PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

4. Revitalisasi Komite Sekolah sebagai badan gotong royong sekolah dan partisipasi masyarakat 4. Dukungan Permendikbud No. 75 Tahun 2016 tentang Komit...

0 downloads 31 Views 5MB Size
GERAKAN PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER Dr. Arie Budhiman Staf Ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2017

Arahan Khusus Presiden 1

Kartu Indonesia Pintar (KIP).

2

Revitalisasi Pendidikan Vokasi: SMK Maritim, Pertanian/Pangan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif.

3

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Gerakan Nasional Revolusi Mental 1

Integritas

2

Kerja Keras (Etos Kerja)

3

Gotong Royong

MENGAPA PPK a. Amanat Undang-Undang dan Kebijakan Nasional Pendidikan UU Sisdiknas, Nawacita, Trisakti, RPJMN 2015-2019, Amanat Presiden RI, Kebijakan Kemendikbud

b. Fokus pada Penguatan Pendidikan Karakter Pendidikan karakter bukan produk baru, bukan mata pelajaran, bukan kurikulum baru tetapi merupakan penguatan atau fokus dari proses pembelajaran dan sebagai poros/ruh/jiwa pendidikan

c. Praktik-Praktik Baik Kekayaan pengalaman dan praktik-praktik baik sekolah khususnya Kepala Sekolah dan Guru.

d. Keteladanan Keteladanan dan perilaku baik Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua dalam keseharian.

e. Penguatan Peran Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah dan Masyarakat PPK mendorong penguatan ekosistem pendidikan (Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah dan Masyarakat).

f. Konsep Pembelajaran Dialogis PPK Berbasis Kelas, PPK Berbasis Budaya Sekolah, PPK Berbasis Partisipasi Masyarakat.

g. PPK Terintegrasi dengan Seluruh Aktivitas KBM di Sekolah 3

LATAR BELAKANG

KECENDERUNGAN GLOBAL

URGENSI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER



PEMBANGUNAN SDM SEBAGAI FONDASI PEMBANGUNAN BANGSA

PERUBAHAN PERADABAN MASYARAKAT



GENERASI EMAS 2045 YANG DIBEKALI KETERAMPILAN ABAD 21

SEMAKIN TEGASNYA FENOMENA ABAD KREATIF



MENGHADAPI KONDISI DEGRADASI MORAL, ETIKA, DAN BUDI PEKERTI

BERLANGSUNGNYA REVOLUSI DIGITAL

DEFINISI PPK

GERAKAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH UNTUK MEMPERKUAT KARAKTER SISWA MELALUI HARMONISASI OLAH HATI (ETIK), OLAH RASA (ESTETIK), OLAH PIKIR (LITERASI), DAN OLAH RAGA (KINESTETIK) DENGAN DUKUNGAN PELIBATAN PUBLIK DAN KERJA SAMA ANTARA SEKOLAH, KELUARGA, DAN MASYARAKAT YANG MERUPAKAN BAGIAN DARI GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL (GNRM)

JUMLAH PENGGUNA INTERNET DI INDONESIA (Juta) 140

132.7

120 100

88

80

63

60

42

40 20

20

25

0 2006

2008

Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016

2010

2012

2014

2016

PERSENTASE

132,7 JUTA Pengguna Internet Indonesia

65%

Pengguna Internet di

86,3

Pulau Jawa

Juta Orang

Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016

51,8%|48,2% Laki-laki

Perempuan

Persentase Pengguna Internet di Indonesia:

Sumatera Bali & Nusa Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua

15,7% 4,7% 5,8% 6,3% 2,5%

(20,7 Juta) (6,1 Juta) (7,6 Juta) (8,4 Juta) (3,3 Juta)

