LAPORAN AKHIR PENELITIAN FUNDAMENTAL

Sastra dan Budaya dan Dr ... bahasa dan sastra daerah yang baru akan mengenal tradisi tulisan, antara lain ... dalam cerita rakyat terdapat berbagai t...

0 downloads 195 Views 1MB Size
Bidang Ilmu: Humaniora/Bahasa &Sastra

LAPORAN AKHIR PENELITIAN FUNDAMENTAL

PEMERTAHANAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH GORONTALO SEBAGAI JATI DIRI Tahun ke 2 dari rencana 2 tahun

KETUA/ANGGOTA TIM 1. Dr. Sance A. Lamusu, M.Hum. NIDN: 0030086305 2. Ulfa Zakaria, S.Pd, M.Hum. NIDN: 0023098103

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO NOVEMBER 2014

1

2

RINGKASAN Judul: Pemertahanan Bahasa dan Sastra Daerah Gorontalo sebagai Jati diri oleh Sance A. Lamusu dan Ulfa Zakaria, S.Pd, M.Pd Pada penelitian ini, bertujuan untuk menemukan leksikon; proses pembentukan kata dan kalimat bahasa dan sastra Gorontalo; fungsi bahasa sebagai medium sastra Gorontalo; dan menemukan terbentuknya tata bahasa atau kaidah bahasa dan sastra Gorontalo Berdasarkan tujuan tersebut, dalam penelitian ini memiliki target khusus yang ingin dicapai yaitu bahasa dan sastra daerah Gorontalo sebagai identitas dan jati diri suku Gorontalo tidak hanya sekedar bahasa sebagai alat komunikasi dan sastranya hanya merupakan penghibur dikala hati sedang risau, melainkan di dalam bahasa dan sastra daerah Gorontalo memiliki gramatikalnya yang dapat menyelaraskan intensitas bahasa dan sastra daerah Gorontalo dengan bahasa dan sastra daerah lainnya. Selain itu juga, target yang ingin dicapai adalah dapat menjawab rumusan masalah. Ketercapaian tujuan dan taget tersebut dalam penelitian ini, dengan metode linguistik lapangan yang mengacu pada teori Samarin (1998). Teori linguistik lapangan merupakan suatu cara untuk memperoleh data dan mempelajari fenomena-fenomena linguistik. Bidang ini meliputi dua peserta: penutur suatu bahasa dan peneliti bahasa itu. Penelitian yang paling tepat dan langsung adalah melalui hubungan pribadi. Penutur bahasa yakni informan adalah sumber informasi bahasa itu. Menurut Hockett (dalam Samarin, 1998: 15) pendekatan studi bahasa seperti ini dinamakan metode informan dan dapat juga disebut metode kontak. Teori yang akan dijadikan dasar untuk menganalisis data penelitian ini adalah teori struktural baik teori struktural kebahasaan maupun teori struktural kesastraan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bahasa dan sastra Gorontalo seperti bahasa lainnya yang memiliki gramatikal dan fungsi bahasa sebagai media sastra. Di dalam bahasa Gorontalo ditemukan afiksasi atau imbuhan dan bentuk-bentuk kalimat yaitu bentuk kalimat aktif, bentuk kalimat pasif, bentuk kalimat transitif, bentuk kalimat intransitif, bentuk kalimat dinamis, dan bentuk kalimat statis. Di samping itu, fungsi bahasa Gorontalo yang terdapat dalam sastra khususnya tinilo yaitu fungsi referensial; fungsi emotif atau ekspresif; fungsi konatif; fungsi fatis; fungsi metalingual; fungsi puitis; fungsi pendidikan; dan fungsi pengarah atau petunjuk berupa kata-kata yang bermakna nasihat.

3

PRAKATA Alhamdulillah, wa-syukurillah peneliti panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena kehendak-Nyalah penelitian ini dapat diselesaikan. Peneltian ini mengkaji pemertahanan bahasa dan sastra Gorontalo sebagai jati diri. Pengkajian ini dimaksudkan salah satunya untuk mendokumentasikan bahasa dan sastra Gorontalo. Selain itu juga penelitian ini sebagai perlakuan untuk mencegah kepunahan bahasa dan sastra Gorontalo agar tidak seperti nasibnya bahasa Bolango salah satu bahasa di Bone Bolango-Gorontalo. Penelitian ini terlaksana karena adanya kerja sama yang baik antara Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dengan SIM-LITABMAS Pendidikan Tinggi Pusat-Jakarta (DIKTI). Oleh sebab itu, peneliti menyampaikan terima kasih kepada Dr. Syam Qamar Badu, M.Pd sebagai rektor, Prof.Dr.Moon H. Otoluwa, M.Hum sebagai dekan Fakultas Sastra dan Budaya dan Dr. Fitriyane Lihawa, M.Si sebagai ketua lemlit UNG yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti melaksanakan penelitian ini. Selain itu pula peneliti tak lupa menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terutama informan dan pihak-pihak lainnya yang tidak sempat disebutkan sastu per satu namanya yang telah membantu suksesnya penelitian ini. Insya-Allah segala daya dan upaya serta bantuan baik yang berupa dana maupun sumbangan pemikiran yang telah diberikan kepada peneliti akan mendapat imbalan yang setimpal dari Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin! Wassalaam Sance A.Lamusu

4

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL………………………………………………….... i HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………….… ii RINGKASAN …………………………………………………………… iii PRAKATA………………………………………………….……………. iv DAFTAR ISI ……………………………………………………………

v

DAFTAR TABEL ……………………………………………………….. viii DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………. ix DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………….. x DAFTAR ISTILAH & SINGKATAN……………..………………….….. xi BAB I PENDAHULUAN …………………………………………….… 1 A. Latar Belakang Permasalahan ………………………………..…

1

B. Fokus Masalah ……………………………………………………. 3 C. Perumusan Masalah ……………………………………… …..…... 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ……………………………………..… 4 A. Kajian Pustaka Sebelumnya ………………..…………….….…..

4

B. Landasan Teori …………….……………………….……….…… 10 1. Teori Struktural ………………………………….…….…….. 10 2. Konsep Leksikon atau Kosakata..……..…………….……….... 8 3. Proses Pembentukan Kata.. ……….. ……………….……….. 12 4. Proses Pembentukan Kalimat………………….…….……....

14

5. Fungsi Bahasa sebagai Medium Sastra………………………

20

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN……………….

5

25

A.Tujuan Penelitian …………………………………………….

25

B. Manfaat Penelitian ……………………………………………. 25 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ……………….……….……... 27 A. Latar Penelitian …………………………………..……….…… 27 B. Pendekatan dan Jenis Penelitian ………………………………... 28 C. Kehadiran Penelitian …………………………….…………… 29 D. Data dan Sumber Data ………………………………......……… 30 E. Prosedur Pengumpulan Data …………………………………… 30 F. Pengecekan Keabsahan Data …………………….……………... 32 G. Analisis Data ………………………………..…………………. 32 H. Taha-Tahap Penelitian ……………………………………….…. 33 I. Teknik Analisis Data ………………………………………… 33 BAB V HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN …………………… 36 A. Hasil Penelitian …………..…………………………………….. 36 1. Leksikon Bahasa dan Sastra Gorontalo……………..…………. 36 2. Proses Pembentukan Kata Bahasa Gorontalo …….…………… 36 3. Proses Pembentukan Kalimat Bahasa Gorontalo………….…… 44 4. Fungsi Bahasa Gorontalo sebagai Media Sastra……………….. 100 B. Pembahasan ……………………………………………………. 105 1. Leksikon Bahasa dan Sastra Gorontalo ……………………….. 111 2. Proses Pembentukan Kata Bahasa Gorontalo ………………… 112 3. Proses Pembentukan Kalimat Bahasa Gorontalo………..……. 132 4. Fungsi Bahasa Gorontalo sebagai Media Sastra………………

6

144

BAB VI SIMPULAN & SARAN ………………….………………….. 135 A. Simpulan ……………………………………………….……. 135 B. Implikasi Penelitian………………………………………….. 135 C. Saran ……………………………………………………….… 136 Daftar Pustaka …………………………………………………………… 137 Lampiran-Lampiran ……………………………………………..……….. 139

7

DAFTAR TABEL

hal. Tabel 1 Leksikon Verba

36

Tabel 2 Leksikon Nomina

39

Tabel 3 Leksikon Adjektiva

42

8

DAFTAR GAMBAR

hal. Gambar 1 Bentuk Kalimat

18

Gambar 2 alir penelitian dalam bentuk fishbone

35

9

DAFTAR LAMPIRAN

hal. Artikerl Jurnal Humaniora

136

10

DAFTAR ISTILAH & SINGKATAN

1. Alm. = Almarhum 2. KT

= Kalimat Transitif

3. KI

= Kalimat Intransitif

4. KA

= Kalimat Aktif

5. KP

= Kalimat Pasif

6. KD

= Kalimat Dinamis

7. KS

= Kalimat Statis

8. FR

= Fungsi Referensial

9. FP

= Fungsi Puitis

10. FK

= Fungsi Konatif

11. FF

= Fungsi Fatis

12. FM

= Fungsi Metalingual

13. FPd. = Fungsi Pendidikan 14. FPh. = Fungsi Pengarahan

11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan

Bahasa dan sastra daerah di Indonesia jumlahnya sangat banyak karena setiap suku bangsa

memiliki bahasa dan sastra daerah yang sampai saat ini masih

dipertahankan keberadaannya. Bahasa dan sastra daerah

merupakan alat komunikasi

dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Selain itu, bahasa dan sastra daerah digunakan sebagai sarana ekspresi dalam bidang kebudayaan dan kesenian. Walaupun dalam tradisi dan intensitasnya tidak sama, karena ada bahasa dan sastra daerah yang sudah sejak lama telah mengenal tradisi tulisan misalnya, bahasa dan sastra Jawa, Sunda, Minagkabau, dan juga Bugis dan ada pula bahasa dan sastra daerah yang baru akan mengenal tradisi tulisan, antara lain bahasa dan sastra daerah Gorontalo. Ketidaksamaan tradisi dan intensitas bahasa dan sastra ini tampak pula pada pelaksanaan seni dan adat istiadatnya, dan yang tidak kalah penting pula peran bahasa dan sastra daerah dalam bidang pendidikan. Diketahui bersama bahwa di Indonesia ini masih terdapat penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada pendidikan dasar karena bahasa Indonesia belum dipahami oleh siswa, seperti di sekolah- sekolah terpencil, dan di sekolah-sekolah yang diperkotaan bahasa dan sastra daerah digunakan sebagai mata pelajaran muatan lokal. Jika dicermati hal ini, mengisyaratkan bahwa bahasa dan sastra daerah memainkan peran yang amat menentukan sebagai sarana

12

komunikasi dan sarana ekspresi seni dan budaya di kalangan kelompok masyarakat penggunanya. Bahasa dan sastra daerah pada dasarnya ditentukan oleh ketepatan serta kejelasan kaidah yang mengatur penggunaan bahasa dan sastra, serta kelengkapan perbendaharaan kata dan peristilahannya. Oleh sebab itu, perlu adanya gramatikal bahasa daerah dan kejelasan fungsinya sebagai media sastra daerah utamanya bagi bahasa dan sastra daerah yang baru mengenal tradisi tulisan seperti bahasa dan sastra daerah Gorontalo. Berdasarkan uraian tersebut, maka pada penelitian ini akan dibahas gramatikal bahasa daerah Gorontalo dan fungsinya sebagai medium sastra Gorontalo. Jika bahasa Gorontalo merupakan medium sastra Gorontalo, maka jelas keterlibatan pengarang (khususnya masyarakat Gorontalo) dalam menggeluti bahasa daerah Gorontalo itu secara serius untuk kepentingan kreatifnya. Misalnya, seorang pengarang dalam memilih kata (diksi) tentu mencerminkan kekhususan dirinya atau masyarakatnya dengan pengarang atau masyarakat lainnya. Kebebasan seorang pengarang sastra dalam memilih kata yang digunakan tetap berada pada kemungkinan aturan kebahasaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode linguistik lapangan yang mengacu pada teori Samarin (1998). Teori linguistik lapangan merupakan suatu cara untuk memperoleh data dan mempelajari fenomena-fenomena linguistik. Bidang ini meliputi dua peserta: penutur suatu bahasa dan peneliti bahasa itu. Penelitian yang paling tepat dan langsung adalah melalui hubungan pribadi. Penutur bahasa yakni informan adalah sumber informasi bahasa itu. Menurut Hockett (dalam Samarin, 1998: 15) pendekatan studi bahasa seperti ini dinamakan metode informan dan dapat juga disebut metode kontak. Teori yang akan dijadikan dasar untuk menganalisis data penelitian ini

13

adalah teori struktural baik teori struktural kebahasaan maupun teori struktural kesastraan. Pada penelitian ini, teori struktural kebahasaan mengkaji struktur bahasa yang ditinjau dari leksikon, morfologi, dan sintaksis (Samsuri, 1981: 275—284) Saussure, 1988: 219-235; Samarin, 1998: 277-304; Verhaar, 1996: 11- 13). Selain itu, teori struktural kesastraan mengkaji struktur karya sastra yang mengarah ke sifat strukturalfungsional terhadap bahasa, menurut Jakobson (dalam Kadarisman, 2009). Teori-teori yang telah disebutkan sebelumnya, akan digunakan secara triangulasi untuk lebih memperjelas tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini.

B. Fokkus Masalah

Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah kosakata, kalimat bahasa Gorontalo dan pembentukannya, serta fungsi bahasa dalam sastra daerah Gorontalo.

C. Perumusan Masalah

Mencermati uraian latar belakang permasalahan di atas, maka masalah yang akan diselesaikan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut ini. 1)

Apa saja leksikon atau kosakata bahasa dan sastra Gorontalo?

2)

Bagaimana proses pembentukan kata bahasa Gorontalo?

3)

Bagaimana proses pembentukan kalimat bahasa Gorontalo?

4)

Bagaimana fungsi bahasa sebagai medium sastra

14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Relevan Sebelumnya

Penelitian tentang bahasa dan sastra Gorontalo telah dibahas oleh Prof. Dr. Mansoer Pateda (Alm.) dan Prof. Dr. Nani Tuloli, dan lain-lain

dalam penelitian-

penelitian. a). Prof. Dr. Mansoer Pateda mengkaji bidang kebahasaan. Penelitian yang telah dilakukannya dalam rangka mempertahankan bahasa daerah Gorontalo yang telah dimuat dalam jurnal dan sudah diterbitkan dalam bentuk buku-buku adalah: (1) Kamus Gorontalo-Indonesia (1977); (2) Kamus Indonesia-Gorontalo (1991); (3) Kaidah Bahasa Gorontalo (1984) dan revisi ulang (1999); (4) Risalah Bahasa Gorontalo (1996); Buku Pelajaran Bahasa Gorontalo untuk Kelas Satu sampai Kelas Enam (1999); (5) Peribahasa Gorontalo (2003); Penerbitan Perda Provinsi Gorontalo tentang Bahasa dan Sastra Daerah Gorontalo Serta Ejaannya (2009); dan Tata Bahasa Sederhana Bahasa Gorontalo (2009). b). Prof. Dr. Nani Tuloli mengkaji bidang kesastraan, dan penelitian-penelitian telah dilakukan adalah: (1) penelitian tentang ―Fungsi Sastra Lisan Gorontalo‖ (1982) yang menggambarkan berbagai fungsi cerita rakyat dalam kehidupan masyarakat. Di dalam cerita rakyat terdapat berbagai tema dan amanat yang berhubungan

dengan

sejarah, adat, kejadian penting, riwayat hidup seseorang atau keluarga, serta munculnya nama tempat, nama pohon, dan nama kerajaan; (2) Tahun 1985 yang mengetengahkan

15

Inverntarisasi

Ungkapan

Tradisional

Daerah

dalam

Bahasa

Gorontalo

yang

mengungkapkan bahwa sastra lisan yang didasarkan pada kebudayaan masyarakat Gorontalo melatarbelakangi wujud sastra; dan (3) Tahun 1990 dalam disertasinya yang berjudul ‖Tanggomo

Salah Satu Ragam Sastra Lisan Gorontalo‖ antara lain

mengungkapkan bahwa Tanggomo berisi berbagai kejadian penting. Di dalam Tanggomo terdapat ajaran-ajaran dan nasihat yang baerasal dari pikran masyarakat dan agama. Fungsi Tanggomo menyimpan, meneruskan dan memberikan informasi atau penegtahuan tentang peristiwa masa lalu baik yang berhubungan dengan adat, sejarah, dan kepahlawanan atau kejadian-kejadian penting dalam budaya masyarakat Gorontalo. c). Fatma Ar Umar (2010) Judul penelitian yang berbentuk disertasi yang dilakukan oleh Fatma Ar Umar (2010) yaitu: ‖Wacana Tuja‘i Pada Prosesi Adat Perkawinan Masyarakat Suwawa Provinsi Gorontalo‖. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hakikat wacana tuja‘i pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa yang meliputi (1) skema, (2) aktor, (3) latar, dan (4) tema. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data peneltian adalah kata-kata tuja‘i dan tindakan para aktor serta simbol adat yang menyertainya.

Pengumpulan data

dilakukan

dengan

menggunakan perekaman,

pengamatan berperan serta, studi dokumen, dan wawancara. Instrumen utama adalah peneliti sendiri dan pedoman pengumpulan data. Demi menjaga kesahihan data dilakukan triangulasi terhadap sumber data dan metode pengumpulan data. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis wacana kritis dengan menggunakan model interaktif yang di dalamnya terdapat kegiatan reduksi, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi.

16

Hasil penelitian menunjukkan: pertama, skema penuturan wacana tuja’i pada prosesi adat perkawinan masyarakat Suwawa yang menggunakan alur maju bertahap dari awal, tengah, dan akhir, baik pada tahap motolobalango, momanato, maupun moponikah. Skema tahap motolobalango bagian awal adalah: (1) menyapa audiens, (2) menghormati pemimpin, (3) memaklumkan, (4) memohon maaf, (5) memohon izin, (6) mengagungkan asma Alla SWT, (7) menjunjung tinggi Nabi Muhammad SAW, (8) mengecek kehadiran audiens, (9) memperjelas identitas utoliya wolato, dan (10) menyerahkan dan menerima simbol adat. Skema tahap motolobalango bagian tengah adalah: (1) mencari informasi tentang calon mempelai perempuan, (2) melamar calon mempelai perempuan, (3) menyerahkan dan menerima simbol adat pelamaran. Skema tahap motolobalango bagian akhir adalah: (1) memperjelas pembicaraan awal, (2) berjabatan tangan. Skema tahap momanato bagian awal, adalah: (1)

mempersiapkan hantaran harta, (2) membawa

hantaran harta, (3) membawa masuk hantaran harta ke rumah mempelai perempuan, (4) menghidangkan hantaran harta, dan (5) membuka dan memperlihatkan hantaran harta kepada audiens. Skema tahap momanato bagian tengah adalah: (1) memohon menyerahkan hantaran harta, dan (2) menyerahkan dan menerima hantaran harta. Skema tahap momanato bagian akhir adalah: (1) berjabatan tangan, dan (2) menyerahkan mahar dan tapagola kepada mempelai perempuan di kamar wadaka

(adat). Skema tahap

moponikah bagian awal adalah: (1) memaklumkan dan memohon izin, (2) menuntun mempelai laki-laki dari kenderaan adat, (3) menuntun mempelai melangkah ke gapura rumah mempelai perempuan, (4) menuntun mempelai laki-laki memasuki halaman rumah mempelai perempuan, (5) menuntun mempelai laki-laki menaiki tangga adat rumah mempelai perempuan, (6) menuntun mempelai laki-laki memasuki rumah mempelai

17

perempuan, dan (7) menuntun mempelai laki-laki duduk di kursi kerajaan. Skema tahap moponikah bagian tengah adalah: (1) memaklumkan dan memohon izin, (2) membaeat, (3) menikahkan, dan (3) membatalkan air wudlu. Skema tahap moponikah bagian akhir adalah berdoa. Kedua, aktor yang terlibat dalam penuturan wacana tuja’i pada prosesi adat perkawinan adalah: (1) aktor abstrak, (2) aktor sebagai narator, (3) aktor terlibat, (4) aktor sasaran utama, (5) aktor sebagai kreator. Aktor (1) berada pada posisi yang mendominasi dan menghegemoni, sedangkan aktor (2-5) di sisi lain berada pada posisi yang mendominasi dan menghegemoni, tetapi di sisi lain mereka juga berada pada posisi yang didominasi dan dihegemoni. Tindakan para aktor adalah: (1) tindakan sesuai aturan, (2) tindakan taktik, (3) tindakan move, dan (4) tindakan heuristik. Ketiga, latar penuturan wacana tuja‘i adalah: (1)

latar terpola, dan (2) latar

spontanitas. Latar terpola meliputi: (i) latar agama, dan (ii) latar budaya dan adat-istiadat. Latar spontanitas meliputi: (i) latar waktu, (ii) latar situasi, dan (iii) pengalaman nyata. Keempat, tema khusus pada tahap motolobalango adalah: (1) ketauhidan, (2) kepemimpinan, (3) kesusahan, (4) kesungguhan dan keberanian, (5) ketawudluaan, (6) kesatuan dan persatuan, (7) kehadiran, (8) kedemokratisan, (9) kesepakatan awal, (10) kearifan dan kebijaksanaan, (11) ketangguhan, (12) kegelisahan, (13) perencanaan awal, (14) kejujuran, (15) kecekatan dan ketelitian, (16) keyakinan, (17) kewaspadaan, (18) kepercayaan diri, (19) kehormatan diri, (20) keikhlasan, (21) keraguan (22) kesaksian (23) kedisiplinan. Tema umumnya adalah perjuangan. Tema khusus momanato adalah: (1) penjagaan dan pengamalan adat-istiadat, (2) pemenuhan hak dan kewajiban, (3) kesabaran, (4) keadilan, dan (5) kepedulian. Tema umumnya adalah pengorbanan. Tema

18

khusus moponikah adalah: (1) kepemimpinan, (2) ketauhidan, (3) keterbatasan, (4) pengakuan, (5) pedoman dan pegangan, (6) peradaban, (7) pembeatan, (8) pengakuan, dan (9) pengukuhan. Tema umumnya adalah pengakuan dan pengukuhan. Kesimpulan penelitian ini adalah wacana tuja‘i pada prosesi ada perkawinan masyarakat Suwawa pada hakikatnya bukan sekedar hiburan dan pemecah kesunyian. Tetapi di dalamnya terdapat berbagai ideologi budaya yang dapat dijadikan pedoman dan pandangan hidup dalam berbagai sendi kehidupan bukan saja oleh kedua mempelai tetapi juga oleh seluruh audiens yang terlibat di dalamnya. Untuk itu perlu ditemukan, digali, dipelihara dan dilestarikan secara terus-menerus oleh semua pihak yang terkait di dalamnya. d). Dakia N. Djou (2012) Judul penelitian yang berbentuk disertasi oleh Dakia N Djou (2012) yaitu: ‖Penggunaan Bahasa

dalam

Upacara

Pernikahan

Menurut

Etnik

Gorontalo‖.

Permasalahan yang diteliti adalah: 1) bagaimana proses penuturan bahasa Gorontalo?; 2) apa ciri-ciri ragamnya?; 3) bagaimana pola atau model bahasanya?; dan 4) apa aspek makna tuturan itu dalam ucapan adat tersebut?. Tujuan dalam penelitian ini adalah: (1) medeskripsikan proses penuturan bahasa Gorontalo ragam adat dalam upacara pernikahan etnik Gorontalo; (2) mendeskripsikan ciri bahasa Gorontalo ragam adat dalam upacara pernikahan etnik Gorontalo; (3) menentukan pola bahasa ragam adat dalam upacara etnik Gorontalo; (4) mendeskripsikan makna penuturan bahasa Gorontalo ragam adat dalam upacara pernikahan etnik Gorontalo. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yang diilhami oleh grounded theory. Pendekatan atau teori yang digunakan adalah pendekatan formula oleh Lord (1976); sosiolinguistik oleh Suwito (1983); dan

19

pendekatan pragmatik oleh Hudson (1980), Suryadi (1983), Yanti (2001), Chaniago (2001), Baihaqi (2007), Nadar (2009), dan Leech (1993). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu: Pertama, proses penuturan bahasa Gorontalo ragam adat mengikuti tahapan dalam upacara pernikahan yang dikemas dalam peristiwa tutur. Cara penyampaian maksud atau pesan pada setiap peristiwa dilakukan dalam bentuk dialog. Dalam dialog itu ada yang bertindak sebagai pengirim pesan dan ada yang bertindak sebagai penerima pesan. Pada saat proses berlangsung terjadi pertukaran posisi atau peran dari kedua belah pihak, yaitu pengirim pesan sewaktu-waktu berubah menjadi penerima pesan, dan penerima pesan berubah menjadi pengirim pesan. Demikian seterusnya sampai interaksi verbal selesai. Pertukaran posisi seperti ini sama dengan pertukaran posisi yang terjadi pada komunikasi pada umumya, yang berbeda adalah penggunaan variasi bentuk kata dan kalimat pada saat penampilan. Kedua, ciri utama bahasa Gorontalo dalam acara pernikahan ialah: (a) berbentuk tuja’i (tuja’i dialogis, tuja’i deskriptif, tuja’i arahan); (b) bersifat simbolis; (c) disampaikan secara halus; (d) berirama. Ketiga, bahasa Gorontalo ragam adat memiliki pola formula atau sistem formulaik yang digunakan secara teratur pada acara pernikahan. Keempat, formula tersebut, berupa tuturan dalam acara pernikahan yang memiliki makna yang dapat ditinjau dari konteks: (a) budaya; (b) sosial; (c) religius; (d) estetika; dan (e) etika. Kesimpulan umum penelitian ini, bahwa dialog peminangan itu bukan suatu pembicaraan bebas atau tutur bebas, tetapi suatu tutur yang mempunyai sistem formulaik. Formula yang membangun dialog itu berupa afiks, kata, frasa, klausa, baris, struktur, dan unsur-unsur lain yang berupa partikel dan kelompok variabel. Berdasarkan temuan ini dapat dirumuskan hipotesis terdapat hubungan yang positif antara kreativitas penutur

20

dengan situasi dan kondisi penuturannya. Kondisi yang dimaksud adalah tempat, audiens, fisik pelaku dialog, pakaian yang dikenakan, waktu yang tersedia, dan pokok pembicaraan. Oleh sebab itu, bahasa adat pernikahan terutama pada tahap peminangan memerlukan keahlian berdialog, berargumentasi, dan berkreasi verbal karena pada tahap ini merupakan penentuan tercapainya kesepakatan penundaan, atau batalnya harapan pernikahan.

B. Landasan Teori

15. Teori Strukturalis Teori strukturalis dalam linguistik strukturalis berusaha untuk mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Teori strukturalis ini berawal dari Saussure (1988: 219) yang membedakan hubungan sintagmatik dan paradigmatik atau asosiatif. Hubungan sintagmatik adalah kalimat yang tersempurna. Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linier. Di dalam sintagmatik tidak ada batas yang jelas antara peristiwa bahasa, pemarkah adat kolektif, dan peristiwa parole yang tergantung dari kebebasan individu. Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi tampak pada urutan fonem-fonem pada sebuah kata yang tidak dapat diubah tanpa merusak makna kata itu. Hubungan sintagmatik pada tataran morfologi tampak pada urutan morfem-morfem pada suatu kata, yang juga tidak dapat diubah tanpa merusak makna dari kata tersebut. Ada kemungkinan maknanya berubah, tapi ada kemungkinan pula tak bermakna sama sekali. Hubungan

21

sintagmatik pada tataran sintaksis tampak pada urutan kata-kata yang mungkin dapat diubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah, tetapi mungkin juga tidak dapat diubah tanpa mengubah makna kalimat tersebut, atau menyebabkan tak bermakna sama sekali (dalam Chaer, 2007: 349). Di samping hubungan

sintagmatik ada juga hubungan paradigmatik atau

asosiatif adalah hubungan yang digandai oleh makna dan bentuk, dan ada kalanya hanya makna atau hanya bentuk. Kata apa pun selalu dapat diasosiasikan dengan cara apa pun (Saussure, 1988: 223).

Hubungan paradigmatik atau asosiatif ini dapat dibuktikan

dengan cara substitusi baik pada tataran fonologi, morfologi, maupun tataran sintaksis (dalam Chaer, 2007: 350). Berdasarkan teori struktural yang diuraikan di atas, maka yang menjadi dasar analisis data penelitian ini adalah leksikon, morfologi, dan sintaksis (Samsuri, 1981: 51246; Samarin, 1988: 275-287; Robins, 1992: 223-305; Verhaar, 1996: 97-366;).

16. Konsep Leksikon atau Kosakata Leksikon atau kosakata adalah label-label yang diberikan kepada bentuk-bentuk bahasa sasaran sebagai suatu pejelasan yang berbeda antara bentuk yang satu dengan bentuk lainnya. Setiap leksikon atau kosakata dapat dikelompokkan ke dalam kelas-kelas gramatikal, misalnya ke dalam kelas kata benda, kata kerja atau kata sifat atau dikelompokkan ke dalam bidang-bidang semantik. Prinsip yang digunakan dalam menentukan makna adalah perolehan informasi yang sebanyak-banyaknya mengenai konteks kebahasaan dan fisik seperti yang diartikan orang atau penjelasan suatu istilah (Samarin, 1988: 287). Kata pada dasarnya merupakan satuan dalam bahasa sebagai

22

satuan sistem. Bloomfield (dalam Robins, 1992: 228) mengatakan bahwa kata adalah ‖bentuk bebas terkecil‖. Kata sebagai penggalan ujaran yang membolehkan jeda singkat di kedua sisinya yang dapat juga muncul di antara jeda-jeda tak tentu sebagai kalimat terkecil. Kata yang didefinisikan sebagai bentuk bebas terkecil merupakan elemen yang sama dengan penggalan ujaran yang ditinjau dari perbedaan intonasi, tekanan, dan kadang-kadang perbedaan komposisi segmental dalam situasi yang sesuai. Menurut Robins (1992: 469) bahwa setiap bahasa harus menjadi memadai bagi kebutuhan dan lingkungan para penuturnya pada setiap waktu. Oleh sebab itu kosakata yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu waktu ke waktu yang lain berkenaan dengan kayanya atau miskinnya unsur leksikal dalam berbagai bidang atau jangkauan semantis. Misalnya, bahasa Arab dikatakan memiliki sejumlah besar kata untuk berbagai jenis unta dan berbagai keadaan kesehatan unta. Di samping spesifikasi leksikon atau kosakata dalam berbagai bidang semantis sesuai dengan keperluan kebudayaan dan lingkungan dari penutur yang berbeda-beda, maka hal yang wajar pula bahasa-bahasa itu berbeda karena dalam pembentukan leksikon atau kosakatanya bertalian dengan topik tertentu. Misalnya, sisten istilah kekerabatan biasanya dibentuk berdasarkan pembedaan leksikal dalam hubungan keluarga manusia yaitu: hubungan antara orang tua dan anak, pertalian keluarga, dan hubungan anatara suami dan istri. Tentu saja setiap bahasa pembedaan untuk bidang leksikon atau kosakata ini berbedabeda. Sistem leksikal, baik dari istilah kekerabatan maupun dari jangkauan semantis lainnya, tidak sama dengan sistem hubungan antar pribadi, seperti sistem kekeraabatan yang merupakan bagian dari kehidupan sosial bangsa-bangsa. Selain itu, perbedaan

23

antarsistem leksikal tidak selalu menyiratkan perbedaan perilaku di bidang-bidang kehidupan meskipun ada beberapa korelasi, seperti keharusan menyatakan rasa hormat bagi orang yang lebih tua dengan menggunakan kata-kata tertentu yang sesuai dengan istilah kekerabatan. Suatu klasifikasi bahasa lebih khusus tentang jenis-jenis leksikon atau kosakata dapat dilakukan berdasarkan berbagai ciri yang paling menonjol dalam kata-kata itu sendiri. Malinowski (dalam Samarin, 1988: 289) mengatakan kata-kata harus dipelajari dalam tiga jenis konteks: konteks kebudayaan, konteks keadaan (apa yang diucapkan ketika mengungkapkan tuturan), dan konteks bahasa (tuturan yang sebenarnya di mana kata itu digunakan).

17. Proses Pembentukan Kata Proses pembentukan kata disebut juga dengan proses morfologis yakni cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Kata merupakan bentuk minimal yang bebas. Bentuk bebas berarti bentuk tersebut dapat diucapkan tersendiri, bentuk bebas itu bisa dikatakan, bisa didahului dan diikuti oleh jeda yang potensial. Di samping itu, bentuk bebas yang dimaksud akan mendapat pola intonasi dasar /[2] 3 1). Misalnya bentuk-bentuk /apa/, / mana/, /sukar/ mendapat kontur intonasi /3 1/; bentuk /keras/, /beras/, /deras/, /kera/, /dera/ mendapat kontur intonasi /231/, dan lain sebagainya. Jadi proses pembentukan kata atau proses morfologis ialah proses penggabungan morfem-morfem menjadi kata. Morfem adalah bentuk terkecil dan kata adalah bentuk yang terbesar. Menurut Samsuri (1981: 190-193), bahwa proses pembentukan kata atau proses morfologis tersebut dapat melalui afiksasi, reduplikasi, perubahan interen, suplisi, dan

24

modifikasi kosong. Afiksasi adalah penggabungan akar atau pokok dengan afiks. Afiks terdiri atas awalan, sisipan, dan akhiran. Reduplikasi adalah proses morfologis melalui pengulangan kata. Reduplikasi terdiri atas: reduplikasi penuh, reduplikasi dengan modifikasi, dan reduplikasi sebagian. Perubahan interen adalah proses morfologis yang menyebabkan perubahan-perubahan bentuk morfem-morfem,

karena perubahan-

perubahannya terdapat di dalam morfem-morfem itu sendiri. Suplisi adalah proses morfologis yang menyebabkan adanya bentuk yang baru. Modifikasi kosong adalah proses morfologis yang tidak menimbulkan perubahan pada bentuknya, tetapi konsepnya yang berubah. Selain itu, dalam pembentukan kata dikenal adanya konstruksi morfologis merupakan bentukan kata dari morfem tunggal dan gabungan antara morfem yang satu dengan morfem yang lain. Bentukan morfem tunggal ini disebut konstruksi sederhana. Bentukan kata yang merupakan gabungan antara morfem yang satu dengan morfem yang lain disebut konstruksi rumit. Konstruksi sederhana terdiri atas kata-kata yang merupakan morfem tunggal atau akar kata dan konstruksi yang terdiri atas morfem-morfem tunggal tetapi pada umumnya berwujud kecil, secara morfologis dapat berdiri-sendiri, tetapi secara fonologis biasanya mendahului atau mengikuti morfem-morfem lain yang disebut klitik. Jika morfemmorfem tersebut, mendahului kata-kata lain disebut proklitik, dan jika mengikuti katakata tersebut disebut enklitik. Konstruksi rumit adalah hasil proses penggabungan antara dua morfem atau lebih. Bentukan ini bisa berupa gabungan antara dan afiks, seperti ber + juan, ter+tawa, atau bentukan berupa gabungan antara akar dan afiks, seperti gulai + i, ke + hujan + an; atau

25

bentukan berupa gabungan antara pokok dan pokok, seperti gelak + tawa, atau bentukan berupa gabungan antara pokok dan akar, seperti daya +juang, atau bentukan yang berupa gabungan akar dan akar, seperti meja + makan. Adanya lapisan-lapisan konstruksi tersebut, terdapat perbedaan

infleksi dan

derivasi. Infleksi adalah perubahan morfemis dengan mempertahankan identitas leksikal dari kata yang bersangkutan dan derivasi adalah perubahan morfemis yang menghasilkan kata dengan identitas morfemis yang lain. Misalnya, dalam bahasa Inggris friend dan friends adalah leksem yang sama, dan friend dan befriend merupakan leksem-leksem yang berbeda. Verba to befriend adalah hasil derivasi dari nomina friend, dan bukan hasil infleksi, karena kedua kata itu tidak sama kelasnya yaitu verba dan nomina. Jikalau dua kata dengan dasar yang sama termasuk kelas kata yang sama tetapi berbeda maknanya dan kedua kata itu juga berbeda secara leksikal, maka disebut infleksi. Mislanya, dalam bahasa Inggris; friend dan friendship atau dalam bahasa Indonesia pengajar dan pengajaran yang sama-sama kelas katanya dan dasarnya. Di samping itu pula, terdapat pemajemukan Majemuk ialah konstruksi yang terdiri atas dua morfem atau dua kata atau lebih. Konstruksi majemuk ini berupa akar + akar, atau akar + pokok (pokok + akar) yang bermakna. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat konstruksi: 1) [sabun mandi, rumah sakit, kaki tangan ]; 2) [orang mandi, anak sakit, kaki meja]. Konstruksi pada deretan (1) tidak dapat disisipkan morfem yang lain, oleh sebab itu disebut majemuk dan konstruksi pada deretan (2) dapat disisipkan morfem yang lain disebut frasa. Pada konstruksi majemuk dan konstruksi frasa dapat dibedakan mana yang disebut endosentrik dan mana eksosentrik. Suatu bentukan disebut endosentrik, apabila

26

konstruksi distribusiya sama dengan kedua, ketiga, atau salah satu unsur-unsurnya. Suatu bentukan disebut disebut eksosentrik, apabila konstruksi itu berlainan distribusinya dari salah satu unsur-unsurnya. Misalnya, bentukan anak malas dan si kaya. Bentukan anak malas adalah bentukan endosntrik dan bentukan si kaya disebut eksosentrik.

