PENGARUH RISIKO PRODUKSI TERHADAP

PENGARUH RISIKO PRODUKSI TERHADAP ... DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI ... peluang untuk menghasilkan komoditas berkualitas dan bersaing di pasa...

0 downloads 31 Views 1MB Size
PENGARUH RISIKO PRODUKSI TERHADAP KEUNTUNGAN USAHA PEMBENIHAN IKAN LELE DI KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU PROVINSI LAMPUNG

DISKA HAERANI

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Pengaruh Risiko Produksi Terhadap Keuntungan Usaha Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Maret 2014

Diska Haerani H34114058

ABSTRAK DISKA HAERANI. Pengaruh Risiko Produksi Terhadap Keuntungan Usaha Pembenihan Ikan Lele Di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. Dibimbing oleh ANNA FARIYANTI. Survival rate (SR) merupakan indikator dari risiko produksi pembenihan lele. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh risiko produksi terhadap keuntungan petani di Kecamatan Pagelaran dan mengetahui sikap yang dilakukan oleh petani dalam menghadapi risiko produksi. Berdasarkan hasil penelitian, SR mempengaruhi penerimaan hingga akhirnya mempengaruhi keuntungan usaha. Semakin rendah SR maka keuntungan usaha yang diterima rendah, begitu pula sebaliknya semakin tinggi nilai SR maka keuntungan yang diterima pun tinggi. Pada kondisi risiko SR lele sangkuriang sebesar 56 persen sedangkan SR lele dumbo yaitu sebesar 38 persen, SR normal yaitu 90 persen. Sehingga keuntungan usaha pembenihan lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo dengan nilai keuntungan bersih sebesar Rp3 811 487. Terdapat tiga sikap yang dilakukan petani ketika menghadapi penurunan produksi secara drastis atau nilai SR hampir mendekati 0 persen akibat kematian massal yaitu tetap melanjutkan usaha dengan langsung melakukan pemijahan untuk siklus berikutnya, memilih untuk menghentikan sementara usaha dan beralih pada komoditas lain. Kata kunci : lele, risiko produksi, SR, keuntungan usaha, sikap petani ABSTRACT DISKA HAERANI. The Influence of Production Risk to Farmer Catfish Hatchery Sales Revenue at Pagelaran Subdistrict, Pringsewu District, Lampung Province. Supervised by ANNA FARIYANTI. Survival Rate (SR) is an indicator of the risk of catfish hatchery production. The research aims to analyze the influence of production risk to farmer sales revenue at Pagelaran Subdistrict and also to knowing farmer preference to production risk which is decreased production drastically. Based on the research, SR can influence sales revenue because the number of fish that are harvested determine the magnitudes of the sales revenue. If the SR is low, the the income also low. However, if the SR is high, the the income getting high. The SR value at risk condition is 56 percent of Sangkuriang Catfish is higher compared with Dumbo Catfish SR that amounted to 38 percent.SR normal is 90 percent. So the Sangkuriang sales revenue is bigger than the Dumbo which has Rp3 811 487 net income value. There are three preference do farmer when facing the drastically decreased production or SR close to zero persen because of the mass death, the first is continued efforts by directly doing the spawning cycle for the next, the second is choose to temporarily stop the production and the third is swith on other commodities. Keywords: catfish, risk production, SR, sales revenue and farmer preference

PENGARUH RISIKO PRODUKSI TERHADAP KEUNTUNGAN USAHA PEMBENIHAN IKAN LELE DI KECAMATAN PAGELARAN KABUPATEN PRINGSEWU PROVINSI LAMPUNG

DISKA HAERANI

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

Judul Skripsi : Pengaruh Risiko Produksi Terhadap Keuntungan Usaha Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Nama : Diska Haerani NIM : H34114058

Disetujui oleh

Dr Ir Anna Fariyanti, MSi Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Ketua Departemen

Tanggal Lulus :

PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karuniaNya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Desember ini ialah analisis keuntungan usaha yang di akomodasi risiko produksi, dengan judul Pengaruh Risiko Produksi terhadap Keuntungan Usaha Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi selaku dosen pembimbing, kepada Tintin Sarianti, SP, MM selaku dosen evaluator, kepada Dr. Ir. Netti Tinaprilla, MM selaku dosen penguji utama dan Dra. Yusalina, MS selaku dosen penguji komdik yang telah banyak memberikan saran dan masukan terhadap skripsi penulis. Penghargaan penulis sampaikan kepada petani pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung yang telah mengijinkan untuk melaksanakan penelitian dan telah membantu selama pengumpulan data. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Maret 2014

Diska Haerani

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Ruang Lingkup Penelitian TINJAUAN PUSTAKA Teknik Pembenihan Ikan Lele Kajian Penelitian Risiko Produksi Ikan Lele Kajian Penelitian Pendapatan Usaha Perikanan KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka Pemikiran Operasional METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Jenis dan Sumber Data Metode Penentuan Responden Metode Pengolahan dan Analisis Data Definisi Operasional KARAKTERISTIK RESPONDEN Karakteristik Wilayah Gambaran Umum Demografis Kegiatan Produksi Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Karakteristik Petani Sumber Risiko Produksi Pembenihan Lele di Kecamatan Pagelaran HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) Penerimaan Usaha Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Biaya Usaha Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Pengaruh SR terhadap Keuntungan Usaha Pembenihan Ikan Lele Sikap Petani Terhadap Risiko Produksi SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

vii viii viii 1 1 5 8 8 9 9 9 11 12 13 13 22 23 23 24 24 24 28 29 29 29 29 33 37 42 42 45 47 54 58 61 61 62 62

DAFTAR TABEL

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

13

14

15

16

17

18 19

Perkembangan Produksi Perikanan Budidaya Tahun 2007 – 2011(Ton) Sembilan daerah penghasil perikanan budidaya terbesar di Indonesia tahun 2008-2011 (Ton) Jumlah benih ikan yang ditebar di kolam pada provinsi di Pulau Sumatera tahun 2008-2010 (ekor) Produksi Ikan Konsumsi di Kabupaten Pringsewu Tahun 2009-2012 (Ton) Produksi Lele pada Kecamatan di Kabupaten Pringsewu Tahun 20092012 (Ton) Beberapa Keunggulan Lele Sangkuriang dibandingkan Lele Dumbo Karakteristik petani berdasarkan usia di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Karakteristik petani berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Karakteristik petani berdasarkan pengalaman usaha di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Karakteristik petani berdasarkan status usaha di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Karakteristik petani berdasarkan asal induk lele di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Tingkat kelangsungan hidup (SR) benih lele sangkuriang di Kecamatan Pagelaran dalam satu siklus produksi pada bulan November-Desember 2013 Tingkat kelangsungan hidup (SR) benih lele dumbo di Kecamatan Pagelaran dalam satu siklus produksi pada bulan November-Desember 2013 Penerimaan usaha benih lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran (luas kolam 90 m2) dalam satu siklus produksi bulan November-Desember 2013 Rincian biaya usaha pembenihan lele sangkuriang di Kecamatan Pagelaran (luas kolam 90 m2 ) dalam satu siklus produksi bulan November-Desember 2013 Rincian biaya usaha pembenihan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran (luas kolam 90 m2) dalam satu siklus produksi bulan NovemberDesember 2013 Keuntungan usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran (luas kolam 90 m2) dalam satu siklus produksi bulan November-Desember 2013 Sikap petani pembenihan lele sangkuriang terhadap risiko produksi Sikap petani pembenihan lele dumbo terhadap risiko produksi

2 2 3 4 5 6 33 34 35 36 37

43

45

46

48

49

55 58 59

DAFTAR GAMBAR

1 2 3 4 5 6 7

8 9 10 11 12 13

SR benih lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran periode produksi bulan Oktober-November 2013 Perilaku Individu Risk Averse dalam Menghadapi Risiko Perilaku Individu Risk Neutral dalam Menghadapi Risiko Perilaku Individu Risk Prefferer dalam Menghadapi Risiko Hubungan Biaya Tetap Rata-rata-Biaya Variabel Rata-rata dan Biaya Total Rata-rata Hubungan Kurva Biaya Tetap, Biaya Variabel dan Biaya Total dengan Kurva Penerimaan Kerangka Pemikiran Operasional Pengaruh Risiko Produksi terhadap Pendapatan Usaha pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung Induk lele jantan dan betina matang gonad Bak terpal pemeliharaan benih lele Baskom, saringan sortir dan gelas takar Benih lele mati akibat penyakit bintik putih Benih lele mati akibat penyakit bercak merah Benih lele mati akibat kualitas air yang buruk

7 17 17 18 20 21

23 31 32 33 38 39 41

DAFTAR LAMPIRAN

1

Rincian biaya penyusutan rata-rata usaha pembenihan lele sangkuriang dan Lele dumbo 2 Perhitungan nilai Survival Rate (SR) benih lele sangkuriang dan lele dumbo (Luas Kolam 90m2) dalam Satu Siklus Produksi di Kecamatan Pagelaran 3 Penerimaan usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo (Luas Kolam 90m2) dalam Satu Siklus Produksi di Kecamatan Pagelaran 4 Pendapatan Usaha Pembenihan Lele Sangkuriang dan Lele Dumbo (Luas Kolam 90m2) dalam Satu Siklus Produksi di Kecamatan Pagelaran

64

65 66

67

PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia memiliki potensi perikanan yang cukup besar, baik sumber daya perikanan tangkap maupun perikanan budidaya. Pemanfaatan potensi perikanan tangkap sudah mencapai titik yang tidak dapat diekspansi lagi karena mendekati optimal. Potensi perikanan budidaya masih sangat besar dan pemanfaatannya belum mencapai 50 persen. Potensi perikanan budidaya yang sangat besar tersebut merupakan peluang untuk menghasilkan komoditas berkualitas dan bersaing di pasar internasional dan menjadikan Indonesia sebagai ladang investasi bagi para investor maupun calon investor untuk mengembangkan usahanya. Terlebih lagi, saat ini usaha perikanan budidaya mampu memberikan keuntungan yang cukup besar dan waktu pengembalian investasi yang relatif cepat. Investasi di bidang perikanan budidaya terus didorong untuk membangun dan mengembangkan industri perikanan budidaya secara terpadu di Indonesia1. 1 Pada tahun 2012 produksi perikanan budidaya dunia telah mencapai 66 juta ton, melebihi produksi daging sapi yang hanya 63 juta ton. Pencapaian tersebut berdampak positif bagi sub sektor perikanan budidaya. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menempatkan sub sektor perikanan budidaya sebagai primadona pembangunan perikanan nasional. Hal ini tidak terlepas dari besarnya potensi perikanan budidaya yang belum digali dan dimanfaatkan secara optimal. Disisi lain akuakultur indonesia saat ini juga membutuhkan sentuhan industrialisasi dalam berbagai aspek. Industrialisasi yang dimaksud meliputi dukungan kebijakan, infrastruktur, permodalan, teknologi dari hulu sampai hilir. Kebijakan strategis KKP yang memfokuskan pada percepatan industrialisasi perikanan telah dicanangkan dengan tujuan meningkatkan produksi beberapa komoditas unggulan perikanan budidaya (akuakultur) dan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk-produk tersebut. Program kebijakan KKP ini juga sejalan dengan permintaan pasar internasional yang mulai melakukan pengetatan kualitas produk akuakultur. Tantangan ini kemudian diterjemahkan oleh KKP dalam bentuk konsep Blue Economy yang mengusung keseimbangan antara produksi dan keberlangsungan sistem produksi akuakultur itu sendiri. Blue Economy merupakan suatu alternatif solusi untuk mengatasi masalah kelautan, ekonomi dan lingkungan. Blue Economy lebih menekankan pada zero waste dan pengurangan emisi karbon pada pengolahan hasil laut. Program industrialisasi perikanan budidaya berbasis Blue Economy akan lebih mengoptimalkan sistem produksi yang terintegrasi dari hulu ke hilir, sehingga usaha perikanan budidaya akan semakin menarik dan menguntungkan. Persepsi bahwa usaha perikanan budidaya dianggap usaha yang high risk sudah dapat dideteksi dan diantisipasi dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan, peningkatan teknologi dan upaya mitigasi dini, sehingga menjadikan usaha perikanan budidaya sebagai usaha yang dapat diperhitungkan2. 2 1

http://www.djpb.kkp.go.id/berita.Indonesia Surga Investasi Perikanan Budidaya [Diakses 29 Agustus 2013] 2 http://www.kkp.go.id.Inovasi teknologi Akuakultur Berbasis Ekonomi Biru [Diakses 29 Agustus 2013]

2 Sub sektor perikanan budidaya terdiri dari budidaya air tawar, air laut dan air payau. Budidaya air tawar mengalami perkembangan produksi yang cenderung meningkat dibandingkan budidaya air laut maupun air payau. Hal ini disebabkan kemudahan dalam melakukan usaha dalam budidaya ikan air tawar. Dalam perkembangannya budidaya air tawar terdiri dari budidaya kolam, karamba, jaring apung dan sawah. Budidaya air tawar yang memiliki perkembangan paling pesat berasal dari budidaya kolam. Perkembangan budidaya kolam sangat pesat karena budidaya kolam adalah model budidaya air tawar pertama sebelum munculnya budidaya di perairan umum seperti karamba dan jaring apung. Pesatnya perkembangan budidaya kolam juga dapat dilihat dari Rumah Tangga Perikanan Budidaya (RTP) baru. Setiap tahunnya selalu ada RTP baru yang mengusahakan budidaya air tawar. Perkembangan produksi perikanan budidaya dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Perkembangan Produksi Perikanan Budidaya Tahun 2007 – 2011(Ton) Jenis Budidaya

2007

2008

2 009

Budidaya Laut 1 509 528 1 966 002 2 820 083 Budidaya Air Payau 933 832 959 509 907 123 Budidaya Air Tawar 750 203 929 688 981 358 - Kolam 410 373 479 167 554 067 - Karamba 63 929 75 769 101 771 - JaringApung 190 893 263 169 238 606 - Sawah 85 009 111 584 86 913 Jumlah 3 193 563 3 855 200 4 708 565 Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), 2012

2 010 3 514 702 1 416 038 1 347 183 819 809 121 271 309 499 96 605 6 277 923

2 011

Kenaikan (%) 4 605 827 32.34 1 602 748 16.64 1 720 387 23.62 1 127 127 29.46 131 383 20.08 375 430 19.89 86 448 2.45 7 928 962 25.62

Banyak jenis ikan air tawar yang telah dapat dibudidayakan, baik pembenihan maupun pembesarannya. Ikan budidaya air tawar memiliki banyak jenis, namun ada lima jenis ikan air tawar yang cukup berkembang. Kelima jenis ikan tersebut adalah ikan mas, nila, lele, patin dan gurame yang budidayanya berkembang sangat pesat setiap tahunnya. Permintaan akan ikan konsumsi tersebut terus meningkat sehingga produksi budidayanya juga berkembang dan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Perkembangan produksi perikanan budidaya menyebar ke seluruh pulau di Indonesia. Daerah penghasil budidaya perikanan budidaya terbesar di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Sembilan daerah penghasil perikanan budidaya terbesar di Indonesia tahun 2008-2011 (Ton) Provinsi 2008 Sumatera Utara 18 542 Sumatera Barat 38 403 Riau 21 084 Sumatera Selatan 60 308 Lampung 23 919 Jawa Barat 147 941 Jawa Tengah 44 191 D.I. Yogyakarta 14 100 Jawa Timur 37 704 Sumber : KKP, 2012 (Diolah)

2009 12 227 46 955 29 846 68 207 21 988 158 871 55 031 17 010 42 690

2010 29 512 57 655 29 448 100 160 32 378 244 768 66 964 38 772 65 870

2011 41 182 85 933 37 974 140 733 50 453 295 714 94 565 43 795 114 964

3 Berdasarkan Tabel 2, daerah penghasil perikanan budidaya terbesar adalah provinsi Jawa Barat. Sentra perikanan di Jawa Barat berada di daerah Sukabumi yang merupakan pusat Broodstock Centre Induk Ikan Air Tawar milik pemerintah. Sentra perikanan selain pulau Jawa yaitu Pulau Sumatera. Pulau Sumatera merupakan salah satu pulau yang memiliki produksi perikanan air tawar yang tinggi. Salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang memiliki produksi perikanan yang cukup tinggi dan potensial adalah Provinsi Lampung dengan produksi pada tahun 2011 sebesar 50 453 ton. Produksi perikanan air tawar yang tinggi di dukung oleh ketersediaan benih sebagai input utamanya. Adapun jumlah benih ikan yang ditebar di kolam pada provinsi di Pulau Sumatera tahun 2008-2010 dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Jumlah benih ikan yang ditebar di kolam pada provinsi di Pulau Sumatera tahun 2008-2010 (ekor) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Jumlah

2008

2009

2010

78 690 321 927 608 697 499 733 44 809 7 836 84 105 286 373 8 336 383

92 618 323 027 4 031 758 1 730 091 1 145 53 879 18 948 85 325 264 526 184 277 358

152 556 4 041 822 853 83 951 10 719 334 362 074 63 981 359

Sumber : KKP, 2011 Tabel 3 menunjukkan bahwa jumlah benih Provinsi Lampung mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya dibandingkan provinsi lainnya, tetapi secara kuantitas jumlah benih yang ditebar di Sumatera Barat lebih besar. Peningkatan jumlah benih secara signifikan menandakan bahwa permintaan terhadap benih mengalami peningkatan juga. Benih sebagai input bagi usaha pendederan maupun pembesaran. Provinsi Lampung memiliki potensi dalam pengembangan perikanan budidaya karena didukung ketersediaan lahan yang luas dan belum dimanfaatkan secara optimal. Lahan potensial tersebut dapat dimanfaatkan dalam bidang perikanan. Provinsi Lampung mengalami perkembangan yang signifikan dalam perikanan budidaya. Provinsi Lampung terdiri dari 15 kabupaten. Daerah sentra perikanan budidaya air tawar Provinsi Lampung terdapat di Kabupaten Pringsewu, Kabupaten Lampung Timur dan Kota Metro. Ketiga kabupaten tersebut memiliki potensi dalam pengembangan perikanan budidaya. Salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang memiliki produksi perikanan budidaya air tawar terbesar yaitu Kabupaten Pringsewu. Komoditas perikanan utama di kabupaten ini yaitu ikan lele, mas, patin, gurame dan nila. Data produksi ikan konsumsi tersebut di Kabupaten Pringsewu dapat dilihat pada Tabel 4.

4 Tabel 4 Produksi Ikan Konsumsi di Kabupaten Pringsewu Tahun 2009-2012 (Ton) 2009 2010 2011 Jenis Ikan 1 879.61 2 038.44 2 150.40 Lele 1 683.36 1 683.36 1 756.66 Mas 217.60 49.15 80.3 Patin 299.90 416.40 434.50 Gurame 114.35 172.35 193.35 Nila Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Pringsewu, 2013

2012 2 894.33 1 706.50 228.77 471.13 211.35

Kelima jenis ikan air tawar tersebut yang memiliki produksi terbesar di Kabupaten Pringsewu adalah ikan lele. Setiap tahunnya ikan lele cenderung mengalami kenaikan produksi yang signifikan melebihi ikan konsumsi lainnya. Tingginya produksi ikan lele di Kabupaten Pringsewu menandakan bahwa konsumsi ikan lele yang tinggi berbanding lurus dengan kebutuhan benihnya, karena ikan lele ukuran konsumsi berasal dari usaha pembesaran lele. Input pembesaran lele adalah dari pembenihan lele. Semakin tinggi produksi ikan lele maka kebutuhan benih lele semakin meningkat pula. Disamping itu, semakin berkembangnya bisnis warung tenda pecel lele menjadikan permintaan terhadap ikan lele konsumsi semakin meningkat. Dengan demikian pembenihan lele memiliki prospektif usaha yang tinggi. Peluang usaha yang baik dalam usaha pembenihan lele didukung oleh kelebihan ikan lele dari nilai gizinya. Ikan lele memiliki kandungan protein yang cukup tinggi yaitu 17 persen dan memiliki berbagai macam asam lemak esensial hingga 9 persen. Manfaat yg terkandung dalam 100 gram daging lele cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh anak dalam masa perkembangan. Oleh karena itu lele kian digemari dan permintaannya terus meningkat dari tahun ke tahun (Mahyuddin, 2012). Ikan lele merupakan ikan konsumsi air tawar yang paling populer dan memiliki prospektif usaha yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan kemudahan dalam membudidayakannya, permintaan yang selalu meningkat dapat dilihat pada hasil produksinya yang mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahun. Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan yang laju pertumbuhannya relatif cepat dan mudah dalam pemeliharaannya, karena teknologi budidayanya cenderung mudah untuk dikuasai, serta dapat dibudidayakan pada lahan dan sumber air yang terbatas dengan kepadatan yang tinggi. Meskipun demikian, dalam pemeliharaannya kan lele termasuk ikan yang rakus, sehingga dalam pemberian pakan harus diperhatikan porsi pakannya agar tidak berlebihan ataupun kekurangan. Kemudahan dalam membudidayakan ikan lele menjadikan banyak petani yang mengusahakan pembenihan ikan lele di Kabupaten Pringsewu. Oleh karena itu banyak petani dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Pringsewu yang menjadi pembenih lele, sehingga produksinya pun meningkat. Produksi ikan lele pada masingmasing kecamatan di Kabupaten Pringsewu pada tahun 2009 hingga 2012 dapat dilihat pada Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa Kecamatan Pagelaran memiliki produksi ikan lele tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya di Kabupaten Pringsewu. Tingginya produksi lele karena permintaan terhadap lele tinggi juga. Hal tersebut dikarenakan banyak berdiri usaha warung tenda di Kecamatan Pagelaran, disamping itu lele ukuran konsumsi diolah bagian dagingnya menjadi abon lele, bagian duri lele

5 dijadikan makanan ringan khas daerah Kecamatan Pagelaran seperti tusuk gigi, kerupuk dan klanting. Berdasarkan data produksi lele di Kecamatan Pagelaran pada tahun 2012 sebanyak 1 717.44 ton atau 1 717 440 kg, bila dikonversikan size panen lele konsumsi yaitu size 8 – 10 (dalam 1 kg lele konsumsi terdiri dari 8–10 ekor), maka jumlah benih yang dibutuhkan yaitu 13 739 520 hingga 17 174 400 ekor benih. Tingginya kebutuhan benih tersebut menjadikan banyak petani di Kecamatan Pagelaran mengusahakan pembenihan lele, sehingga Kecamatan Pagelaran menjadi sentra pembenihan lele di Kabupaten Pringsewu. Tabel 5 Produksi Lele pada Kecamatan di Kabupaten Pringsewu Tahun 2009-2012 (Ton) Kecamatan 2009 2010 2011 Pagelaran 1 267.20 1 294.04 1 332.40 Pringsewu 122.40 122.40 122.40 Sukoharjo 63.00 63.00 63.00 Pardasuka 83.60 83.60 83.60 Gadingrejo 118.80 118.80 118.80 Adiluwih 11.90 11.90 11.90 Ambarawa 116.80 189.60 240.70 Banyumas 95.91 155.12 177.60 Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Pringsewu, 2013

2012 1 717.44 194.18 144.00 93.14 253.00 48.00 261.00 183.57

Kecamatan Pagelaran merupakan sentra pembenihan lele, meskipun demikian usaha pembenihan lele memiliki risiko tertinggi pada proses produksinya. Hal tersebut dikarenakan usaha pembenihan lele memiliki sifat yang sangat tergantung pada kondisi alam yang tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, terdapat risiko produksi pada usaha pembenihan lele. Risiko produksi dapat dilihat dari tingkat kelangsungan hidupnya / survival rate (SR). Ukuran panen benih lele yang diteliti yaitu 3-5 cm, ukuran tersebut dipilih karena benih berada pada fase fase kritis yaitu daya tahan tubuh lele masih lemah, sehingga rentan terkena penyakit dan risiko kematiannya menjadi lebih tinggi dibandingkan usaha pembesaran. Oleh karena itu, usaha pembenihan lele memiliki risiko yang lebih besar daripada usaha pembesarannya. Terjadinya fluktuasi hasil produksi yang dilihat dari tingkat kelangsungan hidup benih, tentu akan mempengaruhi output produksi yang dihasilkan karena output dari usaha pembenihan lele adalah benih lele yang dihitung dalam satuan ekor yang dikalikan dengan harga satuannya. Oleh karena itu, diperlukan analisis mengenai pengaruh risiko produksi yang dilihat dari SR terhadap keuntungan usaha pembenihan lele. Perumusan Masalah Kecamatan Pagelaran merupakan daerah sentra produksi lele terbesar di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Sebagian besar petani budidaya di Kecamatan Pagelaran membenihkan ikan lele dibandingkan ikan air tawar lainnya. Umumnya para petani tergabung dalam suatu kelompok tani maupun unit pembenihan

6 sendiri. Sebagai daerah sentra produksi lele, para petani di Kecamatan Pagelaran mengupayakan penggunaan benih lele yang berkualitas baik dan mempertahankan ketersediaan benih yang berkesinambungan. Tentunya hal tersebut di dukung oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Pringsewu, Lampung yaitu dalam hal pengadaan benih yang berasal dari induk yang berkualitas dan dilakukan pelatihan terhadap petani pembenihan lele. Terdapat dua jenis ikan lele di Kecamatan Pagelaran yaitu lele dumbo dan lele sangkuriang. Ikan lele dumbo mulai dikenal masyarakat setelah lele dumbo masuk ke Indonesia pada tahun 1985 yang memiliki kelebihan dapat dibudidayakan pada lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar yang tinggi, modal usaha yang relatif rendah karena dapat menggunakan sumber daya yang relatif mudah didapatkan dan teknologi yang mudah dikuasai masyarakat, sehingga menjadikan budidaya lele dumbo berkembang pesat (DKP, 2005). Namun demikian perkembangan budidaya ikan lele yang pesat tanpa didukung pengelolaan induk yang baik menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lele. Pengelolaan induk ikan merupakan salah satu faktor penentu yang penting dalam usaha budidaya ikan. Induk yang baik akan menghasilkan benih yang berkualitas baik pula. Penurunan kualitas induk dapat disebabkan adanya perkawinan sekerabat (inbreeding) dan seleksi induk yang salah atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari karakter umum matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversation Rate). Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi telah berhasil melakukan rekayasa genetik untuk menghasilkan lele strain baru yang diberi nama lele Sangkuriang. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele. BBPBAT Sukabumi merupakan Broodstock Centre atau penghasil induk yang telah terakreditasi sebagai Broodstock Centre Induk Ikan Air Tawar milik pemerintah dengan tugas dan fungsinya sebagai penghasil induk berkualitas (DKP, 2005). Tabel 6 Beberapa Keunggulan Lele Sangkuriang dibandingkan Lele Dumbo Karakteristik Lele Sangkuriang Lele Dumbo Kematangan gonad pertama (bulan) 8–9 4–5 Fekunditas telur (butir/kg induk betina) 40 000 – 60 000 20 000 – 30 000 Derajat penetasan telur (%) > 90 > 80 Kelangsungan hidup / SR larva (%) 90 – 95 90 – 95 Pertumbuhan harian bobot benih umur 26-40 hari (%) 13.96 12.18 Panjang standar rata-rata benih umur 26 hari (cm) 3–5 2–3 Panjang standar rata-rata benih umur 40 hari (cm) 5–8 3–5 Kelangsungan hidup/ SR benih umur 26 -40 hari (%) >90 >90 Sumber : Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, 2005

