PEMBELAJARAN BILANGAN uNtuk PGSD

orang Babylonia pada bidang astronomi, sistem perhitungan berbasis 60 mereka masih ada sampai sekarang, yakni dengan diturunkannya penggunaan bilangan...

0 downloads 129 Views 7MB Size
PEMBELAJARAN BILANGAN untuk PGSD ©Dyah, TW, 2016

Penulis: Dyah Tri Wahyuningtyas, S.Si, M.Pd. Layout isi & Cover: Maftuch Junaidy Mhirda, S.S Cetakan pertama, 2016 ISBN: 978-602-74739-4-2 Diterbitkan pertama kali oleh

Penerbit Ediide Infografika Jl. Bandara Eltari Blok VE 03, Cemorokandang, Kota Malang Email: [email protected] website: www.ediide.com Telp/Fax: 0341-714886

All Right Reserved Hak Cipta Dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit.

ii

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

KATA PENGANTAR Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan inayah sehingga kami telah menyelesaikan penyusunan buku ajar ini. Buku yang berjudul “Pembelajaran Bilangan” ini ditulis untuk menambah literatur buku matematika. Sasaran buku ini adalah guru dan calon guru Sekolah Dasar (SD) khususnya mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Buku ini disusun untuk memperlancar kegiatan perkuliahan di program studi PGSD berdasarkan kurikulum yang berlaku dan kami himpun dari beberapa buku materi yang menunjang materi pelajaran, khususnya materi Matematika untuk SD. Dalam buku ini kami mengemukakan beberapa konsep dasar bilangan dan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini terdiri dari lima sub bab dengan setiap bab sengaja diurutkan dan saling terkait satu sama lain. Keterkaitan antar bab ini diawali dengan perkembangan bilangan dan lambangnya, bilangan cacah, Kelipata Persekutuan Tekecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Terbesar (FPB), bilangan bulat serta bilangan pecahan. Setiap bab terdiri dari pembuka, materi dan dilanjutkan dengan penyelesaian materi dengan menguasai sejumlah soal dibagian akhir. Kami menyadari bahwa buku ini masih banyak kekurangan, untuk itu disarankan mahasiswa atau pembaca untuk mempelajari beberapa buku sumber sebagai pengayaan pemahaman materi secara menyeluruh. Diharapkan buku ini dapat membantu guru dan calon guru SD atau mahasiswa PGSD dalam mengajarkan Bilangan ke siswa SD. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan buku ini dan kami mohon maaf apabila ada ketidaksempurnaan dalam penulisan buku ini. Saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca akan kami harapkan demi penyempurnaan buku ini.



Malang, 10 Juni 2016 Dyah Tri Wahyuningtyas, S.Si, M. Pd.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

iii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR............................................................................. iii DAFTAR ISI......................................................................................... iv BAB I 1.1 1.2 1.3

TINJAUAN MATA KULIAH................................................... 1 Deskripsi Mata Kuliah.............................................................3 Manfaat Mata Kuliah Bagi Mahasiswa...................................3 Kompetensi Mata Kuliah........................................................3

BAB II A. B. C. D.

PERKEMBANGAN BILANGAN DAN LAMBANGNYA............. 5 Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi...............7 Gambaran Umum Materi.......................................................7 Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa........................7 dan bidang kerja.....................................................................7 Materi.....................................................................................8

BAB III A. B. C. D.

OPERASI BILANGAN CACAH............................................... 23 Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi...............25 Gambaran Umum Materi.......................................................25 Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja.....................................................................25 Materi.....................................................................................26

BAB IV A. B. C. D.

KPK & FPB......................................................................... 65 Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi...............67 Gambaran Umum Materi.......................................................67 Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja.....................................................................68 Materi.....................................................................................68

iv

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

BAB V A. B. C. D.

BILANGAN BULAT.............................................................. 95 Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi...............97 Gambaran Umum Materi.......................................................97 Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja.....................................................................98 Materi.....................................................................................98

BAB VI A. B. C. D.

Bilangan Pecahan.............................................................. 117 Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi...............119 Gambaran Umum Materi.......................................................119 Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja.....................................................................119 Materi.....................................................................................120

Daftar Rujukan.................................................................................. 159

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

v

vi

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

BAB 1 TINJAUAN MATA KULIAH 1.1 Deskripsi Mata Kuliah 1.2 Manfaat Mata Kuliah Bagi Mahasiswa 1.3 Kompetensi Mata Kuliah

BAB I

TINJAUAN MATA KULIAH

1.1 Deskripsi Mata Kuliah Pembelajaran Bilangan merupakan mata kuliah yang bertujuan memfasilitasi dan membantu mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman konsep bilangan cacah, bilangan bulat, kelipatan dan faktor bilangan, bilangan prima dan komposit, KPK dan FPB di Sekolah Dasar. Mata kuliah pembelajaran bilangan juga membantu mahasiswa mengembangkan pembelajaran dalam merancang pembelajaran bilangan dan memilih media pembelajaran untuk meningkatkan pemahaman konsep dan motivasi peserta didik. 1.2 Manfaat Mata Kuliah Bagi Mahasiswa Setelah mengikuti mata kuliah pembelajaran bilangan, mahasiswa mampu memahami konsep, sifat-sifat, dan operasi pada bilangan cacah, bilangan bulat, bilangan prima, pecahan, bilangan romawi dan pemanfaatannya. Mata kuliah pembelajaran bilangan dapat mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan pembelajaran bilangan di Sekolah Dasar. Setelah mahasiswa mampu memahami mata kuliah pembelajaran bilangan, mahasiswa dapat menempuh mata kuliah lanjutan pembelajaran geometri dan pengembangan pembelajaran matematika SD. 1.3 Kompetensi Mata Kuliah a. b. c. d.

Kompetensi pada mata kuliah ini terdiri dari: Menjelaskan perkembangan bilagan dan lambangnya Menjelaskan konsep bilangan dan jenis-jenis bilangan Menjelaskan konsep bilangan cacah Menganalisis operasi bilangan cacah

3

e. f. g. h.

Menjelaskan konsep kelipatan, faktor dan bilangan prima Menganalisis menentukan KPK dan FPB Menjelaskan konsep bilangan bulat Menganalisis oeprasi hitung bilangan bulat

4

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

BAB II PERKEMBANGAN BILANGAN DAN LAMBANGNYA A. B.

Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi Gambaran Umum Materi

C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

D.

Materi

BAB II

PERKEMBANGAN BILANGAN DAN LAMBANGNYA A.

Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada bab ini kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa adalah menjelaskan perkembangan bilangan dan lambang bilangannya. Kompetensi tersebut terbagi menjadi beberapa indikator sebagai berikut: - Menjelaskan definisi bilangan dan angka - Menjelaskan perkembangan bilangan dan lambang bilangannya - Menjelaskan jenis-jenis bilangan B.

Gambaran Umum Materi

Bab ini mengkaji tentang definisi bilangan dan angka, perkembangan bilangan secara luas dari masa ke masa berserta lambang bilangannya dan jenis-jenis bilangan berserta contohnya. C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

Pengetahuan tentang perkembangan bilangan dan lambangnya menjabarakan tentang konsep bilangan dan angka serta perkembangan bilangan dan lambangya, sehingga mahasiswa dapat mengetahui sejarah perkembangan bilangan dari masa ke masa. Diharapkan dari penjelasan perkembangan bilangan dan lambangnya dapat mengetahui sejarah perkembangan bilangan dan dapat mengetahui konsep bilangan dan angka, sehingga dapat menerapkan dalam pembelajaran di Sekolah Dasar

7

D.

Materi

1.

Definisi Bilangan dan Angka

Dalam penggunaan sehari-hari, bilangan dan angka seringkali dianggap sebagai dua hal yang sama. Sebenarnya, angka dan bilangan mempunyai pengertian yang berbeda. Bilangan adalah suatu konsep matematika yang digunakan untuk pencacahan dan pengukuran. Simbol atau lambang yang digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai angka atau lambang bilangan. Contohnya bilangan lima dapat dilambangkan dengan angka 5 maupun menggunakan angka romawi V. Lambang “5” dan “V” yang digunakan untuk melambangkan bilangan lima disebut sebagai angka. Jadi, sebanarnya benda apakah yang biasa kita sebut dengan bilangan itu ? Setiap bilangan, misalnya bilangan yang kita lambangkan dengan angka 1 sesungguhnya adalah konsep abstrak yang tidak bisa tertangkap oleh indra manusia, tetapi bersifat universal. Misalnya, tulisan atau ketikan 1, yang anda lihat di kertas dan sedang anda baca saat ini bukanlah bilangan 1, melainkan hanya lambang dari bilangan satu yang tertangkap oleh indera penglihatan anda berkat adanya pantulan cahaya dari kertas ke mata anda. Demikian pula bila anda melihat lambang yang sama di papan tulis, yang anda lihat bukanlah bilangan 1, melainkan tinta dari spidol yang membentuk lambang dari bilangan 1. 2.

Perkembangan Bilangan

Bilangan pada awalnya hanya dipergunakan untuk mengingat jumlah, namun dalam perkembangannya setelah para pakar matematika menambahkan perbendaharaan simbol dan kata-kata yang tepat untuk mendefenisikan bilangan maka matematika menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupan dan tak bisa kita pungkiri bahwa dalam kehidupan keseharian kita akan selalu bertemu dengan yang namanya bilangan, karena bilangan selalu dibutuhkan baik dalam teknologi, sains, ekonomi ataupun dalam dunia musik, filosofi dan hiburan serta banyak aspek kehidupan lainnya. Perkembangan bilangan dari masa ke masa (Sonnabend, 2010) a. Masa Babilonia Matematika Babilonia merujuk pada seluruh matematika yang dikembangkan oleh bangsa Mesopotamia (kini Iraq) sejak permulaan Sumeria hingga permulaan peradaban helenistik. Dinamai “Matematika Babilonia” karena peran utama kawasan Babilonia sebagai tempat untuk belajar. Pada zaman peradaban helenistik, Matematika Babilonia berpadu dengan Matematika Yunani dan Mesir untuk membangkitkan Matematika Yunani. Kemudian di bawah Kekhalifahan Islam, Mesopotamia, terkhusus Baghdad, sekali lagi

8

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD



menjadi pusat penting pengkajian Matematika Islam. Bertentangan dengan langkanya sumber pada Matematika Mesir, pengetahuan Matematika Babilonia diturunkan dari lebih dari pada 400 lempengan tanah liat yang digali sejak 1850-an. Lempengan ditulis dalam tulisan paku ketika tanah liat masih basah, dan dibakar di dalam tungku atau dijemur di bawah terik matahari. Beberapa di antaranya adalah karya rumahan. Bukti terdini matematika tertulis adalah karya bangsa Sumeria, yang membangun peradaban kuno di Mesopotamia. Mereka mengembangkan sistem rumit metrologi sejak tahun 3000 SM. Dari kira-kira 2500 SM ke muka, bangsa Sumeria menuliskan tabel perkalian pada lempengan tanah liat dan berurusan dengan latihan-latihan geometri dan soal-soal pembagian. Jejak terdini sistem bilangan Babilonia juga merujuk pada periode ini. Sebagian besar lempengan tanah liat yang sudah diketahui berasal dari tahun 1800 sampai 1600 SM, dan meliputi topik-topik pecahan, aljabar, persamaan kuadrat dan kubik, dan perhitungan bilangan regular, invers perkalian, dan bilangan prima kembar. Lempengan itu juga meliputi tabel perkalian dan metode penyelesaian persamaan linear dan persamaan kuadrat. Lempengan Babilonia 7289 SM memberikan hampiran bagi √2 yang akurat sampai lima tempat desimal. Matematika Babilonia ditulis menggunakan sistem bilangan seksagesimal (basis-60). Melalui keunggulan orang Babylonia pada bidang astronomi, sistem perhitungan berbasis 60 mereka masih ada sampai sekarang, yakni dengan diturunkannya penggunaan bilangan 60 detik untuk semenit, 60 menit untuk satu jam, dan 360 (60 x 6) derajat untuk satu putaran lingkaran, juga penggunaan detik dan menit pada busur lingkaran yang melambangkan pecahan derajat.



Gambar 1.1 Lambang bilangan Babylonia



Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

9

b.

Bangsa Maya di Amerika ( 500 SM ) Sistem Maya menggunakan kombinasi dua simbol. (.) Titik digunakan untuk mewakili unit (satu sampai empat) dan sejumput (-) digunakan untuk mewakili lima. Diperkirakan bahwa Mayan mungkin telah menggunakan sempoa karena penggunaan simbol-simbol mereka dan, karena itu, mungkin ada hubungan antara suku-suku Amerika Jepang dan tertentu (Ortenzi, 1964). Bangsa Maya menulis jumlah mereka secara vertikal sebagai lawan horizontal dengan denominasi terendah di bagian bawah. Sistem mereka didirikan sehingga lima pertama nilai tempat didasarkan pada kelipatan 20. Mereka adalah 1 (20 0), 20 (20 1), 400 (20 2), 8.000 (20 3), dan 160.000 (20 4). Dalam bentuk bahasa Arab kita menggunakan nilai tempat dari 1, 10, 100, 1.000, dan 10.000. Sebagai contoh, jumlah 241.083 akan tahu dan ditulis sebagai berikut:

Gambar 1.2 Lambang bilangan Maya

Bangsa Maya juga yang pertama untuk melambangkan konsep apa-apa (atau nol). Simbol yang paling umum adalah bahwa dari shell () tapi ada beberapa simbol lainnya (misalnya kepala). Sangat menarik untuk mengetahui bahwa dengan semua matematikawan besar dan ilmuwan yang berada di sekitar di Yunani kuno dan Roma, itu adalah orang-orang Indian Maya yang independen datang dengan simbol yang biasanya berarti selesai sebagai lawan nol atau tidak ada. Di bawah ini adalah visual dari nomor yang berbeda dan bagaimana mereka akan ditulis

10

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Gambar 1.3 Melambangkan angka 0-10 untuk suku Maya



Dalam tabel di bawah ini diwakili beberapa nomor Maya. Kolom kiri memberikan setara desimal untuk setiap posisi nomor Maya teh. Ingat nomor tersebut dibaca dari bawah ke atas. Di bawah setiap nomor Maya adalah setara desimal nya.

Gambar 1.4 Penomoran Maya



Perhitungan 360 hari kalender juga datang dari bangsa Maya yang benarbenar menggunakan basis 18 ketika berhadapan dengan kalender. Setiap bulan berisi 20 hari dengan 18 bulan sampai satu tahun. Kiri lima hari ini pada akhir tahun yang merupakan bulan dalam dirinya sendiri yang penuh dengan bahaya dan nasib buruk. Dengan cara ini, bangsa Maya telah menemukan kalender 365 hari yang berkisar tata surya

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

11

Gambar 1.5 Angka Suku Maya

c.

Bangsa Mesir Kuno (3000 – 1500) SM Di Mesir, sejak sekitar 3000 tahun sebelum masehi, bukti sejarah bilangan yang ditemukan pada tulisan-tulisan pada batu, dinding, tembikar, plak kapur dan monument menyebutkan bahwa satu disimbolkan sebagai garis vertikal, sedangkan 10 diwakilkan oleh lambang ^. Orang mesir menulis dari kanan ke kiri, jadi bilangan dua puluh tiga disimbolkan menjadi |||^^. Simbol Mesir untuk angka besar seperti 100.000, adalah suatu simbol yang seperti burung, tetapi angka-angka yang lebih kecil dilambangkan dengan garis lurus dan melengkung.

Gambar 1.6 Lambang bilangan mesir kuno

12

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD



Orang-orang Mesir menggunakan penomoran tertulis yang diubah menjadi tulisan hieroglif, yang memungkinkan mereka untuk dicatat bertambah sampai 1.000.000. Ini memiliki basis desimal dan diperbolehkan untuk prinsip aditif. Dalam notasi ini ada tanda khusus untuk setiap kekuatan sepuluh. Bagi saya, garis vertikal, karena 10, tanda dengan bentuk U terbalik, karena 100, tali spiral, untuk 1000, bunga teratai, untuk 10.000, jari mengangkat, sedikit menekuk, karena 100.000, berudu , dan untuk 1.000.000, jin berlutut dengan tangan terangkat.

Gambar 1.7 Desimal Mesir dan Nomor Simbol



Ini penomoran hieroglif adalah versi tertulis dari sistem penghitungan beton menggunakan benda-benda materi. Untuk mewakili angka, tanda untuk setiap order desimal diulang sebanyak yang diperlukan. Untuk membuatnya lebih mudah untuk membaca tanda-tanda mengulangi mereka ditempatkan di kelompok dua,, tiga atau empat dan disusun secara vertikal.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

13

Contoh 1



Dalam penulisan angka, urutan desimal terbesar akan ditulis pertama. Angka-angka yang ditulis dari kanan ke kiri.

Contoh 2

d.



14

Bangsa Yunani Matematika Yunani merujuk pada matematika yang ditulis di dalam bahasa Yunani antara tahun 600 SM sampai 300 M.[28] Matematikawan Yunani tinggal di kota-kota sepanjang Mediterania bagian timur, dari Italia hingga ke Afrika Utara, tetapi mereka dibersatukan oleh budaya dan bahasa yang sama. Matematika Yunani lebih berbobot daripada matematika yang dikembangkan oleh kebudayaan-kebudayaan pendahulunya. Semua naskah matematika pra-Yunani yang masih terpelihara menunjukkan penggunaan penalaran induktif, yakni pengamatan yang berulang-ulang yang digunakan untuk mendirikan aturan praktis. Sebaliknya, matematikawan Yunani

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD









menggunakan penalaran deduktif. Bangsa Yunani menggunakan logika untuk menurunkan simpulan dari definisi dan aksioma, dan menggunakan kekakuan matematika untuk membuktikannya. Matematika Yunani diyakini dimulakan oleh Thales dari Miletus (kira-kira 624 sampai 546 SM) dan Pythagoras dari Samos (kira-kira 582 sampai 507 SM). Meskipun perluasan pengaruh mereka dipersengketakan, mereka mungkin diilhami oleh Matematika Mesir dan Babilonia. Menurut legenda, Pythagoras bersafari ke Mesir untuk mempelajari matematika, geometri, dan astronomi dari pendeta Mesir. Thales menggunakan geometri untuk menyelesaikan soal-soal perhitungan ketinggian piramida dan jarak perahu dari garis pantai. Dia dihargai sebagai orang pertama yang menggunakan penalaran deduktif untuk diterapkan pada geometri, dengan menurunkan empat akibat wajar dari teorema Thales. Hasilnya, dia dianggap sebagai matematikawan sejati pertama dan pribadi pertama yang menghasilkan temuan matematika. Pythagoras mendirikan Mazhab Pythagoras, yang mendakwakan bahwa matematikalah yang menguasai semesta dan semboyannya adalah “semua adalah bilangan”. Mazhab Pythagoraslah yang menggulirkan istilah “matematika”, dan merekalah yang memulakan pengkajian matematika. Mazhab Pythagoras dihargai sebagai penemu bukti pertama teorema Pythagoras,[32] meskipun diketahui bahwa teorema itu memiliki sejarah yang panjang, bahkan dengan bukti keujudan bilangan irasional. Eudoxus (kira-kira 408 SM sampai 355 SM) mengembangkan metoda kelelahan, sebuah rintisan dari Integral modern. Aristoteles (kira-kira 384 SM sampai 322 SM) mulai menulis hukum logika. Euklides (kira-kira 300 SM) adalah contoh terdini dari format yang masih digunakan oleh matematika saat ini, yaitu definisi, aksioma, teorema, dan bukti. Dia juga mengkaji kerucut. Bukunya, Elemen, dikenal di segenap masyarakat terdidik di Barat hingga pertengahan abad ke-20. Selain teorema geometri yang terkenal, seperti teorem Pythagoras, Elemen menyertakan bukti bahwa akar kuadrat dari dua adalah irasional dan terdapat tak-hingga banyaknya bilangan prima. Saringan Eratosthenes (kira-kira 230 SM) digunakan untuk menemukan bilangan prima. Archimedes (kira-kira 287 SM sampai 212 SM) dari Syracuse menggunakan metoda kelelahan untuk menghitung luas di bawah busur parabola dengan penjumlahan barisan tak hingga, dan memberikan hampiran yang cukup akurat terhadap Pi. Dia juga mengkaji spiral yang mengharumkan namanya, rumus-rumus volume benda putar, dan sistem rintisan untuk menyatakan bilangan yang sangat besar.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

15

e.





16

Cina Matematika Cina permulaan adalah berlainan bila dibandingkan dengan yang berasal dari belahan dunia lain, sehingga cukup masuk akal bila dianggap sebagai hasil pengembangan yang mandiri. Tulisan matematika yang dianggap tertua dari Cina adalah Chou Pei Suan Ching, berangka tahun antara 1200 SM sampai 100 SM, meskipun angka tahun 300 SM juga cukup masuk akal. Hal yang menjadi catatan khusus dari penggunaan matematika Cina adalah sistem notasi posisional bilangan desimal, yang disebut pula “bilangan batang” di mana sandi-sandi yang berbeda digunakan untuk bilanganbilangan antara 1 dan 10, dan sandi-sandi lainnya sebagai perpangkatan dari sepuluh. Dengan demikian, bilangan 123 ditulis menggunakan lambang untuk “1”, diikuti oleh lambang untuk “100”, kemudian lambang untuk “2” diikuti lambang utnuk “10”, diikuti oleh lambang untuk “3”. Cara seperti inilah yang menjadi sistem bilangan yang paling canggih di dunia pada saat itu, mungkin digunakan beberapa abad sebelum periode masehi dan tentunya sebelum dikembangkannya sistem bilangan India. Bilangan batang memungkinkan penyajian bilangan sebesar yang diinginkan dan memungkinkan perhitungan yang dilakukan pada suan pan, atau (sempoa Cina). Tanggal penemuan suan pan tidaklah pasti, tetapi tulisan terdini berasal dari tahun 190 M, di dalam Catatan Tambahan tentang Seni Gambar karya Xu Yue. Karya tertua yang masih terawat mengenai geometri di Cina berasal dari peraturan kanonik filsafat Mohisme kira-kira tahun 330 SM, yang disusun oleh para pengikut Mozi (470–390 SM). Mo Jing menjelaskan berbagai aspek dari banyak disiplin yang berkaitan dengan ilmu fisika, dan juga memberikan sedikit kekayaan informasi matematika.Yang terpenting dari semua ini adalah Sembilan Bab tentang Seni Matematika, judul lengkap yang muncul dari tahun 179 M, tetapi wujud sebagai bagian di bawah judul yang berbeda. Ia terdiri dari 246 soal kata yang melibatkan pertanian, perdagangan, pengerjaan geometri yang menggambarkan rentang ketinggian dan perbandingan dimensi untuk menara pagoda Cina, teknik, survey, dan bahan-bahan segitiga siku-siku dan π. Ia juga menggunakan prinsip Cavalieri tentang volume lebih dari seribu tahun sebelum Cavalieri mengajukannya di Barat. Ia menciptakan bukti matematika untuk teorema Pythagoras, dan rumus matematika untuk eliminasi Gauss. Liu Hui memberikan komentarnya pada karya ini pada abad ke-3 M.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

f.

Hindu - Arab (300 SM – sekarang)

Gambar 1.6 Simbol Hindu- Arab





g.

Orang-orang India menggunakan lingkaran kecil saat tempat pada angka tidak mempunyai nilai, mereka menamai lingkaran kecil tersebut dengan nama sunya, diambil dari bahasa sansekerta yang berarti ”kosong”. Sistem ini telah berkembang penuh sekitar tahun 800 Masehi, saat sistem ini juga diadaptasi di Baghdad. orang Arab menggunakan titik sebagai simbol ”kosong”, dan memberi nama dengan arti yang sama dalam bahasa arab, sifr. Sekitar dua abad kemudian angka India masuk ke Eropa dalam manuskrip Arab, dan dikenal dengan nama angka Hindu-Arab. Dan angka Arab sifr berubah menjadi ”zero” dalam bahasa Eropa modern, atau dalam bahasa Indonesia, ”nol”. Tetapi masih perlu berabad-abad lagi sebelum ke-sepuluh angka Hindu-Arab secara bertahap menggantikan angka Romawi di Eropa, yang diwarisi dari masa kekaisaran Roma. Bangsa Romawi Angka romawi menggunakan sistem bilangan berbasis 5. Angka I dan V dalam angkaromawi terinspirasi dari bentuk tangan, yang merupakan alat hitung alami. Sedangkan angka X/ lambang dari 10, adalah gabungan dua garis miring yang melambangkan 5. Dan L, C, D,dan M, yang secara urut mewakili 50, 100, 500, dan 1.000, merupakan modifikasi dari simbol Vdan X.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

17



Gambar 1.7 Simbol Romawi



Garis yang miring mewakili jempol, yang kemudian menjadi simbol lima, X(10) adalah gabungan dua garis miring Symbol L, C, D, & M merupakan modifikasi dari simbol V & X. Untuk menulis angka, orang Romawi menggunakan sistem penjumlahan : V+ I = VI (6) atau C + X + X + I = CXXI (121), dan sistem pengurangan : IX ( I sebelum X = 9) atau XCIV ( X sebelum C = 90, I sebelum V = 4)

Gambar 1.8 Simbol Romawi

h.

18

Masa Sejarah (Masehi) Awal kebangkitan teori bilangan modern dipelopori oleh Pierre de Fermat (1601-1665), Leonhard Euler (1707-1783), J.L Lagrange (1736-1813), A.M. Legendre (1752-1833), Dirichlet (1805-1859), Dedekind (1831-1916), Riemann (1826-1866), Giussepe Peano (1858-1932), Poisson (1866-1962), dan Hadamard (1865-1963). Sebagai seorang pangeran matematika, Gauss begitu terpesona terhadap keindahan dan kecantikan teori bilangan, dan untuk melukiskannya, ia menyebut teori bilangan sebagai the queen of mathematics. Pada masa ini, teori bilangan tidak hanya berkembang

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

sebatas konsep, tapi juga banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini dapat dilihat pada pemanfaatan konsep bilangan dalam metode kode baris, kriptografi, komputer, dan lain sebagainya . 3.

Jenis-jenis Bilangan

A.

Bilangan Bulat adalah bilangan yang terdiri atas bilangan positif, bilangan nol, dan bilangan negatif. Himpunan semua bilangan bulat dalam matematika dilambangkan dengan Z (atau ), berasal dari Zahlen ( bahasa Jerman untuk “bilangan”) Misal : ….-2,-1,0,1,2… Bilangan Asli adalah bilangan bulat positif yang diawali dari angka 1(satu) sampai tak terhingga. Para ahli matematika menggunakan N atau untuk menuliskan seluruh himpunan bilangan asli. Misal : 1,2,3,…. Bilangan Cacah adalah bilangan bulat positif yang diawali dari angka 0 (nol) sampai tak terhingga. Misal 0,1,2,3,…. Bilangan Prima adalah bilangan yang tepat mempunyai dua faktor yaitu bilangan 1 (satu) dan bilangan itu sendiri. Misal : 2,3,5,7,11,13,….. (1 bukan bilangan prima, karena mempunyai satu faktor saja). Bilangan Komposit adalah bilangan yang bukan 0, bukan 1 dan bukan bilangan prima. Misal; 4,6,8,9,10,12,…. Bilangan Rasional adalah bilangan yang dinyatakan sebagai suatu pembagian antara dua bilangan bulat (berbentuk bilangan a/b, dimana a dan b merupakan bilangan bulat).

B.

C. D. E. F.

G.

Misal: Bilangan Irrasional adalah bilangan yang tidak dapat dinyatakan sebagai pembagian dua bilangan bulat. Misal: π, √2 , log 7 dan sebagainya.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

19

H.

I. J.

20

Bilangan Riil adalah bilangan yang merupakan penggabungan dari bilangan rasional dan bilangan irasional. Misal: 1/2 √(2 ),1/3 √5,1/4 π,2/3 Bilangan Imajiner adalah bilangan yang ditandai dengan i, bilangan imajiner i dinyatakan sebagai √(−1). Jadi, jika i = √(−1) maka i2= -1 Misal : √(−4)=π √(−4) = √(4×(−1) ) = √4×√(−1) = 2 × I = 2i Jadi, √(−4) =2i. Bilangan Kompleks adalah bilangan yang merupakan penggabungan dari bilangan riil dan bilangan imajiner. Misal : π√(−1) = πi Log √(−1)= log i.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

LATIHAN SOAL 1. 2.

3.

4.

5.

Jelaskan perbedaan bilangan dan angka ? Berapakah total jumlah simbol yang dibutuhkan untuk menulis 29 ke numerasi berikut. a. Mesir Kuno b. Romawi Apa yang dapat kalian simpulkan ? Ubahlah ke dalam numerasi Mesir Kuno a. 34 b. 124 c. 1.234 Tulislah bilangan berikut ke dalam numerasi Romawi a. 495 b. 1.828 c. 12.345 Tulis dengan numerasi Hindu-Arab dari numerasi berikut a. LIV b. XL c. MDCXIII

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

21

22

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

BAB III OPERASI BILANGAN CACAH A. B.

Ko m p e t e n s i d a n I n d i ka t o r P e n c a p a i a n Kompetensi Gambaran Umum Materi

C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

D.

Materi

BAB III

OPERASI BILANGAN CACAH A.

Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada bab ini kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa adalah menjelaskan perkembangan bilangan dan lambang bilangannya. Kompetensi tersebut terbagi menjadi beberapa indikator sebagai berikut: - Mengenal dan mengidentifikasi permasalahan dalam operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan cacah. - Memahami sifat dan hubungan antar operasi bilangan cacah. - Mendeskripsikan dan mengidentifikasi strategi berpikir fakta dasar operasi. - Memahami konsep perpangkatan. - Memahami dan mengaplikasikan urutan operasi. B.

Gambaran Umum Materi

Bab ini mengkaji tipe permasalahan pada bilangan cacah, sifat-sifat bilangan dan hubungan antar operasi bilangan cacah, bagaimana strategi berfikir fakta dasar operasi pada bilangan cacah, serta perpangkatan bilangan. C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

Pengetahuan tentang operasi bilangan cacah menyajikan topik penjelasan bilangan cacah khususnya mengenai tipe permasalahan dalam operasinya. Diharapkan setelah mempelajarinya, mahasiswa dapat mengklasifikasikan permasalahan di kehidupan sehari-hari

25

ke dalam permasalahan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Bab ini juga menampilkan bagaimana strategi berfikir fakta dasar operasi yang bertujuan untuk menanamkan anak untuk memahami dan memaknai operasi bilangan dasar. Diharapkan dari penjelasan bab ini dapat dijadikan acuan mahasiswa dalam melaksanakan dan mengembangkan pembelajaran bilangan cacah di Sekolah Dasar. D.

Materi

3.1 Tipe Permasalahan pada Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan cacah merupakan dasar dari pembelajaran matematika di Sekolah Dasar. Bilangan cacah dapat didefinisikan sebagai bilangan yang digunakan untuk menyatakan cacah anggota suatu himpunan. Jika suatu himpunan yang karena alasan tertentu tidak mempunyai anggota sama sekali, maka cacah anggota himpunan itu dinyatakan dengan “nol” dan dinyatakan dengan lambang “0”. Jika anggota suatu himpunan hanya terdiri atas satu anggota saja, maka cacah anggota himpunan tersebut adalah “satu” dan dinyatakan dengan lambang “1”, dan demikian seterusnya, sedemikian sehingga kita mengenal barisan bilangan hasil pencacahan himpunan yang dinyatakan dengan lambang sebagai berikut. 10 ,9 ,8 ,7 ,6 ,5 ,4 ,3 ,2 ,1 ,0, dan seterusnya.

Definisi BIlangan Cacah Bilangan cacah adalah bilangan yang digunakan untuk menyatakan cacah anggota suatu himpunan. Sehingga, himpunan bilangan cacah dapat dituliskan {0,1,2,3,…} Contoh 3.1 Manakah dari kuantitas permasalahan berikut yang dapat merepresentasikan sebuah bilangan cacah. a. Sekumpulan semut. b. Bagian dari sebuah roti yang telah dimakan. c. Jumlah manusia yang hidup di Matahari. d. Panjang garis miring sebuah segitiga siku-siku samakaki.

26

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Penyelesaian a.

b. c. d.

