PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DENGAN

PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DENGAN METODE ACTIVE LEARNING DI MAN GANDEKAN BANTUL SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sun...

0 downloads 25 Views 858KB Size
PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DENGAN METODE ACTIVE LEARNING DI MAN GANDEKAN BANTUL

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Pendidikan Islam

Disusun oleh: Lina Normawita Risti Zuliandri NIM. 06410090

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2010

MOTTO

ِ َ   ‫ه‬ َ ‫ُ أ‬ َ  ِ 

‫ا‬ ‫ة‬ ِ ‫د‬ ْ ‫ا‬ ِ َ    ‫َه‬ ‫ أ‬ ‫س‬ ‫ر‬ ْ ‫ا‬ َ ِ  ِ 

‫ا‬ “Metode pembelajaran lebih penting dari pada materi

Guru lebih penting dari pada metode” *

*

http://luqm.multiply.com/journal/item/78, Kamis, 25 Februari, jam 14.28 WIB.

v

PERSEMBAHAN

Skripsi Ini Kupersembahkan Kupersembahkan Kepada: Kepada: Almamaterku Tercinta Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

vi

KATA PENGANTAR

 ّ ‫ ا ا ّ ا‬  ‫ واّة واّم‬،ّ ‫ و   أرا ّ وا‬،‫ا ربّ ا‬ .  ‫ ا‬،)‫ ا‬$(‫ و ا و‬،!"‫ء وا‬$%‫أ'"ف ا‬ Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat dan pertolongan-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW., yang telah menuntun manusia menuju jalan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Penyusunan skripsi ini merupakan kajian singkat tentang pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning

di MAN Gandekan Bantul.

Penyusun menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2. Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 3. Bapak Dr. Sangkot Sirait, M.Ag., selaku pembimbing skripsi 4. Bapak Drs. A. Miftah Baidlowi, M.Pd., selaku pembimbing akademik 5. Segenap dosen dan karyawan Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

vii

6. Ucapan terima kasih secara khusus penulis sampaikan kepada suamiku tercinta (Mas Abdul Hamid), ucapannya membuat hati resah menjadi tenang, mengobarkan semangat saat penyusun merasa lelah. Dialah yang tanpa lelah memberikan dorongan dan motivasi dengan segala cintanya. 7. Ayahanda Ali Rosyidi Almaghfurlah dan ibunda Zumrotus Sa’adah tercinta yang selalu memotivasi di kala penulis patah semangat, selalu mendengar keluh kesah ananda dan menasehati dengan bijaksana, dan tak henti-hentinya selalu berdo’a untuk kebahagiaan dan kesuksesan anakmu. Ibunda, kau adalah wanita terhebat dalam hidupku. Dan ayah, kau adalah sang motivator sejati buatku, dan nasehatmu selalu teringat dimanapun anakmu berada. 8. Semua pihak yang telah ikut berjasa dalam penyusunan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu Kepada semua pihak tersebut, semoga amal baik yang telah diberikan dapat diterima di sisi Allah SWT., dan mendapat limpahan rahmat-Nya, Amin.

Yogyakarta, 02 Maret 2010 Penyusun

Lina Normawita Risti Zuliandri NIM. 06410090

viii

ABSTRAK LINA NORMAWITA RISTI ZULIANDRI. Pembelajaran Aqidah Akhlak Dengan Metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul. Skripsi. Yogyakarta: jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2010. Latar belakang penelitian ini adalah bahwa idealnya dengan penerapan metode active learning dalam pembelajaran dapat membuat pembelajaran menjadi kondusif, menyenangkan dan siswa aktif secara keseluruhan sehingga mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran secara maksimal. Namun kenyataannya, meskipun dalam pembelajaran Aqidah Akhlak sudah menerapkan beberapa metode active learning, tetapi realisasi pembelajaran di kelas kurang maksimal (kurang kondusif). Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah mengapa pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode active learning belum kondusif dan bagaimana proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode active learning di MAN Gandekan Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara kritis tentang proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode active learning serta penyebab belum kondusifnya pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode active learning di MAN Gandekan Bantul. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil latar MAN Gandekan Bantul. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi, wawancara terpimpin, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang berhasil dikumpulkan, dan dari makna itulah ditarik kesimpulan. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan mengadakan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Metode Active Learning yang digunakan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul adalah Action Learning, Quiz Team, Indeks Card Match, Information Search, Telling Story, dan Resitasi. (2) Penerapan metode active learning di MAN Gandekan Bantul kurang maksimal, terbukti bahwa realisasi pelaksanaan metode di kelas belum mampu membuat suasana pembelajaran menjadi kondusif. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, yaitu: 1) Kondisi siswa yang belum siap untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dan melaksanakan metode sesuai dengan instruksi dari guru serta susah dikondisikan, 2) Siswa kurang memusatkan perhatian (konsentrasi pikiran) terhadap apa yang sedang dipelajari dan tidak berusaha menjauhkan hal-hal yang mengganggu konsentrasi, 3) Guru mempunyai persepsi yang berbeda berkenaan dengan penerapan metode, 4) Guru kurang bisa menerapkan metode pembelajaran sesuai dengan acuan prosedur yang telah ada, 5) Guru kurang mampu berkreasi dalam penerapan metode pembelajaran dan terkadang mengabaikan kedalaman materi karena terlalu berorientasi pada keaktifan siswa, 6) Guru kurang mampu mengelola kelas dengan baik, 7) Guru kurang memanfaatkan media yang dapat menunjang proses pembelajaran.

ix

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................... HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ......................................... HALAMAN SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI .............................................. HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ HALAMAN MOTTO ......................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN.......................................................................... HALAMAN KATA PENGANTAR .................................................................. HALAMAN ABSTRAK .................................................................................... HALAMAN DAFTAR ISI ................................................................................. HALAMAN DAFTAR TABEL.......................................................................... HALAMAN DAFTAR GAMBAR ..................................................................... HALAMAN DAFTAR LAMPIRAN..................................................................

i ii iii iv v vi vii ix x xii xiii xiv

BAB I

PENDAHULUAN............................................................................... A. Latar Belakang Masalah ................................................................. B. Rumusan Masalah ........................................................................... C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................................... D. Kajian Pustaka ................................................................................ E. Landasan Teori ................................................................................ E. Metode Penelitian ........................................................................... F. Sistematika Pembahasan .................................................................

1 1 8 9 10 12 33 38

BAB II GAMBARAN UMUM MAN GANDEKAN BANTUL...................... A. Letak dan Keadaan Geografis ......................................................... B. Sejarah Berdiri dan Perkembangannya............................................ C. Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan ................................................... D. Struktur Organisasi Madrasah ......................................................... E. Keadaan Guru, Siswa, dan Karyawan.............................................. F. Keadaan Sarana dan Prasarana.........................................................

41 41 42 46 48 60 68

BAB III PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI MAN GANDEKAN BANTUL.............................................................................................. A. Proses Pelaksanaan Pembelajaran Aqidah Akhlak......................... 1. Perencanaan Pembelajaran ...................................................... 2. Pelaksanaan Pembelajaran ...................................................... 3. Evaluasi Pembelajaran ............................................................ B. Metode Active Learning ................................................................. 1. Information Search................................................................... 2. Action Leraning ....................................................................... 3. Indeks Card Match ..................................................................

72 72 72 74 86 87 92 96 98

x

4. Quiz Team ................................................................................ 5. Telling Story ............................................................................ 6. Resitasi .................................................................................... C. Penyebab Pembelajaran Aqidah Akhlak Kurang Kondusif............ 1. Guru ......................................................................................... 2. Siswa ....................................................................................... 3. Lingkungan ..............................................................................

102 109 113 115 115 118 119

BAB IV PENUTUP ........................................................................................... A. Simpulan ......................................................................................... B. Saran-saran ...................................................................................... C. Kata Penutup....................................................................................

120 120 122 123

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... LAMPIRAN – LAMPIRAN ...............................................................................

123 127

xi

DAFTAR TABEL dan BAGAN

TABEL Tabel 1 : Pengurus Komite MAN Gandekan Bantul ............................................. 51 Tabel 2 : Keadaan Guru MAN Gandekan Bantul ................................................. 61 Tabel 3 : Daftar Guru Menurut Kepangkatan Pegawai MAN Gandekan Bantul... 61 Tabel 4 : Daftar GTT MAN Gandekan Bantul ...................................................... 65 Tabel 5 : Rekapitulasi Siswa Kelas X, XI, dan XII MAN Gandekan Bantul......... 66 Tabel 6 : Keadaan Karyawan MAN Gandekan Bantul ......................................... 67 Tabel 7 : Daftar Nama Karyawan MAN Gandekan Bantul .................................. 67 Tabel 8 : Keadaan Sarana Prasarana MAN Gandekan Bantul .............................. 69

BAGAN Bagan : Struktur Organisasi MAN Gandekan Bantul ............................................ 49

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Kelompok 7 berpidato, membacakan dalil, dan menerjemahkan . ..... 94 Gambar 2 : Siswa Sedang Mengisi Lembar Penilaian Cara Berpakaian dan Berhias.................................................................................................. 98 Gambar 3 : Siswa mencocokkan Kartu Indeks Pertanyaan dan Jawaban .............. 100 Gambar 4 : Kelompok A dan Kelompok B Sedang Melaksanakan Permainan Quiz Team ........................................................................................... 105 Gambar 5 : Kelompok 1 Berdiskusi Tentang Kisah “Empat Istri” ....................... 111 Gambar 6 : Kelompok 7 Mempresentasikan Hasil Diskusi Tentang Kisah “Empat Istri” ....................................................................................... 112

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I

: Pedoman Pengumpulan Data..........................................

127

Lampiran II

: Catatan Lapangan Penelitian 1.......................................

132

Lampiran III

: Catatan Lapangan Penelitian 2.......................................

134

Lampiran IV

: Catatan Lapangan Penelitian 3.......................................

135

Lampiran V

: Catatan Lapangan Penelitian 4.......................................

136

Lampiran VI

: Catatan Lapangan Penelitian 5.......................................

137

Lampiran VII

: Catatan Lapangan Penelitian 6.......................................

139

Lampiran VIII

: Catatan Lapangan Penelitian 7.......................................

141

Lampiran IX

: Catatan Lapangan Penelitian 8.......................................

143

Lampiran X

: Catatan Lapangan Penelitian 9.......................................

145

Lampiran XI

: Catatan Lapangan Penelitian 10.....................................

148

Lampiran XII

: Catatan Lapangan Penelitian 11.....................................

151

Lampiran XIII

: Catatan Lapangan Penelitian 12.....................................

153

Lampiran XIV

: Catatan Lapangan Penelitian 13.....................................

155

Lampiran XV

: Catatan Lapangan Penelitian 14.....................................

157

Lampiran XVI

: Lembar Observasi 1........................................................

159

Lampiran XVII

: Lembar Observasi 2........................................................

161

Lampiran XVIII

: Lembar Observasi 3........................................................

164

Lampiran XIX

: Lembar Observasi 4........................................................

166

Lampiran XX

: Lembar Observasi 5........................................................

169

Lampiran XXI

: Bukti Seminar Proposal..................................................

171

Lampiran XXII

: Surat Penunjukan Pembimbing......................................

172

Lampiran XXIII

: Kartu Bimbingan Skripsi...............................................

173

Lampiran XXIV

: Surat Ijin Penelitian.......................................................

174

Lampiran XXV

: Daftar Riwayat Hidup Penulis.......................................

177

xiv

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan manusia, karena dengan pendidikan manusia dapat mengembangkan diri dan menjalankan fungsinya sebagai khalifah di bumi. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UUSPN No. 20 tahun 2003).1 Pendidikan bagi sebagian besar orang berarti kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus-menerus.2 Peranan dunia pendidikan tidak disangsikan lagi, dengan pendidikan akan tercipta generasi yang memiliki sumber daya manusia (SDM) yang tinggi. Dengan memperhatikan isi hakekat pembangunan nasional dan tujuan pendidikan nasional, pendidikan yang dimaksud tidak hanya bertujuan untuk membekali

1

Undang-Undang Sikdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) Nomor 20 tahun 2003 Beserta Penjelasannya, (Bandung: Citra Umbara, 2006), hal. 72. 2 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), hal. 70.

1

peserta didik dengan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi juga mencakup semua aspek dalam pendidikan yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Pendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah bangsa, bahkan maju atau mundurnya kualitas bangsa dapat diukur melalui maju atau tidaknya dalam sektor pendidikan. Kemajuan dalam bidang pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi adalah beberapa wujud keberhasilan dalam pendidikan. Sebab dengan kemajuan itu menandakan bahwa bangsa tersebut telah mendapatkan pencerahan pengetahuan melalui beberapa proses yang telah dilaksanakan. Akan tetapi perkembangan pembangunan, ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi timpang bila tidak diimbangi dengan aqidah dan akhlak yang baik. Aqidah adalah sesuatu yang dipercayai dan diyakini kebenarannya oleh hati manusia, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan.3 Sedangkan akhlak adalah keadaan jiwa yang mendorong seseorang melakukan perbuatan tanpa memerlukan pikiran.4 Aqidah sebagai dasar pembentukan akhlak. Aqidah tauhid merupakan sumber kekuatan yang melahirkan akhlak yang baik. Akhlak yang baik sebagai dasar pembentukan keluarga yang baik. Untuk mendapatkan generasi muda yang

3

Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, (Yogyakarta: Lembaga Pengajian dan Pengamalan Islam (LPPI), 2006), hal. 6. 4 Toto Edidarmo dan Mulyadi, Pendidikan Agama Islam: Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas XI, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, cetakan pertama, April 2009), hal. 56.

2

beraqidah dan berakhlak mulia, diperlukan adanya pendidikan, pembentukan, dan penanaman nilai-nilai akhlaqul karimah. Tujuan Pendidikan Agama Islam pada umumnya adalah membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah dan berakhlak mulia. Manusia yang bertaqwa adalah manusia yang dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah sehingga tercerminlah dari dalam dirinya ketinggian akhlak yang merupakan bekal hidup di dunia guna mencapai keberhasilan akhirat. Islam sebagai agama harus dipelajari dan diamalkan oleh manusia yang memeluknya. Orang dikatakan bertaqwa kepada Allah, apabila dia menjalankan ajaran Allah. Orang yang hanya faham atau menguasai ilmu tentang agama namun belum dapat menjalankan atas apa yang mereka fahami belumlah dapat dikatakan sebagai hamba yang bertaqwa kepada Allah. Untuk dapat dikatakan sebagai hamba yang bertaqwa kepada Allah, selain menguasai ilmu agama juga harus mampu mengamalkannya.5 Tujuan pendidikan Islam cenderung bersifat defensif, yaitu upaya menyelamatkan kaum muslimin dari pencemaran dan perusakan yang ditimbulkan oleh dampak gagasan barat yang datang melalui berbagai disiplin ilmu, terutama gagasan-gagasan yang mengancam akan meledakkan standarstandar moralitas tradisional Islam.6 Di sinilah kemudian terlihat pentingnya salah satu materi Pendidikan Agama Islam, yaitu Aqidah Akhlak.

5

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2004), hal. 49. 6 Hujair AH. Sanaky, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, (Yogyakarta: Safria Insania Press, 2003), hal. 154.

