Pembelajaran biologi dengan group investigation

Kompetensi (KBK) yang kemudian disempurnakan lagi dengan KTSP. Dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia, ... (internet) dalam pembuatan makalah...

0 downloads 46 Views 794KB Size
Pembelajaran biologi dengan group investigation dan cooperative integrated reading composition ditinjau dari minat dan kedisiplinan belajar siswa ( Studi Kasus pada Materi Sistem Pencernaan pada Manusia di SMP Negeri I Colomadu Tahun Ajaran 2009/2010 )

TESIS Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Magister Program Studi Pendidikan Sains

OLEH : PENTI HANDAYANI S.830908033

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan senantiasa memperdayakan diri dalam nuasa pendidikan yang mengarah pada perbaikan dan penyempurnaan-penyempurnaan. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari ketidaktuntasan belajar siswa jika dilihat dari Standar Ketuntasan Batas Minimal (SKBM) Pemerintah sebesar 75% sedangkan batas ketuntasan yang ditetapkan sekolah-sekolah belum sesuai dengan harapan yang ditetapkan pemerintah, sehingga setiap sekolah menetapkan batas ketuntasan belajar yang berbeda-beda sesuai dengan masalah-masalah yang dihadapi sekolah tersebut. Selain itu juga ditunjukkan melalui usaha peningkatan kualitas pendidikan yang salah satunya yaitu melakukan berbagai perubahan kurikulum sebagaimana telah diberlakukan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang kemudian disempurnakan lagi dengan KTSP. Dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia, kegiatan belajar mengajar masih didominasi pada pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) sebagai sumber informasi yang akan membentuk karakter pasif pada diri siswa. Hal ini akan menyebabkan siswa mengorganisasikan sendiri informasi yang diperoleh sehingga mengakibatkan kerja sama dalam poses belajar mengajarnya rendah. Akan tetapi, belajar sekarang ini tidak lagi dipandang sebagai menerima informasi untuk disimpan dalam memori siswa yang diperoleh melalui pengulangan praktek (latihan) dan penguatan. Namun, siswa belajar dengan mendekati setiap persoalan/ tugas baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki, mengasimilasikan informasi baru, dan

1

membangun pengertian sendiri. Untuk itu, dalam proses pembelajarannya diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang memberikan inovasi baru dalam menanggapi setiap persoalan yang muncul. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan cooperative learning yang memberikan kesempatan siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam belajar bekerja sama atau belajar kelompok untuk mencapai tujuan belajar. Dalam pendekatan cooperative learning diharapkan siswa mampu bekerja sama satu sama lainnya, berdiskusi dan berdebat, menilai kemampuan dan mengisi kekurangan anggota lainnya. Bekerja sama atau belajar kelompok bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan, karena hal tersebut telah banyak diterapkan oleh guru dalam proses pembelajarannya. Namun akhir-akhir ini metode kerja sama atau belajar kolompok mengalami kemajuan yang sangat pesat berhubungan dengan ditemukannya inovasi-inovasi baru dalam metode belajar kelompok. Slavin (1995:5) mengenalkan lima macam pembelajaran cooperative antara lain: 1) Student Teams Achievement Division (STAD), 2) Teams Games Tournaments (TGT), 3) Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC), 4) Team Accelerated Instruction (TAI), dan 5) Jigsaw. Terkait dengan mata pelajaran Biologi materi sistem pencernaan makanan pada manusia yang merupakan mata pelajaran yang tidak bisa diamati secara langsung (abstrak) dan banyak istilah-istilah asing, maka perlu mendapat perhatian dalam keterampilan membaca dan pemahamannya. Perhatian itu perlu diberikan lebih intensif karena kemampuan membaca siswa di SMP N 1 Colomadu sangat rendah. Hal ini terlihat dari kecenderungan siswa yang lebih suka membaca

rangkuman daripada isi meteri tersebut. Penelitian-penelitian yang terkait dengan kemampuan membaca siswa sudah terpublikasikan luas. Dalam hal ini, Masduki (dalam Depdikbud, 1997:36) mengungkapkan bahwa “survei tim International Association for the Evaluation of Education Assessment (IAEA) tentang kemampuan membaca siswa Indonesia terungkap hasil sebagai berikut: (1) siswa SD 36,1% (peringkat 26 dari 27 negara) yang disurvei, (2) siswa SMP 51,7% (di bawah negara Hongkong 75,5%, Singapura 74,0%, Thailand 68,1%, dan Filipina 52,6%)”. Temuan survei tersebut menggambarkan bahwa pembelajaran membaca masih belum terkembangkan secara maksimal di sekolah sehingga memperlemah minat baca siswa. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan membaca dan pemahaman peserta didik maka diperlukan inovasi metode pembelajaran yang tepat. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca dan pemahaman siswa yaitu metode cooperative integrated reading composition. (http://mufari.files.wordpress.com.03Oktober2008) Metode cooperative integrated reading composition merupakan metode baru dalam bidang pendidikan dan merupakan salah satu bentuk aplikasi dari teori konstruktivisme yang menuntut siswa untuk membangun sendiri konsep dari materi yang dipelajari. Keberhasilan penerapan metode cooperative integrated reading composition sangat bergantung pada keaktifan siswa dalam bekerja sama dalam kelompok yang mempunyai kemampuan heterogen. Sejalan dengan temuan survei Eric (2007) dalam WWC intervention report: cooperative integated reading and composition menyatakan “The descriptive information for this program was obtained from publicly available sources: the research literature (Bramlett, 1994; Skeans,

1991). The WWC requests developers to review the program description sections for accuracy from their perspective. Further verification of the accuracy of the descriptive information for this program is beyond the scope of this review”. Selain itu penelitian yang terkait erat dengan peningkatan kemampuan membaca pada jenjang SMP telah dilakukan oleh Mahmudah (2007) yang menemukan bukti bahwa pembelajaran membaca dan menulis dapat dilakukan dengan menerapkan metode Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC). Dalam penelitian itu, siswa diarahkan agar mengaitkan pengetahuan dan pengalaman dengan isi bacaan, memprediksi isi bacaan sebelum membaca, dan mencocokkan prediksi pada saat membaca, dan membuat prediksi baru yang didasarkan pada pengetahuan yang diperoleh. Sedangkan Herbert Thelen memperkenalkan bahwa Group Investigation (GI) melibatkan siswa dalam merencanakan topik-topik yang akan dipelajari dan bagaimana cara menjalankan. Guru dalam menerapkan pendekatan GI biasanya membagi kelasnya menjadi kelompok-kelompok heterogen, dimana siswa bisa memilih topik-topik untuk dipelajari, melakukan investigation lebih mendalam terhadap sub-sub topik yang dipilih, kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporan. Jadi Group Investigation adalah suatu metode pembelajaran kooperatif dimana guru dan siswa bekerja sama dalam membangun pembelajaran. Prosedur dalam perencanaan bersama didasarkan pada pengalaman masing-masing siswa, sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan yang diperlukan. (http://mas-devid.blogspot.com/search/label/Cooperative%20Learning)

Metode Group Investigation merupakan perpaduan antara bidang sosial dan kemahiran dalam berkomunikasi dengan intelektual pembelajaran dalam mensintesis dan menganalisis permasalahan. Group Investigation tidak dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak ada dukungan dialog dari setiap anggotanya atau mengabaikan dimensi lain dari afektif-sosial dalam pembelajaran kelas. Dengan diterapkannya metode Group Investigation diharapkan proses pembelajaran dapat menghasilkan proses belajar yang lebih baik dan siswa lebih menyeluruh dalam mendalami materi yang disampaikan guru. Hal ini sejalan dengan jurnal penelitian I Gusti Ngurah Japa yang menyatakan bahwa “ penerapan investigation matematika, cara belajar siswa dapat ditingkatkan. Peningkatan cara belajar siswa tersebut dapat dilihat dari antusiasme dan kerjasamanya dalam belajar kelompok. Di samping itu, siswa tampak aktif, kreatif, dan produktif dalam belajar”. Hal ini dipertegas kembali pada penelitian Siti Masitoh (2006) yang menunjukkan bahwa model pembelajaran group investigation akan membentuk siswa aktif, memiliki responding skills yang berakibat meningkatnya prestasi balajar. Terkait

dengan

penerapan

metode Cooperative Integrated

Reading

Composition dan Group Investigation dalam kegiatan pembelajaran Biologi, hasil observasi menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran Biologi di SMP N 1 Colomadu masih menerapkan pembelajaran konvensional, dalam hal ini guru sebagai sumber informasi atau teacher centered. Proses pembelajaran konvesional ini akan berpengaruh terhadap kebiasaan belajar siswa yang lebih cenderung untuk mengorganisasikan sendiri pengetahuan yang diperoleh sehingga akan berpengaruh terhadap prestasi belajar baik kemampuan kognitif, kemampuan afektif, dan

kemampuan psikomotorik. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya KKM yang ditetapkan sekolah sebesar 64, sedangkan ketentuan KKM dari pemerintah sebesar 75. Berdasarkan hasil observasi dari nilai lagger siswa kelas VII semester dua pada mata pelajaran Biologi diperoleh 6,4% siswa berada di bawah KKM sekolah dan 93,6% berada di atas di atas KKM sekolah. Akan tetapi, apabila diterapkan ketentuan KKM pemerintah diperoleh 79,5% yang di bawah KKM dan 20,5% yang berada di atas KKM. Sehingga hal ini masih sangat jauh dengan harapan pemerintah dalam peningkatan pemahaman dan pengetahuan siswa. Dalam proses pembelajaran terlihat kurang antusiasnya siswa dalam menanggapi dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru sehingga siswa bersifat pasif dalam mengembangkan pengetahuan. Selain itu, adanya faktor ekonomi keluarga juga berpengaruh terhadap keaktifan siswa dalam mencari sumber pengetahuan, misalnya masih rendahnya penggunaan fasilitas teknologi informasi (internet) dalam pembuatan makalah. Dalam hal ini siswa lebih cenderung menggunakan buku paket dan LKS sehingga pemahaman pengetahuannya kurang luas dan tidak peka terhadap perkembangan pengetahuan. Padahal banyak sekali penemuan-penemuan atau karya ilmiah yang dapat dijadikan sumber belajar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang menarik untuk dipelajari langsung dari fenomena yang terjadi di sekitar siswa misalnya: Fungsi Alat Tubuh Tumbuhan, Sistem Gerak pada Vertebrata dan Avertebrata, Sistem Pencernaan pada Manusia, Sistem Pencernaan Hewan, dan lain-lain. Berdasarkan gambaran mengenai pembelajaran Biologi di SMP Negeri I Colomadu di atas, dapat diketahui bahwa selama ini siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran dan guru belum

memperhatikan faktor dalam diri siswa yang juga berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Minat seseorang menyangkut dua hal yaitu minat pembawan dan minat yang muncul karena adanya pengaruh dari luar. Minat pembawaan biasanya muncul berdasarkan bakat yang ada, akan tetapi minat seseorang dapat berubah karena dipengaruhi faktor dari lingkungan dan kebudayaan, spesialisasi bidang studi yang menarik minat seseorang akan dapat dipelajari dengan sebaik-baiknya dan sebaliknya, bahwa bidang studi yang tidak sesuai dengan minatnya tidak akan mempunyai daya tarik baginya. Maka dari itu, dalam kegiatan belajar mengajar sangat diharapkan jenis minat yang didasari oleh bakat yang kemudian dikembangkan secara maksimal. Hal ini sejalan dengan jurnal penelitian La Ode Hadini (2008) di SMP Negeri 14 Kendari yang menunjukkan indikator adanya kemajuan dan keberhasilan siswa, diantaranya siswa mulai bergairah dan semangat dalam belajar fisika, siswa bertanya dan mengemukakan gagasan, menyelesaikan tugas-tugas, dan antusias siswa mendengarkan penjelasan guru mulai tumbuh. Terlebih setelah siklus 2 dilaksanakan, menunjukkan prosentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 88%, yang berarti tujuan pembelajaran telah tercapai. Selain itu sikap kedisiplinan juga sangat diperlukan di dalam kegiatan pembelajaran, karena dengan sikap disiplin anak akan mengetahui perilaku mana yang baik dan mana yang buruk dan mendorong untuk berperilaku sesuai dengan aturan yang ada. Akan tetapi pada kenyataannya masih banyak siswa yang mengabaikan waktu belajar hanya untuk bermain sehingga banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia, selain itu kurangnya rasa tanggungjawab siswa terhadap

tugas yang diberikan guru. Rendahnya rasa disiplin pada siswa ini akan berpengaruh terhadap hasil belajar yang mereka capai. Hal ini sejalan dengan penelitian Suharjono (2004) yang menunjukkan bahwa sikap disiplin siswa terhadap tata tertib sekolah akan meningkatkan prestasi belajar, maka hal ini perlu dipahami dan disosialisasikan kepada warga sekolah, orang tua, dan masyarakat, serta bagi siswa endiri, diharapkan dapat memahami arti serta manfaat tata tertib sekolah dan melaksanakannya dengan penuh kesadaran, agar tercipta situasi dan kondisi sekolah yang kondusif, sehingga tercapai siswa memiliki sikap disiplin serta memiliki prestasi belajar yang tinggi.

B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka dapatlah diidentifikasi permasalahan sebagai berikut: 1. Proses pembelajaran pada SMP N 1 Colomadu masih berpusat pada guru (teacher centered) sebagai sumber informasi sehingga perlu adanya inovasi pendekatan pembelajaran 2. Siswa kurang aktif belajar bekerjasama dalam kelompok. Padahal metode pembelajaran yang dapat meningkatkan kerjasama dalam kelompok telah banyak ditemukan, antara lain Student Team Achievement Division, Team Geam Tournament, Cooperative Integrated Reading Composition, Team Acelerated Instruktion, Jigsaw, Group Investigation dan lain-lain. 3. Siswa cenderung mengorganisasikan sendiri informasi yang diperoleh tanpa bekerja sama dengan orang lain sehingga akan berpengaruh terhadap prestasi

belajar Biologi. Padahal dalam pengambilan hasil belajar meliputi kemampuan kognitif, kemampuan afektif, dan kemampuan psikomotorik. 4. Tidak diperhatikannya faktor internal siswa yang juga berpengaruh terhadap prestasi belajar, padahal banyak sekali faktor internal siswa yang meliputi: kemampuan awal, minat, motivasi, keaktifan, kekreatifan, kecerdasan emosional, taraf intelegensi dan lain-lain. 5. Minat belajar yang rendah menyebabkan ketidaktertarikan pada bidang studi tertentu sehingga mempengaruhi prestasi belajar siswa. 6. Masih terdapat kedisiplinan yang rendah dalam diri siswa yang menyebabkan rasa tanggung jawab dalam belajar berkurang.

C. Batasan Masalah Agar masalah tersebut dapat dikaji, diteliti secara mendalam dan jelas arahnya, maka dalam penelitian ini perlu dibatasi permasalahan sebagai berikut: 1. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII SMP N 1 Colomadu pada semester ganjil tahun ajaran 2008/209. 2. Pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan cooperetive learning yang dibatasi pada metode GI ( Group Investigation ) dan Metode CIRC ( Cooperative Integrated Reading Composition ) 3. Faktor internal yang ditinjau dalam penelitian ini dibatasi pada minat dan kedisiplinan belajar. 4. Prestasi belajar siswa yang diamati dalam penelitian ini dibatasi pada kemampuan kognitif siswa yang diperoleh dari tes formatif.

D. Perumusan Masalah Untuk mempermudah pemecahan masalah penelitian ini dan untuk memperjelas permasalah yang ada maka dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

Apakah ada pengaruh metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa?

2.

Apakah ada pengaruh minat siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa?

3.

Apakah ada pengaruh kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa?

4.

Apakah ada interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa?

5.

Apakah ada interaksi antara kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa?

6.

Apakah ada interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa?

7.

Apakah ada interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa?

E. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan dan pembatasan masalah di atas, maka dalam penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui: 1. Pengaruh metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. 2. Pengaruh minat siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. 3. Pengaruh kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. 4. Interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. 5. Interaksi antara kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. 6. Interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. 7. Interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa.

F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diupayakan mempunyai manfaat sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis Manfaat dari penelitian ini dapat digunakan untuk memotivasi guru dalam mencari dan mengembangkan metode pembelajaran yang bervariasi guna meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi serta hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan sehingga dapat digunakan sebagai dasar penelitian-penelitian selanjutnya. 2. Manfaat Praktis a. Dengan pembelajaran kooperatif diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan khususnya hasil belajar biologi siswa. b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat diterapkan di sekolah-sekolahan khususnya pada materi yang berhubungan dengan lingkungan maupun kehidupan nyata. c. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan tentang ada tidaknya pengaruh faktor internal siswa terhadap hasil belajar biologi khususnya minat belajar dan kedisiplinan belajar.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka

1. Hakekat Belajar a. Pengertian Belajar Pada dasarnya belajar adalah hasil dari proses interaksi anatara individu dengan lingkungan sekitar. Belajar dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti mengalami, mengerjakan, memahami dan sebagainya. Sehingga berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan tergantung pada proses belajar yang dialami siswa. Maka pemahaman yang benar mengenai belajar mutlak diperlukan oleh pendidik. Belajar menurut Slameto (1995: 2) yang mengatakan bahwa ”belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”. Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Hamalik, Oemar (2001: 36) bahwa ” belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan ”. Siswa dapat memperoleh hasil belajar dengan baik jika mau berusaha belajar dengan rutin. Sehingga dengan belajar rutin akan merubah sikap, tingkah laku, dan pola pikir yang terarah. Selain hal-hal tadi, dibutuhkan juga pengalaman yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Dari beberapa uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa proses belajar dapat diartikan sebagai segala sesuatu perubahan atau apa yang telah

13

dilakukan seseorang, termasuk kedalam tingkah laku yang secara langsung dapat diamati (misalnya: menulis berhitung, berdiskusi, dan sebagainya) serta tingkah laku yang secara tidak langsung dapat diamati (misalnya: berpikir, mengamati, mengingat dan sebagainya) yang terjadi dalam periode waktu yang cukup panjang dan relatif menetap. b. Teori-Teori Belajar Teori-teori belajar yang mendasari pendekatan cooperative learning yaitu teori belajar konstruktivisme. Menurut teori konstruktivis ini siswa harus menemukan sendiri dan menstransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Disini guru dapat memberika kesempatan kepada siswa untuk menemukan

atau

menerapkan

ide-ide

mereka

sendiri.

Beberapa

pemikir

konstruktivisme antara lain Piaget yang melihat konstruksi individu yang paling utama (konstruktivisme individu), sedangkan Vygotsky

menekankan berbagai

konstruksi social dalam pembentukan pengetahuan (konstruktivisme sosial). 1) Teori Pembelajaran Piaget Jean Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu kerena melakukan interaksi secara terus menerus dengan lingkungan. Dalam hal ini, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak aktif memanipulasi dan aktif berinteraksi dengan lingkungannya sehingga peran guru hanya sebagai fasilitator. Dengan berinteraksi individu akan memperoleh skema yang menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu. Proses ini

dapat diaplikasikan melalui asimilasi dan akomodasi. Asmilasi merupakan proses kognitif dimana individu menginterprestasikan presepsi, konsep atau pengalaman kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya, sedangkan akomodasi terjadi ketika individu harus merubah pola berpikirnya untuk merespon terhadap situasi yang baru. Menurut Wilis, Ratna (1989), menyatakan bahwa adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Jadi perkembangan kognitif adalah hasil dari penggabungan asimilasi dengan akomodasi. Apabila dengan proses asimilasi tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan maka terjadi ketidaksetimbangan kemudian terjadi akomodasi sehingga struktur yang sudah ada mengalami perubahan atau struktur baru timbul. Menurut Piaget implikasi teori kognitif pada pendidikan yaitu 1) memusatkan perhatian kepada cara berpikir atau proses mental anak, tidak sekedar kepada hasilnya. Guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada hasil tersebut. 2) mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar. Dalam proses pembelajaran menekankan pengajaran pengetahuan jadi ( ready made knowledge ) dimana anak didorong menentukan sendiri pengetahuan itu melalui interaksi spontan dengan lingkungan, 3) memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan perkembangan. 4) mengutamakan peran siswa untuk saling berinteraksi (Yasa, Doantara. 2008). Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan bukanlah kumpulan fakta atau konsep yang siap disimpan tetapi diperoleh melalui interaksi dengan lingkungan.

Implikasi teori piaget dalam proses perkembangan kognitif pada materi sistem pencernaan makanan, yaitu: 1) asimilasi: siswa mengetahui organ-organ yang berkaitan dengan pencernaan makanan dengan konsep proses pencernakan makanan berlangsung dari mulut hingga keluar dari anus, 2) akomodasi: guru menyajikan torso sistem pencernaan makanan pada manusia tanpa menyebutkan nama-nama organ dalam torso. Selanjutnya, guru meminta siswa mengamati dan mencatat organorgan yang berkaitan dengan sistem pencernaan makanan. Siswa menemukan organorgan yang berkaitan dengan sistem pencernaan dan mendefinisikan jalannya proses pencernakan makanan. Hasil pengamatan tersebut menimbulkan pertentangan dalam diri siswa terkait dengan konsep pencernakan makanan. Kemudian siswa mengidentifikasi kembali organ-organ yang menghasilkan kelenjar atau enzim yang dapat membantu proses pencernakan makanan. Siswa menemukan bahwa selain organ pencernaan masih ada kelenjar pencernaan yang membantu proses pencernakan makanan seperti kelenjar sub lingualis, kelenjar mandibularis, kelenjar parotis yang terdapat pada organ mulut, kelenjar pankreas dan enzim-enzim lain seperti enzim lipase, amylase, protease, kasein dan lain-lain. 2) Teori Pembelajaran Vygotsky Selain Piaget, tokoh konstruktivis lain yaitu Vygotsky yang lebih menekankan pada pentingnya aspek sosial belajar (Arends, 2008: 47). Inti teori Vygotsky ini adalah menekankan interaksi antara aspek “internal” dan “eksternal” dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya. Vygotsky juga mengungkapkan bahwa “pembelajaran terjadi

saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu berada dalam zone of proximal development mereka” (Yasa, Doantara. 2008). Zone of proximal development adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat kemampuan perkembangan potensial yang ditunjukkan dalam kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Implikasi teori Vygotsky dalam proses pembelajaran yaitu dengan membentuk kelas kooperatif dimana siswa dapat saling berinteraksi dan saling memunculkan gagasan-gagasan dalam pemecahan masalah yang efektif dalam masing-masing zone of proximal development mereka. Sehingga dalam proses pembelajarannya siswa dapat bertukar pendapat atau gagasan yang pada akhirnya diperoleh solusi terhadap maalah yang dihadapi. Oleh karena itu, teori belajar Vygotsky yang merupakan teori belajar sosial sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif sosial yaitu interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah 3) Teori Pembelajara Bruner Bruner mengemukakan, bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu ialah a) memperoleh informasi baru, b) transformasi informasi, dan c) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Bruner menyebut pandangannya tentang belajar atau pertumbuhan kognitif sebagai konseptualisme instrumental. pandangan ini berpusat pada dua prinsip, yaitu: a)

pengetahuan seseorang tentang alam didasarkan pada model-model tentang kenyataan yang dibangunnya, dan b) model-model semacam itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan seseorang, kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang bersangkutan. Implikasi proses perkembangan kognitif berdasarkan teori bruner pada materi sistem pencernaan makanan, yaitu: 1) memperoleh inforamsi baru: siswa menggali sumber pengetahuan dari berbagai media pembelajaran sehingga mendapatkan informasi tentang sistem pencernakan makanan pada manusia, 2) transformasi informasi: guru membantu siswa dalam penstransformasian informasi dalam bentuk presentasi didepan kelas. Selanjutnya, guru meminta siswa untuk melaksanakan presentasi di depan untuk menstransformasikan informasi yang telah diperoleh, 3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan: guru membimbing siswa untuk melakukan pengujian terhadap informasi yang diperoleh sehingga diperoleh ketepatan antara teori dengan informasi yang ada. c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar Belajar pada umumnya merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik itu faktor internal maupun eksternal yang pada akhirnya akan diperoh hasil belajar. Menurut Mulyasa, Enco (2004: 191) keberhasilan belajar dipengaruhi oleh: 1) Faktor-faktor dalam diri individu (internal) Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri individu. Faktor ini meliputi: a) faktor fisiologis, yang menyangkut keadaan jasmani atau fisik individu yang dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu keadaan jasmani pada umumnya dan

keadaan jasmani tertentu terutama panca indera. Kondisi jasmani yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ-organ khusus siswa seperti tingkat kesehatan indera penglihatan dan pendengaran juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerap informasi dan pengetahuan yang disajikan di kelas; b) faktor psikologis yang meliputi tingkat kecerdasan, sikap, bakat, minat dan motivasi. Jadi faktor internal yang mempengaruhi belajar adalah faktor fisiologi dan faktor psikologi. 1) Faktor-faktor luar diri individu (eksternal) Faktor eksternal merupakan dari luar individu. Faktor ini meliputi: a) faktor sosial yang menyangkut hubungan antar manusia yang terjadi dalam berbagai situasi sosial, meliputi lingkungan keluarga, sekolah, teman, dan masyarakat pada umumnya; b) faktor non-sosial yaitu faktor-faktor lingkungan yang bukan sosial seperti lingkungan alam fisik misalnya keadaan rumah, ruang belajar, fasilitas belajar, buku-buku, dan sebagainya. Waktu yang lama bukanlah jaminan prestasi belajar yang dihasikan akan maksimal, sebab bukan waktu yang penting dalam belajar melainkan kesiapan sistem memori siswa dalam menyerap, mengelola, dan menyimpan informasi dan pengetahuan yang dipelajari siswa. Jadi faktor eksternal yang mempengaruhi belajar adalah faktor sosial dan non-sosial. 2. Pendekatan Pembelajaran Proses belajar mengajar memerlukan suatu pendekatan dan metode supaya tujuan pembelajaran tercapai. Menurut Sanjaya, Wina (2008: 127) ”pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran”.