Meskipun sekumpulan semut sulit dihitung, namun jumlahnya pasti terhingga dan dapat dihitung, sehingga jumlah dari sekumpulan semut adalah bilangan cacah. Bagian dari sebuah roti yang telah dimakan pasti lebih dari nol dan kurang dari 1 roti. Jadi, tidak termasuk bilangan cacah. Manusia tidak dapat hidup di Matahari, sehingga tidak ada yang hidup di sana. Artinya, jumlahnya adalah nol (bilangan cacah). Panjang garis miring sebuah segitiga siku-siku samakaki adalah akar dari dua kali kuadrat salah satu panjang sisi penyikunya, sehingga dapat dipastikan hasilnya bukan bilangan cacah (diskusikan!).

Tipe Permasalahan dalam Penjumlahan dan Pengurangan. Anak-anak belajar perhitungan seyogyanya memanfaatkan objek dan dikaitkan dengan konteks yang terdapat di sekelilingnya. Di Indonesia, anakanak sering belajar perhitungan yang mengarah kepada skill perhitungannya dan kemudian baru dilanjutkan ke penerapannya sehari-hari (Fuson, 2003). Anak-anak akan lebih memaknai perhitungan juka dikaitkan dengan kontek sesuai pengalaman mereka. Anak memiliki tahapan dalam belajar berhitung, diantaranya, (1) Anak memodelkan permasalahan real mereka, dengan menggunakan objek dalam permasalahan; (2) Anak menggunakan representasi semikonkret dengan gambar-gambar untuk mewakili kuantitas dan objek dalam permasalahan; dan (3) Setelah anak memiliki banyak kesempatan untuk menggunakan operasi dalam masalah cerita, maka dilanjutkan menggunakan kuantitas dalammatematika. permasalahan;Sebagai dan (3) Setelah anak memiliki banyak kesempatan simboldan danobjek kalimat contoh, anak dihadapkan pada untuk menggunakan cerita, maka dilanjutkan menggunakan simbol dan inasalah berikut.operasi “Bejo dalam mula masalah - ­mula memiliki 2 pulpen. Ibunya memberikan 3 pulpen kepadanya. Berapa dari pulpen Bejo sekarang?” Ketikamula anak- mula Sebagai contoh,jumlah anak dihadapkan pada inasalah berikut. "Bejo kalimat matematika. berpikir untuk menjelaskan jawaban di atas, kenalkan bahwa kalimat di atas Bejo memiliki 2 pulpen. Ibunya memberikan 3 pulpen kepadanya. Berapa jumlah dari pulpen dapat ditulis dengan 2 + 3, dibaca dua tambah tiga. 2 adalah jumlah pulpen sekarang?" Ketika anak berpikir untuk menjelaskan jawaban di atas, kenalkan bahwa kalimat di Bejo mula-mula, 3 adalah jumlah pulpen yang diberikan kepadanya, + adalah atas dapat ditulis dengan 2 + 3, dibaca dua tambah tiga. 2 adalah jumlah pulpen Bejo mula-mula, gabungan antara 2 pulpen dan 3 pulpen. Sedangkan, hasil dari penjumlahan 3 adalah jumlah pulpen yang diberikan kepadanya, + adalah gabungan antara 2 pulpen dan 3 dihubungkan dengan tanda = yang mewakili setara. pulpen. Sedangkan, hasil dari penjumlahan dihubungkan dengan tanda = yang mewakili setara.

Gambar 3.1

Gambar 3.2

Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa terdapat 4 tipe dalam permasalahan penjumlahan Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

27

dan pengurangan, yakni menggabungkan, memisahkan, bagian – bagian keseluruhan, dan membandingkan (Van de Walle, dkk, 2010). Menggabungkan dan memisahkan adalah tipe yang

Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa terdapat 4 tipe dalam permasalahan penjumlahan dan pengurangan, yakni menggabung­kan, memisahkan, bagian – bagian keseluruhan, dan membandingkan (Van de Walle, dkk, 2010). Menggabungkan dan memisahkan adalah tipe yang lebih mudah dilakukan, sedangkan permasalahan bagian-bagian-keseluruhan dan membandingkan lebih sulit dari pada dua permasalahan lainnya. Tipe Menggabungkan dan Memisahkan Tipe menggabungkan yakni proses menggabungkan dua himpunan objek bersama-sama. Sedangkan, tipe memisahkan yakni menghilangkan atau mengambil objek dari suatu himpunan. Pada saat melakukan penggabungan dan pemisahan terdapat tiga permasalahan yang berbeda yakni awalan yang tidak diketahui, perubahan yang tidak diketahui, dan hasil yang tidak diketahui. Ketiganya dapat diilustrasikan seperti berikut. Hasil yang tidak diketahui Bejo mula-mula memiliki 2 pulpen. Ibunya memberikan 3 pulpen kepadanya. Berapa jumlah dari pulpen Bejo sekarang? (permasalahan penjumlahan). Ibu Bejo mula-mula memiliki 5 pulpen. Ia memberikan 3 pulpen kepada Bejo. Berapa jumlah dari pulpen Ibu Bejo sekarang? (permasalahan pengurangan).





Perubahan yang tidak diketahui Bejo mula-mula memiliki 2 pulpen. Ibunya memberikan beberapa pulpen kepada dirinya. Sekarang Bejo memiliki 5 buah pulpen. Berapa jumlah pulpen yang diberikan Ibu kepada Bejo? (permasalahan penjumlahan). Ibu Bejo memiliki 5 pulpen. Dia memberikan beberapa pulpen ke Bejo. Sekarang dia memiliki 2 pulpen. Berapa banyak pulpen yang dia berikan kepada Bejo? (permasalahan pengurangan).





Awalan yang tidak diketahui Bejo memiliki beberapa pulpen. Ibunya memberikan 3 pulpen kepadanya. Sekarang, Bejo memiliki 5 pulpen. Berapakah jumlah pulpen yang dimiliki Bejo sebelumnya? (permasalahan penjumlahan). • Ibu Bejo memiliki beberapa pulpen. Dia memberikan 3 pulpennya kepada Bejo. Sekarang Ibu Bejo memiliki sisa 2 pulpen. Berapa banyak pulpen yang dimiliki Ibu Bejo sebelumnya? (permasalahan pengurangan). Guru harus memahami bahwa makna gabungan dalam penjumlahan sama halnya konsep gabungan pada operasi himpunan. Penjumlahan dengan menggunakan himpunan dapat dilihat dari menggabungkan anggota dua •

28

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

(permasalahan pengurangan). Guru harus memahami bahwa makna gabungan dalam penjumlahan sama halnya konsep gabungan pada operasi himpunan. Penjumlahan dengan menggunakan himpunan dapat dilihat

himpunan dan menghitung jumlah anggota dari gabungan himpunan tersebut. dari menggabungkan anggota dua himpunan dan menghitung jumlah anggota dari gabungan Tentunya, himpunan tersebut haruslah saling lepas (tidak memiliki anggota yang himpunan tersebut. Tentunya, tersebut huruf haruslah saling lepas (tidak sama). Sebagai contoh duahimpunan anak diberikan yang tertulis dalammemiliki kertas, anggota yang sama). Sebagai contoh dua anak tertulis kertas,kedua anak pertama anak pertama mendapatkan kartudiberikan denganhuruf hurufyang a, b, c, d,dalam dan anak mendapatkan kart. dengan Tentukan jumlah huruf yang mendapatkan kartu dengan hurufhuruf a, b, c,e,d,f.dan anak kedua mendapatkan kart. berbeda dengan huruf e, f. dari keduajumlah anak tersebut. Permasalahan dapatanak digambarkan dengan model Tentukan huruf yang berbeda dariinikedua tersebut. Permasalahan ini dapat himpunan pada Gambar 3.3 dan model pengukuran Gambar 3.4 digambarkan dengan model himpunan pada Gambar 3.3 dan model pengukuran Gambar 3.4

Gambar 3.3

Gambar 3.4

Tipe penjumlahan dapat bervariasi sesuai permasalahan. Kasus di atas Tipe penjumlahan dapat bervariasi sesuai permasalahan. Kasus di atas bertipe hasil yang bertipe hasil yang tidak diketahui dari penggabungan. tidak diketahui dari penggabungan. Definisi Penjumlahan Definisi Penjumlahan Jika himpunan himpunan P memiliki anggota p dan himpunan memiliki anggota Jika P memiliki anggota p dan himpunan Q memilikiQanggota q, dengan P dan Q saling P lepas,maka q, dengan dan Q saling lepas,maka Contoh 3.2 Contoh 3.2 Terdapat suatu kelompok boyband Terdapat suatu kelompok boyband terdiri dari terdiri delapandari orangdelapan sebagai orang vokalis sebagai dan enam orang vokalis dan enam orang bermain gitar. a. Berapa jumlah minimum orang dalam kelompok ini? b. Berapa jumlah maksimmn orang dalam kelompok ini? c. Manakah dari pertanyaan (a) dan pertanyaan (b) yang memiliki jawaban dari penjumlahan banyaknya pemain gitar dan vokalis?

Penyelesaian a.

b.

Jumlah minimum dari kelompok boyband dapat diartikan dengan 6 pemain gitar merangkap sebagai vokalis, sehingga jumlah minimum adalah 8 orang. Jumlah maksimum dari kelompok boyband ketika pemain vokal dan pemain gitar memiliki peran/ tugas masing-masing, sehingga jumlah maksimum adalah gabungan jumlah orang sebagai vokalis atau gitaris, yakni 14 orang.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

29

sebagai vokalis, sehingga jumlah minimum adalah 8 orang.

inimum orang dalam kelompok ini?

b. Jumlah maksimum dari kelompok boyband ketika pemain vokal dan pemain gitar memiliki

aksimmn orang dalam kelompok ini?

peran/ tugas masing-masing, sehingga jumlah rtanyaan (a) dan pertanyaan (b) yang memiliki jawaban darimaksimum penjumlahanadalah gabungan jumlah orang

vokalis atau gitaris, yakni 14 orang. n gitar sebagai dan vokalis?

C. Pertanyaan b. (diskusikan!) c. Pertanyaan b. (diskusikan!) Tipe memisahkan dengan hasil akhir yang tidak diketahui pada konsep dari kelompokpengurangan boyband dapatjuga diartikan dengan 6 pemain gitar merangkap dapat dikaitkan dalam konsep mengambil keluar sejumlah ehinggaTipe jumlah minimum adalah 8 orang. objek dari suatu himpunan. Sebagai contoh, Hana memiliki koin dalam wadah juga memisahkan dengan hasil akhir yang tidak diketahui pada4 konsep pengurangan dan mengambilnya 2, berapa yangpemain masihgitar tersisa? Hal ini dimodelkan dengan m dari kelompok boyband ketika pemain vokal dan memiliki dapat dikaitkan dalam konsep mengambil keluar sejumlah objek dari suatu himpunan. Sebagai konsep mengambil keluar 2 buah koin dari himpunan koin yang berjumlah 4 sing-masing, sehingga jumlah maksimum adalah gabungan jumlah orang contoh, Hana memiliki 4 koin dalam wadah dan mengambilnya 2, berapa masih tersisa? (Gambar 3.5). Situasi ini juga dapat dimodelkan dengan model yang pengukuran au gitaris, yakni 14 orang. (Gambar 3.6). Hal ini dimodelkan dengan konsep mengambil keluar 2 buah koin dari himpunan koin yang

skusikan!)

berjumlah 4 (Gambar 3.5). Situasi ini juga dapat dimodelkan dengan model pengukuran

(Gambar 3.6). n dengan hasil akhir yang tidak diketahui pada konsep pengurangan juga

m konsep mengambil keluar sejumlah objek dari suatu himpunan. Sebagai

iki 4 koin dalam wadah dan mengambilnya 2, berapa yang masih tersisa?

dengan konsep mengambil keluar 2 buah koin dari himpunan koin yang

ar 3.5). Situasi ini juga dapat dimodelkan dengan model pengukuran Gambar 3.5

Gambar 3.6

Dari tipe memisahkan dengan hasil akhir tidak diketahui, definisi pengurangan bilangan Dari tipe memisahkan dengan hasil akhir tidak diketahui, definisi pengurangan cacah dapatbilangan dinyatakan dengan himpunan seperti berikut. cacah dapatnotasi dinyatakan dengan notasi himpunan seperti berikut.

Definisi Pengurangan Bilangan Pengurangan Bilangan Diberikan a Definisi dan b sembarang bilangan cacah, A dan B suatu himpunan dengan Gambar 3.5 Gambar 3.6 A = n (A), b = N (B), dan maka dandiketahui, b sembarang cacah, A dan B suatu himpunan misahkan denganDiberikan hasil akhir atidak definisibilangan pengurangan bilangan a – b = n (A – B). dengan A = n (A), b = N (B), dan maka a – b = n (A – B). an Contoh dengan notasi 3.3 himpunan seperti berikut.

an Bilangan Siti membeli 10 apel, adiknya melihat Siti membawa apel, kemudian meminta 2 apel darinya. mbarang bilangan cacah, A dan B suatu himpunan dengan Contoh 3.3 Berapa sisa apel yang masih dimiliki Siti? dan maka Siti membeli 10 apel, adiknya melihat Siti membawa apel, kemudian a – b = n (A – B). Penyelesaian

meminta 2 apel darinya. Berapa sisa apel yang masih dimiliki Siti?

l, adiknya melihat Siti membawa apel, kemudian meminta 2 apel darinya. Penyelesaian

g masih dimiliki Siti?

Jadi, sisa apel milik Siti adalah 10 - 2 = 8 buah. Tipe perubahan dan awalan yang tidak ketahui dalam konsep pengurangan dapat diartikan sebagai konsep mencari penjumlah yang belum diketahui. 30

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Konsep ini digunakan dalam situasi ketika mengetahui hasil penjumlahan salahmilik satuSiti penjumlahnya, mencari penjumlah lain yang belum Jadi, dan sisa apel adalah 10 - 2 = kemudian 8 buah. diketahui. Proses mencari penjumlah yang belum diketahui dapat dianggap Tipe perubahan dan awalan yang tidak ketahui dalam konsep pengurangan dapat sebagai kebalikan (invers) dari proses pengurangan.

diartikan sebagai konsep mencari penjumlah yang belum diketahui. Konsep ini digunakan dalam situasiAlternatif ketika mengetahui penjumlahanBilangan dan salahCacah satu penjumlahnya, kemudian mencari Definisihasil Pengurangan penjumlah lain yang belum diketahui. Proses mencari penjumlah yang belum diketahui dapat

selisih antara a dan b adalah k bilangan cacah (ditulis a - b = k ), jika hanya jika

Untuk setiap bilangan cacah clan pengurangan. b, dengan dianggap sebagai kebalikan (invers) dari aproses

Alternatif Definisi Pengurangan Bilangan Cacah +k Untuk setiap bilangan cacah a clan ab,= b dengan selisih antara a dan b adalah k bilangan cacah (ditulis a - b = k ), jika hanya jika k adalah penjumlah yang dicari (Missing-Addend) a=b+k k adalah penjumlah yang dicari (Missing-Addend).

Konsep ini dapat digambarkan menggunakan model himpunan (Gambar 3.7) dan model pengukuran (Gambar 3.8 dan 3.9). Sebagai contoh, untuk Konsep ini dapat digambarkan menggunakan model himpunan (Gambar 3.7) dan model menghitung 4 - 2 dapat diilustrasikan seperti berikut.

pengukuran (Gambar 3.8 dan 3.9). Sebagai contoh, untuk menghitung 4 - 2 dapat diilustrasikan seperti berikut.

Gambar 3.7

Gambar 3.8

Gambar 3.9

4 - 2 = ? jika hanya jika 2 + ? = 4 atau ? + 2 = 4. Karena 2 + 2 = 4, maka 4 - 2 = 2.

4 - 2 = ? jika hanya jika 2 + ? = 4 atau ? + 2 = 4. Karena 2 + 2 Tipe = 4, maka 4 - 2 = 2. Tipe Bagian-Bagian-Keseluruhan bagian-bagian-keseluruhan yakni proses yang berkaitan dengan bagian dari sebuah himpunan objek untuk membuat sebuah himpunan secara

Tipe Bagian-Bagian-Keseluruhan Tipe bagian-bagian-keseluruhan yakni proses yang berkaitan dengan bagian dari sebuah himpunan objek untuk membuat diketahui danhimpunan bagian yang tidakkeseluruhan. diketahui. Berikut contoh dua permasalahan dari tipe bagiansebuah secara Tipe ini memiliki dua permasalahan yang bagian-keseluruhan. berbeda yakni keseluruhan yang tidak diketahui dan bagian yang tidak diketahui. Berikut contoh duadiketahui permasalahan dari tipe bagian-bagian-keseluruhan. Keseluruhan yang tidak keseluruhan. Tipe ini memiliki dua permasalahan yang berbeda yakni keseluruhan yang tidak

Bejo Keseluruhan memiliki 3 pulpen hitam dan diketahui 2 pulpen putih. Berapakah jumlah yang tidak pulpen yang dimiliki Bejo?(permasalahan penjumlahan) Bejo memiliki 3 pulpen hitam dan 2 pulpen putih. Berapakah jumlah

pulpen yang dimiliki Bejo?(permasalahan penjumlahan)

Bagian yang tidak diketahui

Gambar 3.10

Bejo memiliki 5 pulpen. 2 pulpen yang dimilikinya berwarna putih dan pulpen yang lainnya hitam. Berapakah jumlah pulpen hitan, yang dimiliki Bejo? (permasalahan pengurangan) Tipe membandingkan

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

31

Tipe membandingkan yakni membandingkan dua himpunan berbeda dari objek. Tipe ini

Bagian yang tidak diketahui Bejo memiliki 5 pulpen. 2 pulpen yang dimilikinya berwarna putih dan pulpen yang lainnya hitam. Berapakah jumlah pulpen hitan, yang dimiliki Bejo? (permasalahan pengurangan) Tipe membandingkan Tipe membandingkan yakni membandingkan dua himpunan berbeda dari objek. Tipe ini memiliki tiga permasalahan yang berbeda yakni selisih yang tidak diketahui, lebihan yang tidak diketahui, dan kurangan yang tidak diketahui. Berikut contoh dari setiap permasalahan dalam, tipe perbandingan. Selisih tidak diketahui Trinil memiliki 5 pulpen dan Trimbil memiliki 3 pulpen. Berapa banyak pulpen yang tidak dimiliki Trimbil daripada Trinil ? Lebihan tidak diketahui Trimbil memiliki 3 pulpen. Trinil memiliki pulpen 2 lebihnya dari Trimbil. Berapa banyak pulpen yang Trinil miliki ? Kurangan tidak diketahui Trinil memiliki 5 pulpen. Dia memiliki 2 lebihnya pulpen dari Berapa banyak pulpen yang Trimbil miliki? 3.2 Sifat-sifat Penjumlahan Beberapa sifat dasar untuk operasi penjumlahan pada bilangan cacah sangat penting sehingga diberi narna khusus. Empat sifat untuk penjumlahan diperkenalkan di sini dan berkorelasi dengan sifat-sifat untuk perkalian yang diberikan pada bagian selanjutnya. Sifat Tertutup Terhadap Penjumlahan Misal diambil dua bilangan cacah, jumlah kedua bilangan cacah tersebut akan menghasilkan bilangan cacah juga. Fakta ini dapat dinyatakan dengan mengatakan bahwa bilangan cacah bersifat tertutup untuk operasi penjumlahan. Secara umum, kata tertutup menunjukkan bahwa ketika operasi dilakukan pada setiap sepasang bilangan dari suatu himpunan, hasilnya juga dalam himpunan tersebut, bukan di luar himpunan. Sebagai contoh himpunan bilangan cacah tidak tertutup untuk pengurangan, karena terkadang selisih antara dua bilangan cacah adalah bilangan negatif. Pertimbangkan contoh lain, misalnya, jika memilih dua bilangan dari himpunan bilangan ganjil {1, 3, 5, 7,. . . }, maka hasil penjumlahannya belum tentu bilangan ganjil (Gambar 3.11; misal 1 + 3 = 4). Jadi, himpunan bilangan ganjil tidak tertutup terhadap penjumlahan. 32

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

n pada setiap sepasang bilangan dari suatu

ebut, bukan di luar himpunan. Sebagai contoh

k pengurangan, karena

dalah bilangan negatif.

milih dua bilangan dari

a hasil penjumlahannya

isal 1 + 3 = 4). Jadi,

penjumlahan.

Gambar Gambar 3.113.11

Untuk memahami sifat tertutup, anak merasa terbantu jika menggambar lingkaran Bilangan ganjil dan menulis bilangan dalam himpunan. Kemudian, jika hasil operasi menghasilkan bilangan yang masih berada di dalam lingkaran, maka himpunan tersebut memiliki sifat tertutup terhadap operasi tersebut. merasa terbantu jika menggambar lingkaran Sedangkan, jika operasi yang dilakukan menghasilkan setidaknya satu basil yangKemudian, berada di luar lingkaran, tersebut tidak tertutup m himpunan. jika maka hasilhimpunan operasi terhadap operasi tersebut.

am lingkaran, maka himpunan tersebut memiliki

silkan

Sifat Tertutup

Misal untuk setiap sepasang bilangan dalam satu himpunan dijumlahkan dan hasilnya masih berada di dalam himpunan tersebut maka berlaku setidaknya satu basil yang berada di luar sifat tertutup. Jika salah satu contoh dapat ditemukan di mana operasi penjumlahan tidak menghasilkan elemen dari himpunan tersebut, maka himpunan tersebut tidak tertutup. Sifat Komutatif Terhadap Penjumlahan Sebuah sifat penjumlahan terlihat jika setiap dua bilangan pada bilangan cacah dijumlahkan, maka jumlah kedua bilangan tersebut tidak berubah meskipun letaknya (urutannya) ditukar. Fakta tentang penjumlahan ini berlaku untuk semua bilangan dalam bilangan cacah. Sifat ini disebut dengan sifat komutatif. Sebagai contoh, 4 + 2 = 2 + 4 yang dapat diilustrasikan pada Gambar 3.12 dan 3.13 berikut.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

33

dijumlahkan, maka jumlah kedua bilangan tersebut tidak berubah meskipun letaknya (urutannya)

masih berada di dalam himpunan tersebut maka berlaku sifat tertutup. Jika salah satu contoh dapat ditemukan di mana penjumlahan operasi penjumlahan tidak menghasilkan dari dalam bilangan cacah. ditukar. Fakta tentang ini berlaku untuk semuaelemen bilangan himpunan tersebut, maka himpunan tersebut tidak tertutup.

Sifat ini disebut dengan sifat komutatif. Sebagai contoh, 4 + 2 = 2 + 4 yang dapat diilustrasikan

pada Gambar 3.12 Penjumlahan dan 3.13 berikut. Sifat Komutatif Terhadap Sebuah sifat penjumlahan terlihat jika setiap dua bilangan pada bilangan cacah dijumlahkan, maka jumlah kedua bilangan tersebut tidak berubah meskipun letaknya (urutannya) ditukar. Fakta tentang penjumlahan ini berlaku untuk semua bilangan dalam bilangan cacah. Sifat ini disebut dengan sifat komutatif. Sebagai contoh, 4 + 2 = 2 + 4 yang dapat diilustrasikan pada Gambar 3.12 dan 3.13 berikut. Gambar 3.13 Gambar 3.12

Sifat Koniutatif Misal a dan b merupakan sebarang bilangan dalam bilangan cacah, maka berlaku:

Gambar 3.13 Sifat Koniutatif a+b=b+a Misal Gambar a dan 3.12 b merupakan sebarang bilangan dalam bilangan cacah, maka berlaku: a + b =b+a Contoh 3.4

Sifat Koniutatif

bahwa penjumlahan berlaku cacah, sifat konmtatif. Misal a Tunjukkan dan b merupakan sebarang bilanganberikut dalam bilangan maka berlaku: a. 3 + 4

Contoh 3.4

b. 5a ++ 6b = b + a

Penyelesaian

Contoh 3.4Tunjukkan bahwa penjumlahan berikut berlaku sifat konmtatif.

3+ 4= 7= 4+ 3

(terbukti)

3 + 4 b. 5 + berlaku 6 Tunjukkana. bahwa penjumlahan berikut sifat konmtatif. a. 3 + 4

5 +Penyelesaian 6 = 11 = 6b.+5 5+ 6 (terbukti)

Gambar 3.14

Penyelesaian

Sifat 3+ Identitas 4= 7= 4+terhadap 3 Penjumlahan (terbukti)

3+ 4= 7= 4+ 3

(terbukti)

5 + 6 =istimewa 11 = 6 +di5 antara (terbukti) Bilangan bilangan cacah adalah nol. Nol disebut identitas untuk penjumlahan

Gambar 3.14 5 + 6 = karena 11 = 6 +ketika 5 (terbukti) nol ditarnbahkan dengan bilangan yang lain, maka tidak ada perubahan. Artinya,

Sifat Identitas terhadap Penjumlahan

Sifat Identitas terhadap0Penjumlahan menambahkan dengan bilangan berapapun akan meninggalkan identitas.

Bilangan istimewa di antara bilangan cacah adalah nol. Nol disebut identitas untuk penjumlahan karena ketika nol ditarnbahkan dengan bilangan yang karena ketika nol ditarnbahkan dengan bilangan yang lain, maka tidak ada perubahan. Artinya, lain, maka tidak ada perubahan. Artinya, menambahkan 0 dengan bilangan menambahkan 0 dengan bilangan berapapun akan meninggalkan identitas. berapapun akan meninggalkan identitas. Bilangan istimewa di antara bilangan cacah adalah nol. Nol disebut identitas untuk penjumlahan

Sifat Identitas Misal a merupakan sembarang bilangan dalam bilangan cacah, maka berlaku: a + 0 = a dan 0+ a = a Sifat Asosiatif terhadap Penjumlahan Penjumlahan tiga sembarang bilangan cacah berlaku salah satu bilangan dapat dijumlahkan dengan penjumlahan dua bilangan lainnya. Sifat ini disebut dengan sifat asosiatif terhadap penjumlahan.

34

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Sifat Asosiatif terhadap Penjumlahan Penjumlahan tiga sembarang bilangan cacah berlaku salah satu bilangan dapat

dengan penjumlahan dua bilangan lainnya. Sifat ini disebut dengan sifat asosia penjumlahan. Sifat Assosiatif Misal a, b, dan merupakan sebarang bilangan dalam bilangan cacah,maka SifatcAssosiatif berlaku : (a + b) + c = a + (b + c)

Misal a, b, dan c merupakan sebarang bilangan dalam bilangan cacah,maka berlaku :

(a + b) + c = a + (b + c) Sifat dapat diilustrasikan pada Gambar 3.15 dan Gambar 3.16 berikat.

Sifat dapat diilustrasikan pada Gambar 3.15 dan Gambar 3.16 berikat.

Gambar 3.16

Gambar 3.15

Contoh 3.5 Tunjukkan bahwa penjumlahan berikut berlaku sifat asosiatif. a. (5+6) + 7 = 5 + (6 + 7) b. (3+9) + 1 = 3 + (9 + 1) Penyelesaian a. (5 + 6 ) + 7 = 5 + (6+7) 11 + 7 = 5 + 13 18

= 18 (terbukti) Gambar 3.15 b. (3 + 9) + 1 = 3 + (9+1)

12 + 1 = 3 + 10 Contoh 3.5 Tunjukkan bahwa penjumlahan berikut berlaku sifat asosiatif. 13 = 13 (terbukti) a. (5+6) + 7 = 5 +Sifat-sifat (6 + 7) komutatif dan asosiatif terhadap penjumlahan menunjukkan ba b. (3+9) + 1 = 3 + (9 + 1) menjumlahkan bilangan cacah, dapat menggunakan urutan dan pengelompok Penyelesaian beberapa bilangan, kadang-kadang lebih mudah untuk mencari pasang a. (5 + 6 )menambahkan + 7 = 5 + (6+7) 11yang + 7 jumlahnya = 5 + 13 adalah 10, 20, dan sebagainya. 18 Contoh = 18 3.6(terbukti) b. (3 + 9) + 1 = 3 + (9+1) 12 + 1 = 3 + 10 13 = 13 (terbukti)

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

35

Sifat-sifat komutatif dan asosiatif terhadap penjumlahan menunjukkan bahwa ketika menjumlahkan bilangan cacah, dapat menggunakan urutan dan pengelompokan. Ketika menambahkan beberapa bilangan, kadang-kadang lebih mudah untuk mencari pasangan bilangan yang jumlahnya adalah 10, 20, dan sebagainya. Contoh 3.6 Tentukan hasil dari 9 + 3 + 2 + 7 + 1 Penyelesaian 9+ 3 + 2 + 7 + 1 = ( 9 + 1 ) + ( 7 + 3) + 2 = 10 + 10 + 2 =22

+1

3) + 2 = 10 +3.3 10 +Strategi 2 =22 Berpikir Fakta Dasar Penjumlahan & Pengurangan Mengajar dengan fakta dasar dapat mengembangkan kemampuan strategi berpikir anak. Selain itu, anak akan lebih meningkat dalam akurasi, efisien, dan kelancaran dalam perhitungan (Baroody, 2006).

ar Penjumlahan & Pengurangan

Fakta Dasar Penjumlahan

sar dapat mengembangkan kemampuan strategi berpikir anak.

gkat dalam

Pada tabel fakta dasar penjumlahan (Gambar 3.17) terdapat 100 kotak kosong penjumlahandalam dua bilangan cacah a+b ditempatkan pada akurasi,sehingga efisien, hasil dan kelancaran perhitungan per­potongan antara baris a dan kolom b. Sebagai contoh, 2 + 5 = 7, posisi 7 ditempatkan pada perpotongan baris 2 dan kolom 5.

an (Gambar 3.17) terdapat 100

umlahan dua bilangan cacah a+b

antara baris a dan kolom b.

7 ditempatkan pada perpotongan

n sama

Gambar 3.17 Komutatif Menjumlahkan dua bilangan akan sama hasilnya jika urutan bilangan tersebut ditukar. Hal ini terlihat dari bentuk yang simetri pada Tabel (Gambar hasilnya jika urutan 3.18). Sebagai contoh 0 + 0 = 0 + 0, 2 = 2 + 1, 2 + 3 = 3 + 2, dan seterusnya.

ni terlihat dari bentuk yang

. Sebagai contoh 0 + 0 = 0 +

erusnya.

36

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

7 ditempatkan pada perpotongan an (Gambar 3.17) terdapat 100

umlahan dua bilangan cacah a+b

Gambar 3.17

antara baris a dan kolom b.

7 ditempatkan pada perpotongan n sama hasilnya jika urutan

ni terlihat dari bentuk yang

. Sebagai contoh 0 + 0 = 0 +

Gambar 3.17

erusnya. n sama hasilnya jika urutan

ni terlihat dari bentuk yang

Gambar 3.18 Gambar 3.18

Penjumlahan Melibatkan Nol

. Sebagai contoh 0 + 0 = 0 + Terdapat 19 fakta melibatkan nol sebagai salah sat.dasar yang melibatkan nol sebagai salah sat. penjumlah. Meskipun masalah seperti ini umumnya mudah, beberapa anak dapat erusnya. seperti ini menggeneralisasikan umumnya mudah,gagasan bahwa jawaban atas soal-soal penjumlahan yang lebih besar dari penjumlah nol akar, menghasilkan bilangan itu sendiri

lisasikan gagasan bahwa jawaban (Gambar 3.19).

lebih besar dari penjumlah nol melibatkan nol sebagai salah sat. endiri (Gambar 3.19). seperti ini umumnya mudah,

lisasikan gagasan bahwa jawaban n2 lebih besar dari penjumlah nol seperti halnya 6 + 1 dan 6 + 2 endiri (Gambar 3.19). ngan melanjutkan (counting on).