3

Aqidah akhlak merupakan bagian dari Pendidikan Agama Islam yang lebih mengedepankan aspek afektif, baik nilai ketuhanan maupun kemanusiaan yang hendak ditanamkan dan ditumbuh kembangkan ke dalam peserta didik sehingga tidak sekedar berkonsentrasi pada persoalan teoritis yang bersifat kognitif semata, tetapi sekaligus juga mampu mengubah pengetahuan aqidah akhlak yang bersifat kognitif menjadi bermakna dan dapat diinternalisasikan serta diaplikasikan ke dalam perilaku sehari-hari. Agar dapat mewujudkan nilai-nilai agama yang terkandung dalam ajaran Islam, maka mata pelajaran agama terutama Aqidah Akhlak tidak hanya dipelajari dalam ranah teoritis saja tetapi harus dihayati dan diamalkan oleh peserta didik dan ini menjadi salah satu tugas guru dalam menanamkan nilai-nilai akhlaqul karimah. Dalam usaha pencapaian tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak tersebut, perlu adanya kondisi belajar yang lebih kondusif. Orientasi utama di dalam mewujudkan tujuan belajar di atas sangat dipengaruhi oleh fungsi dan peranan dari suatu metode proses belajar yang diperankan peserta didik, serta metode mengajar yang dilakukan oleh pendidik. Metode belajar mengajar akan menjadi titik kulminasi di dalam pemberdayaan sistem pembelajaran yang lebih komperehensif sehingga segala fonomena yang terkait dan terkandung di dalamnya akan dapat dicermati dan ditelaah secara mendalam oleh komponen yang terkait di dalamnya. Pelaksanaan pembelajaran akan berlangsung secara aman, tertib, lancar dan terkendali yang terangkum dalam suasana yang kondusif apabila dibarengi dengan suatu penerapan metode yang mantap dan efektif, yaitu

4

metode pembelajaran aktif (Active Learning). Apabila kondisi ini diciptakan dengan baik, maka interaksi edukatif akan berlangsung secara harmonis sebagai keberhasilan dalam proses pembelajaran yang nantinya mengarah pada pencapaian tujuan pembelajaran secara optimal. Madrasah Aliyah Negeri Gandekan Bantul merupakan lembaga yang berasaskan Islam. Sedangkan tujuan dari berdirinya lembaga pendidikan ini adalah membentuk peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia serta mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. MAN Gandekan Bantul merupakan salah satu sekolah yang di dalamnya mengajarkan mata pelajaran Aqidah Akhlak. Proses pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul bukan hanya menggunakan metode ceramah saja, tetapi sudah menggunakan beberapa metode Active Learning yang cukup variatif, misalnya Action Learning, Telling Story, Indeks Card Match, Quiz Team, Information Search, dan lain-lain.7 Beberapa metode ini digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran, karena dalam kegiatan pembelajaran, keberhasilan tidak hanya dilihat dan diukur dari segi hasil yang dicapai oleh peserta didik, tetapi juga diukur dari segi proses.8 Oleh karena itu, di dalam proses pembelajaran metode memiliki posisi yang penting karena keberhasilan sebuah pengajaran diantaranya ditentukan oleh penggunaan metode dan strategi yang tepat. 7

Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Aqidah Akhlak MAN Gandekan Bantul pada tanggal 15 Januari 2010. 8 M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal. 202.

5

Dengan ikut mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran melalui penerapan metode Active Learning, diharapkan mampu menjadikan suasana pembelajaran menjadi kondusif dan menyenangkan. Karena melalui pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan, akan sangat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak, bukan hanya pencapaian ranah teoritik semata, akan tetapi juga pencapaian ranah afektif dan psikomotor, yaitu penguasaan materi dengan baik, adanya penghayatan dan perilaku yang baik dalam kehidupan sehari-hari, serta adanya perubahan sikap dan pembentukan karakter yang baik sebagai wujud dari tertanamnya aqidah yang kuat.9 Akan tetapi, terdapat ketidak sinkronan antara idealitas dan realitas. Yaitu meskipun dalam pembelajarannya telah menggunakan Active Learning sebagai basis penggunaan metode yang notabene menuntut peserta didik untuk aktif berpikir dan mengahayati, sejauh ini prosesnya belum seperti yang diinginkan (kurang maksimal). Yang dimaksud kurang maksimal di sini adalah realisasi pembelajaran di kelas kurang kondusif sehingga mengakibatkan tujuan pembelajaran belum dapat tercapai secara maksimal.10 Kondusif berarti kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran.11 Proses pembelajaran merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, sehingga pada diri anak terjadi proses pengolahan informasi menjadi 9

Hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Aqidah Akhlak MAN Gandekan Bantul di ruang guru pada hari Jum’at, 15 Januari 2010. 10 Observasi pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas XI IPS 1 pada hari Selasa, 2 Februari 2010, jam 07.30-08.30 WIB. 11 Http://Mahmudin. wordpress.com/2010/02/18/menciptakan-lingkungan-pembelajaranyang-kondusif/. Kamis, 25 Februari, jam 14.28 WIB.

6

pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai hasil dari proses belajar. Pembelajaran yang kondusif seharusnya: 1. Suasana kelas tenang. Tenang dalam artian seluruh siswa konsentrasi pada kegiatan pembelajaran, tidak bicara di luar materi,

dan tidak membuat

kegaduhan di dalam kelas. 2. Siswa aktif secara keseluruhan 3. Guru mampu memberikan kemudahan belajar kepada siswa 4. Menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai 5. Adanya pendalaman materi dari guru. Dalam artian orientasi untuk mengaktifkan siswa melalui metode Active Learning jangan sampai melalaikan kedalaman materi yang diajarkan 6. Guru melakukan tahapan yang jelas dalam penerapan metode 7. Media pembelajaran yang digunakan tepat dan benar-benar dapat menunjang proses pembelajaran 8. Guru mampu mengelola kelas dengan baik (kompetensi pedagogis) Jadi, idealnya dengan penerapan metode Active Learning yang cukup variatif, dapat membuat proses pembelajaran menjadi kondusif, menyenangkan, dan seluruh siswa terlibat aktif dalam prosesnya, sehingga dengan proses yang demikian peserta didik dapat mengembangkan imajinasi dan kreatifitasnya dan mudah memahami, menghayati, dan mengaplikasikan materi yang didapat dari sekolah ke dalam perilaku sehari-hari. Karena itu kemudian penulis beranggapan bahwa perlu adanya telaah tentang proses pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN

7

Gandekan Bantul agar dapat diketahui penyebab belum kondusifnya proses pembelajaran yang mengakibatkan pencapaian tujuan pembelajaran tidak maksimal. Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul. Adapun materi Aqidah Akhlak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah akhlak berpakaian, akhlak kepada Allah SWT., diri sendiri, dan orang lain.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul? 2. Bagaimana proses pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul? 3. Mengapa pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul belum kondusif?

8

C. Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian 1. Tujuan Penelitian Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul b. Untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul c. Untuk mengungkapkan penyebab belum kondusifnya proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul 2. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna, baik secara akademis maupun secara praktis: a. Secara Akademis: 1) Untuk memberikan sumbangan pemikiran tentang pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning. 2) Untuk menambah khasanah keilmuan dan wawasan terutama dalam bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi penyusun khususnya dan pembaca pada umumnya.

9

b. Secara Praksis: 1) Dapat memberikan pengalaman yang sangat berarti bagi penulis sebagai calon pendidik (guru). 2) Dapat memberikan inspirasi dan referensi untuk penelitian pendidikan yang sejenis. 3) Memberikan wawasan dan informasi kepada pihak lain terutama para pembaca tentang pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul.

D. Kajian Pustaka Guna melengkapi skripsi ini, penulis menggunakan pijakan dan kajian dari penelitian sebelumnya yang relevan terhadap penelitian ini, diantaranya: 1. Skripsi dengan judul “Konsep Active Learning dan Relevansinya Dengan Pengajaran Muhadatsah” karya Niswatul Lailah, mahasiswi angkatan tahun 1999, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.12 Skripsi ini mencoba mendeskripsikan tentang suatu konsep dasar Active Learning dengan menyelidiki keterkaitan atau kecocokan dengan pengajaran muhadatsah khususnya di tingkat Perguruan Tinggi Agama Islam. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik

12

Niswatul Lailah, ”Konsep Active Learning dan Relevansinya Dengan Pengajaran Muhadatsah”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003.

10

kesimpulan bahwa konsep dasar Active Learning dalam muhadatsah ada yang dipandang relevan dan ada yang tidak relevan. 2. Skripsi

dengan judul

“Penerapan

Strategi

Active

Learning

Dalam

Pembelajaran Fiqih (Studi Kasus di Kelas Wustho Madrasah Diniyah Miftahul Huda Desa Mandiraja Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang)” karya Aenun Hakimah, mahasiswi angkatan tahun 2004, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.13 Skripsi ini menekankan pada penerapan strategi Active Learning dalam pembelajaran Fiqih melalui kajian dan penelaahan pada kitab kuning serta bagaimana tanggapan siswa terhadap penerapan strategi tersebut. 3. Skripsi dengan judul “Penerapan Active Learning Dalam Pembelajaran Fiqih dan Qur’an Hadist Pada Siswa Kelas IX MTsN Triwarno Kutowinangun Kebumen” karya Masfufah, mahasiswi angkatan 2002, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.14 Skripsi ini mendiskripsikan tentang penerapan Active Learning dalam pembejaran Fiqih dan Qur’an Hadist pada siswa kelas IX MTsN Triwarno Kutowinangun Kebumen.

13

Aenun Hakimah, ”Penerapan Strategi Active Learning Dalam Pembelajaran Fiqh (Studi Kasus di Kelas Wustho Madrasah Diniyah Miftahul Huda Desa Mandiraja Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008. 14 Masfufah, ”Penerapan Active Learning Dalam Pembelajaran Fiqih dan Qur’an Hadist Pada Siswa Kelas IX MTsN Triwarno Kutowinangun Kebumen”, Skripsi, Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.

11

Skripsi yang penulis ambil hampir sama dengan penelitian sebelumnya. Akan tetapi, dari penelitian terdahulu belum ada yang spesifik membahas tentang penggunaan beberapa metode Active Learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning, dan penyebab belum kondusifnya pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif yang dilakukan di MAN Gandekan Bantul.

E. Landasan Teori 1. Pembelajaran Secara umum pembelajaran berasal dari kata “belajar” yang diberikan awalan pe dan akhiran an. Belajar sendiri dapat diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. Belajar dapat juga diartikan sebagai proses usaha individu untuk memperoleh sesuatu yang baru dari keseluruhan tingkah laku sebagai hasil dari pengalamannya.15 Sedangkan menurut Hilgran belajar adalah suatu proses di mana suatu perilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap suatu situasi.16 Hal ini tidak jauh berbeda dengan pernyataan Witherington bahwa belajar merupakan perubahan dalam pribadi, yang dimanisfestasikan sebagai pola-pola yang baru yang

15

Syamsu Yusuf, Psikologi Belajar Agama (Pespektif Pendidikan Agama Islam), (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2003), cet I, hal. 9. 16 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 156

12

berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan.17 Hakikat belajar adalah inti proses pembelajaran.18 Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan dan pengalaman, untuk dapat disebut belajar maka perubahan itu harus relatif mantap. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu sendiri. Dalam UU RI No 20 tahun 2003 (SIKDIKNAS), pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.19 Pembelajaran merupakan upaya sistematik dan disengaja oleh pendidik untuk menciptakan kondisi-kondisi agar peserta didik melakukan kegiatan belajar. Dalam kegiatan ini terjadi interaksi edukatif antara dua pihak, yaitu antara peserta didik yang melakukan kegiatan belajar dengan pendidik yang melakukan kegiatan pembelajaran.20 Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran

17

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi..., hal. 155. Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005), hal. 28. 19 Undang-Undang Sikdiknas..., hal. 74 20 H. D. Sudjana, Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif, (Bandung: Falah Production, 2007), hal. 8. 18

13

hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi sikap (aspek afektif), serta ketrampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran bukan hanya pekerjaan satu pihak saja tetapi juga terdapat interaksi antara guru dengan peserta didik. Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian belajar dan mengajar. Belajar, mengajar, dan pembelajaran terjadi secara bersamaan. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subyek yang menerima pelajaran (sasaran didik). Sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai pengajar.21 Mengajar meliputi segala hal yang guru lakukan di dalam kelas. Sedangkan pembelajaran adalah suatu usaha yang sengaja melibatkan dan menggunakan pengetahuan profesional yang dimiliki guru untuk mencapai tujuan kurikulum. Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh seseorang untuk memahami dan menghayati, maka kegiatan belajar itu tidak bisa lepas dari konsep ”kesadaran” (Consciousness). Dalam kehidupan seharihari kita melakukan banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan gejala belajar, misalnya, kita dapat makan dengan memakai sendok karena kita belajar sebelumnya. 21

Nana Sudjana, Dasar-Dasar Proses..., hal. 28.

14

Ada beberapa faktor yang tidak bisa lepas dari kegiatan pembelajaran, yaitu: a. Siswa Di samping sebagai objek dalam pembelajaran, siswa juga sekaligus sebagai subjek dalam pembelajaran. Siswa merupakan suatu keharusan

bagi

berlangsungnya

proses

pembelajaran.

Artinya

pembalajaran tidak akan berlangsung tanpa adanya siswa. b. Guru Guru merupakan sentral yang keberadaannya merupakan penentu bagi keberhasilan dalam pembelajaran. Agar pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien maka guru harus berkualifikasi tinggi. c.

Tujuan Tujuan merupakan target yang harus dicapai dalam pembelajaran, baik yang berupa pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap yang dimiliki siswa. Tujuan pengajaran merupakan titik pusat yang akan dijadikan acuan dalam keseluruhan upaya belajar-mengajar. Perilaku yang diharapkan dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut: 1) Keilmuan dan pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif) 2) Personal, kepribadian, dan sikap (afektif) 3) Kelakuan, ketrampilan atau penampilan (psikomotor)

15

d. Bahan atau Materi Materi adalah bahan pelajaran yang akan disampaikan. Dalam penyusunan materi harus mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan. e. Metode Metode

merupakan

faktor

yang

penting

dalam

proses

pembelajaran, oleh karena itu pemilihan metode yang tepat dapat menjadikan materi yang disampaikan mudah diterima dan difahami sehingga tercipta suasana belajar yang hidup. Agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif, metode yang digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Metode harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai 2) Metode harus relevan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa 3) Metode harus sesuai dengan materi yang akan disampaikan f. Media Media pembelajaran merupakan sarana yang dimanfaatkan agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik. Media ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua hal, yaitu 1) Media visual, yaitu media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. 2) Media auditif, yaitu media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam.

16

3) Media Audiovisual, yaitu media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.22 g. Evaluasi Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dalam proses pembelajarn karena penilaian merupakan sarana untuk mengukur kemajuan suatu usaha berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan yang telah tercapai. Dalam psikologi, ada tiga macam teori belajar, yaitu: a. Teori Behavioristik (teori belajar dan tingkah laku) Rumpun teori ini disebut behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tingkah laku yang dapat diamati. Para ahli psikologi tingkah laku memandang bahwa belajar merupakan bentuk hubungan antara stimulus

dan

respond.

Beberapa

tokoh

psikologi

behavioristik,

diantaranya: 1) E.L. Thorndike: Connectionism Thorndike menyimpulkan bahwa belajar adalah proses pembentukan koneksi atau hubungan antara stimulus dan respond dan penyelesaian masalah yang dapat dilakukan dengan cara trial and

22

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hal. 140-141.

17

error (coba-coba).23 Siapa yang menguasai hubungan stimulusrespons sebanyak-banyaknya ialah orang yang pandai atau yang berhasil dalam belajar. Pembentukan hubungan stimulus-respons dilakukan melalui ulangan-ulangan. Menurut Thorndike, terdapat tiga prinsip atau hukum dalam belajar. Pertama, law of readiness, belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut. Kedua, law of exercise, belajar akan berhasil jika banyak ulangan, ujian. Ketiga, law of effect, belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik.24 Faktor penting yang mempengaruhi belajar adalah reward atau pernyataan kepuasan dari suatu kejadian. Sedangkan punishment (hukuman) justru akan memperlemah ikatan dan tidak mempunyai efek apa-apa.25 2) J.B. Watson: Conditioning Reflect Watson berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses dari conditioning reflect (respons) melalui pergantian dari satu stimulus kepada yang lain. Menurutnya, manusia dilahirkan dengan beberapa refleks dan reaksi emosi, ketakutan, cinta, dan marah. Semua tingkah laku dikembangkan melalui pembentukan hubungan antara stimulus

23

Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT. Grassindo, cetakan ketiga, 2006), hal. 126-127. 24 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi..., hal. 168-169. 25 Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, hal. 127.

