PERAN PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK …

kohesi dan integrasi sosial, ... tugas-tugas pembinaan pada masyarakat, apabila berada di tengah-tengah masyarakat, ... dalam kehidupan dapat …...

0 downloads 34 Views 314KB Size
TRANSPARANSI Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi ISSN 2085-1162

Volume VI, Nomor 02, September 2014

PERAN PENDIDIKAN DALAM MEMBENTUK PEMIMPIN BANGSA BERKARAKTER Tukhas Shilul Imaroh Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia [email protected] Abstract. Indonesia is a large and wealthy nations, also has been a chance to advance and compete globally. Every nation has been its problems and challenges to compete and thrive. As an authorized capital ahead and compete globally needed revitalization and strengthening of the character and quality of human resources with a strong leader. Indonesian nation requires a strong leader and a character that is a leader who conscience underlying the use of thinking, attitudes and behavior, as well as thrust and high fighting spirit to realize the virtues it stands for. The character of a leader is reflected in the accumulation of speech, thoughts, and actions to be consistent pattern in the long period. The leader of that character can be realized through character education. Educationis the corner stone for shaping personality. Education was not always come from formal education such as high school or college. Informal and non-formal education also has a similar role to shape the personality. Keywords: Education, Leadership, and Character Abstrak. Indonesia merupakan bangsa yang besar dan kaya, memiliki peluang untuk maju dan bersaing secara global. Setiap bangsa memiliki permasalahan dan tantangan untuk bersaing dan maju. Sebagai modal dasar maju dan bersaing secara global diperlukan revitalisasi dan penguatan karakter, serta kualitas sumber daya manusia dengan pemimpin yang tangguh. Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang tangguh dan berkarakter, yaitu seorang pemimpin yang mengedapankan penggunaan hati nurani melandasi pemikiran, sikap dan perilakunya, serta memiliki daya dorong dan daya juang tinggi untuk mewujudkan kebajikan yang diyakininya. Karakter pemimpin tercermin dari akumulasi ucapan, pikiran dan tindakan yang konsisten polanya dalam kurun waktu panjang. Pemimpin berkarakter dapat diwujudkan melalui pendidikan berkarakter. Pendidikan merupakan hal terpenting untuk membentuk kepribadian. Pendidikan tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian. Kata Kunci: Pendidikan, Pemimpin, dan Karakter Indonesia termasuk bangsa yang besar dari beberapa bangsa di dunia ini. Indonesia memiliki wilayah sangat strategik, kekayaan alam berlimpah, jumlah penduduk yang besar dan ke-majemukan sosial budaya. Indonesia memiliki peluang untuk menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, berdaulat dan bermartabat. Berbagai kebudayaan telah dihasilkan dari kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia yang majemuk dan berbagai suku bertebaran dari Sabang sampai Merauke di negeri ini, dengan motto “Bhinneka Tunggal Ika” Indonesia bersatu, mewujudkan negara yang makmur dan sejahtera.

103

Dalam perkembangannya, Indonesia adalah negara yang sangat potensial dalam segala hal, memiliki alam subur yang terbentang luas, menghasilkan manfaat yang besar ini memerlukan pemimpin masa depan Indonesia yang bisa membawa negera ini kearah yang lebih baik dan terarah, maka diperlukan Pemimpin berkarakter untuk memimpin bangsa yang kompleks ini. Bangsa ini memiliki permasalahan yang sangat kompleks menghadapi berbagai masalah nasional, misalnya aspek politik, di mana masalahnya mencakup kerancuan sistem ketatanegaraan dan pemerintahan, kelembagaan Negara yang tidak efektif, sistem kepartaian

