Pengaruh Komponen Modal Kerja Terhadap

pembelian bahan baku, ... 35 | Jurnal Akuntansi, ... c. Perputaran Persediaan Rasio perputaran persediaan adalah rasio untuk...

0 downloads 27 Views 366KB Size
Article History

Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis Vol. 4, No. 1, July 2016, 34-40

Received May, 2016

p-ISSN: 2337-7887

Accepted June, 2016

Pengaruh Komponen Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di BEI

1)

Resky Amelia Syafitri1), Seto Sulaksono Adi Wibowo2) Jurusan Manajemen Bisnis, Politeknik Negeri Batam, Batam 29461, email: [email protected]hoo.com 2) Jurusan Manajemen Bisnis, Politeknik Negeri Batam, Batam 29461, email: [email protected]

Abstract This study aimed to analyze the effect of working capital on the profitability. Component of working capital in this study was measured with a receivable turnover ratio, working capital turnover ratio, inventory turnover ratio, and total asset turnover ratio. The profitability in this study was measured using the Return on Assets. This study using purposive sampling for sampling and using 16 food and beverage in 2010-2014 in the Indonesia Stock Exchange. This study uses Eviews version 7.0. The results of this study shows that receivable turnover ratio has no significant effect on the return on assets, working capital turnover ratio has significant positive effect on return on assets, inventory turnover ratio has no significant effect on return on assets, and total assets turnover ratio has a significant positive effect on return on assets. Keywords: receivable turnover, working capital turnover, inventory turnover, total asset turnover, profitability

1. PENDAHULUAN Dewasa ini, banyak perusahaan-perusahaan yang berdiri di Indonesia pada berbagai sektor industri terutama sektor manufaktur. Perkembangan industri manufaktur selalu mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, hal ini menyebabkan perusahaan-perusahaan manufaktur memiliki peran dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Perusahaan-perusahaan ini membantu mengurangi populasi pengangguran sehingga memberikan dampak bagi perusahaanperusahaan yang ada karena banyaknya perusahaan baru yang membuat semakin besar persaingan. Persaingan yang ketat pada perusahaan-perusahaan yang baru berkembang ataupun yang sudah lebih dulu maju mendorong masing-masing manajemen dari setiap perusahaan semakin berusaha untuk memaksimalkan kinerjanya dengan berbagai cara yang dapat dilakukan agar perusahaan mereka tidak tersaingi. Penelitian terdahulu oleh Sandep (2013), mengatakan bahwa manajemen modal kerja yang tepat membantu dalam penggunaan sumber daya yang lebih efisien. Penggunaan modal kerja dalam perusahaan dilakukan dengan seefisien dan seefektif mungkin agar tidak terjadi dana menganggur ataupun pengeluaran yang tidak diperlukan dan laba yang didapatkan maksimal. Keefisienan modal kerja ini dapat diukur salah satunya dengan menggunakan rasio aktivitas. Penggunaan modal kerja yang baik dan efektif menyebabkan kegiatan operasional perusahaan dapat meningkatkan laba perusahaan. Selain itu, modal kerja dapat digunakan untuk membiayai pembelian bahan baku, pembayaran upah,

pembayaran gaji karyawan dan biaya operasional perusahaan lainnya. Semakin cepat tingkat perputaran komponenkomponen modal kerja, maka semakin rendah pula jumlah modal yang diinvestasikan pada komponen tersebut. Hal ini terjadi karena semakin tinggi rasio maka semakin pendek atau semakin cepat pula jumlah modal yang kembali pada perusahaan sehingga perusahaan bisa memperoleh profit yang lebih besar dari perputaran modal kerja tersebut. Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam mendapatkan laba selama periode tertentu. Sugiyarso & Winarni (2005) mengatakan bahwa profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan total aktiva maupun modal sendiri. Profitabilitas dapat diukur dengan menggunakan beberapa pengukuran, yaitu Return on Investment, Return on Asset, Return on Equity, dan dengan pengukuran lainnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh komponen modal kerja terhadap profitabilitas perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman. 2. Kerangka Teori dan Pengembangan Hipotesis 2.1 Teori Literatur 2.1.1 Teori Agen Teori agen adalah sebuah teori yang menggambarkan tentang hubungan antara principal dan agen. Principal yang dimaksud adalah pemegang saham dan agennya adalah manajer perusahaan. Pada umumnya profitabilitas adalah suatu ukuran atas kinerja perusahaan. Pada teori ini manajer memiliki