18

dan respons baru melalui conditioning.26 Menurut teori ini, perilaku individu dapat dikondisikan. Belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu. Misalnya kebiasaan mandi atau makan pada jam tertentu, kebiasaan

berpakaian,

kebiasaan

bekerja

terbentuk

karena

pengkondisian.27 3) Skinner: Operant Conditioning Skinner

memandang

hadiah

(reward)

atau

penguatan

(reinforcement) sebagai unsur yang paling penting dalam proses belajar. Anak cenderung untuk belajar suatu respons jika segera diikuti oleh penguatan (reinforcement). Misalnya, seorang anak belajar dengan giat dan dia dapat menjawab semua pertanyaan dalam ujian. Guru memberikan penghargaan kepada anak tersebut dengan nilai tinggi, pujian atau hadiah. Berkat pemberian penghargaan ini maka anak tersebut belajar lebih rajin lagi. Penemuan Skinner memusatkan hubungan antara tingkah laku dan konsekuen. Contoh, jika tingkah laku individu diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan, individu akan menggunakan tingkah laku itu sesering mungkin.28

26

Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, hal. 129. Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi…, hal.169. 28 Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, hal: 131. 27

19

b. Teori Kognitif Ahli-ahli teori kognitif berpendapat yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing), bukan respons. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan antara stimulus dan respons. Perilaku juga penting, tetapi yang lebih penting adalah berpikir. Pengetahuan terbentuk melalui proses pengorgnisasian pengetahuan baru dengan

struktur

yang

telah

ada

setelah

pengetahuan

tersebut

diinterpretasikan oleh strutur yang telah ada.29 Belajar merupakan suatu yang aktif, yaitu mencari pengalaman untuk belajar, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, mengatur kembali, dan mengorganisasi apa yang telah mereka ketahui untuk menacapai pelajaran baru.30 Diantara tokoh teori ini adalah John Piaget. c. Teori Humanistik Salah satu tokoh teori humanistik adalah Carl Rogers. Rogers adalah ahli psikologi humanistik yang mempunyai ide-ide yang mempengaruhi pendidikan dan penerapannya. Melalui bukunya Freedom to Learn and Freedom to Learn for the 80’s, dia menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih personal, dan berarti.

29 30

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi…, hal. 170. Ibid., hal. 149.

20

Pendekatan Rogers dapat dimengerti dari prinsip-prinsip penting belajar humanistik yang diidentifikasikan sebagai sentral dari filsafat pendidikannya, yaitu: 1) Keinginan untuk belajar (the desire to learn) Pada dasarnya anak mempunyai keinginan untuk belajar. Keinginan ini dapat dengan mudah dilihat dengan memperhatikan keingintahuan yang sangat dari seorang anak ketika dia meng-explore lingkungannya. Maka dalam praktek pembelajaran, anak diberi kebebasan untuk memuaskan keingintahuan mereka, untuk mengikuti minat mereka yang tak bisa dihalangi, untuk menemukan diri mereka sendiri serta segala yang penting dan berati tentang dunia yang mengelilingi mereka. 2) Belajar secara signifikan (significant learning) Yaitu belajar secara signifikan terjadi ketika dirasakan relevan terhadap kebutuhan dan tujuan siswa. Jadi bisa dikatakan belajar secara signifikan adalah siswa dapat belajar dengan baik dan cepat. 3) Belajar tanpa ancaman (learning without threat) Belajar yang paling baik adalah memperoleh dan menguasai suatu lingkungan yang bebas dari ancaman. Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar secara alami.

21

4) Belajar atas inisiatif sendiri (self-initiated learning) Belajar atas inisiatif sendiri adalah yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari. Belajar akan paling signifikan dan meresap ketika belajar itu atas inisiatifnya sendiri. 5) Belajar dan berubah (learning and change) Prinsip Rogers adalah belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar Pengetahuan berada dalam keadaan yang terus berubah. Belajar seperti waktu yang lalu tidak cukup lama untuk memungkinkan seseorang akan sukses dalam dunia modern. Menurut Rogers, apa yang dibutuhkan sekarang adalah individu yang mampu belajar dalam lingkungan yang berubah.31 2. Pembelajaran Aqidah Akhlak Pembelajaran Aqidah Akhlak lebih mengedepankan pada aspek afektif (transfer of value). Tujuan pembelajaran Aqidah Akhlak adalah agar peserta didik menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah dan berakhlak mulia. Pembelajaran Aqidah Akhlak tidak terkonsentrasi pada persoalan teoritis yang bersifat kognitif semata, tetapi juga mampu mengubah pengetahuan aqidah akhlak yang bersifat kognitif menjadi makna dan nilai31

Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, hal.183-186.

22

nilai yang perlu diinternalisasikan dalam diri siswa melalui berbagai cara, media dan forum, sehingga siswa dapat menghayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, agar tujuan tersebut bisa tercapai dengan maksimal dipelukan metode pembelajaran aktif yang dapat menunjang serta mempermudah pencapaian tujuan. 3. Metode Pembelajaran Aktif (Active Learning) Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud. Metode mengandung unsur prosedur yang disusun secara teratur dan logis serta dituangkan dalam suatu rencana kegiatan untuk mencapai

tujuan.

Dengan

demikian

metode

merupakan

upaya

mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.32 Jadi, metode pembelajaran

adalah

cara

yang

digunakan

oleh

pengajar

dalam

menyampaikan pesan pembelajaran kepada peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Active artinya rajin, sibuk, giat.33 Learning bearasal dari kata learn yang berarti belajar.34 Active Learning adalah belajar dengan giat dan aktif guna memperoleh pengetahuan atau ilmu pengetahuan dengan menggunakan berbagai macam pendekatan belajar aktif. Active Learning dalam skripsi ini, 32

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media group, cet. Kelima, 2008), hal. 126. 33 Wijowasito dan Tito Wasito, Kamus Lengkap Inggeris-Indonesia, Indonesia-Inggeris, (Bandung: HASTA, cet. ke sepuluh, 1980), hal. 2. 34 Ibid., hal. 99.

23

berarti segala macam bentuk proses pembelajaran yang di dalamnya membutuhkan atau menekankan akan adanya peran aktif siswa baik mental maupun fisik. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung, dan secara pribadi menarik hati.35 Belajar aktif merupakan sebuah kesatuan sumber kumpulan strategistrategi pembelajaran yang komprehensif. Belajar aktif meliputi tiga bagian, yaitu pertama, berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktifitas-aktifitas yang membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikir tentang materi pelajaran. Kedua, berbagai cara membuat peserta didik memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan prilaku secara aktif seperti teknik memimpin belajar bagi seluruh kelas dan bagi kelompok kecil, merangsang diskusi dan debat, mempraktekkan ketrampilan-ketrampilan, mendorong adanya pertanyaan-pertanyaan, bahkan membuat peserta didik dapat saling mengajar satu sama lain.36 Dan ketiga, cara untuk membantu agar belajar tidak lupa, yaitu strategi untuk menyimpulkan suatu kelas sehingga peserta didik merefleksikan pada apa yang

telah

mereka

pelajari

dan

mempertimbangkan

bagaimana

menerapkannya di masa yang akan datang.37

35

Mel Silberman, Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: TAPPENDIS, cet. Ketiga, Oktober 2005) halaman pendahuluan xx. 36 Mel Silberman, Active Learning..., halaman pendahuluan. xxi. 37 Ibid., halaman pendahuluan xxvi

24

Dalam prakteknya tidak semua metode dapat digunakan dalam semua mata pelajaran. Untuk menyesuaikan metode dengan materi pada satu mata pelajaran diperlukan kreativitas seorang guru, sehingga materi dapat tersampaikan dengan baik serta dapat mencapai tujuan pembelajarannya. Adapun beberapa metode Active Learning yang dapat diterapkan guru dalam pembelajaran, antara lain: a. Action Learning (Belajar Dengan Melakukan) Belajar tindakan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami dari dekat suatu kehidupan nyata yang menyetting aplikasi topik dan isi yang dipelajari atau didiskusikan di kelas. Penelitian di luar kelas menempatkan mereka dalam mode penemuan dan memudahkannya menjadi kreatif dalam mendiskusikan penemuannya di kelas. Keindahan aktivitas ini dapat digunakan dengan subjek atau aplikasi apapun.38 Prosedur: 1) Guru menjelaskan materi tentang akhlak berpakaian 2) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami topik (tentang akhlak berpakaian) secara langsung dengan mengadakan perjalanan lapangan (field trip) pada setting kehidupan nyata. 3) Guru membagi siswa menjadi empat kelompok (A, B, C, dan D) yang masing-masing beranggotakan lima orang dan meminta mereka

38

Mel Silberman, Active Learning…, hal. 179.

25

mengembangkan daftar pertanyaan dan atau hal-hal khusus yang seharusnya mereka cari selama perjalanan lapangannya. 4) Guru memberikan deadline (satu minggu) kepada siswa untuk menyeleseikan perjalanan lapangannya. 5) Guru mengarahkan siswa untuk mengunjungi satu tempat atau beberapa tempat untuk menggunakan daftar pertanyaannya untuk interview atau observasi. 6) Daftar pertanyaanya misalnya: a) Apakah Anda merasa nyaman dengan mengenakan pakaian seperti ini? b) Apa alasan Anda mengenakan pakaian seperti ini? c) Siapa yang mendorong atau memotivasi Anda untuk berpakaian seperti ini? d) Apakah Anda selalu berpakaian seperti ini dimanapun berada? 7) Guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih tempat (objek field trip)-nya masing-masing. Misalnya, mall, pasar, masjid, dan lain-lain. 8) Guru meminta siswa untuk menyampaikan penemuannya di kelas maupun di kelas lain melalui beberapa metode yang cerdik dan kreatif. Misalnya, diskusi panel, interview tiruan, atau permainan.

26

b. Telling Story Metode ini bertujuan agar siswa dapat menyelami, mengkritisi, dan mengambil pelajaran berharga (hikmah) dari sebuah kisah teladan. Prosedur: 1) Guru menjelaskan materi tentang akhlak kepada diri sendiri dan orang lain. 2) Guru membagi siswa menjadi empat kelompok (A, B, C, dan D) dan membagikan teks kisah dan lembar kerja kepada setiap kelompok. 3) Guru menampilkan kisah pertama yang berjudul ” The Butterfly and The Flower” dengan media laptop, LCD, dan speaker, dan siswa menyimak. 4) Guru menampilkan kisah kedua yang berjudul ”Empat Istri” dan siswa menyimak 5) Guru menampilkan kisah ketiga yang berjudul ”Let be Like The Goose” dan siswa menyimak. 6) Guru meminta kepada setiap kelompok berdiskusi tentang esensi (pesan dan pelajaran berharga yang dapat diambil) dari beberapa kisah yang telah ditampilkan dan hasil analisa dituangkan dalam lembar kerja. 7) Guru meminta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.

27

8) Guru meminta kelompok lain untuk menanggapi atau mengajukan pertanyaan atas presentasi kelompok yang telah maju. 9) Setelah semua selesai, guru memberikan penguatan. Dengan pengembangan metode seperti ini, kegiatan siswa bukan hanya mendengarkan kisah saja, tetapi juga melihat, berfikir, dan mengungkapkan pendapat, sehingga seluruh anggota tubuh aktif dalam kegiatan pembelajaran. c. Information Search (Mencari Informasi) Metode ini sama dengan ujian buka buku. Tim mencari informasi (normalnya dilakukan dalam pelajaran dengan teknik ceramah) yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Metode ini khususnya sangat membantu dalam materi yang membosankan.39 Prosedur: 1) Guru menjelaskan materi tentang akhlak berpakaian dan akhlak berhias 2) Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3 orang 3) Guru memberi tugas kepada setiap kelompok untuk berdiskusi dan membuat teks pidato dengan cara mencari informasi yang dapat dijumpai di sumber materi. Sumber informasi bisa mencakup:

39

Mel Silberman, Active Learning..., hal. 143.

28

dokumen, buku teks, buku panduan, komputer mengakses informasi, dan lain-lain. 4) Teks pidato dibuat dengan tema: a) Akhlak Berpakaian (1) Pengertian dan pentingnya akhlak berpakaian (2) Bentuk-bentuk akhlak berpakaian (3) Nilai-nilai positif akhlak berpakaian (4) Membiasakan akhlak berpakaian b) Akhlak Berhias (1) Pengertian dan pentingnya akhlak berhias (2) Bentuk-bentuk akhlak berhias (3) Nilai-nilai positif akhlak berhias (4) Membiasakan akhlak berhias 5) Guru meminta kepada setiap kelompok untuk mempresentasikan teks pidatonya 6) Guru mewajibkan kepada setiap kelompok untuk memberikan pertanyaan dan tanggapan atas pidato kelompok lain. 7) Guru menyimpulkan materi Strategi ini juga dapat divariasi dengan menjadikan teks pidato dan pencarian dalil sebagai tugas rumah sehingga siswa dapat mencari dan menggali informasi sebanyak-banyaknya melalui berbagai sumber belajar

29

baik pustaka maupun media massa yang berkaitan dengan tema yang ditetapkan. d. Indeks Card Match (Mencocokkan Kartu Indeks) Ini merupakan cara menyenangkan dan aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran. Ia membolehkan peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis kepada teman sekelas.40 Prosedur: 1) Guru menjelaskan materi tentang akhlak kepada orang lain 2) Pada kartu indeks terpisah, guru menulis pertanyaan tentang apapun yang telah diajarkan (yang berkaitan dengan akhlak kepada orang lain) 3) Pada kartu terpisah, guru menulis jawaban bagi setiap pertanyaan tersebut 4) Semua kartu dicampurkan kemudian dikocok sampai benar-benar tercampur 5) Guru membagikan kartu indeks tersebut kepada setiap siswa. Sebagian memegang pertanyaan review dan sebagian lain memegang jawaban 6) Guru meminta siswa untuk menemukan kartu permainannya 7) Ketika semua pasangan permainan telah menempati tempatnya, guru meminta setiap pasangan untuk menguji siswa kelas selebihnya dengan membacakan pertanyaannya dan menantang teman kelas untuk menginformasikan jawaban kepadanya. 40

Mel Silberman, Active Learning…, hal. 224.

30

8) Guru memberikan penguatan e. Quiz Team (Menguji Tim) Teknik tim ini meningkatkan kemampuan tanggung jawab peserta didik untuk apa yang mereka pelajari melalui cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.41 Prosedur: 1) Guru memilih topik yang bisa disajikan dalam tiga segmen (akhlak berpakaian, akhlak kepada Allah, diri sendiri, dan orang lain) 2) Guru membagi siswa menjadi tiga tim (A, B, dan C) untuk bermain Quiz Team. 3) Guru menjelaskan format pelajaran dan memulai penyajian materinya serta memberikan batasan waktu hingga 10 menit 4) Guru meminta tim A untuk menyiapkan kuis dengan jawaban singkat. Dan kuis tersebut harus sudah siap dalam kurun waktu tidak lebih dari 5 menit. Tim B dan C memanfaatkan waktu tersebut untuk memeriksa catatan mereka. 5) Tim A memberi kuis kepada anggota tim B. Jika tim B tidak dapat menjawab satu pertanyaan, tim C segera menjawabnya. 6) Tim A mengarahkan pertanyaan berikutnya kepada anggota tim C, dan mengulang proses tersebut.

41

Mel Silberman, Active Learning…, hal. 154.

