Peran Karakter Sosial-Ekonomi Sebagai Pendorong Menjadi

Peran Karakter Sosial-Ekonomi Sebagai Pendorong Menjadi TKI ... Selain itu sektor jasa dianggap sebagai bentuk final dari pembangunan suatu negara, ke...

0 downloads 40 Views 260KB Size
JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

Peran Karakter Sosial-Ekonomi Sebagai Pendorong Menjadi TKI (Studi Kasus di Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar) Setyo Wahyu Sulistyono Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Brawijaya Malang Email: [email protected] Abstract This study used qualitative methods. Results of the study according to the character of the social and economic character of migrant workers in the District Selorejo, seen from the social character of the findings include: (i) the individual's motivation to migrate become migrant workers because of the network of migrant strong as one form of social networks have an important role for a person is a migrant worker as well as with regard to the network region is the main attraction of migrant workers; (ii) an individual becomes a migrant worker motivation due to the non-physical investments, in this case the education of children; (iii) the existence of the phenomenon of social deviation migrant workers which should have gone into improving the welfare of migrant workers, but it is the case for divorce in the family, it is as a result can not interpret the departure of a migrant worker. Then, the findings with regard to economic character, among others, include: (i) In the middle of difficulty of the opportunity to work in the area of origin prompting one wishes to go abroad unruk employment; (ii) With a relatively small income, making the motivation for someone to leave a migrant worker; (iii) The desire to strengthen the capital side in order for business development; Keywords: Social Character, Character Economy, Migration

PENDAHULUAN Perbaikan beberapa indikator makro ekonomi Indonesia ternyata belum diikuti oleh terbukanya kesempatan lapangan pekerjaan yang lebih baik, terutama di sektor formal. Hal ini terlihat dari masih tingginya tingkat pengangguran dan besarnya jumlah pekerja di sektor informal yang relatif berpenghasilan rendah di bandingkan dengan sektor formal, serta kurangnya perlindungan dan kejelasan masa depan tenaga kerja. Selain itu sektor jasa dianggap sebagai bentuk final dari pembangunan suatu negara, ketika suatu negara tersebut telah memanfaatkan sektor jasa sebagai sektor penopang kehidupannya maka dapat dikatakan negara tersebut telah mengalami kemajuan dalam struktur kehidupannya. Secara makro, krisis ekonomi yang dialami oleh bangsa Indonesia membawa dampak luas terhadap Kabupaten/Kota di Jawa Timur, terutama pada permintaan dan penawaran agregat. Menurut Purwanti (2009), dampak pada penawaran agregat dapat dilihat pada pasar tenaga kerja. Pada pasar tenagakerja, dampak tersebut antara lain: (a) jumlah dan persentase tenaga kerja di sektor formal yang beberapa terdiri dari sektor industri dan jasa yang menurun, (b) tingkat pengangguran penuh dan setengah pengangguran yang meningkat, dan (c) tingkat ketergantungan pada sektor informal yang semakin besar. Keseluruhan dampak ini mencerminkan kelesuan pasar tenagakerja di Kabupaten/Kota di Jawa Timur, yang pada gilirannya menyebabkan cenderung menurunnya pendapatan

