LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA

i laporan akhir penelitian dosen pemula pengembangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa inggris untuk merevitalisasi budaya lokal k...

0 downloads 186 Views 2MB Size
LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA

PENGEMBANGAN MEDIA CERITA BERGAMBAR ANAK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK MEREVITALISASI BUDAYA LOKAL KABUPATEN KUDUS DI ERA GLOBALISASI

Tahun ke 1 dari rencana 1 tahun

TIM PENGUSUL Ketua Peneliti : MUTOHHAR, S. Pd., M. Pd. NIDN. 0621018302 Anggota Peneliti : NUR FAJRIE, S. Pd., M. Pd. NIDN. 0619097803 IMANIAR PURBASARI, S. Pd., M. Pd. NIDN. 0619128801

UNIVERSITAS MURIA KUDUS OKTOBER, 2014 i

ii

RINGKASAN Terkait dengan usaha pelestarian budaya lokal dalam bidang pendidikan, media pembelajaran tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pngetahuan (transfer of knowledge) tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (value) serta membangun karakter (Character Building) peserta didik secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Budaya lokal di Kabupaten Kudus terbentuk oleh sejarah asal usul dan perkembangannya yang di dasari perjuangan penyebaran agama islam di pulau Jawa. Perwujudan budaya lokal terdapat pada tradisi, religi, sosial, teknologi dan seni. Penelitian ini juga memberikan model pelestarian budaya dengan komunikasi global untuk mengembangkan visualisasi yang baru terhadap karakter-karakter budaya lokal di Kabupaten Kudus dalam kajian ilmu pengetahuan sosial, bahasa dan seni agar bisa diterima khususnya oleh anak. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan karakteristik, prinsip dan memperoleh hasil pengujian produk dari

pengembangan media cerita

bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi. Hasil akhir dari penelitian ini memperoleh data informasi di lapangan dan studi literture,

membuat

klasifikasi budaya lokal di Kabupaten Kudus, merumuskan

materi

pembelajaran bahasa inggris di Sekolah Dasar, merancang produk dengan membuat sinopsis dan gambar ilustrasi, validasi para ahli yang bersangkutan dengan hasil ini dan

evaluasi dari masukan dan saran para ahli untuk

perbaikan serta produk media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa inggris dalam merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus.

iii

PRAKATA Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah SWT sehingga dengan karunia-Nya dapat menyelesaikan laporan akhir dari penelitian dosen pemula yang berjudul ”Pengembangan Media Cerita bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Merevitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi”. Penelitian ini dibuat berdasarkan tujuan peneliti yang berdedikasi dalam pendidikan dasar khususnya media pembelajaran bahasa Inggris berbasis budaya lokal. Perkembangan zaman berpengaruh terhadap pendidikan yang berorientasi budaya dan pendidikan internasional. Kedua konsep pendidikan antara lokal dan global dapat ditranformasikan dalam setiap kegiatan yang dirancang dalam pembelajaran untuk membantu peserta didik mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru di era globalisasi. Penelitian dosen pemula ini bertujuanmerevitalisasi budaya lokal dan aset wisata di Kabupaten Kudus yang diperuntukkan anak tingkat pendidikan dasar, memberikan model pelestarian budayadengan komunikasi global untuk mengembangkan karakter-karakter budaya lokal di Kabupaten Kudus dalam kajian ilmu pengetahuan sosial, bahasa dan seni melalui media cerita bergambar agar bisa diterima khususnya oleh anak. Laporan

akhir

hasil

penelitian

secara

terprogram

sebagai

tanggungjawab untuk menyelesaikan program penelitian dosen pemula yang dibiayai

Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan

Kebudayaan. Peneliti berharap semoga hasil dari penelitian ini dapat memiliki manfaat bagi dunia pendidikan khususnya untuk pengembangan media pembelajaran cerita bergambar bahasa Inggris berbasis budaya lokal Kudus. Kudus, Oktober 2014 Tim Peneliti

iv

DAFTAR ISI Halaman Judul …..………………………………….…….……….…....................

i

Halaman Pengesahan................................................................................................

ii

Ringkasan ................................................................................................................

iii

Prakata .....................................................................................................................

iv

Daftar Isi...................................................................................................................

v

Daftar Tabel .............................................................................................................

vi

Daftar Bagan ......................................................................................................

vii

Daftar Foto ........................................................................................................

viii

BAB 1. PENDAHULUAN ....................................................................................

1

BAB 2. LANDASAN TEORI ...........................................................................

6

BAB 3. METODE PENELITIAN ....................................................................

14

BAB 4. HASIL PENELITIAN .........................................................................

30

BAB 5. PE MBAHASAN .....................................................................................

38

BAB 6. PENUTUP ................................................................................................

40

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................

41

Lampiran-lampiran ................................................................................................

43

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1. One group pretest-posttest design .......................................................................

19

Tabel 2. Rumus analisis data .............................................................................................

29

Tabel 3. Klasifikasi budaya lokal Kabupaten Kudus ......................................................

33

Tabel 4. Data Hasil Validator ............................................................................................

35

vi

DAFTAR FOTO Foto1. Beberapa studi lapangan di Kabupaten Kudus......................................................

30

Foto 2. Beberapa studi literature penelitian ................................................ .....................

31

vii

DAFTAR BAGAN Bagan 1. Kerangka berfikir ...................................................................................

12

Bagan 2. Tahapan Kegiatan Penelitian ................................................................

15

Bagan 3. Alur Penelitian ........................................................................................

21

viii

BAB. 1 PENDAHULUAN 1.1

Latar Belakang Masalah Munculnya pengakuan bahwa dunia menjadi “smaller” dan“borderless”

yang ditandai dengan adanya inovasi dalam teknologi komunikasi serta arus informasi global instan telah menciptakan ilusi dan kadang-kadang realitas dalam

masyarakat global. Kehidupan era globalisasi menuntut seseorang

selalu bertindak dan berfikir dalam lingkup tradisi serta budayanya masingmasing (Baedowi, 2012: 69). Pengaruh perkembangan zaman karena adanya perubahan yang berorientasi antar budaya. Salah satunya adalah konsep pendidikan antara lokal dan global yang dapat ditranformasikan, artinya setiap kegiatan yang dirancang dalam pembelajaran untuk membantu peserta didik mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru di era globalisasi. Hilangnya batasan antara ruang dan waktu dalam interaksi antar individu di era globalisasi, menuntut kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi yang efektif dan efisien. Fokus perhatian mengenai fenomena ini, telah cukup menjadi telaah penting dikalangan akademisi. Pertanyaan yang menarik yaitu bagaimanakah cara memadukan nilai-nilai budaya lokal (local wisdom) yang dapat diinformasikan secara go internasional sebagai hasil kebudayaan global untuk generasi penerus bangsa. Tidak dapat dipungkiri, bahasa dan seni memegang peranan yang sangat penting dalam hubungan global dan go internasional. Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting bagi manusia, karena dengan bahasa kita dapat mengetahui informasi yang kita butuhkan, selain itu kita dapat menyampaikan ide dan gagasan kita melalui bahasa. Oleh sebab itu, kita harus mampu menguasai bahasa dan elemen-elemennya, seperti kosa kata, struktur dan lain sebagainya. Bahasa muncul dan berkembang karena interaksi antar individu dalam suatu masyarakat. Sehubungan dengan peran penting bahasa sebagai bagian dari komunikasi dalam kehidupan manusia, Fromkin dan Rodman (1998: 5) menyatakan secara singkat sifat bahasa manusia yaitu

sebagai suatu sistem arbitary dari symbol suara yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk berkomunikasi dan mengenali satu sama lain. Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa internasional yang diajarkan secara luas di berbagai negara di dunia ini. Banyak penduduk di berbagai negara memakai bahasa Inggris sebagai alat komunikasi dalam berbagai pertemuan penting pada tingkat internasional (Richards and Rodgers, 1986:1). Keberadaan bahasa Inggris mempunyai andil besar dalam bidang pendidikan karena sebagian besar buku induk dalam berbagai disiplin ilmu ditulis dalam bahasa Inggris, yakni dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Sebagai sarana komunikasi global, bahasa Inggris harus dikuasai secara aktif baik lisan maupun tulisan. Sayangnya dewasa ini, sebagian masyarakat masih berparadigma bahwa dengan adanya bahasa Inggris maka akan lahirlah generasi-generasi penerus bangsa yang hilang akan jati diri bangsa. Perdebatan tentang penggunaan bahasa sebagai jati diri bangsa tidak akan selesai apabila kita memandang secara sempit dan pasif terhadap perkembangan zaman. Pembelajaran bahasa Inggris tidak memberatkan bagi anak,apabila dikemas dengan menyenangkan bagi anak dan kesiapan menerima kemampuan bahasa Inggris akan sangat berguna bagi anak di masa mendatang yang penuh dengan tantangan serta persaingan global. Tujuan pembelajaran bahasa Inggris untuk anak adalah menumbuhkan minat dan memahami karakteristik sehingga dapat memilih metode serta bahan ajar yang sesuai dengan anak. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah melalui metode bercerita dengan media cerita bergambar. Kegiatan bercerita kepada anak melalui belajar bahasa dengan cara menyimak atau menerima pesan yang terkandung di dalamnya. Selain untuk mengembangkan bahasa, cerita dapat memberi contoh kehidupan sosial yang positif jika guru dapat memilih cerita dengan pesan yang tepat (Suyanto, 2007:19).

Cerita

adalah

tuturan

yang

membentangkan

bagimana

terjadinyasuatu hal (peristiwa atau kejadian); karangan yang menuturkan perbuatan,pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya. (baik yang sungguh sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka).

