengkulu yaitu 4,03 ton GKG/ha. Untuk meningkatkan produktivitas hingga 8 ton GKG/ha dapat dicapai dengan alternative semua komponen teknologi pilihan dilakukan. Dari hasil quisioner yang dibagi pada saat kegiatan gelar teknologi pertanian varietas unggul baru inpari, persepsi petani terhadap teknologi PTT secara keseluruhan berpendapat sangat setuju dengan pernyataan-pernyataan dalam penggunaan teknologi PTT padi sawah. Persepsi petani terhadap komponen PTT Padi dengan VUB Inpari dapat dilihat pada tabel dibawah ini: 42 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Persepsi Petani tehadap Komponen PTT

Jumlah Responden

Persentase (%)

35

46,02 31,41 9,38 10,38 2,81

Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa persepsi petani terhadap komponen PTT Padi yang menyatakan sangat setuju mencapai 46,02%, disusul dengan 31,41% setuju, 9,38% ragu-ragu, 10,38% tidak setuju dan kurang dari 3% berpendapat sangat tidak setuju dengan teknologi PTT tersebut. Petani tidak berani mengganti varietas padi yang biasa dipakai dengan VUB takut gagal dan hasilnya akan turun Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

Jumlah Responden

Persentase (%)

35

14,30 20,00 11,42 34,28 20,00

Berdasarkan isi quisioner yang diajukan dimana 34,28% menyatakan tidak setuju dengan pernyataan bahwa tidak berani mengganti varietas padi yang biasa dipakai karena takut gagal/produksinya turun. 20% sangat tidak setuju dan setuju serta 14% sangat setuju dan ragu-ragu 11,43%.94,60% responden yakin bahwa benih padi berlabel produksinya lebih tinggi dari pada benih padi lokal. Sementara itu responden menggunakan benih padi berlabel hanya jika ada bantuan dari pemerintah, bila tidak ada bantuan maka menggunakan benih yang dihasilkan sendiri dengan 25% menjawab sangat setuju, 19,44% setuju, 16,67% ragu-ragu, 25% tidak setuju dan 13,89% menyatakan sangat tidak setuju. Responden sangat percaya bahwa dengan mengembalikan jerami kelahan sawah dapat

meningkatkan

kesuburan

lahan

dan

sistem

tanam

legowo

dapat

meningkatkan produksi padi. Hal ini dinyatakan dengan lebih dari 95% responden menyatakan sangat setuju dan setuju.

43 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Sementara dari pertanyaan yang diajukan ke responden mengenai minat adopsi terhadap teknologi PTT ini, hampir 70% menggunakan benih berlabel dan kurang dari 30% yang jarang dan tidak pernah menggunakan benih berlabel. 23,53% responden juga menyatakan mereka selalu, sering dan kadang-kadang mengembalikan jerami ke lahan sawah. 82,35% responden selalu menggunakan sistem tanam legowo dan seabgian lagi menyatakan sering dan kadang-kadang. Untuk penggunaan pupuk responden yang selalu menggunakan pupuk sesuai dengan dosis anjuran mencapai 38,24%, sering 35,29%, kadang-kadang 17,65%. Lebih dari separoh responden menyatakan selalu menggunakan pertisida (57,67%), 27,27%

sering

menggunakan

pestisida,

15,15%

kadang-kadang

hanya

menggunakan pestisida dalam mengendalikan hama penyakit. Begitupun dalam melakukan pengolahan lahan sesuai dengan musim dan pola tanam yang tepat. 53,13% dan 37,5% selalu dan sering menanam bibit muda dan 40,62% diantaranya selalu dan sering menanam 1-3 batang per rumpun. Dalam melakukan pengaturan air secara berselang, 51,74% menyatakan selalu, 27,59% menyatakan sering dan 20,67% menyatakan kadang-kadang. Tidak ada yang menyatakan jarang dan tidak pernah. Untuk penanganan pasca panen, apakah segera melakukan perontokan gabah setelah panen, 51,58% menyatakan selalu, 29,90% menyatakan sering, 11,93 kadang-kadang, 3,13% jarang dan 4,05% menyatakan tidak pernah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa minat adopsi petani terhadap teknologi PTT yang diterapkan dalam kegiatan gelar teknologi ini menyatakan akan selalu menggunakan teknologi PTT mencapai 51,58%, 29,90% menyatakan sering menggunakan, 11,93% kadang-kadang, 2,54% jarang dan 4,05% menyatakan tidak pernah.

44 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KESIMPULAN Persepsi petani terhadap teknologi PTT secara keseluruhan berpendapat sangat setuju dengan pernyataan-pernyataan dalam penggunaan teknologi PTT mencapai 46,02%, disusul dengan 31,41% setuju, 9,38% ragu-ragu, 10,38% tidak setuju dan kurang dari 3% berpendapat sangat tidak setuju dengan teknologi PTT tersebut. Umpan balik hasil gelar teknologi menunjukkan minat adopsi petani terhadap teknologi PTT yang diterapkan dalam kegiatan gelar teknologi ini menyatakan akan selalu menggunakan teknologi PTT mencapai 51,58%, 29,90% menyatakan sering menggunakan, 11,93% kadang-kadang, 2,54% jarang dan 4,05% menyatakan tidak pernah. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1999. Panduan Umum Pelaksanaan Penelitian, Pengkajian danDiseminasi Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. BBPPTP Bogor.2009. Petunjuk Pelaksanaan pendampingan PencapaianSwasembada Daging sapi (PSDS).Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.Badan Litbang Pertanian Bogor. BPTP Jawa Tengah. 2008. Penyuluhan dan Penyebaran Informasi Pertanian padadaerah P4MI.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian . Jawa Tengah. Dinas Peternakan Propinsi Bengkulu.2009.Laporan Tahunan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bengkulu.Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bengkulu. Isbagio Paransih, 1998. Kebijaksanaan Komunikasi Penelitian Pertanian danPeranan AARDNET dalam Menopang Penelititan, Disampaikan pada Pengolahan TeknisJaringan Informasi Ciawi Bogor. Tjiptopranoto,P. 2000. Strategi Diseminasi Teknologi dan Informasi Pertanian.Balai Pusat Pengembangan Pengkajian Teknologi Pertanian. Bogor.

45 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

UJI MUTU BERAS HASIL DARI TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PUPUK ORGANIK Wilda Mikasari,Taufik Hidayat, Lina Ivanti dan Alfayanti

ABSTRAK Perkembangan pertanian organik di Indonesia saat ini telah menunjukkan perkembangan yang positif, walaupun pasarnya masih terkonsentrasi dibeberapa kota besar saja sehingga penggunaan pupuk organik dapat meningkatkan mutu beras yang dihasilkan. Respon konsumen terhadap beras bermutu sangat tinggi. Agar konsumen mendapatkan jaminan mutu beras yang ada dipasaran maka dalam perdagangan beras harus diterapkan sistem standarisasi mutu beras. Beras harus diuji mutunya sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik (kotoran ayam, kotoran sapi, jerami) terhadap produktivitas padi yang dihasilkan; 2) Mengetahui mutu beras yang dihasilkan dari pemberian pupuk organik berdasarkan SNI. Penelitian dilakukan dilahan sawah petani desa Rimbo Recap kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu dan Laboratorium Pasca Panen Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu pada tahun 2011. Bahan yang digunakan adalah gabah padi varietas inpari 13 hasil panen. Parameter yang diuji adalah kadar air, butir kepala, butir patah, butir menir, butir mengapur, butir kuning, butir gabah, dan benda asing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas padi dengan pemberian pupuk organik dari kotoran sapi memperoleh hasil paling tinggi yaitu 7,867 kg//ha GKP disusul kompos jerami 7,750 ton/ha dan tanpa menggunakan kompos 7,633 ton/ha. Hasil yang terendah didapat pada penggunaan kompos ayam yaitu 7,13 ton/ha. Hasil pengujian mutu beras menunjukkanbahwaperlakuan pemberian kompos kotoran sapi paling tinggidenganrendemen 69,60%, danberas yang dihasilkan dikategorikan mutu III untuk penggunaan kompos sapi dan yang lainnya dikategorikan mutu IV. Kata kunci: mutu beras, pupuk organik

PENDAHULUAN Perkembangan pertanian organik di Indonesia saat ini telah menunjukkan perkembangan yang positif, walaupun pasarnya masih terkosentrasi dibeberapa kota besar saja. Produk-produk pangan organik, terutama dalam bentuk produk segar dan olahan minimal telah diperdagangkandi ritel-ritel modern dan toko khusus yang menjual produk pangan organik. Untuk komoditas perkebunan seperti kacang mete dan kopi bahkan telah menembus pasar ekspor. Pengembangan pertanian organik di Indonesia masih memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Hal ini terkait dengan berbagai keunggulan dan peluang yang dimiliki oleh Indonesia. Namun demikian, upaya pengembangan pertanian jenis ini juga dihadapkan pada berbagai kelemahan dan ancaman yang harus segera diantisipasi. Berbagai keunggulan, peluang, ancaman dan kelemahan 46 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia antara lain: 1) Kekuatan

(Strengths) terdiri dari: sumber daya hayati yang kaya dan beragam, Lahan original terutama wilayah timur dan tengahserta sebagian wilayah barat Indonesia, penduduk yang besar dan pendapatan perkapita yang terus meningkat merupakan pasar yang potensial; 2) Kelemahan (Weaknesses) antara lain: pengelolaan umumnya petani kecil, mahalnya biaya sertifikasi, akses dan informasi pasar, terlalu

supply

driven,

kurangnya

penelitian

dan

pengembangan;

3)

Peluang

(Opportunities), yaitu: pasar (nasional dan internasional) yang berkembang, trend hidup sehat, skandal pangan (pestisida, hormon) dan keterllibatan LSM dan lembaga donor dalam pengembangan; 4) Tantangan (threats) antara lain: klaim produk konvensional sebagai produk organik, pertanian organik versus ketahanan pangan, petani yang frustasi akibat gagal mengakses harga premium, masuknya produk impor. Program pemerintah dengan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) dimana melalui program ketahanan pangan berupaya untuk mewujudkan ketersedian, aksesibilitas, dan stabilitas pengadaan pangan yang memadai, dimana kebutuhan beras nasional meningkat setiap tahunnya seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan beras nasional pada tahun 2007 diprediksi mencapai 30,9 juta ton dengan asumsi bahwa konsumsi beras rata-rata139 kg/kapita/tahun (Yuwanda, 2008). Rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 1,7% /tahun, maka pemerintah dituntut harus terus meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi. Sedangkan dalam usaha tani padi, penggunaan varietas unggul dan benih bermutu sangat berperan dalam peningkatan produktivitas dan mutu hasil panen. Potensi varietas dalam meningkatkan produk pertanian dapat dilihat dari mutu produk varietas unggul seperti daya hasil tinggi, ketahanan terhadap hama dan penyakit tertentu, umur genjah, kandungan khusus tertentu (pulen, kadar protein tinggi dll), dan kesesuaian dengan pola tanam tertentu. Preferensi konsumen terhadap nasi di suatu daerah berbeda dengan konsumen di daerah lainnya seperti konsumen di pulau jawa menyukai nasi yang pulen (lengket) dan mengeluarkan aroma wangi bila ditanak (Puslitbangtan, 2006). 47 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Secara tidak langsung faktor mutu beras diklasifikasikan berdasarkan nama atau jenis beras serta varietas beras yang dipakai. Respon konsumen terhadap beras bermutu sangat tinggi. Agar konsumen mendapatkan jaminan mutu beras yang ada dipasaran maka dalam perdagangan beras harus diterapkan sistem standarisasi mutu beras. Beras harus diuji mutunya sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) mutu beras giling pada laboratorium uji yang terakreditasi dan dibuktikan berdasarkan sertifikat hasil uji (Suismono, 2002). SNI untuk beras giling bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya manipulasi mutu beras dipasaran, terutama karena pengoplosan atau pencampuran antar kualitas atau antar varietas beras yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui dan mempelajari pengaruh pemberian pupuk organik (kotoran ayam, kotoran sapi, jerami) terhadap jumlah produksi padi yang dihasilkan; 2) Mengetahui mutu beras yang dihasilkan dari pemberian pupuk organik berdasarkan SNI. METODOLOGI Penelitian dilakukan dilahan sawah petani di Desa Rimbo Recap Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu dengan luas 1 ha dan sistem pertanaman padi menggunakan legowo 4 : 1. Pengujian mutu beras dilakukan di laboratorium pasca panen BPTP Bengkulu pada tahun 2011. Perlakuan yang diterapkan adalah penanaman padi varietas inpari 13 dengan menggunakan penambahan pupuk organik limbah pertanian yaitu pupuk kompos kotoran ayam, pupuk kompos kotoran sapi, pupuk kompos jerami dengan dosis 0,5 ton/ha dan tanpa menggunakan penambahan pupuk kompos. Dosis pupuk kimia yang digunakan adalah 200 kg/ha urea dan 300 kg/ha NPK Phonska. Sampel gabah dan beras yang diuji seluruhnya berasal dari hasil ubinan. Bahan yang digunakan adalah gabah padi varietas inpari 13 hasil panen ubinan, sedangkan alat yang digunakan untuk pengolahan dan pengujian mutu adalah mesin penggiling padi, karung, timbangan, timbangan analitik, alat ukur kadar air dan kantong plastik. Sampel gabah diambil dari hasil ubinan kegiatan pengkajian kompetitif 2011 percontohan komponen teknologi pemanfaatan pupuk 48 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

organik limbah pertanian untuk padi sawah di kabupaten Rejang Lebong. Jumlah gabah untuk masing-masing sampel sebanyak 7 kg dalam bentuk gabah kering giling. Sampel gabah kemudian digabung per perlakuan pupuk untuk digiling bersamaan dengan rata-rata 21 kg per perlakuan, masing-masing perlakuan diambil sampel beras hasil gilingan sebelum disosoh dan sesudah disosoh sebanayak 100 gram dengan masing-masing 4 ulangan. Jenis pengujian mutu beras meliputi beras kepala, beras patah, butir menir, butir kapur, serta butir kuning dan rusak dengan penjelasan sebagai berikut: • Beras kepala, yaitu butir beras sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih besar atau sama dengan 75% bagian dari butir beras utuh. • Beras patah, yaitu butir beras sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih besar dari 25% sampai dengan lebih kecil 75% bagian dari butir beras utuh. • Butir menir, yaitu butir beras sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih kecil dari 25% bagian butir beras utuh. • Butir kapur, yaitu butir beras yang separuh bagian atau lebih berwarna putih seperti kapur dan bertekstur lunak yang disebabkan faktor fisiologis. • Butir kuning, yaitu butir beras utuh, beras kepala, beras patah, dan menir yang berwarna kuning atau kuning kecoklatan (BPTP Sumatera Selatan 2006). Peralatan yang dipergunakan terdiri atas alat penampi atau pembersih gabah (aspirator) untuk memisahkan gabah isi dan gabah hampa, alat pemecah kulit gabah (rice husker) untuk memperoleh beras pecah kulit (BPK), alat penyosoh (rice

polisher) untuk menyosoh beras pecah kulit hingga diperoleh beras berwarna putih, ayakan menir (seive) ukuran 2,5 mm untuk memperoleh butir menir, dan alat pemisah ukuran beras (rice drum grader) untuk memisahkan beras kepala dan utuh dengan beras patah. Data yang diperoleh akan dianalisis secara deskriftif dengan mengacu kepada SNI.

49 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil produksi padi dengan pemberian pupuk organik limbah pertanian kotoran ayam, kotoran sapi dan jerami secara deskriftif tidak begitu berbeda dengan yang tidak diberikan pupuk kandang. Hal ini dapat dilihat dari hasil ubinan yang didapat. Data hasil ubinan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 1. Produktivitas padi sawah pada beberapa perlakuan pupuk organik (ton/ha). Perlakuan/Ulangan

Kompos Ayam

Kompos Sapi

Kompos Jerami

Kontrol

1

7,6

7,4

7,1

7,7

2

7,7

8,2

8,4

8,6

3

6,1

8

6,5

6,6

Rata-rata

7,133

7,867

7,750

7,633

Berdasarkan data hasil ubinan di atas dapat kita lihat bahwa rata-rata hasil produksi tertinggi sebesar 7,867

ton/ha dengan perlakukan pemberian pupuk

organik/kompos kotoran sapi dan yang terendah adalah perlakuan dengan pemberian pupuk kompos ayam dengan rata-rata produksi 7,133 ton/ha. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pemberian pupuk kompos kotoran sapi mampu meningkatkan hasil produksi tertinggi padi. Hal tersebut bisa dilihat pada grafik di bawah ini: Gambar 1. Grafik Produksi padi berdasarkan hasil ubinan 5m x 2m.

Rata-rata hasil ubinan tidak jauh berbeda yang berkisar antara 7,13 s/d 7,86 ton/ ha GKP.

50 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Hasil pengujian mutu beras dari beberapa ubinan yang diambil menunjukkan bahwa rendemen beras giling dari inpari 13 berkisar antara 65,80 % sampai 69,60. Rendemen paling tinggi didapat dari perlakuan pemberian kompos kotoran sapi dan tidak jauh berbeda dengan rendemen pemberian kompos jerami yakni sebesar 69,31%. Rendemen terendah dihasilkan dari pemberian pupuk kompos kotoran ayam. Tabel 2. Kadar air gabah saat penggilingan dan rendemen yang dihasilkan dari proses penggilingan (putaran mesin 700-800 rpm). No

Perlakuan

Ka (%)

Berat Padi (Kg)

Berat Beras (Kg)

Rendemen (%)

1

Penambahan Kompos Ayam

9,95

18,80

12,37

65,80

2

Penambahan Kompos Sapi

9,50

17,30

12,04

69,60

3

Penambahan Kompos Jerami

9,05

17,40

12,06

69,31

4

Kontrol

8,80

17,20

11,74

68,26

Rendemen beras giling dipengaruhi oleh varietas, karakteristik gabah, cara dan alat penggilingan, mutu beras yang hendak dicapai, teknik budi daya, dan agroekosistem pertanaman padi. Rendemen beras giling yang tinggi belum tentu diikuti oleh persentase beras kepala yang tinggi. Hasil penelitian justru menemukan hubungan yang berkebalikan dengan kedua kriteria mutu tersebut (Sutrisno et al. 2002). Untuk kadar air beras pun tidak ada perbedaan. Hal ini dikarenakan masingmasing perlakuan diberikan penanganan pascapanen yang sama, namun setelah dipisahkan berdasarkan komponen mutu beras, terdapat variasi pada persentase beras kepala dan beras patah atau pecah, sedangkan butir menir, butir kapur, dan butir kuning rusak tidak terlalu bervariasi. Variasi persentase beras kepala dan beras patah bisa disebabkan oleh lokasi pertanaman padi atau penanganan pascapanen yang berbeda serta kesehatan tanaman. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa beras yang dihasilkan dikategorikan kedalam mutu III dan mutu IV. Pemberian pupuk organic dari kompos kotoran sapi menghasilkan beras dengan kwalitas mutu III berdasarkan butir kepala sementara yang lainnya dikategorikan mutu IV. 51 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 3. Hasil analisa mutu beras sebelum disosoh. No 1 2 3 4 5 6 7 8

Perlakuan/ Variabel Pengamatan Kadar Air (%) Butir Kepala (%) Butir Patah(%) Butir Menir (%) Butir Mengapur (%) Butir Kuning (%) Butir Gabah (%) Benda asing (%)

Ayam

Sapi

Jerami

Kontrol

11 77,17 18,06 2,31 2,46 0 0 0

11 79,83 16.77 2,12 1,28 0 0 0

11 74,54 21,63 2,12 1,71 0 0 0

11 73,03 22,11 3,72 1,14 0 1 butir 0

Tabel 4. Hasil analisa mutu beras sesudah disosoh. No 1 2 3 4 5 6 7 8

Perlakuan/ Variabel Pengamatan Kadar Air (%) Butir Kepala (%) Butir Patah (%) Butir Menir (%) Butir Mengapu (%) Butir Kuning (%) Butir Gabah (%) Benda asing (%)

Ayam

Sapi

Jerami

Kontrol

11 76,56 16,33 4,18 2,93 0 0 0

11 78,34 17.65 1,97 2,04 0 0 0

11 74,03 21,72 2,58 1,67 0 0 0

11 74,18 20,16 3,72 1,94 0 0 0

Persentase beras kepala pada sampel yang berasal dari pertanaman padi yang menggunakan pupuk organik kotoran sapi paling tinggi dengan beras patah paling sedikit dan butir menir tidak terlalu berbeda dengan yang lain. Beras patah bisa terjadi jika pada saat digiling, gabah masih agak basah atau terlalu kering. Sisa patahan beras yang kecil membentuk butir menir. Beras patah juga dapat disebabkan oleh proses penyosohan. Batu sosoh yang baru dapat menghasilkan beras patah tinggi, sedangkan batu sosoh yang sudah aus menghasilkan beras patah lebih sedikit. Besarnya persentase beras patah dan butir menir ini juga bisa disebabkan oleh kurang sehatnya gabah yang dihasilkan karena pada gabah tersebut terdapat bercak-bercak. Berdasarkan hasil pengujian mutu beras, terhadap sampel yang sudah disosoh yang berasal dari pupuk organik sapi menghasilkan beras kepala 78,34% atau termasuk dalam kategori mutu III standar SNI. Sementara sampel gabah yang 52 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

lainnya menghasilkan beras kepala dibawah 78% sehingga termasuk ke dalam kategori mutu IV. Tabel 5. Persyaratan mutu beras menurut SNI 6128: 2008. Komponen Mutu

Satuan

Mutu I

Mutu II

Mutu III

Mutu IV

Mutu V

Derajad Sosoh (Minimum) Kadar Air (Maksimum) Beras Kepala (Minimum) Butir Patah (Maksimum) Butir Menir (Maksimum) Butir Merah (Maksimum) Butir kapur (Maksimum) Bneda Asing (Maksimum) Butir Gabah (Maksimum)

% % % % % % % % Butir/100 gr

100 14 95 5 0 0 0 0 0

100 14 89 10 1 1 1 1 1

95 14 78 20 2 2 2 2 1

95 14 73 25 2 3 3 3 2

95 15 60 35 5 3 5 5 3

Sumber: Badan Standardisasi Nasional (2008).

Tabel 6. Kategori mutu per komponen yang diamati. Komponen Mutu

Satuan

Kadar Air (Maksimum) Beras Kepala (Minimum) Butir Patah (Maksimum) Butir Menir (Maksimum) Butir Merah (Maksimum) Butir kapur (Maksimum) Bneda Asing (Maksimum) Butir Gabah (Maksimum)

% % % % % % % Butir/100 gr

Ayam Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu

I IV III III I IV I I

Sapi Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu Mutu

I III III III I III I I

Jerami

Kontrol

Mutu I Mutu IV Mutu IV Mutu III Mutu I Mutu III Mutu I Mutu I

Mutu I Mutu IV Mutu IV Mutu V Mutu I Mutu III Mutu I Mutu II

Untuk sampel dari beberapa perlakukan saat penanaman terdapat dua kelas mutu yang dapatdijadikan pedoman berdasarkan persentase beras kepala dan persentase beras patah menjadi dua kategori mutu, yaitu untuk sampel dengan pupuk kompos kotoransapi dikategorikan mutu III dan sampel perlakuan pupuk kompos kotoranayam, jerami dan tanpa menggunakan kompos menghasilkan beras yang termasuk dalam kategori mutu IV. Hasil pengujian mutu beras kepala dari beberapa sampel perlakuan tanaman menunjukkan tidak terdapat beras yang termasuk mutu I karena beras kepala tidak mencapai minimum 95%. Namun, beras mutu III masih disukai konsumen karena beras patahnya berkisar 10-20%.

53 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Dengan adanya kelas mutu, pedagang atau pelaku pasar beras akan lebih mudah memilih segmen pasar yang akan dituju. Namun, sebelum beras didistribusikan ke pasar atau konsumen, perlu dilakukan pengujian mutu beras oleh laboratorium pengujian mutu beras yang terakreditasi. KESIMPULAN Dari hasil pembahasan diatas dapat kita simpulkan bahwa: 1. Pemberian pupuk organik dari kotoran sapi menghasil produksi padi lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian pupuk organik yang lain yaitu sebesar 7,867 ton/ha GKP. 2. Pemberian pupuk organik kotoran sapi menghasilkan mutu beras III lebih baik dibandingkandengan mutu beras dengan pemberian pupuk organik kotoran ayam dan jerami yaitu dikatagorikan mutu beras IV. 3. Dengan dilakukan pengukuran atau identifikasi secara kuantitatif terhadap karakter fisik beras dan menentukan klasifikasi mutu beras yang yang dihasilkan maka diharapkan konsumen dan pelaku pasar beras akan lebih mudah memilih segmen pasar yang akan dituju. DAFTAR PUSTAKA Badan Standardisasi Nasional. 2008. Standar Nasional Indonesia Beras Giling. SNI 6128:2008. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. 9 hlm. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Selatan. 2006. Laporan Pelatihan dan Pedoman Penanganan Pascapanen Padi, Palembang, 27-28 Februari 2006. Kerja Sama IRRI - SSFFMP - BPTP Sumatera Selatan. hlm. 9-13. Puslitbangtan. 2006. Padiunggulspesifikdaerah. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Vol.28. No.2,Bogor.Page 4-5. Suismono. 2002. Standardisasi mutu untuk perdagangan beras di Indonesia. Majalah Pangan 39(XI): 37-47. Suprihatno, B., A.A. Darajat, Satoto, Baehaki S.E., B. Suprihanto, A. Setyono, S.D. Indrasari, M.Y. Samaullah, dan H. Sembiring. 2009. Deskripsi Varietas Padi. Balai Besar Penelitian TanamanPadi, Sukamandi. hlm. 15. Sutrisno, Suismono, Jumali, dan J.S. Munarso. 2002. Cara berproduksi yang baik dalam industri beras. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi. 22 hlm. Yuwanda,W. 2008. Prospek pengembangan padigogo aromatic dalam upaya menunjang ketahanan Pangan. http://cdsindonesiawordpress.com/2008/03/31/prospek pengembangan padigogo aromatic 25/4/2008.p.3.Sukamandi. 22 hlm.

54 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KERAGAAN MUTU BERAS INPARI 6, 10 DAN 13 BERDASARKAN HASIL UJI LABORATORIUM DI BPTP BENGKULU Irma Calista Siagian, Yartiwi dan Ahmad Damiri

ABSTRAK Beras merupakan makanan pokok yang merupakan kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mutu beras mendapat perhatian penting dalam perakitan varietas unggul padi. Beras yang mempunyai kualitas mutu yang baik cenderung menjadi pilihan konsumen. Agar konsumen mendapatkan jaminan mutu beras yang ada di pasaran maka dalam perdagangan beras harus diterapkan sistem standarisasi mutu beras sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) 6128:2008. Perbaikan mutu beras terus dilakukan baik terhadap mutu giling, mutu nasi maupun tampilan beras. Pengujian mutu beras dilakukan pada 3 varietas padi sawah lahan irigasi di Kabupaten Seluma yang meliputi varietas Inpari 6, inpari 10, dan Inpari 13. Pengujian Mutu Beras dilakukan di Laboratorium Pasca Panen, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Bengkulu pada Bulan Januari 2012. Pengujian mutu beras meliputi kadar air, butir kepala, butir patah, butir menir, butir merah, butir kuning/rusak, butir kapur, benda asing dan butir gabah. Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa Varietas Inpari 10 menghasilkan Butir Kepala 53 %, masuk dalam kategori Mutu V dan menghasilkan butir patah 16.78 % (Mutu III), butir menir 18.36 % (Mutu IV), butir merah 0. % (Mutu I), butir kuning 1.03% (Mutu II), butir kapur 0.26 % (Mutu II), benda asing 0 % (Mutu I), dan butir gabah 0.02% (Mutu I). Dapat terlihat bahwa varietas Inpari 10 memiliki mutu beras yang paling baik dibandingkan varietas lainnya yang di tanam di lahan sawah irigasi di Kelurahan Rimbo Kedui Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma. Kata Kunci: mutu beras, varietas unggul, SNI 6128;2008

PENDAHULUAN Mutu beras yang baik sangat berpengaruh pada tingkat adopsi petani dan konsumen serta penyebaran suatu varietas padi. Beras adalah salah satu kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi di dalam kehidupan sehari-hari, manfaat utama dari beras untuk diolah menjadi nasi, makanan pokok terpenting warga dunia. Istilah kata beras mengacu pada bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisah dari sekam.1 Mutu beras sangat bergantung pada mutu gabah yang akan digiling dan sarana mekanis yang digunakan dalam penggilingan.2 Mutu beras di Indonesia beragam disebabkan oleh beberapa faktor yaitu varietas, agroekosistem, teknik budidaya, penanganan pascapanen dan pengolahan hasil, serta distribusi dan pemasaran.3 Penggilingan padi dapat menentukan mutu beras dan mutu giling dapat mencakup berbagai ciri dari beras giling yaitu: rendemen beras giling, persentase beras pecah dan derajat sosoh. 55 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Respon konsumen terhadap beras bermutu sangat tinggi. Beras harus diuji mutunya sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) mutu beras giling. SNI untuk beras giling bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya manipulasi mutu beras di pasaran, terutama karena pengoplosan atau pencampuran antar kualitas atau antar varietas. Pemilihan beras merupakan ungkapan selera pribadi konsumen, ditentukan oleh faktor subjektif dan dipengaruhi oleh lokasi, suku bangsa atau etnis, lingkungan, pendidikan, status sosial ekonomi, jenis pekerjaan dan tingkat pendapatan. Beras yang mempunyai cita rasa nasi yang enak mempunyai hubungan dengan selera dan preferensi konsumen serta akan menentukan harga beras. Secara tidak langsung, faktor mutu beras diklasifikaskan berdasarkan nama atau jenis (brand name) beras atau varietas padi.2 Ketersediaan beras di pasaran yang beraneka ragam memberikan kesempatan konsumen lebih leluasa memilih jenis, sifat, dan mutu beras yang dikehendaki. Tujuan pengujian mutu beras ini untuk melakukan indentifikasi secara kuantitatif terhadap karakter fisik beras dan menentukan klasifikasi mutu beras yang diinginkan pasar dan konsumen. TINJAUAN PUSTAKA Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas yang sangat penting di Indonesia, karena beras merupakan makanan pokok hampir sebagian besar rakyat Indonesia. Sejalan dengan pertambahan penduduk, yaitu sekitar 2% per tahun, maka kebutuhan akan beras meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan produksi padi dari tahun ke tahun. Selain untuk memenuhi kecukupan pangan (beras), peningkatan hasil padi terkait erat dengan upaya peningkatan pendapatan petani dan pemerataan kesempatan kerja. Peningkatan tidak hanya ditekankan kepada aspek kuantitas, tetapi dibarengi dengan peningkatan terhadap kualitas beras yang dihasilkan.4 Peningkatan kuantitas dan kualitas beras dapat dilakukan melalui perbaikan penanganan pada saat pra panen, panen dan pasca panen secara terintegrasi. Penanganan pada saat pra panen selain bertujuan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas gabah (beras), juga ditujukan untuk menekan kehilangan hasil baik 56 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

akibat pengaruh musim yang kurang menguntungkan maupun akibat serangan organisme pengganggu tanaman serta penggunaan sarana produksi yang tidak optimal. Menurut beberapa sumber gabah terbaik yang dimiliki petani, memiliki rendemen 50 %. Artinya dari 100 kg gabah yang digiling akan menghasilkan beras sebanyak 50 kg. Gabah kering giling seperti ini tergolong langka di petani. Masih menurut sumber yang terpercaya, gabah kering giling dipetani kebanyakan memiliki rendemen 40-45 %. Ini memiliki arti dari 100 kg gabah yang digiling hanya menghasilkan 40–45 kg beras.5 Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat rendemen antara lain: cara pemanenan, perontokan gabah, pengeringan, pengangkutan, penggilingan dan penyimpanan. Pada dasarnya tidak seluruh penduduk Indonesia mengkonsumsi beras secara teratur, data yang menunjukan 60%-75% penduduk indonesia mengkonsumsi beras dan terkonsentrasi pada areal menengah – padat penduduk. Dari areal padat penduduk contohnya Jakarta berpenduduk lebih dari 10 juta jiwa, konsumsi beras terbagi menjadi 4 kategori yaitu; 50% masyarakat yang mementingkan ketersediaan beras/pangan murah, 25% sudah menginginkan beras lumayan baik dengan harga murah, 15% menginginkan beras dengan rasa yang baik dan harga yang tidak terlalu dimasalahkan, 10 % tidak perduli berapa harga berasnya asalkan enak dimakan dan sehat.5 Namun demikian kebanyakan beras dari petani memenuhi pangsa pasar beras murah yang memiliki mutu rendah. Dengan demikian pendapatan yang diterimapun akan menjadi rendah, tidak seimbang dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Dari paparan diatas, jelaslah bahwa untuk menghasilkan beras yang bermutu diperlukan proses yang harus dilakukan dengan sempurna. Mutu beras, rendemen, mutu gabah dan kehilangan bobot saling berkaitan selama proses perberasan. Mutu beras ditentukan oleh mutu gabah sewaktu digiling, derajat sosoh, kondisi penggilingan dan penanganannya serta sifat varietas7. Pada penetapan mutu gabah, rendemen giling mencakup rendemen beras kepala dan rendemen total giling. Mutu giling beras merupakan persyaratan utama dalam penetapan mutu gabah karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi yaitu menentukan jumlah berat beras yang dihasilkan. Rendemen beras kepala 57 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

mempunyai keragaman yang besar yang tergantung pada berbagai faktor yaitu varietas, jenis biji, butir kapur, cara budidaya, faktor lingkungan, perlakuan lepas panen yang dimulai sejak pemanenan, perontokan, pengeringan, penyimpanan, hingga penggilingan. Demikian juga rendemen total beras giling dipengaruhi perlakuan tersebut diatas dan juga ditentukan oleh perbandingan sekam, kulit ari, dan bagian endosperm. Mutu giling merupakan salah satu faktor penting yang menentukan mutu beras. Mutu giling mencakup berbagai ciri, yaitu rendemen beras giling, rendemen beras kepala, persentase beras pecah, dan derajat sosoh beras. Sebagian besar beras yang beredar di beberapa daerah di Indonesia memiliki derajat sosoh 80 % atau lebih dan persentase beras kepala lebih besar dari 75 % dan mengandung butir patah kurang dari 30 %. Berbagai faktor yang meliputi keadaan lingkungan, panen hingga penanganan pasca panen mempengaruhi mutu giling disamping faktor genetik.8 Jenis pengujian mutu beras sesuai dengan SNI 6128: 2008 antara lain meliputi: 1. Kadar Air, merupakan kandungan air di dalam butir beras. 2. Butir Kepala, yaitu butir beras baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih besar atau sama dengan 0.75 bagian dari butir beras utuh. 3. Butir Patah, yaitu butir beras baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih besar dari 0.25 sampai dengan lebih kecil 0.75 dari butir beras utuh. 4. Butir Menir, yaitu butir beras baik sehat maupun cacat yang mempunyai ukuran lebih kecil 0.25 bagian butir beras utuh. 5. Butir Merah, yaitu butir beras utuh, beras kepala, patah maupun menir yang berwarna merah akibat faktor genetis. 6. Butir Kuning, yaitu butir beras utuh, beras kepala, beras patah dan menir yang berwarna kuning, kuning kecokla-coklatan, dan kuning semu akibat proses fisik atau aktivitas mikroorganisme. 7. Butir Kapur, yakni butir beras yang separuh bagian atau lebih berwarna seperti kapur (chalky) dan bertekstur lunak yang disebabkan oleh faktor fisiologis. 8. Butir Rusak, yaitu butir beras utuh, beras kepala, beras patah dan menir berwarna putih/bening, putih mengapur, kuning dan berwarna merah yang mempunyai lebih dari satu bintik yang merupakan noktah disebabkan proses 58 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

fisik, kimiawi, dan biologi. Beras yang berbintik kecil tunggal tidak termasuk butir rusak. 9. Benda Asing, yaitu benda-benda yang tidak tergolong beras, misalnya jerami, malai, batu kerikil, butir tanah, pasir, logam, potongan kayu, potongan kaca, biji-bijian, serangga mati, dan lain-lain. 10. Butir Gabah, yaitu butir padi yang sekamnya belum terkelupas atau terkelupas sebagian. Syarat mutu dari beras berdasarkan SNI 6128:2008 dibagi menjadi dua yakni: 1.

Syarat Umum a. Bebas hama dan penyakit b. Bebas bau apek, asam atau bau asing lainnya c. Bebas dari campuran dedak dan bekatul d. Bebas dari bahan kimia yang membahayakan dan merugikan konsumen

2.

Syarat Khusus Adapun syarat khusus dari mutu beras menurut SNI 6128: 2008 dapat dilihat pada Tabel.1 berikut ini: Tabel.1 spesifikasi Persyaratan Mutu Beras Berdasarkan SNI 6128:2008. No

Komponen Mutu

Satuan

Mutu I

Mutu II

Mutu III

Mutu IV

Mutu V

1

Derajat sosoh (min)

(%)

100

100

95

95

85

2

Kadar Air (maks)

(%)

14

14

14

14

15

3

Butir Kepala (min)

(%)

95

89

78

73

60

4

Butir Patah (maks)

(%)

5

10

20

25

35

5

Butir Menir (maks)

(%)

0

1

2

2

5

6

Butir Merah (maks)

(%)

0

1

2

3

3

7

Butir Kuning/Rusak (maks)

(%)

0

1

2

3

5

8

Butir Mengapur ( maks)

(%)

0

1

2

3

5

9

Benda Asing (maks)

(%)

0

0.02

0.02

0.05

0.20

10

Butir Gabah (maks)

(butir/ 100 g)

0

1

1

2

3

59 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu merupakan salah satu sentra produksi padi. Data Luas Panen, Rata-rata Produksi, dan Produksi padi di Kabupaten Seluma, Tahun 2007-2009 dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Luas Panen, Rata-rata Produksi, dan Produksi padi di Kabupaten Seluma, Tahun 2007-2009. Jenis Tanaman

Tahun 2007

2008

2009

[2]

[3]

[4]

Padi Sawah Luas Panen (Ha) Rata-rata Produksi (Kw/Ha) Produksi (Ton)

19,898 40.63 80,851

17,705 40.30 71,353

19,045 40.10 76,374

Padi Ladang Luas Panen (Ha) Rata-rata Produksi (Kw/Ha) Produksi (Ton)

1,858 20.34 3,780

899 20.83 1,873

677 21.14 1,431

Padi Luas Panen (Ha) Rata-rata Produksi (Kw/Ha) Produksi (Ton)

21,756 38.90 84,631

18,268 39.36 73,225

19,722 39.45 77,806

[1]

Sumber : Angka Tetap (ATAP) BPS Propinsi Bengkulu.

Berdasarkan data diatas, Kecamatan Seluma Selatan yang merupakan bagian dari Kabupaten Seluma mempunyai luas persawahan 2.697 ha berdasarkan mata pencarian penduduk sebagai petani sebanyak 5000 jiwa sehingga sangat bberpotensi menjadi daerah sentra padi. Untuk memenuhi kebutuhan pangan pada komoditas padi di Kelurahan Rimbo Kedui dilaksanakan kegiatan Model Pengembangan Pertanian Pedesaan Melalui Inovasi (MP3MI). Pada kegiatan MP3MI ini diuji cobakan 3 VUB Padi Inpari yaitu Inpari 6, 10 dan 13 dengan luas tanam + 2,7 ha dengan petani kooperator berbeda. Berdasarkan hasil produktivitas dari ketiga varietas tersebut, varietas inpari 10 merupakanVUB dengan produktivitas tertinggi yaitu 6.8 ton/ha GKP.

60 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

METODOLOGI Pengujian dilakukan di Laboratorium Pasca Panen, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, pada Bulan Januari 2012. Bahan utama yang digunakan adalah padi (beras) dari 3 varietas yang berbeda yakni: Inpari 6, Inpari 10, Inpari 13 dari hasil panen padi sawah lahan irigasi intensif di Kabupaten Seluma, Bengkulu. Jenis pengujian mutu beras meliputi kadar air, butir kepala, butir patah, butir menir, putih merah, butir kuning/rusak, butir mengapur, benda asing, butir gabah. Peralatan yang digunakan berupa ayakan berdiameter 2.0 mm, pinset, kaca pembesar, timbangan analitik, oven, wadah, rice grader. Untuk pengujian mutu beras giling seperti butir kepala, butir patah, butir menir, putih merah, butir kuning/rusak, butir mengapur, benda asing, butir gabah , sampel yang digunakan sebanyak 100 gram, sedangkan untuk menguji kadar air sampel yang digunakan sebanyak 5 gram (mengacu pada cara pengujian berdasarkan SNI 6128:2008). HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Mutu Beras Dari hasil pengkajian uji varietas yang dilaksanakan di Kabupaten Seluma, diperoleh hasil mutu beras 3 varietas pada Tabel 2 di bawah ini: Tabel. 3 Data hasil pengujian mutu beras 3 varietas padi sawah Kab. Seluma. Persentase(%) No

Varietas

Butir Butir Kepala Patah

Butir Butir Butir Butir Menir Merah Kuning/rusak Kapur

Benda Asing

Butir Gabah

1

Inpari 6

68.26

12.58

3.28

0

0.84

0.42

0

0.1

2

Inpari 10

53.00

16.78

18.36

0

1.03

0.26

0

0.02

3

Inpari 13

66.96

12.90

10.28

0.04

0.06

0.36

0

0

Hasil pengujian mutu beras dari 3 varietas padi sawah irigasi di Kabupaten Seluma menunjukkan bahwa Varietas Inpari 6 dan Inpari 13 menghasilkan beras kepala 68,26 % 66.96 % ,termasuk dalam kategori Mutu IV (sesuai SNI 6128:2008), diikuti oleh varietas Inpari 10 yang menghasilkan beras kepala 53% (Kategori Mutu V). Hal ini dikarenakan rendemen beras giling tersebut dipengaruhi oleh varietas, karakteristik gabah, cara dan alat penggilingan, mutu beras yang 61 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

hendak dicapai, teknik budidaya dan agroekosistem pertanaman padi. Tinggi rendahnya rendemen beras giling sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya komponen beras kepala. Semakin meningkat bobot butir kepala, maka akan semakin meningkat pula rendemen beras gilingnya. Dari Table 2 di atas menunjukkan bahwa varietas Inpari 6, Inpari 10 dan Inpari 13 menghasilkan butir patah 12.58%, 16.78 % dan 12.90 %, termasuk dalam kategori Mutu III (sesuai SNI 6128;2008). Semakin tinggi persentase butir patah dan menir, akan semakin menurunkan mutu fisik beras giling. Banyaknya butir patah pada beras juga dipengaruhi oleh tingginya kadar air pada beras tersebut. kadar air gabah sekitar 14 % merupakan kadar air optimal untuk digiling, karena menghasilkan beras pecah paling sedikit dibandingkan kadar air gabah lebih tinggi maupun lebih rendah dari 14 %. Persentase butir menir pada varietas Inpari 6, Inpari 10, dan Inpari 13 masing-masing menghasilkan butir Menir 3,28 %, 18,36% dan 10,28%, termasuk kategori Mutu IV (sesuai SNI 6128: 2008). Untuk butir merah tertinggi pada varietas Inpari 13 sebesar 0.04 %, masuk dalam kategori mutu II lalu diikuti varietas Inpari 6 dan

Inpari 10 sebesar 0%

termasuk dalam kategori mutu I

(sesuai SNI 6128:2008), kemudian varietas Inpari 6 dan Inpari 13 menghasilkan butir kuning/rusak 0.84 % dan 0.06 %, masuk dalam kategori mutu II (SNI 6128;2008), sedangkan Inpari 10 menghasilkan butir kuning/rusak sebesar 1.03 %, masuk dalam kategori mutu III (SNI 6128;2008). Hal ini dipengaruhi oleh proses penggilingan dan kadar air dari masing-masing varietas. Persentase kadar air pada 3 varietas padi berkisar antara 9 sampai 13 %, dimana angka tersebut berada di bawah pesentase kadar air normal saat penggilingan, yakni 14% sehingga mengakibatkan beras banyak yang mudah patah karena gabah menjadi lunak pada persentase kadar air tersebut. Untuk butir kapur terendah pada varietas Inpari 10 menghasilkan butir kapur 0.26 % atau termasuk kategori Mutu II (Sesuai SNI 6128:2008), hal ini dipengaruhi oleh faktor fisiologis dari masing-masing varietas dengan ditandai tekstur yang lunak dan berwarna putih seperti kapur. Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa varietas Inpari 6, 10 dan 13 tidak memiliki kandungan benda asing (0 %), 62 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

termasuk kategori mutu I (sesuai SNI 6128: 2008). Benda asing bisa berupa jerami, malai, batu kerikil, butir tanah, pasir, logam, potongan kayu, potongan kaca, biji-bijian lain, serangga mati, dan lain-lain yang kemungkinan terikut pada saat proses panen dan penggilingan. Berdasarkan Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa varietas Inpari 6, Inpari 10, dan Inpari 13 memiliki kandungan butir gabah masing-masing sebesar 0,1 %, 0.02 % dan 0% termasuk dalam kategori Mutu II (sesuai SNI 6128:2008). Butir gabah merupakan butir padi yang sekamnya belum terkelupas atau hanya terkelupas sebagian, biasanya dipengaruhi oleh proses penggilingan atau penyosohan. 3. Kadar air beras Untuk kadar air beras kegiatan uji varietas padi pada MT II lahan irigasi insentif di Kabupaten Seluma dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini. Tabel 4. Data kadar air 3 varietas padi sawah irigasi intensif Kabupaten Seluma, Laboratorium Pasca Panen, BPTP Bengkulu, 2012. No

Varietas

Kadar Air (%)

1.