Budidaya lele sangkuriang (Clarias sp) sudah berkembang sejak tahun 2004, setelah dirilis oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, dengan Nomor Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 26/Men/2004 tanggal 21 Juli 2004. Hasil perekayasaan ikan lele sangkuriang memiliki karakteristik reproduksi dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan lele dumbo. Lele sangkuriang memiliki fekunditas dan pertumbuhan yang lebih tinggi serta tingkat konversi pakan yang lebih rendah

7 dibandingkan lele dumbo (DKP, 2005). Keunggulan lele sangkuriang dibandingkan lele dumbo dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 menunjukkan bahwa lele sangkuriang lebih unggul dibandingkan lele dumbo dalam hal jumlah telur yang dihasilkan (fekunditas) dan derajat penetasan telur atau daya tetas telur yaitu 90 persen, melebihi daya tetas lele dumbo yang hanya mencapai 80 persen. Tingginya jumlah telur yang dihasilkan dan daya tetas telur lele sangkuriang dibandingkan lele dumbo, akan mempengaruhi jumlah benih yang dihasilkan pada usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo. Meskipun SR normal benih dapat mencapai > 90 persen. Selain keunggulan pada jumlah telur dan daya tetas telur, lele sangkuriang memiliki keunggulan lain yang lebih baik dibandingkan lele dumbo diantaranya memiliki toleransi yang baik terhadap penyakit dan pertumbuhan yang merata, sehingga berpengaruh terhadap jumlah benih yang dihasilkan. SR yang dihasilkan pada usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo akan mempengaruhi keuntungan usaha, karena SR merupakan output benih yang jumlah akhirnya akan dikalikan dengan harga benih per satuan. Nilai SR benih lele sangkuriang dan lele dumbo dari masing-masing 10 petani pada satu periode produksi bulan Oktober-November 2013 dapat dilihat pada Gambar 1. 100 90 80 Persentase

70 60 50 40 30 20

SR Lele Sangkuriang SR Lele Dumbo SR Kondisi Normal

10 0

Gambar 1 SR benih lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran periode produksi bulan Oktober-November 2013 Gambar 1 menunjukkan nilai SR benih lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran dari 20 petani pada tahun 2013. Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat adanya risiko produksi yang ditunjukkan dengan fluktuasi nilai SR dari beberapa petani dalam satu siklus. Disamping itu SR aktual tersebut berbeda dengan SR benih lele pada kondisi normal yaitu pada SR 90 persen (DKP, 2005). Nilai SR tertinggi sebesar 91 persen sedangkan terendah sebesar 17 persen. Adanya risiko produksi pada kegiatan usaha pembenihan lele didukung oleh hasil penelitian Farman (2013) bahwa risiko produksi diindikasikan dengan ketidaksesuaian SR pada kondisi

8 standar dengan kondisi aktual, serta fluktuasi nilai SR setiap bulan akibat terjadinya tingkat kematian ikan. Terjadinya fluktuasi hasil produksi yang dilihat dari tingkat kelangsungan hidup akibat adanya kematian ikan merupakan indikasi risiko produksi. Perbedaan tingkat kelangsungan hidup tentu akan mempengaruhi output produksi yang dihasilkan. Output dari usaha pembenihan ikan lele di Kecamatan Pagelaran adalah benih lele ukuran 2-3 cm, 3-5 cm dan 4-6 cm. Output panen benih lele yang diteliti yaitu ukuran 3-5 cm dengan harga jual yang digunakan yaitu ukuran gelas dan harga jual benih lele sangkuriang yaitu Rp15 200/gelas, sedangkan untuk harga jual benih lele dumbo yaitu Rp15 000/gelas. Satu gelas berisi 300 ekor benih. harga jual per gelas bila dikonversi dalam satuan ekor maka harga benih lele sangkuriang yaitu Rp51/ekor dan harga benih lele dumbo yaitu Rp50/ekor. Ukuran benih 3-5 cm dipilih dengan pertimbangan bahwa benih masih dalam fase kritis karena daya tahan tubuh lele masih lemah. Sehingga rentan terkena penyakit dan risiko kematiannya menjadi lebih tinggi dibandingkan usaha pembesaran. Sehingga usaha pembenihan lele memiliki risiko yang lebih besar daripada usaha pembesarannya. Output dari usaha pembenihan lele adalah benih lele yang dihitung dalam satuan ekor yang dikalikan dengan harga satuannya dan menetukan jumlah penerimaan. Oleh karena itu, diperlukan analisis mengenai pengaruh risiko produksi yang dilihat dari SR terhadap penerimaan usaha. Selain itu perlu diketahui sikap yang dilakukan petani pembenihan lele dalam menghadapi risiko produksi yang dilihat dari nilai SR atau jumlah ikan yang hidup. Berdasarkan uraian tersebut maka permasalahan yang dapat dirumuskan penulis adalah : 1. Bagaimana pengaruh risiko produksi dilihat dari SR benih lele terhadap keuntungan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang dan ikan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran ? 2. Bagaimana sikap petani dalam menghadapi risiko produksi benih lele? Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Menganalisis pengaruh risiko produksi dilihat dari SR benih lele terhadap keuntungan usaha pembenihan ikan lele sangkuriang dan ikan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran. 2. Mengidentifikasi sikap yang dilakukan petani pembenihan lele dalam menghadapi risiko produksi benih lele. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak yaitu: 1. Bagi petani sebagai tambahan informasi dan masukan pengambilan keputusan dalam mengelola usaha pembenihan ikan lele. 2. Bagi penulis sebagai sarana untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan. 3. Bagi pembaca sebagai informasi dan wawasan serta rujukan untuk penelitian selanjutnya.

9 Ruang Lingkup Penelitian

1.

2. 3. 4. 5.

6.

7.

Ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu : Kajian masalah yang diteliti adalah menganalisis pengaruh risiko produksi dilihat dari SR benih lele terhadap keuntungan usaha pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran dan mengidentifikasi sikap petani dalam menghadapi risiko produksi terhadap keberlanjutan usahanya. Indikasi risiko produksi hanya dilihat dari nilai SR benih lele. Fluktuasi produksi didasarkan pada data cross section (antarpetani) bukan time series (antarwaktu). Jumlah kematian benih akibat masing-masing sumber risiko produksi dianalis secara keseluruhan. Penelitian ini menggunakan data produksi periode terakhir yaitu bulan November dan Desember 2013. Jumlah responden sebanyak 20 orang terdiri dari 10 petani lele sangkuriang dan 10 petani lele dumbo yang merupakan rekomendasi dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. Kegiatan pembenihan lele terdiri dari pemeliharaan induk, pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih. Dalam setiap tahapan pembenihan tersebut tidak terlepas dari risiko. Risiko produksi yang dianalisis dalam penelitian ini yaitu pada proses pemeliharaan benih lele ukuran 3-5 cm dalam satu siklus produksi. Satu siklus produksi lele sangkuriang 30 hari dan lele dumbo 40 hari. Analisis sikap petani dalam menghadapi risiko produksi berdasarkan persepsi dari sudut petani melalui wawancara.

TINJAUAN PUSTAKA Teknik Pembenihan Ikan Lele Dalam budidaya ikan lele terdapat tiga kegiatan yaitu pembenihan, pendederan dan pembesaran. Kegiatan pembenihan lele terdiri dari pemeliharaan induk, pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih. Adapun kegiatan pembenihan lele sebagai berikut (DKP, 2005) : a.Pemeliharaan Induk Induk lele terdiri dari induk jantan dan induk betina. Induk jantan memiliki ciri perut yang relatif ramping atau langsing, alat kelaminnya yang menonjol yaitu genital papilla yang runcing. Sedangkan induk betina memilki ciri perut yang buncit dan terasa lembek bila diraba, alat kelamin pada betina tidak menonjol yaitu berbentuk bulat. Dalam pemeliharaannya, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara dalam kolam yang terpisah dengan kepadatan 5 ekor/m2. Kolam pemeliharaan dapat berupa kolam tanah dan kolam semen dengan ketinggian air 75–100 cm. Pakan yang diberikan dapat berupa pakan buatan yaitu pelet dengan kandungan protein > 25 persen. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 2-3 persen dari biomassanya dengan frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari.

10 Induk lele yang siap memijah memiliki ciri yaitu umur induk betina minimal satu tahun, berat 0.70–1.0 kg, panjang standar 25–30 cm dan sudah matang gonad yang ditandai dengan perut yang membesar dan terasa lembek bila ditekan. Sedangkan induk jantan yang siap memijah memiliki ciri umur minimal satu tahun, berat 0.5–0.75 kg, panjang standar 30-35 cm dan sudah matang gonad yang ditandai dengan warna alat kelamin yang berwarna kemerahan. b. Pemijahan Induk Pemijahan lele dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu pemijahan alami (natural spawning), pemijahan semi alami (induced spawning) dan pemijahan buatan. 1. Pemijahan alami Pemijahan alami dilakukan dengan cara memasukkan induk jantan dan betina dalam satu bak/wadah agar memijah secara alami, dan diberikan kakaban/ijuk untuk tempat menempel telur hasil pemijahan. Perbandingan jumlah atau berat induk jantan dan betina yaitu 1 : 1. Bila induk betina atau induk jantan lebih berat dibandingkan pasangannya, dapat digunakan perbandingan jumlah 1 : 2. 2. Pemijahan semi alami Pemijahan semi alami dilakukan dengan cara merangsang induk betina dengan penyuntikan hormon perangsang (misalnya ovaprim, ovatide, LHRH) dengan dosis 0.2 ml/kg induk atau menggunakan ekstrak hipofisa. Kemudian induk dipijahkan secara alami yaitu dimasukkan kembali induk betina dan induk jantan dalam satu wadah/bak. Perbandingan jumlah atau berat induk jantan dan betina yaitu 1 : 1. Bila induk betina atau induk jantan lebih berat dibandingkan pasangannya, dapat digunakan perbandingan jumlah 1 : 2. 3. Pemijahan buatan Pemijahan buatan menggunakan induk betina dan induk jantan dengan perbandingan 3 : 0.7 yaitu telur dari 3 kg induk betina dapat dibuahi dengan sperma dari induk jantan dengan berat 0.7 kg. Induk betina dirangsang terlebih dahulu dengan penyuntikan hormon perangsang (misalnya ovaprim, ovatide, LHRH) dengan dosis 0.2 ml/kg induk atau menggunakan ekstrak hipofisa. c. Penetasan Telur Umumnya pemijahan dilakukan pada malam hari, sehingga pada pagi hari akan terlihat telur yang menempel pada kakaban/ijuk yang telah disediakan di dalam wadah pemijahan dan sebagian akan terlihat berserakan di dasar wadah pemijahan. Telur akan menetas 1-2 hari kemudian. Telur yang baik berwarna kuning cerah (Susanto, 2011). d. Pemeliharaan Larva dan Benih Telur yang menetas akan menjadi larva. Pada fase larva yang baru menetas belum membutuhkan pakan dari luar karena masih memiliki kuning telur (yolksac) dalam tubuhnya. Yolksac akan habis selama kurang lebih 3 hari. Sehingga pada hari keempat, benih sudah diberi pakan alami berupa zooplankton atau rotifera yang sesuai dengan lebar mulutnya karena alat pencernaannya masih lemah dalam tubuhnya. Setelah berumur 6 hari, benih sudah bisa diberi pakan kutu air yang disaring. Hingga hari keempat belas, barulah benih lele bisa diberikan kutu air yang tidak disaring. Selain itu, benih bisa diberikan pakan lain misalnya jentik nyamuk dan cacing sutera. Dengan perawatan yang intensif, dapat diperoleh benih ukuran 3-5 cm dalam waktu satu bulan. Selama masa pemeliharaan benih, penggantian air dilakukan dua kali seminggu dengan pergantian air separuhnya (Susanto, 2011).

11 Kajian Penelitian Risiko Produksi Ikan Lele Penelitian terdahulu yang menganalisis risiko produksi pada usaha pembenihan lele yaitu Dewiaji (2011), Farman (2013) dan Fektoria (2013). Pada penelitian Dewiaji (2011) mengenai risiko produksi pembesaran ikan lele dumbo masalah penelitian yang dikaji adalah adalah jumlah produksi yang dihasilkan belum mampu memenuhi jumlah permintaan yang ada. Hal ini dikarenakan adanya kejadian-kejadian merugikan yang merupakan sumber risiko dalam proses budidayanya. Risiko yang muncul dalam budidaya pembesaran ikan lele yaitu fluktuasi jumlah produksi yang dihasilkan, perubahan cuaca, dan serangan hama, penyakit yang mengakibatkan ikan lele mengalami kematian ataupun terjangkiti penyakit sehingga dapat menurunkan kualitas dan jumlah yang diproduksi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Farman (2013) sumber risiko produksi yang terdapat pada pembenihan ikan lele sangkuriang pada saung lele di kampung jumbo Sukaraja Kabupaten Bogor adalah hama, penyakit, kualitas air dan kanibalisme. Hama yang menyerang adalah ucrit dan kini-kini. Penyakit yang menyerang benih ikan lele di Saung Lele cenderung diakibatkan oleh bakteri dan jamur. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah Motile Aeromonas Septicemea (MAS) atau yang lebih dikenal dengan nama penyakit bercak merah. Sedangkan kualitas air karena pH air yang asam dan perubahan suhu air lebih dari 50C secara drastis. Selain itu kanibalisme terjadi karena keragaman ukuran dan kualitas benih yang buruk. Sehingga keempat sumber risiko tersebut berdampak pada kematian benih lele. Pada penelitian Fektoria (2013) terdapat empat sumber risiko produksi yang terjadi pada pembenihan ikan lele sangkuriang pada UPR Bina Tular desa gadog kabupaten Bogor. Sumber risiko produksi tersebut adalah tingginya tingkat kanibalisme, serangan hama, penyakit dan pengaruh musim kawin liar atau pemijahan sendiri. Hal yang membedakan penelitian Fektoria (2013) dengan penelitian lainnya yaitu terletak pada sumber risiko dan pengaruh musim kawin liar atau pemijahan sendiri. Terjadinya kawin liar atau pemijahan sendiri yaitu telur yang ada dalam tubuh induk betina menetas sendiri tanpa adanya penyemprotan sperma dari induk jantan. Sehingga telur yang dihasilkan menjadi gagal menetas. Alat analisis yang digunakan oleh Dewiaji (2011), Farman (2013) dan Fektoria (2013) dalam mengukur risiko memiliki kesamaan yaitu untuk pemetaan risiko menggunakan metode nilai standar (zscore) dan metode pengukuran dampak risiko menggunakan pendekatan Value at Risk (VaR). Dari hasil penelitian Dewiaji (2011), Farman (2013) dan Fektoria (2013) diperoleh sumber-sumber yang menjadi risiko dalam pembenihan ikan lele yaitu perubahan cuaca, serangan hama, penyakit, kualitas pakan, kualitas air, kanibalisme dan kawin liar atau pemijahan sendiri. Hal tersebut menjadi beberapa sumber risiko pada pembenihan ikan lele pada penelitian ini. Topik penelitian Farman (2013) dan Fektoria (2013) sama yaitu pembenihan ikan lele sangkuriang. Meskipun memiliki kesamaan topik, namun output benih yang diteliti berbeda. Farman (2013) meneliti benih lele berukuran 2-3 cm, sedangkan Fektoria (2013) meneliti benih lele berukuran 5-6 cm. Berbeda halnya dengan Dewiaji (2011) yang meneliti pembesaran ikan lele dumbo dengan produk akhir yaitu ikan lele konsumsi.

12 Kajian Penelitian Pendapatan Usaha Perikanan Penelitian terdahulu yang menganalisis pendapatan usahatani adalah Brajamusti (2008) yaitu mengenai Analisis Pendapatan Usaha Pembenihan Larva Ikan Bawal Air Tawar (Studi Kasus pada Ben’s Fish Farm, Desa Cigola, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat); Zelvina (2009) mengenai Analisis Pendapatan Usaha Pembenihan dan Pemasaran Benih Ikan Patin di Desa Tegal Waru Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor; Guntur (2011) mengenai Analisis Usahatani Ikan Lele Bapukan (Clarias gariepinus) di Kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat dan Novandina (2013) mengenai Analisis Pendapatan Usaha Pembenihan dan Pendederan Ikan Nila GMT. Kajian terhadap penelitian terdahulu yang sesuai dengan topik yang dipih diperlukan oleh penulis sebagai gambaran dalam melakukan penelitian. Brajamusti (2008) bertujuan untuk menganalisis keragaaan usaha pembenihan larva ikan bawal air tawar, menghitung tingkat pendapatan usaha pembenihan larva ikan bawal air tawar dengan menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio) dan menganalisis efisiensi dari usaha dan sensitivitas pembenihan larva ikan bawal air tawar jika terjadi perubahan-perubahan dalam produksi, seperti kenaikan harga-harga input produksi dan penurunan harga jual. Analisa yang dilakukan selama 2 tahun yaitu tahun 2006 dan tahun 2007 dengan menggunakan alat analisis sensitivitas dengan tujuan untuk membandingkan antara hasil analisa tersebut. Hasil yang diperoleh bahwa perubahan harga output pada harga jual larva ikan bawal yang turun menjadi Rp5 mengakibatkan nilai pendapatan turun dari Rp431 097 400. menjadi Rp146 775 000 dimana terjadi penurunan pendapatan sebesar Rp284 342 400. Untuk nilai R/C ratio terjadi penurunan juga dari nilai awal 2.28 menjadi 1.43. Meskipun terjadi penurunan nilai R/C namun kondisi tersebut masih menguntungkan karena nilai R/C >1. Sedangkan ketika harga jual naik menjadi Rp 12 nilai pendapatan dan R/C rasio nya pun meningkat menjadi Rp825 340 600 dan 3.44. Penelitian Zelvina (2009) menggunakan alat analisis yang sama dengan Brajamusti (2008) yaitu menggunakan analisis imbangan penerimaan dan biaya (R/C ratio). Akan tetapi berbeda dalam jumlah responden yang digunakan yaitu sebanyak 25 orang petani, sedangkan Brajamusti melakukan studi kasus pada satu petani saja. Hasil penelitian Zelvina (2009) bahwa kegiatan usaha pembenihan ikan patin efisien untuk dilakukan. Hal tersebut dilihat dari nilai R/C rasio yang diperoleh yaitu atas biaya tunai sebesar 1.62 per siklus, yang artinya bahwa setiap Rp 1 biaya tunai yang dikeluarkan untuk usaha maka akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1.62. Sedangkan nilai R/C rasio atas biaya total sebesar 1.26 per siklus, yang artinya setiap Rp1 biaya tunai yang dikeluarkan untuk usaha maka akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1.26. Nilai R/C rasio 1.62 dan 1.26 menunjukkan bahwa kegiatan usaha pembenihan ikan patin selain efisien juga menguntungkan, karena nilai R/C >1. Dalam analisis usahatani ikan lele bapukan yang dilakukan oleh Guntur (2011) mengkaji tentang pendapatan petani sebelum dan sesudah program Filleting. Analisis yang digunakan menggunakan R/C rasio. Hasil yang diperoleh dari pendapatan atas biaya tunai pada usahatani ikan lele Bapukan sebelum program Filleting adalah negatif Rp1 337 000 artinya pendapatan petani tanpa memperhitungkan biaya yang diperhitungkan merugi sebesar Rp1 337 000 per hektar per musim tanam. Sedangkan dilihat dari perbandingan antara penerimaan dan biaya (R/C rasio) atas biaya tunai yaitu sebesar 0.88 dan biaya total sebesar 0.77. Dapat disimpulkan bahwa usahatani

13 ikan lele Bapukan tidak menguntungkan petani sebelum program Filleting dan menguntungkan setelah melakukan program Filleting. Analisis pendapatan usaha pembenihan dan pendederan ikan nila GMT Novandina (2013) memiliki segmentasi usaha yang berbeda yaitu ada 5 jenis. Meskipun segmentasi usaha berbeda namun perhitungan dilakukan dalam satu siklus produksi yaitu 90 hari. Hal yang membedakan setiap segmen usaha adalah output panen mulai dari ukuran larva, ukuran 2-3 cm, ukuran 3-5 cm dan ukuran 5-8 cm. Alat analisis yang digunakan yaitu R/C rasio. Hasil penelitian menunjukkan penerimaan usaha terbesar adalah kelompok E yaitu usaha pendederan dengan output benih ukuran 2-3 cm. Besarnya penerimaan kelompok E dikarenakan usaha pendederan benih nila memiliki waktu pemeliharaan yang pendek dan tidak menggunakan induk, sehingga biaya yang dikeluarkan lebih rendah. R/C atas biaya total tertinggi adalah kelompok C yaitu pada segmen pembenihan dengan output benih ukuran 2-3 cm. Penelitian yang dilakukan memiliki kesamaan dengan Brajamusti (2008), Zelvina (2009), Guntur (2011) dan Novandina (2013) dalam hal ini analisis yang digunakan untuk menghitung pendapatan petani. Akan tetapi berbeda dalam hal komoditas yaitu ikan lele dumbo dan ikan lele sangkuriang dan lokasi penelitian yaitu di Lampung. disamping itu, terdapat kebaruan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh risiko produksi dilihat dari SR benih lele terhadap pendapatan petani lele dumbo dan lele sangkuriang. Dan untuk mengetahui sikap yang dilakukan petani pembenihan lele dalam menghadapi risiko produksi yang dilihat dari nilai SR atau jumlah ikan yang hidup.

