Pengetahuan, sikap, dan praktek gizi Sekolah Menengah

Masalah gizi muncul dikarenakan perilaku gizi yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Ketidaks...

0 downloads 8 Views 344KB Size
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan suatu bangsa adalah suatu usaha yang dirancang secara khusus untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Kesehatan adalah salah satu komponen kualitas manusia, agar dapat hidup dengan baik dan sehat, manusia memerlukan makanan yang harus dikonsumsi setiap hari. Mutu makanan besar sekali peranannya dalam menjamin kesehatan manusia. Ketidaktahuan tentang bahan makanan dapat menyebabkan pemilihan makanan yang salah dan rendahnya pengetahuan gizi akan menyebabkan sikap tidak peduli terhadap makanan tertentu. Menurut Khomsan (2000) untuk mengatasi masalah gizi, masyarakat perlu memperoleh bekal pengetahuan gizi. Memiliki pengetahuan gizi tidak berarti seseorang mau mengubah kebiasaan mengkonsumsi makan. Mereka mungkin mengerti tentang protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan zat gizi lainnya yang diperlukan untuk kebutuhan, tetapi tidak pernah mengaplikasikan pengetahuan gizi didalam kehidupan sehari-hari. Menurut Khomsan (2003) dalam memilih makanan, seseorang memasuki tahap independensi, yaitu kebebasan dalam memilih makanan apa saja yang disukainya. Aktivitas fisik yang banyak dilakukan di luar rumah, membuat seseorang sering dipengaruhi rekan sebayanya. Pemilihan makanan tidak lagi didasarkan pada kandungan gizi makanan tersebut melainkan sekadar bersosialisasi untuk kesenangan dan supaya tidak kehilangan status. Masalah gizi muncul dikarenakan perilaku gizi yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara

konsumsi gizi dengan kecukupan gizi

yang

dianjurkan. Ketidakseimbangan antara makanan yang dikonsumsi dengan kebutuhan akan menimbulkan masalah gizi kurang atau masalah gizi lebih. Kekurangan gizi menurut Soekirman (2002) akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit, meningkatkan angka penyakit (morbidiitas), mengalami pertumbuhan tidak normal (pendek), tingkat kecerdasan rendah, produktivitas rendah dan terhambatnya organ reproduksi. Susanto (2003) menegaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan gizi adalah kebiasaan makan. Makanan jajanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan dan gizi akan mengancam kesehatan. Nafsu makan akan berkurang akibat

mengkonsumsi

makanan

jajanan,

jika

berlangsung

lama

akan

berpengaruh pada status gizi. Pengetahuan gizi sangat berpengaruh terhadap pemilihan makanan jajanan, pengetahuan dapat diperoleh baik secara internal maupun eksternal. Untuk pengetahuan secara internal yaitu pengetahuan yang berasal dari dirinya

2

sendiri berdasarkan pengalaman hidup sedangkan secara eksternal yaitu pengetahuan yang berasal dari orang lain sehingga pengetahuan tentang gizi bertambah. Sikap pemilihan makanan jajanan merupakan hasil perubahan pada seseorang dan mengalami perubahan terus-menerus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan tingkat budaya tersebut salah satu faktor yang mempengaruhi sikap pemilihan makanan jajanan adalah sikap dalam pemilihan makanan (Solihin 2005). Salah satu sikap penting dan mendasar sebagai sebab timbulnya masalah gizi kurang adalah adanya sikap pemilihan makanan jajanan individu yang tidak sesuai dengan kaidah gizi (Susanto 2003). Makanan jajanan anak sekolah yang diproduksi secara tradisional dalam bentuk industri rumah tangga terkadang diragukan keamanannya, namun jajanan yang diproduksi industri makanan tersebut berteknologi tinggi juga, belum tentu terjamin keamanannya. Oleh karena itu, keamanan makanan jajan merupakan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian serius, konsisten dan disikapi bersama. Penggunaan BTP dalam proses produksi pangan perlu diwaspadai bersama baik oleh produsen maupun oleh konsumen. Dampak penggunaannya dapat berakibat positif maupun negatif bagi masyarakat. Penyimpangan dalam penggunaannya akan membahayakan kita bersama, khususnya generasi muda sebagai penerus pembangunan bangsa (Cahyadi 2008). Berdasarkan hasil penelitian Iswarawanti et al. (2007) yang dilakukan di Bogor, terbukti bahwa makanan jajanan yang terkena cemaran mikrobiologis dan cemaran kimiawi yang umum ditemukan pada makanan jajanan kaki lima, yang disebabkan oleh penggunaan BTP ilegal seperti boraks (pengempal yang mengandung logam berat Boron), formalin (pengawet untuk mayat), rhodamin B (pewarna merah untuk tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning untuk tekstil). Hasil penelitian selama ini menemukan bahwa zat pewarna Rhodamin B dan Metanil Yellow banyak digunakan pada produk makanan industri rumah tangga. Rhodamin B adalah bahan kimia yang digunakan untuk pewarna merah pada industri tekstil dan plastik. Pada makanan, Rhodamin B dan Metanil Yellow sering dipakai mewarnai kerupuk, makanan ringan, terasi, kembang gula, sirup, biskuit, sosis, makaroni goreng, minuman ringan, cendol, manisan, dan ikan asap. Makanan yang diberi zat pewarna tersebut biasanya berwarna lebih terang dan memiliki rasa yang agak pahit (Mudjajanto 2005). SMP Negeri 5 Bogor terletak di pusat kota sehingga akses terhadap makanan jajanan sangat mudah. Dari survei awal yang dilakukan di lingkungan

