Proses Pengeringan

Kenyataan ini sesuai dengan hukum termodinamika. Misalnya, panas yang dibutuhkan untuk menghasilkan uap air pada suhu 100 0 C dan tekanan 101,3 kPa ad...

0 downloads 29 Views 92KB Size
Proses Pengeringan Rosdaneli Hasibuan Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara l. PENDAHULUAN Apakah pengeringan? Bagaimana pengeringan terjadi? Berapa lamakah pengeringan harus dijalankan? Persoalan ini perlu dijawab terlebih dahulu sebelum sesuatu sistem pengeringan direka bentuk. Tujuan akhir dari sistem pengeringan bukan saja untuk mempercepat proses pengeringan, akan tetapi juga untuk meningkatkan mutu bahan yang dikeringkan dan sistem dapat beroperasi dengan biaya relatif rendah. Dengan kata lain, kita ingin mengoptimumkan operasi sistem pengeringan tersebut. Sistem pengeringan dapat direka bentuk hanya setelah kita mengetahui prinsip dasar pengeringan suatu jenis bahan. Hal ini penting untuk menghindari proses pengeringan lampau dan pengeringan yang terlalu lama, karena kedua proses pengeringan ini akan meningkatkan biaya operasi. Metodologi dan teknik pengeringan dapat dikatakan baik apabila kita memahami konsep pengeringan itu sendiri. Dengan mengetahui konsep tersebut maka dapat membantu kita menghasilkan satu sistem pengeringan yang handal dan dapat beroperasi secara optimum.

2. PROSES PENGERINGAN Bahasa ilmiah pengeringan adalah penghidratan, yang berarti menghilangkan air dari suatu bahan. Proses pengeringan atau penghidratan berlaku apabila bahan yang dikeringkan kehilangan sebahagian atau keseluruhan air yang dikandungnya. Proses utama yang terjadi pacta proses pengeringan adalah penguapan. Penguapan terjadi apabila air yang dikandung oleh suatu bahan teruap, yaitu apabila panas diberikan kepada bahan tersebut. Panas ini dapat diberikan melalui berbagai sumber, seperti kayu api, minyak dan gas, arang baru ataupun tenaga surya. Pengeringan juga dapat berlangsung dengan cara lain yaitu dengan memecahkan ikatan molekul-molekul air yang terdapat di dalam bahan. Apabila ikatan molekulmolekul air yang terdiri dari unsur dasar oksigen dan hidrogen dipecahkan, maka molekul tersebut akan keluar dari bahan. Akibatnya bahan tersebut akan kehilangan air yang dikandungnya. Cara ini juga disebut pengeringan atau penghidratan. Untuk memecahkan ikatan oksigen dan hidrogen ini, biasanya digunakan gelombang mikro. Gelombang mikro merambat dengan frekuensi yang tinggi. Apabila gelombang mikro disesuaikan setara dengan getaran molekul-molekul air maka akan terjadi resonansi yaitu ikatan molekulmolekul oksigen dan hidrogen digetarkan dengan kuat pada frekuensi gelombang mikro yang diberikan sehingga ikatannya pecah. 1 e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

Hal ini yang menyebabkan air tersebut menguap. Proses yang sama terjadi pada oven gelombang mikro (microwave) yang digunakan untuk memasak makanan.Pada pembahasan selanjutnya kita tidak akan menyinggung proses pengeringan menggunakan gelombang mikro, tetapi difokuskan pada pengeringan menggunakan tenaga panas. Hal ini disebabkan sistem pengeringan gelombang mikro mahal dan tidak digunakan secara luas untuk mengeringkan suatu bahan terutama dalam sektor pertanian. Dalam sektor pertanian sistem pengeringan yang umum digunakan adalah tenaga surya. Pada sistem tenaga surya ini, bahan diexpose ke sinar surya secara langsung maupun tidak langsung. Uap air yang terjadi dipindahkan dari tempat pengeringan melalui aliran udara. Proses aliran udara ini terjadi karena terdapat perbedaan tekanan. Perbedaan tekanan udara ini dapat terjadi secara konveksi bebas maupun konveksi paksa. Konveksi bebas terjadi tanpa bantuan luar, yaitu pengaliran udara hanya bergantung pada perbedaan tekanan yang disebabkan oleh perbedaan densitas udara, sedangkan pada konveksi secara paksa digunakan kipas untuk memaksa gerakan udara. Pada sistem pengeringan yang bersumberkan tenaga minyak, bahan yang akan dikeringkan diletakkan di dalam suatu ketel tertutup. Udara panas hasil pembakaran minyak dialirkan mengenai permukaan bahan tersebut. Akhir-akhir ini, cara tersebut diatas juga digunakan dalam teknologi tenaga surya. Udara yang dipanaskan oleh pengumpul surya digunakan untuk menguapkan air pada bahan. Udara merupakan medium yang sangat penting dalam proses pengeringan, untuk menghantar panas kepada bahan yang hendak dikeringkan, karena udara satu-satunya medium yang sangat mudah diperoleh dan tidak memerlukan biaya operasional. Oleh karena itu untuk memahami bagaimana proses pengeringan terjadi, maka perlu ditinjau sifat udara.