Media gambar menurut Riyanto (1982:24) merupakan salah satujenis bahasa yang memungkinkan terjadinya komunikasi, yang diekspresikan lewat tanda dan simbol. Media ceita bergambar yang dimaksud adalah alat berupa buku yang berisi tentang cerita-cerita disertai gambar yang menarik. Perlu pemikiran kreatif dan inovasi untuk menciptakan hasil-hasil budaya lokal yang dikemas supaya diterima serta dipelajari secara global. Tidak hanya sebagai mata pelajaran di kurikulum saja, melainkan kita dapat berpikir lebih luas dan berwawasan secara holistik bahwa bahasa Inggris harus dikenalkan pada peserta didik yang menjadi generasi awal dalam dunia pendidikan secara integral. Upaya pelestarian budaya lokal seperti mengangkat keragaman budaya setempat dapat menjadikan generasi muda memiliki tanggung jawab terhadap lingkungannya. Pelestarian budaya lokal dengan mencetak ulang dan membuat budaya baru belum dapat membawa karakteristik budaya lokal menjadi budaya yang diminati generasi muda. Salah satu usaha untuk melestarikan budaya lokal melalui sumber belajar dalam pendidikan yang harapannya dapat memberikan pemahaman tentang hasil-hasil budaya setempat kepada generasi penerus. Sumber belajar untuk mengenalkan budaya lokal melalui kegiatan pembelajaran dengan mengefektifkan fungsi media dalam pembelajaran bagi anak. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian kita sebagai sarana melestarikan budaya lokal dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, perlu menetapkan media pembelajaran yang dapat diterima oleh generasi sekarang dengan revitalisasi budaya lokal dalam era globalisasi. Model pelestarian budaya melalui media visualisasi diharapkan dapat mengembangkan konsep pendidikan lintas budaya dengan karakter-karakter budaya daerah melalui kajian ilmu pengetahuan, bahasa dan seni. Rekonstruksi dalam bentuk visualisasi ulang terhadap karakter budaya lokal dengan gaya visual dan cerita yang baru agar bisa diterima generasi muda. Apabila kita lihat kondisi saat ini, media cerita dan gambar sudah menjadi bahan umum yang menjangkau seluruh tingkatan usia, tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Seiring dengan perjalanannya, cerita-cerita dituangkan ke dalam tulisan yang kita kenal dengan karangan semakin meluas untuk dikembangkan penggunaannya, sedangkan gambar (visual) dikenal sebagai buatan manusia berupa karya dua dimensi, yang mempunyai kemiripan dengan suatu obyek biasanya obyeknya fisik atau manusia dapat sebagai media pendukung. Media cerita bergambar dapat menirukan suatu objek dimana objek tersebut menjadi perilaku cerita dalam suatu kegiatan atau kejadian. Menurut Sadiman (2008:28) klasifikasi media pembelajaran mempunyai karakteristik yang dilihat dari kemampuan membangkitkan rangsangan indera penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecapan maupun penciuman atau sesuai dengan tingkat hirarki belajar. Media pembelajaran dalam cerita bergambar berupa visual dan teks bahasa Inggris membantu menyampaikan pembelajaran untuk belajar berbahasa Inggris lebih dini yang disesuaikan dengan karakteristik anak . Terkait dengan usaha pelestarian budaya lokal dalam bidang pendidikan, media pembelajaran tidak hanya menjalankan fungsi alih ilmu pngetahuan (transfer of knowledge) tapi juga berfungsi untuk menanamkan nilai (value) serta membangun karakter (Character Building) peserta didik secara berkelanjutan dan berkesinambungan.Budaya lokal di Kabupaten Kudus terbentuk oleh sejarah asal usul dan perkembangannya yang di dasari perjuangan penyebaran agama islam di pulau Jawa. Perwujudan budaya lokal terdapat pada tradisi, religi, sosial, teknologi dan seni. Peninggalan-peninggalan sejarah dan benda cagar budaya yang berhubungan dengan ajaran Hindu-Islam yang ada di pulau Jawa terdapat di Kabupaten Kudus (Salam, 1977:5). Banyak peninggalan yang bermakna mulia ditinggalkan oleh Sunan Kudus harus dilestarikan oleh masyarakatnya sampai kapanpun seperti kebersamaan hidup dan saling tolong-menolong.Salah satu contohnya kebersamaan hidup yang direalisasikan dalam suatu semangat motto kehidupan Kota Kudus “Gusjigang”. Adanya Gusjigang akan menjadi semangat bagi generasi muda dalam menulusuri dan menggali potensi-potensi lokal pada masa lalu. Dalam penggalian potensi dan budaya kita bisa

menggunakan konsep mempertahankan pola lama dan mengambil hal baru pola yang baru yang lebih baik Sumber materi belajar itulah dijadikan ciri khas yang berbeda dengan daerah lain dan perlu diangkat menjadi materi pembelajaran mengenai pengenalan budaya lokal Kabupaten Kudus terhadap generasi muda khususnya dalam rencana penelitian ini adalah siswa-siswa Sekolah Dasar sebagai usia anak yang perlu untuk ditanamkan pengetahuan dasar. Mengenalkan hasilhasil budaya kepada anak juga memerlukan strategi pembelajaran yang sesuai berupa media pembelajaran dengan tingkat perkembangan anak. Penelitian ini berupaya memberikan model pelestarian budaya dengan komunikasi global untuk mengembangkan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa inggris berupa visualisasi yang baru terhadap karakterkarakter budaya lokal di Kabupaten Kudus dalam kajian ilmu pengetahuan sosial, bahasa dan seni agar bisa diterima khususnya bagi siswa Sekolah Dasar.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah di

kemukakan, maka rumusan masalah yang akan diselesaikan melalui penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

Bagaimana karakteristik pengembangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi?

2.

Bagaimana prinsip pengembangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi?

3.

Bagaimana hasil pengujian produk media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi?

BAB. 2 LANDASAN TEORI 2.1 Media Cerita Bergambar Kata “media” berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medius, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Untuk mewujudkan gagasan dalam bentuk karya diperlukan adanya media. Media berperan atau memiliki kedudukan sebagai sarana bagi seseorang untuk mengekspresikan diri (Djamarah, 2006: 120). Cerita adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian dan sebagainya) atau dengan kata lain cerita merupakan karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang, kejadian dan sebagainya (baikyang sungguh-sungguh terjadi maupun yang rekaan belaka). Pengertian cerita bergambar merupakan media dari kesatuan cerita disertai dengan gambar (visual) yang berfungsi sebagai aspek pendukung cerita yang dapat membantu proses pemahaman terhadap isi cerita tersebut. Cerita bergambar sebagai media grafis yang dipergunakan dalam proses pembelajaran, memiliki pengertian praktis, yaitu dapat mengkomunikasikan fakta-fakta dan gagasan-gagasan secara jelas dan kuat melalui perpaduan antara pengungkapan kata-kata dan gambar. Mitchell dalam Umi Faizah (2009:252) mengatakan, bahwa buku cerita bergambar adalah buku yang di dalamnya terdapat gambar dan kata-kata, di mana gambar dan kata-kata tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling bergantung agar menjadi sebuah kesatuan cerita. Menurut Ardianto (2007) cerita bergambar adalah suatu bentuk seni yang menggunakan gambargambar tidak bergerak yangdisusun sedemikian rupa sehingga membentuk jalinan cerita. Fungsi gambar sebagai bentuk ekspresi komunikasi universal yang dikenal khayalak luas. Melalui cerita bergambar diharapkan pembaca dapat dengan mudah menerima informasi dan diskripsi yang hendak disampaikan. Berdasarkan beberapa definisi di atas jelas bahwa cerita

bergambar adalah sebuah cerita ditulis dengan gaya bahasa ringan, cenderung dengan gaya obrolan, dilengkapi dengan gambar yang merupakan kesatuan dari cerita untuk menyampaikan fakta atau gagasan tertentu. Cerita dalam cerita bergambar juga seringkali berkenaan dengan pribadi atau pengalaman pribadi sehingga pembaca mudah mengidentifikasikan dirinya melalui perasaan serta tindakan dirinya melalui perwatakan tokoh-tokoh utamanya. Bentuk dari cerita bergambar adalah media visual umumnya berupa buku yang dikemas dengan menarik. Beberapa karakteristik buku cerita bergambar menurutSutherland dalam Umi Faizah (2009: 252) antara lain adalah: a) buku cerita bergambar bersifat ringkas dan langsung; b) buku cerita bergambar berisi konsep-konsep yang berseri; c) konsep yang ditulis dapat difahami oleh anak-anak; d) gaya penulisannya sederhana; e) terdapat ilustrasi yang melengkapi teks. Perancangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris dibuat dengan menarik pada bagian gambar dan teks yang menggunakan materi bahasa Inggris yang sederhana dengan mengenalkan kosakata disertai pelafalannya. Media cerita bergambar anak akan dibuat dengan beberapa materi budaya lokal Kabupaten Kudus dengan format buku bahan ajar berseri sehingga dapat memfokuskan pengenalan objek budaya lokal dalam pembelajaran bahasa Inggris. 2.2

Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Anak Mata

pelajaran

bahasa

Inggris

sebenarnya

sudah

ada

pada

pembelajaran di Sekolah Dasar dan dilaksanakan selama kurang lebih 10 tahun. Kebijakan tentang dimungkinkannya pelajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar secara resmi dibenarkan sebab dilandasi dengan kebijakankebijakan terkait. Kebijakan Depdikbud RI No. 0487/4/1992, Bab VIII, menyatakanbahwa Sekolah Dasar dapat menambah matapelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional. Kemudian, kebijakan ini disusul oleh SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993tentang

dimungkinkannya program bahasa Inggris di sebagai mata pelajaran muatan lokal Sekolah Dasar, dan dapat dimulai pada kelas 4 SD. Selanjutnya Kebijakan Nasional itu ditindaklanjuti di daerah-daerah dengan beragam, bahkan ada yang menentukan mata pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal pilihan. Kurikulum bahasa Inggris sebagai muatan lokal yang ada bila benarbenar kita cermati masih banyak kelemahannya. Tujuan yang merupakan salah satu komponen penting pengajaran bahasa Inggris tidak sesuai untuk perkembangan anak usia 6–12 tahun (usia siswa Sekolah Dasar). Bahasa asing di Sekolah Dasar sebenarnya untuk memperkenalkan kepada siswa bahwa ada bahasa lain selain bahasa ibu (bahasa Indonesia). Di Indonesia dengan adanya kebijakan di muka, seyogyanya bahasa Inggris diperkenalkan melalui kegiatan yang sesuai dengan kegiatan di dunia anak, misalnya, belajar kosakata dan kalimat sederhana tentang apa yang ada di sekitarnya atau belajar sambil menggambar, menyanyi, bermain, dan berceritera. Piaget (Hoskisson & Tompkins, 1987: 11) menyatakan bahwa siswa Sekolah Dasar adalah concrete thinkers (pemikir konkrit). Mereka belajar dengan baik melaluiketerlibatan secara aktif.Keterlibatan dalam penggunaan bahasa secara aktif dapatdibuat lebih bermakna apabila dikaitkan dengan pengalaman dan hal-hal nyata dalamkehidupan anak. Asri Budiningsih (2005: 39) menyatakan bahwa untuk menghindariketerbatasan berfikir, anak perlu diberi gambaran konkrit sehingga ia mampumenelaah persoalan. Anak usia 7 sampai

12

tahun

abstrak.Pembelajaran

masih kosakata

memiliki bahasa

masalah Inggris

mengenaiberfikir

kepada

anak-anak,

sebaiknyadidasarkan pada bagaimana mereka belajar bahasa.Hal ini juga dinyatakan oleh Hoskisson& Tompkins (1987: 44) bahwa pembelajaran bahasa harus didasari pada bagaimanaanak-anak belajar dan bagaimana mereka belajar bahasa. Guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan cara belajarnya. Pertama, siswa perludiajarkan bentuk bahasa lisan dan tulisan.Kedua, siswa perlu mendapat kesempatanuntuk meniru bentuk-bentuk bahasa tersebut.