Tukhas Shilul Imaroh, Peran Pendidikan dalam Membentuk Pemimpin Bangsa Berkarakter

yang tidak men-dukung, dan berkembangnya pragmatism politik. Aspek ekonomi, masalahnya meliputi paradigm ekonomi yang tidak konsisten, struktur ekonomi dualistis, kebijakan fiskal yang belum mandiri, sistem keuangan dan perbankan yang tidak memihak dan kebijakan perdagangan dan industri yang liberal. Dan aspek sosial budaya, kondisi permasalahan yang terjadi saat ini adalah memudarnya rasa dan ikatan kebangsaan, disorientasi nilai keagamaan, memudarnya kohesi dan integrasi sosial, dan melemahnya mentalitas positif (PP Muhammadiyah, 2009: 10-22) Menghadapi permasalahan bangsa sangat diperlukan pemimpin berkarakter. Pada kenyata-annya bangsa ini juga mengahadapi permasalahan dalam menentukan dan memiliki pemimpin yang bisa membawa Indonesia mencapai tujuan Indonesia maju, makmur dan berdaulat. Pemimpin masa depan yang benarbenar merakyat dari awal sampai akhir jabatannya, bukan pemimpin yang me-rakyat ketika musim kampanye datang. Merujuk pada pendapat tokoh pendidikan bangsa Ki Hajar Dewantara bersama-sama para cendekiawan muda bangsa telah merumuskan pokok-pokok kepemimpinan, yaitu Ing Ngarso Sung tulodo (di depan menjadi pemimpmin yang baik), Ing Madyo Mangun Karso (di tengah-tengah umat kita mendorong kreativitas), Tut Wuri Handayani (dibelakang kita menjadi pendorong dan pengawas yang adil), jika terjadi seperti hal tersebut akan dimiliki pemimpin berkarakter. Namun pada kenyataannya masih banyak pemimpin bangsa ini, apabila menjadi yang terdepan melupakan tugas-tugas pembinaan pada masyarakat, apabila berada di tengah-tengah masyarakat, tidak jarang yang melakukan kegiatan memecah belah persatuan dan apabila menjadi pengikut, tidak jarang menghambat dan tidak me-matuhi peraturan, serta kebijakan pemimpin terpilih. Oleh karena itu, bangsa ini memerlukan jiwa pemimpin berkarakter dan memahami permasalahan bangsa. Peran Pendidikan Pendidikan merupakan hal penting dalam membentuk kepribadian individu dan

memajukan peradaban manusia. Pendidikan itu tidak selalu berasal dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi. Pendidikan informal dan non formal pun memiliki peran yang sama untuk membentuk kepribadian, terutama anak atau peserta didik. Dalam UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003, dapat dilihat ketiga perbedaan model lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan bahwa Pendidikan formal adalah jalur pendidikan terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Sementara pendidikan non formal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Satuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat dan majelis taklim, serta satuan pendidikan sejenis. Sedangkan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan. Kegiatan pendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan dalam bentuk kegiatan belajar secara mandiri. Memperhatikan ketiga jenis pendidikan di atas, ada kecenderungan bahwa pendidikan formal, pendidikan informal dan pendidikan non formal yang selama ini berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. tidak saling mendukung untuk peningkatan pembentukan kepribadian peserta didik. Setiap lembaga pendidikan tersebut berjalan masing-masing sehingga yang terjadi sekarang adalah pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial, misalnya anak bersikap baik di rumah, namun ketika keluar rumah atau berada di sekolah melakukan perkelahian antar pelajar, atau melakukan perampokan. Sikap-sikap seperti ini merupakan bagian dari penyimpangan moralitas dan perilaku sosial pelajar (Suyanto dan Hisyam, 2000: 194). Pendidikan merupakan upaya terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar berkembang dan tumbuh menjadi manusia mandiri, bertanggungjawab, kreatif, ber-ilmu, sehat dan berakhlak mulia, baik dilihat dari aspek jasmani maupun ruhani. Manusia yang ber-akhlak mulia, yang memiliki moralitas tinggi sangat dituntut untuk dibentuk atau dibangun. Bangsa Indonesia tidak hanya 104

