RAJA LIMBUNG

Menjawab pertanyaan diatas, menurut saya, ... menorehkan luka dan disharmoni sosial. ... tua dengan cadangan bahan bakar fosil yang kian menipis...

0 downloads 62 Views 4MB Size
Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

i

RAJA LIMBUNG

SEABAD PERJALANAN SAWIT di INDONESIA

Diterbitkan oleh : SAWIT WATCH bersama TEMPO INSTITUTE

Tim Penulis: Mardiyah Chamim, Dwi Setyo Irawanto, Yusi Avianto Pareanom, Zen Hae, Irfan Budiman

Jakarta April 2012

ii

Raja Limbung

Raja Limbung, Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia Penulis: Mardiyah Chamim, Dwi Setyo Irawanto, Yusi Avianto Pareanom, Zen Hae, Irfan Budiman Penyunting: Mardiyah Chamim, Dwi Setyo Irawanto Tim Sawit Watch: Jefri Saragih, Achmad Surambo, Bondan A., Ari Munir, Edi Sutrisno, Eep Saepulloh, Mansuetus Alsy Hanu Tim Tempo Institute: Jurnalis: Retno Sulistyawati (Jakarta), Ramidi (Sumatra Utara), Istiqomatul (Sumatra Selatan), Rusdi Mathari, Dwi Setyo Irawanto (Kalimantan Barat), Mardiyah Chamim (Kalimantan Timur), M. Reza Maulana, Dwidjo U. Maksum (Kalimantan Tengah), Monang Soetana (Sumatra Utara) Periset: Bramantya Basuki, David Ardhian, Said Abdullah Fotografer: Aditya Noviansyah, Dokumentasi TEMPO Desain Isi: Risdi Desain cover dan ilustrasi komik: Bondan Winarno 16 x 24 cm, xiv + 244 hlm ISBN: 987-602-19607-0-7

Buku ini diterbitkan atas kerjasama: SAWIT WATCH Perumahan Bogor Baru Blok C1 No 10. Bogor. Jawa Barat. 16127 Indonesia. Telp: (0251) 8352171 Fax: (0251) 8352047 Web.: www. sawitwatch.or.id Email : [email protected]

TEMPO INSTITUTE Kebayoran Center Blok A11-A15 Jl Kebayoran Baru, Mayestik, Jakarta 12240 Telp: 021-7255625 Faks: 021-7255645 Web: www.tempo-institute.org Email: [email protected]

INSISTPress Jl. Kaliurang Km18, Padukuhan Sempu. Dusun Sambirejo. Kec. Pakem. Kab. Sleman, Yogyakarta. 55582 Telp: (0274) 8594 244 Fax: (0274) 896 403. Web: www. insist.or.id Email : [email protected]

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

iii

Pengantar

SALAH satu perdebatan yang panas, terus menerus, dari satu ruang ke ruang lain, dan belum berhenti sampai sekarang adalah kebun sawit. Selama dua dekade yang meriah itu, luas kebun sawit meledak dari beberapa ribu hektar di tahun 1989 menjadi 9,4 juta hektar pada 2011 – diperkirakan mendekati 10 juta hektar Maret 2012 ini, yang terkonsentrasi terutama di tiga provinsi: Sumatera Utara, Riau, dan Kalimantan Barat. Jika dilihat di atas peta Indonesia, kebun sawit 20 tahun lalu hanyalah noktah-noktah kecil di Sumatera Timur (baca Sumatra Utara), lalu mekar melebar – seperti tetesan tinta Cina di kertas koran—menjadi gumpalan-gumpalan raksasa yang memadati hampir seluruh pantai timur dan sedikit pantai barat Sumatera, Kalimantan (terutama di bagian barat, tengah, dan sepanjang perbatasan dengan Malaysia Timur), Sulawesi (barat dan tengah), serta belakangan di bagian selatan Papua. Baik ‘pemuja’-nya dan penghujatnya merentang dari kelompok kademisi, pengambil kebijkan, sampai ke masyarakat bawah. Jika harimau dikenal sebagai Raja Hutan, barangkali kelapa sawit

iv

Raja Limbung

pantas diberi gelar Raja Kebun. Tak ada tanaman kebun (bahkan tegakan hutan sekali pun) yang mampu menandingi nilai hasil panen kebun sawit – setidaknya ampai saat ini demikian kata pemujanya. Jika guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Pengembangan kebun besar (baca sawit) tidak bisa dilepaskan dari kolonisasi, eksploitasi, dan marjinalisasi terhadap bumiputra (baca masyarakat adat, buruh kebun, dan petani sawit). Dahulu kita kenal Onderneming dengan Hak Erpacht-nya dan Domain Verklaring, sekarang pun kita mengenal Perkebunan Besar dengan Hak Guna Usaha (HGU)nya dan Hak Menguasai Negara HMN). Konteksnya berbeda, tetapi substansi kolonisasi, eksploitasi, dan marjinalisasi demikian kata penghujatnya. Bagaimana keluar dari para pemuja dan penghujat sawit ini. Bila kita lihat literatur tulisan, maka hampir semua literatur yang muncul tentang persawitan agaknya juga membawa semangat kedua kutub tersebut: memuja atau menghujat. Pengkutuban yang begitu tajam hingga ke tingkat akar rumput membuat hampir semua konflik persawitan punya dimensi vertikal maupun horisontal, sehingga sulit diselesaikan. Menjawab pertanyaan diatas, menurut saya, perlu ada buku yang mampu melihat seluruh sisi pro dan kontra itu secara jernih, jujur dan akurat. Kejernihan dan kejujuran bukan hanya penting untuk membuatnya diakui, tapi lebih penting dari itu: agar dapat dipercaya sebagai rujukan untuk pengambilan kebijakan persawitan di masa datang. Untuk itu, semangat yang ada adalah semangat untuk mengkomunikasikan saling pengertian, demi kemaslahatan orang banyak. Hal ini dapat dicapai dengan metode dan tradisi penulisan jurnalistik yang komprehensif, netral dan berimbang. Selain itu, buku tersebut harus melakukan validasi yang kuat, narasumber yang berimbang dan wilayah reportase yang dianggap mewakili seluruh persoalan persawitan. Pastinya, menimbang keterbatasan resources yang dimiliki.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Apakah buku kerjasama antara Sawit Watch dan Tempo Institute berjudul ‘Raja Limbung - Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia’ adalah jawaban dari harapan-harapan diatas? Pembacalah yang menjadi hakimnya. Apakah buku yang terbit ini jernih, jujur dan akurat berkenaan dunia persawitan Indonesia, atau malah menambahkan keruwetan yang ada, pembaca pulalah hakimnya. Lepas dari itu semua, Saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada tim baik dari Sawit Watch atau Tempo Institute atas kerjakerja yang ada, serta berbagai pihak lain. Buku ini telah masuk ke ruang publik, maka terserah publik juga responnya. Selamat menikmati buku ini.

Abetnego Tarigan Direktur Eksekutif Sawit Watch

v

vi

Raja Limbung

Sawit, di Negeri Penuh Paradoks

Indonesia negeri kaya. Sejak kecil kita tumbuh dengan memuja keberlimpahan alam pertiwi seperti dalam syair lagu Rayuan Pulau Kelapa. Lagu yang menutup siaran resmi layar TVRI saban malam. Nyiur melambai, mengiringi gunung, lembah, lautan, dan daratan di segala penjuru. Emas, tembaga, nikel, minyak, sawit, karet, semua ada. Indonesia negeri sarat paradoks. Negeri kaya ini seolah berjalan tanpa rencana yang jauh menjangkau ke masa depan. Tak ada kesadaran bahwa keberlimpahan itu pasti akan menipis dan berakhir. Alih-alih memiliki sense of urgency dan keberpihakan pada rakyat luas, sumber daya alam cenderung diobral dan dikelola sembrono. Walhasil, sumber daya alam yang melimpah itu, ironisnya, kerap menorehkan luka dan disharmoni sosial. Berkah dan kutukan alam yang kaya, celakanya, sering hanya berjarak tipis. Paradoks pekat melingkupi sawit. Komoditas yang satu ini memiliki pamor yang begitu cemerlang. Dia membawa janji sebagai sumber energi zaman baru, biofuel. Elaeis guinensis, nama ilmiahnya,

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

juga menjanjikan “tiket” menuju kedaulatan ekonomi. Tiket yang bukannya mustahil dikejar. Syaratnya, sawit dikelola dengan benar: proses perizinan yang transparan dan akuntabel, memajukan petani sebagai ujung tombak, menghormati hak ulayat, ramah lingkungan, dan memperlakukan buruh dengan baik. Yang juga tak kalah penting, pengelolaan sawit juga mutlak diiringi ikhtiar memupuk dan menumbuhkan industri hilir. Agar negeri ini tak hanya jadi persinggahan untuk menguras bahan baku. Agar negeri ini juga menuai keuntungan dari pengolahan produk turunan yang punya nilai tambah tinggi. Jurus yang seharusnya juga diterapkan untuk semua sumber daya alam yang dimiliki Indonesia seperti minyak, rotan, karet, emas, tembaga, dan lain sebagainya. Minyak sawit telah terbukti sebagai komoditas yang ampuh. Berbagai produk, mulai dari sampo di kepala sampai kuteks di jempol kaki, membutuhkan minyak sawit sebagai campuran bahan baku. Isi tas belanjaan, termasuk di mall supermewah di seluruh penjuru dunia, semuanya membutuhkan minyak sawit. Tak heran bila nilai ekonomis sawit bakal terus melaju seiring bumi yang makin tua dengan cadangan bahan bakar fosil yang kian menipis. Sawit pun makin berkilau bagaikan emas hijau. Anehnya, sebetulnya tidak aneh karena inilah konsekuensi logis dari pengelolaan yang kurang visioner, sawit yang berpotensi dahsyat itu menyisakan timbunan persoalan. Konflik kepemilikan lahan, terpinggirkannya masyarakat adat, biodiversitas hutan tergerus, kriminalisasi petani, adalah ekses ekstra serius yang timbul meletup di sana-sini. Ekses-ekses yang mutlak harus dibenahi dan diurai satu demi satu, dengan jernih dan obyektif, jika tak ingin sawit terus membawa disharmoni sosial dalam berbagai level. Akhir tahun 2011, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan laporan adanya korban berjatuhan di perkebunan sawit di Mesuji, wilayah perbatasan Lampung dan Sumatera Selatan. Penduduk

vii

viii

Raja Limbung

yang berbilang tahun memperjuangkan haknya dipaksa berhadapan dengan perusahaan yang mengerahkan pasukan keamanan, baik yang swasta maupun aparat TNI dan Polri. Simpang-siur jumlah korban yang jatuh dan, sampai buku ini ditulis, awal Januari 2012, kejadian sesungguhnya masih ditelusuri Tim Gabungan Pencari Fakta yang diketuai Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana. Laporan resmi Dan, yang patut secara serius kita soroti bersama bukanlah berapa jumlah korban yang jatuh di Mesuji. Sebab satu nyawa hilang pun sudah terlalu banyak. Lebih dari sekadar soal statistik, Mesuji membawa pesan yang tegas, yakni pentingnya membenahi keruwetan praktik pengelolaan sumber daya alam, perkebunan maupun pertambangan. Ini adalah teriakan, lonceng panggilan, yang amat serius kepada pemimpin negeri ini untuk segera berbenah. Jangan lagi mengabaikan tumpukan persoalan. Berbilang tahun pula para pejabat yang terkait, baik dari Kementerian Kehutanan atau Kementerian Pertanian, cenderung mengelak adanya gunung konflik dalam dunia persawitan di Indonesia. Alasan yang kerap ditampilkan adalah: “Indonesia menjadi korban black campaign persaingan sawit dunia. Sawit dari Indonesia sering diisukan tidak ramah lingkungan, merusak hutan, dan mengabaikan hak-hak petani. Padahal, semua itu semata-mata karena persaingan global.” Alasan para pejabat tadi mungkin ada benarnya. Amerika dan beberapa negara di Eropa, misalnya, sedang mengembangkan produk perkebunan (jagung, kanola, bunga matahari) yang diharapkan bisa menyaingi sawit. Namun, sejauh ini keunggulan minyak sawit, baik dari segi efisiensi maupuan kegunaan, masih jauh melampaui komoditas perkebunan yang lain. Walhasil, sawit dan berbagai produk turunannya masih berada di atas angin dalam peta persaingan global.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Tapi, lepas dari perkara persaingan, tragedi Mesuji dan perburuan orang utan adalah bukti tak terelakkan. Tragedi ini adalah tamparan bagi pemerintah dan khususnya para pejabat terkait. Apa yang kerap dituding sebagai black campaign itu memang ada benarnya. Mesuji dan perburuan orang utan adalah konfirmasi telak bahwa ada banyak hal yang keliru dalam pengelolaan perkebunan sawit di Indonesia. Suatu hal yang patut menjadi bahan refleksi untuk menata langkah ke depan. Buku “Raja Limbung - Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia” ini adalah kerja sama Sawit Watch dan Tempo Institute. Sebagai keluarga baru dari Grup TEMPO yang didedikasikan untuk pengembangan kapasitas jurnalistik, kami merasa senang sekali mendapat kepercayaan dari Sawit Watch untuk mewujudkan buku penting ini. Tujuan kami, buku ini sanggup mendorong pihak-pihak terkait untuk membenahi sektor perkebunan sawit dengan lebih serius, mendorong terbitnya regulasi yang berpihak pada petani dan Indonesia dalam arti yang lebih luas. Teramat sayang jika pengembangan sawit sebagai komoditas yang menjanjikan, dengan posisi Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia, harus diwarnai dengan kepahitan yang ditanggung petani dan masyarakat. Kami yakin, dunia juga berkepentingan terhadap sustainabilitas dan perbaikan perkebunan sawit di Indonesia. Sebab, bersama Malaysia, Indonesia adalah pemasok utama komoditas yang amat strategis dan dibutuhkan dunia ini. Harus kami akui, menulis buku ini sama sekali tidak mudah. Butuh waktu lama bagi kami untuk mengunyah gunungan informasi, riset pustaka, dan informasi yang didapat saat tim jurnalis turun ke lapangan. Beberapa kali kami perlu mengambil napas, berdiskusi dengan narasumber terkait, untuk mendapatkan perspektif yang lebih memadai. Tim kami tak jarang merasa seperti tersesat di antara labirin informasi dunia persawitan. Setiap soal membutuhkan perhatian

ix

x

Raja Limbung

tersendiri. Karakter kebun sawit yang masih muda berbeda dengan kebun yang sudah melewati usia 20-30 tahun. Di kebun yang masih muda, sawit belum bertandan dan petani belum bisa menuai hasil. Di kebun yang sudah tua, petani butuh dana peremajaan yang tidak sedikit. Labirin yang paling membikin pusing kepala tentunya adalah sengketa kepemilikan lahan, izin hak guna usaha yang berpindahpindah tangan, dan juga relasi antara petani plasma dan perusahaan yang timpang. Setiap persoalan terkait dengan persoalan lain, kadang dalam jalinan yang susah diurai. Itulah pekerjaan rumah raksasa yang harus dikerjakan semua pemangku kepentingan: petani, NGO, pemerintah, dan juga pengusaha. Tak bisa lagi kita hanya pasrah dan menyerahkan segalanya kepada pemerintah. Lebih dari setahun lebih buku ini berproses, terutama tersendat kesibukan kedua lembaga, Sawit Watch maupun Tempo Institute. Akhirnya, pada awal 2012 ini, dengan kerendahan hati, buku ini sampai juga di tangan pembaca. Kami mengakui bahwa buku ini jauh dari sempurna. Buku ini sekadar jendela untuk membuka pintu menuju dilakukannya riset dan laporan yang lebih mendalam dan komplet mengenai dunia sawit di Indonesia. Kami berterimakasih kepada semua pihak yang mewujudkan terbitnya buku ini. Terimakasih kepada Sawit Watch, terutama pada Abetnego Tarigan, Norman Jiwan, Jefri Saragih, Ahmad Surambo, Mansetus Alsy Hanu, Eep Saefulloh, Ronal, dan Bondan Andriyanu, yang telah mempercayai TEMPO Institute sebagai mitra menulis dan menerbitkan buku yang penting ini. Terimakasih juga untuk terus bersabar selama proses pengumpulan bahan, penulisan, dan penyuntingan. Terimakasih juga kami sampaikan kepada manajemen TEMPO, terutama Bapak Bambang Harymurti, Bapak Toriq Hadad, dan Ibu Diah Purnomowati, yang memberi keleluasaan bagi TEMPO Institute untuk mengembangkan divisi riset dan publikasi. Divisi ini berjalan seiring dengan pengembangan divisi lain di TEMPO

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Institute, yakni pengembangan kualitas jurnalistik yang diwujudkan dalam berbagai program. Terimakasih pula untuk tim yang terlibat aktif dalam pembuatan buku ini, yakni Dwi Setyo Irawanto, Yusi Pareanom, Zen Hae, Irfan Budiman, Istiqomatul Hayati, Ramidi, Dwidjo Maksum, Reza Maulana, Retno Sulistyowati, Rusdi Mathari, Retno Sulistyowati, David Ardhian, dan Said Abdullah. Terimakasih juga kepada Bramantya Basuki sebagai periset, Maya Wuysang dan Vinna (Sawit Watch) sebagai tim pendukung administratif. Kami berharap semoga kerjasama berlanjut secara lebih produktif, untuk Indonesia yang lebih baik. Terimakasih dan selamat membaca.

Mardiyah Chamim Direktur Eksekutif Tempo Institute

xi

xii

Raja Limbung

Daftar Isi

Pengantar

iii

Sawit, di Negeri Penuh Paradoks

vi



Bab 1 Sawit, Kisah Epik Perkebunan Indonesia Elaies, Yang Datang dari Afrika Orang Utan, Ekologi, dan Ketahanan Pangan Ekstensifikasi Versus Intensifikasi Pemihakan Buruh, Kerikil Tajam Itu Hutan Luas, Milik Siapa Memotret Situasi Lapangan

1 12 18 28 33 37 43

Bab 2 Raja yang Buta, Lumpuh, dan Limbung Raja Yang Buta Raja Yang Lumpuh Raja yang Limbung

47 53 64 69

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

xiii

Bab 3 Riwayat Elaeis di Kepulauan Kelapa Masa Kolonial Masa Awal Kemerdekaan dan Orde Lama Awal Penggenjotan Produksi Pengadaan Lahan dan Bibit Konflik Gelombang Deras Swasta Nasib Kebun Rakyat Jepitan Penguasa dan Pengusaha Moratorium dan Lahan Baru

73 76 79 80 82 84 88 89 91

Bab 4 Sadhumuk Batuk, Sanyari Bumi Korban Jiwa, Atas Nama Elaeis Lahan Berganti Tuan Janji Manis Berakhir Tragis “Mencuri” di Ladang Sendiri HGU Sepanjang Masa Koperasi Untuk Siapa? Boks 1: Patgulipat di Tanah Ulayat Boks 2: Bara Sengketa Kebun Sawit

95 101 103 108 111 113 114 118 124

Bab 5 Kampanye Hitam dan Meraih Kepercayaan

129

Bab 6 Kisah Danau Sentarum Si Jangguk Kota Texas di Kapuas Lebah, Arwana, dan Betutu Dikepung Lautan Sawit

147 152 153 158 163

Bab 7 Kerontang dan Banjir Boks 3: Pembantaian Berkedok Sayembara Boks 4: Terjebak di Rimba Sawit

167 183 189

xiv

Raja Limbung

Bab 8 Serasa Hilang Pijakan Tak Ada Tempat Buat Makam Keramat Tercerabut dari Akar

193 199 201

Perang Tanding RSPO vs ISPO



205

Epilog: Menatap Zaman Baru Perut Versus Tanki Mesin Janji Sang Elaeis Rekomendasi, Kembalikan Marwah Sawit

217 220 224 231

Bab 1 PROLOG

Sawit, Kisah Epik Perkebunan Indonesia

2

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

3

Bab 1 Sawit, Kisah Epik Perkebunan Indonesia

SAWIT adalah kisah epik dalam sejarah perkebunan Indonesia. Jejaknya menjangkau dan mempengaruhi berbagai sendi kehidupan masyarakat luas. Bukan hanya dari segi ekonomi, tapi juga lingkungan, sosial, budaya, dan juga politik. Sebagai eksportir terbesar di dunia, 19,5 juta ton per tahun berdasar data resmi 2010, posisi komoditas kelapa sawit tak pelak lagi amat penting bagi Indonesia dan tentunya bagi dunia. Buku “Raja Limbung - Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia” ini adalah hasil kerja sama Sawit Watch dan TEMPO Institute. Buku ini berusaha mengulas kisah pahit-manis yang hadir bersama seratus tahun perjalanan perkebunan sawit di Indonesia. Meskipun kami sadar betul bahwa buku ini tak bisa dan tak mungkin mengungkap tuntas perjalanan sawit yang teramat kompleks. Namun, bolehlah buku ini dianggap sebagai jendela awal untuk menyimak bentang alam dan segenap keruwetan persoalan dunia persawitan. Perbincangan mengenai sawit semakin penting seiring terjadinya berbagai letupan kasus lingkungan dan konflik agraria di perkebunan

4

Tumbuhan Kelapa Sawit, De Indische Bodem, 1926

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

sawit belakangan ini. Ada beragam topik yang lazim muncul dalam perdebatan mengenai sawit, antara lain problem lingkungan dan konflik kepemilikan lahan. Problem lingkungan biasanya terkait dengan karakter sawit yang monokultur dan menuntut lahan yang masif. Kebun sawit tidak seperti hutan tropis alami yang memberi ruang pada keragaman makhluk untuk hidup berdampingan di ekosistem yang sama. Demi hasil panen yang maksimum, makhluk lain tak boleh ada di areal kebun sawit. Aktivitas pembukaan lahan dengan luasan masif, penebangan pohon-pohon, mau tak mau menggusur sumber makanan dan habitat hidup berbagai binatang. Mereka pun tersingkir pelahan. Beberapa perusahaan bahkan melakukan jurus ekstrem untuk “memurnikan” kebun sawit, yakni dengan memburu serta membantai monyet, gajah, ular, dan orang utan. Padahal, jelasjelas monyet, orang utan, gajah, anggrek, juluran rotan, aneka rupa jamur, herba berkhasiat obat, dan kawan-kawan binatangnya adalah penduduk asli hutan. Kasus lingkungan ini, antara lain, diwakili temuan adanya pembantaian orang utan demi ekspansi kebun sawit di Kalimantan Timur. Kehebohan bermula pada November 2011, saat tumpukan tulang-belulang orang utan ditemukan di area kebun sawit milik PT Prima Citra Selaras di Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur. Penelusuran Majalah TEMPO (26 Desember 2011) menunjukkan, perusahaan sawit PT Khaleda sengaja merekrut penduduk lokal untuk memburu dan membantai monyet dan orang utan. Dua makhluk ini dianggap sebagai hama yang merugikan perusahaan pemilik kebun. Berikutnya, topik panas di seputar perkebunan sawit adalah konflik kepemilikan lahan atau tenurial. Inilah persoalan kronis, yang menumpuk dan menumpuk selama puluhan tahun, yang siap meledak di ratusan titik di wilayah Indonesia.

5

Sumber: FAOSTAT

Produksi Minyak Sawit Indonesia dan Malaysia (dalam ton)

6 Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Pada masa Orde Baru, kegelisahan petani dalam sengketa lahan nyaris tak pernah terungkap lantaran pendekatan represif pemerintahan Soeharto. Protes sedikit, pasukan tentara diturunkan, intimidasi digeber, dan si petani bisa terancam tuduhan subversif makar. “Bos saya dekat dengan tentara, terutama Kopassus. Ketika ada gejolak di kebun, langsung saja tentara diterjunkan. Bawa pistol itu biasa kalau kami inspeksi ke kebun dan bertemu petani,” demikian penuturan seorang kawan yang enggan disebut identitasnya. “Akhirnya, saya capek dan mundur dari perkebunan sawit itu,” kata kawan yang kemudian banting setir menjadi aktivis LSM ini.

7

Tak kalah aneh, setengah abad berlalu sejak 1960, pemerintah dan para politikus Dewan Perwakilan Rakyat tidak juga menempatkan persoalan agraria sebagai agenda legislasi dengan urgensi tinggi

Itu kisah nyata di zaman Orde Baru. Kini, di masa reformasi, pendekatan represif secara formal telah ditinggalkan. Masyarakat sipil belajar terorganisir, dan pers jauh lebih bebas. Rakyat pun mulai berani bersikap, menjajal posisi tawar kepada pemerintah, dan menuntut hak yang lama terabaikan. Dan, bagaikan bara dalam sekam, sengketa kepemilikan lahan ini siap menjadi bahan bakar utama yang memaksa masyarakat berhadapan dengan perusahaan dan aparat keamanan. Undang-Undang Peraturan Dasar tentang Pokok-Pokok Agraria, Nomor 5, 1960, satu-satunya perundangan yang mengatur pertanahan, sayangnya, tak pernah dilirik serius oleh penguasa. Mungkin lantaran beleid ini diterbitkan pemerintahan Presiden RI Sukarno di masa Orde Lama yang membikin alergi pejabat Orde Baru. Tapi, perlu kita catat bahwa sampai kini tak ada satu pun statemen pemerintah yang secara sah menggugurkan UU Pokok Agraria tersebut.

8

Raja Limbung

Tak kalah aneh, setengah abad berlalu sejak 1960, pemerintah dan para politikus Dewan Perwakilan Rakyat tidak juga menempatkan persoalan agraria sebagai agenda legislasi dengan urgensi tinggi. Perlu dicatat pula bahwa Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor IX Tahun 2001, memberi mandat kepada pemerintah untuk membentuk tim ad hoc yang bertugas menyelesaikan gunung konflik agraria. Entah bagaimana nasib dan kejelasan mandat ini. Sebuah paradoks getir untuk sebuah negeri agraris. Nah, sejauh UU Pokok Agraria belum tergantikan, ada baiknya para penguasa merujuk kembali spirit utama dalam produk legislasi tersebut. Undang-undang ini jelas menyebutkan batasan kepemilikan lahan, ketentuan hak guna usaha, hak pakai, hak ulayat, dan hak memungut hasil hutan. Semangat reformasi dan perlindungan pada rakyat jelas terasa dalam undang-undang ini. Adalah tugas parlemen dan pemerintah untuk secara serius membuat revisi perundangan dan produk turunanya yang secara jelas mengatur teknis kepemilikan tanah, air, dan ruang udara seperti dimaksud Undang-Undang Pokok Agraria. Akibat ketiadaan beleid yang tegas, maka setiap instansi terkait memiliki kebijaksanaan sendiri-sendiri dalam konteks pertanahan. Kementerian Kehutanan, Badan Pertanahan Nasional, birokrasi di pemerintahan pusat dan daerah kerap menerbitkan regulasi yang tumpang-tindih dan bertabrakan. Semua peraturan, celakanya, membawa semangat mendewakan investasi yang dijiwai UndangUndang Penanaman Modal Asing (Nomor 1/1967) dan UndangUndang Pokok-Pokok Kehutanan (Nomor 5/1967). Posisi rakyat hanya sebagai aktor figuran tak penting, yang harus bersedia mengalah jika investor datang melirik lokasi. Walhasil, konflik sengketa lahan pun menjadi penyakit kronis berat yang siap meledak kapan saja. “Ledakan” paling mutakhir dan memicu kontroversi dahsyat adalah konflik kepemilikan lahan di tiga tempat, yakni di Register 45 (Kabupaten Mesuji, Propinsi Lampung), Desa Sri Tanjung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

(Kabupaten Mesuji, Lampung), dan Desa Sodong (Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan). Konflik di ketiga lokasi itu, seperti halnya ratusan konflik agraria yang terjadi di berbagai wilayah lain di Indonesia, tenggelam di tengah hirukpikuk berita korupsi dan politik di panggung elite nasional. Panas bara konflik di Mesuji baru tampil di permukaan setelah sekelompok penduduk Mesuji mengadukan nasibnya kepada Dewan Perwakilan Rakyat RI, awal Desember 2011. Sesuai laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mesuji, sengketa kepemilikan lahan di Register 45 - Mesuji ini telah berlangsung sejak 1997. Akarnya adalah perbedaan luasan perkebunan menurut perusahaan, PT Silva Inhutani, dan yang percayai penduduk. Menurut PT Silva, luas lahan mereka adalah 43 ribu hektare, sedangkan penduduk merujuk pada Besluit Residen Lampung Distrik Nomor 249 yang menyebut luasan lahan PT Silva adalah 33 ribu hektare. Selisih 10 ribu hektare inilah yang dianggap mengambil tanah adat masyarakat. Warga yang marah dan tidak puas mengajukan protes selama bertahun-tahun. Alih-alih ditanggapi dengan baik, protes penduduk ditanggapi perusahaan dengan mendahulukan pendekatan keamanan. Penggusuran permukiman penduduk dilakukan beberapa kali, termasuk dengan mengerahkan polisi dan tentara. Pada 6 November 2010, di tengah penggusuran gubuk warga, Made Aste dan Nyoman Sumarte terkena tembakan. Made Aste, 38 tahun, meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Kematian Made Aste tidak membikin pendekatan keamanan kendor. Tim Terpadu bentukan PT Silva, terdiri dari aparat keamanan dan pengamanan swakarsa, terus beraksi. Penggusuran (yang kemudian dipoles menjadi “penertiban”) dilakukan di berbagai lokasi dan waktu. Pada 8 September 2011, ratusan rumah penduduk dirubuhkan dengan alat berat. Tak kurang dari 600 orang anggota Tim Terpadu dikerahkan untuk mengusir penduduk dari area

9

10

Raja Limbung

Register 45. Penduduk pun terpaksa mengungsi. Situasi kian memanas. Penduduk Mesuji mengadu kepada Komisi III - Dewan Perwakilan Rakyat dengan didampingi Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan) Saurip Kadi. Sejak itulah kasus Mesuji menjadi sorotan nasional. Pemerintah pun bereaksi dengan membentuk TGPF yang diketuai Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana. Mesuji tidak sendirian. Dalam berbagai kasus konflik tenurial, pemerintah cenderung memihak pengusaha, atas nama investasi wilayah. Protes petani kerap dibungkam dengan pendekatan keamanan. Tragedi Mesuji secara gamblang menggambarkan hubungan timpang antara pemerintah, pengusaha, dan penduduk lokal. Temuan TGPF memastikan adanya sengketa lahan di ketiga lokasi, yakni di Register 45 - Mesuji, Desa Sri Tanjung, dan Desa Sodong. Pelanggaran hak asasi manusia terjadi di ketiga tempat. Korban jiwa yang telah diverifikasi TGPF, antara 2010 - 2011, adalah satu orang di Register 45, 1 orang di Desa Sri Tanjung, dan 7 orang di Desa Sodong (1 dari pihak penduduk, 6 orang dari pihak pengamanan swakarsa perkebunan). Meskipun rincian berbeda, sengketa pertanahan yang muncul di perkebunan memiliki aktor yang mirip. Para aktor tersebut adalah pejabat pemberi izin di berbagai lini, pengusaha, aparat keamanan (polisi atau tentara), dan pengamanan swakarsa. Biasanya, para calo atau spekulan tanah turut memperparah situasi dengan jual-beli tanah dan perizinan yang boleh jadi adalah obyek sengketa.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

11

Grafik : Kurva Konflik di Register 45, Penduduk Mesuji vs PT Silva Inhutani (Sumber : Laporan Resmi TGPF, Januari 2012) Kasus Mesuji adalah contoh gamblang betapa pemerintah--dengan segenap aparatusnya--cenderung memihak pemilik modal dan meminggirkan masyarakat. Pengusaha, tentu tidak semua, lihai menciptakan dan memanfaatkan situasi yang timpang itu. Izin dan Hak Guna Usaha (HGU), misalnya, diperjualbelikan. Pindah tangan kepemilikan HGU akhirnya berujung pada gejolak di antara pemilik resmi lahan, yakni penduduk lokal. Dan, alih-alih membangun hubungan yang sehat dengan penduduk, perusahaan “menyewa” satuan

Mesuji adalah alarm serius, wake up call, agar negeri ini tidak menyandang predikat “Raja Limbung”, produsen sawit terbesar di dunia yang kebesarannya justru membikin luka di negeri sendiri. Ironis.

12

Raja Limbung

“Minyak nabati lain, misalnya dari kedelai, jarak, kanola, dan bunga matahari, tak sanggup menandingi kilau sawit”

keamanan, termasuk polisi dan tentara, untuk membangun tembok tebal yang memisahkan dirinya dengan masyarakat. Relasi timpang itulah, antara lain, yang seharusnya membuat Indonesia segera mengambil langkah reflektif. Mari kenali, pahami, dan mari bersama membenahi dunia sawit dan komoditas alam secara menyeluruh. Mesuji adalah alarm serius, wake up call, agar negeri ini tidak menyandang predikat “Raja Limbung”, produsen sawit terbesar di dunia yang kebesarannya justru membikin luka di negeri sendiri. Ironis.

Seruan reflektif itulah tujuan buku ini ditulis. Buku ini adalah sedikit kontribusi Sawit Watch dan Tempo Institute untuk mendudukkan perkara yang rumit di seputar perkebunan sawit. Meskipun, sekali lagi kami akui, buku ini masih jauh dari memadai dalam menyuguhkan kompleksitas wajah seabad perkebunan sawit di Indonesia.

Elaeis, Yang Datang dari Afrika pemerintah untuk membereskan duri-duri tajam yang menghadang prospek industri sawit. Duri itu, antara lain, adalah tumpang-tindih kepemilikan lahan, perizinan yang campur-aduk, dan marjinalisasi peran penduduk lokal. Undang-Undang Agraria yang komprehensif seharusnya menjadi program utama demi memperlancar MP3EI ini. Begitu pula program serius mengurai tumpang-tindih kepemilikan lahan dan perizinan yang sudah telanjur dikeluarkan. Secara umum, pertumbuhan produktivitas sawit Indonesia, menurut data MP3EI, cukup bagus, yakni 7,8 persen per tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang produktivitas sawitnya tumbuh 4,2 persen per tahun. Perbedaan ini tentu suatu soal wajar mengingat

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Buah kelapa sawit di Semboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sumber: Tempo/Rully Kesuma

13

14

Raja Limbung

luasan lahan Indonesia lebih luas dibanding Malaysia. Pada skala global, posisi sawit kian hari kian penting. Saat ini Indonesia memasok 43 persen dari kebutuhan sawit dunia. Tak diragukan lagi, di masa mendatang harga minyak ajaib ini akan terus meroket seiring dengan variasi penggunaan minyak sawit yang kian beragam, mulai dari minyak goreng, biofuel (campuran bahan bakar pesawat atau avtur, bensin, atau solar untuk aneka jenis kendaraan), pelumas mesin, margarin, sabun, sampai campuran bahan kosmetik. Tandan sawit, mulai dari tempurung, daging buah, sampai inti buahnya (disebut kernel) semuanya memiliki nilai ekonomi. Minyak sawit memang ajaib dan serba guna. Hampir semua raksasa global produsen bahan-bahan kebutuhan sehari-hari, seperti Procter & Gambler, Unilever, Kraft, Nestle, Johnson & Johnson, membutuhkan pasokan minyak sawit, termasuk dari Indonesia. Barang kebutuhan sehari-hari, untuk keperluan membikin kinclong rambut sampai ujung kaki, sampo, lipstik, sampau kuteks kuku, semua membutuhkan minyak sawit. Walhasil, pengusaha berbondong-bondong melirik si Elaeis sp. Buku teknik bertanam sawit, skala kecil maupun masif, menjadi salah satu buku laris di toko-toko buku. Para pengusaha (individu atau korporasi, lokal maupun multinasional) berlomba meluaskan areal kebun hingga makin luas, luas, dan luas. Sejauh mata memandang, deretan pokok-pokok sawitlah yang memadati lahan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan belakangan juga merambah daratan Papua. Gurihnya kue ekonomi yang dibawa sawit, harapannya, menetes deras kepada para petani di lapangan. Apalagi, klaim yang selalu digembar-gemborkan pemerintah adalah bahwa 42 persen lahan kebun sawit dimiliki petani skala kecil (dengan lahan 2 hektare). Mereka berafiliasi sebagai petani plasma yang terhubung dengan perusahaan perkebunan besar, milik negara atau swasta, yang berperan sebagai perkebunan inti.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Anehnya, sebagian petani kecil yang memiliki 42 persen lahan sawit, ternyata tidak menikmati gurihnya sawit secara luar biasa. Pendapatan petani, di daerah yang dikunjungi tim penulis buku ini, bervariasi dari Rp 600 ribu - 1,5 juta per bulan, tergantung fluktuasi panen dan harga sawit di pasaran. Bukan jumlah yang besar untuk komoditas sedahsyat sawit. Rantai yang panjang, mulai dari penyetoran tandan ke pabrik, sortasi tandan, sampai sistem penentuan harga tandan mentah sawit (CPO - crude palm oil), sering kali tidak memihak petani. Lagipula, praktik di lapangan membuktikan, dua hektare lahan belum cukup efisien untuk membuat kebun memberi hasil optimal. Gurihnya kue sawit terdistribusi dalam format piramida yang runcing dan menguntungkan perusahaan, investor besar, pemilik pabrik CPO, dan uragan besar perkebunan. Ada dua faktor utama yang membuat petani kecil susah menangguk untung besar. Faktor pertama, investasi kebun sawit lumayan besar (mulai dari pupuk, pemeliharan, tenaga kerja, sampai perlunya pabrik pengolah tandan yang harus ada di dekat kebun) dan panen sawit baru bisa dinikmati pada tahun kelima. Faktor kedua, karakter sawit yang harus diolah secara cepat, 48 jam setelah panen, agar kadar minyak tidak merosot. Tidak seperti karet atau kopi yang bisa disimpan dalam waktu lama, dibawa ke kota ketika harga pas, sawit mesti diproses segera. Sifat inilah yang membuat petani kerap tidak berdaya menghadapi fluktuasi harga pasar. Nasib petani kecil, yang tak lain adalah 42 persen pemilik lahan sawit, adalah kisah dengan beragam wajah. Tidak seluruhnya sekinclong seperti yang digambarkan tayangan iklan CSR (corporate social responsibility) perkebunan sawit. “Banyak hal yang tidak beres dalam rantai perkebunan sawit di Indonesia,” kata Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Sawit Watch. “Pemerintah tidak memihak pada petani kecil.” Ambil contoh soal pupuk. Perkebunan besar mendapat

15

16

Raja Limbung

begitu banyak insentif modal, subsidi pupuk, bahkan termasuk pengerahan aparat untuk pembebasan tanah. Namun, petani kecil harus mengerahkan daya upaya sendiri demi pupuk yang cukup. “Itu pun pasokan di pasar kerap terganggu sehingga petani jadi kelimpungan,” kata Abetnego. Anehnya, perkebunan skala besar, BUMN atau swasta, tak pernah mengalami kesulitan pasokan pupuk. “Itu saja sudah menjelaskan bahwa pemerintah lebih suka memfasilitasi pemodal besar. Petani kecil, silakan berjuang sendiri,” kata Abetnego. “Sesungguhnya, para petani skala kecil itulah ujung tombak sektor sawit,” kata Abetnego. Para petani inilah yang menyetor tandan sawit segar hasil panen ke pabrik milik perkebunan besar, swasta atau BUMN. Tanpa setoran tandan sawit dari petani, produktivitas sawit secara keseluruhan bakal anjlok. Para petani kecil ini harus bekerja ekstra keras, mulai dari babat alas pembersihan lahan, lalu menanam dengan benih yang bagus, dan harus “berpuasa” menunggu 4 sampai 5 tahun sebelum sawit bertandan. Beberapa petani, yang ditemui tim penulis di berbagai wilayah di Kalimantan dan Sumatera, menyatakan untung panen yang mereka nikmati berkisar di Rp 600 ribu - 1,5 juta per bulan untuk satu kapling lahan (dua hektare). Itu pun kalau musim sedang bagus. Jika musim tidak sedang bersahabat, ada hama kumbang atau hujan badai yang merontokkan brondol tandan, maka panen juga suram. Belum lagi jika ternyata benih sawit yang mereka tanam ternyata jelek, maka tandan sawit yang ditunggu bertahun-tahun tak bakal muncul. Benar, ada banyak faktor yang mempengaruhi kualitas panen kebun sawit. Kepemilikan lahan yang terbatas sehingga pengolahan tidak optimum, kualitas benih, intensitas pemupukan, proses pengolahan pascapanen, akses menuju pabrik pembelian CPO, tanaman yang sudah uzur dan harus diremajakan lagi dengan ongkos ekstra mahal, dan lain sebagainya.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Tahap paling kritis dalam pembukaan perkebunan sawit (deforestasi) pada tahap ini banyak hewan yang kehilangan habitatnya. Sumber: Dok, Sawit Watch

17

18

Raja Limbung

Praktis, untuk bisa untung besar, luasan kebun juga harus berskala masif. Itulah sebabnya, pemerintah merilis program “Manajemen Perkebunan Satu Atap” yang menyatukan pengolahan lahan-lahan sawit dalam satu manajemen perusahaan. Sayangnya, laporan di lapangan menyebutkan, sistem manajemen satu atap ini justru tidak efisien dan memberatkan petani. “Masak, kami harus ikut membayar seluruh biaya kantor perkebunan, termasuk ikut menanggung gaji satpam dan sekretaris yang begitu banyak? Pantas saja kalau sistem manajemen satu atap membikin kami cuma punya penghasilan paling banyak Rp 400 ribu sebulan,” kata seorang petani di Kabupaten Passer, Kalimantan Timur.

Indonesia memang berjuluk Raja Sawit. Namun, sayang, sang raja tampak nyata belum tahu betul bagaimana memperlakukan tahtanya

Begitulah, wajah kinclong kelapa sawit memiliki beragam sisi. Tak hanya manis sebagai sumber pendapatan petani dan negara, sawit juga memiliki sisi yang getir. Efek lingkungan, nasib buruh, tumpang-tindih regulasi, timbunan konflik kepemilikan tanah, sampai kebun yang sudah uzur adalah labirin persoalan yang melingkupi sawit. Indonesia memang berjuluk Raja Sawit. Namun, sayang, sang raja tampak nyata belum tahu betul bagaimana memperlakukan tahtanya (baca : “Raja yang Limbung, Lumpuh, dan Buta).

Orang Utan dan Hutan Kita Mari sejenak menengok perjalanan hutan kita. Hutan yang disebut “ine” atau ibu oleh masyarakat Suku Dayak Muluy, Kalimantan Timur. Kisah hutan, ibu dan sumber segala sumber daya alam, di negeri ini tak lepas dari pasang-surut politik dan pergulatan penguasa.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

19

Eksploitasi bermula pada pemerintah kolonial Hindia Belanda. Para penakluk samudera ini paham betul potensi kekayaan alam nusantara. Kebun kopi, teh, kapas, cengkeh, lada, karet, tebu, dan belakangan sawit dikembangkan secara masif di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Kuli kontrak dikerahkan dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara. Panennya dibawa dengan kapal-kapal membelah samudera, diperjual-belikan di kota-kota pelabuhan Eropa, dan hasilnya untuk membangun peradaban di Belanda. Memasuki masa kemerdekaan, berbagai perkebunan ini menjadi sasaran nasionalisasi. Konon, hasil karet dan sawit yang melimpah pada saat itu, antara lain, dibelikan sebuah gedung mewah dan bersejarah di Washington, Amerika Serikat, pada 1953. Gedung yang kemudian dijadikan sebagai Kedutaan Besar RI. Sayangnya, kedisiplinan mengelola kebun tidak ikut serta diambil alih dari Belanda. Sawit dan karet terbengkalai. Gonjang-ganjing republik muda mengalihkan perhatian dan fokus pada pengolahaan sumber daya alam. Polarisasi dunia, barat-timur, kapitalis-komunis, menyibukkan pemerintahan hingga akhirnya Orde Lama tumbang pada 1965. Berikutnya, tiba zaman pemerintahan Presiden Soeharto, rezim Orde Baru resmi dimulai pada 1967. Udara berganti. Investasi asing menjadi raja. Pertambangan, perkebunan, dibuka lebar. Lalu, di sinilah, 1970-an, bermula lakon deforestasi secara dramatis. Izin pengusaha hak pengusahaan hutan (HPH), dengan siklus tebang 35 tahun, tahun diobral kepada pengusaha yang dekat dengan Soeharto. Raja-raja kayu, antara lain Prajogo Pangestu dan Bob Hasan, menemu masa kejayaan.

“Keanekaragaman hayati, yang selama ini menjadi kebanggaan hutan Indonesia, bersaing dengan keragaman hayati di hutan Amazon, Brazil, perlahan tergerus.”

20

Raja Limbung

Penebangan hutan besar-besaran terjadi. Sedikitnya 0,9 juta hektare hutan berubah gundul saban tahun. Periode ini diwarnai dengan illegal logging, pembalakan liar, yang luar biasa. Kayu-kayu jenis terbaik, ulin, jati, meranti, dengan diameter lebih dari satu meter, tumbang leluasa. Gelondongan kayu dari rimba tropis Borneo dan Sumatera mengalir memenuhi permintaan dari berbagai penjuru dunia. Kebakaran hutan massif, pada 1989-1989, di Kalimantan dan Sumatera, tak sanggup menghentikan laju deforestasi. Lalu datang gonjang-ganjing politik di 1998. Orde Baru tumbang. Tapi laju pemusnahan hutan jauh dari berhenti. Situasi bahkan semakin parah. Hadi Daryanto, Direktur Jenderal Bina Produksi Kementerian Kehutanan, menyebutkan bahwa periode terburuk deforestasi terjadi pada rentang 1999-2004. “Saat republik ini menerapkan desentralisasi,” kata Hadi dalam sebuah wawancara dengan tim penulis. “Menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada), obral perizinan cenderung meningkat,” kata Hadi menambahkan. Kaitan antara pilkada dan obral izin ini diteliti tim Robin Burgess, peneliti London School of Economic (LSE), dalam sebuah paper berjudul “The Political Economy of Deforestation in the Tropics”, Januari 2011. Burgess dan kawan-kawan mendokumentasikan dan menganalisis data-data yang terkait dengan dinamika politik, terutama pilkada, dengan statistik perizinan HPH. Burgess menulis, “We document a ‘political logging cycle’ where local governments become more permissive vis a vis logging in the years leading up to elections.” Menurut Burgess dan kawan-kawan, deforestasi meningkat 42 persen pada setahun sebelum pilkada. Angka deforestasi di area ini turun 36 persen pada tahun pelaksanaan pilkada. Laju deforestasi di area hutan konversi, menurut riset Burgess, meningkat 40 persen setahun sebelum pilkada dan melonjak lagi sampai 57 persen setahun setelah pilkada.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Benar, desentralisasi memang membawa semangat demokratisasi ke seluruh nusantara yang patut dipuji. Seluruh kewenangan pemerintah yang tadinya terpusat di Jakarta dialihkan ke daerah, perubahan yang signifikan. Walikota dan bupati menjadi aktor penting, termasuk dalam pemberian izin pembukaan lahan untuk HPH di bawah 100 ribu hektare. “Nah, di masa inilah terjadi deforestasi hutan yang paling arah, sampai 3,8 juta hektare per tahun,” kata Hadi Daryanto. Mengapa demikian? Hadi Daryanto menjelaskan bahwa pemberian izin di level daerah sering bertabrakan dengan izin yang sudah diberikan oleh pusat. Tidak ada check and recheck. Tidak jarang, izin HPH yang diberikan bupati justru berada di areal hutan lindung yang terlarang untuk HPH. “Pernah ada kasus, seorang penguasaha mendapat izin 55 ribu hektare, ternyata yang legal cuma 7 hektare atau hanya 12 persen. Sisanya masuk area yang ilegal,” katanya. Kesemrawutan ini berdampak luar biasa. Perubahan sistem pemerintahan yang drastis ini harus dibayar mahal dangan degradrasi lingkungan yang luar biasa. “Di Uni Sovyet, prestroika berujung pada Balkanisasi. Di Indonesia, desentralisasi berdampak pada deforestasi yang dahsyat,” kata Hadi. Undang-Undang Otonomi Daerah mengalami amandemen pada 2004. Kewenangan pemberian izin pembukaan hutan HPH oleh kepala daerah dikembalikan kepada pusat. Namun, izin pembukaan kebun dan tambang tetap ada di tangan bupati dan masih kerap menimbulkan konflik sampai kini. Protes masyarakat yang berujung rusuh di Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, pada awal 2012, adalah contoh konflik yang dipicu obral perizinan tambang. Kisah serupa juga terjadi pada dunia kehutanan dan perkebunan. Setelah kewenangan pemberian izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dikembalikan pada pusat pada tahun 2004, menurut Hadi, laju deforestasi memang menurun. Catatan FAO (Food and Agricultural Organization) menunjukkan, laju deforestasi di

21

22

Raja Limbung

Indonesia kini adalah 1,1 juta hektare per tahun. “Tapi, bisa jadi penurunan deforestasi ini karena dua hal. Pertama, areal hutan memang sudah sempit. Kedua, mungkin sudah banyak yang berubah jadi lahan sawit,” kata Hadi Daryanto. Deforestasi adalah konsekuensi tak terhindarkan dari kebun sawit yang semakin gigantis. Komposisi ekologi pasti terjadi. Wajah hutan rimba tropis, ibu keanekaragaman hayati, sudah jauh berganti tersebab agresivitas ekspansi sawit. Keanekaragaman hayati, yang selama ini menjadi kebanggaan hutan Indonesia, bersaing dengan keragaman hayati di hutan Amazon, Brazil, perlahan tergerus. Situasi makin miris karena belakangan muncul suara-suara yang mengusulkan legitimasi kebun sawit masuk dalam kategori ‘hutan’. Pertimbangannya, kebun sawit juga memiliki kanopi atau tajuk yang rimbun, sebagai peredam emisi karbon. Usulan memasukkan kebun sawit dalam kategori hutan langsung disambut kontroversi. Kritik dari para aktivis lingkungan menderas. “Hutan bukan hanya perkara kanopi atau tudung yang melingkupi satu area,” kata “Saya tak bisa Norman Jiwan, dari Sawit Watch. Ada plasma lagi membuat nutfah, keanekaragaman hayati, dan berjuta kalung rotan. fungsi ekosistem yang belum sepenuhnya Mana bisa? diketahui dalam menjaga keseimbangan alam. Rotan sudah Belum lagi jika dipertimbangkan manfaat tak ada lagi di ekonomi yang diambil penduduk di areal hutan,” kata hutan dari “kekayaan biodiversitas”, misalnya Jahan, dari Suku madu hutan, rotan, dan aneka rupa tanaman Dayak Muluy, berkhasiat obat yang ada di dalam hutan. Kabupaten “Keragaman kekayaan seperti ini tidak ada di Passer, kebun sawit,” kata Norman Jiwan.