3. KELEMBABAN UDARA Komponen yang paling banyak di dalam udara adalah oksigen, nitrogen, dan uap air. Oksigen dan nitrogen tidak mempengaruhi kelembaban udara, sedangkan kandungan uap air sangat berpengaruh terhadap kelembaban udara. Udara yang kurang mengandung uap air dikatakan udara kering, sedangkan udara yang mengandung banyak uap air dikatakan udara lembab. Setiap unsur di dalam udara, termasuk uap air, mempengaruhi tekanan udara. Pada suatu nilai tekanan udara tertentu, tekanan maksimum uap air yang dapat dicapai dinamakan tekanan jenuh. Jika tekanan melebihi tekanan jenuh akan menyebabkan uap air kembali membentuk titisan air. Seandainya suhu dinaikkan, tekanan jenuh juga akan turnt meningkat. Oleh karena itu kita dapat mendefenisikan tekanan jenuh sebagai tekanan uap air diatas permukaan air mendidih dalam suatu ketel tertutup tanpa udara. Tekanan jenuh berubah menurut keadaan suhu yang menyebabkan air tersebut mendidih. Oleh karena itu nilai tekanan jenuh senantiasa berubah. Misalnya, tekanan jenuh pada 100°C ialah 101,3 kPa sedangkan tekanan jenuh pada suhu 60°C adalah 19,9 kPa. Nilai-nilai ini dapat dilihat pada tabel yang terdapat dalam buku yang ditulis oleh Dossat (1981). Daftar lengkap sifat air dan uap jenuhnya ada pada lampiran A. Tabel 1. menunjukkan sebahagian dari tabel tersebut.

2 e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

0

Suhu ( C) 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60

Tekanan (kPa) 1,23 1,71 2,34 3,17 4,25 5,63 7,38 9,59 12,3 15,8 19,9

Kap.Panas (MJ/kg) 2,491 2,467 2,456 2,442 2,431 2,419 2,407 2,395 2,383 2,371 2,359

Kelembaban (Kg uap air/kg udara kering) 0,0076 0,01067 0,0147 0,0201 0,0272 0,0366 0,0489 0,0650 0,0859 0,1149 0,1520

Dari tabel di atas dapat dikatakan bahwa untuk mendidihkan air pada suhu 60°C kita perlu mengurangi tekanan dari 101,3 kPa menjadi 19,9 kPa seandainya air itu pada mulanya mendidih pada suhu 100°C. Demikian juga untuk mendidihkan air pada suhu 0

30 C, tekanan maksimum yang dikenakan oleh uap air pada udara adalah 4,25 kPa, dengan sisanya 97,05 kPa adalah tekanan yang diberikan melalui gabungan tekanan gasgas lain yang membentuk atmosfir, terutama oksigen dan nitrogen. Kelembaban adalah suatu istilah yang berkenaan dengan kandungan air di dalam udara. Udara dikatakan mempunyai kelembaban yang tinggi apabila uap air yang dikandungnya tinggi, begitu juga sebaliknya. Secara matematis, kelembaban dihubungkan sebagai rasio berat uap air di dalam suatu volume udara dibandingkan dengan berat udara kering (udara tanpa uap air) di dalam volume yang sama. Pada beberapa suhu dan tekanan tertentu, rasio ini dinyatakan dalam tabel 1. Kwantitas panas yang dibutuhkan untuk menguapkan air pada suhu dan tekanan tertentu disebut kapasitas panas. Kwantitas panas ini juga diberikan pada tabel 1, dari tabel dapat dilihat bahwa kapasitas panas air bertambah apabila suhu dan tekanan berkurang. Kenyataan ini sesuai dengan hukum termodinamika. Misalnya, panas yang 0

dibutuhkan untuk menghasilkan uap air pada suhu 100 C dan tekanan 101,3 kPa adalah 2256,9 kj/kg, sedangkan untuk menguapkan air pada suhu 30°C dan tekanan 4,25 adalah 2431,0 kj/kg. Keadaan suhu, tekanan dan kandungan uap air udara dikenal sebagai kualitas udara. Setelah kualitas udara diketahui, barulah kita dapat mengkaji kemampuan udara menguapkan air yang berada dalam suatu bahan, karena bahan yang akan dikeringkan selalu berada di dalam udara berkualitas tertentu. Pengalaman sehari-hari kita dapati bahwa sejumlah udara hanya mampu untuk mengeringkan suatu bahan atau menguapkan air dari suatu bahan apabila bahan tersebut tidak seratus persen lembab. Dengan kata lain, kemampuan udara untuk menguapkan air dalam suatu bahan pada proses pengeringan adalah maksimum apabila udara tersebut kering dan nol apabila udara tersebut jenuh dengan uap air. Pada keadaan biasa, udara tidak seratus persen kering atau lembab, sehingga udara masih mampu melakukan proses pengeringan apabila bahan-bahan yang mengandung air diletakkan di dalamnya. 3 e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

