PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN MEDIA

media flash Mx, suasana pembelajaran di kelas menjadi aktif. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap yaitu tahap siklus I dan siklus II. Suatu kel...

0 downloads 41 Views 1MB Size
PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN MEDIA FLASH Mx UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI POKOK IKATAN KIMIA SEMESTER GASAL MA SALAFIYAH PATI TAHUN AJARAN 2009/2010

SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Dalam Ilmu Pendidikan Kimia

Disusun Oleh: Isti’anah 3105224

FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2009

ABSTRAK

Isti’anah (NIM:3105224), Penerapan Pembelajaran Kontekstual Dengan Media Flash Mx Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Materi Pokok Ikatan Kimia Semester Gasal MA Salafiyah Pati Tahun Ajaran 2009/2010. Penerapan pembelajaran kontekstual akan menjadikan proses belajar yang menyenangkan karena proses pembelajaran dilakukan secara alamiah dan dapat mempraktikan langsung berbagai materi yang telah dipelajarinya. Pemakaian media komputer progam flash Mx yang didesain khusus memuat materi dan contoh-contoh dengan pembelajaran kontekstual, sehingga siswa lebih aktif dan sungguh-sungguh dalam belajar ikatan kimia. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas X A setelah diterapkan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx materi pokok ikatan kimia semester gasal MA SALAFIYAH PATI Tahun Ajaran 2009/2010. Hasil observasi secara langsung di kelas X A, diketahui bahwa siswa mengalami kesulitan pada materi pokok ikatan kimia, dikarenakan metode yang digunakan oleh guru mata pelajaran kimia yang belum secara utuh mengedepankan pembelajaran aktif dan cenderung terjadi komunikasi satu arah, sehingga materi pokok ikatan kimia belum mencapai KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan satu kelas sebagai subjek penelitian untuk menerapkan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx yang jumlahnya 30 siswa. Setelah dilaksanakan tindakan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx, suasana pembelajaran di kelas menjadi aktif. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap yaitu tahap siklus I dan siklus II. Suatu kelas dikatakan tuntas belajar bila kelas tersebut telah terdapat ≥ 85% yang memperoleh nilai ≥ 65dan rata–rata hasil belajar ≥ 70. Rata-rata hasil belajar pada siklus I 68,2 dan ketuntasan belajar klasikal pada siklus I 70%. Pembelajaran siswa dikatakan berhasil jika keaktifan siswa memperoleh prosentase ≥ 71 %. Pada siklus I keaktifan siswa sebesar 68,1%. Kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran kontekstual dengan menggunakan media flash Mx dikatakan berhasil jika kemampuan guru memperoleh prosentase ≥ 71 %. Kinerja guru pada siklus I memperoleh nilai 68,7%. Dilihat dari indikator keberhasilan, siklus I belum berhasil dan perlu perbaikan pada siklus II. Rata-rata hasil belajar pada siklus II 77,4 dan ketuntasan belajar klasikal 86,6 %. Sedangkan keaktifan siswa sebesar 84 % dan kinerja guru sebesar 82,8 %. Maka pada siklus II sudah berhasil. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti membuktikan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan media flash Mx, ini dapat dilihat dari keaktifan siswa, kinerja guru, rata-rata nilai siswa dan ketuntasan hasil belajar siswa.

ii  

DE EPARTEM MEN AGAM MA INSTITUT I A AGAMA IS SLAM NEG GERI WALIISONGO SE EMARANG G FA AKULTAS TARBIYA AH Alamat: Jl. J Prof. Dr. Hamka Telpp/Fax (024) 7601295, 76615387

PERSETU UJUAN PEM MBIMBING G

Tanggal

A Rahmaawati, M.Si Atik P Pembimbing gI

D Abdul Rahman, Drs. R M.Ag P Pembimbing g II

iii  

Tanda Taangan

DE EPARTEM MEN AGAM MA INSTITUT I A AGAMA IS SLAM NEG GERI WALIISONGO SE EMARANG G FA AKULTAS TARBIYA AH Alamat: Jl. J Prof. Dr. Hamka Telpp/Fax (024) 7601295, 76615387

PENGE ESAHAN PENGUJI P

Tangggal

Tandda Tangan

Mat Sholikh M hin, M.Ag K Ketua

____________________

_________________

Ratih Rizqi Nirwana, R N S.Si, M.Pd. S Sekretaris

____________________

_________________

Atik Rahmaawati, M.Si A P Penguji I

____________________

_________________

Sugeng Risttyanto, M.Agg S P Penguji II

____________________

_________________

iv  

DEKLARASI

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi initidak berisi satu pun pikiran orang lain, kecuali informasi dalam referensi yang penulis jadikan bahan rujukan.

Semarang, 2 Desember 2009 Deklarator, Isti’anah NIM. 3105224

v  

MOTTO

﴾٦﴿ ‫ﺍ‬‫ﺴﺮ‬  ‫ﻳ‬ ‫ﺴ ﹺﺮ‬  ‫ﻌ‬ ‫ﻊ ﺍﹾﻟ‬ ‫ﻣ‬ ‫﴾ ﹺﺇﻥﱠ‬٥﴿ ‫ﺍ‬‫ﺴﺮ‬  ‫ﻳ‬ ‫ﺴ ﹺﺮ‬  ‫ﻌ‬ ‫ﻊ ﺍﹾﻟ‬ ‫ﻣ‬ ‫ﹶﻓﹺﺈﻥﱠ‬ (٨ -٥ :‫﴾ )ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻻﻧﺸﺮﺍﺡ‬٨﴿ ‫ﺐ‬  ‫ﺭ ﹶﻏ‬ ‫ﻚ ﻓﹶﺎ‬  ‫ﺑ‬‫ﺭ‬ ‫ﻭﹺﺇﻟﹶﻰ‬ ﴾٧﴿ ‫ﺐ‬  ‫ﺼ‬  ‫ﻧ‬‫ﺖ ﻓﹶﺎ‬  ‫ﺮ ﹾﻏ‬ ‫ﹶﻓﹺﺈﺫﹶﺍ ﹶﻓ‬ “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan{5} Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan {6} Maka apabila kamu telah selesai ( dari sesuatu urusan ), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain {7} Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap {8}(Surat Al-Insyirah: 5-8)1

                                                             1.

Abdullah Sukarno, Al‐Qur’an dan Terjemahannya (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro) hlm. 

476 

vi  

PERSEMBAHAN

Sebuah karya sederhana ini penulis persembahkan kepada: Bapak Ihya’ Syam dan Ibu Tasyriah tercinta, atas ketulusan kasih sayangnya, dan

tak

henti-hentinya

doa

untuk

keberhasilan

saya,

dan

selalu

membangkitkan semangat saya di saat saya lemah. Kedua adik (Isti’adah dan Aflah Tazakka), keceriaan kalian membangkitkan semangatku. Teman, sahabat, dan kekasih (M. Arif Syairozi) atas cinta, kasih sayang, motivasi dan hari-hari indah dalam hidupku. Keluarga besar BPI E-5 (Bapak dan Ibu Raharjo, Nita, Lala, Izza, Ifa, Ana, Ain, arin, eliz)

vii  

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat allah SWT. Karena dengan izin dan ridhanya, penulis bisa melakukan dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini. Tak lupa sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kedamaian dan rahmat untuk semesta alam, yang kepada beliau diturunkan wahyu illahi Al-Quran, dan ditugasi untuk menjelaskan serta memberikan contoh pelaksanaanya. Semoga tercurah pula kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau serta seluruh umatnya yang setia. Penulis

menyadari

bahwa

dalam

penulisan

skripsi

yang

berjudul

”PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN MEDIA FLASH Mx UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X SEMESTER GASAL MA SALAFIYAH PATI TAHUN AJARAN 2009/2010”, tidak mampu penulis selesaikan dengan baik tanpa bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak. Tanpa mengurangi rasa hormat, penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. H. Ibnu Hadjar, M.Ed, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang 2. Atik Rahmawati, M.Si, selaku pembimbing I, Drs. Abdur Rahman, M.Pd selaku pembimbing II, yang telah banyak meluangkan waktu untuk peneliti guna kepentingan skripsi ini, tentunya dengan keikhlasan hati. 3.

Segenap dosen beserta karyawan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, yang telah membekali ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik.

viii  

4. Kepala MA Salafiyah Pati beserta seluruh tenaga pengajar, karyawan, dan peserta didik MA Salafiyah Pati yang telah membantu pengumpulan data penyusunan skripsi ini. 5. Bapak Ihya’ Syam dan Ibu Tasyriah atas segala doa, pengorbanan, motivasi, cinta, dan kasih sayangnya, 6. Kedua adik (Isti’adah dan Aflah Tazakka), keceriaan kalian membangkitkan semangatku 7. Semua saudara yang ada di Pati yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu. 8. Teman, sahabat, dan kekasih (M. Arif Syairozi) atas cinta, kasih sayang, motivasi dan hari-hari yang indah 9. Teman-teman tadris kimia 2005, kebersamaan yang selalu kita jaga, semoga untuk selama-lamanya. 10. Keluarga besar BPI E-5 (Bapak dan Ibu Raharjo, Nita, Lala, Izza, Ifa, Ana, Ain,eliz) 11. Teman-teman PPL SMA 7 (siswa SMA 7, PPL IAIN dan PPL IKIP), bersama kalian, kenangan terindah yang tak pernah ku lupakan. Kepada semua pihak yang telah penulis sebutkan di atas, penulis merasa tidak dapat memberikan apa-apa kecuali ucapan terima kasih yang tulus debgan diiringi do’a semoga allah SWT membalas semua amal kebaikan mereka dengan sebaik-baiknya balasan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi bahasa, isi, maupun analisisnya. Kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Semarang, 2 Desember 2009 Penulis,

ix  

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................

i

HALAMAN LEMBAR PERSETUJUAN .................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................

iii

HALAMAN ABSTRAKSI ................................................................ .......

iv

HALAMAN MOTTO ................................................................................

iv

HALAMAN DEKLARASI .......................................................................

v

HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................

vi

KATA PENGANTAR ...............................................................................

vii

DAFTAR ISI…………………. .................................................................

x

DAFTAR LAMPIRAN ..............................................................................

xi

DAFTAR TABEL ......................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR.......................................................................... .......

xiii

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.....................................................

1

B. Rumusan Masalah ..............................................................

4

C. Penegasan Istilah ................................................................

4

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ..........................................

6

x  

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN I. Landasan Teori ........................................................... .....

8

A. Pembelajaran Kontekstual ..........................................

8

B. Media Pembelajaran ....................................................

15

C. Program Flash Mx .......................................................

19

D. Belajar .........................................................................

20

E. Materi Ikatan Kimia ...................................................

23

F. Pembelajaran Kontekstual dengan Media Flash Mx dalam Meningkatkan Hasil Belajar

BAB III

BAB IV

Kimia ........................................................................ ..

30

G. Penelitian yang Relevan...................... ........................

32

II. Hipotesis Tindakan ..................................................... ......

33

METODE PENELITIAN A. Subyek Penelitian ..............................................................

34

B. Lokasi Penelitian ................................................................

34

C. Variabel Penelitian ……………………………………….

34

D. Kolaborator ………………………………………………

35

E. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ...................................... ...

36

F. Desain Penelitian ......................................................... .....

36

G. Metode Pengumpulan Data ................................................

41

H. Analisis Data……………………………………………....

42

I. Indikator Keberhasilan…………………………………….

45

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Persiapan Penelitian ...........................................................

46

B. Hasil Penelitian ..................................................................

46

xi  

C. Pembahasan ....................................................................... BAB V

PENUTUP A. Simpulan ............................................................................

55

B. Saran ..................................................................................

56

C. Penutup ..............................................................................

56

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

xii  

54

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1: Perbedaan pembelajaran kontekstual dan konvensional..................

16

Tabel 3.1: Jadwal pelaksanaan penelitian.........................................................

38

Tabel 4.1: Keaktifan siswa siklus I...................................................................

51

Tabel 4.2: Kinerja guru siklus I........................................................................

53

Tabel 4.3: Tes akhir siklus I..............................................................................

53

Tabel 4.4: Keaktifan siswa siklus II..................................................................

55

Tabel 4.5: Kinerja guru siklus II.......................................................................

55

Tabel 4.6: Tes akhir siklus II............................................................................

56

Tabel 4.7: Perbandingan kinerja guru...............................................................

58

Tabel 4.8: Perbandingan keaktifan siswa..........................................................

59

Tabel 4.9: Perbandingan tes akhir siswa...........................................................

60

Tabel 4.10: Hasil penelitian dan indikator keberhasilan....................................

60

xiii  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1: Kerucut pengalaman Edgar Dale....................................................

20

Gambar 3.1: Bagan Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas.........................

39

Gambar 4.1: Histogram keaktifan siswa, Kinerja guru, dan ketuntasan Belajar klasikal...............................................................................

xiv  

61

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

Daftar nama siswa

Lampiran 2 

Daftar kelompok belajar

Lampiran 3 

Hasil evaluasi siklus I

Lampiran 4 

Rencana pelaksanaan pembelajaran siklus I

Lampiran 5 

Kisi – kisi soal siklus I

Lampiran 6 

Soal ulangan harian siklus I

Lampiran 7 

Kunci jawaban dan penilaian tes siklus I

Lampiran 8 

Pengamatan keaktifan siswa siklus I

Lampiran 9 

Pengamatan kinerja guru siklus I

Lampiran 10 

Hasil evaluasi siklus II

Lampiran 11 

Rencana pelaksanaan pembelajaran siklus II

Lampiran 12 

Kisi-kisi soal siklus II

Lampiran 13 

Soal ulangan harian siklus II

Lampiran 14 

Kunci jawaban dan penilaian tes siklus II

Lampiran 15 

Pengamatan keaktifan siswa siklus II

Lampiran 16 

Pengamatan kinerja guru siklus II

Lampiran 17 

Dokumentasi pembelajaran  

xv  

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya belajar itu mempunyai tujuan agar peserta didik dapat meningkatkan kualitas hidupnya sebagai individu maupun sebagai mahluk sosial. Sebagai individu seseorang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berfikir kritis dan inovatif menghadapi persaingan global. Oleh karena itu setiap lembaga pendidikan

tenaga

kependidikan

disamping

membekali

lulusannya

dengan

penguasaan materi subjek dari bidang studi yang akan dikaji dan pedagogi bahan kajian atau materi subjek tersebut, diharapkan juga memberikan pemahaman tentang kaitan antara materi pelajaran dengan dunia nyata atau kehidupan sehari-hari peserta didik sebagai anggota masyarakat.1 Proses belajar berlangsung secara bergelombang. Belajar memerlukan kedekatan dengan materi yang hendak dipelajari, jauh sebelum bisa memahaminya. Belajar juga memerlukan kedekatan dengan berbagai macam hal, bukan sekedar pengulangan atau hafalan.2 Sebagai contoh pelajaran kimia bisa diajarkan dengan media yang konkret, melalui buku-buku latihan, dan dengan mempraktikkan dalam kegiatan sehari-hari. Masing-masing cara dalam menyajikan konsep akan menentukan pemahaman siswa, yang lebih penting lagi adalah bagaimana kedekatan itu berlangsung. Jika ini terjadi pada peserta didik, dia akan merasakan sedikit keterlibatan mental. Ketika kegiatan belajar sifatnya pasif, siswa mengikuti pelajaran tanpa rasa keingintahuan, tanpa mengajukan pertanyaan, dan tanpa minat terhadap hasilnya. Ketika kegiatan belajar bersifat aktif, siswa akan mengupayakan sesuatu. Dia menginginkan jawaban atas sebuah pertanyaan, membutuhkan informasi untuk memecahkan masalah, atau mencari cara untuk mengerjakan tugas. Pembelajaran siswa dikatakan optimal jika pembelajarannya bermakna dan mencapai tingkatan pemahaman yang lebih tinggi dari sebelumnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi                                                              1

Anna Poedjiati, Sains Tekhnologi Masyarakat, (Bandung: Remaja Rosda karya 2005), Cet. 1, hlm. 97-98  2 Mel Sibermen, Active Learning, Terjemahan Sarjul Dkk, (Boston: Allyn Dan Bacon,1996), hlm. 2 

keberhasilan siswa untuk mencapai pembelajaran yang optimal adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dalam kegiatan pembelajaran. Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri dimana guru atau dosen dan siswa/mahasiswanya bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian.

Dalam

komunikasi

sering

timbul

dan

terjadi

penyimpangan-

penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien, antara lain disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalisme, ketidaksiapan siswa/mahasiswa, kurangnya minat, kegairahan, dan sebagainya. Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian ialah penggunaan media secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar, karena fungsi media dalam keadaan tersebut disamping sebagai penyaji stimulus informasi, sikap dan lain-lain dan juga untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi. Dalam hal-hal tertentu media juga berfungsi untuk mengatur langkah-langkah kemajuan serta untuk memberikan umpan balik.3 Disamping itu, peran media sebagai alat bantu mengajar juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa jika dirancang sedemikian rupa sehingga siswa benar-benar dapat memanfaatkannya sebaik mungkin. Dengan adanya media pembelajaran diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Perkembangan ilmu dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar mengajar. Para guru dituntut untuk bisa mengoperasikan berbagai media pembelajaran walaupun dalam bentuk yang sederhana. Sehingga proses belajar mengajar lebih efektif. Dengan adanya media seperti media flash Mx diharapkan dapat memperkuat materi ajar yang mereka pelajari, karena media flash ini dapat menciptakan banyak jenis aplikasi dan bisa menambahkan unsur animasi secara baik. Adapun kecenderungan dalam dunia pendidikan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika “mengalami”sendiri apa yang dipelajarinya. Setiap materi yang disajikan memiliki makna dengan kualitas yang beragam. Makna yang berkualitas adalah makna yang kontekstual, yakni dengan

                                                             3

Asnawir Basyruddin Usman, Media Pembelajaran, ( Jakarta: Pers 2002), hlm.13 

menghubungkan materi ajar dengan lingkungan personal dan sosial.4 Pembelajaran tidak hanya sekedar kegiatan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa, tetapi bagaimana siswa mampu memaknai apa yang dipelajari itu. Oleh karena itu, strategi pembelajaran lebih utama dari sekadar hasil. Dalam hal ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka menyadari bahwa apa yang dipelajari akan berguna bagi hidupnya kelak. Dengan demikian, mereka akan belajar lebih semangat dan penuh kesadaran.5 Pendekatan pembelajaran yang cocok untuk hal di atas adalah pembelajaran kontekstual (CTL) dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran

kontekstual,

yakni:

konstruktivisme

(constructivism),

bertanya

(questioning), inkuiri (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection) dan penilaian autentik (authentic assessment).6 Materi pokok ikatan kimia merupakan materi pokok yang diajarkan kelas X pada semester gasal. Siswa yang baru duduk di kelas X MA SALAFIYAH PATI baru pertama kali mendapatkan mata pelajaran kimia, pada waktu SMP/MTs kebanyakan belum memperoleh mata pelajaran kimia. Karena merupakan mata pelajaran baru, maka perlu suatu desain pembelajaran yang menarik siswa agar semangat untuk belajar kimia dan tidak mempunyai kesan kalau pelajaran kimia itu sulit khususnya materi ikatan kimia.

Penerapan

pembelajaran kontekstual menggunakan media

komputer progam flash Mx pada materi ikatan kimia, untuk membantu peningkatan dan penguasaan siswa dalam mempelajari materi ikatan kimia, serta mengembangkan perangkat pembelajaran kimia, dan meningkatkan hasil belajar siswa.  Dengan mempertimbangkan latar belakang di atas, maka penulis merasa terdorong melakukan penelitian dengan judul : PENERAPAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN MEDIA FLASH Mx UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI POKOK IKATAN KIMIA KELAS X SEMESTER GASAL MA SALAFIYAH PATI TAHUN AJARAN 2009/2010                                                              4

Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, terj. Ibnu Setiawan, ( Bandung: MLC, 2007), hlm.20  5 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Suskes Dalam Sertifikasi Guru,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 293  6 Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik,Konsep,Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya,(Jakarta:Prestasi Pustaka Publiser:2007), hlm.103 

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dirumuskan permasalahan sebagai berikut 1. Bagaimana

penerapan pembelajaran kontekstual dengan media Flash Mx

materi pokok ikatan kimia kelas X semester gasal MA SALAFIYAH PATI? 2. Adakah peningkatan hasil belajar materi pokok ikatan kimia kelas X semester gasal MA SALAFIYAH PATI dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx ?

