Pengembangan Media Pembelajaran dan Bahan Ajar dengan

PowerPoint. 1. Oleh: 2 M. Nur Rockhman, M.Pd . Aman, M.Pd . Grendi Hendrastomo, MM . Abstract . PPM’s activity such as Power Point training as an alte...

0 downloads 93 Views 114KB Size
Pengembangan Media Pembelajaran dan Bahan Ajar dengan Microsoft PowerPoint 1 Oleh: 2 M. Nur Rockhman, M.Pd Aman, M.Pd Grendi Hendrastomo, MM Abstract PPM’s activity such as Power Point training as an alternative of teaching media and teaching material development for teachers of Social Science in Jr. School in District Bantul is being applied as part of college’s responsibility to actively involve in the development of education of human resources. PPM’s goal to improve the quality of Social Science Teaching for Social Science teachers of Jr. School in District Bantul, share more knowledge and skills in regard of usage of Power point in order to stimulate creativity of Social Science teachers to make and search their own object which will be use as media in the society. The methods being used in this training is speech, questionnaire, demonstration, training and tutorial, practice and evaluation. The supporting factors of this activity are a good cooperation and coordination, active participation, school’s support and participant’s enthusiasm. Beside the above supporting factors, differences of each participant’s basic knowledge, ability in using computer and activities are the obstacle factors in this activity. This activity shows a positive result. All participants gain more knowledge; creativity in developing teaching material grows and what most important is that participants now knows that there is an alternative teaching media which is simple, easy, attractive and dynamic. It is hoped that after the activity is over, participants know more and will enrich their knowledge and ability in developing and creating interesting teaching media. Keyword: Teaching Media, Power Point, Tutorial A. Pendahuluan Pembelajaran Ilmu Sosial, pada umumnya dirasa membosankan dan disepelekan oleh sebagian besar siswa. Ada anggapan bahwa Ilmu Sosial mudah dipelajari dan tidak menarik karena hanya berisi teori-teori. Kebanyakan guruguru yang mengajar ilmu sosial masih monoton dalam menyampaikan materi 1

Dibiayai oleh Dana DIPA Universitas Negeri Yogyakarta Kegiatan 5584/RM 19 MAK 521114 Tahun Anggaran 2007 sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Nomor: 125 a/H.34.22/PM/2007, tanggal 15 Mei 2007 Universitas Negeri Yogyakarta, Departemen Pendidikan Nasional 2 Dosen Jurusan Pendidikan Sejarah, FISE, UNY

1

sehingga tidak mampu menyampaikan materi dengan dinamis dan atraktif. Ada kecenderungan mengajar ilmu social relative mudah, karena bersingungan langsung dengan kehidupan sehari-hari, sehingga dalam prosesnya ada kesan menyepelekan terutama dari para siswa. Kondisi ini ditambah dengan kurangnya contoh-contoh dan penyampaian materi yang dianggap kurang menarik. Padahal sebenarnya untuk mempelajari ilmu sosial diperlukan pemahaman yang lebih mendalam. Akibat ketidakmenariknya penyampaian materi ilmu social, nilai siswa menjadi tidak terlalu bagus. Karena terkesan mudah dan sepele maka ilmu social dikesampingkan sehingga nilai siswa cenderung standar. Kondisi ini semakin diperparah dengan metode pengajaran yang masih mengandalkan ceramah, oneway communication, tidak tersedianya media dan ketidakmampuan membuat media, yang menyebabkan siswa menjadi cepat bosan dan tidak paham akan apa yang diajarkan. Apabila hal ini terjadi maka yang akan terjadi adalah pelajaran menjadi membosankan, siswa mengantuk, kurang perhatian dan materi yang disampaikan guru tidak sampai pada tujuannya. Untuk mengatasi hal tersebut dan sekaligus untuk memodernisasi serta memperbaharui

kegiatan

belajar

mengajar

guru harus

dapat berkreasi

menggunakan dan membuat sendiri alat/media pelajaran yang atraktif, dapat menarik perhatian siswa dan menjadikan proses pembelajaran menjadi lebih hidup. Ada banyak jenis media yang dapat dipilih dan dibuat sendiri oleh guru, dari media yang sederhana sampai media yang menggunakan perangkat elektronik. Pilihan media yang tepat tentunya akan membawa dampak yang positif dan dapat menghidupkan kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung. Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi, tentunya perkembangan media pun juga semakin pesat. Kemudahan akses internet, browsing data, gambar, film, audio video menjadi sesuatu hal yang mudah. Pengembangan pembelajaran berbasis ICT menjadi sebuah keharusan. PowerPoint merupakan sarana presentasi (media pembelajaran) yang paling mudah yang berbasis ICT. Dari sekian banyak media pembelajaran media PowerPoint dapat dipergunakan dan dibuat sendiri

2

oleh guru untuk menjadikan kegiatan belajar mengajarnya menjadi lebih menarik dan hidup. Media PowerPoint ini dapat dibuat dengan sederhana dan tidak terlalu sulit.