Kalimantan Timur

Begitu kebun sawit dibuka, hutan yang rimbun segera berganti dengan deretan pohon

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

sawit yang seragam dan rata. Tak ada lagi rotan, madu, yang bisa menyangga ekonomi subsisten penduduk di wilayah hutan yang berubah menjadi kebun sawit. “Saya tak bisa lagi membuat kalung rotan. Mana bisa? Rotan sudah tak ada lagi di hutan,” kata Jahan, dari Suku Dayak Muluy, Kabupaten Passer, Kalimantan Timur. Norman khawatir, jika kebun sawit diresmikan sebagai hutan, maka laju ekspansi kebun sawit bakal kian agresif. Pengusaha dan pemerintah boleh jadi semakin gesit memangkas hutan untuk disulap menjadi kebun sawit. La, kan, sawit juga ‘hutan’, begitu alasan yang kira-kira bakal sering muncul. Selagi dunia berdebat soal kebun sawit layak disebut sebagai hutan atau tidak, ekspansi sawit terus berderap di berbagai wilayah dunia. Brazil, Malaysia, Indonesia, adalah negara-negara yang menjadi darling kesayangan para investor sawit dari seantero jagat. Permintaan dunia pun terus meningkat. Tahun 2009, total konsumsi sawit dunia mencapai 45,3 juta ton. Setahun kemudian, angka ini naik menjadi 46,9 juta ton minyak sawit dan bagian terbanyak dipasok oleh Indonesia. Indonesia, sebagai wilayah dengan lanskap yang ideal bagi pertumbuhan sawit, menjadi sasaran ekspansi. Pada 2007, United Nations on Environments Programme (UNEP) melaporkan bahwa perkebunan sawit adalah sebab utama deforestasi di Indonesia dan Malaysia. Hutan nusantara yang di tahun 70 dan 80-an dilanda gelombang penebangan liar, illegal logging, memasuki dekade 90-an dan 2000-an menghadapi tantangan yang tak kalah dahsyat : ekspansi kebun sawit. Tak terhindarkan lagi, areal hutan belantara, ekosistem kompleks dengan jutaan ekosistem kecil, menyempit hari demi hari. Padahal, setiap ekosistem ini butuh waktu sampai ratusan tahun untuk tumbuh sempurna. Keberadaan mereka pun memiliki kontribusi pada keseimbangan ekosistem yang besar, yakni alam semesta. Kemusnahan sebuah ekosistem jelas berdampak pada kesehatan ekosistem alam secara keseluruhan.

23

24

Raja Limbung

Pengganti ekosistem yang beragam itu adalah perkebunan sawit, hutan monokultur yang (atau sengaja dirancang) super egoistis. Kebun sawit tak membolehkan aneka biodiversitas hidup di dalamnya. Anggrek, rotan, paku-pakuan, aneka semak berkhasiat obat, bahkan rumput tak boleh hidup di areal kebun sawit. Gajah, harimau, banteng, orang utan, monyet, ular semuanya harus minggir. Lebah madu, beruang, ayam hutan, juga harus tergusur. Jika nekat tumbuh dan hidup beranak-pinak di areal kebun, maka herbisida, pestisida, bahkan senapan pemburu bakal beraksi tanpa ampun. Kasus yang menggemparkan dan membikin hati miris menimpa orang utan (Pongo pymaeus mario) di hutan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Spesies langka yang dilindungi ini terpojok lantaran ekspansi kebun sawit milik PT Khaleda Agroprima Malindo, anak perusahaan Metro Kajang Holdings Bhd. Kasus ini terangkat, awal Desember 2011, setelah Markas Besar Kepolisian RI mendapat laporan ditemukannya tulang-belulang orang utan yang mati babakbelur akibat disiksa habis-habisan. Pada awal 2006, perusahaan asal Malaysia ini mengantongi izin membabat 16 ribu hektare lahan hutan itu menjadi kebun sawit. Arealnya menjangkau kawasan hutan yang, malangnya, adalah habitat bagi 200-an ekor orang utan. Si Pongo yang terdesak, hutannya hilang, mulai mencari makan pucuk-pucuk pohon sawit. PT Khaleda dengan agresif melibatkan penduduk lokal Desa Puan Cepak untuk berburu orang utan. Setiap ekor orang utan yang tewas ditukar dengan upah tak seberapa, hanya Rp 1 juta. Maka, terjadilah pembantaian yang mengenaskan. Tubuh tambun orang utan pun diburu, ditombak sampai koyak. Setelah tewas, orang utan itu mereka bopong, dikumpulkan dengan monyet hasil buruan, lalu disusun berjejer dan difoto sebelum dikuburkan di area perkebunan (Majalah TEMPO, 26 Desember 2011). .Tak hanya orang utan yang harus minggir demi perkebunan sawit. Sebagai tanaman berkarakter monokultur, kebun sawit

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

menuntut lahan yang masif, sampai ribuan hektare. Pohonnya juga rakus, mengisap nutrisi dan unsur hara secara kuat. Pupuk yang dibutuhkan juga mesti berskala besar. Laman http://www. pemupukan.info/2008/10/pupuk-part-06-dosis-pupuk-tablet. html menunjukkan, satu hektare kebun sawit, dengan populasi 143 pohon, umur di atas 5 tahun, membutuhkan pupuk 750 kilogram. Bandingkan dengan kebun karet yang tiap hektare-nya membutuhkan 120 kilogram pupuk sejenis. Guyuran bahan kimia bukan hanya pupuk, tapi juga herbisida dan pestisida. Tak boleh ada rumput, semak, juga belalang yang mengganggu pertumbuhan sawit. Nah, limbah herbisida dan pestisida inilah yang tak jarang dilaporkan mengalir ke badan sungai di sekitar kebun. Film dokumenter “Suara dari Perkebunan Sawit”, produksi Sawit Watch, misalnya, menayangkan kesaksian seorang mantan karyawan perkebunan sawit skala besar di Sumatera. “Saya bertugas membuang sisa pestisida ke sungai di malam hari, supaya penduduk tidak tahu,” katanya. Film itu juga menampilkan gejala kerusakan yang diakibatkan guyuran zat kimia di sungai yang ada di sekitar perkebunan sawit. Sumber air mengering, ikan tak lagi banyak dijumpai, anak balita lebih rentan pada penyakit, dan tanah sekitar tak lagi sesubur dahulu. Layaknya tambang emas, sawit tak boleh diganggu. Dia harus tumbuh kokoh perkasa dan sentosa. Akarnya harus tangguh dan rakus menjangkau sumber air sampai puluhan kilometer, tak peduli itu berarti merampas air yang disediakan alam untuk makhluk hidup yang lain. Di Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Tengah, misalnya, penduduk mulai mengeluhkan musim kering yang lebih panjang sejak sawit banyak ditanam di sekitar Sungai Kapuas. Ikan betutu, andalan Kapuas, tak lagi banyak terperangkap jaring nelayan. Kabupaten Passer, Kalimantan Timur, punya kisah serupa. “Dulu kami menggali sumur itu gampang. Nggak sampai lima meter, air sudah muncul,” kata Abdullah, penduduk Passer. “Sekarang, sumur harus digali sampai 10-15 meter sampai ketemu sumber air.”

25

26

Raja Limbung

“Evolusi bisnis perkebunan sawit praktis tak jauh berkembang dibanding masa Hindia Belanda: masukkan minyak sawit mentah ke dalam drum, bawa dengan kapal menuju Eropa. Urusan pengolahan lebih lanjut, biar saja diurus pebisnis di negara lain.”

Derap laju ekspansi sawit juga membawa ancaman lain. “Ketahanan pangan menjadi rentan karena semua ingin bersawit-ria,” kata Ahmad Surambo, Sawit Watch. Perjalanan ke berbagai lokasi, terutama di kawasan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, menunjukkan adanya gelombang petani yang mengubah sawah mereka menjadi kebun sawit. Wilayah yang dulunya adalah lumbung beras, tempat hamparan padi menguning, berangsur berganti menjadi deretan pohon sawit. Praktis, tak ada insentif apa pun dari pemerintah untuk petani yang bersetia menanam padi dan tanaman pangan lainnya. “Ini gejala yang memprihatinkan dan mengancam ketahanan pangan kita,” kata Ahmad Surambo.

Fenomena perubahan iklim yang kian kencang, ditandai bencana seperti banjir, topan, badai, tsunami, membuat ancaman gagal panen kian nyata. Berbagai negara pun sibuk merancang strategi menguatkan ketahanan pangan. Mempertahankan sawah, memberi subssidi pada petani yang mau berjibaku menanam pagi, misalnya, adalah jurus yang dipilih berbagai negara. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Indonesia. “Petani tak bisa disalahkan karena, toh, tidak ada insentif apa pun untuk menanam padi. Mereka pun memilih mengkonversi sawahnya menjadi kebun sawit,” kata Surambo. Seharusnya, dia melanjutkan, “Jika pemerintah serius membenahi persoalan ketahanan pangan, maka dilema konversi lahan sawah ini harus dicarikan jalan keluarnya.” Bagi pemerintah, kebun sawit memang punya janji keuntungan yang lebih menggiurkan dibanding sawah padi. Satu hektare kebun sawit, menampung 120-an pohon sawit, siap menghasilkan 3-6

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Ekspansi lahan perkebunan sawit dengan ekstensifikasi. Sumber: Dok. Sawit Watch

27

28

Raja Limbung

ton tandan sawit yang sudah diolah menjadi CPO (crude palm oil). Pengolahan yang ekstra intensif mampu menggenjot panen sampai 7-10 ton CPO saban tahun, seperti yang telah dibuktikan kebunkebun yang ada di Malaysia.

Ekstensifikasi vs Intensifikasi Seratus tahun perjalanan kebun sawit di Indonesia adalah riwayat yang layak ditengok dan direnungkan. Adakah sawit telah memberi manfaat optimum bagi petani dan rakyat, khususnya kelompok masyarakat adat yang berumah di hutan? Mengapa di berbagai daerah justru muncul penolakan perkebunan emas hijau ini? Mengapa kilau sawit meninggalkan trauma bagi banyak komunitas adat di hutanhutan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua? Pada Oktober 2011, dilaporkan ada 101 kelompok masyarakat menolak perkebunan sawit di Mentawai, Sumatera Utara. Total ada 34 ribu hektare lahan di Kecamatan Sipora Utara dan Sipora Selatan yang sedang digadang-gadang akan diubah menjadi kebun sawit. Persoalannya, di kawasan ini ada permukiman penduduk, lahan pertanian produktif, dan juga aneka rupa kebun. Walhasil, tak kurang dari 101 kelompok masyarakat mengajukan surat kepada Pemerintah Propinsi Sumatera Utara, agar tak mengizinkan perubahan Sipora menjadi kebun sawit. Sederet pertanyaan segera muncul. Mengapa penolakan demi penolakan, protes demi protes, tetap terjadi? Jika sawit adalah komoditi yang dahsyat, seharusnya masyarakat luas merindukan dan menyambutnya dengan antusias dan tangan terbuka. Tapi, kisah di lapangan sering kali tampak suram. Mengapa? Pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi bahan renungan para pengambil kebijakan. Harus diakui, road map yang bervisi jauh ke depan belum tampak dalam perjalanan sawit di negeri ini. Masterplan Percepatan dan Pengembangan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, yang baru

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

29

diluncurkan pemerintah Mei 2011, menyoroti kelapa sawit dalam 4 halaman strategi pengembangan. Termasuk dalam strategi MP3EI ini adalah membenahi infrastruktur dan membangun industri hilir yang memberi nilai tambah bagi sawit. Sebuah rencana mulia, yang ditunggu realisasinya di lapangan. Menumbuhkan industri hilir, tentu saja tidak mudah. Butuh strategi pembangunan yang terpadu, visioner, termasuk dalam penyediaan infrastruktur penunjang. Sayangnya, pemerintah, dan investor swasta, selama ini lebih suka memilih jalan gampang lagi cepat menuai hasil, yakni fokus pada sektor hulu. Buka lahan, tanam sawit, panen, jual tandan segar: beres. Tak perlu ribet memikirkan riset, inovasi produk, membuka pasar yang membutuhkan kerja keras. Perilaku inilah yang selama seratus tahun terjadi di lapangan. Evolusi bisnis perkebunan sawit praktis tak jauh berkembang dibanding masa Hindia Belanda: masukkan minyak sawit mentah ke dalam drum, bawa dengan kapal menuju Eropa. Urusan pengolahan lebih lanjut, menjadi oleochemical, margarin, biar saja diurus pebisnis di negara lain. Nafsu meluaskan “Faktanya, selama ini tak ada itu yang namanya pengembangan industri hilir. Semuanya fokus pada industri hulu, jual CPO saja,” kata Jefri Saragih, juga dari Sawit Watch. Akibatnya, nilai tambah dari sawit --seperti yang juga terjadi pada lusinan sumber daya alam lainnya--tidak mengalir ke Indonesia. Negeri ini kembali mengimpor hasil-hasil olahan minyak sawit dan kernel (minyak inti sawit) yang harganya berlipatlipat dibanding harga CPO. Berhubung jurus instan lebih menggoda, membuka lahan perkebunan pun tak bisa dibendung. Ekstensifikasi perkebunan sawit

lahan, jurus ekstensifikasi, memang mendominasi perkembangan sawit di Indonesia. Lahan terus meluas dan meluas, tak peduli harus melahap areal hutan dan pertanian pangan yang produktif.

30

Raja Limbung

menjadi-jadi. Di berbagai daerah, di pojok-pojok hutan, masyarakat diiming-iming melepas lahannya kepada perkebunan sawit. “Mereka bilang, kalau punya kebun sawit, maka kau akan bisa menyekolahkan anak bahkan sampai ke luar negeri, beli mobil, punya rumah bagus,” kata Danu, petani sawit di Riau. Kisah serupa banyak dijumpai di daerah-daerah lain. Bahkan di daerah yang sebetulnya tidak cocok sebagai pengembangan perkebunan sawit. Misalnya, di wiayah hutan yang dihuni Suku Dayak Muluy, Passer, Kalimantan Timur. Lahan di daerah ini cukup terjal dengan kemiringan di atas 30 persen. Infrastruktur jalan pun tak memadai. Jarak dari pabrik pengolah CPO pun cukup jauh, dengan jalanan berliku berjarak lebih dari 40 kilometer. Namun, toh, penduduk tak henti ditawari melepas lahan untuk dijadikan kebun sawit. “Cicilan kredit motor akan dilunasi kalau penduduk mau lepas lahan. Tapi, tak bisa. Ini lahan punya adat, hak ulayat,” kata Jahan, 50 tahun, Kepala Suku Dayak Muluy. Nafsu meluaskan lahan, jurus ekstensifikasi, memang mendominasi perkembangan sawit di Indonesia. Lahan terus meluas dan meluas, tak peduli harus melahap areal hutan dan pertanian pangan yang produktif. Strategi ini berbeda dengan pendekatan negara lain yang lebih sadar bahwa lahan terbatas dan wajib dikelola optimal. Data-data berbicara tentang lemahnya optimalisasi lahan di negeri ini. Produktivitas lahan sawit di Indonesia, menurut data MP3EI yang dikutip dari analisis USDA (United State of Department of Agriculture), rata-rata adalah 3,6 ton per hektare lahan. Angka ini jauh di bawah perkebunan sawit Malaysia yang bisa mencapai 4,6 ton per hektare, bahkan ada yang mencapai 7 ton per hektare. Padahal, ada banyak jurus intensifikasi yang bisa ditempuh. Pertama, soal kualitas benih sawit. Analisis MP3EI membenarkan bahwa penggunaan benih yang bermutu rendah turut mendorong rendahnya produktivitas kebun. Riset menunjukkan, benih yang

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

bagus sanggup mendongkrak panen hingga 47 persen. Namun, sayangnya, akses petani mendapatkan benih yang bagus kerap kali dibatasi dan menjadi monopoli perusahaan besar. “Kalau pemerintah serius, mestinya ada program khusus mengenai penyebaran benih yang bagus kepada petani secara luas,” kata Ahmad Surambo. Jurus kedua adalah peremajaan atau revitalisasi kebun, merobohkan sawit yang sudah uzur dan menggantinya dengan tanaman baru. Sebagian besar kebun di Sumatera dan Kalimantan sudah berusia 25 tahun, produktivitas mulai redup. Laju produktivitas tandan sawit sudah melambat. Apa daya, kunjungan tim penulis ke berbagai lokasi di Sumatera dan Kalimantan menunjukkan program revitalisasi terlampau mahal dijangkau petani. Satu hektare lahan membutuhkan dana revitalisasi Rp 70-80 juta, dengan skema kredit dari bank BUMN yang diangsur selama 15 tahun. Jadi, dua hektare lahan membutuhkan Rp 140-160 juta dana revitalisasi. Termasuk dalam perhitungan dana ini adalah pembangunan jalan di sekitar kebun menuju pabrik. “Dari mana kami bisa membayar angsuran untuk utang sebesar itu,” kata Soeprapto, pengurus Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) di Kabupaten Passer, Kalimantan Timur. “Apalagi, ada masa 4-5 tahun sebelum tanaman sawit revitalisasi bisa berbuah. Selama belum berbuah, dari mana kami bisa makan dan mencicil utang?” Idealnya, menurut Soeprapto, para petani dibiarkan merancang sendiri kebutuhan revitalisasi. “Kami bisa, kok, bekerja lebih keras menggarap sendiri pembersihan lahan. Tak perlu tenaga buruh, supaya biaya lebih murah,” katanya. Menurut perhitungan SPKS, petani bisa merevitalisasi lahan dengan dana Rp 30-40 juta per hektare, separo dari patokan yang ditetapkan bank dan pemerintah. “Lagipula, jalan di area perkebunan sudah ada kami bikin sejak lama. Kenapa kami harus dibebani lagi dengan pembangunan jalan di sekitar kebun?” Sengkarut peremajaan ini tak kunjung putus. Pemerintah dan

31

32

Raja Limbung

bank berkukuh dengan formula kredit pinjaman revitalisasi yang mahal. Petani pun berkeras tak mau merevitalisasi dengan skema yang teramat mahal. “Kalau tetap macet begini, dampaknya akan terasa lima tahun ke depan,” menurut Mansuetus Alsy Hanu, Sawit Watch. “Saat itu, kebanyakan kebun sudah lewat 30 tahun, produktivitas semakin turun, ekspor CPO pasti juga merosot.” Jurus ketiga yang dituntut intensifikasi, tak bisa dihindari, adalah perbaikan infrastruktur. Tandan sawit harus diolah di pabrik CPO kurang dari 48 jam setelah panen. Lewat dari itu, kadar minyak dan kualitas CPO yang dihasilkan bakal turun. Jalanan yang buruk, jumlah pabrik yang belum memadai, membuat truk pembawa tandan sawit segar sering kali terhambat dalam antrean panjang. Infrastruktur pelabuhan pun masih menjadi persoalan, seperti digarisbawahi oleh Maruli Sitompoel, mantan eksekutif di perkebunan sawit milik Grup Astra International. Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah, kerap kali kewalahan di masa puncak panen sawit. Kapasitas gudang penyimpan tak “Persoalannya, memadai. Akibatnya, CPO harus menunggu selain tak 3-4 hari di pelabuhan sebelum akhirnya diupah, buruh diangkut kapal menuju berbagai penjuru perempuan dan dunia.

anak-anak tidak dilengkapi alat keselamatan kerja apa pun. Sepatu boot, sarung tangan plastik, dan helm hanya disediakan untuk buruh utama”

Maruli membandingkan kekurangan infrastruktur ini dengan kondisi Malaysia. Negeri tetangga ini serius membangun dan menyiapkan pelabuhan di berbagai titik. Inilah kunci strategis yang siap membawa CPO ke berbagai pelabuhan mancanegara dalam waktu cepat, saat CPO masih segar dan belum teroksidasi. “Ini yang tidak dimiliki Indonesia,” kata Maruli Sitompoel. Akibatnya, minyak sawit dari Malaysia lebih punya keunggulan kompetitif dibanding produk Indonesia..

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Pemihakan Buruh, Kerikil Tajam Itu Satu abad perjalanan perkebunan sawit, sayangnya, tidak menunjukkan wajah yang segar dan inovatif. Bukan hanya soal infrastruktur dan industri hilir yang beku. Lebih dari itu, seabad perjalanan kebun sawit adalah cermin pola relasi rakyat, negara, dan pemerintahan. Zaman kolonial, pendudukan Jepang, maupun di era Republik Indonesia kini. “Dari perjalanan ini, jika tak ada perubahan kebijakan yang signifikan, kita bisa memperkirakan perjalanan sawit di masa mendatang di Indonesia,” kata Jefri Saragih. Pada masa kolonial, ratusan ribu kuli kontrak didatangkan dari Jawa untuk menggarap kebun sawit di Sumatera. Permintaan minyak sawit dari Eropa ketika itu sudah melonjak, sehingga jumlah perkebunan sawit di Hindia Belanda berlipat dari 10 menjadi 64 kebun hanya dalam 15 tahun (periode 1925-1940). Pabrik-pabrik margarin dan sabun di Eropa adalah pasar utama sawit dari Hindia Belanda. Kuli kontrak dari pelosok desa di Jawa tak punya pilihan selain mematuhi kehendak Ndoro Tuan Kebun. Relasi buruh-majikan dalam perkebunan sawit ini juga belum banyak berubah. Kuli kontrak di masa kolonial diupah yang amat sangat murah. Lalu, mereka diberi kesenangan semu berupa aneka pertunjukan erotis, dengan mengerahkan kuli kontrak perempuan, sebagai ronggeng yang pemuas hasrat seksual para majikan maupun sesama kuli. Akibatnya, para kuli pun terjerat hutang dan kemiskinan yang seolah tanpa putus. Akibatnya, sampai dua tiga generasi, status buruh perkebunan terus melekat. Pada zaman modern kini, saat Indonesia sudah 65 tahun merdeka, situasi yang dihadapi buruh tak jauh berbeda. Buruh di perkebunan, seperti tampak dalam film “Suara dari Perkebunan Sawit”, hanya bergaji Rp 600 ribu. “Jam kerja saya dari pukul 6 pagi sampai pukul 6 sore,” kata si buruh yang diwawancarai. Dua belas jam bekerja, mulai dari membersihkan kebun, memupuk tanaman, memanen tandan sawit, mengangkut sawit ke atas truk, sama sekali

33

34

Raja Limbung

buruh perempuan perkebunan sawit Sumber: Dok, Sawit Watch

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Pekerja mengangkat buah kelapa sawit ke dalam truk, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sumber: TEMPO/ Tommy Satria

Sejumlah pekerja menyortir kelapa sawit yang akan dikirim ke pabrik CPO di kawasan PTPN VIII di Cigudeg, Bogor Sumber: TEMPO/ Arie Basuki

35

36

Raja Limbung

bukan kerja yang enteng. Upah yang rendah sering kali memaksa buruh mengambil brondol (rontokan tandan sawit) yang jatuh. Tapi, ini tindakan yang berisiko. Satpam kerap mengadukan buruh yang memungut brondol ke polisi, dengan tuduhan mencuri sawit milik perkebunan. Yang lebih mengenaskan lagi adalah nasib buruh perempuan dan anak-anak. Relis Yanthi Panjaitan, dari Jurnal Kajian Perkebunan, meneliti kondisi buruh perempuan di perkebunan sawit di Sumatera Utara, pada 2010. Menurut riset ini, 90 persen buruh laki-laki selalu mengajak istri dan anaknya saat mendapat order memanen kebun sawit. Buruh panen, dengan upah Rp 39 ribu per hari, bertugas memanen 75 tandan (sekitar 1500 kilogram) dalam sehari. Beban ini tak mungkin dikerjakan sendirian, sehingga sang buruh mengajak serta istri dan anak. Persoalannya, selain tak diupah, buruh perempuan dan anak-anak tidak dilengkapi alat keselamatan kerja apa pun. Sepatu boot, sarung tangan plastik, dan helm hanya disediakan untuk buruh utama. Istri dan anak yang cuma berstatus tenaga pembantu tidak dilengkapi alat apa pun. Akibatnya, kerap dilaporkan terjadi kecelakaan kerja, mulai dari tertimpa tandan sampai tertimpa pisau pemotong (egrek) tandan sawit. Mirna, buruh di sebuah kebun sawit di Langkat, adalah salah satu korban yang tertimpa pisau egrek. Pisau tajam itu jatuh tepat di leher Mirna, hingga dia meninggal. Celaka memang. Tak ada perlindungan hukum dan kesehatan apa pun buat istri dan anak si buruh. Status mereka hanyalah tenaga pembantu. Mereka bukan karyawan, mereka tak tergabung dalam serikat pekerja, dan tak punya asuransi apa pun. Penelitian Relis Yanthi juga menyebutkan bahwa buruh perempuan kerap diterjunkan untuk pekerjaan berisiko, misalnya pemumpukan dan penyemprotan pestisida. Tugasnya, mencampur

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

pestisida dengan air dalam dosis yang tepat. Lalu, tabung pestisida 22 kilogram itu harus dipanggul sambil disemprotkan di areal seluas satu hektare. Lagi-lagi, tanpa ada perlindungan. Tak ada kacamata khusus, tak ada sepatu boot, tak ada sarung tangan, tak ada pula masker. Supriati, misalnya, bekerja sebagai buruh penyemprot pestisida di sebuah perkebunan di Serdang Bedagai. Pada 1999, tanpa mengetahui dirinya sedang hamil, Supriati terus saja melakukan pekerjaan rutin. Akhirnya, sang anak lahir dengan bobot jauh di bawah normal, yakni hanya 7,5 ons.

37

“Kepemilikan tanah yang tanpa ditandai sertifikat, harus menyerah pada program pemerintah. “Jika menolak, orang tua kami dipanggil ke kantor Koramil,” kata Syahroni.

Tragedi seperti yang dialami Supriati dan Mirna, menurut Relis Yanthi, tak terhitung banyaknya. Pembenahan mutlak dibutuhkan. Sebab, pada keringat, air mata, dan darah buruh inilah produktivitas industri sawit bersandar.

Hutan Luas, Milik Siapa Mari kembali menengok perjalanan sawit. Kali ini kita kembali ke masa pendudukan Jepang, 1942-1945. Kebun sawit peninggalan Belanda jadi terbengkalai. Jepang tak peduli pada sawit karena punya prioritas lain, yakni tanaman pangan demi memasok kebutuhan perang. Puluhan kebun sawit dibiarkan merana tak terurus. Situasi yang terus berlanjut sampai Indonesia merdeka dan pemerintahan Soekarno berjalan. Pemerintahan Soekarno mengabaikan roda ekonomi dan lebih disibukkan dengan pertikaian politik. Pada awal Orde Baru, prospek kebun sawit belum juga cerah. Maklumlah, dasawarsa 70-an adalah zamannya booming minyak bumi. Bonanza minyak bermunculan. Barisan pengusaha dan pejabat

38

Raja Limbung

masih dininabobokkan oleh banjir cadangan minyak yang seakan tiada akhir. Sikap yang terbukti salah besar. Kebun sawit baru tancap gas di era 1980-an, itu pun setelah Bank Dunia campur tangan mengelontorkan utang kepada Indonesia. Pengembangan kelapa sawit yang dipilih berpola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) secara simultan di 12 provinsi, terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Pengadaan lahan secara masif ini juga punya kisah tragis tersendiri. Intimidasi, melawan pembangunan adalah subversif, tudingan PKI, dan juga kriminalisasi diarahkan bagi siapa saja yang melawan. Mayoritas penduduk memahami lahan mereka ‘dipinjam’ oleh negara dan tanah akan dikembalikan setelah Hak Guna Usaha (HGU) berakhir. “Kenyataannya, setelah HGU memperpanjang masa berlaku HGU sampai 20-30 tahun lagi,” kata Jamal, penduduk Passer, Kalimantan Timur. “Kami bingung, hutan itu milik siapa?” Proyek masif pembukaan 31 kebun, di 12 propinsi, ini didanai utang dari Bank Dunia melalui program Nucleus Estates Smallholder (NES). Secara singkat program ini sering disebut juga dengan PIRNES atau PIR-BUN. Bank Rakyat Indonesia berperan sebagai penyalur kredit bank untuk petani-petani sawit di 12 provinsi itu. Persoalannya, Sumatera-Kalimantan-Sulawesi begitu luas. Infrastruktur masih amat miskin. Hampir seluruh wilayah masih berupa rimba belantara. Petani penggarap kebun di wilayah itu tak mencukupi. Apa daya? Soeharto tak kekurangan akal. Maka, jika di masa kolonial ada kuli kontrak, pemerintah Orde Baru menggelar program transmigrasi. Ratusan ribu orang Jawa, Bali, Nusa Tenggara, diberangkatkan menuju hutan-hutan gung liwang-liwung di SumateraKalimantan-Sulawesi. Atas nama pembangunan, buldozer, tentara, polisi, dikerahkan demi memuluskan program transmigrasi dan pembukaan kebun-kebun secara masif di luar Pulau Jawa ini.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

39

Dua hektare kebun dijanjikan untuk setiap keluarga yang menjadi transmigran. Para transmigran inilah mitra perkebunan, calon pemilik lahan, pertani, sekaligus buruh penggarap lahan kebun sawit. Migrasi besar-besaran pun terjadi. Sebuah fenomena sosial yang layak menjadi obyek riset, terutama mengenai dampak sosiologisnya berbilang dasawarsa kemudian. Program PIR yang nyawanya digerakkan tenaga ratusan ribu transmigran memang mampu mendongkrak luasan kebun dan produksi sawit Indonesia. Namun, ada harga sosial yang harus dibayar. Gesekan konflik kerap terjadi, bahkan sisa bara apinya kadang masih dirasakan sampai “Kami tidak kini.

tahu bahwa

Para transmigran tidak paham bahwa lahan kebun mereka dijanjikan lahan yang sejatinya adalah dan rumah milik orang lain, baik perorangan maupun kami tadinya komunitas adat. “Kami tidak tahu bahwa lahan adalah rumah, kebun dan rumah kami tadinya adalah rumah, tempat tidur, tempat tidur, kamar mandi, atau kakus milik kamar mandi, orang lain,” kata Soepardjo, transmigran dari atau kakus Jawa Tengah. “Kami cuma tahu bahwa itu milik orang program pemerintah. Kami manut saja,” kata lain,” kata Soepardjo yang kini menjadi anggota Serikat Soepardjo, Petani Kelapa Sawit (SPKS) di Kabupaten transmigran Passer, Kalimantan Timur. Menurut Soepardjo, dari Jawa lahan yang diberikan kepada transmigran ini Tengah. pun bukan lahan yang siap pakai. Mereka harus bekerja keras, babat alas, dan tirakat bertahuntahun sebelum sawit bisa dipanen. “Tahun keempat atau kelima, baru bisa panen,” kata Soepardjo, “Tak sedikit teman yang putus asa di tengah jalan dan menjual kapling mereka.” Penduduk lokal juga mengalami luka sosial dalam berbagai bentuk. Kepemilikan tanah, yang memang tanpa ditandai sertifikat

40

Raja Limbung

apa pun, harus menyerah pada program pemerintah. “Jika menolak, orang tua kami dipanggil ke kantor Koramil,” kata Syahroni, warga di Kabupaten Passer, Kalimantan Timur. “Lahan kami, hutan dan isinya, dianggap cuma kotoran burung. Terserah negara mau diapain. Kami tak bisa menolak.” Menurut Syahroni, tidak sedikit penduduk yang menolak menyerahkan tanah diberi label “PKI” dan dikucilkan dari pergaulan sosial oleh kepala desa. Kelak, setelah reformasi dan jatuhnya Soeharto pada 1998, luka sosial yang terjadi di awal program transmigrasi ini tampil dalam wajah yang lain. Menurut Soepardjo, sebagian penduduk lokal ada yang mengklaim lahan garapan transmigran. “Lahannya diambil alih begitu saja. Transmigran tak bisa berbuat apa-apa, meskipun surat kepemilikan jelas menunjukkan bahwa lahan itu milik dia,” katanya. “Kalau sudah begini, kami pun tak bisa berbuat apa-apa.” Luka sosial yang terjadi bukan hanya lantaran kesembronoan konsep program transmigrasi. Ada banyak persoalan lain yang tak kalah serius, yakni karut-marut perizinan dan tak adanya penghormatan pada hak ulayat. Berawal dari pendekatan militeristik Orde Baru, segala hal yang menyangkut pembangunan adalah urusan negara. Partisipasi masyarakat, penghormatan hak rakyat, tak diberi tempat. Menteri dan pejabat terkait ramai-ramai mengobral surat izin, baik dengan format HPH (hak pengusahaan hutan), HTI (hutan tanaman industri). Hutan dibagi dalam kapling-kapling milik pengusaha. Lebih kacau lagi, bagi-bagi kapling tersebut menjadi makin ruwet dengan pencatatan investasi dan sistem agraria yang kacau. Izin diperjualbelikan dari satu tangan ke tangan lain, dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Kepemilikan saham dan berbagai formula derivatnya kian membikin rumit situasi. Lahan kritis dan terbengkalai, sebagai contoh. Pemerintah mengklaim di seluruh Indonesia tersedia sedikitnya 9 juta hektare lahan kritis. Lahan itulah yang diimbau dijadikan area ekspansi kebun

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

41

sawit. Tapi, persoalannya, “Lahan kritis mana yang dimaksud? Status kepemilikannya pasti bermasalah dan tak bisa begitu saja dijadikan kebun,” kata Jefri Saragih. Biasanya, menurut Jefri, lahan dibiarkan tak terawat dan menjadi gundul lantaran ada sengketa kepemilikan. Warisan pendekatan bagi-bagi kapling ala Orde Baru, ditambah kekacauan perizinan, pencatatan lahan, dan sistem agraria ini berbuntut panjang. Sepanjang 2010, misalnya, muncul 660 kasus konflik agraria di kawasan perkebunan kelapa sawit di seluruh Indonesia, dengan tiga nyawa melayang. Jumlah kasus ini nyaris tiga kali lipat bila dibandingkan tahun 2009 yang sebanyak 240 kasus. Celaka memang, aneka konflik agraria hampir selalu diiringi tindakan kriminalisasi penduduk. Warga yang memperjuangkan hak-haknya di tengah perkebunan sawit diseret polisi. Mereka yang mempersoalkan kepemilikan tanah, atau menolak hadirnya perkebunan sawit, diajukan ke meja hijau dengan tudingan menghambat investasi. Pada 2010, tercatat 130 orang dikriminalisasi lantaran perkebunan naik dari 112 orang pada 2009. “Kami di Sawit Watch sering sekali mendampingi kelompok masyarakat, memediasi perundingan dengan perusahaan, mencari jalan keluar sengketa kepemilikan. Banyak yang menemui jalan buntu,” kata Jefri. Salah satu biang keladi berbagai persoalan ini adalah justru pada produk legislasi. Undang-Undang Perkebunan Nomor 18, Tahun 2004, tentang Perkebunan, jelas memihak kepentingan pengusaha. Pasal 21, misalnya, menyatakan larangan orang menggangggu perkebunan. Kemudian, di pasal 47, menyebutkan

Warga yang memperjuangkan hak-haknya di tengah perkebunan sawit diseret polisi. Mereka yang mempersoalkan kepemilikan tanah, atau menolak hadirnya perkebunan sawit, diajukan ke meja hijau dengan tudingan menghambat investasi.

42

Raja Limbung

bahwa pelanggar pasal 21 akan dikenai pidana maksimum dengan hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 5 miliar. Anehnya, tidak ada ketentuan yang berlaku bagi pengusaha atau perkebunan yang melanggar hak rakyat. Konflik di Mesuji, antara lain, adalah ekses dari ayat yang hanya berpihak pada pemodal ini. Undang-undang Perkebunan yang bermasalah ini pun digugat. Lima petani mengajukan gugatan uji materi pasal 21 dan 47, UU Perkebunan tersebut, pada Mahkamah Konstitusi. Akhirnya, setelah setahun berproses, gugatan tersebut dimenangkan oleh Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi. Senin, 19 September 2011, Mahkamah resmi memutuskan menghapus kedua pasal bermasalah tersebut. Dalam putusannya, Mahkamah menyatakan kedua pasal tersebut inkonstitusional karena bertentangan dengan semangat UndangUndang Dasar 1945. Satu kerikil sudah dilalui, hambatan legislasi sudah disingkirkan. Namun, realita di lapangan masih membutuhkan bukti atas dihapusnya pasal monster itu. Ratusan perkara kriminalisasi petani, yang sudah dan sedang diproses di pengadilan, menuntut realisasi penghapusan kedua ayat ini. Seratus tahun adalah rentang waktu yang panjang. Namun, sayangnya, pengembangan sawit di Indonesia tidak disertai jeda refleksi dan pembenahan mendalam. Moratorium penebangan hutan pada 2010, sesungguhnya adalah momentum yang bagus. Sayang, langkah ini tidak disertai pembenahan yang signifikan. Konflik kepemilikan, perizinan yang tumpang tindih, tidak kunjung diurai. Benang kusut tetap dan makin kusut meskipun moratorium diumumkan. “Kesannya cuma basa-basi pemerintah di dunia internasional,” kata Norman Jiwan. Kesan basa-basi juga tak bisa dihapus manakala kita menyimak Masterplan Percepatan dan Pengembangan Ekonomi Indonesia 2011-2025. Dokumen itu tidak menyebutkan perlunya membenahi sistem perburuhan, penyelesaian konflik lahan, atau memperjelas

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

peta kepemilikan lahan dan perizinan yang tumpang tindih. Padahal, penyelesaian konflik dan meluruskan perizinan yang tumpangtindih inilah kunci utama intensifikasi kebun sawit di Indonesia. Tanpa itu, luka-luka yang dibawa perkebunan masif sawit akan terus membayangi perjalanan emas hijau ini.

Memotret Situasi Lapangan Satu abad perjalanan kebun sawit adalah jejak yang penting. Riwayat satu abad sawit di Indonesia itulah yang ingin dihadirkan dalam buku ini. Sawit Watch, lembaga swadaya masyarakat yang cukup kredibel, mengajak kami, TEMPO Institute, untuk memetakan perjalanan sawit di Indonesia. Sebuah ajakan yang menantang bagi TEMPO Institute, sebagai sayap grup penerbitan TEMPO, yang berfokus pada pengembangan jurnalistik. Kami pun menyambut ajakan Sawit Watch. Lazimnya, buku mengenai sawit cenderung terbagi dalam dua kubu. Pertama, kubu pemerintah dan pengusaha yang semata-mata menyuguhkan fakta ekonomi. Kedua, kubu LSM yang berfokus pada sisi negatif. Buku ini bertujuan sebagai penyeimbang kedua kubu tersebut. Kami berupaya menghadirkan kedua sisi sebisa mungkin secara seimbang. Bagaimana pun, sawit memiliki nilai ekonomi yang telah menggerakkan roda ekonomi berbagai wilayah dan Indonesia secara keseluruhan. Namun, ekspansi sawit juga menyisakan trauma, penderitaan, dan konflik di berbagai daerah. Tim Sawit Watch dan TEMPO Institute bersama merancang konsep buku ini. Kedua lembaga ini memiliki kompetensi yang bisa diandalkan. Sawit Watch adalah lembaga swadaya masyarakat yang cukup kredibel dan terjun di lapangan memantau perkembangan sawit, mulai dari Aceh sampai Papua, secara intensif. TEMPO Institute, sayap baru Grup Tempo Inti Media yang berdedikasi pada pengembangan jurnalisme, didukung tim jurnalis yang diharapkan

43

44

Raja Limbung

mampu menghadirkan suara-suara dari perkebunan sawit secara komprehensif. Serial diskusi, dengan mengundang berbagai narasumber, pun dilakukan berulang kali. Akademisi, birokrat, ekonom, juga wakil masyarakat di sekitar perkebunan dihadirkan untuk membahas sawit dari berbagai sisi. Kami juga menurunkan sejumlah reporter dan peneliti di berbagai wilayah, yakni di beberapa lokasi di Sumatera dan Kalimantan. Kolaborasi jurnalis, peneliti, dan aktivias LSM di lapangan ini bagi kami adalah sebuah pelajaran baru. Kami menikmati mengamati dan saling berbagi canda, pengetahuan, dan pengalaman. Meskipun harus kami akui, kolaborasi ini belum dilengkapi dengan perencanaan kerja yang matang. “Akibatnya, banyak akrobat di sana-sini,” kata Dwi Setyo Irawanto, jurnalis senior yang terlibat dalam tim ini. Di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, kami menurunkan Istiqomatul Hayati yang ditemani Bondan Andriyanu dari Sawit Watch. Di Serdang Bedagai dan Labuan Batu, Sumatera Utara, jurnalis Ramidi dan Monang Soetana terjun ke lapangan, keduanya ditemani Ahmad Surambo dari Sawit Watch. Lalu, di Kapuas Hulu, jurnalis Rusdi Mathari dan fotografer Aditya turun didampingi Ari Munir dari Sawit Watch. Dwidjo Maksum turun ke Danau Sembuluh, Kalimantan Tengah, bersama Eep Syaifulloh dari Sawit Watch. Reza Maulana menuju Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, bersama Edi Sutrisno dari Sawit Watch. Dwi Setyo Irawanto terjun ke Sanggau, Kalimantan Barat, bersama Jefri Saragih dari Sawit Watch. Retno Sulistyowati dan Bram Basuki membantu wawancara dan riset pustaka. Tim terakhir, yakni Mardiyah Chamim, David Ardhian, dan Said Abdullah menghabiskan sepuluh hari di Kabupaten Passer, Kalimantan Timur. Mansuetus Alsy Hanu dari Sawit Watch, Among dari Padi Indonesia, dan Isal Wardhana dari Walhi Kalimantan

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

45

Timur, menemani perjalanan kami. Yusi Avianto, Zen Hae, dan Irfan Budiman kemudian membantu penulisan hasil reportase lapangan. Harus kami akui, yang kami temui di lapangan jauh lebih kompleks dibanding diskusi-diskusi di ruangan berpendingin di Jakarta. Satu dua pekan turun di lapangan, apa daya, tidak mungkin sanggup memotret persoalan di lapangan secara komprehensif. Oleh karenanya, dengan rendah hati, kami mengakui bahwa buku ini masih jauh dari sempurna. Tidak jarang kami merasa ‘tersedak’ oleh begitu banyaknya detil laporan dari lapangan. Oleh karena itu, kami mohon maaf kepada tim reporter yang bekerja keras penggali bahan, juga kepada para narasumber di lapangan, bahwa pada akhirnya kami tidak sanggup menghadirkan seluruh kejadian di lapangan. Buku ini pastilah tidak bisa mewakili keseluruhan yang terjadi pada bentang alam dunia sawit di negeri ini, apalagi dalam kurun waktu satu tahun. Memotret satu abad perjalanan kebun sawit di Indonesia dalam sebuah buku, harus kami akui, adalah target yang super ambisius. Yang kami bisa hadirkan dalam buku ini hanyalah serpihan-serpihan mozaik kondisi lapangan, titik demi titik yang kami tampilkan adalah jukstaposisi, yang mudahmudahan sanggup memberi perspektif dan gambaran umum. Harapan kami, buku ini menjadi pembuka bagi penulisan buku-buku dan riset-riset yang lebih mendalam mengenai sawit di Indonesia, demi mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Buku ini pastilah tidak bisa mewakili keseluruhan yang terjadi pada bentang alam dunia sawit di negeri ini, apalagi dalam kurun waktu satu tahun. Memotret satu abad perjalanan kebun sawit di Indonesia dalam sebuah buku, harus kami akui, adalah target yang super ambisius.