31

7) Ketika kuisnya selesai, guru melanjutkan ke segmen yang kedua dan menunjuk tim B sebagai pemandu kuis. 8) Setelah tim B menyelesaikn kuisnya, guru melanjutkan ke segmen yang ketiga dan menunjuk tim C sebagai pemandu kuis. 9) Guru memberikan penguatan Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar, hendaknya kita membuat pelajaran itu menantang, merangsang daya cipta untuk menemukan, dan mengesankan. Guna menerapkan cara belajar siswa aktif perlu menghayati sejumlah prinsip yang dilandasi penelitian psikologi belajar dan uji cobanya dalam proses belajar mengajar, diantarannya: 1) Prinsip motivasi Motif adalah daya dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Kalau seorang siswa rajin belajar, guru hendaknya menyelidiki apa kiranya motif yang mendorongnya. Guru hendaknya berperan sebagai pendorong, motivator, agar motof-motif yang positif dibangkitkan dan/ ditingkatkan dalam diri siswa. 2) Prinsip konteks Kegiatan belajar yang terjadi dalam kekosongan. Sudah jelas, para siswa yang mempelajari sesuatu hal yang baru telah pula mengetahui hal-hal lain yang secara langsung atau tak langsung berkaitan. Karena itu, para guru perlu menyelidiki apa kira-kira pengetahuan, perasaan, ketrampilan, sikap dan pengalaman yang telah dimiliki siswa. Perolehan ini perlu dihubungkan dengan bahan pelajaran baru yang hendak diajarkan guru atau dipelajari siswa. 3) Prinsip keterarahan pada titik pusat atau fokus tertentu Pelajaran yang direncanakan dalam suatu bentuk atau pola tertentu akan mampu mengaitkan bagian-bagian yang terpisah dalam suatu pelajaran. Tanpa suatu pola, pelajaran dapat terpecah-pecah, dan siswa akan sulit memusatkan perhatian. Titik pusat dapat tercipta melalui upaya merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab, atau merumuskan konsep yang hendak ditemukan. Titik pusat akan membatasi keluasan tujuan belajar serta akan memberikan arah pada tujuan yang hendak dicapai.

32

4) Prinsip hubungan sosial Dalam belajar siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekanrekan sebayanya, karena ada kegiatan belajar tertentu yang akan lebih berhasil jika dikerjakan bersama-sama. 5) Prinsip belajar sambil bekerja Anak-anak pada hakikatnya belajar sambil bekerja atau melakukan aktifitas. Bekerja adalah tuntutan pernyataan diri anak. Karena itu, anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan nyat yang melibatkan otot dan pikirannya. Semakin anak tumbuh semakin berkurang kadar bekerja dan semakin bertambah kadar berpikir. 6) Prinsip perbedaan perorangan Setiap siswa tentu memilliki perbedaan individual, misalnya dalam kadar kepintaran, bakat, sifat, dan kebiasaan. Oleh karena itu, hendaknyab tidak memperlakukan seolah semua siswa itu sama. Jika perbedaan siswa dipelajari dan dimanfaatkan dengan tepat, maka kecepatan dan keberhasilan belajar anak demi anak dapat ditumbuhkembangkan. 7) Prinsip menemukan Para guru tidak perlu menjejalkan seluruh informasi ke dalam benak anak. Anak sndiri hakikatnya telah memiliki potensi dalam dirinya untuk menemukan sendiri informasi. Biarkanlah dan berilah kesempatan kepadanya untuk mencari dan menemukan sendiri. 8) Prinsip pemecahan masalah. Seluruh kegiatan siswa akan terarah jika didorong untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Guna mencapai tujuan-tujuan, siswa dihadapkan dengan situasi bermasalah agar merekan peka terhadap masalah.42

F. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. Setiap penelitian, membutuhkan metode yang merupakan unsur penting dalam proses penelitian, karena metode dapat

42

Conny Semiawan dkk, Pendekatan Ketrampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar, (Jakarta: PT. Gramedia, 1990), hal. 9-13.

33

memberikan arah tentang cara pelaksanaan penelitian, sehingga dapat dipertanggung jawabkan. Metode penelitian terdiri dari: 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini termasuk penelitian lapangan atau kancah (Field Research) yang bersifat kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian kualitatif dilakukan untuk memahami fenomena sosial dari pandangan pelakunya.43 Alasan pemilihan metode deskriptif adalah karena penelitian ini bertujuan memperoleh informasi tentang status gejala pada saat penelitian dilakukan. Jenis penelitian ini pada hakikatnya adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, dan berinteraksi dengan mereka. Melalui penelitian dengan mempergunakan metode deskriptif, akan diperoleh pemahaman dan penafsiran secara mendalam mengenai makna dari kenyataan dan fakta yang relevan. Pertimbangan lain dipilihnya metode ini adalah fakta atau permasalahan yang ditemukan lebih tepat bila dipecahkan dengan metode kualitatif. Karena permasalahan yang diangkat yaitu tentang belum maksimalnya hasil pembelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul.

43

Sardjono, dkk, Panduan Penulisan Skripsi, (Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2004), hal. 23.

34

2. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan psikologi pendidikan. Dipilihnya psikologi pendidikan sebagai pendekatan dalam penelitian ini karena psikologi pendidikan mempelajari tentang pelajar atau siswa, belajar, dan mengajar.44 Prinsip-prinsip ini memusatkan perhatian, di mana informasi, ketrampilan, nilai, dan sikap diteruskan dari guru ke siswa. Psikologi pendidikan terutama berhubungan dengan apa yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu proses interaksi antara guru dan siswa di kelas guna mencapai tujuan pembelajaran. Seluruh kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu membantu pengembangan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Oleh karena itu, peran guru sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih serta pembimbing sangatlah dibutuhkan. Dan melalui pendekatan ini, penulis mencoba melihat karakteristik, kondisi, serta latar belakang guru dan siswa sebagai pihak-pihak yang berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran. 3. Metode Penentuan Subyek Penelitian Metode penentuan subyek adalah metode penentuan sumber data. Sumber data sendiri adalah darimana data diperoleh.45 Sedangkan subyek penelitian adalah sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki data-data 44

Sri Esti Wuryani Dj, Psikologi Pendidikan..., hal. 30. Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, cet. Keempat, 2003), hal. 102. 45

35

mengenai variabel yang akan diteliti. Yang menjadi subyek penelitian dalam penelitian ini adalah: a. Kepala Sekolah MAN Gandekan Bantul b. Guru mata pelajaran Aqidah Akhlak MAN Gandekan Bantul c. Siswa MAN Gandekan Bantul 4. Metode Pengumpulan Data a. Metode Interview Metode interview atau wawancara ini penulis gunakan untuk memperoleh data melalui tatap muka secara langsung dengan responden. Anas Sudijono mendefinisikan metode interview adalah cara-cara menghimpun bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab secara lisan, secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah dan tujuan yang telah ditentukan.46 Dalam pelaksanannya, penulis menggunakan teknik interview terpimpin/bebas terarah. Artinya penulis sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang akan diajukan kepada responden, akan tetapi wawancara yang penulis kehendaki sifatnya tidak mengikat, sehingga bisa jadi muncul penambahan /pengurangan pertanyaan. Wawancara ini ditujukan kepada kepala sekolah, guru mata pelajaran Aqidah Akhlak , siswa MAN Gandekan Bantul.

46

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 82.

36

b. Metode Observasi Metode obserasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.47 Observasi yang penulis gunakan adalah observasi partisipan. Yaitu penulis mengobservasi dengan cara terlibat langsung dan ikut dalam kegiatan yang akan diobservasi. Metode ini penulis gunakan untuk mengetahui keadaan obyektif MAN Gandekan Bantul, mengetahui situasi dan kondisi pada saat pembelajaran Aqidah Akhlak berlangsung, serta untuk mengecek data atau hal yang diperoleh dari hasil observasi dengan realita yang ada. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan serta berupa catatan lapangan. c. Metode Dokumentasi Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada obyek yang diteliti, namun melalui dokumen. Metode ini, penulis maksudkan untuk memperoleh data yang sudah berwujud dokumentasi tentang MAN Gandekan Bantul, seperti letak dan keadaan geografis, tujuan didirikannya, struktur organisasi, keadaan guru, siswa dan karyawan, keadaan sarana dan prasarana sekolah, serta kegiatankegiatan yang berhubungan dengan Pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul. 47

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi..., hal. 76.

37

5. Metode Analisis Data Analisis data merupakan suatu cara untuk mengolah data setelah diperoleh hasil penelitian, sehingga dapat diambil kesimpulan berdasarkan data yang faktual. Dalam penelitian ini metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif analitik yaitu suatu usaha mengumpulkan dan menyusun suatu data, kemudian diusahakan adanya analisis dan interpretasi atau penafsiran data tersebut.48 Data-data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan data kualitatif deskriptif yang sifatnya pemaknaan untuk mengungkapkan keadaan atau karakteristik sumber data. 6. Metode Pemeriksaan Keabsahan Data Untuk mengetahui keabsahan data, maka digunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data. Triangulasi yang penulis gunakan adalah triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data dan membandingkan dengan sumber data yaitu lisan (informan) dan perbuatan (peristiwa). Sedangkan untuk triangulasi metode ada dua strategi, yaitu:

48

Winarso Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah; Dasar Metode dan Teknik, (Bandung: Tarsito, 1998), hal. 139.

38

a. Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data. b. Pengecekan

derajat

kepercayaan

beberapa

sumber

data

dengan

menggunakan metode yang sama.49

G. Sistematika Pembahasan Sistematika pembahasan di dalam penyusunan skripsi ini dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman Surat Pernyataan, halaman Persetujuan Pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan daftar lampiran. Bagian tengah terdiri dari uraian penelitian mulai dari bagian pendahuluan sampai bagian penutup yang tertuang dalam bentuk bab-bab sebagai satu kesatuan. Pada skripsi ini penulis menuangkan hasil penelitian dalam empat bab. Pada tiap bab terdapat sub-sub bab yang menjelaskan pokok bahasan dari bab yang bersngkutan. Bab I skripsi ini berisi gambaran umum penulisan skripsi yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, kajian pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

49

Lexy. J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), cet XVI, hal. 178.

39

Bab II berisi gambaran umum tentang Madrasah Aliyah Negeri Gandekan Bantul. Pembahasan pada bagian ini difokuskan pada letak geografis, sejarah berdiri, struktur organisasi, keadaan guru, program-program, keadaan peserta didik, dan sarana prasarana yang ada pada MAN Gandekan Bantul. Berbagai gambaran tersebut dikemukakan terlebih dahulu sebelum membahas berbagai hal tentang penggunaan metode Active Learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak pada bagian selanjutnya. Setelah membahas tentang gambaran umum lembaga, pada bab III berisi pemaparan data beserta analisis kritis tentang pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul. Pada bagian ini, uraian difokuskan pada beberapa metode Active Learning yang digunakan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, proses pelaksanaan pembelajarannya, dan penyebab belum kondusifnya pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning. Adapun bagian terakhir dari bagian inti adalah bab IV. Bagian ini disebut penutup yang memuat simpulan, saran-saran, dan kata penutup. Akhirnya, bagian akhir dari skripsi ini terdiri dari daftar pustaka dan berbagai lampiran yang terkait dengan penelitian.

40

BAB IV PENUTUP

A. Simpulan Dari uraian dan analisis hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan: 1. Pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul mencakup tiga tahapan pembelajaran, yaitu tahap pra instruksional, tahap instruksional, dan tahap tindak lanjut. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung lebih mengaktifkan peserta didik (subject centered design), yaitu dengan menerapkan beberapa metode Active Learning yang cukup bervariatif. 2. Metode Active Learning yang diterapkan di MAN Gandekan Bantul, diantaranya adalah Action Learning, Quiz Team, Indeks Card Match, Information Search, Telling Story, dan Resitasi. Action Learning bertujuan agar siswa dapat belajar dengan melakukan, siswa diberi kesempatan untuk mengalami dari dekat suatu kehidupan nyata yang menyetting aplikasi topik dan isi yang dipelajari atau didiskusikan di kelas. Namun, implementasi pembelajaran di kelas adalah siswa diminta untuk menilai antar teman secara berpasangan. Quiz Team merupakan teknik tim untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa atas apa yang mereka pelajari dengan cara yang menyenangkan dan tidak membuat mereka merasa takut. Tujuan ini belum sepenuhnya dapat tercapai karena realisasi penerapan Quiz Team di kelas

120

justru membuat situasi kelas tidak kondusif dengan munculnya kegaduhan yang tentunya mengganggu proses pembelajaran kelas lain. Indeks Card Match merupakan cara yang menyenangkan dan aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran. Prosesnya sudah berjalan dengan baik, namun hanya berorientasi pada keaktifan siswa saja dan kurang memperhatikan kedalaman materi. Information Search merupakan teknik tim untuk mencari informasi yang dapat melatih kekompakan dan kerjasama siswa, serta diskusi yang dilakukan untuk membiasakan siswa berpikir logis dan sistematis. Implementasi di kelas sudah berjalan dengan baik meskipun siswa belum aktif secara keseluruhan. Telling Story bertujuan agar siswa dapat mengambil hikmah (pelajaran berharga) serta meneladani hal positif dari suatu kisah. Realisasi pembelajaran di kelas kurang kondusif karena banyak siswa yang ramai dan guru kurang mampu mengendalikannya. Resitasi bertujuan agar siswa memperoleh pengetahuan yang lebih dengan mencari, membaca, serta mengerjakan sesuatu secara langsung. Dalam implementasi metode resitasi, guru kurang mengontrol proses penyelesain tugas yang dikerjakan siswa. Peran guru dalam metode resitasi ini hanya sebatas memberikan tugas dan menilai hasil kerja siswa. 3. Penerapan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul kurang maksimal. Yang dimaksudkan kurang maksimal di sini adalah realisasi pembelajaran di kelas kurang kondusif. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, diantaranya: Pertama, karena kondisi siswa yang belum siap untuk

121

melaksanakan kegiatan pembelajaran dan melaksanakan metode sesuai dengan instruksi dari guru, serta susah untuk dikondisikan, kedua, adanya pemahaman siswa bahwa pembelajaran adalah proses menerima informasi dari guru bukan sebagai kegiatan untuk menggali informasi, paradigma siswa seperti inilah yang harus dirubah, ketiga, guru belum mampu memanfaatkan teknologi, seperti menggunakan laptop dan LCD sehingga metode yang membutuhkan media tersebut dalam penerapannya menjadi kurang maksimal karena guru hanya menggunakan media white board dan alat tulis, keempat, guru mempunyai persepsi yang berbeda berkenaan dengan penerapan metode, dan kelima, guru kurang mampu mengelola pembelajaran dengan baik.

B. Saran-Saran Adapun beberapa saran yang dapat diberikan adalah: 1. Untuk membuat siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran, guru harus lebih kreatif dan mempunyai inovasi-inovasi baru dalam mengembangkan metode

pembelajaran

sehingga

pembelajaran

menjadi

kondusif,

menyenangkan, dan menarik. 2. Dalam

penerapan

metode

Active

Learning,

hendaknya

guru

lebih

memperhatikan kualitas pembelajaran karena hal ini akan berpengaruh pada hasil belajar siswa.

122

3. Pemilihan metode hendaknya disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan, kondisi siswa, serta media pembelajaran agar siswa lebih aktif, tidak jenuh dan pesan pembelajaran bisa tersampaikan secara optimal. 4. Bagi setiap guru mata pelajaran hendaknya dapat mengembangkan materi yang ada dalam silabus dan tidak hanya transfer of knowledge saja.

C. Kata Penutup Alhamdulillah, segala puji penulis haturkan kepada Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya serta senantiasa memberikan kekuatan dan kemudahan kepada penulis sehingga penulis mampu menyelesaikan penelitin ini dengan sebaik-baiknya. Shalawat dan salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kritik dan saran konstruktif sangat penulis harapkan, karena skripsi ini jauh dari sempurna disebabkan keterbatasn yang penulis miliki. Semoga penulisan skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi dunia pendidikan umumnya. Selanjutnya penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, semoga mendapatkan imbalan yang jauh lebih baik dari Allah SWT., Amin Ya Robbal ‘Alamin.

