PEMBELAJARAN

(P3K) ... Sebagai contoh laboratorium studi Sosiologi dan Sosiatri (FISIPOL) ... bentuk soal dan pertanyaan yang masing-masing ada jawabannya, hal ini...

0 downloads 16 Views 821KB Size
PEMBELAJARAN DI LABORATORIUM

Pusat Pengembangan Pendidikan UNIVERSITAS GADJAH MADA Yogyakarta

C

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang memperbanyak, mencetak, dan menerbitkan sebagian isi atau seluruh buku dengan cara dan dalam bentuk apapun juga tanpa seijin editor dan penerbit.

EDITOR Harsono PENATA LETAK & DESAIN COVER Sutarto ILUSTRATOR GAMBAR Lingga Tri Utama FOTOGRAPHER Bimo (Gedung Pusat UGM) Bambang Prastowo (Gerbang UGM) Dicetak Oleh: ................................................................... .................................................................. Yogyakarta, 2005 Cetakan Pertama, Desember 2005 ISBN No. ................................................

ii

Pengantar Di dalam institusi pendidikan, laboratorium merupakan kelengkapan fasilitas pembelajaran yang tidak boleh diabaikan. Dari kegiatan di laboratorium, yang lebih dikenal sebagai praktikum, para pembelajar memperoleh tambahan wawasan dan keyakinan akan teori-teori ilmiah yang telah diperolehnya, baik melalui perkuliahan, diskusi, maupun aktivitas mandiri. Dengan bekerja di laboratorium maka para pembelajar akan membangun pengetahuannya secara nyata, yang dapat dihayati dengan penggunaan berbagai alat canggih dan panca-indera. Hal ini sangat relevan dengan kegiatan penelitian, yang dalam konteks pendidikan dikenal sebagai research-based learning atau project-based learning. Dengan demikian tujuan “pembelajaran di laboratorium” harus dipahami secara jelas oleh para pembelajar. Di samping itu, “pembelajaran di laboratorium” harus dikemas, disiapkan, dan ditawarkan sebagai suatu aktivitas yang menyenangkan, menarik, menantang, dan memang perlu untuk pengembangan pengetahuan dan teknologi.

Yogyakarta, Desember 2005

Penyusun.

iii

PENYUSUN Edia Rahayuningsih Djoko Dwiyanto

KONTRIBUTOR Harsono H.C.Yohannes Kusminarto Achmadi Priyatmojo Amitya Kumara Ika Dewi Ana

iv

Daftar Isi Kata Pengantar ........................................................................................................ Daftar Isi .............................................................................................................. Bab 1 Pendahuluan .............................................................................................................

iii v 1

Bab 2 Perkembangan pembelajaran di laboratorium .................................................

4

Bab 3 Tujuan dan kegunaan pembelajaran laboratorium ..........................................

6

Bab 4 Kendala umum pembelajatran di laboratorium ...............................................

14

Bab 5 Metode pembelajaran di laboratorium ............................................................... Beberapa cara konvensional pembelajaran di laboratorium ................. 1. Peragaan (demonstration) ........................................................................ 2. Latihan (exercise) ...................................................................................... 3. Penyelidikan terstruktur (structured enguiries) ................................... 4. Penyelidikan secara terbuka (open ended enguiries) .......................... 5. Proyek (project) .........................................................................................

17 20 20 21 21 22 22

Bab 6 Peningkatan pembelajaran di laboratorium ...................................................... 1. Tujuan atau sasaran ................................................................................. 2. Petunjuk pelaksanaan .............................................................................. 3. Asisten laboratorium terlatih ................................................................ 4. Cara memfasilitasi .................................................................................... 5. Pertanyaan dan daftar pengecekan untuk evaluasi ..........................

24 24 24 24 24 26

Bab 7 Pelaksanaan praktikum ........................................................................................... Rencana pembelajaran praktikum ............................................................... Metodologi praktikum ..................................................................................... Penyusunan tugas problema .........................................................................

27 27 27 27 v

Organisasi praktikum .............................................................................. Bimbingan pada praktikum .................................................................... Petunjuk untuk pembimbing dapat diringkas sebagai berikut: ..... Peilaian praktikum ................................................................................... Penyusunan laporan ................................................................................ Penilaian laporan ......................................................................................

28 28 29 31 32 33

Bab 8 Keselamatan kerja di laboratorium ..................................................................... A. Bahan kimia ............................................................................................... B. Peralatan dan cara kerja ......................................................................... C. Langkah-langkah praktis ......................................................................... D. Aturan kerja di laboratorium ................................................................ E. Teknik kerja di laboratorium ................................................................. F. Keamanan kerja di laboratorium .......................................................... G. Penaggulangan keadaan darurat .......................................................... H. Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) ................................... I. Penang.anan limbah - Pembuangan limbah ....................................... J. Pertanyaan yang sering muncul dalam kerja laboratorium ........... K. Database bahan kimia berbau, berbahaya, dan beracun (B3) ......

34 35 36 37 37 38 40 40 41 42 42 44

Bab 9 Insentif kerja laboratorium ...................................................................................

45

Daftar Pustaka ..........................................................................................................

46

vi

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

PENDAHULUAN Seperti layaknya pemahaman umum, yang dimaksud dengan laboratorium adalah suatu sarana atau gedung yang dirancang khusus untuk melaksanakan pengukuran, penetapan, dan pengujian untuk keperluan penelitian ilmiah dan praktik pembelajaran. Tetapi, akhir-akhir ini analog dengan batasan itu berbagai disiplin ilmu pengetahuan sering menganggap (claim) bahwa lapangan tempat mereka bekerja dan melakukan penelitian juga dianggap sebagai laboratorium, sehingga disebut dengan laboratorium lapangan. Sebagai contoh misal, ‘Gumuk Pasir’ di pantai Parangtritis dianggap sebagai laboratorium sekaligus museum Geografi. Sambung macan adalah laboratorium lapangan Geologi. Sangiran dan Pacitan adalah laboratorium Geologi dan Arkeologi. Pegunungan Karst Gunungkidul adalah laboratorium lapangan Geografi, Geologi, dan Arkeologi. Kebun Percobaan Kalitirto, Berbah adalah laboratorium lapangan ilmu-ilmu Pertanian. Hutan Wanagama adalah laboratorium lapangan Kehutanan. Secara konvensional laboratorium sekurang-kurangnya dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu (Hachette, 1989).: 1. Tempat yang diatur dan dilengkapi dengan peralatan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan ilmiah (scientific) atau teknik, misalnya laboratorium Fisika, laboratorium Kimia, atau laboratorium Fotografi. 2. Laboratorium Bahasa, yaitu tempat yang khusus diatur untuk pembelajaran khusus bahasa asing dengan bantuan audiovisual. 1

Pembelajaran di Laboratorium

3.

Laboratorium Ruang Angkasa yang dipergunakan untuk merealisasikan percobaan-percobaan ilmu pengetahuan tentang ruang angkasa.

Demikian luasnya pengertian tentang laboratorium, maka dalam buku ini terutama akan diuraikan tentang seluk beluk laboratorium yang dirancang dan diatur secara khusus untuk melaksanakan pekerjaanpekerjaan ilmiah dan pembelajaran, baik bidang eksata maupun non eksata terutama yang terdapat di lingkungan Universitas Gadjah Mada. Berdasarkan struktur organisasi dan rincian tugas yang berlaku saat ini di Universitas Gadjah Mada terdapat Unit Kerja yang disebut dengan Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT). Secara struktural unit kerja ini berada di bawah kendali Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang terdiri atas: 1. Bidang Layanan Penelitian dan Pengembangan. 2. Bidang Layanan Pengujian, Sertifikasi, dan Kalibrasi. 3. Bidang Layanan Penelitian Pra-Klinik dan Pengembangan Hewan Percobaan. Masing-masing bidang di atas memiliki rincian tugas sebagaimana diatur dalam Surat Keputusan Rektor UGM nomor: 259/P/SK/HT/2004. Selain laboratorium-laboratorium yang dapat diorganisasikan oleh LPPT- UGM, masih terdapat berbagai laboratorium yang dikelola oleh Jurusan dan atau Program Studi yang sifatnya khas, baik bidang eksata maupun noneksata. Sebagai contoh laboratorium studi Sosiologi dan Sosiatri (FISIPOL) di salah satu desa di Kabupaten Sleman, laboratorium Arkeologi, laboratorium Etnofotografi, laboratorium Antropologi, dan laboratorium Kearsipan di Fakultas Ilmu Budaya, serta Laboratorium Bioantropolgi dan Paleoantropologi di Fakultas Kedokteran. Selain itu dalam bidang Arkeologi masih dikenal adanya Laboratorium Konservasi yang klasifikasinya disesuaikan dengan kemampuan peralatan dan Sumber Daya Manusia (tenaga ahli) yang tersedia di laboratorium itu. 2

