PERUBAHAN GARIS PANTAI PULAU

Earth Pengolahan data citra dan analisis data GPShand Garmin 76csx Pengambilan data posisi geografis Alat tulis Pensil, pulpen, dan penggaris Mencatat...

0 downloads 449 Views 7MB Size
PERUBAHAN GARIS PANTAI PULAU LANCANG KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT

CHIQUITA AYU PUTRI MARDHANI

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA* Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perubahan Garis Pantai Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Menggunakan Citra Satelit adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2015

Chiquita Ayu Putri Mardhani NIM C54100037

*

Pelimpahan hak cipta atas karya tulis dari penelitian kerja sama dengan pihak luar IPB harus didasarkan pada kerja sama yang terkait

ABSTRAK CHIQUITA AYU PUTRI MARDHANI. Perubahan Garis Pantai Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Menggunakan Citra Satelit. Dibimbing oleh SYAMSUL BAHRI AGUS dan NYOMAN METTA NYANAKUMARA NATIH.

Perubahan garis pantai di Pulau Lancang dipengaruhi oleh pergerakan massa air dari Teluk Jakarta dan Laut Jawa. Tujuan penelitian ini adalah mengamati dan mengidentifikasi karakteristik perubahan garis pantai di sepanjang Pulau Lancang dalam kurun waktu 2010-2014. Metode penelitian ini menggunakan pengambilan data lapang, tumpang-susun, digitasi gambar dan pemrosesan data pendukung berupa data oseanografi. Pengambilan data lapang meliputi: verifikasi citra dan traking sepanjang garis pantai. Citra satelit yang digunakan WorldView-2 tahun 2010-2011 dan IKONOS-2 tahun 2012. Perubahan garis pantai paling dominan berada di Pulau Lancang Besar. Hasil analisis jarak perubahan garis pantai menunjukkan abrasi sebesar 0.94-5.98 m/thn dan akresi sebesar 0.57-6.32 m/thn terjadi di Lancang Besar disebabkan aktivitas manusia dan kondisi alam. Sedangkan hasil analisis luas area penambahan daratan baru sebesar 632-2399 m2/thn lebih dominan di Lancang Kecil. Kata kunci: abrasi, akresi, citra satelit, penambahan daratan baru

ABSTRACT CHIQUITA AYU PUTRI MARDHANI. Coastline Changes Detection in Lancang Island Seribu Islands, DKI Jakarta Using Satellite Images. Supervised by SYAMSUL BAHRI AGUS and NYOMAN METTA NYANAKUMARA NATIH.

The coastline changes in Lancang Island is influenced by the movement of water mass from the Bay of Jakarta and Java Sea. The objectives of this research are to observe and identify the characteristics of coastline changes along the Lancang Island during 2010 to- 2014. The methods used are field data collection, images overlay, on-screen digitization and oceanographical data processing. The field observations include: images verification and data tracking along the coastline. Satellite imagery was derived from WorldView-2 for the period of 2010-2011 and IKONOS-2 for the period of 2012. The most dominant changes of coastline was found in Lancang Besar Island. The distance resulted from shoreline change analysis indicated an abrasion of 0.94-5.98 m/yr and accretion of 0.576.32 m/yr which occurs in Lancang Besar due to human activities and natural conditions. On the other hand the analysis of land area suggested an a addition of new area, where is highly dominated in Lancang Kecil around 632-2399 m2/yr. Keywords: abrasion, accretion, addition of new land, satellite images

PERUBAHAN GARIS PANTAI PULAU LANCANG KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA MENGGUNAKAN CITRA SATELIT

CHIQUITA AYU PUTRI MARDHANI

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Kelautan pada Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan

DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2015

Judul Skripsi : Perubahan Garis Pantai Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Menggunakan Citra Satelit Nama : Chiquita Ayu Putri Mardhani NIM : C54100037

Disetujui oleh

Dr. Syamsul Bahri Agus,S.Pi M.Si Pembimbing I

Dr.Ir. Nyoman M.N. Natih, M.Si Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr.Ir.I Wayan Nurjaya, M.Sc Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian dan waktu dilaksanakan pada bulan Juni hingga September 2014 ini ialah garis pantai, dengan judul Perubahan Garis Pantai Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Menggunakan Citra Satelit. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Syamsul Bahri Agus, S.Pi, M.Si dan Bapak Dr. Ir. Nyoman M. N. Natih, M.Si selaku pembimbing. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Vincentius P. Siregar, DEA selaku dosen penguji, Bapak Dr. Ir. I Wayan Nurjaya, M.Sc selaku ketua departemen, Bapak Dr.Henry M. Manik, S.Pi, M.T selaku ketua komisi pendidikan dan seluruh staff Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada orang tua, seluruh keluarga, teman-teman dan warga Pulau Lancang atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, Februari 2015

Chiquita Ayu Putri Mardhani

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR LAMPIRAN

vi

PENDAHULUAN

1

Latar Belakang

1

Tujuan Penelitian

2

METODE

2

Waktu dan Lokasi Penelitian

2

Alat dan Bahan

2

Tahapan Penelitian

3

Pengumpulan data

3

Pengolahan data citra

4

Pengolahan data pendukung

5

HASIL DAN PEMBAHASAN

7

Interpretasi Citra

7

Perubahan Garis Pantai

7

Abrasi Penambahan garis pantai Penambahan daratan baru Faktor yang Mempengaruhi SIMPULAN DAN SARAN

8 11 14 16 19

Simpulan

19

Saran

19

DAFTAR PUSTAKA

20

LAMPIRAN

22

RIWAYAT HIDUP

41

DAFTAR TABEL 1 2 3 4 5

Alat dan bahan Jenis dan sumber data Spesifikasi citra satelit Nilai spektral kanal citra Analisis jarak perubahan garis pantai (abrasi) hasil digitized on-screen selama tahun 2010-2014 6 Analisis jarak penambahan garis pantai hasil digitized on-screen selama tahun 2010-2014 7 Luas area penambahan daratan baru hasil digitized on-screen selama tahun 2010-2014

3 4 5 5 10 13 16

DAFTAR GAMBAR 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Lokasi pengamatan lapang Kemiringan dasar pantai Posisi tinggi muka air saat perekaman citra Bagan alir tahap penelitian perubahan garis pantai Kenampakan citra WorldView-2 tahun perekaman 2010 Pulau Lancang, Kepulauan Seribu Selatan Lokasi perubahan garis pantai yang mengalami abrasi hasil overlay tahun 2010 sampai 2014 Lokasi perubahan garis pantai yang mengalami abrasi Lokasi penambahan garis pantai hasil overlay tahun 2010 sampai 2014 Lokasi penambahan garis pantai Lokasi terjadinya penambahan daratan baru hasil overlay tahun 2010 sampai 2014 Lokasi terjadinya penambahan daratan baru Grafik pasang surut Tanjung Priok Sebaran horizontal batimetri Pulau Lancang