123

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu & Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2001. Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1993. Bahri, Syaiful Djamarah dan Aswan Zein, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta. 2002. Dalyono, M., Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 2005. Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2005. Edidarmo, Toto, & Mulyadi, Pendidikan Agama Islam: Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah Kelas X, Semarang: PT. Karya Toha Putra, cet pertama April 2009. Esti, Sri Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Grassindo, cet ketiga, 2006. Hakimah, Aenun, ”Penerapan Strategi Active Learning Dalam Pembelajaran Fiqh (Studi Kasus di Kelas Wustho Madrasah Diniyah Miftahul Huda Desa Mandiraja Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang)”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004. Http://Mahmudin.wordpress.com/2010/02/18/menciptakan-lingkungan-pembelajaranyang-kondusif/. Kamis, 25 Februari. Http://sdmudakreatif.sch.id/2010/01/menciptakan-pembelajaran-yang-kondusif/, Kamis, 25 Februari. Lailah, Niswatul, ”Konsep Active Learning dan Relevansinya Dengan Pengajaran Muhadatsah”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2003. Masfufah, ”Pembelajaran Active Learning Dalam Pembelajaran Fiqih dan Qur’an Hadist Pada Siswa Kelas IX MTsN Triwarno Kutowinangun Kebumen”, Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008.

124

Maunah, Binti, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Yoyakarta: TERAS, Juni 2009. Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cet XVI, 2002. Mulyasa, Enco, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, cetakan kelima, 2008. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) Beserta Penjelasannya, Bandung: Citra Umbara, 2006. Sanaky, AH. Hujair, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Yogyakarta: Safria Insania Press, 2003. Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media group, cet. Kelima, 2008. Sardjono, dkk, Panduan Penulisan Skripsi, Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2004. Semiawan, Conny, dkk., Pendekatan Ketrampilan Proses: Bagaimana Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar, Jakarta: PT. Gramedia, 1990. Silberman, Mel, Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: YAPPENDIS, 2005. Sudijono, Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996. Sudjana, H. D., Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif, Bandung: Falah Production, 2007. Sudjana, Nana, Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005. Surakhmad, Winarso, Pengantar Penelitian Ilmiah; Dasar Metode dan Teknik., Bandung: Tarsito, 1998. Syaodih, Nana, Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.

125

Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2004. Undang-Undang Sikdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) Nomor 20 Tahun 2003 Beserta Penjelasannya, Bandung: Citra Umbara, 2006. Yusuf, Syamsu, Psikologi Belajar Agama (Pespektif Pendidikan Agama Islam), Bandung: Pustaka Bani Quraisy, cet I, 2003. Wijowasito & Tito Wasito, Kamus Lengakap Inggeris-Indonesia, IndonesiaInggeris, Bandung: HASTA., cet ke sepuluh, 1980.

126

Lampiran 1 Pedoman Pengumpulan Data

PEDOMAN WAWANCARA

A. Ditujukan kepada Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Negeri Gandekan Bantul 1. Bagaimana pandangan Anda tentang metode Active Learning? 2. Apakah sekolah sudah mengadakan pelatihan metode Active Learning kepada guru? 3. Apa upaya Anda untuk mendorong guru dalam rangka menerapkan metode Active Learning dalam pembelajaran? 4. Apa kebijakan Anda untuk mendorong guru menggunakan metode Active Learning dalam pembelajaran? 5. Bagaimana cara Anda dalam mensosialisasikan penerapan metode Active Learning dalam pembelajaran? 6. Sejauh ini apakah Madrasah sudah menerapkan metode Active Learning secara rutin? 7. Apa saja kendala yang dihadapi dalam penerapan metode Active Learning?

B. Ditujukan kepada Guru Aqidah Akhlak Madrasah Aliyah Negeri Gandekan Bantul 1. Apa pendapat Anda tentang pembelajaran aktif (Active Learning)? 2. Apa

yang

paling

penting

untuk

diperhatikan

ketika

pembelajaran

menggunakan metode Active Learning? 3. Apakah sekolah sudah mengadakan pelatihan metode Active Learning kepada guru?

127

4. Persiapan apa saja yang Anda lakukan sebelum melaksanakan pembelajaran dengan metode ini? 5. Apakah Anda selalu menerapkan metode ini secara rutin, mengapa? 6. Apakah Anda membuat silabus dan RPP? 7. Bagaimana langkah-langkah yang Anda lakukan untuk pengembangan penerapan metode Active Learning? 8. Apa prinsip Anda dalam mengembangkan metode Active Learning? 9. Dalam pengembangan mata pelajaran Aqidah Akhlak, aspek apa yang lebih ditekankan? 10. Hal apa saja yang menjadi bahan pertimbangan Anda dalam penggunaan metode Active Learning? 11. Bagaimana penerapan metode Active Learning dalam proses pembelajaran yang Anda lakukan? 12. Menurut Anda apa manfaat metode Active Learning? 13. Apa harapan Anda dalam penerapan metode Active Learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak? 14. Bagaimana keadaan siswa ketika Anda menerapkan metode tersebut? 15. Bagaimana kondisi kelas ketika Anda menerapkan metode tersebut? 16. Apa saja yang Anda lakukan untuk meningkatkan kualitas siswa? 17. Metode Active Learning apa saja yang Anda terapkan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak? 18. Mengapa Anda menggunakan metode tersebut? 19. Sumber belajar atau media pembelajaran apa saja yang Anda gunakan untuk memperlancar proses pembelajaran? 20. Apakah Anda sudah membuat sumber belajar atau media pembelajaran secara mandiri? 21. Bagaimana cara Anda mengelola kelas?

128

22. Dalam proses pembelajaran, apakah Anda langsung menggunakan metode Active Learning secara keseluruhan atau bertahap melihat kondisi siswa? 23. Bagaimana hasil penerapan metode Active Learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak? 24. Apakah Anda memberikan penugasan kepada siswa? 25. Penugasan dalam bentuk apa saja yang Anda berikan kepada siswa? 26. Bagaimana cara Anda menilai hasil pembelajaran? 27. Sejauh mana pengaruh pembelajaran Aqidah Akhlak terhadap perubahan sikap siswa MAN Gandekan Bantul? 28. Perangkat penilaian apa saja yang Anda gunakan untuk menilai hasil pembelajaran? 29. Prinsip apa saja yang Anda gunakan dalam mengevaluasi hasil pembelajaran? 30. Apakah alokasi waktu yang diberikan sekolah untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak sudah cukup? 31. Apakah selama proses pembelajaran Aqidah Akhlak Anda mendapat dukungan dalam proses pelaksanaannya? 32. Faktor apa saja yang mendukung keberhasilan metode Active Learning dalam pelaksanaannya? 33. Tentunya dalam setiap melakukan sesuatu ada kendala yang dihadapi, terkait pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak kendala apa saja yang Anda hadapi baik dari segi intern maupun ekstern?

C. Ditujukan kepada siswa Madrasah Aliyah Negeri Gandekan Bantul 1. Apakah pembelajaran Aqidah Akhlak kondusif dan menyenangkan? Mengapa? 2. Apakah pembelajaran Aqidah Akhlak sudah sesuai dengan harapan Anda, apa alasannya? 3. Apakah Anda senang dengan metode yang diterapkan oleh guru? Mengapa?

129

4. Apakah dengan metode yang digunakan guru dapat meningkatkan pemahaman Anda pada mata pelajaran Aqidah Akhlak? Mengapa? 5. Apakah dengan metode yang digunakan guru dapat meningkatkan motivasi belajar Anda pada mata pelajaran Aqidah Akhlak? Mengapa? 6. Apakah dengan metode yang digunakan guru dalam pembelajaran Aqidah Akhlak dapat memberikan penghayatan kemudian memotivasi untuk merubah sikap Anda? Mengapa? 7. Apa tujuan Anda belajar Aqidah Akhlak? 8. Apakah guru sering mengajak diskusi? 9. Bagaimana sumber belajar atau media pembelajaran yang digunakan guru? 10. Apakah guru sering memberi tugas? 11. Tugas apa saja yang diberikan oleh guru? 12. Apakah alokasi waktu yang diberikan oleh sekolah untuk mata pelajaran Aqidah Akhlak sudah cukup menurut Anda? Mengapa?

130

PEDOMAN DOKUMENTASI

1. Letak geografis MAN Gandekan Bantul 2. Sejarah singkat dan latar belakang beridirinya MAN Gandekan Bantul 3. Visi, misi, dan tujuan pendidikan MAN Gandekan Bantul 4. Bagan struktur organisasi MAN Gandekan Bantul 5. Keadaan guru, karyawan, dan siswa MAN Gandekan Bantul 6. Keadaan sarana dan prasarana 7. Perangkat pembelajaran Aqidah Akhlak yang meliputi silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

PEDOMAN OBSERVASI

1. Letak geografis MAN Gandekan Bantul 2. Kegiatan pembelajaran Aqidah Akhlak MAN Gandekan Bantul

131

Lampiran II Catatan Lapangan Penelitian I Metode Pengumpulan Data: Observasi

Hari/Tanggal

: Jum’at, 13 November 2009

Jam

: 09.00-10.00 WIB

Lokasi

: MAN Gandekan Bantul

Sumber Data

: MAN Gandekan Bantul

Deskripsi Data: Observasi yang dilakukan penulis adalah merupakan observasi pertama kali yang bertujuan untuk mengetahui letak geografis MAN Gandekan Bantul. Yang penulis amati diantaranya adalah batas wilayah dan keadaan sekitarnya. Secara geografis MAN Gandekan Bantul terletak di jantung kota kabupaten Bantul yang lokasinya berdekatan dengan kantor pemerintah Kabupaten Bantul kurang lebih 500 meter ke arah barat. Tepatnya di Jl. Prof. Dr Supomo, SH., Dusun Bantul Karang, Ringinharjo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun batas wilayahnya yaitu, sebelah barat berbatasan dengan rumah warga, sebelah utara berbatasan dengan Jl. Prof. Dr. Supomo, SH., sebelah timur berbatasan dengan rumah warga, dan sebelah selatan berbatasan dengan areal persawahan. Secara umum MAN Gandekan Bantul memiliki gedung yang baik dan fasilitas yang cukup memadai. Pada observasi ini, peneliti juga menemui Kepala Madrasah, staff Tata Usaha, dan para guru. Semua unsur pelaku pendidikan di MAN Gandekan Bantul menyambut dengan baik dan ramah terhadap kedatangan peneliti dan menyatakan bersedia untuk membantu memberikan informasi dan data-data yang dibutuhkan peneliti.

132

Interpretasi: MAN Gandekan Bantul terletak di kawasan strategis untuk pelaksanaan pendidikan. Hal ini dikarenakan MAN Gandekan Bantul berada di jantung kota Bantul yang mempermudah siswa-siswi mengakses informasi.

133

Lampiran III Catatan Lapangan Penelitian 2 Metode Pengumpulan Data: Wawancara

Hari/Tanggal

: Jum’at, 15 Januari 2010

Jam

: 08.00-09.00 WIB

Lokasi

: Ruang guru MAN Gandekan Bantul

Sumber Data

: Dra. Rusnani

Deskripsi Data: Informan adalah Dra. Rusnani selaku guru Aqidah Akhlak MAN Gandekan Bantul. Wawancara dilakukan untuk mengetahui metode pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul. Wawancara ini merupakan yang pertama dengan informan dan dilaksanakan di ruang guru MAN Gandekan Bantul. Dari wawancara tersebut terungkap bahwa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, MAN Gandekan Bantul sudah menerapkan metode Active Learning yang cukup bervariatif. Dengan metode ini siswa lebih mudah diajak berkomunikasi sehingga hasil pembelajaran yang dicapai lebih baik. Contoh pembelajaran aktif adalah dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir, mengajak siswa berdiskusi, memberikan ilustrasi yang bervariatif.

Interpretasi: Pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul sudah menerapkan metode Active Learning yang cukup bervariatif.

134

Lampiran IV Catatan Lapangan Penelitian 3 Metode Pengumpulan Data: Wawancara

Hari/Tanggal

: Jum’at, 15 Januari 2010

Jam

: 09.00-10.00 WIB

Lokasi

: Ruang guru MAN Gandekan Bantul

Sumber Data

: Dra. Rusnani

Deskripsi Data: Informan adalah Dra. Rusnani selaku guru Aqidah Akhlak MAN Gandekan Bantul. Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui metode Active Learning apa saja yang diterapkan dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di MAN Gandekan Bantul. Wawancara ini merupakan yang kedua dengan informan dan dilaksanakan di ruang guru MAN Gandekan Bantul. Dalam pembelajaran Aqidah Akhlak, Dra. Rusnani sudah menggunakan beberapa metode Active Learning yang cukup variatif, diantaranya Information Search, Indeks Card Match, Role Playing, Quiz Team, Action Learning, dan lain-lain. Materi yang akan diajarkan, media pembelajaran, dan kondisi siswa merupakan beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam menentukan metode yang akan diterapkan.

Interpretasi: Dengan menggunakan metode pembelajaran aktif, maka pembelajaran akan terasa lebih menyenangkan. Pemilihan metode harus disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan, media pembelajaran, dan kondisi siswa. Dengan metode pembelajaran aktif ini, siswa akan lebih mudah faham karena siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

135

Lampiran V Catatan Lapangan Penelitian 4 Metode Pengumpulan Data: Wawancara

Hari/Tanggal

: Rabu, 27 Januari 2010

Jam

: Jam 12.20-13.40 WIB

Lokasi

: Ruang Guru MAN Gandekan Bantul

Sumber Data

: Dra. Rusnani

Deskripsi Data: Informan adalah guru mata pelajaran Aqidah Akhlak MAN Gandekan Bantul. Wawancara dilakukan untuk mengetahui pandangan informan tentang metode Active Learning dan tujuan informan menerapkannya dalam pembelajaran Aqidah Akhlak. Menurut informan metode Active Learning adalah metode yang sangat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran. Tujuan penerapan metode pembelajaran aktif adalah untuk membuat siswa aktif, maksudnya adalah belajar dan mengalami, menumbuhkan skill siswa dalam berpikir, berbicara dan mendengar (seluruh anggota tubuh aktif), serta menumbuhkan motivasi dan semangat siswa dalam pembelajaran.

Interpretasi: Belajar aktif meliputi berbagai cara untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui berbagai aktivitas yaitu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan tentang pelajaran tertentu dan mendiskusikannya dengan orang lain, memecahkan masalah sendiri, menemukan contoh-contoh, mencoba ketrampilan-ketrampilan dan melakukan tugas-tugas yang tergantung pada pengetahuan yang telah mereka miliki atau yang harus mereka capai.

136

Lampiran VI Catatan Lapangan 5 Metode Pengumpulan Data: Wawancara

Hari/Tanggal

: Rabu, 27 Januari 2010

Jam

: Jam 13.40-14.00 WIB

Lokasi

: Ruang Guru MAN Gandekan Bantul

Sumber Data

: Dra. Rusnani

Deskripsi Data: Informan adalah guru mata pelajaran Aqidah Akhlak MAN Gandekan Bantul. Wawancara dilakukan untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat penerapan metode Active Learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak. Penerapan metode Active Learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambatnya. Informan mengatakan bahwa faktor pendukung penerapan metode Active Learning dalam pembelajaran Aqidah Akhlak adalah guru dituntut untuk mengembangkan diri, terampil dan kreatif dalam penggunaan metode yang merupakan sarana untuk mempermudah tercapainya hasil pembelajaran secara maksimal, tuntutan kepada peserta didik untuk lebih berperan aktif dalam pembelajaran. Sedangkan faktor penghambat yang menjadikan proses pembelajaran kurang maksimal (kurang kondusif), adalah: 1. Guru mata pelajaran Aqidah Akhlak masih gagap teknologi sehingga belum memanfaatkan media pembelajarn yang lebih menunjang pembelajaran. 2. Siswa kadang belum benar-benar siap untuk menerima materi dan melaksanakan metode yang diterapkan 3. Kurangnya minat siswa dalam rumpun pelajaran Agama Islam dalam hal ini mata pelajaran Aqidah Akhlak

137

4. Pengaturan posisi duduk yang kurang mendukung untuk pembelajaran Active Learning karena meja dan kursi yang berat sehingga susah untuk diatur posisi yang sesuai dengan metode 5. Siswa kadang mempunyai masalah pribadi sehingga siswa menjadi malas dan badmood, dan akhirnya tidak konsentrasi pada pembelajaran yang berlangsung.