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis berisi teori dan konsep yang berkaitan dengan penelitian yaitu teori produksi, konsep risiko, hubungan risiko dan return, perilaku individu dalam menghadapi risiko, konsep penerimaan, konsep biaya dan konsep keuntungan usaha. Teori Produksi Putong (2010) menyatakan bahwa produksi atau memproduksi adalah suatu usaha atau kegiatan untuk menambah kegunaan (nilai guna) suatu barang. Kegunaan suatu barang akan bertambah bila memberikan manfaat baru atau lebih dari bentuk semula. Untuk memproduksi dibutuhkan faktor-faktor produksi yaitu alat atau sarana untuk melakukan proses produksi. Faktor produksi yang dimaksud dalam ilmu ekonomi adalah manusia (tenaga kerja = TK), modal (uang atau alat seperti mesin = M), sumber daya alam (tanah = T) dan skill (teknologi = T). Fungsi produksi adalah hubungan teknis antara faktor produksi (input) dengan hasil produksi (output). Secara matematis hubungan teknis itu dapat ditulis sebagai berikut : Output = f ( TK, M, T, S) Hubungan teknis yang dimaksud adalah bahwa produksi hanya bisa dilakukan dengan menggunakan faktor produksi. Bila faktor produksi tidak ada maka tidak ada juga produksi. Debertin (1986) mengemukakan bahwa fungsi produksi menunjukkan

14 jumlah maksimum output yang bisa dicapai dengan mengkombinasikan berbagai jumlah input. Menurut Daniel (2002) fungsi produksi yaitu suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil fisik (output) dengan faktor-faktor produksi (input). Dalam usaha pertanian, produksi diperoleh melalui suatu proses yang cukup panjang dan penuh risiko. Panjangnya waktu yang dibutuhkan tidak sama tergantung pada jenis komoditas yang diusahakan. Konsep Risiko Risiko berhubungan dengan suatu kejadian yang memiliki kemungkinan untuk terjadi dan tidak terjadi. Adanya perbedaan atau ketidaksesuaian antara hasil yang diharapkan dengan kejadian aktual merupakan suatu risiko. Dalam Robison dan Barry (1987) Frank Knight menyatakan bahwa ketidakpastian menunjukkan peluang suatu kejadian yang tidak dapat diketahui oleh pelaku bisnis sebagai pembuat keputusan. Peluang kejadian yang tidak diketahui secara kuantitatif atau sulit diukur oleh pelaku bisnis dapat dikarenakan beberapa hal, diantaranya tidak ada informasi atau data pendukung baik berdasarkan data historis atau pengalaman pelaku bisnis selama mengelola kegiatan usaha dalam menghadapi suatu kejadian. Selama peluang suatu kejadian tidak dapat diukur oleh pelaku bisnis maka kejadian tersebut termasuk dalam kategori ketidakpastian. Elton dan Gruber (1995) menyatakan bahwa risiko merupakan sebuah kejadian atau peristiwa yang dapat merugikan perusahaan, hasil yang diperkirakan oleh perusahaan tidak sesuai dengan pencapaian perusahaan. Risiko ditentukan oleh besar atau kecilnya penyimpangan antara hasil yang diperkirakan dengan hasil yang dicapai oleh perusahaan. Semakin besar penyimpangan antara hasil yang diperkirakan dengan hasil yang dicapai oleh perusahaan, maka risiko yang dihadapi perusahaan semakin besar. Sebaliknya jika penyimpangan antara hasil yang diperkirakan dengan hasil yang dicapai oleh perusahaan semakin kecil, maka risiko yang dihadapi oleh perusahaan tersebut semakin kecil. Penyimpangan yang dimaksud adalah penyimpangan yang bernilai negatif. Debertin (1986) membedakan antara konsep risiko dan ketidakpastian. Dalam konsep ketidakpastian, faktor lingkungan, kemungkinan hasil dan kemungkinan kejadian tersebut tidak dapat diketahui. Sedangkan dalam konsep risiko, antara hasil dan kemungkinan dari suatu kejadian dapat diketahui. Moschini dan Hennesy (1999) berpendapat bahwa untuk menguraikan sumber utama ketidakpastian dan risiko yang relevan dapat dilihat dari sudut pandang produsen pertanian. Dalam agriculture jumlah dan kualitas output yang akan dihasilkan oleh input biasanya tidak diketahui dengan pasti. Ketidakpastian ini disebabkan oleh kenyataan bahwa unsur-unsur yang tidak dapat dikendalikan seperti cuaca memiliki peranan penting dalam produksi pertanian. Efek dari faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan cukup tinggi, karena terdapat fakta bahwa waktu memiliki peran sangat penting dalam produksi pertanian, karena keterlambatan produksi yang lama ditentukan oleh proses biologis yang mendasari produksi tanaman dan pertumbuhan hewan. Meskipun ada kesamaan dalam kegiatan produksi lainnya, itu adalah adil untuk mengatakan bahwa ketidakpastian produksi adalah pilihan klasik produksi pertanian. Menurut Harwood et al (1999) risiko merupakan kemungkinan kejadian yang menimbulkan kerugian bagi pelaku bisnis yang mengalaminya. Salah satu indikasi adanya risiko dalam kegiatan bisnis dapat dilihat dengan adanya variasi dan fluktuasi dari hasil yang diharapkan. Dalam bidang agribisnis, risiko yang dapat terjadi pada

15 kegiatan usahatani adalah risiko selama proses produksi berlangsung dan risiko terhadap harga jual. Risiko produksi antara lain disebabkan serangan hama dan penyakit, curah hujan, musim, kelembaban, teknologi, input, dan bencana alam. Akibat risiko produksi tersebut berpengaruh terhadap penurunan kualitas serta kuantitas hasil panen. Sedangkan risiko harga disebabkan oleh fluktuasi harga jual produk di pasar yang dipengaruhi tingkat inflasi serta kondisi permintaan dan penawaran produk. Beberapa contoh indikasi adanya risiko dalam dalam suatu bisnis diantaranya adanya fluktuasi produksi, fluktuasi harga output atau fluktuasi pendapatan untuk setiap satuan yang sama. Pada risiko produksi, indikator utama yang dapat diketahui yaitu adanya fluktuasi hasil produksi pada satuan yang sama. Harwood et al (1999) menyatakan terdapat beberapa sumber risiko yaitu : 1. Risiko Produksi Faktor risiko produksi dalam kegiatan agribisnis disebabkan adanya beberapa hal yang tidak dapat dikontrol terkait dengan iklim dan cuaca, seperti curah hujan, temperatur udara, hama dan penyakit. Selain itu, teknologi juga berperan dalam menimbulkan risiko pada kegiatan agribisnis. Penggunaan teknologi baru secara cepat tanpa adanya penyesuaian sebelumnya justru dapat menyebabkan penurunan produktivitas alih-alih efisiensi yang diharapkan. Sumber risiko produksi yang dapat dihadapi oleh petani yaitu risiko produksi, sumber risiko yaitu berasal dari kegiatan produksi diantaranya adalah gagal panen, rendahnya produktivitas, kerusakan barang yang ditimbulkan oleh serangan hama dan penyakit, perbedaan iklim dan cuaca, kesalahan sumber daya manusia dan masih banyak lagi. 2. Risiko Pasar Risiko pasar dalam hal ini meliputi risiko harga output dan harga input. Pada umumnya kegiatan produksi merupakan proses yang lama. Sementara itu, pasar cenderung bersifat kompleks dan dinamis. Oleh karena itu, petani belum tentu mendapatkan harga yang sesuai dengan yang diharapkan pada saat panen. Begitu pula harga input yang dapat berfluktuasi sehingga mempengaruhi komponen biaya pada kegiatan produksi. Pada akhirnya risiko harga tersebut akan berpengaruh pada return yang diperoleh petani. 3.Risiko Institusional Risiko institusional berhubungan dengan kebijakan dan program dari pemerintah yang mempengaruhi sektor agribisnis. Misalnya, adanya kebijakan dari pemerintah untuk memberikan atau mengurangi subsidi dari harga input. Secara umum, risiko institusional ini cenderung tidak dapat diantisipasi sebelumnya. 4. Risiko Finansial Risiko finansial atau risiko keuangan terjadi karena adanya kejadian yang berhubungan dengan financial dimana kejadiannya tidak sesuai dengan yang direncanakan. Risiko finansial dihadapi oleh pelaku bisnis pada saat meminjam modal dari institusi seperti bank. Risiko ini berkaitan dengan fluktuasi dari tingkat suku bunga pinjaman (interest rate). 5.Risiko Sumber Daya Manusia Risiko sumberdaya manusia adalah kejadian yang menyebabkan sumberdaya yang dimiliki oleh perusahaan tidak bekerja dengan optimal. Risiko sumberdaya manusia juga dipengaruhi oleh kualitas sumberdaya manusia sangat erat kaitannya dengan produksi sehingga dapat mempengaruhi risiko produksi yang dapat dihadapi perusahaan.

16 Hubungan Risiko dan Return Adanya risiko pada kegiatan bisnis menyebabkan terdapat berbagai kemungkinan suatu kejadian yaitu kemungkinan untuk menghasilkan produksi atau pendapatan diatas atau dibawah rata-rata. Kemungkinan kejadian tersebut terjadi atau tidak terjadi, erat kaitannya dengan peluang kejadian. Peluang menunjukkan frekuensi terhadap suatu kejadian, besar kecilnya peluang suatu kejadian dipengaruhi oleh kondisi lingkungan internal dan eksternal. Dalam menganalisis risiko, selain konsep peluang penting diketahui konsep ekspektasi (harapan) karena pelaku bisnis dalam mengelola kegiatan usahanya mempunyai harapan terhadap produksi, harga atau pendapatan yang akan diperoleh pada masa datang. Menurut Robison dan Barry (1987) alat analisis yang digunakan dalam menganalisis mengenai pengambilan keputusan yang berhubungan dengan risiko yaitu expected utility model. Model ini digunakan karena adanya kelemahan yang terdapat pada expected return model yaitu sesuatu yang ingin dicapai oleh seseorang bukan nilai (return) tetapi kesejahteraan (utility). Berdasarkan kenyataan, nilai utilitas sangat sulit diukur, sehingga dalam melakukan analisis digunakan pendekatan dengan mengukur nilai return. Pengukuran nilai ekspektasi return secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut : n

E(R) = ∑ Pi. Ri i=1

Keterangan : E(R) = besarnya return yang diharapkan Pi = peluang dari suatu kejadian Ri = besarnya return Risiko dalam kegiatan bisnis dikaitkan dengan besarnya return yang akan diterima oleh pengambil risiko. Semakin besar risiko yang dihadapi biasanya return yang diterima juga akan lebih besar. Pola pengambilan risiko menunjukkan sikap yang berbeda terhadap pengambilan risiko.Risiko terjadi akibat adanya unsur ketidakpastian, sedangkan return adalah tingkat keuntungan yang diharapkan dari suatu investasi selama periode waktu tertentu yang akan diperoleh di masa mendatang. Hubungan return dan risiko searah yaitu semakin besar return yang diharapkan maka semakin besar pula risiko yang harus ditanggung. Pentingnya pengelolaan risiko menggambarkan bahwa ada hubungan positif antara risiko dengan tingkat keuntungan, semakin tinggi risiko maka akan semakin tinggi pula tingkat keuntungan yang diharapkan. Oleh sebab itu, bila suatu usaha ingin meningkatkan keuntungan maka usaha tersebut harus menaikkan juga tingkat risikonya. Perilaku Pelaku Bisnis dalam Menghadapi Risiko Pelaku bisnis selalu dihadapkan pada risiko dalam kegiatan usahanya. Debertin (1986) mengatakan bahwa kesedian para petani mengambil risiko besar memiliki hubungan dengan kemampuannya. Kepuasan (utilitas) yang petani dapatkan dari masing-masing pengeluaran dengan hitungan yang besar menentukan pengambilan keputusan yang akan dilakukan. Fungsi utilitas dapat menghubungkan kepuasan dengan satu atau lebih dari jumlah barang yang tersedia. Utilitas petani berhubungan dengan pendapatan yang diharapkan, tetapi kenyataannya pendapatan yang diterima tidak sesuai yang diharapkan. Apabila pendapatan yang diharapkan sama dengan

17 utilitas, maka petani akan tertarik untuk memaksimalkan utilitas dengan memilih strategi yang dapat menghasilkan laba tertinggi. Hubungan antara expected income dan income variance membagi perilaku pelaku bisnis menjadi risk averse, risk neutral dan risk prefferer/risk lover/risk taker. Perilaku pelaku bisnis tersebut dapat dilihat pada Gambar 2, Gambar 3 dan Gambar 4. Expected Income

Income Variance

Gambar 2 Perilaku Individu Risk Averse dalam Menghadapi Risiko Sumber : Debertin, 1986

Gambar 2 menunjukkan hubungan antara income variance, yang merupakan ukuran tingkat risiko dengan income yang diharapkan (expected income) yaitu tingkat kepuasaan pembuat keputusan. Sikap pembuat keputusan dalam menghadapi risiko tersebut dikategorikan sebagai risk averse. Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko (risk averse) menunjukkan adanya kenaikan income variance yang merupakan ukuran tingkat risiko akan diimbangi dengan menaikkan income yang diharapkan, atau dengan kata lain pelaku bisnis akan mengambil risiko besar asalkan income (pendapatan) yang diperoleh besar. Expected Income

Income Variance

Gambar 3 Perilaku Individu Risk Neutral dalam Menghadapi Risiko Sumber : Debertin, 1986

18 Gambar 3 menunjukkan sikap pengambil keputusan dalam menghadapi risiko dikategorikan sebagai risk neutral. Pembuat keputusan yang netral terhadap risiko (risk neutral) menunjukkan adanya kenaikan income variance yang merupakan ukuran tingkat risiko tidak diimbangi dengan menaikkan income yang diharapkan. Dengan kata lain, perilaku individu ini dalam menghadapi risiko akan bersikap acuh tak acuh. Adanya risiko tinggi atau rendah tidak menjadi perhatian bagi individu yang mempunyai perilaku risk neutral. Expected Income

Income Variance

Gambar 4 Perilaku Individu Risk Prefferer dalam Menghadapi Risiko Sumber : Debertin, 1986

Gambar 4 menunjukkan hubungan antara income variance, yang merupakan ukuran tingkat risiko dengan income yang diharapkan yaitu tingkat kepuasaan pembuat keputusan. Sikap pembuat keputusan dalam menghadapi risiko tersebut yaitu risk prefferer/risk lover/risk taker yaitu pembuat keputusan yang berani terhadap risiko. Dengan adanya kenaikan income variance yang merupakan ukuran tingkat risiko tidak diimbangi dengan kesediannya menerima income yang diharapkan lebih rendah. Atau dengan kata lain, individu ini dalam menghadapi risiko akan menurunkan utilitas dengan semakin tingginya pendapatan yang diperoleh akibat risiko. Menurut (Robison dan Barry,1987) dalam menganalisis risiko didasarkan pada teori pengambilan keputusan dengan berdasarkan konsep expected utility. Expected utility erat kaitannya dengan probability. Probability dapat dipandang sebagai frekuensi relatif dan digunakan dalam pengambilan keputusan. Utility sangat sulit diukur sehingga umumnya didekati dengan pengukuran return. Ukuran tingkat risiko dapat dilihat dari varian return. Indikator adanya risiko ditunjukkan oleh adanya variasi atau fluktuasi dari return dengan asumsi faktor-faktor tertentu bersifat tetap. Pelaku bisnis yang menghadapi risiko, memiliki kemungkinan akan kehilangan uang atas suatu investasi. Oleh karena itu, setiap pelaku bisnis memiliki perilaku yang berbeda dalam menghadapi bisnis. Jika dilihat dari pembuat keputusan dalam menghadapi risiko, secara umum dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu sebagai berikut : 1. Pembuat keputusan yang takut terhadap risiko (risk averse). Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam dari keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan menaikkan keuntungan yang diharapkan yang merupakan tingkat kepuasan.

19 2. Pembuat keputusan yang berani terhadap risiko (risk taker). Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam dari keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan menurunkan keuntungan yang diharapkannya. 3. Pembuat keputusan yang netral terhadap risiko (risk neutral). Sikap ini menunjukkan bahwa jika terjadi kenaikan ragam dari keuntungan maka pembuat keputusan akan mengimbangi dengan menurunkan atau menaikkan keuntungan yang diharapkan. Konsep Penerimaan Usahatani Penerimaan usahatani yaitu perkalian antara hasil produksi dengan harga jual. Dalam menghitung penerimaan usahatani, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (a) Dalam menghitung produksi pertanian diperlukan ketelitian dalam menghitung penerimaan usahatani, karena tidak semua produk pertanian dapat dipanen pada waktu yang bersamaan (b) Hasil produksi kemungkinan dijual beberapa kali dengan harga yang berbeda-beda, sehingga selain diperlukan data frekuensi penjualan, perlu diketahui juga harga jual pada masing-masing penjualan (c) bila penelitian usahatani menggunakan responden petani maka diperlukan teknik wawancara yang baik untuk membantu petani dalam mengingat kembali produksi dan hasil penjualan yang diperolehnya selama setahun terakhir (Soekartawi, 2006). Konsep Biaya Usahatani Biaya produksi adalah sebagai kompensasi yang diterima olah para pemilik faktor-faktor produksi atau biaya-biaya yang dikeluarkan oleh petani dalam proses produksi baik secara tunai maupun tidak tunai (Daniel, 2002). Biaya usahatani dapat dibedakan berdasarkan struktur biaya dan berdasarkan perhitungan pengeluarannya. Struktur biaya usahatani dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: a. Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, misalnya pajak tanah, sewa tanah, penyusutan alat-alat bangunan pertanian dan bunga pinjaman. b. Biaya tidak tetap (variabel) adalah biaya yang berhubungan langsung dengan jumlah produksi, misalkan pengeluaran untuk bibit, pupuk, obat-obatan dan biaya tenaga kerja. Berdasarkan perhitungan pengeluarannya, biaya dibagi menjadi dua yaitu: a. Biaya tunai adalah biaya tetap dan biaya variabel yang dibayar tunai. Biaya tetap misalnya pajak tanah dan bunga pinjaman, sedangkan biaya variabel misalnya pengeluaran untuk bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga luar keluarga. Biaya tunai ini berguna untuk melihat pengalokasian modal yang dimiliki oleh petani. b. Biaya tidak tunai (diperhitungkan) adalah pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani. Biaya yang diperhitungkan dapat berupa faktor produksi yang digunakan petani tanpa mengeluarkan uang tunai seperti sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik sendiri, penggunaan tenaga kerja keluarga, penggunaan benih dari hasil produksi dan penyusutan dari sarana produksi. Menurut Salvatore (2006), biaya tetap total adalah seluruh kewajiban atau biaya yang harus dikeluarkan perusahaan per unit waktu atas semua input tetap. Biaya variabel total adalah seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan per unit waktu

20 berdasarkan semua faktor input dan jumlah input yang digunakan. Besar kecilnya biaya variabel dipengaruhi oleh jumlah output yang akan diproduksi. Secara sederhana, biaya tetap berhubungan dengan waktu dan tidak berhubungan dengan tingkat ataupun volume produksi, atau nilai dari biaya tetap adalah sama. Biaya variabel berhubungan dengan tingkat dan volume produksi. Besarnya biaya variabel ditentukan oleh besarnya jumlah output yang diinginkan Salvatore (2006) menyatakan bahwa biaya tetap rata-rata (AFC) sama dengan biaya tetap total (TFC) dibagi jumlah output (Q). Biaya variabel rata-rata (AVC) sama dengan biaya variabel total (TVC) dibagi jumlah output (Q). Biaya rata-rata (AC) sama dengan biaya total (TC) dibagi jumlah output (Q); AC juga sama dengan AFC ditambah AVC. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut : AFC = TFC Q

AVC = TVC Q

AC = TC Q

AC = AFC+AVC

Dalam penelitian ini, perhitungan biaya yang digunakan adalah biaya tunai dan biaya diperhitungkan, pada masing-masing biaya terdapat komponen biaya tetap dan biaya variabel. Perbedaannya adalah pada biaya tunai, komponen biaya tetap dan biaya variabel adalah biaya yang dibayar secara tunai, sedangkan pada biaya diperhitungkan komponen biaya tetap dan biaya variabel adalah biaya yang tidak dibayar secara tunai (diperhitungkan). Hubungan biaya total, biaya tetap dan biaya variabel dapat dilihat pada Gambar 5. Biaya (Rp)

AC AVC

AFC Q (Jumlah Output)

Gambar 5 Hubungan Biaya Tetap Rata-rata-Biaya Variabel Rata-rata dan Biaya Total Rata-rata Sumber: Rahardja, Manurung, 2006

Konsep Keuntungan Usaha Banyak cara untuk mengukur pendapatan diantaranya adalah pendapatan bersih usahatani dan pendapatan tunai usahatani. Pendapatan bersih atau lebih dikenal dengan keuntungan bersih suatu usaha diperoleh dari selisih antara penerimaan usahatani dengan pengeluaran total atau biaya total usahatani (Soekartawi, 2006). Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :

21 = TR - TC Keterangan: π = Keuntungan usaha yang diperoleh (Rupiah) TR = Penerimaan total (Rupiah) TC = Biaya Total (Rupiah) Penerimaan usahatani adalah nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun yang tidak dijual, sedangkan pengeluaran total usahatani adalah nilai semua masukan yang habis terpakai atau dikeluarkan di dalam produksi. Dalam penelitian ini, perhitungan biaya yang digunakan adalah biaya tunai dan biaya diperhitungkan, pada masing-masing biaya terdapat komponen biaya tetap (TFC) dan biaya variabel (TVC). Perbedaannya adalah pada biaya tunai, komponen biaya tetap (TFC) dan biaya variabel(TVC) adalah biaya yang dibayar secara tunai, sedangkan pada biaya diperhitungkan komponen biaya tetap dan biaya variabel adalah biaya yang tidak dibayar secara tunai (diperhitungkan). Keuntungan yang diperoleh merupakan selisih dari total biaya dengan total penerimaan. Perubahan nilai TFC, TVC akan mempengaruhi nilai TFC/output, TVC/output dan juga nilai TR/output produksi. Apabila jumlah produk yang dihasilkan semakin bertambah maka nilai TFC/output dan TVC/ output semakin kecil. Dalam hal ini biaya total yang harus dikeluarkan suatu usaha semakin murah. Selain itu dengan biaya variabel yang semakin murah diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan dan pada akhirnya akan meningkatkan jumlah penerimaan (TR). Semakin besar jumlah penerimaan usaha maka nilai TR/output semakin besar. Kondisi tersebut pada akhirnya akan meningkatkan nilai keuntungan dari setiap output (π /output) yang diterima suatu usaha. Hubungan antara kurva biaya tetap, biaya variabel, biaya total dengan kurva penerimaan dapat dilihat pada Gambar 6.

TR,TC, TVC,TFC

TC Keuntungan (π)

TR TVC

TFC

Q (Jumlah Output) 0

1

2

3

4

5

6

Gambar 6 Hubungan Kurva Biaya Tetap, Biaya Variabel dan Biaya Total dengan Kurva Penerimaan Sumber: Salvatore, 2006

22 Kerangka Pemikiran Operasional

Kecamatan Pagelaran merupakan daerah produksi ikan lele terbesar di Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung. Terdapat dua jenis lele yang dibudidayakan oleh petani di Kecamatan Pagelaran yaitu lele dumbo dan lele sangkuriang. Lele sangkuriang memiliki banyak keunggulan dibandingkan lele dumbo. Hal tersebut dikarenakan lele sangkuriang merupakan hasil rekayasa genetika yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Benih Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo yang menurun. Beberapa keunggulan lele sangkuriang yaitu karakteristik reproduksi dan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan lele dumbo Tingkat kelangsungan hidup benih lele akan berbeda karena adanya risiko yaitu adanya kematian benih dalam proses pemeliharaannya. Hal tersebut dikarenakan fase pemeliharaan benih merupakan fase kritis yaitu daya tahan tubuh lele masih lemah. Sehingga rentan terkena penyakit dan risiko kematiannya menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu jumlah benih akhir ketika panen tidak sama dengan jumlah benih awal pemeliharaan. Terjadinya fluktuasi hasil produksi yang dilihat dari tingkat kelangsungan hidup akibat adanya kematian ikan merupakan indikasi risiko produksi. Perbedaan tingkat kelangsungan hidup tentu akan mempengaruhi output produksi yang dihasilkan. Output panen benih lele yang diteliti adalah ukuran 3-5 cm saja dengan harga jual Rp 15 000 per gelas, dalam satu gelas berisi 300 ekor benih. Bila dikonversi dalam satuan ekor maka harga benih lele Rp50/ekor. Output benih lele yang dijual tergantung dari banyaknya ikan yang hidup saat panen, sehingga akan memberikan pengaruh terhadap keuntungan usaha pembenihan lele. Keuntungan usaha yang diperoleh berasal dari total penerimaan dan total biaya. Penerimaan berasal dari jumlah benih yang dipanen dikalikan harga benih per ekor. Dengan demikian output benih yang dihasilkan bergantung dari tingkat kelangsungan hidup ketika panen. Adanya risiko produksi pada pembenihan lele yang berpengaruh terhadap jumlah benih lele yang hidup ketika dipanen, sehingga perlu diketahui sikap yang dilakukan petani pembenihan lele dalam menghadapi risiko produksi yang dilihat dari nilai SR atau jumlah ikan yang hidup terhadap keputusan keberlanjutan usahanya. Alur kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada Gambar 7.

23

Usaha Pembenihan Lele Dumbo dan Lele Sangkuriang

Fluktuasi SR benih lele

Risiko Produksi Usaha Pembenihan Lele

Input Produksi

Harga Input

Output Produksi (SR/jumlah benih yang hidup)

Harga Output

Biaya Penerimaan

Keuntungan Usaha

Sikap petani dalam menghadapi risiko produksi Gambar 7 Kerangka Pemikiran Operasional Pengaruh Risiko Produksi terhadap Pendapatan Usaha pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu ProvinsiLampung

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Pagelaran merupakan sentra pembenihan ikan lele di Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2013 – Januari 2014.

24 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan 20 petani pembenihan ikan lele di Kecamatan Pagelaran berdasarkan kuisioner dan pengamatan langsung (observasi). Data sekunder yang digunakan berasal dari dokumen yang sudah ada di petani, website Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Pringsewu, buku, artikel, skripsi serta data-data terkait yang mendukung penelitian ini seperti internet dan literatur yang relevan. Data kualitatif yaitu data non numerik atau penjelasan mengenai karakteristik responden, identifikasi sumber risiko produksi usaha pembenihan ikan lele dan data lain yang mendukung penelitian. Sedangkan data kuantitatif yaitu data numerik berupa penerimaan dan pengeluaran petani terkait usaha pembenihan ikan lele, data produksi benih lele, data kelangsungan hidup benih lele dan data lain yang berhubungan dengan penelitian. Metode Penentuan Responden Pemilihan responden dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive). Petani yang menjadi responden dalam penelitian ini berjumlah 20 orang petani yang terdiri dari 10 orang petani pembenih lele sangkuriang dan 10 orang petani pembenih lele dumbo di Kecamatan Pagelaran, sehingga ada dua kelompok petani sesuai dengan jenis lele yang diusahakan yaitu petani lele sangkuriang dan petani lele dumbo. Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung pada tahun 2012, jumlah petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran yaitu 226 orang. Namun tidak semua petani aktif menjalankan usaha. Petani yang dipilih dalam penelitian ini merupakan rekomendasi dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung dengan kriteria responden adalah petani yang aktif dalam usaha pembenihan lele ukuran 3-5 cm dengan siklus produksi 30 hingga 40 hari. Data produksi yang digunakan adalah data siklus produksi terakhir saat penelitian dilakukan yaitu bulan November - Desember 2013. Wadah pemeliharaan benih lele menggunakan bak terpal ukuran 3x5 m, yang membedakan adalah jumlah bak terpal yang dimiliki petani, sehingga waktu panen dan jumlah bak berbeda. Input usaha pembenihan lele yaitu jumlah induk lele yang dipijahkan khususnya induk betina, karena induk betina menghasilkan telur yang mempengaruhi jumlah benih yang dihasilkan. Oleh karena itu, skala usaha yang digunakan dalam usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo yaitu mengunakan input induk betina yang sama yaitu berjumlah 2 ekor dengan berat 2 kg/ekor induk. Metode Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software komputer Microsoft Excel 2007. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dalam penelitian ini meliputi gambaran usaha, karakteristik responden pembenihan ikan lele dan sikap petani dalam mengahdapi risiko produksi benih lele. Analisis

25 kuantitatif dalam penelitian ini meliputi penghitungan tingkat kelangsungan hidup, analisis pendapatan mencakup penerimaan dan biaya usaha pembenihan ikan lele sangkuriang dan ikan lele dumbo untuk melihat perbandingannya. Data yang diperoleh dari petani pembenih ikan lele sangkuriang dan petani pembenih ikan lele dumbo di lokasi penelitian di rata-ratakan nilainya dari kedua jenis petani tersebut. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif merupakan suatu metode penelitian untuk mendapat gambaran mengenai situasi atau kejadian. Dan memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter khas dari kasus, yang kemudian dari sifat-sifat khas tersebut akan dijadikan suatu yang bersifat umum (Nazir 2005). Selain itu, bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual, dan aktual mengenai fakta-fakta, sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Berdasarkan hal tersebut, maka metode ini dapat digunakan dalam menggambarkan karakteristik responden, gambaran usaha dan sikap petani dalam menghadapi risiko produksi dengan cara observasi dan wawancara berdasarkan kuesioner yang telah dipersiapkan. Tingkat Kelangsungan Hidup Hasil akhir atau output dari usaha pembenihan lele yaitu jumlah benih lele yang hidup saat panen. Untuk menetahui tingkat kelangsungan hidup benih lele maka dapat dihitung dengan rumus berikut : Keterangan : SR = Survival Rate / tingkat kelangsungan hidup benih lele (%) Nt = Jumlah benih lele yang hidup pada akhir pemeliharaan (ekor) No = Jumlah benih lele yang hidup pada awal pemeliharaan / penebaran (ekor) Risiko dan Pendapatan Pada aktivitas bisnis, baik bisnis dalam skala besar maupun dalam skala kecil, para pelaku bisnis dalam menjalankan kegiatannya selalu dihadapkan dengan risiko. Adanya risiko dalam kegiatan bisnis pada umumnya akan menimbulkan dampak negatif terhadap pelaku bisnis. Hal tersebut dikarenakan risiko merupakan kemungkinan kejadian yang menimbulkan merugikan bagi pelaku bisnis (Harwood et al, 1999). Apabila terjadi suatu kejadian yang merugikan maka dapat berdampak secara langsung pada laba rugi bisnis. Pelaku bisnis yang melakukan kegiatan produksi pertanian umumnya menghadapi risiko produksi yang diindikasikan dengan adanya fluktuasi produksi dari hasil panen setiap siklusnya dengan penggunaan input yang sama. Kondisi baik yaitu kondisi dimana hasil panen mencapai hasil yang tertinggi dibandingkan pada kondisi normal. Pada kondisi baik dengan hasil panen yang maksimal akan meningkatkan pendapatan. Sedangkan kondisi normal yaitu kondisi dimana hasil panen yang umumnya sering terjadi dalam setiap siklusnya. Pada kondisi buruk yaitu hasil panen berada dibawah kondisi normal atau hasil panen terendah dalam siklus tertentu. Bila hasil panen berada pada kondisi buruk, maka pendapatan yang diterima pun akan jauh berkurang dibawah kondisi normal dan menimbulkan kerugian.