2 5 6 6 7 8 9 11 12 14 15 17 18

DAFTAR LAMPIRAN 1 Koreksi pasang surut 2 Angin musiman bulan Januari 2004 - Maret 2014 a Musim Barat b Musim Peralihan 1 c Musim Timur d Musim Peralihan 2 3 Peta sebaran arus permukaan musiman a Musim Barat b Musim Peralihan 1 c Musim Timur d Musim Peralihan 2 4 Dokumentasi Pulau Lancang

22 22 23 23 23 23 24 24 25 26 27 28

5

6

7

Lokasi titik yang mengalami abrasi di Pulau Lancang a Lokasi yang mengalami abrasi di Pulau Lancang b Lokasi 1 yang mengalami abrasi di Lancang Besar c Lokasi 2 yang mengalami abrasi di Lancang Besar d Lokasi 3 yang mengalami abrasi di Lancang Besar e Lokasi 4 yang mengalami abrasi di Lancang Besar f Lokasi 5 yang mengalami abrasi di Lancang Kecil g Lokasi 6 yang mengalami abrasi di Lancang Kecil h Lokasi 7 yang mengalami abrasi di Lancang Kecil Lokasi titik yang mengalami penambahan garis pantai di Pulau Lancang a Lokasi yang mengalami penambahan garis pantai di Pulau Lancang b Lokasi 1 yang mengalami akresi di Lancang Besar c Lokasi 2 yang mengalami akresi di Lancang Besar d Lokasi 3 yang mengalami akresi di Lancang Besar e Lokasi 4 yang mengalami akresi di Lancang Kecil f Lokasi 5 yang mengalami akresi di Lancang Kecil g Lokasi 6 yang mengalami akresi di Lancang Kecil h Lokasi 7 yang mengalami reklamasi di Lancang Besar Lokasi titik penambahan daratan baru berupa endapan di Pulau Lancang a Lokasi yang mengalami penambahan daratan baru di Pulau Lancang b Lokasi 1 penambahan daratan baru di Lancang Besar c Lokasi 2 penambahan daratan baru di Lancang Besar d Lokasi 3 penambahan daratan baru di Lancang Besar e Lokasi 4 penambahan daratan baru di Pulau Lancang Kecil f Lokasi 5 penambahan daratan baru di Pulau Lancang Kecil g Lokasi 6 penambahan daratan baru di Pulau Lancang Kecil h Lokasi 7 penambahan daratan baru di Pulau Lancang Kecil

29 29 29 30 30 31 31 32 32 33 33 33 34 34 35 35 36 36 37 37 37 38 38 39 39 40 40

PENDAHULUAN Latar Belakang Secara geografis kawasan Pulau Lancang merupakan salah satu pulau kecil di Kelurahan Pulau Pari, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan sebagian perairan pantai ditumbuhi ekosistem mangrove dan topografi yang landai diatas permukaan laut (Sachoemar 2008). Pulau Lancang memiliki karakteristik unik dengan perubahan garis pantai yang dipengaruhi oleh pergerakan massa air dari Teluk Jakarta dan Laut Jawa melalui muatan sedimen berlebih dan banyaknya aktivitas masyarakat yang dapat merubah keseimbangan garis pantai. Perubahan tersebut besar maupun kecil pasti akan berdampak pada unsur lainnya dan mempengaruhi dinamika alam dari waktu ke waktu. Suatu pantai akan mengalami abrasi, akresi atau tetap stabil tergantung dari sedimen yang masuk dan meninggalkan pantai tersebut. Menurut Sakka et al. (2011) untuk keperluan perencanaan pengelolaan kawasan pantai diperlukan penelitian mengenai perubahan garis pantai agar pembangunan yang dilakukan tidak berdampak terhadap lingkungan. Pemantauan perubahan garis pantai dapat digambarkan menggunakan data spasial berupa citra satelit. Penggunaan citra satelit merupakan cara efektif untuk memperoleh informasi dan keperluan monitoring perubahan garis pantai, karena citra satelit mengarah pada peningkatan resolusi spasial dan temporal (di et al. 2003; li et al. 2003) Penelitian mengenai perubahan garis pantai sudah banyak dilakukan dengan beberapa metode menggunakan model matematika hingga metode berbasis SIG dan penginderaan jauh, seperti model matematika berbasis analisis menggunakan Empirical Orthogonal Function (EOF) untuk mengetahui pola dominan dari variasi perubahan garis pantai (Azhar et al. 2012), perubahan garis pantai dari hasil model pengolahan citra satelit Landsat TM (Triwahyuni 2009), model transformasi gelombang menunjukkan pantai berbentuk tonjolan mengalami abrasi sedangkan pantai yang berbentuk lekukan mengalami sedimentasi (Dewi 2011) dan perubahan garis pantai berdasarkan analisis tumpang-susun (overlay) citra satelit pada periode waktu yang berbeda (Yulius dan Ramdhan 2013). Pemanfaatan data spasial untuk penelitian garis pantai menggunakan berbagai jenis citra dengan berbagai macam resolusi spasial, menunjukkan bahwa integrasi citra satelit sangat mungkin dilakukan untuk meningkatkan detail citra satelit dan ketelitian suatu analisis perubahan, baik secara visual maupun perhitungan otomatis secara digital. Ketepatan pemilihan metode, jenis citra, resolusi (spasial dan temporal), waktu akuisisi citra dan kesesuaian tujuan penelitian sangat diperlukan untuk menghindari kesalahan interpretasi atau analisis.

2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengamati dan mengidentifikasi karakteristik perubahan garis pantai dengan periode waktu berbeda dari faktor yang mempengaruhi dengan menggunakan citra satelit WorldView-2 dan IKONOS-2 sebagai informasi spasial di Pulau Lancang, Kepulauan Seribu Selatan.

METODE Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni sampai September 2014. Pengolahandan analisis data dilakukan di Laboratorium Sistem Informasi Geografis Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Pengamatan lapang pada tanggal 24-25 Juni 2014 bertempat di Pulau Lancang Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, DKI Jakarta dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Lokasi pengambilan data lapang Alat dan Bahan Spesifikasi alat dan bahan yang digunakan dalam pengolahan data dan pengamatan di lapang dapat dilihat pada Tabel 1.