Ruang lingkup penelitian ini tidak hanya untuk anak sebagai siswa Sekolah Dasar namun dapat diterapkan pada anak-anak di luar kegiatan belajar mengajar seperti pembelajaran di rumah yang dapat dilakukan oleh orang tua masing-masing. Harapannya bahwa dengan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris seperti Big Book sebagai penghantar tidur anak-anak yang dibacakan oleh orang tua anak. 2.3

Budaya Lokal Di dunia Barat istilah budaya juga digunakan dalam pengertian yang

populer, yaitu budaya tinggi (high culture) untuk menyebut bidang estetik (keindahan) seperti seni, drama, balet dan karya sastra dan budaya rendah (low culture) untuk menyebut seni yang lebih populer seperti musik pop, dan media massa. Namun ada beberapa ciri khas budaya yang dapat dijadikan petunjuk untuk memperoleh gambaran tentang definisi budaya. Menurut Margaret Mead (1901-1978) budaya adalah perilaku yang dipelajari dari sebuah masyarakat atau sub kelompok. Ada banyak pengertian mengenai kebudayaan yang dipergunakan. Kluckhohn dan Kroeber mencatat sekitar 175 definisi kebudayaan yang berbeda. Koentjaraningrat mengartikan budaya dalam arti sempit dan luas. Dalam arti sempitbudaya itu adalah kesenian(Koentjaraningrat, 2000). Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa budaya itu berkaitan dengan kata kunci yang mencakup (1) gagasan, (2) perilaku dan (3) hasil karya manusia. Sebagai pedoman pembahasan kita selanjutnya, pengertian kebudayaan ini difokuskan pada pendapat Bullivant yang mendefinisikan budaya sebagai program bertahan hidup dan adaptasi suatu kelompok dengan lingkungannya. Program budaya terdiri dari pengetahuan, konsep, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh anggota kelompok melalui sistem komunikasi. (Banks, 1993: 8). Sulitnya untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal, mengingat ini akan terkait teks dan konteks. Menurut Judistira (2008: 141), kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentukan kebudayaan nasional. Berdasarkan sebuah skema sosial

budaya yan g ada di Indonesia dimana terdiri dari masyarakat yang bersifat manajemuk dalam stuktur sosial, budaya (multikultural) maupun ekonomi. Luasnya kajian budaya dalam kehidupan bermasyarakat dapat dikelompokkan berdasarkan asal usul dan geografis kewilayahan. Budaya asli dari suatu kelompok masyarakat tertentu yang juga menjadi ciri khas budaya sebuah kelompok masyarakat lokal dinamakan budaya lokal. Menurut Abdullah (2010: 25), budaya lokal merupakan kebudayaan yang terikat pada batas-batas fisik dan geografis yang jelas. Misalnya, budaya Jawa yang merujuk pada suatu tradisi yang berkembang di Pulau Jawa. Oleh karena itu, batas geografis tertentu dijadikan landasan untuk merumuskan definisi suatu kebudayaan

lokal.

Proses

perubahan

sosial

budaya

telah

muncul

kecenderungan mencairnya batas-batas fisik suatu kebudayaan sebagai budaya lokal pendukung budaya nasional. Budaya lokal merupakan jati diri dan identitas bangsa perlu diperkenalkan kepada generasi penerus bangsa. Budaya lokal memiliki banyak nilai luhur lokal yang penting sebagai pegangan kehidupan sosial masyarakat khususnya dan generasi penerus. Setiap budaya lokal memiliki aksentuasi terhadap daerah-daerah lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah. 2.4

Revitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus Peninggalan atau ajaran para leluhur merupakan salah satu bentuk

warisan yang harus dilestarikan.Sedikit warisan peninggalan leluhur yang masih tersisa saat ini, membutuhkan perhatian semua pihak agar tidak ikut punah termakan oleh zaman yang semakin maju. Banyak peninggalan fisik maupun non-fisik yang terdapat di Kabupaten Kudus harus dilestarikan oleh masyarakatnya sampai kapanpun seperti kebersamaan hidup dan saling tolongmenolong. Menurut Koentjaraningrat menyebut konsep kebudayaan sebagai sistem ide yang dimiliki bersama oleh masyarakat pendukungnya meliputi: (1)kepercayaan; (2) pengetahuan; (3) keseluruhan nilai dan norma hubungan antar individu dalam suatu komunitas yang dihayati, dilakukan, ditaati, dan dilestarikan; (4) keseluruhan cara mengungkapkan perasaan dengan bahasa lisan, tulisan, nyanyian, permainan musik, tarian, lukisan atau penggunaan

lambing (Soetarno: 2004).

Upaya merevitalisasi budaya lokal kabupaten

Kudus dalam penelitian ini difokuskan pada aspek: (1) Religi, (2) Nilai dan Norma, (3) Pengetahuan, (4) Tekhnologi, dan (5) Seni. Sebagai wilayah kabupaten yang terbilang kecil di Jawa Tengah, namun perekonomian dan tarafhidup masyarakatnya sangat bagus. Majunya dunia perdagangan dan industri di Kudus, tak bisa dilepaskan dari wirausaha yang fondasinya telah ditata sedemikian rupa oleh Sunan Kudus sebagai pendiri kota. Sunan Kudus pun telah meletakkan dasar kuat bagi masyarakat agar tidak sekedar mementingkan agama dan mencari ilmu saja, melainkan harus ada keseimbangan dengan mengembangkan bisnis (wirausaha). Budaya religi di Kabupaten Kudus telah ditanamkan oleh ajaran Sunan Kudus mengenai toleransi dan keragaman agama yang terjaga dengan baik sehingga menciptakan kondisi masyarakat yang religius dan industri. Salah satu contoh hasil budaya lokal Kabupaten Kudus adalah etos hidup Gusjigang artinya berasal dari kata Gus=Bagus, bagus akhlaknya yang artinya pembentukan karakter dari dalam, Ji=Ngaji, bukan berarti mengaji AlQuran tetapi lebih diartikan secara luas belajar atau menuntut ilmu tanpa mengenal apapun (dimanapun dan kapanpun), Gang=Dagang, bukan berarti pandai berdagang melainkan pemenuhan kebutuhan untuk melanjutkan kehidupan masyarakat Kabupaten Kudus. Di samping itu juga aset budaya yaitu terdapat peninggalan sejarah sebagai identitas tempat yang ada di Kabupaten Kudus seperti menara Kudus dan rumah adat Kudus merupakan hasil tekhnologi pada masa itu. Cita rasa kuliner dan seni budaya seperti keberadaan budaya rakyat masih dijumpai dan diselenggarakan di Kabupaten Kudus.Pelestarian budaya di Kabupaten Kudus diupayakan mengenalkan melalui pendidikan untuk anak.Perlunya media pembelajaran yang dapat menerangkan dengan metode menyenangkan dan belajar bermain. Media visual seperti cerita bergambar yang terdiri dari cerita sebagai pengenalan secara teks dan verbal melalui pelafalan (pronunciation) dan pengenalan kosakata (vocabulary) dalam pembelajaran bahasa inggris untuk peserta didik usia dini. Menurut Suryanto (2007:19), anak-anak menyukai cerita sebagaimana mereka menyukai

permainan. Melalui cerita, anak dapat melatih dan memusatkan perhatian pada konteks secara keselurahan daripada jika dinyatakan kata per kata.Banyak aktivitas yang menggunakan contoh, gerak, ekspresi dan pemanfaatan gambar untuk mempermudah belajar bahasa inggris. Melalui media cerita bergambar anak, kegiatan pembelajaran inovatif dan kreatif untuk menghidupkan atau menggiatkan kembali berbagai budaya lokal Kabupaten Kudus lebih dapatdibangkitkan kembali keberadaannya melalui

pembelajaran

bahasa

internasional

sebagai

jawaban

untuk

menyongsong era globalisasi. Jadi,revitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus ini secara umum adalah upaya dan usaha untuk menjadikan budaya setempat menjadi penting dan perlu sekali dengan berbagai konsep komunikatif secara global. 2.5

Kerangka Berfikir Dari penjelasan tersebut, peneliti menyimpulkan konsep dasar

pemikiran melalui kerangka berpikir yang dirancang berupa bagan sebagai berikut : Pemb. Bahasa Inggris untuk Anak

Vocabulary

Budaya Lokal Kabupaten Kudus

1. Religi 2. Nilai dan Norma 3. Pengetahuan 4. Tekhnologi 5. Seni

Pronounciation

Media: Cerita Bergambar

Teks

Visual

Media Cerita Bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Merevitalisasi Budaya lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi

Bagan 1. Kerangka berpikir dalam penelitian “ Media Cerita Bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Merevitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus

2.6

Penelitian yang Relevan

a). I Nyoman Mardika, 2006. Pengembangan Multimedia dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris di Sekolah Dasar.Hasil penelitian ini adalah: (1) pengembangan multimedia pembelajaran kosakata bahasa Inggris kelas V sekolah dasar melalui enam langkah, yaitu: menganalisis, mendesain, memproduksi, memvalidasi, merevisi, dan mengujicoba; (2) kualitas multimedia pembelajaran yang dikembangkan ditinjau dari aspek isi, pembelajaran, tampilan, dan pemrograman adalah baik. (3) aspek daya tarik menunjukkan bahwa multimedia pembelajaran yang dikembangkan sangatmenarik: dan (4) penggunaan multimedia pembelajaran kosakata bahasa Inggris berdampak baik terhadap ketuntasan belajar siswa. Materi media

pembelajaran

Bahasa

Inggris

menerapkan

kosakata

untuk

pembelajaran di Sekolah Dasar dengan media multimedia yang disesuaikan dengan karakter perkembangan usia anak. Bahan ajar yang disampaikan masih berupa materi umum yaitu pengenalan lingkungan dan belum mengarah pada tujuan lingkungan secara lokal khususnya hasil-hasil kebudayaan sebagai materi pokok pembelajaran Bahasa Inggris. b). Maria Johana dan Ari Widayanti, 2007. Komik sebagai Media Pengajaran