Gambar 3.18

Gambar 3.19

Gambar 3.19 Gambar 3.19 hubungan "satu lebihnya" dan "dua n2 Membilang Lanjut dengan 1 dan 2 proses berpikirnya dengan urutan Anak kelas awal menjumlahkan seperti halnya 6 + 1 dan 6 + 2 melalui seperti halnya 6 + 1 dan 6 + 2 membilang dengan melanjutkan (counting on). Fakta ini sekaligus 8. Contoh strategi lain, misalkan ketika menunjukkan hubungan ngan melanjutkan (counting on). “satu lebihnya” dan “dua lebihnya”. Sebagai contoh,

6 + 2, proses berpikirnya dengan urutan3.20 dua bilangan setelah 6, yakni 7, 8. Gambar Contoh lain, misalkan hubungan "satu lebihnya" dan "duaketika Trinil melihat pertunjukan “Tong Setan”, dia melihat 5 orang pengendara motor keluar mengitari tong seta, kemudian 2

proses berpikirnya dengan urutan

8. Contoh lain, misalkan ketika

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Gambar 3.20

37

elibatkan nol sebagai salah sat.

seperti ini umumnya mudah,

sasikan gagasan bahwa jawaban

orang pengendara motor lain inenyusul keluar. Berapa banyak pengendara

lebih besar motor dari penjumlah nol Trinil ? Mintalah anak yang berbeda untuk menjelaskan yang dilihat oleh

bagaimana mereka mendapat jawaban 7. Kemungkinan beberapa anak akan

ndiri (Gambarmenjawab 3.19). dengan mengurutkannya dari 5. Selain itu, kemungkinan beberapa 2

anak akan menjawab dengan menghitung dengan mencacahnya satu-per-satu, dan yang lain mungkin menjawabGambar dengan 3.19 dua lebihnya dari 5 adalah 7.

seperti halnya 6 + 1 dan 6 + 2

gan melanjutkan (counting on).

ubungan "satu lebihnya" dan "dua

proses berpikirnya dengan urutan 8. Contoh lain, misalkan ketika Gambar 3.20

Gambar 3.20

Mengkombinasikan ke 10 (Membuat menjadi 10) Strategi penting untuk berpikir mengenai penjumlahan dua angka dasar yang menghasilkan junilah lebih dari 10 dapat mengkombinasikan ke jumlah 10 terlebih dahulu. Tidak hanya membantu dalam penguasaan fakta - fakta dasar, strategi ini dapat membangun fondasi untuk melakukan operasi hitung dengan bilangan yang lebih besar dan pemahaman konsep tentang nilai tempat. Sebagai contoh, anak akan inemecahkan masalah 8 + 6 mungkin memulai dengan mengambil 2 dari 6 dan inenjuinlahkannya dengan 8 untuk menjadikan 10, kemudian menjumlahkannya dengan sisa dari 6 (yakni 4) sehingga menghasilkan 14. Secara simbolis ditulis seperti berikut: 8 + 6 = 8 + 2 + 4 = 10 + 4 = 14. Proses penjumlahan di atas, telah menunjukkan sifat assosiatif dalain operasi penjumlahan. Penjuinlahan tiga sembarang bilangan cacah berlaku bah,a salah satu bilangan dapat dijumlahkan dengan penjumlahan dua bilangan lainnya. Penjumlahan 8 + 6 sebelumnya dapat ditulis seperti berikut: 8 + ( 2 + 4 ) = ( 8 + 2 ) + 4 = 10 + 4 = 14. 38

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

si= untuk 8 + 2 +melakukan 4 = 10 + 4 operasi = 14. hitung dengan bilangan yang

ntang nilaimenunjukkan tempat. s, telah sifat assosiatif dalain operasi

inemecahkan masalah + 6 mungkin memulai dengan barang bilangan cacah 8berlaku bah,a salah satu bilangan

Menggunakan 5Penjumlahan Sebagai Jembatan lahkannya dengan 8 untuk menjadikan kemudian han dua bilangan lainnya. 8 + 10, 6Pembantu sebelumnya

6 (yakni 4) sehingga menghasilkan 14. Secara simbolis

0 + 4 = 14.

= 8 + 2 + 4 = 10 + 4 = 14. Pembantu

s, telah strategi menunjukkan sifat assosiatif dalain operasi erupakan penalaran

barang berlaku bah,a salah satu bilangan tentangbilangan sejumlahcacah hubungan

han dua bilangan lainnya. Penjumlahan 8 + 6 sebelumnya peroleh fakta penjumlahan.

5 + 2, dan 6 adalah 5 + 1.

0 + 4 = 14. diproses oleh anak dengan Pembantu

Gambar 3.21 Gambar 3.21

Penggunaan engan "tambahannya. Dalamjembatan pembantu merupakan strategi penalaran yang erupakan strategi penalaran membangun pengetahuan anak tentang sejumlah hubungan yang dapat htentang 5 + sejumlah 4 membantu dan hubungan kemudian mereka memperoleh fakta penjumlahan. Misalnya, 8 adalah 5 +

3, 7 adalah + 2, dan 6 adalah 5 + 1. an 3 tambahan dari 85 untuk peroleh fakta penjumlahan.

Sehingga, fakta seperti 7 + 8 dapat diproses oleh anak dengan melihat

masing-masing 5 + 2, dan 56 diadalah 5 + 1. angka dengan “tambahannya. Dalam contoh ini, anak akan menambah menjumlahkan 2 tambahan dari 7 dan 3 ganda dari fakta dasar 0 +50+ 4 dan kemudian Gambar 3.21 tambahan dari 8 untuk mendapatkan 15.

diprosesdari oleh diagonal kirianak atas dengan sampai

engan "tambahannya. Dalam

Gambar 3.22

h 5 + 4 dan kemudian

an 3 tambahan dari 8 untuk

ganda dari fakta dasar 0 + 0

diagonal dari kiri atas sampai Gambar 3.22 Gambar 3.22

Fakta Ganda Terdapat 10 fakta berganda dari fakta dasar 0 + 0 sampai 9 + 9, yang ditunjukkan oleh diagonal dari kiri atas sampai kanan bawah. Hal ini mudah dipelajari, karena merupakan bilangan cacah genap atan penjumlahan dua-an (0, 2, 4, ..., 18).

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

39

dua-an (0, 2, 4, ..., 18).

kta Ganda Tetangga fakta ganda dapat juga disebut dengan fakta

satu”. Sebagai contoh, 5 +Tetangga 6, 7 +fakta 6, dan lainnya. Strategi men Tetangga Fakta Ganda ganda yang dapat juga disebut dengan

fakta “ganda + satu.” atau “ganda – satu”. Sebagai contoh, 5 + 6, 7 + 6, dan yang lainnya. Strategi menggunakan ini yaitu dengan kecil, melipatgandakan ngan melipatgandakan bilangan fakta yang lebih kemudian bilangan yang lebih kecil, kemudian menjumlahkannya dengan 1. Pastikan siswa mengetahui fakta gandafakta sebelumganda fokus pada strategi ini.fokus pada strategi tikan siswa mengetahui sebelum

ajari, karena merupakan bilangan cacah genap atan

m

ini

a ganda dapat juga disebut dengan fakta “ganda + satu.”

+ 6, 7 + 6, dan yang lainnya. Strategi menggunakan fakta

langan yang lebih kecil, kemudian menjumlahkannya Gambar 3.23 Gambar 3.23 kta ganda sebelum fokus pada strategi ini. Misalkan, menjelaskan 5 + 6 dapat menggunakan strategi berikut. Tampilkan

kan, menjelaskan + 6muka dapat menggunakan kartu domino 5 dengan lima-lima (Gambar 2.23) danstrategi tanyakan berapa

jumlahnya. Tempatkan muka domino lima-enam di samping muka (Gambar

pilkan kartu dengan muka pada lima-lima (Gambar 2.23)domino dan tanyakan berapa banyaknya domino Bimbing anak sehingga anak akan melihat, “Ini hanya satu lebihnya dari fakta ganda”.

yakan berapa jumlahnya. Tempatkan muka domino

Gambar 3.23

samping muka strategi (Gambar apat menggunakan

2.23) dan tanyakan berapa

n mukadomino lima-lima Bimbing (Gambar ada anak sehingga anak akan

Tempatkan muka domino hanya satu lebihnya dari fakta ganda". 2.23) dan tanyakan berapa

Ga

Minta dan bimbing anak untuk menunjukkan gainbar "tetangga

nak sehingga anak akan

ganda" pada tabel fakta dasar Gambar penjumlahan (Gambar 3.24). kta ganda". 3.24 Gambar 3.24

k untuk menunjukkan gainbar "tetangga fakta ganda" di

Minta dan bimbing anak untuk menunjukkan gainbar “tetangga fakta

ganda” di sebelah fakta ganda” pada tabel fakta dasar penjumlahan (Gambar sar penjumlahan (Gambar 3.24).

egimu dalam 3.24). 3 cara yang berbeda untuk mengoperasikan 8 + 6.

berbeda untuk mengoperasikan 8 + 6.

= 8 + (2 + 4) = (8 + 2 ) + 4 = 10 + 4 = 14

==(10 7 ++ 41)= 14 + 6 = 7 + ( 1 + 6 ) = 7+ 7= 14 40

) = 7+ 7= 14

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

= (2 + 6) + 6 = 2 +( 6 + 6 ) = 2 +12 = 14 = 2 +12 = 14

Contoh 3.7 Gunakan strategimu dalam 3 cara yang berbeda untuk mengoperasikan 8 + 6. Penyelesaian a. 8 + 6 = 8 + (2 + 4) = (8 + 2 ) + 4 = 10 + 4 = 14 b. 8 + 6 = ( 7 + 1) + 6 = 7 + ( 1 + 6 ) = 7+ 7= 14 c. 8 + 6 = (2 + 6) + 6 = 2 +( 6 + 6 ) = 2 +12 = 14 Fakta Dasar Pengurangan Fakta dasar dari pengurangan lebih sulit daripada fakta dasar penjumlahan bagi anak, khususnya di kelas awal. Hal ini dapat terlihat ketika anak kelas awal menggunakan strategi membilang mundur dalam pengurangan. Sebagai contoh, 13 - 7, anak harus membilang mundur dari 13 sampai tujuh kali sedemikian sehingga diperoleh 6. Hal ini tidaklah mudah bagi anak kelas awal. Strategi untuk melatih anak dalam berpikir fakta, dasar pengurangan dapat dilakukan dengan memikirkan pengurangan sebagai lawan dari penjumlahan dan menggunakan 10 sebagai jembatan pembantu.

Pengurangan sebagai Kebalikan dari Penjumlahan i Penjumlahan Mencari penjumlah yang belum diketahui

hkan sebagai berikut.

a memberikan beberapa pulpen

ki 2 pulpen. Berapa banyak

Bejo?”

asalahan di atas adalah 7 - 2

a banyak lagi dari 2 untuk Gambar Gambar 3.25 3.25

Mencari penjumlah yang belum diketahui dari konsep pengurangan dapat una untuk belajar tentang fakta dasar pengurangan yang dicontohkan sebagai berikut.

jumlahan melalui“Ibu 4 fakta keluarga (fact families). Misal,beberapa pulpen ke Bejo. Bejo memiliki 7 pulpen. Dia memberikan

Sekarang dia memiliki 2 pulpen. Berapa banyak pulpen yang dia berikan kepada Bejo?” Notasi pengurangan pada permasalahan di atas adalah 7 - 2 yang dapat diartikan sebagai berapa banyak lagi dari 2 untuk mencapai 7. penjumlahan dan 2 fakta Konsep mencari penjumlah berguna untuk belajar tentang fakta dasar keluarga. pengurangan yang berkaitan erat dengan fakta dasar penjumlahan melalui 4

a penjumlahan 7 = 2 + 5 clan 7 = 5 + 2. Kedua persamaan

saikan persainaan 30 + k = 50.

= 50.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

41

n. Dia memberikan beberapa pulpen

memiliki 2 pulpen. Berapa banyak

pada Bejo?” fakta keluarga (fact families). Misal, operasi 7 - 2 = 5 berkaitan dengan fakta

penjumlahan 7 = 2 + 57clan permasalahan di atas adalah - 72= 5 + 2. Kedua persamaan menunjukkan hubungan

dengan fakta yang lain, 7 - 5 = 2. Sehingga, 2 fakta penjumlahan dan 2 fakta

berapa banyak lagi dari 2 untuksebuah fakta keluarga. pengurangan membentuk

Gambar 3.25

Fakta keluarga

h berguna untuk belajar tentang fakta dasar pengurangan yang 2+5 = 7

7-2=5

5+2 = 7

7-5=2

r penjumlahan melalui 4 fakta keluarga (fact families). Misal,

n fakta penjumlahan 7 = 2 + 5 clan 7 = 5 + 2. Kedua persamaan

Contoh 3.8 Gunakan fakta keluarga untuk menyelesaikan persainaan 30 + k = 50. akta penjumlahan danfakta 2 fakta a. Tulis keluarga untuk 30 + k = 50. b. Identifikasi dari setiap fakta pada fakta keluarga, manakah yang memudahkan fakta keluarga. penyelesaian dari persamaan 30 + k = 50 dalam satu kali langkah. c. Tentukan nilai k

akta

nyelesaikan persainaan 30 + k = 50. Penyelesaian

+ k = 50. a. Fakta keluarga 30 + k = 50 penyelesaian pada fakta keluarga, manakah yangdari memudahkan

30 + k = 50 alam satu kali langkah.

50 – k = 30

k + 30 = 50

50 – 30 = k Fakta keluarga

30 + k = 50

4+3=7

7-4=3

50 – k = 30

3+4=7

7-3=4

50 – 30 = k

0

ntuk merepresentasikan operasi 4 + 3 dan 3 + 4. b.

50 – 30 = k

3 pada kartuc. domino merepresentasikan 7 - 3 = 4. 50 + 30 = 20, sehingga k = 20

4 pada kartu domino merepresentasikan 7 - 4 = 3.

42 digunakan enjumlahan dapat untuk belajar Pembelajaran Bilangan untukfakta PGSD pengurangan.

at membilang dari 7 naik 3 ke 10 dan kemudian 5 lebihnya ke

- - -

Gambar (a) dapat dipergunakan untuk merepresentasikan operasi 4 + 3 dan 3 + 4. Gambar (b) dengan melipat mata 3 pada kartu domino merepresentasikan 7 - 3 = 4. Gambar (c) dengan melipat mata 4 pada kartu domino merepresentasikan 7 - 4 = 3.

10 sebagai Jembatan Pembantu Penalaran dalam stategi penjumlahan dapat digunakan untuk belajar fakta pengurangan. Sebagai contoh, 15 - 7, anak dapat membilang dari 7 naik 3 ke 10 dan kemudian 5 lebihnya ke 15 untuk memperoleh selisihnya yakni 8 (dari 3 + 5). Anak juga dapat menggunakan strategi lain dengan memulai memikirkan untuk membilang mundur dari 15 turun 5 ke 10, kemudian turun 3 lagi ke 7 sedemikian sehingga selisih keseluruhan diperoleh 8 (dari 5 + 3). Strategi lain untuk belajar fakta pengurangan yakni dengan mengambil dari 10. Sebagai contoh, 15 - 7, anak dapat memikirkan 15 = 10 + 5 dan mengambil 10 untuk dikurangkan 7. Hal ini didasarkan karena anak lebih memaknai kombinasi yang membuat jadi 10.19 Hasil pengurangan tersebut. (yakni 3), kemudian dijumnlahkan dengan 5, sehingga diperoleh 8. Contoh 3.9 Gunakan strategi 10 sebagai jembatan pembantu untuk menentukan hasi1 17 - 9. Penyelesaian • 9 + 1 = 10; 10 + 7 = 17; 1 + 7 = 8. Jadi, 17 - 9 = 8. • 10 + 7 = 17; 10 - 9 = 1; 7 + 1 = 8. Jadi, 17 - 9 = 8. • 17 - 7 = 10 - 2 = 8. Jadi, 17 - 9 = 8. 2.4. 3.4 Tipe Permasalahan pada Perkalian dan Pembagian Secara garis besar, terdapat empat jenis permasalahan perkalian dan pembagian, yakni kesamaan kelompok, perbandingan, kombinasi, dan array (Van de Walle dkk, 2010). Sebagian besar buku teks, seringkali hanya mencakup jenis permasalahan yang paling nmdah, yakni kesamaan kelompok dengan hasil kali tidak diketahui atau faktornya tidak diketahui. Di sisi lain, permasalahan kesamaan kelompok dalam pemba­gian memiliki dua tipe, yakni konsep pembagian dengan pengukuran (measurement division) dan mengelompokkan secara adil (partitive division). Tipe pengukuran dalam pembagian bercirikan keseluruhan objeknya diketahui dan ukuran -jumlah objek (anggota)- dalam kelompok diketahui, namun jumlah kelompok tidak Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

43

diketahui. Sedangkan, tipe pembagian dengan partisi, keseluruhannya diketahui dan jumlah kelompok diketahui, tetapi ukuran dalam setiap kelompok tidak diketahui. Kesamaan Kelompok Ketika permasalahan menunjukkan diketahuinya jumlah dan ukuran kelompok, namun keseluruhan objek tidak diketahui, maka termasuk permasalahan perkalian. Di sisi lain, ketika jumlah kelompok atau ukuran kelompok tidak diketahui, namun keselu­ruhan objek tidak diketahui, maka termasuk permasalahan pembagian. Keselarahaa Tidak Diketahui Permasalahan kesamaan kelompok dengan keseluruhan tak diketahui termasuk dalam permasalahan perkalian. Sebagai contoh, Joni membeli 3 kantung plastik kurma, dengan setiap kantung plastik berisi 10 kurma. Berapa jumlah keseluruhan biji kurma yang dimiliki Joni? Permasalahan ini menunjukkan bahwa terdapat tiga dari 10-an sehingga dapat diartikan sebagai penjumlahan berulang, yakni 10 + 10 + 10. Pertimbangkan contoh lain, Jino bersepeda dari rumahnya ke sekolah dengan kecepatan 3 km/jam dengan lama perjalanan 4 jam. Berapa jarak rumah Jino dengan Sekolah? Hal ini dapat diartikan bahwa setiap jam memperoleh 3 km, sehingga 4 jam diperoleh 3 + 3 + 3 + 3. Notasi perkalian dapat ditulis dengan beberapa bentuk, tergantung pada pemakaiannya, yakni seperti berikut.

Notasi Perkalian Simbol

Contoh

x

symbol cross

3x4

.

dot

3.4

()

tanda kurang

(3) (4) atau 3 (4) atau (3) 4

Ketika anak memikirkan penjumlahan berulang, mereka juga menghubungkannya dengan strategi membilang loncat. Permasalahan 3 dari 4-an (3 x 4) dapat dilakukan dengan membilang loncat dari 4 sebanyak 3 kali.

44

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

memikirkan penjumlahan berulang, mereka juga menghubungkannya dengan masalahanKetika 3 darianak 4-an (3 x 4) dapat dilakukan dengan membilang

strategi membilang loncat. Permasalahan 3 dari 4-an (3 x 4) dapat dilakukan dengan membilang loncat dari 4 sebanyak 3 kali.

gan Cacah sebagai Penjumlahan Berulang Perkalian Bilangan Cacah sebagai Penjumlahan Berulang ngan cacah r dan s , dengan r ≠ 0, cacah makar dan s , dengan r ≠ 0, maka Untuk setiap bilangan

jika r ≠ 0 dan s ≠ 0, maka r dan s disebut faktor.

0, maka r dan sjika disebut faktor. r = 1, maka rxs=lxs=s x s = l x s = s jika r = 0, maka r x s = 0 x s = 0, untuk semua nilai s. x s = 0 x s = 0, untuk semua nilai s. Contoh 3.10 Contoh 3.10 Harga pulpen adalah (dalam ribuan), uang yang harus dibayarkan jika membeli 5? Harga3 pulpen adalah 3berapakah (dalam ribuan), berapakah uang yang harus dibayarkan jika membeli 5? Penyelesaian

buan), berapakah uang yang harus dibayarkan jika membeli 5? 5 x 3 = 3 + Penyelesaian 3 +3 + 3 + 3 = 15 (dalam ribuan). Contoh 3.11

5 x 3 = 3 + 3 +3 + 3 + 3 = 15 (dalam ribuan).

alam ribuan). Yoppy memiliki 3 cangkir dan setiap cangkir berisikan 5 kelereng di dalamnya. Berapa

Contoh 3.11 keseluruhan kelereng? Yoppy memiliki 3 cangkir dan setiap cangkir berisikan 5 kelereng di dalamnya. Berapa keseluruhan kelereng? an Penyelesaian setiap cangkir berisikan 5 kelereng di dalamnya. Berapa

3 x 5 = 5 + 5 + 5 = 15. Penyelesaian 3 x 5 = 5 + 5 + 5 = 15.

Jumlah atau ukuran Kelompok Tidak Diketahui Jumlah atau ukuran Kelompok Tidak Diketahui

Permasalahan kesamaan kelompok dengan Permasalahan kesamaan kelompok dengan jumlah atau ukuran kelompok tidak diketahui merupakan permasalahan jumlah atau ukuran kelompok tidak diketahui pembagian. Sebagai contoh, Joni memiliki 18 kelengkeng yang akan dibagi adil untuk dia dan 5 temannya. Berapa merupakan permasalahan pembagian. Sebagai k Tidak Diketahui jumlah kelengkeng yang didapatkan setiap orang? contoh, Joni memiliki 18 kelengkeng yang akan

kelompok dengan

dibagi adil untuk dia dan 5 temannya. Berapa

ok tidak diketahui

mbagian.

Sebagai

ngkeng yang akan temannya. Berapa

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

45

Permasalahan ini menunjukkan bahwa 18 kelengkeng dibagi adil untuk 6 orang. Anak akan menggunakan strategi yang berbeda-beda dalam membagi adil kelengkeng. Anak mungkin membagi keleng­keng satu demi satu kepada 6 orang sedemikian sehingga setiap anak mendapatkan sekiah kelengkeng sebanyak tiga kali. Kemungkinan lain, anak akan membagi 3 kelengkeng langsung kepada 6 orang. Pertimbangkan contoh lain berikut, Jino memiliki 18 kelengkeng yang akan dibungkus ke dalam sebuah plastik kecil yang masing-masing hanya memuat 3 kelengkeng. Berapa jumlah kantong plastik yang diperlukan Jino? Permasalahan ini menunjukkan bahwa Jino harus mengurangi 3-an dari 18 kelengkengnya. Ini menunjukkan bahwa hasil bagi diperoleh dengan mengukur sejumlah kelompok 3- an sehingga jumlah keseluruhan dari 18 habis. Dengan kata lain, melakukan pengurangan secara berulang oleh 3-an. Secara simbolis, ditulis 18 : 3 ó18 – 3 – 3 – 3 – 3 – 3 - 3. 18 habis dikurangi sejumlah 6 tiga-an. Jadi, jumlah kantong yang diperlukan oleh Jino adalah 6. Strategi lain yakni dengan menjumlahkan 3 kelengkengnya berulang sedemikian sehingga setara dengan 18 kelengkeng. Strategi ini dapat diartikan berapa kali 3-an setara dengan 18. Secara simbolis, ditulis 18 : 3 ó 3 x ? = 18. Menyelesaikan pembagian dengan strategi ini yakni dengan mengubahnya sebagai invers perkalian.

{

Definisi Pembagian Untuk sembarang bilangan cacah a,b, dan c, dengan b ≠ 0, berlaku a ÷ b = c, jika hanya jika a = b x c, atau a÷b=cóa–b-…-b sebanyak c

notasi pembagian

46

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Contoh 3.12 (Pembagian dengan Mengelompokkan) Sebuah kelas terdiri dari 20 siswa akan dibagi menjadi 4 kelompok dengan masing -masing kelompok memiliki anggota yang sama. Berapakah banyak anggota tiap kelompok? Penyelesaian Memecah 20 siswa ke dalam 4 kelompok yang adil, sedemikian sehingga 4 kelompok tersebut terdiri atas 5 siswa. Jadi, terdapat 4 kelompok dengan 5 anak dalam setiap kelompok. Contoh 3.13 (Pembagian dengan Cara Mengukur) Sebuah kelas terdiri dari 20 siswa akan dibuat kelompok dengan masingmasing 5 siswa. Berapa kelompok yang dapat dibuat? Penyelesaian Dari 20 siswa dipilih 5 siswa ke kelompok satu, 5 siswa ke kelompok dua, dan seterusnya. Sedemikian sehingga, dari lima siswa yang dikelompokkan per kelompok dapat dihitung banyak kelompok yang terbentuk. Jadi, terdapat 4 kelompok dengan 5 anak perkelompok.Diskusikan letak perbedaan contoh ini dengan conk. sebelumnya! Contoh 3.14 Tentukan hasil dari operasi berikut dengan menggunakan invers perkalian. a. 49 ÷ 7 c. 32 ÷ 8 b. 42 ÷ 6 d. 35 ÷ 5 Penyelesaian a. 49 ÷ 7 = 7, karena 7 x 7 = 49 b. 42 ÷ 6 = 7, karena 6 x 7 = 42 c. 32 ÷ 8 = 4, karena 8 x 4 = 32 d. 35 ÷ 5 = 7, karena 5 x 7 = 35 Perbandingan Perbandingan dalam situasi perkalian (multiplikatif) berbeda dengan perbandingan dalam situasi penjumlahan (aditif). Perban­d ingan dalam penalaran aditif didasarkan pada jumlah dan selisih suatu kuantitas. Sedangkan, perbandingan dalam penalaran multipli­katif didasarkan pada satu himpunan yang merupakan kelipatan dari himpunan yang lain. Transisi permasalahan

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

47

adi, terdapat 4 kelompok dengan 5 anak perkelompok.Diskusikan

engan conk. sebelumnya!

perbandingan dengan penalaran aditif ke multiplikatif rentan mengakibatkan erikut dengan menggunakan invers perkalian.

8

÷5

= 49

= 42

miskonsepsi anak. Anak sering menyelesaikan masalah penalaran multiplikatif dengan menggunakan penalaran aditif. Sebagai contoh, Yoppy menanam pohon jenis pertama dan jenis kedua dalam waktu yang bersamaan. Tinggi potion jenis pertama adalah 2 meter dan pohon jenis kedua adalah 3 meter. Setelah satu tahun, pohon jenis pertama tumbuh menjadi 4 meter dan pohon jenis kedua tumbuh n-tenjadi 5 meter. Manakah pohon yang tumbuh pada tingkat yang lebih cepat ?

= 32

= 35

situasi perkalian

gan perbandingan (aditif). Perban-

if didasarkan pada

Gambar 3.27

Gambar 3.27

uantitas. Sedangkan, perbandingan dalam penalaran multiplikatif

Letak kesalahan ketika menjawabyang permasalahan ini, yakni menjawab nan yang merupakan kelipatananak dari himpunan lain. Transisi dengan menggunakan penalaran aditif bahwa kedua pohon tumbuh pada

dengan penalaran aditif multiplikatif rentan mengakibatkan tingkat yang samakekarena setiap pohon tumbuh 2 m. Jawaban anak salah

karena ketika tumbul, tingkat yangmultiplikatif sama seharusnya pohon jenis kedua sering menyelesaikan masalahpadapenalaran dengan

adalah 6 m (diskusikanl). Jadi, jawaban yang betul yakni pohon jenis 1 yang

if. Sebagai contoh, Yoppy menanam pohon jenis pertama dan jenis lebih cepat pertumbuhannya. Tipe permasalahan perbandingan untuk perkalian danjenis pembagian dapat samaan. Tinggi potion jenis pertama adalah 2 meter dan pohon dijabarkan dengan contoh-contoh berikut ini.

ah satu tahun, pohon jenis menjadi 4 meter dan Hasil Kali Tidakpertama Diketahuitumbuh (Situasi Perkalian)

• Trimbil memiliki 5 kelengkeng. Trinil memiliki kali dariyang jumlah kelengkeng n-tenjadi 5 meter. Manakah pohon yang tumbuh pada 2tingkat

Trimbil. Berapa banyak kelengkeng yang dimiliki oleh Trinil ? (Permasalahan perkalian) • Bulan Agustus, Trimbil menabung 2 kali junilah uang di bulan Jika bulan ak ketika menjawab permasalahan ini, yakni menjawab dengan Juli. Trimbil menabung Rp1.000,00, Berapa banyak uang yang ditabung if bahwa kedua pohon pada tingkat(Permasalahan yang sama karena setiap Trimbiltumbuh pada bulan Agustus? perkalian) Ukuran kelompok Tidak Diketahui 48

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

kelengkeng. Berapa kali banyaknya • Trinil memiliki 10 kelengkeng. Ia memiliki 2 kali jumlah kelengkeng Trimbil.

Berapa banyak kelengkeng yang dimiliki oleh Trimbil? (Permasalahan pembagian dengan partisi) Bulan Agustus, Trimbil menabung 2 kali jumlah uang di bulan Juli. Jika bulan Agustus Trimbil menabung Rp2.000,00, Berapa banyak uang yang ditabung Trimbil pada bulan Juli? (Permasalahan pembagian dengan partisi)

(Permasalahan pembagian dengan •

yang Tidak Diketahui an Juli,Kelipatan Ia (Pengali) menabung Rp1.000,00. •

Trinil memiliki 10 kelengkeng. Trimbil memiliki 5 kelengkeng. Berapa kali banyaknya kelengkeng Trinil dibandingkan kepunyaan Trimbil? (Permasalahan pembagian dengan pengukuran) Bulan Agustus, Trimbil menabung Rp2.000,00. BuIan Juli, Ia menabung Rp1.000,00. Berapa kali banyaknya uang yang ditabung Trimbil di bulan Agustus dibandingkan di bulan Juli? (Permasalahan pembagian dengan pengakuran)

bulan Agustus dibandingkan di bulan •

Contoh 3.15 Trinil memiliki 10 kelengkeng. Trimbil memiliki 5 kelengkeng. Berapa kali banyaknya kelengkeng Trinil dibandingkan kepunyaan Trimbil?

elengkeng. Berapa kali banyaknya

Penyelesaian Kasus ini dapat diselesaikan dengan pembagian secara mengukur dengan mengartikan bahwa berapa 5-an kelengkeng sedemikian sehingga menjadi 10 kelengkeng atau berapa kali pengurangan 5-an dari 10 kelengkeng yang ada. Terlihat bahwa terdapat 2 kali pengurangan 5-an dari 10. Jadi, banyaknya kelengkeng Trinil 2 kali dari kepunyaan Trimbul.

gukur dengan

ian sehingga

5-an dari 10

urangan 5-an

yaan Trimbul. Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

49

Perhitungan Array Persegi Panjang

Perhitungan Array Panjang Salah satuPersegi cara untuk merepresentasikan perkalian bilangan cacah adalah

Salah satu cara untuk merepresentasikan perkalianpersegi bilanganpanjang cacah adalah dengan ausunan dengan ausunan obyek pada baris-kolom (rectangular array). obyek

diketahui dengan masing-masing memiliki 5diketahui uang koin3Rp1,00. padaMisalkan, baris-kolom persegi3 siswa panjang (rectangular array). Misalkan, siswa dengan

Berapakah keseluruhan koinkoin jika dikumpulkan bersama? Permasalahan ini dikumpulkan dapat masing-masing memiliki 5 uang Rp1,00. Berapakah keseluruhan koin jika dimodelkan dengan Gambar 3.28 berikut.

bersama? Permasalahan ini dapat dimodelkan dengan Gambar 3.28 berikut. Perhitungan Array Persegi Panjang Salah satu cara untuk merepresentasikan perkalian bilangan cacah adalah dengan ausunan obyek pada baris-kolom persegi panjang (rectangular array). Misalkan, diketahui 3 siswa dengan masing-masing memiliki 5 uang koin Rp1,00. Berapakah keseluruhan koin jika3 dikumpulkan bersama? Permasalahan ini dapat dimodelkan dengan Gambar 3.28 berikut. 5

Gambar 3.28

Perkalian pada Bilangan Cacah: Rectangular Array Misal r dan s pada berupaBilangan bilangan Cacah: cacah, maka r x s adalah jumlah semua elemen Perkalian Rectangular Array

3

Misaldaerah r danpersegi s berupa bilangan maka r x sdan adalah jumlah semua elemen dalam panjang yangcacah, memiliki r baris s kolonm. dalam daerah persegi panjang yang memiliki r baris dan s kolonm. Gambar 3.28 5 Contoh 3.16 Sebuah sirkuspada berlangsung sebuahRectangular ruangan. Banyaknya Perkalian BilangandiCacah: Array tempat duduk untuk setiap baris dari ruangan memiliki jumlah yang sama. ruangan Contoh Misal rtersebut dan3.16 s berupa bilangan cacah, maka r x s Diketahui adalah jumlah semuatersebut elemen memiliki 3 baris

Sebuah sirkuspanjang berlangsung di sebuah Banyaknya tempat duduk tempat dengan setiap baris memiliki memiliki 4 ruangan. tempat duduk. Berapa jumlah maksimal dalam duduk daerah persegi yang r baris dan s kolonm.

untuk setiap baris dari ruangan tersebut memiliki jumlah yang sama. Diketahui pengunjung Contoh 3.16 yang duduk di ruangan tersebut.

ruangan tersebut memiliki 3 baris tempat duduk dengan setiap baris memiliki 4 tempat duduk. Berapa jumlah maksimal pengunjung yang duduk di ruangan Permasalahan ini memiliki dapat dimodelkan susunan seperti berikut. ruangan tersebut jumlah dengan yang sama. Diketahui ruangan tersebut memiliki 3 baris tersebut.