Media

ini

justru

dapat

diproduksi

sendiri oleh guru-guru di

sekolah dengan biaya yang relatif terjangkau. Dalam pengoperasiannya nantinya media ini dapat digabungkan dengan file musik, gambar dan dapat dengan mudah dipresentasikan melalui layar dan LCD Projector. Media PowerPoint adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh kebanyakan pemakai komputer. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. Dengan ikon yang dikenal dan pengoperasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hambatan pengetahuan teknis dan teori. Pengajar atau guru bidang studi dapat membuat sebuah program pembelajaran tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. Dengan mengunakan media PowerPoint sebagai media pembelajaran, maka diharapkan metode pembelajaran yang digunakan akan semakin variatif dan menarik. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet. Beberapa kelebihan dari media PowerPoint, antara lain: (1) mudah menggunakannya, (2) mudah dan dapat diproduksi oleh guru sendiri, (3) dapat digunakan secara individu, (4) dapat diulang-ulang sehingga lebih efisien, (5) biaya tidak mahal, (6) memiliki daya tarik, (7) fleksibel penggunaannya, (8) dapat dipergunakan berkali-kali untuk kelas yang sama maupun yang berbeda. Perkembangan media PowerPoint di lingkungan pendidikan kita masih sangat sedikit. Hal ini lebih disebabkan ketidakmauan dan ketidakmampuan guru untuk membuat media ini dan lebih suka mengunakan metode ceramah yang

3

simpel dan sangat sederhana. Padahal media PowerPoint ini sangat mudah dan tidak memerlukan biaya mahal serta tidak memerlukan persiapan yang terlalu rumit untuk dibuat.

B. PowerPoint dan Media Pembelajaran 1. Proses Pembelajaran Pembelajaran merupakan sebuah seni transfer pengetahuan dari orang yang lebih tahu kepada orang yang kurang tahu atau belum tahu. Proses pembelajaran menarik untuk dicermati karena tidak semudah yang kita bayangkan, pembelajaran memiliki sisi unik dan menantang untuk dicermati. Kita sering memandang remeh, memandang mudah proses pembelajaran, yang penting bisa bicara. Proses pembelajaran tidak hanya asal bicara, karena diperlukan suatu skill untuk mengolah proses pembelajaran sehingga menjadi menarik dan meningkatkan minat orang untuk memperhatikan. Proses pembelajaran yang banyak digunakan dan diketahui oleh masyarakat luas adalah proses pembelajaran dalam bidang pendidikan. Dalam dunia pendidikan proses pembelajaran sudah sangat familier, semua bentuk pendidikan secara langsung maupun tidak langsung selalu mengunakan proses pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan hakikat pendidikan sendiri yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu caranya adalah dengan pembelajaran. Proses pembelajaran yang banyak digunakan di Indonesia kebanyakan masih dengan metode ceramah. Hal ini terjadi karena masih ada stigma atau persepsi di masyarakat bahwa pembelajaran merupakan transfer knowledge bukan merupakan pembelajaran secara menyeluruh dimana siswa diajak juga kreatif untuk mengemukakan gagasan dan menemukan solusi suatu masalah. Proses pembelajaran yang hanya berfokus pada transfer knowledge akan mematikan kreatifitas anak. Anak tidak dijadikan sebagai bagian dari proses pembelajaran tetapi menjadi objek dari pembelajaran. Dengan metode ceramah anak menjadi malas membaca, jenuh dan akhirnya akan mematikan pola pikir anak.