3 Tabel 1 Alat dan bahan yang digunakan Alat dan bahan Perangkat keras (hardware) Perangkat lunak (software)

GPShand

Spesifikasi Toshiba dengan intel Core I3 dan printer ODV, Surfer, Ms. Excel, Ms. Word, WRPLOT, ERMapper, ArcGIS, DNRGPS, Google Earth Garmin 76csx

Alat tulis

Pensil, pulpen, dan penggaris

Kamera

Canon zoom lens 16x dan handphone Sony Xperia Z1 Newtop dan gambar citra WorldView-2 tahun 2010-2011 dan IKONOS-2 tahun 2012 DISHIDROS tahun 2005

Datasheet Citra Batimetri Data prediksi pasut Data angin Data arus

DISHIDROS ECMWF bulan Januari 2004 – Maret 2014 OSCAR bulan Januari 2004 – Juni 2014

Kegunaan Media input, pengolahan data dan pencetakan output Pengolahan data citra dan analisis data

Pengambilan data posisi geografis Mencatat hasil pengamatan Dokumentasi hasil pengamatan Media hasil pengamatan Tumpang-susun perubahan garis pantai Mengetahui topografi perairan Menghasilkan nilai ketinggian pasang surut Menghasilkan nilai arah dan kecepatan angin Mengetahui pergerakan massa air

Tahapan Penelitian Tahapan penelitian berkaitan dengan proses pengumpulan pengolahan data citra dan data pendukung untuk mencapai hasil penelitian.

data,

Pengumpulan data Pengumpulan data penelitian terdiri dari data sekunder dan data primer. Pengambilan data primer dilakukan di lapangan, meliputi: verifikasi citra, interpretasi citra, dokumentasi dan tracking sepanjang garis pantai. Data sekunder yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah batimetri, data arus, data angin dan pasang surut sebagai data pendukung. Data pendukung digunakan dalam menginterpretasikan citra WorldView-2 perekaman citra tanggal 31 Juli 2010, IKONOS-2 perekaman citra tanggal 21 Agustus 2012 yang diperoleh dari Google Earth dan citra satelit WorldView-2 yang telah terkoreksi radiometrik dan geometrik tanggal akuisisi citra 19 Oktober 2011. Jenis dan sumber data yang digunakan diperlihatkan pada Tabel 2.

4 Tabel 2 Jenis dan sumber data yang digunakan pada penelitian Jenis Data Tracking Citra

Sifat Data P S √ √ √

Batimetri Pasut Tanjung Priok Angin Arus Keterangan: P= Primer dan S= Sekunder

√ √ √ √

Sumber Pengamatan lapang WorldView-2 (31 Juli 2010), WorldView-2 (19 Oktober 2011), dan IKONOS-2 (21 Agustus 2012) Dishidros tahun 2005 Dishidros www.ecmwf.int scar

Pengolahan data citra Data spasial menggunakan citra satelit 3 tahun terakhir untuk melihat perubahan garis pantai. Pengolahan citra awal dengan melakukan koreksi geometrik (uji akurasi antara citra ke citra) menggunakan ERMapper 9 dan ArcGIS 10 dilakukan pada citra tahun 2010 dan 2012. Citra tahun 2011 dijadikan sebagai acuan dan diasumsikan memiliki informasi yang benar. Pengambilan titik GCP (Ground Control Point) diambil secara menyebar pada pengamatan lapang, memiliki geometrik tetap dengan nilai RMSE (Root Mean Square Error) diperoleh <0,5 dan mudah dikenali baik pada citra maupun keadaan aslinya dengan sistem WGS 1984 SUTM 48. Penetapan garis pantai yang digunakan dalam penelitian ini adalah interpretasi visual dari kenampakkan objek. Komposit WorldView-2 tahun 2011 yang digunakan 531 (RGB) karena batas tegas antara air laut dan daratan yang ada dapat digambarkan dan sesuai untuk mendeteksi perubahan garis pantai. WorldView-2 tahun 2010 dan IKONOS-2 tahun 2012 yang diperoleh dari Google Earth hanya memiliki komposit bands (RGB) pada citra. Nilai xy piksel dari ketiga citra sebesar 2x2 m. Setelah citra terkoreksi proses selanjutnya penajaman citra (Colour balancing) untuk menyamakan warna antar scene menjadi seragam ketika akan digabungkan, tujuannya untuk meningkatkan kemampuan interpretasi citra secara visual dengan mempertinggi perbedaan kenampakan objek. Kemudian, proses digitized on-screen dilakukan karena lebih mudah dilakukan, tidak memerlukan tambahan peralatan lainnya dan lebih mudah untuk dikoreksi apabila terjadi kesalahan. Proses digitasi menggunakan image analysis yang dapat menampilkan data raster dan data vektor secara bersamaan. Setelah tahap digitasi selesai, proses selanjutnya adalah tumpang-susun (overlay) untuk mengetahui seberapa besar perubahan garis pantai yang mengalami abrasi dan akresi. Pembuatan polygon/line untuk menghitung jarak dan luas area perubahan garis pantai dalam kurun waktu perolehan citra. Jarak dan luas area dihitung berdasarkan jumlah piksel yang terklasifikasi sebagai objek di kalikan dengan tingkat ketelitian ukuran (2x2 m). Citra yang telah diproses

5 diinterpretasikan sesuai pengamatan lapang. Berikut adalah spesifikasi citra dan nilai spektral kanal citra yang digunakan disajikan pada Tabel 3 dan Tabel 4. Tabel 3 Spesifikasi citra satelit WorldView-2 (Puetz et al. 2009) dan IKONOS 2 (Dial 2000) Spesifikasi Resolusi spasial panchromatic (B&W) (m) Resolusi multispektral (m)

WorldView-2 0.46

IKONOS-2 0.82

1.85

3.28

Tabel 4 Nilai spektral kanal citra yang digunakan (Puetz et al. 2009; GeoEye 2010) Sensor bands (nm) Panchromatic 1 (Coastal) 2 (Blue) 3 (Green) 4 (Yellow) 5 (Red) 6 (Red-edge) 7 (Near-IR) 8 (Near-IR2)

WorldView-2 450-800 400-450 450-510 510-580 585-625 630-690 705-745 770-895 860-1040

IKONOS-2 445-900 445-516 506-595 632-698 757-853 -

Pengolahan data pendukung Data pendukung yang diolah adalah angin, arus, batimetri dan pasang surut. Pengolahan angin musiman menggunakan software WRPLOT untuk memperoleh data windrose arah dan kecepatan angin. Persebaran arus diolah menggunakan software Surfer dan ArcGIS 10. Dalam sebaran batimetri dilakukan interpolasi dari data yang diperoleh menggunakan metode Natural Neighbor 3D Analyst diolah menggunakan ArcGIS 10. Pengolahan pasang surut menggunakan Ms. Excel dengan memasukkan data ketinggian dengan menghasilkan grafik pasut lokasi bertempatan di Tanjung Priok. Data citra dikoreksi terhadap data pasang surut untuk mendapatkan garis pantai yang sebenarnya. Koreksi garis pantai terhadap pasang surut dilakukan dengan cara menentukan kemiringan dasar pantai yang diperoleh dengan mengetahui nilai ketinggian (y) dan jarak (x) dari garis pantai dapat dilihat pada Gambar 2. x α 𝐭𝐚𝐧 𝜶 =