34 | Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis | Vol. 4, No. 1, July 2016, 34-40 | p-ISSN: 2337-7887

kewajiban untuk meningkatkan kemakmuran principal, oleh karena itu manajer melaksanakan dengan cara meningkatkan profitabilitas perusahaan. 2.1.2 Komponen Modak Kerja Modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk aktiva lancar yang digunakan untuk membiayai operasional perusahaan dan yang nantinya harus diisi kembali sesuai dengan nominal yang telah ditetapkan. Komponen modal kerja dalam penelitian ini adalah: a. Perputaran Piutang Rasio ini digunakan untuk mengetahui berapa banyak piutang dagang dalam suatu perusahaan mengalami perputaran, dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

b.

Perputaran Modal Kerja Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat keefektifan modal kerja suatu perusahaan dalam satu periode, dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

c.

Perputaran Persediaan Rasio perputaran persediaan adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mengelola persediaan, dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

d.

Total Assets Turnover Rasio perputaran total aset adalah rasio untuk mengetahui seberapa banyak aset yang berputar untuk memperoleh laba, dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

2.1.3 Profitabilitas Tingkat profitabilitas yang tinggi pada perusahaan akan membuat daya saing antarperusahaan. Profitabilitas sangat penting bagi perusahaan karena untuk melangsungkan hidup perusahaan tanpa adanya keuntungan akan sulit bagi perusahaan untuk menarik investor-investor dari luar. Pada penelitian ini profitabilitas diukur dengan menggunakan ROA. Rasio ini menujukkan besarnya pendapatan yang diperoleh perusahaan dari seluruh aset yang dimiliki. Rumus ROA dapat dihitung sebagai berikut:

2.2 Kerangka Penelitian Warrad (2013), menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan positif antara perputaran modal kerja dengan profitabilitas perusahaan dengan pengukuran return on asset. Kray (2014), dalam penelitiannya menemukan bahwa variabel current ratio, liquid ratio, rasio perputaran persediaan, rasio perputaran piutang, cash profit margin, working capital to sales, dan current asset to tottal assets berpengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan. Penelitian yang dilakukan Sen (2009), menemukan bahwa variabel siklus konversi kas, tingkat modal kerja neto, rasio lancar, periode piutang, dan periode pe\rsediaan memiliki hubungan negatif terhadap profitabilitas perusahaan yang diukur dengan Return on Assets. Tidak hanya dari variabel modal kerja saja yang mempunyai pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan namun faktor-faktor lain seperti ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, rasio aset lancar, dan rasio utang lancar, juga dapat berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Sunarto & Budi (2009), menguji pengaruh leverage, ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan terhadap profitabilitas dengan pengukuran NIBE/TA dan menemukan bahwa variabel leverage berpengaruh signifikan positif terhadap profitabillitas, selanjutnya ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap profitabilitas, sedangkan variabel pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap perusahaan. Iqbal & Zhuquan (2015), juga menemukan bahwa ukuran perusahaan dan pertumbuhan penjualan memiliki hubungan yang positif terhadap profitabilitas dengan menggunakan pengukuran return on assets. 2.3 Pengembangan Hipotesis Pengaruh Perputaran Piutang dan Profitabilitas Semakin tinggi rasio yang dihasilkan menggambarkan bahwa semakin kecil modal kerja yang ditanamkan dalam piutang. Perputaran piutang yang cepat berarti perusahaan mendapatkan kas yang diperoleh dari penjualan kredit sehingga perusahaan bisa mengubah pendapatan tersebut menjadi modal kerja kembali. Pada penelitiannya dengan perusahaan-perusahaan farmasi, Agha (2014), menemukan bahwa terdapat hubungan signifikan positif antara perputaran piutang dengan profitabilitas perusahaan. Dilihat dari penjelasan di atas maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H1: Perputaran piutang berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Pengaruh Perputaran Modal Kerja dan Profitabilitas Penggunaan modal kerja yang efisien dapat dilihat dari perputaran modal kerja. Apabila hasil yang diperoleh dari perputaran modal kerja bernilai rendah, maka berarti makin cepat perputaran modal kerjanya