C. Penegasan Istilah 1. Penerapan Menerapkan dapat diartikan menggunakan, mempraktikan. Penerapan berarti proses, cara, perbuatan menerapkan, pemanfaatan.7

2. Pembelajaran kontekstual Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru menghubungkan antara materi pelajaran yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.8 3. Media flash Mx Media flash Mx adalah media yang dipakai sebagai pengantar informasi menggunakan progam flash yang dibuat oleh macromedia. Macromedia Flash Mx merupakan salah satu program pembuatan animasi. Mulai dari pembuatan gambar, memberi warna gambar, dengan pengelolaan yang teliti dan daya kreasi yang bagus.                                                              7

Penyusun kamus pusat bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka,2003),

hlm.1180  8

Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Suskes Dalam Sertifikasi Guru, ibid, hlm.296 

4. Meningkatkan Meningkatkan adalah menaikkan, mempertinggi, memperhebat (derajat, tarap dan sebagainya).9 5. Hasil belajar Hasil belajar merupakan hasil proses belajar. Pelaku aktif dalam belajar adalah siswa. Hasil belajar juga merupakan hasil proses belajar, atau proses pembelajaran. Pelaku aktif pembelajaran adalah guru.10 Hasil belajar disini adalah hasil belajar kognitif yang di ukur dengan tes per-siklus, dan hasil belajar afektif yang dilihat dari indikator keaktifan siswa.

6. Ikatan kimia Ikatan kimia adalah suatu materi yang membahas mengenai struktur dan kedudukan serta bagaimana atom-atom bergabung satu dengan lainnya. Ikatan kimia membentuk zat berupa unsur atau senyawa dalam upaya mencapai kondisi stabil. Ikatan kimia yang dibahas di kelas X, yakni ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam.

D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian a. Untuk mengetahui bagaimana cara penerapan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx materi pokok ikatan kimia kelas X semester gasal MA SALAFIYAH PATI. b. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa materi pokok ikatan kimia kelas X semester gasal MA SALAFIYAH PATI dengan penerapan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx ” 2. Manfaat penelitian a. Manfaat bagi siswa 1) Memberikan peran aktif siswa dalam pembelajaran 2) Meningkatkan hasil belajar siswa                                                              9

Ibid, hlm.1280  Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta:PT Rineka Cipta,2006), hlm.200  

10

b. Manfaat bagi guru Sebagai bahan pertimbangan dan informasi tentang alternatif pembelajaran kimia untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menerapkan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx c. Manfaat bagi sekolah 1) Memberikan landasan dan argumentasi bagi kebijaksanaan yang akan diambil guna meningkatkan mutu hasil belajar 2) Memberikan kontribusi yang baik dalam peningkatan pembelajaran untuk semua pelajaran

d. Manfaat bagi peneliti Menambah pengetahuan khususnya di bidang pendidikan, yaitu penerapan pendekatan dalam

pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Dalam

penelitian ini peneliti menetapkan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx

 

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

I.

LANDASAN TEORI A.

Pembelajaran Kontekstual

1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh

untuk

dapat

menemukan

materi

yang

dipelajari

dan

menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. “An educational process that aims to help students see meaning in the academic material they are studying by connecting academic subject with the context of their daily live, that is, with context of their personal, social, and curtural cirtumstance. To achieve this aim, the system encompasses the following eight components : making meaningful, connections, doing significant work, self-regulated learning, collaborating, critical and creative thinking, nurturing the individual, reaching high standards, using authentic assesment”.1 (Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka. Yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini, sistem tersebut meliputi delapan komponen berikut : membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, melakukan kerjasama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang,mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian autentik.)2 CTL memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan karena pembelajaran dilakukan secara alamiah, sehingga peserta didik dapat mempraktekkan secara langsung apa yang dipelajarinya. Pembelajaran                                                              1

Elaine B. Johnson, Contextual Teaching and Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, terj. Ibnu Setiawan, ( Bandung: MLC, 2007), Hlm. 19  2 Elaine, opcit. Hlm.67 

8   

9   

kontekstual mendorong peserta didik memahami hakekat, makna dan manfaat belajar. Sehingga memungkinkan mereka rajin dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan belajar. Kondisi tersebut ketika peserta didik menyadari tentang apa yang mereka perlukan untuk hidup, dan bagaimana cara menggapainya.3 Dalam upaya itu mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Dalam menerapkan CTL ini, guru tidak hanya menyampaikan materi belaka yang berupa hafalan tetapi juga bagaimana mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik termotivasi untuk belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan secara keseluruhan.4 2. Komponen Pembelajaran Kontekstual CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 komponen. Komponen ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Adapun tujuh komponen tersebut adalah: a. Konstruktivisme (Constructivism) Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan

baru

dalam

struktur

kognitif

siswa

berdasarkan

5

pengalaman. Dalam pembelajaran CTL pada dasarnya mendorong siswa agar dapat mengonstruksi pengetahuannya melalui proses pengamatan dan

pengalaman.

Penerapan

komponen

konstruktivisme

dalam

pembelajaran melalui CTL, siswa didorong untuk mengonstruksi pengetahuan sendiri melalui pengalaman nyata.

                                                             E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Belajar KBK (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm.38  4 Khairuddin dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jogjakarta: Nuansa Aksara, 2007), hlm.201   5 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Prenada Media Group 2006), hlm 264   3

10   

b. Menemukan (Inquiry) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual yang berpendapat bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.6 Penerapan inkuiri ini dalam proses pembelajaran CTL, didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Dengan demikian diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis yang semuanya itu diperlukan sebagai dasar pembentukan kreativitas peserta didik. c. Bertanya (Questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.7 Kegiatan

bertanya

merupakan

bagian

melaksanakan pembelajaran. Karena dengan bertanya

penting

dalam

pengertian dan

pemahaman dapat diperoleh lebih mantap. Sehingga segala bentuk kesalahpahaman dan kelemahan daya tangkap terhadap pelajaran dapat dihindari semaksimal mungkin. Sebagaimana dalam firman Allah yang berkaitan tentang bertanya adalah surat An-nahl:43

‫ﻢ ﹶﻻ‬ ‫ﺘ‬‫ﻨ‬‫ﺬ ﹾﻛ ﹺﺮ ﹺﺇ ﹾﻥ ﹸﻛ‬ ‫ﻫ ﹶﻞ ﺍﹾﻟ‬ ‫ﺍ ﹶﺍ‬‫ﺴﹶﺌﹸﻠﻮ‬  ‫ﻢ ﹶﻓ‬ ‫ﻴ ﹺﻬ‬‫ﻰ~ ﹺﺇﹶﻟ‬‫ﻮﺣ‬ ‫ﻧ‬ ‫ﺎ ﹰﻻ‬‫ﻚ ﹺﺇ ﹼﻻ َ ﹺﺭﺟ‬  ‫ﻠ‬‫ﺒ‬‫ﻦ ﹶﻗ‬ ‫ﻣ‬ ‫ﺎ‬‫ﺳ ﹾﻠﻨ‬ ‫ﺭ‬ ‫ﺎ ﹶﺃ‬‫ﻭﻣ‬ ‫ﻮ ﹶﻥ‬ ‫ﻌﹶﻠﻤ‬ ‫ﺗ‬                                                              6

Kunandar, ibid, hlm. 309  Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik,Konsep,Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya,(Jakarta:Prestasi Pustaka Publiser:2007), hlm.110    7

11   

“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”8 d. Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep

pembelajaran

dalam

pembelajaran

kontekstual

menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain (Team Work). Kerjasama itu dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar yang dibentuk secara formal maupun dalam lingkungan secara alamiah. Hasil belajar dapat diperoleh secara bertukar pikiran dengan orang lain. Inilah hakikat dari masyarakat belajar, masyarakat yang saling membagi.9 Kegiatan masyarakat belajar sesuai dengan salah satu prinsip yang digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam belajar yaitu prinsip sosial. Satu sama lain saling membantu, bekerja sama dan berinteraksi untuk memecahkan suatu masalah. Kegiatan masyarakat belajar juga diharapkan siswa akan berwawasan luas karena banyak pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari berbagai sumber. e. Pemodelan (Modelling) Yang dimaksud dengan komponen pemodelan adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Pemodelan tidak terbatas dari guru saja akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. Pemodelan merupakan komponen yang cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui pemodelan siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak.10

                                                             8

Al-Qur’an dan terjemahannya, ( Bandung: CV Penerbit Diponegoro), hlm, 217   Udin Sefuddin Sa’ud, Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm.170  10 Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2005), hlm. 121  9

12   

f. Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru saja dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Kunci dari kegiatan refleksi adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa.11 Pada akhir pembelajaran guru perlu melaksanakan refleksi. Guru memberikan kepada peserta didik untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Sehingga ia dapat menyimpulkan kembali apa yang telah dipelajari tentang pengalaman belajarnya. g. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment) Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan

gambaran

perkembangan

belajar

siswa.

Gambaran

perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran. Maka penilaian tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar, tetapi dilakukan bersama-sama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran.12 3. Konsep Dasar Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran kontekstual perlu didasarkan atas prinsip dan strategi pembelajaran yang mendorong terciptanya lima bentuk pembelajaran relating, experiencing, applying, cooperating and transferring.13 Strategi pembelajaran merupakan kegiatan yang dipilih yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik untuk mencapai                                                              11

Kunandar, opcit, hlm. 314  Trianto, opcit, hlm. 114  13 Dewi Salma Prawiradilaga, Mozaik Teknologi Pendidikan (Jakarta: Prenada Media 2004), 12

hlm. 16 

13   

tujuan pembelajaran. Berdasarkan center for occupational research and development

Penerapan

(CORD).

strategi

pembelajaran

kontekstual

digambarkan sebagai berikut: a. Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk membantu peserta didik agar yang dipelajari bermakna. b. Experiencing, belajar adalah kegiatan “mengalami”, peserta didik berproses secara aktif dengan hal yang dipelajari dan berupaya melakukan eksplorasi terhadap hal yang dikaji, berusaha menemukan dan menciptakan hal baru dari apa yang dipelajarinya. c. Applying,

belajar

menekankan

pada

proses

mendemonstrasikan

pengetahuan yang dimiliki dalam konteks dan pemanfaatannya. d. Cooperating, belajar merupakan proses kolaboratif melalui belajar kelompok, komunikasi interpersonal atau hubungan intersubjektif. e. Transferring,

belajar

menekankan

pada

terwujudnya

kemampuan

memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.14 Selama ini kelas-kelas dalam pendidikan di sekolah tidak produktif. Adanya pandangan mengenai pengetahuan sebagai seperangkat fakta yang harus dihafal. Sehari-hari kelas diisi dengan ceramah dan guru sebagai sumber utama pengetahuan, sementara siswa dipaksa untuk menerima dan menghafalkan fakta-fakta. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar yang lebih memberdayakan siswa. Bagi CTL, program pembelajaran adalah rencana guru mengenai skenario (tahap-tahap) pembelajaran yang akan dilaksanakannya dalam satu atau lebih pertemuan. Dalam program itulah guru biasa melihat apa saja yang perlu dipersiapkannya sebelum mengajar. pembelajaran kontekstual dituntut untuk menghidupkan kelas dengan cara mengembangkan pemikiran anak akan belajar lebih bermakna dengan cara                                                              14

Agus Suprijono, Pelajar, 2009), hlm.84 

Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem, (Surabaya:Pustaka

14   

bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik, menciptakan masyarakat belajar dalam kelompok, mengembangkan sikap ingin tahu siswa dalam bertanya, melakukan refleksi dan penilaian yang sebenarnya. Kelas yang hidup adalah kelas yang memberdayakan siswa, yaitu kelas yang produktif dan menyenangkan. 4. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual dan Konvensional Terdapat perbedaan pokok antara pembelajaran dengan CTL dan pembelajaran konvensional yang banyak diterapkan di sekolah. Tabel 2.1 di bawah ini menjelaskan perbedaan kedua model tersebut dilihat dari konteks tertentu. Tabel 2.1 Perbedaan pembelajaran kontekstual dan konvensional.15 No 1

Konteks Pembelajaran Hakikat Belajar

2

Model Pembelajaran

3

Kegiatan Pembelajaran

Pembelajaran Kontekstual Konten pembelajaran selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata yang diperoleh sehari-hari pada lingkungannya. Siswa belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok, berdiskusi, praktikum, saling bertukar pikiran, memberi dan menerima informasi. Siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran dan berusaha menggali dan menemukan sendiri materi pelajaran.

Pembelajaran Konvensional Isi pembelajaran terdiri dari konsep dan teori yang abstrak tanpa pertimbangan manfaat bagi siswa Siswa melakukan kegiatan pembelajaran bersifat individual dan komunikasi satu arah, kegiatan dominan mencatat, menghafal, menerima instruksi guru Siswa ditempatkan sebagai objek pembelajaran yang lebih berperan sebagai penerima informasi yang pasif dan kaku.

                                                             15

Udin Sefuddin Sa’ud, Inovasi Pendidikan, ibid, hlm.167-168

 

15   

4

5

6

Kebermaknaan Mengutamakan Belajar kemampuan yang didasarkan pada pengalaman yang diperoleh siswa dari kehidupan nyata Tindakan dan Menumbuhkan kesadaran Perilaku Siswa diri pada anak didik karena menyadari perilaku itu merugikan dan tidak memberikan manfaat bagi dirinya dan masyarakat. Tujuan Belajar

Kemampuan yang didapat siswa berdasarkan pada latihanlatihan dan pengulangan yang terus menerus

Tindakan dan perilaku individu didasarkan oleh faktor luar dirinya, tidak melakukan sesuatu karena takut sangsi, kalaupun melakukan sekedar memperoleh nilai. Hasil Pengetahuan yang Pengetahuan yang dimiliki bersifat tentatif diperoleh dari hasil karena tujuan akhir pembelajaran bersifat belajar kepuasan diri. final dan absolut karena bertujuan untuk nilai.

B. Media Pembelajaran 1. Pengertian Media Pembelajaran Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, perantara atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah perantara( ‫ )و ﺳﺎ ﺋﻞ‬atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.16 Media pembelajaran diartikan sebagai semua benda yang menjadi perantara dalam terjadinya pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan pembelajaran. Ibrohim Nashir dalam Muqoddimati fi at-tarbiyah, pengertian media pembelajaran sebagai berikut:

                                                             16

Azhar Arsyad, Media Pembelajaran,(Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.3 

16   

‫ﺍﻟﻮﺳﺎﺋﻞ ﺍﻟﺘﺮﺑﻮﻳﺔ ﻫﻮ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺤﺪﻡ ﻣﻦ ﻭﺳﺎﺋﻞ ﺣﺴﻴﺔ ﺑﻘﻴﺔ ﺍﺩﺭﺍﻙ ﺍﳌﻌﺎﱏ ﺑﺪﻗﺔ‬   ‫ﻭﺳﺮﻋﺔ‬ “ Media pembelajaran adalah setiap sesuatu yang disajikan dengan tujuan untuk memahami makna secara teliti dan tepat” 17 Media dapat digunakan untuk keperluan pembelajaran baik secara klasikal maupun individual. Dalam pembelajaran klasikal, media menjadi bagian integral dari proses pembelajaran itu sendiri melalui penggunaan media siswa dapat terlibat langsung dengan materi yang sedang dipelajari. Usaha membuat pengajaran lebih konkret dengan menggunakan media banyak dilakukan orang. Berbagai jenis media memiliki nilai kegunaan masing-masing. Pemahaman akan nilai yang dimiliki masing-masing jenis media ini penting, karena dalam proses pendidikan/proses belajar mengajar, guru harus memilih media yang tepat agar tujuan-tujuan yang diinginkan dapat terwujud dalam diri siswa. Selama proses belajar mengajar berlangsung akan selalu terjadi interaksi antara guru, siswa dan media pengajaran yang digunakan.18 Pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan

keinginan dan minat yang baru, membangkitkan

motivasi siswa dalam belajar karena media menyajikan banyak pengalaman yang menarik. Adapun menurut Edgar Dale dalam bukunya Azhar Arsyad yang berjudul media pembelajaran, mengklasifikasikan pengalaman belajar anak mulai dari hal-hal yang paling konkret sampai kepada hal-hal yang paling abstrak. Klasifikasi pengalaman tersebut diikuti secara luas oleh kalangan pendidik dalam menentukan alat bantu apa seharusnya yang sesuai untuk                                                              17

 Ibrohim Nashir, Muqoddimati fi at-tarbiyah ( Aman: Ardan, tt), hlm. 169  R Ibrohim, Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003),

18

hlm.113 

17   

pengalaman belajar tertentu. Klasifikasi pengalaman tersebut lebih dikenal dengan kerucut pengalaman (Cone of Experience). Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut:19

abstrak

Lambang Kata  Lambang visual  Gambar diam, Rekaman Radio  Gambar hidup Pameran   Televisi   Karyawisata   Dramatisasi   Benda tiruan / pengamatan          konkrit

Pengalaman langsung     

Gambar 2.1: Kerucut pengalaman 2. Manfaat Media Pembelajaran Mengingat

pentingnya

media

pembelajaran

diperlukan

untuk

membantu dalam proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien, maka guru sebaiknya menyiapkan media pembelajaran yang tepat saat akan melakukan proses pembelajaran sehingga hasil belajar siswa maksimal. Pemanfaatan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi                                                              19

Azhar Arsyad, ibid, hlm.10 

18   

sikap pasif peserta didik. Dengan kata lain media yang sesuai dengan kebutuhan akan dapat mengoptimalkan perolehan hasil belajar peserta didik. Adapun menurut Kemp dan Dayton (1985) dalam bukunya Martinis Yamin yang berjudul kiat membelajarkan siswa, mengidentifikasi manfaat media dalam kegiatan pembelajaran yaitu: 20 a. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan Guru mungkin mempunyai penafsiran yang beraneka ragam tentang sesuatu hal. Melalui media, penafsiran yang beragam ini dapat direduksi dan disampaikan kepada siswa secara seragam. b. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik Media dapat membangkitkan keingintahuan siswa, merangsang mereka untuk bereaksi terhadap penjelasan guru, memungkinkan mereka menyentuh objek kajian pelajaran, membantu mengkonkretkan sesuatu yang abstrak. c. Proses belajar siswa menjadi lebih interaktif Media harus dirancang dengan benar, media dapat membantu guru dan siswa melakukan komunikasi dua arah secara aktif. Tanpa media, seorang guru mungkin akan cenderung berbicara satu arah kepada siswa. Namun dengan media, guru dapat mengatur kelas sehingga bukan hanya guru sendiri yang aktif tetapi juga siswanya. d. Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi Seringkali para guru menghabiskan waktu yang cukup banyak untuk menjelaskan suatu materi. Padahal waktu yang dihabiskan tidak perlu sebanyak itu, jika mereka memanfaatkan media dengan baik.

                                                             20

Martinis Yamin, hlm.200-203 

Kiat Membelajarkan Siswa

(Jakarta: Gaung Persada Press, 2007),

19   

e. Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan Penggunaan media tidak hanya membuat proses belajar mengajar lebih efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi pelajaran secara lebih mendalam dan utuh. f. Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja Media pembelajaran dapat dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat belajar dimana saja mereka mau, tanpa tergantung pada keberadaan seorang guru. g. Sikap positif siswa terhadap bahan pelajaran maupun terhadap proses belajar itu sendiri dapat ditingkatkan Dengan media, proses belajar mengajar menjadi lebih menarik. Hal ini dapat meningkatkan kecintaan dan apresiasi siswa. Selain itu, media juga dapat mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan. h. Peran guru dapat berubah ke arah yang lebih positif dan produktif Guru tidak perlu mengulang-ulang penjelasan, mengurangi uraian verbal, dan peran guru tidak lagi menjadi sekedar “pengajar”, bila media digunakan dalam pembelajaran. C. Progam Flash Mx Macromedia flash merupakan progam grafis animasi web yang diproduksi oleh macromedia crop yaitu sebuah vendor software yang bergerak dibidang animasi web. Macromedia flash pertama kali diproduksi pada tahun 1996. Pada awal produksi macromedia flash merupakan software untuk membuat animasi sederhana berbasis GIF. Seiring dengan perkembangannya, macromedia flash mulai digunakan dalam pembuatan desain situs web.21 Keunggulan dari progam Macromedia flash dibanding progam lain yang sejenis, antara lain:                                                              21

Dwi astuti, Teknik Membuat Animasi Profesional Menggunakan Macromedia Flash 8, (Semarang: Penerbit Andi Offset, 2006), hlm.3 

20   

a. Dapat membuat tombol interaktif dengan sebuah movie atau objek yang lain. b. Dapat membuat perubahan tranparansi warna dalam movie. c. Membuat perubahan animasi dari satu bentuk ke bentuk lain. d. Dapat membuat gerakan animasi dengan mengikuti alur yang telah ditetapkan. e. Dapat dikonversi dan dipublikasikan (publish) ke dalam beberapa tipe, diantaranya adalah.swf,.html,.gif,.jpg,.png,.exe,.mov. 22 D. Belajar 1. Pengertian Belajar Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi di dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar.23 Belajar juga merupakan suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas lagi dari itu, yakni mengalami.24 Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswalah yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka sendiri.