𝒚 𝒙

y

Gambar 2 Kemiringan dasar pantai

6 Setelah itu, koreksi garis pantai citra terhadap MSL dilakukan dengan mengetahui selisih posisi muka air (𝜂) saat perekaman citra terhadap MSL yang diperoleh dari konstanta pasut DISHIDROS sehingga jarak pergeseran garis pantai (r) seperti Gambar 3. 𝒓

𝜶

𝐫=

𝜼

Posisi muka air saat perekaman citra

(𝜼) 𝐭𝐚𝐧 𝜶

MSL

Gambar 3 Posisi tinggi muka air saat perekaman citra Tinggi pasang surut saat perekaman citra tahun 2010 berada pada 0.84 m, tinggi pasut citra tahun 2011 berada pada 0.89 m, citra tahun 2012 berada pada 0.77 m, dan pada saat pengambilan data lapang berada pada 1.1 m, dengan posisi MSL 0.6 m. Berikut adalah bagan alir tahap penelitian yang disajikan pada Gambar 4. Mulai

Citra digital WorldView-2 dan IKONOS-2

Koreksi geometrik Pengamatan lapang (GCP) Citra terkoreksi

Data pendukung : Angin, arus, pasang surut dan kedalaman

Penajaman citra (Colour balancing)

Digitized on-screen

Monitoring perubahan garis pantai hasil overlay tahun 2010 sampai 2014

Selesai Gambar 4 Bagan alir tahap penelitian perubahan garis pantai

7 HASIL DAN PEMBAHASAN Interpretasi Citra Kedua citra satelit yang digunakan bersifat multi-temporal, resolusi spasial tinggi berkisar antara 0.4 m – 5 m dan mudah diinterpretasikan. Penggunaan citra satelit beresolusi tinggi dapat mendeteksi objek perairan dangkal lebih jelas dan mengidentifikasi perubahan garis pantai (Purwadhi dan Sanjoto 2008). Identifikasi pantai didasarkan pada pengelompokkan semua piksel dari citra menjadi tiga kelas: laut, darat dan vegetasi (Maglione et al. 2014). Kenampakan penggunaan lahan (landuse) berupa pemukiman (orange dan putih) yang tampak berkelompok ataupun menyebar dan tekstur yang kasar, mangrove (hijau tua) tekstur yang halus dan hutan (hijau terang) memiliki rona yang cerah dan tekstur agak kasar. Sedangkan, air cenderung menyerap cahaya sehingga laut akan berwarna gelap atau biru. Penafsiran citra didominasi oleh kemampuan dan keahlian dalam menginterpretasi kenampakan objek. Kenampakan ini dapat dilihat pada Gambar 5 dari hasil citra WorldView-2 tahun 2010.

1

3 1

2 1

Gambar 5 Kenampakan citra WorldView-2 tahun perekaman 2010 Pulau Lancang, Kepulauan Seribu Selatan Perubahan Garis Pantai Adanya intervansi manusia terhadap kawasan pesisir akan mengganggu kestabilan bentuk pantai yang telah terbentuk akibat dari keseimbangan alam. Terganggunya kawasan pantai menyebabkan berbagai masalah antara lain terjadinya abrasi dan akresi. Tumpang-susun (overlay) ketiga garis pantai hasil digitasi citra dan pengambilan data lapang dilakukan untuk mengetahui perubahan

8 garis pantai pada tahun 2010 sampai 2014. Garis pantai tahun 2010 digunakan sebagai garis pantai awal untuk melihat seberapa besar jarak perubahan garis pantai yang terjadi selama tahun 2010 sampai 2014. Garis pantai di Pulau Lancang mengalami kemunduran (abrasi) dan kemajuan (akresi) di beberapa lokasi pantai. Hal ini ditunjukkan oleh perubahan yang terlihat pada garis pantai berwarna hijau (2010), ungu (2011), kuning (2012), dan biru (2014). Abrasi Menurut Lantuit et al. (2010) abrasi merupakan pengurangan garis pantai dipengaruhi oleh dinamika gerak air laut dan kegiatan manusia yang bersifat merusak. Abrasi merupakan salah satu masalah yang mengancam pesisir, mengalami kemunduran garis pantai sehingga merugikan bagi peduduk Pulau Lancang. Abrasi dapat merusak bangunan-bangunan yang difungsikan sebagai penunjang wisata dan rumah penduduk yang berada di pinggir pantai. Abrasi pantai disebabkan adanya angkutan sedimen menyusur pantai sehingga mengakibatkan berpindahnya sedimen dari satu tempat ke tempat lainnya. Hasil overlay garis pantai pada citra WorldView-2, IKONOS-2 dan pengambilan data lapang diperoleh 7 lokasi yang mengalami abrasi dapat dilihat pada Gambar 6 sebagai berikut.

Gambar 6 Lokasi perubahan garis pantai yang mengalami abrasi hasil overlay tahun 2010 sampai 2014

9

a

b

c

d

e

f

g Gambar 7 Lokasi perubahan garis pantai yang mengalami abrasi (a, b, c, d) Lancang Besar dan (e, f, g) Lancang Kecil

10 Perubahan garis pantai dihitung menggunakan fitur “Measured Tools” dalam pembuatan line pada digitasi citra. Tingkat ketelitian ukuran sebesar 2x2 m/piksel. Tabel 5 menunjukkan jarak perubahan garis pantai yang mengalami abrasi pada tiap lokasi di garis pantai Pulau Lancang. Tabel 5 Analisis jarak perubahan garis pantai (abrasi) hasil digitized on-screen selama tahun 2010-2014 Perbedaan dengan garis pantai tahun 2010 (m) 2011 2012 2014 Rata-rata per tahun Keterangan 1 -3.64 -5.86 -8.43 -5.98 Abrasi 2 -3.29 -5.58 2.09 -2.26 Abrasi 3 -2.61 -3.65 -6.69 -4.32 Abrasi 4 -4.30 -3.29 -6.58 -4.72 Abrasi 5 -1.29 5.47 -7.01 -0.94 Abrasi 6 -2.33 -4.51 -3.44 -3.43 Abrasi 7 -4.31 -1.83 -0.80 -2.31 Abrasi Keterangan: (-) ke arah darat dan (+) ke arah laut, tingkat ketelitian ukuran 2x2 m Lokasi