Penyelesaian Sebuah sirkus berlangsung di sebuah ruangan. Banyaknya tempat duduk untuk setiap baris dari

tempat duduk dengan setiap baris memiliki 4 tempat duduk. Berapa jumlah maksimal

Penyelesaian

pengunjung yang duduk di ruangan tersebut.

3

Permasalahan ini dapat dimodelkan dengan susunan seperti berikut.

Penyelesaian

Permasalahan ini dapat dimodelkan dengan susunan seperti berikut. 4 Jadi, jumlah maksimal pengunjung yang duduk di ruangan tersebut sama artinya mencari luas 3 persegi panjang, yakni 4 x 3 =12. 4

Kombinasi

Permasalahan ini pengunjung menunjukkanyangjumlah Jadi, jumlah maksimal duduk di total ruangan tersebut sama artinya mencari luas kemungkinan persegi panjang, yang yakni 4dibuat x 3 =12.dengan memasangkan anggota dari dua himpunan. Misalkan, Trimbil memiliki Kombinasi 50 tiga kemeja dan dua celana, berapa banyak Permasalahan

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

ini

menunjukkan

jumlah

total

kemungkinan yang dibuat dengan memasangkan

Gambar 3.29

ng duduk di ruangan tersebut.

ni dapat dimodelkan dengan susunan seperti berikut.

Jadi, jumlah maksimal pengunjung yang duduk di ruangan tersebut sama artinya mencari luas persegi panjang, yakni 4 x 3 =12. 3

Kombinasi

Permasalahan ini menunjukkan jumlah total kemungkinan yang dibuat 4 dari dua himpunan. Misalkan, Trimbil memiliki dengan memasangkan anggota tiga kemeja dan dua celana, berapa pakaian berbeda aksimal pengunjung yang duduk di ruangan tersebut banyak sama artinya mencari luasyang dapat Trimbil pakai (Gambar 3.29). g, yakni 4 x 3 =12.

ini

menunjukkan

jumlah

total

yang dibuat dengan memasangkan dua himpunan. Misalkan, Trimbil

kemeja dan dua celana, berapa banyak

Gambar 3.29 Gambar 3.29

Secara matematis, permasalahan di atas dapat diartikan 2 x 3 = 3 + 3, yaitu memasangkan satu-satu dari 3 kemeja dengan 2 celana, atau dapat diartikan 3 x 2 = 2 + 2 + 2, yaitu memasangkan satu-satu dari 2 celana ke 3 kemeja. Kedua bentuk perkalian tersebut memiliki jumlah kombinasi yang sama, yaitu 6. Diagram Pohon Cara lain untuk mengartikan konsep perkalian di kelas tinggi yaitu dengan diagram pohon. Membuat diagram pohon merupakan teknik menghitung yang berguna untuk beberapa jenis masalah perkalian, terlebih materi yang berkaitan dengan peluang. Misalkan, seorang pemudik ingin pulang kampung ketika lebaran, dia memiliki 2 alternatif jalur yaitu melewati jalur utara (u) dan jalur selatan (s) untuk melewati jalur utara dan selatan melewati kota x, y, atau z . Berapa banyak pilihan yang dapat dipilih oleh pemudik tersebut untuk pulang kampung? Permasalahan ini dapat dibuat sebuah diagram pohon seperti pada Gainbar 3.30. Terlihat dari diagram bahwa pilihan pemudik untuk pulang kampung, yakti 2 x 3 = 6 pilihan.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

51

apat diartikan 3 x 2 = 2 + 2 + 2, yaitu Kedua bentuk perkalian tersebut memiliki

an di kelas tinggi

pohon merupakan

pa jenis masalah

eluang. Misalkan,

an, dia memiliki 2

r selatan (s) untuk

Gambar 3.30

Sifat-sifat Perkalian dan Pembagian atau z . 3.5 Berapa banyak pilihan yang dapat

Empat sifat yang berlaku untuk perkalian bilangan cacah dapat dinyatakan

ng? Permasalahan ini dapat dibuat sebuahyang berhubungan dengan di bawah ini, beserta beberapa sifat tambahan operasi penjumlahan dan perkalian.

dari diagram bahwa pilihan pemudik untuk Sifat Tertutup terhadap Perkalian

Sifat ini menyatakan bahwa hasil dari perkalian dua bilangan cacah juga bilangan cacah. Misalnya, 3 x 4 = 12, karena 12 juga anggota bilangan cacah.

Sifat Tertutup Terhadap Perkalian Untuk seinbarang bilangan cacah a dan b berlaku

angan cacah dapat dinyatakan diselalu bawah ini,cacah. a x b adalah bilangan

engan operasi penjumlahan dan perkalian. Sifat Identitas terhadap Perkalian

Bilangan 1 disebut identitas untuk perkalian karena ketika dikalikan dengan dua bilangan cacahakanjuga bilangan cacah. suatu bilangan menghasilkan bilangan itu sendiri. Sebagai contoh, 1 x 5 = 5 16 x 1 = 16 1x0=0 n cacah. Bilangan 1 merupakan bilangan unik karena hanya satu - satunya bilangan yang merupakan identitas untuk perkalian.

an cacah.

52

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Sifat Identitas terhadap Perkalian Untuk sembarang bilangan cacah a, berlaku ax1=1xa=a dan 1 disebut dengan identitas perkalian.

Sifat Komutatif terhadap Perkalian

wa dalam setiap bilangan tersebut

empengaruhi hasil

omutatif terhadap

3 x 4 yang dapat

Gambar 3.31

Gambar 3.31 Sifat ini mengatakan bahwa dalam setiap perkalian dua bilangan, maka dua bilangan tersebut dapat dipertukarkan (dibalik) tanpa mempengaruhi hasil perkalian, sifat ini disebut sifat komutatif terhadap perkalian. Sebagai contoh, berlaku 4 x 3 = 3 x 4 yang dapat diilustrasikan seperti berikut.

nb, a x b = b x a.

Sifat Komutatif terhadap Perkalian Untuk sembarang bilangan cacah a dan b , berlaku a x b = b x a.

ga sembarang bilangan cacah berlaku salah satu bilangan

Assosiatif Perkalian a bilangan Sifat lainnya. Sifatterhadap ini disebut dengan sifat assosiatif

Perkalian yang melibatkan tiga sembarang bilangan cacah berlaku salah

an 4 x (3 xsatu 17)bilangan akan lebih mudah dengan jika dikerjakan (4 dapat dikalikan perkalian duadengan bilangan lainnya. Sifat ini

disebut dengan sifat assosiatif terhadap perkalian. Misalnya, perkalian 4 x (3

dimodelkan dengan balok mainan yang ditunjukkan oleh x 17) akan lebih mudah jika dikerjakan dengan (4 x 3) x 17. Sifat assosiatif ini dapat dimodelkan dengan balok mainan yang ditunjukkan oleh Gambar 3.32 berikut.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

53

at dikalikan dengan perkalian dua bilangan lainnya. Sifat ini disebut dengan s

hadap perkalian. Misalnya, perkalian 4 x (3 x 17) akan lebih mudah jika dikerja

) x 17. Sifat assosiatif ini dapat dimodelkan dengan balok mainan yang ditu

mbar 3.32 berikut.

Gambar3.32 3.32 Gambar

Sifat Assosiatif Terhadap Perkalian at Assosiatif Terhadap Perkalian Untuk sembarang bilangan cacah a, b, dan c, berlaku uk sembarang bilangan cacah a, b, dan c, berlaku A x ( b x c ) = ( a x b ) x c. ( b x c ) = ( a x b ) x c. Sifat Distributif Perkalian terhadap Penjumlahan Terdapat satu sifat penting lain dari bilangan cacah. Sifat ini disebut dengan sifat distributif, yaitu menggabungkan antara perkalian dan penjumlahan. Terdapat4 satu penting lainmenjadi dari bilangan ini disebut dengan sifat Misalnya, x (3 +sifat 4) dapat diubah (4 x 3) +cacah. (4 x 4).Sifat Perhatikan Gambar 3.33) yaitu berikut: distributif, menggabungkan antara perkalian dan penjumlahan. Misalnya, 4 x (3 +

Sifat Distributif Perkalian terhadap Penjumlahan

4) dapat diubah menjadi (4 x 3) + (4 x 4). Perhatikan Gambar 3.33) berikut:

44xx( (33+ +4 4) =) (=4(x43x) 3 + () 4+x( 44)x 4 ) Gambar 3.33

Gambar 3.33

Sifat Distributif Perkalian Terhadap Penjumlahan Untuk sembarang bilangan cacah a,b, dan c, berlaku a ( b + c ) = ab + ac Contoh 3.17 Tulis kembali masing - masing bentuk berikut dengan ineriggunakan sifat distributif. a. 3(4+5)54 b.5 x 7 + 5 x 3 Penyelesaian

c. am + am

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

d. a ( b + c + d )

Sifat Distributif Perkalian Terhadap Penjumlahan Untuk sembarang bilangan cacah a,b, dan c, berlaku a ( b + c ) = ab + ac Contoh 3.17 Tulis kembali masing - masing bentuk berikut dengan ineriggunakan sifat distributif. a. 3(4+5) c. am + am b.5 x 7 + 5 x 3 d. a ( b + c + d ) Penyelesaian a. 3(4 + 5) b.5 x 7 + 5 x 3 c. am + am d. a ( b+ c + d )

= (3 x 4) + (3 x 5) =5(7+3) =a(m+n) = ab + ac + ad

Sifat Perkalian terhadap Nol Sifat Perkalian Terhadap Nol Untuk sembarang bilangan cacah a , berlaku a x 0 = 0 x a =0 Sebagai contoh: 3 x 0 = 0 x 456 = 0. Sifat Pembagian terhadap Nol Sifat pembagian yang melibatkan nol dibagi dengan sembarang bilangan dapat dicontohkan dengan permasalahan berikut. Bejo tidak memiliki permen di kantongnya. Ia bagikan kepada 4 orang temannya. Berapa banyak permen yang didapat dari setiap temannya? Setiap teman Bejo tidak dapat permen artinya mendapatkan 0 permen. Sifat Pembagian dari Jika a ≠ 0, maka 0 ÷ a = 0. Permasalahan Pertama: a ÷ 0, dengan a ≠ 0 Jika a ÷ 0 = k, maka a = 0 x k, sehingga a = 0, tetapi hal ini kontradiksi dengan a ≠ 0. sehingga dapat disimpulkan a ÷ 0 tidak terdefinisi. Permasalahan kedua : 0 ÷ 0 Jika 0 ÷ 0 = k, maka 0 = 0 x k, tetapi k dapat dipilih banyak nilai. Sehingga, nilai k tidak khusus untuk bilangan tertentu. Jadi, pembagian dengan kasus 0 ÷ 0 adalah tidak dapat didefinisikan. Catatan: Sembarang bilangan dibagi nol adalah tidak terdefinisi.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

55

Secara logika, permasalahan bilangan yang dibagi dengan nol dapat dicontohkan dengan urutan kejadian berikut. • Bejo memiliki empat permen dan membaginya kepada dua orang teman. Berapa banyak permen yang didapatkan dari setiap temannya? • Bejo membagi empat permen kepada satu teman, berapa banyak permen yang didapatkan oleh temannya? • Bejo membagi empat permen kepada bukan teman, berapa banyak permen yang didapatkan temannya? Urutan dari ketiga kasus di atas menunjukkan bahwa membagi jumlah apapun dengan nol merupakan logika yang tidak masuk akal dan tidak mungkin. Dalam matematika, pembagian dengan nol disepakati sebagai tidak terdefinisi. 3.6 Strategi Berpikir Fakta Dasar Perkalian & Pembagian

Seperti halnya belajar fakta penjumlahan dan pengurangan, belajar fakta dasar perkalian dan pembagian dengan strategi berpikir hendaknya dikaitkan dengan permasalahan di lingkungan sekitar anak. Belajar fakta dasar pembagian selalu dikaitkan dengan perkalian. Fokus Mama dari belajar fakta pembagian adalah menciptakan masalah cerita sesuai konteks pembagian yang dapat membangun hubungannya ke dalam perkalian. Sebagai contoh, soal cerita yang memuat kalimat 35 ÷ 5 dapat diinterpretasikan berapa kali 5-an sehingga sama dengan 35. Fakta dasar perkalian juga tidak lepas dari belajar membilang loncat. ngalikan duaAnak bilangan hasilnya jika dengan bernalar bahwa terdapat tiga belajarakan 3 x 2 =sama 6 dapat memahami kelompok dua-an angan tersebut ditukar. Hal(penjumlahan ini terlihatberulang dari oleh dua-an sebanyak tiga kali) atau membilang loneat 2,4, 6.

ng simetri pada Gambar 3.34. Komutatif

yang melibatkan nol 0 atau 1

kalian yang melibatkan nol akan menghasilkan

ini dapat dimodelkan dengan tidak terdapat hasilnya jika dalam 1 gelas, tidak terdapat kelereng di dalam terlihat dari ingga tidak terdapat kelereng dalam 9 gelas.

nyak satu kelompok nol? Berapa banyak dua

nol? Berapa banyak sembilan kelompok nol?

at terjawab dengan menjumlahkan nol sejumlah menghasilkan Gambar 3.34 ya. idak terdapat

Gambar 3.34

ta perkalian reng di dalam yang melibatkan 1 mengenalkan anak pada sifat identitas 56 Pembelajaran Bilangan untuk PGSD erkalian. 1 disebut dengan elemen identitas terhadap perkalian dikarenakan lam 9 gelas.

bilangan banyak cacah dua dikalikan 1 akan menghasilkan bilangan itu sendiri. Kasus ini

an akan sama hasilnya jika

kar. Hal ini terlihat dari

bar 3.34.

Mengalikan dua bilangan akan sama hasilnya jika urutan bilangan tersebut

l 0 atau 1 ditukar. Hal ini terlihat dari bentuk, yang simetri pada Gambar 3.34. Perkalian yang melibatkan nol 0 atau 1

kan nol akan menghasilkan

Perkalian yang melibatkan nol akan menghasilkan nol. Kasus ini dapat

kan dengan dimodelkan tidak terdapat dengan tidak terdapat kelereng di dalam 1 gelas, tidak terdapat

kelereng di dalam 2 gelas, hingga tidak terdapat kelereng dalam 9 gelas. Berapa banyak satu kelompok nol? Berapa banyak dua kelompok nol? Berapa banyak t kelereng dalam 9 kelompok gelas. nol? Hal ini dapat terjawab dengan menjumlahkan nol sembilan sejumlah kelompoknya. k nol? Berapa banyak dua Fakta perkalian yang melibatkan 1 mengenalkan anak pada sifat identitas k sembilan kelompok nol? 1 disebut dengan elemen identitas terhadap perkalian terhadap perkalian. dikarenakan berapapun bilangan cacah dikalikan 1 akan menghasilkan bilangan menjumlahkan nol sejumlah itu sendiri. Kasus ini dapat dimodelkan dengan meletakkan 1 kelereng dalam Gambar 3.34 beberapa gelas. Berapa banyak dua kelompok dari 1 kelereng? Berapa banyak kelompok dari 1 kelereng? Berapa banyak dua puluh kelompok dari 1 melibatkan lima 1 mengenalkan anak pada sifat identitas kelereng? Kasus ini juga dapat direpresentasikan dengan berapa banyak dalam engan elemen identitasdari terhadap perkalian dikarenakan 1 kelompok 7?

terdapat kelereng di dalam

ikan 1 akan menghasilkan bilangan itu sendiri. Kasus ini Perkalian dengan 2 (Ganda)

perkalian dengan 2 menghubungkan anak dengan fakta ganda dalam takkan 1 kelerengFakta dalam beberapa gelas. Berapa banyak

penjumlahan, misalkan dua kelompok dari empat kelereng, artinya 4 + 4 atau

Berapa banyak lima kelompok dari 1 kelereng? Berapa 2 x 4. Hal ini juga berhubungan dengan membilang loncat 2-an. ari 1 kelereng? Kasus ini juga dapat direpresentasikan

kelompok dari 7?

ghubungkan anak dengan fakta

alkan dua kelompok dari empat x 4. Hal ini juga berhubungan

5 ataupun membilang loncat 5-an

Gambar 3.35 Gambar 3.35

pada jam. Perhatikan Gambar

andakan bahwa jarum menit pada

mbar 2.38b, menunjukkan jarum 30 menit. Begitupun halnya pada

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

57

lkan dua kelompok dari empat

x 4. Hal ini juga berhubungan Perkalian dengan 5

Gambar 3.35

ataupun membilang loncat 5-an pada jam. Perhatikan Gambar

ndakan bahwa jarum menit pada

mbar 2.38b, menunjukkan jarum

30 menit. Begitupun halnya pada Gambar 3.36 Gambar 3.36 Belajar fakta perkalian dengan 5 ataupun membilang loncat 5-an dapat dikaitkan dengan fakta pada jam. Perhatikan Gambar 2.38a, terlihat bahwa 5 x 2 menandakan bahwa jarum menit pada angka 2 adalah 10 menit. Gambar 2.38b, menunjukkan jarum menit di angka 6 artinya 6 x 5 = 30 menit. Begitupun halnya pada Gambar 3.36 menunjukkan = 40 menit. Gambar 3.36 menunjukkan bahwa 8bahwa x 5 = 840x 5menit.

n bahwa 8 x 5 = 40 menit.

Gambar 3.37

Gambar 3.37 Gambar 3.37

Perkalian dengan 9

Fakta perkalian dengan 9 merupakan perkalian yang Perkalian dengan 9 besar, namun, dengan strategi berpikir perkalian dengan

melibatkan 9 dapat engan 9 merupakan perkalian yang mudah diterapkan. Ada dua strategi yang diterapkan. Pertama, perhatikan bahwa perkalian dengan strategi berpikir dapat perkalian dengan

menghasilkan ah diterapkan. Ada9 pasti dua strategi yang digit puluhan yang satu kurangnya dari digit faktor lainnya a, perhatikan bahwa perkalian dengan (selain 9). Kedua, jumlah dari hasil kalinya

Gambar 3.38

adalah 9. Sebagai it puluhan yang satu kurangnya daricontoh, angka puluhan dari 5 . 9 adalah 4 (yakni merupakan kurangnya dari kalinya 5) dan jumlah digit3.38 dari hasil kalinya (yakni 45) adalah sama deng in 9). Kedua, jumlah dari hasil Gambar Gambar 3.38

5 = dengan 9). 4 (yakni Fakta5perkalian 9 merupakan perkalian h, angka puluhan (karena dari .49+ adalah merupakan satuyang besar, namun, dengan strategi berpikir perkalian dengan melibatkan 9 dapat mudah diterapkan. Ada Kemungkinan anakdengan mengalami kesulitan menerapkan strategi di mlah digit dari hasil kalinya (yakni 45) beberapa adalah sama 9

Alternatif strategi yang dapat digunakan adalah dengan mengalikannya dengan

58

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

terlebihkesulitan dahulu. Sebagai contoh, jika 5dix atas. 10 = 50, maka 5 x 9 adalah 50 - 5 = 45. berapa anak mengalami menerapkan strategi

dapat digunakan adalah dengan mengalikannya dengan 10

melibatkan 9 dapat mudah diterapkan. Ada dua strategi yang dapat diterapkan. Pertama, perhatikan bahwa perkalian dengan 9 pasti menghasilkan digit puluhan yang satu kurangnya dari duafaktor strategi yang (selain dapat diterapkan. Pertama, perhatikan bahwa Gambar perkalian digit lainnya 9). Kedua, jumlah dari hasil kalinya 3.38 dengan 9 pasti menghasilkan digit puluhan yang satu kurangnya dari digit faktor adalah 9. Sebagai contoh, angka puluhan dari 5 . 9 adalah 4 (yakni merupakan satu lainnya (selain 9). Kedua, jumlah dari hasil kalinya adalah 9. Sebagai contoh, kurangnya dari 5) dari dan 5jumlah digit 4dari hasilmerupakan kalinya (yakni adalah dari sama5)dengan 9 angka puluhan . 9 adalah (yakni satu 45) kurangnya dan jumlah digit dari hasil kalinya (yakni 45) adalah sama dengan 9 (karena 4 (karena 4 + 5 = 9). + 5 = 9). Kemungkinan beberapa anak mengalami kesulitan kesulitanmenerapkan menerapkan strategi strategi di atas. Kemungkinan beberapa anak mengalami Alternatif strategi yang dapat adalahadalah dengan mengalikannya dengan 10 di atas. Alternatif strategi yang digunakan dapat digunakan dengan mengalikannya dengan 10 terlebih dahulu. Sebagai jikamaka 5 x 105=x50, maka 550 x 9- adalah terlebih dahulu. Sebagai contoh, jika 5contoh, x 10 = 50, 9 adalah 5 = 45. 50 - 5 = 45. 2.7. Perpangkatan 2.7. Perpangkatan Mengenalkan anak tentang konsep perpangkatan sebaiknya dimulai dengan Mengenalkan anak tentang konsep perpangkatan sebaiknya dimulai dengan menghubungkannya ke representasi geometris, yakni persegi dan/atau kubus menghubungkannya ke Sebagai representasi geometris, dan/atau (Musser, dkk, 2011). contoh, mintalahyakni anak persegi membuat sebuahkubus daftar(Musser, dari2011). luas sebuah perkalian dimensinya panjang dkk, Sebagaipersegi contoh,dan mintalah anak membuatdimulai sebuahdengan daftar dari luas sebuah sisinya 2 sampai 5 satuan. persegi dan perkalian dengan panjang sisinya 2 sampai 5 satuan. Di depan telahdimensinya dipelajari dimulai bahwa perkalian dapat didefinisikan sebagai Di depan telah dan dipelajari bahwa dapat didefinisikan penjumlahan berulang pembagian dapatperkalian diartikan sebagai pengurangan sebagai berulang. Analogi yang sama, konsep perpangkatan dapat diartikan sebagaiberulang. penjumlahan berulang dan pembagian dapat diartikan sebagai pengurangan perkalian berulang. Analogi yang sama, konsep perpangkatan dapat diartikan sebagai perkalian berulang.

Contoh 3.18 Tulis kembali setiap permasalahan berikut ke dalam definisi perpangkatan. a. 22 . 23 b. 32 . 33 Penyelesaian a. 22 . 23 b. 32 . 33

= (2 . 2) . (2 . 2 . 2) = 25 = (3 . 3 . 3) . (3 . 3 . 3) = 36

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

59

Penyelesaian Perhatikan contoh (a) di atas terlihat bahwa faktor perpangkatannya adalah 2 d = (2 . 2) . (2 . 2 . 2) = 25 a. 22 . 23 Sehingga, bilangan pangkatnya adalah 26 + 3 = 5. Begitu halnya dengan contoh (b). = (3 . 3 . 3) . (3 . 3 . 3) = 3 b. 32 . 33 dapat dibuat sebuah teorema seperti berikut. Perhatikan perpangkatannya adalah 2 da Perhatikan contoh contoh (a) (a) di di atas terlihat terlihat bahwa faktor faktor perpangkatannya Teorema adalah 2 dan 3. Sehingga, bilangan pangkatnya adalah 2 + 3 = 5. Begitu halnya Sehingga, bilangan pangkatnya adalahbilangan 2 + 3 = cacah 5. Begitu halnya dengan contoh Misal a, m, dan adalah sembarang dengan m dan n bukan nol,(b). J dengan contoh (b).n Jadi, dapat dibuat sebuah teorema seperti berikut. dapat makadibuat sebuah teorema seperti berikut. am . an = am+n Teorema Teorema Misala, a, m, m, dan dan nn adalah cacah dengan m dan n bukan Bukti: Misal adalahsembarang sembarangbilangan bilangan cacah dengan m dan n bukan nol, nol, maka am . an = am+n

maka

am . an = am+n

Bukti: Bukti: Contoh berikut akan menunjukkan perpangkatan bentuk a n . bn . Contoh 3.19

a.

b.

a.

b.

Tulis kembali setiap permasalahan berikut ke dalam definisi perpangkatan. nan . b nn . Contoh berikut akan menunjukkan perpangkatan bentuk Contoh berikut akan menunjukkan perpangkatan bentuk a . b . 2 2 a. 2 • 3 Contoh 3.19 Contoh 3.19 b. 33 • 23 kembali permasalahan ke dalam definisi Tulis Tulis kembali setiap setiap permasalahan berikut keberikut dalam definisi perpangkatan. Penyelesaian perpangkatan. a.2222•223•2 32 a. a. 2 . 3 = (2 . 2) . (3 . 3) = (2 . 3) . (2.3) = (2 . 3)2 b. b.33 3•32•3 23 b. 33 . 23 = (3 . 3 . 3) . (2 . 2 . 2) = (3 . 2) . (3 . 2) . (3 . 2) = (3 . 2)3 Penyelesaian Penyelesaian = (2. 2) . 2). .(3(3..3) 3) = (2 . 3).2 3)2 a.a.2 2 .232 2. 3=2 (2 (2..3)3). .(2.3) (2.3)= (2 = (2 3 3 Contoh b. 33 . 23.18 = (3di. 3atas . 3)menghasilkan . (2 . 2 . 2) = (3 .sebuah 2) . (3 . teorema 2) . (3 . 2)seperti = (3 . 2)berikut. b. 33 . 23 = (3 . 3 . 3) . (2 . 2 . 2) = (3 . 2) . (3 . 2) . (3 . 2) = (3 . 2)3 Contoh 3.18 di atas menghasilkan sebuah teorema seperti berikut. Teorema

Teorema Misala,b a,bdan dann adalah n adalah seinbarang bilangan cacah dengan n bukan Misal seinbarang bilangan cacah dengan n bukan maka maka Contoh teorema seperti berikut. n n 3.18 ndi atas menghasilkan sebuah n n n a . b = (a.b) a . b = (a.b)

Teorema Bukti: Bukti: a,b dan n adalah seinbarang bilangan cacah dengan n bukan maka Misal an . bn = (a.b)n

Bukti: Contoh berikut akan menunjukkan perpangkatan bentuk (am)n .

60

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Contoh berikut akan menunjukkan perpangkatan bentuk (am)n . Contoh 3.20 Contoh Tulis3.20 kembali setiap permasalahan berikut ke dalam definisi perpangkatan. Tulis kembali setiap permasalahan berikut ke dalam definisi perpangkatan. a. (22)32 b. (54)5 a. (2 )3 b. (54)5 Penyelesaian Penyelesaian a. (22)32=322 . 22 2 . 222 = 222+2+2 2+2+2 = 26 = 22.36 = 2 = 22.3 a. (2 4 5 ) =4 2 4. 2 4. 2 4= 24 b. (5 ) = 5 . 5 . 5 . 5 . 5 = 54+4+4+4+4 = 520 = 54.5 b. (54)5 = 54 . 54 . 54 . 54 . 54 = 54+4+4+4+4 = 520 = 54.5 Contoh 2.19 di di atas menghasilkan sebuah teorema seperti berikut. Contoh 2.19 atas menghasilkan sebuah teorema seperti berikut. Teorema Teorema Misal a, m, dan n adalah sernbarang bilangan cacah dengan m dan bukan nol, maka (amdan )n = anm.nadalah . Misal a, m, sernbarang bilangan cacah dengan m dan bukan nol, maka Bukti : Bukti :

(am)n = am.n .

Catatan penting mengenai konsep perpangkatan dari teorema di atas da Catatanseperti penting mengenai konsep perpangkatan dari teorema di atas diuraikan berikut. dapat diuraikan seperti berikut. Teorema-teorema di tidak atasberlaku tidak pada berlaku pada penjumlahan dan penguranga •  Teorema-teorema di atas penjumlahan dan pengurangan.. 2 2 2 2 2 2 2 2 Misalnya, 2 –232 –≠ 3(22 –≠ 3) 3)2 atau (2 .– 3)2. Misalnya,2 2+ 3+ 3≠ (2≠ +(23)+ atau 0 n • Jika am . an = an m+n dengan m = 0, mak. A . a = a0+n0= an .nSehingga, dapat 0+n  didefinisikan Jika am . abahwa = am+n = an . Sehingga, da 0 dengan m = 0, mak. A . a = a a = 1, dengan a ≠ 0. • Bentuk 00 tidak dapat (mengapa?). didefinisikan bahwadidefinisikan a0= 1, dengan a ≠ 0. Perhatikan dua pola berikut 0 0 0 3 2 3 = 1, 2 = 1, 1 = 1 dan 0 = 0, 0 = 0, 01= 0. Polo pertama, membinibing  Bentuk 00 tidak dapat didefinisikan (mengapa?). Perhatikan dua pola berikut 30 = kita untuk memperoleh hasil 00 = 1, tetapi pada pola kedua, menuntun 0 3 2 20 untuk = 1, 1memperoleh = 1 dan 0hasil = 0, 0, 01= 0. Polo pertama, membinibing kita un kita 00 =01.=Masing-masing perpangkatan tersebut memiliki pola yang sehingga dapat disimpulkan bahwa 1, tetapi pada pola kedua, menuntun kita untuk mempero memperoleh hasil tidak 00 = konsisten, 00 tidak dapat didefinisikan. 0 hasil 0berikut = 1.akan Masing-masing tersebut memiliki pola yang tid Contoh menunjukkanperpangkatan perpangkatan bentuk m akonsisten, ÷ an = am-nsehingga . dapat disimpulkan bahwa 00 tidak dapat didefinisikan.

Contoh berikut akan menunjukkan perpangkatan bentuk am ÷ an = am-n. Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

61

Contoh 3.21 Tulis kembali setiap permasalahan berikut ke dalam definisi perpangkatan. a. 25 ÷ 22 b. 37 ÷ 32 Penyelesaian a. 25 ÷ 22 sama halnya dengan 22 ( … ) = 25, karena 22 . 23= 22+3=25, maka 25 ÷ 22 = 23. b. 37 ÷ 32 sama halnya dengan 32. ( … ) 37 Karena 32 . 35 = 32+5 = 37, maka 37 ÷ 32 = 35 Contoh 2.20 di atas menghasilkan sebuah teorema seperti berikut. Teorema Misal a, m, dan n adalah sembarang bilangan cacah dengan m dan n bukan nol, dan m > n , maka am ÷ an = am-n Bukti: am ÷ an = k jika hanya jika am = k . an, karena an . am-n = am (mengapa?) sehingga k = am-n. jadi, dapat di simpulkan am ÷ an = am-n.

62

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Latihan Soal 1.

2.

3.

4.

5.

Manakah dari permasalahan berikut yang kuantitasnya menunjukkan bilangan cacah? a. Suhu di belahan kutub utara b. Jumlah manusia di bumi c. Bagian dari sebuah gelas yang pecah Doni memiliki 12 uang receh. Dia memberikan 4 uang receh yang dimilikinya kepada Dina. Berapa banyak uang receh yang Doni miliki sekarang? Dari permasalahan ini, tulis apa yang diketahui dan tidak diketahui dan jelaskan bagaimana kamu menjawab permasalahan ini. Dani memiliki beberapa pulpen. Ibunya memberikan 3 pulpen kepadanya. Sekarang, Dani memiliki 5 pulpen. Berapakah jumlah pulpen yang dimiliki Dani sebelumnya? Dari permasalahan ini, tulis apa yang diketahui dan tidak diketahui dan jelaskan bagaimana kamu menjawab permasalahan ini. Danang memiliki 12 kelereng yang akan ia bagikan kepada 6 temannya. Berapa kelereng yang diperoleh setiap temannya? Gunakan model untuk mejelaskan prosedur dari pembagian dalam permasalahan ini. Dinar memiliki 20 koin yang jika dibandingkan milik Dimas, milik Dinar 4 kali lebih banyak dari jumlah koin milk Dinar. Berapa jumlah koin milik Dimas? Bagaimana kamu menjelaskan perbandingan ini

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

63

64

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

BAB IV KPK & FPB A. B.