51

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

para pekerja sehingga dengan alasan tertentu saat akan menyebabkan perpindahan tenaga kerja dari suatu wilayah ke wilayah kenegaraan tertentu dan menjadi suatu pilihan untuk menjadi tenaga kerja Indonesia. Fenomena ini terus berkembang seiring pola hubungan yang terjalin antar negara pengirim dan penerima tenaga kerja Internasional, pesatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia Pasifik seperti Singapura, Hongkong, Malaysia, Taiwan, dan Korea Selatan dibandingkan kawasan lain menyebab kebutuhan perekonomian semakin meningkat (Prijono Tjiptoherijanto, 2004), yang nantikan akan menyerap faktor dalam dunia kerja yaitu tenaga kerja, Fenomena ini menyambung dari situasi dan kondisi ekonomi Indonesia yang tidak stabil dibarengi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang tidak mampu menopang kehidupan masyarakat mengakibat-kan meningkatnya arus tenaga kerja Indonesia ke negara lain semakin meningkat. Menurut Pasal 1 bagian (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Sedangkan menurut buku pedoman pengawasam perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia adalah warga negara Indonesia baik laki-laki maupun perempuan yang melakukan kegiatan di bidang perekonomian, sosial, keilmuan, kesenian, dan olahraga profesional serta mengikuti pelatihan kerja di luar negeri baik di darat, laut maupun udara dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja. Menurut Todaro (1994) menyatakan migrasi merupakan suatu proses yang selektif yang mempengaruhi setiap individu dengan ciri-ciri ekonomi, sosial, pendidikan dan demografi tertentu, sehingga pengaruhnya terhadap faktor-faktor ekonomi dan non ekonomi dari masing-masing individu juga bervariasi. Terjadinya perpindahan penduduk biasanya disebabkan karena tingginya upah atau pendapatan yang dapat diperoleh di daerah tujuan. Dengan kata lain tujuan utama migrasi adalah untuk meningkatkan taraf hidup migrant dan anggota keluarga, sehingga masalah migrasi masih dipandang sebagai suatu hal yang positif dalam pembangunan. Menurut Zhao (2003) terdapat empat karakter pendorong seorang melakukan migrasi yaitu karakter individu, karakter rumah tangga, karakter wilayah, dan jaringan migran. Berdasarkan data DisnakerTrans, Jawa Timur di tahun 2014 menunjukkan terdapat beberapa kantong pengiriman TKI di Jawa Timur di antaranya Kab. Malang, Kab. Blitar, Kab. Ponorogo, Kab. Banyuwangi dan Kab. Tulungagung, dan diantara ke lima kabupaten tersebut Kabupaten Blitar menempati posisi ke dua setelah malang sebagai daerah potensi dengan total TKI pria dan wanita di tahun 2012 sebesar 7525, dan mengalami penurunan di tahun 2013 menjadi 5179. Namun pada kondisinya masyarakat tertentu lebih memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia keluar negeri dengan harapan mampu menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Kabupaten Blitar terdiri dari 22 kecamatan, adapun sumber mata pencarian utama adalah sector pertanian, dengan jenis pekerjaan sebagai buruh tani merupakan jumlah dominan di antara jenis pekerjaan lainnya. Sektor unggulan utama di Kabupaten Blitar adalah petani tebu sedangkan pekerjaan lainnya di bidang peternakan, perdagangan, wiraswasta dan pegawai