Jadi dalam suatu pembelajaran dapat menggunakan beberapa pendekatan sesuai yang dengan materi pembelajaran yang ada, misalnya pendekatan Cooperetive Learning yang membutuhkan kerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Pada dasarnya cooperatif laerning adalah suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Coopertaif laerning lebih dari sekedar belajar kelompok kerana harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif diantara anggota kelompok. Model cooperative learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikap sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja bersama-sama di antara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas, dan perolehan belajar. Pendekatan pembelajaran ini memandang bahwa keberhasilan dalam belajar bukan semata-mata harus diperoleh dari guru melainkan dari pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran itu. Pendekatan pembelajaran cooperative laerning mendorong peningkatan kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai masalah yang ditemui selama pembelajaran, karena siswa dapat bekerja sama dengan siswa lain dalam menemukan dan merumuskan alternatif pemecahan terhadap permasalahan tersebut. Belajar dalam kelompok kecil dengan prinsip kooperatif sangat baik digunakan untuk

mecapai tujuan belajar, baik sifatnya kognitif, afektif maupun konatif. Pola interaksi yang bersifat terbuka dan langsung diantara anggota kelompok memberikan kesempatan pada siswa untuk memperoleh dan memberikan masukan untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai dan moral serta keterampilan yang ingin dikembangkan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran yang membutuhkan kerja sama diperlukan suatu metode pembelajaran yang tepat, jadi dalam satu pendekatakan pembelajaran dapat digunakan beberapa metode pembelajaran. Menurut Gulo, W (2002: 4) bahwa “metode pengajaran adalah cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu”. Maka dari itu, dapat juga dikatakan bahwa metode pengajaran adalah alat untuk mengoperasionalkan apa yang direncanakan dalam strategi. Macam metode pembelajaran yang membutuhkan kerja sama antara lain: metode Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC) dan metode Group Investigation (GI). 3. Metode Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC) Mengajar pada dasarnya suatu usaha untuk menciptakan kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. Ada dua macam ketermpilan yang harus dikuasai siswa sejak mengenal dunia pendidikan yaitu keterampilan membaca dan keterampilan menulis. Dengan menguasai dua keterampilan itu, maka akan terjadi kemampuan awal dalam menguasai keterampilan yang lain. Penguasaan ketempilan membaca dan menulis merupakan hal yang mendasari penemuan metode Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC).

Menurut Slavin (2008: 210) metode CIRC adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling efektif dalam pelajaran membaca, menulis, dan seni berbahasa”. Sedangkan menurut Nuning (2008), “CIRC adalah suatu pembelajaran secara kooperatif dimana siswa belajar secara kelompok dan guru memberikan materi untuk dipahami siswa kemudian siswa menyusun kembali pemahaman materi yang sudah didiskusikan dengan kelompoknya kemudian dituangkan dalam kalimatnya sendiri dalam bentuk puisi bebas”. Keberhasilan penerapan metode CIRC sangat bergantung pada keaktifan siswa. Mereka harus dapat bekerja sama dalam kelompok yang mempunyai kemampuan heterogen. Dengan menerapkam metode CIRC diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan dalam memahami bacaan, yang dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : meringkas, menjawab pertanyaan, menerangkan dan kemampuan meramalkan. Dalam metode CIRC setelah siswa menyelesaikan permasalahan yang dihadapi maka siswa harus dapat menyampaikan apa yang telah diramalkan. a) Komponen Metode CIRC Adapun komponen utama dalam metode CIRC yaitu 1) Membaca lisan merupakan bagian yang menjadi dasar dari sebagian besar program-program membaca. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesempatan siswa untuk membaca dengan keras dan menerima umpan balik dari kegiatan membaca mereka dengan membuat para siswa membaca untuk teman satu timnya dan dengan melatih mereka mengenai bagaimana saling merespons kegiatan membaca mereka; 2) Kemampuan memahami bacaan, tujuan utamanya yaitu menggunakan tim-tim kooperatif untuk

membantu para siswa mempelajari kemampuan memahami bacaan yang dapat diaplikasikan secara luas; 3) Menulis dan seni berbahasa, tujuan utamanya yaitu untuk merancang, mengimplementasikan dan mengevaluasikan pendekatan proses menulis pada pelajaran menulis dan seni berbahasa yang akan banyak memanfaatkan kehadiran teman sekelas. b) Langkah-langkah pembelajaran metode CIRC Metode CIRC merupakan metode baru dalam bidang pendidikan dan merupakan salah satu bentuk aplikasi dari teori konstruktivisme. Pelakasaan metode ini adalah siswa dibagi dalam kelompok yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang kemudian masing-masing kelompok diberi bahan bacaan (dalam hal ini modul). Dari modul tersebut siswa diharapkan mempu mengkontruksikan pengetahuan agar mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Adapun langkah-langkahnya sebai berikut: 1) Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 4-5 orang. Pembagian ini dilakukan secara terpilih sehingga dalam satu kelompok merupakan kelompok yang memiliki kemampuan heterogen; 2) Masing-masing kelompok diberi wacana/kliping yang berbeda-beda tapi masih dalam cakupan materi pokok; 3) Siswa bekerjasam saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadapa wacana/ kliping dan tulis pada lembar kertas; 4) Dari tiap kelompok menampilkan salah anggotanya untuk menerangkan apa yang mereka pahami dari wacana/ kliping dan menyampaikan apa yang mereka ramalkan kepada kelompok lain; 5) Guru membuat kesimpulan bersama; 6) Penutup. Sedangkan menurut Slavin (2008: 205), tahapan-tahapan metode CIRC adalah: 1) Membaca berpasangan, siswa membaca ceritanya dalam hati dan

kemudian secara bergantian membaca cerita tersebut dengan keras bersama pasangannya, bergiliran untuk tiap paragraf; 2) Menilis cerita yang bersangkutan dan tata bahasa cerita, Siswa memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan cerita yang menekankan tata bahasa cerita-struktur yang digunakan pada semua narasi; 3) Mengucapkan kata-kata dengan keras, siswa diberi daftar kata-kata baru yang terdapat dalam cerita dan berlatih mengucapkan daftar kata-kata ini bersama pasangannya atau teman timlainnya sampai mereka bisa membacanya dengan lancar; 4) Makna kata dan ejaan, siswa diberi daftar kata-kata dalam cerita yang tergolong baru dan diminta menuliskan definisinya dengan cara yang lebih mudah dipahami serta menuliskan kalimat yang memprlihatkan makna kata tersebut; 5) Menceritakan kembali cerita, setelah membaca ceritanya dan mendiskusikannya dalam kelompok membaca para siswa merangkum poin-poin utama dari cerita tersebut untuk pasanagannya; 6) Tes, pada akhir tiga periode kelas, para siswa diberikan tes pemahaman terhadap cerita; 7) Seni bahasa dan menulis terintregasi, siswa membuat konsep karangan setelah berkonsultasi dengan teman satu tim dan kepada guru mengenai gagasan-gagasan dan rencana pengaturan. Berdasarkan langkah-langkah tersebut dapat kita lihat kelebihan penggunaan metode CIRC yaitu: 1) Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas, 2) Dilatih untuk bekerjasa dan menghargai pendapat orang lain. Sedangkan kekurangan metode CIRC adalah pada saat presentasi hanya siswa yang aktif yang tampil. sedangkan dampak negatif penerapan metode CIRC adalah memerlukan waktu yang cukup lebih lama, misalnya memerlukan persiapan yang lebih lama serta adanya kegiatan-kegiatan kelompok yang tidak bisa berjalan seperti apa yang diharapkan.

Penerapan metode Cooperative Integrated Reading Composition dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Pembentukan kelompok: guru membagi siswa kedalam kelompok-kelompok heterogen yang terdiri dari 4-5 siswa dan memberikan tugas membaca wacana/artikel serta menuliskan kata-kata sulit sebagai pembahasan tentang pengertian proses pencernaan makanan, 2) Guru menyampaikan kompotensi yang ingin dicapai: untuk mendorong siswa mengutarakan kemampuan awal dengan menyajikan suatu fenomena yang terkait dengan wacana/artikel yang akan didiskusikan, 3) Bekerjasama menyusun tanggapan berupa ikhtisar: mengorganisasikan kelompok agar saling membacakan wacana/artikel secara berpasangan dan memberikan penguatan jawaban atas pertanyaan, 4) Presentasi hasil kelompok: siswa mempresentasikan wacana/artikel antar kelompok dan menuliskan kata-kata sulit sebagai bahan diskusi kelas. Guru membantu siswa dengan cara memberikan bimbingan atau arahan seminimal mungkin, 5) Pembuatan kesimpulan: guru memberikan penguatan terhadap wacana/artikel, 6) Pemberian wacana: guru memberikan tugas untuk pembahasan berikutnya, 7) penutup : guru mengumumkan keberhasilan kelompok sebagai motivasi belajar. 4. Metode Gruop Investigation (GI) Dasar-dasar metode group invegtigasi (GI) dirancang oleh Herbert Thelen yang selanjunya diperluas dan diperbaiki oleh Sharan dan teman-temannya dari Universitas Tel Aviv. Sedangakan Santyasa mengungkapkan pembelajaran kooperatif tipe GI didasari oleh gagasan John dewey tentang pendidikan, bahwa ”kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan di dunia nyata yang bertujuan mengkaji masalah-masalah

sosial dan antar pribadi”. Menurut Winataputra (1992:39) model GI atau investigation kelompok telah digunakan dalam berbagai situasi dan dalam berbagai bidang studi dan berbagai tingkat usia. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala

mengenai

masalah

itu,

mengumpulkan

data

yang

relevan,

mengembangkan dan mengetes hipotesis. Pembelajaran dengan metode group investigation seyogyanya guru mengarahkan, membantu para siswa menemukan informasi, dan berperan sebagai salah satu sumber belajar, yang mampu menciptakan lingkungan sosial yang dicirikan oleh lingkungan demokrasi dan proses ilmiah. Menurut Winataputra (1992:63) sifat demokrasi dalam kooperatif tipe GI ditandai oleh keputusankeputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar. Guru dan murid memiliki status yang sama dihadapan masalah yang dipecahkan dengan peranan yang berbeda. Jadi tanggung jawab utama guru adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara kooperatif dan memikirkan masalah sosial yang berlangsung dalam pembelajaran serta membantu siswa mempersiapkan sarana pendukung. Sarana pendukung yang dipergunakan untuk melaksanakan model ini adalah segala sesuatu yang menyentuh kebutuhan para pelajar untuk dapat menggali berbagai informasi yang sesuai dan diperlukan untuk melakukan proses pemecahan masalah kelompok. Group Investigation adalah salah satu metode pembelajaran kooperatif dimana guru dan siswa bekerja sama dalam membangun pelajaran. Prosedur dalam perencanan bersama didasarkan pada pengalaman masing-masing siswa, sesuai

dengan kapsitas dan kebutuhan yang diperlukan. Siswa harus aktif berprestasi dalam berbagai aspek, membuat keputusan yang mengarah pada pencapaian tujuan yang telah mereka tentukan sebelumnya. Dalam hal ini fungsi kelompok adalah sebagai wahana dalam berinteraksi sosial. Metode GI merupakan perpaduan antara bidang sosial dan kemahiran dalam berkomunikasi dengan intelektual pembelajaran dalam mensisitesis dan menganalisis permasalahan. GI tidak dapat diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan yang tidak ada dukungan dialog dari setiap anggotanya atau mengabaikan dimensi lain dari efek-sosial dalam pembelajaran kelas. (Arends, 1997:120-121) Dalam metode GI ini guru hanya berperan sebagai konselor, konsultan dan pemberi kritik yang bersahabat seyogyanya guru membimbing dan mencerminkan kelompok dalam 3 tahapan yaitu: a) tahap pemecahan masalah; b) tahap pengelolaan kelas dan c) tahap pemaknaan secara perorangan. Dengan ditempuhnya tiga tahapan tersebut, diharapkan proses pembelajaran dapat menghasilkan proses belajar yang lebih baik dan siswa lebih menyeluruh dalam mendalami materi yang disampaikan oleh guru. Slavin (2008:218), mengemukakan enam tahapan dalam model group investigation yaitu: 1) Mengidentifikasikan topik dan mengatur murid kedalam kelompok, yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigation serta membentuk kelompok investigation, dengan anggota kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini: (a) para siswa meneliti beberapa sumber, mengajukan topik dan mengkategorikan saran-saran, (b) Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang telah mereka pilih, (c) komposisi kelompok didasarkan pada

ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen, (d) guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan; 2) Merencanakan tugas yang akan dipelajari. Pada tahap ini siswa bersama-sama merencanakan tentang: (a) Apa yang akan mereka pelajari, (b) Bagaimana cara mereka belajar, (c) Siapa dan apa yang akan dilakukan, (d) Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut; 3) Melaksanakan investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigation siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut: (a) siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulan terkait dengan permasalahanpermasalahan yang diselidiki, (b) masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok, (c) siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat; 4) Menyiapkan laporan akhir, yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut: (a) anggota kelompok menentukan pesan-pesan penting dalam proteknya masingmasing, (b) anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, (c) wakil dari masing-masing kelompok membentuk

panitia

diskusi

kelas

dalam

presentasi

investigation;

5)

Mempresentasikan laporan akhir yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut: (a) penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian, (b) kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar, (c) pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan; 6) Evaluasi atau penilaian terhadap proses kerja dan hasil proyek siswa.

Sedangkan menurut Joyce, B dan Weil, M (2000:50), model pembelajaran investigasi kelompok tercermin pada Gambar 2.1 berikut ini: Gambar 2.1. Model investigasi kelompok MODEL INVESTIGATION KELOMPOK (Joyce & Weil: 1997) Kegiatan Guru

Langkah Pokok

Situasi bermasalah

Ø Sajikan Situasi bermasalah

Ø Bimbing Proses Eksplorasi

Kegiatan Siswa

Eksplorasi

Amati situasi bermasalah

~ Jelajahi Permasalahan ~ Temukan Kunci Permasalahan

Ø Pacu Diskusi Kelompok

Perumusan tugas Belajar

~ Rumusan apa yg harus dilakukan ~ Atur pembagian tugas dalam kelompok

Ø Pantau Kegiatan Belajar Kegiatan belajar

~ Belajar individual atau kelompok ~ Cek tugas yg harus dikerjakan

Ø Cek Kemajuan Belajar

~ Cek proses dan hasil penelitian kelompok

Ø Dorong Tindak Lanjut Daur Ulang

Analisa Kemajuan

~ lakukan tindak lanjut

Pelaksanaan metode Group Investigation di dalam kelas, terdiri atas enam langkah. Keenam langkah pelaksanaan metode Group Investigation menurut Joyce, B dan Weil, M (2000 :50) antara lain: 1) Pembentukan kelompok: guru membantu pembentukan kelompok berdasarkan ketertarikan siswa dan harus heterogen, 2) Situasi bermasalah: guru menyajikan suatu masalah untuk dapat diidentifikasi permasalahahnya, siswa mengamati dan mencari titik permasalahan, 3) ekplorasi: siswa menjelajahi permasalahan dan menentukan kunci dari permasalahan, guru membantu siswa dengan cara memberikan bimbingan proses eksplorasi masalah, 4) perumusan tugas belajar: rumuskan apa yang akan dilakukan dan membagi tugas dalam kelompok, 5) kegiatan belajar: guru memacu diskusi kelompok dan membantu siswa mengarahkan diskusi agar tidak melenceng dari topik diskusi, siswa mengumpulkan data atau informasi dan mempresentasikan informasi tersebut , 6) analisis kemajuan: guru mendorong siswa untuk melakukan tindak lanjut dari hasil presentasi dengan membuat makalah atau karya ilmiah dan memberikan kuis sebagai penguatan atau evaluasi. Adapun perbedaan metode-metode pembelajaran kooperatif yang dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini: Tabel 2.1. Perbedaaan metode-metode pembelajaran kooperatif Metode

CIRC

Jumlah individu dalam kelompo k 4-5 siswa

Tanggung jawab individu dan tujuan kelompok V Meringka s untuk tiap

Kesemp atan yang sama untuk sukses V Bagian kelompo k

Kompe tensi antar kelomp ok

Tugas khusus dan perolehan materi

Penyesuaia n diri dengan kebutuhan

X

X Materi oleh siswa melalui berbagai

X

GI

5-6 siswa

individu V V Kooperati Nilai f dalam kuis kelompok

X

media X Biasanya dilakukan oleh siswa

X

Keterangan: V : ada, X ; Tidak ada 5. Minat Belajar a. Pengertian Minat Belajar Minat pada diri siswa akan mempengaruhi proses yang dialaminya yang pada akhirnya juga mempengaruhi keberhasilan belajar. Hal ini karena suatu aktivitas yang didasari minat akan memberikan kepuasan tersendiri bagi yang melakukan. Tanpa adanya minat terhadap materi pelajaran, maka siswa tidak akan dapat belajar dengan sungguh-sungguh karena tidak ada daya tarik yang membuat semangat. Menurut Dewa Ketut Sukardi (2000:61), ” Minat atau interes adalah suatu keadaaan mental yang menghasilkan respon terarah pada situasi atau obyek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan kepadanya”. Menurut Slameto (1995:57), ”Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan”. Sedangkan menurut Witherington dan Buchori (2005:135), ” Minat adalah kesadaran seseorang, suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya”. Minat akan timbul apabila seseorang melihat ciri-ciri objek sesuai keinginan atau kemauan dan kebutuhan. Hal ini sesuai denga pendapat Sardiman (2001:74), ”Minat diartikan sebagai kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau

arti sementara yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara suatu situasi yang dihubungkan oleh keinginan-keinginan atau kebutuhan sendiri”. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap

sesuatu

dipelajari

danb

mempengaruhi

belajar selanjutnya serta

mempengaruhi penerimaan minat-minat baru. Jadi minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya. Minat berpengaruh terhadap aktivitas belajar. Siswa yang berminat terhadap suatu materi pelajaran tertentu akan mempelajari meteri tersebut dengan sungguhsungguh karena ada daya tarik baginya. Menurut Winkel (2004:188) ” minat diartikan sebagai kecenderungan subyek yang menetap untuk merasa tertarik pada bidang studi atau pokok bahasan tertentu dan merasa senang mempelajari materi itu”. Minat merupakan salah satu aspek psikis yang dapat membantu menentukan pilihaan yang berguna bagi dirinya. Hal ini disebabkan karena setiap inividu mempunyai kencenderungan untuk selalu berhubungan dengan segala sesuatu yang dianggap akan memberikan kesenangan. Berdasarkan rasa senang akan timbul minat untuk memperoleh, mengembangkan dan sekaligus mempertahankan sesuatu yang dianggap dapat mendatangakan kesenangan. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa minat belajar merupakan suatu kondisi atau kecenderungan rasa ingin tahu yang dimiliki siswa terhadap suatu aktivitas atau obyek tertentu. Dengan dorongan rasa ingin tahu siswa akan terus menerus mamperhatikan suatu aktivitas, sehingga akan menimbulkan rasa tertarik atau senang. Hal ini akan membuat siswa selalu mengenang beberapa aktivitas tersebut karena sesuai dengan keinginan atau kemauan dan kebutuhan.

Maka minat belajar biologi adalah suatu sikap mendorong siswa unutk memberikan perhatian terhadap pelajaran biologi sehingga siswa menyukai dan merasa tertarik terhadap biologi tanpa ada yang menyuruh. Siswa yang memiliki minat belajar biologi akan lebih mudah untuk mendapatkan prestasi belajar lebih baik dari pada siswa yang tidak memiliki minat belajar biologi. b. Aspek-Aspek Minat Belajar Menurut Winkel (2004:188) minat dibagi menjadi empat aspek yang penting untuk meraih keberhasilan dalam belajar. Aspek-aspek itu berupa: 1) Kesadaran, minat yang timbul pada diri seorang dapat diawali dari kesadaran bahwa suatu obyek bermanfaat. Kesadaran mutlak harus ada dan dengan kesadaran seseorang akan mengenali obyek yang dirasa ada daya tarik. Indikasi kesadaran siswa terhadp biologi yaitu siswa belajar dengan senang hati bukan dengan tertekan dan tidak akan berhenti sebelum benar-benar paham; 2) Perhatian, dalam belajar sangat diperlukann perhatian yang sangat memusat agar tidak terpengaruh gangguan luar. Minat terhadap biologi memudahkan terciptanya konsentrasi, sehingga siswa mampu menyerap dan memahami materi biologi; 3) Kemauan, dimaksudkan sebagai pendorong kehendak yang terarah pada suatu tujuan hidup yang dikendalikan oleh akal pikiran. Dorongan kemauan dalam diri seseorang akan menimbulkan keinginan dan minat; 4) Kesenangan, Kesuksesan belajar siswa dimulai denga rasa senang melakukan aktivitas belajar. Rasa senang terhadap belajar akan menimbulkan semangat dan pantang menyerah dalam belajar. Perasaan senang pada suatu obyek, baik orang atau benda akan menimbulkan minat pada diri seseorang. Minat akan menyebabkan seseorang merasa tertarik pada suatu obyek atau kegiatan. Dengan kata

lain bahwa antara kesenangan dan timbulnya minat berkaitan erat. Kesenangan juga merupakan faktor psikis yang positif yang tidak bisa diabaikan dalam diri seseorang karena dapat mendorong seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang bermanfaat. c. Pengaruh Minat Terhadap Prestasi Belajar Menurut Singer, Kurt (2000:78) bahwa ” Minat adalah suatu landasan kuat yang paling meyakinkan demi keberhasilan suatu proses belajar”. Pengaruh minat terhadap prestasi belajar yaitu : 1) Minat belajar merupakan pendorong bagi siswa untuk melakukan aktivitas belajar; 2) Minat membantu untuk berkonsentrasi dalam belajar; 3) Minat memberikan landasan yang kokoh bagi keberhasilan. 6. Kedisiplinan Belajar a. Pengertian Kedisiplinan Belajar Disiplin merupakan cara masyarakat mengajarkan kepada anak-anak perilaku moral yang diterima kelompok. Tujuannya dalah memberikan kepada seseorang mana yang baik dan mana yang buruk dan mendorongnya untuk berperilaku sesuai dengan standar. Ada tiga unsur penting dalam disiplin yaitu : perturan dan hukum yang berfungsi sebagai pedoman bagi penilai yang baik, hukuman bagi pelanggar peraturan dan hukum, serta hadiah untuk perilaku yang baik atau usaha berperilaku sosial yang baik. Menurut Hadi, Soedama (1981:62), bahwa ”disiplin adalah keadaan tertib orang-orang yang tergabung dalam organisasi, tunduk pada peraturan-peraturan dengan senang hati”. Dalam pembinaan kedisiplinan siswa atau disiplin siswa, harus

ada kerja sama antara guru dan siswa. Soedama Hadi mengutip pendapat Kinney, kerjasama guru dan siswa dalam menengakkan disiplin kelas adalah sebagai berikut: ”a) mengadakan perencanaan secara kooperatif dengan siswa-siswa; b) mengembangkan kepemimpinan dan tanggung jawab pada siswa-siswa; c) membina organisai dan prosedur kelas secara demokratis; d) memberikan kesempatan untuk berdiri sendiri, terutama dalam mengemukakan dan menerima pendapat orang lain; e) memberikan kesempatan berpartisipasi secara luas sesuai dengan taraf kesanggupan siswa; f) menciptakan kesempatan-kesempatan untuk mengembangkan sikap-sikap yang diinginkan : sosial, psikologi, dan biologis”. Lembaga Ketahanan Nasional (1998:12), menyatakan bahwa yang dimaksud disiplin adalah ”kepatuhan untuk menghormati dan melaksanakan suatu sistem yang mengharuskan orang tunduk pada keputusan, perintah atau peraturan yang berlaku”. Disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dikembangkan dan diterapkan dalam semua aspek menerapkan sanksi serta dengan bentuk ganjaran dan hukuman sesuai dengan amal perbuatan para pelaku. Disiplin seseorang adalah produk sosialisasi sebagai hasil interaksi dengan lingkungan, terutama lingkungan sosial. Oleh karena itu, pembentukan disiplin tunduk pada kaidah-kaidah proses belajar. Morris dan Maurice (1986: 266) menyatakan bahwa “education is a proces of disciplining or training mind”. Menurut ajaran disiplin mental, pendidikan adalah proses penertiban/ kedisiplinan atau latihan berfikir. Pemilihan bahan pengajaran adalah penting, tetapi lebih penting mengenai pemikiran dasar yang harus melalui proses kedisiplinan. Perwujudan displin mental sampai sekarang terus berlangsung dan nampak jeals dalam praktek sokolah. Disiplin mental menekankan pada penguasaan pengetahuan yang berguna dan formasi yang serupa.

