Pengaruh Perbedaan Ukuran Mata Jaring Rampus Terhadap

Shannon Wiener index. The statistical test, i.e.,Friedman test and multiple comparison test are used for significantly test of the catch. The result s...

0 downloads 5 Views 2MB Size
PENG GARUH PERBEDA P AAN UKU URAN MA ATA JARIING RAMPUS S TERHA ADAP HAS SIL TANG GKAPAN N IKAN LA AYANG (D Decapteruss kurroidess) DI PER RAIRAN C CISOLOK K, PA ALABUHA ANRATU U, KABUP PATEN SU UKABUM MI

RYA AN PRATAM MA

ROGRAM STUDI S TEK KNOLOGI D DAN MANA AJEMEN P PERIKANA AN TANGK KAP PR DEPAR RTEMEN PEMANFA P AATAN SUM MBERDAY YA PERIKA ANAN FAKULTA AS PERIKA ANAN DAN N ILMU KEL LAUTAN IN NSTITUT P PERTANIA AN BOGOR R BOGOR 2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Pengaruh Perbedaan Ukuran Mata Jaring Rampus terhadap Hasil Tangkapan Ikan Layang (Decapterus kurroides) di Perairan Cisolok, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi adalah karya saya sendiri dengan arahan dosen pembimbing dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya ilmiah yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Agustus 2012 Ryan Pratama

ABSTRAK RYAN PRATAMA, Pengaruh Perbedaan Ukuran Mata Jaring Rampus terhadap Hasil Tangkapan Ikan Layang (Decapterus kurroides) di Perairan Cisolok, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Dibimbing oleh MOKHAMAD DAHRI ISKANDAR dan ARI PURBAYANTO. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan komposisi hasil tangkapan jaring rampus yang diperoleh selama penelitian, menentukan jumlah dan ukuran serta cara tertangkap ikan layang (Decapterus kurroides) dengan menggunakan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda. Penelitian dilakukan dengan metode experimental fishing menggunakan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda. Jaring rampus yang dioperasikan menggunakan ukuran mata jaring 44,5; 50,8; 63,5; dan 76,2 mm (1,75; 2; 2,5 dan 3 inci) masing-masing sebanyak 2 lembar. Susunan jaring rampus sewaktu dioperasikan berselangseling. Hal ini dimaksudkan untuk memberi peluang yang sama pada ikan untuk tertangkap pada jaring rampus dengan menggunakan ukuran mata jaring yang berbeda. Keragaman spesies diuji menggunakan uji nilai indeks Shannon Wiener, sedangkan jumlah hasil tangkapan, ukuran panjang cagak, ukuran girth operculum, dan cara tertangkapnya ikan layang diuji dengan menggunakan uji statistik Friedman dan uji perbandingan berganda (multiple comparison). Total hasil tangkapan jaring rampus yang diperoleh pada penelitian ini sebanyak 529 ekor yang terdiri dari 6 spesies. Hasil tangkapan dominan pada penelitian ini adalah layang (Decapterus kurroides) dengan jumlah 351 ekor atau 66,35 % dari total hasil tangkapan, diikuti oleh biji nangka (Upeneus moluccensis) sebanyak 67 ekor atau 12,67 % dari total hasil tangkapan. Berdasarkan perbedaan ukuran mata jaring pada jaring rampus, ikan layang banyak tertangkap pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci sebanyak 161 ekor (45,87%). Ikan layang umumnya tertangkap secara entangled dengan jumlah mencapai 269 ekor (76,64 %). Rinciannya adalah pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci sebanyak 28 ekor (10,41%), mata jaring 2 inci sebanyak 70 ekor (26,02%), mata jaring 2,5 inci sebanyak 129 (47,96%), dan mata jaring 3 inci sebanyak 42 ekor (15,61%). Kata kunci : Ukuran mata jaring, jaring rampus, hasil tangkapan, ikan layang, perairan Cisolok

ABSTRACT RYAN PRATAMA, The effect of different mesh size of monofilament bottom gillnet to the catch of redtail scad (Decapterus kurroides) in the Cisolok waters, Palabuhanratu, Sukabumi regency. Supervited by MOKHAMAD DAHRI ISKANDAR and ARI PURBAYANTO. The purpose of this research is to determine the catch composition and diversity of monofilament bottom gillnet of different mesh size, to determine the catch of redtail scad (Decapterus kurroides) by using monofilament bottom gillnet with different mesh size, and to determine the difference of capture mechanism of redtail scad (Decapterus kurroides) on the monofilament bottom gillnet with different mesh size. The research was done by experimental fishing method using monofilament bottom gillnet with different mesh size (44.5; 50.8; 63.5; and 76.2 mm (1.75; 2; 2.5 and 3 inches)). The arrangement of mesh panel on the set of monofilament bottom gillnet was alternated during fishing trials for giving equal opportunities of fish to be caught. The catch diversity is analyzed using the Shannon Wiener index. The statistical test, i.e.,Friedman test and multiple comparison test are used for significantly test of the catch. The result showed that total catch of monofilament bottom gillnet 529 individuals, consisted of six species. The catch dominant was redtail scad (Decapterus kurroides) with number of 351 individuals or 66.35% of the total catch, followed by goldband goatfish (Upeneus moluccensis) with number of 67 individuals or 12.67% of the total catch. Based on the different mesh size of monofilament bottom gillnet, redtail scad was the main catch of monofilament bottom gillnet with number of mesh size 2.5 was 161 individuals (45.87%). Generally, the redtail scad caught in entangled reached in total 269 individuals (76.64%) of which mesh size 1.75 inches caught 28 individuals (10.41%), mesh size 2 inches caught 70 individuals (26.02%), mesh size 2.5 inches caught 129 individuals (47.96%), and mesh size 3 inches caught 42 individuals (15.61%). Key words : Mesh size, monofilament bottom gillnet, the catch, redtail scad, Cisolok waters

© Hak Cipta IPB, Tahun 2012 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan tersebut hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB.

PENGARUH PERBEDAAN UKURAN MATA JARING RAMPUS TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN LAYANG (Decapterus kurroides) DI PERAIRAN CISOLOK, PALABUHANRATU, KABUPATEN SUKABUMI

RYAN PRATAMA

Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2012

Judul Skripsi

: Pengaruh Perbedaan Ukuran Mata Jaring Rampus terhadap Hasil Tangkapan Ikan Layang (Decapterus kurroides) di Perairan Cisolok, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi

Nama Mahasiswa

: Ryan Pratama

NIM

: C44070034

Program Studi

: Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap

Disetujui: Komisi Pembimbing

Ketua,

Anggota,

Ir.Mokhamad Dahri Iskandar, M.Si NIP. 19690604 199412 1 001

Prof. Dr.Ir Ari Purbayanto, M.Sc. NIP. 19660121 199002 1 001

Diketahui Ketua Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan

Dr. Ir. Budy Wiryawan, M.Sc NIP. 19621223 198703 1 001

Tanggal Ujian : 11 Juli 2012

Tanggal Lulus :

PRAKATA Skripsi ditujukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar sarjana pada Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilakukan pada bulan April 2011 ini adalah Pengaruh Perbedaan Ukuran Mata Jaring Rampus terhadap Hasil Tangkapan Ikan Layang (Decapterus kurroides) di Perairan Cisolok, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada: 1) Ayahanda (Hesman Siswandar), Ibunda (Imas Martiningsih), Adik tercinta (Rifky Julian dan Amalia Putri Khaerunnisa) yang selalu mendukung dan memberikan semangat serta doanya dalam pembuatan skripsi ini. 2) Bapak Ir. Mokhamad Dahri Iskandar, M.Si dan Bapak Prof. Dr. Ir. Ari Purbayanto, M.Sc selaku pembimbing yang telah memberikan bantuan, saran dan bimbingannya selama penulisan skripsi ini, Dr. Ir. Moh. Imron, M.Si. selaku ketua komisi pendidikan dan Dr. Ir. Wazir Mawardi, M.Si sebagai penguji dalam sidang, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya; 3) Keluarga Bapak Peni selaku nelayan jaring rampus di Cisolok. 4) Dinas Kelautan dan Perikanan Palabuhanratu. 5) Yusi Fauziah, Amd,Keb, yang selalu memberikan dukungan, doa, dan semangatnya kepada penulis dalam penyelesaian skripsi ini. 6) Ade Zamil dan keluarga yang telah membantu penulis semasa melakukan penelitian. 7) Bagan 44 (Ade Zamil, Dudi, Reza, Beni, Roisul, Anton, Gilang, Rusak), Hadasa Prabawati, serta Keluarga PSP 44 atas dukungannya selama ini. Sahabat-sahabatku (Deris, Adi, Ari, Budi, Sarwar, Ribka, Acep, Una), Caesario yang membantu mengolah data, Amandangi yang membantu dalam proses pembuatan peta. 8) Keluarga Nirvana (Willy, Baginda, Leo, Yusuf, Cecep, Harits, dll) 9) Pihak-pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Bogor, Juli 2012 Ryan Pratama

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang dilahirkan di Bandung pada tanggal 7 November 1989 dari pasangan Drs. Hesman Siswandar, Apt dan Imas Martiningsih. Penulis telah lulus dari SMA Negeri 2 Kotamadya Sukabumi pada tahun 2007 dan pada tahun yang sama pula penulis lulus seleksi IPB melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Penulis memilih Mayor Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten pada mata kuliah Teknologi Alat Penangkapan Ikan pada tahun ajaran 2009/2010. Penulis juga aktif dalam organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Sumberdaya Perikanan (Himafarin) sebagai staf Divisi Penelitian dan Pengembangan Keprofesian pada tahun ajaran 2008/2009 dan 2009/2010. Pada tahun 2011 penulis memenangi Lomba PIMNAS tingkat IPB sebagai juara II dalam bidang penelitian dan pada tahun yang sama menjadi peserta PIMNAS XXIV yang dilaksanakan di Universitas Hasanuddin, Makassar. Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir yakni penulisan skripsi, penulis melakukan penelitian dan menyusun skripsi dengan judul “Pengaruh Perbedaan Ukuran Mata Jaring Rampus terhadap Hasil Tangkapan

Ikan

Layang

(Decapterus

Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi”.

kurroides)

di

Perairan

Cisolok,

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ...................................................................................................... i DAFTAR TABEL .............................................................................................. iii DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... iv DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... vi 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1 1.2 Tujuan ...................................................................................................... 3 1.3 Manfaat .................................................................................................... 3 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Ikan Layang (Decapterus kurroides) ....................................... 4 2.1.1 Klasifikasi dan morfologi .............................................................. 4 2.1.2 Biologi ........................................................................................... 5 2.1.3 Habitat ........................................................................................... 6 2.1.4 Sebaran .......................................................................................... 7 2.1.5 Musim dan daerah penangkapan ................................................... 8 2.2 Jaring Rampus .......................................................................................... 9 2.2.1 Klasifikasi dan deskripsi ............................................................... 9 2.2.2 Konstruksi jaring rampus .............................................................. 9 2.2.3 Metode pengoperasian ................................................................... 10 2.2.4 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan penangkapan dengan gillnet .......................................................... 11 2.2.5 Hasil tangkapan ............................................................................. 16 2.3 Nelayan .................................................................................................... 16 2.4 Kapal ....................................................................................................... 17 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian .................................................................. 18 3.2 Alat Penelitian ......................................................................................... 18 3.3 Metode Pengambilan Data ...................................................................... 19 3.3.1 Jaring rampus yang digunakan ...................................................... 19 3.3.2 Pengukuran hasil tangkapan .......................................................... 23 3.4 Analisis Data ........................................................................................... 25

i  

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Batas-Batas Administrasi Kecamatan Cisolok ........................................ 27 4.2 Letak dan Keadaan Geografis ................................................................. 27 4.3 Unit Penangkapan Ikan ........................................................................... 28 4.3.1 Perahu ............................................................................................ 28 4.3.2 Alat tangkap .................................................................................. 29 4.3.3 Nelayan .......................................................................................... 49 4.4 Produksi ................................................................................................... 50 4.5 Nilai Produksi .......................................................................................... 50 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil ......................................................................................................... 52 5.1.1 Komposisi hasil tangkapan ............................................................ 52 5.1.2 Keragaman spesies hasil tangkapan .............................................. 63 5.1.3 Jumlah hasil tangkapan ikan layang (Decapterus kurroides) ....... 63 5.1.4 Distibusi ukuran hasil tangkapan ikan layang ............................... 69 5.1.5 Hubungan antara girth dan fork length .......................................... 76 5.2 Pembahasan ............................................................................................. 81 5.2.1 Komposisi total hasil tangkapan ................................................... 81 5.2.2 Jumlah ikan layang (Decapterus kurroides) ................................. 83 5.2.3 Distribusi ukuran hasil tangkapan ikan layang ............................. 84 5 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan .............................................................................................. 88 6.2 Saran ........................................................................................................ 88 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 89 LAMPIRAN ....................................................................................................... 93

ii  

DAFTAR TABEL Halaman 1

Skala tingkat kematangan gonad ikan.......................................................... 6

2

Spesifikasi jaring rampus yang digunakan dalam penelitian ....................... 19

3

Perkembangan jumlah perahu motor tempel dan kapal motor .................... 29

4

Jumlah alat tangkap di Palabuhanratu.......................................................... 29

5

Jumlah nelayan PPN Palabuhanratu tahun 2006-2010 ................................ 50

6

Produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2006-2010 ............. 50

7

Nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2006-2010 .... 51

8

Komposisi total hasil tangkapan .................................................................. 53

9

Jumlah hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda ................................................................................................ 55

10 Hasil uji lanjut perbandingan berganda terhadap total hasil tangkapan pada ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian............................ 61 11 Hasil analisis keragaman nilai indeks Shannon Wiener pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda ........................................ 63 12 Hasil uji lanjut perbandingan berganda terhadap hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda pada tiap perlakuan ...................................................................................... 69 13 Hasil uji lanjut perbandingan berganda terhadap distribusi panjang cagak hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda pada tiap perlakuan ............................................. 72 14 Hasil uji lanjut perbandingan berganda terhadap distribusi ukuran girth operculum hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda pada tiap perlakuan .................... 76 15 Jumlah ikan layang dengan cara tertangkapnya selama penelitian .............. 80

iii  

DAFTAR GAMBAR Halaman 1

Ikan layang (Decapterus kurroides) ........................................................... 4

2

Konstruksi jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci yang digunakan pada penelitian ............................................................................ 21

3

Desain jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda ................. 21

4

Metode pemasangan jaring rampus ketika dioperasikan di perairan ........... 23

5

Metode pengukuran panjang total dan panjang cagak pada ikan................. 24

6

Cara tertangkap ikan oleh gillnet ................................................................. 25

7

Alat tangkap payang di Cisolok ................................................................... 30

8

Konstruksi payang ....................................................................................... 31

9

Sayap payang yang dioperasikan di Cisolok................................................ 32

10 Pelampung payang yang dioperasikan di Cisolok ....................................... 33 11 Tali selambar pada alat tangkap payang ...................................................... 34 12 Perahu payang di perairan Cisolok .............................................................. 35 13 Penarikan jaring payang di Cisolok ............................................................. 37 14 Pancing layur di perairan Cisolok ................................................................ 38 15 Konstruksi pancing layur ............................................................................. 38 16 Penggulung pada pancing layur ................................................................... 40 17 Perahu pancing layur di Cisolok .................................................................. 40 18 Desain jaring rampus di Cisolok .................................................................. 43 19 Kostruksi jaring rampus di Cisolok ............................................................. 43 20 Badan jaring rampus yang digunakan di Cisolok ........................................ 44 21 Pelampung jaring rampus yang digunakan di Cisolok................................. 44 22 Pemberat jaring rampus yang digunakan di Cisolok ................................... 45 23 Tali ris jaring rampus yang digunakan di Cisolok ....................................... 46 24 Perahu jaring rampus yang digunakan di Cisolok ....................................... 46 25 Perahu jaring rampus menuju fishing ground di Cisolok ............................ 47 26 Proses setting pengoperasian jaring rampus di Cisolok ............................... 48 27 Proses soaking pada pengoperasian jaring rampus ...................................... 48 28 Proses hauling pada pengoperasian jaring rampus ...................................... 49

iv

29 Persentase komposisi hasil tangkapan jaring rampus .................................. 52 30 Komposisi hasil tangkapan jaring rampus dengan menggunakan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian .................................... 55 31 Proporsi jumlah hasil tangkapan ikan layang dan ikan sampingan jaring rampus selama penelitian ................................................................... 56 32 Proporsi jumlah hasil tangkapan jaring rampus pada ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian ......................................................... 57 33 Proporsi jumlah hasil tangkapan ikan layang dan ikan sampingan pada ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian .................................... 57 34 Jumlah dan rata-rata hasil tangkapan total jaring rampus tiap piece pada setiap trip selama penelitian ................................................................ 58 35 Jumlah dan rata-rata hasil tangkapan jaring rampus tiap piece pada setiap trip pada ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian ........... 62 36 Proporsi jumlah hasil tangkapan ikan layang dengan menggunakan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian .................................... 64 37 Jumlah dan rata-rata hasil tangkapan ikan layang per piece pada jaring rampus setiap trip selama penelitian .................................................. 65 38 Jumlah dan rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus tiap piece pada setiap trip dengan ukuran mata jaring yang berbeda........... 68 39 Distribusi total panjang cagak ikan layang (Decapterus kurroides) yang tertangkap selama penelitian ............................................................... 69 40 Distribusi total panjang cagak ikan layang yang tertangkap pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian .......... 72 41 Distribusi total girth operculum ikan layang yang tertangkap pada jaring rampus selama penelitian .................................................................. 73 42 Distribusi girth operculum ikan layang yang tertangkap pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian .......... 75 43 Hubungan antara panjang cagak dengan girth seluruh hasil tangkapan ikan layang (Decapterus kurroides) ............................................................. 77 44 Cara tertangkapnya ikan pada jaring rampus selama penelitian .................. 78 45 Distribusi total cara tertangkap ikan layang pada jaring rampus selama penelitian ...................................................................................................... 78 46 Distribusi cara tertangkap ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian .................................... 79 47 Distribusi cara tertangkap ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian .................................... 80 48 Cara tertangkap ikan layang secara entangled ............................................. 87

v

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1

Peta lokasi penelitian .................................................................................. 94

2

Peta stasiun pengambilan data hasil tangkapan ........................................... 95

3

Bahan dan alat yang digunakan selama penelitian....................................... 96

4

Hasil tangkapan jaring rampus selama penelitian ........................................ 98

5

Jenis, ukuran dan cara tertangkap hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian........................ 99

6

Lokasi pengambilan data dan total jumlah hasil tangkapan jaring rampus selama penelitian ............................................................................. 112

7

Jumlah dan jenis hasil tangkapan jaring rampus selama penelitian ............. 113

8

Nilai Index Shannon Wiener ........................................................................ 114

9

Nilai uji Friedman terhadap jumlah total hasil tangkapan dan total hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda ...................................................................................... 116

10 Nilai uji Friedman terhadap distribusi panjang cagak dan girth operculum ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda ................................................................................................ 117 11 Uji lanjut perbandingan berganda terhadap jumlah total hasil tangkapan dan total hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda .................................................... 118 12 Uji lanjut perbandingan berganda terhadap sebaran panjang cagak dan girth operculum ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda ...................................................................................... 120

 

vi  

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan layang merupakan salah satu hasil tangkapan utama nelayan di Cisolok. Keberadaan ikan layang di perairan Cisolok dapat ditangkap sepanjang tahun dengan puncak musim yang terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Januari-Maret dan Juli-September. Puncak musim ini dapat berubah maju dan mundur sesuai dengan perubahan musim. Ikan layang yang berada di perairan Cisolok merupakan ikan demersal yang hidup bergerombol. Ikan layang jenis ini keberadaannya hanya terbatas di lima perairan di Indonesia, yaitu tersebar di perairan Palabuhanratu, Labuhan, Muncar, Bali dan Aceh. Alat tangkap yang dominan untuk menangkap ikan layang jenis ini adalah jaring rampus. Jaring rampus adalah lembaran jaring berbentuk empat persegi panjang yang dipasang di perairan untuk menangkap ikan layang dan berbagai jenis ikan dasar lainnya. Jaring ini diklasifikasikan ke dalam jenis jaring insang dasar (bottom gillnet) karena dioperasikan di dasar perairan. Jaring rampus merupakan salah satu jenis gillnet yang banyak digunakan oleh nelayan di perairan Cisolok untuk menangkap ikan layang. Ditinjau dari konstruksinya, jaring rampus menggunakan badan jaring yang terbuat dari nylon monofilament berwarna putih bening, dengan ukuran mata jaring yang banyak digunakan oleh nelayan di perairan Cisolok adalah jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci dengan hanging ratio 0,57. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring sebesar 2 inci dengan hanging ratio 0,57 yang sering digunakan oleh nelayan di perairan Cisolok tersebut mampu menangkap berbagai jenis hasil tangkapan, yaitu berupa ikan-ikan yang berukuran besar maupun ikan-ikan yang berukuran kecil dengan hasil tangkapan utama berupa ikan layang. Ikan layang yang tertangkap menggunakan jaring rampus di perairan Cisolok memiliki ukuran yang bervariasi dengan kisaran ukuran dengan panjang cagak 18-40 cm. Ukuran tersebut mencerminkan bahwa ikan layang yang tertangkap di perairan Cisolok sangat bervariasi. Beberapa penelitian mengenai pengaruh ukuran mata jaring telah dilakukan oleh beberapa peneliti di Indonesia maupun di luar negeri. Beberapa peneliti di Indonesia yang meneliti mengenai pengaruh perbedaan mata jaring pada gillnet.

2  

Abidin (2000) yang mengkaji mengenai selektivitas mata jaring rampus terhadap ikan kembung di Teluk Jakarta dengan menguji pengaruh mata jaring rampus dengan 3 ukuran mata jaring yang berbeda, yaitu 1,5, 1,75, dan 2 inci. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring 1,5, 1,75, dan 2 inci pada jaring rampus memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil tangkapan ikan kembung di Teluk Jakarta. Beberapa peneliti asing juga banyak yang melakukan penelitian mengenai pengaruh perbedaan mata jaring gillnet. Dincer and Bahar (2008) dengan judul penelitian multifilament gillnet selectivity for the red mullet (Mullus barbatus) in the Eastern Black Sea Coast of Turkey, Trabazon. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring gillnet dengan ukuran 32, 36, 40, dan 44 mm memiliki pengaruh nyata terhadap hasil tangkapan ikan red mullet (Mullus barbatus) di perairan Turki. Carlson and Cortes (2003) juga melakukan penelitian mengenai gillnet selectivity of small coastal sharks off the southeastern United States. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring gillnet dengan ukuran mata jaring 8,9, 10, 11,4, 12,7, 14, dan 20,3 cm memiliki pengaruh yang nyata terhadap hasil tangkapan hiu di perairan Amerika Serikat. Carlson and Cortes (2003), juga menyatakan bahwa panjang maksimum ikan akan selalu meningkat dengan meningkatnya ukuran mata jaring pada gillnet. Kenyataan terdahulu bahwa perbedaan mata jaring akan berpengaruh terhadap hasil tangkapan gillnet, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh perbedaan mata jaring rampus di perairan Cisolok. Nelayan di perairan Cisolok saat ini menggunakan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. Oleh karenanya pada penelitian ini penulis bermaksud melakukan penambahan dan pengurangan terhadap ukuran mata jaring standar yang selama ini digunakan oleh nelayan di perairan Cisolok dan menganalisis pengaruhnya terhadap hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus.

   

3  

1.2 Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk : 1.

Menentukan komposisi dan keragaman hasil tangkapan jaring rampus dengan menggunakan ukuran mata jaring yang berbeda;

2.

Menentukan jumlah hasil tangkapan ikan layang (Decapterus kurroides) dengan menggunakan jaring rampus pada ukuran mata jaring yang berbeda; dan

3.

Menentukan perbedaan cara tertangkap ikan layang (Decapterus kurroides) pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda.

1.3 Manfaat Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi Dinas Kelautan dan Perikanan dalam mengembangkan konstruksi jaring rampus yang efektif untuk menangkap ikan layang di perairan Cisolok.

   

2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Ikan Layang (Decapterus kurroides) 2.1.1 Klasifikasi dan morfologi Menurut Bleeker (1855) diacu dalam Saanin (1984), ikan layang dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum

: Chordata

Super Kelas : Pisces Kelas

: Actinopterygii

Sub Kelas : Teleostei Ordo : Perciformes Famili

: Carangidae

Genus

: Decapterus

Spesies : Decapterus kurroides  

Sumber: Bleeker (1855) Gambar 1 Ikan layang (Decapterus kurroides) Ikan layang (Decapterus kurroides) memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut, ikan layang memiliki panjang total (TL) sekitar 45 cm, dan panjang cagak (FL) sekitar 30 cm. Ikan ini memiliki ciri khas memiliki sirip ekor (caudal) yang berwarna merah, sirip kecil (finlet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur dan terdapat gurat sisi (lateral line) (Nontji, 2002). Ikan layang hidup di perairan lepas pantai, dan ikan ini biasa memakan plankton-plankton kecil. Decapterus kurroides memiliki ciri morfologi sebagai berikut, dua sirip punggung (dorsal), dorsal 1 memiliki 8 jari-jari keras dan dorsal 2 memiliki 1 jari-jari keras dan 28-29 jari-jari lemah. Sirip dubur (anal) memiliki 3 jari-jari keras dan 22-25 jari-jari lemah.

5

Tubuhnya memiliki warna hijau kebiruan di daerah atas dan keperakan di daerah bawah, operculum memiliki bintik-bintik hitam kecil. Insang dilindungi oleh membran halus (Saanin,1984).