Belajar menurut

teori konstruktivisme adalah membangun pengetahuan sedikit demi sedikit, yang kemudian hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep-konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.25 Siswa perlu dibiasakan untuk memcahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Guru                                                              22

Tim Devisi Penelitian dan Pengembangan Madcoms,ibid,hlm. 2  Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, ( Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), hlm.85  24 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar,(Jakarta:Bumi Aksara, 2007), hlm 27  25 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran (Yogjakarta: Arruz Media, 2008), hlm 116    23

21   

tidak akan mampu memberikan semua pengetahuan kapada siswa. Siswa harus mengkostruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. 2. Hasil Belajar Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.26 Belajar itu sendiri adalah suatu proses dalam diri seseorang yang berusaha memperoleh sesuatu dalam bentuk perubahan tingkah laku yang relatif menetap. Perubahan tingkah laku dalam belajar sudah ditentukan terlebih dahulu, sedangkan hasil belajar ditentukan berdasarkan kemampuan siswa. Dalam hal ini penekanan hasil belajar adalah terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh langsung terhadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar. Perubahan itu terjadi pada seseorang dalam disposisi atau kecakapan manusia yang berupa penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui usaha yang sungguhsungguh dilakukan dalam satu waktu tertentu atau dalam waktu yang relatif lama. Suatu proses yang dilakukan dengan usaha dan disengaja untuk mencapai suatu perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku itu sendiri merupakan hasil belajar.27 Dengan berakhirnya suatu proses belajar, maka siswa memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya puncak proses belajar.                                                              26

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009), hlm.22  27 Nashar, Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Pembelajaran, (Jakarta: Delia Press, 2004), hlm.78  

22   

Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan- kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berfikir maupun keterampilan motorik. Hampir sebagian terbesar dari kegiatan atau perilaku yang diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar. Di sekolah hasil belajar dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata pelajaran yang ditempuhnya.28 3. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas dua kategori yaitu faktor internal dan faktor eksternal a. Faktor internal Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu 1) Faktor fisiologis Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. 2) Faktor psikologis Faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat memengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah motivasi, minat, dan sikap b. Faktor-faktor eksternal Faktor eksternal yang memengaruhi hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.                                                              28

Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung, Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 102 

23   

1) Lingkungan Sosial a) Lingkungan sosial sekolah seperti guru, administrasi, dan temanteman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik di sekolah. b) Lingkungan

sosial

masyarakat,

kondisi

lingkungan

sosial

masyarakat tempat tinggal siswa akan memengaruhi belajar siswa. c) Lingkungan sosial keluarga, hubungan antara anggota keluarga, orang tua, kakak, atau adik yang harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik. 2) Lingkungan non sosial a) Lingkungan alamiah, seperti kondisi udara yang segar, suasana yang sejuk dan tenang, sebaliknya bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat. b) Faktor

instrumental,

yaitu

perangkat

belajar

yang

dapat

digolongkan dua macam, pertama, hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar. Kedua, software seperti kurikulum sekolah, peraturan-peraturan sekolah. c) Faktor materi pelajaran, guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan. 29 E. Materi Pokok Ikatan Kimia 1. Peranan Elektron Pada Pembentukan Ikatan Kimia Kemampuan suatu atom untuk membentuk ikatan dengan atom lain terutama ditentukan oleh konfigurasi elektron terluarnya. Elektron-elektron terluar disebut elektron valensi. Jika membandingkan konfigurasi elektron                                                              29

Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, ibid, hlm.19-28 

24   

unsur-unsur dengan konfigurasi elektron gas mulia, ternyata bahwa unsurunsur lain yang bukan gas mulia memiliki kecenderungan untuk memiliki susunan elektron stabil seperti gas mulia. Pada tahun 1916, beberapa gagasan tentang pembentukan ikatan kimia telah dikemukakan oleh dua orang kimiawan Amerika, Lewis dan Langmuir dan seorang kimiawan Jerman, Kossel. Menurut mereka, apabila gas mulia tidak bersenyawa dengan unsur lain, tentunya ada sesuatu keunikan dalam konfigurasi elektronnya yang mencegah persenyawaan dengan unsur lain. Apabila dugaan ini benar, atom yang bergabung dengan atom lain membentuk suatu senyawa mungkin mengalami perubahan didalam konfigurasi elektronnya yang mengakibatkan atom-atom itu lebih menyerupai gas mulia. Teori yang dikembangkan dari gagasan ini selanjutnya dikenal sebagai teori Lewis. Menurut teori Lewis suatu atom dalam mencapai kestabilan yaitu : a. Elektron–elektron terutama yang berada pada kulit terluar memainkan peranan utama dalam pembentukan ikatan kimia. b. Pembentukan ikatan kimia terjadi karena adanya perpindahan satu atau lebih elektron dari satu atom ke atom yang lain. c. Pembentukan ikatan kimia dapat terjadi dari pemakaian bersama pasangan elektron di antara atom-atom. d. Perpindahan bersama elektron berlangsung sedemikian rupa sehingga setiap atom yang terlibat mendapat suatu konfigurasi elektron. Konfigurasi umumnya merupakan konfigurasi gas mulia yaitu konfigurasi dengan 8 elektron pada kulit terluarnya yang disebut oktet, dan dengan 2 elektron pada kulit terluarnya yang disebut duplet. 30

                                                             30

Ralph H.Petrucci, Kimia Dasar Jilid 2 Terj.Suminar Achmadi, (Jakarta:Penerbit Erlangga, 1987)Cet.4, hlm.270 

25   

2. Ikatan Ion Ikatan kimia terjadi dengan cara pembentukan persekutuan pasangan elektron antara atom-atom yang bergabung.31 Ikatan ion terbentuk akibat kecenderungan atom-atom menerima atau melepas elektron agar memiliki konfigurasi elektron seperti gas mulia terdekat. Contoh: Garam yang biasa kita gunakan untuk memasak termasuk ikatan ion. Rumus kimia garam adalah NaCl. Ikatan yang terjadi antara

11Na

dengan 17Cl. Konfigurasi elektron masing-masing atom 11Na= 17Cl

1s2 2s2 2p6 3s1

= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p5

Atom natrium melepas 1 elektron kulit terluarnya, sehingga konfigurasi elektronnya sama dengan gas mulia. Atom klorin menerima satu elektron pada kulit terluarnya, sehingga konfigurasi elektronnya sama dengan gas mulia. Na+

Na (1s2 2s2 2p6 3s1) Cl

+

+

e-

(1s2 2s2 2s6) e-

(1s2 2s2 2p6 3s2 3p5)

Cl (1s2 2s2 2p6 3s2 3p6)

Antara ion Na+ dan ion Cl- terjadi gaya tarik menarik elektrostatis, sehingga terbentuk senyawa ion dengan rumus kimia NaCl. Sifat fisis suatu zat ditentukan oleh gaya antar partikel penyusun zat. Sifat fisis senyawa ion ditentukan oleh gaya elektrostatis yang kuat dan sama ke segala arah. Dalam senyawa ion, suatu ion positif akan dikelilingi oleh sejumlah ion negatif, demikian pula sebaliknya. Senyawa ion dapat dikenali dari beberapa sifatnya sebagai berikut:                                                              31

Kristian H.Sugiyarto, Kimia Anorganik II, (JICA Jurusan Kimia, Fakultas Pendidikan Matematika dan IPA UNY Yogjakarta, 2003), hlm.20 

26   

a. Berupa padatan pada suhu ruang b. Bersifat keras tetapi rapuh c. Mempunyai titik leleh dan titik didih yang tinggi d. Larut dalam pelarut polar seperti air dan amonia tapi tidak larut dalam pelarut organik e. Tidak menghantar listrik dalam fase padat, tetapi menghantar listrik dalam fase cair atau jika larut dalam air. 3. Ikatan Kovalen Ikatan kovalen merupakan hasil persekutuan (sharing) sepasang elektron antara atom. Kekuatan ikatan merupakan hasil tarik menarik antara elektron yang bersekutu dan inti yang positif dari atom yang membentuk ikatan. Dalam keadaan ini elektron berfungsi sebagai perekat yang mengikat atom-atom itu menjadi satu. 32 Dua atom dapat membentuk ikatan dengan sepasang, dua pasang atau tiga pasang elektron bergantung pada jenis unsur yang berikatan. Berdasarkan jumlah pasangan elektron yang digunakan bersama (pasangan elektron ikatan), ikatan kovalen yang terbentuk antara dua atom unsur dapat berupa ikatan kovalen tunggal dan ikatan kovalen rangkap (rangkap dua dan rangkap tiga). a. Ikatan Kovalen Tunggal Kebanyakan zat kimia di alam mempunyai ikatan kovalen tunggal. Contohnya air yang kita minum. Molekul senyawa air (H2O) termasuk ikatan kovalen tunggal. Pembentukan molekul H2O dari atom-atom H dan O. Atom H memerlukan 1 elektron tambahan untuk mencapai kestabilan dan atom O memerlukan 2 elektron tambahan untuk mencapai kestabilan. Reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut:

                                                             32

James A Brady, ibid, hlm.331 

27   

2H   



x x  x  x  xx  x 

xx

Hx

xx

x x

H

H ‐ ‐H H ‐ O  O‐ H  xx

b. Ikatan Kovallen Rangkapp Dua Ikatan inni melibatkaan pemakaiaan bersama dua pasang elektron olleh dua atom m yang berikaatan. Contoh :O Orang bernaafas mengguunakan oksiggen (O2), teermasuk ikattan kovalen rangkap r duaa. Ikatan anntar atom okksigen dalam m molekul O2, agar dipeeroleh susunaan elektron yang stabil, atom O yanng mempunyyai 6 elektronn valensi meembutuhkan 2 elektron. Jadi, J kedua atom a O saliing meminjam mkan 2 buah b elektrronnya, sehhingga keddua atom O menggunnakan dua paasang elektroon bersama :

Ikatan Koovalen Ranggkap Dua c. Ikatan Kovallen Rangkapp Tiga Ikatan ini melibatkkan pemakaiian bersama tiga pasangg elektron olleh tiiga atom yanng berikatann. Contoh C : Ikaatan antar atoom nitrogenn dalam molekul N2. Nittrogen dipakkai sebagai s bahaan pembuataan pupuk, terrmasuk ikataan kovalen raangkap tiga. Untuk U mencapai konfiguurasi elektroon stabil, atom N2 denggan 5 elektrron valensi v mem merlukan 3 buah elekktron. Jadi, kedua atoom N saling meminjamka m an 3 buah elektronnyaa, sehingga menggunakkan 3 pasaang elektron e berssama.

28   

Ikkatan Kovallen Rangkap Tiga. d. Ikatan Kovallen Koordinaasi Ikatan kovalen kooordinasi terrjadi bila pada p pembeentukan ikattan teerdapat pasaangan elektrron yang hannya berasal dari salah saatu atom yaang berikatan. b mbentuk ionn NH4+ Contohh : Ikatan anttara NH3 denngan H+ mem NH3 Ion H

= punya PEB B (pasangan elektron bebbas) +

= tidak punyya elektron Ikatan kovalen k koordinasi

Pasangann Elektron Bebas e. Kepolaran K Seenyawa Kovvalen Pengukkuran di labooratorium menunjukkan bahwa kebaanyakan ikattan yang y nyata tidak sepenuhnya ionnik atau seppenuhnya kovalen k tetaapi memiliki m cam mpuran sifaat ionik dan kovalen. Ikkatan yang dicirikan olleh perpindahan p muatan secaara parsial diisebut kovalen polar 33 ma itu tidak selalu simettris Keduduukan pasanggan elektron milik bersam teerhadap keddua atom yanng berikatann. Pasangan elektron akan lebih dekkat ke k arah atom m yang mem mpunyai keeelektronegattifan lebih besar. b Hal ini i mengakibatk m kan polarisassi atau penguutuban ikatann. Contoh:

                                                             33

) Ox xtoby, Prinsip--Prinsip Kimia Modern, (Jakaarta:Penerbit Erlangga E 1998), Jil.1, hlm.73

29   

a) Non polar

b) polar

Pada contoh a). Kedudukan pasangan elektron ikatan sudah pasti simetris terhadap kedua atom H. Dalam molekul H2 tersebut, muatan negatif (elektron) tersebar secara homogen. Ikatan seperti itu disebut ikatan kovalen non polar. Pada contoh b). Pasangan elektron ikatan tertarik lebih dekat ke atom Cl karena Cl mempunyai daya tarik elektron lebih besar dari pada H . Akibatnya, pada HCl terjadi polarisasi, dimana atom Cl lebih negatif daripada atom H disebut ikatan polar. Kepolaran molekul dapat diketahui apabila molekul tersebut dapat dikenakan medan listrik. Misalnya sisir plastik yang diusap berkali-kali ke kain wol agar diperoleh medan listrik. Kemudian sisir diletakkan dekat aliran air (H2O), maka akan dibelokkan karena air termasuk kovalen polar. Apabila sisir tersebut diletakkan didekat aliran CCl4 tidak dibelokkan karena CCl4 termasuk kovalen nonpolar. Senyawa kovalen mempunyai beberapa sifat fisis, antara lain: a. Berupa gas, cairan atau padatan lunak pada suhu ruang b. Bersifat lunak dan tidak rapuh c. Mempunyai titik leleh dan titik didih yang rendah d. Umumnya tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik e. Umumnya tidak dapat menghantar listrik. f. Ikatan Logam Ikatan logam adalah ikatan kimia yang terbentuk akibat penggunaan bersama elektron-elektron valensi antar atom-atom logam. Kekuatan ikatan logam ditentukan oleh besarnya gaya tarik menarik antara ion-ion positif dan elektron-elektron bebas. Semakin besar jumlah muatan positif ion logam yang berarti semakin banyak elektron bebasnya, maka semakin besar kekuatan ikatan logam.

30   

Dalam reaksi kimia dengan non logam, atom logam cenderung menyumbangkan elektron, dan membentuk kation. Keelektronegatifannya rendah, kebanyakan diantaranya kurang 2,0.34 Contoh dari ikatan logam adalah magnesium. Magnesium adalah logam di alam yang cenderung berada sebagai senyawanya. Atom magnesium memiliki 2 elektron valensi dan harus berikatan dengan 4 atom magnesium lainnya untuk dapat memiliki 8 elektron. Sifat fisis senyawa logam ditentukan oleh ikatan logamnya yang kuat, strukturnya yang rapat dan keberadaan elektron-elektron yang bebas. Beberapa sifat fisis logam yaitu: a.

Berupa padatan pada suhu ruang

b.

Bersifat keras tetapi lentur/tidak mudah patah jika ditempa

c.

Mempunyai titik leleh dan titik didih yang tinggi

d.

Menghantarkan listrik dengan baik

e.

Menghantarkan panas dengan baik

f.

Mempunyai permukaan mengkilap

F. Pembelajaran Kontekstual dengan Media Flash Mx dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kimia. Salah satu komponen dalam proses pembelajaran kimia adalah penerapan suatu pendekatan dalam pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat memberikan nilai tambah pengetahuan atau informasi baru pada peserta didik, sedangkan pembelajaran yang efisien adalah pembelajaran yang dengan pemanfaatan daya yang tidak terlalu boros tetapi mendapatkan hasil yang maksimal.                                                              34

149 

Keenan, Kimia Untuk Universitas Jilid 2, (Jakarta: PT.Gelora Aksara Pratama, 1993), hlm.

31   

Dengan

menggunakan

pembelajaran

kimia

yang

kontekstual,

diharapkan siswa sendiri yang harus aktif menemukan dan mentransfer atau membangun pengetahuan yang akan menjadi miliknya. Peran guru dalam mengajar lebih sebagai mediator dan fasilitator. Maka guru memilih media yang dapat dipilih dalam proses pembelajaran dengan kelebihan dan kekurangannya. Komputer merupakan media yang memiliki hampir semua kelebihan media baik audio maupun visual dan memungkinkan siswa belajar secara interaktif terlebih sekarang ini komputer sudah berperan sebagai multimedia. Cukup banyak program yang bisa digunakan

untuk

pengembangan materi pelajaran di sekolah, salah satunya program Macromedia Flash Mx. Pengembangan materi pelajaran ikatan kimia dengan Makromedia Flash Mx cukup mudah sehingga dapat dikembangkan oleh guru khususnya mata pelajaran kimia. Penggunaan media bukan hanya membuat proses pembelajaran lebih efisien, tetapi juga membantu siswa menyerap materi belajar lebih mendalam dan utuh. Bila dengan mendengarkan informasi verbal dari guru saja, siswa mungkin kurang memahami pelajaran secara baik. Tetapi juga hal itu diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan atau mengalami sendiri melalui media, maka pemahaman siswa akan lebih baik. Dalam proses belajar mengajar khususnya mata pelajaran kimia, kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu untuk menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui katakata atau kalimat tertentu. Dengan media, proses pembelajaran kimia di kelas menjadi lebih manarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai mata pelajaran kimia. Pelajaran kimia yang dikemas melalui program media, akan lebih jelas, lengkap, menarik minat siswa. Media bisa membangkitkan rasa

32   

keingintahuan siswa, merangsang siswa bereaksi baik secara fisik maupun secara emosional. Media juga dapat membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan sehingga bisa meningkatkan hasil belajar siswa. G. Penelitian yang Relevan Dalam mempersiapkan penelitian ini, penulis terlebih dahulu mempelajari beberapa buku hasil karya pakar pendidikan dan juga skripsi yang terkait dengan penelitian ini, untuk dijadikan landasan teori. Penelitian Atik Nurul Faelasufah (NIM:3104207) Upaya meningkatkan hasil belajar matematika pokok bahasan himpunan melalui pendekatan kontekstual peserta didik kelas VII C di MTs Miftahul Falah Kudus. Setelah dilaksanakan tindakan melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dengan menciptakan suasana pembelajaran aktif maka suasana kelas menjadi hidup. Peserta didik menjadi aktif dan hasil belajar maksimal. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu pra siklus, siklus 1, dan siklus II. Pada tahap pra siklus semangat belajar peserta didik mempunyai prosentase 57,14 % dan rata-rata tes akhir 58,86. Pada siklus 1 setelah dilaksanakan tindakan semangat belajar peserta didik meningkat menjadi 64,29% dan siklus II 74,29%. Dari tiga tahap tersebut jelas bahwa ada peningkatan setelah diterapkan model pembelajaran kontekstual dengan sebelumnya. Sedangkan buku-buku bacaan yang penulis gunakan sebagai bahan dan landasan teori dalam penelitian ini antara lain buku yang ditulis Elaine B Johnson yang berjudul ” CTL menjadikan kegiatan belajar mengajar mengasikkan dan bermakna” yang berisi tentang sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa seorang pembelajar akan mampu menyerap materi pelajaran jika mereka dapat menangkap makna dari pelajaran tersebut. Buku karya Kunandar yang memaparkan tentang sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan peserta didik menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah

33   

pendekatan yang mendorong peserta didik mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Komponen dan pelaksanaan pembelajaran kontekstual sesuai implementasi KTSP.

II. HIPOTESIS TINDAKAN Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti kebenarannya melalui data yang terkumpul. Hipotesis merupakan dugaan sementara yang mengandung pernyataan-pernyataan ilmiah, tetapi masih memerlukan pengujian. Oleh karena itu, hipotesis dibuat berdasakan hasil penelitian masa lalu atau berdasarkan datadata yang telah ada sebelum penelitian dilakukan secara lebih lanjut yang tujuannya menguji kembali hipotesis tersebut. 35 Berdasarkan paparan di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: Penerapan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi pokok ikatan kimia.

                                                             35

Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian, ( Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm.145  

 

BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang menggunakan data pengamatan terhadap jalannya proses pembelajaran di kelas. Dari data tersebut kemudian dianalisis melalui tahapan dalam siklus-siklus tindakan. A. Subjek Penelitian Penelitian ini di lakukan di MA Salafiyah Pati. Subjek pelaku tindakan adalah peneliti dibantu dengan guru kimia kelas X A MA Salafiyah Pati. Sedangkan subjek penerima tindakan adalah siswa kelas X A MA Salafiyah Pati yang berjumlah 30 peserta didik.