46

Raja Limbung

Bab 2

Raja yang Buta, Lumpuh, dan Limbung

48

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

49

Bab 2 Raja yang Buta, Lumpuh, dan Limbung

SATU ABAD setelah perjalanan budidaya sawit, Indonesia mencatat sejarah baru: menjadi ‘Raja’ alias produsen terbesar sawit di muka bumi. Tahun 2010, Negeri Rayuan Pulau Kelapa ini menghasilkan 22 juta ton minyak sawit mentah atau hampir separuh dari total produksi dunia, sekaligus melampaui Malaysia yang semula merajai pasar. Dengan pembukaan kebun-kebun baru yang terus berderap dan cadangan lahan yang sulit ditandingi, dominasi Indonesia atas pasar minyak sawit dunia agaknya sulit dikejar negara mana pun di seluruh jagat. Menjadi pemain besar dunia dalam soal komoditas, bukan hal baru bagi Indonesia yang dibekali sumber daya alam melimpah. Selama ini, kita dikenal sebagai produsen kakao nomor satu dunia, penghasil getah karet alam nomor dua dunia, dan termasuk lima besar dunia dalam produksi kopi. Kelapa sawit bukan sekadar kakao, karet, atau kopi. Daya magnet sawit jauh lebih kuat. Berbeda dengan ketiga komoditas itu, permintaan terhadap minyak sawit terus melonjak, berlipat secepat

50

Raja Limbung

deret ukur. Data Oil World menunjukkan, dalam dua dasawarsa terakhir, konsumsi minyak sawit melonjak tiga kali lipat lebih dari 15 juta ton (1991) hingga mendekati 47 juta ton (2011). Di masa depan, permintaan akan terus berlipat. Pada 2050 kelak, tingkat konsumsi dunia diperkirakan mencapai 90 - 250 juta ton, tergantung apakah manusia menemukan sumber minyak nabati yang lebih murah atau tidak (Trends in Agricultural Economics Vol-3, 2010). Lonjakan permintaan yang kian deras itu disebabkan karena penggunaan minyak sawit yang semakin beragam. Selain menjadi salah satu bahan baku utama dalam industri pangan dan produk perawatan tubuh, belakangan minyak sawit diincar untuk bahan bakar biologi yang dianggap lebih ‘ramah’ lingkungan. Beroperasinya pabrik biodisel Neste, raksasa energi Finlandia, dengan kapasitas satu juta ton per tahun di Singapura pada 2009 lalu, merupakan salah satu penanda dimulainya era kelapa sawit sebagai sumber energi masa depan. “Kilang” minyak sawit Neste Singapura akan segera disusul proyek biodisel Wilmar International yang kini tengah dibangun di Riau. Sinar Mas juga sedang menyelesaikan mega proyek biodisel berbahan baku sawit dengan kapasitas tiga juta ton. Dan di atas semua itu, pemerintah Amerika Serikat berambisi membangun kompleks industri biodisel raksasa berkapasitas superkolosal: 100 juta ton per tahun, di Negara Bagian Washington. Meskipun tak dirancang khusus berbahan baku sawit, tapi pemilihan lokasi pabrik di pantai barat Amerika ini diyakini merupakan strategi Amerika untuk lebih banyak menyerap minyak kelapa sawit yang kini tengah dikembangkan di Amerika Latin (Kolombia, Ekuador, Peru), kawasan Pasifik (Papua Nugini), bahkan Indonesia dan Malaysia. Keempat proyek raksasa (Neste, Wilmar, Sinar Mas dan biodisel AS) ini akan menjadi cikal bakal tulang punggung pabrik bahan bakar biologi berbahan baku sawit di dunia. Pemakaian bahan bakar biologi dinilai lebih aman karena hanya

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Ijin Usaha

Minyak Sawit

51

Pembukaan Lahan

Proses Pengolahan

Proses Tanam

Panen

52

Raja Limbung

mendaur ulang karbon yang sebelumnya telah beredar di atmosfir, melalui proses fotosintesa. Ini berbeda dengan pembakaran fosil (BBM, gas, batubara) yang membebaskan karbon yang sebelumnya ‘tidur’ jutaan tahun ke udara sehingga meningkatkan suhu bumi. Kekhawatiran akan bahaya emisi karbon dan kelangkaan bahan bakar fosil telah mendorong dunia mencari dan menggunakan bahan bakar biologi, secara bertahap. Masyarakat Uni Eropa, misalnya, bertekad mengganti 10 persen kebutuhan bahan bakar yang digunakan untuk transportasi dengan biofuels, pada 2020. Sejak 2011, hampir semua pesawat KLM airlines telah terbang menggunakan avtur biologi sebagai bahan bakar. Cina juga tak mau kalah. Negara berpenduduk terbesar dunia ini menargetkan mengganti 15 persen minyak solarnya dengan bahan bakar biologi, juga pada 2020. India bahkan lebih maju lagi: pada 2012, satu dari lima liter minyak solar harus berasal dari biofuels. Meskipun dikenal sebagai negara yang boros dan lapar energi, Amerika Serikat juga tak ketinggalan. Undang-Undang Energi Amerika yang baru mewajibkan sumber energi negara itu harus dipasok oleh sedikitnya 36 miliar galon biofuels, pada 2022. Selama ini, bahan bakar biologi dikenal dalam dua bentuk: bioethanol sebagai pengganti bensin, dan biodiesel untuk menggantikan minyak solar. Bioetanol biasanya dibuat dari produk pertanian berkarbohidrat tinggi, seperti tebu dan singkong, sedangkan biodisel dari minyak nabati seperti sawit, kedelai, jarak, biji matahari atau kanola. Dari berbagai bahan baku tersebut, minyak sawit dianggap paling sesuai dengan tuntutan masa depan karena produktivitasnya paling tinggi. Tiap hektare kebun sawit yang dikelola baik dapat menghasilkan 4-6 ton CPO per tahun --bahkan delapan sampai10 ton, dengan perlakuan khusus—sedangkan kebun kedelai paling banter hanya memproduksi 500 kilogram per hektare per tahun. Minyak nabati lain sulit bersaing dengan sawit, terutama karena memerlukan lahan yang lebih luas.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

53

Dengan karaker irit lahan dan produktivitas tinggi, kelapa sawit akan menjadi salah satu harapan umat manusia menghadapi krisis energi, di masa depan. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang bakal habis, minyak sawit dapat terus dipanen asal kebunnya dirawat dan diremajakan. Di masa depan, menguasai produksi minyak sawit barangkali sama vitalnya seperti menguasai minyak bumi pada era 1970-an. Dengan kelapa sawit, Indonesia memiliki kesempatan mendominasi perekonomian – mungkin sama seperti OPEC mendikte dunia, pada masa jayanya dulu. Pohon

Tandan

Biji

Pertanyaannya, apakah potensi sebesar itu akan menjadi kenyataan? Lebih penting lagi, apakah manfaat ekonomi sebesar itu dapat dinikmati tanpa mengorbankan hak-hak masyarakat lokal dan keselamatan lingkungan? Inilah pertanyaan terbesar pengembangan industri dan kebun “Tanpa strategi kelapa sawit Indonesia saat ini, dan di masa yang visioner… datang. Tulisan berikut ini menjelaskan ironi ekspansi kebun posisi Indonesia, si raja sawit yang tak sanggup sawit di negeri mengelola kekayaannya untuk semaksimal ini bukan mungkin kemakmuran rakyat.

Raja Yang Buta Hampir seabad lalu, minyak sawit memasuki sejumlah pelabuhan di Eropa dengan ‘label’ baru: sebagai bahan baku industri.

mustahil bakal membahayan ketahanan pangan seperti di zaman kolonial dulu.”

54

Raja Limbung

Sebelumnya, minyak yang diperas dari buah kelapa sawit ini hanya digunakan secara terbatas untuk pelumas mesin atau, paling banter, bahan baku lilin. Sawit memasuki babak baru di awal abad 20. Ketika itu minyak sawit didaratkan secara besar-besaran sebagai bahan baku industri sabun dan mentega. Margarine Unie, pabrik mentega Belanda, mengapalkan minyak sawit dari Asahan (Aceh) dan Teluk Betung (Lampung) menuju Pelabuhan Rotterdam. Pada waktu yang hampir bersamaan, Lever Brothers di Inggris juga mendatangkan minyak sawit dari Afrika Tengah ke Pelabuhan London untuk bahan campuran produksi sabun. Sejak itu, Rotterdam dan London merupakan pintu masuk utama minyak sawit ke Eropa, sampai sekarang. Kedua perusahaan yang kemudian bergabung sebagai Unilever dan menjelma menjadi raksasa dunia itu juga merupakan salah satu konsumen terbesar minyak sawit hingga hari ini. Di tangan Unilever, minyak sawit – yang di tempat asalnya, Afrika, hanya diolah untuk campuran sup, saus atau bahan obat (minyak sawit asli yang berwarna jingga kaya akan karoten, sangat baik untuk kesehatan mata)— berhasil ‘disulap’ menjadi salah satu bahan baku industri pangan dan kosmetika yang vital. Hingga setengah abad kemudian, minyak sawit masih terbatas digunakan sebagai bahan baku industri mentega dan sabun. Permintaannya memang terus merangkak naik, tapi dalam grafik yang relatif datar. Bintangnya masih belum berpijar benderang. Bintang itu baru bersinar terang pada awal 1970-an. Ketika itu para penggiat industri berhasil ‘menetralkan’ CPO dari kandungan asam-lemak-bebas, yang membikin minyak teroksidasi dan jadi tengik. Minyak sawit mentah yang berasa agak pahit dicuci, dikeringkan dan disaring, kemudian didinginkan. Hasilnya: sebagian minyak membeku dalam suhu ruang dan sebagian lagi tetap cair. Minyak yang cair dan jernih itulah yang kemudian digunakan sebagai

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

minyak goreng, sedangkan yang beku dipakai untuk bahan baku margarin, sabun dan industri oleokimia. Minyak goreng dari kelapa sawit yang telah dinetralisir dari ‘asam-lemak-bebas’ dikenal lebih stabil ketimbang minyak kelapa (biasa) yang lebih cepat tengik. Sejak diproduksi menjadi minyak goreng, kelapa sawit dengan cepat menjadi idola warga dunia, terutama penduduk negara berkembang, seperti Cina, Indonesia, India, Malaysia, Pakistan, Thailand, Nigeria, Bangladesh, bahkan negara penghasil kedelai terbesar dunia, Brasil. Lebih dari separuh pasokan kelapa sawit dunia diproduksi negara-negara ini. Kadar lemak jenuh minyak sawit (saturated fat -- dan karena itu lebih berbahaya bagi kesehatan) memang lebih banyak ketimbang minyak kanola atau biji matahari. Namun, minyak sawit lebih disukai penduduk negara berkembang karena harganya lebih terjangkau. Data Dana Moneter Internasional (IMF), misalnya, menunjukkan pada Juli 2009, harga minyak kelapa sawit di pasar dunia mencapai US$ 602 per ton, sedangkan minyak kedelai US$ 751 atau 25 persen lebih mahal. Minyak biji matahari lebih mahal lagi: hampir dua kali lipat harga minyak sawit, atau persisnya US$ 1.022 per ton. Bagi penduduk Asia, selisih harga minyak sawit dengan minyak lain lebih besar lagi. Minyak sawit yang dihasilkan tanah Asia tak memerlukan biaya angkutan yang mahal, tidak seperti minyak kedelai yang harus dikapalkan dari Brasil atau minyak biji matahari yang mesti diboyong dari Eropa Timur. Data negara-negara konsumen dan produsen tersebut tampak bahwa pasar utama minyak goreng sawit adalah negara-negara dengan jumlah penduduk yang kolosal. Karakter negara konsumen ini umumnya: cepat berbiak dan, pada umumnya, miskin. Ini menimbulkan keprihatinan baru: pasokan minyak sawit harus dijaga agar ketahanan pangan warga miskin dunia tidak tergoncang. Indonesia, sebagai Raja Sawit, sangat bisa menentukan merahbiru harga pasar sawit dunia. Terutama karena hampir tak ada

55

56

Raja Limbung

Penurunan pasokan sawit dari Indonesia bukan hanya berarti mendongkrak harga minyak nabati dunia tapi juga bisa mengguncang ketahanan pangan, terutama di Asia dan Afrika.

minyak pengganti yang terjangkau seperti sawit. Penurunan pasokan sawit dari Indonesia bukan hanya berarti mendongkrak harga minyak nabati dunia tapi juga bisa mengguncang ketahanan pangan, terutama di Asia dan Afrika.

Peran minyak sawit kian strategis mengingat fungsinya sebagai bahan baku utama sejumlah konglomerasi kelas berat. Unilever, perusahaan pengolah bahan pangan terbesar dunia yang juga membuat barangbarang kebutuhan rumah tangga, tiap tahun melahap 1,5 juta ton minyak sawit atau sekitar tiga persen dari total produksi dunia. Selain untuk membuat sabun Lux, Unilever membutuhkan minyak sawit untuk produksi margarin (Blue Band, Flora, Bertolli), sup (Knorr), es krim (Walls, Ben&Jerry’s), serta barang-barang perawatan tubuh seperti shampo (Dove, Timotei), dan pelembab kulit Vaseline. Minyak sawit juga merupakan bahan baku penting di sejumlah raksasa industri deterjen seperti Procter&Gambler. Perusahaan Amerika Serikat ini melahap sekitar satu persen produksi minyak sawit dunia. Industri makanan Nestle, dari Swiss, mengkonsumsi setengah persen produksi sawit sejagat. Begitu pula industri makanan Kraft, yang sama dengan Nestle kira-kira melahap setengah persen produksi minyak sawit dunia. Kendati tak menggunakan minyak sawit sebagai minyak goreng, konsumen Eropa dan Amerika Serikat juga merupakan pelahap minyak sawit yang rakus. Di negara-negara maju, minyak sawit digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan perawatan tubuh, mulai dari pembuatan mentega, mayonnaise, pasta gigi, sabun, butter, selai kacang hingga kripik kentang. Minyak sawit juga dipakai

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

57

sebagai bahan baku campuran di pabrik-pabrik pastry, biskuit, kembang gula, jagung panggang, es krim, lipstick, krim pelembab kulit, pencukur jenggot, kue coklat dan menjadi saus mie instan. Pokoknya, minyak sawit dibutuhkan untuk barang kebutuhan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Survei World Wildlife Fund (WWF), lembaga penyelamatan satwa liar mencatat, satu dari sepuluh produk konsumsi yang dipajang di supermarket di dunia menggunakan minyak kelapa sawit. Seperempat dari isi tas belanjaan yang ditenteng orang di Paris, London, New York, Tokyo atau kota-kota besar lain di dunia, hampir bisa dipastikan mengandung minyak kelapa sawit dari Sumatera atau Kalimantan. Minyak sawit membuat sabun dan shampo lebih lembut, lebih ‘krimi’, sedangkan minyakinti-sawit (palm kernel oil - PKO) membuat batangan coklat jadi renyah. Sifat PKO yang beku dalam suhu ruang tapi lumer pada suhu tubuh menjadikan kue coklat begitu mudah leleh begitu dikulum di mulut.

Di negaranegara maju, minyak sawit digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan perawatan tubuh, mulai dari pembuatan mentega, mayonnaise, pasta gigi, sabun, butter, selai kacang hingga kripik kentang.

Demam sawit dalam industri pangan dan produk perawatan tubuh membuat permintaan atas minyak sawit terus membumbung. Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan permintaan minyak sawit melonjak dengan laju rata-rata 2,5 juta ton atau sekitar 10 persen per tahun. Dan karena sebagian besar ‘pemakan’ minyak sawit merupakan warga bumi yang miskin dan cepat berbiak, kelangkaan atas pasokan sawit dikhawatirkan akan mengguncangkan ketahanan pangan dunia. Sejarah membuktikan, ekspansi kebun kopi, tembakau, cengkeh, dan tebu yang dilakukan VOC, penguasa Hindia Belanda, pada abad

58

Raja Limbung

17 telah membuat sebagian wilayah Jawa kelaparan. Sawah dan kebun jagung milik penduduk dikonversi membabi-buta menjadi aneka kebun, hasilnya dikuras dan dibawa ke Rotterdam dan pelabuhan-pelabohan di Eropa lainnya. Tanpa strategi yang visioner, yang menjadi tuntutan mutlak di tengah kompleksitas fenomena pemanasan global, ekspansi kebun sawit di negeri ini bukan mustahil bakal membahayan ketahanan pangan seperti di zaman kolonial dulu. Celakanya, ancaman di sektor pangan itu kini juga diikuti dengan ancaman di sektor energi. Dalam dua dasawarsa mendatang, daratan Eropa saja diperkirakan membutuhkan lebih dari 50 juta ton biodisel tiap tahun. Ini setara dengan dua setengah kali produksi CPO Indonesia saat ini atau tiga perempat total produksi minyak nabati (minyak sawit, kedelai, biji matahari, kanola, jarak, dan lain-lain), di seluruh penjuru Indonesia bumi. Kira-kira diperlukan ekspansi kebun merupakan kelapa sawit baru seluas 15 juta hektare – satu-satunya atau hampir dua kali kebun kelapa sawit yang harapan ditanam Indonesia dalam 40 tahun terakhir sumber minyak – hanya untuk memenuhi kebutuhan biodisel sawit masa Eropa saja. depan karena

cadangan lahannya ‘membuncah’, iklimnya cocok, tenaga kerja terjangkau (kalau tak boleh dibilang murah) dan prasarananya mencukupi.

Lalu, bagaimana dan di mana kebun kelapa sawit akan ditanam di muka bumi ini untuk memenuhi lonjakan kebutuhan tersebut? Dalam Commodity Intelegence Report (8 Oktober 2010), para analis pertanian USDA tak ada punya jawaban lain kecuali Indonesia. Menurut para analis tersebut, Indonesia merupakan satu-satunya harapan sumber minyak sawit masa depan karena cadangan lahannya ‘membuncah’, iklimnya cocok, tenaga kerja terjangkau (kalau tak boleh dibilang murah) dan prasarananya

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

mencukupi. Selain itu, Indonesia telah membuktikan diri mampu menjadi pengelola kebun sawit komersial yang sukses dan memiliki sejarah stabilitas politik dan ekonomi yang teruji. Sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan perkebunan besar dunia memang mulai merambah Afrika. Benua yang menjadi tempat kelahiran tanaman kelapa sawit ini diharapkan dapat tujuan ekspansi kebun setelah ladang di Malaysia sudah habis ditanami. Pembukaan kebun baru di Indonesia pun melambat karena menghadapi banyak hambatan perizinan. Afrika agaknya memang menawarkan sejumlah harapan baru. Studi Bank Dunia menyebut daerah Sub-Sahara Afrika masih menyisakan sekitar 200 juta hektare lahan (sekitar 20 kali luas kebun sawit di Indonesia) yang cocok untuk perkebunan. Catatan kantor berita Reuters juga menunjukkan harga tanah di kawasan itu masih tergolong murah, sekitar US$ 7.000 per hektare (Rp 7.000 per meter persegi). Pemerintahan di sejumlah negara Afrika menawarkan sistem sewa sampai puluhan tahun. Pemerintah Liberia, misalnya, awal tahun 2010 meneken perjanjian sewa dengan berbagai perusahaan investor kebun sawit. Tak mengherankan jika sejumlah perusahaan perkebunan ramai-ramai menyerbu Afrika. Sime Darby, misalnya, sejak 2009 mengembangkan kebun sawit seluas 220.000 hektare di Liberia. Selain itu, pemilik konsesi kebun sawit terbesar dunia asal Malaysia itu dikabarkan telah menyiapkan investasi senilai US$ 2,5 miliar untuk membangun kebun seluas 300.000 hektare di Kamerun. Seperti tak mau ketinggalan dengan pesaingnya, Golden Agri Resources, induk perusahaan Sinar Mas yang terdaftar di bursa Singapura, tahun 2010 lalu juga mengumumkan perjanjian dengan perusahaan lokal Liberia untuk mengembangkan kebun sawit seluas 125.000 hektare (Reuters, 29 April 2011). Daftar perusahaan perkebunan yang tengah berebut nasib di Afrika masih dapat diperpanjang. Yang masuk dalam daftar antara

59

60

Raja Limbung

lain Olam International (Singapura) yang akan membangun 300.000 hektare kebun sawit dan karet di Gabon. Kemudian ada pula ZTE Agribusiness (China) yang berambisi membangun satu juta hektare kebun kelapa sawit di Kongo. Peminat kebun sawit di Afrika bukan hanya perusahaan kelas Asia tapi juga sejumlah raksasa multinasional dunia, mulai dari Equatorial Palm Oil (Inggris), Herakles Farm (AS), Friel Green (Jerman), SIAT (Belgia), Feronia (Kanada), Eni (Italia). Bahkan Unilever selama ini menjadi konsumen terbesar kelapa sawit, juga telah mengembangkan dua kebun sawit besar di Ghana. Belakangan, dengan alasan ingin lebih fokus kepada bisnis inti (pabrikasi), usaha kebun ini dijual Unilever kepada Wilmar Internasional (Singapura). Hanya saja, ada catatan yang mesti jadi perhatian. Ternyata upaya ekspansi ke ‘kempung halaman’ tanaman kelapa sawit ini tak banyak membuahkan hasil. Afrika bukan tempat yang ramah bagi ‘anaknya’ sendiri. Data Food and Agricultural Organization (FAO) menunjukkan kebun kelapa sawit di Nigeria, produsen kelapa sawit terbesar di Afrika, hanya mampu menghasilkan dua ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun atau sekitar sepertiga dari kebun di Indonesia. Ada beberapa sebab. Menurut catatan FAO miskinnya produktivitas kebun sawit di Afrika disebabkan karena kualitas bibit yang rendah. Selain itu, musim kering yang sangat panjang yang membuat kelapa sawit yang selalu kehausan itu kekurangan air. “Afrika bukan tanah impian untuk kelapa sawit,” kata Gert Vandersmissen, Direktur Operasi Siat Group (Belgia) yang beroperasi di Gabon kepada Reuters, 29 April 2011. “Kami sudah berada di sini 30 tahun, untungnya sangat kecil, ongkosnya mahal,” lanjutnya. Karena itu, tak bisa tidak, satu-satunya tambatan harapan adalah Indonesia, negara yang menurut klaim Badan Pertanahan Nasional memiliki sembilan juta hektare ’tanah terlantar’ yang siap dikembangkan menjadi kebun produktif. Sebuah klaim yang layak

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

diuji validitasnya, mengingat data kepemilikan lahan dan perizinan yang tumpang-tindih. Pengembangan kebun sawit di Indonesia terbukti jauh lebih menguntungkan ketimbang di Afrika. Menurut survey kantor berita Reuters, rata-rata biaya produksi CPO di Asia Tenggara mencapai US$ 300 per ton. Sementara itu, di Indonesia, dengan ongkos buruh dan biaya tanah yang murah, biaya produksi bisa ditekan hingga US$ 250 per ton (Departemen Pertanian Amerika Serikat: Commodity Intelligence Report, 8 Oktober 2010). Dengan harga rata-rata US$ 800, maka tingkat keuntungan bisnis dari industri minyak sawit pada 2010, misalnya, mencapai US$ 500 per ton. Bayangkan, berapa keuntungan yang bisa ditarik seluruh pengusaha sawit nasional (termasuk para petani), dengan total produksi hingga 22 juta ton CPO pada 2010. Barangkali itu sebabnya, selama 40 tahun, terutama periode seperempat bagian yang terakhir, perluasan kebun sawit di Indonesia melaju dahsyat. Kecepatannya amat mengerikan. Antara 1967 2000, kebun sawit di Indonesia meluas hingga 15 kali lipat, dari 2.000 kilometer persegi menjadi 30.000 kilometer persegi (tiga juta hektare). Sebelum 2000, rezeki sawit memang masih kalah berkilau dari rezeki kayu logging, legal maupun illegal. Namun setelah pemerintah menggelar operasi besar-besaran illegal logging – dan hutan yang bisa dibabat makin sulit ditemukan— kebun sawit mulai mendapat perhatian ekstra. Dalam sepuluh tahun terakhir, luas kebun sawit telah melebar lagi tiga kali lipat hingga menjadi 10 juta hektare – atau setara dengan luas negara Korea Selatan atau Portugal, atau sepertiga dari luas seluruh negara Malaysia. Angka luas kebun sawit memang terus menjadi bahan kontroversi. Angka resmi Direktorat Jendral Perkebunan Departemen Pertanian hanya menyebut luas 7,8 juta hektare. Taksiran analis di Departemen Pertanian Amerika Serikat menyebutkan luas kebun sawit yang telah dibuka di Indonesia hingga 2010 memang hanya 7,7 juta hektare.

61

62

Raja Limbung

Rencananya, hingga 2015 pemerintah menargetkan tambahan seluas empat juta hektar lagi, khusus untuk produksi biodisel saja. Ini belum seberapa dibandingkan dengan target ekspansi yang dicanangkan daerah.

Tapi selain itu, masih ada sekitar 6,5 - 7 juta hektare lagi izin usaha kebun sawit yang telah diterbitkan tapi belum dibuka. Sejumlah LSM yang mengumpukan data dari dinas perkebunan di setiap daerah sampai pada angka yang lain: luas kebun sawit Indonesia pada 2010 mendekati angka 10 juta hektare.

Luas kebun sawit yang dahsyat itu masih akan terus ditambah. Pemerintah pernah menyatakan bahwa dari survei disimpulkan bahwa lahan yang cocok untuk kebun kelapa sawit mencapai 24,5 juta hektare. Rencananya, hingga 2015 pemerintah menargetkan tambahan seluas empat juta hektare lagi, khusus untuk produksi biodisel saja. Ini belum seberapa dibandingkan dengan target ekspansi yang dicanangkan daerah. Seluruh datanya dikumpulkan, seluruh provinsi di Indonesia menargetkan perluasan kebun sawit hingga 20 juta hektare, 80 persen di antaranya di Sumatera dan Kalimantan. Provinsi Riau saja, misalnya, menargetkan perluasan hingga tiga juga hektare. Salah satu propinsi yang paling hot mengembangkan kebun kelapa sawit adalah Kalimantan Barat. Dari 337 perusahaan perkebunan besar yang beroperasi di wilayah ini, 325 perushaan di antaranya mengembangkan kebun sawit. Pejabat Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat menyatakan wilayah ini memang cocok untuk pengembangan sawit karena curah hujan yang tinggi. Menurut pejabat yang tak mau disebut namanya terang-terangan ini, semua investasi kebun besar yang masuk ke Kalbar, hanya mau menanam sawit. “Tidak ada yang mau tanam karet karena curah hujan di Kalbar terlalu tinggi untuk karet. Jika curah hujan terlampau tinggi, hari

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

panen jadi berkurang dan karet gampang terjangkit jamur putih,” katanya. Menurut Peraturan Daerah No 5 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kalbar, dari wilayah provinsi seluas 14,7 juta hektare itu, sekitar 42 persen (6,1 juta hektare) ditetapkan sebagai kawasan pertanian lahan kering. Dari jumlah tersebut, 3,5 juta hektare di antaranya dicadangkan untuk lahan perkebunan, dengan komposisi: kebun sawit 1,5 juta hektare, karet 1,2 juta hektare, kelapa 300 ribu hektare dan sisanya untuk perkebunan lada, kakao, kopi, tebu, pinang, jarak pagar, cengkeh. Namun nyatanya, luas kebun sawit di Kalbar sudah jauh melampaui kuota yang ditetapkan. Data Dinas Perkebunan Kalbar menunjukan, hingga awal 2010, izin pengembangan kebun sawit yang telah diterbitkan mencapai, aneh bin ajaib, mencapai 3,6 juta ha -- lebih dari dua kali lipat dari jatah Tata Ruang. Dan dari jumlah ini tak sampai 600.000 hektare yang sudah mengantungi sertifikat Hak Guna Usaha. Di Kabupaten Ketapang, misalnya, jatah lahan untuk pengembangan kebun sawit sampai 2025 di Ketapang hanyalah 305.00 hektare. Tapi sampai 2009, izin kebun sawit yang telah diterbitkan di kabupetan ini luar biasa: 1.081.000 ha. Di Kabupaten Landak juyga setali tiga uang. Jatah kebun sawit sampai 2025 hanya 142.000 ha, tapi sampai akhir 2009, izin yang sudah diterbitkan telah mencapai 496.000 (empat kali lipat). Ekspansi kebun besar-besaran untuk memenuhi tuntutan permintaan yang terus menguat, bukanlah hal yang istimewa. Perluasan kebun kelapa sawit bukan satu-satunya. Dulu, setengah abad lalu, ketika minyak kedelai sedang naik daun, Brasil dan Amerika Serikat juga ngebut membuka lahan untuk kebun kedelai. Selama 60 tahun dari 1940-2000, luas kebun kedelai di Brasil bertambah puluhan ribu kali lipat dari 700 hektare menjadi 18 juta hektare. Kini, kebun kedelai di Brasil, Amerika Serikat, Argentina dan China sudah mencapai lebih dari 80 juta hektare – atau lebih dari

63

64

Raja Limbung

empat kali lipat luas kebun kelapa sawit di seluruh dunia. Dalam sepuluh tahun terakhir, kebun kedelai di Brasil saja terus masih merangkak naik dari 18 juta hektare menjadi 24 juta hektare. Ini merupakan tingkat pembukaan kebun yang tak kalah masif dengan kelapa sawit di Indonesia. Namun, perluasaan yang membabi buta seperti itu menimbulkan tanda tanya besar: di mana kebun-kebun itu dibangun? Di tanah negara? Di lahan bekas hutan yang memang dicadangkan untuk konversi? Tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan megaproyek Kalimantan Border Oil Palm: pembangunan kebun kelapa sawit raksasa seluas 1,8 juta hektare yang akan memagari perbatasan Indonesia dengan Malaysia dan Brunei. Untunglah, setahun kemudian, proyek yang menerabas sejumlah wilayah taman nasional ini ‘dijadwalkan’ kembali – namun sejumlah selentingan mengabarkan pemerintah belum menghapuskan sama sekali rencana tersebut. Di luar kawasan pencadangan yang bermasalah itu, pembangunan kebun sawit di Indonesia agaknya harus berhadapan dengan tanahtanah yang telah memiliki ’status’ – entah itu tanah milik petani, milik masyarakat adat, atau lahan bekas kawasan hutan. Tak jarang, kebun-kebun baru itu harus dibangun dengan sejumlah konflik tanah yang meletup belakangan dan memakan korban (Baca: Berebut ’Sepetak’ Tanah Demi Minyak Sawit Mentah).

Raja Yang Lumpuh Sejauh ini, sebagian besar minyak kelapa sawit dijual ke luar negeri dalam bentuk CPO, hanya sebagian kecil saja yang diekspor sebagai produk olahan lanjutan (minyak goreng atau bahan baku oleokimia). Data rata-rata ekspor dari 2005-2007 menunjukkan 55 persen produk kelapa sawit diekspor dalam bentuk CPO, hanya 45 persen

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

65

66

Raja Limbung

“… rendahnya produktivitas juga disebabkan karena kualitas kebun kita payah. Sebagian besar kebun kita tak dibangun dan dirawat dengan memenuhi tuntutan kultur teknis yang semestinya.”

yang merupakan produk olahan. Sebagai perbandingan, Malaysia mengekspor tiga dari setiap empat ton minyak kelapa sawitnya dalam bentuk produk olahan, hanya satu ton yang masih dalam bentuk minyak sawit mentah CPO. Ekspor dalam bentuk produk olahan bukan sekadar menjanjikan ‘nilai tambah’. Lebih dari itu juga menjamin ketahanan pasar. Harga produk olahan cenderung lebih tahan goncangan ketimbang bahan mentah seperti CPO. Basis pasar produk olahan lebih luas ketimbang pasar CPO, yang terbatas pada beberapa industri tertentu.

Sesungguhnya, ekspor dalam bentuk barang mentah atau setengah-jadi merupakan persoalan klasik komoditas perkebunan kita, bukan hanya kelapa sawit. Negeri ini masih dimanjakan alam, merasa cukup hanya dengan menjual komoditas mentah yang miskin nilai tambah. Karet alam, misalnya, dijual dalam bentuk barang setengah jadi yang disebut RSS (ribbed smoke sheet) atau standard indonesian rubber (SIR). Hanya sebagian kecil (kurang dari 30 persen) yang diolah dan diekspor sebagai ban kendaraan atau peralatan rumah tangga. Begitu juga kopi, teh maupun bijih cokelat. Barangkali hanya perkebunan tebu yang menjual barang jadi (yaitu refine sugar, gula putih), tapi itu pun hanya untuk pasar lokal. Sebagai produsen barang setengah jadi, perusahaan perkebunan, termasuk kelapa sawit, tak punya cukup ruang untuk mengembangkan pasar. Tanpa memasuki area penghasil end product, maka diferensiasi produk terbatas hanya itu-itu saja. Yang bisa diusahakan, paling banter, hanyalah menjaga agar produk kelapa sawit tetap berada di

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

kelas mutu terbaik sehingga harganya tidak anjlok. CPO, misalnya, harus dijaga agar kandungan asam lemak bebas di bawah lima persen agar tetap diterima panitia lelang. Lantaran jurus diferensiasi dan segmentasi tak mungkin digunakan, strategi untuk memenangkan persaingan hanya bisa dilakukan melalui siasat pengendalian harga. Perusahaan kelapa sawit harus matimatian menekan harga pokok, mengorbankan kesejahteraan buruh dan penghormatan pada hak milik komunitas adat, agar tetap bisa bersaing di pasar internasional. Uniknya, dalam usaha perkebunan, ’harga pokok’ tak begitu saja bisa dipangkas karena ada norma-norma teknis yang musti dipenuhi. Pemberian pupuk, misalnya, harus tetap taat dosis (taat jumlah, waktu, dan cara pemberian), tak boleh dihemat atau disunat meskipun harga pasar lagi jeblok. Penyiraman, pembersihan gulma dan perawatan lain juga musti dikerjakan sesuai prosedur, kendati panen buruk. Artinya, mau panen atau tidak, mau harga baik atau anjlok; ongkos pupuk, biaya pemeliharaan (termasuk gaji pekerja) harus tetap dibayar. Dengan kata lain: usaha perkebunan kelapa sawit, sebagaimana usaha perkebunan lain di dunia, didominasi beban biaya tetap (fixed cost) yang lumayan besar. Dengan karakter fixed cost yang dominan, ikhtiar menekan harga pokok hanya bisa dicapai melalui peningkatan produktivitas, sambil tetap menjaga agar kualitas produk tidak melorot. Jika produktivitas naik, biaya per unit produk lebih murah sehingga perusahaan memiliki peluang memenangkan pertarungan pasar. Nah, justru di situlah persoalan sawit Indonesia. Meskipun angka produksi sudah menapat gelar ‘juara dunia’ tapi dari sisi produktivitas (kemampuan menghasilkan produk per satuan lahan) masih jauh di bawah Malaysia. Indonesia mencetak 22 juta ton CPO dari 10 juta hektare kebun sawit (alias 2,2 ton CPO per hektare), sedangkan Malaysia mencetak 18 juta ton dari hanya sekitar 4 juta hektare (4,5 ton CPO per hektare). Kebun terbaik di Malaysia dilaporkan dapat

67

68

Raja Limbung

menghasilkan delapan ton CPO per hektare per tahun, sedangkan kebun terbaik Indonesia hanya mencetak enam ton CPO per hektare per tahun. Meskipun, tanah kita subur –hingga, seperti kata kelompok musik Koes Ploes, tongkat kayu pun bisa jadi tanaman-- sumber air dan sinar matahari melimpah ruah, sepanjang kita tak berhasil mendorngkrak produktivtas, kita tidak mungkin dapat bersaing dengan minyak sawit luar negeri. Meskipun total produksi minyak sawit kita nomor satu di dunia, Indonesia seperti raja yang lumpuh karena tak bisa ikut berperang menentukan harga dan memainkan pasokan. Rendahnya produktivitas kebun kita disebabkan oleh banyak hal, salah satunya karena karena mayoritas kebun sawit di Indonesia masih berusia muda. Ekspansi kebun secara besar-besaran baru dilakukan dalam 15-10 tahun terakhir. Artinya, meskipun telah dipanen, sebagian besar kebun Indonesia belum memasuki ‘usia paling produktif’ yakni 10-20 tahun -- usia ketika kelapa sawit memberikan panen terbaik. Analis USDA bahkan menaksir seperempat dari kebun sawit Indonesia (sekitar 1,75 juta hektare) belum memasuki usia ‘dewasa’. Selain itu, rendahnya produktivitas juga disebabkan karena kualitas kebun kita payah. Sebagian besar kebun kita tak dibangun dan dirawat dengan memenuhi tuntutan kultur teknis yang semestinya. Sebagian besar kebun kelapa sawit, terutama kebun milik petani mandiri, dibangun dengan bibit yang belakangan terbukti tidak menghasilkan buah. Atau pun jika menghasilkan buah, rendemennya sangat kecil (bibit dura). Satu-satunya cara untuk mendongkark produktivtas saat ini adalah membongkar tanaman lama yang tak produktif dan menggantikannya dengan yang baru alias diremajakan. Namun persoalannya, peremajaan besar-besaran membutuhkan biaya tak sedikit. Untuk menanam kembali satu hektare kelapa

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

sawit dan merawatnya hingga bisa menghasilkan dibutuhkan biaya sedikitnya Rp 75 juta tiap hektare. Jika kebun sawit Indonesia diremajakan sepertiganya saja, kebutuhan dana investasinya bisa mencapai angka kolosal: Rp 150 triliun. Pemerintah bukan tak mendorong tumbuhnya industri hilir – agar daya saing kita tak hanya terletak pada produktivitas kebun, tapi juga diferensiasi produk dan segementasi pasar. Sejak 2011 pemerintah memberi insentif dengan menerbitkan aturan tarif pajak ekspor baru: ekspor CPO dikenai tarif maksimal 25 persen, sedangkan produk olahan hanya lima persen. Menurut Direktur Jendral Industri Pertanian dan Kimia, Departemen Perindustrian Benny Wachjudi aturan ini akan efektif tahun 2013 ketika ekspor industri hilir minyak sawit ditargetkan mencapai 70 persen dari seluruh ekspor produk sawit. Kebijakan pajak progresif ini ditentang Gapki (Gabungan Petani Kelapa Sawit Indonesia) melalui ketuanya Fadhil Hasan. “Itu melemahkan daya saing kita, sekaligus mergikan petani,” katanya kepada Jakarta Post, 25 Juni 2011. Menurut Fadhil pajak progresif terbukti gagal mendorong tumbuhnya industri hilir sawit maupun menstabilkan harga di pasar domestik. Ia memberi contoh, pada 1998-1999 pajak ekspor CPO pernah mencapai puncak tarif 60 persen, toh gagal mendorong industri hilir. Kenaikan tarif pajak eskpor selama ini, menurut Fadhil, malah menyuburkan praktik penyelundupan.

Raja yang Limbung Pada awal pengembangannya (antara 1960-1980), kebun sawit Indonesia lebih banyak dikelola Badan Usaha Milik Negara (baca : Riwayat Pengembangan Sawit di Negeri Pulau Kelapa). Namun beberapa tahun belakangan, perusahaan besar swasta mengambil alih posisi tersebut. Data Direktorat Jendral Pekebunan menyebut

69

70

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

dari 7,8 juta hektare luas kebun sawit nasional, separuhnya (3,9 juta hektare) dimiliki perusahaan besar. Urutan kedua ditempati kebun rakyat yang menguasai 3,3 juta hektare (42 persen) kebun sawit, dan sisanya, dimiliki BUMN. Masalahnya, data pengusaan kebun sawit tak menggambarkan kekuatan ekonomi para pemainnya. Meskipun menguasai kebun dalam jumlah kolosal (42 persen), nasib petani sawit masih sangat bergantung kepada perusahaan besar atau pemilik pabrik pengolahan. Berbeda dengan petani karet, petani sawit tak sepenuhnya dapat menikmati kenaikan harga dan permintaan pasar internasional. Berbeda dengan biji kopi atau getah karet yang dapat diolah kapan saja, awet disimpan bahkan dalam tempo berbulan-bulan atau bertahun-tahun, sawit memerlukan pengolahan yang cepat. Dalam tempo 24 jam setelah dipanen, buah kelapa sawit harus segera diolah agar kandungan minyaknya (rendemen) tak merosot. Selain itu, menyimpan buah sawit akan meningkatkan konsentrasi asam lemak bebas (ALB). Minyak CPO dengan kandungan ALB lebih dari lima persen lazimnya akan ditolak pasar lelang, dan harus dijual ke pasar bebas. Siap-siap saja harganya akan jeblok. Aturan umum yang berlaku saat ini: buah sawit tak boleh menginap, harus diproses paling lambat 24 jam setelah dipanen. Rule of thumb ini melahirkan serentetan persoalan yang tidak mudah diatasi oleh petani kecil. Pertama, pabrik pengolahan harus dibangun tidak jauh dari kantong-kantong perkebunan. Masalahnya, investasi pabrik pengolahan kelapa sawit sangat mahal – umumnya tidak terjangkau kantung petani. Satu pabrik pengolahan kecil dengan kapasitas pengolahan 30 ton tandan buah segar (TBS) per jam memerlukan investasi lebih dari Rp 300 miliar. Belum lagi, untuk memasok kebutuhan bahan baku bagi pabrik sekecil itu, diperlukan kebun sawit antara 6.000 – 9.000 hektare. Berapa banyak petani harus disatukan untuk mendapatkan kebun seluas itu?

71

72

Raja Limbung

Saat ini memang berkembang sejumlah pabrik rakitan, dalam skala supermini. Sejumlah perusahaan permesinan menawarkan pabrik pengolahan sawit dengan kapasitas hanya satu ton TBS per jam. Namun, nilai investasi untuk produksi supermini masih terbilang elit atau kelas atas: paling kurang Rp 2 miliar, dan memerlukan pasokan bahan baku dari kebun paling kecil 300 hektare. Itung-itungan ini menunjukkan bahwa pengembangan sawit secara mandiri hampir mustahil dilakukan oleh ‘petani biasa’. Menurut Suez salah seorang petani sawit mandiri yang cukup sukses di Kabupaten Sanggau, Kalbar, ada dua syarat utama agar petani sawit berhasil. Pertama, memiliki lahan minimal tujuh hektare, dan kedua: ladangnya dekat dengan jalan besar yang bisa dilalui truk pengangkut tadan. “Kalau jauh dari jalan, lupakan saja,” kata Suez, “Habis duit kita untuk membayar biaya angkutan.” Suez memulai ‘karier’ sebagai petani mandiri pada 2004 mulai tanam mandiri. Meskipun pada tahun 2007 sejumlah pokok sawitnya sudah bisa dipanen, hingga tahun 2009 Suez mengaku belum bisa menikmati uang sawit. “Hasil panen habis untuk menutup biaya perawatan,” katanya. Pada tahun keempat, Suez harus membayar sejumlah pengeluaran besar: membeli pupuk, membayar ongkos tenaga kerja untuk merawat kebun dan membeli racun rumput. Tahun kelima, ketika panen sudah lumayan pun, hasilnya belum bisa dinikmati karena Suez harus mulai membangun jaringan jalan di dalam area kebun. “Jadi sampai sekarang belum ada hasilnya,” katanya.

Bab 3

Riwayat Elaeis di Kepulauan Kelapa

74

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

75

Bab 3 Riwayat Elaeis di Kepulauan Kelapa

Kelapa sawit, Elaeis guineensis, masuk ke Hindia Belanda pada 1869. Produksinya baru benar-benar digenjot dalam empat dekade terakhir ini. Siapa yang menikmati gurihnya?

Saat ini Indonesia adalah produsen sekaligus pengekspor minyak kelapa sawit mentah terbesar di dunia. Pada 2010, minyak sebanyak 22 juta ton dihasilkan dari kebun seluas 7,8 juta hektare (ha) yang tersebar di 22 provinsi di Tanah Air. Dari produksi ini, sebanyak 17,1 juta ton (48 persen produksi dunia) diekspor dan menghasilkan devisa sekitar US$ 14,1 miliar. Melihat angka-angka ini, mungkin sulit dipercaya bahwa kelapa sawit pernah berpuluh tahun dipandang sebelah mata. Kelapa sawit didatangkan pada 1869 oleh maskapai dagang Belanda Vereneging Ost Indische Compagnie (VOC) dari Afrika, tepatnya Bourbon, Mauritania. VOC atau Kompeni tampaknya “bosan” jika hanya memperdagangkan rempah-rempah Nusantara ke Eropa. Secara bertahap VOC membawa beberapa tanaman luar untuk dibudidayakan di Hindia: teh, kopi, tebu, kelapa sawit, dan masih banyak lagi. Niatan utama VOC tentunya menggemukkan pundi-pundinya sendiri, dan budidaya tanaman impor itu pun kebanyakan melalui tanam paksa, tapi satu hal yang tak bisa

76

Raja Limbung

dimungkiri adalah betapa kerasannya semua tanaman pendatang ini di rumah baru mereka. VOC membawa empat bibit kelapa sawit ke Hindia. Begitu tiba di Jawa, bibit-bibit ini ditanam di Kebun Raya Bogor. Mereka inilah yang selanjutnya menjadi leluhur seluruh tanaman kelapa sawit yang sekarang tegak di Indonesia dan Malaysia.

Masa Kolonial Menjelang akhir abad ke-19, VOC mengubah haluan bisnis mereka. Ia ingin menjadi korporasi besar penghasil tanaman komersial dunia. Perubahan strategi ini kemudian dituangkan dalam UndangUndang Agraria (Agrarische wet) pada 1870 yang menandai mulainya era perkebunan di Hindia Belanda. Sejatinya, kelapa sawit sudah langsung ditanam pada tahun kedatangannya di Muara Enim, lalu dilanjutkan di Musi Hulu setahun berikutnya, dan di Belitung pada 1890. Hanya saja, perkembangannya seret karena para pemilik kebun malas-malasan menggarapnya. Kelapa sawit dinilai tak cukup “Karena menguntungkan di zaman itu. Bisa dimaklumi perkebunan di karena saat itu sawit memang masih asing. Sumatra sulit Gampangnya, kalau yang dicari sekadar minyak mendapatkan bakal penggoreng lauk, di Nusantara sudah tenaga tersedia jutaan kelapa. Untuk apa mengandalkan penggarap, tanaman baru yang buahnya tak menarik? ratusan ribu

orang dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara didatangkan. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kuli kontrak.”

Namun, pemerintah kolonial tak putus asa. Pada tahun-tahun berikutnya mereka terus membantu penanaman sawit di sepanjang Pantai Timur Sumatera. Awalnya kebunkebun dimiliki oleh perseorangan. Tapi, para pemilik tak sanggup memegangnya lebih lama karena harga produk perkebunan yang selalu melonjak naik turun. Modal mereka terlalu

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Buah kelapa sawit setelah penyerbukan buatan, De Indische Bodem, 1926

77

78

Raja Limbung

cekak untuk mengatasi situasi ini sehingga kebun-kebun berpindah tangan ke perkebunan besar yang didukung pendanaannya oleh bank-bank di Eropa. Bisa dibilang, pengusahaan kelapa sawit secara komersial benarbenar baru dilakukan pada 1911 di Sungai Liput, Aceh, dan Pulu Radja, Asahan. Pengelolanya seorang Belgia bernama Hallet, yang layak mendapatkan sebutan Bapak Industri Kelapa Sawit di Indonesia. Kebun di Aceh berada di bawah perusahaan Sungai Liput Cuultur Maatschappij sementara yang di Sumatera Utara dijalankan oleh Huilleries de Sumatera-RCMA. Selain dua kebun tersebut, selanjutnya berdiri juga beberapa perusahaan perkebunan lain di Sumatra seperti Oliepalmen Cultuur di Tanah Itam Ulu, Seumadam Cuultur Maatschappij, Palmbolmen Cuultur Maatschappij di Tanjung Genteng, Medang Ara Cuultur Maatschappij, dan Huilleries de Deli. Selanjutnya, Pantai Timur Sumatera, utamanya Deli menjadi sentra produksi. Hindia Belanda pun menjadi pemain dan eksportir minyak sawit mentah terbesar di dunia. Kapal-kapal tak berhenti mengangkut minyak dari Aceh, Asahan, Lampung dan Malaka (Malaysia) menuju Rotterdam, Belanda. Kala itu, konsumen terbesar adalah pabrikpabrik margarin dan sabun di Eropa. Terus naiknya permintaan minyak kelapa sawit ditandai dengan bertambahnya jumlah perkebunan dari tahun ke tahun. Bila pada 1925 hanya tercatat 10 perkebunan Hindia Belanda, pada 1940 jumlahnya sudah mencapai 64. Karena perkebunan di Sumatra sulit mendapatkan tenaga penggarap, ratusan ribu orang dari Jawa, Bali, Nusa Tenggara didatangkan. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kuli kontrak. Masuknya Jepang ke Hindia Belanda pada 1941 adalah awal masa merana perkebunan. Jepang sempat mendirikan Noyen Renggo Kai (NRK) yang berpusat di Medan sebagai pengelola seluruh perkebunan di pesisir timur Sumatera.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Kemudian, peran pengatur diserahkan ke Shonan Gomu Kumiai yang berkantor di Singapura. Saat itu, hasil kebun seperti minyak sawit dan karet dikirim ke Jepang sebagai bahan industri perang. Tapi, pengiriman dengan cepat surut karena kapal-kapal pengangkut Jepang banyak yang ditembak musuh di perairan Selat Malaka. Akibatnya hasil perkebunan menumpuk di gudang. Situasi ini mendorong Jepang mengalihkan perhatiannya. Sejumlah besar kebun sawit dibabat, diganti kebun tanaman pangan seperti padi dan ganyong. Kebun-kebun lainnya dibiarkan tak terawat, terlantar, dan kembali menjadi hutan.