2.1.2 Biologi Dalam biologi perikanan, pencatatan perubahan-perubahan atau tahap-tahap kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui ikan-ikan yang melakukan reproduksi dan yang tidak. Adapun pengetahuan tahap kematangan gonad ini juga akan diperoleh keterangan bilamana ikan itu akan memijah. Dengan mengetahui ukuran ikan untuk pertama kali gonadnya menjadi masak, ada hubungannya dengan pertumbuhan ikan itu sendiri dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Effendi, 2002). Adapun dalam pencatatan komposisi kematangan gonad dihubungkan dengan waktu akan didapat daur perkembangan gonad tersebut, namun bergantung kepada pola dan macam pemijahannya spesies yang bersangkutan. Persentase TKG dapat dipakai untuk menduga waktu terjadinya pemijahan. Ikan yang mempuyai satu musim pemijahan panjang, akan ditandai dengan peningkatan persentase TKG yang tinggi pada setiap akan mendekati musim pemijahan. Bagi ikan yang mempunyai musim pemijahan sepanjang tahun, pada pengambilan contoh setiap saat akan didapatkan komposisi tingkat kematangan gonad (TKG) terdiri dari berbagai tingkat dengan persentase yang tidak sama. Persentase yang tinggi dari TKG yang besar merupakan puncak pemijahan walaupun pemijahan sepanjang tahun. Jadi dari komposisi TKG ini dapat diperoleh keterangan waktu mulai dan berakhirnya kejadian pemijahan dan puncaknya (Effendi, 2002). Dasar yang dipakai untuk menentukan tingkat kematangan gonad dengan pengamatan secara morfologi melalui bentuk, ukuran panjang dan berat warna dan perkembangan isi gonad yang dapat dilihat. Untuk mendapatkan gambaran tingkat kematangan gonad (TKG) digunakan skala kematangan gonad dalam Effendi (2002) pada Tabel 1.

6

Tabel 1 Skala Tingkat Kematangan Gonad Ikan TKG I

Tingkat Kematangan Deskripsi Belum matang, dara Ovari dan testis kecil, ukuran hingga ½ dari (Immature) panjang rongga badan. Ovari berwarna kemerahan jernih (translucent), testis keputihan, dan butiran telur tidak tampak.

II

Perkembangan (Maturing)

Ovari dan testis sekitar ½ dari panjang rongga badan. Ovari merah-orange, translucent, testis putih, kira-kira simetris. Butiran telur tidak tampak dengan mata telanjang.

III

Pematangan (Ripening)

Ovari dan testis sekitar ⅔ dari panjang rongga badan. Ovari kuning-orange, nampak butiran telur, testis putih kream. Ovari dengan pembuluh darah di permukaan. Belum ada telur-telur yang transparan atau translucent, telur masih gelap.

IV

Matang, mature (Ripe) Ovari dan testis kira-kira ⅔ sampai memenuhi rongga badan. Ovari berwarna orange-pink dengan pembuluh-pembuluh darah di permukaannya. Terlihat telur-telur besar, transparan, telur-telur matang (ripe). Testis putih-kream, lunak.

V

Mijah, Salin (Spent)

Ovari dan testis menyusut hingga ½ dari rongga badan. Dinding tebal. Di dalam ovari mungkin masih tersisa telur-telur gelap dan matang yang mengalami desintegrasi akibat penyerapan, gelap atau translucent. Testis lembek.

Sumber : Effendi, 2002

TKG dapat dikaitkan dengan ukuran ikan dan dapat mengarah kepada identifikasi panjang saat pertama matang gonad (length of first maturity). Informasi ini dapat dijadikan dasar pengaturan besarnya mata jaring. Besarnya mata jaring ditetapkan sedemikian rupa sehingga paling tidak ikan yang ditangkap sudah memijah, minimal satu kali memijah, ikan layang (Decapterus kurroides) yang pertama kali memijah berkisar memiliki panjang cagak 25-27 cm (Badrudin, 2004).

2.1.3 Habitat Ikan layang yang umum terdapat di Indonesia terdiri dari lima jenis, yaitu Decapterus kurroides, Decapterus russeli, Decapterus macrosoma, Decapterus

7

layang, Decapterus maruadsi (FAO, 1974). Ikan layang (Decapterus kurroides) merupakan spesies ikan layang yang berada di daerah dasar perairan. Penyebaran ikan layang ini sangat menyebar di daerah perairan Indonesia, yaitu dari Pulau Seribu, P. bawean, P. Masalembo, Selat Makassar, Selat Karimata, Selat Malaka, Laut Flores, Arafuru, Selat Bali, dan Perairan Selatan Pulau Jawa. Decapterus kurroides termasuk jenis ikan layang yang agak langka yang terdapat di perairan Palabuhanratu, Labuhan, Muncar, Bali dan Aceh (Wiews et al., 1968 diacu dalam Genisa, 1988). Jenis ikan layang yang banyak di perairan Cisolok adalah jenis layang Decapterus Kurroides dan masyarakat sekitar perairan Cisolok menyebutnya ikan selayang. Penyebaran ikan layang (Decapterus kurroides) di Indonesia terdapat di perairan Pasifik barat Indonesia, perairan Afrika Timur sampai Filiphina, perairan utara sampai selatan Jepang, perairan selatan sampai barat Australia (Bleeker, 1855). Lingkungan ikan layang (Decapterus kurroides) cukup berbeda dengan jenis genus Decapterus lainnya, ikan ini berada di kedalaman 100-300 m, dan biasanya berada di kedalaman 150-300 m, dan biasa berinteraksi di karang (Saanin, 1984).

2.1.4 Sebaran Ikan layang tersebar di seluruh dunia. Ikan layang tersebar dengan mendiami daerah-daerah tropis dan subtropis di Lautan Indo-pasifik dan Lautan Atlantik. Jenis ikan layang sangat beragam, setiap jenisnya memiliki daerah sebaran yang berbeda, dan juga ada yang daerah sebarannya tumpang tindih satu sama lain. Jenis ikan layang Decapterus russeli memiliki daerah sebaran yang paling luas diantara jenis layang yang lainnya. Ikan layang jenis Decapterus kurroides ini hampir tertangkap di seluruh daerah perairan Indonesia, dan sangat dominan di perairan Jawa, mulai dari Pulau Masa Lembu, Pulau Bawean, dan juga seluruh daerah Kepulauan Seribu. Jenis ikan layang lainnya yaitu Decapterus layang tersebar di perairan-perairan dangkal dan untuk jenis Decapterus macrosoma tersebar di laut Jaluk. Berdasarkan data penangkapan di Indonesia, ikan layang jenis Decapterus layang tertangkap di Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Madura dan perairan laut dangkal lainnya di Indonesia, sedangkan jenis

8

Decapterus macrosoma tertangkap oleh nelayan-nelayan di Laut Jeluk seperti Pulau Banda, Ambon, Sangihe, dan Selat Bali. Decapterus kurroides tergolong jenis ikan layang yang langka yang hanya tersebar di tiga daerah di Indonesia, yaitu di perairan Labuhan, perairan Selat Bali, dan juga di perairan Palabuhanratu, Jawa Barat, dalam jumlah besar pada musim-musim tertentu (Djamali, 1979). Sebaran ikan layang (Decapterus kurroides) sangat berkaitan erat dengan makanan ikan tersebut. Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan, dan sebaran ikan layang. Kebiasaan makan ikan layang dapat diketahui dengan melihat habitat ikan layang. Ikan layang merupakan pemakan plankton hewani, benthos, dan ikan-ikan kecil.

2.1.5 Musim dan daerah penangkapan Musim penangkapan ikan layang tergantung dari pola migrasinya. Pola migrasi ikan layang adalah musiman, karena kebiasaan hidupnya sangat peka terhadap salinitas rendah, juga ikan layang melakukan migrasi setiap hari yaitu migrasi harian. Migrasi ikan layang, dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu yang secara tidak langsung jenis pakannya itu dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Ikan layang tinggal di lautan luas atau juga tersebar di perairan teluk. Puncak produksi ikan layang di perairan Jawa terjadi dua kali dalam setahun yang kurang lebih jatuh pada bulan Januari-Maret dan Juli-September. Puncak musim ini dapat berubah maju dan mundur sesuai dengan perubahan musim. Nelayan di perairan timur Pulau Seribu menangkap ikan layang pada akhir Juni sampai awal Juli yang memiliki ukuran kecil. Pada pekan-pekan berikutnya ikan layang tumbuh menjadi besar hingga mencapai ukuran 15 cm dan produksinya pun meningkat. Nontji (2002) mengatakan bahwa di perairan Jawa, arah ruaya ikan layang sejalan dengan arus utama. Pada saat musim timur (JuniSeptember), banyak sekali ikan layang di perairan Laut Jawa. Ikan layang terbagi menjadi dua populasi yaitu layang yang datang dari Selat Makassar dan juga yang datang dari Laut Flores. Pada musim barat (Januari-Maret), terdapat juga dua populasi ikan layang yang masuk ke perairan Laut Jawa, yaitu dari arah barat dan juga dari arah utara. Populasi layang dari barat melakukan pemijahan di Samudera Hindia sampai ke selatan Selat Sunda dan terbawa oleh arus laut yang

9

membawanya masuk ke perairan Laut Jawa. Sementara polulasi dari utara, ikan layang melakukan pemijahan di Laut Cina Selatan, dan melakukan migrasi melalui Selat Sunda dan masuk ke Laut Jawa.

2.2 Jaring Rampus 2.2.1 Klasifikasi dan deskripsi Menurut Ayodhyoa (1981), jaring rampus merupakan jenis jaring insang dasar (bottom gillnet). Jaring rampus memiliki bentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata yang sama pada seluruh tubuh jaring. Pada sisi atas jaring diletakkan pelampung (float) dan pemberat (sinker) pada sisi bawah. Jaring akan terentang akibat dua gaya yang berlawanan arah, yaitu gaya terapung (buoyancy force) yang disebabkan oleh pelampung di sisi atas badan jaring, dan gaya tenggelam (sinking force) oleh pemberat. Berdasarkan kebiasaan renang ikan pengoperasian jaring insang dapat dibagi menjadi dua, yaitu jaring insang hanyut untuk menangkap ikan-ikan pelagis dan jaring insang dasar untuk menangkap ikan demersal. Jaring rampus merupakan jaring insang yang dioperasikan di dasar perairan. Nomura dan Yamazaki (1976) mengatakan bahwa jaring rampus merupakan jaring insang yang dioperasikan di dasar perairan. Jaring rampus merupakan klasifikasi alat tangkap yang termasuk ke dalam jaring insang dasar. Adapun menurut Brandt (1984), jaring rampus termasuk ke dalam drift gillnet atau jaring insang yang dioperasikan secara dihanyutkan.

2.2.2 Konstruksi jaring rampus Menurut Zamil (2007), jaring rampus terdiri dari tiga bagian utama, yaitu badan jaring, tali ris atas, dan tali ris bawah. 1) Badan jaring merupakan bagian utama jaring rampus. Badan jaring tersusun dari benang monofilament polyamide yang memiliki nilai kelenturan tinggi dibandingkan dengan multifilament polyamide. 2) Tali ris atas merupakan tali yang menghubungkan pelampung dengan badan jaring. Tali ris atas biasanya berbahan polyethylene dengan panjang kira-kira

10

mencapai 350 m per unit alat tangkap. Pada tali ris atas, tali pelampung akan diikatkan untuk memasang pelampung pada jaring. 3) Tali ris bawah merupakan tali yang menghubungkan pemberat dengan badan jaring. Tali ris bawah biasanya berbahan polyethylene dengan panjang kira-kira 450 m per unit alat tangkap. Pada tali ris bawah diikatkan tali pemberat untuk memasang pemberat pada jaring, dengan adanya perimbangan dua gaya yang berlawanan antara pelampung dan pemberat serta berat jaring itu sendiri, maka jaring akan terentang di dalam air. Zamil (2007) mengatakan bahwa spesifikasi bahan dari bagian-bagian jaring rampus adalah sebagai berikut: 1) Badan jaring tersusun dari benang monofilament polyamide yang memiliki nilai kelenturan tinggi dibandingkan dengan multifilament polyamide; 2) Tali ris atas biasanya berbahan polyethylene dengan panjang kira-kira mencapai 350 m per unit alat tangkap; 3) Tali pelampung yang terbuat dari polyethylene; 4) Pelampung yang terbuat dari styrofoam atau karet dengan jarak pemasangan antar pelampung berkisar 50-65 cm tergantung hanging ratio yang akan dipakai serta disesuaikan dengan panjang badan jaringnya; 5) Tali ris bawah berbahan polyethylene; 6) Tali pemberat terbuat dari polyethylene; dan 7) Pemberat yang terbuat dari timah, baja, atau hanya berupa batu. Benang jaringnya adalah bahan nilon (polyamide) monofilament (senar) seperti halnya jaring insang lainnya. Pemilihan PA monofilamen sebagai bahan dasar terutama disebabkan karena bahan ini memiliki nilai kelenturan yang tinggi dibandingkan benang PA multifilamen untuk ukuran yang sama (Nomura dan Yamazaki, 1976).

2.2.3 Metode Pengoperasian Brandt (1984), menyatakan bahwa ada empat metode pengoperasian gillnet, yaitu: jaring insang tetap (set gillnet), jaring insang hanyut (drift gillnet), jaring insang tarik (dragged gillnet), dan jaring insang lingkar (encircling gillnet). Secara umum pengoperasian gillnet dilakukan secara pasif, tetapi juga ada yang

11

dilakukan secara semi aktif pada siang hari. Pengoperasian gillnet secara pasif pada umumnya dilakukan pada malam hari, dengan atau tanpa alat bantu cahaya. kemudian gillnet dipasang di perairan yang diperkirakan akan dilewati oleh ikan atau hewan air lainnya dan dibuarkan beberapa lama sampai ikan menabrak dan terjerat memasuki mata jaring. Miranti (2007) menyatakan bahwa secara umum metode pengoperasian alat tangkap gillnet terdiri atas beberapa tahap, yaitu : 1. Persiapan yang dilakukan nelayan meliputi pemeriksaan alat tangkap, kondisi mesin, bahan bakar kapal, perbekalan, es dan tempat untuk menyimpan hasil tangkapan. 2. Pencarian daerah penangkapan ikan (DPI), hal ini dilakukan nelayan berdasarkan pengalaman-pengalaman melaut yaitu dengan mengamati kondisi perairan. 3. Pengoperasian alat tangkap yang terdiri atas pemasangan jaring (setting), perendaman jaring (soaking), dan pengangkatan jaring (hauling). 4. Tahap penanganan hasil tangkapan adalah pelepasan ikan hasil tangkapan dari jaring untuk kemudian disimpan pada suatu wadah atau tempat.

2.2.4 Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan penangkapan dengan gillnet Keberhasilan penangkapan ikan dengan menggunakan gillnet tergantung dari konstruksi gillnet yang meliputi bahan jaring, twine thickness, fleksibilitas benang, tekanan/gaya-gaya yang bekerja pada benang, breaking strength, elongasi, warna jaring, mesh size, dan hanging ratio (Nomura dan Yamazaki, 1976). Ayodhyoa (1981) mengatakan bahwa agar ikan mudah terjerat pada mesh size atau terbelit pada tubuh jaring, maka bahan yang digunakan pada waktu pembuatan tubuh jaring hendaklah memperhatikan hal-hal seperti; kekuatan dari twine, ketegangan rentangan tubuh jaring, pengerutan jaring, tinggi jaring, mesh size dan ukuran besar ikan yang menjadi tujuan penangkapan. 1. Bahan Jaring Bahan pembuat jaring dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yakni bahan dari serat alami (natural fibres) dan bahan buatan (synthetic fibres). Bahan yang terbuat dari serat alami selanjutnya bisa dikategorikan menjadi

12

bahan yang terbuat dari serat tumbuhan maupun hewan. Bahan yang terbuat dari serabut tumbuhan misalnya manila, henep, katun sedangkan bahan yang terbuat dari serat hewan adalah wool dan sutera. Bahan jaring yang terbuat dari serat sintetis saat ini dapat diklasifikasikan menjadi 7 kelompok yakni polyamide (PA), polyester (PES), polyethilene (PE), poly prophylene (PP), polyvinil chloride (PVC), polyvinylidene chloride (PVD), dan polyvinyl alcohol (PVA). Bahan yang paling banyak digunakan untuk gillnet adalah dari serat sintetis (Iskandar, 2009). Bahan nilon dipilih sebagai bahan dasar gillnet karena memiliki karakteristik yang sesuai sebagai bahan dasar jaring insang. Sifat nilon menurut Soeprijono et al. (1975) diacu dalam Prasetyo, 2009) sebagai berikut:  Kekuatan dan daya mulur Nylon memiliki kekuatan dan daya mulur berkisar dari 8,8 gram/denier dan 18% sampai 4,3 gram/denier dan 45%. Kekuatan basahnya 80-90% kekuatan kering.  Tahan gosokan dan tekukan Nylon mempunyai tahan tekukan dan gosokan yang tinggi. Tahan gosokan nylon kira-kira 4-5 kali tahan gosok wol.  Elastisitas Nylon selain mempunyai kemuluran yang tinggi (22%). Pada penarikan 8% nylon elastis 100% dan pada penarikan sampai 16% nylon masih mempunyai elastisitas 91%. 2. Ketegangan rentangan tubuh jaring Adapun yang dimaksud dengan ketegangan rentangan adalah rentangan pada jaring yaitu rentangan ke arah lebar dan rentangan jaring ke arah panjang. Ketegangan rentangan akan mengakibatkan terjadinya tension baik pada float line ataupun pada tubuh jaring. Jaring yang terentang dengan tegang akan membuat ikan sulit tertangkap, dan ikan akan mudah lepas; 3. Hanging ratio Hanging ratio didefinisikan sebagai perbandingan antara panjang tali ris atas dengan jumlah mata jaring dan ukuran mata jaring. Hanging ratio sangat menentukan probabilitas dari seekor ikan dapat terjerat pada jaring. Hanging

13

ratio memberikan pengaruh pada selektivitas dan efisiensi jaring insang (Spare and Venema, 1999). Ada dua jenis rasio penggantungan, yaitu rasio primer (E1) dan sekunder (E2). Nilai rasio primer dihitung berdasarkan penggantungan ke samping (horizontal), sedangkan rasio sekunder tegak lurus rasio primer. Nilai rasio primer gillnet pada umumnya berkisar antara 0,5 – 0,7, sedangkan gillnet dasar sebesar 0,5. Beberapa gillnet menggunakan rasio penggantungan sebesar 0,3 untuk menambah daya puntal alat sewaktu dioperasikan (Fridman, 1988); 4. Shortening Shortening didefinisikan sebagai selisih antara panjang jaring dalam keadaan mata jaring tertutup (stretch length) dengan panjang tali ris dibagi panjang jaring dalam keadaan mata jaring tertutup. Supaya ikan-ikan mudah terjerat (gilled) pada mata jaring dan juga supaya ikan-ikan tersebut setelah sekali terjerat pada jaring tidak akan mudah terlepas, maka pada jaring perlulah diberikan shortening yang cukup (Atmadja, 1980). Shortening juga mempengaruhi efisiensi penangkapan pada gillnet, karena merupakan faktor yang mempengaruhi bentuk mata jaring; 5. Tinggi Jaring Tinggi jaring didefinisikan sebagai jarak antara tali ris atas ke tali ris bawah atau jarak antara float line ke sinker line pada saat jaring tersebut terpasang di perairan. Ayodhyoa (1981) mengatakan bahwa penentuan tinggi jaring didasarkan antara lain atas lapisan renang ikan yang menjadi tujuan penangkapan dan kepadatan gerombolan ikan. Sementara panjang jaring tergantung pada situasi penangkapan, dan ukuran perahu. Jumlah lembar jaring yang dipergunakan akan menentukan besar kecilnya skala usaha, juga jumlah hasil tangkapan yang mungkin diperoleh. Jadi tinggi jaring sangatlah mempengaruhi jumlah ikan yang tertangkap pada jaring insang; 6. Mesh size Mesh size didefinisikan sebagai jarak antara dua buah simpul mata jaring dalam keadaan terentang secara sempurna. Mesh size (ukuran mata jaring), sering digunakan sebagai instrumen untuk menseleksi ikan maupun crustacea berdasarkan ukuran (Fridman, 1988). Ukuran mata jaring tertentu memiliki kecenderungan menjerat ikan-ikan yang mempunyai fork length dalam selang

14

tertentu. Dengan perkataan lain, gillnet akan bersikap selektif terhadap besar ukuran dari hasil tangkapan yang diperoleh. Oleh karena itu diperlukan penentuan mesh size yang sesuai dengan keadaan daerah penangkapan, yaitu penyesuaian terhadap ukuran dan jenis ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan. Ukuran ikan yang tertangkap berhubungan erat dengan ukuran mata jaring. Semakin besar ukuran mata jaring, maka akan semakin besar pula ikan yang tertangkap (Manalu 2003). Penetapan ukuran mata jaring dapat berdasarkan pada ukuran jenis ikan yang dominan tertangkap. Gillnet yang dioperasikan di Indonesia umumnya memiliki ukuran mata jaring yang berkisar antara 1,5 – 4 inci. Mesh size sangatlah mempengaruhi selektivitas jaring insang, karena mesh size sangat menentukan ukuran ikan yang tertangkap oleh jaring insang. 7. Warna jaring Warna jaring didefinisikan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap sinar matahari, sinar bulan, kedalaman perairan dan juga tingkat kecerahan perairan. Warna akan mempunyai perbedaan derajat terlihat oleh ikan-ikan yang berbeda. Pada waktu siang hari kemungkinan terlihatnya jaring oleh ikan akan lebih besar dibandingkan dengan pada waktu malam hari. Warna jaring tidak boleh merangsang optik mata ikan, maka dari itu warna jaring harus serupa dengan warna air, untuk mengurangi kemungkinan terlihatnya jaring (Mori, 1968); 8. Extra Bouyancy Najamuddin (2009) menyebutkan bahwa extra bouyancy adalah daya apung ekstra. Besar kecilnya daya apung dan daya tenggelam akan mempengaruhi ketegangan jaring. Extra buoyancy pada gillnet berbeda-beda tergantung jenisnya, seperti extra bouyancy gillnet permukaan berkisar antara 30 - 40 %, extra bouyancy gillnet pertengahan adalah 0 dan extra bouyancy gillnet dasar adalah negatif.

15

Rumus dari gillnet extra bouyancy adalah : EB (%) = ((TB – S )/TB )× 100%; Keterangan

:

EB : Extra bouyancy (%); TB : Total bouyancy; dan S : Berat benda di air Rumus untuk menghitung luas jaring adalah √1 Keterangan L E N H α

;

: : Luas jaring (m2); : Hanging ratio (%); : Jumlah mata jaring horizontal (mata); : Jumlah mata jaring vertikal (mata); dan : Ukuran mata jaring dalam keadaan tegang (cm).

Menghitung tinggi jaring menggunakan rumus : √1

Keterangan H t(m)



: : Tinggi jaring; dan : Tinggi jaring dalam keadaan tegang

Perhitungan jumlah mata 1)

Vertikal ;



2)

Horizontal E

.

Keterangan : M Hm L E

: : : :

Mesh size; Tinggi jaring terpasang; Panjang floatline; dan Shortening.

16

2.2.5 Hasil tangkapan Menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1994), hasil utama tangkapan jaring rampus adalah ikan-ikan demersal, dan selebihnya adalah ikan-ikan pelagis kecil. Ikan-ikan demersal yang dominan antara lain adalah ikan tigawaja (Johnius spp), gulamah (Pseudociana spp), kuwe (Caranx spp), dan kuro (Polynemus spp). Adapun ikan-ikan pelagis kecil yang biasa tertangkap adalah selar bentong (Selaroides crumenopthalmus), japuh (Sardinella spp), lemuru (Sardinella sirm), dan

tenggiri

(Scomberomorous

spp),

sedangkan

di

perairan

Cisolok,

Palabuhanratu, ikan-ikan yang tertangkap oleh jaring rampus didominasi oleh ikan layang (Decapterus kurroides).

2.3 Nelayan Menurut Undang-Undang (UU) No. 31 tahun 2004 tentang perikanan, nelayan adalah orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Nelayan adalah orang yang secara aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan, binatang air lainnya atau tanaman air. Orang yang hanya melakukan pekerjaan seperti membuang jaring, mengangkut alat-alat atau perlengkapan ke dalam perahu atau kapal, tidak dimasukkan sebagai nelayan. Ahli mesin dan juru masak yang bekerja di atas kapal penangkap dimasukkan sebagai nelayan, walaupun tidak secara langsung melakukan pekerjaan penangkapan. Nelayan yang diperlukan untuk mengoperasikan alat tangkap jaring rampus ini biasanya sekitar 2-3 orang yang terdiri dari satu orang juru mudi/nahkoda, dan 1 sampai 2 orang anak buah kapal (ABK) (Subani dan Barus, 1989). Miranti (2007) mengatakan bahwa jumlah nelayan tiap kapal gillnet tidaklah sama, tergantung pada skala usaha tersebut. Jenis kapal yang berupa perahu layar tanpa motor hanya menggunakan satu atau dua orang nelayan, sedangkan kapal gillnet dengan motor tempel biasanya dioperasikan oleh tiga sampai empat orang nelayan. Adapun dalam pengoperasian alat tangkap gillnet, keahlian nelayan memegang peranan yang sangat penting, terutama saat penurunan jaring (setting) agar pelampung dan pemberat tidak melilit pada tubuh jaring serta pengaturan posisi kapal terhadap arus laut (Suwanda, 2003).