35 | Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis | Vol. 4, No. 1, July 2016, 34-40 | p-ISSN: 2337-7887

dan profitabilitas perusahaan meningkat. Rajesh et al dalam penelitiannya menemukan bahwa rasio perputaran modal kerja memiliki hubungan yang positif signifikan dengan profitabilitas. Wijaya (2012) juga berpendapat bahwa perputaran modal kerja berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Dari penjelasan tersebut dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H2: Perputaran modal kerja berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Pengaruh Perputaran Persediaan dan Profitabilitas Perputaran persediaan yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan mampu mengelola persediaannya secara efisien dan juga menunjukkan bahwa persediaan dapat terjual dengan cepat sehingga perusahaan memperoleh profitabilitas. Sebaliknya apabila perputaran persediaan rendah maka perusahaan beresiko mengalami kerugian karena melakukan pengeluaran untuk biaya penyimpanan maupun pemeliharaan persediaan yang ada di gudang. Sitienei & Memba (2015), menemukan bahwa perputaran persediaan memiliki hubungan signifikan negatif dengan profitabilitas perusahaan. Dari penelitian tersebut dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H3: Perputaran Persediaan berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Pengaruh Perputaran Total Aktiva dan Profitabilitas Perputaran aktiva yang tinggi dapat diartikan bahwa penjualan perusahaan pada periode tersebut juga tinggi dan profitabilitas perusahaan bertambah. Menurut Rehman et al (2014), pada penelitian terdahulu, terdapat hubungan yang signifikan positif antara perputaran total aset terhadap profitabilitas perusahaan. Dari penjelasan tersebut dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H4: Perputaran total aktiva berpengaruh positif terhadap profitabilitas

perubahannya variabel terikat. Peneliti menggunakan 4 (empat) variabel independen yaitu perputaran modal kerja, perputaran persediaan, perputaran piutang dan perputaran kas. Selanjutnya variabel dependen penelitian adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan 1 (satu) variabel dependen yaitu profitabilitas perusahaan. Penelitian ini juga menggunakan 5 (lima) variabel kontrol, peneliti menggunakan variabel kontrol untuk memastikan bahwa hubungan variabel independen (bebas) dan varibel dependen (terikat) tidak terpengaruh oleh faktor luar. Adapun variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 5 (lima) jenis variabel, diantaranya adalah ukuran perusahaan, pertumbuhan penjualan, leverage, rasio aset lancar, dan rasio utang lancar. 3.2 Kriteria Sampel Kriteria perusahaan dalam penelitian ini berdasarkan Judgment Sampling, pemilihan sampel yang dilakukan adalah sebagai berikut: a. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2014 b. Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan neraca dan laba rugi untuk periode 2010-2014 c. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan dengan menggunakan mata uang rupiah d. Perusahaan harus dalam keadaan profit atau laba pada tahun yang ditentukan 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menggambarkan gambaran tentang suatu data yang dapat dilihat dari rata-rata (mean), nilai minimum, nilai maksimum dan standar deviasi yang didapat dari variabel penelitian. Hasil analisis statistik deskriptif dengan menggunakan program Eviews 7 digambarkan dalam tabel 1 Tabel 1. Statistik Deskriptif

3. METODE PENELITIAN Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari annual report perusahaan dari sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2010-2014. Tipe data yang digunakan berupa data rasio yang sumber datanya dapat diperoleh di www.idx.co.id. Annual report perusahaan yang digunakan terdiri dari laporan neraca dan laporan laba rugi perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-2014. 3.1 Variabel Variabel independen adalah variabel bebas yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab

Mean

Med

Max

Min

ROA

0.151

0.087

1.233

0.013

Std. Dev. 0.193

X1

1.042

1.078

1.651

0.221

0.257

X2

2.890

2.440

8.609

0.968

1.443

X3

7.483

5.823

34.605

0.264

6.677

X4

1.695

1.220

21.427

0.364

2.493

SIZE

15.043

14.37

27.25

11.599

3.149

SGROW

0.272

0.180

3.481

-0.399

0.472

DEBT

0.663

0.498

6.305

0.048

0.961

CAR

0.603

0.479

6.205

0.048

0.673

CLR

0.770

0.655

8.534

0.0005

1.003

Sumber: olah data

36 | Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis | Vol. 4, No. 1, July 2016, 34-40 | p-ISSN: 2337-7887

Tabel 4. Uji LM

4.2 Uji Chow Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui model yang terbaik antara model common effect atau model fixed effect. Analisa dan pengambilan keputusan model yang terbaik dapat dilihat dari nilai probabilitas Chi Square, apabila Chi Square > 0.05 maka model yang terbaik adalah fixed effect. Tabel 2. Uji Chow Test Summary

Statistic

Chi-Sq. D.F.

Prob

Cross-Section Chi-

63.643775

15

0.000

67.909426

15

0.000

Cross-Section Chi-

65.175836

15

0.000

Square

64.122872

15

0.000

Square Cross-Section Chi-

Jumlah RataRata Kuadrat Uji Lm H1

0.196137 0.180337 0.181925 0.191847

Uji Lm H2 Uji Lm H3 Uji Lm H4

Jumlah Residual Kuadrat 1.958159 1.744727 1.923295 1.570880

Lm Hitung

22.623008 25.091272 18.625575 41.528561

Sumber: olah data

Hasil tabel di atas menunjukkan bahwa model terbaik pada Uji Lagrange Multiplier adalah model random effect karena nilai Lagrange Multiplier (LMhitung) setiap hipotesis adalah > 0.05. 4.5 Uji Multikolineritas

Square

Cross-Section Chi-

Tabel 5. Uji Multikolineritas X1

X2

X3

X4

SIZE

DE BT 0.11

CAR

CLR

0.14

SGR OW 0.28

X1

1.00

-0.06

X2

0.06 0.02 0.00 0.14

1.00

0.02 0.28

0.001 0.35

0.05

0.05

0.30

0.02

0.03

0.22

-0.15

0.11

0.21

0.05 0.02

0.22

1.00

-0.02

0.01

0.15

0.08

-0.02

1.00

0.03

0.01

0.03

1.00

0.02 0.02

0.03

0.02

0.15 0.11

0.07 0.07 0.09 0.01

0.28

1.00

0.35 0.30

0.28

0.02

0.01

0.11

0.03

0.21

0.15

-0.02

0.02

1.00

0.11

0.05 0.05

-0.05 -0.07

0.02 0.07

0.08 -0.09

0.03 0.01

0.02 0.01

0.11 0.07

1.00 0.39

0.07 0.39 1.00

Square Sumber: olah data

X3

Model terbaik dari hasil Uji Chow untuk keempat hipotesis adalah model fixed effect. 4.3 Uji Hausman Setelah mendapatkan model Fixed Effect yang terbaik, selanjutnya model fixed effect diuji kembali dengan model random effect. Pengujian dua model tersebut dilakukan dengan melakukan Uji Hausman. Analisa dan pengambilan keputusan model yang terbaik dapat dilihat dari nilai probabilitas, apabila probabilitas > 0.05 maka model yang terbaik adalah random effect. Tabel 3. Uji Hausman Test Summary Cross-Section Random Cross-Section Random Cross-Section Random Cross-Section Random Sumber: olah data