Masa Awal Kemerdekaan dan Orde Lama Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, nasib kebun sawit masih tak menentu. Kebun yang kondisinya tak terawat diperebutkan oleh sesama laskar. Pada 1947, tentara Belanda mengambil alih dan kemudian menyerahkannya kembali kepada perusahaan-perusahaan asing yang menjadi pemilik sebelum Perang Dunia II pecah. Namun, kondisi kebun-kebun tersebut sebagian rusak berat. Dari 66 kebun, hanya 44 yang bisa direhabilitasi. Sisanya, sekitar 10 persen dari areal perkebunan juga diduduki rakyat setempat. Pada 1957, nasionalisasi besar-besaran dilakukan pemerintah Indonesia terhadap perusahaan-perusahaan asing, tak terkecuali perusahaan perkebunan kelapa sawit. Langkah ini tak serta-merta mendatangkan perbaikan pada industri kelapa sawit karena banyak petani penggarap yang langsung meminta kebun menjadi hak milik mereka. Pada saat yang bersamaan, marak pula gangguan dari gerombolan-gerombolan bersenjata. Maka, sejak awal kemerdekaan sampai berakhirnya Orde Lama, praktis minyak yang didapat dari kebun kelapa sawit hanyalah “beberapa tong”. Masa kejayaan minyak sawit yang dibawa dengan kapal-kapal VOC menuju pelabuhan Rotterdam tinggal cerita lama.

79

80

Raja Limbung

Awal Penggenjotan Produksi Pada 1970-an, pemerintah Orde Baru mulai merehabilitasi lahanlahan kelapa sawit. Perkebunan negara menjadi motor produksi. Namun, perkembangan secara keseluruhan relatif statis. Tidak ada penambahan lahan yang signifikan, sementara penggarapnya terbatas pada perkebunan-pekebunan besar di Pulau Sumatera wilayah utara dan sedikit di selatan. Perkebunan rakyat belum muncul sama sekali. Kurang diliriknya perkebunan sawit tak lepas dari era bonanza minyak bumi yang sempat dinikmati Indonesia pada 1970-an. Bahkan, sampai 1979 usaha kelapa sawit masih menjadi usaha perkebunan-perkebunan besar. Kegiatan mereka praktis merehabilitasi lahan lama, belum mencakup pengembangan lahan. Pada 1979, luas perkebunan sawit di Indonesia sebesar 257 ribu hektare, semuanya merupakan usaha perkebunan besar dengan 70 persennya di antaranya (atau 176 ribu hektare) milik perkebunan negara. Luas kebun kelapa sawit masih kalah jauh dibandingkan dengan karet (2.384 ribu hektare), kelapa (2,579 hektare), bahkan juga kopi (624 ribu hektare) pada tahun yang sama. Pada 1980, pengembangan kelapa sawit mulai menginjak gas dengan dikembangkannya pola PIR (Perkebunan Inti Rakyat) bukaan baru dan PIR Lokal secara simultan di 12 provinsi. Proyek sebanyak 31 buah ini didanai oleh Bank Dunia melalui program Nucleus Estates Smallholder (NES) sehingga kebijakan periode ini sering disebut juga dengan PIR-NES. Dana untuk mendorong pembangunan di pedalaman ini disalurkan Bank Dunia melalui BRI. Prinsip PIR adalah kemitraan antara perkebunan besar dan petani rakyat yang saling menguntungkan. PBN/PTP berperan sebagai perusahaan inti sementara petani rakyat sebagai plasma dengan kepemilikan lahan 2 hektare per kepala keluarga. Dengan cara ini, diharapkan petani mempunyai kebun yang produktif yang bisa membuat hidup mereka lebih sejahtera. Kebijakan ini menjadikan luas kebun kelapa sawit menjadi 231.535 ha (terdiri atas

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Pekerja berkerja di lahan pembibitan kelapa sawit milik Perusda Benuo Taka & CV Tenera di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur. Sumber: TEMPO/ Lourentius

81

82

Raja Limbung

162.781 ha kebun plasma dan 67.754 ha kebun inti), hampir dua kali lipat dibandingkan luas kebun yang ada sejak masa penjajahan sampai 1969. Namun, laju pertambahan ini belum sesuai dengan yang diharapkan. Rupanya, Perusahaan Negara (PN) Perkebunan tak banyak bisa membebaskan lahan dan mendatangkan pekerja, dua hal yang menjadi syarat utama usaha perkebunan. Pada 1986, agar “sawitisasi” makin laju di daerah, pemerintah menggabungkan proyek PIR-Bun dengan transmigrasi sehingga lahirlah PIR-Trans pada 1986. “Merger” proyek ini terbukti dapat menggenjot pembangunan kebun-kebun sawit baru, terutama di Kalimantan (juga di sebagian Sumatera, kecuali Sumatera Utara yang sejak zaman kolonial sudah memiliki tradisi berkebun sehingga memiliki banyak petani mandiri). Proyek ini dilakukan di 11 provinsi dengan 50 unit PIR-Trans, kebun yang dibuka seluas 566.346 ha (kebun inti 167.702 ha, kebun plasma 398.644 ha). Jumlah ini hampir dua kali lipat seri proyek PIR sebelumnya. Dalam skema ini, yang didapuk sebagai inti “Ironisnya, adalah perusahaan perkebunan swasta. cara-cara

“hajar dulu urusan lain belakangan” untuk pengadaan lahan seperti yang terjadi di Sembuluh menjadi modus operandi sebagian perkebunan besar di Indonesia.”

Pengadaan Lahan dan Bibit Konflik Program PIR-Trans terbukti berhasil menambah luas lahan kebun sawit di Indonesia. Tapi, dari mana lahan ini sebetulnya didapatkan? Awalnya, perkebunan besar dengan dukungan penuh pemerintah membujuk para tetua adat di daerah-daerah agar bersedia menyerahkan tanah ulayat yang dimiliki komunitas adat. “Mulanya dibilang kepada bapak kami dulu, tanah kami dipinjam dengan Hak Guna Usaha (HGU) selama 20 tahun,” kata Jamal, penduduk Riau. “Tapi, setelah 20 tahun, pemegang HGU bisa memperpanjang hak

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

guna usaha sampai 20-30 tahun lagi.” Jamal, yang bersaksi dalam film dokumenter berjudul “Suara dari Perkebunan Sawit” itu tidak sendirian. Ada ratusan, mungkin ribuan kisah serupa di seluruh negeri, yang tertimbun gemerlap nilai nominal kebun sawit. Warga lokal dijanjikan pekerjaan di perkebunan, dibangunkan infrastuktur, dan sekian fasilitas lainnya. Bila bujukan tak mempan, tekanan menyusul datang. Pada masa Orde Baru, ketika pemerintah begitu berkuasa, para penolak pembukaan kebun segera saja dianggap pembangkang, subversif, membahayakan pembangunan. Risikonya, hidup yang bersangkutan tidak nyaman lagi, bahkan bisa terancam. Sementara itu, dengan janji-janji pula pemerintah mengajak warga di daerah miskin dan surplus tenaga kerja seperti di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi pekerja di proyek PIR-Trans. Para transmigran ini pun tak tahu-menahu dari mana asal-muasal tiap kapling lahan (2 hektare) yang dijanjikan kepada mereka. “Kami tak tahu kalau lahan yang diberikan kepada kami itu dulunya adalah hutan, kebun, rumah, tempat tidur, atau kakus orang lain,” kata Soeprapto, transmigran dari Jawa Tengah, yang sejak tahun 1980-an menjadi petani sawit dan tinggal di Passer, Kalimantan Timur. Dengan gebrakan dua arah ini, pemerintah dapat mengatasi persoalan kelangkaan lahan dan tenaga kerja bagi proyek sawit. Namun, jurus tipu-tipu dan pendekatan kekuasaan ini justru melahirkan masalah baru, yaitu bibit-bibit konflik yang masih kuat baranya sampai sekarang. Di mana-mana meletup sengketa antara warga lokal dan peserta transmigrasi, antara pemilik tanah dan pengelola kebun, antara transmigran dan orang perkebunan. Bahkan, konflik juga melebar ke sesama warga lokal, karena ada yang pro dan kontra dengan kehadiran kebun sawit. Di kawasan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, misalnya, batas kepemilikan lahan selama puluhan tahun sebelumnya bisa dikenali dengan tanaman yang berdiri di atasnya. Keluarga A menanam karet sementara keluarga B menanam buah-buahan, begitu yang aman sentosa terjadi selama berbilang

83

84

Raja Limbung

generasi. Batas-batas lahan saling dihormati meskipun tak ada bukti kepemilikan hitam di atas putih, apalagi sertifikat HGU yang izinnya mesti didapatkan dari berbagai instansi. Kisah langsung berubah begitu kebun sawit dibuka secara masif melalui program PIR-Trans Batas-batas menjadi kabur sehingga salim klaim muncul berulang kali yang ujung-ujungnya adalah bentrok sesama warga. Yang memprihatinkan, ketika warga sudah saling bertikai, perusahaan swasta dengan enak main garap lahan warga yang belum jelas proses ganti ruginya. “Konflik kepemilikan seperti ini yang biasa kami advokasi di lapangan,” kata Eep Syaifulloh, aktivis Sawit Watch. Ironisnya, cara-cara “hajar dulu urusan lain belakangan” untuk pengadaan lahan seperti yang terjadi di Sembuluh menjadi modus operandi sebagian perkebunan besar di Indonesia.

Gelombang Deras Swasta Selama 1977-1990, Perkebunan Besar Swasta (PBS) sudah melirik sawit karena mereka beroleh fasilitas kredit PBSN (Perkebunan Besar Swasta Nasional) I-III. Hanya saja, ketertarikan mereka belum total. Mereka lebih tertarik kepada sumber ekonomi yang lebih basah, yaitu pembalakan logging, legal maupun tak legal. Banyak izin kebun sawit pada masa itu disalahgunakan pengusaha swasta untuk membabat hutan. Meskipun demikian, menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan, pada 1990 luas kebun sawit secara nasional sudah mencapai 1,126 juta ha (291 ribu ha perkebunan rakyat, 372 ribu ha PBN, dan 463 ribu ha PBS). Pada 1990-an, penebangan hutan di Indonesia mulai surut. Pohon semakin jarang sementara desakan publik untuk penghentian pembalakan liar pun semakin kencang. Swasta melihat lahan kosong bekas hutan sebagai peluang. Bila sebelumnya swasta ibarat hanya mencelupkan kaki, kini mereka ingin terjun total ke sektor sawit. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa hasil yang didapatkan PTPN

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Fasilitas dan infrastruktur yang memadahi diperlukan dalam memanen tandan sawit Sumber: Dok Sawit Watch

85

86

Raja Limbung

Perkebunan kelapa sawit, Wotu, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sumber: TEMPO/ Tommy Satria

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

melalui sawit terbukti cukup menggiurkan. Maka, hektare demi hektare lahan pun dibuka. Selama 19901997, setiap tahun rata-rata terjadi penambahan luas areal tanam 200 ribu hektare, sebagian besar terjadi pada perkebunan swasta. Para pemain besar di industri ini adalah Astra Agro Lestari, Asian Agri, SMART, Bakrie Sumatera Plantation, London Sumatra Indonesia (Lonsum), dan Indo Agri. Di samping mereka, masih banyak lagi perusahaan lain yang lebih kecil kapasitas pabriknya. Pada 1997, luas kebun sawit secara keseluruhan mencapai 2,5 juta hektare. Seperti yang sudah-sudah, lahan yang dipakai pun sebagian diperoleh dengan cara-cara yang kurang terpuji, yang umum adalah penyerobotan tanah warga. Namun, minat swasta nasional deras ini direm krisis keuangan pada 1997. Sejumlah grup besar yang mulai merintis usaha sawit seperti Indofood (melalui Bintang Menado Oil dan Salim Ivomas), Bakrie (Sumatra Plantation), Lonsum, dan Astra kolaps. Nilai utang valas membengkak dan bank pendukung mereka seperti Bank BCA, Perniagaan, dan Universal diambil alih pemerintah. Tahun 1997 juga menandai awal masuknya investor Malaysia di sektor kelapa sawit Indonesia. Mereka masuk dengan membuka kebun baru maupun mengakuisisi perkebunan yang ada. Masuknya pengusaha Malaysia disambut oleh pengusaha Indonesia sebagai jurus bertahan hidup. Salim Group, misalnya, melepas kebun sawitnya sebagai bagian dari setoran aset kepada BPPN yang telah menyehatkan BCA. Kebun ini kemudian dibeli oleh kelompok usaha asal Malaysia Kumpulan Guthrie. Bakrie dan Astra juga terpaksa menggandeng perusahaan dari Malaysia agar usaha kebun sawitnya tidak mandek. Sejak saat itu, dimulailah era merajanya kebun-kebun Malaysia di tanah Indonesia. Selain Kumpulan Guthrie, dari Malaysia juga muncul Golden Hope (belakangan merger dengan Guthrie membentuk Sime Darby) dan IOI milik sejumlah petinggi politik Malaysia.

87

88

Raja Limbung

Pada 2004, misalnya, pengusaha Malaysia Robert Kuok HockNien membeli sebagian besar saham PT Pan London Sumatera Plantation, perusahaan yang menguasai 20,94 persen saham PT PP London Sumatera Tbk. (Lonsum). Kuok mengakuisisi saham Pan London Sumatera Plantation milik Andre Pribadi, adik dari pemilik Grup Napan, Henry Pribadi. Era ini diikuti masuknya sejumlah perkebunan asing, seperti CDC (Inggris), Wilmar dan Cargill (Amerika Serikat) serta sejumlah perusahaan Belgia. Gencarnya investor asing masuk tak lepas dari diterbitkannya UU Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal dan Peraturan Presiden RI No. 111 tahun 2007 yang salah satu isi utamanya adalah pasal-pasal yang mengatur kelonggaran kepemilikan asing sampai 95 persen. Bukan itu saja, dalam Pasal 22 UU ini, pengusaha asing juga dapat mengajukan Hak Guna Usaha sampai 95 tahun sekaligus. Beberapa LSM selanjutnya mengajukan Uji Materi atas undangundang yang kontroversial tersebut ke Mahkamah Konsitusi. Akhirnya, Mahkamah Konstitusi mencabut Pasal 22 yang mengatur HGU, tapi aturan kepemilikan modal asing sampai 95 persen masih dipertahankan. Seiring waktu, komposisi kepemilikan perkebunan besar swasta nasional maupun asing berubah-ubah karena ada akuisisi, tukar guling, dan sejenisnya. Namun, yang pasti, saat ini perkebunan sawit milik asing (PMA) hampir sama luasnya dengan kebun sawit milik perusahaan besar nasional.

Nasib Kebun Rakyat Pada 2006 Indonesia berhasil menyalip Malaysia sebagai produsen minyak kelapa sawit Pada 2006 Indonesia berhasil menyalip Malaysia sebagai produsen minyak kelapa sawit mentah dunia. Sejak saat itu, posisi Indonesia tak tergoyahkan. Namun, apakah hal ini berdampak pada kesejahteraan petani rakyat? Sesungguhnya, seiring makin banyaknya lahan dibuka di banyak

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

89

tempat, petani juga mendapatkan kesempatan mengembangkan kebun plasmanya. Dana pengembangan kebun bisa didapatkan melalui Koperasi Primer untuk Para Anggotanya (KPPA) pada 1996. Pola ini memang mendorong pertumbuhan kebun sawit rakyat, tapi lajunya kalah jauh dibandingkan pertumbuhan perusahaan besar swasta. Karena keterbatasan modal, teknologi dan akses pasar, jarang ada petani yang dapat membangun kebun sawit secara mandiri. Masyarakat dan peladang tradisional juga belum mengembangkan kebun sawit karena komoditas ini perlu investasi besar. Berbeda dengan karet, sawit harus ditanam secara masal dan butuh pabrik pengolahan karena buahnya cepat rusak. Tandan sawit yang musti cepat diolah membutuhkan jaringan transportasi hingga ke pelosok kebun. Ringkasnya, sawit memerlukan pabrik di dekat kebun. Kerumitan tak berhenti sampai di sini. Sebuah pabrik pengolah minyak sawit mentah kecil, dengan “Ketika konflik kapasitas 30 ton TBS (tandan buah segar)/ pecah, warga jam, perlu dipasok kebun seluas minimal dan petani bisa 6.000 ha, modal tunai sekitar Rp 700 miliar, menjumpai serta jaringan jalan yang masuk ke urat sekian nasib kebun. Lagi-lagi, berbeda dengan karet yang buruk, mulai dapat diusahakan secara kecil-kecilan dan tak dipenuhinya perorangan, kebun sawit membutuhkan hak-hak mereka, modal besar yang tak mungkin disediakan penculikan, petani kecil.

Jepitan Penguasa dan Pengusaha Ketika menyediakan lahan murah bagi pemilik modal, pemerintah sebetulnya sudah berusaha membagi kue sawit untuk rakyat dengan mewajibkan pola Perkebunan Inti

penganiayaan, bahkan nyawa melayang. Sementara itu, si pengusaha masih bisa lenggang kangkung.”

90

Raja Limbung

Rakyat bagi usaha besar swasta yang mau masuk ke perkebunan. Kebijakan ini dinamai Kemitraan Swadaya. Dengan pola ini, petani menyediakan lahan yang oleh pemodal ditanami sawit. Setelah sawit bisa dipanen, atau dalam waktu 48 bulan, kebun dibagi menurut pola yang disepakati sebelumnya, sebagian untuk inti (perusahaan, pemilik modal), sebagian lainnya untuk plasma (petani, pemilik tanah). Petani plasma berkewajiban menjual kelapa sawitnya kepada pabrik milik perusahaan yang didirikan di dekat kebun. “Pola yang disepakati sebelumnya” perlu digarisbawahi karena di sinilah biasanya konflik-konflik persawitan bermula. Yang bikin petani terpojok, hampir dalam setiap konflik penguasa atau birokrat di di daerah berpihak kepada pengusaha. Hal ini biasanya terjadi karena kepala daerah “berutang budi” kepada para pengusaha yang memberikan dana politik, sekalipun sebetulnya mereka juga punya “utang suara” kepada para pemilih, termasuk petani. Dalam kasus-kasus ini, tampaknya utang dana lebih berat timbangannya ketimbang utang suara. Ketika konflik pecah, warga dan petani bisa menjumpai sekian nasib buruk, mulai tak dipenuhinya hak-hak mereka, penculikan, penganiayaan, bahkan nyawa melayang. Sementara itu, si pengusaha masih bisa lenggang kangkung. Contoh penguasaha yang tak tersentuh ini adalah Abdul Rasyid, bos Tanjung Lingga Group dan juga mantan anggota MPR Utusan Daerah dari Kalimantan Tengah. Aksi pembalakan liar, juga penganiayaan, yang diduga dilakukan sang bos kayu ini didokumentasikan dalam puluhan laporan resmi dan film dokumenter berbagai lembaga lingkungan. Environmental Investigation Agency (EIA) dan Telapak, LSM terkemuka dalam penelusuran kejahatan kehutanan, menyebut dugaan keterlibatan Abdul Rasyid dalam berbagai aksi pembalakan liar, terutama pada akhir 1990-an dan awal 2000. Menurut EIA dan Telapak, dalam press release Mei 2008, bisnis illegal logging Abdul Rasyid memberinya keuntungan Rp 30 triliun per tahun (www. cuttingedge-ap.info/latest/indonesia-redd-developments).

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

91

Pada 2000, Abdul Rasyid diduga terlibat dalam penculikan peneliti EIA - Telapak. Investigasi yang dilakukan segera menempatkan nama Rasyid dalam daftar pembalak liar versi Kementerian Kehutanan. Stephen McDonell, wartawan abc.net.au juga mewawancarai Abi Kusno, jurnalis independen, yang menuliskan laporan mengenai illegal logging di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Abi Kusno dianiaya segerombolan lelaki, dengan parang, tombak, dan botol asam cuka keras. Ada 17 luka di sekujur tubuhnya. “Saya yakin ini dalangnya Abdul Rasyid,” kata Abi Kusno. “Saya orang lokal, jadi saya “Kami khawatir, tahu persis siapa yang membalak hutan di konflik bakal situ. Penduduk setempat juga selalu memberi makin kencang informasi kepada saya tentang aktivitas terjadi. Soalnya, mereka,” katanya melanjutkan (www.abc. banyak lahan net.au/4corners/content/2002/timber_mafia/ warga yang interviews_kusno.html). Meskipun, anehnya, tak ada proses penyidikan dan apalagi persidangan buat Rasyid. Bahkan, pada April 2008, Abdul Rasyid menghadiri acara peresmian perkebunan sawit milik Lingga Group, yang juga dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang.

Moratorium dan Lahan Baru

dianggap terlantar sedikit saja langsung dicaplok sekalipun mungkin sedang disiapkan untuk kepentingan yang lain,” kata Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Sawit Watch.

Dengan produksi 22 juta ton minyak kelapa sawit mentah pada tahun lalu, Indonesia sebetulnya sudah sulit disaingi siapa pun. Namun, angka ini tampaknya masih ingin digenjot lebih dahsyat lagi. Untuk 2020, misalnya, target yang dipatok adalah 40 juta ton. Target itu di satu sisi sah-sah saja. Persoalannya, untuk meningkatkan produksi pengusaha Indonesia lebih condong kepada

92

Raja Limbung

ekspansi ketimbang intensifikasi lahan. Bila pola ini dipertahankan, laju ekspansi lahan kelapa sawit bisa mencapai 450 ribu hektare per tahunnya. Ini bukan kabar yang menggembirakan, utamanya pada keberlangsungan hutan kita. Laju ekspansi ini sebetulnya sudah coba direm dengan moratorium penebangan hutan selama dua tahun mulai akhir 2010. Langkah ini dilakukan bukan untuk gagah-gagahan, melainkan dengan jualan oksigen melalui skema REDD (reduced emissions from deforestation and forest degradation) Indonesia mendapatkan dana dari Norwegia sampai US$ 1 miliar selama kurun 7-8 tahun sejak perjanjian diteken. Dana ini adalah bentuk dukungan negara Skandinavia ini atas tekad Indonesia mengurangi emisi atau buangan zat asam arang (CO2) sampai 26 persen pada 2020. Di lapangan, pemerintah daerah dan berbagai intansi terkait, menerjemahkan moratorium secara berbeda lain lagi dengan kehendak resmi pemerintah pusat. Sebelum tanggal moratorium jatuh, pengusaha sekuat tenaga, bahkan mungkin kalap, membebaskan lahan. “Kami khawatir, konflik bakal makin kencang terjadi. Soalnya, banyak lahan warga yang dianggap terlantar sedikit saja langsung dicaplok sekalipun mungkin sedang disiapkan untuk kepentingan yang lain,” kata Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Sawit Watch. Bila dengan moratorium saja pelanggaran di lapangan masih terjadi, skenario yang kurang menggembirakan untuk lingkungan dan ekonomi rakyat bakal menanti setelah moratorium diangkat. Sawit memang komoditas yang penting bagi perekonomian Indonesia. Namun, yang menikmati harum dan gurihnya hanya kalangan terbatas. Sebagian besar petani rakyat dan warga sekitar perkebunan besar yang seharusnya bisa sejahtera karena komoditas unggulan ini justru menjadi pihak yang paling sering dirugikan dengan pertumbuhan kebun yang kian menggila. Selama puluhan tahun, maraknya kebun sawit sejalan dengan tumbuhnya konflik di sana-sini. Sumatera dan Kalimantan sudah merasakan imbas pahit

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

dari agresivitas ekspansi sawit. Kini sawit merambah tapal batas baru: Papua. Menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan, luas kebun kelapa sawit di Papua pada 2009 sudah mencapai 33.946 hektare (15.939 hektare perkebunan rakyat, 12.707 ha perkebunan negara, dan 5.300 perkebunan swasta). Angka-angka ini akan cepat berubah komposisinya pada tahun-tahun mendatang. Akan gurih jika angkaangka lain yang menyertai peningkatan luas lahan dan produksi per tahun adalah kesejahteraan petani dan warga di sekitarnya.

93

94

Raja Limbung

Bab 4

Sadhumuk Batuk, Sanyari Bumi

96

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

97

Bab 4 Sadhumuk Batuk, Sanyari Bumi

Pabrik di dekat kebun adalah mutlak karena tandan sawit harus segera diproses. Hanya saja, pabrik kecil berkapasitas 30 ton tandan buah segar (TBS) per jam memerlukan kebun setidaknya 6.000 hektare. Pengadaan lahan pun banyak berujung pada konflik. Made Aste, 38 tahun, adalah saksi betapa harga sepotong tanah petani. Nyawanya melayang di tengah memanasnya konflik di Register 45, Kabupaten Mesuji, Propinsi Lampung. Made tidak sendiri. Ada ratusan, mungkin ribuan petani yang tak segan menyongsong senjata aparat keamanan, demi membela sepotong tanah, Pertikaian dengan kekerasan, bahkan dalam beberapa kasus sampai berakhir dengan hilangnya nyawa, adalah kisah yang kerap terdengar beriringan setiap kali perkebunan kelapa sawit dibuka. Apalagi, seperti pada peristiwa Kecamatan Mesuji, Lampung, langkah investasi dan perizinan awal perkebunan sawit sering diwarnai korupsi berjamaah oleh pejabat berbagai instansi. Sudah tentu, rakyat yang menjadi korban pun menjerit dan berjuang merebut kembali haknya. Bagi banyak orang Indonesia berlaku prinsip sadhumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati (sejari kepala, sejengkal tanah, dibela sampai mati). Prinsip yang terkenal saat Pangeran Diponegoro memerangi Belanda. Sang Pangeran tak rela Belanda menyerobot

98

Raja Limbung

tanah makam leluhurnya. Kehormatan, harga diri, dan ikatan dengan leluhur ikut terampas bersama tanah yang diserobot. Maka, pecahlah Perang Diponegoro pada 1825-1830. Zaman berganti. Namun prinsip sadhumuk bathuk sanyari bumi tak jauh bergeser. Meski tidak sampai perang, sengketa tanah di masa kini pun kerap berakhir tragis. Masuk penjara, bertaruh nyawa, pun rela dijalani. Sengketa tanah lantaran kebun sawit pun menjadi kian kompleks, karena di kalangan masyarakat sering terjadi perpecahan. Seperti dalam kasus di atas, ada warga menolak karena melihat kehadiran kelapa sawit tak membawa manfaat sementara ada warga lain yang menganggapnya peluang memajukan kehidupan perekonomian mereka. Konflik pecah karena satu fakta keras, kebun sawit membutuhkan lahan yang sangat luas. Watak buah sawit mengharuskannya segera diproses sehingga pabrik pun mesti dibangun di dekat kebun. Persoalannya, untuk satu pabrik kecil (paling kecil, malah) dengan kapasitas 30 ton TBS (tandan buah segar) per jam, diperlukan kebun 6.000-9.000 hektare untuk dapat beroperasi secara optimal. Investasi mesin untuk pabrik kecil ini pun sama sekali tidak murah, yakni Rp 300 miliar.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Sumber; Data Sawit Watch Saat ini, mencari tanah seluas 6 sampai 9 ribu hektare jelas sangat sulit, bahkan di Kalimantan sekali pun. Jika satu kepala keluarga memiliki 2 hektare lahan, maka dibutuhkan 3.000-4.500 petani yang sepakat bersatu untuk memanfaatkan pabrik pengolah CPO kecil itu. Bukan tugas yang mudah. Lahan semakin terbatas. Tuhan tak lagi menciptakan tanah. Perkebunan sawit yang baru dibuka lima tahun terakhir di Kalimantan Barat, misalnya, paling mentok luasnya hanya seluas 3 ribu hektare. Karena kebun tak cukup untuk memasok kebutuhan satu pabrik, kebun-kebun kecil ini terpaksa bergabung dengan pabrik milik kebun lain. Dusun Sebindang, misalnya, terkepung oleh dusundusun lain di sekitarnya yang lahannya sudah dialihfungsikan sebagai kebun sawit. Desakan untuk membuat Sebindang seragam dengan yang lain itulah yang akhirnya memicu gesekan sesama warga. Yang mencemaskan, angka konflik sepertinya terus meningkat di Tanah Air. Sepanjang 2010, misalnya, muncul 660 kasus konflik

99

100

Raja Limbung

Bersama dengan masyarakat melakukan pemetaan lahan-lahan yang berpotensi konflik Sumber: Dok. Sawit Watch

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

101

agraria di kawasan perkebunan kelapa sawit yang antara lain memakan korban jiwa tiga orang. Jumlah kasus ini nyaris tiga kali lipat bila dibandingkan tahun 2009 yang sebanyak 240 kasus. Sementara itu, jumlah kriminalisasi warga yang menolak perkebunan sawit naik dari 112 orang pada 2009 menjadi 130 orang lebih pada 2010.

Korban Jiwa, Atas Nama Elaeis Sebelum moratorium penebangan hutan diberlakukan pada akhir 2010, beberapa pihak sudah memprediksi bahwa besar kemungkinan konflik meningkat selama moratorium. Kecemasan ini terbukti. Kasus terbaru dan sangat memprihatinkan terjadi di Desa Sungai Todong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan pada 21 April 2011 lalu. Akibat perebutan lahan yang terjadi antara warga desa dan PT Sumber Wangi Alam (SWA), tujuh orang tewas, dua dari warga dan lima sisanya adalah petugas satuan pengamanan SWA. Bentrokan dipicu kemarahan warga yang menganggap SWA memanen kebun sawit yang masih bersifat lahan sengketa. Ada 300-an hektare lahan yang masih berstatus quo, menunggu proses kesepakatan antara PT SWA dengan warga. Namun, pada hari naas itu, sekelompok karyawan dan petugas satpam PT SWA berkukuh memanen tandan sawit di lahan sengketa. Penduduk pun terbit emosi. Mereka mencegat rombongan karyawan dan buruh SWA. Pertikaian ini mengakibatkan dua warga tewas. Kemarahan warga pun makin menjadi sehingga akhirnya mereka datang dalam jumlah yang lebih besar—dibantu warga desa-desa lain—menyerbu kantor

“Warga masih mengenang peristiwa itu dengan traumatis karena polisi selain merusak rumah juga melayangkan pukulan, tamparan, dan tendangan, bahkan terhadap kaum perempuan”

102

Raja Limbung

SWA dengan berbagai senjata, termasuk pistol rakitan. Lima satpam SWA tewas sebagai akibatnya. Total, tujuh nyawa melayang akibat konflik ini (http://beritadaerah.com/article/sumatra/38535). Sumatera Selatan memang salah satu titik rawan konflik kebun sawit di Indonesia. Selain di OKI, konflik juga terjadi Banyuasin, Musi Rawas, Musi Banyuasi, Ogan Komering Ulu (OKU), dan Lahat. Jumlah petani yang dinyatakan sebagai penjahat kriminal juga tidak main-main, 36 orang dalam empat tahun terakhir. Ringkasnya, 81 perusahaan perkebunan di provinsi ini semuanya memiliki sengketa lahan dengan penduduk setempat. Luas lahan yang dipersengketakan sebesar 83 ribu hektare, atau 11 persen dari luas keseluruhan provinsi. Korban jiwa tak hanya jatuh pada 2011. Pada 2007, dua petani di Desa Rambai, OKI, juga menemui ajal gara-gara mempertahankan tanah mereka, sementara seorang petugas keamanan perusahaan PT Persada Sawit Mas juga tewas. Warga Rambai yang menolak kebun sawit juga diciduk dan dijadikan pesakitan, dituding mengganggu perkebunan dan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 18, Tahun 2004, tentang Perkebunan. Ancaman bagi para pengganggu, seperti diatur dalam pasal 47 undang-undang yang sama, ini adalah hukuman maksimal 5 tahun --belakangan kedua pasal ini dicabut oleh Mahkamah Konstitusi dalam proses judicial review. Kembali pada kasus Dewa Rambai, salah satu yang diciduk adalah Nursiha, seorang ibu rumah tangga yang juga petani padi sonor di lahan gambut warisan keluarga besarnya. Seperti warga yang lain, Nursiha tak paham kenapa tiba-tiba lahan warisan orang tua mereka digarap begitu saja oleh PT Persada. Setelah unjuk rasa demi unjuk rasa, aksi perusakan oleh warga yang jengkel, dan penangkapan warga—yang membuat salah seorang tewas di tahanan, bentrokan besar pun pecah setelah pamong setempat mengeluarkan pernyataan yang menyakitkan warga berkenaan dengan kepemilikan lahan masyarakat.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

103

Dua pekan kemudian, polisi mulai menyerbu perkampungan Rambai. Warga masih mengenang peristiwa itu dengan traumatis karena polisi selain merusak rumah juga melayangkan pukulan, tamparan, dan tendangan, bahkan terhadap kaum perempuan. Nursiha, 30 tahun, ibu empat anak, yang saat itu sedang menunggu rumah juga langsung dibawa ke kantor polisi. Selanjutnya, ia dituduh ikut terlibat dalam pembunuhan centeng PT Persada dan di pengadilan divonis tiga tahun penjara. Kuasa hukumnya, Lembaga Bantuan Hukum Palembang, mengajukan banding dan di pengadilan tinggi hukuman turun menjadi satu setengah tahun.

Lahan Berganti Tuan Sengketa lahan adalah jenis konflik yang paling sering muncul di lapangan. Ironisnya, pemicu konflik ini sangat mungkin bersumber dari pemerintah sendiri. Peraturan yang tidak konsisten dan berpihak pada investasi jangka pendek kerap menjadi sebab. Pada 2007, terbit Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 yang menyatakan bahwa setiap perusahaan di sebuah provinsi bisa memiliki 100 ribu hektare kebun, ini peningkatan luar biasa karena sebelumnya perusahaan hanya dibolehkan memiliki 20 ribu hektare. Tapi, ada syaratnya. Jika dalam tiga tahun pembebasan tanah pemegang izin tidak mencapai lebih dari 50 persen, izin usahanya akan dicabut. Bisa ditebak, semua perusahaan akhirnya berpacu membebaskan lahan, dengan segala cara.  Persoalannya, ongkos membebaskan tanah mahal luar biasa. Ambil contoh pedalaman Kalimantan. Hitungan kasar, harga satu meter persegi adalah Rp 5 ribu atau Rp 50 juta per hektare. Untuk membebaskan lahan setidaknya 6 ribu hektare, sebuah perusahaan perkebunan harus merogoh kocek sampai Rp 300 miliar. Bila ditambah biaya pembangunan pabrik yang

“Peraturan yang tidak konsisten dan berpihak pada investasi jangka pendek kerap menjadi sebab.”

104

Raja Limbung

Perkebunan Inti Rakyat (PIR) kelapa sawit di Desa Muara Mahat, Riau. Sumber: TEMPO/ Wahyu Dhyatmika

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

kira-kira juga Rp 300 miliar, modal awal yang harus dikeluarkan untuk membuat kebun dan pabrik sudah sebesar Rp 600 miliar. Dengan hitung-hitungan seperti itu, tak mengherankan bila perusahaan perkebunan lebih memilih jalan yang murah. Apa itu? Menipu petani dengan dengan bantuan aparat pemerintah atau langsung main serobot begitu saja. Bagi Ali Badri, misalnya, penyerobotan tanah bukan hal baru. Warga Desa Runtu, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, ini pertama kali merasakan pengalaman pahit kehilangan lahan pada 1991. Ketika itu, perusahaan berinisial AAL membuka kebun sawit di desanya. Dua puluh lima hektare ladangnya, plus rumah, dicaplok begitu saja oleh perusahaan. Memang, ia tak mempunyai surat kepemilikan resmi atas tanah itu. Tapi, ia sudah bertahun-tahun menanaminya dengan pisang dan kelapa. Menurut adat Runtu, tanah yang diolah seorang warga—walau hanya ditanami sebatang pohon—menjadi hak penggarapnya. Ali lalu mengajukan gugatan, dan pada 2005 ia mendapatkan lahan ganti rugi seluas 7 hektare. Namun, pada 2008 Ali kembali menghadapi masalah serupa. Pada suatu hari, sebuah buldoser datang dan parkir di lahan milik almarhum ayah Ali, Haji Hermansyah. Si pengemudi alat berat bilang bahwa ia diperintah oleh Hasanudin, Kepala Desa Runtu. Ali pun bergegas menemui Hasanudin. Yang disebut terakhir ini berkata bahwa ia mendapat perintah dari perusahaan berinisial SSS untuk meratakan lahan itu. Ali jelas protes karena merasa belum pernah diajak bicara. Maka, Ali kemudian mendatangi lagi kepala desa guna meminta tanda tangan untuk Kelompok Tani Usaha Mandiri yang terdiri atas 49 orang anak-cucu Haji Hermansyah sebagai bukti penguasaan tanah. Si kepala desa menolak tanda tangan dengan alasan tanah itu masuk Hak Guna Operasi PT SSS. Beberapa hari kemudian, buldoser PT SSS datang lagi. Di kebun sedang ada Suriansah—adik Ali—-dan anaknya, Hendra.

105

106

Raja Limbung

Ketika pertanyaan Suriansah dan anaknya tak diladeni, mereka naik pitam dan memukul sopir buldoser. Setelah itu mereka meninggalkan tempat. Langkah ini rupanya keliru karena tanpa kehadiran mereka buldoser bebas bergerak meratakan pohon rambutan, duren, pisang yang selama ini mereka tanam. Setelah buron beberapa hari, Suriansah dan Hendra ditangkap dan dikenai pasal pengeroyokan dan akhirrnya dijatuhi hukuman enam bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Pangkalan Bun. Perusahan induk usaha SSS sebetulnya sudah menemui Ali dan menawarkan membeli tanah dan mempekerjakannya di perusahaan. Tawaran itu ditolak Ali. “Saya tidak mau menjadi penonton di rumah sendiri,” kata Ali. Ali lantas disodori tawaran yang lebih menggiurkan, kontraktor tunggal di Runtu. Membayangkan prospek yang bagus sebagai kontraktor, Ali sedikit goyah. Keesokan harinya dia mendatangi kantor induk perusahaan SSS di Sungai Rangit, Kumai, sekitar 20 kilometer tenggara Pangkalan Bun. Namun dua ekspatriat yang menawari Ali tidak menunjukkan batang hidung mereka. Ternyata, yang digelar adalah skenario penangkapan. Begitu keluar kantor, Ali diciduk polisi dan langsung ditahan. Dia dituding merugikan perusahaan Rp 7 juta sehari. Dalam persidangan, hakim Pengadilan Negeri Pangkalan Bun menjatuhinya hukuman penjara 10 bulan. Ayah dua anak ini bebas pada 25 Maret 2009. Di Kalimantan Tengah, kasus penyerobotan tanah yang menonjol yang menyebabkan jatuh korban jiwa terjadi pada 2005. Di Desa Runtu, Arut Selatan, Kotawaringin Barat, PT Mitra Mendawai Sejati (MMS) membuka lahan setahun sebelumnya. MMS adalah anak perusahaan Tanjung Lingga Grup, perusahaan kayu yang bisnisnya menggurita hingga ke luar Kalimantan, yang dimiliki oleh Abdul Rasyid, mantan anggota MPR Fraksi Utusan Daerah. Warga Runtu protes karena merasa tanah mereka diserobot. Mereka memang tidak memiliki sertifikat tanah, tapi memegang

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

surat tanah buatan kepala desa tahun 1960. Menurut Undang Undang Pokok Agraria, surat semacam ini sudah sah sebagai buki kepemilikan. Apalagi, warga juga menanam pohon di sana. Menurut hukum adat, sekalipun hanya sebatang yang ditanam, lahan menjadi pemilik si penanam. Warga mulai berunjuk rasa pada Desember 2004. Tampil kemudian Muhamad Hasanudin sebagai ujung tombak perlawanan. Namun, pada awal 2005, Hasanudin pindah haluan dengan memihak perusahaan. Saat itu ia baru saja terpilih sebagai kepala desa, dengan dibantu dana MMS tanpa diketahui warga. Bentrokan pecah pada 26 Mei 2005. Ratusan warga ingin bertanya kepada Hasanudin mengapa penggusuran lahan oleh PT MMS diizinkan. Unjuk rasa berlangsung di kamp PT MMS di dekat Bukit Sintang, sekitar 15 kilometer dari pusat desa. Keinginan warga dijawab dengan tembakan peringatan oleh enam anggota Brigade Mobil. Tembakan ini justru marah dan menyerang aparat dan petugas MMS. Petugas yang kalah jumlah kabur meninggalkan tiga buldoser dan satu pucuk senapan serbu. Barang sitaan itu kemudian dijadikan senjata warga bernegosiasi. Barang-barang itu mereka tahan di tempat pengolahan aspal milik Departemen Pekerjaan Umum, sekitar 5 kilometer dari Jalan Lintas Provinsi. Seratusan warga menjaga lokasi itu. Malamnya, mereka mengutus tiga warga untuk mengambil genset. Di perjalanan dari desa, mereka dicegat anggota Brimob yang memukuli mereka dengan popor senjata. Seorang penduduk bisa meloloskan dan memberitahukan kejadian tersebut kepada warga yang berjaga. Sekitar pukul 19.50, warga langsung berangkat dengan enam truk menuju lokasi pemukulan. Namun, pasukan bersenjata sudah menunggu. Orang-orang yang baru turun dari truk pertama langsung dipukuli. Polisi juga melepaskan tembakan. Truk pertama dan kedua rusak parah, dan truk lainnya memilih balik kanan dan menyelamatkan diri dari tembakan. Sebanyak 43 orang ditangkap dan diangkut ke Kantor Kepolisian Resor Kotawaringin Barat di Pangkalan Bun. Tiga

107

108

Raja Limbung

orang warga luka parah akibat tembakan. Satu di antaranya, Edon tewas. Sehari kemudian diadakan kesepakatan antara warga dan Musyarawah Pimpinan Daerah Kotawaringin Barat. Kesepakatan itu mewajibkan polisi melepas seluruh warga yang ditahan, warga mengembalikan alat berat yang disita, dan PT MMS tidak menggarap lahan sampai ada kesepakatan dengan warga. Tapi, sampai tulisan ini dibuat, lahan masih Sekalipun terus digarap PT MMS.

transmigran punya sertifikat tanah, penggusuran tetap terjadi. Caranya bisa beragam, mulai dari menanami lahan milik transmigran, bisa pula sangat kasar semisal hutan karet milik transmigran dibakar.

Di Kalimantan, selain lahan warga, yang sering diserobot perusahaan perkebunan sawit adalah lahan milik transmigran. Posisi transmigran yang lemah—karena tak selalu disambut dengan tangan terbuka oleh warga asli—membuat penyerobotan dilakukan lebih semaunya. Sekalipun transmigran punya sertifikat tanah, penggusuran tetap terjadi. Caranya bisa beragam, mulai dari menanami lahan milik transmigran, bisa pula sangat kasar semisal hutan karet milik transmigran dibakar. “Kami tak bisa berbuat apa-apa kalau ada kejadian seperti itu menimpa kawankawan kami,” kata Soeprapto, warga asli Jawa Tengah yang bertransmigrasi ke Passer, Kalimantan Timur, pada 1980-an.

Janji Manis Berakhir Tragis Perpindahan lahan petani ke perusahaan perkebunan tidak selalu terjadi dengan cara penyerobotan. Ada cara lain yang tidak sekasar itu, tapi pada akhirnya tak kurang menyesakkan, yaitu penipuan lahan. Cara ini biasanya berlangsung melalui skema Perkebunan Inti Rakyat, perkebunan inti plasma, dan berbagai variasinya.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Biasanya, kebun yang sudah dijanjikan kepada petani seringkali tak memenuhi syarat: dibagikan tidak tepat waktu, luasnya tak seperti yang disepakati, kondisinya tak terawat, jauh dari areal pabrik sehingga ongkos transpor jadi mahal, berasal dari tanah petani, atau tak jelas batas-batasnya. Konflik juga muncul karena nilai kredit tiba-tiba melonjak, dan janji-janji perusahaan seperti pembangunan infrastruktur dan fasilitas sosial hanya berakhir pada omongan belaka. “Petani yang kebagian buntut tidak enak, bisa terjerat utang, konflik tanah, dan berbagai persoalan lain,” kata Eep Syaifulloh, aktivis Sawit Watch yang banyak terjun di wilayah Kalimantan. Dahulu, dalam proyek PIR-Trans, pola yang berlaku umum adalah pola lima. Petani menyerahkan lima hektar lahan untuk kemudian menerima dua hektar kebun sawit siap panen. Tiga hektar yang diserahkan kepada perusahaan (kala itu PTPN) dianggap sebagai biaya pengganti pembangunan kebun. Selain itu, petani juga harus mengganti biaya perawatan selama sawit belum menghasilkan. Biaya perawatan ini dibebankan sebagai kredit atau pinjaman yang dicicil petani melalui pemotongan hasil panen. Biasanya, 30 persen hasil panen dibayarkan kembali ke perusahaan sebagai cicilan pinjaman. Dulu, tahun 1980-an, besar kredit ini hanya sekitar Rp 9 juta per “kapling” atau per dua hektar. Amantius, 75 tahun, petani sawit Desa Kasai Rantau, Kecamatan Kembayan, Sanggau, Kalimantan Barat, punya pengalaman pahit dengan pola lima tersebut. Keluarga besarnya menyerahkan 25 ha ladang untuk dijadikan kebun sawit dalam proyek PIR-BUN PTPN XIII pada 1985 di Kembayan. Kala itu, dengan pola pembagian 5,52 (pola lima), mereka mandapatkan empat kapling seluas delapan hektar. Pada program yang kedua, tahun 1997, keluarga Amantius mengaku menyerahkan kembali 88 hektare ladang keluarganya, untuk mendapatkan sekitar 17 kapling, tetap dengan pola lima. “Tapi, sampai kini keluarga kami tidak pernah mendapatkan hak 17 kapling itu,” kata Amantius.