17

2.4 Kapal Berdasarkan metode pengoperasian alat tangkapnya, kapal ikan dibedakan dalam empat kelompok besar, yaitu towed gear, kapal dengan alat tangkap ikan yang ditarik; encircling gear, kapal dengan alat tangkap dilingkar; static gear, kapal dengan alat tangkap yang dioperasikan secara statis; dan multi purpose, kapal dengan lebih dari satu alat tangkap (Fyson J, 1985). Pada kapal gillnet stabilitas kapal yang tinggi lebih diperlukan agar saat pengoperasian alat tangkap dapat berjalan dengan baik (Rahman 2005). Solihin (1993) mengatakan bahwa umumnya kapal gillnet mengoperasikan berbagai jenis ukuran alat tangkap. Gillnet pada awal mulanya dioperasikan menggunakan perahu-perahu kecil tanpa motor oleh nelayan tradisional. Adanya kemajuan dalam bidang motorisasi, maka penggunaan kapal gillnet di Indonesia umumnya telah menggunakan penggerak mesin motor tempel (outboard engine). Gillnet dengan usaha yang lebih besar biasanya menggunakan tenaga penggerak jenis mesin dalam (inboard engine) dan alat bantu roller untuk penarikan jaring. Kapal yang digunakan oleh alat tangkap jaring rampus di PPI Cisolok adalah jenis kapal motor tempel. Kapal motor tempel (outboard engine vessel) adalah kapal dengan mesin yang dapat dipasang atau dilepaskan secara cepat yang digunakan untuk menangkap ikan dengan alat tangkap jaring insang. Bentuk badan kapal gillnet pada bagian haluan “V”, bagian tengah berbentuk “U” dan bagian buritan cenderung mendatar (Agustina, 1996)  

3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di bulan Maret hingga bulan April 2011. Penelitian ini meliputi pembuatan alat dan pengambilan data di Cisolok. Jaring rampus dibuat dengan ukuran mata jaring 44,5; 50,8; 63,5; dan 76,2 mm (1,75; 2; 2,5; dan 3 inci) masing-masing sebanyak 2 lembar. Adapun pengambilan data di lapang berupa uji coba penangkapan ikan yang dilakukan selama 15 hari dimulai dari tanggal 7 April sampai dengan 21 April tahun 2011. Lokasi pengambilan data adalah di perairan Cisolok, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat (Lampiran 1). Lokasi penelitian tersebut diambil sebagai tempat penelitian karena merupakan salah satu dari kelima perairan di Indonesia yang menjadi wilayah sebaran ikan layang (Decapterus kurroides).

3.2 Alat Penelitian Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: 1.

Jaring rampus sebanyak 8 piece dengan mesh size 44,5; 50,8; 63,5; dan 76,2 mm (1,75, 2, 2,5, dan 3 inci) yang masing-masing berjumlah 2 piece.

2.

Perahu dengan panjang (L), lebar (B), dan dalam (D) berturut-turut 11,8 m, 1 m, dan 1 m.

3.

Penggaris dengan panjang 60 cm dengan ketelitian 1 mm untuk mengukur panjang cagak (fork length), dan panjang total (total length) ikan layang (Decapterus kurroides);

4.

Measuring board yang

terbuat dari bahan styrofoam untuk mengukur

panjang cagak ikan (fork length); 5.

Kamera dengan merk canon yang digunakan untuk dokumentasi seluruh hasil penelitian dan kegiatan penelitian;

6.

Alat tulis untuk mencatat hasil tangkapan;

7.

GPS (Global Positioning Sistem) untuk menentukan lokasi penangkapan;

8.

Coban.

Gambar alat-alat yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Lampiran 3.

19  

3.3 Metode Pengambilan data 3.3.1 Jaring rampus yang digunakan Metode penelitian ini adalah experimental fishing yakni dengan melakukan uji coba penangkapan ikan di laut. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan jaring rampus yang memiliki ukuran mata jaring yang berbeda, yaitu dengan ukuran 44,5; 50,8; 63,5; dan 76,2 mm (1,75, 2, 2,5, dan 3 inci). Masing-masing jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda berjumlah sebanyak 2 piece, sehingga jumlah jaring rampus yang dioperasikan berjumlah 8 piece. Secara detail jaring rampus yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Spesifikasi jaring rampus yang digunakan dalam penelitian No 1.

2.

Bagian Jaring Float Line

Spesifikasi

 Panjang (cm)  Diameter (cm)  Bahan Sinker Line  Panjang (cm)  Diameter (cm)  Bahan

1,75 inci 5600 0,5 PE

Mesh size 2 inci 2,5 inci 5600 5600 0,5 0,5 PE PE

3 inci 5600 0,5 PE

6500 0,3 PE

6500 0,3 PE

6500 0,3 PE

6500 0,3 PE

3.

Tali ris atas

 Panjang (cm)  Diameter (cm)  Bahan

5600 0,5 PE

5600 0,5 PE

5600 0,5 PE

5600 0,5 PE

4.

Tali ris bawah

 Panjang (cm)  Diameter (cm)  Bahan

6500 0,3 PE

6500 0,3 PE

6500 0,3 PE

6500 0,3 PE

3.

Pelampung

 Panjang (cm)  Diameter (cm)  Berat (gram)  Bahan

5 0,5 2 Styrofoam

5 0,5 2 Styrofoam

5 0,5 2 Styrofoam

5 0,5 2 Styrofoam

4.

Pemberat

 Panjang (cm)  Diameter (cm)  Berat (gram)  Bahan

2 0,3 12 Timah

2 0,3 12 Timah

2 0,3 12 Timah

2 0,3 12 Timah

20  

Lanjutan Tabel 2

No 5.

6.

Bagian Jaring Badan Jaring

Hanging ratio

Mesh size

Spesifikasi 1,75 inci 2180 ◊  Jumlah mata arah horisontal 100 ◊  Jumlah mata arah vertikal PA  Bahan Monofila men  Ketebalan 0,75 (mm) 0,58  Float line 0,67  Sinker line

2 inci 1934 ◊

2,5 inci 1561 ◊

3 inci 1312 ◊

75 ◊

55 ◊

45 ◊

PA Monofila men

PA Monofila men

PA Monofila men

1 0,57 0,66

1,25 0,56 0,66

2 0,56 0,65

Simpul bendera merupakan simpul yang digunakan untuk mengikat pelampung maupun pemberat. Pelampung dipasang pada tali pelampung dan digabungkan dengan tali ris atas dengan menggunakan satu pola pemasangan. Pola pemasangan mata jaring pada tali pelampung pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda akan berbeda pula. Sebagai contoh pada ukuran mata jaring 2 inci pola pemasangan yang digunakan adalah sebagai berikut, pelampung dipasang pada sisi awal dan akhir, jarak antar pelampung adalah 52,3 cm, sedangkan diantara pelampung terdapat 15 buah mata jaring, selanjutnya di bawah setiap pelampung terdapat 3 buah mata jaring. Pada ikatan pemberat pertama di pasang 2 buah pemberat di sisi awal, jarak antar pemberat adalah 31 cm, sedangkan diantara pemberat terdapat 6 buah mata jaring, selanjutnya di bawah setiap pemberat terdapat 2 buah mata jaring. Secara lebih rinci konstruksi dan desain jaring rampus yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Gambar 2, dan Gambar 3.

21   56 m Pelampung, 3 ◊ Tali ris atas

Pelampung, 3 ◊ Tali pelampung

52,3 cm. 15 ◊

Tali ris bawah

31 cm. 6 ◊

31 cm. 6 ◊ 2◊ 65 m

Tali pemberat

2◊

Gambar 2 Konstruksi jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci yang digunakan pada penelitian. Desain jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. 2 x 56 PE Ø 5 2180 ◊ 100 ◊

PA Monofilament : 1,75 inci

100 ◊

2180 ◊ 2 x 65 PE Ø 3 Gambar 3 Desain jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda pada penelitian.

22  

Desain jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. 2 x 56 PE Ø 5 1934 ◊ 75 ◊

PA Monofilament : 2 inci

75 ◊

1934 ◊ 2 x 65 PE Ø 3 Desain jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci. 2 x 56 PE Ø 5 1561 ◊ 55 ◊

PA Monofilament : 2,5 inci

55 ◊

1561 ◊

2 x 65 PE Ø 3 Desain jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci. 2 x 56 PE Ø 5 1312 ◊ 45 ◊

PA Monofilament : 3 inci

45 ◊

1312 ◊ 2 x 65 PE Ø 3 Gambar 3 Desain jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda pada penelitian.

23  

Pada saat uji coba penangkapan ikan oleh jaring rampus dengan menggunakan ukuran mata jaring yang berbeda dipasang secara beselang-seling antara jaring rampus yang menggunakan ukuran mata jaring yang berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk memberi peluang yang sama pada ikan untuk tertangkap pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda. Metode pemasangan jaring rampus ketika di operasikan di perairan disajikan pada Gambar 4.

448 meter

2 inci

3 inci 1,75 inci 2,5 inci 1,75 inci 2 inci

56 m

2,5 inci 3 inci

Gambar 4 Metode pemasangan jaring rampus ketika dioperasikan di perairan

3.3.2 Pengukuran hasil tangkapan Data yang dikumpulkan pada penelitian ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dengan cara mengikuti secara langsung operasi penangkapan ikan layang dengan jaring rampus di perairan Cisolok, Palabuhanratu. Data primer yang dikumpulkan meliputi jumlah, jenis, cara tertangkap, dan ukuran hasil. Jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dihitung berdasarkan jenis spesies. Untuk data berupa ikan dilakukan perhitungan jumlah, jenis spesies, cara tertangkap dan pengukuran panjang total (TL), panjang cagak (FL) dan keliling operkulum (G). Panjang total adalah jarak antara ujung kepala yang terdepan (biasanya ujung rahang terdepan) dengan ujung sirip ekor yang paling belakang. Panjang cagak adalah jarak antara ujung kepala yang terdepan dengan lekuk cabang sirip ekor. Keliling operkulum adalah jarak antara kedua operkulum pada

24  

kedua sisi kepala. Metode pengukuran panjang total (TL) dan panjang cagak (FL) disajikan pada Gambar 5.

TL FL

Sumber : Effendi (2002) Gambar 5 Metode pengukuran panjang total dan panjang cagak pada ikan. Ikan yang tertangkap pada gillnet dapat dibedakan berdasarkan cara tertangkapnya yang berbeda. Menurut Spare and Venema (1985) ada empat cara tertangkapnya ikan pada gillnet (Gambar 6), yakni: a) Snagged, adalah proses terjeratnya ikan pada bagian kepala atau mata jaring mengelilingi ikan di belakang mata. b) Gilled, adalah proses terjerat ikan karena tutup insang tersangkut mata jaring atau mata jaring mengelilingi ikan di belakang tutup insang. c) Wedged, adalah proses terjeratnya ikan karena badan terjerat oleh mata jaring sejauh sirip punggung. d) Entangled, adalah ikan terbelit akibat bagian tubuh yang menonjol (gigi, rahang, sirip) tanpa harus menerobos mata jaring.

25  

Snagged

Gilled

Wedged

Entangled Gambar 6 Cara tertangkap ikan oleh gillnet

Data sekunder merupakan data pendukung dalam suatu penelitian. Data sekunder pada penelitian ini adalah data produksi hasil tangkapan, jumlah unit penangkapan dan kondisi geografis lokasi penelitian di PPI Cisolok, maupun di Palabuharatu, data tersebut diperoleh dari Dinas Perikanan Kebupaten Sukabumi.

3.4 Analisis Data Data penelitian berupa jumlah total hasil tangkapan, jumlah total ikan layang dan ukuran ikan layang diuji dengan menggunakan uji non-parametrik untuk menentukan pengaruh ukuran mata jaring terhadap parameter tersebut. Uji nonparametrik yang digunakan untuk mengolah data berdasarkan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda adalah uji Friedman. Untuk proses pengolahan data hasil penelitian digunakan software microsoft excel dan SPSS 13.0. Bila hasil uji Friedman yang diperoleh berbeda nyata, maka akan dilanjutkan dengan uji perbandingan berganda (multiple comparison). Rumus uji lanjut perbandingan berganda adalah sebagai berikut :

26  

1 6 Keterangan : │D│ z b p

= Harga mutlak selisih nilai total rank dari dua perlakuan = Nilai distribusi z pada suatu nilai α tertentu = Banyaknya blok = Banyaknya perlakuan Selanjutnya data berupa spesies hasil tangkapan akan dianalisis dengan

menggunakan indeks Shannon Wiener untuk melihat keragaman spesies. Keragaman spesies hasil tangkapan akan digunakan untuk melihat variasi hasil tangkapan jaring rampus. Keragaman spesies hasil tangkapan akan digunakan sebagai pendekatan analisis untuk melihat selektivitas jaring rampus dengan perbedaan hanging ratio terhadap spesies hasil tangkapan. Jaring rampus akan memiliki selektivitas terhadap spesies yang relatif baik apabila memiliki nilai indeks Shannon Wiener yang lebih kecil dibandingkan dengan jaring rampus lainnya. Rumus untuk mencari keragaman spesies menggunakan indeks Shannon Wiener adalah sebagai berikut (Krebs, 1989) : ln

′ Keterangan H’ Pi S

;

:

= Index diversitas Shannon Wiener = Proporsi jumlah individu jenis ke-i dengan jumlah individu total contoh = Jumlah spesies.

Kriteria yang digunakan untuk menginterpretasikan keanekaragaman Shannon Wiener, yaitu : H’ < 2,30 H’ 2,30 – 6,90 H’ > 6,90  

: Keanekaragaman kecil : Keanekaragaman tergolong sedang : Keanekaragaman tergolong tinggi.

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1

Batas-batas Administrasi Kecamatan Cisolok Pangkalan pendaratan ikan Cisolok berada di desa Cikahuripan Kecamatan

Cisolok. Kecamatan Cisolok merupakan Kecamatan pesisir yang berada di ujung barat Kabupaten Sukabumi. Luas Kecamatan Cisolok mencapai 16.987 ha yang terdiri dari 10 desa. Adapun batas wilayah administratif Kecamatan Cisolok adalah 1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Kabandungan; 2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia; 3) Sebelah Barat berbatasan dengan Propinsi Banten; dan 4) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Cikakak.

4.2

Letak dan Keadaan Geografis Teluk Palabuhanratu terletak di desa Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi

Propinsi Jawa Barat. Secara geografis terletak pada 6°97’-7°3’ LS dan 106°59’106°62’ BT dengan luas wilayah Kecamatan Palabuhanratu adalah 10.288 Ha dan ketinggian 0-50 meter dari permukaan air laut (Lampiran 1). Palabuhanratu memiliki dua musim yang sangat mempengaruhi operasi panangkapan ikan, yaitu adanya musim Barat pada bulan Desember hingga Februari dan musim Timur pada bulan Juni hingga Agustus (Nuraini et.al., 1992). Pada musim Barat sering kali terjadi hujan dengan angin yang sangat kencang disertai ombak yang besar. Menurut Hendrotomo (1989), pada saat itu umumnya kapal nelayan di Palabuhanratu yang berukuran kecil jarang pergi melaut, namun terdapat beberapa jenis kapal terutama kapal diesel, misalnya rawai cucut, pada musim ini tetap pergi ke laut. Pada musim Timur jarang turun hujan dan keadaan laut biasanya tenang. Hal ini memungkinkan nelayan turun ke laut dan biasanya pada musim ini merupakan puncak banyak ikan. Perubahan musim sangat berpengaruh terhadap kegiatan dan upaya penangkapan ikan di perairan Palabuhanratu. Upaya penangkapan terjadi pada musim Timur, dimana angin Timur terhalang oleh tanjung sehingga tidak menimbulkan gelombang besar. Pada musim Barat, angin yang bertiup tidak

28  

terhalang oleh tanjung sehingga mengakibatkan terjadinya gelombang yang besar dan hujan lebat (Dharmayati, 1989) Wyrtki (1961) menyatakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu bersesuaian dengan sifat laut. Kecepatan angin tercatat sebesar 1-7,5 meter/detik selama bulan September sampai Desember dan bergerak kearah Barat. Menurut Uktolseja (1973), pada bulan September kecepatan angin di perairan lepas pantai Palabuhanratu berkisar antara 5-7 meter/detik dengan arah yang sama. Jumlah curah hujan di Palabuhanratu berkisar antara 1.500-3.000 mm dalam satu tahun. Curah hujan rata-rata selama sepuluh tahun terakhir 2.266 mm, dengan hari hujan rata-rata 196 hari dan kelembaban relatif udara sekitar 88% (Nuraini et.al., 1992)

4.3 Unit Penangkapan Ikan Unit penangkapan ikan adalah satu kesatuan teknis dalam melakukan operasi penangkapan ikan yang terdiri dari kapal/perahu, alat tangkap dan nelayan. 4.3.1 Perahu Perahu digunakan oleh nelayan untuk mempermudah penangkapan dan merupakan transportasi nelayan ke daerah penangkapan ikan. Jenis perahu yang terdapat di Cisolok adalah perahu motor tempel. Perahu motor tempel adalah kapal atau perahu yang pengoperasiannya menggunakan mesin motor (inboard engine) yang biasanya digunakan untuk mengoperasikan alat tangkap dengan perikanan skala kecil. Perahu penangkapan ikan di pangkalan pendaratan ikan Cisolok hanya satu jenis, yaitu perahu motor tempel. Perahu motor tempel adalah perahu atau kapal yang pengoperasiannya menggunakan mesin motor tempel (outboad engine). Perkembangan jumlah perahu/kapal motor tempel dan kapal motor setiap tahunnya ada yang meningkat dan ada pula yang menurun walaupun peningkatan dan penurunannya sedikit. Pada tahun 2007 jumlah perahu motor tempel mengalami kenaikan sebesar 3,9% dari tahun 2005. Pada tahun 2006 jumlah perahu motor tempel sebanyak 511 unit sedangkan pada tahun 2007 meningkat menjadi 531. Namun jumlah ini terus mengalami penurunan hingga menjadi 346 unit pada tahun 2010. Sebaliknya untuk kapal motor terus mengalami peningkatan

29  

secara bertahap pada tahun 2005 jumlah perahu motor 229 unit. Jumlah ini meningkat 114,4% menjadi 491 unit pada tahun 2010. Secara detail, perkembangan jumlah perahu motor tempel dan kapal motor di Palabuhanratu disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Perkembangan jumlah perahu motor tempel dan kapal motor di Palabuhanratu tahun 2005-2010 / unit Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Perahu motor tempel 428 511 531 416 364 346

Kapal motor 229 270 321 230 394 491

Jumlah 657 781 852 646 758 837

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2010

4.3.2 Alat tangkap Jumlah alat tangkap di PPN Palabuhanratu dibedakan atas perahu motor tempel dan kapal motor. Pada tahun 2005 jumlah alat tangkap mengalami kenaikan secara bertahap pada tahun 2005 jumlah alat tangkap sebanyak 637 unit. Jumlah ini meningkat 693,9% menjadi 6.478 unit. Secara detail jumlah alat tangkap di Palabuhanratu disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Jumlah alat tangkap di Palabuhanratu (unit) Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010

Jumlah alat tangkap 825 923 2.949 2.872 6.575 6.478

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011

Alat tangkap yang dioperasikan oleh nelayan PPI Cisolok, hanya tiga jenis alat tangkap yang dioperasikan setiap tahunnya yaitu payang, pancing layur dan jaring rampus. Kebiasaan dari nelayan di PPI Cisolok yaitu nelayannya tidak

30  

hanya mempunyai satu jenis alat tangkap melainkan memiliki beberapa karena disesuaikan dengan musim ikan.

1.

Payang

1) Deskripsi Payang adalah alat penangkap ikan yang sudah lama dikenal dan digunakan oleh nelayan Indonesia. Alat tangkap ini termasuk ke dalam kelompok pukat kantong (seine net) atau lebih dikenal dengan nama danish seine. Adapun alat tangkap ini terdiri dari tiga bagian utama yaitu sayap, badan dan kantong (Subani dan Barus, 1989). Payang dioperasikan di permukaan dengan tujuan untuk menangkap ikanikan pelagis. Pada penggoperasiannya, alat tangkap ini dioperasikan dengan melingkari kawanan ikan kemudian jaring ditarik ke atas geladak kapal (Subani dan Barus, 1989). Pengoperasian payang dilakukan baik pada siang hari maupun pada malam hari. Adapun alat tangkap payang di kawasan PPI Cisolok hanya dioperasikan di dalam Teluk Palabuhanratu pada pagi hari sampai dengan sore hari. Alat tangkap payang yang dioperasikan di perairan Cisolok disajikan pada Gambar 7.

Gambar 7 Alat tangkap payang yang dioperasikan di Cisolok

31  

2) Konstruksi Payang termasuk ke dalam alat tangkap pukat kantong yang mempunyai tiga bagian besar yaitu sayap, badan dan kantong. Adapun bagian-bagian alat tangkap payang secara lebih rinci terdiri atas dua sayap, badan jaring, kantong, pelampung, pemberat, dua tali ris, dan tali selambar. Konstruksi payang dapat dilihat pada Gambar 8.

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Kantong P = 15 m, PA multifilament, mesh size = 1-5 cm Badan P = 40 m, PA multifilament, mesh size = 5-15 cm Sayap P = 80 m, PA multifilament, mesh size = 25-31 cm Tali ris atas P = 200 m, PE multifilament, Ø = 3 mm Tali ris bawah P = 150 m, PE multifilament, Ø = 5 mm Tali selambar P = 140 m, PE multifilament, Ø = 15 mm Pelampung bambu P = 1 m, Ø = 8-10 cm, ∑ 30-40 Pelampung derigen (plastik) Pemberat timah, ∑ 25-35 Gambar 8 Konstruksi payang

(1) Sayap Sayap pada payang digunakan untuk mengurung kawanan ikan yang akan ditangkap. Material jaring yang digunakan pada bagian sayap adalah PA (Polyamide). Panjang sayap yaitu 80 m dengan ukuran mesh size 25-31 cm. Pada sayap bagian atas terdapat pelampung yang terbuat dari bambu dengan diameter 8-10 cm berjumlah 30-40 buah pada satu unit payang. Pada sayap

32  

bagian bawah terdapat pemberat sebanyak 25-35 buah. Pemberat ini terbuat dari bahan timah dengan bobot 1 kg tiap pemberat. Sayap payang yang dioperasikan di Cisolok disajikan pada Gambar 9.

Gambar 9 Sayap payang yang dioperasikan di Cisolok (2) Badan Ikan-ikan yang telah dikelilingi oleh jaring kemudian diarahkan oleh nelayan agar masuk ke badan jaring. Material jaring yang digunakan pada bagian badan sama dengan material jaring pada bagian sayap PA (polyamide) dengan ukuran mesh size 5-15 cm. Panjang badan bagian atas lebih pendek dibandingkan dengan badan jaring bagian bawah. Hal ini bertujuan agar ikanikan pelagis tidak dapat meloloskan diri melalui bagian bawah payang. Panjang bagian jaring bagian atas sebesar 10 m sedangkan panjang bagian bawah sebesar 30 m. Fungsi dari bagian badan jaring yaitu untuk mengarahkan gerak gerombolan ikan ke arah kantong; (3) Kantong Kantong merupakan bagian paling akhir atau ujung pada alat tangkap payang. Kantong ini berfungsi sebagai tempat berkumpulnya hasil tangkapan. Material jaring yang digunakan pada bagian kantong terbuat dari bahan PA (polyamide). Kantong pada payang memiliki panjang 15 m dengan ukuran mesh size yang berurutan mengecil mulai dari 1-5 cm. Ukuran mata jaring yang semakin mengecil ini bertujuan agar ikan-ikan tertangkap dan tidak dapat meloloskan diri dari kantong;

33  

(4) Pelampung Pelampung alat tangkap payang umumnya terbuat dari potongan batang bambu sepanjang 1 m berdiameter 8-10 cm. Pelampung yang digunakan berjumah 32-40 buah pada satu unit payang. Di samping pelampung bambu, terdapat pula pelampung yang terbuat dari plastik berupa jerigen minyak ukuran 30 liter. Pelampung ini diletakan di tengah bibir jaring bagian atas. Pada ujung tali selambar yang pertama kali diturunkan, terdapat pelampung tanda yang terbuat dari plastik berbentuk bola berdiameter sekitar 30-50 cm. Pelampung payang yang dioperasikan di Cisolok disajikan pada Gambar 10.

Gambar 10 Pelampung payang yang dioperasikan di Cisolok (5) Pemberat Pemberat digunakan bersama pelampung menentukan keragaan bukaan mulut jaring saat dioperasikan. Pemberat yang digunakan terbuat dari bahan timah. Jumlah pemberat yang digunakan pada satu unit payang yaitu sekitar 25-35 buah dengan bobot 1 kg tiap pemberat; (6) Tali ris Tali ris pada payang terletak pada bagian sayap. Tali ris ini terbagi menjadi dua jenis yaitu tali ris atas dan tali ris bawah. Tali ris atas berfungsi sebagai tempat memasang pelampung sedangkan tali ris bawah berfungsi sebagai tempat pemberat. Baik tali ris atas maupun tali ris bawah terbuat dari bahan PE multifilament dengan diameter tali ris atas 3-5 mm dan tali ris bawah 5-6 mm. Panjang tali ris atas yaitu 200 m sedangkan panjang tali ris bawah yaitu 150 m. Perbedaan panjang tali ini mengakibatkan jaring bagian atas lebih menjorok ke belakang. Hal tersebut karena tingkah laku ikan pelagis yang

34  

merupakan target penangkapan yaitu akan berenang ke arah bawah jika terhalang atau terkurung; dan (7) Tali selambar Tali selambar pada payang berfungsi untuk menarik jaring saat sedang dioperasikan dan pada saat jaring ditarik ke atas kapal. Tali ini terbuat dari bahan polyethylene multifilament (PE) dengan diameter tali 15 mm. Panjang tali selambar di sayap kanan dan kiri payang berbeda. Panjang tali selambar yang digunakan mencapai 150 m. Tali ini berfungsi sebagai tali penarik payang ke atas kapal. Tali selambar payang yang dioperasikan di Cisolok disajikan pada Gambar 11.