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

Laboratorium-laboratorium tersebut dibangun berdasarkan suatu kesadaran penuh bahwa pembelajaran di laboratorium mempunyai posisi penting dalam pendidikan, karena dalam rangka mencapai tujuan yang bersifat multi dimensi dalam proses pembelajaran, diperlukan strategi pembelajaran yang memadai. Salah satu strategi pembelajaran yang dianggap dapat mencakup tiga ranah sekaligus (kognitif, afektif, dan psikomotor) adalah pembelajaran di laboratorium. Pembelajaran di laboratorium merupakan proses pembelajaran termahal di antara proses pembelajaran yang lain. Selain itu sebagian besar pembelajaran di laboratorium berhubungan dengan peralatan yang mahal, zat kimia yang berbahaya, listrik tegangan tinggi, peralatan berputar, peralatan dengan suhu atau tekanan tinggi, dan risiko-risiko lainnya. Oleh karena itu pembelajaran laboratoriun yang efektif, efisien, dan aman perlu dirumuskan, diketahui, dan difahami oleh seluruh sivitas akademika. Berdasarkan hal-hal tersebut, buku ini ditulis agar risiko dari pembelajaran di laboratorium dapat dicegah. Buku ini ditulis dengan kemasan singkat, sederhana, dan praktis, karena buku ini diharapkan dapat menjadi inspirasi awal tentang pembelajaran di laboratorium dan dapat memunculkan inspirasi melakukan peninjuan ulang atau usaha penyempurnaan terhadap pembelajaran di laboratorium. Bila diperlukan informasi lebih rinci saat proses perumusan atau penyempurnaan pembelajaran di laboratorium dapat dicari dari berbagai sumber dan internet yang tersedia, atau menghubungi Pusat Pengembangan Pendidikan UGM.

3

Pembelajaran di Laboratorium

PERKEMBANGAN PEMBELAJARAN DI LABORATORIUM Penggunaan laboratorium untuk sarana pembelajaran di universitas mulai diperkenalkan pada pertengahan abad sembilan belas dalam rangka untuk mendukung meningkatnya jumlah mahasiswa yang mempelajari ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Pada awalnya praktikum dimaksudkan untuk meningkatkan keahlian mahasiswa dalam pengamatan, dan meningkatkan ketrampilan, serta sebagai sarana berlatih dalam menggunakan peralatan. Beberapa penelitian membandingkan

pembelajaran di laboratorium dengan metode pembelajaran yang lain menunjukkan bahwa praktikum di laboratorium lebih efektif untuk memperoleh kemampuan pengamatan dan ketrampilan teknik, tetapi 4

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

kurang efektif untuk pembelajaran ilmu pengetahuan faktual, konsep, penelitian ilmiah, atau ketrampilan pemecahan masalah. Selama dua puluh lima tahun belakangan ini selalu dilakukan peninjauan kembali mengenai fungsi, kegunaan, dan metode dalam pembelajaran di laboratorium. Pada diskusi-diskusi yang telah dilakukan muncul beberapa keprihatinan, temuan, atau kendala yang perlu diperhatikan, antara lain: 1. Tingginya biaya kerja di laboratorium membuat semakin sulit untuk menyediakan fasilitas dan sumber daya yang memenuhi standar yang diperlukan; 2. Adanya keterbatasan waktu dan banyaknya program kerja menyebabkan kesulitan dalam menyusun silabus, baik dari segi kualitas maupun kuantitas; 3. Laboratorium yang telah ada (konvensional) bekerja kurang efektif, sehingga kurang mendukung proses pemahaman konsepkonsep perkembangan ilmu pengetahuan dan penggunaan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan untuk penyelesaian persoalan. Berdasarkan temuan dalam rangka peninjauan ulang terhadap proses pembelajaran di laboratorium konvensional, dapat disimpulkan bahwa perlu ditambahkan beberapa hal antara lain: kegiatan untuk meningkatkan pengalaman dan kemampuan kognitif, mengurangi pekerjaan yang sifatnya pengulangan, serta menyusun aktivitas-aktivitas yang hemat waktu. Pembelajaran di laboratorium saat ini cenderung berubah dari cara dan peran pengajaran menjadi lebih berorientasi pada pembelajaran mahasiswa secara madiri (independent learning by students). Saat ini, pembelajaran di laboratorium dimaksudkan untuk: 1. Pembelajaran ketrampilan sesuai dengan subjek praktikum 2. Pemahaman prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan tahap-tahap dalam penelitian ilmiah. 3. Mengembangkan ketrampilan dalam pemecahan masalah secara sistematik. 4. Membina pengembangan sikap atau perilaku profesional, praktis, dan komitmen. 5

Pembelajaran di Laboratorium

TUJUAN DAN KEGUNAAN PEMBELAJARAN LABORATORIUM

Dalam rangka mencapai tujuan yang bersifat multi dimensi dalam proses pembelajaran di laboratorium, maka pembelajaran di laboratorium sangat efektif untuk mencapai tiga ranah secara bersama-sama, sebagai berikut: Ketrampilan kognitif yang tinggi l Berlatih agar dapat memahami teori l Berlatih agar segi-segi teori yang berlainan dapat diintregasikan l Berlatih agar teori dapat diterapkan pada permasalahan nyata Ketrampilan afektif l Belajar merencanakan kegiatan secara mandiri l Belajar bekerja sama l Belajar mengkomunikasikan informasi mengenai bidangnya l Belajar menghargai bidangnya Ketrampilan psikomotor l Belajar memasang peralatan sehingga betul-betul berjalan l Belajar memakai peralatan dan instrumen tertentu

6

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

Contoh tujuan instruksional pembelajaran di laboratorium dirumuskan dalam tabulasi sebagai berikut: TAHAP A PROBLEMA

KEGIATAN

TUJUAN INSTRUKSIONAL

1.

l

Mengenali

l

l l

2.

Analisis

l

l l

3.

Formulasi

l

4.

Kriteria

l

Mengenali suatu masalah (tugas) memperkirakan formulasi masalah menyelesaikan masalah membayangkan relevansi problema di bidangnya Menentukan hubungan antara berbagai aspek Menentukan aspek pokok Menghubungkan problema dengan teori dan prinsip Menyusun problema dalam bentuk soal dan pertanyaan yang masing-masing ada jawabannya, hal ini dapat membantu memformulasikan pemecahan Menentukan kriteria untuk suatu problema

7

Pembelajaran di Laboratorium

B INFORMASI

1.

Mengumpulkan.

l

l l l

2.

Menganalisis

3.

Mengarahkan.

l

l

l

C HIPOTESIS

1.

Menyusun

l

l

2.

Menyeleksi

l

3.

Kriteria

l

l

8

Mengetahui di mana dapat dicari Memperkirakan relevansinya· Mencari bahan bacaan Memperoleh input dari percobaan yang kasar Menilai keterandalan dan relevansi untuk suatu problema Menilai apakah memberi penjelasan tentang problema Menurunkan model teoritik dan menghubungkan dengan problema. Menilai apakah hipotesis atau fakta Menyusun hipotesis yang dapat diuji Memilih yang berguna dan yang dapat diuji dalam waktu tertentu dengan peralatan yang ada Menentukan apakah hasil percobaan cukup utuk membuktikan kebenaran hipotesis Menurunkan kriteria untuk percobaan

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

D PERCOBAAN

1.

Rencana

l

l

l

l

l

l

2.

Mengerjakan

l l l

l

3.

Statistik

l l

l

l

Menyusun percobaan yang dapat membuktikan kebenaran hipotesis Memperkirakan apakah kriteria (C-3) dipenuhi Memperkirakan keterbatasan alat-alat, alat ukur, dan ketrampilan Membuat rencana kerja yang lengkap Memperbaiki ketrampilan bila perlu Merencanakan percobaan untuk mengontrol hasil percobaan Mengerjakan rencana Memakai peralatan Mengukur dengan ketelitian yang dikehendaki Mencatat data/pikiran secara sistematis Menyusun data secara logis Membagi data sesuai dengan relevansi Memperkirakan keterandalan/keseksamaan Memakai metode statistik untuk menghitung keterandalan

9

Pembelajaran di Laboratorium

l

l

l

E KESIMPULAN

4.

Optimalisasi

l

1.

Hipotesis

l

l

l

l

2.

Problema

l

l

l

10

Mengektrapolasi/intrapolasi data, dan memperkirakan apakah diperbolehkan Membandingkan dengan informasi yang lain Menilai hasil sementara secara kritis Atas dasar evaluasi menyusun rencana kerja yang lebih baik untuk membuktikan kebenaran hipotesis Membedakan relevansi yang kebetulan dan yang sebabakibat. Menentukan apakah ada cukup data Melihat hubungan-hubungan yang ada Merumuskan kesimpulan tentang hipotesis-hipotesis Menilai kesimpulan terhadap kriteria, teori-teori Bila penilaian itu negatif bersedia mengulang prosedur Mencari alasan bila ada kesimpulan kurang menentu

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

F LAPORAN

1.

Catatan

l

2.