Nilai rata-rata dari 7 lokasi yang mengalami abrasi berkisar antara 0.94 sampai 5.98 m/thn. Gambar 7a menunjukkan pada tahun 2012 adanya pembangunan breakwater, namun saat pengambilan data lapang breakwater mengalami kerusakan sehingga dialih fungsikan sebagai bersandar kapal nelayan. Pada saat pengambilan data lapang di sekitar Pulau Lancang Besar terdapat adanya bangunan pelindungan pantai, seperti breakwater dan seawall. Breakwater merupakan kontruksi bangunan di lepas pantai dan sejajar dengan garis pantai sebagai pelindung pantai terhadap abrasi dengan menghancurkan energi gelombang sebelum mencapai pantai (Hegde 2010). Sedangkan, seawall (Lampiran 4c) merupakan kontruksi yang dibangun di pantai dan sejajar dengan garis pantai digunakan sebagai pelindung terhadap abrasi yang terbuat dari tumpukkan baru dan terumbu karang mati (Ehrlich dan Kulhaw 1982). Menurut Chandrasekar et al. (2013) pembangunan bangunan pelindung pantai dapat menjebak pasir bergerak sepanjang garis pantai, merampas daerah lain menerima pasir yang termasuk kegiatan antropogenik. Pada Gambar 7a sampai Gambar 7d berada di Lancang Besar, abrasi mengalami peningkatan tiap tahunnya sekitar 2.26 sampai 5.98 m/thn dikarenakan cenderung mengalami arus susur pantai (longshore current) yang membawa material ke arah selatan Lancang Besar. Gambar 7b tahun 2014 mengalami akresi sebesar 2.09 m. Sedangkan Gambar 7e sampai Gambar 7g mengalami peningkatan sekitar 0.94 sampai 3.34 m/thn abrasi terjadi di Lancang Kecil. Abrasi yang terjadi di Lancang Kecil sebagian besar disebabkan oleh alam, dikarenakan tidak ada aktivitas manusia yang mempengaruhi di lokasi tersebut. Sedimen terangkut oleh longshore current mengakibatkan terjadinya pendangkalan pada beberapa bagian di Lancang Kecil. Gambar 7e tahun 2012 mengalami akresi sebesar 5.47 m. Pada Gambar 7e mengalami abrasi yang membawa material menjauh dari pantai ke arah utara sehingga mengalami penambahan daratan baru (akresi). Kerusakan pantai di Pulau Lancang terutama abrasi sangat sulit diatasi, karena sebagian besar disebabkan oleh alam.

11 Penambahan garis pantai Akresi atau sedimentasi adalah pendangkalan atau penambahan daratan baru yang cenderung semakin ke arah laut akibat adanya pengendapan sedimen yang dibawa oleh air laut (Satyanta 2010). Akresi dapat merugikan masyarakat pesisir karena mempengaruhi ketidakstabilan garis pantai. Akresi secara terus-menerus dalam jangka waktu relatif lama dapat mengubah permukaan menjadi daratan yang lebih tinggi dan luas. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai adalah campur tangan manusia, seperti reklamasi pantai yang terjadi di Pulau Lancang. Reklamasi adalah suatu proses membuat daratan baru pada suatu daerah perairan/pesisir pantai. Menurut Menteri Perhubungan RI (2011) reklamasi merupakan pekerjaan timbunan di perairan atau pesisir yang mengubah garis pantai atau kontur kedalaman perairan. Dampak perubahan garis pantai (reklamasi) mempengaruhi ekosistem laut. Kegiatan reklamasi pantai dikhawatirkan dapat melahirkan perubahan ekosistem seperti pola arus laut, abrasi dan akresi yang berpotensi mengganggu lingkungan pesisir (Mann dan Lazier 2006). Hasil overlay garis pantai pada citra WorldView-2, IKONOS-2 dan pengambilan data lapang di peroleh 6 lokasi yang mengalami akresi dan 1 lokasi yang mengalami reklamasi dapat dilihat pada Gambar 8 sebagai berikut.

Gambar 8 Lokasi penambahan garis pantai hasil overlay tahun 2010 sampai 2014

12

a

b

c

d

e

f

g Gambar 9 Lokasi penambahan garis pantai (a, b, c) Lancang Besar, (d, e, f) Lancang Kecil dan (g) Dermaga bagian barat

13 Perubahan jarak garis pantai dihitung menggunakan fitur “Measured Tools” dalam pembuatan line pada digitasi citra. Tingkat ketelitian ukuran sebesar 2x2 m/piksel. Tabel 6 menunjukkan jarak perubahan garis pantai pada tiap lokasi di Pulau Lancang. Tabel 6 Analisis jarak penambahan garis pantai hasil digitized on-screen selama tahun 2010-2014 Perbedaan dengan garis pantai tahun 2010 (m) 2011 2012 2014 Rata-rata per tahun Keterangan 1 -2.36 4.62 8.57 3.61 Akresi 2 4.78 10.20 3.99 6.32 Akresi 3 1.04 4.43 4.84 3.44 Akresi 4 3.71 2.56 12.08 6.12 Akresi 5 3.23 1.55 7.57 4.12 Akresi 6 -1.55 2.32 0.95 0.57 Akresi Keterangan: (-) ke arah darat dan (+) ke arah laut, tingkat ketelitian ukuran 2x2 m Lokasi

Perbandingan jarak perubahan garis pantai yang mengalami akresi dari tahun 2010 sampai 2014 dengan nilai rata-rata berkisar 0.57 sampai 6.32 m/thn. Gambar 9a sampai Gambar 9c berada di Lancang besar, akresi mengalami peningkatan tiap tahunnya sekitar 3.61 sampai 3.44 m/thn, sedangkan Gambar 9d sampai Gambar 9f berada di Lancang Kecil berkisar antara 0.57 sampai 6.12 m/thn. Gambar 9g merupakan salah satu yang mengalami reklamasi terdapat di Pulau Lancang Besar untuk pembangun dermaga bagian barat sebagai jalur transportasi (Lampiran 4f) dengan memanfaatkan penggalian pasir, terumbu karang dan batu. Penambangan pasir laut untuk pembangunan bagian dermaga barat mempercepat proses abrasi di lokasi lainnya. Reklamasi yang terjadi di dermaga bagian barat berdampak pada majunya garis pantai dan meningginya permukaan substrat dasar dirataan terumbu karang dekat dengan dermaga sehingga mengalami akresi. Penambangan pasir pesisir dapat menyebabkan bentuk pantai berubah (Lampiran 4g).

14 Penambahan daratan baru Pada citra satelit terlihat adanya lahan kosong cukup luas di sekitar tubir Pulau Lancang merupakan lahan endapan yang baru terbentuk. Akresi ini disebabkan oleh penumpukkan sedimen yang berasal dari daratan dan terendapkan sehingga membentuk daratan baru. Hasil overlay garis pantai pada citra WorldView-2, IKONOS-2 dan pengambilan data lapang diperoleh 7 lokasi yang mengidentifikasi terjadinya penambahan daratan baru (akresi) di sekitar Pulau Lancang dapat dilihat dari Gambar 10. Terdapat 2 lokasi penambahan daratan baru di Lancang Besar bagian utara, 1 lokasi di Lancang Besar bagian selatan dan 4 lokasi lainnya berada di sekitar Lancang Kecil.