Gambar 11 Tali selambar payang yang dioperasikan di Cisolok 3) Perahu Perahu yang digunakan untuk mengoperasian payang terbuat dari bahan kayu dengan dimensi L x B x D yaitu 9 - 12 x 2,5 - 3,5 x 1,8 - 2,5 meter. Perahu yang digunakan pada pengoperasian payang biasanya berupa perahu motor tempel yang menggunakan mesin dengan merk Yamaha. Mesin ini memiliki umur teknis ± 5 tahun dengan kekuatan mesin sebesar 40 PK. Pengoperasian perahu dilakukan secara one day fishing yaitu pergi pada pagi hari yaitu pada pukul 06.00 dan kembali pada siang atau sore hari yaitu pada pukul 17.00 tergantung ikan hasil tangkapan. Jika ikan hasil tangkapan banyak dan palka sudah penuh, maka akan kembali lebih awal. Jika ikan hasil tangkapan tidak ada maka akan kembali pada pukul 17.00. Perahu payang yang dioperasikan di Cisolok disajikan pada Gambar 12.

35  

Gambar 12 Perahu payang yang dioperasikan di Cisolok 4) Nelayan Mayoritas nelayan yang ada di kawasan PPI Cisolok adalah penduduk asli setempat dan sebagian kecil merupakan nelayan pendatang yang berasal dari sekitar kabupaten Sukabumi. Nelayan payang pada umumnya merupakan penduduk asli yang menjadikan usaha penangkapan ikan sebagai pekerjaan utama atau termasuk ke dalam klasifikasi nelayan penuh. Adapun nelayan yang mengoperasikan payang di kawasan PPI Cisolok berjumlah 15-20 orang nelayan. Anak buah kapal (ABK) payang memiliki peran dan tugas masing-masing, yaitu : (1) Juru mudi, bertugas memegang kemudi perahu menuju maupun kembali dari fishing ground; (2) Pengawas (fishing master), bertugas mencari gerombolan ikan dan menentukan arah operasi penangkapan ikan; (3) Petawur, bertugas untuk menurunkan jaring; (4) Juru batu, bertugas untuk menurunkan pemberat; dan (5) Anak payang, bertugas untuk berenang menakut-nakuti dan menggiring ikan ke arah mulut jaring. Walaupun memiliki peran dan tugas masing-masing, semua nelayan yang ada di atas perahu selain juru mudi membantu dalam proses penarikan jaring.

5) Metode pengoperasian Operasi penangkapan jaring payang dilakukan secara one day fishing. Proses pengoperasian payang dimulai pada pagi hari yaitu pada pukul 06.00 WIB. Adapun pengoperasian payang dilakukan dalam empat tahap yaitu persiapan,

36  

tahap pemasangan jaring (setting), tahap penarikan jaring (hauling), dan tahap pelepasan hasil tangkapan. Tahap persiapan meliputi persiapan perbekalan seperti makanan dan minuman yang biasanya para nelayan sudah membawanya masingmasing dari rumahnya, serta bahan bakar. Selain itu juga pemeriksaan terhadap kondisi mesin oleh juru mesin. Adapun untuk satu kali operasi penangkapan jaring payang diperlukan bahan bakar sebanyak 20 liter. Setelah semua tahap persiapan dilakukan, perahu diberangkatkan menuju fishing ground. Dalam menentukan fishing ground, fishing master mencari kawanan ikan dengan melihat tanda-tanda keberadan gerombolan ikan seperti adanya riak-riak di permukaan. Keahlian ini diperoleh dari kebiasaan fisihing master dalam melakukan pencarian fishing ground. Pada proses ini kecakapan seorang fishing master sangatlah menentukan keberhasilan penangkapan. Pada saat geromolan ikan ditemukan, fishing master akan menginstruksikan kepada juru mudi agar mendekati gerombolan ikan tersebut agar proses pemasangan jaring (setting) dilakukan. Pemasangan jaring dilakukan dengan melingkari gerombolan ikan dimulai dengan menurunkan pelampung tanda, pelampung yang berupa bambu, tali selambar, badan jaring, dan pemberat. Ujung tali selambar yang satunya tetap berada di perahu. Proses melingkari gorombolan ikan ini memerlukan waktu 20 menit. Proses berikutnya adalah penarikan jaring. Proses ini dilakukan dengan secepat mungkin. Hal ini dilakukan untuk memperkecil kemungkinan lolosnya ikan yang akan ditangkap. Adapun tahap penarikan jaring umumnya menghabiskan waktu selama 30 menit. Proses penarikan dilakukan oleh ABK. Pembagian tugas adalah sebagai berikut, ada yang bertugas untuk merapihkan pelampung, pemberat dan badan jaring payang. Bagian kantong adalah proses penarikan yang terakhir. Penarikan jaring payang yang dioperasikan disajikan pada Gambar 13.

37  

Gambar 13 Penarikan jaring payang yang dioperasikan Tahap pelepasan hasil tangkapan dilakukan dengan membuka ikatan pada kantong. Tahap pelepasan ini umumnya dilakukan selama 15 menit. Namun diketahui waktu pelepasan ini tergantung dari banyaknya hasil tangkapan. Setelah proses pelepasan selesai, kantong jaring diikat kembali dan dipersiapkan kembali untuk setting selanjutnya. Jika hasil tangkapan yang didapatkan kurang memuaskan, maka proses setting umumnya dilakukan sebanyak 8-10 kali dalam satu kali operasi penangkapan jaring payang.

1) Hasil tangkapan Jaring payang merupakan alat tangkap yang dioperasikan di permukaan perairan. Adapun target tangkapan jaring payang berupa ikan-ikan pelagis. Hasil tangkapan dari payang adalah pepetek (Leioghnatus spp), kembung (Rastrelliger sp.), tongkol komo (Euthynnus affinis). Pada waktu-waktu tertentu hasil tangkapan payang berupa ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dan madidihang (Thunnus albacares) juga tertangkap.

1.

Pancing layur

1) Deskripsi Pancing layur merupakan suatu pancing yang terdiri dari tali utama (main line) dan tali cabang (branch line). Tali cabang terletak di sepanjang tali utama secara berderet dengan jarak tertentu. Pada bagian ujung tali cabang terpasang mata pancing. Panjang tali utama berbanding lurus dengan banyaknya mata pancing yang digunakan. Panjang tali utama bila direntangkan secara lurus dapat

38  

mencapai ratusan meter hingga puluhan kilometer (Subani dan Barus, 1989). Pancing layur menurut Brandt (1984) diklasifikasikan ke dalam jenis alat tangkap pancing. Pancing layur yang dioperasikan di Cisolok disajikan pada Gambar 14.

Gambar 14 Pancing layur yang dioperasikan di Cisolok 2) Konstruksi Konstruksi dari pancing layur vertikal yang biasa digunakan untuk menangkap ikan layur di Cisolok yaitu terdiri dari beberapa bagian. Pancing rawai layur terdiri dari tali utama (main line), tali cabang (branch line), mata pancing (hook), pemberat, kili-kili (swivel), tali untang dan penggulung. Secara detail konstruksi dari pancing layur disajikan pada Gambar 15. Penggulung (reel) Main line (PA monofilamen No.800)

2 cm

2m

2m

Branch line (PA monofilamen 500) Panjang 1,3 m Kawat barlen 15 cm

2m

Pemberat (batu)

Gambar 15 Konstruksi pancing layur

39  

(1) Tali utama (main line) Tali utama pada pancing layur yang digunakan terbuat dari bahan monofilament nylon bernomor 1000 dengan diameter 100-200 m. Tali utama berfungsi sebagai tempat terkaitnya tali cabang dimana mata pancing dipasang. Panjang tali secara keseluruhan sekitar 250 m; (2) Tali cabang (branch line) Tali cabang (branch line) merupakan tali tambahan yang dipasang pada tali utama. Tali cabang terbuat dari bahan PA monofilament dengan warna transparan. Panjang tali cabang 1,5 m. Tali cabang dipasang secara berderet dengan jarak 2,5 m. Pemasangan tali cabang pada tali utama menggunakan simpul. Pada tali cabang dipasang mata pancing; (3) Mata pancing Mata pancing berfungsi sebagai tempat memasang umpan sekaligus tempat terkaitnya ikan. Mata pancing pada pancing layur terbuat dari bahan stainless steel. Jenis mata pancing dengan bahan stainless steel ini digunakan nelayan karena harganya yang relatif murah dan cukup tahan lama. Adapun ukuran mata pancing yang biasa nelayan Cisolok gunakan adalah nomor 7 sampai 10. Jumlah mata pancing pada tiap tali cabang hanya satu sedangkan satu tali utama terdapat 100 buah mata pancing; (4) Pemberat (sinker) Pemberat pada pancing layur ini biasanya terbuat dari timah ataupun dari batu. Pemberat ini diikatkan pada tali untang yang terletak diantara swivel pertama dan swivel kedua. Pemberat ini berfungsi agar tali utama tetap kebawah walaupun arus kencang; (5) Kili-kili (swivel) Kili-kili digunakan agar tali pancing tidak terbelit dan menjadi kaku akibat arus ataupun gerakan ikan pada saat meloloskan diri. Dua buah swivel dipasang dalam satu unit pancing layur yaitu pada ujung tali utama dan pada pangkal tali cabang; (6) Tali untang atau kawat barlen Tali untang befungsi untuk mencegah agar tali cabang tidak membelit pada tali utama. Tali ini diikatkan pada swivel pertama dan kedua dengan

40  

menggunakan tali yang ukurannya sama dengan tali utama sepanjang 20-30 cm. Bagian antara tali cabang dan mata pancing dipasang tali untang sepanjang 10-20 cm; dan (7) Penggulung (reel) Penggulung berfungsi untuk memudahkan pengoperasian pancing. Terbuat dari kayu atau plastik, berbentuk seperti roda dengan ukuran tertentu tergantung panjang tali pancing (Nurhayati, 2006). Penggulung pancing layur dioperasikan di Cisolok disajikan pada Gambar 16.

Gambar 16 Penggulung pancing layur yang dioperasikan di Cisolok

3) Perahu Perahu yang digunakan pada pengoperasian pancing layur di Cisolok yaitu perahu congkreng yang sudah dilengkapi dengan motor tempel bermesin diesel dengan kekuatan 5-25 PK. Dimensi dari perahu tersebut yaitu : panjang (P) berkisar 6-13 meter, lebar (L) 1-3 meter dan tinggi (D) 0,8-3 meter. Perahu ini juga dilengkapi dengan alat penyeimbang pada kedua sisinya yang disebut kincang. Kincang tersebut terbuat dari bambu dengan panjang sekisar 7 meter (Nurhayati, 2006). Perahu pancing layur yang dioperasikan di Cisolok disajikan pada Gambar 17

Gambar 17 Perahu pancing layur yang dioperasikan di Cisolok

41  

Perahu pancing layur dilengkapi juga dengan alat bantu untuk menunjang operasi penangkapan yaitu : (1) Lampu tekan / petromaks Petromaks digunakan sebagai penerangan pada saat pengoperasian pancing layur dilakukan pada malam hari; dan (2) Cool box Cool box digunakan untuk menyimpan ikan layur hasil tangkapan agar tersusun rapi dan tidak rusak. Ikan layur yang telah tersusun dalam cool box kemudian diberi es curah untuk menjaga kesegarannya.

4) Nelayan Nelayan yang mengoperasikan pancing layur dengan menggunakan perahu congkreng sebanyak 1-3 orang per unit penangkapan. Satu orang bertugas mengemudikan perahu sekaligus memancing dan yang lainnya sebagai pemancing dan mempersiapkan keperluan sebelum setting, seperti memasang umpan. Satu orang nelayan dalam sekali setting dapat mengoperasikan beberapa pancing sekaligus tergantung dari kemahiran masing-masing nelayan.

5) Metode pengoperasian (1) Persiapan Pada tahap ini dilakukan pemasangan motor tempel pada perahu, pemasangan alat pancing, bahan bakar, lampu petromaks, penyediaan umpan dan bekal makanan selama operasi berlangsung. Setelah semua persiapan selesai maka siap berangkat menuju fishing ground. Biasanya nelayan berangkat ke fishing ground sekitar pukul 15.00-17.00 WIB tergantung jarak fishing ground dan keadaan cuaca; (2) Pemilihan fishing ground Pemilihan fishing ground dilakukan berdasarkan pengalaman nelayan dengan memperhatikan keadaan perairan seperti angin dan gelombang serta berdasarkan hasil tangkapan hari sebelumnya. Fishing ground hanya disekitar Teluk Palabuhanratu, hal ini dikarenakan perahu yang digunakan nelayan

42  

pancing layur yang berukuran kecil dan tidak memungkinkan untuk melakukan penangkapan di luar Teluk Palabuhanratu; dan (3) Operasi penangkapan Operasi penangkapan biasanya dilakukan saat hari mulai gelap. Setelah mendapatkan lokasi yang tepat, nelayan mulai memotong umpan dan setelah itu umpan dipasang pada mata pancing kemudian rawai pancing layur mulai diturunkan. Setelah dibiarkan selama beberapa menit, kemudian pancing diangkat dan nelayan mulai melepaskan hasil tangkapan satu-persatu. Ikan layur hasil tangkapan tersebut kemudian disimpan dalam cool box dan sebagian digunakan untuk umpan setting berikutnya. Setelah operasi penangkapan selesai, nelayan kembali pulang ke tempat awal berangkat.

6) Hasil tangkapan Ikan hasil tangkapan pancing layur ini adalah ikan layur (Trichiurus sp), barrakuda (Sphyraena jello)  dan ikan layang (Decapterus kurroides). Ikan hasil tangkapan yang didapat tidak semuanya di jual akan tetapi ada juga yang dijadikan umpan dan dikonsumsi sendiri oleh nelayannya.

2.

Jaring rampus

1) Deskripsi Jaring rampus dikelompokkan ke dalam jaring insang hanyut dasar atau bottom gillnet. Cara pengoperasiannya dengan cara dihanyutkan di dasar perairan. Jaring rampus merupakan jaring yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata yang sama pada seluruh tubuh jaring. Pada sisi atas jaring diletakkan pelampung (float) dan pemberat (sinker) pada sisi bawah. Jaring akan terentang akibat dua gaya yang berlawanan arah, yaitu bouyancy force dari float yang mengarah ke atas dan sinking force dari sinker yang ditambah dengan berat jaring yang mengarah ke bawah (Ayodhyoa 1981).

43  

2) Konstruksi Bagian-bagian dari jaring rampus terdiri atas badan jaring, tali ris atas, tali ris bawah, tali pelampung, pelampung, tali pemberat dan pemberat. Desain dan konstruksi dari jaring rampus ditunjukkan pada Gambar 18 dan 19. 2 x 56 PE Ø 5 1934 ◊ 75 ◊

PA Monofilament : 2 inci

75 ◊

1934 ◊ 2 x 65 PE Ø 3 Gambar 18 Desain jaring rampus di perairan Cisolok Tali pelampung

Pelampung

Tali ris atas

Badan jaring

Tali ris bawah

Pemberat

Tali pemberat

Gambar 19 Konstruksi jaring rampus di periaran Cisolok (1) Badan jaring Badan jaring merupakan bagian yang berfungsi untuk menghadang ikan secara vertikal. Bahan yang digunakan adalah PA (polyamide) monofilament berwarna putih transparan dengan ukuran jaring dengan keadaan terpasang per piece sebesar 56 x 4,8 meter. Ukuran mata jaringnya adalah 2 inci. Jaring rampus pada tiap piecenya memiliki jumlah mata 1934 mata pada arah

44  

horizontal dan 75 mata pada arah vertikal. Panjang badan jaring dalam keadaan terentang adalah 98,25 m sedangkan dalam keadaan terpasang adalah 56 m. Hanging ratio dari jaring rampus ini adalah 0,57. Badan jaring yang digunakan pada jaring rampus di Cisolok disajikan pada Gambar 20.

Gambar 20 Badan jaring rampus yang digunakan di Cisolok (2) Pelampung Pelampung pada jaring rampus terbuat dari bahan styrofoam dengan berbentuk balok dengan panjang 4 cm dan lebar 2,5 m. Jumlah pelampung dalam satu piece sebanyak 107 buah dengan jarak antar pelampung 48 cm. Pelampung yang digunakan pada jaring rampus di Cisolok disajikan pada Gambar 21.

P = 8 cm

L = 6 cm T = 2 cm

Gambar 21 Pelampung jaring rampus yang digunakan di Cisolok (3) Pemberat Pemberat pada jaring rampus terbuat dari timah dengan berat satuan 12 gram, P = 2 cm, D = 1,5 cm. Jumlah pemberat dalam satu piece sebanyak 242 buah. Karena penempatan jaring berada di dasar perairan maka pemberat memiliki

45  

peran penting untuk menjaga kedudukan jaring agar tetap di posisinya. Hal itu menjadi penting karena pengaruh arus yang dapat menggeser kedudukan jaring dari tempat semula, dan biasa mengubah kedudukan jaring dalam menghadang ikan. Jangkar biasanya digunakan pada awal setting piece pertama dan satu jangkar lagi pada piece terakhir. Jangkar terbuat dari kayu dengan panjang 1 m dengan diameter 5 cm dan pada bagian atasnya disambungkan kayu yang berbentuk seperti mata kail pancing serta pada bagian bawahnya diikatkan beton yang terbuat dari campuran semen dan batu dengan berat 5 kg. Pemberat yang digunakan pada jaring rampus di Cisolok disajikan pada Gambar 22. P = 2,5 cm

L = 1,5 cm D = 2 cm

Gambar 22 Pemberat jaring rampus yang digunakan di Cisolok (4) Tali ris Tali ris pada jaring rampus terdiri dari tali ris atas dan tali ris bawah yang terbuat dari PE multifilament. Tali ris atas memiliki diameter 5 mm dan bawah memiliki diameter 3 mm. Panjang tali ris atas adalah 56 m. Tali ris atas terdiri dari dua tali. Satu utas tali digunakan sebagai tali pelampung dan satu utas lainnya digunakan sebagai penggantung badan jaring. Tali pelampung berfungsi untuk memasangkan pelampung pada jaring. Tali pelampung ini memiliki diameter 5 mm dan panjang 56 m. Jaring rampus juga dilengkapi tali ris bawah dengan diameter 5 mm untuk pengikat jaring bagian bawah dan diameter 2,5 mm untuk pengikat pemberat dengan panjang kedua tali ris bawah ini adalah 60 m. Tali ris jaring rampus yang digunakan di Cisolok disajikan pada Gambar 23.

46  

Gambar 23 Tali ris jaring rampus yang digunakan di Cisolok 3) Perahu Perahu yang digunakan dalam pengoperasian jaring rampus yaitu jenis jukung yang terbuat dari bahan fiber dan dilengkapi dengan katir. Perahu ini memiliki dimensi ukuran L x B x D : 11 x 1 x 0,8 meter. Perahu ini menggunakan mesin tempel dengan kekuatan 5 PK dengan merk Yamaha. Perahu ini dilengkapi dengan katir di sebelah kanan dan kiri perahu. Katir berfungsi sebagai penyeimbang atau mengurangi efek gerakan oleng perahu, sehingga memudahkan nelayan dalam mengoperasikan perahu dalam operasi penangkapan ikan. Perahu yang digunakan pada jaring rampus di Cisolok disajikan pada Gambar 24.

Gambar 24 Perahu jaring rampus yang digunakan di Cisolok 4) Nelayan Jumlah nelayan yang mengoperasikan jaring rampus sebanyak 2-3 orang. Masing-masing nelayan mempunyai tugas yang berbeda. Satu orang sebagai pengemudi perahu dan yang lainnya menurunkan alat, sedangkan pada saat hauling dari jumlah nelayan yang ikut secara bergantian menarik jaring sampai

47  

semua jaring terangkat ke atas perahu. Perbaikan alat dan perahu dilakukan nelayan pada waktu sampai di darat atau pada waktu sore hari.

5) Metode pengoperasian Jaring rampus biasanya dioperasikan pada saat dini hari sampai pagi hari. Pengoperasiannya dibagi dalam lima tahap yaitu: (1) Persiapan Persiapan meliputi mengecekan kondisi mesin dan pendorongan perahu yang bersandar di pinggir pantai menuju ke kolam pangkalan pendaratan ikan sampai propeler mesin tidak menyentuh pasir, sehingga perahu dapat berjalan.

Gambar 25 Perahu jaring rampus menuju fishing ground di Cisolok (2) Penentuan fishing groud Perjalanan perahu dari fishing base menuju fishing groud dimulai dari pukul 03.30 WIB. Lama waktu yang ditempuh ± 40 menit sampai dengan 1 jam perjalanan dari fishing base menuju fishing groud. Penentuan fishing ground biasanya berdasarkan dari informasi nelayan lain yang mendapatkan hasil tangkapan yang banyak dan biasanya nelayan tidak pernah pindah fishing groud sebelum ikan yang didapatkan menurun atau ada informasi lain mengenai fishing groud yang ikannya lebih banyak. (3) Pemasangan jaring (setting) Proses penurunan jaring dilakukan dengan penurunan jangkar yang berupa balok dari beton, tali selambar, jaring dan terakhir jangkar yang diikatkan dengan kayu yang bebentuk seperti mata pancing. Pada saat penurunan jaring, mesin dibiarkan hidup untuk mempermudah proses penurunan jaring. Proses

48  

ini berlangsung selama 12-15 menit. Selanjutnya setelah penurunan jaring selesai, tali selambar diikat pada bagian buritan perahu. Pemasangan jaring rampus di perairan Cisolok disajikan pada Gambar 26.

Gambar 26 Pemasangan jaring rampus pada saat operasi penangkapan di Cisolok (4) Perendaman jaring (soaking) Perendaman di perairan selama 1 jam. Pada saat perendaman jaring, nelayan biasanya beristirahat untuk menyiapkan tenaga untuk melakukan penarikan jaring. Proses pada saat nelayan menunggu perendaman jaring rampus di perairan Cisolok disajikan pada Gambar 27.

Gambar 27 Nelayan menunggu perendaman jaring rampus di Cisolok (5) Penarikan jaring (hauling) dan pelepasan hasil tangkapan Proses hauling berlangsung selama 1,5-2 jam, satu nelayan bertugas menarik tali ris atas dengan posisi berdiri dan satu nelayan bertugas menarik tali ris bawah dan melepaskan ikan yang terjerat. Hasil tangkapan yang diperoleh disimpan di palka dan kemudian hasil tangkapan diikat satu persatu. Hasil tangkapan utama diikat terpisah dengan ikan sampingan oleh benang nilon. Satu kali trip hanya berlangsung 1 kali setting saja. Penarikan jaring rampus

49  

pada operasi penangkapan ikan di perairan Cisolok disajikan pada Gambar 28.

Gambar 28 Penarikan jaring rampus di perairan Cisolok 6) Hasil tangkapan Hasil tangkapan utama dari jaring rampus adalah ikan layang (Decapterus kurroides). Adapun hasil tangkapan sampingan dari jaring rampus adalah beloso (Saurida spp), pepetek (Leiognatus sp), sebelah (Pleuronectidae), lidah (Paraplagusia bilineata), biji nangka (Upeneus sp), barakuda (Sphyraena jello) dan simata goyang (Priacanthus tayenus).

4.3.3 Nelayan Mayoritas nelayan di PPN Palabuhanratu merupakan penduduk asli daerah tersebut. Namun ada pula nelayan pendatang yang berasal dari Cirebon, Cilacap, Binuangen, Indramayu, dan beberapa nelayan dari luar pulau Jawa, seperti Sumatera dan Sulawesi. Nelayan yang berada di PPN Palabuhanratu dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan buruh adalah orang yang ikut dalam operasi penangkapan ikan, sedangkan nelayan pemilik adalah orang yang memiliki armada penangkapan ikan dan tidak selalu ikut dalam operasi penangkapan ikan. Nelayan pemilik biasanya disebut juragan. Jumlah nelayan di PPN Palabuhanratu mengalami peningkatan secara bertahap pada tahun 2005 jumlah nelayan sebanyak 3.498 orang. Jumlah ini meningkat 27,9% menjadi 4474 orang pada tahun 2010. Secara detail perkembangan jumlah nelayan disajikan pada Tabel 5.

50  

Tabel 5 Jumlah nelayan PPN Palabuhanratu tahun 2006-2010 Total nelayan (orang) 3.498 3.936 4.363 4.453 4.474

Tahun 2006 2007 2008 2009 2010

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011

4.4 Produksi Produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu mengalami penurunan secara bertahap. Pada tahun 2006 jumlah produksi 2.637.748 kg. Jumlah ini menurun 63,77% menjadi 955.540 kg pada tahun 2010. Secara detail perkembangan jumlah produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu disajikan pada Tabel 6. Tabel 6 Produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2006-2010 Tahun

Produksi (kg)

2006 2007 2008 2009 2010

2.637.748 1.003.942 709.483 962.632 955.540

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011

4.5 Nilai Produksi Nilai Produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu mengalami penurunan secara bertahap. Pada tahun 2006 nilai produksi Rp 10.720.734.920. Jumlah ini menurun 27,19% menjadi Rp 7.805.769.900 pada tahun 2010. Secara detail perkembangan nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu disajikan pada Tabel 7.