Kedisiplinan belajar siswa adalah ketaatan dan ketertiban siswa dalam organisasi atau dalam kelas atau di rumah. Bila siswa belajar dengan tertib, teratur dan tunduk terhadap peraturan yang ditetapkan dengan senang hati, maka siswa dapat belajar dengan penuh kedisiplinan (Sunarno, 1997:8). Untuk megukur kedisiplinan belajar siswa dapat mengunakan tes, angket, interview. b. Jenis-Jenis Disiplin Jenis-jenis disiplin menurut Hurlock (1992:123) ada tiga macam yaitu: 1) Disiplin otoriter yang merupakan bentuk disiplin tradisional dan yang berdasarkan pada ungkapan kuno yang menyatakan bahwa ”menghemat cambukan berarti memanjakan anak” dalam disiplin yang bersifat otoriter, orang tua dan pengasuh lainnya menetapkan peraturan-peraturan dan memberitahukan anak bahwa ia harus mematuhi peraturan-peraturan tersebut. Tidak ada usaha untuk menjelaskan pada anak, mengapa ia harus patuh dan padanya tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat tentang adil tidaknya peraturan-peraturan atau apakah peraturan-peraturan itu masuk akal atau tidak. Kalau anak tidak mengikuti peraturan, ia akan dihukum yang seringkali kejam dan keras dan dianggap sebagai cara untuk mencegah pelanggaran dimasa mendatang; 2) Disiplin yang rendah berkembang sebagai protes terhadap disiplin otoriter yang dialami oleh banyak orang dewasa dalam masa kanak-kanaknya. Filsafat yang mendasari teknik disiplin ini adalah bahwa melalui akibat dari perbuatanya sendiri anak akan belajar bagaimana berperilaku sosial. Dengan demikian anak tidak diajarkan peraturan-peraturan, ia tidak dihukum kerenaa sengaja melanggar peraturan, juga tidak ada hadiah bagi anak yang berperilaku sosial yang baik; 3) Disiplin demokratis berkecenderungan untuk

menyenangi disiplin yang berdasarkan prinsip-prinsip demokratis sekarang meningkat. Prinsip demikian menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa peraturan-peraturan

dibuat

dan

memperoleh

kesempatan

mengemukakan

pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa peraturan itu tidak adil. Diusahakan agar anak mengerti apa arti peraturan-peraturan dan mengapa kelompok sosial mengharapkan anak mematuhi peraturan itu. Dalam disiplin yang demokratis hukuman ”disesuaikan dengan kejahatan” dalam arti diusahakan agar hukuman yang diberikan berhubungan dengan kesalahan yang diperbuatnya, tidak lagi diberi hukuman badan. c. Pengaruh Disiplin Pada Anak Kedisiplinan anak juga akan berpengaruh terhadap: 1) Perilaku, anak yang orang tuanya lemah akan mementingkan diri sendiri, tidak menghiraukan hak-hak orang lain, agresif dan tidak sosial. Anak yang mengalami disiplin yang keras, otoriter akan sangat patuh bila dihadapan orang-orang dewasa. Namun agresif dalam hubungannya dengan teman-teman sebayanya. Anak yang dibesarkan dibawah disiplin yang demokratis belajar mengendalikan perilaku yang salah dan mempertimbangkan hak-hak orang lain; 2) Sikap, anak yang orang tuanya melaksanakan disiplin otoriter maupun disiplin yang lemah cenderung membenci orang-orang yang berkuasa. Anak yang mengalami disiplin otoriter merasa diperlakukan tidak adil, anak yang orang tuanya lemah merasa bahwa orang tuanya seharusnya

memperingatkan bahwa tidak semua orang dewasa mau menerima

perilaku yang tidak disiplin. Disiplin yang demokartis dapat menyebabkan kemarahan sementara tetapi bukan kebencian. Sikap yang terbentuk sebagai akibat

dari metode pendidikan anak cenderung menetap dan bersifat umum, tertuju kepada semua orang yang berkuasa; 3) Kepribadian, semakin banyak hukuman fisik digunakan, semakin anak cenderung menjadi cemberut, keras kepala dan negativistik. Ini mengakibatkan penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk, yang juga merupakmn ciri khas dari anak yang dibesarkan dengan disiplin yang lemah. Anak yang dibesarkan

dibawah disiplin yang demokratis akan mempunyai

penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang terbaik. 7. Prestasi Belajar Biologi a. Pengertian Prestasi Belajar Pendidikan dan pengajaran adalah suatu proses yang sadar akan tujuan. Maksudnya bahwa kegiatan belajar dan pembelajaran itu suatu peristiwa yang teirkat, terarah pada tujuan dan dilaksanakan unntuk mencapai tujuan. Sedangkan untuk mengetahui target atu tidak, maka perlu diadakan kegiatan evaluasi. Hasil dari evaluasi ini antara lain akan memberikan gambaran mengenai prestasi hasil belajar dari peserta didik. Kata “prestasi” berasal dari kata belanda yaitu “prestatie”. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Prestasi belajar merupakan suatu masalah utama dalam sejarah kehidupan manusia kerena sepanjang rentang kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi dalam kehidupan manusia pada tingkat dan jenis tertentu dapat memberikan kepuasan tertentu pula pada manusia, khususnya manusia yang berbeda pada bangku sekolah. Prestasi belajar akan semakin terasa penting untuk dipermasalahkan, karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain: 1) Prestasi belajar sebagai indikator kualitasa dan kuantitas

pengetahuan yang dikuasi oleh peserta didik; 2) Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu; 3) Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan; 4) Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan; 5) Prestasi belajar dapat dijadikan indikator daya serap (kecerdasan) peserta didik. Fungsi prestasi belajar tidak hanya sebagai indikator keberhasilan dalam bidang tertentu, tetapi juga sebagi indikator kualitas institusi pendidikan. Disamping itu prestasi belajar juga berguna sebagi umpan balik bagi guru dalam melaksanakan proses belajar dan pembelajaran sehingga dapat menentukan apakah perlu mengadakan diagnose, bimbingan/ penempatan peserta didik. Prestasi belajar merupakan suatu alat untuk mengevaluasi kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan hasil evaluasi ini dapat dilaksanakan perbaikan terhadap metode pengajaran, sarana dan prasarana maupun dalam materi yang akan disampaikan. Prestasi belajar merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegitan penelitian. Penilaian dilakukan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung agar dapat memperoleh gambaran mengenai perubahan yang dialami peserta didik. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang telah dicapai siswa, berupa seperangkat pengetahuaan atau keterampilan setelah siswa tersebut mengalami proses belajar. Prestasi belajar siswa dapat digambarkan dengan adanya nilai tes yang diberikan oleh guru kepada siswa yaitu penilaian terhadap aspek kognitif.

b. Evaluasi Hasil Belajar Menurut Suharno (1997:68) menyatakan bahwa “penilaian atau evaluasi merupakan proses pengambilan keputusan berdasarkan informasi hasil pengukuran untuk mentukan seberapa jauh siswa dapat mencapai tujuan belajar”. Berdasarkan fungsi dan tujuannya, evaluasi hasil belajar memiliki fungsi: 1) diagnositik atau pengembangan/remidi yang bertujuan untuk mengetahui kesulitan atau hal-hal yang belum dikuasai siswa terhadap suatu pelajaran, 2) seleksi, untuk membuat keputusan adil dan dapat diterima semua pihak; 3) promotion; 4) penempatan (placemant). Kualitas hasil belajar dapat diketahui dengan adanya evaluasi belajar atau hasil belajar. Menurut Dimyati dan Mujiono (2002: 26-30) dewasa ini dikenal tiga ranah perilaku yang dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan instrument penelitian. Ketiga ranah tersebut yang pertama Ranah kognitif, disadur dari pendapat Winkel (2004: 245-247) dalam buku Psikologi Pengajaran meliputi : a) Kemampuan pengetahuan, mencakup ingatan akan hal-hal yang dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal tersebut dapat meliputi fakta, prinsip, dan metode yang digunakan; b) Kemampun pemahaman, meliputi kemampuan untuk menangkap makna atau arti dari bahan yang dipelajari; c) Kemampuan menerapkan, mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu metode pada suatu masalah atau kasus; d) Kemampaun menganalisis, mencakup kemamapuan untuk merinci suatu kesatuan kedalam bagianbagian sehingga struktur keseluruhannya dapat dipahami; e) Kemampuan mensistesis, mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pola baru. Adanya kemampuan mensintesis dinyatakan dalam membuat sutau rencana, misalnya penyusunan proposal penelitian ilmiah; f)

Kemampuan mengevaluasi, meliputi

kemampuan berpendapat terhadap suatu hal. Jadi kemampaun mengevaluasi dapat dinyatakan dalam memberikan penilian terhadap sesuatu. Akan tetapi Anderson dan Krathwohl merevisinya dalam Thohir, M (2008) dari satu dimensi menjadi dua dimensi, yaitu dimensi proses kognitif (cognitive process) dan dimensi pengetahuan (Types of knowledge). Dimensi proses kognitif merupakan

hasil

revisi

dari

taksonomi

Bloom

ranah

kognitif

yang

mengklasifikasikan proses kognitif menjadi enam kategori, yaitu ingatan (remember), pemahaman (understand), aplikasi (apply), analisis (analyze), evaluasi (evaluate), dan kratifitas (create). Sedangkan dimensi pengetahuan diklasifikasi menjadi

empat

pengetahuan

kategori,

konseptual

yaitu

pengetahuan

(conceptual

faktual

knowledge),

(factual

pengetahuan

knowlwdge), prosedural

(procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi ( metacognitive knowledge) Dalam revisi taksonomi ini lebih melihat fungsi otak dalam satu kesatuan ranah (domain). Tidak seperti, sebelumnya yang menggunakan klasifikasi dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Pembagian tersebut dikritisi karena dianggap mengisolasi aspek-aspek dalam sebuah tujuan yang sama. Dalam revisi taksonomi Bloom ini, ranah kognitif tidak dianggap terpisah dengan ranah afektif atau psikomotor, melainkan terkait antara satu dengan yang lain. Karena itu, yang dikemukan dalam revisi itu hanya ranah kognitif dengan deskripsi kategori bermuata kata kerja (proses) afektif dan psikomotor, karena semua aspek tersebut merupakan satu bagian utuh dari fungsi kerja otak. Ranah yang kedua yaitu ranah afektif yang berupa nilai dan sikap siswa setelah mengikuti suatu pelajaran. Berbeda dengan hasil belajar ranah kognitif, maka

evaluasi hasil belajar efektif dapat diukur dengan tes sikap, dimana dalam hal ini tidak ada jawaban benar atau salah. Secara rinci sasaran evaluasi ranah afektif yang disadur dari pendapat Winkel (2004: 247-248) dalam buku Psikologi Pengajaran meliputi : a) Penerimaan ( Receiving), mencakup kepekaan dan kesediaan untuk memperhatikan terhadap suatu rangsangan. Jadi kemampuan penerimaan dinyatakan dalam kesediaan unutk memperhatikan sesuatu; b) Partisipasi (responding), mencakup kesedian unutk memperhatikan secara aktif berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Jadi kemampuan berpartisipasi dinyatakan dalam memberikan suatu reaksi terhadap rangsang; c) Menilai (valuing), mencakup kemampuan untuk memberikan penilian terhadap sesuatu dan dinyatakan dalam sikap menerima, menolak atau mengabaikan. Jadi kemampuan menilai dinyatakan dalam mengungkapkan pendapat tentang sesuatu, baik positif maupun negative; d) Organisasi (organization), mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai yang digunakan dalam pedoman dalam kehidupan. Jadi kemampuan organisasi menjadi dasar dalam mengambil suatu tindakan; e) Pembentukan pola hidup, meliputi kemampuan untuk menghayati nilai kehidupan dan digunakan

dalam pegangan dalam mengatur

kehidupanya sendiri Ranah yang ketiga yaitu ranah psikomotor yang berupa pengetahuan, perubahan sikap, dan keterampilan, setelah siswa mempelajari sesuatu maka diharapkan kemampuannya dapat meningkat, sikapnya semakin positif dan keterampilannya juga semakin meningkat. sasaran evaluasi hasil belajar berupa keterampilan sangat penting agar diperoleh informasi tentang hasil belajar secara lengkap. Secara rinci sasaran evaluasi ranah efektif yang disadur dari pendapat

Winkel (2004: 249-250) dalam buku Psikologi Pengajaran meliputi : a) Persepsi (perception), mencakup kemampuan untuk membedakan antara dua perangsang atau lebih berdasarkan ciri-ciri fisik yang khas dari masing-masing perangsang; b) Kesiapan (set), meliputi kemampuan meyiapkan diri untuk memulai suatu gerakan; c) Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan untuk melakukan

serangkaian

gerakan sesuai dengan contoh yang telah diberikan; d) Gerakan yang terbiasa, Meliputi kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerakan dengan lancar karena telah mendapatkan pelatihan yang cukup; e) Gerakan yang kompleks, merupakan kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan yang terdiri atas beberapa komponen dengan tepat dan lancar; f) Penyesuaian pola gerakan, meliputi kemampuan untuk mengubah dan menyesuaikan dengan kondisi setempat secara terampil; g) Kreativitas, mencakup kemampuan untuk menghasilkan gerakangerakan yang baru. c. Materi Pembelajaran Biologi pada Pokok Bahasan Sistem pencernaan Pada Manusia Pokok bahasan sistem pencernaan makanan merupakan salah satu materi pelajaran Biologi yang berlangsung dalam tubuh kita. Pembelajaran materi sistem pencernaan makanan melibatkan siswa untuk mempelajarinya secara langsung dengan mengidentifikasi, mendiskripsikan, membuktikan, dan menganalisis proses pencernaan tersebut sehingga siswa dapat membangun konsep sendiri tentang proses pencernakan makanan. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menuntut siswa mampu membangun sendiri konsep dari materi yang dipelajarinya. Metode pembelajaran group investigation dan cooperative integrated reading composition

memungkinkan siswa belajar bekerjasama dalam kelompok untuk membangun konsep baru yang akan di gabungkan dengan konsep lama sehingga siswa mempunyai konsep sendiri dalam belajar. Dalam menjaga kelangsungan hidupnya, maka mahkluk hidup memerlukan makanan dan minuman. Makanan yang kita makan harus mengandung unsur zat-zat tertentu yang dibutuhkan oleh tubuh. Adapun zat-zat tersebut antara lain: 1) Karbohidrat Karbohidrat atau hidrat meruakan senyawa organic yang disentesis dari senyawa anorganik yang mengandung unsur-unsur karbon (C), Hidrogen (H), dan Oksigen (O) dengan rumus umum yaitu Cn(H2O)n. Karbohidrat mengandung gugus OH yang polar sehingga dapat larut dalam air. Komponen dasar dari karbhidrat adalah monoosakarida yaitu karbohidrat yang paling sederhana dan hanya memiliki satu gugus gula yang mempunyai rasa manis. Selain monosakarida ada pula disakarida dan polisakarida yang merupakan gabungan beberapa monosakarida. Fungsi karbohidrat di dalam tubuh adalah sebagai sumber energi (sumber kalori) setiap 1 gram karbohidrat akan menghasilkan 4,1 kalori energi, sebagai bahan dasar pembentuk senyawa lain seperti protein dan lemak, menjaga keseimbangan pH tubuh (asam dan basa). Selain polisakarida, karbohidrat kompleks yang berupa selulosa (serat) tidak dapat dicerna oleh pencernaan sehingga tidak menghasilkan energi, namun serat mempunyai peranan penting bagi kesehatan. Serat membantu alat pencernaan dengan meningkatkan kecepatan pengeluaran sisa makanan (feses) dari dalam tubuh sehingga menurunkan kemungkinan terjadinya kanker usus besar (kolon). Selain itu, serat yang terlarut (soluble fiber) dapat mengikat kolesterol,

kemudian membawa kolesterol ke dalam pembuluh darah dan mencegah penumpukan kolesterol dalam dinding pembuluh darah, sehingga dapat mencegah penyakit darah tinggi jantung, dan stroke. Metabolisme karbohidrat dimulai dari pengubahan karbohidrat kompleks, misalnya amilum menjadi gula sederhana terutama glukosa yang diserap ke dalam darah melalui pembuluh darah yang ada pada dinding usus halus, dari sini glukosa akan di bawa ke hati kemudian diedarkan ke seluruh sel dan jaringan tubuh untuk diubah menjadi energy (ATP) melalui proses glikolisis (proses penguraian glukosa sehingga terbentuk energi). Jika tidak segera diubah menjadi energi, glukosa diubah menjadi gula otot (glikogen) yang disimpan di dalam hati dan otot. Pengubahan glukosa menjadi glikogen dibantu oleh hormon insulin. Hormon insulin berperan dalam menjaga keseimbangan gula darah. Jika diperlukan, glikogen dapat diuraikan lagi menjadi glukosa yang dibantu oleh hormon adrenalin. Kadar glukosa yang berlebihan di dalam tubuh akan diubah menjadi lemak dan disimpan di dalam jaringan lemak. 2) Lemak Lemak atau lipid juga merupakan sumber energi, 1 gram lemak menghasilkan energi 9,3 kalori. Kebutuhan lemak di dalam tubuh setiap orang berbeda-beda, untuk orang yang hidup di daerah dingin, pekerja keras, dan pemikir akan membutuhkan lebih banvak lemak. pada dasarnya, kebutuhan lemak di dalam tubuh, berkisar antara 0,5 - 1 gram lemak untuk satu kilogram berat badan per hari. Fungsi lemak di dalam tubuh adalah: a) sebagai penghasil energi (kalori); b) sebagai pelarut vitamin.yang tidak larut dalam air: vitami A, D, E, dan K; c) sebagai bantalan

organ yang sensitif di dalam tubuh, seperti ginjal dan hati dan pelindung tubuh dari perubahan suhu rendah; d)

sebagai salah satu komponen pembentuk membran sel

dan sebagai komponen pembentuk hormon di dalam tubuh. Dalam proses pencernaan, lemak dihidrolisis atau diuraikan menjadi gliserol dan asam lemak. Hidrolisis lemak ini dibantu oleh enzim lipase yang dihasilkan oleh pankreas. sebelum dihidrolisis, lemak dipecah menjadi butiran lemak yang lebih kecil (emulsi lemak) oleh cairan empedu yang dihasilkan kelenjar empedu. Asam lemak kemudian diserap di dalam usus halus dan akan bersenyawa kembali dengan griserol membentuk lemak yang akan disimpan di dalam jaringan adipose (jaringan lemak). ]ika diperlukan, lemak akan diambil dan ditransfer ke hati untuk dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol. Gliserol yang dihasilkan dari hidrolisis lemak ini akan dioksidasi, sedangkan asam lemak akan diubah menjadi asetilkoenzim-A dan kemudian diproses menjadi energi dalam bentuk ATp. Berikut ini adalah gambaran sederhana proses pencernaan lemak dalam saluran pencernaan: Lemak---------------- Emulsi Lemak ---------------- Asam Lemak + Gliserol garam empedu

Enzim Lipase

3) Protein Protein merupakan bagian penting sel - sel hidup yang berperan dalam pertumbuhan, protein mencakup 17% berat badan. Pada masa pertumbuhan lebih banyak membutuhkan protein, begitu juga ibu yang hamil dan menyusui. Fungsi protein dalam tubuh kita adalah: a) Membangun sel-sel dan jaringan baru, seperti membran sel, organel sel, jaringan otot, dan sebagainya; b) Membentuk enzim dan hormon, yang sangat vital untuk berlangsungnya reaksi-reaksi kimia dalam tubuh; c)

Membentuk zat antibodi, yang penting untuk kekebalan tubuh; d) Sebagai sumber energi; e) Menjaga keseimbangan asam-basa serta cairan dalam tubuh. Protein kompleks diserap dari saluran pencernaan dan di uraikan menjadi 20 macam asam amino yang diperlukan untuk pembentukan sel di dalam tubuh. Asam amino mengalami perubahan lebih lanjut untuk membentuk horrmon dan enzim pencernaan. Protein yang berlebih diuraikan (dikatabolisme) dalam dua tahap. Tahap pertama, protein mengalami proses deaminasi, pada reaksi ini, bagian protein yang mengandung unsur nitrogen membentuk urea, amonia dan asam urat. Setelah itu, setiap asam amino mengalami penguraian secara kimia untuk membentuk senyawa lain yang kemudian dikatabolisme. Jika diperlukan, protein dapat diubah menjadi energi melalui serangkaian reaksi yang mengubah rantai karbon menjadi molekul yang berperan di dalam proses glikolisis. 4) Vitamin Vitamin adalah zat organik yang diperlukan tubuh dalam jumlah sedikit, tetapi penting untuk mempertahankan gizi yang normal dan tidak dapat dibuat oleh tubuh. Bila kekurangan vitamin, maka akan menimbulkan penyakit defisiensi vitamin atau avitaminosis. Sebaliknya, bila kelebihan vitamin dapat menimbulkan penyakit hipervitaminosis. Di dalam tubuh, vitamin tidak menghasilkan energi tetapi vitamin bertindak sebagai koenzim dalam sel tubuh. Secara umum fungsi vitamin dalam tubuh adalah sebagai berikut: a) Sebagai bagian dari molekul enzim, terutama sebagai koenzim; b) mempertahankan fungsi berbagai jaringan seperti jaringan epitel; c) mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel - sel baru; d) membantu sintesis zat-zat tertentu dalam tubuh.