Inpari 6

11

2.

Inpari 10

13

3.

Inpari 13

9

Hasil pengujian mutu beras dari beberapa varietas padi di Kabupaten Seluma menunjukkan bahwa kadar air dari 3 varietas padi masuk dalam kategori Mutu I berdasarkan standar SNI 6128:2008. Dari Tabel 3. Diatas menunjukkan kadar air tertinggi yakni pada varietas Inpari 10 sebesar 13 % dan terendah pada varietas Inpari 13 (9%), dimana persentase kadar air padi 3 varietas ini dibawah kadar air normal (14%) sehingga mempengaruhi hasil penggilingan dan kualitas beras.

63 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KESIMPULAN DAN SARAN Pada pengujian mutu beras berdasarkan standar nasional Indonesia (SNI) 6128:2008 pada 3 varietas padi lahan sawah irigasi intensif di Kabupaten Seluma, diperoleh bahwa Varietas Inpari 10 memiliki mutu beras paling paik dibandingkan varietas lainnya yang di tanam di lahan sawah irigasi di Kelurahan Rimbo Kedui Kecamatan Seluma Selatan Kabupaten Seluma Propinsi Bengkulu. DAFTAR PUSTAKA Kiat

Pedagang Mempertahankan SinarTani, (http://www.sinar tani.com/index.php?option=com-content&view=article&id=3223&catid=298=pascapanen&itemid=559, diakses tanggal 1 Januari 2012, pukul 11.15 WIB).

R.N.E.Soerjandoko, Teknik Pengujian Mutu Beras TeknikPertanian, Vol.15,No.2, 2010, hal.44-47.

Skala

Laboratorium,

Buletin

M.Nur,Gaybita, Peningkatan Mutu Beras, PERPADI, Jakarta, 2009. Wijaya, Pengaruh Kadar Air Gabah Terhadap Mutu Fisik Beras Giling,Staff Pengajar Fakultas Pertanian, Unswagati, Cirebon. Pusat Standarisasi dan Akreditasi Deptan, Meningkatkan Harga Gabah Melalui Peningkatan Kualitas, Edisi Mei 2003 (http://www.deptan.go.id/buletin/infomutu/mei_03.pdf, diakses pada 5 Januari 2012, pukul 11.30 WIB). Soemardi, 1982, Produksi, Rendemen dan Mutu gabah/Beras Hasil Panen Petani, Laporan Kemajuan, Seri Teknologi Pasca Panen No. 15 , BPTP Bogor, Sub BPTP Karawang. Hayadi, Proses Penggilingan Beras dan Pengaruhnya Terhadap Mutu Beras, 2006 html, (http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/03/proses-penggilingan-beras-dan diakses pada tanggal 1 Februari 2012, pukul 11.45 WIB). Herlina,E, Hermanasari, R, Siwi, H.P, 2009, Mutu Beras Galur-Galur Padi Gogo,di dalam Prosiding Seminar Ilmiah Hasil Penelitian Padi Nasional 2010, Buku 3. Hal 1259-1268.

64 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

PENINGKATAN PERSEPSI PETANI DALAM PENERAPAN PTT PADI SAWAH (STUDI KASUS : Kelompok Tani Harapan Maju II Desa Rimbo Recap Kabupaten Rejang Lebong) Ruswendi dan Bunaiyah Honorita

ABSTRAK Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas padi adalah melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Individu petani dalam memahami suatu inovasi adalah melalui proses persepsi. Perubahan persepsi petani menjadi lebih baik merupakan upaya yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan diseminasi inovasi dan dapat dijadikan indikator adopsi inovasi yang didiseminasikan. Pengkajian dilaksanakan untuk mengetahui persepsi petani Kelompok Tani Harapan Maju II Desa Rimbo Recap Kabupaten Rejang Lebong, tentang penerapan komponen teknologi PTT padi sawah sebelum dan sesudah dilaksanakannya kegiatan diseminasi percepatan adopsi inovasi teknologi. Data yang diambil terdiri dari data primer meliputi karakteristik petani, persepsi petani terhadap komponen teknologi PTT padi sawah, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan data sekunder diambil dari data Desa, BPP Lubuk Ubar dan Dinas Pertanian Kabupaten Rejang Lebong. Aanalisis data menggunakan Uji Statistik Wilcoxon Signed Ranks Test dan Korelasi Peringkat Spearman. Hasil pengkajian menunjukkan terdapatnya peningkatan persepsi petani mengenai komponen PTT padi sawah dari sebelum adanya kegiatan diseminasi memperlihatkan nilai rata-rata total skor 3,34 (kriteria cukup baik) dan meningkat menjadi 4,43 (kriteria sangat baik). Tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap persepsi petani, hal ini dimungkinkan adanya faktor-faktor eksternal lainnya yang belum terukur, seperti; norma-norma, kebiasaan, komunikasi sosial, interaksi sosial dan belajar sosial individu petani dalam sistem sosial. Persepsi petani terhadap inovasi teknologi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam (agro-ekosistem dan agro-klimat). Kata kunci: persepsi, petani, komponen teknologi, PTT padi sawah dan diseminasi

PENDAHULUAN Sasaran pembangunan pertanian saat ini tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas kesejahteraan

hasil

pertanian,

petani

dan

tetapi

juga

keluarganya.

diarahkan

Peningkatan

untuk

meningkatkan

kesejahteraan

petani

merupakan salah satu tujuan penyuluhan pertanian, yang ditegaskan dalam UU RI No.16 Tahun 2006. Bahwa penyuluhan juga ditujukan untuk memberdayakan pelaku utama dan pelaku usaha dalam peningkatan kemampuan melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif, penumbuhan motivasi, pengembangan potensi, pemberian peluang, peningkatan kesadaran dan pendampingan serta fasilitasi. Pencapaian sasaran penyuluhan salah satunya dilakukan melalui pengembangan dan diseminasi inovasi pertanian serta penumbuhan motivasi pada petani menggunakan inovasi teknologi. Karakteristik individu yang diperlihatkan dengan 65 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

sikap empati, dogmatis, kemampuan abstraksi, rasionalitas, intelegensi, sikap terhadap perubahan, keberanian beresiko dan sikap futuristik, termasuk salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam kegiatan diseminasi agar mendukung efektivitas penyampaian pesan pembangunan (Pertiwi dan Saleh, 2010). Sehingga memperkuat keputusan petani untuk memilih dan mengadopsi inovasi teknologi yang awalnya, terbentuk dari penilaian dan persepsi petani terhadap komponen teknologi PTT padi sawah tersebut. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi beras adalah melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah yang merupakan suatu pendekatan inovatif dan dinamis dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara partisipatif bersama petani yang meliputi; varietas unggul baru, benih bermutu dan berlabel, pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami atau pupuk kandang ke sawah dalam bentuk kompos, pengaturan populasi tanaman secara optimum, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman) dengan pendekatan PHT (pengendalian hama terpadu), pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam, penggunaan bibit muda (<21 hari), tanam bibit 1-3 batang per rumpun, pengairan secara efektif dan efisien, penyiangan dengan landak atau gasrok, serta panen tepat waktu dan gabah segera dirontok (Badan Litbang Pertanian, 2010). Petani padi merupakan sasaran yang perlu dijamah dalam pengembangan dan diseminasi inovasi pertanian, mengingat petani padi merupakan individu pelaku utama dalam penyediaan produksi beras. Sedangkan Individu petani dalam memahami suatu inovasi adalah melalui proses persepsi, termasuk persepsi petani terhadap suatu inovasi teknologi baru merupakan proses pengorganisasian dan interpretasi terhadap stimulus yang diterima oleh individu petani. Sehingga inovasi teknologi tersebut merupakan sesuatu yang berarti, bermanfaat dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu sebelum mengambil keputusan untuk berperilaku. Menurut Bulu (2010), bentuk keputusan berperilaku adalah merupakan tindakan individu untuk memaknai inovasi teknologi yang telah diyakini dan dibuktikan. 66 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Dengan dilaksanakannya kegiatan pengembangan diseminasi di Kabupaten Rejang Lebong, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan merubah persepsi petani terhadap diseminasi inovasi teknologi yang pada akhirnya memacu mereka mengadopsi inovasi pertanian komoditas padi yang dikembangkan. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian mengenai persepsi petani terhadap komponen teknologi PTT padi sawah dan faktor-faktor yang mempengaruhi sebelum dan sesudah dilaksanakannya kegiatan pengkajian dan diseminasi percepatan adopsi inovasi teknologi padi sawah. BAHAN DAN METODE Pengkajian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2011 pada Kelompok Tani Harapan Makmur II Desa Rimbo Recap, Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong. Pemilihan tempat dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Desa Rimbo Recap merupakan salah satu daerah sentra produksi padi dan dijadikan sebagai lokasi beberapa kegiatan diseminasi BPTP Bengkulu. Metode yang digunakan dalam pengkajian ini adalah metode survei dengan alat ukur kuesioner, terhadap 30 orang petani di sekitar lokasi percontohan aplikasi komponen teknologi PTT padi sawah yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Data yang diambil terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer meliputi karakteristik petani, persepsi petani terhadap

komponen

teknologi

PTT

padi

sawah,

serta

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya. Data sekunder diambil dari data Desa, BPP Lubuk Ubar dan Dinas Pertanian Kabupaten Rejang Lebong. Analisis data dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif dan interval kelas. Menurut Nasution dan Barizi dalam Rentha, T (2007), penentuan interval kelas untuk masing-masing indikator adalah: NR = NST – NSR

dan

Dimana : NR : Nilai Range NST : Nilai Skor Tertinggi NSR : Nilai Skor Terendah

PI PI JIK

= NR : JIK : Panjang Interval : Jumlah Interval Kelas

67 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Peningkatan persepsi petani dianalisis dengan menggunakan Uji Statistik Wilcoxon Signed Ranks Test dengan rumus: Z

T - µT

=

oT

Sedangkan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi petani digunakan Uji Statistik Korelasi Peringkat Spearman (Alma dan Riduwan: 2009). Rumus yang digunakan adalah: rs

∑di2

= 1-

6 ∑di2

n (n2 – 1)

n

= ∑ {R (Xi ) – R (yi )}2

i=1

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Desa Rimbo Recap Desa Rimbo Recap merupakan salah satu desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong selaku daerah sentra beras di Provinsi Bengkulu. Jarak tempuh desa ke Ibu kota Kecamatan 2 km, ke Ibukota Kabupaten 3 km dan ke Ibukota Provinsi 85 km. Secara administratif, Desa Rimbo Recap berbatasan dengan kelurahan Air Putih di sebelah Timur, Desa Lubuk Ubar di sebelah Barat, kelurahan Dwi Tunggal di sebelah Utara dan Desa Suka Marga di sebelah Selatan. Topografi wilayah datar dan bergelombang dengan kemiringan 5100, ketinggian 600-700 m dpl, suhu rata-rata 260C dan curah hujan berkisar antara 2.500 - 3.000 mm/tahun. Sebagian besar petani di Desa Rimbo Recap merupakan petani penggarap dengan usahatani budidaya tanaman pangan, seperti padi dan palawija. Penggunaan lahan dan luas wilayah Desa Rimbo Recap, terdiri dari lahan: persawahan 120 ha, perkampungan 10 ha, dan lain-lain 1,5 ha. Pola usahatani yang diterapkan masyarakat secara umum, adalah menerapkan pola tani (Padi) – (Padi+Palawija) – (Padi+Palawija/Sayuran). 68 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Persepsi Petani Hasil pengkajian memperlihatkan persepsi petani terhadap penerapan komponen teknologi PTT padi sawah setelah diuji analisis statistik Wilcoxon Signed

Ranks Test, memperlihatkan ada perbedaan antara persepsi petani mengenai PTT padi sawah sebelum dan sesudah implementasi kegiatan diseminasi percepatan adopsi. Dimana persepsi petani sebelum adanya kegiatan diseminasi secara umum berada pada kondisi kriteria cukup baik dengan rata-rata skor total 3,34. Kemudian setelah kegiatan diseminasi aplikasi komponen teknologi PTT padi sawah terjadi peningkatan persepsi menjadi kondisi kriteria sangat baik dengan rata-rata skor total menjadi 4,43. Sehingga secara keseluruhan, memperlihatkan dimana persepsi petani mengenai PTT padi sawah sesudah dilaksanakannya kegiatan diseminasi percepatan adopsi inovasi teknologi menjadi 132,63% atau mengalami peningkatan sebesar 32,63% (Tabel 1). Begitu juga dengan masing-masing komponen teknologi, secara keseluruhan persepsi petani contoh terhadap penerapan masing-masing komponen teknologi tergambar 100% mengalami peningkatan dari sebelum penerapan dibandingkan dengan setelah dilaksanakannya kegiatan pengkajian diseminasi inovasi teknologi percontohan penerapan komponen teknologi dan pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk organik padi sawah.

69 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 1.

Deskripsi persepsi petani terhadap penerapan PTT padi sawah sebelum dan sesudah dilaksanakannya kegiatan diseminasi percepaan adopsi inovasi teknologi di Desa Rimbo Recap Kabupaten Rejang Lebong. Skor Persepsi Petani*

Komponen Teknologi PTT Padi Sawah

Sebelum

Sesudah

Varietas unggul baru

2,38

4,54

Benih bermutu dan berlabel

2,58

4,63

Pemberian bahan organik

2,17

3,88

Pengaturan populasi tanam melalui jajar legowo

2,71

4,71

Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman & status hara

3,63

4,13

Pengendalian OPT dengan pendekatan PHT

2,88

4,21

Pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam

3,79

4,04

Penggunaan bibit muda (umur <21 hari)

4,04

4,13

Tanam bibit 1-3 batang per rumpun

4,17

4,92

Pengairan secara efektif dan efisien

4,33

4,79

Panen tepat waktu dan gabah segera dirontok

4,13

4,75

Jumlah

36,79

48,71

Rerata

3,34

4,43

Keterangan : * 1,00 -1,80 = sangat buruk; 3,41- 4,20 = baik;

1,81-2,60 = buruk; 4,21-5,00 = sangat baik.

2,61-3,40 = cukup baik;

Namun bila dilihat tingkatan persepsi masing-masing komponen teknologi, hanya terlihat komponen teknologi pengairan secara efektif dan efisien sudah sejak awal diterapkan perani di desa Rimbo Recap dengan baik yaitu berada pada tingkatan skor sangat baik (4,33). Hal ini dikarenakan desa Rimbo Recap telah memiliki jaringan pengairan untuk kebutuhan persawahan, sehingga kebutuhan air bagi usahatani padi sawah masyarakat tercukupi. Sedangkan komponen tekbologi lainnya seperti penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB); benih bermutu dan berlabel yang pada awalnya berada dalam kondisi buruk (2,38 dan 2,58) meningkat menjadi sangat baik (4,54 dan 4,63) dan pemberian bahan organik dari kondisi buruk (2,17) hanya meningkat menjadi tingkatan kondisi baik (3,88). Komponen teknologi PTT yang tingkatan persepsi awalnya sudah berada dalam kondisi cukup baik adalah; Pengaturan populasi tanam melalui jajar legowo dan Pengendalian OPT dengan pendekatan PHT berada pada skor 2,71 dan 2,88 juga telah meningkat menjadi sangat baik dengan skor 4,71 dan 4,21. Namun 70 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

untuk komponen teknologi Penggunaan bibit muda (umur <21 hari) dan Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman & status hara dengan skor awalnya 3,63 dan 4,04 hanya meningkat menjadi 4,13 dan 4,14 dan masih tetap berada pada tingkatan persepsi kondisi baik (rank skore 3,41- 4,20). Sedangkan komponen teknologi tanam bibit 1-3 batang per rumpun serta panen tepat waktu dan gabah segera dirontok yang persepsi awalnya sudah baik (4,17 dqn 4,13), juga menjadi semakin baik (4,92 dan 4,76). Namun dari keseluruhan komponen teknologi PTT padi sawah yang didiseminasikan, komponen teknologi tanam bibit 1-3 batang per rumpun merupakan peringkat persepsi terbaik mendekati sempurna dan meyakinkan petani padi sawah di desa Rimbo Recap yaitu; berada pada skor persepsi petani 4,92. Dari gambaran analisis masing-masing komponen teknologi yang masih bervariasi, terlihat bahwa peningkatan persepsi petani dalam penerapan PTT padi sawah tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan petani sendiri. Tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor luar dan linkungan lainnya, seperti faktor kondisi, budaya atau kebiasaan sistem budidaya padi sawah yang turun-temurun. Bulu (2010) menggambarkan, bahwa persepsi petani terhadap sesuatu inovasi teknologi baru dapat dipengaruhi oleh faktor internal (dari dalam diri individu) dan faktor eksternal (atau dari stimulus itu sendiri dan lingkungan). Secara psikologis, persepsi individu petani terhadap suatu inovasi teknologi sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemberian makna atau arti teknologi, pengalaman individu, perasaan, keyakinan, pengetahuan tentang inovasi, kemampuan berfikir dan motivasi untuk belajar. Van den Ban dan Hawkins (2000) menggambarkan, bahwa belajar adalah memperoleh serta memperbaiki kemampuan seseorang untuk melaksanakan suatu pola sikap melalui pengalaman dan praktek. Hal ini akan menimbulkan proses psikologis, sehingga individu akan menyadari apa yang ia lihat, ia dengar dan sebagainya. Tingkat pendidikan diduga menjadi faktor yang mempengaruhi persepsi petani. namun dari hasil analisis menggunakan Uji Statistik Koefisien Korelasi Peringkat Spearman, yernyata pendidikan tidak berpengaruh terhadap tingkat persepsi petani dalam penerapan PTT padi sawah di desa Rimbo Recap. Kondisi ini 71 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

dimungkinkan oleh faktor-faktor eksternal lainnya yang belum terukur, seperti; norma-norma, kebiasaan, komunikasi sosial, interaksi sosial, dan belajar sosial individu petani dalam sistem sosial. Oleh Mar’at dalam Bulu (2010) hal tersebut merupakan salah satu faktor yang disebut sebagai “hambatan” dan merupakan salah satu variabel eksternal penentu persepsi petani, terutama kesesuaian inovasi teknologi terhadap kondisi ago-ekosistem maupun agro-klimat setempat. Melalui kegiatan diseminasi inovasi komponen teknologi PTT padi sawah, tergambar perubahan persepsi petani bernilai positif, yaitu persepsi petani menjadi meningkat. Peningkatan persepsi petani mengisyaratkan bahwa petani percaya dan setuju dengan apa yang sudah diterapkan dan didiseminasikan. Peningkatan persepsi petani merupakan langkah awal dalam menumbuhkan minat (kepercayaan petani) dalam merubah keterampilan, sehingga pada akhirnya komponen PTT padi sawah dapat diadopsi dan diterapkan langsung oleh petani. Berkaitan dengan hal tersebut, berarti bahwa dengan adanya kegiatan diseminasi yang meliputi demonstrasi atau praktek dan bimbingan langsung yang melibatkan petani secara partisipatif mulai dari awal hingga akhir kegiatan serta diikuti dengan penyuluhan (bimbingan dan edukasi) mengenai PTT padi sawah, telah mendorong pengetahuan petani menjadi meningkat yang pada akhirnya merubah persepsi petani menjadi lebih baik. KESIMPULAN 1. Terjadi peningkatan persepsi petani mengenai PTT padi sawah sebelum dan sesudah implementasi kegiatan diseminasi dilaksanakan, dimana persepsi petani sebelum adanya kegiatan diseminasi berada pada kriteria cukup baik dengan rata-rata skor total 3,34 yang kemudian meningkat menjadi 4,43 dengan kriteria sangat baik dan secara keseluruhan memperlihatkan perserpsi inovasi teknologi tergambar menjadi 132,63% atau mengalami peningkatan sebesar 32,63%. 2. Persepsi petani secara keseluruhan terhadap penerapan dari masing-masing komponen teknologi PTT padi mengalami peningkatan (100%) setelah dilaksanakannya kegiatan diseminasi inovasi teknologi percontohan penerapan

72 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

komponen teknologi dan pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk organik pada padi sawah. 3. Pendidikan tidak berpengaruh terhadap tingkat persepsi petani, kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor eksternal lainnya yang belum terukur, seperti norma-norma, kebiasaan, komunikasi sosial, interaksi sosial, dan belajar sosial individu petani dalam sistem sosial serta kondisi lingkungan alam (agroekosistem dan agro-klimat). DAFTAR PUSTAKA Alma B dan Riduwan. 2009. Pengantar Statistika Sosial. Penerbit CV. Alfabeta. Bandung. Badan Litbang Pertanian. 2010. Pedoman Umum PTT Padi Sawah. Kementerian Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Bulu Yohanes Geli. 2010. Persepsi Petani Terhadap Peran Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) dalam Usahatani Padi di Kecamatan Sukaharjo Kabupaten Sukoharjo (Online). http://h0404055. wordpress.com/2010/04/07/. Diakses 30 Mei 2012. Bengkulu. Dinas Pertanian R/L . 2011. Produktivitas Padi Sawah Kabupaten Rejang Lebong Tahun 2010. Dinas Pertanian Kabupaten Rejang Lebong. Curup. Pertiwi, R P dan Saleh A. 2010. Persepsi Petani Tentang Saluran Komunikasi Usahatani Padi (Online). http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/32203/ Pepi%20Rospina%20Pertiwi%28ppt%29_Makalah%20Penunjang.pdf Diakses 30 Mei 2012. Bengkulu. Rentha, T. 2007. Identifikasi Perilaku, Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Irigasi Teknis Sebelum dan Sesudah Kenaikan Harga Pupuk di Desa Bedilan Kecamatan Belitang OKU Timur (Skripsi S1). Universitas Sriwijaya. Palembang. Van Den Ban dan Howkins. 2000. Penyuluhan Pertanian. Penerbit CV. Kanisius. Yogyakarta.

73 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT) PENTING PADA SENTRA TANAMAN PADI SAWAH MT 2010/2011 dan MT 2011 Sri Suryani M. Rambe dan Kusmea Dinata

ABSTRAK Salah satu upaya untuk mencapai target produksi padi sebesar 70,6 juta ton GKG pada tahun 2011 memerlukan dukungan sistem monitoring serangan OPT dan pelaporan yang intensif secara berkesinambungan untuk menerapkan pengendalian hama terpadu. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menentukan beberapa jenis OPT penting pada tanaman padi sawah yang menyerang di provinsi Bengkulu, serta mendapatkan informasi tentang luas serangan dan intensitas serangan OPT penting pada tanaman padi sawah pada MT I tahun 2010/2011 dan MT II tahun 2011. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada setiap kabupaten yang ada di provinsi Bengkulu dengan mengambil satu wilayah kerja POPT-PHP atau wilayah kecamatan. Waktu pelaksanaan dimulai dari MT I tahun 2010/2011 sampai MT II tahun 2011. Pelaksanaan kegiatan monitoring berbagai jenis OPT penting pada tanaman padi meliputi intensitas serangan, populasi dan luas serangan. Data di kumpulkan dari laporan POPT-PHP yang ada di setiap kabupaten di satu wilayah kerja/wilayah kecamatan yang mewakili sentra produksi padi. Dari hasil observasi lapangan jenis OPT penting pada MT I yaitu: walang sangit, hama tikus, ulat grayak, penggerek batang padi, penyakit blas dan tungro luas serangannya 141,2 ha, 57,2 ha, 52 ha, 23,0 ha, 13,7 ha, dan 17,2 ha. Pada pengamatan MT II juga terdapat serangan walang sangit, hama tikus, ulat grayak, penggerek batang padi, penyakit blas dan tungro luas serangannya: 155,5 ha, 77,2 ha, 5,0 ha, 25,5 ha, 1,2 ha dan 35,5 ha. Kata kunci: organisme pengganggun tanaman penting, monitoring, padi

PENDAHULUAN Organisme Penggangu Tanaman (OPT) merupakan salah satu faktor penghambat dalam upaya meningkatkan produktvitas padi di Indonesia. Pada musim hujan 2007/2008, dilaporkan luas serangan penggerek batang padi 64.973 ha, wereng batang coklat 9.906 ha, tikus 44.470 ha, tungro 2.355 ha dan blas 4.707 ha (BBPOPT, 2008). Fenomena tersebut berpotensi menimbulkan gangguan produksi padi nasional. Oleh karena itu, upaya untuk mencapai target produksi padi sebesar 70,6 juta ton GKG pada tahun 2011 memerlukan dukungan sistem moinitoring serangan OPT dan pelaporan yang intensif secara berkesinambungan. Pengamatan

dan

pelaporan

OPT

merupakan

komponen

kegiatan

perlindungan tanaman. Dari kegiatan tersebut akan diperoleh data kualitatif dan kuantitatif yang berguna sebagai bahan untuk pengambilan keputusan dan langkah-langkah operasional pengendalian OPT secara terpadu (Ditlin, 2008). Dalam rangka penerapan PHT, pengamatan dan pelaporan merupakan kegiatan74 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

kegiatan yang amat mendasar. Dari kegiatan tersebut diharapkan dapat diperoleh gambaran tentang adanya serangan, luas serangan, kepadatan populasi atau itensitas serangan. Adapun tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk menentukan beberapa jenis OPT penting pada tanaman padi sawah yang menyerang di provinsi Bengkulu, serta mendapatkan informasi tentang luas serangan dan intensitas serangan OPT penting tanaman padi sawah pada musim tanam I (MT I) 2010/2011 dan Musim Tanam II (MT II) 2011. METODE PENELITIAN Ruang Lingkup Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada setiap kabupaten yang ada di provinsi Bengkulu dengan mengambil satu wilayah kerja POPT-PHP atau wilayah kecamatan. Waktu pelaksanaan dimulai dari MT I tahun 2010/2011 sampai MT II tahun 2011. kegiatan yang dilakukan yaitu monitoring berbagai jenis OPT penting pada tanaman padi meliputi intensitas serangan dan luas serangan. Data di kumpulkan dari laporan POPT-PHP yang ada di setiap kabupaten di satu wilayah kerja/wilayah kecamatan yang mewakili sentra produksi padi. Tahapan Pelaksanaan 1. Sosialisasi dan koordinasi dengan Petugas POPT-PHP setiap kabupaten yang terlibat kegiatan monitoring OPT 2011. Satu orang petugas untuk satu kabupaten/kota dalam satu wilayah kerja/kecamatan. 2. Penentuan petak contoh pengamatan tetap dan pengamatan keliling. Setiap petugas POPT-PHP menentukan petak pengamatan tetap dengan cara mengambil 3 unit petak contoh pada perpotongan garis diagonal terpanjang, masing-masing unit contoh diambil 10 rumpun tanaman sampel, kemudian diamati seminggu sekali.

75 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

3. Pengumpulan data oleh petugas POPT-PHP yang dikirimkan setiap 2 minggu sekali selama MT I sampai MT II, sesuai pedoman pengamatan dan pelaporan Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Jendral Tanaman Pangan. Variabel pengamatan 1. Identifikasi OPT penting pada tanaman padi sawah Identifikasi dilaksanakan dengan cara mengamati gejala yang ditimbulkan dan melihat tanda-tanda keberadaan jenis OPT. 2. Luas dan Intensitas serangan OPT penting padi sawah Luas dan intensitas serangan OPT dilakukan dengan cara menghitung luas serangan OPT penting pada wilayah kerja/kecamatan POPT-PHP, kemudian dihitung intensitas serangannya. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Ditlin, 2007): 1. Intensitas serangan mutlak n I= x 100% N Keterangan I : Intensitas serangan n : Jumlah tanaman/bagian tanaman yang rusak N : Jumlah seluruh tanaman/bagian tanaman yang diamati

2. Intensitas serangan tidak mutlak ∑ (ni x vi) I=

x 100% NxZ

Keterangan I : Intensitas serangan ni : Jumlah sampel pada katagori kerusakan vi : Skor pada sampel N : Jumlah total sampel Z : Skor tertinggi dari katagori serangan Nilai Skoring kerusakan: 0 : Tidak ada serangan 1 : Apabila ada 1/4 bagian tanaman terserang 3 : Apabila ada 1/3 bagian tanaman terserang 5 : Apabila ada1/2 bagian tanaman terserang 7 : Apabila ada 3/4 bagian tanaman terserang 9 : Apabila ada > 3/4 bagian tanaman terserang

76 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 1. Katagori intensitas serangan hama dan Penyakit tanaman padi. Kisaran intensitas serangan hama

Katagori

0-25% 25 - <50% 50 - 90% >90%

Kisaran intensitas serangan penyakit

Intensiatas ringan Intensitas sedang Intensitas berat Puso

<11% 11 - <25% 25 - <75% 75 - 100 %

Analisis Data Data OPT yang diperoleh dari petugas POPT dianalisis secara statistik deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengamatan dan Identifikasi OPT Penting Tanaman Padi Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada petak tetap MT I dan MT II, terdapat enam jenis OPT penting dari beberapa OPT utama yang menyerang tanaman padi. Keenam jenis OPT tersebut yaitu hama penggerek batang padi, hama tikus, hama walang sangit, hama ulat grayak, penyakit blas, dan penyakit tungro. Data hasil pengamatan disajikan pada tabel 2 dan 3. Tabel 2. Data luas dan intensitas serangan OPT penting tanaman padi MT I pada wilayah pengamatan Kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu tahun 2010/2011. Jenis OPT NO

Kabupaten/Kota/kecamatan

PB

UG

WS

TK

TG

BL

L

I

L

I

L

I

L

I

L

I

L

I

1

Kota Bengkulu/Gading cempaka

6,5

R

-

-

5,0

R

-

-

-

-

3,0

R

2

Seluma/Seluma Selatan

1,0

R

52,0

R

34,0

R

20,0

R

2,0

S

3,0

S

3

Bengkulu Tengah/Taba Penanjung

-

-

-

-

10,5

R

10

R

5

R

-

-

4

Bengkulu Utara/Argamakmur

0,2

R

-

-

12,0

R

-

-

-

-

-

-

5

Bengkulu Selatan/Seginim

6

Kepahiang/kepahiang

7 8

-

-

-

-

9,0

R

4,5

R

-

-

2,5

R

0,7

R

-

-

22,2

R

1,7

R

6,7

S

5,2

R

Rejang Lebong/Curup Selatan

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Lebong/Lebong selatan

-

-

-

-

1,0

R

3,0

R

3,0

S

-

-

9

Kaur/Kaur Selatan

13,0

R

-

-

45,0

R

18,0

R

-

-

-

-

10

Mukomuko/XIV Koto

1,5

R

-

-

2,5

R

-

-

0,5

R

-

-

Keterangan: PB : Penggerek Batang TK : Tikus L : Luas serangan (ha) I : Intensitas serangan (%)

UG TG R S

: : : :

Ulat Grayak Tungro Intensitas ringan Intensitas sedang

WS : Walang Sangit BL : Blas malai

77 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 3. Data luas dan intensitas serangan OPT penting tanaman padi MT II pada wilayah pengamatan Kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu tahun 2011. Jenis OPT NO

Kabupaten/Kota/Kecamatan

PB

UG

WS

TK

TG

BL

L

I

L

I

L

I

L

I

L

I

L

I

1

Kota Bengkulu/Gading Cempaka

6,5

R

-

-

1,5

R

1,0

R

-

-

-

-

2

Seluma/Seluma Selatan

5,0

R

5,0

S

15,0

R

8,0

R

4,0

S

-

-

3

Bengkulu Tengah/Taba Penanjung

-

-

-

-

20

R

15

R

7

R

-

-

4

Bengkulu Utara/Argamakmur

-

-

-

-

37,5

R

2,5

R

-

-

-

-

5

Bengkulu Selatan/Seginim

6

Kepahiang/kepahiang

-

-

-

-

6,0

R

12,0

R

-

-

-

-

1,0

R

-

-

3,0

R

1,75

R

7,0

S

1,2

R

7 8

Rejang Lebong/Curup Selatan

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Lebong/Lebong Selatan

-

-

-

-

-

-

3,0

R

5,0

S

-

-

9

Kaur/ Kaur Selatan

12,0 R

-

-

70,0

R

34,0

R

10,0

R

-

-

10

Mukomuko/XIV Koto

1,0

-

-

2,5

R

-

-

2,5

S

-

-

R

Keterangan: PB TK L I

: : : :

Penggerek Batang Tikus Luas serangan (ha) Intensitas serangan (%)

UG TG R S

: : : :

Ulat Grayak Tungro Intensitas ringan Intensitas sedang

WS : Walang Sangit BL : Blas malai

Serangan hama walang sangit memiliki sebaran yang paling tinggi, terlihat hampir seluruh kabupaten terdapat serangan. Kemudian diikuti hama tikus, penggerek batang padi, tungro, blas dan terakhir serangan hama ulat grayak yang hanya terjadi di kabupaten Seluma. Walang sangit (Leptocorisa oratorius L) adalah hama yang menyerang tanaman padi setelah berbunga dengan cara menghisap cairan bulir padi, menyebabkan bulir padi menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna. Di Indonesia telah dikenal 6 jenis penggerek batang padi, yang terdiri dari lima jenis famili Pyralidae dan satu jenis famili Noctuidae. Jenis-jenis penggerek batang padi ini memiliki sifat atau ciri yang berbeda dalam penyebaran dan bioekologi, namun hampir sama dalam cara menyerang dan kerusakan yang ditimbulkannya. Gejala serangan pada masa vegetatif dapat berupa matinya titik tumbuh karena digerek oleh larva penggerek batang, yang dapat mengakibatkan berkurangnya

anakan

dan

penghambatan

pertumbuhan

(gejala

sundep).

Sedangkan pada masa generatif dapat mengakibatkan pembentukan bulir gabah

78 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

tidak sempurna karena batang pangkal malai digerek oleh larva penggerek batang (gejala beluk) (Ditlin, 2007b). Hama tikus merupakan hama yang cukup penting pada tanaman padi, hama ini dapat menyerang pada fase vegetatif dan generatif. Gejala serangan yang ditimbulkan yaitu dengan cara mengerat batang tanaman padi, dekat pangkal batang. Gejala berupa terdapat bekas eratan yang berbentuk miring sekitar 45o. Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae gejala penyakit blas dapat ditimbulkan pada daun dan malai (Semangun, 1990; Utami et al, 2006). Gejala pada daun yang sering disebut blas daun (leaf blas), yaitu berupa bercak berbentuk jorong dengan ujung-ujung runcing. Serangan ini dapat menimbulkan kerugian yang besar karena hampir semua biji pada malai hampa (Semangun, 1990). Penyakit tungro disebabkan oleh virus, yang ditularkan oleh wereng hijau

Nephotettix virescens. Gejala yang ditimbulkan yaitu terjadinya penghambatan pertumbuhan dan warna daunnya berubah, yang bervariasi dari kuning sampai merah jambu (Semangun, 1990; Ditlin, 2007b). Hama Ulat grayak dapat menyerang tanaman pada masa vegetatif dan generatif. Gejala serangan dapat berupa bekas gigitan ulat pada daun, pada serangan berat tanaman padi muda terlihat bekas tunggul-tunggulnya saja. Luas serangan OPT penting padi di provinsi Bengkulu Total luas serangan OPT penting pada tanaman padi musim tanam 2010/2011 dapat disajikan pada tabel 4.

79 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 4. Data luas serangan OPT penting tanaman padi sawah pada wilayah pengamatan di Propinsi Bengkulu MT 2010/2011. Luas serangan (ha) No

Jenis OPT

Musim Hujan (MT I)

Musim Kering (MT II)

R

S

B

T

P

R

S

B

T

P

1

Penggerek Batang

23,0

-

-

23,0

-

25,5

-

-

25,5

-

2

Ulat Grayak

52,0

-

-

52,0

-

-

5,0

-

5,0

-

3

Walang Sangit

141,2

-

-

141,2

-

155,5

-

-

155,5

-

4

Tikus

57,2

-

-

57,2

-

77,2

-

-

77,2

-

5

Tungro

5,5

11,7

-

17,2

-

17,0

18,5

-

35,5

-

6

Blas

10,7

3,0

-

13,7

-

1,2

-

-

1,2

-

Keterangan: R : Luas Intensitas Ringan ; S : Luas Intensitas Sedang; B : Luas Intensitas Berat; T : Total terkena; P : Total Puso

Dari tabel 4 pada MT I, terlihat serangan hama walang sangit total luas

serangannya paling banyak bila dibandingkan dengan OPT yang lain yaitu sekitar 141,2 ha. Kemudian diikuti serangan hama tikus 57,2 ha, hama ulat grayak 52 ha, penggerek batang padi 23,0 ha, penyakit blas 13,7 ha, dan penyakit tungro 17,2 ha. Pada pengamatan MT II terlihat juga hama walang sangit memiliki total luas serangan yang paling banyak yaitu 155,5 ha. Kemudian diikuti hama tikus 77,2 ha, hama penggerek batang 25,5 ha, penyakit tungro 35,5 ha, hama ulat grayak 5,0 ha dan serangan penyakit blas 1,2 ha. Dari total luas serangan terkena pada musim tanam I dan II, luas seragan penggerek batang, walang sangit, tikus, dan tungro, terlihat serangannya lebih luas pada MT II dibanding pada MT I. Hal ini banyak diduga karena faktor inang, yaitu tersediannya pertanaman padi terus-menerus atau singgang dan tanaman padi yang tumbuh dari gabah yang tercecer di lapang serta inang alternatif apabila tidak ada pertanaman (Ditlin, 2007b). Maka pada musim berikutnya serangan bisa lebih tinggi dibanding musim sebelumnya. Untuk hama ulat grayak dan blas total luas serangan terkena pada MT I lebih luas dibandingkan dengan MT II. Hal ini diduga karena pengaruh fenomena iklim yang tidak menentu mengakibatkan adanya ledakan hama ulat grayak (outbreak). Perkembangan dan penyebaran serangan penyakit blas sangat dipengaruhi oleh

80 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

curah hujan dan angin, dan tingkat keparahannya lebih disebabkan oleh faktor ketahanan tanaman, pemupukan N yang tinggi, dan kekeringan (Semangun, 1990). Di

Indonesia

walang

sangit

merupakan

hama

penting

dan

dapat

menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Diduga bahwa populasi 100.000 ekor

per

hektar

dapat

menurunkan

hasil

sampai

25%.

Hasil

penelitian

menunjukkan populasi walang sangit 5 ekor per 9 rumpun padi akan menurunkan hasil 15% (Suharto dan Damarrdjah, 1988 dalam Ashikin dan Thamrin, 2003) Hubungan antara kepadatan populasi walang sangit dengan penurunan hasil menunjukkan bahwa

serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu

minggu dapat menurunkan hasil 27% (BB Padi, 2009). Pada masa tidak ada pertanaman padi atau tanaman padi masih stadia vegetatif, dewasa walang sangit bertahan hidup/berlindung pada barbagai tanaman yang terdapat pada sekitar sawah. Hama walang sangit memiliki tanaman inang alternatif yaitu tanaman rumput-rumputan antara lain: Panicum spp; Andropogon

sorgum; Digitaria consanguinaria; Eleusine coracoma; Setaria italica; Cyperus polystachys, Paspalum spp; dan Pennisetum typhoideum (BB Padi, 2009). Penggerek batang padi terdapat sepanjang tahun dan menyebar di seluruh Indonesia pada ekosistem padi yang beragam. Kehilangan hasil akibat serangan penggerek batang padi pada stadia vegetatif tidak terlalu besar karena tanaman masih dapat mengkompensasi dengan membentuk anakan baru. Berdasarkan simulasi pada stadia vegetatif, tanaman masih sanggup mengkompensasi akibat kerusakan oleh penggerek sampai 30%. Gejala serangan pada stadia generatif menyebabkan malai muncul putih dan hampa yang disebut beluk. Kerugian hasil yang disebabkan setiap persen gejala beluk berkisar 1-3% atau rata-rata 1,2%. Kerugian yang besar terjadi bila penerbangan ngengat bersamaan dengan stadia tanaman bunting (BB Padi, 2008). Reproduksi atau perkembangbiakan tikus tidak hanya terjadi pada stadia generatif tanaman dimana dalam kondisi tersedia cukup pakan bergizi. Periode reproduksi pendek terjadi pada lokasi areal tanaman serempak, dan sebaliknya reproduksi panjang pada areal tanaman tidak serempak (Murakani et al,1992). Jumlah kelahiran tikus pada musim tanam hujan 1-2 kali, sedangkan pada musim 81 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

kemarau 2-3 kali (Priyono, 2008). Tingginya intensitas serangan hama tikus sangat tergantung dengan jumlah populasi pada suatu musim tanam. Hama ulat grayak merupakan hama yang potensial merusak pertanaman padi. Menurut Kalshoven (1991) bahwa eksplosi ulat grayak akan terjadi pada kedua musim peralihan, terutama jika musim kemarau dimulai lebih awal dari pada biasanya atau adanya periode kering yang terjadi selama musim hujan. Namun demikian, diduga bahwa temperatur dan kelembaban yang tinggi pada kedua musim peralihan tersebut memberikan andil dalam menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi ulat grayak untuk tumbuh dan berkembangbiak. KESIMPULAN 1. Pada sentra-sentra padi sawah di Provinsi Bengkulu ditemukan 6 jenis OPT penting pada tanaman padi yang menyerang yaitu: hama walang sangit, penggerek batang, tikus, tungro, blas, dan ulat grayak. 2. Dari hasil observasi lapangan jenis OPT penting pada MT I yaitu: walang sangit, hama tikus, ulat grayak, penggerek batang padi, penyakit blas dan tungro luas serangannya 141,2 ha, 57,2 ha, 52 ha, 23,0 ha, 13,7 ha, dan 17,2 ha. Pada pengamatan MT II

juga terdapat serangan walang sangit, hama tikus, ulat

grayak, penggerek batang padi, penyakit blas dan tungro luas serangannya yaitu: 155,5 ha, 77,2 ha, 5,0 ha, 25,5 ha, 1,2 ha dan 35,5 ha. DAFTAR PUSTAKA BBPOPT.2008. Peramalan OPT Padi, Jagung dan Kedelai. Direktorat Perlindungan tanaman, Direktorat Jendral Tanaman Pangan. BB Padi. 2008. Hama Penggerek Batang Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. BB Padi. 2009. Hama Walang Sangit. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Pertanian. Ditlin. 2007a. Pedoman Pengendalian Penyakit Tungro pada Tanaman Padi. Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan, Jakarta. Ditlin. 2007b. Pedoman Teknis Pengendalian Hama Penggerek Batang Pada Tanaman Padi. Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan, Jakarta. Ditlin. 2008. Pedoman Pengamatan dan Pelaporan Perlindungan Tanaman Pangan. Direkrorat Jendaral Tanaman Pangan.

82 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kalshoven, L.G.E. 1981. Pesr of Crop in Indonesia. Revised and Translated by Van Der Laan, P.A. PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve. Jakarta. Murakani. O, Kirana. V.L.T, Priyono. J, Tristiani. H. 1992. Tikus Sawah. Laporan Akhir Tulisan Ilmiah Kerjasama Teknis Indonesia-Jepang Bidang Perlindungan Tanaman Pangan (ATA-162). Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan, Jakarta. Priyono. J, 2008. Tikus Sawah dan Pengendalianya. Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. Karawang. Jawa Barat. Semangun,H. 1990. Penyakit-penyakit tanaman pangan di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Utami. D.W, H. Aswidinnoor, S. Moeljopawiroi. Hanarida, dan Reflinur. 2006. Pewarisan Ketahanan Penyakit Blas (Pyricularia grisea Sacc) pada Persilangan Padi IR64 dengan Oryza rufipogon. J.Hayati, hlm. 107-112 Vol. 13, No. 3.

