Pengaruh Moralitas Individu dan Motivasi terhadap

Pengaruh Moralitas Individu dan Motivasi| 471 Akuntansi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2017-2018 pada laporan keuangan terjadi sebanyak 2%. Salah satu c...

0 downloads 42 Views 143KB Size
Prosiding Akuntansi

ISSN: 2460-6561

Pengaruh Moralitas Individu dan Motivasi terhadap Kecenderungan Kecurangan The Influence of Individual Morality and Motivation to Fraud Trend 1

Hanifah Wuryastuti, 2Pupung Purnamasari, 3Mey Maemunah

1,2

Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No.1 Bandung 40116 email:1 [email protected], [email protected], [email protected]

Abstract. This study aims to: 1) the influence of morality on the tendency of fraud and 2) the influence of motivation on the tendency of fraud. Sampling is done by using purposive sampling technique, that is not all population is taken as sample. This study used a sample of three private universities in Bandung with 102 respondents. The research method used is descriptive research method with quantitative approach. Hypothesis testing is done by multiple linear regression method using SPSS software version 22. Data method using questionnaires done by spreading the questionnaire link to the respondents through social media. The results of this study indicate: 1) the criminal level of individual morality against the tendency of fraud, 2) the motivation not to go to school for cheating. Suggestions for further research to classify research with additional research sites, and increase the number of respondents. In addition, it is suggested to further research to add research variables such as obedience rules, internal control systems, and other variables that may affect fraud. Keywords: Morality, Motivation, Fraud Trend

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji: 1) pengaruh moralitas terhadap kecenderungan kecurangan dan 2) pengaruh motivasi terhadap kecenderungan kecurangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu tidak semua populasi dijadikan sampel. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak tiga perguruan tinggi swasta di Kota Bandung dengan 102 responden. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelititan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengujian hipotesis dilakukan dengan metode regresi liner berganda menggunakan software SPSS versi 22. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dilakukan dengan cara menyebar link kuesioner kepada para responden melalui sosial media. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) tingkat penalaran moralitas individu berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan, 2) motivasi tidak berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan. Saran bagi penelitian selanjutnya untuk memperlus cakupan penelitian dengan menambahkan lokasi penelitian, dan menambah jumlah responden. Selain itu disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk menambahkan variabel penelitian seperti ketaatan aturan, sistem pengedalian internal, dan variabel-variabel lainnya yang mungkin dapat berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan (fraud). Kata Kunci: Moralitas, Motivasi, Kecenderungan Kecurangan

A.

Pendahuluan

Pendidikan merupakan suatu sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (Santoso, 2012). Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan tertinggi dan merupakan bekal untuk memasuki dunia kerja. Perguruan tingi diharapkan dapat memberikan tenaga profesional yang berkualitas, memiliki pengetahuan, etika profesi dan moral yang baik. Namun, mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja dapat menjadi sasaran dalam berbagai praktik kecurangan (fraud). Kecurangan dilakukan secara sengaja oleh seseorang dengan mengambil hak orang lain yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Berdasarkan hasil survai fraud yang dilakukan oleh Association of Fraud Examiners (ACFE) Indonesia yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pencegahan Kejahatan Kerah Putih (P3K2P), menyatakan bahwa kasus kecurangan di Indonesia masih sangat tinggi dengan presentase kecuragan yang disebabkan oleh korupsi sebanyak 67%, kecurangan pada aset terjadi sebanyak 31%, dan kecurangan 470