Gambar 10 Lokasi penambahan daratan baru hasil overlay tahun 2010 sampai 2014

15

a

b

c

d

e

f

g Gambar 11 Lokasi terjadinya penambahan daratan baru di Pulau Lancang (a, b, c) Lancang Besar dan (e, f, g) Lancang Kecil

16 Hasil perhitungan luas area yang mengalami akresi secara alami di sekitar tubir Pulau Lancang dalam pembuatan polygon pada digitasi citra. Tingkat ketelitian ukuran sebesar 2x2 m/piksel. Berikut adalah luas area penambahan daratan baru (akresi) disajikan pada Tabel 7. Tabel 7 Luas area penambahan daratan baru hasil digitized on-screen selama tahun 2010-2014 Lokasi 1 2 3 4 5 6 7

Perbedaan luas area daratan baru tahun 2010 (m2) 2010 2011 2012 2014 Rata-rata per tahun 592.10 855.561 1098.90 1459.45 1001.50 814.01 2449.26 4087.11 4096.45 2045.89 2432.24 903.83 2643.93 3097.79 2269.45 1009.75 686.96 722.938 557.07 744.18 701.59 96.68 1366.42 364.63 632.33 1681.93 1289.45 4300.77 1092.95 2091.28 2420.76 968.37 1808.95 4394.83 2398.23

Pada 7 lokasi tersebut menunjukkan adanya penambahan daratan yang semakin luas dan bergeser ke arah darat. Nilai rata-rata akresi sebesar 632 sampai 2399 m2/thn. Gambar 11a dan Gambar 11b di Pulau Lancang bagian utara menunjukkan penambahan daratan baru yang semakin luas berkisar antara 1001 sampai 2270 m2/thn. Gambar 11d sampai Gambar 11g mengalami akresi di sekitar Lancang Kecil, memiliki nilai rata-rata berkisar antara 744.18m2/thn – 2398.23 m2/thn. Faktor yang Mempengaruhi Faktor alami penyebab proses kerusakan pantai tersebut, yaitu pasang surut, angin, arus, dan kedalaman. Agar penanganan kerusakan pantai dapat dilakukan dengan efektif maka diperlukan pengetahuan tentang karakteristik oseanografi di Pulau Lancang dengan analisis dan didukung hal-hal lainnya menyangkut kegiatan masyarakat yang memicu terjadinya kerusakan pantai. Aktifitas manusia yang memanfaatkan pantai untuk berbagai kepentingan, dapat merubah morfologi atau bahkan merusak lingkungan di kawasan pantai. Menurut Nicholls et al. (2007) mangrove, padang lamun dan terumbu karang melakukan fungsi penting bagi pesisir yaitu sebagai perangkap sedimen, menstabilkan dasar laut terhadap abrasi dan menyediakan makanan bagi banyak ikan. Pulau Lancang memiliki hutan mangrove yang padat dan lapisan tanah yang cukup tebal. Hampir seluruh pantai di Pulau Lancang dikelilingi oleh hutan mangrove (Lampiran 4a). Hutan mangrove di sepanjang pantai Pulau Lancang berfungsi sebagai pemecah ombak alami yang efektif daripada pembuatan bangunan tanggul pemecah ombak (seawall/ breakwater). Hutan mangrove yang padat berada di bagian utara Lancang Besar dan di sekitar Lancang Kecil. Lancang Kecil terdapat tanaman mangrove yang keberadaannya berada di tengah laut. Pada umumnya keadaan geologi Kepulauan Seribu terdiri dari batuan kapur, karang/pasir dan sedimen yang berasal dari Teluk Jakarta dan Laut Jawa (Putrajaya 2010), jenis sedimen di Pulau Lancang didominasi oleh material pasir

17 halus dan rubble (Lampiran 4b) dan sebagian besar terumbu karang yang ada masih mengalami pertumbuhan. Sedimentasi menyebabkan terjadinya penurunan pertumbuhan terumbu karang terutama untuk pulau-pulau yang dekat dengan Jakarta. Pembangunan dermaga yang merusak karang dan kegiatan pengambilan karang untuk bahan bangunan (Lampiran 4h), tingginya sedimentasi dan pembuangan limbah (Lampiran 4e) terhadap perairan laut di sekitar Pulau Lancang. Data pasang surut digunakan dalam meramalkan atau memodelkan pola arah dan kecepatan arus pada lokasi penelitian. Hasil pengolahan citra menunjukkan ketiga citra satelit dalam kondisi mulai pasang (Lampiran 1). Pasang surut di Tanjung Priok pada bulan Juni 2014 termasuk pasut tipe tunggal dengan hasil perhitungan Formzhal sebesar 4.67. Pasut tipe tunggal (diurnal) yaitu mengalami satu kali pasang surut selama 24 jam dengan kisaran nilai Formzhal sebesar F>3 (Hicks 2006). Kisaran pasang surut terendah yaitu 0.1 m sedangkan kisaran tertinggi mencapai 1.1 m saat pasang. Hasil prediksi pasang surut selama 30 hari pada bulan Juni 2014 dapat dilihat pada Gambar 12.

Sumber: DISHIDROS Tahun 2014 Gambar 12 Grafik pasang surut Tanjung Priok Kedalaman merupakan faktor yang berperan dalam penentuan transport sedimen dengan adanya stratifikasi kedalaman berpengaruh terhadap abrasi maupun akresi. Menurut Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (2008) batimetri di Kepulauan Seribu Selatan termasuk kedalaman perairan dangkal sekitar 5-30 m. Perubahan garis pantai yang diakibatkan oleh faktor antropogenik seperti penambangan pasir pantai dapat mengakibatkan perubahan kedalaman sehingga merubah pola arus dan gelombang pecah di Pulau Lancang Besar. Pada Gambar 13 dapat dilihat kedalaman yang dimiliki Pulau Lancang termasuk kedalaman relatif dangkal yang memiliki kedalaman ≤ 30 m dengan kisaran 0.526 m. Metode batimetri menggunakan metode Natural Neighbor merupakan

18 interpolasi untuk daerah penelitian yang relative datar dan dekat dengan garis pantai sehingga membuat gambar melengkung tanpa interpolasi apapun (Bragal et al. 2012).