TRANSPARANSI Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi ISSN 2085-1162

sekedar memancarkan kemilau pentingnya pendidikan, melainkan bagaimana bangsa Indonesia mampu merealisasikan konsep pendidikan dengan cara pembinaan, pelatihan dan pemberdayaan SDM Indonesia secara berkelanjutan dan merata. Ini sejalan dengan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah“… agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara demo-kratis, bertanggung jawab”. Pendidikan sebagai proses hominisasi dan humanisasi, membantu manusia yang utuh, bermoral, bersosial, berkarakter, berkepribadian, berpengetahuan dan berohani. Pendidikan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap individu menuju kearah yang lebih baik sesuai dengan potensi kemanusiaan. Pendidikan merupakan segala usaha yang dilakukan untuk menyampaikan kepada orang atau pihak lain untuk menjadikan mampu berkembang menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermutu, dan dapat berperan lebih baik pula dalam kehidupan lingkungan dan masyarakat. Kondisi tersebut meliputi sistem nilai, pengetahuan, pandangan, kecakapan dan pengalaman. Dalam transfer knowladge diperlukan metode yang tepat untuk menjadikan kemudahan pemahaman dan pengimplementasian. Makin baik penyampaiannya akan besar kemungkinan manusia menjadi bermartabat, juga makin baik perannya dalam kehidupan lingkungan dan masyarakat. Pemahaman hasil pendidikan dapat membentuk sikap, moral dan perilaku yang baik. Semua cerminan tersebut membentuk karakter diri. Setiap manusia berkarakter sangat diperlukan dalam kehidupan bangsa sebagai partisipasi dalam memberikan hasil optimal untuk eksistensi diri dalam pembangunan. Untuk itu diperlukan partisipasi setiap individu yang benar-benar bermutu, dengan memperoleh pendidikan yang diperlukan. Pendidikan berperan penting untuk memajukan peradaban manusia. Tujuan pendidikan pada intinya ada dua, yaitu menjadikan peserta didik menjadi orang yang pandai sekaligus juga orang baik. Bila tujuan tersebut dapat dicapai, peradaban manusia akan 105

Volume VI, Nomor 02, September 2014

cenderung menjadi lebih maju dibanding sebelumnya. Sebaliknya, bila kedua atau salah satu tujuan tersebut dikesampingkan, yang terjadi adalah hancurnya peradaban bangsa. Bagi bangsa Indonesia, untuk menjadikan peserta didik sebagai orang baik, diperlukan upaya pendidikan karakter menurut pemiiran Rukiyat Pendidikan berkarakter dalam tulisan Rima Wirenviona dikatakan Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menyeimbangkan ilmu pengetahuan (iptek) dengan ilmu agama (imtak), sehingga Individu memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakter ini sangat dihargai dan tentu berguna serta tidak akan siasia. Pendidikan berkarakter harus berjalan secara baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik dalam mempersiapkan generasi muda bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Persiapan dengan mewariskan budaya dan karakter bangsa yang telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Dengan kata lain, peserta didik akan selalu bertindak, bersikap yang mencirikan budaya dan karakter bangsa. Pemimpin Berkarakter Saat ini bangsa Indonesia terus berusaha menemukan pemimpin yang memiliki karakter. Karakter menurut Berkowitz (2002:48), merupakan sekumpulan karakteristik psikologis individu yang memengaruhi kemampuan seseorang dan membantu dirinya untuk berfungsi secara moral. Sifat karakter yang plural mendorong beberapa ahli membagi karakter menjadi beberapa kategori. Menurut Peterson & Seligman (2004), kekuatan karakter tiada lain merupakan ramuan psikologis (psychological inggrediens) yang merefresentasikan nilai-nilai kebajikan (virtues) yang bersumber dari pemikiran-pemikiran religius (religious thinkers) dan philosofi moral (moral philoshopers). Mereka, mengklasifikasikan kekuatan karakter menjadi enam kelompok besar yang kemudian menurunkan 24 karakter, yaitu kognitif (wisdom and knowledge), emosional (courage atau kesatriaan),