Ko m p e t e n s i d a n I n d i ka t o r P e n c a p a i a n Kompetensi Gambaran Umum Materi

C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

D.

Materi

BAB IV

KPK & FPB

A.

Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada bab ini kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa adalah menjelaskan perkembangan bilangan dan lambang bilangannya. Kompetensi tersebut terbagi menjadi beberapa indikator sebagai berikut: - Memahami dan mengajarkan faktor dan kelipatan bilangan. - Membedakan dan mengklasifikasikan bilangan yang termasuk genap dan ganjil. - Memahami dan menerapkan beberapa ciri-ciri uji keterbagian bilangan. - Mengidentifikasi bilangan prima dan komposit serta hubungannya. - Memahami berbagai metode untuk menentukan faktor prima sekaligus memodelkannya. - Memahami, menerapkan, dan mengajarkan berbagai strategi dan algoritma untuk menentukan faktor persekutuan terbesar dan kelipatan persekutuan terkecil terkecil serta menggunakan model yang cocok untuk merepresentasikannya. B.

Gambaran Umum Materi

Bab ini mengkaji tentang Kelipatan Persekutuan Terkecil dan Faktor Persekutuan Terbesar. Materi ini lebih fokus pada pemahaman untuk menyelesaikan masalah baik menggunakan model maupun algoritma yang terkait dengan bilangan prima, komposit, ganjil, genap, faktor dan kelipatan.

67

C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

Pengetahuan tentang kelipatan persekutuan terkecil dan faktor persekutuan terbesar menyajikan konsep tentang teori bilangan yang meliputi faktor dan kelipatan yang merupakan konsep dasar dalam menentukan kelipatan persekutuan terkecil dan faktor persekutuan terbesar. Diharapkan dari penjelasan tentang materi ini, mahasiswa dapat memahami konsep untuk menentukan kelipatan persekutuan terkecil dan faktor persekutuan terbesar serta dapat menerapkannya dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. D.

Materi

4.1. Faktor dan Keliptan Salah satu bentuk penting yang berhubungan dengan teori bilangan yakni faktor dan kelipatan. Faktor merupakan sebuah bilangan yang jika dikalikan dengan bilangan yang lain menghasilkan hasil kalinya (kelipatannya). Sebagai contoh, 2 dan 3 merupakan faktor dari 6, sedangkan 6 adalah kelipatan dari 2 dan 3. 2x3=6 Setiap bilangan cacah lebih dari satu memiliki sedikitnya dua buah faktor, yaitu bilangan itu sendiri dan 1. Setiap bilangan yang hanya memiliki kedua faktor tersebut dikatakan tidak faktor sejati (proper factors). 2 = 2 x1 (tidak memiliki faktor sejati) 3 = 3 x 1 (tidak memiliki faktor sejati) 6 = 6 x1 dan 6 = 2 x 3 (memiliki faktor sejati, yakni 2 dan 3) Definisi: Faktor dan Kelipatan Jika a dan b adalah bilangan cacah, maka a adalah faktor b jika hanya jika terdapat c bilangan cacah sedemikian sehingga ac = b. Sehingga dapat dikatakan bahwa a pernbagi b, a faktor b, b kelipatan a, atan b habis dibagi Salah satu model untuk mencari faktor bilangan dapat menggunakan array persegi panjang. Misalkan, mencari semua faktor dari 12 dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut (1) Gunakan 12 potongan kertas yang kongruen untuk disusun menurut baris-kolorn. (2) Gambar hasil dari pola baris-kolom dalam kertas berpetak. (3) Tulis berapa jumlah baris dan kolomnya (Gambar 4.1.a). (4) Buat kemungkinan yang lain untuk menyusun 12 potongan kertas berdasarkan baris-kolom (Gambar 4.1.b dan 4.1.c). (5) Gambar kembali ke dalam kertas berpetak. (6) Tulis berapa jumlah baris dan kolomnya.

68

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Sehingga, dari kegiatan di atas dapat diperoleh faktor dari 12 yakni 1,3, 4, 6, 12. Catatan: Jika a dan b adalah bilangan cacah, maka a adalah faktor b dapat ditulis a | b . Jika a bukan faktor b dapat ditulis a + b Contoh. 4.1 Gunakan model array persegi panjang untuk mencari semua faktor dari 32. Penyelesaian

Jadi, terlihat bahwa semua faktor dari 32 adalah 1, 2, 4, 8, 16, 32.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

69

Contoh 4.2 Klasifikasikan pernyataan berikut benar atan salah! a. 6 | 12 d. 9 adalah faktor dari 90 b. 12 adalah kelipatan dari 4 e. 93 adalah kelipatan dari 3 c. 7 adalah pembagi dari 15 f. 22 .23 . 3 | 25.6 Penyelesaian a. Benar, 6 │12 b. Benar, 12 adalah kelipatan d. 4 c. Salah, 7 bukan pembagi dari 15 d. Benar. 9 adalah faktor dari 90 e. Behar, 93 adalah kelipatan dari 3 f. Benar, 22 .23 .3 │25. 6 4.2. Bilangan Ganjil dan Genap, Langkah awal anak ketika menjumpai teori bilangan yakni mengenal dan membedakan bilangan ganjil dan genap. Perbedaan antara bilangan genap dan ganjil merupakan dasar dalam praktek matematika dan praktek sehari-hari, dan memiliki asal-usul matematika dan budaya (Zaskis, 1998). Beberapa orang masih miskonsepsi mengenai bilangan ganjil dan genap, yakni 0 termasuk ganjil atau genap. Sebuah bilangan cacah dikatakan genap memiliki beberapa ciri - ­ciri (1) memiliki 2 sebagai faktor; (2) habis dibagi 2., (3) jika a = 2k, dengan k adalah bilangan cacah, maka a adalah genap; (4) penjumlahan dua bilangan genap selalu genap; (5) dapat direpresen­tasikan sebagai penjumlahan dua bilangan cacah; (6) memiliki digit satuan 2, 4, 6, 8, 0. tersebut menunjukkan bahwa 0 termasuk genap (Bennett, dkk, 2012). Selain penjumlahan dua bilangan genap adalah genap, perkalian yang melibatkan bilangan genap selalu menghasilkan genap. Di sisi lain, perkalian dua bilangan ganjil selalu menghasilkan bilangan ganjil. Secara umum, dapat ditulis perkalian yang melibatkan ganjil dan genap suatu bilangan ke dalam tabel perkalian berikut. Tabel 4.1 Perkalian yang Melibatkan Bilangan Ganjil dan Genap

70

x

Genap

Ganjil

Genap

Genap

Genap

Ganjil

Genap

Ganjil

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Contoh 4.3 Sebutkan alasan yang mungkin mengapa 1.234.567 merupakan bilangan ganjil Penyelesaian Bilangan Contoh 4.3tersebut memiliki digit akhir 7 sehingga termasuk bilangan ganjil. yang mungkin mengapa 1.234.567 bilangan DigitSebutkan terakhir alasan merepresentasikan bentuk eksplisit dari 2kmerupakan + 1. ganjil

Contoh 4.4 Penyelesaian Sebutkan alasan yang mungkin 399 merupakan ganjil. Bilangan tersebut memilikimengapa digit akhir 7 sehinggabilangan termasuk bilangan ganjil. Penyelesaian Digit terakhir merepresentasikan bentuk eksplisit dari 2k + 1. Termasuk bilangan ganjil, karena bilangan ganjil dipangkatkan berapapun sama artinya d

perkalian Contoh 4.4 bilangan ganjil dengan ganjil sejumlah tertentu yang hasilnya selalu tidak mu Sebutkan alasan yang mungkin mengapa 399 merupakan bilangan ganjil. genap.

Penyelesaian 4.3. Termasuk Keterbagian bilangan ganjil, karena bilangan ganjil dipangkatkan berapapun sama artinya dengan bilangan dengan ganjil sejumlah tertentu Beberapa ujiperkalian sederhana dapatganjil menentukan dengan mudah faktor sebuah bila yang hasilnya selalu tidak mungkin genap. Sebagai contoh, apakah 38, 70, dan 111 habis dibagi faktor) 2, 5, atau 10. Kalian dapat m 4.3. Keterbagian angka pada digit tem., untuk menentukan apakah suatu bilangan habis dibagi 2, 5, atau 10

Beberapa uji sederhana dapat menentukan dengan mudah faktor sebuah melakukan algoritma pembagian. bilangan. Sebagai contoh, apakah 38, 70, dan 111 habis dibagi faktor) 2, 5, atau Sifat-sifat darimelihat Keterbagian 10. Kalian dapat angka pada digit tem., untuk menentukan apakah suatu Buku ini akan menampilkan keterbagian oleh 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, dan 10. Seb bilangan habis dibagi 2, 5, atau 10ujitanpa melakukan algoritma pembagian. Sifat-sifat dari Keterbagian mempelajarinya, terlebih dahulu diperkenalkan sifat-sifat dari uji keterbagian, seperti beriku Buku ini akan menampilkan uji keterbagian oleh 2, 3, 4, 5, 6, 8, 9, dan 10. Sebelum mempelajarinya, terlebih dahulu diperkenalkan sifat-sifat dari uji keterbagian, seperti berikut.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

71

Sifat tersebut dapat diilustrasikan seperti berikut. •

Jika b habis dibagi a dan c habis dibagi a , maka b+c, habis dibagi a .

Contoh 4.5 (Aplikasi) Diberikan beberapa pernyataan berikut 2 |4, 2 | 6, dan 2|10, maka dapat disimpulkan bahwa 2| (4+6) = 2 | 10 . • Jika b habis dibagi a dan c habis dibagi a, dengan b ≥ c, maka b – c habis dibagi a.

Contoh 4.6 (Aplikasi) Diberikan beberapa pemyataan berikut 2|4, 2|6, dan 2|10, maka dapat disimpulkan bahwa 2|(10-4) = 2|6 . • Jika b habis dibagi a , sembarang kelipatan b habis dibagi a .

Contoh 4.7 (Aplikasi) Diberikan pernyataan bahwa 2|10, maka berlaku juga 2|20, karena 20 = k x 10 dengan k = 2.

72

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Uji Keterbagian Uji keterbagian bilangan merupakan konsep awal dalain mempelajari teori bilangan dan pecahan. Keterbagian berguna untuk menentukan faktor bilangan dan menguji bilangan merupakan bilangan prima atau bukan. Di sisi lain, keterbagian juga digunakan untuk menyederhanakan sebuah pecahan dan menyamakan penyebutnya. Uji Keterbagian oleh, 2, 5, dan 10 Uji keterbagian oleh 2, 5, dan 10 memiliki kesamaan yakni sama-sama didasarkan pada digit terakhirnya. Perhatikan pola pada digit terakhir .perhatikan pola pada digit terakhir setiap bilangan berikut. Bilangan habis dibagi 2 adalah 0, 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, ... Bilangan habis dibagi 5 adalah 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, ... Bilangan habis dibagi 10 adalah 0, 10, 20, 30, 40, 50, ...

• • •

Uji Keterbagian oleh 2, 5, clan 10. Sebuah bilangan habis dibagi 2, jika hanya jika angka satuannya adalah 0, 2, 4, 6, da. 8. Sebuah blaangan habis dibagi 5, jika hanya jika angka satuannya adalah 0 dan 5 Sebuah bilangan habis dibagi 10 jika hanya jika angka satuannya adalah 0

Contoh 4.8 Klasifikasikan pernyataan berikut benar atau salah. a. 2 │13.232.776 d. 5│12.345 b. 10│0 e. 2 │ 23.781 c. 5│323.259.130 f. 2│2.300.788 Penyelesaian a. Benar, karena 2│ 6 b. Benar, karena 10 x 0 c. Benar, karena 5 │ 0

d. Benar, karena 5│5 e. Salah, karena 2│1 f. Benar, karena 2│8

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

73

Contoh 4.9 Buktikan bahwa 2.123 tidak habis dibagi 5! Penyelesaian

Berdasarkan sifat keterbagian bahwa 5│103, maka 5 │2 x 103. Kasus yang sama berlaku pada 1 x 102 dan 2 x 10 yang juga habis dibagi 5. Namun, terdapat 3 yang tidak dapat habis dibagi 5 sehingga terbukti bahwa 5 │ 2.123. Contoh 4.10 Isilah titik-titik dalarn dua. angka yang belun, diketahui berikut sehingga bilangan tersebut habis dibagi dengan 2 tetapi tidak habis dibagi 5 dan 10. Tempat satu angka untuk setiap tempat yang belum diketahui! 7 6 5. 4_ _ Penyelesaian Digit terakhir adalah 2, 4, 6, atau 8, sedangkan digit yang lain dapat menggunakan sembarang angka. Uji Keterbagian oleh 3 dan 9 Uji keterbagian oleh 3 dan 9 memiliki kesamaan yakni sama - sama didasarkan pada jumlah digit di setiap nilai tempatnya. Sebagai catatan bahwa setiap bilangan yang habis dibagi 9 pasti habis dibagi 3, namun belum tentu sebaliknya. Uji Keterbagian oleh 3 dan 9 • Sebuah bilangan habis dibagi 3 jika hanya jika jumlah angka pada masingmasing nilai tempatnya habis dibagi 3. • Sebuah bilangan habis dibagi 9 jika hanya jika jika junilah angka pada masing-masing nilai tempatnya habis dibagi 9. Keterbagian oleh 3 dan 9 dapat direpresentasikan dengan model basis sepuluh. Sebagai contoh, 435 dapat digambarkan dengan model pada Gambar 4.5. Jika 1 satuan pada masing-rnasing unit persegi dipisahkan, maka akan diperoleh sisa 99 unit satuan yang masing-masing dapat dikelompokkan ke dalam 3 kelompok. Demikian pula, 1 unit satuan pada masing-masing unit 74

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

memanjang dipisahkan, diperoleh sisa 9 unit satuan yang masing-masing dapat dikelompokkan ke dalam 3 kelompok. Pertanyaan yang dapat dimunculkan adalah apakah 3 membagi habis 435? 3 dapat membagi habis 435 jika hanya jika 3 membagi habis unit satuan yang tersisa, yakni 4 untuk bagian persegi, 3 untuk bagian memanjang, dan 5 untuk unit satuan. Sehingga, total unit satuan yang tersisa adalah 4 + 3 + 5 = 12, karena 3│12, maka 3│435. Namun, 9│12, sedemikian sehingga 9 │ 435. Contoh 4.11 Klasifikasikan pernyataan berikut benar atau salah a. 3 │12.345 c. 9 │6.543 b. 9 │12.345 d. 3 │567 Penyelesaian a. Benar, karena 1 + 2 + 3 + 4 + 5 =15, dengan 3│15. b. Salah, karena 9 │15. c. Benar, karena 6 + 5 + 4 + 3 = 18, dengan 3│ 18. d. Benar, karena 5 + 6 + 7 =18, dengan 3│18. Contoh 4.12 Isilah titik-titik dalain dua angka yang belum diketahui berikut sehingga bilangan tersebut habis dibagi dengan 3 dan 9. Tempat satu angka untuk setiap tempat yang belum diketahui! 1 2.7 6 5.5_ _ a. b. c. d.

Bagaimana kalian akan mengetahui jawaban anda betul! Susunlah rencana yang akan kalian gunakan! Selesaikan permasalahan di atas sesuai rencanamu! Apakah kamu memiliki semua jawaban yang memungkinkan? Jelaskan!

Penyelesaian Diserahkan kepada pembaca sebagai latihan! Uji Keterbagian oleh 4 dan 8 Uji keterbagian 4 dan 8 berhubungan erat dengan uji keterbagian dengan 2, karena merupakan kelipatan­nya. Jika sebelumnya uji keterbagian. 2 dapat dilakukan dengan melihat digit terakhirnya, uji keterbagian oleh 4 dengan melihat dua digit terakhirnya, dan uji keterbagian terakhirnya. Hal ini didasarkan bahwa keterbagian dengan 4 terdiri dari dua digit, 22 = 4 dan 8 terdiri dari 3 digit, 23 = 8.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

75

Uji Keterbagian oleh 4 dan 8 • Sebuah bilangan habis dibagi 4 jika hanya jika dua digit terakhimya habis dibagi 4. • Sebhah bilangan habis dibagi 8 jika hanya jika tiga digit terakhimya habis dibagi 8. Contoh 4.13 Klasifikasikan pernyataan berikut benar atau salah. a. 4│1.432 c. 8│4.204 b. 4│2.345.678 d. 8│98.765.432 Penyelesaian a. Benar, karena 4 │132. b. Salah, karena 4 │78. c. Salah, karena 8│204. d. Benar, karena 8 │432. Contoh. 4.14 Benar atau salah? Jika bilangan habis dibagi dengan 2 dan 4, inaka akan habis dibagi dengan 8? Berikan beberapa contoh pendukung jika pernyataan ini benar dan berikan contoh penyangkal jika pernyataan ini salah. Penyelesaian Diserahkan kepada pembaca sebagai latihan! Uji Keterbagian oleh 6 Uji keterbagian oleh 6 dapat dilakukan jika hanya jika bilangan tersebut habis dibagi 2 dan 3. Hal ini dapat dilihat dari pola bilangan kelipatan 6 berikut 6, 12, 18, 24, 30,… Terlihat bahwa semua bilangan tersebut memiliki faktor sejati (proper factors) yakni 2 dan 3. Uji Keterbagian oleh 6 Sebuah bilangan habis dibagi 6 jika hanya jika bilangan tersebut habis dibagi 2 dan habis dibagi 3.

76

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Contoh 4.15 Klasifikasikan pernyataan berikut benar atau salah! 6│2.114.970 Penyelesaian Di satu sisi 3│2 + 1 +1+ 4 + 9 7 + 0 = 3│24,maka 6│2.114.970. Contoh 4.16 Bilangan habis dibagi 6 jika hanya jika bilangan tersebut habis dibagi 2 dan 3. Apakah hal ini juga menunjukkan bahwa bilangan habis dibagi 10 jika hanya jika habis dibagi 2 dan 5? Selidiki dengan inenggunakan beberapa contoh! Jika tidak demikian, beri satu contoh penyangkalnya. Penyelesaian Ya! Misal, 30 habis dibagi 10 juga habis dibagi 2 dan 5. Berikut bilangan kelipatan 2 dan 5 serta 10 yang selalu persekutuan ketika digit terakhir adalah 0. 0, 2, ... , 10, ... , 20, ... , 30, ... , 40, ... , 50, ... 0, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50, ... 0, 10, 20, 30, 40, 50, ... 4.4. Bilangan Prima dan Komposit Di depan telah diulas bahwa setiap bilangan cacah lebih dari 1 memiliki sedikitnya 2 faktor. Jika bilangan cacah lebih dari 1 tersebut memiliki tepat 2 faktor yang berbeda, maka disebut bilangan prima. Sedangkan, bilangan cacah lebih dari 1 memiliki lebih dari 2 faktor disebut dengan bilangan komposit. Sebagai contoh, 2, 3, dan 5 merupakan bilangan prima dan 4, 6, 8, 9, 10 adalah bilangan komposit. Sedangkan, 1 bukan prima maupun komposit karena 1 hanya memiliki satu faktor yakni “1” itu sendiri. Salah satu metode yang dapat menentukan sebuah bilangan cacah merupakan bilangan prima adalah dengan menggunakan metode Sieve of Eratosthenes. Sebagai contoh, untuk menentukan bilangan cacah sampai 100 dapat dimulai dengan mencoret 1, karena bukan prima, kemudian melingkari 2 dan mencoret kelipatannya (4, 6, 8, 10, ...). Selanjutnya, melingkari 3 dan mencoret kelipatannya (6, 9, 12, 15, ...). Kemudian, melingkari 5 dan 7 serta mencoret kelipatannya.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

77

menentukan bilangan cacah sampai 100 dapat dimulai dengan mencoret 1, karena bukan prima, kemudian melingkari 2 dan mencoret kelipatannya (4, 6, 8, 10, ...). Selanjutnya, melingkari 3 dan mencoret kelipatannya (6, 9, 12, 15, ...). Kemudian, melingkari 5 dan 7 serta mencoret kelipatannya.

Gambar 4.6

Di samping metode di atas, untuk menentukan bilangan yang besar merupakan prima atau bukan dengan menyelidiki apakah bilangan tersebut memiliki sembarang faktor selain 1 dan dirinya sendiri, yakni dengan membaginya dengan bilangan prima (2, 3, 5, 7, ...) dan tidak perlu membaginya dengan bilangan komposit (4, 6, 8, 9, ...). Sebagai cont., jika 4 pembagi sebuah bilangan, tentunya 2 juga pembagi dari bilangan tersebut. Dengan kata lain, jika 2 tidak membagi habis suatu bilangan, maka 4 tidak membagi habis bilangan tersebut. Begitupun bilangan komposit lainnya tidak perlu dilakukan pembagian. Selanjutnya, untuk menentukan apakah bilangan 367 adalah prima atau tidak, dapat dilakukan seperti berikut. Pertama, menguji 367 habis dibagi dengan 2, 3, 5, dan 7. Apabila pengujian yang anda lakukan teliti, 367 tidak habis dibagi dengan 2, 3, 5 dan 7 (buktikan!). Kedua, melakukan trial and error (coba-coba) dengan mengambil nilai 21 x 21 = 441 yang lebih dari 367. Jadi, faktor prima yang masih memungkinkan adalah 11, 13, 17, elan 19. Namun, karena tidak terdapat faktor prima yang memenuhi, maka 367 adalah bilangan prima. Uji Bilangan Prima Misalkan n adalah bilangan cacah dan p adalah bilangan cacah terkecil sedemikian sehingga p x p lebih besar dari n. Jika tidak ada bilangan prima kurang dari p yang merupakan factor n, maka n adalah bilangan prima. Contoh. 4.17 Tentukan bilangan berikut inerupakan prima atau komposit. a. 117 b. 137 c. 238

78

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Penyelesaian a. Karena 11 x 11 > 117, maka faktor prima yang mungkin adalah 2, 3, 5, dan 7. Terdapat 3 inerupakan faktor dari 117, sehingga 117 adalah komposit. b. Karen. 13 x 13 137, maka faktor prima yang mungkin adalah 2, 3, 5, 7 dan 11. Tidak terdapat faktor prima yang memenuhi, maka 137 adalah bilangan prima. c. Diserahkan pembaca sebagai latihan! 4.5. Pemfaktoran Prima

Terdapat dua metode untuk menentukan semua faktor prima dari sebuah bilangan. Metode pertama adalah dengan melakukan pembagian berulang menjadi faktordengan prima bilangan itu sendiri. Metode adalah melakukan prima yang dimulai prima terkecilkedua ke yang terbesar: 2, 3, 5, pemfaktora dan diteruskan sampaidua bilangan menjadi faktor prima itu sendiri. dalam sebarang faktoryang yangdibagi memenuhi dan kemudian memfaktorkan faktor-f Metode kedua adalah melakukan pemfaktoran bilangan ke dalam sebarang dua Dalam mencari faktor pada metode kedua didasarkan pada perhitungan faktor yang memenuhi dan kemudian memfaktorkan faktor-faktor tersebut. memungkinkan untuk mengaplikasikan Dalam mencari faktor anak pada metode kedua didasarkandaya padaingatnya. perhi­tungan mental yang memungkinkan anak untuk mengaplikasikan daya ingatnya. Contoh 4.18 Contoh Tentukan4.18 pemfaktoran prima dari 60 menggunakan kedua metode yang telahTentukan dibicarakan. pemfaktoran prima dari 60 menggunakan kedua metode yang telah dibica

Penyelesaian Penyelesaian Metode pertama Metode pertama

Metode kedua Metode kedua 60 = 6.10, dengan 66 == 2.3 = 2.3.2.5 = 2=2.3.5. 60 = 6.10, dengan 2.3dan dan10 10==2.5, 2.5,sehingga sehingga6060 = 2.3.2.5 22.3.5. Kedua metode pada jawaban soal di atas dapat dirangkmn dan dituangkan Keduayang metode pada jawaban di seperti atas dapat dirangkmn dan dituang ke dalam gambar dikenal dengan pohonsoal faktor, berikut. gambar yang dikenal dengan pohon faktor, seperti berikut.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

79

Metode 60 kedua = 6.10, dengan 6 = 2.3 dan 10 = 2.5, sehingga 60 = 2.3.2.5 = 22.3.5.

60 = 6.10, dengan 6 = 2.3 dan 10 = 2.5, sehingga 60di = 2.3.2.5 = 22.3.5. Kedua metode pada jawaban soal atas dapat dirangkmn dan dituangkan ke Kedua metode pada jawaban soal di atas dapat dirangkmn dan dituangkan ke dalam gambar yang dikenal dengan pohon faktor, seperti berikut.

gambar yang dikenal dengan pohon faktor, seperti berikut.

Gambar 4.7

Anak dapat diperkenalkan dengan blok prima berpola untuk mencari faktor Anak dapat diperkenalkan dengan blok prima berpola untuk mencari Anak dapat diperkenalkan dengan blokmerepresentasikan prima berpola untuk mencari faktor prima (Burkhart, 2009). Blok prima berpola strategi perkalian faktor prima (Burkhart, 2009). Blok prima berpola merepresentasikan strategi mental. B (Burkhart, 2009). Blok prima berpola merepresentasikan strategi perkalian mental. Berikut perkalian mental. Berikut ditampilkan faktor prima setiap dari 1 sampai 50 dengan ditampilkan faktor prima dari 1 sampai 50 dengan model disusun dengan aturan setiap model disusun dengan aturan setiap prima yang lebihdisusun besar ditempatkan ditampilkan faktor prima dari 1 sampai 50 dengan setiap model dengan aturan setiap prima yang lebih besar ditempatkan di atas prima yang lebih kecil (Burkhart, 2009). di atas prima yang lebih kecil (Burkhart, 2009). prima yang lebih besar ditempatkan di atas prima yang lebih kecil (Burkhart, 2009).

Perhatikan bahwa setiap bilangan komposit dapat diperoleh dari hasil kali bilangan prima. Fakta ini dikenal dengan teorema fundamental aritmatik. Teorema Fundamental Aritmatik(Fundamental Theorem of Arithmetic) Setiap bilangan komposit dapat dijabarkan sebagai hasil kali sem,a pembaginya yang prima. Misalnya, 60 = 2.2.3.5 atati 22.3.5. Gambar 4.8

80

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Perhatikan bahwa setiap bilangan komposit dapat diperoleh dari hasil kali bila prima. Fakta ini dikenal dengan teorema fundamental aritmatik.

Teorema Fundamental Aritmatik(Fundamental Theorem of Arithmetic) Setiap bila komposit dapat dijabarkan sebagai hasil kali sem,a pembaginya yang prima. Misalnya, 2.2.3.5 atati 22.3.5.

Teorema di atas menyatakan setiap bilangan komposit dapat dijabarkan sebagai hasil kali semua pembaginya yang prima. Hal ini berimplikasi pada Teorema di atas menyatakan setiap bilangan komposit dapat dijabarkan sebagai hasi perkalian dan pembagian dua atau lebih bilangan komposit selalu dapat semua pembaginya yang prima. Hal ini berimplikasi pada perkalian dan pembagian dua dijabarkan dalam operasi masing-masing pembaginya yang prima. Sebagai selalu dapat dijabarkan dalam operasi masing-masing pembaginya contoh., 88 X 75 lebih dan bilangan 60 ÷ 10komposit dapat dijabarkan dengan hasil kali pembaginya prima. Sebagai contoh., 88 X 75 dan ÷ 10 dapat dijabarkan dengan hasil kali pembag yang prima (Lihat Gambar 4.9 & 4.10) (Burkhart,60 2009) yang prima (Lihat Gambar 4.9 & 4.10) (Burkhart, 2009)

Gambar 4.9

4.6. Faktor Persekutuan TerbesarTerbesar 4.6. Faktor Persekutuan

Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dari dua lebih cacah Faktor Persekutuan Terbesar (FPB)atau dari dua ataubilangan lebih bilangan cacah bukan nol ad bukan nol adalahbilangan bilangan cacah terbesar faktor atau lebih cacah terbesar sebagaisebagai faktor dari keduadari ataukedua lebih bilangan tersebut. FPB dari a d bilangan tersebut. FPBdinotasikan dari a dan dapat dapat FPBb (a, b). dinotasikan FPB (a, b). Menentukan FPB dapat dilakukan dalam beberapa metode, diantaranya dengan (1) irisan himpunan, (2) faktorisasi prima, (3) algoritma pengurangan, dan (4) algoritma Euclid. Namun, secara umum, di tingkat Sekolah Dasar memakai dua cara yang pertama. Irisan himpunan Langkah-langkah dalarn metode irisan himpunan adalah membuat daftar semua faktor berturut-turut untuk setiap bilangan dan cari faktor terbesar yang sama. Sebagai contoh, menentukan FPB dari 56 dan 36 yakni dengan mendaftar semua faktornya seperti berikut. Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

81

secara umum, di tingkat Sekolah Dasar memakai dua cara yang pertama. Irisan himpunan

Langkah-langkah dalarn metode irisan himpunan adalah membuat daftar semua faktor Irisan himpunan berturut-turut untuk setiap bilangan dan cari faktor terbesar yang sama. Sebagai contoh, Langkah-langkah dalarn metode irisan himpunan adalah membuat daftar semua faktor menentukan FPB dari 56 dan 36 yakni dengan mendaftar semua faktornya seperti berikut. berturut-turut setiap dan28, cari56faktor terbesar yang sama. Sebagai contoh, Faktor danuntuk 56: 1, 2, 4,bilangan 7, 8, 14, nentukan FPB dapat dilakukan dalam beberapa metode, diantaranya dengan (1) irisan menentukan FPB dari 1, 56 2, dan 364,yakni dengan mendaftar semua faktornya seperti berikut. Faktor dari 12,algoritma 18, 36 Euclid. Faktor danalgoritma 56: 1,36: 2, 4, 7, 8, 3, 14, 28,6, 569,(4) (2) faktorisasi prima, (3) pengurangan, dan Namun,

Dari dua bilangan di atas faktor persekutuannya adalah 1, 2, 4 dan yang

FaktorDasar dari 36: 1, 2, 3,dua 4, 6, 9, 12, 36 m, di tingkat Sekolah memakai cara yang18, pertama. Faktor dan 56:yaitu 1, 2, 4,4.7,Sehingga, 8, 14, 28, 56 FPB (56, 36) = 4. terbesar Dari dua bilangan di atas faktor persekutuannya adalah 1, 2, 4 dan yang terbesar yaitu 4. Faktor dari 36: 1, 2, 3, 4, 6, 9, 12, 18, 36 Sehingga, FPB (56, 36) = 4. punan Faktorisasi Prima Dari dua bilangan di atas faktor persekutuannya adalah 1, 2, 4 dan yang terbesar yaitu 4. gkah-langkah dalarn metode irisan himpunan adalah membuat daftar semua faktor ini dilakukan dengan menulis bilangan-bilangan tersebut sebagai Sehingga,Metode FPB (56, 36) = 4. Prima rut untuk setiapFaktorisasi bilangan dan cari faktor terbesar yang sama. Sebagai contoh,

perkalian bilangan prima, dan hasil perkalian bilangan prima yang merupakan

Metode inimendaftar dilakukansemua dengan menulis bilangan-bilangan tersebut sebagai perkalian n FPB dari 56 dan 36 yakni dengan faktornya seperti berikut. faktor persekutuan kedua bilangan tersebut adalah FPB-nya. Sebagai contoh, Faktorisasi Prima bilangan prima, dan hasil perkalian bilangan prima yang merupakan faktor persekutuan kedua faktorisasi prima dari dengan 56 danmenulis 36 dapat dimodelkan oleh sebagai pohonperkalian faktor dan Metode ini dilakukan bilangan-bilangan tersebut bilangan 56: 1, 2, 4, 7, 8, 14, 28, 56 tersebut adalah FPB-nya. Sebagai contoh, diagram venn (Kurzbilangan & Garcia, bilangan prima, dan berikut hasil perkalian prima2012). yang merupakan faktor persekutuan kedua 36: 1, 2, 3, 4, 6, faktorisasi 9, 12, 18, 36prima dari 56 dan 36 dapat dimodelkan oleh bilangan tersebut adalah FPB-nya. Sebagai contoh, faktorpersekutuannya dan diagram venn berikut & Garcia, i dua bilangan dipohon atas faktor adalah 1, 2, 4(Kurz dan yang terbesar yaitu 4. faktorisasi prima dari 56 dan 36 dapat dimodelkan oleh FPB (56, 36) = 4.2012). pohon faktor dan diagram venn berikut (Kurz & Garcia,

i Prima

2012).

tode ini dilakukan dengan menulis bilangan-bilangan tersebut sebagai perkalian

rima, dan hasil perkalian bilangan prima yang merupakan faktor persekutuan kedua

tersebut adalah FPB-nya. Sebagai contoh, Pohondimodelkan faktor dan diagram venn. di atas inenunjukkan bahwa 56 = 2 x 2 x 2 x 7 dan 36 = prima dari 56 dan 36 dapat oleh

Gambar 4.11

Gambar 4.12

2 x 3berikut x 2 x (Kurz 3. Perkalian faktor prima bilangan tersebut dapat dalam bentuk pangkat seperti or dan diagram venn & Garcia, Pohon faktor dan diagram venn. di atas inenunjukkan bahwa 56 = 2 x 2 x 2 x 7 dan 36 = berikut. faktor dan venn.tersebut di atasdapat inenunjukkan =2x2 2 x 3 x Pohon 2 x 3. Perkalian faktordiagram prima bilangan dalam bentuk bahwa pangkat 56 seperti 56 = 23 x 7 = 22 x 2 x 7 x 2 x 7 dan 36 = 22 x 32 x 2 x 3. Perkalian faktor prima bilangan tersebut dapat berikut. 36 = 2 x 3 dalam 56 =bentuk 23 x 7 = pangkat 22 x 2 x 7 seperti berikut. Perhatikan 3 bahwa 2faktor persekutuan terbesar 56 = 36 2 x= 722 =2x 2 32 x 2 x 7 dari 56 dan 36 yakni 2 . Hal ini dapat ditunjukkan oleh 36 = 22 xbahwa 32 faktor persekutuan terbesar Perhatikan irisan dua himpunan dalam diagram venn berikut. 2 2 Perhatikan persekutuan dari 56 dan 36 yakni 2bahwa . Hal inifaktor dapat ditunjukkan oleh terbesar dari 56 dan 36 yakni 2 . Hal on faktor dan diagram venn. di atas inenunjukkan bahwa 56 = 2 x 2 x 2 x 7 dan 36 = ini dapat ditunjukkan olehvenn irisan dua himpunan dalam diagram venn berikut. irisan dua himpunan dalam diagram berikut. x 3. Perkalian faktor prima bilangan tersebut dapat dalam bentuk pangkat seperti

= 23 x 7 = 22 x 2 x 7 36 = 22 x 32

hatikan bahwa faktor persekutuan terbesar

n 36 yakni 22. Hal ini dapat ditunjukkan oleh

himpunan dalam diagram venn berikut.