Laporan

l

Mencatat semua pikiran yang berhubungan dengan aktivitas pada tahapan lain Melaporkan metode dan prosedur, data dan interpretasi q Supaya kebenaran dapat dibuktikan dan dikontrol q Supaya dengan mudah pokok permasalahan dapat dimengerti q Supaya pembaca dapat melihat guna atau manfaat.

Tujuan instruksional ini belum lengkap dan masih perlu dirinci dan disesuaikan untuk masing-masing kegiatan praktikum yang dilakukan. Tidak diragukan lagi bahwa pembelajaran di laboratorium memiliki beberapa kegunaan, antara lain adalah sebagai berikut: 1. Mengajarkan materi teori yang tidak bisa diajarkan di tempat lain. 2. Menyajikan dan menjelaskan bahan ajar. 3. Menumbuhkembangkan kemampuan psikomotorik. 4. Meningkatkan kemampuan dalam mengikuti petunjuk. 5. Membiasakan mahasiswa dengan peralatan/instrumen dan perlengkapan praktikum. 6. Membiasakan mahasiswa merancang dan mengkonstruksi peralatan percobaan. 11

Pembelajaran di Laboratorium

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24.

Meningkatkan keahlian/ketrampilan pengamatan. Meningkatkan keahlian/ketrampilan dalam mengumpulkan dan interpretasi data. Meningkatkan kemampuan menjelaskan hasil percobaan. Meningkatkan kemampuan menulis secara koheren dan argumentasi yang bagus dan terarah. Meningkatkan kemampuan belajar mandiri. Mendorong kemandirian berfikir. Merangsang pemikiran yang mendalam mengenai interpretasi percobaan. Meningkatkan keahlian mahasiswa dalam pemecahan masalah dengan variabel berjumlah besar dan banyak kemungkinan cara pemecahannya. Mendorong inisiatif, semangat berusaha, dan pemberdayaan akal. Meningkatkan tanggung jawab dan keandalan personal untuk melakukan percobaan. Mananamkan kemampuan mengukur secara tepat dan seksama Menumbuhkembangkan kepercayaan/keyakinan pada kemampuan diri. Menumbuhkembangkan kecerdikan/keahlian. Memperkuat keyakinan akan kebenaran teori-teoari. Menanamkan kemampuan merancang percobaan dan menafsirkan data yang diperoleh. Melatih penulisan laporan teknik. Memuaskan keingintahuan peserta didik. Menumbuhkembangkan sikap ilmiah dan pemahaman tentang metologi ilmiah/ rekayasa melalui penyelidikan eksperimental.

Karena kegunaan pembelajaran di laboratorium sangat banyak, maka sangat sulit dibuat suatu laboratorium yang dapat memenuhi semua kegunaan tersebut. Oleh karena itu tiap-tiap modul/ topik/ program 12

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

pembelajaran laboratorium harus memiliki butir-butir maksud/ tujuan/ kemanfaatan yang diutamakan. Pertanyaan-pertanyaan relevan untuk membantu dalam penetapan sasaran dalam pembelajaran laboratorium antara lain: l Manakah yang lebih penting, operasi dan peralatan atau azas yang dijelaskan olehnya? l Manakah yang akan ditekankan, percobaan atau hasil percobaannya l Apa fokusnya, mendapatkan data/ informasi yang tepat dan seksama atau menafsirkan dan menyampaikan hasilnya?

13

Pembelajaran di Laboratorium

KENDALA UMUM PEMBELAJARAN DI LABORATORIUM

Beberapa penelitian melaporkan bahwa ada kecenderungan pembelajaran di laboratorium untuk tujuan peningkatan ketrampilan tingkat rendah, hanya mempelajari pengetahuan bagian permukaan atau pengetahuan dengan tingkat pemahaman rendah terhadap hubungan antara teori dan praktik. Selain itu sering dijumpai kebiasaan negatif yang dilakukan mahasiswa dalam pembelajaran di laboratorium, biaya pelaksanaan yang tinggi, kurang efektifnya pemanfaatan biaya karena rendahnya perhatian dosen dalam pelaksanaan kegiatan, dan tidak sebandingnya fungsi praktikum terhadap jumlah waktu yang dicurahkan untuk kegiatan tersebut. Beberapa kendala umum dan penyebab rendahnya mutu pembelajaran praktikum di laboratorium, adalah sebagai berikut: l

l

14

Sering kali praktikum di laboratorium menjadi sebuah kebiasaan karena mahasiswa mengikuti petunjuk rutin dan tidak menggunakan kemampuan berpikirnya. Sering kali ada anggapan bahwa proses pembelajaran terjadi dengan sendirinya jika mahasiswa diberi informasi. Hal ini tidak benar, karena pemahaman secara tuntas dalam proses pembelajaran diperlukan beberapa faktor antara lain; waktu untuk belajar, pemikiran, keseriusan, komitmen, dan ekplorasi aktif mahasiswa untuk memperoleh pengalaman tersebut. Oleh sebab itu praktikum di laboratorium yang didominasi dengan instruksi

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

l

l

oleh dosen/instruktur akan menyebabkan sedikitnya jumlah mahasiswa yang mau mengembangkan komitmen, pemikiran, dan eksplorasi aktifnya (Ramsden,1992). Potensi pembelajaran di laboratorium sangat tergantung pada program yang disusun (konsep kunci), tetapi tingkat pemahaman dalam pembelajaran praktikum sering kali terbatas pada pembelajaran di bagian luar di mana ilmu pengetahuan ditempatkan di dalam unit isolasi dan tidak terhubung dengan pembelajaran ilmu yang lainnya. Bekal pengetahuan awal (pre-requisite knowledge) sebelum melakukan praktikum adalah penting oleh karena itu bekal ilmu pengetahuan sebelumnya yang tidak cukup menyebabkan mahasiswa sulit mengikuti proses pembelajaran praktikum di laboratorium. Bila mahasiswa baru saat masuk universitas memiliki pengertian yang keliru tentang fenomena ilmiah dan tidak mau menanggalkan pola pikir lama mereka, serta secara kaku mengikuti tata cara pembelajaran yang terstruktur, maka hal ini cenderung menambah kelangsungan ketidakesfisiensian pembelajaran di laboratorium. Oleh karena itu kebebasan untuk merancang percobaan dan “menemukan” ilmu pengetahuan baru di laboratorium menjadi menurun.

Hal lain sebagai penyebab rendahnya kualitas pembelajaran di laboratorium adalah rendahnya dukungan fasilitas di laboratotium. Kualitas pembelajaran di laboratorium merupakan penggabungan antara dukungan dan tantangan, secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut (Horabin and Williams, 1992): Gambar 1.

15

Pembelajaran di Laboratorium

Tinggi

Tantangan yang berlebihan tanpa dukungan. Banyak mahasiswa “hilang” dan “pindah”

Paduan yang tepat antara tantangan dan dukungan sesuai dengan rencana, kemajuan, dan kesempatan

Derajat Tantangan

Informasi berlebihan menyebabkan belajar menghapal, menjemukan dan memerlukan banyak waktu.

Terlalu banyak aturan tetapi “spoon-feeding” seperti memberikan jawaban yang benar dan mahasiswa tidak perlu berfikir

Rendah

Derajat Dukungan

Tinggi

Gambar 1. Tingkat dukungan dan tantangan dalam pembelajaran di laboratorium

16

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

METODE PEMBELAJARAN DI LABORATORIUM Pembelajaran di laboratorium merupakan salah satu proses pembelajaran melalui pendekatan pengalaman, karenanya para dosen/ instruktur perlu memberi bimbingan kepada mahasiswa dalam melakukan praktikum agar mahasiswa dapat mengungkapkan percobaan mereka secara kritis dan dapat menggali kemandirian untuk menemukan sesuatu. Gambar 2 menyatakan siklus pengalaman dalam proses pembelajaran:

Pengalaman Nyata

aktif melakukan percobaan

Pengungkapan Pengamatan

Pengintisarian Pemahaman

Gambar 2. Siklus pengalaman dalam proses pembelajaran Peran dosen/instruktur dan mahasiswa dalam memperoleh pengalaman dalam proses pembelajaran dituliskan sebagai berikut: 17

Pembelajaran di Laboratorium

Mahasiswa v Secara aktif mencari pengalaman v Menggambarkan/menguji ide dan asumsi-asumsi v Membagi pengalaman, menjelaskan, memilih cara kerja v Membangun rasa percaya diri

Dosen/instruktur v Merencanakan dan membagi tugas-tugas v Mengamati, memberi umpan balik, membimbing, dan membantu v Memberi bantuan jika diperlukan dan membantu menghubungkan dengan kenyataan v Mendorong, mendukung, dan memastikan

Para dosen/instruktur di laboratorium perlu memperhatikan perbedaan antara belajar untuk menghafal dan belajar untuk memahami serta perbedaan posisi pada rangkaian kesatuan pembelajaran di laboratrorium. Contohnya, simbol dan rumus kimia bisa dipelajari dengan cara dihafal atau difahami, bisa juga diajarkan dengan cara lain yaitu melalui resep, percobaan, atau tugas problema (Yorke, 1981).