4

2. Media Pembelajaran Solusi dari proses pembelajaran yang hanya berorientasi pada ceramah adalah dengan mengunakan metode presentasi yang mengunakan media audio visual. Media audio visual digunakan karena dengan media ini proses pembelajaran tidak lagi mendengarkan, tetap melihat dan merasakan. Menurut konsep Einstein (Wenger, 2004) penglihatan (visual) berisi lebih banyak informasi daripada indera kita yang lain. Kita juga memproses banyak informasi melalui pendengaran. Dari berbagai penelitian terbukti bahwa 80% dari area otak kita terlibat dalam respon visual, lebih banyak dari indera lainnya. Dari argumentasi tersebut yang mendasari mengapa media audio visual lebih atraktif untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Alat pengajaran sebagai media komunikasi dalam kegiatan belajar mengajar dapat dikelompokkan dalam tiga golongan. Pertama, alat yang merupakan benda sebenarnya yang dapat memberikan pengalaman langsung dan nyata, kedua, alat yang merupakan benda pengganti (tiruan), dan ketiga adalah bahasa baik lisan atau tulisan (Sardiman, 1994). Media belajar

memegang

peranan

yang

penting

dalam

rangka

menciptakan suasana belajar. Karena melalui media motivasi belajar akan meningkat. Media belajar memberi rangsangan kepada peserta didik untuk mempelajari hal hal yang baru, mengaktifkan respon belajar karena dapat memberikan umpan balik hasil belajar dengan segera. Melalui media belajar dapat digalakkan latihan-latihan yang tepat. Media belajar akan menimbulkan kegemaran belajar kepada peserta didik. Media belajar memang memiliki peran yang penting dalam proses belajar mengajar. Dengan media belajar dapat menghemat waktu belajar, memudahkan pemahaman, meningkatkan perhatian siswa, meningkatkan aktivitas siswa, dan mempertinggi daya ingat siswa (Sardiman, 1994). Media belajar sangat membantu dan menarik dalam proses belajar mengajar, karena media dapat dipergunakan untuk memperbesar yang kecil dan mengecilkan

yang

besar,

menyederhanakan yang

kompleks,

mempercepat proses atau memperlambat proses dan sebagainya (Gafur, 1998).

5

Lebih jauh lagi media belajar membuat pendidikan berdaya kemamampuan tinggi, produktif, serempak, merata, aktual dan menarik (Gafur, 1998). Wilbur Schramm, sebagaimana

dikutip

Gafur

(1998),

menjelaskan

bahwa,

idealnya

proses komunikasi atau proses pendidikan itu melalui pengalaman langsung. Jika pengalaman langsung tidak dapat dilaksanakan baru kemudian dimediakan, beturut-turut mulai dari tiruan pengalaman (kongkret) sampai penggunaan media berupa lambang digital (abstrak). Malcom Fleeming (1988) menyebutkan bahwa dalam rangka penyampaian pesan pendidikan atau pesan instruksional media sangat efektif untuk mengendalikan perhatian. Dalam proses belajar mengajar perhatian memegang peranan penting. Padahal perhatian mempunyai sifat sukar terkonsentrasi dalam waktu yang lama. Dengan menggunakan media maka perhatian peserta didik dapat dikendalikan. Esta, dalam Gafur (1998) menjelaskan bahwa media yang efektif untuk belajar mengajar adalah media yang bersifat interaktif. Peserta didik diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif memberikan respon disaat menggunakan media. Menurut Percival dan Ellington, dalam Budiningsih perhatian yang penuh dalam belajar dengan metode ceramah rentang perhatian makin lama makin menurun drastis. Sementara Bristish Audio Visual Association menyatakan bahwa 75 % pengetahuan diperoleh melalui indera penglihatan, 13 % melalui indera pendengaran, 6 % indera sentuh dan rabaan, 6 % indera penciuman dan lidah (Budiningsih, 1995). Sardiman, sebagaimana dikutip Budningsih (1995), menyebutkan bahwa jika proses belajar mengajar hanya mengunakan metode membaca saja, maka pengetahuan yang mengendap hanya 10 % saja, mendengar saja 20 %, melihat saja 30 %, melihat dan mendengar bisa mencapai 50 %, mengungkapkan sendiri dapat mencapai 80 % dan mengungkap sendiri kemudian mengungkapkan pada kesempatan lain, dapat mencapai 90 %.Dengan demikian pengunaan media audio visual menjadi penting dalam proses pembelajaran.