3.1. Psikrometer Bagaimanakah kita dapat mengukur atau mengetahui kwalitas suatu udara? Di dalam laboratorium atau ruangan tertentu yang memerlukan pengontrolan udara sering terdapat alat yang terdiri dari dua termometer yang diletakkan bersebelahan. Pada salah satu termometer bola kaca yang menempati air raksa dibalut dengan kain basah sedangkan bola kaca yang satunya lagi dibiarkan kering. Alat ini dinamakan psikrometer, yaitu meter yang digunakan untuk mengukur kelembaban udara. Jika psikrometer ini berada pada udara jenuh, kedua termometer akan memberikan bacaan yang sama. Hal ini disebabkan kedua bola kaca berada dalam keadaan lembab yang sama, yaitu seratus persen lembab, tetapi seandainya udara tersebut tidak seratus persen jenuh, sebahagian dari air yang membasahi kain bola kaca pada termometer tersebut akan menguap, sehingga menyebabkan sebahagian dari tenaga akan digunakan dalam proses penguapan ini. Akibatnya, suhu pada termometer ini akan lebih rendah berbanding dengan bacaan suhu pada termometer kering. Termometer diletakkan bersebelahan pada tekanan yang sama, oleh karena itu hubungan antara kedua suhu akan memberikan nilai kelembaban udara yang ditempatinya. Uap air dapat jenuh pada suhu dan tekanan yang berbeda, sehingga pada tekanan yang lain kedua termometer pada psikrometer akan memberikan bacaan yang berbeda pula. Hubungan antara kelembaban, suhu termometer basah, suhu termometer kering, dan tekanan biasanya dinyatakan dalam suatu chart yang dikenal sebagai psikrometri chart seperti yang digambarkan pacta gambar L 1 pada lampiran. Pada gambar L 1. kadar kelembaban udara diberikan oleh sumbu-y disebelah kanan, clan suhu termometer kering diberikan oleh sumbu-x. Kurva paling atas menyatakan suhu termometer basah yang merupakan suhu uap air jenuh atau suhu titik embun (perkataan titik embun berasal dari penelitian yang dilakukan terhadap rumput pada pagi hari dengan embun yang terbentuk di atasnya, pada saat itu suhunya hampir sama dengan bola termometer basah). Kurvakurva lainnya yang terletak di antara sumbu suhu termometer kering dengan kurva . termometer basah merupakan kurva kelembaban relatif (dinyatakan dalam persen). Dari defenisi di atas, kadar kelembaban relatif dapat dinyatakan sebagai:

Kadar kelembaban relatif=

Tekanan parsial uap air pada suatu suhu -------------------------------------------------Tekanan jenuh uap air pada suhu tersebut

(i)

Garis-garis lurns dari bahagian atas kurva titik embun yang menurnn ke sumbu suhu termometer kering adalah garis suhu tetap termometer basah. Persilangan antara suhu termometer basah dengan termometer kering memberikan nilai kualitas udara pada suatu kelembaban relatif dan kandungan uap aimya. Garis lain yang lebih curam daripada garis bola basah tetap adalah garis entalpi tetap , atau kandungan jumlah panas dalam udara yang diukur dalam unit panas per berat udara kering. Garis miring positif yang kelihatan agak menegak adalah garis yang memberikan nilai volume spesifik udara leering, yaitu volume yang ditempati oleh satu kilogram udara kering pada satu keadaan tertentu seperti terdapat dalam gambar L1. Berdasarkan psikometri chart kita dapat menentukan kualitas udara. Dengan kata lain, chart ini akan memberikan semua nilai yang dimiliki oleh udara tersebut dengan hanya melihat dua termometer tadi. Jika udara tersebut hendak digunakan pada proses pengeringan, chart ini 4 e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