Statistic 4.020197 4.427548 9.284977 2.931777

Chi-Sq. D.F. 6 6 6 6

Prob 0.6739 0.6190 0.1582 0.8174

Hasil di atas menunjukkan bahwa random effect adalah model terbaik, maka perlu dilakukan pengujian selanjutnya. 4.4 Uji Lagrange Multiplier Pengujian ini dilakukan untuk memilih model common effect atau model random effect yang paling tepat digunakan. Uji ini menggunakan nilai residual yang diperolah dari Eviews 7.0 lalu dipindahkan ke Ms. Excel untuk mengetahui LM hitung. Hasil dari LM hitung dapat dilihat melalui tabel berikut:

X4 SIZE SGR OW DEB T CAR CLR

Sumber: olah data

Hasil uji multikolinearitas pada tabel menunjukkan bahwa seluruh variabel penelitian baik variabel independen maupun variabel kontrol, bebas dari multikolinearitas karena nilai koefisien korelasinya < 0.80. 4.6 Uji Hipotesis Hasil pengujian keempat hipotesis menggunakan model random effect dapat dilihat pada tabel di bawah: Tabel 6. Uji Keempat Hipotesis Variabel X1 X2 X3 X4 Sumber: olah data

Coefficient 0.004264 0.057779 0.000847 0.012857

Probability 0.9478 0.0015 0.8297 0.0461

Berdasarkan hasil pengujian keempat hipotesis di atas, variabel perputaran piutang (X1) dan perputaran total aset (X4) memiliki pengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan karena nilai probabilitas < 0.05, sedangkan variabel perputaran modal kerja (X2) dan perputaran persediaan (X3) tidak memiliki

37 | Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis | Vol. 4, No. 1, July 2016, 34-40 | p-ISSN: 2337-7887

pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan karena nilai probabilitas > 0.05

4.7 Pembahasan Hasil dari pengujian data pada penelitian ini menunjukkan bahwa dari empat variabel independen, hanya 2 yang berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Dua variabel independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap profitabilitas. Berikut adalah hasil dari pengujian keempat hipotesis: Tabel 7. Rangkuman Hasill Pengujian Variabel Independen Tingkat Keterangan Signifikansi 5% Perputaran Piutang 0.9478 Tidak Terdukung Perputaran Modal Kerja 0.0015 Terdukung Perputaran Persediaan 0.8297 Tidak Terdukung Perputaran Total Aset 0.0461 Terdukung Sumber: diolah sendiri

Pengaruh Perputaran Piutang terhadap Profitabilitas Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa presentase perputaran piutang tidak berpengaruh terhadap profitabilitas suatu perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bramasto (2010), menggunakan sampel pada perusahaan PT. Pos Indonesia dengan lama periode 7 tahun menemukan bahwa perputaran piutang tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian oleh Agha (2014) yang meneliti perusahaan-perusahaan di sektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Karachi pada tahun 19962011. Hasil dari penelitiannya menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif antara perputaran piutang dengan profitabilitas perusahaan. Selanjutnya pada penelitian yang dilakukan oleh Asad (2012) dengan sampel penelitiannya adalah 30 perusahaan tekstil yang terdaftar di Bursa Efek Karachi juga menyatakan bahwa perputaran piutang memiliki hubungan yang positif terhadap profitabilitas perusahaan. Perputaran piutang yang tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan karena apabila para debitur membayar utang yang telah jatuh tempo maka yang terjadi hanyalah penambahan saldo pada kas tanpa adanya perubahan di bagian aset perusahaan, sehingga cepat atau lambatnya piutang berputar tidak berpengaruh terhadap profitabilitas karena tidak mempengaruhi pendapatan dalam perusahaan. Pengaruh Perputaran Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa perputaran modal kerja berpengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Asad (2012) dengan