Bahasa yang Komunikatif bagi Siswa SMP.Penelitian ini

mengajarkan bahasa yang komunikatif berbeda dari pengajaran tradisional di kelas.Penggunaan komik dalam mengajarkan keahlian membaca sangat tepat pada pengajaran bahasa yang komunikatif.Komik adalah sejenis teks yang sudah dikenal oleh siswa.Sebagai media membaca, komik adalah media yang menarik.Ilustrasi yang penuh warna, tema dan plot yang sederhana serta kalimat yang mudah dipahami.Komik menggabungkan antara kata dan gambar sehingga pembaca dapat melihat karakter tokoh melalui ilustrasi gambar.Bahasa yang digunakan dalam komik adalah bahasa yang sederhana. Ada beberapa alas an menggunakan komik sebagai media mengajarkan keahlian membaca pada siswa SMP yaitu: (1) Banyak siswa sudah mengenal komik. Siswa menganggap komik adalah bacaan yang menarik dan menyenangkan, (2) Komik adalah jenis bacaan yang ringan dan mudah dipahami. Komik berisi gambar dan percakapan singkat

yang ditulis dalam bentuk bubbles. Kosa kata yang digunakan adalah kosa kata yang sederhana dan dapat dipahami melalui penggabungan antara gambar dan konteks kalimat. (3) Struktur kalimat yang digunakan adalah struktur kalimat sederhana sehingga siswa dapat memahami makna tiaptiap kalimat.Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa menggunakan media pembelajaran berupa teks dan gambar tepat dan sesuai dengan pengajaran bahasa yang komunikatif. Tingkat pemahaman siswa SMP dapat memahami alur cerita dalam media komik, tetapi berbeda pula pada anak usia sekolah di tingkat Sekolah Dasar. Anak lebih suka dan faham apabila diceritakan serta dipertunjukkan visual pada cerita bergambar sehingga komunikasi dalam mempelajari bahasa Inggris lebih fokus pengenalan lingkungan pada budaya setempat. BAB. 3 METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis metode penelitian yang digunakan adalah metode Penelitian dan Pengembangan (Research and Development atau R&D). Menurut Samsudi (2006:74) menjelaskan penelitian dan pengembangan berupaya menghasilkan suatu komponen dalam sistem pendidikan, melalui langkah-langkah pengembangan dan validasi. Penelitian Pengembangan (Research and Development atau R&D) digunakan apabila peneliti bermaksud menghasilkan produk tertentu, sekaligus menguji kelayakan produk tersebut. Dalam penelitian pengembangan ini menggunakan model prosedural yang mendeskripsikan tahapan yang harus diikuti untuk menghasilkan produk media pembelajaran berupa cerita bergambar anak. Untuk tahap awal penelitian, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan memperoleh data faktual di lapangan penelitian. Alasannya adalah permasalahan penelitian ini bersifat holistik (menyeluruh), kompleks, bermakna dan dinamis.

Secara garis besar, keseluruhan bagan alir tahap rancangan penelitian dan pengembangan dapat dilihat pada gambar bagan 3.1 berikut ini. Tahap Studi Pengembangan

Tahap Studi Pendahuluan

Tahap Evaluasi

Media Cerita Bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Merevitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi

Bagan2. Tahapan Kegiatan Pengembangan Media Cerita Bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris untuk Merevitasisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi.

3.2 Subjek Penelitian Penelitian ini diterapkan pada pembelajaran anak yaitu beberapa siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus yang diharapkan dapat mengaplikasikan perencanaan pembelajaran Bahasa Inggris kepada anak. Kabupaten Kudus terdiri dari 9 Kecamatan yang nantinya penelitian melalui perwakilan 3 (tiga) Sekolah Dasar di UPT Pendidikan Kota Kudus yang menggunakan bahasa Inggris

sebagai

intrakurikuler

pembelajaran.

Pelaksanaan

penelitian

pengembangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi, dilaksanakan pada pembelajaran semester dua tahun ajaran 2013/2014. 3.3 Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada jam kegiatan belajar mengajar semester II tahun ajaran 2013/2014, yang rencana pada bulan Juli 2014 di Sekolah DasarKabupaten Kudus. 3.4 Desain Penelitian Model penelitian pengembangan menggunakan pola yang telah dikembangkan oleh Samsudi, dengan tiga tahap yaitu : Tahap studi pendahuluan, tahap pengembangan dan tahap validasi.

a. Tahap Studi Pendahuluan Tahap ini bertujuan untuk membekali peneliti dengan pengetahuan dan keterampilan dalam merancang media cerita bergambar anak dengan teks bahasa Inggris mengenai budaya di Kabupaten Kudus. Proses tahap ini disarankan mengikuti proses penelitian yang diteliti. (1). Studi Literatur Selanjutnya studi literatur dalam tahap studi pendahuluan, digunakan untuk menemukan landasan teoritis yang memperkuat suatu produk media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris. Melalui studi literatur dikaji pula ruang lingkup suatu produk media pembelajaran dan keleluasan penggunaan produk cerita bergambar anak di kabupaten Kudus dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris. Tahap studi literatur diketahui pula langkah-langkah yang paling tepat untuk mengembangkan suatu produk media pembelajaran tersebut dengan cara menganalisis isi kurikulum bahasa Inggris, yang berlaku. Dari kegiatan analisis tersebut, peneliti dapat menemukan karakteristik dan prinsip media cerita bergambar anak di Kabupaten Kudus. Dari tahapan tersebut dapat menyesuaikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada di kurikulum. Begitu juga dapat mengembangkan indikator, materi pokok dan evaluasi yang cocok dengan siswa Sekolah Dasar Kabupaten Kudus. Studi literatur juga memberikan gambaran hasil-hasil penelitian yang kompeten sebagai bahan perbandingan untuk mengembangkan suatu produk cerita bergambar anak untuk siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus. Pada tahap ini juga perlu pengembangan dan pengkajian ulang penelitian dengan berkonsultasi dengan ahli yang bersangkutan. (2). Studi Lapangan Tentang Analisis Kebutuhan Analisis kebutuhan merupakan langkah yang diperlukan sebagai awal perencanaan untuk menentukan ciri pembelajaran bahasa Inggrisuntuk anak, kemampuan dalam pendekatananak dan pengalaman belajar anak(dalam penelitian ini adadalah siswa Sekolah Dasar) sebagai individu maupun sosial.

Data karakteristik guru dan siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus yang diperlukan antara lain informasi akademik, keaktifan kegiatan belajar mengajar, klasifikasi guru dan siswa yang dimiliki, kemampuan guru dalam proses pembelajaran, media dan evaluasi pembelajaran bahasa Inggris. Langkah ini bertujuan untuk mengetahui kendala dan hambatan guru Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris menggunakan media cerita bergambar anak mengenai budaya lokal. Dengan mengumpulkan informasi dari guru Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus melalui instrumen kuesioner analisis kebutuhan, peneliti dapat mengetahui kendala dan hambatan tersebut yang dijadikan pertimbangan dan kajian dalam produk pengembangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa inggris mengenai identitas budaya lokal di Kabupaten Kudus. (3). Studi Deskripsi dan Analisis Kebutuhan Tujuan pada tahap ini diperlukan untuk mendeskripsikan suatu konsep dari studi literatur dan studi lapangan tentang analisis kebutuhan yang telah diperoleh dari identifikasi masalah di lapangan dengan kesesuaian teori atau kajian pustaka sehingga perlu adanya kegiatan konsultasi para ahli yang bersangkutan. Berdasarkan tahapan di atas, maka dibuat perencanaan atau rancangan produk sebagai acuan untuk mengembangkan media pembelaran berupa cerita bergambar anak yang antara lain mencakup: pengembangan cerita, desain gambarnya

yang disesuaikan dengan

pendekatan kontekstual untuk siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus. b. Tahap Studi Pengembangan dan Validasi (1). Penyusunan Draft Langkah ini menjadi awal dalam membuat cerita bergambar anak dengan memperhatikan isi, bahasa, format dan ilustrasi gambar serta pendukung pembelajaran kontekstual mengajar bahasa Inggris. Rancangan dalam draft media cerita bergambar anak dengan pembelajaran bahasa Inggris mengenai budaya lokal di Kabupaten Kudus didasari kurikulum yang berlaku dengan konsep dan model pembelajaran yang disesuaikan sebagai berikut:

a). Psikologi pendidikan mencakup nilai-nilai kejiwaan pada siswa Sekolah Dasar. Hubungan psikologi siswa dan guru serta lingkungan Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus yang menjadi pertimbangan khusus dalam pengembangan produk cerita bergambar tersebut. b). Pembelajaran bahasa Inggris terdiri dari mencakup semua kompetensi yang dalam penelitian ini meliputi aspek pengenalan kosakata (vocabulary) dan kemampuan pelafalan (Pronunciation) melalui media cerita bergambar anak yang disesuaikan siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus. c). Pembelajaran bahasa Inggris mencakup prinsip yang menyenangkan dengan media visual berupa cerita bergambar. (2). Penyusunan Produk Peneliti melakukan sejumlah perencanaan pengembangan media pembelajaran berupa media cerita bergambar, dalam sebuah produk yang dirasakan oleh peneliti sendiri untuk sementara sudah merasa cukup sehingga perlu adanya masukan dan saran dari pihak di luar peneliti (validator) dengan tujuan supaya dapat menjadikan perangkat tersebut baik dan sempurna. (3). Tahap Validasi Pada tahap validasi ini peneliti mendiskusikan dan berkonsultasi dengan orang yang mempunyai keahlian (validator) dalam bidang pendidikan pembelajaran bahasa Inggris, pengembangan pendidikan dalam bidang media pembelajaran, budayawan dan pendidikan seni rupa. Tahap ini bertujuan untuk memberikan penilaian secara umum terhadap“Media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal di Kabupaten Kudus“, dengan menyatakan bahwa : a). Media cerita bergambar anak ini dapat dikategorikan tidak baik, kurang baik, cukup, baik dan sangat baik. b). Media cerita bergambar anak tersebut belum dapat digunakan, masih memerlukan konsultasi insentif, dapat digunakan dengan revisi banyak, dapat digunakan dengan revisi sedikit, dapat digunakan tanpa revisi.