83 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PUPUK ORGANIK UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI PADI SAWAH DENGAN PENDEKATAN PTT DI KABUPATEN REJANG LEBONG Alfayanti dan Ruswendi

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan petani padi sawah sebelum dan setelah pemanfaatan pupuk organik limbah pertanian serta kelayakan usahatani padi sawah yang dilakukan pada bulan Agustus-November 2011di desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong. Lokasi dipilih secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan desa Rimbo Recap merupakan salah satu sentra penghasil beras di Kabupaten Rejang Lebong. Penelitian dilaksanakan melalui perlakuan percontohan budidaya padi dengan pendekatan PTT pada lahan sawah petani kooperator dengan 3 perlakuan yaitu pemberian pupuk organik berbahan a) limbah kotoran ternak ayam, b) limbah kotoran ternak sapi, c) limbah jerami padi yang dibandingkan dengan usahatani perlakuan petani, kemudian dianalisis menggunakan tekhnik analisis pengolohan secara matematis dan diuraikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah pertanian pada usahatani padi sawah dengan pendekatan PTT dan pemberian kompos dari; kotoran ayam, kotoran sapi dan jerami padi dapat meningkatkan pendapatan petani dari Rp 6.416.250,-/ha/MT menjadi Rp 9.236.750,-/MT/ha, Rp 11.359.750,-/ha/MT dan Rp 10.758.350,-/ha/MT serta hasil penghitungan Marginal benefit Cost Ratio (MBCR) secara ekonomi pemanfaatan limbah pertanian ini mendapatkan nilai kelayakan berturut-turut sebesar 1,553; 2,245 dan 1,801. Kata Kunci: limbah pertanian, pupuk organik , PTT, padi sawah, pendapatan

PENDAHULUAN Kabupaten Rejang Lebong merupakan wilayah kabupaten yang memiliki potensi pertanian di Provinsi Bengkulu. Letak geografisnya berada di selatan garis khatulistiwa dengan ketinggian tempat antara 100 m sampai diatas 1.000 m dpl yang

secara

umum

merupakan

daerah

pegunungan

dengan

topografi

bergelombang dan berbukit-bukit serta mempunyai kemiringan tanah antara 2% 40% dengan curah

hujan yang cukup sepanjang tahun (Badan Pusat Statistik

Rejang Lebong, 2010). Hal ini mengkondisikan daerah Kabupaten Rejang Lebong sebagai daerah yang subur dan mempunyai potensi untuk pengembangan pertanian, termasuk sektor utama pangan padi sawah. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan inovatif, dinamis dalam upaya peningkatan produksi dan pendapatan petani melalui perakitan komponen teknologi secara patisipatif bersama petani, yang terdiri dari komponen teknologi dasar dan teknologi pilihan. Dimana komponen teknologi 84 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

dasar sangat dianjurkan untuk diterapkan (Badan Litbang Pertanian, 2010). Adapun komponen

teknologi dasar tersebut; 1) varietas unggul baru, inbrida atau

hibrida, 2) benih bermutu dan berlabel, 3) pemberian bahan organik melalui pengembalian jerami ke sawah atau dalam bentuk kompos, 4) pengaturan populasi tanaman secara optimum, 5) pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, 6) pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) dengan pendekatan PHT (Pengendalian Hama Terpadu). Namun komponen teknologi pilihan juga perlu diterapkan sesuai dengan kondisi, kemauan dan kemampuan petani setempat, diaantaranya; 1)pengolahan tanah sesuai musim dan pola tanam, 2) penggunaan bibit muda < 21 hari, 3) tanam bibit 1 - 3 batang per rumpun, 4) pengairan secara efektif dan efisien, 5) penyiangan dengan landak atau gasrok, 6) panen tepat waktu dan gabah segera dirontok. Penggunaan lahan secara terus menerus berakibat pada penurunan bahan oganik tanah dan bahkan sebagian besar lahan pertanian mengandung bahan organik rendah (< 2%), padahal kandungan yang ideal adalah > 3% (Kartono,2010). Perbaikan kesuburan tanah dan peningkatan bahan organik tanah dapat dilakukan melalui penambahan bahan organik atau kompos. Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik serta memperbaiki sifat fisik kimia dan biologi tanah (Kartono, 2010). Secara umum, manfaat pupuk organik adalah; memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, meningkatkan daya simpan dan daya serap air, memperbaiki kondisi biologi dan kimia tanah, memperkaya unsur hara makro dan mikro serta tidak mencemari lingkungan dan aman bagi manusia. Limbah adalah sisa atau hasil ikutan dari produk utama. Limbah pertanian adalah bagian tanaman pertanian diatas tanah atau bagian pucuk, batang yang tersisa setelah dipanen atau diambil hasil utamanya (Sutrisno 2002 dalam Syamsidar 2011). Limbah pertanian yang dapat dijadikan sumber pupuk organik adalah jerami padi, sekam/arang sekam, brangkasan kacang tanah dan kedelai, daun dan batang jagung, serbuk gergaji, sampah kota serta kotoran ternak (sapi, 85 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

kerbau, domba, kambing, dan ayam). Kandungan hara kotoran ternak dan limbah pertanian sangat beragam, dan begitu juga perbandingan antara karbon dan nitrogen (C/N ratio). Bahan organik yang optimal untuk pembuatan kompos atau pupuk organik secara aerobik memiliki C/N ratio 25-30. Pengelolaan hara K pada tanah sawah tidak dapat dipisahkan dari pengolahan bahan organik, karena bahan organik yang cukup tersedia pada lahan sawah dapat meningkatkan aktivitas organisme tanah mempersiapkan hara, siklus hara dan pembentukan pori mikro dan makro tanah. Pemberian jerami pada lahan sawah dapat memperbaiki sifat biologi, kimia dan fisika tanah sawah yang sekaligus dapat memasok sebagian kebutuhan hara K dan memperlambat kemiskinan K, sehingga mengurangi takaran pupuk KCl disamping juga mampu meningkatkan kesuburan tanah sawah (Hartatik, 2009). Menurut Badan Pusat Statistik Rejang Lebong (2010), luas panen padi sawah di Kabupaten Rejang tahun 2009 mencapai 16.418 ha dengan jumlah produksi 63.730 ton. Selain sektor tanaman pangan, sektor peternakan di Kabupaten Rejang Lebong juga menjadi salah satu andalan daerah. Jumlah ternak besar (sapi perah dan sapi potong) dengan populasi berjumlah 7601 ekor pada tahun 2009

dan

jumlah terbesar berada di Kecamatan Curup Selatan 4292 ekor, diikuti populasi ternak unggas 635.723 ekor diantarnya 501.198 ekor merupakan ayam ras. Secara keseluruhan limbah kotoran ternak dan tanaman pangan sangat berpotensi sebagai penghasil pupuk organik. Sehingga perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pendapatan petani padi sawah sebelum dan setelah memanfaatkan inovasi pemanfaatan limbah pertanian (kompos kotoran ayam, kompos kotoran sapi dan kompos jerami padi) sebagai pupuk organik pada usahatani padi sawah serta mengetahui kelayakan ekonomi dari usahatani padi awah yang mengadopsi inovasi tersebut.

86 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

BAHAN DAN METODA Penelitian ini dilakukan di Desa Rimbo Recap Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong pada bulan Agustus-November 2011. Pemilihan lokasi penelitian dipilih secara purposive (sengaja) berdasarkan pertimbangan bahwa desa Rimbo Recap merupakan salah satu sentra penghasil beras di Kabupaten Rejang Lebong. Kegiatan yang dilaksanakan adalah percontohan penerapan komponen teknologi dan pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk organik padi sawah dengan pendekatan PTT pada sawah petani kooperator dengan 3 perlakuan yaitu pemberian pupuk organik berbahan a) limbah kotoran ternak ayam, b) limbah kotoran ternak sapi, c) limbah jerami padi dan dibandingkan dengan usahatani petani tanpa diberikan perlakuan. Data yang diambil adalah data input produksi (benih, pupuk, pestisida,

tenaga kerja), biaya produksi dan jumlah

produksi padi sebelum dan setelah pelaksanaan perlakuan pemberian pupuk organik. Dari data yang diperoleh akan dihitung penerimaan dan pendapatan usahatani padi sawah setelah mengadopsi inovasi dan dibandingkan dengan pendapatan sebelum mengadopsi inovasi. Pendapatan dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Soekartawi,1995): Pd TR TC Pd Dimana: Pd = TR = Y = Py = TC = VC = FC =

= = = =

TR -TC Y. Py FC + VC TR - (FC+VC)

Pendapatan (Rp/MT/ha) Total penerimaan (Rp/MT/ha) Jumlah produksi beras petani (kg/MT/ha) harga beras (Rp/kg) Total biaya (Rp/MT/ha) Biaya tidak tetap (Rp/MT/ha) Biaya tetap (Rp/MT/ha)

Untuk mengetahui kelayakan ekonomi inovasi pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk organik pada usahatani padi sawah dengan pendekatan PTT dianalisis dengan menggunakan Marginal benefit Cost Ratio (MBCR). MBCR dapat

87 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

digunakan untuk mengukur kelayakan teknologi baru/introduksi dibandingkan dengan teknologi petani (Swastik, 2004) dengan rumus sebagai berikut: ∆B

Bst - Bsb

dimana:

MBCR = ------- = ------------∆C

Cst – Csb

Bst Bsb Cst Csb

: benefit setelah perlakuan : benefit sebelum pelakuan : cost setelah perlakuan : cost sebelum perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan usahatani Keragaan usahatani padi sawah pada petani kooperator di Desa Rimbo Recap sebelum dan setelah penelitian dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 1. Keragaan usahatani petani kooperator percontohan inovasi budidaya padi dengan pendekatan PTT dan pemanfaatan limbah pertanian. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Keragaan/Teknologi

Sebelum

Setelah

Varietas benih Pemberian bahan organik (kompos) Pola tanam/Pengaturan populasi Pengendalian OPT secara PHT Frekuensi pemupukan (kali/MT) Umur bibit (hari) Jumlah bibit (batang/rumpun)

cigeulis tidak tegel kadang-kadang 2 >21 3-5

inpari 13 ya legowo 4:1 Sesuai anjuran 3 <21 1-3

Sumber : data primer 2011.

Dari keragaan usahatani tersebut dapat dilihat, bahwa ada perubahan keragaan dan penerapan inovasi komponen teknologi yang dilakukan pada usahatani padi sawah petani kooperator. Beberapa komponen teknologi PTT diterapkan dalam percontohan ini seperti penggunaan varietas unggul baru, pemberian bahan organik, pengaturan populasi, Pengendalian OPT secara PHT (sebagai kompoenen dasar) serta penggunaan bibit muda serta tanam bibit 1-3 batang per rumpun (sebagai komponen pilihan. Penerimaan dan Pendapatan Petani Struktur biaya dan pendapatan petani padi sawah sebelum dan sesudah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk organik dengan pendekatan PTT setiap hektar per musim tanam dapat dilihat pada tabel 2.

88 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 2. Struktur biaya dan pendapatan petani padi sawah sebelum dan sesudah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pupuk organik dengan pendekatan PTT setiap hektar per musim tanam. Volume Komponen Biaya

PENGELUARAN a.Biaya tetap Penyusutan alat (Rp/paket) Sewa lahan (Rp/MT) Total Biaya Tetap b. Biaya tidak tetap Benih (kg) Pupuk (kg) - Urea - SP 36 - NPK Phonska - Kompos Furadan (kg) Pestisida (ml) - Baycarb - Snaildown - Chix - Score - Perekat Tenaga Kerja (HOK) - Pengolahan tanah - Penyemaian - Pencabutan bibit - Tanam - Pemupukan - Penyiangan - Pengendalian OPT - Panen - Pengangkutan - Penjemuran - Penggilingan Total Biaya tidak tetap Total Pengeluaran

Biaya usahatani (000)

Sebelum Sesudah

Sebelum K.Ayam

K.Sapi

Jerami

38,75 6.930 6.968,75

38,75 6.930 6.968,75

38,75 6.930 6.968,75

38,75 6.930 6.968,75

64

25

200

175

175

175

150 100 150 0 0

200 0 253 2000 16.5

225 250 375 0 0

340 0 634

340 0 634

340 0 634

0 0

500 0

0

240

80 0

10 1 4 14 4 10 4 52 2.5 8 4

11 1 4 14 6 10 4 52 2.5 8 4

30 130 40 750 50 160 280 200 400 200 2.600 125 400 200 6.615 13.583,75

PRODUKSI Produksi gabah (GKP) Produksi beras (kg) PENDAPATAN Harga (Rp/kg) Penerimaan Pendapatan

Setelah

1.000

1.400

1.600

40 25 30 42 0

40 25 30 42 0

40 25 30 42 0

412,5

412,5

412,5

900 50 160 280 300 400 200 2.600 125 400 200 8.313,5 15.282,25

900 50 160 280 300 400 200 2.600 125 400 200 8.713,5 15.682,25

900 50 160 280 300 400 200 2.600 125 400 200 8.913,5 15.882,25

5818 3200

7133 3923,15

7867 4326,85

7750 4262,5

6250 20.000

6250 24.519

6250 27.042

6250 26.640,6

6.416,25

9.236,75 11.359,75 10.758,35

Sumber : data primer 2011.

89 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Penerimaan adalah hasil perkalian antara produk-produk tersebut dengan harga jual. Soekartawi (1995) menyatakan bahwa pendapatan adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Sedangkan pendapatan (keuntungan) adalah selisih antara penerimaan dengan semua biaya., sehingga dengan tamabahan

penggunaan kompos pada lahan percontohan sebanyak 2

ton/ha dengan harga produksi masing-masing; Rp 500,-/kg untuk kompos kotoran ayam, Rp 700,-/kg untuk kompos kotoran sapi dan Rp 800,-/kg untuk kompos jerami, terdapat penambahan biaya secara berturut-turut masing-masing perlakuan Rp 1.000.000,- ; Rp 1.400.000,- dan Rp 1.600.000,-. Jumlah gabah yang dihasilkan sebelum percontohan adalah sebanyak 5818 kg GKP (Gabah Kering Panen) yang menghasilkan 3200 kg beras. Petani biasa menjual hasil panennya dalam bentuk beras dimana 1 kg beras dijual dengan harga Rp 6.250,- sehingga penerimaan petani adalah sebesar Rp 20.000.000,dengan pendapatan sebesar Rp 6.416.250,-. Setelah adanya perlakuan I (penggunaan kompos kotoran ayam dan pendekatan PTT),

jumlah gabah

dihasilkan meningkat menjadi 7133 kg GKP atau setara dengan 3923,15 kg beras senilai Rp 24.519.000,-. Yang Pendapatan petani pada perlakuan ini meningkat dari Rp 6.416.250,- menjadi Rp 9.236.750,- (sebesar Rp. 2.820.500,-). Pada perlakuan II (penggunaan kompos kotoran sapi dan pendekatan PTT) dihasilkan produksi sebesar 7867 kg GKP atau setara dengan 4326,85 kg beras dan harga jual sebesar Rp 6.250,-/kg, maka petani memperoleh penerimaan sebesar Rp 27.042.000,dengan pendapatan sebesar Rp 11.359.750,-. (diperoleh peningkatan pendapatan petani sebesar Rp 4.945.500,-). Untuk perlakuan III (penggunaan kompos jerami dan pendekatan PTT) dihasilkan produksi sebanyak 7750 kg GKP atau setara dengan 4262,5 kg beras dan harga jual beras sebesar Rp 6.250,-/kg, maka petani memperoleh penerimaan sebesar Rp 26.640.600,- dengan pendapatan sebesar Rp 10.758.350,- (diperoleh peningkatan pendapatan petani sebesar Rp 4.342.100,-). Kelayakan Ekonomi Inovasi Berdasarkan hasil penghitungan kelayakan ekonomi dari produksi padi percontohan penerapan komponen teknologi dan pemupukan kompos organik 90 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

limbah pertanian pada padi sawah, memperlihatkan hasil perhitungan berdasarkan nilai setiap perlakuan yang dianalisis dengan menggunakan Marginal benefit Cost

Ratio (MBCR) memberikan nilai ekonomi usahatani padi sawah dengan perlakuan penggunaan pupuk organik berbahan baku limbah kotoran ayam ; limbah kotoran sapi dan limbah jerami padi memberikan nilai kelayakan berturut-turut sebesar 1,553; 2,245 dan 1,801. Nilai MBCR ini menunjukkan bahwa penggunaan pupuk organik dari limbah pertanian yang dikomposkan layak secara ekonomi karena setiap 1,00 unit penggunaan pupuk kompos kotoran ayam akan menghasilkan output 1,553 unit; setiap 1,00 unit penggunaan pupuk kompos kotoran sapi akan menghasilkan output 2,245 unit serta setiap 1,00 unit penggunaan pupuk kompos jerami padi akan menghasilkan output 1,801 unit. Secara teoritis keputusan mengadopsi teknologi baru layak dilakukan jika MBCR > 1, artinya setiap tambahan penerimaan yang diperoleh dari penerapan teknologi baru harus lebih besar daripada tambahan biaya (Malian, 2004). Sehingga inovasi teknologi pemanfaatan limbah pertanian pupuk kompos pada padi sawah layak untuk diadopsi dan dikembangkan petani, karena dapat memberikan peningkatan hasil untuk setiap 1 unit inovasi sebesar 1,553 sampai 2,245 unit. KESIMPULAN 1. Pemanfaatan limbah pertanian pada usahatani padi sawah menggunakan pendekatan PTT berupa pemberian bahan organik kompos kotoran ayam, kompos kotoran sapi dan kompos jerami dapat meningkatkan pendapatan petani dari Rp 6.416.250,-/ha untuk setiap musism tanam menjadi Rp 9.236.750,-/ha; Rp 11.359.750,-/ha dan Rp 10.758.350,-/ha. 2. Pemanfaatan limbah pertanian (kompos kotoran ayam, kompos kotoran sapi, kompos jerami) sebagai pupuk organik pada usahatani padi sawah sangat layak untuk diadopsi dan dikembangkan, karena secara ekonomi dapat memberikan peningkatan pendapatan untuk setiap 1 unit inovasi sebesar 1,553 sampai 2,245 unit hasil.

91 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

DAFTAR PUSTAKA Badan Litbang Pertanian. 2010. Pedoman Umum PTT Padi Sawah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian., Kementrian Pertanian Republik Indonesia. Jakarta. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu . 2010. Provinsi Bengkulu Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. Bengkulu. Badan Pusat Statistik R/L. 2010. Rejang Lebong Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Rejang Lebong. Curup. Hartatik, W. 2009. Jerami Dapat Mensubstitusi Pupuk KCl. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian., Vol. 31 No. 1. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Kartono. 2010. Pembuatan Pupuk Kompos (Kompos Jerami dan Bokhasi). http://banten.litbang.deptan.go.id. Diakses tanggal 6 Juni 2012. Bengkulu.

Analisis Ekonomi Usahatani dan Kelayakan Finansial Teknologi pada Skala Pengkajian. Makalah Disajikan dalam Pelatihan Analisa Finansial dan Ekonomi

Malian, A.H. 2004.

bagi Pengembangan Sistem dan Usahatani Agribisnis Wilayah. Bogor, 29 November – 9 Desember 2004. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Soekartawi. 1995. Analisis Ilmu Usahatani. Penerbit PT. Rajawali Press. Jakarta. Swastika, D.K.S. 2004. Beberapa Teknik Analisis Dalam Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Vol 7 Nomor 1. Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Hal 90 – 103. Syamsyidar. 2011. ProfitabilitasSistem Perpaduan Peternakan Sapi Potong dengan Pemanfaatan Limbah Pertanian. http://syidar.blogspot.com. Diakses tanggal 7 Juni 2012. Bengkulu.

92 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KERAGAAN JAGUNG KOMPOSIT SUKMARAGA DAN LAMURU DI KECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG Siti Rosmanah, Wahyu Wibawa dan Sri Suryani M. Rambe

ABSTRAK Kabupaten Rejang Lebong merupakan salah satu sentra jagung di Provinsi Bengkulu. Tujuan penanaman jagung di Kabupaten Rejang Lebong adalah sebagai jagung pipilan kering dan jagung rebus. Masalah yang ditemui dalam usahatani jagung di Kabupaten Rejang Lebong antara lain sulitnya memperoleh benih jagung bermutu serta modal petani yang terbatas. Untuk itu perlu dilakukan kajian jagung komposit yang bertujuan untuk memperoleh varietas jagung komposit yang sesuai di Kabupaten Rejang Lebong. Kajian berupa observasi pada per tanaman jagung komposit dilakukan di Desa Teladan Kecamatan Curup Selatan pada tahun 2011. Varietas yang diobservasi yaitu Sukmaraga dan Lamuru. Pertanaman dua varietas jagung komposit dilakukan oleh 5 petani untuk masing-masing varietas. Hasil kajian menunjukkan bahwa tinggi tanaman Sukmaraga lebih tinggi dari Lamuru. Produktivitas yang diperoleh pada varietas Sukmaraga 5,81 ton/ha kering panen, sedangkan varietas Lamuru 3,23 ton/ha kering panen. Produktivitas kering pipilan rata-rata varietas Sukmaraga 4,19 ton/ha lebih tinggi jika dibandingkan dengan 2,47 ton/ha untuk varietas Lamuru. Kata Kunci: benih bermutu, komposit, varietas

PENDAHULUAN Luas areal tanaman jagung di Provinsi Bengkulu pada tahun 2010 adalah 28.205 ha dengan produksi 93.799 ton (BPS Provinsi Bengkulu, 2010). Salah satu sentra jagung di Provinsi Bengkulu adalah Kabupaten Rejang Lebong seluas areal 5.048 ha dengan produksi 16.937 ton. Jika dibandingkan dengan produksi jagung nasional, produktivitas jagung di Kabupaten Rejang Lebong masih rendah. Komoditas jagung yang banyak ditanam oleh petani adalah jagung hibrida dan jagung

lokal.

Sedangkan

jagung

komposit

belum

banyak

dibudidayakan.

Penanaman jagung yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Rejang Lebong bertujuan sebagai jagung pipilan kering dan jagung rebus. Jagung pipilan kering dipanen dari benih jagung hibrida sedangkan jagung rebus biasanya diambil dari jagung lokal. Masalah yang dihadapi dalam usahatani jagung di Kabupaten Rejang Lebong antara lain sulitnya memperoleh benih jagung bermutu serta modal petani yang terbatas. Benih jagung hibrida tersedia akan tetapi produktivitasnya masih rendah. Hal ini dipengaruhi secara genetika tanaman itu sendiri maupun oleh lingkungan 93 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

sekitar tanaman. Menurut Kiesselbach (1950), jagung adalah tanaman hari pendek kuantitatif dan jumlah daun total, yang ditentukan pada waktu inisiasi bunga, dikendalikan terutama oleh genotip fotoperiode walaupun ada sedikit pengaruh suhu. Untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman jagung yang baik dan memperoleh hasil yang tinggi diperlukan kondisi tanah yang gembur dan subur. Kesuburan tanah merupakan salah satu aspek lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Peningkatan kesuburan tanah dilakukan melalui pemupukan. Akan tetapi pupuk yang diberikan untuk tanaman jagung hibrida tidak sesuai dengan kebutuhan dan status hara tanah. Oleh karena itu diperlukan benih jagung lain seperti jagung komposit. Jagung komposit merupakan jagung yang dihasilkan dari campuran beberapa varietas sehingga individunya heterozygot dan heterogen (Derryadi, 2009). Pengkajian jagung varietas Sukmaraga dan Lamuru telah dilakukan di beberapa tempat. Hasil pengkajian jagung varietas Sukmaraga yang dilakukan di Kecamatan Surantih Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat dengan perlakuan tanpa olah tanah (TOT), produksi pipilan kering jagung Sukmaraga berkisar antara 1,86-6,50 t/ha dengan produksi rata-rata 3,4 t/ha. Sedangkan jagung varietas Lamuru produksinya berkisar antara 6,58-6,69 t/ha. Pengkajian dengan perlakuan pemberian pupuk Urea 450 kg/ha + 2,5 t/ha kompos produksi jagung varietas Lamuru lebih tinggi sebesar 6,69 t/ha jika dibandingkan dengan perlakuan pada pemberian Urea 300 kg/ha + 5 t/ha kompos yaitu 6,56 t/ha (Mulyadi, Sutardi dan Sudaryanto, 2005). Sedangkan berdasarkan hasil penelitian keragaan pertumbuhan dan hasil jagung bersari bebas di lahan masam, Lampung jagung varietas Sukmaraga mencapai produksi 5,6 t/ha dan jagung varietas Lamuru 4,73 t/ha (Mustikawati, 2006). Kajian jagung komposit perlu dilakukan di Provinsi Bengkulu yang bertujuan untuk memperoleh jenis jagung komposit yang sesuai khususnya untuk daerah Rejang Lebong. BAHAN DAN METODE Kajian jagung komposit ini dilaksanakan di Desa Teladan Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong pada bulan April sampai November 2011. 94 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Pengkajian ini dilaksanakan pada areal tanaman jagung milik petani dengan luas lahan ± 5 ha. Kajian yang dilaksanakan adalah kajian kesesuaian jenis jagung komposit (Sukmaraga dan Lamuru) pada lahan kering dengan ketinggian sekitar 675 m dpl. Data kondisi lahan dan agroklimat seperti curah hujan dan hari hujan serta data sekunder seperti potensi lahan juga dikumpulkan. Kajian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah 2 varietas jagung komposit yaitu Sukmaraga dan Lamuru. Luas tanam jagung masing-masing petani 0,50 ha. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t. Pendekatan yang digunakan adalah PTT jagung dengan rekomendasi pupuk yang diberikan 100 kg Urea/ha, NPK 400 kg/ha. Analisis tanah dilakukan sebelum kegiatan dilaksanakan. Parameter yang diamati adalah data vegetatif, generatif, produksi dan umur panen. Data dianalisis secara tabulasi dan dianalisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis tanah di Desa Teladan, status unsur hara lahan tegalan adalah rendah N, sedangkan unsur P2O5 dan K2O sedang. Hasil pengukuran terhadap komponen hasil panen yang terdiri dari tinggi tanaman (cm), jarak tongkol ke tanah (cm), jumlah tongkol/batang, dan jumlah baris/tongkol menunjukkan tidak adanya perbedaan yang nyata pada kedua varietas. Sedangkan parameter pengamatan terhadap panjang tongkol, lingkar tongkol, jumlah/baris, produtivitas kering panen dan produktivitas kering pipilan menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada kedua varietas. Komponen hasil panen varietas Sukmaraga dan Lamuru dapat dilihat pada Tabel 1.

95 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 1. Komponen hasil panen jagung varietas Sukmaraga dan Lamuru. Parameter

Rata-rata varietas Sukmaraga

Lamuru

Tinggi Tanaman (cm)

192,20a

152,94a

Jarak tongkol ke Tanah (cm)

77,34a

61,98a

1a

1a

Panjang Tongkol (cm)

9,27a

11,56b

Lingkar Tongkol (cm)

8,01a

11,56b

Jumlah Baris/Tongkol

7,60a

11,78a

Jumlah Biji/Baris

15,20a

19,96b

Kering Panen (t/ha)

5,81b

3,23a

Kering Pipilan (t/ha)

4,19b

2,47a

Jumlah Tongkol/Batang

Berdasarkan tinggi tanaman rata-rata pada varietas Sukmaraga 192,20 cm dan Lamuru 152,94 cm tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan terhadap tinggi tanaman pada kedua varietas. Jarak tongkol rata-rata varietas Sukmaraga 77,34 cm dan Lamuru 61,98 cm menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata.

Jumlah

tongkol/batang

rata-rata

untuk

kedua

varietas

adalah

1

tongkol/batang dan menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata diantara kedua varietas. Panjang tongkol rata-rata varietas Sukmaraga 9,27 cm dan Lamuru 11,56 cm menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada varietas Lamuru. Lingkar tongkol rata-rata varietas Sukmaraga 8,01 cm dan Lamuru 11,56 cm menunjukkan adanya perbedaan nyata pada varietas Lamuru. Jumlah baris/tongkol varietas Sukmaraga rata-rata 7,60 dan Lamuru 11,78 cm menunjukkan tidak adanya perbedaan nyata diantara kedua varietas. Jumlah biji/baris rata-rata varietas Sukmaraga 15,20 dan Lamuru 19,96 menunjukkan adanya perbedaan nyata pada varietas Sukmaraga. Produktivitas rata-rata kering panen varietas Sukmaraga 5,81 ton/ha dan Lamuru 3,23 ton/ha menunjukkan adanya perbedaan nyata pada varietas Sukmaraga. sedangkan hasil jagung pipilan kering varietas Sukmaraga rata-rata 4,19 ton/ha dan Lamuru 2,47 ton/ha menunjukkan adanya perbedaan nyata pada varietas Sukmaraga.

96 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Berdasarkan hasil pada Tabel 1, panjang tongkol (cm), lingkar tongkol (cm), jumlah baris/tongkol, dan jumlah biji/tongkol lebih tinggi pada varietas Lamuru dibandingkan dengan varietas Sukmaraga. Akan tetapi produktivitas kering panen lebih tinggi pada varietas Sukmaraga yaitu 5,81 ton/ha sedangkan Lamuru 3,23 ton/ha. Begitu juga pada produktivitas kering pipilan, hasil varietas Sukmaraga lebih tinggi yaitu 4,19 ton/ha jika dibandingkan dengan Lamuru yang 2,47 ton/ha. Hal ini karena berdasarkan hasil penimbangan terhadap berat 100 butir varietas Sukmaraga lebih tinggi jika dibandingkan dengan varietas Lamuru. Berdasarkan hasil penimbangan terhadap berat kering 100 butir, rata-rata berat kering varietas Sukmaraga adalah 27,8 gram lebih tinggi jika dibandingkan dengan berat kering varietas Lamuru yaitu 18,68 gram. Penanaman jagung varietas Sukmaraga berpotensi untuk dikembangkan di Kabupaten Rejang Lebong terutama di Desa Teladan karena hasil yang diperoleh tinggi yaitu 5,81 ton/ha kering panen atau 3,23 ton/ha pipilan kering. Sedangkan varietas Lamuru tidak cocok untuk dikembangkan di Kabupaten Rejang Lebong karena hasil rata-rata yang diperoleh rendah yaitu 3,23 ton/ha kering panen atau 2,47 ton/ha pipilan kering. Produktivitas jagung varietas Sukmaraga yang ditanam di Desa Teladan memiliki kesesuaian lahan karena produktivitasnya tinggi jika dibandingkan produktivitas jagung rata-rata yang ditanam oleh petani di Desa Teladan. Produktivitas jagung di Desa Teladan berbeda antara jagung lokal dengan jagung hibrida. Produktivitas jagung lokal 2,65 ton/ha dan produktivitas jagung hibrida 3,35 ton/ha. Akan tetapi jika dibandingkan dengan potensi hasil berdasarkan deskripsi jagung varietas Sukmaraga yang ditanam di Desa Teladan Kabupaten Rejang Lebong masih rendah. Berdasarkan deskripsi, rata-rata potensi hasil jagung varietas Sukmaraga adalah 6,0 ton/ha sedangkan Lamuru 5,6 ton/ha. Produktivitas jagung dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa faktor yang mempengaruhi produksi jagung adalah curah hujan ideal berkisar antara 85-200

97 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

mm/bulan, suhu ideal 230-300C dengan ketinggian optimum 50-600 m dpl (Puslittan, 2011). Masih rendahnya produktivitas jagung varietas Sukmaraga jika dibandingkan dengan deskripsi salah satunya disebabkan oleh curah hujan. Berdasarkan data curah hujan dan hari hujan, curah hujan rata-rata adalah 472 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan 22,08. Akan tetapi pada saat penanaman yaitu bulan Mei-Juli curah hujan dan hari hujan cukup rendah. Sehingga pada fase pertumbuhan tanaman kekurangan air. Sedangkan pada fase pemasakan biji (bulan Agustus) jumlah curah hujan tinggi sehingga memperlambat waktu panen. Berdasarkan data curah hujan yang diperoleh dari BMKG Kecamatan Ujan Mas, curah hujan rata-rata pada tahun 2011 adalah sebanyak 472,42 ml/bulan dengan jumlah hari hujan sebanyak 22,08 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Oktober hingga Desember 2011 yaitu berkisar antara 800-983 ml. Pada bulan-bulan tersebut tanaman jagung varietas Sukmaraga sudah panen sedangkan varietas Lamuru berada pada proses pemasakan buah. Sehingga pada fase pertumbuhan, pembungaan dan pembentukan biji terutama varietas Sukmaraga curah hujan kurang sehingga produktivitas pun menurun. Rendahnya produktivitas jagung varietas Lamuru karena serangan hama penyakit lebih tinggi jika dibandingkan dengan varietas Sukmaraga. Selain itu, kulit jagung yang tidak menutup hingga ke ujung tongkol juga menyebabkan biji jagung terserang penyakit. Pada saat panen biji jagung varietas Lamuru lebih banyak yang busuk jika dibandingkan dengan varietas Sukmaraga. Ukuran tongkol besar dengan biji yang kecil serta ukuran tongkol yang tidak seragam menyebabkan produktivitas jagung komposit masih rendah jika dibandingkan dengan jagung hibrida. Pada

fase

pembungaan

dan

pengisian

biji

tanaman

jagung

perlu

mendapatkan air yang cukup. Kekurangan air akan menyebabkan pertumbuhan tanaman dan produksi menjadi terhambat. Sehingga waktu yang tepat untuk penanaman jagung adalah di awal musim hujan dan menjelang musim kemarau. Penanaman jagung yang dilakukan pada awal musim kemarau akan menyebabkan pertumbuhan dan hasil tanaman tidak optimum.

98 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Selain pengaruh iklim yang tidak sesuai pada saat penanaman jagung varietas Sukmaraga dan Lamuru, faktor ketinggian tempat lokasi pengkajian juga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Menurut Guslim (2007), semakin tinggi suatu tempat, suhu dan intensitas sinar matahari yang terjadi di tempat tersebut semakin rendah. Respon tanaman terhadap kedua elemen cuaca tersebut akan menentukan tingkat kesesuaian tanaman untuk mampu tumbuh baik pada dataran tinggi. Penanaman jagung varietas Lamuru yang dilakukan pada ketinggian yang lebih dari 600 m dpl menyebabkan pertumbuhan tanaman dan produksi kurang optimal. Sehingga pertumbuhan jagung varietas Lamuru memberikan respon yang kurang baik dibandingkan dengan varietas jagung Sukmaraga. Daerah sebaran varietas Lamuru dataran rendah sampai ketinggian 600 m dpl, sedangkan varietas Sukmaraga dataran rendah sampai ketinggian 800 m dpl (Puslittan, 2011).

KESIMPULAN DAN SARAN 1). Produktivitas jagung komposit varietas Sukmaraga dapat mencapai 5,81 ton/ha kering

panen

atau

3,23

ton/ha

pipilan

kering

sehingga

berpeluang

dikembangkan di Kabupaten Rejang Lebong. 2). Waktu tanam jagung yang tepat pada awal musim hujan dan menjelang musim kemarau. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Bengkulu. 2010. Provinsi Bengkulu dalam angka 2010. Bengkulu. BPP Lubuk Ubar. 2012. Programa Penyuluh Pertanian. BPP Lubuk Ubar Kecamatan Curup Selatan Kabupaten Rejang Lebong. Dasmal. 2007. Penampilan jagung komposit varietas Sukmaraga pada budidaya tanpa olah tanah (TOT). BPTP Sumatera Barat. http://sjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/8309413420.pdf.

Diakses tanggal 26 Januari 2012.

Derryadi. 2009. Klasifikasi jagung. http://derryariadi.blogspot.com/2009/05/klasifikasijagung.html. Diakses tanggal 7 November 2011. Goldworthy, P.R dan Fisher, N.M. 1996. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Kiesselbach, T.A. 1950. Progressive development and seasonal variation of the corn crop. Nebr. Agric. Expl. Stn. Res. Bull. 166. Hal 49.

99 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Mulyadi, Sutari dan Sudaryanto, B. 2005. Pengkajian penggunaan Urea dan Kompos pada pertanaman jagung varietas Lamuru di lahan kering beriklim kering. BPTP Yogyakarta.http://ntb.litbang.deptan.go.id/ind/2006/TPH/pengkajianpenggunaan.doc. Tanggal diakses 25 jan 2012. Mustikawati, D.R. 2006. Keragaan pertumbuhan dan hasil jagung bersari bebas di lahan masam, Lampung. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung. Sumber: http://bbp2tp.litbang.deptan.go.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=57 & Itemid=63. Diakses tanggal 22 Feb 2012. Puslittan. 2011. Deskripsi jagung varietas Sukmaraga. http://www.puslittan. bogor.net/index.php?bawaan=varietas/varietas_detail&komoditas=05022&id=Lamuru &pg=5&varietas=1. Diakses pada tanggal 27 Juli 2011. Puslittan. 2011. Deskripsi jagung varietas Lamuru. http://www.puslittan. bogor.net/index.php?bawaan=varietas/varietas_detail&komoditas=05022&id=Sukmar aga&pg=9&varietas=1. Diakses pada tanggal 27 Juli 2011.

100 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

PEMANFAATAN KOMODITAS PANGAN LOKAL SEBAGAI SUMBER DIVERSIFIKASI PANGAN ALTERNATIF Lina Ivanti dan Herlena Bidi Astuti

ABSTRAK Sampai saat ini upaya pemenuhan kalori bagi masyarakat Bengkulu masih didominasi beras (113,8 kg per kapita per tahun), penganekaragaman pangan merupakan jalan keluar bagi ketergantungan terhadap beras. Pengkajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Tengah, dilakukan dengan metode survey menggunakan kuesioner terhadap 37 responden yang dipilih secara purposive pada 3 (tiga) desa yaitu desa; Sri Kuncoro, Pondok Kubang dan Harapan Makmur. Untuk melihat banyaknya jenis pangan lokal yang dikonsumsi di uji dengan statistik deskriftive meliputi; mean, median, minimum dan maksimum. Hasil kajian memperlihatkan adanya empat jenis pangan lokal yang sudah terbiasa di konsumsi oleh responden yaitu; ubi, pisang, ganyong dan sukun. Rata-rata responden mengkonsumsi 2,4 jenis pangan lokal, dengan nilai median 2 jenis pangan dan secara keseluruhan umumnya telah mengkonsumsi 2 (dua) dan 1 (satu) jenis atau 40,54% dan 35,13% diikuti dengan mengkonsumsi 3 (tiga) jenis 16,22% dan 4 (empat) jenis 8,11%. Artinya dari ke 4 jenis pangan lokal non beras teridentifikasi yang terbanyak jenis pangan lokal adalah mengkonsumsi 2 jenis pangan dan paling sedikit mengkonsumsi 4 jenis pangan. Dilihat dari minat sebanyak 34 responden (91,90 %) mengkonsumsi ubi sebagai makanan selingan selain beras, diikuti pisang 22 responden (60,66%), ganyong 13 responden (35,00%) dan paling sedikit peminatnya komoditas sukun (6,00%). Kata kunci: pemanfaatan, pangan lokal, identifikasi, diversivikasi, pengganti

PENDAHULUAN Penganekaragaman pangan atau dikenal dengaan diversifikasi pangan, merupakan salah satu jalan keluar cukup rasional untuk memecahkan masalah kecukupan

kebutuhan

pangan

(khususnya

sumber

karbohidrat).

Untuk

mewujudkan ketahanan pangan yang tangguh, maka langkah penting yang cukup rasional yang perlu ditempuh adalah dengan melakukan diversifikasi pangan 101 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

berbasis pangan lokal guna mencegah terjadinya krisis pangan. Menurut Widowati (2003) penataan pola makan yang tidak tergantung pada satu sumber pangan, memungkinkan masyarakat dapat menetapkan pangan pilihan sendiri dan membangkitkan ketahanan pangan keluarga masing-masing, sebagai upaya wujud peningkatan ketahanan pangan nasional. Sampai saat ini upaya pemenuhan konsumsi kalori di Bengkulu masih didominasi

oleh

kelompok

padi-padian,

sedangkan

kelompok

pangan

lain

kontribusinya masih sangat rendah. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu (2009) menunjukan bahwa dari konsumsi 2074 kalori pada tahun 2008, ternyata sebanyak

1327,7 kalori (66,4%) dipenuhi dari padi-padian, sedangkan sisanya

dipenuhi oleh kelompok pangan lain seperti; umbi-umbian 53,9 kalori (2,7%), kacang-kacangan 44,2 kalori (2,2%), sayur dan buah 109 kalori (5,4%). Sampai saat ini upaya pemenuhan kalori bagi masyarakat Bengkulu masih didominasi beras sebesar 113,8 kg per kapita per tahun (Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu 2010). Pangan lokal adalah pangan yang diproduksi suatu wilayah/daerah tertentu untuk tujuan konsumsi atau nilai ekonominya, sehingga pangan yang diproduksi di Bengkulu adalah merupakan pangan lokal Bengkulu. Tercatat pada tahun 1990, jumlah orang yang mengkonsumsi jagung dan ubi kayu masing-masing adalah 9,3% dan 32,1% di kota, serta 19,0% dan 49,6% di desa. Sedangkan pada tahun 1999 menurun, masing-masing menjadi 4,8% dan 28,6% di kota dan 10,1% dan 39,8% di desa. Namun sebaliknya konsumsi gandum dan produk olahannya, seperti mie mempunyai tingkat partisipasi konsumsi dengan trend meningkat melampaui konsumsi

jagung

dan

ubi

kayu,

pada

kurun

waktu

tahun

1990-1999,

memperlihatkan laju perubahan jumlah penduduk Indonesia yang mengkonsumsi mie di kota mencapai 56,4% di kota dan 67,0% di desa (Anonymous, 2003). Berdasarkan kondisi tersebut, maka perlu dilakukan suatu kajian untuk mengidentifikasi pangan lokal non beras yang dikonsumsi masyarakat dalam mewujudkan diversifikasi pangan keluarga menuju ketahanan pangan yang tangguh.

102 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

METODE PENELITIAN Pengkajian ini dilaksanakan pada bulan juni 2011 di Kabupaten Bengkulu Tengah pada 3 (tiga) desa terpilih, yaitu desa; Sri Kuncoro, Pondok Kubang dan Harapan Makmur yang ditentukan dengan cara sengaja (purposive). Penggalian informasi dan data mengunakan metode survey dengan kuesioner terstruktur terhadap 37 orang responden yang diambil secara acak, yaitu; 15 responden dari desa Sri kuncoro, 7 responden dari desa Pondok Kubang dan 14 responden dari desa Harapan Makmur. Untuk uji analsis hasil identifikasi pangan lokal yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, mengunakan uji statistik deskriptif dengan tekhnik penjelasan didasarkan atas nilai tengan dan rata-rata (medianan dan mean). HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas responden Hasil pengujian rata – rata umur responden yang disurvey masih cukup muda, yaitu; 37,30 tahun dengan sebaran usia tertinggi pada umur 36-50 tahun mecapai 49% (18 orang) dan kondisi ini memperlihatkan, bahwa responden dominan masih pada usia produktif. Untuk tingkat pendidikan responden rata-rata berada pada tingkatan 8,14 tahun, masih dibawah standar pendidikan wajib belajar warga negara Indonesia minimal 9 tahun. Tanggungan anggota keluarga rata-rata 4 orang, dimana jumlah tanggungan ini akan mempengaruhi jumlah konsumsi makanan pokok rumah tangga (Tabel 1). Dewanti (2002) dari hasil penelitiannya menunjukan jumlah anggota keluarga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap status gizi, karena semakin banyak jumah anggota keluarga akan membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan makanan bergizi yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit. Begitu juga dengan tingkat pendidikan berkaitan erat dengan status gizi keluarga, karena semakin tinggi pendidikan ibu maka akan semakin tinggi pula perolehan status gizi anak. Tabel 1. Karakteristik identitas responden pada desa lokasi pengakajian di Kabupaten Bengkulu Tengah Tahun 2011. Desa lokasi pengkajian

Identitas Responden Umur

Pendidikan

Jumlah anggota keluarga

103 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kelompok Jumlah

%

Kelompok Jumlah

% Kelompok Jumlah

%

Sri kuncoro

20-35

16

43

0-5

2

5

1–2

3

8

Pondok Kubang

36-50

18

49

6 - 11

24

65

3-4

27

73

Harapan Maju

51-67

3

8

12 - 17

11

30

5-7

7

19

37

100

Jumlah

37 100

37 100

Keadaan Sumber Pangan Lokal di Bengkulu Tengah Hasil identifikasi jenis pangan lokal dilokasi mpengkajian menunjukkan bahwa secara umum di tiap desa lokasi pengkajian beberapa memiliki jenis pangan lokal yang bisa dikembangkan sebagai bahan pangan pengganti beras, diantaranya yang umum dikonsumsi masyarakat sebagai pangan lokal adalah ubi kayu, ganyong, sukun dan pisang. Jenis pangan ini memang termasuk jenis pangan lokal, seperti yang di gambarkan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu (2011) dimana bahan pangan lokal yang dapat dijadikan sebagai pengganti beras antara lain; jagung, pisang, ubi kayu, ubi jalar, ganyong, garut, sukun dan prenggi. Iklim tropis di Bengkulu Tengah secara umum menjadikan wilayah pengkajian sangat kaya akan sumber bahan pangan pokok non beras, seperti halnya potensi umbi-umbian dan buah yang beragam sebagai sumber karbohidrat banyak tumbuh subur ragam jenisnya dan umumnya sudah dikonsumsi masyarakat sebagai sumber pangan lokal seperti; pisang, ubi jalar, ubi kayu, ganyong dan sukun. Walaupun dari segi nutrisi, tanaman umbi-umbian mempunyai nilai nutrisi yang rendah dibandingkan dengan beras maupun kacang-kacangan, terutama kandungan protein dan lemaknya namun cukup tinggi pada kandungan karbohidratnya (Marudut dan Sundari, 2000). Dari gambaran konsumsi pangan lokal di lokasi pengkajian terlihat bahwa ubi kayu, merupakan komoditas pangan lokal yang paling diminati masyarakat. Dimana sebanyak 34 responden atau 91,90 % mengkonsumsi ubi sebagai makanan selingan selain beras, kemudian diikuti pisang 22 responden (60,66%) dan ganyong 13 responden (35,00%) serta yang paling sedikit peminatnya komoditas sukun yang hanya diwakili oleh 2 responden (Tabel 2). Hal ini bisa disebabkan karena ubi lebih mudah untuk di budidayakan dan pengolahan hasil sebagai produk pascapanen. 104 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 2. Hasil identifikasi jenis pangan lokal yang dikonsumsi masyarakat pada desa lokasi pengakajian di Kabupaten Bengkulu Tengah Tahun 2011. Konsumsi Pangan Lokal

No.