sampel perusahaan-perusahaan tekstil yang berada di Pakistan. Asad menemukan bahwa perputaran modal kerja berpengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Warrad (2013) pada perusahaan industri kimia di Jordan yang terdaftar di Bursa Efek Amman pada tahun 2009-2011, menemukan bahwa perputaran modal kerja berpengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan. Penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian Yusraiaini et. al (2009) yang melakukan penelitian menggunakan sampel perusahaan otomotif dengan tahun pengamatan selama 4 tahun (20032006). Yusraini et. al menemukan bahwa perputaran modal kerja tidak berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Pada pengujian di atas variabel perputaran modal kerja memiliki pengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi perputaran modal kerja maka profitabilitas perusahaan juga semakin meningkat karena dana dalam perusahaan terus berputar untuk menghasilkan pendapatan. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli bahan baku, selanjutnya diproduksi dan dijual ke pasaran sehingga penjualan perusahaan meningkat. Pengaruh Perputaran Persediaan terhadap Profitabilitas Berdasarkan hasil pengujian dari hipotesis 3 menunjukkan bahwa persentase perputaran persediaan tidak berpengaruh terhadap profitabilitas suatu perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sitienei & Memba (2015), dengan menggunakan sampel perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdapat di Kenya dan terdaftar di Bursa Efek Nairobi, menemukan bahwa perputaran persediaan tidak memiliki pengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan Agha (2012) pada penelitiannya dengan menggunakan sampel perusahaan yang berada di sektor farmasi dengan kurun waktu dari tahun 1996-2011. Penelitian Agha menemukan bahwa perputaran persediaan memiliki pengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan. Apabila harga pokok penjualan naik maka rata-rata persediaan juga akan mengalami kenaikan karena perusahaan membutuhkan persediaan untuk melakukan penjualan. Ini menyebabkan perputaran persediaan dapat memperoleh hasil yang tetap ataupun bisa lebih rendah. Pada pengukuran ROA, total aset mengalami perubahan oleh rata-rata persediaan karena persediaan merupakan bagian dari total aset, sedangkan net income berasal dari penjualan yang didalamnya terdiri dari HPP dan gross profit. Sehingga perubahan perputaran persediaan yang diperoleh, besarnya sama dengan perhitungan yang diperoleh ROA, dengan kata lain perputaran persediaan tidak terlalu mempengaruhi profitabilitas

38 | Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis | Vol. 4, No. 1, July 2016, 34-40 | p-ISSN: 2337-7887

karena perubahan yang terjadi pada ROA sama dengan perubahan perputaran persediaan. Pengaruh Perputaran Total Aset terhadap Profitabilitas Berdasarkan hasil pengujian dari hipotesis 4 menunjukkan bahwa presentase perputaran total aset berpengaruh positif terhadap profitabilitas perusahaan. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Barus & Leliani (2013), dengan menggunakan sampel perusahaan-perusahaan manufaktur di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2011 dengan jumlah sampel 131 perusahaan. Penelitian ini menemukan bahwa secara parsial perputaran total aset berpengaruh positif terhadap profitabilitas. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jastismara (2011), menggunakan sampel perusahaan manufaktur menemukan bahwa perputaran total aset tidak mempunyai pengaruh terhadap profitabiitas perusahaan. Semakin cepat atau singkat perputaran total aset dalam suatu perusahaan menandakan bahwa semakin besar penjualan yang diperoleh dari suatu aset. Ini berarti bahwa aset perusahaan dalam kondisi yang produktif untuk melakukan kegiatan operasional yang akhirnya akan meningkatkan profitabilitas. 5. KESIMPULAN Hasil penelitian menemukan bahwa perputaran piutang tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen yaitu Return on Asset, karena piutang yang telah dibayar oleh debitur tidak berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan. Selanjutnya perputaran modal kerja berpengaruh positif terhadap variabel dependen yaitu Return on Asset. Perputaran modal kerja yang singkat atau cepat akan mempercepat pengembalian dana yang dipergunakan untuk memproduksi kembali barang dagang sehingga penjualan dan laba perusahaan meningkat. Perputaran persediaan tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen yaitu Return on Asset. Perputaran persediaan yang tidak berpengaruh terhadap profitabilitas terjadi karena besarnya perputaran persediaan yang diperoleh memiliki hasil yang sama dengan ROA yang diperoleh sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap profitabilitas, dan terakhir perputaran total aset berpengaruh signifikan positif terhadap variabel dependen yaitu Return on Asset. Perputaran total aset yang cepat atau singkat menandakan bahwa aset perusahaan dalam keadaan yang produktif dan berfungsi dengan baik dalam menjalankan kegiatan operasional yang pada akhirnya mampu meningkatkan penjualan dan memperoleh laba yang diinginkan. Keterbatasan dalam penelitian ini hanya menggunakan perusahaan pada sektor makanan dan minuman dari tahun 2010-2014 sehingga hasil dari penelitian ini tidak dapat diterapkan untuk perusahaan