Draft dikonsultasikan

media

cerita

dengan

bergambar

guru

kelas

anak

tersebut

beserta

kemudian budayawan,

stakeholderpemerintah di Kabupaten Kudus untuk memberikan masukan dan saran. Hasil masukan dan saran dijadikan dasar revisi draf media pembelajaran berupa cerita bergambar anak tersebut . (4). Tahap Uji Coba Produk Uji coba di lapangan, dilakukan di Sekolah Dasar dengan melibatkan guru dan siswa. Dalamuji coba penelitian ini menggunakan desain eksperimental semu atau Pre-Experimental design. Rumusan desain yang digunakan menguji kelayakan

model adalah menggunakan desain

penelitian One Group Pretest – Posttest Design. Kegiatan ujicoba tidak menggunakan kelompok kontrol. Desain dilakukan dengan membandingkan hasil pre-test dengan hasil post-test ujicoba pada kelompok siswa di Sekolah Dasar Kabupaten Kudus. Pre-test diberikan saat siswa Sekolah Dasar belum diperlakukan oleh guru kelasnya yaitu dengan melaksanakan pembelajaran menggunakan perangkat media pembelajaran konvesional dalam waktu yang telah ditentukan. Fase kegiatan pre-test diberikan pengetahuan dan pemahaman dasar yang berupa materi pembelajaran bahasa Inggris dalam mengenalkan lingkungan sekitar. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah memberikan pembekalan terhadap guru Sekolah Dasar dalam mengajar siswanya untuk pengenalan benda-benda yang mungkin belum didengar, atau diketahuinya bahkan dikenal di kehidupan sosial budaya sekitar Kabupaten Kudus. Kegiatan tersebut dibantu oleh peneliti. Model eksperimen yang digunakan dapat dilihat sebagai berikut: Pengukuran

o1

Perlakuan

X

Pengukuran

o2

o1 = nilai pretest (sebelum diberikan perlakuan) o2 = nilai postest (sesudah diberikan perlakuan) Pengaruh perlakuan = (o2 – o1)

Tabel2. Tabel One Group Pretest – Posttest Design

Dalam perlakuan post-test, guru menggunakan produk media pembelajaran berupa cerita bergambar anak untuk siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus yang telah dirancang oleh peneliti. Produk tersebut digunakan guru kelas di Sekolah Dasar yang diterapkan kepada siswanya dengan panduan dan arahan peneliti sebelumnya. Secara garis besar tahap uji coba penelitian produk pembelajaran ini dibagi menjadi 4 bagian yaitu: (a) Kegiatan pembelajaran dengan media pembelajaran

konvesional

(tanpa

produk)

beserta

analisis

hasil

pembelajarannya, (b) Kegiatan pembelajaran dengan produk media pembelajaran beserta analisis hasil pembelajarannya (c) Kegiatan perbandingan hasil analisis tanpa produk (pre-test) dan hasil analisis menggunakan produk (post-test) yang bertujuan melihat perbedaan hasil kelayakan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk melestarikan identitas budaya lokal di Kabupaten Kudus. Hasil eksperimen ini selanjutnya dilakukan revisi untuk menghasilkan model pengembangan media pembelajaran yang teruji. Revisi hasil tidak cukup hanya membandingkan pre-test dan post-test saja, akan tetapi juga aktifitas selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Diantaranya seperti kinerja dan kemampuan guru sebagai fasilitator pembelajaran, keaktifan siswa dalam pembelajaran serta partisipasi pihak sekolah selama pembelajaran tersebut. (4). Tahap Evaluasi dan penyempurnaan Evaluasi dan penyempurnaan dikerjakan berdasarkan ujicoba produk, mendiskusikan dan berkonsultasi dengan pembimbing penelitian serta validator yang berkepentingan. Masukan dan saran dari hasil uji coba produk menjadikan evaluasi dan penyempurnaan hasil penelitian ini supaya dapat layak diterapkan sebagai produk yang siap dijadikan perangkat pembelajaran. Tahap evaluasi yang diperoleh dari hasil observasi dan monitoring merupakan bahan dasar yang digunakan untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan pembelajaran tersebut. Dari hasil proses evaluasi dan penyempurnaan kemudian ditarik kesimpulan, untuk dijadikan draft final

“Media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudusdi era globalisasi“. (5). Tahap Final Produk Setelah tahapan sebelumnya terlampaui, Jadilah produk “Media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi

budaya lokal Kabupaten kudus di era globalisasi“.

Berdasarkan keterangan diatas langkah-langkah rancangan penelitian pengembangan tersebut, secara lebih rinci tahapan atau prosedur penelitian dan pengembangan dalam penelitian ini dapat dilihat pada bagan berikut ini: 1. TAHAP STUDY PENDAHULUAN Studi Literatur

Studi Lapangan tentang analisis kebutuhan

Deskripsi dan analisis kebutuhan

2. TAHAP STUDY PENGEMBANGAN DAN VALIDASI Penyusunan draft cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi

TahapValidasi Penyusunancerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi

Uji Coba Produk (One Group Pretest-Posttest Design)

Bagan3. Alur Penelitian “Pengembangan Mediacerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi“ (Mengadopsi Model Samsudi 2009:92).

Evaluasi dan Penyempurnaan

Final : Mediacerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi

3.5 Sumber Data Salah satu langkah penting dalam kegiatan penelitian adalah menentukan informasi berupa data yang berharga untuk instrumen-instrumen yang cocok atau sesuai dengan kebutuhan penelitian tersebut. Tahap tersebut sangat penting untuk merumuskan dan menyusun teknik pengumpulan data, instrmen penelitian dan analisis data. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah merupakan data tambahan seperti dokumen dan foto-foto serta data statistik (Sumaryanto, 2007:100). Adapun sumber data pada penelitian ini adalah sebagai berikut: a.

Data hasil Penilaian Ahli Data berupa pernyataan tentang kevalidan media pembelajaran yang dikembangkan.Sumber data beberapa orang ahli yang kompeten dalam bidang pengembangan media pembelajaran.

b,

Data hasil Uji Coba Data berupa hasil pengembangan cerita bergambar anak untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus antara lain respon siswa, guru Sekolah Dasar, budayawan dan pihak yang bersangkutan dalam melaksanakan

pembelajaran

bahasa

inggris

menggunakan

media

pembelajaran tersebut. 6. Metode Pengumpulan Data Menurut Riduwan (2010:24), Metode pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data menggunakan : a.

Metode Angket Angket ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang respon

siswa terhadap perangkat pembelajaran. Teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data tersebut dengan memberikan LARS (Lembar Angket Respon Siswa), LARG (Lembar Angket Respon Guru) dan LARB (Lembar Angket Respon Budayawan) setelah proses pembelajaran penerapan media pembelajaran cerita bergambar anak tersebut.

b.

Metode Wawancara Wawancara dilakukan sebagai teknik pengumpulan data apabila

peneliti

ingin

melakukan

studi

pendahuluan

untuk

menemukan

permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahuihal-hal dari responden yang lebih dalam. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Riduwan (2010:102), bahwa wawancara suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui hal-hal dari responden secara lebih mendalam serta jumlah respondennya sedikit. Untuk mendapatkan informasi dalam penelitian pengembangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus

ini, maka peneliti

menggunakan wawancara tak berstruktur (unstructured interview). Dalam wawancara tidak berstruktur, penelitibelum mengetahui secara pasti data apa yang diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang diceritakan oleh responden yaitu siswa, guru dan stakeholder yang bersangkutan. Hal senada dikemukakan Sugiono (2010:320), wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secata sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang ditanyakan. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan siswa dengan tujuan

mengetahui kendala dan hambatan dalam penyampaian materi

tentang teknik yang digunakan, alat bantu dalam teknik, karakter penguasaan media dan kondisi pembelajaran bahasa inggris yang nyaman serta menyenangkan. Untuk guru, peneliti melakukan wawancara seputar penguasaan dan pemahaman tentang tujuan, metode, strategi dan penilaian yang cocok untuk pembelajaran Bahasa Inggris. Untuk Stakeholderyang bersangkutan, peneliti mewawancarai pihak pimpinan atau kepala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan serta Departemen Pariwisata di Kabupaten Kudus beserta para staff yang membantu dalam mengelola lembaga pendidikan tersebut. Hal yang perlu digali informasinya antara

lain program pemerintah, sarana dan prasarana yang ada, hubungan masyarakat setempat serta informasi yang dibutuhkan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian ini. Lembaga otoritas pendidikan setempat dan para pakar serta ahli yang sesuai dengan penelitian ini juga perlu diambil pendapatnya melalui wawancara sehingga manfaat penelitian ini dapat dirasakan oleh semua pihak. Dalam penelitian ini jenis pertanyaan dalam wawancaradapat digunakan pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman, pendapat, perasaan, pengetahuan, kritik dan saran. c.

Metode Observasi Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek

penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Apabila objek penelitian bersifat perilaku dan tindakan manusia, fenomena alam (kejadian-kejadian yang ada di alam sekitar), proses kerja dan penggunaan responden kecil (Riduwan, 2010:104). Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan observasi langsung ke objek penelitian yaitu dengan guru atau istilahnya observasi partisipan dengan asumsi bahwa data penelitian ini diperoleh lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari perilaku siswa Sekolah Dasar yang tampak. Peneliti dapat bertindak sebagai guruSekolah Dasar dalam pembelajaran bahasa Inggris terhadap siswa.Tujuannya supaya dapat merasakan hambatan dan kendala yang dialami oleh guru kelas Sekolah Dasar. Menurut

Susan

Stainback

(dalam

Sugiono,

2010:311),

menyatakan “In partisipant observation, the researcher observer what people do, listent to what they say, and participates in their activites”. Dalam observasi partisipatif peneliti mengamati apa yang dikerjakan guru dan siswa, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran bahasa Inggris untuk siswa Sekolah Dasar. Adapun observasi penelitian ini juga menggunakan partisipasi moderat yang mana peneliti menjadi orang dalam dan orang luar. Peneliti melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menganalisis kebutuhan siswa akan suatu media pembelajaran berupa cerita bergambar

anak dan ikut dalam beberapa kegiatan tatap muka proses kegiatan pembelajaran bahasa inggris, tetapi tidak semuanya. Observasi penelitian ini tahap pertama dilakukan dengan observasi deskriptif, peneliti melakukan penjelajahan umum dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar dan dirasakan dalam proses pembelajaran seni rupa tersebut. Semua data direkam berupa visual, teks, lisan dan hasil dari itu disimpulkan dalam keadaan yang belum ditata. Tahap kedua observasi terfokus, artinya bahwa tahapan ini peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus mengenai permasalahan yang dialami siswa dan guru Sekolah Dasar dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris Selanjutnya tahapan observasi terseleksi yaitu peneliti menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya lebih terperinci. Harapan pada tahapan ini dapat menemukan pemahaman yang mendalam atau hipotesis tentang pembelajaran bahasa Inggris melalui media cerita bergambar yang dirumuskan dalam perencanaan pembelajaran berupa media pembelajaran. d. Metode Test Test kegiatan pembelajaran vocabulary digunakan untuk mengetahui adanya peningkatan proses pengenalan kosakata bahasa, pemahaman

dan

penghayatan

kegiatan

tersebut

terhadap

proses

pembelajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Dalam metode ini termasuk test sikap yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap berbagai sikap siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus. Test kegiatan pembelajaran Pronunciation untuk mengetahui hasil belajar berupa aspek kemampuan dalam pelafalan berbahasa. Test tersebut merupakan jenis test instrument berupa test prestasi yang berguna untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari pembelajaran bahasa Inggris di Sekolah Dasar. e. Dokumentasi Penggunaan teknik dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, gambar, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya

(Arikunto, 2006:231). Hasil penelitian semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau hasil akademik yang telah ada. Tetapi dokumentasi tidak semua memiliki kredibilitas tinggi. Dokumentasi yang tidak mencerminkan keadaan aslinya, karena diambil untuk kepentingan tertentu. Data-data yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi cenderung

merupakan

data

sekunder,

sedangkan

data-data

yang

dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara dan angket cenderung merupakan data primer atau data yang langsung didapat dari pihak pertama.Bentuk dokumentasi dalam penelitian ini antara lain catatan mengenai perkembangan siswa, buku raport siswa, foto kegiatan pembelajaran bahasa Inggris Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus. Dalam mendokumentasikan catatan berupa perkembangan siswa bertujuan untuk mengetahui secara psikologi siswa sebab dapat pula antara individu berbeda-beda.Buku rapot menjelaskan tingkat prestasi pembelajaran bahasa Inggris maupun pelajaran lainnya yang dapat membantu peneliti melihat perkembangan akademik siswa selama ini.Dokumentasi berupa foto di ambil untuk melihat aktivitas yang dilakukan siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Kudus. f. Triangulasi Dalam teknik pengumpulan data ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulkan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan triangulasi maka sebenarnya peneliti melakukan pengumpulan data yang sekaligus menguji kredibilitas data-data yang ada, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data yang bervariasi. g. Metode Check List Instrumen yang digunakan untuk mengembangkan media pembelajaran berupa cerita bergambar anak adalah: (1) lembar validasi media, (2) lembar validasi bacaan (3) lembar validasi kegiatan

pembelajaran vocabulary (4) lembar validasi pembelajaran Pronunciation (5) lembar validasi angket respon siswa (6) lembar validasi angket guru dan budayawan. Teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data ini adalah dengan memberikan perangkat pembelajaran beserta lembar validasi kepada validator. Kemudian validator diminta untuk memberikan penilaian dengan cara memberikan tanda (√) pada kolom yang sesuai. 7.

Instrumen Penelitian Instrumen untuk pengembangan media cerita bergambar anak untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi terdiri dari: (1) lembar validasi media, (2) lembar validasi materi, (3) lembar validasi kegiatan pembelajaran, (4) lembar validasi LARS (Lembar Angket Respon Siswa) LARG (Lembar Angket Respon Guru) (5) lembar validasi LARB (Lembar Angket Respon Budayawan) dan(6) lembar validasi LARA (Lembar Angket Respon ahli) .

a. Lembar Validasi Berdasarkan target yang dicapai dalam mengembangkan media pembelajaran berupa cerita bergambar anak dalam pembelajaran Bahasa Inggris, perlu adanya instrumen oleh para ahli. Adapun indikator instrumen validasi media cerita bergambar anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi disajikan dalam tabel berikut. (1) Test Pembelajaran Bahasa Inggris Test pembelajaran Bahasa Inggris digunakan untuk mengetahui aspek kelancaran, keluwesan, keaslian dan elaborasi. Test ini diberikan kepada siswa sesudah pembelajaran media cerita bergambar dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Pada lembar validasi, validator diminta untuk menganalisis dan menilai (1) kesesuaian butir pertanyaan dengan tujuannya, (2) aspek penggunaan bahasa, (3) aspek penggunaan gambar. Validator juga diminta utuk memberikan kesimpulan validitas butir dalam 4 pilihan yaitu sangat valid, tidak valid dan sangat tidak valid. (2) Lembar Angket Respon

Lembar angket respon ini digunakan untuk menjaring pendapat dan penilaian siswa dan guru terhadap media pembelajaran berupa cerita bergambar anak. Instrumen ini divalidasi oleh para ahli, untuk keperluan penilaian diberikan lembar validasi beserta angket respon. Pada lembar validasi, validator diminta untuk menganalisa dan menilai (1) kesesuaian butir pertanyaan dengan tujuannya, (2) aspek penggunaan bahasa, (3) aspek penggunaan gambar. Validator juga diminta utuk memberikan kesimpulan validitas butir dalam 4 pilihan yaitu sangat valid, tidak valid dan sangat tidak valid. (3) Test Hasil Pembelajaran Bahasa Inggris Penyusunan test hasil belajar dimaksudkan untuk mendapatkan seperangkat alat test yang dapat digunakan untuk menilai hasil pembelajaran bahasa inggris vocabulary dan pronunciation. Dalam menyusun test hasil tersebut diperlukan adanya langkah-langkah yang harus ditempuh secara sistematis agar diperoleh test yang betul-betul valid sesuai dengan yang diharapkan. Langkah-langkah penulisan test yang ditempuh adalah: (1) analisis kurikulum, (2) analisis sumber, (3) menentukan tujuan pembelajaran khusus (4) merencanakan kisi-kisi (5) penulisan soal (6) penvalidasian oleh pakar (7) reproduksi soal dan (8) pelaksanaan test. 8. Teknik Analisa Data Penelitian ini menggunakan data teknik analisa data, yaitu teknik analisis deskriptif kualitatif dan analisis statistik deskriptif. a.

Analisis deskriptif kualitatif Teknik ini digunakan untuk mengolah data hasil review para ahli,

siswa, dan guru. Teknik analisis data dikelompokkan informasi dari data kualitatif berupa masukan, tanggapan, saran, kritik dan perbaikan yang sudah disediakan diangket. Hasil tersebut digunakan untuk merevisi produk“ Pengembangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran Bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi“.

b.

Analisis Statistik deskriptif Untuk menentukan kesimpulan yang telah dicapai maka ditetapkan

kriteria sesuai dengan tabel tingkat validasi sebagai berikut : Setelah diadakan uji coba, tahap selanjutnya yaitu menganalisis data.Data yang berupa jawaban angket subjek uji coba diolah dalam bentuk angka.Adapun rumus yang digunakan untuk sebagai berikut. Presentase = (jawaban x bobot tiap pilihan ) x 100%) n x bobot tinggi Tabel 3.Rumus analisis data berupa jawaban subjek ujicoba

Penyimpulan kelayakan media diidentifikasikan dengan nilai persentase skor. Semakin tinggi persentase skor pada analisis data, maka semakin tinggi tingkat kelayakan media itu. Adapun kriteria evaluasi uji coba terbatas tersajikan adalah 80%-100% tergolong baik/valid/layak; 60%-79% tergolong cukup baik/cukup valid/cukup layak; 50%-59% tergolong kurang baik/kurang valid/kurang layak; <50% tergolong tidak baik (diganti). Apabila pencapaian hasil yang diperoleh setelah dilakukan uji coba terbatas 60% maka produk media pembelajaran ini dapat dilanjutkan pada tahap pengembangan lebih lanjut. c.

Uji Hipotesis Rumus t-test berkolerasi yang digunakan sebagai berikut: 𝑡=

𝑀𝑑 𝑋2𝑑

𝑁 (𝑁 − 1) Dengan keterangan : Md

=

mean dari perbedaan pretest dengan post test (posttest-

=

deviasai masing-masing subjek (d-Md)

=

Jumlah kuadrat deviasi

N

=

Subjek pada sampel

d.b

=

ditentukan dengan N-1

pretest) xd X

2d

BAB. 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Pengumpulan Data Informasi Berdasarkan Lapangan Kegiatan pengumpulan data inforrmasi dalam penelitian Pengembangan Media Cerita bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Merevitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi dilakukan melalui observasi budaya lokal dari berbagai sumber di Kabupaten Kudus. Adapun budaya lokal yang dikumpulkan dari 7 unsur budaya dari lokasi yang terdapat di Kabupaten

Kudus

yang

dilakukan

secara

bertahap

dan

berkesinambungan dalam waktu dan tempat yang berbeda. Hasil dari tahap ini adalah melihat langsung budaya lokal Kudus meliputi peninggalan artefak, upacara-upacara budaya yang diadakan dan ajaranajaran yang masih dilakukan oleh masyarakat Kudus.

Foto 1. Beberapa studi lapangan untuk materi penelitian budaya lokal Kudus

4.2 Pengumpulan Informasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus Setelah tahap pengumpulan informasi berdasarkan lokasi dilapangan

maka

peneliti

melakukan

pengumpulan

informasi

berdasarkan wawancara beberapa tokoh masyarakat di kabupaten Kudus. Kegiatan ini bertujuan untuk menghubungkan data dilapangan tentang Pengembangan Media Cerita bergambar Anak dalam Pembelajaran

Bahasa Inggris Untuk Merevitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi dengan informasi yang terpercaya di daerah-daerah yang telah ditentukan sebelumnya. Hasil dari tahap ini adalah wawancara dengan ahli sejarah dan tokoh masyarakat Kudus mengenai budayabudaya lokal berupa folklore maupun asal-usul peninggalan berbentuk artefak. 4.3 Studi Literatur Budaya Lokal Kudus Pada tahap ini juga perlu pengembangan dan pengkajian ulang bahan untuk penelitian dengan rujukan literatur dan berkonsultasi dengan para ahli yang bersangkutan. Adapun pelaksanaan dengan mengumpulkan sumber rujukan bahan ajar yang meliputi pencarian, penyeleksian, dan menyusun draft sumber rujukan. Sumber rujukan bahan literature dapat memperkuat bahan penelitian dalam mendalami pengenalan budaya lokal Kudus.

Foto 2. Beberapa studi literature untuk bahan penelitian budaya lokal Kudus

4.4 Studi Literatur Mengenai Media Cerita Bergambar dalam Bahasa Inggris Berdasarkan kebijakan Depdikbud RI No. 0487/4/1992, Bab VIII, menyatakan bahwa Sekolah Dasar dapat menambah matapelajaran dalam kurikulumnya, asalkan pelajaran itu tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional dan kebijakan ini disusul oleh SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 060/U/1993 tanggal 25 Februari 1993 tentang dimungkinkannya program bahasa Inggris di sebagai mata

pelajaran muatan lokal Sekolah Dasar, untuk itu perlu pengembangan media cerita bergambar sebagai bahan ajar yang mendukung. Pemanfaatan media pembelajaran yang relevan dalam kelas dapat mengoptimalkan proses pembelajaran. Sumber buku rujukan cerita bergambar budaya lokal Kudus dalam bahasa inggris meliputi: 1. Buku pembelajaran bahasa inggris untuk anak Rujukan ini mempermudah dalam mengidentifikasi pembelajaran bahasa inggris yang mengutamakan kemampuan vocabulary dan pronounciation dalam cerita bergambar budaya lokal Kudus. 2. Buku pembelajaran bahasa inggris dalam tingkat Sekolah Dasar Rujukan tersebut bertujuan untuk menyesuaikan kemampuan siswa Sekolah Dasar dalam aspek psikologi dan karakteristiknya. 3. Kurikulum bahasa inggris Untuk menyesuaikan program pembelajaran bahasa inggris di tingkat Sekolah dasar berdasarkan rencana pembelajaran E. Klasifikasi Budaya Lokal Sebagai Tema Pembelajaran Bahasa Inggris Pada tahap ini peneliti melakukan klasifikasi budaya lokal Kudus berdasarkan unsur budaya. Adapun jenis-jenis budaya lokal Kabupaten Kudus di klasifikasikan sebagai berikut: No 1

Unsur Budaya Religi

2

Organisasi Masyarakat

3

Pengetahuan

4

Mata Pencaharian

5

Teknologi/Alat

a. b. c. d. e. f. g. h. i. a. b. c. d. e. a. b. c. a. b. c. a.