18. Proses Pembentukan Kalimat Di dalam bahasa Indonesia terdapat kalimat yang terdiri atas satu kata, dua kata, tiga kata, empat kata, lima kata, enam kata, tujuh kata, delapan kata dan seterusnya. Tetapi perlu diketahui ketentuan suatu kalimat tidak tergantung banyaknya jumlah kata yang menjadi unsurnya melainkan intonasinya. Menurut Ramlan (dalam Putrayasa, 2007: 20) bahwa setiap satuan kalimat dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik. Menurut Alwi et.al, 1998 dan Kridalaksana 1985 bahwa kalimat dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Selain itu, kalimat dapat dikatakan adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap (Chaer, 2007: 240). Jenis kalimat menurut Chaer (2007) terdiri atas: kalimat inti dan non inti; kalimat tunggal dan kalimat majemuk; kalimat myor dan kalimat minor; kalimat verbal dan kalimat non-verbal; kalimat bebas dan kalimat terikat.

27

Kaimat inti biasa disebut kalimat dasar adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif. Dalam bahasa Indonesia pola dan struktur kalimat inti sebagai berikut: -

FN + FV

: Ayah datang

-

FN + FV + FN

: Ayah membeli ayam

-

FN + FV + FN + FN

: Ayah memperindah rumah ibu

-

FN + FA

: Ibu cantik

-

FN + FNum

: Uangnya lima juta

-

FN + FP

: Uangnya di dompet

Keterangan: FN = Frasa Nominal FV = Frasa Verba FA = Frasa Ajektiva FNum = Frasa Numeral FP = Frasa Preposisi FN dapat diisi dengan kata nominal; FV dapat diisi dengan kata verbal; FA dapat diisi dengan kata ajektifal; dan FNum dapat diisi dengan kata numeralia. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat noninti dengan berbagai proses transformasi seperti transformasi

pemasifan, transformasi penanyaan, transformasi

pemerintahan, transformasi penginversian, transformasi pelesapan, dan transformasi penambahan. Mislanya dari kalimat inti

‘Ayah membeli ayam’ dapat diberlakukan

transformasi pemasifan menjadi ’Ayam dibeli ayah’. Jadi dapat dikatakan kalimat inti +proses transformasi = kalimat noninti. (lihat gambar 1 ) di bawah ini

28

KALIMAT INTI

+

PROSES TRANSFORMASI

=

KALIMAT NONINTI

Gambar 1 Kalimat tunggal dan kalimat majemuk berdasarkan banyaknya klausa yang ada di dalam kalimat tersebut. Jika klausanya hanya satu, maka kalimat itu disebut kalimat tunggal. Jika di dalam kalimat itu terdapat klausa lebih dari satu, maka kalimat itu adalah kalimat majemuk. Berkenaan dengan sifat hubungan klausa-klausa di dalam kalimat itu, dibedakan adanya kalimat majemuk koordinatif atau kalimat majemuk setara; kalimat majemuk subordinatif atau kalimat majemuk bertingkat; dan kalimat majemuk kompleks. Kalimat majemuk koordinatif atau kalimat majemuk setara adalah kalimat majemuk yang klausa-klausanya memiliki status yang sama, yang setara, atau yang sederajat.

Klausa-klausa

dalam kalimat

majemuk

koordinatif

secara

eksplisit

dihubungkan dengan konjungsi koordinatif, seperti dan, atau, tetapi, lalu. Tetapi terkadang pula hubungan hanya secara implisit artinya tanpa menggunakan konjungsi. Selain itu, apabila ada unsur klausa yang sama, maka unsur yang sama itu disenyawakan atau dirapatkan. Kalimat majemuk subordinatif adalah kalimat majemuk yang hubungan antara klausa-klausanya tidak setara atau tidak sederajat. Klausa yang satu merupakan klausa atasan, dan klausa yang lain merupakan klausa bawahan. Kedua klausa itu biasanya dihubungkan dengan konjungsi subordinatif, seperti kalau, ketika, meskipun, karena. Tetapi terkadang pula hubungan itu dilakukan secara implisit. Proses terbentuknya kalimat majemuk subordinatif dapat ditinjau dari dua sudut pandang yang bertentangan. Pertama: dipandang sebagai hasil proses menggabungkan dua buah klausa atau lebih,

29

klausa yang satu dianggap sebagai klausa atasan atau klausa utama atau induk kalimat dengan klausa bawahan atau anak kalimat. Kedua: konstruksi kalimat subordinatif adalah sebagai hasil proses perluasan terhadap salah satu unsur klausanya. Jenis kalimat majemuk yang lain adalah kalimat majemuk kompleks yang terdiri atas tiga klausa atau lebih. Dalam kalimat majemuk kompleks ini ada yang dihubungkan secara koodinatif dan ada pula yang dihubungkan secara subordinatif. Jadi kalimat majemuk ini merupakan campuran dari kalimat majemuk koordinatif dengan kalimat majemuk suboordinatif. Pembedaan kalimat mayor dan kalimat minor adalah berdasarkan lengkap tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat itu. Jika klausanya lengkap, minimal memiliki subjek dan predikat, maka kalimat itu disebut kalimat mayor. Jika klausanya tidak lengkap, hanya terdiri atas subjek saja, objek saja, atau keterangan saja, maka kalimat itu disebut kalimat minor. Kalimat minor meskipun unsur-unsurnya tidak lengkap, tetapi dapat dipahami karena konteksnya diketahui oleh pendengar atau pembicara. Konteks ini bisa berupa konteks kalimat, konteks situasi, atau juga konteks topik pembicaraan. Jadi kalimat-kaliamt jawaban singkat, kalimat seruan, kalimat perintah, kalimat salam adalah termasuk kalimat minor. Adanya pembedaan klausa verbal dan klausa nonverbal karena konstituen dasar kalimat biasanya adalah klausa, dengan demikian pembahasan tentang kalimat verbal dan kalimat nonverbal sejalan dengan pembahasan tentag klausa verbal dan klausa nonverbal. Jadi dapat dikatakan bahwa kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verba.

30

Kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata atau frase yang berkategori verbal, tetapi nominal, adjektifal, adverbial, dan numeralia. Tipe verba dibedakan atas kalimat transitif, kalimat intrasitif, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat dinamis, dan kalimat statis. Kalimat transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba transitif, yaitu verba yang biasanya diikuti oleh sebuah objek atau bersifat monotransitif, dan apabila verba tersebut diikuti dua objek, maka verbanya itu berupa verba bitransitif. Selain itu, terdapat verba transitif yang tidak perlu diikuti objek, tetapi sudah dipahami oleh penuturnya dan sudah gramatikal. Kalimat intransitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba intransitif yaitu verba yang tidak memiliki objek, antara lain verba menari, berlari, dan datang. Kalimat aktif adalah kalimat yang predikatnya kata kerja aktif. Dalam bahasa Indonesia verba aktif ditandai dengan prefiks me- atau memper-. Kalimat pasif yaitu kalimat yang predikatnya adalah verba pasif. Verba pasif dalam bahasa Indonesia ditandai dengan prefiks di- atau diper-. Selain itu, terdapat pula kalimat aktif yang anti pasif dan kalimat pasif yang anti aktif karena adanya verba aktif yang tidak dapat dipasifkan, dan verba pasif yang tidak dapat dijadikan verba aktif. Kalimat dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis menyatakan tindakan atau gerakan. Kalimat statis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis tidak menyatakan tindakan atau kegiatan.

19. Fungsi Bahasa sebagai Medium Sastra Bahasa bagi seorang sastrawan adalah alat untuk menyampaikan isi hati atau ungkapan hati baik secara individu maupun ungkapan hati kelompok masyarakat dan lingkungannya. Menurut Jakobson (dalam Kadarisman, 2009: 52) terdapat enam fungsi

31

bahasa yang terkait dengan enam komponen komunikasi yang memiliki fokus yang berbeda yaitu (1) fungsi referensial yang berfokus pada isi tuturan atau makna denotatif; (2) fungsi emotif atau ekspresif yang berfokus pada sikap atau perasaan penutur terhadap isi tuturannya; (3) fungsi konatif berfokus pada mitra tutur dan lazimnya muncul sebagai kalimat perintah; (4) fungsi fatis berfokus pada upaya memlihara keberlangsungan komunikasi antara penutur dan mitra tutur; (5) fungsi metalingual berfokus pada penggunaan bahasa untuk membicarakan bahasa; dan (6) fungsi puitis berfokus pada bahasa itu sendiri atau menonjolkan bentuk bahasa demi dampak estetis. Di antara keenam fungsi bahasa tersebut, yang paling utama adalah fungsi referensial. Bahasa adalah sarana verbal untuk menyampaikan pesan. Tetapi bukan berarti kelima fungsi lainnya diabaikan, sebab dalam komunikasi verbal fungsi-fungsi bahasa lainnya saling terkait, tidak ada fungsi bahasa yang tunggal tanpa disertai yang lainnya. Barthes (dalam Kurzweil, 2010: 250) mengatakan bahwa bahasa ada di mana-mana dapat mengungkapkan semua fenomena sastra dan sosial olehnya harus mampu memberikan petunjuk kepada semua pengetahuan. Crystal (dalam Kadarisman, 2009: 54) mengatakan bahwa dalam arti yang luas, puitika merujuk pada salah satu fungsi bahasa. Jakobson mengatakan, the poetic function projects the principle of equivalence from the axis of selection in to the axis of combination. Pernyataan ini megmplikasikan. Pertama, adanya kebebasan kreatif dalam diri penutur sebagai pencipta. Pencipta karya sastra bisa memilih bentuk atau makna yang tidak terbatas pada poros paradikmatik (lajur mental lexicon), untuk kemudian diproyeksikan pada poros sintagmatik (phonotactic and syntactic plane). Kedua, ketika memproyeksikan pilihan bentuk dan makna pada poros paradigmatic yang dibimbing

32

oleh prinsip keseimbangan (the principle of equivalence). Secara structural, proyeksi tersebut, muncul sebagai pengulangan lingual yang variatif. Pada tataran fonologis, muncul aliterasi dan asonansi atau rima; pada tataran sintaksis muncul paralelisme struktur; dan pada tataran semantic muncul paralelisme makna. Ketiga, hasil konkret dari proyeksi tersebut, adalah bahasa puitis, yaitu bahasa yang bentuknya ditonjolkan demi dampak estetis. Di samping itu, dalam pemahaman terhadap karya sastra, menurut Teeuw terdapat lima faktor penting yang perlu diketahui oleh pembaca dan penganalisis karya sastra. Lima faktor tersebut adalah sebagai berikut ini. (a) Faktor sistem bahasa sebagai media karya sastra. Struktur kebahasaan sangat berperan dalam menganalisis sastra, karena struktur kabahasaan tersebut, diindikasikan

dalam

model

pemahaman.

Penelitian

sastra

yang

tidak

memperhatikan bahasa sebagai acuan, maka dapat dikatakan menghilangkan sesuatu yang hakiki dalam karya sastra. (b) Faktor konvensi sastra. Penguasaan akan bahasa saja tidaklah cukup untuk memahami sastra, karena sastra sesungguhnya mempunyai konvensi sistemiknya sendiri yang dibangun di atas sistem bahasa. Oleh sebab itu, konvensi yang berlaku dalam karya sastra itu disebut sebagai sistem tanda tingkat kedua atau sistem tanda sekunder. Dalam kaitannya dengan bahasa sebagai sistem tanda primernya, konvensi sistemik sastra ini bersifat eksploratif. Bangunan maknawi sastra adalah hasil dari pemanfaatan sistem bahasa menurut konvensi-konvensi tertentu yang mampu menghasilkan persepsi dan makna-makna yang segar, baru, unik yang tidak mungkin dicapai melalui sistem bahasa saja. Orang tidak dapat

33

memahami cerita rakyat walaupun menguasai

bahasa daerahnya sendiri.

Misalnya cerita rakyat Gorontalo atau puisi daerah tidak dimengerti pakempakem yang berlaku dalam cerita atau puisi tersebut. (c) Faktor pembaca sebagai variabel sosial dan historis. Komunikasi melalui sastra adalah sebuah proses dinamik yang melibatkan beragam pembaca dari pelbagai lingkungan, kategori, dan kelas sosial yang tidak selalu berasal dari waktu yang sezaman dengan karya, dengan demikian pemahaman sastra yang berpretensi menyeluruh tidak boleh meninggalkan dinamika dalam komunikasi sastra yang terjadi karena adanya jarak sosial dan jarak historis ini. Oleh sebab itu, aspek dinamika komunikasi dalam pembacaan dan penanggapan atas karya sastra itu harus ditampilkan dalam model situasi yang melingkupi karya sastra secara menyeluruh. (d) Faktor bentuk karya sastra sebagi variabel. Oleh karena berbagai faktor, seperti proses pewarisan antargenerasi, komunikasi antarbudaya, perkembangan agenagen pendukung penyebaran sastra, maka bentuk karya sastra dimungkinkan mengalami transformasi. Contoh transformasi yang paling mudah adalah kasus penyalinan karya sastra yang masih yang berbentuk manuskrip pada masa lalu, kasus penerjemahan karya sastra, dan adaptasi antargenre. Transformasi merupakan fenomena penting dalam dunia kesusastraan karena di dalam berbagai transformasi terimplikasikan permasalahan penting bagi pemahaman sastra terutama untuk tinjauan sejarah sastra dan sosiologi sastra. (e) Faktor kriteria penilaian sastra. Meskipun masalah penilaian sastra merupakan biidang tersendiri yakni estetika, tetapi hal itu tidak dapat dipisahkan dari

34

penelitian sastra khususnya kritik sastra. Dalam KBBI (2001:

601) bahwa

aktivitas kritik itu sendiri mengndung arti ‖kecaman atau tanggpan, kadangkadang juga disertai dengan uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.‖

35

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

A. Tujuan Khusus Penelitian

Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut ini. 1)

Menemukan leksikon bahasa dan sastra Gorontalo.

2)

Menemukan proses pembentukan kata bahasa Gorontalo.

3)

Menemukan proses pembentukan kalimat bahasa Gorontalo.

4)

Menemukan fungsi bahasa sebagai medium sastra.

5)

Menemukan terbentuknya tata bahasa atau kaidah bahasa dan sastra Gorontalo.

B. Manfaat Penelitian

Secara teoretis hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan terhadap: (1) pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pengembangan bidang bahasa dan sastra daerah pada umumnya dan khususnya bahasa dan sastra daerah Gorontalo; (2) penemuan leksikon dan pembentukan gramatikal dan kaidah bahasa dan sastra daerah Gorontalo; dan (3) penemuan fungsi bahasa sebagai medium sastra. Secara praktis hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan kepada guru dan dosen untuk pengembangan pembelajaran bahasa dan sastra daerah Gorontalo sebagai muatan lokal. Selain itu, memberikan sumbangan kepada masyarakat sebagai penutur bahasa dan pengguna sastra untuk mempertahankan bahasa dan sastra leluhurnya.

36

Hasil penelitian memberikan implikasi positif terhadap penguatan, pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra daerah Gorontalo. Meciptakan gramatikal dan kaidah bahasa dan sastra daerah Gorontalo untuk dijadikan salah satu bahan ajar dalam rangka mendukung kurikulum muatan lokal. Selain itu, dapat menyelaraskan intensitas bahasa dan sastra daerah Gorontalo dengan bahasa dan sastra daerah lainnya.

37

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

A. Latar Penelitian Dalam pengelompokan penelitian, tempat atau lokasi penelitian merumapakan ciri khas penelitian. Penelitian pada tahap kedua ini, dapat dilakukan di lapangan dan di perpustakaan. Penelitian dilakukan di lapangan melibatkan masyarakat penutur bahasa yang berada di wilayah Provinsi Gorontalo yang terdiri atas lima kabupaten dan satu kotamadya. Di wilayah-wilayah ini bahasa Gorontalo masih tetap digunakan. Penelitian dilakukan di perpustakaan dengan menggunakan buku-buku sebagai sumber data. Penelitian ini dilaksanakan dalam jangkauan waktu yang secra sinkronis yang terbatas pada waktu tertentu. Kurun waktu yang digunakan untuk menyelesaian penelitian ini kurang lebih dalam jangka waktu satu tahun. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif –kualitatif yang bertujuan membuat deskripsi adalah membuat gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data serta sifat-sifat dan hubugan fenomena-fenomena yang diteliti secara ilmiah. Metode kualitatif lebih mampu mengungkap realitas ganda, lebih mengungkap hubungan wajar antara peneliti dengan responden dan lebih sensitif dan adaptif terhadap peran berbagai pengaruh timbal-balik. Metode kajian berdasarkan pendekatan atau teori yang digunakan untuk mendeskripsikan data secara akurat, serta menghasilkan kaidah kebahasaan Gorontalo secara linguistik. Metode deskriftif-kualitatif yang digunakan adalah metode informan atau metode kontak.

38

Mecermati uraian sebelumnya, maka instrumen yang digunakan

dalam

pengumpulan data dipilih teknik pemancingan. Dasar yang digunakan untuk teknik pemancingan ini terdiri atas: (a) tuturan yang diperoleh singkat; (b) pemancingan hanya dikhususkan pada analisis aspek sistem linguistik; dan (c) pemnacingan ini dibatasi oleh hubungan-hubungan manusiawi yang terjalin akrab antara peneliti dan informan yang mempengaruhi data yang diperoleh dan diinterpretasikan. Teknik yang digunakan antara lain dengan menggunakan alat angket, wawancara, rekaman, dan teknik mencatat. Alat instrumen adalah tape recorder, handphon, dan buku catatan.

B. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural kebahasaan. Linguistik strukturalis berusaha untuk mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu.

Pendekatan struktural ini

memandang dari segi susunan bahasanya yang terdiri atas morfologi dan sintaksis. Menurut Robins (1992: 469) bahwa setiap bahasa harus menjadi memadai bagi kebutuhan dan lingkungan para penuturnya pada setiap waktu. Oleh sebab itu kosakata yang berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain dan dari satu waktu ke waktu yang lain berkenaan dengan kayanya atau miskinnya unsur leksikal dalam berbagai bidang atau jangkauan semantis. Samsuri (1981: 190-193), juga mengatakan bahwa proses pembentukan kata atau proses morfologis tersebut dapat melalui afiksai, reduplikasi, perubahan interen, suplisi, dan modifikasi kosong. Afiksasi adalah penggabungan akar atau pokok dengan afiks.

39

Menurut Alwi et.al, 1998 dan Kridalaksana 1985 bahwa kalimat dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lainnya. Dalam wujud tulisan kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru. Selain itu, kalimat dapat dikatakan adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap (Chaer, 2007: 240). Jenis kalimat menurut Chaer (2007) terdiri atas: kalimat inti dan non inti; kalimat tunggal dan kalimat majemuk; kalimat myor dan kalimat minor; kalimat verbal dan kalimat non-verbal; kalimat bebas dan kalimat terikat. Jenis penelitian ini tergolong pada penelitian kualitatif-deskriptif. Penelitian ini akan menghasilkan data deskriptif yang berupa data terrulis atau lisan dari masyarakat penutur bahasa. Di dalam penelitian diarahkan pada latar individu secara holistik, yang dilihat sebagai bagian dari satu kesatuan yang utuh. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini jumlah informan tidak ditentukan, karena seorang informan dianggap sebagai makrokosmos dari masyarakat penutur bahasa.

C. Kehadiran Peneliti

Peneliti berjumlah dua orang yang terdiri atas ketua dan anggota. Keduanya orang ini aktif

sejak penyusunan

proposal penelitian sampai pada penyusunan laporan

kemajuan atau laporan akhir penelitian ini.

40

D. Data dan Sumber Data

Data penelitian ini adalah data bahasa yang terdiri atas data morfologi dan data sintaksis. Pada bidang morfologi menyangkut data leksikon atau kosakata bahasa Gorontalo dan pembentukannya. Pada bidang sintaksis menyangkut pembentukan kalimat bahasa Gorontalo. Sumber data yang pertama adalah berasal dari kepustakaan yang berkaitan dengan bahasa Gorontalo dan sumber data yang kedua berasal dari masyarakat penutur bahasa Gorontalo.

E. Prosedur Pengumpulan Data

Oleh karena sifat penelitian ini adalah penelitian pustaka dan penelitian lapangan, maka prosedur pengumpulan data yang ditempuh oleh peneliti sebagai berikut ini. 1) Peneliti melakukan pengkajian pustaka yang berkaitan dengan masalah sebagai fokus penelitian seperti pustaka bahasa dan sastra Gorontalo. 2) Peneliti ke lapanagan dengan menggunakan metode informan atau metode kontak dengan manusia sebagai penutur bahasa Gorontalo dan pengguna sastra Gorontalo. 3) Oleh karena data yang dikumpulkan leksikon dan kalimat bahasa Gorontalo serta fungsi sastra Gorontalo yang digunakan penuturnya kapan dan di mana saja, maka dalam pengumpulan data tidak dibatasi informan sebagai sumber data. Tetapi walaupun demikian, dalam penelitian ini tetap diberlakukan penentuan informan

41

kunci ‘key informan’ yang paling utama untuk mencerahkan data leksikon dan kalimat bahasa dan sastra Gorontalo. 4) Jika dalam proses pengumpulan data tidak lagi ditemukan variasi data yang disampaikan oleh informan, maka peneliti tidak perlu lagi mencari informan baru. Berdasarkan itu pula proses pengumpulan data telah selesai. 5) Informan dalam penelitian ini dapat berjumlah banyak dan juga dapat berjumlah sedikit tergantung tepat tidaknya pemilihan informan kunci dan kompleksitas serta keragaman fenomena karakteristik perlakuan bahasa dan sastra daerah Gorontalo. 6) Pemilihan informan dalam penelitian ini mengikuti prosedur yang disarankan oleh Spradley (1980: 15) yakni melalui lima kriteria, maka informan yang dipilih adalah: (1) informan yang menyatu dengan kegiatan atau medan aktivitas yang menjadi informasi, menghayati secara sungguh-sungguh sebagai akibat dari keterlibatannya yang cukup lama dengan lingkungan atau kegiatan yang bersangkutan; (2) informan yang masih terlibat secara penuh/aktif pada kegiatan yang menjadi perhatian peneliti; (3) informan yang mempunyai cukup banyak waktu atau kesempatan untuk diwawancarai; (4) informan yang dalam memberikan informasi tidak cenderung diolah atau dipersiapkan lebih dahulu; dan (5) informan dapat dipastikan sebelumnya tergolong masih ―asing‖ dengan penelitian. Selain itu, untuk memperoleh data yang representatif digunakan metode yang mengacu ke Hyms (1972; 1975: 9-18) yang disebut SPEAKING (setting and scene, participants, ends, act sequences, key, instrumentalities, norm and gendre).

42

F. Pengecekan Keabsahan Data

Oleh karena penelitian ini bersifat deskriptif- kualitatif, maka keabsahan datanya dapat ditinjau dari validitas, reliabilitas, dan objektivitas. Data penelitian ini merupakan data yang valid dengan menggunakan alat rekaman, teknik catat, teknik wawancara dan lain-lain karena data yang dijaring adalah data yang berupa kata dan kalimat bahasa Gorontalo. Di samping itu, data penelitian ini reliabel dan objektif, karena alat atau instrumen pengumpul data dalam penelitian ini sangat tepat untuk mengumpul data yang sesuai dengan fokus masalah penelitian ini. Objektif karena penelitian ini sifatnya deskriptif, jadi datanya adalah data yang apa adanya sesuai apa yang ditemui di lapangan.

G. Analisis Data

Analisis data penelitian ini mengacu pada teori struktural kebahasaaan yang mengkaji bagian-bagian atau unsur-unsur yang saling berhubungan satu sama lain membentuk satu kesatuan yang ( the whole unified). Penelitian ini lebih mementingkan proses karena proses melibatkan suatu kajian yang menghasilkan formula (kaidah). Pada penelitin ini, data yang dianalisis adalah data kebahasaan yang akan menemukan leksikon bahasa Gorontalo; pembentukan kata bahasa Gorontalo; dan pembentukan kalimat bahasa Gorontalo.

43

H. Tahap-Tahap Penelitian

Tahapan penelitian dan metode yang dirancang peneliti dalam pelaksanaan penelitian ini sebagai berikut: 1. Menyusun latar belakang permasalahan dan alasan pelaksanaan penelitian; 2. Mengkaji kepustakaan yang sesuai dengan paradigma fokus permasalahan; 3. Penentuan lapangan penelitian; 4. Penentuan jadwal penelitian; 5. Pemilihan alat penelitian; 6. Penyusunan rancangan pengumpulan data; 7. Penyusunan rancangan pengecekan kebenaran data; dan 8. Penyusunan rancangan analisis data.

I. Teknik Analisis Data

Langkah-langkah yang ditempuh peneliti adalah sebagai berikut ini. 1. Membuat korpus data leksikon bahasa dan sastra Gorontalo. 2. Membuat klasifikasi data pembentukan kata dan kalimat sesuai gramatika bahasa dan sastra Gorontalo . 3. Membuat klasifikasi fungsi bahasa dan sastra Gorontalo. 4. Membuat analisis pembentukan kata dan kalimat serta fungsi bahasa dan sastra Gorontalo.

44

5. Membuat uraian tentang gramatikal bahasa dan sastra Gorontalo, agar dapat diaplikasikan di setiap jenjang pendidikan, baik di SD, SMP, SMA maupun di Perguruan Tinggi. 6. Membuat simpulan dari hasil penelitian pada tahap dua ini sebagai langkah pengaplikasian di setiap jenjang pendidikan tersebut. Berikut digambarkan melalui alur

penelitian dengan diagram alir penelitian

dalam bentuk fishbone.

45

PEMERTAHANAN BAHASA & SASTRA GORONTALO

TAHUN-1

HASIL CAPAIAN

KARAKTER

DITEMUKAN 32 JENIS KARAKTER DALAM BAHASA &SASTRA GORONTALO

SIKAP PENUTUR & PENGGUNA SASTRA

MASIH DITEMUKAN SIKAP PENUTUR & PENGGUNA SASTRA YG POSITIF

ALASAN PEMERTAHANAN N

TERKAIT PERMASALAHAN KARAKTER &SIKAP TERSEBUT BHS & SASTRA GORONTALO AKAN SELALU DIPERTAHANKAN HASIL YANG DIHARAPKAN

TAHUN-2

TERARSIPKAN LEKSIKAL BAHASA &SASTRA DAERAH GORONTALO YANG DIKELOMPOKKAN KE DALAM BIDANG GRAMATIKAL DAN BIDANG SEMANTIK

LEKSIKON

GRAMATIKAL

TERCIPTANYA TATA BAHASA DAN KAIDAH SASTRA GORONTALO

FUNGSI BAHASA-MEDIUM SASTRA

DITEMUKANNYA JENIS FUNGSI BAHASA – MEDIUM SASTRA GORONTALO

PENTINGNYA TATA BAHASA DAN KAIDAH SASTRA GORONTALO HARUS ADA

BAHASA DAN SASTRA GORONTALO MENDAPAT KEDUDUKAN YANG SETARA DENGAN BAHASA DAN SASTRA DAERAH LAINNYA BAIK SECARA NASIONAL MAUPUN INTERNASIONAL

Gambar 2

46

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Leksikon Bahasa dan Sastra Gorontalo Leksikon bahasa dan sastra Gorontalo dapat dibedakan berdasarkan bidang semantiknya yang ditinjau dari kelas kata seperti kelas kata kerja (verba); kelas kata benda (nomina); dan kelas kata sifat (adjektiva). Kejelasannya dapat ditampilkan dalam tabel berikut ini.

a. Leksikon yang tergolong kata kerja (verba) bahasa Gorontalo Tabel 1 Bahasa Gorontalo

Bahasa Indonesia

/mominggulo/

‘melotot‘

/molontongo/

‘melotot‘

/momilohu/

‘melihat‘

/molilo’o/

‘melirik‘

/mohumoyongo/

‘menangis‘

/motuluhu/

‘tidur‘

/motipito’o/

‘menutup mata‘

/modiilo/

‘mencium‘

/monga/

‘makan‘

/molamelo/

‘makan‘

/morijiki/

‘makan‘

47

/moluwango/

‘makan‘

/momota’o/

‘makan‘

/moliupo/

‘makan‘

/molamito/

‘mencicipi‘

/modelito/

‘menjilat‘

/mohuntapo/

‘mengunyak‘

/modengeto/

‘menggigit‘

/mongilu/

‘minum‘

/mobisala/

‘berbicara‘

/molololo/

‘bersedih‘

/modungohu/

‘mendengar‘

/molupito/

‘menguping‘

/momobo’o/

‘mencuci‘

/mohuheto/

‘mencuci‘

/modihu/

‘memegang‘

/momeengito/

‘menyuap‘

/molubingo/

‘mencubit‘

/molambali/

‘menampar‘

/momuntungo/

‘meninju‘

/mohe’upo/

‘menangkap‘

/momitilo/

‘memijit‘

/mohepo/

‘memijit‘

/mongali’o/

‘menggali‘

/moluwi/

‘cebo‘

/mongili/

‘berak‘

/mohututo/

‘kentut‘

/moona’o/

‘jalan‘

/molepa/

‘menendang‘

/molinggodu/

‘menendang‘

/mobotulo/

‘naik‘

/molaahu/

‘turun‘

48

/momiya’ato/

‘memanjat‘

/molambango/

‘melangkah‘

/moduta’o/

‘menginjak‘

/mongulo/

‘mencuci‘

/motubu/

‘memasak‘

/moceti/

‘mengecet‘

/motihulo’o/

‘duduk‘

/motibalato/

‘membaringkan badan‘

/monga’ato/

‘menyapu‘

/mopeli/

‘mengepel‘

/modingingo/

‘membuat dinding‘ ‘membuat minyak kelapa‘

/mohinulo/ /motita’e/

‘menaiki‘

/motiluntu/

‘menaiki‘

/moluladu/

‘menulis‘

/mobaca/

‘membaca‘

/mokulia/

‘mengikuti kuliah‘

/mobalajari/

‘belajar‘

/mobite/

‘mendayung‘

/mohala/

‘menjaring ikan‘

/momambinga/

‘bertani‘

/momeengi/

‘berkebun‘

/mobala/

‘memagari‘

/mmomilohi/

‘melihat‘

/moti’antongo/

‘mengendap‘

/momati/

‘memacul‘

49

b. Leksikon yang tergolong kata benda (nomina) bahasa Gorontalo Tabel 2 Bahasa Gorontalo

Bahasa Indonesia

/lunggongo/

‘kepala‘

/huwo’o/

‘rambut‘

/lambuto/

‘rambut‘

/hapato/

‘bulu kuduk‘

/baya/

‘wajah‘

/buntungomato/

‘kening‘

/i’ilapo/

‘bulu mata‘

/mato/

‘mata‘

/bulonga/

‘telinga‘

/wulingo/

‘hidung‘

/putongi/

‘pipi‘

/ngango/

‘mulut‘

/biihu/

‘bibir‘

/dungito/

‘gigi‘

/huwoto/

‘gusi‘

/dila/

‘lidah‘

/wangodu/

‘langit-langit‘

/danggu/

‘dagu‘

/bulo’o/

‘leher‘

/duhelo/

‘dada‘

/tutu/

‘toto‘

/huwange’e/

‘ketiak‘

/ombongo/

‘perut‘

/olu’u/

‘tangan‘

/paladu olu’u/

‘telapak tangan‘ ‘bagian atas tangan‘

/polotodu/

50

/ti’u/

‘siku‘

/tiyongowa lo olu’u/

‘jari

/tutunu/

‘jari telunjuk‘

/lu’obu/

‘kuku‘

/o’ato/

‘kaki‘

/yita/

‘selangkangan‘

/bungolopa/

‘paha‘

/hu’u/

‘buku-buku‘

/butiyoto/

‘butiyoto‘

/tiyongowa lo o’ato/

‘jari kaki‘

/paladu o’ato/

‘telapak kaki‘

/tele/

‘kemaluan perempuan‘

/hutu/

‘kemaluan laki-laki‘

/dehupo/

‘bagian bawah perut‘

/tutubu/

‘pantat‘

/poyonggi/

‘pinggul‘

/wohuta/

‘pinggang‘

/datala/

‘tulang rususk‘

/de’awata/

‘bagian belakang tubuh‘

/i’i/

‘bagian belakang tubuh‘

/longungu/

‘bagian belakang kepala‘

/putu/

‘jantung‘

/tutu’alobe/

‘lambung‘

/kadera/

‘kadera‘

/meja/

‘meja‘

/bulonggo/

‘periuk‘

/ulongo/

‘panci‘

/pingge/

‘piring‘

/titidu/

‘sendok‘

/halati/

‘gelas‘

/manggo/

‘mangko/cangkir‘

51

/loolade/

‘cawan‘

/pelesi/

‘toples‘

/halahadi/

‘mobil‘

/lamari/

‘lemari‘

/pito/

‘pisau‘

/wamilo/

‘parang‘

/emberi/

‘ember‘

/popati/

‘pacul‘

/sikopu/

‘skop‘

/looyangi/

‘loyang‘

/laapisi/

‘rantang‘

/pastei/

‘piring kue‘

/baakulu/

‘loyang kecil‘

/koi/

‘tempat tidur‘

/rusubani/

‘tempat tidur /difan‘

/anguluwa/

‘bantal‘

/huheputo/

‘bantal yang dipeluk‘

/kulambu/

‘kolambu‘

/podehu/

‘gorden pintu/jendela‘

/amongo/

‘tikar‘

/lino/

‘tikar ukuran besar‘

/lomuli/

‘tikar‘

/paramadengi/

‘permadani‘

/wumbato/

‘pengalas‘

/alumbu/

‘kain putih berukuran 2 m

/oto /

‘mobil‘

/motoro/

‘motor‘

/rasupede/

‘sepeda‘

/bulotu/

‘perahu‘

/he’ita/

‘rakit‘ ‘dokar‘

/bendi/

52

/bentor/

‘beca-motor‘

/goroba/

‘kereta kuda‘

/kokyonga/

‘kereta sapi‘

/roda/

‘kereta sapi‘

/karatasi/

‘kertas‘

/polopeni/

‘polpen‘

/patuluti/

‘pinsil‘

/tasi/

‘tas‘

/bada’a/

‘bedak‘

/pupuru/

‘bedak‘

/butulu/

‘botol‘

/sapatu/

‘cepatu‘

/na’ale/

‘sandar‘

/poci/

‘teko‘

/hula/

‘gula‘

/tei/

‘teh‘

c. Leksikon yang tergolong kata adjektiva (sifat) bahasa Gorontalo

Tabel 3 Bahasa Gorontalo

Bahasa Indonesia

/olaku/

‘cantik‘

/moputi’o/

‘putih‘

/moyitomo/

‘hitam‘

/motilango/

‘terang‘

/moolulo/

‘kuning langsat‘

/molu’oyo/

‘lembut‘

53

/mooyoto/

‘ramping‘

/mo’oyoto/

‘kurus‘

/molingohu/

‘gemuk‘

/haya-haya’o/

‘tinggi‘

/molanggato/

‘tinggi‘

/limbo-limbongo/

‘pendek‘

/podo-podongo/

‘pendek‘

/mohulodu /

‘bodoh‘

/motota/

‘pintar‘

/motota’owa/

‘pencuri‘

/mokobolo/

‘lamban‘

/lantingalo/

‘malas‘

/ba’angi/

‘keras kepala‘

/mo’olohu/

‘rajin‘

/moe’a/

‘cekatan‘

/moohuto/

‘sedih sekali‘

/moololo/

‘sedih‘

/mopiyohu/

‘baik‘

/mooleto/

‘jelek‘

/molimomoto/

‘lengkap‘

/mopo’o/

‘pecah‘

/kiki’o/

‘kecil‘

/damango/

‘besar‘

/mohintahuluhu/

‘berair‘

/mototangia/

‘merekat‘

/modudamala/

‘merekat‘

/modudembinga/

‘merekat‘

/mohulango/

‘kental‘

/mobunuto/

‘basi‘

/mohutodu/

‘busuk‘

/moonu/

‘wangi‘

54

/moolango/

‘terang‘

/moolingo/

‘manis‘

/mopa’ato/

‘pahit‘

/molalito/

‘tajam‘

/mopatu/

‘panas‘

/mohuhulo/

‘dingin‘

/molalahu/

‘kuning‘

/moyidumo/

‘hijau‘

/sakulati/

‘coklat‘

/wahu’ente/

‘biru‘

/hulu-hululo/

‘bundar‘

/mopiyohu/

‘bagus‘

/moleeto/

‘jelek‘

/molilinngga/

‘mengkilap‘

/motupo/

‘rusak‘

2. Pembentukan Kata Bahasa Gorontalo Proses pembentukan kata atau proses morfologis bahasa Gorontalo melalui afiksasi, reduplikasi, perubahan interen, suplisi, dan modifikasi kosong.