109

110

Raja Limbung

Menurut Amantius, nama keluarga mereka ”dicatut” pihak lain sehingga ada sejumlah nama baru yang menjadi peserta plasma di PTPN, tanpa menyerahkan tanah. Menurut Amantius, dari 146 petani Dusun Rantau yang namanya telah ditetapkan oleh Bupati Sanggau sebagai petani plasma kebun sawit PTPN, tiba-tiba membengkak menjadi 258 petani. Tiba-tiba sejumlah nama baru, yang tidak dikenal, yang tidak pernah ada di Dusun Rantau, terdaftar sebagai petani plasma. “Entah, bagaimana caranya itu. Mereka nyelonong masuk,” kata Amantius. Akibatnya, hingga sekarang, 14 tahun setelah program petani plasma dibuka pada 1997, Amantius tak pernah menerima kapling yang dijanjikan. Justru dia pernah ditangkap karena dituduh memanen sawit di kebunnya sendiri. “Sepertinya ada orang yang memanen sawit dan mengaku-ngaku saya dan memanen sawit di kebun, yang sebetulnya memang milik saya,” kata Amantius. Pola lima pun tanpa kesepakatan petani diubah menjadi pola tujuh, artinya jatah petani makin kecil lagi. Ketika kapling diterima petani bentuknya tidak semuanya kebun siap panen tapi hutan dengan kayu-kayu besar. Sudah begitu, kapling diserahkan dalam bentuk hamparan, tanpa batas-batas yang jelas. Menurut Amantius, perusahaan sengaja melakukan adu domba terhadap keluarga. Ia sendiri mengaku berkelahi dengan abangnya sendiri gara-gara sawit. Saat ini, tak ada lagi pemodal swasta yang mau berbagi dengan pola lima. Kebanyakan yang berlaku saat ini adalah pola tujuh, atau bahkan sepuluh, yaitu serahkan 10 ha dapat dua ha. Beban kredit pun bukan hanya Rp 9 juta melainkan Rp 34-35 juta per ha atau sekitar Rp 70 juta per kapling. Akibatnya, meskipun telah dicicil bertahun-tahun, utang tak kunjung lunas. Warga Sungai Tembaga, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, misalnya, punya pengalaman tidak enak soal pola sepuluh tersebut. Penghasilan dari dua hektare lahan yang menjadi milik mereka masih dipotong biaya pemeliharaan seperti ongkos pupuk, upah pekerja, ongkos angkut dan sebagainya. Akibatnya, penghasilan bersih yang

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

bisa dinikmati hanyalah panen satu hektare. Tapi, karena lokasi kebun penduduk atau kebun plasma berada jauh dari pabrik, pemanenan mereka dinomorduakan. Karena tandan buah segar mereka gagal mencapai pabrik dalam waktu 24 jam, harganya jatuh, dari semula Rp 1.500 per tandan menjadi Rp 800 atau bahkan Rp 500. Praktek-praktek semacam inilah yang membuat sebagian warga kapok bersawit ria. Pengalaman Husniati, warga Runtu, Sembuluh, Kalimantan Tengah, agak berbeda. Sejak terjadi banyak penyerobotan tanah di Runtu, ia menanami lahannya dengan sawit. Siasat ini berhasil, lahannya aman. Ia juga ikut program Income Generating Activity (IGA), bagian dari program pemberdayaan masyarakat dari sebuah perusahaan perkebunan sawit. Dalam program ini warga mendapat pinjaman sebesar Rp 4 juta per hektare tanpa bunga untuk membeli bibit dan pupuk sawit. “Jika sudah panen, sawit wajib dijual ke perusahaan, dengan dipotong 30 persen untuk membayar utang,” kata Husniati. Husniati bekerja keras hingga berhasil menambah kebun sawitnya sampai 7 hektare. Ia juga ikut IGA lagi. Yang mengganjal hatinya adalah harga jual sawitnya ke perusahaan. “Kalau harga pasaran turun, harga sawit dari kami langsung diturunkan, tapi kalau harga lagi naik mereka diam-diam saja,” ujarnya.

“Mencuri” di Ladang Sendiri Selain ada cerita pengambilalihan lahan, di Kalimantan juga muncul cerita soal penelantaran lahan. Hal inilah yang dialami masyarakat Kecamatan Beduwai, Sanggau, Kalimantan Barat. Hidup mereka yang semula tenang menjadi berantakan. Saryoso, 56 tahun, alias Pak Thole adalah transmigran asal Klaten, Jawa Tengah, yang tinggal di Beduwai. Ia bercerita bahwa dulunya ia juga termasuk pendukung program pembukaan perkebunan sawit di desanya. “Sampai rentetan peristiwa buruk menimpa saya,” katanya memulai kisah.

111

112

Raja Limbung

Sawit mulai masuk ke Beduwai pada 1999 melalui PT Karya Mufakat Lestari, milik Adelin Lis, pengusaha kayu asal Medan yang sempat diseret ke pengadilan tapi kemudian bebas. Kala itu, KML— yang sudah mengantongi izin lokasi seluas 4 ribu hektare—membujuk warga untuk menyerahkan lahan dengan janji membangun jalan dan fasilitas umum lain serta menyediakan lapangan kerja. KML berjanji bahwa dalam empat tahun seluruh kebun akan selesai dikerjakan. Ladang-ladang yang kurang terurus dan tidak produktif akan menjadi kebun dan menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang harganya tinggi. Bagi mereka yang mau menyerahkan tanah garapan 5,5 hektare akan mendapatkan kembali dua hektare kebun yang siap berbuah. Mendengar janji-janji yang manis itu, sebagian besar penduduk Beduwai tertarik. “Kami ramai-ramai menyerahkan tanah ladang, sumber makanan dan hidup kami selama ini,” kata Saryoso. Lahan luas, dengan pokok-pokok karet yang sudah ditoreh, sudah bisa dipanen getahnya pun diserahkan kepada KLM karena warga berharap kemajuan segera mampir. Namun, setelah bertahun-tahun, warga Beduwai tak kunjung merasakan hasilnya. Dari empat ribu ha tanah yang diserahkan warga, ternyata hanya 280 ha yang ditanami. Selebihnya dibiarkan terlantar. Ladang-ladang yang dulu menjadi sumber penghasilan petani malah menjadi semak belukar. Di lahan yang sudah ditanami, buah sawit memang sudah bisa dipanen sejak 2004, tetapi petani tak mendapatkan bagian. Masalah menjadi kian parah ketika pada 2006 pemilik KML, Adelin Lis, mulai tersangkut beberapa perkara hukum. Karena kebun kian ditelantarkan perusahaan, warga berinisiatif mengambil alih. Mereka mulai merawat lagi kebun sawit. Mereka juga minta agar izin KML dicabut. Mereka sempat bertemu dengan bupati. Yang terakhir ini menyarankan agar kebun dikembalikan ke perusahaan. Tapi, warga berkukuh. Akibatnya, mereka ditangkap dan diperlakukan seperti kriminal.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Bagi Saryoso, tuduhan pencurian yang dialamatkan ke warga menggelikan karena lahan-lahan itu semula milik mereka yang kemudian ditelantarkan KML. Sewaktu panen, mereka juga memberi tahu ke kantor KML dan kantor-kantor pemerintahan yang lain. Sejak Januari 2008, ada perusahan baru masuk ke Beduwai, yang mengantongi izin 15 ribu hektare. Warga mulai ketakutan lagi menggarap lahan terlantar karena perusahaan ini selalu menempatkan satuan pengamanan baik polisi maupun tentara di lapangan. Kebun yang sempat digarap warga diambil alih. Perusahaan ini juga main gusur atau bahkan ladang milik warga. Baru setelah warga lapor ke gubernur, perluasan lahan sawit dihentikan. Hingga buku ini ditulis, perjuangan masyarakat Beduwai mendapatkan hak mereka masih berlanjut.

HGU Sepanjang Masa Salah satu sumber utama konflik di sektor sawit adalah Hak Guna Usaha atau HGU. Dahulu, sewaktu kebun “milik” inti dibuka, yang dipakai sejatinya adalah lahan milik warga. Lahan ini dipinjam untuk satu musim atau 25 tahun. Tapi, lahan-lahan ini ternyata disertifikatkan oleh perusahaan dengan status Hak Guna Usaha berjangka 35 tahun. HGU ini bisa diperpanjang 60 tahun lagi sehingga totalnya menjadi 95 tahun. Teorinya, kalau HGU sudah habis masanya, tanah milik adat itu akan menjadi tanah negara. Celakanya, oleh perusahaan, tanah yang “dipinjam” dari tanah adat ini malah kemudian diperjualbelikan. Kebun-kebun jatuh ke tangan “orang-orang asing” yang tak dikenal petani. Keberadaan mereka hanya diketahui melalui papan nama yang nongkrong di depan kebun. Warga Kembayan di Sanggau, Kalimantan Barat, sudah merasakan telaknya akal-akalan ini. Pada 1985, mereka menyerahkan 718 hektare tanah untuk program PIR-Trans. Dari lahan seluas ini, yang kembali hanya 243 hektare. Sisanya tak jelas menguap ke mana.

113

114

Raja Limbung

Untuk yang 243 ha pun, mereka masih menanggung kredit. Sejak 1990. Warga mulai berteriak dan akhirnya mengajukan gugatan, tapi sidang yang digelar selama 1991-1993 tak menghasilkan vonis yang jelas. Warga Kembayan juga baru tahu bahwa ternyata PTPN yang membuka kebun sawit di lokasi mereka baru mempunyai HGU yang terbit pada 2002. Artinya, sebelum itu PTPN mereka menggarap kebun yang ilegal. Lebih celaka lagi, jika pun ada niat baik PTPN untuk mengembalikan tanah adat ke warga begitu HGU selesai masa berlakunya, warga mesti bersabar lebih lama lagi. “Berdasar berbagai pengalaman di berbagai tempat ini, warga kapok menyerahkan tanah mereka ke perusahaan sawit,” kata Jefri Saragih dari Sawit Watch.

Koperasi Untuk Siapa? Pada 1998, pemerintah menerbitkan kebijakan baru yaitu KKPA atau Kredit Koperasi Primer untuk Anggota. Bagi perusahaan perkebunan inti, skim permodalan dalam KKPA ini sangat menguntungkan. Mereka sama sekali tak perlu lagi mengeluarkan modal dalam membangun kebun plasma karena sudah ditanggung oleh KPPA dan risiko “Koperasi, kegagalan pelaksanaan KKPA seluruhnya yang dalam ditanggung oleh petani.

kacamata pemerintah dapat mewakili kepentingan petani, justru menjadi kepanjangan tangan perusahaan.”

Koperasi menjadi jembatan penting antara perusahaan dan petani. Jika dalam pola PIR, perusahaan besar perkebunan berhubungan langsung dengan banyak petani, kini mereka cukup berurusan dengan pengurus koperasi. Celakanya, sebagian pengurus koperasi cenderung gampang diajak main mata demi keuntungan perusahaan. Dalam PIR, perusahaan ikut menanggung risiko kredit yang ditunggak petani, tapi

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

dengan KKPA bisa lepas tangan atas risiko kredit. Perusahaan hanya menjadi perantara kredit antara bank dengan koperasi petani – mirip dengan peran pengembang dalam KPR (kredit kepemilikan rumah). Dengan kata lain, KKPA adalah insentif dari pemerintah untuk ekspansi perkebunan secara besar-besaran di Indonesia. Perusahaan bisa mendapatkan kredit lunak dengan mengatasnamakan rakyat sementara risiko bisnisnya tak lagi mereka tanggung. “Oleh karenanya, sekalipun di permukaan koperasi adalah kabar baik, pada prakteknya malah semakin menyusahkan petani,” kata Abetnego Tarigan, Direktur Sawit Watch. Mereka tetap menanggung biaya pembukaan lahan, biaya sarana produksi pertanian seperti bibit, pupuk dan pestisida, serta biaya pembinaan sehingga jeratan utang pun datang. Sementara itu, lahan yang mereka serahkan sebagai aset produksi nyaris tidak dihitung. Dalam KKPA, individu petani “dihilangkan” dan diganti koperasi. Kredit bagi petani diteken koperasi, lahan kebun juga diserahkan kepada koperasi, bukan petani sebagai individu pemilik lahan. Akibatnya, petani tak tahu lagi di mana kapling yang menjadi kebunnya berada. Di sejumlah daerah, kepemilikan komunal semacam ini acap memicu pertengkaran tambahan: petani tak mampu membagi kerja secara adil, siapa giliran memupuk, membersihkan rumput, atau memanen. Konflik horisontal lain terjadi ketika dengan KKPA di satu desa, perusahaan mengonversi lahan desa tetangga tanpa permisi. Koperasi, yang dalam kacamata pemerintah dapat mewakili kepentingan petani, justru menjadi kepanjangan tangan perusahaan. Koperasi cuma jadi “tukang stempel” yang melegitimasi pelbagai keputusan menyangkut nasib petani seperti soal harga TBS, jumlah kredit yang ditanggung petani, nilai biaya perawatan tanaman, dan seterusnya. Keberpihakan koperasi kepada pengusaha ini tak lepas dari fakta bahwa pengurus koperasi digaji dan diberi honor oleh perusahaan inti.

115

116

Raja Limbung

Persekongkolan perusahaan dan pengurus koperasi kadang bisa sedemikian jauh. Mulai dari penggelapan dana petani yang tersimpan di koperasi, kongkalikong pengolahan tandan segar, sampai siasat kebijakan perusahaan yang merugikan petani. Laporan www.antarariau.com, 20 Oktober 2010, memberitakan kekisruhan yang terjadi di Desa Lubuk Batu Tinggal, Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Indragiri Hulu, Riau. Petani menduga kuat PT Inti Indosawit dan pengurus teras KUD Tani Bahagia telah memakai Rp 1,7 miliar uang petani di KUD Tani Bahagia, dengan berbagai rekayasa kegiatan fiktif. “Banyak pengeluaran yang janggal dan di luar pengetahuan kami,” kata Nasrullah, Kepala Desa Lubuk Batu Tinggal. Kasus ini menjadi perhatian luas di Riau. Wartawan Antara yang meminta keterangan pada PT Inti Indosawit hanya mendapat tanggapan, “Ini urusan internal yang sedang dibahas KUD dengan petani.” Kritik terhadap KKPA sebetulnya sudah muncul sejak beberapa tahun yang lalu. Pada 2002, di Jambi, Bupati Bantanghari A. Fatah sudah melontarkan pernyataan bahwa petani dirugikan dengan pola ini dan perusahaan mendapatkan keuntungan ganda. Para petani sawit sendiri sudah makin berani menyuarakan keberatan mereka. Pada Maret 2011, misalnya, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menolak pemberlakuan pola KKPA atas sekitar 900.000 hektar kebun plasma, yang akan diremajakan di sejumlah daerah. Menurut SPKS, melalui KKPA produktivitas sawit petani petani plasma yang selama ini hanya 4 ton per hektare bisa meningkat. Tapi, petani akan sulit mengontrol volume hasil sawit dalam kebunnya sendiri serta jumlah pendapatan yang semestinya mereka peroleh karena pengelolaan kebun dilaksanakan perusahaan inti. Dengan pola KKPA, petani memperoleh hasil 30 saja persen dari lahan garapan. Bila mereka punya lahan 2 hektar, misalnya, paling banyak yang bisa mereka peroleh sewaktu panen hanyalah Rp 500

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

ribu karena terpangkas pembayaran kredit, biaya lingkungan, dan pengangkutan sawit. KKPA juga menjadikan petani selalu terikat dengan utang yang kemungkinan baru lunas setelah 30 tahun.

117

118

Raja Limbung

Patgulipat di Tanah Ulayat Pembebasan lahan warga di tiga desa di Mesuji, Lampung, tak beres. Ada fulus ke pejabat. *** SENAPAN menyalak berulang-ulang. Di tengah rimba sawit Sritanjung, Mesuji, Lampung, yang senyap, suara itu terdengar oleh Mamat dari jarak satu kilometer. Pria 46 tahun itu segera menghambur ke luar rumah. Menyalakan sepeda motor, ia lantas memacunya menuju muasal suara: palang pintu pertama blok O kebun sawit PT Barat Selatan Makmur Investindo. Menjelang zuhur pada Kamis, 10 November, itu tak cuma Mamat yang menunggang sepeda motor menuju sumber suara. Di tengah jalan, ia disalip Zaelani, sepupunya, yang menunggang Honda Revo. Zaelani sempat melambaikan tangan. “Dia bilang mau mencari anaknya,” kata Mamat ketika ditemui dua pekan lalu. Ia juga ingat, ketika itu jalanan licin sisa hujan semalam. “Tapi Zaelani naik motor mengebut. Wuss….” Itulah terakhir kali Mamat berjumpa dengan Zaelani hidup-hidup. Sesampai di pintu PT Barat Selatan, Mamat melihat Zaelani terkapar dengan batok kepala pecah ditembus peluru. Di sana ia melihat pula puluhan polisi dan marinir bersitegang dengan penduduk tiga desa, yakni Sritanjung,

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

119

Kagungan Dalam, dan Nipah Kuning. Warga meminta aparat menyerahkan dua pemuda Sritanjung bernama Gani dan Yanto yang disangka disandera. Aparat berkeras tak menahan kedua pemuda itu. Tibatiba… dor! Zaelani terjengkang. Saksi mata dari warga mengatakan Zaelani tewas di atas sepeda motornya ketika hendak berputar arah menuju jalan pulang. Menurut Kepala Kepolisian Daerah Lampung Brigadir Jenderal Jodie Rooseto, polisi menembak karena penduduk hendak menyerang petugas dan merusak bangunan perusahaan. Belakangan, Gani dan Yanto diketahui berada di tengah kebun sawit ketika bentrokan terjadi. Sepeda motor Gani yang diseret petugas keamanan dari tepi kebun sawit ke pos Brigade Mobil yang tak jauh dari kantor perusahaan memancing kecurigaan warga. Mereka menduga Gani dan Yanto ditahan setelah memanen sawit di lahan yang diklaim perusahaan. Padahal, kata Mamat, kebun itu merupakan lahan penduduk karena PT Barat Selatan tak tuntas membayar ganti rugi sejak 1994. Sengketa panjang klaim kepemilikan pun terbuka kembali. *** Lima belas tahun lalu, PT Barat Selatan mengantongi izin Badan Pertanahan Nasional Lampung Utara (dimekarkan menjadi Tulang Bawang pada 1997, lalu disapih lagi menjadi Mesuji pada 2008) untuk membuka lahan sawit sekitar 17 ribu hektare di tiga desa sekaligus: Sritanjung, Kagungan Dalam, dan Nipah Kuning. Dalam surat bernomor PLU.22/46-IL/1994 itu disebutkan, dari lahan seluas 17 ribu hektare ini, 10 ribu hektare akan dimanfaatkan untuk kebun

120

Raja Limbung

inti yang dikelola perusahaan. Sisanya, 7.000 hektare, untuk kebun plasma yang diurus rakyat. Menurut Ajar Etikana, warga Sritanjung, perusahaan baru membayar ganti rugi separuh dari lahan kebun inti seluas 10 ribu hektare. “Artinya, sisanya masih milik masyarakat,” ujarnya. Persoalan makin rumit karena, setelah kebun inti diukur ulang, ada kelebihan lahan seluas 2.455 hektare. Perusahaan, kata Ajar, tak pernah menebus kelebihan lahan ini kepada masyarakat. Ajar juga menuding PT Barat Selatan hingga kini tak pernah membangun kebun plasma di lahan 7.000 hektare. Di sisi lain, pada 1995, Badan Pertanahan menerbitkan izin lokasi perkebunan seluas 6.628 hektare untuk PT Lampung Inter Pertiwi, yang lahannya juga terletak di ketiga desa itu. Perusahaan ini dimiliki secara patungan oleh pengusaha Tjandra Lumenta dan Global Formation, perusahaan Malaysia. Bukan kebetulan, pemilik PT Lampung Inter Pertiwi dan PT Barat Selatan orang yang sama. Tjandra Lumenta ditambah Hentje Lumenta serta Global Formation tercatat sebagai pemilik dalam akta PT Barat Selatan. PT Lampung Inter Pertiwi tak mengeluarkan duit banyak untuk menebus lahan warga. Musababnya, Bupati Tulang Bawang saat itu, Santori Hasan, menerbitkan surat bupati bernomor 310/500/01/TB/1997 yang ditujukan kepada PT Lampung. Dalam suratnya, Santori mengatakan PT Lampung tak perlu membayar seluruh ganti rugi karena, dari 6.268 hektare itu, 3.467,75 hektare merupakan tanah rekognisi atau tanah negara. Santori hanya meminta PT Lampung menyetor Rp 20 ribu ke kas negara untuk setiap hektare lahan. Perusahaan lantas menyetor Rp 69,35 juta untuk 3.467,75 hektare lahan

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

ke Bank Pembangunan Daerah Lampung pada 18 September 1997. Dua tahun sebelumnya, Desa Fajar Baru, tak jauh dari Sritanjung, juga melepaskan 800 hektare lahan. Fajar Baru merupakan desa transmigrasi yang lahannya semestinya tak boleh dilepas untuk perusahaan. Di sinilah kejanggalan yang lain. Dalam dokumen daftar penerima ganti rugi di wilayah Kagungan Dalam, nomor urut 47 hingga 56 diisi pejabat Lampung Utara ketika itu. Nama Santori Hasan tertera di nomor 56. Dokumen itu tak bertanggal, tapi diperkirakan dibikin pada 1994-1996, ketika Santori masih menjabat Sekretaris Daerah Lampung Utara--ia ditunjuk menjadi Bupati Tulang Bawang pada 1997. Meski di urutan 56, Santori menerima ganti rugi terbesar, yakni Rp 3,077 miliar, setelah melepas lahan seluas 2.897,985 hektare. Di atas Santori, dari nomor 47 hingga 55, secara berturut-turut terdapat nama M. Syaifullah A., Mulki Adewie, Suhatman, Ismail Yazid, Mulyadi, Saleh Mulyono, Dahri Djayaputra, Maderoni, dan Sukarlan H.S. Berdasarkan penelusuran, M. Syaifullah A. atau M. Syaifullah Achry adalah Kepala Kantor Pertanahan Lampung Utara ketika itu. Saleh Mulyono menjabat Camat Mesuji. Maderoni adalah Kepala Desa Kagungan Dalam. Sedangkan Sukarlan H.S. menjabat Asisten I Sekretaris Wilayah Kabupaten Lampung Utara. Secara berturut-turut pula mereka masing-masing menerima ganti rugi yang besarnya sama: Rp 181,6 juta. Duit itu mereka terima setelah melepas lahan yang luasnya persis sama pula, 171,035 hektare. Dijumlahkan dengan luas lahan yang dilepas Santori, luas lahan penerima ganti rugi nomor urut 47 hingga 56 mencapai 4.268,785 hektare. Angka itu

121

122

Raja Limbung

berbeda tipis dengan total luas lahan rekognisi ditambah lahan di Fajar Baru yang 4.267,75 hektare. Kepala Departemen Advokasi dan Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Mukri Priatna menduga di sanalah patgulipat terjadi. Menyatakan seolah-olah lahan penduduk tak bertuan sehingga perusahaan membayar ganti rugi lebih sedikit di satu bidang lahan, pejabat Lampung Utara mengambil keuntungan di bidang lahan sebelahnya. Tak jauh berbedanya angka lahan rekognisi plus lahan di Fajar Baru dengan luas lahan yang dibebaskan Santori dan kawan-kawan, kata Mukri, “Adalah indikasi persekongkolan.” PT Barat Selatan membantah masih ada persoalan dalam pembebasan lahan di tiga desa tadi. Menurut Mayor Jenderal Purnawirawan Ali Fathan, yang mengaku sebagai penasihat di PT Barat Selatan sejak insiden Sritanjung terjadi pada November lalu, perusahaan telah membayar seluruh ganti rugi kepada masyarakat dan pemerintah daerah saat itu. “Kalau ada markup dan sebagainya, itu urusan mereka. Semua disetor melalui bank ke rekening pemerintah,” kata anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 1999-2004 dari Fraksi TNI/Polri itu. Adapun Santori Hasan mengatakan tak terlibat secara aktif dalam penyelesaian sengketa antara warga dan perusahaan ketika itu. Soal uang ganti rugi, ia juga menyangkal pernah menerimanya. “Dana itu langsung disetor ke pemerintah daerah. Demi Allah, saya tidak pernah menerima dan tidak pernah tahu,” kata Santori, yang menjabat anggota Dewan Perwakilan Daerah periode 2004-2009. Ia meminta Tempo menanyakan hal ini kepada pejabat Badan Pertanahan Nasional Lampung ketika itu. Tapi sebagian besar pejabat sudah pensiun dan ada yang meninggal. M. Syaifullah Achry, bekas Kepala Badan Pertanahan Nasional

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Lampung Utara yang aktif terlibat pembebasan tanah ulayat di tiga desa itu, tak lagi berkantor. Anton Septian (Jakarta), Nurochman Arrazie (Mesuji, Bandar Lampung)

123

124

Raja Limbung

Bara Sengketa Kebun Sawit TRAGEDI Mesuji secara gamblang menggambarkan hubungan timpang antara pemerintah, perusahaan perkebunan, dan penduduk lokal. Pemerintah--dengan segenap aparatusnya--cenderung memihak pemilik modal dan, sebaliknya, meminggirkan masyarakat sekitar. Perusahaan juga serupa. Jangankan mendekati penduduk, perusahaan malah membangun benteng untuk memisahkan diri dengan warga sekitar. Ketegangan demi ketegangan terjadi, buntutnya mudah diterka: konflik yang menelan korban. Di perbatasan Sumatera Selatan dan Lampung itu, sengketa pecah akibat tiga kasus ketimpangan hubungan tadi. Pertama, kasus pengelolaan lahan adat di area kawasan Hutan Tanaman Industri Register 45 Way Buaya, Desa Gunung Batu, pada Februari 2006. Sengketa ini mendidih ketika Made Asta tewas pada 6 November 2009. Tidak terlihat usaha keras pemerintah memperbaiki hubungan tak serasi itu. Dalam kondisi begitu, tak sampai dua tahun kemudian, pecah lagi sengketa tanah lahan sawit seluas 1.533 hektare antara warga Desa Sungai Sodong dan PT Sumber Wangi Alam. Korban bertambah: dua petani dan lima petugas perkebunan tewas. Yang terakhir, November 2011, sengketa tanah lahan sawit seluas 17 ribu hektare antara warga Desa Sritanjung dan Nipah Kuning dengan PT Barat Selatan Makmur Investindo berujung pada kematian Zaini.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Bila dirunut, akar masalah adalah korupsi dan kolusi yang mendarah-daging sejak Orde Baru. Izin perkebunan kelapa sawit bisa terbit dengan membayar uang sogok. Majalah ini menemukan dokumen yang mencatat pemberian dana untuk para pejabat di wilayah itu--lengkap dengan tanda tangan mereka--pada saat proses pembebasan lahan 1997. Korupsi berombongan ini menyebabkan penyiapan lahan tidak dilakukan dengan prosedur yang benar. Sering kali izin penggunaan lahan tumpang-tindih. Saling klaim lahan antarperusahaan perkebunan biasa terjadi, juga antara perusahaan dan penduduk, dan itu seperti timbunan bara dalam sekam. Solusi tak bisa diharapkan datang dari pemerintah. Aturan hukum selama ini terlalu menguntungkan pengusaha. UndangUndang Perkebunan Nomor 18 Tahun 2004 memberikan legalitas kuat kepada perusahaan perkebunan untuk menguasai tanah rakyat, yang umumnya tidak dilengkapi sertifikat kepemilikan. Undang-undang yang sama juga memberikan ruang kepada perkebunan untuk melakukan tindakan keras terhadap petani lokal yang dicap sebagai perambah hutan. Dengan kekuasaan yang diberikan undang-undang itu, perkebunan tak merasa perlu membangun hubungan baik dengan masyarakat. Mereka memegang legalitas formal sebagai pemilik izin--walau itu diperoleh melalui praktek ilegal. Langkah berikutnya juga keliru: perusahaan ”merekrut” aparat kepolisian dan militer untuk menyelesaikan konflik dengan masyarakat. Perusahaan perkebunan juga membentuk pengamanan swakarsa. Padahal, dengan kewajiban melaksanakan corporate social responsibility alias CSR, mereka seharusnya bisa membangun hubungan yang lebih sehat,

125

126

Raja Limbung

misalnya menyediakan lahan untuk dikelola masyarakat sekitar. Sepak terjang tercela perusahaan itu perlu mendapat perhatian tim investigasi pemerintah pimpinan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Denny Indrayana. Dalam tragedi Mesuji, pejabat yang diduga korup dalam pemberian izin perkebunan sawit harus diserahkan kepada aparat hukum. Perusahaan perkebunan yang terbukti melakukan kejahatan ekonomi dan pelanggaran hak asasi manusia seyogianya dicabut izin usahanya. Sangat penting juga memastikan jumlah korban jiwa. Soal ini urgen karena tragedi Mesuji telah mendarat di wilayah politik. Pemutaran video kekerasan Mesuji--yang diduga kuat telah mendapat “bumbu” beberapa adegan “palsu”--di Dewan Perwakilan Rakyat merupakan contoh tindakan politik itu. Tentu saja rekayasa video itu, jika benar, bisa mengundang konsekuensi hukum. Tapi, sebelum mengurus video, lebih baik pemerintah mencegah bibit kekerasan serupa di banyak tempat lain. Ada 3.000 kasus sengketa perusahaan sawit dengan masyarakat, menurut Sawit Watch, lembaga nirlaba pemantau persoalan perkebunan sawit. Pemerintah juga wajib meninggikan kemakmuran rakyat dan produksi secara seimbang dalam usaha di lapangan agraria ini, sesuai dengan amanat Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960 yang masih berlaku. Reformasi agraria merupakan program yang mesti dijalankan. Program menata kepemilikan lahan--yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sejak awal pemerintahannya--semestinya tidak berhenti pada seremoni penyerahan sertifikat oleh Presiden di Istana Bogor tahun lalu. Yang lebih penting, Peraturan Pemerintah tentang Reformasi

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Agraria perlu segera diterbitkan. Tanpa itu, bara sengketa di perkebunan setiap saat siap berkobar menjadi api besar yang berbahaya.

127

128

Raja Limbung

Tumpukan kelapa sawit di perkebunan daerah Perbaungan, Medan, Sumatera Utara. Sumber: TEMPO/ Hendra Suhara

Bab 5

“Itu Cuma Kampanye Hitam!”

130

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

131

Bab 5 “Itu Cuma Kampanye Hitam!”

Sawit, sebagai bagian keluarga palma, memang mudah dipahami. Tapi, urusan menjadi lain ketika dia menjadi bagian dari ekologi global, dengan interaksi sosial-ekonomi yang kompleks. Sawit berubah menjadi gambar mozaik yang rumit. Keping demi keping berbicara dengan beragam kepentingan, termasuk interes modal yang luar biasa.

Retno Sulistyowati, anggota tim penulis, berbincang dengan Achmad Mangga Barani, mantan Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian, pada pertengahan 2011. Pada periode jabatannya, 2006 - 2010, dia dianggap berhasil menggenjot produksi sawit nasional sehingga pada 2008 produksi sawit Indonesia melampaui Malaysia. Program revitalisasi perkebunan juga termasuk program unggulan yang digagas oleh Achmad. Kendati Achmad sudah resmi pensiun, perbincangan ini berguna untuk lebih memahami sawit dan posisi pemerintah dalam mozaik ini. “Banyak black campaign bahwa minyak

132

Raja Limbung

sawit itu merusak lingkungan, merusak habitat orang utan, dan lain sebagainya. Bersama dengan Malaysia, kita menangkal kampanye hitam seperti itu,” kata Achmad Mangga Barani.

Pernyataan Achmad menunjukkan tipikal sikap pejabat pemerintah, juga sebagian besar pengusaha dan masyarakat luas. Saban kali ada kritik tentang praktik perkebunan sawit, muncul reaksi defensif bahwa kritik itu adalah bagian dari kampanye hitam demi persaingan global. “Sampai hari ini pasar minyak sawit itu mencapai 33,2 persen dari total minyak nabati dunia. Pemasoknya cuma Indonesia dan Malaysia. Jadi, posisi kita cukup bagus. Kalau dari sisi permintaan pasar internasional, tidak ada masalah. Yang jadi persoalan adalah adanya persyaratan yang bermacam-macam, terutama dari segi lingkungan”. - Achmad Mangga Barani,

mantan Direktur Jenderal Perkebunan

Departemen Pertanian,

Benar, bisa jadi persaingan global telah berbuntut black campaign pada pamor sawit kita. Namun, kasus Mesuji yang dikuatkan temuan Tim Gabungan Pencari Fakta, 2012, membuktikan bahwa sebagian besar kritik yang mendera sawit bukan sekadar omong kosong. Pemerintah, harus diakui, telah terlalu lama menutup mata dan menganggap protes dari lapangan adalah sekadar ‘black campaign’, sebuah sikap yang patut kita tuntut untuk diubah dan dibenahi.

Tanpa pembenahan mendasar pada pengelolaan perkebunan sawit, mustahil tercapai pertumbuhan produksi sawit yang berkualitas. “Rekomendasi saya, kita harus saling memupuk kepercayaan antara pemerintah,

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

petani, dan pengusaha mitra,” kata Achmad. Membangun kepercayaan, kita tahu, bukan semudah membalik telapak tangan. Kepercayaan juga sesuatu yang tak datang begitu saja, tapi harus diupayakan. Respek pada petani, respek pada pengusaha mitra, dan serius meluruskan perizinan yang tumpang tindih adalah syarat mutlak. Berikut ini percakapan dengan Achmad Mangga Barani: Sebetulnya, bagaimana posisi dan proyeksi persawitan Indonesia dalam peta persaingan global? Jika kita membicarakan pasar, kita harus melihat ke mana arah minyak sawit yang kita kembangkan. Sementara ini kita masih mengutamakan konsumsi minyak nabati dibanding untuk energi atau biofuel. Di masa mendatang, kita akan mengembangkan dengan variasi yang lebih banyak, lebih seimbang antara energi dan makanan. Sampai hari ini pasar minyak sawit itu mencapai 33,2 persen dari total minyak nabati dunia. Pemasoknya cuma Indonesia dan Malaysia. Jadi, posisi kita cukup bagus. Kalau dari sisi permintaan pasar internasional, tidak ada masalah. Yang jadi persoalan adalah adanya persyaratan yang bermacam-macam, terutama dari segi lingkungan. Sumbangan sawit terhadap perekonomian negara, termasuk penentuan pajak ekspor atau PE? Sawit itu sudah menyumbangkan devisa negara US$ 14 miliar tahun 2009. Sektor ini juga menyumbangkan PE sekitar Rp 13 triliun. Pemasukan dari pajak ini yang antara lain digunakan untuk subsidi harga minyak goreng dalam negeri. Tapi sumbangan yang paling penting adalah membuka lapangan kerja. Ini sektor yang pro poor dan pro job untuk mengurai kemiskinan, dan sekarang ditambah lagi lingkungan.

133

134

Raja Limbung

Jika kita membuka lahan 500 ribu hektare per tahun, dengan setiap keluarga petani mengelola 2 hektare, maka paling tidak bisa 250 ribu tambahan tenaga kerja baru tiap tahun.

“Sampai hari ini pasar minyak sawit itu mencapai 33,2 persen dari total minyak nabati dunia. Pemasoknya cuma Indonesia dan Malaysia. Jadi, posisi kita cukup bagus. Kalau dari sisi permintaan pasar internasional, tidak ada masalah. Yang jadi persoalan adalah adanya persyaratan yang bermacam-macam, terutama dari segi lingkungan”. - Achmad Mangga Barani, mantan Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian,

Peta persaingan dengan Malaysia? Kita menjadikan Malaysia sebagai mitra, partner, bukan saingan. Sebagai sesama produsen besar, kita bermitra sehingga kita punya posisi tawar yang lebih besar dalam persaingan global. Tiap enam bulan kita ketemu, mengatur strategi bagaimana supaya kita memenangkan sawit ini. Kita saling mendukung strategi pemasaran. Kita juga bersama-sama melakukan perlawanan kalau ada black campaign, yang menjelekkan sawit di dunia internasional. Seperti diketahui, sekarang ini banyak black campaign bahwa minyak sawit itu merusak lingkungan, merusak habitat orang utan, dan lain sebagainya. Bersama dengan Malaysia, kita menangkal kampanye hitam seperti itu. Sepertinya tudingan dunia lebih mengarah ke Indonesia ketimbang Malaysia?

Ya. Itu karena kita masih memperluas, sedangkan Malaysia sudah tidak lagi ekspansi kebun. Bukan berarti Malaysia tidak kena imbas. Hanya saja, Indonesia dianggap tidak ramah lingkungan di dalam penanaman dan

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

pengusahaan karena masih banyak yang dalam tahap menanam. Malaysia tidak lagi memperlua area perkebunan dan lebih fokus di peningkatan produktivitas. Lahannya sudah tidak ada. Mereka cukup dengan 4,8 juta hektare saja, tapi dengan produktivitas bagus. Itu sebabnya, produksi sawit Malaysia tidak pernah lagi melampaui produksi Indonesia. Kita berpeluang tumbuh dua kali lipat dibanding Malaysia. Posisi saat ini kebun kita total seluas 7,6 juta hektare. Apa yang membuat produktivitas perkebunan Malaysia lebih baik? Sistemnya kan berbeda. Kebun di Malaysia dimiliki perusahaan besar dengan standar yang ketat. Sedangkan perkebunan di Indonesia dimiliki pengusaha dan petani, 46 persen perkebunan kita dimiliki petani. Itulah yang sering jadi masalah karena standar pengelolaan berbeda-beda. Di Malaysia, kepemilikan petani hanya 2-3 persen saja. Bagaimana dengan road map sawit nasional? Sudah ada road map mengenai sawit yang disusun bersama-sama dengan berbagai instansi terkait. Gambarannya, pada tahun 2020, kita punya areal sekitar 10 juta hektare dengan produksi sekitar 40 juta ton CPO. Itulah yang kita gunakan untuk minyak makan dan mengarah di sektor energi. Tidak mungkin 40 juta ton itu terserap total seluruhnya untuk minyak makan. Pasar lokal, kita membutuhkan sekitar 4 juta ton CPO untuk minyak makan. Dunia membutuhkan minyak nabati 127 juta ton sampai tahun 2008. Perkiraannya, pada 2020, kebutuhan minyak sawit dunia mencapai 140-an juta ton. Ini belum termasuk kebutuhan sawit untuk energi. Pendeknya, pasar semakin tidak terbatas.

135

136

Raja Limbung

Untuk mencapai 10 juta hektare pada 2020, perlu berapa hektare pembukaan perkebunan setiap tahun? Lahan itu sudah hampir dimiliki oleh pengusaha dan petani. Tinggal waktu menanam yang bertahap. Soal lahan sudah nggak ada masalah lagi. Sudah dimiliki perusahaan dan petani. Yang menjadi masalah, kapan mereka harus menanam, atau kapan kegiatan tanam dilakukan. Harapan kami, pada tahun 2020 areal itu sudah ditanami semua. Setiap tahun rata-rata realisasinya penanaman baru 500 ribu hektare. Bukan targetnya sebesar itu.

Belum jelas juga, kan, apa yang hendak dimoratorium. Hanya dikatakan lahan gambut dan hutan primer dilarang dibuka. Gambut yang mana yang dilarang? Yang ketebalannya lebih dari tiga meter? Belum jelas. Kita hanya menggunakan yang kurang dari tiga meter yang boleh ditanami.

Kalo dikaitkan dengan moratorium, apakah pengembangan lahan bisa terganggu? Tidak ada kaitannya dengan moratorium sebenarnya. Wong, izin lahan sudah dikasih. Lahan sudah dikuasai perusahaan dan petani. Moratorium, kan, untuk ke depan. Hal ini yang saya selalu ingin jelaskan. Moratorium itu apa sih? Berlaku untuk apa? Itu harus jelas. Sampai hari ini belum ada kejelasan. Jadi, sejauh ini kita jalan aja, sesuai dengan ketentuan yang sudah ada. Belum jelas juga, kan, apa yang hendak dimoratorium. Hanya dikatakan lahan gambut dan hutan primer dilarang dibuka. Gambut yang mana yang dilarang? Yang ketebalannya lebih dari tiga meter? Belum jelas. Kita hanya menggunakan yang kurang dari tiga meter yang boleh ditanami.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Sejauh ini bagaimana kesepakatan interdepartemen? Belum ada, belum selesai. Itu kan baru berlaku 2011 (wawancara dilakukan pada awal 2011 - Red). Semuanya masih dalam pembahasan pemerintah. Mengganggukah moratorium? Tunggu dulu. Jika yang dimoratorium adalah lahan gambut di atas 3 meter, itu artinya tidak ada pengaruhnya terhadap perkebunan. Karena selama ini yang dibuka adalah yang di bawah 3 meter. Begitu juga dengan larangan membuka hutan primer. Yang mana yang dimaksud hutan primer? Harus jelas dulu. Bagaimana inspeksi pemerintah atau pihak berwenang terhadap pelaksanaan penanaman sawit di lahan gambut? Memang betul tugas pemerintah mengawasi penggunaan gambut, terutama pemerintah daerah. Karena dia yang memberi izin. Bodoh kalau ada pengusaha perkebunan yang menanam di lahan gambut yang lebih tebal dari 3 meter. Di mana tumbuhnya akar? Bagaimana akar mau memegang tanah, terutama kalau sawit sudah tumbuh besar, usia 10 tahun, 20 tahun? Lingkungan menjadi isu global dan keras sekali tuntutannya? Bagaimana mengatasi persoalan ini? Nggak ada masalah. Kita kan semua prosedur juga mengikuti kaidah lingkungan kok. Tidak ada sedikit pun ayat di UU Perkebunan yang menyebut bahwa bangunlah perkebunan tanpa memperhatikan lingkungan, babat semua hutan. Tidak ada itu. Sudah sejak awal, UU Perkebunan berwawasan lingkungan. Soal ada yang melakukannya, itu soal sanksi dan penegakan hukum. Orang jahat. Jadi, jangan karena ada orang jahat, kemudian orang perkebunan dianggap melanggar semua. Pemerintah berwenang mengawasi, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten, semua bertugas mengawasi.

137

138

Raja Limbung

Bagaimana peranan lembaga terkait seperti Kementerian Lingkungan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kehutanan? Yang bertanggung jawab itu yang memberi izin. Kalau kami yang mengeluarkan izin, maka kamilah yang bertanggung jawab atas izin yang dikeluarkan itu. Tapi, kan tidak demikian. Izin perkebunan semuanya dari bupati dan kepala daerah. Kalau yang dibuka adalah hutan, baru izinnya kepada Kementerian Kehutanan. Lagipula, tidak semuanya ditanam di areal hutan. Ada di areal buddidaya, ada di penggunaan lain-lain. Ada di hutan konversi. Nah, nanti kalau masuk ke hutan konversi, baru ada campur tangan dari Departemen Kehutanan. Selama penanaman di areal budidaya, itu kewenangan kepala daerah. Pada program revitalisasi kebun sawit, apakah melibatkan dana APBN? Sejauh mana efektivitasnya? Tidak ada. Revitalisasi perkebunan itu dana perbankan. APBN hanya menjadi motor, yakni dalam hal memberikan subsidi bunga. Untuk kebun kelapa sawit, dikenakan 7 persen saja. Selisih bunga dengan rate pasar dibayar pemerintah. Itu saja. Evaluasi sementara, program revitalisasi perkebunan ini berjalan, tapi tidak secepat yang kita inginkan. Bagaimana pun bank menjaga bisnis dan perputaran uangnya. Pemerintah juga tidak bisa memaksa bank BUMN. Mereka punya sistem sendiri yang independen. Perbankan mempersyaratkan cukup berat, misalnya petani harus memiliki sertifikat dan surat-surat tanah yang jelas. Justru itu kan kelemahan petani kita : permasalahan hak tanah. Sekarang yang sudah revitalisasi mencapai 135 ribu hektare pada 2007-2010. Itu luasan yang cukup besar juga sih. Tapi target kita lebih besar lagi, yakni 1,5 juta hektare.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Bank pelaksana bank pemerintah semua? Ada juga bank swasta. Ini ada 13 bank pelaksana. Tapi kelihatannya yang agresif memang pemerintah juga. Mandiri dan BRI yang lebih dominan. Swasta misalnya, Agro Bank, Bank Niaga. Tapi kembali lagi, ini kan uangnya bank. Tidak bisa kita memaksakan mereka. Seberapa target pertumbuhan yang diharapkan dari program revitalisasi perkebunan sawit? Begini, kita ingin, dengan revitalisasi, rakyat menjadi mayoritas. Tapi pengembangan sawit itu bukan dari revitalisasi saja. Masih banyak kegiatan lain yang mendukung itu. Yang besar malah sebenarnya swadaya masyarakat. Tidak pusing dengan bank. Dia sendiri yang menanam. Nggak usah pakai skema perbankan. Swadaya itu lebih besar daripada yang menggunakan fasilitas pemerintah. Jadi yang menikmati fasilitas pemerintah betul-betul yang rakyat miskin. Yang ikut pemerintah itu kan petani yang nggak ada uangnya saja. Kalau dia ada uang, ngapain pakai uang bank yang prosedurnya sulit. Kenyataannya di lapangan memang program revitalisasi yang menggunakan dana bank ini seret dan amat sulit? Apa saja yang melibatkan bank memang sulit. Kecuali, ini berbeda, dulu kita punya program, uang pemerintah yang disimpan di bank. Silahkan bank sebagai jembatan penyalur saja. Kalau skema ini, saya bisa paksa bank untuk menyalurkan dana itu. Tapi, nggak bisa seperti itu. Pertanyaannya, dari mana uangnya pemerintah? Dulu itu kita pinjam dari Bank Dunia. Sekarang tidak ada lagi. Kredit semacam itu berhenti, sejak tahun 1990-an tidak ada lagi. Sekarang ini yang dipakai adalah uang bank, seratus persen risiko ditanggung bank.