PERSENTASE PENGGUNA INTERNET DI INDONESIA

69,8% atau 34 JUTA PELAJAR BERPOTENSI MENGAKSES KONTEN-KONTEN NEGATIF DI MEDIA SOSIAL

Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016

KONTEN MEDIA SOSIAL YANG SERING DIKUNJUNGI

Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016

TUJUAN PPK a. Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21 b. Mengembangkan platforma pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan, dengan memperhatikan kondisi keberagaman satuan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia c. Mengembalikan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan dengan harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) melalui integrasi kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan nonkurikuler

d. Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, pengawas dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter e. Membangun jejaring pelibatan publik sebagai sumber-sumber belajar di dalam dan di luar sekolah f. Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) 9

Tujuan Pendidikan Nasional (Pasal 3 UU No 20 Sisdiknas Tahun 2003)

Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Sikap Spiritual Esa Berakhlak mulia, sehat, mandiri, dan demokratis Sikap Sosial serta bertanggung jawab Pengetahuan Berilmu Keterampilan Cakap dan kreatif

.... memanusiakan manusia ......

Tantangan Pendidikan a. Optimalisasi pengembangan potensi siswa secara harmonis melalui keseimbangan olah hati (etik), olah pikir (literasi), olah rasa (estetik), dan olah raga (kinestetik)

b. Besarnya

populasi siswa, guru, dan sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia

c. Membangun sinergi dan tanggungjawab terhadap pendidikan karakter anak antara sekolah, orang tua dan masyarakat d. Tantangan

globalisasi

Memperkuat kemampuan beradaptasi terhadap perubahan melalui penumbuhan nilai-nilai religiusitas dan kearifan lokal bangsa

e. Terbatasnya pendampingan orang tua Perlu peningkatan kualitas hubungan orang tua dengan anak di rumah dan lingkungannya f.

Keterbatasan sarana belajar dan infrastruktur Keterbatasan prasana dan sarana sekolah, aksesibilitas dan sarana transportasi ke sekolah (jalur lembah, hutan, sungai, dan laut), sehingga PPK perlu diimplementasikan bertahap. 11

Kondisi Lingkungan Strategis Bangsa Lingkungan Politik dan Ekonomi

Lingkungan Demografi • Populasi 254,9 juta jiwa (BPS, 2015). • Jumlah etnis di Indonesia 1340 etnik dari Sabang sampai Merauke (BPPB, 2016). • Jumlah sekolah 297.368, Guru 3.439.794, Siswa 49.186.235 (PDSPK, 2016). • Jumlah siswa TK 4.495.432, SLB 118.079, SD 25.885.053, SMP 10.040.277, SMA 4.312.407 dan SMK 4.334.987 (PDSPK, 2016). • Jumlah bahasa daerah 646 dan suku bangsa 1.340 kelompok etnik (BPPB, 2017). • Indeks Pembangunan Manusia Indonesia 2016: 113 (UNDP, 2017) • Keberagaman kondisi sekolah Akreditasi

A

B

C

Belum

SD

15,5%

50,2%

15,5%

18,9%

SMP

25,3%

32,5%

11,9%

30,3%

• Peringkat Indeks Daya Saing Global: 41 dari 138 Negara (WEF, 2016) • Indeks Persepsi Korupsi Indonesia, peringkat ke-88 (Transparency International, 2015), naik dari tahun 2014 yang berada di peringkat 107 • Penduduk miskin 10,86% sebesar 28,01 juta jiwa (BPS, 2016). • Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,04% sampai 5,18% (BPS, 2016) • Indeks Kebahagiaan: survei BPS tahun 2014 sebesar 68,28 pada skala 0-100, Indeks Kebahagiaan Dunia peringkat 79 dari 157 negara (PBB, 2016). • Daya Saing Industri Mebel terpuruk, 2,1 juta orang terancam menganggur (Kompas, 27 Maret 2017)