Berikut ini

dipaparkan kata bahasa Gorontalo yang mengalami proses morfologis. a. Afiksasi Afiksasi adalah penggabungan akar atau pokok dengan afiks. Afiks dalam bahasa Gorontalo terdiri atas awalan, sisipan, dan akhiran. Awalan 1) Awalan /mo-/ Awalan /mo-/ membentuk verba

55

(1) /mo- +[minggulo]/ [adjektiva]

‗mata besar‘

/mominggulo/ [verba] ‗melotot‘

(2) /mo- + [tuluhu]/ [nomina]

‗tidur‘

(3) /mo- + [rejeki]/ [nomina]

‗makanan‘

/motuluhu/ [verba] ‗tidur‘ /morijiki/ [verba] ‗makan‘

(4) /mo- + [pito’o]/ [adjektiva] ‗buta‘ (5) /mo- + [tuango]/ [nomina]

/motipito’o/ [verba] ‗menutup mata‘

‗isi‘

/moluango/ [verba] ‗mengisi‘

(6) /mo- + [buntungo]/ [nomina] ‗tangan dikepal‘

/momuntungo/ [verba] ‗meninju‘

(7) /mo- + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/momitilo/ [verba] ‗memijit‘

(8) /mo- + [halahadi]/ [nomina] ‗gergaji‘

/mohalahadi/ [verba] ‗menggergaji‘

(9) /mo- + [tinggodu]/ [nomina] ‗tumit‘

/molinggodu/ [verba] ‗menendang‘

(10) /mo- + [tepa]/ [nomina] ‗tendang‘

/molepa/ [verba] ‗menendang‘

(11) /mo- + [didingo]/ [nomina] ‗dinding‘

/modidingo/ [verba] ‗mendinding‘

(12) /mo- + [peli]/ [nomina] ‗kain pel‘

/mopeli/ [verba] ‗mengepel‘

(13) /mo- + [yinulo]/ [nomina] ‗minyak‘

/mohinulu/ [verba] ‗membuat minyak‘

(14) /mo- + [tuladu]/ [nomina] ‗tulisan‘

/moluladu/ [verba] ‗menulis‘

(15) /mo- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘ (16) /mo- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘

/momangimba/ [verba] ‗bertani‘ /momeengi/ [verba] ‗berkebun‘

(a) Awalan /mo-/ membentuk nomina /…./ (b) Awalan /mo-/ membentuk adjektiva (17) /mo- + [tutunu]/ [nomina] ‗telunjuk‘

/mopotunu-tunu/ [adjektiva] ‗menunjuk-nunjuk‘

56

(18) /mo- + [i’ilapo]/ [nomina] ‗bulu mata‘

/mopoila-ilapo/ [adjektiva] ‗berkedip-kedip‘

(19) /mo- +[ wopa]/ [nomina] ‗rendah‘

/moopa/ [adjektiva] ‗rendah‘

(20) /mo- + [langgato]/ [nomina] ‗tinggi‘ (21) /mo- + [damango]/ [nomina]

/molanggato/ [adjektiva] ‗meninggi‘

‗besar‘

/modamango/ [adjektiva] ‗membesar‘

(22) /mo- +[oyoto]/ [nomina] ‗kecil‘ (23) /mo- + [taluhu]/ [nomina] ‗air‘

/mo’oyoto/ [adjektiva] ‗mengecil‘ /mohintaluhu/ [adjektiva] ‗berair‘

(24) /mo- + [tangi]/ [nomina] ‗perekat‘ (25) /mo- + [dembingo]/ [nomina] ‗lekat‘

/mototangia/ [adjektiva] ‗merekat‘ /modudembinga/ [adjektiva] ‗saling melekat‘

(26) /mo- + [hulango]/ [nomina] ‗penyakit kulit‘

/mohulango/ [adjektiva] ‗kental‘

(27) /mo- + [hutodu]/ [nomina] ‗bangkai‘ (28) /mo- + [wolingo]/ [nomina] ‗manis‘

/mohutodu/ [adjektiva] ‗busuk‘ /moolingo/ [adjektiva] ‗manis‘

(29) /mo- + [pa’ato]/ [nomina] ‗pahit‘

/mopa’ato/ [adjektiva] ‗pahit‘

(30) /mo- + [lalito]/ [nomina] ‗tajam‘

/molalito/ [adjektiva] ‗tajam‘

(31) /mo- + [patu]/ [nomina] ‗panas‘

/mopatu/ [adjektiva] ‗panas‘

(32) /mo- + [huhulo]/ [nomina] ‗dingin‘ (33) /mo- + [lalahu]/ [nomina] ‗kuning‘

/mohuhulo/ [adjektiva] ‗dingin‘ /molalahu/ [adjektiva] ‗kuning‘

(34) /mo- + [yidu]/ [nomina] ‗ hijau‘

/moyidu/ [adjektiva] ‗hijau‘

(35) /mo- + [tupo]/ [nomina] ‗rusak‘

/motupo/ [adjektiva] ‗rusak‘

(36)

57

2) Awalan /lo-/ (a) Awalan /lo-/ membentuk verba (1) /lo- + [minggulo]/ [nomina] ‗mata besar‘

/lomminggulo/ [verba] ‗melototkan mata‘

(2) /lo- + [tontongo]/ [nomina] ‗tatapan‘

/lolontongo/ [verba] ‗telah menatap‘

(3) /lo- + [bilohu]/ [nomina] ‗penglihatan‘

/lomilohu/ [verba] ‗telah melihat‘

(4) /lo- + [tilo’o]/ [nomina] ‗lirikan‘

/lolilo’o/ [verba] ‗telah melirik‘

(5) /lo- + [diilo]/ [nomina] ‗ciuman‘

/lodiilo/ [verba] ‗telah mencium‘

(6) /lo- + [rijiki]/ [nomina] ‗makanan‘

/lorijiki/ [verba] ‗telah makan‘

(7) /lo- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/loluwango/ [verba] ‗telah mengisi‘

(8) /lo- + [tiupo]/ [nomina] ‗makanan‘

/loliupo/ [verba] ‗telah makan‘

(9) /lo-+ [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/lolamito/ [verba] ‗telah mencicipi‘

(10) /lo- + [untapo]/ [nomina] ‗pengganjal bibir‘

/lohuntapo/ [verba] ‗telah mengunyak‘

(11) /lo- + [bisala]/ [nomina] ‗kata‘

/lobisala/ [verba] ‗telah berkata‘

(12) /lo- + [huheto]/ [nomina] ‗bahan pencuci‘

/lohuheto/ [verba] ‗telah mencuci‘

(13) /lo- + [peengito]/ [nomina] ‗suapan‘

/lomeengito/ [verba] ‗telah menyuap‘

(14) /lo- + [buntungo]/ [nomina] ‗kepalan tangan‘

/lomuntungo/ [verba] ‗telah meninju‘

(15) /lo- + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/lomitilo/ [verba] ‗telah dipijat‘

(16) /lo- + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘

58

/lolepa/ [verba] ‗telah menendang‘

(17) /lo- + [tinggodu]/ [nomina] ‗tumit‘

/lolinggodu/ [verba] ‗telah menendang‘

(18) /lo- + [piya’ato]/ [nomina] ‗alat panjat‘

/lomiya’ato/ [verba] ‗telah memanjat‘

(19) /lo- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘

/lomangimba/ [verba] ‗telah bertani‘

(20) /lo- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘

/lomeengi/ [verba] ‗telah berkebun‘

(21) /lo- + [tutu]/ [nomina] ‗buah dada‘

/lotutu/ [verba] ‗telah melahirkan‘

(22) /lo- + [tuladu] [nomina] ‗tulisan‘

/loluladu/ [verba] ‗telah menulis‘

(a) Awalan /lo-/ membentuk nomina /…/ (b) Awalan /lo-/ membentuk adjektiva (23) /lo- +[ wopa]/ [nomina] ‗rendah‘

/loopa/ [adjektiva] ‗telah rendah‘

(24) /lo- + [langgato]/ [nomina] ‗tinggi‘

/lolanggato/ [adjektiva] ‗telah tinggi‘

(25) /lo- + [damango]/ [nomina] ‗besar‘

/lo’idamango/ [adjektiva] ‗telah

besar‘ (26) /lo- +[oyoto]/

[nomina]

‗kecil‘

/lo’oyoto/

[adjektiva] ‗telah

mengecil‘ (27) /lo- + [taluhu]/ [nomina] ‗air‘

/lohintaluhu/ [adjektiva] ‗telah berair‘

(28) /lo- + [tangi]/ [nomina] ‗perekat‘

/lototangia/ [adjektiva] ‗telah merekat‘

(29) /lo- + [dembingo]/ [nomina] ‗lekat‘

/lodudembinga/ [adjektiva] ‗telah saling melekat‘

(30) /lo- + [hulango]/ [nomina] ‗penyakit kulit‘

/lohulango/ [adjektiva] ‗telah kental‘

59

(31) /lo- + [hutodu]/ [nomina] ‗bangkai‘ (32) /lo- + [wolingo]/ [nomina] ‗manis‘

/lohutodu/ [adjektiva] ‗sudah busuk‘ /loolingo/ [adjektiva] ‗sudah manis‘

(33) /lo- + [pa’ato]/ [nomina] ‗pahit‘

/lopa’ato/ [adjektiva] ‗sudah pahit‘

(34) /lo- + [lalito]/ [nomina] ‗tajam‘

/lolalito/ [adjektiva] ‗sudah tajam‘

(35) /lo- + [patu]/ [nomina] ‗panas‘

/lopatu/ [adjektiva] ‗sudah panas‘

(36) /lo- + [huhulo]/ [nomina] ‗dingin‘

/lohuhulo/ [adjektiva] ‗sudah dingin‘

(37) /lo- + [lalahu]/ [nomina] ‗kuning‘

/lolalahu/ [adjektiva] ‗sudah menguning‘

(38) /lo- + [yidu]/ [nomina] ‗ hijau‘

/loyidu/ [adjektiva] ‗sudah menghijau‘

(39) /lo- + [tupo]/ [nomina] ‗rusak‘

/lotupo/ [adjektiva] ‗telah rusak‘

3) Awalan /po-/ (a) Awalan /po-/ membentuk verba (1) /po- + [minggulo]/ [nomina] ‗mata besar‘

/pomminggulo/ [verba]

‗melototkan mata‘ (2) /po- + [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/polamito/ [verba] ‗mencicipi‘

(3) /po- + [bisala]/ [nomina] ‗kata‘

/pobisala/ [verba] ‗berkata‘

(4) /po- + [peengito]/ [nomina] ‗suapan‘ (5) /po- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘

/popeengita/ [verba] ‗menyuap‘ /pomangimba/ [verba] ‗bertani‘

(6) /po- + [tutu]/ [nomina] ‗buah dada‘

/potutu/ [verba] ‗melahirkan‘

(7) /po- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘

/pomeengi/ [verba] ‗berkebun‘

60

(a) Awalan /po-/ membentuk nomina (8) /po- + [tontongo]/ [nomina] ‗tatapan‘

/polontongo/ [nomina] ‗alat menatap‘

(9) /po- + [bilohu]/ [nomina] ‗penglihatan‘ (10) /po- + [tilo’o]/ [nomina] ‗lirikan‘

/pomilohu/ [nomina] ‗alat melihat‘ /polilo’o/ [nomina] ‗alat melirik‘

(11) /po- + [diilo]/ [nomina] ‗ciuman‘

/podiilo/ [nomina] ‗alat mencium‘

(12) /po- + [diilo]/ [nomina] ‗ciuman‘

/po’odiila/ [nomina] ‗alat mencium‘

(13) /po- + [rijiki]/ [nomina] ‗makanan‘ (14) /po- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/porijiki/ [nomina] ‗makanan‘ /poluwango/ [nomina] ‗pengisi‘

(15) /po- + [tiupo]/ [nomina] ‗makanan‘

/poliupo/ [nomina] ‗makanan‘

(16) /po- + [untapo]/ [nomina] ‗pengganjal bibir‘

/pohuntapo/ [nomina] ‗pengunyak‘

(17) /po- + [huheto]/ [nomina] ‗bahan pencuci‘

/pohuheto/ [nomina] ‗alat mencuci‘

(18) /po- + [buntungo]/ [nomina] ‗kepalan tangan‘

/pomuntungo/ [nomina] ‗peninju‘

(19) /po- + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/pomitilo/ [nominaa] ‗alat pijat‘

(20) /po- + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘ (21) /po-+ [tinggodu]/ [nomina] ‗tumit‘ (22) /po- + [piya’ato]/ [nomina] ‗alat panjat‘

/polepa/ [nomina] ‗kaki‘ /polinggodu/ [nomina] ‗kaki‘ /pomiya’ato/ [nomina] ‗alat memanjat‘

(23) /po- + [tuladu] [nomina] ‗tulisan‘

/poluladu/ [nomina] ‗alat tulis‘

(c ) Awalan /po-/ membentuk adjektiva /…/

61

4) Awalan /mohi-/, /lohi-/, /pohi-/ 4.1 /mohi-/ (a) Awalan /mohi-/ membentuk verba (1) /mohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/mohipalipa/ [verba] ‗memakai sarung‘

(2) /mohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/mohiu’udu/ [verba] ‗memakai mukena‘

(3) /mohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘

/mohibate/ [verba] ‗memakai batik‘

(4) /mohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘

/mohikameja/ [verba] ‗memakai kemeja‘

(5) /mohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘

/mohitalala/ [verba] ‗memakai celana‘

(6) /mohi- + [roku] / [nomina] ‗rok‘

/mohiroku/ [verba] ‗memakai rok‘

(7) /mohi- + [bo’o] / [nomina] ‗baju‘

/mohibo’o/ [verba] ‗memakai baju‘

(8) /mohi- + [solopu] / [nomina] ‗sandal‘

/mohisolopu/ [verba] ‗memakai sandal‘

(9) /mohi- + [sapatu] / [nomina] ‗sepatu‘

/mohisapatu/ [verba] ‗memakai sepatu‘

(10) /mohi- + [upiya] / [nomina] ‗kopiyah‘

/mohi’upiya/ [verba] ‗memakai kopiyah‘

(11) /mohi- + [bada’a] / [nomina] ‗bedak‘

/mohibada’a/ [verba] ‗memakai bedak‘

62

(12) /mohi- + [ngante-ngante] / [nomina] ‗anting-anting‘

/mohingante-

ngante/ [verba] ‗memakai anting-anting‘ (13) /mohi- + [rante] / [nomina] ‗kalung‘

/mohirante/ [verba] ‗memakai kalung‘

(14) /mohi- + [galangi] / [nomina] ‗gelang‘

/mohigalangi/ [verba] ‗memakai gelang‘

(15) /mohi- + [hu’alimo] / [nomina] ‗cincin‘

/mohihu’alimo/ [verba] ‗memakai cincin‘

(16) /mohi- + [kacamata] / [nomina] ‗gelang‘

/mohikacamata/ [verba] ‗memakai kacamata‘

(17) /mohi- + [bibir merah] / [nomina] ‗liftik‘

/mohibibir merah/ [verba] ‗memakai liftik‘

(18) /mohi- + [kausu] / [nomina] ‗kaus‘

/mohikausu/ [verba] ‗memakai kaus‘

(19) /mohi- + [gigimasi] / [nomina] ‗gigi emas‘

/mohigigimasi/ [verba] ‗memakai gigi emas‘

(20) /mohi- + [aisedo] / [nomina] ‗aisedo‘

/mohiaisedo/ [verba] ‗memakai aisedo‘

(21) /mohi- + [garisi buntungo mato] / [nomina] ‗pinsil alis‘

/mohigarisi

buntungo mato/ [verba] ‗memakai pinsil alis‘ (22) /mohi- + [kutesi] / [nomina] ‗kuteks‘

/mohikutesi/ [verba] ‗memakai kuteks‘

(b) Awalan /mohi-/membentuk nomina /…/

63

(c) Awalan /mohi-/membentuk adjektiva /.../ 4.2 /lohi-/ (a) Awalan /lohi-/ membentuk verba (1) /lohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/lohipalipa/ [verba] ‗telah memakai sarung‘

(2) /lohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/lohiu’udu/ [verba] ‗telah memakai mukena‘

(3) /lohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘

/lohibate/ [verba] ‗telah memakai batik‘

(4) /lohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘

/lohikameja/ [verba] ‗telah memakai kemeja‘

(5) /lohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘

/lohitalala/ [verba] ‗telah memakai celana‘

(6) /lohi- + [roku] / [nomina] ‗rok‘

/lohiroku/ [verba] ‗telah memakai rok‘

(7) /lohi- + [bo’o] / [nomina] ‗baju‘

/lohibo’o/ [verba] ‗telah memakai baju‘

(8) /lohi- + [solopu] / [nomina] ‗sandal‘

/lohisolopu/ [verba] ‗telah memakai sandal‘

(9) /lohi- + [sapatu] / [nomina] ‗sepatu‘

/lohisapatu/ [verba] ‗telah memakai sepatu‘

(10) /lohi- + [upiya] / [nomina] ‗kopiyah‘

/lohiupiya/ [verba] ‗telah memakai kopiyah‘

(11) /lohi- + [bada’a] / [nomina] ‗bedak‘

/lohibada’a/ [verba] ‗telah memakai bedak‘

64

(12) /lohi- + [ngante-ngante] / [nomina] ‗anting-anting‘

/lohingante-ngante/

[verba] ‗ telah memakai anting-anting‘ (13) /lohi- + [rante] / [nomina] ‗kalung‘

/lohirante/ [verba] ‗telah memakai kalung‘

(14) /lohi- + [galangi] / [nomina] ‗gelang‘

/lohigalangi/ [verba] ‗telah memakai gelang‘

(15) /lohi- + [hu’alimo] / [nomina] ‗cincin‘

/lohihu’alimo/ [verba] ‗ telah memakai cincin‘

(16) /lohi- + [kacamata] / [nomina] ‗gelang‘

/lohikacamata/ [verba] ‗telah memakai kacamata‘

(17) /lohi- + [bibir merah] / [nomina] ‗liftik‘

/lohibibir merah/ [verba] ‗telah memakai liftik‘

(18) /lohi- + [kausu] / [nomina] ‗kaus‘

/lohikausu/ [verba] ‗telah memakai kaus‘

(19) /lohi- + [gigimasi] / [nomina] ‗gigi emas‘

/lohigigimasi/ [verba] ‗telah memakai gigi emas‘

(20) /lohi- + [aisedo] / [nomina] ‗aisedo‘

/lohiaisedo/ [verba] ‗telah memakai aisedo‘

(21) /lohi- + [garisi buntungo mato] / [nomina] ‗pinsil alis‘

/lohigarisi

buntungo mato/ [verba] ‗telah memakai pinsil alis‘ (22) /lohi- + [kutesi] / [nomina] ‗kuteks‘ kuteks‘

65

/lohikutesi/ [verba] ‗telah memakai

(b) Awalan /lohi-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /lohi-/ membentuk adjektiva /…/ 4.3 /pohi-/ (a) Awalan /pohi-/ membentuk verba /…/ (b) Awalan /pohi-/ membentuk nomina (1) /pohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/pohipalipa/ [nomina] ‗dipakai untuk sarung/selimut‘

(2) /pohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/pohiu’udu/ [nomina] ‗dipakai untuk mukena‘

(3) /pohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘

/pohibate/ [nomina] ‗dipakai untuk batik/selimut‘

(4) /pohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘

/pohikameja/ [nomina] ‗dipakai untuk kemeja‘

(5) /pohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘

/pohitalala/ [nomina] ‗dipakai untuk celana‘

(6) /pohi- + [roku] / [nomina] ‗rok‘

/pohiroku/ [nomina] ‗dipakai untuk rok‘

(7) /pohi- + [bo’o] / [nomina] ‗baju‘

/pohibo’o/ [nomina] ‗dipakai untuk baju‘

(8) /pohi- + [solopu] / [nomina] ‗sandal‘

/pohisolopu/ [nomina] ‗dipakai untuk sandal‘

66

(9) /pohi- + [sapatu] / [nomina] ‗sepatu‘

/pohisapatu/ [nomina] ‗dipakai untuk sepatu‘

(10) /pohi- + [upiya] / [nomina] ‗kopiyah‘

/pohiupiya/ [nomina] ‗dipakai untuk kopiyah‘

(11) /pohi- + [bada’a] / [nomina] ‗bedak‘

/pohibada’a/ [nomina] ‗dipakai untuk bedak‘

(12) /pohi- + [ngante-ngante] / [nomina] ‗anting-anting‘

/pohingante-ngante/

[nomina] ‗dipakai untuk anting-anting‘ (13) /pohi- + [rante] / [nomina] ‗kalung‘

/pohirante/ [nomina] ‗dipakai untuk kalung‘

(14) /pohi- + [galangi] / [nomina] ‗gelang‘

/pohigalangi/ [nomina] ‗dipakai untuk gelang‘

(15) /pohi- + [hu’alimo] / [nomina] ‗cincin‘

/pohihu’alimo/ [nomina] ‗dipakai untuk cincin‘

(16) /pohi- + [kacamata] / [nomina] ‗gelang‘

/pohikacamata/ [nomina] ‗dipakai untuk kacamata‘

(17) /pohi- + [bibir merah] / [nomina] ‗liftik‘

/pohibibir merah/ [nomina] ‗dipakai untuk liftik‘

(18) /pohi- + [kausu] / [nomina] ‗kaus‘

/pohikausu/ [nomina] ‗dipakai untuk

kaus‘ (19) /pohi- + [gigimasi] / [nomina] ‗gigi emas‘

/pohigigimasi/ [nomina] ‗dipakai untuk gigi emas‘

67

(20) /pohi- + [aisedo] / [nomina] ‗aisedo‘

/pohiaisedo/ [nomina] ‗dipakai untuk aisedo‘

(21) /pohi- + [garisi buntungo mato] / [nomina] ‗pinsil alis‘

/pohigarisi

buntungo mato/ [nomina] ‗dipakai untuk pinsil alis‘ (22) /pohi- + [kutesi] / [nomina] ‗kuteks‘

/pohikutesi/ [nomina] ‗dipakai untuk kuteks‘

(c) Awalan /pohi-/ membentuk adjektiva /…/ 5) Awalan /mopo-/, /lopo-/ 5.1 /mopo-/ (a) Awalan /mopo-/ membentuk verba (1) /mopo-+ [bate]/ [nomina] ‗batik‘

/mopobate/ [verba] ‗memakaikan batik‘

(2) /mopo-+ [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/mopopalipa/ [verba] ‗memakaikan sarung‘

(3) /mopo- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/mopou’udu/ [verba] ‗memakaikan mukena‘

(4) /mopo- + [haya’o] / [adjektiva] ‗tinggi‘

/mopohaya’o/ [verba] ‗meninggikan‘

(5) /mopo- + [limbu’o] / [adjektiva] ‗tinggi‘

/mopolimbu’o/ [verba] ‗memendekkan‘

(6) /mopo- + [huuwata] / [verba] ‗tabrak‘

/mopohuuwata/ [verba] ‗saling menabrakkan‘

68

(7) /mopo-+[huhuuwo]/[nomina]‗alat pengusir ayam‘

/mopohuhuwo/ [verba] ‗menjodohkan‘

(8) /mopo- + [tilantahu] / [nomina] ‗cewek/cowok‘

/mopotilantahu/ [verba] ‗menjodohkan pengantin‘

(9) /mopo- + [lamahu] / [adjektiva] ‗indah‘

/mopolamahu/ [verba] ‗memperindah‘

(10) /mopo- + [bilohu] / [verba] ‗lihat‘

/mopobilohu/ [verba] ‗mempelihatkan‘

(11) /mopo- + [bibi] / [verba] ‗pamer‘

/mopobibi/ [verba] ‗memamerkan‘

(12) /mopo- + [uda’a] / [verba] ‗besar‘

/lopouda’a/ [verba] ‗sangat membesarkan‘

(b) Awalan /mopo-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /mopo-/ membentuk adjektiva /…/ 5.2 /lopo-/ (a) Awalan /lopo-/ membentuk verba (1) /lopo- + [bate]/ [nomina] ‗batik‘

/lopobate/ [verba] ‗telah memakaikan batik‘

(2) /lopo- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/lopopalipa/ [verba] ‗telah memakaikan sarung‘

(3) /lopo- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/lopou’udu/ [verba] ‗telah memakaikan mukena‘

69

(4) /lopo- + [haya’o] / [adjektiva] ‗tinggi‘

/lopohaya’o/ [verba] telah ‗meninggikan‘

(5) /lopo- + [limbu’o] / [adjektiva] ‗tinggi‘

/lopolimbu’o/ [verba] telah ‗memendekkan‘

(6) /lopo- + [huuwata] / [verba] ‗tabrak‘

/lopohuuwata/ [verba] ‗telah saling menabrakkan‘

(7) /lopo- + [huhuuwo] / [nomina] ‗alat pengusir ayam‘

/lopohuhuwo/

[verba] ‗telah menjodohkan‘ (8) /lopo- + [tilantahu] / [nomina] ‗cewek/cowok‘

/lopotilantahu/ [verba] ‗telah menjodohkan pengantin‘

(9) /lopo- + [lamahu] / [adjektiva] ‗indah‘

/lopolamahu/ [verba] ‗telah memperindah‘

(10) /lopo- + [bilohu] / [verba] ‗lihat‘

/lopobilohu/ [verba] ‗telah mempelihatkan‘

(11) /lopo- + [bibi] / [verba] ‗pamer‘

/lopobibi/ [verba] ‗telah memamerkan‘

(12) /lopo- + [uda’a] / [verba] ‗besar‘

/lopouda’a/ [verba] ‗sangat membesarkan‘

(b) Awalan /lopo-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /lopo-/ membentuk adjektiva /…/ 6) Awalan /popo-/ (a) Awalan /popo-/ membentuk verba

70

(1) /popo- + [bate]/ [nomina] ‗batik‘

/popobatealo/ [verba] ‗memakai batik‘

(2) /popo- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/popopalipawalo/ [verba] ‗memakai sarung‘

(3) /popo-+ [talala]/ [nomina] ‗celana‘

/popotalalaalo/ [verba] ‗memakaikan celana‘

(4) /popo- + [totala]/ [nomina] ‗salah‘

/popototalaalo/ [verba] ‗dipersalahkan‘

(5) /popo- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/popohulo’olo/ [verba] ‗mendudukkan‘

(6) /popo- + [balato] / [nomina] ‗baring‘

/popobalatolo/ [verba] ‗membaringkan‘

(7) /popo- + [beresi]/ [sifat] ‗bersih‘

/popoberesiolo/ [verba] ‗membuat bersih‘

(8) /popo-+ [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/popolamitolo/ [verba] ‗memberiberikan makanan‘

(9) /popo- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/popou’udulo/ [verba] ‗memakaikan mukena‘

(10) /popo- + [haya’o] / [adjektiva] ‗tinggi‘

/popohaya’olo/ [verba] ‗meninggikan‘

(11) /popo- + [limbu’o] / [adjektiva] ‗tinggi‘

/popolimbu’olo/ [verba] ‗memendekkan‘

71

(12) /popo- + [huuwata] / [verba] ‗tabrak‘

/popohuuwatalo/ [verba] ‗menghasut‘

(13) /popo-+[huhuuwo]/[nomina]‗penjodohan‘

/popohuhuwolo/ [verba] ‗menjodohkan‘

(14) /popo-+[tilantahu]/[nomina] ‗cewek/cowok‘

/popotilantahulo/ [verba] ‗menjodohkan pengantin‘

(15) /popo- + [lamahu] / [adjektiva] ‗indah‘

/popolamahulo/ [verba] ‗memperindah‘

(b) Awalan /popo-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /popo-/ membentuk adjektiva /…/

7) Awalan /mo’o-/, /lo’o-/ 7.1 /mo’o-/ (a) Awalan /mo’o-/ membentuk verba (1) /mo’o- + [biti]/ [adjektiva] ‗lapar‘

/mo’obiti/ [verba] ‗membuat lapar‘

(2) /mo’o- + [biihu]/ [nomina] ‗bibir‘

/mo’obiihu/ [verba] ‗memarahi‘

(3) /mo’o- + [beresi]/ [sifat] ‗bersih‘

/mo’oberesi/ [verba] ‗membuat bersih‘

(4) /mo’o- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘ (5) /mo’o- + [balato] / [nomina] ‗baring‘

72

/mo’ohulo’o/ [verba] ‗mendudukka‘ /mo’obalato/ [verba] ‗membaringkan‘

(6) /mo’o- + [yitomo] / [adjektiva] ‗hitam‘

/mo’oyitomo/ [verba] ‗menjadikan hitam‘

(b) Awalan /mo’o-/ membentuk nomina (7) /mo’o- + [bo’o]/ [nomina] ‗baju‘

/mo’obo’o/ [nomina] ‗cukup jadi baju‘

(8) /mo’o- + [tota] / [adjektiva] ‗pintar‘

/mo’otota / [nomina] ‗membuat pintar‘

(9) /mo’o- + [hulodu]/ [adjektiva] ‗bodoh‘

/mo’ohulodu/ [nomina] ‗membuat bodoh‘

(10) /mo’o- + [moolingo] / [adjektiva] ‗manis‘

/mo’oolingo/ [nomina] ‗membuat manis‘

(11) /mo’o-+ [pa’ato]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/mo’opa’ato/ [nomina] ‗membuat pahit‘

(12) /mo’o- + [puti’o]/ [adjektiva] ‗putih‘

/mo’oputi’o/ [nomina] ‗membuat putih‘

(13) /mo’o- + [huloto] / [nomina] ‗selimut‘

/mo’owuloto/ [nomina] ‗cukup menjadi selimut‘

(14) /mo’o-+ [talala]/ [nomina] ‗celana‘

/mo’otalala/ [nomina] ‗cukup menjadi celana‘

(c) Awalan /mo’o-/ membentuk adjektiva (15) /mo’o- + [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/mo’olamito/ [adjktiva] ‗masih bisa merasakan‘

(16) /mo’o- + [didi]/ [nomina] ‗hujan‘

/mo’odidi/ [adjktiva] ‗membuat hujan‘

73

(17) /mo’o- + [ilato]/ [nomina] ‗kilat‘

/mo’oilato/ [adjktiva] ‗menjadi kilat‘

(18) /mo’o- + [ponggo]/ [nomina] ‗hantu‘

/mo’oponggo/ [adjktiva] ‗menjadi hantu‘

(19) /mo’o- + [bintele]/ [nomina] ‗mandul‘

/mo’obintele/ [adjktiva] ‗menjadi mandul‘

7.2 /lo’o-/ (a) Awalan /lo’o-/ membentuk verba (1) /lo’o-+ [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/lo’olamito/ [verba] ‗dapat merasakan‘

(2) /lo’o- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/lo’otuango/ [verba] ‗dapat mengisi‘

(3) /lo’o-+ [talala]/ [nomina] ‗celana‘

/lo’otalala/ [verba] ‗telah memakai celana‘

(b) Awalan /lo’o-/ membentuk nomina (4) /lo’o- + [beresi]/ [adjektiva] ‗bersih‘

/lo’oberesi/ [nomina] ‗telah membuat

bersih‘ (5) /lo’o- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/lo’opiyohu/ [nomina] ‗membuat baik‘

(6) /lo’o- + [dingingo] [nomina] ‗dinding

/lo’odingingo’/ [nomina] ‗cukup membuat dinding‘

(7) /lo’o- + [moolingo] / [adjektiva] ‗manis‘

/lo’owolingo/ [nomina] ‗membuat manis‘

(8) /lo’o-+ [pa’ato]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/lo’opa’ato/ [nomina] ‗membuat pahit‘