Jenis Budaya Lokal Kudus Klenteng Hok Hien Bio Kompleks Menara Kudus Masjid Bubar Makam Kyai Telingsing Makam Sunan Muria Masjid Loram Makam Sunan Kedu Masjid Nganguk Wali Larangan Penyembelihan Sapi Semboyan Kudus Semarak Santri Kudus Kulon Pengusaha Rokok Kretek Kudus Buruh Rokok Kretek Kudus Gusjigang Pendidikan Pesantren Makam RMP Sosrokartono Museum Kretek Rokok Bordir Pabrik Gula Rendeng Bedug Menara Kudus

b. Rumah Adat Kudus c. Rumah Kapal d. Fosil Stegodon e. Jenang Kudus f. Lentog Kudus g. Sate Kerbau h. Soto Kerbau i. Pakaian Adat Kudus 6 Bahasa a. Dialek Kudus 7 Seni a. Bulusan b. Dhandhangan c. Buka Luwur d. Ampyang Maulud e. Nganten Mubeng f. Tari Kretek g. Seribu Kupat h. Gunungan Jenang Tabel 1.Klasifikasi budaya lokal Kabupaten Kudus (dokumen Purbasari, 2012).

4.6

Merumuskan Materi Bahan Ajar Cerita Bergambar Budaya Lokal dalam Bahasa Inggris Adapun langkah dalam merumuskan bahan ajar yang memiliki

hasil sebagai berikut : 1. Menelaah silabus pembelajaran bahasa inggris di tingkat SD 2. Mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar 3. Mencari rujukan keilmuan yang terkait 4. Mendiskusikan rencana pembelajaran 5. Mengembangkan materi ajar 6. Menentukan metode dan simulasi 7. Menentukan penilaian hasil belajar 4.7

Merancang Produk Bahan Ajar Berupa Karangan (Sinopsis) Tahap ini diawali dengan penelaah konsep media cerita bergambar

budaya lokal dalam bahasa indonesia kedalam konsep berbahasa inggris. Langkah awal menentukan ide sentral dalam cerita budaya lokal Kudus, kemudian merancang sinopsis yang terdiri dari : 1. Pokok pikiran, kalimat pokok atau kalimat inti. 2. Mengembangkan catatan dalam konsep bahasa Indonesia kedalam bahasa Inggris dengan memfokuskan kemampuan vocabulary dan pronounciation cerita bergambar budaya lokal Kudus. 3. Memilih kalimat tunggal

4. Meringkas kalimat menjadi frase, frase menjadi kata 5. Mempertahankan ide dengan menyusun naskah sinopsis 4.8

Merancang Produk Bahan Ajar Berupa Gambar Ilustrasi Penelitian pengembangan media cerita bergambar anak dalam

pembelajaran bahasa Inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus di era globalisasi memiliki jenis dan karakteristik yaitu media grafis. Media cerita bergambar terdiri dari penyajian visual menggunakan titik, garis, bentuk, warna dan teksture maya dengan maksud untuk mengikhtisarkan, menggambarkan suatu ide, data atau kejadian dari cerita-cerita budaya lokal melalui pembelajaran berbahasa inggris. Adapun ciri-ciri dari pengembangan media

cerita

bergambar

dalam

pembelajaran

bahasa

inggris

untuk

merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus sebagai berikut: 1.

Media cerita bergambar untuk pembelajaran bahasa inggris tentang budaya lokal Kudus termasuk karya dua dimensi dengan ukuran 21 cm x 29 cm dengan bentuk format bahan ajar cerita bergambar.

2.

Dari segi visualisasi terdiri dari gambar berwarna dan teks sebagai penjelasan dari gambar tersebut.

3.

Objek gambar berbentuk tunggal artinya menjelaskan suatu kejadian dalam satu adegan dalam karya gambar tersebut.

4.

Pembuatan cerita bergambar dalam bahasa inggris tentang budaya lokal Kudus bertujuan sebagi penggerak perhatian, mengilustrasikan suatu pokok masalah sebagai alat untuk memotivasi dan keaktifan peserta didik. Media cerita bergambar dalam pembelajaran bahasa inggris untuk

merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus juga termasuk buku suplemen. Adapun yang dimaksud buku suplemen adalah hasil karya fiksi dan non fiksi yang dapat memberikan peluang kepada peserta didik untuk memenuhi minat-minat individual mereka. Melalui buku suplemen dalam format yang lebih kecil dan menarik anak-anak akan menambah perbendaharaan, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap baru dalam mengapresiasikan serta melestarikan budaya lokal di Kabupaten Kudus.

4.9

Validasi para ahli dalam Hasil Produk Tahap validasi dilakukan para ahli yaitu ahli pembelajaran bahasa

inggris, ahli media pembelajaran dan ahli budaya lokal Kudus untuk diminta memberikan penilaian dan saran terhadap produk cerita bergambar budaya lokal Kudus dalam bahasa inggris. Instrumen validator para ahli untuk produk cerita bergambar budaya lokal dalam bahasa inggris harapannya disusun menjadi buku pegangan guru. Adapun rangkuman hasil validator para ahli disajikan dalam tabel berikut ini. No I A 1 2 3

B 1 2 3 4 5 6 7 C 1 2 3

Bagian/Komponen/Sub komponen II Kelengkapan Penyajian Penampilan : Desain Cover Tata Letak (lay-out) Penggunaan Huruf Rata-rata skor Pengorganisasian Isi Pengelompokan isi materi Pengantar tulisan Pencatuman literatur Sistematika penulisan Penyampaian bahasa Penggunaan kalimat Kelengkapan materi Rata-rata skor Penyajian Isi Penyampaian bahasa Penggunaan kalimat Kelengkapan materi Rata-rata skor

No

Bagian/Komponen/Sub komponen

I

II Kelengkapan Isi Landasan Konseptual Pengembangan Silabus RPP Bahan ajar Rata-rata skor

D 1 2 3 4

Total Skor

Hasil Penilaian Rata-Rata Keterangan Skor III IV

4.67 4.67 5.00 4,78

sesuai sesuai sangat sesuai sangat baik

5,00 5.00 3.67 5,00 5.00 5.00 4,67 4,67

sangat jelas sangat jelas cukup jelas sangat jelas sangat jelas sangat jelas jelas sangat baik

4.00 5.00 4.67

jelas sangat jelas jelas

4,56

sangat baik

Hasil Penilaian Rata-Rata Keterangan Skor III IV 4.78 4.48 4.96 4.71 4,73 4,68

tepat guna tepat guna tepat guna tepat guna sangat baik (valid) digunakan dengan revisi sedikit

Tabel 2

Data Hasil Validator Para Ahli Terhadap Produk Cerita Bergambar Budaya Lokal Kudus dalam Bahasa Inggris

4.10 Evaluasi dari Masukan dan Saran Para Ahli Adapun rekomendasi dari para ahli validator yaitu dapat digunakan dengan revisi kecil. Hal ini berarti secara garis besar baik komponen kelengkapan penyajian dan kelengkapan isi yang berkaitan dengan pengembangan media cerita bergambar budaya lokal Kudus dalam bahasa Inggris dapat dikategorikan sudah baik dan layak digunakan. Para ahli validator memberi komentar bahwa produk media cerita bergambar budaya lokal Kudus dalam bahasa Inggris dapat dikemas menjadi buku pegangan guru dipandang sudah baik, yaitu: (a) telah sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa inggris untuk siswa Sekolah Dasar, (b) cukup jelas dan dapat diterapkan oleh guru kelas Sekolah Dasar, (c) dapat digunakan guru kelas Sekolah Dasar sebagai acuan mengajar dan pengayaan materi, dan (d) dikatakan produk cerita bergambar budaya lokal Kudus dalam bahasa inggris tersebut sangat baik. Meskipun demikian ada beberapa catatan saran perbaikan dari evaluator, yaitu: (a) bagian kelengkapan penyajian pada komponen penampilan berupa lay-out agar diatur margin dengan mempertimbangkan estetikanya, (b) pada bagian kelengkapan penyajian pada komponen pengorganisasian isi, pencantuman literatur perlu dibuat sesuai dengan aturan penulisan ilmiah, (c) perlu pembenahan teknis dan kecermatan dalam penulisan. 4.11

Tahap Ujicoba Produk : Untuk mendukung terlaksanannya hasil penelitian Pengembangan

Media Cerita bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Merevitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi telah diaplikasi hasil berupa ujicoba dalam pembelajaran bahasa inggris di kelas yang diterapkan di SD 1 Muhammadiyah, SD 3 Demaan dan SD 2 Wergu Wetan Kabupaten Kudus dilanjutkan tahap evaluasi dilaksanakan dengan mereview proses pembelajaran budaya lokal melalui cerita bergambar

dengan tujuan mengetahui kekurangan

dalam produk Pengembangan

Media Cerita bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Merevitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi. Hasil dari tahap ini adalah pengadaan produk dalam ujicoba masih mengalami kekurangan dalam jumlahnya sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran belum maksimal penyampaian materi dalam buku cerita bergambarnya. 4.12 Menghasilkan Produk Pengembangan Media Cerita bergambar Anak dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Untuk Merevitalisasi Budaya Lokal Kabupaten Kudus di Era Globalisasi memiliki komponen materi, media cerita bergambar dan hasil proses selama kegiatan penelitian dengan digandakan yang harapkan sebagai untuk guru-guru SD di Kabupaten Kudus untuk bahan pembelajaran bahasa inggris pada masing-masing sekolah.