139

140

Raja Limbung

Skema kredit peremajaan tanaman yang ditawarkan bank Rp 40 juta per hektare. Padahal, perhitungan petani cuma butuh Rp 15-25 juta per hektare. Akibatnya, petani merasa dipaksa berutang jauh di atas kemampuan. Bagaimana ini? Masih bagus bank mau nawarin kredit Rp 40 juta. Standar kami pun Rp 23 juta per hektare, di beberapa tempat, itu pun nggak dikasih oleh bank. Bagaimana dengan program manajemen satu atap? Kita kan mempelajari sejarah masa lalu. Kita punya Perkebunan Inti Rakyat dan Perkebunan Inti Plasma, masing-masing ada plus minus. Ternyata, terjadi penurunan setelah manajemen diserahkan kepada petani. Kebun yang dipelihara dan tidak dipelihara jelas berbeda hasilnya. Perkebunan inti bisa menghasilkan 18-20 ton sawit, sementara kebun petani hanya menghasilkan 10 ton per hektare. Dari situlah kita belajar, kenapa tidak disatukan saja manajemennya? Konsep inti-plasma tetap digunakan, tetapi manajemen disatukan sehingga produktivitas tidak lagi ada perbedaan. Seharusnya, sistem manajemen satu atap ini menguntungkan petani. Kan, dia naik produksinya. Banyak petani mengeluhkan penetapan harga tandan buah segar (TBS) yang memasukkan indeks K? Bisa dijelaskan? TBS ini ditentukan pemerintah daerah setelah melalui rapat bersama dengan swasta dan wakil petani, setiap bulan. Jadi TBS itu harga bersama. Indeks K adalah biaya operasional pabrik yang dibebankan dalam penentuan harga. Harga CPO berapa, inti sawit atau kernel berapa, ini diurai dalam rumus harga yang disepakati. Ada penyusutan nilai juga. Itulah komponen yang diterima petani, karena dia memang berawal tanpa modal apa-apa.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Dalam konsep manajemen satu atap, petani juga harus menanggung. Namanya juga bermitra. Kan ada pembelian pupuk, pestisida, pemeliharaan, dan lain-lain yang memang harus dibebankan kepada petani. Manajemen satu atap akan ada pilot project atau berlaku nasional? Bukan pilot project. Pola manajemen satu atap ini menggantikan pola lama. Ya, namanya bermitra itu kalau sudah diawali dengan khawatir, ya tidak bisa jalan. Kalau diawali dengan tidak percaya, bentuk kemitraan apa pun, tidak ada hasilnya. Kalau saya dari situ mulainya. Namanya bermitra, ya, harus saling percaya. Itu dulu yang pertama. Sudah otomatis, saya punya kebun di sini, pabriknya di sini, tidak mungkin dia pergi ke tempat atau pabrik lain yang lokasinya lebih jauh. Dan inilah yang menjadikan, kenapa manajemen satu atap itu solusi atas bentuk pengkhianatan ke dalam atas kerjasama PIR selama ini. Apa yang Anda maksud dengan “pengkhianatan”? Pada banyak kasus, perani tidak menjual tandan sawit ke perusahaan inti. Dengan manajemen terpisah, petani bisa pergi jual ke tempat lain. Sebenarnya hal itu dilakukan untuk menghindari bayar utang terhadap inti. Kelemahan inilah yang kita perbaiki. Sehingga semua menikmati kerugian. Pabrik di sini yang berkapasitas 30 ton TBS tidak terpenuhi. Karena sebagian produksi kebun mitra dijual di luar pabrik. Mengapa petani menjual sawit ke tempat lain? Mungkin harga TBS di pabrik tersebut terlalu murah? Bukan. Harga ditetapkan sama-sama. Yang berbeda adalah: kalau petani menjual tandan sawit ke pabrik milik perkebunan inti,

141

142

Raja Limbung

maka hasil yang dia terima harus dipotong angsuran pembayaran utang. Sementara di pabrik lain dia tidak kena potongan utang 30 persen. Kenapa? Karena kebun itu dulu perusahaan inti yang membangun. Jadi ini ada dua pabrik berjalan. Yang satu tidak terlibat membangun kebun. Kalau dijual ke pabrik tersebut, petani akan menerima utuh. Berbeda bila menjual ke inti, dipotong biaya plasma yang kemarin. Dari harga 10 dia terima cuma 7. Begitulah, memang banyak orang yang tidak setia membayar utang. Bukankah sertifikat dipegang oleh perkebunan inti dan bisa dijaminkan untuk mendapat utang oleh perusahaan? Memang sertifikat dipegang selama belum lunas utangnya. Itu dipegang oleh bank, bukan oleh perusahaan. Bank pemberi pinjaman. Nanti kalau sudah lunas, baru sertifikat diambil. Apakah ada jaminan bahwa sertifikat akan kembali ke petani, tidak diambil oleh pengusaha? Banyak kasus pengusaha tidak mengembalikan sertifikat petani... Pasti kembali, wong tanahnya dia. Kembali lagi, perusahaan tidak akan kembalikan sertifikat petani, kalau petani tidak melunasi utangnya. Jadi kadangkala kita hanya menuduh. Coba tanya ke petani, dia sudah lunasi utang belum. Itu aturan umumnya. Ekspektasi masyarakat terhadap sawit besar sekali, bahwa ini salah satu penyokong perekonomian nasional. Tapi, sejauh mana sawit menyejahterakan petani? Sangat. Tidak ada komoditi pertanian yang lebih memberikan hasil dari ini. Tidak ada petani yang memiliki jaminan pendapatan setiap bulan. Ini petani sawit mempunyai pendapatan bulanan. Satu juta hektare, minimal dapat Rp 1 juta. Sawit kan tiap bulan pasti

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

panen. Dua minggu sekali panen. Tentu ini bicara ketika kebunnya telah memasuki masa berbuah. Sebelum itu ya masa berjuang menanam. Tidak ada yang dihasilkan dari masa membangun, itu di mana pun. Kita bicara pada tatanan yang sudah produksi. Perkiraan Rp 1 juta per hektare itu menggunakan pola lama. Kalau pola baru diterapkan, malah akan lebih tinggi lagi karena produktivitas meningkat. Rata-rata petani memiliki 2 hektare. Itu karena harga sawit yang bagus. Soal harga sekarang sedang turun, itu biasa, namanya juga komoditi ekspor. Sawit ini bukan tanaman yang di kota, dia di remote area. Di mana saja sawit bisa ditanam di remote area. Kedua, di mana ada sawit, di situ pasti ada perkembangan daerah. Itu yang harus dilihat. Tidak ada daerah sawit yang tidak berkembang. Pasti terjadi pertumbuhan ekonomi di areal kebun. Lain dengan pabrik karet, yang dibangun di kota. Sementara karetnya ada di kebun. Pabrik coklat juga demikian, jadi semua bahan baku diangkut ke kota. Sawit tidak bisa. Semua harus dibangun di sekitar kebun, di pedesaan. Sehingga berputarlah roda ekonomi. Karena setiap minggu, setiap dua minggu terjadi dana yang bergulir di situ sekitar Rp 5 miliar tiap 2 atau 3 minggu untuk pembayaran tandan sawit hasil panen petani. Maka terjadilah pengembangan desa. Artinya, pengaruh sawit sangat besar di dalam perekonomian kita. Kira-kira berapa hektare lahan minimum yang mesti dimiliki petani untuk dapat hidup standar? Dalam pola yang baru ini kita minta 4 hektare. Dulu tahun 1980-an kita hitung dengan lahan 2 hektare sudah cukup untuk menghidupi keluarga, karena kebutuhan petani terbatas. Dulu mereka cukup naik sepeda. Sekarang naik motor. Sekarang kebutuhannya sudah berbeda. Mereka butuh menyekolahkan anak ke perguruan tinggi, dulu cukup SD.

143

144

Raja Limbung

Apa strategi untuk meningkatkan kepemilikan petani? Itulah, mengapa kita, kan tanah liar masih banyak. Itu sebabnya, sejak 2009, setiap perkebunan besar tidak boleh 100 persen memiliki kebun. Harus ada disisihkan lahan 20 persen untuk petani. Setiap penyerahan lahan oleh pemda, izin kebun, itu sudah ditulis 20 persen untuk petani. Lahan 20 persen itu dibangun dengan revitalisasi. Jadi pasti terjadi. Ada uangnya. Ada kreditnya. Itulah perubahan yang dilakukan, menyangkut luas areal dan manajemen. Perkiraannya, dengan pola ini petani bisa memperoleh penghasilan Rp 5-6 juta per bulan, setara dengan pegawai menengah. Sejak mulai program revitalisasi tahun 2007 konsep pemberian lahan 4 hektare ini berjalan. Ini bagian dari manajemen satu atap revitalisasi perkebunan. Menurut Anda, terkait refleksi satu abad perjalanan sawit di Indonesia, apa yang harus diperbaiki? Ada tiga hal utama yang menjadi rekomendasi kami, yaitu: Pertama, saling memupuk kepercayaan antara pemerintah, petani, dan pengusaha mitra. Karena sawit ini tidak mungkin dikembangkan tanpa pengusaha. Kalau tidak ada pabrik, tidak ada pembeli, bagaimana? Tidak mungkin petani yang membangun pabrik. Pasti pengusaha. Koperasi? Koperasi mana yang bisa? Investasi untuk membangun pabrik itu sedikitnya Rp 80 miliar untuk kapasitas 50-60 ton TBS. Sawit berbeda dengan karet yang bisa dibeli koperasi baru dijual ke kota. Tidak perlu pabrik di kebun. Ada petani yang tidak bermitra dengan pengusaha. Dia bisa saja survive. Dia bisa jual TBSnya ke mana-mana. Tapi petani inilah yang paling menderita atas naik-turunnya harga. Kalau harga naik, petani langsung menikmati kenaikan harga. Beda dengan petani mitra yang terikat harga TBS selama sebulan. Sebaliknya, kalau turun harga, petani independen pula yang paling kena dampak duluan. Petani mitra belum kena

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

145

penurunan harga. Intinya, masing-masing ada untung ruginya. Manajemen satu atap tidak diwajibkan oleh pemerintah. Petani mau manajemen sendiri, silahkan saja. Bebas. Tapi, kami sampaikan dalam aturan, bahwa manajemen satu atap ini pilihan yang menguntungkan. Pemerintah berkewajiban memberi informasi. Kedua, Ke depan, basis sebaiknya tidak cuma CPO. Industri ke depan jangan cuma CPO. Kita mulai masuk pada industri hilir lainnya. Sehingga nanti nilai ekspor kita tidak tergantung pada harga CPO. Tapi pada derivat yang kita sudah hasilkan. Saat ini prosentase antara CPO dengan derivat masih 50:50 persen. Diharapkan, dalam 10 tahun ke depan, paling tidak tinggal 20 persen dalam bentuk CPO. Kalau hanya CPO itu kan bahan baku biasa. Kita kan mau industri yang lebih maju, supaya harga lebih baik. Ketiga, pembangunan cluster industri, yakni dalam satu lokasi kita membangun berbagai macam derivat produk sawit. Saat ini telah ada tiga cluster berbasis sawit yang sekarang sedang dirancang. Pertama di Medan yakni Ke depan, di Semangke, kedua di Dumai, dan ketiga basis sebaiknya di Maloi - Kalimantan Timur, ketiganya tidak cuma dilengkapi pelabuhan ekspor. Ini akan CPO. Industri berkembang menjadi satu kluster industri. ke depan Selama ini pelabuhan ekspor sawit kita hanya dua, yakni di Belawan dan Dumai. Ini dikeluhkan oleh para pengusaha bagaimana antrian yang panjang di situ menyebabkan biaya mahal. Dengan tiga pelabuhan ekspor baru ke depan di tiga kluster tadi. Progres, sekarang sudah mulai. Di Sumatera Utara sarana awal sudah terbangun seluruhnya. Tinggal nanti 2011 membangun industri derivatnya. Industri dasarnya sudah. Di situ ada pabrik TBS yang menghasilkan produk untuk bahan baku powerplant, airnya di situ,

jangan cuma CPO. Kita mulai masuk pada industri hilir lainnya. Sehingga nanti nilai ekspor kita tidak tergantung pada harga CPO

146

Raja Limbung

untuk perumahan, perkantoran, dan pabrik. Itu semua akan selesai tahun 2010. tahun berikutnya industri masuk. Pabrik beroperasi 1-2 tahun, sekitar 2013-2014 sudah menjadi betul-betul industri yang berbasis sawit. Dibangun PTPN III Sumatera Utara sebagai lead, perusahaan negara. Dumai sudah jalan, tinggal nambah beberapa investasi. Pengembangan dari yang ada sebelumnya.

Bab 6

Kisah Danau Sentarum

148

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

149

Bab 6 Kisah Danau Sentarum

Sepenggal laporan perjalanan ke areal Danau Sentarum. Nafsu ekspansi kebun sawit terus menderas, tarik-ulur dengan kebutuhan masyarakat menjaga alam, sumber kehidupan sehari-hari.

USAT meringis. Lelaki paruh baya itu terus meraung dan memegangi hidungnya. Darah segar deras mengucur. Di hadapannya, Bantin, berdiri pongah. Bantin, dia anak kandung Usat. Bau arak yang menyengat meruap dari mulut pemuda berusia 30 tahunan itu. Hujan makian dalam bahasa Iban, bahasa lokal di Kapuas Hulu, juga tersembur. Usat tak berdaya. Dia digotong sejumlah orang yang segera melarikannya dengan sepeda motor ke rumah mantri kesehatan di pusat desa Sungai Tembaga, Empanang, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sembam, Kepala Dusun Sebindang, Sungai Tembaga, mengisahkan peristiwa nahas pada tengah malam Jumat, 14 Mei 2010 itu. Saat itu sejumlah penduduk sedang berkumpul membahas rencana kehadiran perkebunan sawit di daerah mereka. Sebindang, dusun mereka, adalah satu dari tiga dusun di Sungai Tembaga yang sebagian besar penduduknya menolak keras kehadiran perkebunan kelapa sawit. Dua dusun lainnya adalah Batu Pansap dan Semayos.

150

Raja Limbung

Malam itu Unja, pendukung perkebunan sawit, mengundang penduduk Sebindang ke rumahnya untuk membicarakan rencana kehadiran perkebunan sawit. Arak dihidangkan. Cawan demi cawan arak ditenggak tetamu. Pembicaraan juga semakin memanas. Mereka terbelah, ada yang setuju, sebagian yang lain menolak. Usat dan Bantin, bapak dan anak, juga berbeda kubu. “Usat tak setuju, sebaliknya Bantin setuju sawit,” kata Sembam. Menjelang tengah malam, hawa kian panas. Perbincangan semakin meninggi. Lalu, tiba-tiba, bak, buk..! Pemuda berbadan tegap itu melayangkan tinju keras ke hidung bapaknya. Darah membasahi baju dan menggenangi cawan arak di depannya. Pertemuan bubar. Lelaki berusia 50 tahunan itu dilarikan ke rumah mantri kesehatan Sungai Tembaga. Bantin pergi entah ke mana. “Daerah kami rawan. Anak bisa berantem dengan orang tuanya hanya gara-gara sawit,” kata Sembam. Keesokan harinya, dia membawa berita ada pembunuhan di Upak, desa yang berjarak sekitar 10 kilometer di sebelah utara Sungai Tembaga. Belum jelas siapa yang membunuh tapi menurut Sembam pemicunya juga kebun sawit. Ketegangan kerap dipicu agresivitas perusahaan membebaskan lahan untuk kebun. Wawan Kalimantan pun kepada perkebunan Wawan.

Hermawan, Kepala Perlindungan Dinas Perkebunan Barat, menegaskan bahwa tidak ada pemaksaan apa masyarakat untuk menyerahkan lahan mereka kepada sawit. “Sekarang bukan zaman Orde Baru lagi,” kata

Dia menyesalkan kampanye berbagai LSM yang menyebutkan perkebunan sawit menimbulkan dampak sosial negatif, lalu diekspos ke mana-mana. Kata dia, kampanye itu sama saja dengan menjual bangsa sendiri. “Padahal belum tentu benar, karena semua proses pengadaan lahan sesuai undang-undang,” kata Wawan. Faktanya, menurut Pastor Robert, setiap kali akan dilakukan

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia Seorang anak menyebrangi danau Sentarum menggunakan kapal boat, Kalbar, 14/05: Foto: TEMPO/Aditia Noviansyah

151

152

Raja Limbung

sosialisasi, pihak perusahaan hanya selalu mengikutsertakan aparat Muspika seperti aparat dari kecamatan, Koramil dan Polsek. “Mereka, aparat itu, hanya mendapatkan bayaran sebesar Rp 50 ribu-Rp 100 ribu untuk sekali pertemuan,” kata Robert. Bagi masyarakat yang sekian lama mengalami trauma kekerasan Orde Baru, kehadiran polisi dan tentara dalam pertemuan itu sama saja dengan pemaksaan untuk setuju pada tawaran perusahaan.

Si Jangguk Jackson Jangguk namanya. Dia adalah Kepala Desa Kekurak, Kecamatan Badau, yang setuju hutan-hutan di desanya ditanami sawit. “Lebih baik menjauh dari dia,” kata Ilah, aktivis LSM Riak Bumi Pontianak, yang mendampingi tim penulis menjelajah Badau, Suhaid, dan Empanang. Terlambat. Mobil Toyota pick up dua kabin, yang kami tumpangi rupanya menjadi pusat perhatian Jangguk dan kawan-kawannya. Ketika mengisi bahan bakar tak jauh dari tempat orang-orang itu berkumpul, Jangguk menghampiri mobil kami. Dia menunggangi sepeda motor berpelat nomor merah. Matanya tertutup penuh kacamata hitam. Sergahnya, “Dari mana kalian? Kenapa motret-motret? Dari LSM hah?”

Kami membisu. Sebelum kembali ke warung kopi itu, Jangguk menendang pintu mobil kami. Duk. “Babi kalian semua,”

Sepagi itu, dari mulut Jangguk sudah meruap bau alkohol. Kami tak ada yang menjawab. Saya mencoba menoleh ke belakang mobil. Di kejauhan terlihat beberapa orang yang berkumpul dengan Jangguk seolah menunggu perintah. Ilah mulai membuka suara dan menjelaskan singkat dalam bahasa Iban, bahwa kami bukan dari LSM. Jangguk tidak mau tahu. Dia mulai memainkan gas sepeda motor sebelum melarikannya dengan gegas. Setelah

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

berjarak sekitar 100 meter di depan mobil kami, dia memutar arah, berbalik mendatangi kami kembali. “Cepat kalian angkat kaki dari sini sebelum mendapatkan penyakit,” katanya. Kami membisu. Sebelum kembali ke warung kopi itu, Jangguk menendang pintu mobil kami. Duk. “Babi kalian semua,” katanya. Jangguk dikenal sebagai jagoan di seantero Badau, Empanang hingga di Kecamatan Lanjak. Hobinya menyabung ayam. Manajemen PT Sinar Mas Agro Resources & Technology (Smart) memberangkatkan Jangguk dan beberapa kepala desa setempat menuju Riau, awal 2010. Layaknya studi banding, rombongan Jangguk melihat-lihat kebun sawit yang dikelola Smart di Riau. “Kami bawa mereka studi banding ke Riau. Ada yang dari pemerintah daerah, ada juga tokoh masyarakat,” kata Bernard Ho, Manajer Umum PT Smart. “Ada yang berubah sikapnya terhadap sawit, ada yang tidak.” Smart, anak perusahaan Grup Sinar Mas, adalah milik keluarga taipan Eka Tjipta Widjaja. “Kami perkebunan sawit yang pertama yang masuk ke Kapuas Hulu, sekitar 2005-2006,” kata Bernard. Ada sembilan perusahaan perkebunan sawit dengan total lahan 165 ribu hektare yang ada dalam kendali Smart. Termasuk di antaranya, yang paling luas, adalah PT Kapuas Indo Farm dan PT Kartika Prima Cipta. Tokoh masyarakat Batu Pansap, Hendrikus Derawan bercerita, sehari setelah menghardik dan memaki-maki kami di Badau itu, Jangguk datang ke rumahnya. “Saya bilang kepada Jangguk: kamu jangan mengganggu desa saya, urus saja desa kamu sendiri,” kata Derawan.

Kota Texas di Kapuas Badau, sebuah kecamatan di Kapuas Hulu. Hutan yang dulu lebat wingit di wilayah ini telah berganti dengan perkebunan sawit.

153

154

Kawasan Kelapa sawit di kawasan Suku Iban, Kalbar, 14/05: Foto/Aditia Noviansyah

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Menyusuri jalan antara pusat kota Badau hingga ke Sungai Tembaga di Empanang, sekitar 30 menit, hamparan sawit seolah tak habishabis. Semuanya terbuka, semuanya seragam. Pokok-pokok sawit berjajar lurus. Sesekali tampak sisa-sisa pohon yang tumbang dan membusuk. Traktor dan eskavator sibuk menguruk tanah. Truk-truk berukuran sedang, hilir-mudik mengangkut bibit sawit dan pupuk. Bukit diratakan. “Masyarakat Badau memang mengharapkan ada perkebunan sawit dan lokasinya juga sesuai dengan aturan. Yang menolak itu hanya LSM-LSM,” kata Camat Badau, Achmad Salafuddin. Dia tak menjelaskan lebih lanjut ihwal ini. “Silakan temui saja mereka,” katanya. Luas Kecamatan Badau mencapai 70,8 kilometer persegi atau sekitar 0,23% dari luas Kabupaten Kapuas Hulu. Ada sembilan desa dan 21 dusun di kecamatan itu. Jumlah penduduknya lima ribuan jiwa. Mayoritas penduduknya beragama Katolik. Mata pencarian mereka berladang dan bertani. Hanya sebagian kecil yang berdagang dan beternak. Hingga 2008, Badau memiliki ladang dan lahan pertanian seluas 2.045 hektare dengan hasil produksi sekitar 1.000 ton per tahun. Hasil perkebunan penduduk yang terutama adalah lada dan karet yang diurus oleh sekitar 500 orang. ”Hasil tanaman kebun dan pertanian di jual langsung ke Malaysia,” kata Joni Mawang, sesepuh di Kampung Janting. Penduduk menerapkan sistem berladang begiliran: setiap kepala keluarga mengelola lima hektare dengan rotasi penggarapan lima hingga tujuh bulan. Periodenya, untuk waktu tebang dilakukan selama dua pekan pada saat membuka ladang, menanam di waktu masuk musim penghujan, dan panen di bulan Februari-Maret. Lewat cara itulah, sebagian besar penduduk Badau mencukupi

155

156

Raja Limbung

kebutuhan hidup. Kebanyakan dari mereka juga tinggal di rumah betang, rumah panggung panjang, yang dihuni beberapa keluarga keluarga. Bentuknya mirip ruko-ruko di perkotaan. Satu rumah betang bisa dihuni hingga 40 kepala keluarga. Sebelum kehadiran kebun-kebun sawit, Badau dijuluki sebagai Kota Texas. Pendatang (sebagian besar buruh sawit) datang dari berbagai kota seperti dari Jakarta, Surabaya, Semarang, dan lain sebagainya. Di sini banyak tempat hiburan malam yang menyediakan minuman keras dan pelacur. Perkelahian juga sering terjadi di sana. Warung-warung makan dengan menu daeri berbagai daerah, kioskios yang menyediakan ponsel berikut pulsanya, bengkel-bengkel mobil, dan vulkanisir. Semuanya serba ada. Pasokan listri berasal dari Malaysia. Begitu pula barang kebutuhan sehari-hari yang dijual di toko-toko. Para pedagang membeli ke Serawak setiap pekan dengan melintasi pos perbatasan lalu menjualnya kembali di Badau. Sisa kejayaan masa illegal logging tampak sesekali saat mobil mewah melintas, seperti Mercedes atau Pajero. Jauh sebelum heboh soal perkebunan kelapa sawit, Badau memang pernah menjadi pusat persinggahan sopir-sopir truk pengangkut gelondongan kayu selundupan. Kayu-kayu itu diangkut dari Batang Lupar, Badau, dan Empanang menuju Malaysia, yang hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kecamatan Badau. “Rumah makan saya, dulu, selalu penuh dengan pembeli,” kata Ina, pemilik warung di Badau. “Sekarang sepi. Hanya saat akhir pekan, buruh perkebunan sawit pulang ke Lanjak, mereka mampir makan.” Kini kejayaan illegal logging telah berlalu. Jalanan rusak tak terawat. Jarak tempuh Lanjak-Badau, yang dulu hanya 30 menit kini butuh tiga atau empat jam. Lewat jalan yang rusak total itulah, setiap hari truk-truk pengangkut pupuk dan bibit sawit milik perusahaan perkebunan.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Pertumbuhan Masyarakat Iban, Kalbar, 14/05: Foto/Aditia Noviansyah

157

158

Raja Limbung

Lebah, Arwana, dan Betutu Jika ingin cepat menjangkau Kapuas Hulu, maka pesawat ringan bisa mengantar Anda dengan jarak tempuh 1,5 jam dari Pontianak. Jadwal penerbangannya tak tentu. Ongkosnya Rp 600 ribu sekali terbang.

“Tak hanya budidaya ikan dan lebah madu yang bakal terancam sedimentasi lantaran sawit, fungsi Sentarum dalam daur hidrologi pun bakal terganggu.”

Melalui darat, jarak yang ditempuh kurang lebih 700 kilometer dan memakan waktu sehari semalam. Itu pun dengan syarat: tidak hujan karena jalan yang menghubungkan Pontianak dan Putussibau sebagian besar tidak beraspal. Untuk menggunakan perahu, speed boat dan sebagainya, bersiaplah menempuh jarak sekitar 850 kilometer.

Jumlah penduduk di kabupaten yang berbatasan langsung dengan wilayah Serawak, Malaysia ini mencapai 220 ribu jiwa. Mereka tersebar di 25 kecamatan, empat kelurahan, 208 desa dan 547 dusun. Sebagian besar dari mereka bekerja di ladang dan pertanian, dan nelayan di sungai Kapuas. Hanya sebagian kecil yang bekerja di pertambangan batubara, berdagang, dan menjadi pegawai negeri. Dari Pemda Kapuas Hulu diperoleh keterangan, persoalan utama kabupaten itu adalah pengangguran selain kemiskinan. Dulu, sebelum 2007, masyarakat Kapuas Hulu banyak yang bekerja di dalam hutan, membalak kayu illegal logging. Penghasilan yang diterima taka banyak, Rp 40-50 ribu per hari. Banyak dari mereka kemudian meninggalkan pekerjaan di sektor lain termasuk perkebunan, perikanan dan pertanian. Masalah muncul, ketika penebangan kayu gelap itu mulai dihentikan. Dampaknya sebagian penduduk Kapuas Hulu juga

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

mulai kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Itu terutama terjadi di wilayah-wilayah yang kawasan hutannya sekarang mulai ditanami bibit sawit, seperti di wilayah Suhais, Semitau, Batang Lupar, Badau dan Empanang. Pemerintah daerah lalu mencari solusi, antara lain dengan mengembangkan sektor perkebunan dan pertambangan. Awalnya masyarakat didorong membuka perkebunan karet. Melalui berbagai program pemberdayaan, pemerintah kabupaten menyerahkan bibit karet cuma-cuma kepada masyarakat. Pemerintah juga bermaksud mengembangkan wilayah Kapuas Hulu menjadi kawasan konservasi: membangun berlandaskan mandat konservasi sumber daya alam. Itu meliputi hampir 60 persen dari seluruh luas kabupaten, termasuk di dalamnya Danau Sentarum, danau terbesar di Kalimantan dan terunik di dunia. Danau itu ditetapkan sebagai kawasan taman nasional sejak 1999 melalui SK Menhut Nomor 34/Kpts-II/1999. Danau ini memang unik. Sekali setahun, terutama pada saat musim kemarau, Sentarum bisa kering total dan bisa dilintasi kendaraan seperti sepeda motor. Di musim hujan, ia berfungsi sebagai penampung air yang menjaga ekosistem di sekitarnya hingga daerah aliran Sungai Kapuas. Dengan daya tampung air sekitar 63 miliar kubik, menurut World Wide Fund Kalimantan Barat, Taman Nasional Danau Sentarum, adalah permata ekosistem dengani ratusan jenis fauna. Antara lain, mamalia 147 jenis (hampir 64% mamalia di Kalimantan terdapat di Sentarum), 31 jenis reptil salah satunya buaya katak (Crocodylus raninus) yang di Asia dinyatakan punah sejak 500 tahun lalu, 310 jenis burung, dan 265 jenis ikan yang jenis ikannya lebih banyak dari semua jenis ikan air tawar di seluruh benua Eropa. Dari danau seluas 132 hektare itulah sebagian penduduk di Kapuas Hulu menggantungkan kehidupan ekonomi mereka. Selain

159

160

Raja Limbung

sebagai sarana untuk mengangkut barang-barang dagangan, mereka juga membudidayakan berbagai ikan tawar. Tidak mengherankan, jika Kapuas Hulu menjadi kabupaten penghasil ikan air tawar yang cukup besar bagi provinsi Kalimantan Barat. Setidaknya 60 persen ikan air tawar yang ditangkap di Kalimantan Barat berasal dari bagian hulu sungai Kapuas. Kira-kira setengahnya dihasilkan dari Danau Sentarum. Data Dinas Pertanian dan Irigasi Kabupaten Kapuas Hulu menunjukkan, pada 2003 total hasil tangkapan ikan air tawar dari Sentarum mencapai 1916 ton, termasuk arwana dan toman. Dua jenis ikan itu menjadi primadona penduduk. Setahun sekali mereka memanen toman dan bisa mengantongi uang sekitar Rp 18 juta. “Kami menyebutnya ikan tabungan karena masyarakat biasa memanen, satu atau satu setengah tahun. Bisa mengumpulkan uang banyak. Bisa bikin rumah beli barang dan sebagainya,” kata Roni Mulyadi, eks Kepala Dusun Batu Rawan, Keboyan, Simbau. Di Suhaid, penduduk setempat memanfaatkan air sungai Suhaid dari Danau Sentarum untuk keperluan budi daya ikan arwana. Di sana ada sekitar 100 tambak ikan arwana milik masyarakat dengan nilai investasi mencapai Rp 200 miliar. Belakangan, Bupati Kapuas Hulu, Abang Tambul bermaksud mengembangkan daerahnya menjadi perkebunan sawit seluas 1,6 juta hektare. Tujuannya untuk mengundang investor agar mau berinvestasi di Kapuas Hulu, karena hingga 2003 tidak ada investor yang masuk ke Kapuas Hulu. Termasuk yang diundang, siapa lagi, adalah pengusaha perkebunan sawit. Pada 2009, tercatat sudah ada sekitar 300 ribu hektare lahan di Kapuas Hulu yang disetujui menjadi perkebunan sawit. Salah satunya milik PT Smart, anak perusahaan Grup Sinar Mas itu, yang akan mengembangkan perkebunan sawit seluas 160 ribu hektare hingga 2014 mendatang. Tambul berharap, saat sawit sudah mulai panen

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

sekitar 4-5 tahun mendatang, pendapatan penduduk akan naik. Kapuas Hulu akan menjadi kabupaten primadona di Kalimantan Barat. Penduduk dipersilakan saja jika ingin menanam karet. “Tapi, untuk pengembangan lebih luas lagi hingga kini belum ada investor yang berminat untuk karet. Yang berminat untuk kebun sawit banyak,” kata Tambul. Ada lima perusahaan perkebunan kelapa sawit yang mengelilingi kawasan Danau Sentarum, yakni PT Khatulistiwa Agro Abadi (17 ribu hektare) dan PT Kartika Prima Cipta (18 ribu hektare). Jumlah itu akan terus bertambah, karena sudah ada sembilan perusahaan yang telah mengantongi izin dan siap beroperasi di sekitar Sentarum. Perusahaan-perusahaan itu adalah PT Nusantara Mukti Sentosa, PT Bukit Prima Plantindo, PT Aneka Prima Pendopo, PT Plantana Razsindo, PT Setia Arto Mulia, PT Sawit Karunia Seriang, PT Sumber Sawit Sintang, PT Kirana Mega Tara, dan PT Mandala Agrisindo Perkasa. Ekspansi sawit di kawasan Sentarum ini tentu memicu kerisauan. Ekosistem di danau yang unik ini dikhawatirkan terganggu. Sebagian species mungkin telah hilang tanpa kita sadari. Ikan betutu, misalnya, salah satu andalan Kapuas selain Arwana. Harga betutu ini bisa Rp 100 ribu per kilogram. Ruswandi, nelayan di Sungai Suhaid, bercerita sekali panen ikan betutu ia bisa mengantongi Rp 5 juta. Tapi, itu dulu. “Setelah masuk sawit, sungai menjadi keruh. Ikan betutu sulit ditangkap, begitu juga uli atau udang,” kata Ruswandi. Tak hanya betutu yang hilang. Keramba dan bubu ikan juga tak lagi disinggahi ikan. Lebah madu juga mulai jarang. Pohon tinggi gagah, tempat madu bersarang, sudah banyak yang ditebang. Ruswandi tak tahu, apakah sawit yang menyebabkan ikan-ikan jarang berseliweran di Sungai Suhaid. Bisa saja ikan-ikan memang sudah tergerus penangkapan besar-besaran selama ini.

161

162

Raja Limbung

Syamsuri, aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Barat, yakin bahwa keberadaan kebun sawit memang jadi persoalan lingkungan. Sisa-sisa penggunaan pupuk pestisida oleh perkebunan sawit terbawa ke Danau Sentarum. “Itu berbahaya bagi air Sentarum dan ekosistemnya,” kata Syamsuri. Tudingan itu dibantah oleh Yanti, seorang pekerja di bagian pemupukan perkebunan sawit yang ada di Suhaid. “Itu ketakutan orang-orang kolam,” kata Yanti. Orang-orang kolam, yang dimaksud Yanti, adalah para penangkar ikan arwana. Masalahnya kata dia, jarak antara perkebunan sawit dengan kolam-kolam penangkaran dan Danau Sentarum lumayan jauh. “Tak mungkin pupuk turun karena pemupukan sawit tergantung takaran dan diserap akarnya. Buktinya sampai sekarang tidak ada ikan yang mati,” kata Yanti. Bernard, dari Smart membenarkan pendapat Yanti. “Sekarang ini, yang dipakai adalah pupuk organik, yang relatif tidak mengganggu lingkungan.” Budi Suryansyah, Kepala Seksi Wilayah II Semitau Taman Nasional Danau Sentarum, menjelaskan bahwa akibat negatif perkebunan sawit memang belum terlihat dan terasa. Dampak akan terasa jika kebun sawit sudah berumur tahunan. Perkebunan sawit di bagian hulu dan perbukitan di seputar Danau Sentarum, menurut Budi, dapat menimbulkan sedimentasi dan merusak ekonomi masyarakat nelayan di kawasan itu. “Sudah diprediksi, sedimentasi yang terjadi mencapai 25 sentimeter per meter, tumbuhan di sekitarnya akan melakukan invasi serta menutup permukaan danau,” katanya. Tak hanya budidaya ikan dan lebah madu yang bakal terancam sedimentasi lantaran sawit, fungsi Sentarum dalam daur hidrologi pun bakal terganggu. Budi tak bisa membayangkan jika Sentarum kehilangan fungsinya. Air dari Sungai Kapuas tidak akan tertampung di danau, melainkan langsung ke sungai. “Saat itulah bencana banjir mengintai wilayah di sekitar Sentarum,” kata Budi.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

163

Dikepung Lautan Sawit “Empu kami dulu mati dibunuh, dia dikubur di danau dekat hutan. Bangau namanya, itu burung tapi bukan burung. Untuk mengingat jasanya, hutan itu dihibahkan kepada anak cucu. Hutan itu tidak boleh diganggu,” kata Sukarna, pensiunan polisi pamong praja di Sungai Tembaga. Hutan terlarang seperti ini sesungguhnya cukup banyak di kawasan tepian Danau Sentarum.

“Empat tahun mendatang ketika sawit-sawit itu sudah dipanen, bisa saja konflik akan makin terbuka,” kata Derawan.

Namun, bukan pengusaha namanya jika tak gigih. Mereka dengan segenap akal, mencoba meluluhkan hati penduduk, membeli lahan dan menukar hutan dengan sawit. Joni Mawang, bekas Patih Kampung Janting, Badau, menegaskan bahwa warganya semua menolak perkebunan sawit. Sistemnya tidak adil jika dibandingkan dengan perkebunan sawit di Malaysia, begitu kata Joni

Joni tahu bahwa di Malaysia, ada dividen yang diberikan perusahaan kepada masyarakat dan pekerja. Hal itu tidak berlaku di Indonesia. Upah yang dibayarkan kepada pekerja juga relatif lebih besar dibandingkan dengan upah pekerja sawit di Kapuas Hulu yang hanya Rp 39 ribu per hari. Di perkebunan kelapa sawit Malaysia, bahkan pekerja yang sudah tua tetap digaji dan diberikan asuransi 150 ringgit per bulan. Masyarakat, menurut Joni Mawang, juga trauma dengan kehadiran investor sawit. Sebelumnya sudah ada dua perusahaan perkebunan kelapa sawit yang datang membuka hutan di wilayah Kampung Janting. “Dua perusahaan itu hanya mengambil kayu dengan alasan bangkrut,” kata Joni. Agresivitas ekspansi kebun sawit terus melaju. Menurut Syamsuri, dari Walhi Kalbar, bahkan ada sebuah desa yang

164

Raja Limbung

semua lahannya sudah tergadaikan kepada perkebunan sawit tapi penduduknya tidak tahu. Itulah Desa Sungai Tembaga, Empanang. “Desa itu semuanya sudah menjadi milik perusahaan. Persoalannya hanya tunggu waktu, mau melakukan pendekatan dengan cara kasar atau pendekatan dengan perusahaan karena secara de facto, hutan dan lahan mereka sudah Masyarakat, punya perusahaan,” kata Syamsuri.

menurut Joni Mawang, juga trauma dengan kehadiran investor sawit. Sebelumnya sudah ada dua perusahaan perkebunan kelapa sawit yang datang membuka hutan di wilayah Kampung Janting. “Dua perusahaan itu hanya mengambil kayu dengan alasan bangkrut,” kata Joni.

Hendrikus Derawan, tokoh masyarakat Empanang, mengakui bahwa tanah mereka memang sudah tergadai. Dari seluruh dusun yang ada di Empanang, kata dia hanya tinggal Empakang, Batu Ampar, Semayus, Batu Pansap, Sebindan yang menolak perkebunan sawit. “Dusun kami sudah terkepung. Seperti pulau di tengah lautan sawit. Tapi warga masih belum tidak tahu, tanah ini sudah digadaikan oleh Pemda ke perusahaan, termasuk tanah rumah yang saya tempati sekarang,” kata Derawan.

Derawan tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika warga tahu soal itu. Jika tak segera dicarikan solusi, letupan persoalan ini hanya tinggal soal waktu. “Empat tahun mendatang ketika sawitsawit itu sudah dipanen, bisa saja konflik akan makin terbuka,” kata Derawan. Baku pukul Bantin-Usat, bukan mustahil, bakal kian sering. Sebuah alarm serius bagi pemerintah setempat.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Sentarum terkepung sawit Sumber Dok. Sawit Watch

165

166

Raja Limbung

Bab 7

Kerontang dan Banjir

168

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

169

Bab 7 Kerontang dan Banjir

Mega perkebunan sawit memicu perubahan lingkungan yang dramatis. Air tanah tersedot, habibat yang sebelumnya damai tenteram jadi terganggu. Orang utan, juga manusia, kena dampak.

KEGUNDAHAN dan kejengkelan luar biasa memuncak di ujung batok kepala seorang petani di Kalimantan Barat. Air yang semula begitu mudah ditemukan, juga menghilang. Kerontang adalah pemandangan biasa. Padahal, di masa lalu, petani di sana dan juga masyarakat di sana, teramat mudah menemukan air. Sungai di sana masih dalam sehingga debitnya terjaga. “Kalau pun musim kemarau datang, air masih bisa ditemukan di badan sungai-sungai kecil,” kata Ruswandi. Pemandangan mengerikan pun terjadi. Kawasan tempat petani tinggal itu sebenarnya memiliki curah hujan tinggi. Saat kemarau datang, tanah mereka pecah-pecah, kering kerontang, dan penuh debu. Sungai-sungai menciut lebarnya karena airnya mendadak berkurang. Kini, untuk mencari air mereka membutuhkan bor untuk membuat sungai. Namun, harganya yang mahal membuat mereka hanya bisa menggantungkan harapan. Di kawasan lainnya, yakni di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, cerita tak jauh berbeda. Adalah Bapa Fritz, seorang pendeta

170

Raja Limbung

asal Eropa yang telah lama menetap di sebuah paroki di sana. Belakangan, desanya mengalami perubahan yang teramat radikal. Di saat musim panas, sungai ini tak beda dengan kondisi jalan yang tidak beraspal. Kering dan berdebu. Tak lama setelah perkebunan sawit muncul di sana, yakni pada dekade 1980-an, wajah di sana berubah. “Dua atau tiga tahun setelah perkebunan sawit dimulai, selama musim kemarau sungai menjadi kering, betul-betul kering. Tidak ada satu tetes air pun yang tersisa,” kata Fritz, seperti dikutip dalam laporan “Losing Ground”, terbitan Sawit Watch. Bapa Fritz tidak sekadar berucap. Selama lebih dari 25 tahun, dia mengukur ketinggian air di lebih dari dua belas sumur di paroki gereja yang telah dibangun dengan bantuan pribadi darinya. Dari tahun ke tahun, terlihat permukaan air kian mendekati permukaan air. Dengan kata lain, terus merangsek ke atas. Pada tahun 1983 , saat perkebunan sawit pertama muncul – permukaan air mendekati permukaan tanah dan menurun menjadi 2.5 meter di bawah permukaan tanah setelah perkebunan dirikan, kemudian naik menjadi 1.5 meter di bawah permukaan tanah, dan terakhir satu meter di bawah permukaan tanah. Sebaliknya saat musim hujan datang, semua berbalik. Air di sungai-sungai berlimpah tak keruan. Tak jarang meluber hingga ke pinggir sungai dan menggenangi daerah-daerah yang lebih rendah. Sudah pasti ada yang tidak beres dalam hal drainase. Munculnya, perkebunan sawit di daerah sekitar membuat perubahan yang drastis terhadap ekosistem. Siklus hidrologi --air hujan diserap tanah, disesap akar dan dedaunan, diminum hewan, masuk ke sungai atau badan air, lalu menguap naik ke udara, uap terkumpul menjadi awan yang akan turun sebagai hujan--sedikit banyak mengalami perubahan. Daya serap tanah dan pepohonan telah berkurang lantaran rimba lebat telah berganti menjadi kebun monokultur sawit.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Kerontang di musim kemarau, banjir bandang di musim hujan bahkan di areal perkebunan sawit Sumber: Dok. Sawit Watch

171

172

Raja Limbung

Perubahan drainase akibat dari bergantinya ekosistem secara radikal juga terjadi di beberapa daerah yang mengalami pembukaan hutan untuk kepentingan perkebunan sawit. Satu contoh yang terjadi adalah di Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam. Masih ingat banjir besar di sana pada 2006 lalu? Sebanyak 360 ribu orang terpaksa kehilangan tempat tinggal di Tamiang ketika itu. Korban meninggal dunia juga tidak sedikit, yakni 70 orang. Bencana ini kian menggenapkan duka penduduk di sana setelah sebelumnya disapu gelombang tsunami pada akhir 2004. Berbeda dengan gelombang tsunami yang tiba-tiba datang dari samudera, banjir di Tamiang ini murni karena kesalahan manusia dalam mengelola alamnya. Lagi-lagi sebabnya diduga adalah akibat keberadaan perkebunan kelapa sawit di sana. Sejak 1990an, setidaknya ada lima perusahaan perkebunan sawit yang dengan agresif membuka lahan di Aceh Timur. Sungai Tamiang, badan air yang penting, bahkan dikitari perkebunan dalam jarak yang berisiko membahayakan fungsi drainase sungai tersebut. Menurut Dinas Tanaman Pangan Pertanian dan Hortikultura, Kementerian Pertanian, kemungkinan ada kaitan antara pengembangan perkebunan dengan banjir. Perkebunan kelapa sawit adalah penyebab utama terjadinya banjir di Aceh Tamiang dan menyarankan untuk mengonversi beberapa perkebunan menjadi hutan untuk mencegah terjadinya banjir lebih lanjut. Selama pembangunan perkebunan, semua vegetasi dibersihkan dari lahan dan daya serap lahan berkurang karena meningkatnya pembangunan jalan besar dan jalan setapak, pemadatan tanah karena alat-alat berat serta musnahnya aktivitas hewan tanah. Beberapa ahli hidrologi dunia mengakui bahwa keadaan tersebut bisa meningkatkan aliran air permukaan dan akibatnya terjadi banjir yang meningkat selama musim hujan, sementara aliran air cenderung berkurang selama musim kemarau.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

173

Penyebab terjadinya kekeringan sungai adalah karena perusahaan menggali saluran air dari atau ke perkebunan. Hal itu untuk memastikan agar pohon-pohon kelapa sawit tidak terkena banjir. Namun, saluran air sering kali dibangun langsung dengan memotong aliran sungai atau sungai kecil sehingga mengganggu aliran air yang dulunya bisa diakses oleh masyarakat. *** WAJAH sawit memang rumit. Ada lapis demi lapis persoalan di sana. Di saat negeri ini bergiat dengan luar biasa untuk menjadi penghasil sawit terbesar di dunia, menjadikan sawit sebagai tambang emas baru, kenyataannya perkebunan yang satu ini menimbulkan banyak masalah. Benar, bukan hanya perkebunan sawit yang patut disalahkan dalam soal degradasi hutan. Pada 1980-1990an, illegal logging, pembalakan liar telah secara agresif menelan areal hutan. Pada 1998-1999 juga terjadi kebakaran hutan massal di Kalimantan dan Sumatera, ini juga periode penting yang menandai laju deforestasi. Lalu, memasuki 2000-an, laju ekspansi sawit mulai menggantikan posisi illegal logging sebagai biang keladi deforestasi di negeri ini.

174

Raja Limbung

Peta titik panas kebakaran hutan berdasarkan pantauan satelit NOAA. Sumber: Sawit Watch

Salah satu karakter khas sawit adalah monokultur. Tak boleh ada keragaman hayati seperti yang kita temui di dalam lazimnya hutan tropis yang lebat. Yang ada hanyalah deretan pokok sawit, berdiri teratur dengan kerapatan tertentu. Ibarat tarian, sawit adalah tari poco-poco. Semua langkah teratur. Nah, di dalam kebun sawit, tumbuhan dan hewan yang tidak berkepentingan – anggrek, aneka jamur, tanaman merambat, herba berkhasiat obat, monyet, gajah, orang utan, banteng, ayam bekisar – masuk kategori hama pengganggu. Jika perlu, mereka harus diburu dan dimusnahkan. Bahkan, tanpa perlu diburu, pembukaan lahan secara masif otomatis membikin habitat hidup hewan dan tumbuhan berubah. Tak sedikit

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

binatang, misalnya orang utan, banteng, macan, yang kehilangan rumah tinggal, kehilangan makanan hingga mereka menyingkir dan akhirnya mati.

175

Di dalam kebun sawit, tumbuhan dan hewan yang tidak berkepentingan – anggrek, aneka jamur, tanaman merambat, herba berkhasiat obat, monyet, gajah, orang utan, banteng, ayam bekisar – masuk kategori hama pengganggu. Jika perlu, mereka harus diburu dan dimusnahkan.

Kisah tragis yang belakangan banyak disorot adalah pembantaian orang utan (Pongo pymaeus mario) di hutan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Spesies langka yang dilindungi ini terpojok lantaran ekspansi kebun sawit milik PT Khaleda Agroprima Malindo, anak perusahaan Metro Kajang Holdings Bhd. Kasus ini terangkat, awal Desember 2011, setelah Markas Besar Kepolisian RI mendapat laporan ditemukannya tulang-belulang orang utan yang mati babak-belur akibat disiksa habishabisan (TEMPO, 26 Desember 2011). Laman berita BBC News menyebut sedikitnya 750 ekor orang utan di Kalimantan tewas diburu pada 2008-2009. Bukan salah pohon sawit tentu saja. Sejak belum dikembangkan menjadi komoditas untuk perkebunan, sawit sudah dikenal memiliki sifat yang rakus air. Akibatnya, sistem tata air pun terganggu. Sungaisungai mengering, danau-danau menyusut, air tanah pun menguap. Tanah merekah adalah pemandangan biasa saat musim kemarau. Selain itu, tajuk sawit dan longgar dan sistem perakarannya yang tidak seketat hutan hujan tropik basah membuat air hujan langsung meluncur memukul tanah menyebabkan erosi. Daerah sawit adalah kawasan yang gampang kehilangan butiran air subur. Ada beberapa pentunjuk kebun-kebun sawit lebih cepat tandus ketimbang wilayah lain.

176

Raja Limbung

Butir-butir tanah yang terseret kemudian meluncur ke sungai, menjadikan air keruh, badan sungai cepat dangkal karena terjadinya pengendapan, dan air sungai menjadi “subur”. Banyaknya makanan itulah yang kemudian mendorong ledakan organisme yang cenderung bersifat hama, misalnya eceng gondok. Akibatnya kebutuhan oksigen di dalam air terus meningkat lantaran ledakan organisme itu. Alhasil, hal ini berdampak pada penghuni sungai yang lebih dulu tinggal di sana. Ikan-ikan yang dulu nyaman hidup sungai-sungai dan danau di Kalimantan terganggu. Mereka kehabisan oksigen. Itu hanya sedikit dampak negatif yang ditimbulkan perkebunan sawit. Bila diperinci lebih jauh, setidaknya terdapat enam dampak perkebunan sawit bagi lingkungan hidup di Indonesia. Dengan luas lahan perkebunan sawit yang sudah mencapai 7,4 juta hektare, dampak negatif perkebunan sawit akan terus meluas seiring bertambahnya areal perkebunan. Masalah pertama tentu saja soal kabut asap. Saat perkebunan sawit akan dibuka, pembakaran lahan dengan api telah menjadi salah satu metode untuk membersihkan lahan sebelum ditanami sawit. Semakin tinggi tingkat ekspansi lahan, makin tebal kabut yang dihasilkan. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah merupakan kawasan yang tinggi ekspansinya. Semakin tinggi pembukaan lahan (land clearing), kabut asap pun semakin tinggi dan pekat. Penyakit pun segera berdatangan, satu yang pasti adalah munculnya penyakit infeksi saluran pernapasan akut. Alih fungsi kawasan merupakan faktor terbesar yang menyebabkan rusaknya kemampuan hutan sebagai kawasan penyerap air, penyimpan air, dan mendistribusikan secara alamiah. Dari sini, dapat disimpulkan terdapat hubungan erat antara intensitas banjir

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

177

yang meningkat dengan meningkatnya luas wilayah perkebunan sawit. Akibat lain adalah semakin sulitnya akses terhadap air bersih karena perusahaan sawit menguasai lahan tempat sumber air. Pembukaan perkebunan kelapa sawit juga berkontribusi pada pemanasan global dan perubahan iklim. Pembukaan lahan melalui pembakaran lahan dan konversi kawasan hutan dan rawa gambut telah menjadikan Indonesia sebagai negara penyumbang emisi CO2 terbesar ketiga di dunia. Dampak terakhir adalah penurunan drastis keanekaragaman hayati. Penurunan ini dikarenakan dikembangkannya model penanaman monokultur dalam skala besar. Karenanya jumlah spesies endemik semakin menurun. Burung pun enggan datang ke sana. Menurut artikel yang dimuat di Journal of Conservation Biology, Desember 2008, hanya seperenam dari spesies hewan yang hidup di hutan yang bisa bertahan hidup di kebun sawit. *** TIDAK kalah berbahaya adalah penggunaan bahan kimia untuk mendukung sistem perkebunan intensifikasi. Untuk memelihara perkebunan sawit di Indonesia, diperlukan 2,5 juta ton pupuk dan 1,5 juta liter pestisida secara reguler. Pemakaian bahan kimia ini menurunkan tingkat kesuburan tanah dan kualitas air di sekitar wilayah perkebunan menurun. Dampak yang langsung terasa adalah petani madu yang terancam tercabut sertifikat organiknya karena sawit menggunakan pestisida. “Sementara lebah terbang dengan radius sampai 60 kilometer,” kata Budi Suryansyah, Kepala Seksi Wilayah II Semitau Taman Nasional Danau Sentarum. Dampak bagi manusia? Itu yang paling parah, praktek pembuangan limbah oleh pabrik CPO secara langsung ke sungai di sekitar pabrik masih terus terjadi. Seorang tenaga kesehatan di

178

Raja Limbung

Sanggau menemukan bahwa di daerah-daerah sawit lebih banyak ditemukan bayi dengan berak darah. Kuat dugaan, ini terjadi akibat dari residu pestisida dan insektisida yang larut ke badan sungai. Mantri Darto, namanya. Dia bukan dokter tapi tenaga medis yang paling manjur di Sanggau, Kalimantan Barat. Dia membuka praktek di Bodok, di tanah kelahirannya, sejak 1987. Untuk mendongkrak kompetensinya, Pak Mantri masuk kembali ke bangku kuliah. Saat ini dia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat semester akhir pada Universitas Muhamadiyah Pontianak. Di garasi rumah, kliniknya kirip toko obat – yang tidak ada di Bodok. Di belakang mejanya berjajar kota-kotak obat seperti dijajakan di toko obat. Sore hari dengan celana kolor dan kaos oblong dia melayani pasien. Rileks sekali. Dahinya lebar, tapi wajahnya yang cerah dan mulutnya yang selalu tersenyum membuatnya seperti awet muda. Menurut Darto, dalam lima tahun terakhir, beberapa bayi mengeluarkan lendir darah saat mengalami diare. Aneh. Kejadian ini, menurut keterangan para sesepuh di seantero wilayah Sanggau, tak pernah dijumpai di Sanggau. “Terakhir mereka ingat, kejadian ini pernah ada sebelum tahun 1995,” kata Darto.