Pengaruh Moralitas Individu dan Motivasi| 471

pada laporan keuangan terjadi sebanyak 2%. Salah satu contoh kasus kecurangan pada laporan keuangan di Indonesia adalah kasus PT. Kimia Farma. PT Kimia Farma merupakan salah satu produsen obat-obatan milik pemerintah Indonesia. PT Kimia Farma dengan sengaja melakukan manipulasi pada laporan keuangan dengan menaikkan laba bersih yang diperoleh pada tahun 2001 sebesar 132 miliar. Tingginya kasus kecurangan di Indonesia tidak hanya disebabkan karena kurang cakapnya aparat penegak hukum dalam menangani kasus kecurangan, namun buruknya sifat dan moralitas individu seseorang juga menyebabkan kasus kecurangan masih tetap terjadi. Dengan adanya moral berarti kita melakukan tindakan yang benar, tidak hanya dalam hubungan sosial secara langsung, tapi juga dalam hubungan kita dengan sesama warga dan dengan seluruh umat manusia. Individu yang bermoral tinggi tindakannya diatur oleh prinsip-prinsip moralitas universal. Hal tersebut membuat individu yang bermoral tinggi tidak akan melakukan tindakan kecurangan. Dengan memiliki level penalaran moral yang tinggi mahasiswa yang nantinya akan memasuki dunia kerja tidak akan melakukan praktik kecurangan (fraud), karena moralitas akan mencegah seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan (fraud), begitupula dengan individu yang memiliki level penalran moral rendah cenderung untuk melakukan kecurangan (fraud). Prilaku Kecurangan juga dapat disebabkan karena adanya motivasi pada diri setiap individu. faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kecurangan adalah adanya motivasi atau dorongan yang muncul dari setiap individu. Seseorang yang memiliki pendapatan yang rendah namun memiliki gaya hidup mewah dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan. Hal tersebut terjadi karena untuk memenuhi gaya hidup tersebut seseorang akan melakukan kecurangan agar kebutuhan akan gaya hidupnya terpenuhi meskipun harus melakukan kecurangan. Motivasi seseorang untuk melakukan kecurangan dapat bersumber dari dalam diri seseorang maupun dari luar diri seseorang. Motivasi dari dalam diri (intrinsik) yaitu keinginan bertindak yang disebabkan oleh faktor pendorong yang murni berasal dari dalam diri individu. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat mengidentifikasi masalah dalam penelitian ini, dintaranya: 1. Apakah pengaruh Moralitas Individu terhadap Kecenderungan Kecurangan? 2. Apakah pengaruh Motivasi terhadap Kecenderungan Kecurangan? Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulis melakukan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui: 1. Pengaruh Moralitas Individu terhadap Kecenderungan Kecurangan. 2. Pengaruh Motivasi Seseorang terhadap Kecenderungan Kecurangan. B.

Landasan Teori

Kecurangan (Fraud) Menurut pendapat (Albercth, 2012; 6) kecurangan merupakan suatu istilah umum, dan mencakup semua aneka ragam yang dapat dilakukan oleh kecerdikan manusia, yang dilakukan oleh satu individu untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain dengan representasi palsu. Tidak ada aturan pasti dan tidak dapat diubah yang dapat ditetapkan sebagai proposisi umum dalam mendefinisikan kecurangan, karena mencakup kejutan, tipu muslihat, cara licik dan ketidakadilan yang dengan hal tersebut Akuntansi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2017-2018

472 |

Hanifah Wuryastuti, et al.

orang lain ditipu. Satu-satunya batasan yang menentukannya adalah batas yang membatasi manusia. Menurut Tuanakotta (2013: 28) kecurangan adalah tindakan ilegal ditandai denan adanya ketidakjujuran, penyembunyian, atau pelanggaran kepercayaan. Tindakan tersebut tidak bergantung pada penerapan ancaman kekerasa maupun kekuatan fisik. Kecurangan dilakukan oleh individu, dan organisasi untuk mendapatkan uang, properti atau layanan untuk menghindari pembayaran atau kehilangan pelayanan atau untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau keuntungan bisnis. Tindakan kecurangan (fraud) dilakukan oleh seseorang dengan cara merugikan orang lain. Kecenderungan seseorang untuk melakukan kecurangan disebabkan oleh perilaku yang buruk dalam diri pelaku dan merupakan tindakan kriminal yang dimaksudkan untuk mendapatkan keuntungan finansial bagi pelaku kecurangan (fraudsters). Moralitas Moralitas merupakan sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk (Bertens K, 2002: 7). Moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang dengan itu kita berkata bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk, atau dengan kata lain moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya perbuatan manusia (W. Poespoprojo, 1998: 118). Untuk menghindari berbagai praktik kecurangan (fraud) seseorang harus memiliki tingkat moralitas yang baik, karena moralitas memberitahukan kepada kita dan orang lain mengenai apa yang seharusnya kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Motivasi Motivasi berasal dari kata Latin “motivius” artinya sebab, alasan dasar, pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat, atau ide pokok yang selalu berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia (Kartono, 2002). Motivasi seseorang dapat bersumber dari dalam maupun dari luar diri seseorang (Winardi, 2001). Dalam melakukan suatu tindakan kecurangan (fraud), individu memiliki motivasi yang menjadi alasan atau sebab untuk melakukan suatu tindakan tertentu untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Motivasi mengacu pada proses dimana seseorang diberi energi, diarahkan, dan berkelanjutan menuju tercapainya suatu tujuan (Robbins and Coulter, 2001; 109). Proses terjadinya motivasi disebabkan karena adanya kebutuhan yang mendesak (Zainun, 2007: 19) Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka timbul dorongan untuk berperilaku. Setiap orang yang memiliki kebutuhan tertentu tidak akan pernah puas untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga proses motivasi akan terus berlangsung selama manusia memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. C.

Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menguji: 1) pengaruh moralitas terhadap kecenderungan kecurangan dan 2) pengaruh motivasi terhadap kecenderungan kecurangan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu tidak semua populasi dijadikan sampel. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak tiga perguruan tinggi swasta di Kota Bandung dengan 102 responden. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelititan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengujian hipotesis dilakukan dengan metode regresi liner berganda menggunakan software SPSS versi 22. Metode pengumpulan data Volume 4, No.1, Tahun 2018

Pengaruh Moralitas Individu dan Motivasi| 473

menggunakan kuesioner yang dilakukan dengan cara menyebar link kuesioner kepada para responden melalui sosial media. D.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pengaruh Moralitas Individu terhadap Kecenderungan Kecurangan Variabel moralitas (X1) diduga berpengaruh terhadap variabel kecenderungan kecurangan (Y). Berdasarkan tabel hasil uji parsial (uji t) pengujian hipotesis pertama yang memiliki nilai t hitung diperoleh sebesar 0,146 dan t tabel = 1,984 atau 6.824 > 1,984, sedangkan tingkat signifikan didapatkan sebesar 0.000 atau 0.000 < 0,05. Berdasarkan perbandingan signifikan dan t hitung dengan t tabel, dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama yang dirumuskan oleh peneliti diterima, karena terdapat pengaruh signifikan antara moralitas individu terhadap kecenderungan kecurangan. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, diperoleh hasil untuk hipotesis pertama. Hipotesis pertama menunukkan bahwa variabel moralitas individu memiliki pengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis pertama yang diajukan oleh peneliti diterima. Dari hasil analisa pengujian diperoleh nilai t hitung sebesar 0,146 dan t tabel = 1,984 atau 6.824 > 1,984,yang berarti hipotesis pertama diterima, karena jika nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel, maka variabel bebas (variabel independen) yaitu moralitas indvidu memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (variabel dependen) yaitu kecenderungan kecurangan. Hal ini diperkuat dengan nilai tingkat signifikasi yang diperoleh sebesar 0.000 < 0,05.yang berarti hipotesis diterima karena nilai signifikan yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 sehingga terdapat pengaruh yang signifikan. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Novita Puspasari dan Eko Suwardi (2012), mengenai pengaruh moralitas individu terhadap kecenderungan kecurangan.. Penelitian ini menunjukkan terdapat interaksi antara level moral individu dengan kecenderungan seseorang untuk melakukan kecurangan. Selain itu penelitian ini mengindikasikan bahwa individu yang memiliki level penalaran moral tinggi cenderung tidak melakukan kecurangan, dan individu yang memiliki level penalaran moral rendah cenderung akan melakukan kecurangan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Gusnardi Kurniawan (2013) juga menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara variabel moralitas individu terhadap kecenderungan kecurangan. Pengaruh Motivasi terhadap Kecenderungan Kecurangan Variabel motivasi (X2) diduga berpengaruh terhadap variabel kecenderungan kecurangan (Y). Berdasarkan tabel hasil uji parsial (uji t) pengujian hipotesis pertama yang meiliki nilai t hitung diperoleh sebesar 0.530 dan t tabel = 1,984 atau 0.530 < 1,984, sedangkan tingkat signifikan didapatkan sebesar 0.594 atau 0.594 > 0,05. Berdasarkan perbandingan signifikan dan t hitung dengan t tabel, dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua yang dirumuskan oleh peneliti ditolak, karena tidak terdapat pengaruh signifikan antara motivasi terhadap kecenderungan kecurangan. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, diperoleh hasil untuk hipotesis kedua. Hipotesis kedua menunjukkan bahwa variabel motivasi tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa hipotesis kedua yang dijukan ditolak. Dari hasil analisa pengujian diperoleh nilai t hitung sebesar 0.530 dan t tabel = 1,984 atau 0.530 < 1,984 yang berarti hipotesis kedua ditolak, karena jika nilai t hitung lebih kecil dari nilai t tabel, maka variabel bebas (variabel independen) yaitu motivasi Akuntansi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2017-2018