52

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

negeri sipil. Banyaknya penduduk yang bekerja di sektor pertanian merupakan salah satu penyebab timbulnya kemiskinan. Timbulnya kemiskinan mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi antara keadaan masyarakat yang masih terbelakang dan tradisional dengan kekayaan alam yang belum dikembangkan, sehingga masyarakat sulit untuk mendapatkan pekerjaan di luar sektor pertanian dan menyebabkan pengangguran. Hal lain penyebab kemiskinan produktivitas pertanian yang rendah sehingga menyebabkan pendapatan riil masyarakat rendah yang signifikan akan mengakibatkan rendahnya tabungan masyarakat, sehingga pembentukan modal di daerah pedesaan juga menjadi rendah, pengembangan sumber daya di Kabupaten Blitar dapat dinilai rendah percepatannya hal inilah yang menyebabkan banyak pilihan yang dilakukan oleh penduduk Kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar yang keluar dari Kabupaten Blitar dan bekerja di luar negeri sebagai TKI. Oleh sebab itu pembangunan daerah Kabupaten/Kota di Jawa Timur sepenuhnya diarahkan pada penciptaan lapangan pekerjaan baru yang akan menampung jumlah angkatan kerja serta pemerataan dan optimalisasi pemberdayaan sumber daya manusia sebagai pekerja yang mampu bersaing dan berkualitas tinggi dalam pencapaian permintaan lapangan pekerjaan. Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas merupakan gambaran dari aspek ketanaga kerjaan yang ada di Indonesia secara umum dan secara khusus di Kabupaten Blitar, sebagai studi pendahuluan kasus dalam penelitian faktor pendorong seseorang menjadi tenaga kerja Indonesia studi kasus di Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar. Secara umum kegiatan kajian perencanaan TKI Kecamatan di Kabupaten Blitar dimaksudkan untuk menyusun perencanaan strategis sebagai informasi dari isu strategis dalam perencanaan dan pengembangan dalam bidang ketenaga kerjaan. Secara khusus rumusan masalah dan selanjutnya beranjak kepada identifikasi tujuan penulisan terkait studi ini, secara esensial, antara lain: 1) Mengetahui peran karakter sosial-ekonomi seorang menjadi TKI. 2) Mengetahui makna migrasi ke luar Negeri bagi TKI. Secara regional penelitian berlangsung di Kecamatan Selorejo Kabupaten Blitar Jawa Timur. KAJIAN PUSTAKA Dalam pembahasan landasan teori berikut ini akan dipaparkan berdasarkan acuan yang menjadi landasan studi TKI yang menghubungkan ketenagakerjaan, TKI, migrasi dan karakter sosial ekonomi. Pembahasan teoritis pertama terkait ketenagakerjaan, Menurut M. Suparmoko dan Irwan (1996) Sumber Daya Manusia (SDM) ialah penduduk secara keseluruhan sebagai faktor produksi, namun tidak semua penduduk dapat bertindak sebagai faktor produksi, hanya penduduk yang berupa tenaga kerja (man power) yang dapat dianggap sebagai faktor produksi di usia produktif 15-64 tahun. Menurut Simanjuntak (1998) tenaga kerja atau manpower mencakup penduduk yang sudah atau sedang bekerja dan yang sedang mencari pekerjaan dan yang melakukan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. tiga golongan tersebut disebut sebagai pencari kerja, bersekolah dan yang mengurus rumah tangga dengan usia di atas 15 tahun. Menurut Sumarsono (2003), penyedia tenaga kerja adalah hubungan antara tingkat upah dan jumlah satuan pekerja yang disetujui oleh pensuplai untuk ditawarkan. Menurut Kusumosuwidho dalam Subri (2003) Salah satu masalah yang biasa muncul dalam bidang angkatan kerja adalah ketidakseimbangan antara

53

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

permintaan akan tenaga kerja (demand for labor) dan penawaran tenaga kerja (supply of labor), pada suatu tingkat upah tertentu. Lebih lanjut pembahasan kedua, terkait TKI. Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, yang dimaksud dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah. Penempatan TKI di luar negeri dapat dilakukan oleh pemerintah maupun badan hukum swasta yang telah memperoleh izin resmi dari pemerintah. Dari segi pendidikan, tenaga kerja Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja terdidik dan tenaga kerja tidak terdidik. Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang dibekali pendidikan dan keterampilan. Sedangkan tenaga kerja tidak terdidik adalah tenaga kerja yang tidak dibekali oleh pendidikan dan keterampilan. Pembahasan teoritis ketiga, yaitu migrasi. Migrasi diartikan sebagai perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melalui batas politik/negara ataupun batas admistrasi/batas bagian dari suatu negara. Dengan segala latar belakang seseorang akan melakukan migrasi Noris (1972) sebagai pengembang lebih lanjut hukum E.G. Revenstein berpendapat bahwa fenomena migrasi merupakan interaksi antara daerah asal dan daerah tujuan. Namun juga diakui akan pentingnya faktor penghalang yang terdapat di daerah asal dan daerah tujuan tersebut. Sedangkan sebagai alasan bermigrasi di sampaikan Todaro (1998) menyatakan migrasi merupakan suatu proses yang sangat selektif mempengaruhi setiap individu dengan ciri ekonomi, sosial, pendidikan dan demografi tertentu, maka pengaruhnya terhadap faktor-faktor ekonomi dan non ekonomi dari masing-masing individu juga bervariasi Pembahasan yang terakhir terkait karakter sosial-ekonomi pengembangan dari teori Todaro dimana migrasi sebagai pilihan yang selektif yang muncul dari setiap individu. Ketika di pahami lebih lanjut serta penyesuaian pada saat observasi di objek penelitian pengembangan tersebut membagi alasan keberangkatan TKI menjadi dua karakter yaitu sosial dan ekonomi. Faktor karakter sosial di pilih yaitu: 1). Karakter individu,yaitu: jenis kelamin,usia, pendidikan, status kawin. 2). Karakter rumah tangga terdiri dari jumlah tanggungan keluarga dan jumlah orang bekerja dalam keluarga informan.3).Karakter wilayah yaitu: alasan TKI memilih suatu wilayah tujuan bermigrasi seperti alasan melintasi perbatasan, informasi tentang tujuan dan pekerjaan, yang membantu beradaptasi setelah kedatangan. 4) Karakter Jaringan Migran Adapula jaringan migran berupa informasi yang dapat meringankan biaya migrasi untuk memudahkan proses migrasi. dapat berupa informasi yang di sampaikan oleh para migran yang telah bekerja di luar negeri atau oleh agen PJTKI, dimana informasi tersebut dapat memfasilitasi calon migran baru dengan berbagai cara antara lain, memberikan informasi tentang proses migrasi itu sendiri Adapula karakter ekonomi antara lain: 1) Tingkat Upah 2) Kesempatan Kerja. Mendasar pada penjelasan di bab-bab sebelumnya, dapat diambil suatu identifikasi dalam hal mempermudah dalam pengerjaan penelitian, penulis menyajikan dalam bentuk kerangka pikir.