(9) /lo’o- + [puti’o]/ [adjektiva] ‗putih‘

/lo’oputi’o/ [nomina] ‗membuat putih‘

74

(10) /lo’o- + [huloto] / [nomina] ‗selimut‘

/lo’owuloto/ [nomina] ‗telah menjadi selimut‘

(11) /lo’o- + [gaga] / [nomina] ‗cantik‘

/lo’ogaga/ [nomina] ‗telah membuat cantik

(c) Awalan /lo’o-/ membentuk adjektiva /…/ 8) Awalan /po’o-/ (a) Awalan /po’o-/ membentuk verba (1) /po’o- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/po’otuanga/ [verba] ‗dapat mengisi‘

(2) /po’o- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/po’opiyohu/ [verba] ‗buatlah baik‘

(3) /po’o- + [dingingo] [nomina] ‗dinding

/po’odinginga’/ [verba] ‗buatlah dinding‘

(4) /po’o- + [moolingo] / [adjektiva] ‗manis‘

/po’owolinga/ [verba] ‗buatlah manis‘

(5) /po’o-+ [pa’ato]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/po’opa’ata/ [verba] ‗buatlah pahit‘

(6) /po’o- + [puti’o]/ [adjektiva] ‗putih‘

/po’oputi’a/ [verba] ‗buatlah putih‘

(7) /po’o-+[wuntapo]/[nomina] ‗pengganjal bibir‘

/po’owuntapa/ [verba] ‗kunyak dengan baik‘

(8) /po’o-+ [taala]/ [verba] ‗jaga‘

/po’otaala/ [verba] ‗jagalah dengan baik‘

(9) /mopo’o-+ [taala]/ [verba] ‗jaga‘

/mopo’otaala/ [verba] ‗menjaga dengan baik‘

(10) /lopo’o-+ [taala]/ [verba] ‗jaga‘

/lopo’otaala/ [verba] ‗telah menjaga dengan baik‘

75

(b) Awalan /po’o-/ membentuk nomina

(11) /po’o- + [beresi]/ [adjektiva] ‗bersih‘

/po’oberesi/ [nomina] ‗telah membuat bersih‘

(12) /po’o-+ [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/po’olamito/ [nomina] ‗membuat ada rasa‘

(c) Awalan /po’o-/ membentuk adjektiva /…/

9) Awalan /moti-/, /motiti-/, /loti-/, /lotiti-/ 9.1 /moti-/ (a) Awalan /moti-/ membentuk verba (1) /moti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/motibangga/ [verba] ‗menyombongkan diri‘

(2) /moti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘ (3) /moti + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/motihulo’o/ [verba] ‗menduduki‘ /motituango/ [verba] ‗memasukkan diri dalam kelompok‘

(4) /moti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/motipiyohu/ [verba] ‗memperbaiki diri‘

(5) /moti- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/motidamango/ [verba] ‗membesarkan diri‘

(6) /moti + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/motipate/ [verba] ‗mau bunuh diri‘

(7) /moti+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/motileeto/ [verba] ‗menyusahkan diri‘

(8) /moti + [pungga]/ [adjektiva] ‗koprol‘ (9) /moti + [padungo]/ [adjektiva] ‗koprol‘

76

/motipungga/ [verba] ‗bakoprol‘ /motipadungo/ [verba] ‗bakoprol‘

(10) /moti + [halantui]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/motihalantui/ [verba] ‗bakoprol‘

(11) /moti+ [woyoto] / [nomina] ‗ramping‘

/motiwoyoto/ [verba] ‗merendahkan diri‘

(12) /moti + [dungga]/ [verba] ‗tiba‘

/motidungga/ [verba] ‗akan tiba‘

(13) /moti + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/motibala/ [verba] ‗akan memagari‘

(14) /moti + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/motibilohu/ [verba] ‗akan memperlihatkan diri‘

(15) /moti+ [antongo]/ [nomina] ‗endapan‘

/moti’antongo/ [verba] ‗akan mengendap‘

(16) /moti + [huto’o]/ [verba] ‗cemberut‘

/motihuto’o/ [verba] ‗akan membuat muka cemberut‘

(17) /moti+ [aalimu]/ [nomina] ‗alim‘

/moti’aalimu/ [verba] ‗akan menjadi alim/beriman‘

(b) Awalan /moti-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /moti-/ membentuk adjektiva /…/ 9.2 /motiti-/ (a) Awalan /motiti-/ membentuk verba (1) /motiti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/motitibangga/ [verba] ‗akan menyombongkan diri‘

(2) /motiti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/motitihulo’o/ [verba] ‗akan menduduki‘

77

(3) /motiti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/motitituango/ [verba] ‗akan memasukkan diri dalam kelompok‘

(4) /motiti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/motitipiyohu/ [verba] ‗akan memperbaiki diri‘

(5) /motiti + [damango] [nomina] ‗besar‘

/motitidamango/ [verba] ‗akan membesarkan diri‘

(6) /motiti + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/motitipate/ [verba] ‗sungguhsungguh bunuh diri‘

(7) /motiti+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/motitileeto/ [verba] ‗akan merusak diri‘

(8) /motiti + [pungga]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/motitipungga/ [verba] ‗akan bakoprol‘

(9) /motiti+ [padungo]/ [adjektiva] ‗koprol‘ (10) /motiti + [halantui]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/motitipadungo/ [verba] ‗bakoprol‘ /motitihalantui/ [verba] ‗bakoprol‘

(11) /motiti + [woyoto] / [nomina] ‗ramping‘

/motitiwoyoto/ [verba] ‗akan merendahkan diri‘

(12) /motiti + [dungga]/ [verba] ‗tiba‘

/motitidungga/ [verba] ‗akan tiba‘

(13) /motiti + [huto’o]/ [verba] ‗cemberut‘

/motitihuto’o/ [verba] ‗membuat muka cemberut‘

(14) /motiti + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/motitibala/ [verba] ‗akan memagari‘

(15) /motiti + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/motitibilohu/ [verba] ‗akan memperlihatkan diri‘

78

/motiti’antongo/ [verba] ‗akan

(16) /motiti+[antongo]/[nomina]‗endapan‘

mengendap‘ (17) /motiti + [aalimu]/ [nomina] ‗alim‘

/motiti’aalimu/ [verba] ‗akan menjadi alim/beriman‘

(b) Awalan /motiti-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /motiti-/ membentuk adjektiva /…/ 9.3 /loti-/ (a) Awalan /loti-/ membentuk verbal (1) /loti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/lotibangga/ [verba] ‗telah menyombongkan diri‘

(2) /loti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/lotihulo’o/ [verba] ‗telah menduduki‘

(3) /loti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/lotituango/ [verba] ‗telah memasukkan diri dalam kelompok‘

(4) /loti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/lotipiyohu/ [verba] ‗telah memperbaiki diri‘

(5) /loti- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/lotidamango/ [verba] ‗telah membesarkan diri‘

(6) /loti- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/lotipate/ [verba] ‗telah bunuh diri‘

(7) /loti-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/lotileeto/ [verba] ‗telah merusak diri‘

(8) /loti- + [pungga]/ [adjektiva] ‗koprol‘ (9) /loti- + [padungo]/ [adjektiva] ‗koprol‘

79

/lotipungga/ [verba] ‗telah bakoprol‘ /lotipadungo/ [verba] ‗telah bakoprol‘

(10) /loti- + [halantui]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/lotihalantui/ [verba] ‗telah bakoprol‘

(11) /loti-+ [woyoto] / [nomina] ‗ramping‘

/lotiwoyoto/ [verba] ‗telah merendahkan diri‘

(12) /loti- + [dungga]/ [verba] ‗tiba‘

/lotidungga/ [verba] ‗telah tiba‘

(13) /loti- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/lotibala/ [verba] ‗telah memagari‘

(14) /loti- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/lotibilohu/ [verba] ‗telah memperlihatkan diri‘

(15) /loti- + [antongo]/ [nomina] ‗endapan‘

/loti’antongo/ [verba] ‗telah mengendap‘

(16) /loti- + [huto’o]/ [verba] ‗cemberut‘

/lotihuto’o/ [verba] ‗telah membuat muka cemberut‘

(17) /loti- + [aalimu]/ [nomina] ‗alim‘

/lotia’alimu/ [verba] ‗telah menjadi alim/beriman‘

(b) Awalan /loti-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /loti-/ membentuk adjektiva /…/ 9.4 /lotiti-/ (a) Awalan /lotiti-/ membentuk verba (1) /lotiti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/lotitibangga/ [verba] ‗telah menyombongkan diri‘

(2) /lotiti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/lotitihulo’o/ [verba] ‗telah menduduki‘

80

(3) /lotiti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/lotitituango/ [verba] ‗telah memasukkan diri‘

(4) /lotiti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/lotitipiyohu/ [verba] ‗telah memperbaiki diri‘

(5) /lotiti- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/lotitidamango/ [verba] ‗telah membesarkan diri‘

(6) /lotiti- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/lotitipate/ [verba] ‗telah sungguh-

sungguh bunuh diri‘ (7) /lotiti-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/lotitileeto/ [verba] ‗telah merusak diri‘

(8) /lotiti- + [pungga]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/lotitipungga/ [verba] ‗telah bakoprol‘

(9) /lotiti- + [padungo]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/lotitipadungo/ [verba] ‗telah bakoprol‘

(10) /lotiti- + [halantui]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/lotitihalantui/ [verba] ‗telah bakoprol‘

(11) /lotiti- + [woyoto] / [nomina] ‗ramping‘

/lotitiwoyoto/ [verba] ‗telah merendahkan diri‘

(12) /lotiti- + [dungga]/ [verba] ‗tiba‘

/lotitidungga/ [verba] ‗telah tiba‘

(13) /lotiti- + [huto’o]/ [verba] ‗cemberut‘

/lotitihuto’o/ [verba] ‗telah membuat muka cemberut‘

(14) /lotiti- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/lotitibala/ [verba] ‗telah memagari‘

81

(15) /lotiti- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/lotitibilohu/ [verba] ‗telah memperlihatkan diri‘

(16) /lotiti + [antongo]/ [nomina] ‗endapan‘

/lotiti’antongo/ [verba] ‗telah mengendap‘

(17) /lotiti + [aalimu]/ [nomina] ‗alim‘

/lotiti’aalimu/ [verba] ‗telah menjadi alim/beriman‘

(b) Awalan /lotiti-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /lotiti-/ membentuk adjektiva /…/

10) Awalan /poti-/, /potiti-/ 10.1 /poti-/ (a) Awalan /poti-/ membentuk verba (1) /poti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/potibangga/ [verba] ‗ banggakan diri‘

(2) /poti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/potihulo’o/ [verba] ‗duduklah‘

(3) /poti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/potituango/ [verba] ‗masukkanlah‘

(4) /poti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/potipiyohu/ [verba] ‗perbaikilah‘

(5) /poti- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/potidamango/ [verba] ‗ besarkan diri‘

(6) /poti- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/potipate/ [verba] ‗bunuh diri‘

(7) /poti-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/potileeto/ [verba] ‗merusak diri‘

(8) /poti- + [pungga]/ [adjektiva] ‗koprol‘

82

/potipungga/ [verba] ‗berkoprollah‘

(9) /poti- + [padungo]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/potipadungo/ [verba] ‗berkoprollah‘

(10) /poti- + [halantui]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/potihalantui/ [verba] ‗berkoprollah‘

(11) /poti- + [woyoto] / [nomina] ‗ramping‘

/potiwoyoto/ [verba] ‗rendahkan diri‘

(12) /poti- + [dungga]/ [verba] ‗tiba‘

/potidungga/ [verba] ‗tibalah‘

(13) /poti- + [huto’o]/ [verba] ‗cemberut‘ (14) /poti- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/potihuto’o/ [verba] ‗cemberutlah‘ /potibala/ [verba] ‗pagarilah‘

(15) /poti- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/potibilohu/ [verba] ‗perlihatkan diri‘

(16) /poti- + [antongo]/ [nomina] ‗endapan‘

/poti’antongo/ [verba]

‗engendapkan‘ (17) /poti + [aalimu]/ [nomina] ‗alim‘

/poti’aalimu/ [verba] ‗berimanlah‘

(b) Awalan /poti-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /poti-/ membentuk adjektiva /…/

10.2 /potiti-/ (a) Awalan /potiti-/ membentuk verba (1) /potiti-+ [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/potitibangga/ [verba] ‗sombongkan diri‘

(2) /potiti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘ (3) /potiti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/potitihulo’o/ [verba] ‗dudukilah‘ /potitituango/ [verba] ‗masukkan diri‘

83

(4) /potiti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/potitipiyohu/ [verba] ‗perbaiki diri‘

(5) /potiti- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/potitidamango/ [verba] ‗besarkan diri‘

(6) /potiti- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/potitipate/ [verba] ‗bunuh dirilah‘

(7) /potiti-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/potitileeto/ [verba] ‗rusak diri‘

(8) /potiti- + [pungga]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/potitipungga/ [verba] ‗bakoprol‘

(9) /potiti- + [padungo]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/potitipadungo/ [verba] ‗bakoprol‘

(10) /potiti- + [halantui]/ [adjektiva] ‗koprol‘

/potitihalantui/ [verba] ‗bakoprol‘

(11) /potiti- + [woyoto] / [nomina] ‗ramping‘

/potitiwoyoto/ [verba] ‗rendahkan diri‘

(12) /potiti- + [dungga]/ [verba] ‗tiba‘

/potitidungga/ [verba] ‗tibalah‘

(13) /potiti- + [huto’o]/ [verba] ‗cemberut‘

/potitihuto’o/ [verba] ‗membuat muka cemberut‘

(14) /potiti- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/potitibala/ [verba] ‗memagari‘

(15) /potiti- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/potitibilohu/ [verba] ‗perlihatkan dirimu‘

(16) /potiti-+[antongo]/ [nomina] ‗endapan‘

/potiti’antongo/ [verba] ‗endapkan‘

(17) /potiti- + [aalimu]/ [nomina] ‗alim‘

/potiti’aalimu/ [verba] ‗berimanlah‘

(b) Awalan /potiti-/ membentuk nomina /…/

84

(c) Awalan /potiti-/ membentuk adjektiva /…/ 11) Awalan /me’i-/, /le’i/, /pe’i/, /pile’i/ 11.1 /me’i/ (a) Awalan /me’i-/ membentuk verba (1) /me’i -+ [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/me’ibangga/ [verba] ‗ minta dibanggakan‘

(2) /me’i- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/me’ihulo’o/ [verba] ‗ minta diduduki‘

(3) /me’i- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/me’ituango/ [verba] ‗minta diisi‘

(4) /me’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/me’ipiyohu/ [verba] ‗minta dibujuk‘

(5) /me’i- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/me’ipodamango/ [verba] ‗minta dibesarkan‘

(6) /me’i- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/me‘ipate/ [verba] ‗minta dipukul diri‘

(7) /me’-i+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/me’ileeto/ [verba] ‗minta dijelekkan‘

(8) /me’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/me’ibala/ [verba] ‗menyuruh pagar‘

(9) /me’i- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/me’ibilohu/ [verba] ‗memperlihatkan diri‘

(10) /me’i- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/me’ibilohu/ [verba] ‗minta diramalkan‘

(b) Awalan /me’i-/ membentuk nomina /…/

85

(c) Awalan /me’i-/ membentuk adjektiva /…/ 11/2 /le’i-/ (a) Awalan /le’i-/ membentuk verba (1) /le’i- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/le’ibangga/ [verba] ‗telah minta dibanggakan‘

(2) /le’i- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/le’ihulo’o/ [verba] ‗telah minta diduduki‘

(3) /le’i- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/le’ituango/ [verba] ‗telah minta diisi‘

(4) /le’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/le’ipiyohu/ [verba] ‗telah minta dibujuk‘

(5) /le’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/le’ipo’opiyohu/ [verba] ‗telah minta diperbaiki‘

(6) /le’i- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/le’ipo’odamango/ [verba] ‗telah minta dibesarkan‘

(7) /le’i- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/le‘ipate/ [verba] ‗telah minta dipukul diri‘

(8) /le’i-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/le’ileeto/ [verba] ‗telah minta dijelekkan‘

(9) /le’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/le’ibala/ [verba] ‗telah menyuruh pagar‘

(10) /le’i- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/le’ibilohu/ [verba] ‗telah memperlihatkan diri‘

(11) /le’i- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/le’ibilohu/ [verba] ‗telah minta diramalkan‘

86

(b)

Awalan /le’i-/ membentuk nomina /…/

(c) Awalan /le’i-/ membentuk adjektiva /…/ 11.3 /pe’i/ (a) Awalan /pe’i-/ membentuk verba (1) /pe’i- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/pe’ibangga/ [verba] ‗ minta ditimbun/ditinggikian‘

(2) /pe’i- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/pe’ihulo’o/ [verba] ‗minta diduduki‘

(3) /pe’i- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/pe’ituango/ [verba] ‗minta diisi‘

(4) /pe’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/pe’ipiyohu/ [verba] ‗minta diperbaiki‘

(5) /pe’i- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/pe’ipo’odamango/ [verba] ‗minta dibesarkan‘

(6) /pe’i- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/pe’ipate/ [verba] ‗dibunuh‘

(7) /pe’i-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/pe’ipo’oleeto/ [verba] ‗dijelekkan‘

(8) /pe’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/pe’ibala/ [verba] ‗dipagar‘

(9) /pe’i- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/pe’ibilohu/ [verba] ‗minta diramalkan‘

(b) Awalan /pe’i-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /pe’i-/ membentuk adjektiva /…/ 11.4 /pile’i-/ (a) Awalan /pile’i-/ membentuk veba

87

(1) /peile’i-+[bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/pile’ibangga/ [verba] ‗ minta ditimbun‘

(2) /pile’i- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/pile’ihulo’o/

[verba] ‗telah minta

diduduki‘ (3) /pile’i- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/pile’ituango/ [verba] ‗telah minta diisi‘

(4) /pile’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/pile’ipiyohu/ [verba] ‗telah minta diperbaiki‘

(5) /pile’i-+[damango] [nomina] ‗besar‘

/pile’ipo’odamango/ [verba] ‗telah minta dibesarkan‘

(6) /pile’i- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/pile’ipate/ [verba] ‗disuruh bunuh‘

(7) /pile’i-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗jelek ‘

/pile’ipo’oleeto/ [verba] ‗dijelekkan‘

(8) /pile’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/pile’ibala/ [verba] ‗dipagari‘

(9) /pile’i- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

(b) Awalan /pile’i-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /pile’i-/ membentuk adjektiva /…/

12) Awalan /mopohu-/, /lopohu-/ 12.1 /mopohu-/ (a) Awalan /mopohu-/ membentuk verba

88

/pile’ibilohu/ [verba] ‗telah diramal‘

(1) /mopohu- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/mopohuaala/ [verba] ‗ banyak kali makan‘

(2) /mopohu- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/mopohutuanga/ [verba] ‗banyak kali makan‘

(3) /mopohu-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/mopohupiyohe/ [verba] ‗selalu diperbaiki‘

(4) /mopohu-+ [damango] [nomina] ‗besar‘

/mophudamanga/ [verba] ‗menjadi besar‘

(5) /mopohu-+ [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/mopohupate/ [verba] ‗selalu memperhatikan‘

(6) /mopohu-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/mopohuleeto/ [verba] ‗selalu menjadi jelek‘

(7) /mopohu+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/mopohubala/ [verba] ‗sering membuat pagar‘

(8) /mopohu- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/mopohubilohu/ [verba] ‗selalu menengok‘

(b)

Awalan /mopohu-/ membentuk verba /…/

(c) Awalan /mopohu-/ membentuk verba /…/

89

12.2 /lopohu-/ (a) Awalan /lopohu-/ membentuk verba (1) /lopohu- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/lopohuaala/ [verba] ‗ telah banyak kali makan‘

(2) /lopohu- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/lopohutuanga/ [verba] ‗telah banyak kali makan‘

(3) /lopohu-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/lopohupiyohe/ [verba] ‗telah selalu diperbaiki‘

(4) /lopohu-+ [damango] [nomina] ‗besar‘

/lopohudamanga/ [verba] ‗telah menjadikan besar‘

(5) /lopohu-+ [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/lopohupate/ [verba] ‗telah selalu memperhatikan dengan jiwa raga‘

(6) /lopohu-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗jelek‘

/lopohuleeto/ [verba] ‗telah selalu menjadi jelek‘

(7 /lopohu-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/lopohubala/ [verba] ‗sering membuat pagar‘

(8) /lopohu- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/lopohubilohu/ [verba] ‗selalu menengok‘

(9) /lopohu- + [aantulu]/ [verba] ‗melihat‘

/lopohu’aantulu/ [verba] ‗telah sampai menjadi rusak/robek

(b) Awalan /lopohu-/ membentuk nomina /…/

90

(c) Awalan /lopohu-/ membentuk adjektiva /…/ 13) Awalan /me-/, /le-/ 13.1 /me-/ (a) Awalan /me-/ membentuk verba (1) /me- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/mehulo’o/ [verba] ‗terduduk‘

(2) /me- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/metuango/ [verba] ‗terisi‘

(3) /me-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/mebala/ [verba] ‗terpagar‘

(4) /me- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/mebilohu/ [verba] ‗terpandang‘

(5) /me- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘

/metontongo/ [verba] ‗terpesona‘

(b) Awalan /me-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /lopohu-/ membentuk adjektiva /…/ 13.1 /le-/ (a) Awalan /le-/ membentuk verba (1) /le- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/lehulo’o/ [verba] ‗telah terduduk‘

(2) /le- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/letuango/ [verba] ‗telah terisi‘

(3) /le-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/lebala/ [verba] ‗telah terpagar‘

(4) /le- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/lebilohu/ [verba] ‗telah terpandang‘

(5) /le- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘

/letontongo/ [verba] ‗telah terpesona‘

(6) /le- + [tuluhu]/ [verba] ‗tidur‘

/letuluhu/ [verba] ‗telah tertidur‘

(7) /le- + [tihulo]/ [verba] ‗berdiri‘

/letihulo/ [verba] ‗telah berdiri‘

91

(8) … (b) Awalan /le-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /le-/ membentuk adjektiva /…/ 14) Awalan /mongo-/ (a) Awalan /mongo-/ membentuk verba /…/ (b) Awalan /mongo-/ membentuk nomina (1) /mongo-+ [bua]/ [nomina] ‗perempuan‘

/mongobua/ [nomina] ‗perempuanperempuan‘

(2) /mongo-+ [talla’i]/ [nomina] ‗laki‘

/mongolola’i/ [nomina] ‗laki-laki‘

(3) /mongo-+ [panggola]/ [nomina] ‗tua‘

/mongopanggola’i/ [nomina] ‗para kakek-nenek‘

(4) /mongo- + [tiombu]/ [nomina] ‗leluhur‘

/mongotiombu/ [nomina] ‗para leluhur‘

(5) /mongo-+ [dula’a]/ [nomina] ‗orang tua‘

/mongodula’a/

[nomina]

‗para

orang tua‘ (6) /mongo-+ [tiamo]/ [nomina] ‗bapak‘ (7) /mongo-+ [tiilo]/ [nomina] ‗ibu‘

/mongotiamo/ [nomina] ‗bapak-bapak‘ /mongotiilo/ [nomina] ‗ibu-ibu‘

(8) /mongo-+ [utato]/ [nomina] ‗sudara‘ (9) /mongo- + [wala’o]/ [nomina] ‗anak‘

/mongoutato/ [nomina] ‗sudara-sudara‘ /mongowala’o/ [nomina] ‗anakanak‘

92

(10) /mongo- + [wombu]/ [nomina] ‗cucu‘

/mongowombu/ [nomina] ‗cucucucu‘

(11) /mongo- + [diiti mooli]/ [nomina] ‗cucu‘

/mongodiiti mooli/ [nomina] ‗anak/cucu semua‘

(12) … (c) Awalan /le-/ membentuk adjektiva /…/

15) Awalan /motolo-/, /lotolo-/ 15.1 /motolo-/ (a) Awalan /motolo-/ membentuk verba (1) /motolo- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/motoloaala/ [verba] ‗ makan tidak terhitung‘

(2) /motolo- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/motolotuanga/ [verba] ‗makan tidak terhitung‘

(3) /motolo-+ [hiyongo]/ [adjektiva] ‗baik‘

/motolohiyonga/ [verba] ‗selalu menangis‘

(4) /motolo-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘

/motolobisalawa/ [verba] ‗banyak kata‘

(5) /motolo-+ [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/motolopatea/ [verba] ‗selalu membunuh‘

(6) /motolo-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/motololeeta/ [verba] ‗selalu menjelekjelekan‘

93

(7) /motolo-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/motolobalawa/ [verba] ‗selalu membuat pagar‘

(8) /motolo- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/motolobilohe/ [verba] ‗selalu menengok‘

(9) /motolo- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘

/motolotontonga/ [verba] ‗selalu terpesona‘

(b) Awalan /motolo-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /motolo-/ membentuk adjektiva /…/

15.2 /lotolo/ (a) Awalan /lotolo-/ membentuk verba (1) /lotolo- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/lotoloaala/ [verba] ‗ telah banyak kali makan‘

(2) /lotolo- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/lotolotuanga/ [verba] ‗telah banyak kali makan‘

(3) /lotolo-+ [hiyongo]/ [adjektiva] ‗baik‘

/lotolohiyonga/ [verba] ‗telah banyak menangis‘

(4) /lotolo-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘

/lotolobisalawa/ [verba] ‗telah banyak bicara‘

(5) /lotolo-+ [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/lotolopatea/ [verba] ‗telah banyak membunuh‘

94

(6) /lotolo-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/lotololeeta/ [verba] ‗telah menjelekjelekan‘

(7) /lotolo-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/lotolobalawa/ [verba] ‗telah banyak kali membuat pagar‘

(8) /lotolo- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/lotolobilohe/ [verba] ‗telah banyak kali menengok‘

(9) /lotolo- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘

/lotolotontonga/ [verba] ‗telah banyak kali terpesona‘

(b) Awalan /lotolo-/ membentuk nomina /…/

(c) Awalan /lotolo-/ membentuk adjektiva /…/ 16) Awalan /ngo-/ /ngo-/ (a) Awalan /ngo-/ membentuk verba (1) /ngo- + [bangga]/ [nomina] ‗bangku‘

/ngobangga/ [verba] ‗satu bangku‘

(2) /ngo- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/ngopohulo’a/ [verba] ‗satu tempat duduk‘

(3) /ngo- + [bilohu]/ [verba] ‗lihat‘

/ngopobilohu/ [verba] ‗satu pandangan‘

(4) /ngo- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/ngopoaala/ [verba] ‗makan bersama‘

(5) /ngo- + [anguluwa]/ [verba] ‗bantal‘ bantal dua kepala‘

95

/ngo’anguluwa/ [verba] ‗ tidur satu

(b) Awalan /ngo-/ membentuk nomina (6) /ngo- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/ngotiluanga/ [nomina] ‗satu tempat‘

(7) /ngo- + [kaambungu]/ [nomina] ‗kampung‘

/ngokaambungu/ [nomina]

‗satu kampung‘ (8) /ngo- + [meteri]/ [nomina] ‗meteran‘

/ngometeri/ [nomina] ‗satu meter‘

(9) /ngo- + [kameja]/ [nomina] ‗kemeja‘

/ngopokameja/ [nomina] ‗cukup

untuk satu kemeja‘ (10) /ngo- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/ngobala/ [nomina] ‗satu pagar‘

(11) /ngo- + [bele]/ [nomina] ‗rumah‘

/ngobele/ [nomina] ‗serumah‘

(12) /ngo- + [u’aalo]/ [verba] ‗makanan‘

/ngopoaalo/ [nomina] ‗sekali

makan‘ (13) … (c) Awalan /ngo-/ membentuk adjektiva /…/ 17) Awalan /o-/ (a) Awalan /o-/ membentuk verba (1) /o- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/obilohe/ [verba] ‗terlihat‘

(2) /o- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/o’aala/ [verba] ‗termakan‘

(3) /o- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/otuanga/ [verba] ‗terisi‘

(4) /o-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘

/obisalawa/ [verba] ‗terkatakan‘

(5) /o-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗jahat‘

/oleeta/ [verba] ‗diperlakukan tidak baik‘

(6) /o-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/opiyohe/ [verba] ‗diperlakukan dengan baik‘

96

(7) /o-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/obalawa/ [verba] ‗terpagar‘

(8) /o- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘

/otontonga/ [verba] ‗terlihat‘

(b) Awalan /o-/ membentk nomina (9) /o- + [anguluwa]/ [nomina] ‗bantal‘

/o’anguluwa/ [nomina] ‗ada bantal‘

(10) /o- + [hu’u milate]/ [nomina] ‗keluwing‘

/o’hu’umilate/ [nomina] ‗ada keluwing‘

(11) /o- + [batade]/ [nomina] ‗kambing‘

/o’batade/ [nomina] ‗ada kambing‘

(12) /o- + [wadala]/ [nomina] ‗kuda‘

/o’wadala/ [nomina] ‗ada kuda‘

(13) /o- + [hangga’o]/ [nomina] ‗wereng‘

/o’hangga’o/ [nomina] ‗ada wereng‘

(14) /o- + [buhudu]/ [nomina] ‗semut merah‘

/obuhudu/ [nomina] ‗ada semut merah‘

(15) /o- + [balakama]/ [nomina] ‗kemangi‘ (16) /o- + [ponta]/ [nomina] ‗pandan‘

/obalakama/ [nomina] ‗ada kemangi‘ /oponta/ [nomina] ‗ada pandan‘

(17) /o-+ [depula] / [nomina] ‗dapur‘

/odepula/ [nomina] ‗ada dapur‘

(18) /o-+ [huwali] / [nomina] ‗kamar‘

/ohuwali/ [nomina] ‗ada kamar‘

(19) /o-+ [buluwa] / [nomina] ‗buluwa‘

/obuluwa/ [nomina] ‗ada peti‘

(20) /o-+ [buku] / [nomina] ‗buku‘

/obuku/ [nomina] ‗ada buku‘

(21) …

(c) Awalan /o-/ membentuk adjektiva (22) /o-+ [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/opatea/ [adjektiva] ‗kedukaan‘

(23) /o-+ [karaja] / [adjektiva] ‗pesta‘

/okaraja/ [adjektiva] ‗ada pesta‘

97

(24) /o-+ [iilangi] / [adjektiva] ‗kurang‘

/o’iilangia/ [adjektiva]

‗kekurangan‘` 18) Awalan /tapa-/ (a) Awalan /tapa-/ membentuk verba (1) /tapa- + [mongili]/ [verba] ‗berak‘

/tapaili/ [verba] ‗terberak‘

(2) /tapa- + [luwahu]/ [verba] ‗diyari‘

/tapaluwahu/ [verba] ‗termencret‘

(3) /tapa- + [wotuto]/ [nomina] ‗kentut‘ (4) /tapa-+ [anguluwa] [nomina] ‗bantal‘

/tapahututo/ [verba] ‗terkentut‘ /tapawulula/ [verba] ‗salah urat‘

(b) Awalan /tapa-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /tapa-/ membentuk adjektiva /…/

19) Awalan /polo-/ (a) Awalan /polo-/ membentuk verba /…/ (b) Awalan /polo-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /polo-/ membentuk adjektiva (1) /polo-+ [biti] / [adjektiva] ‗lapar‘

/polobiti/ [adjektiva] ‗musim kelaparan‘

(2) /polo-+ [dulahu]/ [nomina] ‗matahari‘

/polodulahe/ [adjektiva] ‗musim kemarau‘

98

(3) /polo-+ [hengu]/ [nomina] ‗kering‘

/polohengu/ [adjektiva] ‗musim kering‘

(4) /polo-+ [didi]/ [nomina] ‗hujan‘

/polodidi/ [adjektiva] ‗musim hujan‘

(5) /polo-+[utialopanyaki]/ [nomina] ‗macam-macam penyaakit‘

/polo’utia

lopanyaki/ [adjektiva] ‗musim penyakit‘ 20) Awalan /tonggo-/ (a) Awalan /tonggo-/ membentuk verba (1) /tonggo- + [biihu]/ [nomina] ‗bibir‘

/tonggobiihu/ [verba] ‗memarahi bersama‘

(2) /tonggo- + [beresi]/ [sifat] ‗bersih‘

/tonggoberesi/ [verba] ‗membersihkan bersama‘

(3) /tonggo- + [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/tonggolamito/ [verba] ‗mencicipi bersama‘

(4) /tonggo- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/tonggohulo’a/ [verba] ‗duduk bersama‘

(5) /tonggo- + [balato] / [nomina] ‗baring‘

/tonggobalatolo/ [verba] ‗baring bersama‘

(6) /tonggo- + [moona’o] / [nomina] ‗jalan‘

/tonggona’o/ [verba] ‗jalan bersama‘

(7) /tonggo- + [bite] / [nomina] ‗berlayar‘

/tonggobite/ [verba] ‗berlayar bersama‘

(b) Awalan /tonggo-/ membentuk nomina /…/

99

(c) Awalan /tonggo-/ membentuk adjektiva /…/ 21) Awalan /hinggo-/ (a) Awalan /hinggo-/ membentuk verba (1) /hinggo- + [duluo] / [nomina] ‗dua‘ (2) /hinggo- + [tolu] / [nomina] ‗tiga‘

/hinggooluwo/ [verba] ‗kedua kali‘ /hinggotolu/ [verba] ‗ketiga kali‘

(3) /hinggo- + [wopato] / [nomina] ‗empat‘

/hinggopato/ [verba] ‗keempat kali‘

(4) /hinggo- + [limo] / [nomina] ‗lima‘

/hinggolimo/ [verba] ‗lima kali‘

(5) /hinggo- + [wolomo] / [nomina] ‗enam‘ (6) /hinggo- + [pitu] / [nomina] ‗tujuh‘ (7) /hinggo- + [walu] / [nomina] ‗delapan‘

/hinggolomo/ [verba] ‗dua kali‘ /hinggopitu/ [verba] ‗tujuh kali‘ /hinggowalu/ [verba] ‗delapan kali‘

(8) /hinggo- + [tiyo] / [nomina] ‗sembilan‘

/hinggotiyo/ [verba] ‗sembilan kali‘

(9) /hinggo- + [opulu] / [nomina] ‗sepuluh‘

/hinggopulu/ [verba] ‗sepuluh kali‘

(b) Awalan /hinggo-/ membentuk nomina /…/ (c) Awalan /hinggo-/ membentuk adjektiva /…/ Sisipan atau infiks: /-il-/; / -mi-/; dan /-um-/ 1) /-il-/

100

(a) Sisipan /-il-/ membentuk verba (1) /-il-/ + [aala]/ [nomina] ‗makan‘

/tilonggoaala/ [verba] ‗makan bersama‘

(2) /-il-/ + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/tilonggohulo’a/ [verba] ‗duduk bersama‘

(3) /-il-/ + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/tiluanga/ [verba] ‗diisi‘

(4) /-il-/ + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/tilonggobala/ [verba] ‗pagar bersama‘

(5) /-il-/ + [bilohu]/ [verba] ‗lihat‘

/tilonggobilohu/ [verba] ‗pandangan bersama‘

(6) /-il-/ + [tali]/ [nomina] ‗beli‘

/tilonggotali/ [verba] ‗membeli bersama‘

(7) /-il-/ + [kameja]/ [nomina] ‗kemeja‘

/tilonggokameja/ [verba] ‗memakai kemeja bersama‘

(8) /-il-/ + [tonggodu]/ [verba] ‗menghentikan‘

/tilonggodu/ [verba] ‗menghentikan‘

(9) /-il-/ + [bangun]/ [verba] ‗bangun‘

/bilongu/ [verba] ‗dibangunkan‘

(10) /-il-/ + [tuladu]/ [nomina] ‗surat‘

/tiluladu/ [verba] ‗ditulis‘

(11) /-il-/ + [tayango]/ [verba] ‗lompat‘ (12) /-il-/ + [aita]/ [nomina] ‗pegangan‘