Pada umumnya vitamin tidak dapat dibuat oleh tubuh. Akan tetapi, ada beberapa vitamin yang dapat dibuat dari zat-zat tertentu (pro-vitamin) di dalam tubuh. Salah satu vitamin yang mempunyai pro-vitamin adalah vitamin D yang terletak di jaringan bawah kulit. Berdasarkan sifat kelarutanya, vitamin ada yang larut dalam air (vitamin A dan C) dan vitamin yang larut dalam lemak ( vitamin A, D, E, dan K). Karena sifat kelarutannya maka vitamin yang larut dalam air tidak dapt disimpan dalam tubuh, sedangkan vitamin yang larut dalam lemak dapat disimpan dalam tubuh. 5) Air Air merupakan bagian utama cairan tubuh dan memiliki peranan penting di dalam tubuh, 55% dari berat badan orang dewasa terdiri dari cairan. Fungsi air di dalam tubuh adalah sebagai katalisator berbagai reaksi biologis dalam sel, sebagai pelarut zat gizi yang diperlukan tubuh dan mengangkut sisa-sisa metabolisme, sebagai fisiliator pertumbuhan, sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh, sebagai pengatur suhu dan peredam benturan (misalnya cairan ketuban melindungi bayi dalam kandungan dari benturan). Kebutuhan air di dalam tubuh dapat dipenuhi dari bahan makanan yang kita konsumsi,seperti buah, sayuran, daging, susu, dan air minum. Tubuh berusaha menjaga cairan di dalam tubuh agar berada dalam jumlah yang tetap/konstan, artinya tidak kekurangan atau kelebihan air (intoksikasi air). Kekurangan air dapat disebabkan karena tubuh kehilangan cairan yang berlebihan (dehidrasi). paling sedikit, air yang harus dikeluarkan dari tubuh dalam sehari adalah 500 ml dalam bentuk urine. Selain itu, air juga dikeluarkan sebagai uap air, keringat dan keluar

bersama feses. Di luar jumlah tersebut, jumlah air yang keluar disesuaikan dengan pemasukan air. Jumlah air yang hilang per hari rata-rata 2,5 liter, untuk mengganti cairan tersebut kita harus mengkonsumsi air rata-rata 2,5 liter per hari dengan perkiraan 1,5 liter dari air minum dan 1 liter dari bahan makanan lain. Dalam proses pencernaan makanan pada manusia berlangsung dua cara, yaitu: pencernaan secara mekanis yang merupakan pemecahan atau penghancuran makanan secara fisik atau proses pencampuran makanan dengan getah (enzim) pencernaan dan pencernaan secara kimiawi yang merupakan proses pemecahan makanan dari molekul kompleks menjadi molekul-molekul yang sederhana dengan bantuan getah pencernaan (enzim) yang dihasilkan oleh kelenjar pencernaan. Sistem pencernaan pada manusia umumnya hampir sama dengan hewan vertebrata lain yang terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan terdiri dari alat-alat pencernaan vang berhubungan langsung dengan proses pencernaan mekanis dan kimiawi, saluran pencernaan tersebut meliputi: 1) Mulut Mulut manusia berupa rongga yang dilapisi oleh jaringan epitel pipih berlapis banyak. Dalam rongga tersebut terdapat alat pencernaan seperti gigi, lidah, dan kelenjar ludah (kelenjar saliva) yang membantu proses pencernaan mekanis dan kimiawi. Struktur gigi pada manusia dapat dibedakan menjadi tiga macam gigi yaitu gigi seri (insisor) yang berguna untuk memotong makanan, gigi taring (caninus) untuk mengoyak makanan, dan gigi geraham (molar) untuk mengunyah makanan. Gigi manusia melekat pada rahang atas dan rahang bawah yang terlindung oleh gusi. Struktur gigi manusia terdiri dari: a) email yang merupakan bagian terluar dari gigi

berupa lapisan yang paling keras dan berwarna putih, b) dentin atau tulang gigi tersusun oleh zat kapur dan posfor, c) Sumsum gigi (pulpa) terdapat dibagian dalam tulang gigi, pada sumsum gigi terdapat banyak pembuluh darah dan syaraf, d) lapisan semen (sementum) melapisi dentin yang masuk dan tertanam ke dalam rahang, pulpa dan sementum membentuk akar gigi.

Gambar 2.2 Kelenjar pencernaan di mulut

Berdasarkan Gambar 2.2 di atas, dalam mulut juga terdapat tiga buah kelenjar saliva yaitu kelenjar parotis, sublingualis, dan submandibularis. Kelenjar saliva mengeluarkan air liur yang mengandung enzim ptialin atau amilase, berguna untuk mengubah amilum menjadi maltosa. Pencernaan yang dibantu oleh enzim disebut pencernaan kimiawi. Di dalam rongga mulut, lidah menempatkan makanan di antara gigi sehingga mudah dikunyah dan bercampur dengan air liur. Makanan ini kemudian dibentuk menjadi lembek dan bulat yang disebut bolus. Kemudian bolus dengan bantuan lidah, didorong menuju faring. 2) Kerongkongan (esophagus) Setelah melalui rongga mulut, makanan yang berbentuk bolus akan masuk kedalam tekak (faring). Faring adalah saluran yang memanjang dari bagian belakang rongga mulut sampai ke permukaan kerongkongan (esophagus). Pada pangkal faring

terdapat katup pernapasan yang disebut epiglottis. Epiglotis berfungsi untuk menutup ujung saluran pernapasan (laring) agar makanan tidak masuk ke saluran pernapasan. Setelah melalui faring, bolus menuju ke esophagus; suatu organ berbentuk tabung lurus, berotot lurik, dan berdidnding tebal. Otot kerongkongan berkontraksi sehingga menimbulkan gerakan meremas yang mendorong bolus ke dalam lambung. Gerakan otot kerongkongan ini disebut gerakan peristaltic yang dapat digambarkan pada Gambar 2.3 berikut ini:

Gambar 2.3 Proses menelan makanan di kerongkongan

3) Lambung Lambung merupakan organ pencernaan terbesar yang terletak dibagian kiri atas rongga perut di bawah diafragma. Lambung terdiri atas tiga bagian, yaitu kardiak (bagian yang merupakan tempat masuknya kerongkongan), fundus (bagian tengah lambung), dan pilorus (bagian yang berbatasan dengan usus dua belas jari) yang secara anatomi dapat dilihat pada Gambar 2.4. Lambung juga berperan sebagai kelenjar eksokrin yang menghasilkan enzim pencernaan dan sebagai kelenjar endokrin yang menghasilkan hormon. Otot lambung berkontraksi mengaduk-aduk bolus, memecahnya secara mekanis, dan mencampurnya dengan getah lambung. Getah lambung mengandung HCl, enzim pepsin, dan renin. HCl berfungsi untuk membunuh kuman-kuman yang masuk berasama bolus akan mengaktifkan enzim

pepsin. Pepsin berfungsi untuk mengubah protein menjadi peptone. Renin berfungsi untuk menggumpalkan protein susu dengan bantuan ion kalsium (Ca2+). Sedangkan enzim lipase adalah enzim yang dapat menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Proses pencernaan di dalam lambung akan berlangsung selama 2-6 jam, tergantung pada jenis makanannya. Makanan yang berlemak akan bertahan lebih lama di dalam lambung. Sedangkan makanan yang banyak mengandung protein dan karbohidrat hanya akan tinggal sebentar di dalam lambung. Setelah melalui pencernaan kimiawi di dalam lambung, bolus menjadi bahan kekuningan yang disebut kimus (bubur usus) yang akan masuk sedikit demi sedikit ke dalam usus halus.

Gambar 2.4 Proses pencernaakan di lambung

4) Usus halus Usus halus memiliki tiga bagian yaitu, usus dua belas jari (duodenum), usus tengah (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). Suatu lubang pada dinding duodenum menghubungkan usus 12 jari dengan saluran getah pancreas dan saluran empedu, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.5. Pankreas menghasilkan enzim tripsin, amilase, dan lipase yang disalurkan menuju duodenum. Tripsin berfungsi merombak protein menjadi asam amino. Amilase mengubah amilum

menjadi maltosa. Lipase mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Getah empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung dalam kantung empedu. Getah empedu disalurkan ke duodenum. Getah empedu berfungsi untuk menguraikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol Selanjutnya pencernaan makanan dilanjutkan di jejunum. Pada bagian ini terjadi pencernaan terakhir sebelum zat-zat makanan diserap. Zat-zat makanan setelah melalui jejunum menjadi bentuk yang siap diserap. Penyerapan zat-zat makanan terjadi di ileum. Glukosa, vitamin yang larut dalam air, asam amino, dan mineral setelah diserap oleh vili usus halus akan dibawa oleh pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Asam lemak, gliserol, dan vitamin yang larut dalam lemak setelah diserap oleh vili usus halus akan dibawa oleh pembuluh getah bening dan akhirnya masuk ke dalam pembuluh darah.

Gambar 2.5 Proses pencernaan di lambung

5) Usus Besar (kolon) Bahan makanan yang sudah melalui usus halus akhirnya masuk ke dalam usus besar (kolon). Usus besar dihubungkan dengan dinding perut belakang oleh

mesokolon. Panjang usus besar lebih kurang 1,4 meter dan lebar lebih kurang 6 cm yang terdiri atas usus buntu (appendiks), bagian yang menaik (ascending colon), bagian

yang mendatar (transverse colon), bagian yang menurun (descending colon), dan berakhir pada anus, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.6. Bahan makanan yang sampai pada usus besar dapat dikatakan sebagai bahan sisa yang terdiri atas sejumlah besar air dan bahan makanan yang tidak dapat tercerna, misalnya selulosa. Usus besar berfungsi mengatur kadar air pada sisa makanan. Bila kadar air pada sisa makanan terlalu banyak, maka dinding usus besar akan menyerap kelebihan air tersebut. Sebaliknya bila sisa makanan kekurangan air, maka dinding usus besar akan mengeluarkan air dan mengirimnya ke sisa makanan. Proses pencernaan di kolon

manusia juga dibantu oleh bakteri usus Escherichia coli yang merombak sisa-sisa makanan sehingga terbentuk feses. Dengan adanya perombakan sisa makanan oleh bakteri ini, maka dapat dihasilkan beberapa vitamin seperti vitamin K, yang diperlukan dalam proses pembekuan darah.

Gambar 2.6 Proses pencernakan di usus besar

Beberapa kelainan dan penyakit yang dapat terjadi pada alat-alat sistem pencernaan antara lain: a) Parotitis yaitu penyakit gondong yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus yang menyerang kelenjar air ludah di bagian bawah telinga, akibatnya kelenjar ludah menjadi bengkak atau membesar; b) xerostomia yaitu istilah bagi penyakit pada rongga mulut yang ditandai dengan rendahnya produksi air ludah.

Kondisi mulut yang kering membuat makanan kurang tercerna dengan baik; c) tukak lambung, terjadi karena adanya luka pada dinding lambung bagian dalam. Maka secara teratur sangat dianjurkan untuk mengurangi resiko timbulnya tukak lambung; d) appendiksitas atau infeksi usus buntu, dapat merembet ke usus besar dan menyebabkan radang selaput rongga perut; e) diare yaitu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri maupun protozoa pada usus besar. Karena infeksi tersebut, proses penyerapan air di usus besar terganggu, akibatnya feses menjadi encer; f) konstipasi atau sembelit terjadi akibat penyerapan air yang berlebihan pada sisa makanan di dalam usus besar. Akibatnya, feses menjadi sangat padat dan keras sehingga sulit dikeluarkan. Untuk mencegah sembelit dianjurkan untuk buang air besar teratur tiap hari dan banyak makan sayuran atau buah-buahan.

B. Penelitian Yang Relevan Penelitian yang relevan dengan dengan penelitian ini adalah sebagaimana berikut ini 1. Suwarto (2009) dalam penelitian yang berjudul Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca dan Menulis Permulaan dengan Metode Kooperatif Integrasi

Membaca

dan

komposisi

(CIRC).

Hasil

penelitian

tersebut

menunjukkan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dibandingkan dengan kemampuan awal. Relevansi penelitian yang dilakukan Suwarto (2009) dengan penelitian ini adalah menggunakan metode pembelajaran cooperative integrated reading composition. Perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan Suwarto (2009) merupakan

penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam tiga siklus dan masing-masing siklus dilakukan 2 kali pertemuan. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, serta evaluasi dan refleksi, sedangkan penelitian ini meruakan penelitian eksperimental yang melibatkan variabel bebas, variabel terikat dan variabel moderator. 2. Mardiyanta (2009) dalam penelitian yang berjudul Pembelajaran Kooperatif Melalui Model Jigsaw dan Group Investigation dengan Memperhatikan Tingkat Aktivitas Belajar Siswa. Hasil penelitian menunjukan bahwa model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan prestasi belajar ranah kognif dan afektif. Relevansi penelitian yang dilakukan Mardiyanta (2009) dengan penelitian ini terletak pada variabel bebas, yaitu metode Group Investigation. Perbedaan penelitian yang dilakukan Mardiyanta (2009) dengan penelitian ini terletak pada pencapaian prestasi belajar ranah afektif, sedangkan dalam penelitian ini hanya mengukur prestasi belajar ranah kognif. 3. Semin (2009) dalam penelitian yang berjudul Keefektifan Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Ditinjau dari Minat Siswa. Hasil penelitina menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa banyak tergantung dari cara guru dalam mengelola kelas, dengan penerapan pendekatan yang tepat dipadu dengan dimilikinya minat belajar dari siswa maka akan dapat dihasilkan prestasi belajar siswa secara optimal. Relevansi penelitian yang dilakukan Semin (2009) dengan penelitian ini terletak pada salah satu variabel moderator, yaitu minat belajar siswa. Perbedaan antara

penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Semin (2009) terletak pada variabel bebas. Penelitian yang dilakukan Semin (2009) menggunakan variabel bebas berupa pendekatan pembelajaran konstektual, sedangkan penelitian ini menggunakan variabel bebas berupa metode pembelajaran yang terdiri atas: metode group investigas dan cooperative integrated reading composition. 4. Wagiman (2009) dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model CIRC, Time Token, dan Kedisiplinan Siswa Menyelesaikan Tugas Belajar Kimia Terhadap Kompotensi Kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran CIRC akan selalu memberikan pengaruh yang baik dari pada pembelajaran time token dan siswa yang memiliki kedisiplinan kategori tinggi selalu mendapat hasil kompetensi yang lebih baik untuk kompetensi kognitif pada pokok bahasan kekhasan atom karbon dan penggolongan hidrokarbon. Relevansi penelitian yang dilakukan Wagiman (2008) dengan penelitian ini adalah menggunakan metode pembelajaran cooperative integrated reading composition dengan memperhatikan kedisiplinan siswa menyelesaikan tugas belajar kompetensi kognitif. Perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan Wagiman (2009) menekankan pada penyelesaian tugas belajar kimia sedangkan dalam penelitian ini menekankan pada pencapaian prestasi belajar. 5. Sukamta (2004) dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Kedisiplinan dan Sikap Kemandirian Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SDN Se-kecamatan Wonosari Klaten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

kedisiplinan dan sikap kemandirian memberikan sumbangan efektif kepada hasil belajar matematika. Relevansi penelitian yang dilakukan Sukamta (2004) dengan penelitian ini terletak pada variabel moderator, yaitu: kedisiplinan belajar siswa. Perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan Sukamta (2004) tidak memperhatikan variabel bebas dan tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kedisiplinan belajar dan sikap kemandirian belajar secara bersama-sama terhadap hasil belajar matematika siswa kelas V SDN se-Kecamatan Wonosari, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan variabel bebas metode pembelajaran yang terdiri atas: group investigation dan cooperative integrated reading composition.

C. Kerangka Berpikir 1. Pengaruh metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. Materi pembelajaran sistem pencernaan makanan pada manusia merupakan mata pelajaran yang tidak bisa diamati secara langsung (abstrak) dan banyak istilahistilah asing. Dalam mengaplikasikan mata pelajaran ini seorang guru perlu menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang tepat, salah satu pendekatan tersebut yaitu pendekatan cooperative learning yang dapat membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikap sesuai dengan kehidupan nyata di masyarakat, sehingga dengan bekerja bersama-sama di antara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi, produktivitas, dan perolehan belajar.

Selain pendekatan pembelajaran, dalam penyampaian meteri pelajaran perlu adanya metode pembelajaran yang tepat agar dapat mengaktifkan siswa dalam belajar salah satunya metode group investigation yang menekankan guru dan siswa bekerja sama dalam membangun pelajaran. Pada pembelajaran group investigation ini guru dituntut untuk melibatkan siswa mulia dari

perencanaan sampai pada

pelaksanaannya, baik dalam manentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigation. Penerapan Pembelajaran dengan metode GI diharapkan siswa memiliki ketergantungan positif untuk saling membantu dalam penguasaan materi pelajaran sehingga siswa berinteraksi dan bekerja sama dalam mempelajari dan menguasai materi pelajaran, siswa kooperatif dalam kelompoknya, siswa yang berkemampuan tinggi membantu yang mempunyai kemampuan sedang atau kurang dalam bentuk tutor sebaya. Penguasaan keterampilan membaca dan menulis merupakan hal dasar dalam belajar, maka perlu adanya metode pembelajaran yang sesuai dengan keterampilan tersebut yaitu metode Cooperative Integrated Reading Composition. Keberhasilan penerapan metode CIRC sangat bergantung pada keaktifan siswa dimana mereka harus dapat bekerja sama dalam kelompok yang mempunyai kemampuan heterogen. Dengan menerapkam metode CIRC diharapkan dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan dalam memahami bacaan, yang dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : meringkas, menjawab pertanyaan, menerangkan dan kemampuan meramalkan. Dalam metode CIRC setelah siswa menyelesaikan permasalahan yang dihadapi maka siswa harus dapat menyampaikan apa yang telah diramalkan

Jadi proses kooperatif menjadikan siswa mampu meningkatkan motivasi belajarnya, harapan lebih berhasil tinggi, saling memberikan dukungan yang menguntungkan sehingga diharapkan memberikan kontribusi yang signifikan dalam prestasi belajar siswa. Dengan demikian diduga terdapat pengaruh prestasi belajar biologi antara siswa yang mendapat pembelajaran dengan metode GI dan CIRC. 2. Pengaruh minat siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. Minat merupakan salah satu unsur pribadi yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar individu. Tanpa adanya minat terhadap materi belajar, maka siswa tidak dapat belajar dengan sungguh-sungguh dan dampaknya hasil belajar tidak sesuia dengan yang diharapkan. Dengan adanya minat belajar yang kuat maka subyek belajar akan memperhatikan dan mengenang bahan ajar yang diajarkan guru. Juga secara terus menerus tertuju pada meteri yang dipelajari dengan rasa senang. Ini berarti minat merupakan sesuatu kekuatan yang mendorong seseorang menaruh perhatian terhadap seseorang, suatu benda atau suatu kegiatan. Dengan demikian diprediksi bahwa prestasi belajar siswa yang mempunyai minat belajar tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai minat belajar rendah 3. Pengaruh kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa Disiplin melaksanakan

marupakan

kepatuhan

seseorang untuk

menghormati

dan

suatu sistem yang mengharuskan orang tunduk pada keputusan,

perintah atau peraturan yang berlaku. Disiplin tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus ditumbuhkan, dikembangkan dan diterapkan dalam semua aspek

sehingga akan menjadi suatu kebiasaan yang bermanfaat. Seseorang yang mempunyai disiplin belajar yang tinggi maka dalam proses belajarnya akan tersusun secara terjadwal dan terstuktur sehingga prestasi belajarnya menjadi optimal sedangkan siswa yang berdisiplin rendah kurang sadar akan tanggungjawab pada dirinya dan mengabaikan waktu belajar sehingga penguasaan materi pelajaran kurang yang pada akhirnya prestasi belajarnya tidak optimal. Dengan demikian diprediksi bahwa prestasi belajar siswa yang mempunyai kedisiplinan belajar tinggi lebih baik dari pada siswa yang mempunyai kedisiplinan belajar rendah. 4. Interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. Pada materi sistem pencernaan pada manusia dibutuhkan tingkat perhatian dan pemahaman yang tinggi sehingga selain metode pembelajaran juga dibutuhkan minat dalam belajar. Karena jika tidak ada minat dari siswa untuk belajar maka siswa tidak akan tertarik dengan pelajaran dan tidak memperoleh kepuasan dari belajar biologi. Siswa yang mempunyai minat belajar tinggi dalam proses belajar mengajar akan lebih cepat memahami konsep yang dipelajari dan menguasai materi yang diberikan sedangkan siswa yang mempunyai minat belajar rendah akan sulit menguasai pelajaran karena tidak ada daya ketertarikan pada materi pelajaran tersebut. Dengan demikian diprediksi ada interaksi penggunaan metode pembelajaran GI dan CIRC dengan minat belajar terhadap prestasi belajar biologi.

5. Interaksi antara kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. Pada materi sistem pencernaan pada manusia dibutuhkan keaktifan dan kerjasama yang tinggi diantara siswa sehingga metode ini cocok untuk diterapkan dalam pembelajaran. Pada proses belajar kelompok diperlukan kedisiplinan yang tinggi agar proses diskusi berjalan lancar. Siswa yang mempunyai tingkat kedisiplinan tinggi, sebelum pelajaran dimulai siswa sudah mempersiapkan diri dirumah mempelajari materi akan diajarkan sehingga dalam kegiatan belajar mengajar hanya mengembangkan materi yang belum dipahami siswa. Sedangkan siswa yang berdisiplin rendah akan sulit baginya mengikuti pelajaran denganmateri ini. Dengan demikian diprediksi ada interaksi penggunaan motode pembelajaran GI dan CIRC dengan kedisiplinan belajar terhadap prestasi belajar biologi. 6. Interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. Faktor yang ikut menentukan prestasi belajar siswa diantaranya minat dan kedisiplinan belajar. Minat merupakan salah satu aspek psikis yang dapat membantu menentukan pilihaan yang berguna bagi dirinya. Hal ini disebabkan karena setiap inividu mempunyai kencenderungan untuk selalu berhubungan dengan segala sesuatu yang dianggap akan memberikan kesenangan. Berdasarkan rasa senang akan timbul minat untuk memperoleh, mengembangkan dan sekaligus mempertahankan sesuatu yang dianggap dapat mendatangakan kesenangan. Sedangkan kedisiplinan merupakan ketaatan terhadap tata tertib yang berlaku sehingga menjadikan siswa

belajar dengan teratur, tertib dan tepat waktu agar dirinya berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. Belajar secara teratur , tertib dan tepat waktu merupakan sikap disiplin dalam belajar. Dengan demikian siswa yang mempunyai minat belajar yang tinggi diprediksikan mempunyai tingkat kedisiplinan yang tinggi pula jadi ada interaksi antara minat belajar dengan kedisiplinan belajar terhadap prestasi belajar biologi. 7. Interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. Dari prediksi bahwa ada interaksi penggunaan metode pembelajaran GI dan CIRC

dengan minat

belajar, prediksi ada interaksi penggunaan metode

pembelajaran GI dan CIRC

dengan kedisiplinan belajar dan juga prediksi ada

interaksi antara minat belajar dengan kedisiplinan belajar maka penulis juga memprediksikan adanya interaksi antara penggunaan metode pembelajaran GI dan CIRC dengan minat belajar dan kedisiplinan belajar terhadap prestasi belajar biologi.

D. Hipotesis Dari kajian teori dan kerangka berpikir di atas dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. Metode Group Investigation lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dibandingkan Cooperative Integrated Reading Composition.

2. Terdapat pengaruh minat siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. Minat berkategori tinggi lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dibandingkan minat berkategori rendah 3. Terdapat pengaruh kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. Kedisiplinan berkategori tinggi lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dibandingkan kedisiplinan berkategori rendah 4. Terdapat interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. Interaksi antara minat dengan metode pembelajaran Group Investigation lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dibandingkan interaksi antara minat dengan metode pembelajaran Cooperative Integrated Reading Composition. 5. Terdapat interaksi antara kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. Interaksi antara kedisiplinan dengan metode pembelajaran Group Investigation lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dibandingkan interaksi antara kedisiplinan dengan metode pembelajaran Cooperative Integrated Reading Composition. 6. Terdapat interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa. Interaksi antara minst berkategori tinggi dan kedisiplinan berkategori tinggi lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dibandingkan interaksi antara minat berkategori rendah dan kedisiplinan berkategori rendah

7. Terdapat interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition terhadap prestasi belajar siswa. Interaksi antara minat dan kedisiplinan dengan metode pembelajaran Group Investigation lebih berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dibandingkan interaksi antara minat dan kedisiplinan dengan metode pembelajaran Cooperative Integrated Reading Composition.