26 Dalam menghadapi risiko sebagai akibat adanya perubahan pendapatan yang ditimbulkan oleh risiko, pelaku bisnis memiliki perilaku yang berbeda. Semakin tinggi pendapatan yang diperoleh maka semakin mendorong pengambil keputusan untuk mengambil alternatif dalam mengatasi risiko. Bila pendapatan semakin meningkat dengan risiko tetap maka pengambil keputusan tidak perhatian terhadap alternatif dalam mengatasi risiko. Perilaku Individu dalam Menghadapi Risiko Setiap orang memiliki perilaku berbeda-beda dalam menghadapi risiko. Ada yang berusaha untuk menghindar, namun ada juga yang sebaliknya sangat senang menghadapi risiko sementara yang lain lagi mungkin tidak terpengaruh dengan adanya risiko. Pemahaman atas sikap orang tersebut mencerminkan bahwa risiko penting untuk ditangani dengan baik. Adapun tiga perilaku tersebut yaitu : a.Risk Averse Perilaku individu ini dalam menghadapi risiko akan melakukan kegiatan bisnis yang mempunyai risiko tinggi selama bisnis tersebut meningkatkan pendapatan. Tetapi jika pendapatan menurun akibat risiko bisnis maka individu akan menghindari risiko. b.Risk Neutral Perilaku individu ini dalam menghadapi risiko akan bersikap acuh tak acuh. Adanya risiko tinggi atau rendah tidak menjadi perhatian bagi individu yang mempunyai perilaku risk neutral. c.Risk Lover Perilaku individu ini dalam menghadapi risiko akan menurunkan utilitas dengan semakin tingginya pendapatan yang diperoleh akibat risiko. Analisis Penerimaan Usaha Pembenihan Lele Penerimaan usahatani merupakan perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual (Soekartawi, 2006). Penerimaan usaha pembenihan lele merupakan nilai dari keseluruhan produk (benih) yang dihasilkan dalam satu siklus produksi. Satu siklus produksi benih lele dengan output benih ukuran 3-5 cm pada lele sangkuriang yaitu 30 hari sedangkan lele dumbo 40 hari. Penerimaan usaha pembenihan lele jika dituliskan sebagai berikut: TR = P x Q Keterangan : TR = Total penerimaan (Rp) P = Harga benih lele (Rp/ekor) Q = Produksi yang diperoleh dalam usaha pembenihan lele yaitu berdasarkan jumlah benih yang hidup/SR (ekor) Analisis Biaya Usaha Pembenihan Lele Biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani (Soekartawi, 2006). Analisis biaya yang dilakukan pada penelitian ini dibedakan menjadi biaya tunai dan tidak tunai (biaya diperhitungkan). Biaya tunai adalah biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variabel cost) yang dibayar secara tunai. Biaya tidak tunai (diperhitungkan) adalah pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya total merupakan jumlah dari biaya-biaya yang termasuk ke dalam biaya tetap dan biaya tidak tetap.

27 Analisis Keuntungan Usaha Pembenihan Lele Pendapatan usahatani atau keuntungan usaha dibedakan menjadi keuntungan atas biaya tunai dan biaya total. Keuntungan atas biaya tunai adalah keuntungan atas biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani. Sedangkan keuntungan atas biaya total adalah keuntungan yang semua input milik keluarga juga diperhitungkan (Soekartawi, 2006). Secara matematis, perhitungan total penerimaan, total biaya dan keuntungan usaha pembenihan lele dirumuskan sebagai berikut : Keterangan : Pd = Pendapatan atau keuntungan usaha pembenihan lele (Rp) TR = Total penerimaan usaha pembenihan lele (Rp) TC = Total biaya usaha pembenihan lele (Rp) Keuntungan usaha dibedakan menjadi keuntungan atas biaya tunai dan keuntungan atas biaya total. Secara umum keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan pengeluaran. Dalam hal ini pendapatan usaha pembenihan lele merupakan selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total dalam satu siklus produksi. Analisis keuntungan yang dilakukan pada usaha pembenihan lele yaitu keuntungan yang diakomodasi oleh risiko produksi yang diindikasikan dengan nilai tingkat kelangsungan hidup / Survival Rate benih lele dalam satu siklus produksi. Sehingga penerimaan yang diperoleh merupakan hasil perkalian dari Survival Rate atau persentase jumlah benih lele yang hidup dalam satu siklus produksi yang dikalikan dengan harga jual benih lele per ekor. Survival Rate (SR) yang diperoleh dari beberapa petani akan berbeda-beda. Hal tersebut dapat mempengaruhi keuntungan usaha. Perhitungan keuntungan usaha pembenihan lele atas biaya tunai dapat dituliskan secara matematis sebagai berikut, yaitu: Pd tunai = TR - BT TR = PxQ Q → Survival Rate Keterangan : Pd tunai = Pendapatan atau keuntungan tunai petani TR = Penerimaan total petani BT = Biaya tunai P = Harga benih lele Q = Jumlah benih lele berdasarkan Survival Rate Untuk menghitung keuntungan atas biaya total adalah sebagai berikut: Pd Total = TR - TC TC = Bt+Bd Keterangan: Pd total = Pendapatan atau keuntungan total petani TR = Penerimaan total petani TC = Biaya total Bt = Biaya tunai (pakan induk, pakan benih, listrik,upah tenaga kerja luar keluarga) Bd = Biaya yang diperhitungkan (upah tenaga kerja dalam keluarga, penyusutan, sewa lahan milik sendiri)

28 Biaya penyusutan alat-alat diperhitungkan dengan membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang ditafsirkan dengan lamanya modal pakai dan diasumsikan tidak laku apabila dijual. Metode yang digunakan adalah metode garis lurus (straight line method). Metode garis lurus menggunakan dasar pemikiran bahwa benda yang dipergunakan dalam usahatani menyusut dalam besaran yang sama setiap tahunnya (Suratiyah, 2011). Secara matematis penyusutan tersebut dirumuskan sebagai berikut:

Definisi Operasional Definisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Usaha pembenihan adalah kegiatan usaha pembenihan yang dimulai dari pemeliharaan induk ikan, pemijahan induk, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih hingga ukuran tertentu yang digunakan sebagai input usaha pendederan maupun pembesaran. 2. Hatching Rate/HR (daya tetas telur) adalah kemampuan telur untuk menetas dan bertahan hidup hingga menjadi larva. Daya tetas diperoleh dari dari jumlah telur yang menetas dibagi dengan dengan jumlah telur total. 3. Survival Rate/SR (tingkat kelangsungan hidup) adalah kemampuan benih dalam bertahan hidup hingga saat pemanenan dengan ukuran tertentu, dalam penelitian ini ukuran yang dimaksud adalah 3-5 cm. Hasil SR berupa persentase dari jumlah ikan awal saat pemeliharaan dibandingkan dengan jumlah ikan akhir yang hidup saat pemanenan. Survival Rate/SR (tingkat kelangsungan hidup) akan menentukan produksi yang diperoleh. 4. Penerimaan adalah jumlah total output dalam satuan ekor per benih yang memiliki ukuran tertentu dikalikan dengan harga output dalam satuan rupiah (Rp). 5. Biaya usahatani terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Biaya operasional terdiri dari biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya investasi dikeluarkan pada periode pertama usaha berjalan, sedangkan pada penelitian ini periode produksi dan biaya operasional yang digunakan adalah periode terakhir. 6. Biaya tunai adalah pengeluaran yang dibayar dengan alat pembayaran uang, mulai dari awal pemeliharaan induk, pemeliharaan benih hingga pemanenan benih yang dinyatakan dengan satuan rupiah. 7. Biaya diperhitungkan adalah pengeluaran untuk pemakaian tenaga kerja dalam keluarga, penyusutan dan sewa lahan milik sendiri.

29

GAMBARAN LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN Karakteristik Wilayah Luas wilayah Kecamatan Pagelaran yaitu 63.28 km2 atau sebesar 8.09 persen dari total luas Kabupaten Pringsewu. Kecamatan Pagelaran adalah hasil pemekaran dari Kecamatan Pringsewu yang terdiri dari 22 pekon (desa). Adapun batasan wilayah Kecamatan Pagelaran yaitu : a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kalirejo Kabupaten Lampung Tengah b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Sukoharjo c. Sebelah barat dengan Kecamatan Banyumas d. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran Kondisi alam Kecamatan Pagelaran adalah daerah datar dengan suhu maksimum 300C dan suhu minimum 210C, sehingga memiliki curah hujan yang cukup. Selain itu Kecamatan Pagelaran memiliki potensi lahan sebesar 618 Ha, baru termanfaatkan sebesar 322 Ha. Sehingga lahan yang belum termanfaatkan sebesar 296 Ha. Jumlah ini lebih besar potensinya dibandingkan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Pringsewu. Besarnya potensi lahan tersebut dapat dimanfaatkan dalam bidang pertanian, perikanan, peternakan dan lainnya. Gambaran Umum Demografis Berdasarkan data dari dinas Kecamatan Pagelaran pada awal tahun 2013 jumlah penduduk di Kecamatan Pagelaran yaitu sebanyak 53 595 jiwa yang terdiri dari 27 731 perempuan dan 25 864 laki-laki. Dengan demikian jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Penduduk terbanyak terdapat di pekon (desa) Pagelaran yang berjumlah 5 601 jiwa atau sekitar 10.45 persen dari total jumlah penduduk Kecamatan Pagelaran yang terdiri dari perempuan sebanyak 2 868 dan lakilaki sebanyak 2 733 jiwa. Penduduk Kecamatan Pagelaran umumnya bermatapencaharian di bidang pertanian yang meliputi perikananan dan peternakan. Penduduk yang bekerja di bidang pertanian yaitu sebanyak 17 624 jiwa atau sekitar 32.88 persen dari total jumlah penduduk Kecamatan Pagelaran. Sedangkan lainnya bekerja pada bidang perdagangan, wirausaha, industri dan instansi pemerintahan. Kecamatan Pagelaran dikenal sebagai sentra budidaya perikanan di Kabupaten Pringsewu, dengan komoditas unggulan yaitu ikan lele. Oleh karena itu, penduduk Kecamatan Pagelaran lebih banyak yang bermatapencaharian di bidang perikanan khususnya, sedangkan lainya bekerja sebagai petani sawah, pegawai negeri sipil, pegawai swasta dan pedagang. Terdapat lima desa di Kecamatan Pagelaran yang menjadi sentra perikanan yaitu desa Pagelaran, desa Lugu Sari, desa Sukaratu, desa Patoman dan desa Panutan. Kegiatan Produksi Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Umumnya kegiatan produksi yang dilakukan oleh petani pembenihan ikan lele baik itu lele sangkuriang maupun lele dumbo di Kecamatan Pagelaran adalah sama

30 yaitu mulai dari pemeliharaan induk, pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih hingga pemanenan benih. Ukuran benih yang dipanen oleh petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran adalah ukuran 2–3 cm, 3–5 cm dan 4–6 cm tetapi umumnya yang sering dijual petani pembenihan lele dan diminta oleh petani pembesaran sebagai input untuk ditebar di kolam adalah ukuran 3–5 cm dengan waktu pemeliharaan yaitu 30 hingga 40 hari. Pemeliharaan Induk Induk merupakan faktor utama yang mempengaruhi kualitas telur yang dihasilkan. Bila telur yang dihasilkan dan yang menetas pun banyak, maka benih yang dihasilkan pun banyak. Sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi jumlah benih akhir yang diperoleh saat panen. Untuk memperoleh induk yang baik, maka perlu diperhatikan dalam pemeliharaannya. Hal utama yang perlu diperhatikan yaitu pemberian pakan induk. Umumnya petani pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran memberi pakan induk dengan pakan buatan yaitu berupa pelet ataupun pakan dari luar berupa keong mas, ayam dan ikan rucah. Petani tidak memiliki ukuran jumlah pakan yang diberikan. Petani mengestimasi jumlah pakan yang diberikan berdasarkan kondisi induk. Induk diberi pakan hanya 1x sehari yaitu saat sore hari. Bahkan terdapat beberapa petani yang hanya memberi pakan 3 hari sekali saja. Pertumbuhan induk akan lebih baik bila induk diberi pakan pelet 2 kali sehari dan diselingi dengan pemberian keong mas agar mempercepat pematangan gonad. Bobot induk yang dimiliki petani umumnya berkisar antara 1–2 kg per ekor. Pemijahan Induk Umur minimal induk lele siap mijah yaitu satu tahun. Oleh karena itu sebagian besar induk lele yang dimiliki petani di Kecamatan Pagelaran sudah memenuhi persyaratan mijah karena umumnya indukan sudah berumur diatas satu tahun. Selain umur, tingkat kematangan gonad sangat menentukan kesiapan induk untuk mijah. Induk jantan yang sudah matang gonad ditandai dengan alat kelaminnya yang meruncing melebihi pangkal sirip ekornya dan berwarna kemerahan, sedangkan induk betina ditandai dengan perut yang membesar dan terasa lembek bila ditekan serta alat kelaminnya membulat dan berwarna kemerahan. Oleh karena itu dilakukan pemilihan induk matang gonad yang siap untuk dipijahkan. Induk lele jantan dan betina yang sudah matang gonad dapat dilihat pada Gambar 8. Pemijahan yang dilakukan oleh petani lele di Kecamatan Pagelaran secara alami dengan perbandingan induk jantan dan betina 1:1 sebanyak 2 hingga 3 pasang. Pemijahan dilakukan pada sore atau malam hari. Induk jantan dan betina ditempatkan dalam bak pemijahan ukuran 2x3 m yang sudah diletakkan kakaban/ijuk di dalam bak. Kakaban berfungsi sebagai tempat menempel telur. Pada bagian atas bak pemijahan ditutup oleh terpal atau bambu agar ikan tidak loncat. Saat memijah, induk jantan dan induk betina akan saling berkejaran. Ketika pagi hari, telur hasil pemijahan dapat dilihat menempel pada substrat kakaban atau dasar bak. Setelah telur keluar dari induk betina, induk jantan dan induk betina langsung dipindahkan atau dipisahkan dari bak pemijahan ke bak pemeliharaan.

31

Gambar 8 Induk lele jantan dan betina matang gonad Sumber : Petani lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung

Penetasan Telur Telur hasil pemijahan akan menetas 24-48 jam setelah pembuahan. Penetasan telur dilakukan pada bak pemijahan. Telur yang baik adalah telur yang dibuahi dan memiliki warna hijau bening, kenyal dan tidak mudah hancur. Sedangkan telur yang tidak terbuahi berwarna putih pucat dan dikenal dengan istilah “ngampas”. Untuk menjaga kualitas air dalam bak, maka telur yang tidak terbuahi dibuang, karena telur tersebut dapat berjamur dan akan mempengaruhi penetasan telur yang terbuahi akibat terkena jamur. Pemeliharaan Larva Larva lele yang baru menetas memiliki cadangan makanan dalam tubuhnya yaitu kuning telur (yolksac) yang akan habis selama 3 hari. Ketika kuning telur akan habis, maka dalam wadah pemeliharaan sudah disediakan pakan alami yaitu cacing sutera. Pemberian cacing sutera dilakukan hingga larva berumur 10-13 hari. Keterlambatan pemberian cacing sutera pada larva dapat menyebabkan larva terkena “masuk angin”. Istilah “masuk angin” merupakan sebutan dari petani pembenihan lele terhadap larva lele yang terlambat diberi cacing sutera. Masuk angin yang dimaksud yaitu perut larva yang membesar dengan posisi terbalik berada diatas permukaan air, sehingga perut yang membesar tersebut seolah-olah seperti masuk angin. Larva lele yang terkena masuk angin lama kelamaan akan mati, karena tidak mendapat pasokan makanan. Sehingga dalam tubuhnya terdapat udara dan air yang menyebabkan perutnya membesar dengan posisi tubuh terbalik. Dalam pemeliharaan larva dilakukan penjarangan. Penjarangan yaitu mengurangi kepadatan larva dalam satu wadah pemeliharaan ke beberapa wadah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kanibalisme dan memberikan ruang gerak bagi ikan. Saat pemeliharaan larva dilakukan pengelolaan kualitas air yaitu dengan mengganti air pemeliharaan secara parsial ketika air pemeliharaan sudah keruh dan berbau. Selain itu larva yang mati dibuang agar tidak berjamur dan menimbulkan penyakit bagi larva yang hidup. Pemeliharaan Benih Pemeliharaan benih meliputi pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, sortasi dan pengurangan kepadatan benih. Benih yang berumur 10-13 hari akan diganti pakan

32 dari cacing sutera menjadi pakan buatan yaitu pelet CP. Ketika pemberian pakan cacing sutera akan berganti dengan pelet CP, maka saat benih masih makan cacing sutera, ikan dilatih untuk makan pelet CP terlebih dahulu. Hal tersebut bertujuan agar ikan menjadi terbiasa untuk memakan pelet. Benih memerlukan adaptasi untuk memakan pelet, karena pada awalnya benih memakan cacing sutera yang hidup dan berbau amis. Ketika overlapping, pada media pemeliharaan diberikan pelet yang diletakkan menggantung seperti bola. Ketika benih sudah lepas makan cacing dan beralih ke pakan CP, maka dilakukan pergantian air secara parsial. Pergantian air dilakukan bersamaan dengan sortasi yaitu memisahkan benih dengan ukuran yang seragam agar tidak terjadi kanibalisme. Selain itu dilakukan penjarangan kepadatan benih dan membuang benih yang mati. Terdapat petani yang melanjutkan tahapan pakan dari CP ke pakan merk Fengli, karena ukuran dan kandungan nutrisi berbeda disesuaikan dengan bukaan mulut dan pertumbuhannya. Benih dipelihara dalam bak ukuran 3x5 m yang beralaskan terpal, dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Bak terpal pemeliharaan benih lele Sumber : petani lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung

Pemanenan Benih Ukuran benih lele yang dipanen dalam penelitian ini yaitu 3-5 cm dengan masa pemeliharaan 30 hingga 40 hari. Benih lele yang sering dijual oleh petani yaitu ukuran 3-5 cm. Permintaan dari petani pembesaran sebagai pembeli utama petani pembenih yaitu ukuran 3-5 cm karena daya tahan tubuhnya mampu beradaptasi dilingkungan baru. Benih tersebut dijadikan sebagai input yang ditebar pada kolam pembesaran. Benih ukuran 3-5 cm dijual dalam bentuk gelasan, dalam satu gelas benih ukuran 3-5 cm berisi 300 ekor dengan standar harga Rp15 000/gelas. Pemanenan dilakukan pada pagi atau sore hari dengan tujuan agar ikan tidak stress, karena pada pagi atau sore hari suhu udara cenderung rendah. Umumnya wadah pemeliharaan benih yang dimiliki petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran adalah bak terpal yang berukuran 3x5m. Sehingga ketika panen air disurutkan dengan menggunakan selang atau pompa. Peralatan yang digunakan petani untuk panen yaitu waring, baskom, saringan sortir dan gelas takar, dapat dilihat pada Gambar 10. Petani tidak menyediakan pengemasan atau packaging benih. Umumnya pembeli berasal dari lingkungan Kecamatan Pagelaran saja, sehingga pembeli menyediakan sendiri packaging dan sarana pengangkutan.

33

Gambar 10 Baskom, saringan sortir dan gelas takar Sumber : petani lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Lampung

Provinsi

Karakteristik Petani Responden petani dalam penelitian ini berjumlah 20 orang yang terdiri dari 10 orang petani pembenihan lele sangkuriang dan 10 orang petani pembenihan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran. Beberapa karakteristik petani pembenihan lele yang dianggap penting yaitu usia, pendidikan, lama usaha, status usaha dan asal induk. Karakteristik tersebut penting diketahui karena merupakan indikator yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha dan produksi yang dihasilkan, serta untuk mengetahui pengaruhnya terhadap biaya, penerimaan dan pendapatan usaha pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran. Usia Berdasarkan tingkat usia petani responden dikelompokkan menjadi petani responden dibawah 31 tahun, 31-40 tahun, 41-50 tahun dan kelompok usia lebih dari 51 tahun. Data mengenai karakteristik petani responden berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7 Karakteristik petani berdasarkan usia di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Usia (tahun) < 30 31 – 40 41 – 50 > 51 Jumlah

Petani Lele Sangkuriang Jumlah (orang) Persentase (%) 1 10 4 40 4 40 1 10 10 100

Petani Lele Dumbo Jumlah (orang) Persentase (%) 3 30 6 60 1 10 0 0 10 100

Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa petani lele sangkuriang yang berusia kurang dari 30 tahun hanya 1 orang atau 10 persen, sedangkan petani lele dumbo berjumlah 3 orang atau 30 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah petani yang berusia muda dibawah 30 tahun lebih banyak berkecimpung di usaha pembenihan

34 lele dumbo dibandingkan lele sangkuriang. Usia dibawah 30 tahun merupakan periode terbaik dalam permulaan usaha karena usia masih muda dan produktif, memiliki semangat tinggi serta ketahanan fisik yang baik. Sehingga dapat mendukung performa dalam usahanya. Pada kelompok usia 31 hingga 40 tahun, petani lele dumbo berjumlah 6 orang atau 60 persen sedangkan petani lele sangkuriang berjumlah 4 orang atau 40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa petani berusia 31 hingga 40 tahun lebih banyak pada usaha pembenihan lele dumbo dibandingkan lele sangkuriang. Secara umum petani lele sangkuriang maupun lele dumbo lebih banyak berada pada kelompok usia 31 hingga 40 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa petani pembenihan lele masih tergolong usia produktif karena memiliki etos kerja dan semangat tinggi serta ketahanan fisik yang baik. Sehingga mampu meningkatkan produktivitas usaha. Petani lele sangkuriang yang berada pada kelompok usia 41 hingga 50 tahun berjumlah 4 orang atau 40 persen, sedangkan petani lele dumbo berjumlah 1 orang atau 10 persen. Sehingga jumlah petani responden pada kelompok usia 41 hingga 50 tahun lebih banyak di usaha pembenihan lele sangkuriang dibandingkan lele dumbo. Pada kelompok usia tersebut masih tergolong produktif, memiliki etos kerja dan semangat tinggi serta ketahanan fisik yang cukup baik. Pada kelompok usia lebih dari 51 tahun, terdapat 1 orang atau 10 persen petani lele sangkuriang, sedangkan petani lele dumbo tidak ada. Hal tersebut menunjukkan bahwa faktor usia tidak menjadi kendala dalam menjalankan usaha pembenihan lele, meskipun kegiatan yang dilakukan sudah terbatas. Pendidikan Tingkat pendidikan yang ditempuh petani responden dibedakan dalam tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Diploma dan Sarjana. Tingkat pendidikan memiliki pengaruh dalam pelaksanaan kegiatan usaha, pengelolaan usaha dan penyerapan teknologi baru yang berkenaan dengan usaha. Sehingga petani mampu meningkatkan usaha dengan lebih baik karena didukung oleh kemampuan dan pengetahuan yang luas. Karakteristik petani lele sangkuriang dan lele dumbo berdasarkan tingkat pendidikan ditunjukkan pada Tabel 8. Tabel 8 Karakteristik petani berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Tingkat Pendidikan SD SMP SMA DIPLOMA SARJANA Jumlah

Petani Lele Sangkuriang Jumlah (orang) Persentase (%) 1 10 3 30 5 50 0 0 1 10 10 100

Petani Lele Dumbo Jumlah (orang) Persentase (%) 1 10 0 0 6 60 3 30 0 0 10 100

Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa sebagian besar responden petani menempuh pendidikan hingga tingkat SMA yaitu sebanyak 5 orang atau 50 persen petani lele sangkuriang dan 6 orang atau 60 persen petani lele dumbo. Hal ini