Jenis pangan lokal

Jumlah rumah tangga

persentase

1.

Ubi

34

91,90

2.

Ganyong

13

35,00

3.

Sukun

2

6,00

4.

Pisang

22

60,66

Hasil uji satatistik untuk jenis pangan lokal yang dikonsumsi oleh responden dmenunjukan, rata-rata responden telah mengkonsumsi 2,4 jenis pangan lokal dengan nilai median 2 jenis pangan. Akan tetapi apabila dilhat secara keseluruhan jumlah jenis konsumsi pangan lokal non beras yang dikonsumsi masyarakat di Kabupaten Bengkulu Tengah secara umum menunjukan, bahwa masyarakat umumnya mengkonsumsi 2 (dua) dan 1 (satu) jenis atau 40,54% dan 35,13% diikuti dengan mengkonsumsi 3 (tiga) jenis 16,22% dan 4 (empat) jenis 8,11%. Artinya dari ke 4 jenis pangan lokal non beras teridentifikasi yang terbanyak adalah masyarakat mengkonsumsi 2 jenis pangan dan paling sedikit mengkonsumsi 4 jenis pangan (Tabel 3). Kondisi ini memperlihatkan masyarakat di Kabupaten Bengkulu Tengah walaupun sudah banyak yang mengkonsumsi pangan lokal (non beras), namun belum menunjukan masih rendahnya tingkat diversivikasi pangan masyarakat terhadap pangan lokal pengganti beras. Sehingga pelu menjadi perhatian kita bersama untuk meningkatkan upaya pendampingan terhadap diversifikasi berbagai pangan lokal non beras yang dapat dikonsumsi masyarkat sebagai pengganti komsumsi beras, terutama dari jenis umbi-umbian dan buah lainnya walaupun adanya berbagai hambatan dalam pelaksanaan kepada massyarakat. Tabel 3. Identifikasi jumlah jenis konsumsi pangan lokal non beras yang dikonsumsi masyarakat di Kabupaten Bengkulu Tengah Tahun 2011. No.

Jumlah Jenis Pangan Lokal

Jumlah yang mengkonsumsi orang

%

105 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

1. 2. 3. 4.

Satu jenis pangan Dua jenis pangan Tiga jenis pangan Empat jenis pangan

Total

13 15 6 3

35,13 40,54 16,22 8,11

37

100,00

Kondisi ini disebabkan karena beberapa faktor yang pada akhirnya menghambat upaya diversifikasi pangan berbasis pangan lokal antara lain; 1) ketergantungan masyarakat yang tinggi pada beras untuk dimasak menjadi nasi karena dibandingkan sumber karbohidrat lain, nasi dari beras lebih mudah disiapkan, lebih luwes dengan beragam lauk pauk dan memiliki kandungan kalori dan protein yang cukup tinggi, 2) ada anggapan dari sebagian masyarakat Indonesia yang menganggap belum makan bila belum makan nasi, 3) budidaya umbi-umbian dan buah-buahan kaya karbohidrat belum maksimal, seperti halnya petani menanam padi, 4) pangan lokal diberbagai wilayah belum dapat dikembangkan dalam skala industri dengan berbagai hasil olahan pangan lokal sesuai dengan standar kecukupan gizi yang dianjurkan (Damat, 2009). Dimanas standar kecukupan gizi tersebut secara ukuran dapat dibagi kedalam dua bagian yaitu ukuran makro (kecukupan kalori/energi dan kecukupuan protein) dan ukuran mikro (kecukupan vitamin dan mineral), di Indonesia masih menggunakan ukuran makro dengan standar kecukupan kalori ideal sebesar 2200 kkal/kapita/hari yang terdiri dari 1000 kkal kelompok bahan pangan padi-padian, 120 kkal kelompok umbi-umbian, 240 kkal kelompok pangan hewani, 200 kkal kelompok minyak dan lemak, 60 kkal kelompok buah/biji berminyak, 100 kkal kelompok kacang-kacangan, 100 kkal kelompok gula serta 120 kkal kelompok sayur dan buah. Bila diasumsikan responden mengkonsumsi pangan non beras satu kali dalam sehari sehingga mengurangi konsumsi beras yang seharusnya tiga kali menjadi dua kali dengan jumlah konsumsi sebesar 0,083 kg/kapita/hari maka angka ini sudah cukup menunjang pemenuhan kecukupan kalori responden terutama dari kelompok umbi-umbian. KESIMPULAN 106 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

1. Bengkulu Tengah secara umum sangat kaya akan sumber bahan pangan pokok non beras, namun yang dominan dan paling diminati untuk dikonsumsi masyarakat adalah ubi kayu/jalar, ganyong, sukun dan pisang. 2. Rata-rata Masyarakat telah mengkonsumsi 2,4 jenis pangan lokal pada nilai median 2 jenis pangan, namun dilhat secara keseluruhan jumlah jenis konsumsi pangan lokal non beras yang dikonsumsi secara umum menunjukan masyarakat umumnya mengkonsumsi 2 (dua) dan 1 (satu) jenis atau 40,54% dan 35,13% diikuti dengan mengkonsumsi 3 (tiga) jenis 16,22% dan 4 (empat) jenis 8,11% yang terbanyak adalah mengkonsumsi 2 jenis dan paling sedikit mengkonsumsi 4 jenis pangan. 3. Untuk

meningkatkan

konsumsi

pangan

lokal

masyarakat

dan

perlunya

penganekaragaman makanan agar konsumsi terhadap beras dapat menjadi berkurang dan kebutuhan gizi keluarga dapat terpenuhi dangan baik, maka diperlukan ditingkatkan diseminasi atau penyuluhan terhadap diversivikasi dan pengolahan pangan lokal. DAFTAR PUSTAKA Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu. 2009. Laporan Tahunan Badan Ketahanan Pangan Tahun 2009. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu. Bengkulu. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu. 2011. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2010. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu. Bengkulu. Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. 2011. Bengkulu Dalam Angka Tahun 2010. Bengkulu. Damat. 2009. Diversifikasi Pangan Berbasis Pangan Lokal Untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional. Makalah Pribadi. Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang. Malang. Marudut dan Sundari. 2003. Budidaya dan Pascapanen Garut. Penerbit CV. Kanisius. Yogyakarta. Widowati,S. 2003. Prospek Tepung Sukun Untuk Berbagai Produk Makanan Olahan dalam Upaya Menunjang Diversifikasi Pangan. Makalah Pribadi. Pengantar Kefalsafah Sains Program Pascasarjana IPB. Bogor.

107 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP JUMLAH KONSUMSI PANGAN NON BERAS BERBASIS PANGAN LOKAL DI PROVINSI BENGKULU Alfayanti dan Dedi Sugandi

ABSTRAK Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan berbasis pangan lokal dalam mewujudkan ketahanan pangan di Provinsi Bengkulu. Pengkajian dilakukan di wilayah Provinsi Bengkulu pada pada bulan Juni sampai Agustus tahun 2011 dengan lokasi pengkajian dipilih secara sengaja (purposive) yaitu di Kabupaten Bengkulu Tengah Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Seluma, dan Kota Bengkulu dengan jumlah responden berjumlah 120 orang. Responden dipilih berdasarkan kriteria sebagai anggota kelompok wanita tani atau perorangan yang melakukan budidaya dan atau pengolahan hasil tanaman pangan non beras berbasis pangan lokal. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui informasi yang dihimpun dari responden menggunakan instrumen daftar pertanyaan yang disusun secara terstruktur (kuesioner) berupa meliputi identitas responden, data sosial ekonomi, perilaku konsumsi serta data kelembagaan. Data sekunder yang digunakan seperti data produksi beras dan pangan non beras. Pengujian data menggunakan teknik analisis OLS (Ordinary Least Square). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan non beras berbasis pangan lokal di Provinsi Bengkulu adalah umur, jumlah tanggungan keluarga dan frekuensi konsumsi pangan lokal. Kata Kunci: konsumsi, pangan, non beras

PENDAHULUAN Peran sektor pertanian sangat strategis, selain sebagai pemasok devisa, sektor pertanian merupakan penghasil utama pangan. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap manusia. Ketersediaan pangan yang cukup akan menentukan kualitas sumber daya manusia 108 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

dan stabilitas sosial politik sebagai prasyarat untuk melaksanakan pembangunan (Mantau dan Bahtiar, 2010). Selain itu, pangan memiliki peran memiliki peran yang signifikan dalam perekonomian daerah dan nasional. Mengingat perannya yang begitu sentral, maka pembangunan ketahanan pangan posisinya sangat strategis. Menurut Undang-Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan makanan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan

makanan

atau

minuman.

Ketahanan

pangan

adalah

kondisi

terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan, yaitu tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri atau sumber lainnya. Penganekaragaman pangan (diversifikasi pangan) merupakan salah satu jalan keluar yang cukup rasional untuk memecahkan masalah pemenuhan kebutuhan pangan (khususnya penataan

pola

memungkinkan

sumber

karbohidrat). Menurut Widowati (2003), melalui

makan yang tidak tergantung pada satu sumber pangan, masyarakat

dapat

menetapkan

pangan

pilihan

sendiri,

membangkitkan ketahanan pangan keluarga masing-masing, yang berujung pada peningkatan ketahanan pangan nasional. Untuk mewujudkan ketahanan pangan yang tangguh, maka langkah penting yang cukup rasional yang perlu ditempuh adalah dengan melakukan diversifikasi pangan berbasis pangan lokal guna mencegah terjadinya krisis pangan. Dalam konteks Indonesia keanekaragaman konsumsi pangan sering diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi pangan non beras (Suyastiri,2008). Konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai 139 kg/kapita/tahun (BPS, 2010). Thailand salah satu produsen beras dunia hanya mengkonsumsi beras per kapita per tahun sekitar 72 kg, Malaysia sekitar 63 kg dan Jepang sekitar 52 kg (Nganro,2009) dan rata-rata

109 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

konsumsi beras masyarakat dunia hanya 60 kilogram per kapita per tahun (Nurdin, 2008). Bengkulu diketahui memiliki ketersediaan bahan pangan yan beragam, dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik bahan pangan sumber karbohidrat, protein, lemak, vitamin maupun mineral.

Iklim tropis di Bengkulu menjadikan wilayah

Bengkulu sangat kaya akan sumber bahan pangan pokok selain beras. Misalnya, potensi umbi-umbian yang beragam sebagai sumber karbohidrat dapat tumbuh dengan subur dan beragam jenisnya seperti; ubi jalar, ubi kayu, garut, ganyong dan lain-lain. Data Badan Ketahanan Pangan Propinsi Bengkulu menunjukkan bahwa sampai saat ini upaya pemenuhan konsumsi kalori di Bengkulu masih didominasi oleh kelompok padi-padian, sedangkan kelompok pangan yang lain kontribusinya masih sangat rendah.

Pada tahun 2008 dari konsumsi 2.074 kalori sebanyak

1327,7 kalori (66,4%) dipenuhi dari padi-padian, sedangkan sisanya dipenuhi oleh kelompok pangan yang lain seperti umbi-umbian 53,9 kalori (2,7%), kacangkacangan 44,2 kalori (2,2%), sayur dan buah 109 kalori (5,4%). Sampai saat ini upaya pemenuhan kalori bagi masyarakat Bengkulu masih didominasi beras yaitu sebesar 113,8 kg per kapita per tahun (Badan Ketahanan Pangan,2011). Ketergantungan yang tinggi terhadap beras sebagai sumber karbohidrat dan sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras maka perlu menggali potensi lokal yamg berbasis non beras untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Pada saat mendatang diharapkan akan terwujud pola konsumsi pangan masyarakat yang bergizi, beragam dan berimbang berbasis potensi lokal yang bermuara pada terwujudnya ketahanan pangan yang berkelanjutan. Oleh karenanya diversifikasi pangan potensi lokal menjadi sesuatu yang mendesak untuk segera diupayakan. Sehingga perlu dilakukan kajian untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan berbasis pangan lokal dalam mewujudkan ketahanan pangan di Provinsi Bengkulu. METODOLOGI

110 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Pengkajian ini dilakukan di wilayah Provinsi Bengkulu pada bulan Juni sampai Agustus tahun 2011. Lokasi pengkajian meliputi Kabupaten Bengkulu Tengah (37 responden), Kabupaten Bengkulu Utara (40 responden), Kabupaten Seluma (18 responden) dan Kota Bengkulu (25 responden) sehingga sampel berjumlah 120 orang. Pemilihan lokasi dan responden dipilih secara purposive (sengaja). Responden dipilih berdasarkan kriteria sebagai anggota kelompok wanita tani atau perorangan yang melakukan budidaya dan atau pengolahan hasil tanaman pangan non beras berbasis pangan lokal seperti ganyong, ubi kayu, ubi jalar, garut, pisang dan lain-lain. Metode yang digunakan untuk mendapatkan data adalah metode survei. Data yang digunakan berupa data primer yang diperoleh melalui informasi yang dihimpun dari responden menggunakan instrumen daftar pertanyaan yang disusun secara terstruktur (kuesioner) dengan pendekatan Focus Group Discussion (FGD) pada semua responden. Data primer yang dihimpun meliputi identitas responden (nama, umur, pendidikan formal, alamat), data sosial ekonomi (jumlah anggota keluarga, pendapatan keluarga), perilaku konsumsi (jenis makanan pokok, frekuensi, jumlah, bentuk, biaya konsumsi makanan beras dan non beras), penguasaan

lahan (status tempat tinggal, luas pekarangan, pemanfaatan

pekarangan, luas lahan usaha) serta data kelembagaan (organisasi, pelatihan dan program yang diikuti). Analisis data faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan non beras berbasis pangan lokal dilakukan dengan teknik analisis OLS (Ordinary Least Square) dengan model yang digunakan sebagai berikut : Y = b0a +b1X1+b2X2+b3X3+b4X4+b5X5+b6X6+b7D1+e Dimana: Y = Jumlah konsumsi pangan non beras (kg/bulan) = Konstanta a b0-7 = Koefisien regresi X1 = Umur (tahun) X2 = Pendidikan formal (tahun) X3 = Jumlah tanggungan keluarga (orang) X4 = Pendapatan rumah tangga (Rp/bulan) X5 = Harga pangan lokal (Rp/kg) X6 = Frekuensi konsumsi pangan lokal (kali/bulan)

111 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

D1 = Pelatihan pengolahan pangan lokal (Dummy, telah mengikuti mengikuti pelatihan=0) E = error

pelatihan=1, belum

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Karakteristik responden yang ditampilkan pada pembahasan ini adalah umur (tahun), pendidikan formal (tahun), tanggungan keluarga (orang), dan pendapatan rumah tangga (Rp/bulan). Tabel 1. Karakteristik responden penelitian analisis faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan non beras berbasis pangan lokal di Provinsi Bengkulu Tahun 2011. No

Tanggungan keluarga (org)

Kabupaten/Kota

Umur (th))

Pendidikan formal (th)

1.

Bengkulu Tengah

37,30

8,14

3,40

2.271.081,08

2.

Bengkulu Utara

30,67

10,87

4,10

1.725.000,00

3.

Seluma

33,94

9,11

4,00

2.255.555,56

4.

Bengkulu

42,07

9,88

3,40

2.255.000,00

143,98

38,00

14,90

8.506.636,64

35,99

9,50

3,70

2.126.659,16

Jumlah Rata-rata

Pendapatan RT (Rp/bln)

Sumber : data primer 2011.

Umur merupakan hal yang penting dalam suatu kegiatan usaha karena berkaitan dengan semangat, tenaga dan kondisi fisik seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Menurut Rosman (2000) usia produktif berkisar antara 15-55 tahun dimana pada usia produktif seseorang masih memiliki semangat dan tenaga yang kuat serta dapat diandalkan dalam menjalani usahanya dengan baik.. Ratarata umur responden adalah 35,99 tahun ini berarti umumnya responden berada pada usia produktif. Lama pendidikan formal responden rata-rata adalah 9,50 tahun dan bila diasumsikan responden menyelesaikan setiap jenjang tepat waktu maka dapat dikatakan rata-rata responden menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Umum. Menurut Riyadi (2003) dalam Suyastiri (2008) semakin tinggi tingkat pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki seseorang umumnya semakin tinggi pula tingkat 112 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

kesadaran untuk memenuhi pola konsumsi yang seimbang dan memenuhi syarat gizi serta selektif dalam kaitannya tentang ketahanan pangan. Rata-rata jumlah anggota keluarga responden sebanyak 3,7 orang. Jumlah anggota keluarga terbanyak berada di Kabupaten Bengkulu Utara dengan jumlah 4,1 orang sedangkan jumlah anggota keluarga terkecil berada di Kabupaten Bengkulu Utara dan Kota Bengkulu sebanyak 3,4 orang. Ditinjau dari aspek sosial ekonomi, rata-rata total pendapatan keluarga responden adalah Rp 2.126.659,16 per bulan. Pendapatan ini lebih tinggi dibandingkan dengan upah minimum regional Provinsi Bengkulu tahun 2010 yaitu sebesar Rp 780.000,- per bulan (BPS, 2011). Menurut Suyastiri (2008) pendapatan merupakan faktor utama yang menentukan perilaku rumah tangga dalam melakukan pola konsumsi pangan dan diversifikasi pangan. Secara umum dengan peningkatan pendapatan akan memberikan peluang bagi

masing-masing rumah

tangga untuk melakukan diversifikasi konsumsi, meningkatkan kualitas bahan pangan pokok dalam rangka meningkatkan gizi keluarganya. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Konsumsi Pangan Non Beras Berbasis Pangan Lokal Pembahasan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi panga non beras berbasis pangan lokal di Provinsi Bengkulu akan dianalisis secara spesifik lokasi (per Kabupaten/Kota) dan secara umum (Provinsi Bengkulu). Hasil analisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pangan lokal di masing-masing lokasi penelitian dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Hasil analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Seluma dan Kota Bengkulu tahun 2011. Keterangan Variabel Konstanta X1 (umur) X2 (pendidikan formal) X3 (jumlah tanggungan keluarga) X4 (pendapatan rumah tangga) X5 (harga pangan lokal) X6 (frekuensi konsumsi pangan lokal) D1 (dummy pelatihan pengolahan)

Bengkulu Tengah t hit -2,21 1,37 2,86*** 4,79*** -1,23 -0,23 1,63 1,12

Bengkulu Utara t hit -0,05 0,43 -1,13 1,23 1,07 -0,81 5.71*** -0,39

Seluma t hit 1,25 -1,48 -1,16 -0,01 0,08 1,03 0,69 2,46**

Kota Bengkulu t hit 0,35 0,34 -0,52 2,93*** 1,31 -0,84 2,34** -2,78***

113 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

R F hitung

0,71 4,35**

0,75 6,06**

0,84 3,14**

0,86 7,40**

Keterangan: ** signifikan pada taraf kepercayaan 95%, *** signifikan pada taraf kepercayaan 99%

Hasil uji F di semua Kabupaten/Kota diperoleh nilai F hitung lebih besar dari F tabel sehingga secara statistik ini berarti model yang dianalisis adalah baik atau dapat dipergunakan untuk menerangkan atau menunjukkan bahwa secara keseluruhan semua variabel secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi pangan lokal. Nilai koefisien korelasi (R), secara berurutan untuk Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Seluma dan Kota Bengkulu adalah sebesar 0,71; 0,75; 0,84; 0,86 menunjukkan hubungan yang kuat antara variabel bebas dengan variabel terikat. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Tengah adalah pendidikan (X2) dan jumlah

tanggungan

keluarga

(X3).

Berpengaruhnya

variabel

pendidikan

dikarenakan pola konsumsi pangan tergantung dari pendidikan pengelola rumah tangga tersebut. Semakin tinggi pendidikan formal maka pengetahuan dan wawasan

tentang

pentingnya

kualitas

pangan

yang

dikonsumsi

untuk

meningkatkan kesehatan akan menyebakan semakin bervariasinya pangan yang dikonsumsi (Suyastiri,2008). Tingkat pendidikan yang semakin tinggi juga identik dengan semakin tingginya wawasan di segala bidang termasuk pula wawasan dalam pola konsumsi pangan (Taufik, 2007). Atmarita (2004) dalam Mapandin (2006) menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga akan memudahkan seseorang dalam menyerap informasi dan mengimplementasikan dalam perilaku dalam gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan dan gizi. Jumlah tanggungan keluarga yang juga berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal disebabkan karena semakin banyak jumlah anggota keluarga maka kebutuhan pangan yang dikonsumsi akan semakin bervariasi karena masing-masing anggota keluarga mempunyai selera yang belum tentu sama (Suyastiri, 2008). Faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Utara adalah frekuensi konsumsi pangan lokal (X6). Semakin 114 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

sering mengkonsumsi pangan lokal maka akan semakin banyak pula jumlah konsumsi pangan lokal tersebut. Sebagian besar responden mengkonsumsi pangan lokal sebagai makanan selingan pada saat sarapan pagi atau sore hari, hal ini dilakukan supaya dapat mencoba variasi cita rasa sehingga tidak membosankan dan dapat menambah nafsu makan (Hidayah, 2011). Faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Kabupaten Seluma adalah pengalaman mengikuti pelatihan pengolahan pangan lokal. Hal ini diduga karena setelah memiliki pengetahuan dalam mengolah pangan lokal responden lebih sering mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka dapatkan. Teknik pengolahan pangan yang bervariasi dapat menimbulkan cita rasa yang menyenangkan bagi orang yang mengkonsumsinya (Hidayah,2011). Di Kota Bengkulu faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal adalah jumlah tanggungan keluarga (X3), frekuensi konsumsi pangan lokal (X6) dan pengalaman mengikuti pelatihan pengolahan pangan lokal (D1). Tanda negatif pada D1 menunjukkan bahwa ada korelasi yang negatif antara pengalaman pelatihan pengolahan pangan lokal dengan jumlah konsumsi pangan lokal itu sendiri. Apabila responden telah mengikuti pelatihan, jumlah konsumsi pangan lokalnya lebih sedikit dibandingkan dengan responden yang belum mengikuti pelatihan. Hal ini diduga disebabkan karena paradigma di tengah masyarakat perkotaan yang masih menganggap bahwa makanan non beras sebagai makanan yang masih bersifat inferior (www.kabarbisnis.com., 03 April 2012). Selain itu masyarakat perkotaan lebih memilih makanan olahan berbasis gandum, karena dengan berat yang sama, memiliki kandungan kalori yang lebih tinggi ketimbang umbi-umbian atau jagung (Hidayah, 2011). Hasil analisis regresi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal di Provinsi Bengkulu dapat dilihat pada tabel 3. Hasil uji F menunjukkan bahwa F hitung lebih besar dari F tabel sehingga secara statistik ini berarti model yang dianalisis adalah baik atau dapat dipergunakan untuk menerangkan atau menunjukkan bahwa secara keseluruhan semua variabel secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi pangan lokal. Nilai

115 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

koefisien korelasi (R) sebesar 0,61 menunjukkan hubungan yang kuat antara variabel bebas dengan variabel terikat. Faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan lokal adalah umur (X1), jumlah tanggungan keluarga (X3) dan frekuensi konsumsi pangan lokal (X6). Koefisien X1 (b1) sebesar 0,181 menunjukkan bahwa jika umur meningkat satu tahun maka jumlah konsumsi pangan lokalnya akan meningkat sebanyak 0,181 kg. Koefisien X3 (b3) berkolerasi positif terhadap jumlah konsumsi pangan lokal. Koefisien regresi sebesar 1,186 menunjukkan bahwa jika jumlah tanggungan keluarga responden satu orang maka jumlah konsumsi pangan lokalnya akan meningkat sebanyak 1,186 kg. Koefisien X6 (b6) sebesar 0,265 menunjukkan bahwa jika frekuensi konsumsi pangan lokal meningkat satu kali maka jumlah konsumsi pangan lokalnya akan meningkat sebanyak 0,265 kg. Tabel 3. Hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah konsumsi pangan lokal di Provinsi Bengkulu tahun 2011. Variabel

Koefisien regresi

t hitung

Konstanta

-8,388

-1,725

Umur (X1)

0,181

2,324**

Pendidikan (X2)

0,223

0,985

Jumlah tanggungan keluarga (X3)

1,186

2,348**

4,460E-07

1,258

-3,143E-05

-0,172

0,265

6,124***

Pelatihan pengolahan panga lokal (D1) -1,069 R 0,61 F hitung 9,65**

-0,840

Pendapatan rumah tangga (X4) Harga pangan lokal (X5) Frekuensi konsumsi pangan lokal (X6)

Keterangan : **signifikan pada taraf kepercayaan 95%, ***signifikan pada taraf kepercayaan 99%

Berpengaruhnya variabel umur pada hasil analisis ini lebih berkaitan dengan kebiasaan responden dalam mengkonsumsi pangan lokal karena tingkat konsumsi dipengaruhi juga oleh pola makan atau kebiasaan makan (Windarsih, 2008). Sebagian besar responden yang merupakan pendatang dari Pulau Jawa telah memiliki kebiasan untuk mengkonsumsi olahan pangan lokal terutama yang berasal dari ubi kayu seperti gaplek, tiwul dan lainnya. Bahkan, responden merasa lebih 116 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

bertenaga dalam beraktivitas bila mengkonsumsi olahan tersebut dibandingkan bila mereka mengkonsumsi nasi (beras). Dalam

mengkonsumsi

pangan

lokal,

keluarga

yang

memiliki

jumlah

tanggungan keluarga yang banyak akan mengkonsumsi pangan lokal yang lebih banyak bila dibandingkan dengan keluarga yang memilik tanggungan keluarga yang lebih sedikit. Semakin banyak jumlah anggota rumah tangga juga menyebabkan kebutuhan pangan yang dikonsumsi akan semakin bervariasi karena masing-masing anggota rumahtangga mempunyai selera yang belum tentu sama (Suyastiri, 2008). Semakin sering mengkonsumsi pangan lokal tentu saja mengakibatkan jumlah pangan lokal yang dikonsumsi semakin banyak. Pangan lokal dapat digunakan sebagai pelengkap makanan pokok yang biasa dikonsumsi selama ini. Selain itu pangan lokal dianggap memiliki nilai lebih, antara lain harganya yang dianggap murah dan terjangkau oleh masyarakat (Hidayah,2011). KESIMPULAN Dari uraian pada hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Secara umum faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan non beras berbasis pangan lokal di Provinsi Bengkulu adalah umur, jumlah tanggungan keluarga dan frekuensi konsumsi pangan lokal. 2. Secara spesifik faktor yang berpengaruh terhadap jumlah konsumsi pangan non beras berbasis pangan lokal di Kabupaten Bengkulu Tengah adalah pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga, di Kabupaten Bengkulu Utara adalah frekuensi konsumsi pangan lokal, Kabupaten Seluma adalah pelatihan pengolahan pangan lokal, dan di Kota Bengkulu adalah jumlah tanggungan keluarga, frekuensi konsumsi pangan lokal dan pelatihan pengolahan pangan lokal. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu. 2011. Bengkulu dalam Angka tahun 2010. Bengkulu. Badan Ketahanan Pangan Provinsi Bengkulu. 2011. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2010. Bengkulu.

117 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Hidayah, Nurul. 2011. Kesiapan Psikologis Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan Menghadapi Diversifikasi Pangan Pokok. Jurnal Humanitas Vol VII No 1 Januari. Yogyakarta. Kabarbisnis. 2012. Pangan Non Beras Masih Dinilai Inferior. http://www.kabarbisnis.com. Diakses tanggal 13 Juni 2012. Mantau,Z dan Bahtiar. 2010. Kajian Kebijakan Harga Pangan Non Beras dalam Konteks Ketahanan Pangan Nasional. Jurnal Litbang Pertanian 29 (2).Jakarta. Mapandin, Wahida. 2006. Hubungan Faktor-Faktor Sosial Budaya dengan Konsumsi

Makanan Pokok Rumah Tangga Pada Masyarakat di Kecamatan Wamena Kabupaten Jayawijaya Tahun 2005. Tesis Magister Gizi masyarakat Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. Semarang.

Nganro,N.R. 2009. Dukungan Kebijakan Pemerintah dalam Pengembangan Komoditas Pertanian yang Mendukung Ketahanan Pangan Nasional. Makalah Semiloka Kementrian Riset dan Teknologi 10 November 2009 dengan tema Pengembangan dan Penerapan IPTEK dalam Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi. Jakarta. Nurdin, P.A. 2008. Perlu Program Diversifikasi.Harian Seputar Indonesia 21 April 2008. Suyastiri,Ni Made. 2008. Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok Berbasis Potensi Lokal dalam

Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Pedesaan di Kecamatan Semin Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol 13 No 1 April. Yogyakarta.

Taufiq, Muhammad .2007. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Konsumsi Pangan Masyarakat di Kabupaten Tuban. Jurnal Manajemen Akuntansi dan Bisnis Volume 5 No 3 Desember. Surabaya. Widowati. 2003. Prospek Tepung Sukun Untuk Berbagai Produk Makanan Olahan dalam Upaya Menunjang Diversifikasi Pangan. Makalah Pribadi. Pengantar Kefalsafah Sains Program Pasca Sarjana IPB Bogor. Windarsih, Eka. 2008.Perbedaan Pola Pangan Harapan di Pedesaan dan Perkotaan Kabupaten Sukoharjo. Makalah Pribadi. Program Studi DIII Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.

118 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

ANALISIS TANAH SEBAGAI INDIKATOR TINGKAT KESUBURAN LAHAN SAWAH DI PROVINSI BENGKULU Nurmegawati, Wahyu Wibawa, Dedi Sugandi dan Yahumri

ABSTRAK Salah satu indikator untuk menilai kesuburan tanah adalah melalui analisis tanah. Dengan diketahuinya tingkat kesuburan tanah diharapkan pengelolaan lahan sawah dapat lebih efisien sehingga tingkat produktivitasnya meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat kesuburan lahan sawah di Provinsi Bengkulu. Metode pengambilan sampel tanah dengan menggunakan metode simple random sampling (SRS) pada kedalaman 0 – 20 cm yang merupakan sampel tanah terganggu. Kemudian dilakukan analisa di laboratorium untuk menentukan tekstur tanah, pH tanah, C-Organik dan unsur hara lainnya (N,P,K, Ca, Na, Mg, KTK, Al dan Kejenuhan Basa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tekstur tanah sangat sesuai untuk tanaman padi sawah dengan kelas tekstur tanah liat dan liat berdebu, (2) pH tanah tergolong masam sampai sangat masam (4,43 – 5,09), kandungan C-organik tergolong tinggi (4,39%), Kapasitas tukar kation tergolong sedang (16,03), Kejenuhan basa mencapai 72 % dan termasuk subur, (3) Jika dilihat dari kandungan unsur hara N, P dan K dan kation basa maka daerah penelitian ini tingkat kesuburannya tergolong rendah sampai sedang. Kata kunci: analisa tanah, kesuburan, tanah sawah

PENDAHULUAN Kebutuhan bahan pangan terutama beras akan terus meningkat sejalan dengan

pertambahan

jumlah

penduduk,

sehingga

pemerintah

berupaya

meningkatkan produksinya. Salah satunya melalui pengelelolaan tanaman terpadu (PTT) padi yang spesifik lokasi. Tanaman padi pada umumnya dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, tetapi untuk tanaman padi di lahan persawahan memerlukan syarat-syarat tertentu karena tidak semua jenis tanah dapat dijadikan lahan tergenang air. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi sawah memiliki 119 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

tekstur halus sampai agak halus, sulit dilewati air karena padi sawah membutuhkan air lebih untuk pertumbuhannya. Dilain pihak banyak permasalahan yang mempengaruhi peningkatan produksi padi diantaranya konversi lahan sawah subur yang masih terus berjalan, penyimpangan iklim (climate anomaly), gejala kelelahan teknologi (technology fatigue), penurunan kualitas sumberdaya lahan (soil sickness) yang berdampak terhadap penurunan dan atau pelandaian produktivitas (Pramono et al, 2005). Salah satu penyebab penurunan kualitas sumberdaya lahan adalah apabila lahan tersebut diusahakan terus menerus sehingga penambahan unsur hara melalui pemupukan mutlak diperlukan agar diperoleh hasil pertanian yang menguntungkan. Karena kesuburan tanah berhubungan langsung dengan pertumbuhan tanaman, maka penilaian kesuburan suatu tanah mutlak diperlukan. Menurut Nyakpa et al (1988), salah satu cara untuk menilai status hara dalam menilai kesuburan hara yaitu dengan analisis tanah, yang mempunyai konsep bahwa tanaman akan respon terhadap pemupukan bila kadar hara tersebut kurang atau jumlah yang tersedia tidak cukup untuk pertumbuhan yang optimal sehingga dari analisa ini akan diperoleh rekomendasi pemupukan. Produksi padi di Provinsi Bengkulu pada tahun 2011 sebesar 494,95 ton turun 4,42 % dari produksi 516 ribu ton pada tahun 2010 sedangkan produktivitasnya sebesar 37,88 Ku/Ha, ini masih jauh dari produktivitas rata-rata nasional sebesar 49,44 Ku/Ha (BPS, 2011). Hal ini disebabkan masih sedikitnya pengetahuan tentang teknologi tanaman padi dan salah satunya tentang tingkat kesuburan tanahnya sehingga perlu dilakukan penelitian untuk menentukan tingkat kesuburan lahan sawah di Provinsi Bengkulu. Dengan diketahuinya tingkat kesuburan tanah diharapkan

pengelolaan lahan sawah dapat dilakukan dengan efisien supaya

tingkat produktivitasnya menjadi tinggi. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan Agustus 2011 di 4 kabupaten

sentra padi di Provinsi Bengkulu, yaitu Kabupaten; Bengkulu Utara,

Seluma, Rejang Lebong dan Bengkulu Selatan. Dengan pengambilan sampel tanah 120 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

diwakilkan masing-masing satu desa yaitu berturut-turut; Desa Sido Urip, Rimbo Kedui, Rimbo Recap dan Karang Caya (dengan masing-masing luasan sawah 5 ha). Jenis tanah yang diambil adalah sampel tanah terganggu untuk dianalisis sifat fisika tanah meliputi tekstur tanah dan sifat kimia tanah meliputi; pH tanah, C-Organik serta unsur hara lainnya (N,P,K, Ca dan Mg). Pengambilan sampel tanah dilakukan secara komposit yaitu merupakan suatu teknik pengambilan sampel tanah pada beberapa titik pengambilan pada kedalaman 0 – 20 cm. Metode yang digunakan

yaitu simple random sampling

(SRS). Menurut Suganda et al, (2006) metode SRS tidak ada batasan dalam menentukan jumlah contoh tanah yang dipilih, semua titik pengambilan contoh memiliki peluang yang sama dan saling bebas satu sama lainnya. Sampel tanah yang diperoleh selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk analisa sifat fisika dan kimia tanah sebagai berikut: (1) Penetapan tekstur tanah (metode hydrometer), (2) penetapan pH tanah (metode kalorometri), (3) penetapan C-Organik (metode spektrofotometer), (4) penetapan P dan K ekstrak HCl 25 %, (5) penetapan kation-kation (N,P,K, Ca, Na, Mg, KTK, Al dan Kejenuhan Basa). HASIL DAN PEMBAHASAN Secara umum kelas tekstur tanah pada daerah penelitian termasuk liat; pH H2O (5,09) dan pH KCl (4,43) masing tergolong masam dan sangat masam ;Kandungan C-organik (4,39 %) tergolong tinggi; % bahan organik (7,48 %) tergolong sedang; nisbah C/N (45,5 %) tergolong sangat tinggi; kandungan N (0,14 %) tergolong rendah, K-dd (0,43 Cmol+/kg) tergolong rendah; kandungan Ca (6,67 Cmol+/kg) tergolong sedang; Mg-dd (4,72 Cmol+/kg) tergolong tinggi; Na-dd (0,10 Cmol+/kg) tergolong sangat rendah; Al3+ (7,74 Cmol+/kg) tergolong rendah; dan KTK (16,03 Cmol+/kg) tergolong sedang; sedangkan KB (71,57 %) tergolong sangat tinggi; P2O5 potensial (20 mg 100/g),K2O potensial (10,69 mg 100/g) tergolong rendah; P2O5 tersedia (25,09 %) tergolong sangat tinggi sedangkan K2O tersedia (8,30%) tergolong rendah (Tabel 1). 121 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tekstur Hasil analisa tanah mengenai tekstur tanah menunjukkan bahwa kandungan fraksi liat 8,28 persen, fraksi debu 34,17

persen dan fraksi liat 57,55 persen.

Berdasarkan diagram segitiga tekstur menurut United State Department of

Agriculture (USDA) dalam Luki (1989) maka kelas tekstur tanah tersebut adalah liat. Fraksi liat memiliki kemampuan besar dalam memegang air dibanding dengan fraksi pasir. Hal ini disebabkan pada tanah yang bertekstur halus memiliki lebih banyak

ruang pori total

yang sebagian besar terdiri dari pori mikro sehingga

kapasitas memegang air besar. Pada tanah berpasir disamping ruang pori total rendah juga memiliki jumlah pori mikro lebih rendah dibanding pori makro sehingga sulit menahan air. Tanah yang sulit menahan air kurang cocok dijadikan lahan persawahan sebaliknya tanah yang sulit dilewati air sangat cocok dibuat lahan persawahan. Tekstur tanah yang baik atau sangat sesuai untuk tanaman padi sawah adalah liat berpasir, liat, liat berdebu, lempung berliat, lempung liat berpasir dan lempung liat berdebu sedangkan tanah yang cukup sesuai untuk tanaman padi sawah yang memiliki tekstur lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu dan berdebu (Djaenudin et al, 2003). Menurut Hidayanto et al (2004) tanah yang memiliki tekstur agak kasar atau kasar seperti lempung berpasir, pasir dan pasir berlempung bersipat porous sehingga tidak dapat menahan air serta miskin unsur hara. Tabel 1. Hasil analisis sifat kimia dan fisika tanah di beberapa sentra produksi padi di Provinsi Bengkulu, 2011. NO

KODE BAHAN ORGANIK C

BO

N

TERSEDIA C/N P2O5

----%----Sido Urip 7,16 12,17 0,26

2

Rimbo recap Rimbo Kedui

4

Karang Caya Rata-rata

7,16 1,03

12,17 1,78

K2O K-dd

KTK

Al

H

PASIR DEBU +

0,10

9,51

6,66 19,50

0,78

0,23

28 36,78 10, 10 0,52

0,10

9,51

6,66 19,50

0.27

0.04

0,02

52

0,42

0,04

5, 15

3, 74 11, 73

0,95

0,12

74 22.70 10,29 0,24

0,05

2.52

1.81 13,37

2,21

0,43

0,10

6,67

4,72 16,03

7,74

S

SR

S

4, 08 2, 69

R

ST

EKSTRAK

H2O

KCl

16,91 14,45 7, 84 26, 59 65, 57 5,34

4,65

P2O5

K2 O

LIAT

-----------%-------

----- Cmol+/kg ------

28 36,78 10, 10 0,52

4,39 7,48 0,14 45,5 25,09 8,30 S

Na-dd Ca-dd Mg-dd

3+

TEKSTUR

POTENSIAL

KCl 1 N

0,26

2,21 3,81 0.03

T

NILAI TUKAR KATION (NH4ACETAT 1N, pH7)

ppm

1

3

KB (%)

TERHADAP CONTOH TANAH KERING 105°C

T

S

R

86 86

10,12 46,43 43,45

42,72

3,1

5,28

4,58

12,96

8,28 10, 32 36, 51 53,17 5,36

4,68

0,20 34,55 7,32

16,93

4.84

27.14 68.02 4,37

3,80

0,15 71,57

20

10,69

8,28

34,17 34,17 5,09

R

R

79,71

ST

liat

M

4,43 SM

Keterangan : ST = sangat tinggi,T= tinggi, S=sedang, R= rendah, SR=sangat rendah

122 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

M = masam, SM = sangat masam

Lempung merupakan tekstur yang optimal untuk pertanian, karena lempung mempunyai komposisi yang berimbang antara fraksi kasar dan fraksi halus. Hal ini disebabkan oleh kapasitas menyerap hara pada umumnya lebih baik daripada pasir sementara drainase, aerasi dan kemudahannya diolah lebih baik daripada liat. Pada tanah-tanah dengan kadar liat tinggi mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanahtanah berpasir, makin halus tekstur tanah makin besar pula jumlah koloid liat dan koloid organik, sehingga KTK juga makin besar. Menurut Hakim et al (1986) tekstur tanah berhubungan dengan dengan plastisitas, permeabilitas, kekerasanan, kemudahan olah dan kesuburan tanah. Derajat Keasaman (pH) Tanah Nilai pH menunjukkan konsentrasi ion H+ dalam larutan tanah. Konsentrasi H+ yang diekstrak dengan air menyatakan kemasaman aktif/aktual sedangkan yang diekstrak dengan KCl 1 N menyatakan kemasaman cadangan/potensial (Sulaeman, Suparto dan Eviati, 2005). Menurut Tan (1998) ion-ion H+ ada 2 macam yaitu ionion yang ada dalam tanah sebagai ion-ion yang dapat dipertukarkan dan ion-ion bebas

masing-masing

menciptakan

kemasaman

cadangan

dan

aktif.