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat penelitian dilaksanakan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Colomadu Karanganyar tahun ajaran 2009/2010. 2. Waktu Penelitian Waktu penelitian ini dilakukan secara bertahap. Secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, tahap penyelesaian. a. Tahap Persiapan Tahap persiapan ini meliputi permohonan pembimbing, pengajuan judul tesis, pengajuan proposal tesis, permohonan ijin survai, dan konsultasi intrumen penelitian pada pembimbing. Tahapan ini dilaksanakan pada bulan Maret - April 2009. b. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan meliputi semua kegiatan yang berlangsung dilapangan meliputi iju coba instrumen, pelaksanaan penelitian, pengambilan data yang dilaksanakan dari bulan Juli - September 2009. c. Tahap Penyelesaian Tahap penyelesaian meliputi penganalisisan data dan menyususn laporan penelitian serta konsultasi. Tahap ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai selesai. Dari tahap penelitian diatas dapat digambarkan pada Tabel 3.1 berikut ini:

66

Tabel 3.1. Pelaksanaan Penelitian. Kegiatan

Bulan 3

4

Proposal penelitian





Permohonan ijin



√ √

Pembuatan dan uji instrumen

5

laporan

&





7

8

9

















10



Pengambilan data penelitian Penyusunan

6





konsultasi

B. Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen dengan dua perlakuan yang melibatkan satu atau lebih kelompok eksperimen tanpa melibatkan satu atau lebih kelompok kontrol. Kelompok tersebut dianggap sebagai kelompok eksperimen I dan kelompok eksperimen II. Kedua kelompok tersebut diasumsikan sama dalam segala segi yang relevan dan hanya berbeda dalam pemberian perlakuan mengajar. Kelompok eksperimen I diberikan perlakuan pembelajaran dengan metode GI ( Group Investigasi) sedangkan kelas eksperimen II diberikan perlakuan pembelajaran dengan metode CIRC ( Cooperative Integrated Reading Composition). Setelah proses pembelajaran selesai diadakan penilaian prestasi belajar untuk ranah kognitif. Dari data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk masing-masing ranah menggunakan analisis anava dengan desain faktorial 2x2x2 ini ditunjukkan pada Tabel 3.2 berikut ini.

Tabel 3.2. Desain Faktorial Model Kooperatif (A)

Minat

Kedisiplinan Tinggi

Tinggi (B0)

(C0) Kedisiplinan Rendah

Merode GI (A0)

Metode CIRC (A1)

A0B0C0

A1B0C0

A0B0C1

A1B0C1

A0B1C0

A1B1C0

A0B1C1

A1B1C1

(C1) Minat

Kedisiplinan Tinggi

Rendah

(C0)

(B1)

Kedisiplinan Rendah (C1)

A0B0C0 adalah sel kelompok siswa yang diajar dengan metode GI yang memiliki minat belajar rendah dan kedisiplinan belajar rendah, A1B0C0 adalah sel kelompok siswa yang diajar metode CIRC yang memiliki minat belajar rendah dan kedisiplinan belajar rendah, A0B0C1 adalah sel kelompok siswa yang diajar dengan metode GI yang memiliki minat belajar rendah dan kedisiplinan belajar tinggi, A1B0C1 adalah sel kelompok siswa yang diajar metode CIRC yang memiliki minat belajar rendah dan kedisiplinan belajar tinggi, A0B1C0 adalah sel kelompok siswa yang diajar dengan metode GI yang memiliki minat belajar tinggi dan kedisiplinan belajar rendah, A1B1C0 adalah sel kelompok siswa yang diajar metode CIRC yang memiliki minat belajar tinggi dan kedisiplinan belajar rendah, A0B1C1 adalah sel kelompok siswa yang diajar dengan metode GI yang memiliki minat belajar tinggi dan kedisiplinan belajar tinggi, A1B1C1 adalah sel kelompok siswa yang diajar metode CIRC yang memiliki minat belajar tinggi dan kedisiplinan belajar tinggi.

C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi Menurut Margono (2005: 118) menyatakan bahwa populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruanglingkup dan waktu yang kita tentukan. Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan keseluruhan atau sekumpulan subjek yang menarik diteliti dan dijadikan sumber data yang akan memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian untuk dianalisis. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Colomadu tahun pelajaran 2009/2010. 2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Sampel menurut Margono (2005: 121) adalah bagian dari populasi, sebagai contoh (monster) yang diambil dengan menggunakan cara-cara tertentu. Jadi dapat diambil kesimpulana bahwa sampel adalah sebagian atau wakil populasi, memiliki sifat sama yang dijadikan subjek penelitian. Teknik pengambilan sampel yang Peneliti gunakan dengan cluster random sampling karena melibatkan seleksi klusterkluster yang dipilih dimasukkan dalam sampel (Suharsimi Arikunto 2006 : 142). Teknik random sampling digunakan untuk memilih kelas yang akan dipilih menjadi subyek. Pemilihan sampel dilakukan denagn cara undian. Adapun sampel ditetapkan sebanyak 3 sekolahan (SMP Negeri) yang berada di kecamatan Colomadu. Adapun langkah yang dilakukan adalah: a. Untuk menentukan sekolah yang akan digunakan penelitian, dipilih dengan cara mengundi 3 SMP Negeri di Colomadu. Pengundian pertama dijadikan tempat

penelitian dan pengundian yang kedua dijadikan tempat uji coba instrumen (try out) b. Mengambil dau kelas secara random acak dari 6 kelas dengan cara undian untuk dijadikan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II c. Setelah didapat dua kelas kemudian diundi kembali dengan menggunakan koin untuk menentukan kelas mana yang akan diberi perlakuan dengan metode GI dan metode CIRC.

D. Variabel Penelitian Pada penelitian ini variabel-variabel yang terlibat didefinisikan sebagai berikut: 1. Variabel Bebas Variabel bebas pada penelitian ini adalah metode pembelajaran Group Investigasi (GI) dan Cooperative Integrated Reading Composition (CIRC). a. Definisi operasional 1) Model pembelajaran berperan sebagai pengarah penciptaan suasana pembelajaran dengan indikator pembelajaran keadaan kelas terjadi proses belajar sesuai langkah metode CIRC dan GI 2) Metode GI merupakan metode pembelajaran kooperatif dimana peserta didik dibimbing untuk mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai cakrawala mengenai masalah, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan mengetes/meguji hipotesis.

3) Metode

CIRC

berperan

sebagai

pengarah

dalam

menciptakan

proses

pembelajaran dengan suasana aktivitas secara kooparatif dengan membaca dan menulis untuk menggali informasi dalam rangka menguasai kompetensi kognitif. b. Skala pengukuran : nominal 2. Variabel Moderator Variabel mederator pada penelitian ini adalah minat dan kedisiplinan belajar siswa. a. Definisi operasional 1) Minat belajar adalah suatu sikap mendorong siswa untuk memberikan perhatian terhadap pelajaran sehingga siswa menyukai dan merasa tertarik terhadap pelajaran tanpa ada yang menyuruh. 2) Kedisiplinan belajar adalah ketaatan dan ketertiban siswa dalam belajar. Bila siswa belajar dengan tertib, teratur dan tunduk terhadap peraturan yang ditetapkan dengan senang hati, maka siswa dapat belajar dengan penuh kedisiplinan. b. Skala pengukuran : nominal 3. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar Biologi. a. Definisi Operasional Ranah kognitif adalah hasil belajar intelektual yang terdiri atas enam aspek yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Indikator diambil dari nilai uji kompetensi b. Skala yang digunakan adalah skala interval

E. Instrumen Penelitian Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1. Instrumen pelaksanaan penelitian yang digunakan sebagai urutan pelaksanaan penelitian yaitu berupa Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa. 2. Instrumen pengambilan data yang diguinakan sebagai instrumen pengambilan data yaitu angket minat, angket kedisiplinan belajar dan tes prestasi belajar ranah kognitif. a. Instrumen Angket Minat dan Kedisiplinan Belajar Metode angket adalah pengumpulan data melalui daftar pertanyaan tertulis untuk dijawab secara lisan oleh responden sebagai sumber data. Data yang diperoleh melalui metode ini adalah minat dan kedisiplinan belajar siswa pada pokok bahasan sistem pencernaan makanan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis angket langsung tertutup, maksudnya bahwa penulis memberikan angket secara langsung kepada responden untuk memperoleh data tentang responden itu sendiri tanpa melalui perantara orang lain. Sedangkan angket tertutup yang dimaksud adalah bahwa responden tinggal memilih jawaban yang telah tersedia. Pemberian skor tiap item pertanyaan menurut skala likert dalam Sugiyono (2006: 135) yaitu sebagai berikut: item soal positif dengan skor 4 untuk alternatif jawaban selalu (SL), skor 3 untuk alternatif jawaban sering (SR), skor 2 untuk alternatif jawaban tidak tahu (TD), skor 1 untuk alternatif jawaban jarang (J), skor 0 untuk alternatif jawaban tidak pernah (TP), sedangkan untuk item soal negative merupakan kebalikan dari skor positif.

b. Instrumen tes prestasi belajar ranah kognitif. Metode tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu. Tes yang digunakan dalam penelitian berupa tes obyektif pada pokok bahasan sistem pencernaan makanan pada manusia. Untuk tes prestasi belajar ranah kognitif skor yang digunakan ditunjukakan pada persamaan berikut ini: P = ( B x 100) N Dari persamaan diatas P menyatakan Prestasi belajar, B jumlah betul dari semua item soal, N jumlah item soal.

F. Uji Coba Instrumen Instrumen pengambilan data yang berupa angket dan tes prestasi belajar ranah kognitif sebelum digunakan dalam pengambilan data penelitian harus diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas soal. Uji coba soal ditujukan untuk mengetahui validitas, reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran soal. 1. Validitas Untuk menguji validitas instrumen pengambilan data yang berupa angket dan tes prestasi belajar ranah kognitif dapat menggunakan rumus angka kasar product moment dari Pearson menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 275) adalah sebagi berikut: rxy =

N å XY - (å X )(å Y )

{N å X - (å X )}{N å Y 2

2

2

- (å Y )

2

}

Dimana: rxy

: Koefisien korelasi suatu butir soal

X

: Skor item

Y

: Skor total

N

: Jumlah subyek

Kriteria pengujian: Jika rxy > t total maka item dinyatakan valid Jika rxy < t total maka item dinyatakan tidak valid Klasifikasi validitas soal adalah sebagai berikut: Antara 0,800 – 1,00

: Tinggi

Antara 0,600 – 0,800 : Cukup Antara 0,400 – 0,600 : Agak randah Antara 0,200 – 0,400 : Rendah Antara 0.000 – 0,200 : Sangat rendah Kreteria harga dari rxy adalah item tes dikatakan valid jika rxy > r

tabel

pada taraf

signifikansi 5%. Hasil uji instrumen penilian kemampuan kognitif, minat belajar dan kedisiplinan belajar dapat di lihat pada tabel 3.3 berikut ini: Tabel 3.3 Instrumen Pengambilan Data Sumber

Jumlah Soal

Kriteria Valid

Tidak Valid

Kemampuan kognitif

40

39

1

Angket Minat

48

40

8

Angket Kedisiplinan

40

34

6

Dari Tabel instrumen pengambilan data diatas maka dapat diambil keputusan bahwa: a. Tes kemampuan kognitif dari 40 soal yang di uji cobakan digunakan 39 butir soal untuk pengambilan data. Soal yang tidak digunakan adalah no 39 karena hasil keputusan menunjukkan r hitung kurang dari r tabel sehingga soal invalid. b. Angket minat belajar dari 48 butir soal yang di uji cobakan digunakan 40 butir soal untuk pengambilan data. Soal yang tidak digunakan adalah soal no 3, 8, 10, 13, 16, 19, 22,dan 24 karena hasil keputusan menyatakan invalid, hal ini karena rxy dari soal tersebut kurang dari rtabel = 0,316. c. Angket kedisiplinan belajar dari 40 butir soal yang di uji cobakan digunakan 34 butir soal untuk pengambilan data. Soal yang tidak digunakan adalah soal no 3, 6, 10, 12, 14, dan 21 karena hasil keputusan menyatakan invalid, hal ini karena

rxy

dari soal tersebut kurang dari rtabel = 0,316. 2. Reliabilitas Reliabilitas adalah keajegan suatu tes yang apabila diteskan dapat mengukur hasil yang sama untuk semua subyek yang mempunyai kemampuan tidak jauh berbeda. Untuk menguji reliabilitas angket dan tes prestasi belajar ranah kognitif terdapat perbedaan penggunaan rumusnya yaitu: a. Reliabilitas tes prestasi belajar ranah kognitif menggunakan persamaan rumus Kuder- richardson (K-R 20) menurut Suharsimi Arikunto (2006 : 187) adalah sebagi berikut: r11 =

æ k öæç Vt - å pq ö÷ ç ÷ ÷ Vt è k - 1 øçè ø

Dimana: r11

: reliabilitas instrumen

N

: banyaknya butir pertanyaan

Vt

: variansi total

p

: proporsi subyek yang menjawab betul pada sesuatu butir (proporsi subjek yang mendapat skor 1)

p

: banyaknya subjek yang skornya 1 N

q

: banyaknya subjek yang mendapat skornya 0 (q = 1 – p)

Kriteria: 0,00 £ r11< 0,20 : Reliabilitas sangat rendah 0,20 £ r11< 0,40 : Reliabilitas rendah 0,40 £ r11< 0,60 : Reliabilitas cukup 0,60 £ r11< 0,80 : Reliabilitas tinggi 0,80 £ r11< 1,00 : Reliabilitas sangat tinggi Dari hasil reliabilitas instrumen pengambilan data diperoleh r11 0.986 > r tabel,

sehingga

tes prestasi belajar ranah kognitif pada materi sistem pencernan

makanan pada manusia tersebut reliabel dan termasuk dalam kategori tinggi. b. Reliabilitas angket menggunakan persamaan rumus alpha menurut Budiyono (2004: 195) yaitu: 2 æ k öæç å s b ö÷ r11 = ç 1 ÷ s t2 ÷ø è k - 1 øçè

Dimana:

r11

: reliabilitas instrumen

k

: banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

∑ s b2

: jumlah variansi butir

s t2

: Variansi total

Kriteria tingkat reliabilitas berdasarkan koefisien r menurut Suharsimi Arikunto (2006: 245) adalah sebagai berikut: 0,800 -1,00

= tinggi

0,600 – 0,800 = cukup 0,400 – 0,600 = sedang 0,200 – 0, 400 = rendah 0,100 - 0,200 = sangat rendah Dari hasil reliabilitas instrumen pengambilan data diperoleh r11 angket minat belajar sebesar 0.993 , r11 angket kedisiplinan belajar sebesar 0. 992 yang mana lebih besar dari r

tabel,

sehingga angket minat belajar dan angket kedisiplinan belajar

tersebut reliabel dan termasuk dalam kategori tinggi. 3. Tingkat Kesulitan Soal yang baik adalah soal yang mempunyai Indeks Kesulitan memadai dalam arti tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Untuk mengukur tingkat kesulitan soal menurut Suharsimi Arikunto (2006: 208) menggunakan rumus : P=

B JS

Dimana: P : Indeks kesukaran

B : banyak siswa yang menjawab soal dengan benar JS : jumlah seleruh siswa peserta tes Kriteria derajat keesukaran: Soal dengan 0,00< P £ 0,30 : soal sukar Soal dengan 0,30< P £ 0,70 : soal sedang Soal dengan 0,70< P £ 1,00 : soal mudah Dari hasil analisis instrumen pengambilan data diperoleh hasil sebanyak 7 butir soal dalam kategori sukar, 21 butir soal dalam kategori sedang, 12 butir soal dalam kategori mudah. Dari hasil tersebut terlihat ketidak seimbangan antara kategori mudah dan kategori sukar, untuk menyeimbangkan kedua kategori tersebut maka dilakukan perbaikan 5 butir soal yang berkategi mudah. 4. Daya Pembeda (DP) Perhitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai berdasarkan kriteria tertentu. Untuk mengetahui daya pembeda dari masing-masing item soal digunakan rumus : DP =

BA BB J A JB

Dimana: DP

: daya pembeda adalah rasio banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar

BA

: dengan banyaknya peserta kelompok atas

BB

: dengan banyaknya peserta kelompok bawah

JA

: dikuarangi rasio banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar

Jb

: dikuarangi rasio banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar

Klasifikasi daya pembeda menurut Suharsimi Arikunto ( 2006 : 218): Soal dengan 0,00< P £ 0,20 : kategori jelek Soal dengan 0,20< P £ 0,40 : kategori cukup Soal dengan 0,40< P £ 0,70 : kategori baik Soal dengan 0,70< P £ 1,00 : kategori baik sekali Dari hasil analisis instrumen pengambilan data diperoleh hasil sebanyak 19 butir soal dalam kategori baik, 10 butir soal dalam kategori cukup, 11 butir soal dalam kategori jelek. Dari hasil tersebut terlihat ketidak seimbangan antara kategori baik dan kategori jelek, untuk menyeimbangkan kedua kategori tersebut maka dilakukan perbaikan 8 butir soal yang berkategi jelek.

G. Teknik Analisa Data 1. Pengujian Prasyarat Analisis Uji prasarat yang digunakan dalam analisis variansi adalah uji normalitas dan uji homogenitas. a. Uji Normalitas Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Untuk menguji normalitas digunakan metode Lilifores menurut Budiyono (2004: 170) dengan prosedur:

1) Menentukan Hipotesis Hipotesis Ho : sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal H1 : sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal 2) Menentukan Taraf Signifikansi Taraf signifikan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar peluang terjadinya kesalahan analisis. Taraf signifikan dalam penelitian ini adalah 0,05 ( a = 5%) 3) Menetapkan Sattistik Uji Statistik uji yang digunakan adalah: L max = F (Z i ) - S (Z i )

æX Xö Z i = ç i- ÷ è s ø

Dengan : F (Z i ) : P(Z £ Z i ); Z ~ N (0,1) , dan S(zi) = proporsi cacah z ≤ i terhadap seluruh zi 4) Daerah kritik (DK): (L L > La : n}; n adalah ukuran sampel 5) Keputusan uji Ho diterima jika Lobs < L a ;n (berarti sampel berasal dari populasi yang berdistribusi tidak normal) Ho ditolak jika Lobs > L a ;n (berarti sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal) b. Uji Homogenitas Budiyono (2004: 175-177) menegaskan untuk mengetahui apakah variansivariansi dari populasi homogen digunakan uji homogenitas variansi populasi.

Penelitian ini untuk menguji homogenitas sampel menggunakan metode bartelt yang dirumuskan sebagai berikut: 2.203 (f log RKG c

X2 =

åf

j

log s 2j )

Dengan x2

» x2 (k-1)

k

: banyaknya sampel

N

: banyaknya seluruh nilai (ukuran)

Nj

: banyaknya seluruh nilai sampel ke-j

fj = nj -1 : derajat kebebasan untuk sj2 : j=1, 2, ...,k k

f=N–k=

åf j =1

c=1+

j

= derajat kebebasan untuk RKG

1 é 1 1ù êå - ú ; 3(k - 1) ëê f j f úû

å SS åf

RKG = rataan kuadrat galat =

j

;

j

SSj =

åX

(å X ) = (n n 2

2 j

j

j

- 1)s 2j

j

Dengan kriteria uji sebagai berikut: Dk = 1; s = 0,05 Jika xhit2 £ xtab2 = berarti sampel berasal dari populasi homogen Jika xhit2 ³ xtab2 = berarti sampel berasal dari populasi yang tidak homogen

2.

Pengujian Hipotesis Dalam penelitian untuk menyimpulkan apakah hipotesa diterima atau

ditolak, data sampel dianalisis dengan menggunakan statistik anava tiga jalan dengan sel tak sama. Asumsi yang digunakan apabila populasi berdistribusi normal dan sampel homogen yang dipilih secara acak, variabel terikat berskala interval dan variabel bebas berskala nominal. Adapun langkah-langkah analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama menurut Budiyono (2004: 232) adalah sebagai berikut: a. Model Xijkl = m + a i + b j + g k + (ab ) ij + (ag ) ik + ( bg ) jk + (abg ) ijk + Îijkl Dimana: Xijkl

: data ke-I pada faktor A kategori Ke-i, faktor B kategori ke-j dan faktor C kategori ke-k

m

: rerata dari seluruh data

ai

: efek faktor A kategori ke-i pada variabel terikat

bj

: efek faktor B kategori ke-j pada variabel terikat

gk

: efek faktor C kategori ke-k pada variabel terikat

(ab ) ij

: kombinasi efek faktor A dan B

(bg ) jk

: kombinasi efek faktor B dan C

(ag )ik

: kombinasi efek faktor A dan C

(abg )ijk

: kombinasi efek faktor A ,B dan C

Îijkl

: daviasi data Xijkl terhadap rerata populasinya ( m ij ) yang berdistribusi normal

i : 1,2,3,...,p; p = banyaknya kategori pada variabel A j : 1,2,3,...,q; q = banyaknya kategori pada variabel B k : 1,2,3,...,r; r = banyaknya kategori pada variabel C l: 1,2,3,...,n; n = banyaknya data amatan pada setiap sel b. Rangkuman notasi dan tata letak data Tabel 3.4. Notasi dan Tata Letak Data Minat Belajar Tinggi (B0) Pendekatan

Minat Belajar Rendah (B1)

Kedisiplinan Kedisiplinan Kedisiplinan Kedisiplinan

Kooperatif (A)

Tinggi (C1)

Rendah (C0)

Tinggi (C1)

Rendah (C0)

Metode GI (A0)

A0B0C1

A0B0C0

A0B1C1

A0B1C0

Metode CIRC (A1)

A1B0C1

A1B0C0

A1B1C1

A1B1C0

Prosedur hipotesis: HoA : a i = 0 untuk semua i (tidak terdapat pengaruh metode pembelajaran GI dan CIRC terhadap prestasi belajar siswa) H1A : a i ¹ 0

untuk paling sedikit satu harga i (terdapat pengaruh metode

pembelajaran GI dan CIRC terhadap prestasi belajar siswa) HoB : b j = 0 untuk semua j (tidak terdapat pengaruh minat siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa) HoB : b j ¹ 0 untuk paling sedikit satu harga j (terdapat pengaruh minat siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa) HoC : g k = 0 untuk semua k (tidak terdapat pengaruh kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa)

HoC : g k ¹ 0 untuk paling sedikit satu harga k (terdapat pengaruh kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa) HoAB : ab ij = 0

untuk semua ij (tidak terdapat interaksi antara minat siswa

berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran GI dan CIRC terhadap prestasi belajar siswa) H1AB : ab ij ¹ 0 untuk paling sedikit satu harga ij ( terdapat interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran GI dan CIRC terhadap prestasi belajar siswa) HoAC : (ag )ik = 0 untuk semua ik (tidak terdapat interaksi antara kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran GI dan CIRC terhadap prestasi belajar siswa) HoAC : (ag )ik ¹ 0 untuk paling sedikit satu harga ik (terdapat interaksi antara kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran GI dan CIRC terhadap prestasi belajar siswa) HoBC : (ag )ik = 0 untuk semua jk (tidak terdapat interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa) HoBC : (ag )ik ¹ 0 untuk paling sedikit satu harga jk (tidak terdapat interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dengan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar siswa) HoABC : (abg )ijk = 0 untuk semua ijk (tidak terdapat interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dan kedisiplinan siswa berkategori

tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran GI dan CIRC terhadap prestasi belajar siswa) HoABC : (abg )ijk ¹ 0 untuk paling sedikit satu harga ijk (terdapat interaksi antara minat siswa berkategori tinggi dan rendah dan kedisiplinan siswa berkategori tinggi dan rendah dengan metode pembelajaran GI dan CIRC terhadap prestasi belajar siswa) Komputasi G2 1) ...(1) N