51  

Tabel 7 Nilai produksi hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu tahun 2006-2010 Tahun

Nilai produksi (Rp)

2006 2007 2008 2009 2010

10.720.734.920 11.654.357.704 6.320.706.025 6.963.664.250 7.805.769.900

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, 2011    

5 HASIL DAN D PEMB BAHASAN

5 Hasil 5.1 5 5.1.1 Komp posisi hasil tangkapan Total hasil tangk kapan jaring rampus yaang diperoleeh pada pennelitian ini s sebanyak 5229 ekor yanng terdiri daari 7 spesiess. Hasil tangkapan dom minan pada p penelitian inni adalah ikaan layang (D Decapterus kurroides) k deengan jumlaah 351 ekor a atau 66,35 % dari total hasil tangkkapan, diikutti oleh ikan biji nangkaa (Upeneus m moluccensis s) sebanyak 67 ekor ataau 12,67 % dari total hhasil tangkaapan. Hasil t tangkapan y yang paling sedikit adalah udang jeerbung dengan jumlah 3 ekor atau 0 0,57 % darii total hasil tangkapan. Secara lebihh rinci kom mposisi hasil tangkapan y yang diperoleh disajikan n pada Gam mbar 29 dan Tabel 8. Adapun hasil tangkapan y yang diperolleh selama penelitian p seccara rinci dissajikan padaa Lampiran 4. 4

n = 529 Biji nangkaa (12,67%) Belooso (7,18 8%) Layang L (666,35%)

Simata Goyaang (5,67%) Pepetek (4,16%) Sebelah (3,40%) Udang jeerbung (0,577%)

G Gambar 29 Persentase komposisi total hasil tangkapan jjaring ramp pus selama penelitian

53  

Tabel 8 Komposisi total hasil tangkapan No

Nama Lokal

1

Layang

2

Biji nangka

3

Beloso

4

Simata goyang

5

Pepetek

6

Sebelah

7

Udang jerbung

Spesies Decapterus kurroides Upeneus moluccensis Saurida micropectoralis Priacanthus tayenus Leiognatus equulus Psettodes erumei Penaeus sp

Nama Internasional

Jumlah

%

Redtail scad

351

66,35

Goldband goatfish

67

12,67

Shortfin lizardfish

38

7,18

Purple-spotted bigeye

30

5,67

Common ponyfish

22

4,16

Indian halibut

18

3,40

Banana prawn

3

0,57

529

100

Total

Hasil tangkapan utama yang menjadi target spesies penangkapan dengan menggunakan jaring rampus adalah ikan layang (Decapterus kurroides). Hasil tangkapan ikan layang yang diperoleh selama penelitian mencapai 351 ekor atau 66,35 % dari total hasil tangkapan, diikuti oleh ikan biji nangka sebanyak 67 ekor atau 12,67 % dari total hasil tangkapan, dan beloso dengan jumlah hasil tangkapan 38 ekor atau 7,18 % dari total hasil tangkapan. Jumlah hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda tetap merupakan hasil tangkapan yang dominan. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci, jumlah hasil tangkapan ikan layang sebanyak 40 ekor atau 40,82 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci, diikuti oleh ikan biji nangka sebanyak 27 ekor atau 27,55 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci serta diikuti oleh ikan beloso dan simata goyang dengan jumlah masing-masing sebanyak 12 ekor atau 12,24 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Adapun hasil tangkapan yang paling sedikit adalah udang jerbung sebanyak 3 ekor atau 3,06 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci, jumlah hasil tangkapan ikan layang sebanyak 101 ekor atau 63,92 % dari total hasil tangkapan jaring rampus

54  

dengan ukuran mata jaring 2 inci, diikuti oleh ikan biji nangka sebanyak 21 ekor atau 13,29 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci dan ikan beloso sebanyak 13 ekor atau 8,23 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. Adapun hasil tangkapan yang paling sedikit adalah ikan simata goyang sebanyak 5 ekor atau 3,16 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci, jumlah hasil tangkapan ikan layang sebanyak 161 ekor atau 80,90 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci, diikuti oleh ikan beloso sebanyak 11 ekor atau 5,53 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci dan ikan biji nangka sebanyak 9 ekor atau 4,52 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci. Adapun hasil tangkapan yang paling sedikit adalah ikan sebelah sebanyak 3 ekor atau 1,51 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci, jumlah hasil tangkapan ikan layang sebanyak 49 ekor atau 66,22 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci, diikuti oleh ikan biji nangka sebanyak 10 ekor atau 13,51 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci dan ikan simata goyang sebanyak 6 ekor atau 8,11 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci. Adapun hasil tangkapan yang paling sedikit adalah ikan beloso sebanyak 2 ekor atau 2,70 % dari total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci. Secara lebih rinci hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian disajikan pada Gambar 30 dan Tabel 9. Adapun secara keseluruhan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap total hasil tangkapan paling banyak, yaitu sebanyak 199 ekor atau 37,62 % dari keseluruhan hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian. Adapun jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci menangkap total hasil tangkapan yang paling sedikit dibandingkan dengan total jumlah hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang lainnya. Secara lebih rinci proporsi jumlah hasil tangkapan jaring rampus pada ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian disajikan pada Gambar 31.

55  

T Tabel 9 Jum mlah hasil taangkapan paada jaring raampus dengan ukuran mata m jaring yanng berbeda Matta Jaring H Jenis Hasil Tangkaapan Layang Biji nanngka Beloso Simata goyang Pepetekk Sebelahh Udang g jerbung

1,75" Jumlaah Persentaase (ekor)) (%) 40 11,40 27 40,30 12 31,58

2" Jumlahh Persentasse (ekor) (%) 101 28,77 21 31,34 13 34,21

22,5" Jumlah Persentase (ekor) (%) 161 48,87 9 13,43 11 28,95

3" Jumlah Persentase P (ekor) (%) ( 49 1 13,96 10 1 14,93 2 5 5,26

12 0 4

40,00 0,00 22,22

5 11 7

16,67 50,00 38,89

7 8 3

23,33 36,36 16,67

6 3 4

220,00 1 13,64 2 22,22

3

100,00

0

0,00

0

0,00

0

0 0,00

Biji nangka 27,55%

MS M 1,75 inci

Beloso 12,24%

Biji nanggka 13,299%

MS S 2 inci

Simaata goyanng 12,244%

Beloso Simata 8,223% goyang 3,16% Pepetekk 6,96%

Sebelahh 4,43% Sebellah 4,08% Udanng jerbuung 3,06%

Layang L 40,82% 4 n = 98

MS 2,5 inci

Layan ng 63,922% n = 158

Biji nangka 4,52%

MS S 3 inci

Beloso 5,53% Laayang 80 0,90%

Sim mata goyaang 3,522%

Layanng 66,22 2%

Pepetek 4,022% n = 199

Sebelaah 1,51% %

B Biji Beloso nan ngka 2,70% 13,5 51% Simataa goyangg 8,11% Pepetekk 4,05% Sebelah 5,41%

n = 74

G Gambar 30 Komposisii hasil tanggkapan jarin ng rampus dengan menggunakan ukuran matta jaring yanng berbeda selama penelitian

56  

MS 1,775 inci (18,566%)

MS 2 inci (29,,92%)

MS 3 inci (13,99%)

MS 2,5 incci (37,62%)

G Gambar 31 Proporsi juumlah hasil tangkapan jaring ramppus pada ukkuran mata jaring yangg berbeda sellama penelittian Jumlahh hasil tangk kapan utamaa ikan layanng mencapaii jumlah 3511 ekor atau 6 66,35 % darri total hasill tangkapan (Gambar 32). Hasil tanngkapan utaama (target s spesies) adallah ikan-ikan n yang secarra ekspisit menjadi m tujuaan utama pennangkapan. T Target spesiies yang dimaksud meenurut Pascooe (1997) adalah jenis ikan yang s secara spessifik menjad di target ddalam operasi penangkkapan. Adaapun hasil t tangkapan sampingan adalah ikan-iikan yang buukan menjaddi tujuan peenangkapan t tetapi turut tertangkap pada kegiaatan penangkapan denggan menggu unakan alat t tangkap. Diitinjau dari proporsi antara a hasil tangkapann utama denngan hasil t tangkapan sampingan, s i ikan layang yang tertanngkap pada jaring ramppus dengan u ukuran mataa jaring 1,775 inci sebaanyak 40 ek kor atau 40,,82 % dari total hasil t tangkapan p pada jaringg rampus dengan d ukuuran 1,75 iinci, sedanggkan hasil t tangkapan sampingan mencapai m 58 ekor atau 59,18 5 % darri total hasil tangkapan p pada jaring rampus r deng gan ukuran 1,75 1 inci. Seecara lebih riinci perbanddingan hasil t tangkapan u utama dan saampingan jarring rampus pada berbagai ukuran mata m jaring d disajikan pad da Gambar 33. 3

57  

Ikan Sampingan (33,65%)

Ikan Layang (66,35%)

Gambar 32 Proporsi jumlah hasil tangkapan ikan layang dan ikan sampingan jaring rampus selama penelitian MS 2 inci

MS 1,75 inci n = 98

n = 158

Ikan layang (40,82%)

Ikan sampingan (59,18%)

Ikan layang (63,92%)

MS 3 inci

MS 2,5 inci n = 199

Ikan layang (80,90%)

Ikan sampingan (36,08%)

n = 74

Ikan sampingan (19,10%)

Ikan layang (66,22%)

Ikan sampingan (33,78%)

Gambar 33 Proporsi jumlah hasil tangkapan ikan layang dan ikan sampingan pada ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian

58  

Jumlah total hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian sebanyak 529 ekor. Hasil tangkapan tersebut diperoleh selama 15 trip penangkapan. Hasil tangkapan jaring rampus tiap trip bervariasi berkisar antara 10 – 15 ekor. Hasil tangkapan terbesar diperoleh pada trip 14 yakni sebanyak 61 ekor atau 11,53 % dari total hasil tangkapan selama 15 trip. Hasil tangkapan terendah diperoleh pada trip 3 yakni sebanyak 14 ekor atau 2,65 % dari total hasil tangkapan selama 15 trip. Rata-rata hasil tangkapan terbesar diperoleh pada trip ke-14 yakni sebanyak 15 ekor atau 11,53 % dari rata-rata hasil tangkapan selama 15 trip. Rata-rata hasil tangkapan terendah diperoleh pada trip ke-3 yakni sebanyak 4 ekor atau 2,65 % dari rata-rata hasil tangkapan selama 15 trip. Secara lebih rinci jumlah dan ratarata hasil tangkapan yang diperoleh pada setiap trip selama penelitian disajikan

70

28 24 20 16 12 8 4 0

Jumlah (ekor)

60 50 40 30 20 10 0 1

2

3

4

5

6

7

8

9

10 11 12 13 14 15

Rata-rata hasil tangkapan (ekor)

pada Gambar 34

Trip ke Jumlah hasil tangkapan pada jaring rampus Rata-rata hasil tangkapan pada jaring rampus

Gambar 34 Jumlah dan rata-rata hasil tangkapan total jaring rampus tiap piece pada setiap trip selama penelitian

59  

Hasil tangkapan jaring rampus yang bernilai ekonomis adalah layang. Ikan layang mempunyai nilai jual yang cukup tinggi di pasar lokal. Ikan layang yang tertangkap oleh nelayan Cisolok memiliki panjang cagak rata-rata 30 cm-40 cm. Adapun ikan layang yang layak tangkap panjang cagak yang berukuran 23 cm (Nontji, 2002). Ukuran ini adalah ukuran ikan layang yang sudah matang gonad. Nelayan Cisolok menjual ikannya tidak langsung kepada konsumen melainkan kepada pihak pengepul. Distribusi hasil tangkapan ikan layang selanjutnya dilakukan oleh pengepul kepada para pedagang atau kepada konsumen yang secara langsung datang ke angkalan Pendaratan Ikan (PPI) Cisolok. Ikan layang dijual per ekor berdasarkan ukuran panjang total. Ikan yang berukuran panjang cagak lebih dari 35 cm oleh pengepul dibeli dengan harga Rp 10.000,-. Adapun ikan yang berukuran kecil dengan kisaran panjang cagak kurang dari 35 cm oleh pengepul dibeli dengan harga Rp 1.000,- sampai dengan Rp 8.000,-. Adapun ikan tersebut dijual kepada konsumen dengan harga Rp 2.000,sampai dengan Rp 10.000,- untuk ikan layang berukuran kecil dan Rp 12.000,sampai dengan Rp 15.000,- untuk ikan layang berukuran besar. Ikan hasil sampingan memiliki kesamaan nilai ekonomis yaitu berkisar antara Rp 10.000-Rp 12.000,- per kg. Ikan yang memiliki nilai ekonomis berbeda adalah ikan biji nangka atau nelayan Cisolok biasa menyebutnya dengan gelang mudin yaitu berkisar antara Rp 3.000-Rp 5.000 per ikat. Satu ikat biasanya sekitar 1 kg. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci jumlah total hasil tangkapan sebanyak 98 ekor atau 18,56 % dari total hasil tangkapan. Hasil tangkapan terbesar jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci adalah 16 ekor yang diperoleh pada trip ke-14. Adapun hasil tangkapan jaring rampus paling sedikit pada ukuran mata jaring 1,75 inci diperoleh pada trip ke-2 yakni sebanyak 2 ekor. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci jumlah total hasil tangkapan sebanyak 158 ekor atau 29,92 % dari total hasil tangkapan. Hasil tangkapan terbesar jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci adalah 21 ekor yang diperoleh pada trip ke-5. Adapun hasil tangkapan jaring rampus paling sedikit pada ukuran mata jaring 2 inci diperoleh pada trip ke-3 yakni sebanyak 1 ekor. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci jumlah total hasil tangkapan sebanyak 199 ekor atau 37,62 % dari total hasil tangkapan. Hasil

60  

tangkapan terbesar jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci adalah 27 ekor yang diperoleh pada trip ke-9. Adapun hasil tangkapan jaring rampus paling sedikit pada ukuran mata jaring 2,5 inci diperoleh pada trip ke-4 yakni sebanyak 5 ekor. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci jumlah total hasil tangkapan sebanyak 74 ekor atau 13,99 % dari total hasil tangkapan. Hasil tangkapan terbesar jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci adalah 9 ekor yang diperoleh pada trip ke-3, 6, dan 13. Adapun hasil tangkapan jaring rampus paling sedikit pada ukuran mata jaring 3 inci diperoleh pada trip ke-1 dan trip ke-8 yakni sebanyak 2 ekor. Secara keseluruhan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap total hasil tangkapan sebanyak 199 ekor atau 37,62 % dari total hasil tangkapan. Hal ini menunjukkan bahwa jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap total hasil tangkapan relatif lebih banyak dibandingkan dengan jaring rampus dengan ukuran mata jaring lainnya. Rata-rata hasil tangkapan yang diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci terbesar terdapat pada trip ke-14 sebanyak 8 ekor atau 16,33 % dari rata-rata total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Adapun rata-rata hasil tangkapan terendah pada ukuran mata jaring 1,75 inci diperoleh pada trip ke-2 sebanyak 1 ekor atau 2,04 % dari rata-rata total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Rata-rata hasil tangkapan yang diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci terbesar terdapat pada trip ke-5 sebanyak 11 ekor atau 13,29 % dari rata-rata total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. Adapun rata-rata hasil tangkapan terendah pada ukuran mata jaring 2 inci diperoleh pada trip ke-3 sebanyak 1 ekor atau 0,63 % dari rata-rata total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. Ratarata hasil tangkapan yang diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci terbesar terdapat pada trip ke-9 sebanyak 14 ekor atau 13,57 % dari ratarata total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci. Adapun rata-rata hasil tangkapan terendah pada ukuran mata jaring 2,5 inci diperoleh pada trip ke-4 sebanyak 2 ekor atau 2,51 % dari rata-rata total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci. Rata-rata hasil tangkapan yang diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci

61  

terbesar terdapat pada trip ke-3, 6, dan 13 sebanyak 5 ekor atau 12,16 % dari ratarata total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci. Adapun rata-rata hasil tangkapan terendah pada ukuran mata jaring 3 inci diperoleh pada trip ke-1 dan trip ke-8 sebanyak 1 ekor atau 2,70 % dari rata-rata total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci. Secara lebih rinci jumlah dan rata-rata hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda disajikan dalam Gambar 35. Berdasarkan hasil uji Friedman pada taraf nyata 0,05 terhadap hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda diperoleh nilai Chi-square 16,184 dengan nilai probabilitas 0,001. Hal ini berarti bahwa jaring rampus rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda secara signifikan menangkap total jumlah hasil tangkapan yang berbeda. Uji lanjut terhadap total hasil tangkapan jaring rampus dilakukan untuk menentukan jenis ukuran mata jaring rampus yang memberikan kontribusi terhadap perbedaan total hasil tangkapan. Uji lanjut dengan menggunakan uji perbandingan berganda (Multiple comparison) menunjukkan bahwa total hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci vs 2 inci menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada taraf nyata 0,05. Secara lebih rinci hasil uji lanjut terhadap total hasil tangkapan jaring rampus pada ukuran mata jaring yang berbeda disajikan pada Tabel 11 dan Lampiran 11. Tabel 10 Hasil uji lanjut perbandingan berganda terhadap total hasil tangkapan pada ukuran mata jaring yang berbeda pada tiap perlakuan No 1 2 3 4 5 6

Perlakuan MS 1,75 inci vs MS 2 inci MS 1,75 inci vs MS 2,5 inci MS 1,75 inci vs MS 3 inci MS 2 inci vs MS 2,5 inci MS 2 inci vs MS 3 inci MS 2,5 inci vs MS 3 inci

Hasil Berbeda nyata Berbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata

62  

30

20 MS 1,755 inci

16

20

12 8

10

4 0

0

30

20 MS 2 incci

16

20

12 8

10

4 0

0 20

30 MS 2,5 in nci

16

20

12 8

10

4 0

0

30

20 MS 3 incci

16

20

12 8

10

4 0

0 1

2

3

4

5

6

7

8

9

10 11 12 13 14 15 5

Trip ke Gambar 35 Total jumlaah dan rata-rrata hasil taangkapan jarring rampus tiap piece pada setiaap trip padaa ukuran mata m jaring yang berbeeda selama penelitian

63  

5.1.2 Keragaman spesies hasil tangkapan Berdasarkan hasil penelitian total jumlah spesies yang tertangkap sebanyak 7 spesies dengan jumlah hasil tangkapan sebanyak 529 ekor. Keragaman spesies yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Index Shannon Wiener untuk melihat variasi spesies yang tertangkap. Jaring rampus dengan Index Shannon Wiener lebih kecil merupakan jaring rampus yang menangkap ikan dengan keragaman lebih sedikit atau memiliki variasi hasil tangkapan yang lebih sedikit dibandingkan dengan jaring rampus lainnya. Jaring rampus yang menangkap ikan dengan variasi spesies paling banyak adalah jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Hal ini terlihat dari nilai Index Shannon Wiener dengan nilai sebesar 1,4725. Adapun jaring rampus dengan variasi spesies yang paling sedikit atau yang paling selektif terhadap hasil tangkapan adalah jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci dengan nilai Index Shannon Wiener 0,7817. Secara rinci nilai Index Shannon Wiener yang diperoleh tiap jaring rampus dengan mata jaring yang berbeda disajikan pada Tabel 11 dan Lampiran 8. Tabel 11 Hasil analisis keragaman nilai Index Shannon Wiener pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda Mata jaring 1,75 inci 2 inci

Jumlah spesies yang tertangkap 6 6

2,5 inci 3 inci

6 6

Jumlah hasil tangkapan 98 158 199 74

Nilai Index Shannon Wiener 1,4725 1,1926 0,7817 1,1324

5.1.3 Jumlah hasil tangkapan ikan layang (Decapterus kurroides) Total hasil tangkapan ikan layang (Decapterus kurroides) yang diperoleh pada penelitian ini sebanyak 351 ekor. Hasil penelitian menujukkan bahwa jumlah hasil tangkapan ikan layang terbanyak diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci sebanyak 161 ekor atau 45,87 % dari total hasil tangkapan ikan layang, diikuti oleh jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci sebanyak 101 ekor atau 28,77 % dari total hasil tangkapan ikan layang, diikuti oleh jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci sebanyak 49 ekor atau 13,96 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Jumlah hasil tangkapan ikan layang

64  

terendah diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci sebanyak 40 ekor atau 11,40 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Secara rinci disajikan dalam Gambar 36

MS 3 inci; 13,96%

MS 2,5 inci; 45,87%

MS 1,75 inci; 11,40%

MS 2 inci; 28,77%

Gambar 36 Proporsi jumlah hasil tangkapan ikan layang dengan menggunakan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian Hasil tangkapan ikan layang tiap trip bervariasi berkisar antara 2 - 38 ekor. Hasil tangkapan terbesar diperoleh pada trip ke-8 yakni sebanyak 38 ekor atau 10,83 % dari total hasil tangkapan ikan layang selama 15 trip. Adapun hasil tangkapan terendah diperoleh pada trip ke-3 yakni sebanyak 2 ekor atau 0,57 % dari total hasil tangkapan ikan layang selama 15 trip. Rata-rata hasil tangkapan terbesar diperoleh pada trip ke-8 yakni sebanyak 10 ekor atau 10,83% dari ratarata hasil tangkapan selama 15 trip. Rata-rata hasil tangkapan terendah diperoleh pada trip ke-3 yakni sebanyak 1 ekor atau 0,57 % dari rata-rata hasil tangkapan selama 15 trip. Secara lebih rinci jumlah dan rata-rata hasil tangkapan yang diperoleh pada setiap trip selama penelitian disajikan pada Gambar 37.

65

40

14

Jumlah (ekor)

35

12

30

10

25 20

8

15

6

10

4

5

2

0

0 1

2

3

4

5

6

7

8

Rata-rata total ikan layang per trip

 

9 10 11 12 13 14 15

Trip ke Jumlah hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus Rata-rata tangkapan ikan layang pada jaring rampus Gambar 37 Jumlah dan rata-rata hasil tangkapan ikan layang per piece pada jaring rampus setiap trip selama penelitian Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 40 ekor atau 11,40 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci adalah 7 ekor yang diperoleh pada trip ke-12. Adapun hasil tangkapan ikan layang terendah pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci diperoleh pada trip ke-10 yakni sebanyak 2 ekor atau 5,00 % dari total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 101 ekor atau 28,77 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci adalah 14 ekor yang diperoleh pada trip ke-8. Adapun hasil tangkapan ikan layang terendah pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci diperoleh pada trip ke-1, 4, dan 15 yakni sebanyak 5 ekor atau 4,95 % dari total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 161 ekor atau 45,87 % dari total hasil tangkapan

66  

ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci adalah 20 ekor yang diperoleh pada trip ke-14. Adapun hasil tangkapan ikan layang terendah pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci diperoleh pada trip ke-4 sebanyak 5 ekor atau 3,11 % dari total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 49 ekor atau 13,96 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci adalah 6 ekor yang diperoleh pada trip ke-7, 11, dan 15. Adapun hasil tangkapan ikan layang terendah pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci diperoleh pada trip ke-1 yakni sebanyak 1 ekor atau 2,04 % dari total hasil tangkapan pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci. Secara keseluruhan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 161 ekor atau 45,87 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hal ini menunjukkan bahwa jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap total hasil tangkapan ikan layang relatif lebih banyak dibandingkan dengan jaring rampus dengan ukuran mata jaring lainnya. Rata-rata hasil tangkapan ikan layang yang diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci terbesar terdapat pada trip ke-12 sebanyak 4 ekor atau 17,50 % dari rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Adapun rata-rata hasil tangkapan ikan layang terendah pada ukuran mata jaring 1,75 inci diperoleh pada trip ke-10 sebanyak 1 ekor atau 5,00 % dari rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Rata-rata hasil tangkapan ikan layang yang diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci terbesar terdapat pada trip ke-8 sebanyak 7 ekor atau 13,86 % dari rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. Adapun rata-rata hasil tangkapan ikan layang terendah pada ukuran mata jaring 2 inci diperoleh pada trip ke-1, 4, dan 15 sebanyak 2 ekor atau 4,95 % dari rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci. Ratarata hasil tangkapan ikan layang yang diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci terbesar terdapat pada trip ke-14 sebanyak 10 ekor

67  

atau 12,42 % dari rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci. Adapun rata-rata hasil tangkapan ikan layang terendah pada ukuran mata jaring 2,5 inci diperoleh pada trip ke-4 sebanyak 2 ekor atau 3,11 % dari rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci. Rata-rata hasil tangkapan ikan layang yang diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci terbesar terdapat pada trip ke-7, 11, dan 15 sebanyak 3 ekor atau 12,24 % dari rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci. Adapun rata-rata hasil tangkapan ikan layang terendah pada ukuran mata jaring 3 inci diperoleh pada trip ke-1 sebanyak 1 ekor atau 2,04 % dari rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci. Secara lebih rinci jumlah dan rata-rata hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda disajikan dalam Gambar 38. Berdasarkan hasil uji Friedman pada taraf nyata 0,05 terhadap hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda diperoleh nilai Chi-square 28,2132 dengan nilai probabilitas 0,000. Hal ini berarti bahwa jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda secara signifikan menangkap jumlah hasil tangkapan ikan layang yang berbeda. Uji lanjut terhadap hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dilakukan untuk menentukan jenis ukuran mata jaring rampus yang memberikan kontribusi terhadap perbedaan hasil tangkapan ikan layang. Uji lanjut dengan menggunakan uji perbandingan berganda (Multiple comparison) menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci vs 2 inci menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada taraf nyata 0,05. Secara lebih rinci hasil uji lanjut terhadap hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda disajikan pada Tabel 12 dan Lampiran 11.