54

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian Tenaga Kerja Indonesia

Karakter Sosial

Karakter Ekonomi

1.Karakter individu 2.Karakter Rumah Tangga 3.Karakter Wilayah 4.Karakter Jaringan Migran

1. Tingkat Upah 2. Kesempatan lKerja

 

Output Peran Karakter Sosial Ekonomi bagi TKI Makna Migrasi Bagi TKI

METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu suatu penelitian yang berusaha memecahkan masalah melalui analisis data-data non-numerik. Menurut Marvasti (2004) penelitian kualitatif berusaha memberikan deskripsi yang terperinci dan analisis kualitas (atau hakikat) dari pengalaman manusia. Dengan kata lain, penelitian kualitatif lebih memusatkan perhatiannya pada kedalaman makna pengalaman manusia itu sendiri ketimbang pada realitas kehidupan yang hanya tampak di permukaan. Sumber data terdiri dari data primer yang bersumber dari observasi, partisipasi, pengukuran (langsung di lapangan), serta hasil dari interogasi atau wawancara dan data sekunder adalah berbagai data tertulis yang merekam atau menginterpretasikan berbagai data primer yang telah dikumpulkan oleh peneliti lain, lembaga/organisasi lain atau badan-badan pemerintah. Berdasarkan penjelasan tersebut, Informan yang dituju dalam proses pengambilan data penelitian ini adalah sebagai berikut:1). Informan pertama, mantan pelaku migrasi internasional (TKI) dan pada saat penelitian berlangsung sedang berada di lokasi penelitian, keluarga TKI sebagai validitas data. 2). Pihak-pihak lain yang diharapkan dapat memberikan informasi terkait data sebagai uji validitas data, yang secara langsung ataupun tidak secara langsung terlibat pendorongan menjadi TKI. Antara lain pihak aparat desa, kecamatan atau hal-hal lain yang mungkin bisa diperoleh dari perjalanan penelitian yang akan dilakukan. maka dapat di paparkan pada tabel berikut :

55

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

Gambar 2. Metode Pengumpulan Data

indept interview melalui pertanyaan terstruktur

Observasi

Pengumpulan dokumen dan akurasi data (Validitas Data)

Sumber : Penulis , Diolah (2015)

Data dikumpulkan dengan menekankan kepada proses dan bukan kepada hasil, data yang diambil sebagai bahan penelitian untuk menganalisis dilakukan dengan mengikuti proses menetapkan keputusan menjadi TKI, dengan urutan awal melalui metode observasi dilanjutkan dengan indept interview melalui pertanyaan terstruktur dan proses terakhir pengumpulan dokumen dan akurasi data (Validitas Data).