18

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

Pembelajaran pemahaman

Pembelajaran Hapalan

Pengoperasian peralatan dengan pemahaman

Percobaan rutin untuk membuktikan teori

Bahan terprogram ada format operasionalnya

Pengoperasian peralatan tanpa pemahaman

Percobaan rutin yang tidak berhubungan dengan teori

Berlatih praktik

Pembelajaran Resep

Tersedia Petunjuk

Dipilih oleh mahasiswa

Kegiatan

Dipilih oleh dosen

Pembelajaran Mandiri

Gambar 3. Kegiatan praktik dihuhubungkan dengan pembelajaran teori Prinsip dasar pembelajaran di laboratorium adalah mahasiswa belajar sendiri dan saling belajar dengan mahasiswa lain dalam tim. Meskipun secara prinsip dalam pembelajaran di laboratorium mahasiswa belajar dengan cara mereka sendiri, tetapi dosen menyediakan percobaan, tugas, instruksi, dan petunjuk pelaksanaan. Agar bisa melakukan tugas tersebut, dosen perlu memiliki ketrampilan seperti yang dinyatakan pada Tabel 1. Tabel 1. Ketrampilan dosen dan kegunaannya dalam pembelajaran di laboratorium

19

Pembelajaran di Laboratorium

Ketrampilan Dosen 1. Memperagakan dan menjelaskan 2. Bertanya, mendengar, dan merespon 3. Mengarahkan dan memberi umpan balik 4. Menyiapkan sebuah rangkaian pembelajaran di laboratorium dan segala aktivitasnya

Kegunaan 1. Menumbuhkan dan mempertahankan ketertarikan mahasiswa 2. Melatih teknisi dan asisten 3. Membantu mahasiswa dalam belajar 4. Memfasilitasi

Beberapa Cara Konvensional Pembelajaran di Laboratorium Secara umum cara pembelajaran di laboratorium dapat dikelompokkan menjadi 5 jenjang yaitu: 1. peragaan, 2. latihan, 3. penyelidikan terstruktur, 4. penyelidikan secara terbuka, dan 5. proyek. Penjenjangan ini didasarkan atas derajat ketersediaan informasi dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

1. Peragaan (demonstration) Peragaan umumnya dirancang untuk mengilustrasikan garis besar prinsip-prinsip teoritik dalam perkuliahan. Peragaan sebaiknya dilakukan secara singkat di akhir kuliah. Dengan peragaan ini prinsip-prinsip yang berkaitan dengan materi perkuliahan dapat tidak mudah dilupakan. Oleh karena itu peragaan/demonstrasi sebaiknya tidak dilakukan di awal kuliah, karena prinsip-prinsip dari materi tersebut belum diketahui oleh mahasiswa.

20

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

2. Latihan (Exercises) Latihan adalah percobaan terstruktur agar mahasiswa dapat mengikuti suatu instruksi dengan tepat, memperoleh kemampuan observasi, dan menjadi trampil. Latihan dimaksudkan juga untuk menegaskan teori dan dengan sarana yang relatif terbatas dapat menanamkan informasi ilmu pengetahuan baru. Latihan yang diulang-ulang secara terus menerus dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengerti tujuan pembelajaran tersebut.

3. Penyelidikan terstruktur (Structured enquiries) Penyelidikan terstruktur merupakan bagian dari percobaan terstruktur di mana mahasiswa diminta mengembangkan prosedur sendiri dan menginterpretasikan hasilnya. Mereka harus trampil dalam pemecahan masalah juga terampil dalam interpretasi, observasi, dan pekerjaan tangan (manual).

21

Pembelajaran di Laboratorium

4. Pernyelidikan secara terbuka (Open ended enquiries) Penyelidikan secara terbuka dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengidentifikasi sebuah problema, memformulasikan penyelesaian, mengembangkan/menyusun pelaksanaan percobaan, menginterpretasikan hasil, dan mengetahui penerapannya. Beberapa batasan dapat diberikan pada pelaksanaan penyelidikan ini misalnya waktu, peralatan, dan bahan. Pembelajaran ini dimaksudkan untuk lebih meningkatkan ketrampilan pemecahan masalah dengan derajad lebih tinggi dan untuk peningkatkan keahlian meneliti dengan derajad yang lebih rendah.

5. Proyek (Project) Proyek didasarkan pada percobaan dengan skala waktu panjang, belajar di lapangan, atau rangkaian percobaan yang biasanya sebagai tugas akhir untuk syarat lulus. Dengan kegiatan ini mahasiswa menjadi mampu: v Menggali lebih dalam bidang yang diamati v Mengembangkan insiatif dan pemberdayaan akal v Meningkatkan keingintahuan intelektual v Mengembangkan inovasi dengan sepenuhnya Proyek memberikan pengalaman pembelajaran yang sempurna tetapi memerlukan waktu relatif banyak bagi mahasiswa dan pembimbing. Proyek bisa ditangani secara individu atau sebuah tim. Kerja tim ada kemungkinan muncul permasalahan sehubungan dengan penaksiran tugas atau maksud proses pengalaman belajar tetapi kerja tim memiliki banyak keuntungan yaitu meningkatkan kemampuan kerja sama dengan orang lain. Hierarki ketrampilan yang dapat dimiliki dalam berbagai metode pembelajaran di laboratorium tersebut perlu diketahui, sehingga dapat dimengerti sasaran pembelajaran untuk masing-masing metode. Tabel 2 menyatakan skema analisis hierarki pembelajaran di laboratorium. Tabel ini sangat berguna untuk menentukan level penelitian ilmiah berdasarkan tingkat kemandirian murid dalam hal kemampuan menyelesaiakan masalah (Hegarty,1978). 22

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

Tabel 2. Aras Pemahaman Ilmiah Dalam Kerja Laboratorium

Given= informasi diberikat oleh dosen, Open = mahasiswa mencari informasi sendiri

Istilah pembelajaran di laboratorium yang lazim dikenal di masyarakat kita sampai saat ini yaitu; Kegiatan 1 dikenal sebagai peragaan, kegiatan 2, 3, dan 4 dikenal dengan praktikum, sedangkan kegiatan 5 dikenal dengan proyek atau penelitian.

23

Pembelajaran di Laboratorium

PENINGKATAN PEMBELAJARAN DI LABORATORIUM Menurut Brown and Atkins (1988) ada 5 kategori yang perlu diperhatikan dalam peningkatan pembelajaran di laboratorium, yaitu: 1. Tujuan atau sasaran Tujuan dan sasaran dari setiap sesi praktikum perlu dirumuskan dengan jelas. Hal ini untuk meminimasikan kemungkinan terjadinya suatu keadaan yaitu sasaran yang kurang penting tercapai tetapi sasaran yang penting tidak tercapai. 2. Petunjuk pelaksanaan Petunjuk/perintah pelaksanaan kegiatan harus jelas dan tidak membingungkan. Hal ini harus dirancang agar mahasiswa dapat menangkap dengan jelas gambaran penting tentang peralatan atau bahan-bahan yang diperlukan. Diagram alir (flow chart), pohon keputusan, dan pernyataan tertulis yang dilengkapi dengan diagram yang jelas sangat diperlukan untuk perintah-perintah yang kompleks. 3. Asisten laboratorium terlatih Asisten laboratorium perlu terlatih sehingga mampu melaksanakan tugas dengan baik. Tugas asisten laboratorium adalah membantu mahasiswa dalam melakukan kegiatan sebagai berikut: l Melaksanakan kegiatan sesuai dengan petunjuk. l Menyelesaikan permasalahan yang muncul. l Mengatur peralatan. l Memeriksa fungsi peralatan. 24

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

Mendapatkan, mengamati, dan mencatat hasil percobaan. Mencatat metode atau hasil. Menghubungkan hasil percobaan dengan dasar-dasar teori atau dengan hasil percobaan lainnya. Jadi, asisten laboratorium haruslah memahami percobaan dan terbiasa dengan peralatan serta prosedurnya, sehingga bisa membantu mahasiswa. Dosen yang bertanggung jawab dalam praktikum harus dapat membantu para asisten dengan menyediakan buku pedoman kerja laboratorium. Buku pedoman/panduan kerja laboratorium tersebut harus menguraikan percobaan secara ringkas dan sebagai petunjuk bagi asisten/pelaksana tentang apa yang harus dilaksanakan selama melaksanakan kegiatan di laboratorium. Dosen sebaiknya juga meluangkan waktu melatih asisten laboratorium untuk meningkatkan keahliannya/kemampuannya. Hal-hal yang perlu diperkenalkan kepada para asisten agar asisten laboratorium memperoleh keahlian yang berguna dalam kegiatan: l Mengamati mahasiswa dalam bekerja. l Mengantisipasi kesulitan umum dari proses pemahaman. l Mengenali kesulitan umum dari proses pemahaman. l Memberikan pandangan umum, menguraikan dengan jelas proses dan prosedur praktikum. l Memberikan petunjuk/perintah. l Memberi pertanyaan untuk klarifikasi kesulitan dari proses pemahaman. l Memberi pertanyaan untuk mengarahkan mahasiswa ke seluruh aktivitas. l Menjawab pertanyaan mahasiswa secara sederhana, langsung, dan dengan tidak mengkritik. l Memberikan dukungan dan dorongan l Bertindak dengan tepat saat memberi bantuan ke mahasiswa. l l l