Gambar 13 Sebaran horizontal batimetri Pulau Lancang Kepulauan Seribu Hasil analisis data arah dan kecepatan angin (Lampiran 2) dari bulan Januari 2004 sampai Maret 2014 menghasilkan persentase distribusi frekuensi kecepatan angin dan berpengaruh tehadap arus permukaan. Frekuensi kecepatan angin dominan berada pada kisaran 2.1-3.6 m/s berasal dari Tenggara dengan nilai sebesar 54.7% pada musim timur, peralihan 2 sebesar 54.5% angin bertiup dari Utara, dan musim barat sebesar 49.6%, sedangkan peralihan 1 berada pada frekuensi kecepatan angin dominan pada kisaran 0.5-2.1 m/s sebesar 49.7% angin bertiup dari Timur Laut. Arus permukaan laut di perairan Kepulauan Seribu sangat dipengaruhi oleh pergerakan arus yang besar dari Teluk Jakarta dan Laut Jawa yang dapat mentransportasikan sedimen (Nagara et al. 2007). Secara umum arus di Kepulauan Seribu dipengaruhi oleh perubahan musim (Mihardja dan Pranowo 2001). Arus permukaan bergerak ke Timur pada musim barat (November-Maret) dan arus bergerak ke arah Barat pada musim timur (Mei-September). Pada musim peralihan (April dan Oktober) pergerakan arus tidak teratur (Wyrtki 1961). Arus susur pantai (longshore current) cenderung mengalami abrasi pantai karena sedimen bergerak, selanjutnya sedimen terbawa ke suatu lokasi dimana pengaruh arus susur pantai akan berkurang dan akhirnya hilang sehingga akan terendapkan dan mengalami akresi (Nontji 2002). Kecepatan arus perairan (Lampiran 3) pada saat musim barat berkisar antara 0.157 m/s sedangkan musim timur mencapai 0.082 m/s. Pada musim peralihan 1 dan peralihan 2 kecepatan arus sebesar 0.018 m/s dan 0.035 m/s.

19 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil pengolahan citra satelit, perubahan garis pantai yang terjadi di Pulau Lancang bervariasi mengalami abrasi maupun akresi. Lancang Besar di sisi sebelah utara dan timur laut, garis pantai tidak terlihat adanya perubahan. Alasannya, pengaruh arus yang membawa dan meninggalkan sedimen dari Laut Jawa hanya sedikit. Perubahan garis pantai lebih dominan terjadi di Lancang Besar, sedangkan penambahan daratan baru berada di sekitar tubir Pulau Lancang. Abrasi terjadi di 7 titik lokasi dan 7 lokasi yang megalami penambahan daratan baru saat pengamatan lapang. Sedangkan, 6 titik lokasi mengalami akresi secara alami dan 1 titik mengalami reklamasi. Nilai rata-rata yang mengalami abrasi berkisar 0.94 sampai 5.98 m/thn, akresi 0.57 sampai 6.32 m/thn dan penambahan daratan baru sebesar 632 sampai 2400 m2/thn. Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya perubahan garis pantai adalah faktor oseanografi, seperti arus, angin dan pasut. Selain itu faktor antropogenik seperti bangunan pelindungan pantai (breakwater, seawall dan groin), penggalian pasir, pemanfaatan terumbu karang dan pembangunan jalur transportasi. Terdapat suatu hubungan antara aspek-aspek oseanografi terhadap ekosistem (mangrove, lamun dan terumbu karang) sebagai perangkap sedimen di perairan Pulau Lancang. Saran Saran yang diusulkan penulis dalam rangka penelitian lebih lanjut adalah: 1. Perlu dilakukan penelitian pada musim barat untuk mengetahui seberapa besar perubahan garis pantai yang mengalami abrasi dan akresi. 2. Pengambilan data observasi (primer) hidro-oseanografi, hidobiologi, geomorfologi dan sebagainya untuk mendapatkan hasil dan informasi yang lebih akurat.

20 DAFTAR PUSTAKA Azhar MR, Suntoyo, Musta’in M. 2012. Analisa perubahan garis pantai Tuban, Jawa Timur dengan menggunakan Empirical Orthogonal Function (EOF). Jurnal Teknis ITS. 1(1): G286-G291. ISSN: 2301-9271. Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. 2008. Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. TN Kep. Seribu [Internet]. [diunduh 28 September 2014]. Tersedia pada: http://www.dephut.go.id/uploads/files/TN_Kep_Seribu_2008.pdf. Bragal F, Tosil L, Prati C, Alberotanza L. 2013. Shoreline detection: capability of COSMO-SkyMed and high-resolution multispectral images. European Journal of Remote Sensing. 46: 837-853. doi: 10.5721/EuJRS20134650. Chandrasekar NV, Viviek J, Saravanan S. 2013. Coastal vulnerability and shoreline changes for Southern Tip of India- remote sensing and GIS approach. Journal Earth Science Change. 4: 144. doi: 10.4172/21577617.1000144. Dewi IP. 2011. Perubahan garis pantai dari pantai Teritip Balikpapan sampai pantai Ambarawang Kutai Kertanegara Kalimantan Timur [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Dial G. 2000. IKONOS satellite mapping accuracy. ASPRS 2000 Proceedings. Washington DC Di K, Ma R, Li R. 2003. Geometric processing of IKONOS stereo imagery for coastal mapping applications. Photogrammetric Engineering and Remote Sensing. 69 (8): 873-879. [DISHIDROS] Dinas Hidro-oseanografi. 2014. Buku ramalan pasang surut tide tables tahun 2014. Jakarta (ID): Dishidros. Ehrlich LA, Kulhaw FH. 1982. Breakwater, jetties, and groin: a design guide. New York (US): Cornel University. Hegde AV. 2010. Coastal erosion and mitigation methods-global state of art. Indian Journal of Geo-Marine Sciences. 39(4): 521-530. Hicks SD. 2006. Understanding tides. U. S. Department Of Commerce-National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA). National Ocean Service. [Internet]. [diunduh 2014 Agust 16]. Tersedia pada: http://tidesandcurrents.noaa.gov/publications/Understanding_Tides_by_Ste acy_finalFINAL11_30.pdf Lantuit H, Overduin PP, Couture N, Wetterich S, Aré F, Atkinson D, Brown J, Cherkashov G, Drozdov D et al. 2010. The arctic coastal dynamics database: a new classification scheme and statistics on arctic permafrost coastlines. Estuaries and Coasts. doi: 10.1007/s12237-010-9362-6 Li R, Di K, Ma R. 2003. 3D shoreline extraction from IKONOS satellite image. Marine Geodesy. 26 (1-2): 107-115. doi: 10.1080/01490410306699 Maglione P, Parente C, Vallario A. 2014. Coastline extraction using high resolution WorldView-2 satellite imagery. European Journal of Remote Sensing. 47: 685-699. doi: 10.5721/EujRS20144739 Mann KH, Lazier JRN. 2006. Dynamics of marine ecosystems: biologicalphysical interactions in the ocean. Canada: bedrofs Institute of Oceanography.