Tabel 2 Penentuan Informan Penelitian No

Nama

Alamat

Ket

Kota/Negara Tujuan

1

Indah

Dsn. Gunung Sari Desa Sidomulyo-Blitar

Mantan TKI

Hongkong

2

Syukur Triono

Jl. Arcanaga Ds. Poh Gajih-Blitar

Mantan TKI

Malaysia

3

Kusrini

Dsn. Buneng no.23 Desa Boro-Blitar

Mantan TKI

Taiwan

4

Linda Tatik Srianingsih

Mantan TKI

Hongkong

5

Sri

6

Ali

7

Muhammad Jamhari

Ds.Darungan RT.06 RW.02- Blitar Desa Sukosewu RT01 RW.07 Gandung Sari-Blitar Kelurahan SelorejoKecamatan Selorejo

PJTKI (PT.ASA JAYA) Lurah Selorejo Pejabat Kecamatan Selorejo

Kecamatan Selorejo

Lama Bekerja 2011 sampai 2014 2003 sampai 2008 dan 2010 sampai 2013 1999 sampai 2001 dan 2001 sampai 2004 2001 sampai 2004

-

-

-

-

-

-

Sumber: Penulis, Data Diolah 2015

Untuk mengecek keakuratan data, peneliti menggunakan metode triangulasi. Menurut Denzin (1970, dalam Marvasti, 2004), tujuan metode triangulasi adalah untuk meningkatkan validitas penemuan melalui pengumpulan data dari banyak perspektif. Dengan cara ini maka kesimpulan yang diambil didasarkan pada data-data yang dapat diuji kebenarannya. Penelitian ini menggunakan alat analisis yang mengutip dari Miles dan Huberman (1994), dimana kegiatan analisis data dibagi sebanyak tiga tahap, yaitu:

56

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan serta verifikasi. Alasan penggunaan model ini adalah karena sifatnya yang sangat sistematis dan detail dalam menjabarkan proses analisis data dari tahap awal hingga tahap akhir. HASIL DAN PEMBAHASAN Keputusan seseorang menjadi TKI dan melakukan proses migrasi melalui hubungan personal, kultur, dan hubungan sosial lain akan menggambarkan di negara pengirim tenaga kerja informasi tersebut disampaikan melalui jaringan personal seperti teman dan kerabat calon TKI yang sebelumnya terlebih dahulu menjadi TKI, secara geografis migrasi yang dilakukan TKI merupakan gerak (movement) penduduk yang melewati batas wilayah menuju wilayah lain dalam periode waktu tertentu, informasi tersebut akan mendorong dan menimbulkan ketertarikan seseorang untuk melakukan migrasi dan akan mempermudah dalam keberangkatan dan di harapkan adanya peningkatan pemberdayaan manusia dan daerah di Kecamatan Selorejo. Karakter sosial menjadi pendorong menjadi TKI dengan pendidikan di atas SLTP, dengan karakter individu dan karakter rumah tangga terkait pada usia produktif TKI di atas 20 tahun, dari informan yang menunjukkan jenis kelamin perempuan mendominasi, sebagai bentuk partisipasi menopang tanggungang rumah tangga rata-rata jumlah anggota keluarga inti dan di luar keluarga inti berkisar di atas 5 orang rata-rata belum memiliki pekerjaan dan berada di usia sekolah. Adapun beberapa negara tujuan yang menjadi minat bagi para TKI wilayah Kecamatan Selorejo pada umumnya meliputi beberapa negara tujuan, antara lain; (i) Negara Hongkong, (ii) Negara Malaysia dan (iii) Taiwan. Ketiga negara tujuan tersebut merupakan negara yang paling banyak diminati para TKI sebagai negara tujuan tempat TKI bekerja. Sehingga terserap di sektor informal dan ketidak tersediaan lapangan kerja dalam negeri mendorong informan menjadi TKI. Sedangkan menurut Indrawan (2005), sektor informal adalah suatu unit usaha ekonomi yang dicirikan sebagai sektor ekonomi yang tidak mempunyai kekuatan hukum dari pemerintah, marginal, tidak terorganisasi, juga merupakan sektor alternatif lapangan kerja sehingga dengan berkembangnya sektor informal diharapkan kesempatan kerja yang ada dalam masyarakat menjadi semakin luas. Berdasarkan informasi dari informan, TKI yang bekerja di luar negeri banyak bekerja sebagai pekerja informal. Pekerjaan informal yang banyak memberikan lowongan pekerjaan pada umumnya adalah sebagai Pembantu Rumah Tangga. Secara umum, TKI yang memiliki ketertarikan berangkat keluar negeri mendapat sumber informasi yang berasal dari teman-teman dekat dan tetangga dekat yang bekerja di luar negeri yang telah dapat meraih kesuksesan. Selain itu informasi dapat berupa prasyarat keberangkatan untuk menjadi seorang TKI, termasuk informasi agensi pemberangkatan informasi PJTKI sebagai jaringan migran. TKI yang akan berangkat ke Luar Negeri harus melengkapi seluruh persyaratan-persyaratan yang telah dipersyaratkan. Namun demikian, persyaratan-persyaratan yang bersifat administratif tersebut, sebagian dibantu dari pihak PJTKI untuk calon TKI yang berangkat ke Luar Negeri misalnya berkaitan dengan visa, pasport, medical, general checkup, termasuk pelatihan kerja dan pelatihan bahasa yang bersifat non administratif seperti tatanan keseharian dan budaya negara tujuan sebagai fasilitas dari PJTKI. Akan tetapi, ada pula yang