3

sekolah beberapa pedagang yang menjual beraneka ragam makanan dan minuman jajanan antara lain nasi uduk, mie ayam, mie bakso, permen, makanan kemasan (snack), makanan gorengan, minuman kemasan, dan es sirop. Berdasarkan hal tersebut di atas penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana pengetahuan, sikap, dan praktek gizi siswa sekolah menengah tentang penggunaan BTP pada makanan jajanan. Tujuan Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktek gizi siswa sekolah menengah pertama tentang penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) pada makanan jajanan. Tujuan Khusus 1. Menganalisis karakteristik siswa, guru, dan pedagang (jenis kelamin, usia, pendapatan/uang saku, tingkat pendidikan) 2. Menganalisis kebiasaan jajan di sekolah 3. Menganalisis jenis BTP yang digunakan dalam makanan jajanan 4. Menganalisis pengetahuan gizi terhadap penggunaan BTP dalam makanan jajanan 5. Menganalisis sikap gizi terhadap penggunaan BTP dalam makanan jajanan 6. Menganalisis praktek gizi terhadap penggunaan BTP dalam makanan jajanan 7. Menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap, praktek gizi terhadap penggunaan BTP dalam makanan jajanan Hipotesis Hipotesis dari penelitian ini adalah : 1. Terdapat perbedaan antara pengetahuan, sikap, praktek gizi terhadap penggunaan BTP dalam makanan jajanan antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan terhadap penggunaan BTP 2. Terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, praktek gizi terhadap penggunaan BTP dalam makanan jajanan antara siswa laki-laki dengan siswa perempuan terhadap penggunaan BTP Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi bagi siswa dapat memberikan pengetahuan akan pentingnya kesadaran dan mengkonsumsi makanan jajanan yang sehat dan bergizi, agar dapat mengantisipasi dirinya sendiri untuk memilih makanan jajanan yang aman dan sehat, sehingga kebutuhan zat gizinya dapat

4

terpenuhi dan kesehatannya selalu terjaga. Bagi para guru dalam menghimbau dan menetapkan peraturan mengenai makanan jajanan yang sehat bagi para anak didiknya dalam rangka mengantisipasi munculnya masalah gizi khususnya kejadian infeksi atau angka kesakitan pada anak sekolah. Penindaklanjutan masalah keamanan makanan jajanan anak sekolah tidak lepas dari partisipasi pihak sekolah. Bagi para pedagang makanan jajanan dapat memberikan informasi dan himbauan kepada para pedagang makanan jajanan agar lebih memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan keamanan makanan jajanan yang diproduksi atau dijual, sehingga makanan jajanan yang dijual tersebut aman bagi kesehatan para konsumennya. Bagi Pemerintah dapat menjadi masukan bagi pemerintah untuk lebih memperketat peraturan kepada para penjual makanan jajanan, baik di tingkat produksi rumah tangga maupun tingkat produksi skala besar, mengenai higiene sanitasi (baik dari tenaga pengolah, peralatan, tempat pengolahan, proses pengolahan, pengemasan maupun distribusinya) makanan jajanan, serta penggunaan BTP pada produk yang dihasilkan.