B. Lokasi Penelitian Lokasi tindakan kelas yang dilakukan oleh peneliti adalah MA Salafiyah Pati yang berada di desa Kajen, kecamatan Margoyoso, kabupaten Pati.

C. Kolaborator Salah satu ciri PTK adalah kolaborator (kerjasama) antara praktisi dan peneliti dalam pemahaman, kesepakatan tentang permasalahan, pengambilan keputusan yang akhirnya melahirkan kesamaan tindakan. Dalam pelaksanan tindakan di dalam kelas, maka kerjasama (kolaborasi) antara guru dengan peneliti menjadi hal yang sangat penting. Melalui kerjasama, mereka secara bersama menggali dan mengkaji permasalahan nyata yang dihadapi guru dan peserta didik di sekolah.1 Dalam PTK, kedudukan peneliti setara dengan guru, dalam arti masingmasing mempunyai peran dan tanggung jawab yang saling membutuhkan dan                                                              1

Suharsimi Arikunto, dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008),

hlm. 60 

34   

35  

saling melengkapi untuk mencapai tujuan. Peran kerjasama (kolaborasi) sangat menentukan keberhasilan PTK, terutama dalam mendiagnosis masalah, melaksakan penelitian (melaksanakan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi), menganalisis data, menetukan hasil, dan menyusun laporan akhir. Yang menjadi kolaborator adalah bapak Edy Al fitry S.Pd selaku pengampu mata pelajaran kimia di kelas X A MA Salafiyah Pati.

D. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tanggal 20 Juli sampai 7 September 2009, di kelas X A MA Salafiyah Pati. Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian No 1

Observasi Awal

2

Persiapan a. Menyusun konsep pelaksanaan pembelajaran b. Menyusun instrumen penelitian c. Menyepakati jadwal dan tugas penelitian d. Diskusi konsep pelaksaan penelitian Pelaksanaan a. Mempersiapkan bahan pembelajaran b. Pelaksanaan Siklus I c. Melakukan refleksi tindakan siklus I d. Pelaksanaan Siklus II e. Melakukan refleksi tidakan siklus II Pembuatan Laporan a. Menyusun konsep laporan penelitian b. Penyelesaian laporan

3

4

   

Rencana Kegiatan

3

4

Waktu (Minggu) ke 1 2 3 4 1

2

X

X X X X

X

X X X X X

X X

X

36  

E. Desain Penelitian Ada beberapa model PTK yang ada, dan salah satu yang sampai saat ini sering digunakan didalam dunia pendidikan, diantaranya adalah model Kemmis dan Mc Taggart yang dalam satu siklus atau tahapan terdiri dari empat tahap yaitu2 : perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Dalam penelitian ini dirancang dalam dua siklus. Hal ini dilakukan dengan kolaborasi antara peneliti dengan guru. Prosedur penelitian tersebut secara garis besar dapat dijelaskan dengan bagan berikut:3 Permasalahan

  Rencana

Tindakan I

Refleksi I

Pelaksanaan Tindakan I

     Pengamatan

Pengumpulan Data

Permasalahan Baru hasil Refleksi

Rencana Tindakan II

Pelaksanaan Tindakan II

Permasalahan Terselesaikan

Refleksi II

Pengamatan Pengumpulan Data

Gambar 3.1 Bagan Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas

                                                             2

Zaenal Aqib, Penelitian Tindakan kelas, (Bandung: Yrama Widya , 2007), hlm. 21   Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta:PT. Bumi Aksara , 2008), Cet.6, hlm 16  3

   

37  

Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan setiap siklus sebagai berikut: a. Siklus I 1) Perencanaan a) Peneliti menyiapkan modul program dengan menggunakan program Flash MX untuk materi pokok ikatan kimia. b) Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada materi yang telah direncanakan, kemudian diserahkan kepada guru. c) Menyiapkan kisi-kisi soal tentang ikatan kimia siklus I. d) Menyiapkan soal-soal latihan dan soal-soal tes formatif bentuk uraian serta kunci jawaban. e) Menyiapkan lembar pengamatan yang meliputi lembar pengamatan aktifitas peserta didik serta lembar pengamatan guru dalam kegiatan pembelajaran. Observasi direncanakan akan dilaksanakan tiap pertemuan dan dilakukan oleh observer. f) Memberikan informasi dan petunjuk penggunaan modul program disertai peragaan oleh guru dengan menggunakan LCD Proyektor dilanjutkan praktek langsung oleh siswa dan guru membimbing siswa yang masih kesulitan menggunakan modul program. 2) Tindakan a) Guru mengadakan presensi terhadap kehadiran siswa. b) Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ikatan kimia. c) Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ikatan kimia d) Guru membentuk lima kelompok, setiap kelompok terdiri dari 6 siswa berdasarkan absensi kelas. e) Siswa melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati

   

untuk

dipresentasikan

di

depan

kelas

dengan

38  

menggunakan media flash Mx yang terhubung dengan LCD proyektor. f) Memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk mengajukan pertanyaan g) Kelompok belajar yang presentasi menjawab pertanyaan yang diajukan tadi. h) Guru memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk memberikan tanggapan. i) Guru memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan. j) Memberikan contoh dari materi ikatan kimia yang ada dalam kehidupan sehari-hari untuk masing-masing kelompok belajar. k) Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hasil presentasi. l) Guru memberikan tes akhir siklus 1 3) Pengamatan Peneliti melakukan pengamatan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a) Pengamatan terhadap peserta didik 1) Kemampuan siswa dalam kerja kelompok. 2) Kepandaian siswa dalam mengemukakan pendapat. 3) Keaktifan kerjasama dalam kerja kelompok diskusi. b) Pengamatan terhadap guru 1) Kemampuan guru dalam menciptakan suasana aktif belajar, penguasaan materi, membimbing siswa dalam diskusi, dan menarik kesimpulan. 4) Refleksi. Hasil yang diperoleh dari pengamatan yaitu tentang siswa dalam menerima materi dan tes formatif pada tindakan siklus pertama digunakan sebagai dasar apakah sudah memenuhi target atau perlu    

39  

diadakan kesempurnaan pada strategi pembelajaran agar pada siklus kedua diperoleh hasil yang lebih baik b. Siklus II 1) Perencanaan a) Menyiapkan modul program dengan menggunakan program Flash Mx untuk materi pokok ikatan kimia. b) Menyiapkan rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pada materi yang telah direncanakan, kemudian diserahkan kepada guru. c) Menyiapkan kisi-kisi soal tentang ikatan kimia siklus II. d) Menyiapkan soal-soal tes formatif bentuk uraian beserta kisi-kisi serta kunci jawaban. e) Lembar observasi tidak berbeda dari lembar observasi siklus pertama. f) Memberikan informasi dan petunjuk penggunaan modul program disertai peragaan oleh guru dengan menggunakan LCD Proyektor dilanjutkan praktek langsung oleh siswa dan guru membimbing siswa yang masih kesulitan menggunakan modul program 2) Tindakan a) Guru mengadakan presensi terhadap kehadiran siswa. b) Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ikatan kimia. c) Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ikatan kimia d) Guru membentuk lima kelompok, setiap kelompok terdiri dari 6 siswa berdasarkan absensi kelas. e) Siswa melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati

   

untuk

dipresentasikan

di

depan

kelas

dengan

40  

menggunakan media flash Mx yang terhubung dengan LCD proyektor. f) Memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk mengajukan pertanyaan. g) Guru memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk memberikan tanggapan h) Kelompok belajar yang presentasi menjawab pertanyaan yang diajukan tadi. i) Guru memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan. j) Memberikan contoh dari materi ikatan kimia yang ada dalam kehidupan sehari-hari untuk masing-masing kelompok belajar. k) Guru dan siswa bersama-sama menyimpulkan hasil presentasi. l) Guru memberikan tes akhir siklus II 3) Pengamatan Peneliti melakukan pengamatan kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : a) Pengamatan terhadap peserta didik 1) Kemampuan siswa dalam kerja kelompok. 2) Kepandaian siswa dalam mengemukakan pendapat. 3) Keaktifan kerjasama dalam kerja kelompok diskusi. b) Pengamatan terhadap guru 1) Kemampuan guru dalam menciptakan suasana aktif belajar, penguasaan materi, membimbing siswa dalam diskusi, dan menarik kesimpulan. 4) Refleksi Setelah diadakan penelitian siklus I dan siklus II dilakukan analisis data. Dari hasil analisis dan refleksi ini akan diketahui apakah penelitian yang melibatkan penggunaan media komputer dalam    

41  

penelitian tindakan kelas ini mampu meningkatkan hasil belajar kimia materi pokok ikatan kimia, apabila belum mampu maka dilakukan siklus berikutnya. F. Metode Pengumpulan Data 1. Metode Observasi Metode observasi yaitu metode yang digunakan melalui pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan keseluruhan alat indera.4 Metode ini digunakan dalam rangka mengamati proses belajar mengajar, termasuk sistem dan metode pembelajaran yang digunakan dan kelengkapan sarana prasarana serta pengaturan kelas dan hal-hal lain yang berkaitan dengan penelitian. 2. Metode Dokumentasi Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi ialah pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen.5 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang letak geografis, profil dan dokumentasi pembelajaran di MA Salafiyah Pati yang dibutuhkan dalam penelitian ini. 3. Metode Tes Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.6 Test yang digunakan adalah ulangan dengan bentuk soal essay dengan jumlah soalnya 10 butir yang diberikan setiap akhir siklus. Test ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah dilakukan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx. Cara pengumpulan data:                                                              4

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, ( jakarta: PT.Rineka Cipta, 1998), cet.II, hlm. 149.  5 Amirul Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 110.  6 Suharsimi Arikunto, ibid. 150. 

   

42  

a. Data hasil belajar diambil dari hasil evaluasi berupa tes yang diberikan siswa pada akhir siklus. b. Data tentang proses pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan diambil dari hasil lembar observasi guru dan siswa.

G. Analisis Data Metode analisis yang digunakan merupakan analisis yang mampu mendukung tercapainya tujuan dari kegiatan penelitian, berdasarkan tujuan dasar yang ingin dicapai yaitu menambah keaktifan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, kinerja guru meningkat, dan peningkatan hasil belajar siswa dalam materi ikatan kimia. Analisis yang digunakan secara umum terdiri dari proses analisis untuk menghitung prosentase keaktifan siswa, kinerja guru, dan mengetahui tingkat hasil belajar siswa. 1. Data kinerja guru Untuk mengetahui seberapa besar kinerja guru ketika proses belajar mengajar berlangsung, analisis ini dilakukan pada instrumen lembar observasi dengan menggunakan teknik deskriptif melalui prosentase. Instrumen lembar observasi terdiri dari 16 aspek pengamatan, kriteria penilaian untuk tiap 1 aspek: skor 1 kinerja guru kurang, skor 2 kinerja guru cukup, skor 3 kinerja guru baik, skor 4 kinerja guru sangat baik, sehingga jumlah skor maksimal 64. Adapun perhitungan prosentase kinerja guru adalah: Prosentase (%) =

   

X

100%

43  

Kategori prosentase sebagai berikut: 80% - 100%

= Sangat baik

66% - 79%

= Baik

56% - 65%

= Cukup

40% - 55%

= Kurang

30% - 39%

= Gagal

2. Data keaktifan siswa. Untuk mengetahui seberapa besar keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar

berlangsung. Analisis ini dilakukan pada

instrumen lembar observasi dengan menggunakan teknik deskriptif melalui prosentase. Instrumen lembar observasi terdiri dari 11 aspek pengamatan, kriteria penilaian untuk tiap 1 aspek : skor 1 keaktifan siswa kurang, skor 2 keaktifan siswa cukup, skor 3 keaktifan siswa baik, skor 4 keaktifan siswa sangat baik. Sehingga jumlah skor maksimal 44. Adapun perhitungan prosentase keaktifan siswa adalah: Prosentase (%) =

X

100%

Kategori rata-rata keaktifan adalah sebagai berikut.7 80% - 100%

= Sangat baik

66% - 79%

= Baik

56% - 65%

= Cukup

40% - 55%

= Kurang

30% - 39%

= Gagal

                                                             7

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Ed. Revisi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 133. 

   

44  

3. Data hasil evaluasi siswa Hasil evaluasi siklus tiap siswa diperoleh dari nilai tes akhir siklus berupa 10 soal essay. Kemudian dari data yang diperoleh dapat dianalisis nilai rata-rata tes secara klasikal dan ketuntasan belajar siswa. a. Nilai rata-rata tes Menentukan

nilai

rata-rata

tes

secara

klasikal

dengan

8

menggunakan rumus rata-rata nilai . Rumus :

x=

∑x

i

n

Keterangan : x

= rata-rata hasil tes

∑xi

= jumlah nilai kelas

n

= banyaknya siswa

b. Ketuntasan belajar Menentukan ketuntasan belajar setiap siswa terhadap materi klasikal adalah sebagai berikut :

P=

B X 100% N

Keterangan : P

= prosentase

B

= banyaknya siswa yang tuntas belajar

N

= banyaknya siswa yang mengikuti tes

                                                             8

   

 Sudjana, Metoda Statistika, (Bandung: Penerbit Transito, 2002), hlm. 67 

45  

H. Indikator Keberhasilan

1. Hasil belajar pokok materi ikatan kimia dapat meningkat. Hasil belajar yang dimaksud adalah nilai tes tertulis pada setiap akhir siklus mencapai rata-rata ≥ 70 untuk setiap siswa. Suatu kelas dikatakan tuntas belajar bila kelas tersebut telah terdapat ≥ 85% yang memperoleh nilai ≥ 65. 2. Keaktifan belajar siswa meningkat. Pembelajaran siswa dikatakan berhasil jika keaktifan siswa memperoleh prosentase ≥ 71 % atau dikategorikan baik. 3. Kemampuan atau kinerja guru. Kemampuan guru dalam membuat rancangan pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran kontekstual dengan menggunakan media flash Mx dikatakan berhasil jika kemampuan guru memperoleh prosentase ≥ 71 % atau dikategorikan baik.

   

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Persiapan Penelitian Sebelum penelitian dilakukan, peneliti mengadakan persiapan penelitian sebagai berikut: 1. Melakukan kunjungan ke sekolah, melihat kondisi langsung siswa di dalam kelas pada saat proses belajar mengajar berlangsung. 2. Peneliti meminta persetujuan Kepala MA SALAFIYAH Kajen Margoyoso Pati untuk mengadakan penelitian. 3. Menentukan kelas X A yang dipilih sebagai subyek penelitian berdasarkan pertimbangan dari guru kimia di kelas X MA SALAFIYAH Kajen Margoyoso Pati. 4. Merancang Rencana Pelaksanaan pembelajaran sebagai pedoman dalam proses pembelajaran di kelas. 5. Membuat modul materi ikatan kimia dengan progam flash Mx. 6.

Menyusun soal tes siklus I, beserta kunci jawaban dan kisi-kisinya

7. Menyusun soal tes siklus II, beserta kunci jawaban dan kisi-kisinya. 8. Menyusun lembar observasi untuk guru. 9. Menyusun lembar observasi untuk siswa

B. Hasil Penelitian 1. Kondisi Awal Kondisi awal subjek penelitian diperoleh setelah peneliti melakukan kunjungan ke sekolah, peneliti melihat proses pembelajaran di dalam kelas, didapati siswanya kurang antusias mengikuti proses pembelajaran. Menurut salah seorang siswa, selama ini kegiatan belajar di dalam kelas hanya menggunakan metode ceramah dan kurangnya kesiapan siswa. Hal ini

46   

47   

diperkuat pernyataan dari Bapak Edi Al Fitry (Guru Kimia kelas X ). Selama ini proses belajar menggunakan metode ceramah. Alasannya sederhana, sangat sulit mengajak peran aktif siswa. Nilai yang diperoleh siswa kelas X MA SALAFIYAH PATI, belum mencapai hasil belajar yang memuaskan. Hal ini didasarkan, hasil ulangan harian kimia masih rendah, dan belum mencapai standar ketuntasan. Rata-rata hasil belajar 57 dan ketuntasan belajar klasikal 27 %. Kegiatan pembelajaran kimia di kelas X A MA SALAFIYAH PATI sebelum tindakan menunjukkan bahwa guru lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran sebagai pemberi pengetahuan dengan penggunaan ceramah sebagai metode pembelajaran utama. Akibatnya, siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak dilatih untuk menemukan pengetahuan sendiri, sehingga siswa akan lebih cepat lupa dengan materi yang disampaikan dan potensi siswa kurang tergali secara optimal. Dengan kegiatan proses belajar-mengajar yang seperti itu, banyak siswa merasa kesulitan memahami dan menghafal konsep kimia serta kurang antusias dan kurang siap ketika belajar kimia dan menjadikan siswa cenderung pasif. Siswa juga menyatakan bahwa belajar kimia yang selama ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah cenderung monoton dan tidak menyenangkan, dan juga konsep kimia yang diajarkan di kelas kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Mencermati masalah di atas, maka diperlukan suatu pembelajaran yang beda dan menarik minat siswa untuk secara aktif mengikuti pelajaran kimia. Berdasarkan kondisi awal tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan tindakan guna membantu siswa memahami materi. Langkah yang diambil peneliti adalah dengan menerapkan pembelajaran kontekstual dengan media komputer yang terhubung dengan LCD proyektor untuk membantu meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi kimia menggunakan progam flash Mx yang didesain khusus memuat materi dan

48   

contoh-contoh dengan pembelajaran kontekstual, sehingga siswa lebih aktif dalam belajar kimia. 2. Penerapan Pembelajaran Kimia Materi Ikatan Kimia dengan Pendekatan Kontekstual di Kelas. Penerapan pembelajaran dengan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx dalam proses belajar mengajar menciptakan suasana belajar mengajar yang melibatkan peran aktif siswa, sehingga siswa dapat mengkonstruksikan pengetahuan dari pengetahuan awal yang mereka miliki dan menghubungkan melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut. a.

Pendahuluan 1) Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi yang akan dipelajari. 2) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx

b.

Kegiatan Inti 1) Memperkenalkan progam flash Mx pada siswa 2) Membagi kelas ke dalam kelompok belajar berdasarkan absensi kelas. 3) Setiap kelompok melakukan diskusi dari materi yang telah disampaikan. 4) Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mengajukan pertanyaan 5) Membahas secara bersama-sama dari setiap pertanyaan yang diajukan tadi. 6) Setiap kelompok berlatih menentukan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

49   

c. Penutup Pada tahap ini, dilakukan kegiatan menarik kesimpulan. Guru bersama siswa menarik kesimpulan tentang materi yang sudah dibahas. 3. Data Hasil Penelitian Penelitian penerapan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx telah dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X materi pokok ikatan kimia MA SALAFIYAH PATI semester gasal tahun ajaran 2009/2010. Penelitian ini dilaksanakan melalui model penelitian tindakan kelas menggunakan dua siklus tindakan. Setiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. a. Analisis penelitian tindakan kelas siklus I Penelitian tindakan kelas siklus I dilaksanakan oleh peneliti dengan bapak Edi al Fitry sebagai guru mitra atau kolaborator peneliti sekaligus sebagai pengampu mata pelajaran kimia di kelas X A. Adapun rincian hasil siklus I adalah: 1) Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus I Hasil pengamatan oleh peneliti yang dilihat dari tiap pertemuan, bahwa keaktifan siswa dalam proses pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx materi pokok ikatan kimia dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut: Tabel 4.1 Keaktifan siswa siklus I 1 Jumlah skor 801 Ratarata 27

Pertemuan Ke2 3 4

5

Jumlah

Ratarata

824

868 873 899

4265

853

27

29

142

28

29

30

persentase

65%

50   

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada lembar pengamatan siswa diperoleh keaktifan siswa pada siklus I sebesar

65 %. Dari

kriteria penilaian, keaktifan siswa pada siklus I tidak berhasil, masih banyak yang harus dibenahi, antara lain sebagai berikut. a) Kerjasama siswa dalam satu kelompok presentasi masih kurang, hal ini dikarenakan kurang tanggung jawabnya antar siswa dalam satu kelompok, sehingga hanya ada satu atau dua siswa saja yang aktif menjawab pertanyaan dari kelompok lain. b) Masih ada siswa yang bingung dalam menggunakan progam flash Mx, karena baru pertama kali mengenal progam tersebut. c) Kurangnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran yang dilihat dari kurang berjalannya proses tanya jawab. d) Kemampuan siswa dalam memberikan contoh materi ikatan kimia dalam kehidupan sehari-hari masih kurang, karena sedikitnya pengetahuan siswa. e) Banyak anggota kelompok lain tidak bisa memberi gagasan pada kelompok yang presentasi. Dari hasil evaluasi pembelajaran tersebut, ada suatu tindakan yang dilakukan pada tahap berikutnya yaitu siklus II. Upaya untuk meningkatkan keaktifan siswa agar pembelajaran berhasil adalah dengan meningkatkan motivasi siswa sehingga dapat meningkatkan partisipasi anggota kelompok presentasi. 2) Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus I Hasil pengamatan pada kinerja guru dalam menyampaikan materi sesuai dengan model pembelajaran kontekstual menggunakan media flash Mx materi pokok ikatan kimia pada siklus I, dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.