Tife

kemasaman aktif inilah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Dari hasil pengukuran pH tanah maka diperoleh kemasaman aktif senilai 5,09 dan kemasaman cadangan senilai 4,43 masing-masing tergolong masam dan sangat masam, dari pH tersebut maka daerah penelitian tersebut termasuk baik karena

tanaman padi tumbuh baik antara pH 4,0 – 7,0. Pada tanah sawah

kalaupun mempunyai pH masam itu tidak menjadi masalah karena pada tanah sawah yang tergenang akan terjadi perubahan kimia salah satunya terjadi perubahan pH tanah. Bila tanah sawah dalam kondisi masam maka setelah pengenangan maka pH tanah akan mendekati netral sebaliknya pada tanah alkalis setelah penggenangan pH tanahnya akan turun mendekati netral (6,5 – 7,5). Menurut Djaenudin, et al (2003) pH H2O sangat sesuai untuk tanaman padi sawah yaitu 5,5 – 8,2 dan cukup sesuai 4,5 – 5,5 dan 8,2 – 8,5 sedangkan sesuai marjinal < 4,5 dan > 8,5. 123 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Pengukuran pH tanah merupakan hal yang sangat penting karena dengan pengukuran ini akan diperoleh hal-hal sebagai berikut: Kebutuhan kapur, respon tanah terhadap pespon tanah terhadap pemupukan dan proses-proses kimia lainnya (Hardjowigeno, 1993). Secara umum pemberian kapur ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisika dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah menetralkan kemasaman tanah dan meningkatkan atau menurunkan ketersedian hara bagi pertumbuhan tanaman. Bahan Organik Secara rata-rata Kandungan C-organik dan bahan organik tergolong tinggi, kandungan bahan organiknya tergolong sedang; kandungan N (0,14 %) tergolong rendah,

sedangkan nisbah C/N (45,5 %) tergolong sangat tinggi. Kandungan

bahan organik erat kaitannya dengan kandungan C-organik karena dalam penetapannya berdasarkan kandungan C-organik sehingga tinggi rendahnya kandungan bahan organik tergantung kandungan C-organiknya. Kandungan N pada daerah penelitian tergolong rendah sehingga membuat rasio C/N tergolong sangat tinggi. Kandungan bahan organik pada daerah penelitian tergolong sedang karena pada daerah tersebut petaninya pada umumnya sudah mengembalikan jerami sebagai kompos dengan cara pada saat tanam petani sering menebarkan jerami yang sudah lapuk di lahan sawahnya. Bahan organik akan mempengaruhi kemampuan tanah dalam menahan air, apabila kandungan bahan organiknya tinggi maka kemampuan airnya meningkat, ini sangat cocok untuk lahan sawah yang memerlukan air lebih banyak. Dengan banyaknya bahan organik maka warna tanah menjadi coklat hingga hitam, biasanya warna tanah yang hitam tanahnya subur. Tinggi rendahnya bahan organik juga mempengaruhi jumlah dan aktivitas metabolik organisme tanah, meningkatnya kegiatan organisme tanah akan mempercepat dekomposisi bahan organik menjadi humus. Menurut Hakim et al (1986), bahan organik adalah bahan perekat tanah yang tiara taranya, sekitar setengah dari KTK beasal dari bahan organik. Ia merupakan sumber hara tanaman dan sumber energi sebagian besar organisme tanah. 124 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Ditinjau dari kesuburan tanah maka daerah ini belum begitu membahayakan karena kandungan bahan organiknya masih tergolong sedang (7,48 %). menurut Setyorini, D. Widowati, L.R, Kasno, A. (2006) kandungan C-organik rendah (< 2%) pada lahan sawah intensifikasi akan berimplikasi pada menurunnya kesuburan tanah dan efisiensi pemupukan. Kandungan N tergolong rendah karena kandungan N memang rendah di dalam tanah sedangkan yang diangkut tanaman berupa panen sangat tinggi selain itu unsur ini sangat larut dan mudah hilang dalam air drainase ataupun hilang ke atmosfer. Nisba antara karbon dan nitrogen tergolong tinggi yaitu mencapai 45,5 ini menunjukkan dekomposisinya belum lanjut dan baru mulai. Rasio C/N adalah jumlah relatif karbon terhadap nitrogen pada bahan organik yang dirombak, merupakan cara untuk menunjukkan gambaran kandungan nitrogen relatif. Rasio C/N dari bahan organik merupakan petunjuk kemungkinan kekurangan nitrogen. Pada daerah penelitian rasio C/N tergolong sangat tinggi, hal ini menunjukkan bahwa tingkat perombakan/ dekomposisi bahan organik belum lanjut atau baru mulai. Suatu dekomposisi bahan organik yang lanjut dicirikan oleh C/N yang rendah. Suatu masalah akan timbul apabila kandungan nitrogen dari perombakan bahan organik kecil dalam arti rasio C/N tinggi maka akan terjadi persaingan antara tanaman dan mikroorganisme dalam mendapatkan nitrogen yang tersedia di tanah. Menurut Foth (1998), bahan organik dengan rasio kecil atau rendah relatif kaya nitrogen, sedangkan bila tinggi atau luas relatif miskin nitrogennya. Pertukaran kation Pertukaran kation adalah pertukaran antara satu kation dalam suatu larutan dan kation lain pada permukaan dari setiap permukaan bahan yang aktif (Foth, 1991). Koloid tanah (mineral liat dan humus) bermuatan negatif sehingga dapat menyerap kation-kation. Kation-kation basa dapat ditukar (K, Ca, Na dan Mg) tergolong sangat rendah sampai tinggi sedangkan kation masam Al tergolong rendah. Hidrogen (H) tertukar tergolong rendah dibanding dengan basa K-dd, Cadd, Mg-dd kecuali Na-dd. Kation basa lebih banyak daripada kation masam, hal ini 125 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

disebabkan pada komplek jerapan kation basa mampu mendesak kation masam. Kation Al dan H keluar dari komplek jerapan dan tercuci, sehingga kandungan Al dan H tertukar relatif sedikit. Kation-kation yang dihasilkan baik yang bersifat masam maupun basa tidak lepas begitu saja tetapi dijerap oleh koloid. Kekuatan masing-masing

kation

berbeda-beda. Menurut Hakim, et al (1986) Kation-kation bila berada dalam jumlah yang sama maka kekuatan jerapannya adalah Al> Ca> Mg> K> Na. Kapasitas tukar kation (KTK) suatu tanah merupakan suatu kemampuan koloid tanah menyerap dan mempertukarkan kation (Tan, 1991). Pada daerah penelitian KTK tanahnya tergolong sedang, besarnya KTK tanah dipengaruhi salah satunya tekstur tanah yang didominasi oleh fraksi liat. Dari beberapa pengamatan ciri tekstur tanah, ternyata KTK tanah berbanding lurus dengan jumlah butir liat. Semakin tinggi jumlah liat pada suatu jenis tanah yang sama, KTK juga bertambah besar, sebaliknya tekstur yang didominasi oleh fraksi pasir atau debu, KTKnya relatif lebih kecil daripada tanah yang teksturnya halus. Suatu tanah yang mengandung KTK sedang, artinya tidak rendah maupun tidak tinggi merupakan hal yang ideal, karena pada tanah yang mengandung KTK tinggi memerlukan pemupukan kation tertentu dalam jumlah yang banyak agar dapat tersedia bagi tanaman, bila diberikan dalam jumlah sedikit maka akan kurang tersedia bagi tanaman karena lebih banyak terjerap sebaliknya pada tanah-tanah yang mengandung KTK rendah, pemupukan kation tertentu tidak boleh banyak karena mudah tercuci bila diberikan dalam jumlah berlebihan. Kejenuhan Basa Persentase kejenuhan basa (KB) suatu tanah adalah perbandingan antara jumlah me kation basa dengan me KTK. Pada daerah penelitian KB 72 % artinya 72/100 bagian dari seluruh kapasitas tukar ditempati oleh kation basa (Ca, Mg, Na dan K) yang artinya kesuburan tanahnya tergolong sedang. Menurut Tan (1998) Tanah yang subur bila KB > 80 %, kesuburan sedang jika kejenuhan basa antara 50 – 80 % dan tanah tidak subur jika KB < 50 %.

126 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kejenuhan basa mendekati 100 % tanahnya bersifat alkalis, tampaknya terdapat hubungan yang positif antara kejenuhan basa dengan pH. Kejenuhan basa sering dijadikan acuan sebagai petunjuk mengenai kesuburan suatu tanah. Kemudahan dalam melepaskan ion yang dijerap untuk tanaman tergantung pada derajat kejenuhan basa. Unsur Hara Hasil pengukuran unsur hara pada lokasi penelitian menunjukan bahwa nitrogen (0,14) tergolong rendah, ini menunjukkan bahwa tingkat kesuburan tanahnya sangat rendah (tidak subur). P205 tersedia(25,09 %) tergolong sangat tinggi dan K2O tersedia (8,30%) tergolong rendah sedangkan P2O5 (20 mg 100/g) dan K2O (10,69) potensial kedua-duanya tergolong rendah. Untuk potensial fosfat yang rendah mengisyaratkan ketersedian P yang tinggi sebaliknya potensial fosfat yang tinggi menunjukkan ketersedian P yang rendah bagi tanaman. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Tekstur tanah sangat sesuai untuk tanaman padi sawah dengan kelas tekstur tanah liat dan liat berdebu. 1.

pH tanah tergolong masam sampai sangat masam (4,43 – 5,09), kandungan Corganik tergolong tinggi, Kapasitas tukar kation tergolong sedang, Kejenuhan basa mencapai 72 % dan termasuk subur.

2.

Jika dilihat dari kandungan unsur hara N, P dan K dan kation basa maka daerah penelitian ini tingkat kesuburannya tergolong rendah sampai sedang.

Saran Disarankan untuk membuat rekomendasi pemupukan spesifik lokasi pada lahan sawah. DAFTAR PUSTAKA BPS. 2011. Bengkulu dalam angka. Badan Pusat Statistik. Bengkulu. Djaenudin, D.,Marwan H., Subagyo H., dan A. Hidayat. 2003. Petunjuk teknis untuk komoditas pertanian. Edisi Pertama tahun 2003, ISBN 979-9474-25-6. Balai Penelitian

127 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tanah, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian. Foth, H.D. 1998. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Diterjemahkan oleh Purbayanti , Lukiwati dan Trimulatsi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hakim, N. M.Y.Nyakpa, A.M.Lubis, S.G.Nugroho, M.A. Diha, G.B. Hong dan H.H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung. Hardjowigeno, Sarwono. 1993. Klasifikasi tanah dan pedogenesis edisi pertama. Akademika Pressindo. Jakarta. Hidayanto,M.W.Agus Heru, F.Yossita. 2004. Analisis tanah tambak sebagai indikator tingkat kesuburan tambak. Jurnal pengkajian dan pengembangan teknologi pertanian volume 7 nomor 2, Juli 2004. Bogor. Luki, U. 1989. Fisika Tanah Terapan 2. Jurusan Tanah Universitas Andalas. Padang. Nyakpa, M.Y. A.M.Lubis, M.A. Pulung, A.G.Amrah, A.Munawar, G.B.Hong, N.Hakim. 1988. Kesuburan Tanah. Universitas Lampung. Lampung. Pramono,J, S. Basuki, Widarto. 2005. Upaya peningkatan produktivitas padi sawah melalui pendekatan tanaman dan sumberdaya terpadu. Agrosain 7 (1) : 1 -6. Setyorini, D. Widowati, L.R, Kasno, A. 2006. Petunjuk Penggunaan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Balai Penelitian Tanah. Bogor. Suganda, H. Rachman, A. Sutono. 2006. Petunjuk pengambilan contoh tanah dalam sifat fisika tanah dan metode analisisnya. Balai Besar Sumberdaya lahan pertanian. Bogor. Sulaeman, Suparto dan Eviati. 2005. Petunjuk teknis analisis kimia tanah, tanaman, air dan pupuk edisi I. Balai Penelitian Tanah. Bogor. Tan, Kim H. 1998. Dasar-dasar kimia tanah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

128 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

PERCEPATAN ADOPSI TEKNOLOGI PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PAKAN SAPI DAN PUPUK ORGANIK DI BENGKULU Ruswendi, Siswani Dwi Daliani dan Ahmad Damiri

ABSTRAK Pengkajian percepatan adopsi teknologi pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan sapi dan pupuk organik di Bengkulu dilakukan pada 4 lokasi terpilih, yaitu di Kabupaten Bengkulu Tengah; Seluma; Rejang Lebong dan Kepahiang. Pengkajian ini bersifat kompetitif sesuai kebutuhan daerah, bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis tingkat percepatan adopsi inovasi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan sapi dan pupuk organik serta dampaknya kepada khalayak pengguna. Metode kajian dan diseminasi percepatan adopsi limbah pertanian ini dilakukan secara wawancara langsung menggunakan kuesioner terstruktur sebagai alat pengumpul data pokok yang diperoleh dari 30 kooperator setiap kabupaten sebagai sampel responden pengukuran adopsi inovasi teknologi. Hasil informasi dan data terkumpul dianalisis secara deskriptif menggunakan analisis pola percepatan level adopsi berdasarkan waktu percepatan adopsi, faktor-faktor yang mempengaruhi peluang dalam pemanfaatan limbah petanian dianalisis menggunakan pendekatan fungsi logit, Hasil pengkajian menggambarkan waktu untuk mengadopsi pemanfaatan limbah percepatan berada pada level penerapan 2 - 3 tahun untuk diadopsi sebagai pakan sapi dan untuk diadopsi sebagai pupuk organik pada lahan sawah dibawah < 2 tahun. Faktor-faktor berpengaruh nyata terhadap percepatan adopsi pemanfaatan limbah pertanian adalah kepemilikan ternak sapi (t hitung 3,168 > t tabel 1,980) dan aksesibilitas sumber informasi (t hitung 1,902 > t tabel 1,658). Kata kunci: adopsi, teknologi, limbah pertanian, pakan sapi, pupuk organik

PENDAHULUAN Pendekatan pembangunan pertanian di Provinsi Bengkulu dilakukan melalui pengembangan

agribisnis

dan

agroindustri.

Hal

ini

menuntut

adanya

pengembangan teknologi pertanian secara terpadu guna mendapatkan nilai tambah setiap produk/komoditi pertanian. 129 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Salah satu upaya untuk dapat mengoptimalkan produktivitas ternak sapi potong, adalah dengan inovasi teknologi pakan inkonvensional asal limbah pertanian sebagai alternatif pakan tambahan yang dapat memenuhi kebutuhan nutrisi sapi potong dan pengganti hijauan. Dilain pihak ternak sapi memberikan peluang yang besar dari limbah kotoran bersama-sama limbah pertanian lainnya dapat diproses menjadi pupuk organik guna perbaikan kondisi lahan sawah. Potensi limbah pertanian yang belum dimanfaatkan, terutama limbah perkebunan sawit, kopi, kakao, jagung dan jerami padi masih terbuang atau dibakar dilahan usahatani. Setiap tahun Badan Litbang Pertanian menghasilkan sejumlah inovasi teknologi baru pengolahan limbah pertanian, berdasarkan evaluasi eksternal maupun internal menunjukkan bahwa kecepatan dan tingkat pemanfaatan inovasi tersebut lambat sampai dan diadopsi oleh pengguna. Hal ini berkaitan erat dengan rantai pasok subsistem penyampaian dan penerimaan (delivery and receiving), dimana kedua segmen tersebut merupakan penghambat (bottleneck) penyebab lambannya penyampaian informasi dan rendahnya tingkat adopsi inovasi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian (Simatupang, 2004). Dalam tatanan praktis, pengalaman empiris menunjukkan bahwa dinamika proses adopsi inovasi teknologi dalam bidang pertanian tidak terlepas dari bekerjanya faktor-faktor pendorong dan penghambat, berupa kesenjangan teknologi introduksi dan dibutuhkan petani, pendekatan belum mengakomodasi kondisi karakteristik petani sangat beragam, hubungan pelaku diseminasi dan peranan penyuluh di lapangan kurang optimal (Hendayana, 2006). Implementasi teknologi hasil penelitian akan memberikan manfaat, jika proses adopsi berjalan secara informatif, aplikatif dan efektif bagi usahataninya. Untuk itu BPTP memerlukan suatu sistem diseminasi atau penyebaran informasi dan alih teknologi yang efektif dan efisien agar khalayak pengguna dapat memperoleh informasi maupun teknologi yang dibutuhkan dengan mudah dan relatif cepat (Fawzia, 2002). Berdasarkan kondisi tersebut maka dilakukan pengkajian mengungkapkan sampai sejauh mana dampak percepatan adopsi inovasi pemanfaatan limbah 130 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pertanian sebagai pakan sapi dan pupuk organik dapat diadopsi pengguna, dapat mempengaruhi tingkat produktivitas ternak sapi dan sebagai pupuk organik akan mendorong peningkatan produksi padi sawah yang berlandaskan kearifan lokal.

BAHAN DAN METODA Kegiatan pengkajian percepatan adopsi

teknologi

pemanfaatan limbah

pertanian sebagai pakan sapi dan pupuk organik di Bengkulu, dilakukan pada bulan Juni – Desember 2011 di 4 Kabupaten (Bengkulu Tengah, Seluma, Rejang Lebong dan Kepahiang). Lokasi pengkajain ditentukan secara purposive (sengaja) berdasarkan eksistensi adopter mengadopsi inovasi teknologi, mengunakan metode wawancara langsung dan kuesioner terstruktur sebagai alat pengumpul data pokok. Pada masing-masing kabupaten dipilih 30 petani dan peternak sebagai sampel responden pengukuran adopsi inovasi teknologi berdasarkan kriteria; kepemilikan ternak sapi dan lahan usahatani, memanfaatkan pakan sapi dan pupuk organik dari limbah pertanian serta mengumpulkan sebanyak mungkin informasi yang berhubungan dengan tujuan penelitian. Untuk mengukur percepatan adopsi inovasi pemanfaatan limbah pertanian terhadap data terkumpul, menggunakan analisis pola percepatan level adopsi. Untuk mengtahui faktor-faktor yang mempengaruhi peluang dalam pemanfaatan limbah petanian untuk pakan sapi dan pupuk organik, menggunakan pendekatan fungsi logit; Ln (Pi/1- Pi)

=α + β1X1 + β2X2 + ....... + β8X8+Ui

dimana: Pi = Peluang petani memanfaatkan limbah (P=1, jika petani mengadopsi < rata-rata th dan P=0, jika mengadopsi > rata-rata th) 1- Pi = Peluang petani mengadopsi suatu teknologi > - rata-rata th α = Intersep X1 = Pemilikan ternak sapi (ekor) X2 = Pemilikan lahan usaha tani (ha) = Pendidikan formal (tahun) X3 X4 = Pengalaman berusahatani (tahun) X5 = umur (tahun) X6 = Ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga (orang) X7 = Jarak pemukiman ke sumber informasi terdekat (km) X8 = Jarak pemukiman ke pasar (km)

131 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

X9 X10 βi Ui

= = = =

Jarak pemukiman ke sumber modal (km) Sikap petani terhadap resiko (skor) Parameter peubah Xi Kesalahan pengganggu

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kajian terhadap percepatan adopsi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ternak sapi dan pupuk organik berdasarkan hasil survey dan wawancara langsung terhadap 120 responden pada 4 kabupaten terpilih telah terangkum hasil terhadap: Karakateristik responden Keragaman karakteristik petani peternak di lokasi pengkajian relatif beragam, seirama dengan dengan profil responden yang dicirikan Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik responden pengkajian percepatan adopsi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ternak sapi dan pupuk organik. No.

Peubah

Keragaman

1.

Umur (tahun)

21 - 65

2.

Tingkat pendidikan (tahun)

1 - 16

3.

Tanggungan keluarga (orang)

2-6

4.

Anggota keluarga terlibat berusahatani (orang)

1-3

5.

Pengalaman usahatani/ternak sapi (tahun)

2 - 10

6.

Penguasaan/pemilikan ternak sapi (ekor)

2 - 12

7.

Penguasaan/pemilikan lahan usahatani (ha)

0,5 – 3,5

Tabel 1. secara umum menggambarkan petani responden tergolong dalam usia

produktif

dengan

rerata

umur

43,05

tahun

dan

dapat

diandalkan

mengembangkan usaha dengan baik, karena rataan umur tersebut masih dibawah rataan umur tenaga kerja yang mendominasi sektor pertanian umumnya mencapai lebih dari 50 tahun (Suharyanto, 2001).

132 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Usia

produktif

ini

mempunyai

peluang

untuk

dapat

meningkatkan

pengembangan usahatani dengan baik, karena didukung latar belakang pendidikan formal mencapai rata-rata 8,69 tahun atau identik tamat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) mendekati pendidikan 9 tahun. Sekitar 75 % responden mengandalkan tenaga kerja keluarga menjalankan usahataninya pada keragaman usia kerja >15 tahun dan pengalaman dalam berusahatani dan memelihara sapi > 10 tahun, namun jumlah ternak sapi dipelihara setiap rumah tangga tidak lebih dari 2 ekor, Kalaupun ada yang memiliki lebih itu berupa ternak gaduhan sistim bagi hasil. Sehingga terlihat motivasi memelihara ternak sapi itu hanya sebagai usaha sampingan dijadikan “tabungan” masa depan. Penguasaan lahan usahatani rata-rata hanya 1,373 ha dengan perincian kepemilikan tanah sawah rata-rata 0,316 ha, tanah tegalan 0,267 ha dan tanah perkebunan 0,720 ha/KK tani. Sebagai sumber pendapatan utama kondisi ini diharapkan akan menjadi pemotivasi bagi petani dalam meningkatkan hasil menjadi lebih optimal melalui pemanfaatan sumberdaya dan inovasi teradopsi, termasuk pemanfaatan limbah pertanian untuk pupuk organik bagi peningkatan produktivitas lahan dan usahatani sebagai penopang peningkatan pendapatan utama keluarga, hal ini sesuai harapan Slamet (2000) yang perlu menjadi perhatian dalam proses adopsi untuk tetap menjadi efektif harus didasari motivasi petani yang mengadopsinya. Aksesibilitas inovasi teknologi Aksesibilitas wilayah menjadi faktor kunci yang memiliki peran penting dalam mendukung atau menghambat keberhasilan usahatani. Indikator aksesibilitas wilayah di lokasi pengkajian ditentukan antara lain oleh (Tabel 2). Tabel 2. Karakteristik responden pengkajian percepatan adopsi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ternak sapi dan pupuk organik. No.

Peubah

Keragaman

1.

Jarak pemukiman ke lokasi usaha (km)

0-1

2.

Jarak pemukiman ke jalan raya (km)

1-6

133 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

3.

Jarak pemukiman ke pasar input (km)

1-9

4.

Jarak pemukiman ke pasar output (km)

1-9

5.

Jarak pemukiman ke sumber modal (km)

1 - 10

6.

Jarak pemukiman ke sumber teknologi (km)

1-5

7.

Jarak pemukiman ke sumber limbah (km)

0-1

Aksesibilitas lokasi usaha ternak ke jalan raya secara umum cukup kondusif, jaraknya ± 1 km dengan keragaman masih kurang dari 6 km. Sehingga memudahkan pengangkutan input dan output hasil usahatani dan menekan biaya pengangkutan sehingga akan dapat meningkatkan efisiensi biaya, begitu juga terhadap sumber modal tidak lebih dari 10 km. Ketika

petani

memerlukan

teknologi

untuk

meningkatkan

kinerja

usahataninya, prioritas utama upaya ditempuh adalah melakukan komunikasi pada penyuluh di wilayah usahatani dan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) relatif mudah dicapai dengan jarak < 5 km. Karena akses ke BPTP cukup jauh, maka mencari informasi ke BPTP sulit dilakukan. Hanya ada kesempatan

mencari

informasi bila peneliti/penyuluh BPTP sedang berkunjung atau dari diseminasi lembaran informasi diterbitkan. Pendugaan Parameter Percepatan adopsi inovasi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan sapi dan pupuk organik 1.

Waktu adopsi Setelah dianalisis berdasarkan pola percepatan level dan inovasi yang di

adopsi, maka waktu adopsi berada pada level penerapan 2 - 3 tahun terhadap inovasi pemanfaatan limbah sebagai pakan sapi dan sebagai pupuk organik pada lahan usahatani atau sawah < 2 tahun. 2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi percepatan adopsi Hasil

analisis

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

percepatan

adopsi

pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan sapi dan sebagai pupuk organik menggunakan analisis regresi model logit (Tabel 3), memperlihatkan variabel bebas berpengaruh nyata terhadap percepatan adopsi teknologi usaha ternak sapi potong adalah pemilikan ternak sapi (X1) pada taraf kepercayaan 95% (nyata 5%) yang ditunjukan dengan nilai t hitung (3,168) > t tabel (1,980), peubah aksesibilitas ke 134 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

sumber informasi (X7) pada taraf kepercayaan 90% (nyata 10%) yang ditunjukan dengan nilai t hitung (1,902) > t tabel (1,658).

Tabel 3. Hasil analisis faktor-faktor peubah variabel yang mempengaruhi percepatan adopsi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan sapi dan pupuk organik menggunakan Regresi Model Logit. Peubah

Variabel

Standar error

Koeffisien

t hitung

X1

Pemilikan ternak sapi

0,154

0,490

3,168*

X2

Pemilikan lahan usaha tani

0,278

0,459

1,650

X3

Pendidikan formal

0,087

0,043

0,501

X4

Pengalaman berusahatani

0,035

-0,032

-0,906

X5

umur

0,030

0,026

0,887

X6

Ketersediaan tenaga kerja

0,466

-0,485

-1,042

X7

Jarak ke sumber informasi

0,126

0,241

X8

Jarak pemukiman ke pasar

0,097

-0,273

-2,797

X9

Jarak ke sumber modal

0,084

0,097

1,145

X10

Sikap petani terhadap resiko

0,055

0,027

0,503

* ** Konstanta t tabel

= = = = =

1,902**

Berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 95% Berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 90% - 3,803 1,980 (signifikan pada taraf kepercayaan 95%) 1,658 (signifikan pada taraf kepercayaan 90%)

Dari hasil regresi model logit terdapat koefisien estimasi variabel kepemilikan ternak sapi sebesar 0,490 dapat diartikan, bahwa setiap penambahan 1% variabel pemilikan ternak sapi cendrung akan diikuti percepatan adopsi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan sapi dan pupuk organik sebesar 0,490 kali dari sebelum setiap dibekali pengetahuan. Begitu juga dengan akses jarak untuk mendapatkan sumber informasi akan mempermudah petani meningkatkan pengetahuan sebesar 0,241 kali lipat setiap pengurangan jarak aksesibilitas kesumber informasi. Untuk peubah variabel lain umumnya belum memberi pengaruh terhadap percepatan adopsi, baik itu faktor pendidikan, luas lahan, pengalaman usahatani, 135 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

umur, penggunaan tenaga kerja keluarga, aksesibilitas kepasar dan sumber modal namun

hal

ini

tetap

harus

menjadi

perhatian.

Subagiyo,

dkk.,

(2005)

menyampaikan bahwa aspek jarak tempat tinggal petani dari sumber informasi serta sistem dan nilai-nilai norma sosial memberi pengaruh dalam proses percepatan adopsi, begitu juga dengan faktor lingkungan strategis juga merupakan hal yang perlu menjadi perhatian (Fagi, 2008). KESIMPULAN DAN SARAN 1. Waktu adopsi terhadap inovasi pemanfaatan limbah untuk diadopsi sebagai pakan sapi berada pada level penerapan 2 - 3 tahun dan untuk diadopsi sebagai pupuk organik pada lahan usahatani, terutama untuk lahan sawah waktu yang dicapai dibawah < 2 tahun. 2. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap percepatan adopsi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan sapi dan pupuk organik adalah kepemilikan ternak sapi (t

hitung 3,168 > t tabel 1,980) dan aksesibilitas sumber informasi (t

hitung 1,902 > t tabel 1,658). 3. Percepatan adopsi pemanfaatan limbah berhubungan negatif dengan faktor pemilikan lahan, umur, pendidikan, pengalaman usaha, ketersediaan tenaga kerja, jarak pemukiman ke lokasi pasar input dan jarak pemukiman ke lokasi pasar dan sumber modal. Namun demikian semua peubah tersebut secara statistik pengaruhnya tidak nyata, kecuali pemilikan lahan mendekati pengaruh nyata. 4. Setiap penambahan 1% variabel pemilikan ternak sapi cendrung akan diikuti percepatan adopsi pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan sapi dan pupuk organik sebesar 0,490 kali dari sebelum setiap dibekali pengetahuan. DAFTAR PUSTAKA Fagi, A.M., 2008. Alternatif Teknologi Peningkatan Produksi Beras Nasional. Iptek Tanaman Pangan. Pusat Penelitian dan Pengambangan Tanaman Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Vol.3 No.1. Fawzia, S. 2002. Revitalisasi Fungsi Inmformasi dan Komunikasi Serta Diseminasi Luaran BPTP. Makalah di Sampaikan Pada Ekspose dan Seminar Teknologi Pertanian

136 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Speszifik Lokasi., 14 – 15 Agustus 2002 di Jakarata. Pusat Penelitian dan pengembangan Sosial Ekonomi. Bogor. Hendayana, R., 2006. Lintasan dan Peta Jalan (Road Map) Diseminasi Teknologi Pertanian Menuju Masyarakat Tani Progresif. Prosiding Lokakarya Nasional Akselerasi Diseminasi Inovasi Pertanian Mendukung Pembangunan. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Sardiman, 2001. Interaksi dan motivasi belajar mengajar. CV.Grafindo Jakarta. Jakarta. Simatupang, P. 2004. Prima Tani Sebagai Langkah Awal Pengembangan Sistem dan Usaha Agribisnis Industrial., Analisis Kebijakan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Subagiyo, 2005. Kajian Faktor-Faktor Sosial yang Berpengaruh Terhadap Adopsi Inovasi

Usaha Perikanan Laut di Desa Pantai Selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Vol 8 No 2. Pusat Penelitian dan Penembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Suharyanto, Destialisma dan I. A. Parwati. 2001. Faktor-faktor yang Mempengaruh Adopsi Teknologi Tabela di Provinsi Bali. Badan Litbang Pertanian. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Bali.

137 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KAJIAN PERSEPSI DAN ADOPSI PETERNAK SAPI TERHADAP TEKNOLOGI BUDIDAYA SAPI UNGGUL DI KABUPATEN REJANG LEBONG PROVINSI BENGKULU Zul Efendi, Harwi Kusnadi, dan Andi Ishak

ABSTRAK Kabupaten Rejang Lebong merupakan sentra produksi sapi unggul (Simental, Limousin dan Brahman) di Provinsi Bengkulu. Letaknya di daerah dataran tinggi Pegunungan Bukit Barisan memberikan iklim yang cocok bagi ternak sapi unggul didukung dengan sumber pakan dari limbah pertanian yang melimpah karena daerah ini merupakan daerah sentra produksi sayuran. Populasi sapi pada tahun 2010 tercatat 15.155 ekor dengan sentra produksi di Kecamatan Selupu Rejang, Sindang Kelingi, Curup Selatan dan Curup Timur. Permasalahan yang dihadapi peternak umumnya adalah penerapan teknologi pemeliharaan sapi yang belum optimal, sehingga masih diperlukan perbaikan sistem pemeliharaan dengan penerapan teknologi budidaya sesuai dengan kondisi peternak. Kajian persepsi dan adopsi peternak sapi terhadap teknologi budidaya sapi unggul dilakukan melalui survei pada 75 orang peternak sapi di 4 kecamatan sentra produksi pada bulan Oktober 2011. Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi dan tingkat adopsi peternak terhadap teknologi budidaya sapi unggul yang meliputi pemilihan bibit, sistem perkandangan, pemberian pakan, pemeliharaan ternak, dan penanganan kesehatan. Metode analisis terhadap persepsi menggunakan regresi logistik dengan variabel terikat persepsi (Y) dan 6 variabel bebas yaitu umur (X1), tingkat pendidikan (X2), jumlah kepemilikan sapi (X3), status kepemilikan sapi (dummy) (X4), jumlah tanggungan keluarga (X5), serta pengalaman beternak sapi (X6). Analisis adopsi peternak terhadap teknologi budidaya sapi unggul dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 86% peternak memiliki persepsi yang baik terhadap ternak sapi unggul. Persepsi peternak dipengaruhi secara nyata oleh tingkat pendidikan, sedangkan umur, jumlah kepemilikan sapi, status kepemilikan sapi, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman beternak sapi tidak mempengaruhi persepsi petani secara nyata. Penerapan teknologi budidaya sapi oleh peternak secara umum telah sesuai dengan anjuran. Seluruh peternak telah memelihara sapi dengan cara dikandangkan dan memberikan obat cacing serta memandikan sapi secara berkala. Namun 33,33% peternak memilih memelihara jenis sapi lokal (Sapi Bali), 10% peternak masih membuat kandang sapi menyatu dengan bangunan rumah, dan 13,33% peternak belum menanam hijauan makanan ternak (masih mencari rumput di lingkungan sekitar). Kata kunci: persepsi, adopsi, teknologi, sapi unggul, Rejang Lebong

138 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

PENDAHULUAN Pada tahun 2010 permintaan daging sapi nasional mencapai 402,9 ribu ton, dimana pemerintah baru dapat menyediakan dari produksi lokal sebesar 282,9 ribu ton. Guna memenuhi permintaan daging nasional, pemerintah melakukan impor sebesar 35% yang terdiri dari sapi bakalan sebesar 46,3 ribu ton dan daging sebesar 73,7 ribu ton. Seiring dengan pertambahan penduduk dan meningkatnya pendapatan, maka kebutuhan daging sapi pada tahun 2014 diprediksi akan meningkat menjadi 467 ribu ton (meningkat 10% dari tahun 2010). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut sekitar 420,3 ribu ton diperoleh dari produksi lokal dan sisanya 46,7 ribu ton (10%) dipenuhi dari impor (Ditjennak, 2010). Terbukanya peluang pasar untuk pengembangan agribisnis ternak ternyata belum mampu memacu usaha ternak sapi potong lokal di Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir cenderung menurun, baik pada populasi maupun genetiknya. Dalam rangka pemenuhan target produksi nasional 420,3 ribu ton, Kementerian Pertanian mencanangkan Program Swasembada Daging sapi (PSDS) Tahun 2014. Di Provinsi Bengkulu yang merupakan daerah penyangga untuk program tersebut ikut berpartisipasi dengan beberapa kegiatan seperti progam Sarjana Membangun Desa (SMD), LM3 dan Program Bantuan Sapi Brahman Cross. Kabupaten Rejang Lebong yang merupakan daerah dataran tinggi di Provinsi Bengkulu menjadi daerah yang cocok untuk budidaya sapi potong terutama sapi unggul (Simental, Limousin, Brahman Cross, dll). Upaya peningkatan produksi sapi unggul di Kabupaten Rejang Lebong dilakukan program peningkatan produktivitas sapi potong melalui pengadaan sapi unggul dan program kawin suntik (IB) merupakan alternatif yang dapat dikembangkan yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi perunit ternak dan secara kuantitatif dapat meningkatkan pertambahan populasi ternak sapi potong (Bestari et all, 2000). Perkembangan populasi sapi unggul di Provinsi Bengkulu khususnya Kabupaten Rejang Lebong dari tahun ke tahun terus meningkat, baik yang didatangkan seiring program pemerintah berupa sapi bunting ataupun bakalan

139 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

maupun yang sudah dibudidayakan oleh petani peternak dengan program kawin suntik (IB) maupun kawin alam. METODOLOGI PENELITIAN Survei dilaksanakan pada sentra sapi potong di Kabupaten Rejang Lebong, yaitu di Kecamatan Sindang Kelingi pada bulan Oktober 2011. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan daftar pertanyaan dengan responden peternak sapi potong sebanyak 75 orang. Data sekunder dikumpulkan dengan penelusuran pustaka dan laporan yang relevan. Kuesioner persepsi terhadap teknologi budidaya sapi unggul disusun dengan menggunakan skala Likert (Riduwan, 2007). Variabel penyusun persepsi terhadap penerapan teknologi (Y) adalah karakteristik responden yang meliputi umur (X1), tingkat pendidikan (X2), jumlah kepemilikan sapi (X3), status kepemilikan sapi (dummy) (X4), jumlah tanggungan keluarga (X5), serta pengalaman beternak sapi (X6). Data dianalisis dengan regresi logistik untuk mengetahui hubungan antara variabel terikat (Y) dengan 6 variabel bebas (Xi). Model regresi logistik yang digunakan (Gujarati, 1999) adalah sebagai berikut: Yi = ln

P(Xi)

= bo + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5_1 + b6X5_2 + b7X6

1 - P(Xi) Dimana: Yi X1 X2 X3 X4 X5 X6 bo b1 ... b6

= = = = = = = = =

Persepsi (1 = baik; 0 = kurang baik) Umur responden (tahun) Tingkat pendidikan (tahun) Jumlah kepemilikan sapi (ekor) Status kepemilikan sapi (1 = milik sendiri; 2 = gaduhan) Jumlah tanggungan keluarga (jiwa) Pengalaman beternak sapi (tahun) konstanta parameter dugaan (koofisien)

Untuk mengetahui tingkat adopsi peternak petani terhadap terhadap teknologi budidaya sapi unggul yang meliputi pemilihan bibit, sistem perkandangan,

140 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pemberian pakan, pemeliharaan ternak, dan penanganan kesehatan dilakukan analisis secara deskriptif dengan menggunakan analisis tabel.

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Responden Deskripsi responden survei tersaji pada Tabel 1 di bawah ini. Tabel 1. Deskripsi responden survei persepsi peternak terhadap terhadap teknologi budidaya sapi unggul. No

Uraian

1. 2.

Jumlah responden Persepsi responden terhadap teknologi budidaya - Baik - Kurang baik Umur responden - minimum - Maksimum - rata-rata Lama menempuh pendidikan - minimum - Maksimum - rata-rata Jumlah kepemilikan sapi - minimum - Maksimum - rata-rata Status kepemilikan sapi - Pemilik - Gaduhan Jumlah tanggungan keluarga - minimum - Maksimum - rata-rata Pengalaman beternak sapi - minimum

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Keterangan 75 orang -

12 orang (16%) 63 orang (84%)

-

22 tahun 62 tahun 37,2 tahun

-

6 tahun 12 tahun 9,36 tahun

-

1 ekor 7 ekor 3,44 ekor

-

21 orang (28%) 54 orang (72%)

-

1 jiwa 6 orang 3,44

-

1 tahun

141 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

-

Maksimum rata-rata

-

16 tahun 4,6

Sumber: Analisis data primer, 2011.

Pada Tabel 1 tersebut terlihat bahwa umur responden rata-rata 37,2 tahun merupakan umur produktif. Tingkat pendidikan rata-rata rendah yaitu hanya tamat SLTP. Kepemilikan sapi rata-rata sekitar 3 ekor, masih efektif dipelihara oleh satu rumah tangga peternak dengan jumlah anggota keluarga rata-rata sekitar 3 orang. Sebanyak 54 orang responden (72%) memelihara sapi dengan sistem gaduhan dan 21 orang (28%) memelihara sapi milik sendiri. Banyaknya sapi yang digaduh disebabkan oleh harga sapi unggul (seperti Brahman Cross dan Limousin) yang mahal sehingga biasanya peternak menggaduh sapi melalui bantuan pemerintah. Persepsi Peternak Terhadap Teknologi Budidaya Sapi Unggul Pada Tabel 1 terlihat bahwa 63 orang (84%) responden memiliki persepsi yang kurang baik terhadap teknologi budidaya sapi unggul, sedangkan 12 orang responden (16%) memiliki persepsi baik. Kenyataan ini membuktikan bahwa peternak merasa agak kesulitan dalam memelihara ternak sapi unggul karena membutuhkan pakan yang berkualitas dan cara pemeliharaannya yang harus dikandangkan. Persepsi merupakan proses pengenalan atau identifikasi sesuatu melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor. Chaplin (1989) menyatakan bahwa persepsi adalah proses mengetahui atau mengenali obyek dan kejadian obyektif dengan bantuan panca indera. Persepsi adalah proses aktif timbulnya kesadaran terhadap suatu obyek yang disebabkan oleh faktor internal dan eksternal individu. Faktor internal antara lain kebutuhan individu, pengalaman, usia, motif, jenis kelamin, pendidikan dan lain-lain yang bersifat subyektif. Faktor eksternal meliputi lingkungan sosial, hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat (Ahmadi, 2009). Nilai validitas dan realibilitas kuesioner cukup baik. Dari 9 pernyataan, terdapat 2 pernyataan yang tidak valid dengan menggunakan korelasi Pearson. Nilai reliabilitas 0,677 telah memadai.

142 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Hasil analisis persepsi dapat menilai kelayakan model regresi, pengaruh variabel bebas (Xi) terhadap variabel persepsi (Y), baik secara bersama-sama maupun parsial, dan rasio peluang (odds ratio) perubahan variabel Y akibat perubahan variabel Xi. Hasil analisis logistik disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil analisis regresi logistik survei persepsi petani terhadap teknologi budidaya sapi unggul. No

Variabel

Koefisien

p-value

Odds Ratio

1.

X1 (Umur)

0,046

0,608

1,047

2.

X2 (Tingkat Pendidikan)

1,224

0,049*

3,399

3.

X3 (Jumlah kepemilikan sapi)

-0,286

0,755

0,751

4.

X4 (Status kepemilikan sapi)

0,790

0,821

2,203

5.

X5 (Jumlah tanggungan keluarga)

-1,468

0,180

0,230

6.

X6 (Pengalaman beternak sapi)

0,332

0,487

1,394

Konstanta Kelayakan model (Nagelkerke R2)

-6,005 0,547

-

-

* berbeda nyata pada α=10% Sumber: Analisis data primer, 2011.

Dari Tabel 2 terlihat bahwa hanya variabel X2 (tingkat pendidikan) yang berpengaruh nyata terhadap persepsi peternak dengan p-value 0,049 pada α=10%, sedangkan variabel lain berpengaruh tidak nyata. Dengan melihat nilai Nagelkerke R2, keenam variabel bebas mampu menjelaskan varian ketepatan persepsi sebesar 54,7% dan sisanya yaitu sebesar 45,3% dijelaskan oleh faktor lain. Nilai odds ratio variabel X2 (tingkat pendidikan) sebesar 3,399 dapat diartikan bahwa peluang persepsi peternak yang baik terhadap teknologi budidaya sapi unggul adalah 3,399 kali apabila tingkat pendidikan meningkat 1 tahun dan variabel lainnya tetap. Artinya bahwa peternak yang memiliki tingkat pendidikan lebih lama 143 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

memiliki peluang persepsi baik terhadap teknologi budidaya sapi unggul juga lebih tinggi. Dari hasil analisis persepsi tersebut dapat disimpulkan bahwa persepsi peternak dipengaruhi secara nyata oleh tingkat pendidikan. Sedangkan umur, jumlah kepemilikan sapi, status kepemilikan sapi, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman beternak sapi berpengaruh tidak nyata terhadap persepsi peternak. Tingkat Adopsi Peternak Terhadap Teknologi Budidaya Sapi Unggul Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa 66,67% peternak memelihara sapi unggul sedangkan lebihnya 33,33% lainnya masih memelihara sapi Lokal (sapi Bali). Banyaknya peternak tertarik memelihara sapi unggul disebabkan oleh pertumbuhan sapi unggul lebih tinggi dibandingkan sapi lokal, harga jual sapi unggul juga sangat tinggi, dan kemudahan untuk mendapatkan straw dari jenis sapi unggul dengan berkembangnya program Inseminasi Buatan (IB). Kandang merupakan tempat ternak sapi menghabiskan waktunya untuk beraktivitas dan melangsungkan hidupnya, sehingga sangat berpengaruh terhadap produktifitas ternak sapi yang dipelihara didalamnya. Kandang yang baik adalah kandang yang memenuhi persyaratan kesehatan seperti kandang harus bersih, lantai kering, dilengkapi dengan tempat pakan, air minum dan tempat pembuangan kotoran. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata setiap peternak sudah mengandangkan sapinya baik pada siang hari maupun pada waktu malam, namun 10% dari peternak masih membuat kandang ternaknya menyatu dengan bangunan rumahnya. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat kemalingan ternak sapi apabila ternak sapi dikandangkan jauh dari rumah. Pemberian pakan dilakukan sebanyak dua kali sehari berupa hijauan yang terdiri dari rumput raja dan rumput lapangan yang banyak terdapat dilokasi. Sedangkan pakan tambahan diberikan 1 kali sehari sebanyak 1% dari berat badan ternak berupa campuran dedak padi 55%, kulit kopi 40%, garam dapur 2%, gula merah 1,5%, kapur 1%, dan mineral 0,5%. Sebanyak 86,67% peternak sudah mempunyai kebun rumput yang luasnya bervariasi dan untuk mencukupi kebutuhan hijauan selain memanfaatkan hasil dari kebun rumputnya,

juga 144

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

memanfaatkan hasil limbah pertanian dan sayuran

yang kadang-kadang tidak

terjual. Sedangkan 13,33% lainnya masih mengandalkan rumput lapangan yang terdapat dilokasi peternakan disamping limbah pertanian dan sayuran. Perkawinan ternak sapi dilakukan dengan program IB dan sedikit sekali dengan kawin alam kalau straw lagi habis. Dari hasil wawancara dengan petugas IB, diperoleh informasi bahwa sebagian besar peternak lebih memilih jenis sapi unggul dari jenis simental, limousine dan brahman cross bila dibandingkan dengan sapi lokal untuk dijadikan pemacek sapinya. Penanganan kesehatan dilakukan secara berkala dengan pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat cacing terhadap ternak yang diduga menderita penyakit cacing. Untuk pemeriksaan peternak melibatkan petugas peternakan dan dokter hewan yang ada di daerah tersebut. KESIMPULAN 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 86% peternak memiliki persepsi yang baik terhadap

terhadap

teknologi

budidaya

sapi

unggul.

Persepsi

peternak

dipengaruhi secara nyata oleh tingkat pendidikan, sedangkan umur, jumlah kepemilikan sapi, status kepemilikan sapi, jumlah tanggungan keluarga, dan pengalaman beternak sapi tidak mempengaruhi persepsi petani secara nyata. 2. Penerapan teknologi budidaya sapi oleh peternak secara umum telah sesuai dengan anjuran. Seluruh peternak telah memelihara sapi dengan cara dikandangkan dan memberikan obat cacing serta memandikan sapi secara berkala. Namun 33,33% peternak memilih memelihara jenis sapi lokal (Sapi Bali), 10% peternak masih membuat kandang sapi menyatu dengan bangunan rumah, dan 13,33% peternak belum menanam hijauan makanan ternak (masih mencari rumput di lingkungan sekitar). DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik Kabupaten Rejang Lebong. 2010. Rejang Lebong Dalam Angka. Ahmadi, A. 2009. Psikologi Umum. Edisi Revisi 2009. Rineka Cipta. Jakarta. Chaplin, J.P. 1985. Dictionary of Psychology. Dell Publisher. New York.

145 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Ditjen Bina Produksi Peternakan.2010. Buku Statistik Peternakan 2009. Direktorat Bina Produksi Peternakan. Departemen Pertanian. Jakarta. Gujarati, D. 1999. Ekonometrika Dasar. Alih Bahasa Sumarno Zain. Erlangga. Jakarta.Hendayana, R. 2010. Petunjuk Pelaksanaan Apresiasi Pengelolaan dan Operasionalisasi Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Kementerian Pertanian. Bogor. Riduwan. 2007. Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Cetakan ketujuh. CV. Alfabeta. Jakarta.