Tukhas Shilul Imaroh, Peran Pendidikan dalam Membentuk Pemimpin Bangsa Berkarakter

interpersonal (humanity), hidup bersama (justice), menghadapi dan mengatasi hal-hal yang kurang menyenangkan (temperance) dan spiritual (transcendence). Nucci & Narvaes (2008), menyatakan bahwa moral merupakan faktor determinan atau pe-nentu pembentukan karakter seseorang. Oleh karena itu, indikator manusia yang berkarakter moral adalah: (1) Personal improvement, yaitu individu yang mempunyai kepribadian teguh terhadap aturan yang diinternalisasi dalam dirinya. Keteguhan pribabadi menjadikan diri tidak mudah goyah dengan pengaruh lingkungan sosial yang dianggapnya tidak sesuai dengan aturan yang diinternal-isasi tersebut. Ciri kepribadian tersebut secara kontemporer diistilahkan sebagai integritas. Individu yang mempunyai integritas tinggi terhadap nilai dan aturan yang dijunjung tidak akan melakukan tindakan amoral. (2) Social skill, yaitu mempunyai kepekaan sosial tinggi, sehingga mampu mengutamakan kepentingan orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan hubungan sosialnya yang harmonis. (3) Comprehensive problem solving, yaitu Kemampuan individu mengatasi konflik dilematis antara pengaruh lingkungan sosial yang tidak sesuai dengan nilai atau aturan dengan integritas pri-badinya terhadap nilai atau aturan tersebut. Individu mempunyai pemahaman terhadap tindakan orang lain (perspektif lain) yang menyimpang, tetapi individu ter-sebut tetap mendasarkan keputusan/sikap/tindakannya kepada nilai atau aturan yang telah diinter-nalisasikan dalam dirinya. Pembentukan karakter merupakan proses kompleks yang dapat dilakukan melalui pendidikan, latihan dan penugasan yang terus menerus dalam jangka waktu panjang. Untuk itu, pendidikan ber-pengaruh terhadap setiap kegiatan bangsa berdasarkan faktor peran manusia. Peran manusia sangat menentukan dalam pelaksanaan berbagai kegiatan itu, ketika terjadi kemajuan teknologi yang amat pesat, banyak pekerjaan manusia dapat digantikan oleh peran mesin atau robot. Faktor manusia amat penting bagi bangsa dalam memperkuat kondisi mentalnya. Melalui pendidikan dapat dibina, dilatih, dimonitor

pertumbuhan mental dan sikap manusia sebagai warga bangsa termasuk semangat nasionalisme yang kuat. Pembangunan berkarakter dan sikap, perilaku integritas manusia untuk kepentingan bangsa dan kepentingan manusia itu sendiri. Karakterdiri akan berbeda antara satu dengan yang lain, hal ini dapat menunjukkan kepribadian dan cermin diri. Karakter bukan hal yang given, namun bisa melalui proses pendidikan yang baik untuk pembentukan diri menjadi pribadi yang lebih baik. Pribadi yang berkarakter itu memiliki nilai-nilai kehidupan dalam menjalani kegiatannya. Nilai-nilai utama dalam kehidupan dapat diper-oleh dari berbagai sumber,agama, bimbingan keluarga, dan masyarakat. Agama apapun akan mengajarkan nilai-nilai perilaku kebaikan yang membimbing penganutnya untuk bersikap dan bertindak positif. Pemimpin harus memiliki karakter yang bisa diteladani oleh pengikutnya. Dalam hal ini ada enam hal dalam membentuk karakter, yaitu kejujuran, keterbukaan, keberanian mengambil risiko, bertanggungjawab, memenuhi komitmen dan kemampuan berbagi. Pemimimpin yang berpegang teguh dan mengimplementasikan prinsip pembentukan karakter tersebut akan membangun keber-hasilan dan menjadikan bangsa berkualitas. Pemimpin berkarakter dapat menjadi inspirasi dan me-motivasi pengikut dan lingkungannya untuk ikut berperan aktif dalam segala bidang profesi dan ke-hidupan masyarakat. Inspirasi yang dapat dijadikan keteladanan adalah sikap tanpa pamrih, kerja keras, cerdas, jujur, santun dan kreatif. Sikap kreatif ditunjukkan dengan usaha pembaharuan dan ide brilian yang diikuti dengan tidakan bukan sekedar slogan. Karakter kepemimpinan berkaitan dengan kreatifitas, energi dan wawasan filosofis. Perpaduan tersebut dapat membangkitkan daya antusiasme pada diri pemimpin, agar bergerak dinamis dan adaptif. Antusiasme dalam kepemimpinan sering juga diartikan sebagai daya adaptabilitas–kemampuan untuk menyesuaikan diri–terhadap perubahan situasi dan kondisi, regulasi dan tuntutan lainnya. Pemimpin dengan penuh antusiasme memiliki kepandaian untuk mengubah dan menemukan cara-cara baru, sehingga ke-putusan yang 106