51   

Tabel 4.2 Kinerja Guru Pada Siklus I

Jumlah skor persentase

1

Pertemuan Ke2 3 4

5

35 55

39 61

41 64

43 67

Berdasarkan

hasil

41 64 pengamatan

Jumlah

Ratarata

199

peneliti

39,8 62 pada

lembar

pengamatan guru diperoleh kinerja guru sebesar 62 %. Dari kriteria penilaian, kinerja guru pada siklus I belum berhasil, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: a) Guru belum sepenuhnya menguasai pembelajaran di kelas dengan bantuan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang telah disusun. b) Dalam menberikan bimbingan pada tiap kelompok presentasi kurang maksimal. c) Kurangnya motivasi yang diberikan menyebabkan siswa tidak antusias mengikuti pelajaran kimia. 3) Hasil Tes Akhir Siklus I Tabel 4.3 Tes Akhir Siklus I Jumlah Siswa

Persentase

Tuntas

21

70 %

Tidak tuntas

9

30%

Hasil tes akhir siswa pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 68. Siswa yang tuntas belajar sebanyak 21 siswa dan yang tidak tuntas belajar sebanyak 9 siswa, sehingga diperoleh ketuntasan belajar klasikal 70 %. Sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan nilai rata – rata yang diperoleh belum terpenuhi. Rata-rata yang

52   

diharapkan adalah

≥ 70. Sedangkan

ketuntasan belajar secara

klasikal juga belum belum dipenuhi. Suatu kelas dikatakan tuntas belajar bila kelas tersebut telah terdapat ≥ 85% yang memperoleh nilai ≥ 65. Sehingga perlu perbaikan – perbaikan dalam pembelajaran berikutnya (Siklus II) agar indikator keberhasilan siswa tercapai. b. Analisis Penelitian Tindakan kelas siklus II Hasil keaktifan siswa dalam proses pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut. Tabel 4.4 Keaktifan Siswa Siklus II Pertemuan Ke-

1 Jumlah 1097 Ratarata

37

2 3 4 5 1109 1117 1131 1137 37

37

38

38

Jumlah

Ratarata

5591

1118

187

37

persentase

85

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada lembar pengamatan siswa diperoleh keaktifan siswa mencapai prosentase 84,7 %. Dari kriteria penilaian, keaktifan siswa pada siklus II telah berhasil, hasil tersebut terjadi karena siswa sudah mendapatkan pengalaman dari siklus I. Dalam siklus II ini, sebagian besar kelompok presentasi sudah ada kerjasama yang baik antar anggotanya, maupun antar kelompok lain saat presentasi berlangsung, dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran sudah baik. a) Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus II Hasil pengamatan kinerja guru dalam menyampaikan materi sesuai dengan model pembelajaran kontekstual menggunakan media flash Mx materi pokok ikatan kimia pada siklus II dapat dilihat pada Tabel 4.5 berikut.

53   

Tabel 4.5 Kinerja Guru Siklus II

Jumlah skor persentase

1

Pertemuan Ke2 3 4

5

49 77

54 84

56 88

53 83

56 88

Jumlah 268

Ratarata 54 84

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap kinerja guru pada siklus II, diperoleh data bahwa kinerja guru sudah optimal, hal ini dikarenakan guru sudah mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik sesuai tahapan-tahapan yang ada dalam pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx. Kekurangan guru yang terjadi pada siklus I dapat diatasi pada siklus II ini sehingga pembelajaran berlangsung dengan baik dengan persentase keberhasilan 84 %. b) Hasil Tes Akhir Siklus II Tabel 4.6 Tes Akhir Siklus II Jumlah Siswa

Persentase

Tuntas

26

87 %

Tidak tuntas

4

13%

Pada siklus II ini hasil belajar siswa meningkat bila dibandingkan dengan hasil belajar siswa pada siklus I. Hasil tes siswa pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 77. Siswa yang tuntas belajar sebanyak 26 siswa dan yang tidak tuntas belajar sebanyak 4 siswa, sehingga diperoleh ketuntasan belajar klasikal 87 %. Sesuai dengan indikator keberhasilan yang diharapkan nilai rata – rata yang diperoleh sudah terpenuhi. Sedangkan klasikal juga sudah terpenuhi.

ketuntasan belajar secara

54   

C. Pembahasan penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas, dengan subjek satu kelas yang berjumlah 30 siswa. Dan dilakukan dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II.

Sebelum penelitian, terlebih dahulu diadakan observasi untuk

mengetahui kondisi awal siswa sebelum memperoleh penerapan pembelajaran kontekstual engan media flash Mx. Pada observasi tersebut didapati siswa kurang antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran kimia karena guru masih menggunakan metode ceramah yang membosankan dan hasil belajar kimia siswa belum mencapai KKM. Hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus I dan siklus II menunjukkan keberhasilan penerapan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx. Keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh siswa dan guru. Ada beberapa faktor dari dalam siswa dan guru yang mempengaruhi proses pembelajaran ini. 1. Faktor Guru Faktor guru yang dimaksud yaitu kinerja belajar mengajar

guru pada saat proses

menggunakan model pembelajaran kontekstual dengan

media flash Mx . Kinerja guru selama pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan kinerja guru siklus I dan siklus II, maka diperoleh data sebagai berikut. Tabel 4.7 Perbandingan Kinerja Guru Kinerja Guru

Persentase

Siklus I

62 %

Siklus II

84 %

55   

Dari data Tabel 4.7, terlihat bahwa hasil prosentase masing-masing aspek yang diamati mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I kinerja guru memperoleh prosentase 62 % artinya pembelajaran berlangsung cukup baik dan masih ada catatan yang perlu diperbaiki agar menjadi lebih baik. Pemberian motivasi yang masih dirasa kurang oleh pengamat menyebabkan siswa enggan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Kemudian kurang jelasnya analisis yang dilakukan guru terhadap hasil pekerjaan siswa menyebabkan siswa bingung yang berakibat siswa tidak mampu menyimpulkan materi secara baik. Catatan kekurangan yang diberikan oleh pengamat kemudian didiskusikan oleh peneliti dan guru agar pada siklus II lebih baik dari siklus I dengan menguasai rencana

pelaksanaan pembelajaran dengan maksimal.

Hasil pelaksanaan pembelajaran pada siklus II menunjukkan kekurangan yang dilakukan pada siklus I sudah dapat diatasi dengan baik. Keberhasilan kinerja guru pada siklus II ini juga terlihat dari prosentase keberhasilan guru menerapkan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx yaitu sebesar 84 %, sehingga pembelajaran berlangsung dengan baik. 2. Faktor Siswa Faktor siswa dalam pembelajaran yang dimaksud yaitu keaktifan siswa terhadap pembelajaran kimia. Berdasarkan hasil pengamatan keaktifan siswa siklus I dan siklus II, maka diperoleh data sebagai berikut: Tabel 2.8 Perbandingan Keaktifan Siswa Keaktifan Siswa

Prosentase

Siklus I

64 %

Siklus II

85 %

56   

Hasil pengamatan keaktifan siswa siklus I menunjukkan kurangnya kerjasama siswa dalam kelompok presentasi. Hal ini mengakibatkan tidak semua anggota kelompok presentasi yang aktif menjawab pertanyaan dari kelompok lain. Selain itu banyak siswa yang kurang antusias mengikuti pelajaran kimia. Keberhasilan proses pembelajaran pada siklus I yang dilihat dari keaktifan siswa memperoleh persentase 64% sehingga pembelajaran belum berhasil. Hasil keaktifan siswa pada siklus I direfleksikan pada siklus II. Kekurangan pada siklus I dijadikan masalah untuk perbaikan pada siklus II . Hasil pengamatan keaktifan siswa pada siklus II menunjukkan peran serta siswa dalam kelompoknya lebih aktif, kerjasama siswa dalam kelompoknya meningkat sehingga banyak ide – ide yang diungkapkan untuk menyelesaikan permasalahan, hal ini ditunjang dengan berjalan baik proses tanya jawab yang diberikan, banyak siswa yang berani bertanya dan mengungkapkan pendapat pada kelompok presentasi. Hasil presentasi yang dilakukan siswa dianalisis dengan baik oleh guru sehingga siswa mampu menyimpulkan materi dengan baik dan benar. Keberhasilan proses pembelajaran pada siklus II yang dilihat dari keaktifan siswa memperoleh prosentase keberhasilan sebesar 85% sehingga keaktifan siswa dalam pembelajaran berlangsung dengan baik. Peranan yang sesuai antara guru dan murid mengakibatkan hasil belajar yang baik. Peranan antara guru dan murid tertera pada lampiran 9,10,15 dan lampiran 16 . Ketidaksesuaian peranan guru dan murid pada siklus I, kurangnya motivasi yang diberikan guru, analisa hasil pekerjaan siswa kurang jelas, kestabilan dan kontrol diri yang kurang, banyak siswa tidak memperhatikan pelajaran dan sibuk dengan dirinya sendiri. Ketidaksesuaian peranan ini dapat juga terlihat dari hasil belajar yang diperoleh siswa. Berdasarkan hasil pengamatan hasil tes evaluasi, kondisi awal, siklus I dan siklus II, maka diperoleh data sebagai berikut:

57   

Tabel 4.9 Perbandingan Tes Akhir Siswa

Hasil Belajar Ketuntasan Belajar

Kondisi Awal 57 27%

Siklus I

Siklus II

68 70 %

77 87%

Dari Tabel 4.9 terlihat terjadi peningkatan rata-rata pada kondisi awal (yaitu data dari hasil belajar kimia tahun 2008), siklus I dan siklus II yaitu dari 57, 68 menjadi 77. Begitu juga untuk ketuntasan belajar klasikal terjadi peningkatan, siswa yang tuntas belajar dari sebelumnya pada kondisi awal ada 9 atau 27%, siklus I ada 21 siswa atau 70% dan siswa yang tuntas belajar menjadi 26 siswa atau 87% siswa yang tuntas belajar pada siklus II. Secara keseluruhan, hasil pelaksanaan siklus I dan II dan indikator keberhasilannya dapat dilihat pada Tabel 4.10 berikut. Tabel 4.10 Hasil Penelitian dan Indikator Keberhasilan No 1.

Kinerja Guru

62 %

84 %

Indikator Keberhasilan ≥ 71 %

2.

Keaktifan Siswa a. Rata-rata b. Ketuntasan Belajar Klasikal

64 %

85 %

≥ 71 %

Tercapai

68 70 %

77 87 %

≥ 70 ≥ 85

Tercapai Tercapai

3.

Siklus I

Siklus II

Keterangan Tercapai

Dari data di atas, 3 aspek penelitian telah memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Keberhasilan pembelajaran dari siklus I dan siklus II dapat dilihat pada histogram di bawah ini:

58   

1 100 8 80 6 60

kinerja guru

4 40

keaktiffan siswa  ketuntaasan belajar 

2 20 0 siklus I sikllus II

Gambar 4.1 Histoggram keaktiffan siswa, kiinerja guru, dan d ketunntasanbelajarr klasikal Menurrut hasil histogram diatas, menunjuukkan bahwaa hasil obseervasi keeaktifan sisw wa, kinerja guru, g dan kettuntasan hasil belajar terrjadi peningkkatan daari siklus I ke siklus III. Peningkattan tersebutt membuktikkan keberhaasilan peenerapan pembelajaran p n kontekstuual dengan media fllash Mx. Pada peembelajaran kontekstuaal, siswa dippandang sebbagai individu yang seedang beerkembang. Kemampuaan belajar akan sangaat ditentukaan oleh tinngkat peerkembangann dan penggalaman meereka. Peraan guru tiddak lagi sebbagai in nstruktur meelainkan sebagai pembim mbing siswaa agar mereeka dapat beelajar seesuai dengann kemampuaannya. Selainn itu, salah satu progam m komputer flash Mx M sebagai alat bantuu untuk meemudahkan pemahamaan siswa dalam d mempelajari m materi ikataan kimia kaarena didesaain khusus memuat m conntohco ontoh materii yang kontekstual. Pembeelajaran koontekstual memiliki m t tujuh kompponen. Perrtama ko onstruktivism me yaitu prooses membaangun atau menyusun m p pengetahuan baru daalam strukttur kognitiff siswa beerdasarkan pengalamann. Jean Peeaget (S Sanjaya,20055) mengangggap bahwa pengetahuann itu terbenttuk bukan hanya h

59   

dari objek semata, akan tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya. Jadi pada komponen konstruktivisme

ini,

siswa

didorong

untuk

mampu

mengkonstruksi

pengetahuan sendiri melalui proses pengamatan dan pengalaman nyata. Komponen yang kedua yaitu inkuiri. Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Langkah pembelajaran inkuiri yaitu siswa disuruh untuk merumuskan masalah, setelah itu mengumpulkan data melalui observasi atau pengamatan, melalui membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung. Kemudian data tersebut disajikan dalam tulisan, gambar atau laporan, yang selanjutnya dipresentasikan. Komponen yang ketiga yaitu bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemempuan berpikir siswa. Bagi siswa kegiatan bertanya pada saat diskusi merupakan hal yang sangat penting karena bisa memecahkan persoalan yang dihadapi. Kegiatan

bertanya

dapat ditemukan ketika siswa berdiskusi,

bekerja dalam kelompok presentasi, atau ketika menemui kesulitan. Komponen

yang

keempat

yaitu

masyarakat

belajar.

Dalam

pembelajaran kontekstual, masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Masyarakat belajar dalam pembelajaran kontekstual menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya bersifat heterogen. Komponen yang kelima yaitu pemodelan, yang dimaksud adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh. Pemodelan merupakan komponen yang cukup penting dalam pembelajarn kontestual, sebab melalui pemodelan siswa dapat terhindar dari pembelajaran yang teoristik abstrak yang mengundang terjadinya verbalisme. Dalam

60   

penelitian ini, media flash Mx dapat dijadikan sebagai model, karena dalam media tersebut terdapat contoh-contoh materi kontekstual dan dosertai dengan gambar animasi. Komponen yang keenam yaitu refleksi. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang akan dimilikinya. Dalam setiap akhir pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Komponen yang ketujuh yaitu penilaian yang sebenarnya. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Pada penelitian ini, penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran. Siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara salah satunya dengan observasi, tidak hasil tes tertulis saja. Prinsip utama penilaian dalam pembelajaran kontekstual tidak hanya menilai apa yang diketahui siswa, tetapijuga menilai apa yang dapat dilakukan siswa. Dari penelitian yang telah dilakukan ini, hasil belajar siswa dan peran aktif siswa dan kinerja guru dapat meningkat. Dengan demikian, penerapan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx ini dapat diterapkan di MA Salafiyah Pati, sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan pembelajaran kimia di kelas X A.

61   

56 

BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP

A. SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut: Penerapan pembelajaran kontekstual dengan penggunaan komputer progam macromedia flash Mx dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pokok ikatan kimia siswa kelas X A MA Salafiyah Pati. Keberhasilan penerapan model pembelajaran melalui pendekatan kontekstual dengan media flash sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa di kelas X A MA Salafiyah Pati ditunjukkan dengan adanya perubahan dalam proses pembelajaran yaitu keaktifan pada saat proses pembelajaran, juga ditunjukkan

adanya

peningkatan nilai skor tes akhir dari masing-masing siklus. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor yang diprosentasikan melalui pengamatan tentang keaktifan belajar siswa dengan

indikator keaktifan dalam proses pembelajaran.

Keberhasilan pelaksanaan tindakan dalam penelitian juga dibuktikan dari hasil belajar siswa baik pada pelaksanaan siklus 1 maupun siklus II. Rata-rata hasil belajar pada siklus I 68,2 dan ketuntasan belajar klasikal pada siklus I 70%. Pembelajaran siswa dikatakan berhasil jika keaktifan siswa memperoleh prosentase ≥ 71 %. Pada siklus I keaktifan siswa sebesar 68,1%. Kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran kontekstual dengan menggunakan media flash Mx dikatakan berhasil jika kemampuan guru memperoleh prosentase ≥ 71 %. Kinerja guru pada siklus I memperoleh nilai 68,7%. Dilihat dari indikator keberhasilan, siklus I belum berhasil dan perlu perbaikan pada siklus II. Rata-rata hasil belajar pada siklus II 77,4 dan ketuntasan belajar klasikal 86,6 %. Sedangkan keaktifan siswa sebesar 84 % dan kinerja guru sebesar 82,8 %.

   

55

56 

B. SARAN Mengingat pentingnya penerapan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx sebagai pembelajaran yang menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari siswa dan memanfaatkan media yang ada di sekolah merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan ini maka penulis menyarankan beberapa hal yang berhubungan dengan masalah tersebut. 1. Pelaksanaan pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx yang telah dilakukan di kelas X A Salafiyah Pati agar terus dilakukan untuk mencapai suasana belajar yang menyenangkan. 2. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang pembelajaran kontektual dengan media flash Mx ini tidak hanya pada materi pokok ikatan kimia untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

C. PENUTUP Puji syukur penulis panjatkan kehadirat allah SWT, yang telah memberikan anugerah berupa rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam proses maupun hasilnya, sehingga diharapkan adanya kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis. Amin.