“Coba kalau mau teliti kandungan air Kali Beji itu, pasti banyak bahanbahan kimia berbahaya,” kata Pak Mantri.

Pak Mantri menduga bahwa ini dikarenakan adanya konsentrasi herbisida dan pestisida yang digunakan secara masif dan intensif dalam perkebunan sawit. “Tapi ini belum berupa kesimpulan ilmiah. Saya baru meneliti untuk bahan skripsi saya,” katanya sambil prihatin. Riset awal yang dilakukan Pak Mantri perlu ditindaklanjuti serius, oleh siapa pun yang peduli, demi mencegah hal-hal yang lebih buruk. Menurut Pak Mantri, ada satu sungai, Kali Beji, yang menjadi pusat konsentrasi herbisida

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

179

dan pestisida. Dua perkebunan besar diduga membuang pupuk dan pestisida ke badan air sungai itu. “Coba kalau mau teliti kandungan air Kali Beji itu, pasti banyak bahan-bahan kimia berbahaya,” katanya. Puskesmas Sanggau juga punya banyak cerita. Sejak lima tujuh atau delapan tahun terakhir, sejak rezeki sawit muncul banyak orang Bodok yang terkena berbagai penyakit. Satu di antaranya, serangan hipertensi. Ini biasalah. Gaya hidup. Orang kepingin serba cepat, serba instan. “Masak juga begitu, orang makin senang pakai bumbu masak yang sudah jadi,” kata Mantri Darto. Ancaman lain bahaya penularan virus HIV - AIDS, sindrom rontoknya kekebalan tubuh. Pengusaha, buruh, pedagang datang silih berganti, kebun yang sepi, dan semakin banyak tempat hiburan bermunculan, adalah ramuan yang tepat untuk penyubur perilaku seks tak aman. Apalagi tak ada penyuluhan di kebun-kebun mengenai bahaya HIV-AIDS. “Memang belum ada data yang bisa dijadikan pegangan,” kata Mantri Darto mengakui. “Tapi, kalau melihat gejala-gejala yang saya temui di lapangan, infeksi menular seksual meningkat, HIV-AIDS pun akan meningkat.” *** Memang tidak adil jika perkebunan sawit dicap hanya bisa memicu dampak negatif bagi lingkungan. Kebun sawit bukan mustahil juga memiliki dampak positif bagi lingkungan dan bukan hanya ekonomi. Di Brazil, misalnya, Rhett Butler, pendiri dan editor laman lingkungan Mangobay.com yakin bahwa perkebunan sawit justru bisa memperbaiki kualitas hutan Amazon yang tergerus kerusakan. Menurut Butler, lahan di sekitar Amazon banyak yang terdegradasi akibat digunakan sebagai areal peternakan skala besar. Nah, lahan yang telantar bekas areal peternakan inilah yang mestinya dialihfungsikan sebagai perkebunan sawit. Butler yakin,

180

Raja Limbung

jika dikelola dengan baik dan sadar aspek lingkungan, maka perkebunan sawit mendatangkan manfaat luar biasa. “Bahkan bisa menjadi penyelamat Amazon,” kata Butler. Namun, penulis ini memberi catatan, bukan perkebunan skala besar yang bisa menjadi solusi. “Perkebunan sawit skala kecil, dimiliki petani biasa, yang dikelola dengan benar,” tulisnya. Resep Butler yang terkesan simpel ini bukan tak pernah dicoba di Indonesia. Negeri ini memiliki 30 juta hektare lahan kritis yang tersebar di berbagai wilayah nusantara. Idealnya, lahan kritis kering kerontang inilah yang digunakan untuk ekspansi sawit. Hutan sebisa mungkin tidak disulap menjadi kebun sawit. Tapi, jurus ini tetap sulit dilaksanakan. “Lahan kritis di Indonesia ini tak jelas petanya, ada di mana dan punya siapa,” kata Abetnego Tarigan, Direktur Sawit Watch. “Angka 30 juta hektare itu rinciannya bagaimana juga belum jelas. Ayo, pemerintah, tunjukkan petanya pada kami,” kata Abetnego. Maroeli Sitompul, mantan eksekutif di PT Astra Agro Lestari, juga berpendapat serupa. “Kebanyakan lahan kritis itu adalah lahan sengketa. Tidak bisa begitu saja ditanami sawit kalau tak ingin jadi perkara,” katanya. Lagi-lagi, persoalan tenurial dan tumpang-tindih perizinan menjadi problem besar dalam hal ini. Begitulah, wajah perkebunan sawit memang kompleks. Sikap yang semata-mata menolak kebun sawit, atas nama menjaga lingkungan, juga terkesan naif. Desakan kebutuhan dunia, nilai sawit yang ajaib dan multifungsi, serta janji kue ekonomi yang dibawa sawit terlalu besar untuk dinafikan begitu saja. Formula perkebunan sawit yang sustainable, yang ramah lingkungan, dan menghormati peran petani tetap terus dinantikan. Gerakan ini, antara lain, muncul dalam bentuk dorongan internasional perkebunan sawit yang lebih ramah lingkungan dan sustainable dalam bentuk Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Petani, bankir, produsen, konsumen, NGO, dan wakil pemerintahan

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

berdiskusi dalam forum ini. Meskipun, harus diakui, jalan panjang menuju wajah perkebunan sawit yang ideal masih teramat panjang dan butuh kerja keras.

181

182

Raja Limbung

Air sungai bewarna hitam dan keruh akibat pemakaian pupuk dan pestisida berlebih Sumber: Dok. Sawit Watch

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

183

Pembantaian Berkedok Sayembara Polisi menangkap sembilan tersangka pembunuh orang utan di Kalimantan Timur. Setiap mayat orang utan dihargai Rp 1 juta. Kasus terungkap setelah tim dari Markas Besar Kepolisian diterjunkan mengusut pembantaian ini. *** TULANG-belulang terhampar di atas meja laboratorium Universitas Mulawarman, Samarinda. Ada tengkorak, tulang lengan, taring, dan jari. Semuanya sekitar sepuluh tulang dan tak ada yang utuh. Warnanya memutih. “Ini kerangka orang utan dewasa,” kata Yaya Rayadin, peneliti orang utan, yang menunjukkan tulang itu kepada Tempo, Senin pekan lalu. Warnanya yang putih, kata Yaya, pertanda ia dikubur tak begitu dalam. “Dikubur sekitar lima bulan lalu,” ujar Yaya. Usia orang utan itu sekitar 30 tahun. Tubuhnya tambun dan bobotnya saat hidup diperkirakan mencapai 120 kilogram. Namun ada yang aneh dari tulang-belulang itu. Di tulang lengan terdapat bekas sabetan benda tajam. Tulang jemarinya juga tak utuh, terputus-putus. “Orang utan ini tewas dibunuh,” kata Yaya menyimpulkan. Yaya menerima sepuluh tulang tersebut dari Kepolisian Resor Kutai Timur, Kalimantan Timur. Polisi hendak memastikan tulang itu adalah orang utan. Jika benar, ia akan

184

Raja Limbung

digunakan sebagai barang bukti di pengadilan. Tulang itu ditemukan terkubur di area kebun sawit milik PT Prima Citra Selaras di Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur. Orang utan itu diduga dibunuh pada 27 Mei 2011. “Pelakunya sudah kami tangkap Kamis dua pekan lalu,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kutai Timur Ajun Komisaris Sugeng Subagyo kepada Tempo. Mereka adalah Tajar, 60 tahun, Tulil (56), dan Rahman (57). Polisi masih mengejar Ijul, tersangka lain yang keburu kabur. Menurut Sugeng, keempat karyawan PT Prima ini melihat orang utan itu sedang mengudap tunas sawit yang baru ditanam di area perkebunan. Mereka lalu menangkap, menombak, serta menebas orang utan itu dengan parang. “Mereka merekam adegan itu lewat telepon seluler,” ujar Sugeng. Video rekaman itu juga dijadikan barang bukti untuk menjerat mereka. Peristiwa serupa terjadi di perkebunan sawit PT Sabhantara Rawi Santosa, Desa Jukaya, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Mandor kebun dan anak buahnya, yang oleh polisi diinisialkan Li, 32 tahun, dan Ta, 21 tahun, ditangkap akhir November lalu karena dituduh membunuh orang utan. Kepada polisi, keduanya berkukuh hanya mengikat orang utan yang mereka tangkap di area kebun pada Juli lalu. Namun bukti tulang orang utan yang polisi temukan berkata lain. “Mereka menyiksa satu ekor orang utan hingga mati,” kata Sugeng. *** Alangkah gembiranya Imam Muhtarom dan Mujiyanto menerima sebuah kabar pada pertengahan tahun lalu. Widiyanto, kepala kebun PT Khaleda Agroprima Malindo,

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

perusahaan perkebunan kelapa sawit, menawarkan pekerjaan kepada kedua pria berusia 32 tahun itu. Syaratnya, mereka harus punya anjing pemburu. “Kami ditawari menjadi tim pemburu monyet dan orang utan,” kata Imam, yang biasa dipanggil Gondrong, kepada Tempo. Syarat itu tentu saja gampang mereka penuhi. Selama ini, Mujiyanto punya 12 ekor anjing. Gaji yang ditawarkan pun menggiurkan. Per orang diupah Rp 1,2 juta tiap bulan. Ini masih upah mentah, belum bonus. Monyet yang mereka bunuh akan dihargai Rp 200 ribu per ekor. Harga orang utan lebih mahal. “Satu mayat orang utan dibayar Rp 1 juta,” ujar Imam. Tak sampai dua pekan setelah tawaran itu, perburuan dimulai. Menurut Imam, ada dua tim lain yang seperti mereka, berburu orang utan atas perintah PT Khaleda. Pembagian “wilayah kerja” diatur sesuai dengan kebun sawit seluas 16 ribu hektare di Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yaitu wilayah tengah, selatan, dan utara. Imam dan Mujiyanto berburu di wilayah selatan, di Desa Puan Cepak. Perburuan mereka mirip seperti berburu babi hutan. Ke12 anjing mereka lepas saat melihat ada orang utan. Anjinganjing itu kemudian menyerang orang utan. Di tengah pergumulan itu, Imam melepaskan tembakan: dor. Imam memang selalu membawa senapan angin saat berburu untuk menembak orang utan. Setelah tewas, orang utan itu mereka bopong, dikumpulkan dengan monyet hasil buruan, lalu disusun berjejer dan difoto sebelum dikuburkan di area perkebunan. Imam sendiri, sebagai ketua tim, ikut berpose di depan barisan bangkai

185

186

Raja Limbung

tersebut. Foto yang kemudian dicetak tersebut diserahkan kepada Widiyanto sebagai bukti. ”Jumlah orang utan dan monyet di foto itu nanti dihitung untuk upah kami,” kata Imam. Foto-foto inilah yang mengungkap aksi keji Imam dan kawan-kawannya. Seorang karyawan perkebunan pada September lalu menyerahkan foto itu kepada Center of Orangutan Protection (COP), lembaga yang sejak empat tahun lalu dibentuk untuk melindungi orang utan. COP membentuk tim investigasi dan menemukan 18 kerangka orang utan di area perkebunan di Desa Puan Cepak. “Temuan itu kami laporkan kepada polisi,” kata Area Manager COP Kalimantan Timur Arfiana Khairunnisa. Pada 19 November lalu, polisi menangkap Imam dan Mujiyanto. Imam mengaku baru membunuh dua ekor orang utan. Dari keterangan mereka, polisi mencokok Widiyanto dan Phuah Chuan Hum, Manajer Kebun Senior PT Khaleda. Sedangkan General Manager PT Khaleda yang juga warga negara Malaysia, Aru Mugem Samugem, kini jadi buron. Kedua pejabat perkebunan ini diduga memberi perintah pembantaian puluhan orang utan. Penyidik menyita dua bundel kertas berisi 20 faktur pembayaran perburuan orang utan, yang mencantumkan Rp 25 juta tiap fakturnya, dari kantor mereka. “Namun faktur ini tidak bisa menjadi acuan jumlah orang utan yang dibantai,” kata Kepala Polres Kutai Kartanegara Ajun Komisaris Besar I Gusti Kade Budi Harryarsana. Sembilan tersangka kini meringkuk di ruang tahanan dan dijerat dengan Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

187

Mengungkap pembantaian orang utan itu sendiri bukan perkara gampang. Pengungkapan di Desa Puan Cepak butuh waktu satu bulan sejak kasus ini diadukan ke polisi. Padahal bukti sangat banyak dan transparan. Media massa juga ramai memberitakan kasus ini. Sumber Tempo menyebutkan kemandekan itu terjadi antara lain karena salah satu komisaris PT Khaleda yang dimiliki pengusaha Malaysia itu adalah seorang purnawirawan jenderal polisi. Pembantaian itu mulai diusut serius setelah Markas Besar Kepolisian mengirim tim investigasi khusus dari Jakarta untuk menangani kasus ini. Para tersangka ditangkap, dan kasuskasus pembantaian orang utan di kawasan lain juga mulai dibuka lagi. Menurut sumber Tempo, kedatangan tim juga untuk mengusut siapa saja yang menjadi beking di balik pembantaian tersebut. Tapi Direktur Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Brigadir Jenderal Anas Yusuf menyanggah kabar bahwa kedatangan timnya untuk membereskan urusan bekingmembeking itu. “Kami hanya mensupervisi Polda Kalimantan Timur dalam kasus ini,” katanya kepada Tempo. *** Pemilik kebun sawit menganggap orang utan sebagai hama karena sering memakan daun sawit muda yang berusia di bawah satu tahun yang baru ditanam. Menurut Arfiana Khairunnisa, daun sawit muda sebenarnya bukan makanan utama orang utan. “Mereka terpaksa memakannya,” katanya. Orang utan kini kehabisan makanan utama, seperti dedaunan, buah, madu, dan semut, untuk bertahan hidup. Semua makanan itu menghilang seiring dengan meluasnya kebun sawit secara sangat cepat di area yang dulunya hutan habitat orang utan itu.

188

Raja Limbung

Arfiana dan timnya tak lantas puas dengan ditangkapnya para pembunuh orang utan tersebut. Ia menduga masih banyak kasus pembantaian orang utan yang belum terungkap di area kebun sawit. Media asing, misalnya, menurut dia, pernah menghitung sekitar 700 orang utan dibantai setiap tahun di Indonesia. Jumlah orang utan yang dibantai di Pulau Borneo ini diduga mencapai puluhan ekor sejak awal tahun lalu. Penduduk setempat tak tahu bahwa membunuh orang utan itu melanggar hukum. Bagi mereka, membunuh orang utan, kata Arfiana, sama dengan membunuh babi hutan karena hewan itu dianggap hama kebun. “Pengelola kebun sawit memanfaatkan ketidaktahuan ini dengan mengupah pemburu dengan kedok sayembara menangkap orang utan,” ujarnya. Imam alias Gondrong mengaku sama sekali tak tahu bahwa membunuh hewan hutan itu melanggar hukum. Saat direkrut sebagai karyawan kebun, ia tak pernah mendapat penjelasan soal itu. Niatnya hanya mengabdi pada perusahaan sawit agar digaji dan bisa menghidupi istri dan dua anaknya. Ia tak pernah membayangkan bahwa membunuh orang utan bakal mengantarkannya ke ruang tahanan. “Kalau tahu (dilarang), ngapain saya kerja begini,” katanya. Juru bicara PT Khaleda, Mirhan, menyatakan para tersangka itu hanya pura-pura tak mengerti bahwa membunuh orang utan dilarang. Perusahaan, kata Mirhan, justru membuat kebijakan melarang pembunuhan orang utan. Perintah perusahaan kepada para pemburu itu, ujar Mirhan, hanya mengusir orang utan dari area perkebunan, bukan malah membunuhnya. “Pembantaian orang utan itu tak pernah ada,” ujarnya. Mustafa Silalahi (Jakarta), Firman Hidayat (Samarinda)

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Terjebak di Rimba Sawit SEJAUH mata memandang, hanya ada hamparan kebun sawit di Desa Puan Cepak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kawasan yang diselingi perbukitan itu memang cepat berubah. Lima tahun lalu, sebagian desa itu masih dipenuhi hutan. Kini, bukan hanya kebun sawit, pabrik crude palm oil pun sudah gagah berdiri di sudut desa itu sejak setahun lalu. Kebun sawit di desa itu dimiliki PT Khaleda Agroprima Malindo, anak perusahaan Metro Kajang Holdings Bhd, milik pengusaha asal Malaysia. Tak tanggung-tanggung, mereka mengantongi izin membabat 16 ribu hektare lahan hutan itu menjadi kebun sawit. Penanaman dilakukan sejak 2007. “Kami sudah panen sawit satu kali,” kata juru bicara PT Khaleda, Mirhan, kepada Tempo. Perusahaan ini mulai disorot setelah polisi menetapkan status tersangka kepada General Manager PT Khaleda, Aru Mugem Samugem; Phuah Chuan Hum, manajer kebun senior; dan kepala kebun Widiyanto. Mereka dituduh memerintahkan pembantaian orang utan yang masuk ke perkebunan itu sejak tahun lalu. Phuah, warga negara Malaysia, dan Widiyanto sudah ditahan di Kepolisian Resor Kutai Kartanegara sejak dua pekan lalu. Sedangkan Aru kabur dari Pulau Borneo itu. “Polisi sudah melibatkan Interpol untuk mengejarnya,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Ajun Komisaris Sugeng Subagyo kepada Tempo.

189

190

Raja Limbung

Kondisi yang sama terjadi di Desa Jukaya, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur. Hutan di sana sudah disulap menjadi lahan sawit yang dikelola PT Sabhantara Rawi Santosa. Di Kecamatan Muara Ancalong, Kutai Timur, idem ditto. PT Prima Citra Selaras mengelola lahan hutan di sana menjadi perkebunan sawit. Kedua perusahaan ini bernasib sama dengan PT Khaleda: karyawannya ditahan karena dituduh membantai orang utan. Peneliti dari Universitas Mulawarman, Yaya Rayadin, menyebutkan saat ini ada sekitar 200 ekor orang utan yang terjebak di sekitar area kebun sawit milik tiga perusahaan tersebut. Perkebunan itu, kata dia, dulunya adalah habitat asli orang utan. Pengelola kebun tidak menyediakan kawasan konsesi khusus bagi para orang utan itu. “Mereka semakin terdesak hingga mencari makan di kebun sawit,” ujarnya. Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Timur Chairil Anwar menyebutkan, akibat pembantaian orang utan ini, pihaknya sedang memetakan kembali luas hutan di Kalimantan Timur. Pada 2001, Dinas mencatat luas hutan 14,6 juta hektare, sementara total luas provinsi itu 19 juta hektare. Perusahaan sawit itu menggunakan izin area penggunaan lain (APL), yaitu izin mengelola hutan menjadi kebun sawit. Tentang mereka menyerobot hutan lindung dan konservasi, Chairil belum bisa menjawab. “Kami belum bisa memastikannya,” katanya. Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari menebar ancaman. Ia menyebutkan akan langsung menghukum perusahaan yang ketahuan membantai orang utan. “Izin perkebunannya akan kami cabut,” ujarnya. Sesuai dengan semangat otonomi daerah, perusahaan tak perlu capek-capek ke Kementerian Kehutanan di Jakarta demi mendapatkan izin mengelola kebun sawit. “Izinnya ada di Bupati,” kata Chairil.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Perkara menghukum ini yang sulit. Sejauh ini, polisi menyimpulkan pembantaian orang utan itu merupakan inisiatif individu karyawan, bukan kebijakan perusahaan. Polisi masih kekurangan bukti. Apalagi Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya tidak mengatur spesifik hukuman terhadap perusahaan yang terlibat pembantaian hewan langka. (Mustafa S.)

191

192

Raja Limbung

Bab 8

Serasa Hilang Pijakan

194

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

195

Bab 8 Serasa Hilang Pijakan

“Dulu pengetahuan kami ada di pohon-pohon besar, sangat mudah mencari arah di hutan. Sekarang semua ditumbuhi pohon-pohon sawit, bagaimana mungkin kami tidak salah arah. Baris-baris dan jaraknya sama, batangnya sama, pohon sama. Kami dulu tidak kesasar, bisa lihat pohon, bisa memberi arah. Kalau sekarang, ke mana-mana sawit merata semua.” (Friends of Earth, Hilangnya Tempat Berpijak) Pengakuan itu disampaikan seorang pemuka suku Talang Mamak, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, dalam sebuah riset. Friends of Earth, LSM jaringan WALHI, yang menggelar riset tentang dampak perkebunan kelapa sawit bagi masyarakat pada Juli 2006. Pengakuan seperti ini, tentu saja, bukan khas milik suku Talang Mamak. Rasa terasing itu muncul di berbagai masyarakat adat ketika mereka mesti berhadapan dengan ekspansi besar-besaran perkebunan sawit. Musnahnya hutan berarti pula sirnanya sumber pengetahuan masyarakat. “Biasanya, kami mencari rotan di hutan. Bikin kalung, tas, gelang, keranjang dari rotan. Sekarang tak ada lagi,” kata Jahan, dari Suku Dayak Muluy, Passer, Kalimantan Timur. “Sekarang juga susah cari tanaman buat obat,” katanya. Tabib, sikerei, master tanaman herbal tradisional berkhasiat obat, kehilangan harta karun mereka : yakni ribuan spesies tanaman hutan yang punya daya hidup dan daya sembuh.

196

Raja Limbung

Tanah dan hutan, bagi masyarakat adat, adalah perpustakaan dan sumber hidup, tempat memperoleh dan menyimpan kembali pengetahuan lokal dan memori kultural selama berbilang generasi. “Hutan itu seperti ibu bagi kami,” kata Jahan. Agresivitas ekspansi sawit pun mengerus kekayaan kosa kata taksonomi. Aneka kosa kata yang berhubungan dengan perladangan atau perburuan, nama tumbuhan obat, tanaman buah, aneka serangga dan binatang lainnya, ikut lenyap. Para sesepuh mungkin masih ingat kosa kata itu, tapi mereka tidak bisa lagi menunjukkan benda atau tradisi rujukannya. Industri perkebunan sawit mengubah secara besar-besaran pola pemanfaatan lahan secara tradisional (polikultur) menjadi perkebunan monokultur. Ladang di pinggir hutan secara turun-temurun dikelola untuk berbagai kepentingan; untuk tanaman tahunan, seperti karet, kopi, atau damar, digabung dengan tanaman musiman seperti jagung, padi, buah, dan sayur. Masuk ke jantung hutan, budidaya tanaman lebih variatif, mulai dari rotan, buah asam, lebah madu, dan berbagai tanaman obat. Begitu hutan berubah menjadi kebun sawit yang monokultur, segala isi hutan harus hilang. Segenap sistem argofrestri dalam komunitas adat jadi berubah. Masyarakat adat juga kehilangan kendali atas tanah ulayat, seperti telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya. Penelitian berjudul Losing Ground, Friends of Earth, 2006, menyoroti hilangnya jati diri akibat kehilangan kedaulatan tanah ulayat ini. Komunitas adat yang menyerahkan tanah dan tenaga untuk perkebunan kelapa sawit pada saat yang sama kehilangan bagian inti identitas mereka sebagai masyarakat adat. “Mereka seolah pohon yang tercerabut dari akarnya,” kata Norman Jiwan, dari Sawit Watch, yang banyak mendampingi kemelut yang dialami masyarakat adat. “Menjadi buruh lebih sulit dan berat dibanding dulu, saat kami tinggal di hutan, bertanam dan menjala ikan,” kata seorang buruh.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

197

198

Raja Limbung

Reaksi masyarakat adat yang krisis identitas lantaran kehilangan lahan ini bermacam-macam. Sebagian warga adat Hibun dan Jangkan di Kalimantan Barat, misalnya, memilih menjadi pekerja tambang emas skala kecil. “Ini kerja berat. Apalagi, kami menggunakan bahan berbahaya seperti merkuri untuk memroses biji emas,” kata Serinus dari Sei Kodang. “Tapi, ini satu-satunya cara kami bertahan hidup.” Survival of the fittest menjadi teramat berat. Tak terkecuali bagi penduduk komunitas adat yang memilih sebagai buruh perkebunan. Menurut data Walhi Kalimantan Tengah (2004), penduduk Sembuluh yang bekerja di perkebunan sawit sebagai sopir, pengawas, bagian pembibitan, penanaman, panen, atau pemupukan. “Menjadi buruh lebih sulit dan berat dibanding dulu, saat kami tinggal di hutan, bertanam dan menjala ikan,” kata seorang buruh. Jam kerja buruh perkebunan sawit dimulai pukul 7 pagi sampai pukul 2 siang. Mereka bekerja dengan status Buruh Harian Lepas (BHL) dengan upah Rp 18.300 per hari.  Dalam satu minggu bekerja selama 7 hari, non stop. Libur hanya ada di perayaan hari besar dan Ahad. Jika masuk kerja saban hari, tanpa absen, dalam sebulan buruh sawit menerima upah Rp 549.000. Ada juga warga yang tak mau larut sebagai sekrup dalam mesin besar sawit. Sebagian masyarakat adat mencoba berjuang untuk mendapatkan kembali tanah mereka, sebuah upaya yang kerap berujung pada proses kriminalisasi. Mereka berhadapan dengan aparat hukum, pengadilan, penjara, juga dianiaya centeng dan preman yang disewa perusahaan. Praktik yang lazim terjadi, perusahaan menjanjikan pola kerjasama perkebunan Plasma-Inti kepada masyarakat yang menyerahkan lahannya untuk perkebunan sawit. Di Kalimantan Barat, misalnya, setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan tanah seluas 7,5 hektare untuk perkebunan kelapa sawit. Lima hektare dikelola oleh perusahaan, 2 hektare oleh penduduk bersangkutan. Pada kenyataannya, dua hektare kebun sawit tidak bisa mencukupi

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

kebutuhan hidup, terutama 4-5 tahun sebelum sawit laik dipanen. Satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah menjadi buruh perkebunan sawit. Ini juga jalan untuk merawat hubungan baik dengan perusahaan. Perubahan drastis pun terjadi. Mereka yang tadinya berjiwa merdeka di hutan, dengan beragam aktivitas, kini terkungkung sebagai petani plasma atau buruh perkebunan sawit. Kreativitas serta-merta menyusut. Dulu mereka lihai mengubah tanaman hutan menjadi karya bernilai ekonomi, seperti gelang rotan, tikar pandan, atau menenun kain tradisional. Kini, mereka mengandalkan hidup pada sawit dan menunggu upah dari perusahaan.

Tak Ada Tempat Buat Makam Keramat Janjinya, perusahaan menjaga hutan dan tak mengusik tempat keramat. Apa daya, janji tinggal janji tanpa bukti. “Empat lokasi kuburan nenek moyang kami diratakan dengan buldozer,” kata Buhari. “Empu kami dulu mati dibunuh, dia dikubur di danau dekat hutan. Bangau namanya, itu burung tapi bukan burung. Untuk mengingat jasanya, hutan itu dihibahkan kepada anak cucu. Hutan itu tidak boleh diganggu,” kata Sukarna, pensiunan polisi pamong praja di Sungai Tembaga, Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Hutan terlarang, tempat leluhur dihormati, tempat ritual yang menguatkan ikatan komunitas adat, seperti ini cukup banyak di kawasan tepian Danau Sentarum. Begitu juga di tempat-tempat lain di pelosok Kalimantan. Tapi, satu demi satu tempat keramat seperti ini digusur. Tak ada ruang bagi romantisme masa lalu, begitu anggapan para juragan sawit, di tengah gegap gempita emas hijau komoditas sawit. Maka, tradisi penghormatan kepada nenek-moyang seolah kehilangan pijakan. Tempat-tempat keramat, makam kuno, area

199

200

Raja Limbung

Buhari menunjukan lahan Samihin yang dijadikan perkebunan sawit Sumber: Dok. Sawit Watch

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

201

persembahan, yang dulu tersembunyi wingit di labirin hutan telah digusur dan dibakar saat pembersihan lahan (land clearing). Data Sawit Watch menunjukkan berbagai penggusuran makam keramat di Kalimantan. Pada 1996 masyarakat Sedawak, Kalimantan Barat, protes karena kuburan nenek moyang mereka dibuldozer PT Golden Hope. Sementara pada 1999, masyarakat dari Jempang, Muara Pahu dan Bongan, Kalimantan Timur, mengeluhkan penghancuran kuburan nenek moyang mereka oleh perusahaan London Sumatera Plantation. Pada 2000, Buhari dari masyarakat Samihim di Kalimantan Selatan menyampaikan di depan para pejabat di Jakarta. Sejak 1994, menurut Buhari, perusahaan kelapa sawit mulai membangun perkebunan mereka di lahan warga Samihim. Janjinya, perusahaan menjaga hutan dan tak mengusik tempat keramat. Apa daya, janji tinggal janji tanpa bukti. “Empat lokasi kuburan nenek moyang kami diratakan dengan buldozer,” kata Buhari. Kisah pahit senada terjadi di Desa Terusan, kawasan Manis Mata, Kalimantan Barat. Perusahaan sawit merusak makam nenek moyang masyarakat adat dan ladang seluas 100 hektare. Kisah terus berlanjut. Pada 2006, 150 makam nenek moyang di desa Engkadik Pade, Kalimantan Barat, diterabas buldozer saat land clearing kebun sawit.

Tercerabut dari Akar Kehadiran perkebunan sawit pun bukan hanya mendatangkan dampak fisik, tapi juga mengancam keberadaan lembaga adat. Perusahaan sawit kerap memanfaatkan

“Ada yang nawarin sepeda motor. Ada yang janji membangun jalan,” kata Jinan, dari Suku Dayak Muluy, Passer, Kalimantan Timur. “Kami tak mau karena hutan itu hidup kami.”

202

Raja Limbung

lembaga adat untuk mempengaruhi warga agar penguasaan tanah lebih mudah. Caranya, mereka mendekati para kepala adat dan memberi mereka aneka hadiah dan janji. “Ada yang nawarin sepeda motor. Ada yang janji membangun jalan,” kata Jinan, dari Suku Dayak Muluy, Passer, Kalimantan Timur. “Kami tak mau karena hutan itu hidup kami.” Keterlibatan lembaga adat dalam perkara pembebasan lahan, dalam berbagai kadar, telah merusak tatatan sosial. “Seharusnya, lembaga adat adalah tempat untuk penyelesaian konflik horizontal. Sayangnya, karena intervensi perusahaan dan kepentingan komersial, sebagian masyarakat adat telah kehilangan fungsi itu,” kata Norman Jiwan. Jika lembaga adat kian rapu, generasi muda di area perkebunan sawit juga punya kisah tersendiri. Mereka yang tidak bisa bertani memilih bekerja di kota lain atau bahkan di luar negeri. Gadis-gadis Suku Dayak Bidayuh, misalnya, lebih suka menjadi pramuniaga di kota atau menjadi pelayan kafe di sepanjang jalan Trans Kalimantan Highway. Kafe dan bar karaoke menjamur di perkotaan, di sekitar pabrik kelapa sawit dan kompleks pertambangan. Tetapi, tempat-tempat ini hanya kedok bagi usaha prostitusi yang melayani pelanggan yang bekerja di perkebunan, pabrik, dan pertambangan. Tak heran bisa Mantri Darto, di Kecamatan Sanggau, Kalimantan Barat, mendeteksi adanya peningkatan kasus infeksi menular seksual di area perkebunan sawit. “Bukan tidak mungkin, kasus HIV-AIDS juga meningkat,” katanya. Kepergian generasi ke kota untuk mencari pekerjaan membuat mereka kian tercerabut dari tanah leluhur. Sementara yang bertahan makin terpisah oleh adat dan budaya. Industrialisasi kebun sawit, yang serba masif dan seragam, telah menggantikan tempat ritual adat-istiadat.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Melalui upacara adatnya, Suku Dayak Muluy bertahan dari ekspansi perkebunan sawit. Sumber: Dok. Sawit Watch

203

204

Raja Limbung

Yang juga turut punah bersama derap sawit ini adalah keterampilan membuat perahu. Warga Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, selama berbilang generasi dikenal sebagai pembuat perahu yang ulung. Mereka membuat jukung, perahu, dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang kokoh. Pembeli perahu datang dari berbagai penjuru tanah air lantaran begitu sohor indah dan kuatnya perahu buatan pengrajin Sembuluh. Celaka, seiring derasnya illegal logging dan pembukaan hutan untuk perkebunan sawit, kayu ulin menjadi langka. Para pengrajin tak lagi bisa memproduksi perahu tradisional. Perlahan, keterampilan membikin perahu pun hilang. Kini, Danau Sembuluh tak lagi bisa membanggakan diri sebagai kawasan pengrajin perahu nomor wahid.

Kolom

Perang Tanding RSPO vs ISPO

206

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

207

Kolom Perang Tanding RSPO vs ISPO Oleh Mansuetus Alsy Hanu

Enam tahun setelah RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) lahir, persawitan Indonesia dikejutkan munculnya ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Keduanya sama-sama menginginkan pembangunan industri persawitan yang berkelanjutan. Keduanya mendorong agar perkebunan sawit menjaga kesehatan lingkungan, menghormati hak-hak buruh dan masyarakat lokal. Bedanya, RSPO lahir sebagai forum bersama sekelompok pemain raksasa sawit, mulai dari konsumen, pekebun, pedagang, bank, hingga LSM -- sedangkan ISPO digagas oleh Pemerintah Indonesia. RSPO mengembangkan standar pengelolaan kebun sawit lestari selama bertahun-tahun, melalui proses rembug terbuka yang melibatkan seluruh stakeholder sawit, termasuk petani, buruh dan masyarakat adat. Sementara itu, ISPO mengandalkan penyusunan standar oleh lembaga resmi, yakni pemerintah, perusahaan perkebunan, dan satu komisi yang disebut sebagai Komisi Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia.

208

Raja Limbung

Menilik anggotanya, RSPO yang berpusat di Swiss itu memang didominasi oleh sejumlah perusahaan kelas dunia, di antaranya Unilever dan Nestle (dua konsumen terbesar produk minyak sawit asal Eropa), Cargill (pedagang minyak sawit terbesar dunia dari Amerika Serikat) dan Wilmar Internasional (salah satu pekebun sawit terbesar dunia yang terdaftar di bursa Singapura). Dengan anggota perusahaan-perushaan multinasional kelas berat itu, tak mengherankan jika RSPO seringkali dituding sebagai alat kapitalis yang mewakili kepentingan ’Barat’. Forum bersama yang dikenal rewel dalam memegang prinsip kelestarian itu kerap dianggap sebagai bentuk dominasi asing untuk menekan negara produsen. Ketika Unilever (kini menjabat Presiden RSPO) dan Nestle menghentikan pembelian CPO dari Sinar Mas yang dituduh melalaikan keselamatan lingkungan, tahun 2010 lalu, label RSPO sebagai lembaga yang mempersulit akses perusahaan nasional ke pasar Eropa, justru semakin kental. Meskipun dianggap mengibarkan kepentingan ’Barat’, kehadiran RSPO kala itu sulit dihindari karena lembaga ini merupakan satusatunya ’tiket masuk’ ke pasar Eropa – satu dari tiga besar pasar minyak sawit dunia selain China dan India. Minyak sawit yang lolos sertifikasi RSPO mendapat iming-iming harga premium di atas harga pasar. Selain itu, di masa depan, Eropa bertekat untuk hanya membeli produk sawit berkelanjutan. Belanda, misalnya, telah menetapkan batas waktu tahun 2015 untuk mengkonsumsi 100 persen minyak sawit yang telah disertifikasi. Namun sulit pula dibantah, Eropa bukanlah pasar utama minyak sawit Indonesia. Sejauh ini, hanya 10 persen CPO kita yang masuk ke Eropa -- sebagian besar lainnya masih mendarat ke negara-negara Asia, yang belum menerapkan prinsip dan kriteria RSPO. Dari sudut pandang pasar, mudah dipahami jika banyak yang menilai ISPO dilahirkan sebagai upaya ’tandingan’ terhadap sertifikasi RSPO. Indonesia seperti ingin menyatakan bahwa sebagai produsen sawit terbesar dunia kita tak ingin didekte, bahwa kita menganut standar

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

209

210

Raja Limbung

pengelolaan kebun sawit berkelanjutan ciptaan kita sendiri. Toh, kalaupun Eropa menolak ISPO, kita punya pasar yang sangat besar di Asia -- ngapain mesti repot menuruti kebawelan Eropa, begitulah kira-kira logikanya. Untuk memperkuat posisi ISPO, pemerintah menetapkan standar ini sebagai pedoman pembangunan perkebunan sawit berkelanjutan yang sifatnya mandatory alias wajib dilaksanakan semua perusahaan sawit yang beroperasi di Indonesia. Pemerintah memasang target pada 2012 nanti, ada 15 – 20 perusahaan yang telah disertifikasi ISPO. Untuk menangkis tudingan miring Barat, pemerintah menyatakan bahwa ISPO dibentuk demi ’keamanan investasi’ dengan proses sertifikasi, sama seperti RSPO. Kelahiran dua standar, ISPO dan RSPO, ini tentu memicu kebingungan, terutama di kalangan terbawah: petani dan buruh kelapa sawit, serta masyarakat adat. Mereka bertanya-tanya, standar mana yang harus dipilih? Masyarakat adat, yang biasa memanfaatkan forum RSPO untuk mengajukan keberatan dan complain atas pelanggaran perkebunan sawit, misalnya, kini tak tahu kemana harus menyalurkan keluhannya. Masyarakat sipil yang ingin mendorong reformasi di perkebunan sawit seringkali tidak tahu mesti berkliblat kemana. Kedua standar itu boleh jadi mirip satu sama lain, namun telaah yang lebih dalam menunjukkan perbedaan beberapa prinsip mendasar. Telaah dilakukan dengan sudut pandang bahwa standar pembangunan berkelanjutan haruslah mengangkat martabat petani, buruh dan masyarakat adat yang selama ini digusur kemandirian, kedaulatan dan kesejahteraannya atas nama pembangunan perkebunan kelapa sawit skala besar. Sejumlah konflik yang terus meredak dalam perkebunan kelapa sawit besar, baik berupa demonstrasi, aksi pendudukan lahan, keributan seputar harga tandan buah segar, hingga penangkapan dan bahkan insiden penembakan petani oleh aparat kepolisian

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

211

menunjukkan satu hal: sistem perkebunan kelapa sawit yang ada saat ini sudah tak layak lagi bagi kehidupan rakyat sebuah negera merdeka. Petani, buruh kebun dan masyarakat adat memerlukan pembaruan sistem yang telah bercokol sejak zaman kolonial ini. Salah satu tuntutan Sejumlah konflik mendasar adalah pembagian peran yang yang terus tegas: perusahaan besar hanya bergerak meredak dalam di sektor hilir (industri pengolahan, perkebunan pengembangan produk), dan menyerahkan kelapa sawit sektor hulu (penghasil bahan baku) kepada besar, baik berupa petani. demonstrasi, Meskipun kedua standar sertifikasi itu mustahil dapat mengakomodasi tuntutan dasar tersebut, setidaknya ISPO dan RSPO dapat mendorong tata kelola perkebunan yang berkeadilan. Artinya, pembangunan perkebunan skala besar masih dibolehkan asal memenuhi kaidah pembangunan berkelanjutan. Pertanyaannya, apakah keduanya memenuhi jaminan pembangunan kebun untuk petani sesuai standar, transparansi dan penentuan besaran kredit dan pola kemitraan. Kenyataan di lapangan menunjukkan, petani plasma kerap tak mendapat haknya. Petani memang menerima kebun, tapi jumlahnya lebih ciut dari jatah semestinya, mutunya jelek (tak terawat) atau kerapkali penyerahannya molor bertahun-tahun melebihi batas waktu yang ditetapkan.

aksi pendudukan lahan, keributan seputar harga tandan buah segar, hingga penangkapan dan bahkan insiden penembakan petani oleh aparat kepolisian menunjukkan satu hal: sistem perkebunan kelapa sawit yang ada saat ini sudah tak layak lagi bagi kehidupan rakyat sebuah negera merdeka

Petani plasma di Desa Pias, Kecamatan Long Kali, misalnya, rugi besar gara-gara PTPN XIII gagal

212

Raja Limbung

menyerahkan kebun yang layak. Padahal, biaya pembangunan kebun yang tidak layak ini harus ditanggung petani dalam bentuk kredit bank senilai biaya pembangunan kebun yang layak. Kejadian serupa juga terjadi di kebun PT. KGP dan PT. BKP di Sanggau, Kalimantan Barat, serta dan PT. TBS di Kuansing, Riau. Di Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser (Kaltim) dan Parindu, Kabupaten Sanggau (Kalbar), petani plasma yang mengikuti program replanting (peremajaan) harus menanggung kredit yang besarnya ditentukan sepihak oleh perusahaan tanpa melibatkan petani peserta. Pendeknya, tak ada transparansi. Petani plasma merasa dipermainkan, dan dikibuli. Untuk menghadapi persoalan itu, ISPO sama sekali tak menyebut soal transparansi satuan biaya perkebunan kepada petani. Prinsip-prinsip ISPO hanya mengatur partisipasi masyarakat serta alternatif bentuk dan besarnya ganti rugi tanah. Selain itu, dalam hal standar kebun, ISPO hanya berpatokan pada peraturan perundangan yang mewajibkan pembangunan teknis budidaya dan pabrik pengolahan kelapa sawit, sehingga membuka kemungkinan perusahaan membangun kebun petani dengan mutu di bawah standar. Sebaliknya, RSPO mengatur soal transparansi secara spesifik dengan menyebutkan nama data dan informasi yang harus diberikan kepada petani atau kelembagaan petani, antara lain, kontrak atau MOU, sertifikat hak milik/surat tanah, rekaman terkini utang dan pembayaran, potongan dan biaya, tata cara penghitungan harga TBS, serta pelibatan petani dalam ketentuan utang dan prosedur pembayarannya. Dalam hal pembangunan kebun petani, RSPO mengatur partisipasi publik sehingga petani dapat menegosiasikan kebun yang tak sesuai standar. Soal lain yang sering menjadi sumber konflik antara petani plasma dengan inti adalah harga TBS (tandan buah segar), yang menjadi ’nyawa’ petani. Ketika harga kelapa sawit anjlok tajam

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

213

tahun 2008, banyak petani di Jambi yang masuk rumah sakit jiwa lantaran bangkrut. Tak terhitung betapa banyak anak yang harus putus sekolah saat itu. Celakanya, sistem penetapan harga TBS yang ada saat ini lebih berpihak kepada pemilik pabrik, bukan petani. Ini tampak dari keputusan pemerintah yang membebankan sebagian biaya pengolahan limbah pabrik, penerangan pabrik dan ongkos pengangkutan CPO kepada petani. Mestinya, beban tersebut jadi tanggungan pemilik pabrik pengolahan. Beban potongan yang dikenal sebagai ’indeks K’ ini memangkas penerimaan petani hingga Rp 350 – 400 untuk tiap kilogram TBS “Buruh merupakan yang mereka panen. aktor penting ISPO memang mengatur soal TBS, tapi demi kepentingan pabrik. Salah satu prinsip dalam ISPO menyebut bahwa TBS yang diterima ’harus sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan’. Sementara itu RSPO mengatur agar pabrik harus berlaku adil dan transparan terhadap petani. Bukan itu saja, RSPO bahkan secara rinci mengatur tata-cara penghitungan harga, prosedur penetapan harga, termasuk aturan grading di dalam pabrik.

dalam peningkatan produksi sawit yang membuat Indonesia menjadi produsen minyak sawit nomor satu di dunia. Pemerintah bangga dengan gelar ini, tapi lupa: aktor penting itu jarang diperhatikan.”