Gambar 4.13

82

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Contoh. 4.19 Tentukan FPB (36, 64) dengan irisan himpunan dan faktorisasi prima.

Penyelesaian • Dengan irisan himpunan Faktor dari 36: 1, 2, 3, 4, 6, 9, 12, 18, 36 4.13 Faktor dariGambar 64: 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64 Faktor persekutuan dari kedua bilangan tersebut adalah 1, 2, dan 4. punan dan faktorisasi prima. Gambar 4.13 Sehingga faktor persekutuan terbesarnya adalah 4. gan irisan himpunan dan faktorisasi prima.

ari 36: 1, 2, 3, 4, 6,

punan Faktor dari 36: 1, 2, 3, 4, 6, 4

bilangan tersebut 4, 8, 16, 32, 64 faktor persekutuan ndengan dari kedua bilangan dan tersebut irisan himpunan faktorisasi prima.

Gambar 4.13

4. Sehingga • faktorDengan persekutuan faktorisasi prima 36 4. himpunan Faktor dari 36: 1, 2, 3, 4, 6,

prima 36

1, 2, 4, 8, 16, 32, 64

utuan dari kedua bilangan tersebut at ditulis dalam bentuk pangkat seperti berikut. dan 4. Sehingga faktor persekutuan

dilah atas 4. juga dapat ditulis dalam bentuk pangkat seperti berikut.

Pohon faktor dan diagram di atas juga dapat ditulis dalam bentuk pangkat

sasi prima 36 seperti berikut. kutuan terbesar

36 = 22 x 32

(36, 64) = 22 = 64terbesar = 26 = 22 x 24 i faktor persekutuan dua himpunan Terlihat 22 sebagai faktor persekutuan terbesar dari pasangan 36 dan Sehingga, FPB (36, 64) = 22 = 2

64. Sehingga, FPB (36, 64) = 2 = 4. Hal ini dapat ditunjukkan oleh irisan dua

kan oleh dua himpunan am di atasirisan jugahimpunan dapat ditulis dalam bentuk ven. pangkat seperti berikut. dalam diagram berikut. B dengan pemfaktoran prima di atas selalu memilih 2 . 3 terkecil. menentukan FPB dengan pemfaktoran prima di atas selalu memilih 24 apat digunakan sebagai alat yang sangat efektif untuk nbagai pangkat yangpersekutuan terkecil. faktor terbesar an matematis yang melekat dalam Faktor Persekutuan 2 berpola juga dapat digunakan alat yang sangat efektif untuk 64. Sehingga, FPB (36, 64) = 2sebagai = kutuan Terkecil (KPK) (Burkhart, 2009). FPB barkan hubungan matematis yang melekat dalam Faktor Persekutuan njukkan oleh irisan dua himpunan blok yang terkandung dalam kedua blok aslinya. elipatan Persekutuan Terkecil (KPK) (Burkhart, 2009). FPB rikut.

oleksi terbesar blok terkandung dalam prima kedua blok aslinya. oh menentukan FPByang dengan pemfaktoran di atas selalu memilih

ngan pangkat yang terkecil. ggunakan model blok berpola Pembelajaran Bilangan ma berpola juga dapat digunakan sebagai alat yang sangat efektif untukuntuk PGSD 54 dengan menggunakan model blok gambarkan hubungan matematis yangberpola melekat dalam Faktor Persekutuan

83

Beberapa contoh menentukan FPB dengan pemfaktoran prima di atas selalu memilih bilangan yang sama dengan pangkat yang terkecil. Model blok prima berpola juga dapat digunakan sebagai alat yang sangat efektif untuk menemukan dan menggambarkan hubungan matematis yang melekat dalam Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) dan kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) (Burkhart, 2009). FPB direpresentasikan sebagai koleksi terbesar blok yang terkandung dalam kedua blok aslinya. Contoh 4.20 Tentukan FPB dari 36 dan 54 dengan menggunakan model blok berpola Penyelesaian

3

3

2

2 36

3

3

3

3 54

Faktor persekutuan dari 36 dan 54 adalah koleksi blok yang terkandung Faktorkedua persekutuan dan 54 adalah koleksi blok yang terkandung dalam kedua blok di dalam blokdaridi36atas. atas. Tidak ada koneksi blok 2

=1 =2

3 2

=6

3 3

=9

3 3 2

=18

Koleksi di atas yang mengandung sebagian besar blok merupakan FPB (36, 54) yakni 18.

Koleksi di atas yang mengandung sebagian besar blok merupakan FPB (36, 54) yakni 18. Contoh 4.21

Tentukan FPB(8, 25)

Contoh 4.21 Penyelesaian Tentukan FPB(8, 25)

Dengan mendaftar semua faktor, diperoleh

Faktor dari 8 = 1, 2, 4, 8

Penyelesaian Faktor dari 25 = 1, 5, 25 Dengan mendaftar semua faktor, diperoleh Faktor persekutuan dari kedua bilangan tersebut dan yang terbesar yaitu adalah 1. Hal ini dapat Faktor dari 8 = 1, 2, 4, 8 diyisualisasikan dengan model blok prima berpola berikut. Faktor dari 25 = 1, 5, 25 2

2 2 23

Tidak ada koleksi blok

5

52

5

=1

Sehingga faktor persekutuan Bilangan terbesarnyauntuk adalah 1. 84 Pembelajaran PGSD Terdapat kejadian bahwa sebuah bilangan hitung tidak memiliki faktor persekutuan

Faktor persekutuan dari kedua bilangan tersebut dan yang terbesar yaitu adalah 1. Hal ini dapat diyisualisasikan dengan model blok prima berpola berikut.

2

2

2 23

5

5 52

Tidak ada koleksi blok = 1 Sehingga faktor persekutuan terbesarnya adalah 1. Terdapat kejadian bahwa sebuah bilangan hitung tidak memiliki faktor persekutuan selain 1, maka bilangan tersebut disebut relatif prima. Jika pembilang dan penyebut pada pecahan merupakan pasangan yang relatif prima, maka pecahan tersebut mempakan pecahan dalam bentuk yang paling sederhana. Sebagai contoh, 8/25 mempakan bentuk pecahan paling sederhana disebabkan 8 dan 25 mempakan relatif prima (lihat contoh di atas!). Contoh 4.22 Manakah pasangan bilangan berikut yang relatif prima? a. 3 dan 5 b. 31 dan 120 c. 9 dan 132 Penyelesaian a. 3 dan 5 adalah relatif prima karena FPB(3, 5) = 1 b. 31 dan 120 adalah relatif prima karena FPB(31, 120) = 1 c. 9 dan 132 bukan relatif prima karena FPB(9, 132) = 3 Contoh 4.23 Jika a dan b adalah dua bilangan prima berbeda, apakah a dan b relatif prima? Cobalah beberapa contoh dan perkirakan jawab Anda! Penyelesaian a dan b pasti relatif prima. Sebagai contoh, 7 dan 11 mempakan pasangan prima yang relatif prima, hal ini dikarenakan setiap bilangan prima hanya memiliki 2 faktor, yakni 1 dan bilangan itti sendiri. Hal ini berakibat setiap pasangan bilangan prima yang berbeda tidak memiliki faktor persekutuan selain 1. Semua bilangan hitung kurang dari bilangan prima p adalah relatif prima terhadap p. Misalkan, setiap bilangan 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 adalah relatif prima terhadap bilangan prima 7. Sebagai contoh, ambil 2 dan 7; 3 dan 7; atan 6 dan 7, maka pasangan tersebut pastilah relatif prima.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

85

Algoritma Pengurangan Perhatikan sifat keterbagian yang telah diulas sebelumnya, yakni jika a│b dan a│c, maka a│(b - c) , dengan a ≠ 0 dan b ≥ c. Hal ini dapat diartikan bahwa sembarang bilangan yang membagi habis dua bilangan tertentu, maka bilangan tersebut membagi habis selisih dua bilangan itu. Sejalan dengan itu, jika k merupakan faktor persekutuan dari a dan b, dengan a ≥ b maka k merupakan faktor persekutuan dari a - b dan b. Karena setiap faktor persekutuan dari a dan b juga faktor persekutuan dari ( a - b ) dan b, maka pasangan (a, b) dan ( a - b, b) memiliki faktor persekutuan yang sama. Jadi, dapat disimpulkan FPB (a, b) = FPB(a - b, b). Teorema Jika a dan b adalah sembarang bilangan cacah dengan a ≥ b, maka FPB(a ,b) = FPB(a - b, b). Contoh 4.24 Tentukan FPB dari setiap pasangan bilangan yang diketahui berikut. a. 8 dan 16 b. 390 dart 546 c. 1173 dan 374 Penyelesaian a. FPB (16, 8) = FPB (16 - 8, 8) = FPB (8, 8) = 8, Jadi, FPB (16, 8) = 8. b. FPB(546, 390) = FPB(546 - 390, 390) = FPB(156, 390) = FPB(156, 390 -156) = FPB(156, 234) = FPB(156, 78) = FPB(78, 78) = 78 Jadi, FPB (546, 390) = 78. c. FPB(1173, 374) = FPB(1173 - 374, 374) = FPB(799, 374) = FPB(799 - 374, 374) = FPB(425, 374) = FPB(51, 374) = FPB(51, 374 - 51) = FPB(51, 323) = FPB(51, 272) = FPB(51, 221) = FPB(51, 170)

86

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

= FPB(51, 119) = FPB(51, 68) = FPB(51, 17) = FPB(34, 17) = FPB(17, 17) =17 Jadi, FPB(1173, 374)= 17. Algoritma Pembagian (Algoritma Euclid) Algoritina pembagian merupakan pengembangan dari algoritma pengmangan karena sejatinya pembagian dapat dipandang sebagai pengurangan berulang. Seperti contoh 4.24c dapat dilakukan dengan langsung membagi 1173 dengan 374 sehingga diperoleh sisa bagi yakni 51, sehingga bentuk FPB(1173, 374) langsung dapat diubah ke dalam FPB(374, 51), bentuk dapat juga disederhanakan dengan membagi 374 dengan 51 dimana diperoleh sisa bagi 17. Sehingga, bentuk FPB(374, 51) menjadi FPB(51, 17), karena 17 mempakan FPB dari 51 dan 17, mak. FPB(1173, 374) = 17. Secara ringkas, uraian di atas dapat dirangkum seperti berikut.

a 1173 374 51

b 374 51 17

c 51 17 0

Jadi, FPB(51, 17) =17, maka FPB(1173, 374) =17.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

87

Teorema Jika a dan b adalah sembarang bilangan cacah dengan a ≥ b dan terdapat c bilangan cacah (hasil pernbagian) sehingga a = bc + s, dengan s < b, maka. FPB(a, b) = FPB(b,s) Keterangan a bilangan yang dibagi, b bilangan pembagi, c hasil bagi, dan s adalah sisa. Contoh. 4.25 Tentuka. FPB dari pasangan bilangan berikut dengan algoritma Euclid. a. 1071 dan 1029 b. 589 dan 494 Penyelesaian a.

a

b

1071 1029 42 1029 42 21 42 21 0 Jadi FPB (1071,1029) = 21 b.

88

a b 589 494 494 95 95 19 Jadi, FPB (589, 494) =19

95 19 0

c

c

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

4.7. Kelipatan Persekutuan Terkecil Bilangan cacah positif m adalah kelipatan persekutuan terkecil (disingkat KPK) dua bilangan cacah positif p dan q jika dan hanya jika m adalah bilangan cacah positif terkecil yang dapat dibagi oleh p dan q. Notasi KPK dari p dan q dapat ditulis sebagai KPK(p, q). Dari definisi ini, jelas bahwa kelipatan persektituan terkecil dua bilangan cacah adalah bilangan cacah positif yang habis dibagi kedua bilangan tersebut. Cara menentukan KPK dapat dilaktikan dalam beberapa langkah, diantaranya dengan (1) irisan himpunan, (2) membuat kelipatan dan pembagi, dan (3) pemfaktoran prima (Brown dkk, 2002). Di samping dalam bab ini diperkenalkan metode menentukan KPK dengan menggunakan rumus. Irisan Himpunan Mencari KPK dengan metode irisan himpunan yakni dengan mendaftar semua kelipatan dari masing-masing bilangan dan menemukan kelipatan pertama yang sama. Misalkan, diminta menentukan KPK dari 10 dan 12 dapat dilakukan seperti berikut. Kelipatan dari 10 : 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90,… Kelipatan dari 12 : 12, 24, 36, 48, 60, 72, 84, 96,…. Terlihat bahwa terdapat kelipatan persekutuan yang terkecil, yakni 60. Jadi, KPK (10, 12) = 60. Faktorisasi Prima Contoh menggunakan faktorisasi prima, misal jika diminta menentukan KPK dari 12 dab 18 dapat diselesaikan seperti berikut. 12 = 22 x 3 18 = 2 x 32

Gambar 4.14 Kelipatan persekutuan dari 22 dan 2 adalah 22, sedangkan kelipatan persekutuan 3 dan 32 adalah 32 , maka KPK(12, 18) = 22 x 32 = 36.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

89

Contoh. 4.26 Tentukan KPK dari 12, 14, dan 18! Penyelesaian 12 = 22 x 3 14 = 2 x 7 18 = 2 x 32 Kelipatan persekutuan dari 22, 2 dan 2 adalah 22, sedangkan kelipatan persekutuan 3 dan 32 adalah 32. Adapun kelipatan persekutuan dari ketiga bilangan tersebut haruslah memiliki faktor 7, sehingga KPK(12, 14, 18) = 22 x 32 x 7 = 252. Catatan: Dalam menentukan KPK dengan pemfaktoran prima, yakni mengalikan bilangan persekutuan dengan pangkat terbesar dan bilangan yang berdiri sendiri (jika ada). Seperti halnya mencari FPB dengan menggunakan model blok prima borpola, dalam mencari KPK juga dapat menggunakan model tersebut. Perbedaannya, jika menentukan FPB dengan mencari koleksi blok terbesar yang terkandung dalam kedua blok aslinya, sedangkan menentukan KPK dengan mencari kelipatan dengan setiap kelipatan dari angka akan berisi kedua blok aslinya. Dengan demikian, kelipatan persekutuan terkecil dari dua bilangan akan diwakili oleh kumpulan blok terkecil yang berisi kedua blok aslinya. Menggunakan Rumus Di depan, telah dibahas mencari KPK dengan peinfaktoran prima. Sebagai contoh, menentukan KPK(24, 32) seperti berikat. 24= 23x3 32 = 25

Gambar 4.15

Sehingga, KPK (24,32) = 23 x 3 = = Hal ini menunjukkan sebuah teorema sebagai berikut.

90

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Teorema Jika a dam b adalah sembarang bilangan cacah, maka KPK (a,b) = ,atau KPK (a,b) x FPB (a,b) = a x b Contoh 4.27 Tentukan KPK(42, 96)! Penyelesaian KPK (42,96) = 672 =

=

.

Teorema di atas dapat ditunjukkan dengan menggunakan blok prima berpola. Secara khusus, untuk setiap warna bilangan yang lebih kecil dari blok a dan b niernbentuk FPB dan bilangan yang lebih besar membentuk KPK, seperti dalam contoh yang ditainpilkan untuk menentukan FPB dan KPK dari 1008 dan 9450 berikut (Burkhart, 2009). Situasi tertentu untiik KPK tiga atan lebih bilangan cacah positif dapat dicari dengan terlebih dalmin mencari KPK dari sepasang demi sepasang.

Gambar 4.16

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

91

Contoh., 4.28 Carilah KPK dari 42, 96, 104, 18. Penyelesaian KPK (42, 96) = 672, dan KPK (104, 18) = 936, sehingga KPK (42, 96, 104, 18) = KPK (672, 936) = 26.208.

92

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Latihan Soal 1. 2.

3. 4.

5.

Dengan menggunakan definisi faktor, jelaskan mengapa 9 bukan faktor dari 21! Bilangan 15 memiliki tepat empat pembagi. Dapatkah anda membuat daftar semua pembaginya? Dapatkan anda memikirkan beberapa angka lain yang memiliki tepat empat pembagi? Tentukan FPB dan KPK dari wxyz dan xyz. Doni mempunyai 12 apel dan 8 jeruk. Ia ingin membagi buah-buahan tersebut ke dalam beberapa kantong plastic sedemikian hingga isi tiap kantong plastic tersebut sama (banyaknya apel di tiap kantong sama, demikian juga banyak jeruk di tiap kantong sama). Berapakah banyaknya kantong plastik terbanyak yang diperlukan oleh Doni? Berapakah banyaknya apel dan jeruk di masing-masing kantong? Tiga bus kota dengan jurusan yang berbeda meninggalkan terminal yang sama, dan akan kembali ke terminal tersebut setiap 60 menit, 80 menit dan 120 menit. Jika ketiga bus tersebut meninggalkan terminal secara bersamaan pada pukul 05.30 pagi, pukul berapa ketiga bus akan bertemu di terminal yang sama tersebut?

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

93

94

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

BAB V BILANGAN BULAT A. B.

Ko m p e t e n s i d a n I n d i ka t o r P e n c a p a i a n Kompetensi Gambaran Umum Materi

C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

D.

Materi

BAB V

BILANGAN BULAT

A.

Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada bab ini kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa adalah menjelaskan perkembangan bilangan dan lambang bilangannya. Kompetensi tersebut terbagi menjadi beberapa indikator sebagai berikut: - Mengenal dan membelajarkan sejarah bilangan negatif dan bilangan bulat. - Memahami konsep dan karakteristik masing-inasing operasi bilangan bulat. - Membelajarkan operasi bilangan bulat dengan model atau alat peraga yang sesuai. - Memahami konsep dan sifat urutan bilangan cacah. - Mengenal dan memahami bilangan dengan pangkat negatif dan bilangan negatif yang dipangkatkan. B.

Gambaran Umum Materi

Bab ini mengkaji tentang bilangan bulat yakni mengenal bilangan bulat, memodelkan operasi bilangan bulat, mengklasifikasikan sifat-sifatnya dan memahami pangkat negatif. Permasalahan pada operasi bilangan bulat dapat mudah ditanamkan pada anak jika menggunakan model. Secara garis besar, operasi bilangan bulat pada materi ini menampilkan dua model yang umum digunakan yaitu model keping dan model garis bilangan.

97

C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

Pengetahuan tentang konsep bilangan bulat menyajikan konsep tentang bilangan positif dan bilangan negative serta operasi hitung bilangan bulat. Melalui penggunaan model yaitu model keping dan model garis bilangan, diharapkan mahasiswa dapat memahami konsep operasi hitung bilangan bulat serta dapat menerapkannya dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. D.

Materi

5.1. Mengenal Bilangan Bulat Belum ada catatan sejarah yang pasti untuk menunjukkan kapan bilangan bulat pertama kali digunakan. Di dalam matematika, himpunan bilangan bulat merupakan hasil dari perluasan bilangan cacah untuk menyelesaikan permasalahan pengurangan, misalkan 5 - 6 = -1. Simbol “-” atau minus merupakan representasi dari kuantitas untuk sebuah lawan dari kualitas yang digunakan untuk transaksi ekonomi Cina dahulu. Sejak tahun 200 SM sampai 200 M, perhitungan Cina telah memulai menggunakan batang kayu hitam (negatif) untuk debit dan batang kayu merah (positif) untuk kredit.

Gambar 5.1

Dalam pemikiran Cina, angka negatif sebagai angka yang harus dikurangi dari kuantitas atau jumlah yang belum dibayar. Mereka tidak membedakan antara dua makna dari tanda minus. Saat ini, tanda minus dikatakan memiliki dua fungsi yang berbeda, salah satunya adalah fungsi biner yang melambangkan operasi pengurangan, salah satunya adalah fungsi biner yang melambangkan angka negatif atau inyers aditif dari bilangan (Kilhamn, 2011). Mengurangkan 4 dari 2 ketika melakukan transaksi, yakni dengan meletakkan dua batang merah dan empat batang hitam, menghilangkan masing-masing dua, menyisakan 2 batang merah yang mewakili 2 yang belum dibayarkan. Dalam notasi modern ditulis 2 - 4 = -2. Konsep bilangan negatif adalah konsep abstrak yang sulit bagi anak ketika mempelajarinya. Di sisi lain, pengenalan terhadap bilangan negatif kurang

98

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

dikaitkan dengan dunia nyata. Konteks yang berhubungan langsung dengan bilangan negatif antara lain, keuntungan dan kerugia, termometer, lift, balon udara, cerita tukang pos, kerikil dalam tas, dan skor pada nilai olahmga golf (Van de Walle dkk, 2010). Definisi Bilangan bulat Himpurian bilangan bulat mempakan kumpulan I atau B = { , -3, -2, -1, 0, 1, 2, 3, ...}. 5.2. Model untuk Bilangan Bulat Terdapat dua tipe model dasar yang digunakan untuk memahami bilangan bulat dan operasinya, yakni model netralisasi dengan menggunakan media keping dua warna dan menggunakan garis bilangan. Model keping memiliki dua warna berbeda, salah satu mewakili nilai positif dan yang lain mewakili nilai negatif. Sepasang keping berbeda warna tersebut memiliki nilai 0 (netral). Sebagai contoh, 1 keping warna putih mewakili positif 1 dan 1 keping warna hitam mewakili negatif 1 sehingga representasi dari -2 dapat dimodelkan dengan bemgam model. Gambar 5.2 berikut masing - ­masing merepresentasikan -2.

Gambar 5.2

Model lain yang dapat merepresentasikan bilangan bulat adalah garis bilangan. Garis bilangan dapat dihubungkan dengan petunjuk angka pada terrnoineter (Gambar 5.3). Model vertikal dari garis bilangan dapat diilustrasikan pada Gambar 5.4. Bilangan di sebelah kanan angka nol disebut bilangan bulat positif sedangkan di sebelah kiri nol merupakan bilangan bulat negatif. Setiap bilangan di kanan nol hubungan dengan bilangan di kiri nol, misal -2 dan 2, -5 dan 5, -7 dan 7, dan seterusnya yang disebut dengan lawan atau negatif satu sama lain.

Gambar 5.3

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

99

Gambar 5.4

Model garis bilangan memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihan model ini yakni siswa mengetahui jarak nilai yang diketahui terhadap nol, siswa dapat mengembangkan pemahaman bilangan nonbulat negatif dan positif (semisal ) yang sulit direpresentasikan dengan model keeping (Van de Walle, 2010). Di sisi lain, operasi dalam bilangan bulat dengan menggunakan garis bilangan sulit dilakukan oleh anak dan sering menyebabkan miskonsepsi. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa anak selalu belajar membilang atan menghitung objek sebelum memahami urutan atau posisi bilangan (Wilkins dalam Steiner, 2009). Oleh sebab itu, hendaknya ketika anak belajar mengenai operasi bilangan bulat mulailah menggunakan media dan bimbing mereka dengan konteks yang berada di sekitarnya. Setelah pemahaman mengenai perhitungan dengan media lanjutkan dengan menggunakan garis bilangan. Kedua model di atas hendaknya diberikan semua kepada anak. Melihat bilangan bulat di dua model tersebut dapat membantu siswa mengekstrak konsep penting tentang bilangan bulat yang dimaksudkan. Bilangan bulat terdiri dari dua konsep yakni kuantitas dan lawan. Kuantitas dimodelkan dengan jurnlah keping atau panjang panah. Konsep lawan direpresentasikan sebagai warna yang berbeda atau arah yang herbeda (Van de Walle, 2010).

100

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Contoh 5.1 Gambar tiga model keping yang berbeda untuk merepresentasikan -3. Penyelesaian

Contoh 5.2 Tentukan lawan dari masing-masing bilangan bulat berikut dan gambarkan pada garis bilangan. a. -4 c. 0 b. -10 d. 4 Penyelesaian a. -4 >< 4

b.

-10 >< 10

c.

0><0

d.

4 > < -4

5.3. Penjumdahan dan pengurangan Bilangan Bulat Mengenalkan penjumlahan atau pengurangan yang melibatkan bilangan bulat dapat menggunakan salah satu konteks yang ditampilkan sebelummya, misal menggunakan konteks temperatur suhu. Model yang dapat merepresentasikan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat yakni model keping dua warna dan model garis bilangan.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

101

Mulailah pembelajaran penjumlahan ini dengan melibatkan penjumlahan bilangan cacah. Permasalahan ini dapat dicontohkan seperti berikut. Pagi ini suhu di Belanda berkisar 2°C dan di siang hari naik 5°C. Berapa suhu di siang hari dari pernyataan tersebut? Permasalahan di atas dapat dinotasikan dengan 2 + 5 = ? yang kemudian dimodelkan seperti berikut. Model Keping untuk 2 + 5

Gambar 5.5a

Model Garis Bilangan untuk 2 + 5

Gambar 5.5b

Memulai arah positif sejauh 2, keimidian inenggabungkannya dengan arah positif sejauh 5 dari titik ujung 2. Hasilnya ditunjukkan oleh arah garis tunggal d. 0 sampai akhir. Jadi, suhu di siang hari inerupakan hasil dari 2 + 5 = 7. Penjumlahan yang melibatkan salah satu bilangan negatif dapat diilustrasikan oleh contoh berikut “Pada suatu hari di bulan Januari suhu menunjukkan 2°C. Hari berikutnya adalah lima derajat lebih dingin. Berapa suhu yang baru?” Pernyataan ini dapat diinterpretasikan sebagai 2 + -5. Masalah ini dapat dimodelkan oleh gambar berikut.

102

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Model Keping untuk 2 + -5

Model Garis Bilangan untuk 2 + -5

Gambar 5.6a

Gambar 5.6b

Memulai dengan arah positif sejauh 2, kemudian menggabung­kannya dengan arah negatif sejauh 5 dari titik ujung 2. Hasilnya ditunjukkan oleh arah tunggal dari 0 sampai akhir. Jadi, sulut Baru adalah -3. Contoh lain yang melibatkan salah satu bilangan negatif dapat diilustrasikan berikut “Suhu di freezer kulkas saya menunjukkan -5°C. Saya menaikkannya 2°C. Berapa suhu tempat freezer sekarang?” Pernyataan ini dapat diinterpretasikan sebagai -5 + 2. Masalah ini dapat dimodelkan oleh gambar berikut. Model keeping untuk -5 + 2

Model Garis Bilangan untuk -5 + 2

Gambar 5.7a

Gambar 5.7b

Memulai dengan arah negatif sejauh 5, kemudian menggabungkan arah positif sejauh 2 dari titik akhir yang diperoleh sebelumnya. Hasilnya ditunjukkan oleh arah tunggal dari 0 sampai akhir. Jadi, suhu tempat freezer sekarang adalah -3. Penjumlahan dua bilangan negatif dapat dicontohkan seperti berikut “Pada suatu hari di bulan Desember, suhu -2°C. Hari berikutnya adalah lima derajat lebih dingin. Berapa suhu yang baru?” Pernyataan ini dapat diinterpretasikan sebagai -2 + -5 yang dapat dimodelkan pada gambar berikut.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

103

Model keeping untuk -2 + 5

Model Garis Bilangan untuk -2 + -5

Gambar 5.8a

Gambar 5.8b

Memulai dengan arah negatif sejauh 2, kemudian menggabungkan arah negatif sejauh 5. Hasilnya ditunjukkan oleh arah tunggal dari 0 sampai akhir. Jadi, suhu yang baru adalah -7. Pengurangan dua bilangan bulat dapat diawali dengan pengurangan bilangan cacah. Upayakan memulai permasalahan dengan menghubungkannya kepada konteks yang familiar bagi anak. Ingat kembali bahwa dalam pengurangan dapat menggunakan konsep mengambil keluar (Sebagai contoh, memulai dengan 3 dan mengambil 5) atau konsep membandingkan (Berapa beda antara 3 dan -2?). Berikut ini ditampilkan beberapa contoh yang hanya menampilkan prosedur pengurangan beserta modelnya. Prosedur pengurangan bilangan cacah dengan bilangan yang dikurang lebih besar daripada bilangan pengurang dapat dicontohkan dengan 5 - 2 berikut. Model keping untuk 5 – 2

Model Garis Bilangan untuk 5 – 2

Gambar 5.9a

Gambar 5.9b

Memulai dengan arah positif sejauh 5, kemudian mundur dengan arah positif sejauh 2. Hasilnya ditunjukkan oleh arah tunggal dari 0 sampai pangkal arah positif 2. Prosedur pengurangan bilangan cacah dengan bilangan yang dikurang lebih kecil daripada bilangan pengurang dapat dicontohkan dengan 2 - 5 berikut.

104

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Model Keping untuk 2 – 5

Model Garis Bilangan untuk 2 – 5

Gambar 5.10a

Gambar 5.10b

Memulai dengan arah positif sejauh 2, kemudian mundur dengan arah positif sejauh 5. Hasilnya ditunjukkan oleh arah tunggal dari 0 sampai pangkal arah positif 5. Jadi, hasilnya adalah -3. Prosedur pengurangan bilangan bulat dengan bilangan pengurang yang positif dapat dicontohkan dengan (-2) - 5 berikut. Model Keping untuk (-2) - 5

Model Garis Bilangan (-2)-5

Gambar 5.11a

Gambar 5.11b

Memulai dengan arah negatif sejauh 2, kemudian dari titik ujung -2 mundur dengan arah positif sejauh 5. Hasilnya ditunjukkan oleh arah tunggal dari 0 sampai titik pangkal arah positif 5. Jadi, hasilnya adalah -7. Prosedur pengurangan bilangan bulat dengan bilangan pengurang yang negatif dapat dicontohkan dengan (-5) – (-2) berikut. Model Keping untuk (-5) – (-2)

Model Garis Bilangan (-5) – (-2)

Gambar 5.12a

Gambar 5.12b

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

105

Memulai dengan arah negatif sejauh 5, kemudian dari titik ujung -5 mundur dengan arah negatif sejauh 2. Hasilnya ditunjukkan oleh arah tunggal dari 0 sampai titik pangkal arab negatif 2. Jadi, hasilnya adalah -3. Penting bagi anak untuk membuat hubungan antara operasi penjumlahan dan pengurangan. Sebagai contoh, menghubungkan operasi (-5) – (-2) dan (-5) + 2 serta (-2) + (-5) dan (-2) + (-5) yang bentuk operasinya berbeda tetapi memiliki hasil yang sama. Garis bilangan dapat menunjukkan hubungan keduanya (lihat Gambar 5.13 & 5.14).