Interpretasi: Dari uraian yang dikatakan informan dapat ditarik kesimpulan bahwasanya penerapan metode Active Learning banyak mengalami hambatan. Perlu adanya dukungan semua pihak agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik.

138

Lampiran VII Catatan Lapangan Penelitian 6 Metode Pengumpulan Data: Wawancara

Hari/Tanggal : Selasa, 02 Februari 2010 Jam

: 08.30-09.30 WIB

Lokasi

: Ruang kelas XI IPA 2

Sumber Data : Siswa/siswi kelas XI IPA 2 (M. Rofi’i Abdillah, Siti Barokah, Suparyanti, Danik, Ratih, Salis Nurjannah, Siti M.)

Deskripsi Data: Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan siswa tentang pembelajaran Aqidah Akhlak meliputi tanggapan terhadap proses pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas, metode yang diterapkan guru, media yang digunakan oleh guru, penyampaian materi oleh guru, dan tingkat pemahaman mereka terhadap materi Aqidah Akhlak yang telah disampaikan. Sebagian besar siswa kelas XI IPA 2 MAN Gandekan Bantul memberikan respons positif terhadap pembelajaran Aqidah Akhlak yang dilaksanakan guru. Siswa beranggapan bahwa pembelajaran Aqidah Akhlak menyenangkan dan sudah sesuai dengan harapan. Guru sudah menerapkan beberapa metode pembelajaran aktif seperti diskusi, Indeks Card Match, dan Information Search. Sebagian besar siswa juga cukup antusias dan aktif dalam pembelajaran, meskipun masih ada beberapa yang pasif. Ceramah disampaikan secara mendalam dengan memberikanan penekanan pada hal-hal yang penting disertai dengan contoh/ilustrasi yang konkrit sehingga siswa mudah memahami. Namun, media dan sumber yang digunakan guru dalam pembelajaran masih kurang. Guru hanya memanfaatkan white board, alat tulis, dan kertas, belum pernah menggunakan media audio, audio visual seperti laptop, LCD,

139

pemuataran film, dan lain-lain. Sumber pembelajaran juga hanya buku paket Aqidah Akhlak dari sekolah. Pembelajaran Aqidah Akhlak ini bisa memberikan motivasi kepada siswa kelas XI IPA 2 untuk merubah tingkah laku dan sikap mereka menjadi lebih baik serta meningkatkan pemahaman mereka. Karena guru memberikan teladan yang baik dengan sikapnya yang sabar dan santun.

Interpretasi: Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa dengan penerapan metode Active Learning dapat membuat siswa aktif dalam pembelajaran, memahami materi yang disampaikan oleh guru, serta ada keinginan untuk merubah tingkah laku/karakter menjadi lebih baik.

140

Lampiran VIII Catatan Lapangan Penelitian 7 Metode Pengumpulan Data: Wawancara

Hari/Tanggal : Selasa, 02 Februari 2010 Jam

: 07.30-08.30 WIB

Lokasi

: Ruang kelas XI IPS 1

Sumber Data : Siswa/siswi kelas XI IPS 1 (Gusrian, Ariafuddin, Saiful Anif, Taufik Munandar, M. Khusnul, Irma Rahmawati, Ayik, Anik, Fitriani, Fatimah, Wahyu.).

Deskripsi Data: Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan siswa tentang pembelajaran Aqidah Akhlak meliputi tanggapan terhadap proses pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas, metode yang diterapkan guru, media yang digunakan oleh guru, penyampaian materi oleh guru, dan tingkat pemahaman mereka terhadap materi Aqidah Akhlak yang telah disampaikan. Sebagian siswa kelas XI IPS I MAN Gandekan Bantul memberikan respon positif terhadap pembelajaran Aqidah Akhlak yang dilaksanakan guru. Mereka beranggapan bahwa pembelajaran Aqidah Akhlak cukup menyenangkan. Namun sebagian memberikan respon negatif terhadap pembelajaran Aqidah Akhlak. Mereka beranggapan bahwa pembelajaran Aqidah Akhlak membosankan, belum sesuai dengan harapan siswa, dan guru lebih sering menggunakan metode konvensional (ceramah). Kalaupun guru menerapkan metode pembelajaran aktif seperti diskusi, Indeks Card Match, Sosio Drama, masih banyak siswa yang tidak aktif. Beberapa keluhan tersebut lebih banyak disebabkan dari faktor siswa sendiri. Siswa tidak siap mengikuti pembelajaran, kurang konsentrasi terhadap materi yang disampaikan, dan merasa malas/ogah-ogahan.

141

Media dan sumber yang digunakan guru dalam pembelajaran masih kurang. Guru hanya memanfaatkan white board, alat tulis, dan kertas, belum menggunakan media audio dan audio visual seperti laptop, LCD, pemuataran film, dan lain-lain. Sumber pembelajaran juga hanya buku paket dari sekolah. Penugasan lebih sering dalam bentuk mencatat dan mengerjakan soal-soal yang ada pada buku paket Aqidah Akhlak. Pembelajaran Aqidah Akhlak ini hanya sedikit memberikan motivasi kepada siswa kelas XI IPS I untuk merubah tingkah laku dan sikap mereka menjadi lebih baik, karena menurut siswa motivasi terbesar adalah dari faktor keluarga, kemudian lingkungan sekitar. Sayangnya, sebagian siswa memiliki keluarga dan lingkungan yang kurang mendukung perubahan itu.

Interpretasi: Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa proses pembelajaran Aqidah Akhlak di kelas XI IPS I belum berjalan maksimal (kurang kondusif). Terbukti dengan masih banyaknya siswa yang belum memahami materi yang diajarkan, masih banyak siswa yang kurang aktif ketika diterapkan metode pembelajaran aktif (Active Learning) seperti diskusi dan Indeks Card Match. Jadi, keberhasilan pembelajaran melalui metode Active Learning tidak hanya ditentukan oleh kepiawaian guru dalam menerapkan metode tersebut sesuai dengan acuan prosedur, tetapi faktor siswa juga sangat menentukan keberhasilan tujuan pembelajaran dapat tercapai atau tidak.

142

Lampiran IX Catatan Lapangan Penelitian 8 Metode Pengumpulan Data: Wawancara

Hari/Tanggal : Selasa, 02 Februari 2010 Jam

: 09.30-10.00 WIB

Lokasi

: Ruang Kepala Sekolah

Sumber Data : Drs. H. Imam Sujai Fadly, M.Pd.I.

Deskripsi Data: Informan adalah Kepala Sekolah MAN Gandekan Bantul. Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui pandangan Kepala Sekolah tentang metode Active Learning, upaya-upaya yang dilakukan untuk mendorong guru menerapkan metode Active Learning, kebijakan seperti apa yang dapat memotivasi guru menerapkan metode Active Learning, dan kendala apa saja yang dihadapi dalam penerapan metode Active Learning di MAN Gandekan Bantul. Menurut Kepala Sekolah, penerapan metode Active Learning dalam pembelajaran sangat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu, dapat menjadikan pembelajaran menjadi lebih berkualitas. Upaya Kepala Sekolah untuk mendorong guru-guru menerapkan metode Active Learning adalah melalui pembinaan dan dalam waktu dekat akan menyelenggarakan program Lesson Study. Pelaksanaan program Lesson Study ini sesuai dengan guru rumpun pelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi (evaluasi). Secara garis besar MAN Gandekan Bantul sudah menerapkan metode Active Learning meskipun belum berjalan secara maksimal. Kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan metode Active Learning diantaranya dari faktor gurunya sendiri yang tidak kreatif. Di samping itu juga dari faktor siswanya. Untuk kelas yang sebagian besar siswanya

143

nakal dan ramai memang tidak bisa berjalan efektif ketika diterapkan metode Active Learning.

Interpretasi: Dari wawancara tersebut dapat diketahui bahwa dari pihak Kepala Sekolah sendiri sangat mendukung penerapan metode Active Learning dalam setiap pembelajaran di kelas. Hal ini dibuktikan dengan upaya Kepala Sekolah dengan mengadakan pembinaan kepada guru-guru tentang metode Active Learning serta telah direncanakan dalam waktu dekat untuk mengadakan Lesson Study. Hal ini bertujuan agar pembelajaran di MAN Gandekan Bantul lebih berkualitas.

144

Lampiran X Catatan Lapangan Penelitian 9 Metode Pengumpulan Data: Obseravsi

Hari/Tanggal : Selasa, 16 Februari 2010 Jam

: 07.00-08.30 WIB

Lokasi

: Ruang Kelas XI IPS 1

Deskripsi Data: Observasi ini merupakan observasi kelas yang bertujuan untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning. Observasi pembelajaran dilaksanakan di kelas XI IPS 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan guru Dra. Rusnani. Sebelum memulai pembelajaran, guru mengucap salam kemudian mengisi presensi siswa sambil menanyakan siswa yang tidak masuk pada hari itu. Terdapat 1 siswa yang tidak masuk kelas tanpa keterangan (Alpa) dan 1 siswa yang datang terlambat. Pada awal pembelajaran, guru melakukan apersepsi dengan mengulas sedikit tentang materi sebelumnya kemudian diikuti pre tes. Pre tes dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan secara menyebar kepada siswa. Ketika ada siswa yang belum bisa menjawab pertanyaan, maka guru menjelaskan kembali sampai semua siswa faham kemudian melanjutkan materi yang berikutnya. Sebelum masuk pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi pengantar dengan metode ceramah. Pada kegiatan inti, guru menerapkan strategi Telling Story. Prosedur Telling Story ini, siswa dibentuk menjadi 6 kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang siswa. Setiap kelompok diharuskan membaca, menganalisa, mendiskusikan kemudian menemukan hikmah yang dapat diambil dari kisah berjudul “Empat Istri” dan “The Butterfly and The Flower”. Hasil diskusi ditulis dalam lembar kerja yang telah disediakan oleh guru. Setelah semua selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dan kelompok yang lain menjadi

145

pengamat. Tugas dari kelompok pengamat adalah memberikan tanggapan, komentar atau mengajukan pertanyaan seputar isi presentasi kelompok yang sedang maju. Diskusi kelompok berjalan kurang efektif karena tidak semua anggota kelompok aktif. Kondisi kelas tidak kondusif, sebagian ada yang hanya diam dan sebagian lagi gaduh dengan bicara sendiri dan bernyanyi. Namun, proses keseluruhan sudah cukup baik karena setiap kelompok menyelesaikan tugasnya dan mempresentasikan hasilnya di depan kelas dan sebagian besar siswa aktif ketika diskusi kelompok berlangsung. Pada akhir pembelajaran, guru menyimpulkan materi dengan ceramah singkat. Guru mengoreksi lembar kerja siswa kemudian menerangkan lebih jelas tentang maksud kisah “Empat Istri” karena berdasarkan presentasi dan hasil lembar kerja, ternyata terdapat 4 kelompok yang masih belum memahami maksud dan hikmah dari kisah “Empat Istri” tersebut. Sebelum mengakhiri pembelajaran, guru menerapkan metode tanya jawab dengan mempersilahkan siswa untuk menanyakan hal yang kurang jelas.

Interpretasi: Melihat pembelajaran dimulai dengan memberikan pertanyaan kepada siswa tentang materi sebelumnya serta memberikan kesempatan siswa bertanya, itu berarti guru memulai pembelajarannya dengan membangun komunikasi langsung dengan siswa, memancing siswa agar konsentrasi pada proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. Telling Story yang diterapkan guru dalam pembelajaran Aqidah Akhlak belum maksimal (belum kondusif) karena beberapa hal yaitu dari faktor siswa adalah siswa belum siap melaksanakan prosedur Telling Story, dalam setiap kelompok hanya beberapa siswa yang aktif berdiskusi dan mengisi lembar kerja, sedangkan sebagian yang lain masih pasif hanya diam tidak memberikan argumen, ada beberapa siswa yang membuat kegaduhan dengan bicara sendiri dan bernyanyi di kelas. Sedangkan dari faktor guru adalah guru tidak menggunakan media pembelajaran yang lebih

146

mendukung, padahal Telling Story ini akan lebih efektif lagi apabila ditampilkan melalui LCD dan speaker, serta guru tidak mampu mengelola kelas dengan baik (kompetensi pedagogisnya kurang). Di samping itu, berdasarkan hasil presentasi dan lembar kerja yang dikumpulkan, ternyata dari 6 kelompok hanya 2 kelompok yang benar-benar memahami maksud kisah dan dapat menemukan hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut untuk diterapkan dalam perilaku sehari-hari.

147

Lampiran XI Catatan Lapangan Penelitian 10 Metode Pengumpulan Data: Obseravsi

Hari/Tanggal : Selasa, 16 Februari 2010 Jam

: 08.00-10.00 WIB

Lokasi

: Ruang Kelas XI IPA 2

Deskripsi Data: Observasi ini merupakan observasi kelas yang bertujuan untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning. Observasi pembelajaran dilaksanakan di kelas XI IPA2 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan guru Dra. Rusnani. Sebelum memulai pembelajaran, guru mengucap salam kemudian menanyakan tugas kelompok yang diberikan pada pertemuan sebelumnya. Pada awal pembelajaran, guru melakukan apersepsi dengan mengulas sedikit tentang materi sebelumnya kemudian diikuti dengan pre tes. Pre test dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan secara menyebar kepada siswa. Ketika ada siswa yang belum bisa menjawab pertanyaan, maka guru menjelaskan kembali sampai semua siswa faham kemudian melanjutkan materi yang berikutnya. Sebelum masuk pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi pengantar dengan metode ceramah secara mendalam (menjelaskan poin-poin penting). Pada kegiatan inti, guru menerapkan strategi Information Search. Prosedur Information Search ini, guru meminta setiap kelompok untuk berdiskusi membuat teks pidato dan mencari dalil dengan cara mencari informasi dari sumber materi yang disediakan, kemudian mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Bagi kelompok yang tidak maju menjadi pengamat dan memberikan tanggapan atau mengajukan pertanyaan seputar presentasi yang telah disampaikan kelompok yang maju baik tentang isi pidato maupun tafsir dari dalil yang disampaikan. Setelah melakukan

148

proses Information Search, guru menerapkan strategi Action Learning. Adapun prosesnya yaitu siswa diatur secara berpasangan kemudian diberi lembar penilaian antar teman. Tugas siswa adalah menilai cara berpakaian dan berhias dari teman pasangannya. Nilai dituliskan dalam lembar penilaian yang tersedia. Sedangkan ketentuan penilaian sudah dicantumkan dalam lembar penilaian disertai dengan instruksi dari guru sebelum pelaksanaannya. Pada akhir pembelajaran, guru menyimpulkan materi dengan ceramah singkat. Kemudian mengoreksi lembar PAT siswa. Sebelum mengakhiri pembelajaran, guru menerapkan metode tanya jawab dengan mempersilahkan siswa untuk menanyakan hal yang kurang jelas.

Interpretasi: Pada pembelajaran ini, guru sudah membangun komunikasi langsung dengan siswa. Guru juga sudah menerapkan metode pembelajaran aktif yaitu Information Search dan Action Learning. Tujuannya adalah agar pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dengan menerapkan beberapa metode yang cukup variatif. Proses pembelajaran dengan menggunakan Information Search masih kurang kondusif, antara lain dikarenakan bentuk presentasi yang hanya membacakan teks pidato saja sehingga terkesan siswa kurang memahami isi pidato, dari 6 kelompok hanya 2 kelompok saja yang mempresentasikan dan mengumpulkan tugas teks pidato. Sedangkan untuk penilaian antar teman berjalan cukup baik. Hasil penilaian sudah cukup baik karena memang siswa kelas XI IPA 2 sebagian besar sudah berpakaian rapi, sopan, Islami dan sesuai peraturan Madrasah. Menurut penulis, untuk strategi kedua tidak tepat jika disebut Action Learning. Karena Action Learning adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertindak dan mengalami langsung tentang materi dengan terjun langsung ke lapangan. Jadi, Action Learning adalah belajar dengan bertindak atau melakukan. Misalnya pada tema akhlak berpakaian dan berhias, siswa diterjunkan langsung ke beberapa tempat untuk

149

melakukan field research. Melakukan pengamatan langsung dan menanyakan hal-hal seputar akhlak berpakaian dan berhias kepada objek yang diteliti. Sedangkan praktek yang dilakuakan hanyalah menilai antar teman di kelas. Ini lebih tepat jika disebut PAT (Penilaian Antar Teman). Dari sini dapat diketahui bahwa penerapan Action Learning oleh guru tidak sesuai dengan acuan prosedur pembelajaran aktif dan guru mempunyai persepsi yang berbeda terkait dengan penerapan metode.