DISEMINASI TEKNOLOGI PETERNAKAN BERUPA GELAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN BIOGAS DAN PAKAN UNTUK PENGEMUKAN SAPI POTONG Ruswendi dan Zul Efendi

ABSTRAK Salah satu sistem diseminasi atau penyebaran informasi teknologi yang sudah dihasilkan untuk mempercepat alih teknologi kepada petani dan pengguna, adalah dengan menggunakan media peragaan dan implementasi teknologi berupa gelar teknologi dilahan petani. Diseminasi hasil teknologi peternakan dilaksanakan di Desa Bukit Peninjauan I Kabupaten Seluma, berupa gelar teknologi pengolahan limbah kotoran sapi menjadi energi dan pupuk organik sebagai income tambahan sekaligus akan mengurangi pencemaran lingkungan dan gelar teknologi pakan inkonvensional melalui pemanfaatan limbah industri pertanian berupa solid dan ampas tahu sebagai alternatif pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sapi untuk mengoptimalkan produktivitas ternak sapi potong dalam mendukung percepatan swasembada daging sapi (PSDS). Diseminasi tekologi peternakan dilakukan menggunakan metoda demo aplikasi langsung oleh peternak di lapangan, kemudian hasil yang diperoleh digelarkan kepada peternak/kelompok secara tatap muka, diskusi dan kunjungan langsung lapangan. Hasil demo gelar teknologi pengolahan kotoran sapi menjadi biogas sebagai energi dan limbah buangan biogas menjadi pupuk organik padat atau cair telah dimanfaatkan sebagai pupuk organik meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Sedangkan hasil demo gelar teknologi aplikasi 4 perlakuan pakan langsung pada ternak memanfaatkan solid dan ampas tahu masing-masing, 5 kg solid; 3 kg solid+2 kg ampas tahu; 2 kg solid+3 kg ampas tahu; 5 kg ampas tahu disamping pemberian 15 kg hijauan dibandingkan yang biasa dilakukan peternak hanya diberi hijauan 20-25 kg/hari untuk setiap ekor sapi Bali penggemukan selama 45 hari, telah memperlihatkan peningkatan pertambahan berat badan harian (PBBH) sapi Bali berturut-turut: 0,483 kg; 0,410 kg; 0,390 kg; 0,456 kg/ekor/hari dibandingkan hasil PBBH 0,275 kg/ekor/hari teknologi peternak. Gelar paket teknologi pengolah biogas telah dapat meningkatkan produk tambahan bagi peternak berupa energi dan pupuk

146 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

organik padat atau cair serta terciptanya kondisi ramah lingkungan. Gelar paket teknologi pakan memperlihatkan peningkatan produktivitas sapi Bali digemukkan lebih baik dengan pemberian pakan tambahan tunggal berupa solid atau ampas tahu saja disamping pemberian hijauan, yaitu peningkatan PBBH harian mencapai 175,63% untuk pemberian solid dan 165,81% untuk pemberian ampas tahu lebih baik dari sapi Bali yang hanya diberi pakan hijauan saja oleh peternak (exiting). Gelar teknologi peternakan berupa pengolahan biogas dan pemberian pakan sapi untuk penggemukan, telah terdiseminasikan kepada lebih dari 30 kelompok peternak sapi di Kabupaten Seluma. Kata kunci: diseminasi, gelar teknologi, biogas, pakan sapi, penggemukan, peternak dan

kelompok

147 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

PENDAHULUAN Pendekatan pembangunan pertanian di Provinsi Bengkulu, dilakukan melalui pengembangan agribisnis dan agroindustri guna mendapatkan nilai tambah setiap produk/komoditi pertanian. Hal ini menuntut, adanya pengembangan komoditas pertanian dengan dukungan sumberdaya manusia terampil dan tersedianya informasi teknologi tepat guna spesifik lokasi yang dapat diadopsi. Sehingga akan menjadikan petani lebih tangguh dalam menghadapi daya saing dan dinamika pasar

yang

sudah

mengacu

kepada

globalisasi

dalam

mendorong

laju

pembangunan pertanian di daerah sekaligus mampu berfungsi sebagai penggerak perekonomian daerah. Rekomendasi paket teknologi yang sudah dihasilkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) akan memberikan manfaat apabila dapat diterapkan dan dapat menjangkau pengguna maupun pihak-pihak yang membutuhkannya. Untuk itu BPTP memerlukan suatu sistem diseminasi atau penyebaran informasi dan alih teknologi yang efektif dan efisien agar khalayak pengguna dapat memperoleh informasi maupun teknologi yang dibutuhkan dengan mudah dan relatif cepat (Fawzia, 2002). Salah satu sistem diseminasi atau penyebaran informasi teknologi yang sudah dihasilkan untuk mempercepat alih teknologi kepada petani dan pengguna adalah dengan menggunakan media peragaan teknologi berupa gelar teknologi dilahan petani. Gelar teknologi merupakan kegiatan untuk menunjukkan atau menggelar berbagai paket teknologi yang dihasilkan oleh balai pengkajian dan dibandingkan dengan teknologi yang ada pada petani, kegiatan ini lebih mengarah kepada promosi paket teknologi sesuai kondisi potensi yang diyakini lebih baik dari pada teknologi yang diterapkan petani. Menurut Tjiptopranoto (2000) dalam penerapan teknologi yang akan dikembangkan harus disesuaikan dengan potensi sumberdaya setempat dengan biaya murah dan mudah untuk diterapkan, akan tetapi dapat memberikan kenaikan hasil dengan cepat. Hal ini menjadi aspek penting untuk keberlanjutan penerapan teknologi dan sistem usahatani yang dianjurkan, dengan

148 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

demikian diharapkan petani mampu mengadopsi dan menerapkan teknologi dimaksud dalam usahataninya sehingga pendapatannya meningkat. Penerapan hasil penelitian dalam bentuk gelar teknologi diharapkan dapat mendorong proses adopsi teknologi dengan pendekatan learning by doing terhadap kelompok tani melalui petani kooperator. Kegiatan ini melibatkan petani secara intensif mulai dari perencanaan dan penetapan teknologi serta evaluasi kegiatan agar adopsi teknologi yang komprehensif, berorientasi agribisnis berkelanjutan dapat dicapai dan dikembangkan. Pakan utama ternak sapi potong adalah hijauan, pemberian hijauan sebagai pakan tunggal belum mampu mengoptimalkan produktivitas ternak. Salah satu upaya untuk dapat mengoptimalkan produktivitas ternak sapi potong adalah dengan memberikan pakan tambahan disamping pakan hijauan yang kadangkadang mencukupi atau tidak mencukupi. Untuk mengatasi keadaan ini pemberian pakan pada ternak sapi potong tidak hanya bergantung kepada pakan tunggal berupa hijauan saja, tetapi perlu diimbangi dengan pemberian pakan tambahan memanfaatkan limbah dan sisa industri pertanian. Pengembangan teknologi pakan dari limbah pertanian dan sisa hasil industri pertanian sebagai pakan ternak merupakan alternatif pakan lebih murah dan mudah didapat yang secara aktif akan memberikan sumbangan nyata terhadap penurunan potensi limbah pertanian yang terbuang dan belum dimanfaatkan. Disamping itu Kotoran ternak saat ini telah menjadi masalah dan merupakan salah satu isu yang ditenggarai telah ikut menyebabkan pencemaran lingkungan bagi masyarakat disekitarnya. Penanganan limbah kotoran ternak yang baik, akan memberikan nilai tambah bagi peternak dan bahkan dapat mendorong menjaga kelestarian lingkungan serta membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat. Salah satu pemanfaatan limbah kotoran ternak adalah dengan mengolahnya untuk dijadikan sebagai sumber energi alternatif melalui teknologi biogas (Wahyuni, 2009). Berdasarkan kondisi tersebut perlu dikembangkan peranan inovasi teknologi untuk

dapat

menjawab

permasalahan

yang

dihadapi

dengan

tujuan

menyebarluaskan informasi teknologi hasil penelitian dan pengkajian kepada 149 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pengguna untuk meningkatkan pengetahuan peternak sapi melalui peragaan gelar teknologi produksi dan pengolahan limbah biogas serta pakan sapi mendukung swasembada daging (PSDS) sekaligus mengoptimalkan produktivitas ternak dan pendapatan keluarga petani. BAHAN DAN METODE Diseminasi teknologi peternakan berupa pengolahan biogas dan pakan sapi untuk penggemukan dilaksanakan pada lahan petani peternak sapi potong di Desa Bukit Peninjauan I Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma. Pelaksanaan diseminasi gelar teknologi pengolahan biogas, menggunakan instalasi biogas kelompok LM3 Mufthatul Hidayah yang belum dioperasikan secara optimal dan belum ramah lingkungan. Diseminasi gelar teknologi pakan sapi untuk penggemukan menggunakan 20 ekor ternak sapi Bali masing-masing sebanyak 4 ekor diberi perlakuan pakan tambahan 5 kg solid; 3 kg solid+2 kg ampas tahu; 2 kg solid+3 kg ampas tahu; 5 kg ampas tahu disamping pemberian 15 kg hijauan, dibandingkan biasa dilakukan peternak hanya diberi hijauan 20-25 kg/hari untuk setiap ekor sapi Bali penggemukan. Metode analisis yang digunakan dalam diseminasi gelar teknologi pakan sapi potong adalah metode With and Without yaitu membandingkan teknologi perbaikan dengan teknologi yang biasa digunakan petani (Exiting). Hasil demo dan aplikasi diseminasi teknologi pengolahan biogas dan produksi pupuk organik limbah biogas, serta diseminasi teknologi pakan untuk penggemukan sapi Bali. Selanjutnya digelar teknologikan kepada kelompok peternak sapi disekitar lokasi dan desa lokasi kegiatan melalui pertemuan secara tatap muka, diskusi dan kunjungan langsung dilapangan. Sehingga inovasi teknologi tersebut dapat diadopsi dan diimplementasi oleh peternak sapi disekitar lokasi kegiatan, sekaligus dapat membuka peluang usaha dan peningkatan pendapatan peternak di Kabupaten Seluma.

150 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

HASIL DAN PEMBAHASAN Aplikasi Pengolahan Biogas dan Produksi Pupuk Cair Aplikasi inovasi teknologi instalasi reaktor biogas yang sudah termanfaatkan gasnya untuk kompor gas, terkendala belum ramah lingkungan dan masih mengeluarkan bau disekitar kandang ternak sapinya. Berdasarkan kondisi tersebut dan lebih mengoptimalkan manfaat dari pengolahan biogas ini,

telah dilakukan

aplikasi peningkatan produtivitas biogas melalui penyempurnaan inovasi teknologi saluran pengaliran pada bak penampungan limbah buangan biogas sehinga dapat diolah menjadi pupuk organik cair. Untuk

dapat

memproduksi

pupuk

cair

limbah

buangan

biogas

bak

penampungan dibuat menjadi 4 bagian, kemudian dibuat saluran pada bagian bawah dari Bak I ke untuk memudahkan pengaliran sludge berupa cair kental pada Bak penampungan ke II sehingga bagian berserat akan naik kepermukaan untuk diambil dan ditumpuk pada bak penampungan kusus sebagai kompos padat. Selanjutnya untuk mengalirkan slud yang kekentalannya semakin encer, maka salurannya cukup dibuat pada bagian atas dari Bak penampungan ke II pada Bak ke III dan IV kemudian diendapkan selama 2 – 3 hari untuk mengendapkan padatan. Bagian yang cair dimasukan kedalam 3 buah drum sudah disediakan dengan terlebih dahulu dilakukan penyaringan dan penyaluran secara berurutan pada drum 1, 2 dan 3. Kemudian diendapkan selama 2 – 3 hari untuk masing-masing drum penampung, selanjutnya akan terdapat cairan bening pada drum terakhir yang merupakan pupuk organik cair memanfaatkan limbah buangan biogas untuk dipaking dan siap digunakan pada tanaman sebagai pupuk organik cair. Dampak dari pelaksanaan demo peningkatan produtivitas biogas adalah, semua kotoran ternak terolah menjadi biogas, pupuk organik padat dan cair. Disamping itu lingkungan kandang benar-benar menjadi ramah lingkugnan dan semua limbah yang dihasilkan termanfaatkan untuk biogas dan pupuk organik, serta terbukanya peluang kerja akibat pemanfaatan limbah pertanian. Menurut Syafa’at et al., (2003) sektor pertanian termasuk dalam hal pengolahan limbah 151 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pertanian juga sebagai salah satu sektor penyedia lapangan kerja terbesar, yaitu lebih dari 40% kesempatan kerja masyarakat berasal dari sektor pertanian. Aplikasi Pakan Untuk Sapi Penggemukan Aplikasi inovasi teknologi pakan tambahan memanfaatkan limbah industri pertanian berupa solid dan ampas tahu untuk sapi Bali penggemukan, masingmasing perlakuan diberi tambahan 5 kg solid; 3 kg solid+2 kg ampas tahu; 2 kg solid+3 kg ampas tahu; 5 kg ampas tahu disamping pemberian hijauan masingmasing 15 kg. Dibandingkan teknologi peternak hanya diberi hijauan 20-25 kg/hari untuk setiap ekor sapi Bali penggemukan selama 45 hari, telah memperlihatkan peningkatan pertambahan berat badan harian (PBBH) sapi Bali berturut-turut: 0,483 kg; 0,410 kg; 0,390 kg; 0,456 kg/ekor/hari dibandingkan hasil PBBH 0,275 kg/ekor/hari pada teknologi peternak. Selain pemberian pakan utama hijauan, ternak sapi potong juga perlu diberi pakan tambahan (Konsentrat) agar dapat memacu peningkatan produksi ternak. Penggunaan limbah dan sisa hasil industri pertanian sebagai bahan pakan tambahan ternak sapi potong merupakan alternatif yang dapat dimanfaatkan asalkan tidak memberikan dampak negatif bagi ternak itu sendiri (Umiyasih et all., 2004). Dampak dari pelaksanaan aplikasi inovasi teknologi pakan tambahan untuk sapi penggemukan, telah meperlihatkan peningkatan produktivitas sapi Bali digemukkan lebih baik dengan pemberian pakan tambahan tunggal berupa solid atau ampas tahu saja disamping pemberian hijauan, yaitu peningkatan PBBH harian mencapai 175,63% untuk pemberian solid dan 165,81% untuk pemberian ampas tahu lebih baik dari sapi Bali yang hanya diberi pakan hijauan saja oleh peternak (exiting). Selain itu peternak sudah mengetahui bahwa pemberian pakan tambahan

perlu

dilakukan

pada

sapi

penggemukan,

karena

telah

dapat

meningkatkan produksi daging sapi dan meberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan petani peternak serta termanfaatkannya limbah tanaman maupun industri pertanian disekitar lokasi untuk percepatan peningkatan produksi daging menuju swasembada daging sapi.

152 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Diseminasi Gelar Teknologi biogas dan pakan sapi Gelar teknologi peternakan berupa pengolahan biogas dan pemberian pakan sapi untuk penggemukan, telah terdiseminasikan kepada masing-masing lebih dari 30 kelompok peternak sapi di Kabupaten Seluma melalui pertemuan dan tatap muka, diskusi dan peninjauan langsung ke lapangan. Sehingga para peternak telah dapat mengadopsi dan mengetahui manfaat dari diseminasi teknologi peternakan berupa gelar teknologi biogas dan pakan sapi memanfaatkan limbah industri pertanian. Melalui inovasi teknologi limbah dan sisa hasil ikutan agroindustri

pertanian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan sapi yang potensial untuk usaha penggemukan (Badan Litbang Pertanian, 2005). Dari

hasil

diskusi

terungkap

bahwa

peternak

merasa

kesulitan

mengembangkan usaha peternakan karena terbentur berbagai faktor, seperti ketersediaan

pakan

ternak

merupakan

faktor

dominan

selain

terbatasnya

ketersediaan modal. Peternak sekarang sudah mengetahui dan bisa mendapatkan pakan berkualitas mudah dan murah untuk ternak sapi, dengan adanya diseminasi teknologi peternakan yang diaplikasikan dan dilihat langsung oleh peternak dilapangan.

Sebenarnya

apabila

kita

memepunyai

kemauan,

maka

untuk

mendapatkan pakan ternak yang mudah dan bergizi itu mudah dilakukan. Sebab disekitar kita banyak sumber pakan bisa dimanfaatkan sebagai pakan termasuk limbah pertanian yang selama ini tidak dimanfaatkan disekitar lahan usahatani kita (Syafii, 2010). Dampak dan Umpan Balik Kegiatan Dampak dan umpan balik pelaksanaan gelar teknologi dengan metode aplikasi dan didiseminasikan dilapangan secara langsung dirasakan bagi peternak dan kelompoknya. Karena telah dapat memberikan informasi langsung, baik secara terlihat maupun terdengar sehingga memudahkan peternak mengadopsi teknologi pengolahan kompos dan pakan penggemukan sapi memanfaatkan limbah disekitar lahan usahatani. Hal ini sejalan dengan berbagai kajian terdahulu, Departemen Pertanian (2001) dimana metode diseminasi teknologi dan informasi pertanian dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan, antara lain: (1) pengelolaan informasi 153 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

dan peragaan teknologi pertanian, (2) komunikasi tatap muka dan pengembangan media informasi dan, (3) Peningkatan kapasitas institusi. Informasi teknologi pertanian yang mudah dan tepat akan diadopsi dan diterapkan oleh petani secara cepat, sehingga petani menguasai teknologi tersebut dan menjadi lebih tangguh dalam persaingan global dan memiliki keterampilan dalam menerapkan inovasi teknologi serta mampu menghadapi resiko usaha. Dalam penerapan suatu teknologi, maka petani perlu diajari, dilatih dan dibimbing sehingga mampu untuk melakukan sendiri. Ada hal penting yang perlu diketahui dalam proses belajar tersebut 1) ada keaktifan dari individu yang sedang belajar, 2) terjadi proses internal atau proses mental, 3) terjadi perubahan perilaku, dan 4) petani aktif mengembangkan diri dan mengembangkan potensi. (Asgari, 2001). KESIMPULAN 1. Perbaikan

tatalaksana

pengolahan

biogas

telah

dapat

meningkatkan

pemanfaatan limbah kotoran sapi selain untuk biogas, juga dapat memproduksi pupuk cair selain pupuk padat dan membuka peluang usaha bagi peternak sapi sekaligus memberi manfaat terhadap kebersihan kandang dan lingkungan maupun kesehatan ternak sapi. 2. Diseminasi teknologi pakan untuk penggemukan sapi potong dengan pemberian pakan tambahan solid dan ampas tahu memberikan pengaruh positif pada pertambahan berat badan harian (PBBH) ternak sapi Bali dan secara tidak langsung juga meberikan peluang terhadap peningkatan pendapatan peternak sapi. 3. Hasil akhir dari gelar teknologi pengolahan biogas dan pakan sapi telah dapat meningkatkan pengetahuan peternak dan kelompoknya, bahwa berbagai limbah pertanian dapat diberdayakan bagi kebutuhan usaha peternakan termasuk peningkatan produksi daging yang dapat menunjang PSDS. 4. Petani peternak sudah mau mengadopsi inovasi teknologi peternakan dengan memanfaatkan limbah ternaka dan pertanian di sekitar lokasi usaha, dari sebelumnya belum termanfaatkan dan bahkan juga mengganggu keramahan lingkungan. 154 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

DAFTAR PUSTAKA Asgari. 2001. Peranan Agen Pembaharuan/Penyuluh dalam Usaha Memberdayakan (Empowerment) Sumberdaya manusia pengelola Agribisnis. Fakultas Peternakan IPB. Bogor. Asgari. 2001. Peranan Agen Pembaharuan/Penyuluh dalam Usaha Memberdayakan (Empowerment) Sumberdaya manusia pengelola Agribisnis. Fakultas Peternakan IPB. Bogor. Badan Litbang Pertanian. 2005. Rencana Aksi Ketahanan Pangan 2005-2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarata. Departemen Pertanian. 2001. Pedoman Penelitian Metode Penyuluh Pertanian. Pusat Penyuluhan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Fawzia, S. 2002. Revitalisasi Fungsi Inmformasi dan Komunikasi Serta Diseminasi Luaran BPTP. Makalah di Sampaikan Pada Ekspose dan Seminar Teknologi Pertanian Speszifik Lokasi., 14 – 15 Agustus 2002 di Jakarata. Pusat Penelitiuan dan pengembanag Sosial Ekonomi. Bogor. Safa’at, N., S. Maryanto dan P. Simatupang. 2003. Dinamika Indikator Ekonomi Makro Sektor Pertanian dan Kesejahteraan Petani. Dalam Analisis Kebijakan Pertanian (I): Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. Syafii Muhammad. 2010. Pemanfaatan Limbah Pertanian Untuk Pakan Ternak. Loka Latih Petani Jombang. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam). Jombang. Tjiptopranoto, P. 2000. Strategi Diseminasi Teknologi dan Informasi Pertanian. Balai Pusat Pengkajian Teknologi Pertanian. Bogor. Umiyasih, U., Gunawan, D.E. Wahyono, Y.N. Anggraini dan I.W. Mathius. 2004.

Penggunaan Bahan Pakan Lokal Sebagai Upaya Effisiensi pada Usaha Perbibitan Sapi Potong Komersial. Prosd. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner, 4-5

Agustus 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor. Wahyuni Sri. 2009. Biogas. Penerbit, PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

155 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

EFISIENSI PEMANFAATAN BAHAN MAKANAN TERHADAP BERAT HIDUP PADA TERNAK AYAM RAS PEDAGING Erpan Ramon, Dedi Sugandi, Zul Efendi dan Herlena Bidiastuti

ABSTRAK Penggunaan berbagai macam bahan pakan merupakan salah satu upaya efisiensi pemanfaatan bahan pakan, karena biaya pakan pada usaha ternak ayam broiler mencapai 70 % dari total biaya produksi. Tujuan pengkajian untuk mengetahui efisiensi pemanfaatan bahan makanan pada ternak ayam broiler priode umur finisher yang dilaksanakan pada kandang ayam BPTP Bengkulu, menggunakan 100 ekor ternak ayam yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan pakan (masing-masing 25 ekor). Pengkajian ini mengguna Rancangan Acak Lengkap (RAL) terhadap 4 perlakuan campuran pakan (konsnentrat+jagung giling+dedak halus) berdasarkan perbandingan pengurangan jumlah penggunaan konsentrat sebanyak 10% pada masing-masing perlakuan (Kontrol/petani= 40 %; P1= 30%; P2= 20%; P3= 10%) dengan 5 ulangan. Parametar yang diamati adalah berat badan akhir setelah perlakuan pemberian pakan, kemudian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Hasil pengkajian menunjukan berat rata-rata bobot hidup ayam broiler diberi perlakuan pakan P1; P2; P3 (1,36 kg/ekor; 1,21 kg/ekor; P3=1,15 kg/ekor) tidak berpengaruh nyata bila dibandingkan Teknologi petani (1,45 kg/ekor) terhadap setiap tingkat pengurangan 10% pakan kosentrat, berdasarkan F hitung setiap kombinasikan perlakuan pakan (konsentrat, jagung giling dan dedak halus) tidak berpengaruh nyata pada taraf 5 % dan 1 % terhadap bobot hidup, sehingga penggunaan setiap racikan pakan perlakuan dapat diaplikasikan pada usaha perternakan ayam broiler. Kata kunci: efisiensi, bahan pakan, berat hidup

PENDAHULUAN Usaha perunggasan di Propinsi Bengkulu adalah

sebuah industri yang

memiliki komponen yang lengkap dari sektor hulu sampai ke hilir. Dimana perkembangan usaha ini memberikan konstribusi nyata dalam pembangunan pertanian.

industri

perunggasan

memiliki

nilai

strategis

khususnya

dalam

penyediaan protein hewani untuk memenuhi kebutuhan dalam propinsi Bengkulu, pada tahun 2010 tercatat bahwa produksi ternak unggas khususnya ayam ras mencapai 434,69 juta ton dengan populasi berjumlah 5.874.583 ekor (BPS Propinsi Bengkulu tahun 2010), dengan melihat kondisi demikian maka diperlukan wawasan konstruktif untuk menggali kreatifitas dan inovatif peternakan ungas secara terapan tanpa mengabaikan aspek teknis dan ekonomis, pengeluaran terbesar dalam budidaya ayam broiler yaitu pakan yang dapat menduduki angka 60-70 % dari keseluruhan biaya produksi, Bambang AM (1987), melihat kondisi ini maka sudah pantas kita berpikir bagaimana mengefisiensi pemanfaatan konsenterat, sebab 156 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

konsentrat secara ekonomis adalah bahan makanan yang relatif lebih mahal dibandingkan

dengan

bahan

makanan

yang

lain.

Pembangunan

industri

perunggasan menghadapi tantangan yang cukup berat baik secara global maupun lokal karena dinamika lingkungan strategis dalam propinsi, tantangan ini mencakup kesiapan dayasaing produk perunggasan, bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan serta harus memenuhi zat-zat nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak, zat-zat nutrisi yang di butuhkan oleh ternak ayam potong menurut Scott et al (1976 ) dibagi menjadi 2 periode yaitu : Periode starter umur 0 – 4 minggu ternak membutuhkan Protein 22 – 23 %, Lemak 5,5 – 8,0%, Serat kasar 2 - 5%, Ca 1%, P 0,5 – 0,7%, ME 2700 – 2900 kl. Periode starter umur 5 – panen ternak membutuhkan Protein 20 – 21 %, Lemak 5,5 – 8,5%, Serat kasar 4 5%, Ca 1%, P 0,4 – 0,5%, ME 2500 – 3400 kl. Untuk dapat mengantisipasi kendala-kendala tersebut, tidak banyak yang dapat dilakukan oleh peternakan unggas rakyat, perternak kecil hanya dapat mengupayakan untuk menghemat biaya dengan tetap mempertahankan tingkat produksi melalui pemanfaatan bahan baku pakan lokal seperti pencampuran bahan pakan dapat menekan biaya produksi daging dengan tidak mengabaikan kebutuhan zat nutrisi yang menjadi kebutuhan untuk produksi daging. Tujuan dari pengkajian ini adalah: Mengetahui pengaruh racikan beberapa bahan pakan yang berbeda terhadap berat hidup ternak ayam broiler, Mengetahui racikan pakan yang paling efisien untuk mengoptimalkan produksi. BAHAN DAN METODR Pengkajian efisiensi pemanfaatan bahan makanan terhadap berat hidup pada ternak ayam ras pedaging dilaksanakan dikandang ayam BPTP Bengkulu, dari tanggal 17 Oktober 2011 sampai dengan 27 Oktober 2011, menggunakan 100 ekor ternak ayam umur 10 hari yang diberi pakan berdasarkan persentasse (%) jumlah pemberian konsentrat yang dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan pakan terhadap masing-masing 25 ekor ayam broiler (Tabel 1).

157 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 1. Rancangan perlakuan racikan pakan berdasarkan pengurangan 10 % penggunaan konsentrat yang diaplikasikan pada ayam broiler priode finisher. No

Komposisi Racikan Pakan

PERLAKUAN % Kontrol/petani

I

II

III

1

Kosentrat

40

30

20

10

2

Jagung

40

50

50

50

3

Dedak

20

20

30

40

4

Probiotik

0,3

0,3

0,3

0,3

Pengkajian ini mengguna Rancangan Acak Lengkap (RAL) terhadap 4 perlakuan campuran pakan (konsnentrat+jagung giling+dedak halus) berdasarkan perbandingan pengurangan jumlah penggunaan konsentrat sebanyak 10% pada masing-masing perlakuan (Kontrol/petani= 40 %; P1= 30%; P2= 20%; P3= 10%) dengan 5 ulangan. Parametar yang diamati adalah berat badan akhir setelah perlakuan pemberian pakan. Adapun model Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang digunakan dapat digambarkan secara sistematis, menggunakan rumus :

Yij = µ + dimana : Yij µ

i + ∑ij

= = i = ∑ij = I = J =

Nilai pengamatan pada perlakuan ke-I dan ulangan ke-I Nilai tengah umum Pengaruh perlakuan ke-I Galat percobaan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j Banyaknya perlakuan (kontrol, I, II dan III) Banyaknya ulangan

Untuk mengetahui pengaruh terhadap parameter yang diukur maka dilakukan uji statistik dengan rancangan Analisis sidik ragam (Tabel 2). Tabel 2. Analisis Sidik ragam yang digunakan pada pengkajian efisiensi pemanfaatan bahan makanan terhadap berat hidup pada ternak ayam ras pedaging. SK

Db

JK

KT

F.Hit

F 0,05 0,01

Perlakuan

t–1

JKP

JKP/t-1

Galat

r (r-1)

JKG

JKG/r.(r-t)

Total

r.t-1

JKP+JKG

KTP/KTG

Sumber: K A Gomes dan A A Gomes, 1995.

158 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

HASIL DAN PEMBAHASAN Periode starter pada pengkajian ini selama 20 hari yaitu dimulai dari hari ke 0 sampai dengan hari ke 20, pakan yang diberikan berupa pakan jadi/konsentrat yang mempunyai kandungan protein berjumlah 22 % Wahyu,J. 1992. berasal dari pabrik pada hari ke20 dilakukan penimbangan disetiap perlakuan dengan bobot badan rata-rata 0,85 kg. Periode finisher dimulai pada hari ke 21 hari sampai dengan hari ke 30 (panen), ternak sudah dipindahkan tanpa dipisahkan jeniskelamin secara acak kedalam kandang perlakuan masing-masing 25 ekor pada tiap kandang, pakan yang habis dikonsumsi oleh ternak secara keseluruhan perlakuan adalah 170 kg. Untuk mengethui pengaruh perlakuan terhadap berat hidup maka harus diketahui kwalitas pakan pada masing-masing perlakuan, Peni S Harjosworo, Rukmiasih. (2000) menyatakan bahwa, pengefisienan dalam penggunaan pakan dapat terlaksana bila telah mengetahui bahan pakan berdasarkan zat nutrisinya yang terkandung dalam bahan pakan tersebut. Dilihat

dari kandungan nutrisi yang

terdapat pada masing-masing perlakuan, kandungan nutrisi dapat disajikan sebagai berikut: Tabel 2.Kandungan Nutrisi pada tiap-tiap Perlakuan. No

Kandungan Nutrisi

Kontrol %

PI%

P II %

P III %

1

ME

2654

2736

2649

2562

2

Protein Kasar

15,2

12,2

11,3

10,3

3

Lemak Kasar

6,92

6,9

8,4

8,9

4

Serat Kasar

5,4

5,15

5,85

6,55

5

Ca

8,092

7,975

11,655

15,335

6

P

0,476

0,415

0,325

0,235

7

Abu

3,8

3,2

3,3

3,4

Dihitung berdasarkan data dari buku Wawan MI (2003).

Dari data kandungan nutrisi, perlakuan pada kontrol menunjukan kandungan proteinnya yaitu 15,2 % data ini menunjukan angka yang lebih tinggi dan kandungan zat nutrisi lebih baik dibandingkan dengan PI, PII, dan PIII Berdasarkan hasil perhitungan total dari tiap-tiap perlakuan dan ulangan secara acak maka akan 159 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

diperoleh data Kontrol=7,25 P1=6,80 P2=6,05 dan P3=5,75. Dengan demikian pertambahan bobot badan hidup yang lebih sempurna pada pengkajian ini terlihat pada kontrol yaitu rata-rata berjumlah 1,45 kg dalam jangka waktu pemeliharaan 30 hari, data ini adalah rata-rata tertinggi dibandingkan dengan perlakuan yang lain, berarti secara teknis susunan bahan pakan dan kandungan zat nutrisi yang terkandung pada kontrol adalah lebih baik. Berdasarkan hasil penghitungan zat nutrisi tiap-tiap perlakuan bahwa untuk mempertahankan kelangsungan hidup ternak ayam ras pedaging, maka Energi Metabolisme perlu diperhitungkan sesuai dengan kebutuhan yaitu 2500-3400 kkl, Scott et al (1976) sedangkan pada pengkajian ini dapat dilihat ME terendah yaitu pada perlakuan PIII (2562), angka ini masih di atas angka minimal kebutuhan ayam ras pedaging. Berdasarkan analisa sidigragam masing-masing perlakuan menunjukan bahwa f hitung 2,442 dibandingkan dengan f tabel 0,05 = 3,15 dan f tabel 0,01 = 4,34 menurut K A Gomes dan A A Gomes, 1995 bahwa, apabila f hitung lebih dari F tabel maka perlakuan dinyatakan non significant. KESIMPULAN Dari hasil dan pembahasan, pengkajian dengan sistem pemeliharaan yang sama (homogen), dapat disimpulkan bahwa, racikan pakan dengan mengurangi kandungan konsentrat 10 % digantikan dengan jagung dan dedak halus tidak berbedanyata terhadap bobot hidup ayam broiler. Maka perlu dilakukan analisis ekonomi perternakan ayam broiler, untuk mengaplikasikan bahan makanan yang sesuai dan tentunya akan berdampak pada sosial ekonomi terhadap peternak, atas dukungan berbagai pihak termasuk kegiatan penelitian dan penyusunan kebijakan, kerjasama yang baik dan terarah diharapkan dapat meningkatkan kinerja usaha perternakan ayam broiler sebagai peluang agribisnis dengan tujuan meningkatkan pendapatan peternak. DAFTAR PUSTAKA Aak, 1982 , Pedoman Beternak Ayam Negeri. kanisius.

160 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Anggorodi,R.1997. Ilmu Makanan Ternak Unggas Kemajuan Muktahir. Fakultas pertanian, IPB. Bogor. Bambang. AM, 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. kanisius. Heti Resnawati dan Ida AK Bintang. 2005. Produktivitas Ayam Lokal yang Dipelihara secara Intensif, dalam Prosiding Loka karya nasional inovasi teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Puslitnak, Badan Penelitian pengembangan pertanian dan Fakultas Perternakan Undip, Bogor. Khanchai A Gomes and Arturo A Gomes. 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian edisi kedua, Universitas Indonesia. Mochamad Wawan Ichwan,W.2003. Membuat Pakan Ayam Ras Pedaging. Agromedia. Murtidjo. 1978. Pedoman Berternak Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta. Peni S. Hardjosworo, Rukmiasih. 2000. Meningkatkan Produksi Daging Unggas, cetakan ke1 Penebar Swadaya, Jakarta. Scott, MI, MC Neshein and R.J Young. 1976. Asotiation,it hac New York.

Nutrition of the chikens, 3 Th E.D Scott

Siregar et al. 1980. Tehnik Berternak Ayam Pedaging DiIndinesia. Cetakan ke III Margi group Jakarta. Soeparno. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Perternakan , UGM Yogyakarta. Summer and Lesson. 1965. The Offcet of dearty energy and Protein on Carcas compotints with anote on amethot for estimating iliyonis. USA. Wahyu,J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas. Pengantar perternakan didaerah tropis UGM Yogyakarta.

161 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Lampiran 1. Analisis sidig ragam pada hari ke 30 masing-masing perlakuan (kg). Perlakuan

Ulangan

Total

A

B

C

D

E

Kontrol

1,35

1,40

1,45

1,70

1,35

7,25

1,45

II

1,80

1,20

1,25

1,35

1,20

6,80

1,36

III

1,15

1,15

1,40

1,05

1,30

6,05

1,21

IV

0,80

1,10

1,20

1,40

1,25

5,75

1,15

Galat total (Gt) FK JKT

JKP

= = = = = =

25,85

= 2

Rata-rata

2

= n32.... 2

= 33,41

2

(n1 , n2 , n20 ) – FK (1,352.1,80 . 1,152 .... 1,252) – 33,41 (1,8225+3,24+1,3225 ... 1,5625) – 33,41 34,3125 – 33,41 = 0,9025

= = = = 33,6935 – 33,41 = 0,2835 JKG

= JKT – JKP =0,9025 – 0,2835 =0,619 Tabel anova Sidig ragam rata-rata bobot hidup. SK

Db

JK

KT

Perlakuan

3

0,2835

0,0945

Galat

16

0,619

0,0387

Total

19

0,9025

Bila F hitung lebih

F. Hit 2,442

F 0,05

0,01

3,15 ns

4,34

dari F tabel maka perlakuan dinyatakan NS (Non significant).

162 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 2. Kandungan zat nutrisi yang terkandung pada tiap-tiap bahan makanan. No Bahan Makanan

Air

PK

LK

SK

Abu

Ca

P

Cocii

%

%

%

%

%

%

%

Ostat

1

Kons BR I

13

21

4

5

6

0,9-1,2 0,7-0,9

+

2500

+

2

Kons BR II

13

19

4

5

6

0,9-1,2 0,7-0,9

+

2500

+

3

Dedak Padi

11,5

10

19

12

7,0

38,00

-

-

1630

-

4

Jagung hls

-

9,0

3,8

2,5

-

0,03

0,29

-

3320

-

5

Probiotik

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

Keterangan - PK : Protein Kasar - Ca : Kalsium Sumber : Wawan MI (2003).

- LK -P

: Lemak Kasar : Phospor

- SK

ME (Kkal)

Anti Biotik

: Serat Kasar

Tabel 3. Kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak ayam potong. No

Zat Nutrisi

1 2 3 4 5 6

Protein Lemak Serat kasar Ca P ME

Starter Umur 0 – 4 mg 22 – 23` 5,5 – 8,0 2,0 – 5,0 1,0 0,5 – 0,7 2700 -2900

Finisher Umur 5 - Potong 20 – 21 5,5 – 8,5 4,0 – 5,0 1,0 0,4 – 0,5 2500 – 3400

Sumber : Scott et al (1976).

163 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

MANFAAT PEMBERIAN PAKAN TAMBAHAN DAN MINAT ADOPSI PETANI DALAM PEMELIHARAAN SAPI BRAHMAN CROSS MELALUI KEGIATAN GELAR TEKNOLOGI Siswani Dwi Daliani dan Taufik Hidayat

ABSTRAK Sapi brahman cross merupakan sapi hasil keturunan dari sapi Zebu (Boss indicus) yang sangat berkembang pesat di Amerika Serikat dengan iklim tropis. Sapi brahman cross adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan. Hal ini membuat kita perlu memberikan pakan tambahan bagi ternak sapi brahman cross. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kayu Manis, Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong dengan melakukan demonstrasi pembuatan pakan tambahan dari limbah kopi dan strabio. Tahapan pelaksanaan pemeliharaan ternak sapi brahman cross yaitu melakukan penimbangan ternak sebelum pemberian pakan tambahan dan setelah pemeliharaan selama 2 bulan terhadap 6 ekor ternak sapi brahman cross yang diberi pakan tambahan campuran dedak padi, kulit kopi, garam, gula merah, kapur, dan mineral.Hasil penimbangan dapat dilihat bahwa ratarata kenaikan berat badan perharinya yaitu 0,53 kg/ekor/hari.Setelah dilakukannya kegiatan gelar teknologi ini masyarakat/peternak sangat ingin mencoba, hal ini diketahui dari hasil kuisioner yang menyatakan ingin menerapkan didalam pemeliharaan ternak sehari- hari sebanyak 96%, 4% kadang kadang, kemudian dalam hal mencari bahan-bahan campuran pakan tambahan 80% menyatakan mudah didapat, 12% menyatakan cukup mudah dan 8% menyatakan sulit didapat. Dilakukan penimbangan dapat dilihat bahwa dalam kurun waktu 2 bulan berat sapi mengalami peningkatan rata-rata 0,53kg/ekor/hari. Kata kunci: brahman cross, pakan tambahan, PBBH

PENDAHULUAN Latar Belakang Sapi brahman cross merupakan sapi hasil keturunan dari sapi Zebu (boss indicus) yang sangat berkembang pesat di Amerika Serikat dengan iklim tropis. Sapi brahman ini diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya kemudian diekspor ke berbagai Negara antara lain ke benua Australia. Pada tahun 1974 dari Australia masuk ke Negara Indonesia.Ciri-ciri yang dapat kita lihat dari performance nya 1) berpunuk besar dan berkulit longgar, 2) Gelambir dibawah leher sampai ke perut lebar dan banyak lipatan, 3) telinga panjang menggantung dan berujung runcing. Sapi brahman cross adalah tipe sapi potong terbaik untuk dikembangkan. Di Kabupaten Rejang Lebong jumlah sapi brahman cross sudah mencapai lebih dari 158 ekor. Penyebaran pertama kali Sapi Brahman Cross di Kabupaten Rejang Lebong berada di kecamatan Sindang Kelingi yang berasal dari bantuan pemerintah 164 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pada tanggal 28 November tahun 2007 dengan jumlah bantuan sebanyak 50 ekor sapi betina brahman cross di kelompok Sidomulyo desa Air Dingin. Populasi ternak sapi Brahman Cross di desa Kayu Manis sampai dengan tahun 2011 sebanyak 126 ekor. Dalam pemeliharaan ternaknya, teknologi pemeliharaan sapi brahman croos yang biasa dilakukan peternak adalah dengan cara pemberian hijauan biasa dan belum sepenuhnya diberikan pakan tambahan sesuai dengan teknologi yang disebarluaskan oleh BPTP Bengkulu. Oleh karenanya sangat perlu dilakukan terobosan teknologi yang dapat membantu para petani peternak dalam hal meningkatkan kenaikan berat badan perharinya (PBB) untuk meningkatkan pendapatan peternak.Hijauan rumput yang diberikan berupa hijauan yang sudah dicacah menggunakan mesin pencacah rumput. Hal ini menyebabkan penambahan berat ternak sapi menjadi lambat. Melalui kegiatan gelar teknologi pemeliharaan sapi brahman cross diaharapkan petani dapat mengubah pola makan ternak sapinya dengan memberikan pakan tambahan. Gelar teknologi pemberian pakan tambahan merupakan kegiatan untuk menunjukkan paket teknologi sapi brahman cross yang sudah pernah dilakukan oleh BPTP melalui kegiatan pendampingan PSDSK di Kabupaten Rejang Lebong yang telah lalu.Hasil-hasil penelitian/pengkajian beberapa komoditas andalan yang telah

dilaksanakan

oleh

BPTP

Bengkulumaupun

Badan

Litbang

Pertanian,

(introduksi maupun perbaikan paket teknologi) telah dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani 2-3 kali dari kondisi riil petani.Kegiatan ini melibatkan peternak secara intensif, penyuluh pertanian, peternakan, petugas inseminator, kepala poskeswan dan para kelompok tani baik yang berada didesa lokasi pelaksanaan gelar maupun yang berada didesa lainnya. Adapun tujuan dari pengkajian ini adalah untuk mengetahui manfaat pemberian pakan tambahan yang berupa limbah kulit kopi, dedak padi dan probiotik serta untuk mengetahui minat adposi petani terhadap pemberian pakan tambahan di Kabupaten Rejang Lebong.

165 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

METODOLOGI Data diambil dari hasil kegiatan gelar teknologi pemeliharaan sapi brahman cross yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 23 Mei 2011 di Desa Kayu Manis, Kecamatan Sindang Kelingi Kabupaten Rejang Lebong, tepat nya di Kelompok Tani “Maju Bersama” yang di ketuai oleh Bapak Asma’i.Adapun pakan tambahan yang diberikan berupa campuran 55 % dedak padi, 40% kulit kopi, 2% garam dapur, 1,5% gula merah, 1 % kapur pertanian dan 0,5% mineral premix. Jumlah pemberiannya disesuaikan dengan berat badan maximal yaitu rata- rata 2-3 kg /ekor/hari. Pemberian pakan selama 60 hari kepada 6 ekor sapi brahman cross yang telah ditimbang berat badannya terlebih dahulu. Setelah 60 hari, berat badan sapi ditimbang kembali. Data hasil timbangan berat badan dianalisa secara deskriptif. Minat adopsi petani diambil dari data hasil kuisioner yang diisi oleh petani saat pelaksanaan kegiatan gelar teknologi. Data ditabulasi dan kemudian dianaslisa secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Teknologi pemeliharaan ternak sapi brahman cross dengan memberikan pakan tambahan dari limbah kulit kopi dan dedak padi yang dilaksanakan di Desa Kayu Manis Kecamatan Sindang Kelingi Kabupaten Rejang Lebong mendapat perhatian yang cukup besar dari para petani/peternak, masyarakat Desa Kayu Manis dan sekitarnya serta petugas lapangan yang menangani bidang peternakan. Pembuatan pakan tambahan dari limbah dedak padi, dan kulit kopi ini belum pernah dilakukan sehingga dengan telah dilakukannya kegiatan gelar teknologi ini masyarakat sangat ingin mencoba dan mendapatkan manfaat dari pemberian pakan tambahan ini, terutama untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal terhadap kenaikan berat badan sapi perharinya. Dengan adanya pemberian pakan tambahan baik dari bahan limbah kopi yang selama ini hanya dibuang begitu saja tanpa dimanfaatkan, ternyata akan terlihat performance ternak sapi yang sangat 166 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

berbeda nyata, bila dibandingkan saat diberikan ransum rumput saja, terutama kebiasaan

petani

yang

hanya

memberikan

pakan

seadanya

tanpa

mempertimbangkan nilai kebutuhan nutrisi pakan pada ternak sapi. Rumput atau hijauan yang diberikanpun rumput biasa melainkan bukan rumput gajah (Protein tinggi).Dari semua jenis Hijauan rumput, yang tertinggi proteinnya adalah rumput gajah, sehingga sangat baik bila diberikan kepada ternak yang sedang produksi. Ternak Sapi yang digunakan yaitu 6 ekor ternak sapi brahman cross, yang ada dikelompok tani “ Maju Bersama“ yang diketuai oleh bapak Asma,i. Sebelum dilakukan pemberian pakan tambahan ditimbang berat badannya terlebih dahulu, dan setelah pemberian pakan selama 2 bulan ditimbang lagi berat badannya. Pembuatan pakan tambahan menggunakan alat pencampur mollen/mixer dengan kapasitas 100 kg, begitupun hijauan rumputnya meggunakan alat pencacah hijauan sederhana atau disebut copper. Bahan pakan yang akan digunakan diletakkan satu persatu sesuai dengan jumlah bahan pakannya, mulai dari yang terbanyak, yaitu dedak padi 55% , kulit kopi 40%, garam dapur 2%, gula aren 1,5%, kapur 1 %, mineral premix 0,5%. Dimasukkan ke dalam mollen sampai tercampur rata. Pemberiannya kepada ternak bisa diberikan langsung kepada ternak, dapat juga secara bertahap, sesuai dengan berat badan maximal 2-3 kg per ekor per hari. Untuk

mengetahui kandungan pakan tambahan yang dibuat, dilakukan

pengambilan sampel untuk dianalisa proximate di laboratorium BALITNAK Ciawi, Bogor. Hasil analisa kandungan dapat dilihat pada tebel dibawah ini: Tabel 1. Hasil analisa proximate pakan tambahan sapi. Jenis/Kode Contoh

Air

Protein

Lemak

Energi

SK

Abu

Ca

P

g/100 g

g/100 g

g/100 g

Kcal/kg

g/100 g

g/100 g

g/100 g

g/100 g

Dedak Padi Kulit Kopi A3 Ransum Dedak Padi

8.27 8.73 9.21 11.01 8.55

7.38 7.09 7.20 5.98 4.74

6.37 2.21 5.89 6.67 5.15

3871 3990 3669 3684 3769

19.35 29.36 21.92 23.64 29.40

12.98 6.91 14.42 15.67 17.82

0.14 0.40 0.73 0.70 0.11

0.75 0.08 0.53 0.47 0.36

Sumber : hasil Analisis laboratorium balai penelitian ternak, ciawi Bogor.