35 menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan yang ditempuh petani responden sudah cukup baik. Sehingga mampu mendukung keberhasilan usaha baik secara teknis maupun non teknis. Meskipun sebagian besar petani responden berpendidikan SMA, namun ada juga petani yang hanya menempuh pendidikan hingga tingkat SD dan SMP. Petani lele sangkuriang dan lele dumbo yang menempuh pendidikan hingga SD masing-masing berjumlah 1 orang atau 10 persen. Sedangkan petani yang menempuh pendidikan hingga SMP yaitu berjumlah 3 orang petani lele sangkuriang atau 30 persen, sedangkan petani lele dumbo tidak ada yang menempuh hingga tingkat SMP. Petani yang berada pada kategori pendidikan rendah, dimungkinkan kurang dalam penerapan teknologi baru secara teknis dan manajemen usaha. Hal ini dikarenakan umumnya teknis produksi yang dilakukan petani tersebut masih tergolong konvensional atau mengikuti kebiasaan yang sudah dilakukan secara umum atau turun temurun. Di samping itu, terdapat petani pembenihan lele yang merupakan lulusan dari perguruan tinggi. Pada jenjang diploma terdapat sebanyak 3 orang atau 30 persen petani lele dumbo, sedangkan petani lele sangkuriang tidak ada. Pada jenjang sarjana terdapat 1 orang atau 10 persen petani lele sangkuriang, sedangkan petani lele dumbo tidak ada. Meskipun jumlah petani lulusan perguruan tinggi masih sedikit, namun hal tersebut menunjukkan bahwa para akademisi masih memiliki minat dalam sektor on farm. Seperti diketahui bahwa petani yang bergerak dalam bidang on farm umumnya adalah petani yang tidak memiliki pendidikan tinggi, bahkan masih merupakan pekerjaan yang diwariskan secara turun temurun. Pengalaman dalam Usaha Pembenihan Ikan Lele Karakteristik petani dalam hal pengalaman usaha pembenihan lele perlu untuk diketahui karena dapat memengaruhi kemampuan dan pemahaman dalam mengelola usaha dan penanganan masalah yang terjadi secara baik. Tingkat pengalaman petani dapat diketahui dari berapa lama petani berkecimpung dalam usaha pembenihan lele. Pengalaman cukup lama yang dimiliki petani memberikan pemahaman yang lebih baik dalam pengelolaan usaha secara teknis maupun non teknis dibandingkan petani yang memiliki pengalaman usaha belum lama. Karakteristik petani berdasarkan pengalaman usaha ditunjukkan pada Tabel 9. Tabel 9 Karakteristik petani berdasarkan pengalaman usaha di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Petani Lele Sangkuriang Petani Lele Dumbo Pengalaman Usaha (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%) Jumlah (orang) Persentase (%) <5 3 30 5 50 6 - 10 1 10 4 40 11 - 15 4 40 1 10 > 15 2 20 0 0 Jumlah 10 100 10 100 Berdasarkan Tabel 9, petani yang memiliki pengalaman usaha kurang dari 5 tahun sebanyak 3 orang dengan persentase 30 persen petani lele sangkuriang dan 5 orang dengan persentase 50 persen petani lele dumbo. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian petani lele dumbo memiliki pengalaman usaha kurang dari 5 tahun. Pada

36 pengalaman usaha 6 hingga 10 tahun, terdapat 1 orang petani lele sangkuriang dan 4 orang petani lele dumbo. Pada pengalaman usaha 11 hingga 15 tahun terdapat 4 orang atau 40 persen petani lele sangkuriang dan 1 orang atau 10 persen petani lele dumbo. Petani yang memiliki pengalaman usaha terlama lebih dari 15 tahun hanya terdapat 1 orang atau 10 persen saja dari petani lele sangkuriang, sedangkan petani lele dumbo tidak ada yang memiliki pengalaman usaha diatas 15 tahun. Dengan demikian umumnya pengalaman usaha yang dimiliki petani lele dumbo masih tergolong belum lama bila dibandingkan pengalaman usaha petani lele sangkuriang. Lamanya pengalaman usaha yang dimiliki petani mengindikasikan bahwa petani memilki keahlian, kemampuan dan ketrampilan lebih banyak dalam bidang usahanya. Sehingga menjadikan usahanya tetap survive hingga saat ini. Status Usaha Karakteristik petani responden berdasarkan status usaha mencerminkan tentang sumber penghasilan usaha petani lele sangkuriang dan petani lele, apakah usaha pembenihan lele sebagai mata pencaharian utama atau sebagai mata pencaharian sampingan. Status usaha petani responden dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10 Karakteristik petani berdasarkan status usaha di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Status Usaha Utama Sampingan Jumlah

Petani Lele Sangkuriang Jumlah (orang) Persentase (%) 9 90 1 10 10 100

Petani Lele Dumbo Jumlah (orang) Persentase (%) 7 70 3 30 10 100

Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa petani yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai pekerjaan utama yaitu sebanyak 9 orang petani lele sangkuriang, sedangkan petani lele dumbo sebanyak 7 orang. Dengan demikian petani lele sangkuriang lebih banyak yang menjadikan usaha pembenihan lele saebagai pekerjaan utama dibandingkan petani lele dumbo. Petani lele sangkuriang yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai pekerjaan sampingan yaitu sebanyak 1 orang dengan pekerjaan utamanya yaitu sebagai petani padi. Petani lele dumbo yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai pekerjaan sampingan berjumlah 3 orang dengan persentase 30 persen. Petani lele dumbo yang menjadikan usaha pembenihan sebagai usaha sampingan memiliki pekerjaan utama sebagai petani padi, perawat di unit kesehatan pemerintah dan tenaga honorer. Petani yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai pekerjaan utama, menunjukkan tingkat keseriusan berbeda dalam mengelola usahanya dibandingkan yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai usaha sampingan. Petani yang pekerjaan utamanya adalah usaha pembenihan lebih fokus dalam pengelolaannya, dibandingkan petani yang menjadikan usaha pembenihan lele sebagai usaha sampingan karena fokus utamanya adalah pekerjaan pokok mereka. Meskipun demikian terdapat beberapa petani yang memiliki usaha sampingan diluar usaha utamanya dalam usaha pembenihan lele yaitu usahatani padi dan usaha pembesaran ikan lele dan ikan mas.

37 Usaha sampingan tersebut mereka lakukan untuk menambah penghasilan dan dilakukan ketika sudah menyelesaikan pekerjaan utama mereka. Asal Induk Induk merupakan faktor penting dalam usaha pembenihan lele. Induk yang berkualitas akan menghasilkan benih berkualitas dengan jumlah banyak. Induk lele sangkuriang sudah dikenal memiliki keunggulan dibanding induk lele dumbo. Namun pada kenyataannya, petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran masih banyak yang menggunakan induk lele dumbo. Hal tersebut dikarenakan pemerolehan induk lele sangkuriang tidak mudah dan membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Pengadaan induk lele sangkuriang harus didatangkan dari BPPBAT Sukabumi, karena BPPBAT Sukabumi merupakan Broodstock Center induk berkualitas lele sangkuriang. Sehingga hal tersebut menjadi kendala bagi petani yang ingin mendapatkan induk lele sangkuriang, karena petani harus ke Sukabumi atau menunggu bantuan dari dinas. Induk lele sangkuriang yang dimiliki oleh petani lele sangkuriang umumnya berasal dari bantuan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Pringsewu. Petani lele sangkuriang yang mendapatkan bantuan induk dari dinas memiliki proporsi 80 persen atau sebanyak 8 orang dan 2 orang memperoleh induk dengan membeli sendiri. Dua orang petani yang membeli induk lele sangkuriang sendiri, berinisiatif sendiri untuk membeli karena bila menunggu bantuan dari dinas belum diketahui secara pasti waktu pemberian bantuan induk lele sangkuriang. Seluruh petani lele dumbo mendapatkan induk dengan membeli sendiri yang berjumlah 10 orang. Dinas tidak memberikan bantuan kepada petani lele dumbo, karena di dinas tidak ada program bantuan induk lele dumbo. Hal tersebut dikarenakan perolehan induk lele dumbo mudah yaitu berasal dari lele dumbo ukuran konsumsi dapat dibesarkan menjadi induk, ataupun dapat membeli dari petani yang menjual langsung ukuran induk siap mijah. Karakteristik petani berdasarkan asal induk lele dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11 Karakteristik petani berdasarkan asal induk lele di Kecamatan Pagelaran Tahun 2013 Asal Induk Lele Bantuan Dinas Beli Sendiri Jumlah

Petani Lele Sangkuriang Jumlah (orang) Persentase (%) 8 80 2 20 10 100

Petani Lele Dumbo Jumlah (orang) Persentase (%) 0 0 10 100 10 100

Sumber Risiko Produksi Pembenihan Lele di Kecamatan Pagelaran Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yaitu Dewiaji (2011), Ferdian (2011), Farman (2013) dan Fektoria (2013) menyebutkan bahwa sumber risiko produksi pada usaha pembenihan lele adalah perubahan cuaca, serangan hama, penyakit, kualitas pakan, kualitas air, kanibalisme dan kawin liar atau pemijahan sendiri. Berdasarkan hasil identifikasi dan wawancara pada usaha pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung, tidak semua risiko produksi tersebut terdapat pada lokasi penelitian. Sumber risiko produksi yang ditemukan pada usaha

38 pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran ada empat yaitu penyakit, kualitas air, sumber daya manusia dan polusi suara. Penyakit Penyakit yang menyerang ikan merupakan suatu proses hubungan antara 3 faktor yaitu ikan, lingkungan dan jasad penyakit. Ikan yang terserang penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara lingkungan pemeliharaan ikan dan organisme penyebab penyakit. Penyakit yang ditemukan di lokasi penelitian yang menginfeksi benih lele disebabkan oleh bakteri dan protozoa. Penyakit yang sering menyerang benih adalah bintik putih dan bercak merah yang disebabkan oleh bakteri. Ciri benih yang terkena bintik putih yaitu di dekat mulut dan bagian tubuh terdapat bintik putih. Selain itu posisi benih lele berdiri atau menggantung di permukaan air serta penurunan nafsu makan. Serangan penyakit ini timbul pada saat udara dingin atau pada musim hujan. Bila satu benih telah terinfeksi benih, maka akan dengan mudah menginfeksi benih sehat lainnya. Sehingga petani lebih memilih untuk membuang benih yang sudah terkena bintik putih agar tidak menginfeksi benih lain. Penularan penyakit ini dapat dikategorikan cukup cepat dengan benih lain yang sehat karena menular melalui air dan kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi. Benih yang mati akibat terkena bintik putih dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11 Benih lele mati akibat penyakit bintik putih Sumber : Petani lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung

Penyakit lain yang menyerang benih lele adalah bercak merah. Benih yang terkena bercak merah memiliki ciri terdapat bercak merah seperti terluka pada bagian sirip punggung dan sepanjang bagian tubuh bagian atas. Disamping itu, pergerakan benih lele pasif dan mengalami penurunan nafsu makan. Benih lele yang mati akibat terkena bercak merah dapat dilihat pada Gambar 12. Benih yang terserang bintik putih dan bercak merah dipisahkan agar tidak menginfeksi benih yang sehat, apabila benih yang terkena penyakit tersebut sudah mati maka langsung dibuang. Benih yang mati karena terserang bakteri dan jamur tergolong sedikit dibandingkan benih yang mati akibat terkena penyakit“kitiran sewu”. Istilah “kitiran sewu” digunakan oleh petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran untuk mengistilahkan benih lele yang sering berputar-putar hingga 3600 pada permukaan air. Setelah berputar benih akan mati, bahkan lama-kelamaan semua benih dalam satu wadah pemeliharaan mati semua. Benih yang terkena “kitiran sewu” tidak memiliki ciri khusus, secara fisik dan nafsu makan tidak berkurang. Tetapi ketika sudah

39 berputar-putar akan mati, dan menginfeksi benih lain yang berada dalam satu bak pemeliharaan secara cepat. Hal tersebut mengakibatkan kematian massal dalam satu bak pemeliharaan. Penyakit ini disebabkan oleh protozoa. Bagian tubuh lele yang diserang oleh protozoa adalah insang lele. Sehingga lele yang terserang penyakit ini akan berputar-putar dan muncul di atas permukaan air, karena sistem kerja insang terganggu oleh adanya protozoa. Insang merupakan bagian terpenting dalam pernapasan ikan.

Gambar 12 Benih lele mati akibat penyakit bercak merah Sumber : Petani Lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung

Penyakit “kitiran sewu” merupakan faktor utama penyebab kematian ikan massal hingga SR mencapai 0 persen. Berdasarkan pengalaman petani, penyakit ini tidak dapat disembuhkan, akan tetapi hanya dapat diminimalisir yaitu dengan melakukan pengurangan volume dan kepadatan ikan serta mencuci bersih bak pemeliharaan, dapat menggunakan desinfektan dan dijemur di bawah terik matahari. Hal ini dilakukan agar dapat mematikan patogen yang masih hidup di bak pemeliharaan. Benih yang mati akibat penyakit berjumlah 67 150 ekor, sehingga SR hanya 47 persen. Sumber risiko produksi penyakit pada lokasi penelitian memiliki kesamaan dengan sumber risiko produksi Farman (2013) yaitu penyakit bercak merah yang disebabkan oleh bakteri Motile Aeromonas Septicemea (MAS). Benih yang terserang penyakit ini dapat menunjukkan gejala antara lain kematian mendadak, berkurangnya nafsu makan, gerakan berenang yang tidak normal. Kematian benih yang disebabkan karena penyakit MAS dalam satu kolam dapat mencapai MR 80–95 persen. Jumlah kematian yaitu 1.410 ekor dari jumlah benih awal yaitu 186.750 ekor. Selain itu, penyakit bintik putih yang ditemukan di lokasi penelitian memiliki kesamaan dengan Dewiaji (2011) Ciri-ciri ikan yang terinfeksi penyakit ini yaitu timbulnya bintik-bintik putih pada permukaan tubuh dan insang ikan, warna tubuh pucat, ikan sering berkumpul di pintu masuk air, dan terlihat megap-megap. Pada kondisi demikian tingkat kematian ikan akan tinggi karena mengalami gangguan penyerapan oksigen. Penularan penyakit ini dapat dikategorikan cukup cepat karena menular melalui air dan kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi. SR terendah adalah 62.57 persen. Penyakit yang ditemukan di lokasi penelitian berbeda dengan Fektoria (2013) yaitu penyakit yang disebabkan bakteri aeromonas, radang insang dan asam lambung, SR mencapai 69 persen.

40 Kualitas Air Air merupakan media tempat hidup ikan. Kondisi air harus disesuaikan dengan kebutuhan optimal bagi pertumbuhan ikan yang dipelihara. Kualitas air pada media pemeliharaan diusahakan stabil pada kisaran yang optimal. Perubahan kualitas air yang fluktuatif dapat menyebabkan kematian, karena benih lele masih sangat rentan terhadap perubahan kualitas air. Kualitas air mencakup suhu air dan pH. Kestabilan suhu merupakan faktor yang menentukan kelangsungan hidup benih. Suhu pada wadah pemeliharaan benih diusahakan sekitar 27–300C. Jika terjadi perubahan suhu lebih dari 50 C secara drastis dalam waktu singkat dapat menyebabkan kematian karena benih tidak mampu mentolerir perubahan suhu yang drastis. Disamping itu, rendahnya suhu air menyebabkan kecepatan metabolisme ikan menjadi lambat, nafsu makan berkurang dan laju pertumbuhan benih menurun (Mahyudin, 2012). Faktor penyebab perubahan suhu air pada wadah pemeliharaan adalah intensitas hujan yang tinggi dan masuk ke wadah pemeliharaan secara langsung, sehingga suhu pada media pemeliharaan menjadi berubah. Hal tersebut dikarenakan wadah pemeliharaan petani pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran berada di luar ruangan (outdoor). Adanya pergantian air secara total maupun parsial menjadi faktor lain yang menyebabkan perubahan suhu pada media pemeliharaan, karena suhu air sebelum pergantian air berbeda dengan suhu air setelah diganti. Sehingga benih menjadi kaget akibat perubahan suhu tersebut dan menyebakan kematian. Kematian benih akibat pH dikarenakan kadar air pH asam, pH optimal untuk pemeliharaan benih yaitu 6.5 – 8.5. Faktor penyebab perubahan pH air adalah air hujan yang turun langsung ke bak pemeliharaan karena air hujan cenderung mengandung pH asam, sehingga menjadikan pH air pemeliharaan menjadi asam yaitu dibawah 7 dicirikan dengan air menjadi seperti berbusa. Adanya endapan sisa pakan yang tidak termakan di dasar air dan hasil metabolisme yaitu respirasi dan feses menyebabkan penurunan pH air. Ciri benih yang mati akibat perubahan kualitas air adalah pergerakan menjadi lemah, sering menggantung dengan posisi seperti berdiri yaitu posisi kepala diatas permukaan air dan bagian tubuh berada di dalam air, sehingga sesaat terlihat seperti mati karena tidak bergerak. Namun ketika dipercikkan air, benih bergerak namun pasif. Kemudian secara perlahan benih mati. Benih yang mati akibat kualitas air berjumlah 63 550 ekor. Sehingga diperoleh SR 47 persen. Benih yang mati akibat kualitas air dapat dilihat pada Gambar 13. Sumber risiko produksi kualitas air pada lokasi penelitian memiliki kesamaan dengan Farman (2013) yaitu kematian larva atau benih yang terjadi di Saung Lele disebabkan kandungan pH air yang rendah atau dibawah 5. Selain pH yang asam, kematian juga dapat disebabkan karena perubahan suhu lebih dari 50 C secara drastis dalam waktu yang singkat. Kematian benih yang disebabkan oleh perubahan suhu dan pH asam dalam satu kolam dapat mencapai 5 hingga 40 persen.

41

Gambar 13 Benih lele mati akibat kualitas air yang buruk Sumber : Petani Lele di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung

Sumber Daya Manusia Salah satu indikasi risiko produksi pada usaha pembenihan lele yaitu adanya mortalitas rate atau tingkat kematian ikan yang akhirnya akan mempengaruhi hasil produksi benih lele. Penyebab kematian ikan umumnya disebabkan karena perubahan cuaca, penyakit dan faktor alam lainnya. Selain karena faktor alam, penyebab kematian ikan yaitu karena sumber daya manusia itu sendiri. Sumber daya manusia yang dimaksud adalah adanya kesalahan penanganan (handling) dalam pemeliharaan benih. Kesalahan penanganan yang sering terjadi dan mengakibatkan kematian ikan dalam jumlah besar yaitu karena keterlambatan mengganti air pemeliharaan dan keterlambatan memberi pakan. Air merupakan media hidup ikan yang wajib dijaga kualitasnya. Segala aktifitas ikan dilakukan dalam air, sehingga terdapat banyak kotoran pada air pemeliharaan akibat sisa pakan yang tidak habis termakan, feses ikan, jasad ikan yang mati, pengeluaran hasil respirasi ikan dan aktivitas lainnya. Hal tersebut dapat menyebkan air menjadi kotor, keruh, berbau dan berwarna. Oleh karena itu pergantian air sangat penting dilakukan untuk mempertahankan kualitas air. Bila telat mengganti air maka air yang kotor, keruh, berbau dan berwarna tersebut dapat mengganggu aktifitas ikan, mengganggu proses respirasi ikan dan dapat menimbulkan penyakit. Sehingga ikan menjadi stress, mudah terserang penyakit dan menyebabkan kematian massal. Adanya keterlambatan pemberian pakan yang dilakukan oleh petani menjadi faktor penyebab kematian ikan juga. Ikan membutuhkan asupan pakan yang cukup baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Pakan dibutuhkan ikan sebagai energi untuk pertumbuhan, metabolisme dan aktivitas. Ketika pakan yang diberikan terlambat, maka daya tahan tubuh ikan menjadi lemah karena tidak memiliki energi untuk beraktifitas, sehingga ikan menjadi mudah terserang penyakit dan menyebabkan kematian. Jumlah benih yang mati akibat kesalahan sumber daya manusia yaitu 79 500 ekor dengan persentase SR sebesar 51 persen. Sumber risiko produksi yang disebabkan oleh kelalaian sumber daya manusia memiliki kesamaan dengan Dewiaji (2011) kelalaian yang sering dilakukan oleh bagian produksi yaitu keterlambatan dalam pemberian pakan. Ikan lele merupakan ikan yang memiliki sifat kanibalisme sehingga apabila telat dalam pemberian pakan maka ikan lele akan memangsa sesamanya. Tingkat kematian benih mencapai 30 persen.

42 Polusi Suara Polusi suara yang dimaksud adalah suara yang dihasilkan oleh benda atau mesin tertentu yang menimbulkan suara kencang dan bervolume tinggi. Lele yang dipelihara oleh petani Kecamatan Pagelaran pernah mengalami kematian massal akibat polusi suara yaitu adanya suara ledakan dari petasan dan musik sound system dengan volume sangat kencang dan tinggi. Posisi polusi suara tersebut sangat berdekatan dengan lokasi pemeliharaan benih, sehingga benih menjadi kaget hingga stress dan secara serentak melompat akibat suara tersebut, kemudian banyak benih yang mati hingga seluruhnya. Pada dasarnya larva/benih merupakan stadia paling kritis, sehingga mudah terpengaruh oleh faktor diluar lingkungan media hidupnya (Effendi, 2004). Dalam kasus ini benih stress dan kaget terhadap suara apapun meskipun dengan volume rendah. Bila kaget benih akan bergerak secara serentak. Sehingga lokasi usaha pembenihan lele sebaiknya jauh dari pusat keramaian. Tingkat kematian benih akibat polusi suara tersebut dapat mencapai 100 persen. Jumlah benih yang mati akibat kesalahan sumber daya manusia yaitu 79 500 ekor dengan persentase SR sebesar 51 persen. Sumber risiko produksi berupa polusi suara belum ditemukan dari penelitian terdahulu yaitu Dewiaji (2011), Farman (2013) dan Fektoria (2013).

HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kelangsungan Hidup (Survival Rate/SR) Analisis tingkat kelangsungan hidup (survival rate/SR) penting dilakukan karena SR merupakan indikator risiko produksi pada usaha pembenihan ikan lele sangkuriang dan lele dumbo. SR yang diperoleh dapat mempengaruhi pendapatan petani. Pada dasarnya lele sangkuriang memiliki keunggulan dalam jumlah telur yang dihasilkan oleh induk (fekunditas telur) dan jumlah telur yang menetas (Hatching Rate) lebih banyak dibandingkan lele dumbo. Sehingga mampu mempengaruhi tingkat kelangsungan hidupnya. Disamping itu, pertumbuhan lele sangkuriang lebih cepat dibandingkan lele dumbo. Sehingga mempengaruhi waktu pemeliharaan, meskipun ukuran yang dihasilkan sama namun waktu pemeliharaan dapat berbeda. Ukuran benih lele sangkuriang dan benih lele dumbo yang diteliti adalah ukuran 3-5 cm. Satu siklus produksi lele sangkuriang adalah 30 hari, sedangkan lele dumbo 40 hari. SR Benih Lele Sangkuriang Input pembenihan lele berdasarkan jumlah induk betina yang digunakan untuk pemijahan. Hal tersebut dikarenakan induk betina menghasilkan telur yang akan menetas menjadi benih. Penentuan jumlah ikan awal lele sangkuriang diperoleh berdasarkan jumlah induk yang digunakan untuk memijah, sehingga diperoleh rata-rata jumlah induk betina yang dipijahkan yaitu 2 ekor (pembulatan dari 2.2) dengan berat induk betina adalah 2 kg/ekor. Petani tidak melakukan perhitungan jumlah awal benih, tetapi hanya menghitung jumlah akhir ketika panen. Penetapan jumlah awal benih yaitu saat telur menetas menjadi larva. Jumlah larva yang menetas tersebut menjadi jumlah awal benih. Oleh karena itu dalam perhitungan jumlah benih awal didasarkan pada data DKP (2005) jumlah fekunditas telur lele sangkuriang adalah 50 000 butir/kg berat badan

43 induk, asumsi jumlah telur yang dibuahi (fertilization rate/FR) adalah 90 persen dan asumsi jumlah telur yang menetas dari telur yang dibuahi (hatching rate/HR) adalah 90 persen. Perhitungan nilai SR dapat dilihat pada Lampiran 2. Nilai HR digunakan sebagai penentu jumlah ikan awal. Jumlah ikan akhir diperoleh dari output hasil panen petani. SR benih lele sangkuriang dapat dilihat pada Tabel 12. Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa SR rata-rata benih lele sangkuriang ukuran 3-5 cm dari 10 orang petani di Kecamatan Pagelaran yaitu 56 persen dengan rata-rata jumlah ikan akhir saat panen yaitu 99 450 ekor benih. Nilai SR rata-rata lele sangkuriang yang diperoleh di Kecamatan Pagelaran berbeda dengan SR normal yaitu > 90 persen (DKP, 2005). Disamping itu, SR lele sangkuriang di Kecamatan Pagelaran berbeda dengan hasil penelitian Farman (2013) dengan nilai SR 70.2 persen atau jumlah rata-rata 120 000 ekor benih. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara nilai standar dengan nilai aktual. Sehingga hal tersebut mengindikasikan adanya risiko produksi pada usaha pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran. Perbedaan nilai SR dapat dikarenakan perbedaan wilayah, sehingga dapat dipengaruhi oleh perbedaan faktor iklim, cuaca dan kualitas air. Disamping itu, dipengaruhi faktor eksternal dari sumber daya manusia sendiri dalam proses produksi yang meliputi pemberian pakan , pergantian air dan sortasi. Tabel 12 Tingkat kelangsungan hidup (SR) benih lele sangkuriang di Kecamatan Pagelaran dalam satu siklus produksi pada bulan November-Desember 2013 Jumlah

Jumlah larva awal

Jumlah benih akhir

Induk (ekor)

(ekor)

(ekor)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2 2 2 2 3 2 3 2 2 2

162 000 162 000 162 000 162 000 243 000 162 000 243 000 162 000 162 000 162 000

135 000 63 000 150 000 75 000 135 000 93 600 150 000 132 900 15 000 45 000

83 39 93 46 56 58 62 82 9 28

Rata-rata

2.2

178 200

99 450

56

Petani

SR (%)

Petani yang memiliki nilai SR dibawah rata-rata berjumlah 4 orang dengan kisaran SR 9 persen hingga 46 persen, petani yang memiliki nilai SR diatas rata-rata berjumlah 3 orang juga dengan kisaran SR 58 persen hingga 93 persen dan 1 petani memiliki nilai SR sama dengan SR rata-rata. Nilai SR tertinggi yaitu sebesar 93 persen, sedangkan nilai SR terendah yaitu sebesar 9 persen. SR rata-rata lele sangkuriang sebesar 56 persen berbeda dengan SR lele sangkuriang Farman (2013) di usaha pembenihan Saung Lele di Kecamatan Sukaraja, Bogor yaitu sebesar 70 persen. Adanya perbedaan SR lele sangkuriang tersebut dapat dipengaruhi oleh karakteristik dan kondisi wilayah yang berbeda.