   

56 

   

DAFTAR PUSTAKA Abdurrohman, Meaningful Learning Re-invensi Kebermaknaan Pembelajaran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007 Al-Qur’an dan terjemahannya, Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2000 Amirul Hadi dan Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2005 Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi V, Jakarta: Rineka Cipta 2002 ________ , dkk, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008 ________ , Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1998 Arsyad Azhar. Media Pembelajaran, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2003 Astuti Dewi, teknik Membuat Animasi Profesional Menggunakan Macromedia Flash 8, Semarang: Penerbit Andi Offset, 2006 Aqib, Zainal, Penelitian Tindakan kelas, Bandung: Yrama Widya , 2007 Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran Yogjakarta: Arruz Media, 2008 Baharuddin, Esa Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran Yogjakarta: Arruz Media, 2008 Basyaruddin, Asnawir, Media pembelajaran, Jakarta Pers 2002 Brady, A. James, Kimia Universitas Asas dan Struktur, Jakarta: Penerbit Binarupa Aksara, 1999 Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006 E . Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Belajar KBK, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005 Johnson B. Elaine dkk. Contextual Teaching And Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan Dan Bermakna, Bandung: MLC, 2007 Keenan, Kimia Untuk Universitas Jilid 2, Jakarta:PT.Gelora Aksara Pratama, 1993 Ibrohim Nashir, Muqoddimati fi at-tarbiyah Aman: Ardan, tt

Khaeruddin, dkk. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Jogjakarta: Nuansa Aksara, 2007 Kunandar, Guru Propfesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Ktsp) Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007 Mudhoffir,Teknologi Instruksional Sebagai Landasan Perencanaan Dan Penyusunan Progam Pengajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya,1999 Nashar, Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Pembelajaran, Jakarta: Delia Press, 2004 Nashir, Ibrohim, Muqoddimati fi at-tarbiyah Aman: Ardan, tt Oxtoby. Prinsip-Prinsip Kimia Modern, ed. 4 jil. 1, Jakarta: Erlangga, 1998 Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2003 Petrucci, Ralph H. Terjemahan Achmad Suminar, Kimia Dasar Jilid 2, Jakarta: Erlangga, 1987, Cet 4. Poedjiati, Anna, Sains Teknologi Masyarakat, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005, Cet. 1 Prawiradilaga, Dewi Salma, Mozaik teknologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2004 Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000 R Ibrohim, Nana Syaodih, Perencanaan Pengajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2003 Saebani, Beni Ahmad, Metode Penelitian, Bandung: Pustaka Setia, 2008 Sanjaya Wina, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum berbasis Kompetensi   jakarta: prenada media group, 2005 Sefuddin Udin Sa’ud, Inovasi Pendidikan, Bandung: Alfabeta, 2008 Sibermen, Mel Terjemahan Sarjul Dkk. Active Learning. Boston: Allyn Dan Bacon,1996 Sudijono, Anas, Evaluasi Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996 Sudjana, Nana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2009

Sugianto, Kristiani H. Kimia Anorganik Jilid I, Jika Jurusan Kimia Fakultas Pendidikan Matematika Dan IPA, Jogjakarta : UNY, 2003 Sukmadinata, Nana Syaodih, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004 Suprijono, Agus, Cooperative Learning Teori dan Aplikasi Paikem, Surabaya: Pustaka Pelajar, 2009 Tim Divisi Penelitian Dan Pengembangan Madcoms. Macromedia Flash Mx 2004. Madiun: Madiun, 2005 Trianto,. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik Konsep Landasan Teoritis Praktis Dan Implementasinya, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007 Yamin, Martinis, Kiat Membelajarkan siswa, Jakarta: Gaung Persada Press, 2007

 

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Isti’anah

NIM

: 3105224

Tempat, tanggal lahir : Pati, 13 Januari 1986 Nama Orang Tua Ayah

: Ihya’ Syam

Ibu

: Tasyri’ah

Alamat Asal

: Ds. Asempapan Rt 03 Rw 03 Kec. Trangkil Kab. Pati

Riwayat Pendidikan :

1. MI Thoriqotul Ulum Tlogoharum Pati.Lulus tahun 1998 2. MADIN Roudlatul Ulum Guyangan Pati. Lulus tahun 1999 3. MTs. Roudlatul Ulum Guyangan Pati. Lulus tahun 2002 4. MA Roudlatul Ulum Guyangan Pati. Lulus 2005 5. IAIN Walisongo Semarang. Masuk tahun 2005

 

Lampiran 1 DAFTAR NAMA SISWA KELAS X A MA SALAFIYAH TAHUN AJARAN 2009/2010 No

Nama siswa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Agus Nafe’ Ahmad Nur Kholis Ahmad Qodrianto Ahmad Zammir Ribah Ahmad Zamroni Ali Afyuddin Syah Dhimas Immawan Wahyudi Fery Mukti Ihza Basna Maula Ilhammudin Al Khaq Iqbal Darwanto M. Sutrisno Maftuh Al Irsyadi Moh. Haikal Aslikh Rosyada Moh. Syaiful Anwar Moh. Taufiqurrahman Moh. Zulfikar Moh. Fiqqri Fajar Nugroho Muhammad Ainun Nuha Muhammad Fatah Yasin Muh. Ghozy Nailan Naja Muh. Sholihul Umam Muhammad Ulil Hidayat Mukhammad Yasin Nur Rohmad Rizal Majid Rosyad Ulil Albab Ulin Nuha Widha Dama Wahyu Pratama Yhosi Agustion

Jenis kelamin L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L L

Lampiran 2 DAFTAR KELOMPOK BELAJAR Kelompok 1 1 2 3 4 5

Agus Nafe’ Ahmad Nur Kholis Ahmad Qodrianto Ahmad Zammir Ribah Ahmad Zamroni

Kelompok 2 1 2 3 4 5

Kelompok 3 1 Iqbal Darwanto 2 M. Sutrisno 3 Maftuh Al Irsyadi Moh. Haikal Aslikh 4 Rosyada 5 Moh. Syaiful Anwar

Kelompok 4 1 Moh. Taufiqurrahman 2 Moh. Zulfikar 3 Moh. Fiqqri Fajar Nugroho 4 Muhammad Ainun Nuha 5 Muhammad Fatah Yasin

Kelompok 5 1 2 3 4 5

Muh. Ghozy Nailan Naja Muh. Sholihul Umam Muhammad Ulil Hidayat Mukhammad Yasin Nur Rohmad

Ali Afyuddin Syah Dhimas Immawan Wahyudi Fery Mukti Ihza Basna Maula Ilhammudin Al Khaq

Kelompok 6 1 2 3 4 5

Rizal Majid Rosyad Ulil Albab Ulin Nuha Widha Dama Wahyu Pratama Yhosi Agustion

Lampiran 3 HASIL EVALUASI SIKLUS I Hasil Evaluasi Siklus I No

Nama

Nilai 1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Ketuntasan Belajar Tidak Tuntas Tuntas

1

Agus Nafe’

10

8

6

4

4

8

6

2

0

2

52



2

Ahmad Nur Kolis

8

8

6

4

8

4

8

6

4

8

64



3

Ahmad Qodrianto

10

6

8

4

2

2

6

10

2

6

56



4

Ahmad Zammir R

10

6

6

8

4

8

4

6

10

6

68



5

Ahmad Zamroni

10

8

8

6

4

10

6

8

8

2

70



6

Ali Afyuddin S

8

10

10

8

6

6

8

8

8

10

82

7

Dhimas Immawan

6

8

10

6

4

2

4

8

4

6

58

8

Fery Mukti

10

10

10

8

10

6

8

8

8

8

86

9

Ihza Basna M

8

8

8

6

4

6

8

6

2

4

60

10

Ilhammudin Khaq

10

10

6

6

8

6

4

8

2

6

66



11

Iqbal Darwanto

8

10

2

6

6

4

4

8

10

10

68



12

M. Sutrisno

10

10

6

8

2

4

8

8

4

10

70



13

Maftuh Al Irsyadi

8

8

8

6

10

10

6

4

10

6

76



14

Moh. Haikal A.R

10

10

8

8

8

10

8

6

10

10

88



15

Moh. Syaiful A

10

4

8

8

4

8

2

8

8

10

70



16

Moh. Taufiq

10

8

6

4

2

6

8

6

2

2

54

17

Moh. Zulfikar

8

10

10

4

8

6

4

10

8

4

72



18

Moh. Fiqqri F. N

10

8

8

8

6

6

4

8

8

2

68



19

Moh. Ainun Nuha

10

2

8

8

4

6

8

8

8

6

68



20

Moh. Fatah Yasin

8

10

8

4

8

2

6

2

2

2

52

21

Moh. Ghozy N. N

10

6

6

8

8

4

6

4

10

10

72

22

Moh. Solihul U

10

8

8

4

10

6

4

6

8

8

70

23

Moh. Ulil Hidayat

6

8

2

4

2

2

6

8

2

8

48

24

Moh. Yasin

10

10

10

10

8

8

6

10

10

10

92

25

Nur Rohmad

8

4

6

2

4

4

2

8

2

6

46

26

Rizal Mazid

10

6

6

8

4

4

10

2

4

2

66



27

Rosyad Ulil Albab

10

10

8

8

4

6

8

8

10

10

82



28

Ulin Nuha

10

10

10

6

8

6

8

6

4

4

72



29

Widha Dama W.P

10

8

10

4

8

10

10

10

8

6

84



30

Yhosi Agustian Jumlah

8

6

2

4

10

8

8

4

8

8

√ √ √ √



√ √ √ √ √ √

66 2046

√ 9

21

Keterangan: 1. Nilai Rata-rata

x= =

∑x

i

N

2046 = 68,2 30

Keterangan : x

= rata-rata hasil tes

∑xi

= jumlah nilai kelas

n

= banyaknya siswa

2. Ketuntasan Belajar a. Ketuntasan belajar individu Siswa yang tuntas belajar

= 21

Siwa yang tidak tuntas belajar

=9 = P=

b. Ketuntasan belajar klasikal =

B X 100% N

21 × 100% 30

= 70 % Keterangan : P

= pencapaian prosentase

B

= banyaknya siswa yang tuntas belajar

N

= banyaknya siswa yang mengikuti tes

Dari ketuntasan belajar klasikal yang diperoleh sebesar 70% maka pembelajaran dikatakan belum berhasil. Dari indikator keberhasilan, pembelajaran dikatakan berhasil jika ketuntasan belajar minimal mencapai 85%.

Lampiran 4 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Siklus I

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator Menjelaskan suatu unsur untuk mencapai kestabilannya dengan cara oktet dan duplet. D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang pembentukan suatu unsur untuk mencapai kestabilannya dengan cara oktet dan duplet. E. Materi Ajar 1.Ikatan Kimia Kestabilan atom F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.

2. Kegiatan Inti a. Memperkenalkan program flash mx pada siswa b. Memberikan penjelasan tentang materi kestabilan atom dengan menggunakan program flash Mx c. Membagi kelas ke dalam kelompok belajar berdasarkan absensi kelas d. Setiap kelompok melakukan diskusi dari materi yang telah disampaikan e. Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mengajukan pertanyaan f. Membahas secara bersama-sama dari setiap pertanyaan yang diajukan tadi. g. Setiap kelompok berlatih menentukan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan kestabilan atom. Contohnya berlatih bagaimana suatu unsur yang ada di sekitar kita seperti emas, perak, besi, dan lainnya, bisa mencapai kestabilan seperti gas mulia. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya c. Memberikan informasi ke siswa untuk mempersiapkan bahan yang akan didiskusikan selanjutnya. H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber : Buku kimia kelas X 2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Diantara atom-atom di alam hanya atom gas mulia yang stabil 2. Pada dasarnya elektron mempunyai sifat yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa kestabilan suatu atom ditentukan oleh konfigurasi elektron atom tersebut 3. Kemampuan suatu atom untuk membentuk ikatan dengan atom lain terutama ditentukan oleh konfigurasi elektron terluarnya disebut elektron valensi 4. G. N Lewis dan W.Kosel mengaitkan kestabilan gas mulia dengan konfigurasi elektronnya. Gas mulia mempunyai konfigurasi penuh yaitu : konfigurasi oktet

(mempunyai 8 elektron pada kulit terluar) kecuali helium dengan konfigurasi duplet (2 elektron pada kulit terluar) J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen 1. Mengapa unsur gas mulia merupakan unsur yang paling stabil? 2. Bagaimana cara unsur-unsur berikut dalam mencapai kestabilan : a)

11Na

c) 4Be

b)

25Mn

d) 20Ca

3. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal besi dan tembaga, diantara keduanya mana yang lebih stabil? 4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitry S.Pd

Isti‘anah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator Menjelaskan pengertian ikatan ion. Menjelaskan terbentuknya ikatan ion dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang pengertian ikatan ion dan proses pembentukan Ikatan Ion. E. Materi Ajar Ikatan Ion F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.

2. Kegiatan Inti a. Memberikan tinjauan materi ke siswa b. Melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati pada pertemuan kemarin untuk dipresentasikan didepan kelas dengan menggunakan media flash c. Melakukan tanya jawab materi yang telah dipresentasikan d. Memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan e. Memberikan contoh dari senyawa ikatan ion yang ada dalam kehidupan sehari-hari untuk masing-masing kelompok belajar. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya c. Memberikan informasi ke siswa untuk mempersiapkan bahan yang akan didiskusikan selanjutnya. H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber

: Buku kimia kelas X

2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Ikatan ion adalah ikatan yang terjadi karena adanya perpindahan elektron dari satu atom ke atom yang lain. 2. Atom yang memiliki elektron valensi (elektron terluar) 1,2,3 atau 3 cenderung melepaskan elektron 3. Atom yang memiliki elektron valensi (elektron terluar) 4,5,6 atau 7 cenderung menangkap elektron. 4. Ikatan ion terjadi antara unsur-unsur logam (golongan IA dan IIA) dengan unsur-unsur nonlogam(golongan VIIA dan VIA). 5. Sifat fisis senyawa ion adalah pada suhu ruang berupa padatan, titik leleh dan titik didih tinggi, keras tetapi rapuh, larut dalam air tapi tidak larut dalam pelarut organik.

J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen 1. Apa yang dimaksud dengan ikatan ion? 2. Bagaimanakah terbentuknya ikatan ion antara 19K dan 16S 3. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal garam,yang biasanya kita gunakan untuk memasak. Garam rumus kimianya NaCl,termasuk ikatan ion. Bagaimana terbentuknya ikatan ion tersebut? 4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitry S.Pd

Isti’anah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator 1. Menjelaskan proses terjadinya ikatan kovalen tunggal 2. Menjelaskan proses terjadinya ikatan kovalen rangkap dua 3. Menjelaskan proses terjadinya ikatan kovalen rangkap tiga 4. Menjelaskan proses terjadinya ikatan kovalen koordinasi D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang proses pembentukan Ikatan kovalen tunggal, kovalen rangkap dua, kovalen rangkap tiga, kovalen koordinasi beserta contohnya. E. Materi Ajar 1.Ikatan Kovalen 2.Ikatan Kovalen Tunggal 3.Ikatan Kovalen Rangkap Dua 4.Ikatan Kovalen Rangkap Tiga 5.Ikatan Kovalen Koordinasi F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Awal a. Apersepsi

b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini 2. Kegiatan Inti: a. Memberikan tinjauan materi ke siswa b. Melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati pada pertemuan kemarin untuk dipresentasikan didepan kelas dengan menggunakan media flash c. Melakukan tanya jawab materi yang telah dipresentasikan d. Memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan e. Memberikan contoh dari senyawa ikatan kovalen yang ada dalam kehidupan seharihari untuk masing-masing kelompok belajar. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya c. Memberikan informasi ke siswa untuk mempersiapkan bahan yang akan didiskusikan selanjutnya. H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber

: Buku kimia

2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Ikatan kovalen adalah ikatan antara dua buah atom atau lebih yang didasarkan pada pemakaian elektron valensi secara bersama-sama. 2. Ikatan kovalen dapat terjadi jika atom-atom yang bergabung menggunakan sepasang elektron secara bersama-sama. Hal ini bertujuan supaya susunan elektronnya mengikuti aturan oktet dan duplet. 3. Ikatan kovalen tunggal adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan bersama satu pasang elektron . Contoh ikatan dalam molekul H2 4. Ikatan kovalen rangkap dua adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan bersama dua pasang elektron. Contoh ikatan dalam molekul O2

5. Ikatan kovalen rangkap tiga adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan bersama tiga pasang elektron. Contoh ikatan dalam molekul N2 6. Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kovalen dimana pasangan elektron yang digunakan bersama berasal dari salah satu atom. Contoh ikatan dalam molekul HNO3 7. Sifat senyawa kovalen antara lain: berupa zat cair dan zat padat lunak, titik leleh dan titik didih rendah, lunak dan tidak rapuh, tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen 1. Ada berapa ikatan kovalen? Beri contoh masing-masing? 2. Jelaskan jenis ikatan kovalen apa yang terjadi pada molekul dibawah ini a. SO2 b. F2 3. Kebanyakan zat kimia di alam mempunyai ikatan kovalen,contohnya gas karbondioksida (CO2). Tunjukkan ikatan kovalen apa yang terjadi? 4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Edi Al Fitry S.Pd

Isti‘anah

Praktikan

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator 1. Menjelaskan pengertian ikatan kovalen polar dan nonpolar 2. Menjelaskan terbentuknya ikatan kovalen polar dan nonpolar serta contoh dalam kehidupan sehari-hari. D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang ikatan kovalen polar dan nonpolar E. Materi Ajar Ikatan kovalen polar dan nonpolar F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.

2. Kegiatan Inti a. Memberikan tinjauan materi ke siswa b. Melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati pada pertemuan kemarin untuk dipresentasikan didepan kelas dengan menggunakan media flash c. Melakukan tanya jawab materi yang telah dipresentasikan d. Memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan e. Memberikan contoh dari senyawa ikatan polar dan nonpolar yang ada dalam kehidupan sehari-hari untuk masing-masing kelompok belajar. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya c. Memberikan informasi ke siswa untuk mempersiapkan bahan yang akan didiskusikan selanjutnya. H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber

: Buku kimia kelas X

2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Ikatan kovalen polar adalah ikatan kovalen antara atom-atom,namun pasangan elktron yang dipakai bersama lebih dekat ke salah satu atom yang mempunyai skala keelektronegatifan lebih besar. Ikatan kovalen polar terjadi bila dua atom yang berikatan mempunyai beda keelektronegatifan 2. Ikatan kovalen nonpolar adalah ikatan kovalen antara atom-atom namun pasangan elektron berada pada jarak yang sama dari dua atom yang saling berikatan. Ikatan kovalen nonpolar terjadi bila atom-atom yang berikatan tidak mempunyai selisih skala keelektronegatifan. J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen

1. Apa yang dimaksud ikatan kovalen polar dan nonpolar ? 2. Kepolaran molekul dapat diketahui apabila molekul tersebut dikenakan medan listrik. Contohnya, apabila sisir plastik diusapkan berkali-kali ke kain wol agar diperoleh suatu medan listrik. Kemudian sisir diletakkan dekat dengan aliran air. Air tersebut dibelokkan oleh medan litrik. Mengapa demikian? 4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitri S.Pd

Isti’anah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator 1. Menjelaskan pengertian ikatan logam 2. Menjelaskan terbentuknya ikatan logam. D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang ikatan logam. E. Materi Ajar Ikatan logam F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini 2. Kegiatan Inti a. Memberikan tinjauan materi ke siswa

b. Melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati pada pertemuan kemarin untuk dipresentasikan didepan kelas dengan menggunakan media flash c. Melakukan tanya jawab materi yang telah dipresentasikan d. Memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan e. Memberikan contoh dari senyawa ikatan logam yang ada dalam kehidupan seharihari untuk masing-masing kelompok belajar. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber

: Buku kimia..

2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Ikatan logam adalah ikatan kimia yang terbentukakibat penggunaan bersama elektroelektron oleh atom-atom logam. 2. Kekuatan ikatan logam ditentukan oleh besarnya gaya tarik-menarik antara ion-ion positif dan elektron-elektron bebas. 3. Logam mempunyai beberapa sifat yang unik, antara lain mengkilat, dapat menghantarkan arus listrik, mudah ditempa dan dapat diulur menjadi kawat. J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen 1. Apa yang dimaksud ikatan logam ? 2. Mengapa atom-atom logam membentuk ikatan logam dan bukan ikatan ion atau ikatan kovalen? 3. Magnesium adalah logam di alam cenderung berada sebagai senyawanya. Apa jenis ikatan kimia pada logam magnesium? Jelaskan!

4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitry S.Pd

Isti‘anah

Lampiran 5 KISI - KISI SOAL SIKLUS 1 Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

Standar kompete nsi Memaha mi struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia

Kompetensi Dasar Membandin gkan proses pembentuka n ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi dan ikatan logam serta hubunganny a dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk.

Kls/ smst r X/1

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

: X/1

Alokasi Waktu

: 40 menit

Jenis Tes

: Uraian

Materi

Indikator

Jenj ang

Kestabilan atom - Ikatan ion -Ikatan kovalen Kepolara n senyawa kovalen -ikatan logam

a.Siswa dapat menjelaska n kecenderun gan suatu unsur untuk mencapai kestabilann ya b.Siswa dapat menjelaska n proses terbentukny a ikatan ion c.Siswa dapat menjelaska n proses terbentukny a ikatan kovalen d.Siswa dapat menjelaska n senyawa yang termasuk polar dan non polar e.Siswa dapat menyelesai kan persoalan dikehidupa n seharihari yang berkaitan dengan ikatan kimia.

C4 C2 C2 C1 C2

C4 C2 C1

C2 C3

Soal 1.

Bagaimana suatu atom unsur dapat mencapai kondisi stabil? 2. Bagaimana cara unsur-unsur berikut dalam mencapai kestabilan b. 15P a. 8O 3. Tentukan bagaiman cara bentuknya ikatan ion dari pasangan di bawah ini b. 12Mg dan 8O a. 19K dan 35Br 4. Apa perbedaan antara ikatan kovalen koordinasi dengan ikatan kovalen? 5. Apa saja jenis ikatan kovalen yang ada pada molekul-molekul berikut: b. H2SO4 a. Cl2 6. Apa yang menyebabkan polarisasi pada suatu molekul senyawa? 7. Tentukan apakah ikatan kovalen berikut bersifat non polar atau polar b. HBr a. CO2 8. Dengan mengacu pada ikatan logam, jelaskan sifat-sifat logam berikut : a. Konduktor yang baik b. Dapat ditempa 9. Garam yang kita gunakan untuk memasak ternyata dapat menghantarkan listrik. Mengapa ? 10. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal perak, emas, dan juga aluminium. Perak digunakan untuk kerajinan dan industri penyepuhan, emas digunakan untuk perhiasan, membuat medali dan mata uang, aluminium digunakan untuk peralatan rumah tangga. Ketiga atom tersebut di alam belum dalam keadaan stabil, bagaimana cara atom tersebut untuk memperoleh kestabilan?