167 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Dari hasil penimbangan berat sapi sebelum dan sesudah diberikan pakan tambahan berupa kulit kopi, dedak padi dan probiotik, maka dapat kita lihat secara nyata peningkatan berat badan dari 6 ekor sapi yang dijadikan sampel selama 60 hari memakan pakan tambahan. Data petani menyebutkan bahwa biasanya peningkatan berat badan sapi mereka tak lebih dari 0,2 kg/hari dengan hanya memberikan pakan berupa hijauan rumput biasa. Dengan diberikannya pakan tambahan ini dapat dengan jelas kita lihat peningkatan berat badan sapi. Tabel 2. Berat badan sapi sebelum dan sesudah diberi pakan tambahan. No

Berat sebelum diberikan pakan tambahan ( Kg)

Berat sesudah diberikan pakan tambahan (Kg)

Total kenaikan berat (Kg)

Rata-rata kenaikan (kg/hari)

1.

301

350

49

0,82

2.

137

160

23

0,38

3.

207

258

51

0,85

4.

173

199

26

0,43

5.

159

175

16

0,27

6.

168

193

25

0,42

31,6

0,53

Rata-rata Sumber hasil pelaksanaan Gelar Teknologi sapi Brahman cross.

Dari data table di atas dapat dilihat bahwa, jika dikonversikan perhari maka peningkatan berat badan sapi tersebut rata- rata 0,53 kg/ekor/hari. Dengan demikian dapat dilihat secara nyata manfaat dari pemberian pakan tambahan tersebut. Selain mengetahui manfaat dari pemberian pakan tambahan menggunakan bahan pakan dari limbah padi dan kulit kopi, juga dianalisa minat adopsi petani terhadap teknologi pemberian pakan tambahan dengan membagikan kuisioner teknologi pemeliharaan ternak sapi brahman cross dan pada saat gelar berakhir respon tersebut sudah bisa terkumpul. Dari hasil kuisioner respon petani yang telah diambil , maka dapat kita lihat manfaat dari kegiatan gelar yang telah dilakukan memberi manfaat yang cukup besar dan menambah pengetahuan bagi para peternak sapi . Data kuisioner dari 25 orang peserta dapat dilihat pada table 2 di bawah ini. 168 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 3. Minat adopsi petani terhadap teknologi pemberian pakan tambahan Minat adopsi

Jumlah responden

Persentase (%)

Keterangan

Mau Kadang-kadang Tidak

24 1 0

96 4 0

Jumlah reseponden keseluruhan 25 orang

Hasil tabulasi jawaban dari kuisioner respon petani terhadap pelaksanaan gelar teknologi terhadap 25 orang sampel yang diambil menyatakan keinginan untuk menerapkan didalam pemeliharaan ternak sehari-hari 96%, 4% kadangkadang. Kemudahan dalam mencari bahan-bahan campuran pakan tambahan 80% responden menyatakan mudah didapat, 12 % menyatakan cukup mudah, dan 8 % menyatakan sulit didapat. Dari data tersebut, secara keselurahan pelaksanaan gelar teknologi pemeliharaan sapi brahman cross sangat bermanfaat dan sangat membantu para peternak dalam memelihara ternaknya. KESIMPULAN 1. Kenaikan berat badan sapi brahman cross cukup baik setelah diberi pakan tambahan dari limbah kopi dan dedak padi sebesar 0,53kg/ekor/ hari. 2. Peternak sangat berminat memberikan pakan tambahan untuk sapi mereka dengan 96% dari responden atau sebanyak 24 responden dari 25 responden. 4 % menyatakan akan kadang-kadang memberikan pakan tambahan dan tidak ada yang menyatakan tidak berminat memberikan pakan tambahan pada ternak sapinya (0%). DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1999. Panduan Umum Pelaksanaan Penelitian, Pengkajian danDiseminasi Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Badan Litbang, 2011. Pedoman Umum Perencanaan Penelitian dan Pengembangan

Pertanian, Permentan No:44/Permentan /OT.140/8/2011.

BBPPTP Bogor. 2009. Petunjuk Pelaksanaan pendampingan PencapaianSwasembada Daging sapi (PSDS). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian Bogor.

169 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Dinas Peternakan Propinsi Bengkulu. 2009. Laporan Tahunan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bengkulu.Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Bengkulu. Isbagio Paransih, 1998. Kebijaksanaan Komunikasi Penelitian Pertanian danPeranan AARDNET dalam Menopang Penelititan, Disampaikan pada Pengolahan TeknisJaringan Informasi Ciawi Bogor. Tjiptopranoto,P.2000. Strategi Diseminasi Teknologi dan Informasi Pertanian.Balai Pusat Pengembangan Pengkajian Teknologi Pertanian. Bogor.

170 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

PEMETAAN WILAYAH SAPI BERPOTENSI BERANAK KEMBAR DI BENGKULU Wahyuni Amelia Wulandari, Zul Efendi dan Ruswendi

ABSTRAK Salah satu teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan jumlah kelahiran anak sapi adalah melalui upaya pengembangan inovasi tenologi ternak sapi beranak kembar. Inovasi teknologi ini diharapkan akan dapat meningkatkan produktivitas dan pengembangan perbibitan ternak sapi. Pemetaan sapi kembar perlu dilakukan untuk mengetahui sentra sapi kembar di Bengkulu, karena dari kejadian sapi kembar diharapkan akan mendapatkan keturunan sapi kembar juga. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk memetakan wilayah sentra pengembangan ternak sapi yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai pusat perbibitan sapi beranak kembar di Provinsi Bengkulu. Pemetaan wilayah sapi beranak kembar di Bengkulu dilaksanakan pada 8 (delapan) kabupaten dan 1 (satu) kota yatu Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Kepahiang, Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Utara, Mukomuko dan Kota Bengkulu. Hal ini sesuai dengan peta administratif yang dibuat oleh Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) Propinsi Bengkulu. Khusus Kabupaten Bengkulu Tengah bergabung dengan Kabupaten induk sebelumnya yaitu Kabupaten Bengkulu Utara. Kejadian sapi beranak kembar di Bengkulu sudah pernah terjadi yaitu di Kabupaten Mukomuko 2 kali, Kabupaten Seluma 4 kali, Kabupaten Rejang Lebong 3 kali, Kota Bengkulu 1 kali dan Kabupaten Bengkulu Utara 5 kali. Wilayah sapi berpotensi beranak kembar di Bengkulu berada pada 3 Kecamatan dengan potensi pakan dan populasi ternak terbesar di tiap kabupaten. Kata kunci: sapi, anak kembar, peta

PENDAHULUAN Pemenuhan kecukupan protein hewani secara nasional masih jauh dari target yang telah ditetapkan Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi tahun 1998 sebesar 6 g/kapita/hari dan equivalent dengan konsumsi daging 10,3 kg/kapita/tahun, telur 6,5 kg/kapita/tahun, dan susu 7,2 kg/kapita/tahun. Sementara itu konsumsi protein di Provinsi Bengkulu pada tahun 2005 sebesar 3,16 g/kapita/hari, sedangkan tahun 2006 sebesar 3,36 g/kapita/hari, dan pada tahun 2007 dapat mencapai 3,68 g/kapita/hari (Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu, 2008). Permasalahan yang dihadapi dalam bidang peternakan di Indonesia umunya dan di Bengkulu khususnya antara lain adalah masih rendahnya produktivitas dan mutu genetik ternak. Keadaan ini terjadi karena sebagian besar peternakan di Indonesia masih merupakan peternakan konvensional, dimana mutu bibit, penggunaan teknologi, dan keterampilan peternak relatif masih rendah. Dengan rekayasa bioteknologi reproduksi, proses reproduksi dapat dimaksimalkan antara 171 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

lain dengan teknologi Inseminasi Buatan (IB), Transfer Embrio (TE), pembekuan embrio, dan manipulasi embrio. Salah satu teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan jumlah kelahiran anak sapi adalah melalui upaya pengembangan inovasi tenologi ternak sapi beranak kembar. Inovasi teknologi ini diharapkan akan dapat meningkatkan produktivitas dan pengembangan perbibitan ternak sapi. Kegiatan

penelitian

ini

bertujuan

untuk

memetakan

wilayah

sentra

pengembangan ternak sapi yang mempunyai potensi untuk dijadikan sebagai pusat perbibitan sapi beranak kembar di Provinsi Bengkulu. METODOLOGI Kegiatan penelitian ini dimulai pada bulan Mei 2009 sampai dengan bulan Desember 2009. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 wilayah kabupaten. Wilayah I yaitu Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara dan Mukomuko, wilayah II yaitu Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong, dan wilayah III yaitu

Kabupaten

Seluma,

Bengkulu

Selatan

dan

Kaur.

Pemilihan

lokasi

menggunakan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data-data primer mengenai populasi sapi, termasuk populasi jantan dan betina, data mengenai teknologi pemeliharaan sapi yang telah diadopsi menggunakan metode survey terhadap kartu penyebaran ternak sapi di setiap kecamatan. Validasi dilakukan dengan metode survey dan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Pembuatan peta wilayah ternak sapi yang berpotensi beranak kembar dilakukan berdasarkan hasil validasi di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Populasi Ternak dan Potensi Pakan serta Potensi Sapi Beranak Kembar

Wilayah I. Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara dan Mukomuko Populasi ternak sapi di Kabupaten Bengkulu Tengah pada tahun 2008 sebanyak 4.467 ekor (Laporan Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan 172 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kabupaten Bengkulu Tengah, 2008). Tiga kecamatan dengan populasi sapi terbanyak berturut-turut adalah di Kecamatan Pondok Kelapa sebanyak 1.520 ekor, Kecamatan Karang Tinggi sebanyak 1.007 ekor dan Kecamatan Talang Empat sebanyak 894 ekor. Jenis sapi yang dipelihara rata-rata sapi potong jenis sapi Bali. Kabupaten Bengkulu Tengah belum ditemui adanya sapi beranak kembar sampai dengan saat ini. Potensi pakan ternak diketiga kecamatan tersebut untuk pakan hijauan masih cukup banyak tersedia sehingga kabupaten ini cukup potensial untuk dilakukan pengembangan ternak sapi. Potensi terbesar sapi beranak kembar di Kabupaten ini berada di ketiga kecamatan tersebut diatas yaitu Kecamatan Pondok Kelapa, Karang Tinggi dan Talang Empat. Hal tersebut karena ketiga daerah ini mempunyai potensi pakan dan populasi ternak yang cukup besar di Kabupaten Bengkulu Tengah. Populasi ternak sapi di Kabupaten Bengkulu Utara pada tahun 2008 sebanyak 29.220 ekor (Laporan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Utara, 2008). Kabupaten Bengkulu Utara merupakan kabupaten dengan populasi ternak sapi terbesar di Propinsi Bengkulu. Tiga kecamatan dengan populasi sapi terbanyak berturut-turut adalah di Kecamatan Puteri Hijau sebanyak 8.556 ekor, Kecamatan Kerkap sebanyak 3.213 ekor dan Kecamatan Ketahun sebanyak 3.124 ekor. Kecamatan Puteri Hijau terdapat perusahaan pengolahan CPO yaitu PT. Agricinal yang memiliki sekitar 5.000 ekor ternak sapi sendiri. Jenis sapi yang dipelihara ratarata sapi potong jenis sapi Bali. Di Kabupaten Bengkulu Utara telah ditemui sapi beranak kembar yaitu di: 1. Desa Baturoto, Kecamatan Kerkap pada tahun 2006, pada induk sapi Bali perkawinan dengan IB sapi Bali dan Simental menghasilkan anak jantan Sapi Bali (hidup) dan anak betina sapi Simental (mati). 2. Desa Sumberejo, Kecamatan Kerkap pada tahun 2005, pada induk sapi Bali kawin secara alami menghasilkan anak betina semua. 3. Desa Kota Lekat, Kecamatan Kerkap pada tahun 2007, pada induk sapi Bali kawin secara alami menghasilkan anak betina semua. 4. Desa Banyumas, Kecamatan Kerkap pada tahun 2004 pada induk sapi sapi Bali kawin secara alami menghasilkan anak jantan semua. 173 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

5. Desa Sengkuang, Kecamatan Kerkap pada tahun 2003 pada induk sapi Bali kawin IB sapi Bali menghasilkan anak betina semua. Potensi terbesar sapi beranak kembar di Kabupaten ini berada di ketiga kecamatan tersebut diatas yaitu Kecamatan Puteri Hijau, Kerkap dan Ketahun. Hal ini karena ketiga daerah ini mempunyai potensi pakan dan populasi ternak yang cukup besar di Kabupaten Bengkulu Utara. Populasi ternak sapi di Kabupaten Mukomuko pada tahun 2008 sebanyak 9.352 ekor, data disajikan pada Tabel 7 (Laporan Dinas Peternakan Kabupaten Mukomuko, 2008). Tiga kecamatan dengan populasi sapi terbanyak berturut-turut adalah di Kecamatan Ipuh sebanyak 1.658 ekor, Kecamatan Kota Mukomuko sebanyak 1.594 ekor dan Kecamatan Teramang Jaya sebanyak 1.175 ekor. Jenis sapi yang dipelihara rata-rata sapi potong jenis sapi Bali. Kabupaten Mukomuko telah ditemui adanya sapi beranak kembar yaitu: 1. Desa Sumber Makmur Kecamatan XIV Koto pada tahun 2008, yaitu pada induk sapi PO dan pejantan sapi PO juga yang terjadi perkawinan secara alami. Anak yang dihasilkan semuanya jantan. 2. Desa Tirta Kencana Kecamatan Air Rami pada tahun 2009, yaitu pada induk sapi Bali dan pejantan sapi Bali yang terjadi perkawinan secara alami. Anak yang dihasilkan semuanya berjenis kelamin jantan. Potensi

pakan ternak diketiga kecamatan tersebut untuk pakan hijauan

masih cukup banyak tersedia sehingga kabupaten ini cukup potensial untuk dilakukan pengembangan ternak sapi. Potensi terbesar sapi beranak kembar di Kabupaten ini berada di ketiga kecamatan tersebut diatas yaitu Kecamatan Ipuh, Mukomuko dan Teramang Jaya. Hal tersebut karena ketiga daerah ini mempunyai potensi pakan dan populasi ternak yang cukup besar di Kabupaten Mukomuko. Sapi beranak kembar di kota Bengkulu terjadi 1 kali yaitu di Desa Bumiayu pada tahun 2007 pada induk sapi lokal dengan IB sapi Simental menghasilkan 1 jantan (hidup) dan 1 betina (mati).

174 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Wilayah II. Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong Populasi ternak sapi di Kabupaten Kepahiang pada tahun 2008 sebanyak 2.482 ekor (Laporan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kepahiang, 2008). Tiga kecamatan dengan populasi sapi terbanyak berturut-turut adalah di Kecamatan Kabawetan sebanyak 1.474 ekor, Kecamatan Bermani Ilir sebanyak 277 ekor dan Kecamatan Tebat Karai sebanyak 197 ekor. Jenis sapi yang dipelihara rata-rata sapi potong jenis sapi Bali. Pada Kabupaten Kepahiang belum ditemui adanya sapi beranak kembar sampai dengan saat ini. Potensi

pakan ternak

diketiga kecamatan tersebut untuk pakan hijauan masih cukup banyak tersedia sehingga kabupaten ini cukup potensial untuk dilakukan pengembangan ternak sapi. Potensi terbesar sapi beranak kembar di kabupaten ini berada di ketiga kecamatan tersebut diatas yaitu Kecamatan Kabawetan, Bermani Ilir dan Tebat Karai. Hal tersebut karena daerah ini mempunyai potensi pakan dan populasi ternak yang cukup besar di Kabupaten Kepahiang. Populasi ternak sapi di Kabupaten Lebong pada tahun 2008 sebanyak 494 ekor. Tiga kecamatan dengan populasi terbanyak yaitu Lebong Selatan sebanyak 252 ekor, Lebong Tengah sebanyak 59 ekor, Pinang Berlapis sebanyak 48 ekor. Kejadian sapi beranak kembar belum ditemui di Kabupaten Lebong.

Wilayah III. Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan dan Kaur Populasi ternak sapi di Kabupaten Seluma sebanyak 18.982 (Laporan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Seluma, 2008). Tiga kecamatan dengan populasi sapi terbanyak berturut-turut adalah di Kecamatan Air Periukan sebanyak 4.109 ekor, Kecamatan Sukaraja sebanyak 3.974 ekor dan Kecamatan Seluma Selatan sebanyak 2.271 ekor. Jenis sapi yang dipelihara rata-rata sapi potong jenis sapi Bali. Kejadian sapi beranak kembar di Kabupaten Seluma sudah ada 4 (empat) kali yaitu: 1. Desa Cahaya Negeri Kecamatan Sukaraja pada tahun 2004, menggunakan induk sapi Bali dengan pejantan sapi Simental dan sapi Peranakan Ongole (PO). Teknologi sapi beranak kembar menggunakan teknologi Embrio Transfer (ET) 175 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

yang dilakukan atas kerjasama Balai Inseminasi Buatan (BIB) Kandang Limun Bengkulu

dan

BIB

Cipelang

Bogor.

Untuk

perkawinan

kedua

adalah

menggunakan IB semen beku dengan pejantan sapi PO. Hasil keturunannya semuanya jantan. Saat ini sapinya sudah tidak ada karena telah dijual sebagai sapi potong. 2. Desa Penago I Kecamatan Ulu Talo pada tahun 2009, terjadi perkawinan alami antara induk sapi Bali dan pejantan sapi Bali juga. Anak yang dihasilkan berjenis kelamin betina semua. 3. Desa Masmambang Kecamatan Ulu Talo pada tahun 2009, terjadi perkawinan secara alami antara induk sapi Bali dan pejantan sapi Bali juga yang menghasilkan anak kembar. Anak yang dihasilkan berjenis kelamin betina semua. 4. Desa Padang Rambun Kecamatan Seluma Selatan pada tahun 2009,

terjadi

pada induk dan pejantan sapi Bali yang menghasilkan sapi anak berjenis kelamin jantan dan betina. Potensi pakan di Kabupaten Seluma masih banyak tersedia, baik pakan hijuan maupun limbah pertanian. Potensi sapi beranak kembar di Kabupaten Seluma berada di Kecamatan Sukaraja, Seluma Selatan, Ulu Talo dan Air Periukan. Di keempat kecamatan tersebut memungkinkan terjadi sapi beranak kembar karena lokasi dengan jumlah populasi sapi yang cukup banyak, potensi pakan yang masih cukup tersedia dan pernah terjadi kelahiran kembar di lokasi ini. Jumlah populasi ternak sapi di Kabupaten Bengkulu Selatan sebanyak 8.010 ekor (Laporan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bengkulu Selatan, 2008). Tiga kecamatan dengan populasi sapi terbanyak berturut-turut adalah di Kecamatan Pino Raya sebanyak 2.046 ekor, Kecamatan Manna sebanyak 1.344 ekor dan Kecamatan Bunga Mas sebanyak 1.153 ekor. Jenis sapi yang dipelihara rata-rata sapi potong jenis sapi Bali. Pada Kabupaten Bengkulu Selatan belum ditemui adanya sapi beranak kembar sampai dengan saat ini. Potensi pakan ternak diketiga kecamatan tersebut

176 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

untuk pakan hijauan masih cukup banyak tersedia sehingga kabupaten ini cukup baik untuk dilakukan pengembangan ternak sapi. Potensi sapi beranak kembar di Kabupaten ini berada di ketiga kecamatan tersebut diatas yaitu Kecamatan Pino Raya, Bunga Mas dan Manna. Hal ini karena daerah ini dengan potensi pakan ternak dan populasi ternak yang cukup besar di Kabupaten Bengkulu Selatan. Jumlah populasi ternak sapi di Kabupaten Kaur sebanyak 13.887 ekor (Laporan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kaur, 2008). Tiga kecamatan dengan populasi sapi terbanyak berturut-turut adalah di Kecamatan Kaur Selatan sebanyak 1.920 ekor, Kecamatan Kaur Utara sebanyak 1.754 ekor dan Kecamatan Semidang Gumai sebanyak 1.351 ekor. Jenis sapi yang dipelihara rata-rata sapi potong jenis sapi Bali. Pada Kabupaten Kaur belum ditemui adanya sapi beranak kembar sampai dengan saat ini. Potensi pakan ternak diketiga kecamatan tersebut untuk pakan hijauan masih cukup banyak tersedia sehingga kabupaten ini cukup baik untuk dilakukan pengembangan ternak sapi. Potensi sapi beranak kembar di Kabupaten ini berada di ketiga kecamatan tersebut diatas yaitu Kecamatan Kaur Selatan, Utara dan Semidang Gumai. Hal tersebut karena daerah ini mempunyai potensi pakan dan populasi ternak yang cukup besar di Kabupaten Kaur. Pemetaan Wilayah Sapi Berpotensi Beranak Kembar di Bengkulu Pemetaan wilayah sapi berpotensi beranak kembar di Bengkulu dilaksanakan pada 8 (delapan) kabupaten dan 1 (satu) kota yatu Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan, Kaur, Kepahiang, Rejang Lebong, Lebong, Bengkulu Utara, Mukomuko dan Kota Bengkulu. Hal ini sesuai dengan peta administratif yang dibuat oleh Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) Propinsi Bengkulu. Khusus untuk Kabupaten Bengkulu Tengah pemetaan wilayah sapi berpotensi beranak kembar dilakukan bergabung dengan kabupaten sebelumnya yaitu Kabupaten Bengkulu Utara. Kabupaten Bengkulu Tengah merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara yang dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 24 Tahun 2008 177 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

tentang Pembentukkan Kabupaten Bengkulu Tengah yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Propinsi Bengkulu. Pemetaan wilayah sapi berpotensi beranak kembar dan kejadian sapi kembar ke 8 kabupaten dan 1 kota disajikan pada Lampiran 1 – 3. KESIMPULAN Kejadian sapi beranak kembar di Bengkulu terjadi di Kabupaten Mukomuko sebanyak 2 kali, Kabupaten Seluma sebanyak 4 kali, Kabupaten Rejang Lebong sebanyak 3 kali, Kota Bengkulu sebanyak 1 kali dan Kabupaten Bengkulu Utara sebanyak 5 kali. Wilayah sapi berpotensi beranak kembar di Bengkulu berada pada 3 Kecamatan dengan potensi pakan dan populasi ternak terbesar di tiap kabupaten. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2007. Bengkulu Dalam Angka Tahun 2007. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Bengkulu dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu. Bengkulu. Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu, 2008. Laporan Tahunan. Dinas Peternakan Provinsi Bengkulu. Bengkulu.

178 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Lampiran 1. Pemetaan wilayah sapi berpotensi beranak kembar dan kejadian sapi kembar di Wilayah I. Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko.

179 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

180 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Lampiran 2. Pemetaan wilayah sapi berpotensi beranak kembar dan kejadian sapi kembar di Wilayah II. Kabupaten Kepahiang, Rejang Lebong dan Lebong.

181 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

182 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Lampiran 3. Pemetaan wilayah sapi berpotensi beranak kembar dan kejadian sapi kembar di Wilayah III. Kabupaten Seluma, Bengkulu Selatan dan Kaur.

183 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

184 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

SISTEM INTEGRASI KELAPA SAWIT DAN SAPI BALI RAKYAT DI PROVINSI BENGKULU Dedi Sugandi dan Harwi Kusnadi

ABSTRAK Sistem integrasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah karena ada timbal balik yang saling menguntungkan. Salah satu yang telah dilaksanakan di Provinsi Bengkulu adalah Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA). Perkebunan kelapa sawit dapat mendukung peternakan rakyat, yaitu sebagai penyedia pakan yang berasal dari limbah tanaman sawit yaitu pelepah daun. Limbah dari industri pengolahan kelapa sawit berupa solid dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak sapi. Kotoran sapi cukup potensial digunakan untuk pemupukan tanaman sawit. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai sumber pupuk organik sangat mendukung usaha perkebunan kelapa sawit. Komposisi pakan pada pengkajian pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak sapi Bali yaitu rumput 100%, rumput 100% + solid 2,5% bobot badan, rumput 50% + pelepah sawit 50%, rumput 50% + pelepah sawit 50% + solid 2,5% bobot badan. Komposisi pupuk pada pengkajian pemanfaatan kotoran sapi untuk pemupukan tanaman kelapa sawit yaitu: pupuk NPK 75%+kompos 25% dan NPK 50%+Kompos 50%, sedangkan kontrol dengan aplikasi pemupukan NPK 100% dengan 5 kali ulangan. Integrasi tanaman kelapa sawit dengan sapi Bali dapat dilakukan oleh petani yang memiliki tanaman kelapa sawit yang sudah berproduksi dan memiliki ternak sapi Bali. Pelepah sawit dapat menggantikan rumput lapangan sampai 50% untuk pakan ternak sapi Bali tanpa berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemberian pakan solid juga tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemanfaatan kotoran ternak dapat meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sampai 50% tanpa mengurangi produksi TBS. Kata kunci: integrasi, sapi Bali, kelapa sawit, limbah sawit, kotoran sapi

PENDAHULUAN Data tahun 2010 Provinsi Bengkulu mempunyai luas perkebunan rakyat untuk tanaman kelapa sawit mencapai 205.324 ha dengan produksi 424.617,01 ton (BPS, 2011). Sedangkan Kabupaten Seluma mempunyai luas tanaman kelapa sawit rakyat telah mencapai 31.174 ha dengan produksi 67.097,79 ton tandan buah segar (TBS) (BPS, 2011). Data tahun 2010 jumlah ternak sapi di Provinsi Bengkulu sebanyak 103.262 ekor. Populasi sapi di Kabupaten Seluma tahun 2010 mencapai 16.744 ekor. Sapi potong merupakan salah satu komoditas unggulan yang dapat memenuhi kebutuhan protein hewani dan telah berkembang dengan baik di Kabupaten Seluma. Sapi Bali banyak dipelihara oleh peternak di wilayah Provinsi Bengkulu terutama di wilayah perkebunan kelapa sawit. Sapi Bali menjadi pilihan peternak karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan bangsa sapi yang lain. 185 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Sapi Bali mempunyai daya adaptasi baik terhadap berbagai kondisi lingkungan baik kering maupun hujan. Bisa hidup liar dengan mencari makanan sendiri, di areal pembuangan sampah sekalipun. Sapi Bali dikenal sangat responsif terhadap perlakuan serta memiliki tingkat kesuburan reproduksi tinggi yaitu antara 80-82 persen. Sapi induk (betina) mampu melahirkan setahun sekali. Selain itu, kualitas dagingnya sangat baik dengan persentase karkas (daging dan tulang dalam, tanpa kepala, kaki dan jeroan) mencapai 60 persen (Suryana, 2007). Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa sapi Bali cukup responsif dalam upaya perbaikan pakan. Pemberian hasil samping kelapa sawit pada sapi di peternakan rakyat pada umumnya masih dalam kondisi segar, belum banyak upaya sentuhan teknologi. Ketersediaan pakan untuk kecukupan konsumsi selama terjadinya proses perkembangan dan penggemukan ternak sapi juga harus terpenuhi dan belum berbasiskan sumberdaya lokal, begitu juga dengan penggalian sumber pakan lokal terutama untuk sapi potong belum dilakukan secara maksimal. Sehingga penyediaan hijauan untuk kebutuhan ternak sapi semakin terbatas dan perlu didukung dengan pemberian pakan melalui pengoptimalan pemanfaatan limbah tanaman sebagai salah satu bahan penyusun pakan yang dapat meningkatkan produktivitas ternak selain pemberian hijauan. Selama ini petani mengandalkan rumput alam yang terdapat di sekitar desa dengan disabitkan. Pemanfaatan limbah industri sawit berupa solid sebagai pakan ternak sapi memberikan hasil positif dan memberikan peluang kepada masyarakat yang memelihara ternak sapi untuk memanfaatkan solid bagi kecukupan dan kebutuhan pakan ternak sapinya. Akan tetapi solid masih belum banyak dimanfaatkan untuk pakan sapi, terbukti masih banyaknya solid yang dibuang oleh pabrik pengolahan kelapa sawit. Sistem integrasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai tambah karena ada timbal balik yang saling menguntunkan. Salah satu

yang telah

dilaksanakan di Provinsi Bengkulu adalah Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) yang diprakarsai oleh PT.Agricinal, yang secara nyata telah memberi manfaat terhadap peningkatan pendapatan petani. Pola ini terus dikembangkan di Provinsi

Bengkulu.

Hasil

studi

Gunawan

et

al

(2004a)

tentang

model 186

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pengembangan sistem integrasi sapi kelapa sawit menyatakan bahwa, program SISKA dapat dikembangkan tidak hanya di perusahaan besar, tetapi juga di perkebunan kelapa sawit rakyat. Dengan adanya SISKA, maka peternak mempunyai sumber pakan yang potensial untuk ternak sapi dan tanaman sawit mendapatkan pupuk untuk meningkatkan hasil sawit. Sistem ini sederhana sehingga dapat dikembangkan di perkebunan kelapa sawit rakyat. METODOLOGI Kegiatan pengkajian integrasi kelapa sawit rakyat dan sapi Bali dilaksanakan di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Waktu pelaksanaan pengkajian dimulai Bulan September 2011 sampai Desember 2011. Kegiatan yang pertama yaitu pengkajian pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak sapi Bali dengan komposisi pakan perlakuan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Komposisi pakan perlakuan pada pengkajian pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak ternak sapi Bali. No

Perlakuan Pakan

Rumput Lapangan (%)

Pelepah Sawit (%)

(% Berat Badan)

1.

A (Kontrol)

100

-

-

2.

B

100

-

2,5

3.

C

50

50

-

4.

D

50

50

2,5

Solid

Data yang diambil yaitu pertambahan bobot badan setiap 2 minggu sekali.

Kegiatan kedua yaitu potensi kotoran sapi dan pemanfaatannya untuk pemupukan tanaman kelapa sawit dengan perlakuan pupuk kompos kotoran sapi dan pupuk NPK yang disajikan pada Tabel 2.

187 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 2. Komposisi pupuk pada pengkajian tanaman kelapa sawit. No

Perlakuan Pupuk

Pupuk NPK (%)

Kompos Kotoran Sapi (%)

1.

A (Kontrol)

100

0

2.

B

75

25

3.

C

50

50

Pengamatan tanaman sawit dilakukan pada produksi kelapa sawit. Data yang diambil merupakan hasil penimbangan panen sawit yang dilakukan setiap 20 hari sekali, kemudian dibandingkan pada masing-masing perlakuan. Pengamatan dirancang selama 4 bulan. Analisis data untuk perlakuan dilakukan dengan uji statistik beda nyata, dilanjutkan dengan DMRT. HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi limbah kelapa sawit dan pemanfaatannya untuk pakan ternak sapi Bali Pakan adalah semua bahan yang bisa diberikan dan bermanfaat bagi ternak serta tidak menimbulkan pengaruh negatif terhadap tubuh ternak. Pakan yang diberikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh ternak dalam hidupnya seperti air, karbohidrat, lemak, protein, mineral, dan air (Parakkasi, 1995). Dalam ilmu pakan ternak, faktor keseimbangan yang dimaksud adalah kesesuaian antara kuantitas maupun kualitas zat gizi pakan dan kebutuhan ternak. Prinsipnya faktor yang menjadi pedoman pakan ruminansia adalah kandungan protein, energi, karbohidrat, dan bahan kering pakan, serta ketepatan proporsi masing-masing sehingga sesuai dengan kebutuhan ternak sapi (McDonald dkk., 1992). Dalam hal ini para petani kebanyakan tidak memperhitungkan secara lengkap karena tidak paham tentang ilmu pakan ternak sapi. Limbah dari perkebunan kelapa sawit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak antara lain pelepah daun sawit. Hasil pengamatan pada PT. Agrisinal menunjukkan bahwa setiap pohon kelapa sawit TM dapat menghasilkan 22 pelepah 188 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

per tahun (Diwyanto et al., 2004) dengan rataan berat pelepah per buah mencapai 7 kg. Jumlah ini setara dengan 20 ribu kg (22 x 130 pohon x 7 kg) pelepah segar yang dihasilkan dalam satu tahun untuk setiap satu hektar kebun kelapa sawit. Jumlah ini diperoleh dengan asumsi bahwa semua bagian pelepah dapat dimanfaatkan dan total bahan kering yang dihasilkan dalam setahun 5.214 kg. Dengan asumsi bahwa luas perkebunan kelapa sawit yang telah berproduksi 5 juta ha (Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008), maka jumlah bahan kering pelepah yang tersedia untuk dimanfaatkan sebagai sumber pakan serat/hijauan adalah sejumlah 26,4 juta ton. Komposisi nutrisi pelepah daun sawit sebagai berilkut: PK 6,5%, TDN 56%, Serat Kasar 32,55%, Lemak Kasar 4,47%, Bahan Kering 93,4% (Lab. Ilmu Makanan Ternak, Departemen Peternakan FP USU (2005). Limbah dari industri pengolahan kelapa sawit antara lain solid. Solid dalam bahasa jawa disebut ” blondho sawit ” adalah limbah padat hasil samping prosesing pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Bentuk dan konsistensinya seperti ampas tahu namun berwarna coklat gelap, berbau asam-asam manis, masih mengandung minyak CPO sekitar 1,5%. Kandungan nutrisi Solid ini berdasarkan hasil analisis proksimat laboratorium nutrisi ternak Fakultas Peternakan Universitas Bengkulu, adalah berupa; Bahan kering (BK) 49,57%., Protein kasar (PK) 10,16%., Lemak kasar (LK) 12,90%., Serat kasar (SK) dan Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sebesar 23,17%. Pemanfaatan solid untuk pakan sapi oleh peternak di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu dengan cara diberikan ternak sebelum pemberian hijauan. Dengan penyimpanan yang baik solid tetap dalam kondisi baik untuk diberikan sapi sampai 5 hari. Setelah 5 hari solid akan berbau tajam dan mulai tumbuh jamur sehingga sapi juga tidak mau memakannya. Hasil pengkajian pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak sapi Bali di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu disajikan pada Tabel 3.

189 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Tabel 3. Rata-rata pertambahan bobot badan pada pengkajian ternak sapi Bali. No

Perlakuan Pakan

Rata-rata pertambahan bobot badan/hari (kg)

1.

A (Kontrol)

0,667

2.

B

0,584

3.

C

0,411

4.

D

0,425

Rata-rata pertambahan bobot hidup sapi perlakuan A 0,667 kg/ekor/hari, sedangkan yang terendah pada perlakuan C (0,411 kg/hari). Namun dari hasil uji varian (uji F) menunjukan tidak berbeda nyata antar perlakuan pada taraf 5% pada peubah penambahan bobot badan sapi. Hasil ini menunjukkan bahwa pelepah sawit dapat menggantikan rumput lapangan sampai 50% untuk pakan ternak sapi Bali tanpa berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemberian pakan solid juga tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Potensi kotoran sapi dan pemanfaatannya untuk pemupukan tanaman kelapa sawit Pemanfaatan

kotoran

ternak

sebagai

sumber

pupuk

organik

sangat

mendukung usaha perkebunan kelapa sawit. Dari sekian banyak kotoran ternak yang terdapat di daerah sentra produksi ternak banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal, sebagian di antaranya terbuang begitu saja, sehingga sering merusak lingkungan yang akibatnya akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Tabel 4. Kandungan unsur hara pada pupuk dari kotoran sapi. Kotoran sapi

1. padat 2. cair

Kadar Hara (%) Nitrogen

Phospor

Kalium

air

0.40 1.00

0.20 0.50

0.10 1.50

85 92

Sumber Yusuf (2009).

Satu ekor sapi dewasa dapat menghasilkan 23,59 kg kotoran tiap harinya. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak dapat menghasilkan beberapa 190 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman, seperti terlihat pada Tabel 1. Disamping menghasilkan unsur hara makro, pupuk kandang juga menghasilkan sejumlah unsur hara mikro, seperti Fe, Zn, Bo, Mn, Cu, dan Mo. Jadi dapat dikatakan bahwa, pupuk kandang ini dapat dianggap sebagai pupuk alternative untuk mempertahankan produksi tanaman. Hasil pengkajian pemanfaatan kotoran sapi untuk pemupukan tanaman kelapa sawit di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Rata-rata panen kelapa sawit. No

Perlakuan Pupuk

Panen kelapa sawit/perlakuan (kg)

Panen kelapa sawit /ha (kg)

1.

A (Kontrol)

290.0

1.667,4

2.

B

317.6

1.828,5

3.

C

290.1

1.667,5

Rata-rata hasil penimbangan tandan buah sawit perlakuan A, B, dan C masing-masing 290.0 kg, 317.6 kg, dan 290.1 kg. Dari hasil penimbangan, produksi TBS kelapa sawit tertinggi pada perlakuan B (1.828,5 kg/ha/panen) dan terendah pada perlakuan A (1.667,4 kg/ha/panen). Dari hasil uji varian (uji F) menunjukan tidak ada perbedaan yang nyata antar perlakuan pada taraf 5% pada peubah produksi TBS kelapa sawit. Integrasi tanaman kelapa sawit dengan sapi Bali di perkebunana rakyat Integrasi tanaman kelapa sawit dengan sapi Bali dapat dilakukan oleh petani yang memiliki tanaman kelapa sawit yang sudah berproduksi dan memiliki ternak sapi Bali. Petani memanfaatkan pelepah kelapa sawit hasil ikutan dari pemanenan kelapa sawit untuk pakan sapi Bali. Pemanfaatan pelepah sawit untuk pakan sapi telah lama dilaksanakan oleh peternak di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Pelepah sawit hasil ikutan pada saat pemanenan kelapa sawit dikupas kulitnya

dan dipotong kecil-kecil dengan

mesin pencacah rumput sehingga memudahkan pada saat dimakan sapi. Pelepah sawit diberikan sapi sebelum pemberian hijauan lain. 191 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kotoran sapi dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman kelapa sawit. Petani di Desa Lokasi Baru telah banyak yang mengkomposkan kotoran sapi terlebih dahulu selama 21 dengan aktifator sebelum digunakan untuk pemupukan tanaman sawit. Pemberian pupuk kompos dilakukan setiap 3 - 4 bulan sekali sehingga dalam setahun dilakukan pemupukan 3 – 4 kali dengan rata-rata setiap pemberian 40 – 50 kg per tanaman. Pemanfaatan kotoran ternak dapat meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sampai 50% tanpa mengurangi produksi TBS. KESIMPULAN Integrasi tanaman kelapa sawit dengan sapi Bali dapat dilakukan oleh petani yang memiliki tanaman kelapa sawit yang sudah berproduksi dan memiliki ternak sapi Bali. Perkebunan kelapa sawit dapat mendukung peternakan rakyat, yaitu sebagai penyedia pakan yang berasal dari limbah tanaman sawit yaitu pelepah daun. Pelepah sawit dapat menggantikan rumput lapangan sampai 50% untuk pakan ternak sapi Bali tanpa berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemberian pakan solid juga tidak berpengaruh terhadap pertambahan bobot badan. Pemanfaatan kotoran ternak dapat meningkatkan penggunaan pupuk organik dan mengurangi penggunaan pupuk anorganik sampai 50% tanpa mengurangi produksi TBS. DAFTAR PUSTAKA BPS. 2011. Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2011. Diwyanto, K., D. Sitompul, I. Manti, I-W Mathius dan Soentoro. 2004. Pengkajian Pengembangan Usaha Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Prosiding Lokakarya Nasional Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi. Departemen Pertanian bekerjasama dengan PemProp. Bengkulu dan PT. Agricinal. Gunawan, B. Hermawan, Sumardi dan E.P. Praptanti. 2004a. Keragaan Model Pengembangan Integrasi Sapi–Sawit pada Perkebunan Rakyat di Propinsi Bengkulu. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Sistem Integrasi Tanaman–Ternak di Denpasar, Bali pada Tanggal 20–22 Juli 2004. Laboratorium Ilmu Makanan Ternak. 2005. Departemen Peternakan, FP USU, Medan. Laboratorium Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu.

192 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

McDonald, P, Edwards, R.A., and Greenhalgh., J.F.D. 1992. Animal nutritiuon (4th Ed.). Longman Scientific & Technical. John Wiley & Sons, Inc. Nerw York. Parakkasi, A. 1995. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Suryana. 2007 . Pengembangan integrasi temak ruminasia pada perkebunan kelapa sawit. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 26 (l) :35-40. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Sekretariat Direktorat Jenderal Perkebunan, 2008. Yusuf. T. 2009. Kandungan Hara Pupuk Kandang. http://tohariyusuf.wordpress .com diakses 14 juni 2012 jam 9.15.

193 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

OPTIMASI PEMANFAATAN LIMBAH TANAMAN SAWIT UNTUK PAKAN DI PROVINSI BENGKULU Dedi Sugandi, Harwi Kusnadi dan Yahumri

ABSTRAK Perkembangan populasi ternak ruminansia di Indonesia menunjukkan hal yang kurang menggembirakan, sehingga produksi daging dan susu nasional saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu faktor yang mempengaruhi terkendalanya pengembangan populasi ternak ruminansia di Indonesia adalah semakin terbatasnya lahan pertanian, baik sebagai basis pengembangan ternak maupun sebagai sumber pakan hijauan, sehingga jumlah dan nilai gizi pakan yang diberikan peternak belum mencukupi kebutuhan gizi, sehingga penampilan sapi belum sesuai dengan potensi genetiknya. Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang perkembangannya cukup pesat terutama di Sumatera dan Kalimantan. Kelapa sawit menghasilkan limbah berupa pelepah sawit dan solid yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk pakan ternak. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui optimasi pemanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak sapi. Pengkajian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 (tiga perlakuan) yaitu: (B) pakan rumput + solid 2,5% bobot badan, (C) pakan rumput 50% + pelepah sawit 50%, dan (D) pakan rumput 50% + pelepah sawit 50% + solid 2,5% bobot badan dengan 4 (empat) ulangan. Sebagai kontrol (A) pakan rumput. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pertambahan bobot badan sapi perlakuan A, B, C, dan D masingmasing 0,667 kg/hari, 0,584 kg/hari, 0,411 kg/hari, dan 0,425 kg/hari. Pertambahan bobot tertinggi terdapat pada perlakuan A (0,667 kg/hari), sedangkan yang terendah pada perlakuan C (0,411 kg/hari). Kata kunci: sapi, rumput, pelepah sawit, solid, pertambahan bobot badan

PENDAHULUAN Laju pertumbuhan penduduk Indonesia selama periode 2000 – 2008 mencapai rataan 1,36% per tahun, populasi Indonesia mencapai lebih dari 228 juta jiwa dengan rataan kepadatan mencapai 123 jiwa per km2 (BPS, 2008). Pertambahan populasi menuntut ketersediaan pangan yang memadai, termasuk produk peternakan (daging dan susu). Disisi lain pertumbuhan ternak ruminansia cenderung melambat (6-8%) per tahun. Sumbangan peternakan terhadap pengadaan daging nasional pada tahun 2002 adalah 1,9 juta ton, sementara kebutuhan pada tahun yang sama 1,95 juta ton (Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2003). Dari angka tersebut terlihat ada kekurangan daging yang perlu diimpor. Kondisi tersebut tidak dapat dipertahankan dan perlu diambil langkahlangkah untuk mengatasinya.