Lingkungan Ideologi, Sosbud, Hankam, dan Teknologi • Kekerasan, 1000 kasus sepanjang Tahun 2016 (KPAI) • Intoleransi, Radikalisme/Terorisme • Separatisme • Narkoba/Perang Candu, 5,1 juta pengguna, 15.000 meninggal setiap tahun (BNN, 2016) • Pornografi dan Cyber Crime, 1.111 kasus tahun 2011-2015 (KPAI), 767 ribu situs Pornografi diblokir Kemenkominfo selama tahun 2016 • Penyimpangan Seksual, 119 komunitas LGBT di Indonesia (UNDP, 2014) • Krisis Kepribadian Bangsa dan Melemahnya Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

4

KARAKTER SEBAGAI POROS PENDIDIKAN Nawacita 8:

Melakukan Revolusi Karakter Bangsa

▪ Membangun pendidikan kewarganegaraan (sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti) ▪ Penataan kembali kurikulum pendidikan nasional ▪ Mengevaluasi model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional ▪ Jaminan hidup yang memadai bagi para guru khususnya di daerah terpencil ▪ Memperbesar akses warga miskin untuk mendapatkan pendidikan

“Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan.”

13

PENGEMBANGAN NILAI-NILAI KARAKTER

Olah Hati (Etika)

Olah Raga

Olah Pikir

(Kinestetika)

(Literasi)

Olah Karsa (Estetika)

Filosofi Pendidikan Karakter Ki Hajar Dewantara

Religius Jujur Toleransi Disiplin Kerja Keras Kreatif Mandiri Demokratis Rasa Ingin Tahu Semangat Kebangsaan Cinta Tanah Air Menghargai Prestasi Bersahabat/Komunikatif Cinta Damai Gemar Membaca Peduli Lingkungan Peduli Sosial Tanggung Jawab (dan lain-lain)

Nilai-nilai Karakter

Religius

Integritas

Nasionalis

Nilai Utama

Gotong Royong

Mandiri

Kristalisasi Nilai-Nilai *Nilai-nilai utama disesuaikan dengan GNRM, kearifan lokal dan kreativitas sekolah

14

Religius Sikap dan perilaku yang taat/patuh dalam menjalankan ajaran agama yang dipeluknya, bersikap toleran, mencintai alam dan selalu menjalin kerukunan hidup antar sesama.

▪ Beriman dan Bertaqwa ▪ Menjalankan segala perintah-Nya ▪ Disiplin beribadah

Tuhan

Individu

Relasi dengan sesama ▪ Toleransi ▪ Saling menolong ▪ Saling menghormati perbedaan keyakinan

Relasi dengan Sang Pencipta

Sesama

Harmoni dengan alam

Alam

▪ Bersih ▪ Menjaga lingkungan ▪ Memanfaatkan lingkungan dengan bijak

Nasionalis





▪ Mengapresiasi, menjaga, mengembangkan kekayaan budaya bangsa sendiri (kebijaksanaan, keutamaan, tradisi, nilai-nilai, pola pikir, mentalitas, karya budaya) dan mampu mengapresi kekayaan budaya bangsa lain sehingga semakin memperkuat jati diri bangsa Indonesia. Teks

teks

Sub Nilai Karakter Nasionalis: ▪ Cinta tanah air ▪ Semangat kebangsaan ▪ Menghargai kebhinnekaan ▪ Rela berkorban ▪ Taat hukum

Mandiri ▪ Sikap percaya pada kemampuan, kekuatan, bakat dalam diri sendiri, tidak tergantung pada orang lain Sub Nilai Karakter Mandiri: ▪ Kerja keras (etos kerja) ▪ Kreatif dan inovatif ▪ Disiplin ▪ Tangguh ▪ Pembelajar sepanjang hayat

Gotong Royong ▪ Kemampuan bekerjasama untuk memperjuangkan kebaikan bersama bagi masyarakat luas, teurtama yang sangat membutuhkan, marginal, dan terabaikan di dalam masyarakat.