150

Lampiran XII Catatan Lapangan Penelitian 11 Metode Pengumpulan Data: Obseravsi

Hari/Tanggal : Kamis, 18 Februari 2010 Jam

: 07.00-08.30 WIB

Lokasi

: Ruang Kelas XI IPA 1

Deskripsi Data: Observasi ini merupakan observasi kelas yang bertujuan untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning. Observasi pembelajaran dilaksanakan di kelas XI IPA 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan guru Dra. Rusnani. Sebelum memulai pembelajaran, guru mengucap salam, kemudian menanyakan tugas kelompok yang diberikan pada pertemuan sebelumnya dan menjelaskan kembali teknik pembuatan dan teknik penyajian tugas. Pada awal pembelajaran, guru melakukan apersepsi dengan mengulas sedikit tentang materi sebelumnya kemudian diikuti dengan pre tes. Pre tes dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan secara menyebar kepada siswa. Ketika ada siswa yang belum bisa menjawab pertanyaan, maka guru menjelaskan kembali sampai semua siswa faham kemudian melanjutkan materi yang berikutnya. Sebelum masuk pada kegiatan inti, guru menyampaikan materi pengantar tentang akhlak kepada orang lain. Pada kegiatan inti, guru menerapkan strategi Indeks Card Match. Prosedur Indeks Card Match ini adalah guru membagikan kartu indeks yang berisi pertanyaan dan jawaban kepada setiap siswa. Guru memberikan instruksi tentang prosedur strategi Indeks Card Match kepada siswa. Guru memulai dari Muhlisin untuk maju ke depan membacakan pertanyaan pada kartu indeksnya kemudian meminta siswa yang merasa membawa kartu berisi jawaban dari pertanyaan yang telah dibacakan untuk maju ke depan membacakan jawabannya. Guru menanyakan kepada seluruh siswa

151

untuk mengoreksi apakah pasangan pertanyaan dan jawaban sudah benar atau belum. Begitu seterusnya, sampai semua pasangan kartu pertanyaan dan jawaban sudah terkumpul Pada akhir pembelajaran, guru bersama siswa mengulas kembali isi kartu dari tiap-tiap siswa. Sebelum mengakhiri pembelajaran, guru menerapkan metode tanya jawab dengan mempersilahkan siswa untuk menanyakan hal yang kurang jelas.

Interpretasi: Pada proses awal, pelaksanaan strategi Indeks Card Match berjalan cukup baik. Siswa memahami instruksi dari guru. Namun, setelah dilakukan post test di akhir pembelajaran, tidak sedikit siswa yang belum mampu menjawab pertanyaan guru. Menurut hemat penulis, ini dikarenakan penerapan strategi Indeks Card Match kurang ada pengembangan atau inovasi dari guru. Seharusnya, guru mengembangkan strategi tersebut sesuai dengan kreatifitas guru agar pembelajaran di samping menyenangkan, kondusif, pesan pembelajaran juga tersampaikan dengan baik, artinya siswa bisa faham. Pengembangan tersebut misalnya dengan mengembangkan kartu yang memuat beberapa kemungkinan jawaban serta adanya penjelasan dari masingmasing individu siswa terhadap informasi kartu yang dipegangnya kepada seluruh audience. Sehingga seluruh informasi dari kartu tersebut dapat tersampaikan kepada seluruh siswa di kelas. Selain itu, siswa dapat memberikan argumennya. Dari sini maka dapat terbukti bahwa siswa benar-benar faham tentang informasi kartu dan bukan sekedar membacakan saja. Jadi, perlu dipahami bahwa penerapan Active Learning jangan hanya orientasi keaktifan siswa, tetapi pendalaman materi juga harus diperhatikan.

152

Lampiran XIII Catatan Lapangan Penelitian 12 Metode Pengumpulan Data: Obseravsi

Hari/Tanggal : Kamis, 18 Februari 2010 Jam

: 07.00-08.30 WIB

Lokasi

: Ruang Kelas XI IPS 1

Deskripsi Data: Observasi ini merupakan observasi kelas yang bertujuan untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning. Observasi pembelajaran dilaksanakan di kelas XI IPS 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan guru Dra. Rusnani. Sebelum memulai pembelajaran, guru mengucap salam kemudian mengisi presensi siswa sambil menanyakan siswa yang tidak masuk pada hari itu. Terdapat 4 orang siswa yang datang terlambat. Pada awal pembelajaran, guru melakukan apersepsi dengan mengulas sedikit tentang materi sebelumnya kemudian diikuti dengan pre tes. Pre tes dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan secara menyebar kepada siswa. Ketika ada siswa yang belum bisa menjawab pertanyaan, maka guru menjelaskan kembali sampai semua siswa faham kemudian melanjutkan materi yang berikutnya. Sebelum masuk pada kegiatan inti, guru menanyakan tugas kelompok yang diberikan pada pertemuan sebelumnya dan menjelaskan kembali teknik pembuatan dan teknik penyajian tugas. Pada kegiatan inti, guru menerapkan strategi Quiz Team. Guru membentuk siswa menjadi 6 kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang. Guru meminta 2 siswa maju ke depan untuk menjadi penilai dan pengamat. Guru memulai proses permainan dengan membacakan pertanyaan pertama. Setiap kelompok konsentrasi mendengarkan pertanyaan. Setelah pertanyaan selesai dibacakan, setiap kelompok menulis jawabannya pada kartu jawaban yang disediakan kemudian kartu tersebut diletakkan pada meja kelompok yang telah disediakan di

153

depan kelas. Penilaian berdasarkan ketepatan jawaban dan kecepatan dalam menjawab. Begitu proses seterusnya, sampai semua pertanyaan telah dibacakan oleh guru. Namun, proses ini tidak berjalan dengan baik, suasana kelas sangat tidak kondusif karena siswa tidak bisa dikondisikan sehingga suasana kelas menjadi sangat ramai. Akhirnya, guru menggunakan alternatif strategi yang lain, yaitu dengan membagikan lembar pertayaan dan lembar jawaban kepada setiap siswa. guru meminta siswa untuk mengerjakan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam waktu yang singkat. Pada

akhir

pembelajaran,

guru

kehabisan

waktu

sehingga

belum

menyimpulkan materi. Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam.

Interpretasi: Penerapan strategi Quiz Team tidak berjalan dengan baik dikarenakan siswa yang sangat susah dikondisikan sehingga situasi kelas menjadi ramai dan mengganggu pembelajaran kelas lain. Namun, ini dapat diantisipasi dengan prior plan yang telah disiapkan oleh guru. Dari kegagalan tersebut dapat disimpulkan bahwa agar penerapan metode Active Learning berjalan dengan maksimal dan tujuan pembelajaran dapat tercapai, dibutuhkan kesiapan dari berbagai aspek, yaitu kemampuan, ketrampilan dan kreatifitas guru itu sendiri baik dalam menerapkan metode maupun dalam mengelola kelas, kondisi dan kesiapan siswa dalam melaksanakan metode, media pembelajaran yang mendukung, serta alokasi waktu.

154

Lampiran XIV Catatan Lapangan Penelitian 13 Metode Pengumpulan Data: Obseravsi

Hari/Tanggal : Selasa, 09 Maret 2010 Jam

: 08.30-10.00 WIB

Lokasi

: Ruang Kelas XI IPA 2

Deskripsi Data: Observasi ini merupakan observasi kelas yang bertujuan untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran Aqidah Akhlak dengan metode Active Learning. Observasi pembelajaran dilaksanakan di kelas XI IPA 2 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan guru Dra. Rusnani. Sebelum memulai pembelajaran, guru mengucap salam. Pada awal pembelajaran, guru melakukan apersepsi dengan mengulas sedikit tentang materi sebelumnya kemudian diikuti dengan pre tes. Pre tes dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan secara menyebar kepada siswa. Ketika ada siswa yang belum bisa menjawab pertanyaan, maka guru menjelaskan kembali sampai semua siswa faham kemudian melanjutkan materi yang berikutnya. Sebelum masuk pada kegiatan inti, guru membagikan hasil tugas kepada siswa. Pada kegiatan inti, guru menerapkan strategi Quiz Team. Guru membentuk siswa menjadi 4 kelompok yang masing-masing kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang.

Guru meminta 3 siswa maju ke depan untuk menjadi tim penilai dan

pengamat. Guru memulai proses permainan dengan membacakan pertanyaan pertama. Setiap kelompok konsentrasi mendengarkan pertanyaan. Setelah pertanyaan selesai dibacakan, setiap kelompok menulis jawabannya pada kartu jawaban yang disediakan kemudian kartu tersebut diletakkan pada kursi kelompok yang telah disediakan di depan kelas. Penilaian berdasarkan ketepatan jawaban dan kecepatan dalam menjawab. Begitu proses seterusnya, sampai semua pertanyaan telah selesai

155

dibacakan oleh guru. Proses ini berjalan cukup baik, suasana kelas cukup kondusif meskipun seluruh anggota kelompok belum berpartisipasi aktif secara keseluruhan. Pada akhir pembelajaran, guru membagikan lembar pertanyaan dan lembar jawaban kepada setiap siswa. Guru meminta siswa untuk menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut pada lembar jawaban yang tersedia. Guru mengakhiri pembelajaran dengan mengucapkan salam.

Interpretasi: Penerapan strategi Quiz Team berjalan cukup baik meskipun masih terdapat beberapa anggota kelompok yang tidak berpartisipasi aktif dalam menjawab pertanyaan.

156

Lampiran XV Catatan Lapangan Penelitian 14 Metode Pengumpulan Data: Dokumentasi

Lokasi

: MAN Gandekan Bantul

Sumber Data : MAN Gandekan Bantul

Deskripsi Data: Pengambilan data dengan mengutip dokumen yang ad di MAN Gandekan Bantul untuk mengetahui visi, misi, dan tujuan pendidikan, struktur organisasi, keadaan guru, siswa, dan karyawan, serta keadaan sarana dan prasarana. Dari hasil dokumentasi tersebut diperoleh informasi bahwa visi MAN Gandekan Bantul adalah MITRA (Mandiri, Islami, Terampil, Rajin, dan Amanah). Misinya adalah melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara aktif, kreatif, efektif, efisien dan inovatif, menyenangkan dan mencerahkan, sehingga siswa dapat berkembang secara optimal sesuai potensi yang dimiliki; menghidupkan pendidikan ber-ruh Islam; menggiatkan ibadah, memperteguh keimanan, dan ber-akhlakul karimah serta memadukan penyelenggaraan pendidikan agama Islam dengan pendidikan umum; membekali siswa dengan Life Skill (kecakapan hidup) dan ketrampilan; menerapkan manajemen yang partisipatif dan akuntabel dengan melibatkan seluruh warga madrasah dan komite madrasah serta pihak yang berkepentingan (Stake Holder); mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara optimal dan dapat dipercaya. Adapun struktur organisasinya tersusun dengan baik mulai dari Kepala Madrasah, Wakil Kepala Madrasah, dan struktur yang berada di bawahnya. Sedangkan keadaan guru dan karyawan berasal dari berbagai lulusan dan kategori

157

golongan. Keadaan sarana dan prasarana di MAN Gandekan Bantul baik dan cukup memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Interpretasi: Visi, misi dan tujuan pendidikan MAN Gandekan Bantul secara garis besar untuk membentuk peserta didik yang kompeten di segala bidang, baik umum maupun agama. Struktur organisasi yang tersusun rapi disertai dengan pembagian tugas yang jelas sesuai dengan keahliannya masing-masing. Keadaan guru, siswa dan karyawan yang variatif serta keadaan sarana prsarana yang memadai sehingga mempermudah kegiatanbelajar mengajar.

158

Lampiran XVI LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Hari/Tanggal Jam Lokasi Nama Guru Jumlah Siswa Materi

: Selasa, 16 Februari 2010 : 07.00-08.30 WIB : Kelas XI IPS 1 : Dra. Rusnani : 24 orang : Akhlak Kepada Diri Sendiri dan Orang Lain

Proses Pendahuluan: Pembelajaran • Guru membuka pembelajaran dengan do’a dan salam • Guru menyampaikan materi pengantar tentang akhlak kepada diri sendiri dan orang lain Kegiatan Inti: • Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok dan setiap kelompok beranggotakan 4 orang • Guru meminta setiap kelompok untuk membaca, menganalisis, mendiskusikan kemudian menemukan hikmah yang dapat diambil dari kisah “Empat Istri” • Guru membagikan lembar kerja kepada tiap-tiap kelompok • Guru meminta kepada setiap kelompok untuk menulis hasil analisa kisah pada lembar kerja yang telah disediakan • Setelah diskusi selesai, guru meminta seluruh kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi ke depan kelas • Guru meminta kepada kelompok yang tidak maju untuk menjadi pengamat dan memberikan tanggapan, komentar maupun mengajukan pertanyaan dari presentasi kelompok yang telah maju • Begitu aktifitas seterusnya sampai semua kelompok telah mempresentasikan hasil analisanya masing-masing • Setelah semua selesai, guru mengoreksi lembar kerja siswa dan memberikan penilaian Penutup: • Guru menyimpulkan materi hari ini dengan ceramah singkat (menyampaikan poin-poin penting) • Guru memberikan kesempatan siswa bertanya tentang materi yang belum difahami • Guru menutup pelajaran dengan do’a dan salam

159

Proses Evaluasi: • Evaluasi dilakukan secara lisan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa di akhir pembelajaran • Evaluasi dilakukan secara tertulis melalui lembar kerja Telling Story Metode/Strategi: • Tanya Jawab • Diskusi • Interactive Lecturing • Telling Story Situasi Kelas: • Kelas XI IPS 1 terletak di samping mushola • Ruang kelas dilengkapi beberapa fasilitas seperti: whiteboard, beberapa meja dan kursi untuk siswa, sepasang meja dan kursi untuk guru, alat tulis, dan lain-lain. • Ruangan kelas menghadap ke selatan dengan satu pintu depan • Di bagian samping kelas terdapat beberapa jendela sehingga memungkinkan adanya sirkulasi udara • Sebagian siswa aktif berdiskusi kelompok dan sebagian yang lain pasif • Ada beberapa siswa yang membuat gaduh suasana kelas dengan ngobrol, bernyanyi, dan tidak memperhatikan keterangan yang disampaikan guru sehingga suasana pembelajaran kurang kondusif • Guru agak susah mengelola kelas karena sebagian siswanya sangat susah dikendalikan

160

Lampiran XVII LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Hari/Tanggal Jam Lokasi Nama Guru Jumlah Siswa Materi

: Selasa, 16 Februari 2010 : 08.30-09.00 WIB : Kelas XI IPA 1 : Dra. Rusnani : 23 orang : Akhlak Berpakaian dan Akhlak Berhias