4. Cara memfasilitasi Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, metode pembelajaran di laboratorium sedapat mungkin membuat mahasiswa belajar mandiri dan saling belajar dengan temannya. Banyak cara untuk memfasilitasi agar 25

Pembelajaran di Laboratorium

hal tersebut dapat tercapai. Fasilitas yang disediakan ini sebaiknya secara eksplisit berisi tujuan percobaan, perintah yang jelas, dan diagram carakerja yang jelas. Fasilitas tersebut dapat disajikan dalam bentuk: l Serangkaian slide untuk memperlihatkan proses, prosedur yang kompleks, atau peralatan yang rumit. l Tape recorder berisi instruksi, penjelasan, dan cara penghitungan l Gambar di dinding untuk memajang instruksi, demonstrasi, dan deskripsi peralatan. l Video untuk menyediakan instruksi, cara kerja peralatan, dan peragaan teknis atau prosedur. l Program-program komputer untuk menjelaskan percobaan, menyediakan petunjuk, untuk menggambarkan hasil hitungan, dan menulis pertanyaan-pertanyaan. l Video interaktif untuk simulasi di laboratorium (video dan komputer). 5. Pertanyaan dan daftar pengecekan untuk evaluasi diri Mahasiswa harus didorong untuk membaca dan berfikir tentang semua aspek aktivitas di laboratorium. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi pertanyaan kepada mahasiswa sebelum melakukan penelitian/percobaan atau tugas dan diulang lagi setelah selesai melakukan penelitian/ percobaan tersebut. Dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat berisi petunjuk point-point yang dipandang penting. Pertanyaan-pertanyaan ini juga dapat memotivasi mahasiswa untuk memeriksa apakah mereka sudah melaksanakan prosedur secara benar. Daftar pengecekan untuk evaluasi diri dapat digunakan sebagai alat bantu yang sangat berguna dalam hal peningkatan pembelajaran di laboratorium. Hal ini dapat digunakan oleh mahasiswa untuk menguji apakah tugas-tugas telah dilakukan dengan benar, apakah impilikasinya, dan bagaimana mereka akan memperbaiki? Jika mereka bekerja secara beregu (tim) mereka dapat saling mengevaluasi, satu dengan yang lain, dengan bantuan daftar pengecekan ini. 26

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

PELAKSANAAN PRAKTIKUM Rencana pembelajaran praktikum Dalam pembelajaran praktikum diperlukan prosedur yang disusun secara logis dan sesuai untuk melatih ketrampilan, agar tujuan benarbenar dapat tercapai. Metodologi praktikum Metode praktikum mencakup semua kegiatan yang harus dipelajari dalam praktikum, seperti: menganalisis problema, mengumpulkan informasi, menyusun hipotesis, merencanakan percobaan, dan menarik kesimpulan. Pada akhir studi mahasiswa harus memiliki semua ketrampilan itu. Ini berarti bahwa ketrampilan-ketrampilan itu selama proses pembelajaran harus mendapat perhatian secara bertahap dan teratur. Mahasiswa harus melakukan tugas-tugas praktikum secara berangsur meningkat dalam kesukaran dan kerumitan. Dengan tugas-tugas tersebut mahasiswa melatih diri. Dalam berlatih mahasiswa akan memerlukan petunjuk-petunjuk yang heuristik (Dikti, 1982) Penyusunan tugas problema Suatu tugas praktikum harus mencakup suatu problema pada tingkat kemampuan mahasiswa, yang memungkinkan melatih semua ketrampilan yang penting dalam praktikum tersebut. Kemampuan mahasiswa berbeda maka suatu tugas tidak dapat sesuai untuk semua mahasiswa. Karena itu, para asisten harus menyesuaikannya, misalnya suatu tugas dapat dibuat lebih mudah atau lebih sukar. 27

Pembelajaran di Laboratorium

Organisasi praktikum Praktikum harus berhubungan dengan teori yang sudah dipelajari, yang bertujuan untuk mendalaminya. Untuk mengikuti sesuatu praktikum sebaiknya ada persyaratan seperti sudah lulus kuliah-kuliah yang berhubungan dengan praktikum tersebut. Karena itu dimungkinkan tidak perlu mengadakan ujian masuk praktikum. Tugas praktikum harus sedemikian sehingga dapat diselesaikan dalam beberapa perioda praktikum. Per perioda praktikum (4 jam), diharapkan mahasiswa bekerja sendiri sekitar 1,5 jam untuk persiapan, perhitungan atau laporan. Karena itu bagian persiapan, bagian diskusi kesalahan dan ketelitian dan bagian pembuatan laporan harus dilakukan selama praktikum. Hal ini penting terutama pada tingkat studi yang rendah. Bimbingan pada praktikum Pelaksanaan praktikum memerlukan sesuatu organisasi yang baik dan cara bimbingan yang tepat, sehingga mahasiswa dapat belajar dari kesalahannya. Terutama bimbingan harus diarahkan agar mahasiswa sibuk secara sadar. Bimbingan hanya akan berjalan baik, bila kelompok mahasiswa tidak terlalu besar. Untuk kebanyakan praktikum bimbingan ini tidak dapat diserahkan kepada asisten-mahasiswa. Dari segi efisiensi proses pendidikan, seorang dosen akan lebih baik membimbing praktikum dan menulis teorinya dalam diktat daripada memberi kuliah dan menyerahkan praktikum pada asisten-mahasiswa. Bila dipakai asisten-mahasiswa haruslah mereka dilatih sebaik-baiknya. Baik dosen maupun asisten haruslah mengadakan persiapan yang cukup untuk mengemban tugas sebagai pembimbing. Sebagai seorang pembimbing ia harus pernah melakukan sendiri tugas-tugas praktikum sebelumnya dan memikirkan cara-cara pemecahan alternatif. Di samping itu ia harus pula mengusahakan dan menyediakan informasi mengenai teori dan alat dalam bentuk tulisan, sehingga ia dapat mencurahkan perhatian sepenuhnya pada tugas yang sebenarnya yaitu membimbing dan mengarahkan proses belajar para mahasiswa. 28

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

Petunjuk untuk pembimbing dapat diringkas sebagai berikut: 1. Persiapkan dengan baik; kerjakan tugas/percobaan dan pikirkan alternarif pemecahannya. 2. Persiapkan bahan tertulis yang dapat mengarahkan mahasiswa yang mengalami kesulitan dengan suatu tugas. Bahan tertulis tersebut diberikan bila perlu. 3. Aturlah agar mahasiswa mempersiapkan diri; berikan bahan orientasi yang terarah dan soal-soal yang dapat diselesaikan sebelumnya. 4. Bimbinglah mahasiswa secara perorangan; jangan memberikan kuliah lisan kepada kelompok mahasiswa. 5. Bimbinglah kelompok mahasiswa yang sama selama beberapa minggu berturut-turut, supaya dapat memperhatikan dan dapat menghilangkan kelemahan-kelemahan mahasiswa langkah demi langkah. 6. Ingat bahwa waktu sangat terbatas: kalau ada 10 mahasiswa, berarti hanya tersedia 6 menit per orang per jam. 7. Gunakanlah waktu itu supaya ada kontak singkat berulang kali; tidak satu kali 6 menit tetapi 3 kali 2 menit. 8. Ingatlah bahwa mahasiswa takut memperlihatkan kelemahan; karenanya sebutkan juga titik yang positif. 9. Perhatikan cara kerja mahasiswa, pertama apakah sesuai dengan metode, baru kemudian apakah benar sesuai bidang ilmu. Lebih khusus pada cara kerja harus diperhatikan: 10. Analisis tugas: sering mahasiswa terlalu cepat menyusun rencana pengukuran tanpa menelusuri terlebih dahulu kriteria apa yang harus dipenuhi. 11. Rencana tugas: belajar merencanakan kegiatan harus sedemikian sehingga dalam waktu yang telah ditetapkan dapat diperoleh hasil-hasil yang berarti. Hal ini harus diajarkan dari permulaan.