474 |

Hanifah Wuryastuti, et al.

tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat (variabel dependen) yaitu kecenderungan kecurangan. Hal ini diperkuat dengan nilai tingkat signifikasi yang diperoleh sebesar 0.594 atau 0.594 > 0,05yang berarti hipotesis ditolak karena nilai signifikan yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 sehingga tidak terdapat pengaruh yang signifikan. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Afri Ade (2017) yang menunjukkan bahwa variabel motivasi berpegaruh tehadap variabel kecenderungan kecurangan. Perbedaan hasil penelitian ini dapat disebabkan bahwa responden yang mengisi pertanyaan pada kuesioner tidak memiliki motivasi untuk melakukan kecurangan (fraud). E.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan dijelaskan pada bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Tingkat penalaran moralitas individu yang diukur dengan menggunakan teori kohlbergh berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan (fraud). 2. Motivasi tidak berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan kecurangan. Saran Berdasarkan hasil penelitian pada bab analisis pembahasan dan kesimpulan dalam penelitian ini, adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti agar penelitian selanjutnya mendapatkan jasil yang lebih baik, yaitu 1. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat memperlus cakupan penelitian dengan menambahkan tempat atau lokasi penelitian, dan menambah jumlah responden agar hasil penelitian yang akan dilakukan benar atau saling berpengaruh antar variabel yang diteliti. 2. Penelitian ini masih terbatas pada moralitas dan motivasi terhadap kecenderungan kecurangan. Bagi peneliti selanjutnya dapat menambah variabel penelitian seperti ketaatan aturan, sistem pengedalian internal, dan variabel-variabel lainnya yang mungkin dapat berpengaruh terhadap kecenderungan kecurangan (fraud).

Daftar Pustaka Albrecht. 2004. Fraud Examination and Prevention Australia: Thomson, South-Western. Volume 4, No.1, Tahun 2018

Pengaruh Moralitas Individu dan Motivasi| 475

Arens A. Alvin. Ellder J. Ronald and Beasley. 2008. Auditing dan jasa Assurance Pendekatan Terintegrasi. Jakarta: Erlangga. Bertens K. 2002. Etika. Jakarta: Gramedia. Kartono, Kartini. 2002. Psikologi Sosial untuk Manajemen Perusahan dan Industri. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Keraf, Sonny. 1993. Etika Bisnis Membangun Citra Bisnis Sebagai Profesi Luhur. Yogyakarta: Kanisius. Puspasari, Novitasari dan Suwardi, Eko. 2012. Pengaruh Moralitas Individu dan Pengendalian Internal Terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi: Studi Eksperimen Pada Konteks Pemerintahan Daerah. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Siagian, Sondang. 2004. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. Suseno, Franz Magnis. 1987. Etika dasar: Masalah-msalah pokok filsafat moral. Bandung: Kansius. Tuanakotta, Theodorus M. 2013. Audit Berbasis ISA (International Standards on Auditing). Jakarta: Salemba Empat. W Poespoprojo. 1998. Filsafat moral: Kesusilaan Dalam Teori dan Praktek. Pustaka Grafika. Winardi, J. 2001. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Akuntansi, Gelombang 1, Tahun Akademik 2017-2018