Sub Nilai Karakter Gotong Royong: ▪ Kerjasama ▪ Solidaritas ▪ Kekeluargaan ▪ Aktif dalam gerakan komunitas ▪ Berorientasi pada kemaslahatan bersama

Integritas ▪ Menyelaraskan pikiran, perkataan dan perbuatan yang merepresentasikan perilaku bermoral yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Sub Nilai Karakter Integritas: ▪ Kejujuran ▪ Keteladanan ▪ Tanggungjawab ▪ Antikorupsi ▪ Komitmen moral ▪ Cinta pada kebenaran

IMPLEMENTASI KONSEP PPK PPK BERBASIS KELAS ▪ Integrasi dalam mata pelajaran ▪ Optimalisasi muatan lokal ▪ Manajemen kelas

PPK BERBASIS BUDAYA SEKOLAH ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian sekolah Branding sekolah Keteladanan pendidik Ekosistem sekolah Norma, peraturan, dan tradisi sekolah

Diajarkan

Dibiasakan

Dilatih Konsisten

Menjadi Kebiasaan

PPK BERBASIS MASYARAKAT ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Orang tua, Komite Sekolah Dunia usaha Akademisi pegiat pendidikan Pelaku Seni, Budaya, Bahasa & Sastra Pemerintah & Pemda

Menjadi Karakter

Menjadi Budaya 20

Membangun Generasi Emas 2045 yang dibekali Keterampilan Abad 21 Keterampilan abad 21 yang dibutuhkan setiap siswa

1 Kualitas Karakter

Bagaimana siswa beradaptasi pada lingkungan yang dinamis.

2 Literasi Dasar

Bagaimana siswa menerapkan keterampilan dasar sehari-hari.

• •

Religius Nasionalis

• •

Literasi bahasa Literasi numerasi

• • •

Mandiri Gotong royong Integritas

• •

Literasi sains Literasi digital (teknologi informasi & komunikasi) Literasi finansial Literasi budaya dan kewarganegaraan

• •

3 Kompetensi

Bagaimana siswa memecahkan masalah kompleks

• • • •

Berpikir kritis Kreativitas Komunikasi Kolaborasi

Sumber: Kemendikbud 2016

SIMULASI MODEL IMPLEMENTASI PPK Hari Nilai Karakter**

Waktu

Senin

Selasa

Rabu

Kamis

Jumat

Sabtu

Minggu

Penguatan Nilai Utama: Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, Integritas Kegiatan Pembiasaan: Memulai hari dengan Upacara Bendera (Senin), Apel, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Lagu Nasional, dan berdoa bersama, kegiatan literasi.

Waktu Belajar*

Kegiatan Intra-Kurikuler: Kegiatan Belajar – Mengajar

Kegiatan Ko-Kurikuler dan Ekstrakurikuler: Sesuai minat dan bakat siswa yang dilakukan di bawah bimbingan guru/pelatih/melibatkan orang tua & masyarakat: Kegiatan Keagamaan, Pramuka, PMR, Paskibra, Kesenian, Bahasa & Sastra, KIR, Jurnalistik, Olahraga, dsb.

Kegiatan PPK bersama orang tua: Interaksi dengan orang tua dan lingkungan / sesama

Kegiatan Pembiasaan: Sebelum menutup hari Siswa melakukan refleksi, menyanyikan lagu daerah dan berdoa bersama. *Durasi waktu tidak mengikat dan disesuaikan dengan kondisi sekolah ** Nilai-nilai karakter disesuaikan dengan GNRM, kreativitas sekolah, dan kearifan lokal

22

ILUSTRASI IMPLEMENTASI PPK

Menghargai religiusitas dan keberagaman (Yayasan Sultan Iskandar Muda, Medan)

Pramuka dapat mengajarkan nilai-nilai mandiri, kerja keras dan gotong royong.

Ujian sebagai pembiasaan nilai-nilai integritas.