Gambar 5.13

Gambar 5.14

Contoh 5.3 Suhu rata-rata di Inggris dalam seminggu di bulan Desember adalah 6°C. Rata-rata suhu di Rusia pada ming, yang sama adalah 12°C lebih rendah. Berapa rata-rata suhu di Rusia selama minggu itu? Penyelesaian Permasalahan di atas dapat diinterpretasikan 6 + (-12) atau 6 -12. Model Keping 6 + (-12)

Model keping untuk 6 – 12

Catatan : Mengambil posistif 12 dari 6 yakni dengan bantuan 12 pasang keping.

106

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Perhatikan bahwa yang punya pasangan adalah 6 keping negarif. Model Garis Bilangan untuk 6 + (-12)

Model Garis Bilangan untuk 6 – 12

Contoh 5.4 Sebuah suhu freezer -4°C. Jika saya mengubah suhu turun tiga derajat, berapa suhu freezer yang bar. tersebut? Penyelesaian Model Keping untuk -4 - 3

Jadi, suhu freezer yang baru -7oC Model garis bilangan untuk -4 - 3 diserahkan kepada pembaca sebagai latihan. 5.4 Sifat Penjuntlahan Bilangan Bulat Sifat Tertutup Sifat ini menunjukkan bahwa setiap penjumlahan dua bilangan bulat selalu menghasilkan bilangan bulat. Misal a, b, dan c merupakan bilangan bulat, maka a+b=c merupakan bilangan bulat. Sebagai contoh, -5 + -2 = -7. Sifat Identitas Sembarang bilangan bulat dijumlahkan dengan 0 sama dengan bilangan bulat itu sendiri. Jadi, 0 merupakan bilangan tunggal sebagai identitas terhadap penjumlahan. Misal a bilangan bulat, maka a +0 = a = 0 + a untuk semua a.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

107

Komutatif Penjumlahan dua bilangan bulat menghasilkan basil yang sama rneskipun bilangan tersebut ditukar posisinya. Misal a dan b merupakan bilangan bulat, maka a + b = b + a. Sebagai contoh, (-3)+2=2+(-3) -1=-1 Assosiatif Misal a, b, dan c merupakan bilangan bulat, maka (a + b) + c = a + (b +c). Sebagai contoh, diketahui -2, -5, dan -7 bilangan bulat, mak. berlaku (-2 + -5) + -7 = -2 +(-5 + -7) -7 + -7 = -2 + -12 -14 = -14 Invers Aditif untuk Penjumlahan Setiap a bilangan bulat memiliki bilangan tunggal yakni -a, yang jika dijumlahkan menghasilkan identitas. a + -a = 0, dengan -a disebut sebagai inyers aditif dari a. Sifat invers aditif menyatakan bahwa setiap bilangan bulat dijumlahkan dengan lawannya menghasilkan nol. Akibatnya, sifat ini akan melahirkan sebuah teorema yang disebut dengan additive cancellation, yakni menghilangkan penjumlah yang sama. Teorema Misal a, b, dan c sembarang bilangan bulat. Jika a + c = b + c, maka a = b Teorema di atas dapat dibuktikan sebagai berikut. Misal a + b = b + c, maka (a + c) + -c = (b + c) + -c a + (c + -c) = b + (c + -c) asosiatif a + 0 = b + 0 invers aditif a = b identitas jadi, jika a + b = b + c, maka a = b Di depan telah dibahas bahwa setiap bilangan bulat memiliki lawan (kebalikan, inyers). Sebagai contoh, -4 berlawanan dengan 4, atau dapat ditulis dengan -(-4) = 4. Hal ini dapat diyisualisasikan dalain gambar berikut.

108

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Gambar 5.15

Gambar 5.16

Teorema Missal b sembarang bilangan bulat, maka -b(-b) = b. Contoh 5.5 Gunakan sifat-sifat yang berlaku dalam penjumlahan bilangan bulat untuk melakukan komputasi mental dari operasi berikut. a. 13 -15 b. -(-7) -14 Penyelesaian a. 13 -15 = 13 +(-13 + -2) = (13 + -13) + -2 = 0 + -2 = -2 b. - (-7 ) -14 = 7 - (7 + 7) = (7 - 7) + 7 = 0 + 7=7 5.5. Perkalian dan Pembagian Bilangan Bulat Konsep perkalian bilangan bulat merupakan perluasan dari perkalian untuk bilangan cacah. Seperti perkalian bilangan bilangan cacah, perkalian bilangan bulat dapat diartikan sebagai penjumlahan berulang. Factor pertama menunjukkan berapa banyak himpunan/kumpulan yang ada atau berapa banyak yang ditambahkan ke 0. Ini berarti untuk perkalian bilangan bulat cukup mudah ketika faktor pertama adalah positif Sebagai contoh, 2 x -3 atau 2 himpunan dari -3 dapat diartikan sebagai membuat 2 himpunan dari -3 atau menjumlahkan kedua himpunan -3 ke nol. Model Keping untuk 2 x -3

Gambar 5.18

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

109

Model Keping untuk -2 x 3

Gambar 5.18

Mundur dari 0 dengan dua arah negatif 3. Hasilnya ditunjukkan oleh arah dari 0 sampai akhir. Jadi, hasil dari -2 x -3 = -6 Berdasarkan dua permasalahan yang dimodelkan di atas memungkinkan anak untuk menyimpulkan aturan sederhana dalam perkalian bilangan bulat. Bimbing mereka untuk menyimpulkan bahwa perkalian dengan tanda yang sama menghasilkan hasil kali positif dan tanda yang berbeda menghasilkan hasil kali negatif. Ketika pertama kali membelajarkan pembagian bilangan bulat mulailah dengan pembagian bilangan cacah. Sebagai contoh, 6 ÷ 3 memiliki dua kemungkinan makna. Pertama, tiga himpunan apa yang membuat jadi 6, ditulis 3 , = 6. Kedua, berapa banyak dari tigaan untuk membuat 6, ditulis ? x 3 = 6. Dua makna ini dapat membangun pemahaman tentang penjurnlahan berulang untuk mencari faktor yang belum diketahui. Model Keping untuk 6 ÷ 3

Model Garis Bilangan untuk 6 ÷ 3

Gambar 5.19a

Gambar 5.19b

Tambahkan 3 yang pertama, tambahkan 3 yang kedua, dan berhenti di 6. Hasilnya ditunjukkan berapa banyak 3-an sampai ke 6. Jadi, hasil dari 6 ÷ 3 = 2. Seperti pembagian bilangan cacah, pembagian yang melibatkan bilangan negatif dapat diartikan sebagai pengurangan berulang. Sebagai contoh, -6 ÷ 2 dapat diartikan berapa himpunan dua-an akan membentuk -6. Menainbahkan + 2 ke nol sejumlah positif kali akan menghasilkan bilangan positif. Namun, 110

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

jika +2 dijumlahkan ke nol sejumlah negatif kali (pengurangan berulang) akan menghasilkan bilangan negatif. Model keping untuk -6 ÷ 2

Gambar 5.20

Dimulai dari nol. Mengambil himpunan duaan untuk membuat -6, yakni dengan mengubah model dengan menempatkan dua pasangan netral. Ambil 1 himpunan dari 2. Tempatkan kembali dua pasangan netral. Ambil himpunan kedua dari 2. Tempatkan kembali dua pasangan netral. Ambil himpunan ketiga dari 2. Sehingga, terdapat -3 kali dari +2untuk membentuk -6. Model Garis Bilangan untuk -6 ÷ 2

Gambar 5.21

Mengurangi secara berulang dua-an dari -6. Hasilnya ditunjukkan oleh arah 2-an dikurangi sebanyak 3 kali atau dijumlahkan sebanyak -3 kali. Jadi, hasil dari -6 ÷ 2 = -3. Memahaini pembagian bilangan bulat bersandar pada konsep yang baik dari faktor pertama perkalian yang negatif dan pengetahuan tentang hubungan antara perkalian dan pembagian (Van de Walle, 2010). 5.6 Sifat Perkalian Bilangan Bulat Sifat tertutup Sifat ini menunjukkan bahwa setiap perkalian dua bilangan bulat selalu menghasilkan bilangan bulat. Misal a dan b bilangan bulat, maka a x b = c, dengan c pasti bilangan bulat.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

111

Komutatif Perkalian dua bilangan bulat menghasilkan hasil yang sama meskipun bilangan tersebut ditukar posisinya. Misal a dan b bilangan bulat, maka a x b= b x a. Sifat Identitas Sembarang bilangan bulat dikalikan dengan 1 sama dengan bilangan bulat itu sendiri. jadi, 1 merupakan bilangan tunggal sebagai identitas terhadap perkalian. Misal, a sembarang bilangan bulat, maka a x 1 = a = 1 x a. Assosiatif Misal a, b, dan c bilangan bulat, maka berlaku (a x b) x c = a x (b x c). Sebagai contoh, diketahui -2,-5 dan -7 bilangan bulat, maka berlaku (-2 x -5) x -7 = -2 x (-5 x -7) 10 x -7 =-2 x 35 -70 = -70 Sifat Distributif terhadap Penjumlahan Misal a, b, dan c bilangan bulat, maka berlaku a x (b + c) = ab + ac. Sebagai contoh diketahui 2,-3, dan -5 bilangan bulat, maka berlaku 2 x (-3 + -5) = (2 x -3) + (2 x -5) 2 x -8 = -6 + -10 -16 = -16 5.7. Mengurutkan Bilangan Bulat Konsep urutan bilangan bulat merupakan perluasan dari urutan bilangan cacah. Konsep lebih dari atau kurang dari pada bilangan dapat direpresentasikan ke dalam garis bilangan dengan bilangan yang lebih kecil berada di sebelah kiri bilangan yang lain dan begitupun sebaliknya. Sebagai contoh, -3 < -1 karena untuk menjadi -1 membutuhkan 2 lagi dari -3. Pada garis bilangan letak -3 di sebelah kiri dari -1.

Gambar 5.22

112

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Definisi Ketaksamaan Bilangan Bulat Untuk a dan b sembarang bilangan bulat, dengan a kurang dari b,ditulis a < b, jika terdapat bilangan bulat positif k sehingga A + k = b. a+k=b. Contoh 5.6 Urutkan bilangan berikut dari yang terkecil. 3, 0, -5, -3, 5, -8 Penyelesaian -8 < -5 karena -8 + 3 = -5 -5 < -3 karena -5 + 2 = -3. Jadi, urutan dari yang terkecil adalah -8, -5, -3, 0, 3, 5. Sifat Urutan Bilangan Bulat Misal a, b, dan c sembarang bilangan bulat, m bilangan bulat positif, dan n bilangan bulat negatif, maka berlaku sifat-sifat berikut. Sifat Transitif untuk Kurang Dari Jika a < b dan b < c, maka a < c. Sebagai contoh, -3 < -1 dan -1 < 0 maka -3 < 0. Sifat Kurang Dari dan Penjumlahan Jika a < b, maka a + c < b + c. Sebagai contoh, -3 < -1, maka -3 + 3 < -1 + 3 0<2 Sifat Kurang Dari dan Perkalian dengan Bilangan Bulat Positif jika a < b maka am < bm. Sebagai contoh, -3 < -1, maka -3 x 3 < -1 x 3 -9 < -3 Sifat Kurang Dari dan Perkalian dengan Bilangan Bulat Negatif Jika a < b, maka an > bn. Sebagai contoh, -3 -1, maka -3 x -3 < -1 x -3 9<3

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

113

Contoh 5.7 Tunjukkan dengan garis bilangan sedemikian sehingga pernyataan berikut benar. a. -3 < 2dan, 3 > 0,maka-3 . 3 < 2 . 3. b. -3 < 2 dan -3 < 0, maka -3 . -3 < 2 . -3. Penyelesaian a. Dengan sifat kurang dari dan perkalian dengan bilangan bulat positif dapat diilustrasikan seperti berikut.

b. Dengan sifat kurang dari dan perkalian dengan bilangan bulat negative dapat diilustrasikan seperti berikut.

114

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Latihan Soal 1.

2.

3.

4.

5.

Tentukan benar atau salah a. 10 – 3 + 2 = 10 – 2 + 3 b. 8 + (5 – 2) = 8 + 5 – 2 c. 8 – (5 – 2) = (8 – 5) – 2 Suhu hari ini di benua Eropa rata-rata 8oC, sedangkan di benua Asia tiga kali lebih tinggi. Berapa rata-rata suhu hari ini di benua Asia? Nyatakan permasalahan ini ke dalam kalimat matematika dan gunakan model keeping dan garis bilangan untuk menjawabnya. Buat model keping dan garis bilangan dari penjumlahan dan pengurangan berikut. a. 8 + (-5) b. -8 – 5 c. – 8 – (-5) Buat model keping dan garis bilangan dari penjumlahan dan pengurangan berikut. a. 12 : (-4) b. -3 x (-4) c. -12 : (-4) Urutkan bilangan berikut dari yang terkecil hingga yang terbesar. a. -3, 3, 1, -1, 0, 2, -2 b. 11, -5, -7, 3, -6, 4 c. -9, 8, -7, 6, -5, 4, -3, 2, -1, 0

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

115

116

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

BAB VI BILANGAN PECAHAN A. B.

Ko m p e t e n s i d a n I n d i ka t o r P e n c a p a i a n Kompetensi Gambaran Umum Materi

C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

D.

Materi

BAB VI

BILANGAN PECAHAN

A.

Kompetensi dan Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada bab ini kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa adalah menjelaskan bilangan pecahan dan operasi hitung pecahan. Kompetensi tersebut terbagi menjadi beberapa indikator sebagai berikut: - Menjelaskan pengertian pecahan - Menjelaskan konsep pecahan - Menjelaskan pecahan senilai - Membandingkan dan mengurutkan pecahan - Mengubah bentuk pecahan yang satu ke bentuk yang lain - Menjelaskan operasi pada pecahan - Menerapkan perhitungan dengan menggunakan pecahan - Menjelaskan pecahan sebagai perbandingan (rasio) B.

Gambaran Umum Materi

Bab ini mengkaji tentang bilangan pecahan yang meliputi pecahan senilai, pecahan campuran dan operasi hitung pecahan berserta contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan dari penjelasan tentang materi ini, mahasiswa dapat memahami konsep pecahan dan operasi hitung pecahan serta dapat menerapkannya dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. C.

Relevansi terhadap pengetahuan mahasiswa dan bidang kerja

Pengetahuan tentang pecahan menyajikan konsep pecahan, pecahan senilai, membandingkan dan mengurutkan pecahan, mengubah bentuk pecahan, operasi hitung pecahan dan pecahan 119

sebagai perbandinagan serta menerapkan perhitungan dengan menggunakan pecahan. Diharapkan dari penjelasan tentang materi ini, mahasiswa dapat memahami konsep pecahan dan operasi hitung pecahan serta dapat menerapkannya dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. D.

Materi

6.1 Pengertian Pecahan Pecahan yang dipelajari anak ketika di SD, sebetulnya merupakan bagian dari a bilangan rasional yang dapat ditulis dalam bentuk dengan a dan b merupakan b bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol. Secara simbolik pecahan dapat dinyata-kan sebagai salah satu dari: (1) pecahan biasa, (2) pecahan desimal, (3) pecahan persen, dan (4) pecahan campuran. Begitu pula pecahan dapat dinyatakan menurut kelas ekuivalensi yang tak terhingga banyaknya: 1 2 3 4 = = = = .... Pecahan biasa menurut Kennedy (1994: 425 - 427) 2 4 6 8 adalah lambang bilangan yang dipergunakan untuk melam-bangkan bilangan pecah dan rasio (perbandingan). 6.2 Mengenal Konsep Pecahan Kegiatan mengenal konsep pecahan akan lebih berarti bila didahului dengan soal cerita yang menggunakan obyek-obyek nyata misalnya buah : apel, sawo, tomat, atau kue: cake, apem, dan lain-lain. Peraga selanjutnya dapat berupa daerah-daerah bangun datar beraturan misalnya persegi, persegipanjang, atau lingkaran yang akan sangat membantu dalam memperagakan konsep pecahan.

Gambar 6.1 1

Pecahan 2 dapat diperagakan dengan cara melipat kertas berbentuk lingkaran atau persegi, sehingga lipatannya tepat menutupi satu sama lain. Selanjutnya bagian yang dilipat dibuka dan diarsir sesuai bagian yang dikehendaki, sehingga akan didapatkan gambar daerah yang diarsir seperti di bawah ini.

120

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

1

Pecahan dibaca setengah atau satu per dua atau seperdua. ″1″ disebut pembilang yaitu2merupakan bagian pengambilan atau 1 bagian yang diperhatikan dari keselu-ruhan bagian yang sama. ″2″ disebut penyebut yaitu merupakan 2 bagian yang sama dari keseluruhan. 1 1 Peragaan tersebut di atas dapat dilanjutkan untuk pecahan an, an 4 8 dan sebagainya, seperti gambar di bawah ini.

Gambar 6.2

3 Pecahan 8 dibaca tiga per delapan. ″3″ disebut pembilang yaitu

merupakan 3 bagian yang diambil atau 3 bagian yang diperhatikan dari keseluruhan bagian yang sama. ″8″ disebut penyebut yaitu merupakan 8 bagian yang sama dari keseluruhan. Selain melipat dan mengarsir pada kertas, peragaan dapat pula menggunakan pita atau tongkat yang dipotong dengan pendekatan pengukuran panjang, yang dapat pula untuk mengenalkan letak pecahan pada garis bilangan. Pita dipotong menjadi 2 bagian sama panjang untuk memperagakan pecahan 1 .

2

Pengenalan letak pecahan pada garis bilangan tersebut sangat bermanfaat untuk mecari pecahan yang senilai.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

121

6.3 Pecahan Senilai Pecahan senilai biasanya disebut juga pecahan ekivalen. Untuk menentukan pecahan yang senilai dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut. 1. Peragaan dengan benda kongkret. 1 2 4 Kita akan menunjukkan contoh bahwa 2 = 4 = 8 dengan menggunakan 3 lembar kertas yang berbentuk persegi panjang. Anggap selembar kertas itu sebagai 1 bagian utuh. Satu lembar kertas dilipat menjadi 2 bagian yang sama 1 sehingga diperoleh . Kemudian 1 lembar yang lain dilipat menjadi 2 bagian yang 2 sama, kemudian dilipat lagi menjadi 2, sehingga diperoleh 2 bila digambarkan lipatan-lipatan tersebut sebagai berikut. 4 1 lembar kertas yang ke 1

2 bila digambarkan lipatan-lipatan tersebut sebagai berikut. 4 1 yang di arsir 1 lembar kertas2 yang ke 1

diperoleh

Dilipat menjadi 2 bagian yang sama Dilipat menjadi 2 bagian yang sama 1 lembar kertas yang ke 2 yang diarsir

1 2

1 lembar kertas yang ke 2 Dari lipatan pertama dilipat lagi menjadi 2 bagian sama. yang di arsir 4 2 Dari lipatan pertama dilipat lagi menjadi 2 bagian sama. 2

yang diarsir

4

kertas yang 11 lembar lembar kertas yang ke 3ke 3 Dari lipatan yang kedua dilipat lagi menjadi 2 bagian yang sama.

atau yang diarsir

4

yang diarsir

8

Dari gambar di atas jelas bahwa

4 8

1 2 4 1 2 4 senilai dengan dan atau = = . 2 4 8 2 4 8

Peragaan dilanjutkan untuk pecahan-pecahan yang lain sehingga akan tampak pola hubungan kelipatan atau pembagianBilangan yang sama antara pembilang dan penyebut. 122 Pembelajaran untuk PGSD 2. Peragaan dengan garis bilangan

Peragaan dilanjutkan untuk pecahan-pecahan yang lain sehingga akan tampak pola hubungan kelipatan atau pembagian yang sama antara pembilang dan penyebut. 2.

Peragaan dengan garis bilangan

Gambar 6.3

Pecahan senilai dapat pula ditunjukkan dengan menggunakan alat peraga garis bilangan. Berikut ini ditunjukkan beberapa pecahan senilai dengan menggunakan garis bilangan, yang digambarkan pada kertas berpetak. Dengan menggunakan penggaris dapatlah diurutkan dari atas ke bawah dan ditemukan bahwa

dan seterusnya

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

123

ngan memperluas pecahan. 1 1 3. Dengan memperluas dapat pecahan. diperoleh dengan jalan memperluas dari pecahan cahan yang senilai dengan 4 4 1 Pecahan yang senilai dengan

dapat diperoleh dengan jalan memperluas

3 24 2 3 1 enjadi , daridan seterusnya, dengan ,menggunakan alatdengan peragamenggunakan tabel pecahan pecahan menjadi dan seterusnya, alatsenilai yang 12 8 8 12 4 peraga tabel pecahan senilai yang diperoleh dari tabel perkalian.

peroleh dari tabel perkalian.

Tabel pecahan senilai

bel pecahan senilai

×

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

2

2

4

6

8

10

12

14

16

18

20

3

3

6

9

12

15

18

21

24

27

30

4

4

8

12

16

20

24

28

32

36

40

5

5

10

15

20

25

30

35

40

45

50

6

6

12

18

24

30

36

42

48

54

60

7

7

14

21

28

35

42

49

56

63

70

8

8

16

24

32

40

48

56

64

72

80

9

9

18

27

36

45

54

63

72

81

90

10

10

20

30

40

50

60

70

80

90

100

Gambar 6.4 6.4 Gambar

Dengan memperhatikan tabel di atas kita akan mencari ... ... ... 1 1 ... ... ... an memperhatikan = tabel = di= atas kita akan mencari    4 12 ... ... 12 ... ... 4

1 3 5 7 = = = Ternyata terlihat bahwa 4 12 20 28 dan sebagainya. 3 di5atas dapat 7 disimpulkan bahwa untuk mencari pecahan Dari1peragaan dan sebagainya. yata terlihat bahwa    4 dapat 12 dilakukan 20 28 yang senilai dengan cara mengalikan/membagi pembilang dan penyebutnya dengan bilangan yang sama, tapi tidak nol.

peragaan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mencari pecahan yang senilai dapat 1 4

1× 3 4×3

3 12

3 12

3÷3 12 ÷ 3

1 4

ukan dengan cara mengalikan/membagi pembilang=dan penyebutnya dengan bilangan yang atau sebaliknya = = = tapi tidak nol.

1 3 3 3 33 1 atau sebaliknya    4  3 12 12 12  3 4

124

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

X6.4 Membandingkan dan Mengurutkan Pecahan Pada saat anak belajar membandingkan dan kemudian mengurutkan pecahan, mereka perlu pengalaman-pengalaman sehingga menghasilkan temuan-temuan khusus. Berikut disajikan alternatif pembelajaran dari kegiatan membandingkan dan mengurutkan pecahan. 1.

Penanaman konsep

a.

Peragaan dengan menggunakan bangun-bangun geometri Bangun-bangun geometri dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk membandingkan dan mengurutkan pecahan biasa dan pecahan campuran. Bahan yang digunakan harus mudah dilipat, diwarnai atau dipotong-potong untuk mengu-rutkan luasan dari bangun-bangun tersebut sehingga dapat dilihat urutan dari luasan bangun yang mewakili urutan dari bilangannya.

Gambar 6.5 Dari peragaan dapat diketahui bahwa bila bangun dipotong dan dibanding3 5; 1 < 3;1 < 5 bandingkan luasannya akan tampak bahwa 3 < 1; > dan sebagainya. 4 4 8 2 4 2 8 Tentukan tanda (<,=,>) yang tepat untuk mengisin titik-titik dari





1 5 1 ...1 4 8

Gambar 6.6 Yang utuh sudah sama, sehingga yang dibandingkan tinggal yang tidak utuh 1 5 dari gambar terlihat bahwa 1 < 5 , jadi1 1 < 1 5 .

4

... , 8

4

8

4

8

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

125

b.

Dengan peragaan pita atau kepingan-kepingan pecahan Kepingan pecahan berguna untuk membandingkan pecahan biasa.

Gambar 6.7



Dari peragaan dan gambar siswa akan dapat membandingkan dan sekaligus mengurutkan bilangan –bilangan pecahan yang diinginkan.

c.

Dengan menyamakan penyebutnya



Kita bandingkan

2 3 dan , dengan cara menyamakan penyebutnya 3 4 atau menentukan pecahan senilainya lebih dulu. Kegiatan ini akan lancar dilakukan oleh siswa bila penanaman konsep pecahan senilai pada bagian C dipahami dan dan telah dilatihkan keterampilannya oleh guru, yaitu

9 8 3 2 = ; = . Setelah penyebutnya sama kita bandingkan 12 12 4 3 9 8 3 2 > , jadi > Apabila siswa pembilangnya. Karena 9 > 8 maka 12 12 4 3 sudah mengenal KPK, maka dapat ditunjukkan bahwa 12 adalah KPK dari penyebut 3 dan 4. menentukan

2.

Keterampilan/teknik cepat

Setelah penanaman konsep dipahami oleh siswa, maka kegiatan keterampilan/teknik cepat perlu pula dilatihkan. Ada beberapa teknik cepat yang biasa dilakukan. a. Bila pembilangnya sama.

Dari pengalaman-pengalaman peragaan luasan maupun kepingan pecahan

3 3 3 2 2 2 2 > > > > > > . Sehingga dapatlah 4 6 8 3 4 6 8 ditentukan bahwa pada pecahan positip, bila pembilangnya sama, maka dapat dilihat bahwa

pecahan yang lebih dari adalah pecahan yang penyebutnya angkanya bernilai lebih kecil. Sedangkan pada pecahan negatif akan sebaliknya.

126

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

b.

Bila penyebutnya sama Pecahan yang penyebutnya sama mudah dibandingkan melalui peragaanpera-gaan luasan maupun kepingan-kepingan pecahan. 5 Contoh : 3

dengan .

3 5 7 7 dengan . 7 7 Pada pecahan positip, bila penyebutnya sama, maka pecahan yang lebih

c.



c.

Pada adalah pecahan positip, bilayang penyebutnya sama, maka pecahan yang lebih dariyang adalah pecahan dari pecahan pembilangnya angkanya lebih dari lain. yang pembilang pembilangnyadan angkanya lebih dari yang lain. Bila penyebutnya tidak sama. Bila pembilang dan penyebutnya tidak sama. Bila pembilang dan penyebutnya tidak sama, maka guru sering kali mengguna-kan silang. tidak Hal ini dapat bila guru telahcara Bila pembilang dancara penyebutnya sama, maka dibenarkan guru sering kali mengguna-kan memberikan konsep atau nalarnya, sehingga siswa mengetahui alasan silang. Hal ini dapat dibenarkan bila guru telah memberikan konsep atau nalarnya, sehingga dari tersebut. demikian silang ini siswa perkalian mengetahui silang alasan dari perkalianMeskipun silang tersebut. Meskipunperkalian demikian perkalian silang semata-mata hanya teknik supaya siswa cepat dapat menentukan hasil. ini semata-mata hanya teknik supaya siswa cepat dapat menentukan hasil. 3 2 3 2 15 8 3 2 ...   berarti ... sehingga 15 … 8, tanda yang tepat adalah “>”, maka  4 5 4 5 20 20 4 5

6.5 Mengubah Bentuk Pecahan Yang Satu ke Bentuk Yang Lain 1. 6.5Mengubah pecahan biasaYang menjadi pecahan desimal Mengubah Bentuk Pecahan Satu ke Bentuk Yang Lain 1. Untuk mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, dicari dahulu Mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal pecahan senilainya yang penyebutnya berbasis sepuluh (persepuluhan, Untuk mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal, dicari dahulu pecahan senilainya perseratusan, perseribuan dan sebagainya). yang penyebutnya berbasis sepuluh (persepuluhan, perseratusan, perseribuan dan sebagainya).

2.

2. Mengubah pecahan biasa menjadi persen atau sebaliknya

Mengubah menjadi persen atau Persen artinya pecahan perseratus, biasa sehingga nama pecahan biasa yangsebaliknya penyebutnya seratus dapat Persen artinya perseratus, sehingga nama pecahan biasa yang diartikan dengan nama persen dengan lambangnya untuk persen adalah %.penyebutnya Dengan demikian seratus dapat diartikan dengan nama persen dengan lambangnya untuk untuk mengubah pecahan biasa menjadi persen, dicari lebih dahulu pecahan senilainya yang persen adalah %. Dengan demikian untuk mengubah pecahan biasa penyebutnya 100. menjadi persen, dicari lebih dahulu pecahan senilainya yang penyebutnya Contoh: 100.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

127

Contoh:



Sebaliknya untuk mengubah persen menjadi pecahan biasa, dapat dilakukan dengan mengubah persen menjadi perseratus, yang selanjutnya disederhanakan. Contoh:



Apabila siswa sudah mengenal FPB, dapat diterapkan kegunannya untuk me-nyederhanakan pecahan Contoh.



3.

Mengubah pecahan biasa menjadi pecahan campuran dan sebaliknya.



Mengubah pecahan biasa (yang pembilangnya lebih dari penyebutnya) men-jadi pecahan campuran dilakukan dengan cara peragaan dan pembagian bersusun sehingga didapat hasil bagi dan sisa Contoh. 14 Ubahlah pecahan menjadi pecahan campuran 5 Jawab :



Hasil bagi (14:5) = 2, sisanya 4 14 Sehingga 2= 5 5

128

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD





Untuk mengubah pecahan biasa menjadi pecahan campuran dapat juga dengan cara pembagian bersusun sebagai berikut.

Sehingga diperoleh

14 4 2= Secara umum dapat 5 5





Bila mengubah pecahan campuran menjadi pecahan biasa maka langkahnya merupakan kebalikan dari mengubah pecahan biasa menjadi pecahan campuran yaitu dengan cara mengalikan. Contoh: 2 Ubahlah 2 menjadi pecahan biasa. 3

6.6 Operasi Pada Pecahan 1.

Penjumlahan Penjumlahan pecahan dapat diperagakan dengan model kongkret (mengguna-kan kertas yang dilipat atau gambar). a. Penjumlahan pecahan yang penyebutnya sama. 2 3 Missal : + =… 6 6

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

129



Peragaan dilanjutkan dengan penjumlahan pecahan-pecahan yang lain. Dapatlah dilihat bahwa: ada pola hubungan yaitu pembilangnya dijumlah se-dangkan penyebutnya tetap.

2+3 5 2 3 = = + 6 6 6 6 4+3 7 4 3 = = + Dan seterusnya 8 8 8 8 2.

Kesimpulan: Penjumlahan pecahan yang berpenyebut sama dapat dilakukan dengan men-jumlah pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap. Dengan memanfaatkan garis bilangan

2 3 Mulai dari nol (0) kekanan menuju dan dilanjutkan lagi, sehingga 6 6 5 2 3 5 menjadi atau + = . Garis tebal menggambarkan hasil akhir. 6 6 6 6 Peragaan dapat dilanjutkan untuk pecahan-pecahan yang lain.



b.

Menjumlahkan pecahan yang penyebutnya tidak sama. Saat anak harus mempelajari materi ini, maka mereka harus diberikan pe-ngalamanpengalaman dalam ilustrasi kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh dapat

130

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

1 dikemukakan cerita berikut ini. Adik mempunyai bagian dari cakenya 1 di atas meja. Kemudian ibu memberinya sepotong4lagi yang besarnya 2 bagian. Berapa kue sekarang ?