Lampiran 6 SOAL ULANGAN HARIAN SIKLUS 1 Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

: X/1

Alokasi Waktu

: 40 menit

Jenis Tes

: Uraian

Jawablah pertanyaan ini dengan jelas pada lembar jawaban!

1. Bagaimana suatu atom unsur dapat mencapai kondisi stabil? 2. Bagaimana cara unsur-unsur berikut dalam mencapai kestabilan a.

8O

b. 15P

3. Tentukan bagaiman cara bentuknya ikatan ion dari pasangan di bawah ini a. 19K dan 35Br b. 12Mg dan 8O 4. Sebutkan syarat-syarat terjadinya ikatan kovalen? 5. Apa perbedaan antara ikatan kovalen koordinasi dengan ikatan kovalen? 6. Apa saja jenis ikatan kovalen yang ada pada molekul-molekul berikut: a. Cl2 b. H2SO4 7. Apa yang menyebabkan polarisasi pada suatu molekul senyawa? 8. Tentukan apakah ikatan kovalen berikut bersifat non polar atau polar a. CO2 b. HBr 9. Garam yang kita gunakan untuk memasak ternyata dapat menghantarkan listrik bila dilarutkan dalam air.Mengapa ? 10. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal perak, emas, dan juga aluminium. Perak digunakan untuk kerajinan dan industri penyepuhan, emas digunakan untuk perhiasan, membuat medali dan mata uang, aluminium digunakan untuk peralatan rumah tangga. Ketiga atom tersebut di alam belum dalam keadaan stabil, bagaimana cara atom tersebut untuk memperoleh kestabilan

Lampiran 7 KUNCI JAWABAN DAN PENILAIAN TES SIKLUS I NO

1

Langkah - Langkah

Penyelesaian

Skor Nilai Supaya stabil, semua unsur mempunyai kecenderungan membentuk ikatan 10

dengan unsur lain agar

kulit terluarnya terisi penuh elektron (mempunyai

susunan elektron seperti gas mulia). 2

Cara unsur-unsur berikut dalam mencapai kestabilannya adalah: a.

8O

memiliki konfigurasi elektron ( 2.6 ). Gas mulia yang mempunyai

2 4

konfigurasi elektron terdekat adalah Ne ( 2.8 ). Jadi atom O akan menangkap 2 elektron untuk membentuk atom O2b.

15P

memiliki konfigurasi elektron ( 2.8.5 ). Gas mulia yang memilki

4

konfigurasi terdekat adalah Ar ( 2.8.8 ). Jadi atom P akan menangkap 3 elektron untuk membentuk atom P33

Cara terbentuknya ikatan ion dari pasangan dibawah ini adalah: a.

19K

dan 35Br

2 4

Konfigurasi elektronnya: 19K

= 2.8.8.1

35Br

= 2.8.18.7

Untuk mencapai konfigurasi oktet,K harus melepas 1 elektron. Sedangkan Br menangkap 1 elektron. Atom K berubah menjadi ion K+ ,sedangkan atom Br menjadi ion BrK ( 2.8.8.1 )

K+ ( 2.8.8 ) + e

Br (2.8.18.7 ) + e

Br-( 2.8.18.8 )

Ion K+ dan ion Br- kemudian bergabung membentuk senyawa dengan rumus KBr b.

12Mg

dan 8O

Konfigurasi elektronnya: 12Mg

=2.8.2

8O

= 2.6

4

Untuk mencapai konfigurasi oktet, Mg harus melepas 2 elektron. Sedangkan O menangkap 2 elektron. Atom Mg berubah menjadi ion Mg2+,sedangkan atom O menjadi ion O24

Perbedaan ikatan kovalen koordinasi dengan ikatan kovalen adalah: a. Ikatan kovalen koordinasi di mana pasangan elektron yang digunakan

2 4

bersama berasal dari salah satu atom. b. Ikatan kovalen yaitu pasangan elektron yang digunakan bersama berasal dari

4

kedua atom. 5

Jenis ikatan kovalen yang ada pada molekul berikut adalah: a. Cl2

2 4

Ikatan kovalen yang terjadi pada Cl2 adalah ikata kovalen tunggal. Cara terbentuknya adalah: x

x x

Cl x x

x x x

x

x Cl x x x

Ikatan kovalen tunggal b. H2SO4 Ikatan kovalen yang terjadi pada H2SO4 adalah ikatan kovalen koordinasi. Cara terbentuknya adalah:

4

6

Yang menyebabkan polarisasi pada molekul suatu senyawa adalah apabila dua

10

atom yang mempunyai elektronegativitas sama bergabung, tiap-tiap atom mempunyai kemampuan yang sama dalam menarik pasangan elektron pada ikatan tersebut. Makin besar perbedaan keelektronegatifan atom-atom yang berikatan makin besar juga sifat kepolarannya. Untuk mengetahui kepolaran dari suatu molekul, dapat dilihat harga momen dipolnya 7

Ikatan kovalen berikut bersifat non polar atau polar a. CO2 bersifat non polar karena pasangan ikatan antara C dan O digunakan

2 4

secara seimbang oleh kedua inti atom yang berikatan sehingga tidak terjadi pengkutuban atau kepolaran muatan.

x x

C

x x

b. HBr bersifat polar karena pasangan ikatan antara H dan Br mempunyai

4

elektronegativitas yang berbeda, Br mempunyai elektronegativitas yang lebih besar daripada hidrogen, sehingga pasangan elektron ikatan akan tertarik ke arah Br.

H

x

x x

Br xx xx

Polar 8

Garam merupakan senyawa ion. Garam apabila dilarutkan dalam air dapat

10

menghantarkan listrik karena dalam keadaan demikian ion-ionnya dapat bergerak bebas. Ion-ion yang bergerak membawa muatan listrik. 9

Sifat-sifat ikatan logam: a. Logam merupakan konduktor yang baik karena elektron valensinya yang

2 4

mudah mengalir. Di dalam ikatan logam, terdapat elektron bebas yang dapat membawa muatan listrik. Jika diberi suatu beda tegangan, maka elektronelektron ini akan bergerak dari kutub negatif ke kutub positif. b. Logam dapat ditempa atau ditarik karena ketika logam dipukul atom-atom

4

logam lainnya hanya bergeser sedangkan ikatan diantaranya tidak terputus. 10

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal perak dan emas. Kedua atom tersebut di alam belum dalam keadaan stabil,

2

cara atom tersebut untuk

memperoleh kestabilan adalah: a. Perak (Ag) mempunyai nomor atom 47. Adapun konfigurasi elektronnya

4

adalah 2.8 .18. 8.8.2. Untuk mencapai kestabilan maka Ag melepaskan 2 elektron. Ag (2.8.18.8.8.2)

+ 2e Ag2+ (2.8.18.8.8)

b. Emas (Au) mempunyai nomor atom 79. Adapun konfigurasi elektronnya adalah 2.8.18. 32.8.8.3. untuk mencapai kestabilan maka Au melepaskan 3 elektron. Au (2.8.18.32.8.8.3)

3e Au3+ + ( 2.8.18.32.8.8)

4

Lampiran 8 HASIL PENGAMATAN KINERJA GURU MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN MEDIA FLASH MX SIKLUS I

Tahap Aspek yang diamati 1 A Pendahuluan 1. Memberikan salam pembuka 2. Menjelaskan tujuan pembelajaran.yaitu tentang Ikatan Kimia 3. Menjelaskan model pembelajaran kontekstual dengan menggunakan media flash Mx B Kegiatan inti 1. Membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 5 orang berdasarkan absensi kerjasama antar anggota 2. Menumbuhkan kelompok untuk bekerja secara berkelompok 3. Membimbing kinerja kelompok baik secara individu maupun klasikal secara proporsional 4. Dapat menjalankan program flash Mx dengan lancar dan baik 5. Membantu siswa yang mangalami kesulitan dalam melaksanakan presentasi. 6. Memantau kerja masing-masing kelompok 7. Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya kepada kelompok yang presentasi 8. Memotivasi siswa untuk mengaitkan materi dalam kehidupan sehari-hari 9. Menganalisis proses hasil diskusi dan hasil kerja tiap kelompok. 10. Memberikan umpan balik C Penutup 1. Membimbing siswa menyimpulkan materi. 2. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya 3. Memberi salam penutup Jumlah 0 Kreteria Penilaian 1 = Kurang 2 = Cukup

2

3

4

√ √ √ √ √ √

√ √ √ √ √ √ √ √

√ 5

√ 10 1

3 = Baik 4 = Baik Sekali Keterangan Persentase penilaian : 86% - 100% =. Pembelajaran Sangat Baik 71% - 85%

= Pembelajaran Baik

56% - 70%

= Pembelajaran Cukup Baik

≤ 55 %

= Pembelajaran Tidak baik

Skor penilaian : Skor maksimal

= 64

Skor yang dicapai = ( 0 x 1) + (2 x 5) + (3 x 10) + (4 x 1) = 0 + 10 + 30 + 4 = 44 Prosentase

=

44 x100% 64

= 68,7% Kemampuan atau kinerja guru menerapkan model pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx dikatakan berhasil jika kemampuan guru dikategorikan baik atau sangat baik, dengan demikian kinerja guru belum berhasil.

Pengamat

Isti’anah

Lampiran 9 HASIL PENGAMATAN KEAKTIFAN SISWA SIKLUS I

No

Skala Penilaian

Kegiatan Siswa 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Perhatian siswa terhadap penjelasan awal guru Kerjasama dalam kelompok Lancar dalam menjalankan program flash Mx tentang Ikatan Kimia Penyampaian materi pada saat presentasi didepan kelas Memberikan jawaban pertanyaan dari siwa pada saat presentasi Keaktifan dalam memberikan pertanyaan Membuat perencanaan dan pembagian kerja yang matang Memberikan tanggapan jawaban dari kelompok presentasi Memberikan contoh materi dalam kehidupan sehari-hari Memperhatikan presentasi kelompok lain

2

3

4

√ √ √ √ √ √ √

Menarik simpulan dari hasil presentasi Jumlah skor

Kreteria Penilaian 1 = Kurang 2 = Cukup 3 = Baik 4 = Baik Sekali Keterangan Porsentase penilaian 86% - 100% =. Keaktifan siswa sangat Baik 71% - 85%

= Keaktifan siswa Baik

56% - 70%

= Keaktifan siswa Cukup Baik

≤ 55 %

= Keaktifan siswa Tidak Baik

√ √ √

1

3

√ 5

2

Kriteria penilaian: Skor Maksimal

= 44

Skor yang dicapai = (1 x 1) + (2 x 3) + (3 x 5) + (4 x 2) = 1 + 6 + 15 + 8 = 30 Prosentase

=

30 x100% 44

= 0,681 x 100% = 68,1% Pembelajaran dikatakan berhasil jika keaktifan siswa dikategorikan baik. Dengan prosentase 68,1% maka pembelajaran dikatakan belum berhasil.

Pengamat

Isti’anah

Lampiran 10 HASIL EVALUASI SIKLUS II Hasil Evaluasi Siklus II No

Nama

1

Ketuntasan Belajar Nilai

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Tidak Tuntas

Tuntas

1

Agus Nafe’

10

8

8

4

10

10

10

6

10

8

84



2

Ahmad Nur Kolis

10

10

8

4

8

4

8

8

4

6

70



3

Ahmad Qodrianto

10

10

4

8

8

10

6

10

4

6

76



4

Ahmad Zammir R

10

10

10

8

4

8

4

6

10

4

74



5

Ahmad Zamroni

10

8

10

6

8

10

10

10

8

4

84



6

Ali Afyuddin S

10

10

10

8

6

10

8

8

8

10

88



7

Dhimas Immawan

8

8

10

4

10

6

4

10

8

2

70



8

Fery Mukti

10

10

10

8

10

6

8

8

10

8

88



9

Ihza Basna M

10

6

8

6

6

4

8

6

6

4

64

10

Ilhammudin Khaq

10

8

4

8

4

6

4

8

8

10

70



11

Iqbal Darwanto

10

10

10

6

8

10

4

8

10

8

84



12

M. Sutrisno

10

10

6

10

4

4

8

8

6

8

74



13

Maftuh Al Irsyadi

10

10

10

8

10

10

6

8

10

8

90



14

Moh. Haikal A.R

10

8

8

10

8

10

10

6

10

10

90



15

Moh. Syaiful A

10

8

8

8

8

8

4

8

8

10

80



16

Moh. Taufiq

10

8

6

4

4

6

8

8

4

4

62

17

Moh. Zulfikar

10

10

10

8

4

6

4

10

8

6

76



18

Moh. Fiqqri F. N

10

10

10

8

6

10

10

8

8

4

84



19

Moh. Ainun Nuha

10

10

8

8

6

4

8

4

8

6

72



20

Moh. Fatah Yasin

8

10

10

10

8

10

6

8

8

8

86



21

Moh. Ghozy N. N

10

10

10

8

4

8

6

4

10

10

80



22

Moh. Solihul U

10

8

10

4

10

8

4

6

8

8

76



23

Moh. Ulil Hidayat

8

8

6

4

8

2

4

8

2

6

56

24

Moh. Yasin

10

10

10

10

8

10

10

10

8

10

96

25

Nur Rohmad

10

6

6

8

10

6

4

2

2

2

56

26

Rizal Mazid

10

6

6

8

4

10

10

4

6

6

70



27

Rosyad Ulil Albab

10

10

8

8

6

8

8

8

10

10

86



28

Ulin Nuha

10

10

10

2

8

6

10

8

4

6

74



29

Widha Dama W.P

10

10

10

8

4

10

10

10

8

6

86



30

Yhosi Agustian

8

10

10

2

10

8

8

6

8

8

78



Jumlah

2324





√ √ √

4

26

Keterangan: 1. Nilai rata-rata

x= =

∑x

i

N 2324 = 77,4 30

Keterangan : x

= rata-rata hasil tes

∑xi

= jumlah nilai kelas

n

= banyaknya siswa

2. Ketuntasan Belajar a. Ketuntasan belajar individu Siswa yang tuntas belajar

= 26

Siwa yang tidak tuntas belajar

=4

b. Ketuntasan belajar klasikal

= P= =

B X 100% N

26 × 100% 30

= 86,6 % Keterangan : P

= pencapaian prosentase

B

= banyaknya siswa yang tuntas belajar

N

= banyaknya siswa yang mengikuti tes

Dari ketuntasan belajar klasikal yang diperoleh sebesar 86,6% maka pembelajaran dikatakan berhasil, sesuai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan yaitu sebesar 85%.

Lampiran 11 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Siklus II

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator Menjelaskan suatu unsur untuk mencapai kestabilannya dengan cara oktet dan duplet. D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang pembentukan suatu unsur untuk mencapai kestabilannya dengan cara oktet dan duplet. E. Materi Ajar 1. Ikatan Kimia Kestabilan atom F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini

2. Kegiatan Inti a. Memperkenalkan program flash mx pada siswa b. Memberikan penjelasan tentang materi kestabilan atom dengan menggunakan program flash Mx c. Membagi kelas ke dalam kelompok belajar berdasarkan absensi kelas d. Setiap kelompok melakukan diskusi dari materi yang telah disampaikan e. Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk mengajukan pertanyaan f. Membahas secara bersama-sama dari setiap pertanyaan yang diajukan tadi. g. Setiap kelompok berlatih menentukan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan kestabilan atom. Contohnya berlatih bagaimana suatu unsur yang ada di sekitar kita seperti emas, perak, besi, dan lainnya, bisa mencapai kestabilan seperti gas mulia. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya c. Memberikan informasi ke siswa untuk mempersiapkan bahan yang akan didiskusikan selanjutnya. H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber : Buku kimia.. 2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Diantara atom-atom di alam hanya atom gas mulia yang stabil 2. Pada dasarnya elektron mempunyai sifat yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa kestabilan suatu atom ditentukan oleh konfigurasi elektron atom tersebut 3. Kemampuan suatu atom untuk membentuk ikatan dengan atom lain terutama ditentukan oleh konfigurasi elektron terluarnya disebut elektron valensi 4. G. N Lewis dan W.Kosel mengaitkan kestabilan gas mulia dengan konfigurasi elektronnya. Gas mulia mempunyai konfigurasi penuh yaitu : konfigurasi oktet

(mempunyai 8 elektron pada kulit terluar) kecuali helium dengan konfigurasi duplet (2 elektron pada kulit terluar) J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen 1. Mengapa unsur gas mulia merupakan unsur yang paling stabil? 2. Bagaimana cara unsur-unsur berikut dalam mencapai kestabilan : a.

11Na

c. 4Be

b.

25Mn

d. 20Ca

3. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal besi dan tembaga, diantara keduanya mana yang lebih stabil? 4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitry S.Pd

Isti‘anah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator Menjelaskan pengertian ikatan ion. Menjelaskan terbentuknya ikatan ion dan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang pengertian ikatan ion dan proses pembentukan Ikatan Ion. E. Materi Ajar Ikatan Ion F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.

2. Kegiatan Inti a. Memberikan tinjauan materi ke siswa b. Melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati pada pertemuan kemarin untuk dipresentasikan didepan kelas dengan menggunakan media flash c. Melakukan tanya jawab materi yang telah dipresentasikan d. Memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan e. Memberikan contoh dari senyawa ikatan ion yang ada dalam kehidupan sehari-hari untuk masing-masing kelompok belajar. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya c. Memberikan informasi ke siswa untuk mempersiapkan bahan yang akan didiskusikan selanjutnya. H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber

: Buku kimia..

2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Ikatan ion adalah ikatan yang terjadi karena adanya perpindahan elektron dari satu atom ke atom yang lain. 2. Atom yang memiliki elektron valensi (elektron terluar) 1,2,3 atau 3 cenderung melepaskan elektron 3. Atom yang memiliki elektron valensi (elektron terluar) 4,5,6 atau 7 cenderung menangkap elektron. 4. Ikatan ion terjadi antara unsur-unsur logam (golongan IA dan IIA) dengan unsur-unsur nonlogam(golongan VIIA dan VIA). 5. Sifat fisis senyawa ion adalah pada suhu ruang berupa padatan, titik leleh dan titik didih tinggi, keras tetapi rapuh, larut dalam air tapi tidak larut dalam pelarut organik.

J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen 1. Apa yang dimaksud dengan ikatan ion? 2. Bagaimanakah terbentuknya ikatan ion antara 19K dan 16S 3. Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal garam,yang biasanya kita gunakan untuk memasak. Garam rumus kimianya NaCl,termasuk ikatan ion. Bagaimana terbentuknya ikatan ion tersebut? 4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitry S.Pd

Isti’anah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator 1. Menjelaskan proses terjadinya ikatan kovalen tunggal 2. Menjelaskan proses terjadinya ikatan kovalen rangkap dua 3. Menjelaskan proses terjadinya ikatan kovalen rangkap tiga 4. Menjelaskan proses terjadinya ikatan kovalen koordinasi D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang proses pembentukan Ikatan kovalen tunggal, kovalen rangkap dua, kovalen rangkap tiga, kovalen koordinasi beserta contohnya. E. Materi Ajar 1. Ikatan Kovalen 2. Ikatan Kovalen Tunggal 3. Ikatan Kovalen Rangkap Dua 4. Ikatan Kovalen Rangkap Tiga 5. Ikatan Kovalen Koordinasi F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual

G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini 2. Kegiatan Inti: a. Memberikan tinjauan materi ke siswa b. Melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati pada pertemuan kemarin untuk dipresentasikan didepan kelas dengan menggunakan media flash c. Melakukan tanya jawab materi yang telah dipresentasikan d. Memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan e. Memberikan contoh dari senyawa ikatan kovalen yang ada dalam kehidupan seharihari untuk masing-masing kelompok belajar. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya c. Memberikan informasi ke siswa untuk mempersiapkan bahan yang akan didiskusikan selanjutnya. H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber

: Buku kimia..

2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Ikatan kovalen adalah ikatan antara dua buah atom atau lebih yang didasarkan pada pemakaian elektron valensi secara bersama-sama. 2. Ikatan kovalen dapat terjadi jika atom-atom yang bergabung menggunakan sepasang elektron secara bersama-sama. Hal ini bertujuan supaya susunan elektronnya mengikuti aturan oktet dan duplet.