68  

20

14 12 10 8 6 4 2 0

MS 1,7 75 inci

15 10 5 0 20

14 12 10 8 6 4 2 0

MS 2 inci i

15 10 5 0 20

14 12 10 8 6 4 2 0

MS 2,55 inci

15 10 5 0 20

14 12 10 8 6 4 2 0

MS 3 inci i

15 10 5 0 1

2

3

4

5

6

7

8

9

10 11 12 13 14 15

Trip ke Gambar 38 Jumlah G J dan rata-rata r ikann hasil tangkkapan ikan laayang pada jaring j rampus r tiap piece p pada setiap s trip paada ukuran m mata jaring yang y berbeda b selaama penelitiaan

69  

Tabel 12 Hasil uji lanjut perbandingan berganda terhadap hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda pada tiap perlakuan No 1 2 3 4 5 6

Perlakuan MS 1,75 inci vs MS 2 inci MS 1,75 inci vs MS 2,5 inci MS 1,75 inci vs MS 3 inci MS 2 inci vs MS 2,5 inci MS 2 inci vs MS 3 inci MS 2,5 inci vs MS 3 inci

Berbeda Berbeda Berbeda Berbeda Berbeda Berbeda

Hasil nyata nyata nyata nyata nyata nyata

5.1.4 Distribusi ukuran hasil tangkapan ikan layang 1) Distribusi panjang cagak Hasil tangkapan ikan layang yang diperoleh selama penelitian memiliki panjang cagak (FL) yang beragam. Ukuran panjang cagak ikan layang dominan tersebar pada selang antara 23 cm – 38 cm dengan jumlah hasil tangkapan ikan layang sebanyak 325 ekor atau 92,59 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar berada pada panjang cagak dengan selang antara 28 cm – 33 cm sebanyak 129 ekor, diikuti oleh ikan layang dengan kisaran panjang cagak antara 33 cm – 38 cm dengan jumlah 121 ekor. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada panjang cagak dengan selang antara 43 cm – 48 cm dengan jumlah 3 ekor. Secara lebih rinci distribusi total panjang cagak hasil tangkapan ikan layang yang diperoleh selama penelitian disajikan pada Gambar

Jumlah (ekor)

39.

 

   

140 120 100 80 60 40 20 0

129

n = 351

121

58 18

17 4

1

13

3

18

23

28

33

38

43

48

Panjang cagak (cm) Gambar 39 Distribusi total panjang cagak ikan layang (Decapterus kurroides) yang tertangkap selama penelitian

70  

Menurut Nontji (2002) ikan layang yang layak tangkap secara biologi adalah ikan layang yang sudah matang gonad dengan panjang cagak berukuran diatas 23 cm. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 40 ekor atau 11,40 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci berada pada panjang cagak dengan selang antara 23 – 28 cm sebanyak 12 ekor, diikuti dengan kisaran antara 33 – 38 cm dengan jumlah 11 ekor. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada panjang cagak dengan selang antara 13 – 18 cm dengan jumlah 1 ekor. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci, jumlah ikan layang yang sudah memiliki ukuran yang layak tangkap sebanyak 31 ekor atau 77,50 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 1,75 inci. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 101 ekor atau 28,77 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci berada pada panjang cagak dengan selang antara 28 – 33 cm sebanyak 32 ekor, diikuti dengan kisaran antara 33 – 38 cm dengan jumlah 29 ekor. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada panjang cagak dengan selang antara 38 – 48 cm dengan jumlah 2 ekor. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci, jumlah ikan layang yang sudah memiliki ukuran yang layak tangkap sebanyak 92 ekor atau 92,09 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 2 inci. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 161 ekor atau 45,87 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci berada pada panjang cagak dengan selang antara 28 – 33 cm sebanyak 71 ekor, diikuti dengan kisaran antara 33 – 38 cm dengan jumlah 63 ekor. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada panjang cagak dengan selang antara 0 – 13 cm dengan jumlah 1 ekor. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci, jumlah ikan layang yang sudah memiliki ukuran yang layak tangkap sebanyak 160 ekor atau 99,38 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 2,5 inci.

71  

Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 49 ekor atau 13,96 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci berada pada panjang cagak dengan selang antara 28 – 38 cm sebanyak 18 ekor, diikuti dengan kisaran antara 23 – 28 cm dengan jumlah 9 ekor. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada panjang cagak dengan selang antara 38 – 43 cm dengan jumlah 1 ekor. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci, jumlah ikan layang yang sudah memiliki ukuran yang layak tangkap sebanyak 46 ekor atau 93,88 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 3 inci. Secara keseluruhan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap hasil tangkapan ikan layang layak tangkap sebanyak 160 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap total hasil tangkapan ikan layang layak tangkap relatif lebih banyak dibandingkan dengan jaring rampus dengan ukuran mata jaring lainnya. Secara lebih rinci distribusi total panjang cagak hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda disajikan dalam Gambar 40. Berdasarkan hasil uji Friedman pada taraf nyata 0,05 terhadap distribusi panjang cagak hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda diperoleh nilai Chi-square 21,283 dengan nilai probabilitas 0,000. Hal ini berarti bahwa jaring rampus rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda secara signifikan memberikan perbedaan yang nyata terhadap distribusi panjang cagak hasil tangkapan ikan layang. Uji lanjut terhadap distribusi panjang cagak hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dilakukan untuk menentukan jenis ukuran mata jaring rampus yang memberikan kontribusi terhadap perbedaan distribusi panjang cagak hasil tangkapan ikan layang. Uji lanjut dengan menggunakan uji perbandingan berganda (Multiple comparison) menunjukkan bahwa distribusi panjang cagak hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci vs 2,5 inci menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada taraf nyata 0,05. Secara lebih rinci hasil uji lanjut terhadap distribusi panjang cagak hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda disajikan pada Tabel 13 dan Lampiran 12.

72  

T Tabel 13 Haasil uji lanjutt perbandinggan bergandaa terhadap diistribusi pannjang cagak ikann layang padda jaring ram mpus dengan n ukuran maata jaring yan ng berbeda padda tiap perlakkuan No 1 2 3 4 5 6

Perlaakuan MS 1,75 inci vs MS 2 inci MS 1,75 inci vs MS 2,5 incii MS 1,75 inci vs MS 3 inci MS 2 inci vs MS S 2,5 inci MS 2 inci vs MS S 3 inci MS 2,5 inci vs MS M 3 inci

Berbeeda Berbeeda Berbeeda Berbeeda Berbeeda Berbeeda

Hasil nyata nyata nyata nyata nyata nyata

  MS 1,75 incci

8 80 6 60

n = 40 4 Layak k tangkap 31 ekor atau a 77,50%

4 40 2 20

12

8

1

0

8

11

322

29

0

0

0 8 80 6 60

MS 2 inci n = 101 1

4 40 2 20

27 6

3

0

Layak k tangkap 92 ekor atau a 92,09% 2

2

0 MS 2,5 incci 711

8 80 6 60

63

Layak k tangkap 1660 ekor atau 99,38% %

n = 1661

4 40 2 20

15

10

1

0

1

0

0 8 80 MS 3 inci 6 60

n = 49 9 Layak k tangkap 466 ekor a atau 93,88% %

4 40 2 20

0

9

3

0

188

18 1

0

0 13 3

18

2 23

28

33

38

43

448

Pa anjang cagak k (cm)

G Gambar 40 Distribusi D to otal panjang cagak ikan layang l yang tertangkap pada p jaring rampus r denggan ukuran mata m jaring yang y berbedaa selama penelitian

73  

2) Distribusi girth operculum Hasil tangkapan ikan layang selama penelitian memiliki ukuran girth operculum yang beragam. Ukuran girth operculum ikan layang dominan tersebar pada selang antara 13 – 23 cm dengan jumlah hasil tangkapan ikan layang sebanyak 318 ekor atau 90,60 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar berada pada girth operculum dengan selang antara 13 – 18 cm sebanyak 181 ekor, diikuti dengan kisaran antara 18 – 23 cm dengan jumlah 137 ekor. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada girth operculum dengan selang antara 23 – 28 cm dengan jumlah 3 ekor. Secara lebih rinci distribusi total girth operculum hasil tangkapan ikan layang selama penelitian disajikan pada Gambar 41.

200

181

180

Jumlah ikan (ekor)

160 137

140 120 100 80 60 40 20

26 4

0

3

0

3

8 13 18 Girth operculum (cm)

23

28

Gambar 41 Distribusi total girth operculum ikan layang yang tertangkap pada jaring rampus selama penelitian Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 40 ekor atau 11,40 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci berada pada ukuran girth operculum dengan selang antara 18 – 23 cm sebanyak 29 ekor atau 72,50 % dari total hasil tangkapan

74  

ikan layang pada mata jaring 1,75 inci, diikuti dengan kisaran antara 13 – 18 cm dengan jumlah 9 ekor atau 22,50 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 1,75 inci. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada ukuran girth operculum dengan selang antara 8 – 13 cm dengan jumlah 2 ekor atau 5 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 1,75 inci. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 101 ekor atau 28,77 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2 inci berada pada ukuran girth operculum dengan selang antara 13 – 18 cm sebanyak 61 ekor atau 60,40 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 2 inci, diikuti dengan kisaran antara 18 – 23 cm dengan jumlah 23 ekor atau 22,77 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 2 inci. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada ukuran girth operculum dengan selang antara 3 – 8 cm dengan jumlah 2 ekor atau 1,98 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 2 inci. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 161 ekor atau 45,87 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci berada pada ukuran girth operculum dengan selang antara 13 – 18 cm sebanyak 83 ekor atau 51,55 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 2,5 inci, diikuti dengan kisaran antara 18 – 23 cm dengan jumlah 64 ekor atau 39,75 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 2,5 inci. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada ukuran girth operculum dengan selang antara 3 – 8 cm dengan jumlah 2 ekor atau 1,86 % dari total hasil tangkapan ikan layang pada mata jaring 2,5 inci. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 49 ekor atau 13,96 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Hasil tangkapan ikan layang terbesar pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 3 inci berada pada ukuran girth operculum dengan selang antara 13 – 18 cm sebanyak 28 ekor, diikuti dengan kisaran antara 18 – 23 cm dengan jumlah 21 ekor. Adapun hasil tangkapan terendah berada pada ukuran girth operculum dengan selang antara 3 – 8 cm dengan jumlah 0 ekor. Secara

75  

l lebih rinci distribusi d total ukuran ggirth opercuulum hasil tangkapan t ikkan layang p pada jaring rampus denngan ukurann mata jarinng yang berrbeda disajiikan dalam G Gambar 42.   100 0 75 5

MS 1,75 inci n = 40

50 0  

29

25 5

9

2

0 100 0 75 5

MS 2 inci

n = 1011

61

50 0 23

15

25 5

2

0 100 0 75 5

MS 22,5 inci

83 64

n = 1611

50 0 25 5

9

2

3

0 100 0 75 5

n = 499

MS 3 inci

50 0

28

21

25 5 0 3

8

13

18

2 23

28

Girth h operculum m (cm)

G Gambar 42 Distribusi girth g opercuulum ikan laayang yang ttertangkap pada p jaring rampus denngan ukurann mata jaring g yang berbedda selama penelitian p man pada tarraf nyata 0,,05 terhadap p distribusi Berdassarkan hasill uji Friedm u ukuran girthh operculum m hasil tangkkapan ikan layang l pada jaring ramppus dengan u ukuran mataa jaring yang g berbeda ddiperoleh nilai Chi-squarre 13,792 deengan nilai p probabilitas 0,003. Hal ini berarti bahwa jarinng rampus rampus r denggan ukuran

76  

mata jaring yang berbeda secara signifikan memberikan perbedaan yang nyata terhadap distribusi ukuran girth operculum hasil tangkapan ikan layang. Uji lanjut terhadap distribusi ukuran girth operculum hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dilakukan untuk menentukan jenis ukuran mata jaring rampus yang memberikan kontribusi terhadap perbedaan distribusi ukuran girth operculum hasil tangkapan ikan layang. Uji lanjut dengan menggunakan uji perbandingan berganda (Multiple comparison) menunjukkan bahwa distribusi ukuran girth operculum hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2inci vs 2,5 inci menunjukkan hasil yang berbeda nyata pada taraf nyata 0,05. Secara lebih rinci hasil uji lanjut terhadap distribusi ukuran girth operculum hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda disajikan pada Tabel 14 dan Lampiran 12. Tabel 14 Hasil uji lanjut perbandingan berganda terhadap distribusi ukuran girth operculum hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda pada tiap perlakuan No 1 2 3 4 5 6

Perlakuan MS 1,75 inci vs MS 2 inci MS 1,75 inci vs MS 2,5 inci MS 1,75 inci vs MS 3 inci MS 2 inci vs MS 2,5 inci MS 2 inci vs MS 3 inci MS 2,5 inci vs MS 3 inci

Hasil Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Tidak berbeda nyata

5.1.5 Hubungan antara girth dan fork length Berdasarkan analisis regresi linier terhadap panjang cagak (FL) dengan girth ikan layang (Decapterus kurroides), maka diperoleh persamaan sebagai berikut: y = 0,635 x -3,098 R2 = 0,945 r = 0,972 dimana x adalah panjang cagak (FL) dan y adalah girth ikan layang

Persamaan di atas dapat diinterpretasikan bahwa setiap penambahan panjang cagak (FL) ikan layang sebesar satu satuan akan meningkatkan keliling girth sebesar 0,635 satuan (cm). Nilai koefisien determinasi (R2) pada persamaan ini

77  

sebesar 0,945. Nilai ini menunjukkan bahwa hubungan antara panjang cagak dengan girth ikan layang (Decapterus kurroides) sangat kuat. Sebaran data yang menunjukkan bahwa hubungan antara panjang cagak dengan girth ikan layang (Decapterus kurroides) disajikan pada Gambar 43.

30 y = 0.635x - 3.098 R² = 0.945 r = 0.972

Girth (cm)

25 20 15 10 5 0 0

5

10

15

20

25

30

35

40

45

50

Panjang Cagak (cm) Gambar 43 Hubungan antara panjang cagak dengan girth seluruh hasil tangkapan ikan layang (Decapterus kurroides) Cara tertangkap ikan pada gillnet menurut Spere and Venema (1999) dapat dibedakan menjadi snaged, gilled, wedged dan entangled. Berdasarkan termologi tersebut maka pada penelitian ini ikan layang berdasarkan cara tertangkapnya dibedakan menjadi snaged, gilled, wedged dan entangled. Pada penelitian ini ikan yang tertangkap dengan cara entangled sebanyak 269 ekor atau 76,64 % dari total hasil tangkapan. Adapun ikan layang yang tertangkap dengan cara gilled sebanyak 27 ekor atau 7,69 % dari total hasil tangkapan, sedangkan yang tertangkap dengan cara wedged sebanyak 55 ekor atau 15,67 % dari total hasil tangkapan. Gambar cara tertangkapnya ikan pada jaring rampus selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 44. Secara detail distribusi ikan layang berdasarkan cara tertangkapnya selama penelitian disajikan pada Gambar 45.

78  

Gambar 44 Cara tertangkapnya ikan secara entangled pada jaring rampus selama penelitian 300

269

Jumlah ikan (ekor)

250 200 150 100 55 50

27

0

Entangled Wedged Gilled Cara Tertangkap Gambar 45 Distribusi ikan layang berdasarkan cara tertangkapnya selama penelitian Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci memiliki jumlah total hasil tangkapan ikan layang sebanyak 40 ekor. Berdasarkan cara tertangkapnya, ikan yang tertangkap dengan cara entangled sebanyak 28 ekor atau 70 % dari total hasil tangkapan menggunakan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci, wedged sebanyak 4 ekor atau 10 % dari total hasil tangkapan menggunakan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci dan yang tertangkap secara gilled sebanyak 8 ekor atau 20 % dari total hasil tangkapan menggunakan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci. Secara lebih rinci sebaran ukuran ikan yang tertangkap dan cara tertangkapnya ikan pada berbagai ukuran mata jaring rampus disajikan pada Tabel 15, Gambar 46 dan Gambar 47.

79  

75 60

60 MS 3 inci n = 49

50 40

45

30 30

20

15

10

0 75

0 60

60

MS 2,5 in nci n = 161

50 40

45

30 30

20

15

10

0 75

0 60

60

MS 2 incci n = 101

50 40

45

30 30

20

15

10

0 75

0 60

60

MS 1,75 inci n = 40

50 40

45

30 30

20

15

10

0

0 8

Ketterangan :

2 33 38 8 13 18 23 28 Panjang caagak (cm) Entang gled

W Wedged

43 48 Gilled

Frekkuensi

G Gambar 46 Distribusi cara c tertanggkap ikan laayang pada jaring ramppus dengan ukuran matta jaring yanng berbeda selama penelitian

80  

90 75

75

MS 3 inci n = 49

60

60

45

45 30

30 15

15

0 90

0 75

75 60

MS 2,5 incci n = 161

60 45

45 30

30 15

15

0 90

0 75

75 60

MS 2 inci n = 101

60 45

45 30

30 15

15

0 90

0 75

75 60

MS 1,75 incci n = 40

60 45

45 30

30 15

15

0

0 3

Keterangan K :

8 13 233 18 Girth operculum (cm m) Entan ngled

Wedged

28 Gilledd

Frrekuensi

Gambar 47 7 Distribusii cara tertaangkap ikan layang pada jaring rampus dengan ukkuran mata jaring yang berbeda b selama penelitiaan

81  

Tabel 15 Jumlah ikan layang dengan cara tertangkapnya selama penelitian Ukuran mata jaring 1,75 inci 2 inci 2,5 inci 3 inci

Entangled Jumlah % 28 70,00 70 69,31 129 80,12 42 85,71

Cara tertangkap Wedged Jumlah % 4 10,00 20 19,80 25 15,53 6 12,24

Gilled Jumlah % 8 20,00 11 10,89 7 4,35 1 2,04

Berdasarkan uji Chi Square terhadap cara tertangkapnya ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda diperoleh nilai 32,40 dengan probabilitas 0,003. Hal ini berarti bahwa perbedaan ukuran mata jaring berpengaruh sangat signifikan terhadap cara tertangkapnya ikan layang pada jaring rampus. 5.2 Pembahasan 5.2.1 Komposisi total hasil tangkapan Hasil tangkapan yang diperoleh selama penelitian sebanyak 529 ekor yang terdiri dari tujuh spesies. Adapun ketujuh spesies tersebut adalah ikan layang (Decapterus kurroides), biji nangka (Upeneus moluccensis), beloso (Saurida micropectoralis), simata goyang (Priacanthus tayenus), pepetek (Leiognatus equulus), sebelah (Pssettodes erumei), udang jerbung (Penaeus sp). Jumlah spesies yang tertangkap pada lokasi penelitian lebih banyak dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Firmansyah (1988) yang memperoleh hasil tangkapan sebanyak 5 spesies dengan menggunakan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda di Teluk Lampung, sedangkan Abidin (2000) yang juga melakukan penelitian terkait dengan studi tentang selektivitas jaring rampus di Teluk Jakarta menangkap hasil tangkapan lebih banyak dengan jumlah spesies 8 spesies. Pada saat penelitian, setting jaring rampus yang dilakukan sebanyak 15 kali, dan memperoleh hasil tangkapan yang memiliki keragaman spesies yang relatif lebih sedikit. Adapun Al Hizaz (2011) melakukan penelitian di Perairan Cisolok yang menangkap jumlah spesies lebih banyak yaitu sebanyak 9 spesies, hal ini diduga karena adanya pengaruh kondisi geografis perairan Cisolok yang berkaitan

82  

dengan suhu perairan, salinitas, dan juga topografi di perairan Cisolok. Stergiou dan Pollard (1994) menyatakan bahwa hasil tangkapan dan keragaman hasil tangkapan ikan di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor geografis seperti kandungan nutrisi perairan, aliran air sungai ke laut, temperatur dan salinitas perairan. Perbedaan keragaman ini diduga karena adanya perbedaan lokasi penangkapan. Perbedaan jenis habitat juga berpengaruh terhadap keragaman spesies yang hidup dilokasi tersebut. Duman dan Pala (2007) juga menyatakan bahwa keragaman hasil tangkapan di suatu perairan sangat dipengaruhi oleh iklim dan temperatur perairan tersebut. Operasi penangkapan pada penelitian ini dilakukan pada 15 stasiun yang berbeda (Lampiran 2). Menurut nelayan setempat, ke-15 stasiun tersebut merupakan daerah penangkapan ikan terbaik. Dari kelimabelas stasiun tersebut, ada beberapa stasiun yang memiliki letak yang sama, karena nelayan setempat akan kembali ke tempat yang sama apabila mendapatkan hasil tangkapan yang banyak. Index Shannon Wiener merupakan indikator yang menunjukkan spesies yang tertangkap oleh jaring rampus dengan menggunakan kategori ukuran mata jaring yang berbeda. Apabila nilai index Shannon Wiener yang diperoleh kecil, maka berarti bahwa keragaman spesies yang tertangkap dengan kategori ukuran mata jaring tersebut relatif kecil. Semakin besar nilai index Shannon Wiener, maka keragaman spesies yang tertangkap relatif besar. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci pada penelitian ini memiliki variasi hasil tangkapan paling besar. Hal ini berarti bahwa jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci menangkap hasil tangkapan sampingan lebih besar dibanding dengan jaring rampus dengan ukuran mata jaring lainnya. Gray (2005) juga menjelaskan bahwa pada uji coba penangkapan pada gillnet dengan ukuran mata jaring 80, 89, 95, dan 100 mm diperoleh hasil bahwa mesh size terkecil yaitu mesh size 80 mm menangkap hasil tangkapan dengan variasi hasil tangkapan paling banyak. Berdasarkan uji Friedman terhadap jumlah hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda, diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,001 pada taraf nyata 0,05. Nilai tersebut menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring pada jaring rampus memberikan perbedaan secara nyata terhadap

83  

jumlah hasil tangkapan jaring rampus. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 secara signifikan menangkap hasil tangkapan total hasil tangkapan selama penelitian. Faife (2003) memperoleh hasil bahwa perbedaan ukuran mata jaring memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah ikan atlantic cod (Gadus morhua) pada wilayah perairan tertentu. Begitu juga pada penelitian yang dilakukan oleh Abidin (2000). Abidin (2000) menyatakan bahwa ukuran mata jaring yang berbeda pada jaring rampus berpengaruh nyata terhadap jumlah total ikan yang tertangkap. Heikinheimo, et al.(2006) menyatakan bahwa perubahan penggunaan ukuran mata jaring dari 43, 45 mm ke ukuran 50 mm akan menambah total hasil tangkapan gillnet sebanyak 21 %. Ukuran mata jaring yang berbeda juga menyebabkan perbedaan terhadap total berat kasar hasil tangkapan. Emmanuel dan Chukwu (2010) menyatakan bahwa gillnet dengan ukuran mata jaring 30 – 45 mm dan 50 – 70 mm menangkap total hasil tangkapan masingmasing sebesar 225,6 kg dan 386,4 kg.

5.2.2 Jumlah ikan layang (Decapterus kurroides) Hasil tangkapan utama pada penelitian ini adalah ikan layang (Decapterus kurroides) dengan jumlah 351 ekor atau 66,35 % dari total hasil tangkapan. Hasil tangkapan ikan layang dengan jumlah terbanyak diperoleh jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci yakni sebanyak 161 ekor atau 45,87 % dari total hasil tangkapan ikan layang sedangkan hasil tangkapan terendah diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci yakni sebanyak 40 ekor atau 11,40 % dari total hasil tangkapan ikan layang. Adapun hasil uji Friedman terhadap jumlah ikan layang yang tertangkap pada ukuran mata jaring rampus yang berbeda menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Hal ini berarti bahwa perbedaan ukuran mata jaring pada jaring rampus memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah total hasil tangkapan ikan layang. Santos, et al. (2003) memperoleh hasil bahwa gillnet dengan ukuran mata jaring 70 mm menangkap jumlah ikan European hake (Merluccius merluccius) dibandingkan dengan gillnet dengan ukuran mata jaring 80 mm dan 90 mm. Walus (2001) juga menegaskan bahwa perbedaan ukuran mata jaring pada gillnet mempengaruhi jumlah hasil tangkapan. Fabi, et al. (2000) berpendapat bahwa ukuran mata jaring mempengaruhi jumlah hasil tangkapan

84  

ikan sand steenbras (Lithognathus mormyrus), ikan annular seabream (Diplodus annularis), dan ikan red mullet (Mullus barbatus). Gillnet dengan ukuran mata jaring 45 mm menangkap ketiga spesies ikan tersebut lebih banyak dibandingkan dengan gillnet dengan ukuran mata jaring lainnya. Heikinheimo, et al. (2006) menambahkan bahwa penambahan mesh size pada gillnet menyebabkan perubahan hasil tangkapan ikan pikeperch (Sander lucioperca) sebesar 23 %. Ukuran mata jaring yang lebih kecil pada gillnet cenderung menangkap ikan dalam jumlah yang banyak karena ikan akan mudah terjerat dengan semakin kecilnya ukuran mata jaring, akan tetapi hasil tangkapan akan memiliki keragaman yang tinggi (Psuty dan Borowski, 1997). Pada penelitian ini jumlah total hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda secara signifikan menunjukkan perbedaan yang nyata (Chi-square : 28,2132 dan Probabilitas : 0,000) pada taraf nyata 0,05. Uji lanjut dengan meggunakan uji perbandingan berganda (multiple comparison) menunjukkan bahwa jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci secara signifikan juga menangkap ikan layang dengan jumlah lebih banyak dibandingkan dengan jaring rampus dengan ukuran mata jaring lainnya. Selanjutnya, Helser, et al. (1993) memperoleh hasil bahwa gillnet monofilament dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap jumlah hasil tangkapan lebih banyak dibandingkan dengan gillnet dengan ukuran mata jaring 3, 3,5, dan 4 inci. Santos, et al. (2003) menyatakan bahwa semakin kecil ukuran mata jaring pada gillnet akan menaikkan jumlah hasil tangkapan ikan, akan tetapi gillnet menjadi tidak selektif.