/tilumayango/ [verba] ‗melompat‘ /tilonggo’aita/ [verba] ‗berpegang bersama‘

(13) /-il-/ + [tihulo]/ [nomina] ‗berdiri‘

/tilimihulo/ [verba] ‗akan berdiri‘

(b) Sisipan /-il-/ membentuk nomina (14) /-il-/ + [tiupo]/ [nomina] ‗makanan‘ (15) /-il-/ + [tupito]/ [nomina] ‗menyimak‘ (16) /-il-/ + [kubingo]/ [nomina] ‗cubit‘

101

/tiliupo/ [nomina] ‗kekenyangan‘ /tilupito/ [nomina] ‗disimak‘ /kilubingo/ [nomina] ‗dicubit‘

(17) /-il-/ + [buntungo]/ [nomina] ‗tinju‘

/biluntungo/ [nomina] ‗ditinju‘

(18) /-il-/ + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/pilitilo/ [nomina] ‗dipijit‘

(19) /-il-/ + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘ (20) /-il-/ + [peli]/ [nomina] ‗pel‘

/tilepa/ [nomina] ‗ditendang‘ /pilelia/ [nomina] ‗telah dipel‘

(21) /-il-/ + [tiyongowa]/ [nomina] ‗jari‘

/tiliyongowa/ [nomina] ‗jari-jari‘

(c ) Sisipan /-il-/ membentuk adjektiva /…/ 2) /-mi-/ (a) Sisipan /-mi-/ membentuk verba (1) /-mi-/ + [iomo]/ [nomina] ‗senyum‘ (2) /-mi-/ + [ipito]/ [verba] ‗dibawa‘

/imiomo/ [verba] ‗senyum‘ /imipito/ [verba] ‗membawa bersama‘

(3) /-mi-/ + [tihulo]/ [nomina] ‗berdiri‘

/timihulo/ [verba] ‗sedang berdiri‘

(4) (b) Sisipan /-mi-/ membentuk nomina (5) /-mi-/ + [inggidu]/ [nomina] ‗masa‘ (6) /-mi-/ + [intilo]/ [nomina] ‗urat ‘

/iminggidu/ [nomina] ‗suatu masa‘ /imintilo/ [nomina] ‗salah urat‘

(c) Sisipan /-mi-/ membentuk adjektiva (7) /-mi-/ + [iyopo]/ [adjektiva] ‗kecil‘

/imiyopo/ [adjektiva] ‗mengecil‘

3) /-um-/ (a) Sisipan /-um-/ membentuk verba (1) /-um-/ + [tayango]/ [verba] ‗lompat‘

/tumayango/ [verba] ‗melompat‘

(2) /-um-/ + [tayango]/ [verba] ‗lompat‘

/tilumayango/ [verba] ‗melompat‘

102

(b) Sisipan /-um-/ membentuk nomina (3) /-um-/ + [aita]/ [nomina] ‗pegangan‘

/umaito/ [nomina] ‗merekat‘

(c ) Sisipan /-um-/ membentuk adjektiva /…/ 4) /-li-/ (c) Sisipan /-li-/ membentuk verba (1) /-li-/ + [iyomo]/ [verba] ‗senyum‘

/ilimiomo/ [verba] ‗telah tersenyum‘

(2) /-li-/ + [tihulo]/ [nomina] ‗berdiri‘

/tilimihulo/ [verba] ‗langsung berdiri‘

(3) /-li-/ + [iyopo]/ [adjektiva] ‗kecil‘

/ilimiyopo/ [adjektiva] ‗telah mengecil‘

(4) … (b) Sisipan /-um-/ membentuk nomina /…/ (c) Sisipan /-um-/ membentuk adjektiva /…/

Akhiran atau sufiks: /-wa/; dan /-lo/. 1) /-wa/ (a) Akhiran /-wa/ membentuk verba (1) /-wa/ + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/balawa/ [verba] ‗pagarlah‘

(2) /-wa/ + [po’ota]/ [nomina] ‗petunjuk‘ (3) /-wa/ + [hama]/ [verba] ‗ambil‘

/po’otaawa/ [verba] ‗berkenalan‘ /hamawa/ [verba] ‗ambillah‘

(4) /-wa/ + [otala]/ [nomina] ‗salah‘

/otalawa/ [verba] ‗membuat salah‘

(b) Akhiran /-wa/ membentuk nomina

103

(5) /-wa/ + [bisala]/ [nomina] ‗kata‘

/bisalawa/ [nomina] ‗perjanjian‘

(c ) Akhiran /-wa/ membentuk adjektiva /…/ 2) /-lo/ (a) Akhiran /-lo/ membentuk verba (1) /-lo/ + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/aalalo/ [verba] ‗makanlah‘

(2) /-lo/ + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/aalolo/ [verba] ‗dimakan‘

(3) /-lo/ + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/hulo’alo/ [verba] ‗diduduki‘

(4) /-lo/ + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/hulo’olo/ [verba] ‗duduklah‘

(5) /-lo/ + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/tuangolo/ [verba] ‗diisikan‘

(6) /-lo/ + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/tuangalo/ [verba] ‗isikanlah‘

(7) /-lo/ + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/balaalo/ [verba] ‗dipagar‘

(8) /-lo/ + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/balawalo/ [verba] ‗pagarlah‘

(9) /-lo/ + [bilohu]/ [verba] ‗lihat‘

/bilohelo/ [verba] ‗dilihat‘

(10) /-lo/ + [tali]/ [nomina] ‗beli‘

/taliyalo/ [verba] ‗belilah‘

(11) /-lo/ + [tali]/ [nomina] ‗beli‘

/taliyolo/ [verba] ‗dibeli‘

(12) /-lo/ + [kameja]/ [nomina] ‗kemeja‘

/kamejalo/ [verba] ‗dipakaikan kemeja‘

(13) /-lo/ + [tutupito]/ [nomina] ‗jepitan‘

/tilupitolo/ [verba] ‗dijepit saja‘

(14) /-lo/ + [kubingo]/ [nomina] ‗cubit‘

/kilubingolo/ [verba] ‗dicubit saja‘

(15) /-lo/ + [kubingo]/ [nomina] ‗cubit‘

/kubingolo/ [verba] ‗dicubit‘

(16) /-lo/ + [kubingo]/ [nomina] ‗cubit‘

/kubingalo/ [verba] ‗cubitlah‘

(17) /-lo/ + [buntungo]/ [nomina] ‗tinju‘

/biluntungolo/ [verba] ‗tinju saja‘

(18) /-lo/ + [buntungo]/ [nomina] ‗tinju‘

/buntungolo/ [verba] ‗ditinju‘

104

(19) /-lo/ + [buntungo]/ [nomina] ‗tinju‘

/buntungalo/ [verba] ‗tinjulah‘

(20) /-lo/ + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/pilitilolo/ [verba] ‗dipijit‘

(21) /-lo/ + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/pilitilalo/ [verba] ‗pijitlah‘

(22) /-lo/ + [tonggodu]/ [verba] ‗menghentikan‘

/tilonggodulo/ [verba] ‗hentikan saja‘

(23) /-lo/ + [tonggodu]/ [verba] ‗menghentikan‘

/tonggodelo/ [verba] ‗hentikanlah/tahanlah‘

(24) /-lo/ + [tinggodu]/ [verba] ‗tumit‘

/tinggodelo/ [verba] ‗tendanglah‘

(25) /-lo/ + [tinggodu]/ [verba] ‗tumit‘

/tinggodulo/ [verba] ‗ditendang‘

(26) /-lo/ + [peli]/ [nomina] ‗pel‘

/peliilo/ [verba] ‗dipellah‘

(27) /-lo/ + [peli]/ [nomina] ‗pel‘

/pelialo/ [verba] ‗dipel saja‘

(28) /-lo/ + [bongu]/ [verba] ‗bangun‘

/bilongulo/ [verba] ‗dibangunkan‘

(29) /-lo/ + [bongu]/ [verba] ‗bangun‘

/bongulo/ [verba] ‗bangunlah‘

(30) /-lo/ + [tuladu]/ [nomina] ‗surat‘

/tiluladulo/ [verba] ‗ditulis saja‘

(31) /-lo/ + [tuladu]/ [nomina] ‗surat‘

/tuladulo/ [verba] ‗ditulis‘

(32) /-lo/ + [tuladu]/ [nomina] ‗surat‘

/tuladelo/ [verba] ‗tulislah‘

(33) /-lo/ + [tayango]/ [verba] ‗lompat‘

/tayangolo/ [verba] ‗lompatlah‘

(34) /-lo/ + [tayango]/ [verba] ‗lompat‘

/tayangalo/ [verba] ‗dilompati‘

(35) /-lo/ + [minggulo]/ [nomina] ‗mata besar‘

/minggulalo/ [verba] ‗melototkan mata‘

(36) /-lo/ + [tontongo]/ [nomina] ‗pandangan‘

105

/tontongalo/ [verba] ‗dipandang‘

(b) Akhiran /-lo/ membentuk nomina (37) /-lo/ + [u’aalo]/ [nomina] ‗makanan‘ (38) /-lo/ + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘

/u’aalolo/ [nomina] ‗makanan‘ /tilepalo/ [nomina] ‗ditendang saja‘

(39) /-lo/ + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘

/tepaalo/ [nomina] ‗ditendang‘

(40) /-lo/ + [tayango]/ [verba] ‗lompat‘

/tayangalo/ [nomina] ‗tempat yang dilompati‘

(c ) Akhiran /-lo/ membentuk adjektiva (41) /-lo/ + [tiupo]/ [nomina] ‗makanan‘

/tiliupolo/ [adjektiva] ‗kekenyangan‘

(42) /-lo/ + [tiupo]/ [nomina] ‗makanan‘

/tiliupalo/ [adjektiva] ‗makanlah‘

(43) /-lo/ + [biyongo]/ [adjektiva] ‗gila‘

/biyongolo/ [adjektiva] ‗gila-gilaan‘

(44) /-lo/ + [minggulo]/ [adjektiva] ‗mata besar‘

/minggulolo/ [adjektiva] ‗mata terbelalak‘

(45) /-lo/ + [bontongo]/ [adjektiva] ‗malas‘

/bontongolo/ [adjektiva] ‗sungguh pemalas‘

(46) /-lo/ + [lantingo]/ [adjektiva] ‗malas‘

/lantingalo/ [adjektiva] ‗pemalas‘

(47) b. Reduplikasi Reduplikasi adalah proses morfologis melalui pengulangan kata. Reduplikasi terdiri atas: reduplikasi penuh, reduplikasi dengan modifikasi, dan reduplikasi sebagian. Berikut dipaparkan reduplikasi dalam bahasa Gorontalo (1) Reduplikasi penuh: /monga/

’makan’

/monga-monga/.

‘makan-makan‘

/ lamari/

’lemari‘

/lamari-lamari/

‘lemari-lemari

/ngango/

‘mulut‘

/ngango-ngango/

‘mulut-mulut‘

106

/mato/

‘mata‘

/mato-mato/

‘mata-mata‘

/tuladu/

‘surat‘

/tuladu-tuladu/

‘surat-surat‘

/bentor/

‘- ‘

/bentor-bentor/

/bendi/

‘dokar‘

/bendi-bendi/

’dokar-dokar‘

/oto/

‘mobil‘

/oto-oto/

’mobil-mobil‘

/motoro/

‘motor‘

/motoro-motoro/

‘motor-motor‘

/talala/

‘celana‘

/talala-talala/

’celana-celana‘

/roku/

’rok‘

/roku-roku/

‘rok-rok‘

/bate/

’batik‘

/bate-bate/

‘batik-batik‘

-

(2) Reduplikasi dengan modifikasi: /motuluhu/

‘tidur‘

/hitulu-tuluhe/

‘tidur tidak bersamaan‘

/moololo/

‘sedih‘

/hiwolo-wolola/

‘masing-masing sedih‘

/tepa/

‘tendang‘

/molepa-lepa/

‘menendang-nendang‘

/moluwango/

‘mengisi‘

/hituwa-tuwanga/ ‘masing-masing mengisi‘

/ta’o/

‘curi‘

/hita’o-ta’owa’/

‘pencuri‘

/tiupo/

’kekenyangan‘

/hitiu-tiupa/

‘kenyang-kemyamgan‘

/delito/

‘jilat‘

/hideli-delita/

‘penjilat‘

/huntapo/

‘kunyak‘

/hihunta-huntapa/ ‘mengunyak-ngunyak‘

/dengoto/

‘gigi‘

/mengilu/

‘minum‘

/hiyilu-yiluma/

/bisala/

‘kata‘

/hibisa-bisalawa/ ‘kata-kata

/hidenge-dengeta/

‘sudah digigit-gigit‘ ‘minum tidak bersmaan‘ yang

tidak

sama‘ /dungohu/

‘dengar‘

/hidungo-dungohe/ ‘pendengaran yang tidak sama‘

107

/tupito/

’nguping‘

/hitupi-tupita/

‘mulut

seperti

bunyi

cecak‘ /mombo’o/

‘mencuci‘

/hibubo-bubo’a/ ‘masing-masing mencuci‘

/huheto/

‘bahan cuci‘

/hihuhe-huheta/ ‘masing-masing mencuci‘

/dihu/

‘pegang‘

/hidihu-dihuma/ ‘sudah dipegang-pegang‘

/kubingo/

‘cubit‘

/hekubi-kubingolo/ ‘dicubit-cubit‘

/tambali/

‘tampar‘

/tila-tilambalio/a/ ’ditampar-tampar‘

/buntungo/

‘tinju‘

/hibuntu-buntunga/ ‘bekas-bekas ditinju‘

/pitilo/

‘pijat‘

/hipiti-pitila/

/hepo/

‘pijat‘

/hewapo-wapola/

‘bekas-bekas pijatan‘

/ali/

‘sumur‘

/hiali-alia/

‘digali-gali‘

/na’o/

‘jalan‘

/hena’o-na’owa/ ’masing-masing berjalan‘

/tinggodu/

‘tumit‘

/hitinggo-tinggode/ ‘bekas-bekas tendangan‘

/botulo/

‘naik‘

/laahu/

‘turun‘

/hilala-lalaahe/

/piya’ato/

‘tali‘

/hipiya-piya’ata/ ‘panjat tidak bersamaan‘

/tambango/

‘duduk basenga‘

/hibotu-botula/

‘bekas-bekas pijatan‘

‘naik tidak bersamaan‘ ‘turun tidak bersamaan‘

/hitamba-tambanga/ ‘duduk basenga-senga‘

/duta’o/

‘injak‘

/hiduta-duta’a/

/mongulo/

‘cuci kaki‘

/hiulo-ulowa/ ‘cuci kaki tidak bersamaan‘

/tubu/

‘masak‘

/hitubu-tubuwa/

/ceti/

‘cat‘

/hiceti-cetia/ ‘mengecat tidak bersamaan‘

108

‘sudah terinjak-injak‘

‘masak tidak bersamaan‘

/hulo’o/

‘duduk‘

/hihulo-hulo’a/ ‘duduk tidak beraturan‘

/balato/

‘baring‘

/hibala-balata/

/peli/

‘alat pel‘

/hipeli-peliya/

/dingingo/

‘dinding‘

/hidingi-dinginga/

‘baring-baringan‘ ‘mengepel tidak teratur‘ ‘dinding

yang

tidak

beraturan‘ ‘minyak goreng‘

/hinulo/

‘membuat minyak tidak

/hiyinu-yinula/

bersamaan‘ /ta’e/

‘naik‘

/hitae-taeya/ ‘naik kenderaan tidak bersamaan‘

/luntu/

‘naik‘

/hiluntu-luntuwa/ ‘naik binatang tidak beraturan‘

/tuladu/

‘tulisan‘

/hitula-tulade/

‘ditulis-tulis‘

/baca/

‘baca‘

/hibaca-bacawa/

‘masing-masing membaca‘

/balaajari/

‘belajar‘

/bite/ /pohala/

/hibala-balajaria/

‘dayung‘

/hibite-bitea/

‘alat penangkap ikan‘

‘masing-masing belajar‘ ‘berlayar tidak bersamaan‘

/hipoha-pohalawa/ ‘masing-masing mencari ikan‘

/tutunu/

‘telunjuk‘

/hitunu-tunuwa/

‘tunjuk-tunjukan‘

(3) Reduplikasi sebagian: /mongilu/

/mongilu-ngilu/ ‘minum-minum‘

/mongili/

/mongili-ngili/ ‘diary‘

/mohuntapo/

/mohunta-huntapo/ ‘makan‘

/moona’o/

/mo-moona’o/

/mo’oobo/

‘jalan-jalan‘

/mo’o-mo’oobo/ ‘mencium sesuatu‘

109

/mombo’o/

/mom-mombo’o/ ‘mencuci semuanya‘

/motoro/

/mo-motorowaalo/ ‘banyak motor‘

/lamito/

/lami-lamitalo/ ‘dicicipi‘

/pale/

/pale-paleyalo/ ‘banyak macam padi‘

/lambi/

/lambi-lambiyalo/ ‘banyak macam pisang‘

/otutu/

/otu-otutulo/

‘sebenar-benarnya‘

/tasi/

/tasi-tasiyalo/

‘banyak jenis tas‘

c. Perubahan Interen Perubahan interen adalah proses morfologis yang menyebabkan perubahanperubahan bentuk morfem-morfem, karena perubahan-perubahannya terdapat di dalam morfem-morfem itu sendiri, seperti berikut ini. /dulahu/ ‘matahari‘

/polodulahe/ ‘musim panas‘

/moolingo/ ‘manis‘

/p’oolinga/ ‘membuat lebih manis‘

/tangi/ ‘perekat‘ /dembingo/ ‘lekat‘ /puti’o/ ‘putih‘

/ modudembinga/ ‘melekat‘ /po’oputi’a/ ‘buatlah putih‘

/pa’ato/ ‘pahit‘

/po’opa’ata/ ‘buatlah pahit‘

/peentalo/ ‘lari‘

/mometala/o/ ‘melarikan diri‘

/lantingo/ ‘malas‘ /momiyahu/ ‘memelihara‘ d.

/mototangia/ ‘merekat‘

/latingalo/ ‘sangat malas‘ /momiyahe/ ‘memelihara‘

Suplisi Suplisi adalah proses morfologis yang menyebabkan adanya bentuk yang baru.

110

/mongilu/ ‘minum‘ /otutu/

‘benar‘

/yiluma/ ‘minumlah‘ /tutulio-tutu/ ‘sebanar-benarnya‘

e. Modifikasi kosong Modifikasi kosong adalah proses morfologis yang tidak menimbulkan perubahan pada bentuknya, tetapi konsepnya yang berubah. Waktu kini

waktu lampau

/hemonga/ ‘sedang makan‘

/hemonga/ ‘sedang makan‘

/hemotubu/ ‘sedang memasak‘

/hemotubu/ ‘sedang memasak‘

/hemoluladu/ ‘sedang menulis‘

/hemoluladu/ ‘sedang menulis‘

/hemonga’ato/ ‘sedang menyapu‘

/hemonga’ato/ ‘sedang menyapu‘

3. Pembentukan Kalimat Bahasa Gorontalo Kalimat dalam bahasa Gorontalo terbentuk dari susunan unsur kata atau unsur segmental dan unsur suprasegmental. Kalimat-kalimat tersebut bisa berupa kalimat transitif [KT], kalimat intrasitif [KI], kalimat aktif [KA], kalimat pasif [KP], kalimat dinamis [KD], dan kalimat statis [KS]. Selanjutnya digunakan singkatan-singkatan kalimat tersebut, untuk menandai kalimat- kalimat berikut ini. a. Contoh kalimat yang dibentuk dari unsur verba (1) tipaapa laatiya heemonga buuburu wolo dabu-dabu

‘bapak saya sedang makan

bubur dengan sambal‘ [KI] & [KA] (2) tipaituwa laatiya hemongilu kopi ’bapak saya sedang minum kopi‘  [KI] & [KA] (3) waatiya mola motuluhu to Paguyaman ‘saya akan menginap di Paguyaman‘  [KT] (4) waatiya motuluhu ‘ saya akan tidur‘ [KI]

111

(5) bulo’o liyo maamongongoto mololola ila wau taluhu ‘lehernya sakit jika menelan nasi dan air‘  [KT] (6) bulo’o liyo mongongoto polololalo ‘lehernya sakit ketika menelan makanan‘ [KI] (7) waatiya maamoona’o ode paatali ‘saya akan pergi ke pasar‘ [KT] (8) waatiya maamoona’o ‘saya akan pergi‘  [KI] (9) tiyo boyito didu mo’oobo ‘dia itu tidak dapat mencium‘  [KI] (10) ti maama maahemotubu to depula ‘ibu sedang memasak di dapur‘  [KI] & [KA] (11) ti Wini he mohuheta pingge ‘ibu mencuci piring‘  [KI] & [KA] (12) te Yaya he moceti bele’u ‘Yaya mengecat rumah‘  [KI] & [KA] (13) tiyo boyito diila mowali motihulo’a to tibawa ‘dia itu tidak boleh duduk di bawah‘  [KI] & [KA] (14) tiyo boyito maadidu mowali motibalato to kaatulu ‘dia itu tidak boleh lagi duduk di bawah‘  [KI] & [KA] (15) ti Wini he monga’ata paango ‘Wini menyapu halaman‘ [KI] & [KA] (16) waatiya hemotolotulade penelitian ‘saya sedang menulis penelitian‘  [KI] & [KA] (17) waatiya hemobaca buku-bukuwaalo ‘saya membaca berbagai buku‘ [KI] & [KA] (18) oonggosi mokulia to UNG he beda-bedawa ‘biaya perkuliahan di UNG berbedabeda‘  [KI] & [KD] (19) tamokulia musti mobalajari to’ootutuwa ‘orang kuliah harus belajar bersungguhsungguh‘  [KD] (20)

112

b. Contoh kalimat yang dibentuk dari unsur nomina (21) mato limongliyo dadaata ta didu mo’oonto’ banyak mereka yang tidak dapat melihat‘  [KS] (22) bulonga limongoliyo dadaata ta didu mo’odungohu ‘telinga merekan banyak yang tidak dapat mendengar‘  [KS] (23) wulingo limongoliyo dadaata ta didu mo’oobo ‘hidung mereka banyak yang tidak dapat mencium lagi‘  [KS], [KP], & [KA] (24) ngango limongoliyo po’o-po’odaata ‘banyak perkataan mereka‘  [KS], [KA] & [KP] (25) lunggongo limongoliyo maahingongota ‘banyak mereka yang sakit kepala‘  [KS] & [KP] (26) huwo’oliyo maahipodulahuwa ‘rambut mereka banyak yang rontok‘  [KS] & [KA] (27) dangguliyo maahaya-haya’o ‘jenggotnya sudah panjang‘  [KS], [KP] & [KA] (28) dungitoliyo maadadaata yilodulahu ‘giginya sudah banyak rontok‘ [KS], [KP] & [KA] (29) bulo’oliyo momongoto ‘lehernya sakit‘ [KS] (30) olu’uliyo molumboyoto ‘tangannya lembut‘ [KS] (31) ti pak haji ta’e-ta’e to oto ode kota ‘pak haji naik mobil ke kota‘ [KD] (32) te Rahman luntu-luntu to mootoro ode kampus ’Rahman naik motor ke kampus‘  [KS] (33) te Rian luntu-luntu to rasupede ode kampus ‘Rian naik sepeda ke kampus‘ [KS]

113

(34) timongoliyo hipotita’eya to bulotu ode Batuda’a ‘mereka menaiki perahu ke Batuda‘a‘  [KS] (35) omo-omolu oto ode Moladu heta’eliyo to he’ita ‘pada masa dulu mobil ke Manado menyeberang menggunakan rakit‘ [KS] (36) masatiya bolo hibotu-botuwa bendi hepotita’eya lotau ‘sekarang sudah jarang orang naik bendi‘  [KD] & [KI] (37) timi’idu bele maa’o bentor hepotita’eya limongoliyo ‘setiap rumah mempunyai bentor sebagai kenderaaan mereka‘  [KD], [KP], & [KI] (38) goroba boyito heepodetoheliyo pale ode masina ‘gerobak itu memuat padi ke gilingan‘ [KS], [KP], & [KA] (39) maadidu’u tahipotita’eya to kokoyonga masaatiya ‘sekarang tidak ada lagi yang naik kokoyonga‘  [KD], [KP], [KA], & [KI] (40) meja boyito tilali liyo ngo juta apingo ‘meja itu dibeli dengan harga sejuta lebih‘  [KD] (41) kadera olo odito haraga liyo ‘harga kursi juga begitu‘ [KD] (42) lamari jati boyito mahale daa ‘lemari dari kayu jati mahal harganya‘ [KD] (43) tasi li ibu boyito tilali liyo to butik anisa ‘tas milik ibu itu, dibeli di butik anisa‘  [KS] (44) buku-buku limongoli donggo bilulota’u ‘buku-buku kepunyaan kalian aku masih pinjam‘ [KD] (45) buku-buku limongoli maabilulota’u ‘buku-buku kepunyaan kalian telah aku pinjam‘  [KI] (46) motanda tangan lopolopeni moidu ‘menandatangani dengan polpen biru‘ [KD]

114

(47) patuluti 2b u pomake to ujian ‘di ujian menggunakan pinsil 2b‘ [KD] & [KI] (48) to penelitian momake lo karatasi dadaata ‘di penelitian banyak menggunakan banyak kertas‘  [KD] c. Contoh kalimat yang dibentuk dari unsur adjektifa (49)

o laku olo ta nikaliyo boyito ‘cantik juga calon istrinya‘ [KS]

(50)

ti binggele boyito moputi’o ‘istrinya itu kulit putih‘ [KS]

(51)

tiyo boyito gaggaga openu moyitomo ‘dia itu cantik walaupun kulit hitam‘  [KS]

(52)

te ulaika boyito de mololohe tamotilanga wawa’iyo ‘pria itu nanti mencari kulit sawo-matang‘  [KS], [KP], & [KA]

(53)

moolulo wawa’iyo boyito wau diila o tambi’iyo ‘kuning langsat kulitnya dan licin‘ [KS]

(54)

olu’uliyo boyito molu’oyo, tanu diila hemo karaja amu ‘tangannya itu lembut, mungkin tidak pernah bekerja‘ [KS]

(55)

ilanggangiyo mo’oyoto bo molotolo ‘badannya kurus tapi kuat‘ [KD]

(56)

ti Iramaya Sofa maamolingohu da’a ‘Iramaya Sofa sudah gemuk sekali‘ [KS]

(57)

te Hapid boyito, haya-haya’a da’a ’Hapid itu tinggi sekali‘  [KS]

(58)

to SPG omo-omolu, taa limbo-limbongo diila tolimoliyo mali guru ‘pada zaman dulu yang pendek tidak diterima menjadi guru‘  [KD]

(59)

u mopiyohu gaga pomake openu haragaliyo mahale ‘yang baik bagus dipakai walaupun harganya mahal‘  [KD]

(60)

wanu u moleeto haragaliyo mura boongointa morusa ‘kalau yang jelek harganya murah, tetapi cepat rusak‘  [KD]

115

(61)

wanu molimomoto pokkaraja opiya lo tau ‘jika bekerja secara sempurna disukai orang‘  [KD]

(62)

pakakasi mopo’o dila dutuwa tobiihu meja ‘barang pecah jangan diletakkan di pinggir meja‘ [KD]

(63)

wanu boo bele kiki’o diila potali kadera dudula’a ‘kalau rumah hanya kecil jangan beli kursi yang besar‘ [KD], [KP], & [KA]

(64)

damango bele bodila otau ‘rumah yang besar, tetapi tidak ada orang‘ [KD], [KP], & [KA]

4. Fungsi Bahasa Gorontalo sebagai Medium Sastra Gorontalo Terdapat enam fungsi bahasa yang terkait dengan enam komponen komunikasi yang memiliki fokus yang berbeda yaitu Berikut dipaparkan tiga versi tinilo mohuntingo (gunting rambut).

Versi A: (1) Bismillahirrakhmanirrahim! Henengio ihimari  [FR] & [FP]

‘sangga yang murni‘

Loli nuuru jauhari

‘cahaya terang benderang‘

Lonto jalali-jalali

‘dari Allah Yang Maha Mulia‘

Sayu to asali

‘tetap kembali ke asal‘

(2) Bisimila du’a hadamu  [[FR] & [FP]

‘dengan nama Allah‘

Neene baapu u pahamu

‘nenek kakek paham‘

Wombu aqiqiyamu

‘cucu kalian beri aqiqah

Pohinggila u haramu

‘mengeluarkan yang haram‘

116

(3) Alhamdu jasadi  [FR] & [FP]

‘segala puji bagi Allah‘

Wolo tinelo waladi

‘dari cahaya yang tidak nampak‘

Dua’a wolo u mongaji

‘doakan dengan mengaji‘

Lo Quruani Kitabi

‘Quran sebagai Kitab Suci

(4) Banta yi’o opahamu  [FK] & [FP]

‘engkau anak paham‘

Pongjari hamaamu

‘pengajaran diambil‘

Delo po’o tupitamu

‘harus engkau dengarkan‘

To sara’a imamu

‘ dari syara‘a dan imam

(5) Delo yi’o pongilalo  [FK] & [FP]

‘engkau harus meramal‘

Tota hi’ambuwalo

‘di tempat banyak orang‘

To sara’a hi’ambuwa

‘pada para tokoh agama‘

Mowali poohintuwalo

‘ silakan ditanyakan‘

(6) Du’awo to rasulu  [FF] & [FP]

‘doa kepada Rasul‘

Detiyombu pulu

‘kepada nenek moyang/leluhur

Otutu milasahuru

‘sungguh termashur‘

To’u limo lolinggulu

‘di lima negeri adat‘

(7) Famili hi tanggapa  [FF] & [FP]

‘keluarga memperhatikan‘

Pulanga dadaata

‘banyaknya kedudukan dan jabatan

Diyaalu u bata-bata

‘tidak ada keragu-raguan‘

To wuwabu bilanggata

‘di Kabila dan di Kota‘

(1) Tinilo banta kasiya  [FR] & [FP]

‘syair anak kesayangan‘

Du’a wolo u’opiya

‘didoakan agar jadi orang baik‘

Wolo mongo ahaliya

‘oleh semua warga masyarakat dan tokoh-tokohnya‘ ‘sukses dan gemilang‘

Lotapu baralian

117

(2) Tinilo maama puluwa  [FR] & [FP]

‘syair dari mama kandung‘

Modu’a hi ambuwa

‘berdoa bersama‘

Wolo ahali samua

‘dengan tokoh-tokohnya‘

Wau mohipo sukuruwa

‘dan mereka bersyukur‘

(3) Yi’o banta taalola’i  [FR], [FP], [FPh]

‘engkau anak laki-laki‘

Du’a wolo apiyati

‘insyaAllah jadi orang baik‘

Alihu maali pakati

‘supaya

jadi

manusiawi

diteladani ‘di dunia dan di akhirat‘

To dunia akhirati (4) Pulanga pilolutuwa  [FM] & [FP]

‘kedudukan yang bernilai‘

Mohala’o mohumbuwa

‘berakar dan berkembang‘

Lo’ula’i lo’ubuwa

‘baik laki maupun perempuan‘

To’ulimo lolingguwa

‘di lima negeri peradatan‘

(5) Taamati olapata  [FR] & [FP]

‘tamat dan selesai‘

Bolo po’i potuhata

‘mohon petunjuknya‘

To famili hi tanggapa

‘para keluarga yang hadir‘

To kota wau to tapa

‘di Kota dan di Tapa‘

Versi B: ’dengan nama Allah’

(6) Bismillahirrakhmanirrahim! Hene o atitiyo [FM] & [FP]

‘kami sayangi dia‘

Pulanga to helidiyo

‘kedudukan yang teratas‘

To helidu mowali

‘dalam garis keturunan‘

Pulanga to auwali

‘kedudukan yang terawal‘

118

yang

(7) Bisimillah molinilo [FF] & [FP]

‘dengan nama Allah memberikan sanjungan

To banta la’i hehilo

‘pada anak laki-laki‘

Otumu o bihilo

‘tumbuh dan sejahtera‘

Totimbuli lo hungilo

‘di kemudian hari‘

(8) O, Uuty diya o taalo [FE], [FK], & [FP]

‘hai anak jangan khawatir‘

Pulangamu dadatalo

‘kedudukan yang terbesar‘

Debolo habariyalo

‘perlu dicari‘

To limutu Hulontalo

‘di Limboto-Gorontalo‘

(9) Pulanga hipipidelo  [FK], [FF],& [FP]

‘para pejabat yang hadir‘

Motanggalo motinelo

‘luas dan bercahaya‘

U’aalo dedelo

‘rejeki menurun‘

Payu didu molomelo

‘aturan tidak berubah‘

(10) Uuty poti pitota  [FE], [FK], & [FP]

‘hai anak tuntutlah ilmu‘

U po’owali mobulota

‘demi generasi lanjut‘

Lo puulanga hedu’ota

‘dengan kedudukan yang menetap‘

To tapa wau to kota

‘di Tapa dan di Kota‘

(11) Bakohati hiluntinga  [FF] & [FP]

‘kotak hati digunting‘

Siladia leto minya

‘disediakan lenso dan minyak wangi‘

Talu tohe poma’inga

‘lampu lilin dipasang‘

To dehupo hihintinga

‘di hadapan orang yang berdoa‘

(19)Tiyombu mohuwaliya  [FF] & [FP]

‘leluhur kedua belah pihak‘

Lo dapato lo sadia

‘disediakan segalanya‘

Sanggala bara mulia

‘segala yang mulia‘

To banta aqiqiyah

‘untuk anak yang diakikah‘

119

(20)Donggolo o ahayati [FR], & [FP]

‘masih ada umur panjang‘

Olu’u liyo mo’owali

‘tangan yang cekatan‘

Modutu to karatasi

‘menulis di kertas‘

Pena wau dawati

‘dengan pena dan tinta‘

(22) Alamati totabuhuwa [FR], & [FP]

‘kemenyan dupa‘

Dilapati neene duluwo

‘disediakan oleh kedua nenek‘

Siladia hi tahuwa

‘tersedia tersimpan‘

To tapahula buluwa

‘di kotak peradatan‘

(23) Du’a wamola to Allah [FR], [FK],& [FP] ‘doakan kepada Allah‘ Otumu sajatara

‘agar hidupmu sejahtera‘

Mowali pande bicara

‘menjadi pintar bicara‘

Diya sala-sala

‘agar tidak salah‘

(24) Posyukuru darajati [FR], [FP], [FPh.]