dapat digunakan untuk menghitung panas yang terlibat. Ringkasan dari pembacaan chart dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut: 1. Garis mendatar menggambarkan proses pemanasan atau pendinginan udara tanpa merubah kandungan uap aimya. Dengan proses pemanasan, kelembaban relatif udara di sepanjang garis ini akan berkurang, sedangkan kelembaban relatif bertambah apabila udara didinginkan 2. Garis suhu termometer basah merupakan garis adiabak. Pada proses pengeringan, jika udara dialirkan pada bahan basah maka kwantitas panas di dalam udara akan dipindahkan ke permukaan bahan basah tersebut. Hal ini menyebabkan terjadinya proses penguapan yang mengakibatkan udara menjadi dingin sehingga tak ada sembarang panas yang hilang atau bertambah, seperti yang digambarkan oleh garis adiabatik. 3. Pada proses pengeringan, garis volume spesifik tidak digunakan. Walaupun demikian, garis ini memberikan gambaran kepada kita bahwa pada suhu tertentu, densitas udara berkurang apabila suhu atau kelembaban relatifnya bertambah. 3.2. Cara Menggunakan Carta Psikrometri Menentukan kualitas suatu udara dalam proses pengeringan dapat dilakukan dengan menggunakan psikrometri chart. Sebagai contoh, udara pada hari tertentu memberikan bacaan suhu termometer kering 25°C dan termometer basah 20°c. Dengan menggunakan psikrometer chart sepert ditunjukkan gambar 1. dapat ditarik garis untuk kedua hargabacaan termometer, persilangan antara garis suhu termometer basah dengan suhu termometer kering menunjukkan udara tersebut mempunyai kelembaban relatif 63%. Kadar kelembabannya adalah 0,01255 kg uap air per kg udara kering. Tekanan parsial yang bersesuaian pada keadaan ini adalah 2,10 kPa.

Suhu Bola Kering

5 e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Proses pengeringan berdasarkan psikrometri chart

Oleh karena kelembaban relatif udara adalah 63%, udara masih mampu menguapkan permukaan basah, sehingga kelembabannya menjadi 100%. Di samping kualitas udara, proses penguapan air dari permukaan basah juga memerlukan kuantitas lain, yaitu panas karena panas (tenaga) yang dapat menguapkan air. Panas ini diperoleh dari udara yang menjadi medium pengering. Oleh karena itu kita dapat melakukan dua tinjauan yaitu: 1. Jika tidak ada penambahan panas dari luar, udara yang dialirkan ke permukaan basah akan menguapkan air pada permukaan basah tersebut, bergantung pada jumlah panas yang dimilikinya. Dengan demikian udara akan menambah kelembaban relatif udara dari 63% hingga maksimum 100%. Pada psikometri chart, proses ini berlangsung di sepanjang garis AB, yaitu garis suhu termometer lembab 20°C (lihat gambar 1). Berdasarkan chart ini nyatalah kadar kelembaban akhir yang dicapai dalam proses tersebut adalah 0,01466. Maka uap air yang diuapkan oleh udara adalah 0,01466 0,01255 = 0,0021 kg uap air per kg udara kering. 2. Seandainya udara tersebut dipanaskan hingga suhu 40°C, maka kandungan uap air di dalam udara itu masih sama, akan tetapi berdasarkan psikrometri chart temyata kelembaban relatif udara berkurang dari 63% menjadi 27,5%, dan kadar kelembabannya masih 0,01255. Jika dalam proses pengeringan tersebut udara disejukkan secara adiabatik, garis suhu termometer basah 24,5°C hingga ke titik embun (disepanjang garis CD dalam gambar 1). Kadar kelembaban akhir adalah 0,01942. Air dari permukaan basah yang dapat diuapkan oleh udara panas adalah 0,01942 - 0,01255 = 0,00687 kg uap air/kg udara kering, yaitu tiga kali lebih besar dari yang dapat dikeringkan oleh udara tanpa dipanaskan. Secara praktisnya langkah di atas mungkin tidak dipatuhi sepenuhnya, yaitu garis tidak mencapai titik embun setepatnya, karena proses adiabatik merupakan proses yang amat langka. Contoh di atas dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa secara teori dengan sedikit penambahan panas pacta udara akan meningkatkan kemampuan penguapan air pada suatu permukaan basah. Faktor yang menyebabkan analisis contoh di atas tidak tepat adalah psikrometri chart standar yang diberikan, yang dilukis berdasarkan nilai tekanan udara standar yaitu diambil pada tekanan atmosfir standar 101,325 kPa, sedangkan dalam proses pengeringan suatu permukaan basah syarat ini tidak selalu dipatuhi. Daftar Pustaka Dossat, RJ., 1981. Principle of Refrigeration, 2nd Ed. New york: Jhon WiIey and Sons Brenndorfer, B. 1985. Solar Dryers- Their Role in Postharvest Processing. London: Commonwealth Science Council. ExelI, R.B., 1980. A Simple Solar Rice Dryer: Basic Design Theory, da1am Sunworl, Vol. 4 (6), New York: Pergamon Press.ha1aman 186-191 Gusdorf, J.M. dan Fou1kes, E.G., 1986. Oboe Solar Dryers: Design and Field Testing, dalam Pros. Inters011985, 2 ha1aman 1053-1060

6 e-USU Repository ©2005 Universitas Sumatera Utara