5.2.3 Distribusi ukuran hasil tangkapan ikan layang Panjang cagak ikan yang tertangkap selama penelitian berkisar antara 13 – 44 cm. Adapun panjang cagak yang dominan tertangkap berkisar antara 23 – 38 cm dengan jumlah 325 ekor. Ikan layang yang berukuran besar dengan kisaran panjang cagak 23 – 43 cm saat tertangkap pada jaring rampus cenderung tertangkap secara terpuntal pada semua jaring rampus dengan menggunakan berbagai ukuran mata jaring. Ukuran mata jaring 1,75 inci merupakan ukuran mata jaring terkecil pada penelitian ini dibandingkan dengan ukuran mata jaring

85  

lainnya. Holst (2000) mengatakan bahwa ukuran mata jaring merupakan faktor yang sangat penting untuk menentukan ukuran hasil tangkapan, semakin kecil ukuran mata jaring maka ikan yang tertangkap cenderung lebih banyak. Perbedaan ukuran mata jaring yang digunakan secara signifikan memberikan pengaruh yang nyata terhadap ukuran hasil tangkapan ikan layang. Pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci ukuran ikan layang yang dominan tertangkap berada pada panjang cagak dengan kisaran 23 – 28 cm. Adapun jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2, 2,5, dan 3 inci ukuran ikan layang yang dominan tertangkap pada masing-masing berada pada kisaran 28 – 33 cm, 28 – 33 cm, dan 28 – 38 cm. Berdasarkan uji Friedman terhadap panjang cagak hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda menunjukkan nilai Asymp.Sig dengan nilai probabilitas 0,000 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap ukuran panjang cagak ikan layang. Heikinheimo, et al. (2006) menyatakan bahwa ukuran mata jaring yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata terhadap ukuran hasil tangkapan. Park, et al. (2010) juga memperoleh hasil bahwa gillnet dengan ukuran mata jaring 6,1, 7,9, 10,1, dan 13 cm memberikan perbedaan yang nyata terhadap ukuran ikan korean flounder (Glyptocephalus stelleri). Pada penelitian ini perbedaan ukuran mata jaring mempengaruhi ukuran hasil tangkapan ikan layang. Hal ini diduga karena pada ikan layang memiliki struktur morfologi berupa dorsal fin disekeliling badan ikan yang mengakibatkan ikan layang mudah terpuntal saat tertangkap pada jaring rampus, sehingga perbedaan ukuran mata jaring dapat berakibat pada perbedaan ukuran ikan yang tertangkap. Ozekinci (2007) memperoleh hasil bahwa ukuran mata jaring berpengaruh nyata terhadap ukuran ikan european chub (Leuciscus cephalus). Struktur morfologi ikan layang dengan Leuciscus cephalus hampir mirip dimana pada keliling badan ikan memiliki sirip dorsal yang digunakan untuk berenang. Walus (2001) juga berpendapat bahwa perbedaan ukuran mata jaring mengakibatkan perbedaan yang nyata terhadap ukuran ikan cakalang, yang memiliki kondisi morfologi hampir sama dengan ikan layang, dimana ikan akan mudah terjerat pada ukuran mata jaring yang rendah.

86  

Ikan layang yang layak tangkap pada penelitian ini berjumlah 329 ekor atau 93,73 % dari total hasil tangkapan ikan layang yang tertangkap pada jaring rampus selama penelitian. Ikan layak tangkap yang dimaksud adalah ikan yang layak tangkap secara biologi, dimana ikan sudah matang gonad dengan ukuran panjang cagak mulai dari 23 cm (Nontji, 2002). Secara keseluruhan ikan layang yang tertangkap pada penelitian ini hampir semua layak tangkap. Namun jumlah ikan yang tertangkap secara keseluruhan relatif sedikit. Hal ini diduga karena penelitian dilaksanakan pada saat akhir musim puncak ikan layang di Perairan Cisolok yaitu pada bulan April 2011. Nontji (2002) mengatakan bahwa musim ikan layang dibedakan menjadi dua yaitu musim Timur dan musim Barat. Adapun pada musim Timur berlangsung mulai dari bulan Juni sampai bulan September, dan musim Barat mulai dari bulan Januari sampai bulan April. Girth operculum ikan layang yang tertangkap selama penelitian berkisar antara 3 – 28 cm. adapun ukuran girth operculum yang dominan tertangkap pada kisaran antara 13 – 23 cm sebanyak 318 ekor atau 90,60 % dari total hasil tangkapan ikan layang selama penelitian. Berdasarkan uji Friedman terhadap girth operculum hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda menunjukkan nilai Asymp.Sig dengan nilai probabilitas 0,003 pada taraf nyata 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap ukuran girth operculum ikan layang. Reis dan Pawson (1998) menyebutkan bahwa perbedaan ukuran mata jaring pada gillnet memberikan pengaruh yang nyata terhadap ukuran girth empat spesies ikan yang berbeda yakni ikan whitemouth croaker (Micropogonias furnieri), southern kingcroaker (Menticirrhus americanus), Mugil platanus, dan argentine menhaden (Brevoortia pectinata). Menurut Spare and Venema (1999) cara tertangkap ikan pada gillnet dapat dibedakan menjadi snaged, gilled, wedged dan entangled. Pada penelitian ini ikan layang yang tertangkap secara entangled lebih dominan dibandingkan yang tertangkap dengan cara lain yaitu sebanyak 269 ekor, sedangkan yang tertangkap dengan cara wedged sebanyak 55 ekor dan yang tertangkap secara gilled sebanyak 27 ekor dari total hasil tangkapan. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci menangkap ikan layang dengan cara terpuntal (entangled) lebih banyak

87  

dibandingkan dengan jaring rampus dengan ukuran mata jaring lainnya. Hal ini diduga karena beberapa faktor, yakni Rosmiyanti (2002) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ikan tertangkap secara terpuntal karena diduga ikan yang tertangkap memiliki tingkah laku yang apabila terhadang atau terjerat oleh jaring maka ikan akan semakin terus berusaha untuk menerobos jaring sehingga tubuhnya akan semakin terpuntal, dan faktor lainnya yaitu ketegangan rentangan jaring yang tidak terlalu tegang, sehingga pada saat terdorong oleh arus ataupun ikan yang berusaha untuk menerobos, maka jaring akan membentuk kantong. Ikan yang tertangkap dengan cara terjerat akan memiliki perbandingan yang tetap antara ukuran mata jaring gillnet dengan ukuran ikan. Apabila ukuran ikan bertambah sebesar konstanta k maka ukuran mata jaring yang diperlukan untuk dapat menangkap ikan tersebut juga bertambah sebesar konstanta k (Baranov, 1976) diacu dalam Samaranayaka, 1997). Sebaliknya ikan yang tertangkap dengan cara terpuntal seringkali tidak memiliki perbandingan yang tetap antara ukuran mata jaring dengan ukuran ikan yang tertangkap.

Gambar 47 Cara tertangkap ikan layang secara entangled Berdasarkan uji Chi Square terhadap cara tertangkapnya ikan layang pada jaring rampus dengan hanging ratio yang berbeda diperoleh nilai 32,40 dengan probabilitas 0,003. Hal ini berarti bahwa perbedaan ukuran mata jaring berpengaruh sangat signifikan terhadap cara tertangkapnya ikan layang pada jaring rampus. Rosmiyanti (2002) memperoleh hasil bahwa perbedaan ukuran mata jaring mempengaruhi secara nyata terhadap cara tertangkapnya ikan.

6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1.

Komposisi spesies hasil tangkapan pada semua ukuran mata jaring didominasi oleh ikan layang (Decapterus kurroides). Berdasarkan indeks Shannon Wiener, jaring rampus dengan ukuran mata jaring 1,75 inci memiliki nilai terbesar dengan nilai 1,4725, sedangkan nilai indeks terkecil diperoleh pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 dengan nilai 0,7817.

2.

Perbedaan ukuran mata jaring rampus berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah ikan layang yang tertangkap. Jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci secara signifikan menangkap ikan layang dengan jumlah paling banyak.

3.

Penggunaan ukuran mata jaring rampus yang berbeda secara signifikan memberikan perbedaan ukuran ikan layang yang tertangkap.

4.

Penggunaan mata jaring rampus yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan terhadap cara tertangkapnya ikan layang pada jaring rampus.

6.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian maka penulis menyarankan agar : 1.

Nelayan disarankan menggunakan jaring rampus dengan ukuran mata jaring 2,5 inci untuk mempeoleh hasil tangkapan yang banyak dan layak tangkap dibanding dengan ukuran mata jaring lainnya; dan

2.

Penelitian lebih lanjut dengan menggunakan kombinasi faktor warna jaring dan ketebalan benang jaring terhadap hasil tangkapan ikan layang.

 

DAFTAR PUSTAKA Abidin Z. 2000. Studi tentang selektivitas jaring rampus terhadap ikan kembung (Rastrelliger spp) di Teluk Jakarta [Skripsi]. Bogor: Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 76 hal. Al Hizaz AZ. 2011. Perbedaan Hanging Ratio Jaring Rampus terhadap Hasil Tangkapan Ikan Layang (Decapterus kurroides) di Perairan Cisolok, Palabuhanratu. Atmadja SB. 1980. Suatu Studi tentang Beberapa Faktor yang Perlu Dipertahankan dalam Menata Drift Gill Net [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 10-12 hal. Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Bogor: Yayasan Dewi Sri. 97 hal. Badrudin. 2004. Dinamika Sumberdaya Ikan, Makalah Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Ikan (tidak dipublikasikan). Jakarta: Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap DKP. Baranov FI. 1976. Selected Works on Fishing Gear. Vol. 1: Commercial Fishing Techiques. Jerusalem: Keter Publishing. Bleeker.1855.Fishbase.us.www.fishbase.us/summary/SpeciesSummary.php?genu sname=Decapterus&speciesname=kurroides. [18 Juni 2011]. Carlson JK. and E Cortés. 2003. Gillnet selectivity of small coastal sharks off the southeastern United States. Fisheries Research. No.60: 405-414. Dharmayanti S. 1989. Evaluasi Beberapa Faktor Oseanografi dan Musim terhadap Hasil Tangkapan di Palabuhan Ratu. Laporan Praktek Lapang (tidak dipublikasikan). Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 55 hal. Direktorat Jenderal Perikanan. 1994. Informasi Teknologi Rawai Dasar Kakap dan Jaring Rampus (Multipurpose bottom longline and gillnet). Jakarta: Departemen Pertanian. 15 hal. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. 2010. Potensi dan Analisa Usaha Kelautan dan Perikanan. Sukabumi: Dinas Kelautan dan Perikanan. Dincer AC and M Bahar. 2008. Multifilament gillnet selectivity for the Red Mullet (Mullus barbatus) in the Eastern Black Sea Coast of Turkey, Trabzon. Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences. No.8: 355-359.

90  

Djamali A, Sudibyo dan S Martosewojo. 1979. Penelaahan Biologi Ikan Layang (Dekapterus kurroides) Bleeker dari Perairan Sekitar Palabuhan Ratu dan Labuhan. [Makalah]. Bandung. Duman E, M Pala. 2007. Effect of Water Temperature on the Selectivity of Monofilament Gill Nets (PA). Pakistan Journal of Biological Science. Vol 10 (11): 1914-1917. Effendi MI. 2002. Biologi Perikanan. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama. Emmanuel BE and Chukwu LO. 2010. Evaluating the selective performance of gillnet used in a tropical low brackish lagoon south-western, Nigeria. Journal of American Science. No.6: 1 FAO. 1974. Species Identification Sheets for Fishery Purpose,Volume I Food and Agriculture Organization of the United Nations. Rome. Fabi G, M Sbrana, F Biagi, I Leonori, P Santor. 2000. Trammel net and Gillnet Selectivity for Lithognathus mormyrus (L., 1758), Diplodus annularis (L., 1758) and Mullus barbatus (L., 1758) in the Adratic and Ligurian seas. Fisheries Research. No. 54: 375-388. Faife JR. 2003. Effect of Mesh Size and Twine Type on Gillnet Selectivity of Cod (Gadus morhua) in Icelandic Coastal Waters. Institute for the Development of Small-Scale Fisheries (IDPPE), Marine research institute. Firmansyah. 1988. Suatu Studi Perbandingan Hasil Tangkapan Jaring Rampus dengan Ukuran Mata Jaring yang Berbeda di Teluk Lampung, Propinsi Lampung. [Karya Ilmiah]. Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 78 hal. Fridman A. 1988. Perhitungan dalam Merancang Alat Penangkap Ikan. Semarang: Balai Pengembangan Penangkapan Ikan. 304 hal. Fyson J. 1985. Design of Small Fishing Vessel. England: Fishing News Book Ltd. 320 hal. Gray CA, DD Johnson, MK Broadhurst, DJ Young. 2005. Seasonal, spatial and gear-related influences on relationships between retained and discarded catches in a multi-species gillnet fishery. Fisheries Research. No. 75: 56-72 Hamley JM. 1975. Review of Gillnet Selectivity. J. Fish. Res. Board Can. 32(11): 1943-1969. Heikinheimo O, J Setälä, K Saarni, and J Raitaniemi. 2006. Impacts of Mesh-Size Regulation of Gillnet on the Pikeperch Fisheries in the Archipelago Sea, Finland. Fisheries Research. No. 77: 192-199.

91  

Helser TE, JP Geaghan, and RE Condrey. 1993. Estimating Size Composition and Associated Variances of a Population from Gillnet Selectivity, With an Example for Spotted Seatrout (Cynoscion nebulosus). Fisheries Research. No. 19: 65-86. Hendrotomo M. 1989. Studi dan Analisis Hasil Tangkapan dengan Menggunakan Umpan yang Berbeda pada Cucut (Hiu) Permukaan di Pelabuhan Ratu [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 32-39 hal. Holst R. 2000. Manual For Gillnet Selectivity.DK : IPIMAR/P Iskandar MD. 2009. Penuntun Praktikum Teknologi Alat Penangkapan Ikan. Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Karlsen L and BA Bjarnasson. 1986. Small-scale fishing with driftnets. FAO. Fish. Tech. Pap. (284): 64p. Manalu M. 2003. Kajian Output yang Dihasilkan Operasi Unit Penangkapan Jaring Kejer di Teluk Banten [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 4-11 hal.  Martasuganda S, Matsuoka and Kawamura. 2000. Effect of Hang-in Ratio on SizeSelectivity of Gillnet. Nippon Suisan Gakkaishi, 66: 439-445. Martasuganda S. 2008. Serial Teknologi Penangkapan Ikan Berwawasan Lingkungan: Jaring Insang (Gillnet). Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 68 hal. Miranti. 2007. Perikanan Gillnet di Palabuhanratu [Skripsi]. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 8-9 hal. Mori K. 1968. Gillnet Fishery in Japan. Misaki Internasional Fishery Training Center Overseas Technical Cooperation Agency. 65 p. Najamuddin. 2009. Modul of Fishing Gear Design. Faculty of Marine Science and Fisheries, Hasanuddin University, Makassar. Unpublished. Nomura M dan T Yamazaki. 1976. Fishing Technique 1. Tokyo: Japan Internasional Coorporation agancy. 206 p. Nontji A. 2002. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan. Nuraini T, M Imron, Darmawan, M Sulaeman, A Purbayanto, SH Wisudo, BH Iskandar, W Mawardi, dan JL Gaol. 1992. Analisis Musim Penangkapan Ikan Tuna di Pantai Selatan Jawa. Laporan Akhir Penelitian (tidak dipublikasikan). Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 1-8 hal.

92  

Ozekinci U, U Altinagac, A Ayaz, O Cengiz, H Ayyildiz, H Kaya, and D Odabasi. 2007. Monofilament Gillnet Selectivity Parameters for European Chub (Leuciscus cephalus L. 1758) in Atikhisar Reservoir, Canakkale, Turkey. Pakistan Journal of Biological Sciences. No. 10: 1305-1308. Park HH, RB Millar, BS Bae, HC An, YY Chun, JH Yang, and SC Yoon. 2010. Size Selectivity of Korean flounder (Glyptocephalus stelleri) by Gillnets and Trammel nets Using an Extension of Select for Experiments with Differing Mesh Sizes. Fisheries Research. No. 107: 196-200. Pascoe S. 1997. Bycatch Management and the Economic of Discarding. Rome: FAO Fisheries Tecnical Paper No.370. 87-96 hal. Prasetyo AP. 2009. Kekuatan Putus (Breaking Streangth) Benang dan Jaring PA Multifilamen pada Penyimpanan di Ruang Terbuka dan Tertutup [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 6-7 hal. Psuty I and WI Borowski. 1997. The Selectivity of Gill Nets of Bream (Abramis brama L.) Fished in the Polish Part of the Vistuala Lagoon. Fisheries Research. No. 32: 249-261. Purbayanto A. 2006. Perikanan Trammel net, Analisis selektivitas dan fisiologi tingkah laku ikan untuk kepentingan pengelolaannya. Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Rahman DM. 2005. Desain dan Kontruksi Kapal Gillnet Harapan Baru di Galangan Kapal Pulau Tidung [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 6-7 hal. Reis EG and MG Pawson. 1998. Fish Morphology and Estimating Selectivity by Gillnets. Fisheries Research. No. 39: 263-273. Rosmiyanti T. 2002. Cara Tertangkapnya Ikan dalam Hubungannya dengan Selektivitas Trammel Net. [Skripsi]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 109 hal. Saanin H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Jilid I dan II. Bandung: Bina Cipt. 245 hal. Samaranayaka A, A Engas and T Jorgensen. 1997 Effecs of Hanging Ratio and Fishing Depth on the Catch Rates of Drifting Tuna Gillnets in Sri Lanka Waters. Fisheries Research: 29, 1-12.

93  

Santos MN, M Gaspar, CC Monteiro, and K Erzini. 2003. Gill net selectivity for European hake Merluccius merluccius from southern Portugal: implications for fishery management. Fisheries Science. No. 69: 873-882. Soeprijono P dan Hartoyo. 1973. Serat-serat Tekstil. Bandung: Institut Teknologi Tekstil. 394 hal. Solihin I. 1993. Pengaruh Perbedaan Tinggi Jaring Kejer terhadap Hasil Tangkapan Rajungan (Portunnus sp) di Perairan Bondet Kabupaten Cirebon [Skrispsi]. Bogor: Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. 4-12 hal. Spare P and SC Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. Buku 1Manual. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. 438 hal. Stergiou KI and Pollard. 1994. A Spatial Analysis of the Commercial Fisheries Catches from the Greek Aegear Sea. Fisheires Research. Vol 20. P. 109135. Subani W dan HR Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan Udang Laut Indonesia. Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 50. Jakarta: Departemen Pertanian, Balai Penelitian Perikanan Laut. 245 hal. Suwanda RH. 2003. Optimasi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Tongkol Secara Berkelanjutan (Kasus Ikan yang Didaratkan di PPN Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi – Jawa Barat). [Tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor. 108 hal.  Uktolseja JCN. 1973. Survey Samudera Indonesia. Laporan Penelitian Perikanan Laut. No 21. Jakarta: Balai Penelitian Perikanan Laut, Departemen Pertanian. Hal 77-130. Undang-Undang Nomor 31. 2004. tentang Perikanan. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan. Diterbitkan oleh Sekretaris Jenderal. 35 hal. Walus S. 2001. Studi Selektivitas Jaring Insang Hanyut terhadap Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Palabuhanratu. [Skripsi]. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 58 hal. Wyrtki K. 1961. Physical Oseanography of the Southest Asian Water, Naga Report. La Jolla: The University of California. Vol.2. 1995 p. Zamil NN. 2007. Sebaran Hasil Tangkapan Jaring Rampus Berdasarkan Ketinggian dan Lembar Jaring [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 17-18 hal.

LAMPIRAN                        

94  

Lampiran 1. Peta Lokasi Penelitian

Lampiran 2. Peta Stasiun Pengambilan Data Hasil Tangkapan

 

 

95

96    

Lampiran 3. Bahan dan alat yang diggunakan selaama penelitiian L

1. Jaring ramppus

2. Coban

3. Kaapal jaring raampus

4. Pengggaris dan cuutter

5. GPS

 

97    

Lanjutan Lampiran 3

6. Papan Ukur

7. Kamera

8. Alat tulis

   

98    

Lampiran 4. Hasil tangkapan jaring rampus selama penelitian Nama Nama lokal : Layang Nama internasional : Redtail scad Nama latin : Decapterus kurroides Nama lokal : Biji nangka Nama internasional : Goldband goatfish Nama latin : Upeneus moluccensis Nama lokal : Beloso Nama internasional : Shortfin lizardfish Nama latin : Saurida micropectoralis Nama lokal : Swanggi Nama internasional : Purple-spotted bigeye Nama latin : Priacanthus tayenus Nama lokal : Pepetek Nama internasional : Common ponyfish Nama latin : Leiognatus equulus Nama lokal : Sebelah Nama internasional : Indian halibut Nama latin : Psettodes erumei Nama lokal : Udang jerbung Nama internasional : Banana prawn Nama latin : Penaeus sp

   

Gambar

99    

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37

Lampiran 5. Jenis, ukuran dan cara tertangkap hasil tangkapan jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian Ukuran Cara Nama Ikan Tertangkap TL FL Girth Beloso (Saurida micropectoralis) W 20 17 5 Beloso (Saurida micropectoralis) W 22 19 7 Beloso (Saurida micropectoralis) E 25 22 10 Beloso (Saurida micropectoralis) E 25.5 22.4 10.4 Beloso (Saurida micropectoralis) E 26 22.8 10.8 Beloso (Saurida micropectoralis) E 26.5 23.2 11.2 Beloso (Saurida micropectoralis) E 27 23.6 11.6 Beloso (Saurida micropectoralis) E 25 22 10 Beloso (Saurida micropectoralis) E 25 22 10 Beloso (Saurida micropectoralis) W 19.5 17 7 Beloso (Saurida micropectoralis) E 20 18.5 6 Beloso (Saurida micropectoralis) E 17.2 15 5 Beloso (Saurida micropectoralis) E 23 20.5 8 Beloso (Saurida micropectoralis) W 31.5 19 9.5 Beloso (Saurida micropectoralis) E 34.5 32.3 22.8 Beloso (Saurida micropectoralis) E 19 17 8 Beloso (Saurida micropectoralis) E 28 26 9.3 Beloso (Saurida micropectoralis) E 28.3 26.2 9.5 Beloso (Saurida micropectoralis) E 28.6 26.4 9.7 Beloso (Saurida micropectoralis) E 28.9 26.6 9.9 Beloso (Saurida micropectoralis) E 29.2 26.8 10.1 Beloso (Saurida micropectoralis) E 30 27 10.6 Beloso (Saurida micropectoralis) E 30.8 27.2 11.1 Beloso (Saurida micropectoralis) E 31.6 27.4 11.6 Beloso (Saurida micropectoralis) E 32.4 27.6 12.1 Beloso (Saurida micropectoralis) E 28 26 9.3 Beloso (Saurida micropectoralis) G 19.5 17.4 8 Beloso (Saurida micropectoralis) G 19 17.2 7.8 Beloso (Saurida micropectoralis) G 18.5 17 7.6 Beloso (Saurida micropectoralis) W 19.5 17 7 Beloso (Saurida micropectoralis) G 18 17 6.3 Beloso (Saurida micropectoralis) E 17 15.7 5 Beloso (Saurida micropectoralis) E 22.5 20.5 8 Beloso (Saurida micropectoralis) G 17.5 15.5 6 Beloso (Saurida micropectoralis) E 17.5 15.5 6 Beloso (Saurida micropectoralis) E 17.5 15.5 6 Beloso (Saurida micropectoralis) E 26.4 24.5 9.5

   

Mesh size 3 inci 3 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci

100    

38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78

Lanjutan lampiran 5 Beloso (Saurida micropectoralis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis)

   

G W G G W W W W W G E W E E G G W W W W G G G G G G W G G G W G G G E E E G G E E

21 19.5 15 33 9.5 10 10.5 11 11.5 24 24.5 21 16 15.5 12 13 13.5 13 12.5 12 11.5 12.5 19.5 21 16 16 14 17 15 14.5 15 16 14 14 13.5 13 12 16.5 14 12.5 12

19.5 17 13 29 8 8.5 9 9.5 10 20 22 18.5 14 12.5 10 10 12.5 12.5 12.5 12.5 9.5 10.5 17 18.5 14 13 12 14 13 12 13 14 12.5 12 12.5 12.5 11 15 12.5 11 10.5

7 11.5 9 20 5 6 7 8 9 13 12 12.5 10 9 7.5 8 9 8.4 7.8 7.2 6 7.5 11.5 12.5 10 10 8 10 10 10 8 9 10 9 9 8.4 7 8.5 7 6.5 6.5

1,75 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci

101    

Lanjutan lampiran 5

79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119

Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)    