44 SR tertinggi sebesar 93 persen menunjukkan bahwa jumlah benih yang hidup lebih banyak dibandingkan jumlah benih petani lainnya dan tingkat kematian benihnya pun lebih sedikit hanya 7 persen. Apabila dilihat dari pengalaman usahanya, petani tersebut telah memiliki pengalaman dalam usaha pembenihan lele sangkuriang selama 17 tahun. Lamanya pengalaman usaha yang dimiliki mempengaruhi pemahaman dan kemampuan petani dalam mengelola usaha dan meminimalisir risiko yang terjadi dalam usaha pembenihan lele. Beberapa cara yang dilakukan dalam meminimalisir risiko kematian benih yaitu dengan rutin melakukan pergantian air agar kualitas air tetap terjaga, sehingga dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat penumpukan sisa pakan dan feses. Kualitas air yang buruk tersebut dapat membuat benih stress, timbulnya penyakit hingga kematian benih. Petani yang memiliki nilai SR sebesar 9 persen menunjukkan bahwa jumlah benih yang hidup lebih sedikit dan benih yang mati paling besar dibandingkan petani lainnya. Apabila dilihat dari pengalaman usaha, petani yang memiliki nilai SR terendah memiliki pengalaman belum cukup lama. Namun bila dilihat dari pengalaman saja belum cukup. Hal tersebut dikarenakan usaha pembenihan lele sangkuriang di Kecamatan Pagelaran umumnya berlokasi diluar ruangan (outdoor) dengan wadah pemeliharaan berupa bak terpal yang berukuran 3x5 m. Oleh karena itu kelangsungan hidup benih dipengaruhi oleh kondisi alam. Disamping itu adanya penyakit, kualitas air yang buruk dan penanganan (handling) yang kurang tepat merupakan faktor penyebab kematian ikan yang mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup ikan. SR Benih Lele Dumbo Penentuan jumlah ikan awal benih lele dumbo sama dengan penentuan jumlah awal benih benih lele sangkuriang. Hal tersebut dikarenakan petani tidak melakukan perhitungan jumlah awal benih, tetapi hanya menghitung jumlah akhir ketika panen. Penetapan jumlah awal benih yaitu saat telur menetas menjadi larva. Jumlah larva yang menetas tersebut menjadi jumlah awal benih. Oleh karena itu dalam perhitungan jumlah benih awal didasarkan pada data DKP (2005) asumsi jumlah fekunditas telur yang dihasilkan, dalam 1 kg induk lele dumbo betina terdapat 30 000 butir telur/kg induk. Jumlah induk rata-rata yang pijahkan adalah 2 ekor (pembulatan dari 2.3), dengan bobot 2 kg/ekor induk. Asumsi FR dan HR adalah 90 persen, Perhitungan nilai SR dapat dilihat pada Lampiran 2. Nilai HR digunakan sebagai penentu jumlah ikan awal. Jumlah ikan akhir diperoleh dari output hasil panen petani. SR benih lele dumbo dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13 menunjukkan bahwa SR rata-rata benih lele dumbo sebesar 43 persen. Petani yang memiliki nilai SR dibawah rata-rata berjumlah 6 orang dengan kisaran SR 12 hingga 32 persen, petani yang memiliki nilai SR diatas rata-rata hanya berjumlah 3 orang dan terdapat 1 orang petani yang memiliki nilai SR sama dengan SR rata-rata. SR benih lele dumbo terendah yaitu 12 persen dan SR tertinggi sebesar 93 persen. Nilai SR rata-rata lele dumbo ini lebih rendah dibandingkan SR benih lele sangkuriang dengan ukuran output yang sama 3-5 cm yaitu mencapai 61 persen. Dapat dipahami bila SR rata-rata lele dumbo dumbo lebih rendah dibandingkan lele sangkuriang, karena lele sangkuriang memiliki keunggulan daya tahan tubuh lebih baik dibandingkan lele dumbo. Meskipun kedua jenis lele tersebut mampu mencapai SR lebih dari 90 persen (Mahyuddin, 2012).

45 Tabel 13 Tingkat kelangsungan hidup (SR) benih lele dumbo di Kecamatan Pagelaran dalam satu siklus produksi pada bulan November-Desember 2013 Petani 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rata-rata

Jumlah Induk (ekor) 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2.3

Jumlah larva awal (ekor) 97 200 97 200 97 200 97 200 97 200 97 200 97 200 145 800 145 800 145 800 111 780

Jumlah benih akhir (ekor) 90 000 21 000 27 000 12 000 60 000 37 200 31 500 26 100 30 000 82 500 41 730

SR (%) 93 22 28 12 62 38 32 18 21 57 38

SR rata-rata benih lele dumbo 38 persen menunjukkan bahwa tingkat kematian benih lebih besar dibandingkan benih yang hidup, dengan tingkat kematian sebesar 62 persen. Diduga bahwa tingkat risiko pembenihan lele dumbo cukup tinggi dibandingkan lele sangkuriang. Di samping itu, SR rata-rata benih lele dumbo di Kecamatan Pagelaran sebesar 38 persen berbeda dengan SR normal yaitu > 90 persen (DKP, 2005). Hal tersebut menunjukkan ketidaksesuaian antara nilai SR normal dengan SR aktualnya, sehingga mengindikasikan adanya risiko produksi pada usaha pembenihan lele dumbo. Adanya perbedaan nilai SR lele sangkuriang dan lele dumbo dapat dikarenakan daya tahan tubuh benih lele dumbo lebih rentan terserang penyakit dibandingkan lele sangkuriang. Sehingga benih mudah terkena penyakit dan mati. Sedangkan lele sangkuriang memiliki keunggulan tidak mudah terkena penyakit. Bila penanganan benih yang terkena penyakit baik, maka kematian dapat diminimalisir. Disamping itu, bila dilihat dari pengalaman usahanya, pengalaman petani lele dumbo masih belum cukup lama dibandingkan pengalaman petani lele sangkuriang. Penerimaan Usaha Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Penerimaan petani pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo dalam penelitian ini diperoleh dari penjualan output benih ukuran 3-5 cm selama satu siklus produksi terakhir. Satu siklus produksi lele sangkuriang adalah 30 hari, sedangkan lele dumbo selama 40 hari. Periode siklus produksi yang digunakan berkisar antara bulan November dan Desember 2013. Input yang digunakan sama pada usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo yaitu 2 ekor induk betina yang dipijahkan dengan berat 2 kg/ekor induk. Wadah pemeliharaan yang digunakan adalah bak terpal yang berukuran 3x5 m per bak. Benih lele ukuran 3-5 cm dijual tidak dalam satuan ekor tetapi dalam takaran gelas. Ukuran 3-5 cm dipilih berdasarkan hasil panen petani responden. Umumnya petani pembenihan lebih banyak yang menjual benih ukuran 3-5 cm karena lebih

46 menguntungkan. Disamping itu permintaan dari petani pembesaran lele pun sama yaitu benih lele yang berukuran 3-5 cm, dengan pertimbangan bahwa benih ukuran 3-5 cm memiliki daya tahan tubuh yang baik sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan baru yaitu dalam kolam tanah. Gelas yang digunakan petani sebagai alat takar yaitu gelas biasa yang digunakan untuk minum, pada bagian bawah gelas berbentuk seperti buah belimbing. Gelas tersebut sudah menjadi alat takar yang baku oleh seluruh petani pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran. Jumlah benih lele ukuran 3-5 cm dalam satu gelas yaitu 300 ekor. Sehingga benih dijual dengan harga per gelas bukan per ekor benih. Takaran panen yang benih yang dijual di Kecamatan Pagelaran berbeda dengan Zelvina (2009) dengan komoditas benih patin ukuran 2 cm atau berumur 21 hari dijual per ekor dengan harga Rp80; Brajamusti (2008) dengan komoditas benih bawal yang dipanen berumur 7 hari dijual per ekor dengan harga Rp7.5 dan Novandina (2013) benih nila GMT ukuran 2-3 cm dijual dengan hargaRp20/ekor. Berbeda halnya dengan Guntur (2011) lele bapukan konsumsi yang dipanen ukuran 500-700 gram dipanen dengan harga Rp8 000/kg. Harga jual lele konsumsi Guntur (2011) di daerah Losarang, Kabupaten Indramayu lebih rendah dibandingkan dengan harga jual lele konsumsi di Kecamatan Pagelaran yaitu Rp15 000/kg. Harga jual lele konsumsi dan benih lele di Kecamatan Pagelaran umumnya sama yaitu Rp15 000/kg untuk lele konsumsi dan Rp15 000/gelas untuk benih lele ukuran 3-5 cm. Penerimaan benih lele sangkuriang dan lele dumbo ukuran 3-5 cm dalam satu siklus produksi ditunjukkan pada Tabel 14. Tabel 14 Penerimaan usaha benih lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran (luas kolam 90 m2) dalam satu siklus produksi bulan NovemberDesember 2013 Lele Sangkuriang Komponen

Kondisi Risiko

Kondisi Normala

Lele Dumbo Gap

Kondisi Risiko

(%)

Kondisi Normala

Gap

(%)

Jumlah Induk (ekor)

2

2

-

-

2

2

-

-

Berat Induk (kg/ekor)

2

2

-

-

2

2

-

-

56

90

34

38

38

90

52

58

99 450

169 290

69 840

41

41 730

106 191

64 461

61

SR (%) Produksi (ekor) Takaran panen (gelas)

337

535

198

37

139

335

196

59

Harga/gelas (Rp)

15 200

15 200

-

-

15 000

15 000

-

-

Penerimaan (Rp)

5 202 500

8 577 360

3 374 860

39

2 065 400

5 309 550

3 244 150

61

52

51

1

2

49

50

1

2

Penerimaan rata-rata (Rp/ekor) a

Kondisi normal dengan SR 90 persen berdasarkan DKP (2005) sehingga komponen lain disesuaikan dengan SR 90 persen.

Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa dengan input induk yang sama namun penerimaan yang diterima petani berbeda. Penerimaan petani benih lele sangkuriang yang dipanen pada kondisi risiko lebih besar dibandingkan penerimaan petani benih lele lele dumbo. Faktor yang menyebkan perbedaan penerimaan tersebut yaitu jumlah produksi benih lele yang dipanen dan harga jual pergelasnya. Jumlah benih lele sangkuriang yang dipanen lebih besar dibandingkan benih lele dumbo yaitu sebanyak 99 450 ekor atau 337 gelas dengan harga Rp15 200/gelas sehingga penerimaan yang

47 diperoleh adalah Rp5 202 500, sedangkan benih lele dumbo yang dipanen sebanyak 139 gelas atau 41 730 ekor, dengan harga Rp15 000/gelas sehingga penerimaan yang diperoleh sebesar Rp2 065 400. Penerimaan per output lele sangkuriang lebih besar pula dibandingkan lele dumbo. Bila dikonversikan dalam harga jual per ekor benih maka diperoleh harga jual benih lele sangkuriang yaitu Rp51/ekor. Penerimaan lele sangkuriang yang diperoleh tersebut dengan nilai SR 56 persen jauh berbeda dengan penerimaan yang diperoleh bila SR berada pada kondisi normal dengan SR 90 persen yaitu Rp8 132 000. Hal tersebut masuk dalam kondisi risiko, karena terdapat ketidaksesuain antara standar dan aktualnya. Ketidaksesuaian SR tersebut menimbulkan gap (perbedaan) hasil produksi sebesar 41 persen dan penerimaan petani lele sangkuriang sebesar 39 persen dibandingkan pada kondisi normal. Begitu pula dengan penerimaan petani lele dumbo pada kondisi risiko dibandingkan dengan kondisi normal terdapat perbedaan hasil produksi dan penerimaan sebesar 61 persen. Petani lele dumbo memiliki perbedaan terbesar antara kondisi risiko dengan kondisi normal. Harga jual per gelas benih lele lele dumbo dan lele sangkuriang tidak jauh berbeda, hanya selisih Rp200. Harga jual benih lele per gelas bila dikonversikan dalam harga jual per ekor benih maka diperoleh harga benih lele sangkuriang adalah Rp51/ekor sedangkan lele dumbo Rp50/ekor jadi hanya berbeda Rp1. Pada dasarnya harga benih lele sangkuriang dan lele dumbo hampir sama. Harga benih lele per gelas dipengaruhi oleh harga lele konsumsi per kg. Sehingga dapat dikatakan bahwa harga benih lele mengikuti harga ikan konsumsi. Meskipun harga benih cenderung sama, akan tetapi penerimaan yang diperoleh petani lele sangkuriang lebih besar dibandingkan petani lele dumbo. Hal utama yang membedakan jumlah penerimaan adalah banyaknya jumlah ikan yang di panen. Semakin banyak benih yang dipanen maka penerimaan semakin meningkat. Biaya Usaha Pembenihan Ikan Lele di Kecamatan Pagelaran Biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani (Soekartawi, 2006). Analisis biaya yang dilakukan pada penelitian ini dibedakan menjadi biaya tunai dan tidak tunai (biaya diperhitungkan). Biaya tunai adalah biaya tetap dan biaya variabel yang dibayar secara tunai. Komponen biaya tunai usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo adalah sama. Hal yang membedakan adalah jumlah, harga per satuan dan total biaya. Adapun komponen biaya tunai adalah pakan induk, pakan larva yaitu cacing sutera, pakan benih yaitu pelet merk CP dan pelet merk Fengli, pembayaran listrik dan upah tenaga kerja luar keluarga. Biaya tidak tunai (diperhitungkan) adalah pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan petani yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Meskipun secara fisik petani tidak mengeluarkan biaya dalam penggunaannya, namun secara peluang ada biaya yang dikorbankan dari penggunaannya. Komponen yang termasuk dalam biaya tetap diperhitungkan adalah, penyusutan dan sewa lahan milik sendiri, sedangkan yang termasuk biaya variabel yang diperhitungkan adalah tenaga kerja dalam keluarga. Komponen biaya tunai dan biaya diperhitungkan tersebut umumnya sama dengan komponen biaya tunai pada Zelvina (2009), Brajamusti (2008) dan Novandina (2013), karena usaha yang dilakukan sama yaitu pada segmen pembenihan ikan meskipun komoditas berbeda. Akan tetapi komponen biaya tunai berbeda dengan Guntur (2011) meskipun komoditas yang diusahakan sama yaitu ikan lele namun

48 berbeda dalam segmen usahanya yaitu pembesaran ikan dengan output ikan lele ukuran konsumsi 500-700 gram. Hal yang membedakan yaitu input utama pembesara lele adalah benih lele, sedangkan input utama usaha pembenihan adalah indukan. Usaha pembenihan memiliki modal utama adalah induk. Pengadaan induk dimasukkan ke dalam biaya penyusutan. Hal ini dikarenakan induk lele memiliki nilai ekonomis sampai dengan umur 3 tahun. Setelah lebih dari 3 tahun induk mengalami penurunan produksi yaitu menurunnya kualitas dan jumlah telur yang dihasilkan, sehingga mempengaruhi jumlah benih yang dihasilkan. Biaya rata-rata usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo dalam penelitian adalah untuk satu siklus produksi terakhir. Satu siklus produksi lele sangkuriang adalah 30 hari. Periode siklus produksi yang digunakan berkisar antara bulan November dan Desember 2013. Input yang digunakan sama pada usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo yaitu 2 ekor induk betina yang dipijahkan dengan berat 2 kg/ekor induk. Wadah pemeliharaan yang digunakan adalah bak terpal yang berukuran 3x5 m/bak, luas total 90 m2. Rincian biaya rata-rata usaha pembenihan lele sangkuriang dalam satu siklus produksi dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15 Rincian biaya rata-rata usaha pembenihan lele sangkuriang di Kecamatan Pagelaran (luas kolam 90 m2 ) dalam satu siklus produksi bulan NovemberDesember 2013 Lele Sangkuriang

Jumlah SR (%) Produksi (output) ekor

Kondisi Normala

Kondisi Risiko

Komponen

Biaya (Rp)

(%)

Jumlah

Gap/perbedaan

Biaya (Rp)

Jumlah

56

90

34

99 450

169 290

69 840

Biaya (Rp)

(%)b

Biaya Tunai a. Pakan Induk (kg)

15.8

134 300

10

25.39

215 839

9.59

81 539

38

b. Cacing Sutera (kg)

51

346 800

25

82

557 357

31

210 557

38

c. Pelet CP (kg)

17

272 000

20

27.32

437 143

10.32

165 143

38

15.3

230 265

17

24.59

370 069

9.29

139 804

38

15 100

1

103 800

7

2.1

63 021

38

d. Pelet Fengli (kg) d. Listrik e. Upah TKLK (HOK)

3.46

Total Biaya Tunai Biaya tunai rata-rata (Rp/ekor)

15 100 5.56

166 821

1 102 265

1 771 497

669 232

38

11

10

1

10

70 489

38

175 070

38

835 135

38

1

8

Biaya Diperhitungkan a. TKDK (HOK)

116100

8

140348

10

c. Sewa lahan milik sendiri

32300

2

Total Biaya Diperhitungkan

288748

463 818

3

3

b. Penyusutan

Biaya Diperhitungkan rata-rata (Rp/ekor) Total Biaya (TC) Total biaya rata-rata (Rp/ekor) a

3.87

1 391 013 14

100

6.22

186 589

2.35

140 348 32 300

2 226 148 13

Kondisi normal dengan SR 90 persen berdasarkan DKP (2005) sehingga komponen lain disesuaikan dengan SR 90 persen. b Persentase perbedaan biaya antara biaya pada kondisi risiko dengan biaya pada kondisi normal

49 Perhitungan biaya berdasarkan perolehan SR benih secara aktual yaitu dengan SR 56 persen untuk lele sangkuriang dan 38 persen untuk lele dumbo. SR tersebut tidak sama dengan SR pada kondisi normal yaitu lebih dari 90 persen, dengan penetapan berdasarkan DKP (2005) SR normal yang digunakan adalah 90 persen. Oleh karena itu, SR aktual tidak sama dengan SR normal, maka SR aktual berada pada kondisi risiko. Komponen biaya dalam kondisi normal dikondisikan pada SR 90 persen, sehingga terdapat gap/perbedaan biaya antara kondisi normal dan risiko. Kondisi normal dengan SR 90 persen berpengaruh pada biaya variabel tunai dan diperhitungkan, sedangkan biaya tetap tidak terpengaruh. Siklus produksi lele dumbo adalah 40 hari. Periode siklus produksi yang digunakan berkisar antara bulan November dan Desember 2013. Rincian biaya rata-rata usaha pembenihan lele dumbo dalam satu siklus produksi dapat dilihat pada Tabel 16. Tabel 16 Rincian biaya rata-rata usaha pembenihan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran (luas kolam 90 m2) dalam satu siklus produksi bulan NovemberDesember 2013 Lele Dumbo Komponen

Jumlah SR (%) Produksi (output) ekor

Kondisi Normala

Kondisi Risiko Biaya (Rp)

(%)

Jumlah

Gap/perbedaan

Biaya (Rp)

Jumlah

38

90

52

41 730

106191

64461

Biaya (Rp)

(%)b

Biaya Tunai a. Pakan Induk (kg)

16.8

142 800

12

39.79

338 211

22.99

195 411

58

46

317 400

27

109

751 737

63

434 337

58

c. Pelet CP (kg)

12.5

199 500

17

29.61

461 546

17.11

262 046

57

d. Pelet Fengli (kg)

12.1

186 094

16

28.75

440 749

16.65

254 655

58

13 150

1

42 000

4

1.92

57 474

58

b. Cacing Sutera (kg)

d. Listrik e. Upah TKLK (HOK)

1.4

Total Biaya Tunai Biaya tunai rata-rata (Rp/ekor)

13 150 3.32

99 474

900 944

2 104 866

1 221 917

58

22

20

2

10

288 600

58

Biaya Diperhitungkan a. TKDK (HOK) b. Penyusutan c. Sewa lahan milik sendiri Total Biaya Diperhitungkan Biaya diperhitungkan ratarata (Rp/ekor) Total Biaya Total biaya rata-rata (Rp/ekor) a

7.03

210 900

18

16.65

499 500

55 152

5

55 152

27 306

2

27 306

9.62

293 358

581 958

288 600

50

7

5

2

36

2 686 824

1 492 522

56

25

4

16

1 194 302 29

100

Kondisi normal dengan SR 90 persen berdasarkan DKP (2005) sehingga komponen lain disesuaikan dengan SR 90 persen. b Persentase perbedaan biaya antara biaya pada kondisi risiko dengan biaya pada kondisi normal

50 Berdasarkan Tabel 15 dan Tabel 16 maka komponen biaya tunai dari usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo dijelaskan sebagai berikut : a. Pakan Induk Komponen biaya tunai yang pertama adalah pakan induk. Umumnya induk lele sangkuriang dan lele dumbo diberi pakan buatan yaitu pelet. Harga pakan indukan sama yaitu Rp8 500/kg. Jumlah pelet yang dihabiskan induk lele dumbo lebih banyak dibandingkan lele sangkuriang. Lele sangkuriang menghabiskan 15.8 kg pelet dalam satu siklus dengan biaya Rp134 300, sedangkan lele dumbo menghabiskan 16.8 kg dengan biaya Rp140 700. Dengan demikian pengeluaran pakan induk lele dumbo lebih besar daripada lele sangkuriang. Hal tersebut dikarenakan jumlah induk lele dumbo lebih banyak dibanding lele sangkuriang. Biaya pakan yang semakin tinggi, menjadikan petani mencari alternatif pakan untuk induk. Pakan alternatif yang biasa diberikan adalah keong mas yang diperoleh dengan mencari sendiri ke kolam. Biaya pakan induk lele sangkuriang akan berbeda saat SR berada pada kondisi normal dengan perbedaan sebesar 38 persen, sama halnya dengan pakan induk lele dumbo secara aktual pada kondisi risiko terdapat perbedaan biaya sebesar 58 persen dibandingkan biaya saat kondisi normal. Hal utama yang perlu diperhatikan bagi pelaku usaha adalah biaya tunai karena biaya ini merupakan modal operasional yang harus dimiliki oleh pelaku usaha untuk menjalankan aktivitas usahanya. Proporsi penggunaan biaya tunai ini apabila dilihat dari persentase penggunaan terhadap biaya totalnya ternyata lebih besar dari biaya diperhitungkan. Persentase penggunaan biaya tunai adalah 75 persen dari biaya totalnya, sedangkan persentase untuk penggunaan biaya diperhitungkan adalah 25 persen dari biaya totalnya. Komponen terbesar dari total biaya tunai yang dikeluarkan adalah biaya pakan pakan benih dan pakan induk. Komponen kedua dari biaya tunai adalah pakan benih. Terdapat tiga macam pakan untuk benih sesuai dengan tahapan pertumbuhan ikan. Pakan tersebut yaitu cacing sutera, pakan buatan merk CP (Charon Phokpand) dan Fengli. b. Cacing Sutera Cacing sutera merupakan pakan alami yang mulai diberikan ketika larva berumur 3 hari setelah menetas hingga larva berumur 13 hari. Pembelian cacing sutera yaitu dalam takaran gelas dengan harga Rp7 000/gelas. Cacing sutera yang dihabiskan untuk lele sangkuriang adalah 51 gelas dengan biaya Rp346 800. Lele dumbo menghabiskan 46 gelas cacing sutera dengan biaya Rp317 400. Terdapat perbedaan biaya cacing sutera saat kondisi risiko dan kondisi normal, perbedaan biaya lele sangkuriang sebesar 31 persen sedangkan lele dumbo sebesar 38 persen dibandingkan dengan kondisi normal. Jumlah dan biaya cacing gelas untuk lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo. Hal ini dikarenakan jumlah benih yang dihasilkan lele sangkuriang lebih banyak dibandingkan lele dumbo. Sehingga jumlah cacing yang dibutuhkan pun semakin banyak. Persentase biaya yang dikeluarkan untuk cacing sutera adalah yang terbesar dibandingkan biaya total yaitu sebanyak 25 hingga 27 persen dari biaya total. Penggunaan cacing sutera sebagai pakan benih dilakukan oleh Zelvina (2009) pada benih patin setelah pemberian artemia, sedangkan Brajamusti (2008) tidak memberikan cacing sutera pada larva bawal karena ukuran panen masih berumur 7 hari, jadi hanya diberikan artemia saja. Novandina (2013) tidak menggunakan artemia untuk benih nila GMT. Begitu pula pada usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran tidak memberikan pakan artemia.