di luar sektor makanan dan minuman. Penelitian selanjutnya diharapkan agar dapat mengambil sampel perusahaan yang lebih banyak atau dari semua sektor di industri manufaktur yang ada di Bursa Efek Indonesia agar hasil yang didapatkan lebih baik dan dapat digunakan untuk setiap perusahaan serta pemilihan variabel independen sebaiknya ditambah dengan rasio keuangan yang lain. DAFTAR REFERENSI Agha, H. (2014). Impact of Working Capital Management on Profitability. European Scientific Journal. Asad, M. (2012). Working Capital Management and Corporate Performance of Textile Sector in Pakistan. Paradigms : A Research Journal of Commerce, Economics and Social Science. Barus, A. C., & Leliani. (2013). Analisis faktorFaktor yang Mempengaruhi Profitabilitas pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil. Bramasto, A. (2010). Analisis Perputaran Aktiva Tetap dan Perputaran Piutang Kaitannya Terhadap Return on Asset Pada PT. Pos Indonesia. Bandung-Indonesia: Majalah Ilmiah Unikom. Iqbal, A., & Zhuquan, W. (2015). Working Capital Management and Profitability Evidence from Firms Listed on Karachi Stock Exchange. International Journal of Business and Management. Jastismara, R. (2011). Analisis pengaruh TATO, DER, Dividend, Sales dan Current Ratio terhadap Return On Asset. Semarang. Kasmir. (2012). Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada. Kray, K. K. (2014). Efficiency of Working Capital Management and Profitability : A Case of Hindalco. Review of Management. Munawir. (2002). Analisa Laporan Keuangan . Yogyakarta: Liberty. Rehman , M. Z., Khan, M. N., & Khokhar, I. (2014). Select Financial Ratios as a Determinant of Profitability from Petrochemical Industry in Saudia Arabia. European Journal of Business and Management. Sandep, G. (2013). Working Capital Management Efficiency and Firm Profitability : A Study of

39 | Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis | Vol. 4, No. 1, July 2016, 34-40 | p-ISSN: 2337-7887

Indian Retail Industry. South Asian Journal of Management. Sen, M. (2009). Relationship between Efficiency Level of Working Capital Management and Return on Total Assets in Ise. International Journal of Business and Management. Sitienei , E., & Memba, F. (2015). The Effect of Inventory Management on Profitability of Cement Manufacturing Companies in Kenya : A Case Study of Listed Cement Manufacturing Companies in Kenya . International Journal of Management and Commerce Innovations. Sugiyarso, G., & Winarni, F. (2005). Manajemen Keuangan (Pemahaman Laporan Keuangan Aktiva, Kewajiban dan Modal serta Pengukuran Kinerja Perusahaan). Media Pressindo: Yogyakarta.

Sunarto, & Budi, A. P. (2009). Pengaruh Leverage, Ukuran dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Profitabilitas. Telaah Manajemen. Warrad, L. (2013). The Impact of Working Capital Turnover on Jordanian Chemical Industries Profitability. American Journal of Economics and Business Administration. Wijaya, A. L. (2012). Pengaruh Komponen Working Capital Terhadap Profitabilitas Perusahaan. Jurnal Dinamika Akuntansi. Yusraiaini, Hasan, A., & Helen, I. (2009). Pengaruh Perputaran Modal Kerja, Struktur Modal, Umur Perusahaan, dan Ukuran Perusahaan Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Automotive and Allied Product di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Ekonomi.

40 | Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis | Vol. 4, No. 1, July 2016, 34-40 | p-ISSN: 2337-7887