“Buruh merupakan aktor penting dalam peningkatan produksi sawit yang membuat Indonesia menjadi produsen minyak sawit nomor satu di dunia. Pemerintah bangga dengan gelar ini, tapi lupa: aktor penting itu jarang diperhatikan.” Selain memperbaiki nasib petani, paham pembangunan berkelanjutan mestinya juga meningkatkan martabat dan kesejahteraan buruh. Berbeda dengan petani yang punya modal lahan,

214

Raja Limbung

buruh sawit hanya mengandalkan tenaga untuk mendapatkan upah: mencangkul, memungut brondolan, memupuk, menyemprotkan pestisida, menggotong tandan sawit, dan sebagainya. Di balik setiap sukses perusahaan sawit mencetak laba, selalu ada ratusan atau ribuan buruh yang telah bekerja keras. Buruh merupakan aktor penting dalam peningkatan produksi sawit yang membuat Indonesia menjadi produsen minyak sawit nomor satu di dunia. Pemerintah bangga dengan gelar ini, tapi pemerintah lupa: aktor penting itu jarang diperhatikan. Setiap perkebunan sawit memiliki begitu banyak buruh-harian-lepas atau tenaga kontrak yang upahnya di bawah standar, kesehatannya tak dijamin dan hidupnya kapiran. Dalam hal buruh, ISPO mengatur soal keselamatan dan kesehatan kerja, pelarangan diskriminasi dan pemanfaatkan pekerja anak-anak. Selain itu, ISPO mengharuskan perusahaan agar memiliki sarana untuk kesejahteraan pekerja seperti perumahan, poliklinik, sarana ibadah, pendidikan dan olah raga. Namun ISPO tak menyinggung sedikitpun soal status buruh-harian-lepas yang tak mendapatkan perlindungan dari perusahaan. ISPO juga menetapkan standar upah buruh kebun sebatas dengan upah minimum regional (UMR). ISPO juga tak menyinggung penyelesaian perselisihan kerja yang amat menentukan nasib buruh. Jika terjadi konflik, buruh lazimnya tak diberi ruang untuk berdialog. Karena posisi tawarnya rendah, umumnya mereka diintimidasi atau bahkan dipecat. Puluhan buruh sawit di PT. Tapian Nadengan di Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, misalnya, dipecat gara-gara berdemonstrasi menuntut upah yang di bawah UMR. Dalam soal buruh pun, sekali lagi RSPO lebih maju ketimbang ISPO. Dalam salah satu kriteria disebut bahwa upah karyawan harus selalu memenuhi paling tidak standar minimum industri dan ’memenuhi kebutuhan hidup yang layak’. Kondisi kerja dan upah buruh-harian-lepas juga harus ’sesuai perjanjian yang ditetapkan

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

secara transparan dan tanpa paksa’. Sementara itu, dalam hal perselisihan kerja: ’mekanisme penyelesaian perselisihan harus dibuat lewat kesepakatan terbuka dengan pihak yang terkena dampak’. Selain petani dan buruh, masih ada satu elemen penting yang mestinya menjadi perhatian penuh pembangunan kebun sawit yang berkelanjutan: masyarakat adat. Sejak dulu sampai sekarang, konflik antara perusahaan dan masyarakat adat, terus terjadi. Di antaranya konflik antara masyarakat Anak Nagari Rantau Pasaman, Sumbar, dengan PT. Anam Koto yang merampas tanah hak milik masyarakat atau PT. Global yang merampas hak masyarakat adat dayak di Sanggau, Kalbar. Izin lokasi yang diberikan pemerintah, terkadang tumpang tindih dengan kawasan masyarakat. Hadirnya perusahaan besar seolah-olah kemudian menghilangkan hak kehidupan masyarakat adat yang sangat bergantung kepada hasil hutan dan hasil ladang. Tak jarang, tanpa sosialisasi perusahaan begitu saja membuka kebun tanpa mendapatkan persetujuan masyarakat. Jika masyarakat melawan, perusahaan tak segan-segan menggunakan aparat untuk menangkapi rakyat. Di Biru Maju, Kalteng, misalnya, PT. BAS menggunakan polisi dan tentara untuk ’mengamankan’ pembukaan lahan. Celakanya, ISPO tak mengatur soal perampasan lahan, pembukaan kebun yang tak disetujui masyarakat atau kriminalisasi publik. ISPO hanya mengatur proses dialog jika ada sengketa tanah dan mengatur kompensasi. Dalam beberapa kasus, petani tak memerlukan kompensasi, tapi: adanya lahan kelola yang dapat diolah secara mandiri. Jika musyawarah mentok, ISPO mengatur penyelesaian sengketa harus melalui jalur hukum. Di sinilah soalnya: masyarakat biasanya tak memiliki alat bukti hak milik, karena kawasan tersebut merupakan wilayah kelola adat. Di lain pihak, perusahaan memiliki alat bukti berupa Ijin Usaha Perkebunan dari Pemerintah.

215

216

Raja Limbung

Sementara itu RSPO dengan tegas menetapkan bahwa penanaman kebun hanya bisa dilakukan dengan persetujuan masyarakat lokal. RSPO juga menggunakan prinsip FPIC (Free Prior Inform Concern) yang bermakna masyarakat memilki hak untuk mendapatkan informasi sebelum sebuah proyek investasi dilakukan. Berdasarkan informasi tersebut, publik secara bebas tanpa tekanan dapat menyatakan setuju atau menolak. Sulit dibantah, dengan paparan di atas, harus diakui RSPO lebih komprehensif ketimbang ISPO yang lemah dalam melindungi hak-hak minimum petani kelapa sawit, buruh dan masyarakat adat. Padahal, ISPO yang didaku pemerintah sebagai amanat UUD 1945 mestinya punya standar yang tinggi dalam melindungi hak-hak warga negara. Mestinya, pemerintah dan pengusaha perkebunan lebih tanggap dalam memenuhi tuntutan masyarakat sekaligus memperbaiki praktik perkebunan. Boleh jadi, pemenang pertarungan sertifikasi ini akan ditentukan konsumen. Pasar Asia yang ’lebih longgar’ mungkin bisa menerima sertifikasi ISPO. Namun, tanpa komitmen kepada petani, buruh dan masyarakat sulit bagi ISPO untuk menggaet dukungan publik. Terlebih lagi, prinsip keberlanjutan dari produk kelapa sawit yang disertifikasi ISPO akan tetap dipertanyakan.

Epilog

Menatap Zaman Baru

218

Raja Limbung

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

219

Epilog Menatap Zaman Baru

Zaman terus bergerak, bergegas. Pada Oktober 2011, jumlah penduduk dunia telah mencapai 7 miliar jiwa. Ini berarti dua kali lipat jumlah penduduk dunia setengah abad silam. Tak lama lagi, tak sampai tiga dasawarsa, pada 2050, bumi diperkirakan disesaki 9 miliar manusia. Sudah tentu tantangan yang dihadapi dunia bakal kian kompleks. Pangan adalah salah satu tantangan paling serius yang dihadapi dunia kini dan esok. Era pangan murah dan berlimpah segera--bahkan telah lama--usai. Populasi manusia yang membengkak menuntut produksi pangan mutlak digenjot secara signifikan. Laporan Food and Agriculture Organization (FAO) dalam How to Feed The World in 2050 menunjukkan, produksi sereal dan biji-bijian, misalnya, harus dapat didongkrak dari dua milar ton saat ini menjadi tiga miliar ton per tahun. Produksi daging harus berlipat dari 200 juta ton menjadi 470 juta ton per tahun. Ini bukan perkara mudah mengingat areal lahan pertanian kian sempit dan mengalami penurunan kualitas unsur hara. Gambaran

220

Raja Limbung

makin tak menentu jika kita memasukkan variabel perubahan iklim yang membikin cuaca berayun ekstrim dan bencana alam lebih sering terjadi. Petani, nelayan, tak lagi mudah membaca musim hanya berbekal kesiur angin dan cahaya bintang. Produktivitas pertanian juga menjadi masalah. Setengah abad lalu, produktivitas pertanian tumbuh tiga persen per tahun dengan resep revolusi hijau. Tapi, kini produktivitas itu hanya tinggal separuhnya. Untuk pertama kalinya sejak 1960, produktivitas beras dan gandum (bahan makanan pokok dunia) melaju lebih lambat ketimbang pertumbuhan jumlah penduduk (The Economist dalam Special Report: The 9-Billion People Question, 24 Februari 2011). Walhasil, dalam skenario FAO, kenaikan produksi dari perluasan kebun (ekstensifikasi) hanya menyumbang 20 persen dari total kebutuhan pangan dunia. Sisanya 80 persen diharapkan datang dari kenaikan produktivitas (intensifikasi). Harapan memang ada, yakni bersandar pada teknologi intensifikasi pangan, termasuk teknik rekayasa genetika (genetically modified organism – GMO). Namun, tak semua ahli optimistik tentang prospek teknologi pangan. Laju deret ukur kebutuhan pangan terlalu cepat untuk diimbangi laju deret hitung pasokan pangan. Hal ini terutama karena di masa depan, yang tak lama lagi datang, pangan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan perut tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan energi lantaran sumur-sumur minyak sudah kering. Bahan pangan juga akan disulap menjadi biofuels demi mengisi tanki-tanki bensin kendaraan. Perang perebutan pasokan energi bagi perut manusia dan tanki mesin tak terelakkan.

Perut Versus Tanki Mesin Bumi makin uzur. Pelipatan jumlah penduduk yang disertai pelambanan produktivitas bahan pangan, diperparah dengan krisis energi, memaksa dunia bersiaga menghadapi krisis pangan.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

221

Kelompok negara-negara dengan perekonomian terbesar, G-20, misalnya, telah menempatkan pangan dalam daftar ’top priority’. Dalam World Economic Forum di Davos, Swiss, 2011, sebanyak 17 perusahaan kelas kakap dunia menyerukan ’visi baru pertanian’. The Gates Foundation, Gambaran suram yayasan amal terkaya dunia yang selama bukan hanya ini bergiat pada masalah kesehatan, kini bersumber pada mulai mengarahkan keprihatinan mereka keterbatasan dalam hal ketersediaan pangan: bagaimana pangan. Salah mengurangi jumlah warga dunia yang satu sumber terpaksa tidur dengan perut kosong. Tanda-tanda krisis pangan tampak jelas dalam empat tahun terakhir ketika harga komoditas pertanian melonjak lebih dari dua kali lipat. Sebagian dari lompatan ini memang didorong sejumlah persoalan temporer seperti kekeringan di Rusia dan Argentina, banjir besar di Kanada dan Pakistan, kebijakan larangan ekspor negara produsen untuk mengamankan pasokan di dalam negeri, dan permainan spekulan. Namun tak ada yang membantah, lonjakan ini merupakan sinyal bahwa era pangan murah telah lewat. Zaman baru yang lebih kompetitif, dengan ketersediaan pangan yang terbatas, bakal (atau sudah) datang.

pesimisme para ahli terletak pada ini : biofuels. Kian hari semakin banyak saja bahan pangan yang tidak masuk ke perut manusia, melainkan ditelan oleh tanki-tanki bensin dan habis dibakar untuk memutar mesin.

Dulu, lebih dari setengah abad lalu, ancaman krisis pangan diatasi dengan temuan teknologi (bibit unggul, pupuk, irigasi, pemberantasan hama – sekumpulan temuan teknologi pertanian yang belakangan kita sebut sebagai ‘revolusi hijau’). Kini, harapan yang sama juga digantungkan pada temuan teknologi. Rekayasa genetika (genetically modified organism - GMO), komposisi pupuk cerdas, sistem pertanian vertikal atau bahkan

222

Raja Limbung

pertanian tanpa tanah, telah memberi secercah harapan. Namun, harus diakui, kali ini para ahli tak terlalu optimistik. Teknologi baru untuk melipatgandakan produksi pertanian akan terus ditemukan, tapi kebutuhan pangan di masa datang tetap sulit dikejar. Gambaran suram bukan hanya bersumber pada keterbatasan pangan. Salah satu sumber pesimisme para ahli terletak pada ini : biofuels. Kian hari semakin banyak saja bahan pangan yang tidak masuk ke perut manusia, melainkan ditelan oleh tanki-tanki bensin dan habis dibakar untuk memutar mesin. Di masa depan, persaingan antara lambung manusia dan tanki mesin untuk memperebutkan bahan pangan tak dapat dielakkan. Selain butuh makan, lonjakan penduduk dunia juga menuntut pelipatan penyediaan sumber energi. Selama 30 tahun terakhir, konsumsi energi dunia naik hampir dua kali lipat. United States Energy Information Adminstration (US-EIA) menaksir, rata-rata konsumsi energi dunia merayap naik dengan laju dua persen per tahun. Pada dua dasawarsa mendatang, konsumsi energi dunia diperkirakan akan mencapai 762 exajoules (kira-kira setara 211.500 TWh/terawatts jam), atau tumbuh 40 persen lebih dari 538 exajoules pada 2010. Sejauh ini, sebagian besar kebutuhan energi masih dipasok oleh bahan bakar fosil (minyak, batubara, dan gas). Namun karena jumlahnya terus merosot dan makin mahal, peran bahan bakar fosil terus menurun. Menurut EIA, pada 2005 sumber energi fosil menyumbang 86 persen kebutuhan energi dunia. Angka ini turun menjadi 81 persen pada 2010. Kelak, ketika sumber energi fosil semakin terbatas dan mahal, dunia harus mencari alternatif energi dari sumber yang terbarukan, seperti air, angin, geotermal, sinar matahari, dan biofuels. Dan di antara pelbagai alternatif ini, biofuels merupakan pilihan yang paling mudah, murah (investasinya rendah) dan gampang dipindah ke tempat yang membutuhkan (transferrable).

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Ketika sumber energi lain semakin mahal dan langka, dunia akan mencari sumber energi baru. Salah satunya adalah sumberdaya produk pertanian seperti kelapa sawit, tebu, singkong, jarak maupun jagung membuka harapan baru bahwa sumber energi tak akan pernah kering. Komoditas tersebut dapat diproses menjadi biodisel atau bioetanol secara efisien. Dan berbeda dengan bahan bakar fosil yang akan habis ditambang tanpa bisa diganti, produk pertanian dapat terus dipanen asal terus dipelihara dan diremajakan. Maka, perebutan pasokan perut umat manusia dan tanki mesin pun tak terelakkan. Dalam pertemuan tingkat ahli para ahli pangan di Roma, Oktober 2009, FAO menegaskan bahwa penggunaan bahan pangan menjadi biofules akan mengancam ketahanan pangan dunia. Pada rentang 2000-2008, produksi biofuels dengan bahan baku komoditas pertanian telah melonjak tiga kali lipat. Biofuels kini menyumbang dua persen dari konsumsi bahan bakar dunia untuk transportasi. Pada 2007-2008 saja, ada 110 juta ton bijibijian (atau sekitar 10 persen dari total produksi dunia) yang diolah menjadi ethanol dan habis dibakar untuk menggerakkan mesin. FAO menduga, produksi ethanol ini mendorong peningkapan harga jagung, gandum, dan kedelai. Relasi antara pasar dan harga sumber energi fosil dan bahan pangan kini semakin dekat. Studi FAO juga menunjukkan, pemakaian bahan pangan untuk biofuels akan melipatgandakan jumlah penderita kurang gizi, terutama di Afrika dan Asia Selatan. Ada tambahan kurang gizi sebasar 3 juta anak di Afrika dan 1,7 juta anak di Asia. dalam dua puluh tahun terakhir, dari 1990 hingga 2009, jumlah penderita kelaparan dan kurang gizi justru meningkat dari 842 juta menjadi lebih dari 1 miliar orang (FAO, How to Feed The World in 2050). Menurut perhitungan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) dan FAO, produksi biofuels dunia akan meningkat hampir dua kali lipat dalam sepuluh tahun mendatang,

223

224

Raja Limbung

dari 100 miliar liter pada 2009 menjadi 192 miliar liter (2018). Kebutuhan akan gula, jagung dan bijian-bijian untuk minyak bakar akan semakin meningkat dan ini akan melonjakkan harga bahan bapangan. Namun, bukan manusia namanya jika tak teruji dalam ketangguhan daya survival. Krisis, di mana pun, selalu membawa peluang baru. Perkebunan, agribisnis, untuk pangan maupun biofuels adalah janji masa depan. FAO juga mengakui kenaikan harga bahan pangan sebagai sumber energi dapat pula menjadi kesempatan. Ini peluang bagi negara-negara miskin dengan banyak lahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tentu hal ini baru bisa terwujud dengan syarat infrastruktur cukup baik dan sistem perdagangan cukup adil, lokal maupun global.

Janji Sang Elaeis Sawit, Elaeis sp, banyak pihak menganggap, bisa menjadi ‘dewa penyelamat’ krisis pangan masa depan. Sawit yang jauh lebih produktif (enam ton minyak per hektare, bandingkan dengan ladang kedelai yang menghasilkan 500 kg minyak per hektare). Konsentrasi sawit untuk biofuels akan mengamankan porsi jagung dan kedelai hanya untuk makanan. Dan, harapan tentang sawit itu hanya ada di Indonesia. Laporan Departemen Amerika menyatakan, Indonesia punya iklim yang sangat cocok untuk pengembangan sawit dan lahan pun masih tersedia. Afrika, sebagai tanah leluhur sawit, sebetulnya mencoba mengembangkan perkebunan sawit. Tapi, di Afrika produktivitas kebun sawit hanya seperempat dibanding di Indonesia. Indonesia juga ideal sebagai rumah bagi sawit. Ongkos produksi sawit di negeri ini tergolong murah dan menggiurkan. Survei Reuters (2011) menyebutkan, ongkos produksi sawit di negara Asia Tenggara

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Mengangkut hasil panen Sumber: Dok. Sawit Watch

225

226

Raja Limbung

(terutama Indonesia) adalah US$ 300 per ton. Ongkos produksi luasan yang sama di Afrika bisa mencapai US$ 600-800 per ton. Marjin keuntungan tentu lebih menguntungkan berkebun sawit di Asia Tenggara, terutama Indonesia. Dengan harga sawit yang kini di level US$ 1000-1200 per ton, ruang laba bisa mencapai sedikitnya US$ 500 per ton. Harga sawit pun tak mungkin turun mengingat krisis minyak bukan omong koson. Krisis demi krisis di Timur Tengah pun dengan mudah melambungkan harga minyak di atas US 100 per barel. Selama ini sumbangan sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional tak bisa dimungkiri. Perkebunan merupakan salah satu jagoan penyerap tenaga kerja, baik bagi masyarakat sekitar maupun bagi mereka yang datang dari tempat-tempat yang jauh. Kebun tebu di Lampung dan Sumatera Selatan, misalnya, setiap tahun menjadi lahan kehidupan bagi puluhan ribuan buruh tebang tebu dari desadesa miskin di Jawa. Tahun 2007 ketika luas kebun kelapa sawit Indonesia baru 6,8 juta hektar, Departemen Pertanian menyebut jumlah tenaga kerja pada komoditas ini mencapai 3,3 juta orang. Tahun 2010, dengan luas kebun berlipat hingga hampir 10 juta hektar, jumlah pekerja di perkebunan dan pabrik pengolah kelapa sawit diperkirakan telah melonjak hingga lebih dari empat juta orang. Ini setara dengan jumlah pegawai negeri sipil yang bekerja di seluruh Indonesia. Usaha perkebunan juga dapat diandalkan sebagai ’pusat pertumbuhan’ di daerah. Sesuai wataknya yang memerlukan bentang lahan luas, perkebunan biasa dibangun pada kawasan terpencil yang belum berkembang – di tanah-tanah kosong yang terisolir, dengan akses buruk atau terbatas. Berangsur-angsur, usaha perkebunan meniupkan roh kehidupan bagi daerah di sekitarnya: jaringan jalan dibangun, pemukiman pekerja muncul, kampung-kampung tumbuh, pasar berdiri. Singkatnya: roda perekonomian pun berputar. Di mana-mana di pelbagai pelosok negeri, usaha perkebunan telah menjadi pionir, motor dan sekaligus magnet kehidupan di tempat-tempat terpencil.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Yang juga tak bisa dianggap remeh: peran usaha perkebunan sebagai ’tambang’ devisa. Tahun 2010 lalu, misalnya, Indonesia mengekspor 15,5 juta ton minyak kelapa sawit (CPO). Dengan harga rata-rata di atas US$ 1.000 per ton CPO, devisa yang dijaring sudah melampaui US$ 15 miliar, sekaligus menempatkan minyak kelapa sawit sebagai penjala devisa terbesar di sektor non-migas. Ini belum menghitung devisa yang dijala dari karet, kakao, teh, lada, pala, dan juga kopi. Di masa depan, ekspansi kebun akan semakin sulit karena lahan baru yang bisa dibuka akan semakin terbatas. Seiring dengan melambannya perluasan kebun, peran perkebunan sebagai spon penyerap tenaga kerja dan pembuka isolasi daerah tak akan sekencang sekarang. Peran tersebut hanya dapat dipertahankan jika perkebunan tak lagi sekadar mamasok bahan mentah seperti sekarang, tapi sekaligus mengolahnya menjadi barang jadi. Lapangan kerja dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tidak lagi dimotori oleh pembukaan kebun baru, tapi pendirian pabrik-pabrik pada industri pengolahan komoditas perkebunan. Seiring dengan perkembangan perkebunan ke arah hilir, perannya sebagai sumber devisa juga akan semakin terdongkrak. Selama ini, sebagian besar hasil perkebunan kita jual ke pasar ekspor dalam bentuk barang setengah jadi atau bahan baku industri. Hasil dari kebun kelapa sawit, misalnya, kita jual dalam bentuk minyak kelapa sawit mentah alias crude palm oil (CPO). Begitu juga getah karet, yang diekspor dalam bentuk lembaran karet (RSS, ribbed smoke sheet) atau standard indonesian rubber (SIR), serta kakao dalam bubuk kakao. Agar sampai ke tangan konsumen, bahan-bahan ini masih memerlukan proses pengolahan lanjutan yang sangat panjang. Minyak kelapa sawit, misalnya. Agar dapat diolah menjadi bahan baku margarin, sabun atau es krim, CPO harus melalui sejumlah proses: dinetralisir (dibebaskan dari asam lemak bebas), dicuci (agar warnanya jadi jernih) dan diberi ‘deodoran’ (agar tidak bau tengik).

227

228

Raja Limbung

Setelah dinetralisir, dicuci dan diberi pewangi (biasa disebut sebagai RBDPO alias refined, bleached, deodorized palm oil), minyak sawit masih harus melalui proses fraksinasi, agar kandungan kimiawinya terpisah, dan disesuaikan dengan kebutuhan industri selanjutnya. Sebagian besar dari proses yang makan ongkos, sekaligus punya nilai tambah itu, dilakukan di luar negeri, di negara-negara yang justru tidak punya kebun sawit, seperti Belanda, Inggris, Singapura, atau Amerika Serikat . Negara-negara inilah yang menikmati gurihnya kue industri hilir minyak sawit melalui pabrik-pabrik pasta gigi, sabun, shampoo, cokelat bar, butter, margarin, kripik kentang, es krim, jagung panggang, kembang gula, lipstick, berbagai produk kosmetik, hingga biodisel. Karena itu, meskipun separuh dari isi tas belanjaan yang ditenteng orang di Paris, Milan, New York, London, Tokyo, dan kota-kota besar dunia lainnya. Lalu, bagaimana nasib Sumatera atau Kalimantan, episentrum sawit dunia? Sayangnya, bagian rezeki yang jatuh ke pangkuan Indonesia tidak seberapa lantaran kita hanya fokus pada produksi tandan sawit mentah. Tak ada industri hilir yang membawa nilai tambah dikembangkan serius di sini. Itu pula yang terjadi dengan karet, juga kakao. Sebagian besar ekspor lembaran karet kita diolah di China dan AS untuk kemudian dijual lagi dalam bentuk produk olahan ke Jepang. Sebagai negara yang tak punya kebun karet, Amerika Serikat justru menikmati sebagian besar kue perdagangan karet dunia melalui industri pengolahan karet gulung, karet plat, dan sebagainya. Pada 2010, hampir satu abad setelah jatuh bangun mengembangkannya, Indonesia mencetak rekor sebagai penghasil CPO terbesar dunia, melampaui Malaysia yang selama ini merajai pasar. Dengan produksi 22 juta ton, kebun yang terus meluas, dan cadangan lahan yang tak tertandingi, dominasi Indonesia atas produksi minyak sawit agaknya sulit dikejar negara manapun di seluruh jagat.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Menjadi pemain besar dunia dalam satu komoditas, bukan hal baru bagi kita. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai produsen kakao nomor satu dunia, dan nomor dua untuk karet. Namun kelapa sawit bukan sekadar kakao atau karet. Berbeda dengan kakao dan karet, permintaan terhadap minyak sawit terus berlipat eksponensial, seiring dengan pemanfaatannya yang kian beragam. Lima puluh tahun lalu, minyak sawit hanya diolah untuk campuran sabun dan margarine, tapi kini CPO dipakai pada hampir semua industri yang memerlukan edible oil (minyak nabati yang dapat dimakan). Tuntutan kesehatan membuat industri pangan dunia mengganti pemakaian bahan baku berkholesterol dengan minyak yang lebih sehat, tapi tetap ekonomis -- dan untuk itu, pilihannya jatuh pada kelapa sawit. Kini, ribuan produk makanan memakai CPO sebagai bahan dasar, mulai dari margarin, butter, keripik kentang, mie instan, jagung panggang, berbagai biskuit, pastry, mayonnaise, saos dan bumbu-bumbuan, bahkan juga kembang gula, kue cokelat dan es krim. Itu belum menghitung pemakaian minyak sawit sebagai bahan baku industri kosmetika seperti sampo, gincu, sabun, pelembab, pasta gigi, dan berbagai produk perawatan tubuh. Kelangkaan dan kekhawatiran dunia akan bahaya emisi karbon dari bahan bakar fosil, makin mempercepat laju permintaan terhadap minyak kelapa sawit. Untuk mengurangi emisi karbon yang menyebabkan kenaikan suhu bumi, seluruh dunia kini sedang bersiap mengganti bahan bakar fosil dengan biofuels, secara bertahap. Masyarakat Uni Eropa bertekad untuk mengganti 10 persen dari kebutuhan bahan bakar transportasi pada 2020, dengan biofuels. Hampir semua pesawat KLM airlines hari ini telah menggunakan avtur biofuels sebagai bahan bakar. Tak hanya Eropa. Cina juga menargetkan mengganti 15 persen kebutuhan minyak solarnya dengan bahan bakar biologi. India bahkan lebih maju lagi: pada 2012 mendatang, satu dari lima liter minyak solar yang digunakan di negara tersebut, harus berasal

229

230

Raja Limbung

dari biofuels. Dalam dua dasawarsa mendatang, daratan Eropa diperkirakan membutuhkan lebih dari 50 juta ton biofuels setiap tahun -- setara dengan dua setengah kali produksi CPO Indonesia saat ini. Diperlukan ekspansi kebun kelapa sawit baru seluas 10 juta hektar untuk memenuhi kebutuhan Eropa tersebut. Ini belum termasuk permintaan Amerika Serikat yang diperkirakan mencapai 35 miliar galon biofuels lebih, pada 2022. Potensi luar bisa kelapa sawit akan menjadi salah satu harapan dunia untuk menghadapi krisis pangan, sekaligus krisis energi, di masa depan. Berbeda dengan bahan bakar fosil yang akan habis, minyak kelapa sawit dapat terus dipanen sepanjang kebun-kebunnya dirawat dan diremajakan. Dengan permintaan pasar yang terus berlipat, harga minyak kelapa sawit pun akan terus menanjak. Menguasai kelapa sawit di masa depan, barangkali sama pentingnya dengan menguasai minyak bumi pada era 1970-an. Dengan kelapa sawit, Indonesia punya kesempatan untuk mendominasi perekonomian – mungkin sama seperti OPEC mendikte dunia, pada masa jayanya dulu. Selain itu, kebun kelapa sawit juga dapat diandalkan sebagai ’pusat pertumbuhan’ di daerah. Sesuai wataknya yang memerlukan bentang lahan luas, perkebunan biasa dibangun pada kawasan terpencil yang belum berkembang – di tanah-tanah kosong yang terisolir, dengan akses buruk atau terbatas. Berangsur-angsur, usaha perkebunan meniupkan roh kehidupan bagi daerah di sekitarnya: jaringan jalan dibangun, pemukiman pekerja muncul, kampungkampung tumbuh, pasar berdiri. Daerah Bagan Batu (Riau) yang dulu hutan belantara ‘gung liwangliwung’, misalnya, kini telah menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi yang pesat di pelosok Provinsi Riau. Singkatnya: roda perekonomian pun berputar. Di mana-mana di pelbagai pelosok negeri, usaha perkebunan telah menjadi pionir, motor dan sekaligus magnet kehidupan di tempattempat terpencil.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

231

Rekomendasi, Kembalikan Marwah Sawit Tak ada satu pun yang sanggup mengingkari potensi dahsyat sawit. Serapan tenaga kerja, devisa, pertumbuhan ekonomi, bisa disumbang oleh kebun sawit. Posisi Indonesia sebagai episentrum penghasil sawit dunia juga menjadikan negara ini semakin strategis. Persoalannya, marwah sawit di negeri ini ternoda oleh banyak hal. Sawit, yang seharusnya berpamor gemilang, dicemari rasa benci. Padahal, bukan sawitnya benar yang bermasalah, melainkan cara si manusia pengelolanya. Juga cara dan keberpihakan pemerintah yang lebih condong pada pemodal raksasa dan mengalahkan petani biasa di posisi pojokan.

Gunung persoalan membuat martabat sawit jadi anjlok: kasus sengketa tanah tak kunjung putus, buruh yang dibayar murah, risiko kerusakan lingkungan, ketiadaan perlindungan buruh perempuan dan anak, sampai kriminalisasi petani tersebar di berbagai kebun dari Sumatera sampai Papua.

Marwah sawit mestilah dikembalikan pada posisinya sebagai berkah, bukan kutukan alam. Gunung persoalan membuat martabat sawit jadi anjlok: kasus sengketa tanah tak kunjung putus, buruh yang dibayar murah, risiko kerusakan lingkungan, ketiadaan perlindungan buruh perempuan dan anak, sampai kriminalisasi petani tersebar di berbagai kebun dari Sumatera sampai Papua. Apa yang disampaikan dalam buku ini hanyalah sepenggal informasi. Masih teramat banyak problem di lapangan, yang telah menjadi jerami kering dan siap dibakar atau terbakar. Kisah gemerlap sawit dengan mudah terancam runtuh oleh timbunan jerami kering ini.

Biasanya, respon pemerintah dan pengusaha selalu bernada defensif saat noda-noda marwah sawit itu dikemukakan. Mantan

232

Raja Limbung

Warga sekitar mengais-ngais sisa panen Sumber: Dok. Sawit Watch

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Mangga Barani, misalnya, menyebut berbagai noda tadi sekadar kampanye hitam dunia. Dunia yang tak rela atas dominasi Indonesia dalam persawitan global. “Kami tanggulangi dengan menggandeng Malaysia, dalam kerjasama menanggulangi berbagai kampanye hitam itu,” kata Achmad dalam sebuah wawancara Peta berubah sejak terbukanya dua kasus besar, yakni kasus Mesuji dan pembantaian orang utan di hutan Kalimantan demi ekspansi kebun sawit. Dua kasus itu membuktikan bahwa hilangnya marwah sawit di negeri ini bukan sekadar kampanye hitam. Bukan sekadar permainan kompetitor global di area energi biofuels, tapi berbagai kejadian yang mengenaskan itu memang nyata terjadi di sudut-sudut perkebunan sawit kita. Penelusuran Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mesuji membuktikan adanya pelanggaran hak petani oleh pengusaha pemilik perkebunan. Celakanya, pengusaha berkolusi dengan pemerintah dan aparat keamanan, mengabaikan dan memelintir regulasi. Kasus seperti ini terjadi dalam berbagai variasi di seluruh Indonesia. Catatan Sawit Watch menyebut pada 2010 terdapat 660 kasus sengketa pertanahan, meningkat dari tahun sebelumnya yang 240 kasus. Kriminalisasi petani juga meningkat dari 112 (pada 2009) menjadi 130 kasus (pada 2010). Nah, sekarang terpulang pada kita, akankah negeri ini serius membenahi dan mengembalikan marwah sawit? Tentu demi Indonesia yang lebih baik, demi kesejahteraan petani dan masyarakat luas. Bukan hanya demi keuntungan sesaat segelintir pengusaha, pejabat, dan aparat keamanan. Pembenahan yang serius, dengan menimbang sense of urgency keterbatasan lahan dan kualitas lingkungan. Tanpa pembenahan serius, ekspansi sawit secara membabi-buta hanya akan meninggalkan luka sosial. Jerami kering di berbagai wilayah yang harus kita bayar dengan harga yang ekstrem, yakni menjadi Raja Limbung, Buta, dan Lumpuh.

233

234

Raja Limbung

Pemerintah bukannya tak punya skenario grand design pembenahan sawit. Para pengambil keputusan cukup jeli menempatkan sawit sebagai komoditas strategis, bahkan mungkin menjadi salah satu penentu nasib dunia energi di masa mendatang. Masterplan Percepatan dan Pengembangan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025, menempatkan kelapa sawit sebagai salah satu sektor penting yang akan digenjot habis-habisan. Rencana MP3EI adalah menggemukkan pundi-pundi pendapatan negara dari sawit. Caranya, dengan ekstensifikasi meluaskan kebun di berbagai area, membangun pelabuhan, jalan-jalan penghubung, rel kereta api, menumbuhkan industri hilir, serta meremajakan kebun dengan bibit bagus, dan mempromosikan penggunaan pupuk berkualitas. Namun, skenario gemilang MP3EI tampak melupakan persoalan utama yang menjadi sumber kanker persawitan Indonesia. MP3EI tidak sedikit pun menyiratkan strategi membasmi kanker itu secara tuntas. Visi dan misi MP3EI nyata betul hanya menimbang pertumbuhan fisik, yang diwakili dengan rel kereta, pabrik CPO, dan pelabuhan ekspor. Persoalan yang lebih subtil dilupakan, mungkin lantaran membutuhkan kerja keras dan komitmen nyata pada rakyat dan petani kecil. Padahal, perkara kualitatif, bukan sekadar statistik, itulah yang menentukan kualitas persawitan di negeri ini. Berdasar berbagai persoalan yang diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, setidaknya ada tiga hal utama yang harus menjadi target pembenahan serius. Ketiganya harus dilakukan secara paralel, oleh berbagai kementerian dan lembaga teknis di berbagai lini. Masyarakat sipil, akademisi, NGO, dan media, pun hendaknya mengawasi dengan rinci apa yang terjadi di lapangan. Supaya input perbaikan juga berdasar riset dan observasi yang riil dan faktual. Jangan lagi hanya bergerak melaporkan ketika persoalan sudah meledak parah dan susah dikendalikan.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Adapun tiga hal utama yang harus dibenahi tersebut adalah: 1. Benahi Konflik Tenurial Konflik tenurial di sekitar perkebunan, tak bisa diingkari, adalah episentrum konflik dan silang sekngarut persoalan perkebunan di Indonesia. Tumpang tindih kepemilikan tanah, surat izin bertabrakan, bukan kisah baru di jagat perkebunan. Sertifikat resmi pun tak jarang tak berpengaruh apa pun, penyerobot (perusahaan atau individu) bisa beraksi leluasa, terutama jika didukung kolusi dengan pemerintah dan aparat hukum. Konflik tenurial pun mewujud dalam spektrum –jenis sengketa maupun wilayah sebaran konflik—yang luas. Ambil contoh di Kalimantan Barat. Menurut Peraturan Daerah No 5 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kalimantan Barat, dari wilayah provinsi seluas 14,7 juta hektar itu, sekitar 42 persen (6,1 juta hektar) ditetapkan sebagai kawasan pertanian lahan kering. Dari jumlah tersebut, 3,5 juta hektar di antaranya dicadangkan untuk lahan perkebunan, dengan komposisi: kebun sawit 1,5 juta hektar, karet 1,2 juta hektar, kelapa 300 ribu hektar dan sisanya untuk perkebunan lada, kakao, kopi, tebu, pinang, jarak pagar, dan cengkeh. Kenyataannya, luas kebun sawit di Kalbar sudah jauh melampaui kuota yang ditetapkan. Data Dinas Perkebunan Kalbar menunjukan, hingga awal 2010, izin pengembangan kebun sawit yang telah diterbitkan, aneh bin ajaib, mencapai 3,6 juta hektare. Ini berarti lebih dari dua kali lipat dari jatah Tata Ruang Provinsi Kalimantan Barat. Lebih ajaib lagi, dari 3,6 juta hektare tersebut, tak sampai 600.000 hektare (hanya 17 persen) yang sudah mengantungi sertifikat Hak Guna Usaha. Kasus Mesuji, yang juga berawal dari sengketa kepemilikan tanah, seharusnya menjadi alarm yang serius bagi pemerintah.

235

236

Raja Limbung

Tak boleh lagi persoalan ini ditunda-tunda tanpa penyelesaian yang jelas. Tanpa bebenah sungguh-sungguh di bidang perizinan dan kepemilikan tanah, dunia persawitan di negeri ini akan terus dihantui kanker ganas yang siap menyebar tak terkendali dan berdampak fatal. 2. Benahi Struktur Perkebunan Deretan angka hasil survei ini cukup menarik. Ada sesuatu yang patologis tentang perkebunan sawit yang tercermin di deretan angka ini. Mari bersama kita tengok: survei Reuters (2011) tentang ongkos produksi sawit di Asia dan Afrika. Ongkos produksi sawit di negara Asia Tenggara (terutama Indonesia) adalah US$ 300 per ton. Ongkos produksi luasan yang sama di Afrika bisa mencapai US$ 600-800 per ton. Artinya, berdasar survei itu, ongkos produksi sawit di Indonesia bisa separo atau hampir sepertiga ongkos produksi di Afrika. Dengan harga sawit yang saat ini rata-rata US$ 500 per ton, marjin sawit paling moderat US$ 500 per ton. Bayangkan, berapa keuntungan yang bisa ditarik seluruh pengusaha sawit nasional (termasuk para petani), dengan total produksi hingga 22 juta ton CPO pada 2010. Benar, ilustrasi ongkos produksi dan marjin tadi mesti kita cerna dengan catatan bahwa ini gambaran yang sangat simplistik. Tapi, setidaknya hal itu menjelaskan mengapa para juragan sawit –investor perkebunan dan atau pabrik pengguna produk sawit—tergiur berkebun sawit di Indonesia. Barangkali ongkos produksi yang murah itu yang menyebabkan, selama 40 tahun, terutama periode seperempat bagian yang terakhir, perluasan kebun sawit di Indonesia melaju dalam kecepatan yang fantastik. Antara 1967 - 2000, kebun sawit di Indonesia meluas hingga 15 kali lipat, dari 2.000

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

kilometer persegi menjadi 30.000 kilometer persegi (tiga juta hektare). Sebelum tahun 2000, rezeki sawit memang masih kalah berkilau dibanding rezeki penebangan kayu ilegal. Namun setelah pemerintah menggelar operasi besar-besaran illegal logging –dan hutan yang bisa dibabat makin sulit ditemukan— kebun sawit mulai mendapat perhatian ekstra. Dalam sepuluh tahun terakhir, luas kebun sawit telah melebar lagi tiga kali lipat hingga menjadi 10 juta hektare – atau setara dengan luas negara Korea Selatan atau Portugal, atau sepertiga dari luas seluruh negara Malaysia. Angka luas kebun sawit memang terus menjadi bahan kontroversi. Angka resmi Direktorat Jendral Perkebunan Departemen Pertanian hanya menyebut luas 7,8 juta hektar. Taksiran analis di Departemen Pertanian Amerika Serikat menyebutkan luas kebun sawit yang telah dibuka di Indonesia hingga 2010 memang hanya 7,7 juta hektar. Tapi selain itu, masih ada sekitar 6,5 - 7 juta hektar lagi izin usaha kebun sawit yang telah diterbitkan tapi belum dibuka. Sejumlah LSM yang mengumpukan data dari dinas perkebunan di setiap daerah sampai pada angka yang lain: luas kebun sawit Indonesia pada 2010 mendekati angka 10 juta hektar. Luas kebun sawit yang dahsyat itu masih akan terus ditambah. Pemerintah pernah menyatakan bahwa dari survei disimpulkan bahwa lahan yang cocok untuk kebun kelapa sawit mencapai 24,5 juta hektar. Rencananya, hingga 2015 pemerintah menargetkan tambahan seluas empat juta hektar lagi, khusus untuk produksi biodisel saja. Ini belum seberapa dibandingkan dengan target ekspansi yang dicanangkan daerah. Seluruh datanya dikumpulkan, seluruh provinsi di Indonesia menargetkan perluasan kebun sawit hingga 20 juta hektar, 80 persen di antaranya di Sumatera dan Kalimantan.

237

238

Raja Limbung

Provinsi Riau saja, misalnya, menargetkan perluasan hingga tiga juga hektar. Salah satu propinsi yang paling hot mengembangkan kebun kelapa sawit adalah Kalimantan Barat. Dari 337 perusahaan perkebunan besar yang beroperasi di wilayah ini, 325 perusahaan di antaranya mengembangkan kebun sawit. Pejabat Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat menyatakan wilayah ini memang cocok untuk pengembangan sawit karena curah hujan yang tinggi. Menurut pejabat yang tak mau disebut namanya terang-terangan ini, semua investasi kebun besar yang masuk ke Kalimantan Barat, hanya mau menanam sawit. “Tidak ada yang mau tanam karet karena curah hujan di Kalbar terlalu tinggi untuk karet. Jika curah hujan terlampau tinggi, hari panen jadi berkurang dan karet gampang terjangkit jamur putih,” katanya. Agaknya bukan hanya urusan jamur putih yang membuat investor lebih terpikat sawit ketimbang karet. Marjin laba sawit yang super gurih itulah yang menjadi faktor utama. Marjin gurih yang didorong ongkos produksi murah. Harga tanah dan upah buruh yang murah atau sengaja dibikin murah. Perizinan mulur-mungkret semau pemiik uang. Industri hilir mandeg. Petani skala kecil, 2 hektare, tak punya daya tawar terhadap perkebunan inti. Seluruh struktur yang mengukuhkan komposisi timpang, yang tercermin dalam ongkos produksi yang rendah itu tadi. Pada 2007, berkongsi dengan ADM Asia Pacific, Wilmar Internasional membeli lima ‘land bank’ di Kalimantan yang sudah berizin kelapa sawit seluas 85.000 hektar dengan harga USD 5,8 juta atau setara dengan Rp 50 miliar. Ini berarti hanya Rp 50 juta per 85 hektar – tidak sampai sejuta untuk tiap hektare tanah. Bayangkan, betapa murah tanah dan hutan kita, tak peduli bahwa ada masyarakat adat, ada komunitas lokal, ada ekosistem yang kompak yang tadinya hidup dari hutan itu.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

Patologi yang tersirat dari ongkos produksi US$ 300 per ton sawit layak dibedah lebih obyektif. Perlu riset lebih lanjut tentang rantai sosio-ekonomi yang pah buruh, hubungan ketenagaan dengan pemilik modal, relasi petani plasma dan perkebunan inti, juga rantai penyerapan tandan buah segar sawit yang tidak optimal, seperti diulas pada bab-bab sebelumnya. Idealnya, ada kajian serius dan komprehensif (sosioekonomi-lingkungan) yang membenahi ketimpangan struktur perkebunan sawit ini. Titik mana saja yang tidak fair dan harus dibenahi, penghargaan pada lahan, petani, buruh, dan seluruh rantai yang terkait mutlak dilakukan. Manajemen satu atap, misalnya, adalah salah satu langkah membenahi struktur perkebunan sawit. Tapi, adakah sejauh ini pola itu sudah ideal? Belum. Banyak hal perlu disorot dan dibikin efisien. Pembenahan struktur perkebunan sawit ini boleh jadi akan menggenjot harga produksi sawit Indonesia. Yang tadinya US$ 300 per ton mungkin saja membengkak hingga jadi US$ 400 per ton. Daya saing Indonesia boleh jadi sedikit menurun, marjin yang dinikmati pengusaha menciut, tapi keberlanjutan masa depan lebih terjaga. Masyarakat luas, terutama petani dan buruh, bisa tersenyum lebih lebar. 3. Benahi Pengelolaan Lingkungan Degradasi kualitas lingkungan adalah satu dosa perkebunan sawit yang paling susah disangkal. Areal yang tadinya hutan, dengan jutaan makhluk hidup di dalamya, berubah menjadi kebun monokultur yang egoistik. Orang utan, anggrek, rotan, aneka herba berkhasiat obat, harus menyingkir dari kebun. Tak ada keanekaragaman hayati di dalamnya. Semuanya serba sawit, yang berjajar rapi bagai tentara berbaris saat apel pagi hari.

239

240

Raja Limbung

Pertarungan dagang masa depan, tak bisa tidak, akan melibatkan teknologi dan sensitivitas lingkungan. Dunia akan semakin dikepung sense of urgency pentingnya mengelola lingkungan sambil tetap menjaga pasokan kebutuhan pangan dan energi bagi dunia. Label eco friendly pada sawit, seperti yang telah terbukti dengan aneka produk makanan organik saat ini, akan menggaet nilai tambah. Walhasil, jika ingin membawa marwah pada sawit, maka perkebunan sawit harus dirancang dengan prinsip-prinsip yang lebih ramah lingkungan. Umpamanya, setiap 100 hektare kebun sawit harus diseling dengan kantong (enclave) hutan konservasi. Area hutan konservasi ini mungkin tidak terlalu luas, bisa 10-20 hektare, yang dibiarkan tumbuh sebagai hutan, lengkap dengan danau buatan sebagai reservoir air dan habitat bagi ekosistem hutan. Fungsi enclave hutan di sela perkebunan sawit ini beragam. Dia bisa dipandang sebagai sedikit upaya penyeimbang kebun monokultur yang masif. Kantong hutan ini juga berfungsi sebagai penjaga siklus hidrologi, dengan pepohonan kokoh, tanah penyimpan air, dan mungkin sebentuk danau untuk menjaga kelembaban sekita. Terjaganya siklus hidrologi ini otomatis juga menjaga kesuburan perkebunan sawit yang ada di sekitar kantong hutan. Harga tandan pasti lebih mahal lantaran kualitas terjaga. Kebun dan kantong hutan akan saling menjaga. Fungsi lainnya, kantong hutan ini bisa dikembangkan sebagai area ekowisata yang menarik, yang membawa pesan bahwa agribisnis tak selamanya rakus tanpa batas. Label eco friendly bisa dipasang dan harga pun meningkat. Sama seperti halnya kayu jati yang tak lagi tumbuh di hutan liar (karena sudah nyaris habis ditebang) dan kini ditanam di perkebunan jati yang ramah lingkungan. Label eco friendly membikin si jati bernilai ganda-berganda. Pada akhirnya, apabila tiga pembenahan utama tadi dilakukan dengan serius, kita bisa berharap pada kembalinya

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

marwah perkebunan sawit. Tiga rekomendasi utama itu adalah: pembenahan sengkarut kepemilikan tanah dan perizinan, pembenahan struktur biaya perkebunan hingga lebih adil, serta penghormatan pada lingkungan. Ini semua memang melibatkan pembenahan sungguh-sungguh dalam tata kelola pemerintahan (terkait pemberian izin, sertifikasi lahan, dan supervisi pengelolaan perkebunan), menyehatkan iklim bisnis (investor yang tak main suap sana-sini), dan civil society yang kuat. Yang terakhir ini termasuk petani dan buruh yang kritis memperjuangkan haknya, riset komprehensif dari para akademisi tentang dunia persawitan, serta NGO dan media yang kompeten memantau apa yang terjadi di lapangan. Sawit memang sebuah kisah epik di negeri ini. Seratus tahun perjalanannya menyisakan pekerjaan rumah menggunung, yang sangat layak kita perjuangkan. Bumi dan isinya layak diperlakukan dengan respek. Hanya dengan begitu, alam akan membalas dengan sepadan dan bahkan jauh lebih baik.

241

242

Raja Limbung

Profil Lembaga

SAWIT WATCH Perkumpulan Sawit Watch adalah sebuah organisasi non pemerintah di Indonesia berbasis keanggotaan individu yang bertujuan menstop laju ekspansi sistem perkebunan besar kelapa sawit. Sejak 1998, Seketariat telah membangun jaringan yang terdiri lebih dari 50 mitra lokal yang menangani langsung lebih dari 75 masyarakat (sekitar 40.000 kepala keluarga) terkena dampak perkebunan kelapa sawit diseluruh Indonesia. Sekretariat Perkumpulan Sawit Watch (15 staf) di Bogor telah membangun kemitraan dengan perwakilan individu-individu di Indonesia dan juga di Eropa. Sampai dengan tahun 2009 anggota Perkumpulan sawit watch berjumlah 135 orang. anggota ini tersebar utamanya di Indonesia terdiri pekebun, buruh kebun, masyarakat adat, aktivis ngo, wakil rakyat , guru, dan pengajar di perguruan tinggi.

Seabad Perjalanan Sawit di Indonesia

TEMPO INSTITUTE TEMPO Institute adalah organisasi nirlaba, independen, yang didirikan sejak tahun 2003 dan bernaung di bawah payung organisasi Yayasan 21 Juni 1994. Bidang kegiatannya adalah pengembangan kapasitas sumber daya manusia dalam bidang penulisan, jurnalistik, dan pengelolaan media. Semenjak berdirinya Tempo Institute telah melakukan sekian banyak kegiatan pelatihan jurnalistik, Workshop menulis, maupun berbagai macam kegiatan diskusi, seminar dan penelitian yang berhubungan dengan Jurnalisme maupun kesadaran sosial

243

244

Raja Limbung