29

Pembelajaran di Laboratorium

12. Percobaan : kegiatan melakukan suatu pengukuran cepat/ kualitatif yang mungkin untuk memperoleh gambaran merupakan suatu cara penting. 13. Penelitian literatur harus dimasukkan dalam percobaan dari awal secara tahap demi tahap. Bimbingan bagaimana mencari data dari literatur, dan bagaimana caranya menggunakan buku-buku petunjuk, majalah dan brosur, harus diberikan. 14. Pengukuran. Pengukuran dengan ketelitian yang dikehendaki lebih penting daripada pengukuran seteliti mungkin. Misalnya kalau pengukuran dikehendaki dengan ketelitian dua bilangan di belakang koma (10,25) tidak perlu kita megukur sampai empat bilangan di belakang koma (10,2514), atau memilih alat dengan ketelitian yang baik. 15. Kebenaran dan ketelitian data dan kesimpulan harus selalu dilaporkan secara eksplisit. 16. Penulisan buku catatan kegiatan harian, berisi pemikiran, percobaan, dan sebagainya merupakan suatu keharusan. Buku catatan kegiatan harian ini harus memenuhi kriteria sedemikian sehingga penulis atau pembaca dapat membaca kembali, apa yang ia melakukan dan mengapa ia lakukan percobaan dengan cara itu.

30

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

Kegiatan praktikum dapat dinyatakan dalam skema pada Gambar 4

Persiapan

Ujian

Ya

PRAKTIKUM

Ujian

Tidak

Ujian teori + ketrampilan dasar

Ya

Lulus

Tidak

Penilaian secara kontinu untuk memperbaiki proses belajar

Ujian teori + ketrampilan dasar

Formatif Waktu

Sumatif

Gambar 4 . Skema kegiatan praktikum Penilaian praktikum Di dalam praktikum, penilaian dapat digunakan untuk memenuhi berbagai fungsi. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan bentuk penilaian yang sangat informal oleh asisten. Bentuk penilaian yang lain ialah penilaian sikap awal. Telah dikemukakan bahwa tugas-tugas biasanya harus mempunyai hubungan dengan teori yang telah dibahas sebelumnya. Untuk mendorong agar mahasiswa mempelajari kembali bahan pelajaran, mempersiapkan diri dengan baik dan untuk memeriksa apakah mahasiswa cukup mengetahui bahannya untuk dapat turut ambil bagian secara bermakna dalam praktikum, dapat diadakan suatu ujian awal. Ujian ini harus segera dinilai dan bila tidak memenuhi persyaratan, mahasiswa harus segera diberi tugas. Tugas yang seharusnya dilakukan dapat berupa 31

Pembelajaran di Laboratorium

mempelajari kembali sebagian dari teori atau tidak diperkenankan mengikuti praktikum. Dengan ujian ini dapat diatur supaya mahasiswamahasiswa yang kurang rajin tidak meminta waktu terlalu banyak dari dosen/asisten. Ada juga bentuk penilaian yang didasarkan atas penilaian sikap akhir. Pada penilaian ini perlu ditelusuri apakah tujuan telah tercapai. Penilaian itu harus dilakukan pada akhir praktikum dan ada dua konsekuensinya. Pertama untuk mahasiswa: suatu penilaian negatif berarti bahwa ia harus melakukan kegiatan belajar tambahan, kadang-kadang juga ia harus mengulangi praktikumnya. Konsekuensi kedua ialah terhadap pendidikan, bila banyak mahasiswa tidak memenuhi syarat berarti, bahwa pendidikan tidak menuntun mahasiswa tersebut ke arah tingkatan yang dikehendaki. Mungkin prosedur pendidikan harus diperbaiki. Mungkin pula seleksi sebelumnya tidak benar sehingga mahasiswa-mahasiswa yang tidak mampu turut ambil bagian. Untuk penilaian yang sumatif ini, kita tidak mengindahkan sikap mahasiswa selama praktikum. Bila dia dapat membuktikan tercapainya tujuan-tujuan praktikum, misalnya terhadap suatu tugas akhir yang representatif, dia akan lulus. Untuk menghindarkan suatu tugas yang tidak cukup representatif, kita dapat menggunakan berbagi tugas, unruk menguji ketrampilan yang berbeda atau dapat juga yang sebagian sama. Dengan ini dapat pula dihindari pengaruh-pengaruh yang tidak dikehendaki, seperti kondisi badan mahasiswa pada hari itu. Di samping itu dapat pula diminta beberapa penilai untuk memberi penilaian. Ini berarti bahwa kita menilai berdasarkan satu tugas yang ditempatkan pada akhir suatu praktikum dan mahasiswa-mahasiswa dinilai oleh dosen atau asisten yang tidak membimbingnya selama praktikum. Penyusunan laporan Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, kebanyakan dari mahasiswa lambat dalam kegiatan studinya pada tahun-tahun terakhir, di mana harus ditulis skripsi, laporan-laporan praktikum, dan penelitian. Keterlambatan ini disebabkan oleh keragu-raguan mahasiswa dalam menulis laporannya. Keragu-raguan ini disebabkan oleh tidak jelasnya 32

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu laporan, dan tidak pernah dipelajarinya cara membuat laporan. Oleh karena itu mahasiswa perlu dilatih tentang pembuatan laporan. Untuk mempelajari pembuatan laporan berikan dua petunjuk Pertama-tama tatacara pembuatan laporan harus dipelajari setahapdemi setahap. Ini berarti bahwa dalam tahun pertama mahasiswa sudah harus mulai diminta membuat suatu laporan ringkas, atau pelajaran mahasiswa pada tahap pertama harus diarahkan kepada: 1. Penyusunan dan pembagian suatu laporan; 2. Kemudian mengisi berbagai paragraf, setelah itu menghubunghubungkan paragraf-paragraf tersebut, dan akhirnya; 3. Mengisi prakata, pendahuluan, abstrak, daftar isi, dan susunan. Jadi pertama-tama harus terlebih dahulu direncanakan bagaimana susunan dan pembagian yang akan dibuat, sebelum menyelesaikan selengkapnya. Selama proses pempelajaran mahasiswa harus mendapat umpan balik Ini mencakup pada semua tahap tersebut di atas, harus ada pengamatan dan bimbingan dosen. Jadi mahasiswa tidak diberikan komentar pada isi laporan saja, tapi juga pada susunannya. Penilaian laporan Penilaian suatu laporan biasanya harus dilakukan dua kali, pertama oleh pembimbing yang bertugas meneliti apakah laporan sudah lengkap dan sesuai dengan yang seharusnya dilaksanakan. Laporan juga harus dinilai segi-segi pembuatan laporannya, yaitu konsistensi, isi, pembagian, bentuk , dan penggunaan bahasa. Karena penilaian melibatkan beberapa orang, harus dapat diargumentasikan pada mahasiswa, harus diberikan petunjuk untuk perbaikan. Juga karena penilaian harus menunjukkan ada tidaknya kemajuan dalam prestasi bealjar, maka diperlukan suatu formulir penilaian.

33

Pembelajaran di Laboratorium

KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM Percobaan yang dilakukan di laboratorium umumnya menggunakan berbagai bahan kimia, peralatan gelas, dan instrumentasi khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan dan bahaya terhadap kesehatan bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan kerja, ini dapat membuat orang tersebut cedera, dan bahkan bagi orang disekitarnya. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan dambaan bagi setiap individu yang sadar akan kepentingan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan kerja. Bekerja dengan selamat dan aman berarti menurunkan resiko kecelakaan. Oleh karena itu dalam setiap penuntun praktikum perlu dituliskan petunjuk keselamatan kerja dan perlu dijelaskan berulang-ulang agar setiap individu lebih meningkatkan kewaspadaan ketika bekerja di laboratorium. Informasi perihal keselamat kerja dapat dengan mudah diperoleh dari pustaka dan interner. Tetapi yang menjadi hambatan adalah keengganan mencari informasi tersebut sebelum melakukan pekerjaan di laboratorium. Oleh karena itu dalam buku ini dituliskan hal tersebut dengan singkat dan sederhana. Tulisan keselamat kerja di laboratorium ini disadur dari tulisan Djulia Onggo, PhD (2002) yang dimuat di http://www.chem.itb/ safety/, dengan penyesuaian secukupnya. Berbagai peristiwa yang pernah terjadi perlu dicatat sebagai latar belakang pentingnya bekerja dengan aman di laboratorium. Sumber bahaya terbesar berasal dari bahan-bahan kimia, oleh sebab itu diperlukan pemahaman mengenai jenis bahan kimia agar yang bekerja dengan bahan-bahan tersebut dapat lebih berhati-hati dan yang lebih penting 34