TRANSPARANSI Jurnal Ilmiah Ilmu Administrasi ISSN 2085-1162

diambil berjalan efektif dan efisien dalam mengatasi berbagai persoalan. Daya adaptabilitas ini akan membentuk ketangguhan, karakter dan integritas kepemimpinan, yakni suatu sikap yang tidak mudah menyerah, teguh dan loyal pada prinsip, namun fleksibel dan senantiasa mencari terobosan dalam menghadapi berbagai rintangan. Dengan beberapa pemahaman yang ada Pemimpin berkarakter dapat diartikan sebagai seorang pemimpin yang mengedepankan penggunaan hati nurani melandasi pemikiran, sikap dan perilakunya, serta memiliki daya dorong dan daya juang yang tinggi/sangat tinggi untuk mewujudkan kebajikan yang diyakininya. Oleh karena itu, seorang pemimpin berkarakter senantiasa menempa dirinya untuk memelihara dan meningkatkan keunggulan yang ada pada dirinya (sesuai teori keunggulan), serta konsisten dan konsekuen meng-amalkan prinsip-prinsip, norma-norma kepemimpinan yang menjadi pedomannya. Dalam keadaan yang kritis, pemimpin berkarakter akan menonjol sikap kepemimpinannya dilihat dari keberani-annya untuk mengambil risiko yang sudah dipertimbangkannya, maupun kerelaannya untuk ber-korban demi kepentingan yang lebih besar. Berdasarkan indikator pemimpin yang berkarakter, dapat diperinci dalam tujuh kriteria berikut: (1) Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur dengan kekuatan diri dan kelemahan dan usaha untuk memperbaikinya; (2) Pemimpin harusnya berempati terhadap bawahan-nya secara tulus; (3) Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati, sehingga orang lain merasa aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya; (4) Bersikap transparan dan mampu menghormati pesaing dan be-lajar dari dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya; (5) Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh, sehingga mampu bekerja secara profesional keilmuan dalam jabat-annya; (6) Memiliki rasa kehormatan diri dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya; (7) Memiliki kemampuan 107