2)

åX i , j , k ,l

3)

4)

2

...(2)

ijkl

Ai2 åi nqr ...(3) B 2j

å npr ...(4) j

5)

6)

Bk2 åk npq ...(5)

å i, j

7)

å i,k

8)

å j ,k

9)

å i , j ,k

ABij2 nr

...(6)

AC ik2 ...(7) nq

BC 2jk np

...(8)

ABC ijk2 n

...(9)

Menghitung JK 1) JKA = [(3) - (1)] 2) JKB = [(4) - (1)] 3) JKC = [(5) - (1)] 4) JKAB = [(6) - (3) - (4) + (1)] 5) JKAC = [(7 ) - (3) - (5) + (1)] 6) JKBC = [(8) - (4) - (5) + (1)] 7) JKABC = [(3) + (4) + (5) + (9) + (1) - (6) - (7) - (8)] 8) JKG = (2) –(9) 9) Jkt = (2) – (1) (atau JKT = JKA+JKB+JKC+JKAB+JKAC+JKBC+JKABC+JKG) c. Derajat Kebebasan dkA

= p-1

dkAC = (p-1)(r-1)

dkB

= q-1

dkAB = (p-1)(q-1)

dkC

= r-1

dkBC = (q-1)(r-1)

dkABC

= (p-1)(q-1)(r-1)

dkG

dkT

= N-1

= N- pqr

d. Menghitung tabel rangkuman anava Tabel 3.5. Rangkuman Anava Sumber

JK

Dk

RK

Fobs

Fa

P

A

JKA

p-1

RKA

Fa

F*

< a atau > a

B

JKB

q-1

RKB

Fb

F*

< a atau > a

C

JKC

r-1

RKC

Fc

F*

< a atau > a

AB

JKAB

(p-1)(q-1)

RKAB

Fab

F*

< a atau > a

AC

JKAC

(p-1)(r-1)

RKAC

Fac

F*

< a atau > a

BC

JKBC

(q-1)(r-1)

RKBC

Fbc

F*

< a atau > a

ABC

JKABC

(p-1)(q-1)(r-1)

RKABC

Fabc

F*

< a atau > a

Galat

JKG

N- pqr

RKG

-

-

-

Total

JKT

N-1

-

-

-

-

Keterangan: p adalah probabilitas amatan; F* adalah nilai F yang diperoleh dari tabel e. Keputusan uji Ho ditolak jika harga statistik ujinya melebihi daerah kritiknya. Harga kritik tersebut diperoleh dari tabel distribusi F pada tingkat signifikan a 3. Uji lanjut (Uji Scheefe) Sebagai tindak lanjut dari analisis variansi tiga jalan adalah uji Scheefe. Menurut Budiyono (2004: 213) tujuan dari Scheefe adalah untuk melakukan pelacakan terhadap perbedaan rerata setiap pasangan kolom, baris, dan setiap pasangan sel. Adapun langkah-langkanya sebagai berikut: a. Mengidentifikasi semua pasangan komparasi ganda. b. Merumuskan hipotesis yang sesuai dengan komparasi tersebut. c. Mencari harga statistik uji F dengan menggunakan rumus sebagai berikut 1) untuk komparasi rerata antar baris ke-i dan ke-j

Fi-j =

(X

i

- X j)

2

RKGæç 1 + 1 ö÷ nj ø è ni

2) untuk komparasi rerata antar kolom ke-i dan ke-j

Fi-j =

(X

i

- X j)

2

RKGæç 1 + 1 ö÷ nj ø è ni

3) untuk komparasi rerata antar kolom sel ij dan sel kl

Fij-kl =

(X

ij

- X kl )

2

RKGæç 1 + 1 ö÷ nkl ø è nij

d. Menentukan tingkat signifikasi ( a ) e. Menentukan daerah kritik (dk) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

{

}

{

}

DKi-j

= Fi - j Fi - j ³ ( p - 1) Fa ; p -1; N - pq

DKi-j

= Fi - j Fi - j ³ ( p - 1) Fa ;q -1; N - pq

DKij-kl

=

{F

ij - kl

Fij - kl ³ ( p - 1)(q - 1) < Fa ; pq -1; N - pq

}

f. Menentukan uji t (beda rerata) untuk setiap pasangan komparasi rerata g. Menyusun rangkuman analisis (komparasi ganda)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Dalam permasalahan yang dirumuskan pada awal bab dalam penelitian ini, menyatakan bahwa data variabel ini terdiri dari dua jenis variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode group investigation dan cooperative integrated reading and composition dengan memperhatikan minat dan kedisiplinan belajar siswa, sedangkan variabel terikatnya adalah prestasi belajar ranah kognitif siswa. Data-data tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1. Deskripsi Data Prestasi Belajar Ranah Kognitif Diskripsi data prestasi belajar ranah kognitif dari kelas eksperimen I dengan penerapan metode Group Investigation dan kelas eksperimen II dengan penerapan metode Cooperative Integrated Reading composition ditunjukkan dalam Tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Dikripsi data prestasi belajar ranah kognitif No

Kelas

Jumlah

Nilai

Nilai

Rata-rata

SD

Eksperimen

data

Max

Min

1.

Metode GI

39

98

41

74.59

15.082

2.

Metode CIRC

39

98

45

71.79

14.291

Berdasarkan diskripsi data prestasi belajar ranah kognitif yang ditunjukkan pada Tabel 4.1 maka dapat ketahui siswa yang diberi pembelajaran Group Investigation mempunyai nilai terendah 41 dan nilai tertinggi 98 sedangkan siswa 89

yang diberi pembelajaran metode Cooperative Integrated Reading composition mempunyai nilai terendah 45 dan nilai tertinggi 98. Dari data tersebut dapat disusun perbandingan rata-rata prestasi belajar ranah kognitif yang ditunjukkan oleh Gambar 4.1 berikut ini:

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

mean prestasi belajar

GI

CIRC

Gambar 4.1 Perbandingan rata-rata prestasi belajar ranah kognitif

Berdasarkan Gambar 4.1 di atas dapat dilihat bahwa siswa yang diberi pembelajaran Group Investigation mempunyai nilai rata-rata prestasi belajar ranah kognitif sebesar 74.59, sedangkan siswa yang diberi pembelajaran metode Cooperative Integrated Reading composition mempunyai nilai rata-rata prestasi belajar ranah kognitif sebesar 71.79. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata prestasi belajar ranah kognitif dengan metode Group Investigation lebih tinggi dibandingkan rata-rata prestasi belajar dengan metode Cooperative Integrated Reading composition. Adapun sebaran data prestasi belajar siswa ranah kognitif siswa kelas eksperimen yang diberi pengajaran metode Group Investigation dan metode

Cooperative Integrated Reading composition memiliki rentang antara 41 sampai dengan 98. Sedangkan untuk mencari jumlah kelas (Strurges) = 1+3.3log n diperoleh 7 kelas sehingga diperoleh interval sebesar 9. Distribusi frekuensinya dapat ditunjukkan dalam Tabel 4.2 berikut ini : Tabel 4.2 Distribusi frekuensi prestasi belajar ranah kognitif Kelas 1 2 3

Interval 41-49 50-58 59-67

Batas Kelas 40.5 49.5 58.5

Frekuensi 8 3 18

Prosentase 10 4 23

4 5 6 7

68-76 77-85 86-94 95-103 Jumlah

67.5 76.5 85.5 94.5

20 11 12 6 78

26 14 15 8 100

Berdasarkan distribusi frekuensi prestasi belajar ranah kognitif pada Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi, yaitu 20 berada pada interval 68-76 dan frekuensi terendah yaitu 3 berada pada interval 50-58. Gambaran pada distribusi frekuensi prestasi belajar ranah kognitif siswa ditunjukkan Gambar 4.2 berikut ini: P res tas i B elajar

F rekuens i

20 15 10 5 0 40.5

49.5

58.5

67.5

76.5

85.5

94.5

B a ta s K e la s

Gambar 4.2 Distribusi frekuensi prestasi belajar ranah kognitif

a. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar dengan Metode Pembelajaran GI Prestasi belajar ranah kognitif siswa dengan penerapan metode Group Investigation memiliki rentang antara 41 sampai dengan 98. Sedangkan untuk mencari jumlah kelas (Strurges) = 1+3.3log n diperoleh 6 kelas sehingga diperoleh interval sebesar 10. Distribusi frekuensinya dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini: Tabel 4.3 Distribusi frekuensi prestasi belajar ranah kognitif (metode GI) Kelas 1 2 3 4 5 6

Interval 41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100 Jumlah

Berdasarkan

Batas Kelas 40.5 50.5 60.5 70.5 80.5 90.5

distribusi

frekuensi

Frekuensi 4 1 12 10 5 7 39

prestasi

Prosentase 10 3 31 26 13 18 100

belajar

dengan

metode

pembelajaran Group Investigation pada Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi, yaitu 12 berada pada interval 61-70 dan frekuensi terendah yaitu 1 berada pada interval 51-60. Gambaran pada distribusi frekuensi prestasi belajar ranah kognitif siswa ditunjukkan gambar 4.3 berikut ini:

Metode G I

F rekuens i

20 15 10 5 0 40.5

50.5

60.5

70.5

80.5

90.5

B a ta s K e la s

Gambar 4.3 Distribusi frekuensi prestasi belajar dengan metode pembelajaran group investigation

b. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar dengan Metode Pembelajaran CIRC Prestasi belajar ranah kognitif kelas eksperimen yang diberi pengajaran dengan metode Cooperative Integrated Reading Composition memiliki rentang antara 45 sampai dengan 98. Sedangkan untuk mencari jumlah kelas (Strurges) = 1+3.3log n diperoleh 6 kelas sehingga diperoleh interval sebesar 10. Distribusi frekuensinya dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini: Tabel 4.4 Distribusi frekuensi prestasi belajar ranah kognitif (metode CIRC) Kelas 1 2 3 4 5 6

Interval 41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100 Jumlah

Batas Kelas 40.5 50.5 60.5 70.5 80.5 90.5

Frekuensi 4 2 15 7 6 5 39

Prosentase 10 5 38 18 15 13 100

Berdasarkan

distribusi

frekuensi

prestasi

belajar

dengan

metode

pembelajaran Cooperative Integrated Reading Composition pada Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi, yaitu 15 berada pada interval 61-70 dan frekuensi terendah yaitu 2 berada pada interval 51-60. Gambaran pada distribusi frekuensi prestasi belajar ranah kognitif siswa ditunjukkan Gambar 4.4 berikut ini: Metode C IR C

F rekuens i

20 15 10 5 0 40.5

50.5

60.5

70.5

80.5

90.5

B a ta s K ela s

Gambar 4.4 Distribusi frekuensi prestasi belajar dengan metode pembelajaran cooperative integrated reading composition

2. Deskripsi Data Prestasi Belajar Siswa dengan Tinjauan Minat Belajar Data minat belajar siswa yang diperoleh dengan menggunakan angket dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu minat belajar tinggi dan minat belajar rendah. Pengelompokkan ini berdasarkan skor rata-rata angket minat belajar. Siswa yang memiliki skor minat belajar di atas atau sama dengan skor rata-rata dikategorikan siswa memiliki minat belajar tinggi, sebaliknya siswa yang mempunyai skor minat belajar di bawah skor rata-rata dikategorikan siswa yang memiliki minat belajar rendah. Diskripsi datanya dapat dilihat dalam Tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5 Diskripsi data minat belajar Kelas

X max

X min

Jumlah

Rata-rata

SD

Variansi

Metode GI

132

82

4164

107

11.305

127.814

Metode CIRC

128

86

4249

109

11.546

133.131

Dari data minat belajar di atas diperoleh mean gabungan antara kelas eksperimen I dengan pembelajaran metode Group Investigation dan kelas eksperimen II dengan pembelajaran metode Cooperative Integrated Reading composition sebesar 107.859, maka siswa yang memiliki skor diatas atau sama dengan 107.859 termasuk siswa yang memiliki minat belajar tinggi, sedangkan jika skor siswa dibawah 107.859 termasuk siswa yang memiliki minat belajar rendah. Dari kategori minat belajar tinggi dan rendah tersebut, maka dapat didiskripsikan kedalam prestasi belajar ranah kognitif dengan tnjauan minat belajar siswa yang ditunjukkan dalam tabel 4.6 berikut ini: Tabel 4.6 Deskripsi data prestasi belajar siswa dengan tinjauan minat belajar Kategori Minat

Metode

N

Mean

Minat Tinggi

GI

18

71.895

CIRC

23

69.835

GI

21

77.18

CIRC

16

70.585

Minat Rendah

Berdasarkan deskripsi data prestasi belajar siswa dengan tinjauan minat belajar yang ditunjukkan Tabel 4.6 maka dapat disusun perbandingan rata-rata skor prestasi belajar kognitif seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 4.2 berikut ini:

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

Minat tinggi Minat rendah

GI

CIRC

Gambar 4.5 Perbandingan rata-rata prestasi belajar ranah kognitif dengan tinjauan minat belajar Berdasarkan Gambar 4.5 di atas dapat diketahui bahwa siswa dengan minat berkategori tinggi memiliki rata-rata prestasi belajar kognitif sebesar 71.895 dan 69.835, sedangkan siswa dengan minat rendah memiliki rata-rata prestasi belajar kognitif sebesar 77.18 dan 70.585. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata prestasi belajar kognitif siswa yang diberi pembelajaran Group Investigation dengan tinjauan minat belajar tinggi lebih baik lebih tinggi dibandingkan rata-rata prestasi belajar siswa yang diberi pembelajaran metode Cooperative Integrated Reading composition dengan tinjauan minat belajar rendah. Adapun sebaran data prestasi belajar siswa ranah kognitif dengan tinjauan minat berkategori tinggi dan rendah ditunjukkan dalam tabel-tabel berikut ini : a. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar dengan Tinjauan Minat Tinggi Prestasi belajar ranah kognitif dengan tinjauan minat belajar tinggi memiliki rentang antara 41 sampai dengan 98. Sedangkan untuk mencari jumlah kelas (Strurges) = 1+3.3log n diperoleh 6 kelas sehingga diperoleh interval sebesar 10. Distribusi frekuensinya dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut ini:

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi minat belajar tinggi Kelas 1 2 3 4 5 6

Interval 41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100 Jumlah

Batas Kelas 40.5 50.5 60.5 70.5 80.5 90.5

Frekuensi 5 2 13 9 7 5 41

Prosentase 12 5 32 22 17 12 100

Berdasarkan distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan minat belajar tinggi pada Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi, yaitu 13 berada pada interval 61-70 dan frekuensi terendah yaitu 2 berada pada interval 51-60. Gambaran pada distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan minat belajar berkategori tinggi ditunjukkan Gambar 4.6 berikut ini:

Minat tingkat Tinggi

F rekuen s i

20 15 10 5 0 40.5

50.5

60.5

70.5

80.5

90.5

Batas Kelas

Gambar 4.6 Distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan minat belajar berkategori tinggi b. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar dengan Tinjauan Minat Rendah Prestasi belajar ranah kognitif dengan tinjauan minat belajar rendah memiliki rentang antara 45 sampai dengan 98. Sedangkan untuk mencari jumlah

kelas (Strurges) = 1+3.3log n diperoleh 6 kelas sehingga diperoleh interval sebesar 10. Distribusi frekuensinya dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut ini: Tabel 4.8 Distribusi frekuensi minat belajar rendah Kelas 1 2 3 4 5 6

Interval 41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100 Jumlah

Batas Kelas 40.5 50.5 60.5 70.5 80.5 90.5

Frekuensi 3 1 14 8 4 7 37

Prosentase 8 3 38 22 11 19 100

Berdasarkan distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan minat belajar rendah pada Tabel 4.8 dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi, yaitu 14 berada pada interval 61-70 dan frekuensi terendah yaitu 1 berada pada interval 51-60. Gambaran pada distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan minat belajar berkategori rendah ditunjukkan Gambar 4.7 berikut ini: Minat tingkat Rendah

F rekuens i

20 15 10 5 0 40.5

50.5

60.5

70.5

80.5

90.5

Batas Kelas

Gambar 4.7 Distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan minat belajar berkategori rendah

3. Deskripsi Data Prestasi Belajar dengan Tinjauan Kedisiplinan Belajar Data kedisiplinan belajar siswa yang diperoleh dengan menggunakan angket dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu kedisiplinan belajar tinggi dan kedisiplinan belajar rendah. Pengelompokkan ini berdasarkan skor rata-rata angket kedisiplinan belajar. Siswa yang memiliki skor kedisiplinan belajar di atas atau sama dengan skor rata-rata dikategorikan siswa memiliki kedisiplinan belajar tinggi, sebaliknya siswa yang mempunyai skor kedisiplinan belajar di bawah skor rata-rata dikategorikan siswa yang memiliki kedisiplinan belajar rendah. Diskripsi datanya dapat dilihat dalam Tabel 4.9 berikut ini: Tabel 4.9 Diskripsi data kedisiplinan belajar Kelas

X max

X min

Jumlah

Rata-rata

SD

Variansi

Metode GI

132

74

3800

97

12.804

163.937

Metode CIRC

121

72

3727

96

19.705

388.304

Dari data kedisiplinan belajar di atas diperoleh mean gabungan antara kelas eksperimen I dengan pembelaran GI dan kelas eksperimen II dengan pembelajaran CIRC sebesar 96.5, maka siswa yang memiliki skor diatas atau sama dengan 96.5 termasuk siswa yang memiliki kedisiplinan belajar tinggi, sedangkan jika skor siswa dibawah 96.5 termasuk siswa yang memiliki kedisiplinan belajar rendah. Dari kategori kedisiplinan belajar tinggi dan rendah tersebut, maka dapat didiskripsikan kedalam prestasi belajar ranah kognitif dengan tinjauan kedisiplinan belajar siswa yang ditunjukkan dalam Tabel 4.10 berikut ini:

Tabel 4.10 Deskripsi data prestasi belajar siswa dengan tinjauan kedisiplinan belajar Kategori Disiplin

Metode

N

Mean

Kedisiplinan

GI

21

72.395

Tinggi

CIRC

22

73.835

Kedisiplinan

GI

18

76.68

Rendah

CIRC

17

66.585

Berdasarkan deskripsi data prestasi belajar siswa dengan tinjauan kedisiplinan belajar yang ditunjukkan Tabel 4.10 maka disusun perbandingan ratarata skor prestasi belajar kognitif seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 4.8 berikut ini: 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

Disiplin tinggi Disiplin rendah

GI

CIRC

Gambar 4.8 Perbandingan rata-rata prestasi belajar ranah kognitif dengan tinjauan kedisiplinan belajar Berdasarkan Gambar 4.8 di atas dapat diketahui bahwa siswa dengan minat berkategori tinggi memiliki rata-rata prestasi belajar kognitif sebesar 72.395 dan 73.835, sedangkan siswa dengan minat rendah memiliki rata-rata prestasi belajar kognitif sebesar 76.68 dan 66.585. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar kognitif siswa yang diberi pembelajaran Group Investigation dengan tinjauan

kedisiplinan belajar tinggi lebih baik lebih tinggi dibandingkan siswa yang diberi pembelajaran metode Cooperative Integrated Reading composition dengan tinjauan kedisiplinan belajar rendah. Adapun sebaran data prestasi belajar siswa ranah kognitif dengan tinjauan kedisiplinan berkategori tinggi dan rendah ditunjukkan dalam tabel-tabel berikut ini: a. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar dengan Tinjauan Kedisiplinan Tinggi Prestasi belajar ranah kognitif dengan tinjauan kedisiplinan belajar tinggi memiliki rentang antara 41 sampai dengan 98. Sedangkan untuk mencari jumlah kelas (Strurges) = 1+3.3log n diperoleh 6 kelas sehingga diperoleh interval sebesar 9. Distribusi frekuensinya dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut ini: Tabel 4.11 Distribusi frekuensi kedisiplinan belajar tinggi Kelas 1 2 3 4 5 6

Interval 41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100 Jumlah

Berdasarkan

Batas Kelas 40.5 50.5 60.5 70.5 80.5 90.5

distribusi

frekuensi

Frekuensi 4 2 16 7 7 7 43

prestasi

Prosentase 9 5 37 16 16 16 100

belajar

dengan

tinjauan

kedisiplinan belajar tinggi pada Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi, yaitu 16 berada pada interval 61-70 dan frekuensi terendah yaitu 2 berada pada interval 51-60. Gambaran pada distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan kedisiplinan belajar berkategori tinggi ditunjukkan Gambar 4.9 berikut ini:

F reku ens i

Kedis iplinan tingkat T inggi 20 15 10 5 0 40.5

50.5

60.5

70.5

80.5

90.5

Batas Kelas

Gambar 4.9 Distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan kedisiplinan belajar berkategori tinggi b. Distribusi Frekuensi Prestasi Belajar dengan Tinjauan Kedisiplinan Rendah Prestasi belajar ranah kognitif dengan tinjauan kedisiplinan belajar rendah memiliki rentang antara 45 sampai dengan 98. Sedangkan untuk mencari jumlah kelas (Strurges) = 1+3.3log n diperoleh 6 kelas sehingga diperoleh interval sebesar 9. Distribusi frekuensinya dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut ini: Tabel 4.12 Distribusi frekuensi kedisiplinan belajar rendah Kelas 1 2 3 4 5 6

Interval 41-50 51-60 61-70 71-80 81-90 91-100 Jumlah

Batas Kelas 40.5 50.5 60.5 70.5 80.5 90.5

Frekuensi 4 1 11 10 4 5 35

Prosentase 11 3 31 29 11 14 100

Berdasarkan distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan minat belajar rendah pada Tabel 4.12 dapat diketahui bahwa frekuensi tertinggi, yaitu 11 berada pada interval 61-70 dan frekuensi terendah yaitu 1 berada pada interval 51-60.

Gambaran pada distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan kedisiplinan belajar berkategori rendah ditunjukkan Gambar 4.10 berikut ini:

Kedisiplinan tingkat Rendah 20 Frekuensi

15 10 5 0 40.5

50.5

60.5

70.5

80.5

90.5

Batas Kelas

Gambar 4.10 Distribusi frekuensi prestasi belajar dengan tinjauan kedisiplinan belajar berkategori rendah

B. Pengujian Prasyarat Analisis 1. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang dimaksud adalah data hasil belajar biologi kemampuan kognitif setelah menerima materi sistem pencernaan makanan pada manusia dengan menggunakan metode Group Investigation dan Cooperative Integrated Reading Composition. Dalam penelitian ini uji normalitas menggunakan metode liliefors. Rangkuman perhitungan harga statistik uji liliefors dengan tingkat signifikansi 5% dapat dilihat pada Tabel 4. 13 berikut ini: Tabel 4.13 Harga statistik uji normalitas ranah kognitif Aspek

N

Lobs

Ltabel

kriteria

Keputusan

Kognitif

78

0.266

0.154

Lobs > Ltabel

Ho Ditolak

Dari Tabel 4.13 tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal karena Lobs > Ltabel sehingga Ho ditolak atau memenuhi persyaratan uji normalitas. 2. Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan unutk mengetahui variansi-variansi dari sejumlah populasi yang homogen atau tidak homogen. Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan uji Bartlett. Dari perhitungan uji homogenitas diperoleh 2 2 harga x hiting dan harga xtabel yang tercantum dalam tabel Chi-kuadrat yang

digunakan unutk menentukan Ho ditolak atau tidak ditolak. Yang berarti sampel berasal dari populasi homogen atau tidak homogen. Rangkuman perhitungan harga statistik uji Bartlett dengan tingkat signifikansi 5% dapat dilihat pada Tabel 4.14 berikut ini: Tabel 4.14 Harga statistik uji homogenitas aspek kognitif Aspek

N

2 x hiting

2 xtabel

kriteria

Keputusan

Kognitif

78

-14947.142

14.017

2 2 x hiting < xtabel

Ho Diterima

Dari Tabel 4.14 tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel berasal dari 2 2 populasi yang berdistribusi normal karena x hiting < xtabel sehingga Ho diterima atau

memenuhi persyaratan uji homogenitas.