57

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

sebagian administrasi harus diurus wajib diurus oleh TKI sendiri, misalnya syarat berkaitan dengan untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Blitar TKI harus hadir di kantor sendiri sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Dinas Tenaga Kerja. Karakter Ekonomi menjadi pendorong Pada saat seseorang telah menjadi TKI, seseorang tersebut akan menerima balas jasa atas keahlian yang dinilai melalui tingkat upah, yang nantinya menjadi remiten. Sistem pembayaran keberangkatan TKI banyak yang memakai sistem potong gaji. Potong gaji tersebut dilakukan dengan kesepakatan di awal. Sistem potong gaji yang dilakukan, banyak yang memakai sistem potong gaji 7 bulan. Namun, ada pula dalam sistem pemberangkatannya memakai sistem calling visa sebagai awal administrasi dengan nominal tertentu. Sistem potong gaji inilah yang sering digunakan sebagaim sistem pemberangkatan. Sehingga, TKI akan semakin mudah untuk bisa berangkat dan bekerja ke luar negeri. TKI yang bekerja di Luar Negeri secara umum memberikan prosentase bagi hasil upah setiap bulan pada PJTKI, dengan jumlah yang bervariatif sesuai dengan kesepakatan di awal antara TKI dengan PJTKI. Besarnya bagi hasil upah yang diberikan TKI kepada PJTKI setiap bulan ada yang prosentase besarnya 70 persen dari gaji selama 7 bulan, ada pula yang mencapai prosentase besarnya 80 persen dari gaji selama 7 bulan. Secara Khusus akan dijelaskan (i) Upah yang diterima bervariatif seperti Informan TKI indah 3500 dollar Hongkong perbulan (Negara Hongkong), Syukur 1200-1500 ringgit (Negara Malaysia), Kusrini 4.500.000 rupiah uang dengan kurs Indonesia (Negara Taiwan), dan Linda 2.500 dollar Hongkong (Negara Hongkong) (ii) Prosentase(%) bagi hasil upah setiap bulan pada PJTKI 70 sampai 80 persen; (iii) Penetapan upah di daerah keberangkatan TKI penetapan upah di daerah keberangkatan TKI yaitu pada saat di Indonesia telah dijelaskan mengenai pembayaran upahnya; (iv) Pendapatan mencukupi, pendapatan TKI selama bekerja di Luar Negeri, mencukupi untuk kebutuhan hidup di luar negeri dan untuk kebutuhan di Indonesia serta sempat mengirimkan uangnya ke Indonesia (remitance). (v) Pekerjaan sebelum menjadi TKI Kecamatan Selorejo kebanyakan tidak bekerja, (vi) Dengan pendapatan yang relatif rendah; (vii) Tingkat prioritas kebutuhan terhadap pengeluaran upah sewaktu bekerja di negara tujuan digunakan untuk modal usaha dan investasi di Indonesia; (viii) Sejak menjadi TKI, ada perubahan pola konsumsi namun tidak bersifat konsumtif murni atau dapat dikatakan pola konsumsi yang ke arah produktif yang digunakan untuk modal usaha. Sedangkan dilihat dari sisi kesempatan kerja adalah (i) Keinginan kerja yang diinginkan apabila tidak menjadi TKI adalah bekerja sebagai wiraswasta.; (ii) Sebelum menjadi TKI pekerjaan TKI adalah sebagai pekerja swasta atau tidak bekerja (hanya sebagai ibu rumah tangga), (iii) Kepemilikan tanah ada yang punya seperti informan TKI Linda sebagian uangnya dibelikan tanah; (iv) Kepemilikan hewan ternak dimiliki seperti informan TKI, Indah, Syukur dan Kusrini yang relatif cukup banyak untuk modal beternak, (v) Apabila ada menjadi TKI, dan dengan jenis pekerjaan yang sama mengapa tidak memilih bekerja di dalam negeri saja alasan yang utama karena bekerja di dalam negeri memiliki penghasilan yang rendah; (vi) Terdapat permintaan dari Luar negeri untuk kuota TKI seperti Negara Hongkong, Malaysia, Taiwan khususnya tenaga informal.