Foto: internet, Flickr I Gede L. Kantiana & awr05, Antara, Tempo

Persatuan Indonesia dengan mencintai dan menghormati keberagaman budaya di Indonesia.

Upacara bendera setiap hari Senin di sekolah menjadi salah satu aktualisasi nilai-nilai nasionalisme. 23

MANFAAT DAN ASPEK PENGUATAN MANFAAT

ASPEK PENGUATAN

1.

Penguatan karakter siswa dalam mempersiapkan daya saing siswa dengan kompetensi abad 21, yaitu: berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi

1.

Revitalisasi manajemen berbasis sekolah dan partisipasi masyarakat

2.

Pembelajaran dilakukan terintegrasi di sekolah dan di luar sekolah dengan pengawasan guru

2.

Sinkronisasi intra kurikuler, ko kurikuler, ekstra kurikuler, dan non kurikuler, serta sekolah terintegrasi dengan kegiatan komunitas seni budaya, bahasa dan sastra, olahraga, sains, serta keagamaan

3.

Revitalisasi peran Kepala Sekolah sebagai manager dan kewajiban jam mengajar Guru sebagai inspirator PPK

3.

Deregulasi penguatan kapasitas dan kewajiban Kepala Sekolah/Guru dan pelatihan secara berkelanjutan

4.

Revitalisasi Komite Sekolah sebagai badan gotong royong sekolah dan partisipasi masyarakat

4.

Dukungan Permendikbud No. 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah dalam penyiapan prasarana/sarana belajar (misal: pengadaan buku, peralatan kesenian, alat peraga, dll) melalui pembentukan jejaring kolaborasi pelibatan publik

5.

Penguatan peran keluarga sebagai pendidik pertama dan utama dalam penumbuhan dan pembiasaan karakter anak

5.

Kebijakan pembelajaran 5 (lima) hari secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi infrastruktur dan keberagaman kultural daerah/wilayah

6.

Kolaborasi antar K/L, Pemda, lembaga masyarakat, pegiat pendidikan dan sumber-sumber belajar lainnya

6.

Pengorganisasian dan sistem rentang kendali pelibatan publik yang transparan dan akuntabel

7.

Mengembalikan evaluasi pembelajaran siswa menjadi hak dan wewenang guru baik secara pribadi maupun kolektif

7.

Kajian Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) dan Pengembangan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN)

24

PETA JALAN IMPLEMENTASI PPK

Implementasi Mandiri dan Bertahap

Uji Coba 2 Sekolah Rintisan Tahun 2016 SD dan SMP dari 34 Provinsi Jumlah = 542 Sekolah

Tahun 2017 SD dan SMP dari 34 Provinsi Jumlah = 9.830 sekolah

Dukungan Daerah ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Kota Malang Kab. Banyuwangi Kab. Siak Kab. Gowa Kab. Lamongan

Tahun 2018 SD dan SMP dari 34 Provinsi Jumlah = 90.000 sekolah

▪ ▪ ▪ ▪

Kab. Bandung Kab. Purwakarta Kab. Pemalang Kab. Bantaeng

SURVEI KOMPAS Menurut Anda, apakah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dapat meningkatkan kompetensi peserta didik?

3.80%

Metode Penelitian Jajak pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Litbang “Kompas” pada 26-28 April 2017. Sebanyak 595 responden berusia minimal 17 tahun berbasis rumah tangga dipilih secara acak bertingkat di 14 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Palembang, Pontianak, Samarinda, Manado, Makassar, Ambon, dan Denpasar. Jumlah responden ditentukan secara proporsional di tiap kota. Menggunakan metode ini, tingkat kepercayaan 95 persen dan nirpencuplikan penelitian ± 4,0 persen. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi.

11.30% Ya, mampu Tidak mampu Tidak tahu/tidak jawab

84.90% Sumber: Kompas, 3 Mei 2017

KONKLUSI

1.