6

3. Microsoft PowerPoint Microsoft Powerpoint adalah program aplikasi presentasi yang merupakan salah satu program aplikasi di bawah Microsoft Office. Keuntungan terbesar dari program ini adalah tidak perlunya pembelian piranti lunak karena sudah berada di dalam Microsoft Office. Jadi pada waktu penginstalan program Microsoft Office dengan sendirinya program ini akan terinstal. Hal ini akan mengurangi beban hambatan pengembangan pembelajaran dengan komputer. Keuntungan lain dari program ini adalah sederhananya tampilan ikon-ikon. Ikon-ikon pembuatan presentasi kurang lebih sama dengan ikon-ikon Microsoft Word yang sudah dikenal oleh kebanyakan pemakai komputer. Pemakai tidak harus mempelajari bahasa pemrograman. Dengan ikon yang dikenal dan pengoprasian tanpa bahasa program maka hambatan lain dari pembelajaran dengan komputer dapat dikurangi yaitu hanbatan pengetahuan teknis dan teori. Pengajar atau guru bidang studi dapat membuat sebuah program pembelajaran sosiologi tanpa harus belajar bahasa komputer terlebih dahulu. Dengan mengunakan media PowerPoint sebagai media pembelajaran, maka diharapkan metode pembelajaran yang digunakan akan semakin variatif dan menarik. Keuntungan lainnya adalah bahwa program ini bisa disambungkan ke jaringan internet.

C. Tujuan Kegiatan PPM Tujuan dari kegiatan ini adalah: 1. Meningkatkan kualitas pembelajaran ilmu sosial pada guru rumpun ilmu sosial SMP di Kabupaten Bantul 2. Memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam pembuatan dan pengembangan media PowerPoint 3. Membangkitkan kreativitas guru ilmu sosial untuk membuat media sendiri dan mencari obyek yang akan dimediakan dalam masyarakat.

7

D. Manfaat Kegiatan PPM Setelah kegiatan ini dilaksanakan, ada peningkatan kualitas pembelajaran ilmu sosial di SMP dan guru-guru ilmu sosial memiliki kemampuan untuk membuat media pembelajaran yang aktraktif dan mampu mencari obyek yang dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan media. Dengan adanya program ini juga diharapkan hilangnya stigma bahwa penggunaan dan pembuatan media pembelajaran terutama dengan PowerPoint sulit untuk dilakukan. Model pembelajaran dengan menggunakan PowerPoint ini selain bisa digunakan sebagai media ajar juga bisa digunakan untuk hal-hal lain yang mendukung profesi guru.

E. Metode Pelaksanaan PPM Metode kegiatan untuk pelaksanaan pengabdian pada masyarakat ini adalah: 1. Ceramah dan tanya jawab Ceramah dilakukan sebagai salah satu bentuk pengenalan tentang kegiatan yang akan dilakukan pada umumnya, bagaimana kegiatan ini nanti berjalan, dan hal apa yang bisa peserta dapatkan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Kegiatan dilakukan dipadu dengan tanya jawab sebagai salah satu alternatif mendekatkan diri antara pengabdi dengan peserta, sekaligus agar peserta semakin paham tentang apa yang nantinya akan diajarkan. 2. Demontrasi Kegiatan

demontrasi

bertujuan

untuk

memperlihatkan

dan

memperkenalkan media PowerPoint yang bisa digunakan untuk proses pembelajaran ilmu sosial, bagaimana membuatnya yang nantinya juga akan dipraktekkan dan merupakan inti dari kegiatan ini 3. Pelatihan dan Tutorial Kegiatan ini lebih pada bagaimana macam, jenis dan bentuk media PowerPoint, bagaimana cara menggunakannya, cara pengaplikasiannya pada media pembelajaran dan cara membuatnya