58

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

KESIMPULAN Peran karakter sosial ekonomi informan Indah menjadi TKI senantiasa untuk membantu meringankan beban suami yang memiliki tanggungjawab atas keluarga dan berupaya untuk membiayai pendidikan anak dalam memprioritaskan dalam investasi non fisik dan modal usaha dalam pengembangan usaha suami. Kebutuhan ekonomi, menjadi masalah fundamental bagi TKI. Pendapatan yang diterima pada saat pekerjaan pertama sebelum menjadi TKI relatif kecil dan kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ekspektasi yang tinggi terhadap keberhasilan seseorang akan mendorong seseorang tersebut untuk pemenuhan tingkat utilitas hidup yang tinggi. PJTKI memiliki peranan yang penting terkait dengan jaringan wilayah dan jaringan migran, dengan memberi wawasan kepada TKI berupa, bahasa, situasi di Negara tujuan, budaya, keterampilan kerja sebagai peningkatan kapasitas dan kualitas SDM untuk menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia. Serta, melakukan seleksi kemampuan melalui ketetapan syarat-syarat menjadi TKI dan penilaian kelayakan keberangkatan yang dilakukan PJTKI pada saat jenjang waktu pelatihan kepada calon TKI. Pada saat di Negara tujuan, TKI dikenakan pemotongan gaji yang nilainya bervariatif disesuaikan dengan Negara tujuan dan kesepakatan antar agensi PJTKI. Berkaitan dengan pencatatan administrasi, seleksi dilakukan oleh Kecamatan dan Kelurahan melalui alur penerimaan calon TKI disertai dengan surat pengantar Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, yang nantinya bertujuan siapapun yang berangkat menjadi TKI atau pulang kembali ke Negara Indonesia, tercatat secara terperinci agar menutup kemungkinan adanya TKI yang ilegal. Daftar Rujukan Indrawan, Tri Ady.2005. Hubungan Sektor Informal dengan Kesempatan Kerja dan Kesempatan menyekolahkan anak Studi Sektor Informal Di Pinggir Jalan Ki Hajar Dewantoro Belakang Kampus Kentingan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. J.Simanjuntak, Payaman. 1998. Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia, Edisi Kedua. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Eonomi Universitas Indonesia. Marvasti B.Amir. 2004. Qualitative Research in Sociology. Stage Publications, London. M.Suparmoko dan Irawan. 1996. Ekonomika Pembangunan, Edisi ke lima. Yogyakarta: BPFE. Prijon, Tjiptoherijanto.dan Sutyastie. 2002. Kemiskinan dan Ketidakmerataan di Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Purwanti, Putu Ayu Pramitha. 2009. Analisis Kesempatan Kerja Sektoral di Kabupaten Bangil Dengan Pendekatan Pertumbuhan Berbasis Ekspor. Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Denpasar: Piramida Subri, Mulyadi. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Pembangunan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Sumarsono, Sonny. 2003. Ekonomi Manajement Sumber Daya Manusia dan Ketenagakerjaan, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu. Todaro, Michael. 1994. Pembangunan Ekonomi. Jakarta. Erlangga.

59

JESP-Vol. 7, No 2 Nopember 2015 ISSN 2086-1575

Todaro Michael. 1998. Pembangunan Ekonomi di dunia ke 3. Jakarta. Erlangga. Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 39 Tahun 2014 Tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. di unduh 11 januari 2015 di www.Hukumonline.com. Zhao, Yaohi. 2003. The Role Of Migrant Networks In Labor Migration: The Case Of China. ISSN 1074-3529.

60