Gerakan PPK sebagai Poros Pendidikan Terwujudnya Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai fondasi utama dari pembangunan karakter bangsa dan merupakan transformasi dari penanaman nilai-nilai Pancasila secara berkelanjutan, utamanya melalui aspek keteladanan Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua, dan seluruh figur penyelenggara pendidikan serta tokoh-tokoh masyarakat.

2.

Pembangunan Karakter merupakan Kewajiban Bersama Terselenggaranya pembangunan karakter bangsa sebagai kewajiban seluruh Kementerian/ Lembaga, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Pelaku Bisnis dan masyarakat/ komunitas, agar segenap sumberdaya yang dimiliki dapat dimanfaatkan seluas-luasnya untuk kepentingan pendidikan karakter.

3.

Dukungan Komitmen dan Regulasi Gerakan PPK Terwujudnya komitmen dan dukungan regulasi terkait dengan: a) Revitalisasi peran Kepala Sekolah sebagai Manager; b) Revitalisasi kewajiban 8 jam guru di sekolah; c) Implementasi Permendikbud No. 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah sebagai badan gotong royong dan partisipasi masyarakat; d) Kegiatan pembelajaran 5 hari; e) Penguatan dan perluasan kegiatan di sekolah dan luar sekolah (seni budaya, keagamaan, ekstra dan kokurikuler, literasi).

4.

Memperhatikan Keberagaman dan Tingkat Kesenjangan Tercapainya tahapan pelaksanaan PPK sesuai dengan keberagaman dan tingkat kesenjangan setiap satuan pendidikan yaitu di perkotaan, sub-perkotaan, sampai daerah 3T dengan mempertimbangkan keterbatasan prasarana dan sarana sekolah, serta aksesibilitas ke sekolah (jalur lembah, hutan, sungai, dan laut).

27

Terima Kasih

foto: anakbersinar.com

SURAT ELEKTRONIK Arie Budhiman [email protected] Portal PPK cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id

Rasional a.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

b.

Agenda Nawacita No. 8 Penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental.

c.

Trisakti Mewujudkan Generasi yang Berkepribadian dalam Kebudayaan.

d.

RPJMN 2015-2019 “Penguatan pendidikan karakter pada anak-anak usia sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk memperkuat nilainilai moral, akhlak, dan kepribadian peserta didik dengan memperkuat pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam mata pelajaran”

e.

Mempersiapkan Generasi Emas 2045 yang bertaqwa, nasionalis, tangguh, mandiri, dan memiliki keunggulan bersaing secara global.

f.

Arahan Khusus Presiden kepada Mendikbud

untuk memperkuat pendidikan karakter. 30

KONSEP PELATIHAN PPK Fasilitator

Implementasi nilai GNRM

Tujuan PPK

❖ ❖ ❖ ❖ ❖

Religius Nasionalis Mandiri Gotong royong Integritas

4 Dimensi pengembangan

❖ ❖ ❖ ❖

Olah raga Olah pikir Olah rasa Olah hati

Isi Modul TOT: 1. Penguatan Konsep PPK 2. Manajemen Pelatihan 3. Praktek Adaptasi Pelatihan 4. Peer Training

Pengembangan kapasitas pelaku PPK

❖ ❖ ❖ ❖

❖ Pelatihan langsung (on site) ❖ Pendampingan langsung ❖ Penyediaan sumber-sumber pelatihan di dunia maya, modul pelatihan, video pembelajaran, dll (dalam jaringan/daring)

Kepala Sekolah Guru Komite Sekolah Orang tua

Metode Pelatihan

Isi Modul PPK

1. Kebijakan & Konsep Dasar PPK 2. Kepemimpinan dan Manajemen Sekolah 3. PPK Berbasis Kelas 4. PPK Berbasis Budaya Sekolah 5. PPK Berbasis Masyarakat 6. Assesment, Monitor dan Evaluasi PPK 7. Desain Rencana Tindak Lanjut (RTL)