8

4. Praktek Kegiatan praktek merupakan kegiatan menuangkan hasil tutorial dalam bentuk nyata, yaitu peserta dihadapkan pada praktek langsung, peserta juga diajarkan bagaimana memulai aplikasi PowerPoint, upload gambar dan video, memadukan dengan materi dan mengolahnya sehingga menjadi media pembelajaran. Berdasarkan metode kegiatan yang dipilih dalam pengabdian pada masyarakat ini, maka dalam prakteknya di lapangan langkah-langkah kegiatannya adalah sebagai berikut: 1. Ceramah tentang pentingnya media dalam proses pembelajaran Ceramah ini membicarakan tentang pentingnya media dalam proses pembelajaran, macam-macam media yang digunakan, dan keunggulan dan kelemahan media-media tersebut. Ceramah pada awal program ini dimaksudkan untuk memberi bekal pengetahuan dasar tentang apa itu powerpoint sekaligus digunakan untuk membandingkan dengan media yang biasanya digunakan seperti transparansi, catatan, dsb. Dalam kegiatan ini selanjutnya diikuti dengan tanya jawab dan diskusi untuk mengetahui sejauh mana pemahaman peserta mengenai pentingnya media sekaligus digunakan untuk meraba ekspektasi/harapan peserta terhadap jalannya program ini nantinya 2. Ceramah tentang pembuatan media PowerPoint Langkah kedua yang digunakan masih dengan metode ceramah yang mana pada langkah yang kedua ini sudah mulai masuk pada tahap awal pengenalan media PowerPoint, mulai dari memperlihatkan contoh media PowerPoint yang sudah jadi dan siap digunakan sekaligus memberikan contoh demonstrasi bagaimana mudahnya penggunaan media PowerPoint ini. Dalam

ceramah

pembuatan

media

PowerPoint

ini

juga

diperlihatkan bagaimana dalam tampilan bias menampilkan foto, gambar, suara, lagu maupun gambar bergerak. Hal ini dilakukan untuk merangsang

9

rasa ingin tahu peserta bahwa dengan PowerPoint penjelasan yang dilakukan bisa digabung dengan berbagai macam bentuk media. Langkah yang kedua ini juga diikuti dengan tanya jawab dan diskusi untuk mengetahui sejauh mana keiingin tahuan peserta dan respon terhadap media PowerPoint. 3. Pelatihan pembuatan media PowerPoint Langkah yang ketiga merupakan bagian inti program PPM ini yaitu pelatihan pembuatan media PowerPoint. Dalam hal ini peserta diajak untuk menggunakan computer secara langsung yang didalamnya sudah ada program PowerPoint ini. Langkah yang ketiga ini lebih kepada tutorial kepada peserta dimana semua bahan yang berkaitan dengan PowerPoint dicoba untuk diberikan kepada peserta. Pada langkah yang ketiga ini juga masih diselingi dengan tanya jawab, dengan tujuan agar apabila peserta merasa kesulitan bisa langsung diberi solusinya. Pelatihan ini ditujukan agar semua peserta mampu membuat media PowerPoint. 4. Praktek pembuatan media PowerPoint Langkah yang keempat sebenarnya merupakan bagian dari langkah yang ketiga dimana masing-masing peserta sambil mendapatkan pelatihan juga diwajibkan untuk mulai belajar membuat PowerPoint dengan materi yang berkisar pada tugas mengajar mereka sehari-hari. Hasil dari praktek pembuatan media PowerPoint ini selain digunakan sebagai sarana evaluasi pelaksanaan program ini juga nantinya bisa digunakan sebagai starting point bagi peserta untuk mengembangkan bahan ajar mereka. Langkah yang keempat ini juga diikuti dengan tanya jawab untuk lebih bisa mengetahui seberapa jauh peserta bisa menerima materi yang diajarkan. 5. Evaluasi hasil Langkah yang kelima atau yang terakhir adalah evaluasi hasil. Langkah ini dilakukan setelah peserta menyerahkan hasil karya mereka. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan hasil

10

pelatihan yang telah dilakukan, meliputi cara penyampaian, materi dan keseluruhan proses pelatihan. Dengan evaluasi ini diharapkan akan ada follow up dari berbagai kekurangan dan kelebihan pelatihan ini.

F. Hasil Pelaksanaan PPM dan Pembahasan Pelaksanaan pelatihan tutorial Microsoft PowerPoint ini dilaksanakan selama tiga hari. Berikut ini merupakan jalannya pelatihan selama tiga hari: 1. Hari Pertama Hari pertama pelaksanaan kegiatan PPM ini diawali dengan pembukaan dan sedikit banyak ceramah yang diberikan oleh tim pengabdi tentang pentingnya media PowerPoint, sekaligus diperlihatkan keunggulan media ini dibandingkan media lain. Dalam tahap pertama ini juga diperlihatkan beberapa hasil PowerPoint yang sebelumnya sudah disiapkan oleh tim pengabdi sebagai contoh untuk didemonstrasikan kepada peserta. Tujuan dari kegiatan demontrasi ini untuk memperlihatkan kepada peserta bahwa dalam PowerPoint semua media baik itu gambar, foto, suara maupun video bisa digunakan sebagai bahan materi dalam pembuatan powerpoint. Dalam demonstrasi ini juga diperlihatkan bahwa peserta dapat pula merekam suaranya, tentu saja dengan tambahan hardware di komputer dan dapat pula dimasukkan dalam media PowerPoint. Ceramah dan demontrasi akan pentingnya penggunaan media PowerPoint dilanjutkan dengan penjelasan awal tentang cara pembuatan PowerPoint. Diawal dijelaskan bahwa untuk bisa menjalankan program PowerPoint ini paling tidak peserta wajib memiliki dan menggunakan computer yang didalamnya ada software Microsoft windows dan Microsoft office. Biasanya apabila telah menggunakan windows sebagai basic application, program PowerPoint ini sudah termasuk didalamnya dan tinggal kita gunakan. Pada bagian ini juga dijelaskan berbagai macam menu aplikasi yang termasuk dalam PowerPoint. Pelatihan tutorial