C. Pengujian Hipotesis 1. Uji Anava Tiga Jalan Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas dapat diketahui bahwa prasyarat analisis telah terpenuhi, maka data yang diperoleh dapat dianalisis dengan anava tiga jalan dengan frekuensi sel tak sama yang selanjutnya dapat diuji dengan Uji Scheffe. Hasil pehitungan analisis variansi tiga jalan frekuensi sel tak sama dapat disajikan dalam Tabel 4.15 berikut ini: Tabel 4.15 Rangkuman anava tiga jalan aspek kognitif

TOTAL A B C A*B A*C B*C A*B*C DALAM

JK 16560.115 152.321 108.254 1.160 491.762 945.01 154.97 1191.143 13515.495

df 77 1 1 1 1 1 1 1 70

MK 215.066 152.321 108.254 1.160 491.762 945.015 154.967 1191.143 193.078

F hitung

F tabel

Keterangan

0.789 0.561 0.006 2.547 4.894 0.803 6.169

3.98 3.98 3.98 3.98 3.98 3.98 3.98

Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan

Dasar pengambilan keputusan berdasarkan F tabel pada taraf signifikansi 5% dengan dk pembilang 1 dan dk penyebut 70 sehingga diperoleh F tabel sebesar 3.98. Jika F hitung > F tabel, maka Ho ditolak

atau signifikan. Berdasarkan

rangkuman analisis variansi tiga jalan frekuensi sel tak sama yang disajikan pada Tabel 4.15 di atas, dapat disimpulkan bahwa: a. Uji pengaruh prestasi belajar dengan menggunakan metode GI dan CIRC : Pada tabel didapat nilai F hitung= 0.789. Oleh karena F hitung < F tabel; maka Ho diterima, atau tidak ada pengaruh prestasi belajar dengan menggunakan metode GI dan CIRC. b. Uji pengaruh prestasi belajar siswa yang mempunyai minat tinggi dengan siswa

yang mempunyai minat rendah : Pada tabel

didapat nilai F hitung= 0.561.

Oleh karena F hitung < F tabel; maka Ho diterima, atau tidak ada pengaruh prestasi belajar siswa yang mempunyai minat tinggi dengan siswa yang mempunyai minat rendah. c. Uji pengaruh prestasi belajar siswa yang mempunyai kedisiplinan tinggi dengan siswa yang mempunyai kedisiplinan rendah: Pada tabel didapat nilai F hitung= 0.006. Oleh karena F hitung < F tabel; maka Ho diterima, atau tidak ada pengaruh prestasi belajar siswa yang mempunyai kedisiplinan tinggi dengan siswa yang mempunyai kedisiplinan rendah. d. Interaksi penggunaan metode GI dan CIRC dengan minat terhadap prestasi belajar: Pada tabel didapat nilai F hitung= 2.547. Oleh karena F hitung < F tabel; maka Ho diterima, atau Interaksi penggunaan metode GI dan CIRC dengan minat tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap Prestasi Belajar. e. Interaksi penggunaan metode GI dan CIRC dengan kedisiplinan terhadap prestasi belajar: Pada tabel didapat nilai F hitung= 4.894. Oleh karena F hitung > F tabel; maka Ho ditolak, atau Interaksi antara penggunaan metode GI dan CIRC dengan kedisiplinan memberikan pengaruh signifikan terhadap Prestasi Belajar. f. Interaksi minat dengan kedisiplinan terhadap prestasi belajar: Pada tabel didapat nilai F hitung= 0.803. Oleh karena F hitung < F tabel; maka Ho diterima, atau Interaksi antara minat dengan kedisiplinan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap Prestasi Belajar. g. Interaksi penggunaan metode GI dan CIRC, minat dan kedisiplinan terhadap prestasi belajar: Pada tabel

didapat nilai F hitung= 6.169. Oleh karena F

hitung > F tabel; maka Ho ditolak, atau Interaksi antara penggunaan metode GI dan CIRC, minat dan kedisiplinan memberikan pengaruh signifikan terhadap Prestasi Belajar. 2. Uji Lanjut Anava Untuk mengetahui lebuh lanjut tentang karakteristik pada variabel bebas dan terikat, maka dilakukan uji komparasi ganda dengan menggunakan metode Scheffe. Rangkuman analisis uji komparasi ganda pada aspek kognitif dengan menggunakan metode scheffe adalah sebagai berikut: Tabel 4.16 Uji komparasi ganda interaksi metode dengan kedisiplinan Komparasi

F hitung

F tabel

Keterangan

µA0C0 vs µA0C1

2.202

3.98

Tidak signifikan

µA1C0 vs µA1C1

2.691

3.98

Tidak Signifikan

µA0C0 vs µA1C0

4.984

3.98

Signifikan

µA0C1 vs µA1C1

0.674

3.98

Tidak Signifikan

Berdasarkan uji komparasi ganda yang disajikan diatas dapat dilihat bahwa Ho

00-01

tidak signifikan; Ho

01-11

tidak signifikan; Ho

00-10

signifikan; Ho

01-11

tidak

signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa hanya terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara metode pembelajaran GI ditinjau dari kedisiplinan rendah dengan metode pembelajaran CIRC ditinjau kedisiplinan rendah. Tabel 4.17 Uji komparasi ganda interaksi metode dengan minat dan kedisiplinan Komparasi

F

F tabel

Keterangan

µA0B0C0 vs µA1B0C0

4.013

3.98

Signifikan

µA0B0C0 vs µA1B0C1

0.874

3.98

Tidak Signifikan

µA0B0C0 vs µA1B1C0

4.424

3.98

Signifikan

µA0B0C0 vs µA1B1C1

0.555

3.98

Tidak Signifikan

µA0B0C1 vs µA1B0C0

0.855

3.98

Tidak Signifikan

µA0B0C1 vs µA1B0C1

0.119

3.98

Tidak Signifikan

µA0B0C1 vs µA1B1C0

1.827

3.98

Tidak Signifikan

µA0B0C1 vs µA1B1C1

0.012

3.98

Tidak Signifikan

µA0B1C0 vs µA1B0C0

0.386

3.98

Tidak Signifikan

µA0B1C0 vs µA1B0C1

0.041

3.98

Tidak Signifikan

µA0B1C0 vs µA1B1C0

1.151

3.98

Tidak Signifikan

µA0B1C0 vs µA1B1C1

0.047

3.98

Tidak Signifikan

µA0B1C1 vs µA1B0C0

0.007

3.98

Tidak Signifikan

µA0B1C1 vs µA1B0C1

0.078

3.98

Tidak Signifikan

µA0B1C1 vs µA1B1C0

0.641

3.98

Tidak Signifikan

µA0B1C1 vs µA1B1C1

1.409

3.98

Tidak Signifikan

Berdasarkan uji komparasi ganda yang disajikan diatas dapat dilihat Ho 100

dan Ho

000-110

000-

signifkan sedangkan yang lain tidak signifikan. Sehingga dapat

simpulkan: a. Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara sel A0B0C0 (metode pembelajaran GI pada siswa yang mempunyai minat rendah dan kedisiplinan belajar rendah) dan sel A1B0C0 (metode pembelajaran CIRC pada siswa yang mempunyai minat rendah dan kedisiplinan belajar rendah) . b. Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara sel A0B0C0 (metode pembelajaran GI pada siswa yang mempunyai minat rendah dan kedisiplinan belajar rendah) dan sel A1B1C0 (metode pembelajaran CIRC pada siswa yang mempunyai minat tinggi dan kedisiplinan belajar rendah).

D. Pembahasan Hasil Analisis Data 1. Hipotesis Pertama Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi tiga jalan dengan frekuensi sel tak sama diperoleh harga FobsA sebesar 0.789 lebih kecil dari Ftabel 3.98 sehingga hipotesis nol di terima dan hipotesis alternatif di tolak, maka metode pembelajaran group investigation dan cooperative integrated reading composition tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar. Hasil pengujian hipotesis pertama ini menunjukkan bahwa siswa yang mendapat pembelajaran metode GI dan CIRC sama-sama maksimal dalam pembelajaran sehingga tidak memberikan perbedaan yang berarti pada prestasi belajar. Metode GI dan CIRC sama-sama merupakan metode cooperative yang bertumpu pada keaktifan siswa dalam proses pembelajarnya, akan tetapi kedua metode tersebut juga mempunyai karakteristik yang berbeda. Metode GI memerlukan interaksi kooperatif siswa dengan anggota kelompoknya untuk memecahkan masalah-masalah yang komplek, sehingga dalam pelaksanaannya siswa mengalami kesulitan dalam merumuskan tujuan, menyusun langkah-langkah yang akan dikerjakan dan mengambil keputusan/inisiatif. Selain itu anak masih mengalami kebingungan dalam salah satu tahapan metode GI yang berupa analisis kemajuan dengan presentasi. Hal ini dikarenakan, metode guru yang dipakai selama ini belum mengenalkan proses pembelajaran dengan presentasi sehingga timbul kecenderungan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi mendominasi kegiatan belajar sedangkan siswa yang lain cenderung pasif dan minder.

Sedangkan metode CIRC lebih menekankan kemandirian siswa bekerja sama dalam kelompok untuk melaksanakan tugas yang dibebankan, dimana setiap anggota merasa butuh akan informasi yang ditimbulkan dari kesadaran diri sendiri (motivasi instrinsik) untuk memperoleh informasi atau pengetahuan, seingga kemampuan belajar yang diperoleh selama mengikuti proses pembelajaran lebih luas dan mampu memberikan tanggapan yang lebih luas. Akan tetapi dalam proses pembelajarannya, peserta didik juga mengalami kendala diantaranya: a) siswa kurang menggunakan kemudahan internet sebagai media pembelajaran; b) rasa individual yang tinggi bagi siswa yang mempunyai kemampuan tinggi sehingga siswa yang berkemampuan rendah menjadi minder; c) kurangnya rasa tanggung jawab dan kemandirian siswa dalam mencari sumber informasi; d) pada saat dilakukan presentasi, terjadi kecenderungan hanya siswa pintar yang secara aktif tampil menyampaikan pendapat dan gagasan. Penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Phil Seok dan Myeong-Kyeong (2005) yang menyatakan bahwa “They also reported several positive learning outcomes resulting from the GI implementation. However, there were some students who considered the GI method inappropriate for them.

At times, students had

difficulties and experienced problems arising from implementing GI”. Jadi dalam implementasi pembelajaran dengan metode GI juga memperoleh kesulitan dalam memecahkan berbagai masalah yang ditemui pada saat pembelajaran. Hal ini dipertegas kembali oleh Krisno Anggoro (2004: 134) yang memperoleh hasil bahwa secara umum prestasi belajar kimia lingkungan yang dicapai siswa yang belajar dengan metode CTL lebih baik dari pada metode GI. Hal ini dikarenakan pada

penerapan metode GI lebih

menekankan

pada pemindahan

pengetahuan,

keterampilan, dan nilai-nilai pada siswa; informasi dikelola dan diberikan oleh guru; lebih berpusat pada guru dan cenderung membosankan. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Suwarto (2009) menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dibandingkan dengan kemampuan awal. Hal ini dperkuat kembali dalam penelitian Wagiman (2009:144) memperoleh hasil bahwa metode CIRC lebih baik dibandingkan siswa yang mendapat model Time Token, karena dalam metode CIRC siswa belajar bersama memacahkan masalah dengan cara bekerja sama sehingga akan menumbuhkan kesadaran diri sendiri untuk memperoleh informasi atau pengetahuan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif dengan metode GI dan CIRC merupakan suatu upaya untuk menciptakan pembelajaran interaktif, inspiratif, menantang, memotivasi peserta didik. Akan tetapi dalam proses pembelajaran di SMP N 1 Colomadu tahun ajaran 2009/2010 kelas VIII pada pokok bahasan sistem pencernakan makanan pada manusia masih terdapat kendala dalam menciptakan susasana pembelajaran yang kooperatif, yaitu antara lain: a) pengelolaan kelas dalam proses pembelajaran sangat sulit dilakukan karena jumlah siswa tiap kelasnya cukup banyak sehingga siswa kurang mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru; b) membutuhkan waktu yang banyak dalam proses pembelajarannya; c) kurangnya sarana dan prasarana sebagai sumber belajar sehingga informasi yang diperoleh siswa hanya terbatas; d) siswa belum siap untuk dituntut keaktivan dan kreatifitasinya dalam menghadapi masalah.

2. Hipotesis Kedua Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi tiga jalan dengan frekuensi sel tak sama diperoleh harga FobsB sebesar 0.561 lebih kecil dari Ftabel 3.98 sehingga hipotesis nol di terima dan hipotesis alternatif di tolak, maka minat tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa baik siswa yang mempunyai minat belajar tinggi maupun rendah sama-sama maksimal dalam pembelajaran atau minat belajar tidak memberikan pengaruh pada prestasi belajarnya. Hal ini tidak sejalan dengan pendapat Gilber Sax (1980:472) yang menyatakan bahwa ”minat dapat membantu dan mempersulit belajar. Dengan minat belajar tinggi terhadap suatu materi pelajaran, maka siswa akan lebih bersemangat dalam belajar sehingga dapat mempermudah siswa dalam belajar. Sebaliknya jika minat belajar rendah terhadap suatu materi pelajaran, maka akan mempersulit siswa untuk mempelajari materi tersebut”. Hasil temuan dalam penelitian Maya Nuraini (2008) dalam jurnal penelitian pendidikan menunjukkan bahwa minat belajar itu berpengaruh pada setiap tindakan yang dilakukan dalam proses belajar. Sedangkan menurut La Ode Hadini (2008) dalam jurnal penelitian pendidikan menunjukkan indikator adanya kemajuan dan keberhasilan siswa setelah siklus 2 dilaksanakan, diantaranya siswa mulai bergairah dan semangat dalam belajar fisika, siswa bertanya dan mengemukakan gagasan, menyelesaikan tugas-tugas, dan antusias siswa mendengarkan penjelasan guru mulai tumbuh. Minat siswa terhadap mata pelajaran biologi seringkali tumbuh bila mata pelajaran berhubungan dengan lingkungan dan menyangkut kesehatan tubuh. Hal ini ditandai dengan antusia siswa dalam mengajukan pertanyaan baik ditujukan langsung

pada guru atau teman. Sehingga ketika siswa mengajukan pertanyaan, guru hendaknya merespon dengan memberikan pertanyaan yang menjembatani siswa untuk menemukan jawaban dari pertanyaan siswa sendiri. Dengan demikian, siswa akan memperoleh konsep baru dalam dirinya yang akan menarik perhatian siswa untuk mempelajari pengetahuan yang lebih dalam lagi. Akan tetapi pada kenyataan dalam proses pembelajarannya, siswa yang tidak berminat terhadap pelajaran Biologi kurang memperhatikan penjelasan guru dan siswa cenderung mengabaikan tugas yang dibebankan sehingga ilmu pengetahuan yang diberikan belum bisa di manfaatkan secara maksimal oleh siswa. Pembelajaran dengan memperhatikan minat belajar siswa, dapat dilakukan guru dengan cara memperhatikan komponen-komponen minat belajar siswa yang meliputi: 1) kesadaran yang timbul dari diri siswa bahwa ilmu pengetahuan atau informasi itu bermanfaat; 2) perhatian agar terciptanya konsentrasi dalam belajar sehingga mampu menyerap dan memahami materi yang diberikan guru; 3) Kemauan yang merupakan dorongan dalam diri siswa untuk menimbulkan keinginan dalam belajar; 4) kesenangan pada suatu objek akan menimbulkan semangat dan pantang menyerah dalam belajar. Berdasarkan komponen-komponen minat tersebut, hendaknya guru dalam melaksanakan pembelajaran memperhatikan semua komponen minat belajar dan faktor-faktor lain yang juga berpengaruh terhadap peningkatkan prestasi belajar siswa. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tinggi rendahnya minat seseorang tidak berpengaruh terhadap hasil prestasi belajar karena masih banyak faktor eksternal dan internal lainnya yang berpengaruh. Sehingga apabila salah satu

faktor intern yaitu minat belajar siswa tersebut tidak memberikan pengaruh cukup berarti maka terdapat faktor lain yang berpengaruh, misalnya: motivasi, kecerdasan emosional, sarana belajar, lingkungan belajar dan lain sebagainya. 3. Hipotesis Ketiga Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi tiga jalan dengan frekuensi sel tak sama diperoleh harga FobsC sebesar 0.006 lebih kecil dari Ftabel 3.98 sehingga hipotesis nol di terima dan hipotesis alternatif di tolak, maka kedisiplinan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa baik siswa yang mempunyai kedisiplinan belajar tinggi maupun rendah sama-sama maksimal dalam pembelajaran atau kedisiplinan belajar tidak memberikan konstribusi pada prestasi belajarnya. Penelitian tentang pengaruh kedisiplinan terhadap prestasi belajar dilakukan oleh Tri Wijoyo (2004:130) yang menyatakan bahwa siswa dengan tingkat kedisiplinan belajar tinggi cenderung memperoleh prestasi belajar fisika lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tingkat kedisiplinannya rendah. Sedangkan hasil penelitian Suharjono (2004) yang menyatakan bahwa sikap disiplin siswa terhadap tata tertib sekolah akan meningkatkan prestasi belajar, maka hal ini perlu dipahami dan disosialisasikan kepada warga sekolah, orang tua dan masyarakat, serta bagi siswa sendiri, diharapkan dapat memahami arti serta manfaat tata tertib sekolah dan melaksanakannya dengan penuh kesadaran, agar tercipta situasi dan kondisi sekolah yang kondusif, sehingga tercapai siswa memiliki sikap disiplin serta memiliki prestasi belajar yang tinggi. Akan tetapi pada kenyataannya, di lingkungan internal sekolah pun terjadi pelanggaran terhadap berbagai aturan dan tata tertib

sekolah baik tingkat ringan maupun pelanggaran tingkat tinggi, seperti: menyontek, tidak mengumpulkan tugas, membolos dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku lainnya yang dapat mempengaruhi prestasi balajar siswa. Perilaku ketidak disiplinan siswa yang akan berdampak pada pencapaian prestasi belajar ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lingkungan, keluarga dan sekolah. Berdasarkan penyimpangan perilaku diatas, maka seorang guru harus mampu menumbuhkan disiplin siswa dalam proses belajar mengajarnya. Dalam hal ini, guru harus mampu melakukan hal-hal sebagai berikut: a) membantu mengembangkan pola perilaku siswa; b) menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang mendorong perilaku tidak disiplin; c) menumbuhkan rasa hormat terhadap guru maupun teman sebaya; d) mempersiapkan siswa untuk mampu menghadapi hal-hal yang kurang atau tidak menyenangkan dalam proses belajar mengajar; dan e) memperkenalkan contoh perilaku tidak disiplin, dengan harapkan siswa dapat menghindarinya atau dapat membedakan mana perilaku disiplin dan yang tidak disiplin. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tinggi rendahnya kedisiplinan seseorang tidak berpengaruh terhadap hasil prestasi belajar karena masih banyak faktor ekstern dan intern lainnya yang berpengaruh. Sehingga apabila salah satu faktor intern yaitu kedisiplinan belajar siswa tersebut tidak memberikan pengaruh cukup berarti maka terdapat faktor lain yang berpengaruh seperti motivasi, kecerdasan emosional, sarana belajar, lingkungan belajar dan lain-lainnya.

4. Hipotesis Keempat Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi tiga jalan dengan frekuensi sel tak sama diperoleh harga FobsAB sebesar 2.547 lebih kecil dari Ftabel 3.98 sehingga hipotesis nol di terima dan hipotesis alternatif di tolak, maka interaksi penggunaan metode GI dan CIRC dengan minat tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar. Karena tidak ada interaksi antara penggunaan metode pembelajaran dengan minat belajar siswa maka perbandingan untuk setiap metode pembelajaran dengan minat belajar tinggi dan minat belajar rendah mengikuti perbandingan linier. Oleh karena tidak terdapat interaksi penggunaan model pembelajaran dengan minat belajar, maka tidak dilakukan uji lanjut antara sel pada kolom dan baris. Tidak adanya interaksi antara minat belajar siswa dengan metode pembelajaran disebabkan selama ini guru tidak memperhatikan minat siswa selama pembelajaran berlangsung. Hal ini dikarenakan guru dalam memberikan materi pelajaran bersifat teacher centered sehingga siswa terbiasa mengikuti alur pembelajaran guru dan pasif dalam menerima materi pelajaran. Sehingga pada saat diberi pembelajaran menggunakan metode group investigation dan metode Cooperative integrated reading composition siswa belum bisa memfokuskan perhatianya pada pokok bahasan sistem pencernaan makanan pada manusia. Hal ini sejalan dengan penelitian Semin (2009) yang menyatakan bahwa prestasi belajar siswa banyak tergantung dari cara guru dalam mengelola kelas, dengan penerapan pendekatan yang tepat dipadu dengan dimilikinya minat belajar dari siswa maka akan dapat dihasilkan prestasi belajar siswa secara optimal

Minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Biologi dengan menerapkan metode group investigation dan metode Cooperative integrated reading composition belum terlihat pengaruhnya terhadap prestasi belajar siswa. Padahal dengan menerapkan metode pembelajaran yang bertumpu pada keaktivan siswa dalam kelompok dapat menjadi sarana untuk mengembangkan minat sesama anggota kelompok untuk memperoleh informasi atau pengetahuan yang lebih mendalam. Oleh sebab itu, dalam pelaksanakan pembelajaran guru seharusnya memperhatikan minat siswa dan dapat memilih metode pembelajaran yang tepat agar dapat mengembangkan minat siswa sehingga prestasi belajarnya pun meningkat. 5. Hipotesis Kelima Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi tiga jalan dengan frekuensi sel tak sama diperoleh harga FobsAC sebesar 4.894 lebih besar dari Ftabel 3.98 sehingga hipotesis nol di tolak dan hipotesis alternatif di diterima, maka interaksi antara penggunaan metode GI dan CIRC dengan kedisiplinan memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar. Oleh karena terdapat interaksi penggunaan model pembelajaran dengan kedisiplinan belajar, maka dilakukan uji lanjut antara sel pada kolom dan baris. Adanya interaksi antara kedisiplinan belajar siswa dengan metode pembelajaran disebabkan dalam proses pembelajaran yang menerapkan metode group investigation dan metode Cooperative integrated reading composition yang merupakan salah satu metode kooperatif, lebih menekankan pada pembentukan sikap atau perilaku untuk bekerjasama dalam kelompok. Hal ini akan menuntut siswa dalam meningkatkan pengendalian tingkah laku, memenuhi tuntutan secara tepat,

teliti dan mengarahkan diri sendiri dalam mengambil keputusan secara bertanggung jawab sehingga interaksi antara metode pembelajaran dengan kedisiplinan belajar akan meningkatkan pencapaian prestasi belajar. Hal ini sejalan dengan penelitian Suprayekti (2006) yang menyatakan bahwa teknik pembelajaran kooperatif adalah prosedur membelajarkan siswa melalui kelompok kecil dengan melibatkan interdependensi tugas, interdependensi ganjaran, interaksi siswa dengan sumber belajar, dan kompetisi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh rataan prestasi belajar aspek kognitif x A0C0 = 78.17, x A0C1 = 71.52, x A1C0 = 67.65 dan x A0C1 = 75.00, setelah

dilakukan uji scheffe diperoleh Fhitung µA0C0 vs µA1C0 sebesar 4.984 lebih besar dari Ftabel = 3.98, hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara sel A0C0 dan sel A1C0 sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar siswa yang diberi pembelajaran metode pembelajaran GI lebih baik daripada metode pembelajaran CIRC dengan memperhatikan kedisiplinan berkategori rendah, sedangkan Fhitung µA0C0 vs µA1C1, µA0C1 vs µA1C0, µA0C1 vs µA1C1 diperoleh hasil lebih kecil dari Ftab sehingga tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara metode pembelajaran dengan kedisiplinan rendah dan kedisiplinan tinggi. Penelitian tentang penggunaan metode pembelajaran dan kedisiplinan belajar dilakukan oleh Wagiman (2009: 148) memperoleh hasil bahwa siswa yang mendapat pembelajaran kooperatif model CIRC selalu mempunyai prestasi belajar aspek kognitif lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan pembelajaran kooperatif model Time Token, tanpa memperhatikan variable kedisiplinan siswa dalam menyelesaikan tugas.