‘bersyukurlah kepada Allah‘

To Allah ma’rifati

‘kapada Allah Yang Maha Tahu‘

Umuru salamati

‘bermur dan selamat‘

Mo’otapu rahamati

‘mendaapat rakhmat‘

(25) Taamati olapata [FR], & [FP]

‘tammat dan selesai‘

Bolo po’i potuhata

‘berharap petunjuk‘

Tota pade de biasa

‘kepada orang pandai‘

Momangu debo biasa

‘membangun tetap terus‘

Versi C: ’dengan nama Allah’

(26) Bismillahirrakhmanirrahim! Henengolo tasidiki [FR], [FF] & [FP]

‘berdoa dengan sungguh-sungguh‘

Du’awo awasiki

‘berdoa yang khusyu‘

Paramai hadisi

‘firman fa hadist‘

120

‘dengan hukmat dan penuh makna‘

Opituwa mawanisi (27) Henengiyo pojikiri [FR], [FF] & [FP]

‘berdoa dan berzikirlah‘

Wunungo banta kacili

‘tinilo untuk anakku‘

Wawa’iyo mongulili

‘sosoknya bisa terkenal‘

To ulimo lo nagiri

‘di lima negeri‘

(28) Bisimi duluwo kadara [FR], [FF], & [FP] ‘dengan menyebut dua qadar‘ Otumu sajatara

‘hidup sejahtera‘

Wawa’iyo didu sala

‘dirinya tidak salah‘

To’u limo lopohala’a

‘di lima wilayah adat‘

(29) Uuty diya o talo [FR], [FF],& [FP]

‘hai anak jangan khawatir‘

Pulanga dawatalo

‘kedudukan yang banyak‘

Debolo habariyalo

‘akan mencari kabar‘

To Limutu Hulontalo

‘di Limboto-Hulontalo‘

(30) Pulanga to auwali [FR], [FK],[FF], Wolo’o pulu kakali

‘kedudukan yang teratas‘ ‘anak keturunan baik-baik‘

& [FP]

Dahayimu mohiyari

‘jagalah bercerai‘

Ode taadiya asali

‘kepada orang yang tidak wajib‘ ‘hai anak mengaturlah‘

(31) Uuty pongaturu[FR], [FK],[FF], Ode li baapu dahulu & [FP]

‘kepada sang leluhur‘

Otutu milasahuru

‘sungguh termashur‘

To ulimo lo linggulu

‘di lima negeri adat‘

(32) Tinilo maamamu duluwo[FR], [FF], Uumuru mohumbuwa

‘syair dari dua mamamu‘ ‘bisa umur panjang‘

& [FP]

O ta’eya o luntuwa

‘kedudukan dan kebesaran‘

Molopulanga ngohuntuwa

‘mempunyai banyak kedudukan‘

121

(33) Wonu bolo o’ujia [FR], [FF], & [FP]

‘apabila diuji‘

Buku po’ipeletiyo

‘buku dibuka‘

Daata pulangaliyo

‘banyak kedudukannya‘

Teeto teeya patatiyo

‘di sana-sini buktinya‘

(34) Maapu tahidungohe [FR], [FF], & [FP] ‘maafkan pendegar‘ U mobaca momilohu

‘membaca dan melihat‘

Taa mongodiiti bohu

‘pada generasi muda‘

Diipo talo piyohu

‘belum menjadi baik‘

(35)Maapu mongotiilo [FR], [FF], & [FP]

‘maafkan para ibu‘

Tayilo mongu tinilo

’yang menyusun tinilo‘

Donggo muda o mimilo

‘masih muda belia‘

To lapali mobulilo.

‘dalam kata tidak terterima‘

B. Pembahasaan

1. Leksikon Bahasa dan Sastra Gorontalo. Bahasa Gorontalo tidak berbeda dengan bahasa lainnya. Berdasarkan hasil penelitian teori-teori yang dikemukakan oleh para pakar tentang kata tersebut dapat ditemukan dalam leksikon bahasa Gorontalo. Mislanya, kata kerja, kata benda, dan kata sifat (Samarin, 1988: 287); kata adalah bentuk bebas terkecil (Bloomfield (dalam Robins, 1992: 228)); dan kata menurut konteks kebudayaan, konteks keadaan, serta konteks bahasa (Malinowski (dalam Samarin, 1988: 289)). Pada bahasa Gorontalo di dalam kelas kata kerja (verba) terdapat leksikon seperti: (1) mominggulo, molontongo, momilohu, momilo’o 122

‘melihat‘

(2) momintoo’o, motuluhu, motipito’o, motimbiongo

‘tidur/menutup mata‘

(3) monga, molamelo, morijiki, moluwango, momota’o, moliupo (4) mongili, molapi taluhu

‗berak/buang air besar/kecil‘

(5) motita’e, motiluntu

‗menaiki‘

‗makan‘

Di dalam kelas kata benda (nomina) terdapat leksikon seperti: (6) yi’o, ito, anto

‘kau/Anda‘

(7) wa’u, waatiya

‘aku/saya‘

Di dalam kelas kata sifat (adjektiva) terdapat leksikon seperti: (8) lantingalo, abalolo

‘malas‘

(9) haya-haya’o, molanggato

‗tinggi‘

(10) limbo-limbongo, podo-podongo

‗pendek‘

(11) nene’alo, wetwtolo, bulabolo

‗tingkah laku yang buruk‘

(12) mototangia,modudamala, modudembinga

‗merekat‘

Contoh leksikon tersebut, dapat diujarkan sesuai dengan ketiga konteks (kebudayaan, keadaan, dan bahasa) juga harus memperhatikan tujuan, dan kapan leksikon atau kata-kata itu dituturkan.

2. Proses Pembentukan Kata Bahasa Gorontalo. Kata-kata dalam bahasa Gorontalo seperti pula kata-kata dalam bahasa lainnya bisa dibentuk melalui proses morfologis. Proses morfologis yang dimaksud adalah kata dalam bahasa Gorontalo mengalami pula proses afiksasi, proses reduplikasi, proses perubahan interen, proses suplisi, dan juga proses modiikasi kosong.

123

Proses afiksasi dalam pembentukan kata bahasa Gorontalo terdiri atas awalan, sisipan, dan akhiran. Awalan atau prefiks terdapat 34 buah: /mo-/; /lo-/; /po-/; /mohi-/; lohi-/; /pohi-/; /mopo-/; /lopo-/; /popo-/; /mo’o-/; /lo’o/; /po’o/; /moti/; /motiti-/; /loti/; /lotiti-/; /poti/; /potiti-/; /me’i-/; /le’i-/; /pe’i-/;/pile’i/; /mopohu-/; /lopohu-/; /me-/; /le-/; /mongo-/; /motolo-/; /lotolo-/; /ngo-/; /o-/; /tapa-/; /tonggo-/; dan /hinggo-/. Awalan /mo-/ dapat dilekatkan pada morfem dasar verba; nomina; dan adjektiva yang dapat bermakna sebagai mengerjakan sesuatu; membuat sesuatu; menghasilkan sesuatu; memberi atau memasang sesuatu; mengadakan usaha; dan mencari atau memperoleh sesuatu. Selain itu, dapat membentuk kata kerja (verba) dan kata sifat (adjektiva), baik perubahan dari kata benda (nomina) maupun kata sifat (adjektiva) menjadi kata kerja (verba). Misalnya: kata yang terdaftar dari nomor 1-35 pada hasil penelitian. Kata-kata tersebut, ketika dilekatkan awalan /mo-/ dapat berubah menjadi kata kerja (verba) dan menjadi kata sifat (adjektiva). Pada penelitian ini tidak ditemukan awalan /mo-/ dapat membentuk kata benda (nomina). Dalam pembentukan kata dengan awalan /mo-/ terjadi perubahan, penambahan, dan pergantian fonem. Dapat dilihat dalam contoh berikut ini. (1) /mo- + [pito’o]/ [adjektiva] ‗buta‘ (2) /mo- + [tuango]/ [nomina]

‗isi‘

/motipito’o/ [verba] ‗menutup mata‘ /moluango/ [verba] ‗mengisi‘

(3) /mo- + [buntungo]/ [nomina] ‗tangan dikepal‘

/momuntungo/ [verba] ‗meninju‘

(4) /mo- + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/momitilo/ [verba] ‗memijit‘

(5) /mo- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘ (6) /mo- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘

124

/momangimba/ [verba] ‗bertani‘ /momeengi/ [verba] ‗berkebun‘

(7) /mo- + [taluhu]/ [nomina] ‗air‘

/mohintaluhu/ [adjektiva] ‗berair‘

Perubahan/ pergantian/peluluhan fonem /t/ menjadi /l/; /b/ menjadi /m/; /p/ menjadi /m/ dan /il/ menjadi /m/ pada kata nomor [2], [3], [4], [5],[6]. Penambahan fonem /ti/ pada kata nomor [1] dan /hin/ pada kata nomor [7]. Jika dicermati awalan /mo-/ memiliki alomorf: /mot-/, /mom-/, /mol-/, dan /moh-/ {[1),[2], [3], dan [7]}. Awalan /lo-/ dapat pula dilekatkan pada morfem dasar nomina, verba, dan adjektiva. Awalan /lo-/ berkaitan dengan sesuatu pekerjaan yang telah terjadi atau past tense yang menunjukkan pekrjaan telah selesai. Awalan /lo-/ seperti awalan mo-/ tidak dapat membentuk kata benda (nomina). Tetapi dapat membentuk kata kerja (verba) dan kata sifat (adjektiva). Gejala yang terjadi pada awalan /lo-/ sama seperti yang terjadi pada awalan /mo-/ Misalnya: (1) /lo- + [minggulo]/ [nomina] ‗mata besar‘

/lomminggulo/ [verba] ‗melototkan mata‘

(2) /lo- + [tontongo]/ [nomina] ‗tatapan‘

/lolontongo/ [verba] ‗telah menatap‘

(3) /lo- + [bilohu]/ [nomina] ‗penglihatan‘

/lomilohu/ [verba] ‗telah melihat‘

(4) lo- + [untapo]/ [nomina] ‗pengganjal bibir‘

/lohuntapo/ [verba] ‗telah mengunyak‘

(5) lo- + [peengito]/ [nomina] ‗suapan‘

/lomeengito/ [verba] ‗telah menyuap‘

(6) /lo- + [buntungo]/ [nomina] ‗kepalan tangan‘

/lomuntungo/ [verba] ‗telah meninju‘

(7) /lo- + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/lomitilo/ [verba] ‗telah dipijat‘

(8) /lo- + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘

/lolepa/ [verba] ‗telah menendang‘

(9) /lo- + [tinggodu]/ [nomina] ‗tumit‘

/lolinggodu/ [verba] ‗telah menendang‘

125

(10) /lo- + [piya’ato]/ [nomina] ‗alat panjat‘

/lomiya’ato/ [verba] ‗telah memanjat‘

(11) /lo- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘ (12) /lo- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘

/lomangimba/ [verba] ‗telah bertani‘ /lomeengi/ [verba] ‗telah berkebun‘

(13) /lo- +[ wopa]/ [nomina] ‗rendah‘

/loopa/ [adjektiva] ‗telah rendah‘

(14) /lo- + [damango]/ [nomina] ‗besar‘

/lo’idamango/ [adjektiva] ‗telah besar‘

(15) /lo- + [taluhu]/ [nomina] ‗air‘

/lohintaluhu/ [adjektiva] ‗telah berair‘

(16) /lo- + [tangi]/ [nomina] ‗perekat‘

/lototangia/ [adjektiva] ‗telah merekat‘

(17) /lo- + [dembingo]/ [nomina] ‗lekat‘

/lodudembinga/ [adjektiva] ‗telah saling melekat‘

Perubahan/ pergantian/peluluhan fonem /t/ menjadi /l/; /b/ menjadi /m/; /p/ menjadi /m/ dan /il/ menjadi /m/ terdapat pada kata nomor: [2], [3], [4], [5], [7], [8], [9], [10], [11]. [12], [13], dan [14]. Penambahan fonem /m/, /o/, /i/, /hin/, /to/, dan /du/ terdapat pada kata nomor: [1], [15], [16], dan [17],. Selain itu, awalan /lo-/ tidak dapat membentuk nomina. Jadi alomorf dari awalan /lo-/ adalah /lol-/ dan /lom-/,/loo-/, /lo’i-/, /lohin-/, /loto-/, dan /lodu-/: {[1], [2],[13], [14], [15], [16], dan [17]. Awalan /po-/ memiliki fungsi gramatikal yang berhubungan dengan manusia: (1) sebagai pembentuk kata yang menyatakan perintah ‗imperatif‘; (2) sebagai pembentuk kata yang menyatakan alat ‗instrumen‘. Misalnya: (1) /po- + [minggulo]/ [nomina] ‗mata besar‘

/pomminggulo/ [verba] ‗melototkan mata‘

(2) /po- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘

126

/pomangimba/ [verba] ‗bertani‘

(3) /po- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘

/pomeengi/ [verba] ‗berkebun‘

(4) /po- + [tontongo]/ [nomina] ‗tatapan‘

/polontongo/ [nomina] ‗alat menatap‘

(5) /po- + [bilohu]/ [nomina] ‗penglihatan‘ (6) /po- + [tilo’o]/ [nomina] ‗lirikan‘

/pomilohu/ [nomina] ‗alat melihat‘ /polilo’o/ [nomina] ‗alat melirik‘

(7) /po- + [diilo]/ [nomina] ‗ciuman‘

/po’odiila/ [nomina] ‗alat mencium‘

(8) /po- + [rijiki]/ [nomina] ‗makanan‘ (9) /po- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/porijiki/ [nomina] ‗makanan‘ /poluwango/ [nomina] ‗pengisi‘

(10) /po- + [tiupo]/ [nomina] ‗makanan‘

/poliupo/ [nomina] ‗makanan‘

(11) /po- + [untapo]/ [nomina] ‗pengganjal bibir‘

/pohuntapo/ [nomina] ‗pengunyak‘

(12) /po- + [taluhu]/ [nomina] ‗air‘

/pohintahulu/ [nomina] ‗alat mencuci‘

(13) /po- + [buntungo]/ [nomina] ‗kepalan tangan‘

/pomuntungo/ [nomina] ‗peninju‘

(14) /po- + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘

/pomitilo/ [nominaa] ‗alat pijat‘

(15) /po- + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘

/polepa/ [nomina] ‗kaki‘

(16) /po- + [piya’ato]/ [nomina] ‗alat panjat‘

/pomiya’ato/ [nomina] ‗alat memanjat‘

(17) /po- + [tuladu] [nomina] ‗tulisan‘

/poluladu/ [nomina] ‗alat tulis‘

(18) /po- + [tontongo]/ [nomina] ‗tatapan‘

/polontongo/ [nomina] ‗alat menatap‘

(19) /po- + [bilohu]/ [nomina] ‗penglihatan‘ (20) /po- + [tilo’o]/ [nomina] ‗lirikan‘

/pomilohu/ [nomina] ‗alat melihat‘ /polilo’o/ [nomina] ‗alat melirik‘

Perubahan/ pergantian/peluluhan fonem /t/ menjadi /l/; /b/ menjadi /m/; dan /p/ menjadi /m/, dan /il/ menjadi /m/ terdapat pada kata nomor: [1], [2], [3], [4], [5], [6],

127

[7].[8], [9], [10], [11]. [12], [13], [14], [15], 16], [17], [18] [19] dan [20]. Penambahan fonem /m/, /o-a/ ,dan, /hin/. Selain itu, awalan /po-/ tidak dapat membentuk adjektiva. Jadi alomorf dari awalan /po-/ adalah /pol-/,/pom-/,/po’o-a/, dan /pohin-/. Awalan /mohi-/, /lohi-/, /pohi-/ dapat dilekatkan pada morfem dasar nomina yang berkaitan dengan alat perlengkapan diri manusia. Ketiga awalan ini, tidak memiliki alomorf atau variasi awalan. Awalan /mohi-/ berkaitan dengan kala akan. Awalan /mohi-/ dapat membentuk verba tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /mohi-/ tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Awalan /lohi-/ berhubungan dengan kala lampau. Awalan /lohi-/ sebagaimana awalan /mohi-/ tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem, juga hanya dapat membentuk verba tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /pohi-/ mengakibatkan munculnya makna perintah. Awalan /pohi-/ pula tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Awalan /pohi-/ dapat membentuk nomina, tetapi tidak dapat membentuk verba dan adjektiva. Berikut contoh yang dikutip dari hasil penelitian: Awalan /mohi-/ (1) /mohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/mohipalipa/ [verba] ‗memakai sarung‘

(2) /mohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/mohiu’udu/ [verba] ‗memakai mukena‘

(3) /mohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘

/mohibate/ [verba] ‗memakai batik‘

128

(4) /mohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘

/mohikameja/ [verba] ‗memakai kemeja‘

(5) /mohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘

/mohitalala/ [verba] ‗memakai celana‘

Awalan /lohi-/ (1) /lohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/lohipalipa/ [verba] ‗telah memakai sarung‘

(2) /lohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/lohiu’udu/ [verba] ‗telah memakai mukena‘

(3) /lohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘

/lohibate/ [verba] ‗telah memakai batik‘

(4) /lohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘

/lohikameja/ [verba] ‗telah memakai kemeja‘

(5)

/lohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘

/lohitalala/ [verba] ‗telah memakai celana‘

Awalan /pohi-/ (1) /pohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/pohipalipa/ [nomina] ‗dipakai untuk sarung/selimut‘

(2) /pohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/pohiu’udu/ [nomina] ‗dipakai untuk mukena‘

(3) /pohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘

/pohibate/ [nomina] ‗dipakai untuk batik/selimut‘

129

(4) /pohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘

/pohikameja/ [nomina] ‗dipakai untuk kemeja‘

(5) /pohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘

/pohitalala/ [nomina] ‗dipakai untuk celana‘

Awalan /mopo-/, /lopo-/ dapat dilekatakan pada morfem dasar nomina dan adjektiva akan membentuk verba. Awalan /mopo-/, /lopo-/ dilekatkan pada morfem dasar verba membentuk makna melakukan pekerjaan. Awalan /mopo-/, /lopo-/ dilekatkan pada morfem dasar adjektiva akan membentuk makna membuat jadi. Kedua awalan ini tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Oleh sebab itu kedua awalan tersebut, tidak memiliki alomorf dan juga tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /mopo-/ berkaitan dengan kala akan, dan awalan /lopo-/ berkaitan dengan kala lampau. Misalnya: Awalan /mopo-/ (1) /mopo-+ [bate]/ [nomina] ‗batik‘

/mopobate/ [verba] ‗memakaikan batik‘

(2) /mopo-+ [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/mopopalipa/ [verba] ‗memakaikan sarung‘

(3) /mopo- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/mopou’udu/ [verba] ‗memakaikan mukena‘

Awalan /lopo-/ (1) /lopo- + [bate]/ [nomina] ‗batik‘

/lopobate/ [verba] ‗telah memakaikan batik‘

130

(2) /lopo- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/lopopalipa/ [verba] ‗telah memakaikan sarung‘

(3) /lopo- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

/lopou’udu/ [verba] ‗telah memakaikan mukena‘

Awalan /popo-/ yang dilekatkan pada morfem dasar nomina dapat membentuk makna perintah. Awalan /popo-/ yang dilekatkan pada morfem verba membentuk makna perintah yang ditujukan kepada orang lain demi kepentingan orang lain itu. Awalan /popo-/ yang dilekatkan pada morfem adjektiva akan membentuk makna membuat sesuatu menjadi sesuatu. Selain itu, awalan /popo-/ tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, tetapi mengalami perubahan makna dan penambahan fonem atau akhiran /-lo/. Misalnya: (1) /popo- + [bate]/ [nomina] ‗batik‘

/popobatealo/ [verba] ‗memakai batik‘

(2) /popo- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/popopalipawalo/ [verba] ‗memakai sarung‘

(3) /popo-+ [talala]/ [nomina] ‗celana‘

/popotalalaalo/ [verba] ‗memakaikan celana‘

(4) /popo- + [totala]/ [nomina] ‗salah‘

/popototalaalo/ [verba] ‗dipersalahkan‘

(5) /popo- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/popohulo’olo/ [verba] ‗mendudukkan‘

Awalan /mo’o-/ berkaitan dengan kala akan dan awalan /lo’o-/ berkaitan dengan kala lampau. Awalan /mo’o-/ dapat membentuk verba, nomina, dan adjektiva. Awalan /lo’o-/ hanya dapat membentuk verba dan nomina, tetapi tidak dapat membentuk adjektiva. Awalan /mo’o-/ dan /lo’o-/ tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Misalnya:

131

(1) /mo’o- + [biti]/ [adjektiva] ‗lapar‘

/mo’obiti/ [verba] ‗membuat lapar‘

(2) /mo’o- + [biihu]/ [nomina] ‗bibir‘

/mo’obiihu/ [verba] ‗memarahi‘

(3) /mo’o- + [beresi]/ [sifat] ‗bersih‘

/mo’oberesi/ [verba] ‗membuat bersih‘

(4) /mo’o- + [bo’o]/ [nomina] ‗baju‘

/mo’obo’o/ [nomina] ‗cukup jadi baju‘

(5) /mo’o- + [tota] / [adjektiva] ‗pintar‘ (6) /mo’o- + [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/mo’otota / [nomina] ‗membuat pintar‘ /mo’olamito/ [adjktiva] ‗masih bisa merasakan‘

(7) /mo’o- + [didi]/ [nomina] ‗hujan‘

/mo’odidi/ [adjktiva] ‗membuat hujan‘

(8) /lo’o-+ [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/lo’olamito/ [verba] ‗dapat merasakan‘

(9) /lo’o- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/lo’otuango/ [verba] ‗dapat mengisi‘

(10) /lo’o- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/lo’opiyohu/ [nomina] ‗membuat baik‘

(11) /lo’o- + [dingingo] [nomina] ‗dinding

/lo’odingingo’/ [nomina] ‗cukup membuat dinding‘

Pada contoh awalan /mo’o-/ dan /lo’o-/ tersebut, bahwa awalan /mo’o-/ membentuk verba dapat dilihat di nomor: [1], [2], [3]; membentuk nomina: [4], [5]; membentuk adjektiva: [6], [7]. Awalan /lo’o-/ membentuk verba dapat dilihat di nomor: [8], [9]; dan membentuk nomina di nomor: [10], dan [11]. Awalan /po’o-/ yang berkaitan dengan kala akan, dan jika dilekatkan pada morfem dasar adjektiva membentuk makna perintah ‗imperatif. Awalan /po’o-/ untuk mengatakan makna perintah tersebut, terdapat perubahan fonem /-o/ menjadi fonem di akhir kata /-a/ seperti terlihat pada nomor [1], [2], [3], dan [4]. Awalan /po’o/ dapat digabungkan pula awalan /mo-/ menjadi /mopo’o/ dan awalan /lo’o-/ menjadi /lopo’o-/ yang membentuk makna penegasan, seperti terlihat pada nomor [5] dan [6]. Misalnya,

132

(1) /po’o- + [dingingo] [nomina] ‗dinding

/po’odinginga’/ [verba] ‗buatlah dinding‘

(2) /po’o- + [moolingo] / [adjektiva] ‗manis‘

/po’owolinga/ [verba] ‗buatlah manis‘

(3) /po’o-+ [pa’ato]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/po’opa’ata/ [verba] ‗buatlah pahit‘

(4) /po’o- + [puti’o]/ [adjektiva] ‗putih‘ (5) /mopo’o-+ [taala]/ [verba] ‗jaga‘

/po’oputi’a/ [verba] ‗buatlah putih‘ /mopo’otaala/ [verba] ‗menjaga dengan baik‘

(6) /lopo’o-+ [taala]/ [verba] ‗jaga‘

/lopo’otaala/ [verba] ‗telah menjaga dengan bai

(7) /po’o- + [beresi]/ [adjektiva] ‗bersih‘

/po’oberesi/ [nomina] ‗telah membuat bersih‘

(8) /po’o-+ [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘

/po’olamito/ [nomina] ‗membuat ada rasa‘

Awalan /po’o/ tersebut, dapat membentuk verba dan nomina, tetapi tidak dapat membentuk adjektiva: [1],[2], [3], [4], [7], dan [8]. Awalan /moti-/, /motiti-/ berkaitan dengan kala akan, dan awalan /loti-/, /lotiti-/ berkaitan dengan kala lampau. Awalan ini jika dilekatkan dengan morfem dasar nomina dapat bermakna perumpamaan, menunjukkan sifat benda itu, menunjukkan pekerjaan yang berkaitan dengan anggota badan (refleksif), dan mengarah pada sesuatu sikap dan perbuatan. Baik awalan /moti-/, /motiti-/ maupun /loti-/, /lotiti-/ hanya dapat membenuk verba, dan tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan ini tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Misalnya:

133

(1) /moti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/motipiyohu/ [verba] ‗memperbaiki diri‘

(2) /moti- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/motidamango/ [verba] ‗membesarkan diri‘

(3) /moti + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/motipate/ [verba] ‗mau bunuh diri‘

(4) /motiti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/motitipiyohu/ [verba] ‗akan memperbaiki diri‘

(5) /motiti + [damango] [nomina] ‗besar‘

/motitidamango/ [verba] ‗akan membesarkan diri‘

(6) /motiti + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/motitipate/ [verba] ‗sungguh-sungguh bunuh diri‘

(7) /loti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/lotibangga/ [verba] ‗telah menyombongkan diri‘

(8) /loti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/lotihulo’o/ [verba] ‗telah menduduki‘

(9) /loti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/lotituango/ [verba] ‗telah memasukkan diri dalam kelompok‘

(10) /lotiti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/lotitibangga/ [verba] ‗telah

menyombongkan diri‘ (11) /lotiti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/lotitihulo’o/ [verba] ‗telah

menduduki‘ (12) /lotiti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘ memasukkan diri‘

134

/lotitituango/ [verba] ‗telah

Awalan /poti-/ dan /potiti-/ sebagaimana awalan /moti-/ dan /motiti-/ yang berkaitan dengan kala akan. Awalan /poti-/ dan /potiti-/ ketika dilekatkan pada morfem dasar membentuk makna perintah atau imperatif. Awalan /poti-/ dan /potiti-/ hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, serta tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Misalnya: (1) /poti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/potibangga/ [verba] ‗ banggakan

diri‘ (2) /poti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/potihulo’o/ [verba] ‗duduklah‘

(3) /potiti-+ [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘

/potitibangga/ [verba] ‗sombongkan diri‘

(4) /potiti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/potitihulo’o/ [verba] ‗dudukilah‘

Awalan /me’i-/ menandakan sesuatu pekerjaan baru akan dilakukan (kala akan), awalan /le’i-/ menandakan sesuatu pekerjaan sudah dilakukan (kala lampau), dan awalan /pe’i/ berhubungan dengan kala akan dan awalan /pile’i/ berhubungan dengan kala lampau yang keduanya membentuk kata yang menyatakan pasif. Selain itu, awalanawalan tersebut, hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, serta tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Tetapi terjadi penggabuangan awalan /po’o-/ pada kata-kata tertentu seperti terlihat di nomor [6], [7], [9], [11], [15] dan [17} pada contoh di bawah ini. (1) /me’-i+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/me’ileeto/ [verba] ‗minta dijelekkan‘

(2) /me’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/me’ibala/ [verba] ‗menyuruh pagar‘

135

(3) /me’i- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/me’ibilohu/ [verba] ‗memperlihatkan diri‘

(4) /le’i- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/le’ituango/ [verba] ‗telah minta diisi‘

(5) /le’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/le’ipiyohu/ [verba] ‗telah minta dibujuk‘

(6) /le’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/le’ipo’opiyohu/ [verba] ‗telah minta diperbaiki‘

(7) /le’i- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/le’ipo’odamango/ [verba] ‗telah minta dibesarkan‘

(8) /pe’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/pe’ipiyohu/ [verba] ‗minta diperbaiki‘

(9) /pe’i- + [damango] [nomina] ‗besar‘

/pe’ipo’odamango/ [verba] ‗minta dibesarkan‘

(10) /pe’i- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘ (11) /pe’i-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘ (12) /pe’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘ (13) /pile’i- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/pe’ipate/ [verba] ‗dibunuh‘ /pe’ipo’oleeto/ [verba] ‗dijelekkan‘ /pe’ibala/ [verba] ‗dipagar‘ /pile’ituango/ [verba] ‗telah minta diisi‘

(14) /pile’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/pile’ipiyohu/ [verba] ‗telah minta diperbaiki‘

(15) /pile’i-+[damango] [nomina] ‗besar‘

/pile’ipo’odamango/ [verba] ‗telah minta dibesarkan‘

136

(16) /pile’i- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/pile’ipate/ [verba] ‗disuruh bunuh‘

(17) /pile’i-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗jelek ‘

/pile’ipo’oleeto/ [verba] ‗dijelekkan‘

(18) /pile’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/pile’ibala/ [verba] ‗dipagari‘

Awalan /mopohu-/, /lopohu-/ termasuk imbuhan yang tidak peroduktif, karena kurang memiliki kesanggupan untuk menghasilkan kata yang digunakan untuk bertutur. Awalan /mopohu-/, /lopohu-/ hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk

nomina

dan

adjektiva,

serta

tidak

mengalami

perubahan/

pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Selain itu, awalan /mopohu-/, /lopohu-/ mengandung makna selalu. Misalnya: (1) /mopohu- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/mopohuaala/ [verba] ‗ banyak kali makan‘

(2) /mopohu- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/mopohutuanga/ [verba] ‗banyak kali makan‘

(3) /mopohu-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/mopohupiyohe/ [verba] ‗selalu diperbaiki‘

(4) /lopohu- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/lopohuaala/ [verba] ‗ telah banyak kali makan‘

(5) (2) /lopohu- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/lopohutuanga/ [verba] ‗telah banyak kali makan‘

(6) (3) /lopohu-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/lopohupiyohe/ [verba] ‗telah selalu diperbaiki‘

137

Awalan /me-/ berkaitan dengan kala akan, dan awalan /le-/ berkaitan dengan kala lampau. Awalan /me-/,/le-/ dapat disepadankan dengan awalan /ter-/ dalam bahasa Indonesia atau tidak sengaja dilakukan. Awalan /me-/ dan /le-/ hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, juga tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Berikut contohnya: (1) /me- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/mebilohu/ [verba] ‗terpandang‘

(2) /me- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘

/metontongo/ [verba] ‗terpesona‘

(3) /le-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/lebala/ [verba] ‗telah terpagar‘

(4) /le- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/lebilohu/ [verba] ‗telah terpandang‘

(5) /le- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘

/letontongo/ [verba] ‗telah terpesona‘

(6) /le- + [tuluhu]/ [verba] ‗tidur‘

/letuluhu/ [verba] ‗telah tertidur‘

Awalan /mongo-/ termasuk awalan yang kurang produktif karena morfem yang dapat dilekatkannya hanya morfem yang menyatakan jamak. Awalan /mongo-/ hanya dapat membentuk nomina, tetapi tidak dapat membentuk verba dan adjektiva, juga tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Misalnya: (1) /mongo-+ [bua]/ [nomina] ‗perempuan‘

/mongobua/ [nomina] ‗perempuanperempuan‘

(2) /mongo-+ [talla’i]/ [nomina] ‗laki‘

/mongolola’i/ [nomina] ‗laki-laki‘

(3) /mongo-+ [panggola]/ [nomina] ‗tua‘

/mongopanggola’i/ [nomina] ‗para kakek-nenek‘

138

Awalan /motolo-/, /lotolo/ bermakna sesuatu pekerjaan dilakukan berkali-kali. Kadang-kadang awalan ini dikombinasikan dengan akhiran /wa-/ dan /a-/ pada kata-kata tertentu. Kata kerja yang dapat dilekati awalan /motolo-/, /lotolo-/ hanya kata kerja yang dapat berubah kelas katanya atau bertransposisi. Oleh sebab itu, awalan /motolo-/, /lotolo-/ hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /motolo-/, /lotolo-/ mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan tidak mengalami penambahan fonem, tetapi pengkombinasian akhiran /wa-/ dan /a-/ seperti terlihat di nomor: [2], [4], dan [5]. Perubahan/ pergantian/peluluhan, yang dimaksud adalah fonem /o/ berubah menjadi /a/ atau fonem /u/ menjadi /e/, seperti terlihat di nomor: [1], [3], [6], [8], dan [9]. Misalnya: (1) /motolo-+ [hiyongo]/ [adjektiva] ‗baik‘

/motolohiyonga/ [verba] ‗selalu menangis‘

(2) /motolo-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘

/motolobisalawa/ [verba] ‗banyak kata‘

(3) /lotolo-+ [hiyongo]/ [adjektiva] ‗baik‘

/lotolohiyonga/ [verba] ‗telah banyak menangis‘

(4) /lotolo-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘

/lotolobisalawa/ [verba] ‗telah banyak bicara‘

(5) /lotolo-+ [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/lotolopatea/ [verba] ‗telah banyak membunuh‘

(6) /lotolo-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/lotololeeta/ [verba] ‗telah menjelekjelekan‘

139

(7) /lotolo-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/lotolobalawa/ [verba] ‗telah banyak kali membuat pagar‘

(8) /lotolo- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/lotolobilohe/ [verba] ‗telah banyak kali menengok‘

(9) /lotolo- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘

/lotolotontonga/ [verba] ‗telah banyak kali terpesona‘

Awalan /ngo-/ hanya dapat dilekatkan pada morfem dasar yang berupa kata benda dan kata bantu bilangan. Awalan /ngo-/ dapat dipadankan dengan awalan /se-/ dalam bahasa Indonesia yang bermakna satu. Awalan /ngo-/ dapat digabungkan dengan awalan /po-/ yang menjadi /ngopo-/ yang bermakna sekali dan sesuai. Awalan /ngo-/ tidak dapat membentuk adjektiva, tetapi dapat membentuk verba dan nomina. Awalan /ngo-/ tidak mengalami penambahan atau penggabungan awalan (ngo- dan po-) seperti pada nomor [2], [3], [4] dan [7], tetapi perubahan fonem /o/ menjadi fonem /a/ di akhir kata seperti terlihat di nomor: [2]. Lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh di bawah ini. (1) /ngo- + [bangga]/ [nomina] ‗bangku‘

/ngobangga/ [verba] ‗satu bangku‘

(2) /ngo- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘

/ngopohulo’a/ [verba] ‗satu tempat duduk‘

(3) /ngo- + [bilohu]/ [verba] ‗lihat‘

/ngopobilohu/ [verba] ‗satu pandangan‘

(4) /ngo- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/ngopoaala/ [verba] ‗makan bersama‘

(5) /ngo- + [kaambungu]/ [nomina] ‗kampung‘

/ngokaambungu/ [nomina] ‗satu kampung‘

(6) /ngo- + [meteri]/ [nomina] ‗meteran‘

140

/ngometeri/ [nomina] ‗satu meter‘

(7) /ngo- + [kameja]/ [nomina] ‗kemeja‘

/ngopokameja/ [nomina] ‗cukup

Awalan /o-/ dapat membentuk verba, nomina, dan adjektiva. Awalan /o-/ dalam pembentukan verba mengaalami perubahan yakni perubahan bunyi [o] pada akhir kata dapat berubah menjadi [a] atau menjadi [wa] dan bunyi [u] menjadi [e]; dan dalam pembentukan adjektiva awalan /o-/ diakhiri dengan bunyi /a/, seperti terlihat pada nomor: [1], [3], [4], [5], [6], [7],[8], [9], dan [11] di bawah ini. (1) /o- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘

/obilohe/ [verba] ‗terlihat‘

(2) /o- + [aala]/ [verba] ‗makan‘

/o’aala/ [verba] ‗termakan‘

(3) /o- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘

/otuanga/ [verba] ‗terisi‘

(4) /o-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘

/obisalawa/ [verba] ‗terkatakan‘

(5) /o-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗jahat‘

/oleeta/ [verba] ‗diperlakukan tidak baik‘

(6) /o-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘

/opiyohe/ [verba] ‗diperlakukan dengan baik‘

(7) /o-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘

/obalawa/ [verba] ‗terpagar‘

(8) /o- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘ (9) [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

/otontonga/ [verba] ‗terlihat‘ /opatea/ [adjektiva] ‗kedukaan‘

(10) /o-+ [karaja] / [adjektiva] ‗pesta‘

/okaraja/ [adjektiva] ‗ada pesta‘

(11) /o-+ [iilangi] / [adjektiva] ‗kurang‘

/o’iilangia/ [adjektiva] ‗kekurangan‘

Di samping itu, awalan /o-/ dalam pembentukan nomina tidak mengalami perubahan atau penambahan. Awalan /o-/ bermakna mempunyai atau memiliki.