pembuatan

media

PowerPoint

dimulai

dengan

memberikan pengenalan dan penjelasan bagaimana cara membuka pertama kali, kemudian pengenalan layar kerja Microsoft PowerPoint, menjelaskan cara menjalankan PowerPoint untuk pertama kali, dan dilanjutkan dengan mengenal

11

metode dalam pembuatan presentasi baru. Setelah itu, menjelaskan tentang menyusun presentasi. Dalam kegiatan yang dilaksanakan pada hari pertama ini juga ada tanya jawab dan diskusi ringan antara tim pengabdi dengan peserta untuk lebih mendekatkan sekaligus mengetahui apa saja yang masih menjadi kesulitan bagi peserta. Pada hari pertama pelatihan tutorial Microsoft PowerPoint ini peserta juga sudah dikenalkan dengan design template, bentuk huruf (font), merubah ukuran huruf, warna huruf. Kemudian yang paling penting adalah peserta diajarkan untuk mengetahui cara menyimpan dan mengingat-ingat dimana file yang telah dibuat diletakkan. Tak lupa pula ditekankan bahwa inti dari pembuatan media ini hanya dijadikan sebagai alat bantu pembelajaran, sehingga perlu diperhatikan isi dari PowerPoint, yang dimaksud disini, karena hanya sebagai alat bantu, sebaiknya yang ditulis hanya point-point pentingnya saja buka uraian panjang lebar. Pelatihan ini adalah pelatihan “powerpoint” bukan “poweruraian”. Masalah ukuran huruf juga disinggung disini, diharapkan dalam memilih ukuran huruf diusahakan mampu dilihat siswa pada jarak tertentu, tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar. Masalah design warna dan background juga perlu diperhatikan. Usahakan antara warna huruf dengan design background dibuat kontras sehingga tetap mudah dilihat. 2. Hari Kedua Hari kedua dimulai dengan melihat seberapa jauh materi yang diberikan pada hari pertama bisa diterima dengan baik oleh peserta. Peserta membuka kembali file yang telah dibuat pada hari pertama, disini terkadang ada peserta yang lupa dimana file diletakkan sehingga tim pengabdi dituntut untuk membantu mencari file yang disimpan. Pada hari yang kedua ini diajarkan kepada peserta bagaimana memodifikasi presentasi yang telah diformat, memberikan sentuhansentuhan pada presentasi sehingga enak dilihat, mulai dari memberikan animasi, memanipulasi teks dan gambar hingga menyisipkan foto, gambar, lagu, suara dan video.

12

Pada bagian ini juga diajarkan bagaimana setelah presentasi jadi, menampilkannya dengan bantuan viewer LCD projector. Tim pengabdi juga memberikan solusi alternative lain ketika ada peserta yang bertanya bahwa di sekolahnya belum ada LCD projector. Media presentasi yang dibuat dengan powerpoint