W E W E G E G W G G G W G W G W W W W W W G E G W G G E E E E E W E E E E E E E W

21 16 21 16 14.5 10 10 14.5 14 12 14 14 13 10 10 14.5 13.5 13 12.5 18 16 14.5 10 11 13 14.2 14.2 38 38 39 36 37 30 33 35.4 37.8 35 31.5 38 34.5 37

18.5 14 18 15 12 8.5 8.5 12 11.5 10 11.5 12 11.5 9 8.5 12 12.5 12.5 12.5 15 12 12 8.5 9 10.4 12.5 12.5 12.5 13.5 14.5 16 16.4 19.3 19.5 21.5 21.5 21.8 22 22 22 22

12.5 10 12.5 10 7.5 5 5 7.5 10 9 10 9 7.5 4 5 7.5 9 8.4 7.8 10 10 7.5 5 6 6.8 7.5 7.5 13 7 7.5 9 10.6 12.3 12.6 13 13 18 13.5 9.5 10 13.4

1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci

102    

120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)

   

E E G E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E

38 35.5 29.5 38 35.5 26.2 26 38.5 38 40.2 34 33.2 32.8 32.4 33.6 32 36.5 36 35.5 35 38 37.5 35.5 36.2 35.7 28.3 31.5 30 31.2 34.5 34 35.3 35 35.3 38.5 36 38.5 39 36.4 38.7 37

22 22.3 22.5 22.5 22.5 22.5 22.8 22.8 23 23 23 23 23.5 23.5 24 24 24 24.2 24.6 24.8 25 25 25 25 25 25 25 25 25.1 25.3 25.5 25.5 25.5 25.5 25.5 25.52 26 26 26 26 26

10.5 14.3 11 11 9.5 13 13.4 13.4 10 10.5 12.5 12.5 14 14 11.8 10 15.5 13.5 14.8 14.8 20 15 12 14 13.5 13 14.2 13.5 14.5 13.7 12.5 13 14 14 14 14.21 13.2 13 13.5 13.5 13

3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci

103    

161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201    

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)

E E E E E E E E E E E W W W W G G E E W G G W G G G W W W W W E E W W E W W W W E

37.5 35 38 38.5 34.5 33.5 34 35 38 38.5 38.5 34.5 34.5 33 31.5 29 28 38 37.4 34 28 28 37 27.5 34 34.7 34.5 35.3 35 35.5 36 36.8 37 35.5 36 35 34.5 35 35.5 36 36.8

26.1 26.1 26.3 26.5 26.8 27 27 27 27 27 27 27.1 27.3 27.3 27.5 27.5 27.5 27.5 27.6 27.6 27.6 27.6 27.7 27.8 27.8 28 28 28 28 28 28 28.2 28.4 28.5 28.5 28.5 28.8 28.9 29 29 29

7.5 7.5 20.6 14.5 14.8 14 14 14.9 15.3 13.8 14.5 14 14.2 14.8 14 14.5 14.2 15.4 21.2 13 15.5 15.8 14.2 16.2 13.1 14 14 13 15.5 16 17 15.5 17.7 12 13.9 13.9 14.4 21.8 19 13 16

2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci

104    

202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)

   

E E E E E W E E E E E G G G G E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E

37 35.5 36 35 34 33 44.3 40.5 39.5 39 35.5 34.5 35 37 39.5 44 39 34 29 39 34 29 43 46.5 44.2 41.9 39.6 37.3 35 32.7 35.4 35.3 34.2 35 39.6 34 38 42 42 38.2 37.3

29.2 29.5 29.5 29.5 29.5 29.6 29.6 29.8 29.8 29.9 29.9 29.9 30 30 30 30 30 30 30 30 30.1 30.1 30.2 30.2 30.2 30.2 30.2 30.2 30.5 30.5 30.5 30.5 30.5 30.5 30.6 30.8 30.8 30.9 30.9 31 31

17.5 14.5 15 14.5 13.5 13.5 18.3 15.5 14.8 14.6 16.3 10.6 15.5 15 16.1 15.5 15 15 14 15.5 15 17.2 22.4 17.5 15.8 16 17.5 14.2 16 16 16 16 14 16 17.3 17.4 15 12 12 17.3 17

2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci

105    

243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)

   

E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E

39.4 37.5 46.8 40 37.6 35.2 32.8 30.4 38.5 38 39.4 37.8 34 28 29.3 35 32 31 34.3 34 33.7 33.4 33.1 36.2 35 37 39 41 43 36 47 37.2 36.8 36.4 36 35.6 35.2 34.6 35 34 37

31 31 31 31.2 31.3 31.3 31.4 31.4 31.4 31.5 31.5 31.5 31.5 31.5 31.5 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32 32.1

17 17 16.5 15.9 16.8 19 15 17 14 23 20 23 20 16 17 18 17 18.2 16 16.5 16.5 16.5 16 18 18 15 16.3 21 15 15 15.6 20 19.8 16 16.5 16.5 16.5 15.5 16 15.5 17.6

2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci

106    

284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)

   

E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E G

36.8 36.6 36.4 37.5 36.5 38 37.2 38 39 38 37.2 34 35.2 34.3 38 30.3 33.5 35 34.3 35 36 37.5 38 37.5 39 38.3 38 34.5 34 38.8 36 38.7 35 38 38.5 34 38 35 38 38.5 29

32.1 32.1 32.2 32.2 32.2 32.2 32.2 32.2 32.3 32.4 32.4 32.4 32.4 32.5 32.5 32.5 32.5 32.5 32.5 32.5 32.7 32.7 32.8 32.8 32.8 32.8 32.8 32.9 32.9 32.9 32.9 33 33 33 33 33 33 33.2 33.2 33.2 33.4

17.6 17.6 15 20.2 19.5 18.3 16.3 13.4 14 16 16.5 17.3 20 16 16 18 17 19.5 15.7 16 15.3 20.6 19.5 19.5 15 21 21 18.4 18.4 18.4 18.4 15 15.7 19.4 16.6 18 19.5 15.9 15.7 16.3 19.8

2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci

107    

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)

325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365    

E E E W G G G G W G W W G W W W W G W W E W E W E W W W W E E E E E E E E G G E W

35 38 38.5 36 16.5 15.5 29.5 29 30 26 31 34 27 28 33 35 32 25 33 31.5 34 34.5 28 31 35 34.5 34 33.5 33 37.5 35.5 36.5 36.5 36.5 36.3 36 36.7 24 24 25 25

33.4 33.5 33.5 33.5 33.5 33.6 33.6 33.6 33.8 33.8 33.8 33.8 33.8 33.9 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34 34.1 34.2 34.2 34.2 34.2 34.2 34.3 34.3 34.5 34.5 34.5 34.5 34.5 34.5 34.5 34.5

21.4 17.5 16.8 15.8 16.8 19.2 19.2 15.3 20 15.8 16.3 15.5 19 19.4 17.5 19.2 20.8 20 17.4 17.5 16.2 16.8 16.4 16 15.7 17.8 20.5 16.6 16.2 18.3 18 21.6 21.6 16 16 20 20 16.2 20.3 20 17.8

2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci

108    

366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)

   

G E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E E

26 27 48 45 47.5 44 37.2 37 32 34 39 40 37.6 35.2 32.8 25 26.3 27.6 28.9 27.5 27 28.4 29 26 27.28 37 17.5 22.2 30.4 36.2 30.2 36 25.5 30.5 36.7 37.5 37 36.8 35 30 31.4

34.5 34.5 34.5 34.6 34.6 34.6 34.6 34.6 34.6 34.7 34.7 34.7 34.8 34.8 34.8 34.8 34.8 34.8 34.9 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35 35.2 35.2 35.2 35.2 35.2 35.2

16.2 18.7 16 22 22 22.3 20 16.4 16.2 20 19.3 17 17.2 16.6 22 18.2 19.5 21 15.5 22.5 19.6 17.5 21.4 22.3 16.8 16 20.1 17.5 17.5 19.7 17.5 22.5 20 16.3 16 20 20.5 20.5 20.5 20.5 20.5

2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci

109    

407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides)

   

E E E E E E E E E E W W E E E W G W G G E E E E G G E E E E E E E E E E E G G E E

32.4 31.4 32 33.4 33 38 37 37.4 36.5 39 29 25 29 35.5 35 24 23 31.5 29 28 37 36.5 37 36 25.5 26.2 30 32 30 36 32.5 32 18.2 22.4 30 31.4 36 27.3 26.2 29 30.3

35.2 35.3 35.3 35.4 35.4 35.4 35.4 35.5 35.5 35.5 35.5 35.5 35.5 35.5 35.6 35.7 35.7 35.8 36 36 36 36 36 36.2 36.8 36.8 37.2 37.5 37.8 38 38.5 38.5 39 39.2 39.2 39.5 39.9 40 40 40.5 40.5

23 18.3 22.3 20.6 21.4 21.4 22.5 17.8 22.1 22.1 15.5 22.1 22.1 22.1 18.2 16.5 16.5 17 17 18.6 17.4 25 17.5 18.6 19 19 19.5 17 19.2 18.6 19 19.5 25 19.8 24.2 19.8 20.1 19.8 19 20.5 21

2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci

110    

448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488

Lanjutan lampiran 5 Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Layang (Decapterus kurroides) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Pepetek (Leiognatus equulus) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei)

   

E G E E E E E E E W W W W W W W W W W W W W W W W W W W W W W E E E E E E E E E E

37.3 25 30.3 37.5 37 36.5 39 36.5 36 14 13.5 13 14 14.5 15 15.5 16 13 13.5 14 14.5 15 15.5 16 13 13.5 14 15 14 16 18 13 13.5 14 15 13 12 12.5 13.5 14 15

40.6 41.2 41.3 42 42 42.8 43 43.5 44 12 11.8 11.6 12 12.5 13 13.5 14 11.4 11.7 12 12.5 14 13.5 14 11 11.4 12 14 13.5 14 16 10 10.4 10.8 11.5 10 9 10.3 10.4 10.8 11.5

20.4 21.4 20.7 21 21 21.8 22 23 22.2 9 7.8 6.6 9 9.2 9.4 9.6 9.8 8.8 9.2 9.6 9.2 9.4 9.6 10 8.8 9.2 9.6 9.4 9.2 10 12 9 9.3 9.6 10.5 9 8 9 9.3 9.6 10.5

1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 3 inci 3 inci 3 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2 inci 2 inci 2 inci

111    

489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529    

Lanjutan lampiran 5 Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Sebelah (Psettodes erumei) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Simata goyang (Priacanthus tayenus) Udang jerbung (Penaeus sp) Udang jerbung (Penaeus sp) Udang jerbung (Penaeus sp)

E E E E E E E E E G G G G G W W E G G G E G G W W E G G G G G G G G W G E E E E E

16 14.4 12.8 11.2 13.4 15 14.6 13 20 31 29 30 23 19.5 11 22 20 31.5 30.5 29 12 21 22 22 22 18 13 21 22 21 22 23.6 31 31.5 16.5 17.5 20.5 25 13 13 14

12.2 10.9 9.6 8.3 10.3 12.5 11.3 10

17

2 2 3.5

11.4 9.5 7.6 5.7 9 11 10.2 9 10 11 9.5 10.5 14.5 12.5 8 16 12 12 11.4 10 6 14 15 13 13 9 10 14 15 14 15.5 16.4 11 12 10 11 12 15

2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 3 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2,5 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 2 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci 1,75 inci

Lampiran 6 Lokasi Pengambilan Data dan Total Jumlah Hasil Tangkapan Jaring Rampus Selama Penelitian Trip ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Koordinat Hari/Tanggal Kamis/7 April 2011 Jumat/8 April 2011 Sabtu/9 April 2011 Minggu/10 April 2011 Senin/11 April 2011 Selasa/12 April 2011 Rabu/13 April 2011 Kamis/14 April 2011 Jumat/15 April 2011 Sabtu/16 April 2011 Minggu/17 April 2011 Senin/18 April 2011 Selasa/19 April 2011 Rabu/20 April 2011 Sabtu/21 April 2011

Lokasi Pajagan Pajagan Karang badar Karang badar Karang badar Karang badar Karang badar Karang badar Karang badar Karang badar Karang badar Karang badar Karang badar Sukawayana Sukawayana

Lintang 6,1345° LS 6,1345° LS 6,9968° LS 6,9474° LS 6,9989° LS 6,9986° LS 6,9938° LS 6,9938° LS 6,9990° LS 6,9997° LS 6,9997° LS 6,9997° LS 6,9990° LS 7,0026° LS 7,0023° LS

Bujur 106,3751° BT 106,3751° BT 106,413° BT 106,4492° BT 106,4313° BT 106,4313° BT 106,4761° BT 106,4761° BT 106,4342° BT 106,4349° BT 106,4349° BT 106,4349° BT 106,4375° BT 106,4822° BT 106,4819° BT Jumlah

1,75 inci Jumlah 6 2 4 5 8 6 6 11 4 5 7 7 4 16 7 98

Hasil tangkapan 2 inci 2,5 inci Jumlah Jumlah 5 9 13 11 1 0 7 5 21 17 11 10 7 20 16 20 16 27 8 15 10 11 11 17 7 6 20 22 5 9 158 199

3 inci Jumlah 2 0 9 6 5 9 6 2 4 3 6 4 9 3 6 74

 

112

113  

Lampiran 7. Jumlah dan jenis hasil tangkapan jaring rampus pada ukuran mata jaring yang berbeda selama penelitian

Nama spesies Layang (Decaptreus kurroides) Biji nangka (Upeneus moluccensis) Beloso (Saurida micropectoralis) Simata Goyang (Priacanthus tayenus) Pepetek (Leiognatus equulus) Sebelah (Psettodes erumei) Udang jerbung (Penaeus sp) Total

Trip ke1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Tanggal

7 April 2011 8 April 2011 9 April 2011 10 April 2011 11 April 2011 12 April 2011 13 April 2011 14 April 2011 15 April 2011 16 April 2011 17 April 2011 18 April 2011 19 April 2011 20 April 2011 21 April 2011

   

Layang Jumlah (ekor) 13 16 2 12 21 24 32 38 23 26 27 33 23 35 26

Ukuran mata jaring 1,75 inci 2 inci 2,5 inci (ekor) (ekor) (ekor) 40 101 161 27 21 9 12 13 11 12 5 7 0 11 8 4 7 3 3 0 0 98 158 199

3 inci (ekor) 49 10 2 6 3 4 0 74

Hasil tangkapan Biji Simata Udang Jumlah nangka Beloso goyang Pepetek Sebelah jerbung Total (ekor) Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah (ekor) (ekor) (ekor) (ekor) (ekor) (ekor) 9 0 0 0 0 0 22 10 0 0 0 0 0 26 11 0 1 0 0 0 14 0 0 8 3 0 0 23 6 0 2 19 0 3 51 3 2 7 0 0 0 36 3 0 4 0 0 0 39 11 0 0 0 0 0 49 3 7 0 0 18 0 51 0 5 0 0 0 0 31 4 3 0 0 0 0 34 4 2 0 0 0 0 39 1 0 2 0 0 0 26 2 19 5 0 0 0 61 0 0 1 0 0 0 27

114  

Lampiran 8. Nilai Index Shannon-Wiener Jumlah spesies pada tiap jaring rampus Layang Biji nangka Beloso Simata goyang Pepetek Sebelah Udang jerbung Jumlah

1,75 inci 40

2 inci 101

2,5 inci 161

3 inci 49

Jumlah 351

27 12

21 13

9 11

10 2

67 38

12

5

7

6

30

0 4 3 98

11 7 0 158

8 3 0 199

3 4 0 74

22 18 3 529

2,5 inci 0.80905 0.04523 0.05528 0.03518 0.04020 0.01508 0.00000

3 inci 0.66216 0.13514 0.02703 0.08108 0.04054 0.05405 0.00000

Proporsi tiap spesies pada tiap jaring rampus Layang Biji nangka Beloso Simata goyang Pepetek Sebelah Udang jerbung

1,75 inci 0.40816 0.27551 0.12245 0.12245 0.00000 0.04082 0.03061

2 inci 0.63924 0.13291 0.08228 0.03165 0.06962 0.04430 0.00000

Ln dari proporsi spesies pada tiap jaring rampus Layang Biji nangka Beloso Simata goyang Pepetek Sebelah Udang jerbung

   

1,75 inci -0.896088 -1.289131 -2.100061 -2.100061 0.000000 -3.198673 -3.486355

2 inci -0.447475 -2.018073 -2.497646 -3.453157 -2.664700 -3.116685 0.000000

2,5 inci -0.211900 -3.096080 -2.895410 -3.347395 -3.213863 -4.194693 0.000000

3 inci -0.412245 -2.001480 -3.610918 -2.512306 -3.205453 -2.917771 0.000000

115  

Hasil kali antara proporsi dengan Ln proporsi spesies pada tiap jaring rampus Layang Biji nangka Beloso Simata goyang Pepetek Sebelah Udang jerbung Total

1,75 inci -0.3658 -0.3552 -0.2572 -0.2572 0.0000 -0.1306 -0.1067 -1.4725

2 inci -0.2860 -0.2682 -0.2055 -0.1093 -0.1855 -0.1381 0.0000 -1.1926

2,5 inci -0.1714 -0.1400 -0.1600 -0.1177 -0.1292 -0.0632 0.0000 -0.7817

3 inci -0.2730 -0.2705 -0.0976 -0.2037 -0.1300 -0.1577 0.0000 -1.1324

2 inci 1.1926

2,5 inci 0.7817

3 inci 1.1324

Index Shannon Wiener SH

   

1,75 inci 1.4725

116  

Lampiran 9. Nilai uji Friedman terhadap jumlah total hasil tangkapan dan total hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda NPar Tests Friedman Test Jumlah total hasil tangkapan Ranks Jumlah_tot_ht3 Jumlah_tot_ht2.5 Jumlah_tot_ht2 Jumlah_tot_ht1.75

Mean Rank 1.733333333 3.3 3 1.96666667

Test Statistics(a) N Chi-Square df Asymp. Sig. a

15 16.184 3 0.001 Friedman Test

Jumlah total ikan layang Ranks Mean Rank Jumlah_totlyg_3inci 1.933333333 Jumlah_totlyg_2.5 3.666666667 Jumlah_totlyg_2 2.9 Jumlah_totlyg_1.75 1.5 Test Statistics(a) N Chi-Square df Asymp. Sig. a

   

15 28.21323529 3 0.000003276 Friedman Test

117  

Lampiran 10. Nilai uji Friedman terhadap distribusi panjang cagak dan girth operculum ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda NPar Tests Friedman Test Sebaran panjang cagak layang Ranks Mean Rank Sebrn_FL_3 Sebrn_FL_2.5 Sebrn_FL_2 Sebrn_FL_1.75 Test Statistics(a) N Chi-Square df Asymp. Sig. a

3 3.333333333 2.333333333 1.333333333

15 21.28378378 3 0.000091913 Friedman Test

Sebaran girth operculum Ranks Mean Rank Sebrn_girth_3 3.1 Sebrn_girth_2.5 2.966666667 Sebrn_girth_2 2.4 Sebrn_girth_1.75 1.533333333

Test Statistics(a) N Chi-Square df Asymp. Sig. a

   

15 13.79194631 3 0.003202473 Friedman Test

118  

Lampiran 11. Uji lanjut perbandingan berganda terhadap jumlah total hasil tangkapan dan total hasil tangkapan ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda Jumlah total hasil tangkapan 3" 2 0 9 6 5 9 6 2 4 3 6 4 9 3 6

2.5" 9 11 0 5 17 10 20 20 27 15 11 17 6 22 9

2" 1.75" 5 6 13 2 1 4 7 5 21 8 11 6 7 6 16 11 16 4 8 5 10 7 11 7 7 4 20 16 5 7

Grading 3" 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sum Mean

1 1 4 3 1 2 1.5 1 1.5 1 1 1 4 1 2 26 1.733

2.5" 4 3 1 1.5 3 3 4 4 4 4 4 4 2 4 4 49.5 3.3

A= 0.05 Z= 1.645 |D| ≥ z*sqrt(blok*perlakuan(perlakuan+1))/6 |D| ≥ 4.749

Hasil uji lanjut perbandingan berganda No 1 2 3 4 5 6

   

Perlakuan MS 1,75 inci vs MS 2 inci MS 1,75 inci vs MS 2,5 inci MS 1,75 inci vs MS 3 inci MS 2 inci vs MS 2,5 inci MS 2 inci vs MS 3 inci MS 2,5 inci vs MS 3 inci

Hasil Berbeda nyata Berbeda nyata Tidak berbeda nyata Tidak berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata

2" 2 4 2 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 1 45 3

1.75" 3 2 3 1.5 2 1 1.5 2 1.5 2 2 2 1 2 3 29.5 1.967

119  

Lanjutan Lampiran 11 Jumlah total hasil tangkapan ikan layang 3" 2.5" 1 7 0 9 2 0 2 5 4 7 4 8 6 17 2 16 0 17 3 14 6 11 4 15 6 6 3 20 6 9

2" 1.75" 5 0 7 0 0 0 5 0 7 3 8 4 6 3 14 6 6 0 7 2 10 0 7 7 7 4 7 5 5 6

Grading 3" 2.5" 2" 1.75" 2 4 3 1 1 4 3 1.5 2 1.5 4 2 2 2 3 2 3.5 3.5 1 4 2 3.5 3.5 1 5 3.5 3.5 1.5 6 1.5 4 2.5 1 7 2.5 1 4 3 2 8 4 3 1.5 9 1.5 2 4 3 1 10 2 4 3 1 11 3 4 1.5 1.5 12 2.5 4 1 13 2.5 1 4 3 2 14 4 1 2.5 15 2.5 Sum 31 55 42.5 21.5 Mean 2.07 3.667 2.83 1.4333

A= 0.05 Z= 1.645 |D| ≥ z*sqrt(blok*perlakuan(perlakuan+1))/6 |D| ≥ 4.749 Hasil uji lanjut perbandingan berganda No 1 2 3 4 5 6

   

Perlakuan MS 1,75 inci vs MS 2 inci MS 1,75 inci vs MS 2,5 inci MS 1,75 inci vs MS 3 inci MS 2 inci vs MS 2,5 inci MS 2 inci vs MS 3 inci MS 2,5 inci vs MS 3 inci

Hasil Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata

120  

Lampiran 12. Uji lanjut perbandingan berganda terhadap sebaran panjang cagak dan girth operculum ikan layang pada jaring rampus dengan ukuran mata jaring yang berbeda Sebaran panjang cagak ikan layang 3" 2.5" 2" 1.75" 34.6 34.4 33.8 27.77 29 32.9 33.1 27.77 34.8 32.66 30.1 27.77 34.5 30.8 21.9 27.77 29.2 26.8 26.8 24.3 31.8 30.8 29 27.3 32.5 32.4 30.3 26.8 22.4 33.9 28.9 30.2 29 36.6 39.5 27.77 36.1 34.6 32.5 28.2 28.3 29.3 24.7 27.77 30 34.6 27.3 26 32.6 33.1 31.4 26.9 26.9 32.9 28.2 26.6 32.5 34.1 34.1 33.6

Grading

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sum Mean

3" 2.5" 2" 1.75" 4 3 2 1 2 3 4 1 4 3 2 1 4 3 1 2 4 2.5 2.5 1 4 3 2 1 4 3 2 1 1 4 2 3 2 3 4 1 4 3 2 1 3 4 1 2 3 4 2 1 3 4 2 1 2 4 3 1 1 3.5 3.5 2 45 50 35 20 3 3.333 2.33 1.3333

A= 0.05 Z= 1.645 |D| ≥ z*sqrt(blok*perlakuan(perlakuan+1))/6 |D| ≥ 4.749 Hasil uji lanjut perbandingan berganda No 1 2 3 4 5 6

   

Perlakuan MS 1,75 inci vs MS 2 inci MS 1,75 inci vs MS 2,5 inci MS 1,75 inci vs MS 3 inci MS 2 inci vs MS 2,5 inci MS 2 inci vs MS 3 inci MS 2,5 inci vs MS 3 inci

Hasil Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata

121  

Lanjutan Lampiran 12 Sebaran girth operculum ikan layang 3" 2.5" 2" 1.75" 34.6 19.5 19 14.51 18.92 18.6 18.8 14.51 22.3 17.42 16.03 14.51 17.7 16.9 11.4 14.51 14.8 14.8 12.6 12 17.2 16.1 14.2 12.8 15.9 18 16.3 14.5 13.5 15.1 14.7 15.3 18.92 19.4 20.2 14.51 17.9 17.1 15.3 13.5 21.5 16.8 13.8 14.51 18.9 16.8 14.1 13.8 19.4 16.3 17.4 14.9 13.8 19.9 16.6 14.2 18.4 18.6 20 19.6

Grading

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Sum Mean

3" 2.5" 4 3 4 2 4 3 4 3 3.5 3.5 4 3 2 4 1 3 2 3 4 3 4 3 4 3 4 2 1 4 1 2 46.5 44.5 3.1 2.967

2" 1.75" 2 1 3 1 2 1 1 2 2 1 2 1 3 1 2 4 4 1 2 1 1 2 2 1 3 1 3 2 4 3 36 23 2.4 1.5333

A= 0.05 Z= 1.645 |D| ≥ z*sqrt(blok*perlakuan(perlakuan+1))/6 |D| ≥ 4.749 Hasil uji lanjut perbandingan berganda No 1 2 3 4 5 6  

   

Perlakuan MS 1,75 inci vs MS 2 inci MS 1,75 inci vs MS 2,5 inci MS 1,75 inci vs MS 3 inci MS 2 inci vs MS 2,5 inci MS 2 inci vs MS 3 inci MS 2,5 inci vs MS 3 inci

Hasil Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Tidak berbeda nyata