141

Awalan /tapa-/ termasuk awalan yang tidak produktif. Makna yang muncul akibat melekatnya awalan ini yaitu tidak sengaja berbuat sesuatu dan terjadi tiba-tiba. Awalan /tapa-/ berkaitan dengan kala akan, tetapi apa bila digabungkan dengan sisipan /-il-/ menjadi awalan /tilapa-/ maka akan berkaitan dengan kala lampau. Awalan /tapa-/ tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /polo-/ bermakna musim. Awalan /polo-/ hanya dapat dilekatkan pada kata-kata tertentu dan terbatas. Awalan /polo-/ hanya dapat membentuk adjektiva, dan tidak dapat membentuk verba dan nomina. Awalan /tonggo-/ bermakna bekerja bersama sesuai dengan morfem yang dilekatinya. Jika awalan /tonggo-/ digabungakan dengan sisipan /-il-/ menjadi /tilonggo-/, maka akan bermakna telah bersama-sama mengerjakan sesuatu. Awalan /tonaggo-/ hanya dapat membentuk verba dan tidak dapat pula membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /hinggo-/ bermakna mengerjakan sesuatu dengan beberapa kali. Awalan /hinggo-/ dapat dihubungkan dengan akhiran /-lo/ atau dengan awalan /mo-, lo-, po-,/ yang menjadi /mohinggo,- lohinggo-, pohinggo-,/. Awalan /hinggo-/ hanya dapat membentuk verba dan tidak dapat pula membentuk nomina dan adjektiva. Sisipan terdiri atas 3 buah: /-il-/,/-mi-/, dan /-um-/. Sisipan /-il/- membentuk kata yang menyatakan pasif ‗kala lampau‘. Sisipan /-il-/ ditempatkan di tengah jika kata yang dilekatinya dimulai dengan konsonan, dan ditempatkan di depan apabila kata yang dilekatinya dimulai dengan huruf vokal. Sisipan /-il-/ dapat digunakan secara bersamaan dengan sisipan /-mi-/ dan sisipan /-um-/. Sisipan /-il-/ dan /-um-/dapat membentuk verba dan nomina, tetapi tidak dapat membentuk adjektiva.

142

Akhiran terdiri atas 2 buah: /-wa/ dan /-lo/. Akhiran /-lo/ beranggotakan /-lo/ itu sendiri, /-alo/, /-elo/, dan /-olo/. Perubahan ini tergantung pada vokal akhir morfem dasar yang dilekatinya. Akhiran /-a/ dapat beranggotakan /-a/itu sendiri, /-e/, /-i/, /-aa/, atau /-wa/. Akhiran /-lo/ membentuk kata yang menyatakan pasif. Akhiran /-wa/ dapat membentuk verba, dan nomina, tetapi tidak dapat membentuk adjektiva. Akhiran /-lo/ dapat membentuk verba, nomina, dan adjektiva. Proses reduplikasi dalam bahasa Gorontalo sebgaimana bahasa Indonesia. Bahasa Gorontalo pun mengalami proses morfologis melalui pengulangan kata yang terdiri atas reduplikasi penuh; reduplikasi dengan modifikasi; dan reduplikasi sebagian. Di samping proses reduplikasi, baik perubahan interen, suplisi maupun modifikasi kosong pun ditemukan dalam bahasa Gorontalo.

3. Proses Pembentukan Kalimat Bahasa Gorontalo. Pembentukan kalimat bahasa Gorontalo diproses melalui unsur verba, nomina, dan adjektiva. Pada penelitian ini ditemukan enam tipe pembentukan kaliamt yaitu; Tipe verba dibedakan atas kalimat transitif, kalimat intrasitif, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat dinamis, dan kalimat statis.

Kalimat transitif

yang bersifat monotransitif

seperti kalimat [1], dan diikuti dua objek atau bitransitif seperti kalimat [2]. Selain itu, terdapat verba transitif yang tidak perlu diikuti objek, tetapi sudah dipahami oleh penuturnya dan sudah gramatikal seperti kalimat [3]. Kalimat intransitif seperti kalimat [5], [6], [7] dan [8]. Kalimat aktif seperti kalimat [5], [6], dan [8]. Kalimat pasif seperti kalimat [11]. Kalimat dinamis seperti kalimat [10]. Kalimat statis seperti kalimat [9], lebih jelasnya lihat contoh di bawah ini.

143

(1) waatiya mola motuluhu to Paguyaman ‘saya akan menginap di Paguyaman‘  [KT] (2) bulo’o liyo maamongongoto mololola ila wau taluhu ‘lehernya sakit jika menelan nasi dan air‘  [KT] (3) waatiya motuluhu ‘ saya akan tidur‘ [KT] (4) tipaituwa laatiya hemongilu kopi ’bapak saya sedang minum kopi‘  [KI] & [KA] (5) tipaapa laatiya heemonga buuburu wolo dabu-dabu ‘bapak saya sedang makan bubur dengan sambal‘ [KI] & [KA] (6) tipaituwa laatiya hemongilu kopi ’bapak saya sedang minum kopi‘  [KI] & [KA] (7) tiyo boyito didu mo’oobo ‘dia itu tidak dapat mencium‘  [KI] (8) ti maama maahemotubu to depula ‘ibu sedang memasak di dapur‘  [KI] & [KA] (9) bulonga limongoliyo dadaata ta didu mo’odungohu ‘telinga merekan banyak yang tidak dapat mendengar‘  [KS] (10) tamokulia musti mobalajari to’ootutuwa ‘orang kuliah harus belajar bersungguhsungguh‘  [KD] (11) buuburu ilaa li paapa  [KP]

(12)

Fungsi Bahasa sebagai Medium Sastra. Terdapat fungsi-fungsi bahasa sebagai medium sastra sebagai berikut ini.

(1) Fungsi referensial yang berfokus pada isi tuturan atau makna denotatif

144

(2) Fungsi emotif atau ekspresif yang berfokus pada sikap atau perasaan penutur terhadap isi tuturannya (3) Fungsi konatif berfokus pada mitra tutur dan lazimnya muncul sebagai kalimat perintah (4) Fungsi fatis berfokus pada upaya memlihara keberlangsungan komunikasi antara penutur dan mitra tutur (5) Fungsi metalingual berfokus pada penggunaan bahasa untuk membicarakan bahasa (6) Fungsi puitis berfokus pada bahasa itu sendiri atau menonjolkan bentuk bahasa demi dampak estetis. (7) Fungsi pendidikan yang bersifat mengajak kepada hal yang baik. (8) Fungsi pengarah atau petunjuk berupa kata-kata yang bermakna nasihat.

145

BAB VI SIMPULAN, IMPLIKASI, & SARAN

A. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan permasalahan dalam penelitian ini dapat ditarik suatu simpulan bahwa bahasa dan sastra daerah Gorontalo pada masyarakat Gorontalo masih tetap dipertahankan dan digunakan oleh masyarakat Gorontalo. Hal ini telah dibuktikan dalam penelitian ini, bahwa kata dan kalimat masih tetap digunakan oleh masyarakat Gorontalo di saat mereka berinteraksi antara satu dengan lainnya baik dalam suasana duka maupun suka. Di dalam bahasa Gorontalo ditemukan afiksasi atau imbuhan dan bentuk-bentuk kalimat yaitu bentuk kalimat aktif, bentuk kalimat pasif, bentuk kalimat transitif, bentuk kalimat intransitif, bentuk kalimat dinamis, dan bentuk kalimat statis. Di samping itu, fungsi bahasa Gorontalo yang terdapat dalam sastra khususnya tinilo yaitu fungsi referensial; fungsi emotif atau ekspresif; fungsi konatif; fungsi fatis; fungsi metalingual; fungsi puitis; fungsi pendidikan; dan fungsi pengarah atau petunjuk berupa kata-kata yang bermakna nasihat.

B. IMPLIKASI PENELITIAN

Jika dicermati simpulan penelitian ini mempunyai implikasi pada masyarakat Gorontalo agar lebih memperkuat serta mempertahankan bahasa dan sastra daerahnya sendiri sebagai identitasnya, karena sesungguhnya bahasa dan sastra Gorontalo adalah bahasa

yang

digunakan

oleh

penuturnya

146

dan

bahasa

yang

terbuka

untuk

pengembangnnya. Seperti hasil penelitian pada tahap pertama dinyatakan bahwa bahasa dan sastra Gorontalo memiliki nilai-nilai karakter yang dapat dijadikan pedoman dan petunjuk baik bagi seorang pejabat, anak-anak, pemuda atau remaja, maupun masyarakat Gorontalo pada umumnya. Hasil penelitian ini berimplikasi positif untuk memperkuat sikap penerimaan masyarakat Gorontalo terhadap kehadiran bahasa dan sastra Gorontalo sebagai jati diri atau identitas suku Gorontalo. Selain itu hasil penelitian ini memberikan andil demi terwujudnya dan terlestarinya adat budaya Gorontalo.

C. SARAN Penelitian ini mengkaji gramatikal atau kaidah bahasa dan sastra dengan menggunakan pendekatan struktural demi mewujudkan terciptanya gramatikal bahasa dan sastra Gorontalo. Oleh sebab itu disarankan pada penelitian selanjutnya dapat mengkaji antara lain kedudukan kata dan kalimat bahasa Gorontalo yang ditinjau dari hal-hal lainnya yang belum terkaver dalam penelitian ini. Bahkan kalau perlu sampai pada penerbitan kamus versi baru untuk bahasa dan sastra Gorontalo.

147

DAFTAR PUSTAKA Ar.Umar, Fatma. 2010. Wacana Tuja’i Pada Prosesi Adat Perkawinan Masyarakat Suwawa Provinsi Gorontalo (disertasi). Universitas Negeri Malang Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta. Rineka Cipta de Saussure, Ferdinand. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press Djajasudarma, T.Fatimah. 2010. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung. IKAPI Djou, Dakia. 2012. Penggunaan Bahasa dalam Upacara Pernikahan Menurut Etnik Gorontalo (disertasi). Universitas Sam Ratulangi Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Epistimologi, Model, Teori, dan Aplikasi (Edisi Revisi). Yogyakarta. MedPress Faruk. 2012. Metode Penelitian Sastra Sebuah Penjelajahan. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Kadarisman, A. Effendi. 2009. Mengurai Bahasa Menyibak Budaya. Malang. IKIP Malang Kurzweil, Edith. 2010. Jarring Kuasa Strukturalisme. Jakarta. Kreasi wacana Moleong, Lexy. J. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Rosdakarya Pateda, Mansur. 1997. Kaidah Bahasa Gorontalo. Gorontalo. Viladan ____________. 1977. Kamus Gorontalo-Indonesia. Gorontalo. Viladan ____________. 1991. Kamus Indonesia-Gorontalo. Gorontalo. Viladan ____________. 1984. Kaidah Bahasa Gorontalo. revisi ulang (1999). Gorontalo. Viladan ____________. 1996. Risalah Bahasa Gorontalo. . Gorontalo. Viladan ____________. 1999. Buku Pelajaran Bahasa Gorontalo untuk Kelas Satu sampai Kelas Enam. Gorontalo. Viladan ____________. 2003. Peribahasa Gorontalo. Gorontalo. Viladan ____________. 2009. Penerbitan Perda Provinsi Gorontalo tentang Bahasa dan Sastra Daerah Gorontalo Serta Ejaannya. Gorontalo. Viladan ___________. 2009. Tata Bahasa Sederhana Bahasa Gorontalo. Gorontalo.Viladan

148

Robins. R.H. Linguistik Umum Sebuah Pengantar. Yogyakarta. Kanisius Samarin, William J. 1988. Ilmu Bahasa Lapangan. Yogyakarta. Kanisius Samsuri. 1981. Analisis Bahasa. Jakarta. Erlangga Sugiyono. 2009. Metode Pnelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung. Alfabeta ___________ 1997. Metode Etnografi. Yogyakarta. PT Tiara Wacana Yogya Tuloi, Nani. 1982 Fungsi Sastra Lisan Gorontalo. Gorontalo. Nurul Jannah _________. 1985 Inverntarisasi Ungkapan Tradisional Daerah dalam Bahasa Gorontalo. Gorontalo. NurulJannah __________. 1990. Tanggomo Salah Satu Ragam Lisan Gorontalo. Jakarta: Intermasa Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press Widada, Rh. 2009. Saussure untuk Sastra, Sebuah Metode Kritik Sastra Struktural. Bandung. Jalasutra

149

LAMPIRAN ARTIKEL: Sudah Dikirim Ke Jurnal Humaniora Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gajah Mada (UGM). CATATAN: Dari segi isi artikel ini, sudah mendapat tanggapan positif dari pengelola

jurnal

humaniora.

Perbaikan

selanjutnya

adalah

menyesuaikan dengan selingkung jurnal humaniora.

JUDUL: PEMBENTUKAN KATA BAHASA GORONTALO Abstract This paper outlines the process of affixation in the formation of Gorontalo language. Affixation in the formation of Gorontalo language there are 34 prefix 3 infix, and 2 suffix. Formation of Gorontalo language through the process of affixation can be classified on the formation of the paradigm of verbs, nouns, and adjectives that are derivative. In Gorontalo language there are four establishment of this derivation are: (a) the derived noun to verb nominal origin, and the result became a verb called denominal verbs; (b) derived adjectives to verbs adjektival origin, and the results verbadeadjektival (c) verbs to verbs derived verbal origin called 'verbadeverbal; and (d) the verb-derived nouns to the verbal origin called 'nominadeverbal'. Affixation processes in the formation of Gorontalo language there are different forms of the word with the addition of a bound form on the roots of the changes in form and meaning. Among others: the prefix (prefix) / mo- / there is a change / turn / pulverization phoneme / t / to / l /; / b / to / m /; / p / becomes / m / and / il / be / m /; additional phoneme / ti, and / hin /. When examined prefix / mo- / have allomorph: / mot- /, / mom- /, / mol- /, and / moh- /; and the prefix (prefix) / o- / change the sound [o] by the end of the word can be turned into [a] or to [wa] and a [u] to [e]; and in the formation of adjectives prefix / o- / ends with the sound / Keywords: the formation, affixation, Gorontalo language

Abstrak Tulisan ini menguraikan proses afiksasi dalam pembentukan bahasa Gorontalo. Afiksasi dalam pembentukan bahasa Gorontalo terdapat 34 buah awalan (prefiks), 3 buah sisipan

150

(infiks), dan 2 buah akhiran (sufiks). Pembentukan bahasa Gorontalo melalui proses afiksasi dapat digolongkan pada pembentukan dari paradigma verba, nomina, dan adjektiva yang bersifat derivatif. Pada bahasa Gorontalo terdapat empat pembentukan derivasi ini yaitu: (a) nomina yang diturunkan ke verba asalnya nominal, dan hasilnya menjadi verba disebut verba denominal; (b) adjektiva yang diturunkan ke verba asalnya adjektival, dan hasilnya verbadeadjektival (c) verba yang diturunkan ke verba asalnya verbal yang disebut ‗verbadeverbal; dan (d) verba yang diturunkan ke nomina asalnya verbal yang disebut ‗nominadeverbal‘. Proses afiksasi dalam pembentukan bahasa Gorontalo terdapat perbedaan bentuk kata dengan penambahan bentuk terikat pada akar yang dapat menyebabkan perubahan bentuk dan makna. Antara lain: pada awalan (prefiks) /mo-/ terdapat perubahan/ pergantian/ peluluhan fonem /t/ menjadi /l/; /b/ menjadi /m/; /p/ menjadi /m/ dan /il/ menjadi /m/; penambahan fonem /ti, dan /hin/. Jika dicermati awalan /mo-/ memiliki alomorf: /mot-/, /mom-/, /mol-/, dan /moh-/; dan pada awalan (prefiks) /o-/ perubahan bunyi [o] pada akhir kata dapat berubah menjadi [a] atau menjadi [wa] dan bunyi [u] menjadi [e]; dan dalam pembentukan adjektiva awalan /o-/ diakhiri dengan bunyi / Kata Kunci: Pembentukan, Afiksasi, Bahasa Gorontalo. PENGANTAR Bahasa daerah di Indonesia jumlahnya sangat banyak karena setiap suku bangsa memiliki bahasa daerah yang sampai saat ini masih dipertahankan keberadaannya. Bahasa daerah

merupakan alat komunikasi dalam lingkungan keluarga dan

masyarakatnya. Selain itu, bahasa daerah

digunakan sebagai sarana ekspresi dalam

bidang kebudayaan dan kesenian. Walaupun dalam tradisi dan intensitasnya tidak sama, terdapat sebagian bahasa daerah yang sudah sejak lama telah mengenal tradisi tulisan misalnya, bahasa Jawa, Sunda, Minagkabau, dan juga Bugis dan sebagian lagi terdapat bahasa daerah yang baru akan mengenal tradisi tulisan, antara lain bahasa daerah Gorontalo. Di

Indonesia ini masih terdapat penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa

pengantar pada pendidikan dasar karena bahasa Indonesia belum dipahami oleh siswa, seperti di sekolah- sekolah terpencil, dan di sekolah-sekolah yang diperkotaan bahasa daerah digunakan sebagai mata pelajaran muatan lokal. Jika dicermati hal ini, mengisyaratkan bahwa bahasa daerah memainkan peran yang amat menentukan sebagai sarana komunikasi dan sarana ekspresi seni dan budaya di kalangan kelompok masyarakat penggunanya. Bahasa daerah pada dasarnya ditentukan oleh ketepatan serta kejelasan kaidah yang mengatur penggunaan bahasa daerah itu sendiri, serta kelengkapan

151

perbendaharaan kata dan peristilahannya.

Khusus gramatikal (struktur) bahasa

Gorontalo, memang telah dilakukan penelitiannya oleh Pateda (2009), tetapi masih dirasa perlu diadakan kelegkapannya atau kesempurnaannya. Oleh sebab itu, perlu lanjutan pembahasana gramatikal bahasa Gorontalo. Penelitian ini membahas gramatikal bahasa Gorontalo khusus pembentukan katanya yang ditinjau dari segi imbuhan atau afiksasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode linguistik lapangan yang mengacu pada teori Samarin (1998). Teori linguistik lapangan merupakan suatu cara untuk memperoleh data dan mempelajari fenomena-fenomena linguistik. Bidang ini meliputi dua peserta: penutur suatu bahasa dan peneliti bahasa itu sendiri. Penelitian yang paling tepat dan langsung adalah melalui hubungan pribadi. Penutur bahasa adalah informan yang menjadi sumber informasi bahasa melalui tuturan. Oleh sebab itu data penelitian ini merupakan data yang diperoleh melalui tuturan dari penutur asli bahasa Gorontalo. Menurut Hockett (dalam Samarin, 1998: 15) pendekatan studi bahasa seperti ini dinamakan metode informan dan dapat juga disebut metode kontak. Teori yang akan dijadikan dasar untuk menganalisis penelitian ini adalah teori struktural kebahasaan.

PROSES PEMBENTUKAN KATA Proses pembentukan kata disebut juga dengan proses morfologis yakni cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Kata merupakan bentuk minimal yang bebas. Bentuk bebas adalah bentuk yang dapat diucapkan tersendiri, bentuk bebas itu bisa dikatakan, bisa didahului dan diikuti oleh jeda yang potensial. Di samping itu, bentuk bebas yang dimaksud akan mendapat pola intonasi dasar /[2] 3 1). Misalnya bentuk-bentuk /apa/, / mana/, /sukar/ mendapat kontur intonasi /3 1/; bentuk /keras/, /beras/, /deras/, /kera/, /dera/ mendapat kontur intonasi /231/, dan lain sebagainya. Jadi proses pembentukan kata atau proses morfologis ialah proses penggabungan morfem-morfem menjadi kata. Morfem adalah bentuk terkecil dan kata adalah bentuk yang terbesar (Samsuri,1981: 190). Menurut Samsuri (1981: 191-193), bahwa proses pembentukan kata atau proses morfologis tersebut dapat melalui afiksasi, reduplikasi, perubahan interen, suplisi, dan modifikasi kosong. Afiksasi adalah penggabungan akar atau pokok dengan afiks. Afiks

152

terdiri atas awalan (prefiks), sisipan (infiks), dan akhiran (sufiks). Robins (1992: 245) mengatakan bahwa, afiks adalah istilah umum yang berguna untuk mengacu kepada morfem formatif yang muncul berulang dalam kata dan yang bukan berupa akar. Reduplikasi adalah proses morfologis melalui pengulangan kata. Reduplikasi terdiri atas: reduplikasi penuh, reduplikasi dengan modifikasi, dan reduplikasi sebagian. Perubahan interen adalah proses morfologis yang menyebabkan perubahan-perubahan bentuk morfem-morfem, karena perubahan-perubahannya terdapat di dalam morfem-morfem itu sendiri. Suplisi adalah proses morfologis yang menyebabkan adanya bentuk yang baru. Modifikasi kosong adalah proses morfologis yang tidak menimbulkan perubahan pada bentuknya, tetapi konsepnya yang berubah. Selain itu, dalam pembentukan kata dikenal adanya konstruksi morfologis merupakan bentukan

kata dari morfem tunggal dan

gabungan antara morfem yang satu dengan morfem yang lain. Bentukan morfem tunggal ini disebut konstruksi sederhana. Bentukan kata yang merupakan gabungan antara morfem yang satu dengan morfem yang lain disebut konstruksi rumit. Konstruksi sederhana terdiri atas kata-kata yang merupakan morfem tunggal atau akar kata dan konstruksi yang terdiri atas morfem-morfem tunggal tetapi pada umumnya berwujud kecil, secara morfologis dapat berdiri-sendiri, tetapi secara fonologis biasanya mendahului atau mengikuti morfem-morfem lain yang disebut klitik. Jika morfemmorfem tersebut, mendahului kata-kata lain disebut proklitik, dan jika mengikuti katakata tersebut disebut enklitik. Konstruksi rumit adalah hasil proses penggabungan antara dua morfem atau lebih. Bentukan dalam antara morfem dan afiks, seperti

bahasa Indonesia

ber + juang,

ter+tawa,

bisa berupa gabungan atau bentukan berupa

gabungan antara akar dan afiks, seperti gula + i, ke + hujan + an; atau bentukan berupa gabungan antara pokok dan pokok, seperti gelak + tawa, atau bentukan berupa gabungan antara pokok dan akar, seperti daya +juang, atau bentukan yang berupa gabungan akar dan akar, seperti meja + makan. Adanya lapisan-lapisan konstruksi tersebut, terdapat perbedaan

infleksi dan derivasi. Infleksi adalah perubahan morfemis dengan

mempertahankan identitas leksikal dari kata yang bersangkutan dan derivasi adalah perubahan morfemis yang menghasilkan kata dengan identitas morfemis yang lain. Misalnya, dalam bahasa Inggris friend dan friends adalah leksem yang sama, dan friend dan befriend merupakan leksem-leksem yang berbeda. Verba to befriend adalah hasil

153

derivasi dari nomina friend, dan bukan hasil infleksi, karena kedua kata itu tidak sama kelasnya yaitu verba dan nomina. Jikalau dua kata dengan dasar yang sama termasuk kelas kata yang sama tetapi berbeda maknanya dan kedua kata itu juga berbeda secara leksikal, maka disebut infleksi. Mislanya, dalam bahasa Inggris; friend dan friendship atau dalam bahasa Indonesia pengajar dan pengajaran yang sama-sama kelas katanya dan dasarnya (Verhaar, 1980: 170). Di samping itu pula, terdapat pemajemukan. Majemuk ialah konstruksi yang terdiri atas dua morfem atau dua kata atau lebih. Konstruksi majemuk ini berupa akar + akar, atau akar + pokok (pokok + akar) yang bermakna. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat konstruksi: 1) [sabun mandi, rumah sakit, kaki tangan ]; 2) [orang mandi, anak sakit, kaki meja]. Konstruksi pada deretan (1) tidak dapat disisipkan morfem yang lain, oleh sebab itu disebut majemuk dan konstruksi pada deretan (2) dapat disisipkan morfem yang lain disebut frasa. Pada konstruksi majemuk dan konstruksi frasa dapat dibedakan mana yang disebut endosentrik dan mana eksosentrik. Suatu bentukan disebut endosentrik, apabila konstruksi distribusiya sama dengan kedua, ketiga, atau salah satu unsur-unsurnya. Suatu bentukan disebut eksosentrik, apabila konstruksi itu berlainan distribusinya dari salah satu unsur-unsurnya. Misalnya, bentukan anak malas dan si kaya. Bentukan anak malas adalah bentukan endosntrik dan bentukan si kaya disebut eksosentrik. Pembentukan kata bahasa Indonesia menurut A.Teeuw (dalam Alieva et al. 1991: 114) melalui pengklasifikasian kata yang dibuat pada dua tingkat. Pertama yang diklasifikasi adalah kata akar, kemudian yang kedua adalah menurut analogi dengan tingkat pertama diklasifikasi kata turunan. Ada dua jenis ciri-ciri gramatikal pada kata akar: (1) daya rangkai kata (‖akar kata‖ ) yang secara lahiriah sama dengan imbuhan gramatikal yaitu keseluruhan bentuk yang diturunkan dari akar kata dan tidak dibedakan derivasi dan infleksi; (2) daya rangkai kata dengan kata lain dalam kalimat dengan memperhatikan tipe hubungan yang terjadi atau disebut valensi.

BENTUK KATA BAHASA GORONTALO Kata-kata dalam bahasa Gorontalo seperti pula kata-kata dalam bahasa lainnya bisa dibentuk melalui proses morfologis. Proses morfologis yang dimaksud adalah kata dalam bahasa Gorontalo mengalami pula proses afiksasi, proses reduplikasi, proses

154

perubahan interen, proses suplisi, dan juga proses modiikasi kosong. Tetapi dalam artikel ini hanya menyoroti proses afiksasi dalam bahasa Gorontalo. Pada penelitian ini ditemukan proses afiksasi dalam pembentukan kata bahasa Gorontalo terdiri atas awalan, sisipan, dan akhiran. Awalan (prefiks) terdiri atas 34 buah; sisipan (infiks) terdiri atas 3 buah; dan akhiran (sufiks) terdiri atas 3 buah. Awalan : /mo-/; /lo-/; /po-/; /mohi-/; lohi-/; /pohi-/; /mopo-/; /lopo-/; /popo-/; /mo’o-/; /lo’o/; /po’o/; /moti/; /motiti-/; /loti/; /lotiti-/; /poti/; /potiti-/; /me’i-/; /le’i-/; /pe’i-/;/pile’i/; /mopohu-/; /lopohu-/; /me-/; /le-/; /mongo-/; /motolo-/; /lotolo-/; /ngo-/; /o-/; /tapa-/; /tonggo-/; dan /hinggo-/. Dalam Pateda, dan Pulubuhu (1997; 2009) disebutkan bahwa awalan (prefiks) hanya sejumlah 23 buah; sisipan (infiks) terdiri atas 1 buah; dan akhiran (sufiks) terdiri atas 2 buah. Awalan (prefiks) /mo-/ Awalan /mo-/ dapat dilekatkan pada morfem dasar verba; nomina; dan adjektiva yang dapat bermakna sebagai mengerjakan sesuatu; membuat sesuatu; menghasilkan sesuatu; memberi atau memasang sesuatu; mengadakan usaha; dan mencari atau memperoleh sesuatu. Selain itu, dapat membentuk kata kerja (verba) dan kata sifat (adjektiva), baik perubahan dari kata benda (nomina) maupun kata sifat (adjektiva) menjadi kata kerja (verba). Kata-kata tersebut, ketika dilekatkan awalan /mo-/ dapat berubah menjadi kata kerja (verba) dan menjadi kata sifat (adjektiva). Pada penelitian ini tidak ditemukan awalan /mo-/ dapat membentuk kata benda (nomina). Dalam pembentukan kata dengan awalan /mo-/ terjadi perubahan, penambahan, dan pergantian fonem. Dapat dilihat dalam contoh berikut ini. 

(1)

/mo- + [pito’o]/ [adjektiva] ‗buta‘

(2)

/mo- + [tuango]/ [nomina]

(3)

/mo- + [buntungo]/ [nomina] ‗tangan dikepal‘ 



‗isi‘

/motipito’o/ [verba] ‗menutup mata‘ /moluango/ [verba] ‗mengisi‘ /momuntungo/ [verba] ‗meninju‘

(4)

/mo- + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘ 

(5)

/mo- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘ /momangimba/ [verba] ‗bertani‘

(6)

/mo- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘  /momeengi/ [verba] ‗berkebun‘

(7)

/mo- + [taluhu]/ [nomina] ‗air‘



/momitilo/ [verba] ‗memijit‘

/mohintaluhu/ [adjektiva] ‗berair‘

155

Perubahan/ pergantian/peluluhan fonem /t/ menjadi /l/; /b/ menjadi /m/; /p/ menjadi /m/ dan /il/ menjadi /m/ pada kata nomor [2], [3], [4], [5],[6]. Penambahan fonem /ti/ pada kata nomor [1] dan /hin/ pada kata nomor [7]. Jika dicermati awalan /mo-/ memiliki alomorf: /mot-/, /mom-/, /mol-/, dan /moh-/ {[1),[2], [3], dan [7]}. Dalam proses pembentukan kata melalui prefiks ini terdapat derivasi menurut kelas kata yang menghasilkan verba denominal ([2]-[7]) dan verba deadjektival ([1].

Awalan (prefiks) /lo-/ Awalan /lo-/ dapat pula dilekatkan pada morfem dasar nomina, verba, dan adjektiva. Awalan /lo-/ berkaitan dengan sesuatu pekerjaan yang telah terjadi atau past tense yang menunjukkan pekrjaan telah selesai. Awalan /lo-/ seperti awalan mo-/ tidak dapat membentuk nomina. Tetapi dapat membentuk verba dan adjektiva. Gejala yang terjadi pada awalan /lo-/ sama seperti yang terjadi pada awalan /mo-/ Misalnya: (1)

/lo- + [minggulo]/ [nomina] ‗mata besar‘  /lomminggulo/ [verba] ‗melototkan mata‘

(2)

/lo- + [tontongo]/ [nomina] ‗tatapan‘  /lolontongo/ [verba] ‗telah menatap‘

(3)

/lo- + [bilohu]/ [nomina] ‗penglihatan‘  /lomilohu/ [verba] ‗telah melihat‘

(4)

lo- + [untapo]/ [nomina] ‗pengganjal bibir‘ 

/lohuntapo/ [verba] ‗telah mengunyak‘

(5)

lo- + [peengito]/ [nomina] ‗suapan‘  /lomeengito/ [verba] ‗telah menyuap‘

(6)

/lo- + [buntungo]/ [nomina] ‗kepalan tangan‘  /lomuntungo/ [verba] ‗telah meninju‘

(7)

/lo- + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘  /lolepa/ [verba] ‗telah menendang‘

(8)

/lo- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘  /lomangimba/ [verba] ‗telah bertani‘

(9)

/lo- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘  /lomeengi/ [verba] ‗telah berkebun‘

(10) /lo- +[ wopa]/ [nomina] ‗rendah‘  /loopa/ [adjektiva] ‗telah rendah‘ (11) /lo- + [damango]/ [nomina] ‗besar‘  /lo’idamango/ [adjektiva] ‗telah besar‘ (12) /lo- + [taluhu]/ [nomina] ‗air‘  /lohintaluhu/ [adjektiva] ‗telah berair‘ (13) /lo- + [dembingo]/ [nomina] ‗lekat‘  /lodudembinga/ [adjektiva] ‗telah saling melekat‘

156

Perubahan/ pergantian/peluluhan fonem /t/ menjadi /l/; /b/ menjadi /m/; /p/ menjadi /m/ dan /il/ menjadi /m/ terdapat pada kata nomor: [2], [3], [4], [5], [7], [8], [9], [10], [11]. [12], [13], dan [14]. Penambahan fonem /m/, /o/, /i/, /hin/, /to/, dan /du/ terdapat pada kata nomor: [1], [15], [16], dan [17],. Selain itu, awalan /lo-/ tidak dapat membentuk nomina. Jadi alomorf dari awalan /lo-/ adalah /lol-/ dan /lom-/,/loo-/, /lo’i-/, /lohin-/, /loto-/, dan /lodu-/: {[1], [2], dan [13]. Proses derivasi yang terdapat pada prefiks /lo-/ ini sama dengan yang terjadi pada prefiks /mo-/.

Awalan (prefiks) /po-/ Awalan /po-/ memiliki fungsi gramatikal yang berhubungan dengan manusia: (1) sebagai pembentuk kata yang menyatakan perintah ‗imperatif‘; (2) sebagai pembentuk kata yang menyatakan alat ‗instrumen‘. Misalnya: (1)

/po- + [minggulo]/ [nomina] ‗mata besar‘  /pomminggulo/ [verba] ‗melototkan mata‘

(2)

/po- + [pangimba]/ [nomina] ‗sawah‘  /pomangimba/ [verba] ‗bertani‘

(3)

/po- + [ileengi]/ [nomina] ‗kebun‘ 

(4)

/po- + [tontongo]/ [nomina] ‗tatapan‘  /polontongo/ [nomina] ‗alat menatap‘

(5)

/po- + [bilohu]/ [nomina] ‗penglihatan‘  /pomilohu/ [nomina] ‗alat melihat‘

(6)

/po- + [tilo’o]/ [nomina] ‗lirikan‘  /polilo’o/ [nomina] ‗alat melirik‘

(7)

/po- + [diilo]/ [nomina] ‗ciuman‘  /po’odiila/ [nomina] ‗alat mencium‘

(8)

/po- + [rijiki]/ [nomina] ‗makanan‘  porijiki/ [nomina] ‗makanan‘

(9)

/po- + [untapo]/ [nomina] ‗pengganjal bibir‘  /pohuntapo/ [nomina] ‗pengunyak‘

/pomeengi/ [verba] ‗berkebun‘

(10) /po- + [taluhu]/ [nomina] ‗air‘  /pohintahulu/ [nomina] ‗alat mencuci‘ (11) /po- + [buntungo]/ [nomina] ‗kepalan tangan‘ /pomuntungo/ [nomina] ‗peninju‘ (12) /po- + [pitilo]/ [nomina] ‗pijatan‘  /pomitilo/ [nominaa] ‗alat pijat‘ (13) /po- + [tepa]/ [nomina] ‗tendangan‘ /polepa/ [nomina] ‗kaki‘ Perubahan/ pergantian/peluluhan fonem /t/ menjadi /l/; /b/ menjadi /m/; dan /p/ menjadi /m/, dan /il/ menjadi /m/ terdapat pada kata nomor: [1], [2], [3], [4], [5], [6], [7].[8], [9], [10], [11]. [12], [13]. Penambahan fonem /m/, /o-a/ ,dan, /hin/. Selain itu, awalan /po-/ tidak dapat membentuk adjektiva. Jadi alomorf dari awalan /po-/ adalah /pol-/,/pom-/,/po’o-a/, dan /pohin-/.