21 [MENHUB-RI] Menteri Perhubungan Republik Indonesia. 2011. Peraturan menteri perhubungan nomor PM 52 tahun 2011 tentang pergerukan dan reklamasi. [Internet]. [diunduh 25 Januari 2015]. Tersedia pada: http://hukum.unsrat.ac.id/men/menhub2011_52.pdf Mihardja DK, Pranowo WS. 2001. Kondisi Perairan Kepulauan Seribu. Pusat Penelitian Kepariwisataan (P2PAR) dan Pusat Penelitian Kelautan (PPK). Bandung (ID): Institut Teknologi Bandung. Nagara GA, Sasongko NA, Olakunle OJ. 2007. Introduction to Java Sea. Norwegia: University of Stavanger. Nicholls RJ, Wong PP, Burkett VR, Codignotto JO, Hay JE, McLean RF, Ragoonaden S, Woodroffe CD. 2007. Coastal systems andlow-lying areas climate changes: impacts, adaptation and vulnerability. Cambridge (UK): Cambridge University Press. hlm 315-356. Nontji A. 2002. Laut Nusantara. Volume ke-3. Jakarta (ID): Djambatan. Putrajaya G. 2010. Peran positif modal sosial nyambang sebagai alat untuk mengatasi peningkatan kemiskinan masyarakat nelayan Pulau Lancang Kel. Pulau Pari, Kec. Kep. Seribu Selatan, Provinsi DKI Jakarta [Tesis]. Jakarta (ID): Universitas Indonesia. Purwadhi SH, Sanjoto BT. 2008. Pengantar interpretasi citra penginederaan jauh. LAPAN-UNES: Jakarta . Puetz AM, Lee K, Olsen RC. 2009. WorldView-2 data simulation and analysis results. Proc. Of SPIE. 7334: 73340U1-73340U9. doi: 10.1117/12.818187. Sachoemar SI. 2008. Karakteristik lingkungan perairan Kepulauan Seribu. Jurnal Air Indonesia. 4(2):109-114. Sakka, Purba M, Nurjaya IW, Pawitan H, Siregar VP. 2011. Studi perubahan garis pantai di delta sungai Jeneberang, Makassar. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis: 3(2):112-126. Satyanta P. 2010. Deteksi perubahan garis pantai melalui citra penginderaan jauh di Pantai Utara Semarang Demak. Jurnal Geografi. 7(1): 30-38. Triwahyuni A. 2009. Model perubahan garis pantai Timur Tarakan, Kalimantan Timur [Skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Wyrtki K. 1961. Physical oceanography of the Southeast Asian waters. Naga Report Vol 2. La Jolla, California: Scripps Institution of Oceanography. Yulius, Ramdhan M. 2013. Perubahan garis pantai di Teluk Bungus Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat berdasarkan analisis citra satelit. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 5(2): 417-427.

22 LAMPIRAN Lampiran 1 Koreksi pasang surut

Lampiran 2 Angin musiman bulan Januari 2004-Maret 2014 (i) Windrose (ii) Distribusi frekuensi

(i)

(ii) a Musim barat

23

(i)

(ii) b Musim peralihan 1

(i)

(ii) c Musim Timur

(i)

(ii) d Musim peralihan 2

24 Lampiran 3 Peta sebaran arus permukaan musiman (i) Laut Jawa (ii) Pulau Lancang

(i)

(ii) a Musim Barat

25

(i)

(ii) b Musim Peralihan 1

26

(i)

(ii) c Musim Timur

27

(i)

(ii) d Musim Peralihan 2

28 Lampiran 4 Dokumentasi Pulau Lancang

(a) Hutan mangrove

(b) Rubble

(c) Seawall (hard engineering)

(d) Akresi

(e) Sampah di sekitar Pulau Lancang

(f) Dermaga di sisi barat Lancang Besar

(g) Penambangan pasir

(h) Bahan bangunan dari terumbu karang

29 Lampiran 5 Lokasi titik yang mengalami abrasi di Pulau Lancang

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

a Lokasi yang mengalami abrasi di Pulau Lancang

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

b Lokasi 1 yang mengalami abrasi di Lancang Besar

30

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

c Lokasi 2 yang mengalami abrasi di Lancang Besar

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

d Lokasi 3 yang mengalami abrasi di Lancang Besar

31

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

e Lokasi 4 yang mengalami abrasi di Lancang Besar

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

f Lokasi 5 yang mengalami abrasi di Lancang Kecil

32

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

g Lokasi 6 yang mengalami abrasi di Lancang Kecil

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

h Lokasi 7 yang mengalami abrasi di Lancang Kecil

33 Lampiran 6

Lokasi titik yang mengalami penambahan garis pantai di Pulau Lancang

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

a Lokasi yang mengalami penambahan garis pantai di Pulau Lancang

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

b Lokasi 1 yang mengalami akresi di Lancang Besar

34

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

c Lokasi 2 yang mengalami akresi di Lancang Besar

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

d Lokasi 3 yang mengalami akresi di Lancang Besar

35

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

e Lokasi 4 yang mengalami akresi di Lancang Kecil

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

f Lokasi 5 yang mengalami akresi di Lancang Kecil

36

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

g Lokasi 6 yang mengalami akresi di Lancang Kecil

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

h Lokasi 7 yang mengalami reklamasi di Lancang Besar

37 Lampiran 7

Lokasi titik penambahan daratan baru berupa endapan di Pulau Lancang

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

a Lokasi yang mengalami penambahan daratan di Pulau Lancang

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

b Lokasi 1 yang mengalami penambahan daratan di Lancang Besar

38

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

c Lokasi 2 yang mengalami penambahan daratan di Lancang Besar

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

d Lokasi 3 yang mengalami penambahan daratan di Lancang Besar

39

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

e Lokasi 4 yang mengalami penambahan daratan di Lancang Kecil

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

f Lokasi 5 yang mengalami penambahan daratan di Lancang Kecil

40

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

g Lokasi 6 yang mengalami penambahan daratan di Lancang Kecil

(1) Overlay

(2) 2010

(3) 2011

(4) 2012

h Lokasi 7 yang mengalami penambahan daratan di Lancang Kecil

41 RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 21 Oktober 1993 sebagai anak ke empat dari orang tua bernama Danny Sumardenni dan Elly. Penulis lulus dari SMAI Sa’id Naum Jakarta pada tahun 2010. Tahun 2010 penulis masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Semasa kuliah penulis aktif sebagai asisten mata kuliah Iktiologi pada tahun ajaran 2012-2013, asisten mata kuliah Akustik Kelautan tahun ajaran 20132014, dan asisten mata kuliah Pemetaan Sumberdaya Hayati Kelautan pada tahun 2013-2014. Penulis juga aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan tahun 2011-2012 dan 2012-2013. Penulis menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dengan skripsi yang berjudul “Perubahan Garis Pantai Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Menggunakan Citra Satelit”.