pun

apabila

memang

belum

ada

LCD

projector

untuk

menampilkannya bisa dicetak dengan kertas transparansi untuk kemudian ditampilkan di OHP. Tentu saja hasil yang ditampilkan akan lebih baik daripada tulisan yang ditulis di transparansi. Setelah peserta pelatihan dirasa mampu dan menguasai media powerpoint ini mulai dari membuka aplikasi, membuat bahan presentasi, memanipulasi, membuat table, hingga menyisipkan gambar, suara dan video maka peserta diharuskan untuk praktek membuat presentasi powerpoint sesuai dengan pelajaran yang diampu di sekolahnya. Hasil dari presentasi yang dibuat akan dijadikan evaluasi yang akan dilakukan pada hari ketiga. 3. Hari Ketiga Hari ketiga merupakan hari terekhir pelatihan tutorial PowerPoint ini. Pada hari ini merupakan tahap evaluasi dari materi yang telah diajarkan sekaligus dari berbagai macam contoh yang telah dibuat oleh peserta. Dari hasil yang dibuat oleh peserta, beberapa PowerPoint dipresentasikan untuk kemudian dievaluasi, dianalisis kelebihan maupun kekurangannya, baik oleh peserta maupun tim pengabdi. Hal ini dilakukan untuk memberikan pengalaman secara langsung bagaimana materi presentasi yang baik. Dari beberapa hasil materi PowerPoint yang dibuat rata-rata menunjukkan hasil yang baik, artinya standar pembuatan telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Mulai dari bentuk huruf, ukuran huruf dan kontras antara warna background dengan huruf pun mayoritas sudah benar dan bisa dibaca pada jarak tertentu. Dengan kata lain sebenarnya disini peserta sudah bisa membuat PowerPoint dengan benar. Yang menjadi banyak perdebatan atau pertanyaan adalah masih banyak peserta yang menulis materi berupa uraian buka point-point, kemudian peserta kurang memperhatikan luas bidang/layar kerja, sehingga terkadang melebihi layar kerja yang kemudian berimbas pada hasil, ketika ditampilkan ada

13

beberapa tulisan yang tidak tampak karena melebihi layar kerja. Dari sini tim pengabdi mengamati bahwasanya masih ada kecanggungan dalam menggunakan powerpoint. Kebanyakan peserta terbiasa menggunakan Microsoft Word yang disitu kalau mengetik terus bisa dilakukan tanpa terlalu memperhatikan ukuran layar kerja, karena ketika halaman pertama habis langsung secara otomatis berpindah kehalaman kedua. Tidak demikian dengan PowerPoint, karena bidang penulisan dibatasi luasnya dan tidak bisa secara otomatis berpindah, sehingga harus dipindah secara manual. Menyisipkan gambar, foto, suara dan video masih sedikit digunakan, hal ini masih bisa dimaklumi karena keterbatasan waktu, file video dan suara yang tidak banyak tersedia menjadi kendala untuk bisa menyisipkan file ini. Tetapi paling tidak ketika nantinya tersedia file gambar, suara maupun video, peserta pelatihan sudah mampu menggunakannya. Tata letak atau penempatan tulisan juga perlu mendapatkan perhatian supaya menjadi enak dilihat dan memudahkan dalam membaca. Pada intinya dari evaluasi ini diperoleh banyak manfaat mulai dari perlunya hal-hal lain diluar teknis yang untuk kedepannya juga perlu dikemukakan hingga pentingnya file-file music, gambar, video untuk disiapkan. Pelaksanaan

kegiatan

pengabdian

pada

masyarakat

yang

telah

dilaksanakan oleh tim pengabdi telah mendapatkan respon yang positif dari peserta. Kesulitan yang timbul dalam pelaksanaan PPM ini tidak lain adalah mensinkronkan antara jadwal para peserta dengan jadwal tim pengabdi. Dari beberapa kesan dan masukan dari peserta, umumnya mereka merasa sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini, metode yang digunakan dalam pelatihan ini tidak memforsir mereka untuk langsung bisa menguasai materi pelatihan, tetapi sedikit demi sedikit asalkan yang penting paham, sehingga di awal terkesan waktu yang digunakan untuk pemahaman relative lama. Akan tetapi ternyata waktu untuk memahami yang relative lama inilah yang menjadi keunggulan tutorial ini, karena hampir semua peserta menjadi benar-benar paham, yang ini dibuktikan dengan pelatihan dihari kedua yang sudah bisa lancar dalam mengutak-atik PowerPoint.