Dari peragaan ini tampak bahwa hasil akhir adalah =

1 1 3 + 1= 2 4 4

3 4 1+ 2 3 2 1 2 1 1 1 Tampak pula bahwa = sehingga + Bila = . =+ = 4 4 4 2 4 4 2 4 peragaan ini diulang untuk pecahan –pecahan yang lain dimana penyebut dari pecahan yang dijumlah merupakan kelipatan dari penyebut – penyebut lain, maka anak akan mempunyai pengalaman bahwa bila menjumlah



pecahan dengan mnyebut tidak sama, supaya dapat memperoleh hasil maka penyebutnya harus disamakan terlebih dahulu, yaitu dengan cara mencari pecahan senilainya. Peragaan dan soal di atas masih mudah, karena penyebut yang satu merupa-kan kelipatan dari yang lain. Bila permasalahan berkembang

3 1 8 6 cara bila untuk membantu menentukan penyebut adalah dengan m timbul anak belum belajar tentang KPK. Satu carapersekutuan untuk membantu

mencari+penyebut persekutuan. Kendala timbul bila anak belum belajar te menjadi maka anak harus mencari penyebut persekutuan. Kendala



menentukan penyebutyang persekutuan mendaftarSehingga pecahan- anak memp pecahan-pecahan senilai adalah untuk dengan setiap pecahan. pecahan yang senilai untuk setiap pecahan. Sehingga anak mempunyai pengalaman untuk memperoleh penyebut yang paling nilainya pengalaman untuk memperoleh penyebut yang nilainya kecilpaling yang kecil yang tepat untuk diambil diambil

3 6 9 12 15 18 21       8 16 24 32 40 48 56 1 2 3 4 5 6 7 8        6 12 18 24 30 36 42 48

Ketika siswa memeriksa kedua daftar tersebut, mereka menemukan b Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

131

pecahan mempunyai penyebut yang sama (dilingkari). Hal ini akan memba

menyadari bahwa terdapat lebih dari satu pasang penyebut persekutuan un

      8 24 32 40 1 16 2 3 4 5 648 756 8        6 12 18 24 30 36 42 48 1 2 3 4 5 6 7 8        6 12Ketika 18 siswa 24 memeriksa 30 36 42 kedua48daftar tersebut, mereka menemukan b Ketika siswa memeriksa kedua daftar tersebut, mereka menemukan bahwa pecahan mempunyai penyebut yang yang sama (dilingkari). Hal akan membab beberapa pecahan mempunyai penyebut sama (dilingkari). Halini ini Ketika siswa memeriksa kedua daftar tersebut, mereka menemukan akan membantu anak menyadari bahwa terdapat lebih dari satu pasang menyadari bahwa terdapat lebih darisama satu pasang penyebut persekutuan un pecahanpersekutuan mempunyai penyebut (dilingkari). Halyang ini akan memba penyebut untuk kedua yang pecahan. Salah satu pasangan penyebutnya nilainya kecil (ternyata penyebutnya merupakan KPKkecil dari pecahan. satu pasangan yang nilainya (ternyataun pe menyadariSalah bahwa terdapat lebih daripenyebutnya satu pasang penyebut persekutuan kedua penyebut) dapat digunakan untuk menjumlah atau mengurangi merupakan KPKsatu dari kedua penyebut) dapat digunakan pecahan.pecahan Salah penyebutnya nilainyauntuk kecilmenjumlah (ternyata pe pasangan yangpasangan tidak samayang penyebutnya. Bila KPK sudah dipelajari makapenyebut) selanjutnya model abstrak untuk dapat menjumlah pasangan pecahan yang tidak sama penyebutnya. merupakan KPK dari kedua dapat digunakan dilakukan.





Bilapecahan KPK sudah maka selanjutnya model abstrak dapat dil pasangan yangdipelajari tidak sama penyebutnya.

1 1Bila1  2 sudah 1  1 dipelajari 2 1 2 1 3 model abstrak dapat dil KPK dari 4 adalah 4. Maka penyebutnya   KPK     makaselanjutnya 2 4 2  2 4 1 4 4 4 4 1 1 1 2 11 2 1 2  1 3 KPK dari 4 adalah 4. Maka penyebutnya        KPK adalah 2 dari 1 2  52 4.4 1Maka 1 3 penyebutnya 10 4 3 410  344 13 4 4 adalah 4 KPK dari 3 dan 5 adalah 15. Maka peny        3 5 3  5 5  3 15 15 15 15 2 1 2  5 1  3 10 3 10  3 13 KPK dari 3 dan 5 adalah 15. Maka peny        3 5 3  5 5  3 15 15 15 15 2. Pengurangan

pecahan dapat juga diragakan dengan model kongkret. 2. Pengurangan Pengurangan KPK dari 3 dan 5 adalah 15. Maka penyebutnya adalah 15 a. Dengan menggunakan daerah Pengurangan pecahan dapatluas juga diragakan dengan model kongkret. 2.

Pengurangan

3 a. Pengurangan Dengan menggunakan daerah pecahan dapatluas juga diragakan dengan model kongkret. luas daerah yang diarsir semula adalah

5 a. Dengan menggunakan luas daerah 3 3 luas daerah yang diarsir semula luas daerah yang diarsir semula adalahadalah 5 5 1 Dihapus arsirannya menjadi 1 5 Dihapus arsirannya menjadi 1 5 Dihapus arsirannya menjadi 5

3 1 3 −1 − = 5 35 1 5 3  1 jadi 5 5 5 Contoh peragaan 3 1 diperluas 3  1 sehingga anak mempunyai pengalaman-pengajadi  banyak.  laman yang 5 5 diperluas 5 Contoh peragaan sehingga anak mempunyai pengalaman-penga-lam Dari peragaan-peragaan dapatlah disimpulkan bahwa pengurangan pecahan yang berpenyebut sama dapat dilakukan dengan Contoh peragaan diperluas sehingga anak mempunyai pengalaman-penga-lam Dari peragaan-peragaan dapatlah disimpulkan bahwamengurangkan pengurangan pecahan y pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap.

jadi

sama dapat dilakukan dengan mengurangkan sedangkan penye Dari peragaan-peragaan dapatlah disimpulkanpembilangnya, bahwa pengurangan pecahan y

sama dapat dilakukan dengan mengurangkan pembilangnya, sedangkan penye 132

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

a.

3.

Dengan menggunakan garis bilangan

Catatan Garis tebal menggambarkan hasil akhir. Untuk pecahan yang penyebutnya tidak sama, dengan cara disamakan penye-butnya lebih dahulu, seperti pada operasi penjumlahan Penjumlahan dan pengurangan pada pecahan campuran Materi ini dapat diperagakan dengan menggunakan bangun geometri seperti contoh-contoh berikut ini.

3 2 + 3 = .... 4 3

a.

2



Jadi 23



2 3 2 9 8 17 3 = (2 + 3) + ( + ) = 5 + ( + ) = 5 + + 3 4 3 12 12 12 4 12 + 5 12 5 5 5 =5+ = 5+ + = 6+ =6 12 12 12 12 12 Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

133



1 4

Jadi 5  2

3 1 3 1 3  (5  2)  (  )  3   4 4 4 4 4 Kurang

=



2+

mengambil yang utuh

4 1 3 5 3 2 1    2   2  2 4 4 4 4 4 4 2

4. Pembelajaran Perkalian Pecahan yang Berorientasi pada PAKTEM

4. a.Pembelajaran Perkalian Pecahan yang Berorientasi pada PAKTEM Perkalian Bilangan Asli dengan Pecahan a. Perkalian Bilangan Asli dengan Pecahan Contoh. Contoh. Kelompok 11dengan alatalat pitapita dan dan menyelesaikan masalahmasalah sebagai berikut. 1. 1. Kelompok dengan menyelesaikan sebagaiSiswa A, B, 1 berikut. Siswa A, B,bunga dan Cdengan akan masing-masing membuat bunga masingmeter pita. dan C akan membuat siswadengan memerlukan 1 5 masing siswa memerlukan meter pita. Berapa meter pita yang 5 Berapa meter pita yang diperlukan? diperlukan? Kalimat matematika yang diperoleh adalah

134

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

1 1 1 3 1 3 3 1 atau 3       5 5 5 5 5 5 5

1 1 1 3 + + = atau 5 5 5 5



Kalimat matematika yang diperoleh adalah

2.

Kelompok 2 dengan alat pita. Siswa A, B, dan C akan membuat bunga masing-masing memerlukan 52 m pita. Berapa meter pita yang diperlukan?



Kalimatmatematikayangbersesuaianadalah



Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk memperagakan obyek dan mengemukakan hasil dari penyelesaian soal. Guru dapat membantu kelompok pada saat mengemukakan hasil dan merangkumnya atau memperjelas materi yang dibahas dengan menggunakan chart yang telah disiapkan seperti contoh di bawah ini. Rangkuman untuk memperjelas materi yang telah dibahas adalah sebagai berikut. Contoh 1. 1 Bila masing-masing anak memerlukan m pita, maka 3 anak akan 5 memerlukan … m pita.









1 3 3 ×1 = = 5 5 5

2 2 2 2+2+2 6 + + = = 5 5 5 5 5 atau 3 × 2 = 6 = 3 × 2 dan seterusnya. 5 5 5

Dengan menggunakan konsep penjumlahan berulang akan didapat konsep perkalian sebagai berikut

Dalam hal ini guru dapat pula memberi pengalaman kepada siswa 1 unruk mengukur pita yang panjangnya m sama dengan 20 cm 3 5 dan m sama dengan 60 cm.

5

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

135

Contoh 2. 2 Bila masing-masing anak memerlukan m pita, maka 3 anak memerlukan 5 … m pita.





Dengan menggunakan konsep penjumlahan berulang akan didapat konsep perkalian sebagai berikut.



Bila guru menginginkan hasil akhir dari merupakan pecahan campuran, 5 pecahan campuran 1 1 yaitu maka hasil tersebut dapat diubah menjadi 5 setelah siswa diminta untuk membandingkan dengan pita yang panjangnya 1 1 meter ternyata lebih panjang. Tepatnya adalah 1 meter dan setelah 5 diukur hasilnya adalah 1 meter lebih 20 cm. Hal ini dimaksudkan agar siswa mempunyai keterampilan pula dalam hal pengukuran. Contoh 5. Bila masing-masing anak memerlukan 23 bagian dari kertas folio berwarna, maka 5 anak akan memerlukan … bagian kertas folio.

6





Dari contoh 1 sampai dengan 5 guru bersama siswa membuat kesimpulan hasil dari pola yang terjadi sebagai berikut.

136

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD



Dalam kalimat sederhana dapat dinyatakan bahwa: ”Bilangan asli dikalikan pecahan hasilnya adalah bilangan asli dikalikan pembilangnya, sedangkan penyebutnya tetap” atau dalam bentuk umum



Pada pertemuan berikutnya guru dapat memberikan alternatif pembelajaran 2 dengan media gambar seperti contoh berikut ini. 2 x = …. Artinya ada 2 5 2 satuan -an. Berapa nilai setelah digabung?

5





Dari memperhatikan gambarterlihat sebagai

atau dapat dinyatakan

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

137

Gambar dapat pula dalam bentuk luas daerah seperti contoh berikut



b.

Contoh-contoh tersebut dapat dilanjutkan untuk perkalian-perkalian yang lain sehingga siswa memahami perkalian bilangan asli dengan pecahan dan terampil dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan. Perkalian Bilangan Asli Permasalahan perkalian pecahan dengan bilangan asli ada dalam kehidupan sehari-hari dengan contoh-contoh sebagai berikut. •

2 bagian dari 3 pita tersebut akan dibuat bunga. Berapa meter pita yang dibuat Dita mempunyai pita yang panjangnya 3 meter, dan

bunga? •

3 bagian 5 dari tali dipakai untuk mengikat kardus. Berapa panjang tali yang Dinda mempunyai tali yang panjangnya 5 meter, dan

digunakan untuk mengikat?

1 bagian dari tanah tersebut 4 akan dibangun rumah. Berapa luas tanah bangunan rumah Dika? 2 • Luas kebun Diar adalah 500 m2, dan bagiannya akan ditanami 5 lombok. Berapa luas kebun yang ditanami lombok? Contoh 1. 2 Dita mempunyai pita yang panjangnya 3 meter, dan bagian dari pita tersebut akan dibuat bunga. Berapa meter pita yang 3 dibuat bunga? •



138

Luas tanah Dika adalah 200 m2, dan

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD













Dari gambar terlihat bahwa

2 2×3 6 ×3= 2 = = 3 3 3 Contoh 2 :

2 2 dari3m adalah 2 m atau x 3 = 2 atau 3 3 3

Dinda mempunyai tali yang panjangnya 5 meter, dan bagian dari tali 5digunakan untuk dipakai untuk mengikat kardus. Berapa panjang tali yang mengikat? Guru menyuruh siswa mengukur tali yang panjangnya 5 meter dengan memberi tanda setiap 1 meter

Tali dibagi menjadi 5 bagian yaitu berdasar penyebut dari pecahan yang 3 digunakan dan menentukan bagiannya serta menetapkan hasilnya 5 yaitu 3 m.

U n t u k k a l i m a t m a t e m a ti k a n y a d a p a t d i t u l i s k a n

3 3 × 5 15 ×5 = 3 = = 5 5 5 Contoh 3 : 2 Luas kebun Diar adalah 500 m2, dan bagiannya akan ditanami Lombok. 5 Lombok ? Berapakah luas kebun yang ditanami

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

139



Dari gambar terlihat bahwa luas kebun yang akan ditanami lombok adalah 200 m2



Atau



Rangkuman dari contoh 1 sampai dengan 4 adalah sebagai berikut.



Dalam kalimat sederhana dapat dinyatakan bahwa: ”pecahan biasa dikalikan bilangan asli hasilnya adalah pembilang dikalikan bilangan asli, sedangkan penyebutnya tetap”





2 2 × 500 1000 × 500 = 200 = = 5 5 5

Pada pertemuan berikutnya guru dapat pula memberikan alternatif 2 pembelajaran dengan media gambar seperti contoh berikut. x 2 = …. 2 5 Artinya dari 2. Dengan menggunakan luas daerah diperoleh gambar 5 sebagai berikut.





Contoh dapat diulang untuk mendapatkan bentuk perkalian yang lain sehingga menambah pemahaman siswa tentang materi yang disajikan. Pada tahap berikutnya pembahasan sudah dalam bentuk abstrak yaitu berupa soal yang harus dikerjakan siswa baik dalam bentuk soal cerita maupun soal bukan cerita

140

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

c.



Perkalian Pecahan Dengan Pecahan Permasalahan perkalian pecahan dengan pecahan ada dalam kehidupan nyata sehari-hari dengan contoh-contoh sebagai berikut, 3 3 Ibu mempunyai bagian dari kue cake. Jika ibu menghidangkan 4 berapa bagian yang ibu hidangkan tersebut? 4 nya untuk tamu, maka 3 Satu resep kue roti membutuhkan bagian coklat batangan. Jika kakak 1 5 dibutuhkan ….. bagian. membuat resep maka coklat yang 2 Dalam pelaksanaan pembelajaran guru dapat menyiapkan LK berupa gambar sebagai pengganti dari benda konkret untuk dikerjakan siswa secara kelompok. Sebelum masuk pada kegiatan inti guru mengulang materi prasyarat yaitu meliputi perkalian bilangan asli dengan pecahan; perkalian pecahan dengan bilangan asli; pecahan senilai; dan pecahan campuran. Guru dapat membantu kelompok saat berdiskusi maupun presentasi hasil. Pada akhir kegiatan guru bersama siswa merangkum atau memperjelas materi yang dibahas dengan menggunakan chart yang telah disiapkan seperti contoh di bawah ini. Contoh 1



Ibu mempunyai

• •

3 2 bagian dari kue cake. Jika ibu menghidangkan 4 3 nya, maka yang dihidangkan = … bagian.

Atau dengan model luas daerah didapat gambar sebagai berikut.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

141



Contoh 2 :

3 bagian coklat batangan. Jika kakak 5 1 membuat resep maka coklat yang dibutuhkan … bagian.Untuk 2 mengkongkretkan masalah di atas dapat digunakan media kertas yang



Satu resep roti membutuhkan

mudah dilipat sebagai media individual.

Tahap 1.



Kertas dilipat menjadi 5 bagian yang sama sesuai dengan penyebut dari pecahan yang digunakan pada coklat batangan. Arsir 3 bagian dari lipatan untuk membentuk pecahan



3 . 5

Tahap 2.

3 1 3 menjadi 2 bagian sama atau dari , maka akan terbentuk 5 2 5 lipatan



Lipat





Tahap 3. Ikuti lipatan kecil tersebut sampai seluruh kertas membentuk lipatan kecil 1 3 yang sama. Maka akan terbentuk 10 lipatan kecil, dan dari tersebut 2 3 5 ternyata sama dengan 3 lipatan kecil dari 10 lipatan atau (yang diarsir 10 dobel).



142

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD





Atau dengan model luas daerah didapat gambar sebagai berikut.

Dalam kalimat dapat disimpulkan bahwa: ”pecahan dikalikan pecahan hasilnya adalah pembilang dikalikan pembilang dan penyebut dikalikan a c a a penyebut”atau dalam bentuk umum × . × =

b

d.

d

d

b

Perkalian Pecahan Campuran

Dengan prinsip perkalian sebagai penjumlahan berulang.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

143

Dengan peragaan luasan.

144

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

5.

Pembelajaran Pembagian Pecahan Biasa yang Berorientasi pada PAKEM

a.

Pembagian bilangan asli dengan pecahan biasa. Permasalahan pembagian bilangan asli dengan pecahan ada dalam kehidupan nyata sehari-hari dengan contoh sebagai berikut. • Kakak mempunyai 2 meter pita dan akan dibuat bunga. Masing1 masing bunga memerlukan pita m. Berapa bunga yang dapat 3 dibuat? Bagaimana bila masing-masing bunga memerlukan pita 2 m. Berapa bunga yang dapat dibuat? 3 • Adik mau mengecat kayu panjangnya 4 meter. Setiap jam adik hanya 3 dapat mengecat m. Berapa jam adik menyelesaikan pekerjaannya? 4 Bagaimana bila 1 jam hanya mampu mengecat 2 m. Berapa jam 5 adik menyelesaikan pekerjaannya? Contoh 1 Kakak mempunyai 2 m pita dan akan dibuat bunga. Masing-masing bunga 1 memerlukan pita m. Berapa bunga yang dapat dibuat? 3 Untuk menjawab permasalahan di atas, kita gunakan media gambar dari pita. Ada 2 m pita yang dibuat bunga. Setiap kali membuat bunga berarti kita 1 Mengurang m dari 2 m yang ada sampai pita habis dibuat bunga.





3

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

145

1



1

1

1

1

1

Atau 2 . Dalam kalimat pembagian 1 3 3 3 3 3 menjadi 2: 3

3





Ternyata terlihat bahwa ada 6 bunga yang dapat dibuat dari 2 m pita tersebut. 1 Atau dalam kalimat matematika adalah 2 : 6 = 2 3 Bagaimana bila setiap bunga memerlukan m?



3



Jadi ada 3 bunga yang dapat dibuat. Atau dalam kalimat matematika adalah 2 : 3 = 2



Contoh 2 : Adik mau mengecat kayu yang panjangnya 4 meter. Setiap jam adik hanya 3 dapat mengecat m. Kayu tercat semua dalam … jam.

3

4



3 m kayu memerlukan waktu 1 jam, maka 1 kotak memerlukan 4 1 1 1 waktu jam. Ternyata terlihat bahwa ada 5 jam lebih jam atau 5 3 3 3 16 1 3 jam. Jadi 4 : = 5= . 3 3 4



3 kotak atau

146

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Contoh 3. 1 1 2: = ... dapat diartikan sebagai ada berapa an dalam 2.

3

3

Tampak dalam 2 ada an sebanyak 6, maka Contoh 4: 2 2 : = …..

3



2

Dari garis bilangan tampak bahwa dalam 2 ada an sebanyak 3 atau 2 2 3 :3 =

3



Contoh 5 : 2:

3 = ….. 5







3 1 an dan 3 10 5 3 1 3 1 3 satuan an atau 3 satuan an. Sehingga 2 : = 3= . 3 3 5 3 5 5 Atau dengan luasan sebagai berikut.: Dari garis bilangan tampak bahwa dalam 2 ada 3 satuan

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

147



Dari peragaan-peragaan tersebut ternyata ada pola hubungan sebagai berikut





Pola hubungan yang terbentuk itu perlu diberikan sebagai kata kuncinya kepada siswa yaitu: ”apabila bilangan asli dibagi dengan pecahan biasa maka pembagian berubah menjadi perkalian tetapi pecahannya dibalik (penyebut menjadi pembilang dan pembilang menjadi penyebut)” atau c b dalam bentuk umum a ÷ = a × .

c

d

b.

Pembagian pecahan biasa dengan bilangan asli Permasalahan pembagian pecahan dengan bilangan asli dapat dimunculkan dari contoh sehari-hari sebagai berikut : 3 • Ibu mempunyai roti yang akan diberikan kepada 2 anaknya 4 sehingga masing-masing mendapat bagian sama, maka masingmasing anak akan mendapat roti … bagian. 1 • Adik mempunyai batang coklat yang akan diberikan kepada 3 2 masing-masing mendapat bagian sama. Maka teman-nya sehingga masing-masing temannya akan mendapat coklat … bagian. Contoh 1 :



Ibu mempunyai

3 kue yang akan diberikan kepada 2 anaknya. Masing4 masing mendapat … bagian.

148

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD





Contoh 2 : 1 Adik mempunyai batang coklat yang akan diberikan kepada 3 2 temannya. Masing-masing mendapat coklat … bagian. Guru dapat menggunakan kertas yang dapat dilipat-lipat untuk memperagakan batangan coklat yang dimaksud dalam soal dan beri arsir.

1

Lipat bagian tadi menjadi 3 bagian lagi dan teruskan lipat untuk 1 bagian.2

Contoh 3. 2 5: =… 3 diperagakan sebagai berikut. Dapat

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

149



Dari contoh 1, 2, dan 3 ternyata terdapat pola hubungan sebagai berikut.





c.

Kunci dari pola hubungan tersebut adalah: ”apabila pecahan biasa dibagi dengan bilangan asli maka pembilang dari pecahan tersebut tetap sedangkan penyebutnya dikalikan dengan bilangan aslinya”. Atau dalam bentuk umum Pembagian pecahan biasa dengan pecahan biasa. Permasalahan pembagian pecahan dengan pecahan dapat dicontohkan dalam kenyataan sehari-hari sebagai berikut. 3 • Kakak mempunyai m pita yang akan dibuat hiasan. Masing1 4 masing hiasan memer-lukan pita m. Berapa hiasan yang dapat 4 dibuat? 3 • Ibu mempunyai gula kg yang akan dibuat kue. Satu resep kue 1 4 Berapa resep yang dapat dibuat ibu? memer- lukan kg gula.

2

150

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD



Contoh 1. 3 Kakak mempunyai m pita yang akan dibuat hiasan, dan masing-masing 4 hiasan memerlukan 1 m pita.

4



Dari gambar tampak bahwa ada 3 hiasan yang dapat dibuat dari



Contoh 2.



Ibu mempunyai gula



3 4

3 kg yang akan dibuat kue. Satu resep memerlukan 4 1 kg gula. Banyaknya resep yang dapat dibuat …. 2 Gula yang ada digambarkan ditempatkan pada kantong sebagai berikut.



Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

151



Cara yang lain untuk mendapatkan hasil pembagian pecahan dengan pecahan adalah dengan menyamakan penyebutnya. Karena pada hakekatnya pembagian merupakan pengurangan berulang dengan penyebut yang sama. Agar hasil bagi langsung menunjuk ke bentuk paling sederhana penyamaan penyebut dapat melalui perhitungan KPK.

1 3 : = …….. KPK dari penyebutnya adalah KPK (4, 2) = 4. 2 4 2 3 1 3 Sehingga : = : . Dengan peragaan garis bilangan akan dapat 4 4 2 4 ditemukan hasilnya.





Jadi

3 1 2 3 = 1= : 2 2 4 4

Contoh 2.

1 5 1 : =... dapat diartikan sebagai ada berapa an 3 6 3 5 pada bilangan 6

152

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

.

1 5 : = …… 3 6

Sehingga

KPK dari penyebutnya = KPK (6, 3) = 6

5 1 5 2 : = : 6 3 6 6

Dari kedua contoh diatas diperoleh :

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

153

6.7 Terapan Perhitungan Dengan Menggunakan Pecahan Perhitungan dengan menggunakan pecahan banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Contoh. 1. Pak Toha bekerja sebagai pembuat tongkat. Untuk membuat sebatang 3 tongkat diperlukan kayu yang panjangnya m. Jika Pak Toha mempunyai 4 kayu yang panjangnya 3 m, berapa batang tongkat yang dapat dibuat? Jawab.

2.



3.



154

Ani akan membuat hiasan bingkisan lebaran dari pita. Setiap bingkisan 1 memer-lukan pita yang panjangnya 2 m. Berapa m pita yang diperlukan untuk membuat hiasan 5 bingkisan? 2Jawab.

Pak Tohar dapat menyelesaikan pembuatan sebuah lemari dalam waktu 6 hari. Jika pekerjaan itu dikerjakan secara bersama-sama dengan Pak Karyo, ternyata dapat diselesaikan dalam waktu 2 hari. Seandainya pekerjaan itu diselesaikan oleh Pak Karyo sendiri, berapa hari akan selesai? Jawab.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

6.8 Pecahan Sebagai Perbandingan (Rasio) Sebuah pecahan yang menunjukkan rasio tidak sama dengan pecahan yang mewakili bagian dari keseluruhan (utuh). Bila pecahan biasa digunakan untuk menunjukkan rasio akan mempunyai interpretasi yang berbeda dibandingkan pecahan sebagai bagian yang utuh. Sebagai contoh: pembilang dari sebuah pecahan sebagai rasio mungkin menyatakan jumlah obyek dalam kumpulan obyek. Oleh karena itu konsep pecahan sebagai rasio harus jelas bagi anak. Untuk memahami mengapa pecahan merupakan perbandingan (rasio) dapat dipikirkan dalam situasi seperti ini. Contoh 1. ″Dinda dan Dita membagi tanggungjawab mengelola toko kelontong. Dinda dalam 1 minggu menjaga toko selama 4 hari, sedangkan Dita 3 hari. Apabila Dinda telah menjaga toko selama 20 hari, berapa harikah Dita telah menjaga tokonya″. Rasio untuk masalah di atas adalah 4 : 3 (dibaca 4 dibanding 3). Sebuah pernyataan dapat digunakan untuk memecahkan masalah itu.

Apabila anak telah berlatih beberapa kali dengan permasalahan yang sejenis dan telah memahaminya maka perkalian silang dan teknik menghitung cepat dapat dilatihkan.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

155

Jadi Dita telah menjaga tokonya selama 15 hari. Contoh 2. Contoh 2. badan Dhiar dan Dhika masing-masing 150 cm dan 180 cm. Maka perban-dingan Tinggi Tinggi badan Dhiar dan Dhika masing-masing 150 cm dan 180 cm. Maka Dhiar dan Dhika adalah 150 : 180 atau 5 : 6 dengan masing-masing dibagi 30 yang di perban-dingan tinggi Dhiar dan Dhika adalah 150 : 180 atau 5 : 6 dengan sebagai pembanding. dapat dikatakan bahwa tinggiSehingga Dhiar : tinggi masing-masing dibagi 30Sehingga yang dikatakan sebagai pembanding. dapat Dhika = 5 : 6 dikatakan bahwa tinggi Dhiar : tinggi Dhika = 5 : 6 (baca 5 dibanding 6) atau 5 dibanding 6) atau tinggi Dhiar adalah (baca 5 per enam) tinggi Dhika. tinggi Dhiar adalah 5 (baca 5 per enam)6tinggi Dhika. Dengan demikian6 dapat disimpulkan bahwa perbandingan 5 : 6 dapat dinyatakan Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbandingan 5 : 6 dapat 5 5 5 , 6dan dinyatakan perbandingan 6 :sebagai 5 dapatpecahan dinyatakan pecahan sebagai , dan pecahan perbandingan : 5 dapat dinyatakan . 5 6 6 6 sebagai pecahan .

6

Contoh 3. Contoh 3. Panjang dan lebar suatu persegipanjang mempunyai perbandingan 5 : 3. Panjang dan lebar suatu perbandingan 5 : 3. Jika luas persegip Jika luas persegipanjang itupersegipanjang 240 cm2, maka mempunyai tentukan ukuran panjang dan lebar 2 dariitupersegi-panjang tentukan ukuran panjang dan lebar dari persegi-panjang itu. 240 cm , maka itu. Penyelesaian. Diketahui: p : l = 5 : 3 Penyelesaian. Diketahui: Luas pp = 240 cm2. p : l = 5 : 3 2 Jawab. Luas 2pp = 240 cm . Luas pp = 240 cm Jawab. 2 Misal pembandingnya n maka panjang dan lebar dari persegipanjang Luas pp = 240 cm itu adalah Misal pembandingnya n maka panjang dan lebar dari persegipanjang itu adalah 5n : 3n.

2

Luas persegipanjang = p × l = 240 cm Jadi 5n × 3n2= 240 2 240 cm 3n 15n = 240 2 15n : 15 = 240 : 15 2 n = 16 5n n = 16 = 4 Jadi panjang = 5n = (5 × 4)cm = 20 cm lebar = 3n = (3 × 4)cm = 12 cm. Jadi panjang = 5n = (5 × 4)cm = 20 cm lebar = 3n = (3 × 4)cm = 12 cm. 156

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Latihan Soal 1.

2.

3. 4. 5.

Pak Kantun dapat menyelesaikan pengecetan tembok dari sebuah bangunan dalam waktu 6 hari. Sedangkan pak Marsono dapat menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam waktu 3 hari. Jika mereka bekerja bersama-sama, maka dalam waktu berapa hari pekerjaan tersebut dapat diselesaikan? Lima tahun yang lalu umur Ana 2 kali umur Rani. Sedangkan 15 tahun 1 yang akan datang umur Ana 1 kali umur Rani. Berapa umur Ana dan 3 Rani sekarang? Perbandingan uang Arif dengan uang Feri adalah 4 : 7. Jumlah uang mereka Rp 55.000,00. Berapa selisih uang mereka? Tiga liter bensin dapat untuk menempuh jarak 60 km. Bila 8 liter bensin, berapa jarak yang dapat ditempuh? Perbandingan panjang dan lebar pada suatu persegipanjang adalah 5 : 3. a. Jika luas persegipanjang adalah 240 cm2, maka tentukan ukuran dari panjang, lebar dan kelilingnya. b. Jika kelilingnya 160 cm, tentukan ukuran dari panjang, lebar dan luasnya.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

157

158

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

Daftar Rujukan Baroody, A.J., & Wilkins, J. L. M. 1999. The Development of Informal Counting, Number, and Arithmetic Skills and Concepts. In J. Copeley (Ed), Mathematics in the Early Years, Birth to five (Hal. 48-65), Reston, VA: National Council of Teachers of Mathematiscs Bennett, A. B. Jr. Burton, L. J., & Nelson, L. T. 2012. Mathematics for Elementary Teachers: A Concentual Approach, Ninth Edition. New York: The McGrawHill Companies, Inc. Burkhart, J. 2009. Building Number from Prime. Mathematics Teaching in the Middle school, 15(3), 157-167. D’Augustine, Charks. 1992. Teaching Elementary School Mathematics. New York: Harper Collins Publishers. Fuson, K. 2003. Developing Mathematical Power in Whole Number Operations. Dalam J. Kilpatrick, W.G. Martin, & D. Schifter (Eds), A research companion to Priciples and Standardsnin School Mathematics (Hal. 68-94). Reston, VA: NCTM. Kennedy, Leonard. 1994. Guiding Children’s Learning of Mathematics. California: Wadsworth Publishing Company. Kurz, T. L & Garcia, J. 2012. Moving beyond Factor Trees Mathematics Teaching in The Middle School, 18(1), 52-56. Musser, G. L. Burger, W.F., & Peterson. 2011. Mathematics of Elementary Teachers: A Contemporary Approach, Ninth Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc. Sonnabend, T. 2010. Mathematics for Teachers: An Interactive Approach for Grades K-8, Fourt Edition. Belmont, CA: Brooks/Cole, Cengage Learning. Troutman, Andria. 1991. Mathematics: A Good Beginning, Strategies for Teaching Children. California: Brooks/Cole Publishing Company.

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD

159

160

Pembelajaran Bilangan untuk PGSD