51 c. Pelet CP Tahapan pakan yang diberikan berikutnya adalah pelet CP. Pelet CP merupakan pakan buatan buatan pabrik dengan merk dagang Charon Phokpand bila disingkat menjadi CP. Pakan ini berbentuk seperti tepung yang diberikan kepada benih lele setelah lepas cacing sutera. Pelet CP diberikan dengan cara dipadatkan dengan cara dicampurkan dengan air hangat lalu dipadatkan hingga berbentuk bulat. Lalu diberikan kepada benih dengan cara digantungkan di setiap sudut bak benih. Penggunaan pelet CP untuk lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo saat kondisi risiko. Hal tersebut dikarenakan jumlah benih lele sangkuriang lebih banyak dibandingkan benih lele dumbo. Terdapat perbedaan bila SR berada pada kondisi normal yaitu 90 persen, persentase perbedaan jumlah dan biaya pelet CP lele sangkuriang sebesar 38 persen sedangkan lele dumbo sebesar 57 persen dibandingkan dengan kondisi normal. Persentase biaya tunai yang dikeluarkan untuk pelet CP cukup besar yaitu 20 persen untuk benih lele dumbo dan 17 persen untuk benih lele sangkuriang dari biaya total, sehingga penggunaan pelet CP benih lele sangkuriang lebih banyak dibandingkan lele dumbo, karena jumlah benih yang lebih banyak dan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan lele dumbo. d. Pelet Fengli Pelet Fengli merupakan pakan buatan pabrik dengan merk dagang Fengli. Pakan ini sudah padat dan berbentuk seperti kapsul kecil sehingga bisa langsung diberikan kepada benih. Pelet Fengli merupakan pakan yang diberikan pada tahapan selanjutnya setelah tahap pelet CP atau ketika benih sudah mampu memakan pelet Fengli sesuai ukuran mulut benih. Pelet Fengli yang dihabiskan lele sangkuriang dalam satu siklus produksi pada kondisi risiko lebih besar dibandingakan dengan jumlah paelet yang dihabiskan lele dumbo. Disamping itu terdapat perbedaan jumah dan biaya pelet CP yang dihabiskan pada kondisi normal. Persentase perbedaan jumlah dan biaya tersebut sebesar 38 persen untuk benih lele sangkuriang dan 58 persen untuk benih lele dumbo dibandingakan dengan kondisi normal. Persentase biaya penggunaan pelet Fengli oleh lele sangkuriang dan lele dumbo adalah sama yaitu 17 persen dari biaya total. Meskipun demikian, namun jumlah pakan yang digunakan berbeda, lele dumbo menghabiskan 12.1 kg sedangkan lele sangkuriang sebanyak 15.3 kg. Perbedaan tersebut dikarenakan pertumbuhan lele sangkuriang lebih cepat dan jumlah benih lebih banyak sehingga penggunaan pelet Fengli lebih banyak hingga mencapai ukuran panen 3-5 cm. e. Listrik Komponen biaya tunai ketiga yaitu biaya listrik. Listrik termasuk dalam biaya tetap tunai karena penggunaan listrik yang dibayarkan sama setiap siklusnya. Oleh karena itu besaran biaya listrik saat kondisi risiko sama dengan saat kondisi normal. Listrik digunakan ketika ada penyurutan bak pemeliharaan maupun pengisisan air. Sehingga diperlukan listrik untuk menghidupkan pompa air. Persentase biaya listrik paling rendah dari total biaya tunai yaitu hanya 1 persen. Penggunaan biaya listrik untuk usaha pembenihan lele sangkuriang sebesar Rp15 100, sedangkan untuk usaha pembenihan lele dumbo sebesar Rp13 150. Biaya listrik lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo, karena adanya perbedaan jumlah bak yang dimiliki,

52 sehingga waktu yang diperlukan dalam penyurutan dan pengisian air berbeda dan mempengaruhi biaya listrik. f. Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) Komponen biaya tunai yang terakhir adalah tenaga kerja. Tenaga kerja yang digunakan dalam usaha pembenihan lele adalah tenaga kerja laki-laki. Tenaga kerja yang digunakan dapat berasal dari Tenaga Kerja Luar Keluarga (TKLK) dan Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) termasuk dalam biaya variabel. Perhitungan tenaga kerja dikonversikan ke dalam satuan HOK (Hari Orang Kerja). HOK yang digunakan dalam menggunakan HOK yang berlaku di lokasi penelitian yaitu Kecamatan Pagelaran. Satu HOK setara dengan lima jam kerja dalam sehari dengan rata-rata upah kerja petani Kecamatan Pagelaran yaitu Rp30 000 per HOK. Upah HOK tiap daerah berbeda. HOK di daerah Bogor yaitu pada Zelvina (2008) dan Novandina (2013) sama yaitu sebesar Rp25 000/HOK, sedangkan Brajamusti (2009) sebesar Rp30 000/HOK. Untuk daerah luar Bogor yaitu Guntur (2011) di Indramayu sebesar Rp24 000. Penggunaan tenaga kerja yang dibahas kali ini adalah tenaga kerja yang masuk ke dalam biaya variabel tunai yaitu tenaga kerja luar keluarga. TKLK usaha pembenihan lele sangkuriang sebesar 3.46 HOK dengan persentase biaya 7 persen dari total biaya tunai, sedangkan TKLK usaha pembenihan lele dumbo sebesar 1.40 HOK atau 4 persen dari total biaya tunai. Dengan demikian penggunan TKLK usaha pembenihan lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo. Hal tersebut dikarenakan dalam pemeliharaan benih lele sangkuriang umumnya menggunakan tenaga kerja luar keluarga, sedangkan petani lele dumbo lebih banyak yang menggunakan TKDK. Terdapat perbedaan ketika biaya TKDK berada pada kondisi risiko dibandingkan saat kondisi normal yaitu 38 persen benih lele sangkuriang dan 58 persen untuk benih lele dumbo. Biaya tunai lele sangkuriang pada kondisi risiko lebih besar dibandingkan lele dumbo. Persentase biaya tunai sebesar 75 hingga 79 persen dibandingkan total biaya. Biaya tunai lele sangkuriang lebih besar dari lele dumbo dikarenakan penggunaan pakan lebih banyak dibandingkan lele dumbo, karena jumlah benihnya pun lebih banyak. Pada biaya tunai rata-rata lele sangkuriang lebih kecil dibandingkan lele dumbo yaitu Rp11/ekor lele sangkuriang dan Rp22/ekor lele dumbo. Biaya tunai keduanya saat kondisi normal justru lebih kecil dibandingkan pada kondisi risiko. Berdasarkan Tabel 14 dan Tabel 15, biaya tidak tunai (diperhitungkan) terdiri dari upah tenaga kerja dalam keluarga (TKDK), penyusutan dan sewa lahan. Adapun penjabaran biaya diperhitungkan tersebut sebagai berikut : a. Upah Tenaga Kerja Dalam Keluarga (TKDK) Tenaga kerja dalam keluarga masuk dalam biaya variabel tidak tunai yang diperhitungkan. Umumnya penggunaan tenaga dalam keluarga tidak pernah diperhitungkan oleh petani, meskipun tenaga kerja yang digunakan adalah petani itu sendiri. Sehingga perlu diperhitungkan untuk mengetahui besaran biayanya. TKDK petani lele sangkuriang memiliki persentase 8 persen dari biaya total atau sebesar 3.87 HOK, sedangkan lele dumbo sebanyak 7.03 HOK. Bila dibandingkan dengan persentase, maka perbedaan antara kedua kondisi tersebut yaitu 38 persen untuk lele sangkuriang dan 58 persen untuk lele dumbo. Persentase TKDK usaha pembenihan lele dumbo sebesar 18 persen dari biaya total atau sebesar 7.03 HOK. Persentase penggunaan TKDK usaha pembenihan lele

53 dumbo paling besar dari total biaya diperhitungkan. Hal tersebut dikarenakan dalam pemeliharaan benih dilakukan sendiri oleh petani, hanya pada kegiatan tertentu saja yang tidak dapat dilakukan sendiri oleh petani maka petani menggunakan tenaga kerja luar keluarga. b. Penyusutan Biaya penyusutan termasuk ke dalam biaya tetap yang diperhitungkan, sehingga jumlah biaya penyusutan saat kondisi risiko dengan kondisi normal adalah sama. Umumnya penyusutan terdiri dari barang investasi dan peralatan. Rincian biaya penyusutan dapat dilihat pada Lampiran 1. Dalam usaha pembenihan lele, input utamanya adalah induk. Pengadaan induk masuk dalam biaya penyusutan. Pengadaan induk masuk dalam biaya penyusutan memiliki kesamaan dengan Novandina (2013). Hal tersebut dikarenakan induk memiliki umur ekonomis hingga 3 tahun. Saat usia induk mencapai lebih dari 3 tahun, maka induk mengalami penurunan produksi yaitu menurunnya kualitas dan jumlah telur yang dihasilkan. Sehingga mempengaruhi jumlah benih yang dihasilkan. Disamping itu terdapat peralatan yang masuk dalam biaya penyusutan. Persentase biaya penyusutan usaha pembenihan lele sangkuriang sebesar 10 persen dari biaya total atau senilai Rp140 348, sedangkan persentase biaya penyusutan usaha pembenihan lele dumbo adalah 5 persen atau senilai Rp55 152 dari biaya total. Perhitungan biaya tersebut pada saat kondisi risiko dengan SR dibawah kondisi normal 90 persen. c. Sewa lahan milik sendiri Sewa lahan milik sendiri masuk dalam biaya tetap yang diperhitungkan karena umumnya status kepemilikan lahan yang digunakan petani lele sangkuriang dan lele dumbo dalam menjalankan usahanya adalah milik sendiri, tidak ada lahan petani yang berstatus sewa. Sehingga meskipun secara fisik petani tidak mengeluarkan biaya untuk penggunaan lahan milik sendiri untuk usaha pembenihan lele. Akan tetapi petani perlu memperhitungkan biaya yang dikorbankan (opportunity cost) dari kegiatan penggunaan lahan tersebut untuk kegiatan usaha pembenihan lele tiap siklus produksinya. Oleh karena itu, biaya sewa lahan masuk ke dalam biaya tetap yang diperhitungkan. Penetapan komponen sewa lahan milik sendiri memiliki kesamaan dengan Novandina (2013). Lahan yang digunakan petani nila pada penelitian Novandina (2013) ada yang berstatus sewa dan milik sendiri. Lahan yang berstatus sewa dimasukkan dalam biaya tetap tunai per periode produksi karena petani membayar langsung, sedangkan lahan yang berstatus milik sendiri dimasukkan dalam biaya tetap yang diperhitungkan. Pada Zelvina (2009) dan Guntur (2011) hanya menggunakan sewa lahan saja, sedangkan Brajamusti (2008) tidak terdapat sewa lahan pada biaya diperhitungkan karena media yang digunakan adalah akuarium. Biaya sewa lahan milik sendiri yang digunakan untuk usaha pembenihan lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo. Besarnya persentase biaya sewa lahan milik sendiri usaha pembenihan lele sangkuriang dibandingkan lele dumbo dipengaruhi oleh besarnya luasan lahan yang dimiliki oleh petani pembenihan lele sangkuriang. Sehingga semakin luas lahan maka biaya untuk sewa lahan milik sendiri pun semakin besar. Biaya diperhitungkan lele sangkuriang lebih rendah dibandingkan lele dumbo saat kondisi risiko maupun kondisi normal, namun perbedaan yang ada diantara dua

54 kondisi tersebut lele dumbo lebih besar persentase perbedaanya. Untuk biaya rata-rata diperhitungkan lele sangkuriang lebih rendah dibandingkan lele dumbo baik pada kondisi risiko maupun kondisi normal yaitu Rp3/ekor lele sangkuriang dan Rp7/ekor lele dumbo. Biaya total lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo saat kondisi risiko, sedangkan saat kondisi normal biaya total lele dumbo justru lebih besar. Untuk biaya total rata-rata lele sangkuriang lebih kecil dibandingkan lele dumbo yaitu sebesar Rp14/ekor lele sangkuriang dan Rp29/ekor lele dumbo. Hal tersebut dikarenakan perbedaan jumlah benih yang dihasilkan lele sangkuriang lebih banyak daripada lele dumbo. Dengan demikian, dengan penggunaan jumlah benih lele yang lebih banyak dapat menurunkan biaya. Pengaruh SR terhadap Keuntungan Usaha Pembenihan Ikan Lele Keuntungan usaha atau pendapatan usaha merupakan selisih dari total penerimaan dan total biaya. Biaya terbagi atas biaya tunai dan tidak tunai (biaya diperhitungkan). Keuntungan usahatani dibedakan menjadi keuntungan atas biaya tunai dan biaya total. Keuntungan atas biaya tunai adalah keuntungan atas biaya yang benarbenar dikeluarkan oleh petani. Sedangkan keuntungan atas biaya total adalah keuntungan yang semua input milik keluarga juga diperhitungkan. Analisis keuntungan yang dilakukan pada penelitian ini sama dengan peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Zelvina (2008), Brajamusti (2009), Guntur (2011) dan Novandina (2013) yaitu menggunakan keuntungan atas biaya tunai dan keuntungan atas biaya total. Keuntungan atas biaya tunai diperoleh dari selisih total penerimaan dengan total biaya tunai, sedangkan keuntungan atas biaya total diperoleh dari selisih total penerimaan dengan total biaya. Hal yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu analisis keuntungan usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo diakomodasi oleh risiko produksi yang diindikasikan dengan nilai tingkat kelangsungan hidup / Survival Rate benih lele dalam satu siklus produksi. SR merupakan indikator utama output produksi benih yang dihasilkan yang berbanding lurus dengan penerimaan yang diterima, karena penerimaan yang diperoleh merupakan hasil perkalian dari jumlah akhir benih lele yang hidup dalam satu siklus produksi yang dikalikan dengan harga jual benih lele ukuran 3-5 cm dalam takaran per gelas. Oleh karena itu, semakin banyak jumlah benih yang hidup maka penerimaan yang diterima semakin besar hingga akhirnya mempengaruhi keuntungan. Input utama yang digunakan pada pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo adalah sama yaitu induk betina yang berjumlah 2 ekor dengan berat 2 kg/ekor. Sehingga jumlah induk tersebut menjadi aspek perbandingan usaha yang sama dari usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo pada bak terpal ukuran 3x5 m. SR yang diperoleh berbeda antara lele sangkuriang dan lele dumbo, sehingga mempengaruhi keuntungan. Keuntungan usaha yang diperoleh didasarkan pada SR rata-rata di lokasi penelitian yaitu 56 persen lele sangkuriang dan 38 persen SR lele dumbo. SR tersebut berbeda dengan SR pada kondisi normal berdasarkan data DKP (2005) yaitu sebesar 90 persen. Ketidaksesuaian aktual dengan SR normal maka SR aktual berada pada kondisi risiko. Komponen-komponen dalam perhitungan keuntungan usaha didasarkan

55 pada SR. Sehingga keuntungan usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo dalam satu siklus produksi dapat dilihat pada Tabel 17. Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa dengan input indukan yang sama namun SR rata-rata yang diperoleh berbeda. SR rata-rata lele sangkuriang sebesar 56 persen sedangkan lele dumbo 38 persen. Sehingga SR lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo. Nilai SR tersebut jauh berbeda dengan SR normalnya yaitu yaitu lebih dari 90 persen. Hal tersebut menunjukkan adanya risiko produksi. SR yang diperoleh berpengaruh terhadap penerimaan dan keuntungan. Sehingga penerimaan aktual yang diperoleh merupakan penerimaan saat adanya risiko produksi. Tabel 17 Keuntungan usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo di Kecamatan Pagelaran (luas kolam 90 m2) dalam satu siklus produksi bulan November-Desember 2013 Lele Sangkuriang Komponen

a

Risiko

Normal

Lele Dumbo

Gap

(%)

Normala

Risiko

Gap

(%)

Jumlah Induk (ekor)

2

2

-

2

2

-

Berat Induk (kg/ekor)

2

2

-

2

2

-

SR (%)

56

90

34

38

38

90

52

58

99 450

169 290

69 840

41

41 730

106 191

64 461

61

Penerimaan (Rp) Penerimaan rata-rata (Rp/ekor)

5 202 500

8 577 360

3 374 860

39

2 065 400

5 309 550

3 244 150

61

52

51

1

2

49

Biaya Tunai (Bt/Rp) Biaya tunai rata-rata (Rp/kg) Biaya Diperhitungkan (Bd/Rp) Biaya diperitungkan ratarata (Rp/ekor)

1 102 265

1 762 329

660 064

37

900 944

11

10

1

10

22

288 748

463 818

70 489

15

3

3

Biaya Total (TC/Rp) Biaya total rata-rata (Rp/ekor) Keuntungan atas Biaya Tunai (Rp) Keuntungan atas Biaya Total (Rp) Keuntungan rata-rata (Rp/ekor)

1 391 013

2 235 316

730 553

33

1 194 302

14

13

1

8

29

4 100 235

6 805 863

2 714 796

40

1 164 456

3 811 487

6 342 044

2 644 307

42

871 098

38

37

1

3

21

Produksi (output/ekor)

50

1

2

1 203 923

57

20

2

10

293 358

581 958

288 600

50

7

5

2

36

1 492 523

56

4

16

3 204 683

2 040 227

64

2 622 725

1 751 627

67

4

16

2 104 867

2 686 825 25

25

a

Kondisi normal dengan SR 90 persen berdasarkan DKP (2005) sehingga komponen lain disesuaikan dengan SR 90 persen.

Penerimaan lele sangkuriang saat kondisi risiko lebih besar dua kali lipat dibandingkan penerimaan lele dumbo. Begitu pula penerimaan saat kondisi normal, penerimaan lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo. Persentase gap/perbedaan yang terjadi antara kondisi risiko dengan kondisi normal lele sangkuriang sebesar 39 persen dan 61 persen lele dumbo. Untuk penerimaan rata-rata benih lele sangkuriang sebesar Rp52/ekor sedangkan lele dumbo sebesar Rp49/ekor. Rendahnya perbedaan lele sangkuriang dibandingkan lele dumbo, karena SR atau jumlah produksi benih lele sangkuriang lebih banyak dari lele dumbo. Penerimaan usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo lebih besar dibandingkan usaha pembenihan nila GMT Novandina (2013). Namun penerimaan

56 usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo lebih kecil bila dibandingkan dengan usaha pembenihan bawal Brajamusti (2008), usaha pembenihan patin Zelvina (2009) serta usaha pembesaran lele dumbo Guntur (2011). Biaya tunai yang dikeluarkan petani lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo karena dipengaruhi biaya pakan untuk pemeliharaan benih. Jumlah produksi benih lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo sehingga pakan yang diperlukan lebih banyak. Pada biaya diperhitungkan, lele sangkuriang lebih kecil dibandingkan lele dumbo. Meskipun demikian, biaya total lele sangkuriang tetap lebih besar dibandingkan lele dumbo. Tingginya biaya diperhitungkan lele dumbo dipengaruhi oleh penggunaan faktor tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) yang besar dibandingkan TKDK petani lele sangkuriang. Hal tersebut dikarenakan petani penggunaan TKDK petani lele dumbo sangat besar dibandingkan tenaga kerja luar keluarga. Meskipun secara fisik petani tidak mengeluarkan biaya penggunana tenaga kerja dalam keluarga, namun ada biaya imbangan (opportunity cost) atas penggunaan tenaga sendiri. Biaya tunai dan biaya total petani lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo, namun keuntungan atas biaya tunai lele sangkuriang tetap lebih besar dibandingkan lele dumbo, mencapai tiga kali lipat dari keuntungan atas biaya tunai lele dumbo. Keuntungan atas biaya tunai lele sangkuriang sebesar Rp4 100 235 sedangkan lele dumbo sebesar Rp1 164 456. Untuk keuntungan atas biaya total pun, lele sangkuriang lebih besar tiga kali lipat dari lele dumbo. Keuntungan atas biaya total lele sangkuriang sebesar Rp3 811 487 dan lele dumbo hanya Rp871 098. Terdapat gap/perbedaan keuntungan tunai dan keuntungan total antara kondisi risiko dengan kondisi normal. Persentase perbedaan keuntungan tunai lele sangkuriang sebesar 40 persen sedangkan lele dumbo 64 persen, sama halnya dengan persentase perbedaan keuntungan atas biaya total lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo. Keuntungan rata-rata lele sangkuriang per ekor sebesar Rp38/ekor sedangkan lele dumbo Rp21 pada kondisi risiko. Pada kondisi normal, keuntungan rata-rata lele sangkuriang tetap lebih besar dibandingkan lele dumbo. Terdapat perbedaan keuntungan antara kondisi risiko dengan kondisi normal. Persentase perbedaan lele sangkuriang sebesar 3 persen sedangkan lele dumbo 16 persen. Rendahnya persentase perbedaan lele sangkuriang dibandingakn lele dumbo karena produksi benih atau SR yang dihasilkan lebih besar dibandingkan lele dumbo, sehingga penerimaan lele sangkuriangpun lebih besar. Biaya total usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo lebih kecil dibandingkan usaha pembenihan nila GMT Novandina (2013), usaha pembenihan bawal Brajamusti (2008), usaha pembenihan patin Zelvina (2009) serta usaha pembesaran lele dumbo Guntur (2011). Meskipun biaya total usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo lebih kecil dibandingkan usaha lainnya, namun keuntungan atas biaya total lebih besar dibandingkan usaha pembenihan nila GMT Novandina (2013), karena penerimaan lebih besar dibandingkan biaya. Keuntungan atas biaya tunai dan keuntungan atas biaya total lele sangkuriang dan lele dumbo tersebut diperoleh ketika SR berada dibawah kondisi normal yaitu 56 dan 38 persen, dimana SR normal yaitu 90 persen. Sehingga terdapat perbedaan keuntungan atas biaya tunai saat ada risiko sebesar Rp2 705 628 untuk lele sangkuriang dan Rp2 022 233 untuk lele dumbo. Perbedaan keuntungan atas biaya total antara kondisi risiko dan normal yaitu sebesar Rp2 644 307 untuk lele sangkuriang dan Rp1 751 627. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gap

57 keuntungan atas biaya tunai pada kondisi risiko dan kondisi normal merupakan keuntungan yang hilang karena SR benih tidak mencapai 90 persen. Meskipun keuntungan yang diterima berada pada kondisi risiko, namun keuntungan atas biaya tunai dan biaya total lebih besar dibandingkan usaha pembenihan nila GMT Novandina (2013). Keuntungan usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo menjadi lebih kecil bila dibandingan dengan usaha pembenihan patin, bawal dan pembesaran lele bapukan karena penerimaan usaha tersebut jauh lebih besar dibandingkan biayanya. Keuntungan atas biaya tunai berada pada kondisi risiko dengan SR 56 persen dan 38 persen dikarenakan penerimaan yang tidak sesuai harapan karena jumlah benih yang dipanen tidak mencapai 90 persen. Itu artinya tingkat kematian benih cukup besar hingga mencapai 62 persen. Faktor penyebab kematian benih dapat berasal dari internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari kondisi fisik dan pertahanan tubuh benih. Bila kondisi benih lemah maka benih akan mudah terserang penyakit. Sedangkan faktor eksternal dapat berasal dari lingkungan yaitu kualitas air yang buruk, penanganan yang tidak tepat oleh sumberdaya manusia dan adanya gangguan dari luar media pemeliharaan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi kualitas air adalah oksigen, amoniak dan suhu akan mempengaruhi nafsu makan ikan. Penanganan yang tidak tepat oleh sumber daya manusia yaitu adanya keterlambatan pemberian pakan dan pergantian air. Faktor utama yang membedakan adalah dari nilai penerimaannya yang dipengaruhi oleh jumlah produksi ikan akhir yaitu SR. Sehingga meskipun biaya cukup besar namun penerimaan lebih besar dibandingkan biaya tersebut, maka pendapatan yang diterima akan tinggi. Sehingga semakin rendah SR maka pendapatan yang diterima pun rendah, begitu pula sebaliknya semakin tinggi nilai SR maka keuntungan yang diterima pun tinggi. Pada SR terendah sebesar 9 persen, petani memperoleh keuntungan atas biaya tunai hanya Rp971 000 sedangkan keuntungan atas biaya total bernilai negatif Rp120 323 (Lampiran 4). Nilai negatif menandakan bahwa petani mengalami kerugian, karena penerimaan yang diterima lebih kecil disebabkan nilai SR yang rendah, sedangkan biaya totalnya lebih besar. Sama halnya dengan keuntungan yang diterima petani lele dumbo yang memiliki nilai SR terendah sebesar 12 persen bernilai negatif. Petani lele sangkuriang yang memiliki nilai SR tertinggi sebesar 93 persen, memperoleh keuntungan atas biaya tunai sebesar Rp7 929 100 dan keuntungan atas biaya total sebesar Rp7 713 123 (Lampiran 4). Sehingga petani yang memiliki nilai SR tertinggi 93 persen memperoleh keuntungan tertinggi pula, meskipun biaya totalnya tinggi juga. Pendapatan tinggi yang diperoleh petani tersebut dikarenakan penerimaan yang diperoleh dari jumlah ikan akhir yang dijual sebanyak 150 000 ekor. Keuntungan usaha pembenihan lele sangkuriang yang tinggi diimbangi dengan biaya total yang paling tinggi dibandingkan petani lainnya. Meskipun biaya total petani tersebut paling tinggi juga diantara petani lainnya, namun jumlah penerimaan yang diperoleh jauh lebih tinggi dibandingkan biayanya, sama halnya dengan petani lele dumbo dengan nilai SR terendah 12 persen, memperoleh keuntungan total yang rendah pula yaitu mencapai nilai negatif Rp228 079. Hal tersebut dikarenakan penerimaan lebih kecil dari pengeluaran biaya total. Kecilnya penerimaan dipengaruhi oleh sedikit banyaknya jumlah ikan yang hidup atau tingkat kelangsungan hidupnya (SR). Sehingga mempengaruhi keuntungan yang diperoleh. Dengan demikian, besar kecilnya nilai SR mempengaruhi keuntungan usaha pembenihan ikan lele.