Proses Pendahuluan: Pembelajaran • Guru membuka pembelajaran dengan do’a dan salam • Guru menyampaikan sedikit materi pengantar tentang akhlak berpakaian dan berhias Kegiatan Inti: • Guru meminta siswa untuk mempresentasikan tugas kelompok yang diberikan pada pertemuan sebelumnya, yaitu mencari informasi dari berbagai sumber yang ada kemudian membuat pidato dengan tema akhlak berpakaian dan berhias dan mencari dalil yang relevan, minimal 2 dalil. • Guru meminta 1 orang siswa untuk menjadi moderator yang akan memimpin presentasi setiap kelompok • Kelompok 7 maju ke depan untuk mempresentasikan tugasnya, yaitu membacakan pidato dan menyampaikan dalildalil yang terkait • Kelompok yang lain menjadi pengamat dan memberikan komentar dan tanggapan maupun mengajukan pertanyaan seputar isi pidato yang disampaikan kelompok yang telah maju • Kelompok 6 maju ke depan untuk mempresentasikan tugasnya • Setelah presentasi selesai, guru menyimpulkan materi dengan metode ceramah secara mendalam dan membuka dialog dengan siswa. Ceramah juga disertai dengan memberikan contoh-contoh yang konkrit sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi • Ada beberapa siswa yang mempertanyakan beberapa hal yang belum jelas terkait isi pidato dari kelompok-kelompok yang telah maju • Guru mejawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jelas • Dalam pembelajaran ini, hanya 2 kelompok yang menyelesaikan tugasnya dan mempresentasikan hasilnya ke depan kelas, sedangkan 4 kelompok yang lain belum

161

menyelesaikan tugasnya dengan baik • Guru meminta teks yang sudah selesai dikumpulkan dan dinilai • Untuk kelompok yang belum menyelesaikan tugasnya diminta mengumpulkan pada pertemuan mendatang • Guru memberikan apresiasi atas kerja siswa • Guru memberikan instruksi kepada siswa tentang PAT (Penilaian Antar Teman) • Guru menuliskan beberapa kriteria akhlak berpakaian dan berhias yang sopan dan sesuai dengan syari’at Islam serta sesuai dengan peraturan Madrasah • Guru membagikan lembar penilaian akhlak berpakaian dan berhias kepada setiap siswa • Guru meminta siswa berpasangan dan menilai cara berpakaian dan berhias pasangannya masing-masing kemudian menuliskan hasil penilaian tersebut ke lembar penilaian yang telah tersedia • Pemberian skor nilai disesuaikan dengan catatan nilai yang tersedia pada lembar penilaian • Setelah penilaian selesai, guru meminta lembar penilaian tersebut untuk dikumpulkan Penutup: • Guru menyimpulkan materi dengan ceramah secara mendalam disertai pemberian contoh-contoh agar siswa lebih mudah memahami • Guru menutup pelajaran dengan do’a dan salam Proses Evaluasi: • Evaluasi dilakukan secara lisan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa di sela-sela proses pembelajaran • Evaluasi dilakukan secara tertulis melalui lembar penilaian akhlak berpakaian dan berhias Metode/Strategi: • Information Search • Action Learning • Tanya Jawab • Interactive Lecturing

162

Situasi Kelas: • Kelas XI IPA 2 terletak di samping aula • Ruang kelas dilengakapi beberapa fasilitas seperti: whiteboard, beberapa meja dan kursi untuk siswa, sepasang meja dan kursi untuk guru, alat tulis, dan lainlain. • Ruangan kelas menghadap ke selatan dengan satu pintu depan • Di bagian samping kelas terdapat beberapa jendela sehingga memungkinkan adanya sirkulasi udara • Sebagian besar siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik • Ada beberapa siswa yang pasif • Terjadi proses tanya jawab antara kelompok presentator dengan kelompok pengamat • Hasil PAT sudah lumayan bagus karena sebagian besar siswa kelas XI IPA 2 berpakaian sopan, Islami dan sesuai dengan peraturan Madrasah.

163

Lampiran XVIII LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Hari/Tanggal Jam Lokasi Nama Guru Jumlah Siswa Materi

: Selasa, 16 Februari 2010 : 11.00-11.30 WIB : Kelas XI IPA 1 : Dra. Rusnani : 23 orang : Akhlak Kepada Orang Lain (Inti: kesadaran bahwa setiap orang memliki perbedaan)

Proses Pendahuluan: Pembelajaran • Guru membuka pembelajaran dengan do’a dan salam • Guru menyampaikan sedikit materi pengantar tentang akhlak kepada orang lain Kegiatan Inti: • Guru membagikan kartu indeks yang berisi pertanyaan dan jawaban kepada setiap siswa • Guru memberikan instruksi tentang prosedur strategi Indeks Card Match kepada siswa • Guru meminta Muclisin maju ke depan untuk membacakan pertanyaan pada kartu indeksnya • Guru meminta siswa yang merasa membawa kartu berisi jawaban dari pertanyaan yang telah dibacakan untuk maju ke depan membacakan jawabannya • Guru menanyakan kepada seluruh siswa untuk mengoreksi apakah pasangan pertanyaan dan jawaban sudah benar atau belum • Begitu seterusnya, sampai semua pasangan kartu pertanyaan dan jawaban sudah terkumpul Penutup: • Guru menyimpulkan materi dengan ceramah (menyampaikan poin-poin penting dari materi) • Ceramah disampaikan dengan suara yang jelas dan memberikan beberapa contoh yang relevan • Ceramah disertai dengan dalil-dalil untuk menguatkan materinya • Guru membuka kesempatan siswa untuk bertanya materi yang belum difahami • Ada 3 siswa bertanya (Paryuliani, Muhlisin, Aprilia)

164





Guru mengulas kembali tentang isi kartu yang dipegang siswa dan meminta siswa untuk menjelaskan maksud isi kartu yang dipegangnya masing-masing. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar memahami tema kartu yang dipegangnya, bukan hanya sekedar mmbacakan isi/informasi kartunya saja. Guru menutup pembelajaran dengan do’a dan salam

Proses Evaluasi: • Evaluasi dilakukan melalui lembar kartu berisi pertanyaan dan lembar kartu berisi jawaban dan siswa bertugas untuk menemukan pasangan kartu yang sesuai • Evaluasi secara lisan dilakukan di akhir pembelajaran dengan mengajukan beberapa pertanyaan seputar materi akhlak kepada orang lain Metode/Strategi: Metode Active Learning yang digunakan adalah Indeks Card Match Situasi Kelas: • Kelas XI IPA 1 terletak di samping aula • Ruang kelas dilengkapi beberapa fasilitas seperti: whiteboard, beberapa meja dan kursi untuk siswa, sepasang meja dan kursi untuk guru, alat tulis, dan lain-lain. • Ruangan kelas menghadap ke selatan dengan satu pintu depan • Di bagian samping kelas terdapat beberapa jendela sehingga memungkinkan adanya sirkulasi udara • Sebagian besar siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik • Ada beberapa siswa yang membuat gaduh dengan berbicara sendiri dan bernyanyi di dalam kelas • Penerapan strategi Indeks Card Match berjalan cukup baik, namun tujuan pembelajaran belum tercapai secara maksimal

165

Lampiran XIX LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Hari/Tanggal Jam Lokasi Nama Guru Jumlah Siswa Materi

: Kamis, 18 Februari 2010 : 07.00-08.30 WIB : Kelas XI IPS 2 : Dra. Rusnani : 27 orang : Akhlak Kepada Allah, Diri Sendiri, Orang Lain, Berpakaian dan Berhias

Proses Pendahuluan: Pembelajaran • Guru membuka pembelajaran dengan salam, do’a dan presensi • Guru menanyakan tugas yang diberikan pada pertemuan sebelumnya Kegiatan Inti: • Guru memberikan instruksi tentang prosedur permainan Quiz Team • Guru membentuk siswa menjadi 6 kelompok yang masingmasing kelompok beranggotakan 4 orang • Pengelompokan siswa diatur dengan cara beruhitung dan siswa berkelompok sesuai dengan nomor hitungannya • Siswa duduk dengan anggota kelompoknya masing-masing • Guru meminta siswa mengatur 6 meja di depan sebagai tempat untuk menaruh kartu jawaban sesuai kelompoknya masingmasing • Siswa duduk sesuai dengan kolompoknya masing-masing • Guru menyampaikan teknik permainan Quiz Team • Guru meminta 2 siswa maju ke depan untuk menjadi penilai dan pengamat • Guru memulai proses permainan dengan membacakan pertanyaan pertama • Setiap kelompok konsentrasi mendengarkan pertanyaan • Setelah pertanyaan selesai dibacakan, setiap kelompok menulis jawabannya pada kartu jawaban yang disediakan kemudian kartu tersebut diletakkan pada meja kelompok yang telah disediakan di depan kelas • Penilaian berdasarkan ketepatan jawaban dan kecepatan dalam menjawab • Begitu proses seterusnya, sampai semua pertanyaan telah

166

dibacakan oleh guru • Guru bersama siswa mengoreksi jawaban tap-tiap kelompok dan memberikan skor • Guru menjumlahkan total skor yang didapat dari masingmasing kelompok • Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang menang yaitu yang memperoleh skor tertinggi • Karena proses Quiz Team gagal, guru melakukan prior plan dengan membagikan lembar pertanyaan disertai lembar jawaban kepada setiap siswa dan diisi secara indiviudu, sifatnya close book. • Siswa dibatasi waktu 10 menit untuk menyelesaikan soal tersebut • Setelah semua selesai, lembar soal dan lembar jawab dikumpulkan kepada guru • Guru menilai hasil • Guru memberikan penguatan tentang materi Penutup: • Guru menutup pembelajaran dengan do’a dan salam Proses Evaluasi: • Evaluasi dilakukan secara lisan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa melalui permainan Quiz Team • Evaluasi dilakukan secara tertulis dengan memberikan soal-soal tertulis kepada siswa Metode/Strategi: • Quiz Team • Interactive Lecturing • Tanya Jawab Situasi Kelas: • Kelas XI IPS 2 terletak di depan perpustakaan • Ruang kelas dilengakapi beberapa fasilitas seperti: whiteboard, beberapa meja dan kursi untuk siswa, sepasang meja dan kursi untuk guru, alat tulis, dan lainlain. • Ruangan kelas menghadap ke utara dengan satu pintu di depan • Di samping kanan dan kiri ruangan kelas terdapat beberapa jendela sehingga memungkinkan adanya sirkulasi udara • Sebagian besar siswa tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik • Sebagian siswa ramai dan tidak konsentrasi pada penjelasan guru

167

• • • • •



Permaian Quiz Team berjalan tidak kondusif. Penerapan Quiz Team tidak sesuai dengan acuan prosedur yang ada Seharusnya permainan Quiz Team bersifat close book untuk mengetahui ingatan dan penguasaan siswa terhadap materi Siswa susah dikondisikan, sehingga proses tidak berjalan maksimal. Proses gagal dalam penilaian kecepatan dan ketepatan karena siswa banyak yang curang dan tidak jujur, kondisi kelas juga menjadi gaduh sehingga tidak memungkinkan melanjutkan permainan tersebut dengan penilaian kecepatan dalam menjawab. Guru mengulang proses dengan memberikan lembar pertanyaan yang diisi secara individu pada lembar jawaban yang tersedia.

168

Lampiran XX LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Hari/Tanggal Jam Lokasi Nama Guru Jumlah Siswa Materi

: Selasa, 09 Maret 2010 : 08.30-10.00 WIB : Kelas XI IPA 2 : Dra. Rusnani : 23 orang : Akhlak Kepada Allah, Diri Sendiri, Orang Lain, Berpakaian dan Berhias

Proses Pendahuluan: Pembelajaran • Guru membuka pembelajaran dengan salam dan do’a • Guru membagikan hasil tugas siswa Kegiatan Inti: • Guru memberikan instruksi tentang prosedur permainan Quiz Team • Guru membentuk siswa menjadi 4 kelompok yang masingmasing kelompok beranggotakan 4 atau 5 orang • Guru meminta 2 orang siswa untuk menjadi tim penilai dan 1 orang siswa untuk menjadi pengamat • Pengelompokan siswa diatur sesuai dengan tempat duduknya, yaitu 1 baris membentuk 1 kelompok • Guru meminta siswa meletakkan kursi panjang ke depan kelas untuk tempat meletakkan kartu jawaban dari tiap-tisp kelompok • Guru menyampaikan teknik permainan Quiz Team • Guru memulai proses permainan dengan membacakan pertanyaan pertama • Setiap kelompok konsentrasi mendengarkan pertanyaan • Setelah pertanyaan selesai dibacakan, setiap kelompok menulis jawabannya pada kartu jawaban yang disediakan kemudian kartu tersebut diletakkan pada kursi yang telah disediakan di depan kelas • Penilaian berdasarkan ketepatan jawaban dan kecepatan dalam menjawab • Kelompok yang tercepat meletakkan kartu jawaban akan memperoleh skor lebih • Begitu proses seterusnya, sampai semua pertanyaan telah dibacakan oleh guru

169

• Guru bersama siswa mengoreksi jawaban tap-tiap kelompok dan memberikan skor • Guru menjumlahkan total skor yang didapat dari masingmasing kelompok • Guru memberikan penghargaan pada kelompok yang menang yaitu yang memperoleh skor tertinggi Penutup: • Guru melakukan post tes dengan membagikan lembar soal dan lembar jawab kepada siswa • Guru meminta siswa menjawab soal-soal tersebut dalam lembar jawab yang tersedia dengan waktu 10 menit untuk menyelesaikan soal tersebut • Setelah semua selesai, lembar soal dan lembar jawab dikumpulkan kepada guru • Guru menilai hasil • Guru menanyakan kepada siswa tentang kefahaman mereka pada prosedur strategi Quiz Team yang diterapkan guru • Guru memberikan penguatan • Guru menutup pembelajaran dengan do’a dan salam Proses Evaluasi: • Evaluasi dilakukan secara lisan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa melalui permainan Quiz Team • Evaluasi dilakukan secara tertulis dengan memberikan soal-soal tertulis kepada siswa pada akhir pembelajaran Metode/Strategi: • Quiz Team • Interactive Lecturing • Tanya Jawab Situasi Kelas: • Sebagian besar siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik • Proses pembelajaran dengan strategi Quiz Team berjalan cukup kondusif • Penerapan Quiz Team tidak sesuai dengan acuan prosedur yang ada • Permainan Quiz Team bersifat close book • Menurut pandangan siswa: Guru sebaiknya menggunakan metode yang variatif. Ceramah tetap harus ada untuk menyampaikan materi pengantar kemudian menggunakan metode pembelajaran aktif. Jika ceramah saja, siswa bosan dan justru malah tidak konsentrasi pada penjelasan guru. • Pertanyaan pada post tes sama persis dengan pertanyaan dalam Quiz Team

170

Lampiran XXV DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Tempat, Tanggal, Lahir Jenis Kelamin Agama Kewarganegaraan Alamat Asal Alamat Yogyakarta Nama Orang Tua 1. Ayah 2. Ibu

: Lina Normawita Risti Zuliandri : Pati, 17 Maret 1986 : Perempuan : Islam : Indonesia : Blok Gondosari RT: 06 RW: 02 Bulungan Tayu Pati Jawa Tengah : Jl. Bimokurdo No. 34 Sapen Yogyakarta : : Ali Rosyidi : Zurotus Sa’adah

Riwayat Pendidikan : 1. Pendidikan Formal: a. TK. Melati Bulungan Tayu Pati b. SDN 01 Bulungan Tayu Pati c. MTs Mamba’un Nidhom Bulungan Tayu Pati d. Diniyah Wustho Mathali’ul Falah Margoyoso Pati e. MA Mathali’ul Falah Kajen Margoyoso Pati f. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(1991-1992) (1992-1998) (1998-2001) (2001-2002) (2002-2005) (2006-2010)

2. Pendidikan Non Formal: PP. Al Husna Kajen Margoyoso Pati 3. Pengalaman Organisasi a. Bendahara OSIS MTs Mamba’un Nidhom Bulungan Tayu Pati b. Sekretaris OSIS MTs Mamba’un Nidhom Bulungan Tayu Pati c. Departemen Pendidikan PP. Al-Husna Kajen Margoyoso Pati d. Sekretaris BEM-J PAI Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Demikian riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Yogakarta, 02 Maret 2010 Penulis

Lina Normawita Risti Zuliandri NIM. 06410090

177