14

Menurut peserta program PowerPoint ini ternyata jauh lebih mudah dari pada apa yang mereka bayangkan. Dengan Microsoft PowerPoint ini peserta dapat merancang dan membuat susunan presentasi dengan lebih cepat dan mudah, melalui PowerPoint peserta juga bisa dengan mudah menuangkan ide-ide cemerlang yang menarik yang berhubungan dengan bidang pekerjaan sehingga nantinya para siswa dapat menerima informasi yang disampaikan dengan jelas. Selain mendapatkan ilmu baru dalam membuat presentasi, ternyata baik dari tim pengabdi maupun peserta juga bisa menganalisa bahwa dalam pembuatan presentasi hingga mendapatkan hasil yang baik dan menarik dengan menggunakan PowerPoint terlebih dahulu pemateri/presenter harus memiliki: 

Tujuan pembuatan sebuah presentasi



Tema dan isi dari sebuah presentasi



Sasaran kepada siapa presentasi akan disampaikan



Kreativitas daya seni untuk dapat men-design sebuah presentasi yang baik dan menarik



Peralatan baik software maupun hardware

Ketika semua itu sudah dimiliki sekaligus ditambah keterampilan dalam menggunakan PowerPoint, maka akan dihasilkan materi presentasi yang baik dan menarik. Hasil dari pelatihan inipun melebihi ekspektasi dari tim pengabdi, dikarenakan antusiasme peserta yang begitu besar. Diakhir pelaksanaan, untuk memberikan apresiasi terhadap peserta diberikan sertifikat pelatihan yang semoga berguna untuk tambahan ilmu dan wawasan. Pada intinya pelaksanaan pelatihan tutorial powerpoint ini berjalan dengan baik dan lancar, follow up dari kegiatan ini nantinya diharapkan peserta pelatihan untuk

terus

mencoba

mengembangakan

kreativitasnya

dalam

membuat

PowerPoint yang menarik. Hanya saja yang masih menjadi kendala menurut sebagian besar peserta, adalah sarana dan prasarana yang memadai. Ada yang tidak memiliki computer di rumah, kalaupun ada yang memiliki dan sudah membuat materi presentasi dengan PowerPoint, masalah yang kemudian muncul adalah, disekolah tidak/belum tersedia LCD projector untuk menampilkan

15

PowerPoint. Hal inilah yang menurut peserta terkandang menurunkan animo mereka untuk belajar lebih lanjut.

G. Kesimpulan dan Saran Pembelajaran Ilmu Sosial, pada umumnya dirasa membosankan dan disepelekan oleh sebagian besar siswa, adanya anggapan bahwa Ilmu Sosial mudah dipelajari dan tidak menarik karena hanya berisi teori-teori dan kebanyakan guru-guru yang mengajar ilmu sosial masih monoton dalam menyampaikan materi sehingga tidak mampu menyampaikan materi dengan dinamis dan atraktif, pada akhirnya bisa dipecahkan dengan model pembelajaran menggunakan powerpoint sebagai media pembelajaran. Kemampuan peserta (guru) dalam menyerap apa yang diajarkan memberikan optimisme bahwa nantinya mereka mampu memberikan materi ajar yang lebih baik, lebih menarik dan atraktif yang pada akhirnya akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi siswa. Untuk kedepannya, pengembangan mutlak diperlukan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi, dalam artian peserta setelah pelatihan ini selesai tidak serta merta belajarnya juga selesai, tetapi peserta bisa mengembangkan lagi dengan belajar mandiri untuk mengembangkan apa yang telah didapatkan dalam pelatihan ini. Bagi pihak sekolah, untuk memfasilitasi penggunaan powerpoint sebagai model pengajaran, dengan menyediakan computer dan LCD projector sehingga apa yang telah dibuat oleh guru bisa ditampilkan, sekaligus sebagai model pembelajaran baru sehingga materi pelajaran IPS/rumpun social menjadi menarik dan tidak membosankan Daftar Pustaka Budiningsih, C. Asri, (1995), Strategi Menggunakan Media Pengajaran bagi Pendidikan Dasar, Yogyakarta: LPM IKIP Yogyakarta. Fleming, Malcom dan W Howard Levie, (1988), Instructional Masage Design, New Jersey: Educational Technology Publications. Gafur, Abdul, (1998), Pemanfaatan Teknologi dan Media Pendidikan untuk Meningkatkan Kemampuan Profesional Tenaga Kependidikan, Yogyakarta: IKIP

16

Gagne, R.M, (1974), Essentials of Learning for Instruction, Hindsdal: The Dryden Press. Kinder, J.S, (1973), Using Instructional Media, New York: D. Van Nostradn Company. Soedjono, Soeprapto, (2005), Pot-Pourri Fotografi, Jakarta: Penerbit Universitas Trisakti. Wenger, Win, (2004), Beyond Teaching & Learning, Bandung: Nuansa.

17