58 Sikap Petani Terhadap Risiko Produksi Dalam menjalankan usaha pembenihan lele tidak terlepas dari risiko khususnya risiko produksi. Hal tersebut dikarenakan karakteristik usaha pembenihan lele yang berlokasi diluar ruangan (outdoor). Sehingga faktor alam sangat mempengaruhi dalam proses produksinya. Faktor alam yang dimaksud berupa cuaca, hama, penyakit dan perubahan suhu. Disamping faktor alam, faktor internal yang berasal dari sumber daya manusia itu sendiri memiliki pengaruh juga yaitu dalam hal pemberian pakan yang terlambat maupun berlebihan dan keterlambatan dalam pergantian air sehingga menjadikan kualitas air buruk. Semua faktor tersebut berdampak pada kematian benih hingga akhirnya mempengaruhi jumlah benih akhir yang dipanen. Oleh karena itu petani memiliki sikap yang berbeda dalam menanggapi masalah tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diketahui sikap yang dilakukan oleh petani pembenihan lele pada keberlanjutan usahanya ketika petani mengalami penurunan produksi secara drastis yaitu benih lele mengalami kematian massal atau SR mencapai hingga 0 persen, sehingga pendapatan yang diterimapun rendah. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 20 orang petani responden yang terdiri dari 10 petani lele sangkuriang dan 10 petani lele dumbo, maka sikap yang dilakukan karena adanya penurunan produksi terbagi menjadi tiga bagian. Sikap tersebut yaitu tetap melanjutkan usaha, memilih untuk off sementara dari usahanya dan memilih untuk berganti komoditas lain. Sikap petani lele sangkuriang ditunjukkan pada Tabel 18. Tabel 18 Sikap petani pembenihan lele sangkuriang terhadap risiko produksi Sikap Tetap melanjutkan usaha Usaha off sementara Ganti komoditas Jumlah

Jumlah (orang) 9 1 10

Persentase (%) 90 10 100

Tipe Perilaku Risk Neutral Risk Averse -

Berdasarkan Tabel 18 diketahui bahwa petani lele sangkuriang yang tetap melanjutkan usaha berjumlah 9 orang dengan persentase 90 persen, memilih untuk off sementara usahanya 1 orang dengan persentase 10 persen, sedangkan tidak ada petani yang memilih untuk berganti komoditas lain. Persentase terbesar yaitu 90 persen menunjukkan bahwa hampir seluruh petani lebih memilih untuk tetap melanjutkan usaha ketika terjadi penurunan produksi atau terdapat kematian ikan dalam jumlah besar hingga SR mencapai 0 persen meskipun pendapatan yang diterima saat itu rendah, dibandingkan menghentikan sementara usahanya. Petani lele dumbo yang memilih tetap melanjutkan usaha berjumlah 7 orang atau 70 persen, petani yang memilih untuk off sementara usahanya yaitu 2 orang dengan persentase 10 persen dan petani yang memilih beralih komoditas hanya 1 orang saja. Sikap petani lele dumbo dalam menghadapi risiko produksi dapat dilihat pada Tabel 19.

59 Tabel 19 Sikap petani pembenihan lele dumbo terhadap risiko produksi Sikap Tetap melanjutkan usaha Usaha off sementara Ganti komoditas Jumlah

Jumlah (orang) 7 2 1 10

Persentase (%) 70 20 10 100

Tipe Perilaku Risk Neutral Risk Averse Risk Averse

Berdasarkan Tabel 18 dan Tabel 19, jumlah petani lele sangkuriang yang memilih untuk tetap melanjutkan usaha lebih banyak dibandingkan lele dumbo. Petani yang memilih untuk tetap melanjutkan usaha beralasan bahwa usaha pembenihan lele yang dijalaninya sudah cukup lama dan merupakan pekerjaan utamanya yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian hidupnya. Petani beranggapan bahwa wajar saja ketika produksi benih berada pada posisi terburuk karena tingginya tingkat kematian ikan, karena hal tersebut sudah menjadi risiko yang harus dihadapi petani dalam usaha pembenihan lele. Kondisi buruk tersebut tidak selalu dihadapi oleh petani setiap siklus produksi, sehingga mereka selalu memiliki harapan besar terhadap hasil panen siklus berikutnya agar hasil produksinya lebih baik. Input yang digunakan pada siklus berikutnya umumnya sama dengan siklus sebelumnya yang mengalami penurunan produksi. Input pembenihan yaitu berdasarkan jumlah induk yang dipijahkan, khususnya induk betina karena sedikit banyaknya benih berdasarkan jumlah telur yang dihasilkan induk betina. Berdasarkan pengalaman petani dalam satu tahun hanya terdapat satu atau dua siklus yang nilai SR nya rendah bahkan mencapai 0 persen dari jumlah total 12 siklus produksi. Sehingga peluang terjadinya produksi terburuk lebih kecil dibandingkan produksi terbaiknya. Oleh karena itu meskipun banyak jumlah ikan yang mati, petani tetap melanjutkan usaha yaitu dengan melakukan pemijahan untuk siklus berikutnya. Penyebab utama adanya kematian massal benih dalam usaha pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran adalah perubahan suhu secara drastis akibat perubahan cuaca, sehingga mempengaruhi suhu air. Disamping itu benih petani pernah mengalami kematian massal akibat polusi suara yaitu suara ledakan yang keras (petasan) dan suara kencang sound system musik karena posisi polusi suara tersebut berdekatan dengan bak pemeliharaan benih. Sehingga benih menjadi stress dan mati massal secara mendadak. Perilaku petani dengan sikap tersebut termasuk dalam risk neutral. Risk neutral merupakan suatu perilaku individu dalam menghadapi risiko bersikap acuh tak acuh atau tidak peduli. Adanya risiko tinggi atau rendah tidak menjadi perhatian bagi individu yang mempunyai perilaku risk neutral. Hal tersebut ditunjukkan dengan sikap yang dilakukan oleh petani yaitu meskipun banyak benih yang mati namun tidak mempengaruhi usaha petani karena petani tetap melanjutkan usaha yaitu dengan melakukan pemijahan dengan jumlah input yang sama pada siklus selanjutnya. Petani lele sangkuriang yang memilih untuk menghentikan (off) sementara usahanya berjumlah 1 orang dengan persentase 10 persen. Petani lele dumbo yang memilih untuk menghentikan sementara usahanya berjumlah 2 orang atau 20 persen. Petani lele sangkuriang dan lele dumbo yang memilih untuk menghentikan sementara usahanya beralasan agar ada masa tenggang untuk mempersiapkan produksi berikutnya. Sikap menghentikan sementara usaha yang dimaksud yaitu petani tidak langsung melakukan produksi atau pemijahan pada siklus berikutnya selama beberapa waktu yaitu kurang lebih 1 bulan, namun setelah itu petani melanjutkan usahanya.

60 Dalam masa off tersebut, petani melakukan desinfeksi bak pemeliharaan dan peralatan. Hal tersebut dikarenakan kematian massal benih diakibatkan oleh penyakit, sehingga petani lebih memilih untuk mematikan dan menghilangkan patogen penyakit yang kemungkinan besar masih berada di bak-bak pemeliharaan dan peralatan produksi. Upaya yang dilakukan yaitu dengan membersihkan bak dan peralatan produksi dengan desinfektan dan dijemur dibawah terik matahari selama beberapa minggu. Selain bertujuan untuk menghilangkan patogen penyakit, penjemuran lama tersebut bertujuan untuk menetralisir residu desinfektan yang ada di bak dan peralatan produksi setelah pembersihan. Petani lele sangkuriang dan lele dumbo yang memilih menghentikan sementara usahanya menjadikan usaha pembenihan lele sebagai usaha sampingan diluar pekerjaan utamanya. Pekerjaan utama petani tersebut yaitu sebagai petani padi dan tenaga medis intansi pemerintah. Dalam masa off petani tersebut tetap bekerja dengan pekerjaan utamanya, sehingga pembenihan lele tidak menjadi fokus utamanya, dan petani lebih memilih untuk off sementara yaitu tidak langsung melakukan pemijahan pada siklus berikutnya. Perilaku petani tersebut masuk dalam perilaku risk averse. Risk averse adalah perilaku individu dalam menghadapi risiko yang tergantung dari besaran pendapatan. Individu tersebut akan melakukan kegiatan bisnis dengan risiko tinggi selama bisnis tersebut meningkatkan pendapatan. Tetapi jika pendapatan menurun akibat risiko bisnis maka individu akan menghindari risiko. Hal tersebut ditunjukkan oleh petani yang memilih untuk menghentikan sementara usaha pembenihannya. Rendahnya pendapatan yang diperoleh petani akibat penurunan hasil produksi yaitu adanya kematian massal benih, menyebabkan petani menghentikan sementara usahanya. Upaya menghindari risiko ketika terjadi risiko produksi dilakukan pula oleh Dewiaji (2011). Farman (2011) dan Fektoria (2013), sehingga dikategorikan ke dalam perilaku risk averse. Dewiaji (2011) melakukan penyesuaian antara suhu air pada kolam dengan suhu air yang berasal dari tempat budidaya dimana benih tersebut dihasilkan. Penyesuaian air dilakukan dengan cara memasukkan air kolam sedikit demi sedikit ke dalam wadah pengangkutan benih sebelum benih ditebar. Disamping itu dapat dilakukan pemberian el baju untuk membersihkan dan menghilangkan parasit yang mungkin terbawa oleh benih dari asalnya. Dengan demikian, diharapkan tingkat mortalitas yang terjadi dapat ditekan. Untuk menghindari risiko produksi yang diakibatkan kualitas air yang buruk, Farman (2013) melakukan pengelolaan kualitas air secara berkala yaitu 3 hari sekali. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan penggantian air sebanyak 10–20 persen volume air pada setiap kolam pemeliharaan. Sumber risiko produksi kanibalisme dengan menjaga kuantitas pakan dan melakukan penjarangan padat tebar serta sortir yang dilakukan secara berkala. Menjaga kuantitas pakan bertujuan agar benih tidak dalam kondisi lapar. Sedangkan penjarangan padat tebar bertujuan agar meminimalisir stres pada benih. Padat tebar yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan ruang gerak ikan yang terbatas, persaingan pakan, oksigen yang dapat memicu sifat kanibal pada benih. Fektoria (2013) memberikan vitamin, menggunakan probiotik untuk meningkatkan kualitas air dan pemberian pakan ikan dengan jumlah yang tepat karena pakan yang tidak termakan akan menjadi bakteri bagi ikan. Petani tidak berani ambil risiko tinggi dengan langsung melakukan pemijahan untuk produksi, tetapi petani tersebut menghindari risiko kematian massal benih yang mungkin terjadi pada siklus berikutnya. Upaya yang dilakukan yaitu dengan melakukan desinfeksi bak pemeliharaan dan peralatan produksi yang dijemur dibawah

61 sinar matahari selama beberapa minggu. Upaya tersebut efektif untuk mematikan patogen penyakit yang masih berada di bak pemeliharaan dan peralatan produksi. Sehingga pada siklus berikutnya pendapatan yang diperoleh lebih baik dengan jumlah benih yang hidup lebih banyak. Disamping itu usaha pembenihan lele petani tersebut bukan merupakan usaha utamanya jadi sebagai usaha sampingan. Sehingga tidak menjadi fokus utama petani tersebut. Terdapat 1 orang petani lele dumbo dengan persentase 10 persen yang memilih untuk beralih komoditas, sedangkaan petani lele sangkuriang tidak ada yang memilih sikap tersebut. Sikap beralih komoditas dipilih karena petani tidak ingin mengalami kerugian yang lebih besar akibat banyaknya ikan mati sehingga mempengaruhi pendapatan, oleh karena itu petani lebih memilih untuk beralih komoditas lain yaitu ikan gurame. Pergantian komoditas bertujuan untuk meningkatkatkan pendapatan petani, karena ikan gurame memiliki harga jual dan permintaan tinggi. Tetapi ketika permintaan dan harga jual benih lele kembali tinggi, maka petani tersebut beralih kembali pada usaha pembenihan lele. Perilaku tersebut termasuk dalam risk averse juga, karena rendahnya pendapatan akibat kematian benih mengakibatkan petani beralih komoditas sebagai upaya menghindari risiko. Pada penelitian terdahulu, belum ada yang melakukan pergantian komoditas sebagai upaya untuk menghindari risiko produksi. Umumnya upaya menghindari risiko dilakukan secara teknis.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan SR merupakan indikator dari risiko produksi pembenihan lele. Berdasarkan hasil penelitian, jumlah ikan akhir yang hidup yaitu SR mempengaruhi penerimaan karena jumlah ikan akhir yang dipanen menentukan besaran penerimaan, hingga akhirnya mempengaruhi keuntungan usaha pembenihan lele di Kecamatan Pagelaran. Oleh karena itu, semakin rendah SR maka keuntungan yang diterima rendah, begitu pula sebaliknya semakin tinggi nilai SR maka keuntungan yang diterima tinggi. Nilai SR lele sangkuriang sebesar 56 persen lebih tinggi dibandingkan SR petani lele dumbo yaitu sebesar 38 persen. Dengan demikian, keuntungan usaha pembeniha lele sangkuriang lebih besar dibandingkan lele dumbo dengan nilai keuntungan bersih sebesar Rp3 811 487. Nilai tersebut diperoleh saat SR pada kondisi risiko. Terdapat gap (perbedaan) pendapatan yang diperoleh saat SR kondisi risiko dengan SR kondisi normal yaitu SR 90 persen. Terdapat tiga sikap yang dilakukan petani ketika menghadapi penurunan produksi secara drastis atau nilai SR hampir mendekati 0 persen akibat kematian massal yaitu tetap melanjutkan usaha dengan langsung melakukan pemijahan untuk siklus berikutnya, memilih untuk menghentikan sementara usaha dan beralih pada komoditas lain. Sikap petani yang memilih tetap melajutkan usaha termasuk dalam perilaku risk neutral karena tidak peduli terhadap besar kecilnya risiko. Hal tersebut dikarenakan usaha pembenihan lele merupakan pekerjaan utama petani tersebut. Sedangkan petani yang memilih menghentikan sementara usaha dan beralih pada komoditas lain termasuk dalam perilaku risk averse karena lebih cenderung menghindari risiko bila pendapatan atau keuntungan yang diterima rendah.

62 Saran Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai SR mempengaruhi pendapatan petani, sehingga petani yang memiliki nilai SR rendah diperlukan upaya untuk meminimalkan tingkat kematian benih agar dapat memaksimalkan jumlah ikan yang hidup, hingga akhirnya mampu meningkatkan pendapatan usahanya. Upaya yang sebaiknya dilakukan adalah memperhatikan waktu pemberian pakan dengan menambah frekuensi pemberian pakan dan melakukan pergantian air agar dengan tepat waktu yaitu ketika air sudah kotor maka harus diganti untuk menjaga kualitas air tetap optimal serta dapat meminimalisir penyakit yang ditimbulkan akibat kualitas air yang buruk. Lokasi usaha pembenihan lele sebaiknya berada jauh dari keramaian agar ikan tidak mengalami stress. Disamping itu, dinas terkait perlu melakukan pengadaan induk lele sangkuriang secara berkala dan merata, agar seluruh petani lele sangkuriang tidak kesulitan mendapatkan induk lele sangkuriang.

DAFTAR PUSTAKA Brajamusti, T Woyly. 2008. Analisis Pendapatan Usaha Pembenihan Larva Ikan Bawal Air Tawar (Studi Kasus pada Ben’s Fish Farm, Desa Cigola, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Daniel, M. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : PT BUmi Aksara. Darmawi, H. 2010. Manajemen Risiko. Jakarta : Bumi Aksara. Debertin. D. L. 1986. Agricultural Production Economics. Macmillan Publishing Company. New York. [DKP] Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung. 2005. Keunggulan Lele Sangkuriang. Lampung : Dinas Kelautan dan Perikanan. Dewiaji, T. 2011. Analisis Risiko Produksi Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) di CV Jumbo Bintang Lestari Gunung Sindur Kabupaten Bogor.[Skripsi].Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. [Disnakan] Dinas Peternakan dan Perikanan. 2013. Produksi Ikan Konsumsi di Kabupaten Pringsewu. Pringsewu : Disnakan. Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Jakarta : Penebar Swadaya. Elton E. J, M. J. Gruber. 1995. Modern Portfolio Theory and Investment Analysis. 6th edition. New York : John Wiley & Sons Inc. Farman, A. 2013. Analisis Risiko Produksi Pembenihan Ikan Lele Sangkuriang Pada Saung Lele Di Kampung Jumbo Sukaraja Kabupaten Bogor [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Fektoria, H. 2013. Analisis Risiko Produksi Pembenihan Ikan Lele Sangkuriang Pada UPR Bina Tular Desa Gadog, Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Guntur, B. 2011. Analisis Usahatani Ikan Lele Bapukan (Clarias gariepinus) di Kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

63 Harwood J. R. Heinefer, K. Coble, T. Perry, dan A. Somwaru. 1999. Managing Risk in Farming : Concepts, Research and Analysis, Agricultural Economics Report No.774. US Departemen of Agricultur. [KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2011. Produksi Benih Perikanan Budidaya Di Pulau Sumatera. Jakarta : Kementrian Kelautan dan Perikanan. [KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2012. Perkembangan Produksi Perikanan Budidaya. Jakarta : Kementrian Kelautan dan Perikanan. [KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2012. Daerah Penghasil Perikanan Budidaya di Indonesia. Jakarta : Kementrian Kelautan dan Perikanan. Mahyuddin, K. 2012. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Jakarta : Penebar Swadaya. Moschini G and Hennesy DA. 1999. Uncertainty, Risk Aversion and Risk Manajemen for Agricultural Producers. Nazir, M. 2005. Metode Penelitian. Cetakan Keenam. Bogor: Ghalia Indonesia. Novandina, D. 2013. Analisis Pendapatan Usaha Pembenihan dan Pendederan Ikan Nila GMT. . [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Putong, I. 2010. Economics Pengantar Mikro dan Makro Edisi Keempat. Jakarta : Mitra Wacana Media. Rahardja P, Mandala M. 2006. Teori Ekonomi Mikro Suatu Pengantar Edisi Ketiga. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Rahim A, Hastuti D.R.D. 2008. Pengantar, Teori dan Kasus Ekonomika Pertanian. Depok : Penebar Swadaya. Robinson L. J and P. J Barry. 1987. The Competitive Firm’s Response To Risk. London : Macmillan Publisher. Salvatore, D. 2006. Scahaum’s Outlines: Mikroekonomi Edisi Keempat. Jakarta : Erlangga. Soekartawi. 2006. Analisis Usahatani. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Soekartawi, Soeharjo, A., Dillon, J. L., & Hardaker, J. B. 1984. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil. Jakarta: UI Press. Suratiyah. 2011. Ilmu Usahatani. Depok : Penebar Swadaya. Susanto, H. 2011. Budidaya Ikan di Pekarangan. Jakarta : Penebar Swadaya. Zelvina, O. 2009. Analisis Pendapatan Usaha Pembenihan dan Pemasaran Benih Ikan Patin di Desa Tegal Waru Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor : Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

64 Lampiran 1 Rincian biaya penyusutan rata-rata usaha pembenihan Lele Sangkuriang dan Lele dumbo Uraian

Harga

Jumlah

Total

Umur

(Rp)

(buah)

(Rp)

Ekonomis

Lele Sangkuriang Induk 100 000 Terpal 165 000 Bambu 5 000 Pompa 273 000 Serokan 10 000 Saringan Sortir 50 000 Baskom 25 000 Kakaban 10 000 Selang 7 000 Waring 150 000 Gayung 5 000 Gelas 2 000

49.4 7 34 1 2 4 2 14 22 1 1 2

Total

4 940 000 1 122 000 170 000 273 000 20 000 200 000 50 000 140 000 156 800 150 000 5 000 4 000

5 2 5 20 5 10 10 7 10 7 7 5

7 230 800

Penyusutan per tahun

per siklus

988 000 561 000 34 000 13 150 4 400 20 000 5 000 20 000 15 680 21 429 714 800

82 333 46 750 2 833 1 096 367 1 667 417 1 667 1 307 1 786 60 67

1 684 173

140 350

157 500 231 000 22 000 8 750 4 000 12 000 6 250 21 286 10 640 21 429 714 800

17 500 25 667 2 444 972 444 1 333 694 2 365 1 182 2 381 79 89

496 369

55 150

Lele dumbo Induk Terpal Bambu Pompa Serokan Saringan Sortir Baskom Kakaban Selang Waring Gayung Gelas Total

15 000 105 000 5 000 250 000 10 000 50 000 25 000 10 000 7 000 150 000 5 000 2 000

53 4 22 1 2 3 3 15 15 1 1 2

787 500 462 000 110 000 250 000 20 000 150 000 62 500 149 000 106 400 150 000 5 000 4 000 2 256 400

5 2 5 30 5 10 10 7 10 7 7 5

65 Lampiran 2 Perhitungan nilai Survival Rate (SR) benih lele sangkuriang dan lele dumbo (Luas Kolam 90m2) dalam Satu Siklus Produksi di Kecamatan Pagelaran

Petani

induk Mijah (pasang)

Berat Induk per ekor (kg)

Fekunditas Telur (butir/kg)

Jumlah Telur (butir)

Fertilization Rate (butir)

HR (ekor) Jumlah Awal

Jumlah Ikan Akhir (ekor)

SR (%)

Lele Sangkuriang 1

2

2

50 000

200 000

180 000

162 000

135 000

83

2

2

2

50 000

200 000

180 000

162 000

63 000

39

3

2

2

50 000

200 000

180 000

162 000

150 000

93

4

2

2

50 000

200 000

180 000

162 000

75 000

46

5

3

2

50 000

300 000

270 000

243 000

135 000

56

6

2

2

50 000

200 000

180 000

162 000

93 600

58

7

3

2

50 000

300 000

270 000

243 000

150 000

62

8

2

2

50 000

200 000

180 000

162 000

132 900

82

9

2

2

50 000

200 000

180 000

162 000

15 000

9

10

2

2

50 000

200 000

180 000

162 000

45 000

28

99 450

56

Rata-rata

2.2

Lele Dumbo 1

2

2

30 000

120 000

108 000

97 200

90 000

93

2

2

2

30 000

120 000

108 000

97 200

21 000

22

3

2

2

30 000

120 000

108 000

97 200

27 000

28

4

2

2

30 000

120 000

108 000

97 200

12 000

12

5

2

2

30 000

120 000

108 000

97 200

60 000

62

6

2

2

30 000

120 000

108 000

97 200

37 200

38

7

2

2

30 000

120 000

108 000

97 200

31 500

32

8

3

2

30 000

180 000

162 000

145 800

26 100

18

9

3

2

30 000

180 000

162 000

145 800

30 000

21

10

3

2

30 000

180 000

162 000

145 800

82 500

57

41 730

38

Rata-rata

2.3

66 Lampiran 3 Penerimaan usaha pembenihan lele sangkuriang dan lele dumbo (Luas Kolam 90m2) dalam Satu Siklus Produksi di Kecamatan Pagelaran Petani

SR (%)

Lele Sangkuriang 83 1 39 2 93 3 46 4 56 5 58 6 62 7 82 8 9 9 28 10 Rata-rata 56 Lele Dumbo 93 1 22 2 28 3 12 4 62 5 38 6 32 7 18 8 21 9 57 10 38 Rata-rata

Takaran Panen Jumlah Panen (gelas) (ekor)

Harga/gelas (Rp)

Penerimaan (Rp)

450 210 500 250 450 312 500 443 50 200 337

135 000 63 000 150 000 75 000 135 000 93 600 150 000 132 900 15 000 45 000 99 450

15 000 15 000 18 000 14 000 15 000 15 000 16 000 15 000 15 000 14 000 15 200

6 750 000 3 150 000 9 000 000 3 500 000 6 750 000 4 680 000 8 000 000 6 645 000 750 000 2 800 000 5 202 500

300 70 90 40 200 124 105 87 100 275 139

90 000 21 000 27 000 12 000 60 000 37 200 31 500 26 100 30 000 82 500 41 730

15 000 16 000 16 000 16 000 15 000 17 000 13 000 13 000 15 000 14 000 15 000

4 500 000 1 120 000 1 440 000 640 000 3 000 000 2 108 000 1 365 000 1 131 000 1 500 000 3 850 000 2 065 400

67 Lampiran 4 Keuntungan Usaha Pembenihan Lele Sangkuriang dan Lele Dumbo (Luas Kolam 90m2) dalam Satu Siklus Produksi di Kecamatan Pagelaran SR (%)

Produksi

Penerimaan

(ekor)

(Rp)

Biaya (Rp)

Pendapatan (Rp)

Petani Tunai

Total

Tunai

Total

1

83

135 000

6 750 000

1 213 900

1 417 923

5 536 100

5 332 077

2

39

63 000

3 150 000

558 000

852 586

2 592 000

2 297 414

3

93

150 000

9 000 000

1 070 900

1 286 877

7 929 100

7 713 123

4

46

75 000

3 500 000

956 000

1 089 311

2 544 000

2 410 689

5

56

135 000

6 750 000

1 145 900

1 500 830

5 604 100

5 249 170

6

58

93 600

4 680 000

1 109 000

1 428 551

3 571 000

3 251 449

7

62

150 000

8 000 000

1 359 000

1 798 194

6 641 000

6 201 806

8

82

132 900

6 645 000

493 000

959 127

6 152 000

5 685 873

9

9

15 000

750 000

553 000

870 323

197 000

-120 323

10

28

45 000

2 800 000

1 021 900

1 162 856

1 778 100

1 637 144

Rata-rata

56

99 450

5 202 500

948 060

1 236 658

4 254 440

3 965 842

1

93

90 000

4 500 000

896 000

1 181 923

3 604 000

3 318 077

2

22

21 000

1 120 000

738 500

1 025 040

381 500

94 960

3

28

27 000

1 440 000

629 000

914 746

811 000

525 254

4

12

12 000

640 000

589 000

868 079

51 000

-228 079

5

62

60 000

3 000 000

804 000

1 131 585

2 196 000

1 868 415

6

38

37 200

2 108 000

760 000

1 064 637

1 348 000

1 043 363

7

32

31 500

1 365 000

1 205 900

1 379 796

159 100

-14 796

8

18

26 100

1 131 000

885 000

1 224 371

246 000

-93 371

9

21

30 000

1 500 000

822 000

1 176 989

678 000

323 011

10

57

82 500

3 850 000

1 089 000

1 383 915

2 761000

2 466 085

Rata- rata

38

41 730

2 065 400

841 840

1 135 108

1 223 560

930 292

68

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 13 September 1989. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan bapak Haerul Fallah dan ibu Didoh Suaedah. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun 2005 di SMAN 1 Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Pada tahun 2007 penulis melanjutkan pendidikan Diploma III pada Program Keahlian Teknologi Produksi dan Menajemen Perikanan Budidaya, Direktorat Program Diploma, Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2010 penulis melaksanakan Praktik Lapang di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung dengan judul Pembenihan Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) di BBPBL Lampung serta Pembesaran Udang Windu dan Ikan Bandeng secara Polikultur dengan Pola Tradisional di Windu Ayu Group Lampung Timur. Pada tahun 2011 penulis diterima pada program sarjana penyelenggaraan khusus, Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Pengalaman organisasi penulis yaitu pada tahun 2008 aktif pada organisasi himpunan Mahasiswa Peternakan, Benih dan Perikanan sebagai sekretaris. Pada tahun 2011 hingga 2013 penulis bekerja di PT. AJ Manulife Indonesia.