BAB. 5 PEMBAHASAN 5.1

Karakteristik Media Cerita Bergambar Anak Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Tentang Budaya Lokal Kabupaten Kudus Mengembangkan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran

bahasa inggris, perlu dilakukan upaya pengembangan melalui sebuah penelitian ilmiah sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan seperti yang diharapkan. Karakteristik media cerita bergambar anak dalam penelitian ini memiliki unsur-unsur sebagai berikut: a. Konsep media cerita bergambar bersifat ganda yaitu mengenalkan budaya lokal dikehidupan sehari-hari dan mengajarkan anak tentang kosakata serta pengucapan kata dalam bahasa inggris b. Sifat dari media cerita bergambar memiliki visual (gambar) yang dijelaskan dalam teks berbahasa inggris c. Cerita sederhana dan dapat dipahami oleh anak-anak serta dibantu oleh gambar ilustrasi sebagai pelengkap teks d. Isi cerita tidak berseri sehingga hanya satu adegan atau peristiwa 5.2

Prinsip Media Cerita Bergambar Anak Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Tentang Budaya Lokal Kabupaten Kudus Adapun prinsip media cerita bergambar anak dalam penelitian ini

sebagai berikut a. Penggunaan media cerita bergambar anak dilakukan untuk memberikan pengenalan benda, kata sifat atau kata kerja, waktu dan peristiwa yang sedang berlangsung dalam cerita sehingga pembelajaran bahasa inggris bersifat incidental b. Perlu apersepsi dalam mengenalkan cerita budaya lokal yang disesuaikan dengan kemampuan guru, oleh sebab itu guru harus mempersiapkan rencana pembelajaran terlebih dahulu

c. Dalam pembelajaran bahasa inggris penerapan gambar diawal untuk memancing anak berkosentrasi secara terarah d. Metode pembelajaran yang digunakan adalah mendongeng, berdiskusi, dan penggunaan alat peraga e. Guru sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembelajaran 5.3

Hasil Ujicoba Media Cerita Bergambar Anak Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Tentang Budaya Lokal Kabupaten Kudus Adapun hasil ujicoba media cerita bergambar anak dalam penelitian

ini sebagai berikut a. Perlu apresepsi atau introduction tentang materi yang akan disampaikan dalam bahasa indonesia setelah itu diterapkan pembelajaran bahasa inggris yang dimulai dengan langkah pembelajaran seperti penguatan belajar b. Pengenalan objek dalam cerita melalui gambar ilustrasi yang dibawakan oleh guru setelah itu menceritakan dalam beberapa bahasa inggris c. Perlu penyisipan materi dalam berkomunikasi dengan berbahasa indonesia dalam menjelaskan kata maupun kosakata berbahasa inggris d. Penyampaian materi seharusnya ditekankan pada kosakata dan pelafalan bahasa inggris secara jelas e. Tahap konfirmasi dalam materi cerita bergambar harus disampaikan nilainilai budaya menggunakan analogi cerita budaya dengan kehidupan masa kini melalui bahasa inggris dan bahasa indonesia f. Tahap evaluasi perlu dibantu oleh guru untuk menceritakan kembali menggunakan bahasa inggris

BAB. 6 PENUTUP Berdasarkan dari hasil dan pembahasan pengembangan media cerita bergambar anak dalam pembelajaran bahasa inggris untuk merevitalisasi budaya lokal Kabupaten Kudus diketahui bahwa guru bahasa inggris di Sekolah Dasar membutuhkan media pembelajaran berupa cerita bergambar yang disertakan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sebagai bahan ajar dan pedoman serta panduan dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar bahasa inggris. Penilaian para ahli (validator) terhadap produk cerita bergambar menyatakan sudah baik dan direkomendasikan untuk dipakai guru sebagai pegangan dalam pembelajaran bahasa inggris di tingkat Sekolah Dasar.

DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Taufik. 2010. Sejarah Lokal di Indonesia. Yogyakarta: Gajahmada Press. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan membelajarkan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Ardianto, Tommy.2007. Perencanaan Buku CeritaBergambar Sejarah Goa Selonangleng Kediri.Surabaya: Universitas Kristen Petra. Baedowi, Ahmad. 2012.Calak Edu (Esai-Esai Pendidikan 2008-2012). Jakarta: Pustaka Alvabet. Djamarah, Syaiful Bachri. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Asdi Mahastya. Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ke-3. Jakarta: Balai Pustaka. Dugis, VMA .1999. Defining Nationalism in the Era Globalization . Jurnal Masyarakat Kebudayaan dan Politik 12 (2):51-57. Fromkin, Victoria dan Robert Rodman. 1998. An Introduction to Language Edisi ke-6). Orlando: Harcourt Brace College Publishers. Hoskisson, K. & Tompkins, G. E. .1987. Language arts: Content and teaching strategies. Melbourne: Merill Publishing Company. Judistira, K. Garna. 2008. Budaya Sunda : Melintasi Waktu Menantang Masa Depan. Bandung : Lemlit Unpad. Johana, Maria & Widayanti.2007. Komik Pengajaran Bahasa yang Komunikatif bagi Siswa SMP. Jurnal: Lembaran Ilmu Pendidikan: Unnes. Koentjaraningrat. 2000. Masalah Kesukubangsaan dan Integrasi Nasional, Jakarta : UIP. Mardika, I Nyoman.2006. Pengembangan Multimedia dalam Pembelajaran Kosakata Bahasa Inggris Kelas V SD. Tesis.Program Studi Teknologi Pembelajaran: UNY.

Richards, J. C. & Rogers, T. S. 1986. Approaches and methods in language teaching: A description and analysis. Cambridge, UK: Cambridge University Press. Riduwan. 2002. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung:Alfabeta. Riyanto. 1982. Media Pembelajaran. Jakarta. Depdikbud. Sadiman, S. Arif. 2008. Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Salam, Solikin, 1977. Kudus Purbakala Dalam Perjuangan Islam, Menara Kudus. Kudus. Samsudi. 2006. Desain Penelitian Pendidikan. Semarang: Unnes Press. Soetarno, 2004. Ragam Budaya Indonesia. Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi - Dirjen Dikti Depdiknas, Jakarta. Sugiyono, Dr. 2010. Metode penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Penerbit: Alfabeta. Sumaryanto F, Totok. 2007. Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Dalam Penelitian Pendidikan Seni. Semarang: Unnes Press. Suyanto, Kasihani K.E. 2007. English For Young Learners. Jakarta: Bumi Aksara. Tim Penyusun Kamus Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ed.2 ,1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka. Umi Faizah.2009. Keefektifan Cerita Bergambar untuk Pendidikan Nilai dan Keterampilan Berbahasa dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Tesis. Yogyakarta: Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta.

LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Tugas

Lampiran 2. Berita Acara Serah Terima Laporan Akhir

Lampiran 3. Berita Acara Laporan Penggunaan Dana 30 %

Lampiran 4. Surat Pernyataan Serah Terima Laporan Akhir

Lampiran 5. Surat Pernyataan Serah Terima Laporan Penggunaan 30%

Lampiran 6. Berkas Publikasi yang akan diikuti dalam Seminar Internasional

Abstract Acceptance Notification KotakMasuk

15 Juni 2014 12.30

teylinumk Kepada: mutohhar2010 Balas | Balaskesemua | Teruskan | Cetak | Hapus | Tampilkan yang asli

Dear Mutohhar, Thank you for submitting an abstract(s) for the 1st International Conference on Teaching English for Young Learners in Indonesia. We are pleased to inform you that your paper/workshop session has been accepted to present at the 1st International Conference on Teaching English for Young Learners in Indonesia to be held on September 2-3, 2014 at Muria Kudus University. Congratulations! The Committee has not yet developed the timetable, as you are required to do the following: 1. Please REGISTER as soon as you can, and before July 2, 2014 to guarantee that you are coming to present your paper/workshop session. This will assist us to prepare the timetable. 2. If you do not register by July 2, 2014, we will assume that you will be unable to attend and your presentation will not be included in the conference program. Final day of full paper submissions is August 5, 2014. However, we expect having your paper as soon as possible. The steps of presenter will be informed through website (teylin.umk.ac.id) Warm regards, FajarKartika

STORY BOOK MEDIUM DEVELOPMENT IN ENGLISH BASED ON KUDUS LOCAL CULTURE Abstract Relating to the preservation of local culture in the field of education, the role of instructional media not only perform the function of knowledge transfer (transfer of knowledge) but also serves to instill the value (value) as well as build character (Character Building) learners are ongoing and continuous. Sources of this research study focused on the introduction to the cultural heritage contained elementary school students in the district as a manifestation of the Kudus local culture in the form of tradition, religion, social, technology and art. Direction of this research is to learn the English language and pronunciation abilities through vocablury, and obtain test results from the development of media products illustrated stories in children's learning. This research uses R & D to develop media illustrations and English text to introducing Kudus local culture. The study produced the data that students from elementary schools in the district do not understand the history of the Kudus local culture and folklore well, learning media illustrated stories help them interpret the culture well, and helped introduce English vocabulary related to the events, celebrations, and artifacts in the Kudus local culture. Keyword: Media, Local Culture

Lampiran 7. Produk Story Book

Lampiran 8. Rencana Pembelajaran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Nama Sekolah : SD Muhammadiyah Kudus Mata Pelajaran : Bahasa Inggris Standar Kompetensi : Memahami instruksi dan informasi sangat sederhana baik dengan tindakan maupun bahasa dalam konteks sekitar peserta didik Kompetensi Dasar : Merespon instruksi dan informasi sangat sederhana dengan tindakan maupun bahasa secara berterima di dalam dan luar kelas Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat merespon dengan melakukan tindakan secara berterima Target Bahasa : I usually ...... read (come, pull, stop, leave, honor) He usually ...... reads (comes, pulls, stops, leaves, honors) Karakter siswa yang diharapkan : - Dapat dipercaya ( Trustworthines) - Rasa hormat dan perhatian ( respect ) - Tekun ( diligence ) - tanggung jawab ( responsibility ) - Berani ( courage ) Metode Pembelajaran : Siswa merespon dengan melakukan tindakan secara berterima Langkah- langkah Pembelajaran Time 15

Teacher’s activity Teacher Greets the students

Student’s Activity Students Respond it

Teacher Gives warming up by Some of students answer and asking the students about what they may use bahasa do they ususally do in a day 25

Teacher ask the students to listen Students prepare attention a story about The Legend of Bulusan

The students also open their

The teacher reads the story by Picture Series and then listen using Picture Stories

carefully

Teacher focus on some verbs in Students underline some verb the

story

then

give

more found in the story

explanation 10

Teacher ask the students to Students mention some verbs mention and read some verb then make some sentences found in the text, then make from verbs in the story other sentence by using the verbs

10

Teacher

checks

the

students Students listen to the teacher

worksheet 5

Teacher reviews the material by Everyone in the classroom repeating the story and then asks reads the story the students to repeat

5

Teacher

ends

the

class

by The students respond it

greeting the students Media Pembelajaran : - Cerita Bergambar Penilaian : 1. Oral Assessment 2. Written Assessment The Writer/ Teacher Mutohhar

Lampiran 9. Dokumen Foto Pelaksanaan Pembelajaran

Lampiran 10. Surat Keterangan diterima Jurnal

Lampiran 11. Sertifikat Seminar Internasional