157

Awalan (prefiks) /mohi-/, /lohi-/, /pohi-/ Awalan /mohi-/, /lohi-/, /pohi-/ dapat dilekatkan pada morfem dasar nomina yang berkaitan dengan alat perlengkapan diri manusia. Ketiga awalan ini, tidak memiliki alomorf atau variasi awalan. Awalan /mohi-/ berkaitan dengan kala akan. Awalan /mohi/ dapat membentuk verba tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /mohi-/ tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Awalan /lohi-/ berhubungan dengan kala lampau. Awalan /lohi-/ sebagaimana awalan /mohi-/ tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem, juga hanya dapat membentuk verba tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /pohi-/ mengakibatkan munculnya makna perintah. Awalan /pohi-/ pula tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Awalan /pohi-/ dapat membentuk nomina, tetapi tidak dapat membentuk verba dan adjektiva. Berikut contoh yang dikutip dari hasil penelitian:

Awalan (prefiks) /mohi-/ (1) /mohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘  /mohipalipa/ [verba] ‗memakai sarung‘ (2) /mohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘  /mohiu’udu/ [verba] ‗memakai mukena‘ (3) /mohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘

 /mohibate/ [verba] ‗memakai batik‘

(4) /mohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘  /mohikameja/ [verba] ‗memakai kemeja‘ (5) /mohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘  /mohitalala/ [verba] ‗memakai celana‘ Awalan (prefiks) /lohi-/ (6) /lohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘  /lohipalipa/ [verba] ‗telah memakai sarung‘ (7) /lohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

 /lohiu’udu/ [verba] ‗telah memakai mukena‘

(8) /lohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘  /lohibate/ [verba] ‗telah memakai batik‘ (9) /lohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘ 

/lohikameja/ [verba] ‗telah memakai kemeja‘

(10) /lohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘  /lohitalala/ [verba] ‗telah memakai celana‘ Awalan (prefiks) /pohi-/

158

(11) /pohi- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘/pohipalipa/ [nomina] ‗dipakai untuk sarung/selimut‘ (12) /pohi- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘

 /pohiu’udu/ [nomina] ‗dipakai untuk mukena‘

(13) /pohi- + [bate] / [nomina] ‗batik‘



/pohibate/

[nomina]

‗dipakai

untuk

batik/selimut‘ (14) /pohi- + [kameja] / [nomina] ‗kemeja‘

 pohikameja/ [nomina] ‗dipakai untuk kemeja‘

(15) /pohi- + [talala] / [nomina] ‗celana‘

 /pohitalala/ [nomina] ‗dipakai untuk celana‘

Awalan (prefiks) /mopo-/, /lopo-/ Awalan /mopo-/, /lopo-/dapat dilekatakan pada morfem dasar nomina dan adjektiva akan membentuk verba. Awalan /mopo-/, /lopo-/ dilekatkan pada morfem dasar verba membentuk makna melakukan pekerjaan. Awalan /mopo-/, /lopo-/ dilekatkan pada morfem dasar adjektiva akan membentuk makna membuat jadi. Kedua awalan ini tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Oleh sebab itu kedua awalan tersebut, tidak memiliki alomorf dan juga tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /mopo-/ berkaitan dengan kala akan, dan awalan /lopo-/ berkaitan dengan kala lampau. Misalnya: Awalan (prefiks) /mopo-/ (1)

/mopo-+ [bate]/ [nomina] ‗batik‘  /mopobate/ [verba] ‗memakaikan batik‘

(2)

/mopo-+ [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘



/mopopalipa/ [verba] ‗memakaikan sarung‘

(3)

/mopo- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘  /mopou’udu/ [verba] ‗memakaikan mukena‘

Awalan (prefiks) /lopo-/ (4)

/lopo- + [bate]/ [nomina] ‗batik‘  /lopobate/ [verba] ‗telah memakaikan batik‘

(5)

/lopo- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘ 

/lopopalipa/ [verba] ‗telah memakaikan sarung‘

159

(6)

/lopo- + [u’udu] / [nomina] ‗mukena‘  /lopou’udu/ [verba] ‗telah memakaikan mukena‘

Awalan (prefiks) /popo-/ Awalan /popo-/ yang dilekatkan pada morfem dasar nomina dapat membentuk makna perintah. Awalan /popo-/ yang dilekatkan pada morfem verba membentuk makna perintah yang ditujukan kepada orang lain demi kepentingan orang lain itu. Awalan /popo-/ yang dilekatkan pada morfem adjektiva akan membentuk makna membuat sesuatu menjadi sesuatu. Selain itu, awalan /popo-/ tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, tetapi mengalami perubahan makna dan penambahan fonem atau akhiran /-lo/. Misalnya: (1) /popo- + [bate]/ [nomina] ‗batik‘  /popobatealo/ [verba] ‗memakai batik‘ 

(2) /popo- + [palipa]/ [nomina] ‗sarung‘

/popopalipawalo/ [verba] ‗memakai sarung‘

(3) /popo-+ [talala]/ [nomina] ‗celana‘

 /popotalalaalo/ [verba] ‗memakaikan celana‘

(4) /popo- + [totala]/ [nomina] ‗salah‘  /popototalaalo/ [verba] ‗dipersalahkan‘ (5) /popo- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘  /popohulo’olo/ [verba] ‗mendudukkan‘ Awalan (prefiks) /mo’o-/, /lo’o-/ Awalan /mo’o-/ berkaitan dengan kala akan dan awalan /lo’o-/ berkaitan dengan kala lampau. Awalan /mo’o-/ dapat membentuk verba, nomina, dan adjektiva. Awalan /lo’o-/ hanya dapat membentuk verba dan nomina, tetapi tidak dapat membentuk adjektiva. Awalan /mo’o-/ dan /lo’o-/ tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Misalnya: Awalan (prefiks) /mo’o-/, (1) /mo’o- + [biti]/ [adjektiva] ‗lapar‘  /mo’obiti/ [verba] ‗membuat lapar‘ (2) /mo’o- + [biihu]/ [nomina] ‗bibir‘  /mo’obiihu/ [verba] ‗memarahi‘ (3) /mo’o- + [beresi]/ [sifat] ‗bersih‘

 /mo’oberesi/ [verba] ‗membuat bersih‘

(4) /mo’o- + [bo’o]/ [nomina] ‗baju‘  /mo’obo’o/ [nomina] ‗cukup jadi baju‘ (5) /mo’o- + [tota] / [adjektiva] ‗pintar‘  /mo’otota / [nomina] ‗membuat pintar‘ (6) /mo’o- + [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘ merasakan‘

160

 /mo’olamito/ [adjktiva] ‗masih bisa

(7) /mo’o- + [didi]/ [nomina] ‗hujan‘  /mo’odidi/ [adjktiva] ‗membuat hujan‘ Awalan (prefiks) /lo’o-/ (8) /lo’o-+ [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘  /lo’olamito/ [verba] ‗dapat merasakan‘ (9) /lo’o- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /lo’otuango/ [verba] ‗dapat mengisi‘ (10) /lo’o- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /lo’opiyohu/ [nomina] ‗membuat baik‘ (11) /lo’o- + [dingingo] [nomina] ‗dinding /lo’odingingo’/ [nomina] ‗cukup membuat dinding‘ Pada contoh tersebut, awalan /mo’o-/ membentuk verba dapat dilihat di nomor: [1], [2], [3]; membentuk nomina: [4], [5]; membentuk adjektiva: [6], [7]. Awalan /lo’o-/ membentuk verba dapat dilihat di nomor: [8], [9]; dan membentuk nomina di nomor: [10], dan [11]. Awalan (prefiks) /po’o-/ Awalan /po’o-/ yang berkaitan dengan kala akan, dan jika dilekatkan pada morfem dasar adjektiva membentuk makna perintah ‗imperatif. Awalan /po’o-/ untuk mengatakan makna perintah tersebut, terdapat perubahan fonem /-o/ menjadi fonem di akhir kata /-a/ seperti terlihat pada nomor [1], [2], [3], dan [4]. Awalan /po’o/ dapat digabungkan pula awalan /mo-/ menjadi /mopo’o/ dan awalan /lo’o-/ menjadi /lopo’o-/ yang membentuk makna penegasan, seperti terlihat pada nomor [5] dan [6]. Misalnya, (1) /po’o- + [dingingo] [nomina] ‗dinding ‗ 

/po’odinginga’/

[verba] ‗buatlah

dinding‘ (2) /po’o- + [moolingo] / [adjektiva] ‗manis‘  /po’owolinga/ [verba] ‗buatlah manis‘ (3) /po’o-+ [pa’ato]/ [adjektiva] ‗pahit‘  /po’opa’ata/ [verba] ‗buatlah pahit‘ (4) /po’o- + [puti’o]/ [adjektiva] ‗putih‘  /po’oputi’a/ [verba] ‗buatlah putih‘ (5) /mopo’o-+ [taala]/ [verba] ‗jaga‘  /mopo’otaala/ [verba] ‗menjaga dengan baik‘ (6) /po’o- + [beresi]/ [adjektiva] ‗bersih‘  /po’oberesi/ [nomina] ‗telah membuat bersih‘ (7) /po’o-+ [lamito]/ [nomina] ‗rasa‘  /po’olamito/ [nomina] ‗membuat ada rasa‘ Awalan /po’o/ tersebut, dapat membentuk verba dan nomina, tetapi tidak dapat membentuk adjektiva: [1],[2], [3], [4], [7], dan [8]. Awalan (prefiks) /moti-/, /motiti-/, /loti-/, /lotiti- /

161

Awalan /moti-/, /motiti-/ berkaitan dengan kala akan, dan awalan /loti-/, /lotiti-/ berkaitan dengan kala lampau. Awalan ini jika dilekatkan dengan morfem dasar nomina dapat bermakna perumpamaan, menunjukkan sifat benda itu, menunjukkan pekerjaan yang berkaitan dengan anggota badan (refleksif), dan mengarah pada sesuatu sikap dan perbuatan. Baik awalan /moti-/, /motiti-/ maupun /loti-/, /lotiti-/ hanya dapat membenuk verba, dan tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan ini tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Misalnya: Awalan (prefiks) /moti-/ (1) /moti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /motipiyohu/ [verba] ‗memperbaiki diri‘ (2) /moti- + [damango] [nomina] ‗besar‘  /motidamango/ [verba] ‗membesarkan diri‘ (3)

/moti + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘  /motipate/ [verba] ‗mau bunuh diri‘

Awalan (prefiks) /moti-/ (4)

/motiti-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /motitipiyohu/ [verba] ‗akan memperbaiki diri‘

(5)

/motiti + [damango] [nomina] ‗besar‘  /motitidamango/ [verba] ‗akan membesarkan diri‘  /motitipate/ [verba] ‗sungguh-sungguh

(6) /motiti + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘

bunuh diri‘ (7)

/loti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘ 

/lotibangga/ [verba] ‗telah

menyombongkan diri‘ Awalan (prefiks) /loti-/ (8)

/loti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘  /lotihulo’o/ [verba] ‗telah menduduki‘

(9)

/loti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘ 

/lotituango/ [verba] ‗telah memasukkan diri dalam kelompok‘

Awalan (prefiks) /lotiti-/ (10) /lotiti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘  /lotitibangga/ [verba] ‗telah menyombongkan diri‘ (11) /lotiti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘  /lotitihulo’o/ [verba] ‗telah menduduki‘ (12) /lotiti- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /lotitituango/ [verba] ‗telah memasukkan diri‘ Awalan (prefiks) /poti-/ dan /potiti-/

162

Awalan /poti-/ dan /potiti-/ sebagaimana awalan /moti-/ dan /motiti-/ yang berkaitan dengan kala akan. Awalan /poti-/ dan /potiti-/ ketika dilekatkan pada morfem dasar membentuk makna perintah atau imperatif. Awalan /poti-/ dan /potiti-/ hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, serta tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Misalnya: Awalan (prefiks) /poti-/ (13) /poti- + [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘  /potibangga/ [verba] ‗ banggakan diri‘ (14)

/poti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘  /potihulo’o/ [verba] ‗duduklah‘

Awalan (prefiks) /pottii-/ (15)

/potiti-+ [bangga]/ [adjektiva] ‗sombong‘  /potitibangga/ [verba] ‗sombongkan diri‘

(16)

/potiti- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘  /potitihulo’o/ [verba] ‗dudukilah‘

Awalan (prefiks) /mê’i-/, /lê’i-/, /pê’i/ Awalan (prefiks) /mê’i-/ menandakan sesuatu pekerjaan baru akan dilakukan (kala akan), awalan /lê’i-/ menandakan sesuatu pekerjaan sudah dilakukan (kala lampau), dan awalan /pê’i/ berhubungan dengan kala akan dan awalan /pilê’i/ berhubungan dengan kala lampau yang keduanya membentuk kata yang menyatakan pasif. Selain itu, awalanawalan tersebut, hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, serta tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Tetapi terjadi penggabuangan awalan /po’o-/ pada kata-kata tertentu seperti terlihat di nomor [6], [7], [9], [11], [15] dan [17} pada contoh di bawah ini. Awalan (prefiks) /mê’i-/ (1) /mê’-i+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘  /mê’ileeto/ [verba] ‗minta dijelekkan‘ (2) /mê’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /mê’ibala/ [verba] ‗menyuruh pagar‘ (3) /mê’i- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘  /mê’ibilohu/ [verba] ‗memperlihatkan diri‘ Awalan (prefiks) /lê’i-/ (4) /lê’i- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /lê’ituango/ [verba] ‗telah minta diisi‘ (5) /lê’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /lê’ipiyohu/ [verba] ‗telah minta dibujuk‘

163

(6) /lê’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘



/lê’ipo’opiyohu/ [verba] ‗telah minta

diperbaiki‘ (7) /lê’i- + [damango] [nomina] ‗besar‘ 

/lê’ipo’odamango/ [verba] ‗telah minta

dibesarkan‘ Awalan (prefiks) /pê’i/ (8) /pê’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /pê’ipiyohu/ [verba] ‗minta diperbaiki‘ (9) pê’i- + [damango] [nomina] ‗besar‘

 /pê’ipo’odamango/ [verba] ‗minta

dibesarkan‘ (10) /pê’i- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘  /pê’ipate/ [verba] ‗dibunuh‘ (11) /pê’i-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘  /pê’ipo’oleeto/ [verba] ‗dijelekkan‘ (12) /pê’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /pê’ibala/ [verba] ‗dipagar‘ (13) /pilê’i- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /pilê’ituango/ [verba] ‗telah minta diisi‘ (14) /pilê’i- + [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /pilê’ipiyohu/ [verba]

‗telah minta

diperbaiki‘ (15) /pilê’i-+[damango] [nomina]‗besar‘/pilê’ipo’odamango/[verba] ‗telah minta dibesarkan‘ (16) /pilê’i- + [pate] / [adjektiva] ‗mati‘ /pilê’ipate/ [verba] ‗disuruh bunuh‘ (17) /pilê’i-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗jelek ‘  /pilê’ipo’oleeto/ [verba] ‗dijelekkan‘ (18) /pilê’i- + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /pilê’ibala/ [verba] ‗dipagari‘ Awalan (prefiks) /mopohu-/, /lopohu-/ Awalan /mopohu-/, /lopohu-/ termasuk imbuhan yang tidak peroduktif, karena kurang memiliki kesanggupan untuk menghasilkan kata yang digunakan untuk bertutur. Awalan /mopohu-/, /lopohu-/ hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, serta tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Selain itu, awalan /mopohu-/, /lopohu-/ mengandung makna selalu. Misalnya: Awalan (prefiks) /mopohu-/ (1) /mopohu- + [aala]/ [verba] ‗makan‘  /mopohuaala/ [verba] ‗ banyak kali makan‘ (2) /mopohu- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /mopohutuanga/ [verba] ‗banyak kali makan‘ (3) /mopohu-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /mopohupiyohe/ [verba] ‗selalu diperbaiki‘

164

Awalan (prefiks) /lopohu-/ (4) /lopohu- + [aala]/ [verba] ‗makan‘  /lopohuaala/ [verba] ‗ telah banyak kali makan‘ (5) /lopohu- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /lopohutuanga/ [verba] ‗telah banyak kali makan‘ (6) /lopohu-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /lopohupiyohe/ [verba] ‗telah selalu diperbaiki‘ Awalan (prefiks) /mê-/ , /lê-/ Awalan /mê-/ berkaitan dengan kala akan, dan awalan /lê-/ berkaitan dengan kala lampau. Awalan /mê-/,/lê-/ dapat disepadankan dengan awalan /ter-/ dalam bahasa Indonesia atau tidak sengaja dilakukan. Awalan /mê-/ dan /lê-/ hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva, juga tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Berikut contohnya: Awalan (prefiks) /mê-/ (1) /mê- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘  /mêbilohu/ [verba] ‗terpandang‘ (2) /mê- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘  /mêtontongo/ [verba] ‗terpesona‘ Awalan (prefiks) /lê-/ (3) /lê-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /lêbala/ [verba] ‗telah terpagar‘ (4) /lê- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘  /lêbilohu/ [verba] ‗telah terpandang‘ (5) /lê- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘  /letontongo/ [verba] ‗telah terpesona‘ (6) /le- + [tuluhu]/ [verba] ‗tidur‘  /lêtuluhu/ [verba] ‗telah tertidur‘ Awalan (prefiks) /mongo-/ Awalan /mongo-/ termasuk awalan yang kurang produktif karena morfem yang dapat dilekatkannya hanya morfem yang menyatakan jamak. Awalan /mongo-/ hanya dapat membentuk nomina, tetapi tidak dapat membentuk verba dan adjektiva, juga tidak mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan penambahan fonem. Misalnya: (1) /mongo-+ [bua]/ [nomina] ‗perempuan‘ 

/mongobua/ [nomina] ‗perempuanperempuan‘ (2) /mongo-+ [talla’i]/ [nomina] ‗laki‘  /mongolola’i/ [nomina] ‗laki-laki‘ (3) /mongo-+ [panggola]/ [nomina] ‗tua‘  /mongopanggola’i/ [nomina] ‗para kakeknenek‘ Awalan (prefiks) /motolo-/, /lotolo/

165

Awalan /motolo-/, /lotolo/ bermakna sesuatu pekerjaan dilakukan berkali-kali. Kadang-kadang awalan ini dikombinasikan dengan akhiran /wa-/ dan /a-/ pada kata-kata tertentu. Kata kerja yang dapat dilekati awalan /motolo-/, /lotolo-/ hanya kata kerja yang dapat berubah kelas katanya atau bertransposisi. Oleh sebab itu, awalan /motolo-/, /lotolo-/ hanya dapat membentuk verba, tetapi tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /motolo-/, /lotolo-/ mengalami perubahan/ pergantian/peluluhan, dan tidak mengalami penambahan fonem, tetapi pengkombinasian akhiran /wa-/ dan /a-/ seperti terlihat di nomor: [2], [4], dan [5]. Perubahan/ pergantian/peluluhan, yang dimaksud adalah fonem /o/ berubah menjadi /a/ atau fonem /u/ menjadi /e/, seperti terlihat di nomor: [1], [3], [6], [8], dan [9]. Misalnya:

Awalan (prefiks) /motolo-/ (1) /motolo-+ [hiyongo]/ [adjektiva] ‗baik‘  /motolohiyonga/ [verba] ‗selalu menangis‘ (2) /motolo-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘  /motolobisalawa/ [verba] ‗banyak kata‘ Awalan (prefiks) / /lotolo/  /lotolohiyonga/ [verba] ‗telah banyak

(3) /lotolo-+ [hiyongo]/ [adjektiva] ‗baik‘ menangis‘

(4) /lotolo-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘  /lotolobisalawa/ [verba] ‗telah banyak bicara‘  /lotolopatea/ [verba] ‗telah banyak

(5) /lotolo-+ [pate] / [adjektiva] ‗mati‘ membunuh‘ 

(6) /lotolo-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗pahit‘

/lotololeeta/ [verba] ‗telah

menjelek-

jelekan‘ (7) /lotolo-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘ 

/lotolobalawa/ [verba] ‗telah banyak kali

membuat pagar‘ (8) /lotolo- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘  /lotolobilohe/ [verba] ‗telah banyak kali menengok‘ (9) /lotolo- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘  /lotolotontonga/ [verba] ‗telah banyak kali terpesona‘ Awalan (prefiks) /ngo-/ Awalan /ngo-/hanya dapat dilekatkan pada morfem dasar yang berupa kata benda dan kata bantu bilangan. Awalan /ngo-/ dapat dipadankan dengan awalan /se-/ dalam

166

bahasa Indonesia yang bermakna satu. Awalan /ngo-/ dapat digabungkan dengan awalan /po-/ yang menjadi /ngopo-/ yang bermakna sekali dan sesuai. Awalan /ngo-/ tidak dapat membentuk adjektiva, tetapi dapat membentuk verba dan nomina. Awalan /ngo-/ tidak mengalami penambahan atau penggabungan awalan (ngo- dan po-) seperti pada nomor [2], [3], [4] dan [7], tetapi perubahan fonem /o/ menjadi fonem /a/ di akhir kata seperti terlihat di nomor: [2]. Lebih jelasnya dapat dilihat pada contoh di bawah ini. (1) /ngo- + [bangga]/ [nomina] ‗bangku‘  /ngobangga/ [verba] ‗satu bangku‘ (2) /ngo- + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘  /ngopohulo’a/ [verba] ‗satu tempat duduk‘ (3) /ngo- + [bilohu]/ [verba] ‗lihat‘  /ngopobilohu/ [verba] ‗satu pandangan‘ (4) /ngo- + [aala]/ [verba] ‗makan‘  /ngopoaala/ [verba] ‗makan bersama‘ (5) /ngo- + [kaambungu]/ [nomina] ‗kampung‘ 

/ngokaambungu/ [nomina] ‗satu

kampung‘ (6) /ngo- + [meteri]/ [nomina] ‗meteran‘  /ngometeri/ [nomina] ‗satu meter‘ (7) /ngo- + [kameja]/ [nomina] ‗kemeja‘ /ngopokameja/ [nomina] ‗cukup Awalan /o-/ Awalan /o-/ dapat membentuk verba, nomina, dan adjektiva. Awalan /o-/ dalam pembentukan verba mengaalami perubahan yakni perubahan bunyi [o] pada akhir kata dapat berubah menjadi [a] atau menjadi [wa] dan bunyi [u] menjadi [e]; dan dalam pembentukan adjektiva awalan /o-/ diakhiri dengan bunyi /a/, seperti terlihat pada nomor: [1], [3], [4], [5], [6], [7],[8], [9], dan [11] di bawah ini. (1)

/o- + [bilohu]/ [verba] ‗melihat‘  /obilohe/ [verba] ‗terlihat‘

(2)

/o- + [aala]/ [verba] ‗makan‘  /o’aala/ [verba] ‗termakan‘

(3)

/o- + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /otuanga/ [verba] ‗terisi‘

(4)

/o-+ [bisala] [nomina] ‗kata‘  /obisalawa/ [verba] ‗terkatakan‘

(5)

/o-+ [leeto]/ [adjektiva] ‗jahat‘  /oleeta/ [verba] ‗diperlakukan tidak baik‘

(6)

/o-+ [piyohu]/ [adjektiva] ‗baik‘  /opiyohe/ [verba] ‗diperlakukan dengan baik‘

(7)

/o-+ [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /obalawa/ [verba] ‗terpagar‘

(8)

/o- + [tontongo]/ [verba] ‗melihat‘  /otontonga/ [verba] ‗terlihat‘

(9)

[pate] / [adjektiva] ‗mati‘  /opatea/ [adjektiva] ‗kedukaan‘

(10) /o-+ [karaja] / [adjektiva] ‗pesta‘  /okaraja/ [adjektiva] ‗ada pesta‘ (11) /o-+ [iilangi] / [adjektiva] ‗kurang‘  /o’iilangia/ [adjektiva] ‗kekurangan‘

167

Di samping itu, awalan /o-/ dalam pembentukan nomina tidak mengalami perubahan atau penambahan. Awalan /o-/ bermakna mempunyai atau memiliki. Awalan /tapa-/ Awalan /tapa-/ termasuk awalan yang tidak produktif. Makna yang muncul akibat melekatnya awalan ini yaitu tidak sengaja berbuat sesuatu dan terjadi tiba-tiba. Awalan /tapa-/ berkaitan dengan kala akan, tetapi apa bila digabungkan dengan sisipan /-il-/ menjadi awalan /tilapa-/ maka akan berkaitan dengan kala lampau. Awalan /tapa-/ tidak dapat membentuk nomina dan adjektiva.

Awalan /polo-/ Awalan /polo-/ bermakna musim. Awalan /polo-/ hanya dapat dilekatkan pada kata-kata tertentu dan terbatas. Awalan /polo-/ hanya dapat membentuk adjektiva, dan tidak dapat membentuk verba dan nomina. Awalan /tonggo-/ Awalan /tonggo-/ bermakna bekerja bersama sesuai dengan morfem yang dilekatinya. Jika awalan /tonggo-/ digabungakan dengan sisipan /-il-/ menjadi /tilonggo-/, maka akan bermakna telah bersama-sama mengerjakan sesuatu. Awalan /tonaggo-/ hanya dapat membentuk verba dan tidak dapat pula membentuk nomina dan adjektiva. Awalan /hinggo-/ Awalan /hinggo-/ bermakna mengerjakan sesuatu dengan beberapa kali. Awalan /hinggo-/ dapat dihubungkan dengan akhiran /-lo/ atau dengan awalan /mo-, lo-, po-,/ yang menjadi /mohinggo,- lohinggo-, pohinggo-,/. Awalan /hinggo-/ hanya dapat membentuk verba dan tidak dapat pula membentuk nomina dan adjektiva. Sisipan (infiks) terdiri atas 3 buah: /-il-/ , /-li-/, /-mi-/, dan /-um-/. Jumlah sisipan dan jenisnya yang ditemukan dalam penelitian ini telah berbeda dengan Pateda dan Pulubuhu (2009). Jika dalam Pateda hanya berjumlah tiga buah (-il-, im-, dan –um-) disebut sisipan /-im-/, ternyata dalam penelitian ini ditemukan bukan sisipan /-im-/, tetapi sisipan /-mi-/ dan bertambah dengan sisipan (-li-) seperti contoh di bawah ini.

168

Sisipan /-il-/ membentuk kata yang menyatakan pasif ‗kala lampau‘.Sisipan /-il-/ ditempatkan di tengah jika kata yang dilekatinya dimulai dengan konsonan ([3],[4].[5],[6],[7],[8],[9],[10] dan [11]). Sispan /-il-/ ditempatkan di depan apabila kata yang dilekatinya dimulai dengan huruf vokal ([1],[2]). Sisipan /-il-/ dapat digunakan secara bersamaan dengan sisipan /-mi-/ dan sisipan /-um-/ ([18], [19]). Sisipan /-il-/, /-li-/ /-um-/dapat membentuk verba dan nomina, tetapi tidak dapat membentuk adjektiva. Sisipan mi-/, dan /-um-/ ([16],[17],[18], [19], dan [20]). Lihat contoh di bawah ini. Sisipan (infiks) /-il-/ (1)

/-il-/ + [aala]/ [nomina] ‗makan‘  /iloaala/ [verba] ‗telah dimakan‘

(2)

/-il-/

+ [aambungu]/ [nomina] ‗maaf‘ 

/iloaambunguwa/ [verba] ‗telah

dimaafkan‘ (3)

/-il-/ + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘ /tilonggohulo’o/ [verba] ‗duduk bersama‘

(4)

/-il-/ + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /tiluanga/ [verba] ‗diisi‘

(5)

/-il-/ + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /tilonggobala/ [verba] ‗pagar bersama‘

(6)

/-il-/ + [kameja]/ [nomina] ‗kemeja‘ 

/tilonggokameja/ [verba] ‗memakai kemeja bersama‘

(7)

/-il-/ + [bangun]/ [verba] ‗bangun‘  /bilongu/ [verba] ‗dibangunkan‘

(8)

/-il-/ + [tuladu]/ [nomina] ‗surat‘  /tiluladu/ [verba] ‗ditulis‘

(9)

/-il-/ + [tayango]/ [verba] ‗lompat‘  /tilumayango/ [verba] ‗melompat‘

(10) /-il-/ + [tihulo]/ [nomina] ‗berdiri‘  /tilimihulo/ [verba] ‗akan berdiri‘ Sisipan (infiks) /-li-/ (11) /-li-/ + [iomo]/ [nomina] ‗senyum‘  /ilimiomo/ [verba] ‗senyum‘ (12) /-li-/ + [imi’ito]/ [nomina] ‗pegal‘  /imi’imito/ [verba] ‗pegal‘ Sisipan (infiks) /mi-/ (13) /-mi-/ + [iomo]/ [nomina] ‗senyum‘  /imiomo/ [verba] ‗senyum‘ (14) /-mi-/ + [ipito]/ [verba] ‗dibawa‘  /imipito/ [verba] ‗membawa bersama‘ (15) /-mi-/ + [inggidu]/ [nomina] ‗masa‘  /iminggidu/ [nomina] ‗suatu masa‘ (16) /-mi-/ + [intilo]/ [nomina] ‗urat ‘  /imintilo/ [nomina] ‗salah urat‘ (17) /-mi-/ + [iyopo]/ [adjektiva] ‗kecil‘

 /imiyopo/ [adjektiva] ‗mengecil‘

Sisipan (infiks) /-um-/

169

(18) /-um-/ + [tayango]/ [verba] ‗lompat‘  /tumayango/ [verba] ‗melompat‘ (19) /-um-/ + [aita]/ [nomina] ‗pegangan‘  /umaito/ [nomina] ‗mereka‘ Akhiran terdiri atas 2 buah: /-wa/ dan /-lo/. Akhiran /-lo/ beranggotakan /-lo/ itu sendiri, /-alo/, /-elo/, dan /-olo/. Perubahan ini tergantung pada vokal akhir morfem dasar yang dilekatinya. Akhiran /-a/ dapat beranggotakan /-a/itu sendiri, /-e/, /-i/, /-aa/, atau /-wa/. Akhiran /-lo/ membentuk kata yang menyatakan pasif. Akhiran /-wa/ dapat membentuk verba, dan nomina, tetapi tidak dapat membentuk adjektiva. Akhiran /-lo/ dapat membentuk verba, nomina, dan adjektiva. Lihat contoh di bawah ini.

Akhiran atau sufiks: /-wa/ (1) /-wa/ + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /balawa/ [verba] ‗pagarlah‘ (2) /-wa/ + [po’ota]/ [nomina] ‗petunjuk‘ /po’otaawa/ [verba] ‗berkenalan‘ (3) /-wa/ + [hama]/ [verba] ‗ambil‘ /hamawa/ [verba] ‗ambillah‘ (4) /-wa/ + [otala]/ [nomina] ‗salah‘  /otalawa/ [verba] ‗membuat salah‘ (5) /-wa/ + [bisala]/ [nomina] ‗kata‘  /bisalawa/ [nomina] ‗perjanjian‘ Akhiran atau sufiks: /-lo/ (1)

/-lo/ + [aala]/ [verba] ‗makan‘  /aalalo/ [verba] ‗makanlah‘

(2)

/-lo/ + [aala]/ [verba] ‗makan‘  /aalolo/ [verba] ‗dimakan‘

(3)

/-lo/ + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘  /hulo’alo/ [verba] ‗diduduki‘

(4)

/-lo/ + [hulo’o]/ [nomina] ‗duduk‘  /hulo’olo/ [verba] ‗duduklah‘

(5)

/-lo/ + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /tuangolo/ [verba] ‗diisikan‘

(6)

/-lo/ + [tuango]/ [nomina] ‗isi‘  /tuangalo/ [verba] ‗isikanlah‘

(7)

/-lo/ + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /balaalo/ [verba] ‗dipagar‘

(8)

/-lo/ + [bala]/ [nomina] ‗pagar‘  /balawalo/ [verba] ‗pagarlah‘

(9)

/-lo/ + [bilohu]/ [verba] ‗lihat‘  /bilohelo/ [verba] ‗dilihat‘

(10)

/-lo/ + [tali]/ [nomina] ‗beli‘  /taliyalo/ [verba] ‗belilah‘

(11)

/-lo/ + [tali]/ [nomina] ‗beli‘  /taliyolo/ [verba] ‗dibeli‘

(12)

/-lo/ + [kameja]/ [nomina] ‗kemeja‘  /kamejalo/ [verba] ‗dipakaikan kemeja‘

(13)

/-lo/ + [tutupito]/ [nomina] ‗jepitan‘  /tilupitolo/ [verba] ‗dijepit saja‘

170

SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, maka proses afiksasi dalam pembentukan bahasa Gorontalo terdapat 34 buah awalan (prefiks), 3 buah sisipan (infiks), dan 2 buah akhiran (sufiks). Pembentukan bahasa Gorontalo melalui proses afiksasi dapat digolongkan pada pembentukan dari paradigma verba, nomina, dan adjektiva yang bersifat derivatif. Pada bahasa Gorontalo terdapat empat pembentukan derivasi ini yaitu: (a) nomina yang diturunkan ke verba asalnya nominal, dan hasilnya menjadi verba disebut verba denominal; (b) adjektiva yang diturunkan ke verba asalnya adjektival, dan hasilnya verbadeadjektival (verhaar, 1996: 151); selain dua jenis derivasi (a,b) tersebut, dalam bahasa Gorontalo ada lagi derivasi ketiga dan keempat yaitu: (c) verba yang diturunkan ke verba asalnya verbal yang disebut ‗verbadeverbal; dan (d) verba yang diturunkan ke nomina asalnya verbal yang disebut ‗nominadeverbal‘. Di samping itu proses afiksasi dalam pembentukan bahasa Gorontalo terdapat perbedaan bentuk kata dengan penambahan bentuk terikat

pada akar yang

mengakibatnkan perubahan bentuk dan makna. Antara lain: pada awalan (prefiks) /mo-/ terdapat perubahan/ pergantian/peluluhan fonem /t/ menjadi /l/; /b/ menjadi /m/; /p/ menjadi /m/ dan /il/ menjadi /m/; penambahan fonem /ti, dan /hin/. Jika dicermati awalan /mo-/ memiliki alomorf: /mot-/, /mom-/, /mol-/, dan /moh-/; dan pada awalan (prefiks) /o-/ perubahan bunyi [o] pada akhir kata dapat berubah menjadi [a] atau menjadi [wa] dan bunyi [u] menjadi [e]; dan dalam pembentukan adjektiva awalan /o-/ diakhiri dengan bunyi /a/. DAFTAR RUJUKAN Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. De Saussure, Ferdinand. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Djajasudarma, T.Fatimah. 2010. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: IKAPI. Kurzweil, Edith. 2010. Jarring Kuasa Strukturalisme. Jakarta: Kreasi wacana. Pateda, dan Yennie. 1997. Kaidah Bahasa Gorontalo. Gorontalo: Viladan. ___________. 2009. Tata Bahasa Sederhana Bahasa Gorontalo. Gorontalo.Viladan Robins. R.H. Linguistik Umum Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius.

171

Samarin, William J. 1988. Ilmu Bahasa Lapangan. Yogyakarta: Kanisius. Samsuri. 1981. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga. Verhaar, J.W.M. 1980. Teori Linguistik dan Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. ____________. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

172

173