Volume VI, Nomor 02, September 2014

berkomunikasi, semangat, kerja team, kreatif, percaya diri, inovatif dan mobilitas. Megawangi (dalam http://ihfkarakter.multiply.com/journal) menamakannya “9 Pilar Karakter”, yakni cinta Tuhan dan kebenaran; bertanggung jawab, kedisiplinan, dan mandiri; mempunyai amanah; bersikap hormat dan santun; mempunyai rasa kasih sayang, kepedulian, dan mampu kerja sama; percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah; mempunyai rasa keadilan dan sikap kepemimpinan; baik dan rendah hati; mempunyai toleransi dan cinta damai. Pemimpin bangsa Indonesia di masa datang sangat diharapkan mampu memiliki kriteria tersebut, dalam rangka kemajuan bangsa dan keikutsertaan dalam persaingan dunia. Berkaitan dengan pemimpin, bangsa Indonesia yang baru saja melakukan pemilihan presiden dengan hasil yang diharapkan oleh sebagian besar masyarakat. Pemilihan presiden sangat diharapkan memiliki pemimpin yang mampu membawa Negeri ini ke depannya menuju pembanggunan yang mampu mewujudkan kesejahteran masyarakat yang lebih baik. Kesejahteraan masyarakat itu sangat perlu sehingga diharapkan dari pemimpin baru Indonesia. Sukses seorang pemimpin ditentukan oleh pilihan-pilihan dan tindakan-tindakan yang dilakukannya dalam menyikapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi organisasi. Pilih-an dan tindakan itu diambil berdasarkan nilai-nilai moral dan etis yang diyakini. Sukses seorang pemimpin sangat diwarnai oleh karakter dari si pemimpin. Character is the foundation for leader\'s all true success. PENUTUP Pendidikan merupakan faktor penting dalam membentuk kepribadian individu dan memajukan peradaban manusia, baik pendidikan formal, informal, maupun non formal. Melalui pendidikan tersebut dapat membentuk karakter maupun ciri seseorang. Untuk itu, pendidikan karakter merupakan kunci perbaikan sosial dan kemajuan. Pendidikan dalam membentuk karakter bangsa berupaya mencapai keseimbangan antara pemahaman pengetahuan dan sikap perilaku.

Tukhas Shilul Imaroh, Peran Pendidikan dalam Membentuk Pemimpin Bangsa Berkarakter

Membentuk pemimpin berkarakter dilakukan melalui proses yang panjang, yaitu dengan pendidikan formal, non formal maupun informal. Karakter pemimpin tercermin dari akumulasi ucapan, pikiran dan tindakan yang akan konsisten polanya dalam kurun waktu panjang. Di awal kepemimpinan bisa dikatakan sebagai pemimpin egaliter, demokratis dan selalu mendengar aspirasi dari masyarakat. Namun dalam interaksi akan terlihat segala aktivitasnya sebagai "potret" diri sebagai pemimpin yang sesungguhnya, benar-benar demokratis atau justru sebaliknya. Pembentukan karakter bangsa memerlukan kebijakan tentang pendidikan yang mampu meng-antisipasi banyak faktor, agar tidak mengakibatkan degradasi karakter bangsa. Untuk itu, pen-didikan tidak bisa dilakukan dengan sesaat atau parsial, dilakukan secara sistematik dan progresif sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Peterson, Christopher & Seligman, Martin E. P. 2004. Character Strengths and Virtues: A Handbook and Classification. New York: Oxford University Press

DAFTAR PUSTAKA

UU Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Berkowitz, Marvin W. 2002. The Science of Character Education. Dalam William Damon (Editor), Bringing in a New Era in Character Education. USA: Hoover Institution Press Publication). Nucci, L.P., & Narvaez, D. 2008. Handbook of Moral and Character Education. New York: Routledge.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2009.Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa. Yogyakarta: PP Muham-madiyah. Rima Wirenviona, Pendidikan Berkarakter Sebuah Solusi Meningkatkan Mutu Pendidikan. Posted by KGTK IMAMI UI⋅ 10/04/2012⋅ Suyanto dan Hisyam, Djihad. Pendidikan di Indonesia Memasuki Milenium III: Refleksi dan Rukiyati, Urgensi Pendidikan Pendidikan Karakter Holistik Komprehensifdi Indonesia, Jurnal Pendidikan Karakter Edisi JUNI 2013, TH. III, No. 2 Reformasi . 2000. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

http://indosdm.com/kamus-kompetensiintegritas-integrity http://ihfkarakter.multiply.com/journal) Yunita Widyastuti, Publish on: 1 April 2014. Peran Penting Pendidikan Karakter dalam Membangun Bangsa

108