3. Ikatan kovalen tunggal adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan bersama satu pasang elektron . Contoh ikatan dalam molekul H2 4. Ikatan kovalen rangkap dua adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan bersama dua pasang elektron. Contoh ikatan dalam molekul O2 5. Ikatan kovalen rangkap tiga adalah ikatan kovalen yang terjadi karena penggunaan bersama tiga pasang elektron. Contoh ikatan dalam molekul N2 6. Ikatan kovalen koordinasi adalah ikatan kovalen dimana pasangan elektron yang digunakan bersama berasal dari salah satu atom. Contoh ikatan dalam molekul HNO3 7. Sifat senyawa kovalen antara lain: berupa zat cair dan zat padat lunak, titik leleh dan titik didih rendah, lunak dan tidak rapuh, tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik. J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen 1. Ada berapa ikatan kovalen? Beri contoh masing-masing? 2.

Jelaskan jenis ikatan kovalen apa yang terjadi pada molekul dibawah ini a. SO2 b. F2

3. Kebanyakan zat kimia di alam mempunyai ikatan kovalen,contohnya gas karbondioksida (CO2). Tunjukkan ikatan kovalen apa yang terjadi? 4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitry S.Pd

Isti‘anah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator 1. Menjelaskan pengertian ikatan kovalen polar dan nonpolar 2. Menjelaskan terbentuknya ikatan kovalen polar dan nonpolar serta contoh dalam kehidupan sehari-hari. D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang ikatan kovalen polar dan nonpolar E. Materi Ajar Ikatan kovalen polar dan nonpolar F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.

2. Kegiatan Inti a. Memberikan tinjauan materi ke siswa b. Melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati pada pertemuan kemarin untuk dipresentasikan didepan kelas dengan menggunakan media flash c. Melakukan tanya jawab materi yang telah dipresentasikan d. Memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan e. Memberikan contoh dari senyawa ikatan polar dan nonpolar yang ada dalam kehidupan sehari-hari untuk masing-masing kelompok belajar. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya c. Memberikan informasi ke siswa untuk mempersiapkan bahan yang akan didiskusikan selanjutnya. H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber

: Buku kimia..

2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Ikatan kovalen polar adalah ikatan kovalen antara atom-atom,namun pasangan elktron yang dipakai bersama lebih dekat ke salah satu atom yang mempunyai skala keelektronegatifan lebih besar. Ikatan kovalen polar terjadi bila dua atom yang berikatan mempunyai beda keelektronegatifan 2. Ikatan kovalen nonpolar adalah ikatan kovalen antara atom-atom namun pasangan elektron berada pada jarak yang sama dari dua atom yang saling berikatan. Ikatan kovalen nonpolar terjadi bila atom-atom yang berikatan tidak mempunyai selisih skala keelektronegatifan. J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen

1. Apa yang dimaksud ikatan kovalen polar dan nonpolar ? 2. Kepolaran molekul dapat diketahui apabila molekul tersebut dikenakan medan listrik. Contohnya, apabila sisir plastik diusapkan berkali-kali ke kain wol agar diperoleh suatu medan listrik. Kemudian sisir diletakkan dekat dengan aliran air. Air tersebut dibelokkan oleh medan litrik. Mengapa demikian? 4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitri S.Pd

Isti’anah

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

: MA Salafiyah Pati

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

:X/I

Alokasi Waktu

: 2 x 40 menit

A. Standar Kompetensi Mamahami struktur atom, sifat periodik unsur dan ikatan kimia B. Kompetensi Dasar Membandingkan proses pembentukan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi, dan ikatan logam serta hubungannya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk. C. Indikator 1. Menjelaskan pengertian ikatan logam 2. Menjelaskan terbentuknya ikatan logam. D. Tujuan Pembelajaran Setelah menerima materi siswa dapat memahami tentang ikatan logam. E. Materi Ajar Ikatan logam F. Metode Pembelajaran Pendekatan kontekstual G. Strategi Pembelajaran 1. Kegiatan Awal a. Apersepsi b. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam materi ini. c. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini 2. Kegiatan Inti a. Memberikan tinjauan materi ke siswa

b. Melaksanakan diskusi kelompok belajar yang telah disepakati pada pertemuan kemarin untuk dipresentasikan didepan kelas dengan menggunakan media flash c. Melakukan tanya jawab materi yang telah dipresentasikan d. Memberikan point pada setiap siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan e. Memberikan contoh dari senyawa ikatan logam yang ada dalam

kehidupan sehari-

hari untuk masing-masing kelompok belajar. 3. Kegiatan akhir a. Refleksi b. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya H. Alat dan Sumber Belajar 1. Sumber

: Buku kimia..

2. Alat a. LCD proyektor b. Laptop I. Uraian materi 1. Ikatan logam adalah ikatan kimia yang terbentukakibat penggunaan bersama elektroelektron oleh atom-atom logam. 2. Kekuatan ikatan logam ditentukan oleh besarnya gaya tarik-menarik antara ion-ion positif dan elektron-elektron bebas. 3. Logam mempunyai beberapa sifat yang unik, antara lain mengkilat, dapat menghantarkan arus listrik, mudah ditempa dan dapat diulur menjadi kawat. J. Penilaian 1. Teknik : tes tulis 2. Bentuk instrumen : tes uraian. 3. Instrumen 1. Apa yang dimaksud ikatan logam ? 2. Mengapa atom-atom logam membentuk ikatan logam dan bukan ikatan ion atau ikatan kovalen? 3. Magnesium adalah logam di alam cenderung berada sebagai senyawanya. Apa jenis ikatan kimia pada logam magnesium? Jelaskan!

4. Pedoman penilaian

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran

Praktikan

Edi Al Fitry S.Pd

Isti‘anah

Lampiran 12 KISI - KISI SOAL SIKLUS II

Standa r kompe tensi Mema hami strukt ur atom, sifat period ik unsur dan ikatan kimia

Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

: X/1

Alokasi Waktu

: 40 menit

Jenis Tes

: Uraian

Kompeten si Dasar

Kls/ smst r

Materi

Indikator

Memband ingkan proses pembentu kan ikatan ion, ikatan kovalen, ikatan kovalen koordinasi dan ikatan logam serta hubungan nya dengan sifat fisik senyawa yang terbentuk.

X/1

-Kestabilan atom - Ikatan ion -Ikatan kovalen -Kepolaran senyawa kovalen -ikatan logam

a.Siswa dapat menjelaska n kecenderun gan suatu unsur untuk mencapai kestabilann ya b.Siswa dapat menjelaska n proses terbentukny a ikatan ion c.Siswa dapat menjelaska n proses terbentukny a ikatan kovalen d.Siswa dapat menjelaska n senyawa yang termasuk polar dan non polar e.Siswa dapat menyelesai kan persoalan dikehidupa n seharihari yang berkaitan dengan ikatan kimia.

Je nj an g C2 C2

C2 C1 C4

C1 C2

C2

C2

C3

Soal

1.

Mengapa unsur gas mulia merupakan unsur-unsur yang paling stabil? 2. Bagaimana cara unsur-unsur berikut dalam mencapai kestabilan b. 21Sc a. 33As 3. Tentukan bagaimana cara terbentuknya ikatan ion dari pasangan dibawah ini b. 20Ca dan 17Cl a. 13Al dan 9F 4. Sebutkan syarat-syarat terjadinya ikatan kovalen? 5. Tentukan ikatan kovalen apa yang terjadi pada molekul berikut: b. CH3NO2 a. C2H2 6. Apa perbedaan antara ikatan kovalen polar atau non polar? 7. Tentukan apakah molekul berikut bersifat polar atau non polar b. NH3 a. F2 8. Dengan mengacu pada ikatan logam, jelaskan sifat-sifat logam berikut: a. Mempunyai permukaan mengkilap b. Berupa padatan pada suhu ruang 9. Parfum, bensin, alkohol, cuka, adalah benda yang sering kita jumpai. Benda-benda tersebut merupakan senyawa kovalen dilihat dari sifat senyawanya. Mengapa? 10. Kebanyakan zat kimia di alam mempunyai ikatan kovalen. Contohnya air yang kita minum, gas oksigen yang kita hirup. Bagaimanakah terbentuknya ikatan kovalen tersebut?

Lampiran 13 SOAL ULANGAN HARIAN SIKLUS II Mata Pelajaran

: Kimia

Materi Pokok

: Ikatan Kimia

Kelas / Semester

: X/1

Alokasi Waktu

: 40 menit

Jenis Tes

: Uraian

Jawablah pertanyaan ini dengan benar pada lembar jawab!

1. Mengapa unsur gas mulia merupakan unsur-unsur yang paling stabil? 2. Bagaimana cara unsur-unsur berikut dalam mencapai kestabilan a.

33As

b.

21Sc

3. Tentukan bagaimana cara terbentuknya ikatan ion dari pasangan dibawah ini a.

13Al

dan

9F

b.

20Ca

dan

17Cl

4. Sebutkan syarat-syarat terjadinya ikatan kovalen? 5. Tentukan ikatan kovalen apa yang terjadi pada molekul berikut: a. C2H2 b. CH3NO2 6. Apa perbedaan antara ikatan kovalen polar atau non polar? 7. Tentukan apakah molekul berikut bersifat polar atau ikatan kovalen non polar a. F2 b. NH3 8. Dengan mengacu pada ikatan logam, jelaskan sifat-sifat logam berikut: a. Mempunyai permukaan mengkilap b. Berupa padatan pada suhu ruang 9. Parfum, bensin, alkohol, cuka, adalah benda yang sering kita jumpai. Benda-benda tersebut merupakan senyawa kovalen bila dilihat dari sifat senyawanya. Mengapa? 10. Kebanyakan zat kimia di alam mempunyai ikatan kovalen. Contohnya air yang kita minum, gas oksigen yang kita hirup. Bagaimanakah terbentuknya ikatan kovalen tersebut

Lampiran 14 KUNCI JAWABAN DAN PENILAIAN TES SIKLUS II No

1

Langkah - Langkah

Skor Nilai Unsur gas mulia terdiri dari helium, neon, argon, kripton, xenon, dan radon. 10

Unsur-

Penyelesaian

unsur tersebut merupakan unsur-unsur stabil karena pada kulit

terluarnya sudah terisi penuh oleh elektron. Oleh karena itu, unsur-unsur gas mulia sukar bereaksi dengan unsur lain, dan umumnya terdapat di alam dalam keadaan bebas sebagai molekul monoatomik (beratom satu). 2

Cara unsur-unsur berikut dalam mencapai kestabilan adalah: a.

33As

memiliki konfigurasi elektron ( 2.8.18.5 ). Gas mulia yang

2

mempunyai konfigurasi elektron terdekat adalah Kr ( 2.8.18.8). Jadi atom As akan menangkap 3 elektron untuk membentuk atom As3b.

21Sc

4

memiliki konfigurasi elektron ( 2.8.8.3 ). Gas mulia yang

mempunyai konfigurasi elektron terdekat adalah Ar ( 2.8.8). Jadi atom Sc akan melepas 3 elektron untuk membentuk atom Sc3+ 3

Cara terbentuknya ikatan ion dari pasangan dibawah ini: a.

13Al

4 2

dan 9F

Konfigurasi elektronnya: 13Al

= 2.8.3

9F

= 2.7

4

Al melepas 3 elektron membentuk ion Al3+,sedangkan F menyerap 1 elektron membentuk ion FAl ( 2.8.3 )

Al3+ ( 2.8 ) + 3e

F ( 2.7 ) + e

F- ( 2.8 )

Ion Al3+ dan ion F- membentuk senyawa dengan rumus empiris AlF3 b.

20Ca

dan 17Cl

Konfigurasi elektronnya: 20Ca

=2.8.8.2

17Cl

= 2.8.7

Ca melepas 2 elektron membentuk ion Ca2+,sedangkan Cl menyerap 1

4

elektron membentuk ion Cl-

4

Ca ( 2.8.8.2 )

Ca2+ ( 2.8.8 ) + 2e

Cl ( 2.8.7 ) + e

Cl- ( 2.8.8 )

Syarat –syarat terjadinya ikatan kovalen adalah:

2

a. Hanya elektron valensi saja yang terlibat b. Penggabungan elektron menjadikan setiap atom untuk mencapai kestabilan

8

c. Maksimum tiga pasangan elektron yang boleh bergabung. d. Ikatan ini terjadi antara unsur nonlogam dengan nonlogam yang samasama ingin menangkap elektron 5

Ikatan kovalen yang terjadi pada molekul berikut:

2

a . Ikatan yang terjadi pada C2H2 adalah ikatan kovalen rangkap 3 karena adanya penggunaan bersama tiga pasang elektron.

H xC

xx xx xx

4

Cx H

HC

CH

Ikatan kovalen rangkap 3 b. Ikatan yang terjadi pada CH3NO2 adalah ikatan kovalen rangkap dua karena digunakan bersama dua pasang elektron. Ikatan kovalen koordinasi karena adanya pasangan elektron yang digunakan bersama berasal dari salah satu atom. Ikatan kovalen tunggal karena digunakan bersama satu pasang elektron.

4

Ikatan kovalen rangkap dua

x

√√

H x C √ N √√ H

Ikatan kovalen koordinasi

Ikatan kovalen tunggal 6

Perbedaan antara antara ikatan kovalen polar dan nonpolar adalah:

2

Nonpolar

a. Perbedaan keelektronegatifan sangat kecil b. Molekul simetris

4

c. Atom pusat tidak punya PEB d. Tidak terjadi polarisasi e. Tidak dibelokkan medan listrik Polar

a. Perbedaan keelektronegatifan

4

b. Molekul asimetris c. Atom pusat punya PEB d. Terjadi polarisasi e. Dibelokkan medan listrik 7

Molekul berikut bersifat polar atau ikatan kovalen nonpolar

2

a. F2 bersifat nonpolar karena pasangan ikatan unsur F digunakan secara seimbang oleh kedua inti atom yang berikatan sehingga tidak terjadi pengkutuban atau kepolaran muatan.

4

x x

xx

F xx

x

x

xx x x xx

F

Non polar b. NH3 bersifat polar karena atom yang berada di tengah molekul (atom

4

pusat) mempunyai pasangan elektron bebas sehingga pasangan elektron berikatan akan tertarik ke salah satu atom. xx

H

xN x x

H

H 8

Sifat-sifat ikatan logam:

2

a. Atom-atom logam bergabung oleh ikatan logam yang sangat kuat membentuk struktur kristal yang rapat. Hal ini menyebabkan atom-

4

atom tidak memiliki kebebasan bergerak seperti halnya pada zat cair. b. Di dalam elektron logam, terdapat elektron-elektron bebas. Sewaktu cahaya putih jatuh pada permukaan logam, maka elektron-elektron bebas akan menyerap energi cahaya tersebut. Elektron-elektron akan

4

melepas kembali energi tersebut dalam bentuk radiasi elektromagnetik dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi cahaya awal. Oleh karena frekuensinya sama, maka kita melihatnya sebagai cahaya yang datang. Pantulan tersebut membuat permukaan logam mengkilap. 9

Zat mudah menguap disebut volatil. Zat yang volatil adalah senyawa

10

kovalen dengan titik didih rendah, sehingga pada suhu kamar sudah cukup banyak yang menguap. Menguap adalah perubahan padatan atau cairan berubah menjadi uap. Tidak ada senyawa ionik yang volatil. 10

Kebanyakan zat kimia di alam mempunyai ikatan kovalen. Contohnya air yang kita minum, gas oksigen yang kita hirup. kovalen tersebut adalah:

Terbentuknya ikatan

2

a. Air merupakan kebutuhan kita sehari-hari. Rumus kimia air H2O,

4

termasuk ikatan kovalen tunggal. Adapun proses terbentuknya adalah:

2H +

xx x

xx

x

H

xx

x

x

H

x

H-

xx xx

-H

H- O- H

b. Ikatan yang terjadi pada O2 adalah ikatan kovalen rangkap 2. Adapun proses terbentuknya adalah:

x x

xx

x x x x

xx

4 x x Ikatan kovalen rangkap dua

Lampiran 15 HASIL PENGAMATAN KINERJA GURU MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DENGAN MEDIA FLASH MX SIKLUS II

Tahap Aspek yang diamati 1 A Pendahuluan 1. Memberikan salam pembuka 2. Menjelaskan tujuan pembelajaran.yaitu tentang Ikatan Kimia 3. Menjelaskan model pembelajaran dengan menggunakan media flash Mx B Kegiatan inti 1. Membentuk kelompok belajar yang terdiri dari 5 orang berdasarkan absensi kerjasama antar anggota 2. Menumbuhkan kelompok untuk bekerja secara berkelompok 3. Membimbing kinerja kelompok baik secara individu maupun klasikal secara proporsional 4. Dapat menjalankan program flash Mx dengan lancar dan baik 5. Membantu siswa yang mangalami kesulitan dalam melaksanakan presentasi. 6. Memantau kerja masing-masing kelompok 7. Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya kepada kelompok yang presentasi 8. Memotivasi siswa untuk mengaitkan materi dalam kehidupan sehari-hari 9. Menganalisis proses hasil diskusi dan hasil kerja tiap kelompok. 10. Memberikan umpan balik C Penutup 1. Membimbing siswa menyimpulkan materi. 2. Mengarahkan siswa untuk mempelajari materi selanjutnya 3. Memberi salam penutup Jumlah 0

2

3

4

√ √ √

√ √ √ √ √ √ √ √

√ √ √ √ 2

7

√ 7

Kreteria Penilaian 1 = Kurang 2 = Cukup 3 = Baik 4 = Baik Sekali Keterangan Persentase penilaian : 86% - 100% =. Pembelajaran Sangat Baik 71% - 85%

= Pembelajaran Baik

56% - 70%

= Pembelajaran Cukup Baik

≤ 55 %

= Pembelajaran Tidak baik

Skor penilaian : Skor maksimal

= 64

Skor yang dicapai = (0 x 1) + (2 x 2) + (3 x 7) + (4 x 7) = 0 + 4 + 21 + 28 = 53 Prosentase

=

53 x100% 64

= 82,8 % Kemampuan atau kinerja guru menerapkan model pembelajaran kontekstual dengan media flash Mx dikatakan berhasil jika kemampuan guru dikategorikan baik atau sangat baik, dengan demikian kinerja guru berhasil.

Pengamat

Isti’anah

Lampiran 16 HASIL PENGAMATAN KEAKTIFAN SISWA SIKLUS II

No

Skala Penilaian

Kegiatan Siswa 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Perhatian siswa terhadap penjelasan awal guru Kerjasama dalam kelompok Lancar dalam menjalankan program flash Mx tentang Ikatan Kimia Penyampaian materi pada saat presentasi didepan kelas Memberikan jawaban pertanyaan dari siwa pada saat presentasi

2

Kreteria Penilaian 1 = Kurang 2 = Cukup 3 = Baik 4 = Baik Sekali Keterangan Porsentase penilaian 86% - 100% =. Keaktifan siswa sangat Baik 71% - 85%

= Keaktifan siswa Baik

56% - 70%

= Keaktifan siswa Cukup Baik

≤ 55 %

= Keaktifan siswa Tidak Baik

4

√ √ √ √ √ √

Keaktifan dalam memberikan pertanyaan Membuat perencanaan dan pembagian kerja yang matang Memberikan tanggapan jawaban dari kelompok presentasi Memberikan contoh materi dalam kehidupan sehari-hari Memperhatikan presentasi kelompok lain Menarik simpulan dari hasil presentasi Jumlah skor

3

√ √ √ √ 0

1

√ 7

3

Kriteria penilaian: Skor Maksimal

= 44

Skor yang dicapai = (1 x 0) + (2 x 1) + (3 x 7) + (4 x 3) = 1 + 2 + 21 + 12 = 37 Prosentase

=

37 x100% 44

= 0,84 x 100% = 84% Pembelajaran dikatakan berhasil jika keaktifan siswa dikategorikan baik. Dengan prosentase 84 % maka pembelajaran dikatakan berhasil.

Pengamat

Isti’anah

LAMPIRAN-LAMPIRAN No

Lampiran

Judul Lampiran

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8

Daftar nama siswa kelas X A Salafiyah Pati Tahun Ajaran 2009/2010 Daftar Kelompok Belajar Hasil Evaluasi Siklus I Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I Kisi – Kisi Soal Siklus I Soal Ulangan Harian Siklus I Kunci Jawaban dan Penilaian Tes Siklus I Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus I

Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11

Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus I Hasil Evaluasi Siklus II Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II

Lampiran 12

Kisi – Kisi Soal Siklus II

13

Lampiran 13

Soal Ulangan Harian Siklus II

14

Lampiran 14

Kunci Jawaban dan Penilaian Tes Siklus II

15 16

Lampiran 15 Lampiran 16

Hasil Pengamatan Kinerja Guru Siklus II Hasil Pengamatan Keaktifan Siswa Siklus II

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12