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

lagi tahu cara menanggulanginya. Limbah bahan kimia sisa percobaan harus dibuang dengan cara yang tepat agar tidak menyebabkan polusi pada lingkungan. Cara menggunakan peralatan umum dan berbagai petunjuk praktis juga dibahas secara singkat untuk mengurangi kecelakaan yang mungkin terjadi ketika bekerja di Laboratorium. Dengan pengetahuan singkat ini diharapkan setiap individu khususnya para asisten dapat bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan kerja mahasiswa di laboratorium dengan sebaik-baiknya. Kecelakaan di laboratorim pasti pernah terjadi di setiap laboratorium walau dengan skala berbeda-beda. Kecelakaan di laboratorium dapat merupakan cermin bagi setiap orang untuk meningkatkan kewaspadaannya ketika bekerja di laboratorium. Peristiwa-peristiwa tersebut kadangkadang terlalu pahit untuk dikenang, namun dapat meninggalkan kesan pendidikan yang baik, agar tidak melakukan kesalahan dua kali pada peristiwa yang sama. Kecelakaan di laboratorium dapat menyebabkan kerugian materi yang tidak sedikit, dan proses pembelajaran mahasiswa menjadi terhambat karena diperlukan waktu yang tidak sedikit untuk dapat memenuhi keperluan fasilitas yang rusak. Kecelakaan di laboratorium tidak akan terjadi bila setiap individu sadar dan mengerti bahwa laboratorium itu milik bersama yang harus dijaga dengan meningkatkan disiplin. A. Bahan kimia Setiap bahan kimia itu berbahaya, namun tidak perlu merasa takut bekerja dengan bahan kimia bila tahu cara yang tepat untuk menanggulanginya. Yang dimaksud berbahaya ialah dapat menyebabkan terjadinya kebakaran, mengganggu kesehatan, menyebabkan sakit atau luka, merusak, menyebabkan korosi, dan sebagainya. Jenis bahan kimia berbahaya dapat diketahui dari label yang tertera pada kemasannya. Dari data tersebut, tingkat bahaya bahan kimia dan upaya penanggulangannya harus diketahui bagi mereka yang menggunakan bahan-bahan tersebut. Kadang-kadang terdapat dua atau tiga tanda bahaya pada satu jenis bahan kimia, itu berarti kewaspadaan orang yang 35

Pembelajaran di Laboratorium

bekerja dengan bahan tersebut harus lebih ditingkatkan. Contoh bahan kimia yang mudah meledak adalah kelompok bahan oksidator seperti perklorat, permanganat, nitrat dsb. Bahan-bahan ini bila bereaksi dengan bahan organik dapat menghasilkan ledakan. Logam alkali seperti natrium, mudah bereaksi dengan air menghasilkan reaksi yang disertai dengan api dan ledakan. Gas metana, pelarut organik seperti eter, dan padatan anorganik seperti belerang dan fosfor mudah terbakar, maka ketika menggunakan bahan-bahan tersebut, hendaknya dijauhkan dari api. Bahan kimia seperti senyawa sianida, mercuri dan arsen merupakan racun kuat, harap bahan-bahan tersebut tidak terisap atau tertelan ke dalam tubuh. Asam-asam anorganik bersifat oksidator dan menyebabkan peristiwa korosi, maka hindarilah jangan sampai asam tersebut tumpah ke permukaan dari besi atau kayu. Memang penggunaan bahan-bahan tersebut di laboratorium pendidikan Kima tidak berjumlah banyak, namun kewaspadaan menggunakan bahan tersebut perlu tetap dijaga. B. Peralatan dan cara kerja Selain bahan kimia, peralatan laboratorium juga dapat mendatangkan bahaya bila cara menggunakannya tidak tepat. Contoh sederhana yaitu cara memegang botol reagen, label pada botol tersebut harus dilindungi dengan tangan, karena label bahan tersebut mudah rusak kena cairan yang keluar dari botol ketika memindahkan isi botol tersebut. Banyak peralatan laboratorium terbuat dari gelas, bahan gelas tersebut mudah pecah dan pecahannya dapat melukai tubuh. Khususnya bila memasukkan pipa gelas kedalam prop-karet, harus digunakan sarung tangan untuk melindungi tangan dari pecahan kaca. Pada proses pemanasan suatu larutan, harus digunakan batu didih untuk mencegah terjadinya proses lewat didih yang menyebabkan larutan panas itu muncrat kemana-mana. Juga ketika menggunakan pembakar spiritus atau pembakar bunsen, hatihati karena spiritus mudah terbakar, jadi jangan sampai tumpah ke atas meja dan selang penyambung aliran gas pada bunsen harus terikat kuat, jangan sampai lepas. 36

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

C. Langkah-langkah praktis Sebagai asisten di laboratorium, yang bertugas membimbing mahasiswa untuk bekerja dengan baik dan aman, maka perlu persiapan sebelum bekerja. Asisten perlu datang lebih awal untuk memeriksa lokasi dan cara pakai alat bantu keselamatan kerja. Selanjutnya asisten harus mengetahui jenis bahan kimia dan peralatan yang akan digunakan pada percobaan hari tersebut dan cara menanggulangi bila terjadi kecelakaan karena bahan atau peralatan tersebut. Di sini kehadiran asisten mendampingi mahasiswa yang sedang bekerja merupakan tugas mulia dalam menjaga keselamatan kerja. Pada akhir praktikum, biasakanlah menutup kran air dan gas, mematikan listrik dan api serta mencuci tangan dan meninggalkan laboratorium dalam keadaan bersih. Ini dilakukan oleh asisten agar menjadi panutan bagi mahasiswa. Masih banyak hal penting yang belum diungkapkan, untuk itu disarankan agar asisten berkomunikasi dengan ketua laboratoriumnya masing-masing dalam meningkatkan kewaspadaan kerja di laboratorium. D. Aturan kerja di laboratorium 1. Dilarang bekerja sendirian di laboratorium, minimal ada asisten yang mengawasi. 2. Dilarang bermain-main dengan peralatan laboratorium dan bahan Kimia. 3. Persiapkanlah hal yang perlu sebelum masuk laboratorium seperti buku kerja, jenis percobaan, jenis bahan, jenis perlatan, dan cara membuang limbah sisa percobaan. 4. Dilarang makan, minum, merokok, dan bersendaugurau di laboratorium. 5. Jagalah kebersihan meja praktikum, apabila meja praktikum basah segera keringkan. 6. Jangan membuat keteledoran antar sesama teman. 7. Pencatatan data dalam setiap percobaan selengkap-lengkapnya. Jawablah pertanyaan pada penuntun praktikum untuk menilai kesiapan dalam memahami percobaan. 37

Pembelajaran di Laboratorium

8.

Berdiskusi adalah hal yang baik dilakukan untuk memahami lebih lanjut percobaan yang dilakukan.

E. Teknik kerja di laboratorium Hal pertama yang perlu dilakukan 1. Gunakan perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata, jas laboratorium untuk melindungi pakaian, dan sepatu tertutup untuk melindungi kaki. 2. Dilarang memakai perhiasan yang dapat rusak karena bahan kimia. 3. Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi. 4. Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat. Bekerja 1. 2. 3.

aman dengan bahan kimia Hindari kontak langsung dengan bahan kimia. Hindari mengisap langsung uap bahan kimia. Dilarang mencicipi atau mencium bahan kimia kecuali ada perintah khusus. 4. Bahan kimia dapat bereaksi langsung dengan kulit menimbulkan iritasi (pedih atau gatal).

Memindahkan bahan kimia 1. Baca label bahan kimia sekurang-kurangnya dua kali untuk menghindari kesalahan. 2. Pindahkan sesuai dengan jumlah yang diperlukan. 3. Jangan menggunakan bahan kimia secara berlebihan. 4. Jangan mengembalikan bahan kimia ke dalam botol semula untuk mencega kontaminasi.

38

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

Memindahkan bahan Kimia cair 1. Tutup botol dibuka dan dipegang dengan jari tangan sekaligus telapak tangan memegang botol tersebut. 2. Tutup botol jangan ditaruh di atas meja karena isi botol dapat terkotori. 3. Pindahkan cairan melalui batang pengaduk untuk mengalirkan agar tidak memercik. Memindahkan bahan Kimia padat 1. Gunakan tutup botol untuk mengatur pengeluaran bahan kimia. 2. Jangan mengeluarkan bahan Kimia secara berlebihan. 3. Pindahkan sesuai keperluan tanpa menggunakan sesuatu yang dapat mengotori bahan tersebut. Cara memanaskan larutan menggunakan tabung reaksi 1. Isi tabung reaksi maksimal sepertiganya. 2. Api pemanas hendaknya terletak pada bagian atas larutan. 3. Goyangkan tabung reaksi agar pemanasan merata. 4. Arahkan mulut tabung reaksi pada tempat yang aman agar percikannya tidak melukai orang lain maupun diri sendiri. Cara memanaskan larutan menggunakan gelas Kimia 1. Gunakan kaki tiga dan kawat kasa untuk menopang gelas kimia tersebut. 2. Letakkan Batang gelas atau batu didih dalam gelas kimia untuk mencegah pemanasan mendadak. 3. Jika gelas kimia digunakan sebagai penangas air, isilah dengan air, maksimum seperempatnya.

39

Pembelajaran di Laboratorium

F.

Keamanan kerja di laboratorium 1. Rencanakan percobaan yang akan dilakukan sebelum memulai praktikum. 2. Gunakan perlatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata, jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup untuk melindungi kaki. 3. Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu berhak tinggi. 4. Wanita/pria yang berambut panjang harus diikat. 5. Dilarang makan, minum, merokok, dan bersendaugurau di laboratorium. 6. Jagalah kebersihan meja praktikum, apabila meja praktiukm basah segera keringkan dengan lap basah. 7. Hindari kontak langsung dengan bahan kimia. 8. Hindari mengisap langsung uap bahan kimia. 9. Bila kulit terkena bahan Kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar. 10. Pastikan kran gas tidak bocor apabila hendak mengunakan bunsen. 11. Pastikan kran air dan gas selalu dalam keadaan tertutup pada sebelum dan sesudah praktikum selesai.