194 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Data tahun 2010 Provinsi Bengkulu mempunyai luas perkebunan rakyat untuk tanaman kelapa sawit mencapai 205.324 ha dengan produksi 424.617,01 ton (BPS, 2011). Sedangkan Kabupaten Seluma mempunyai luas tanaman kelapa sawit rakyat telah mencapai 31.174 ha dengan produksi 67.097,79 ton tandan buah segar (TBS) (BPS, 2011). Data tahun 2010 jumlah ternak sapi di Provinsi Bengkulu sebanyak 103.262 ekor. Populasi sapi di Kabupaten Seluma tahun 2010 mencapai 16.744 ekor. Ketersediaan pakan untuk kecukupan konsumsi selama terjadinya proses perkembangan dan penggemukan ternak sapi juga harus terpenuhi dan belum berbasiskan sumberdaya lokal, begitu juga dengan penggalian sumber pakan lokal terutama untuk sapi potong belum dilakukan secara maksimal. Sehingga penyediaan hijauan untuk kebutuhan ternak sapi semakin terbatas dan perlu didukung dengan pemberian pakan melalui pengoptimalan pemanfaatan limbah tanaman sebagai salah satu bahan penyusun pakan yang dapat meningkatkan produktivitas ternak selain pemberian hijauan. Selama ini petani mengandalkan rumput alam yang terdapat disekitar desa dengan disabitkan. Pelepah sawit merupakan sumber pakan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Komposisi nutrisi pelepah daun sawit sebagai berilkut: PK 6,5%, TDN 56%, Serat Kasar 32,55%, Lemak Kasar 4,47%, Bahan Kering 93,4% (Lab. Ilmu Makanan Ternak, Departemen Peternakan FP USU, 2005). Solid dalam bahasa jawa disebut ” blondho sawit ” adalah limbah padat hasil samping prosesing pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit menjadi minyak mentah kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Bentuk dan konsistensinya seperti ampas tahu namun berwarna coklat gelap, berbau asam-asam manis, masih mengandung minyak CPO sekitar 1,5%. Kandungan nutrisi Solid ini berdasarkan hasil analisis proksimat laboratorium nutrisi ternak Fakultas Peternakan Universitas Bengkulu, adalah berupa; Bahan kering (BK) 49,57%, Protein kasar (PK) 10,16%, Lemak kasar (LK) 12,90%, Serat kasar (SK) dan Bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sebesar 23,17%. Pemanfaatan limbah industri sawit berupa solid sebagai pakan ternak sapi memberikan hasil positif dan memberikan peluang kepada masyarakat yang memelihara ternak sapi untuk memanfaatkan solid bagi kecukupan dan kebutuhan pakan ternak sapinya.

195 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Akan tetapi solid masih belum banyak dimanfaatkan untuk pakan sapi, terbukti masih banyaknya solid yang dibuang oleh pabrik pengolahan kelapa sawit. METODOLOGI Kegiatan pengkajian optimasi pemanfaatan limbah tanaman sawit untuk pakan dilaksanakan di Desa Lokasi Baru, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma,

Provinsi

Bengkulu.

Waktu

pelaksanaan

pengkajian

dimulai

Bulan

September 2011 sampai Desember 2011. Pengkajian optimasi pemanfaatan limbah tanaman sawit untuk pakan menggunakan ternak sapi Bali jantan. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya dimana sapi tersebut telah lama beradaptasi dengan lingkungan setempat dan digunakan untuk berbagai program pengembangan ternak sapi di Provinsi

Bengkulu.

Pengkajian

ini

bertujuan

untuk

mengetahui

optimasi

pemanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai pakan ternak sapi. Pengkajian optimasi pemanfaatan

limbah tanaman sawit untuk pakan

dirancang melalui pendekatan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga jenis perlakuan dan diulang sebanyak 4 ulangan. Komposisi pakan perlakuan pada pengkajian tersebut disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Komposisi pakan perlakuan pada pengkajian ternak sapi. Solid

No

Perlakuan Pakan

Rumput Lapangan (%)

Pelepah Sawit (%)

(% Bobot Badan)

1.

A (Kontrol)

100

-

-

2.

B

100

-

2,5

3.

C

50

50

-

4.

D

50

50

2,5

Jumlah pakan yang diberikan setiap hari sebanyak 10% dari bobot badan sapi. Sedangkan pakan tambahan diberikan dalam bentuk solid. Masing-masing perlakuan dilaksanakan oleh 4 petani kooperator. Jadi, jumlah petani kooperator sebanyak 16 orang.

196 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Pengamatan ternak sapi Bali dilakukan terhadap data pertambahan bobot badan harian (PBBH) ternak setiap 15 hari. Pengamatan dilaksanakan selama 2,5 bulan. Analisis data untuk perlakuan dilakukan dengan uji statistik beda nyata, menggunakan analisis uji lanjut DMRT dan juga ditampilkan analisis secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Lokasi Pengkajian Desa Lokasi Baru merupakan desa baru hasil pemekaran dari Desa Talang Benuang di Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma. Luas wilayah Desa Lokasi Baru mencapai 503 ha dengan topografi dataran. Perbatasan desa di sebelah utara dengan Desa Talang Benuang, sebelah timur dengan Desa Suka Maju, sebelah selatan dengan Desa Dermayu dan sebelah barat dengan Desa Suka Sari. Jumlah penduduk Desa Lokasi Baru 2010 mencapai 1.453 jiwa dengan 713 KK. Dari 503 ha seluas 232 ha dimanfaatkan sebagai lahan pertanian persawahan, perkebunan karet dan sawit serta lahan tidur, 155 ha digunakan sebagai pemukiman dan 166 ha lain-lain. Iklim dalam setahun ada 2 macam yaitu kemarau dan hujan. Wilayah Desa Lokasi Baru terdiri dari 2 dusun yaitu Dusun Sumber Rukun dan Dusun Sumber Rejo. Mata pencaharian penduduk desa antara lain petani, pedagang, buruh tani, PNS, honorer, guru, dan tenaga medis. Desa Lokasi Baru juga dikenal dengan ternaknya antara lain ayam/itik dengan jumlah 890/150 ekor, kambing 140 ekor, sapi PO 105 ekor dan sapi Bali 175 ekor. Ternak sapi menjadi andalan bagi masyarakat Desa Lokasi Baru untuk meningkatkan kesejahteraan. Hal ini ditunjukkan dengan seringnya sapi keluar masuk desa baik bangsa sapi PO maupun Bali. Pemeliharaan sapi ditujukan untuk pengembangan dan penggemukan. Kandang dibuat terpisah dengan rumah penduduk. Sapi dikeluarkan dari kandang pada siang hari dan masuk kandang lagi pada malam hari. Pakan yang diberikan berupa rumput lapang. Sedangkan pakan tambahan yang diberikan berupa dedak padi dan solid. Akan tetapi intensitas

197 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

pemberiannya tidak secara rutin. Pelepah sawit dimanfaatkan untuk pakan sapi pada saat panen dan pada saat tidak sempat mencari rumput. Optimasi Pemanfaatan Limbah Tanaman Sawit Untuk Pakan Dari pengkajian optimasi pemanfaatan limbah tanaman sawit untuk pakan diperoleh data rata-rata pertambahan bobot badan harian (PBBH) sapi Bali yang disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rata-rata pertambahan bobot badan harian sapi bali per perlakuan. No

Perlakuan

Rata-rata (kg)

Rata-rata/hari (kg)

1.

A

46,68

0,667

2.

B

40,87

0,584

3.

C

28,80

0,411

4.

D

29,76

0,425

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa pertambahan bobot badan sapi perlakuan A, B, C, dan D masing-masing 0,667 kg/hari, 0,584 kg/hari, 0,411 kg/hari, dan 0,425 kg/hari. Pertambahan bobot badan tertinggi terdapat pada perlakuan A (0,667 kg/hari), sedangkan yang terendah pada perlakuan C (0,411 kg/hari). Namun dari hasil uji varian (uji F) menunjukan tidak berbeda nyata antar perlakuan pada taraf 5% pada peubah penambahan bobot badan sapi. Hasil pengkajian ini menunjukkan bahwa pemberian pelepah sawit dan solid tidak mempengaruhi pertambahan bobot badan. Pelepah sawit pada dasarnya dapat menggantikan rumput. Menurut Suryani (2011) bahwa pelepah daun sawit dapat

menggantikan

rumput

sampai

80

persen

tanpa

mengurangi

laju

pertumbuhan bobot badan sapi yang sedang tumbuh. Sapi yang diberi pakan rumput 100% pada perlakuan A dan B hasil pertambahan bobot badan lebih tinggi dibandingkan dengan sapi yang diberi pakan rumput 50% dan pelepah sawit 50% pada perlakuan C dan D. Hal ini diduga kandungan serat kasar yang tinggi pada pelepah daun sawit mempengaruhi pertambahan bobot badan. Menurut Sutardi (1980) kandungan serat kasar yang tinggi mempengaruhi kecernaan bahan pakan.

198 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Jumlah pemberian pelepah sawit pada sapi perlu dibatasi pada tingkat yang efisien sehingga tidak menurunkan pertambahan bobot badan. Pada pengkajian ini solid sebagai pakan tambahan tidak berpengaruh secara nyata terhadap pertambahan bobot badan sapi. Hal ini diduga karena kandungan nutrisi solid yang tidak terlalu tinggi sehingga perlu diolah terlebih dahulu. Menurut Ilham (2009) bahwa kandungan nutrisi lumpur sawit (solid) tidak terlalu tinggi dan kaya kadar serat, sehingga diperlukan teknologi pengolahan lumpur sawit, diantaranya melalui pembuatan pakan blok, ammoniasi dan fermentasi. Proses fermentasi meningkatkan nilai gizi lumpur sawit antara lain: protein kasar dari 11,9% menjadi 22,7%, protein sejati dari 10,4% menjadi 17,1%, energi metabolis (TME) dari 1593 Kkal menjadi 1717 Kkal/ kg, asam amino metionin dari 0,14% menjadi 0,16%, lisin dari 0,31 % menjadi 0,36% serta menurunkan serat kasar dari 29,8% menjadi 18,6%, ADF dari 44,3% menjadi 33,9% dan NDF dari 62,8% menjadi 54 % (Sinurat,2007). KESIMPULAN 1. Hasil pengamatan pertambahan bobot badan sapi tertinggi terdapat pada perlakuan A (0,667 kg/hari), sedangkan yang terendah pada perlakuan C (0,411 kg/hari). 2. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata perlakuan pakan terhadap pertambahan bobot badan. DAFTAR PUSTAKA BPS. 2011. Provinsi Bengkulu Dalam Angka 2011. Direktoral Jenderal Bina Produksi Peternakan. 2003. Integrasi Ternak dengan Perkebunan Kelapa Sawit. Departemen Pertanian. Laboratorium Ilmu Makanan Ternak. 2005. Departemen Peternakan, FP USU, Medan. Laboratorium Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Pertanian UNIB, Bengkulu. Sinurat. A.P., 2007. http: //www.sinartani.com/index.php?option= com_ content &view =article&id=2712&catid= 315:kebun&Itemid =573 diakses pada tanggal 30 Juni 2011. Suryani, S. 2011. Uji Daun dan Pelepah Kelapa Sawit Jadi Pakan Sapi http: // www.medanbisnisdaily.com/news/read/2011/06/23/41269/, diakses pada tanggal 1 juli 2011.

199 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Sutardi, T., 1980. Landasan Ilmu Nutrisi Jilid I. Departemen Ilmu Makanan Ternak Fakultas Pertanian, IPB Bogor.

200 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (M-KRPL) SEBAGAI IMPLEMENTASI SPEKTRUM DISEMINASI MULTI CHANEL (SDMC) Umi Pudji Astuti dan Dedi Sugandi

ABSTRAK Kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) yang diinisiasi oleh Badan Litbang Pertanian diharapkan mampu memicu lahirnya pemikiran dan konsep bagi optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan, utamanya melalui pemanfaatan berbagai inovasi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian dan lembaga penelitian lainnya. Ke depan diharapkan melalui inisiatif ini akan semakin berkembang upaya-upaya kreatif di tengah masyarakat dalam pemanfaatan lahan dan ruang yang ada di sekitar mereka. Model ini perlu cepat disebarluaskan kepada masyarakat di seluruh kabupaten/kota sehingga diperlukan saluran diseminasi. Hasil review menunjukkan bahwa Kerjasama instansi terkait sebagai chanel diseminasi mampu mempercepat tereplikasinya model penataan lahan pekarangan di kabupaten/kota. Chanel diseminasi yang berdampak positif adalah demplot dan display yang dapat langsung dilihat pengguna. Kata kunci: lahan pekarangan, inovasi, chanel diseminasi

PENDAHULUAN Berdasarkan pengamatan, perhatian petani terhadap pemanfaatan lahan pekarangan relatif masih terbatas, sehingga pengembangan berbagai inovasi yang terkait dengan lahan pekarangan belum banyak berkembang sebagaimana yang diharapkan. Kementerian Pertanian melihat potensi lahan pekarangan ini sebagai salah satu pilar yang dapat diupayakan untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, baik bagi rumah tangga di pedesaan maupun di perkotaan. Kementerian Pertanian menyusun suatu konsep yang disebut dengan “Model Kawasan Rumah Pangan Lestari” yang dibangun dari Rumah Pangan Lestari (RPL) dengan

prinsip

pemanfaatan

pekarangan

yang

ramah

lingkungan

untuk

pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi keluarga, serta peningkatan pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Badan Litbang Pertanian, 2011). Kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) yang diinisiasi oleh Badan Litbang Pertanian diharapkan akan memicu lahirnya pemikiran dan konsep bagi optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan, utamanya melalui pemanfaatan berbagai inovasi yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian dan lembaga penelitian lainnya. Kedepan diharapkan melalui inisiatif ini akan semakin 201 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

berkembang upaya-upaya kreatif di tengah masyarakat dalam pemanfaatan lahan dan ruang yang ada di sekitar mereka. Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL) di Bengkulu dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif di 6 kabupaten dan Kota. Kegiatan dimulai pada bulan Oktober 2011 di Kota Bengkulu sebanyak 2 unit (37 KK) yang mewakili Model Perkotaan, dan di Kabupaten Bengkulu Tengah sebanyak 1 unit (11 KK) yang mewakili Model Perdesaan (Astuti, 2011). Pada tahun 2012, kegiatan M-KRPL dilaksanakan di 6 Kabupaten dan Kota sebanyak 13 unit. Agar replikasi model berjalan cepat perlu dilakukan kerjasama dengan instansi Pemerintah Daerah maupun swasta sebagai chenel diseminasi. Tujuan penulisan ini untuk menggambarkan keterlibatan instansi terkait dalam rangka memperluas diseminasi M-KRPL. HASIL DAN PEMBAHASAN Diseminasi Inovasi Inovasi yang disebarluaskan/didiseminasikan dalam kegiatan M-KRPL di Bengkulu antara lain: 1. Model penataan lahan pekarangan berdasarkan administratif yaitu perdesaan dan perkotaan masing-masing berdasarkan strata luas lahan yaitu lahan sempit dan luas. 2. Pemilihan komoditas berdasarkan survey pasar/konsumen ditetapkan; a. Komoditas sayuran dataran rendah (cabe, terung, kangkung, bayam, tomat, dan sawi), disamping itu terdapat pilihan komoditas berdasarkan kesesuaian lahan antara lain bunga kool, daun bawang, kacang panjang, dan timun. b. Aneka buah: papaya, jeruk kalamansi, mangga Bengkulu, sirsak, dan pisang. c. Peternakan/Perikana: budidaya ternak ayam kampung/buras, ikan lele dan nila. 3. Teknologi pembuatan kompos, pestisida nabati, dan media tanam.

202 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Chanel Diseminasi yang dilaksanakan Untuk mempercepat replikasi model dan inovasi introduksi dilakukan melalui beberapa saluran seperti: 1. Display dan Demplot di setiap Unit kawasan: Display dan demplot yang dibangun disetiap unit dan model menjadi tempat kunjungan stakeholders dan petani yang ingin mengembangkan Rumah Pangan Lestari (RPL). Display di kawasan kantor BPTP dan perumahan: telah dikunjungi oleh Pemda Kota, Pemda Kabupaten Kaur, Bengkulu Utara yang masing-masing pemerintah daerah membawa beberapa ketua kelompok tani yang akan membangun KRPL di kabupaten/kota. Disamping itu, kunjungan di unit BPTP setiap hari selalu dikunjungi oleh petani ataupun masyarakat swadaya. Demplot di setiap unit di Kabupaten dan Kota: sebagai tempat belajar dan kunjungan masyarakat yang ingin mengembangkan RPL di rumahtangganya dan wilayahnya. 2. Petani yang telah melakukan kegiatan KRPL tahun 2011, melalui 5 orang petani RPL yang ditunjuk sebagai pendamping kelompok baru di desanya oleh Pemerintah Daerah (SK Bupati) akan memperluas KRPL di desa. 3. Kerjasama dengan Pemerintah Daerah: • Badan Pemberdayaan Perempuan, Masyarakat dan Keluarga Berencana Kota: melalui anggaran APBD II mereplikasi model Perekotaan untuk seluruh Kelurahan yang berada di Kota Bengkulu melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa. Dari LPM yang membangun RPL, diharapkan akan memotivasi

rumahtangga

di

sekitarnya

untuk

memanfaatkan

lahan

pekarangannya menjadi produktif. • Badan Ketahanan Pangan Provinsi dan Kabupaten: melalui anggaran APBD I dan II (Pengembangan Lahan Pekarangan Terpadu) telah ditetapkan 1 desa (50 – 75 KK) setiap kabupaten membentuk KRPL yang mereplikasi model yang telah disusun oleh BPTP. • PKK atau Darmawanita • Balai Penyuluhan Pertanian di tingkat Kecamatan: melalui penyuluh yang mendampingi kegiatan KRPL, dapat menyebarluaskan model dan inovasi 203 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

kepada sesame penyuluh yang berada di wilayah kerjanya serta setiap penyuluh akan menyampaikan kepada kelompok tani binaannya. • Universitas Negeri Bengkulu dan Universitas Hazairin: melalui penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa akan mempercepat inovasi model yang dibangun 4. Sekolah • SMK-Pertanian (SPP) negri Kelobak, Bengkulu Selatan dan SMK–Pertanian Lebong, 31 siswa magang di kegiatan M-KRPL: setelah pulang diharapkan mengembangkan di sekolahnya dan siswa akan menyebarkan kepada temantemannya di Sekolahnya. • SMPN 10 Bengkulu: telah mengembangkan pemanfaatan lahan sekolah produktif, dan mengembangkan menjadi muatan local sekolah. • SMPN 2 Bengkulu akan mengembangkan menjadi pelajaran ekstrakulikuler muatan lokal. Melalui Sekolah akan berkembang di rumah tangga setiap guru dan orang tua murid. • SD N Pondok Kubang: sedang dirintis melalui penataan halaman depan sekolah. 5. Kerjasama dengan Jasaraharja: akan dikembangkan M-KRPL dengan anggaran instansi Jasaraharja. Saat ini sedang diusulkan proposal ke pusat. Spektrum Diseminasi Spektrum diseminasi yang dilaksanakan melalui: 1. Penunjukan LO di setiap kabupaten dan kota 2. Sosialisasi kepada seluruh stakeholders di provinsi dan kabupaten 3. Sosialisasi di TVRI, WEB, 4. Penerbitan media informasi 5. Pelatihan petani 6. Nara sumber di Kabupaten 7. Pameran M-KRPL telah dilaksanakan 3 kali: dampaknya cukup positif dengan indikator display BPTP dan demplot di perdesaan banyak dikunjungi masyarakat

204 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Hasil Diseminasi model penataan lahan pekarangan melalui siaran TV, WEB BPTP dan pameran/display tanaman berdampak cukup baik, hal ini ditunjukkan oleh: 1) tanggapan Walikota Bengkulu akan mengembangkan RPL model perkotaan di seluruh kelruhanan (63 Kelurahan) melalui program Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pertanian Perkotaan di Kota. Dari program Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pertanian Perkotaan, diharapkan akan mempercepat inovasi KRPL model perkotaan di setiap rumahtangga; 2) pemanfaatan lahan pekarangan melalui tanaman sayuran, buahbuahan dan kompos akan diangkat menjadi muatan lokal di SMPN 10 dan SMPN 2 Kota Bengkulu. Dari program sekolah ini akan mempercepat inovasi lahan pekarangan di setiap Rumah tangga; 3) Pemerintah Provinsi Bengkulu akan mengembangkan KRPL melalui program “Pemanfaatan Lahan Pekarangan Terpadu” yang direncanakan akan dilaksanakan di 3 kabupaten terpilih di Provinsi Bengkulu. KESIMPULAN Kerjasama instansi terkait sebagai chanel diseminasi mampu mempercepat tereplikasinya model penataan lahan pekarangan di kabupaten/kota. Chanel diseminasi yang berdampak positif adalah demplot dan display yang dapat langsung dilihat pengguna. DAFTAR PUSTAKA Astuti. P.umi, 2011. Laporan Akhir Kegiatan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, Bengkulu. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011. Pedoman Umum Model Kawasan Kawasan Rumah Pangan Lestari. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

205 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KAJIAN KELEMBAGAAN FORMAL DAN INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN INOVASI SPESIFIK LOKASI UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN DI PROPINSI BENGKULU Wahyuni Amelia Wulandari, Afrizon, Zul Efendi dan Wilda Mikasari

ABSTRAK Kajian kelembagaan formal dan informal dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi untuk mendukung pembangunan pertanian di Propinsi Bengkulu dilaksanakan di Bengkulu Utara dan Kaur pada tahun 2011. Tujuan pengkajian ini untuk mengetahui peran system kelembagaan baik formal maupun informal dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi untuk mendukung pembangunan pertanian di Propinsi Bengkulu. Secara khusus tujuannya yaitu: 1) Mengetahui sistem kelembagaan formal dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi; 2) Mengetahui sistem kelembagaan informal dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi; 3) Memformulasikan sistem kelembagaan formal dan informal dalam pengembangan inovasi teknologi spesifik lokasi. Prosedur kegiatan ada 3 yaitu: a) Kajian Kelembagaan Formal melalui survei dengan kuisioner dan workshop; b) Kajian Kelembagaan Informal melalui survei dan workshop; c) Formulasi sistem kelembagaan formal dan informal. Kelembagaan formal tingkat Provinsi adalah BPTP, Diperta, Bakorluh, BPSB, BPTPH, PT. Petani, PT. Pupuk Sriwijaya, PT. Petrokimia Gresik yang berperan sesuai tupoksi masing masing. Di Kabupaten Bengkulu Utara yang berperan adalah Dispertanak dan BKP3. Sedangkan di Kabupaten Kaur adalah Dispertanak dan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BKP5K). Untuk tingkat kecamatan di Bengkulu Utara adalah Balai Penyuluhan Pertanian yang berjumlah 12 buah yang membina 14 kecamatan. Sedangkan tingkat kecamatan di Kabupaten Kaur yaitu BPP yang hanya berjumlah 3 BPP yang membina 15 kecamatan sehingga tiap 5 kecamatan dibina oleh 1 BPP. Kelembagaan informal tingkat Provinsi yaitu KTNA dan swasta sebagai distributor pestisida. Untuk Bengkulu Utara dan Kaur adalah Koperasi dan KTNA. Untuk tingkat kecamatan/desa di Kabupaten Kaur adalah Gapoktan dan Kelompok Tani, serta KTNA. Sedangkan di Kabupaten Bengkulu Utara selain tersebut diatas juga ada subak atau Kelompok Pemakai dan Pengguna Air (KP2A) yang berjumlah 4 kelompok. Koordinasi yang intensif antara lembaga formal dan informal di tingkat propinsi dan kabupaten serta kecamatan telah mampu mengembangkan inovasi teknologi spesifik lokasi dalam rangka meningkatkan produktivitas padi di daerah masing masing. Kata Kunci: kelembagaan formal, kelembagaan informal, inovasi, padi

PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan

pertanian

adalah

suatu

rangkaian

kegiatan

untuk

meningkatkan pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan kemiskinan, memantapkan ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah (Badan Litbang Pertanian, 2004a). Inovasi teknologi pertanian merupakan salah satu cara mempercepat pembangunan pertanian. Oleh karena itu

206 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

peran penelitian dan pengembangan (Litbang) pertanian menjadi penting artinya sebagai salah satu pendukung pembangunan pertanian. Guna

mewujudkan

pembangunan

pertanian

yang maju,

efisien

dan

berkelanjutan, diperlukan dukungan teknologi pertanian yang telah teruji sesuai dengan kebutuhan pengguna dan kemampuan wilayah. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah banyak melakukan kegiatan penelitian yang hasilnya sebagian besar telah diterapkan oleh pengguna secara luas. Namun disadari, masih banyak informasi teknologi hasil penelitian yang belum diketahui oleh para pengguna dan pembuat kebijakan. Hal ini terlihat dari cukup tingginya senjang hasil yang dicapai oleh pengguna dengan hasil yang dicapai oleh lembaga penelitian, bahkan tingkat teknologi yang diterapkan oleh pengguna masih relatif rendah. Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa informasi teknologi dari sumber inovasi ke pengguna belum berjalan lancar. Dalam pembangunan pertanian dibutuhkan kerjasama antar lembaga yang sudah terbentuk selama ini baik kelembagaan formal maupun kelembagaan informal. Kelembagaan informal di tingkat petani yang ada saat ini diantaranya adalah gapoktan (gabungan kelompok tani), kelompok tani, kelompencapir (kelompok pendengar, pembaca, dan pirsawan) cenderung hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek belaka, belum sebagai upaya untuk pemberdayaan dalam pengembangan inovasi teknologi spesifik lokasi. Pengembangan kelembagaan merupakan salah satu komponen pokok dalam keseluruhan rancangan Revitalisasi Pertanian. Selama ini pendekatan kelembagaan formal dan informal telah menjadi komponen pokok dalam pembangunan pertanian di perdesaan terutama dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi. Mengamati perubahan yang terjadi dan pentingnya peranan lembaga formal informal, maka penataan ataupun penumbuhan kelembagaan pertanian perlu dilakukan.

Upaya

penataan di antaranya dapat dilakukan dengan memperkuat peran kelembagaan yang ada dari pusat sampai daerah. Tujuan : 1) Mengetahui sistem kelembagaan formal dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi; 2) Mengetahui sistem kelembagaan informal dalam pengembangan

207 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

inovasi spesifik lokasi; 3) Memformulasikan sistem kelembagaan formal dan informal dalam pengembangan inovasi teknologi spesifik lokasi. METODOLOGI Metodologi Kajian dilaksanakan dari bulan Maret sampai Nopember 2011 dengan menghimpun data sekunder dan primer. Data secunder dihimpun dari berbagai sumber antara lain Biro Pusat Statistik, Dinas Pertanian dll. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan staekholder melalui Fokus grup diskusi (FGD) di daerah yang dijadikan sampel.

a. Kajian Kelembagaan Formal Dalam Pengembangan Inovasi Spesifik Lokasi Survei dilakukan pada seluruh kelembagaan formal di tingkat provinsi, kabupaten sampel serta

BPP yang mewakili melalui FGD kepada pemimpin

lembaga. Dalam survei diinventarisir kebijakan pembangunan pertanian, jumlah dan bentuk kelembagaan formal yang berhubungan dengan pengembangan inovasi padi, mandat dan ruang lingkup kegiatan, jenis dan sumber inovasi yang tersedia, bentuk dan cara pengembangan inovasi, sasaran pengguna inovasi, dan permasalahan dalam pengembangan inovasi.

b. Kajian Kelembagaan Informal Dalam Pengembangan Inovasi Spesifik Lokasi Survei di kelompok tani dan gapoktan diambil 30% dari total kelompok tani dan gapoktan di tiap kecamatan. FGD bersama ketua, sekretaris dan bendahara pada kelompok tani dan gapoktan. Survei

menginventarisir jumlah dan bentuk

kelembagaan informal yang berhubungan dengan pengembangan inovasi padi, ruang lingkup kegiatan, jenis dan sumber inovasi yang tersedia, bentuk dan cara pengembangan inovasi, dan permasalahan dalam pengembangan inovasi.

c. Formulasi sistem kelembagaan formal dan informal dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi Dari sub kegiatan satu dan dua di atas, teridentifikasi sistem eksisting kelembagaan formal dan informal dalam pengembangan inovasi teknologi spesifik lokasi. Kondisi eksisting tersebut akan ditelaah bersama pelaku kelembagaan formal 208 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

dan informal lokasi pengkajian diikuti oleh pengambil kebijakan melalui kegiatan workshop/konsinyasi. Dari kegiatan workshop ini dapat diformulasikan

sistem

kelembagaan formal dan informal sesuai kebutuhan agar dapat mendukung pembangunan pertanian di daerah. Analisis Data Data sekunder dan primer yang didapatkan di analisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Mekanisme Difusi Tahap pengembangan teknologi

Inovasi teknologi

Adaptasi Teknologi

Pemanfaatan teknologi

Diseminasi

Adopsi

Intensitas penelitian inovasi teknologi

Penyedia/ Pelaku

Proses adopsi teknologi

Balit

BPTP

Direktorat teknis/Dipert a prov/kab

Unit kerja penyuluhan

Petani

Gambar 1. Tahap pengembangan inovasi teknologi untuk diadopsi oleh petani.

Menurut Sumarno (2008), pengembangan inovasi sampai diadopsi oleh petani membutuhkan lima tahap kegiatan, yaitu penyediaan inovasi teknologi, adaptasi teknologi, pemanfaatan (pembuktian) teknologi, diseminasi teknologi dan adopsi teknologi (Gambar 1). Dari tahapan ini, mekanisme difusi inovasi teknologi antar kelembagaan dapat dijelaskan sbb: komponen inovasi teknologi yang dihasilkan oleh Balit, diujiadaptasikan pada lingkungan spesifik oleh BPTP untuk menghasilkan rakitan teknologi spesifik lokasi. Rakitan teknologi ini dimanfaatkan oleh Diperta, apabila memenuhi persyaratan adopsi maka didesiminasikan oleh unit kerja penyuluh agar diadopsi oleh petani. Apabila rakitan teknologi tersebut tidak

memenuhi

209 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

persyaratan

adopsi,

rakitan

teknologi

dikembalikan

kepada

BPTP

untuk

disempurnakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kelembagaan Formal dalam Pengembangan Inovasi teknologi

A. Tingkat Provinsi Kelembagaan formal tingkat provinsi serta tupoksi dan outputnya seperti tabel 1 dibawah ini. Tabel 1. Tupoksi dan Output Kelembagaan Formal Tingkat Propinsi Bengkulu. No Nama Kelembagaan Formal di Provinsi 1.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

2.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan

3.

Badan Koordinasi Penyuluhan

4.

Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian dan Hortikultura

5.

PT. Pertani

6.

PT. Pupuk Sriwijaya

7.

PT. Petrokimia Gresik PT. Sang Hyang Sri

8

Tupoksi Menetetapkan peneliti pendamping SL PTT, merekomendasikan : VU yang sesuai di tiap Kab/kota, pemupukan, pola tanam Mengidentifikasi : ketersediaan lahan sawah di Kab/kota, VUB, kebutuhan pupuk, mengawasi peredaran benih dan pupuk, menggerakkan POPT Memobilisasi : penyuluh provinsi untuk menerapkan teknologi SL PTT, penyusunan RDKK, memonitor kegiatan penyuluhan Melakukan pengawasan benih beredar, membantu mensertifikasi benih petani dan lembaga Mendistribusikan benih unggul padi, pupuk dan pestisida Mendistribusikan pupuk dan pestisida Mendistribusikan pupuk dan pestisida Mendistribusikan benih unggul padi, pupuk dan pestisida

Output Pendampingan SL PTT Padi melalui demfarm, display varietas, narasumber PL I,II,III Mendistribusikan : bantuan langsung benih unggul (BLBU), pupuk BLP), monev, Pelatihan PL SL PTT Padi Pelatihan dan penyuluhan kegiatan SL PTT kepada penyuluh, dan petani di 10 Kab/Kota Teknis penilaian kultivar, sertifikasi dan pelabelan benih, pengawasan mutu benih, koordinasi teknis, pertemuan produsen dan pedagang benih Mensuplai benih unggul, pupuk dan pestisida Mensuplai pupuk subsidi dan pestisida di Bengkulu Mensuplai pupuk subsidi dan pestisida di Bengkulu Mensuplai benih unggul, pupuk dan pestisida

210 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

B. Tingkat Kabupaten Kabupaten Bengkulu Utara

Dinas Pertanian dan Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan sebagai lembaga formal di kabupaten dalam pelaksanaan

pekerjaannya

bertanggung

jawab

kepada

Bupati,

dalam

pengembangan inovasi spesifik lokasi untuk peningkatan produksi padi mempunyai tupoksi: 1) Mengidentifikasi ketersediaan lahan sawah, 2) mengidentifikasi kebutuhan VU, 3) mengidentifikasi kebutuhan pupuk, 4) mengawasi peredaran benih dan pupuk, 5) menggerakkan POPT. Untuk menjabarkan tupoksi tersebut output yang dilakukan adalah: pelaksanan SL PTT padi, Pelatihan PL I, II, III, pemberian bantuan benih padi. Tujuan utama seperti 1) Meningkatkan produktivitas mutu dan daya saing, 2) meningkatkan ketahanan pangan masyarakat, 3) meningkatkan sumber daya pertanian. Beberapa program pendukung peningkatan produksi padi seperti membantu penyediaan alat-alat mesin pertanian dan penyediaan sarana benih unggul dan penyebaran informasi pertanian (IPTEK) dengan mitra kerja seperti PT.Pertani, PT.Sang Hyang Seri, PT.Agrindo, BPSB dan BPTP.

Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) di Kabupaten Bengkulu Utara

memiliki aparatur sebanyak 179 orang terdiri dari 79 penyuluh

PNS, 76 penyuluh THL dan TKS 24 orang. Jumlah petugas penyuluh 155 orang dengan jumlah desa binaan 183 desa. Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kabupaten Bengkulu Utara sebagai lembaga ketahanan pangan dan pelasana penyuluhan (pertanian, perikanan dan kehutanan) memiliki 14 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang berada di 14 kecamatan se-Kabupaten Bengkulu Utara dan 1 (satu) Lumbung Pangan Modern yang terletak di Desa Kuro Tidur Kecamatan Arga Makmur. Selain kelembagaan penyuluhan pertanian, BKPPP melalui penyuluh pertanian yang tersebar di 14 kecamatan juga melakukan penumbuhan, pengembangan dan pembinaan terhadap kelembagaan petani

211 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

nelayan di Kabupaten Bengkulu Utara. Saat ini terdapat 1094 Kelompok Tani, 176 Gapoktan tersebar di 14 kecamatan dalam Kabupaten Bengkulu Utara. Kabupaten Kaur

Dinas Pertanian dan Peternakan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kaur berdiri pada tahun 2003 seiring dengan pemekaran pembentukan Kabupaten Kaur. Tujuan Utama organisasi seperti peningkatan produksi pertanian, sarana prasarana serta pendapatan petani. Program kegiatan yang telah dilakukan seperti membantu pendistribusian alsintan dari

Dinas Pertanian Propinsi serta bantuan sarana produksi berupa benih dan

pupuk. Mitra kerja Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kaur seperti BPTP, BPTPH, BPSB, PT.Pertani, PT.Sang Hyang Seri dan PT.PUSRI

Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) Badan Ketahanan Pangan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BKP5K) dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi untuk peningkatan produksi padi mempunyai tupoksi: 1) Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan petani dan penyuluh dalam pengendalian HPT, 2) pengolahan hasil padi, dan 3) pemupukan berimbang. Output yang akan diperoleh adalah melakukan pelatihan bagi petani dan penyuluh pada komoditas padi. BKP5K dalam melaksanakan tugas dan fungsinya menggunakan BPP sebagai instansi/sarana kegiatan Penyuluhan Pertanian. Saat ini Kabupaten Kaur memiliki 15 kecamatan dan 3 buah Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang membina 3 kelurahan dan 153 desa. Sistem Kelembagaan Informal dalam Pengembangan Inovasi Spesifik Lokasi Kelompok kelembagaan informal yang melakukan inovasi pertanian pada komoditas padi di tingkat Provinsi Bengkulu ada yaitu KTNA provinsi dan swasta sebagai distributor pestisida. Kelompok kelembagaan informal yang melakukan inovasi pertanian pada komoditas padi di tingkat Kabupaten Bengkulu Utara dan Kaur adalah Koperasi dan KTNA Kabupaten. Kelompok kelembagaan informal yang 212 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

melakukan inovasi pertanian pada komoditas padi di tingkat kecamatan/desa di Kabupaten Kaur adalah Gapoktan dan Kelompok Tani, serta KTNA Kecamatan, sedangkan di Kabupaten Bengkulu Utara selain tersebut diatas juga ada subak atau Kelompok Pemakai dan Pengguna Air (KP2A) yang berjumlah 4 subak.

Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kelompok tani yang menjadi anggota KTNA Provinsi Bengkulu berjumlah 4.425 kelompok tani. Anggota KTNA sebagian ada yang menjadi pengurus koperasi (KUD/Koptan). KTNA yang menjadi pengurus koperasi tersebut sebagian ada belum berfungsi sebagaimana mestinya dan KUD/Koptan itu sendiri belum maksimal dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam menyalurkan benih padi dan saprotan sehingga masih perlu pembinaan secara intensif dan koordinasi dengan pihak terkait terutama kelembagaan formal untuk memfungsikan kembali lembaga informal tersebut.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Di tingkat kelembagaan informal telah dibentuk beberapa lembaga baru, misalnya Pos Penyuluhan Desa dan gapoktan. Kementerian Pertanian menargetkan membentuk satu gapoktan di setiap desa khususnya yang berbasis pertanian. Ini merupakan satu lembaga andalan baru, meskipun semenjak awal 1990-an gapoktan telah dikenal. Saat ini gapoktan diberi pemaknaan baru, termasuk bentuk dan peran yang baru. Gapoktan menjadi lembaga gerbang (gateway institution) yang menjadi penghubung petani satu desa dengan lembaga-lembaga lain di luarnya.

Gapoktan

diharapkan

berperan

untuk

fungsi-fungsi

pemenuhan

permodalan pertanian, pemenuhan sarana produksi, pemsaran produk pertanian, dan termasuk menyediakan berbagai informasi yang dibutuhkan petani (Syahyuti, 2004). Jumlah Gapoktan di Kabupaten Kaur yang yaitu sebanyak 56 buah, sedangkan di Kabupaten Bengkulu Utara berjumlah 176 Gapoktan. Kelembagaan gapoktan sebagian besar terbentuk karena ada program pemerintah seperti BLM PUAP.

213 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

Kelompok Tani Jumlah masyarakat tani yang menjadi anggota kelompok tani baru mencapai 10.566 orang dari jumlah penduduk 110.322 jiwa atau 9,57% di kabupaten Kaur. Jumlah kelompok Tani dalam wilayah Kabupaten Kaur sebanyak 441 kelompok tani, yang terdiri dari 384 kelompok tani pemula (87,03%) 56 kelompok tani kelas lanjut (12,7%), 28 kelompok wanita kelas pemula (6,3%) dan 1 kelompok pemuda tani (0,2%). Pada tahun mendatang akan ditingkatkan kemampuannya berdasarkan pada lima jurus kemampuan kelompok tani. Di Kabupaten Bengkulu Utara jumlah kelompok tani saat ini terdapat 1.094 Kelompok Tani, yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Bengkulu Utara. Tingkat pendidikan dan keterampilan serta pengetahuan yang dimiliki para petani pada umumnya masih rendah (rata-rata SD dan SLTP). Hal ini tentu menghambat proses alih teknologi, sehingga memerlukan pembinaan yang lebih intensif dan kesinambungan melalui berbagai metode penyuluhan. Sehubungan dengan sasaran produksi pertanian yang harus meningkat maka peranan petani selaku pelaku utama usaha tani sangat menentukan terhadap tujuan tersebut. Oleh karena itu petani-nelayan dapat mengelola usahataninya secara baik, maka para petani nelayan tentu harus dilengkapi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna mengembangkan dan memecahkan masalah yang dihadapi.

Subak (KP2A) Subak di Provinsi Bengkulu berada di kabupaten Bengkulu Utara yang berjumlah 4 kelompok. Sejarah subak ini di Bengkulu berawal dari transmigrasi penduduk Bali ke Bengkulu pada tahun 1976, saat Gunung Agung di Bali meletus. Dari Bali diberangkatkan 3 desa. Pembentukan subak diketahui oleh Kepala Desa setempat dan disyahkan oleh BIPP (sekarang BKP3). Subak ini terbentuk oleh tokoh masyarakat yang beranggotakan warga etnis Bali, Jawa, dan penduduk lokal Bengkulu Utara. Prestasi dari lembaga informal subak ini adalah pada tahun 1990 juara I tingkat Nasional kelompok tani. Prestasi yang diperoleh adalah dalam penanggulangan hama babi, pencetakan lahan sawah baru, membuat saluran irigasi swadaya. Bantuan dari Pemda Bengkulu Utara dan Pemda Provinsi Bengkulu, 214 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

dan BPTP adalah handtraktor, mesin pengolah kompos, sapi Bali, pupuk bersubsidi, Lokasi LL dan SL-PTT, benih padi Ciherang, Ciliwung dan Inpari 10. Pertemuan kelompok berjalan dengan rutin tiap bulan. Hasil dari subak ini adalah sebagai penangkar padi bekerjasama dengan PT. Pertani. Berdasarkan uraian diatas maka sistem kelembagaan informal di tingkat propinsi, kabupaten hingga kecamatan

dalam pengembangan inovasi spesifik

lokasi untuk peningkatan produksi padi disajikan pada Gambar 3 di bawah ini. Gapoktan

KTNA Kelompok Tani/KWT/Subak

Gambar 2. Sistem Kelembagaan Informal dalam Pengembangan Inovasi Spesifik Lokasi.

Berdasarkan tupoksi dan output dari kelembagaan formal dan informal dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi untuk peningkatan produksi padi maka dibuatlah formulasi sistem kelembagaan formal dan informal sebagai berikut: Kelembagaan Formal BPTP, Dinas Pertanian Provinsi, BPSB, Bakorluh, Dinas Pertanian Kabupaten, Bapeluh, BPP, PT Pusri, PT. Pertani, PT Petro, PT. Sang Hyang Sri Memberikan Bimbingan teknis berupa: pelatihan informasi IPTEK, bantuan saprotan, bantuan pembuatan dan perbaikan saluran irigasi, plot percontohan VUB

Kelembagaan Informal KTNA, Gapoktan, Kelompok Tani/Subak, Swasta (distributor saprotan) Membutuhkan Bimbingan teknis berupa: pelatihan informasi IPTEK, bantuan saprotan, bantuan pembuatan dan perbaikan saluran irigasi, plot percontohan VUB

215 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011

KESIMPULAN 1. Sistem

kelembagaan

pengembangan

formal

inovasi

di

spesifik

Propinsi lokasi

Bengkulu

khususnya

telah

mendukung

dalam

peningkatan

produktivitas padi. 2. Sistem kelembagaan informal di Propinsi Bengkulu telah mengacu pada Rencana Usaha Bersama kelompok dalam pengembangan inovasi spesifik lokasi dan peningkatan produksi padi. 3. Koordinasi yang intensif antara lembaga formal dan informal di Propinsi Bengkulu telah mampu mengembangan inovasi teknologi spesifik lokasi dalam rangka meningkatkan produktivitas padi. DAFTAR PUSTAKA Badan Litbang Pertanian. 2004a. Prosiding Lokakarya Sinkronisasi Program Hasil Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Badan Litbang Pertanian. 2004b. Rancangan Dasar Prima Tani (Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian). Badan Litbang Pertanian. Jakarta. Mangkuprawira sjafri, 2008. SDM dan Revitalisasi Kelembagaan Pertanian. Dalam website Sumarno. 2008. Memfasilitasi petni agar responsif terhadap inovasi teknologi. Prosiding Seminar Pemberdayaan Petani melalui Informasi dan Teknologi. Kerjasama BPTP Jatim, Fak. Pertanian UB, Bappeda dan Diperta Prop. Jatim. Mojokerto. 1-15. Syahyuti. 2004. Model kelembagaan penunjang pengembangan pertanian di lahan lebak. Whorshop Nasional Pengembangan Lahan Rawa Lebak. Banjarbaru 11-12 Oktoebr 2004. Balitra. Kalsel.

216 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu, 2011