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan metode pembelajaran GI lebih baik dari pada metode pembelajaran CIRC, baik dilihat dari kategori umum maupun dilihat dari masing-masing kategori kedisiplinan belajar siswa. Kalau ditinjau pada mereka yang mempunyai kedisiplinan rendah, penggunaan metode GI lebih baik prestasinya dari pada metode CIRC. Tetapi untuk mereka yang mempunyai kedisiplinan tinggi, penggunaan metode GI dan CIRC sama jeleknya atau tidak ada perbedaan prestasi belajar. 6. Hipotesis Keenam Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi tiga jalan dengan frekuensi sel tak sama diperoleh harga FobsBC sebesar 0.803 lebih kecil dari Ftabel 3.98 sehingga hipotesis nol di terima dan hipotesis alternatif di tolak, maka interaksi antara minat dengan kedisiplinan tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar. Karena tidak ada interaksi antara minat dengan kedisiplinan belajar siswa maka perbandingan untuk setiap minat belajar tinggi dan minat belajar rendah dengan kedisiplinan tinggi dan rendah mengikuti perbandingan linier. Oleh karena tidak terdapat interaksi minat belajar dengan kedisiplinan belajar siswa, maka tidak dilakukan uji lanjut antara sel pada kolom dan baris. Minat belajar siswa ditandai dengan antusia siswa dalam mengajukan pertanyaan selama proses pembelajaran sehingga akan menarik perhatian siswa untuk mempelajari pengetahuan yang lebih dalam lagi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan merangsang siswa untuk berpikir mencari jawaban yang akan membentuk konsep baru dalam diri siswa. Selanjutnya, siswa akan melakukan penganalisisan lebih mendalam lagi guna mendapatkan jawaban yang tepat dan dapat

memuaskan keingintahuannya dengan cara: bertanya pada teman ataupun guru, mencari dari buku, browsing internet, dan lain-lain. Siswa yang berusaha mencari jawaban dari keingintahuannya, secara tidak sadar telah melatih kedisiplinan dirinya. Kedisisplinan belajar ini sangat penting karena merupakan kesadaran akan sikap dan perilaku yang tertanam dalam diri untuk mengerjakan sesuatu dengan penuh tanggung jawab. Terkait dengan interaksi antara minat dengan kedisiplinan belajar siswa, Ibnu Hizam (2007) dalam jurnal penelitian keislaman menyatakan bahwa ”Variabel minat belajar sejarah dan kemampuan klarifikasi nilai sejarah secara bersama-sama memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan sikap nasionalisme siswa. Minat belajar dapat menumbuhkan suatu dorongan untuk melakukan suatu tindakan untuk mengklarifikasi nilai-nilai sejarah yang telah dipelajari dan pada akhirnya akan berdampak pada sikap nasionalisme. Tindakan seseorang yang disertai minat ini akan menghadirkan perhatian dengan serta merta, berkonsentrasi dan pelibatan diri sepenuhnya dalam mengkaji materi sejarah yang telah disampaikan.

Ditolaknya hipotesis alternatif kemungkinan terjadi karena kedisiplinan belajar yang dimiliki siswa cenderung merupakan kebiasaan yang terbawa oleh siswa kerena penanaman pendidikan dalam keluarga sejak kecil, sedangkan minat belajar tumbuh dalam diri siswa karena faktor rangsangan dari luar dikala menginjak sekolah. Sehingga kurang adanya minat untuk meraih prestasi menyebabkan nilai prestasinya rendah sekalipun siswa tersebut mempunyai tingkat kedisiplinan tinggi, sebaliknya meskipun siswa mempunyai minat tinggi tetapi tidak ditunjang dengan kedisiplinan belajar tinggi maka prestasinya pun rendah. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya minat dan kedisiplinan belajar siswa bukan merupakan faktor penentu keberhasilan siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya karena masih terdapat

faktor internal lain seperti: motivasi, kecerdasan emosional, kreativitas, gaya belajar dan lain-lain yang dimiliki siswa dalam meningkatkan prestasi belajar. 7. Hipotesis Ketujuh Berdasarkan hasil perhitungan pada analisis variansi tiga jalan dengan frekuensi sel tak sama diperoleh harga FobsABC sebesar 6.169 lebih besar dari Ftabel 3.98 sehingga hipotesis nol di tolak dan hipotesis alternatif di terima, maka interaksi antara penggunaan metode GI dan CIRC, minat dan kedisiplinan memberikan pengaruh signifikan terhadap prestasi belajar. Oleh karena terdapat interaksi penggunaan model pembelajaran dengan minat dan kedisiplinan belajar, maka dilakukan uji lanjut antara sel pada kolom dan baris. Adanya interaksi antara metode pembelajaran dengan minat dan kedisiplinan belajar siswa disebabkan dalam proses pembelajaran yang menerapkan metode group investigation dan metode Cooperative integrated reading composition pada pokok bahasan sistem pencernakan makanan pada manusia yang berhubungan dengan lingkungan dan menyangkut kesehatan tubuh ini menimbulkan antusias siswa untuk mengkaji materi ini lebih mendalam dengan cara mengumpulkan data-data dari fenomena yang terjadi di lingkungan sekitar, browsing melalui media internet, membaca sumber belajar yang mendukung dan lain-lain. Usaha yang dilakukan siswa ini secara tidak langsung akan membentuk sikap atau perilaku siswa untuk bekerjasama dalam mengkaji segala sesuatu atau fenomena yang terjadi di ingkungan sekitar. Hal ini akan meningkatkan perhatian siswa untuk mengendalikan tingkah laku, memenuhi tuntutan secara tepat, teliti dan mengarahkan diri sendiri dalam mengambil keputusan secara bertanggung jawab sehingga interaksi antara metode

pembelajaran dengan minat dan kedisiplinan belajar dapat meningkatkan pencapaian prestasi belajar. Dari hasil analisis diperoleh rataan prestasi belajar aspek kognitif kelas dengan x A0B0C0 = 799.36; x A0B0C1 = 75.00; x A0B1C0 = 74.00; x A0B1C1= 69.79; x A1B0C0= 69.17; x A1B0C1= 72.00; x A1B1C0= 64.00; x A0B0C0= 75.67, setelah dilakukan uji scheffe diperoleh Fhitung µA0B0C0 vs µA1B0C0 sebesar 4.013 lebih besar dari Ftabel 3.98, hal ini berarti bahwa siswa yang mempunyai minat rendah dan kedisiplinan rendah, prestasi belajar aspek kognitif yang mendapat pembelajaran dengan metode GI lebih baik dibandingkan siswa yang mendapat pembelajaran dengan metode CIRC dan diperoleh Fhitung µA0B0C0 vs µA1B1C0 sebesar 4.424 lebih besar dari Ftabel 3.98, hal ini berarti bahwa siswa yang mendapat pembelajaran dengan metode GI mempunyai prestasi belajar aspek kognitif lebih baik dibangdingkan siswa yang mendapat pembelajaran dengan metode CIRC, tanpa memperhatikan variabel minat belajar siswa. Sedangkan komparasi yang lain diperoleh Fhitung lebih kecil dari Ftabel sehingga tidak terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara sel. Berdasarkan hasil uji scheffe diatas maka dapat disimpulkan bahwa penggunan metode pembelajaran GI memberikan pengaruh lebih baik terhadap prestasi belajar aspek kognitif siswa dibandingkan dengan metode pembelajaran CIRC. Dan apabila memperhatikan kategori minat dan kedisiplinan belajar siswa tidak memberikan pengaruh yang besar dalam pencapaian prestasi belajar siswa. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi prestasi siswa yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern siswa diantaranya motivasi diri, rasa percaya diri,

kreativitas, intelegensi, kecerdasan emosional dll. Sedangkan faktor ekstern yang berpengaruh anatara lain: sarana dan prasarana belajar, kondisi pembelajaran, metode pembelajaran, lingkungan sosial siswa dll. Sedangkan pada penelitian ini hanya meninjau faktor minat dan kedisiplinan untuk faktor intern siswa dan metode pembelajaran untuk faktor ekstern siswa, serta peneliti tidak dapat mengontrol semua faktor lain tersebut.

E. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian yang telah dilakukan, peneliti telah berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan penelitian. Namun demikian peneliti menyadari akan segala keterbatasan peneliti sehingga ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan, adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil penelitian adalah : 1. Instrumen untuk pengambilan data yang berupa tes prestasi belajar, angket minat dan angket kedisplinan belajar bukan instrumen yang sudah baku karena tes dan angket buatan peneliti tersebut baru di ujicobakan pada satu tempat saja. 2. Metode yang digunakan belum terbiasa dilakukan sehingga dalam proses belajar, siswa kesulitan dalam belajar bersama-sama dalam kelompok (kooperatif learning), mengutarakan pendapat dan mempresentasikan hasil kelompok. 3. Metode pembelajaran yang dipilih pada penelitian ini selain memiliki kelebihan juga memilii kelemahan, sehingga ini juga dapat mempengaruhi hasil kesimpulan. 4. Pada pencapaian prestasi belajar terdapat berbagai faktor yang berpengaruh. Namun dalam penelitian ini hanya sebagaian faktor yang diteliti yaitu metode pembelajaran sebagai faktor eksernal siswa dan minat belajar serta kedisiplinan

belajar siswa sebagai fakor intern. Sementara itu masih banyak fator lain yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Adapun kendala yang dihadapi peserta didik di dalam proses pembelajaran diantaranya: a) siswa jarang melaksanakan pembelajaran inquiry; b) dalam kelompok masih kesulitan menentukan tujuan dan menyusun langkah-langkah kegiatan; c) ada kecenderungan tugas kelompok didominasi oleh siswa yang berkemampuan tinggi sehingga anggota yang lain menjadi minder dan apatis; d) kurangnya kemandiran dan keberanian siswa untuk mengambil keputusan/inisiatif.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan kajian teori dan didukung hasil analisis serta mengacu pada perumusan masalah yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Prestasi belajar ranah kognitif siswa dengan metode pembelajaran group investigation dan cooperative integrated reading composition secara signifikan (F= 0.789 < Ftab) menunjukkan hasil yang sama-sama maksimal dalam pembelajarannya. Hal ini disebabkan dalam proses pembelajaran siswa sudah mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru, sehingga siswa sudah mempunyai gambaran langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pembelajaran yang sesuai arahan guru. 2. Prestasi belajar ranah kognitif siswa dengan minat berkategori tinggi dan rendah secara signifikan (F= 0.561 < Ftab) menunjukkan bahwa minat belajar tidak memberikan pengaruh pada prestasi belajar. Tidak adanya pengaruh terhadap prestasi belajar disebabkan minat siswa lebih banyak berkategori rendah, sehingga apabila diberi perlakuaan khususnya metode pembelajaran maka tidak akan memberikan pengaruh yang berarti terhadap prestasi belajar. 3. Prestasi belajar ranah kognitif siswa dengan kedisiplinan berkategori tinggi dan rendah secara signifikan (F= 0.006 <

Ftab)

menunjukkan bahwa kedisiplinan

belajar tidak memberikan pengaruh pada prestasi belajar. Tidak adanya pengaruh

125

terhadap prestasi belajar disebabkan kedisiplinan siswa lebih banyak berkategori rendah, sehingga apabila diberi perlakuaan khususnya metode pembelajaran maka tidak akan memberikan pengaruh yang berarti terhadap prestasi belajar. 4. Tidak ada interaksi antara penerapan metode pembelajaran dengan minat belajar terhadap prestasi belajar ranah kognitif siswa (F= 2.547 < Ftab). 5. Interaksi antara penerapan metode pembelajaran dengan kedisiplinan belajar memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar ranah kognitif siswa (F= 4.894 > Ftab) dan apabila melihat rataan kognitif dengan memperhatikan interaksi tersebut maka penerapan metode pembelajaran group investigation lebih baik dari pada metode pembelajaran cooperative integrated reading composition, baik dilihat dari kategori umum maupun dilihat dari masing-masing kategori kedisiplinan belajar siswa. 6. Tidak ada interaksi antara minat dan kedisiplinan belajar terhadap prestasi belajar ranah kognitif siswa (F= 0.803 < Ftab). 7. Interaksi antara penerapan metode pembelajaran dengan minat dan kedisiplinan belajar memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar ranah kognitif siswa (F= 46.169 > Ftab) dan apabila melihat rataan kognitif dengan memperhatikan interaksi tesebut maka penerapan metode pembelajaran group investigation lebih baik dari pada metode pembelajaran cooperative integrated reading composition, baik dilihat dari minat rendah dan kedisiplinan rendah maupun tanpa memperhatikan variabel minat belajar siswa.

B. Implikasi Hasil Penelitian Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian diatas, dapat lihat bahwa model pembelajaran Cooperatif learning dengan metode group investigation dan cooperative integrated reading composition belum maksimal diterapkan dalam proses pembelajaran biologi di SMP Negeri I Colomadu karena semua variabel yang diujikan mempunyai efek yang tidak sama, metode tersebut menuntut siswa untuk belajar bekerja sama dalam kelompok, kreatif dan inovatif sehingga siswa perlu memahami benar tahap-tahap serta prosesnya dalam metode group investigation dan cooperative integrated reading composition. Adapun implikasi yang dapat Peneliti sampaikan adalah: 1. Implikasi Secara Teortis Keberhasilan siswa dalam pencapaian prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan ekternal. Penerapan model pembelajaran Cooperatif learning dengan metode group investigation dan cooperative integrated reading composition sebagai faktor eksternal dan pembelajaran dengan memperhatikan minat dan kedisiplinan siswa sebagai faktor internal akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Namun dalam penelitian ini, kedua faktor tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap prastasi belajar siswa, akan tetapi interaksi antara faktor eskternal dan internal tersebut memberikan pengaruhi terhadap prestasi belajar siswa. 2. Implikasi Secara Praktis a. Pada upaya peningkatan prestasi belajar materi sistem pencernaan makanan pada manusia dengan menggunakan model pembelajaran cooperative learning dengan

metode group investigation dan cooperative integrated reading composition dapat diterapkan apabila guru benar-benar menguasai materi dan dapat membimbing anak untuk dapat bekerjasama dalam kelompok. Hal tersebut diperlukan karena metode pembelajaran cooperative learning dapat digunakan untuk membantu siswa dalam menemukan konsep siswa, kemudian dipadukan dengan konsep lama yang telah ada. b. Minat belajar dapat membantu menentukan pilihaan yang berguna bagi diri siswa karena mempunyai kencenderungan untuk selalu berhubungan dengan segala sesuatu yang dianggap akan memberikan kesenangan. Namun dalam penelitian ini, diperoleh minat belajar siswa sangat rendah sehingga minat tidak memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar. Peran guru disini untuk membantu siswa menumbuhkan minat pada materi pelajaran sehingga siswa akan merasa senang memperoleh pelajaran biologi. c. Kedisiplinan belajar dapat ditumbukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menerapkan sanksi atau bentuk ganjaran dan hukuman sesuai dengan perbuatan yang dilakukan siswa sehingga akan terbentuk rasa tanggung jawab pada diri siswa yang mana akan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Namun dalam penelitian ini, diperoleh kedisiplinan belajar siswa sangat rendah sehingga kedisiplinan tidak memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar.

Peran

guru

disini

untuk

membantu

siswa

menumbuhkan,

mengembangkan dan menerapkan kedisiplinan dalam semua aspek pembelajaran.

C. Saran Berdasarkan kesimpulan dan saran dalam penelitian ini, penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut: 1. Penggunaan metode model pembelajaran cooperative learning dengan metode group investigation dan cooperative integrated reading composition hendaknya dilakukan dengan persiapan yang matang, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal sesuai dengan rencana. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan yaitu: a) mengetahui kendala yang dihadapi siswa, misalnya guru memberikan

kemudahan

dalam

pencarian

wacana/artikel

dengan

cara

pengaksesan semua materi sistem pencernakana makanan dari internet, sehingga siswa bisa membuka dan mempelajarinya tanpa harus memikirkan beban biaya yang

dikeluarkan

untuk

mencari

informasi

atau

pengetahuan,

b)

mengorganisasikan siswa dalam belajar kelompok, c) menyediakan sarana prasarana pembelajaran yang sekiranya siswa mengalami kesulitan dalam mendapatkan mendapatkan informasi atau pembuktian. 2. Penanaman kedisiplinan belajar harus dilakukan mengingat anak sekolah menengah pertama memiliki kecenderungan mencari jati diri sehingga mudah terpengaruh dengan hal-hal yang kurang positif seperti memberontak atau menyimpang dari kaidah yang sudah ada. Untuk itu agar kedisiplinan terbentuk secara bertahap maka perlu dperhatikan hal-hal berikut ini: a. Hindarilah tindakan yang mengurangi semangat siswa dalam belajar b. Berilah penguatan untuk setiap usaha yang dilakukan siswa

c. Bedakan antara tindakan dan pelakukanya d. Tunjukkan bahwa guru menaruh kepercayaan terhadap keunikan anak e. Kondisikan siswa merasa diserahi tanggung jawab. 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan pelaku pendidikan dalam upaya peningkatan prestasi belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Arends, R.I. 1997. Classroom Intruction and Management. New Jersay: The Mc graw-Hill companies, Inc ---------- 2008. Learning to Teach. Penerjemah : Helly Prajitno Soetjipto & Sri Moelyantini Soetjipto. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Budiyono. 2004. Statistika Untuk Penelitian. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Dewa Ketut Sukardi. 2000. Bimbingan dan Konseling. Surakarta : Usaha Nasional Dimyati & Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta Doantara Yasa. 2008. Teori Kognitif http://id.wordpress.com/2008/05/11/teori-kognitif/

(online).

Tersedia:

Enco Mulyasa. 2004. Implementasi Kurikulum 2004. Bandung : Remaja Rosdakarya Eric.

2007. Intervention : Cooperative Integrated Reading and Composition (Online). Tersedia: http://ies.ed.gov-ncee-wwc-reports-beginning.readingcirc-indeks-asp

Hurlock, E.B. 1992. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Terj. Jakarta: Erlangga Ibnu Hizam. 2007. Konstribusi Minat Belajar dan Kemampuan Klarifikasi Nilai Sejarah dalam Pembentukan Sikap Nasionalisme. Jurnal Penelitian Keislaman,vol3,no2juni2007.287-300.Tersedia: http://idb3.wikispaces.com/file/view/rk3009.pdf I Gusti N.J. 2008. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Terbuka Melalui Investigasi Bagi Siswa Kelas V SD 4 Kaliuntu. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 2. Edisi 1,60-73. Tersedia: IGN-Japa.pdf Joyce, B & Weil, M. 2000. Models of Teaching. New Jersay : Prentice-Hall, Inc Krisno Anggoro. 2004. Penerapan Metode CTL dan GI Dalam Pembelajaran Kimia Lingkungan Ditinjau Dari Kemampuan Verbal dan Abstrak Siswa. Tesis: Pascasarjana UNS Kurt Singer. 2000. Membina Hasrat Belajar di Sekolah. Bandung : Remaja Karya 131

La Ode Hadini. 2008. Oktober 12. Abstrak Jurnal Penelitian Pendidikan (online). Tersedia:http://abstrak-jurnal-penelitian-pendidikan-edisi oktober2008.lpmpsultra-net.htm Lembaga Ketahanan Nasional. 1998. Disiplin Nasional. Jakarta: Balai Pustaka Mahmudah. 2007. Pengaruh Metode CIRC Dalam Pembelajaran Biologi Ditinjau Dari Kemampuan Awal Terhadap Kemampuan Kognitif Sisa Kelas X SMA. Skripsi. Surakarta: FKIP UNS Mardiyanto. 2009. Pembelajaran Kooperetif Melalui Model Jigsaw dan Group Investigasi dengan Memperhatikan Tingkat Aktivitas Belajar Siswa. Tesis: Pascasarjana UNS Margono. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta Maya Nuraini. 2008. Pengaruh Kecerdasan Emosional Dan Minat Belajar Mahasiswa Akuntansi Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi. Journal from JIPPTUMG/2008:02-15. Tersedia: : http://digilib.umg.ac.id/gdl.php?mod= browse& node=6 Morris, L Biggie & Maurice, P. 1986. Psycological Foundation of Education. New York : Hasper & Row M. Thohir. 2008. Pebruari 14. Revisi Taksonomi Bloom (Online). Tersedia: http://m-thohir.blogspot.com/2008/02/kompleksitas-revisi-taksonomi-bloom Nuning. 2008. Januari 16. Penerapan Metode CIRC (Online). Tersedia : http://penerapanmetodecirc.html.com Oemar Hamalik. 2001. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Ratna W. D. 1989. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga. Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Seok, Phil&Shin, Myeong-Kyeong. 2005. Students’ Reflections on Implementation of Group Investigation in Korean Secondary Science Classrooms . International Journal of Science and Mathematics Education. Tersedia : http://www.springerlink.com/content/111141/?p=f55c60 7ae6b04ad0bdf730afae7a199d&pi=0 Sax, Gilber. 1980. Principles of Education Measurement and Education. California: Wadswort Publishing Company

Semin. 2009. Keefektivan Penerapan Pendekatan Pembelajaran Konstektual Terhadap Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan social Ditinjau dari Minat Siswa. Tesis: Surakarta: Program Pascasarjana UNS

Siti

Masitih. 2006. Peningkatan Aktivitas belajar dengan Pembelajaran Investigasi Kelompok dalam Kuliah Metode Penelitian PLB II. Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP) vol 13. No 2 (2006). Tersedia: http//Journal.um.ac.id/index.php/jip/index

Soedama Hadi. 1981. Pengelolaan Kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Slameto. 1995. Belajar dan faktor-faktor Yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning. Second Edition. Massachucetter: Allyn and Bacon Publishers -----------2008. Cooperatif Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung : Nusa Media Sugiyono. 2006. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta Suharjon. 2004. Konstribusi Tata Tertib Sekolah Dan Sikap Disiplin Terhadap prestasi Belajar (Online). Tersedia : http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/cgibin/library?

Suharno. 1997. Belajar dan Pembelajaran II. Surakarta :UNS Press Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisis Revisi VI). Jakarta : Rineka Cipta Sukamta. 2004. Pengaruh Kedisiplinan Dan Sikap Kemandirian Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V SDN se-Kecamatan Wonosari Klaten Semester II Tahun Pelajaran 2003/2004. Skripsi. Surakarta: FKIP UNS Sunarno. 1997. Pengaruh Kedisiplinan Belajar dan Sikap Orangtua Terhadap Prestasi Belajar Matematika. Skripsi. Surakarta: FKIP UNS Suprayekti. 2006. Strategi Penyampaian Pembelajaran Kooperatif. Jurnal Pendidikan Penabur.no.07/Th.V/Desember. Tersedia : Jurnal kooperatif.pdf Suwarto. 2009. Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca dan Menulis Permulaan dengan Metode Koopetarif Integrasi Membaca dan Komposisi (CIRC). Tesis.Surakarta: Program Pascasarjana UNS Tri Wiyono R.D. 2004. Pengaruh Model Pembelajaran Kompedium Al-Qur’an Menggunakan Metode Tanya Jawab Disertai Peta Konsep dan Metode Diskusi Terhadap Prestasi Belajar Fisika Ditinjau Dari Motivasi Berprestasi dan Kedisiplinan. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana UNS Wagiman. 2009. Pengaruh Pembelajaran Kooperetif Model CIRC dan Time Token, Kedisiplinan siswa menyelesaikan Tugas Belajar Kimia Terhadap Kompetensi Kognitif. Tesis: Pascasarjana UNS W. Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Grasindo Winataputra. 1992. Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran. Jakarta: PAUPPAI Universitas terbuka. Wina Sanjaya. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana Rendra Media Group W.S. Winkel. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta : Media Abadi Witherington&Buchori. 2005. Teknik-teknik Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Angkasa Baru