G. Penanggulangan keadaan darurat Terkena bahan kimia 1. Jangan panik. 2. Mintalah bantuan rekan anda yang berada didekat anda. 3. Lihat data MSDS. 4. Bersihkan bagian yang mengalami kontak langsung tersebut (cuci bagian yang mengalami kontak langsung tersebut dengan air apabila memungkinkan). 40

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

5. 6. 7.

Bila kulit terkena bahan kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar. Bawa ketempat yang cukup oksigen. Hubungi paramedik secepatnya (dokter atau rumah sakit).

Kebakaran 1. Jangan panik. 2. Ambil tabung gas CO2 apabila api masih mungkin dipadamkan. 3. Beritahu teman anda. 4. Hindari mengunakan lift. 5. Hindari mengirup asap secara langsung. 6. Tutup pintu untuk menghambat api membesar dengan cepat (jangan dikunci). 7. Pada gedung tinggi gunakan tangga darurat. 8. Hubungi pemadam kebakaran. Gempa bumi 1. Jangan panik. 2. Sebaiknya berlindung dibagian yang kuat seperti bawah meja, kolong kasur, lemari. 3. Jauhi bangunan yang tinggi, tempat penyimpanan zat kimia, kaca. 4. Perhatikan bahaya lain seperti kebakaran akibat kebocoran gas, tersengat listrik. 5. Jangan gunakan lift. 6. Hubungi pemadam kebakaran, polisi dll. H. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Peralatan P3K 1. Plester 2. Pembalut berperekat 41

Pembelajaran di Laboratorium

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pembalut steril (besar, sedang, dan kecil) Perban gulung Perban segitiga Kain kasa. Pinset Gunting Peniti, dllI.

Penanganan limbah pembuangan limbah Setelah selesai melakukan suatu percobaan maka limbah bahan kimia yang digunakan hendaknya dibuang pada tempat yang disediakan, jangan langsung dibuang ke pembuangan air kotor (wasbak) karena dapat menimbulkan polusi bagi lingkungan. Limbah zat organik harus dibuang secara terpisah pada tempat yang tersedia agar dapat didaur ulang, limbah padat harus dibuang terpisah karena dapat menyebabkan penyumbatan. Limbah cair yang tidak berbahaya dapat langsung dibuang tetapi harus diencerkan dengan air secukupnya. 1. Buanglah limbah sisa bahan kimia setelah selesai pengamatan. 2. Buanglah limbah sesuai dengan kategori berikut : a. Limbah cair yang tidak larut dalam air dan limbah beracun harus dikumpulkan dalam botol penampung. Botol ini harus tertutup dan diberi label yang jelas. b. Limbah padat seperti kertas saring, lakmus, korek api, dan pecahan kaca dibuang pada tempat sampah. c. Sabun, deterjen dan cairan tidak berbahaya dalam air dapat dibuang langsung melalui saluran air kotor dan dibilas dengan air secukupnya. 3. Gunakan zat kimia secukupnya. J.

42

Pertanyaan yang sering muncul dalam kerja laboratorium 1. Bagaimana bekerja dalam laboratorium? Bekerja diawali dengan persiapan yang matang antara lain

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

membuat jurnal (prosedur kerja), mencari bahan kimia yang akan digunakan, serta memahami apa yang akan dilakukan dalam bekerja, harus serius, dan dengan persiapan matang. 2.

Mengapa perlu safety laboratorium? Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa, dosen, peneliti dsb melakukan percobaan. Percobaan yang dilakukan menggunakan berbagai bahan kimia, peralatan gelas, dan instrumentasi khusus yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan bila dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan kerja, ini dapat membuat orang tersebut cedera, dan bahkan bagi orang disekitarnya. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan dambaan bagi setiap individu yang sadar akan kepentingan kesehatan, keamanan dan kenyamanan kerja. Bekerja dengan selamat dan aman berarti menurunkan resiko kecelakaan. Walaupun petunjuk keselamatan kerja sudah tertulis dalam setiap penuntun praktikum, namun hal ini perlu dijelaskan berulang-ulang agar setiap individu lebih meningkatkan kewaspadaan ketika bekerja di laboratorium.

3.

Apa yang harus dilakukan ketika melakukan percobaan? Bekerja dengan teliti, serius, hindari bercanda dalam laboratorium, perbanyak diskusi ketika melakukan percobaan, jangan segan bertanya apabila tidak mengerti, catat hasil percobaan dengan seksama, dalam mencatat hasil percobaan upayakan seteliti mungkin dan sejujur mungkin.

4.

Apa yang harus diperhatikan ketika bekerja? Bekerja di dalam laboratorium harus berhati-hati, perhatikan tabung gas apa dalam keadaan tertutup sebelum dan sesudah melakukan percobaan, hati-hati dengan api untuk menghindarkan terjadinya kebakaran, pakailah sepatu tertutup, jas lab, dan kacamata ketika melakukan percobaan. Ketika menggunakan 43

Pembelajaran di Laboratorium

instrumen listrik perhatikan kabel-kabel apakah telah rapih dan dalam kondisi prima, perhatikan juga kran air sesudah dan sebelum melakukan pekerjaan harus dalam keadaan tertutup. 5.

Apa yang harus dilakukan ketika terjadi kecelakan? Jangan panik, beritahu teman anda, beri pertolongan pertama, bawa kerumah sakit apabila keadaan di laboratorium tidak memungkinkan.

K. Database bahan kimia berbau, berbahaya, dan beracun (B3) Bahan kimia jenis B3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Mudah meledak (explosive) b. Pengoksidasi (oxidizing) c. Sangat mudah sekali menyala (highly flammable) d. Mudah menyala (flammable) e. Amat sangat beracun (extremely toxic) f. Sangat beracun (highly toxic) g. Beracun (moderately toxic) h. Berbahaya (harmful) i. Korosif (corrosive) j. Bersifat iritasi (irritant) k. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment) l. Karsinogenik (carcinogenic) m. Teratogenik (teratogenic) n. Mutagenik (mutagenic)

44

Pusat Pengembangan Pendidikan UGM

INSENTIF KERJA LABORATORIUM Sesuai dengan prinsip pemberian upah/gaji bagi pekerja, sebagai gaji pokok (basic salary), maka sudah sewajarnya upah juga diberikan sebagai insentif berdasarkan kinerja seseorang (performance based salary) dan resiko pekerjaan (based on risk sallery). Beberapa di antara jenis pekerjaan yang layak mendapat insentif karena resiko pekerjaan antara lain: 1. 2. 3.

Pekerja laboratorium (dosen, laboran, teknisi, asisten, dokter/ dokter hewan/dokter gigi, dan perawat). Pekerja yang dalam melaksanakan tugasnya mengandung resiko dituntut (tuntutan hukum/pengadilan). Supervisor/dosen pembimbing lapangan.

Insentif kerja laboratorium bagi pekerja di lingkungan Perguruan Tinggi selama ini belum diatur sedemikian rupa sesuai dengan beban dan tanggung jawab masing-masing. Besarnya honorarium sangat tergantung kepada kemampuan Unit Kerja penanggung jawab laboratorium bersangkutan. Sementara itu bagi pekerja laboratorium yang diselenggarakan oleh pemerintah tampaknya sudah mendekati upaya penyesuaian penghargaan yang didasarkan atas beban dan tanggung jawab serta klasifikasi Unit Laboratorium itu sendiri.

45

Pembelajaran di Laboratorium

DAFTAR PUSTAKA Brown and Atkins, 1988, Effective Teaching in Higher Eduation. London: Mathuen, 1988 Djulia Onggo, PhD, 2002 http://www.chem.itb/safety/ Tim keselamat kerja Departemen Kimia, Institute Technologi Bandung. Direktorat Pendidikan Tinggi, 1982, Praktikum, Jakarta Hachette, 1989, Le Dictionnaire Practique du Francais, hlm. 621. Hegarty,1978, E.H. Levels of Scientific Enquiry in University Science Laboratory Classes : Implications for Curriculum Deliberations’, Research in Science Education, Vol. 8, 1978. Horabin and Williams, 1992, Active Learning in Field Work and Project Work’, In Effective Teaching and Learning in Higher Eduation by P. Cryer (ed). Sheffield : CVCP USTDU, 1992. Matiru, B., Mwangi, A., and Schlette, R., 1995, Teach Your Best: A Handbook for University Lectures, pp.185-197, Institute for Socio-Cultural Studies University of Kassel, Germany. Surat Keputusan Rektor UGM nomor: 259/P/SK/HT/2004, hlm.38 – 42. Teaching Improvement Workshop Batch 11, 2001, Workshop Material, Faculty of Engineering, Gadjah Mada University. Yorke, 1981, D.M. Patterns of Teaching. London: CET, 1981.

46